Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur
Gambar 3.27a menggambarkan ketidak rataan muka jalan dilihat dari
arah memanjang jalan. Gelombang jalan yang memberikan rasa tidak
nyaman kepada pengguna jalan dibedakan atas:
1. gelombang dengan amplitudo rendah tetapi frekwensi tinggi (A)
2. gelombang dengan amplitudo tinggi tetapi frekwensi rendah (B)
3. gelombang yang terjadi bersamaan antara kondisi A dan B
Gambar 3.27b menggambarkan ketidak rataan muka jalan dalam arah
melintang. Alur atau rutting yang terjadi pada lintasan roda kendaraan
sering terjadi di akhir umur pelayanan jalan atau disebabkan kurangnya
stabilitas perkerasan jalan dalam memikul beban kendaraan.
Kekasaran muka jalan diukur dengan menggunakan alat seperti rougho-
meter atau profilometer.
B Amplitudo tinggi
A Gelombang dengan Tekstur kasar
menyebabkan
frekuensi tinggi, “bising”
amplitudo rendah
a. Bentuk ketidaknyamanan dilihat dari arah memanjang jalan
b. Bentuk ketidaknyamanan dilihat dari arah melintang jalan
Gambar 3.27 Bentuk ketidaknyamanan mengemudi
90
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perencanaan Tebal Perkerasan
International Roughness Index (IRI)
IRI adalah parameter penunjuk kekasaran (roughness) jalan untuk arah
profil memanjang atau longitudinal jalan. Satuan IRI adalah m/km atau
mm/m. Di samping IRI dikenal pula average rectified slope (ARS) yaitu
perbandingan antara nilai kumulatip gerakan vertikal dari sumbu bela-
kang roda tunggal kendaraan dengan jarak yang dinyatakan dalam
mm/km. IRI adalah ARS dikalikan 1000.
Alat yang digunakan untuk mengukur IRI dipasang pada sumbu belakang
mobil standar yang bergerak dengan kecepatan tertentu sesuai dengan
metode yang digunakan. Gerakan vertikal sumbu belakang kendaraan
pengamat di sepanjang jalan yang diamati, dicatat oleh komputer.
Salah satu alat pengukur kekasaran muka jalan digambarkan seperti pada
Gambar 3.28.
Measured Body Mass IRI
Profile
Susp Spring
and Damper
Axle Mass
Tire Spring
Sumber: Perera
Gambar 3.28 Mobil pengukur kekasaran muka jalan
91
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur
Pengukuran kekasaran muka jalan di Indonesia menggunakan alat
roughometer NAASRA yang dipasang pada kendaraan standar DATSUN
1500 Station Wagon, dengan kecepatan ± 32 km/jam[DPU,1987].
Jenis lapis permukaan yang dipilih menentukan tingkat kenyamanan
pengguna jalan. Di awal masa pelayanan jalan dengan lapis permukaan
beton aspal memiliki nilai IRI yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis
lapis permukaan lainnya.
3.5.2 Indeks Permukaan (Serviceability Index)
Kinerja struktur perkerasan jalan untuk menerima beban dan melayani
arus lalulintas secara empiris dinyatakan dengan Indeks Permukaan (IP).
IP diadopsi dari AASHTO yaitu Serviceability Index, merupakan skala
penilaian kinerja struktur perkerasan jalan yang memiliki rentang antara
angka 1 sampai dengan 5 seperti pada Gambar 3.29.
Indeks Fungsi Pelayanan
Permukaan
sangat baik
(IP) baik
5 cukup
buruk
4 sangat buruk
3
2
1
Gambar 3.29 Skala nilai IP sesuai AASHTO
92
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perencanaan Tebal Perkerasan
Angka 5 menunjukkan fungsi pelayanan yang sangat baik, dan angka 1
menunjukkan fungsi pelayanan sangat buruk.
Dari hasil penelitian AASHTO diperoleh persentase responden yang dapat
menerima kinerja struktur perkerasan jalan untuk setiap nilai IP seperti
pada Tabel 3.11.
Tabel 3.11 Nilai IP & Persentase Responden Yang Menerima
IP Persentase rensponden Persentase responden
yang menerima yang tidak menerima
4,5 100 % 0%
4,0 100% 0%
3,5 95% 0%
3,0 55% 10%
2,5 17% 50%
2,0 3% 84%
1,5 0% 100%
Sumber: WSDOT
Sekitar 50% menerima IP = 3,0 dan menolak atau tidak menerima IP =
2,5. Nilai inilah yang diambil menjadi nilai IP diakhir umur rencana
(terminal serviceability index) dan nilai IP > 4,0 diambil menjadi nilai di
awal umur rencana (initial serviceability index) untuk perencanaan tebal
perkerasan jalan.
Sayers et al [WSDOT] mencatat bahwa batasan IRI (diukur dengan kece-
patan 80 km/jam) yang diterima dan ditolak seperti pada Tabel 3.12.
IRI = 4 m/km setara dengan IP = 2,4. Mobil penumpang lebih mampu
beradaptasi dengan kekasaran atau gelombang jalan daripada truk. IRI
yang dapat diterima pada jalan yang banyak dilalui oleh kendaraan truk
93
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur
adalah antara 3,0 – 4,0 setara dengan IP 2,4 – 2,9. IRI pada awal masa
pelayanan yang dapat diterima kurang dari 2 m/km
Tabel 3.12 Nilai IRI dan Responden Yang Menerimanya
IRI m/km Responden
1,3 – 1,8 menerima
4,0 – 5,3 Tidak menerima
Sumber: WSDOT
Korelasi antara IP dan IRI
Korelasi antara IP dan IRI terdapat dalam berbagai variasi. Pater-
son[WSDOT], 1987, memberikan korelasi seperti pada Rumus 3.20 berda-
sarkan data dari Texas, Pennsylvania, Afrika Selatan, dan Brasilia. Al-
Omari and Darter[WSDOT], 1992, memberikan korelasi seperti pada Rumus
3.21berdasarkan data dari Indiana, Lousiana, Michigan, Mexico, dan
Ohio. Janisch[Janisch], 1997, memberikan korelasi seperti pada Rumus 3.22.
a. Paterson: IP = (5) e(-0,18) (IRI)) ............................. (3.20)
b. Al-Omari dan Darter: IP = (5) e(-0,26) (IRI)) ............................. (3.21)
c. Janisch: IP = 5,697 – (2,104)√IRI ................... (3.22)
dengan:
IP = Indeks Permukaan atau Serviceability Index
IRI = International Rougness Index (mm/m; m/km)
Perlu penelitian tentang korelasi antara IRI dan IP di Indonesia yang
disesuaikan dengan alat pengukur IRI yang digunakan.
94
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perencanaan Tebal Perkerasan
3.5.3 Tahanan Gelincir (Skid Resistance)
Tahanan gelincir adalah gaya yang dihasilkan antara muka jalan dan ban
untuk mengimbangi majunya gerak kendaraan jika dilakukan pengerem-
an. Berbagai cara digunakan untuk menyatakan besarnya tahanan gelin-
cir seperti koefisien gesek, dan angka gelincir (skid number=SN).
Koefisien gesek adalah perbandingan antara tahanan gesek yang timbul
antara ban dan muka jalan dengan gaya atau beban tegak lurus
permukaan seperti dinyatakan dengan Rumus 3.23.
f = F/L .................................................... (3.23)
dengan:
f = koefisien gesek
F = tahanan gesek antara ban dan muka jalan
L = gaya atau beban tegak lurus muka jalan
Angka gelincir (SN) atau disebut juga angka gesek (friction number =FN)
adalah koefisen gesek dikalikan 100.
Jadi: SN atau FN = 100 (F/L) ....................................... (3.24)
Gesekan terjadi antara roda kendaraan dan muka jalan, oleh karena itu
besarnya tahanan gesek dipengaruhi oleh 2 faktor utama yaitu roda
kendaraan dan muka jalan. Gesekan dari roda kendaraan dipengaruhi
oleh adhesi antara ban dan muka jalan. Besarnya gesekan ditentukan
oleh kondisi ban (ukuran, tekanan dan bunga), kecepatan kendaraan,
tekstur permukaan jalan, dan adanya lapisan air di antara ban dan muka
jalan. Gambar 3.30 menggambarkan bentuk tekstur mikro dan makro dari
muka jalan.
95
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur
Permukaan Tekstur mikro Tekstur makro
jalan kasar (harsh) kasar (rough)
licin (polished) kasar (rough)
kasar (harsh) rata (smooth)
licin (polished) rata (smooth)
Gambar 3.30 Tekstur permukaan jalan
Tahanan gelincir diukur dengan menggunakan alat seperti Mu-meter atau
British portable tester.
Pemilihan jenis lapis permukaan perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca
dan bentuk geometrik jalan sehingga jalan memiliki tahanan gelincir yang
baik dan kendaraan tidak mudah selip. Di samping itu sistem drainase
jalan yang baik mengurangi dampak adanya lapisan air antara muka jalan
dan roda kendaraan sehingga tahanan gelincir atau gesekan antara muka
jalan dan roda kendaraan meningkat.
96
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
BAB 4
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur
Metode AASHTO
Metode perencanaan tebal perkerasan lentur dibedakan atas:
1. metode pendekatan empiris, metode ini dikembangkan berdasarkan
pengujian dan pengukuran dari jalan-jalan yang dibuat khusus untuk
penelitian.
2. metode pendekatan mekanistik – empirik (mechanistic – empirical
design), metode ini dikembangkan berdasarkan sifat tegangan dan
regangan pada lapisan perkerasan akibat beban berulang dari lalu-
lintas.
Metode yang umum digunakan di Indonesia sampai saat ini adalah
metode yang merujuk kepada metode pendekatan empirik yang dikem-
bangkan pertama kali oleh American Association of State Highway
Officials (AASHO). AASHO berdiri November 1914 dan karena perkem-
bangan yang terjadi dalam dunia transportasi, maka pada tahun 1973
AASHO berubah menjadi American Association of State Highway and
Transportation Officials (AASHTO). Dalam buku ini selanjutnya AASHO
ataupun AASHTO disebut dengan AASHTO.
97
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
4.1. Jalan Percobaan AASHTO
Indonesia menggunakan metode AASHTO sebagai acuan dalam menyu-
sun standar perencanaan tebal perkerasan lentur. Untuk memahami
standar perencanaan itu dengan baik perlu dipahami tentang metode
AASHTO dan penelitian yang dilakukan pada jalan percobaannya. Hasil
penelitian pada jalan percobaan yang dilaksanakan pada tahun 1958 –
1960 di Ottawa, Illinois, merupakan cikal bakal metode AASHTO yang
berkembang sampai dengan saat ini.
Jalan percobaan terletak di daerah dengan temperatur rata - rata 76oF
(25oC) di bulan Juli, dan 27oF (-3oC) di bulan Januari, terdiri dari 6 loop.
Masing-masing loop berbentuk seperti pada Gambar 4.1.
Test Tangent Prestressed
Flexible Concrete
Steel I- Rigid
Beam Test Tangent
Loop 5
Sumber:WSDOT
Gambar 4.1 Bentuk loop jalan percobaan AASHTO
4.1.1 Struktur Jalan Percobaan
Struktur perkerasan dari masing-masing loop memiliki variasi tebal
lapisan dimana lapis permukaan adalah beton aspal, lapis pondasi dan
pondasi bawah dibuat dari batu pecah.
98
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Lapis permukaan
Lapis permukaan terdiri dari lapis beton aspal yang tebalnya bervariasi
antara 2,5 cm sampai dengan 10 cm. Beton aspal dibuat dari agregat
kasar yang berasal dari batu kapur, pasir kasar dari siliceous, bahan
pengisi dari abu batu kapur, dan aspal berpenetrasi 85-100[WSDOT].
Gradasi yang digunakan seperti Tabel 4.1 dan karakteristik benda uji
seperti pada Tabel 4.2.
Tabel 4.1 Gradasi Agregat Lapis Beton Aspal
Saringan No. Spesifikasi untuk Lapis Spesifikasi untuk Lapis
Permukaan (surface Pengikat (binder
course) course)
100
1 inci 88 - 100
55 - 86
¾ inci 100 45 - 72
31 - 50
½ inci 86 - 100 19 - 35
12 - 26
3/8 inci 70 - 90 7 - 20
4 - 12
No.4 45 - 70
No.10 30 - 52
No.20 22 - 40
No.40 16 - 30
No.80 9 - 19
Sumber:WSDOT
Tabel 4.2 Karakteristik Benda Uji Beton Aspal
Spesifikasi untuk Spesifikasi untuk
Lapis Pengikat
Keterangan Lapis Permukaan (binder course)
(surface course) 50
Jumlah pukulan benda uji 50 4,4%
Kadar aspal 5,4% 7,7%
VIM 7,7%
Sumber:WSDOT
99
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Lapis pondasi (base course)
Lapisan pondasi jalan percobaan dibuat dari dolomitic limestone dengan
gradasi seperti pada Tabel 4.3. Nilai CBR rata-rata lapis pondasi
berdasarkan pengujian laboratorium adalah 107,7%. Nilai CBR minimum
spesifikasi adalah 75%[WSDOT].
Lapis pondasi bawah (subbase course)
Lapis pondasi bawah jalan percobaan dibuat dari dolomitic limestone
dengan gradasi seperti pada Tabel 4.4. CBR tidak diperkenankan lebih
dari 60%. Lapis pondasi bawah jalan percobaan memiliki CBR antara 28
– 51%, dengan berat volume kering lapangan antara 139 – 141 lb/ft3,
dan kadar air antara 6,1 – 6,8%[WSDOT].
Tabel 4.3 Gradasi Agregat Lapis Pondasi
Saringan No. Spesifikasi untuk Rata-rata persen
Lapisan Pondasi lolos pada setiap
(base course) loop
1½ inci 100 100
90
1 inci 80 – 100 81
68
¾ inci 70 – 90 48
35
½ inci 60 – 80 20
13,5
No.4 40 – 80 10
No.10 28 – 46
No.40 16 – 33
No.100 7 – 20
No.200 3 – 12
Sumber:WSDOT
100
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Tabel 4.4 Gradasi Agregat Lapis Pondasi Bawah
Saringan No. Spesifikasi untuk Lapisan Rata-rata persen lolos
Pondasi Bawah pada setiap loop
(subbase course)
100
1½ inci 100 100
96
1 inci 95 - 100 90
71
¾ inci 90 - 100 52
25
½ inci 80 - 100 6,5
No.4 55 - 100
No.10 40 - 80
No.40 10 - 30
No.200 5-9
Sumber:WSDOT
Lapis Tanah Dasar (Subgrade)
Lapis tanah dasar dibangun dari tanah jenis A-6 setebal 1 meter.
Karakteristik tanah dasar (subgrade) adalah[WSDOT]:
- Batas cair = 31%
- Indeks plastis = 16%
- Persen lolos no 200 = 82%
- Berat volume kering = 119 lb/ft3
- Kadar air optimum rata-rata = 13% + 0,8%.
- Nilai CBR rata-rata = 2,9%
- Nilai CBR terletak antara rentang 1,9 – 3,5%
- rata-rata persen kompaksi = 98,5% (AASHO T99)
Setiap loop dari jalan percobaan dibangun dengan 3 variasi tebal perke-
rasan seperti pada Tabel 4.5.
101
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Tabel 4.5 Tebal Perkerasan Untuk Setiap Loop
Nomor Lapis Lapis Pondasi (inci) Lapis Pondasi Bawah
Loop Permukaan (inci)
(inci) 0
8
10 16
0
13 6 4
5 0
4
10 8
4
22 3 8
12
36 4
8
20 12
8
33 3 12
16
46
30
44 3
56
33
54 6
59
43
65 6
69
Sumber:WSDOT
4.1.2 Penelitian di Jalan Percobaan
Keenam loop digunakan untuk meneliti berbagai hal yang berbeda, yaitu
Loop 1, tidak dilalui oleh kendaraan tetapi hanya digunakan untuk
meneliti efek dari kondisi lingkungan dan iklim. Loop 2 sampai dengan
loop 6 digunakan untuk meneliti kinerja struktur perkerasan akibat beban
lalulintas berbagai jenis kendaraan. Setiap loop, kecuali loop 1 digunakan
untuk satu kelompok jenis kendaraan sesuai dengan konfigurasi dan
beban sumbunya seperti pada Tabel 4.6.
102
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Tabel 4.6 Beban Sumbu &Jenis Kendaraan Pada Jalan Percobaan
Berat dalam Kips Total
ton
Loop lajur Sumbu Sumbu Total
depan belakang
2 2 4 1,8
2 6 8 3,6
Sumber:WSDOT 4 12 28 12,7
6 24 54 24
6 18 42 19,1
9 32 73 33
6 22,4 50,8 23
9 40 89 41
9 30 69 32
12 48 108 49
103
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Loop 4 digunakan untuk penelitian kinerja perkerasan akibat beban
sumbu standar 18.000 lbs dan loop 6 untuk penelitian akibat beban
kendaraan terberat.
Penelitian dilakukan antara November 1958 sampai dengan Juni 1960
pada 332 seksi jalan percobaan. Kinerja struktur perkerasan diamati
akibat beban sumbu dan tebal perkerasan yang berbeda. Pada penelitian
dihitung pula jumlah beban yang melewati seksi percobaan sampai
kinerja struktur perkerasan mencapai IP = 1,5[WSDOT].
Dari hasil penelitian penurunan kinerja perkerasan akibat beban lalulintas,
perbedaan tebal perkerasan, jenis kendaraan dan iklim, diperoleh rumus
empiris yang diharapkan dapat dikembangkan untuk keadaan yang
berbeda dengan jalan percobaan seperti:
1. perbedaan daya dukung tanah dasar
2. lalulintas campuran dari berbagai jenis kendaraan dan beban sumbu
3. perbedaan iklim dan kondisi lingkungan
4. perbedaan jenis dan tebal perkerasan jalan
5. modifikasi dari 2 tahun pengamatan menjadi umur rencana 20 tahun.
4.1.3 Perkembangan Metode AASHTO
Metode empiris yang dikembangkan AASHTO telah mengalami
perkembangan sebanyak 5 versi yaitu:
1. 1959 – Guidelines
2. 1962 – Interim Guide
3. 1972 – Revision of Guide (Blue Manual) and NCHRP Report 128
4. 1986 – New Guide
5. 1993 – New Part III, Chapter 5 (overlay design) and other minor
revisions
104
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengujian maka
AASHTO mulai mengembangkan metode berbasis mekanistik – empirik.
4.2 Metode AASHTO 1972
Rumus empiris yang dikembangkan sampai dengan 1972 meng-
gambarkan bahwa tebal perkerasan jalan dipengaruhi oleh beban
lalulintas, daya dukung tanah dasar, indeks permukaan yang direnca-
nakan pada akhir umur rencana, dan faktor lingkungan atau kondisi
regional. Indeks permukaan pada awal umur rencana bernilai konstan
sebesar 4,2.
Jadi : SN = f(Wt, pt , S,R)
dengan :
SN = Structural Number, adalah angka yang menunjukkan
nilai struktur perkerasan jalan
Wt = repetisi beban sumbu standar 18.000 pon selama umur
rencana (ESAL = Equivalent Single Axle Load selama
umur rencana)
S = daya dukung tanah dasar, korelasi dari nilai CBR
R = faktor lingkungan, sesuai kondisi iklim
pt = terminal serviceability index, yaitu nilai serviceablity
index yang direncanakan di akhir umur rencana. Dua
nilai yang disediakan dalam Metode AASHTO 1972,
yaitu 2 dan 2,5.
105
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Rumus Dasar AASHTO 1972
Dari pengukuran dan analisis data yang dilaksanakan pada jalan
percobaan di Ottawa, Illionois diperoleh rumus dasar yang menggambar-
kan hubungan antara repetisi beban, daya dukung tanah dasar, kondisi
regional, serviceability index di awal dan akhir umur rencana seperti pada
Rumus 4.1 sampai dengan Rumus 4.3.
log W18 = 9,36 log (SN + 1) – 0,20 + Gt +
0,40 + 1094
(SN + 1)5,19
log R + 0,372 (S – 3,0) . .......................................... (4.1)
Gt = log (4,2 − pt ) ..................................................... (4.2)
(4,2 −1,5)
SN = a1D1 + a2D2 + a3D3 ............................................... (4.3)
dengan:
W18 = repetisi 18,000 ESAL selama umur rencana
SN = Structural Number
R = Regional Factor (faktor regional)
S = Soil Support Scale (daya dukung tanah dasar)
pt = terminal serviceability index (indeks permukaan) di akhir umur
rencana
D1,2,3 = tebal (inci) dari lapis permukaan, pondasi, dan pondasi bawah
a1,2,3 = koefisien kekuatan relatif lapis permukaan, pondasi, dan
pondasi bawah
106
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Metode AASHO 1972 menyediakan 2 nomogram yang bentuk tanpa
skalanya seperti pada Gambar 4.2.
Structural Weighted
Number (SN) Structural
Number (SN)
6
5 1
4
Soil Support 3
Value
2
10
9
8 Total ESALs (x 103) Regional 2
20.000 Factor (R)
3
7 10.000 0.5 4
1.0 5
6 2.0 6
1.000 5.0
5
4 100
50
3
2
1
1
Tanpa skala
Catatan: Nomogram ada 2 buah, yaitu untuk pt= 2,0 dan
2,5
Sumber:WSDOT
Gambar 4.2 Bentuk Nomogram AASHTO 1972
107
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Tebal minimal untuk setiap lapis perkerasan ditentukan dengan
menggunakan Gambar 4.3.
SN1 Lapis Permukaan D1
Lapis Pondasi D2
SN2
SN3 Lapis Pondasi Bawah D3
Tanah Dasar
D*1 ≥ SN1
a1
SN1* = a1. D*1 ≥ SN1
D*2 ≥ SN2 − SN1*
a2
SN*2 = a2. D*2
SN1* + SN*2 ≥ SN2
D*3 ≥ SN3 − (SN1* + SN * )
2
a3
Catatan:
1. D*1 , D*2 , D*3 , tebal minimal lapis permukaan, pondasi, dan lapis
pondasi bawah.
2. tebal perkerasan yang digunakan harus sama atau lebih besar dari
minimum yang dibutuhkan.
Gambar 4.3 Konsep penentuan tebal minimum
108
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
dengan Metode AASHTO 1972
Prosedur perhitungan W18 sama dengan metode AASHTO 1993, oleh
karena itu pembahasan tentang hal tersebut akan diuraikan pada Bab
4.3. Metode AASHTO 1972 ini diadopsi oleh Indonesia yaitu untuk SNI
1732-1989-F, Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Dengan Metode
Analisa Komponen.
4.3 Metode AASHTO 1993
Perubahan mendasar untuk perencanaan tebal perkerasan lentur jalan
terhadap metode AASHTO 1972 terjadi melalui metode AASHTO 1986.
Perencanaan tebal perkerasan lentur jalan baru pada metode AASHTO
1993 sama dengan metode AASHTO 1986. Perbedaannya hanya ditam-
bahkan metode untuk perencanaan tebal perkerasan tambahan atau
overlay. Perubahan mendasar pada metode AASHTO 1993 terjadi untuk
perencanaan tebal perkerasan kaku.
Tabel 4.7 menunjukkan perbedaan utama antara metode AASHTO 1972
dengan metode AASHTO 1993 untuk perencanaan tebal perkerasan
lentur jalan baru.
4.3.1 Beban Lalulintas Sesuai AASHTO 1993
Beban lalulintas dilimpahkan pada perkerasan jalan melalui kontak antara
roda dan muka jalan. Oleh karena itu beban lalulintas bervariasi sesuai
dengan berat kendaraan, konfigurasi sumbu, distribusi ke masing-masing
sumbu kendaraan dan ukuran roda kendaraan. Kerusakan yang ditimbul-
kan oleh masing-masing beban lalulintas dipengaruhi oleh mutu struktur
perkerasan yang berkurang berkelanjutan selama masa pelayanan.
109
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Tabel 4.7 Perbedaan Antara Metode AASHTO 1972 dan AASHTO 1993
No AASHTO 1972 AASHTO 1993
1 Terminal serviceability index Terminal serviceability index adalah
adalah 2,0 atau 2,5. 2,0; 2,5; dan 3,0.
Parameter daya dukung tanah Parameter daya dukung tanah dasar
dasar dinyatakan dalam soil dinyatakan dalam modulus resilient
2 support scale, yang (MR), melalui pengujian sesuai T274,
atau dapat dikorelasikan dari nilai
dikonversikan dari nilai CBR CBR
Faktor regional, adalah Parameter ini tidak dipergunakan
3 parameter yang dipergunakan
untuk perbedaan kondisi masing- lagi, diganti dengan parameter lain
masing lokasi
Parameter baru dalam metode ini
adalah:
- reliabilitas
4 - simpangan baku
- koefisien drainase
- life cycle costs
5 SN = a1D1 + a2D2 + a3D3 SN = a1D1 + a2 m2D2 + a3m3D3
Konfigurasi sumbu yang Konfigurasi sumbu yang
dipertimbangkan hanya dipertimbangkan adalah tunggal,
6 konfigurasi sumbu tunggal dan tandem, dan tripel.
sumbu tandem
Tabel E disediakan untuk sumbu Tabel E disediakan untuk sumbu
7 tunggal dan sumbu tandem tunggal, sumbu tandem, dan tripel
dengan pt = 2,0 dan 2,5 dengan pt = 2,0, 2,0 dan 3,0.
8 Nomogram ada dua Perubahan rumus dasar dan hanya
ada satu nomogram.
110
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Sebagai usaha menyeragamkan dampak beban lalulintas terhadap struk-
tur perkerasan jalan, maka AASHTO 1972 dan AASHTO 1993 mengekiva-
lenkan repetisi berbagai jenis dan beban sumbu lalulintas ke lintasan
sumbu standar 18.000 pon (baca juga Bab 3.1.5).
Angka ekivalen beban sumbu
Angka ekivalen (E) menunjukkan jumlah lintasan sumbu standar sumbu
tunggal roda ganda dengan beban 18.000 pon yang mengakibatkan
kerusakan yang sama pada struktur perkerasan jalan jika dilintasi oleh
jenis dan beban sumbu tertentu atau jenis dan beban kendaraan
tertentu.
Sebagai contoh:
E truk =1,2, ini berarti 1 kali lintasan truk sama dengan 1,2 kali lintasan
sumbu standar (lss) mengakibatkan kerusakan yang sama pada struktur
perkerasan jalan.
Angka ekivalen, E, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti:
1. Konfigurasi dan beban sumbu
2. Nilai struktural perkerasan jalan yang dinyatakan dengan Structural
Number (SN)
3. Terminal serviceability index (pt)
Rumus dasar AASHTO untuk menentukan angka ekivalen seperti pada
Rumus 4.4(WSDOT).
4,79 ⎡ 10G/β x
⎢⎣10G/β18
=[ ]Wx⎡L18 + L2s ⎤ ⎤ L2x 4,33 ............................................(4.4)
⎢ Lx + L2x ⎥ ⎥
W18⎣ ⎦ ⎦
111
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
dengan:
Wx = sumbu dengan beban 1000x pon
W18 = sumbu standar dengan beban 18.000 pon
Wx = bilangan terbalik dari angka ekivalen untuk beban dan
W18
konfigurasi sumbu 1000 x pon
L18 = 18 ( beban sumbu standar dalam kilopon)
Lx = x ( beban sumbu dalam kilopon)
L2x = kode untuk konfigurasi sumbu yang ditinjau
= 1, untuk sumbu tunggal
= 2, untuk sumbu tandem
= 3, untuk sumbu tripel
L2s = kode untuk sumbu standar, selalu = 1 (sumbu tunggal)
G = log⎣⎢⎡ 4,2 − pt ⎤
4,2 −1,5 ⎥⎦
pt = terminal serviceability index
βx = 0,4 + 0,081(Lx + L2x )3,23 ............................................... (4.5)
(SN + 1)5,19 L2x3,23
SN = structural number
Angka ekivalen berdasarkan Rumus 4.4 ini bervariasi sesuai dengan
konfigurasi sumbu, beban sumbu, terminal serviceability index (pt), dan
structural number (SN). Tabel angka ekivalen untuk sumbu tunggal,
tandem, dan tripel untuk berbagai beban sumbu sesuai pt dan SN yang
dipilih, dapat dilihat pada Lampiran 1.
112
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Contoh perhitungan untuk menentukan angka ekivalen dari sumbu
tunggal, sumbu tandem, dan sumbu tridem adalah sebagai berikut:
1. Contoh perhitungan angka ekivalen untuk sumbu tunggal
Data: sumbu tunggal dengan beban 30.000 pon
- SN = 3
- pt = 2,5
Perhitungan:
L18 + L2s 4,79 ⎡ 10G/βx
Lx + L2x ⎣⎢10G/β18
[ ]Wx= ⎡ ⎤ ⎤ L2x 4,33
⎢ ⎥ ⎥
W18 ⎣ ⎦ ⎦
dengan:
Wx = W30
W18 = W18
Wx = W30
W18 W18
L18 = 18 (beban sumbu standar dalam kilopon)
Lx = 30(beban sumbu dalam kilopon)
L2x = 1, untuk sumbu tunggal
L2s = 1 (sumbu tunggal roda ganda)
G = log⎣⎡⎢ 4,2 − 2,5 ⎤ = - 0,2009
4,2 −1,5 ⎥⎦
β30 = 0,4 + 0,081(30 + 1)3,23 = 4,388
(3 + 1)5,19 (1)3,23
β18 = 0,4 + 0,081(18 +1)3,23 = 1,2204
(3 + 1)5,19 (1)3,23
113
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
G/β30 = -0,2009/4,388 = - 0,04578
G/β18 = -0,2009/1,2204 = -0,1646
18 4,79 ⎡10-0,04578
[ ]W30⎡30 +1⎤ ⎤
= ⎢⎣ + 1⎦⎥ ⎢ ⎥ 1 4,33 = 0,1260
W18 ⎣ ⎦
10-0,1646
Angka ekivalen = 1/(W30/W18) = 1/0,1260 =7,9365 ≈ 7,9
Angka ekivalen = 7,9 (sama dengan Tabel AASHTO 1993 seperti pada
Lampiran 1).
2. Contoh perhitungan angka ekivalen untuk sumbu tandem
Data: sumbu tandem dengan beban 30.000 pon
- SN = 3
- pt = 2,5
Perhitungan:
⎤4,79 ⎡ 10G/βx
=Wx⎡ L18 + L2s ⎤ L2x 4,33
⎢ Lx + L2x ⎥
[ ]W18⎣ ⎦
⎥ ⎣⎢10G/β18
⎦
dengan:
Wx = W30
W18 = W18
Wx = W30
W18 W18
L18 = 18 ( beban sumbu standar dalam kilopon)
Lx = 30 (beban sumbu dalam kilopon)
L2x = 2, untuk sumbu tandem
L2s = 1 (sumbu standar)
114
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
G = log⎢⎣⎡ 4,2 − 2,5 ⎤ = - 0,2009
4,2 −1,5 ⎦⎥
β30 = 0,4 + 0,081(30 + 2)3,23 = 0,8711
(3 + 1)5,19 (2)3,23
β18 = 0,4 + 0,081(18 + 1)3,23 = 1,2204
(3 + 1)5,19 (1)3,23
G/β30 = -0,2009/0,8711= - 0,2306
G/β18 = -0,2009/1,2204 = -0,1646
W30 = ⎡ 18 + 1 ⎤4,79 ⎢⎣⎡⎢1100-- 0,2306 ⎤⎥[2]4,33 = 1,4224
W18 ⎣⎢ 30 + 2 ⎥⎦ 0,1646
⎦⎥
Angka ekivalen = 1/(W30/W18) = 1/1,4224 =0,703037 ≈ 0,703
Angka ekivalen = 0,703 (sama dengan Tabel AASHTO 1993 seperti
pada Lampiran 1)
3. Contoh untuk sumbu tripel
Data: sumbu tripel dengan beban 40.000 pon
- SN = 3
- pt = 2,5
Perhitungan:
L18 4,79 ⎡ 10G/β x
Lx ⎢⎣10G/β18
[ ]Wx= ⎡ + L2s ⎤ ⎤ L2x 4,33
⎢ + L2x ⎥ ⎥
W18 ⎣ ⎦ ⎦
dengan:
Wx = W40
W18 = W18
115
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Wx = W40
W18 W18
L18 = 18 ( beban sumbu standar dalam kilopon)
Lx = 40 (beban sumbu tripel dalam kilopon)
L2x = 3, untuk sumbu tripel
L2s = 1 (sumbu tunggal roda ganda)
G = log⎢⎡⎣ 4,2 − 2,5 ⎤ = - 0,2009
4,2 −1,5 ⎦⎥
β40 = 0,4 + 0,081(40 + 3)3,23 = 0.7302
(3 + 1)5,19 (3)3,23
β18 = 0,4 + 0,081(18 + 1)3,23 = 1,2204
(3 + 1)5,19 (1)3,23
G/β40 = -0,2009/0,7302 = - 0,2751
G/β18 = -0,2009/1,2204 = -0,1646
W40 = ⎡ 18 + 1 ⎤4,79 ⎡⎣⎢⎢1100-- 0,2751 ⎤⎥[3]4,33 = 1,8045
W18 ⎢⎣ 40 + 3 ⎦⎥ 0,1646
⎦⎥
Angka ekivalen = 1/(W40/W18) = 1/1,8045 = 0,554
Angka ekivalen = 0,554 (sama dengan Tabel AASHTO 1993 seperti
pada Lampiran 1)
116
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Angka ekivalen kendaraan dengan berat konstan
Kendaraan terdiri dari minimal 2 sumbu, oleh karena itu angka ekivalen
untuk 1 kendaraan adalah jumlah angka ekivalen dari masing-masing
sumbu.
E = Σ Ekendaraan sumbu .................................................................... (4.6)
Contoh perhitungan angka ekivalen untuk satu kendaraan adalah sebagai
berikut:
Truk (1.22) dengan:
- beban sumbu depan = 14.000 pon
- beban sumbu belakang = 34.000 pon
SN = 3, dan pt = 2,5
Dari tabel angka ekivalen (Lampiran 1) untuk SN = 3 dan pt = 2,5
diperoleh:
E untuk sumbu depan, sumbu tunggal 14.000 pon = 0,35
E untuk sumbu belakang, sumbu tandem 34.000 pon = 1,11
E truk = 0,35 + 1,11 = 1,46.
Angka Ekivalen untuk kendaraan dengan berat bervariasi
Satu kendaraan yang melintasi satu ruas jalan terjadi berulang kali
dengan berat yang tidak selalu sama. Berat kendaraan selalu bervariasi
dari beban kendaraan kosong sampai dengan beban maksimum. Oleh
karena itu angka ekivalen satu kendaraan kurang tepat jika ditentukan
hanya berdasarkan berat kendaraan maksimum ataupun beban rata-rata
kendaraan. Untuk perencanaan tebal perkerasan perlu dilakukan analisis
variasi berat kendaraan berdasarkan hasil survei timbang pada jalan yang
117
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
direncanakan atau jalan sejenis. Angka ekivalen satu jenis kendaraan
ditentukan berdasarkan frekwensi rata-rata dari berbagai beban yang
dibawanya.
Langkah-langkah untuk menentukan angka ekivelen setiap kelompok
jenis kendaraan dengan beban berfluktuasi adalah sebagai berikut:
1. Lakukanlah survei timbang selama minimal 3 x 24 jam.
2. Kelompokkan data untuk setiap jenis kendaraan.
3. Data untuk setiap jenis kendaraan diolah sebagai berikut:
a. Tentukanlah beban sumbu dari setiap hasil penimbangan.
b. Kelompokkan beban sumbu berdasarkan jenis sumbu kemudi
(depan) dan sumbu-sumbu lainnya.
c. Kelompokkan beban sumbu untuk setiap jenis sumbu kendaraan.
d. Hitunglah frekwensi setiap kelompok beban dan jenis sumbu.
e. Hitunglah angka ekivalen dari setiap kelompok beban sumbu
berdasarkan nilai tengah beban.
f. Tentukan angka ekivalen masing-masing kelompok sumbu, dengan
menggunakan rumus:
∑E sumbu = fiEi ...................................................... (4.7)
∑ fi
g. E kendaraan = Σ Esumbu.
Contoh perhitungan angka ekivalen hasil dari survei timbang
Dari hasil olahan data hasil survei timbang diperoleh data beban sumbu
untuk truk tipe 1.22+22 seperti Tabel 4.8. Volume truk tersebut adalah
150 kendaraan/hari. Pt = 2,5 dan angka struktural (SN) = 5.
118
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Perhitungan angka ekivalen menggunakan tabel seperti pada Tabel 4.9.
Tabel 4.8 Contoh Data Frekwensi Beban Sumbu Untuk Truk 1.22+22
Beban sumbu, pon Frekwensi repetisi sumbu
Sumbu Tunggal (kode angka 1)
3.000 – 6.999 38
7.000 – 7.999 31
8.000 – 11.999 64
12.000 – 15.999 16
26.000 – 29.999 1
Jumlah frekwensi sumbu tunggal 150
Sumbu Tandem (kode angka 22)
6.000 – 11.999 66
12.000 – 17.999 51
18.000 – 23.999 115
24.000 – 29.999 32
30.000 – 31.999 34
32.000 – 33.999 2
Jumlah frekwensi sumbu tandem 300*
Catatan:
* sumbu belakang dan kereta gandeng truk dengan jenis sumbu yang sama
sehingga jumlah sumbu tandem adalah 2 x 150 = 300 jumlah sumbu.
119
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Tabel 4.9 Contoh Perhitungan E truk 1.22+22
Beban sumbu, pon Frekwensi E sumbu* repetisi lss
repetisi
(3) (4) = (2)(3)
(1) (2)
Sumbu Tunggal Roda Tunggal
3.000 – 6.999 38 0,005 0,190
7.000 – 7.999 31 0,029 0,899
8.000 – 11.999 64 0,090 5,760
12.000 – 15.999 16 0,360 5,760
26.000 – 29.999 1 5,390 5,390
Sumbu Tandem Roda Ganda
6.000 – 11.999 66 0,006 0,396
12.000 – 17.999 51 0,044 2,244
18.000 – 23.999 115 0,148 17,020
24.000 – 29.999 32 0,426 13,632
30.000 – 31.999 34 0,753 25,602
32.000 – 32.500 2 0,885 1,770
Total 450** 78,663
Catatan:
* diperoleh dari perhitungan seperti contoh 1 dan 2, atau Lampiran 1.
** jumlah kendaraan x 3, karena 1 kendaraan memiliki 3 kelompok sumbu
Dengan menggunakan Tabel 4.9 dan Rumus 4.7 diperoleh angka ekivalen
untuk truk 1.22+22 = 78,663/450 = 0,1748.
Repetisi beban selama umur rencana (W18)
Beban lalu lintas sesuai AASHTO 1993 dinyatakan dalam repetisi lintasan
sumbu standar selama umur rencana (W18). Rumus 4.8 atau Rumus 4.9
120
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
digunakan untuk menghitung besarnya repetisi beban lalu lintas selama
umur rencana.
W18 = ∑ LHRi x Ei x DA x DL x 365 x N .................................. (4.8)
W18 = ∑ LHRTi x Ei x DA x DL x 365 x N ................................. (4.9)
dengan:
W18 = repetisi beban lalu lintas selama umur rencana,
lss/lajur/umur rencana
LHR = Lalu lintas Harian Rata-rata, kendaraan/hari/2 arah
LHRT = Lalu lintas Harian Rata-rata Tahunan,
kendaraan/hari/2 arah
Ei = angka ekivalen jenis kendaraan i
DA = faktor distribusi arah, digunakan untuk menunjukkan distribusi
kendaraan ke masing-masing arah. Jika data lalu lintas yang
digunakan adalah data untuk satu arah, maka DA = 1
DL = faktor distribusi lajur, digunakan untuk menunjukkan distribusi
kendaraan ke lajur rencana.
365 = jumlah hari dalam satu tahun
N = faktor umur rencana
Faktor Umur Rencana (N)
Faktor umur rencana adalah angka yang dipergunakan untuk menghitung
repetisi lalu lintas selama umur rencana dari awal umur rencana. Jika
tidak ada pertumbuhan lalu lintas maka N sama dengan umur rencana.
Dengan demikian repetisi beban lalu lintas sama dengan repetisi per
tahun dikalikan dengan lamanya umur rencana. Namun demikian, hampir
tidak pernah lalu lintas tidak mengalami peningkatan ataupun penurun-
121
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
an. Oleh karena itu N dihitung melalui pendekatan dengan menggunakan
Rumus 4.10.
N = [(1 + i)UR −1] .......................... (4.10)
i
dengan:
UR = umur rencana, tahun
i = pertumbuhan lalu lintas pertahun (%/tahun)
Nilai N untuk berbagai nilai faktor pertumbuhan lalu lintas dan umur
rencana seperti pada Tabel 4.10.
Contoh perhitungan W18 dengan faktor pertumbuhan lalu lintas
konstan dan sama untuk semua jenis kendaraan selama umur
rencana.
Data: LHR Ekendaraan
(kendaraan/hari/2 arah)
Jenis kendaraan 0,0003
5925 1,456
Mobil penumpang (1.1) 372 1,657
Truk (1.22) 30 0,458
Truk (1.22+22) 35
Bus (1.22)
Faktor distribusi arah (DA) = 0,5
Faktor distribusi lajur (DL) = 0,9
Faktor pertumbuhan lalu lintas (i) = 4%
Umur rencana (UR) = 15 tahun
122
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Tabel 4.10 Faktor Umur Rencana (N)
Umur Faktor pertumbuhan lalu lintas, persen (i)
Rencana
0 24567 8 10
tahun
1,00
1 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 2,10
3,31
2 2,00 2,02 2,04 2,05 2,06 2,07 2,08 4,64
6,11
3 3,00 3,06 3,12 3,15 3,18 3,21 3,25 7,72
9,49
4 4,00 4,12 4,25 4,31 4,37 4,44 4,51 11,44
13,58
5 5,00 5,20 5,42 5,53 5,64 5,75 5,87 15,94
18,53
6 6,00 6,31 6,63 6,80 6,98 7,15 7,34 21,38
24,52
7 7,00 7,43 7,90 8,14 8,39 8,65 8,92 27,97
31,77
8 8,00 8,58 9,21 9,55 9,90 10,26 10,64 35,95
40,54
9 9,00 9,75 10,58 11,03 11,49 11,98 12,49 45,60
51,16
10 10,00 10,95 12,01 12,58 13,18 13,82 14,49 57,27
11 11,00 12,17 13,49 14,21 14,97 15,78 16,65
12 12,00 13,41 15,03 15,92 16,87 17,89 18,98
13 13,00 14,68 16,63 17,71 18,88 20,14 21,50
14 14,00 15,97 18,29 19,60 21,02 22,55 24,21
15 15,00 17,29 20,02 21,58 23,28 25,13 27,15
16 16,00 18,64 21,82 23,66 25,67 27,89 30,32
17 17,00 20,01 23,70 25,84 28,21 30,84 33,75
18 18,00 21,41 25,65 28,13 30,91 34,00 37,45
19 19,00 22,84 27,67 30,54 33,76 37,38 41,45
20 20,00 24,30 29,78 33,07 36,79 41,00 45,76
Sumber: AASHTO’93
Pehitungan:
Dari Tabel 4.10 untuk UR = 15 tahun dan i = 4% diperoleh N = 20,02.
123
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
LHR dalam kendaraan/hari/2 arah diubah menjadi LHR dalam lss/hari/2
arah.
a. Mobil penumpang (1.1) = 5925 x 0,0003 = 1,77 lss/hari/2arah
b. Truk (1.22) = 372 x 1,456 = 541,63 lss/hari/2 arah
c. Truk (1.22+22) = 30 x 1,657 = 49,71 lss/hari/2 arah
d. Bus (1.22) = 35 x 0,458 = 16,03 lss/hari/2 arah
LHRtotal = 609,15 lss/hari/2 arah
Dengan menggunakan Rumus 4.8 diperoleh:
W18 = 609,15 x 0,5 x 0,9 x 365 x 20,02
= 2.003.416 lss/umur rencana/lajur rencana.
Contoh perhitungan ESAL dengan faktor pertumbuhan lalu lintas
yang konstan untuk setiap jenis kendaraan selama umur
rencana.
Data: LHR Ekendaraan Faktor
(kendaraan/ pertumbuhan
Jenis kendaraan hari/2 arah) 0,0003 lalu lintas (%)
1,456
Mobil penump.(1.1) 5925 1,657 6
Truk (1.22) 0,458
Truk (1.22+22) 372 5
Bus (1.22)
30 3
35 4
Faktor distribusi arah (DA) = 0,5
Faktor distribusi lajur (DL) = 0,9
Umur rencana (UR) = 15 tahun
124
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Pehitungan:
N perlu dihitung untuk setiap jenis kendaraan karena pertumbuhan lalu
lintas tidak sama untuk setiap jenis kendaraannya. Secara ringkas
perhitungan dilakukan seperti pada Tabel di bawah ini.
Jenis Ekendaraan LHR i W18
kendaraan (kend/hari lss/hari/ (%) N lss/ur/lajur
/2 arah) 2 arah
Mobil rencana
penumpang 0,0003 5925 1,7775 6
(1.1) 23,28 6.796,70
Truk (1.22) 1,456 372 541,632 5
Truk 1,657 21,58 1.919.822,75
(1.22+22) 0,458 30 49,71 3 18,60 151.866,54
Bus (1.22) 20,02 52.711,21
35 16,03 4 W18 = 2.131.197,19
Untuk mobil penumpang:
W18 = 0,0003 x 5925 x 23,28 x 365 x 0,5 x 0,9 = 6796,70
W18 selama umur rencana 2.131.197,19 lss/lajur rencana.
4.3.2 Reliabilitas
Kinerja struktur perkerasan jalan sangat ditentukan oleh 4 faktor utama
yaitu:
1. struktur perkerasan seperti tebal dan mutu setiap lapis perkerasan;
2. kondisi lingkungan seperti temperatur, curah hujan, kondisi tanah
dasar;
3. perkiraan repetisi beban lalu lintas dan proyeksi selama umur rencana;
4. perkiraan daya dukung tanah dasar.
125
Present serviceability Index Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Pada metode AASHTO 1993 diperkenalkan parameter baru yaitu
reliabilitas. Reliabilitas (R) adalah tingkat kepastian atau probabilitas
bahwa struktur perkerasan mampu melayani arus lalu lintas selama umur
rencana sesuai dengan proses penurunan kinerja struktur perkerasan
yang dinyatakan dengan serviceability yang direncanakan.
Gambar 4.4 memberikan ilustrasi bagaimana sejumlah struktur perkeras-
an yang memiliki tebal dan jenis lapis perkerasan yang sama mengalami
penurunan kinerja akibat repetisi beban lalu lintas yang dinyatakan dalam
log repetisi beban selama umur masa pelayanan. Terminal serviceability
index (pt) dicapai akibat repetisi beban lalu lintas yang bervariasi.
Lengkung distribusi normal menggambarkan hubungan antara frekwensi
dicapainya pt pada repetisi beban lalu lintas tertentu. Gambar 4.5
menggambarkan deviasi standar keseluruhan (So), ZR, dan faktor relia-
bilitas (FR).
Varian kinerja
P0 struktur perkerasan
P1
Normal distribution
frekwensi
log
ESALs
Sumber:WSDOT
Gambar 4.4 Variasi Penurunan kinerja perkerasan selama masa pelayanan
126
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
lengkung normal
S0
Log FR Log ESAL
ZR Z
Gambar 4.5 Deviasi standar keseluruhan (So), ZR, faktor reliabilitas (FR)
Reliabilitas digunakan pada metode AASHTO 1993 untuk mengalikan repetisi
beban lalu lintas yang diperkirakan selama umur rencana dengan faktor
reliabilitas (FR) ≥ 1.
Jadi, Wt = (wt)(FR) ................................................... (4.11)
dengan:
= ESAL perkiraan berdasarkan kinerja struktur perke-
Wt rasan mencapai nilai pt yang digunakan untuk
menentukan tebal lapis perkerasan.
wt
FR = ESAL perkiraan selama umur rencana
= faktor reliabilitas
127
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Efek adanya faktor reliabilitas dalam perencanaan adalah meningkatkan
ESAL yang digunakan untuk merencanakan tebal perkerasan jalan.
FR ditentukan sebagai berikut:
FR = 10−ZR (S0 ) ............................................................... (4.12)
dengan:
FR = faktor reliabilitas
ZR = Z-statistik (sehubungan dengan lengkung normal)
S0 = deviasi standar keseluruhan dari distribusi normal sehu-
bungan dengan kesalahan yang terjadi pada perkiraan lalu
lintas dan kinerja perkerasan.
Tabel 4.11 menunjukkan nilai ZR, dan FR untuk S0 antara 0,4 - 0,5.
Reliabilitas 50% menunjukkan kondisi dimana ZR=0 dan faktor reliabilitas
desain (FR) = 1. Ini berarti ESAL yang digunakan untuk menghitung SN
sama dengan ESAL perkiraan selama umur rencana.
Jika reliabilitas yang digunakan = 90%, maka FR = 3,77 pada S0 = 0,45.
Ini berarti ESAL yang dipergunakan untuk menghitung SN adalah 3,77
kali ESAL perkiraan selama umur rencana. Gambar 4.6 mengilustrasikan
perbedaan hasil perencanaan antara reliabilitas 50% dengan 90%. Oleh
karena itu perencana perlu mempertimbangkan berbagai faktor resiko
kesalahan ketika memilih R dalam proses perencanaan tebal perkerasan
jalan. AASHTO 1993 menyarankan nilai reliabilitas (R) sesuai fungsi jalan
seperti pada Tabel 4.12.
128
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Tabel 4.11 Nilai Reliabilitas, ZR Dan FR
Reliabilitas, Standard FR untuk S0 FR untuk FR untuk
R, % Normal = 0,4 S0 = 0,45 S0 = 0,5
Deviate (ZR)
1.00 1.00
50 0,000 1.00 1.30 1.34
1.72 1.83
60 -0,253 1.26 2.01 2.17
2.39 2.63
70 -0,524 1.62 2.93 3.30
3.77 4.38
75 -0,674 1.86 4.01 4.68
4.29 5.04
80 -0,841 2.17 4.62 5.47
5.01 5.99
85 -1,037 2.60 5.50 6.65
6.14 7.51
90 -1,282 3.26 7.02 8.72
8.40 10.64
91 -1,340 3.44 11.15 14.57
24.58 35.08
92 -1,405 3.65 48.70 74.99
93 -1,476 3.89
94 -1,555 4.19
95 -1,645 4.55
96 -1,751 5.02
97 -1,881 5.65
98 -2,054 6.63
99 -2,327 8.53
99,9 -3,090 17.22
99,99 -3,750 31.62
Sumber:WSDOT
129
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
R = 50%
AC R = 90%
Base
Subase
Subgrade AC
Pavement Serviceability Index Base
po 90% Subase
Subgrade
50%
pt
Design Period Traffic
Sumber:WSDOT
Gambar 4.6 Contoh reliabilitas 50% dan 90%
Tabel 4.12 Nilai Reliabilitas Sesuai Fungsi Jalan
Fungsi Jalan Rekomendasi tingkat reliabilitas
Urban Rural
Bebas hambatan 85 – 99,9 80 – 99,9
Arteri 80 – 99 75 – 95
Kolektor 80 – 95 75 – 95
Lokal 50 - 80 50 - 80
Sumber: AASHTO’93
4.3.3 Drainase
Kemampuan struktur perkerasan jalan mengalirkan air merupakan hal
penting dalam perencanaan tebal perkerasan jalan. Air masuk ke struktur
perkerasan jalan melalui banyak cara antara lain retak pada muka jalan,
130
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
sambungan, infiltrasi perkerasan, akibat kapilaritas, atau mata air setem-
pat. Air yang terperangkap dalam struktur perkerasan jalan dapat menja-
di penyebab:
1. berkurangnya daya dukung lapisan dengan material tanpa pengikat
2. berkurangnya daya dukung tanah dasar
3. naiknya butiran halus sebagai dampak dari efek pompa ke dalam
struktur perkerasan jalan.
4. lepasnya ikatan aspal dari agregat sebagai awal terjadinya lubang
Untuk perencanaan tebal perkerasan jalan kualitas drainase ditentukan
berdasarkan kemampuan menghilangkan air dari struktur perkerasan.
Tabel 4.13 menunjukkan kelompok kualitas drainase berdasarkan
AASHTO 1993.
Tabel 4.13 Kelompok Kualitas Drainase
Kualitas drainase Air hilang dalam
Baik sekali 2 jam
Baik 1 hari
Sedang 1 minggu
Jelek 1 bulan
Jelek sekali air tidak mengalir
Sumber: AASHTO’93
Pengaruh kualitas drainase dalam proses perencanaan tebal lapisan
perkerasan dinyatakan dengan menggunakan koefisien drainase (m)
seperti pada Tabel 4.14.
131
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Tabel 4.14 Koefisien Drainase (m)
Kualitas Persen waktu struktur perkerasan dipengaruhi oleh kadar air
drainase yang mendekati jenuh
< 1% 1-5% 5 – 25% > 25%
Baik sekali 1,40 – 1,35 1,35 – 1,30 1,30 – 1,20 1,20
Baik 1,35 – 1,25 1,25 – 1,15 1,15 – 1,00 1,00
Sedang 1,25 – 1,15 1,15 – 1,05 1,00 – 0,80 0,80
Jelek 1,15 – 1,05 1,05 – 0,80 0,80 – 0,60 0,60
Jelek sekali 1,05 – 0,95 0,95 – 0,75 0,75 – 0,40 0,40
Sumber: AASHTO’93
4.3.4 Rumus Dasar Metode AASHTO 1993
Rumus dasar AASHTO 1993 mengalami perubahan sesuai hasil penelitian
sejak 1972. Rumus dasar metode AASHTO 1993 sama dengan rumus
pada AASHTO 1986 yaitu seperti pada Rumus 4.13.
log (W18) = ZR x S0 + 9,36 x log (SN + 1) – 0,20 +
log[ ΔPSI ]
4.2 −1.5
1094 + 2,32 x log (MR) – 8,07 .... ......... (4.13)
(SN + 1)5,19
0,40 +
dengan:
W18 = ESAL yang diperkirakan
ZR = simpangan baku normal, sesuai Tabel 4.12
S0 = deviasi standar keseluruhan, bernilai antara 0,4 -0,5
SN = Structural Number, angka struktural relatif perkerasan, inci
∆PSI = Perbedaan serviceability index di awal dan akhir umur rencana
MR = modulus resilient tanah dasar (psi)
132
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
SN yang diperoleh dengan menggunakan Rumus 4.13 harus sama
dengan asumsi yang diambil ketika menentukan angka ekivalen (E). Jika
SN yang diperoleh tidak sama, maka penentuan angka ekivalen harus
diulang kembali dengan menggunakan nilai SN yang baru. Selain
menggunakan Rumus 4.13, SN dapat diperoleh dengan menggunakan
nomogram seperti pada Gambar 4.7.
SN adalah angka yang menunjukkan jumlah tebal lapis perkerasan yang
telah disetarakan kemampuannya sebagai bagian pewujud kinerja perke-
rasan jalan. Koefisien kekuatan relatif (a) adalah angka penyetaraan ber-
bagai jenis lapis perkerasan yang dipengaruhi oleh mutu dari jenis lapisan
yang dipilih.
SN = a1D1 + a2 m2D2 + a3 m3D3 ........................... (4.14)
dengan:
SN = angka struktural (structural number), inci
a1 = koefisien kekuatan relatif lapis permukaan
a2 = koefisien kekuatan relatif lapis pondasi
a3 = koefisien kekuatan relatif lapis pondasi bawah
D1 = tebal lapis permukaan, inci
D2 = tebal lapis pondasi, inci
D3 = tebal lapis pondasi bawah, inci
m2,3 = koefisien drainase untuk lapis pondasi dan pondasi bawah
133
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur Sumber: AASHTO’93
Bagan alir dari prosedur perencanaan tebal perkerasan jalan baru sesuai metode Gambar 4.7 Nomogram penentuan nilai SN dengan Metode AASHTO 1993
AASHTO 1993 seperti pada Gambar 4.7
Tebal setiap lapis dari struktur perkerasan jalan ditentukan dengan menggunakan
Rumus 4.13
SN = a1D1 + a2 m2D2 + a3 m3D3 ................................ (4.13)
Dengan:
SN = structural number, angka struktur relatif dari perkerasan jalan
yang diperoleh melalui Rumus 4.12
D1,2,3 = tebal (inci) dari lapis permukaan, pondasi, dan ponda
134
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
Koefisien kekuatan relatif lapis permukaan ditentukan dengan
menggunakan Gambar 4.8 yang berdasarkan nilai modulus elastisitas, EAC
(psi) beton aspal.
0.5
0.4
Koefisien relatif, a1, 0.3
Untuk Lapisan Beton Aspal
0.2
0.1
0.0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000
0
Modulus Elastisitas, EAC (psi),
Dari Beton Aspal ( 20°C)
Sumber: AASHTO’93
Gambar 4.8 Koefisien kekuatan relatif a1 untuk beton aspal
Koefisien kekuatan relatif (a2) untuk lapis pondasi ditentukan dengan
menggunakan Rumus 4.15 atau Gambar 4.9.
a2 = 0,249 (log EBS) – 0,977 ................................................ (4.15)
dengan:
a2 = koefisien relatif lapis pondasi berbutir
EBS = modulus elastisitas lapis pondasi, psi.
135
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
0.20
0.18
0.16
0.14 100 85 2.0 30
80
25
70 2.5
20
60
3.5
15
50
4.0
0.12 Structural Coefficient - a260
0.10 CBR (1)50
40
R-value (2)
Texas Triaxial (3)30
0.08 (4)
0.06
Modulus – 1000 psi
20
0.04
0.02
0
(1) Scale devired by averaging correlations obtained from Illionis.
(2) Scale devired by averaging correlations obtained from California, New Mexico
and Wyoming.
(3) Scale devired by averaging correlations obtained from Texas.
(4) Scale devired on NCHRP project (3).
Sumber: AASHTO’93
Gambar 4.9 Koefisien kekuatan relatif, a2
Koefisien kekuatan relatif (a3) untuk lapis pondasi bawah ditentukan
dengan menggunakan Rumus 4.16 atau Gambar 4.10.
a3 = 0,227 (log ESB) – 0,839 ........................................... (4.16)
136
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
dengan:
a3 = koefisien relatif lapis pondasi bawah berbutir
ESB = modulus elastisitas lapis pondasi bawah, psi.
0.20
0.14 100 90 2 20
Structural Coefficient – a3
CBR (1)70 80
50
R-value (2)
0.12 Texas Triaxial (3)40703
(4)306015
20 14
0.10 Modulus – 1000 psi13
50 12
0.08 10 4 11
10
40
0.06 30
5 25 5
0
(5) Scale devired by averaging correlations obtained from Illionis.
(6) Scale devired by averaging correlations obtained from California, New Mexico and
Wyoming.
(7) Scale devired by averaging correlations obtained from Texas.
(8) Scale devired on NCHRP project (3).
Sumber:AASHTO’93
Gambar 4.10 Koefisien relatif, a3
137
Perencanaan Tebal Perkerasan lentur
Tebal minimal lapis permukaan, pondasi, dan pondasi atas ditentukan
berdasarkan SN yang diperoleh untuk masing-masing lapisan seperti
diilustrasikan pada Gambar 4.11.
4.3.5 Tebal Minimum Setiap Lapisan
Tebal minimum setiap lapis perkerasan ditentukan berdasarkan mutu
daya dukung lapis dibawahnya seperti diilustrasikan oleh Gambar 4.11.
Rumus 4.16 sampai dengan Rumus 4.21 digunakan untuk menentukan
tebal minimal masing-masing lapisan perkerasan.
SN1 Lapis Permukaan D1
SN2 Lapis Pondasi D2
SN3 Lapis Pondasi Bawah D3
Tanah Dasar
Gambar 4.11 Ilustrasi penentuan tebal minimum setiap lapis perkerasan
D*1 ≥ SN1 ...................................................................... (4.17)
a1
SN1* = a1. D*1 ≥ SN1 ........................................................ (4.18)
D*2 ≥ SN2 − SN1* .. ............................................................ (4.19)
a 2.m2
SN*2 = a2. m2 D*2 . ............................................................ (4.20)
SN1* + SN*2 ≥ SN2 ............................................................ (4.21)
138
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO
D*3 ≥ SN 3 − (SN1* + SN * ) ................................................(4.22)
2
a 3m3
* menunjukkan tebal minimal yang digunakan untuk lapis permukaan ( D*1 ),
lapis pondasi ( D*2 ), lapis pondasi bawah ( D*3 ).
Di samping berdasarkan Rumus 4.17 sampai dengan Rumus 4.22, tebal
minimum lapis permukaan dari beton aspal dan lapis pondasi batu pecah
ditentukan juga berdasarkan Tabel 4.15.
Tabel 4.15 Tebal Minimum Lapis Permukaan Dan Lapis Pondasi
ESAL Tebal minimum lapisan (inci)
< 50.000
Beton aspal Pondasi batu pecah
1,0 4,0
50.001 – 150.000 2,0 4,0
150.001 – 500.000 2,5 4,0
500.001 – 2.000.000 3,0 6,0
2.000.001 – 7.000.000 3,5 6,0
> 7.000.000 4,0 6,0
Sumber: WSDOT
Metode AASHTO 1993 diadopsi oleh Indonesia menjadi metode Pt T-01-
2002-B. Bagan alir prosedur perencanaan tebal perkerasan metode Pt T-
01-2002-B pada Bab 6 dapat digunakan sebagai bagan alir untuk metode
AASHTO 1993.
139