The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Mulakhkhas Fiqihi Jilid 2 by Syaikh Shalih bin Fauzan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by waroengdakwah, 2022-08-14 23:27:55

Mulakhkhas Fiqihi Jilid 2

Mulakhkhas Fiqihi Jilid 2 by Syaikh Shalih bin Fauzan

Iqaalah artinya menghapus akad jual beli, dan masing-masing
pihak yang bertransaksi rujuk kepada yang dimilikinya ranpa

ada pengurangan atau penambahan. ^pa

Iqaalab merupakan hak seorang muslim aras saudaranya saat

ia membutuhkannya, dan ini merupakan perilaku terpuji dalam

bermuamalah serta konsekuensi dari p.rrrrdrr, y^igiilandasi
^n
keimanan.

Gz:-J

46 Kitab lual Beli

BAB TENTANG:

RIBA DAN HUKUMNYA

Masalah riba termasuk masalah yang paling berbahaya. Riba
adalah perbuatan yang diharamkan dalrrm sernua syari'at, dan Allah

mengancam orang yang bermuamarlah dengannya dengan ancaman
yang sangat mengerikan.

[PERINGATAN-PERINGATAN KERAS DARI AL.QUR.
AN TERHADAP MUAMALAH RIBA\TI]

[Ancaman bagi orang yang memakan riba]

Allah ffi berfirman:

- iri i-fi 6 J y|;ei Wi S&Cu .liy

(@ Uta

"Orang-orangyangmemahan riba tidak akan bisa bangkit kecuali
seperti banghitnya ordng gila yang kesurupan syaithan..." (QS.
Al-Baqarah:275)

Dalam ayat ini Allah $6 mengabarkan bahwa siapa yang ber-
muamalah dengan cara riba'tidak akan bangkit', yakni dari kubur-

nya saat hari Kebangkitan, 'kecuali seperti bangkitnya orang gila yang

kesurupan syaitan'. Artinya mereka akan sempoyongan karena

perut mereka menggelembung akibat riba yang mereka makan ketika
di dunia.

[Ancaman bagi orang yang kembali memakan riba setelah
mengetahui keharamannyal

Allah &t juga mengancam orang yang kembali memakan riba

setelah mengetahui keharamannya, bahwa ia akan menjadi penghuni
Neraka yang kekal di dalamnya.

Bab Tentang Riba & Hukumnya 49

Allah T a' ala berfirman :

M 5,6AD^W, #'r6i
4 :''e;C *

{@

"... Dan barangsiapa kembali memakan riba, maka merekalah peng-
buni Neraka yang kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 275)

[Dihapusnya keberkahan riba]
Allah,!E j"g, mengabarkan b,rhwa Dia menghapus keberkahan
riba. Allah,9& berfirman:

(@ \i;1i{ti}:;-fi

*Allab ahan mengbapus riba..." (QS. Al-Baqarah:276)

Artinya, Allah menghapus keberhakan harta yang tercampuri
riba. Jadi, sebanyak apa pun harta seorang rentenir, ia tidak diberkahi
dan tidak mengandung kebaikan sama sekali. Harta tersebut tak lain
hanyalah bencana bagi pemiliknya. Ia bersusah payah mengumpul-
kannya ketika di dunia namun ia akan disiksa karenanya di akhirat
nanti dan tidak bisa memanfaatkannya.

Allah bahkan mensifati pemakan riba sebagai orang yang sangat
kufur lagi pendosa.

Allah,9& berfirman:

fi,K g A;r7,^ti3U iAi 6b t!;;i xti j:,:j

{@Ff

*Allab menghapus Berkah)riba, dan menyuburkan sedekah; dan
Allah tidak menyuhai orangyang sangd.t kufur lagi pendosa." (QS.
Al-Baqarah:276)

Dalam ayat ini AllahJ& mengabarkan bahwa Dia tidak menyukai
pemakan riba. Padahal konsekuensi bagi orang yang tak disukai-Nya

Kitab Jual Beli

adalah dibenci dan dimurkai-Nya. Ia disebut sebagai 'orang yang
sangat kufur', maksudnyay^ngkelewat batas dalam kufur nikmat.
Kufur semacam ini tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islam.
Jadi, pemakan riba adalah orang yang sangat kufur terhadap nikmat
Allah. Hal ini karena dia tidak mengasihani orang lemah, tidak mem-
bantu kaum fakir, dan tidak menangguhkan orang yang kesulitan
membayar hutang.

Tapi kekufuran di sini bisa juga berarti kekufuran yang menge-
luarkan seseorang dari agama Islam, yaitu bila ia menghalalkan riba
tersebut. Allah pun menyifati pemakan riba sebagai pendosa, atau
orang yang sangat banyak dosanya, yang tenggelam dalam berbagai
kebejatan moral dan material.

[Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang terhadap pemakan
ribal

Bahkan Allah dan Rasul-Nya secara terang-terangan menyata-
kan perang terhadap pemakan riba. Sebab orang itu adalah musuh
Allah dan Rasul-Nya selama masih memakan riba. Bahkan dia
disifati sebagai orang zhalim.

Allah {$6 berfirman:

V)i'c,, 6 V:';t':'i'\fi\ ti; <r"iirt'-t< y

;'i'i"n\j"it6\#; { uy@ arS $uL
?.6 4 ti;:5;t Y,$
&;"3 ;L3 u{: ?

{@ <';\i313

"Hai orang-orangyang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
tinggalkan sisa riba (yangbelum dipungut) jika kalian benar-benar

beriman. Jika h,alian tidak melakukannya (meninggalkan sisa riba),

maka ketahuilab, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi
kalian. Dan jika kalian bertaubat (daripengambilan riba), maka

kalian boleh mengambil modal kalian; (jadi) kalian tidak zbalim

dan tidak (pula) dizhalimi." (QS. Al-Baqarah : 27 8-27 9)

Bab Tentang Riba & Hukumnya 51

[PERINGATAN.PERINGATAN KERAS DARI SLINNAH

RASULULLAH g- TERHADAP MUAMALAH RIBA\TI]

Di samping peringatan-peringatan keras dari al-Qur-an terhadap
muamalah ribawi di atas, Sunnah Rasulullah pun juga memberikan

sejumlah peringatan keras. Di antaranya, Nabi ffi menganggap

riba sebagai salah satu dosa besar yang membinasakan.r Rasulullah
bahkan melaknat pemakan riba, pemberi riba, pencatat transaksi
ribawi, dan saksi-saksinya.2

Rasulullah M, j"g mengabarkan bahwa satu dirham uang riba

lebih berat daripada 33 kali perzinaan dalam Islamr atau 36 kali per-
zinaan dalam Islam.a Beliau juga mengatakan bahwa riba memiliki
72 pinru;yang paling bawah ialah seperti anak laki-laki yangberzina

dengan ibunya.s

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah'a!tM mengatakan: "Pengharaman
riba lebih keras dari pada judi. Sebab pemakan riba pasti akan men-
dapatkan lebih dari orang yang membutuhkan. Sedangkan penjudi
mungkin mendapat lebih dan mungkin tidak."

iJ aitM u x afa q'a Ia i h, de ngan laf azh: " J.')r,Yl i. . . . . . eq t'r-$t (H i n da ri I ah

tujuh hal yang membinasakan... (lalu beliau menyebftkan) ...dan memakan

riba...)." Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2766) [V:481] kirab al'\Y/asbaya,

bab23, dan Muslim (no.89 Q62))tl:273lkhab al-lman, bab 38, dari Sahabat

Abu Hurairah €5 .

HR. Muslim (no. 1598 (4093) [VI:28] khab al-Musaqah, bab 19, dari Jabir

$, , dan hadits (no. 1597 (4092)) dengan laf.azh yang mirip dari Ibnu Mas'ud

*aut.-).

Hadits shahih mauquf. Diriwayatkan secara mauquf pada Ka'ab dengan ri-

wayat senada oleh Ahmad (no. 21855) lY:225ldan ad-Daraquthni (no. 2820)

[III:13] kitab al-Buyu'. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa haditsini sbabih
mauquf dalam kitab beliau Shabih at-Targhib uat Tarhib (no. 185a).

Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (no.2185a) lY:225), ad-Daruquth-
ni (no. 2S21) [III:13] kitab al-Buyu', dan ath-Thabrani dalam al-Austah (no.

7151) pII:1581 dari 'Abdillah bin Hanzhal^h q;,. [Hadits ini dishahihkan

oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilab al-Abadix ash-Sbahibab (no. 6758), dan

Shahih at-Targbib uat Tarhib (no. 1855).

Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan riwayat senada dari ha-

dits Abu Hurairah €5 ("". 227a) IIIIJ2)dan riwayat lainnya (no.2275) kitab

at-Tijarat, bab Ss. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sbahib al-Jaami'

(no. 3537).

52 Kitab lual Beli

Beliau kemudian menjelaskan bahwa riba adalah suatu kezhalim-
an yang pasti sebab ia merupakan bentuk penindasan orang kaya
terhadap orang miskin. Hal ini berbeda dengan judi yang justnr orang
miskin berusaha mengambil harta dari orang kaya. Atau mungkin
kedua penjudi sama-sama fakir atau kaya.

Beliau lalu mengatakan: 'Jadi, judi merupakan perbuatan men-
cari uang dengan cara batil yang diharamkan Allah. Hanyasaja ia tidak
mengandung unsur kezhaliman terhadap orang yang membutuhkan
seperti yang terjadi pada riba. Kita semua juga tahu bahwa men-
zhalimi orang yang membutuhkan lebih besar dosanya dari pada
menzhalimi orang yang tidak membutuhkan.""

Memakan uang riba adalah salah satu sifat orang Yahudi yang
membuat mereka pantas mendapatkan kutukan abadi yang bertubi-
tubi.

Allah,g& berfirman:

"{il;#;*(;;66 oire;4y

v K,:fii b#s@ 6f,r,1 w G ei41
6(ift 'ui5$ffit5';41'',q(i6\A;gVre

{@4

"Maka tersebab kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan
atas rnereka (memahan mahanan) yang baik (yong dahulunya)
dihalalkan bagi mereka. (Itu) karena mereka sering menghalangi
(manusia) dari jalan Allah, tuga karena mereka mengambil riba,
padahal mereka telah dilarang dari rnengambilnya, dan karena
mereka memahan harta orangdengan cara batil. Dan Kami telah
menyiapkan untuk orang-orangkafir di antara mereba siksayang
pedih." (QS. An-Nisaa' : 150-151)

6 Lihat Fataua Syaihhul klam (XX/341,347). 53

Bab Tentang Riba & Hukumnya

HIKMAH DIHARAMKANNYA RIBA

Pertama: Riba termasuk memakanhartaorang ranpa hak. Sebab
seorang rentenir mengambil uang tambahan dari orang-orang sedang-
kan mereka tidak mendapat imbalan apa pun dari uang tambahan
tersebut.

Kedua: Riba semakin menyengsarakan orang fakir dan yang
membutuhkan. Yaitu dengan melipatgandakan hutang mereka saar
mereka tidak mampu membayarnya.

Ketiga: Riba memutuskan hubungan baik di antara manusia,

menutup peluang pemberian pinjaman baik tanpa bunga, dan mem-
buka peluang untuk pinjaman berbunga yang memberarkan golongan
lemah.

Keempat: Riba membuar orang malas bekerja, berdagang, mem-

buat kerajinan dan sebagainya. Padahal kemaslahatan dunia tidak

mungkin tercapai tanpanya. Sebab bila seorang rentenir mendapat

keuntungan melalui riba tanpa bersusah payah, maka ia tidak akan

mencari pekerjaan lain yang melelahkan. Padahal Allah ,9& -en-
jadikan muamalah
anrar manusia dibangun atas azas bahwa seriap

orang boleh mengambil manfaat dari orang lain dengan imbalan

jasa atau benda yang diberikan. Sedangkan riba tidak mengandung

unsur seperti itu karena riba ibarat memberikan uang yang berlipat

ganda dari satu pihak ke pihak lain tanpa ada imbalan jasa maupun

benda.

Riba secara bahasa artinya tambahan. Sedangkan secara syar'i

(istilah) artinya tambahan atas barang-barang renenru. Riba terbagi
dalam dua jenis: riba nasi'ah dan ribafadbl.

PENJELASAN TENTANG RIBA NASI'AH

Rjba nasi' ah diambil dari kata nas a', y ang artiny amengakhirkan.

Riba jenis ini ada dua macam:

Pertama: Memungut bunga dari orang yang kesulitan memba-
yar hutang. Inilah riba yang biasa terjadi di zamanjahiliyah. Yaitu
bila seseorang memiliki hutang kepada orang lain dalam rempo rer-
tentu, maka setelah jatuh tempo, ia berkata kepada yang berhutang:
"Bayar hutangnya sekarang, atau kamu terkena bunga." Kalau yang

54 Kitab Jual Beli

berhutang membayarnya maka ia tidak dikenai tambahan. Namun
jika tidak maka ia akan diberi tenggang waktu lagi dengan catatan
hutangnya juga bertambah hingga akhirnya hutang yang ditanggung-
nya pun semakin berlipat ganda. Karenanya, Allah mengharamkan
hal ini dengan firman-Nya:

{ @ ;;; Jr',:{i ;# it 6*): fu

"Bila dia (orang yang berb utang) dalam heswlitan, mak a tangguh-
hanlab hingga ia berkelapdngdn..." (QS. Al-Baqarah: 280)

Artinya, bila saat jatuh tempo penghutang dalam kesulitan, maka
tidak boleh menambah hutangnya dengan bunga. Tapi dengan mem-
berinya tenggang waktu. Namun bila penghutang memiliki kelapang-
an, maka ia wajib membayar hutang tersebut hingga tidak perlu ada
tambahan atas hutangnya, baik dalam kondisi sulit maupun lapang.

Kedwa: Riba yang terjadi dalam jual beli dua jenis barang yang
sama-sama memiliki 'r.llab ribafadb7 danserah terima salah satu atau
kedua barang tersebut tertunda (tidak langsung di tempat).* Misalnya
menjual emas dengan emas, perak dengan perak, burr' dengan burr,
sya'iirl" dengan sya'iir, kurma dengan kurma, dan garam dengan ga-
ram. Atau menjual salah satu dari keenam jenis tersebut dengan jenis
lain namun secara tempo.rr Demikian halnya dengan barang-barang
lain yang memiliki 'illah (sebab) sama dengan keenam jenis barang
di atas, maka riba pun dapat terjadi pada barang tersebut. Nanti akan
kami jelaskan.

7 [Dalam pembahasan berikutnya akan dijelaskan apakah yang dimaksud dengan
8 'illab riba fadbl tersebutl.e"n'

[Jadi, bila seseorang membaner 1 kg kurma Madinah dengan 1 kg kurma Me-
sir namun salah satunya atau kedua-duanya tidak langsung diserahterima-
kan saat itu juga maka terjadilah riba nasi'ah).e""'

' Sejenis gandum yang dalam bahasa Inggris disebut utheat,P'"''
'0 Sejenis beras berkecambah atau jewawut, yangdalam bahasa Inggris disebut

barley atau malt.P""''

" [Misalnya menjual emas dengan perak, atau kurma dengan garam dan semisal-

nya, tapi tidak langsung serah terima di tempat, namun salah satu atau ke-

duanya diserahkan beberapa waktu kemudian].e'n"

Bab Tentang Riba €, Huhumnya 55

PENJELASAN TENTANG RIBA FADHL

Rib a fa dbl di am b il dari katafadb l, y ang artiny a t amb ahan at as

salah satu dari dua barangyang dibanerkan. Allah dan Rasul-Nya
telah menegaskan pengharaman ribafadb/ atas enam jenis barang,
yaitu:

(1) emas, (2) perak, Q) bro, (4) sya'ier, (5) kurma, dan (6) garam.

Jika salah satu dari keenam jenis barang ini ditukarkan dengan
jenis yang sama, maka tidak boleh ada selisih di antara keduanya.r2

Dalilnya adalah hadits 'Ubadah bin Shamir #) bahwa Nabi ffi

bersabda:

bAV,jru,,}\'),*i\ $6,!^; tr! +; il r

!c!!,c, \i* )lL oo ,1#lL>J'51J;,/';r-iJU
V,

.l,*-z.)r tll-! (ellzo-/J agl.lo*u,

,J 2 J

"(Bila) emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak,
burr ditukar dengan bun (biji gandum), sya'iir ditukar dengan
sya'ier,kurma ditukar dengan kurma, atau garam ditukar dengan
garam; maka keduanya harus sama persis dan langsung diserah
terimakan."r3

Hadits ini menunjukkan diharamkannya menjual emas dengan
emas dalam jenis apa pun, baik yang telah dibentuk maupun yang
belum, kecuali dalam jumlah yang sama persis dan langsung diserah-
terimakan. Demikian pula dengan tukar menukar ant^raperak de-
ngan perak, burr dengan burr, sya'iir dengan sya'iir, kurma dengan
kurma, atau garam dengan garam. Semuanya harus dalam jumlah

yang sama persis dan langsung diserahterimakan.

t2 [Artinya, 1 kg kurma hanya boleh dibarterkan dengan 1 kg kurma juga ranpa
memandang kualitas maupun harganya. Bila salah satunya dilebihkan sedikit
saja, maka terjadilah riba fadb[).v^,
HR. Muslim (no. 1587 (4063) [VI:16] kitab al-Musaqah,bab 15, dan Ahmad
(no. 9605) [II:438].

56 Kitab lual Beli

Selain keenam jenis barang di atas, jika ada barang lain yang

memiliki 'illah (alasan) yang sama maka dapat diqiyaskan kepada yang
enam. Dengan kata lain, barang tersebut tidak boleh ditukar dengan
sejenisnya kecuali dalam jumlah yang sama pula, demikian menurut
mayoritas ulama. Hanya saja para ulama berbeda pendapat dalam
menentukan'illah yang terdapat pada keenam jenis barang itu.

Pendapat yang shahih tentang 'illab yangterdapat pada emas
dan perak ialah karena keduanya termasuk alat pembayaran tunai.

Sehingga semua yang termasuk alat pembayaran tunai dapat diqia*

kan kepada emas dan perak.

Contohnya uang kertas yang ada sekarang; jika terjadi tukar-
menukar dalam satu mata uxng, tidak boleh ada selisih sedikit pun

selama uang tersebut dikeluarkan oleh negara yang sama.ro

Sedangkan pendapat yang shahih tentang 'illab yang ada pada

keempat barang lainnya -yaitu: burr,sya'iir,kurma dan garam- ialah
karena keempat barang tersebut adalah makanan yang dapat ditim-

bang atau ditakar. Oleh karenanya, hukum ini juga berlaku pada se-

tiap makan ditimbang atau ditakar. Sehingga makanan
,p, prn yan^gnsyeapnegrdtiaitpuattidak boleh ditukar dengan sejenisnya kecuali

bila takaran atau timbangannya sama persis.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah'$'M mengatakan: "'Illah yang
menyebabkan diharamkannya ribafadhl adalah karena barang ter-
sebut termasuk makanan yang bisa ditimbang atau ditakar. Ini salah

satu pendapat Imam Ahmad."'s

Berangkat dari sini, setiap barang yang memiliki kesamaan'illab
dengan keenam barang di atas, seperti bila barang tersebut bisa ditim-
bang dan dimakan, atau bisa ditakar dan dimakan; atau ia merupakan
alat pembayaran tunai, maka barang tersebut bisa terkena riba.

Jika barang yang dibarterkan memiliki'illah dan jenisnya Pun
sama, seperti burr yang ditukar dengan burr, atau sya'iir ditukar

dengan sya'iir, dan seterusnya, maka tidak boleh ada selisih kadar

maupun tempo pembayaran. Dalilnya adalah hadits Nabi ffi yang

ra [Misalnya selembar uang Rp. 100.000.- hanya boleh ditukarkan dengan nomi

nal yang sama meski jumlah lembarannya berbeda].r"*'

's Lihat Fataua Syaikhul Islam (XXIX/470).

Bab Tentang Riba & Hukumnya 57

p^ertrianky,abiu"r(rBdilaitu) keamr adsendgitaunkbaurrrd,ernygaa'inir emas, perak ditukar dengan
ditukar dengan sya' iir,kurma

ditukar dengan kurma, atau garam ditukar dengan garam; maka ke-

duanya harus sama persis dan langsung diserahterimakan."t,,

Namun jika'illah-nya sama dan jenisnya berbeda, seperti burr
ditukar dengansya'ilr, maka jumlahnya boleh berbedatapi tidak boleh

ada tempo dalam serah terima. Dalilnya adalah sabda Nabi #-:

ril ,-t+ J5\;*,16j{re+r6uiiir l5,U

'*\'43K

"Jika jenis barang-barang tadi berbeda, maka juallah sesuka
kalian asalkan langsung serah terima.tT

Artinya serah terima di tempat transaksi sebelum satu sama lain

berpisah.

Adapun jika'illahdan jenisnya berbeda, maka boleh terjadi se-
lisih maupun tempo. Seperti emas yang ditukar dengan burr, atau
perak ditukar dengan sya'iir.

Kemudian perlu kita ketahui bahwa sesuaru yang dijual dalam
takaran tidak boleh ditukar dengan sesama jenisnya kecuali dalam
takaran pulart. Demikian pula sesuatu yang dijual dalam timbangan
ddak boleh ditukar dengan sesama jenisnya kecuali dalam rimbangan

pula. Dalilnya adalah hadits Nabi #-:

S:S #\'L4\-), J)-V:S #it g ;; 1l r
\;{ r1'A\#5, Jb} # }Ufi5,o)e,

.Ulz')-,

l6 Telah berlalu takbrijnya pada halaman 56 (hal. 38 dalam kitab asli).
17 HR. Muslim (no. 1587 (4063)) [VI:16] kftab al-Musaqab,bab 15, dan Abu

Dawud (no. 3340) [III:419] kitab al-Buyu',bab 12. Dari'Ubadah bin Shamit

*.urt.-).

[Artinya tidak boleh menukar kurma satu dus dengan kurma satu kilo. Sebab
dus merupakan takaran sedangkan kilo adalah timbangan].rn,.

58 Kitab Jual Beli

"Emas ditukar dengan emas dalam timbangan yang sama, dan
perak ditukar dengan perak dalam timbangan yang sama; sedang-
kan burr ditukar dengan bum dalamtakaran yang sama, dan sya'iir
ditukar dengan sya'iir dalam takaran yang sama."r'

Hal ini karena bila suatu barang ditukar dengan satuan yang

berbeda secara syar'i, berarti jumlahnya tidak akan sama. Karenanya
tidak boleh menukar barang yang ditakar dengan sesamanya tanpa
takaran tertentu. Juga tidak boleh menukar barang yang ditimbang
dengan sesamanya tanpa timbangan tertentu. Sebab ketidaktahuan
akan persamaan dua barang maka sama saja mengetahui perbedaan
keduanya.

Kemudian perlu diketahui pula bahwa sbarf,z" yaitu tukar me-

nukar alat pembay^ran. Baik yang ditukar jenisnya sama maupun
berbeda. Baik yang ditukar berupa uang emas, uang perak, maupun
uang kertas yang sekarang dipakai, semua alat pembayarun ini hu-
kumnya sama seperti emas dan perak. Karena keduanya memiliki
'illab ribayang sama, yaitu sebagai alat pembayr^n tunai.

Bila suatu alat pembayaran ditukar dengan jenis yang sama; seperti
emas dengan emas, perak dengan perak, atau uang dengan uang
seperti dolar dengan dolar, selembar uang dirham Saudi dengan
semisalnya, maka kadar atau nominalnya harus sama dan harus
serah terima langsung di tempat.

Bila suatu alat pembayaran ditukar dengan jenis yang berbeda;
seperti Riyal Saudi dengan Dollar Amerika atau emas dengan
perak, maka yang diwajibkan hanya satu, yaitu serah terima se-
cara kontan di tempat traksaksi. Sedangkan kadar atau nominal-
nya boleh berbeda.

Bila perhiasan emas ditukar (dibeli) dengan uang perak atau
uang kertas, maka harus dibayar cash dan serah terima di tem-
pat. Demikian pula halnya bila perhiasan perak ditukar (dibeli)

dengan emas misalnya.

re HR. Muslim (no. 1584 (4065) [VI:17] khab al-Musaqab,bab 15, dari Abu
Sa'id al-Khudri ,gE . Berkata Syaikh al-Albani "Hadits ini merupakan ri-

wayat ath-Thahawi dari Sahabat 'Ubadah bin Shamit, Inaa' al-Gbalil (no.
13a9)lY: 196).
20 Yang terkenal dengan istilah tukar uang atau rnoney cl)anger.p'nt'

Bab Tentang Riba & Hukumnya 59

Namun jika perhiasan emas atau perak itu ditukar dengan per-
hiasan atau alat pembayaran dari jenis yang sama; seperti menukar
(membeli) perhiasan emas dengan emas atau membeli perhiasan
perak dengan perak [atau tukar menukar perhiasan yang sama-
sama dari emas atau dari perak], maka ada dua hal yang wajib
diperhatikan, yaitu beratnya harus sama dan serah terimanya
harus kontan di tempat itu juga.

Riba memang besar bahayanya, dan kita tidak dapat terhindar
dari bahaya tersebut kecuali bila mengetahui hukum-hukumnya.
Bila seseorang tidak bisa mengetahui hukum-hukum tersebut dengan
sendirinya, maka ia harus menanyaka.nnya kepada orang yang ber-
ilmu. Ia tidak boleh melakukan suatu transaksi (muamalah) sebelum
memastikan bahwa transaksi tersebut bebas dari riba. Hal ini agar
ag manyatetap terjaga dan dia selamat dari ancaman Allah atas para
pelaku riba. Karenatya, ia tidak boleh mengikuti apayangdilaku-
kan orang lain tanpa pengetahua'nyangjelas. Lebih-lebih di masa
sekarang, sering kali orang tidak mempedulikan cara mencari uang.

Padahal Nabi ffi pernah bersabda, bahwa di akhir zam nnanti akan

banyak terjadi riba hingga orang yang tidak memakannya pun akan
terkena debunya.2r

Di antara muamalah ribawi yang sering terjadi saat ini ada-
lah memungut bunga dari orang yang kesulitan membayar hu-

tangnya.

Yaitu bila telah jatuh tempo namun ia belum bisa melunasi,
maka ia akan terkena bunga sekian persen dari jumlah hutangnya
sesuai dengan tenggang waktu tambahan yang diberikan. Ini persis
dengan ribazamanjahiliyah yang hukumnya haram menurut ijma'
kaum muslimin.

$'2' Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah yangdiriw^yat-

kan oleh Abu Dawud (no. 3331) [III:407] kitab al-Buyu', bab 3, an-Nasa-i (no.

a455 ) IIY:2791 kitab al-Buyu', bab 2, dan Ibnu Majah (no. 2278) [III:7a] kitab
at-Tijarat,bab 57. Lafzh hadits tersebut berbunyi:

*.,)G b'*viti3ti p V1t irStsu$u; out & U-q
"Akan datang suatu masa di mana orang-orang fterlomba-lomba ) memakan
riba, dan orang yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya."

Syaikh al-Albani mengomentari hadits ini sebagai hadits dha'if (Sunan Ibnu

Majah dengan komentar beliau).

60 Kitab lual Beli

Allah,g& berfirman:

W\A A\i\:lr'Kt'\;3i ti(<r-5\ ri,-t< y

;t('i, \;i:i { ur@'wr, 3uY
o, ,//
{;"v."{nH.\j".ii66 3;"34#;,{, '*.-lu-s)

{@ <-,;:G15

"Hai orang-orangyang beriman, bertakualab kepada Allab dan

tinggalkan sisa riba (yangbelum dipungut)jika kalian benar'benar
beriman. Jika kalian tidak. melakukannya (meninggalkan sisa
riba), maka hetahuilab, bahwa Allah dan Rasul'Nya akan meme'
rangi kalian. Dan jika halian bertaubat (dari pengambilan riba),
maka kalian boleb mengambil modal kalian; (jadi) kalian tidak

zhalim dan tidak (pula) dizhalimi." (QS. Al-Baqarah:275-279)

Dalam ayat ini terdapat sejumlah ancaman bagi orang yang

melakukan riba semacam ini:

Pertama: Allah memanggil hamba-Nya dengan nama iman:
4 @ Vc O. iiri::l- $ "Hai orang- ordng yang beriman," lalu men gatakan

di ,t t i. ayar 278: 4@ *,t&"y$ "jika kalian benar'benar beriman."

Artinya, memakari riba sangat tidak layak bagi seorang mukmin.

Kedua: Allah,9& *et grtakan: {@6iliji,* "bertakwalab kepada

Allah."Ini menunjukkan bahwa oring yanghemakan riba berarti

tidak bertakwa dan tidak takut kepada Allah.

Ke ti g a : Allah,9& me n gat akan : { @'r!. I i G'Ji\iV1n* "t in ga Ik a n Ia h
sisa riba (yorgbelum dipungut),"dah ini merupakan'perintah untuk
meninggalkan sedangkan perintah berarti wajib. Kesimpulannya,

orang yang memakan riba berarti membangkang terhadap perintah

Allah.

Keempat: Allah ,98 -eryatakan perang terhadap orang yang
tidak mau meninggalkan muamalah ribawi. Allah berfirman:

4 @ d;i;.,.$$'Jika kalian tidak mau melakukannya,' yaknitidak mau
i;;;rireninggalk in riba,{@ ;,!i'n"h\3ihfi "Maba ketahuilab babua

Bab Tentang Riba €, Huhumnya 6l

A llab dan Rasul-Nya akan memerdngi kalian," yakni ketahuilah bahwa
kalian sesungguhnya sedang memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Kelima: Orang yang memakan riba disebut sebagai orangzha-
lim, sebagaimana yang tersirat dalam firman Allah:

4 @ 5631i5; \E:{ P)-\riiiHi* "maka halian boleh mmgambil

riodal kalian; (jadi) kalian tidak zhalirit dan tidak (pula) dizhalimi.'22

Di antara bentuk muamalah ribawi lainnya adalah piniaman
berbunga.

Yaitu bila seseorang meminjamkan suatu barang kepada orang
lain dengan syarat ia harus mengembalikannya dalam jumlah lebih.
Atau meminjamkan sejumlah uang dengan syarat mengembalikan-
nya sekian persen lebih banyak, sebagaimana yang dipraktikkan
oleh bank-bank konvensional. Semuanya ini adalah riba yang terang-

terangan. Bank biasanya akan mengadakan sejumlah transaksi penda-
naan (pinjaman) terhadap pihak-pihak yang membutuhkan atau para
pengusaha dan para pegawai yang bermacam-macam. Lalu mereka
membayar sejumlah uang sebagai bunga pinjaman dalam persenrase
tertentu. Kemudian persentase tersebut akan berrambah bila pemin-
jam terlambat melunasi setelah jatuh tempo. Maka terkumpulah di

sana kedua macam riba, yaitu riba nasi'ab dan ribafadhl.

Salah satu muamalah ribawi lainnya ialah yang terjadi di
bank dengan istilah deposito beriangka.

Yaitu simpanan tetap dalam jangka waktu tertentu yang menda-
pat bunga. Dalam hal ini, bank akan bebas menggunakan simpanan
uang tersebut hingga jangka waktu yang disepakati lalu membayar-
kan bunga tetap kepada pemilik simpanan (deposito) dalam persenrase
tertentu, seperti 5o/o atau 10o/o.

Di antara muamalah ribawi lainnya adalah jual beli dengan
cara'iinab.

Yaitu bila seseorang menjual barang kepada orang lain dengan
hargatempo lalu ia membeli kembali barang tersebut dengan harga
kontan yang lebih murah.

22 [Artinya bila kalian mengambil lebih dari modal kalian, berarti kalian orang
yang zhalim dan menzhalimil.

Kitab Jual Beli

Jual beli semacam ini dinamakan'iinah karena si pembeli barang
yang tempo mendapat imbalan 'ain, yang afiinya uang kontan.

Jual beli dengan cara ini hanyalah trik untuk mendapatkan riba.

Muamalah seperti ini telah dilarang dalam banyak hadits dan atsar.

Di antaranya sabda Nabi #, yang berbunyi:

2F.\\;u5i i;\:,{J! ;-ii\i \il

."'atlla,_i."ti\-H^Jl {;s,L)1\

'lL\rj&W'^Li:

"Bila kalian berjual beli secara 'iinab,menguntit ekor sapi,23 ridha
terhadap pertanian, dan meninggalkan jihad; niscaya Allah akan
menimpakan kehinaan atas kalian dan Dia tidak akan mencabut-
nya hingga kalian kembali pada qaran agama."24

Demikian pula sabda beliau H: "Akan datang suatu masa di

mana orang-orang menghalalkan riba lewat jual beli."2s

Maka dari itu, berhati-hatilah jangan sampai ada riba yang masuk
dalam muamalah Anda dan mencampuri harta Anda. Sebab mema-
kan riba termasuk do'a besar yang paling besar. Tidaklah riba dan
p erzinaan namp ak ny ata dalam suatu masyarakat, melainkan mereka
akan ditimpa berbagai kemiskinan, penyakit kronis, dan ditindas oleh
penguasa zhalim.Ingatlah bahwa riba akan memusnahkan kekayaan
dan menghapus berkah.

Allah begitu keras mengancam orang yang memakan riba dan
menganggap perbuatan ini sebagai perbuatan paling keji dan dosa
terbesar. Allah juga menjelaskan hukuman yang akan menimpa
para pemakan riba baik di dunia maupun akhirat. Dia mengatakan

2r [Artinya sibuk dengan peternakan].e'n'' al-Buyu', bab 54 dari hadits Ibnu
HR. Abu Dawud (no.
24 3462) llll:aTTlkitab

'lJmar qqy,. Telah berlalu tahhrijnyahal. 17
2s [Hadits ini sanadnya terputus antara Imam al-Auza'iy dengan Nabi ffi, seba-

gaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Baththah. Akan tetapi Ibnul Qayyim

('+L{)ihFuat^rTnagbdznisibgaSpunnyaan layak untuk menjadi penguat bagi hadits sebelumnya
Abi Dawudll/153, oleh Ibnul Qayyim)l.e*''

Bab Tentang Riba & Hukumnya

bahwa orang itu sedang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Flukuman
pemakan riba di dunia adalah Allah mencabut keberkahan hartanya
dan menjadikan kekayaanny^cepat habis. Alangkah seringnya kita
mendengar orang yang ludes kekayaannya akibat kebakaran, banjir,
dan sebagainya hingga ia jatuh miskin. Kalaupun kekayaan hasil riba
itu tersisa, tetap saja tidak diberkahi dan tidak dapat dimanfaatkan
sedikit pun. Bahkan para pemakan riba itulah justru yang dibikin
repot, menanggung hisab, dan merasakan siksa riba.

Orang yang memakan riba akan dibenci oleh Allah dan semua
manusia sebab ia hanya mengambil dan tidak memberi. Iahanya
mengumpulkan harta tapi tidak mau berinfak dan bersedekah. Ia

seorang yang kikir dan pelit sekaligus rakus dan serakah. Ia tidak
mendapat tempat di hati orang dan dikucilkan oleh masyarakat.

Inilah hukuman pemakan riba ketika di dunia. Sedangkan di akhirat
nanti hukumannya lebih kekal dan mengerikan, sebagaiman^y^ng
telah Allah jelaskan dalam Kitab-Nya. Ini semua tidak lain karena
riba adalah pekerjaan yang kotor dan merugikan serta mimpi buruk
yang menghantui masyarakat.

(z:-J

64 Kitab Jual Beli

BAB TENTANG:

HUKUM JUAL BELI PROPERTI

Properti di sini maksudnya adalah rumah, tanah, ranaman, dan
apasajayang berkaitan dengan hal-hal itu; bila dijual menjadi milik
pembeli. Sedangkan yang tidak terkait tetap menjadi milik penjual.
i Dengan mengetahui masalah ini, maka akan terselesaikanlah berbagai
pertikaian ant^rapenjual dan pembeli sebab masing-masing menge-
tahui hak dan kewajibannya. Ini karena agama kita tidak menyisakan
satu hal pun yang mengandung kemaslahatan bagi kita atau mem-
bahayakan kita melainkan ia telah menjelaskannya.

Karenanya, bila agama ini diterapkan dan hukum-hukumnya

diberlakukan niscaya tidak akan terjadi sengketa dan perselisihan.

Di antara hukum-hukum tersebur i;lah yarig akan kiia bahas kali
ini, yaitu jual beli properti.

Seseorang terkadang ingin menjual sebagian hananyayang terdiri
dari sejumlah benda yang terkait dengannya dan menjadi pelengkap-
nya. Atau mungkin benda-bendayangterkait itu bersifat berkem-
bang, baik hasilnya menyatu maupun terpisah dengan induknya.
Inilah yang menyebabkan munculnya perselisihan antarapenjual dan
pembeli: milik siapakah benda-benda terkait tersebut? Untuk me-
mutuskan perselisihan ini, para fuqaha'telah menyusun bab khusus
dalam ilmu fiqih Islam yang dinamakan: "Bab jual beli properti dan
hasil tanaman." Dalam bab ini mereka menjelaskan hal tersebut.

Bila seseorang menjual rumah, maka bangunan dan atapnya ter-
masuk bagian yang dijual. Sebab keduanya termasuk dalam penger-
tian 'rumah'. Penjualan ini juga mencakup semua yang melekat di
rumah dan menimbulkan kemaslahatan baginya; seperri pintu-pintu
yang terpasang, tangga, rak-rak yang terpaku di dinding, dan alat-alat

yang terpasang padanya seperti lift, peralatan listrik, lampuJampu
peneran gan yang terp asang di at ap, tando n-tandon/ penampun g an air
baik yang terkubur di dalam tanah maupun yangadadi permukaan.
Demikian pula pipa-pipa untuk mengalirkan air, AC yang terpasang

Bab Tentang Hukum Jual Beli Propmi

di dinding untuk mendinginkan maupun menghangatkan nrangan,
pemanas air, tanaman serta pepohonan yangadadi halaman rumah,
serta canopy (payung) yangadadi halaman.

Penjualan ini juga mencakup apa yang terkandung di bawah
tanah bangunan yang terdiri dari material padat.

Sedangkan benda-benda yang tersimpan dalam rumah dan ter-
pisah darinya maka tidak termasuk bagian yang dijual. Seperti balok-
balok kayu, tali, bejana, karpet yang bisa digulung, dan apa yang
dipendam dalam tanah bangunan sebagai barang simpanan seperti
permata, harta karun, dan semisalnya. Semua hal ini tidak termasuk
bagian yang dijual karena terpisah dari rumah dan tidak masuk dalam
pengertian 'rumah'. Namun bila berkaitan dengan kemaslahatan
rumah seperti kunci,.maka hal-hal ini ikut terjual walaupun terpisah
darinya.

Bila seseorang menjual tanah, maka yang ikut terjual adalah se-
mua yang melekat padanya dan tetap eksis di atasnya, seperti pohon

dan bangunan.

Demikian pula jika ia menjual kebun, hal itu mencakup tanahnya,
tanamanny^, pa1arnya dan tempat tinggal yangada di dalamnya.

Kalau dia menjual tanah yang ditanami tanaman sekali panen,
seperti padi dan gandum, maka tanaman itu adalah milik penjual dan
tidak termasuk dalam akad jual beli. Namun, jika tanah yang dijual
ditanami tanaman yang bisa ditebas berkali-kali seperti nrmput, atau
bisa dipetik berkali-kali seperti timun dan terong, maka tanamannya

milik pembeli tanah karena ia tumbuh di atasnya. Sedangkan hasil
tebasan atau hasil panen yang telah kelihatan saat jual beli menjadi
milik penjual.

Semua perincian tentang mana saja yang menjadi milik penjual
dan mana yang menjadi milik pembeli dalam jual beli properti ini

berlaku bila tidak ada syarat yang disebutkan oleh kedua belah pihak.
Bila ada syarat yang menyebutkan, bahwa benda-benda itu menjadi
milik salah satu dari mereka saja, maka syarat tersebut harus dipenuhi.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi #-: "Kaum muslimin itu terikat de-

ngan syarat-syarat mereka."l

I Lihat tahhrijnya halaman 21 Kitab lual Beli

68

Siapa saja yang menjual pohon kurma yang telah dikawinkan maka

buahnya menjadi milik penjual. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ffi:

'it qrq€;il \##i.'iif i+ Je15t,y

Lt+:.lr vlx"bi

"Barangsiapa membeli pohon kurma setelah dikawinkan, maka
buahnya menjadi milik penjual, kecuali bila pembeli mensyarat-
kannya."2

Pohon lain yang dihukumi sama dengan kurma misalnya anggur,
murbei, delima, mangga, jeruk, dan semisalnya. Bila pohon-pohon
ini dijual setelah kelihatan buahnya, maka hasil panennya menjadi
milik penjual. Tapi jika pohon tersebut dijual sebelum dikawinkan
seperti kurma, atau dijual sebelum nampak buahnya seperti anggur,
mangga, dan sebagainya, maka buahnya menjadi milik pembeli. Hal
ini berdasa rkan ma/bumhadits yang berbicara tentang pohon kurma
di atas. Adapun tanaman lainnya maka tinggal diqiaskan saja.

Dari sini, menjadi tampaklah bahwa syari'at Islam begitu sem-
purna.Ia memberikan solusi atas setiap permasalahan dan menunai-
kan setiap hak kepada orang yangp^ntas mendapatkannya tanpa
menzhalimi atau merugikan orang lain. Tidak tersisa satu masalah
pun melainkan Islam memberikan solusi yang cukup baginya. Solusi
yang mengandung maslahat dan hikmah di dalamnya. Demikianlah
qaranyang bersumber dariDzatyang Maha Terpuji lagi Bijaksana.
Dia-lah yang paling mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk
bagi hamba-Nya di setiap tempat dan masa. Mahabenar Allah yang
berfirman:

'K"i'ii+tvJZs\\#-Ydi\'t;"grS(r5\\&y

i;;i','o;;i ioy.;;:lV I'i Jy;;# ,,1c u9

{@ 5,*ffr'?q'rJirAG

2 HR. Al-Bukhari (no.2379) [V:62] kitab al-Musaqab,bab t7, dan Muslim (no.

1543 (3901) lYA32lkhab al-Buyu', bab 15. Dari Ibnu'lJmar r{!.i,.

Bab Tentang: Hukun'r lual Beli Properti

"Hai orang-orangyang beriman, taatilah Allah dan taatilah Ra-
sul(Nya), serta ulil amri di d.ntara kamu. Kemudian jika hamu
berselisib tentang sesuAtu' maka kernbalikanlah ia kepada Allab
(al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar ber-

iman kepada Allah dan bari kemudian. Yangdemikian itu lebib

utanxa (bagimu) dan lebih baik akibatnyA." (QS. An-Nisaa': 59)

Karenanya, tidak adayatgdapat mengakhiri perselisihan dan
mewujudkan kemaslahatan serta menciptakan ketentraman hati
selain hukum Allah dan Rasul-Nya. Adapun undang-undang buatan
manusia, ia penuh dengan kekurangan sebagaimana manusia itu

sendiri. Undang-undang tersebut tercampuri hawa nafsu dan berbagai

kecondongan, sebagaimana yang Allah firmankan:

*'f ii6;, EnG -t5t3i \Ai €t j5 y

{@ ?,t_

"seandainya hebenaran itu mengikuti bawa nafsu mereka, niscaya
ahan rusaklab langitJangit, bumi, dan apayangterdapat di dalam-
nyA..." (QS. Al-Mu'-minun: 71)

Maka celaka dan hinalah akal-akal yang mengganti hukum Allah
dan Rasul-Nya dengan undang-undang ciptaan manusia itu.

'b#;;;L(?;i't'a6aZX;*ifr#*

{@

"Apakab bukum jabiliyyab yang mereka inginkan? Padabal siapa'
kah yang lebib baik hukumnya daripada Allah bagi orang-ord.ng
beriman?" (QS. Al-Maa-idah: 50)

Kita memohon kepada Allah agar Dia menolong agama-Nya,
meninggikan kalimat-Nya, dan melindungi kaum muslimin dari tipu
daya musuh mereka. Sesungguhnya DiaJah yang Maha Mendengar
dan Maha Mengabulkan do'a.

(=-:.-J

70 Kitab Jual Beli

KITABJUAL BELI

Bab Tenta

Jual Beli H

Tanamatr

BAB TENTANG:

HUKUM JUAL BELI
HASILTANAMAN

Yang dimaksud dengan hasil tanaman ialah buah-buahanyang
dihasilkan oleh pepohonan seperti pohon kurma dan tanaman lainr
yang tujuannya untuk dimakan.

[LARANGAN MENJUAL HASIL TANAMAN SEBELUM
TERLIHAT PANENNYA AKAN BERHASIL]

Bila hasil tanaman hendak dijual tidak beserta tanamannya,
maka hal ini tidak boleh dilakukan kecuali bila kelihatan bahwa
panennya akan berhasil. Sebab Rasulullah M, melarang menjual

hasil tanaman sebelum kelihatan bahwa panen akan berhasil. Beliau

melarang penjual sekaligus pembelinya.2 Nabi melarang penjual

menjual hasil tanamannyasebelum menunjukkan gejala panen akan
berhasil agar iatidak memakan harta orang dengan cara yang batil.
Beliau **, jugamelarang pembeli karena ia menolong penjual dalam
memakan harta orang secara batil, bila tetap membelinya.

Dalam ash-Sbabibalz disebutkan bahwa Nabi ffi melarang men-

jual hasil panen sebelum ia kelihatan baik. Ketika beliau ditanya

bagaimana tanda-tandanya, beliau ffi mengatakan: "Bila telah me-

merah, atau menguning."3

I [Seperti beras yang dihasilkan oleh padi, termasuk iuga sayur-sayuran].P*nt'
2 HR. Al-Bukhari (no.A9a)UYgalkirab al'Buyu', bab 58, dari Ibnu'lJmar
{5dan Muslim (no. 1534 (3862) [V:41S] kitab al-Buyu', bab 13. Dari Jabir
r HR. Al-Bukhari (no.2195) [IV:498] kitab al'Buyu', bab 58, dari anas dan Mus-.

lim (no. 1555 (3977)) [V:a60] kftab al'Musaqab,bab 3, dari Anas bin Malik

&#' .Dan lafazh hadits ini adalah berdasarkan riwayat Imam al-Bukhari.

[Tanda-tanda ini tidak mutlak untuk setiap tanaman, namun berbeda
antara satu jenis dengan jenis lainnya, dan hal ini diketahui oleh orang yang

berpengalaman di bidangnya].P"n''

Bab Tentang: Hukum lual Beli Hasil Tanaman 73

Larangan dalam kedua hadits di atas konsekuensinya menjadi-
kan jual beli tersebut batil dan tidak sah.

[LARANGAN MENJUAL TANAMAN BERBULIR HING-
GA NAMPAK BAIK]

Adapun tanaman berbulir', maka tidak boleh dijual sebelum

bulirnya mengeras. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim dari

Ibnu'Umar E{{*':

'9," pr dr *tu i;,W, )ir\ 3i
F;3g#'\a \,v;nj ai\;J t(]' ;U-JSt) ,e
r eS

G},:AI3

"Bahwa Rasulullah ffi, melarang menjual pohon kurma hingga
buahnya kelihatan baik, dan (melarang menjual) tanaman ber-
bulir hingga memutih dan aman dari gangguan hama. Beliau
melarang penjual dan pembelinya."5

Hadits ini menunjukkan akan ketidakbolehan menjual tanaman
berbulir hingga nampak baik. Hal ini diketahui bila tanamannya
mulai memutiht'dan bulirnya mulai berisi, serta dianggap aman dari

gangguan.

[HIKMAH DARI LARANGAN TERSEBUT]

Hikmah dari larangan menjual hasil tanaman sebelum kelihatan
baik adalah karena sebelum tanda-tanda tersebut muncul biasanya
tanaman masih terancam gagal panen. Hal ini dijelaskan oleh Nabi

#, dalam sabdanya:

[Seperti padi, gandum, tomat, timun, dan semisalnya].P"n''
HR. Muslim (no. 1535 (3854) [V:a19] kitab al-Buyu', bab 13, dari Ibnu'lJmar
q{F, , dan al-Bukhari (oo. 2197) [V:a02] kitab al-Buyu', bab 56, dari Anas de-
nganlafazh yang mirip.
[Konteks hadits ini berlaku pada tanaman gandum dan sejenisnya yang ter-
kenal di daerah tersebut. Adapun di Indonesia yang terkenal adalah padi dan
padi akan menguning menjelang panen].P"nt'

74 Kitab Jual Beli

iY'€ j;ll',jV i,;;:r air r y,:; *-;\3i

rdrf

"Bagaimana menurut kalian jika ternyata Allah menahan hasil
panennya; atas dasar apakah kalian mengambil uang saudara

kalian?"7

ffiSedangkan tentang tanaman berbulir, beliau mengatakan:

"Sampai tanamannya memutih, dan aman dari gangguan."

Gangguan di sini mencakup penyakit, serangan hama, bencana

alam, dan faktor-faktor yang menyebabkan gagal panen. Aturan ini
merupakan bentul< kasih sayang Allah aras manusia dan menjadi

sebab terjaganya harta mereka, di samping menghindari terjadinya
perselisihan yang kadang berujung pada permusuhan dan saling
membenci.

Dari sini kita dapat mengetahui betapa sucinya harta seorang
muslim, sampai-sampai Nabi mengatakan: "Bagaimana menurutmu
jika Allah menahan hasil panennya, atas dasar apakah kalian meng-
halalkan harta saudara kalian?" Ini merupakan peringatan dan kecam-
an terhadap mereka yang berusaha melakukan tipu daya terhadap
orang lain supaya mendapat uang mereka dengan segala cara.

Disamping itu, hadits ini juga mengandung anjuran bagi setiap
muslim untuk menjaga hartanya dan tidak menyia-nyiakannya.

Sebab Nabi ffi melarang pembeli membeli hasil tanaman sebelum

kelihatan baik dan diduga aman dari gangguan. Sebab bila hasil ta-
naman tersebut rusak setelah dibeli, berarti uangnya hilang sia-sia dan
ia akan kesulitan untuk memintanya kembali dari penjual bahkan
mungkin tidak mampu.

Hadits ini mengandung pemahaman bahwa hukum masalah
ini didasarkan pada asumsi atau kebiasaan. Sebab hasil ranaman

yang belum kelihatan baik biasanya akan rusak; oleh karen anya ia
tidak boleh dijual. Namun setelah kelihatan baik biasanya panen
akan berhasil, makanya ia boleh dijual.

7 HR. Al-Bukhari (no. 2208) [IVr510] kitab al-Buyu', bab 93, dan Muslim (no.

l55s 0977)) [V:450] dari Anas bin Malik gE .

TanamanBdb Tentang: Hubum Jual Beli Hasil 75

Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak boleh
membahayakan atau menyia-nyiakan hart anya,termasuk lewat jual
beli yang tidak aman.

Setelah kita mengetahui bahwa hasil tanaman tidak boleh dijual
sebelum kelihatan baik, maka yang dimaksud disini ialah apabila

hasil tanaman itu dijual terpisah tidak beserta tanamannya de-

ngan syaratbvahnya/bulirnya tetap ada di pohon/tanaman hingga
waktu panen.

Namun, jika hasil tanaman tersebut mengikuti tanamannya,
atau tidak disyaratkan tetap berada pada tanaman hingga waktu
panen, maka hal ini dibolehkan. Dan ini bisa terjadi dalam tiga
bentuk, sebagaiman^ yangdijelaskan oleh para fuqaha':

Bentuk pertama: Jika hasil tanaman diiual sebelum kelihatan
baik beserta tanamannya. Seperti menjual buah-buahan yang be-
lum dipetik beserta pohonnya; maka hal ini hukumnya sah. Sebab

buah-buahan itu sekedar mengikuti induk tanaman. Demikian

pula bila yang dijual adalah tanaman hijau beserta ladangnyat juga
dibolehkan. Karena tanaman yang masih hijau tersebut dianggap
mengikuti ladang.

Bentuk kedua:Jikabuah yang belum siap panen, atau tanam'
an yang masih hiiau itu dijual ke pemilik asal-usulnya (yakni: pe'
milik pohon atau pemilik tanah) maka juga dibolehkan. Sebab jika
keduanya dijual ke pemilik asal-usulnya berarti telah terjadi serah
terima secara sempurna kepada pembelinya. Mengingat bahwa pem-
beli adalah pemilik asal-usul beserta hasilnya. Bentuk yang kedua ini

dianggap sah meskipun masih diperselisihkan. Karena sebagian ulama
memandang bahwa cara ini termasuk dalam keumuman hadits Nabi
M, y^ngmelarang menjual hasil tanaman sebelum kelihatan baik.

Bentukketiga:Jikabuah yang belum siap panen dan tanaman
berbulir yang bulirnya belum berisi diiual dengan syarat lang-

sung dipanen saat itu juga, dan keduanya' bisa dimanfaatkan

setelah ditebas, maka ini pun boleh hukumnya. Sebab alasan tidak

[Termasuk menjual padi yang masih hijau -belum berbulir- besena sawahnya,
atau tanaman sepeni tomat, terong, dan sayur-mayur beserta ladangnya].r"n'
[Yaitu buah yang belum siap panen (masih hijau) dan tanaman yang masih
hijau tadil.m''

76 Kitab lual Beli

diperbolehkan menjualnya ialah karena khawatir jika keduanya
rusak atau terkena gangguan, dan hal ini tidak akan terjadi bila
keduanya langsung dipanen saat itu juga.

Namun, jika buah yang belum siap panen dan tanaman yang
masih hijau tersebut rusak bila dipanen saat itu, maka keduanya tidak
boleh dijual. Karena hal ini berarti merusak dan menyia-nyiakan

hafia, sedangkan Nabi ff, melarang menyia-nyiakan harta."'

Menurut pendapat yang shahih, boleh hukumnya menjual ta-
naman yang bisa ditebas (dipanen) berulang kali seperti renrmputan,
sayuran, mentimun, dan terong. Baik yang dijual adalah hasil tebasan
yangada saat itu maupun yang akan datang kemudian.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah'+iM mengatakan: "Yang benar

ialah bahwa hal ini tidak termasuk dalam larangan Nabi ff,. Akad

jual beli ini sah untuk diterapkan pada hasil tebasan yangadasekarang
maupun yang belum ada, sampai ladangnya mengering. Alasannya
ialah karena kebutuhan pasar mengharuskan cara seperti itu. Jadi,
boleh hukumnya menjual hasil ladang [seperti semangka, melon,
timun, terong, dan sejenisnya] tanpa menjual tanamannya."r'

Sedangkan Ibnul Qayyim 4!iY, berkata: "Yang dilarang Nabi ffi,
adalah menjual hasil tanamanyangbisa ditunda penjualannya hingga
kelihatan baik. Karenanya hasil ladang [seperti semangka, timun,
terong, dan sejenisnya] tidak tercakup dalam larangan ini."

(r,:-J

ro HR. Al-Bukhari (oo.6473) [XI:371] kitab ar'Raqaq,bab 22, dan Muslim (no.

t715 (4481)) [VI:23S] kitab al-Aqdbiab,bab 5, dari al-Mughirah bin Syu'bah
lafazh Imam al-Bukhari.
gfi , dan ini adalah

" Lihat Fataua Syaikbul Islam (XXXVII/295).

Bab Tentang Hukum Jual Beli Hasil Tanaman 77

BAB TENTANG:

PENGEMBALIAN KAREN A PANDEMI
(GAGAL PANEN)

Pandemi adalah faktor-faktor y^ngmenyebabkan rusaknya

hasil panen, seperti serangan hama, bencana alam, puso, dan semisal-

t7ya.

Bila hasil tanaman dijual setelah ia layak jual -yaitu setelah
kelihatan baik-, lalu tiba-tiba terjadi fenomena alam' yang me-

nyebabkan gagal panen, padahal hasil panen telah dibeli dan pembeli
belum sempat memanfaatkannya karena rusak, maka pembeli bisa
meminta uangnya kembali.

Dalilnya adalah hadits Jabir g$ bahwa Nabi ffi, memerintah-

kan pengembalian karena gagal panen.2

Hadits ini menunjukkan bahwa hasil panen yang rusak men-
jadi milik penjual sedang dia tidak berhak mengambil uang yang

dibayarkan oleh pembeli sedikit pun. Kalau hasil panennya rusak
semua, maka pembeli berhak meminta seluruh uang yang dibayar-
kannya.

Namun jika yang rusak sebagian, maka pembeli berhak mem-
inta kembali sesuai dengan nilai hasil panen yang rusak tersebut.
Ini semua berdasarkan keumuman hadits di atas.

Hal ini berlaku baik jual beli itu terjadi sebelum hasil tanaman
kelihatan baik maupun sesudahnya. Ini juga berdasarkan pada ke-

umuman hadits di atas, dan sabda Nabi ffi:

t [Yaitu semua kejadian alam yang bukan karena perbuatan manusia, seperti

angin topan, cuaca panas, kekeringan, hujan lebat, cuaca dingin, serangan

2 hama, dan sebagainya yang tidak bisa ditolak oleh manusia].e"n"
HR. Muslim (no. 1554 (3980) lY:a62)kitab al-Musaqah,bab 3.

Bab Tentang Pengembalian Karena Pandemi (Gagal Panen) 81

tEi.^,,!>i iuftre

"Atas dasar apa engkau fr.na* *Jrrgr*bil hana saudaramu de-

ngan cara yang tidak benar?"'1

Namun, jika rusaknyahanya sedikit ranpa kriteria rerrentu,
maka kerugian ini menjadi tanggungan pembeli, bukan ranggung
jawab penjual. Sebab ini merupakan sesuaru yang biasa terjadi dan
tidak dinamakan sebagai gagal panen serta tidak mungkin dihindari.
Misalnya jika ada sebagian hasil panen yang dimakan burung arau
jatuh di tanah dan sebagainya.

Sebagian ulama membatasi bahwa kerusakan yang ditanggung
pembeli tersebut ialah yang kurang dari sepertiga.

Akan tetapi, yang lebih tepat ialah tidak ada batasan rerrentu
dalam hal ini namun dikembalikan pada kebiasaan serempar. Sebab
pembatasan semacam ini memerlukan dalil.

Alasan kenapa penjual yang harus menanggung kerugian akibat
gagal panen di atas, menurut para ulama, ialah karena serah terima
hasil tanaman yang belum dipanen -masih di pohon- sifatnya belum
sempurna. Meskipun pembeli telah mendapat kebebasan, tapi dia
tetap saja belum menerima hasil panen tersebut. Ini jika panennya
gagal karena fenomena alam.

Namun bila panennyagagalkarena ulah manusia seperti kebakar-
an, maka saat itu pembeli bebas memilih satu dari dua hal:

l. Ia membatalkan jual beli itu dan meminta uangnya kembali,

lalu penjual menuntut ganri rugi kepada orang yang merusak.
Atau,

2. Ia tetap menyetujui jual beli tersebut dan menuntut ganti rugi

kepada orang yang merusak.

I Hadits dengan lafazh ini diriwayatkan oleh Muslim (no. 1554 Q97S)) [V:a50]

kitab al-Musaqab, bab 3, dari Jabir .{E . Sedangkan lafazh lain yang mirip

dengannya diriwayatkan secaraMuttafaq'alaih dari Anas bin Malik, dan rclah
ditakhrijsebelumnya.

Kitab Jual Beli

ITANDA YANG MENJADI TOLOK UKUR BOLEH.
TIDAKNYA HASIL TANAMAN DIJUAL]

Tanda-tanda baiknya hasil tanaman selain kurma (yaitu tanda
yang menjadi tolok ukur siapnya buah-buahan untuk dimanfaatkan,
juga yang dijadikan Nabi sebagi tolok ukur boleh-tidaknya untuk
dijual) berbeda antara satu tanaman dengan ranaman lainnya.

Pada tanaman anggur, tandanya adalah jika anggurnya penuh
berisi air dan terasa manis.

Dalilnya adalah hadits Anas gE yang berbunyi:

.t)n.Po.-&6>z .i{

"Nabi melarang jual beli anggur hingga warnanya menghiram."
(HR. Ahmad dan para perawinya tsiqah).+

Sedangkan pada buah-buah lain seperti apel, semangka, delima,

aprikot, plum, kelapa, dan sebagainya tandanya adalah jika buah-
buahan ini kelihatan masak dan bisa dimakan.

Dalilny:i adalah hadits yang berbunyi:

.,*3.53.l d; pM^\iy.) dr+j

ff"Rasulallah melarang menjual buah-buahan (yang masih di

pohon) hingga ia kelihatan baik."s

Dan dalam lafazhlain disebutkan: "Hingga kelihatan baik untuk
dimakan."

Adapun pada mentimun dan sejenisnya tandanya ialah bila bisa
dimakan. Sedangkan pada biji-bijian, tandanya ialah bila bulirnya

a Hadits shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3371) [III:

433)kitab al-Buyu',babz2,at-Tirmidzi (no.1228) [III:530] kitab al-Buyu',bab 15,
dan Ibnu Majah (no. 2217)llIl:aflkitab at-Tijarat,bab 32, dari Anas. Dishahih-

5 kan oleh Syaikh al-Albani dalam lrua'al-Gbalil (no. 1366).

Muuafaq alaibi.Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2196) IIY:4981 kitab a/-
Buyu',bab 85, dan Muslim (no. 1536 (3849,3871))lYz42l)kitab al-Buyu',bab

13, dari Jabir gE , dan lafazh hadits ini adalah berdasarkan riwayat Muslim.

Panen)Bab Tentang Pengembalian Karena Pandemi (Gagal 83

mulai mengeras dan memutih. Sebab Nabi #, menjadikan tanda

tersebut sebagai batasan yang menyebabkan sahnya jual beli."

C,?J

6 Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam yang lima selain an-Nasa-i dari

Anas SE , dan ini merupakan penggalan dari hadits Anas yang sebelumnya.

84 Kitab Jual Beli

BAB TENTANG:

APA SAJA YANG TERMASUK
SEPERANGKAT DALAM BARANG
YANG DIBELI DAN APA YANG TIDAK

Ada banyak hal yang dianggap sebagai seperangkat dalam barang

yang dibeli dan menjadi milik pembeli selama tidak dikecualikan
oleh penjualnya. Di antaranya adalah:

Bila seseorang menjual seorang budak, maka penjualan ini men-
cakup pakaian yang melekat pada budak tersebut. Bila ia menjual
seekor kuda, maka penjualan ini mencakup kekang, tali kemudi, dan
sepatu yang terpasang pada kuda itu. Semua aksesori ini termasuk
dalam barang yang dibeli sebab demikianlah tradisi yang berlaku
dalam jual beli. Sedangkan aksesori yang menurut tradisi tidak diang-
gap seperangkat dalam barang yang dibeli dan tidak dibutuhkan oleh
barang tersebut seperti uang milik si budak, atau pakaian bagus yang
dikenakannya, maka hal itu tidak termasuk dalam barang yang dibeli.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi H,:

* FYj-:s"ji'i1 | #V)aiW,i';'lS t"^;;

L'rfijl

"Barangsiapa menjual seorang budak yang memiliki harta, maka
harta tersebut menjadi milik penjualnya; kecuali bila pembeli
mensyaratkannya."l

Hadits ini menunjukkan bahwa harta seorang budak tidak terhi-
tung sebagai sepaket dalam penjualan budak. Sebab yang dijual adalah

I Muuafaq alaibi.Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2379) lY$2lkiab al'Mu-

saqab,bab 17, dan Muslim (no. 1543 (3905) [V:a33] kitab al'Buyu', bab 15, dari
'Abdullah bin 'Umar c,i?lr,.

Bab Tentang Apa Saja yang Termasuh Seperangkat... 87

budaknya. Sedangkan hartanya sifatnya hanyalah tambahan. Hal
ini seperti kalau penjual tersebut memiliki dua orang budak namun
iahanya menjual salah satunya, maka yang satu lagi tetap menjadi
miliknya. Di samping budak dan hartanyaadalahmilik majikannya,
maka ketika sang majikan menjual si budak, hartanyatetap milik
majikan.

Jika pembeli mensyaratkan bahwa harra yang ada pada budak
tersebut dimasukkan dalam akad jual beli, maka ia termasuk sepaket

dalam penjualan. Sebagaimana sabda Nabi ffi: "Kecuali bila pembeli

mensyaratkannya."

(r:-J

88 Kitab Jual Beli

BAB TENTANG:

HUKUM SALAM

Salam a:.rru salaf artinya menyegerakan pembayaran dan me-
nunda penyerahan barang.

Sedangkan para fuqaha' mendefinisikannya sebagai "Transaksi
atas suatu barang dengan kriteria tertentu yang berada dalam jamin-

an penjual dan diberikan di kemudian hari namun dengan harga
tunai yang diterima di tempat transaksi."r

Muamalah seperti ini hukumnya diperbolehkan menurut al-

Qur-an, as-Sunnah, dan ijma'.
Allah,98 berfirman:

,LiJ,# oy y* {)'i 6yr$( Aii q;6-y
(@ ZPt

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalab

tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklab kamu
menulishannyl... " (QS. Al-Ba qarah: 282)

Ibnu'Abbas qgp, mengatakan: "Aku bersaksi bahwa salafyang
terjamin hingga tempo tertentu telah dihalalkan dan diizinkan oleh
Allah," kemudian ia membac^aya;t di atas.2

' [Gambarannya sebagai berikut: A melakukan transaksi penjualan 100 kg be-
ras jenis rojolele seharga Rp. 2 juta kepada B. Beras tersebut akan diserahkan

2 bulan kemudian kepada B, namun A menerima pembayarannya kontan saat

2 itu juga].n*'"

HR. Al-Hakim (no.3189) lll:342),al-Baihaqi (no. 11081) [VI:30], dan'Abdur-
r azzaqash-Shan'ani dalam Musb annaf-ny a (no. 1 a064) [VIII: 5] khab a l - B uy u',
dari jalur Abi Hasan al-A'raj.

Bab Tentang Huhum Salam 9t

Ketilca Rasulull ah W" db a di Madin ah, terny ata w gaM adin ah
suka melakukansalamterhadap hasil tanaman untuk re^mr po serahun,

dua tahun, dan tiga tahun. Maka Rasulullah #, bersabda:

.3_-Lud5 ,# a_,4 o;) zc,* OeD\,
?rvE\l\*$3-) al,t.Iitro-o- u. ,i-o.-7)1

"Barangsiapa melakukan salaf atas sesuatu (dalam laf.azhlain: atas
kurma), maka hendaklah ia melakukan salaf dalam takaran yang
jelas,. timbangan yang jelas, dan hingga waktu yang jelas."3

Hadits ini menunjukkan dibolehkannya melakukan salam boloJ)
dengan syarat-syarat di atas.

Di samping itu, Ibnul Mundzir dan yang lainnya menyebutkan
bahwa para ulama telah sepakat (ijma') atas dibolehkannya salam.a
Apalagi mengingat hajat orangyang kadang mengharuskan cara
seperti ini. Sebab salah satu pihak diuntungkan karena mendapat
uang tunai sedangkan yang lainnya diuntungkan karena mendapat
barang murah.

ISYARAT.SYARAT MUAMALAH DENGAN CARA

SALAM]

Agar salam dianggap sah, ada syarat-syarat khusus yang ditambah-
kan selain syarat-syarat jual beli,s yaitu:

1. Sifat-sifat barang yang hendak dijual dengan cara salam harus

baku. Karena barang yang tidak mungkin dibakukan sifat-sifat-
nya akan menimbulkan banyak perbedaan dan menyebabkan

Muuafaq 'alaih. Diris,ayatkan oleh al-Bukhari (no. 2240) llY:5401 kitab as.
Salam, bab 2, dengan laf.azh"4-o (atas sesuatu)," dan Muslim (no. 160a a118))

j;IYI:alkitab al-Musaqab,bab'ki-25, dengan lafazh" (atas kurma)," dari

Ibnu 'Abbas. Dalam lafazh al-Bukhari lainnya "r[lr; (imi-buah-buahan)," (no.

2253) llY :a571 kitab as-Salarn, bab 7 .
Lihar al-ljmaa' hal. 54.
[Artinya syarat sahnya salam mencakup syarat jual beli secara umum ditambah
syarat-syarat tambahan tersebut di atas].r"n"

92 Kitab Jual Beli

perselisihan di antara kedua belah pihak. Oleh karenanya, tidak
sah melakukan salam terhadap barang yang sifatnya berubah-
rubah seperti sayuran, kulit, bej an a y angbermacam-macam, dan
batu permata.

? Menyebutkan jenis dan macam barang yang hendak dijual dengan
cara salam. Jenis contohnya gandum, sedangkan macam (varietas)
contohnya salmoni, yaitu salah satu macam gandum.

3. Menyebutkan kadar barangyang hendak dijual dengan carasalam
dalam bentuk takaran, timbangan, atau ukuran. Sebagaimana
sabda Nabi:

Jb)QrV,F C

Fittiqo.p.Ilro--o

.a Ja,-a lrt

\o-t

"Barangsiapa melakukan salaf atas sesuatu, maka hendaklah ia
melakukannya dalam takaran yang jelas, timbangan yang jelas,
dan hingga waktu yang jelas." (Munafaq'alaih)

Sebab jika kadarnya tidak diketahui maka mustahil untuk di-

serahkan.

4. Menyebutkan tempo yang jelas. Sebab Nabi H., mengatakan:

"Hingga waktu yrng jelas," dan Allah ,$8 berfirman:

}Vp'u "12,1,*t oLi-+ {):ir'rl ...

(@

"... apabila kamu bermuamalab tidak secd.ra tunai untuk usaktu
yang ditentukan, hendaklab kamu menuliskannyd..." (QS. Al-

Baqarah:282)

Ayat dan hadits di atas menunjukkan disyaratkannya penundaan
penyerahanan barang dalam salam sekaligus Penentuan waktu pe-
nyerahannya yangdiketahui oleh kedua belah pihak.

5. Hendaknya barang yang dijual dengan cara salam diduga kuat

telah tersedia saat jatuh temp o, agar barang tersebut bisa diserah-

Bab Tentang: Hukum Salam 93

kan pada waktunya. Bila barang yangdi*alam-kantidak ada saar

jatuh tempo, maka salam tersebut tidak sah. Contohnya bila

men-salam-kan anggu r dan ruth ab,, hingga musim dingin.

6. Harga barang yang dijual dengan cara -salam- harus dibayar

kontan seluruhnya dengan nominal yang jelas di rempat transaksi.

Dalilnya adalah sabda Nabi ffi : "Barangsiapa melakuka n salaf aas

sesuatu, maka hendaklah ia melakukannya dalam takaran yang-
jelas..." dan sererusnya. Melakukan salaf membayar.
^rtinya
,ffiImam asy-Syafi'i mengatakan: "Istilah salaf ddak akan

berlaku hingga harga barang yang di*alaf-kan dibayar secara runai

sebelum berpisah dengan yang mene rima salaf. Sebab bila harganya

tidak diterima di tempar rransaksi, maka transaksi ini menjadi jual

beli utang dengan utang yang dilarang."

.7 Hendaklah barang yang dijual dengan carasalam bukan termasuk

benda yang sudah nyata,retapi hutang yang terjamin. Karenanya,

tidak sah men-salam-kan sebuah rumah atau sebatang pohon.

Sebab sesuatu yang relah nyata sangar mungkin ,rrtrk rusak

sebelum diserahkan sehingga maksud yang seben arnya ridak

tercapai.

Penyerahan barang yang dijual dengan carasalamhendaknya di-

lakukan di tempat terjadinyatransaksi jika memungkinkan. Namun
jika tidak memungkinkan, seperri jika transaksi terjadi di gurun,

atau di lautan; maka rempar penyerahannya harus disebutkan. Jika
kedu-a belah pihak telah setuju dengan lokasi penyerahan barang,
barulah salam boleh dilakukan. Namun jika keduanya masih bei-

selisih tentang lokasinya, maka dikembalikan ke tempar transaksi
semula jika memungkinkan, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

[ATURAN DALAM SALAM]

Di antara aturan dalam salam adalah tidak boleh menjual barang
yang dibeli dengan cara -salam- sebelum menerimanya. Karena

6 [Yaitu kurma yang serengah matang. Kedua jenis barang ini hanya ada di mu-

sim panas. oleh sebab itu tidak boleh dijual dengan carasalamhingga musim
dingin. Demikian pula dengan barang-baran gyangsifatnya *,_,si*rrr, ia tidak
boleh dijual dengan cara salam hingga di luar musimnyal.

94 Kitab Jual Beli

Nabi H, melarang menjual makanan sebelum diterima.T Tidak sah

pul a mel ak ukan h aw a Iaht terhadapny a. S eb ab b au al a h hany a b oleh
ditujukan kepada hutang yang telah tetap. Sedangkan salam masih
beresiko dibatalkan.

Termasuk aturan dalam salam adalah jika barang yang dijual

dengan cara-salam- tidak didapatkan saat jatuh tempo, seperti orang
yang menjual buah tertentu dengan carasalam,tapi ternyata pohon-
nya tidak berbuah tahun itu, maka orang yang berhak mendapatkan
buah tersebut harus bersabar hingga barang yang dibelinya ada dan
memintanya. Atau boleh juga memilih untuk membatalkan salam
dan mengambil modalnya kembali. Sebab bila suatu akad dihapus,
apa yang telah dibayarkan harus dikembalikan ke pemiliknya. Kalau

apa yang dibayarkan itu ternyata tidak ada lagi (habis/musnah),

maka ia diberi gantinya. Wallaabu a'lam.

Diperbolehkannya muamalah semacam ini termasuk kemudah-
an dan toleransi yang diberikan oleh syari'at Islam. Sebab muamalah

ini memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mewujudkan

kemaslahatan mereka, tanpa mengandung unsur riba maupun cara-
cara terlarang lainnya. Maka segala puji bagi Allah atas semua ke-
mudahan ini...

(t:.J

7 Lihat takhrijnya halaman 42
I lHaualah artinya pengalihan hutang. Misalnya A memiliki piutang di B, dan A

berhutang kepada C. Ketika C menagih A, maka A bisa mengalihkan tagihan

tersebut kepada B. Inilah gambaran singkat dari baualab. Penulis akan mem-

bahas masalah ini secara khusus dalam bab bawalab1.e""''

Bab Tentang Hukum Salam 95

BAB TENTANG:

HUKUM QARDH (PINJAMAN)

Qardb secara bahasa artinya memotong. Karena orang yang
memberi pinjaman akan memotong sebagian hartanya untuk diberi-

kan kepada peminjam.

lDEFrNrSt QARDTI)

Sedangkan definisi qardb secara syar'i adalah memberikan harta

kepada orang yang bisa memanfaatkannya, kemudian orang itu

mengembalikan gantinya.

Qardb merupakan bentuk tolong-menolong dan kasih sayang.

Nabi ffi menyebutnya sebagai maniibabt (anugerah) sebab pemin-

jamnyamendapatkan manfaat kemudian mengembalikannya kepada

yang meminjamkan.

Memberi pinjaman uang hukumnya sunnah dan pahalanya besar.

Nabi #, bersabda:

oK.it ,#'y\s$Vt rb*#J4v
":
Xi' 4ra9'J;'a?)

.o_..o

"Tidaklah seorang muslim memberi pinjaman kepada sesama

muslim dua kali, melainkan seperti ia bersedekah sekali kepada-

\ya."'

t Sebagaimana yang tersebut dalam hadits Ibnu 'Abbas riwayat Muslim (no.

1 550 (396 0) [V:453] khab al- Buy u', bab 21, yang artinya: "Barangsiapa memi-
Iiki sepetak tanah, maka bila ia anugerahkan (pinjamkan) kepada saudaranya

2 itu lebih baik baginya." oleh Ibnu Majah (no. 2a30) [III:153] dari Ibnu
Hadits hasan. Diriwayatkan

Mas'ud €5 . Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam lruta'al-Ghalil (no.

138e).

Bab Tentang Huhum Qardh (Pinjaman) 99


Click to View FlipBook Version