Seni Asiati Basin | 93 tergeletak di pos kamling dengan bau alkohol dari mulutnya. Aku yang melihat keadaan Aldo seperti itu menjadi jengkel, marah, sakit hati. Benar kata bapak, pemuda itu tidak mencintaiku. Ia tidak tahu menjaga diri dan juga perasaanku. Sedih memang tapi aku harus mengambil sikap, masa remaja yang indah harus diperhitungkan. Hari itu juga aku memutuskan tali kasih kami. Toh aku masih SMA belum cukup untuk lebih serius menjalin hubungan. “A.” Pagi itu seperti biasa aku dan Aldo berangkat sekolah bersama. “Iya Yang.” Aldo punya panggilan kesayangan untukku. “Nanti pulang sekolah makan bakso yah.” Aku mengajak Aldo makan bakso. Aku akan menanyakan padanya peristiwa malam itu. Ternyata bukan hanya malam itu yang membuat hubunganku dan Aldo tak bisa bersama. Aku harus memutuskan hubungan dengan Aldo karena pengkhianatan yang dilakukan di depan mataku. Benar kata bapak, kalau dia sayang padaku, tak akan dia menyakiti hatiku apalagi menghianatiku. Aku harap aku sedang tertidur saat ini. Aku harap semua yang aku rasakan ini hanya bagian dari mimpi dan bisa kapan saja aku lari dari sana. Tapi ternyata, semuanya sangat nyata untuk disebut sebagai sebuah bunga tidur.
94 | Malaikat Pemberi Jiwa Hangatnya air dari mata ini terasa sangat nyata dan tentu saja basah. Tuhan, seandainya aku diberi satu permintaan untuk bisa segera dikabulkan, jadikan semua ini hanya mimpi saja. Cukup itu saja Tuhan, sisanya aku akan berusaha lebih keras. Aku ingin semua yang indah bersama Aldo kembali lagi. Tetapi pengkhianatan yang dilakukannya menorehkan luka yang teramat dalam. Pikiranku melayang kepada masa-masa beberapa bulan lalu ketika aku masih bersamanya. Aku ingin lepas. Masa itu menjadi masa yang kelam bagiku. Aku hanya mengenal satu pria hingga ku tahu tak pantas mempertahankan yang memang bukan milik kita. Aku ingin bangun dan mendapatkan bahwa semua ini hanya mimpi. Sekali lagi aku tidak sedang bermimpi. Jadi begini rasanya patah hati? Begini rasanya ketika tau bahwa sesuatu akan segera lenyap esok hari. Dan malam ini akan jadi malam terakhir dimana aku bisa merasakan hangatnya tangan itu. “Kita berpisah, A.” Kataku malam itu di teras masjid. Tempat ini menjadi saksi cintaku dimulai tempat ini pula yang menjadi saksi cintaku harus berakhir. Aku mulai sibuk menata hati dan mendulang prestasi. Aku ikut kegiatan yang aku suka dengan dorongan bapak. Bapak tahu
Seni Asiati Basin | 95 kepedihan hatiku. Rasanya tak ada tempat mengadu yang lebih baik selain bersama bapak. “Ri, ada lomba baca puisi mau ikut gak?” bapak menyodorkan brosur. “Di mana Pak?” aku baca brosur lomba baca puisi di Gelanggang. “Duh, Nuri bisa gak yah Pak?” Terus terang aku kurang percaya diri. “Nih, baca deh.” Bapak menyodorkan penggalan puisi aku ingat puisi karya Chairil Anwar yang disodorkan bapak. Aku baca di depan bapak dan bapak mengajarkanku bagaimana membaca puisi yang baik. “Kok, Bapak tahu sih baca puisi?” aku bertanya pada bapak. “Wah ... gak tahu yah, gini-gini bapak pernah jadi juri baca puisi di kantor.” Bapak menepuk dadanya. “Udah Nuri ikut, bapak yakin Nuri bisa.” Aku lihat bapak percaya diri sekali memotivasiku. Hari itu aku tahu kemampuanku. Aku berhasil menjuarai lomba baca puisi, bahkan salah seorang juri dari sanggar teater memintaku bergabung karena mereka membutuhkan pemain untuk ikut rekaman di stasiun TV. Sejak saat itu hari-hariku disibukkan dengan rekaman dan pentas teater dari panggung ke panggung. Hanya satu pesan bapak harus diimbangi dengan prestasi sekolah. Aku buktikan pada bapak kalau aku mampu. Sayangnya
96 | Malaikat Pemberi Jiwa kesibukanku harus dibalas dengan hilangnya kebersamaanku bersama teman-teman di sekolah. Namun, rasa kasihku pada Aldo tak surut jua. Beberapa bulan kemudian aku menerimanya kembali, kali ini Aldo berjanji akan mengubah sifatnya dan mau menuruti aku. Aku tahu bapak tak akan menyetujui, apalagi bapak melihat aku masih sekolah dan kisah kasihku akan membuat prestasiku semakin terpuruk, karena aku mulai disibukkan dengan berbagai acara rekaman dan teater. Aku sembunyi-sembunyi agar dapat terus bersama Aldo.
Seni Asiati Basin | 97 Bapak dan Cerita Cintaku ejak pemuda pujaanku ketahuan oleh bapak mabuk di depan rumah kami. Sejak itu pula, aku berusaha tidak terlalu mencolok dekat dengannya. Menjaga martabat bapak di depan orang kampung yang terus terang menghormati bapak. Aku berusaha meyakinkan bapak bahwa pujaanku itu akan berubah, “Nuri, kalau dia sayang dan cinta dengan kamu, pasti ia tidak akan memberi kamu malu.” Kata bapak melihatku termenung di kamar. “Nuri coba memperbaiki kelakuannya boleh Pak?” kataku masih berharap bapak merestui. Malam itu senja masih menapak bapak seperti biasa menyalakan lampu petromax yang kami punya. Ironis memang bila di Jakarta kami belum mendapat listrik. Sebagai penerangan utama di dalam rumah, lampu petromax menjadi andalan keluargaku. Apalagi bila banyak pekerjaan rumah yang harus aku dan saudara-saudaraku kerjakan. Sebenarnya, kata bapak petromax adalah mereka dagang resmi, yang lalu latah dipakai secara umum untuk lampu sejenis meskipun jelas-jelas S
98 | Malaikat Pemberi Jiwa mereknya berbeda. Kalau lampu sudah mulai meredup, bergantian aku dan bapak memompa petromax. Awalnya aku tidak bisa mengoperasikan lampu ini. Aku selalu memeprhatikan bapak menyalakan lampu petromax, kalau bapak pergi kerja malam, aku yang menggantikan bapak menyalakan lampu. “Perhatikan Nuri kamu bapak andalkan yah,” kata bapak sore itu. Kami baru seminggu tinggal di rumah baru dan hanya dibantu nyala lilin. Tentu saja pemborosan karena harus selalu beli lilin. Kadang mamah menggunakan lampu teplok hanya tidak menyala terang. Bapak mengandalkan aku, selain tentu saja mamah. Kakakku Susi seperti biasa tak mungkin melakukan pekerjaan ini. “Aku ikut yah Pak.” Kata Awan yang sore itu sudah selesai mandi dengan bedak tebal di mukanya. Biasanya aku akan mencubitnya dan mengendong Awan menggantikan mamah yang salat. “Boleh, Awan kan anak laki-laki jadi harus pinter nyalakan petromax.” Jawab bapak sambil mengendong Awan dan menenteng petromax ke luar rumah. Di teras inilah rutinitas menyalakan petromax kami mulai. Ingat petromax, aku selalu terkenang saat-saat menjelang senja, saat bersama
Seni Asiati Basin | 99 bapak menyalakan lampu itu. Aku hafal betul cara bapak menyalakan lampu itu. Bapak mengajarkanku dengan hati-hati. Kata bapak aku anak perempuan jadi usahakan jangan sampai minyak tanah merusak kulitku. Pelajaran bapak untukku dan adikku selalu kuingat, senja yang merona jadi saksi bagaimana bapak membuatku mandiri. Kata bapak letakkan petromax di lantai. Angkat kacanya, tuang spiritus pada mangkuk logam di dalamnya,. Di dalam tabung petromax ada kaos lampu. Nah, kata bapak kaos lampu itu harus dibakar. Nyalakan dengan korek api, biarkan sebentar. Spiritus akan membakar kaos lampu sebelum lenyap menjadi gas, menghasilkan pijar di kaos lampu seperti bohlam. Saat kaos lampu menyala, Awan segera berebut di belakang bapak, memegang pinggang bapak lalu ketika bapak mulai memompa, aku dan Awan pun menirukan gerakan papa, mendutmendut naik…turun…. Hahahaha, nanti akan muncul bayangan kami di dinding. Seru dan menjadi permainan sore hari yang tak akan terlupakan. Untuk mempertahankan agar pijar petromax itu terus menyala terang, petromax harus dipompa. Kemudian, petromax akan menyala terang dan berbunyi zheeeng… lembut. Itulah tanda petromax telah menyala sempurna.
100 | Malaikat Pemberi Jiwa Aktivitas memompa membuat keringat berjatuhan. Aktivitas inilah yang menjadi andalanku. Setelah bapak memasang kap lampu agar sinarnya terfokus. Bapak akan menggantungkan petromak pada kait besi yang dipasang pada reng atap di ruang tamu. Pada ketinggian itu, petromax mampu menerangi seisi ruang tengah keluarga kami. “Nah, selesai deh lampu kita.” Awan berteriak kegirangan dan minta bapak menggendongnya agar dapat mencapai tinggi petromax. Kenangan tentang petromax memang cukup indah. Karena petromax membantu kisah kasihku. Biasanya pujaan hatiku membantu menyalakan petromax. Aktivitas menyalakan petromax kami lakukan bersama kalau bapak dinas sore. Hehehehe, masih belum berani mengingat pujaanku ini pernah salah yang membuat bapak marah. Hanya menyalakan petromax bersamasama saja rasanya sudah melayang jiwa ini. Listrik menyala di kampung kami itu tandanya aktivitas petromax tak ada lagi. Aku tak bisa lagi pura-pura meminta pujaan hatiku yang resmi aku panggil AA untuk datang di sore hari sekadar membantuku menyalakan petromak. Sebenarnya aku senang, rumahku, dan semua rumah di daerahku menjadi terang benderang. Tapi aku tak bisa menatap AA ketika membantuku menyalakan petromax dari dekat.
Seni Asiati Basin | 101 Hubungan yang aku jalani bersama pujaan hatiku ini sudah cukup lama. Bagiku ia adalah cinta pertama dan terakhir. Perkara putus sambung sudah biasa, maklumlah usia kami masih sangat muda perbedaan usiaku terpaut hanya 1 tahun. Jiwa muda masih sering melanda. Sedikit cemburu sedikit marah bila tidak diperhatikan menjadi bumbu penyedap dalam hubungan kami. Perlakuan buruk pujaanku ini dipicu oleh uang yang ia dapatkan. Yah, pujaanku mendapat uang dari warisan orang tuanya. Ayahnya yag biasa dipanggil babe adalah seorang juragan tanah. Kekayaan dan luas tanahnya melebihi kepunyaan Haji Gopur. Ibunya seorang wanita Sunda tepatnya orang Bogor. Pujaanku ini biasa aku panggil “AA”. Katanya panggilan itu sangat khas dan ia suka panggilan itu daripada “abang” yang biasa jadi panggilan orang Betawi. Ayahnya meninggal ketika aku baru sebulan menempati rumah ini. Tanah orang tuanya dibeli oleh pengusaha untuk dijadikan pabrik. Masa itu uang yang diterima orang pujaanku cukup membeli rumah di perumahan mewah di Jakarta. Sayangnya uang itu ia habiskan di meja judi dan minum-minuman keras. Pujaanku tidak melanjutkan kuliah. Aku sudah membujuknya untuk kuliah. Tapi katanya, kuliah bikin cape mikir dan terkekang.
102 | Malaikat Pemberi Jiwa Cita-citanya ingin jadi polisi. Masa itu menjadi polisi adalah kebanggaan apalagi kalau orang tua bukan polisi. Sayangnya AA memliki penyakit yang membuatnya gagal masuk polisi. Kerja pun AA tidak mau baginya uang yang diwariskan orang tuanya cukup membuat dirinya hidup berkecukupan. “Yang, menikah denganku biar aku tidak kuliah dan tidak kerja, tapi uang warisan bisa menghidupi kita tujuh turunan.” Pujaanku meminangku ketika itu ia main ke rumah kosku. Setiap hari Senin, AA selalu mengantarku ke kos. Hari Jumat sore AA akan menjemput ke kos karena Sabtu-Minggu aku libur kuliah. “Bapak gak akan ijinkan A.” Aku tahu komitmen yang harus aku pegang. Bapak meminta aku tidak menikah sebelum aku lulus kuliah. Bapak ingin aku memakai toga didampingi bapak dan mamah bukan dengan suami. Pinangan itu belum aku setujui, mengingat bapak pasti tidak memberi ijin. Bapak menginginkan aku menyelesaikan kuliah. Apalagi pujaanku belum bekerja. Kata bapak laki-laki itu harus punya pegangan bukan uang tapi pekerjaan. Pendapat bapak bisa aku terima karena orang akan bertanya “kerja dimana?” bukan “punya uang berapa?”. Walaupun uang warisan AA banyak tapi aku tak pernah meminta sepeser pun.
Seni Asiati Basin | 103 Pinangan itu tidak aku tolak, aku meminta AA sabar tinggal selangkah lagi aku menjadi sarjana. Bagiku AA adalah pilihanku karena cintaku pada AA cukup besar. Bagiku ia adalah pilihan hati. Aku hanya menjalin cinta dengannya padahal banyak yang mencoba mencuri hatiku. Aku memang begitu setia pada AA hingga suatu hari kesetiaanku hancur. Benar kata bapak, AA belum berubah. Kali ini benar-benar menusuk hati menikam jantung. Subuh itu Ramadhan hari ke-21 aku ingat sekali Subuh yang membiru. Subuh yang menggoreskan luka begitu dalam di hati ini. Setelah sahur aku bergegas menyambut Subuh berkunjung ke rumah AA yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Seperti subuh-subuh di bulan Ramadhan yang kami lalui. Hari ini aku yang ke rumahnya. Tadi malam aku tidak melihat AA di masjid untuk taraweh. Kata teman AA, dari pagi AA tidak ada di rumah. Subuh yang dingin aku mengajaknya untuk pergi ke masjid sama-sama. Biasanya aku yang menunggu di masjid. Kali ini aku ke rumahnya mengajaknya berangkat ke masjid bersama. Entah karena tidak bertemunya semalam atau karena aku rindu. Rumah itu masih tertutup hanya terdengar suara pelan pasti suara ibu AA. Aku sudah biasa ke rumah itu. Rumah itu seperti rumahku. Setiap
104 | Malaikat Pemberi Jiwa lekuk rumah aku hapal. Kadang aku membantu ibu memasak atau sekadar ngobrol. “Assalamulaikum, Bu, sudah sahurkah?” teriakku pelan sambil mengetuk pintu rumah. Aku tahu ibu pasti sudah bangun. Lampu ruang tamu sudah terang. Suara sahutan terdengar dari dalam, suara sandal yang diseret terdengar mendekat. Pintu tidak terkunci jadi karena sudah ada sahutan aku membuka pintu. Niatku hanya memudahkan ibu yang harus menyeret sandal untuk mencapai pintu. Ibu memang sedang sakit. “AA sudah bangun Bu?” tanyaku sambil aku cium tangan ibu. Tapi wajah ibu kelihatan tegang dan takut. Aku pikir karena ibu sakit. “Eh, eh...” suara ibu tercekat. Aku duduk di ruang tamu. Di depan ruang tamu itu adalah kamar AA. Kamar itu masih tertutup. Waktu sahur tinggal sepuluh menit aku bangkit dan menuju kamar AA. Terdengar dari depan pintu suara melenguh berkepanjangan seperti ada pertarungan dua insan yang berhasil melepaskan nikmatnya. Aku tertegun siapa di dalam. Apa ibu kedatangan tamu? Sebelum tanganku menjangkau pegangan pintu, seorang wanita dengan rambut basah dan berkeringat keluar dari kamar. Pakaian yang dikenakan hanya kaos tanpa lengan dan celana
Seni Asiati Basin | 105 pendek yang menonjolkan lekuk tubuh dan gunung yang membuncah. Aku benar-benar kaget. Siapa wanita yang keluar dari kamar AA. Kulihat ibu tertunduk mungkin malu atau risih. Aku masih berprasangka baik mungkin ada keluarga ibu, suami istri yang menginap. Wanita itu tersenyum dan menyapaku. Sambil mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi. “Ada sabun sama sampo ya, Mak? Suaranya terdengar jelas di telingaku. Siapa dia kok memanggil ibu dengan ‘Mak’. Aku masih termangu berdiri di samping ibu yang tak kuasa berbicara. Ibu memang kurang dihormati oleh anak-anaknya. Ibu terlalu sabar dan juga pasrah dengan kelakuan anak-anaknya yang nakal. Sejak suaminya atau bapak AA meninggal, ibu semakin ditinggalkan anak-anaknya. Belum habis rasa terkejutku, AA keluar dari kamar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan sarung. Wajahnya kulihat letih seperti habis bertarung. Kali ini aku benar-benar lemas. Hatiku tercabik pisau belati, perih sekali. Pujaan hatiku yang kucintai sampai dasar hati keluar dari satu kamar dengan seorang wanita yang tidak aku kenal. Suara lenguhan kenikmatan tadi… Ya, Tuhan aku benar-benar syok. Orang yang aku cintai di depan mata melakukan…
106 | Malaikat Pemberi Jiwa “A...” hanya satu huruf itu yang keluar dari mulutku. Aku sudah kehabisan kata-kata. “Ibu gak tahu kalau Nuri mau kesini.” Kata ibu yang kali ini memegang tanganku yang sudah berkeringat. Aku tertunduk ingin rasanya menangis melihat peristiwa di depan mataku. Selama ini aku hanya mendengar kabar miring tentang pujaan hatiku ini yang sering mengunjungi tempat hiburan malam. Bagiku kalau belum melihat sendiri aku tidak percaya dan aku masih setia. “Yang, ngapain ke sini.” Kalimat itu yang keluar dari mulut pujaanku. Ia mendekatiku dan memegang pundakku. Aku benar-benar jijik. Aku berlari pulang dengan luka yang teramat dalam. Kesetiaanku harus dibalas dengan pengkhianatan. Aku berlari langsung ke rumah tak ke masjid aku ingin menangis menumpahkan air mata di kamarku. Teganya dia melakukan pengkhianatan di depan mataku. Hatiku sakit bukan kepalang, kesetiaan yang aku gadang-gadangkan hanya untuk pujaanku dibalas seperti itu. Aku memang keras kepala padahal bapak sudah menasihati agar menyudahi percintaanku dengan pujaan hatiku. Selama ini aku menunggu dan percaya pujaanku akan berubah. Peristiwa itu membuat aku harus
Seni Asiati Basin | 107 menyudahi kisah kasihku walaupun berat karena ia cinta pertamaku. Hatiku memang tak bisa menerima. Warga di kampungku sudah mengetahui percintaanku dengan AA. Cinta yang tumbuh dari aku remaja hingga aku menjadi mahasiswa, kini remuk tak berkeping. Bagi orang kampung kami adalah pasangan yang sangat cocok dan akan melangkah ke jenjang pernikahan. Orang-orang kampung selalu berkata, “Mba Nuri sama abang cocok.” Keluarga AA sudah menyetujui dan menunggu hingga aku selesai kuliah. Itu yang selalu aku katakan. Ketika itu, ibu dan kakak AA ke rumah ingin meminangku. Apa yang salah dengan diriku. Aku tak pernah berpaling ke lain hati. Banyak teman kampus yang naksir, aku selalu bilang aku sudah punya pujaan hati. Bagiku kesetian itu mahal. Ternyata aku harus mengalami luka, benar kata bapak kalau ia sayang padaku tentu tak akan memberiku rasa sakit ini. Luka yang ditorehkan AA benar-benar membuatku sakit. Beberapa kali hubungan kami memang diuji. Aku mampu membawa AA untuk bangkit. Kali ini aku memang harus memilih. Kenyataan yang tak bisa aku lawan. AA tak pernah mencintaiku. Selama ini aku telah dibutakan oleh cinta.
108 | Malaikat Pemberi Jiwa Berulang kali AA mengatakan padaku menyayangiku, sangat menyayangiku. Tapi percuma, ia telah menorehkan luka kembali ke hatiku dengan apa yang telah ia lakukan. Apa AA tahu apa yang sangat aku takutkan? Bapak pasti akan mendengar pengkhianatan ini dan kembali aku akan terpuruk. Pagi Subuh yang menggigit, aku sudahi kisah kasihku. Aku melihat tangan bapak masih memegangi ada untukku, kali ini aku harus siap. Aku harus tegar. Masa lalu boleh dikenang tetapi tidak untuk dihayati. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Ungkapkan segala apa yang kurasa dengan kata-kata, supaya tak habis kau baca jka suatu saat kita tak lagi bersama. Sebab kutau memoriku tak cukup banyak mengingat yang telah lalu. “Gak diantar AA?” tanya Susi kakakku yang melihatku pagi-pagi buta sebelum subuh sudah berangkat kuliah. “AA, lagi sibuk.” Jawabku sambil berpamitan pada bapak dan mamah. “Sibuk apa yah, perasaan tuh anak gak kerja yah.” Kali ini komentar Susi membuatku kesal. “Nuri, mau ikut bapak?” tanya bapak memutus ocehan Susi.
Seni Asiati Basin | 109 Pagi itu aku pergi kuliah berboncengan motor dengan bapak. Sepanjang jalan aku terdiam. Biasanya ada saja ceritaku dan cerita bapak. Kali ini bapak paham arti diam anaknya. Bapak menurunkan aku di terminal. Dari terminal aku akan melanjutkan perjalanan ke terminal lagi tapi ini Terminal Senen. Aku memang kos di daerah dekat kampusku. Biasanya tugas AA yang mengantar dan menjemputku. Senin pagi AA akan mengantarku dan Jumat sore setelah aku pulang kuliah AA sudah ada di depan kampus dengan senyumnya yang selalu kurindukan. “Harus biasa dan bisa.” Kali ini aku bergumam sendiri karena sepanjang jalan aku harus bergelantungan tidak duduk di bus yang aku tumpangi. Hari ini sudah dua minggu aku tak bersama AA dan tak ada lagi niatku menemuinya. Aku tahu beberapa kali AA mencegatku dan memohon. Luka itu sudah teramat dalam. Hatiku sudah membeku. Aku teramat sakit. Aku lihat AA pun semakin asyik dengan kebejatannya. Wajahnya di Subuh itu terekam jelas di pikiranku. Wajah kotor sehabis bertarung melampiaskan nafsunya.
110 | Malaikat Pemberi Jiwa Malaikat Pemberi Jiwa ada akhirnya aku memang harus meninggalkan cinta pertamaku untuk menikah lebih dahulu daripada dia. Pilihan hidupku ini memang di luar dugaan. Aku tak menjalin kasih yang lama tidak seperti dengan Aldo. Kisah kasih kami terbentang dari aku remaja piyik sewaktu aku masih di kelas 2 SMP hingga aku menjadi mahasiswa semester 5. Akhirnya aku menerima pinangan si Abang. Lelaki yang justru tinggal di kontrakan rumah Aldo. Awalnya memang pilihan yang cukup sulit apalagi bapak tidak setuju dengan pilihanku. Abang tidak seiman dengan keluargaku. Selain itu umur abang yang jaraknya cukup jauh denganku. Bahkan Tita saja marah dengan pilihanku. “Memang tidak ada yah pria seiman yang mau sama kamu?” tanya bapak padaku yang hari ini sedang mengerjakan tugas kuliah. Kuliahku belum rampung tinggal menjemput impian saja. Semester 7 baru berlangsung dua bulan ketika aku kemukakan keinginanku untuk menikah. Aku tahu bapak pasti tidak menyetujui, selain terpaut usiaku yang cukup P
Seni Asiati Basin | 111 jauh dari si Abang juga Abang dan keluarganya tidak seiman dengan keluarga kami. Bapak tahu masalahku dengan AA. Hatiku yang sakit tak luput dari pengamatan bapak. Pilihanku ini memang disayangkan oleh bapak. Satu persatu aku tuntaskan, aku suruh abang menentukan pilihan keimanannya dahulu baru bisa meminangku. Hal itu kulakukan tanpa sepengetahuan bapak. Aku cari masjid untuk mengislamkan abang. Semua yang aku lakukan agar dapat izin bapak. Entahlah apa yang merasukiku sehingga aku ngotot ingin menikah dengan abang padahal baru aku kenal. Setelah abang seiman denganku, baru aku bilang pada bapak kalau abang sudah seiman. Bapak geleng-geleng kepala begitu kukuhnya aku ingin menikah dengan abang. “Nuri, yang melangkah, Nuri juga yang akan menjalankan, bapak bisa apa.” Wajah tua bapak tertunduk. Aku benar-benar sudah menyakiti hatinya. Pada akhinya aku tahu mengapa bapak dulu tak menyetujui pernikahanku. Satu-satunya anak perempuan bapak yang tidak langsung dinikahkan bapak adalah aku. Sedih rasanya tapi ini adalah pilihan hidupku. Aku buktikan pada bapak bahwa aku tak akan mengubur impian bapak.
112 | Malaikat Pemberi Jiwa Aku anak ketiga yang akhirnya harus naik pangkat menjadi anak kedua karena kakak keduaku meninggal dunia. Tapi aku anak pertama bapak yang akan menjadi sarjana. Pernikahanku hampir mengubur impian bapak menyaksikan anaknya menjadi sarjana. “Kamu harus jadi sarjana.” Sore itu bapak menyapaku melihatku sedang mengerjakan tugas kuliah. Kristal bening mengenangi mataku. Begitu hebatkah seorang sarjana. Mengapa bapak sangat menginginkannya. Setelah menikah aku tinggal di rumah bapak. Si Abang kerja dekat rumah bapak. Yah, perkenalanku dengan Abang karena si Abang adalah pelanggan setia warung nasi mamah. Untuk menguliahi aku dan adik-adik, mamah berjualan nasi di warung dan si abang adalah pelanggan setia. Setiap pulang kuliah aku sering membantu mamah dari situlah aku berkenalan dengan si Abang. “Kenapa sedih Dek?” tanya si Abang yang hari itu mampir ke warung. Warung nasi mamah masih buka hingga pukul 9 malam. Biasanya pelanggan mamah adalah pekerja pabrik yang dekat dengan warung. Lumayan dari penghasilan warung, aku dan adikku dapat terbantu biaya kuliah. Bapak adalah abdi negara yang benar-benar jujur, jadi hanya gaji yang digunakan untuk
Seni Asiati Basin | 113 memberi kami makan. Padahal setahuku, temanteman bapak yang pangkatnya di bawah bapak, hidup berkecukupan bahkan ada yang berlebihan. “Nuri, apa yang bapak berikan pada kalian itu dari keringat bapak dan halal,” kata bapak waktu aku tanya mengapa kami tak punya mobil. Karena itulah mamah yang memang melihat peluang, menyewa lahan kosong untuk warung makan. Lahan itu sendiri kepunyaan keluarga AA. Setelah aku tak bersama AA, warung itu harus ditinggalkan, dan untungnya aku dan adikku sudah selesai kuliah. Abang adalah pelanggan setia mamah. Menu yang diminta selalu nasi dan telur dadar. Kalau si abang ingin mie rebus, telurnya selalu didadar. Aku hapal kebiasaannya. Usianya terpaut 12 tahun denganku. Sifatnya yang penyabar dan selalu mau mendengar ceritaku, membuat aku bisa nyaman berkeluh kesah. Biasanya aku selalu bercerita tentang kisah kasihku dengan Aldo. Abang mengontrak di rumah Aldo. Hari itu aku sendiri yang jaga warung, mamah pulang untuk shalat magrib. Aku bercerita tentang kuliahku dan kisah kasihku yang harus berakhir karena lagi-lagi pujaan hatiku ini menyakitiku. Seperti biasa Abang akan datang dengan gayanya santun dan sabar mendengarkan semua ceritaku. Lama kelamaan tumbuh benih kasih di
114 | Malaikat Pemberi Jiwa antara kami. Aku sebenarnya hanya kasihan karena Abang begitu sabar dan mau mendengar ceritaku. Hal ini jarang aku temui pada diri Aldo yang selalu dipenuhi emosi. Abang mampu membuatku nyaman dan tenang. Emosiku yang kadang suka meledak-ledak dapat reda di samping Abang. Kata orang kampung pamali menolak lamaran. Aku sudah menolak tiga kali lamaran pria. Lamaran pertama dari Aldo yang terpaksa ditolak bapak, karena ia belum bekerja selain itu bapak ingin aku merampungkan kuliah dulu. Lamaran kedua dari seorang guru. Aku mengenalnya di tempat aku magang dari kampus. Kalau ini memang benar-benar keterlaluan. Aku tak tahu kalau hari Minggu pagi ia datang bersama rombongan keluarganya ke rumah untuk meminang. Padahal aku dan dia tak pernah menjalin kasih. Katanya ia melihatku pasti cocok jadi pendamping hidupnya, jadi pertemuan keluarga ini sekalian silaturahmi dan meminta aku jadi istrinya. Alamak mana bisa seperti itu kenal saja baru itu pun di tempat aku magang. Tentu saja lamaran itu aku tolak. Ketika Abang datang dan melamarku, aku ingat perkataan orang kampung kalau menolak untuk yang ketiga kalinya alamat jauh jodohku waduh bisa perawan tua aku nih. Abang datang
Seni Asiati Basin | 115 ketika aku gelisah dan jiwa remajaku yang mulai tumbuh untuk dewasa perlu bimbingan. Abang datang dengan semua itu walau belakang hari ada yang ia sembunyikan padaku dan keluargaku. Bahkan setelah bapak tiada pun aku menyembunyikan rahasia terbesar dalam hidupku. Namun, ada yang paling tidak bisa diterima bapak. Abang tidak seiman denganku. Waktu itu, aku tak peduli kata bapak dan kata mamah, bahkan aku sudah buta akan semua nasihat untuk tidak menjalin cinta dengan orang yang tidak seiman. “Nanti kamu susah sendiri Nuri, karena keluarganya tidak seiman dengan kita,” Bapak masih membujukku agar memikirkan pernikahan yang akan aku jalani. Ternyata menikah dengan keluarga yang tidak seiman dengan kita memang banyak sekali toleransinya. Aku memang tidak memikirkan itu semua. Aku hanya berpikir menikah lebih dahulu daripada Aldo. Aku ingin membalas perlakuan Aldo padaku. Aku tahu bapak sudah aku lukai hatinya dengan mengesampingkan sarjanaku. Hal yang membanggakan untuk bapak belum aku persembahan. Keinginan bapak untuk mendampingiku ketika wisuda tanpa kehadiran lelaki lain akan punah. Aku tak memikirkan perasaan bapak. Aku hanya berjanji tak akan
116 | Malaikat Pemberi Jiwa membuat luka lagi di hati bapak. Namun, pada akhirnya bapak harus juga merasakan bagaimana hati anaknya tersakiti karena pernikahan yang dijalani. Abang membohongiku, membohongi bapak, menyakiti perasaan mamahku. Sudah ada orang lain sebelum aku dan memberinya anugerah yang hidup. Seeorang anak jadi hadiah pernikahan. Pernikahanku digelar di rumah. Penghulu kecamatan tempat tinggalku yang menikahkan. Aku cukup terkejut dengan keputusan bapak. Aku menyadari hati bapak masih terluka karena aku menikah dengan pria yang baru saja seiman denganku selain itu aku tidak menepati janji. Aku belum menyerahkan toga sarjanaku pada bapak. Aku malah menyerahkan tugas bapak pada lakilaki yang akan menjadi imamku. “Silakan Bapak penghulu menikahkan anak saya,walikan saya,“ kata-kata bapak menohok jantungku. Hanya aku anak perempuan bapak yang tidak dinikahkan secara langsung oleh bapak. Hatiku menangis, tega sekali bapak menyerahkan aku pada wali hakim. Setelah menikah, aku tinggal dengan orang tuaku. Bapak yang meminta katanya sampai aku punya rumah sendiri. “Uangnya ditabung, Nuri.” Kata bapak, “Nanti kalau cukup bisa beli rumah, kalau mengontrak, percuma uang habis dikasihkan orang saja.” Nasihat bapak padaku. Sebenarnya aku tahu
Seni Asiati Basin | 117 mengapa bapak meminta aku untuk tinggal bersamanya. Bapak ingin aku menyelesaikan kuliahku. Kalau aku tidak tinggal di rumah bapak, pastinya bapak tidak bisa mengontrol kuliahku. Bapak memang masih belum percaya dengan Abang, dan sampai menutup matapun bapak masih belum percaya. “Nuri, bangun kuliah kamu!” pagi itu bapak mengetuk pintu kamarku. “Iya, Pak ini sudah mandi kok.” Aku mencium tangan bapak dan pamit berangkat kuliah. Kaki ini terasa ringan karena obor yang disulut bapak padaku. Setiap pagi selalu suara bapak yang membangunkan aku. Begitu besar harapan bapak agar aku merampungkan sarjanaku membuatku malu. Cambuk bapak setiap hari menghantamku. Allah tahu yang terbaik untuk umatnya. Dua tahun pernikahan aku belum memperoleh momongan. Setiap malam kesibukan merampungkan skripsi dengan bermodalkan mesin tik tua pemberian bapak. Hebatnya bapak selalu menemaniku untuk mengetik. Bapak menemani sambil menonton televisi sementara si abang karena lelah sepulang kerja sudah tertidur lelap. Kadang hingga tengah malam aku baru menyelesaikan ketikanku. Itupun karena bapak yang meminta. Bapak melihat aku sudah lelah dan banyak salah tulis yang aku ketik.
118 | Malaikat Pemberi Jiwa “Nuri, sudah malam, tidur besok dilanjutkan.” Suara bapak mengantar aku menutup pekerjaanku malam itu. Sebenarnya tinggal sedikit lagi skripsiku. Bapak menemaniku hingga larut dengan kain sarung dan kaos putihnya. Sekarang kalau aku lelah karena merampungkan tulisanku aku selalu bapak dan sarungnya. “Tanggung Pak, tinggal ketik bab 5 trus beres deh.” Sahutku sambal menguap. “Sudah menguap masih lanjut aja, besok lagi biar segar dulu tuh otak.” Bapak ikut membereskan semua perabotan skripsiku. Kertaskertas yang berserakan dan buku-buku yang tumpukannya sudah berantakan. Bapak lakukan hampir setiap malam sepanjang skripsiku belum rampung. Ah, bapak … malu rasanya. Perjuanganku untuk menyelesaikan kuliah memang luar biasa. Selama perjalanan itu bapak menemaniku memberi ruhnya yang ekstra. Malaikat pemberi jiwa ada di bapak. Aku tak tahu jika saja bapak lelah dan tak menjagaku, tak akan aku seperti sekarang. Hingga aku meraih gelar sarjana bapaklah yang langsung bersorak dan memelukku hangat. Kulihat kristal bening di mata bapak. Aku anak ketiga bapak yang naik peringkat jadi anak kedua, akhirnya mempersembahkan togaku pada bapak.
Seni Asiati Basin | 119 Maafkan aku, Pak. Seandainya aku tahu begitu hebatnya pengaruh toga untuk bapak. Aku tak akan menikah dulu. Foto wisudaku ada dua orang laki-laki. Yah, bapak dan abang. Bapak tunas yang kau tanam dulu kini telah tumbuh siraman kasihmu membuatnya subur cambukmu melecutkan semangat juangnya Bapak Teruslah menyiram Teruslah melecutkan Agar bisa terus subur Agar selalu bersemangat Sepenggal puisi yang aku tulis di halaman persembahan skripsiku. Bagiku bapak adalah Malaikat Pemberi Jiwa dan motivator hidupku.
120 | Malaikat Pemberi Jiwa Bapak dan Cita-cita Anakku “Pak, bisa ikut Nuri ke rumah?” tanyaku pada bapak sore itu. Aku lihat bapak sedang asyik menonton televisi. Seperti biasa bapak tidak duduk manis menonton pertandingan sepak bola kegemarannya. Entah kesebelasan mana yang diteriaki bapak dengan semangatnya. Yah bapak selalu seperti itu kalau menonton pertandingan bola, siapapun kesebelasan yang tampil gaya bapak selalu begitu. Berdiri di depan televisi sambil sesekali berteriak “Aduh, alamak, yahhh, hajar!” Gaya bapak memang membuat yang melihat geleng-geleng kepala. Kalau tidak pemain sepak bola melakukan kesalahan (ini menurut bapak padahal bapak sendiri tidak bisa main sepakbola) dengan teriakan lantang bapak akan memecah suasana rumah kadang malah memaki. Tinggallah mamahku yang geleng-geleng kepala sambil menutup telinga mendengar teriakan bapak. Kali ini mamah menyingkir ke kamar dan diam di kamar sambil berbaring. “Tuh, suara bapak buat kuping pekak deh.” Gerutu mamah padaku yang sore itu datang untuk
Seni Asiati Basin | 121 menjemput bapak. Mamah mengajakku menyingkir ke kamar. Mamah tahu aku datang dengan maksud yang lain, apalagi kalau bukan urusan Ray dan si Mbak. Keinginan mengajak bapak ke rumah seperti biasa harus bersabar menunggu bapak menyelesaikan teriakannya. Biasanya aku sudah paham maksud mamah. “Kenapa, Ri si Mbak pulang yah?” tebakan mamah memang jitu sekali. Yah kalau Mbak pengasuh anakku pulang kampung biasanya bapak yang aku sandera untuk menjaga anakku. Selama lima hari dari hari Senin sampai hari Jumat, bapak akan tinggal di rumahku untuk menjaga anakku. Itulah susahnya bila tidak ada si Mbak. Untungnya bapak bisa membantuku. Mengapa bukan mamah? Pertanyaan itu selalu dilontarkan teman-teman kerjaku. Mamah juga dititipi adikku anak-anaknya yang memang bersekolah di dekat rumah mamah. Keponakanku itu sepulang sekolah akan menunggu mamahnya sepulang kerja di rumah mamahku. Sudah lima tahun aku dan adikku pindah dari rumah bapak dengan maksud membangun rumah tangga dengan rumah sendiri. Rumah yang aku bangun tak jauh dari rumah bapak masih dalam satu kecamatan berjarak 2 kilometer. Rumah bapak akan selalu aku lewati jika aku pergi bekerja atau pergi ke pusat perbelanjaan. Istilahnya rumah
122 | Malaikat Pemberi Jiwa bapak tempat yang strategis untuk dilewati dan disinggahi. Makanya adikku menyekolahkan anaknya di dekat rumah bapak. Selain hemat tidak perlu menggaji asisten rumah tangga juga anaknya aman bersama orang tuaku. Rumah mewah sekali, itu julukan bapak untuk rumahku. Bapak selalu ada kata yang indah untuk julukan yang ia berikan. Ketika kutanya kenapa bapak memberi julukan demikian untuk istanahku. Waktu itu rumahku belum sepenuhnya selesai, selama proses pembangunan, bapak yang menjadi mandor atau istilah bapak ‘tukang pelotot’ hehehe. Bapak memang selalu ada istilah untuk apa yang dilakukan. “Ri, rumah kamu ini luar biasa.” Kata bapak sambil tersenyum, aku tahu arah pembicaraan bapak, kalau bukan menggoda. Daerah sekitarku ini memang berlokasi di Jakarta, ibukota negara Indonesia, namun masih terbentang sawah di sekeliling rumahku. Pagi hari masih dapat menikmati kabut dan semilir angin sawah bercampur angin laut yang hanya berjarak 2 km dari rumahku. “Ah, pasti Bapak ngejek rumah Nuri nih.” “Lah, ini rumah memang luar biasa, enaknya di luar daripada di dalam.” Kata bapak masih menggoda. Angin di luar memang lebih nyaman dibandingkan di dalam rumah.
Seni Asiati Basin | 123 “Tuh, apa kataku, Bapak pasti ngejek deh, ntar Nuri beli AC biar adem di dalam rumah.” Kataku sambil memeluk bapak yang sedang melihat sekeliling depan rumahku yang masih di keliling sawah yang baru selesai panen. “Yah, rumah mewah sekali ini memang luar biasa.” “Tuh, apalagi deh istilah bapak.” Kulepaskan pelukanku, kali ini aku minta dukungan mamah yang diam saja melihat anak dan suaminya berdebat. “Bapak tuh bangga, Ri” kata mamah padaku. Mamah juga luar biasa tahu kalau aku minta dukungan. Walaupun mamah ibu rumah tangga tapi kiprahnya di masyarakat atau di lingkungan sungguh luar biasa. Mamah hanya tamatan SD, tapi mamah selalu dipercaya untuk mengurus semua aktivitas sosial di lingkungan bahkan semua saran dan usulan mamah selalu menjadi acuan untuk melakukan kegiatan sosial bahkan keagamaan. Kata mamah, seorang istri harus mengimbangi langkah suaminya agar tidak tertinggal jauh. Julukan untuk rumahku yang diciptakan bapak ternyata berasal dari keadaan lingkungan rumahku yang masih banyak sawah. Kata bapak rumahku ini ‘Mewah Sekali’ alias ‘Mepet Sawah Sedikit ke Kali’. Sejak itu bila aku ditanya di mana
124 | Malaikat Pemberi Jiwa rumahku, akan aku katakan bahwa rumahku di perumahan Mewah Sekali. Bapak... bapak ada saja istilah seru untuk kami. Awalnya bapak dan mamah tidak setuju aku dan adikku pindah dari rumah bapak. Kata mereka rumah bapak besar kamarnya banyak Aku dan adikku berusaha meyakinkan bahwa kami harus mandiri. Ternyata tidak bisa mandiri juga yah. Aku selalu menyandera bapak kalau tidak punya asisten rumah tangga. Adikku menitipkan kedua anaknya di rumah bapak. Rumahku memang tidak besar di tanah kavling yang kami beli dengan mencicil pada seorang tuan tanah asli Betawi. Sedikit demi sedikit kami membangun rumah mulai dari satu kamar hingga menjadi rumah yang utuh ada ruang tamu, kamar tiga, ruang keluarga, kamar mandi, dan dapur mini. Uang pembangunan tentu saja dari hasil mengambil di bank dengan menitipkan SK PNS-ku. Miris sekali kalau ingat surat berharga yang mengesyahkan aku sebagai pegawai negeri itu selalu dititipkan di bank. Keyakinanku bahwa kami dapat hidup dari pendapatan suamiku dan pendapatanku mengajar di sekolah swasta. “Pak, ikut yah ke rumah Nuri.” Kataku sambil memegang tangan kiri bapak yang masih berdiri di depan televisi dengan berkacak pinggang.
Seni Asiati Basin | 125 “Alahhhhh.” Tangan kanan bapak melayang ke udara itu artinya terjadi kesalahan pada pertandingan sepak bola dan pertandingan berakhir dengan meninggalkan ketidakpuasan pada penontonnya siapa lagi kalau bukan bapak. Bapak menengok aku yang berdiri di belakangnya. Sebelum bapak bicara, aku sudah menyodorkan selembar surat dan menyerahkan pada bapak sambil tersenyum. “Ini surat kontrak kerjanya yah Pak Kapten.” Kataku menggoda bapak yang selalu menanyakan kontrak kerja selama bapak tinggal di rumahku. Padahal bapak dan aku tahu kertas itu tidak ada isi apa-apa alias kosong. Tentu saja aku ambil dari lembar kertas di buku anakku. “Dengan ini saya: Dra. Nuri akan memperkerjakan Kapten Mochamad Basin selama lima hari kerja, menjemput pada hari minggu sore dan mengantar kembali pada hari jumat sore.” Suara bapak lantang sekali membacakan kertas kosong yang aku sodorkan pada bapak. Aku dan mamah serta anakku yang mendengar bapak membaca surat perjanjian kontrak kerja kosong itu jadi tertawa geli. Bapak selalu punya cara untuk membuat kami semua merasa bangga memiliki bapak. Ada saja ulah bapak untuk menghangatkan suasana.
126 | Malaikat Pemberi Jiwa “Mulai deh Bapak gaya.” Seru mamah yang sore itu tak berhenti tertawa. “Payah nih Mah, kerja lima hari tak berhonor.” Bapak duduk dengan wajah memelas dan mulut dimajukan ke depan. Tingkah bapak ini semakin membuat kami tertawa. Anakku memeluk kakeknya dengan manja. “Yuk, Pak bereskan pakaian dan sarung Bapak.” Kataku sambil mendorong pinggang Bapak ke kamar. “Asyik, aku dijaga Nek Anang.” Kata anakku Ray yang sore itu harus aku ajak menjemput bapakku. Nek Anang adalah panggilan cucu-cucu untuk bapakku. Hebatnya lagi bapaklah yang membocengkan aku dan Ray dengan motor. Bapakku memang masih gagah untuk mengendarai motor padahal usia bapak sudah 70 tahun. Kalau aku minta aku saja yang memboncengkan bapak, pastinya bapak akan marah dan bilang bahwa bapak masih kuat. Sebagai pensiunan polisi, stamina bapak memang luar biasa. “Mau kemana Kek.” Kata seorang ibu melihat bapak dan aku akan pergi. Seperti biasa bapak akan mempersiapkan aksi teaterikal sambil mendekap tas berisi bajunya ke depan dada. Wajahnya disedih-sedihkan seperti
Seni Asiati Basin | 127 anak yang diusir dari rumah. Tangan bapak menunjuk mamahku yang masih berdiri di depan pintu pagar. Kalau hal ini kami semua anakanaknya sudah hapal kelakuan bapak. Semakin ditanya bapak akan membuat si penanya semakin penasaran dengan wajah sedih dan isak tangis yang dibuat-buat. Bapak akan berkata kalau dipaksa berpisah dengan mamahku. Ah, bapak ada-ada saja. Biasanya si penanya akan menyadari bahwa bapak sedang bergurau. Bapak memang penuh canda bahkan dengan siapa saja. Sore itu bapak berhasil kuboyong. Berpisah lima hari dengan mamahku sebenarnya tak tega juga aku, tapi apa boleh buat tanpa si Mbak aku benar-benar bingung bagaimana harus bekerja. “Ri, masak apa hari ini?” tanya bapak pagi itu yang melihat aku sudah sibuk di dapur. Seperti biasa kalau bapak tinggal denganku, aku akan menyiapkan masakan untuk bapak dan anakku sarapan serta makan siang. Sekolah anakku dekat dengan rumah hanya berjarak lima ratus meter saja sebuah sekolah dasar Islam. Sarapan untuk bapak dan kedua anakku sudah siap berikut makanan untuk mereka makan siang nanti. Pagi itu aku antar Ray kesekolahnya dan aku berangkat bekerja. Suami dan anak sulungku tidak bersama kami. Suamiku bekerja di luar kota seminggu sekali baru pulang. Sedangkan
128 | Malaikat Pemberi Jiwa si sulung bersekolah di pondok pesantren yang mengharuskannya menetap di pondok. Biasanya hari Minggu kami menengok sulungku. “Wah sedapnya.” Seru bapak melihat masakan yang aku masak. Iga sapi kesukaan bapak. “Nanti kalau Bapak mau makan, dihangatkan saja yah Pak.” Kataku sambil menutup panci sop iga. Bapak mengacungkan jempolnya tanda menegerti. “Sambalnya bikin ga Ri?” “Sudah dong, sambal tomat.” Aku tahu tanpa sambal makanan apapun menurut bapak hambar. Seperti biasa aktivitas bapak menunggu Ray pulang di rumah saja sambil menonton televisi atau membersihkan rumah. Pekerjaan rumah yang senang dilakukan bapak adalah mencuci. Bukan mencuci baju dengan sikat kemudian membilasnya. Bukan aktivitas itu melainkan aktivitas mencuci menggunakan mesin cuci. Sambil menunggu cucian selesai dicuci, bapak akan menonton televisi. Ray pulang sekolah menjelang zuhur. Biasanya Ray pulang sendiri tanpa dijemput bapak, karena dekat dengan rumah. Ray berjalan kaki dengan teman sekolah yang rumahnya tepat
Seni Asiati Basin | 129 di depan rumahku. Tapi kali ini karena tahu ada bapak ia merengek. “Mah, aku pulang dijemput Nek Anang yah.” “Kok dijemput, adek biasanya pulang dengan Ipin.” Aku memasukkan bekal Ray di tasnya. Walau sudah makan aku tetap membekali Ray makanan yang sederhana, mie goreng kesukaannya. “Terus, Nek Anang ngapain di rumah kalau gak jemput aku.” Ray protes sambil minum susu cokelatnya. Bibirnya kotor karena susu yang diminumnya mengotori pinggiran bibirnya. Aku ambil tisu dan membersihkan bibir Ray. Anakku ini memang sangat ceriwis. Ray dan bapak sangat kompak. Ada saja cerita bapak tentang perjuangan dan kecintaan bapak dengan pekerjaanya sebagai polisi. Pernah satu ketika ada karnaval di sekolahnya dan Ray memilih mengenakan pakaian polisi. Kata Ray waktu itu karena kelak kalau sudah besar ingin menggantikan bapakku menjadi polisi. “Nek Anang di rumah saja yah Dek, kasihan biar istirahat. Nanti sore antar adek les.” Penjelasan aku ini memang sungguh jitu karena sore Ray harus les dan biasanya bapak yang akan mengantar.
130 | Malaikat Pemberi Jiwa Urusan les juga jadi urusan bapak ketika putri sulungku menghadapi ujian nasional. Tasha putri sulungku yang waktu itu kelas VI SD, harus bimbingan belajar setiap hari secara intensif di sebuah bimbingan belajar di dekat rumah bapak. Anak sulungku ini pendiam susah menghadapi situasi baru. Istilahnya anakku ini kurang ramah. Tasha akan susah membuka pembicaraan dengan orang. Karena bapaklah anakku ini mendapat teman banyak di tempat bimbingan belajarnya. Kok bisa yah? Pertanyaan itu yang aku tanya pada anakku ketika di suatu kesempatan menjemput Tasha. Tasha sedang menungguku di tempat les dengan beberapa teman lesnya dan asyik mengobrol. Aku benar-benar terkejut karena sudah beberapa kali les, Tasha selalu menyendiri. Belum ada teman yang dikenal dan mengenal anakku. “Yu, sekarang sudah banyak teman yah?” aku memanggil anakku Yu atau Ayu. Panggilan untuk kakak di Palembang. Bapak dan ibuku asli Palembang jadi kami membiasakan memanggil Tasha dengan Ayu Tasha agar adiknya membiasakan memanggil dengan sebutan Ayu Tasha. “Mamah mau tahu kenapa?” jawaban anakku ini membuatku melambatkan motor yang aku kendarai agar bisa mendengar cerita Tasha.
Seni Asiati Basin | 131 “Ada ceritanya yah?” tanyaku. Aku lihat dari kaca spion, Tasha yang masih sibuk dengan permen lolipop di mulutnya tersenyum menggodaku. “Nanti yah Mah di rumah biar Nek Endut juga dengar.” Tasha ingin neneknya atau ibuku yang biasa dipanggil Nek Endut mendengar ceritanya. Mamahku bukan bernama “Endut” akan tetapi karena bentuk tubuh mamahku yang gemuk membuat cucu-cucunya memanggilnya Nek Endut. Kalau anakku sudah berkata seperti itu pastinya tidak mau diganggu dari aktivitas lolipopnya. “Ayu, katanya mau cerita.” Aku menagih janji anakku. “Idih kok mamah jadi kepo sih.” Ada-ada saja istilah Tasha. “Siapa sih si Kepo.” Kugoda Tasha. “Nek Endut!” Tasha memeluk mamahku yang dijumpainya di teras. Kalau sudah seperti ini bapak pasti akan menarik rambut Tasha dan merengek minta dipeluk juga. Aku mengambil tas les Tasha. “Nah ini dia si tukang cerita.” Tasha menunjuk bapakku yang sudah siap membentangkan tangan minta dipeluk. Tasha menggoda bapakku yang malah erat memeluk
132 | Malaikat Pemberi Jiwa neneknya. Bapakku makin berekspresi sedih. Bapak duduk tanda protes tak dipeluk Tasha. “Nek Endut tahu gak, teman les aku tuh lebih banyak kenal Nek Anang daripada kenal sama aku.” Tasha memulai ceritanya. “Kok bisa?” tanya mamahku sambil melepaskan pelukan Tasha dan mengajak Tasha duduk di kursi teras. “Gini loh Nek, jadi kalau Nek Anang dapat tugas jemput aku, nah dia selalu datang lebih cepat dari jadwal pulang les aku.” “Terus apa hubungannya nih?” aku penasaran dengan cerita Tasha. Bapak kok dilibatkan. Memang biasanya bapak menggantikan aku menjemput Tasha di tempat lesnya. “Iya apa hubungan Nek Anang dengan les Tasha.” Kali ini mamahku ikut penasaran. “Yah ada hubungannya Nek. Jadi semua teman les ku yang sekelas maupun yang gak sekelas selalu diajak ngobrol sama Nek Anang. Cerita Tasha semakin seru. “Lalu apa masalahnya.” Kali ini bapak yang bertanya. “Tidak ada masalah sih, malah aku beruntung Mah, gara-gara Nek Anang semua teman tanya gini. Tasha itu kakek kamu yah? Terus aku jawab iya kenapa? Kata teman-temanku kakek
Seni Asiati Basin | 133 kamu lucu yah.” Ucap Tasha sambil memeluk bapak. Rupanya karena bapak yang selalu mengajak ngobrol dan suka bercerita, akhirnya teman-teman Tasha terhibur dengan cerita bapak. Imbasnya semua teman les Tasha jadi ikut mengenal Tasha. Karena menurut cerita teman Tasha, bapakku sebelum dan sehabis cerita selalu berkata.”Kakek punya cerita nih, sebelum cucu kakek Tasha keluar kelas.” Atau “Nak Tasha cucu kakek sudah mau keluar kelas, cerita diakhiri yah.” Bisa kebayang itulah yang membuat semua siswa les di bimbingan belajar itu jadi mengenal Tasha, awalnya dari nama akhirnya mengenal karena kakek pulang membonceng Tasha. “Dah kakek, dah Tasha. Besok cerita lagi yah.” Tuh teman-temanku selalu begitu kalau aku pulang dibonceng Nek Anang. Pelukan Tasha semakin erat ke bapakku. Aku lihat mata mamahku yang memerah. Ada kristal bening di ujung mata mamahku. Suaminya yang sering diajak berdebat dengan kebiasaan mendidik cucu ternyata bisa membuat cucunya memiliki teman dan tidak dijauhkan dari pergaulan.. Kali ini giliran Ray yang diantar jemput bapak les, bahkan kali ini supaya tidak mondarmandir selama dua jam Ray les, bapak menunggu
134 | Malaikat Pemberi Jiwa di tempat les. Kasihan kalau bapak harus mondarmandir pulang terus datang lagi untuk menjemput. Bapak senang dengan aktivitas ini. Kata bapak bisa ikut belajar dengan guru-guru les Ray. Rupanya bapak selalu banyak bertanya dengan semua guru les Ray. Pastinya anakku juga ikut dikenal, kali ini dengan semua guru les. Hahahahahaha.
Seni Asiati Basin | 135 Pinjaman tanpa Jantung “Ri, pulang cepat!” suara bapak di ujung telepon terdengar marah. Sudah empat hari bapak di rumah. Hari ini kamis yang tentu saja aku ingat. Karena peristiwa ini mengubah semua cerita dengan bapak. “Ada apa Pak?” “Pulang ajalah gak usah tanya.” Kali ini nada bicara bapak semakin dalam. Aku benarbenar bingung. Bapak tak pernah marah seperti ini dan menyembunyikan berita. “Iya Pak, Nuri izin dulu yah.” Aku minta izin dengan guru piket dan meninggalkan tugas untuk kelas yang kutinggalkan. Bapak pasti mempunyai alasan menyuruhku pulang. Sampai di rumah ada beberapa orang berpakaian seperti petugas bank duduk di ruang tamu. Bapak juga duduk di ruang tamu tapi wajah bapak terlihat tegang. Tangan bapak terkepal menahan amarah. Aduh ada apa ini. Kok jadi terlihat tegang. Aku merutuk dalam hati. Kusandarkan motor dan ikut duduk di samping bapak.
136 | Malaikat Pemberi Jiwa “Ada apa Pak?” tanyaku pada seorang petugas. “Begini Bu, kami dari...” belum sempat petugas itu berkata bapak berdiri dan mengambil jaket yang biasa dikenakan jika ingin menjemput anakku les. Padahal hari ini Ray tidak les, jadi mau kemana bapak? “Bapak mau kemana?” tanyaku menatap bapak. “Nuri gak tahu ini ada apa.” “Masa kamu gak tahu Nuri! Malu-maluin aja, kalau gak bisa bayar jangan utang!”. Suara bapak seperti petir di siang bolong di telingaku. “Loh, siapa yang utang Pak.” Kali ini aku berdiri menghampiri bapak yang bersiap pergi dengan motor yang biasa dipakai untuk mengantar Ray. Melihat keadaan itu membuatku jadi mengesampingkan tamu yang ada di hadapanku. “Maaf, bapak-bapak ini siapa dan ada keperluan apa?” nada bertanyaku sudah meninggi. “Kami dari petugas bank, Bu.” Seru seorang petuags. “Iya petugas bank yang hari ini mau menyegel rumah kamu!” kali ini kalimat bapak benar-benar menghantam jantungku. Kulihat juga bapak duduk di teras sambil mendekap dadanya. Aku hampiri bapak untuk memintanya pindah ke
Seni Asiati Basin | 137 ruang tamu. Tapi bapak tidak mau dan menyuruhku kembali ke ruang tamu. “Kami mau menagih tunggakan rumah yang belum dibayar selama lima bulan. Pada tunggakan ketiga kami sudah memberikan surat teguran.” Petugas itu menyodorkan surat penagihan dan surat penyegelan rumah. Aku benar-benar syok mendengar penjelasan petugas bank. Aku membaca surat penagihan dan surat penyegelan. Aku mengkhawatirkan bapak yang masih duduk di teras. “Apa tidak ada penyelesaian lain Pak?” tanyaku berharap ada jalan keluar selain penyegelan. “Ada Bu.” Jawaban itu membuat aku agak lega. “Bagaimana caranya Pak?” tanyaku lagi “Ibu lunasi tunggakan di bank dalam tempo seminggu agar tidak disegel. Untuk itu ibu hubungi pihak bank besok untuk memohon penyelesaian.” Penjelasan petugas itu sudah membuat lega hatiku. Aku benar-benar tidak menyangka. Suamiku menggadaikan rumah kami untuk bisnis bersama adiknya. Rencana mereka cicilan kredit ditanggung berdua. Ternyata bisnis mereka mengalami kemerosotan bahkan bangkrut. Uang
138 | Malaikat Pemberi Jiwa menjalankan bisnis ini dari patungan suamiku dan adiknya. Suamiku yang seorang karyawan pastinya tidak punya uang yang banyak untuk bisnis. Uang pinjaman dari bank dengan mengagunkan sertifikat rumah terpaksa ia lakukan dan tanpa sepengetahuanku. Hatiku benar-benar sedih, kok tidak memperthitungkan akibat yang ditimbulkan. Untungnya Ray sedang pergi mengaji di mushola jadi tidak menyaksikan insiden ini. Rupanya sudah lima bulan ini mereka tidak mencicil pinjaman tersebut. Penagihan melalui telepon sudah dilakukan tapi menurut pihak bank suamiku dan adikknya tidak bisa dihubungi. Sesuai perjanjian dengan bank, bila dalam tempo lima bulan menunggak maka bank berhak menyita aset sesuai agunan dari pihak peminjam. Apapun alasannya suamiku sudah membuat bapak menjadi seperti ini. Urusan dengan pihak bank dapat aku atasi dengan kembali meminjam di bank ibaratnya gali lobang tutup lobang. Namun akibat dari peristiwa itu bapak harus masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya. Aku benar-benar sedih, selain terluka hatiku karena suamiku menggadaikan satu-satunya harta kami yang berharga juga akulah penyebab bapak sakit. Semenjak itu berulang kali bapak keluar masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama yaitu
Seni Asiati Basin | 139 jantung. Beberapa rumah sakit sudah menjadi langganan bapak hingga suatu ketika bapak harus masuk ICU. Rumah sakit pertama yang jadi rumah sakit untuk pertolongan pertama bapak menyarankan ke rumah sakit jantung nasional. Selain itu rumah sakit ini menerima asuransi yang dimiliki bapak. Bapak memang tak menyusahkan kami anak-anaknya bila masuk rumah sakit. Bapak punya asuransi sehingga tagihan pengobatan bapak dapat dibayar dari asuransi tersebut. Namun demikian tetap saja jadi pikiranku dan adik-adik. Aku merasa bapak pasti memikirkan aku dan anak-anakku dengan utang yang suamiku buat. Aku sudah katakan pada bapak kalau kami bisa hidup walau dengan sedikit penghasilan yang kami punya. Anakku Ray dekat sekali dengan kakeknya. Ray selalu menemani bapak di rumah sakit sepulang sekolah. Sesekali bergantian dengan keponakanku yang lain. Ray selalu datang dengan cerita-cerita yang lucu juga cerita yang membesarkan hati bapak tentang cita-cita menjadi polisi pengganti bapak. Sejak saat itu penilaian bapak terhadap suamiku berbeda. Bahkan cerita dan sikap kepada ayah anak-anakku semakin menjaga jarak. Bagi bapak kesalahan itu merupakan kesalahan yang
140 | Malaikat Pemberi Jiwa cukup memalukan. Untungnya sikap bapak dan tabiat bapak tetap sama ceria. Bapak sering menggoda suster kalau dirasa hatinya senang. Namun, aktivitas bapak sudah tak sama harus dibatasi, itu menurut dokter. Jantung bapak tidak boleh dipaksa untuk bekerja ekstra terutama berbicara banyak. Padahal bapak senang sekali bercerita. Bapak harus pasang ring di jantungnya upaya pencegahan mengurangi penyumbatan di jantungnya. Aku memang sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Seandainya si Mbak tidak pulang tentu bukan bapak yang mendengar berita rumahku yang tergadai dan jantung bapak akan baik-baik saja. Aku tahu semua ini memang harus terjadi sebagai pelajaran berharga buat kami agar hati-hati melangkah. Sejak itu beberapa kali bapak keluar masuk rumah sakit. Jantung bapak semakin bermasalah. Semua gara-gara pinjaman sialan yang tak berujung. Andai waktu bisa kuputar rasanya ingin aku bilang mengapa tak ada kompromi.
Seni Asiati Basin | 141 Kemana Bapak? agi itu aku masih di sekolah dan sedang menjalani tugas sebagai pengajar ketika suara mamah di telepon membuatku tersentak. “Ri, dimana?” suara mamah terdengar lirih di telepon. “Nuri di sekolah, Ma ada apa? Tanyaku. “Bapak pergi.” kata mamah. Dua kata yang mampu membuatku tersentak. Pasti ada yang terjadi yang menyebabkan bapak pergi. Sudah seminggu ini memang suasana memanas di rumah mamah. Penyebabnya apalagi kalau bukan gara-gara pengasuhan cucunya yang berbeda. Keponakanku Rendi dan Fajar anak kakakku Susi, semenjak kecil tinggal dengan orang tuaku. Hanya waktu Rendi yang bermasalah ketika bersekolah di SMK harus menyingkir ke rumah ibunya di Cikampek. Rendi adalah cucu kedua orang tuaku dan anak kedua kakakku. Ayahnya meninggalkan kakakku sewaktu Rendi berusia dua bulan. Kejadian itu menyebabkan kakakku harus bercerai. Sebenarnya gara-gara yang sangat sepele P
142 | Malaikat Pemberi Jiwa saja. Cerita bapak padaku kalau suami kakakku yang bekerja di perusahaan tempat bapak juga bekerja menjadi koordinator demo buruh. Waktu itu bapak setelah pensiun bekerja kembali menjadi kepala personalia. Bapak menyampaikan kebijakan pimpinan perusahaan pada buruh di pabrik. Rupanya para buruh dikomandoi suami kakakku melakukan unjuk rasa terusik menerima kebijakan itu. Tentu saja bapak tidak terima dengan perbuatan menantunya ini apalagi suami kakakku ini bekerja karena bapak yang memasukkannya di pabrik itu. Bapak dan kakak iparku itu bertengkar hebat. Kakak iparku mengancam akan meninggalkan kakakku. Tentu saja bapak semakin berang. Bapak mengusir kakak iparku dari pabrik dan dari rumah. “Silakan pergi, bawa istri dan anakmu kalau kamu merasa mampu.” Kata-kata bapak menohok kakakku yang terdiam. Maksud perkataan bapak yang tegas itu ingin menekankan bahwa kakak iparku harus membawa istri dan anaknya dan berusaha mencari pekerjaan sendiri. Selama ini yang aku tahu walaupun sudah berumah tangga, kakak iparku selalu bergantung dengan orang tuaku. Pekerjaan selalu dicarikan bapak. Bagus juga sebenarnya biar kakak iparku itu berusaha sendiri jangan tergantung orang.