{y.xr -tlt, ;6;fr, ;rfi #-33, \ J 3rL_j"*
;9( @ <,'i{ti trS i"3' 1i'"J
"Mereka ingin memadarnkan cabaya (agama) Allah dengan mulut
(ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain
*riy r*p rmakan cabay a-Ny a, walaupun orang' orang kafir tidah
menyukai." (QS. At-Taubah: 32)
(2.:'-J
Bab Tentang Hukum Pembagian lV'arisan 36s
BAB TENTANG:
SEBAB-SEBAB ME\TARISI
DAN PENJELASAN TENTANG
AHLI \T/ARIS
Mewarisi artinya berpindahn ya harta orang yang mati kepada
yang masih hidup sepeninggalnya, sesuai dengan yang disyari'atkan
Allah.
Mewarisi sebabnya ada tiga:
Pertarna: Hubungan rahim, yaitu kekerabatan secara nasab.
Allah,g& berfirman:
{ @ "i{ so,6::.ltt# *,n\ 6ir' }
"... Mereka yd.ng rnerniliki bubungan rabim itu ada yang lebih
berhak terhadap sesd.rnd.nya rnenurut Kitabullaar... " (QS. A1'
Anfaal:75)
Ini menunjukkan bahwa kerabat, baik yang dekat mauPun yang
jauh, berhak mendapat warisan selama tidak terhalang orang lain.
Kerabat secara nasabdi sini meliputi orang tua, keturunan, dan
hauasyi. Orang tua meliputi ayah, kakek, dan terus ke atas namun
khusus yang laki-laki. Sedangkan keturunan meliputi: anak (baik
laki-laki maupun perempuan), anak dari anak laki-laki, dan terus
ke bawah.
Adapun hauasyimeliputi saudara (laki dan perempuan), anak la-
ki-laki saudara dan seterusnya ke bawah, saudara lelaki ayah ('amm),
saudara lelaki kakek dan seterusnya ke atas, serta anak lelaki mereka
dan seterusnya ke bawah.l
' Lihat Haaryiab ar-Raudbul Murbi'(I/88). 369
Bab Tentang Sebab-Sebab Meuarisi...
Kedwa: Pernikahan, yaitu akad perkawinan yang sah meskipun
belum terjadi hubungan intim dan berdua-duaan. Hal ini berdasar-
kan keumuman firman Allah.€:
{@ H;i3r(:"a#ss}
"Kalian berhak mendapat harta yang ditinggalkan oleh istri-istri
kalian..." (QS. An-Nisaa': 12
Hingga firman-Nya:
{@ ;Kit U}\(6; }
"... ddn mereba (para wanita)juga berhak mendapat harta yang
ditinggalhan suami-suami mereka,." (QS. An-Nisaa': 12)
Yang berhak mewarisi karena pernikahan adalah suami-istri.
Masing-masing mewarisi pasangannya berdasarkan ayat ini. Suami-
istri tetap saling mewarisi walaupun istri tersebut berada dalam
masa'iddab akibat talak yang masih bisa dirujuk. Sebab kerika itu
ia masih berstatus sebagai istri. Ungkapan: 'akad perkawinan yang
sah' mengecualikan akad perkawinan yang tidak sah. Karenanya,
pernikahan yang tidak sah menyebabkan suami-isteri tidak saling
mewarisi.
Ketiga:'Wala' karena memerdekakan. Artinya, seseorang
berhak mendapat warisan dalam jumlah yang tidak terap (ta'shib),
karena jasa baiknya memerdekakan budaknya. Yang mewarisi da-
lam kondisi ini hanyalah satu pihak yaitu majikan. Jadi, majikan
berhak mewarisi harta budak yang telah dimerdekakannya, namun
tidak sebaliknya. Adapun sepeninggal majikan, maka yang mewarisi
harta mantan budak itu adalah'ashabah majikan yang bisa mewa-
risi dengan sendirinya ('asbabah binnafsi), bukan 'ashabah bil gbairi
maupun 'asbabah ma'al ghairi.
Dalil mewarisi karena uala' adalah sabda Nabi #,,:
.,*;3r l:;k'aJ. -lt.i;r
370 Kitab Harta lVarisan
" Wala' adalah kekerab atan sepert i kekerabata n n ds d.b." ft{R. Ibnu
Hibban dan al-Hakim, dan beliau menshahihkannya)2
Dalam hadits ini, Nabi menyerupakan wala' dengan nasab. lika
nasab menjadi alasan untuk mewarisi maka uala'pundemikian, dan
ini telah disepakati oleh para ulama.
Dalam ash-Sbahibaln disebutkan bahwa Nabi #., bersabda:
.6L\,p t.ir\ url
"tWala' itu hanyalah bagi orang yang memerdekakan."
MACAM.MACAM AHLI \TARIS BERDASARKAN JENIS
KELAMINNYA
Berdasarkan jenis kelamin, ahli waris terbagi menjadi lakiJaki
dan perempuan.
Ahli waris dari kalangan laki-laki ada sepuluh:
t A.2. Anak laki-laki dan keturunannya yang laki-laki secara turun-
temurun (cucu, cicit, dan seterusnya).
Dalilnya adalah firman Allah:
"ffsr $, Jr 5 ttt:"e $6ex\,fuiy
(@
*Allab beruasiat kepadamu (tentang pembagian warisan) untuk
anak-anakmu; bagi merek a yang lahi'laki mendapat bagian sEerti
dua orangperernpuan.'" (QS. An-Nisaa': 11)
2 Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Hakim (no. 8071) [IV:490],Ibnu Hib-
ban (no. 4950)lXI:3251kitab al-Buyu', bab 5, dan al-Baihaqi (no.21433)[X:
4941kitab al-lV'ala', bab 1. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam lruta al-
Gbalil (no. 1658) [VI:109]. Inti hadits ini diriwayatkan secara muttafaq 'alaih
oleh al-Bukhari (no. 2535)lY206l kitab al''ltq,bab 10, dan Muslim (no. 1506
(3788) [V:387] kirab al-'ltq,bab 3, dengan ulafaazl:a9'4.,s"l;tr-"; * ir:, "Nabi
ffi melarang menjual dan menghibahkan
Bab Tentang: Sebab-Sebab Mewarisi... 37r
Istilah'anak-anakmu'di sini mencakup cucu juga. Sebab Allah
menyeru manusia dengan ungkapan: (pii, E) yarg artinya: "uahai
BaniAdam', dan (#WlGj q) yangarr.iiya: "lV'ahai Bani Israel",
dan kata'Bani' itu sendirii rtinya'anak-anak' y^ngmeliputi cucu,
cicit, dan seluruh keturunannya.
3 A 4. Bapak kandung, bapaknya bapak ftakek), dan terus keatas
(buyut, dan seterusnya). Dalilnya adalah firman Allah.$E:
(@...iair%,e;g;;rt; *
"... D dn bagi i bu - bap akny a, mas in g-mas ing m mdd? dt s E erend.m... "
(QS. An-Nisaa': 11)
Kakek pada hakikatny^ adalah bapak juga, dan Nabi #, mem-
berinya seperenam bagian.l
5. Saudara lelaki secara mutlak, baik yang sekandung, se-ayah, mau-
pun se-ibu. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:
irfi3N
J -)/
oL-q ;';, .f; Y J;'W #,N3:'i6 fr J:i
(@ 5;6K{
"Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakan-
lab: 'Allab yang akan memberifatua kepadarnu tentang kalalab
(yaitu): jika seseorangmeninggal dunia, dan ia tidak mempunyai
anak dan nxempunydi saudara perernpuan, maka bagi saudaranya
yang perempuan itu seperdua dari barta yang ditinggalhannya, dan
saudaranya yang laki-laki meuarisi (selurub barta saudara pere?rr-
puan) jika ia tidak mernpunyai anak...'" (QS. An-Nisaa': 125)
I Hadits shahih. HR. Abu Dawud (no.2897)Illl.2l4lkitab al.Fara-idh,bab 6,
dan Ibnu Majah (no. 2723) [III:3L}] kitab al-Fara-idh, bab 3, dari Ma'qil bin
Yasar €E . Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sbahib Abi Daarud (no.
2576).
372 Kitab Harta Varisan
t
Ini berlaku untuk selain saudara se-ibu. Sebab untuk saudara
se-ibu Allah berfirman:
{.,^'u"r%(@i ;'{\L'J'-33L5i(;liE';,bo5f,ilSL'|Abi
".,. Jika sueorang mati, baik laki-laki maupun perempud.n yang tidak
mmingalkan ayah dan ti.dak mminggalkan anab, tapi mempunyai
seora.ng saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perern'
puan (seibu saja), maka masing-masingdari kedua jmis saudara itu
mendapat sEerenarn uarisan..." (QS. An-Nisaa': 12)
6. Putra dari saudara laki-laki lain ibua. Adapun putera dari saudara
laki-laki seibu tidak ikut mewarisi, karena ia termasuk dzawil
arhaam.5
7 E 8. Saudara lelaki ayah (paman) lain ibu6, termasuk puteranya
secara turun ternurun dan khusus yang laki-laki. Dalilnyaialah
sabda Nabi ffi-:
;,,t,Pri)i>$ 6;\3,\i$! j4p\\;;\
"Berikanlahsemuafardb ftagian yang tertentu) kepada yang ber-
hak. Jika masih tersisa maka menjadi milik laki-laki yang paling
utama."7
9. Suami. Dalilnya adalah firman Allah &yangartinya:
{@ HCii:tr(:"afr5s}
a [Yakni putra dari saudara laki-laki sekandung, atau putera dari saudara laki-
5 laki seayah saja].r'n''
lDzauil Arhaam menurut ulama faraidb adalah setiap kerabat yang tidak
mendapat warisan, baik secara fardb Sagian yang teftentu seperti t/ o, yo, | / ,,
6 1/z,dan semisalnya), maupun secara'asbabab (bagian yang tidak tentu)].Pc"t'
[Yakni paman yang seayah-seibu dengan ayah kita, atau paman yang seayah
saja dengan ayah kita, termasuk keturunan mereka yang laki-laki (anak mere-
7 ka, cucu, cicit, dan seterusnya].Penr' al-Fara-idb,bab 5, dan Muslim
HR. Al-Bukhari (no.6732)IXII:6732)khab
(no. 1615 (4141)) [VI:54] kkab al-Fard-idh,bab 1, dari Ibnu 'Abbas €5 .
Bab Tentang Sebab-Sebab Meaarisi... 373
"Kalian berhak mendapat setengab dari warisan isti'istri kalian
..." (QS. An-Nisaa': 12)
9. Lelaki yang memiliki wala', yaitu orangyangmemerdekakan
budaknya atau orang lain y ang men ggantikan posisinya.
Dalilnya adalah sabda Nabi #,: "tYala' adalah kekerabatan se-
perti kekerabatan ndsAb,"8 dan sabda beliau M;"lY'ala' itu hanyalah
bagi orang yang memerdekakan."e
Sedangkan Ahli waris dari kalangan wanita ada tuiuh:
t U.2. Anak perempuan dan putri dari keturunan anak laki-lakit0.
Dalilnya adalah firman Allah,ffi:
'*i*i v 3, s i\:? $6-4{i'i,fui y
*.1( og C €i '",Ai| ;&\ g'r'La Kug
{@'J4(\i16'rs*s
*Allab beruasiat kepadamu (tentang pembagian uarisan) untuk
anak -anakmu ; merek a yang laki-laki mendapat bagian seperti dua
ora.ngperernpuan. tiha anak-anak pererrtpuan itw jumlabnya lebih
dari dua, maka bagi mereka duapertiga harta uarisan, namun jika
hanya seordngperempuan maka baginya setengah harta uarisan..,"
(QS. An-Nisaa': 11)
3 &.4.Ibu dan nenek. Dalilnya adalah firman Allah ,€:
i"r }'o(o921!i 84Ji{,fr2',i::t;x,K
{@ 1}3A\)t$';;LA
8 Lihat takhrijnya halaman 369.
e Lihat tahbrijnya halaman 369
'0 [Seperti puteri dari anak laki-laki (cucu perempuan), puteri dari cucu laki-laki
(cicit perempuan), dan setemsnya asalkan ayah mereka terhubung kepada mayit
melalui keturunan mayit yang laki-laki saja].r"n''
374 Kitab Harta Vl'arisan
"... Jika si mayit tidah memiliki anak dan diwarisi oleb kedua ordng
tudnyd (saja), maka bagi ibunya sEertiga harta utarisan; namun jiha
ia (mayi tadi) memiliki saudara-saudara, maka ibunya mendapat
sEerendm..." (QS. An-Nisaa': 11)
Diriwayatkan dari Buraidah gE bahwa Nabi #, bersabda:
t wjsH 5I rit i,iltr ;i;x
ri 'w)
"Nenek mendapat seperenam jika tidak terhalang oleh ibu."11
5. Saudara perempuan secara mutlak. Baik yang sekandung, seayah
saja, atau seibu saja. Dalilnya adalah firman Allah,€:
4.,^3"ri;i j'{\J-4 L5;lE, o$13 *
(@ '333iGi';*;l$Ut
"... I ika s es e orang mat i, baik laki- laki maup un p erernp udn y dng t idak
meningalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tapi mempunyai
seordng saudara lahi-laki (seibu saja) atau seordng saudara perem-
puan (seibu saja), maka masing-masingdari kedua jenis saudara itu
mendapat sEerenam uarisan..." (QS. An-Nisaa': 12)
Dan firman-Nya:
t7 J;)-W u,N'.r'\; fr A lS 6frr,ry *
(@ :iri
"... Jika seseorangmeninggal dunia, dan ia tidah mempunydi anak
dan mempunyai saudara perempudn, maka bagi saudaranyayang
p er e n7p u dn it u s ep er d ua dar i b art a y a n g dit in gga I k anny a... " (Q S.
An-Nisaa': 175)
lt Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2895) Ull:2Lilkitab al-Fara-
idb,bab 5. Didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha'if Abi Daraud (no.
4e8).
Bab Tentang Sebab-Sebab Meuarisi... 375
Dan seterusnya hingga firman-Nya:
'tjg$ra(qr#iuih$
( fu
"... namun jika saudara perernpuan itu ada dua orang maha bagi
heduanya duapertiga dari harta yang ditinggalhan..." (QS. An-
Nisaa': 176)
6. Isteri. Dalilnya adalah firman AllahJ&:
(@ ;K;q&i€#; F
"... DAn bagi mereka (isteri-isteri kalian) seperernpat dari harta
yang halian tinggalkan.." (QS. An-Nisaa': 12)
7. \flanita yang memerdekakan budaknya. Dalilnya adalah sabda
Nabi ffi: "V/'ala' hanyalah bagi orang yang memerdekakan."
Inilah orang-orang yang mewarisi secara global baik yang laki-
laki maupun perempuan. Jika diperinci, maka jumlah lelaki yang
mewarisi bisa mencapai lima belas orang dan yang wanita mencapai
sepuluh orang. Hal ini dapat diketahui dengan memperhatikan dan
merujuk ke referensi-referensi yang ada. lWallaabu Ta'ala a'lam.
MACAM.MACAM AHLI VARIS BERDASARKAN \TA.
RISAN YANG DITERIMA
Ahli waris jika dibagi berdasarkan warisan yang diterima ada
tiga macam: adayangdisebut asb-haabulfurudb, ada yang dinama-
kan'asbabah, dan ada pula yang mewarisi karena termasuk dzauil
arbaam.
Asb-baabul furudb adalah orang-oran g yangmendapat bagian
tertentu secara syar'i. Mereka tidak mendapat lebih dari itu kecuali
bila terjadi radd t2 dan tidak mendapat kurang dari itu kecuali bila
terjadi 'aul.tj
t2 [Yaitu pengembalian warisan yang tersisa setelah diberikan kepada ahli waris
fardb, untuk kemudian diberikan kepada orang yang berhak di antara mer-
tr eka sesuai dengan nisbah fardh masing-masing].r'n''
[Yaitu suatu kondisi di mana jumlah bagian yang harus diberikan lebih banyak
dari hartanya. Misalnya: seorang wanita wafat meninggalkan suami (dapat
376 Kitab Harta lVarisan
Sedangkan 'asbabab adalah mereka yang mendapat warisan
dengan bagian yang tidak tentu.
Adapun dzawil arbaam adalah mereka yang mewarisi ketika
tidak ada asb-haabulfurudh (selain suami-isteri) maupun 'ashabah.
Asb-baabul furudb ada sepuluh macam: suami, isteri, ibu, ba-
pak, kakek, nenek, anak-anak perempuan, cucu-cucu perempuan
dari anak laki-laki, saudara perempuan dari semua arah (sekandung-
seayah-seibu), dan saudara-saudara seibu (baik yang laki-laki maupun
perempuan).
Berikut ini kami jelaskan masing-masing secara agak terperinci:
(z-::.-J
setengah), saudari sekandung (dapat setengah), dan nenek (dapat seperenam).
Maka total bagian yang harus diberikan adalah satu seperenam, sedangkan har-
tany a hany a satu bagian].r'n''
Bab Tentang Sebab-Sebab Meanrisi... 377
BAB TENTANG:
\T/ARISAN UNTUK SUAMI.ISTRI
Suami berhak mendapat setengah dari warisan jika isterinya
tidak mempunyai anak ftaik laki-laki maupun perempuan) dan cucu
(laki-laki/perempuan) dari anak laki-laki. Lain daripada itu, suami
mendapat seperempat jika isterinya punya anak atau punya cucu
dari anak laki-laki. Dasarnya adalah firman Allah,J&:
K;;)LH+Ci":trc:"aP5 S*
,...,:;-&', \i,HA,i"<1r5y""i 4li'ru-;\4+3otg,q',',$"ui<ur;{
{@
"Kalian berhak mendapat setengab dari barta uarisan isteri-isteri
balian jiha mereka tidak memiliki anab, namun jika mereka memi-
liki anak maka bagi kalian sEerernpat dari hartawarisan mereha,
yaitu setelah dilunasinya wasiat dan butang mereka..." (QS. An-
. Nisaa': 12)
Sedangkan isteri (baik seorang maupun lebih) mendapat se-
perempat jika suami tidak memiliki keturunan yang mewarisi.
Namun ia mendapat seperdelapan jika suami memiliki keturunan
yang mewarisi. Dasarnya ialah firman Allah,J&:
tr;"F1.4{rt eiltiGi y
H',;Fiti'bAi 6)/(
++rg tJ/t_zl 64oG
Bab Tentang Vl/arisan untuh Suanni-Istri 381
(@ U;5-a"6;;');a)z'
"... DAn bagi mereka (isteri-isteri kalian) adalah sEerempat dari
harta yang kalian tinggalhan jiha halian tidah memiliki anak.
Namun jika halian memilihi anah maka mereka mendapat seper-
delapan dari barta yang kalian tingalkan, yaitu setelab dilunasinya
uasiat dan butang kalian..." (QS. An-Nisaa': 12)
Yang dimaksud dengan keturunan yang mev/arisi di sini adalah
anak-anak si mayit (yakni putra-putrinya) dan anak-anak dari putra
si mayit (yakni cucu laki-laki/perempuan dari anak lelakinya).
Gz:.-\)
382 Kitab Harta lVarisan
BAB TENTANG:
\T/ARISAN UNTUK AYAH DAN KAKEK
Ayah dan kakek masing-masing mendapat seperenam sebagai
fardh jika si mayit memiliki putera atau cucu dari putranya. Dasar-
nya adalah adalah firman Allah.98:
li"bg ;'Lti \i,i' Ai t4,+i g:, *f-;:t; F
#\\7@'d;
"... DAn bagi hedua orangtuanya (ibu dan bapak), masing-masing
mendapat seperenzm dari barta uarisan jika si maryit memiliki anak
..." (QS. An-Nisaa': 11)
Ayah dan kakek akan mewarisi sebagai'asbabab jika si mayit
tidak memiliki anak Qaik putera maupun puteri) atau cucu dari pu-
vanya. Dasarnya adalah firman Allah -9&:
{@ uhir#t6,rr-:5;rt K,1,9 }
"... Jika ia (si mayit) tidak memiliki anak, dan ia diuarisi oleb
kedua orang tudnyd, maha ibunya mendapat sepertiga..." (QS.
An-Nisaa': 11)
Dalam ayat ini Allah menisbatkan warisan kepada orang tua,
yakni ayah dan ibu. Allah menentukan bagian bagi ibu namun tidak
menentukan bagian ayah. Maka ayah mendapatkan sisa dari warisan
sebagai 'asbabah.
Ayah dan kakek mewarisi dengan cara fardb dan sebagai
'ashabah sekaligus, jika si mayit memiliki anak perempuan (putri)
atau cucu perempuan dari anak laki-lakinya. Dalilnya adalah sabda
Nabi H,: "Berikanlah semtafardb (bagian yang terrentu) kepada
KahekBdb Tentang: Vlarisan untukAyab & 385
yang berhak;jika masih tersisa maka menjadi milik laki-laki yang
paling utama."r Maksudnya menjadi milik laki-laki yang paling
dekat dengan si mayit, dan ayah adalah laki-laki terdekat dengan si
mayit setelah anak dan cucunya.
Kesimpulannya, ayah memiliki tiga keadaan:
Pertama: Ia mewarisi secara fardh saja, yaitu bila si mayit me-
miliki anak laki-laki atau anak laki-laki dari anaknya yang laki-laki
(cucu dari anak laki-lakinya), dan seterusnya ke bawah.
Kedua: Ia mewarisi sebagai 'ashabah saja, yaitu bila si mayit tidak
memiliki keturunan atau cucu dari anak lelakinya.
Ketiga: Ia mewarisisecarafardh dan'ashabaD sekaligus, yaitu bila
si mayit memiliki keturunan perempuan, baik anaknya langsung
atau melalui puteranya.
Dalam tiga keadaan di atas, kakek kedudukannya seperti ayah.
Sebab ia termasuk dalam pengertian dalil-dalil tersebut jika ayah
tidak ada. Selain itu, kakek memiliki keadaan yang keempat, yaitu
jika bersama kakek ada saudara-saudara mayit, baik yang sekand-
ung atau yang hanya seayah. Dalam kondisi ini terjadi perbedaan
di anrara ulama, apakah kakek diperlakukan seperti ayah hingga ia
menghalangi saudara-saudara tersebut dari mendapat warisan, ataukah
ia tidak menghalangi mereka namun mendapat bagian sebagai salah
satu dari mereka (hana dibagi sama rata di antara mereka), ataukah ia
mendapat sisa setelah asb-haabulfurudh mendapat bagiannya, sesuai
ketentuan yang berlaku?
Perbedaan ini muncul karena kakek dalam keadaan ini setara
dengan saudara-saudara si mayit. Sebab masing-masing terhubung
ke mayit melalui orang yang sama, yaitu ayah. Kakek adalah ayah
dari ayah, sedangkan saudara-saudara adalah anak dari ayah. Maka
mereka pun sama-sama berhak terhadap warisan, sebagaimana pen-
dapat sejumlah sahabat seperti'Ali,Ibnu Mas'ud, danZaidbin Tsabit.
Pendapat ini juga dianut oleh Imam Malik, Imam Syafi'i, kedua murid
Abu Hanif ah2, dan pendapat Imam Ahmad menurut riwayat yang
masyhur dari beliau.
I Lihat tahhrijnya halaman 371.
2 [Yaitu Imam Abu Yusuf al-Qadhi dan Imam Muhammad bin Hasan asy-
Syaibani].r-''
386 Kitab Harta lVarisan
Mereka berdalil dengan sejumlah dalil, alasan, dan qiyas yangba-
nyak, yang semuanya disebutkan dalam kitab-kitab yang mengulas
masalah ini secara panjang lebar.
Pendapat kedua ialah bahwa kakek menggugurkan hak waris
saudara-saudara mayit, sebagaiman a ayahmenggugurkan mereka. Ini
adalah pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, Ibnu'Abbas, Ibnu Zubeir,
dan konon dianut oleh 'Utsman, 'Aisyah, Ubay bin Ka'ab, Jabir,
dan yang lainnya. Pendapat ini diikuti oleh Imam Abu Hanifah,
sekaligus menjadi pendapat kedua yang diriw^yarkan dari Imam
Ahmad, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, Ibnu Qayyim, dan Syaikh Muhammad bin 'Abdul
Vahhab rabimahumullaab. Mereka juga memiliki banyak dalil.
Pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran dibandingkan
yang pertama. W'allaahu a'lam.
(7,::.-=)
Bab Tentang Vlarisan untub Ayab & Kakeb 387
BAB TENTANG:
\TARISAN UNTUK IBU
IBU MEMILIKI TIGA KONDISI:
Pertama: Ia mendapat seperenam warisan, yaitu jika si mayit
memiliki keturunan yang mewarisi, baik itu anak-anaknya secara
langsung maupun cucu dari anak lelakirry^, atau ia memiliki dua
orang saudara atau lebih. Dalilnya adalah firman Allah &yangani-
nya:
lr( bLti \i i A\ W#,+i & *!;':!i *
(@ 'x;:t,
",.. DAn bagi hedua ora.ngtuanyd, masing-masingmendapat seper-
enan-t dari harta uarisan jiha si mayit memiliki anak..." (QS. An-
Nisaa':11)
Dan seterusnya, hingga firman-Nya:
( @ .. :J a\ )t$'i;LA i,fuf *
"... Jika ia memiliki saudara-saudara, maka ibunya mendapat se-
perenarn..." (QS. An-Nisaa': 11)
Kedua: Ia mendapat sepertiga warisan, yaitu jika si mayit tidak
memiliki keturunan yang mewarisi, baik itu anak-anaknya maupun
keturunan dari puteranya, dan ia juga tidak memiliki sejumlah sau-
dara (dua atau lebih) baik laki-laki maupun perempuan. Dalilnya
adalah firman Allah .9&:
&ii,fu$'i;3ii 84t6,xr-::t;A r9 F
Bab Tentang Varisan untuh lbu 39t
(@ 'J3A\)t*r;ya
"... Jiha ia (orangyang meninggal ) tidak memilibi anak dan ia di'
uarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga.
Namun jika ia memiliki saudara-saudara maka iburtya mendapat
sEerenarn..." (QS. An-Nisaa': L1)
Ketiga: Ia mendapat sepertiga dari sisa warisan, yaitu jika ahli
warisnya terdiri dari suami, ayah, dan ibu; atau isteri, ayah, dan ibu.
Kedua hal tersebut dinamakan dengan 'Umarilryatain. Sebab'LJmar
bin Khaththab-lah yang memutuskan bahwa dalam dua kondisi ini
ibu mendapat sepertiga dari sisa warisan, yakni setelah bagian suami
/istri diberikanl. 2
'LJmSayr ainikihleubl iIhslatempaItb. nSuebTabaiAmlliayhyahhan#y)a5me^"mnbgeartiabkaagnia: n"Pseenpdeartpigaat
kepada ibu jika ahli warisnya cuma kedua orang tua,3 dan yang tersisa
setelah bagian suami/istri itulah yang menjadi warisan kedua orang
tua. Maka keduanya saling berbagi terhadap sisa warisan tersebut,
sebagaimana keduanya berbagi terhadap warisan aslinya. Demikian
pula jika si mayit memiliki hutang atau wasiat, maka keduanya sa-
ling berbagi dari sisa warisan setelah semuanya dilunasi."
(r-: -J
Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (no.12299) [VI:373] kitab al-Fara'idh,bab 16,
ad-Darimi (no.2765) [II:803] kiab al-Fara-idh,bab 3,'Abdurrazzaq (no. 19015)
lXl:252lkhab al-Fara-idh,dan Ibnu Abi Syaibah (no. 310aa) lYk243lkhab al'
Fara-idb, bab 3, dari jalur Ibnu Mas'ud €5 .
[Contohnya: Bila seseorang mati meninggalkan isteri, ibu, dan ayahnya, de-
ngan warisan sebesar 12 1ua. Maka isteri mendapat bagiannya terlebih dahulu,
yaitu seperempat (= 3 juta). Kemudian dari hana yang tersisa (= 9 iuta), ibu
(: (:mendapat sepeniganya 3 juta), sedangkan ayah mendapat sisanya 6
juta). Jika ahli warisnya adalah suami, ibu, dan ayah; maka suami mendapat
setengahnya terlebih dahulu (= 6 juta), lalu sisanya yang sepertiga untuk ibu
(: 2 juta) dan sisanya lagi untuk ayah (:4 juta)1.ru''
[Maksudnya dalam firman Allah: "tika ia (si mayit)tidak memilibi anah dan
diuarisi oleb kedua ordngtuanyd (saja), maka ibunya mendapat sepertiga.').e""t'
392 Kitab Harta \il'arisan
BAB TENTANG:
\TARISAN UNTUK NENEK
Nenek di sini maksudnya ialah'nenek yang sah', yaitu:
1. Setiap nenek yang terhubung kepad a mayir melalui wanita saja;
seperti ibu dari ibu dan ibu nenek yang terhubung ke ibu lewat
wanita semuanya.
2. Setiap nenek yang terhubung ke mayit melalui laki-laki saja;
seperti ibu dari ayah, ibu kakek dari ayah, ibu buyut dari ayah
dan seterusnya.
3. Setiap nenek yang terhubung kepada mayit melalui wanita ke-
mudian laki-laki; seperti ibu nenek dari ayah dan nenek buyut
dari ayah.
Sedangkan nenek yang terhubung kepada mayit melalui laki-laki
kemudian wanita seperti ibu kakek dari ibu dan ibu ayah nenek dari
bapaklmaka tidak bisa mewarisi karena termasuk dzauil arhaam.
[KRITERIA NENEK YANG ME\TARISI]
Jadi, kriteria nenek yang mewarisi ialah nenek yang terhubung
melalui wanita saja, laki-laki saja, atau lewat wanita kemudian laki-
laki. Sedangkan kriteria nenek yang tidak mewarisi adalah nenek
yang terhubung lewat laki-laki kemudian wanita. Atau dengan kata
lain, nenek y?ng terhubung lewat laki-laki di antara dua wanita di
mana yang bersangkutan adalah salah satu dari kedua wanita terse-
but.lMurajl'berkata: "Seperti ibu kakek dari ibu."l
t [Ini yang kami temukan dari kitab al-Mulakhkbash al-Fiqbi cetakan Dar Ibn
Jauzi, dan juga kitab Fara-idh milik beliau (Syaikh al-Fauzan) yang berjudul
at-Tabqiqat al-Mardbiyyah fil Mabahits al-Fardhiyyab, hal. 99-100 (yakni: ..)i ;i
-,!tri ibu ayah nenek dari bapak), dengan demikian Syaikh tidak keliru cla-
lam memberikan contoh, akan tetapi -uallaabu a'lam- ini hanya kesalahan
cetak dari penerbit Dar al-'Ashimahl.
Bab Tentang V'arisan untuh Nenek 395
[Dua catatan mutarjim di samping patut dihapus, karena tidak
diperlukan, albamdulillaab ucapan penulis jelas dan tidak mem-
bingungkan. Muraji'l
Dalil yang menuniukkan bahwa nenek berhak mendapat
warisan ialah Sunnah Rasululah M dan iima'.
Dalil dari sunnah di antaranya hadits riwayat Qabishah bin
Dzu-aib yang mengatakan: "Ada seorang nenek datang kepada Abu
Bakar menuntut bagiannya dari warisan. Maka Abu Bakar berkata:
'Al-Qur-an tidak menyebutkan bahwa engkau mendapatkan waris-
an dan sepanjang yang kutahu dari Sunnah Nabi, engkau juga tidak
mendapatkan apa-apa. Kembalilah hingga aku bertanya ke orang-
orang.' Lantas Abu Bakar pun bertanya kepada orang-oranB, maka
bangkitlah Mughirah bin Syu'bah seraya berkata: 'Aku pernah me-
lihat Rasulullah ff, memberikan seperenam kepada seorang nenek.'
Abu Bakar kembali bertanya: 'Apakah ada orang selainmu yang
menyaksikannya?' Maka bangkitlah Muhammad bin Maslamah dan
mengatakan hal yang sama seperti Mughirah bin Syu'bah. Kemudian
Abu Bakar pun menerapkannya kepada nenek yang bertanya itu."
Qabishah melanjutkan: "setelah itu datanglah nenek yang lain-
nya kepada 'IJmar dan menuntut bagiannya dari warisan. Maka
'lJmar mengatakan: 'Al-Qur-an tidak menyebutkan bahwa engkau
berhak mendapat warisan, akan tetapi itulah bagian yang seperenam.
Jika kalian berdua sama-sama hidup maka seperenam itu kalian
bagi dua. Namun jika tinggal salah satu dari kalian maka ialah yang
mengambil seluruhnya."'Atsar ini diriwayatkan oleh Imam yang
lima selain an-Nasa-i, dan dishahihkan oleh at-Tirmidzi.2
Buraidah $5 meriwayatkaibahwa "Nabi ffi memberikan se-
perenam kepada nenek jika tidak ada ibu bersamanya." (HR. Abu
2 Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.2894) [III:213] kirab al-
Fara-idh, bab 5, at-Tirmidzi (no. 2100) [IV:419] kitab al-Fara-idb, bab 10, dan
Ibnu Majah (no. 2725) [III:318] kitab al-Fara-idh,bab 4, dari jalur Qabishah
bin Dzu-aib. Didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam lrua al-Gbalil (no.
1580) [VI:124]. Namun al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Muuafaqab al-Khabar
[II:a15] menyatakan bahwa hadits ini shahih.
396 Kitab Harta Vl'arisan
Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnus Sakan,Ibnu Khuzaimah dan
Ibnul Jarud).3
Kedua hadits ini menunjukkan bahwa nenek berhak menda-
patkan seperenam.
Hal ini -sebagaimana yang diutarakan oleh Abu Bakar dan
'IJmar- tidak terdapat dalam al-Qur-an. Sebab 'ibu'yang disebutkan
dalam al-Qur-an terikat dengan berbagai kriteria yang khusus ter-
dapat pada 'ibu kandung'. Jadi, meskipun nenek juga dinamakan ibu,
akan tetapi ia tidak masuk dalam pengertian 'ibu' yang disebutkan
dalam ilmu fara-idh, meskipun ia masuk dalam makna lafazh'ibu-
ibu' (ummahaat) seperti dalam ayat:
(@ "'F.*\#ts"?Y
"Diharamkan bagi balian (menikahi) ibu'ibu kalian..." (QS. An-
Nisaa':23)
'Walaupun demikian, Rasulullah ffi membe rinya seperenam.
Ini berarti bahwa warisan untuk nenek ditetapkan berdasarkan
Sunnah.
'\tr7arisan nenek juga ditetapkan berdasarkan ijma'ulama. Sebab
tidak ada perselisihan di antara mereka bahwa ibu dari bapak dan
ibu dari ibu berhak mendapat warisan. Perselisihan yang ada ialah
berkenaan dengan selain keduanya.
Ibnu'Abbas dan sejumlah ulama memberikan warisan kepada
. nenek-nenek lainnya meskipun jumlahnya banyak jika mereka
berada dalam level yang sama, kecuali bagi yang terhubung melalui
bapak yang tidak mewarisi, seperti ibu kakek dari ibu.
Adapun sebagian ulama lainnya hanyamemberi warisan kepa-
da tiga nenek saja, yaitu: ibu dari ibu, ibu dari bapak, dan ibu kakek
dari bapak.
I Lihat tabbrijnyahalaman 373. 397
Bab Tentang: \V'arisan untuk Neneh
[SYARAT \TARISAN UNTUK NENEK]
Syarat diperbolehkannya memberikan warisan kepada nenek
ialah bahwa ibu harus tidak ada. Sebab nenek terhubung melalui
ibu, padahal orang yang terhubung lewat peranrara maka ia terha-
lang oleh perantara tersebut, melainkan yang dikecualikan. Hal ini
berdasarkan ijma' para ulama, bahwa ibu menghalangi nenek dari
semua arah.
CARA MEMBERI \TARISAN UNTUK NENEK:
Jika nenek seorang diri dan tidak ada ibu, ia mendapar seper-
enam sebagaimana telah dijelaskan. Ia tidak berhak mendapat lebih
dari itu. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa nenek boleh
mendapat sepertiga jika mayit tidak punya anak dan tidak punya
saudara-saudara -sebagaimana ibu kandung- maka adalah pendapat
yang syaadz (nyeleneh) dan tidak boleh diikuti.
Jika ada seiumlah nenek dan mereka semuanya satu level,
maka mereka bersekutu dalam seperenam warisan, sebab para saha-
bat membagikan seperenam untuk mereka semua. Selain itu, mereka
juga berjumlah banyak dan tidak adayanglaki-laki, maka hukum-
nya disamakan baik yang seorang saja maupun yangbanyak orang,
karena tidak ada keistimewaan bagi salah satu di atas yang lain. Se-
hingga mereka dihukumi seperri isteri-isteri. Namun jika salah satu
dari mereka lebih dekat ke mayit, maka dialah yang menggambil se-
perenam bagian itu seluruhnya. Hukum ini berlaku baik dia adalah
nenek dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Nenek yang lebih
dekat akan menggugurkan nenek yang lebih jauh. Hal ini karena
mereka tergolong ibu-ibu yang mendapar saru bagian dari warisan;
maka jika mereka berkumpul dalam level yang berlainan, warisan-
nya jatuh ke yang paling dekat.
Nenek dari pihak ayah (ibu ayah) tetap mendapat warisan
meski ayah ada. Demikian pula nenek (ibu kakek) juga mendapat
warisan meski kakek ada. Dalam kondisi ini, warisan untuk nenek
tidak digugurkan meskipun penghubungnya ada. Hal ini memang
tidak sesuai dengan kaidah yang mengatakan: "Barangsiapa terhu-
bung kepada mayit melalui seseorang, maka warisannya akan ter-
halang oleh orang itu."
398 Kitab Harta lVarisan
r
Dasarnya adalah hadits Ibnu Mas'ud iW, beliau mengatakan
ketika melihat seorang nenek bersama putranya: "Dialah nenek yang
pertama kali diberi seperenam oleh Rasulullah M bersama putranya,
padahal putranya masih hidup."a
Adapun alasannya ialah karena pada dasarnya nenek memang
tidak mewarisi orang yang menghubungkannya kepada mayit (yaitu
*itanaknya). Lantas grpr *rris.rrrrya harus-digugurkan hanya ka-
rena orang itu masih hidup?
Syaikhul lslam Ibnu Taimiyyah'#M berkara: "Orang yang me-
ngatakan bahwa barangsiapa terhubung kepada mayit melalui sese-
orang ia akan gugur dengan adanyapenghubung itu adalah perkataan
yang batil dari sisi itu maupun sebaliknya. Ia batil dari sisi itu dengan
mewarisinya anak dari ibu meski ibunya ada.slajuga batil dari seba-
liknya dengan tidak mewarisinya cucu dari anak laki-laki jika 'ammi
(paman)nya hidup. Demikian pula anak saudara lelaki yang tidak
mewarisi jika'ammi (paman)nya hidup. Dan contoh-contoh lainnya
yang menunjukkan gugurnya hak waris seseorang akibat orang lain
yangtidak menghubungkannya ke mayit. Karenanya, alasan yang be-
nar dalam hal ini ialah seseorang akan gugur dengan adanyeorang lain
bila ia mendapat warisan orang itu. Maka siapa pun yang mendapat
warisan seseorang, ia akan gugur jika orang tersebut ada dan ia lebih
dekat ke mayit. Nah, dalam hal ini, nenek-nenek menggantikan posisi
ibu; maka mereka akan gugur dengan adanyaibu walaupun ibu itu
tidak menghubungkan mereka ke mayit. Vlallaahu d.'ld.m."
(r-:.-\)
a Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2102) UYA2l)kitab al-
Fara-idb, bab 11. Didha'i{kan oleh Syaikh al-Albani dalam lrau al-Gbalil
5 (no.1787) [VI:131].
[Padahal anak dari ibu (saudara seibu) terhubung kepada mayit lewat ibu itu
sendiri, meskipun demikian ibu ddak menghalangi anaknya untuk mendapat
warisan].n"n'
Bab Tentang Vlarisan untuh Neneh 399
BAB TENTANG:
\T/ARISAN UNTUK ANAK
PEREMPUAN
[SYARAT \TARISAN UNTUK ANAK PEREMPUAN]
Seorang anak perempuan mendapat setengah warisan de-
ngan dua syarat:
1. Ia tidak memiliki saudara perempuan sekandung maupun se-
ayah.
) Ia tidak memiliki saudara laki-laki yang menjadi 'ashabah-nya.
Dasarnya adalah firman Allah.g&:
'{iKt $, 3r t :,\:? *16 -i.{i'l,f.* Ay
*J( o{u c Cfr '"cAi| ;ft\ Ctt'XlKoy
€l,.tlr/.rf
( ... ta- ) lL..3, e 4oz-\-2)/
"Allah beruasiat kepadamu (tentang pembagian warisan) untuk
anah-anakmu ; mereka yang laki-laki mendapat bagian seperti dua
orang p ere rnp uan. t ika anak- an ak p erernp u an it u j u m I ab ny a lebib
dari dua, maka bagi mereka duapmiga hartauarisan, namun jiha
banya seorangperernpuan maka baginya setengab harta warisan..,"
(QS. An-Nisaa': 11)
Penggalan ayat $ i:'*S Jjfiry1* 'jiba banya seorangperempuan'
menjadi dalil bagi sf"trt pertamai yakni tidak memiliki saudara
perempuan sekandung maupun seayah. Lalu penggalan ayat:
4 "i*t*i g-'J, 5 i\*'yons laki-laki mendapat bagian seperti dua
iingpnr*puait'm6nj,adi dalil bagi syarat kedua, yaitu tidak adanya
'ashabah.
Bab Tmtang lVarisan untuh Anak Perempuan 403
Cucu perempuan dari anak laki-laki (bintul ibni) mendapat
setengah warisan dengan tiga syarat:
1. Tidak ada laki-laki yang menjadi 'asbabab-nya, yaitu: saudara
laki-lakinya atau anak lakilaki'amnti-nyal yangsatu level de-
ngannya.
2. Tidak ada orang lain yang menyertainya (satu tingkat dengan-
ny a), y aitu: saudarinya atau anak perem puan'ammi-ny a y ang
satu level dengannya.
3. Mayit tidak memiliki keturunan yang mewarisi, yang lebih
dekat kepadanya dari cucu perempuan tersebut.2
Jika anak perempuan mayit iumlahnya dua orang atau lebih,
maka mereka mendapat duapertiga warisan dengan dua syarat:
l. Jumlah mereka dua orang atau lebih.
2. Tidak ada laki-lakiyangmenjadi 'asbabab-nya, yaitu anak laki-
laki mayit.
Dalilnya adalah firman Allah,J&:
"ffii .y, 3r t t\\:{* *ti -yfii,fui.y
{ ...'ttc€i'iAi| 6;J\'6rt,X1:",fry
"A llah berwtasiat hepadamu (tentang pembagian warisan) untuk
anak-anakmu; mereka yang lahi-laki mendapat bagian seperti dua
ordngperetnpuan. Jiha anak-anah perernpuan itu jumlahnya lebih
dari dua, maka bagi mereka duapmiga harta utarisaz... " (QS. An-
Nisaa': 11)
d'$ii yjiPen ggal an ayat : $ :y$ * ere ka y an g la kiJa ki m en -
m
dapat bagian sEerti dua orangperempian" menjadi dalil bagi syarar
kedua. Sedangkan penggalan ayat: { i!fr\g}iqf"y$ "jika anak-
I l'Amrni arrinya paman (saudara laki-laki ayah)1.r"" t't
2 [Jadi, bila orang yang meninggal memiliki anak kandung baik laki-laki mau-
ut
pun perempuan, maka cucu perempuannya tidak akan mendapat setengah !:1
dari warisan atau bahkan tidak mendapat warisan sama sekali].e"n'' ft-
404 Khab Harta lV'arisan L
$
f,
anak perempudn itu lebih dari dua... " menjadi dalil bagi syarat yang
Pertama.
iLaf azh 4 ri-&i ej, i'C4:1tr"9*' a n a k' a n a k p e r e mp u d n i t u l e b i h d a r
dua'dalam ayat di atas meninibulkan masalah bagi sebagian ulama.
Sebab zhahirrya anak perempuan yang hanyadua orang tidak akan
mendapat duapertiga warisan; karena yang mendapat duapenigaada'
lah tiga orang atau lebih. Pendapat seperti ini konon pernah diucapkan
oleh Ibnu 'Abbas $b ,. akan tetapi jumhur ulama tidak sependapat
dengannya. Menurut mereka, anak perempuan yang berjumlah dua
orang juga akan mendapat duapertiga warisan, berdasarkan hadits
Jabir $5 yang mengatakan: Isteri Sa'ad bin Rabie'pernah mengha-
dap Rasulullah dengan membawa kedua puteri Sa'ad seraya berkata:
"Ya Rasulullah, mereka berdua adalah puteri Sa'ad bin Rabi'. Ayah
mereka mati syahid dalam perang Uhud dan paman mereka hendak
mengambil warisan mereka seluruhnya tanpa memberi mereka apa-
apa. Padahal keduanya membutuhkan harta agar bisa menikah."
Maka Nabi ffi menjawab: "Biarlah Allah yang memutuskan masalah
kalian." Lalu turunlah ayat tentang pembagian waris. Kemudian
Rasulullah mengirim utusan kepada paman mereka dengan Pesan:
"Berikan kedua puteri Sa'ad duapertiga dari warisan, lalu ibu mereka
seperdelapan, dan sisanya menjadi milikmu." ftIR.Imam yang lima
selain an-Nasa-i, dan dihasankan oleh at-Tirmidzi).3
Hadits ini menunjukkan bahwa dua orang puteri juga mendapat
duapertiga warisan. Hal ini menjadi nash atas masalah yang diper-
selisihkan sekaligus merupakan penafsiran dari Rasulullah M, ter'
hadap firman Allah: 4 '{jfi!i'L1t r#i i;"b:'K"Y,* "lika anak'anak
perenxpuan itu jumlahirya lebib dari dua, maka bagi mereha duapertiga
h arta waris an. " Hadits ini telah menj elaskan ap a makn ay at tersebut,
lebih-lebih karena asbabun nuzul-nyaadalah kisah du^a orang puteri
Sa'ad bin Rabi' dan pertanyaan ibu mereka tentang nasib mereka.
Sehingga begitu ayat ini tunrn Rasulullah langsung mengirim utusan
kepada paman mereka.
I Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2891) Ull.2t2)kitab al'
Fara-idh, bab 4, at-Tirmidzi (no. 2092) llY:4151 kitab al'Fara'idb, bab 3, dan
Ibnu Majah (no.2720) [III:316] kitab al-Fara'idb,bab 2. Dihasankan oleh
Syaikh al-Albani dalam Sbahib Abi Datpud (no.2573 dan 2574).
Bab Tmtang lY'arisan untuk Anah Perempuan 405
$iiTliqf"g*Adapun yang berdalil dengan penggalan ayac$
"jika anak-anak perempuan itu jumlahnya lebih dari dua..." lalu m6-
ngatakan bahwa anak perempuan tidak berhak mendapat duaperriga
warisan kecuali bila jumlahnyatiga orang atau lebih, maka dapat
dijawab dengan beberapa jawaban berikut:
Salah satunya ialah bahwa lafazhtersebut tergolong ucapan yang
-.-bagiannya saling menyesuaikan satu sama lain. Ketika Allah dH
ngatakan:
iy'qfir V 3r t ^\ ;L +16-i.li;r1,f,*
{ ...'t;cgi'iAr, ;&\ '6j,XQ:"f"y
*Allab berwasiat kepadamu (tentang pembagian warisan) untuk
anak-anak kalian; mereba yang laki-lahi mendapat bagian seperti
dua orangperempuan. Jika anak-anak peretnpadn itu jumlahnya
lebih dari dua, maka bagi mereka duapmiga barta uarisalr... " (QS.
An-Nisaa': 11)
(b)Jadi, kata yangberarti'anak-anak perempuan' adalah ben-
tuk jamak yang akan sesuai dengan kata sebelumnya, yaitu (p-r-$i)
-yang artinya'anak-anak kalian'- j ika' anak-anak' tersebut adalah
perempuan. Singkatnya, ayat ini menggabungkan tiga kata: lafazh
'aulaad' yang berarti jamak, lalu kata 'kunna'yang merupaka n dbamir
j amak, dan laf.azh nis aa' y angmerup akan is im j amak Maka sesuailah
abnilaakupnegkreamp p^unannyaitbue) rjubmunlaybi:n4)ai;l*eibgihliYda4r'i9d"uYa,o*ra"Jnihga'[smeebraekba (anab-
istilah
jamak berlaku untuk lebih dari dual.
Jawaban lainnya ialah bahwa Allah,g& -errerrtukan bahwa bagian
laki-laki sama dengan dua orang perempuan. Jika seorang laki-laki
mengambil duapeniga dan seorang perempuan sepertiga, maka kita
langsung mengetahui bahwa dua orang perempuan mendapat dua-
pertiga. Sebab ketika iahanyaseorang diri dengan saudara laki-lakinya
lalu mendapat sepertiga, maka jika ia bersama saudarinya tanpa ada
si laki-laki dan mendapat duapertiga, tentu ini sesuatu yang sangat
pantas dan lebih utama. Ungkapan ini seakan mengingatkan sesuatu
yang lebih besar lewat hal yang lebih kecil. Artinya, jika Allah telah
406 Kitab Harta tilarisan
menegaskan secara nash tentang warisan bagi satu orang anak perem-
puan, lalu mengingatkan untuk yang dua orxng, maka kalimat:
#iJ;'*4 "jumlab mereka lebih dari dua orAng" menandakan bahwa
bagian m6reka tidak akan bertambah dengan bertambahnya jumlah
merelra, walaupun mereka lebih dari dua orang. tJlallaabu a'lam.
Dua orang cucu perempuan dari anak laki-laki mayit berhak
mendapat duapertiga dengan syarat yang sama seperti putri-
putri si mayit. Hal ini berlaku sama, baik kedua cucu perempuan
itu saling bersaudara atau hanya sepupu (yakni bapak mereka yang
bersaudara). Keduanya akan mendapat duapertiga jika diqiyaskan
kepada kedua puteri mayit, karena cucu perempuan dari anak laki-
laki mirip dengan putri kandung. Hanyasaja ada tiga syarat yang
harus terpenuhi:
1. Cucu perempuan tersebut berjumlah dua orang atau lebih.
2. Mereka tidak memiliki'asbabab,yairu cucu laki-laki dari anak
laki-laki si mayit, baik cucu tersebut adalah saudara mereka
maupun sepupua yang selevel dengan mereka.
3. Mayit tidak memiliki keturunan yang mewarisi, yang levelnya
lebih tinggi dari kedua cucu perempuan tadi. Seperti putera kan-
dung si mayit, cucu laki-laki dari putera tersebut, puteri-puteri
kandung si mayit, atau puteri dari putera kandung si mayit baik
satu orang maupun lebih. \V'allaahu a'lam.
Cz,.i.-=)
a [Yakni putera paman mereka].r"n' 407
Bab Tentang lVarisan untuk Anak Perempuan
BAB TENTANG:
\TARISAN UNTUK SAUDARA.
SAUDARA PEREMPUAN SEKANDUNG
Allah telah menjelaskan rentang warisan bagi saudara-saudara
perempuan sekandung atau yang hanya seayah, jika mereka ber-
sama dengan saudara laki-laki mereka selain yang seibu. Hukum
ini berlaku bagi mereka baik seorang diri maupun banyak, yaitu
dalam firman-Nya:
6x $;r )L'^\!(r\ e kr:-xi,i,16;n{y
(@bL-a;'A l; Y J^a.q6 :L3,N;'f5 fr "4
WGe{
"Mereka meminta fatan kepadamu (tentang kalalab). Katahan-
lah: 'Allab yang akan memberifatua kepadaTnu tentdng kalalah
(yaitu): jika seseorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai
anah dan rnernpunyai saudaraperernpuan, maka bagi saudaranya
yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya,
dan saudaranya yd.ng laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara
perempuan) jiha ia tidak mempunyai anak tetapi jiha saudara
perernpudn itu dua orang maha bagi keduanya dua pertiga dari
bdrta ydng ditinggalkan mayit. Dan jika ahli uaris terdiri dari
saudara laki-lahi dan saudara perenTpuan maka bagian seorang sau-
dara laki-labi sebanyak, bagian dua orang saudara perempudn..."'
(QS. An-Nisaa': L76)
Kemudian Allah menyebutkan warisan untuk saudari-saudari
seibu jika mereka bersama saudara seibu mereka yang lakiJaki da-
lam firman-Nya:
Bab Tentang lVarisan untuh Saudara-Saadara Perempuan Sehandung 4Il
,A'r"ri-i ;'{$a Li;M 6fuf, y
\:i\L ug'Abi q4*-5:#';J64
v'U@( "+lt:i O{tu} ;#,.^t1
"... lika seseorang mati, baik laki-laki maupun peremPud.n yang
tidak meninggalkan ayab dan tidak meninggalkan anak, tapi
mernpunyai seorangsaudara laki-laki (seibu saja) atau seorangsa.u'
daraperempuan (seibu saja), maka masing-masingdari kedua jenis
saudara itu mendapdt seperenam uarisan; ndmun jika saudara'
saudara seibu itu lebih dari satu orang, maka mereka bersekutu
dalam sepertiga warisan..." (QS. An-Nisaa': 12)
tsy4R$T \(/+RIIAN UNTUK SAUDARA-SAUDARA
PEREMPUAN SEKANDUNG]
Saudara kandung peremiuan berhak mendapat setengah w4risan
dengan empat syarat:
1. Ia tidak memiliki 'orbobob,yaitu saudara kandungnya.yang laki-
, laki. Dalilnya adalah firman Allah:
E,L {@/ U),r, <'i-s. s'tr1;*cr_Gy1-i,fu"tf;fiFr
*... mereka (abli uaris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan
Jika
perern?udn, maka bahagian seorangsa.udara laki'laki sebartyak ba'
gian dua ordng saudara perenxPudn.." (QS. An-Nisaa': 176)
2. Tidak ada saudari kandung lain yang bersamanya. Dalilnya
adalah firman Allah:
\7J^4W U,'i'r'15 fr *l SS $frr! F
{@ '1;6K{ol-iA;"K'W
412 Kitab Harta lV'arisan
"... Jiha seseordng meninggal dunia, dan in tidak rnenTpunyai anak
dan mempunyai saudara perern?udn, maka bagi saudaranyd.yd.ng
p er e mp ild.n it u s ep er du a dar i h art a y an g dit in gga I k anny a... " (Q S.
An-Nisaa':175)
3. Si mayit tidak memiliki orang tua laki-laki yang mewarisi, yaitu
ayah dan kakek dari pihak ayah -menurut pendapat yang sha-
hih-.
4. Si mayit tidak memiliki keturunan yang mewarisi, yaitu anak
laki-laki, cucu lakilaki dari anak tersebut secara turun temurun,
anak perempuan (puteri kandung), dan puteri dari anak laki-laki
mayit meski ayahnya adalah keturunan ke sekian dari si mayit.
Dalil untuk dua syarat terakhir di atas ialah karena saudara laki-
laki dan saudara perempuan hanyamendapat warisan dalam kondisi
kalaalah.
Kalaalab ialah mayit yang tidak meninggalkan orang tua mau-
pun keturunan.
Saudara perempuan seayah berhak mendapat setengah wa-
risan dengan lima syarat, yaitu keempat syarat yang berlaku atas
saudara kandung perempuan di atas, dan ditambah syarat kelima
yaitu: tidak adanya saudara kandung laki-laki maupun saudara kan-
dung perempuan. Sebab keduanya lebih kuat posisinya dibanding
dirinya.
Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih menda-
patkan duapertiga warisan. Dalilnya adalah firman Allah:
{@ 'tig$,Ai$#istu$ y
"... Tetapi jika saudaraperempuan itu dua oran& maka bagi kedua-
nya dua pertiga dari barta yang ditinggalhan oleb yang meninggal
..." (QS. An-Nisaa': 176)
Keduanya hanya berhak mendapat duapertiga warisan setelah
memenuhi empat syarat:
Pertama:Jumlah mereka dua orang atau lebih. Dalilnya ada-
lah ayat tadi:
Bab Tentang: tVarisan untuh Saudara-Saudara Perempuan Sebandung 4L3
(@ #istug y
"... Taapi jika saudaraperernpuan itu dua orang..." (QS. An-Nisaa':
t76)
Kedua: Tidak ada yang meniadi 'asbabab mereka, yaitu sau-
dara kandung laki-laki baik satu orang maupun lebih. Dalilnya
adalah firman Allah:
";*n*t $: b S +'i1;1 cr-',;yr:3(i{, *
(@
"... DAn jiha mereha (ahli uaris itu terdiri dari) saudara-saudara
laki dan perenxpud.n, maka bagian seorang saudara laki-laki se-
banyah bagian dua orang saudara perempuAn,.. " (QS. An-Nisaa' :
176)
Ketiga: Mayit tidak memiliki keturunan yang mewarisi, yaitu
putera/puteri kandungnya dan keturunan dari anak laki-lakinya
(cucu dari puteranya). Dalilnya adalah firman Allah:
t7 J^z.W B,N;'55 fr d lS',G;rr! F
{@ 3;
"... Jika seseord.ngmeninggal dunia, dan ia ti.dak rnempunydi anak
dan mempunyai saudara perernpuan, maka bagi saudaranya.yang
p er e mp udn it u s ep er du a dari h art a y ang d it ingga I kanny a... " (QS.
An-Nisaa': 176)
Keempat: Mayit tidak memiliki orang tua laki-laki yang me-
warisi, yaitu ayah -menurut ijma'ulama- dan kakek -menurut pen-
dapat yang shahih-.
Saudara perempuan seayah yang beriumlah dua orang atau
lebih juga mendapat duapertiga dari warisan. Sebab para ulama
sepakat bahwa mereka termasuk dalam pengertian ayat:
414 Kitab Harta lVarisan
ffit1 J;).qt B,'i5'55 fr ",+ iS '$;rlt F
qr, 6%g'1;6 k { byq;1r,W
{@ 'tigo&ti
"... Jika seseorangmminggal dunia, dan ia tidak rnernpunyd.i anah
dan mempunyai saudara ptrernpuan, maka bagi saudaranyd ydng
perennpuan itu seperdua dari hartayangditinggalhannya, dan sau.
dararrya yang laki-laki meuarisi (selurub harta saudara perempuan)
jika ia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu
dua orang maka bagi keduanya duapmiga dari bartayangditing-
galkan oleb yang meninggal..." (QS. An-Nisaa': 176)
Hanya saja, mereka tidak akan mendapat duapertiga warisan se-
belum memenuhi lima syarat, yaitu keempat syarar yang berlaku
untuk saudara perempuan sekandung, dan ditambah:
(Syarat) Kelima: Tidak adanyasaudara laki-laki maupun perem-
puan yang sekandung. Kalau ada saudara laki-laki/perempuan yang
sekandung dengan mayit, baik seorang maupun lebih, maka saudara
perempuan seayah tidak mendapat duapeniga. Bahkan mereka ter-
halang mendapat warisan dengan adanya seorang saudara laki-laki
sekandung atau dua orang saudara wanita sekandung, kecuali jika
bersama saudara-saudara wanita seayah itu ada orang-orang yang men-
jadi'ashabahryo. Namun jika y angbersama mereka (saudari seayah)
hanyalah seorang saudari kandung, maka saudari seayah tersebut
@aik seorang maupun lebih) mendapat seperenam, sedangkan saudari
sekandungnya mendapat setengah, sehingga genaplah bagian mereka
menjadi duapertiga.t
Jika mayit memiliki seorang putri kandung bersama seorang
cucu perempuan dari putra kandungnya ataulebih, maka puteri
kandungnya mendapat setengah warisan sedangkan cucu perempuan
tersebut mendapatkan seperenam, sehingga genaplah bagian mereka
#menjadi duapertiga. Ini berdasarkan keputusan Ibnu Mas'ud ,
t [Sebab: t/, + t/, - '/ r).r""''
Bab Tmtang W'arisan untuk Saudara-Saudara Perempuan Sehandung 415
dan beliau mengatakan bahwa itu merupakan keputusan Rasulullah
ffi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari.2 Selain itu, di
sini berkumpul sejumlah anak perempuan dari mayit; maka mereka-
lah yang mendapat duapertiga. Hal ini karena Allah berfirman:
( @'E; c (fr '&fi ;$\'6',41K"y y
"... Jiha anak-anah perempuan itu jumlabnya lebib dari dua, maka
bagi mereka duapertiga harta zaarisd.n..." (QS. An-Nisaa' : 11)
Putri kandung di sini mendapat setengah warisan secara utuh
karena dialah yang lebih dekat kepada mayit. Sedangkan yang seper-
enam diberikan kepada cucu perempuan yang berjumlah seorang
atau lebih. Sehingga genaplah duapertiga. Akan tetapi cucu perem-
puan itu harus memenuhi dua syarat agar mendapat seperenam,
yaitu:
Pertd.rna: Tidak adayangmenjadi 'asbabab-nya, baik itu cucu
lakiJaki yang selevel (sejajar) dengannya (saudaranya) atau sepupu-
nya (putera pamannya).
Kedua: Tidak ada keturunan mayit yang ikut mewarisi, selain
yang mendapat setengah tersebut tfangkedudukannya lebih tinggi
dari cucu perempuan. Apabila mayit memiliki keturunan lain de-
ngan kriteria (sifat) seperti ini maka bagian seperenam tadi menjadi
milik bersama antara cucu dengan orang tersebut.
Saudari seayah jika bersama saudari kandung mendapat se-
perenam sebagai penggenap duapertiga. Hal ini berdasarkan ijma'
ulama sebagaimanayangdisebutkan oleh banyak ulama, dan dengan
mengqiyaskannya kepada cucu perempuan bersama puteri kandung
mayit. Akan tetapi ia tidak akan mendapat seperenam sebelum me-
menuhi dua syarat:
Pertarna: Ia harus bersama seorang saudari kandung yang
mendapat setengah warisan secara fardb. Bila saudari kandung
tersebut lebih dari satu, maka mereka menggugurkan saudari seayah
sebab mereka telah mengambil duapertiga warisan secara lengkap.
2 HR. Al-Bukhari (no.6736) [XII:21] kitab al-Fara-idb,bab 8.
4t6 Kitab Harta lVarisan
Kedua: Ia tidak memiliki orang yang menjadi 'asbababnya,
yaitu saudaranya y^ngseayah. Jika ada saudara laki-lakinya yang
seayah, maka warisan yang tersisa setelah diberikan kepada saudari
kandung akan menjadi milik mereka berdua secara ta\bib,yakni yang
laki-laki mendapat dua kali bagian perempuan.3 lYallaahu a'lam.
(=-i.-J
3 [Misalnya seseorang mati meninggalkan saudari sekandung, saudara seayah'
dan saudari seayah dengan total warisan Rp. 3 juta. Maka saudari sekandung
mendapat setengah warisan sebagai fardh (= 1,5 juta), lalu sisanya menjadi
milik bersama antara saudara seayah dan saudarinya secara ta'shib. Saudara
seayah mendapat dua bagian (: 1 juta) dan saudarinya satu bagian (: 500
ribu)1.ru''
Bab Tentang: lVarisan untuh. Saudara-Saudara Perempuan Sebandung 417
BAB TENTANG:
\T/ARISAN UNTUK SAUDARA.
SAUDARA PEREMPUAN BERSAMA
ANAK PEREMPUAN DAN \TARISAN
UNTUK SAUDARA-SAUDARA SEIBU
Jika mayit meninggalkan seorang/lebih anak perempuan
bersama seorang/lebih saudari sekandung atau saudari seayah,
maka anak perempuan yang ada mendapat bagiannya terlebih da-
hulu.l Kemudian jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in
menganggap bahwa saudari-saudari sekandung/seayah mewarisi har-
ta tersebut secara ta\bib bersama anak-anak perempuan (yrrg dalam
istilah ulamafaraidh disebut ta'shib ma'al ghaira). Sehingga saudari-
saudari itu mendapat bagian yang tersisa setelah diberikan kepada
puteri kandung maupun cucu perempuan dari putera si mayit.
Dalilnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari
danyanglainnya, bahwa Abu Musa pernah ditanya tentang bagian
warisan untuk seorang puteri kandung, seorang cucu perempuan
dari putera kandung, dan seorang saudari kandung. Maka kata Abu
Musa: "Putri kandung mendapat setengah, dan saudari sekandung
juga setengah." Ia lalu berkata kepada si penanya: "Tanyalah Ibnu
Mas'ud, dia pasti mengikuti pendapatku." Maka Ibnu Mas'ud pun
ditanya setelah diberi tahu tentang ucapan Abu Musa. Namun Ibnu
Mas'ud justru mengatakan: "Sungguh, kalau begitu aku telah keliru
dan tidak mendapat petunjuk! Aku akan memutuskan sesuai dengan
keputusan Rasulullah ffi: 'Putri kandung mendapat setengah, cucu
perempuan dari putera si mayit mendapat seperenam agar genap dua
pertiga, sedangkan sisanya untuk saudari kandung."'2
t [Yakni bila hanya seoranB maka mengambil setengah warisan, namun bila
2 lebih dari seorang maka mengambil duapertiga].r"n''
HR. Al-Bukhari (no.6736) [XII:21] kitab al-Fara-idb,babke-8.
Bab Tmtang lVarisan untuk Saudara-Saudara Perempuan... 421
Hadits ini jelas menunjukkan bahwa saudari menjadi 'ashabab
bersama putri kandung. Ia mendapat bagian yang tersisa setelah
putri kandung dan cucu perempuan dari putra si mayit mendapat
bagiannya masing-masing.
Saudara seibu jika hanya seorang maka mendapatkan seper-
enam bagian, baik ia laki-laki maupun perempuan. Jika jumlah
mereka lebih dari satu, maka semuanya bersekutu dalam seperriga
bagian secara sama rata, baik yang laki-laki maupun perempuan.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:
Ofili
b;li*'$
'lU:i\LU,aS"ri;U'ir\L'-^ L5;'L, F
togJ' , 33i (i' ;
(@ .. Vlt:ic{u}e$'n
"... Jika seseorang mati, baik laki-laki nlaupun perempuan yang
ti.dak meningalkan a.yah dan tidak,meninggalkan anak, tapi mem-
punyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara
perernpudn (seibu saja), maka masing-masing dari bedua jenis sau-
dara itu mendapat seperenarn uarisan; namun jika mereka lebih
dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga uarisan..." (QS.
An-Nisaa': 12)
Para ulama telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan saudara-
saudara (ikhwah) dalam ayatini adalah saudara seibu. Bahkan da-
lam qiraah versi Ibnu Mas'ud dan Sa'ad bin Abi'Sflaqqash, ayat ini
dibaca:
tt/
aiu*;iriSxs
"Dan ia mempunyai seorang saudara lakiJaki atau saudara pe- I
rempuan dari pihak ibu."
1
Dalam ayatiniAllah menyebut saudara-saudari seibu itu tanpa
melebihkan salah satunya. Hal ini berani mereka harus disama-rata-
kan dalam warisan, baik yang laki-laki maupun perempuan. "Inilah
422 Kitab Harta tYarisan
qiyasyangbenar dan neraca yang sesuai dengan petunjuk al-Qur-an
serta pemahama/r sahabat-sahabat senior," kata Ibnul Qayyim.
Untuk mendapat seperenam, seorang anak ibu (saudara/
saudari seibu) harus memenuhi tiga syarat:
l. Mayit tidak memiliki keturunan yang mewarisi.
2. Tidak ada orang tua laki-laki yang mewarisi (ayah atau kakek
dari si mayit).
3. Dia hanya seorang diri.
Saudara-saudara seibu berhak mendapat sepertiga dengan
tiga syarat:
1. Mereka harus berjumlah dua orang atau lebih. Baik keduanya
laki-laki semua, perempuan semua, atau seorang laki-laki dan
seorang perempuan, atau lebih dari itu.
2. Mayit tidak memiliki keturunan, baik itu anak-anak kandung
maupun anak-anak dari keturunannya yang laki-laki, meski dari
keturunan yang kesekian.
3. Tidak adanyaorang tua laki-laki yang mewarisi, yaitu ayah atau
kakek dari pihak mayit.
Saudara-saudara seibu mempunyai lima aturan khusus,
yaitu:
Pertama dan hedua: Yang laki-laki dari mereka tidak dilebih-
kan atas yang perempuan dalam iatah warisan, baik ketika hanya
seorang maupun bersama yang lainnya. Sebab Allah berfirman
perihal ia y ang hany a seorang:
tC,^'u"ri;t j'\\L'^ L5;'k, O${, }
(@ 'J"3AitA4*S,f+Ui
"... Jika seseorang mati, baik kki-kki maupun perempuan yang ti.dak,
mminggalhan ayab dan ti.dak mminggalkan anak, tapi mempunyai
seord,ng saudara lahi-lahi (seibu saja) atau seorang saudara perem-
Bab Tentang Vlarisan untuk Saudara-Saudara Perernpr4dn... 423
puan (seibu saja), maka masing-masingdari kedua jenis sawdara itu
mendapat sEerend.n't. anrisan..." (QS. An-Nisaa': 12)
Lalu berfirman tentan g ia y ang bersama lainnya:
iui v'Hc ;#,^r'3 \:j,\L uF F
{@ vlri
"... NAmun jiha mereka lebih dari itu maka mereka bersehutu da-
lam sepertiga uarisan..." (QS. An-Nisaa': 12)
Ayat ini berbicara tentang kalaalab, yang menurut jumhur
ulama berarti orang yang mati tanpa meninggalkan'ayah'maupun
'anak'. Maka dalam hal ini disyaratkan agar mayit tidak memiliki
'anak' baik yang, laki-laki maupun perempuan. Jrga tidak memiliki
'ayah'yang mencakup ayah kandung dan kakek.
FirmanAllah:4iJui4irUj.*qtc;61:j,t4o$$"Namun
jika mereka lebib d)ri itu maka mereka bersekutu dalam sefertiga wa'
risan," menunjukkan bahwa saudara laki-laki seibu tidak memiliki
kelebihan atas saudara perempuan seibu. Sebab Allah menjadikan
mereka semua bersekutu dalam hak mendapat warisan. Padahal
suatu persekutuan yang disebutkan secara mutlak (tanpa catatan
tertentu) konsekuensinya adalah menyama-ratakan bagian semua
anggotanya.
Hikmah dibalik aturan ini -uallaabu a'lam- adalah karena sau-
dara-saudara seibu tersebut mewarisi berdasarkan rahim saja. Artinya
kekerabatan yang menjadikan mereka mewarisi adalah kekerabatan
ibu saja, sedangkan mereka semua sama dalam hal ini. Maka tidak
adaarrinyajika yang laki-laki dilebihkan atas yang perempuan. Lain
halnya jika kekerabatan tersebut adalah kekerabatan ayah.
Ketiga: Yang laki-laki dari mereka terhubung kepada mayit
lewat perempuan, namun ia tetap mewarisi. Berbeda dengan se-
lain mereka; bila terhubung kepada mayit lewat perempuan maka
tidak mewarisi, seperti anak laki-laki dari puteri kandung mayit.
Keempat: Mereka menyebabkan penghubung mereka ber-
kurang warisannya. Artinya, dengan adanyamereka, maka ibu me-
424 Kitab Harta W'arisan
reka berkurang jatah warisannya dari sepertiga menjadi sePerenam.
Padahal hal ini berlaku kebalikannya untuk selain mereka, yakni
penghubunglah yang justru mengurangi jatah orang yang dihubung-
kannya.
Kelima: Mereka mendapat warisan bersama dengan peng-
hubungnya, sebab mereka dan ibu mereka sama-sama mendapat
warisan. Sedangkan selain mereka tidak ikut mewarisi bersama Peng-
hubungnya. Seperti anak laki-laki dari Putera mayit yang tidak akan
mewarisi selama ayahrrya(putera si mayit tadi) masih hidup. Aturan
ini juga berlaku bagi nenek, baik ia ibu dari ayah mauPun ibu dari
kakek. Nenek seperti ini sama-sama mendapatkan warisan dengan
orang yang menjidi penghubungnya ke mayit (yaitu ayahlkakek si
mayit).
Kesimpulannya:
Seorang penghubung tidak akan menghalangi orang yang di-
hubungkannya untuk mendapat warisan, kecuali bila orang yang di-
hubun[kan itu bisa menggantikan posisinya dengan mengambil bagi-
anrLyaketika dirinya tidak ada. Adapun iika dia tidak bisa mengambil
bagiannya, maka dia tidak akan terhalangi olehnya, sebagaim.ana
yang terjadi pada saudara-saudara seibu. Di mana mereka tidak bisa
mengambil bagian ibu, jika ia tidak ada. Demikian pula dengan nenek
(ibu dari ayah atau ibu dari kakek); ia tidak akan mengambil jatah
ayah/kakek bila keduanya tidak ada. Ia hanya -.q/2risi sebagai 'ibu"
menggantikan ibu yang sesungguhnya. lYallaahu a'lam.
Gz-':.-J
Bab Tentang: W'arisan untuk Saudara- Saudara Perempuan... 425
BAB TENTANG:
TA'SHIB
+4TA'SHIB adalah bentukan dari kata (qiaii - - CLi,), dan
pelakunya disebut mu'asbhib.Ia berasal dari kata al-'ashbu (.1-t;Jl)
yangartinya berkisar pada: mengikat, mengelilingi, dan mengukuh-
kan. Dari sini, surban dalam bahasa Arab disebvt'asba'ib ((^1\:.i).
Kala' a sb ab ab adalah b entuk j amak dari'aa s b ib, y ang dal am
isr,ilahfara idb bisa dip akai untuk tun g gal 1 mauPun j am ak.
'Asbabah seseorang adalah semua kerabatnya dari jalur ayah
(dari kata'ash-shaba).
Dinamakan begitu karena mereka mengelilin gi ayah,dan segala
sesuatu yang mengelilingi sesuatu dinamakan 'asbabah;bapak berada
di atas, anak laki-laki berada di bawah, saudara laki-laki di samping
kanan, dan saudara ayah (paman) di samping kiri.
Ada pula yang mengatakan bahwa mereka disebut 'asbabah ka-
rena satu sama lain saling menguatkan dan mencegah. Diambil dari
kaaal-'ashbu;karenasatu sama lain saling menguatkan dan mencegah
dari campur tangan pihak luar.
'Asbabab menunrt istilah ahlifara-idb berarti orang yang men-
dapat warisan tanpa kadar tertentu. Sebab jika ia sendirian, ia akan
mendapat seluruh warisan, dan bila ia bersama orang yang memiliki
bagian tertentu, ia akan mendapatkan sisanya.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ffi,: "Berikanlah semua fardb
(bagian yang tertentu) kepada yang berhak. Jika masih tersisa maka
menjadi milik laki-laki yang paling utama."2
t [Seperti: "Zaid adalah'asltabah"1.v""' 429
2 Lihat takbrijnyahal. 371.
Bab Tentang: Ta\bib
'Asbabab terbagi menjadi tigaz 'asbabab binnafsi, 'asbabab
bil gbairi, dan'asbabah ma'al gbairi.
Pertama:' Ash ab ah binnafsi
Yaitu setiap laki-laki yang disepakati sebagai ahli waris, selain
suami dan saudara seibu. Mereka ada empat belas: (1) purera kandung,
Q) anaklaki-laki dari keturunan laki-laki3, (3) ayah kandung, (a) kakek
dari pihak ayah dan seterusnya ke aras, (5) saudara laki-laki sekan-
dung, (6) saudara laki-laki seayah, (7) keturunan laki-laki dari saudara
laki-laki sekandung secara tunrn remurun, (8) keturunan laki-laki dari
saudara laki-laki seayah secara rurun remurun, (9Sa10) paman yang
sekandung dan paman yang seayah4, (1lk.l2) putera mereka berdua
secara turun-temurun, (13) laki-laki yang memerdekakan budaknya,
dan (1a) wanita yang memerdekakan budaknya.
Kedua: 'Asbabab bil gbairi, dan mereka ada empat kategori:
1,. Anak perempuan (seorang atau lebih) dengan anak laki-laki
(seorang atau lebih).
2. Anak perempuan dari putera kandung (baik seorang arau lebih)
dengan anak laki-laki dari purera kandung Saik seorang atau
lebih) asalkan keduanya berada dalam satu level, baik mereka
bersaudara atau bersepupu. Atau dengan cucu laki-laki yang
berada di level lebih bawah saat dibutuhkan.
Dalil yang menunjukkan bahwa kedua kategori di atas termasuk
'ashabab bil ghairi adalah firman Allah:
$W'y,,fit V 3, i$i -i.{i,|,f.., X
(@
Yakni cucu laki-laki, cicit laki-laki, dan sererusnya ke bawah dengan syarat
ayah mereka adalah keturunan si mayit.
Yakni saudara sekandung ayah, saudara seayah ayah, saudara sekandung ka-
kek, saudara seayah kakek, dan seterusnya ke atas.
430 Kitab Harta'Varisan
*Allab berwasiat kepadamu (tenta.ng pembagian warisan) untuh
anak - anakmu ; mereka y ang laki-laki mendapat bagian seperti dua
orang perernpuctn..." (QS. An-Nisaa' : 1 1)
Ayat yang mulia ini cakupannya meliputi anak-anak si mayit
dan cucu-cucunya dari anak laki-laki.
3. Saudara perempuan sekandung (seorang atau lebih) dengan sau-
dara laki-laki sekandung (seorang atau lebih).
4. Saudara perempuan seayah (seorang atau lebih) dengan saudara
laki-laki seayah (seorang atau lebih).
Dalil yang menunjukkan bahwa kedua kategori ini termasuk
'asbabah bil ghairi adalah firman Alah:
';*nsi V Jr t #,b; $;,-'Gy::}$b b
{@ry ^a&rw'i$siH{ifrW
"... Jika mereka (ahli uaris itu terdiri dari) saudara'saudara laki
dan perempuan, maka bagian seord.ng saudara laki'laki sebanyak
bagian dua orang saudara perernpudn." (QS. An-Nisaa': 175)
Jadi, ayat yang mulia ini cakupannya meliputi saudara dan sau-
dari sekandung, juga saudara dan saudari seayah.
Keempat tipe laki-laki di atas, yaitu: putera kandung, putera dari
putera kandung, saudara kandung, dan saudara seayah; maka saudari-
saudari mereka akan berbagi warisan bersama mereka secara ta\hiE.
Namun laki-laki selain yang empat ini, saudari-saudarinya tidak ikut
berbagi warisan dengan mereka sama sekali. Contohnya putera dari
saudara laki-laki ft ep onakan), saudara-saudara ay ah ('ammi/p aman),
dan putera-putera mereka (sepupu).
Ketiga: 'Asbabab ma'al gbairi, dan mereka ada dua macam:
1. Saudari kandung (seorang atau lebih) bersama puteri kandung
(seorang atau lebih) atau puteri dari putera kandung (seorang atau
lebih).
s [Yakni yang laki.laki mendapat dua bagian dan yang perempuan satu bagian].n"'"
Bab Tentang Ta\hib 431
2. Saudari seayah (seorang atau lebih) bersama puteri kandung
(seorang atau lebih) atau puteri dari putera kandung (seorang
atau lebih).
Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan
sahabat, tabi'in dan pengikut mereka. Yaitu bahwasanya saudari
sekandung atau saudari seayah menjadi 'asbabah bersama dengan
puteri kandung atau putri dari putra kandung. Mereka berdalil
dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-jama'ah6 selain Muslim
dan an-Nasa-i, bahwa Abu Musa pernah ditanya tentang bagian
warisan untuk seorang putri kandung, seorang cucu perempuan
dari putra kandung, dan seorang saudari kandung. Maka kata Abu
Musa: "Putri kandung mendapat setengah, dan saudari sekandung
juga setengah." Ia lalu berkata kepada si penanya: "Tanyalah Ibnu
Mas'ud, dia pasti mengikuti pendapatku."
Maka Ibnu Mas'ud pun ditanya setelah diberi tahu tentang
ucapan Abu Musa. Namun Ibnu Mas'ud mengatakan: "Sungguh,
kalau begitu aku telah keliru dan tidak mendapat petunjuk! Aku
akan memutuskan sesuai dengan keputusan Rasulullah H,: 'Putri
kandung mendapat setengah, cucu perempuan dari putra si mayit
mendapat seperenam ag r genap duapertiga, sedangkan sisanya un-
tuk saudari kandung."'7
Jika salah satu dari 'ashabab binnafsi meniadi ahli waris tung-
gal, maka ia mendapat seluruh harta warisan.
Dalilnya ialah firman Allah,€:
( 'fr;tik{ry-ui;';, y
"... DAn saudara laki-laki akan mewarisi saudaranya perernpuan
jika ia tidak mempunyai anak..." (QS. An-Nisaa' :176)
Jadi menurut ayat ini, saudara laki-laki bisa mewarisi seluruh
harta saudara perempuannya. Hukum ini khusus berlaku bagi'asba-
bab binnafsl. Namun jika ternyata adaash-baabulfurudh, maka mereka
6 [Istilah untuk Imam yang enam: al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi,
7 an-Nasa-i, Ibnu Majah].w''
Lihat takbrijrya halaman 419.
432 Kitab Harta \)larisan
diperlakukan sama dengan 'ashabah-'asbabab lainnya yakni mereka
mewarisi sisa harta setelah masing-masing dari asb'haabwl furudhs
mendapat bagiannya.
D alilnya adalah hadits : " Berikanl ah semuafar db (b agian y ang
tertentu) kepada yang berhak; jika masih tersisa maka menjadi milik
laki-laki yang paling utama."e Artinya, jika semua fardb telah diberi-
kan lrepada yang berhak dan harta warisan tidak ada yang tersisa,
maka 'asbabah tidak mendapatkan
^pa-apa.
'Ashabab memiliki enam jalur yang unrtannya sebagai berikut:
jalur anak, jalur bapak, jalur saudara, jalur keponakanl0, kemudian
jalur uala'. lVala'ialah hak mewarisi tanpa kadar tertentu karena
jasa seorang majikan atas budaknya dengan membebaskannya.
Dalilnya adalah sabda Nabi H, yang artinya: "\flala' itu hany-
alah bagi orang yang memerdekakan."lr
Jika bertemu dua orang 'ashabab atau lebih, maka tak ter-
lepas dari empat keadaan:
Pertama:Keduanya memiliki ialur, level, dan kekuatan yang
sama. Seperti sama-sama putera mayit, sama-sama saudara kandung
mayit, dan sama-sama paman mayit ('amm). Dalam keadaan ini,
mereka bersekutu dalam mendapat harta warisan.
Kedwa:lalur keduanya berbeda, maka yang lebih utama harus
didahulukan. Contohnya anak laki-laki dengan bapak; maka anak
lebih didahulukan dalam mengambil sisa warisan daripada bapak.
Ketiga:Jalurnya sama namun levelnya berbeda. Sepeni jika
putera kandung bertemu dengan cucu laki-laki dari putera kandung
juga; maka putera kandung harus diutamakan di atas cucu karena
ia lebih dekat kepada mayit.
Keempat:lalur dan levelnya sama namun kekuatannya ber'
beda, maka yang lebih kuat yang didahulukan. Contohnya seperti
I [Yaitu setiap ahli waris yang mendapat bagian dalam kadar tertentu, seperti
e seperenam, seperempat, sepertiga, setengah, dan seterusnya].P"n''
Lihat takbrijnya halaman.371.
r0
[Keponakan di sini adalah yang laki-laki dan dari saudara laki-laki pula].e"n''
tr Lihat tahbrijrrya halaman 369.
Bab Tentang Ta\bib 433
saudara kandung dengan saudara seayah; saudara kandung harus
didahulukan karena ia terhubung kepada mayit melalui kedua orang
tuanya, sedangkan saudara seayah hanya melalui ayahnya.
Cz,.i-J
l
I
434 Kitab Harta lVarisan
BAB TENTANG:
HATB (HALANGAN)
Bab ini memiliki urgensi tersendiri di antara bab-bab ilmu pem-
bagian waris. Dengan menguasai bab ini secara mendetail, kita men-
jadi tahu bagaimana menyampaikan warisan kepada orang yang
berhak menerimanya. Namun bila bab ini tidak difahami, akibatnya
cukup fatal. Sebab boleh jadi kita menahan warisan dari orang yang
berhak menerimanya menunrt syari'at, lalu memberikannya kepada
orang yang tidak berhak menerimanya.Dari sini, sebagian ulama
men[atakan: "Haram hukumnya bagi yang tidak memahami hajb
untuk berfatwa dalam pembagian warisan."
HAIB secara bahasa artinya menghalangi.
Dikatakan: "Ia meng-hajbnya" bila melarangnya untuk masuk.
Orang yang menghalangi disebut haajib. Sebab itulah, seorang Sultan
biasanya memiliki haajib (semacam ajudan) yang tugasnya mengha-
Iangi orang-orang untuk bertemu langsung dengannya.
Adapun h aj b menurut ist il ah ulamafar a' idb, artiny a adal ah men g-
halangi otrt g yang berhak mendapat warisan dari warisan tersebut
secara total atau dari mendapatkan jatah terbaiknya.
HAJB DALAM FARA.IDH TERBAGI MENJADI DUA:
Pertama: Hajb ausbaf (baib berdasarkan sifat).
Hajb ini berlaku atas orang yang memiliki salah satu dari tiga
sifat penghalang warisan berikut: (1) statusnya sebagai budak, (2) pem-
bunuh, dan (3) perbedaan agama. Maka siapa saja yang memiliki satu
dari tiga sifat ini ia tidak akan mendapat warisan, dan keberadaannya
maupun ketidakber adaanny a sama saj a.
Kedua: Hajb asy-kbaasb (bajb secara personal).
Yaitu dengan menghalangi orang-orang tertentu untuk menda-
pat warisan, sehingga tidak mendapatkan warisan sama sekali (disebut
Bab Tentang Hajb (Halangan) 437
juga bajb birman) atau dialihkan dari mendapat warisan yang semula
banyak menjadi lebih sedikit (disebut jugabajbnuqsban).Adanya ke-
dua hajb ini (birman dan nuqshan) ialahkarena keberadaan seseorang
yang lebih berhak darinya. Sebab itulah ia dinamakan hajb asy-khaash
(personal).
Hajb seperti ini ada tujuh macam; empat karena berpindah dari
satu bagian (fardh) ke bagian yang lain dan tiga disebabkan karena
berdesakannya ahli waris. Ketujuh macam itu ialah:t
l. Berpindah dari mendapat suatu bagian (fardh) ke bagian lain yang
lebih kecil. Seperti berpindahnya seorang suami dari mendapat
setengah menjadi seperempat misalnya.
2. Berpindah dari mewarisi sebagai 'asbabah menjadi 'asbabablain
yang lebih sedikit. Seperti berpindahnya saudari kandung/s eayah
dari status 'ashabah ma'al gbairi menjadi 'ashabah bil gbairi.
.3 Berpindah dari mewarisi secarafardh menjadi 'ashabab (dapat sisa
warisan) yang lebih sedikit. Seperti berpindahnya wanita-wanita
yang semula berhak mendapat setengah warisan menjadi 'ashabab
bil ghairi.
4. Berpindah dari mewarisi secara ta'shibkepadafardh yang lebih
sedikit. Seperti berpindahnyaayahdan kakek dari mendapat sisa
warisan (ta\hib) menjadi mendapat bagian tertentu (fardb).
5. Berdesakannya ahli waris yang mendapat bagian tertentu. Seper-
ti berdesak^nnya isteriisteri dalam mendapat seperempat atau
seperdelapan warisan misalnya.
6. Berdesakannya ahli waris yang menjadi 'ashabaD. Seperti ber-
desakannya 'asbabah dalam mewarisi seluruh harta atau yang
tersisa setelah diberikan kepada asb-baabul furudb.
7. Berdesakannya ahli waris akibat 'aul. Seperti berdesakannyl-
!?'as b - h aabu l furudb dalam asal masalah yan g. terke o? l.zsehin gga
masing-masing mendapat jatah yang lebih sedikit akibat'aul.
t Ini bisa jadi kesalahan cetak seperti yang kami dapatkan dalam cetakan Dar
al-'Ashimah dan juga Dar Ibn al-lauzi, karena setelah kami merujuk ke kitab
Fara - i d h b eliau (at - Tab q iq at a l -Mardb iyy ah, hal. 127) kami dapat k an bahwa
yang benar seperti yang diterjemahkan oleh penerjemah; empat karena per-
pindahan dari satu bagian kebagian lain dan tiga karena berdesakannya ahli
wafls.
438 Kitab Harta lVaisan
ADA BEBERd.PA KAIDAH UTAMA DALAM MASALAH
HAIB, YAITU:
Kaidah pertAmA: Barang siapa terhubung kepada mayit melalui
perantara, maka ia akan terhalang oleh perantara tersebut.
Contohnya cucu laki-laki dari putera kandung bersama putera
kandung (ayahnya), nenek bersama ibu, kakek bersama ayah, dan
saudara laki-laki bersama ayah.
Kaidab kedua:Jikabertemu dua orang 'asbabab atau lebih, maka
didahulukan yang lebih utama jalurnya.
Contohnya seperti anak dengan bapak atau dengan kakek; yang
mengambil sisa warisan adalah anak. Sebab jalur anak lebih dahulu
sifatnya.
Namun jika kedua 'asbabah tersebut jalurnya sama, maka yang
didahulukan adalah yang lebih dekat ke mayit. Contohnya: Ketika
seorang anak laki-laki bertemu dengan anak laki-laki saudaranya,
atau seorang saudara kandung bertemu dengan putra saudara kan-
dung yang lainnya, dan semisalnya.
Andaikata kedua 'asbabah itu berada di jalur yang sama dan
dengan kedekatan yang sama pula kepada mayit, maka didahulukan
yang lebih kuat. Contohnya ketika seorang saudara kandung bertemu
dengan saudara seayah, maka saudara kandunglah yang didahulukan
karena ia lebih kuat. Sebab ia terhubung ke mayit lewat ayah dan
ibunya, sedangkan saudara seayah hanya lewat ayahnya saja.
Kaidab ketiga: (Y"rB berlaku padahajb birman) bahwa pihak
orang tua tidak bisa drhajb kecuali oleh orang tua juga. Sehingga se-
orang kakek tidak bisa dihalangi kecuali oleh ayah atau oleh kakek
yang lebih dekat kepada mayit, dan seorang nenek tidak bisa dihalangi
kecuali oleh ibu atau oleh nenek yang lebih dekat ke mayit. Demikian
pula anak tidak bisa dibajb kecuali oleh anak juga. Sehingga cucu
lakilaki hanyabisadihajb oleh anak laki-laki atau oleh cucu yang
lebih tinggi darinya. Sedangkan hauasyi (yaitu saudara, keponakan,
paman, dan sepupu) bisa dihajb oleh orang tua, anak, maupun bawaryi
itu sendiri.
Contohnya saudara seayah; mereka akan digugurkan bila ber-
temu dengan putera kandung, cucu laki-laki dari keturunan laki-
Bab Tenung Hajb (Halangan) 439
laki mayit (meski jauh di bawah), ayah, kakek (menurut pendapat
yang shahih), saudara kandung, dan saudari kandung yang menjadi
'asbabah ma'al ghairi. Di sini kita menyaksikan bahwa saudara
seayah bisa dihalangi oleh pihak anak, pihak orang tua, maupun
pihak bauasyi.
Kembali kami tegaskan bahwa bab hajb adalah bab yang sangat
urgen. Karenanya, wajib bagi yang hendak berfatwa dalam hal pem-
bagian waris untuk menguasai kaidah-kaidah hajb dan memperhati-
kan pernak-perniknya secara teliti, lalu menerapkannya sesuai dengan
kondisi. Hal itu agar ia tidak keliru dalam berfatwa; merubah pem-
bagian warisan dari aturanr:yayang syar'i, lalu memberikan orang
yang tidak berhak serta menghalangi orang yang berhak.lVallaahu
ualilryut taufiq.
Czi-J
I
l
440 Kitab Harta lVarisan
BAB TENTANG:
MEMBERI \TARISAN
KEPADA SAUDARA.SAUDARA
BERSAMA KAKEK
Dalam masalah ini,Imam Ahmad, Imam Malik, dan Imam Syafi'i
mengikuti madzhab ZaidbinTsabit €ia . Demikian pula halnya de-
ngan Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan dari kalangan Hanafiyah,
serta sejumlah ulama lainnya.
Intinya: Jika saudara-saudara bertemu dengan kakek, maka bisa
jadi saudara-saudara itu adalah saudara kandung saja, atau saudara
seayah saja, atau campuran dari keduanya.
JIKA SANG KAKEK BERSAMA SAUDARA.SAUDARA
DENGAN TIPE YANG SAMA, MAKA KONDISINYA ADA
DUA MACAM:
Kondisi pertdma: Tidak ada ahli waris yang berhak menda-
pat bagian tertentu (fardh) bersama mereka.
Ketika itu, keadaan kakek dan para saudara tersebut adalah satu
dari tiga hal berikut:
l. Berbagi harta warisan dengan mereka lebih menguntungkan
baginya daripada mengambil sepertiga warisan.
Ini terjadi bila bagian saudara-saudara tidak sampai dua kali
lipat dari bagian kakek, yaitu mereka mendapatkan seperti bagian
kakek, setengahnya, atau bisa juga lebih sedikit. Hal ini hanya bisa
didapatkan dalam lima bentuk berikut:
Kakek dengan seorang saudari perempuan; maka kakek
mendapat duapertiga.
Kakek dengan seorang saudara lakiJaki; kakek mendapat
setengah.
Bab Tentang Memberi tYarisan Kepada Saudara-Saudara.., 443