The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Survei kondisi struktur perkerasan jalan dibedakan melalui pemeriksaan
destruktif dan pemeriksaan nondestruktif. Pemeriksaan destruktif dilakukan dengan mengambil benda uji atau pengamatan visual pada tes pit
atau sumur uji yang dibuat pada perkerasan jalan lama. Pemeriksaan
destruktif kurang disukai karena mengakibatkan kerusakan pada perkerasan jalan lama. Namun demikian perencanaan tebal lapis tambah
berdasarkan analisis komponen membutuhkan data kondisi perkerasan
jalan yang diperoleh melalui pemeriksaan destruktif.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by NR Tobogu, 2021-07-18 09:48:24

Perencanaan Tebal Struktur Perkerasan Lentur

Survei kondisi struktur perkerasan jalan dibedakan melalui pemeriksaan
destruktif dan pemeriksaan nondestruktif. Pemeriksaan destruktif dilakukan dengan mengambil benda uji atau pengamatan visual pada tes pit
atau sumur uji yang dibuat pada perkerasan jalan lama. Pemeriksaan
destruktif kurang disukai karena mengakibatkan kerusakan pada perkerasan jalan lama. Namun demikian perencanaan tebal lapis tambah
berdasarkan analisis komponen membutuhkan data kondisi perkerasan
jalan yang diperoleh melalui pemeriksaan destruktif.

Keywords: Struktur Jalan

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

impuls. Hasil pengukuran FWD berupa berupa cekung lendutan seperti
pada Gambar 7.11.
Dari hasil pengukuran dan dengan menggunakan perhitungan balik (back
calculations) dapat hitung modulus resilent tanah dasar dan lapis
perkerasan.

Sumber: Branley D

Gambar 7.11 Diagram cekung lendutan

7.2 Pengujian Lendutan Perkerasan Lentur Dengan Alat
Benkelman Beam

Batang Benkelman untuk mengukur lendutan perkerasan jalan pertama
kali diperkenalkan oleh A.C.Benkelman pada awal 1950. Batang Benkel-
man yang digunakan di Indonesia terbagi menjadi dua bagian dengan
perbandingan 1:2 oleh sumbu O, seperti pada Gambar 7.12, dengan
panjang total batang adalah (366 ± 0,16) cm.

190

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

pendatar arloji
pengukur
penggetar

Tumit batang batang baterai
(beam toe) pengukur

titik kontak tumit sumbu O pengunci kerangka kaki
batang dengan belakang
permukaan jalan kaki
depan

Sumber: Pd.T-05-2005-B

Gambar 7.12 Alat Benkelman Beam

Untuk mengukur lendutan perkerasan jalan batang Benkelman diletakkan
di antara roda belakang truk yang memiliki sumbu belakang sama dengan
jenis dan beban sumbu standar. Posisi ujung batang Benkelman seperti
pada Gambar 7.13.

Beban
Berat kosong 5 Ton

4,08 Ton

Sumber: Pd.T-05-2005-B

Gambar 7.13 Posisi Benkelman Beam

191

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Karakteristik truk yang digunakan sebagai penyebab beban pada titik
yang hendak diukur lendutannya adalah sebagai berikut:
1. Berat kosong truk (5 ± 0,1) ton
2. Sumbu belakang truk adalah sumbu tunggal roda ganda
3. Beban masing-masing roda belakang ban ganda = (4,08 ± 0,045

ton) atau (9000 ± 100) pon. Beban sumbu belakang truk sama
dengan sumbu standar 18.000 pon.
Temperatur udara dan temperatur permukaan jalan diukur bersamaan
dengan pengukuran lendutan dengan menggunakan alat seperti pada
Gambar 7.14.

Gambar 7.14 Alat pengukur
temperatur permukaan

Alat benkelman beam digunakan untuk mengukur lendutan balik,
lendutan balik titik belok, lendutan maksimum, dan cekung lendutan.
Namun, hanya lendutan balik yang umum digunakan untuk merenca-
nakan tebal lapis tambah.
Lendutan balik (rebound deflection) adalah besarnya lendutan balik
vertikal akibat beban pada titik pengamatan dihilangkan. Pengukuran

192

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

dilakukan setelah truk bergerak maju ke depan sejarak 6 m dari titik
pengamatan dengan kecepatan 5 km/jam. Gambar 7.15 menunjukkan
posisi beban pada saat pengukuran lendutan balik.
Besarnya lendutan balik dipengaruhi oleh temperatur, beban dan muka
air tanah pada saat pengukuran. Prosedur pengukuran mengikuti SNI M-
01-1990-F yaitu Metode Pengujian Lendutan Perkerasan Lentur dengan
alat Benkelman Beam.

1 2 3
½d 3
12
d 6m

12
d

Sumber: No.01/MN/B/1983.

Gambar 7.15 Hubungan lendutan dengan pembacaan dial alat benkelman beam

7.2.1 Lendutan Balik
Berdasarkan Pedoman Pd.T-05-2005-B, besarnya lendutan balik
ditentukan dengan menggunakan Rumus 7.1.

d = 2 x (d3 – d1) x Ft x Ca x FKB-BB ...........................(7.1)

193

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

dengan:
d = lendutan balik (mm)
d1 = lendutan pada saat beban tepat pada titik pengukuran
d3 = lendutan pada saat beban berada pada jarak 6 meter dari titik

pengukuran
Ft = faktor penyesuaian lendutan balik terhadap temperatur standar

35oC, sesuai Rumus 7.2. untuk tebal lapis beraspal (HL) < 10
cm dan Rumus 7.3 untuk tebal lapis beraspal ≥ dengan 10 cm.
Tabel 7.1 dan Gambar 7.16 menunjukkan nilai Ft untuk
berbagai nilai TL.

FaFktakotrorKKoorreekksisiLeLnednutdaunt (aFtn)(Ft) 1,80 Kurva B
1,70 (HL ≥ 10 cm)
1,60
1,50 Kurva B
1,40 (HL < 10 cm)
1,30
1,20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70
1,10
1,00 TeTmepmepreartautur rPPeerrkkeerraassaann,,TTL L(o(Co)C)
0,90
0,80
0,70
0,60
0,50
0,40

20

Sumber: Pd.T-05-2005-B

Gambar 7.16 Faktor koreksi lendutan balik terhadap temperatur standar

194

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

Tabel 7.1 Faktor Koreksi Lendutan Terhadap Temperatur Standar (Ft)

TL Faktor Koreksi (Ft)
(oC)
Kurva A Kurva B

(HL ≤ 10 cm) (HL ≥ 10 cm)

20 1,25 1,53

22 1,21 1,42

24 1,16 1,33

26 1,13 1,25

28 1,09 1,19

30 1,06 1,13

32 1,04 1,07

34 1,01 1,02

36 0,99 0,98

38 0,97 0,94

40 0,95 0,90

42 0,93 0,87

44 0,91 0,84

46 0,90 0,81

48 0,88 0,79

50 0,87 0,76

52 0,85 0,74

54 0,84 0,72

56 0,83 0,70

58 0,82 0,68

60 0,81 0,67

62 0,79 0,65

64 0,78 0,63

66 0,77 0,62

68 0,77 0,61

70 0,76 0,59

Sumber: Pd.T-05-2005-B

195

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Ft = 4,184 x TL-0,4025, untuk HL < 10 cm ......................... (7.2)
Ft = 14,785 x TL-0,7573, untuk HL ≥ 10 cm ........ ............... (7.3)
TL = temperatur lapis beraspal, diperoleh dari pengukuran

langsung di lapangan atau dapat diprediksi dari tempearatur
udara, yaitu:
TL = 1/3 (Tp +Tt + Tb) .................................................. (7.4)
Tp = temperatur permukaan beraspal
Tt = temperatur tengah beraspal, dari Tabel 7.2.
Tb = temperatur bawah beraspal, atau dari Tabel 7.2.
Ca = faktor pengaruh muka air tanah (faktor musim)
= 1,2; jika pengujian dilakukan pada musim kemarau atau
muka air tanah rendah
= 0,9; jika pengujian dilakukan pada musim hujan atau muka
air tanah tinggi
FKB-BB = faktor koreksi beban uji Benkelman beam
FKB-BB = 77,343 x (beban uji dalam ton)(-2,0715) .................... (7.5)

Lendutan balik yang telah dikoreksi akibat temperatur, muka air tanah,
dan beban uji digambarkan seperti contoh pada Gambar 7.17. Gambar ini
mempermudah melihat secara visual tingkat keseragaman lendutan untuk
penentuan batas segmen pada tahap perencanaan tebal lapis tambah.

196

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

Tabel 7.2 Temperatur Tengah (Tt) dan Bawah (Tb) Lapis Beraspal

Tu + Tp Temperatur lapis beraspal (oC) pada kedalaman
(oC)
2,5 cm 5,0 cm 10 cm 15 cm 20 cm 30 cm

45 26,8 25,6 22,8 21,9 20,8 20,1
46 27,4 26,2 23,3 22,4 21,3 20,6
47 28,0 26,7 23,8 22,9 21,7 21,0
48 28,6 27,3 24,3 23,4 22,2 21,5
49 29,2 27,8 24,7 23,8 22,7 21,9
50 29,8 28,4 25,2 24,3 23,1 22,4
51 30,4 28,9 25,7 24,8 23,6 22,8
52 30,9 29,5 26,2 25,3 24,0 23,3
53 31,5 30 26,7 25,7 24,5 23,7
54 32,1 30,6 27,1 26,2 25,0 24,2
55 32,7 31,2 27,6 26,7 25,4 24,6
56 33,3 31,7 28,1 27,2 25,9 25,1
57 33,9 32,3 28,6 27,6 26,3 25,5
58 34,5 32,8 29,1 28,1 26,8 26,0
59 35,1 33,4 29,6 28,6 27,2 26,4
60 35,7 33,9 30,0 29,1 27,7 26,9
61 36,3 34,5 30,5 29,5 28,2 27,3
62 36,9 35,1 31,0 30,0 28,6 27,8
63 37,5 35,6 31,5 30,5 29,1 28,2
64 38,1 36,2 32,0 31,0 29,5 28,7
65 38,7 36,7 32,5 31,4 30,0 29,1
66 39,3 37,3 32,9 31,9 30,5 29,6
67 39,9 37,8 33,4 32,4 30,9 30,0
68 40,5 38,4 33,9 32,9 31,4 30,5
69 41,1 39,0 34,4 33,3 31,8 30,9
70 41,7 39,5 34,9 33,8 32,3 31,4
71 42,2 40,1 35,4 34,3 32,8 31,8
72 42,8 40,6 35,8 34,8 33,2 32,3
73 43,4 41,2 36,3 35,2 33,7 32,8
74 44,0 41,7 36,8 35,7 34,1 33,2
75 44,6 42,3 37,3 36,2 34,6 33,7
76 45,2 42,9 37,8 36,7 35,0 34,1
77 45,8 43,4 38,3 37,1 35,5 34,6
78 46,4 44,0 38,7 37,6 36,0 35,0
79 47,0 44,5 39,2 38,1 36,4 35,5
80 47,6 45,1 39,7 38,6 36,9 35,9
81 48,2 45,6 40,2 39,0 37,3 36,4
82 48,8 46,2 40,7 39,5 37,8 36,8
83 49,4 46,8 41,2 40,0 38,3 37,3
84 50,0 47,3 41,6 40,5 38,7 37,7
85 50,6 47,9 42,1 40,9 39,2 38,2
Sumber: Pd.T-05-2005-B

197

LLeenndduuttaannFFWWDD ((mmm)m) Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

1,000 82,000
0,900 82,100
0,800 82,200
0,700 82,300
0,600 82,400
0,500 82,500
0,400 82,600
0,300 82,700
0,200 82,800
0,100 82,900
0,000 83,000
83,100
KKmm 83,200
83,300
Lendutan Rata-rata 83,400
83,500
Sumber: Pd.T-05-2005-B 83,600
83,700
Gambar 7.17 Contoh hasil pengukuran lendutan balik 83,800
83,900
7.2.2 Lendutan Balik Segmen 84,000
Segmen adalah bagian dari ruas jalan yang memiliki tingkat keseragaman
nilai lendutan balik. Tingkat keseragaman dikategorikan atas sangat baik,
baik, dan cukup baik yang ditentukan dengan menggunakan Faktor
Keseragaman (FK) seperti pada Rumus 7.6.

FK = s x 100% ............................................... (7.6)
dR

dengan:
FK = faktor keseragaman
dR = lendutan balik rata-rata pada satu segmen jalan

198

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

dR ns

∑d
=1 ........................................................ (7.7)
ns

S = deviasi standar atau simpangan baku

S= ns ns .......................................(7.8)

∑ ∑ns ( d2 ) − ( d)2
11

ns (ns −1)

d = lendutan balik
ns = jumlah data lendutan balik dalam satu segmen.

FK ijin adalah FK yang diijinkan untuk satu segmen jalan, atau nilai FK
yang dapat diterima untuk menunjukkan keseragaman satu segmen
jalan.
Ada 3 kategori tingkat keseragaman yaitu:

1. 0 – 10%, keseragaman sangat baik
2. 11 – 20%, keseragaman baik
3. 21 – 30%, keseragaman cukup baik.

Dwakil adalah nilai lendutan balik yang digunakan untuk menunjukkan
lendutan balik satu segmen jalan dan digunakan untuk perencanaan tebal
lapis tambah. Penentuan Dwakil dipengaruhi oleh fungsi jalan dan tingkat
kepercayaan yang digunakan. Rumus dasar adalah:

Dwakil = dR + K.s ........................................................(7.9)

dengan:
Dwakil = lendutan balik untuk mewakili satu segmen jalan

199

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

dR = lendutan balik rata-rata dari satu segmen jalan
K = konstanta terkait dengan tingkat kepercayaan yang dipilih

sesuai fungsi jalan
K = 2, tingkat kepercayaan 98%, digunakan untuk jalan arteri atau

tol
K = 1,64, tingkat kepercayaan 95%, digunakan untuk jalan kolektor
K = 1,28, tingkat kepercayaan 90%, digunakan untuk jalan lokal.

7.3 Perencanaan Tebal Lapis Tambah Berdasarkan
Metode SNI 1732-1989-F

Perencanaan tebal lapis tambah menggunakan metode SNI 1732-1989-F
hakikatnya sama dengan perencanaan tebal lapis perkerasan jalan baru
yang telah diuraikan pada Bab 5. Tebal lapis tambah diperoleh berdasar-
kan kinerja sisa dari lapis perkerasan jalan lama yang diperoleh sebagai
hasil pemeriksaan visual.
Langkah-langkah perencanaan tebal lapis tambah menggunakan Metode
SNI 1732-1989-B adalah sebagai berikut:
1. Tentukan ITP dengan mengikuti prosedur seperti pada Bab 5.8 sesuai

umur rencana. ITP ini adalah ITP yang dibutuhkan sesuai kondisi
daya dukung tanah dasar.
2. Tentukan ITPsisa dari perkerasan jalan yang akan diberi lapis tambah
dengan menggunakan Rumus 7.10.

ITPsisa = K1.a1D1 + K2.a2D2 + K3.a3D3 ........................... (7.10)

200

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

dengan:
K1 = kondisi lapis permukaan berdasarkan nilai pada Tabel 7.3.
K2 = kondisi lapis pondasi berdasarkan nilai pada Tabel 7.3.
K3 = kondisi lapis pondasi bawah berdasarkan nilai pada

Tabel 7.3.
a1,a2,a3 = koefisien relatif untuk lapis permukaan, pondasi, dan

pondasi bawah (baca juga Bab 5.5)
D1,D2,D3 = tebal lapis permukaan, pondasi, dan pondasi bawah

(baca juga Bab 5.5)
3. Tentukan ∆ ITP dengan menggunakan Rumus 7.11.

∆ ITP = ITP - ITPsisa ................................................(7.11)
4. Tentukan tebal lapis tambah dengan menggunakan Rumus 7.12.

D tambah = ΔITP ................................................(7.12)
a1

7.4 Perencanaan Tebal Lapis Tambah Berdasarkan
Metode Pt T-01-2002-B

Perencanaan tebal lapis tambah menggunakan Metode Pt T-01-2002-B
yang sesuai dengan AASHTO 1993 dapat dilakukan melalui perhitungan
balik (backcalculation) dari nilai lendutan hasil pengukuran dengan FWD
atau menggunakan analisis komponen dari perkerasan jalan lama. Pada
buku ini hanya diuraikan perencanaan tebal lapis tambah menggunakan
analisis komponen.

201

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Tabel 7.3 Nilai Kondisi Perkerasan Jalan Nilai Kondisi
Perkerasan
Keterangan (%)

1. Lapis Permukaan: 90 – 100
70 – 90
a. Umumnya tidak retak, hanya sedikit deformasi
pada lajur roda 50 – 70
30 - 50
b. Terlihat retak halus, sedikit deformasi pada
lajur roda, namun masih tetap stabil 90 – 100
70 - 90
c. Retak sedang, beberapa deformasi pada lajur 50 – 70
roda, pada dasarnya masih menunjukkan ke- 30 – 50
stabilan 70 – 100
80 - 100
d. Retak banyak, demikian juga deformasi pada
lajur roda, menunjukkan gejala ketidak stabil- 90 – 100
an 70 – 90

2. Lapis Pondasi:

a. Pondasi beton aspal atau penetrasi makadam
- umumnya tidak retak
- terlihat retak halus, namun masih tetap stabil
- retak sedang, pada dasarnya masih menun-
jukkan kestabilan
- retak banyak, menunjukkan gejala ketidak
stabilan

b. Stabilisasi tanah dengan semen atau kapur:
Indeks Plastisitas ≤ 10%

c. Pondasi Macadam atau batu pecah
Indeks Plastisitas ≤ 6%

3. Lapis pondasi bawah:

Indeks Plastisitas ≤ 6%
Indeks Plastisitas > 6%
Sumber: SNI 1732-1989-B

202

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

Langkah-langkah perencanaan tebal lapis tambah berdasarkan analisis
komponen yang menggunakan Metode Pt T-01-2002-B adalah sebagai
berikut:
1. Tentukan SN dengan mengikuti prosedur seperti pada Bab 6.1 sesuai

umur rencana. SN ini adalah SN yang dibutuhkan sesuai kondisi daya
dukung tanah dasar.
2. Tentukan SN efektif dari perkerasan jalan yang akan diberi lapis
tambah dengan menggunakan Rumus 7.13.

SNeff = a1’D1’ + a2’ m2D2’ + a3’ m3D3’ ........................(7.13)
dengan:
SN = angka struktural efektif dari perkerasan jalan lama, inci
a1’ = koefisien kekuatan relatif lapis permukaan sesuai kondisi

jalan lama yang diperoleh dari Tabel 7.4
a2’ = koefisien kekuatan relatif lapis pondasi sesuai kondisi

jalan lama yang diperoleh dari Tabel 7.4
a3’ = koefisien kekuatan relatif lapis pondasi bawah sesuai

kondisi jalan lama yang diperoleh dari Tabel 7.4
D1’ = tebal lapis permukaan jalan lama, inci
D2’ = tebal lapis pondasi jalan lama, inci
D3’ = tebal lapis pondasi bawah jalan lama, inci

203

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Tabel 7.4 Koefisien Kekuatan Relatif (a) Jalan Lama *)

Bahan Kondisi Permukaan Koefisien
Kekuatan
Lapis Terdapat sedikit atau sama sekali tidak Relatif (a)
permukaan terdapat retak kulit buaya dan/atau 0,35 – 0,40
beton aspal hanya terdapat retak melintang dengan 0,25 – 0,35
tingkat keparahan rendah.
Lapis 0,20 – 0,30
pondasi < 10% retak kulit buaya dengan tingkat
yang keparahan rendah dan/atau 0,14 – 0,20
distabilisasi
< 5% retak melintang dengan tingkat 0,08 – 0,15
keparahan sedang dan tinggi
0,20 – 0,35
> 10% retak kulit buaya dengan tingkat
keparahan rendah dan/atau

< 10% retak kulit buaya dengan tingkat
keparahan sedang dan/atau 5-10%
retak melintang dengan tingkat
keparahan sedang dan tinggi

> 10% retak kulit buaya dengan tingkat
keparahan sedang dan/atau

< 10% retak kulit buaya dengan tingkat
keparahan tinggi dan/atau > 10% retak
melintang dengan tingkat keparahan
sedang dan tinggi

> 10% retak kulit buaya dengan tingkat
keparahan tinggi dan/atau

> 10% retak melintang dengan tingkat
keparahan tinggi

Terdapat sedikit atau sama sekali tidak
terdapat retak kulit buaya dan/atau
hanya terdapat retak melintang dengan
tingkat keparahan rendah.

204

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

Bahan Kondisi Permukaan Koefisien
Kekuatan
< 10% retak kulit buaya dengan tingkat Relatif (a)
keparahan rendah dan/atau
< 5% retak melintang dengan tingkat 0,15 – 0,25
keparahan sedang dan tinggi.

Lapis > 10% retak kulit buaya dengan tingkat 0,15 – 0,20
pondasi keparahan rendah dan/atau 0,10 – 0,20

yang < 10% retak kulit buaya dengan tingkat
distabilisasi keparahan sedang dan/atau 5-10%
retak melintang dengan tingkat
keparahan sedang dan tinggi.

> 10% retak kulit buaya dengan tingkat
keparahan sedang dan/atau

< 10% retak kulit buaya dengan tingkat
keparahan tinggi dan/atau > 10% retak
melintang dengan tingkat keparahan
sedang dan tinggi.

> 10% retak kulit buaya dengan tingkat 0,08 – 0,15
keparahan tinggi dan/atau

> 10% retak melintang dengan tingkat
keparahan tinggi.

Lapis Tidak ditemukan adanya pumping, de- 0,10 – 0,14
pondasi gradasi, atau kontaminasi oleh butir 0,00 – 0,10
atau lapis halus.
pondasi
bawah Terdapat pumping, degradasi, atau
granular kontaminasi oleh butir halus.

Keterangan:

*) Penilaian dilakukan untuk tiap segmen jalan 100m. Kerusakan yang

terjadi diperbaiki atau dikoreksi, maka nilai kondisi perkerasan jalan
harus disesuaikan. Nilai ini dipergunakan untuk mengkoreksi koefisien
kekuatan relatif perkerasan jalan lama

Sumber: Pt T-01-2002-B

205

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

3. Tentukan SNol yaitu SN yang dibutuhkan untuk tebal lapis tambah
dengan menggunakan Rumus 7.14.

SNol = SN - SNeff ...................................................... (7.14)

4. Tentukan tebal lapis tambah dengan menggunakan Rumus 7.15

Dol = SNol = SN − SNeff ............................................ (7.15)
a ol a ol

dengan:
Dol = tebal lapis tambah dalam inci
aol = koefisien relatif lapis tambah
SNol = SN tebal lapis tambah dalam inci

7.5 Perencanaan Tebal Lapis Tambah Berdasarkan
Metode No.01/MN/B/1983

Perencanaan tebal lapis tambah Metode No.01/MN/B/1983 mengikuti
metode yang dikembangkan oleh Asphalt Institute. Tebal lapis tambah
ditentukan berdasarkan data lendutan balik yang diperoleh dari hasil
pengukuran dengan menggunakan alat benkelman beam (baca juga Bab
7.2).

Langkah-langkah perencanaan tebal lapis tambah menggunakan data
lendutan balik sesuai Metode No.01/MN/B/1983 adalah sebagai berikut:
1. Tentukan AE18ksal dengan menggunakan Rumus 7.16.

AE18KSAL= ∑ LHRi x Ei x DA x DL x 365 x N .......................... (7.16)

Rumus 7.16 ini sama dengan Rumus 4.8, yaitu menghitung repetisi
beban sumbu standar pada lajur rencana selama umur rencana.

206

Dizin Perencanaan Tebal Lapis Tambah

2. Tentukan Dwakil dari segmen sesuai Rumus 7.9.
3. Tentukan lendutan balik yang diizinkan berdasarkan AE18KSAL dengan

menggunakan Gambar 7.18 atau Gambar 7.19. Gambar 7.18
digunakan untuk kondisi kritis, yaitu jika lapis permukaan bukan dibuat
dari beton aspal, sedangkan Gambar 7.19 digunakan untuk kondisi
failure, yaitu jika lapis permukaan dibuat dari beton aspal.

Gambar 7.18 Lendutan balik yang diizinkan berdasarkan kondisi kritis
Rumus 7.17 dapat digunakan untuk menentukan lendutan balik yang
diijinkan (Dizin) untuk kondisi kritis, yaitu jika digunakan lapis permukaan
bukan lapis beton aspal.
Dizin = 5,5942. e-0,2769 log AE18KSAL ................................................ (7.17)

207

Dizin Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Rumus 7.18 dapat digunakan untuk menentukan lendutan balik yang
diijinkan (Dizin) untuk kondisi failure, yaitu jika digunakan beton aspal
sebagai lapis permukaan.
Dizin = 8,6685. e-0,2769 log AE18KSAL . ................................................ (7.18)

Gambar 7.19 Lendutan balik yang diizinkan berdasarkan kondisi failure
4. Tentukan tebal lapis tambah berdasarkan lendutan balik yang diizinkan

dan Dwakil dari kondisi jalan lama dengan menggunakan Gambar 7.20.
Dwakil menunjukkan lendutan balik sebelum diberi lapis tambah, dan
Dizin menunjukkan lendutan balik setelah diberi lapis tambah. Jenis
lapis tambah yang diperoleh adalah jenis beton aspal. Jika hendak
digunakan jenis perkerasan lainnya tebal lapis tambah yang diperoleh
dari Gambar 7.20 dikonversikan dengan menggunakan koefisien relatif
(baca juga Bab 5.5.)

208

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

2,0

Lendutan setelah lapis tambah, mm) 1,5

1,0

0,5 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50
1,00 Lendutan sebelum Lapis Tambah (mm)

Sumber: No.01/MN/B/1983

Gambar 7.20 Hubungan lendutan balik sebelum dan estela diberi lapis tambah

7.6 Perencanaan Tebal Lapis Tambah Berdasarkan
Metode Road Design System (RDS)

Metode RDS ini dikembangkan sejak tahun 1980an dan sebelumnya
dikenal sebagai Hot Rolled Overlay Design (HRODI). Tebal lapis tambah
terdiri dari tebal yang dibutuhkan untuk membentuk bentuk permukaan
kembali dan tebal untuk meningkatkan kinerja struktur perkerasan.
Langkah-langkah perencanaan tebal lapis tambah menggunakan Metode
RDS adalah sebagai berikut:
1. Tentukan RCI dari jalan lama dengan menggunakan alat roughometer

atau secara visual dengan menggunakan Tabel 7.5.
2. Tentukan ESA dengan menggunakan Rumus 7.19

ESA= ∑ LHRi x Ei x DA x DL x 365 x N ........................(7.19)

209

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Rumus 7.19 ini sama dengan Rumus 4.8, yaitu menghitung repetisi
beban sumbu standar pada lajur rencana selama umur rencana.

Tabel 7.5 Nilai RCI secara visual Tipe permukaan yang khas
Kondisi permukaan
Beton aspal yang baru setelah
RCI jalan beraspal ditinjau peningkatan dengan menggunakan
secara visual beberapa lapis
Beton aspal setelah pemakaian
8 -10 Sangat rata dan teratur beberapa tahun atau beton aspal yang
baru diletakkan sebagai lapisan tipis di
7-8 Sangat baik, umumnya atas penetrasi macadam
rata Lapisan tipis lama dari beton aspal,
lasbutag baru.
6 - 7 Baik Penetrasi macadam baru, latasbum
baru, lasbutag setelah pemakaian
5-6 Cukup, sedikit sekali beberapa lama
atau tidak ada lubang-
lubang, tetapi Penetrasi macadam setelah pemakaian
permukaan jalan tidak 2 atau 3 tahun, latasbum baru,
rata pemeliharaan jelek, berkerikil.
Penetrasi macadam lama, latasbum
4–5 Jelek, kadang-kadang lama, pemeliharaan jelek, berkerikil
ada lubang, permukaan Semua tipe perkerasan yang tidak
tidak rata dipelihara sejak lama

3–4 rusak, bergelombang, Jalan tanah dengan drainase jelek, tipe
banyak lubang perkerasan yang tidak dipelihara sama
sekali.
2–3 rusak berat, banyak
lubang dan seluruh
daerah perkerasan
hancur

tidak dapat dilewati
1 kecuali oleh jeep sumbu

ganda

Sumber: CER:04

3. Tentukan Dwakil dari segmen sesuai Rumus 7.9.

210

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

4. Tentukan tebal lapis tambah untuk membentuk kembali bentuk
permukaan yang telah rusak dengan menggunakan Rumus 7.20.
T = 0,001 (9 – RCI)4,5 + Pd. Cam/4 + Tmin ................... (7.20)
dengan:
T = tebal lapis tambah untuk membentuk kembali permukaan
yang telah rusak, cm
Pd = lebar perkerasan dalam meter
RCI = Road Condition Index seperti pada Tabel 7.5 atau hasil
pengukuran dengan alat roughometer
Cam = perubahan kemiringan melintang yang dibutuhkan untuk
menghasilkan kemiringan melintang yang direncanakan
Tmin = tebal minimum lapisan penutup minimal 2 cm, tetapi jika RCI
≥ 5, maka Tmin = 0

5. Tentukan tebal lapis tambah untuk meningkatkan kinerja struktur
perkerasan jalan dengan menggunakan Rumus 7.21.

t = 2,303log Dwakil − 0,048(1− log ESA) ........................... (7.21)
0,08 − 0,013log ESA

dengan:
t = tebal lapis tambah untuk meningkatkan struktur perkerasan

jalan
Dwakil = lendutan balik yang mewakili lendutan balik

sepanjang satu segmen
ESA = repetisi beban lalulintas selama umur rencana
6. Tebal lapis tambah yang dibutuhkan adalah HRS setebal t + T cm.

211

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

7.7 Perencanaan Tebal Lapis Tambah Berdasarkan
Metode Pd T-05-2005-B

Perencanaan tebal lapis tambah Metode Pd T-05-2005-B ditentukan
berdasarkan data lendutan balik yang diperoleh dari hasil pengukuran
dengan menggunakan alat benkelman beam (baca juga Bab 7.2).

Langkah-langkah perencanaan tebal lapis tambah menggunakan data
lendutan balik sesuai Metode Pd T-05-2005-B adalah sebagai berikut:
1. Angka ekivalen dihitung untuk setiap jenis kendaraan dengan terlebih

dahulu dihitung angka ekivalen masing-masing sumbu. Rumus untuk
menghitung angka ekivalen sesuai jenis sumbu seperti pada Rumus
7.22 sampai dengan Rumus 7.25.

Esumbu tunggal roda tunggal = ( beban sumbu tunggal, kg )4 ................ (7.22)
5.400

Esumbu tunggal roda ganda = ( beban sumbu ganda, kg )4 .................. (7.23)
8.160

Esumbu tandem roda ganda = ( beban sumbu tunggal, kg )4 ................ (7.24)
13.760

Esumbu tripel roda ganda = ( beban sumbu ganda, kg )4 .................. (7.25)
18.450

Angka ekivalen untuk berbagai jenis dan beban sumbu dapat dilihat
pada Lampiran 2.

2. Tentukan akumulasi ekivalen beban sumbu standar (Cummulative
Equivalent Single Axleload) dengan menggunakan Rumus 7.26.

i=n LHRi x 365 x Ei x Ci x N ............................... (7.26)
∑CESA =
i =1

212

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

dengan:

CESA = akumulasi ekivalen beban sumbu standar selama umur
rencana, lss/ur/lajur
LHRi
= LHR jenis kendaraan i di awal umur rencana,
Ei ditentukan dengan menggunakan Rumus 5.3.
Ci
365 = angka ekivalen untuk jenis kendaraan i
= koefisien distribusi jenis kendaraan i

= lama hari dalam satu tahun

N = faktor umur rencana, seperti pada Tabel 4.10 atau
menggunakan Rumus 4.10.

Rumus 7.24 ini memiliki pengertian yang sama dengan Rumus 4.8;
Rumus 4.9; dan Rumus 7.16, hanya saja beberapa parameter meng-
gunakan simbul yang berbeda.

3. Hitunglah lendutan balik rencana atau lendutan balik izin dengan
menggunakan Rumus 7.27 atau Gambar 7.21.
Drencana = 22,208 x CESA(-0,2307) ........................................... (7.27)
dengan:

Drencana = lendutan balik rencana dimana lendutan diukur dengan
menggunakan alat benkelman beam.

4. Hitung tebal lapis tambah (H0) dengan menggunakan Rumus 7.28 atau
Gambar 7.22.

H0 = [Ln(1,0364) + Ln(Dsblov ) − Ln(Dstlov )] .............................. (7.28)
0,0597

213

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

dengan:
Ho = tebal lapis tambah sebelum dikoreksi dengan temperatur

rata-rata tahunan di lokasi jalan, dalam satuan cm.
Dsblov = lendutan balik sebelum lapis tambah, = Dwakil pada Bab 7.2,

dalam satuan mm..
Dstlov = lendutan balik setelah lapis tambah, = lendutan balik

rencana = lendutan balik izin, dalam satuan mm.

Sumber: Pd T-05-2005-B

Gambar 7.21 Hubungan antara lendutan balik rencana dan CESA
5. Hitung faktor koreksi lapis tambah akibat perbedaan teperatur lokasi

jalan dengan temperatur standar dengan menggunakan Rumus 7.29
atau Gambar 7.23.

Fo = 0,5032 x Exp(0,0194 x TPRT) ............................ (7.29)
dengan:
Fo = faktor koreksi tebal lapis tambah
TPRT = Temperatur Perkerasan Rata-rata Tahunan untuk

daerah atau kota tertentu

214

Perencanaan Tebal Lapis Tambah

Sumber: Pd T-05-2005-B

Gambar 7.22 Hubungan antara lendutan balik sebelum dan setelah lapis tambah

Sumber: Pd T-05-2005-B

Gambar 7.23 Faktor koreksi tebal lapis tambah (Fo)

215

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

6. Hitung tebal lapis tambah terkoreksi (Ht) dengan mengalikan Ho
dengan faktor koreksi lapis tambah Fo seperti Rumus 7.30.

Ht = Ho x Fo ........................................................... (7.30)

7. Koreksi tebal lapis tambah jika jenis lapis tambah yang digunakan
tidak lapis beton aspal dengan modulus resilient (MR) = 2000 Mpa dan
stabilitas Marshall minimum 800 kg dengan menggunakan Rumus
7.31, Tabel 7.6, atau Gambar 7.24.
FKTBL = 12,51 x MR-0,333 .......................................... (7.31)

Sumber: Pd T-05-2005-B

Gambar 7.24 Faktor koreksi tebal lapis tambah penyesuaian jenis lapisan

Tabel 7.6 Faktor Koreksi Penyesuaian Jenis Lapis Tambah (FKTBL)

Jenis Lapisan Modulus Stabilitas FKTBL
Resilient, MPa Marshall, kg

Laston Modifikasi 3000 min 1000 0,85

Laston 2000 min 800 1,00

Lataston 1000 min 800 1,23

Sumber: Pd T-05-2005-B

216

Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

1. AASHTO, 1972, AASHTO Interim Guide for Design of Pavement
Structures.

2. AASHTO, 1993, AASHTO Guide for Design of Pavement Structures.
3. AASHTO, 1990, Standard Spesifications for Transportation Materials

and Methods of Sampling and Testing.
4. AASHTO Subcommittee on Highway Transport, 2004, Engineering

Issues Related to Trucking – Pavements.
5. ……., Traffic Monitoring Guide.
6. Bian, Yi, Subgrade under the Pavement, Term Project for ECI281A.
7. Branley D, 2002, Falling Weight Deflectometers, University of Illinois

at Urbana.
8. California Department of Transportation, 2001, Flexible Pavement

Rehabilitation Manual.
9. Croney, D & Croney P., 1991, The Design And Performance Of Road

Pavements, Second Edition, McGraw-Hill International Edition.
10. Departemen Pekerjaan Umum, Cara Uji CBR Dengan Dynamic Cone

Penetrometer (DCP).
11. Departemen Pekerjaan Umum Badan Pembinaan Konstruksi dan

Sumber Daya Manusia Pusat Pembinaan Kompetensi dan pelatihan
Konstruksi, CER:04, Standar Desain Jalan.
12. Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian dan Pengem-
bangan, Pusat Litbang Jalan Dan Jembatan, 2007, Spesifikasi Umum
Bidang Jalan Dan Jembatan.

217

Perkerasan Lentur Jalan Raya

13. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga,
Manual Pemeriksaan Perkerasan Jalan Dengan Alat Benkelman Beam
No. 01/MN/BM/83.

14. Departemen Pekerjaan Umum, Petunjuk Perencanaan Tebal Perke-
rasan Lentur Jalan Raya Dengan Metode Analisa Komponen, SKBI
2.3.26.1987, UDC:625.73(02).

15. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Pedoman Peren-
canaan Tebal Perkerasan Lentur, Pt T-01-2002-B.

16. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Pedoman Peren-
canaan Tebal Lapis Tambah Perkerasan Lentur Dengan Metode
Lendutan, Pd T-05-2005-B.

17. Harman Thomas, 2001, 2002 Pavement Design, US Department of
Transportation, Federal Highway Administration.

18. Janisch,David, 2003, An Overview of Mn/DOT’s Pavement Condition
Rating Procedures and Indices.

19. Japan Road Association, 1980, “Manual for Design and Construction
of Asphalt Pavement”.

20. Krebs, R and Walker R, 1971, Highway Materials, McGraw-Hill Book
Company, New York.

21. LTRC, Research Project 03-3P, 2003, Comparative Evaluation of
Subgrade Resilient Modulus from Non-destructive, In-situ, and
Laboratory Methods.

22. Monsere Chris, Portland State University, CE 454 Urban Trans-
portation System, Introduction to Pavement Design.

23. Olidis, C & Hein, D, Guide for the Mechanistic-Empirical Design of
New and Rehabilitated Pavement Structures, Material Charac-

218

Daftar Pustaka

terization, 2004 Annual Conference of the Transportation Asso-ciation
of Canada, Quebec.
24. Peraturan Pemerintah No.43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu
lintas Jalan.
25. Purnomo, 2005, Manajemen Pembangunan Jalan.
26. Rao S, Weigh-In Motion (WIM) Detectors, 2002.
27. Rohan Perera, Effect of variation of simulation speed of quarter car
ini the IRI algorithm, Pymouth, Michigan.
28. Seeds,SB, 1999, Flexible Pavement Design, Summary of the State of
the Art.
29. SNI 03-1738-1989, Metode Pengujian CBR Lapangan.
30. SNI 03-2416-1991, Metode Pengujian Lendutan Perkerasan Lentur
Dengan Alat Benkelman Beam.
31. Suaryana N. & Anggodo Y, Kajian Metoda Perencanaan Tebal Lapis
Tambah Perkerasan Lentur, Puslitbang Jalan Dan jembatan,
Bandung.
32. Sukirman S., 1999, Perkerasan Lentur Jalan Raya, Nova, Bandung.
33. Sukirman S., 2003, Beton Aspal Campuran Panas, Granit, Jakarta.
34. Sukirman S., 2006, Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur, Institut
Teknologi Nasional,Bandung.
35. TRRL, Road Note No.40, A Guide to The Measurement Of Axle Loads
In Developing Countries Using A Portable Weighbridge.
36. Tutumluer, R. & Dawson, A., 2004, Resilient Characterization of
Compacted Aggregate
37. Undang-Undang Republik Indonesia No.38 Tahun 2004 tentang Jalan

219

Perkerasan Lentur Jalan Raya

38. Undang-Undang Republik Indonesia No.22 Tahun 2009 tentang
Lalulintas Dan Angkutan Jalan

39. Washington State Department of Transportation, 1995, WSDOT
Pavement Guide, Volume 2, Pavement Notes, For Design, Evaluation
and Rehabilitation.

40. Wright, PH and Dixon K, 2004, Highway Engineering, John Wiley &
Sons Pte,Ltd, Singapore

41. Witczak, M.W., 2001, Design of New and Rehabilitated AC Pavement
Design Structures, Scandinavian Seminar Series.

42. Wu, Z, 2007, Structural Overlay Design Using NDT Methods,
Louisiana Transportation Research Center.

43. http://www.pages.drexel.edu/hsuanyg/classnote%.
44. http://www.pages.drexel.edu/hsuanyg/classnote2
45. http://www.mapc.org/transportation/Highway_Design_Guidelines
46. http://www.vhb.com/mhdGuide
47. http://cobweb.ecn.purdue.edu/~spave
48. http://pas.ce.wsu.edu/CE473
49. http://www.u.arizona.edu/~mhickman/CE363
50. http://www.cecs.pdx.edu
51. http://www.engr.psu.edu/ce/Academics
52. http://www2.et.byu.edu/~msaito/CE361MS

220

Lampiran 1, Tabel Angka Ekivalen Berdasarkan AASHTO’93

LAMPIRAN 1

Angka ekivalen Berdasarkan AASHTO’93
Dilengkapi dengan nilai angka ekivalen berdasarkan

SNI 1732-1989-F dan Pd.T-05-2005-B

Tabel L 1.1 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tunggal, IPt = 2,0

Beban 1 Angka Struktural (SN)1) 6 SNI Pd.T-05-
Sumbu 2345 1732- 2005-B3)
0,0002 1989-
kips ton 0,002 Roda
0,01 F2) ganda
2 0,9 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,03 0,0001 0,0001
0,002 0,002 0,002 0,08 0,002 0,002
4 1,8 0,002 0,003 0,01 0,01 0,01 0,17 0,01
0,04 0,03 0,03 0,33 0,04 0,01
6 2,7 0,01 0,01 0,09 0,08 0,08 0,60 0,09 0,04
0,19 0,18 0,17 1,00 0,19 0,09
8 3,6 0,03 0,04 0,35 0,35 0,34 1,60 0,38 0,19
0,61 0,61 0,60 2,41 0,64 0,38
10 4,5 0,08 0,08 1,00 1,00 1,00 3,51 1,00 0,64
1,56 1,55 1,57 4,96 1,55 1,00
12 5,4 0,16 0,18 2,35 2,31 2,35 6,83 2,26 1,55
3,43 3,33 3,40 3,18 2,26
14 6,4 0,32 0,34 4,88 4,68 4,77 9,2 4,37 3,18
6,78 6,42 6,52 12,1 5,87 4,37
16 7,3 0,59 0,60 15,6 7,72 5,87
9,2 8,7 8,7 19,9 9,97 7,72
18 8,2 1,00 1,00 12,4 11,5 11,5 25,1 12,69 9,97
16,3 15,0 14,9 31,3 15,92 12,69
20 9,1 1,61 1,59 21,2 19,3 19,0 38,5 19,74 15,92
27,1 24,6 24,0 47,1 24,21 19,74
22 10,0 2,49 2,44 34,3 30,9 30,0 57,0 29,39 24,21
43,0 38,6 37,2 68,6 35,37 29,39
24 10,9 3,71 3,62 53,4 47,6 45,7 82,0 42,22 35,37
65,6 58,3 55,7 50,01 42,22
26 11,8 5,36 5,21 80,0 70,9 67,3 58,84 50,01
97,0 86,0 81,0 58,84
28 12,7 7,54 7,31

30 13,6 10,4 10,0

32 14,5 14,0 13,5

34 15,4 18,6 17,9

36 16,3 24,2 23,3

38 17,2 31,1 30,0

40 18,1 39,6 38,0

42 19,0 49,7 47,7

44 19,9 61,8 59,3

46 20,8 76,1 73,0

48 21,7 92,9 89,1

50 22,6 113,0 108,0

1) Sumber: AASHTO’93
2) menggunakan Rumus 5.1
3) menggunakan Rumus 7.23

221

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Tabel L 1.2 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tandem, IPt = 2,0

Beban 1 Angka Struktural (SN)1) 6 SNI Pd.T-05-
sumbu 2 345 1732- 2005-B3)
0,0000 1989-
kips ton 0,0002 0,00002
0,001 F2) 0,0003
2 0,9 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,002 0,00001 0,001
0,0003 0,0002 0,0002 0,006 0,0002 0,005
4 1,8 0,0003 0,0003 0,001 0,001 0,001 0,012 0,001 0,011
0,003 0,003 0,003 0,023 0,003 0,024
6 2,7 0,001 0,001 0,008 0,007 0,006 0,040 0,008 0,047
0,016 0,014 0,013 0,066 0,016 0,079
8 3,6 0,003 0,003 0,029 0,026 0,024 0,105 0,033 0,126
0,050 0,046 0,042 0,158 0,055 0,191
10 4,5 0,007 0,008 0,081 0,075 0,069 0,231 0,088 0,279
0,124 0,117 0,109 0,329 0,133 0,394
12 5,4 0,013 0,016 0,183 0,174 0,164 0,455 0,194 0,541
0,260 0,252 0,239 0,617 0,274 0,726
14 6,4 0,024 0,029 0,360 0,353 0,338 0,819 0,376 0,954
0,487 0,481 0,466 0,505 1,233
16 7,3 0,041 0,048 0,646 0,643 0,627 1,07 0,664
0,843 0,842 0,829 1,38 0,857 1,57
18 8,2 0,066 0,077 1,74 1,97
1,08 1,08 1,08 2,18 1,09 2,44
20 9,1 0,103 0,117 1,38 1,38 1,38 2,70 1,37 2,99
1,73 1,72 1,73 3,31 1,70 3,64
22 10,0 0,156 0,171 2,15 2,13 2,16 4,02 2,08 4,37
2,64 2,62 2,66 4,83 2,53 5,22
24 10,9 0,227 0,244 3,23 3,18 3,24 5,77 3,04 6,19
3,92 3,83 3,91 6,83 3,63 7,28
26 11,8 0,322 0,340 4,72 4,58 4,68 8,03 4,30 9,25
5,64 5,44 5,56 9,4 5,06 9,25
28 12,7 0,447 0,465 6,71 6,43 6,56 10,9 6,44 10,90
7,93 7,55 7,69 12,6 6,44 12,75
30 13,6 0,607 0,623 9,3 8,8 9,0 14,5 7,58 14,82
10,9 10,3 10,4 16,6 8,86 17,15
32 14,5 0,810 0,823 12,7 11,9 12,0 18,9 10,31 19,73
14,7 13,7 13,8 11,92 22,59
34 15,4 1,06 1,07 17,0 15,8 15,8 13,72
19,6 18,0 18,0 15,71
36 16,3 1,38 1,38

38 17,2 1,76 1,75

40 18,1 2,22 2,19

42 19,1 2,77 2,73

44 20 3,42 3,36

46 21 4,20 4,11

48 22 5,10 4,98

50 23 6,15 5,99

52 24 7,37 7,16

54 24 8,77 8,51

56 25 10,4 10,1

58 26 12,2 11,8

60 27 14,3 13,8

62 28 16,6 16,0

64 29 19,3 18,6

66 30 22,2 21,4

1)Sumber: AASHTO’93
2) menggunakan Rumus 5.2
3) menggunakan Rumus 7.24

222

Lampiran 1, Tabel Angka Ekivalen Berdasarkan AASHTO’93

Tabel L 1.3 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tridem, IPt = 2,0

Beban 1 Angka Struktural (SN)1) 6 Pd.T-05-
sumbu 2345 0,0000 2005-B2)
0,0001
kips ton 0,0003 0,00001
0,0007 0,00009
2 0,9 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,001
0,003 0,00
4 1,8 0,0001 0,0001 0,0001 0,0001 0,0001 0,005 0,00
0,009 0,00
6 2,7 0,0004 0,0004 0,0003 0,0003 0,0003 0,015 0,01
0,023 0,01
8 3,6 0,0009 0,0010 0,0009 0,0008 0,0007 0,034 0,02
0,048 0,04
10 4,5 0,002 0,002 0,002 0,002 0,002 0,068 0,06
0,094 0,09
12 5,4 0,004 0,004 0,004 0,003 0,003 0,126 0,12
0,167 0,17
14 6,4 0,006 0,007 0,007 0,006 0,006 0,217 0,22
0,279 0,30
16 7,3 0,010 0,012 0,012 0,010 0,009 0,353 0,38
0,443 0,49
18 8,2 0,016 0,019 0,019 0,017 0,015 0,548 0,61
0,673 0,76
20 9,1 0,024 0,029 0,029 0,026 0,024 0,818 0,93
0,987 1,12
22 10,0 0,034 0,042 0,042 0,038 0,035 1,18 1,35
1,40 1,62
24 10,9 0,049 0,058 0,060 0,055 0,051 1,66 1,91
1,94 2,25
26 11,8 0,068 0,080 0,083 0,077 0,071 2,27 2,86
2,63 2,86
28 12,7 0,093 0,107 0,113 0,105 0,098 3,04 3,37
3,49 3,94
30 13,6 0,125 0,140 0,149 0,140 0,131 3,99 4,59
5,30
32 14,5 0,164 0,182 0,194 0,184 0,173 6,10
6,99
34 15,4 0,213 0,233 0,248 0,238 0,225

36 16,3 0,273 0,294 0,313 0,303 0,288

38 17,2 0,346 0,368 0,390 0,381 0,364

40 18,1 0,434 0,456 0,481 0,473 0,454

42 19,1 0,538 0,560 0,587 0,580 0,561

44 20 0,662 0,682 0,710 0,705 0,686

46 21 0,807 0,825 0,852 0,849 0,831

48 22 0,976 0,992 1,015 1,014 0,999

50 23 1,17 1,18 1,20 1,20 1,19

52 24 1,40 1,40 1,42 1,42 1,41

54 24 1,66 1,66 1,66 1,66 1,66

56 25 1,95 1,95 1,93 1,93 1,94

58 26 2,29 2,27 2,24 2,23 2,25

60 27 2,67 2,64 2,59 2,57 2,60

62 28 3,10 3,06 2,98 2,95 2,99

64 29 3,59 3,53 3,41 3,37 3,42

66 30 4,13 4,05 3,89 3,83 3,90

1)Sumber: AASHTO’93
2) menggunakan Rumus 7.25

223

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Tabel L 1.4 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tunggal, IPt = 2,5

Beban 1 Angka Struktural (SN)1) 6 SNI Pd.T-05-
sumbu 23 4 5 1732- 2005-B3)
0,0002 1989-
kips Ton 0,002 Roda
0,01 F2) ganda
2 0,9 0,0004 0,0004 0,0003 0,0002 0,0002 0,03 0,0001 0,0001
0,004 0,003 0,003 0,08 0,002 0,002
4 1,8 0,003 0,004 0,02 0,01 0,01 0,18 0,01
0,05 0,04 0,03 0,34 0,04 0,01
6 2,7 0,01 0,02 0,10 0,09 0,61 0,09 0,04
0,1 0,21 0,19 1,00 0,19 0,09
8 3,6 0,03 0,05 0,18 0,39 0,36 1,55 0,38 0,19
0,35 0,65 0,62 2,30 0,64 0,38
10 4,5 0,08 0,10 0,61 1,00 1,00 3,27 1,00 0,64
1,00 1,47 1,51 4,48 1,55 1,00
12 5,4 0,17 0,20 1,55 2,09 2,18 5,98 2,26 1,55
2,28 2,89 3,03 3,18 2,26
14 6,4 0,33 0,36 3,23 3,91 4,09 7,8 4,37 3,18
4,42 5,21 5,39 10,0 5,87 4,37
16 7,3 0,59 0,61 5,92 6,97 12,5 7,72 5,87
7,9 6,8 15,5 9,97 7,72
18 8,2 1,00 1,00 10,5 8,8 8,9 19,0 12,69 9,97
13,7 11,3 11,2 23,0 15,92 12,69
20 9,1 1,61 1,57 17,7 14,4 13,9 27,7 19,74 15,92
22,6 18,1 17,2 33,1 24,21 19,74
22 10,0 2,48 2,38 28,5 22,5 21,1 39,3 29,39 24,21
35,6 27,8 25,6 46,5 35,37 29,39
24 10,9 3,69 3,49 44,0 34,0 31,0 55,0 42,22 35,37
54,0 41,4 37,2 50,01 42,22
26 11,8 5,33 4,99 65,7 50,1 44,5 58,84 50,01
79,0 60,0 53,0 58,84
28 12,7 7,49 6,98

30 13,6 10,3 9,5

32 14,5 13,9 12,8

34 15,4 18,4 16,9

36 16,3 24,0 22,0

38 17,2 30,9 28,3

40 18,1 39,3 35,9

42 19,0 49,3 45,0

44 19,9 61,3 55,9

46 20,8 75,5 68,8

48 21,7 92,2 83,9

50 22,6 112,0 102,0

1)Sumber: AASHTO’93
2) menggunakan Rumus 5.1
3) menggunakan Rumus 7.23

224

Lampiran 1, Tabel Angka Ekivalen Berdasarkan AASHTO’93

Tabel L 1.5 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tandem, IPt = 2,5

Beban 1 Angka Struktural (SN)1) 6 SNI Pd.T-05-
sumbu 234 5 1732- 2005-B3)
0,0000 1989-
kips ton 0,0002 0,00002
0,001 F2) 0,0003
2 0,9 0,0001 0,0001 0,0001 0,0000 0,0000 0,003 0,00001 0,001
0,0004 0,0003 0,0003 0,006 0,0002 0,005
4 1,8 0,0005 0,0005 0,002 0,001 0,001 0,013 0,001 0,011
0,005 0,004 0,003 0,024 0,003 0,024
6 2,7 0,002 0,002 0,011 0,009 0,007 0,043 0,008 0,047
0,023 0,018 0,014 0,070 0,016 0,079
8 3,6 0,004 0,006 0,042 0,033 0,027 0,110 0,033 0,126
0,070 0,057 0,047 0,166 0,055 0,191
10 4,5 0,008 0,013 0,109 0,092 0,077 0,242 0,088 0,279
0,162 0,141 0,121 0,342 0,133 0,394
12 5,4 0,015 0,024 0,229 0,207 0,180 0,470 0,194 0,541
0,315 0,292 0,260 0,633 0,274 0,726
14 6,4 0,026 0,041 0,420 0,401 0,364 0,834 0,376 0,954
0,548 0,534 0,495 0,505 1,233
16 7,3 0,044 0,065 0,703 0,695 0,658 1,08 0,664
0,889 0,887 0,857 1,38 0,857 1,57
18 8,2 0,070 0,097 1,73 1,97
1,11 1,11 1,09 2,14 1,09 2,44
20 9,1 0,107 0,141 1,38 1,38 1,38 2,61 1,37 2,99
1,69 1,68 1,70 3,16 1,70 3,64
22 10,0 0,160 0,198 2,06 2,03 2,08 3,79 2,08 4,37
2,49 2,43 2,51 4,49 2,53 5,22
24 10,9 0,231 0,273 2,99 2,88 3,00 5,28 3,04 6,19
3,58 3,40 3,55 6,17 3,63 7,28
26 11,8 0,327 0,370 4,25 3,98 4,17 7,15 4,30 9,25
5,03 4,64 4,86 8,2 5,06 9,25
28 12,7 0,451 0,493 5,93 5,38 5,63 9,4 6,44 10,90
6,95 6,22 6,47 10,7 6,44 12,75
30 13,6 0,611 0,648 8,1 7,2 7,4 12,1 7,58 14,82
9,4 8,2 8,4 13,7 8,86 17,15
32 14,5 0,813 0,843 10,9 9,4 9,6 15,4 10,31 19,73
12,6 10,7 10,8 11,92 22,59
34 15,4 1,06 1,08 14,5 12,2 12,2 13,72
16,6 13,8 13,7 15,71
36 16,3 1,38 1,38

38 17,2 1,76 1,73

40 18,1 2,21 2,16

42 19,1 2,76 2,67

44 20 3,41 3,27

46 21 4,18 3,98

48 22 5,08 4,80

50 23 6,12 5,76

52 24 7,33 6,87

54 24 8,72 8,14

56 25 10,3 9,6

58 26 12,1 11,3

60 27 14,2 13,1

62 28 16,5 15,3

64 29 19,1 17,6

66 30 22,1 20,3

1)Sumber: AASHTO’93
2) menggunakan Rumus 5.2
3) menggunakan Rumus 7.24

225

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Tabel L1.6 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tridem, IPt = 2,5

Beban 1 Angka Struktural (SN)1) 6 Pd.T-05-
sumbu 2345 0,0000 2005-B2)
0,0001
kips ton 0,0003 0,00001
0,001 0,00009
2 0,9 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,002
0,003 0,00
4 1,8 0,0002 0,0002 0,0002 0,0001 0,0001 0,006 0,00
0,010 0,00
6 2,7 0,0006 0,0007 0,0005 0,0004 0,0003 0,016 0,01
0,024 0,01
8 3,6 0,001 0,002 0,001 0,001 0,001 0,036 0,02
0,051 0,04
10 4,5 0,003 0,004 0,003 0,002 0,002 0,072 0,06
0,099 0,09
12 5,4 0,005 0,007 0,006 0,004 0,003 0,133 0,12
0,175 0,17
14 6,4 0,008 0,012 0,010 0,008 0,006 0,228 0,22
0,292 0,30
16 7,3 0,012 0,019 0,018 0,013 0,011 0,368 0,38
0,459 0,49
18 8,2 0,018 0,029 0,028 0,021 0,017 0,567 0,61
0,692 0,76
20 9,1 0,027 0,042 0,042 0,032 0,027 0,838 0,93
1,005 1,12
22 10,0 0,038 0,058 0,060 0,048 0,040 1,20 1,35
1,41 1,62
24 10,9 0,053 0,078 0,084 0,068 0,057 1,66 1,91
1,93 2,25
26 11,8 0,072 0,103 0,114 0,095 0,080 2,24 2,86
2,58 2,86
28 12,7 0,098 0,133 0,151 0,128 0,109 2,95 3,37
3,36 3,94
30 13,6 0,129 0,169 0,195 0,170 0,145 3,81 4,59
5,30
32 14,5 0,169 0,213 0,247 0,220 0,191 6,10
6,99
34 15,4 0,219 0,266 0,308 0,281 0,246

36 16,3 0,279 0,329 0,379 0,352 0,313

38 17,2 0,352 0,403 0,461 0,436 0,393

40 18,1 0,439 0,491 0,554 0,533 0,487

42 19,1 0,543 0,594 0,661 0,644 0,597

44 20 0,666 0,714 0,781 0,769 0,723

46 21 0,811 0,854 0,918 0,911 0,868

48 22 0,979 1,015 1,072 1,069 1,033

50 23 1,17 1,20 1,24 1,25 1,22

52 24 1,40 1,41 1,44 1,44 1,43

54 24 1,66 1,66 1,66 1,66 1,66

56 25 1,95 1,93 1,90 1,90 1,91

58 26 2,29 2,25 2,17 2,16 2,20

60 27 2,67 2,60 2,48 2,44 2,51

62 28 3,09 3,00 2,82 2,76 2,85

64 29 3,57 3,44 3,19 3,10 3,22

66 30 4,11 3,94 3,61 3,47 3,62

1)Sumber: AASHTO’93
2) menggunakan Rumus 7.25

226

Lampiran 1, Tabel Angka Ekivalen Berdasarkan AASHTO’93

Tabel L1.7 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tunggal, IPt = 3,0

Beban 1 Angka Struktural (SN)1) 6 SNI Pd.T-05-
sumbu 2345 1732- 2005-B3)
kips ton 0,0002 1989-
0,002 Roda
2 0,9 0,0008 0,0009 0,0006 0,0003 0,0002 0,010 F2) ganda
0,006 0,004 0,002 0,034 0,0001 0,0001
4 1,8 0,004 0,008 0,028 0,018 0,012 0,086 0,002 0,002
0,080 0,055 0,040 0,187 0,01
6 2,7 0,014 0,030 0,168 0,132 0,101 0,358 0,04 0,01
0,296 0,260 0,212 0,622 0,09 0,04
8 3,6 0,035 0,070 0,468 0,447 0,391 1,00 0,19 0,09
0,695 0,693 0,651 1,51 0,38 0,19
10 4,5 0,082 0,132 1,00 1,00 1,00 2,16 0,64 0,38
1,41 1,38 1,44 2,96 1,00 0,64
12 5,4 0,173 0,231 1,96 1,83 1,97 1,55 1,00
2,69 2,39 2,60 3,91 2,26 1,55
14 6,4 0,332 0,388 5,00 3,18 2,26
3,65 3,08 3,33 6,3 4,37 3,18
16 7,3 0,594 0,633 4,88 3,93 4,17 7,7 5,87 4,37
6,5 5,0 5,1 9,3 7,72 5,87
18 8,2 1,00 1,00 8,4 6,2 6,3 11,0 9,97 7,72
10,9 7,8 7,6 13,0 12,69 9,97
20 9,1 1,60 1,53 14,0 9,7 9,1 15,3 15,92 12,69
17,7 11,9 11,0 17,8 19,74 15,92
22 10,0 2,47 2,29 22,2 14,6 13,1 20,6 24,21 19,74
27,6 17,8 15,5 23,8 29,39 24,21
24 10,9 3,67 3,33 34,0 21,6 18,4 27,4 35,37 29,39
41,5 26,1 21,6 32,0 42,22 35,37
26 11,8 5,29 4,72 50,3 31,3 25,4 50,01 42,22
61,0 37,0 30,0 58,84 50,01
28 12,7 7,43 6,56 58,84

30 13,6 10,2 8,9

32 14,5 13,8 12,0

34 15,4 18,2 15,7

36 16,3 23,8 20,4

38 17,2 30,6 26,2

40 18,1 38,8 33,2

42 19,0 48,8 41,6

44 19,9 60,6 51,6

46 20,8 74,7 63,4

48 21,7 91,2 77,3

50 22,6 110,0 94,0

1)Sumber: AASHTO’93
2) menggunakan Rumus 5.1
3) menggunakan Rumus 7.23

227

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Tabel L1.8 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tandem, IPt = 3,0

Beban 1 Angka Struktural (AS)1) 6 SNI Pd.T-
sumbu 2345 1732- 05-
0,0000 1989- 2005-
kips ton 0,000 B3)
0,001 F2) 0,00002
2 0,9 0,0002 0,00002 0,0001 0,0001 0,0000 0,003 0,00001 0,0003
0,001 0,000 0,000 0,007 0,0002 0,001
4 1,8 0,001 0,0003 0,003 0,002 0,001 0,014 0,001 0,005
0,009 0,005 0,003 0,026 0,003 0,011
6 2,7 0,003 0,001 0,020 0,012 0,008 0,046 0,008 0,024
0,039 0,024 0,017 0,076 0,016 0,047
8 3,6 0,006 0,005 0,068 0,045 0,032 0,119 0,033 0,079
0,109 0,076 0,055 0,178 0,055 0,126
10 4,5 0,011 0,011 0,164 0,121 0,090 0,257 0,088 0,191
0,232 0,182 0,139 0,360 0,133 0,279
12 5,4 0,019 0,024 0,313 0,260 0,205 0,492 0,194 0,394
0,407 0,368 0,292 0,656 0,274 0,541
14 6,4 0,031 0,047 0,517 0,476 0,402 0,855 0,376 0,726
0,643 0,614 0,538 1,09 0,505 0,954
16 7,3 0,049 0,079 0,788 0,773 0,702 1,38 0,664 1,233
0,956 0,953 0,896 1,70 0,857 1,57
18 8,2 0,075 0,126 1,15 1,15 1,12 2,08 1,97
1,38 1,38 1,38 2,50 1,09 2,44
20 9,1 0,113 0,191 1,64 1,62 1,66 2,97 1,37 2,99
1,94 1,89 1,98 3,50 1,70 3,64
22 10,0 0,166 0,279 2,29 2,19 2,33 4,07 2,08 4,37
2,70 2,52 2,71 4,70 2,53 5,22
24 10,9 0,238 0,394 3,16 2,89 3,13 5,37 3,04 6,19
3,70 3,29 3,57 6,10 3,63 7,28
26 11,8 0,333 0,541 4,31 3,74 4,05 4,30 9,25
5,01 4,24 4,57 6,9 5,06 9,25
28 12,7 0,457 0,726 5,81 4,79 5,13 7,7 6,44 10,90
8,6 6,44 12,75
30 13,6 0,616 0,954 6,7 5,4 5,7 9,5 7,58 14,82
7,7 6,1 6,4 10,5 8,86 17,15
32 14,5 0,817 1,233 8,9 6,8 7,1 11,6 10,31 19,73
10,2 7,7 7,8 11,92 22,59
34 15,4 1,07 1,57 11,6 8,6 8,6 13,72
13,2 9,6 9,5 15,71
36 16,3 1,38 1,97

38 17,2 1,75 2,44

40 18,1 2,21 2,99

42 19,1 2,75 3,64

44 20 3,39 4,37

46 21 4,15 5,22

48 22 5,04 6,19

50 23 6,08 7,28

52 24 7,27 9,25

54 24 8,65 9,25

56 25 10,2 10,90

58 26 12,0 12,75

60 27 14,1 14,82

62 28 16,3 17,15

64 29 18,9 19,73

66 30 21,8 22,59

1)Sumber: AASHTO’93
2) menggunakan Rumus 5.2
3) menggunakan Rumus 7.24

228

Lampiran 1, Tabel Angka Ekivalen Berdasarkan AASHTO’93

Tabel L1.9 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tridem, IPt = 3,0

Beban Angka Struktural (AS)1) Pd.T-05-
sumbu 2005-B2)
kips ton 1 2 3 4 5 6
0,0001 0,0001 0,0001 0,0000 0,0000 0,0000 0,00001
2 0,9 0,0001 0,00009
0,000
4 1,8 0,0005 0,0004 0,0003 0,0002 0,0001 0,001 0,00
0,002 0,00
6 2,7 0,001 0,001 0,001 0,001 0,000 0,003 0,00
0,006 0,01
8 3,6 0,003 0,004 0,002 0,001 0,001 0,010 0,01
0,017 0,02
10 4,5 0,005 0,008 0,005 0,003 0,002 0,026 0,04
0,039 0,06
12 5,4 0,007 0,014 0,010 0,006 0,004 0,056 0,09
0,078 0,12
14 6,4 0,011 0,023 0,018 0,011 0,007 0,107 0,17
0,143 0,22
16 7,3 0,016 0,035 0,030 0,018 0,013 0,188 0,30
0,243 0,38
18 8,2 0,022 0,050 0,047 0,029 0,020 0,310 0,49
0,389 0,61
20 9,1 0,031 0,069 0,069 0,044 0,031 0,483 0,76
0,593 0,93
22 10,0 0,043 0,090 0,097 0,065 0,046 0,720 1,12
0,865 1,35
24 10,9 0,059 0,116 0,132 0,092 0,066 1,030 1,62
1,22 1,91
26 11,8 0,079 0,145 0,174 0,126 0,092 1,43 2,25
1,66 2,86
28 12,7 0,104 0,179 0,223 0,168 0,126 1,91 2,86
2,20 3,37
30 13,6 0,136 0,218 0,279 0,219 0,167 2,50 3,94
2,84 4,59
32 14,5 0,176 0,265 0,342 0,279 0,218 3,19 5,30
3,58 6,10
34 15,4 0,226 0,319 0,413 0,350 0,279 6,99

36 16,3 0,286 0,382 0,491 0,432 0,352

38 17,2 0,359 0,456 0,577 0,524 0,437

40 18,1 0,447 0,543 0,671 0,626 0,536

42 19,1 0,550 0,643 0,775 0,740 0,649

44 20 0,673 0,760 0,889 0,865 0,777

46 21 0,817 0,894 1,014 1,001 0,920

48 22 0,984 1,048 1,152 1,148 1,080

50 23 1,18 1,23 1,30 1,31 1,26

52 24 1,40 1,43 1,47 1,48 1,45

54 24 1,66 1,66 1,66 1,66 1,66

56 25 1,95 1,92 1,86 1,85 1,88

58 26 2,28 2,21 2,09 2,06 2,13

60 27 2,66 2,54 2,34 2,28 2,39

62 28 3,08 2,92 2,61 2,52 2,66

64 29 3,56 3,33 2,92 2,77 2,96

66 30 4,09 3,79 3,25 3,04 3,27

1)Sumber: AASHTO’93
2) menggunakan Rumus 7.25

229

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

LAMPIRAN 2

Angka ekivalen Berdasarkan SNI 1732-1989-F
DAN

Pd.T-05-2005-B

230

Lampiran 2 Angka ekivalen Berdasarkan SNI 1732-1989-F Dan Pd.T-05-2005-B

LAMPIRAN 2

Angka ekivalen Berdasarkan
SNI 1732-1989-F DAN Pd.T-05-2005-B

Tabel L 2.1 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tunggal Roda Tunggal

Beban SNI 1732- Pd.T-05- Beban SNI 1732- Pd.T-05-
Sumbu, 1989-F1) 2005-B2) Sumbu, 1989-F1) 2005-B2)

ton ton

1 0,0002 0,0012 9 1,48 7,72

2 0,0036 0,0188 10 2,26 11,76

3 0,02 0,10 11 3,30 17,22

4 0,06 0,30 12 4,68 24,39

5 0,14 0,74 13 6,44 33,59

6 0,29 1,52 14 8,66 45,18

7 0,54 2,82 15 11,42 59,54

8 0,92 4,82 16 14,78 77,07
1) menggunakan Rumus 5.1
2) menggunakan Rumus 7.22

Tabel L 2.2 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tunggal Roda Ganda

Beban SNI 1732- Pd.T-05- Beban SNI 1732- Pd.T-05-
Sumbu, 1989-F1) 2005-B2) Sumbu, 1989-F1) 2005-B2)

ton ton

1 0,0002 0,0002 16 14,78 14,78

2 0,0036 0,0036 17 18,84 18,84

3 0,02 0,02 18 23,68 23,68

4 0,06 0,06 19 29,39 29,39

5 0,14 0,14 20 36,09 36,09

6 0,29 0,29 21 43,86 43,86

7 0,54 0,54 22 52,84 52,84

8 0,92 0,92 23 63,12 63,12

9 1,48 1,48 24 74,83 74,83

10 2,26 2,26 25 88,10 88,10

11 3,30 3,30 26 103,07 103,07

12 4,68 4,68 27 119,87 119,87

13 6,44 6,44 28 138,63 138,63

14 8,66 8,66 29 159,53 159,53

15 11,42 11,42 30 182,69 182,69
1) menggunakan Rumus 5.1
2) menggunakan Rumus 7.23

231

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Tabel L 2.3 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Ganda Roda Ganda

Beban SNI 1732- Pd.T-05- Beban SNI 1732- Pd.T-05-
Sumbu, 1989-F1) 2005-B2) Sumbu, 1989-F1) 2005-B2)

ton ton

1 0,00002 0,00003 16 1,27 1,83

2 0,00031 0,0004 17 1,62 2,33

3 0,00 0,00 18 2,04 2,93

4 0,00 0,01 19 2,53 3,64

5 0,01 0,02 20 3,10 4,46

6 0,03 0,04 21 3,77 5,43

7 0,05 0,07 22 4,54 6,53

8 0,08 0,11 23 5,43 7,81

9 0,13 0,18 24 6,44 9,25

10 0,19 0,28 25 7,58 10,90

11 0,28 0,41 26 8,86 12,75

12 0,40 0,58 27 10,31 14,82

13 0,55 0,80 28 11,92 17,15

14 0,75 1,07 29 13,72 19,73

15 0,98 1,41 30 15,71 22,59

1) menggunakan Rumus 5.2
2) menggunakan Rumus 7.24

Tabel L 2.4 Nilai Angka Ekivalen Untuk Sumbu Tripel Roda Ganda

Beban SNI 1732- Pd.T-05- Beban SNI 1732- Pd.T-05-
Sumbu, 1989-F1) 2005-B2) Sumbu, 1989-F1) 2005-B2)

ton ton

1 0,00001 16 0,57

2 0,00014 17 0,72

3 0,00 18 0,91

4 0,00 19 1,12

5 0,01 20 1,38

6 0,01 21 1,68

7 tidak ada 0,02 22 tidak ada 2,02
8 pedoman 0,04 23 pedoman 2,42
9 untuk itu 0,06 24 untuk itu 2,86

10 0,09 25 3,37

11 0,13 26 3,94

12 0,18 27 4,59

13 0,25 28 5,30

14 0,33 29 6,10

15 0,44 30 6,99

1) tidak ada
2) menggunakan Rumus 7.25

232

Lampiran 3 Daftar Rumus

LAMPIRAN 3

Daftar Rumus

Bab 2 Jenis dan Fungsi Lapisan Perkerasan Jalan halaman

Rumus 2.1 : D15pondasi ≥ 5 ..................................................27
D15tanahdasar

Rumus 2.2 : D15pondasi < 5 .................................................27
D85tanah dasar

Bab 3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perencanaan
Tebal Perkerasan

Rumus 3.1 : a= P ................................................................37


Rumus 3.2 : F1 = G l2/l ............................................................39
Rumus 3.3 : F2 = G l1/l .............................................................39
Rumus 3.4 : F1 = 0,0A G dan F2 = 0,0B G ..................................39
Rumus 3.5 : LHRT = Jumlah kendaraan dalam1 tahun ........ ..........46

365
Rumus 3.6 : LHR = Jumlah kendaraan selama pengamatan .............47

jumlah hari pengamatan

Rumus 3.7 : Q = ∑ LHRi x DA x DL .............................................54
Rumus 3.8 : Q = ∑ LHRTi x DA x DL ...........................................54
Rumus 3.9 : Q = ∑ LHRTi x Ci ..................................................54

233

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Rumus 3.10 : Q = ∑ LHRi x Ci ................................................ 54

Rumus 3.11 : CBRttk pengamatan = ( h1 3 CBR1 + .........h n 3 CBR n )3 ..... 62
h

Rumus 3.12 : CBRsegmen = CBRrata-rata – K.S ................................. 64
Rumus 3.13 : CBRsegmen = CBRrata-rata -(CBRmaks-CBRmin)/R ............. 64

Rumus 3.14 : DN = D ............................................................... 69
N

Rumus 3.15 : Log10 (CBR) = 2,8135 – 1,313 Log10 DN ................. 73
Rumus 3.16 : Log10 (CBR) = 1,352 – 1,125 Log10 DN .................... 73

Rumus 3.17 : MR = σd .......................................................... 75
εr

Rumus 3.18 : MR = 1500 (CBR), MR dalam psi ............................. 77
Rumus 3.19 : MR = 2555 (CBR)0,64, MR dalam psi .......................... 77
Rumus 3.20 : IP = (5) e(-0,18) (IRI)) .............................................................................

94

Rumus 3.21 : IP = (5) e(-0,26) (IRI)) .......................................................................

94

Rumus 3.22 : IP = 5,697 – (2,104)√IRI ...................................... 94

Rumus 3.23 : f = F/L ............................................................... 95

Rumus 3.24 : SN atau FN = 100 (F/L) ......................................... 95

234

Lampiran 3 Daftar Rumus

BAB 4 Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO

Rumus 4.1 : log W18 = 9,36 log (SN + 1) – 0,20 +

Gt + log R + 0,372 (S – 3,0) .........106

0,40 + 1094
(SN + 1)5,19

Rumus 4.2 : Gt = log (4,2 − pt ) .............................................106
(4,2 −1,5)

Rumus 4.3 : SN = a1D1 + a2D2 + a3D3 ......................................106

Wx ⎡ L18 + L 2s ⎤ 4,79 ⎡ 10G/β x ⎤
W18 ⎢ Lx + L 2x ⎥ ⎢⎣10G/β18 ⎥
[ ]Rumus 4.4: ⎣ ⎦ ⎦ 4,33 .......................111
= L 2x

Rumus 4.5 : βx = 0,4 + 0,081(Lx + L2x )3,23 ..................................112
(SN + 1)5,19 L2x3,23

Rumus 4.6 : Ekendaraan = Σ Esumbu ................................................117

∑Rumus 4.7 : E sumbu = fiEi ...............................................118
∑fi

Rumus 4.8 : W18 = ∑ LHRi x Ei x DA x DL x 365 x N ....................121
Rumus 4.9 : W18 = ∑ LHRTi x Ei x DA x DL x 365 x N ..................121
Rumus 4.10 : N = [(1+ r)n −1] ....................................................122

r
Rumus 4.11 : .........................................................................Wt
= (wt)(FR) 127
Rumus 4.12 : FR = 10−ZR (S0 ) .........................................................128

235

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Rumus 4.13 : log (W18) = ZR x S0 + 9,36 x log (SN + 1) – 0,20 +

log[ ΔPSI ]
4.2 −1.5
1094 + 2,32 x log (MR) – 8,07 .......... 132
(SN + 1)5,19
0,40 +

Rumus 4.14 : SN = a1D1 + a2 m2D2 + a3 m3D3 ............................ 133

Rumus 4.15 : a2 = 0,249 (log EBS) – 0,977 .................................. 135

Rumus 4.16 : a3 = 0,227 (log ESB) – 0,839 .................................. 136

Rumus 4.17 : D*1 ≥ SN1 ........................................................... 138
a1

Rumus 4.18 : SN1* = a1. D*1 ≥ SN1 ............................................ 138

Rumus 4.19 : D*2 ≥ SN2 − SN1* ................................................... 138
a 2.m2

Rumus 4.20 : SN*2 = a2. m2 D*2 ................................................... 138

Rumus 4.21 : SN1* + SN*2 ≥ SN2 .................................................. 138

Rumus 4.22 : D*3 ≥ SN 3 − (SN1* + SN * ) .................................... 139
2

a 3m3

Bab 5 Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode SNI 1732-
1989-F

Rumus 5.1 : Esumbu tunggal = ( beban sumbu tunggal, kg )4 ............... 142
8.160

Rumus 5.2 : Esumbu ganda = 0,086 ( beban sumbu ganda, kg )4 ........ 142
8.160

Rumus 5.3 : LHR awal umur rencana = (1+a) n. LHRs ............... 143

236

Lampiran 3 Daftar Rumus

i=n

∑Rumus 5.4 : LEP = LHRi x Ei x Ci .........................................145
i =1

i=n

∑Rumus 5.5 : LEP = LHRTi x Ei x Ci .......................................145
i =1

Rumus 5.6 : LEA = LEP (1+i)UR ...............................................146

Rumus 5.7 : LER = ( LEP + LEA ) x FP .......................................146
2

Rumus 5.8 : DDT = 4,3 log CBR + 1,7 ......................................147

Rumus 5.9 : log (LERx 3650) = 9,36 log ( ITP + 1) – 0,20 +
2,54

Gt + log( 1 ) + 0,372 (DDT–3,0) .. .151
0,40 + 1094 FR

( ITP + 1)5,19
2,54

Rumus 5.10 : ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3 .....................................152

Bab 6 Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode Pt T-01-
2002-B

Rumus 6.1 : Esumbu tunggal roda tunggal = ( beban sumbu tunggal,kN )4 ....174
53 kN

Rumus 6.2 : Rbertahap = (Rseluruh)1/n...............................................176

Bab 7 Perencanaan Tebal Lapis Tambah
Rumus 7.1 : d = 2 x (d3 – d1) x Ft x Ca x FKB-BB ...........................193
Rumus 7.2 : Ft = 4,184 x TL-0,4025, untuk HL < 10 cm ..................196

237

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur

Rumus 7.3 : Ft = 14,785 x TL-0,7573, untuk HL ≥ 10cm ................ 196
Rumus 7.4 : TL = 1/3 (Tp +Tt + Tb) ......................................... 196
Rumus 7.5 : FKB-BB = 77,343 x (beban uji dalam ton)(-2,0715) ...... 196

Rumus 7.6 : FK = s x 100% ................................................ 198
dR

Rumus 7.7 : dR = ns ............................................................ 199

∑d
1

ns

Rumus 7.8 : S= ns ns ....................................... 199

∑ ∑ns ( d2 ) − ( d)2
11
ns (ns −1)

Rumus 7.9 : Dwakil = dR + K.s ................................................... 199

Rumus 7.10 : ITPsisa = K1.a1D1 + K2.a2D2 + K3.a3D3 ..................... 200

Rumus 7.11 : ∆ ITP = ITP - ITPsisa ............................................ 201

Rumus 7.12 : D tambah = ΔITP ............................................. 202
a1

Rumus 7.13 : SNeff = a1’D1’ + a2’ m2D2’ + a3’ m3D3’ ................... 203

Rumus 7.14 : SNol = SN - SNeff ................................................. 206

Rumus 7.15 : Dol = SNol = SN − SNeff ........................................ 206
a ol a ol

Rumus 7.16 : AE18KSAL= ∑ LHRi x Ei x DA x DL x 365 x N ........... 206
Rumus 7.17 : Dizin = 5,5942. e-0,2769 log AE18KSAL .............................. 207

238

Lampiran 3 Daftar Rumus

Rumus 7.18 : Dizin = 8,6685. e-0,2769 log AE18KSAL ...............................208
Rumus 7.19 : ESA= ∑ LHRi x Ei x DA x DL x 365 x N .....................209
Rumus 7.20 : T = 0,001 (9 – RCI)4,5 + Pd. Cam/4 + Tmin ..............211
Rumus 7.21 : t = 2,303log Dwakil − 0,048(1− log ESA) ......................211

0,08 − 0,013log ESA

Rumus 7.22 : Esumbu tunggal roda tunggal = ( beban sumbu tunggal, kg )4 .....212
5.400

Rumus 7.23 : Esumbu tunggal roda ganda = ( beban sumbu ganda,kg )4 ........212
8.160

Rumus 7.24 : Esumbu tandem roda ganda = ( beban sumbu tunggal, kg )4 .....212
13.760

Rumus 7.25 : Esumbu tripel roda ganda = ( beban sumbu ganda, kg )4 ..........212
18.450

i=n

∑Rumus 7.26 : CESA= LHRi x 365 x Ei x Ci x N .........................212
i =1

Rumus 7.27 : Drencana = 22,208 x CESA(-0,2307) ................................213

Rumus 7.28 : H0 = [Ln(1,0364) + Ln(Dsblov ) − Ln(Dstlov )] ..................213
0,0597

Rumus 7.29 : Fo = 0,5032 x Exp(0,0194 x TPRT) .................................214
Rumus 7.30 : Ht = Ho x Fo ..........................................................216
Rumus 7.31 : FKTBL = 12,51 x MR-0,333 ...........................................216

239


Click to View FlipBook Version