151 Akhirnya, Azhaf mengerti kehadiran dirinya di sana untuk apa. Dirinya diberikan tugas untuk berlatih mengucapkan sumpah pemuda di tengah-tengah lagu, tanah airku-Saridjah Niung. Terkadang dirinya akan senang saja ketika diminta untuk membantu hal seperti ini, tetapi di lain sisi dia akan memikirkan lelahnya nanti ketika di hari H, yang pasti membuatnya lelah hingga sakit. Latihan pun dimulai pada pukul 02.30 siang. Azhaf diberi arahan berkali-kali karena banyak salah ketika mengucapkan, sedangkan Wafil selalu masuk panggung di waktu yang salah ketika itu. Pada akhirnya mereka semua berlatih sendirisendiri terlebih dahulu. Azhaf yang mulai mencari cara agar tidak gugup ketika mengucapkan sumpah pemuda, sedangkan Wafil mulai memahami kapan dirinya masuk ke dalam panggung. Mereka semua berlatih hingga suaranya memenuhi satu ruangan perpustakaan. Dalam keheningan perpustakaan, langkahlangkahnya berhenti sejenak ketika pintu terbuka. Matanya bertemu dengan orang yang selama ini mengisi pikirannya. Benar saja yang tadinya satu ruangan itu
152 sangat berisik karena tiga orang yang sedang berlatih, kini berubah drastis menjadi senyap. Sebuah kejutan tak terduga di tengah latihannya, menciptakan kegugupan yang sulit disembunyikan oleh Azhaf, benar saja sontak dirinya langsung membalikkan badannya mengarah ke depan rak buku, yang berisikan banyak novel di dalamnya. Saat Azhaf membalikkan badannya lagi, sudah terpampang jelas di depan matanya, Wafil dan Nazwa yang sedang memberi ledekan kapada Azhaf, pada akhirnya Azhaf menghilangkan rasa salah tingkahnya dan gugupnya. Di arah kejauhan, Azhaf melihat dua perempuan yang sedang menulis di atas meja ujung kanan perpustakaan. Dirinya sangat memahami apa yang dilakukan Zikra pada saat itu, tanpa disadari Azhaf yang sedang melamun ke arah Zikra, membuat dirinya kehilangan kendali ketika melihat dari kejauhan. Sesekali Azhaf, membaca kertas yang berisikan sumpah pemuda. Tetapi terkadang matanya selalu menuju ke arah Zikra yang sedang duduk dengan temannya.
153
154 Azhaf tidak sadar bahwa Zikra sudah beranjak dari kursinya dan pergi dari perpustakaan. Tepukan tangan Pak Hertos, membuat Azhaf tersadar bahwa dirinya sudah lama tidak berbicara dan bergerak. Sampai pada akhirnya mereka semua mulai berlatih kembali untuk terakhir kalinya. “Heh, kok bisa sih ada dia,” Azhaf mengucapkan kalimat itu, dengan wajahnya yang memerah. “Elah salting ya lo,” jawab Wafil dan Nazwa yang membuat Azhaf kesal. Langit senja memberikan sentuhan warna jingga, menciptakan suasana hangat di sekitarnya. Azhaf melangkah menuruni tangga dengan langkah yang agak lelah, tetapi senyumnya menggambarkan kepuasan setelah menyelesaikan sekolahnya dengan senang. Saat berada di lantai bawah sekolah, dirinya melangkah menuju teman-temannya yang sudah berkumpul di luar koridor kelas bawah. Tawa dan obrolan mereka terlihat dari kejauhan, menciptakan atmosfer yang hangat setelah seharian berada di kelas. Mereka saling bertukar tawa gembira, membawa rasa kebersamaan yang menyegarkan setelah aktivitas melelahkan di hari ini.
155 “Rul, maneh pulang pake angkot?” tanya Azhaf di dalam kerumunan teman-temannya. “Iye, napa, Zhaf?” “Eh btw keluar yo!” tanya Arul, sembari dirinya mengajak semua teman-teman keluar dari ruangan sekolah. Di sore yang cerah, mereka semua berjalan bersama keluar ruangan sekolah, mereka berencana untuk duduk di bawah pohon depan sekolahnya, sembari menunggu jemputan yang akan menjemput mereka satu per satu. Ketika mereka semua sedang berjalan, dengan banyaknya obrolan yang mereka bahas, tiba-tiba dari arah berlawanan, terdengar suara yang tidak asing oleh Azhaf, dan dia menyapanya. “Azhaf!” teriak kencang suara anak perempuan yang tidak asing di telinga Azhaf. “Eh, iya, kenapa Tyas?” Dirinya kaget ketika tiba-tiba, teman lamanya dari kelas 7, meneriaki nama dirinya di sore itu.
156 “Aku dah tau ko kamu sama si itu kan, hehe,” ucapnya dengan memberikan senyuman khas dirinya yang selalu ia keluarkan Ketika sedang bercanda. “Tau dari mana!” teriak malu Azhaf, dirinya sudah mulai malu dan mulai salah tingkah di saat itu. “Hahaha, tau dong.” “Pengen kasih info aja, Zikra bakalan dance nanti pas pensi.” Tanpa ada kata-kata penutup, perempuan itu langsung berbalik badan dan berlari ke arah tangga masjid dekat mereka. Di saat Azhaf melanjutkan langkahnya menuju ke arah teman-temannya, dirinya masih terbayang-bayang, bagaimana jadinya Zikra ketika memakai baju dance, rapi, dan terlihat, mempesona ketika di atas panggung pastinya. “Rul, balik duluan lah gua. Cuy, balik yah”
157 Satu per satu, tangan Azhaf menggenggam semua tangan teman-temannya, untuk tanda perpisahan di sore itu. Perjalanan sore itu sangat ramai, dirinya melihat banyak mobil besar yang tidak biasanya ada di dekat kompleks rumahnya, yang seketika muncul banyak di arah jalan menuju rumahnya. Akhirnya Azhaf sampai di depan rumah milik. Di saat itu rumah terasa sangat sepi dan tidak ada aktivitas keluarganya satupun di dalam rumah, dirinya berpikir bahwa mereka semua sedang keluar seperti biasanya. Di saat itu dirinya yang masih kebingungan tidak ada arah, sontak mendapatkan ide menaiki motornya untuk berjalan sore menuju malam di kotanya. Tanpa pikir panjang, Azhaf langsung mengambil kunci motornya yang ia selipkan di bagasi rumahnya yang terbuka, dirinya langsung menaiki motornya dan berjalan tanpa arah, menelusuri seluruh penjuru kotanya, menikmati senja yang perlahan menghilang. Sampai akhirnya malam pun tiba, Azhaf masih memutar kota dengan motor kesayangannya, melewati semua titik terindah yang berada di kotanya. Angin malam membelai wajahnya. Setelah beberapa putaran, dirinya memutuskan untuk berhenti di tugu kota yang menyimpan kenangan masa kecilnya. Azhaf melangkah
158 ke sebuah angkringan, aroma kopi dan sate mulai menguar di udara. Ia duduk di kursi bambu, memesan sebuah teh hangat dan sate kambing. Suasana angkringan yang ramai dengan obrolan ringan membuatnya merasa dihargai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari kota. Sambil menyeruput teh, Azhaf menikmati alunan lagu dari penjual musik jalanan yang mengisi malam. Di antara cahaya lampu kota yang redup, Azhaf tersenyum, merenungi perjalanan berkenalan dengan salah satu perempuan, yang selalu dirinya ingin kenali, dan mengingat kembali kenangan indah itu, walaupun belum seberapa yang ia pikirkan. Setiap deru motor dan tawa warga menjadi latar belakang harmoni yang mengiringi malamnya, menciptakan suasana yang sulit untuk dilupakan di malam itu. Dengan hati berdebar, Azhaf membuka aplikasi Instagram dan memutuskan untuk mengirimkan pesan langsung kepada seorang perempuan bernama Zikra. Ia memikirkan kata-kata yang tepat, mencoba menyusun pesan yang ringan dan ramah. "Apa gue coba, kaya Malio lagi yah. Apa gue manggil dia pake pacar koreanya." Setelah beberapa momen ragu, akhirnya Azhaf memberanikan diri untuk menekan tombol kirim.
159
160 Senyum bahagia melintas di wajah Azhaf saat obrolan mereka berdua berlanjut hingga larut malam. Topik pembicaraan melibatkan segala hal, dari kegiatan yang sebentar lagi akan datang hingga hal random yang nantinya akan di lakukan mereka berdua. Dalam keheningan malam, chat mereka menjadi wadah yang nyaman untuk saling berbagi cerita dan pemikiran. Azhaf menemukan kehangatan dalam setiap kata yang dikirimkan, dan ia merasa beruntung dapat berbagi momen itu dengan seseorang yang kini semakin dekat dengannya. Meski hanya melalui layar ponsel, kedekatan mereka semakin terasa, membentuk benangbenang kepercayaan dan ketertarikan yang makin kuat. Hari yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Pagi itu, sekolah dipenuhi antusias dan semangat kreativitas saat festival literasi sedang berlangsung. Ruang kelas dihiasi dengan karya seni siswa, sementara di halaman, ada stan buku dan pertunjukan sastra yang memikat perhatian semua. Suara tawa dan percakapan penuh semangat memenuhi udara. Di hari pertama festival literasi, Azhaf dan temanteman seangkatannya dengan penuh semangat
161 membuka kelas mereka untuk dikunjungi oleh adik-adik kelas. Mereka dengan bangga menjelaskan setiap lukisan dan karya seni yang mereka buat, berbagi cerita di balik setiap kreativitas yang terpancar dari karya mereka. Suasana hangat dan ramah menciptakan momen berharga di mana pengetahuan dan apresiasi seni literasi terus berkembang di antara siswa sekolah dirinya. Tiba-tiba Azhaf berpikir untuk keluar dari kelasnya, dirinya merasa bosan ketika berdiam saja di kelasnya. Ia berencana untuk berjalan menelusuri semua pameran di setiap kelas 9. Dengan langkahnya yang penuh percaya diri, Azhaf berjalan di antara stan-stan pameran milik kelas sebelah, dirinya mulai mendapatkan perasaan kenangan baru yang muncul saat kelas 9 ini. Ketika dirinya sedang berjalan di depan pintu UKS, Azhaf tiba-tiba melihat seorang perempuan yang memikat perhatian dengan baju betawi biru yang memesona. Sorot matanya sejenak terpaku pada seorang perempuan yang sedang diam duduk di atas kursi koridor depan kelas miliknya. Kejelasan warna biru dan detail desain baju adat Betawi menambah keindahan tersendiri pada pesona perempuan itu. Tanpa disadari, ketika Azhaf masih memandangi perempuan itu dari kejauhan, sontak
162 dirinya mulai tersenyum sendiri saat matanya masih tertuju ke arahnya. Dengan hati yang penuh apresiasi terhadap keindahan perempuan itu, Azhaf memilih untuk melanjutkan langkahnya tanpa mengganggu perempuan yang memakai baju betawi biru tersebut. Meskipun dirinya terpesona, ia memilih untuk menghargai Zikra, dan tetap fokus menikmati waktu demi waktu di festival literasi. Menuju siang, Azhaf beralih arah menuju kantin untuk makan siang. Suasana di sekitar kantin penuh dengan aroma lezat dari berbagai hidangan. Dia bergabung dengan teman-temannya, duduk di meja yang ramai, sambil berbagi cerita dan tertawa ringan. Makan siang menjadi momen santai setelah serangkaian kegiatan pagi yang penuh warna di festival literasi. "Rul, tadi gue liat dia." "Cantik banget, pake baju biru." Azhaf terdiam seketika dan memilih untuk mengangkat satu tanganya ke arah pipi kanannya, mulutnya tersenyum kecil sembari bergumam di waktu itu.
163 "Makan dulu, Azh..." Baru saja Arul menjawab, kalimatnya langsung di potong oleh Azhaf, karena dirinya yang sedang gembira saat melihat Zikra dari kejauhan. "Shttt!" Suara Azhaf sontak membuat Arul yang sedang berbicara langsung diam seketika. Arul dan Azhaf memanfaatkan waktu siang setelah makan dengan duduk bersama di kantin, mengobrol santai sambil menikmati makanan. Percakapan mereka penuh tawa dan keceriaan, membentuk ikatan persahabatan yang semakin erat. Suara ramai di sekitar kantin menciptakan latar yang hangat bagi momen berbagi cerita dan pengalaman di tengah festival literasi yang memikat. Bersama tawa dan kenangan yang diukir pada siang itu, Arul dan Azhaf beranjak menuju kelas mereka masing-masing, siap menyongsong acara pensi yang akan segera dimulai, di siang ini. Semangat persahabatan dan antusias festival literasi masih terasa di udara, menciptakan antisipasi menyenangkan untuk momen berikutnya.
164 Di kelas, Azhaf bersiap-siap untuk acara pensi dengan senyuman di wajahnya. Dirinya bergabung dengan teman-teman sekelas, berbagi kegembiraan dan partisipasi akan pertunjukan dan kegiatan seru yang menandai akhir hari yang penuh warna di festival literasi hari pertama. Suasana yang hangat dan semangat persahabatan semakin terasa di ruang kelas, menciptakan kenangan tak terlupakan untuk mereka semua. Sebelum menuju ke panggung, mereka semua mendapatkan informasi bahwa kelas Azhaf mendapatkan urutan ke 5. Di saat itu, mereka semua berlatih berulang-ulang, sebelum menampilkan pentas seni yang sudah disiapkan oleh satu kelas dari jauh hari. Di dalam kelas yang riuh, gemuruh berisik memenuhi udara saat para siswa sibuk latihan untuk pertunjukan pensi. Instrumen musik, suara tawa, dan sorakan penuh semangat menciptakan energi yang membara. Setiap detail latihan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. "Semuanya, kita tampil kelima!" "Bentar lagi kita ya." Teriak Bu Petti yang sedang duduk di depan anak-anak kelasnya yang sedang berlatih untuk terakhir kalinya.
165 Dengan semangat yang membara, teman-teman kelas Azhaf satu per satu mulai bergerak menuju panggung untuk memulai pensi kelas mereka. Sorak sorai dan tepuk tangan meriah menyertai langkah mereka. Azhaf ikut bergabung, merasakan kebanggaan melihat persiapan yang telah dilakukan bersama kini menjadi kenyataan yang memukau di atas panggung festival literasi. Penampilan pensi kelas Azhaf berakhir dengan gemilang, diiringi tepuk tangan meriah dari penonton. Suasana kebahagiaan dan kebanggaan terpancar di wajah semua siswa. Mereka merayakan keberhasilan pensi dengan kebersamaan dan rasa prestasi setelah memberikan pertunjukan yang memukau dalam festival literasi di sekolah. Setelah membersihkan properti dan perlengkapan milik kelasnya, Azhaf tiba-tiba langsung berlari menuju kursi dekat panggung. Ternyata, kelas perempuan yang bernama Zikra itu sudah mulai tampil di atas panggung. Dengan hati yang berdebar, ia antusias menyaksikan pertunjukan tersebut, teman-temannya banyak yang berada di samping Azhaf, menciptakan momen ekspektasi dan ketegangan yang mendebarkan di tengah gemuruh festival literasi. Pentas seni kelas 9D pun dimulai, diawali dengan tarian tradisional yang sangat menarik perhatian seluruh
166 siswa. Gemuruh tepuk tangan seketika, terdengar kencang ketika pemain dance k-pop keluar di saat tengah tengah berjalannya cerita. "Zikra, Fis, itu Zikra" Azhaf yang tadinya hanya mengobrol dengan temannya, seketika langsung memfokuskan dirinya ke arah depan dan melihat seorang perempuan yang memakai jaket putih dengan bawahan celana cargo yang menarik perhatian matanya. Dengan hati yang masih berdebar-debar, Azhaf menahan napas saat perempuan itu masih berada di atas panggung. Gerakan-gerakan dance yang ditampilkan oleh Zikra, dengan lantunan lagu asal Korea masih terdengar kencang saat itu. Sampai pada akhirnya Zikra turun dari panggung. Sorot matanya penuh perhatian, menciptakan momen penuh kekhusyukan di tengah keramaian festival literasi. Saat Zikra sudah turun akhirnya pandangan Azhaf berganti ke arah belakang punggung dirinya. Teman-teman Azhaf ternyata dari awal memandangi Azhaf yang sedang memfokuskan matanya kepada salah satu perempuan yang berada di panggung, yang baru saja turun.
167 “Ceilah, dari tadi fokus amat ngeliat si itu.” “Fokus-fokus, Zikra di depan,” ledekan temanteman Azhaf, yang membuat fokus Azhaf buyar seketika. “Diem setan,” teriak kesal Azhaf. Dirinya beranjak dari kursi untuk berpindah tempat ke arah teman-temannya yang berada di belakang. Melangkahkan kakinya dan mulai menyapa satu persatu teman-temannya, yang sedang asik mengobrol di arah tempat duduk belakang. Mereka semua menghabiskan waktu dengan bercerita, dan menyusun rencana untuk menonton pertandingan Popnas Taekwondo yang sebentar lagi akan diadakan, di kotanya. Suasana riang pun terasa di tengah siang, sementara cahaya senja mulai menyapa, menandakan berakhirnya obrolan seru mereka. Setelah banyak hal yang melelahkan pada hari itu berlalu, Azhaf pulang dari sekolah dengan senyuman ceria di wajahnya. Ia mengisahkan pengalaman menarik
168 dari acara tersebut, seperti pertunjukan seni dan bertemu dengan seorang perempuan yang indah di matanya. Di sore itu perasaan Azhaf hanya terarah kepada seorang perempuan yang memakai baju biru, dan memakai baju putih saat siang berganti senja. Dirinya merasakan hal yang berbeda di hari ini, ada beberapa hal yang membuat dirinya bingung. Mengapa perasaannya tidak tenang dari tadi, dan jantung miliknya selalu berdebar setiap menitnya. Apakah Azhaf sedang merasakan perasaan suka, dengan seorang perempuan? Azhaf mulai memunculkan perasaan-perasaan suka terhadap seseorang, setelah beberapa bulan terakhir bisa mengenal perempuan yang bernama Zikra. Rasa kegembiraan dan kehangatan dari beberapa bulan yang ia tempuh dengan perempuan itu, membuatnya menyadari ketertarikan khusus terhadap seorang perempuan tersebut. Meskipun sedikit gugup, Azhaf bersemangat untuk menjalani perasaannya yang baru ini. Hingga akhirnya senja sudah berganti ke arah terik rembulan, malam itu terasa sangat dingin dan sunyi. Hanya ada beberapa titik cahaya yang memancarkan ke indahannya, mengarah ke dalam kamar Azhaf di malam itu.
169 Di tengah terik rembulan itu, Azhaf merenung tentang perasaannya yang baru saja muncul. Dalam ketenangan malam, ia memikirkan langkah-langkah selanjutnya dan bagaimana mengungkapkan perasaannya kepada orang yang dicintainya. Sesekali, dirinya memandangi buku Malioboro At Midnight, yang memotivasi dirinya untuk mendekati Zikra. Azhaf berpikir banyak tentang dirinya yang mendekati Zikra, dia baru menyadari, bahwa, dirinya sudah dari jauh-jauh hari sudah memiliki perasaan yang sama dengan perasaan yang ia rasakan saat ini. Di malam itu, pikirannya mengarahkan ke seorang perempuan itu saja. Sampai akhirnya Azhaf memiliki cara untuk mengutarakan perasaannya yang masih mengganjal sampai saat ini. Dirinya memikirkan untuk menggambarkan Zikra, dengan jaket putih yang ia kenakan saat dance di panggung, saat menjalankan pentas seni kelasnya. Dengan penuh antusias dirinya mengambil pensil dan buku gambar miliknya. Dengan setiap goresan, ia berusaha menggambarkan wajah dan keistimewaan Zikra, menciptakan suatu karya yang mencerminkan perasaannya dengan harapan bisa menyampaikan pesan tanpa kata-kata.
170
171 Ilustrasi seorang perempuan yang ia gambar, menyiratkan perasaan yang dirasakannya pada malam itu. Ia ingin mengekspresikan betapa istimewa Zikra baginya melalui goresan pensil yang menghasilkan gambaran seorang prempuan indah yang pernah ia temui di dalam hidupnya. Malam pun semakin larut, langit dipenuhi bintang, dan kota terhanyut dalam keheningan. Lampulampu jalan redup, menciptakan suasana misterius di sepanjang jalanan depan jendela Azhaf, yang sepi. Azhaf meninggalkan kursi belajarnya, menghirup udara malam yang sejuk saat langkahnya melaju menuju kasur. Cahaya lembut lampu tidur memancar, menciptakan suasana tenang di kamarnya. Sejenak, kesibukan menggambar digantikan oleh kenyamanan dan ketenangan malam yang semakin larut. Dengan gemetar jari, Azhaf meraih handphone dan membuka aplikasi Instagram. Layar ponselnya terang, memperlihatkan dunia maya yang penuh dengan cerita dan kisah. Di tengah malam yang semakin larut, ia menjelajahi fitur notes yang berada di atas chat instagram miliknya. Mata Azhaf terfokus pada layar ponselnya, menemukan username bernamakan Zikra yang masih
172 online di tengah larut malam. Mungkin saja dirinya masih belum bisa tidur di tengah malam itu. Azhaf yang sedang memandangi username bernama Zikra, seketika berniatan untuk memberi pesan singkat, menanyakan mengapa dirinya masih belum tertidur di tengah larut malam.
173 Azhaf yang tengah asyik mengobrol di-direct Message, tiba-tiba terhenti ketika melihat Zikra yang tadinya online menjadi offline. Kesunyian dunia maya membuatnya merenung sejenak, mungkin Zikra telah meninggalkan jejak kehadirannya di malam yang semakin larut. Dirinya tiba-tiba berpikir kembali, bahwa sepertinya cara yang ia beri ampuh untuk Zikra tertidur di malam itu. Mungkin paus dan lumba-lumba pun sudah berada di bunga mimpi Zikra saat ini.
174 As I heard you say, all that I want is to bey yours Falling in love Falling in love
175 8 Sweet Dreams "YEEY DISEMANGATIN GUE!" Azhaf berteriak kencang di dalam gedung. Tempat latihan taekwondonya. Azhaf tersenyum gembira seketika, karena mendapatkan notifikasi dari Zikra di
176 sore itu. Semangat baru memenuhi latihannya, memotivasi setiap gerakan dan tendangan. "Set dah Zhaf, Zhaf. Baru aja disemangatin dah salting begitu. Bentar lagi lo popnas. Mending kata gue latihan yang bener deh!" ucap salah satu pelatih Azhaf yang memiliki usia yang sangat muda dari yang lainnya. "Hehe, iya beum." Senyum Azhaf terlihat sangat senang dan tidak bisa dipungkiri. Dirinya sangat semangat untuk menendang target yang berada di depan matanya, napasnya pun ikut teratur seketika, seperti kegimbaraan yang ia dapatkan seketika. Sore itu di tempat latihan taekwondo, suasana penuh semangat dengan murid-murid yang sedang mempersiapkan diri untuk sesi latihan. Pelatih memberikan instruksi dengan penuh energi, sementara suara tendangan dan pukulan ke arah body guard terdengar di seluruh ruangan.
177 Dalam latihan tersebut, dirinya merasa semakin meningkatkan kekuatan otot dan keseimbangannya. Ia mengatasi tantangan dengan tekad kuat, mencoba menguasai setiap koreografi dan mencapai tingkat ketangkasan yang lebih baik. Meskipun malam tiba, Azhaf tetap bersemangat dalam latihan taekwondo. Sorot lampu di dojang menerangi perjuangannya untuk meningkatkan keterampilan. Dengan keseriusannya, ia melibatkan diri dalam latihan teknik tingkat lanjut dan sparing untuk meningkatkan refleksinya. Malam itu menjadi kesempatan bagi Azhaf untuk mengasah kemampuannya dengan lebih intens, menunjukkan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap latihan taekwondo. "BARO!" Lantang suara pelatih di saat itu yang membuat pertandingan sparing pun diselesaikan. Setelah upaya keras sepanjang sore hingga malam hari, latihan Azhaf akhirnya selesai saat jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Meskipun lelah, dirinya merasa puas dengan hasilnya dan mengetahui
178 bahwa setiap usaha yang diberikan pada latihan memiliki nilai yang berharga untuk pengembangan dirinya di dunia taekwondo. Di akhir malam itu, Azhaf menghabiskan waktunya untuk mengelilingi seluruh jalan yang ada di dalam kotanya. Azhaf menaiki motornya, melintasi jalan-jalan kotanya yang diterangi lampu malam. Angin malam memberikan kesegaran setelah latihan yang intens. Sementara pada arah cahaya lampu kota, menciptakan suasana yang tenang. Ia menikmati momen tersebut sebagai cara untuk merilekskan diri setelah latihan taekwondo yang melelahkan. Dirinya merasakan angin sejuk di tengah malam itu. Sampai pada akhirnya, dirinya menekan rem motornya untuk berhenti di satu tempat, yang menurut pandangannya tempat ini adalah tempat yang selalu menyimpan rasa di dalamnya. Terkadang seseorang yang baru saja jatuh cinta akan datang ke tempat ini, menikmati malam hari dengan tentram tanpa adanya gangguan orang lain. Duduk di rempah kota, Azhaf memandangi pancaran lampu yang membentang di depannya. Gemerlap cahaya kota menciptakan suasana yang
179 memikirkan, sementara kelelahan dari latihan taekwondo masih terasa. Dia merenung sejenak, meresapi keindahan malam dan menikmati ketenangan yang dihadirkan oleh gemerlap lampu kota miliknya. Dengan headset yang dipasang di telinganya, Azhaf memutar sebuah lagu yang cocok dengan suasana malam itu, dirinya memutar salah satu lagu miliknya, (Nadhif basalamah: Penjaga Hati). Ritme musik mengalir ke telinganya, menciptakan pengalaman mendalam yang melengkapi momen ketenangan di rempah kota. Dirinya meresapi melodi dengan mata memandang pancaran lampu kota, menciptakan perpaduan harmonis antara musik dan suasana malam yang damai. Tiba-tiba Azhaf merasakan sentuhan lembut di pundaknya. Ia berpaling, dan di hadapannya terlihat seorang perempuan yang sangat ia kenali di matanya. Binar indah matanya terlihat sangat jelas, di saat itu. Dirinya terdiam sesaat ketika memandangi seluruh wajah seorang perempuan itu. Senyum Azhaf terukir seketika, menciptakan momen kejutan dan kehangatan di tengah malam yang santai itu. Dirinya tidak sadar bahwa yang menyapanya adalah Zikra,
180 seorang perempuan yang baru saja ia kagumi baru-baru ini. "Zhaf! Lagi di sini?" "Sendirian aja kamu?" ucap ramah Zikra di tengah malam itu. "E-e-eh, raa." "Di sini juga kamu?" "Sama siapa, ih dah malem tau," jawab Azhaf, wajahnya memerah sesaat. Dirinya masih terlalu gugup untuk berbicara, pertama kali dengan Zikra. "Bosen di rumah Zhaf." "Lagi pula, aku belum mau bayangin paus sama lumba lumbaa." "Heheheh." Senyumnya melebar, matanya sedikit tertutup karena senyuman yang ia tunjukan di saat itu. Keindahan dirinya terlihat sangat jelas di mata Azhaf.
181 "Hahahah, ada ada ajaa kamu." "Gak nyangka ih, kita bisa ketemu malemmalem di sini." "Pertama kali ngobrol bareng lagi," jawab Azhaf. "Iya, hehehe," sahut Zikra dengan senyumannya yang masih berada di sisi wajahnya. Bersama Zikra, dirinya melanjutkan malamnya dengan bercerita sambil memandangi bulan di langit malam. Mereka saling berbagi pengalaman, tertawa, dan menciptakan kenangan berharga di bawah cahaya remang bulan. Suasana akrab dan damai melingkupi mereka, menambah keindahan malam yang penuh dengan cerita dan imajinasi yang beragam. Di waktu yang intim dan penuh kehangatan itu, Azhaf menemukan momen yang berharga bersama Zikra, di malam itu. Suara tawa, cerita, dan pandangan bulan melibatkan mereka dalam momen kebersamaan yang mendalam, menciptakan ikatan pertemanan yang lebih kuat.
182 Malam yang dimulai dari latihan taekwondo bertransformasi menjadi pengalaman yang memberikan kenangan indah dan rasa kehangatan di hati. "Eh, Ra. Aku boleh bilang sesuatu gak sih?" "SUWHHAHA, tapi gue salting duluan." Malam itu, akhirnya Azhaf memberanikan untuk membicarakan pertemanan mereka berdua. "Hahahhaha, pengen ngomong apa emangnya, Zhaf?" tanya Zikra, dengan muka kebingungan. "Boleh gak sih aku jadi temenmu, pengen aja gitu yah. Pengen jadi temen anak 9D, yang namanya Zikra Alya Rahma gitu loh." "SOALNYA YAH, kita tuh banyak hal yang samaa gitu kann." "Bentar nih, liat HP aku!"
183 Di saat Zikra yang masih senyum-senyum tersendiri. Ocehan Azhaf masih terdengar di telinga Zikra, hingga membuat dirinya tertawa kecil di malam itu. Seketika, Azhaf menunjukan layar handphonenya untuk di lihat oleh Zikra. Dirinya memberi sebuah artikel yang berada di google miliknya, yang berjudul Berteman dengan seseorang itu banyak manfaatnya loh. "TUH, RA, LIAT HEHE." Azhaf tak bisa lagi menahan rasa saltingnya. Pipinya memerah seketika dirinya menunjukkan layar handphone-nya di hadapan Zikra.
184 "HAHAHAH, LUCU BANGET KAMU." "iya, iya, iya. Oke, kitaa temenan sekarang ya, malam ini." Zikra yang tadinya hanya tersenyum biasa, berganti menjadi memerah di pipinya. Dirinya mulai merasa salah tingkah di saat itu juga. "HAHAHAHA YEAY, tenang aja Ra, kamu mau cerita semuaa keseharian Jeongwoo. Day in my lifenya pacar, pacarmu. Aku tanggepin." Ocehan Azhaf berlanjut dengan waktu yang lebih lama, dirinya mulai terbawa suasana di malam itu. Dari yang awalnya merasakan canggung, sekarang dirinya melihat Zikra seperti sesuatu yang sangat dirinya sukai di malam itu. "Oh iya Ra, aku kan pengen tanding yah. Sebelum tanding, aku mau kaya Malio, Malio pacarmu itu dong."
185 "Hai, kenalin Aku Azhaf Alaydrus," ucap serius Azhaf. "Hai juga, kenalin namaku Zikra Alya Rahma." "Yeay, selamat yaa. Sekarang kamu dah jadi temannya aku." Sontak Azhaf yang tadinya hanya menahan rasa salting, sekarang sudah tidak bisa ditahan lagi. Dirinya tiba-tiba melompatkan dirinya berkali-kali, memperlihatkan kepada Zikra bahwa dirinya terasa sangat senang di malam itu. Dengan terik bulan yang masih memancar di depan mereka berdua. Akhirnya Azhaf berbicara kepada Zikra untuk berpamitan di malam itu. “Ra, aku duluan ya.” “Pulang sama siapa kamu?” tanya Azhaf
186 “Sama Abang Nuzar, dia nemenin aku tau dari tadi.” “Tapi entah dimana sekarang?” Zikra melihat ke arah belakang seperti orang kebingungan. Dirinya mencari Abangnya saat itu. “Owalah, siap.” “Salam buat abangmu, Ra.” Azhaf melambaikan tangannya di akhir pertemuan malam ini, dirinya melangkahkan kakinya ke arah parkiran motor miliknya. Malam itu, dirinya memahami apa yang harus ia lakukan ke depannya. Azhaf kembali melakukan hal yang biasa dirinya lakukan di tengah malam. Azhaf mulai mengetik cerita kisah hidupnya di akhir masa SMP-nya. Dia bertemu dengan seorang perempuan yang mungkin, berharga di matanya. Dirinya mulai membuka pikirannya, mengukir sepatah dua kata untuk membuat karya yang ingin ia buat untuk Zikra di hari yang tepat. Terkadang seseorang bisa saja langsung menyatakan perasaannya dengan sebuah kalimat. Namun, berbeda dengan Azhaf. Dirinya lebih menginginkan seorang perempuan yang ia tuju
187 mendapatkan sebuah karya, yang mungkin bisa memperlihatkan apakah Azhaf menyukai dirinya. Tanggal 15 November, bertepatan dengan jarum jam yang menunjukkan pukul 12.00, dirinya menjadi saksi pertama untuk memperlihatkan rasa suka yang baru saja ia dapati di masa akhir SMP, miliknya. “Siap-siap ya semuanya, nanti saya kasih tau partai berapanya?” “Azhaf kamu partai 12, pakai dobokmu!” “Lengkap!” Riuhnya suara terdengar jelas di pagi penuh semangat ini. Hari ini adalah hari yang berharga untuk seluruh atlet, mereka semua akan berlomba di satu tempat yang sama. Azhaf mulai meregangkan badannya untuk mulai pemanasan sebelum bertanding di babak pertama. Dirinya merasa belum percaya diri dengan tendangannya. Terlihat dari kejauhan wajahnya ketakutan dan tidak ada semangatnya.
188 “Woi, jangan bengong!” Azhaf terkejut saat itu, dirinya yang sedang melamun sembari memegang kaki, diteriaki oleh salah satu pelatihnya. Di dalam bisingnya teriakan-teriakan dari segala arah gor pertandingan, dirinya mulai berjalan menuju tempat tunggu bertanding. Azhaf masih merasakan gugup yang terlalu dalam. Terkadang dirinya melihat ke arah bangku penonton, membelokkan bola matanya ke seluruh sudut gor. Dirinya merasakan hal yang mengganjal dalam perasaannya. Azhaf masih berharap untuk mendapatkan kejutan yang tidak diduga dari Zikra, ia berpikir bahwa apakah Zikra akan menontonnya diam-diam pada saat itu. Mungkin dirinya berpikir seperti itu karena dari pagi dirinya tidak mendapatkan salah satu pesanpun dari perempuan itu. Perasaanya kacau di pertandingan pertama itu. Azhaf berdiri di tengah arena taekwondo dengan penuh determinasi, mata tajam memperhatikan setiap
189 gerakan lawannya. Sinar matahari siang memberikan kilauan keringat di wajahnya yang penuh semangat. Saat pertandingan dimulai, dia melancarkan serangkaian tendangan memutar dan pukulan cepat yang membuat lawannya kesulitan mengikuti ritme permainannya. Ketangguhan Azhaf terlihat dari setiap gerakan yang dipertontonkannya, walaupun dengan perasaannya yang sedang tidak enak, dirinya masih bisa menciptakan kombinasi teknik yang membuat penonton terpukau. Dengan kecepatan dan kelincahan yang luar biasa, dia mampu menghindari serangan lawan sambil memberikan respons taktis yang mematikan. Meskipun terkadang terlihat kelelahan dan mulai kehilangan keseimbangan, Azhaf tetap menunjukkan semangatnya yang tak kenal lelah. Suara tepuk tangan dan teriakan dari teman-temannya memotivasi Azhaf untuk terus memberikan yang terbaik. Akhirnya, dengan pukulan akhir yang memukau, Azhaf berhasil meraih kemenangan di siang hari yang panas tersebut, menegaskan keunggulannya dalam dunia taekwondo. Dirinya terlihat sangat senang di saat
190 itu, walaupun masih menyimpan rasa yang abstrak dalam hatinya. Di tengah ramainya pertandingan, pelatih Azhaf langsung menghampiri dirinya untuk memberikan pujian dan tepuk tangan. Namun, dirinya masih harus bertanding dua kali lagi untuk membawa pulang medali emas di hari itu. Azhaf merayakan kemenangan pertandingan pertamanya dengan merebahkan dirinya di tempat tunggu club-nya, sorak sorai teman-temannya menyambut keberhasilannya. Penuh kegembiraan, dia mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil tersenyum, di tengah terik matahari siang yang hangat. Dirinya tiba-tiba melihat getaran di dalam tas miliknya, ternyata yang membuat tasnya bergetar adalah ponselnya yang sedang berdering notifikasi. Dengan cepat, dirinya mengambil dan melihat layar ponsel untuk mengetahui siapa yang memberinya pesan. Dirinya yang masih bersemangat setelah kemenangannya di pertandingan taekwondo, langsung berpikir bahwa yang memberi pesan untuknya adalah Zikra.
191 Setelah mengalami kelelahan dari pertandingan taekwondo. Ponsel yang tadinya berdering, bisa menghadirkan senyuman ke wajahnya yang masih terasa hangat. Dengan cepat, ia menghilangkan rasa yang mengganjal dari tadi pagi. Dirinya langsung menemukan balasan untuk orang yang selama ini menjadi pusat perhatiannya.
192 Tulisan di layar membuat hatinya berdebar lebih cepat, dan senyumnya semakin melebar. Seakan semua kelelahan tadi sirna, dia merasakan kebahagiaan yang mengalir dalam dirinya. Tanpa ragu, Azhaf merespons dengan penuh semangat, memulai percakapan yang mungkin akan mengukir kenangan indah setelah kemenangan pertama di pertandingan yang baru saja dilaluinya. Namun, belum beberapa menit dirinya mengetik sebuah pesan untuk Zikra, namanya terpanggil lagi untuk menuju tempat tunggu pertandingannya lagi. Dirinya yang baru saja senang langsung berganti menjadi serius, untuk bertanding lagi. "Zhaf, kamu gak jadi 3 tanding." "Lawan satunya gak ada, jadi ini final." "Habisin langsung." "Inget, ini terakhir." Azhaf menjadi senang ketika mendengar informasi yang diberikan oleh pelatihnya. Tetapi, dirinya memikirkan bahwa ini adalah kesempatan
193 terakhirnya untuk menuju ke depan. Dirinya percaya bahwa di hari ini dirinya harus membawa medali emas untuk pelatihnya. Dengan semangat yang terus menerus menyala, Azhaf bergegas menuju tempat pertandingan terakhirnya. Langkahnya mantap, memperlihatkan tekad untuk memberikan penampilan terbaik. Terik matahari siang tak mampu menghentikan langkahnya, karena dia tahu bahwa momen ini adalah kesempatan terakhir untuk menunjukkan kemampuannya. Tiba di tempat bertanding, Azhaf fokus mempersiapkan diri, menyelaraskan pikiran dan energi. Suasana tegang terasa di udara, tetapi dia siap menghadapi tantangan terakhir ini dengan kepercayaan diri dan semangat juang yang belum pudar. "Kyourugi junbi." "Shi-jak," teriak wasit tengah yang hampir memecahkan seluruh suasana pertandingan saat itu. Di tengah-tengah pertandingan taekwondo, Azhaf menunjukkan kepiawaian teknik dan kecepatan yang membuat penonton terpukau. Terkadang dirinya
194 tergelincir ke arah belakang karena kencangnya tendangan lawan, tetapi semangat juangnya tak tergoyahkan. Tubuhnya bergerak lincah, melontarkan tendangan dan pukulan dengan presisi, menciptakan pertarungan yang menarik. Azhaf terus memancarkan kegigihan, bahkan dalam kelelahan, mempertahankan semangat yang dipicu oleh ingatan akan dukungan dari orang yang dia sukai. Setiap gerakan menjadi ekspresi dari tekadnya untuk meraih kemenangan, dan di tengah sorak sorai penonton, Azhaf menorehkan jejak tak terlupakan dalam pertandingan taekwondo ini. Dengan gemilang, Azhaf memenangkan ronde pertama pertandingan taekwondo. Saat istirahat satu menit dimulai, dia duduk dengan tenang, memanfaatkan waktu untuk mengembalikan napas dan merilekskan otot-ototnya yang terkuras. Di sela istirahat, dia melihat ke segala arah gor itu, dirinya melihat banyak orang yang memberinya teriakan semangat. Dorongan itu memberinya motivasi ekstra untuk menjaga performa dan mengejar kemenangan pada ronde berikutnya.
195 Dengan fokus dan tekad yang tak berkurang, Azhaf siap kembali ke pertarungan untuk meraih kemenangan keseluruhan. Azhaf memanfaatkan istirahatnya dengan gerakan yang terampil, bermainmain pada kakinya dan memutar badannya dengan gesit. Saat ronde kedua dimulai, dia tampil dengan gerakan yang mengejutkan lawannya. Dengan lincahnya, Azhaf mengarahkan serangan ke kepala lawan, menggunakan kombinasi tendangan yang cermat dan pergerakan badan yang membingungkan. Kecepatan dan kelenturannya membuatnya sulit diprediksi, menciptakan momen menegangkan di atas tatami. Penonton terpukau menyaksikan strategi baru dari Azhaf, sementara lawannya berusaha mencari celah untuk merespons. Dalam momen tersebut, Azhaf berusaha menciptakan keunggulan tambahan, menunjukkan kecanggihan teknik taekwondo yang dimilikinya. Azhaf memutarkan badannya sekali lagi dengan kecepatan yang memukau, mengarahkan tendangan tajamnya ke arah kepala lawan. Dengan tendangan putar
196 dirinya mengenai kepala lawan dengan tepat sasaran, tendangan itu membuat lawan terhuyung dan akhirnya terjatuh di atas tatami. “AGHHH!” Azhaf berteriak kencang 196yukur melihat lawannya terjatuh di atas matras pertandingan Sorak sorai penonton memenuhi arena saat itu, menghiasi kemenangan Azhaf yang mengesankan. Dengan sikap sportif, Azhaf segera menghampiri lawannya yang baru saja kalah, memberikan penghormatan atas perjuangan yang telah ditunjukkan. Kemenangan ini bukan hanya tentang prestasi pribadi, tetapi juga tentang semangat dan dedikasi dalam dunia taekwondo yang begitu dia cintai dari sejak kecil. Dengan hati berdebar setelah pertandingan selesai, Azhaf berlari dengan cepat menuju tempat handphone-nya. Sambil menggenggam ponsel, ia merasa penasaran dan penuh harap, ingin melihat respons yang diberikan oleh orang-orang terdekat setelah penampilannya yang luar biasa dalam pertandingan taekwondo.
197 Setibanya di tempat menyimpan handphone-nya, Azhaf membuka pesan dengan senyum di wajahnya. Sorakan kemenangan masih bergema dalam pikirannya, dan sekarang, ia ingin berbagi kegembiraan tersebut dengan orang-orang yang selalu memberikan dukungan padanya.
198 Melihat respon hangat dari Zikra, Azhaf merasakan puncak kebahagiaan di hari itu. Senyuman mekar di wajahnya, mencerminkan kegembiraan yang mendalam. Pesan dari Zikra menjadi seperti sentuhan magis yang mengubah energi positif dari kemenangannya menjadi momen yang lebih istimewah. Azhaf menghargai setiap kata dan dukungan dari Zikra, merasakan kehangatan hubungan di antara keduanya semakin memperkaya kemenangan yang baru saja diraih. Dalam sorot matahari senja, Azhaf merenung dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Dia tidak hanya merayakan prestasi dalam pertandingan, tetapi juga ikatan khusus yang terjalin di antara mereka berdua.
199 9 Fall in love Beberapa hari setelah kemenangan di pertandingan taekwondo dan dengan momen istimewa yang ia dapatkan, Azhaf mulai kembali ke rutinitas sekolahnya. Suasana biasa di sekolah diwarnai dengan semangat baru setelah meraih prestasi yang gemilang. Saat matahari mulai tenggelam di langit, warnawarna hangat menyelimuti halaman sekolah. Staf sekolah yang masih sibuk dengan tugas-tugas administratif, menciptakan suasana yang harmonis di tengah keberagaman aktivitas. Di sore hari itu untuk pertama kalinya organisasi Osis mempersiapkan suatu acara setelah sekian lama, yaitu Hari Guru. Azhaf dengan antusias mengawali rapatnya dengan baik dan benar. Kesuksesannya dalam taekwondo memberikan semangat tambahan, dan dia merasa bangga bisa berkontribusi dalam kegiatan sekolah.
200 Dalam rapat itu, Azhaf bertemu dengan temanteman lain yang juga bersemangat, menciptakan perasaan kolaboratif yang memacu semangatnya untuk berpartisipasi lebih aktif dalam kegiatan sekolah. Di rapat Osis kali ini, Azhaf membawa perubahan dengan memberikan undangan kepada enam organisasi lainnya. Keputusan tersebut ia lakukan dengan alasan jika hanya Osis yang berkerja untuk hari guru, mereka semua akan kewalahan dan kesusahan di hari acara yang nanti akan datang. Dalam suasana rapat yang berbeda ini, Azhaf menjelaskan dengan penuh semangat tentang pentingnya kerjasama antar-organisasi untuk merayakan Hari Guru dengan lebih meriah. Dia membuka pintu kolaborasi, mengundang ide dan partisipasi dari setiap organisasi agar acara tersebut menjadi lebih berkesan. Langkah Azhaf membawa warna baru ke rapat Osis, menciptakan chemistry yang baik di antara organisasi sekolah dan memberikan dampak positif bagi perencanaan acara mendatang. "Eh, Zhaf. Si Zikra ga dateng yah di rapat ini?"