The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Novel tentang perjuangan seorang ayah yang menginspirasi anaknya.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by seniasiati, 2024-02-11 02:11:03

Novel Malaikat Pemberi Jiwa

Novel tentang perjuangan seorang ayah yang menginspirasi anaknya.

Keywords: Novel Inspirasi

Seni Asiati Basin | 193 Karena belum siuman dari pingsannya aku dan Bu Tati yang hari itu membawa mobil membawa bu eva ke RSUD yang dekat dengan sekolah. Masuk ruang UGD setelah lapor sana sini akhirnya Bu Eva bisa ditangani dokter dengan kondisi belum juga siuman. Aku tentu saja khawatir. Aku tahu eva sakit. Eva adalah teman kuliahku dan kuajak mengajar karena dia membutuhkan biaya untuk membesarkan anak-anaknya. Seharian itu aku menemani Eva yang masih belum sadarkan diri. Kedua anaknya yang di Bandung aku telepon untuk ke Jakarta maksudku agar mereka nanti yang bergantian menjaga ibunya. Sore sebelum waktu berbuka aku sempatkan pulang dulu ke rumah mamah sekadar menyampaikan bahwa aku akan berbuka di rumah sakit tidak bersama keluarga. Keinginan itu karena kedua anak Eva belum datang juga dari Bandung. Aku tinggalkan Eva dengan menitip pada teman sekamar dan Eva juga sudah siuman walau belum sadar benar. Kupacu motorku ke rumah mamah. Hidangan sudah tergelar di atas karpet. Pesta ulang tahun untuk adikku secara sederhana akan dirayakan. Biasanya bapak yang membaca doa sebelum masakan mamah yang lezat kami santap. Hari ulang tahun adikku bertepatan dengan pertengahan Ramadhan atau 15 Ramadhan. Setiap tahun setiap pertengahan


194 | Malaikat Pemberi Jiwa Ramadhan mamah pasti menyiapkan masakan yang sama dengan hidangan lebaran. Kata bapak masakan itu sebagai wujud rasa syukur karena sudah melewati hampir separuh Ramadhan. Bapak akan memberikan petuah pada kami anak-anaknya dan juga semua cucu bapak. “Jaga tali silaturahmi, sering-seringlah menelepon kakak kalian yang jauh.” Kata-kata itu selalu aku ingat. Hanya kakakku nomor satu yang tinggal tidak di Jakarta. Kakakku tinggal di Cikampek bersama suami dan seorang anaknya. Sedangkan ada dua anaknya tinggal dengan orang tuaku. Dua orang anak kakakku itu laki-laki dan sudah bekerja. Lumayan sebagai penjaga orang tua kami jika kami anak-anaknya tidak bisa menemani. “jangan karena kakak bukan orang yang punya, kemudian kalian lupakan.” Kulihat semua adik-adikku Tita dan Awan menunduk. Kedua adikku ini kurang akur dengan kakakku. Kakak nomor satu memang temperamental dan agak lebay. Adikku Tita sifatnya lugas tidak suka yang basa-basi. Maklum lama bekerja dengan orang bermata sipit jadi semua serba pasti tidak dibuatbuat. Adikku awan lebih banyak mendengarkan saja. “Iya pak, pesan bapak diingat deh,” kataku menimpali ucapan bapak.


Seni Asiati Basin | 195 “Jangan diingat aja, lakukan, trus satu lagi nih,” wah kata itu aku tahu apa yang mau dibicarakan pada kami jadi sebelum bapak bicara aku sudah memotong dengan nada menyindir adik-adikku dan semua yang hadir terutama keponakanku. “Jadi kalian anak-cucuku jangan tinggalkan yang lima, karena yang lima itu perkaranya dunia dan akherat.” Kataku tanpa menunggu bapak bicara. Aku lihat bapak tersenyum karena memang itulah petuah penutup sebelum beduk magrib untuk berbuka berbunyi. “Mamah tahu aja apa yang mau diomongin nek anang.” Kata anakku Tasha. Nek anang adalah panggilan kesayangan semua cucu untuk bapakku. Bahasa Palembang menyebut kakek laki-laki dengan sebutan nenek lanang disingkat “Nek Anang”. Ritual pertengahan puasa yang rutin kami lakukan, suasana berebut opor ayam atau kadang mamahku masak rica-rica ayam jadi pemandangan biasa. Yah, mamah hanya membeli satu ekor ayam yang disantap untuk empat belas mulut. Kadang satu ekor itu mamah potong dua belas. Sebenarnya cukup karena dua keponakanku tidak suka ayam. Tapi itulah serunya saling berebut makanan. Kembali pada ceritaku ketika hari itu aku harus bilang tak bisa berbuka bersama.


196 | Malaikat Pemberi Jiwa “Buka dulu nanti kembali lagi ke rumah sakit!” kata mamahku sore itu ketika aku sibuk membungkus makanan untuk berbuka di rumah sakit dan untuk kedua anak Eva. “Kasihan Eva Mah, ga ada yang jaga, Nuri pulang nanti kalau anak Eva sudah datang yang?” pintaku pada mamah. “Kamu tuh sama dengan bapak, selalu mementingkan orang lain.” Mamah sedikit menggerutu. Itulah aku yang selalu berbelas kasihan pada orang lain sama dengan bapak. “Bapak, ga ikut makan Mah?” tanyaku yang melihat di sekeliling permadani hanya ada anakku dan keponakan. Adikku Awan dan istrinya belum datang. Sayangnya moment itu tidak aku manfaatkan dengan baik. Harusnya aku ke kamar bapak dan melihat bapak dulu. Waktukku banyak kalau aku punya rasa untuk menengok bapak dan mengenggam tangannya seperti biasa aku lakukan. Kalau aku menengok bapak di kamar biasanya bapak sedang tidur sambil memeluk guling kesayangannya. Herannya bapak selalu tahu kehadiranku. Padahal aku sudah mengendapendap ke kamar bapak kemudian melihat bapak diam-diam. Bapak pasti mengagetkanku. “Ri, sudah pulang?” tanya bapak sambil menangkap tanganku yang memang aku letakkan di pundak bapak yang tidur miring.


Seni Asiati Basin | 197 “Hahahaha, Bapak tahu aja, Nuri yang datang.” Tawaku lepas karena tangan bapak masih kokoh menangkap tanganku. Aku duduk di tepi tempat tidur dan menanyakan keadaannya. Seperti biasa bapak akan mengangkat tangannya dan mengepalkan kelima jarinya sambil berkata, “SEHAT DONG.” Yah aku memang sudah buta, mengapa tak terpikirkan tidak menengok bapak di kamarnya hari itu. Yang ada di kepalaku adalah Eva yang terbaring sendirian di rumah sakit. “Berangkat yang Mah.” Kucium tangan mamah yang sepertinya berat mengijinkan aku pergi. Di teras aku bertemu Awan dan istrinya yang baru datang. “Yu Ri mau kemana?” tanya Lina istri Awan. Aku ceritakan Eva yang terbaring di rumah sakit. Adikku Awan sedikit protes karena hari ini adalah ulang tahunnya dan juga bertepatan dengan pertengahan puasa. “Ya udah sama mamah dan bapak aja yah potong kuenya.” Kataku meledek Awan. Kupacu motorku membelah jalan menuju rumah sakit. Sepanjang jalan kulihat banyak penjual makanan tajil untuk berbuka puasa. Ada bakwan jagung yang menggiurkan, risoles yang terlihat menggoda. Beberapa pembeli aku kenal


198 | Malaikat Pemberi Jiwa sebagai tetangga mamahku. Kusapa dari balik helm yang aku kenakan. Baru separuh jalan ponselku berbunyi karena susah untuk mengangkat ponsel di jalan aku biarkan ponsel berbunyi. Pikirku nanti di rumah sakit baru aku balik menelepon. Sampai rumah sakit setelah memarkir motor dan naik ke lantai delapan tempat Eva dirawat, magrib pun tiba. Aku berbuka puasa dulu dan sholat magrib. Aku benar-benar lupa akan bunyi ponsel sepanjang jalan tadi. Selepas sholat aku masih menengok keadaan Eva dan menanyakan kondisinya. Ponsel masih aku lupakan. Aku baru teringat karena mau menelepon anak Eva yang belum sampai rumah sakit juga. Kulihat di layar ponsel adikku Awan menelepon sepuluh kali, belum suamiku menelepon, juga anakku. Aku tersentak ada apa mereka meneleponku semua. Buru-buru aku balik menelepon adikku karena tidak biasanya Awan meneleponku. Awan tak bisa kuhubungi, begitupun dengan suami dan anakku. Firasatku sudah tidak enak. Aku bereskan tas dengan sedikit melamun, telepon dari anakku membuyarkan lamunanku. “Mamah pulang yah, Nek Anang sakit. Hati-hati di jalan jangan ngebut bawa motornya.” Telepon langsung ditutup. Aku tak sempat


Seni Asiati Basin | 199 bertanya lain dan memang aku mulai gelisah. Bapak sering sakit dan sering pula hanya sakit yang bisa ditangani seketika oleh mamahku. Banyak orang memasang tenda di teras rumah mamah. Bangku-bangku sudah dijejer rapi. Hatiku sudah tak nyaman apalagi belum kustandarkan motor dengan sempurna, aku sudah disambut oleh seorang ibu yang kutahu tetangga mamahku. “Sabar, Mba Nuri iklaskan Bapak.” Suara pelan yang kudengar di telingaku seperti suara dengan mikrofon yang menghentakkan dadaku. Perih sakit rasanya hari ini aku kehilangan bapak tak ada di samping bapak. Bapak pergi dengan sejuta kenangan indah untuk kami anak-anaknya dan semua cucunya. Rasa sedih semakin menjadi ketika anakku yang ditempa oleh bapak untuk menjadi abdi negara berhasil lulus dan menempuh pendidikan seperti kakeknya dulu. Pembelajaran yang aku dapatkan dari bapak adalah untuk terus berkarya karena dari karya maka kita dapat tahu sejauh mana kemampuan kita. Malaikat pemberi jiwa itu telah pergi. Aku akan selalu mengenangnya. Semua memang terasa sepi karena tak ada lagi celoteh, canda tawanya, yang pasti tak ada teriaknya…. Nuri…. Bangun!!!


200 | Malaikat Pemberi Jiwa Epilog Setelah kepergian bapak semua terasa berbeda. Bagiku tak ada lagi lawan untuk berdebat mengenai gosip sehat politik dan ekonomi. Tak ada kritikus tulisanku yang luar biasa bernas dan tegas. Terkadang aku suka berpikir darimana bapak mendapatkan ilmu kritik tulisan. Ah… bapak kepergianmu memberi aku waktu untuk terus belajar tanpa batas. “Belum dikirim Ri, tulisannya, gak mepet tuh?batas pengirimankan besok!” Sapaan bapak sore itu ketika aku mampir ke rumah bapak, yang ditanya adalah karya tulisku yang akan aku ikutkan lomba bukan keadaan aku atau cucuku. Salahku tadi pagi aku diskusi tulisanku lewat telepon dengan bapak. Pastinya bapak menanyakan tulisanku dulu. Hemmm …. Bapak. “Nanti malam aku kirim, Pak.” Kataku sambil kucium tangannya dan mencomot sepotong singkong rebus di piring dekat bapak. Sore itu aku memang sengaja mampir ke rumah bapak, seperti biasa mohon doa agar karya lombaku mampir jadi finalis. Yah, cukup finalis saja sudah membuatku bangga. Seperti kata bapak kalau sampai juara itu BONUS. Istilah bapak yang maknanya memang


Seni Asiati Basin | 201 luar biasa. Aku bisa mengikuti lomba tanpa beban dan benar-benar hanya ingin mengeluarkan semua upayaku dalam menulis. Bagiku yang penting apa yang aku tulis keluar dari laptopku bukan penghuni abadi di laptop tanpa dinikmati orang banyak. “Jangan biasakan mepet waktu, nanti kalau ada yang kurang repot sendiri, usahakan dua atau tiga hari dari batas pengiriman.” Bapak menasihati sambil diseruputnya kopi hitam yang masih mengepul. “Tuh, kan masih aja minum kopi sudah dibilang dokter jangan minum kopi.” Aku habiskan kopi yang masih mengepul tak aku gubrik teriakan bapak untuk berhenti karena masih panas. Akhirnya memang lidahku jadi sariawan, hahahahahaha biarlah yang penting kopi pekat itu tak mampir di tengorokan bapak. “Hadewwwww, Nuriiiiiiii……” teriakan bapak membuatku ngacir ke dalam. Kopi yang ingin dinikmati dengan singkong rebus habis olehku. Mamah hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan perseteruan kopi yang terjadi. Apa yang lebih indah selain mengenang bapak dengan hati yang indah. Semua tentang bapak memang sangat indah. Bagi kami anak-anaknya bapak adalah malaikat pemberi jiwa. Ketika banyak duka aku


202 | Malaikat Pemberi Jiwa dan saudara-saudaraku torehkan, bapak malah tersenyum dan menguatkan agar kami selalu tersenyum dan ikhlas. Pelajaran bapak yang selalu aku ingat adalah kalau banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan jangan mengeluh, sekali kita mengeluh Allah tak akan lagi memberi kita pekerjaan. Benar yang dikatakan bapak, selama pekerjaan mampir ke kita berarti orang percaya kepada kita bukan orang lain dan campur tangan Allah yang memilih mengapa aku yang mendapat pekerjaan itu bukan orang lain yang pasti lebih mumpuni daripadaku. Bapak bagi kami anak-anaknya adalah semangat hidup yang tak pernah putus. Ocehan bapak agar kami tak lalai lima waktu menjadi kunci pembuka rezeki. Tak putus doa kami panjatkan untuk bapak dan hanya itu dialog indah aku dan anak-anak bapak di untaian doa yang kami panjatkan. Allaahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihii wa’fu anhu wa akrim nuzu lahu wa wassi’ madkhalahu waghsilhu bilmaai wats-tsalji walbaradi wanaqqihi minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wazaujan khairan min zaajihi wa adkhilhuljannata wa ‘aidzhu min ‘adzaabilqabri wafitnatihi wamin ‘adzaabinnaari.


Seni Asiati Basin | 203 Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaaibinaa washaghiiranaa wakabiiranaa wadzakarinaa wauntsaana. Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi ‘alal islaami waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaani. Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa tudhillanaa ba’dahu birahmatika yaa arhamar raahimiina. Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. “Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami atau istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia kedalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka. Ya Allah, berikanlah ampun, kami yang masih hidup dan kami yang telah meninggal dunia, kami yang hadir, kami yang ghoib, kami yang kecil – kecil kami yang dewasa, kami yang laki – laki maupun perempuan.


204 | Malaikat Pemberi Jiwa Ya Allah, siapapun yang Engkau hidupkan dari kami, maka hidupkanlah dalam keadaan iman. Ya Allah janganlah Engkau menghalangi kami, akan pahala beramal kepadanya dan janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggal dia dengan mendapat rahmat-Mu wahai Allah yang lebih belas kasihan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” Aamiin ya Rabbalalamiin.


Seni Asiati Basin | 205 Bahasa Kikim Lahat Dide : tidak Galak : mau Titu : itu Nak : akan Budak : anak-anak Ceruguk : Duduk diam Cucung : Cucu Gawe : Pekerjaan Karut : Jelek Sape : siapa kruan : tahu bada : tempat jeme : orang mak ini : sekarang enjuk tau : beritahu Terjemahan percakapan bahasa daerah Palembang (Lahat) -“Ai, ngape ceruguk gale.” (Ai,kenapa diam saja) -“sape nak nginak,” (siapa ingin lihat) -gulai tempoyak makanan khas palembang terbuat dari daging durian yang didiamkan “Makan kudai.” (makan dulu) -Balek Dusun pulang ke kampung -“Ngape ndindak singgah ke hume kami” (kenapa tidak mampir ke rumah kami)


206 | Malaikat Pemberi Jiwa -“Didelah purik, kagek kami singgah, di umeh Darmi lah ngumpulngumpul jeme kite gale.” (Janganlah marah, nanti kami mampir di rumah Darmi kumpul semuanya.) -“Kami anak beranak,batak gale cucung balek dusun, biar keruan sape sanak kite.” (Kami sekeluarga pulang kampung biar semua kenal keluarga kita) -ngaleh': pindah -“Sape dide kruan bada jeme ini mak ini enjuk tau, bada kami di Jakarta gahi jangan dide kalo nak midang cari gawe, enjuk tahu, itu gunenya sanak.” (Siapa tidak tahu sekaran diberitahu tempat tinggal kami di Jakarta, kalau ingin main sekaranglah kami beritahu agar berguna untuk keluarga.) -“Udemlah, ngape nak nangis, doakan bae Basin sehat pacak balek dusun lagi.” (Sudahlah jangan menangis. Doakan sakan Basin sehat dan dapat pulang kampung lagi.) -“Ayo siapa nak galak, miluk mancing” (Ayo, siapa yang ikut memancing) Referensi -https://tirto.id/kenakalan-anak-kolong-dan-sejarahnyacsTk. -https://jakarta-tempo-doeloe-inilah-asal-usul-namatanjung-priok-jakarta-utara


Seni Asiati Basin | 207 Biodata Penulis Nama : Seni Asiati Basin,M.Pd Tempat/tgl lahir : Cipanas, 10 Maret 1969 Alamat : Jalan Karang Kendal Rt 01/08 No.109 Cilincing Rorotan Jakarta Utara Hobi : Menulis dan Wisata Kuliner Pendidikan : 1. Sarjana Pendidikan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. 2. Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Pekerjaan : Guru Bahasa Indonesia SMPN 231 Jakarta Pos-el : [email protected] Ponsel : 081806867897 Riwayat pekerjaan: • Guru SMPN 231 Jakarta (2018- sekarang) • Guru SMAN Yappenda Jakarta (1990 -2015) • Dosen Bahasa Indonesia Politeknik Media Kreatif Jakarta (2013-2016)


208 | Malaikat Pemberi Jiwa • Dosen Bahasa Indonesia STIKES Mitra Keluarga (2016-2020) Pengalaman Organisasi • Ketua Divisi Humas Keluarga Program Persahabatan Indonesia-Jepang • Sekretaris Umum Himpunan Pembina Bahasa Indonesia • Sekretaris Umum Forum Komunikasi Pelaku perbukuan Karya Buku Pelajaran • Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi (Polimedia Publishing) • Pelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks (Polimedia Publishing) • Piawai Berbahasa Indonesia (Literasi untuk semua) • Buku Pengajaran ASEAN Kerjasama Kemenlu dan kemendikbud • Buku Model Pengajaran Bahasa Indonesia (Badan Bahasa) • Buku tematik SD Kelas 1 dan 2 Buku Fiksi • Buku seri cerita anak: Beni Sakit Gigi, Beni Lupa Sekolah • Novel : Bapak, Langit akan Terbang, Nara, “Korea Bukan Rumahku” • Kumpulan Cerpen


Seni Asiati Basin | 209 Karier • Instruktur literasi nasional • Editor Buku Teks Pusbuk Kemdikbud 2013 - 2020 • Penilai Buku Pelajaran Pusbuk • Kurator Belajar Dari Rumah (BDR) TVRI dan Kemdikbud • Delegasi Indonesia Program Persahabatan Indonesia-Jepang Regional Leader Forum to Vietnam dan Cambodya.


Click to View FlipBook Version