1
2
3 UNTUKNYA PEREMPUAN 11 FEBRUARI
4
5 Untuknya Perempuan 11 februari Penulis : HAFIDZ FACHRI Penyunting : Ibu Petti priani dewi, S.P.d Nadhira qonita Desain Sampul : Kayla Azzahra Ilustrasi : Kayla Azzahra Aizka Syifana Aida Fitri
6 감사 니다 Puji Syukur bisa bikin novel ini, semoga selesai hehe. Semoga di hari minggu akhir oktober, membawa berkah untuk aku dan yang akan membaca novel ini. Walaupun aga sedikit aneh, dikit amiin ya allah. Bisa membuat orang yang ku-tuju sukaa. Walaupun bukunya bakal terbuat menjadi digital saja, semoga aja bisa jadi buku yang fisik. Terimakasih atas seseorang yang bisa ku jadikan novel, yang ku- buat sendiri. Terimakasih sudah bisa membuat saya menulis lagi, walaupun saat nulis sekarang aga sedikit bingung, nulis apayah aku ?. Tetapi bisa menulis juga akhirnya. Meman aneh utusan tuhan ini. Semoga dengan adanya kenangan di masa SMP ini, bisa bikin novel ini terkenal habis tuh indah di baca. Terimakasih atas hari hari nya, di lantai 3 Sekolah kita, Kantin, Perpus, Event Sekolah hingga laiiin lainya yang bikin moment itu aku tulis di sini. Walaupun banyak moment itu, semoga aku ingat dan bisa menulis nya di sini, apalgi hal kita Bersama yang selalu papasan Ketika di Sekolah kita.
7 Satu lagi yang ingin ku-sampaikan, buku ini akan selalu abadi di tangan orang yang tepat ini dan akan abadi dengan seseorang Perempuan kura-kura yang membaca buku ini. Semoga suka !! Hafidz Fachri
8 Menurutku seorang perempuan pendiam, lebih menarik. Dari pada dengan perempuan aktif.
9 1 Tidak Semuanya Sama Tebiasa untuk hal baru “Melepaskan seseorang yang buruk untuk dirimu adalah hal yang baik untuk kedepannya. Tetapi susah jika sudah cinta terlalu dalam.” “Maaf, gue gak bisa bales perasaan lo. Untuk kali ini, maaf..” Adalah kalimat terakhir yang dilontarkan oleh seorang lelaki yang mengenakan seragam sekolah dilapisi dengan sweater putih bersih, juga dengan rambut yang disisir ke samping andalannya. Menurutnya, untuk apa pula ia mempertahankan rasa kepada seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu selama satu tahun, jika pada akhirnya hanya membuatnya sakit hati dan malu manakala orang lain melihatnya sebagai lelaki bodoh yang berharap kepada seorang perempuan yang bahkan belum selesai dengan masa lalu nya.
10 Keputusan Azhaf, seorang Pelajar Angkatan 19 di sekolahnya, juga merupakan atlet Taekwondho dengan jabatan Ketua Osis di sekolah nya. Menurutnya keputusan ini sudah bulat, keputusan yang sudah ia rancang dari lalu-lalu, tetapi hanya hari ini ia baru bisa menggerakan lidahnya, untuk mengucapkan hal itu. Hal yang menurutnya adalah hal yang paling ia takuti selama ini, dan ia simpan dalam-dalam di hatinya. Walaupun ia selalu dipermainkan dan disakiti oleh perempuan itu, tetapi tidak tahu mengapa pada akhirnya ia akan tetap Kembali menyukai gadis itu. Seperti pergantian malam dan siang, seorang lelaki ini akan tetap di sakiti, tetapi ketika perempuan itu memberikan sebuah harapan dalam berbagai bentuk, rasa sakit itu seketika hilang dari benaknya, dan ia akan terus mencoba untuk memaafkannya. “Akhirnya lo sadar juga, Zhaf. Gue cape buat ngingetin lo soal tuh cewek! Akhirnya lo lepas juga” Kata pertama yang terdengar di telingan Azhaf, setelah hari-hari yang melelahkan nya di sekolah. Dia adalah sahabat Azhaf dari kelas tujuh, seorang perempuan
11 tomboy yang sekarang sudah berubah, mungkin karna pergaulan nya di kelas delapan, sepertinya. Azhaf tidak tahu menahu sejauh apa dia berubah, tetapi pada akhirnya ia tetap menjadi sahabat Azhaf dan tempat bercerita untuknya di akhir hari. “Iyaa, selama ini gue cuman bertahan sama yang gak pasti ya, mending gue fokus buat SMA nanti. Selagi kita juga udah kelas sembilan, waktunya masuk SMA favorit” Azhaf hanya menjawab dengan apa yang ada dipikirannya, menurutnya apa yang dirinya lakukan sudah benar, dan tidak ada yang bisa membantah keputusan nya. “Nah betul, lo mending belajar. Dari pada suka sukaan, lo jadi bego kalo lagi suka sukaan. Dah jangan sedih cuy, mending main bareng yang lain lah. Gas ?” “Gas!” Akhir perbincangan di malam hari, menghilangkan rasa stres dari betapa buruknya hari ini adalah bermain game dan mendengarkan lagu, tempat ternyaman yang sering ia singgahi hingga larut malam. Seketika dua bola mata yang Lelah mulai tertutup perlahan seiring waktu
12 berjalan, menghilangnya rasa bersalah dan hilang nya rasa sedih yang dimiliki oleh seorang Azhaf. Binar cerah nan matahari menerpa kepala-kepala yang ada di bawahnya. Cuaca panas adalah hal terburuk di tahun ini. Lamanya musim panas yang tak kunjung hilang, apalagi dengan adanya agenda Upacara Bendera setiap paginya, hanya membuat seorang remaja kelelahan, dan tidak mau diam saat upacara. “Woi, Zhaf, lo tau gak? kayanya hari ini banyak anak berprestasi maju di depan, minggu kemaren puluhan kan? Mungkin minggu ini juga” Seorang lelaki yang merupakan teman Azhaf lainnya di bangku kelas sembilan yang berada di kelas IX G. Namanya Arul, berkacamata dan berbadan tegap, ayahnya seorang pengusaha, spesifiknya jualan tahu sumedang yang selalu laris manis. Sampai-sampai dia dijuluki bos muda oleh teman-temannya. “Kecilin suara lo bisa ga? ini lagi upacara, anak pinter kalo mau ngomong kecilin, masalah nya ini bagian pengibaran bendera, harus senyap atuh ganteng.” Celetuk yang lain diiringi gelak tawa tiga temannya dengan barisan yang sama dari arah samping. “Hehehe, iya dah siap bos.” Perbincangan berakhir di kalimat terakhir ini, karena tiba-tiba guru
13 penjaga belakang menghampiri mereka ber-empat dengan wajah kesal nya. Untung saja mereka ber-empat tidak di tarik paksa ke area terpanas di lapangan, area yang sama sekali tidak memiliki pohon rimbun, sementara matahari pagi menyorot langsung tanpa penghalang. Mereka ber-empat adalah sahabat yang Azhaf temui di kelas tujuh dan delapan. Walaupun mereka berada di kelas yang berbeda, mereka tetap sering bertemu hanya untuk sekedar nongkrong di samping kantin dekat kolam ikan, membahas teori-teori absurd yang mereka ketahui, juga gelak tawa yang selalu terdengar setiap kali mereka berkumpul. Hingga ketika topik pembicaraan habis, maka itu adalah saat dimana mereka akan membahas wanita dambaan masingmasing. Tipikal pembicaraan remaja yang baru melewati fase pubertas pada umumnya. “Akhirnya selesai juga nih upacara, palingan bentar lagi di sebut siapa yang mendapatkan medali atau juara.” Kalimat itu mengawali dibukanya topik untuk empat sekawan tersebut, awal nya hanya membahas tentang siapa atlet atau murid pintar yang juara di pekan ini, tetapi seketika topik itu hilang begitu saja. Wajah
14 ceria mereka mendadak hilang, berganti dengan wajah heran dan bingung. Banyak sekali adik kelas tujuh yang pingsan dan beberapa wajahnya menjadi pucat. ‘apa mungkin mereka tidak sarapan?’ hanya ada kalimat itu di benak pikiran mereka semua. Mungkin karna terik matahari yang sangat dahsyat, dan kebiasaan buruk yang banyak dilakukan murid-murid yaitu, tidak sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Terlihat dari kejauahan betapa sibuknya organisasi PMR menangani murid-murid tersebut hingga kewalahan. Wajah-wajah masam para petugas PMR yang berjaga dan berlari kesana kemari untuk mengantar para murid yang tumbang akibat sinar matahari juga terlihat jelas, mengundang gelak tawa dari petugas lainnya yang hanya bertugas di kantin, membuat teh manis panas dengan anggunnya. “Si itu tuh Zhaf” “Siapa ?” “Si itu, gak jelas! Yang lo deketin!” Air wajah Azhar berubah murung. Dengan rasa gelisah, dia hanya berpikir ‘Apa seharusnya aku kasih tau kepada temanku tentang ini? Tetapi apa mereka peduli?’ hanya ada dua
15 pilihan yang ada di pikirannya sekarang, memberi tahu atau diam saja. Tetapi mulut Azhaf seketika terbuka dan mengatakan hal sebenarnya semuanaya. “Jelas kan semuanya? Apa yang udah gue certain jelas kan? Udah yah? Gak usah di bahas lagi please, gue masih belum terbiasa.” Final Azhar. Tak ingin temantemannya kembali membahas seorang gadis anggota PMR yang dulu sempat singgah di hatinya. “Baguslah kalo begitu, pantes aja gue liat lo agak sedih hari ini, karna itu toh? Emang gak seharusnya lo sama dia. Udah, buang semua hal tentang dia di hidup lo.” Azhaf terdiam sejenak, mengapa Arul tiba-tiba menjadi sangat bijak? Berbeda dengan sebelumnya, yang memang bodoh dalam percintaan, untuk kali ini Azhaf mengakuinya bahwa temannya yang satu ini keren. Sedikit. “Betul tuh kata Arul, lo pasti terbiasa kok Zhaf” Celetuk teman Azhaf yang lain, tiba-tiba saja datang sembari berteriak. Aneh anak ini, kenapa harus tiba tiba teriak sih? Padahal tadi lagi serius. Menurut Azhaf, apa yang dikatakan oleh teman nya ada benarnya juga, tidak semua hal di dunia ini akan bertahan lama, pasti akan ada perpisahan setelah
16 perkenalan, tetapi kita pasti dapat terbiasa seiring berjalannya waktu. Semua hal yang terikat dengan diri perempuan itu kini hilang di mata Azhaf, semua tentangnya hingga secarik foto polaroid perempuan itu di dompetnya, ia bakar hingga berubah menjadi abu. Mungkin ini adalah cara yang kejam, tetapi sangat ampuh untuk mulai melupakan seseorang yang telah menyakitinya, dan semua itu akan menjadi baik-baik saja kelak nantinya. Mungkin di dunia ini juga akan ada yang lebih baik dari perempuan tersebut, lebih layak, juga lebih indah untuk singgah di hati Azhaf.
17 “Mungkin akhirnya tak jadi satu, namun bersorai pernah bertemu.” - Sorai, Nadin amizah.
18 2 Hal indah untuk mengetahui tentang dirinya Awalan untuk mengenal Namanya Azhaf menyandarkan punggungnya pada tembok keras nan dingin di kelasnya, netranya beralih pada novel di pangkuannya. Hari ini sangat melelahkan untuk Azhaf. Menatap sebuah buku berjudul Ancika 1995, membacanya dengan serius di siang itu. Lelaki itu terusterusan membaca hingga pada suatu saat Azhaf bosan selalu menggenggam buku yang sama. Ia beranjak dari kursi nya dan berjalan menelusuri meja ke meja. Hingga pada akhirnya, “Zhaf! sini dulu ngobrol bareng! ada Ikmal sama Firas juga nih.” Teriak Nadhif dari samping, suaranya mendadak menjadi sangat kencang. “Gas!”
19 “Eh, lo udah gak suka sama siapa-siapa lagi kan? Kata gue pertahanin dah, biar gini terus. Mending kaya gua, jarang suka sama siapa-siapa.” Kalimat yang dilontarkan Nadhif membuat Azhaf terkejut. Padahal Azhaf baru saja datang, tapi yang dibahas sudah membuat Azhaf sebal. “Set dah, dip! Santai aja kali! Tiba-tiba amat. Mendang-mending segala lagi lo! Kata gue mah habis ini gue tertarik sama anak alumni 8B aja lah.” Jawab Azhaf dengan wajah guraunya hingga membuat temanteman nya tetawa. Pada awalnya, Azhaf menganggap bahwa kalimat tersebut hanya sekedar lelucon yang membangkitkan suasana di antara teman-temannya. Tidak ingat dengan konsekuensi dirinya mengatakan hal tersebut. Omongan itu doa. “Kidding bro!” Ucap Azhaf mengakhiri pembicaraan Azhaf dan teman-temannya di siang yang terik itu. “Apa gue salah ngomong ya..?” Gumam Azhaf dalam hati. Dirinya hanya takut, bagaimana jika dia salah untuk mengatakan hal itu? Tetapi lagi pula, itu hanya leluconnya saja, tidak mungkin menjadi kenyataan. Hanya hal remeh di mata nya.
20 Azhaf pun melanjutkan kegiatan membacanya hingga akhir pelajaran ke-empat. Tak lama jam pembelajaran selesai, semua murid pun segera pergi ke Masjid. Siang itu matahari cukup terik untuk membasahi badan nya dengan keringat. Walaupun ruangan kelas Azhaf dingin minta ampun, tapi tetap saja sedetik Azhaf melangkah ke luar, badannya akan kembali becucuran keringat hingga seragamnya basah “Zhaf, pusing deui gua, apa yah.. gak jelas cok IPA nih, gak masuk akal gua, Zhaf.” Raut wajah pening dan lelah terpampang di wajah Arul. Pelajaran IPA terkadang membuat teman Azhaf yang satu ini pusing untuk sekedar memahaminya, Arul memang tidak cocok di pelajaran ini mau bagaimanapun dirinya mencoba. “Set dah santai aja kali, nanti juga paham sendiri rul, aman bos. IPA sekarang kan cuman pewarisan sifat kan? Belajar aja sama mangga, ada kan di soal Pak Hakim, hahaha!” Jawab Azhaf untuk mencairkan suasana, tak di sangka apa yang ia katakan membuat teman nya tertawa. Padahal yang ia leluconnya hanya sekedar mangga. “Idih gaya nya si, Zhaf. Cuman kata lo? Liat aja noh nanti di kelas lu!” Kesal Arul pada Azhaf. Tetapi
21 walaupun Arul kesal, pada akhirnya Azhaf bisa membuat arul melupakan hal yang membuatnya penat di siang hari itu. Hingga akhirnya shalat pun selesai, di akhiri dengan dzikir dan shalat ba’diyah. Seperti biasa di sekolahku, setelah rangkaian ibadah selesai, pasti akan ada Pak guru yang berbicara di depan. Sudah biasa untuk kita terlambat makan siang, hanya karna ada beberapa oknum yang bermain-main ketika shalat, hal itu sangat menjengkelkan. Membuat orang lapar kesal saja. “Rul, gue pen nanya sesuatu dong tentang 8B dulu, boleh ya?” “Pen nanya apaan emang nya, perempuan 8B?” Mungkin jawaban itu memang ada benarnya, seketika Azhaf langsung tersenyum dan berusaha untuk melanjutkan topiknya. “Hehehe, betul. Certain dong satu per-satu, gua tiba-tiba ada feeling aneh dah” Arul pun mulai menceritakan segalanya kepada Azhaf tentang kelas delapannya dulu. Di sepanjang cerita, hanya satu yang menarik perhatian Azhaf.
22 Seorang perempuan pendiam yang merupakan teman sekelas Arul dulu di 8B. Namanya Zikra, kata Arul. Azhaf mengernyit sejenak, nama itu terdengar familiar, Azhaf sering dengar. pribadi Zikra di cerita Arul sangat menarik perhatian bagi Azhaf. “Eh, bentar, Rul. Tadi kata lo ada yang namanya Zikra ya? Dia kayak gimana sih orangnya? Gue kayak pernah denger deh namanya..” Azhaf memberanikan diri untuk bertanya kepada Arul. Arul sontak terkekeh meledek. “Coba tanya aja tentang Zikra ke Aya, mungkin dia lebih tau. Harusnya, sih.” Kalimat terakhir Arul sebelum Azhaf kembali termenung, ia teringat dengan ucapannya kepada Nadhif beberapa jam yang lalu. Namun tak dapat dipungkiri, Azhaf sangat ingin berkenalan dengan Zikra. “Woi, Ya. Gue mau nanya sesuatu tapi jangan mikir yang aneh-aneh dulu ya?” “Apa?” “Kenal Zikra teu ?”
23 Pertanyaan Azhaf membuat Aya spontan memasang wajah terkejut. Raut wajah temannya ini membuat Azhaf menggaruk tengkuknya malu. Kenapa Aya terlihat sangat terkejut? lagi pula dia hanya bertanya. Apa salah nya ? “HAH?! Tiba tiba banget.. gak ya! gak usah tau lo soal Zikra! dia tuh anak alim, pendiem, mana mau temenan sama lo! tau dari mana si Jik Jik?” “Jik Jik ?” Azhaf mengernyitkan dahinya bingung. Siapa lagi Jik Jik? Kelopak mata Azhaf mengedip tak paham. “Iyaa, si Zikra, gue panggil Jik Jik” Jawab Aya mengetahui betapa kebingungannya Azhaf. Sementara Azhaf hanya ber-oh ria lalu terkekeh. “Menarik juga namanya.. apalagi orang nya, haha!” Azhaf tertawa saat ia melontarkan candaannya pada Aya, namun tawanya perlahan memudar ketika ia menyadari ekspresi Aya yang datar. Azhaf berdehem. “Bercanda Ayaa”
24 “Awas ya lo deketin dia! dia tuh gak pernah suka sama orang, pendiem, gak mau tau tentang sukasukaan!” Aya membuat Azhaf tambah penasaran, masa sih si Zikra itu tidak pernah suka dengan seseorang? Pasti Aya hanya mengada-ada agar Azhaf menjauhinya. Tapi jika memang benar.. Duh, kok malah jadi kepikiran terus sih? Aneh, hanya karena seorang gadis yang diceritakan oleh kedua temannya, Azhaf menjadi sangat penasaran hingga rasanya kepala Azhaf akan meledak jika ia terus-terusan memikirkan Zikra. Tidak biasanya dia seperti ini, memikirkan orang yang bahkan tidak ia kenal. Memang sih, Azhaf adalah sosok yang selalu ingin mengenal hal baru, tapi yang ini kan orang. Mungkin Azhaf tertarik dengan namanya saja, belum tentu dengan orang nya, iya.. kan? Di siang hari menuju sore hari itu, semua kelas ramai membincangkan acara yang akan di laksanakan pada tanggal, 25, 26 dan juga 27. Di sekolah Azhaf ada salah satu event yang selalu ada di setiap tahun nya, terutama di bulan Bahasa. Yang dinamakan, FLS2RJ. Event yang membuat anak murid tertawa bahagia dan juga senang menjalani nya. Di hari itu, sejuk udara yang berasal dari pendingin ruangan di setiap kelas terus
25 menerpa seluruh tubuh para murid, udara dingi ini adalah suatu hal yang selalu didambakan oleh semua murid di penjuru sekolah. Ketika sedang menjalani latihan pentas seni yang nanti akan di tampilkan oleh kelas Azhaf. Azhaf mulai bosan, Azhaf selalu saja ingin mencari perkara jika sudah bosan seperti ini. Tetapi di hari itu berbeda, Azhaf keluar dari kelas untuk melakukan hal baru. Dengan santai nya ia berkata kepada teman-temannya ia akan mencari seseorang. Ternyata apa yang dirirnya cari adalah seorang perempuan yang ia ketahui namanya kemarin. Memang aneh cara Azhaf untuk mengenal Zikra tapi entahlah, hanya ini satu-satunya cara. Akhirnya ia berbalik arah dari koridor dekat ruang guru pembatik, dan mencoba berjalan kearah kelas. Tetapi…. “Ko perasaan gue anehh ya” “Apa orang yang di dekat pintu masuk 9D, itu Zikra?” “Hah, kayak nya engga deh.” Azhaf berjalan kembali ke kelas. Jarak kelas 9D dan 9F dekat, jadi lebih cepat dia sampai ke kelas nya,
26 Azhaf membuka pintu kebingungan tatkala indra pendengarannya diganggu oleh teriakan dari salah satu temannya. “Woii, lo mau deketin Zikra?!” Teriak salah satu lelaki tinggi dan berkaca mata di kelasnya, Nadhif. “Benerann cok?” Tanyanya lagi dengan tawa yang keluar dari mulutnya juga dari mulut Aya di sebelah nya. Teriakan itu membuat kedua teman dekat Zikra lainnya terkejut dengan apa yang Nadhif teriak-kan tadi. “Taik, gak gitu cok!” Sangkal Azhaf. “Awas lo ya” Lanjutnya dengan intonasi tegas, berusaha menutupi rasa malunya. “Aduh mati gue! malu banget..” Kini Azhaf terus di selimuti rasa malu. Bahkan rasa malu itu tak jarang menghantam kepalanya layaknya sebuah batu, hingga ber hari-hari Azhaf tidak bisa tidur. Waktu terus berjalan, tetapi rasa malu itu selalu ada dalam dirinya. Aneh rasanya, padahal Azhaf sama sekali belum melihat wajah Zikra, apalagi mengenalnya.
27 Tapi kini teman-temannya sudah mengira Azhaf menyukai Zikra. Mungkin sekarang Azhaf hanya bisa menunggu hingga mendengar namanya disebut di kalangan, teman-temannya Zikra. Yang mana adalah hal yang memalukan Sore itu, terik mentari sudah mulai meredup, tak lagi memamerkan cahaya indahnya. Sore ini terasa sangat tenang, diiringi instrumen musik yang dihasilkan dari petikan gitar milik Azhaf, di tempat biasa Azhaf menunggu untuk dijemput di sekolah. Hari ini berjalan dengan tidak baik, mood Azhaf terlanjur berantakan. Banyak rasa untuk hari ini, ada senang, ada penasaran hingga ada juga malunya. Walaupun memang kata teman Azhaf, dia anaknya emang.. malu maluin. “Bengongin apasih bro? Dari tadi loh” Tanya seorang lelaki yang memiliki badan berisi, juga masih mengenakan seragam sekolah, ia beralih untuk duduk di sampingku. “Hah? Eh, enggak kok, Al” Azhaf berusaha menyangkal, ia taruh gitar kesayangannya di sampingnya, mengalihkan perhatiannya pada Al. “Set dah, ngomong aja kali, rame nih.” Tangan Al dengan lancarnya mengambil alih gitar milik Azhaf, mulai memetik senarnya satu-persatu.
28 “Btw, katanya lo mau deketin si itu ya ?, dulu dia sekelas sama gua sih” Ujar Al dengan jemarinya yang masih sibuk memainkan gitar di pangkuannya. “Anjing lah! Dah nyebar aja.. cepet banget gila. Gua aja belum tau muka dia yang mana, tiba-tiba udah nyebar gini aja..” Azhaf menghela napas, meratapi nasibnya yang cukup apes. “Lah, beneran tah? Lawak lu! Tau dah gue mah, gue mah gak nyebar ya, cuman denger doang, tadi ada yang ngomongin lo deketin si itu” Jawab Al sembari terkekeh tanpa dosa. Tangannya tak lagi sibuk memetik gitar, beralih merogoh saku celananya lalu berkutat dengan ponsel miliknya. “Nih, orang nya, bocah nya pendiem dulu di 8B jadi wakil ketua murid. Suka baca buku juga.” Al melempar ponselnya ke pangkuan Azhaf sembari memberi tahu detail tentang Zikra. Azhaf kaget, foto yang terpampang di layar ponsel milik Al adalah sosok perempuan yang ia temui di depan kelas 9D tadi. melihat sosok perempuan yang tidak asing di matanya. Matanya indah, paras nya menawan, senyum nya manis, tatapannya menyorot lembut. Sungguh, Azhaf ingin sekali berkenalan dengan perepmpuan pemilik
29 netra terindah yang pernah Azhaf lihat ini. Baru untuk berkenalan.. bukan suka. Ya.. setidaknya untuk sekarang. Entah mengapa, Azhaf merasa janggal dengan perasaanya sendiri. Satu sisi hatinya mengatakan bahwa dirinya tertarik oleh perempuan itu, namun yang lainnya masih ragu. Mana mungkin Azhaf berpindah hati secepat ini? Tapi tetap saja gejolak itu tidak bisa hilang dari hati Azhaf. Rasa sesak dan geli di perutnya setiap kali nama gadis itu disebut.. Azhaf sangat familiar dengan rasa itu. Tapi entahlah, biarkan Azhaf memutuskan sendiri.
30 3 Apakah aku akan beruntung ? Apa salah untuk-ku berkenalan dengan dirinya duluan ? “Dobok baru nih, jangan malu maluin lo pas main, ini penentuan lo bakalan popnas atau enggak.” “Siap beum.” Malam ini Azhaf habiskan untuk berlatih di dojang seperti biasanya, rasa lelah dapat Azhaf rasakan setelah ber jam-jam ia melaksanakan latihan rutinnya. Malam ini bulan sepertinya sedang gembira. Cahaya lembut yang bulan dapatkan dari sang matahari menerpa matras merah biru yang Azhaf dang rekanrekan Taekhwondo-nya gunakan untuk berlatih. Walaupun Azhaf sangat lelah, ini tetaplah menjadi Impian Azhaf dari dulu, dan sekarang adalah waktunya Azhaf meraih mimpinya.
31 “Habis ini sparing, kalian berdua duluan, Azhaf, Zefan, duluan.” “Okay!” Jawab lantang dari Azhaf, sembari menarik bawah baju dobok barunya, berwarna putih dengan logo Adidas di bagian dadanya. “Shi-jak!” Sparing pun dimulai, dengan aba aba yang di berikan oleh sanim nya. Tahapan demi tahapan dilakukan, hingga akhirnya Azhaf mulai memberi tendangan miliknya kepada lawan tanpa adanya serangan balik. Walau seperti itu, lawannya mulai memberanikan diri untuk menendang Azhaf terlebih dahulu, beberapa kali Azhaf terdorong kebelakang. Sampai pada akhirnya, sparing di selesaikan dengan tendangan Dwi Hurigi Azhaf di akhir menit. “Cape juga yah, latihan kayak gini.” Celetuk hati Azhaf yang seketika membuat mood nya turun drastis. Aneh baginya, terkadang Azhaf mengeluarkan sifat tidak bisa diamnya, namun ketika latihan, sifat Azhaf berubah 180 derajat menjadi pendiam. Mungkin karena kelelahan. Latihan Azhaf hari ini akhirnya selesai ia sudah sampai di kediamannya dan keluarganya.
32 “Eh Zhaf, gimana tadi latihannya? Bentar lagi kan perebutan tiket buat popnas. Kamu udah siap?” Tanya sang Ibu dengan suara lembut khasnya, suara yang selalu Azhaf rindukan. “Bunda nanya tuh! denger ga?” Saut sang Kakak menyadari Azhaf belum menjawab pertanyaan Ibu. “Iya, Kak. Denger kok, santai aja kali” Perbincangan di malam yang hangat itu membuat Azhaf yang sedang kelelahan sedikit terhibur. Setelah itu, dengan wajah murungnya ia langsung bergegas untuk membersihkan tubuhnya yang lengket dengan keringat. Selesai mandi, Azhaf segera meraih ponselnya nya dan mulai berkutat dengan benda persegi Panjang miliknya itu. Dengan wajah yang sudah kusut akibat mengantuk, ia tetap menggenggam ponsel nya untuk melihat Instagram dan aplikasi lainnya. Sampai sampai, Azhaf bosan hanya melihat ponsel nya lagi, mengulag membuka Aplikasi yang sama berkali kali, hanya membuka Instagram dan juga tiktok. Waktu demi waktu ia habisi untuk mengakhiri harinya di malam itu, tetapi ketika Azhaf ingin menutup matanya, ponselnya bergetar kencang, terdapat notif di
33 layar ponselnya. Azhaf dengan segera beranjak untuk mengambil posisi duduk, berjalan langkah demi langkah untuk duduk di sebuah kursi dekat dengan meja belajarnya. ”Apa dah nih orang, malem gini baru nge-chat. Duh gue mau tidur padahal.” “Kalau bukan tentang tuh orang, dah tidur nih gue, bodo amat sama notif Aya”
34 Ketika Azhaf membuka ponsel nya kembali, ia melihat notif yang seketika membuat kantuknya hilang. Notif WhatsApp dari kontak “Ayaa”. Azhaf yang awalnya mengantuk pun kembali segar hanya karna terdapat nama Zikra di kalimat kolom pesannya. Walaupun setelah ini akan menjadi hal yang merepotkan bagi Azhaf, menahan senyum dan semu merah di pipinya itu sulit.
35 Melihat username Instagram Zikra di layar ponselnya, Azhaf terdiam sejenak bingung untuk melakukan apa dengan informasi ini. Otaknya mulai berputar mencari topik pembicaraan yang setidaknya akan membantu dirinya dan Zikra akrab. Tetapi larut malam seolah memanggilnya, cahaya rembulan yang menembus jendela kamar Azhaf. Kelopak matanya sudah berkali-kali tertutup menahan kantuknya. Hari ini mungkin adalah hari yang melelahkan untuknya, dari pagi ketika Azhaf berangkat sekolah, lalu berlatih Taekwondho sepulangnya, hari Azhaf selalu padat. Azhaf beranjak dari tempat duduk belajarnya, mengarahkan kaki, langkah demi langkah ke arah yang ia tujui, yaitu kasurnya yang tercinta. Tempat ternyaman untuk membaringkan tubuh lelahnya, juga menghilangkan penat dari kesibukannya di hari ini.
36 Saat Azhaf membaringkan tubuhnya, netranya beralih memandang sebuah buku yang baru saja ia beli 2 hari lalu. Berjudul Malioboro at Midnight. Azhaf tak menghiraukan buku itu, tak menarik sebetulnya untuk dibaca, Azhaf beli nuku itu pun hanya sekedar iseng semata. “Ngapa gua beli tu buku yah?” Azhaf bergumam kepada dirinya sendiri tanpa mengalihkan pandangannya dari buku itu. “Gara-gara cover kali ya?” Azhaf kembali menjawab pertanyaannya sendiri asal, mencoba acuh agar dirinya bisa cepat-cepat tidur. Azhaf bergerak dengan tangannya yang terulur, mencoba untuk meraih saklar lampu di dekat nakas. Setelah lampu dimatikan, Azhaf menarik selimutnya dan menutup matanya, berharap agar segera terlelap menuju alam mimpinya. Mentari mulai bangkit, membangunkan setiap insan yang masih menikmati tidur lelap mereka. Azhaf bangkit dari tidurnya, pagi ini tidak se-terang biasanya,
37 gerimis kecil turun menyambut pagi pertama di musim hujan. Azhaf menatap kea rah jendela, menyaksikan kendraan yang mulai ber-lalu lalang di depan rumahnya. Sepertinya semua orang sudah memulai hari mereka kecuali Azhaf yang bahkan masih berusaha untuk mengumpulkan nyawanya. “Hei, bangun semuanya. De, kak! bangun dah pagi, nanti kesiangan loh” Teriak suara perempuan paruh baya yang terdengar dari arah lantai bawah, seorang perempuan yang bisa membuatnya semangat untuk mengawali hari hari, yang mungkin akan melelahkan untuknya. Sebelum berangkat ke sekolah, Azhaf menyiapkan buku mapel yang akan di pelajari pada hari ini. Setelah selesai merapihkan ia mengambil sebuah roti panggang yang sudah di sajikan di atas meja makan, beraneka ragam rasa yang bunda buat untuk hari ini. Banyak nya rasa membuat Azhaf bingung “Bun, ini banyak rasa banget, bingung ambil yang mana. Enak semua,” Celetuk nya dengan wajah bercanda yang ia berikan kepada bundanya
38 “Alah alah, bilang aja mau makan banyak de.” Saut kakak Azhaf dengan wajah meledek sembari menepuk punggungnya. “Dah udah, de jangan dulu keluar, bawa jaket biasa engga ? Hujan di depan, sakit nanti” Cegah Bunda dengan membawa jaket putih di tangan kanan dan air botol yang di genggam untuk di berikan ke Azhaf. “Iya pake bun, makasih yah. Maxim ade dah di depan, duluan ya mah. Assalamualaikum” tanggap Azhaf kepada bundanya, dengan wajah terburu buru hingga kaki tak tau lagi ingin melangkah ke arah mana. Suara knalpot motor yang berulang-ulang kali keluar dari tempatnya, membuat ban berlaju ke arah yang di tuju, jalan demi jalan ia lewati untuk bersinggah di tempat duduk kelasnya. Jalan hari ini terasa lama untuk ditempuh, pohon yang rindang di sisi jalan, menari ke arah dua sisi, kanan maupun kiri. Disambut oleh cuitan burung yang bersinggah di antara dahan pohon yang terlihat dari bawah jalan. Posisi motor Azhaf sudah ada di pusat kota, lalu lalang yang mulai ramai, banyak anak-anak sekolah yang ia lihat dari atas motor. Tinggal beberapa meter lagi, untuk Azhaf sampai ke depan pintu gerbang sekolah nya. Perasaan gembira
39 dan senang tiba-tiba muncuk seketika saat ia sudah sampai di depan gerbang sekolah. “Zhaf, sini dulu bareng yang lain” Teriakan salah satu temannya yang duduk di arah depan sekolah yang menghadap gedung sekolahnya. Azhaf berlari sembari membawa totebag yang ia bawa di tangan kanan nya, hingga akhirnya sampai di sana ia duduk di tengah teman-teman nya. Mengobrol, menghabiskan waktu hingga bel masuk sekolah berbunyi. “Set dah itu baju rabu sendiri, di sini mah olahraga semua Zhaf, gak ada yang pake batik rabu.” Celetuk seseorang yang duduk di sampingnya hingga menimbulkan suara tawaan teman-teman nya di saat itu. “Yaudah sih bray, nih 9D emang pake olga, 9E juga pake baju olga. “ “Gua mah kemaren, 9F nih bos. Kaya di sendiriin sih gua. Diem dah lu pada!” Jawab Azhaf dengan muka cengegesan dengan roti yang ia makan dari awal duduk di tangga masjid. Menurut Azhaf ini adalah hal yang membuatnya bahagia di sekolah, mengobrol, berbincang tawa
40 bersama teman-teman nya. Apa lagi ketika membicarakan seseorang yang mereka suka hingga yang Azhaf suka adalah moment ter-epic yang mereka obrolkan terkadang di waktu tertentu. Tring tring tring!, Bunyi bel sekolah berdering ketika Azhaf mengigit roti terakhirnya. Azhaf dan teman teman nya beranjak dari tempat duduk nya di tangga masjid, berjabat tangan dan saling menepuk tangan untuk menutup perbincangan di pagi itu. Mereka semua mulai berjalan ke arah kelas nya masing masing, untuk memulai jam pelajaran pertama di hari rabu ini. Tangga demi tangga Azhaf lewati untuk bertemu dengan meja kelasnya. Azhaf berlari dengan kepanikan, karena sebentar lagi guru mapelnnya masuk ke dalam kelasnya. Apa lagi yang memulai pembelajaran hari ini adalah Bahasa Inggris, mau tak mau ketika telat Azhaf akan dihukum. “Pis, telat tah ? dah bel baru masuk kelas” Tanya aya kepada Azhaf dengan berjabat tangan di depan pintu kaca kelas mereka. “Kagak, tadi ngobrol dulu cok bareng yang lain di bawah” Jawab Azhaf dengan wajah datar sembari melangkahkan kaki melewati pintu kelasnya.
41 Azhaf mulai menaruh tas nya ke tempat duduknya, bagian belakang dengan teman-teman sebangku nya yang masih tidur di lantai bawah tempat duduknya. Seketika Azhaf berteriak untuk membangunkan teman temannya, karena di sekolahnya ketika ingin memulai jam pelajaran pertama, mereka semua dari kelas 7,8 dan juga 9 harus berdiri di depan koridor kelasnya, berbaris dan menunggu guru mapelnya datang. Lantunan lagu ‘Indonesia Raya’ dinyanyikan oleh seluruh warga sekolah, lalu dilanjutkan dengan membaca Al-Quran sampai memulai pembelajaran pertama di hari itu. “Aya, Zikra yah itu? Zikra bukan sih?” Bisik Azhaf kepada Aya dengan tangan yang bergemetar. “Habis tuh kenapaa kalau Zikra” Tanyanya, sembari memajukan telinganya ke arah Azhaf duduk, untungnya mereka berdua duduk di tempat yang berdekatan, Aya di sebelah kanan dan Azhaf di sebelah kiri. Azhaf pun mulai memikirkan skenarionya dengan Aya, mencari cara agar Azhaf bisa memulai perbincangan dengan Zikra. Seorang Perempuan yang baru saja sampai ke kelasnya, seketika Azhaf perhatian Azhaf langsung tertuju dengan perempuan yang terlihat berperawakan
42 lembut nan sopan, ia langsung berfikir bahwa orang yang ingin Azhaf ajak kenal adalah benar-benar perempuan yang damai dan tenang di mata orang banyak. Azhaf seketika kaget saat memandanginya, benar saja ternyata dialah Zikra Alya Rahma, seorang perempuan yang terus singgah di benaknya. Perempuan itu duduk dengan rapih di samping tembok yang ia senderkan tubuhnya di sana. Perempuan itu mulai mendengarkan perbincangan nya dengan temannya, tetapi hanya dialah yang hanya mendengarkan dan tersenyum ketika mengobrol dengan temannya. Ramai kerumunan perempuan dari kelas lain yang melingkar untuk menyantap makan siang mereka bersama di kelas Azhaf. Ramainya kelas membuat Azhaf tidak bisa melihat lagi perempuan yang ingin ia lihat dari kejauhan, hingga akhirnya beberapa menit terakhir di jam sebelum bel berbunyi masuk, keramaian perempuan di kelasnya mulai mereda. Satu persatu mulai berjalan untuk ke kelas mereka masing masing, tetapi masih ada tersisa seorang perempuan dan teman nya di sampingnya. Seketika saat kelas nya hening tidak ada pembicaraan lagi, Azhaf mulai melakukan skenario untuk mengobrol dengan Zikra, ia baru saja mendapati
43 rencana ini beberapa menit lalu. Di pikirannya, mungkin hal ini bisa membuat dirinya melontarkan kalimat kepada Zikra dan akan di balas oleh Zikra. Ia sangat berani dalam hal yang mungkin saja orang lain akan gengsi terlebih dahulu untuk melakukannya, tetapi dia langsung melakukannya, di matanya kegagalan adalah hal ke dua, dan yang pertama adalah kepercayaan diri. Azhaf berjalan ke arah tempat duduknya yang mengarah ke kanan dan di sana adalah tempat makan siang yang tadi banyak sekali perempuan yang makan di sana. Hanya tersisa Zikra di pojok tembok awal dia datang ke kelas Azhaf, belum ada pergerakan darinya, entah itu berdiri maupun berjalan kearah lain untuk berpindah tempat. “Ya, lo ajak ngobrol duluan nanti gue nyaut. Cepet ya ish! Cepet!” Ucap Azhaf dengan suara kecil yang terburu-buru karena sudah terlihat gerak-garik salah tingkah dari diri Azhaf. Entah mengapa, padahal ini hanya hal biasa untuknya. Tetapi berbeda ketika ingin mengobrol dengan Zikra. “Iyaa sabar, sabar setan!” Jawabnya seraya memperlihatkan wajah kesalnya, tetapi Aya tetap melakukan hal itu untuk Azhaf.
44 Ketika ingin memulai skenario itu, terdengar celetuk salah satu teman nya Zikra, ia bingun kapan datangnya dia di kelas Azhaf. Perempuan berteriak dengan suara yang lantang menyebut nama Azhaf, di waktu makan siang itu. Saat mendengar teriakan itu, Azhaf merasa bahwa ia mengenal suaranya. Azhaf menengok ke arah belakang dan dia melihat seorang perempuan yang berawakan tinggi, dia salah satu ketua Organisasi di angkatan 19 ini. Sering kali Azhaf bertemunya di depan kelas ataupun ketika rapat organisasi untuk merancang hal sesuatu. Nama perempuan itu adalah Syifa, seorang ketua REGINTA, yang baru saja ia kenali ketika Azhaf menjadi seorang Ketua OSIS di sekolahnya, mengenal tidak sengaja karena setiap manusia harus mengenal nama seseorang agar ia kenal dengannya. Tanpa adanya nama, apa boleh buat? Jika namanya saja belum tau, apalagi ingin berteman dengan orang itu, mungkin akan jadi imajinasi saja. “Zhaf, ini gimana yah.. si Abim gak pernah masuk pas pagi, gimana kalau di gantiin aja?” Tanya seorang Syifa kepada Azhaf. Mereka sedang berbincang
45 soal salah satu acara yang diurus oleh seluruh organisasi sekolah yaitu, ‘Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah’ untuk peserta didik kelas tujuh. “Boleh, diganti aja sih dia tuh gak pernah dateng kan, nyusahin aja emang” “Ganti yang ada aja Syif, sekertaris mu atau siapa gitu.” Ketika Azhaf menjawabnya dengan kalimat tersebut, Azhaf langsung berpikir ini bisa membuat ia memulai perbincangan juga dengan Zikra. Karena, katanya Zikra juga merupakan salah satu anggota REGINTA. Tanpa pikir panjang, Azhaf langsung menyeletuk ke arah Syifa dan Zikra yang ada di sampingnya. Mencairkan suasana yang hening tadi karna memikirkan, siapa yang cocok jadi penganti seorang Abim di MPLS ini. “Gimana kalau, kamu yang di samping Syifa, Zikra kan namanya. Kamu mau gantiin Abim ?” Celetuk Azhaf dengan wajah yang mulai memanas dan tangan yang ia selipkan di sakunya karena tangannya mulai bergetar hanya karena berbicara pada si gadis.
46 Tetapi ketika Azhaf melontarkan kalimat itu, Zikra hanya membalasnya dengan senyuman dan Syifa mulai menutup perbincangan mencari pengganti panitia MPLS. Mereka semua mulai berbalik badan dan berjalan ke arah luar kelas Azhaf, melewati pintu dan berjalan di koridor. Walaupun Azhaf tidak dibalas kalimatnya oleh Zikra, tapi itu membuatnya percaya diri untuk mengobrol lanjut dengan Zikra. Mungkin skenario pertama memang gagal, tetapi plan B Azhaf yang tibatiba muncul di kepalanya, membuat ia gembira di hari itu. Setelah selesai semuanya, Azhaf berlari ke arah kelas temannya. Ia berlari dengan tergesa-gesa seperti dikejar hantu, padahal Azhaf hanya ingin menceritakan hal yang baru saja ia lewati tadi kepada Arul. Langkah demi langkah ia lewati dengan wajah gembira. Akhirnya Langkah Azhaf berhenti ketika ia sudah di depan pintu kelas temannya, ia langsung berteriak kencang hingga membuat banyak orang melihat ke arahnya. Seperti orang gila, tetapi memang seperti ini lah seseorang yang bernama Azhaf, ketika ia gembira, ia tidak akan melihat hal sekitar, maupun itu ramai ataupun kosong tidak ada orang.
47 “ARULL!!” “Gelo ini mah, kenceng banget apasih Zhaf?” Jawabnya dengan wajah malu, hingga membuatnya berlari kebelakang karena malu dengan Azhaf yang meneriaki namanya sekencang itu Azhaf memulai perbincangan dengan wajah gembira yang ia tunjukan kepada teman nya, kata demi kata ia lontarkan untuk menceritakan hal yang baru saja Azhaf lalui. Dengan wajah gembira, suara yang lantang ia lakukan di depan Arul. Menceritakan dari awal Azhaf yang sedang melihat Zikra di dalam kelasnya, duduk di sebelah tembok yang di sandari oleh punggung seorang perempuan itu, hingga Azhaf mengobrol dengan temannya menyautkan nama Zikra di dalam dialog kalimat makan siang tadi. Samapai terakhir kali melihat Zikra beranjak ke arah pintu kaca kelasnya. Berjalan melewati pintu untuk bersinggah ke kelas Zikra. Perbincangan terhenti ketika suara bel masuk mulai terdengar di telinga Azhaf dan Arul. Azhaf beranjak dari kursi seseorang yang ia tidak kenali di kelas Arul, dengan wajah tengilnya yang tidak meminjam kursinya terlebih dahulu kepada pemilik kursi tersebut.
48 Sebelum Azhaf menajalankan langkah kakinya ke arah kelas nya, ia bertepukan tangan dengan Arul, memakai punggung tangan mereka selayaknya seseorang yang ingin berpamitan di masa kini. Dengan wajah nya yang masih setengah salting, Azhaf hanya berjalan ke arah depan hingga melewati kelas demi kelas, dan bertuju ke satu arah yaitu kelasnya. Saat ia baru saja melangkah ke arah depan kelas nya, ia bertemu dengan guru kedispilinan perempuan di sekolahnya. Guru itu hanya diam di depan muka Azhaf, dengan tatapan tajam melihat ke arah baju Azhaf yang berantakan terbuka tidak masuk ke dalam celana nya. "Ketua OSIS, Ya Allah... Ini ketos ngeluarin baju?" Cibirnya dengan wajah kesal yang guru itu tunjukan kepadanya, guru kedisplinan itu tetap berdiri di depan Azhaf hingga Azhaf sadar bahwa bajunya tidak rapih di siang itu. "Atuh ibu maaf ya, lupa aku masukin baju. Ini masukin nih yaa oke, maap ya bu" Jawab Azhaf dengan perasaan panik yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Padahal Azhaf mengira bahwa dia tidak akan ketauan guru, apalagi sampai ketemu guru kedisplinan.
49 Mau gimanapun Azhaf adalah ketua OSIS yang seharusnya mencontohkan yang baik kepada SiswaSiswi sekolahnya. Setelah hal tadi sudah lewat, Azhaf mulai berlari cepat untuk sampai ke kelasnya. Azhaf adalah seseorang yang terkadang suka berjalan jalan ketika jam pelajaran, tidak tau adanya arah, dia akan menaiki tangga dan beruturun tangga lagi di waktu jam pelajaran itu. Tetapi Azhaf tidak mau ketika waktu istirahat selesai, guru mapel nya datang duluan sebelum ia duduk di tempat duduk kelasnya. menurut dirinya dating setelah guru mapel duluan yang ke kelas Azhaf itu termasuk hal yang tidak sopan dan tidak menghargai seorang guru di mata Azhaf. Dengan jantungnya yang masih berdetak kencang dan wajah nya yang tergesa gesa, akhirnya Azhaf sampai ke kelasnya, ia mulai berjalan santay sembari sesekali mengambil nafas dalam dalam untuk menormalkan detak jantungnya lagi seperti biasa. Saat Azhaf duduk, ia menoleh ke arah samping, terlihat Aya di sampingnya yang sedang tidur di atas sebuah boneka udang. Melihat Aya tertidur lelap seperti itu, jiwa jail Azhaf pun mulai meronta ronta. Seketika Azhaf mulai berdiri lagi untuk mengarahkan kakinya ke depan meja Aya. Saat ia sudah siap ingin menjaili Aya,
50 diapun mulai mengangkat tangan nya kearah depan meja Aya. "1" "2" "3" JDARRRR!! Suara meja yang Azhaf pukul memakai tangan, di depan muka Aya, membuatnya terbangun di tidur lelapnya. Walaupun ia kaget seperti itu, Aya tidak marah kepada Azhaf, ia hanya memukul Azhaf dengan tawaan yang membuat Azhaf tertawa sekencang kencanya saat itu. "Ya, tadi gue dah depan-depanan sama Zikra, lucu tau dia tuh. Ish lucu pen kenalan aku tuh sama dia," Ucap Azhaf di siang hari itu, dengan suara kelas yang sunyi saat itu, hanya ada suara bisik Azhaf dengan Aya yang masih memposisikan dirinya di atas boneka yang ia peluk. "DM aja sih pas pulang, siapa tau di jawab” Sautnya dengan suara kecil khas seseorang yang baru saja bangun tidur. “Oh iyaa, Zhaf. Bikin nama samaran dia.”