Seni Asiati Basin | 143 Maksud bapak ditanggapi berbeda oleh kakak iparku. Hari itu kakak iparku pergi dan meninggalkan istri serta kedua anaknya. Kakakku yang baru melahirkan anak keduanya dua bulan yang lalu yaitu Rendi tentu saja tidak mau berspekulasi ikut dengan suaminya yang tidak memiliki pekerjaan. Selain kondisi tubuhnya yang belum sehat pasca melahirkan juga karena mamahku menangis sambil mengendong Rendi agar kakakku tinggal tidak usah ikut suaminya. “Sus, jangan ikut yah kasihan anak-anak mau makan apa kalau bapaknya tidak bekerja. Lihat Rendi dan Fajar masih butuh susu darimana nanti beli semua keperluan anak kamu. Di sini semua keperluan kamu dan anak kamu disediakan bapak.” Kata mamah membujuk kakakku yang juga bingung memutuskan jalan hidup yang akan dia lalui. Waktu itu aku belum mengerti, aku belum berumah tangga. Aku sayang dengan kedua keponakanku yang wajahnya mewarisi wajah keluarga kami berkulit putih dan tampan. “Susi bingung Ma, ikut suami terancam gak makan, ikut dengan Bapak dan Mamah di sini berarti Susi durhaka sama suami.” Tangis kakakku pecah saat itu. Akhirnya keputusan terbaik yang diambil kakakku adalah tinggal bersama orang tuaku. Keputusan yang membuat lega bapak dan mamah
144 | Malaikat Pemberi Jiwa juga kami adik-adiknya. Tak bisa kami bayangkan bagaimana kehidupan kakakku bersama anakanaknya jika pergi bersama suaminya. Bisa saja kehidupan mereka baik atau malah terlantar hanya Tuhan yang tahu garis hidup seseorang. Semenjak ditinggal suaminya kakakku mengasuh kedua anaknya dibantu mamah. Ketika kedua anaknya besar dan dapat ditinggal Susi bekerja di sebuah perusahaan kosmetik di Jakarta juga. Kabar yang kami dengar suami Susi atau ayah Fajar dan Rendi sudah menikah lagi di Bogor. Kata bapak sudah bukan urusan kita lagi. Toh kedua anaknya tidak pernah sepeserpun menerima uang dari bapaknya. Kakakku sendiri sudah menikah lagi dengan seorang pemuda yang mau menerimanya sebagai seorang janda dengan dua anak kemudian tinggal di Cikampek. Kata kakakku meninggalkan cerita masa lalu di Jakarta dan membuka lembaran baru di Cikampek Bapakku memang keras dalam mendidik anak dan cucunya. Salat lima waktu dan tepat waktu selalu diajarkan oleh bapak. Hal ini berkalikali ditekankan bapak karena anak-anak dan cucunya selalu malas mengerjakan yang lima waktu. Apalagi kakakku Susi entah apa yang ada dipikirannya untuk melaksanakan perintah Yang Maha Kuasa saja susah sekali. Padahal dari kecil
Seni Asiati Basin | 145 bapak dan mamah selalu mengajarkan keutamaan menjalankan perintah-Nya. “Salat itu kewajiban muslim dan membuka rezeki kita.” Kata-kata bapak yang selalu aku ingat. Sifat dan karakter Rendi memang berbeda dengan semua cucu orang tuaku. Rendi jarang bergaul dan berkumpul dengan semua saudarasaudaranya. Bahkan dengan kakaknya saja Fajar kurang akur. Ada saja yang jadi pertengkaran “Bapak kemana Mah.” Tanyaku pagi itu, Persoalan ini semakin ruwet kalau bapak sampai pergi dan tak ada yang tahu. “Kalau mamah tahu gak telepon Nuri.” Wajah mamah tertunduk sedih. Aku tahu mamah menyesal atas kepergian bapak. “Maksud Nuri, bapak pergi pasti ada sebabnya kan?” kataku lagi. Sebenarnya aku sudah tahu pasti karena ulah Rendi bapak pergi. “Mamah hanya bilang, bapak kalau marahmarah jangan terus saja menyalahkan Rendi.” Mulailah mamah bercerita asal mula bapak sampai pergi meninggalkan rumah. Benar saja tebakanku ini semua karena Rendi. Sudah satu minggu ini Rendi selalu pulang malam bahkan sampai pagi. Semua nasihat bapak tidak mempan. Bahkan kakaknya Fajar yang menegurnya diajak bertengkar dan sampai melakukan kekerasan fisik. Hari itu rupanya puncak kekesalan bapak karena
146 | Malaikat Pemberi Jiwa Rendi pulang pagi. Tidak itu saja pintu rumah tidak dikuncinya. Amarah bapak tidak sampai disitu saja Rendi yang dimarahi malah melawan. Hampir saja melayang tangan bapak sebelum mamah melerai. “Sudah sih pak, marah terus tidak bisa apa bicara baik-baik dengan Rendi. Sudah tua juga masih saja senang marah.” Kata mamah “Kamu tahu apa, ini rumah saya, harus tahu aturan yang saya terapkan. Selama ini sudah sering saya nasihati, lihat mana didengar dengan cucu kesayanganmu itu, belum juga punya rumah sendiri masih menumpang seenaknya!” suara bapak memecahkan suasana yang semakin memanas. Mamah yang mendengar kata-kata bapak menjadi berang. Mamah menganggap bapak menyindir mamah yang juga ikut menumpang di rumah itu. Perkataan bapak ini membuat suasana hati mamah yang tadinya sudah sedih semakin menjadi-jadi. Keluarlah kata-kata yang semestinya tidak dikeluarkan mamah. “Aku memang hanya lulusan SD tidak sekolah hanya menumpang gak bisa cari uang hanya bisa menghabiskan uang suami.” Mamah membanting pintu kamar dan menangis di kamar. Bapak yang melihat kelakuan mamah dan merasa
Seni Asiati Basin | 147 tidak ada kata-kata yang salah menjadi kesal bukan main. “Oh semua orang di rumah ini sudah berani melawan saya yah, mentang-mentang saya sudah pensiun tidak ada lagi yang menghargai saya.” Bapak semakin marah. Cerita selanjutnya sudah bisa diterka. Bapak pergi membawa tas kecil yang selalu ia bawa kalau menginap di rumahku. Bapak pergi tanpa memberitahu mamah hendak kemana ia. Iyalah kalau bilang-bilang mamah pasti tidak khawatir seperti sekarang. “Mamah kan hanya bilang seperti itu Nuri. Memang mamah menumpang kok selama ini.” Suara mamah tercekat memendam tangis. “Iya, Mah tapi tidak usahlah mamah mengeluarkan kata-kata seperti itu. Suasana hati bapak sedang tidak bagus.” Kataku lagi. “Jadi Nuri juga menyalahkan mamah, Nuri pikir selama ini mamah hanya menumpang saja. Darimana uang buat kalian kuliah kalau bukan mamah jualan nasi di warung. Mamah juga tahu diri biarpun hanya tamatan SD.” Waduh kok malah melebar kemana-mana sih. Aku dan adik-adikku memang terbantu dengan usaha warung nasi mamah. Kami menghargai mamah yang sudah berjuang untuk kami agar bisa mendapat pendidikan yang layak.
148 | Malaikat Pemberi Jiwa Kata mamah kalau mengandalkan gaji dari bapak tidak cukup. Rutinitas mamah selama berjualan luar biasa hebatnya. Pukul 3 pagi aktivitas mamah sudah dimulai. Mamah sudah ke pasar untuk berbelanja keperluan warung nasi. Pulang ke rumah waktu subuh dan mulailah memasak semua makanan siap saji yang akan dijual di warung nasi. “Mamah yang baik,Nuri tidak menyalahkan Mamah. Nuri hanya menyayangkan gara-gara perkataan itu saja bapak dan mamah sampai bertengkar. Satu lagi ini gara-gara Rendi jugakan?” Mamah hanya terdiam saja kali ini, mamah benar-benar menangis. Aku tak tahu mamah menangis karena bapak pergi atau karena katakataku yang mengena yah? “Mamah tahu mamah salah, tapi harusnya bapak jangan bilang begitu dong. MENUMPANG, Rendi juga gak tahu diri sudah MENUMPANG masih melawan terus.” Mamahku menangis. Kalau sudah begini jangan harap kita memberikan pendapat atau ikut bicara masalah ini. Seperti yang sudah-sudah apapun perkataan anak-anaknya mamah tidak akan mau disalahkan. Padahal aku dan adikku tidak menyalahkan hanya ingin meluruskan bahwa penyelesaian masalah ini disikapi dengan kepala dingin. “Awan, cepat ke rumah bapak yah.” Kutelepon adik bungsuku yang tinggal di daerah
Seni Asiati Basin | 149 lain tapi masih di Jakarta. Semenjak menikah Awan tinggal di rumah orang tua istrinya. Istri Awan adalah anak bungsu dan kedua kakaknya sudah menikah dan tinggal di rumah masingmasing sehingga rumah orang tua istri Awan tidak ada yang mendiami. Orang tua istri awan sendiri sudah lama meninggal dunia. “Ada apa sih?” tanya Awan, “Sudah ke rumah dulu kita bicarakan untuk cari bapak.” Jawabku yang tentu saja membuat Awan bingung. “Bapak kenapa kok dicari? Bapak hilang?” pertanyaan Awan kusambut dengan menutup telepon. Kemana yah bapak? Semua tempat yang biasa disinggahi bapak dan orang-orang yang mungkin akan bapak datangi sudah aku telepon. Semua menjawab kalau bapak tidak ada di rumah mereka. Kakakku yang di Cikampek, adik sepupu bapak yang di Halim, keponakan bapak di Depok sudah aku telepon. Aku belum mendatangi kediaman mereka sih hanya melalui telepon, masa mereka akan membohongiku. Apalagi aku katakan pada mereka kalau mamah menangis terus memikirkan bapak. Padahal mamah menangis karena mengingat perkataan bapak yang menyakiti hatinya. Hanya satu kata sih “menumpang” dan aku sudah bilang pada mamah bahwa kata
150 | Malaikat Pemberi Jiwa tersebut untuk Rendi. Eh malah aku dituduh mamah membela bapak dan tidak berempati pada mamah. Hari itu mamah ditemani Awan dan istrinya di rumah. Rendi sendiri tidak pulang ke rumah. Kelakuannya memang membuat jengkel seisi rumah. Adikku mencari keberadaan Rendi yang ternyata malah menikmati hari-harinya di sebuah warnet. Rendi tidak tahu akibat perbuatannya berimbas pada kakeknya yang sudah dua hari ini belum pulang. Mamah diam saja tak banyak bicara bahkan makan pun tidak banyak. Aku dan adikadikku khawatir dengan bapak juga mamah. Susahnya menjaga perasaan orang tua. Sore itu ketika aku masih mengajar di kelas ponselku berbunyi. Nomor telepon yang tidak ada di daftar kontakku. Mulanya aku tak mau mengangkat takut telepon yang salah sambung. Untung keinginan itu mengalahkan keingitahuanku, siapa tahu dari bapak atau orang yang menolong bapak. “Halo dengan siapa ini?” tanyaku. Terdengar suara orang berdebat di telepon dan suara itu sangat aku kenal. “Ini Nuri yah?” ujar suara di telepon. “Iya ini dengan siapa? Tanyaku dengan harap-harap cemas.
Seni Asiati Basin | 151 “Ini Kak Dadi, Ri.” Jawab suara di seberang telepon. Dadi adalah kakak sepupuku. Ayahnya kakak pertama bapakku. Kak Dadi tinggal di Tangerang dan aku tidak tahu tepatnya di daerah mana rumah kak Dadi. Kami jarang berhubungan dengan Kak Dadi. Aku memang mendengar kalau Kak Dadi yang sewaktu muda dulu tinggal bersama kami sekarang sudah menetap di Tangerang dan menjadi supir ojek. Bapak sudah beberapa kali mengajakku silaturahmi ke rumah Kak Dadi, tapi itulah ada saja kesibukanku yang melanda. “Ada apa kak, tumben menelepon?”tanyaku. Aku berharap ada berita gembira yang akan disampaikan Kak Dadi. “Bapak ada di rumah saya sudah dua hari.” Tak sadar aku menjerit gembira dan mengucap syukur karena keberadaan bapak sudah jelas ada dimana. “Terus sekarang bapak ada di dekat Kak Dadi kan?” aku tak sabar ingin mendengar suara bapak karena aku tahu tadi itu suara bapak di dekat Kak Dadi. Aku ingin bicara dengan bapak menanyakan kabar dan kesehatannya. “Ri.” Suara bapak memanggilku singkat. Walaupun singkat rasanya panggilan bapak sudah membuatku melayang terbang gembira sekali. Bapak sehat!
152 | Malaikat Pemberi Jiwa “Bapak!” seruku segera. “Bapak sehat, bagaimana keadaan Bapak? Sedang apa Bapak sekarang? Sudah makan belum?” pertanyaanku berbondong-bondong keluar. “Walah Ri, tanya kok borongan hahahahaha.” Suara tawa bapak yang sudah dua hari hilang terdengar merdu sekali. Tawa yang sungguh sangat kurindukan, kalau ingat bapak tertawa sambil memamerkan gigi depannya yang sudah tanggal. Belum lagi alisnya yang hampir memutih naik turun. Alis bapak sama dengan alisku tebal kata orang seperti semut beriring. Banyak cerita bapak di telepon sore itu. Bapak menanyakan rumah, menanyakan mamah dan tentu saja menanyakan semua cucunya. Aku dapat membayangkan kerinduan bapak karena berpisah dengan semua cucunya walaupun baru dua hari. “Ternyata bapak kalah yah Ri.” Kata bapak lagi. “Kalah kenapa Pak?” tanyaku bingung “Bapak gak bisa pisah dengan kalian terutama semua cucu bapak. Hidup bapak itu semangat, sehat, dan bahagia kalau kumpul dengan kalian.” Kata-kata bapak membuatku tak terasa meneteskan air mata. Peristiwa itu terlihat oleh anak muridku di kelas. Yah aku masih mengajar di kelas ketika Kak dadi menelepon.
Seni Asiati Basin | 153 “Bapak gak kalah Pak, di sini gak ada yang menang atau kalah.” Kataku sambil menyeka air mata. Aku habiskan obrolanku dengan bapak dan permintaan bapak agar aku tak mengatakan pada mamah kalau bapak ada di rumah Kak Dadi. Besok pagi bapak minta dijemput dan menjadi kejutan terindah buat mamah. Aku pesan pada bapak agar tidak lagi bertengkar dengan mamah untuk halhal sepele yang bisa diselesaikan bersama. Kepergian bapak dua hari sudah menimbulkan luka di hati bapak dan tentu saja mamah. Aku tahu banyak yang belum aku berikan pada mereka berdua. Kasih sayang tulus yang dilimpahkan mereka untuk merawatku kemudian merawat cucu-cucunya merupakan harga yang tak ternilai. Pagi itu aku izin tidak mengajar dan menjemput bapak di rumah Kak Dadi. Rupanya di rumah Kak Dadi sudah membuat bapak menyadari kesalahannya dan kerinduannya pada kami. Pagi itu masih sepi. Jalanan belum banyak lalu lalang kendaraan. Aku bersama Ray menjemput bapak. Semalaman Ray tidak bisa tidur memikirkan pertemuan hari ini dengan bapak. Kata Ray sepi tidak ada Nek Anang. Walau bapak sering marah, tapi cerita-cerita bapak mampu membangkitkan kerinduan terhadap sosok seorang kapten polisi
154 | Malaikat Pemberi Jiwa yang ramah. Aku sudah mengemudikan mobil selama dua jam untuk sampai ke rumah Kak Dadi. Aku sudah membayangkan pelukan hangat bapak jika aku tiba nanti di rumah Kak Dadi. Untungnya jalan yang kami lalui masih sepi belum banyak lalu lalang kendaraan. Alamat dan rute yang harus aku lewati benar-benar jelas dan dapat menuntun mobilku kesana. “Gimana sih, lama amat kalau bangun jangan kesiangan jadi habis sallat Subuh bisa langsung jalan. Kalau sudah siang begini lihat panas, belum lagi macet.” Berderet kata-kata bapak begitu mobilku sampai rumah kak dadi. “Bapakkkkk!” gerutuku. Bukan pelukan yang kuterima tapi ceramah bapak yang luar biasa panjang.
Seni Asiati Basin | 155 Pulang Kampung uangan serba putih itu dengan tirai hijaunya adalah tempat keluargaku berkumpul. Pendingin ruangan yang mampu menghalau bakteri, tak mampu menghalau resah dan risau dari kerut wajah mamah dan keluargaku. Siang itu pakaian yang dikenakan bapak juga hijau, sama dengan penghuni kamar lainnya. Bapak sudah tiga hari menempati ruangan kecil itu sendiri hanya ditemani alata-alat yang menempel di tubuhnya. Rasanya sedih melihat bapak hanya berteman dengan semua alat itu. “Nuri, lebaran nanti kita pulang kampung yah.” Suara bapak pelan hampir berbisik, tetapi telinggaku serasa mendengar pengumuman dari ujung mikrofon jelas dan menggelegar. “Apa Pak?” tanyaku untuk memastikan apa yang kudengar. Aku ingin memastikan apa kali ini bapak sedang dalam taraf bergurau tingkat dewa. Duh, semoga hanya fatamorgana. Hari ini jadwalku menjaga bapak. Kupandangi semua peralatan medis yang menempel di tubuh bapak. Lebaran memang R
156 | Malaikat Pemberi Jiwa masih lama masih tiga bulan lagi. Puasa Ramadhan saja belum kami jalani. Sebenarnya bukan masalah pulang kampung. Bapak masih terbaring lemah di ruangan kecil itu, orang-orang menyebutnya ICCU. Ruangan ini setingkat lebih rendah dari ICU atau lebih mengkhawatirkan kalau bapak harus ditangani di ICU. Pasien yang menenpati kamar ini memiliki tingkat penyakit yang cukup mengkhawatirkan bukan lebih mengkhawatirkan. Ibarat hotel kamar bapak bintang empat belum semahal bintang lima dan bapak ada di ruang itu sudah tiga hari. Bapak memintaku lebih mendekat kali ini tanganku digenggam erat oleh bapak. Hidung bapak yang masih dibantu oksigen dan peralatan medisnya yang begitu banyak,membuatku harus berhati-hati mendekat. “Lebaran kita pulang yah, Nak.” Jleeeep banget deh kali ini. Kutatap bapak ingin melihat kesungguhan ucapannya. “Iya Pak, sekarang Bapak harus semangat, Bapak harus sembuh dulu yah.” Aku tak bisa menjanjikan apakah bapak akan bisa sampai kampung halamannya atau tidak dengan kondisi seperti ini. Aku lihat mamah yang duduk di samping temnpat ridur bapak ingin protes dengan perkataan bapak. Aku kedipkan mata sebagai tanda bukan saatnya Mah.
Seni Asiati Basin | 157 “Harusnya tadi Nuri bilang, memang jantungnya bisa diajak jalan jauh. Jangan suka menjanjikan bapak gak bisa dijanjikan, kayak gak tahu bapaknya aja.” Sepanjang jalan pulang dari rumah sakit mamahku mengerutu. Mamah benar, jantung bapak akan digunakan untuk melakukan kerja yang hebat. Perjalanan jauh, euforia bertemu kerabat yang tentunya dilanjutkan dengan bincang-bincang hangat yang tak pernah putus hal itu akan memaksa kerja jantung bapak lebih ekstra. Kampung halaman bapak terletak di sebuah dusun kecil di kabupaten Lahat Sumatera Selatan. Transportasi ke kampung agak sulit kalau musim penghujan. Jalan yang harus dilalui masih tanah liat yang dapat membolak-balik roda motor maupun mobil. Transportasi lain adalah perahu motor yang biasa digunakan oleh warga dusun untuk beraktivitas ke kota membawa hasil kebun. Mereka memanfaatkan Sungai Pangi sebuah sungai yang melingkari dusun bapak. Perahu motor ini praktis selain waktu tempuh yang cepat juga akses ke dusun mudah ditempuh. Akan tetapi, kalau musim kemarau akses ini tak bisa dilalui karena tak ada air yang melajukan perahu motor itu. Seperti kebanyakan kampung –kampung di Sumatera Selatan, rumah nenekku berada di salah satu anak Sungai Musi. Zaman dahulu nenek
158 | Malaikat Pemberi Jiwa moyang kami memperhitungkan pemilihan pendirian kampung dengan saksama. Kata bapak selain memudahkan transportasi melalui sungai juga kebutuhan akan air dapat terpenuhi dibandingkan kalau mereka harus menggali sumur. Sunggai tidak pernah kering selalu ada airnya. Tapi itu dulu ketika hutan-hutan belum ditebang untuk pembukaan ladang-ladang para transmigran. Kini sungai di kampung bapak kering bila musim kemarau. Bahkan dapat dilalui dengan berjalan kaki di tengah sungai. Kalau sudah seperti ini biasanya warga kampung mengambil air hingga ke hulu sungai bahkan tak jarang bergotong royong menggali sumur untuk keperluan air warga satu kampung, sehingga banyak sumur yang cukup dalam bertebaran di sekitar rumah warga. Sumur itu ada airnya tapi warga lebih senang melakukan aktivitas mencuci, mandi, dan buang hajat di sungai. Hal itu dilakukan karena dalamnya dasar sumur sehingga untuk menggambil air diperlukan tali panjang yang diikatkan di ember pengambil air. Waktu untuk menarik juga lama walaupun sudah dibantu dengan alat penggerek yang ada. Biasanya air yang bisa terambil juga hanya sedikit. Maka tak heran sumur-sumur warga hanya digunakan apabila musim kemarau melanda dusun. Kalau musim kemarau warga dusun hanya mandi satu kali sehari bahkan tidak mandi bisa
Seni Asiati Basin | 159 satu hingga dua hari. Mereka akan mengalah dengan ternak dan kebutuhan lain, seperti memasak dan mencuci piring. Rencana bapak pulang kampung jadi isu hangat di keluarga besarku. Semua ragu selain kesehatan bapak yang utama, juga keuangan anakanak bapak. Yah keuangan kami, anak-anak bapak yang memang belum siap. Harusnya rencana pulang kampung setelah aku menunaikan ibadah haji. Itu berarti masih dua tahun lagi kalau estimasi keberangkatanku tidak tertunda. Keinginan bapak terus menjadi perbincangan kami di sela-sela menjenguk bapak. “Kayaknya gak bisa deh Ri,” kata adikku Tita hari itu, kami berkumpul di rumah sakit. Hari ini berarti sudah empat hari bapak menempati ruang ICCU, dokter belum mengijinkan untuk pindah ke ruang perawatan. Kata dokter jantung bapak belum stabil. “Pikirkan deh, ini keinginan bapak.” Jawabku pada Tita yang meragukan keinginan bapak pulang kampung. “Yah, gini aja deh Ri, lihat dong alat-alat di badan bapak, ingat bapak masih sakit, sekarang aja masih di ICCU, terus mau kita paksakan bapak pulang kampung yang waktu tempuh ke sana bisa 12 jam, walaupun naik pesawat.” Tita mengemukakan alasan keberatannya.
160 | Malaikat Pemberi Jiwa Aku benar-benar tidak tahu mau bilang apa. Keinginan bapak memang tidak muluk-muluk. Bahkan waktu bapak sehat dan kami ngobrol di rumah dan aku berkhayal seandainya aku punya uang maukah bapak pergi umroh bersamaku. Perbincangan itu sungguh aku ingat karena bapak tak punya keinginan lain selain pulang kampung. “Bapak sudah pernah melihat dan menjejakkan kaki ke Tanah Haram, bila masih ada waktu, bapak ingin mengajak kalian pulang kampung dengan semua cucu-cucu bapak.” Keinginan bapak yang selalu diutarakan padaku. Bapak selalu punya diksi yang pas jika diminta untuk komentar. Bapak juga yang tahu kalau tulisanku itu bagus dan menyuruhnya ikut lomba. Seperti biasa doa bapak untukku tak pernah muluk-muluk. “Pak, doakan Nuri yah mau lomba nih.” Kataku pagi itu minta doa restu bapak karena aku akan mengirim tulisanku dalam lomba karya tulis. Seperti biasanya bapak akan berkata,” Kamu pasti bisa” bukan “Kamu pasti menang.” Kalimat itu selalu diulang setiap aku ikut lomba. Pernah aku tanyakan mengapa bukan “Kamu pasti menang.” Jawaban bapak sungguh menusuk jantungku membuatku malu karena sudah sombong.
Seni Asiati Basin | 161 “Kok, jawaban Bapak pasti bisa aja sih, doakan menang dong biar kalau menang uangnya bisa buat umroh. Nanti kita umroh bareng yah Pak,” kataku pada bapak. Hadiah lomba kali ini memang cukup besar bisa umroh berdua. “Nuri, sebuah kemenangan yang dibebankan ke pundakmu, malah akan menjadi kamu lelah karena merasa yakin menang. Kamu akan berusaha sekuat tenaga tidak memperhitungkan apa saja bahkan yang logis sekalipun,” bapak menasihatiku kala aku tanyakan kalimat itu. Menurut bapak lagi cukup, “Kamu pasti bisa” dapat memotivasi diri untuk lebih baik. Perkara menang itu bonus, kata bapak. Pada akhirnya aku tahu bapak mengajarkan aku agar tidak terlena dan jumawa. Bapak mengajarkanku untuk selalu tahu diri jangan memaksakan diri. Bonus dari tahu diri pastinya indah. “Bapak mau pulang kampung. Mekah sudah pernah bapak lihat, cukup sekali saja. Itu kewajiban muslim, biar rukun Islamnya lengkap.” Bapak menjawab dengan tersenyum. Akhirnya memang aku tak dapat mengajak bapak umroh hingga akhir hayat bapak. Akhirnya rencana besar untuk pulang kampung pun aku matangkan dan rundingkan bersama kedua adikku Tita dan Awan. Kakakku
162 | Malaikat Pemberi Jiwa Susi tidak kami libatkan. Aku dan kedua adikku tahu, kakakku Susi pastinya tidak bisa secara materi. Susi ditugaskan menjaga rumah orang tuaku selama kami pulang kampung. Bukan karena Susi tidak bisa menyumbang materi maka ia tidak kami ajak tapi lebih baik Susi di Jakarta saja karena Susi juga tak bisa naik kendaraan jauh. “Aku gak ikut yah.” Kata Susi waktu aku utarakan keinginan bapak pulang kampung. “Kenapa gak ikut?” tanyaku. “Kalau biaya gak usah dipikirkan, semua tahu keadaan kak Susi.” Kataku di ujung telepon. Aku harus mengabarkan rencana pulang kampung walau kakakku ini jarang kami libatkan untuk diskusi. Susi harus tahu karena ia anak bapak dan mamah juga. “Aku gak bisa lama-lama di mobil, ntar mabuk gimana?” Jawaban Susi memang masuk akal. Selama ini Susi selalu tidak ikut acara kami. Bukan karena tak mau tapi karena badannya yang ringkih sering sakit. Susi dan anaknya Bagas dari suaminya yang sekarang selalu mabuk bila naik kendaraan. Hal berbeda justru pada anak Susi dari suami terdahulu Fajar dan Rendi yang selalu semangat pergi menggunakan kendaraan bahkan kendaraan umum juga. Diputuskanlah kalau bapak akan naik pesawat dan bersamaku. Mengapa bukan dengan
Seni Asiati Basin | 163 mamah? Yah, mamah tidak ikut naik pesawat bukan karena bapak lebih percaya padaku untuk menjaganya bukan karena itu. Mamah akan berziarah dulu di makam orang tuanya atau nenek dan kakekku. Letak makam kedua orang yang kami cintai itu ada di dusun yang tak dilewati bila naik pesawat dan menuju dusun bapak. Tempat kedua orang tua mamah hanya bisa dilalui dengan kendaraan pribadi. Makam kedua orang tua mamah ketika menyeberang dari pulau Jawa ke pulau Sumatera akan dilewati. Bila mamah naik pesawat, tempat ini tidak dilewati. Hasil rembukan ini pasti akan buat bapak senang. Berita gembira tentang rencana pulang kampung, aku sampaikan pada bapak. Suasana ruangan bapak di rumah sakit menjadi cerah. Wajah bapak berseri-seri, senyum terkulum di sudut bibirnya. Mata bapak menahan butiran kristal, aku tahu bapak tak sabar ingin pulang kampung. Bapak pasti rindu, atau ini pertanda saatnya bapak pulang. Ah, singkirkan Nuri. “Nuri sudah atur semuakan?” tanya bapak memastikan rencana pulang kampung nanti. “Pokoknya beres Kapten, siap tempur deh!” kataku sambil memeluk bapak. Ah, kebahagian terbesar yang indah hanya untuk bapak. Bapak sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Kepastian pulang kampung dapat
164 | Malaikat Pemberi Jiwa memompa semangat bapak untuk sembuh. Jantungnya sudah stabil. Bahkan bapak sudah sering berkelakar dengan beberapa perawat yang memeriksanya. Masa-masa kritisnya sudah berlalu. Berita yang menjadi trending topik di keluargaku kalau bapak sudah dipindahkan ke ruang perawatan membawa perasaan lega. Biasanya setelah dari ruang perawatan satu atau dua hari kemudian bapak boleh pulang. Semangat untuk sembuh pada diri bapak memang luar biasa. Ini pasti karena ‘Balek Kampung.’ Mulailah aku browsing mencari tiket pesawat tentunya dengan harga yang terjangkau. Hasil rundingan dengan bapak dan mamah, kami akan pulang kampung sehari setelah Idul Fitri atau 2 Syawal. Selain lalu lintas sudah tidak begitu padat, juga kami bisa silaturahmi lebih dahulu dengan tetangga di sekitar. Bapak hanya mau naik maskapai penerbangan kepunyaan pemerintah yang kredibilitasnya teruji. Katanya biar tidak menyusahkan dan ga di delay. Bersyukurnya dua minggu sebelum hari keberangkatan aku dapat tiket dengan harga yang masih bisa terjangkau kantongku. Berita tiket menjadi kabar gembira yang kembali jadi santapan sejuk di keluargaku. Senangnya bapak sepulang mengajar kusodorkan
Seni Asiati Basin | 165 tiket pulang kampung naik pesawat yang diinginkannya. “Pak, ini tiket sudah didapat, kita pulang kampung nih,” aku berikan tiket pada bapak untuk disimpan sampai hari keberangakatan kami. “Tiket pulangnya mana?” bapak malah bertanya tiket lain. Sengaja tidak aku berikan. Kali ini aku menggoda bapak. “Wah kalau pulang, nanti aja yah Pak, perjalanan ke kampung tuh jauh, masa bapak mau pulang buru-buru.” Aku tersenyum menggoda bapak. Aku putuskan akan membeli tiket pulang di Palembang Wajah bapak terlihat ceria. Senangnya bisa membuat bapak melupakan penyakitnya dan bahagia seperti ini.Terbayarlah semua lelah, penat, bobol kantong. karena kocek berkurang untuk mewujudkan semua keinginan bapak (apapun untuk bapak). Masih terbayang bagaimana bapak di ruang ICCU, malah aku sempat berpikir tak akan bertemu bapak. . Menunggu waktu pulang kampung, rasanya lama sekali buat Bapak. Setiap hari Bapak menunggu sambil selalu bercerita dengan semua cucunya tentang masa kecilnya di kampung tercinta. Sepanjang Ramadhan cerita kami sekeluarga adalah "PULKAM". ******
166 | Malaikat Pemberi Jiwa “Nanti Bang kalau di kampung Nek Anang, ada sungai, namanya Sungai Pangi.” Bapak terlihat asyik bercerita dengan anakku Naldi. “Airnya jernih gak, Nang?” tanya anakku. Rasa penasarannya tentang sungai yang mengaliri dan menghidupi warga dusun kakeknya. Aku sendiri mengenal dari dekat Sungai Pangi atau melihat Sungai Pangi baru satu kali itupun sudah lama sekali. Waktu itu aku masih berusia 12 tahun. Bapak mengajak kami pulang kampung. Ketika pulang kampung itulah, aku mandi di Sungai Pangi. Dulu airnya jernih hingga dasar sungai terlihat jelas. Sungai itu berarus deras hanya di tepi sungai airnya melambat karena warga menahannya dengan beberapa batang kayu dan ada gundukan pasir yang menahan laju sungai. “Wah air di Sungai Pangi deras dan jernih.” Jawab bapakku dengan mata berbinar. Aku yakin pikiran bapak sudah sampai ke dusun, ke kampung halamannya yang mengalir Sungai Pangi. “Boleh mandi Nang?” tanya anakku lagi. “Bolehlah, kalau gak boleh orang dusun mandi, mencuci, dan buang hajat dimana?” jawaban bapakku membuat anakku terkejut. “Buang hajat? Kok boleh?” anakku rupanya penasaran bagaimana warga dusun memanfaatkan begitu banyak aktivitas di Sungai Pangi.
Seni Asiati Basin | 167 “Bolehlah, bahkan orang dusun yang punya kerbau, yah memandikan kerbau di sungai juga.” Penjelasan bapak membuat anakku bergidik jijik. “Ah, gak mau mandi di sungai kalau ada yang buang hajat.” Kata anakku sambil memeluk kakeknya. Suasana seperti ini membuat rindu bila masa itu tiba. Ah, aku tak mau mengandaikan. Kemarin saja beberapa kali bapak anfal dan harus berhari-hari menginap di rumah sakit. Kami sudah pasrah apalagi melihat semua alat terpasang di badan bapak. Mamah, aku, dan semua saudaraku sudah mengikhlaskan, tapi takdir Allah belum waktunya menjemput bapak. Setelah berjuang dengan maut, bapak sehat kembali. ******* Akhirnya penantian panjang pun usai sudah. Hari pertama lebaran Idul Fitri, rombongan pertama yang menggunakan dua mobil berangkat hari itu pagi itu seusai sholat Ied dan bermaafmaafan dengan tetangga. Mobil pertama adalah mobilku, dan mobil kedua adikku Tita. “Anak-anak di mobil Tita yah. “ adikku sudah mengomandoi pembagian anggota rombongan. “Ada fasilitas apa di mobil Tita?” kata anakku Naldi.
168 | Malaikat Pemberi Jiwa “Pokoknya maknyosss deh banyak makanan tuh,” adikku memengaruhi anakku Naldi yang sudah bersiap naik ke mobilku. Akhirnya pembagian anggota rombongan dapat diselesaikan dengan iming-iming makanan dan fasilitas. Adikku Tita memang pintar bernegosiasi. Suasana heboh meramaikan keberangkatan keluargaku untuk pulang kampung. Bagi warga di tempat tinggal mamah, peristiwa pulang kampung keluargaku memang luar basa, mengingat kondisi bapak yang belakangan ini mengkhawatirkan. “Nek, semoga lancar yah.” Kata tetangga sebelah rumah Mamah Shopi. Tetangga ini akan menjadi tempat penitipan rumah selama kami sekeluarga pulang kampung. “Iya Mamah Shopi tolong titip rumah dan Rendi yah.” Kata mamah. Yah Rendi tidak ikut dalam rombongan. Rendi tidak mendapat cuti panjang untuk libur ke kampung. Rumahku dan rumah adikku Tita dijaga oleh kakakku Susi. Susi tidur di rumahku tidak di rumah Tita. Tidak masalah karena rumah Tita ada di sebelah rumahku. “Mah, hati-hati yah. Salam buat semua, kalau Susi gak mabuk kendaraan dan sakit, mau rasanya ikut kalian pulang kampung.” Kakakku
Seni Asiati Basin | 169 Susi meneteskan airmata. Hanya Susi dan anaknya Bagas yang tidak ikut dalam rombongan. “Ayo, nangis biar direkam deh,” kata anakku Tasha. Hari itu Tasha mengabadikan momen pulang kampung dengan kamera. Melihat apa yang dilakukan Tasha, kakakku makin menangis dan biasanya makin lebay kata orang sih. Kalau sudah begini , bapak pasti akan membentak Susi untuk diam. Bapak memimpin doa sebelum keberangkatan rombongan pulkam. Tinggallah aku dan Bapak di rumah karena kami akan berangkat besok menggunakan pesawat. “Dah, Nek Anang sampai bertemu di Lahat yah,” anakku Tasha melambaikan tangannya dari mobil yang membawa mereka berangkat. “Jangan ketiduran yah Nang, ntar ketinggalan pesawat loh, batal deh pulkam,” adikku Tita meledek bapak yang pura-pura bersedih. Akhirnya rombongan bermobil berangkat juga dengan beragam celoteh. Aku dan bapak melepas kepergian mereka dengan pesan hati-hati, karena masih musim hujan. Jalan yang akan mereka lewati pastinya licin. Senangnya melihat semua bergembira, apalagi bapak yang tak hentihentinya bergaya seperti menangis sedih ditinggalkan rombongan.
170 | Malaikat Pemberi Jiwa “Pak, Nuri mau ambil pesanan kue dulu yah,” kataku pada bapak. Untuk oleh-oleh, aku memesan kue untuk keluarga di kampung. “Di mana ambil pesanan?” tanya bapak. “Di Depok.” Jawabku, ada temanku yang bisnis kue. “Bapak Nuri tinggal yah, sebentar lagi Rendi datang.” kataku pada bapak. Hari itu aku menginap di rumah bapak. Sepanjang malam banyak cerita tentang kampung halaman. Koper-koper sudah siap diangkut. Aku tahu bapak tak sabar menunggu esok pagi. Malah mungkin bapak tidak tidur hahahahaha. “Kita boarding jam berapa Ri?” tanya bapak. Sudah malam sudah pukul 22, aku tidur di kamar bapak tempat tidurku bersebelahan dengan bapak. Biasanya ruangan inilah favorit kami. Semua anakanak bapak dan cucu-cucu bapak senang berkumpul di kamar ini. Seperti sudah aku ceritakan kalau rumah perjuangan ini memiliki kamar yang cukup luas 5 x 5 M2 . Kamar ini memiliki 2 tempat tidur besar dan dua lemari pakaian. Ada lagi kasur yang diletakkan di bawah di samping lemari. Kasur ini untuk tidur keponakanku Fajar. Sedangkan Rendi tidur di kamar sebelah sendiri dengan kamar yang sama luasnya dengan kamar bapak. Dulu kamar yang ditempati Rendi adalah kamarku dan Tita.
Seni Asiati Basin | 171 “Boarding jam 9 Pak, kita berangkat jam 6 yah, sekarang bapak tidur sudah malam,” aku mengingatkan bapak dengan malam yang sudah bergelayut semakin gelap. “Taksi sudah dipesan belum Ri?” tanya bapak lagi. “Sudah.” Aku yang sudah mulai tertelap jadi terbangun lagi untuk menjawab pertanyaan bapak. Tadi sepulang dari mengambil pesanan kue, aku naik taksi dan supir taksi sudah aku pesan untuk mengantar kami besok pagi. “Pastikan Ri, gak ada yang tertinggal yah!” “Beres, Pak.” Suaraku sudah semakin melemah, rasa kantuk semakin menemani. Bapak masih bercerita yang entah apa ceritanya. Raganya di sini tapi jiwanya sudah terbang di aliran Sungai Pangi. ******* Subuh aku dan Bapak sudah siap. Sengaja aku tak menyiapkan sarapan untuk aku dan bapak. Selain pastinya ada perabotan yang kotor, juga makanan sisa akan membuat sampah saja. Rendi sudah pasti tak akan makan di rumah. “Pak, kita makan di bandara yah.” Kataku menenangkan bapak yang memang harus makan pagi ada obat yang harus diminum bapak.
172 | Malaikat Pemberi Jiwa “Mahal kali Ri makan di bandara,” kata bapak. “Tenang pak, ada sarapan gratis buat kita,“ kataku. Aku punya kartu anggota dari maskapai penerbangan. Senangnya dapat fasilitas makan di salah satu ruang tunggu bandara. Bandara seperti biasa sudah ramai, apalagi masih suasana lebaran tentunya masih ada yang ketinggalan mudik, yah seperti aku dan bapak. Koper-koper sudah masuk bagasi. Aku ajak bapak ke ruang tunggu untuk sarapan. “Hallo,” sapa bapak dengan ramahnya pada pelayan di ruang tunggu. Seperti bisa bapak dengan ramahnya menyapa orang yang menunggu keberangkatan di ruang tunggu bandara. “Ini gratis, Ri?” tanya bapak padaku “Iya Pak, gratis.” “Semua?” tanya bapak lagi. “Iya semua yang bisa dimakan di sini gratis Pak,” kataku lagi. Bapak mencoba semua menu yang dihidangkan, mulai nasi goreng, lontong sayur, sampai menu-menu yang jarang bapak jumpai. Aku ingatkan jangan banyak-banyak karena keterbatasan perut bapak. Bapak lahap sekali menyantap hidangan yang tersedia.
Seni Asiati Basin | 173 Sampai di Palembang, adik sepupuku Izwan sudah menjemput di bandara Soeltan Badarudin II. “Apo kabar bakwo.” Sapa Izwan. Panggilan untuk kakak bapaknya adalah bakwo atau bapak tuo. Malam itu kami menginap di rumah adik Bapak. Kami memanggilnya Mamang Rahim rumahnya di daerah RS Siti Khodijah. Besok perjalanan ke kampung akan dimulai. “Ai, ngape ceruguk gale.” Pagi-pagi kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke Lahat (kota kabupaten yang dekat dengan kampung), bapak melihat anak-anak adiknya masih belum siap. Jarak Palembang-Lahat bila ditempuh dengan mobil pribadi + 6 jam. Yah lumayanlah buat bapak (tapi bapak terlihat senang tuh), aku sempat khawatir bapak tidak kuat mengingat kondisi jarak yang ditempuh. “Sape nak nginak,” suara bapak memecah kesunyian mobil yang diam melaju ke dusun, tangan bapak menunjuk ke depan. Ada sebuah bukit yang selalu dilalui bila akan ke Lahat. Namanya bukit tunjuk, Dulu waktu kecil, nenek selalu bercerita kisah bukit tunjuk. Kisah Si pahit Lidah (legenda Palembang). Bukit itu yang menandakan kami sudah akan sampai ke kota Lahat. Sebelumnya rombongan aku dan Bapak yang naik mobil adik sepupuku Dahlan bersama
174 | Malaikat Pemberi Jiwa adik bapak, Mang Rahim dan Bibi Cik Imah (adik Bapak juga) akan bertemu rombongan adik-adikku dan anak-anakku di rumah kakak sepupuku Ayuk Darmi di daerah Muara Enim. Jadilah pukul 14 waktu Muara Enim kami berjumpa di rumah Ayuk Darmi (mantan Camat). Ayuk Darmi sudah menghidangkan semua makanan khas daerah kami. Mata berbinar-binar melihat tumpukan gulai tempoyak dengan ikan mas yang memang jarang kami temukan di Jakarta. Anak-anak berebut mangkok untuk makan mpek-mpek yang ini sudah pasti asli. “Makan kudai.” Kata bapak menyendok nasi dan lauk yang benar-benar kesukaan bapak. Rumah Ayuk Darmi memang strategis pas sekali di jalan penghubung antara kota Lahat dan kota Muara Enim. Kebiasaan orang dusun, makanan sudah siap dihidangkan, apalagi ada tamu dari Jakarta yang jarang pulang. Lengkaplah rombongan ‘Balek Dusun.’ “Ai, cak nyo sedap nian, titu masakan Kau.” Mang Rahim yang tinggal di Palembangs aja sudah menyerbu makanan yang terhidang. Katanya jarang masak makanan kampung. Tanpa perintah komandan, kami serbu hidangan masakan daerah bapak dengan lahap. Ada pais ikan patin, sambal tempoyak (dari buah durian), jehing alias jengkol muda, tihau sejenis jamur dan kali ini dimasak
Seni Asiati Basin | 175 dengan santan. Bapak makan dengan lahap senangnya kami bisa berkumpul. Berita kedatangan kami ke dusun sudah menjadi berita hangat. Malah jadi trending topik (mengutip bahasa kekinian) Nama kami sekeluarga ada di papan pengumuman di halaman balai desa. Wah, benar-benar luar biasa penyambutan. “Ngape ndindak singgah ke hume kami?” saudara sepupuku yang tinggal di Lahat protes karena kami tidak ke rumahnya. “Didelah purik, kagek kami singgah, di umeh Darmi lah ngumpul-ngumpul jeme kite gale.” Kata bapak pada saudaraku. Dusun atau kampung pertama yang akan kami sambangi adalah Dusun SP. Dusun ini adalah dusun orang atau dusun adik sepupu mamahku. Dusun mamahku sendiri namanya Tanjung Bindu dekat juga dengan Dusun SP. Setelah rombongan berkumpul semua akhirnya kami putuskan setelah ini mampir dulu di kota Lahat di rumah Ayu Sus. Bapak akan istirahat sedangkan kami melanjutkan ke dusun mamah di SP. “Kami anak beranak,batak gale cucung balek dusun, biar keruan sape sanak kite.” Kata bapak pada keluarga kami di dusun SP. Malam itu semua warga dusun berkumpul di rumah adik sepupu mamah. Setiap bertamu , bapak selalu bilang niat pulang kampung agar anak dan cucu-cucunya tahu
176 | Malaikat Pemberi Jiwa akar kerabat. Malam kedua kami menginap di dusun SP sambil menyusun rencana untuk esok hari untuk syukuran bahwa kami datang ke dusun setelah sekian lama. Mamah terpaksa mengadakan syukuran di dusun SP bukan dusun tempat mamah dilahirkan yaitu Tanjung Bindu, karena di Tanjung Bindu, mamah sudah tidak punya keluarga. Keluarga mamah sudah pindah atau bahasa setempat 'ngaleh' ke dusun SP. Satu persatu akhirnya keluarga yang dulu tidak pernah kami temui akhirnya dapat berjumpa. “Sape dide kruan bada jeme ini mak ini enjuk tau, bada kami di Jakarta gahi jangan dide kalo nak midang cari gawe, enjuk tahu, itu gunenya sanak.” Pesan terakhir bapak sebelum pulang kampung. Setelah keluarga kami pulang kampung hendaklah tahu siapa diri kita siapa saudara kita, saling mengunjungi. Balek dusun atau pulang kampung adalah keinginan terakhir bapak, bapak sudah mandi di Sungai Pangi. Sungai yang sudah membesarkannya. Sungai yang memberikan penghidupan untuk dusun Lubuk Seketi tempat bapak dilahirkan. Bapak bangga sekali mengenalkan anakanaknya dan semua cucu. Bangga menjadi orang dusun Kikim kata bapak. Orang Kikim adalah salah satu kelompok sosial, penduduk asli yang bermukim di sekitar aliran sungai Kikim di
Seni Asiati Basin | 177 Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Wilayah persebarannya adalah di Kecamatan Kikim, namun sebagian kecil juga menetap di Kecamatan Kota Lahat. Kecamatan Kikim merupakan kecamatan yang terluas di Kabupaten Lahat, namun persebaran penduduknya adalah yang terjarang. Cerita bapak sepanjang perjalanan yang luar biasa serunya. Jalan yang liat karena semalam habis hujan dan teriakan penghuni mobil setiap tubuh mobil terguncang-guncang persis seperti naik roller coarter di dufan. Terkadang mobil kami harus diangkat untuk mengeluarkan tanah yang menumpuk di ban mobil. Orang Kikim pada umumnya hidup sebagai petani. Tanaman pokoknya padi, tanaman palawija, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Penduduk yang bermukim di sekitar wilayah hutan umumnya masih melakukan perladangan hutan. Tempat tinggal mereka banyak di tepian aliran sungai. Kata bapak agar memudahkan untuk kebutuhan akan air. Air memang sangat penting untuk kehidupan. Orang Kikim tersebar di beberapa dusun. Yang aku kenal baru dusun yang kami datangi. Tempat tinggal orang-orang dusun ini aku perhatikan berbentuk rumah panggung. “Daerah ini masih termasuk hutan Sumatera, masih banyak binatang buas, kata
178 | Malaikat Pemberi Jiwa bapak, kalau gak dibuat rumah panggung, binatang buas akan masuk rumah dan memangsa yang hidup,” muka bapak dibuat takut. “Ah, Nek Anang nakut-nakutin aja deh.” Anakku memelukku. Kulihat bapakku tersenyum senang bisa membuat cerita yang luar biasa. Malam ketiga ‘balek dusun,’ kami menginap di dusun bapak di Lubuk Seketi. Rumah nenek yang kami tempati selama ‘balek dusun’ masih kokoh berdiri. Hari pertama datang ke dusun bapak, semua orang dusun sudah berkumpul di sepanjang jalan menyambut kami. Bahkan semua warga dusun, tidak hanya tua, muda, dan anakanak semua berkumpul di rumah nenek. “Mah, roboh gak nanti rumah nenek?” tanya anakku khawatir melihat begitu banyak warga dusun yang berkumpul. Rasa kerinduan terhadap kami dan juga begitu besarnya kekeluargaan diantara mereka membuat semua ingin dekat dengan kami. Semua menanyakan keadaan kami dan sesekali memeluk anak-anak dan cucu bapak. Mata mereka terlihat penuh kegembiraan, bahkan kulihat ada seseorang yang memeluk bapak dengan erat dan menangis. “Udemlah, ngape nak nangis, doakan bae Basin sehat pacak balek dusun lagi.” Adik bapak meminta yang memeluk bapak untuk mendoakan bapak.
Seni Asiati Basin | 179 Sampai malam hari itu hanya diisi dengan berbincang dan menceritakan masa kecil bapak di kampung halamannya. Aku sendiri kurang mengerti dengan bahasa dusun yang memang halus. Anak-anakku beberapa kali menguap. Tapi bapak masih semangat sekali bercerita. Kulihat mamahku beberapa kali mengingatkan bapak agar tidak semangat sekali bercerita ingat jantungnya. Waktu berjalan dengan cepat beberapa dari kami sudah tertidur. Kulihat anakku sudah tertidur di samping adikku. Rumah nenek memang tanpa sekat, ruangan ruang tamu yang cukup luas kira-kira berukuran 8 x 7 M2 bisa menampung 100 orang. Rumah panggung ini terbuat dari papan, sementara tiang setinggi 2 meter itu dibuat dengan kayu gede. Rumah nenek dibuat menjulang tinggi untuk menghindari binatang buas (ini cerita bapak). Apalagi, masyarakat dusun tinggal di perairan di dekat sungai, sewaktu sungai meluap, mereka bisa terhindar dari banjir. Sama seperti rumah-rumah lainnya, rumah nenek hanya memiliki satu kamar saja dan sisa ruangan dipakai untuk bersilaturahmi, seperti menjamu tamu atau kegiatan adat lainnya. Orang dusun kerap mengadakan jamuan atau acara adat seperti pernikahan, khitanan, bahkan kalau ada sanak saudara yang datang mereka tanpa diundang akan
180 | Malaikat Pemberi Jiwa datang untuk sekadar menengok dan menanyakan kabar. Bentuk atapnya agak melengkung sedangkan bagian depannya berbentuk segitiga lancip mengarah ke atas. Sumur ada di bawah rumah panggung, tapi hanya beberapa yang memiliki sumur. Biasanya orang dusun mengambil dan melakukan aktivitas dengan air di sungai yang mengaliri dusun. Banyak filosofi dalam bentuk dan bagaimana penggunaan kayu dalam rumah nenek ini. “Ayo siapa nak galak, miluk mancing.” Terdengar seruan Nubi adik sepupuku membangunkan kami yang tertidur pulas. “Waduhhh, kok banyak orang.” Anakku yang duluan terbangun kaget melihat begitu banyak orang yang tidur di ruangan tempat keluargaku tidur. Subuh tadi aku juga sama terkejutnya dengan anakku. Kulihat hampir separuh orang dusun tidur di rumah nenek. Kata bapak seperti kebiasaan dan adat dusun, kalau ada yang datang tanpa diundang semua warga akan ikut menginap bersama. Katanya pula biar masih tercium aroma kota. Alamakkkk bisa begitu yah. Mereka akan berhari-hari tidur di rumah ini, dan sudah terbayang setiap malam banyak cerita yang akan kami dengarkan. Warga dusun akan bergotong royong memasak. Sarapan, makan siang, bahkan makan malam semua warga dusun
Seni Asiati Basin | 181 akan di rumah ini. Pantas saja mamahku sebelum ke dusun mampir di pasar yang terletak di kabupaten Lahat membeli keperluan selama kami di dusun. “Mah, banyak beli beras sampai satu karung.” Aku sempat bingung yang dibeli mamah. Bukan hanya beras, mamah juga membeli gula, kopi, teh, susu, makanan kaleng, sayur-sayuran, cabai, dan banyak lagi hingga memenuhi mobil yang sudah tak ada ruang. “Aku ikut mancing yah.” Kata anakku. “Aku juga lah.” Keponakanku ikut menimpali. “Jauh, gak sungainya dari sini?” tanya anakku Naldi. Akhirnya ada 7 orang yang ikut memancing di Sungai Pangi. Rencana adik sepupuku itu, mereka akan menyeberang dan memancing di seberang sungai. Karena musim kemarau, air sungai tak seberapa deras jadi dapat menyeberang. Itu penjelasan ponakanku. “Nuri, cepat ke sini.” Teriak mamah padaku yang sedang membantu membersihkan ayam. Kami akan masak gulai ayam. Semua bahan sudah disiapkan. Yang khas adalah nanas. Yah gulai ayam kami akan pakai nanas. Rasanya gurih dan asam. Tak perlu membeli kelapa, karena dusun sudah menyediakan kelapa. Bahkan minyak
182 | Malaikat Pemberi Jiwa gorengpun warga kampung memanfaatkan kelapa yang banyak bertebaran di pekarangan. “Ada apa, Ma.” Kulihat wajah mamah pucat. “Naldi hanyut.” Kalimat yang diucapkan mamah pelan namun membuat jantungku berhenti sedetik. “Ha, kok bisa Ma.” Suaraku sudah bercampur dengan air mata. Rupanya perjalanan memancing anakku Naldi dan saudara-saudaraku menorehkan kisah. Mungkin kisah duka kalau boleh dibilang. “Ai, hampir hanyut anak Ayuk Nuri tu.” Nubi mengawali cerita. “Iya, Mah, hampir aku hanyut.” Kata anakku yang masih gemetaran dengan petualangannya itu. “Mangkenye, kalo nak lewati Sungai Pangi, janganlah sombong.” Cerita adik bapakku. “Ngape, mak itu Mang.” Kataku tak paham hubungan memancing dengan sombong. “Tanyekah, ngape dia dewek hanyut. Yang lain idak.” Anakku menyeberangi sungai sambil berseloroh dengan keponakanku, kalau ada buaya di sungai. Anakku terpeleset dan jatuh ke sungai hanyut hingga 150 meter. Enam orang yang ikut memancing berusaha mengejar anakku yang
Seni Asiati Basin | 183 sudah melambaikan tangan tanda terbawa air cukup jauh. Cerita itu membuatku gemetar tak kuasa membayangkan bagaimana anakku berjuang untuk menaklukkan sungai. Untungnya ada penduduk dusun yang juga menjala ikan sedang ada di tengah sungai dan buru-buru berenang dan berhasil menarik baju anakku. Baju yang menyelamatkan anakku. Sebelum berangkat, Naldi bersikeras tidak mau memakai baju. Bapakku yang menasihati Naldi. “Pakai kaosmu, Di.” Kata bapak. “Malas, Nang gerah kan mau basahbasahan.” “Banyak lintah di sungai, mau gak dihisap lintah badannya.” Hi..hi... gak, mau ah.” Naldi menyambar kaos yang sudah dia letakkan di gantungan. Bapakku mungkin sudah punya firasat, sesuatu akan terjadi dan kaos hanyalah alat untuk menyiasati. ***************** Peristiwa Naldi menjadi trending topik di seluruh kampung. Malam itu kami berkumpul di teras sehabis makan. Suasana santai dan sesekali cerita Naldi ikut hadir. Ada yang bilang anakku diselamatkan oleh penjaga sungai karena tahu anakku masih ada hubungan darah dengan kampung dan sungai.
184 | Malaikat Pemberi Jiwa Malam itu juga jadi ajang pemberian oleholeh. Selain beberapa helai jilbab yang sengaja aku bawa dari Jakarta. Aku dan adikku juga membawa pakaian keluarga kami yang sudah sempit. Hal itu sudah menjadi kebiasaan aku dan keluargaku untuk menyimpan baju yang sudah sempit dan masih layak. Baju-baju itu diberikan pada saudara kami di dusun. Pulang kampung kali ini mamah menyuruhku menyimpan baju-baju layak pakai di koper-koper besar. Koper yang aku gunakan adalah koper bekas haji yang ukurannya lumaya. Ada empat koper yang kami bawa. Sampai di kampung setiap singgah, mamah akan menyuruh menurunkan satu koper. Ada empat persinggahan dan jumlah koper itu memang pas. Mamah sudah memperhitungkan kampung mana saja yang akan kami singgahi. Pembagian baju yang dilakukan di teras, menjadi momen yang indah. Sebenarnya mereka dapat membeli baju di kota. Tetapi kata mereka, bau khas badan kami akan melekat pada mereka yang memang rindu. Selama tiga hari di dusun sudah menjadi energi buat bapak yang kembali bersemangat. Selama di kampung, aku tak pernah lihat bapak mengeluh karena sakitnya. Padahal, kegiatan bapak yang membutuhkan kerja jantung lumayan banyak. Selain mengobrol dengan temantemannya waktu kecil dan masih hidup, juga
Seni Asiati Basin | 185 aktivitas naik turun rumah. Rumah nenek punya 12 anak tangga. Bapak dalam sehari tiga kali turun naik tangga. Sehabis sholat Subuh, sehabis sholat Zuhur, sehabis sholat Isya. Aku pernah menyarankan bapak untuk sholat di rumah. Kata bapak, banyak kenangan indah di masjid di kampung bapak. “Dulu, bapak belajar mengaji di sini Ri.” Cerita bapak ketika Subuh pertama di kampung dan bapak berjalan bersisian denganku. “Siapa yang mengajar, Pak?” tanyaku karena kulihat tak banyak penduduk di kampung bapak. “Yah, kakekmulah. Kan bapaknya bapak tuh imam masjid ini.” Bapak terlihat bangga ketika cerita yang diuraikan tentang bapaknya. Terbayang rindu bapak pada sosok kakekku yang tinggi besar dan suka sekali tertawa yah, persis bapaklah. Masjid itu tidak besar, mungkin hanya memuat 100 jamaah. Di depan masjid ada beduk yang ukurannya pun hanya seperti ember bekas kaleng cat. Jangan berharap ada AC atau lantai dari keramik. Lantai masjid menggunakan ubin yang digunakan pada rumah-rumah zaman dahulu. Tak ada tiang karena memang tak perlu. Mimbar imam untuk khotbah Jumat pun tidak ada.yang membedakan imam dan makmun hanya
186 | Malaikat Pemberi Jiwa sajadah yang ditempatkan sendiri. Di masjid inilah bapak pertama kali belajar menjadi imam. Tiga hari di kampung dan dua hari di Lahat, akhirnya rombongan kecil kami harus kembali ke Jakarta. Isak tangis mengiringi kepergian kami anak beranak. Sehabis Subuh rombongan mobil sudah bergerak. Gelap masih menyelimuti ditambah semalam turun hujan. Pastinya jalan yang masih beralas tanah akan lengket. Warga kampung dengan bersenjatakan obor menjadi penerang perjalanan kami. Mereka berbaris dengan jarak 20 meter dan obor yang diarahkan ke depan. Pasukan lampu yang benarbenar membantu. Berkat obor itulah perjalanan kami menjadi mudah. Balek dusun yang akan menjadi kenangan. Tanpa bapak akankah obor akan menerangi jalan kami ke dusun. Anak-anak bapak dan keturunan bapak tetap menjadi bagian dari dusun ini.
Seni Asiati Basin | 187 Tempat Terindah untuk Bapak agi itu adalah pagi yang akan selalu kuingat. Bapak selalu meneleponku untuk sekadar menanyakan kabar atau menyampaikan berita yang sebenarnya tidak penting menurutku. Tapi aku yakin menurut bapak, kabar yang ia dengar di kampung tempat tinggalnya penting untuk diberitahukan padaku. “Kemarin, motor pak Saiful hilang Ri?” kata bapak padaku yang mampir sehabis pulang kerja. Sebenarnya aku tidak kenal pak Saiful dan apa urusannya motor yang hilang dari orang yang tidak aku kenal denganku. Tapi bapak semangat bercerita. Kata bapak motor pak Saiful hilang tadi malam di teras rumah pak Saiful. Sehabis subuh bapak selalu berolahraga dengan berjalan kaki keliling kampung bahkan hingga ke jalan raya. Nah sewaktu jalan pagi itu, bapak yang malamnya mendengar motor pak Saiful hilang, melihat seseorang memarkir motor di sebuah rumah kosong di ujung jalan kampung yang hampir keluar jalan raya. Naluri polisi yang dimiliki bapak langsung bekerja. Bapak mengamati motor itu dan meneliti setiap detail dari motor. P
188 | Malaikat Pemberi Jiwa Kemudian bapak menelpon mamahku yang ada di rumah untuk memberitahu pak Saiful. Sudah bisa ditebaklah kalau itu memang motor pak Saiful yang ternyata kehabisan bensin oleh pencuri motor mungkin aksinya kesiangan sudah Subuh. Maling motor itu meninggalkan motor pak Saiful di depan rumah kosong. Hari itu cerita bapak seputar penemuan motor menjadi perbincangan hangat di kampung. Bapak sendiri bangga karena setelah pensiun dari polisi baru ini katanya ada peristiwa yang membawa naluri polisinya yang seperti detektif itu kata bapak. Aku tersenyum dan juga senang melihat bapak begitu senangnya bisa membantu orang. Rumah bapak memang selalu aku lewati bila aku akan pulang ke rumah dari tempat kerja. Biasanya aku akan mampir untuk sekadar menanyakan kabar dan membelikan makanan untuk bapak. Akhir-akhir ini karena penyakit jantung yang dideritanya bapak kerap tidak lahap makan. Kalau disimak sih itu bukan sifat bapak. Dalam keadaan sakit, bapak akan selalu lahap makan. Kata bapak obat sakit itu yah makan. Kalau bapak sudah tidak lahap makan, ada saja yang ia pesan padaku maupun adikku entah martabak, bubur kacang hijau, ataupun sate ayam.
Seni Asiati Basin | 189 Kami lima bersaudara. Namun sekarang tinggal empat. Kakakku nomor dua sudah meninggal di usia yang masih muda karena tabrakan motor. Tinggal kami berempat. Aku nomor tiga harus naik ke urutan kedua. Kata orang kampung dan teman-temanku, sifat bapak persis dengan sifatku. Yah cerminan bapak itu ada di diriku. Aku mudah menerima orang dan selalu mau berkorban. “Ri, pulang ngajar Nuri lewat restoran sop ikan yah?” suara bapak di ujung telepon. “Iya bapak, tapi hari ini Nuri tidak mengajar, ada pelatihan yang pulangnya tidak melewati daerah itu?” kataku dengan sedikit menyesal. Kalau aku sengaja melewati jalan tempat restoran itu ada aku pasti tidak mendapat magrib atau buka puasa bersama anak-anakku di rumah. Pada akhirnya jawaban penolakan aku ini menjadi senjata ampuh yang menggores luka yang dalam di hatiku. “Oh, gitu. Ya udahlah nanti bapak minta Tita yang membelikan.” Kata bapak sambil menutup telepon. Tita adalah adikku yang juga bekerja. Dua hari berlalu dari permintaan bapak padaku untuk dibelikan sop ikan kesukaannya. Hari itu sabtu aku kuat mengingat hari itu, karena aku lmamahr dan aku sudah ada janji dengan
190 | Malaikat Pemberi Jiwa teman untuk menghabiskan hari lmamahr itu dengan karaoke di sebuah tempat karaoke langganan kami bila sedang suntuk. Sudah kulupakan keinginan bapak sop ikan kesukaannya. Padahal hari itu bisa saja aku membelikan sop ikan dan melihat bapak di rumahnya. Aku tak mampir ke rumah bapak karena kupikir tak ada yang penting yang harus kusampaikan pada bapak atau mamah, besok saja Minggu aku mampir. “Ri, dah dimana lo?” tanya Wati temanku. Wati hobi nyanyi jadi aku selalu menghabiskan waktu bersama wati di tempat karaoke bersama Laila temanku satu lagi. Kami sama-sama menjadi guru selepas kuliah di kampus yang sama. Pertemanan aku, Wati dan Laila tak tergusur oleh waktu dan usia. Kadang kami mengajak anak-anak kami pergi bersama berwisata walau hanya sekadar nonton bersama. “Sudah dekat nih, Laila bagaimana jadi ikut?” kataku di ujung telepon “Wah, ga tahu deh. Bukannya kalau tiap Sabtu si Laila job nya banyak yah? Tanya Wati dengan tawa khasnya di telepon. “Ohhh, ga tahu tuh, job apa dia?” tanyaku bingung karena setahuku Laila tak pernah dapat job.
Seni Asiati Basin | 191 “Hahahaha,” suara tawa Wati membuatku jadi ikut tertawa. Ternyata aku yang telmi nih. Laila setiap sabtu memang penuh job, dari mulai mencuci, menyetrika, beres-beres rumah yang hanya bisa dia lakukan di hari sabtu. Maklum Laila yang juga mengajar sama denganku dan wati tempat tinggalnya jauh dari tempat kerja. “Tunggu aja tempat biasa aku jemput Laila dulu yah.” Kututup telepon. “Ri, dimana?” suara mamahku di ujung telepon. “Ri, lagi di jalan Bu mau ada acara dengan teman.” Jawabku “Hari senin, adikmu ulang tahun tuh.” “Iya Nuri tahu, Bu pas juga dengan pertengahan puasa yah Bu.” Kataku lagi “Iya, bapak minta kumpul dan buka puasa bersama di rumah .” “Baik Bu, besok sepulang ngajar Nuri langsung ke rumah mamah, anak-anak juga nanti Nuri pesankan pulang kuliah langsung ke rumah mamah yah.” Kataku “Iya deh, masak apa yah besok buat sayur ketupat?” tanya mamah. Wah mamah bertanya disaat yang tidak tepat perutku juga keroncongan. Tadi malam sahur tak banyak yang aku makan. “Awan yang ultah minta dimasakkan apa Bu?” tanyaku lagi.
192 | Malaikat Pemberi Jiwa “Biasa sayur pepaya tuh. “ sayur pepaya muda buatan mamah memang enak sekali. Pedas, manis, dan gurih santan kelapa rasanya pecah di mulut. Wah gawat membayangkan masakan perut jadi semakin menjerit tak karuan. Kulirik jam yang ada di depan mobil baru pukul 9 pagi. “Ya udah Bu, buatkan yang ultah sayur pepaya yah, nanti Nuri beli buah dan gorengan. Rasanya sudah semua yang aku bicarakan dengan mamah sampai aku lupa menanyakan keadaan bapak dan sop ikan yang dipesannya. Pagi itu aku berangkat ke sekolah karena ada rapat kerja selain itu ada sahabatku yang sudah menjadi pejabat diminta menjadi narasumber berkenaan dengan pendidikan di sekolahku. Masih aku ingat benar berarti dari permintaan sop ikan hingga hari ini aku belum bertemu bapak. Aku smamahk dengan semua dunia kerjaku. Penyesalan yang tak pernah habis dalam diri ini. “Bu Eva, Bu... ada apa?” jerit Bu Tami yang tubuhnya tertimpa tubuh Bu Eva yang tiba-tiba sudah pingsan di sampingnya. Pagi itu kami baru memulai rapat guru. Bu Eva adalah temanku yang mengajar juga di SMA tempatku mengajar. Aku yang juga berada di samping Bu Tami sama terkejutnya. Apalagi Bu Eva tidak ada tanda-tanda sakit sebelumnya.