The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Novel tentang perjuangan seorang ayah yang menginspirasi anaknya.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by seniasiati, 2024-02-11 02:11:03

Novel Malaikat Pemberi Jiwa

Novel tentang perjuangan seorang ayah yang menginspirasi anaknya.

Keywords: Novel Inspirasi

Seni Asiati Basin | 43 Ini Cara Bapak umah masa kecil adalah sebuah potret panjang bagaimana aku dan saudara-saudaraku menghabiskan cerita masa kecil kami. Di kompleks inilah bapak mengajarkan aku dan keempat saudaraku untuk mandiri, percaya diri, dan selalu menjaga diri. Setiap hari bapak selalu mewajibkan kami anakanaknya melaporkan apa saja kegiatan yang kami lakukan. Cara ini membuat kami anak-anak bapak jadi percaya diri bila berbicara di depan orang. “Sekarang Nuri!” kata bapak malam itu. Bapak baru pulang dari dinasnya. Seperti biasanya bapak selalu meminta kami anak-anaknya melaporkan semua kegiatan yang kami lakukan satu hari itu. Bapak akan duduk di kursi sambil melepaskan semua atribut pakaian dinasnya mulai dari ikat pinggang dengan ujung berwarna emas berlogo kesatuan tempat bapak bekerja. Pangkatpangkat yang ada di bahu dan kantung baju bapak. Bukan hanya itu dengan gayanya bapak mengeluarkan pistol berukuran sedang yang tentu saja berat yang dikeluarkan dari sarungnya. Bapak akan mengusap pistol itu dengan lap hingga R


44 | Malaikat Pemberi Jiwa mengilap sebelum meletakkannya. Aku dan saudaraku tak ada yang berani menyentuhnya karena kami mengerti bahayanya kalau ikut memegang. Rasanya seram membayangkan pistol itu ada di tangan bapak. Hingga bapak pensiun dari pekerjaannya aku belum pernah memegang pistol bapak. “Nuri dulu Pak?” tanyaku pelan nyaris tak terdengar. Aku takut dengan pistol yang bapak letakkan di meja kecil sebelah bapak. Padahal aku yakin tak mungkin pistol itu melukaiku. Sikapku itu malah membuat bapak jengkel. Bapak paling tidak suka bila sudah diperintah dan jelas kalimat perintahnya masih bertanya. Aduh, pasti aku kena marah bapak lagi nih. Benar saja belum sempat aku bicara lagi bapak sudah berbicara dengan kerasnya. “Iya kamu? Tidak dengar tadi siapa yang bapak suruh laporan duluan?” kata-kata bapak membuatku tanpa sadar menggulung-gulung ujung kaosku. Kalau suara bapak sudah keras itu tanda kelelahan dan jengkel bapak. Adikku Tita bersembunyi di belakang tubuhku. Situasi seperti itu sebenarnya biasa, setiap malam rutinitas demikian akan kami lakukan selama masih ada bapak. Kadang aku dan adikku Tita suka berdoa semoga bapak lupa. Rasanya tak mungkin lupa karena bapak adalah


Seni Asiati Basin | 45 orang dengan daya ingat luar biasa. Belakangan baru aku sadari didikan bapak ini membuat aku dan saudaraku lebih percaya diri dibandingkan teman-teman lain. “Hari ini Nuri ikut kegiatan senam Pak untuk lomba senam kesegaran jasmani.” Aku ceritakan bagaimana aku jadi kapten atau orang yang paling depan di kegiatan senam itu. Akhirnya lega bisa menyampaikan kegiatanku hari ini. Aku sempat melirik Tita yang seperti biasa sudah siap dengan catatannya. Tita tidak sepertiku yang langsung melaporkan tanpa menyiapkan catatan. Tita adikku ini sungguh tertib administrasi. Laporan Tita biasanya runtun dan jelas. Hari ini Tita melaporkan PR matematika yang berhasil diselesaikannya dengan sempurna. Aku yakin Tita akan mendapat nilai sempurna untuk matematika. Kakakku Susi dan Iwan mendapat giliran selanjutnya. Susi selalu melaporkan tidak sampai tuntas. Laporan Susi hanya mengatakan kalau hari ini Susi membantu mamah menjaga Awan. Aduh itu bukan laporan memang kewajiban apalagi Susi anak pertama. Yang aku senang mendengar laporan Iwan. Kakakku ini pasti akan banyak yang diceritakan. Aku belajar banyak dari kakakku Iwan dalam hal bercerita.


46 | Malaikat Pemberi Jiwa “Mulai besok di kompleks kita ada latihan karate.” Kata bapak setelah semua anak-anak bapak menyampaikan laporannya. “Siape nak melatih budak-budak ni, Pak? Biasanya orang tuaku akan menggunakan bahasa daearah kami untuk berbincang-bincang bila ada hal yang khusus. Aku tahu dari nada suara mamah yang terlihat keberatan dengan laporan bapak. Aku mengerti sedikit Bahasa yang digunakan. “Pak Dibyo, Ma. Pagian tadi bapak temu Pak Dibyo di kantor, uji die kasihan nginak budak-budak asrama dide ade gawe. “ kata bapak. Di kompleks kami ada lapangan bola yang berada di tengah-tengah kompleks. Lapangan bola ini sering juga dimanfaatkan oleh warga untuk berkumpul selain untuk berlatih bola. Kalau malam hari lapangan bola hanya digunakan untuk berkumpul atau anak-anak berlari-larian saja tidak ada aktivitas yang ada manfaatnya. “Tanyekah, titu bayar dide?.” Mamah bertanya apa laihan karate nanti harus bayar. “Ngatek duit kalo bayar gale anak beranak.” Mamah sudah memperhitungkan berapa biaya untuk empat orang anaknya. “Dide bebayarr, gratis titu.” Kata bapak. Latihan karate gratis untuk anak asrama. Bapak sudah mendaftarkan aku dan kedua saudara perempuanku dan tentu saja kakakku Iwan untuk


Seni Asiati Basin | 47 belajar beladiri karate. Latihan mulai diadakan setiap malam Selasa dan malam Sabtu. Sebenarnya aku tidak suka karate, aku senang menari bukan ilmu beladiri. “Perempuan itu harus punya kepandaian ilmu beladiri biar bisa menjaga dirinya dari gangguan manapun dan dari siapapun.” Kata bapak pada aku dan kedua saudariku Susi dan Tita. “Tapi Pak, Nuri mau kursus tari saja.” Kataku sambil menunduk. Aku dan saudarasaudaraku tak pernah memandang wajah bapak kalau menolak. Bapak tidak suka penolakan tanpa argumentasi yang jelas. Kali ini aku belum menemukan jawaban yang pas untuk menolak karena itu aku tak berani menentang bapak. “Aku mau les matematika saja Pak, gak mau ikut karate. “ kata Tita sambil memainkan ujung gaunnya. Suara Tita tercekat, antara takut dan malu. Aku menunggu apa yang akan dikatakan Susi untuk menolak perintah bapak. Hampir lima menit suasana pada saat itu sunyi sampai bapak berdiri dari tempat duduknya dan menunjukkan koran pagi itu yang baru dibacanya. Bapak tak banyak bicara hanya menyuruh aku membaca dengan suara keras.


48 | Malaikat Pemberi Jiwa “Seorang pelajar SMP ditemukan tewas di tepi kali dengan luka lebam diduga dianiaya.” Aku serahkan koran pada bapak dan aku mengerti mengapa bapak meminta kami semua anak perempuannya untuk belajar beladiri. Bapak menatap semua anak perempuannya dan matanya berhenti pada kakakku Susi yang hanya sibuk melihat ke televisi, ada acara kesukaan Susi pada jam itu. “Bapak tahu kalian keberatan, tapi di kompleks ini ada yang mau melatih karate dan semua latihan yang kalian lakukan dibiayai oleh pemerintah yang menaungi kompleks ini, jadi sayangkan kalau kalian tidak ikut.” Bapak menjelaskan mengapa bapak ingin semua anaknya belajar karate. “Iya Pak.” Serempak aku dan dua saudaraku menjawab. “Sudah dengar tadi yang dibaca Nuri?” kata bapak lagi. Aku dan Tita mengangguk dan tahu ke arah mana pembicaraan bapak. Bapak sungguh khawatir dengan kami tiga anak perempuannya. Kekhawatiran bapak yang memang sangat wajar mengingat lingkungan kota besar yang memang rawan. Apalagi bapak kerap mendapat laporan tindak kriminal. “Latihannya di lapangan depan kompleks kan, Pak?” tanyaku pada bapak.


Seni Asiati Basin | 49 “Iya, di lapangan jangan lupa jadwal latihan dan jangan terlambat.” Bapak selalu menekankan untuk disiplin dalam waktu itu yang akhirnya mengajarkan kami di kehidupan. Aku menatap pakaian putih-putih yang kami kenakan. Pakaian karate dengan ikat pinggang putih. Katanya kalau naik tingkat ikat pinggang akan berganti warna. Aku hanya merasakan sampai warna coklat selanjutnya tak mengikuti lagi. Usiaku dan Tita hanya terpaut satu tahun. Sewaktu bapak meminta kami berlatih karate usiaku baru 10 tahun berarti Tita 9 tahun. Sedangkan kakakku Susi sudah kelas 2 SMP. Kakakku Iwan kelas 1 SMP. Tahun itu Jakarta sudah semakin rawan dengan tindak kejahatan. Berita kriminal di televisi dan di koran, membuat bapak dan mamah khawatir keselamatan kami, anak-anaknya. Aku yakin apa yang diminta bapak karena bentuk sayang bapak pada kami anakanaknya. Aku hanya berdoa semoga bapak nanti mengijinkan aku ikut kursus tari. Selama ini aku menari dengan diam-diam. Biasanya kakakku Iwan yang mengajak ikut latihan tari. Setelah malam itu, aku dan Tita berlatih karate seminggu dua kali. Tanganku yang gemulai karena terbiasa menari harus mengikuti irama karate yang menghentak dan keras. Kakakku Susi


50 | Malaikat Pemberi Jiwa tidak berminat untuk ikut berlatih dengan alasan sering sakit perut. Bapak tidak memaksa Susi ikut. Bapak memang tidak pernah memaksakan kehendak pada Susi. Tapi tidak demikian halnya dengan aku dan Tita. Bapak cenderung memaksa. “Kalian harus tahu kenapa bapak dan mamah gak pernah memaksa Susi untuk mengikuti kemauan kami.” Mamah bercerita padaku sore itu ketika aku mengadu pada mamah mengapa bapak tidak pernah menyuruh Susi mengikuti keinginan Bapak. “Susi dari kecil sering sakit-sakitan, bapak dan mamah sangat khawatir.” Kata mamah lagi. “Apalagi kalian tahu watak kakak kalian itu.” Aku tahu ke arah mana mamah akan bercerita. Susi kakakku ini memang sering sakitsakitan. Selain itu Susi cenderung perasa. Kakakku ini mudah menangis. Aku dan saudaraku memang berbeda watak, tapi kami dididik untuk saling menjaga dan menyayangi. Cara bapak mendidik kami memang tak akan pernah kami lupa. Aku menajdi pribadi yang berani begitu pula dengan adikku. Bagaiamana dengan kakakku? Hemmm cara bapak yang tidak diikuti oleh kakakku membuatnya tak seberani kami.


Seni Asiati Basin | 51 Duka Keluarga abar duka datang menimpa keluarga kami. Waktu itu aku sudah kelas 1 SMP dan aku satu sekolah dengan kakakku Iwan. Seorang polisi menyampaikan berita duka pagi itu ketika aku selesai mandi dan mamah baru saja pulang dari pasar. Aku bersekolah siang hari sementara Susi dan Tita serta kakakku Iwan bersekolah pagi hari. Polisi memberi kabar kalau kakakku Iwan mengalami kecelakaan motor. Kakakku harus meregang nyawa karena motor yang dikendarainya bertabrakan dengan sebuah mobil. Iwan kecelakaan akibat benturan yang keras antara motor kakakku dan mobil yang belakangan diketahui dikemudikan oleh seorang polisi. Kakakku meninggal di tempat kejadian. Sedangkan teman yang diboncenginya masih sempat dilarikan di rumah sakit namun beberapa saat kemudian meninggal dunia juga. Berita duka itu membuat mamah terpukul dan bapakku sedih berkepanjangan. Mamah masih belum menerima anak kesayangannya harus meninggal seperti itu. Aku ingat peristiwa itu K


52 | Malaikat Pemberi Jiwa karena aku ada di rumah. Pagi itu ketika aku sedang mengerjakan PR, Iwan yang sudah berangkat sekolah pulang lagi ke rumah. Pagi itu hari Senin, siswa sekolah akan melaksanakan upacara bendera. Iwan pulang ke rumah bukan karena perlengkapan sekolahnya belum lengkap. Aku mengenal kakakku yang selalu rapi dan siap bila pergi sekolah. “Ri, Mamah mana? Tanya Iwan yang pagi itu kembali ke rumah. Tadi Iwan berangkat sekolah, mamah di kamar mandi sehingga ia tidak pamit langsung pada mamah hanya berteriak dari luar pintu kamar mandi kalau ia mau berangkat sekolah. Kali ini pulang ke rumah mamah sudah pergi ke pasar. Hal itu aku katakan pada Iwan. “Ri, topi sekolahmu mana?” tanya Iwan padaku lagi. “Ada memang kenapa?” mataku tidak lepas dari soal yang aku kerjakan. “Pinjam. Ini teman kakak gak punya topi.” Di belakang Iwan sudah berdiri Johan sahabat karib kakakku. Wajahnya meringis takut aku tidak pinjami topi. “Cepat ambil ntar keburu upacara, tambah dihukum deh.” Kata Iwan lagi. Kakakku ini sangat disiplin untuk urusan sekolah. Aku berikan topi sekolahku pada Johan. Kedua sahabat itu melesat dengan motor yang dikemudikan oleh kakakku


Seni Asiati Basin | 53 Iwan. Masih sempat aku lihat motor yang membawa mereka. Sebuah vespa tua yang aku yakin dipinjam Iwan pada temannya di sekolah. Bapak tak pernah membolehkan anak-anaknya mengendarai motor karena menurut bapak belum cukup usia. Kalau bapak tahu Iwan pulang mengendarai motor, nanti malam pulang bapak dinas pasti banyak petuah bapak untuk kami. Pada akhirnya bapak tak sempat memberikan petuahnya pada kakakku, karena Iwan tak bisa mendengar petuah bapak lagi. Tangis mamah pecah setelah berita duka yang disampaikan polisi membangunkan seisi kompleks. Berita kematian kakakku yang tragis dimuat di harian ibukota yang isinya memang berita mengenaskan. Berhari-hari mamah dilanda kesedihan yang mendalam. Adik bungsuku jadi ikut tak terurus. Tinggallah kami kakak-kakaknya yang mengasuh. Mamah mengurung diri di kamar tak mau makan sampai harus dipaksa. Keadaan itu membuat sedih semua anak mamah. Bapakku adalah orang yang demokratis. Kejadian yang membuat anaknya meninggal dunia pun masih diperhitungkan dengan penuh demokratis. Sementara mamah menuntut si penabrak di hukum seberat-beratnya. Bapak malah mencabut semua tuntutan. Bapak sadar nyawa yang pergi tak mungkin diminta lagi pada Tuhan.


54 | Malaikat Pemberi Jiwa Bapak mengikhlaskan kepergian kakakku bukan karena polisi penabrak adalah rekan sesama polisi. Mamah tak menyadari jiwa besar bapak dengan mengikhlaskan kepergian anak kesayangannya yang diharapkan dapat mengantikan dirinya kelak, merupakan keputusan yang sungguh berat untuk bapak. Keputusan ini memang membuat mamah marah. Bahkan berhari-hari mamah tak berbicara dengan bapak. Bapak memikirkan keluarga polisi itu. Polisi yang menabrak kakakku memiliki anak yang jumlahnya sama dengan keluarga kami. Kata bapak akan banyak manusia yang kehilangan kalau tuntutan itu tetap dilanjutkan. Akan ada enam orang yang kehilangan dan pasti dampak berikutnya banyak. Mereka akan kelaparan karena tulang punggung keluarganya masuk bui. Bapakku memang hebat, tak kubayangkan jika ini terjadi padaku. Awalnya mamah tidak terima tetapi akhirnya mamah juga mengikhlaskan. Mamah menyadari apalagi semenjak mamah terpuruk dalam kesedihan anak-anaknya tak terurus. Anakanak mamah terutama Awan adikku yang masih butuh kehadiran mamah selama mamah berduka diurus oleh kakak-kakaknya saja. Sesekali bapak mengurus Awan yang juga rewel mungkin tahu kalau ibunya berduka.


Seni Asiati Basin | 55 “Ayo, Mah makan.” kata bapak yang hari itu terlihat lesu dan muka bapak terlihat lelah. Bapak akan berangkat dinas yang pasti tidak akan pulang semalaman. Beberapa minggu ini, aku dan saudara-saudaraku di urus oleh keponakan bapak yang memang datang ke rumah untuk mengurus kami. Saudara bapak di kampung melihat kesedihan mendalam yang dirasakan mamah hingga aku dan saudaraku tidak terurus. Besok keluarga bapak yang menjaga kami akan pulang ke kampung. Pastinya bapak bingung siapa yang akan menjaga anak-anaknya terutama Awan yang masih kecil. “Pak, Nuri kan masuk siang.” Aku berbicara hati-hati kulihat bapak masih membujuk mamah makan. “Nuri bisa jaga Awan sebelum sekolah.” “Aku pulang sekolah Pak.” Adikku Tita yang sekolah pagi juga menyodorkan diri untuk menjaga Awan. Tita merelakan waktu bermainnya demi menjaga Awan. “Aku sore yah, Pak.” Kakakku Susi yang biasanya tidak peduli dengan keadaan keluarga, tergerak hatinya juga melihat keadaan mamah. Kami sudah berkumpul di kamar mengelilingi mamah yang terbaring lemah. Aku lihat ada air bening di ujung mata mamah. Bapak duduk di ujung tempat tidur masih memegang


56 | Malaikat Pemberi Jiwa piring. Perlahan mamah bangkit dan duduk bersandar di tempat tidur. “Sini, Ta dekat mamah.” Mamah memanggil Tita dan memeluk Tita. Awan yang duduk dekat Mamah merengek minta dipeluk juga. Aku dan kakakku Susi ikut mendekat dan memeluk mamah. Jadilah pagi itu kami berpelukkan. Kudengar mamah terisak tangan mamah sudah penuh dengan tubuh kami anak-anaknya. “Maafkan mamah yah, sayang.” Kali ini aku tak kuat juga ikut menangis. Melihat aku menangis Tita pun ikut menangis. Di antara anak mamah, aku memang yang paling mudah menangis. Bahkan bercerita saja aku acap kali tanpa terasa sudah tergenang airmata. “Nah, Mamah sudah pahamkan kalau masih banyak anak-anak Mamah yang butuh Mamah, ayo Mamah makan dan ikhlaskan almarhum.” Bapak meminta mamah makan. Dengan lahapnya mamah makan dan sesekali Tita dan Awan mengambil baso di sayur capcay yang dimakan mamah. Hari itu mamah menjadi pribadi yang luar biasa sehabis makan, mamah bangun dari tempat tidur dan mulai beraktivitas seperti biasa. Pakaian dinas bapak yang masih teronggok di bak cucian mulai direndam. Mamah melepas kepergian bapak dan kami dengan senyum cerah sambil menggendong Awan. Aku tahu hari ini aku


Seni Asiati Basin | 57 akan makan sayur asam buatan mamah lagi dan bapak dapat berdinas dengan tenang. Kesedihan akibat kehilangan membuat orang tuaku mengajak kami anak-anaknya meninggalkan kehidupan kompleks yang ramai. Kami pindah ke daerah dimana listrik dan air belum terjamah tetapi masih dalam lingkup daerah yang sama, kelurahan yang sama, kecamatan yang sama di Jakarta. Kami harus meninggalkan temanteman yang sudah teramat akrab dengan kami. Meninggalkan bor panas yang sudah menjadi bagian dari diri kami. Yang pasti kami ingin melihat mamah tersenyum dan melupakan duka itu.


58 | Malaikat Pemberi Jiwa Tak Cukup Hanya Rumah “Kumpul semua di ruang tamu, yah.” Kata bapak selepas bapak makan malam. Waktu itu kami masih tinggal di rumah asrama, seingatku tiga bulan setelah kakakku Iwan meninggalkan kami bapak memutuskan untuk pindah rumah. “Ada apa Pak?” tanya Susi yang memang sedang asyik dengan radio yang memutar sandiwara radio yang kata Susi cukup seru dan sayang ditinggalkan. Aku pernah mencuri dengar sandiwara radio itu sewaktu tidur malam. Hanya saja kalau aku dan Tita mencuri dengar, kakakku Susi akan marah dan buru-buru mematikan radio. “Hari Minggu kita pindah rumah, kalian harus membereskan semua barang-barang kalian sendiri, sementara bapak dan mamah membereskan barang-barang yang ada di rumah ini.” Bapak memberitahu dengan jelas dan tegas bahwa semua barang kepunyaan aku dan saudaraku harus dikemas sendiri. Bapak dan mamah sudah menyiapkan beberapa kardus bekas yang bisa kami pakai. “Ri, itu semua barang-barangku kamu sama Tita yang mengemas yah. Aku gak enak badan


Seni Asiati Basin | 59 nih.” Kakakku Susi sudah memberi perintah dan jangan harap aku dan Tita menolak. Pernah aku menolak dan Susi marah sambil berteriak-teriak yang membuat malu bapak dan mamah. Kejadian itu sering terjadi dan jadi senjata Susi agar kami menuruti perintahnya. Aku tentu saja malu kalau harus bertengkar dengan Susi dan mendengar teriakan Susi. Tetangga sebelah rumah orang Jawa yang tutur katanya selalu lembut. Kadang tetangga ikut menenangkan Susi untuk diam. Rumah Dongkelan ini adalah obat untuk mamah melupakan kesedihannya. Rumah yang mengantarkan cinta buat hatiku. Rumah yang meluluhlantakkan hatiku juga. Rumah ini adalah rumah keluargaku yang penuh perjuangan. Bukan karena rumah yang lain tidak ada perjuangan. Rumah ini semua cerita terbangun dengan penuh warna. Tahun 1980 daerah pinggiran di Jakarta masih belum terjamah listrik. Sebenarnya rumah dongkel atau kami menyebutnya rumah perjuangan ini tidak jauh dari kompleks yang kami tinggali masih dalam satu kecamatan bahkan satu kelurahan. Hanya saja rumah inilah rumah yang tidak termasuk dalam kompleks rumah negara alias hasil perjuangan orang tua kami untuk membangunnya. Sebuah rumah di lingkungan masyarakat yang bukan berprofesi sama dengan bapak. Bapak membeli tanah dari tuan tanah asli


60 | Malaikat Pemberi Jiwa Betawi. Luas tanah dan rumah lebih luas dari rumah kompleks yang kami tempati. Daerah rumah dongkel terletak agak jauh dari jalan raya dan memang masih sepi. Tahun 1980 daerah rumah ini masih banyak sawah, jalan belum beraspal, listrik belum masuk, dan air bersih belum tersedia. Akses jalan menuju ke rumah perjuangan masih sulit. Jalan yang harus dilalui dari tanah yang licin bila musim hujan dan kering berdebu jika kemarau. Warga juga harus berjalan jauh untuk naik angkutan umum. Transportasi menuju jalan raya tidak ada dan hanya tersedia setelah kami berjalan kaki sejauh 2 km. Tidak seperti rumah di kompleks yang pernah kami tempati yang sama semua baik bangunan maupun luas tanah. Bahkan warna cat rumah juga sama tidak boleh beda maklumlah rumah pemberian pemerintah. Rumah dongkelan berbeda bentuk dan warna cat rumah. Ada yang rumahnya megah luas dan penuh tanaman, ada yang rumahnya kecil tanpa kamar. Bahkan masih ada rumah yang beratap rumbia. Awalnya aku dan saudaraku takut tinggal di rumah yang dibangun bapak. Biasanya kami selalu tinggal di kompleks. Rumah dongkelan belum ada penerangan walaupun masih wilayah Jakarta. Bukan itu saja sekeliling rumah ini masih


Seni Asiati Basin | 61 sawah. Rasanya seperti tinggal di kampung bukan di kota Jakarta. “Aduh, Ri kok Lo bisa yah tidur di tempat gelap gini.” Susi sudah mulai mengeluh. “Udah ngantuk mah bisa ajalah.” Kataku mantap. Keluhan Susi memang membuat sebal. “Yah, Lo mah bisa ajalah emang tukang molor.” Kali ini Susi menjawab sambil meledekku. Aku tutup telingaku tak mau mendengar omongan Susi. Kalau Susi diladeni omongan bisa-bisa tidurku akan lama dan telinga ini siap-siap mendegarkan keluh kesahnya. Padahal mamah sudah mengingatkan bahwa rumah baru yang akan kami tempati adalah rumah yang belum berlistrik dan nyaman karena tidak bising dengan suara anak-anak kompleks yang sudah malam pun masih bermain. Kami akan senang karena rumah kami dekat dengan masjid. Beberapa keunggulan rumah baru sudah didengungkan mamah. Bagiku ini adalah istana, aku harus membiasakan diri dengan keadaan rumah. “Mending tidur ajalah, cape kalau bahas gelap dan terang.” Aku menjawab sambil menarik selimut. Rumah ini memang berbeda dengan rumah-rumah yang pernah kami tinggali. Selain bukan rumah kompleks lagi, juga kami harus membaur dengan anak-anak dari berbagai profesi orang tuanya. Banyak juga pendatang seperti kami.


62 | Malaikat Pemberi Jiwa Rumah ini dibangun oleh bapak dan mamah tiga kali lipat lebih luas daripada rumah mambo dan rumah asrama. Proses pembangunan juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kata mamah semua perhiasan mamah habis dijual demi mewujudkan rumah impian keluarga. Aku yang pada waktu itu sudah bisa mengendarai motor, sering ditugaskan mamah mengantar makanan untuk tukang yang mengerjakan pembangunan rumah. Ada satu cerita yang aku ingat ketika aku mengatarkan makanan. Hari itu sepulang mengantar makanan, aku pulang ke rumah sendiri. Mamah tidak ikut tinggal di rumah yang sedang dibangun Motor yang aku kendarai melewati rumah teman sekolahku. Temanku melihat aku melintas kemudian berteriak memanggil namaku. Aku yang mendengar panggilan itu menoleh dan melambaikan tangan. Rupanya aku melaju cukup kencang tangan kiri melambai dan tangan kanan tetap pada gas motor, wajahku berpaling ke kanan ke sumber suara yang memanggil. Ketika aku sadari di depanku sudah ada sebuah becak yang terparkir dengan abang becak yang tertidur di dalamnya. Aku tak mampu mengelak dan mengerem. Akhirnya becak aku tabrak dan atap becak patah, patahan besi menusuk punggung tukang becak. Peristiwa itu membuat orang yang


Seni Asiati Basin | 63 melintas menepikan kendaraannya untuk menolong. Para penolong itu mengeluarkan caci maki yang memerahkan telingga. “Makanya kalau belum bisa naik motor jangan sok.” “Ngebut sih bawa motornya.” Beragam suara yang keluar. Hal itu tidak membuatku gentar padahal usiaku baru 12 tahun. Bapak mengajarkanku untuk bertanggung jawab. Seketika itu pula abang becak aku bawa ke rumah sakit dan becak yang aku tabrak aku titipkan pada temanku yang bergegas datang ke lokasi kejadian. Aku minta becak dibawa ke bengkel terdekat. “Pak, Nuri salah maafkan Nuri yah. Mulai sekarang Nuri gak mau bawa motor lagi.” Sore itu aku menghadap bapak yang baru pulang dinas. “Tukang becak bagaimana, Ri?” tanya bapak yang sedang melepas kaos kaki. “Tukang becak masih di rumah sakit Pak.” Jawabku tertunduk. “Trus becaknya bagaimana? Rusak parah atau rusak sekali?” bapak bertanya lagi. Kali ini sambil melepaskan ikat pinggang yang sudah menyesakkan badannya seharian. “Becak sudah Nuri bawa ke bengkel sepeda Pak. Tapi Nuri belum tahu berapa biayanya. Nanti uang jajan Nuri bapak potong aja yah.” Kataku. Kali ini keringat sudah membajiri sebagian


64 | Malaikat Pemberi Jiwa tubuhku. Aku tahu hukuman apa yang akan aku terima dari bapak. “Besok pulang sekolah kita bezuk tukang becak itu.” Kata bapak sambil merebahkan diri di sofa. Aku lihat betapa lelahnya bapak dan aku sudah mengusik istirahat bapak dengan masalahku. Suasana hening tiba-tiba hanya terdengar suara televisi dan nyanyian dari kamar Susi. Bapak terlihat memejamkan mata. Aku yang melihat bapak seperti itu semakin merasa bersalah. Bapak pasti pusing karena apa yang aku lakukan. Terbayang susahnya bapak karena ulah anaknya ini. “Pak, mau teh manis.” mamah datang dengan segelas teh manis. “Boleh, Mah masih panaskan?” Bapak bangun dan meminum teh yang dibawa mamah. “Ah, segarnya, manisnya pas.” Bapak puas dengan suguhan mamah. Aku berdiri saja terpaku tak tahu harus berbuat apa sampai bapak menyuruhku duduk di sampingnya. “Ri, kamu tuh hebat.” Ucapan bapak membuatku terkejut. “Wah, hebat apanya Pak, sudah menyusahkan tuh dibilang hebat.” Tiba-tiba Susi kakakku muncul dari kamar dan berdiri di pintu kamar sambil memegang radio di tangannya.


Seni Asiati Basin | 65 Rupanya suara nyanyian itu berasal dari radio yang disetel Susi. “Hebat itu bukan karena salah, hebatnya Nuri bisa bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dilakukan. Untuk anak seumur kamu kelas 1 SMP perbuatan kamu tuh sudah hebat.” Kata-kata bapak membuatku lega. “Nuri hanya melakukan apa yang harus Nuri lakukan, tukang becak itu harus segera ditolong Pak.” Kataku sambil memandang bapak. Kali ini bapak merangkul bahuku. Rasanya tuh mau nangis, dada yang sesak karena bersalah dan badan yang lelah harus mondar-mandir ke rumah sakit terbayar sudah. “Kamu anak bapak yang hebat. Tapi kesalahan kamu dapat jadi pelajaran kalau bawa kendaraan jangan sembarangan yah.” Aku mengangguk tersenyum. Bapak mengacak-acak rambutku dan mendekapku erat. Tak terasa air mata mengalir dari pipiku. “Wah, ga bisa gitu Pak. Nuri harus dipotong uang jajannya.” Susi keluar dari kamar dan duduk di depan bapak. “Oh, itu pastilah. Nuri harus bertanggung jawab terhadap biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan abang becak, perbaikan becak, dan uang harian anak-anak tukang becak yang tentu saja selama sepuluh hari bapaknya tidak bisa


66 | Malaikat Pemberi Jiwa menarik becak.” Penjelasan bapak membuatku menjauh dan keluar dari dekapan bapak. Baru saja senang sudah harus sedih memikirkan semua biaya yang harus kutanggung. Berapa lama uang jajanku harus dipotong bapak. Susi yang mendengar penjelasan bapak tertawa senang dan mengejekku. Aku tertunduk kali ini air mata sudah membanjiri pipiku. Bukan sedih memikirkan uang jajan yang tidak aku terima entah selama berapa bulan melainkan mengapa bapak tidak punya solusi dari masalahku. Katanya aku anak kelas satu SMP yang bertanggung jawab, akukan anak bapak masa bapak tidak mau membantu. Jadi buat apa artinya orang tua bagi anak seumur aku. Memikirkan itu tangisanku berubah menjadi isakan yang akhirnya terdengar oleh bapak. “Rasakan tuh makanya jangan gayagayaan.” Susi mengejekku dan berlari ke kamar. Rasanya Susi puas melihat aku seperti itu. Padahal Susi tidak pernah membantu mamah mengantar makanan. Susi tidak bisa mengendarai motor. Kalau diminta mamah naik becak mengantarkan makanan untuk tukang, banyak alasan Susi untuk menolak. Senjata paling ampuh adalah sakitnya. “Mulai sekarang, Nuri harus menggosok kepala ikat pinggang bapak dan menyemir sepatu bapak sampai mengilap. Itu hukumannya dan


Seni Asiati Basin | 67 dilakukan selama dua bulan.” Ucapan bapak membuatku tersentak. Selama ini tugas itu tidak pernah dilakukan oleh siapa pun. Kata mamah kalau dilakukan orang lain, bapak tidak puas kurang bersih, kurang mengilap, dan kurang pas untuk ukuran bapak. Kali ini bapak mempercayai padaku. Mamah saja tidak pernah dipercaya untuk melakukan tugas itu. Bapak memang luar biasa. Maafkan Nuri pak, sudah berburuk sangka. “Bapak gak memotong uang jajanku?” tanyaku sambil memandang bapak. Kali ini bapak tersenyum dan mengacak-acak rambutku lagi. “Upah pekerjaan itu sepadan dengan semua tanggung jawab yang sudah kamu lakukan.” Kata bapak lagi. “Kalau yang Nuri kerjakan kurang bersih dan tidak kilap bagaimana Pak?” tanyaku hati-hati kali ini aku takut salah karena semua atribut bapak harus benar-benar kinclong. “Nuri sanggup gak?” sebelum bapak membatalkan niatnya, buru-buru aku mengangguk setuju. Kata bapak. Aku sudah bisa diberi kepercayaan merawat semua atribut pakaian bapak. Pekerjaanku yang suka menolong mamah ternyata diperhatikan bapak. Tak kuasa rasanya membendung perasaan ini. Aku berteriak dan memeluk bapak.


68 | Malaikat Pemberi Jiwa Bapak memang hebat bukan aku yang hebat. Bapak tahu pelajaran apa yang bisa aku ambil dari musibah ini. Susi yang tahu kalau hukuman bapak adalah membersihkan atribut pakaian dinas bapak, tidak terima. Kata Susi pekerjaan itu hanya sepele saja dan iapun bisa melakukan. Bapak menegaskan kalau keputusan bapak harus dihormati. Hebatnya bapak untuk meredam marah Susi, bapak menjanjikan kalau di rumah baru nanti, Susi akan mendapat satu kamar yang besar. Kali ini Susi menyetujui dan senang sekali karena akan mendapat ruang kamar sendiri. Adikku Tita senang karena uang jajanku masih utuh, itu berarti aku dan Tita bisa makan bakso sepulang sekolah. Aku dan Tita selalu menyisihkan uang jajan setiap hari. Uang tersebut kami gunakan untuk makan bakso mini di dekat sekolah setiap hari Jumat. Kalau uang jajanku dipotong pastinya aku akan minta bakso Tita dan itu membuat Tita harus makan bakso sedikit. Kejadian itu membuatku berhati-hati berkendaraan. Bapak benar, bersama itu akan menyenangkan dan saling menguatkan. Berapa kalipun kami pindah, jika bersama pasti akan saling menguatkan. Itulah mengapa bapak harus mengajak keluarganya mengikuti kemana bapak bertugas. Ingatkan rumah pertama tempat aku


Seni Asiati Basin | 69 dilahirkan di daerah sejuk dan dingin Cipanas, Jawa Barat. Rumah itu tepat di depan istana Presiden Cipanas. Bapak bertugas di istana waktu itu menjadi penjaga istana Cipanas. Kami biasa menyebut rumah Cipanas. Kemudian kami pindah ke Jakarta dan tinggal di rumah mambo. Rumah asrama menjadi rumah masa kecilku juga. Bapak adalah abdi negara sehingga aku dan keluarga harus mengikuti kemana bapak bertugas. Setiap rumah memiliki cerita yang berkisah berbeda. Aku tahu bapak sendiri terkesan dan terkenang dengan rumah Cipanas. Kata bapak rumah Cipanaslah awal kaki bapak berpijak di tanah Jawa. Kami anak-anak bapak hanya menyimpan memori sedikit mengenai tanah kelahiran kami, yang teringat hanya hawa sejuk, cemara berdaun hijau, delman, dan istana yang berdiri megah di depan kompleks. Tidak demikian dengan bapak, yang memiliki kisah indah di rumah Cipanas. Bapak memiliki cerita sendiri dengan rumah Cipanas. Kenangan bapak banyak sekali di rumah Cipanas. Bapak memulai karier pekerjaannya di daerah ini. Bapak mengawali kisah hidupnya di bumi priyangan setelah menempuh jalan berliku di kampung halamannya. Perjuangan bapak inilah yang selalu diulang dan menjadi sejarah indah buat kami anakanaknya untuk bertahan hidup. Rumah Cipanas


70 | Malaikat Pemberi Jiwa selalu diceritakan bapak bila kami berkumpul. Sebuah kompleks untuk para pengawal yang bekerja di Istana Cipanas. Sebagian orang Indonesia tahu Istana Cipanas ini. Sewaktu aku kecil pelataran depan istana bisa kami masuki, itu pun bila keluarga istana tidak ada yang berkunjung atau tidak ada acara di istana. Bahkan kelahiranku menurut mamah dibantu oleh ibu bidan istana, atau yang biasa membantu persalinan anak-anak pegawai istana. Rumas Cipanas adalah saksi sejarah bagaimana bapak membangun karirnya. Setiap sudut kompleks istana dan perumahan menjadi sudut-sudut indah untuk dikenang bapak. Bapak selalu mengajak berlibur ke Cipanas. Tidak ada sanak saudara yang bisa kami datangi. Biasanya aku akan memesan hotel atau villa. Bapak selalu semangat bila diajak berlibur ke Cipanas. Ada saja cerita bapak bila diajak berkunjung ke Cipanas. “Ini dulu tempat bapak latihan.” Kata bapak ketika kami berlibur ke Cipanas. Bapak akan semangat bercerita pada anakku Naldi. Mata bapak akan berbinat mengenang kisah di Cipanas, tak heran kalau cita-cita Naldi anakku ingin mengikuti jejak bapak. Kenangan bapak akan Cipanas dan kebanggaan bapak menaklukan tanah Jawa.


Seni Asiati Basin | 71 “Semoga ini rumah terakhir kita,” kata bapak sambil mengikat dus-dus berisi perabotan dapur mamah. Rumah yang dibangun memang besar daripada rumah yang di Cilincing, untuk ukuran keluargaku yang biasa menempati rumah kompleks. Luas tanah di rumah ini 15 x 20 M2 . Kamar tidur di rumah baru ini ada empat. Ini berarti ada perubahan dalam pembagian kamar. Kamar di rumah baru ini sangat luas dibandingkan rumah kami di kompleks. Ada tiga kamar berukuran 5 x 5 M2 , terbayangkan luasnya kamar yang akan kami tempati. Satu kamar lagi berukuran 3 x 3 M2 kata mamah kamar itu buat adik bungsuku Awan. Bapak dan mamah pasti menempati kamar tidur paling depan. Itu berarti ada dua kamar lagi dan aku bisa membaca pikiran bapak untuk menepati janjinya, pastinya satu kamar buat kakakku Susi dan satu lagi buat aku dan adikku Tita. Tebakanku tak meleset, aku tahu jalan pikiran bapak. Susi tak mungkin bersamaku atau Tita apalagi bapak sudah menjanjikan sebuah kamar untuk Susi. Selain itu bapak melihat bahwa semakin beranjak remaja, Susi sibuk dengan dunianya. Kerjanya hanya di kamar mendengarkan musik dan menonton televisi tanpa mau diganggu. Dunia Susi memang berbeda dengan aku dan Tita. Selama ini tak ada teman Susi yang berkunjung ke


72 | Malaikat Pemberi Jiwa rumah kami. Tidak seperti aku dan Tita, temanteman selalu berkunjung ke rumah. Sekadar main atau belajar bersama. Rumah ini juga rumah masa kecil walaupun aku sudah beranjak remaja ketika menempati rumah ini. Di depan rumah baru ini ada masjid kecil hasil wakaf dari seorang juragan tanah. Seiring perjalanan waktu dan pertambahan penduduk masjid ini melebar. Ada jalan yang lumayan lebar bisa dilalui dua mobil yang berselisihan. Di depan pagar masjid ada pohon buah kawista yang menempel dengan tembok pos kamling. Pohon ini selalu berbuah tak mengenal musim. Bila buahnya yang berkulit keras ini matang pasti jatuh dan meninggalkan harum buah yang sungguh nikmat. Sayangnya aku tak menemukan pohon ini di daerah lain bahkan di daerah di Indonesia yang kusinggahi. Sejalan dengan pelebaran masjid, pohon kawista ditebang. Sungguh disayangkan karena buah ini sangat langka. Bentuk buah yang termasuk kelompok jeruk-jerukan ini, seukuran buah apel bersama kulit yang kuat dan juga tebal mirip dengan batok kelapa serta bersisik semisal kulit melon. kulit buah kawista ini memiliki warna cokelat muda saat matang dan juga putih kekuningan saat masih muda, lagi dagingnya memiliki warna cokelat bersama biji-biji yang


Seni Asiati Basin | 73 berukuran kecil 5 sampai 6 mm, berlendir dan karena banyak maka biji-bijian ini sudah menyatu dengan rasa buahnya. Daging buahnya lembut dan masam namun legit berwarna coklat seperti dodol. Harumnya buah kawista dapat tercium ketika angin membawa harum buah yang matang dari atas pohon. Konon, buah kawista ini berasal dari india namun sudah menyebar luas ke wilayah Asia Tenggara dan termasuk ke Indonesia. Unik sekali buah kawista ini saat masih muda. Buah kawista ini rasanya begitu pekat dan asam segar sampai banyak yang menjadikannya sebagai bahan untuk rujak. Aku sering membuat rujak dengan adikku bila tanpa sengaja melintas dan buah kawista mengejek minta untuk dipetik padahal masih muda. Saat telah matang, buahnya akan terasa manis legit sekali dan lezat serta memiliki kandungan sensasi cola walaupun zat sodanya tidak tinggi. kalau matangnya pada pohon, buah kawista akan mengeluarkan aroma yang begitu harum dan tidak jarang buahnya akan jatuh sendiri ke tanah. kalau ini terjadi daging buah kawista akan tetap aman sebab kulitnya yang begitu tebal cukup dapat melindungi buah yang ada di dalamnya. Rumah ini juga menjadikan aku semakin mengenal sosok bapak. Jalan menuju rumah kami bila musim hujan pasti tidak bisa dilewati motor


74 | Malaikat Pemberi Jiwa apalagi mobil. Seperti kembali ke kampung yang jauh dari Jakarta. Tanah liat dan hamparan sawah yang membentang layaknya bermukim di kampung. Belum lagi listrik yang belum menjamah daerah rumahku ini yang membuat aku harus selalu ada di rumah bila malam tiba. Setiap malam aku dan adik-adikku belajar menggunakan petromak yang bergantian dipompa bila nyala sinarnya meredup. Kadang aku berpikir, sebenarnya aku tinggal di Jakarta atau di kampung yah? Bapak bercerita bahwa masih ada binatang melata yang akan membuat kami takut. Awalnya aku tak percaya, setelah menyaksikan sendiri binatang ini melata di depanku ketika aku asyik tidur di lantai. Binatang melata ini membuatku menjerit dan jijik. “Aduh, bapak seram banget sih. Gak ada lampu, banyak ular, sepi lagi.” Itu protes Susi di hari pertama kami tinggal. “Pak, balik lagi yah ke rumah asrama.” Pinta adikku Tita. “Kemana-mana susah, Pak. Masih Magrib aja sudah gak bisa kemana-mana.” Aku ikut menimpali. Keluhan hari pertama di rumah baru ini hanya ditangapi bapak dengan senyum dan ucapan “sabar pasti ada waktunya.” Temantemanku tak banyak yang berkunjung ke rumah


Seni Asiati Basin | 75 baru ini. Selain jauh dari kendaraan umum, juga jalan rumah kami yang sulit dilalui oleh sepeda sekalipun. Jalan tanah yang dijadikan jalan menuju kampung rumah kami adalah tanah liat yang melekat di sepatu atau sandal yang kami kenakan. Kadang aku dan adikku tak memakai sepatu untuk berangkat ke sekolah. Di ujung jalan beraspal, baru aku dan adikku memakai sepatu setelah mencuci terlebih dahulu kaki kami yang belepotan tanah. Keadaan yang amat menyiksa terjadi apabila musim hujan tiba. Selain tanah menempel di kaki dan sepatu, juga aku dan warga kampung suka terpeleset karena licinnya jalan yang kami lalui. Kalau sudah demikian aku sering belepotan tanah sampai sekolah bahkan karena malu aku sering bolos tidak masuk sekolah, pulang lagi ke rumah. Melihat situasi jalan yang sering merugikan warga, bapak memiliki ide untuk bergotong royong membangun jalan agar mudah dilalui. Bapak mengumpulkan para tetua kampung dan para pemuda dan secara swadaya dan swadana dimulailah pembangunan jalan. “Pak Haji, kita harus perbaiki akses jalan biar mudah semua urusan.” Aku dengar bapak ngobrol dengan pak Haji Gofur seorang sesepuh kampung. Bapak meminta dukungan agar rencana memperbaiki jalan bisa didukung oleh warga asli.


76 | Malaikat Pemberi Jiwa Keluarga kami adalah kaum pendatang, kata bapak tidak etis kalau melangkahi warga asli yang memang sudah sangat dikenal masyarakat. Proses yang kata bapak lobi dilakukan di masjid sambil berbincang hangat selepas sholat magrib sambil menunggu waktu isya. “Wah repot banget yak kalo suruh kumpulin duit, kan Lo tahu sendiri warga pada males kalo disuruh sumbangan.” Kata haji Gopur dengan logat Betawinya yang kental. “Usaha dulu pak Haji, siapa tahu banyak yang mau menyumbang, kan kita gak tahu bagaimana antusias warga kalau jalan sudah dibangun.” Penjelasan bapak membuat pak Haji Gofur mengangguk-anggukkan kepala. “Ya udah, Lo jelasin dah ape aja yang mau kite bikin buat nih kampung.” Kali ini terdengar suara pak Haji Gofur mantap dan semakin percaya dengan potensi bapak. Bapak membeberkan usul tentang pembangunan jalan dengan detail. Aku ikut mendengar karena kebetulan selepas magrib, aku ikut pengajian oleh pak Ustad Ali. Banyak anak-anak yang ikut pengajian, namun aku yakin mereka tidak sepertiku yang suka menguping pembicaraan orang dewasa. Sebenarnya kalau bukan karena ada bapak dan aku dengar usualan bapak, aku pun tak akan menguping pembicaraan orang dewasa.


Seni Asiati Basin | 77 Usulan bapak bisa diterima oleh para sesepuh kampung terutama Haji Gopur. Aku belajar dari bapak, Haji Gopur adalah sesepuh kampung, kalau Haji Gopur setuju pastinya warga asli kampung akan mengikuti Haji Gopur. Ah, politik berbisnis bapak memang luar biasa. Jadi tak perlu merayu semua warga. Cukup ambil hati Haji Gopur. Setelah usulan diterima, bapak dengan semangat mulai menyusun rencana apa yang lebih dahulu menjadi prioritas untuk kampung ini. Kata teman-teman sekolahku walau aku tinggal di Jakarta, tetapi wilayah daerahku termasuk kampung, sehingga mereka menyebutnya Kampung Pedongkelan. “Ri, sini deh.” Bapak memanggilku pagi itu. Aku sudah siap berangkat sekolah. Aku pikir bapak akan menyuruhku berangkat sekolah sendiri naik becak seperti biasa kalau bapak tidak bisa mengantarku. “Apa Pak?” Aku mendekati bapak dan siap menyalami. “Ini tolong Nuri baca surat untuk warga, apa yang kurang yah, nanti malam bapak pulang kamu kasih tahu apa yang kurang. Biar bisa diketik rapi dan dibagikan ke warga.” Bapak menyodorkan kertas berisi tulisan tangan bapak. Aku senang sekali dilibatkan dalam proyek yang disusun bapak. Bapak tahu aku suka membaca


78 | Malaikat Pemberi Jiwa segala bacaan akan aku lahap dengan nikmat. Kali ini aku diminta melihat kekurangan surat yang ditulis bapak. Tulisan tangan bapak memang khas sekali. Seperti tulisan orang tua zaman dahulu latin bersambung dan sangat tegas. Tugas pertama dari bapak ternyata nantinya membuatku paham menyunting tulisan. Mulailah pembangunan jalan di kampung kami. Warga yang memiliki materi menyumbangkan uang untuk membeli bahan material. Warga yang tidak memiliki materi, bapak minta membantu pembangunan jalan dengan tenaga. Selama tiga bulan setiap hari Sabtu dan Minggu para warga bahu-membahu membangun jalan kampung. “Pak Kapten, sisa adukan semen belum datang.” Kata seorang warga pagi itu yang menyapa bapak di teras rumah. Aku sudah bersiap berangkat sekolah dengan bapak. Adukan semen diperlukan untuk menguruk jalan yang akan dilalui warga. Selama ini tanah yang dilalui adalah tanah liat. Jika hujan tiba, terbayang beratnya kaki melangkah karena tanah akan ikut. “Nanti saya tanyakan pada mandor Pei yah.” Bapak menenangkan warga. Besok hari Sabtu pembangunan jalan tidak dapat dilakukan jika adukan semen belum datang. “Kalau sampai besok pagi belum datang juga, kita ratakan jalan yang


Seni Asiati Basin | 79 sudah ada adukan semen Pak. Nanti bapak bilang ke warga yah.” Bapak benar-benar tahu apa yang harus dilakukan dan pekerjaan dapat dikerjakan dengan lebih teratur. Warga yang mengeluh terlihat berseri-seri dan semakin yakin dengan kepemimpinan bapak. Akhirnya jalan kampung bisa dilalui dengan nyaman walau hanya dari adukan semen dan sampah besi. Jalan rumahku sudah nyaman dan tidak kotor bila dilalui. Walaupun jalan belum mulus seperti jalan aspal di kompleks kami, namun sudah bisa dilalui tanpa harus berjuang membuang tanah liat yang menempel di sepatu. Jalan kampung kami kini terbentang di depan mata dengan rapi. Semua warga senang, mereka berterima kasih pada bapak. Sejak saat itu bapak menjadi orang yang menjadi panutan juga tempat berkeluh kesah warga. Acara peresmian jalan kampung sengaja diadakan walau hanya makan-makan kecil. Setiap keluarga membawa tampah yang berisi nasi, lauk (ada ikan dan telur rebus), dan sambal. Mamah dan beberapa ibu membuat sayur asem yang katanya sayurnya orang Jakarta. Semua makanan digelar di sepanjang jalan waktu itu sudah sore. Kami duduk beralas tikar yang sengaja digelar. Ide bapak ini benar-benar luar biasa. Aku bisa


80 | Malaikat Pemberi Jiwa mengenal setiap warga kampung tanpa harus susah payah mendatangi satu persatu. “Ini anak pak Kapten nomor satu yah.” Kata seorang warga yang melihatku mengangkat bakul nasi. “Bukan, ini anak saya nomor tiga yang naik peringkat jadi nomor dua.” Bapak menjelaskan mengapa aku menjadi nomor dua. Beberapa warga ada yang mengangguk dan beberapa ada yang masih sempat berbelasungkawa. “Oh, jadi pak Kapten pindah karena ada musibah yah.” Seorang warga bertanya pada bapak. Aku yang mendengar kalimat itu kaget karena kalimat itu akan membuka luka lama mamahku yang duduk tak jauh dari bapak. “Bukan musibah Pak Toto.” Kudengar mamah bersuara. Aku yang tertarik dengan perbincangan itu pura-pura sibuk membersihkan tempat duduk. “Iya Pak Toto, semua yag datang dari Allah bukan musibah.” Kudengar Haji Gofur ikut bersuara. “Kami pindah karena dua tahun lagi bapak pensiun, dan kami cukup tahu diri bahwa kami tidak layak tinggal di kompleks itu.” Kata mamah memberi penjelasan.


Seni Asiati Basin | 81 “Loh, memang kalau pensiun kagak boleh ape lo pade tinggal di sono?” kali ini kudengar Haji Gofur berbicara. “Bukan tidak boleh pak haji, sebenarnya perumahan itu untuk yang masih aktif, kalau sudah pensiun yah harus tahu diri untuk keluar dari kompleks. Cukuplah memanfaatkan perumahan negara, selama ini harus menabung agar dapat membeli rumah sendiri. Kalau kami yang pensiun tidak keluar dari perumahan itu, kasihan aparat yang masih aktif tidak dapat rumah.” Bapak menjelaskan dengan panjang lebar. “Nah, ape kata gue, keluarga pak Kapten tuh tahu diri dah.” Kata Haji Gofur dengan menyeruput kopi hitam. “Iye Pak Haji, banyak noh yang kagak tahu diri udah pengsiun masih ade aje yang ngejokrok di situ”. Kata pak Mirta. Perbincangan terus berlanjut dengan beragam cerita warga. Perjuangan bapak mewujudkan jalan yang layak bagi kampung Pedongkelan ini, membuat kami anak-anaknya semakin kagum. Kami harus berjiwa sosial seperti bapak. Bapak menjadi tokoh panutan setelah pembangunan jalan, ada saja warga yang berselisih datang ke rumah kami untuk meminta bapak membantu perselisihan mereka. Ada masalah utang piutang, masalah pertengkaran


82 | Malaikat Pemberi Jiwa antartetangga, bahkan pertengkaran suami istri. Aku semakin kagum pada bapak yang mampu menyelesaikan semua persoalan dengan bijak. “ Pak Kapten, maaf nih aye mau ngomong.” Sore itu rumah kami kedatangan suami istri. Aku sudah kenal pasangan suami istri itu, mereka tinggal di belakang rumah. Aku mengantarkan minuman dan melihat Mpok Diyah sang istri menangis. “Ada apa ini.” Kudengar bapak bertanya. “Ini Pak Kapten, aye punya istri kagak bisa dibilangin.” Bang Apit terlihat marah dan menunjuk-nunjuk istrinya. “Kenapa istri kamu?” tanya bapak lagi. “Dimane-mane dia punya utang, udah tahu suaminya Cuma supir eh dia asyik bae ngutang terus.” “Udah ditanya kenapa istri kamu ngutang.” Bapak bertanya lagi. “Ah, die mah ngutang cuma buat foya-foya aje pak Kapten.” Jawab Bang Apit. “Coba aje Pak Kapten, segale makanan die utang sama yang ngider, belon lagi kulkas yang belon dicicil tiap bulan, emang aye punya gaji, udah lah aye mau cerein aje die, biar tahu rasa cari duit suseh.” Bang Apit bercerita tanpa jeda. “Wah, jangan gegabah dan emosi gitu. Ingat loh kata-kata kamu itu doa.” Bapak mengingatkan


Seni Asiati Basin | 83 bang Apit. Bapak menanyakan pada Mpok Diyah, apa yang telah dilakukan oleh Mpok Diyah seperti yang diceritakan suaminya. “Iye, Pak Kapten, anak aye kalo ada tukang jual kue yang ngider minta beli terus, kalo kagak punya uang kate abang yang jual boleh ngutang aye, ya udahlah biar anak adem seneng yang aye ambil tuh Pak Kapten.” Mpok Diyah tidak membela diri karena apa yang dilakukan sematamata untuk menyenangkan buah hatinya. “Kan kagak mesti lo turutin kemauan anak lo terus.” Kata Bang Apit masih belum puas dengan jawaban Mpok Diyah. “Gini aja yah persoalan kalian itu mudah, kan Mpok Diyah gak kerja, bang Apit sudah belikan kulkas, nah dimanfatkan tuh, buat es mambo jual di depan rumah pasti laku.” Bapak memberi jalan keluar yang bijak. “Aye, kagak bise bikin es mambo, Pak Kapten.” Mpok Diyah menjawab dengan menunduk. “Ntar saya yang ajarin, Mpok.” Aku yang mendengar perbincangan itu ikut-ikutan bersuara. Bapak menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku sudah takut, pasti bapak marah karena aku sudah ikut menguping pembicaraan dan ikut menyela pembicaraan.


84 | Malaikat Pemberi Jiwa “Nah, ini Nuri mau mengajarkan, Mpok.” Kata-kata bapak membuatku mengangkat wajahku dan tersenyum menengok ke bapak. Bapak mengusap-usap kepalaku. “Wah, boleh tuh ntar duit dari jualan es mambo bisa buat nyicil kulkas dan kue ye.” Bang Apit terlihat senang. Akhirnya persoalan Mpok Diyah dan Bang Apit dapat terselesaikan tanpa ada kata bercerai. “Kamu hobi nguping yah?” Bapak menjentik kupingku setelah suami istri itu pergi. “Maaf, pak habis Nuri gak sengaja dengar sih.” Aku mencoba membela diri. “Gak, apa lain kali bapak justru minta tolong Nuri yah kalau ada persoalan warga kampung.” Aku mengangguk dan mengacungkan jempol. “Tugas Nuri mengajarkan Mpok Diyah buat es mambo.” “Siap pak pokoknya ntar es mambo Mpok Diyah paling laris deh.” Aku menyombongkan diri, bapak tertawa melihat optimisme aku. Hari itu aku belajar lagi dari bapak tentang menangani sebuah persoalan dengan lembut dan sabar.


Seni Asiati Basin | 85 Sepenggal Hati ohon kawista di depan rumah menjadi saksi juga perkenalanku dengan seorang pemuda kampung yang mampu menggetarkan hatiku. Kepindahan kami ke rumah ini membuat kampung menjadi bertambah penghuni. Pemuda itu anak ketua RT dan juga juragan tanah. Sikapnya yang santun dan baik menjadi aku terpana. Usiaku masih 15 tahun ketika hatiku mulai merasakan dawai cinta. Masih bau kencur kata bapak jadi tak usah macammacam. Waktu itu bapak melihat kedekatanku dengan pemuda itu. Kisah cinta yang kurasakan indah dan penuh warna. Selama pembangunan jalan, pemuda itu yang usianya lebih tua dariku hanya terpaut dua tahun turut serta menyukseskan pembangunan jalan. Badannya yang tegap dan gagah mampu mencuri hatiku. Pemuda ini juga yang membantu kepindahan keluargaku ke kampung ini. Saat itu aku memandang wajahnya karena memang aku lihat ia cukup sigap membantu kepindahan kami. Di antara banyak orang yang membantu, aku hanya melihatnya. Aku lihat P


86 | Malaikat Pemberi Jiwa lesung pipi indah, biasanya perempuan yang memiliki lesung pipi indah. Saat itu aku tak berpikir untuk mengenalnya. “Pak Kapten, lemari mau ditaruh di mana?” seorang pemuda menegur bapak. Terlihat dua orang pemuda berdiri di kiri kanan lemari pakaianku. Pemuda itu sempat mencuri pandang denganku yang sibuk membawa keranjang berisi pakaian. “Oh, itu lemari Nuri, bawa ke kamar yang di depan yah Do. Aku dengar bapak menyapa pemuda itu. Ternyata bapak sudah mengenal pemuda itu, bahkan panggilannya saja bapak tahu. Aku menebak kira-kira siapa nama pemuda itu. Anto, Dodo, Dodi, Doli, Dido ada gak yah nama lainnya yang berawalan dan berakhiran Do? “Mbak, maaf jangan berdiri di pintu gak bisa lewat nih.” Lamunanku dibuyarkan oleh sapaan pemuda itu yang sibuk mengangkat lemari dibantu dua orang pemuda. Tempatku berdiri menghalangi jalan mereka. Akhirnya aku tahu namanya, dia Aldo anak ketua RT di daerah ini. Wajahnya yang tegas dengan rahang yang kuat dan rambutnya yang berombak memberi kesan kuat di hatiku. Hari itu masih sempat aku mengucapkan terima kasih karena sudah membantu kepindahan kami. Sejak itu aku sering berjumpa dengannya di masjid


Seni Asiati Basin | 87 untuk sholat magrib berjamaah. Mulanya hanya sebatas menyapa, lama-kelamaan kami sering berangkat sekolah bersama. “Mbak, mau ke sekolah yah?” pagi itu aku lewat depan rumah Aldo dan kulihat Aldo sudah siap dengan motor besarnya dan baju seragam dengan tangan yang digulung. Masa itu baju dengan tangan digulung menjadi tren bagi kami anak sekolah. Aku belum tahu di mana Aldo sekolah kalau searah tentunya aku mau ikut. “Iya, nih Bang.” Aku menunduk malu. “Yuk Bang kesiangan nih, ntar telat.” Aku menjawab, sebenarnya aku menunggu jawaban Aldo yang pastinya akan mengajakku. Berharap Aldo mengerti kode yang aku kirimkan. “Bareng yuk.” Kata-kata yang aku tunggu akhirnya terucap juga. Dengan malu-malu aku mengangguk dan duduk di boncengan dengan perasaan campur aduk. Tanganku memegang besi pinggiran motor. Baru kali ini aku diantar laki-laki yang bukan bapakku. Rasanya sampai ke sekolah lebih cepat dari sebelumnya. Usiaku sudah 15 tahun, mungkin ini yang dinamakan cinta. Sejak hari itu Aldo sering mengajakku berangkat sekolah bersama. Hingga suatu hari Aldo mengirim surat padaku. Caranya cukup unik, ketika magrib tiba aku lihat Aldo ikut pengajian Ustad Ali. Biasanya Aldo tidak pernah ikut.


88 | Malaikat Pemberi Jiwa “Ri, pinjam Al Quran Kamu, yah.” Aku memberikan Al Quran yang sudah aku baca. “Lain kali bawa Al Quran sendiri, yah.” Kudengar Ustad Ali mengingatkan Aldo. Temantemanku masih sibuk dengan bacaannya dengan khusu. Aku sibuk mengajarkan adik-adik yang usianya di bawahku. “Ri, terimakasih yah Al Qurannya.” Sepulang pengajian Aldo menjejeri langkahku. Aku tersenyum dan bergegas jalan menyusul teman-teman. Padahal rumahku searah dengan rumah Aldo. “Suitt ... suitt ada yang pedekate nih.” Yani mengodaku. “Apa, sih Yan.” Aku menunduk malu. Aku menerima Al Quran yang disodorkan Aldo dengan hati tak karuan. Kisah cintaku yang kata bapak masih bau kencur hanya sebatas curi-curi pandang saja. Setiap lewat depan rumahnya aku selalu mencari alasan agar dapat berhenti dan memandang rumahnya. Setiap aku disuruh mamah ke pasar, aku akan lewat depan rumah Aldo. Sekarang Aldo ikut pengajian bersamaku. Itu tandanya Aldo pun punya perasaan yang sama denganku. Pulang pengajian aku berbaring mengingat momen romantis tadi walau pun hanya meminjam Al Quran. Kupandangi Al Quran yang tadi dipinjam


Seni Asiati Basin | 89 Aldo. Tanpa sengaja aku balik Al Quran mencari tahu apa yang dibaca oleh Aldo. “Apa nih.” Aku lihat kertas putih menyembul di antara Al Quran. Dengan hati tak menentu aku buka lembaran putih. Surat dengan tulisan yang rapi. Kubuka perlahan tulisan di kertas putih dengan perasaan yang luar biasa. Nuri, yang cantik ... Kata-kata pertama yang kubaca di surat sudah menggetarkan hatiku. Aku jadi tahu, tadi itu hanya siasat Aldo untuk meminjam Al Quran padaku. Karena aku lihat di lemari masih ada Al Quran yang tersisa. Aku tersenyum karena ternyata bisa juga Aldo Romantis. Biasanya kami pergi sekolah bersama hanya sekadar duduk di boncengan dan melambaikan tangan. Mungkin Nuri bingung kenapa aku menulis surat ini. Pertama kali melihatmu, aku sudah jatuh hati. Aku tahu kita baru berkenalan, tetapi hatiku tidak bisa dibohongi. Aku jatuh hati pada Nuri. Semoga Nuri, tidak marah dan masih mau berangkat sekolah bersama. Sudah yah, kita ngaji lagi yuk. Aldo Surat cinta yang begitu singkat tapi mampu memporakporandakan hatiku. Kalau ingat


90 | Malaikat Pemberi Jiwa bagaimana caraku membaca surat cinta pertamaku jadi geli sendiri. Surat cinta yang aku terima kala itu sungguh romantis dan menakutkan. Yah memang romantis karena aku baru menerima surat dari seorang pria. Menakutkan karena aku membaca surat di kamar mandi hanya diterangi oleh nyala lilin. Sampai aku duduk di bangku SMA atau satu tahun tinggal di rumah dongkelan, listrik belum masuk, masih diperjuangkan bapak. Hal itu aku lakukan karena aku tak sabar membacanya menunggu matahari esok sangatlah lama. Pujaanku itu memberikan surat ketika kami bertemu sehabis shalat magrib. Ternyata selain aku yang penasaran membaca surat, ada makhluk lain yang juga ikutan membaca surat. Ia melata tepat di depan kakiku yang tegak berdiri. Aku tahu ada binatang itu ketika aku rasakan benda licin menyentuh kakiku. Karena aku fokus pada surat di tangan hingga kehadiran makhluk itu tak aku rasakan. Aku menjerit lari keluar kamar mandi setelah tahu makluk tanpa ekor yang licin dekat di kakiku. Rupanya makhluk itu masuk lewat lubang air di kamar mandi. Malam itu menjadi malam yang spesial. Aku tersenyum sambil mengenggam erat surat cinta dari Aldo. Esok menjadi sesuatu yang indah karena


Seni Asiati Basin | 91 aku jadi tahu perasaan hati Aldo padaku. Rasanya tak sabar menunggu esok hari. Sejak malam itu dan hari-hari berikutnya aku sudah sibuk dengan hatiku. Bapak pasti melihat perubahan sikapku. Aku mulai jarang ngobrol dengan bapak. Bahkan bermain bersama adikku Tita sudah jarang aku lakukan. Malam itu di teras masjid kami duduk sambil menatap langit bersama Aldo. Malam itu pengajian ditiadakan karena Ustad Ali sakit. “Kamu lihat gak bulan di atas itu?” tanya Aldo sambil jari telunjuknya mengacung ke arah bulan yang bersinar terang yang menggantung di atas langit malam. “Lihat lah, emang kenapa?” aku balik bertanya. “Ya kali aja kamu gak lihat, mata kamu itu kan selalu menunduk ke bawah. Haha…” godanya dengan tawa lepas. “Yehh… Kamu ngeledek ya? Huuu,” aku merajuk cemberut. “Hmm… indah ya?” ujarnya. “Iya, eh bintang jatuh tuh!” sahutku sambil menunjuk ke arah sinar bintang jatuh. “Iya Ri,” sambungnya. Lalu ku lihat matanya terpejam dan mengepalkan kedua tangannya di atas dadanya. “Aku beruntung banget punya pacar seperti kamu. Aku janji Ri, akan selalu menyayangi kamu sampai


92 | Malaikat Pemberi Jiwa kapan pun dengan setulus hatiku.”Aldo menatapku yang masih tertunduk malu. “Aku juga berjanji akan selalu ada untuk kamu,” gumamku dalam hati kecilku yang rasanya sudah meluas diisi oleh cinta. “Kamu berharap apa?” tanyaku terdengar bergema, melihat ke atas langit yang ternyata hanya ada satu bintang. “Ahh… Kamu kepo deh,” ledeknya sambil menjulurkan lidahnya. Ah, rasanya bersama Aldo hidupku semakin indah dan berwarna. Warga kampung bahkan semakin sering mengolok aku, kalau aku pergi sendiri. Aku yakin bapak tahu. Mamah saja ikut menggodaku. “Ri, ada Aldo tuh.” Mamah membangunkan aku siang itu dari tidur nyenyak. Aku buru-buru bangun dan membasuh muka berlari ke depan dan tak ada siapa pun di teras rumahku. Aku dengar mamah tertawa. “Makanya jangan tidur kebanyakan Ri, udah pergi tuh pujaan hati.” Mamah menggodaku. **** Cinta Putus Sambung “Nuri, kalau dia sayang dengan kamu, pasti tidak akan membuat malu kamu apalagi bapak.” Hari itu bapak menemukan Aldo, pujaan hatiku mabuk karena minum-minuman keras di poskamling. Pemuda pujaan hatiku, subuh itu


Click to View FlipBook Version