201 Onit berbisik-bisik kepada Azhaf secara diam-diam. Di saat itu, anggota organisasi terlihat sibuk untuk memberi pendapat, mereka semua mencari barang-barang yang akan di butuhkan untuk kegiatan hari guru nanti. "Iya juga Nit, aish." "Apa ga di ajak ketuanya ya?" "Tapi kayanya karena ga cukup anggota juga, gue kan suruhnya bawa dua orang" Kebingungan Azhaf membuat ia tidak sadar bahwa dirinya masih di dalam rapat, yang masih berlangsung di sore itu. Setelah rapat Osis selesai, Azhaf duduk di kursinya dalam kelas, menggumamkan sesuatu dari pikirannya yang penuh pertanyaan. Suasana senja mulai menyusup ke dalam kelas, menciptakan aura keheningan yang sedikit terganggu dengan gesekan daun-daun kering yang berjatuhan di luar. Seseorang dari rapat, tampaknya memperlihatkan sikap yang aneh. Pandangan mata yang seakan
202 menyimpan rahasia membuat Azhaf merasa bingung dan tertarik untuk mengungkap kebenaran di baliknya. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri ‘apakah ini hanya kesan semu atau ada sesuatu yang sebenarnya terjadi?’ Sebuah pertanyaan besar melayang dalam pikirannya, dan Azhaf berusaha mencari jawaban, memikirkan apakah dia harus mengajak bicara temannya atau memberi waktu membiarkan situasi ini terurai sendiri. "Zhaf ngapain lo masih di sini, pulang sana!" "Lo mau nginep di sini?" Azhaf yang sedang melamun ke arah jendela, langsung membalikan mukanya ke arah perempuan yang meneriaki namanya. Dirinya melihat Belva dari depan pintu masuk kelas, tiba-tiba Belva menghampiri Azhaf dengan wajah yang kebingungan. "Iyee iyee, gue pulang nih"
203 Azhaf memutuskan untuk memberi dirinya sedikit ruang untuk berpikir, beranjak dari kursi dan melangkah ke parkiran motor miliknya. Angin sepoisepoi senja menyapu wajahnya, mencoba membawa kejelasan pada pertanyaan yang merayapi pikirannya. Dia menemui motor kesayangannya, duduk di atas jok motor sejenak sambil menatap langit-langit. Suara bising kendaraan dan langkah kaki di sekitarnya seolah menjadi latar belakang dari perenungan yang tengah dia jalani. Dalam keheningan itu, Azhaf merenungkan langkah selanjutnya. Apakah dia akan mencari jawaban dari temannya atau memberikan waktu untuk melihat apakah ada perubahan sikap yang terjadi. Parkiran motor menjadi saksi bisu dari kebingungan dan ketidakpastian yang mewarnai sore itu. Saat ia ingin menyalakan motor miliknya, tibatiba dari kejauhan terlihat perempuan yang tidak asing di mata Azhaf. Dirinya mencoba mencerna dengan baik untuk melihat apakah benar bahwa itu Zikra yang belum pulang di sore hari ini. "Tumben amat tuh orang belum di jemput" Azhaf bergumam sendiri di saat itu. Mendapati Zikra di bawah tangga masjid sekolahnya, hati Azhaf berdebar lebih
204 cepat. Dia memberikan senyuman kecil, tidak yakin apakah Zikra akan memperhatikan atau tidak. Dengan perlahan, dia menyalakan motor, mencoba mengendalikan rasa gugup yang mulai merayap. Zikra tampak sibuk dengan sesuatu, namun tatapannya menyisakan tanda tanya. Azhaf yang tadinya memutuskan untuk mendekati dan menyapa Zikra, berganti untuk mematikan motornya dan berlari ke arah koperasi milik sekolahnya. Dirinya seketika mendapatkan rencana yang cemerlang untuk mendekati Zikra, sangat aneh, namun ia pikir mungkin dengan ini bisa membuat dirinya dekat dengan Zikra. Azhaf mulai berlari ke arah koperasi milik sekolahnya, dirinya meminta tolong untuk menyetakkan satu surat undangan Osis yang ia buat. Azhaf sudah merencanakan hal ini dari lama, tetapi mungkin hari ini dirinya baru berani untuk memberi langsung kepada Zikra. Waktu pun terus berjalan di sore itu, hingga akhirnya Azhaf mendapatkan hasil cetakan dari seseorang yang berada di koperasi sekolahnya. Azhaf yang baru saja memberikan uang kepada seseorang di
205 koperasi, dirinya langsung mengganti arah badannya untuk berlari ke lantai bawah sekolah. Azhaf yang sudah berada di depan sekolah, dengan perlahan mendekati Zikra di bawah tangga masjid sekolahnya. Terdengar langkah kakinya yang ringan menyentuh trotoar. Dengan senyuman yang berusaha ia sembunyikan, Azhaf menyapa Zikra dengan ramah. "Haii, ra!" "Aku kira kamu udah pulang loh" "Oh iyaa, kenapaa tadi ga ikut rapat?" Tanya Azhaf dengan nada ringan, berusaha meredakan ketegangan di udara. Zikra menoleh dengan senyuman ramah nya ia menjawab sapaan Azhaf. "Haii !" Saat dirinya membalas sapaan dari Azhaf, ia melambaikan tangannya ke atas berganti arah dari kanan menuju kiri.
206 "Akunyaa kayanya gaa bisa rapat kalau sekarang Zhaf" Percakapan pun dimulai, membuka lembaran baru di antara mereka di bawah cahaya senja yang merona. "Minggu depan ada lagi kan ?" Tanya Zikra dengan rasa berharapnya untuk mengikuti rapat selanjutnya "Ada ko ra" "Ikut yaa, jum’at depann" Ajakan Azhaf membuat Zikra tersenyum di sore itu, dirinya merasa senang bahwa ia di ajak oleh seseorang untuk rapat bersama teman-temannya. "Oh iyaa, Zhaf" "Tentang apa sih, rapatnya?" Yang tadinya wajahnya gembira sekarang dirinya berganti menjadi kebingungan.Sampai akhirnya Azhaf pun memberikan surat yang dirinya baru saja buat beberapa menit lalu. "Nih untukmu ra"
207
208 Azhaf yang hanya menyerahkan tangannya ke arah depan Zikra, tidak tahan untuk merasakan perasaan salah tingkah di depan Zikra. "SUWHAJAJAA" "LUCU BANGETT" "INI KAMU YANG BIKININ AZHAF??" Zikra tiba-tiba tersenyum penuh arti dan menggenggam sebuah surat undangan dari Azhaf. Kejutan itu terasa seperti pukulan ringan yang membuat hati Zikra berdebar lebih kencang di saat itu. "Iyaa Ra, heheheh" "Tanda tangan dong !!" Topik Azhaf berganti menjadi meledek Zikra, dirinya mencoba untuk mencairkan suasana yang tadinya tegang menjadi cair dan senang. "Iyaa, iyaa"
209 "Nih udahh yahh" Zikra memajukan tangannya yang sedang menggenggam sebuah surat undangan yang di berikan Azhaf di sore itu. Meski Azhaf memberi surat dengan senyuman misterius, dirinya mencoba menahan rasa gugup di dalamnya. Sorot matanya memperlihatkan campuran perasaan antara kebahagiaan dan keragu-raguan. Azhaf merasakan ketidakpastian itu, membuat momen itu terasa semakin berharga. "Zhaf aku udah di jemput" "Pulang duluan yaa"
210 Zikra akhirnya memberikan lambaian tangan pertamanya yang penuh makna kepada Azhaf. Senyuman di wajah mereka menciptakan ikatan tak terungkapkan yang melampaui kata-kata. Zikra membawa surat itu dengan hati yang penuh harap, dan Azhaf pergi dengan langkah yang penuh keyakinan. Senja melingkupi langit, menjadi saksi bisu dari pertemuan yang memasuki babak baru dalam kisah di waktu remaja mereka. Azhaf melangkahkan kakinya menuju motor dengan senyum di wajahnya, merasa lebih ringan setelah bertemu dengan Zikra. Dirinya memasang helm dengan penuh perhatian, seakan-akan melibatkan diri dalam ritual kecil yang melambangkan kesiapan menghadapi babak baru dalam hidupnya. Suara mesin motor yang hidup menyatu dengan keheningan senja, dan Azhaf pun meluncur meninggalkan area sekolah. Helmnya menutupi pikiran yang penuh dengan pertanyaan dan kejutan dari surat yang ia berikan kepada Zikra, memberikan sentuhan hangat pada setiap hembusan angin yang menyapu wajahnya.
211 Dengan semangat baru setelah pertemuan dengan Zikra, Azhaf membuat keputusan untuk mengunjungi tempat biasanya Azhaf berduduk-duduk santay dengan teman-temannya. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk berbagi cerita menjadikan perjalanan menuju tempat nongkrong penuh antusiasme. Motornya melaju dengan mantap, membawa Azhaf melintasi jalan-jalan yang dikenalnya. Di setiap tikungan, pikirannya melayang pada lambaian tangan dari Zikra di sore itu. Rencananya untuk bermain dengan temannya memberikan harapan akan babak baru dalam persahabatan dan mungkin juga membawa jawaban atas pertanyaan yang masih menggelayut di benaknya. Azhaf tiba di depan meja teman-temannya yang sedang mengobrol di malam hari itu dengan penuh semangat. Dia menyapa dengan harapan yang tinggi, siap untuk berbagi cerita dan mendengar apa yang temannya punya untuk dibagikan. "Woi, bro" "Sorry gua telat, dikit doang"
212 "Hahahha" Temannya menyambut Azhaf dengan senyuman. Mereka menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang pengalaman masing-masing, tertawa, dan mendengarkan. Perasaan ramah dan kehangatan di dalam tempat duduk-duduk menjadi pelengkap dari perjalanan Azhaf yang penuh makna. Pertemuan malam ini membuktikan bahwa hubungan persahabatan adalah satu aspek penting dalam kehidupan, sampai kini Azhaf yang semakin berwarna karena ada teman-temannya. Mereka semua saling memberikan dukungan dan cerita, membentuk kenangan yang tak terlupakan di bawah naungan langit malam. Di antara obrolan yang ramai, Azhaf merenung pada suasana malam yang menyelimuti dirinya, memberikan rasa kepastian dan kebahagiaan di tengah keriuhan malam yang menyenangkan. Dengan rasa senangnya Azhaf dengan temantemannya, akhirnya dirinya menghabiskan waktu untuk bermain dengan temannya hingga berganti hari.
213 Pagi itu, matahari baru mulai muncul di langit, menerangi sekitar dengan cahaya keemasan. Udara segar memberikan kesegaran di sekitar, sementara gemericik daun-daun pepohonan menyambut pagi yang cerah. Pagi itu, Azhaf dengan semangat menaiki sepedanya bersama teman-temannya untuk berangkat sekolah. Mereka berbicara dan tertawa, membuat perjalanan menuju sekolah menjadi lebih menyenangkan. Cuaca yang cerah menambah kesan positif dalam petualangan pagi mereka. Azhaf bersama teman-temannya menaiki sepeda mereka dengan semangat, suara derap roda sepeda dan tawa riang mengisi udara. Jalanan yang tenang di pagi hari memberikan mereka kesempatan untuk berbicara dan tertawa tanpa hambatan. Semilir angin pagi menghembus lembut, memberikan sentuhan sejuk di wajah mereka. Semua itu menciptakan suasana yang menyenangkan dan membangkitkan semangat untuk menghadapi hari sekolah yang baru.
214 Sampai akhirnya, mereka semua berkumpul lagi di belakang sekolahnya. Menjalankan roda sepeda menuju arah parkiran belakang sekolah. Di saat itu Azhaf terasa sangat melelahkan. Tetapi dengan bersama teman-temannya, dirinya melupakan rasa lelahnya dengan mengobrol bersama. "Eh Zhaf, eta si Zikra jualan makanan loh," Ucap Fawwaz "Yang tugas B. Inggris, lo ga beli tah?." "Iyakah, gua beli lah. Tapi, kapan yah?" "Apa istirahat aja yah, hmm..." Di saat itu, Azhaf merasa kebingungan di saat itu, tetapi dirinya menetapkan rencana pembeliannya dengan Zikra, saat jam istirahat pertama. “Yaudah lah, naik yok,” Ajak Azhaf “Ganti baju lah, basah banget ini gua Waz”
215 Pagi itu, matahari baru mulai muncul di langit, menerangi sekitar dengan cahaya keemasan. Udara segar memberikan kesegaran di sekitar, sementara gemericik daun-daun pepohonan menyambut pagi yang cerah. Pagi itu, Azhaf dengan semangat menaiki sepedanya bersama teman-temannya untuk berangkat sekolah. Mereka berbicara dan tertawa, membuat perjalanan menuju sekolah menjadi lebih menyenangkan. Cuaca yang cerah menambah kesan positif dalam petualangan pagi mereka. Azhaf bersama teman-temannya menaiki sepeda mereka dengan semangat, suara derap roda sepeda dan tawa riang mengisi udara. Jalanan yang tenang di pagi hari memberikan mereka kesempatan untuk berbicara dan tertawa tanpa hambatan. Semilir angin pagi menghembus lembut, memberikan sentuhan sejuk di wajah mereka. Semua itu menciptakan suasana yang menyenangkan dan
216 membangkitkan semangat untuk menghadapi hari sekolah yang baru. Sampai akhirnya, mereka semua berkumpul lagi di belakang sekolahnya. Menjalankan roda sepeda menuju arah parkiran belakang sekolah. Di saat itu Azhaf terasa sangat melelahkan. Tetapi dengan bersama teman-temannya, dirinya melupakan rasa lelahnya dengan mengobrol bersama. "Eh Zhaf, eta si Zikra jualan makanan loh," Ucap Fawwaz "Yang tugas B. Inggris, lo ga beli tah?." "Iyakah, gua beli lah. Tapi, kapan yah?" "Apa istirahat aja yah, hmm..." Di saat itu, Azhaf merasa kebingungan di saat itu, tetapi dirinya menetapkan rencana pembeliannya dengan Zikra, saat jam istirahat pertama. “Yaudah lah, naik yok,” Ajak Azhaf
217 "Ganti baju lah, basah banget ini gua Waz" Azhaf mulai melangkahkan kakinya ke arah depan gedung sekolah. Mereka semua berjalan bersama untuk menuju lantai empat sekolahnya. Dengan candaan yang mereka obrolkan, pagi itu terasa sangat menyenangkan untuk Azhaf. "Eh, Waz" "Kayanya gue ada perasaan sama Zikra deh." Saat dirinya selesai mengganti baju basahnya dengan seragam sekolah, Azhaf tiba-tiba ingin membicarakan Zikra kepada temannya. Dirinya ingin mengutarakan isi pikirannya dengan temannya, mungkin saja nanti Azhaf akan mendapatkan jawaban ketika menceritakan perasaanya kepada temannya. "Lo bikinin dia apa Zhaf?" Tanya Fawwaz, dengan suara meledeknya. "Set dah, tau aja gue bikin sesuatu. Kali ini gue bikinin dia novel Waz, judulnya untuknya perempuan 11 februari. Hahahha" Saut Azhaf. Dirinya tersenyum seketika, tak bisa menahan perasaan malu yang tiba-tiba muncul seketika.
218 Pagi itu, setelah mereka berdua selesai berganti pakaiannya menjadi seragam sekolah, mereka semua berjalan menuju kelasnya masing-masing. Suasana yang tadinya gembira, berganti menjadi serius seketika karena jam mata pelajaran sudah ingin di mulai. Azhaf menjalani jam mata pelajaran pertamanya dengan antusias, di pagi itu, dirinya mempelajari mata pelajaran PPKN untuk jam pertama. Azhaf terkadang sangat bosan ketika sedang berada di kelas, tetapi, dirinya juga terkadang bisa menjadi seorang yang aktif, ketika jam pelajaran tertentu. "Bu ini berapa menit lagi selesainya, hehe" Ucap Azhaf. Di tengah jam ke dua pembelajaran berlangsung, dimana saat semua anak kelas 9F mengerjakan lembar kerja yang di beri oleh Bu Qonita, seorang guru Ppkn di kelas 9 sekolah Azhaf, dirinya malah merasakan rasa lapar yang membuat dirinya merasa terganggu saat mengerjakan lembar kerja miliknya. "Kenapa emangnya Azhaf?" Jawab Bu Qonita dengan wajah kebingungan. "Laper Bu," Saut Azhaf
219 "Idih, ada ada aja. Bentar lagi ko, tenang aja" "Siapp Bu, hehehe" Azhaf pun berbalik badan menuju tempat duduknya, dirinya yang tadi merasa kelaparan sekarang berganti gembira, karena sebentar lagi jam istirahat akan di bunyikan. Akhirnya jam pelajaran pun berakhir di arah jarum jam angka 9 lewat. Di tengah suasana istirahat yang riang, para siswa bertebaran ke berbagai sudut sekolah. Beberapa memilih berbincang santai di kantin, sementara yang lain memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan energi di lapangan. Ada pula yang duduk di perpustakaan, sibuk dengan buku-buku mereka. Suara tawa dan percakapan menyelimuti koridor sekolah, menciptakan suasana yang penuh semangat sebelum bel pelajaran berikutnya berbunyi. Azhaf yang baru saja membuka pintu kelasnya, melihat Arul yang sedang berjalan sendiri menuju tangga bawah. Sontak Azhaf langsung berlari ke arah temannya dan menepuk halus pundak Arul. "Rul," Sambut Azhaf
220 "Eh, Rul temenin gue dulu sih gue pen beli makanannya Zikra. Katanya dia jualan" "Hah, paan" Arul merasa kebingungan di saat itu "Dah ikutin gue. Ayo-ayo, cepet rul" Dengan semangat, Azhaf dan Arul berlari ke arah depan kelas 9D. Terlihat kegembiraan dan antusiasme di wajah Azhaf, dirinya sudah tidak sabar menunggu seorang perempuan keluar dari kelasnya. Suasana koridor pun berubah menjadi riuh rendah ketika ia tiba di depan kelas 9D, menyemarakkan istirahat mereka. Saat dirinya berdiam lama dengan Arul di depan kelas 9D, dirinya melihat Zikra yang sedang lewat dengan santay di depan matanya, terlihat Zikra dengan teman-temannya yang ingin berjalan ke arah luar kelas. Matanya terperangah sejenak saat perempuan yang disukainya lewat di depan matanya. Mungkin detik itu terasa seperti waktu berhenti sejenak, namun dengan hati yang berdebar, ia memutuskan untuk mengambil
221 langkah berani. Mungkin ini saat yang tepat untuk berbicara singkat dengannya. "Tuh Zikra" Ucap Arul "Iyaa, cantik Rul" Jawab Azhaf.
222 "Ra !" Sapa Azhaf. Di saat itu Zikra terlihat kebingungan, dirinya memuatarkan badannya dan melihat ke segala arah koridor kelas. "Eh Zhaf, kenapaa?" Tanya Zikra "Ra, kata temenku kamu jualan yah. Aku pengen beli dong, boleh kah?" Azhaf memulai topik pembicaraannya kepada Zikra, rasa gugup ia hilangkan seketika, ketika dirinya sudah berada di depan hadapan seorang Zikra. "Ohh, bolehh" "Eh, aku juga lagi bawa nih satu. Kayanya buat kamu aja Zhaf, hehehe" Jawab Zikra dengan antusias. Dirinya memberikan sebuah makanan yang Zikra jual kepada Azhaf. "Wuih, makasih yah. Tenang aja Ra, ini mah rating nya 100. Hahhaha" Setelah mengobrol singkat dengan Zikra, dirinya memutuskan pergi dengan Arul, temannya. Mereka berdua mungkin menuju ke arah kantin sembari melanjutkan hari mereka. Suasana senang dan rasa suka kepada Zikra mungkin terdengar di koridor sekolah,
223 menjadi kenangan manis dalam perjalanan mereka sebagai teman di saat akhir SMP. "Lucu pisan Jikra tuh rul" Azhaf yang sudah jauh dari arah lantai 3, mulai mengobrol lagi dengan Arul. Di saat itu dirinya selalu ingin membahas tentang pertemuan singkatnya dengan Zikra. "Iya, iya, Zhaf tau gue" Jawab jelas Arul karena Azhaf mengoceh terus terusan di saat itu. Mereka berdua berjalan bersama, mengobrol ringan, dan tertawa di depan gedung sekolah. Arul selalu memberikan dukungan dan guyonan yang membuat suasana semakin menyenangkan. Mungkin mereka memutuskan untuk menghabiskan istirahat bersama, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Hari itu di isi dengan tawa, persahabatan, dan mungkin sedikit keberanian mengobrol dengan seorang perempuan yang ia sukai, yang membawa warna baru dalam hari Azhaf di saat itu. Sambil berjalan bersama Arul, mereka memutuskan untuk menghabiskan istirahat di taman sekolah. Di bawah rindangnya pohon-pohon, mereka
224 duduk di bangku, berbagi cerita, dan tertawa bersama. Percakapan yang ringan dan kebersamaan yang terbangun membuat atmosfer semakin hangat. Seketika Arul, dengan kecerdasan dan kehangatan, membantu menghilangkan sedikit ketegangan dalam hati teman yang sebelumnya berbicara dengan perempuan tersebut. Mungkin, dalam momen-momen seperti itu, persahabatan mereka semakin terjalin erat. "Santay aja kali Zhaf muka lo" "Masih seneng amat" Ledek Arul hingga akhirnya mereka berdua tertawa bersama. "Teuing, hahahaha" Jawab Azhaf tanpa adanya rasa kesal sedikitpun kepada Arul. Waktu istirahat yang menyenangkan pun berakhir, dan bel masuk kelas mengumumkan kedatangan waktu pelajaran berikutnya. Mereka pun berdua berpisah dengan senyuman, siap menghadapi sisa harinya di dalam kelas. Suasana hati mungkin penuh dengan kenangan dan cerita dari istirahat tadi, memberikan semangat baru untuk melanjutkan aktivitas di sekolah.
225 Dengan langkah-langkah mantap, mereka berdua meninggalkan taman dan menuju kelas masingmasing. Suasana riang dan kenangan manis dari istirahat masih terasa di udara. Meskipun kembali ke rutinitas kelas, mereka membawa energi positif dari momen berharga yang baru saja mereka alami. Bel masuk kelas yang berbunyi mengingatkan mereka untuk fokus pada pembelajaran, namun di hati mereka masih tersisa kebahagiaan dari istirahat yang menyenangkan tadi. Dengan kembali ke kelas, Azhaf mulai fokus pada pelajarannya. Wajahnya yang sebelumnya penuh dengan keceriaan kini berubah menjadi serius, siap untuk menyerap pengetahuan dan mengikuti materi pelajaran dengan tekun. Mungkin momen istirahat tadi memberinya semangat tambahan untuk menghadapi sisa hari pembelajaran. "Oke anak-anak, pelajaran hari ini selesai yah. Setelah ini nyanyi terlebih dahulu sebelum pulang" Ucap guru yang sedang mengajar di kelas Azhaf. "Siap Pak" Saut seluruh anak murid kelas 9F di sore itu.
226 Saat bel pulang sekolah berkumandang di sekolah, menandakan akhir dari hari pelajaran. Siswasiswa bersiap-siap untuk meninggalkan kelas dan memulai perjalanan pulang. Azhaf, setelah sehari penuh belajar, mungkin merasa lega dan siap untuk bersantai setelah pulang. Suasana sekolah berubah menjadi hiruk pikuk siswa yang beranjak pulang, membawa cerita hari ini dan persiapan untuk hari esok. Saat Azhaf menuruni tangga menuju pintu keluar sekolah, seketika langkahnya terhenti ketika dirinya melihat Zikra sedang menuruni tangga dari lantai dua. Sore itu menciptakan momen tak terduga di tangga sekolah. Mungkin ada senyuman saling bertukar, atau mungkin rasa kaget di wajah mereka. Pertemuan di tangga sekolah menjadi momen yang menarik, dan siapa tahu apa yang mungkin terjadi setelahnya. "Haii, sore pacarnya Malioboro hartigan" Sapa Azhaf dengan wajah senyum "Hahaha, haii juga pacarnya Zee" Jawab Zikra dengan antusias Rasa kaget di wajah mereka berdua, sekarang berganti menjadi rasa senang yang tak terduga di sore itu.
227 "Eh, ngobrol yuk" Azhaf seketika mengajak Zikra untuk menghabiskan waktu pulang sekolahnya berdua di halaman sekolah. Mungkin saja dirinya ingin mengobrolkan tentang hal menyenangkan bersama. "Eh, bentar lagi kita mau ke malioboro nih" "Seneng banget pasti kamu ya Ra?" Tanya Azhaf "Iya, ih sumpah Zhaf ga sabar banget, mau liat malioboro tau" "Ini pertama kalinya aku ke malioboro, aku mau foto banyak" Jawab Zikra. "Ih iyaa Ra, nanti jangan lupaa kamu foto di depan tulisan JL. Malioboro, pake buku nya juga" Ucap Azhaf. "IDE BAGUS, IH IYA YAH, mauu !!" Di saat itu, Zikra mulai terbawa suasana, dirinya merasa sangat senang ketika bersama Azhaf. Menghabiskan waktu untuk mengobrolkan mimpi Zikra yang bentar lagi akan terwujud. Saat mengobrol di sore itu, Azhaf dan Zikra menemukan kecocokan dalam pembicaraan. Percakapan mereka membawa suasana yang semakin
228 hangat, dan akhirnya, topik perjalanan di malioboro sekarang berganti ke arah Gunung Bromo. Mereka saling berbagi impian yang ingin mereka berdua capai bersama. Waktu terasa berlalu dengan cepat, menciptakan kenangan yang menyenangkan di sore hari pulang sekolah. "Oh iya, hari pertama kita ke bromo Ra" "Kamu dah siapin barang-barangnya kah?" "Jangan lupa bawa jaket, biar ga pusing, bawa juga sarung tangan biar gaa kaku tanganya. Soalnya nanti malah luka lagi Ra" Ocehan azhaf masih menerus di saat itu. "Iyaa, Azhaf. Siapp bos" Jawab Zikra "Oh iya, aku mau beli eidelwish Ra, kata orang-orang itu bunga abadi" Azhaf mengarahkan jari telunjuknya ke depan dahi nya "Sama aku juga, ih ga sabar Zhaf sumpah." "Ini waktu bisa ga sih langsung ke minggu depan, hehe" Guyon Zikra, membuat mereka berdua tertawa di sore itu.
229 Suasana hangat menyelimuti Azhaf dan Zikra saat mereka terus mengobrol lama. Percakapan mereka penuh tawa, cerita, dan kedekatan yang tumbuh. Saat itu mereka mulai merasakan kecocokan dan kenyamanan satu sama lain. Momen di hari itu adalah menjadi awal dari hubungan yang lebih dekat dan berarti.
230 10 Eidelwish Flower For You Hari itu, 3 Desember, adalah hari dimana awal mimpi Azhaf dan Zikra mulai terwujud. Pagi itu, sekolah terasa berbeda dari biasanya. Raut wajah gembira terlihat di seluruh pelajar kelas 9, sekolah Azhaf. "Bun, duluan yah" Azhaf bersalaman dengan bunda nya, dirinya memberikan ucapan terakhir sebelum berpergi untuk studytour sekolahnya. "Iyaa, hati-hati di sana yaa" Ujar Bunda di ramainya wali murid kelas 9 di saat itu. "Hati-hati Zhaf !" Saut Kaka dan Ayah Azhaf dengan senyuman hangat yang di berikan oleh mereka semua di pagi yang sedikit mendung ini.
231 Azhaf melangkah dengan semangat menuju bagasi bus milik kelasnya. Tas ransel miliknya yang penuh baju dirinya taruh di bagasi bawah bis kelasnya. Azhaf membawa tas ransel miliknya yang terasa agak berat di saat itu, namun dirinya tak memperdulikan hal itu. Bus yang ditunggu-tunggu pun akhirnya menyala dengan suara mesin yang berdentum. Dengan cepat, Azhaf dan teman-temannya memasuki bus, mencari tempat duduk bersama. Mereka bersemangat, saling berbicara tentang rencana besok pagi saat di Malang nantinya. Sampai akhirnya, bus bergerak dengan mantap, terlihat banyak lambaian tangan dari orang tua murid SMP Azhaf. Bus berjalan membawa mereka menuju destinasi study tour yang sudah ditunggu-tunggu dari lama. Di dalam bus, suasana penuh antusiasme terasa semakin nyata. Mereka saling berbagi harapan dan ekspektasi terhadap pengalaman baru yang akan mereka dapatkan. Azhaf sendiri duduk di dekat jendela, siap menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Di saat itu, dirinya mulai berjalan di bawah gedung pencakar langit Jakarta, dengan laju bis yang
232 sangat cepat, saat di dalam jalan tol Jakarta menuju bekasi. "Cakep cuy," Ucap Azhaf, "Tumben ga macet dah, biasanya juga macet ni jalan." Dengan nada syahdu lagu Payung Teduh yang dirinya dengarkan di saat ini, dirinya mengobrol, tertawa dengan seluruh teman-teman kelasnya. Mereka semua terlihat bahagia di saat itu. Membawa suasana kekeluargaan yang ada di dalam satu kelas. Setelah beberapa jam perjalanan, Azhaf dan teman-temannya merasa bosan. Mereka pun mengeluarkan ponsel masing-masing dan memutuskan untuk bermain game bersama di dalam bus. "Main lah yo, game gitu" Ajak salah satu teman Azhaf di siang itu. Suasana ceria tercipta dengan tawa dan permainan ringan di antara mereka. Azhaf terlihat begitu seru menantang teman-temannya dalam beberapa ronde
233 game yang menyenangkan, membuat perjalanan terasa lebih singkat. Mereka menghidupkan suasana dengan bermain game di dalam bus study tour. Azhaf bersama temantemannya tertawa riang, mengadu keahlian dalam berbagai permainan seru. Suasana kebersamaan semakin terasa, dengan berbagai ekspresi antusias dari wajah mereka yang penuh semangat. "Hahahaha, anjir, cad malah kalah ga jelas" Ucap Azhaf "Tau nih, ga jelas" Irsyad salah satu teman Azhaf merasa kesal karena tiba-tiba tim mereka kalah dengan tidak sengaja. Kekalahan pertama itu tidak membuat mereka berhenti bermain game. Perjalanan pun masih berlanjut, Azhaf dan teman-temannya masih asyik bermain game di dalam bus. Suasana kegembiraan terus terjaga, dan mereka menikmati setiap momen bersama. Rivalitas ringan dan tawa ceria menciptakan kenangan tak terlupakan selama studi tour mereka. "Dahan lah Zhaf, cape" Ucap teman-teman Azhaf.
234 Akhirnya setelah seru bermain game, Azhaf dan teman-temannya sepakat untuk menyelesaikan permainan dan berganti suasana. Mereka mengajak satu sama lain untuk menyetel lagu-lagu favorit di TV bus, menciptakan playlist yang menyenangkan. "Zhaf, sono lo ke Bu Petti dah" "Ambil remot ga jelas" Mereka semua meminta Azhaf untuk mengambil remot tv milik busnya. Azhaf pun melangkahkan kakinya ke arah depan. Langkah demi langkah ia lewati dengan seimbang, sampai akhirnya dirinya sudah berada di depan kursi milik Bu Petti. Di saat itu dirinya melihat bahwa Bu Petti sedang bermain Hp, mungkin saja untuk membaca sebuah Essai milik guru-guru yang dirinya ajarkan. "Bu, saya duduk di sini yah" "Kosong kan, hehehe" Tawa kecil Azhaf membuat Bu Petti menotice keberadaannya.
235 "Iyaa, sini, temenin Ibu jugaa sendiri." Jawab Bu Petti dengan wajah senangnya. Suasana pun akhirnya berubah menjadi lebih santai, dengan semua orang menikmati musik dan bernyanyi bersama dalam perjalanan mereka yang penuh harapan nantinya. Tak di sangka, ketika Azhaf duduk di samping Bu Petti, membuat dirinya nyaman dalam menghabiskan perjalanan. Dirinya lebih banyak mengobrol dengan Bu Petti, di bandingkan dengan teman-temannya yang berada di belakang. "BU, LIAT DEH DEPAN BIS KELAS 9D" Suasana yang tadinya hening, dan hanya ada perbincangan kecil dari Azhaf dengan Bu Petti, seketika berganti menjadi sangat senang untuk Azhaf. "Hahahaha, Zikraa yaa" "Kamu, kenapa sih suka sama Zikra?" "Ceritain dong"
236 Di saat itu, dirinya mulai terbuka kepada Bu Petti, dirinya mulai menceritakan dari awal ia belum mengenal seorang perempuan yang bernama Zikra, hingga, saat ini dirinya yang sudah dekat dengan seorang perempuan yang ia kagumi. "Aku ga bisa jelasin spesifik kenapa aku bisa suka sama dia Bu. Menurutku, dirinya cukup baik untuk ku, dan, mungkin saja aku bisa terus menerus bersamanya." "Mungkin?" Akhir cerita Azhaf kepada Bu Petti. Dirinya sudah terbiasa untuk menceritakan hal yang ia suka kepada Bu Petti, menurutnya seorang guru yang mengsupport apapun yang murid sukai, adalah salah satu cara membuat guru itu menjadi seorang favorit, bagi mereka. "Tapi, kamu mau pacaran sama dia?" Tanya Bu petti "Menurut Ibu, lebih baik kamu menyukainya dan mungkin bisa jadi saling suka."
237 "Tapi, kasih tau ke dia kalau kamu suka" Bu Petti membuat Azhaf tersenyum di saat itu. Menghabiskan waktu untuk bercerita berdua dengan Bu Petti membuat dirinya senang di sepanjang jalan menuju destinasi pertama studytour nya. "Atuh Bu. Ga pacaran sama dia mah aku ga masalah, yang penting dia udah ada di bumi juga bikin aku seneng." "Hehehe." Seiring berjalannya waktu, obrolan tersebut membuat Azhaf semakin nyaman, hingga akhirnya dia tertidur pulas. Suara mesin bus dan nyanyian lagu membuat perjalanan tidur Azhaf menjadi istirahat yang nyaman, sambil membawa kenangan menyenangkan dari studytour hari pertama ini. Azhaf tertidur dengan headset yang masih terpasang, membiarkan lagu-lagu favorit mengiringi perjalanan tidurnya. Suasana bus yang tenang dan nyaman membuat dia merasakan ketenangan dalam tidurnya, sementara teman-temannya tetap asyik
238 menikmati lagu-lagu mereka masing-masing. Perjalanan studi tour berlanjut dengan damai, diiringi oleh harmoni lagu dan mimpi indah Azhaf. "Ayo, bangun-bangun. Makan dulu semuanya" Teriak Bang Faris salah satu TL sekolahnya. Azhaf terbangun di tengah perjalanan saat matahari sudah tenggelam dan malam mulai menjelang. Dengan sedikit kantuk masih tertinggal, dia menyadari perubahan suasana di dalam bus. Cahaya lampu redup memberikan kesan tenang, dan teman-temannya yang sebelumnya ceria kini ada yang tertidur sambil bersandar. Azhaf meraih headset yang masih terpasang, mematikan musik, dan melihat keluar jendela. Lampulampu kota yang bersinar di kejauhan menciptakan pemandangan yang indah. Dalam ketenangan malam, Azhaf merenung sejenak, menyadari betapa istimewanya momen perjalanan ini. Setelah beberapa saat terbangun dan menikmati pemandangan malam dari dalam bus, Azhaf dan temantemannya turun dari bus, mencari tempat duduk untuk
239 makan malam. Mereka menemukan tempat duduk dengan pencahayaan terang benderang. Semerbak Aroma masakan yang menggoda, membuat mereka semangat untuk menyantap hidangan favorit masingmasing. Saat Azhaf selesai mengambil satu porsi nasi dan lauk miliknya, dirinya mulai melangkah kembali ke arah tempat duduk yang sudah ia ambil. Dirinya mengobrol dengan teman-temannya di malam itu, tawanya membuat perjalanan studytour miliknya terasa berkesan. Sambil menikmati hidangan malam, Azhaf tak sengaja mengarahkan bola matanya ke kursi depannya, dirinya melihat bahwa Zikra senang makan dan duduk di sana. Wajahnya tersenyum malu-malu, namun dirinya melanjutkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berniatan untuk menyapa perempuan itu. Setelah selesai makan, Azhaf memutuskan untuk berjalan menuju tempat Zikra duduk. Dengan langkah hati-hati, dia menyapa Zikra dengan senyum. "Hai, Aliolio!" Sapa Azhaf dengan senyuman.
240 Pertemuan mereka menciptakan momen kecil yang penuh keceriaan, membuka babak baru dalam perjalanan studytour mereka. "Haii, Zhaf. Ketemu ternyata kita di sini heheh" Jawab Zikra. Binar matanya terlihat sangat indah di malam itu, dirnya terlihat sangat bahagia, dengan senyuman yang selalu tersimpan di pipi merahnya. "Gimana nih, besok dah di bromo aja. Btw kamu bawa sarung tangan kan?" Azhaf bertanya-tanya untuk membuka topik pembicaraan dengan Zikra, dirinya mencari cara untuk mengobrol lama. "Bawaa ko, hehe" Tawa kecil Zikra membuat Azhaf tak tahan untuk memunculkan rasa salah tingkah di dalam dirinya.
241 Belum beberapa menit dirinya mengobrol lama dengan Zikra. Tiba-tiba, terdengar pengumuman agar seluruh murid segera kembali ke dalam bis. "Eh ra, di suruh ke bis." "Duluan yah, dadahh!" Kata terakhir Azhaf yang ia ucapkan untuk Zikra. Tanpa pikir panjang, dirinya mulai berlari ke arah bis kelasnya. Di malam ini, perjalanan menuju mimpinya terwujud sudah mulai dekat. Suasana malam hari memberikan suasana dukungan, yang penuh kenangan yang mendalam di antara murid-murid. Malam pertama pun sudah di lewatkan oleh Azhaf. Seluruh murid dibangunkan pada jam 2 pagi, suasana di dalam bus berubah menjadi penuh semangat meskipun masih terasa kantuk. Azhaf dan temantemannya mengumpulkan keberanian untuk bersiap-
242 siap, mengenakan jaket dan menyusun kembali barangbarang mereka. Mereka menyadari bahwa momen ini menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman studytour mereka. Dalam kebersamaan dan semangat, bus di berhentikan saat perjalanannya sudah sampai di suatu tempat. Dari dalam jendela, terlihat bawhwa tempat tersebut ramai orang, banyak warga sekitar yang memberikan penawaran sebuah sarung tangan dan kupluk, untuk mendaki ke pegunungan bromo. "Ayo, mau pembagian Jeep kita" "Turunnya hati-hati ya" Samar-samar Azhaf mendengarkan informasi dari bu petti yang berada di kuris depan. Akhirnya Azhaf mulai bersiap dengan memakai jaketnya, mereka semua turun dengan bersama. Berbincang-bincang sedikit untuk mengawali harinya menuju puncak Bromo yang sudah di tunggu tunggu. Saat dirinya membuka pintu bis miliknya, dirinya langsung di sambut oleh puluhan seorang pedagang di daerah itu. Azhaf yang tidak
243 mempedulikannya, langsung melangkahkan kakinya ke titik kumpul angkatan nya. Di saat itu terlihat wajah murid-murid yang mulai menunjukan rasa cerianya. Mereka semua bermain, mengobrol dan tertawa bersama di pagi itu. Azhaf yang baru saja sampai ke titik kumpul, langsung di sambut oleh teman-temannya yang berbeda kelas. "Zhaf!," Teriak Irza, salah satu teman dekat Azhaf yang berbeda kelas darinya. "gilss. Dingin banget ga sih coy" "Iya ja, anjir. Tapi sans aja sih, laper cuy" Ucap Azhaf sambil tertawa cengegesan. "Set dah, di atas makan mie aja bareng gue nanti." Ajak Irza. Di saat itu, Azhaf merasakan kebahagian baru yang belum pernah ia rasakan. Ini adalah kali pertamanya dirinya menaiki sebuah gunung, yang sudah lama ia impi-impikan sejak masuk SMP.
244 "Azhaf, Ikmal, Firas, dan Rayyan. Kalian pada masuk ke Jeep 12" Beberapa saat setelah Azhaf berbincang dengan Irza, tiba-tiba namanya di panggil oleh salah satu pengemudi Jeep, yang akan membawa mereka untuk menuju puncak bromo. Azhaf dan teman-temannya pun bergegas langsung untuk berlari ke arah Jeep miliknya. Dengan candaan dan tawa mereka yang masih tersimpan, akhirnya mereka semua menaiki sebuah mobil Jeep berwarna hijau yang sudah di pesan oleh sekolah. Di saat itu, Azhaf duduk di bangku belakang dengan ke 3 temannya, berbeda dengan Ikmal dirinya berada di bangku belakang samping supir Jeep. "Set dah, puyeng amat ini nanjak" Ucap Azhaf dengan kepalanya yang pusing. "Hahaha, iya co" Saut Rayyan, dengan dirinya yang setengah tertidur di saat itu. Perjalanan pun berlanju dalam 1 jam, di dalam perjalanan tersebut banyak jalan yang ber lika-liku hingga membuat mereka semua pusing saat di dalam Jeep. Saat itu, Jeep miliknya memunculkan bau bensin
245 yang sangat kuat, Azhaf yang baru saja ingin tidur langsung terbangun karena hal tersebut. Dirinya mulai merasakan hal yang tidak enak tiba-tiba. Benar saja, belum beberapa menit bau bensin yang sudah menyebar luas di dalam Jeep, menimbulkan mesin Jeep itu mati. Di saat itu hanya ada 100m lagi untuk berada di atas puncak. Tetapi, setiap Jeep itu berjalan, mobil itu akan mati ketika menanjak. Hingga akhirnya, mereka semua memutuskan untuk berjalan ke arah atas, yang sudah dekat dengan mereka. "Dah lah, jalan aja lah" Ajak Azhaf. Di saat itu Azhaf mengajak teman-temannya untuk berganti menjadi jalan kaki, menuju ke atas yang hanya beberapa meter saja sudah sampai di puncak. Azhaf yang baru saja turun dari mobil Jeep, di sambut dengan udara yang sangat dingin, dirinya merasa bahagia ketika merasakan udara yang baru ia temui di hari itu. Wajah Azhaf memunculkan rasa kebahagiaan baru di dalam hidupnya, menurutnya ini adalah hal indah pertama yang baru saja ia dapatkan.
246 Terik bintang-bintang di langit terlihat jelas di saat itu, memancarkan seluruh kebahagiaan yang terlihat dari kejauhan. Rembulan malam yang tadinya gelap, sekarang sudah mulai menjadi terang. Di saat perjalanan menuju puncak, langkahnya terhenti ketika melihat ribuan bintang di depan matanya, Azhaf yang tadinya hanya melangkahkan kakinya dengan lambat, sekarang dirinya mulai berlari ke arah puncak agar cepat sampai. "GILAA, DAH KAYA DI KOREA AJA INI" Teriak Azhaf kegirangan. Sesampainya di puncak Bromo, Azhaf disambut oleh udara yang dingin dan suasana malam yang tenang. Dirinya merasa terpukau oleh keindahan alam sekitar yang tertutup kegelapan, namun di saat itu penuh ketenangan. Saat dirinya masih melihat sekitar puncak yang penuh dengan bintang-bintang di saat itu, ia melihat seorang perempuan yang tidak asing di matanya. Di saat itu, perempuan itu terlihat sangat kelelahan, terlihat dari mata Azhaf bahwa dirinya terlihat sangat lemas
247 dan duduk membungkuk dengan tangannya yang memegang lutut. Azhaf menyadari bahwa itu adalah perempuan yang sering dengannya, dirinya memahami sekali bahwa itu adalah Zikra. Seketika Azhaf yang baru saja senang karena banyaknya bintang, berganti menjadi khawatir dengan kebradaan Zikra. Tetapi, di saat itu dirinya tidak bisa membantu Zikra. Waktu demi waktu masih berjalan di saat itu, dirinya bertambah khawatir karena Zikra yang dari tadi tidur tidak memberikan pergerakan, dirinya tidak beranjak untuk memberi tau dari jauh bahwa dirinya sudah sehat. Samar-samar dari kejauhan, mata Azhaf seketika melihat Bu Petti dan Bu Willi yang sedang berjalan menuju puncak berdua, dengan bergegas dirinya langsung melangkahkan kakinya dengan cepat Azhaf, dirinya berlari langsung menghampiri Bu Petti dan Bu Willi di saat itu. "BU PETTI, BU WILLI" Teriak Azhaf "Kenapaa Azhaf?." Tanya Bu petti.
248 di saat itu belum banyak yang mengetahui bahwa Zikra sedang sakit ketika di atas puncak. Selang berapa lama Azhaf berbincang dengan Bu Petti dan Bu willi, mereka berdua mulai menanjakkan kakinya ke tempat tujuan awal. Langkah demi langkah ia lewati ber tiga, tetapi setengah perjalanannya Azhaf berhentikan untuk memberi tau Bu Willi bahwa Zikra sedang lemas di saat itu. "Bu, heheheh" Azhaf mengkode Bu Willi di saat itu. "Napaa lagii, Azhaf?" Tanya Bu Willi. "Bu, Zikra kayanya sakit deh." "Dulu anaknya Ibu kan?" "Kasian Bu dia, tolongin bolehh??" Muka Azhaf terlihat sangat khawatir di saat itu, dirinya memohon mohon kepada Bu Willi untuk membantu Zikra menuju atas puncak dan melihat sunrise. Sampai akhirnya Bu Willi mulai menghampiri Zikra. Dengan suasana yang dingin, Akhirnya perasaan Azhaf mulai tenang di saat itu. Dirinya mulai merasakan
249 hal yang menyenangkan kembali setelah perasaan miliknya penuh dengan kekhawatirannya dengan Zikra. Dengan gemetar karena dingin, dirinya bersiap kembali untuk menyaksikan sunrise yang spektakuler. Saat di atas, terlihat Teman-teman Azhaf mulai membuka kamera mereka, siap untuk menangkap momen magis ketika langit perlahan berubah warna. Cahaya remang-remang bintang memantulkan keajaiban Gunung Bromo yang tersembunyi dalam kegelapan malam. Pemandangan menjadi semakin dramatis seiring matahari terbit. Warna-warna oranye dan merah melintasi langit, menciptakan panorama yang tak terlupakan. Azhaf dan Bu Petti di saat itu saling berbagi kekaguman, mengabadikan keindahan alam dengan kamera masing-masing. Momen ini tidak hanya meninggalkan kesan mendalam, tetapi juga menjadi salah satu titik indah dari perjalanan studi tour yang penuh petualangan mereka. "Zhaf, itu Zikra ga sih lagi sendiri dia." Tanya Bu Petti "Ga mau kamu samperin."
250 "Alhamdulillah dah sehat dia." "Saya ke sana ya bu" Ucap Azhaf. Tanpa ragu, Azhaf melangkah dengan hati berdebar-debar menuju tempat duduk Zikra. Wajahnya tersenyum canggung, tetapi tekadnya kuat. Dengan penuh keberanian, Azhaf yang ingin menyampaikan sapaan hangat. Tetapi Saat Azhaf tengah melangkah mendekati Zikra, hatinya dipenuhi keinginan untuk memberikan sesuatu yang istimewa. Dia menyadari bahwa bunga Edelweiss memiliki simbol keindahan dan ketulusan. Sebelumnya, Azhaf telah merencanakan momen ini dengan baik, menyimpan bunga tersebut dengan hati-hati. Azhaf yang tadinya ingin ke Zikra, seketika langsung berganti haluan ke arah penjual bunga Edelwish. Di saat itu banyak orang-orang yang menjual bunga Eidelwish. Azhaf yang tak tahan melihat bunga abadi itu, langsung membeli satu ikat bunga spesial untuk perempuan yang ia sukai. Dengan langkah yang mantap, dia mendekati Zikra, membawa sebuah bunga Edelweiss yang dipersiapkannya sebelumnya.