ii SANKSI PELANGGARAN UU NO 19 TAHUN 2022 TENTANG HAK CIPTA ▪ Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling sedikit 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). ▪ Barang siapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, menedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan barang atau hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus rupiah).
iii Novel Malaikat Pemberi Jiwa Seni Asiati Basin
Malaikat Pemberi Jiwa copyright© 2023, Tidar Media Seni Asiati Basin ISBN : 978-623-6604-16-8 EISBN : 978-623-6604-17-5 Layout : Matahari Agung Editor : Christina Tulalessy Design Sampul: Galuh C Ilustrasi : Bara Hasta Penerbit : Tidar Media Ukuran : 14 cm x 21 cm, viii + 209 Cetakan : I, September 2020 II, September 2022 III, Desember 2023 Redaksi Jalan Kyai Asrof Sengon, Trasan, Bandongan, Magelang. RT03/RW03. 56151. email: [email protected] FB: www.facebook.com/tidarmedia IG: www.instagram.com/tidar_media web: www.tidarmedia.com hak cipta dilindungi undang-undang dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit iv
v PRAKATA Buku ini adalah kisah sederhana persembahan seorang anak kepada ayahnya. Kisah sehari-hari yang sering dijumpai di setiap keluarga. Harapannya novel ini dapat mengisnpirasi pembaca karena dikemas dengan cara seorang guru bertutur. Ada pembelajaran bahwa Belajar Dari Rumah menjadi pondasi seorang anak untuk melangkah. Kisah Jakarta di tahun 80-an terangkum indah dalam tutur kisah perjuangan seorang bapak dari seorang anak yang belum memberikan apa-apa. Buku ini dapat terbit karena peran serta dukungan dari keluarga dan sahabat. Semoga novel ini dapat menginspirasi dan memajukan literasi untuk anak-anak bangsa. Penulis Seni Asiati Basin
vi SEBILAH KATA Sebilah kata terangkum indah Pada sampul berwarna biru Tak putus terangkai indah Tentang kisah sebuah rumah Tentang selaksa sedih Yang membuncah Tak berkesudahan Kukuh bahumu Tempatku berteduh Mata katamu Tempat kumengeluh bisik hatimu tempat kuterisak ah sudahlah sudah pergi tak akan kembali hanya sebait doa untuk malaikat pemberi jiwa SAB Ramadhan 15
vii DAFTAR ISI ❖ Prolog .......................................................... 1 ❖ Rumah Masa kecil ...................................... 6 ❖ Cerita dari Rumah...................................... 17 ❖ Keluarga Anugerah Terindah................... 36 ❖ Ini Cara Bapak............................................. 43 ❖ Duka Keluarga ............................................ 51 ❖ Tak Cukup Hanya Rumah ........................ 58 ❖ Sepenggal Hati............................................ 85 ❖ Bapak dan Cerita Cintaku......................... 97 ❖ Malaikat Pemberi Jiwa.............................. 110 ❖ Bapak dan Cita-cita Anakku.................... 120 ❖ Pinjaman Tanpa Jantung .......................... 135 ❖ Kemana Bapak ........................................... 141 ❖ Pulang Kampung....................................... 155 ❖ Tempat Terindah untuk Bapak .............. 187 ❖ Epilog .......................................................... 200
viii Novel ini aku persembahkan untuk Malaikat pemberi jiwa Inspirator yang tak pernah lelah Sumber kekuatan kami anak-anaknya Untuk Bapak “Jadilah Jawara”
Seni Asiati Basin | 1 Prolog Semua orang pasti mempunyai bapak. Setiap orang mempunyai cerita tentang bapak. Setiap cerita tentang bapak pastilah bermakna. Bapak bagi kami adalah sosok inspiratif yang selalu ada berbagi dengan segala ide dan candanya. Ajaran bapak tertanam di hati agar kami berani, jujur, dan disiplin baik dalam waktu maupun kebiasaan. Disiplin yang diterapkan di rumah, menjadikan kami pribadi yang tangguh dan bergerak cepat. Bapak meminta kami untuk tidak menunda pekerjaan. Bapak juga mendidik kami seperti yang layaknya sekolah militer. Kenangan bersama bapak pasti akan selalu menjadi kisah yang teramat indah. Untuk anakanaknya tak ada yang terlewat dari sosok bapak. Waktu itu bulan Ramadhan cuaca panas terik. Bapak baru pulang dari dinasnya, masih dua jam lagi waktu berbuka. Waktu itu aku dan adikku masih berusia 9 dan 8 tahun, kami berbaring saja di sofa depan. Lapar dan haus yang melanda karena sudah seharian berpuasa membuat kami malas untuk bergerak, bahkan bermain saja kami enggan. Seperti anak-anak lain, hanya jam di dinding yang selalu kami tengok.
2 | Malaikat Pemberi Jiwa “Anak bapak, puasa semua nih?” tanya bapak pada kami yang lemas tanpa tulang. Aku mengangguk dan melanjutkan dengan mengambil bantal sofa. “Puasa kok lemas terus, yuk kita cari kerang di pantai Cilincing,” kata bapak pada kami yang langsung melompat kegirangan. Kegiatan di pantai Cilincing kalau sore apalagi di bulan puasa menjadi kegiatan yang mengasyikan. Biasanya aku dan adikku yang selalu diajak bapak, kata bapak karena kami berdua yang muat di boncengan motor. Kali ini bapak mengajak kakakku ikut. Bapak baru pulang dari dinas harusnya bapak istrahat, tapi melihat buah hatinya lemas karena puasa, bapak mengajak kami ‘ngabuburit’ alias jalan-jalan menunggu waktu berbuka di pantai dekat rumah. Pakaian kebesaran bapak sudah berganti dengan kaos dan celana pendek, khas bapak. Pantai Cilincing tidak begitu jauh dari rumah kami dan selalu ramai oleh pengunjung apalagi kalau bulan Ramadhan. Kadang saja sih bapak mengajak kakakku sehingga motor bapak penuh dengan anak-anak bapak. Motor bapak akan memuat empat orang penumpang. Aku, adikku, dan kakakku dengan bapak yang mengemudikan memenuhi sadel motor dengan tubuh kami yang sudah mulai besar.
Seni Asiati Basin | 3 Sambil menunggu waktu berbuka aku dan adikku akan diajak bapak mencari kerang yang banyak bertebaran di pantai. Kakakku sibuk mengukir nama di pantai. Sesekali bapak mengangkat adikku yang memang badannya kecil ke udara dan memutar seolah-olah akan melempar. Kenangan itu terekam jelas olehku karena permainan itu membuat aku berebut untuk ikut diangkat. Sesekali bapak mengangkatku, tapi adikku pasti akan berteriak untuk diangkat juga. Malam takbiran atau sehari sebelum lebaran, malah lebih seru lagi, bapak akan mengajak kami berkeliling kompleks sambil bertakbir. Bapak selalu ada untuk kami sesibuk apapun. Aku dan saudara-saudaraku akan ikut kemana saja bapak mengajak kami tinggal. Tidak heran kalau kami merasakan pindah rumah sebanyak empat kali. Bukan karena habis kontrakan, melainkan tugas bapak yang membuat kami harus ikut bapak. Bapak ingin keluarga kami berkumpul walaupun harus sering berpindah tempat tinggal. “Dimanapun kita, kalau keluarga berkumpul semua, masalah akan baik-baik saja.” Kata bapak ketika kami harus pindah untuk yang ketiga kalinya. Kalau kami mengeluh, bapak pasti akan bercerita pengalamannya pertama kali harus keluar dari rumah nenek hingga terdampar di
4 | Malaikat Pemberi Jiwa pulau Jawa. Perjuangan bapak hingga bisa ada di ibukota merupakan kisah yang sungguh menginspirasi. Aku selalu senang mendengar kisah bapak si anak kampung yang merantau. “Dulu untuk sekolah saja bapak harus ke kota kabupaten, jalan kaki 15 km.” Kenang bapak. Ketika itu aku mendapat nilai raport yang tidak memuaskan. Aku sedih dan mengurung diri. Aku merasa aku sudah belajar dengan giat bahkan rela waktu bermainku aku gadaikan demi nilai yang memuaskan. Hal itulah yang membuatku patah semangat. Cerita bapaklah yang membuatku bangkit. Bapak bercerita kalau sekolah dasar saja jauh, harus melewati 5 dusun. Jarak setiap dusun 1-3 km. Dusun atau kampung bapak masih hutan. Wah, terbayang seramnya melewati daerah itu. Setelah tamat SMP, bapak bekerja di kebun sawit milik saudara. Waktu itu pendidikan SMP saja sudah bagus karena jarang anak kampung yang bersekolah. Hingga suatu hari ada kabar gembira datang, bapak ditawari menjadi agen polisi (dulu namanya seperti itu). Syaratnya mendaftar di ibukota provinsi. Itu artinya bapak harus merantau dan jauh dari kampung lagi. Keinginan untuk maju dan membuat bangga orang tua, yang membuat bapak mengambil kesempatan itu.
Seni Asiati Basin | 5 “Kesempatan harus dicoba dan tidak akan datang dua kali.” Itu prinsip bapak yang aku rekam jelas di hatiku. Jadilah bapak polisi negara dan ditempatkan pertama kali di tanah Jawa atau di daerah Jawa Barat tepatnya di Cipanas, Cianjur. Tempat yang jauh dari pulau Sumatera membuat ibu dari bapak atau nenekku menangis tak henti. Jarak antarpulau yang dulu terbilang cukup jauh membuat hati nenek tak tega. Transportasi ke pulau Jawa masih minim. Jarak tempuh bisa 24 jam bahkan lebih tergantung kapal feri yang bersandar. Belum ada orang di kampung bapak yang merantau ke tanah Jawa. Nenek berusaha menghalangi niat bapak dan tak membolehkan bapak pergi keluar dari kampung. Jarak yang teramat jauh apalagi transportasi dan komunikasi dulu yang tidak sebagus sekarang, membuat nenek tak rela hati melepas bapak pergi merantau jauh. Bapak berjuang untuk hidupnya, susah dan jauh dari orang tua membuat bapak ditempa disiplin dan percaya diri. Bapak menjadi sosok inspiratif untuk perjalanan hidupku dan saudara-saudaraku.
6 | Malaikat Pemberi Jiwa Rumah Masa Kecil erkenalkan aku Nuri Hayati. Aku anak ketiga dari lima bersaudara. Ini ceritaku bersama bapak. Tentu kalian pun banyak punya cerita dengan bapak. Rumah masa kecil memang menorehkan kesan yang dalam. Aku dan keluargaku pindah ke rumah ini tahun 1976. Sebenarnya rumah ini bukan rumah masa kecil, karena aku dilahirkan di Cipanas, Jawa Barat. Kemudian bapak pindah tugas ke Jakarta dan tinggal di kompleks perumahan yang disediakan pemerintah. Mambo, begitu orang menyebut wilayah tempat aku tinggal. Entah mengapa orang menyebut begitu tidak jelas benar. Pastinya teringat mambo teringat es mambo. Mungkin dinamakan “mambo” karena banyak yang menjual es mambo di kompleks kami. Yah, es yang yang selalu dibuat mamahku dengan plastik panjang diikat karet. Kulkas kami tak pernah sepi dengan es ini. Mamah membuat hanya untuk anakanaknya, kata mamah kalau dibuat sendiri kebersihannya lebih terjamin, yang pasti aku dan saudara-saudaraku tak perlu merengek minta P
Seni Asiati Basin | 7 dibelikan es mambo. Di zamanku dulu tahun 80- an, es ini sangat terkenal dan aku selalu berebut dengan adikku sepulang sekolah. Bahkan, karena seringnya kami minum es mambo, mamah mengajari kami membuat dan menjualnya. Mungkin kalau di daerah Jawa Barat dikenal dengan nama ‘es lilin’. Nah, kalau es lilin ada lagunya kalau es mambo aku belum dengar lagunya. “Ri, bantu mamah yah?” kata mamah sepulang aku sekolah. “Bantu apa Mah? Aku menaruh tas dan berganti pakaian siap untuk makan. Sudah terbayang sedapnya sayur asam buatan mamah. Aku lihat mamah mengangkat baskom berisi air berwarna merah, harum sirop merasuk lubang hidungku. “Mamah mau membuat es mambo?” tanganku sudah menjangkau centong yang ada di baskom dan mengaduk-aduk isi baskom. “Iya, ini mamah kasih selasih dan biji mutiara.” Mamah menaruh selasih dan biji mutiara di baskom. Sekarang air merah itu sudah ramai dengan bertambahnya pasukan selasih dan biji mutiara berwarna-warni dan tentu saja menggoda. Wah, pasti enak yang pasti aku akan membawa ke sekolah dua dan menyimpan dua untuk siang.
8 | Malaikat Pemberi Jiwa “Aku bantu tuang ke plastik ya, Mah.” Mulutku masih penuh nasi dan tangan kiriku menjangkau plastik es. “Makan dulu nanti bantunya habis Nuri makan.” Mamah menjauhkan tanganku dari plastik es. “Asyik, bikin es mambo.” Adikku Tita berseru sambil memegang baskom air merah. Tangan mungilnya sibuk menyendok air dan mengangkat biji mutiara dengan sendok. Sambil tertawa Tita memakan biji mutiara. Matanya mendelik-delik merasakan biji mutiara. Aku heran mengapa harus mendelik seperti itu. Kalau kata anak sekarang adikku ini lebay. “Yah, kurang manis Mah.” Seru Tita. Muka kecilnya mendadak mengerut. Mulutnya dimonyongkan tanda penilaiannya pasti akurat. “Masa sih kurang manis.” Mamah mengambil air sirop dengan ujung tangannya. Tak lama sesendok gula pasir yang putih sudah tertuang di baskom. Adikku tersenyum bangga karena penilaiannya tentang rasa es mambo diapresiasi mamah. “Es memang harus lebih manis dari minuman, karena kalau sudah mengeras rasa itu akan perlahan berkurang.” Itu alasan mamah mengapa es yang dibuat harus manis berbeda dengan minuman.
Seni Asiati Basin | 9 Aku ingat benar hari dimana kamu memulai usaha es mambo. Aku dan adikku Tita tentu saja jadi pengusahanya hahahahaha. Es mambo ini resmi menjadi dagangan aku dan adik. Kenangan masa kecil tentang es mambo dan cara kami berjualan begitu terpatri. Aku dan Tita tidak berdagang keliling kompleks hanya menaruh termos es di depan rumah dan iklan jualan kami hanya omonganku pada teman-teman kalau kami berjualan es mambo. Pelanggan kami tentu saja teman-teman kami sendiri, tetangga kiri-kanan di kompleks. Bahkan aku ingat untuk menarik perhatian pembeli aku dan Tita pernah berebut es mambo. Teman-teman yang melerai ikut penasaran mengapa es tersebut jadi rebutan. Ahaaa, taktik jualan kami berhasil semakin banyak yang membeli, bahkan jenis es mambo yang tadinya hanya berwarna mulai bervariasi. Mamah memang selalu punya ide. Ada es mambo rasa coklat yang dibuat dari susu coklat dan diberi meisis, ada es kacang hijau, ada es ketan hitam, bahkan ada es teh susu. Dagangan kami selalu habis apalagi di samping rumah ada lapangan tempat anak-anak bermain. Ibu-ibu kompleks yang memiliki kulkas pastinya juga membuat es ini. Banyak yang menitipkan di warung-warung. Tahun 80-an kulkas masih barang langka hanya satu dua
10 | Malaikat Pemberi Jiwa keluarga yang memiliki. Bapak yang mengajarkan untuk menggunakan kulkas dengan bijak. Es mambo buatan mamah dan cara kami menjajakan memang berbeda dengan es mambo yang dibuat ibu-ibu di kompleks. Aku tak tahu mengapa mamah begitu pandai meramu es mambo. Kini es mambo jarang dijumpai sesekali mamah masih membuat untuk anak-anakku. Rindu es mambo dan rindu masa kecilku. Yang pasti aku bahagia menghabiskan masa kecilku di rumah yang kami sebut “rumah mambo”. Rumah inilah pertama kalinya keluarga kami tinggal dan menginjakkan kaki di ibukota Jakarta. Padahal aku lebih senang tinggal di kota kelahiranku yang sejuk dan hijau di daerah Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Rumah mambo mengisahkan masa kecilku di belantara ibukota yang bernama Tanjung Priuk. Rumah mambo wilayahnya persis dekat dengan pelabuhan Tanjung Priuk. Hanya karena tidak banyak yang aku ingat di rumah Cipanaslah, sehingga rumah mambo menjadi rumah masa kecil dari ingatanku tentang sebuah rumah. Aku dan ketiga saudaraku dilahirkan di Cipanas, tapi tumbuh dan menghabiskan masa kecil di rumah mambo. Sebenarnya ini kompleks perumahan untuk para pengawal keamanan masyarakat.
Seni Asiati Basin | 11 Sebuah rumah kompleks “anak kolong”, itu julukan untuk kami anak kompleks. Pindah ke Jakarta tidak ada dalam benakku sebagai seorang anak. Kami anak-anak bapak pastinya harus ikut kemana orang tua akan membawa. Pindah ke Jakarta siapa yang tidak mau, tetapi pindah ke daerah pantai dari daerah pegunungan, sungguh jauh dari keinginan mamah. Aku dan saudara-sadaraku masih kecil belum mengerti apa yang diinginkan. Aku pernah bertanya pada bapak mengapa harus pindah ke Tanjung Priuk dan tidak meminta ke wilayah selatan yang katanya lebih sejuk dan tidak gersang. Bapak bilang tempat inilah yang cocok dengan bapak. Kompleks ini dekat dengan tempat bapak bekerja. “Nuri mau tahu gak mengapa dinamakan Tanjung priuk?” malam itu bapak menemani aku dan saudaraku belajar. Kami diharuskan membaca apa saja bacaan yang ada di rumah. Aku paling senang membaca buku cerita terutama cerita sejarah. “Cerita Pak, ayo cerita!” aku memeluk bapak meminta bapak cerita. kalau bapak bercerita pastinya seru karena bumbu cerita bapak selalu sayang untuk dilewatkan.
12 | Malaikat Pemberi Jiwa “Asyikkk, kita dengar cerita yah Pak?” adikku ikut bergelayut di pundak bapak yang duduk santai di sofa. Kakakku yang sedang membaca novel di kamar ikut bangkit dan mengambil posisi di sebelahku. Mulailah bapak bercerita. Bapak bercerita tentang asal-usul nama Tanjung Priok, yang antara lain konon berasal dari kata tanjung dan priok. Kata bapak kata tanjung artinya daratan yang menjorok ke laut dan kata priok (periuk) yakni semacam panci masak dari tanah liat yang merupakan komoditas perdagangan sejak zaman prasejarah. “Jadi panci itu namanya periuk yah Pak?” tanya kakakku. “Katanya seperti itu.” Bapak menyerumput teh hangat yang diberikan mamah. “Loh, kok bisa disandingkan dengan Periuk? Kalau Tanjung aku tahu karena di Ancol aku melihat, tapi mengapa Periuk Pak? Memang di Tanjung itu ada pabrik pembuatan Periuk?” tanyaku masih belum paham mengapa harus kata Periuk. “Jadi dinamakan periuk, karena orang-orang yang bekerja di perahu atau para nelayan selalu membawa periuk untuk menanak nasi, selama mereka di laut periuk nasi itulah yang menemani untuk memasak.” Penjelasan bapak mulai masuk
Seni Asiati Basin | 13 akal. Bapak melanjutkan lagi cerita daerah yang menjadi tempat kami tinggal. Belanda mengembangkan kawasan Tanjung Priok sebagai pelabuhan baru Batavia pada akhir abad ke-19 untuk menggantikan pelabuhan Sunda Kelapa yang berada di sebelah baratnya. Sebab, pelabuhan tersebut sudah menjadi terlalu kecil untuk menampung peningkatan lalu lintas perdagangan yang terjadi akibat pembukaan Terusan Suez. Pembangunan pelabuhan baru dimulai pada 1877 oleh Gubernur Jendaral Johan Wilhelm van Lansberge (1875-1881). Beberapa fasilitas dibangun untuk mendukung fungsi pelabuhan baru, diantaranya stasiun kereta api Tanjung Priok pada 1914. “Oh pantas, ada rel kereta api yang melintas di kompleks kita yah pak.” Kali ini mamah menyahut sambil menidurkan adikku. Waktu itu kadang-kadang ada kereta barang yang melintas di kompleks kami. “Ada lagi cerita tentang asal usul Tanjung Priuk ini, mau dengar gak?” tanya bapak melihat adikku sudah menguap. Mataku masih terang benderang. Cerita yang disampaikan bapak membuat aku seperti berada di Jakarta ketika masih Batavia. Kalau ini yah pastinya lebay banget yah.
14 | Malaikat Pemberi Jiwa “Mauuuuu, aku teriak lebih dahulu, Dek jangan ngantuk yah, nanti gak selesai cerita bapak.” Aku membujuk adikku yang mulai meredup kedua matanya. Aku lihat adikku mengangguk. Tita paling takut tidak kebagian cerita bapak, karena bapak tak akan mengulang kembali cerita yang sudah disampaikan. Adikku ini badannya kecil dan orang kompleks sering memanggilnya cingir alias kecil “Mah, masih ada teh gak yah.” Bapak berjalan ke dapur. Sebelum bapak sampai dapur mamah sudah membawakan teh hangat. Bukan hanya untuk bapak, tapi empat gelas teh hangat mamah bawa. Yang pasti bapak akan dapat satu gelas, aku, adikku, dan kakakku. “Mah, berdua yah.” Kata Tita dengan mata setengah mengantuk. Rambutnya yang berponi dan hidung kecilnya yang mengendus membuat mamah tertawa dan mengusap muka Tita. Bapak melanjutkan ceritanya mengenai sejarah Tanjung Priuk. “Versi lain menyatakan, nama daerah ini bermula dari nama pohon tanjung (mimusops elengi) yang tumbuh menandai makam Mbah Priok (Habib Ali Al-Haddad). Versi yang lebih lengkap tentang sejarah Tanjung Priuk, dikisahkan bahwa Mbah Priok yang biasa dipanggil Habib, adalah seorang ulama kelahiran Palembang pada 1727. Dia kemudian ke pulau
Seni Asiati Basin | 15 Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Bersama pengikutnya, Habib berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Lolos dari kejaran perahu Belanda, kapalnya digulung ombak besar. Sehingga semua perlengkapan di dalam kapal hanya di bawah gelombang. Akibatnya, yang tersisa hanya alat penanak nasi dan beberapa liter beras yang berserakan. Habib sendiri ditemukan tewas di sebuah semenanjung yang saat itu belum punya nama.” Bapak mengendong Awan yang bangun dari tidurnya. “Wah, seru juga yah.” Komentarku ditanggapi Tita dengan suara mendengkur. “Di samping jenazahnya ditemukan pula periuk dan sebuah dayung. Kemudian oleh warga, sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung, sedangkan periuk diletakkan di sisi makam itu. Konon, dayung tersebut tumbuh menjadi pohon tanjung. Sedangkan priuknya hanyut terbawa ombak. Tetapi, setelah empat tahun, periuk itu konon kembali lagi ke sisi makam Habib.Nah, cerita ini bapak baca di buku tentang sejarah Jakarta loh.“ Bapak menjelaskan darimana bapak mendapat cerita ini. “Aku mau baca bukunya, Pak.” Kataku antusias. Tak ada yang membuatku penasaran selain harus membacanya sendiri.
16 | Malaikat Pemberi Jiwa “Nanti bapak pinjamkan dari perpustakaan kota tua yah, Ri.” Jawaban bapak membuat aku semangat. “Sekarang bapak lanjutkan cerita bapak yah.” Kami semua mengangguk dengan menyeruput teh hangat yang disediakan mamah. “Kisah periuk nasi dan dayung yang menjadi pohon tanjung itulah yang kemudian diyakini sebagai asal usul nama Tanjung Priok. Sedangkan panggilan Mbah Priok merupakan penghormatan untuk Habib, yang makamnya kini masih ada di daerah Tanjung Priuk dan sering diziarahi warga.” Bapak menghabiskan teh yang tersisa di cangkir. “Dimana Pak, makam Mbah Priuk?” Mamah antusias sekali menanyakan bapak. Rupanya mamah ikut juga mendengarkan cerita bapak. “Nanti kita berkunjung ke sana yah, sekarang karena sudah malam, seperti biasa sikat gigi, cuci kaki dan ti........ “Durrrrr,” serempak kami melanjutkan kata-kata bapak. Berebutan aku dan saudaraku ke kamar mandi. Celotehan kami masih nyaring terdengar. Malam ini ada cerita yang bisa aku banggakan pada teman-temanku kalau aku tahu sejarah Tanjung priuk. Tapi sampai kami pindah dari rumah mambo, bapak belum mengajak kami pergi ke makam Mbah Pri.
Seni Asiati Basin | 17 Cerita dari Rumah erita bapak membawa kami untuk lebih mencintai di mana kami tinggal. Jakarta tahun 80-an, masih sepi belum ada kemacetan yang kerap terjadi. Kami masih bebas menggunakan jalan. Aku dan teman-teman sering menggowes sepeda melintasi jalan raya tanpa takut kendaraan yang melintas. Bahkan jalan raya di depan kompleks perumahan kami, yang lebar itu kami pergunakan untuk bermain “gobak sodor”. Kami akan memberi garis dengan kapur tulis yang diambil dari sekolah dan menandai dengan garis wilayah permainan untuk memainkan “gobak sodor”. Permainan anak-anak yang seru dan perlu kekompakan tim. Permainan yang kini jarang dilakukan anak-anak milenial. Suara yang acap kami dengar dari rumah mambo adalah klakson mobil besar pengangkut barang atau kontener. Kalau pergantian tahun suara terompet kapal dari pelabuhan menjadi tradisi yang sayang untuk dilewatkan. Seingatku bapak tak membolehkan kami menunggu malam pergantian tahun. Pukul 21.00 setelah menonton acara di televisi, bapak berpesan agar kami tidur. C
18 | Malaikat Pemberi Jiwa Biasanya mamah yang menyuruh katanya disuruh bapak yang sudah dari pagi pergi dinas. Perintah mamah aku tahu kalau ini pasti kekompakkan orang tua untuk menyuruh anaknya tidur. Bapak setiap pergantian tahun tak pernah pulang. Jawaban yang aku dengar dari mamah kalau aku tanya mengapa bapak tidak pulang setiap malam pergantian tahun, katanya bapak harus menjaga keamanan Jakarta. Aku dan adikku sering terbangun bahkan menunggu bunyi terompet kapal dengan sembunyi-sembunyi. Terompet itu bersahut-sahutan dan berirama indah, yang mampu membuat kami bersorak tanpa sadar karena ingat besok sudah berganti tahun (padahal tak ada bedanya ganti tahun atau tidak hahahaha). “Mah, kenapa bapak selalu tidak pulang kalau tahun baru?” tanyaku pada mamah. Pagi itu di awal tahun mamah selalu masak enak. Biasanya juga enak. Nah, enak menurutku karena mamah memasak ayam yang super pedas dan sayur sop yang penuh telur puyuh. Sedapkan! Biasanya menu ayam hadir kalau hari istimewa misalnya ada yang berulang tahun. Walaupun kami tidak dibiasakan merayakan tetapi sebagai wujud syukur mamah akan memasak menu yang tidak biasa. “Bapak sibuk menjaga keamanan Jakarta.” Jawab mamah sambil menggendong adikku yang
Seni Asiati Basin | 19 bungsu. Aku membantu mamah membersikan cangkang telur puyuh, sambal kuhitung ada berapa kali ini telur puyuhnya. Adik bungsuku ini satu-satunya keluarga kami yang lahir di rumah mambo dan kini menjadi satu-satunya anak lakilaki di dalam keluarga kami setelah kepergian kakakku. “Kenapa bapak terus, kan banyak anggota keamanan yang lain?” tanya kakak sulungku. Tangannya mengambil dua butir telur puyuh yang sudah aku lepas cangkangnya. Mataku mendelik, mau marah sih tapi mata teduh mamah membuatku tak melanjutkan marahku. “Semua punya tugas masing-masing, dan bapak bertugas setiap pergantian tahun.” Kata mamah menjelaskan. Kakakku hanya mengangguk entah setuju entah tak peduli dengan penjelasan mamah. Mulutnya masih penuh telur puyuh, sebelum tangannya menjangkau telur puyuh yang kelima mamah sudah menyingkirkan tangannya. Aku tersenyum meledek. “Tapi kenapa bapak selalu bertugas di malam pergantian tahun, jadi kami tak pernah dengan bapak. Aku mau lihat bunyi kapal dari dekat Mah.” Kataku dengan nada protes. Aku sudah siap dengan pekerjaan melepas cangkang telur. Mamah mengangsurkan adikku untuk kugendong. Tangan mamah dengan cekatan
20 | Malaikat Pemberi Jiwa menghaluskan cabai yang lumayan banyak. sudah terbayang pedasnya ayam buatan mamah dan sedapnya sop telur puyuh nanti. “Kembang api dari Ancol, pasti bagus deh kalau kita lihatnya dari dekat.” Adikku Tita yang baru bangun tidur menambahkan. Pergantian tahun di Jakarta setelah kepindahan kami dari Cipanas, memang tak pernah bersama bapak, walaupun kenangan pergantian tahun di Cipanas juga tak ada yang aku ingat. Biasanya pergantian tahun di Cipanas selalu diguyur hujan dan kami sudah menarik selimut, selain karena udara yang dingin, juga suasana Cipanas yang sepi. Kali ini mamah hanya diam saja. Mamah mungkin tak mau ribut apalagi adikku yang bungsu rewel. Pertanyaan yang tak bisa dijawab itulah yang membuat kami bisa berwisata tepat tanggal 1 setiap awal tahun. Bapak pulang dinas hampir jam makan siang setelah salat bapak akan mengajak kami berwisata ke Ancol atau Taman Mini. Bapak menebus apa yang tidak bisa diberikan di malam pergantian tahun dengan kami, anak-anaknya. Mamah akan membawa tikar yang cukup lebar sehingga bapak dapat beristirahat sambil menunggu aku dan saudara-saudaraku mandi di laut Ancol. Kadang malah bapak tak bisa istirahat ada saja keusilan kami mengajak bapak bermain.
Seni Asiati Basin | 21 Laut ancol yang selalu saja ramai, masih bersih belum banyak sampah seperti sekarang. Air laut masih jernih belum tercemar. “Ayo bangun, mau ikut gak berenang?” bapak membangunkan aku dan adikku yang tertidur sehabis makan siang. Kami tertidur karena menunggu kepulangan bapak. Tapi mendengar kata ‘berenang’ dengan segera aku bangun dan teriak membangunkan adikku. Tempat tidur yang kami tempati adalah tempat tidur dengan ranjang besi bertingkat dua. Aku dan adikku tidur satu tempat tidur di atas. Tempat tidur bawah kakak perempuanku. Kakak laki-lakiku tidur di kamar lain. Kawasan ancol memiliki pantai yang bersih dan landai yang dapat digunakan untuk bermain air atau berenang dan aman bagi orang dewasa maupun anak - anak. Di sekitar pantai terdapat pepohonan rindang yang dapat digunakan untuk berteduh dari terik matahari ketika waktu siang, ada juga tenda - tenda pantai dan alas tikar yang disewakan di sekitar pantai ancol bagi yang membutuhkannya. Tempat wisata ini dekat dengan rumah kami hanya berjarak 2 km. Bapak selalu mengajak wisata kesini. Kata bapak membiasakan untuk mencintai laut. Setelah semalaman dipenuhi lautan manusia, siang hari ke Ancol memang kenikmatan tersendiri. Biasanya
22 | Malaikat Pemberi Jiwa kami akan menghabiskan waktu sampai matahari terbenam. Menikmati matahari yang malu-malu terbenam merupakan kenikmatan tersendiri. Setelah aku dewasa aku mengerti lelahnya bapak setelah semalaman menjaga keamanan Jakarta pulang ke rumah kemudian masih sempat mengajak anak-anaknya berwisata. Lelah bapak tak pernah ditampakkan, malah kadang adikku meminta bapak menemaninya berenang. Sampai di rumahpun, bapak masih membantu mamah membereskan rumah, entah kompor yang sumbunya pendek, atau kran kamar mandi yang rusak gara-gara ulah kami yang berebut mandi. Maafkan kami pak. Kompleks kami disebut daerah Pos 9. Dekat sekali dengan terminal Tanjung Priuk dan pelabuhan Tanjung Priuk. Daerah kami sangat ramai dan menjadi sentral perindustrian yang sibuk dengan lalu lalang angkutan barang impor dan ekspor ke berbagai negara. Angkutan umum yang melintas masih bisa dihitung. Aku ingat pada tahun itu, ada transportasi yang sering kami gunakan bila bepergian yaitu oplet. Kalau ingat atau pernah menonton sinetron di salah satu televisi swasta tentu tahu jenis angkutan ini. Yah, angkutan ini adalah transportasi andalan dalam sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”. Oplet masa kini digantikan oleh kendaraan yang lebih layak atau
Seni Asiati Basin | 23 angkutan penumpang kota. Pada 1960-an dan 1970-an oplet menjadi kendaraan umum paling populer di Jakarta. Tak terkecuali daerah Priuk yang menjadi target operasi oplet. Anak-anak zaman sekarang bila melihat oplet akan menganggap kendaraan kuno. Waktu itu kalau mamah mengajak naik oplet, aku dan saudaraku senang bukan kepalang. Kami tahu akan diajak pergi jauh dan pastinya ke tempat wisata atau ke pasar. Oplet memang kendaraan yang unik dan sekarang menjadi antik. Oplet memiliki lampu sen—lampu tanda penunjuk belok—yang sangat unik, berada di luar sisi kanan dan kiri. Kalau akan berbelok ke kanan, maka tongkat kecil berwarna kuning jreng akan naik seperti portal. Begitu juga yang sebelah kiri. Klakson oplet juga unik karena terdapat di bagian luar. Memakainya harus dipencet-pencet karena terbuat dari karet. Bunyinya teot-teot-teot. Wahhh kalau semua oplet berpapasan jalan akan riuh bunyinya. Rumah mambo inilah masa kecilku di kota Jakarta dimulai. Di seberang jalan kompleks rumah mambo atau dekat dengan pasar Koja, letak sekolahku dan saudara-saudaraku. Sekolah dasar Sulawesi 02 namanya. Ingatanku melayang ke tahun 80-an, ketika petinju legendari Muhammad Ali bertarung dan kami siswa sekolah diliburkan.
24 | Malaikat Pemberi Jiwa Sampai sekarang aku tak tahu mengapa harus diliburkan. Pada saat itu merupakan hari yang sungguh menyenangkan bagi para murid. Aku dan teman-temanku bisa bermain ‘gobak sodor’ sepuasnya di jalan raya Pelabuhan. Jalanan sepi hanya sorak sorai para penonton televisi yang menyaksikan pertandingan petinju Muhammad Ali. Bapak menjadi orang yang paling sibuk bila ada siaran tinju Muhammad Ali di televisi. Kata bapak, di kantor semua mata tertuju pada benda kotak ajaib hanya demi melihat pertarungan petinju legendari itu. Bahkan cerita dan berita setelah pertandingan menjadi bahan perbincangan di mana-mana. Aku cukup menyimak bagaimana bapak mengajak mamah yang hanya menganggukangguk setuju ketika bapak dengan gayanya mendemonstrasikan bagaimana pukulan Ali yang berhasil meng-KO lawannya. Masa itu sebuah berita menjadi santapan yang murah untuk bahan perbincangan. Rumah mambo dan kenangan yang membalutnya menjadi saksi bahwa kaki kami anak-anak bapak siap bertarung dengan buasnya Ibu kota. Tak lama kami tinggal di rumah mambo, karena daerah tempat tinggal kami harus menjadi bagian perluasan dari area pelabuhan Tanjung Priuk, kami harus pindah. Rumah mambo
Seni Asiati Basin | 25 mengisyaratkan bahwa kami sudah menjadi bagian dari warga Jakarta. Kami sudah di kota Jakarta dengan ragam masyarakat dan lingkungan yang mungkin tak ramah. Polusi dan panasnya udara laut membuat kulit kami menjadi sedikit demi sedikit menjadi coklat. Aku yang belum terbiasa tinggal di daerah berhawa panas jatuh sakit selama sebulan. Kata dokter yang merawat, seiring waktu aku akan beradaptasi dengan lingkungan. “Ri, kok sedikit makannya?” tanya bapak sepulang dari berdinas. Sudah tiga hari aku sakit, makanpun sedikit yang masuk ke perutku. Pagi itu bapak membelikan bubur ayam, makanan kegemaranku.”Makan Ri, bapak beli bubur ayam nih.” Bapak menunjukkan kantong plastik yang dibawanya. Bapak yang baru pulang setelah piket semalaman masih sempat mampir untuk membeli bubur makanan kegemaran anaknya. “Nuri lagi gak mau makan pak, tadi sudah makan roti dengan teh hangat.” Kataku dengan malas. Kulihat bapak malah menuangkan bubur ke mangkok dan menggoda dengan menyendok bubur seolah-olah akan memakannya. “Wihhh enak banget yah buburnya.” Bapak terus menggoda. “Sini, Pak kalau Nuri gak mau aku mau.” kata kakakku Susi yang bersiap berangkat sekolah. Susi mengambil mangkok bubur dari tangan bapak
26 | Malaikat Pemberi Jiwa dan memakan bubur dengan lahapnya. Aku hanya tersenyum, paling tidak bubur yang dibeli bapak tidak sia-sia masih dapat nyaman masuk ke dalam perut walaupun bukan perutku. “Yah, sudah habis Ri.” Kata bapak menunjukkan mangkok yang kosong. “Nanti kalau Nuri pengen, biar bapak pergi beli lagi yah.” Tangan bapak mengusap kepalaku. Aku hanya tersenyum aku tahu kalaupun aku mau, rasanya tak tega membiarkan bapak yang pastinya sudah semalaman tidak tidur untuk pergi ke pasar lagi. “Gak, Pak, Nuri sudah kenyang, nih lihat perut Nuri sudah gendut kekenyangan.” Aku tunjukkan perutku yang pastinya bapak tahu tak banyak makanan yang masuk. Anak bapak yang terlahir gendut yah aku. Waktu tinggal di Cipanas, karena badanku yang gendut dan kulitku yang putih banyak ibu-ibu kompleks yang gemas dan selalu mencubit pipiku. Bahkan ada julukan ibuibu komplek Cipanas untukku yaitu “Mpok”. Mereka akan menggodaku setiap pulang sekolah dengan badan yang gendut dan tas di punggung berjalan tertatih-tahih membawa beban badan yang besar. “Mpok, kembangnya jatuh, Mpok.” Bu Yani menggodaku sambil mencubit pipiku. Aku meringis walaupun tidak sakit aku kesal dipanggil “Mpok.” Kata bapak mereka banyak yang
Seni Asiati Basin | 27 menonton film Benyamin. Aku hanya mengangguk tak mengerti siapa Benyamin. Setelah tinggal di Jakarta dan di lapangan dekat rumah ada pertunjukkan film dengan layar lebar yang orang bilang “layar tancap” baru aku paham ada bintang film namanya Benyamin S dengan lagu yang sering dinyanyikan ibu-ibu kompleks. Panggilan “Mpok” melekat di diriku hingga aku sekolah. Kadang aku malu kalau teman-teman mamah yang main ke rumah atau bertemu di jalan memanggilku “Mpok.” Seiring berjalannya waktu panggilan itu aku rindukan. Tak lama rumah mambo harus kami tinggalkan. Kawan-kawan masa kecil harus terpisah, karena pemerintah menyediakan tiga kompleks yang bisa dipilih. Bapak memilih kompleks di Cilincing tak jauh dari rumah mambo, berjarak 5 km. Tetapi panggilan “Mpok” masih melekat di diriku, bahkan orang rumah dan saudara-saudaraku di kampung lebih mengenal nama “Mpok” ketimbang nama asliku. Rumah Cilincing adalah rumah ketiga keluargaku ini sama dengan rumah mambo, kompleks khusus untuk pasukan keamanan. Masyarakat sekitar menyebut kompleks rumah kami ini dengan sebutan ‘rumah asrama’. Daerah rumah kami dekat dengan pantai Cilincing. Bapak bercerita bahwa daerah Cilincing dahulu adalah
28 | Malaikat Pemberi Jiwa daerah perniagaan yang cukup ramai. Daerah Cilincing sejak dahulu hingga sekarang menjadi termpat transit yang paling dekat bagi para awak kapal serta pekerja pelabuhan. Mengapa daerah itu diberi nama demikian? Bapak pernah bercerita mengenai asal usul nama Cilincing. Menurut kisahnya, Cilincing diambil dari nama anak sungai yang mengalir dari selatan ke utara, yaitu “Ci” merupakan bahasa Sunda yang artinya sumber atau aliran air atau sungai. Selain itu nama Cilincing juga berasal dari nama jenis pohon yang tumbuh di daerah tersebut pada masa itu, yang diperkirakan mirip dengan pohon belimbing wuluh (averhrhoa carambola). Pohon buah tersebut banyak tumbuh di tepi dan sekitar sungai. Jadi, nama Cilincing adalah kombinasi atau gabungan dari nama sungai dan nama pohon buah sejenis belimbih wuluh. Sedangkan dalam sejarah kota Batavia, kawasan Cilincing memegang peranan cukup penting. Di daerah itulah pada 4 Agustus 1811 pasukan balatentara Inggris yang jumlahnya hampir 12.000 mendarat. Pasukan balatentara Inggris mendarat tanpa perlawanan dari pihak Belanda, yang pada masa itu berada di bawah kekuasaan Prancis. Demikianlah sejarah Cilincing tempat kami akan menghabiskan waktu. Dari tempat yang dingin
Seni Asiati Basin | 29 dan sejuk, keluargaku harus pindah ke tempat yang panas dan sibuk. Kompleks perumahan ini masih dihuni oleh para pasukan pengaman masyarakat. Masyarakat masih tetap menyebut anak-anak penghuni kompleks sebagai “anak kolong,” entahlah mengapa kami disebut “anak kolong”. Kata masyarakat karena orang tua kami adalah pasukan keamanan yang biasa menjaga hingga kolongkolong daerah, ah aku tak paham maksudnya. Hari itu sepulang sekolah aku ditanya teman sekolah dimana tinggal. “Ri, pulang bareng yah?” kata Heni sepulang sekolah. “Oh, ya rumahmu di mana?” “Aku tinggal di kompleks asrama Hen.” Jawabku sambil membereskan buku-buku.” “Oh, anak kolong rupanya.” Aku langsung berhenti memasukkan buku-buku. “Kok, anak kolong sih Hen.” Kali ini aku benar-benar tidak suka Heni yang baru aku kenal mengatakan kalau aku anak kolong. Aku harus minta jawaban apa alasan Heni menyebut anak kolong padaku. “Yah, kata orang sini kalau anak yang tinggal di kompleks asrama yah anak kolong, itu sebutannya.” Aku tetap tak puas dengan jawaban Heni. Tanpa menghiraukan Heni , aku bergegas jalan pulang. Aku harus cepat sampai rumah,
30 | Malaikat Pemberi Jiwa bapak pulang tadi pagi setelah semalaman tidak pulang. Akan aku tanyakan pada bapak arti anak kolong. Aku masuk pintu gerbang kompleks dengan bergegas, bahkan Tita adikku setengah berlari mengejarku. Rumah kami ada di barak sebelah selatan menghadap ke utara. Setiap barak ada tujuh rumah dan setiap barak saling berhadaphadapan. Rumah kami paling ujung atau biasa disebut rumah huk. Kata orang kompleks, keluarga yang menempati rumah huk adalah para anggota pasukan yang sudah berpangkat lebih tinggi daripada penghuni rumah lainnya. Pangkat bapak saja aku tidak tahu. “Assalamualaikum, Mah.” Aku sampai rumah dan bergegas berganti pakaian. “Adiknya mana, Ri?” mamah keluar dari kamar sambil menggendong adikku. “Tuh, Tita di depan langsung main dempkrak.” Aku menunjukkan tas Tita yang aku bawa. Kebiasaan Tita kalau ada temannya di lapangan depan rumah pasti langsung main. “Kebiasaan deh Tita.” Mamah ke depan rumah dan berteriak memanggil Tita yang bermain. Demprak adalah permainan yang seru. Kalau aku bermain demprak sore, karena aku tak tahan lapar. Aku tengok bapak masih tidur. Rasanya jahat kalau aku ganggu hanya karena
Seni Asiati Basin | 31 pertanyaan sepele. Sambil menunggu bapak, aku ambil piring dan kutata di atas meja makan. Mamah belum sempat menata hidangan gara-gara Tita yang bermain. “Mamah sudah bilang kalau pulang sekolah ganti baju, makan tidur siang Tita.” Kudengar mamah memarahi Tita sambil mengandeng tangan Tita. Aku lirik Tita dengan ujung mataku hemmm pasti Tita akan marah padaku. “Mah, Tita main di depan rumah kok gak jauh-jauh.” Tita menjawab dengan menunduk. Adikku ini perawakannya kurus dan kecil. “Ganti baju dan makan, lihat Nuri langsung makan bukan main.” Mamah menurunkan adikku dari gendongan dan membuka baju Tita. Walau mamah marah tahu bagaimana memperlakukan adikku Tita yang kalau merajuk pasti tidak akan membuka bajunya. “Ri, tadi aku sudah hampir menang loh.” Tita menjelaskan permainan yang dia lakukan. “Aku sedang melempar, eh mamah datang.” Aku mendengar cerita Tita sambil tersenyum. Kalau sudah main Tita suka lupa waktu. Apalagi permainan demprak, Tita paling mahir. Anaksekarang mungkin tidak tahu permainan demprak. Untuk Memainkan Permainan ini kita membutuhkan alat berupa : 1. Kapur jika bermain di semen atau aspal , Jika Bermain di tanah hanyan
32 | Malaikat Pemberi Jiwa membutuhkan bite/Keramik . Fungsi dari kapur tersebut untuk menggambarkan permainan ini. 2. Pecahan Bite/Keramik untuk meleparkan ke arah tempat yang bertujuan. Sebenarnya inti dari permainan ini adalah kebersamaan. Permainan tradisional yang nyaris punah. Adikku mungkin bangga bila menang. Pemenang dalam permainan ini adalah pemain yang terbanyak mendapatkan bintang . “Nanti sore, Ta lanjutkan lagi, aku ikut yah.” Aku sorongkan piring ke Tita yang tentunya masih sibuk akan cerita. Tita senang sekali karena nanti sore permainan lebih semarak karena aku akan ikut. “Asyik, ntar kita bikin kelompok kita kalahkan Ajeng sama Ninuk.” Mata bulat Tita semakin membelalak kalau bercerita. Tita bagiku adalah Adik sekaligus teman. Wajah kami saja hampir serupa. Kalau tidak karena tinggi badan, warga di kompleks sulit membedakan. “Eh, anak-anak bapak sudah pulang sekolah.” Bapak keluar dari kamar dan mengangkat Tita dari kursi. Tita tertawa senang karena bapak mengangkatnya lebih dahulu daripada Awan adik bungsu kami. “Nuri juga mau?” bapak menurunkan Tita dan mendudukkan di kursi.
Seni Asiati Basin | 33 “Ah, gak pak udah besar.” Aku tahu diri badanku lebih besar dari Tita, pastinya bapak kepayahan mengangkatku. “Yuk, kita makan.” Bapak duduk di kursi dan meminta piring padaku. Hari ini kami makan berempat. Kedua kakakku belum pulang. Mereka selalu pulang lebih lama karena jadwal pelajarannya lebih banyak. Kulihat Tita sudah sibuk dengan ayam goreng kesukaannya. Mulutnya penuh. Sayur bayam yang dicampur jagung memang nikmat sekali. “Pak, Nuri mau tanya nih.” Aku membuka percakapan setelah piring-piring bekas makan aku letakkan di dapur. “Mau tanya apa?” jawab bapak. “Ada PR yah?” kali ini bapak menyuruhku duduk di sebelahnya. “Mah, kopi yah enak nih habis makan minum kopi.” “Kenapa teman-teman menyebut aku anak kolong.” Akhirnya pertanyaan yang mengusik hatiku aku luapkan pada bapak. Bapak mengajakku duduk di sofa. Meja makan akan dibereskan mamah. “Lah, kenapa ga tanya ke mamah.” Jawab bapak. Aku memang lebih condong bertukar pikiran dengan bapak. Bukan karena mamah hanya ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa.
34 | Malaikat Pemberi Jiwa Aku menganggap jawaban bapak adalah hasil kajian dari luar. Sebutan "anak kolong" sudah begitu melekat bagi mereka yang orang tuanya dari kalangan militer. Bapak menjelaskan apa yang aku tanyakan lengkap dengan cerita. Hal inilah yang berbeda jika aku tanyakan pada mamah. Istilah anak kolong lahir dari proses yang panjang dan barangkali tak pernah terbayangkan oleh mereka yang senang dapat julukan anak kolong. Sebutan ini sudah ada sejak era Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Sebuah angkatan darat kolonial yang eksis sejak 4 Desember 1830 hingga 26 Juli 1950. Sekitar 75 persen anggotanya adalah orang-orang Indonesia dari berbagai suku di Indonesia seperti Jawa, Ambon, Minahasa, dan lainnya. Di masa kolonial, sebutan anak kolong belum seumum sekarang. Pada masa itu, sebutan anak kolong hanya ditujukan kepada anak-anak serdadu rendahan, alias anak serdadu yang berpangkat di bawah kopral seperti soldaat, fuselier atau infanteris. Intinya, anak kolong adalah serdadu-serdadu bergaji paling cekak se-Hindia Belanda. “Jadi seperti itu ceritanya Ri.” Bapak menepuk pundakku dan mengangkat tanganku untuk bangga menjadi anak kolong. Penjelasan bapak membuatku tahu bahwa tidak selamanya
Seni Asiati Basin | 35 anak kolong itu bermakna negatif. Tidak apalah mereka menyebutku anak kolong yang penting aku punya bapak yang sudah berjuang juga untuk negara. “Siap pak, Nuri bangga kok jadi anak kolong.” Aku berdiri dan mengangkat tanganku dan meletakkan di pinggir kening tanda hormat. “Ayo, Ri kita tidur kata adikku Tita yang sudah membawa buku cerita.” Aku tahu Tita akan memintaku membacakan buku cerita yang tadi malam baru setengahnya aku bacakan. “Kita anak kolong yang hebat, Ta.” Kataku pada Tita. Adikku hanya mengangguk tak mengerti apa yang aku bicarakan. Tinggal di kompleks asrama dengan sebutan anak kolong sudah tak menjadi beban lagi buatku. Layaknya rumah-rumah di kompleks ada tiga kamar di rumah kami. Bapak dan mamah menempati kamar di depan dekat dengan ruang tamu. Aku bertiga dengan kakak dan adikku yang perempuan di kamar kedua. Ada satu kamar mandi yang selalu berebut kami gunakan di pagi dan sore hari apalagi kalau berangkat sekolah. Tempat tidur tingkat kami gunakan, kata mamah agar kami anak perempuan satu kamar karena satu kamar buat kakakku yang laki-laki. Aku dan adikku mendapat bagian tempat tidur di atas. Bagian bawah ditempati kakakku.
36 | Malaikat Pemberi Jiwa Keluarga Anugerah Terindah apak yang masih aktif berdinas menjadi roda penggerak di keluarga kami. Mamah menjadi ibu rumah tangga yang siap mendukung semua kebutuhan suami dan anak-anaknya. Orang tuaku memiliki lima orang anak. Aku anak ketiga berarti ada dua kakakku dan dua adikku. Kakak pertamaku perempuan bernama Susi. Kakak keduaku lakilaki, walaupun laki-laki ia memiliki hobi sama denganku ‘menari’ namanya Iwan. Kami sering tampil dalam acara-acara tujuh belasan atau undangan dari organisasi remaja. “Ri, besok kita latihan yah.” Kakakku Iwan mengajak latihan menari. Sudah beberapa hari kami latihan untuk acara ulang tahun kompleks kami. “Latihan di mana?” tanyaku. “Di rumah Mbak Retno, itu loh yang rumahnya dekat empang.” Kakakku Iwan memang sering mengajakku ikut kegiatan menari. Tangannya lemah gemulai ketika lagu terdengar. Aku senang juga menari. Lewat musik aku dapat bergerak bebas. Kenangan menari ini adalah B
Seni Asiati Basin | 37 kenangan terakhir dengan kakakku Iwan. Tetapi warisan menarinya membawaku yang akhirnya jadi tahu hobiku dan bisa berbagi dengan orang lain. “Tangannya yang tinggi, tekuk ke dalam telapak tangan.” Kakakku melatihku menari. Musik tarian dari lagu “Sakura” yang dinyanyikan Fariz RM. Iwan memberiku kipas besar untuk berlatih. Malam minggu besok, kami akan tampil di acara ulang tahun kompleks perumahan ini. “Wan, gak ada apa hobi lain selain menari?” Mamah memang keberatan dengan hobi kakakku. Kesannya kakakku kurang jantan bukan laki-laki. “Mah, penari itu banyak loh yang laki-laki, dengan menari kita peka terhadap suara yang indah dan yang tidak enak didengar,” jawaban kakakku membuatku tahu bahwa kepekaan suara itu milik siapa saja. Adikku nomor empat perempuan menurut guru-guru di sekolah, adikku ini sangat pandai matematika. Setiap tahun menjuarai lomba cerdas cermat antar-SD namanya Tita. Adikku ini selalu dipuji oleh guru kebetulan aku satu sekolah dengan Tita. Bapak sengaja menyamakan tempat sekolahku dengan Tita selain beda umur kami hanya satu tahun, bapak juga tidak perlu repot pindah sekolah kalau waktu pembagian raport. Karena perbedaan kelas yang dekat itulah pergi
38 | Malaikat Pemberi Jiwa dan pulang sekolah aku selalu bersama. Bahkan kata orang wajah kami hampir sama. Adikku Tita senang jika aku ikut dia bermain bersama temantemannya. Adik paling bungsu kami laki-laki namanya Awan. Perbedaan usia kami dengan Awan cukup jauh sehingga kami sering bergantian menjaga Awan ketika mamah sibuk atau pergi ke pengajian. Ada cerita yang aku ingat tentang Awan ketika aku harus ke pasar disuruh mamah membeli sayur. “Ri, ke pasar yah beli sayur sop, tadi di tukang sayur kehabisan. Kata mamah waktu itu aku sedang main lempar bola dengan Awan. Aku letakkan bola dan mengambil uang yang diberikan mamah. Belum sempat aku ambil uang dari mamah. Awan menangis dan menunjuk aku. Mamah mengendong Awan dan menyuruhku pergi. Akan tetapi Awan tetap menangis dan tangannya mengarah ke arahku. Akhirnya aku ajak Awan ke pasar, untungnya Awan tidak rewel dan mau jalan tanpa kugendong. “Wah, Nuri hebat banget bisa ajak adiknya.” Bu Karti penjual sayur memujiku. Rasanya aku merasa hebat masih kecil bisa menjaga adik. Waktu itu bulan puasa. Awan merengek minta dibelikan arum manis atau gulali. Uang ibu cukup membelikan adikku gulali. Warnanya yang menggoda hampir meruntuhkan puasaku. Pulang
Seni Asiati Basin | 39 dari pasar Awan minta digendong dengan tangan kecilnya yang sibuk menguraikan gulali. Salivaku sudah turun naik melihat awan makan gulali tepat di depan wajahku. Kompleks dengan pasar tidak begitu jauh tetapi karena sambil mengendong adikku jadi terasa jauh dan godaan gulali membuatku tersiksa. “Kak, gak mau lagi.” Awan memasukkan sisa gulali ke mulutku yang langsung aku sambar sebelum akhirnya tersadar kalau aku lagi puasa. “Aduh, Dek kakak lagi puasa kok dijejelin gulali.” Aku ludahkan gulali yang terlanjur merangsek ke tengorokan. Rasanya mau nangis aku tak bisa menggenapkan puasaku. “Kalau gak sengaja gak batallah.” Kata bapak waktu aku ceritakan masalahku. “Mana bisa begitu Pak, Nuri pasti udah menelan tuh gulali, orang kaya dia mana tahan godaan.” Aku hampir menangis mendengar celoteh kakakku. Di keluarga kami kalau puasa satu bulan penuh, bapak akan mengabulkan permintaan kami. Tahun lalu aku dan kakakku Iwan yang penuh puasanya. Adikku Tita belum sanggup penuh puasa. Kakakku Susi seperti wanita lainnya ada halangan. Aku meminta bapak membelikan aku buku cerita bergambar. Tahun ini aku akan
40 | Malaikat Pemberi Jiwa minta kotak pinsil berwarna merah jambu yang aku lihat di toko Bu Woto. “Sudah… sudah hanya Allah yang bisa menilai puasa kita, ingat yah ibadah puasa itu hanya Allah dan yang menjalankan puasa yang tahu apakah ia berpuasa atau tidak.” Bapak menyudahi perdebatan gulali dengan bijaknya. Bapak tetap membelikan aku tempat pensil dan kakakku Susi tentu saja marah. Rumah kami ada di blok W atau ada di bagian belakang dari pintu masuk kompleks. Barak di kompeks berjajar berdasarkan abjad mulai dari gerbang kompleks barak blok A dan di akhiri dengan kompleks di barak paling belakang blok Z. Di depan rumah kami ada lapangan badminton yang selalu ramai setiap malam oleh para pemain lokal alias bapak-bapak para keamanan negara yang berolah raga selepas berdinas. Bapak adalah orang yang memunculkan ide pembangunan lapangan badminton walaupun hanya diberi adukan semen saja, diratakan dan jadilah lapangan yang cukup nyaman. Di dekat lapangan badminton ada sebuah bangunan berbentuk persegi panjang. Bangunan ini berupa tembok tinggi dua meter. Ukuran bangunan ini kira-kira 6 x 4 M2 dan terbagi dua. Bangunan ini merupakan salah satu kebanggaan kompleks kami.
Seni Asiati Basin | 41 Orang-orang kompleks menyebutnya “bor panas”. Ada air hangat mengalir di tengah – tengah bangunan dan ditampung dalam sebuah bak besar. Banyak warga kompleks yang memanfaatkan air hangat untuk mandi dan mencuci pakaian, maklum air bersih tidak tersedia di rumah. Air bekas mandi dari bos panas akan mengalir ke penampungan air yang mirip empang. Empang itu mengelilingi beberapa blok rumah, sayangnya empang tersebut kotor dan tidak di pagar. Beberapa anak pernah terjebak di empang, untungnya tidak sampai tenggelam. Eceng gondok penyebab anak tersebut terjebak, karena mengira masih tanah yang dijejaki. Bapak mengerahkan bapak-bapak kompleks untuk bekerja bakti membersihkan empang. Sebulan sekali ada yang membersihkan empang sehingga terlihat mana yang masih tanah dan mana yang sudah tergenang air. Keberadaan bor panas paling tidak sudah banyak membantu warga kompleks. Daerah kompleks rumah kami ada di daerah pantai dekat dengan pantai Cilincing, sehingga air tanah pun susah. Kalaupun ada sumur warga airnya keruh dan berwarna coklat tidak jernih untuk menjernihkan para warga kompleks membuatnya dengan bantuan pasir, batu bata, dan sapu ijuk.
42 | Malaikat Pemberi Jiwa Biasanya kalau sudah ramai perebutan kamar mandi, aku selalu lari ke bor panas. Keberadaan “bor panas” menjadi salah satu kenikmatan tersendiri selain jernih, air yang keluar juga hangat makanya disebut “bor panas”. Sampai keluarga kami keluar dari kompleks itu atau tidak tinggal di kompleks lagi, aku tidak tahu mengapa ada air hangat di wilayah kami. Padahal wilayah kami ada di teluk Jakarta atau dekat dengan pantai jauh dari gunung berapi atau hal yang berbau kehangatan air dari sumber alam. Bapak pernah bercerita bahwa air tersebut adalah hasil pemanasan dari dasar laut. Loh kok bisa? Ah bapak ada-ada saja.