101 kelelahan, tetapi sesuatu hal membuat dia tertuju lagi untuk memikirkan perempuan itu lagi. Seorang yang membuat Azhaf pusing untuk berpikir tentang dirinya terus-menerus. Sedikit aneh untuk dirinya karena selalu di hantui pikiran tentang perempuan itu, padahal Azhaf belum punya hubungan apapun dengan dia. Tetapi seseorang itu selalu datang ke pikiran nya, ketika pikiran Azhaf kosong. Dalam keheningan kamarnya, Azhaf merenung tentang perasaannya, mungkin mencari cara untuk menyampaikan atau mengungkapkan suatu hal yang mengganjal di dalam hati Azhaf, yang dia saja belum tau apa kalimat yang harus dikatakan kepada perempuan itu. Sesekali Azhaf meraih ponselnya untuk mencoba membuat dirinya percaya diri untuk mengobrol dengan Zikra lagi. Beberapa saat kemudian dia berpikir, bahwa dirinya baru saja membuat hal yang memalukan di sekolah tentang Zikra. Tetapi di satu sisi, dia sangat mau untuk mengobrol lagi, apalagi mengobrol panjang sampai malam dengan perempuan itu. Kegelapan malam pun sudah menunjukan dirinya ke hadapan Azhaf. Suasana malam hari membawa ketenangan di sekitarnya. Di dalam kamar yang redup, cahaya layar ponselnya menyinari wajahnya yang penuh
102 harap. Suara malam hari di jendela menambah kesan meneganggkan pada momen ketika dia menunggu cara untuk mengobrol dengan Zikra di malam itu. Akhirnya, Azhaf menemukan dialog untuk memulai percakapanya dengan Zikra di malam itu. Dengan hati berdebar, dia merencanakan kata-kata dengan cermat, berharap agar percakapan tersebut bisa menjadi awal yang baik untuk lebih mendekat satu sama lain. “Gue bahas malio aja kali yah” “Atau cello? hmmm.” “Dua-dua nya aja deh, ah elah bingung banget.” Beberapa kali, Azhaf labil untuk mengobrolkan tentang apa kepada Zikra. Mungkin dia berpikir untuk tidak membuat obrolan nya sangat hampa dengan Zikra, apa lagi sampai tidak jelas di mata Zikra. Sampai pada akhirnya, dia memutuskan untuk mengobrolkan tentang malio dan cello di malam itu. Hal ini memungkinkan Azhaf untuk mengobrol lama dengan Zikra, dan mempunyai hasil untuk bisa dekat dengan dia.
103
104 "Lucu jugaaa, balesan dari dia" "Excited bangett dah ini kalau tentang malioo" "Seru juga chat-an sama nih orang" Kalimat per kalimat pujian pun keluar dari kepala Azhaf, ternyata balesan chat dari Zikra pada saat itu berbeda dari sekarang, di obrolan ini Zikra terlihat sama excited tentang apa yang di obrolkan oleh Azhaf. Sepanjang chatan Azhaf menunjukan wajah gembiranya, sangat senang baginya bisa mengobrol lama dengan perempuan itu. Seperti mimpi yang terwujud bagi Azhaf. Malam itu, Azhaf duduk di kamarnya dengan lampu remang. Jantungnya mulai berdebar-debar saat mengobrol dengan orang yang ingin sekali ia kenali muncul di layar. Dengan berdebat dalam hati, akhirnya dia bisa mengirim pesan panjang, menceritakan hariharinya, kecil-kecilan yang terjadi, dan impian yang dipendamnya. Walaupun hanya melalui chat, Azhaf merasakan kehangatan dan kegembiraan saat berbagi cerita, membuka pintu pertemanan yang lebih dalam. Waktu berlalu tanpa terasa, obrolan terus mengalir hingga larut malam. Mereka saling bertukar cerita, harapan, dan bahkan tawa. Meskipun hanya teks
105 di layar, kedekatan itu terasa nyata. Seiring larut malam, remaja itu merasa bahagia karena bisa berbagi begitu banyak dengan orang yang baru saja dia kenali lebih dalam. Dengan mata yang mulai terasa berat, Azhaf menyadari bahwa waktu sudah larut. Meskipun ngantuk, obrolan itu meninggalkan senyum di wajahnya. Dengan ucapan penutup tanpa adanya kata selamat malam, mereka berjanji untuk melanjutkan obrolan lain kali. Sambil menutup mata, remaja itu merenung tentang betapa berharga malam itu. Kali ini Azhaf akan tertidur tenang, melupakan semua hal yang tidak benar di hari ini. Zikra mulai menjadi malam indah Azhaf yang selalu teringat di kepalanya. Dengan perasaan bahagia dan pikiran penuh dengan kenangan indah, dia akhirnya terlelap dalam tidurnya. Di dunianya yang penuh mimpi, cerita chat malam itu menjadi bagian yang tak terlupakan. Hari acara OSIS pun tiba, Suasana sore hari ini menyajikan langit yang dipenuhi warna-warni senja, dengan matahari yang pelan-pelan tenggelam di cakrawala. Udara sejuk mulai menyapa, menciptakan
106 ketenangan setelah hari yang sibuk. Orang-orang berjalan santai, sementara lampu-lampu jalan mulai menyala, menggantikan cahaya alami yang perlahan meredup. Di sore itu, Azhaf mulai berjalan ke arah perumahan yang berada di sebrang rumahnya untuk mengikuti acara bakar-bakaran yang ia buat untuk anggota-anggota nya. Di saat itu Azhaf diantar oleh bundanya, dengan wajah yang ceria ia tunjukan untuk bertemu dengan anggota-anggotanya. Jalan demi jalan ia lewati dengan penuh semangat hingga mengalahkan semangatnya bulan menggantikan matahari senja. Sore itu, suasana di sekitar rumah salah satu anggota OSIS begitu riuh rendah. Anggota OSIS sibuk menyiapkan peralatan bakar-bakaran. Asap dari arang yang mulai membara menciptakan atmosfer hangat, sementara tawa ceria mereka memenuhi udara. Mereka berdiskusi tentang acara mendatang, sambil menikmati kebersamaan di tengah semilir angin senja. Wajah-wajah mereka bersinar dengan keceriaan, mata yang berbinar menyiratkan kebahagiaan. Gelak tawa dan candaan menyertainya, menciptakan aura positif di sekitar. Seperti lukisan kebahagiaan yang tergambar di setiap ekspresi, suasana sore itu penuh dengan semangat dan kegembiraan.
107 Dengan senja yang perlahan lenyap, malam pun tiba, menyelipkan suasana magis di sekeliling. Lampulampu indah mulai menyala, menciptakan atmosfer yang lebih semarak. Akhirnya acara pun dimulai, menghadirkan kegembiraan dan antusiasme di tengah kegelapan malam. Suasana riang dan semangat kian terasa, memperkuat ikatan kebersamaan di antara para anggota anggota yang berada di situ. "Liat anggota sendiri seneng, sedih juga yah Zhaf, bel, fil" Celetuk Onit yang membuat ke-tiga teman itu tersadar bahwa mempunyai anggota adalah salah satu anugrah terindah yang pernah di miliki seorang ketua dan wakil ketua organisasi. "Iyaa, seneng banget mereka, lucu deh" "Bener, sedih gue liat nya juga" Saut Belva dengan wajahnya yang matanya sudah berkaca-kaca ketika melihat anggotanya yang senang sekali di malam itu. Aroma lezat daging yang dibakar mulai menyebar di udara, memancing selera. Semua anggota berkumpul
108 di sekitar tempat grill, menikmati hidangan yang mereka buat bersama. Suasana makan bersama menjadi momen kebersamaan yang akrab, diwarnai oleh obrolan ringan dan tawa. Satu kesatuan yang hangat di tengah malam yang cerah. Hari itu memang seperti berlalu begitu cepat, penuh dengan momen-momen indah dan kegembiraan. Meski senja telah lenyap dan malam tiba, kenangan dari acara bakar-bakaran bersama anggota OSIS dan MPK tetap terasa hangat dalam ingatan, meninggalkan kesan tak terlupakan dari suatu hari yang penuh keceriaan. Satu per satu anggota-anggota mulai meninggalkan tempat bakar-bakaran, menyudahi hari yang penuh kebersamaan. Langit malam menyaksikan langkah-langkah mereka yang berpisah, namun kebahagiaan dari momen tersebut tetap melekat. Sebuah hari yang berkesan dan berakhir dengan rasa syukur. "Cepet banget nit, gak kerasa deh. Sedih gue," Sontak ketika Azhaf melihat anggotanya yang mulai pulang satu per satu, ia mulai menunjukan rasa sedih nya, ketika melihat hal tersebut di depan matanya. "Iyaa, duduk yuk sama yang lain sisa segitu tuh. "
109 "Aku jugaa mau ngomomg sama kamu Zhaf" Saut salah satu anggota OSIS yang lumayan populer di kalangan organisasi OSIS saat di sekolah. Akhirnya mereka semua bersatu, memutari Azhaf yang di tengah tengah dengan teman laki-laki Azhaf yang di sampingnnya. Seketika Azhaf mulai mengobrol dengan mereka semua. Memulai perbincangan yang hangat di malam hari untuk menanti canda tawa yang akan di keluarkan oleh mereka semua. "Eh tau ga..." Saat Azhaf memulai perbincangannya, sontak kalimat dia dipatahkan oleh Leandhra, anggota OSIS yang populer di kalangan sekolah. "Zhaf, tentang lo sama Zikra gimana sekarang" Azhaf kaget ketika mendengar hal tersebut, sejak kapan anggotanya tau tentang hal ini. Hal ini sangat sensitif bagi semua orang yang sedang mendekati seseorang.
110 "Gak usah nanya siapa yang ngasih tau. Lo aja ngobrolin dia kenceng-kenceng di koridor, dan nama lo dah kesebar di temen-temennya Zikra." "Yang b-bener Le..?" "Sumpah?" Pucat pasi keluar dari muka Azhaf ia tidak bisa berkata apa apa di saat itu, hanya mendengarkan kata perkata yang keluar dari salah satu anggotanya dan omongan k tiga sahabat nya. "Lo tuh yah Zhaf, kalau suka sama orang suka aja. Jangan koar-koar, sumpah dia kalau risih gimana." "Kata temen-temen nya sih dah risih, Zhaf" Saut Leandhra sembari memakan daging yang sudah ia ambil dari mangkuk "Tolol ah, Zhaf sumpah. Diem aja udah diem, gak usah nyaut, harus di tolol-tololin dulu lo nih, baru lo sadar. Dari dulu gini terus, kata gua juga apa Zhaf." Sesekali Onit mengeluarkan kalimat yang masuk ke dalam hati Azhaf dengan amarah nya yang sudah meluap di malam itu.
111 Azhaf masih duduk di tengah tengah lingkaran mereka, wajahnya dipenuhi ekspresi sedih dan malu, setelah mendapat teguran yang keras. Sorot matanya mencerminkan penyesalan dan beban yang dia rasakan. Meskipun dihantam kekecewaan, dia mencoba mengatasi rasa malu, berusaha belajar dari kesalahannya. "Nit gue malu banget, gue harus apa." "Apa gua minta maaf ajaa....." Mata Azhaf mulai berkaca-kaca di saat itu, dia tidak bisa diberi umpatan seperti itu. Tetapi di dalam hatinya, ini salah dia dan dia pantas mendapatkan hal ini. Banyak pikiran buruk yang langsung menghantui nya, dirinya mulai lemas dan pucat pasi. "Lo, minta maaf pas nanti dah turun jabatan yaa. Okay, Zhaf?" "Zhaf sorry tentang semua kata katanya, tolong ambil pelajaran nya. Gue gak mau ngeliat lo putus harapan sama Zikra secepat itu."
112 Selesai sudah semua kalimat panjang yang di keluarkan oleh Onit dan Leandhra di malam itu. Semua kata-katanya membuat Azhaf sakit hati di malam itu. Tetapi wajar baginya untuk mendapatkan semua yang di lontarkan oleh teman temannya. Malam sudah larut, mereka semua sudah bubar dari rumah anggota osis yang di jadikan tempat untuk mengadakan acara kebersamaan. Malam itu mengeluarkan semua rasa bahagia di dunia bagi seluruh anggota, tetapi berbeda untuk Azhaf, dia malah mendapatkan hal sedih yang memalukan di dalam kebahagiaannya. Malam itu, kesedihan masih menyelimuti hatinya. Dalam keheningan malam, pikirannya mungkin dipenuhi oleh momen yang memalukan. Namun, Azhaf berpikir, di tengah kegelapan, terkadang kita juga menemukan kekuatan untuk meresapi dan memahami perasaan tersebut, serta mencari jalan keluar menuju pelangi setelah hujan menurut Azhaf. Langkahnya terasa berat ketika ingin pulang ke rumahnya, membawa beban perasaan sedih. Mungkin ada situasi sulit atau percakapan yang menyulitkannya. Saat ini, di dalam keheningan perjalanan pulang, dia merenung tentang bagaimana mengatasi perasaannya yang mulai galau dan labil. Semua hal buruk masuk ke
113 dalam pikiran Azhaf. Semua rasanya tercampur aduk di malam itu. Akhirnya Azhaf memutuskan untuk menjauhi Zikra, di matanya dia sudah tidak pantas untuk mendekati Zikra, dan patut untuk mundur sejauh mungkin. Dalam keheningan malam, Azhaf mulai beranjak ke arah kasur di kamarnya. Rasa sedih dan pikiran buruk masih menghantuinya hingga dia tidak bisa tidur di malam itu. Sampai pada akhirnya tangisnya pecah di malam itu, di dalam senyap nya malam, ia tidak mengeluarkan sedikitpun suara untuk menangis. Dengan hati yang terbebani, dia akhirnya tertidur dalam kedamaian malam. Meskipun sedih mengiringi tidurnya, terkadang tidur memberikan kesempatan bagi pikiran dan perasaannya untuk meresapi, dan menyembuhkannya.
114 6 Apa salahnya untuk mencoba dua kali ? Berkat kejadian kemarin, Azhaf jadi tambah yakin bahwa dia sudah tidak pantas untuk mendekati seorang Zikra. Sudah tidak ada cara lagi baginya untuk melangkah maju ke hubungan yang jauh lebih dekat dari sebelumnya. Semua cara dan upaya yang ingin di lakukan kandas dalam sekejap di hari itu. Mungkin jika gelap malam bisa berbicara, dia akan mengatakan bahwa jalanmu sudah gelap dan susah untuk bertemu jalan keluar. Pagi ini, langit cerah, namun perasaannya terasa kelam. Ruangan penuh dengan rasa malu yang baru saja ia buat, pecahan awalan yang menyedihkan bagi Azhaf. Rasa malu dan sedih menyelimuti setiap sudut, seperti kabut tebal yang sulit untuk disingkap.
115 Dia memutuskan untuk mengelilingi kota, berjalan tanpa adanya arah tujuan yang diinginkan. Langkahnya berat, mencerminkan rasa malu yang masih melekat. Namun, mungkin di tengah kota yang sibuk, dia bisa menemukan sejumput kedamaian untuk meredakan beban perasaannya. Jalan demi jalan ia lewati dengan wajahnya, yang masih murung tak ada daya. Tidak seperti biasanya ia merasakan hal sesensitif ini. Dia hanya merasakan malu yang dalam kepada perempuan itu. Rasa malu Azhaf lebih tinggi dari pada rasa kecewanya. Dirinya berpikir bahwa, "Perempuan itu adalah salah satu anak, yang sudah kubuat risih dan malu karena keberadaanku, yang membuat hidupnya mungkin menjadi tidak benar sekarang." Banyak kalimat-kalimat overthingking yang membuat Azhaf terdiam setiap menitnya, di waktu ini. Setelah lamanya Azhaf berjalan tanpa arah. Dia terhenti untuk duduk di tempat yang sunyi, matanya memandang langit pagi yang berwarna lembut. Sepi kota memberinya ruang untuk merenungi, mencoba mencari jawaban di antara awan yang berarak perlahan. Langit memberinya kedamaian yang sedikit mengobati kehancuran dan sedih di pagi hari itu. Saat dirinya masih memandangi cerahnya langit pagi, yang mengeluarkan warna biru awan. Terkadang
116 membuat dirinya tersenyum sendiri saat terus-terusan memandanginya. Saat ia masih memandangi langit, datang seorang laki-laki yang baru saja turun dari sepeda miliknya. Terlihat sangat familiar bagi Azhaf saat melihat seorang remaja laki-laki itu. Wajahnya terlihat kelelahan ketika dia berhenti persis di depan Azhaf, sekujur tubuh lelaki itu terbanjiri oleh keringatnya sendiri. "Zhaf, tumben amat di sini. Ngapain?" Tanya lelaki itu di tengah kelelahan yang masih dirasakannya, sampai-sampai, terbata-bata ketika dia menyampaikan kalimat itu. "Eh, Waz lo di sini juga. Bareng syamil kah ridenya?" Pertemuan di pagi ini pun membuat mereka mengobrol lama di saat itu, benar saja seorang yang tidak asing di mata Azhaf, adalah teman dekatnya saat kelas 7 sampai kelas 9. Laki-laki itu adalah teman sekelasnya saat kelas 7, dan mereka berdua sering bermain bersama di kala terjangan virus yang melanda pada tahun itu. Saat jam istirahat sekolah, ataupun selesai sekolah. Mereka terkadang langsung memainkan handphone mereka untuk bermain game, dan meredakan rasa bosan yang terus-menerus datang setelah sekolah.
117 Bertukar kata dengan teman dekat membantu mengalihkan perhatiannya dari perasaan malu yang terus terusan menghantui dirinya di pagi ini. Dalam percakapan hangat, Azhaf bercerita tentang hal janggal yang memalukan yang dialaminya. Ahzaf merasa lega bisa membagikan beban perasaannya. Teman dekatnya mendengarkan dengan penuh pengertian, menjadi penopang di pagi yang sulit itu. "Set dah Bro, susah sih kalau begitu." "Lagian yah Zhaf, perasaan gue gak pernah denger lo teriak nama dia di luar koridor, atau enggak becanda, cewek gue tuh, cewek gue tuh. Di depan banyak orang loh," ucap Fawwaz, teman dekatnya dengan wajah yang kebingungan. Hal itu, yang membuat Azhaf terpikir kembali, “Apakah ada yang memberi tahu langsung Zikra hal yang sering ia bahas ketika ngobrol-ngobrol dengan temannya? Dengan bantuan Fawwaz serta seiringnya waktu berjalan, perasaan malu perlahan reda di dalam hati Azhaf, walaupun masih ada yang mengganjal terus menerus. Dia beranjak dari kursi taman dan berencana untuk pulang ke rumah, membawa harapan untuk hari yang lebih baik. Langit pagi yang tadi kelam kini memberikan sinar cerah, mencerminkan perubahan positif yang mulai menghampiri. "Mungkin ini hanya sesaat,"
118 kalimat itu tiba-tiba muncul ketika ia selesai mengobrol dengan temannya. Fawwaz mulai menaiki sepedanya lagi untuk berjalan ke arah berlawanan dari Azhaf yang ingin pulang ke rumah. Akhirnya perasaan malu itu mulai mereda, dan sekarang ia mulai melakukan cara untuk meminta maaf kepada Zikra saat nanti ia sudah siap, saat hari dimana ia turun dari jabatannya di sekolah. Seharusnya ia bisa meminta maaf langsung kepada perempuan itu dalam waktu yang berdekatan, tetapi belum ada hubungan yang erat baginya untuk langsung meminta maaf dan berbicara panjang lebar tentang masalah yang ia lakukan kepada perempuan itu. Langkahnya kini menuju arah rumah, yang terkadang masih terasa berat baginya ketika mengingat lagi. Dalam setiap langkah, dia mencoba menemukan cara demi cara untuk membuat perasaan ini baik, dan membuat Zikra merasa tenang lagi seperti hari-hari tanpa ada nama Azhaf di hidupnya. Dalam keheningan langkah pulangnya, ponsel Azhaf seketika berdering dengan kencang. Awalnya ia mengabaikan hal itu karena dia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Tetapi getaran berkali-kali yang didapatkan Azhaf membuat dirinya penasaran, siapakah yang mengirim pesan berkali-kali kepadanya.
119 Saat ia memegang handphone-nya untuk melihat siapakah yang mengirimkan pesan untuk dirinya, ternyata pesan itu dikirim oleh teman-temannya. Mengajak dirinya untuk pergi ke rumah Arul untuk memainkan alat musik di rumahnya yang sudah lama tidak dipakai lagi oleh orang rumahnya.
120 Notif itu memberikan pilihan baru di tengah kehancuran dan perasaan sedih. Dia harus memilih antara melanjutkan perjalanan pulang atau menerima ajakan itu untuk mencari pelarian sejenak. Tetapi, feeling Azhaf dengan alat musik sangat kuat. Dirinya pasti akan tenang dengan musik yang ia lantunkan menggunakan gitar, atau lainnya yang biasanya dimainkan di rumah Arul. Dirinya langsung bergegas untuk pulang sejenak, mengambil motor yang ada di depan rumah menuju ke rumah Arul siang itu. Langkahnya semakin cepat untuk menuju rumahnya. Motor Azhaf melaju dengan cepat, dirinya memacu motor melalui jalanan yang sepi, hatinya masih terasa berat seperti beban yang sulit dihapus. Meskipun mengayuh gas dengan tekad, rasa labil masih melingkupi kepalanya. Pada setiap lampu merah, matanya mencari pemahaman dalam bayangan cahaya, mencoba menyembunyikan kehampaan yang terlalu nyata. Perjalanan itu, seperti perjalanan menuju pemulihan, diwarnai oleh langit mendung yang mencerminkan harapan-harapan yang mulai pupus. Hingga angin menerpa wajahnya yang terlalu akrab dengan rasa sepi.
121 Dia melaju tanpa peduli pada kecepatan, jalanan yang berlalu begitu cepat seakan mencerminkan keinginannya untuk melarikan diri dari pengalaman yang memalukan. Tetapi, di balik setiap akselerasi motornya, ada kerumitan emosi yang tersembunyi, menciptakan kilatan kebebasan palsu di antara lampulampu kota yang berkejaran. Dengan hembusan nafas lega, Azhaf tiba di depan pintu rumah Arul. Meskipun motor telah berhenti, kecepatan denyut jantungnya masih terasa. Ketukan pelan di pintu memecah keheningan, dan seketika datang Arul membuka pintu dengan pandangan penuh pertanyaan. "Lo ngebut-ngebut lagi ye." "Elah, gak jelas lu." "Gak niat hidup kal..." Saat Arul ingin menyelesaikan beberapa kata yang ia sampaikan untuk Azhaf, sontak Azhaf langsung memutuskan omongan Arul yang baru saja ia lontarkan barusan. "Shttt, diem dah ya, diem Rul." Azhaf langsung masuk ke dalam rumah temannya untuk menuju ke kamar Arul. Di sana sudah banyak teman-
122 temannya yang sedang bermain bersama, mengobrol, dan berbagi tawa di waktu siang itu. Saat matanya menangkap senyum tulus dari temannya, rasa labil perlahan reda seperti gelombang yang surut. Di dalam hangatnya sambutan, kilas kilau kebahagiaan mengusik kegelapan emosinya. Mungkin, di sana, di antara tawa dan cerita, dia akan menemukan sedikit cahaya untuk mengusir bayang-bayang kesedihan yang masih melekat pada dirinya. "Rul, mana gitar listrik lo." "Mainlah, gas." Waktu siang itu dihabiskan oleh mereka semua, untuk bermain alat musik yang berada di rumah Arul. "Noh, pojok," jawab arul dengan wajah datarnya. Dengan penuh semangat, Azhaf meraih gitar listrik yang ada di pojok ruangan kamar temannya. Jari-jarinya menyapu senar-senar, menciptakan alunan yang memecah keheningan. Di setiap nada, terdengar bagai terapi yang meredakan beban emosinya. Melalui melodi-melodi itu, ia menemukan cara untuk mengungkapkan yang tak terkatakan, melepaskan diri dari kepungan rasa sedih yang masih mengendap. Mereka semua menciptakan harmoni yang mengalir di antara melodi-melodi yang tercipta. Alat musik menjadi jembatan yang menghubungkan
123 perasaan mereka, dan setiap catatan menjadi ungkapan yang tak terucapkan. Di dalam bermain bersama, rasa sedih tergantikan oleh kehangatan persahabatan dan keindahan musik yang memenuhi ruangan, merangkul mereka dalam momen-momen kebersamaan yang berharga di waktu SMP. Dengan kelelahan yang menyusup, Azhaf merenung sejenak sebelum terkulai di atas kasur Arul. Di dalam kegelapan, lamunan dan melodi masih berdansa di benaknya. Tidur datang seperti pelukan lembut, membawa perlahan tubuhnya ke dalam dunia mimpi yang mungkin membawa ketenangan, sementara alunan musik masih menggema di relung hatinya. "Rul." "Cape eui, edan ini mah sampe mau sore gak berhenti-henti.” Ocehan Azhaf, membuat mereka semua tersadar bahwa mereka sudah menghabiskan waktu yang lama untuk bermain alat musik di rumah Arul. "Iyaa, Zhaf." "Eh, lo ikut gua ke lantai atas yo." "Yang lain tunggu sini bentar ye." Ajakan Arul, seketika membuat Azhaf bingung. Mengapa ia ingin mengajaknya sendirian, tanpa adanya
124
125 teman temannya yang sedang bermain berasama, dengan mereka semua. Azhaf merespons ajakan Arul dengan senyuman lembut. Bersama langkah-langkah yang masih terasa berat, mereka menuju lantai atas, di mana langit-langit kamar menyaksikan banyak cerita bersama. "Ngapain sih Rul?" tanya Azhaf dengan wajah kebingungan yang masih muncul sampai saat ini. "Zhaf, muka lo dari awal ke sini kayak sedih amat. Kenapa?" "Lo udah ga deket lagi sama Zikra yah, makanya gini!" Banyak pertanyaan yang dikeluarkan oleh Arul. Sontak pertanyaan-pertanyaan ini, membuat Azhaf sedih kembali saat mendengarnya dan mulai menyadari bahwa dirinya dari tadi, tidak seperti biasanya. Dalam percakapan yang hangat, Azhaf menuangkan isi hatinya, membuka ruang baru untuk tumbuh dan melepaskan beban bersama-sama. Katakata terucap seperti aliran air yang mengalir, membawa keluar segala rasa yang terpendam. Di antara cahaya temaram, Arul menjadi saksi setia untuk mendengarkan dan memberikan pendapat, menjadikan ruang itu sebagai tempat berbagi cerita dengan nyaman.
126 "Tapi ya Zhaf, menurut gue itu ga bener dah." "Lo gak segila itu, dan juga nih yah gak mungkin lo gitu." "Lagian itu rumor Zhaf, belum tentu bener." "Mending lo deketin lagi." Arul menyampaikan pendapatnya kepada Azhaf, untuk memepertimbangkan lagi bahwa rumor yang beredar tidak benar. "Iya juga sih." "Kalo gua pikir-pikir, gak ada benernya satu pun." Azhaf tidak begitu yakin dengan perkataan dirinya sendiri, tetapi jika ia mempertimbangkan tentang rumor itu, ada benarnya bahwa dia tidak melakukan hal segila itu. Meskipun mendapat pencerahan dari Arul, pikiran yang membingungkan masih menghantui. Ketenangan yang sejenak ada kini digantikan oleh gelombang ketidakpastian. Pada siang yang terik, dia bergulat dengan pertanyaan yang terus menghantui pikirannya, mencoba mencari jawaban yang logis dan benar. "Makasih ya Rul, dah ngedengerin cerita gua."
127 "Gue pastiin kalau gua masih bisa ngedeketin Zikra dah," kalimat yang dilontarkan oleh Azhaf. "Sip, gue tunggu lo sama Zikra deket banget," jawab Arul, dengan acungan jempol yang ia berikan kepada Azhaf yang sedang merenungi isi hatinya. Pertemanannya dengan Arul, memberikan Azhaf sentuhan kebahagiaan. Dalam setiap tawa, dukungan, dan momen berharga, ia menemukan kehangatan yang mampu menyeimbangkan kegelisahan di dalam dirinya. Arul dan teman-temannya menjadi pilar yang memberikan warna positif dalam kehidupannya, mengukir senyum di wajahnya bahkan di tengah-tengah kebingungan yang melingkupi pikirannya. Suasana pagi begitu tenang, embun masih menyelimuti dedaunan dan matahari perlahan muncul di ufuk timur. Langkah-langkah ringan siswa yang tiba di sekolah memberikan nuansa yang penuh kehangatan. Kesegaran udara pagi memberikan energi positif untuk memulai hari dengan semangat. Di hari ini Azhaf terlihat sangat lemas, dan mulai memunculkan rasa malasnya ketika di sekolah. Dirinya
128 merasa terhimpit oleh kebosanan dan rasa malas. Langit biru dan udara segar sepertinya tidak mampu merangsang semangatnya. Mungkin sebuah kegiatan yang menarik atau tujuan kecil dapat membantu dirinya mengatasi perasaan itu dan memberikan warna pada paginya. Saat ini, kepala Azhaf tergeletak tepat di atas mejanya. Dirinya ingin menutup matanya untuk menidurkan raganya sesaat, menunggu hingga bel tiba. Hari ini dirinya datang ke sekolah di waktu yang cepat, dirinya ingin berjaga-jaga takut akan ada yang bermasalah ketika organisasi sebelahnya membutuhkan bantuan dirinya, ketika sedang bertemu dengan anak MPLS. Ternyata benar saja, beberapa menit kemudian saat Azhaf baru saja memejamkan matanya, teriakan salah satu perempuan sontak membuat Azhaf terbangun dengan keadaan kaget. “AZHAF !” “Tolong, ini anggotaku satu gak masuk” “Boleh minta tolong kamu gantiin?” teriaknya dengan napas yang tersengal sengal.
129 “Hah!” “Oh yaya, aku ke bawah,” jawab Azhaf. Dirinya saja baru terbangun dengan wajahnya yang terlihat oleh orang-orangb bahwa nyawanya belum terlalu terkumpul. Azhaf berjalan dengan langkah malas ke arah luar kelas, seakan-akan mencari udara segar atau perubahan suasana. Saat baru saja ia ingin turun ke lantai bawah, dia teringat bahwa belum membawa buku yang biasanya dipakai untuk ke adik kelas yang masih MPLS. Seketika langkahnya langsung berbalik arah menuju kelasnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti seketika. Azhaf melihat bahwa salah satu anggotanya yang berdiri di depan kelas, sembari memegang buku yang ia maksud. “Eh, Azka.” “Aku minjem buku ini dulu boleh yah!” Izin Azhaf dengan suaranya yang terbata-bata karena baru saja melangkah cepat ke kelasnya. “Eh iya ambil aja,” jawab salah satu anggota Azhaf, sembari memberi buku yang Azhaf inginkan di pagi itu.
130 Dengan langkah yang lebih cepat, dia langsung menuju lantai bawah karena sudah telat ke kelas yang membutuhkan bantuan Azhaf. Keterlibatannya dalam membantu memberikan semangat baru pada pagi hari yang awalnya monoton. Dengan napas tersengal-sengal, Azhaf akhirnya sampai di depan kelas, yang disuruh oleh salah satu anggota organisasi tadi saat di kelasnya. Dia membuka pintu kelas dengan hati yang penuh antusias, siap untuk memberikan bantuan dan pengetahuan kepada anakanak MPLS. Langkahnya yang tadi malas kini berganti dengan semangat mengajar, menciptakan momen yang bermakna bagi mereka. Hari ini tepat hari kamis, dimana setiap hari kamis, akan ada satu organisasi yang menjelaskan isi di dalam organisasi tersebut. Biasanya Azhaf tidak akan masuk ke dalam kelas, kecuali ada organisasi yang memang kekurangan anggota. Dia akan masuk ke kelas tersebut, dan membantu salah satu anggota organisasi yang membutuhkannya. Mereka semua akan mempresentasikan isi organisasi mereka, dan mengenali kepada semua anak murid kelas 7 yang sedang MPLS. Setelah selesai mempresentasikan salah satu Organisasi, Azhaf ingin mengembalikan buku yang
131 dipinjamnya kepada salah satu anggotanya tadi. Langkahnya yang semula penuh antusiasme kini menuju ke langkah pengembalian, menyelesaikan tugasnya dengan rasa tanggung jawab. Akhirnya langkah Azhaf mulai melambat ketika sampai di lantai tiga sekolahnya, dirinya langsung memelankan langkahnya untuk menuju kelas Azka yang meminjamkan salah satu buku kepada dirinya. Saat seperempat langkah lagi, hingga tertuju ke depan pintu kelas Azka, Azhaf melihat keramaian perempuan di depan pintunya, tetapi di matanya tidak terlihat Azka di kerumunan tersebut. Sampai pada akhirnya, yang tadinya ia ingin langsung memberikan kepada Azka, mengganti opsi menjadi memberi ke salah satu temannya saja yang berada di kerumunan itu. Saat dirinya sudah berada di dekat kerumunan perempuan tersebut, matanya tertuju kepada satu perempuan yang sedang menyandarkan dirinya ke pintu yang ada di depan muka perempuan itu. Dengan hati yang berdegup kencang, matanya tertuju pada seorang perempuan di depan kelas itu, dan ternyata, itu adalah orang yang ia sukai. Mungkin momen ini membawa kejutan dan membuatnya sedikit terkejut. “Eh Na-nasila, boleh minta tolong kah!”
132 “Kasih buku ini” Tanya Azhaf Dengan hati yang berdegup kencang, dia merasa gugup saat ingin mengeluarkan kalimat. Mungkin kejutan melihat orang yang disukainya membuat kata-kata terasa sulit diucapkan. “Iya, boleh.” “Ke siapa Zhaf?” jawab Nasila salah satu Anggota Azhaf di organisasi Osis. “Ke Z-Z-Zikra.” “EH, MAKSUDNYA KE AZKA.” “Sorry, sorry” Di saat itu, semua mulai tersenyum ke arah Azhaf, dirinya mulai membeku tanpa adanya kalimat lagi yang ia ucapkan. Setelah hal itu berlalu, rasa malu melandanya, dan tanpa berpikir panjang, Azhaf langsung tanpa pamit berlari ke arah kelasnya. Mungkin perasaan gugup dan malu membuatnya ingin cepat meninggalkan situasi tersebut.
133 Dengan malu yang masih terasa, dia langsung menggulingkan badannya ke arah kelas, mungkin berharap momen tersebut tidak terlalu mencolok atau memancing perhatian orang lain yang melihatnya dengan keadaan aneh, dan salah tingkah tanpa arah. Keadaan kelas itu sudah ramai, dan siswa mulai menggelarkan sejadah untuk bersiap salat duha di pagi hari. Suasana kelas tenang dan tidak ada keribuatan satupun. Salat duha di pagi itu pun selesai saat jarum pendek terarah di angka delapan. “BU PETTI!” “Bu, sumpah saya malu-maluin ini mah!” teriak Azhaf dengan raut muka sedih yang ia tunjukkan dengan spontan. “Hah, kenapa?” tanya Bu Petti dengan senyumnya sembari menimbulkan suara tawanya yang kecil. Akhirnya, dengan perasaan malu, Azhaf menceritakan pengalamannya kepada wali kelasnya, yang dekat dengan Azhaf. Mungkin dia merasa butuh bimbingan atau dukungan lebih lanjut dalam menghadapi perasaan malu dan kesulitan yang baru saja dia dapatkan karena dirinya sendiri.
134 “Hahaha, kamu sih aneh-aneh aja,” tawa Bu Petti dengan nada lembut khas guru itu. “Yaa, saya kan ga tau Bu,” jawab Azhaf. Meskipun mengalami peristiwa yang membuatnya memalukan, saat jam pelajaran dimulai, dia memilih fokus pada pembelajaran. Mengarahkan perhatiannya ke pelajaran adalah cara untuk menyeimbangkan dan mengatasi perasaan yang mungkin masih membebani pikirannya di waktu itu. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya jam istirahat siang pun berkumandang. Saat istirahat, mungkin dia dapat menggunakan momen tersebut untuk merenung atau bersantai sejenak, mencari ketenangan setelah melewati berbagai peristiwa pada pagi hari tadi. Saat dirinya duduk di tengah-tengah ramainya kelas, Azhaf mulai merasa bosan dan ingin melakukan hal sesuatu. Sampai akhirnya dirinya beranjak untuk melangkah ke arah luar kelas, dia melangkah tanpa ada tujuannya yang pasti. Langkah demi langkahnya tidak ada ujungnya, dirinya melangkah terus menerus seperti terbawa arus air. Di saat itu koridor terasa sepi, hanya ada Azhaf yang sedang berjalan di tengah kesunyian siang hari di sekolahnya. Tiba-tiba dirinya merasakan sentuhan
135 lembut di pundaknya. Dengan cepat dirinya langsung berbalik untuk melihat siapa yang menepuknya. “Zhaf,” ucap perempuan berkacamata, yang mempunyai tinggi badan sepantaran Azhaf. “Iqlima, bikin gue kaget aja!” jawab Azhaf, dengan perasaan kaget yang masih hadir di dalam dirinya. “Gue pengen ngomong tentang si dia.” “Tenang aja gue dah tau kok.” “Sebenarnya rumor itu yang bikin dia risih, dan gak ada bukti apapun. Lo aman kok, tapi jangan diomongin dulu masalah ini.” Kalimat-kalimat tersebut dikeluarkan oleh perempuan berkacamata itu dengan spontan tanpa ada jawaban dari Azhaf terlebih dahulu. Saat Azhaf ingin menjawab dan berniat untuk bertanya, dirinya langsung berlari ke arah kelas Azhaf tanpa berpamitan terlebih dahulu. Azhaf terdiam di tempat itu beberapa detik, setelah itu ia langsung berlari ke arah kelas Arul untuk menceritakan semua itu.
136 Ketika sudah di dalam kelas Arul, tanpa pikir panjang Azhaf langsung menarik temannya untuk keluar dari kelas 9G. “Woi, Napa Zhaf.” “Aish, main narik-narik aja.” Langkah mereka terhenti ketika Azhaf memberhentikan dirinya di lantai 4 sekolahnya. Suasana terasa sepi di siang itu, hanya ada mereka berdua di lantai atas dengan angin kencang yang menimbulkan suara hingga melawan keheningan siang itu. Sontak Azhaf langsung menceritakan semua kalimat yang ia dapatkan barusan kepada Arul, apa yang dikatakan oleh seorang perempuan berkacamata, yang dulunya salah satu teman kelas Azhaf ketika kelas 8. Arul mendengarkan semua cerita Azhaf dengan tenang dan memahami kata perkata, semua kalimat yang diceritakan tidak ada yang berbeda dari apa yang di katakan oleh Iqlima. “Nah loh.” “Bener dong rumor doang.”
137 “Kata gue, lo pulang chat dia lagi coy.” Tiga kalimat Arul yang ia berikan kepada Azhaf. “Okelah.” “Gue coba, tapi...” “Bahas apa Rul?” Mereka berdua mulai memikirkan apa yang harus Azhaf obrolkan untuk memulai percakapan dengan Zikra. Banyak topik yang diucapkan oleh Arul, tetapi Azhaf menolak untuk membahas hal itu. Sampai pada akhirnya mereka berdua menemukan salah satu topik yang sangat bagus untuk dibicarakan. “ANTOLOGI CERPEN.” “Bentar lagi kita kan bakalan selesain antalogi, lo dah selesai kan. Kasih tau dia aja,” ucap Arul. Sontak mereka berdua senang karena akhirnya menemukan topik yang ingin dibicarakan untuk malam hari. Dengan senyum, mereka berdua menuju ke kelasnya masing-masing, dengan harapan Azhaf berhasil untuk mendekati Zikra kedua kalinya. Dengan
138 berjabat tangan di akhir kalimat, mereka berjalan ke arah kelas berdua di kesunyian koridor siang hari itu. Tring tring tring, mata pelajaran terakhir pun di mulai. Di jam pelajaran terakhir, Azhaf menyimak dengan penuh perhatian, menyelesaikan tugas terakhirnya, lalu menunggu hingga jam pulang tiba di hari itu. Dirinya merasa senang karena mendapatkan informasi yang membuat dirinya tenang dan merasa aman kembali. Tetapi di sisi lainya, Azhaf masih menyimpan rasa malu yang dalam, karena hal yang cukup memalukan di saat pagi hari tadi. Dengan keingginan nya yang tinggi untuk mengobrol dengan Zikra, dirinya langsung bergegas untuk menaiki ojek yang ia pesan. Dirinya ingin cepatcepat sampai di rumahnya, dan mulai mengotak-ngatik keyboard handphonenya. Saat di perjalanan Azhaf tiba-tiba beharap, di sore itu. Di dalam harapannya, ia ingin mengobrol lama dengan Zikra, menghabiskan waktu malamnya berdua untuk berbagi cerita, dengan rasa gembira dan menutup harinya dengan rasa bahagia.
139 Sesampainya di rumah, Azhaf langsung berlari ke kamarnya, membuka pintu dengan cepat, dan meraih HP-nya dengan antusias. Dengan senyum, dia menelusuri pesan, memeriksa notifikasi, dan memulai rencana awal yang sudah ia rancang dengan Arul. Dirinya mulai membuka salah satu aplikasi, dan mencari salah satu room chat yang bernamakan Zikra. Beberapa saat kemudian, Azhaf langsung mengirimkan beberapa bubble chat di sore itu. Sesaat ia melihat terus menerus chat yang baru saja dia kirim, dirinya berharap, untuk mendapatkan fastrespond dari Zikra dan mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang di chat oleh Azhaf kepada Zikra. Setelah melakukan hal itu, Azhaf langsung melempar hp-nya ke arah kasur sampingnya, dan dirinya mulai menutup kepalanya dengan bantal. Selang beberapa menit, HP miliknya bergetar dengan kencang. Jantungnya mulai berdetak kencang, teraasa geli di
140 dalam perutnya hingga membuat pipinya memerah di waktu itu. Saat ia meraih hp-nya, terpampang jelas tulisan Zikra Alya Rahma, yang membalas pesannya. Sampai pada akhirnya mereka berdua menghabiskan beberapa menit untuk membahas hal itu.
141 Saat Azhaf menawarkan cerpennya untuk dibaca oleh Zikra, terlihat Zikra sangat antusias dengan apa yang diberikan oleh Azhaf untuk dibaca di malam hari. Setelah diberikan sebuah barcode yang menuju ke antologi cerpen kelompok Azhaf. Sesaat kemudian, dirinya yang mengirim pesan kepada Zikra, tidak kujung mendapat balasan pesan untuknya. Tanpa adanya kalimat yang menunjukkan bahwa Zikra yang sudah mulai membuka dan membaca sebuah antologi cerpen milik Azhaf. Azhaf mulai berpikir bahwa Zikra memang sedang memulai membaca bacaan yang ia berikan kepada perempuan itu. Dirinya menunggu di seperempat tengah malam dengan keadaan yang bercampur aduk. Terkadang ketika ia sedang memainkan aplikasi dalam handphone miliknya, sesekali Azhaf membuka kembali roomchat milik Zikra yang berada di instagram. Matanya terus memantau layar, dan jantungnya berdegup cepat, saat masih memainkan aplikasi di handphonenya. Setiap notifikasi membuatnya berharap itu pesan dari perempuan yang sangat dia tunggu. Tiba-tiba HP nya bergetar kencang. Tangan Azhaf gemetar saat membuka pesan yang masuk. Senyumnya semakin melebar ketika melihat balasan yang lama dia
142 tunggu. "Akhirnya!" gumamnya gembira, dan ia langsung membalas dengan antusias. "GUE DOANG DONG!" "SHHSHSHS!" Azhaf berteriak salting, di dalam kamar miliknya. Sambil membaca pesan balasan, dirinya terusterusan merasakan detak jantungnya yang semakin cepat. Senyumnya mulai melebar, menyadari bahwa isi
143 pesannya sangat sama dengan apa yang dirinya harapkan ketika di perjalanan pulang ke rumah. Rasa salting dan kegembiraan mulai menyelinap ke dalam dirinya. Berbagi cerita menjadi jembatan tak terlihat yang menghubungkan dua hati. Waktu berlalu, dan dalam keintiman malam, mulai banyak pergantian topik yang didapatkan mereka berdua. Di malam itu Zikra lebih antusias untuk menceritakan semua hal yang ia pernah alami, dan beberapa yang ia sukai dalam hidupnya, di ungkapkan kepada Azhaf. Perempuan itu menceritakan bahwa dirinya sangat suka dengan yang namanya treasure, salah satu grup band dari korea yang cukup terkenal di semua kalangan. “Oh, treasure toh,” gumam Azhaf. Di malam itu Azhaf merasa dirinya sudah dekat kembali dengan Zikra, apa yang disampaikan oleh teman-temannya berbeda jauh dengan kenyataan yang sedang ia jalani. "Rumor, rumor. Ngehambat orang aja." Gumamnya kesal, ketika dirinya sedang chatan dengan Zikra. Azhaf mulai tersadar, dirinya mendapatkan satu kalimat yang penting ketika sedang mendekati seorang perempuan yang menyukai idol k-pop maupun lainnya.
144 "Sungguh, laki-laki terlihat jauh lebih menarik ketika dia menghargai apa yang perempuannya sukai." Kutipan kalimat itu, Azhaf dapatkan ketika ia sedang membaca buku malioboro at midnight. Sontak dirinya langsung berniat untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh Malio kepada Sera. Saat Azhaf membaca buku itu, Azhaf membaca bahwa Malio sangat mendukung apa yang Sera sukai, di buku itu mereka sangat lucu. Di pikiran Azhaf, Sera yang sangat menyukai sehun sangat di dukung oleh Malio, dan hal itu adalah awal pembuka Sera tertarik dengan Malio. Sesekali Azhaf berpikir bahwa dunia AU tidak sama dengan dunia nyata. Tetapi, apa salahnya mencoba seperti itu. Setelah semua hal itu berlalu, Azhaf membuka handphone-nya, sesekali ia terdiam dan tidak memainkan keyboard-nya, tetapi akhirnya ia membuka salah satu aplikasi, yaitu notes handphone-nya. List Pacar-pacarnya Zikra !!?? 1. (Buat gue, nanti wkw) 2 Junkyu 3 Jeongwoo
145 4 Haechan 5 Malio 6.Cello “Hahaha, kaya Malio aja nih gue,” gumam Azhaf di tengah malam itu. Dengan penat malam, akhirnya obrolan mereka terhenti di saat jarum jam menunjuk ke arah angka 11.00. Azhaf tergeletak di atas kasurnya dalam pelukan malam. Cerita-cerita yang dirinya dapatkan dari Zikra membawa kedamaian di malam hari dan tidur itu menjadi titik yang penuh kegembiraan. Mungkin saja di dalam mimpi Azhaf terdapat momentum keindahan dunia hingga dirinya tersenyum saat tertidur lelap.
146 7 Arts Festival “Di hari itu, dirinya sangat indah dari kejauhan” “SEPI!!” Azhaf berteriak di tengah-tengah koridor lantai bawah sekolahnya. Hari ini kelas 9 sudah mulai berganti kelas, mereka yang tadinya di lantai 3 sekarang berganti di lantai bawah. Koridor kelas yang biasanya ramai menjadi sepi di minggu ini. Mungkin karena mereka semua sedang merancang hal menakjubkan untuk kelasnya, yang nantinya akan tampil saat hari bulan bahasa di mulai. Minggu ini, minggu yang paling ia tunggutunggu. Dimana semua kelas 9 berada di kelas masing masing untuk merancang acara pentas seni kelasnya. Berbeda dengan yang lain, Azhaf malah lebih sering
147 berkeliaran di luar kelasnya dari pada membantu temantemannya yang sedang merancang pensi. Entah mengapa, dirinya lebih asik sendiri untuk menjelajahi sekolahnya berulang-ulang kali, menaiki tangga, menuruni tangga, berjalan ke segala penjuru arah di sekolahnya pun ia jalani di hari itu. Azhaf yang masih melangkahkan kakinya, dirinya mulai merasa bosan untuk berjalan sendirian. Seketika dia membalikkan badannya ke arah kelasnya, mungkin di sana dirinya bisa menghilangkan rasa bosan di pikirannya. Saat dia melangkahkan kakinya ke arah depan kelas miliknya, tiba-tiba dirinya berhenti, dan terdiam saat di depan kelas 7D, kelas yang ditempati Zikra. Azhaf baru menyadari bahwa hari ini adalah hari kamis, yang mana Bu Petti memiliki tugas untuk menjagai anak kelas 9D. Azhaf yang tadinya berniat untuk berjalan ke kelasnya, sekaranng berganti pikiran untuk duduk mengbrol sesaat dengan Bu Petti. “BU PETI!” Sambut Azhaf di tengah sepinya koridor depan kelas 7.
148 “Hai, habis dari mana kamu?” tanyanya dengan lambaian tangan yang diberikan untuk Azhaf “Dari jalan-jalan, heheh!” jawab Azhaf “Aku mau nebak, pasti ibu mau jaga 9D?” tanya Azhaf, dengan memberi kode kepada Bu Petti. Di saat itu, Bu Petti sudah sadar bahwa Azhaf sedang mengkode nya. “Iya nih, hapal banget. Si itu yah,” canda Bu Petti yang membuat mereka berdua tertawa bersama di siang itu. Pada akhirnya, Azhaf mengobrol panjang bersama Bu Petti, berganti cerita hingga membahas apapun yang mereke ketahui bersama. Menghabiskan Waktu siang, hingga akhirnya Bu Petti mulai masuk ke arah pintu masuk kelas 7D. Selesai semua obrolan itu, Azhaf mulai beranjak dari tempat duduk depan kelas 7D, dirinya mulai melangkahkan lagi kakinya ke arah depan kelas. Siang itu mulai menghilang searah waktu berjalan, yang tadinya matahari sangat terik di atas kepala, sekarang mulai tertutup awan ingin turun ke
149 waktu senja. Angin masih mengalir searah dirinya berjalan, di waktu itu hanya beberpa orang yang berjalan di depan Azhaf, dan mereka adalah anak murid kelas sebelahnya. Azhaf mulai membuka pintu kelasnya, di sana mulai terasa riuh, rusuhnya kelas. Langkah Azhaf terhenti ketika ia sudah di depan teman laki-lakinya. Di saat itu, Azhaf yang menjadi ketua kelas, hanya memantau apa saja yang harus di bantu dirinya. Jika memang masalah di pensi tidak terlalu berat, dia tidak akan turun ke lapanga untuk membantu mereka. Sesekali suara lagu dari kelas sebelah terdengar sangat kencang, membuat semua anak-anak kelasnya Azhaf ingin sekali untuk menyalakan musik, tetapi mereka semua terhalang karena tidak adanya alat untuk menyalakan lagu di hari itu. Di waktu itu, Azhaf mulai merasakan hal bosan lagi, dirinya sesekali hanya berputar dari ujung kanan kelasnya, berjalan ke ujung kiri kelasnya, sampai akhirnya teman-temannya mengajak untuk bermain billiard yang dibuat sangat minimalis dari kardus dan tutup botol, yang sangat trending di tiktok baru-baru ini. Saar dirinya baru saja ingin memposisikan badan untuk menusuk tutup botol, tanpa disadari ada seorang
150 guru laki-laki yang memakai kacamata di siang itu. Kelas yang tadinya sangat ribut, seketika senyap tanpa adanya suara satu pun. “Kelasnya Azhaf kan?” tanya Pak Heri hingga memecahkan kesunyian kelas itu. “Iya Pak, saya, jawab Azhaf. “Ikut Bapak ke perpus, ada yang mau di omongin!” “Ada Wafil juga di atas,” ucapnya. Seketika Azhaf yang sedang bermain dengan temannya, langsung berlari ke lantai 3 sekolahnya, mengarahkan tujuannya ke arah perpustakaan milik sekolahnya Akhirnya dirinya sampai di depan pintu perpustakaan sekolahnya, yang berada di lantai 3. Di saat dirinya membuka pintu perpustakaan itu, Azhaf melihat sudah ada dua orang yang duduk di depan Pak Hertos. Azhaf melihat, temannya kelas 8, yang sedang meminum air jahe, dan Wafil yang sedang membacakan sumpah pemuda di dalam perpustakaan itu. “Sini Bro!” sambut Pak Heri yang sedang duduk tegak depan meja lesehan.