The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MEMBERDAYAKAN ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wdmuntasirwd, 2023-06-14 12:16:39

ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

MEMBERDAYAKAN ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

Keywords: ADAT

e mail : [email protected] Muntasir bin Wan Diman bian Abu Salim bin Halambada lahir di Sungai Iyu Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang, anak ke 7 dari sembilan bersaudara dari pasangan Wan Diman bin Abu Salam bin Halambada dan Hj. Siti Habsyah binti Angkat. Pendidikan terakhir S1 Pertanian dan S2 Magister Managemen Konsentrasi Managemen Pendidikan Buku ini telah merangkum dan menceritakan kembali tentang adat yang sebenarnya adat yang berlaku sejak zaman dahulu sebagai warisan budaya suku perkauman Tamiang yang mesti dilestarikan. Drs. Syarifuddin Ismail, Pemangku Adat pada Majelis Adat Budaya Melayu Tamiang (MABMETA) Rasa bangga saya atas terbitnya buku “Adat Perkawinan Suku Perkauman Tamiang (nempatke Anak) yang merupakan tunjuk ajar sebagai pewarisan budaya bagi generasi mendatang. Pergesaran adat yang bila diabaikan akan berhadapan dengan kondisi “Putus tali tempat bergantung, patah lantai tempat berpijak” jika para pelaku adat telah tiada. H. Hambali. Tuhe Adat Majelis Adat Buaya Melayu Tamiang (MABMETA) Buku ini telah menjadi nakhoda dalam gelombang arus globalisasi yang deras sehingga tidak akan menjadikan generasi kedepan hanyut terbawa arus dan tenggelam dalam suasana yang tidak beradat. Buku ini juga telah menjadi tunjuk ajar bagi generasi muda khususnya dan masyarakat umumnya sebagai upaya pewarisan yang merevitalisasi adat dalam melestarikannya. Drs. Syahrul Amri, Tetuhe Adat, Majelis Adat Budaye Melayu Tamiang (MABMETA)


SUKU PERKAUMAN TAMIANG (NEMPAT KE ANAK Penerbit WD SEMULE JADI


ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG (NEMPAT KE ANAK) MUNTASIR BIN WAN DIMAN BIN ABU SALIM BIN HALAMBADA Penerbit WD SEMULE JADI


Distributor; Yayasan Perguruan Sriratu Syafiyatuddin Kuala Simpang Wan Diman, Muntasir 2022 Adat Perkawinan Suku Perkauman Tamiang ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG (NEMPAT KE ANAK) xi hlm + 205 hlm, 16 x 21 cm Penulis Muntasir bin Wan Diman bin Abu Salim bin Halambada Editor Syaparuddin, S.PdI, MM bin M. Yusuf ISBN: 978-623-09-0096-9 Cetakan ke 1 Januari 2022 Penerbit CV WD Semule Jadi Jl Ir. H. Juanda no 36 Kampung Tanjung Karang Karang Baru Aceh Tamiang E-mail : [email protected]


- Bapakku (alm) Wan Diman bin Abu Salim bin Halambada - Emakku Hj. Siti Habsyah binti Angkat - Isteriku Hj. dr. Zuheini, M.Kes binti Syahril bin Muzahar Anak-anakku tersayang - dr. Siti Nur Aflah binti Muntasir bin Wan Diman bin Abu Salim - Muhammad Khalis Fikri bin Muntasir bin Wan Diman bin Abu Salim - Muhammad Badrani Zahran bin Muntasir bin Wan Diman bin Abu Salim - Muhammad Jasir Akram bin Muntasir bin Wan Diman bin Abu Salim Keluarga besar Wan Diman bin Abu Salim bin Halambada


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman i SEKAPUR SIRIH Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Hanya kepadaNya kita menyembah, memohon pertolongan dan petunjuk. Sesungguhnya barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya Semoga keberkahan dan keselamatan senantiasa dilimpahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam, pembawa rahmat dan petunjuk serta pelita yang menerangi dan menuntun umat manusia ke jalan yang benar dan diridhai Allah Subhanahu Wata’ala. Buku Adat Perkawinan Suku Tamiang ini sudah pernah kami tulis didalam buku “Tamiang dalam Lintas Sejarah” yang terbit tahun 2003, kali ini kami tulis kembali dengan judul tersendiri dan telah melakukan berbagai revisi serta penambahan-penambahan narasi, ini merupakan pewarisan yang menjadi sebuah keniscayaan yang harus dirawat, oleh karenanya penulis berupaya mengumpulkan semua data dan mempelajarinya lewat orang tua - orang tua sebagai pelaku adat sehingga dapat memahami filosofi-filosofi perlakuan dalam adat yang menjadi dasar perlakuan itu dibuat, hal ini dirasa sangat penting untuk mengurai pembauran-pembauran yang telah mengaburkan filosofifilosofi tersebut sehingga merubah makna dan bentuk. Salah satu penyebab terjadinya penyimpangan sosial terutama pada adat adalah keberadaan adat yang telah dikaburkan dari pemahamannya dalam bentuk perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan kaedah normatif sehingga telah menimbulkan penafsiran munculnya adat yang baru, oleh karena itu buku adat perkawinan Suku Perkauman Tamiang berupaya memposisikan kembali keberadaan adat tersebut dalam


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan ii tatanan kehidupan masyarakat Tamiang agar dapat kembali sebagaimana adat yang sebenar adat. Buku ini dapat kami selesaikan tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, maka selayaknyalah penulis menghaturkan terima kasih kepada orang tua - orang tua kami yang banyak memberi masukan secara lisan ketika masih hidup dan juga dari tulisan-tulisan dalam bentuk catatan dan makalah diantaranya, Almarhum OK. Mahmunarrasyid, Almarhum OK. Jamaluddin, Drs. Syarifuddin Ismail yang telah banyak membimbing penulis dalam memahami Tamiang secara keseluruhan dan abang-abang kami, serta sahabat-sahabat yang telah banyak membantu dalam penulisan ini. Sembah sujud kepada emak kami Hj. Siti Habsyah binti Angkat yang tak henti-hentinya mendo’akan penulis dalam segenap aktifitas serta keluarga besar Wan Diman bin Abu Salim sebagai energi dalam setiap karya penulis. Selanjutnya terima kasih penulis kepada Isteri tercinta dr. Zuheini, M.Kes binti Syahril bin Muzahar, dan keempat orang anak-anakku dr. Siti Nur Aflah binti Muntasir bin Wan Diman, Muhammad Khalis Fikri bin Muntasir bin Wan Diman, Muhammad Badrani Zahran bin Muntasir bin Wan Diman, Muhammad Jasir Akram bin Muntasir bin Wan Diman, kalian adalah inspirasiku. Semoga buku ini bermanfaat bagi yang memerlukan. Tamiang, Januari 2022.- Penulis, Muntasir bin Wan Diman


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman iii Karang Baru, Januari 2022 MAJELIS ADAT BUDAYA MELAU TAMIANG Tuhe Adat H. HAMBALI BIN ABD HAMID * * M A B M E T A MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU TAMIANG MABMETA) Jl.Medan-Banda Aceh Km 10 Kampung Tanjung Semantok Karang Baru Aceh Tamiang MUKADDIMAH Segala puja dan puji kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita karunia dan kesehatan selanjutnya shalawat serta salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad SAW dan para sahabatnya yang telah membawa umat dari alam kebodohan kedunia yang penuh dengan ilmu dan teknologi modern. Rasa bangga saya atas terbitnya buku “Adat Perkawinan Suku Perkauman Tamiang” (Nempat ke Anak) yang merupakan tunjuk ajar sebagai pewarisan budaya bagi generasi mendatang. Pergeseran Adat yang bila diabaikan akan berhadapan pada kondisi “Putus tali tempat bergantung, patah latai tempat berpijak” jika para tokoh dan pelaku adat telah tiada. Alhamdulillah, buku ini telah meletakkan kembali pondasi yang kokoh untuk mempertahankan keberadaan adat yang sesungguhnya bermuara pada keberkahan. Apresiasi kami khusus kepada penulis buku ini Tuan Muntasir Bin Wan Diman yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran serta pengumpulan datadata yang dirangkum menjadi kalimat-kalimat dalam bentuk karya tulis yang gampang dimengerti dan difahami, selanjutnya terima kasih kepada penulis semoga karya ini bermanfaat dalam ridha Allah Subhanahu wata’ala.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan iv Karang Baru, Januari 2022 MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU TAMIANG Pemangku Adat DRS. SYARIFUDDIN BIN ISMAIL ARIF * * M A B M E T A MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU TAMIANG (MABMETA) Jl.Medan-Banda Aceh Km 10 Kampung Tanjung Semantok Karang Baru Aceh Tamiang PEMBUKE KATE Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah penguasa semesta alam. Kehadiran buku ini akan dapat menjadi petunjuk dalam pelaksanaan adat perkawinan (nempat ke anak) bagi suku Perkauman Tamiang sehingga tidak lagi terjadi perdebatan seperti ”menggantang anak ayam” yang tidak akan berkesudahan. Buku ini telah merangkum dan menceritakan kembali tentang adat yang sebenarnya adat yang berlaku sejak zaman dahulu sebagai warisan budaya suku Perkauman Tamiang yang mesti dilestarikan. Perlakuan adat dalam nempat ke anak ini bermuara pada keberkahan dalam membangun rumah tangga, setiap proses tahap demi tahap memiliki sempene keberkahan, untuk itu jangan dipersulit, jangan dimahalkan dan jangan ditinggalkan, meninggalkan perlakuan adat yang sebenarnya adat berarti telah menjauhkan rumah tangga dari keberkahan. Terima kasih kepada penulis semoga buku ini dapat menjadi lentera Tamiang dalam melestarikan adat.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman v Karang Baru, Januari 2022 MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU TAMIANG Tetuhe Adat DRS. H. SYAHRUL AMRI BIN OK SYAH AMIR * * M A B M E T A MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU TAMIANG (MABMETA) Jl.Medan-Banda Aceh Km 10 Kampung Tanjung Semantok Karang Baru Aceh Tamiang UCAPAN PEMBUKE Terbitnya buku adat perkawinan (nempat ke anak) bagi suku Perkauman Tamiang merupakan tuntunan dalam mengembalikan adat yang sebenar adat seperti yang telah diwariskan oleh datu nini (orang tua terdahulu) dimana sekarang telah terjadi pergeseran yang tiada diketahui asal usul pergeseran tersebut. Buku ini telah menjadi nakhoda dalam gelombang arus globalisasi yang deras sehingga tidak akan mejadikan generasi kedepan hanyut terbawa arus dan tenggelam dalam suasana yang tidak beradat. Buku ini juga telah menjadi tunjuk ajar bagi generasi muda khususnya dan masyarakat umumnya sebagai upaya pewarisan yang dapat merevitalisasi adat dalam pelestariannya. Kami merasa bangga ditengah hiruk pikuknya negeri ini masih ada orang yang peduli dengan keberadaan negerinya yang dapat menata kembali tatanan kehidupan masyarakat beradat bagi suku Perkauman Tamiang. Rasa hormat dan terima kasih yang dapat kami sampaikan kepada penulis, semoga tulisan ini menjadi amal dan bermanfaat bagi setiap orang.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan vi


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman vii DAFTAR ISI Sekapur Sirih ……………………………………………. Mukaddimah……………………………………………... Pembuke Kate……………………………………………. Ucapan Pembuke.………………………………………... Daftar Isi ………………………………………………… I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG…………………………… B. NEGERI TAMIANG…………………………….. C. PEWARISAN ADAT TAMIANG.……………… II. ADAT PERKAWINAN (NEMPAT KE ANAK) A. MAKNA DAN TUJUAN PERKAWINAN………. 1. Makna Perkawinan……………………………. 2. Tujuan Perkawinan……………………………. B. ADAN DAN CARA PERKAWINAN..…………... 1. Adat Perkawinan……………………………… 1.1. Kawin Berimpal………………………….. 1.2. Kawin Sesuku ……………………………. 1.3. Kawin Sewali …………………………….. 2. Cara Perkawinan ……………………………… 2.1. Kawin Peminangan/Kawin Beralat………. 2.2. Kawin Lari ……………………………….. 2.3. Kawin Berambe ………………………….. 2.4. Kawin Sumbang …………………………. 2.5. Kawin Ganti Tika (tikar) ………………… C. NEMPAT KE ANAK….………………………….. 1. Ngencari Judu ………………………………… 1.1. Ngintei/Ngeleh …………………………... 1.2. Ngerisik ………………………………….. 1.3. Sireh Mimpi……………………………… 2. Peminangan …………………………………... 2.1. Serah Telangkai ………………………….. 2.2. Penyiapan Sirih Besar ……………………. 2.3.Nganta Sireh Besar ……………………….. 2.4. Ikat Janji …………………………………. i iii iv v vii 1 3 4 8 8 11 13 13 13 14 15 16 16 16 22 23 23 25 25 25 27 32 36 36 39 41 54


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan viii 2.5. Masa Bertunangan ……………………….. 3. Pelaksanaan Perkawinan ……………………... 3.1. Dudok Pakat ……………………………... 3.2. Dudok Kerje ……………………………... 3.3. Mandi Berandam dan Malam Berinai……. 3.4. Ngisi Batil ……………………………….. 3.5. Nganta Mempelai ………………………... 3.6. Nerime Mempelai ………………………... 3.7. Nabo Beras Padi …………………………. 3.8. Naik Mempelai …………………………... 3.9. Serah Terime Sirih Emas ………………… 3.10. Naik Bersanding (dudok Bedemba) ……. 3.11. Cemetok Pengantin …………………….. 3.12. Makan Beradab ………………………… 3.13. Hari Berkurung ………………………… 3.14. Mandi Bedemba ………………………... 3.15. Alang Tujuh ……………………………. 3.16. Hari Larangan (Alang Sembilan)……….. 3.17. Nyembah Mentue ……………………… 3.18. Penyelesaian Kerja Perkawinan………… III. PAKAIAN ADAT DAN KELENGKAPANNYA A. PAKAIAN ADAT RESMI …………………….. 1. Pakaian Kalangan Raja-raja (Kepala pemerintahan)…………………………………. 2. Pakaian Pembesar Adat /Penguasa adat ………. B. PAKAIAN HARIAN ……………………………. 1.Pakaian Untuk Kalangan Laki-laki……………. 2.Pakaian untuk Kalangan Perempuan…………. 3.Pakaian Kerja …………………………………. C. PAKAIN PENDEKAR/PANGLIMA (HULU BALANG)……………………………………….. 1. Busana ………………………………………….. 2. Tata warna Kain Selempang bahu……………… 3. Sempene dari Warna …………………………… 69 72 72 75 75 77 79 81 83 90 91 98 103 105 107 107 109 110 111 113 115 117 118 121 121 121 122 122 122 123 123


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman ix D. PAKAIAN PENGANTIN………………………… 1. Pakaian Pengantin Pria (Mempelai)…………….. 2. Pakaian Pengantin Perempuan ...………………... E. PELAMINAN JADI SUKU PERKAUMAN TAMIANG…………………………………………. 1. Denah Pelaminan.……………………………... 2. Kelengkapan dan Hiasan Pelamin ……………. F. BALAI AMPUAN..………………………………. 1. Fungsi Balai …………………………………... 2. Sempene Balai ………………………………... G. TEPAK SIRIH ……………………………………. 1. Pengertian Kandungan Sempene……………… 2. Hiasan Tepak …………………………………. 2.1. Tepak Jemput Resam …………………….. 2.2.Tepak Songsong ………………………….. 3. Menyerahkan dan Menerima Tepak ………….. H. TEPUNG TAWAR (SETAWAR SEDINGIN)…… 1. Pengertian Tepung Tawar …………………….. 2. Kandungan Sempene Tepung Tawar …………. I. HUKUM ADATPERKAWINAN………………… IV. NGIDUPI DIRI A. MASA BERSAMA MERTUA …………………… B. MASA BERSAMA ORANG TUA ……………….. C. BERDIRI SENDIRI ………………………………. V. MENYAMBUT KELAHIRAN ANAK (BUDAK) A. RESAM DAN PANTANG PEMALI……………… 1. Resam ………………………………………… 2. Pantang Pemali ……………………………….. B. MASA BERSALIN ………………………………. 1. Menempah Bidan ……………………………... 2. Melahirkan Budak dan Masa Bedapô…………. 2.1. Menyambut Budak ………………………. 2.2. Nyecapi Budak …………………………... 2.3. Masa bedapô ……………………………... 2.4. Mupus ……………………………………. 124 124 125 127 127 129 130 132 132 135 135 136 136 137 137 137 137 138 144 148 149 151 153 153 156 158 158 160 161 163 165 166


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan x 3. Turun Tanah dan Basuh Tangan Bidan….……. C. PEREMPUAN MANDUL ………………………... 1. Faktor Penyakit ………………………………. 2. Faktor Keturunan ……………………………... VI. MASA KANAK-KANAK A. MASA TANDANG ……………………………… B. NYERAH KE NGAJI ……………………………. 1. Mengantar Anak Mengaji …………………….. 2. Mengkhatam Juz Amma ……………………… 3. Mengkhatam Al Qur’an ………………………. 4. Mengkhitan Anak …………………………….. VII. MASA MUDA A. PERGAULAN PEMUDA ………………………… B. KEWAJIBAN ORANG TUA …………………….. C. TANGGUNG JAWAB PEMUDA ……………….. LAMPIRAN – LAMPIRAN A. KATE TETUHE …………………………………... 1. Falsafah Hidup ………………………………… 2. Adat Istiadat ………………………………….... 3. Pimpinan Pemerintahan ……………………….. 4. Kemasyarakatan ………………………………. B. PERALATAN ADAT……………………………... C. PANTUN MENYAMBUT PENGANTIN ……….. CATATAN………………………………………… DAFTAR PUSTAKA ………………………………… 167 175 175 176 179 180 180 180 181 182 186 187 188 189 189 189 189 190 191 198 201 204


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 1 B AB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Suku Perkauman Tamiang adalah bagian dari suku melayu yang mendiami wilayah Timur dari Propinsi Aceh, banyak pendapat bahwa Suku Tamiang berasal dari suku melayu pulau Bintan kepulauan Riau dari kerajaan Melayu Raya yang berpindah-pindah akibat penyerangan kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke 7, selanjutnya rakyat melayu pulau bintan bersama kepala-kepala sukunya berpencar-pencar keseluruh negeri yang dianggapa aman dari serangan pasukan Sriwijaya, pada abad ke 10 keturunan dari Tan Ganda mendirikan kerajaan di sarang Jaya dan kemudian hancur akibat penyerangan Rajendra cola I dari cola mandala Hindia belakang, perpindahan berlanjut sampai disebuah sungai besar yang bercabang dua yang sekarang bernama Kuala Simpang. Dalam perjalanan waktu kehidupan rakyat yang sejalan dengan proses kehidupan, berbagai penyeranganpun terjadi sebagai konsekwensi terhadap negeri kerajaan pada saat itu, kekuatan merupakan kekuasaan tertinggi dengan penaklukan yang dapat menjadi wilayah kekuasaan bagi yang menang. Pada abad ke 12 dengan berbagai pembauran Melayu, Gayo Alas dan Aceh atas kehendak alam lahirlah seorang putra yang dikaruniakan kesaktian kebal terhadap gelimangan miang rebung bambu (pucok sulooh), yang kemudian menamakan negeri ini dengan nama Temiang dan putra sakti yang menjadi raja tersebut bergelar “Pucok Sulooh Raja Temiang”. Raja dan negeri yang terlahir atas pembauran yang saling berinteraksi dan telah melahirkan berbagai kreatifitas baik yang berwujud materi maupun non materi yang muncul secara spontan dari perilaku


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 2 kehidupan kelompok sebagai respon terhadap suatu kejadian terte ntu. Kreatifitas yang berwujud materi lebih cenderung tampak pada ornamen-ornamen serta bangunan-bangunan kerajaan dan rumahrumah penduduk yang kelak menjadi ciri khas suku Tamiang dan telah menjadi budaya masyarakat, dilain pihak kreatifitas-kreatifitas dalam bentuk non materi telah melahirkan norma-norma dan aturan aturan serta kaedah-kaedah yang dijadikan tuntunan dalam tatanan kehidupan masyarakat yang diselaraskan sesuai syariat dimana perkembangan syariat terus berjalan dan berkembang dalam kepemahamannya maka Tamiang disebut dengan “Negeri Berbalai”. Aturan dan norma-norma yang telah terbentuk dari interaksi pembauran yang kemudian menjadi homogen dengan nama Tamiang dijadikan kebiasaan yang memiliki kekuatan mengikat dengan tingkatan masing-masing disebutlah menjadi adat Tamiang. Adat Tamiang adalah segala bentuk perilaku atau tata kelakuan dalam tatanan kehidupan suku Tamiang yang berlaku secara berkesinambungan dan berulang-ulang telah menjadi kebiasaan yang terjadi baik secara spontanitas maupun kreatifitas dari interaksi sosial yang diterima oleh masyarakat Tamiang. Perilaku yang terjadi berlaku dalam segala aspek dan perlakuan sehingga menjadi perlakuan adat yang tertata secara sistematis, salah satu proses adat yang akan dikemukakan dalam tulisan ini adalah adat perkawianan (nempat ke anak) pada suku Perkauman Tamiang. Oleh karenanya adat bagi suku bangsa adalah milik suku tersebut, milik kampung dimana bermukim bukan milik individu, untuk itu perlakuan adat adalah tanggung jawab Datok Penghulu Kampung (kepala desa) sebagai pemangku adat di kampung dan tuhe adat beserta urang patot-patot kampung. Jika terjadi kejanggalan dalam pelaksanaan adat baik sengaja maupun tidak sengaja, maka malu suku, malu datok penghulu kampung (kepala desa) dan juga malu kampung (desa). Dalam perlakuan adat segala


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 3 sesuatunya menurut arahan datok Penghulu kampung sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku yaitu adat yang sebenarnya adat. B. NEGERI TAMIANG Negeri Pucok Suloh awal sua Temiang yang merupakan lentera Tamiang telah mengukir sejarah terhadap terbentukanya peradaban yang bermuara kepada negeri beradat mengangkat harkat dan marwah diatas sopan santun yang tinggi yang berkarakter ramah, terbuka dan toleran sesuai dengan kate tetuhe “digoyang bise (buleh) dicabut te ‘ek” artinya digoyang boleh seperti apapun namun tidak akan mampu untuk dicabut, ini merupakan keteguhan jiwa dan pendirian yang kokoh, tidak gampang untuk dipengaruhi kepada hal-hal yang merugikan, kate tetuhe ini muncul dari peri kehidupan masyarakat terutama orang tua - orang tua dahulu yang memiliki kekuatan alami secara bathin yang terkadang tanpa mereka sadari, orang Tamiang sebagai pelaut dan tinggal dipesisir dimana setiap mereka pulang mereka menancapkan tonggak kayu kecil (diameter antara 1,5– 2 inci) untuk menambat sampan (perahu). Cara mereka menancapkan tonggak tersebut bila dilihat dengan kasat mata seandainya jika arus kencang yang melanda pasti tonggak tersebut akan tercabut terbawa arus, akan tetapi dalam kenyataannya tonggak tersebut meskipun dilindasi oleh perahu tetap berdiri lagi dan pantang untuk tercabut, demikianlah gambaran karakter yang terbentuk dalam diri kehidupan masyarakat Tamiang dengan penuh toleran bersahabat dan selalu ingin hidup berdampingan dalam damai inilah bermulanya falsafah diatas. Negeri Kerajaan yang besar dan telah terbangun dengan megah sedemikian rupa sesuai faktanya yaitu dimana sungai besar maka akan berdiri kerajaan besar, hal ini terus berjalan sesuai pewarisannya dan tiba sampai pada kerajaan islam Tamiang, kehidupan yang penuh bersyariat dengan falsafah tuhenya “Sebadi Adat dengan Syara’. Adat dipangku syara’ dijunjung resam dijalin kanun diatur duduk


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 4 setikar”. Kekuatan Islam yang terus berkembang maka sesuai dengan kate tetuhe tersebut tidak ada lagi perlakuan adat yang bertentangan dengan syara’ dan berlakulah adat yang bersyariat dengan kekuatannya terus dijaga sampai sekarang ini. Oleh karena itu negeri Tamiang adalah negeri beradat yang tetap berpegang pada syariat. Jika muncul perlakuan yang kelihatannya bertentangan ini bukan sebuah produk adat baru melainkan adalah sebuah penyimpangan dan harus diluruskan serta dibenah sesuai kaidah islam tidak dengan menghilangkan adat tersebut. C. PEWARISAN ADAT TAMIANG Adat merupakan tradisi atau kebiasaan turun temurun yang diwarisi oleh ndatu nini (orang tua terdahulu) yang lahir dari interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat. A. Suryaman Mustari Pide menjelaskan bahwa kata “adat” berasal dari Bahasa arab yang berarti kebiasaan. Terjadinya hukum bermula dari pribadi manusia yang menimbulkan “kebiasaan pribadi” kemudian ditiru oleh orang lain karena dinilai sebagai sebuah kepatutan maka lambat laun ini menjadi “adat”1 Adat yang merupakan kebiasaan menjadikan perlakuan itu sebagai adab yang bermuara pada keberkahan, oleh karenanya perlakuan ini dianggap sebagai suatu perlakuan yang sakral maka tidak boleh ditinggalkan dan bila ditinggalkan akan mendapat sangsi, inilah yang kemudian dinamakan hukum adat, dalam bahasa lainnya adat dipahami sebagai pekerjaan mengulang hukum kebiasaan dan menetapkan hukum atau memutuskan suatu perkara yang sama dengan keputusan yang sama. 1 Prof. Dr. A. Suryaman Mustari Pide,SH,M.Hum, Hukum Adat , Dahulu, Kini dan Akan Datang 2017 hlm 1


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 5 Adat juga diartikan sebagai kaidah kaidah atau aturan aturan yang dibuat oleh manusia, adat bagi suku Tamiang bukanlah sesuatu yang kaku tapi berlaku berdasarkan kepadanannya diatas kearifan yang tidak memberatkan tapi tidak menyimpang dan melecehkan, seperti apa yang berlaku dalam adat perkawinan suku perkauman Tamiang (akan dibahas lebih lanjut pada bab II), sejak awal proses sampai akhir haruslah membawa sirih dengan total jumlah 7 tepak sirih. Membawa sirih adalah adat jumlah 7 tepak adalah resam yang masih bisa disepakati jumlahnya. Hasil interaksi masyarakat baik secara individu maupun kelompok melahirkan berbagai karya lewat kreatifitas yang terkadang diimplementasikan lewat perilaku diterapkan dalam sebuah perlakuan dan memiliki nilai estetika (keindahan) sehingga mendapat perhatian sekelompok manusia dan diterima, demikianlah kebiasaan yang terjadi pada masyarakat Tamiang. Menurut Koencaraningrat Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan abstrak dari adat istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam fikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat tersebut.”2 sejak terbentuknya pemukiman dari hasil rebas tebang kelompok masyarakat dan diterapkan secara terus menerus yang kemudian ditetapkan sebagai adat. Adat lebih menyangkut kepada suatu Hukum, “Adat yang sebenar adat adalah menurut waktu dan keadaan, jika dikurangi merusak jika dilebihi mubazir dengan landasan; Kesediaan hati nurani (budiman), kebenaran yang sungguh (ikhlas), kepatutan yang berpadan (selaras)”. Istiadat merupakan bagian adat yang lebih menyangkut kepada pelaksanaannya (upacara), seperti Adat 2 Koentjaraningrat. “Pengantar Antropologi” 1986, halaman 190.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 6 Perkawinan, adat pemakaman adat turun tanah anak dan lain-lain. Resam adalah Adat yang diistiadatkan (tata cara pelaksanaan adat). qanun adalah adat lembaga. Resam berlaku menurut keperluan peradatan sebagai bagian dari tata cara hubungan kemasyarakatan /peradaban dan kebudayaan, sedangkan qanun adalah sanksi hukum tentang berlakunya resam peradatan, dapat juga dikatakan Resam merupakan pelaksanaan qanun yang penerapannya disepakti bersama. Atau Resam adalah segala peraturan yang telah ditetapkan dengan musyawarah urang patut patut dan diterapkan dalam masyarakat dan setiap individu yang melanggar atau meremehkan dikenakan sangsi sesuai dengan ketentuan yang juga telah disepakati bersama. Qanun merupakan seperangkat peraturan perundang undangan yang disusun dengan baik dan rapi sebagai pedoman dan pegangan masyarakat yang berisi sangsi hukum. Adat istiadat, resam dan qanun, sebagai unsur kebudayaan khususnya di Tamiang adalah milik masyarakat, milik rakyat yang dipegang dan dipangku ditegakkan dan diawasi oleh kepala desa (datuk penghulu kampung), hukum ditegakkan oleh para isteri pemuka adat dibawah lindungan datuk-datuk selaku kepala adat, hukum dan sjara’ ditegakkan oleh tok Imam kampung. Dalam upaya melestarikan adat bagi suku Perkauman Tamiang kebiasaan yang dilakukan adalah dengan beberapa cara yaitu; 1. Melalui berbagai perlakuan sebagai tunjuk ajar yang diperhatikan oleh segenap masyarakat dari berbagai generasi untuk dapat diteruskan secara kontinu dan berkesinambungan, tunjuk ajar dapat berupa perlakuan adat yang sedang berjalan dalam setiap aspek kehidupan, dimana perlakuan tersebut dapat dilihat oleh semua masyarakat dan terus menerus ditiru dan dilaksanakan, sehingga terjadi secara kontinu tidak terputus.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 7 2. Melalui tutoR, yaitu lewat cerita orang tua - orang tua baik secara langsung kepada anaknya atau ketika ada orang tua lain yang datang bersilaturahmi dan menceritakan tentang adat maka dibenarkan anak dari yang punya rumah dipanggil oleh orang tuanya untuk duduk mendengarkan cerita mereka, tetapi tidak punya hak bertanya dan berbicara, karena merupakan pantang pemali anak mencampuri cerita orang tuanya, jadi dalam hal ini sianak hanya mendapat hak mendengar saja, nanti baru orang tuanya yang akan menjelaskan secara detail. 3. Melalui Pekaba yaitu cerita sewaktu mau tidur, hal ini sudah diceritakan sejak anak masih kecil dengan porsi cerita yang disesuaikan dalam bentuk mendidik, misal dalam tutur (cara dalam bertegur sapa sesama keluarga ataupun orang lain dengan tidak menyebut nama) misal untuk memanggil suami kakak itu dibahasakan dan dipanggil dengan “temude” sedangkan kakak ipar (isteri abang) dipanggil dengan “dapô” jika yang lebih tua memanggil iparnya ini berlaku tutur panggilan dirumah, apakah alang, ngah, uteh dan encu, demikianlah proses pewarisan sebagai upaya melestarikan adat, agar tidak terjadi stagnasi adat karna sesungguhnya pembelajaran adat tidak pernah dilakukan pengkaderan melainkan melalui pewarisan dimana prosesnya seperti yang tersebut pada 3 poin diatas, namun dengan era literasi yang terus berkembang dizaman sekarang ini pewarisan adat dapat juga dilakukan dengan tulisan, yaitu dengan membukukan segala perlakuan yang masih sesuai terhadap apa yang telah ditunjukan lewat perlakuan secara terus menerus dan juga yang diceritakan tentang asal perlakuan terserbut dilakukan sehingga memberi makna dari sempena perlakuan itu.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 8 BAB II ADAT PERKAWINAN (Nempat ke Anak) A. MAKNA DAN TUJUAN ADAT 1. Makna Perkawinan Perkawinan bagi suku Perkauman Tamiang adalah merupakan pertautan hati dua insan yang berlainan jenis dan telah aqil baliR yang dilalui lewat pernikahan dengan memenuhi persyaratan-persyaratan syari’at dan adat. Menurut kamus umum bahasa Indonesia pengertian perkawinan adalah berkumpul / bersatu, sedangkan menurut syariat Islam Perkawinan adalah ikatan atau perjanjian antara seorang pria dengan wanita untuk hidup bersama sebagai suami istri sesuai ketentuan-ketentuan agama. Perkawinan juga merupakan salah satu perintah syariat sebagai upaya manusia untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya dan mempertahankan dari kepunahan, menjaga kehormatan manusia dan memelihara kemuliaan keturunan. Prof. Dr. H. Moch. Isnaeni, S.H, MS, menjelaskan bahwa dalam undang-undang perkawinan pasal 1 definisi Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.3 Manakala sesuatu keluarga rumah tangga yang dikendalikan oleh sepasang suami isteri saling mencintai mempunyai seorang anak lakilaki atau lebih, dan ditandai dengan kondisi kedewasaannya yaitu salah seorang anaknya telah cukup dewasa umurnya, dewasa tingkah lakunya dan dewasa pula kemampuannya untuk menghidupi dirinya sendiri 3 Prof. Dr. H. Moch. Isnaeni, S.H., MS, Hukum Perkawinan Indonesia 2016 hlm 35.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 9 (berusaha sendiri), juga dewasa dalam pengetahuan untuk bergaul sesuai dengan keadaan lingkungan masyarakat kampungnya, kondisi ini sudah menjadi suatu tradisi sepanjang adat istiadat puak suku dan kaum Tamiang adalah tanggung jawab orang tuanya untuk mencarikan jodoh terhadap anak bujangnya (pemuda) tersebut, tanggung jawab terhadap mencari jodoh anak bagi orang tua inilah disebut dengan “nempat ke anak” (menempatkan anak dalam membangun rumah tangganya). Kewajiban utama bagi orang tua dalam kalangan orang-orang Tamiang sejak dahulu terhadap anaknya semenjak dilahirkan adalah: 1. Setelah anak dimandikan haruslah di azankan/diqamatkan dan diberi nama, ini merupakan lanjutan mendidik anak yang telah dimulai sejak bersetubuh dengan mendoa’akan kepada Allah agar ketika menjadi anak akan terlahir menjadi anak yang shaleh/shaleha, kemudian lahir lalu diazankan bagi anak laki-laki dan diiqamat bagi anak perempuan merupakan pengenalan tauhid yang pertama ketika anak melihat dunia dan dari sini pulalah keberkahan terus menyertai sianak. 2. Diasuh, diasih dan diasah serta dikhitankan, mengasuh anak dengan segala kebaikan penuh rasa kasih sayang sehingga ia akan tumbuh dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang antara sesama dan belajar saling menghargai dengan sesama, kemudian dikhitankan sebagai pertanda anak sudah aqil balikh bagi anak laki-laki dan pada tingkat usia seperti ini biasanya sudah mengaji khatam alquran. 3. Setelah anak sempurna melalui kedua katagori diatas maka ia telah dianggap cukup dewasa, kriteria inilah yang menjadi pedoman mutlak bagi orang tua terhadap anak lajangnya, kemampuan ekonomi bukan persoalan utama meskipun itu termasuk dalam bagian persiapan, karena orang Tamiang sangat yakin bahwa langkah, rezeki pertemuan dan maut adalah hak Allah, selanjutnya kewajiban pokok berikut,


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 10 4. Mencarikan jodoh (ngencari judu) dan mengawinkannya dengan istilah Tamiang “nempat ke anak”, hal ini sangat menjadi pertimbangan utama, jika anaknya telah kelihatan dewasa, untuk menghindar dari berbagai kemungkinan perbuatan yang menyimpang maka anak segera dikawinkan. Adat perkawinan bagi suku perkauman Tamiang tentu saja sangat terikat pada budaya Tamiang meskipun ada disusupi oleh kehadiran budaya-budaya lain namun tidak akan merubah bentuk sebenarnya terhadap adat yang telah diwarisi oleh datu nini orang Tamiang, perlakuan adat yang bermuara pada keberkahan merupakan salah satu tujuan perkawinan yaitu bagaimana menciptakan rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah, keluarga bahagia yang dapat mewariskan keturunan yang baik dalam segala aspek tentu saja hal ini sangat ditentukan pada saat mencari jodoh yang tidak terlepas dari keturunan yang telah membentuk perilaku anak. Menurut Al Ghazali ketenangan lahir dan bathin merupakan tujuan dan pondasi yang kuat dalam membentuk serta membina keluaga yang bahagia dan kekal.4 Zakiah Darajat dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menjelaskan……...Islam tidak membebaskan manusia dari tanggung jawab tentang apa yang berlaku pada masyarakatnya dan apa yang terjadi disekelilingnya, 5 inilah kontek dari keberadaan adat sebagai perilaku kehidupan bermasyarakat. Dalam persoalan mencari jodoh kedua ibu bapa berunding kemana tujuan untuk mencarikan jodoh bagi anak mereka itu. Musyawarah kedua suami isteri tersebut sangat penting karena tercakup dalam adat basa basi, kalau siibu telah ada niat dalam hatinya untuk mencalonkan anaknya dan akan mengambil menantu dari kalangan 4 Al Ghazali Etika kehidupan, alih bahasa A. Mujab Mahal, 1984, hal 4 5 Zakiah Daradjat,Ilmu pendidikan Islam,cet.II, 1992, hal 44


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 11 keluarganya sendiri yang disebut dengan “kawin berimpal”, hal ini merupakan kehormatan bagi kaum biak isterinya, sebaliknya begitu pula siisteripun menanyakannya pula kepada sisuamiseandainya siayah ingin pula mengambil jodoh anaknya itu dari kalangan puteri saudaranya sendiri yang perempuan. Hasil musyawarah yang dilakukan kedua orang tua bujang (bujang adalah istilah pemuda bagi orang Tamiang) dilakukan lewat tilik pandang (menelisik/pantauan) terutama dalam hal sudah mampu mengaji, sudah mampu dan pintar memasak harus patuh dan tidak boleh menyimpang dari kate tuhe (bidal wasiat turun temurun) yaitu; “kawin ngan yang sepadan, bekawan ngan ndak nutup malu, jangan bebedak bepupoR lalu kebagan, bekawan ngan situmpoR haRi-haRi kedapatan” (kawin dengan yang sederajat, berteman dengan orang yang mau menutup malu, bersolek pada tempatnya, berteman dengan pemboros selalu ketahuan). Jangan te jelas sape kaom biak dan cadek tentu suku sakatnya (jangan tidak jelas keturunan ibu dan bapaknya). Hal ini dipentingkan karena dalam adat Tamiang berlaku adat kawin ambil mengambil oleh karenanya berlaku falsafah Kayu besa jangan dilangkah (urang tuhe jangan ditinggal ke artinya orang tua jangan ditinggalkan/mintalah petuah atau petunjuk pada orang tua) selain mendapatkan kefahaman juga membawa keberkahan. 2. Tujuan Perkawinan Segala sesuatu perbuatan itu tentu saja disertai dengan niat dan memiliki tujuan, apakah perbuatan yang merupakan perintah (perintah agama namanya syariat), maupun perbuatan atas kehendak dan keinginan sendiri. Demikian juga dengan perkawinan selain merupakan keinginan dan perintah syariat juga merupakan perintah adat. Diperintahkannya untuk melaksanakan perkawinan ketika anak dipandang telah memenuhi persyaratan menurut adat dan syariat (syar’i) . Dr. Amal Yasin ‘Abdul Mu’thy Al-Bandary, menjelaskan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 12 bahwa nikah adalah salah satu Objek syariat Islam untuk menjaga manusia dari kepunahan, menjaga kehormatan manusia dan memelihara kemuliaan nasab 6 . Mempertahankan kelangsungan hidup manusia adalah dilakukan lewat perkawinan sehingga terjadi pergantian generasi secara berkesinambungan serta terjadinya perlakuan syiar sesuai kaedah agama dan adat masing-masing sampai berakhirnya kehidupan dunia. Menurut Direktort Jenderal Pembinaan Kelembagaan Islam Departemen Agama ada 5 tujuan perkawinan yaitu untuk 7 : 1. Mendapatkan dan melangsungkan keturunan 2. Memenuhi hajat manusia menyalurkan syahwatnya dan menumpahkan kasih sayang 3. Memenuhi panggilan agama, memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan 4. Menumbuhkan kesugguhan untuk bertanggung jawab, menerima hak serta kewajiban juga bersungguh - sungguh untuk memperoleh harta kekayaan yang halal 5. Membangun rumah tangga untuk membentuk kasih sayang masyarakat yang tenteram atas dasar cinta. Selanjutnya Djoko Prakoso menambahkan bahwa Perkawinan itu disyariatkan agar manusia mempunyai keturunan dan keluarga yang syah menuju kehidupan bahagia didunia dan akhirat yang diridhai.8 Dari rangkaian tujuan perkawinan tersebut telah menunjukan bahwa perintah perkawinan itu merupakan kewajiban penting yang tidak boleh 6 Dr. Amal Yasin ‘Abdul Mu’thy Al-Bandary, Tuntunan Praktis Adab Walimah menurut Al Quran dan As-Sunnah 2018 hlm 15 7 Direktort Jenderl Pembinaan kelembbgaaan agama Islam Departeman Agama, Ilmu fiqh, jilid II, Departemen Aama R.I.hal 64 8 Djoko prakoso, Azas Azas hukum perkawinan,cet.I, Jakarta, 1987, hal 5


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 13 diabaikan sebagai upaya untuk melestarikan kelangsungan hidup umat manusia yang telah diamanahkan oleh Allah menjadi khalifah dimuka bumi yang kuat dan tangguh serta dilimpahi kasih sayang untuk kehidupan yang damai. B. ADAT DAN CARA PERKAWINAN 1. Adat Perkawinan Mengawinkan anak (nempat ke anak) merupakan kewajiban utama yang sangat pokok bagi kedua orang tua dalam suku perkauman Tamiang, harus dijalankan dalam memenuhi kewajiban terhadap anak. Yang menjadi penilaian bagi orang tua untuk mengawinkan anaknya (nempat ke anak), adalah bila orang tua dan kaum kerabat telah semufakat menilai pemuda atau pemudi itu telah cukup dewasa, baik dalam umur (usia) maupun tingkah lakunya dan juga telah mampu berdiri sendiri dalam segala hal. Menurut istilah orang tua-orang tua Tamiang sipemuda telah mampu mangatap, membuat ulu parang (gagang parang) dan senduk, yang bermakna sebagai ibarat mampu berumah tangga, mampu bekerja dan mampu menyediakan pangan. Sedangkan sigadis telah mampu menganyam tikar dan memasak, yang bermakna sebagai ibarat telah mampu menyiapkan peralatan rumah tangga dan penganan bagi keluarganya, kedua orang tualah yang berkewajiban mencari jodoh buat anaknya, hal ini sangat menentukan karena berkaiatan dengan adat basa basi disuku Tamiang dimana mereka menginginkan kawin berimpal. Ada tiga macam adat perkawinan dalam suku Perkauman Tamiang yang dinamakan kawin ambil berambil (kawin berambǝ) yaitu; 1.1. Kawin berimpal adalah perkawinan antara anak abang (anak yang laki-laki/perempuan) dengan anak adik yang perempuan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 14 (anaknya yang laki-laki/perempuan) ataupun perkawinan yang dilakukan dengan anak dari sebelah ibu (anak pakcik, anak makcik dan anak wawak baik laki-laki maupun perempuan) atau kawin dengan anak sebelah bapak (anak makcik atau anak wawak yang perempuan /kakak Bapak), karena ini merupakan kehormatan untuk kaum biak isteri maupun dari kaum biak suami. Andaikata tidak dijodohkan apabila ada pihak lain yang ingin melamar, maka orang tua dari gadis tersebut harus terlebih dahulu menanyakan kepada semua saudara, apakah diantara mereka ada yang ingin mempersunting anaknya, apabila tidak ada yang berkeinginan untuk kawin berimpal tersebut maka barulah boleh diterima lamaran dari pihak lain. Perkawinan seperti ini sering dilakukan dengan menjodohkan atau kedua belah pihak orang tua yang berhubungan tali saudara bermufakat untuk menjodohkan anak mereka, hal ini dilakukan dengan bermacam-macam alasan diantaranya untuk memperkokoh tali persaudaraan, dan juga agar harta warisan tidak jatuh kepihak orang lain. Selain dijodohkan perkawinan berimpal ini juga dapat terjadi secara biasa pertautan hati bujang dan dara(e) yang kemudian disampaikan kepada kedua orang tua masing-masing yang sesuai dengan ketentuan diatas, bila dilanggar berarti telah melakukan menyalahkan adat (nyelahi adat) akan mendapat sangksi sesuai ketentuan adat. 1.2. Kawin sesuku Istilah suku menurut H.M. Zainuddin, orang Tamiang asli itu pada zasman dahulu memakai suku, marga jika di tapanuli dan Sukee di Aceh Besar (Aceh Rayeuk), familienaam dalam bahasa Belanda dan she kata orang-orang Tionghoa dan keluarga kata orang-orang Indonesia. Bagi orang Tamiang nama suku itu diambil dari nama datangnya nenek moyang mereka ke


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 15 Tamiang, seperti untuk keturunan Raja Pucok Suloh maka keturunan Raja tersebut dikatakan keturunan suku Suloh, anak cucu Raja Muda Sedia keturunannya disebut keturunan suku Sedia. Untuk keturunan rakyat biasa dikenal dengan suku piker, berasal dari nama orang yang datang dari Aceh yang bernama Teungku Haji Pikee, sehingga anak-anak cucunya disebut keturunan suku Pikee9 . Maka orang Tamiang zaman dahulu dilarang kawin dengan yang sesuku karena dianggap sedarah, ini adalah Sumpah Adat. 1.3. Kawin sewali yaitu kawin dengan anak abang bapak (anak uwak) atau dengan anak adik bapak (anak pakcik). Demikian juga halnya dengan perkawinan sesuku, dalam suku perkauman Tamiang dilarang kawin sewali karena ini menyalahi adat, oleh sebab itu jarang terjadi kecuali terpaksa. Kalau hal ini terjadi haruslah melaksanakan “nyelahi adat” (denda adat), berupa seekor kambing lengkap dengan rempahnya, beras tujuh are (tujuh bambu =14 liter) dan kain putih sekabung (setinggi diri) serta uang dua ringgit diserahkan kepada Raja melalui Datok kampung, dimasa sekarang telah disesuaikan dengan nilai uang yang berlaku dan diserahkan kepada pemuka adat (Tok imam kampung melalui datok penghulu). Perlengkapan tersebut dikendurikan untuk anak yatim sedangkan kain sekabung diserahkan kepada Tok Imam (orang yang mengurus masalah agama didesa). Selain itu juga perkawinan ini sering terjadi diluar kehendak, bisa terjadi hubungan diluar nikah atau memang telah menjalin hubungan kedekatan sendiri yang tidak dapat dipisahkan. Perkara nyelahi (nyalahi) adat ditindak lanjuti oleh pemangku adat (Raja/datok penghulu kampung) dengan menyerahkan tugas ini kepada datuk Penghulu Kampung/tok imam kampung untuk 9 H.M. Zainuddin, Tarikh Aceh dan Nusantara thn 1961, hlm 153-154


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 16 melakukan kenduri dengan uang dan kain sekabung yang diberikan kepada Imam sedangkan kenduri tadi adalah diperuntukan buat anak yatim. 2. cara/jenis perkawinan Oleh karena perkawinan merupakan pertautan hati tentu memiliki ruang dan waktu yang luas bagi siapa saja, hanya dibatasi oleh ketentuan-ketentuan syariat dan adat yang ada didalamnya. Bagi suku perkauman Tamiang ada 5 cara/jenis perkawian. 2.1. Kawin peminangan/kawin beralat adalah perkawinan yang dilakukan sejak awal dengan proses adat dan syariat. Semua proses berjalan sebagai mana mestinya ketentuan adat dan syara’ yang telah berlaku secara baku dengan melibatkan semua perangkat adat, suku sakat dan kaom biak yang dijalankan lewat proses bertahap secara sistematis. Kawin secara peminangan adalah sebuah kemuliaan yang dilalui lewat berbagai prosesi yang mengangkat marwah serta martabat yang tinggi. Perkawinan pada cara seperti ini dilalui lewat persetujuan semua keluarga orang tua suku sakat dan kaom biak dengan perlakuan adat yang telah berlaku. 2.2. Kawin Lari yaitu proses perkawinan yang lamaran /peminangan silelaki ditolak dengan berbagai alasan, sementara mereka suka sama suka. Menurut H.M. Natzir Said “Kawin lari (kawin Silariang menurut istilah orang Makasar) adalah apabila seorang gadis/perempuan dengan seorang pemuda/laki-laki meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan atau persetujuan keluarga kemudian mereka menikah”10 . 10 HM. Natzir Said, Silariang Siri’ orang Makasar 2005, hlm 2


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 17 Kehidupan masyarakat suku Tamiang terkenal ramah, suka tolong menolong (bersetolongan), jika ada tamu yang bertandang lantas menumpang dengan ramah lalu diterima, karena bagi orang Tamiang struktur rumahnya memiliki rumah induk dan manju/selang yang sering digunakan buat anak-anak bujang berkumpul tidur. Orang yang menumpang berhari-hari bahkan terkadang menjadi anak angkat, sering terjadi ikatan percintaan dengan anak daRe (anak gadis) yang punya rumah dan akhirnya sepakat untuk melakukan perkawinan, hal ini sering ditolak maka karena hubungan secara diam-diam yang membuat mereka sudah menjadi senang sama senang sepertinya susah untuk dipisahkan lalu mengambil jalannya sendiri tanpa sepengetahuan keluarga sigadis mereka sepakat untuk kawin lari, biasanya menuju salah satu keluarga silaki-laki yang berada diluar kampung tersebut dan dinikahi dengan wali hakim. Kawin lari ini juga biasanya karena sigadis dipaksa untuk kawin dengan orang yang dipilih orang tuanya akan tetapi anak gadis suku Perkauman Tamiang takut melawan orang tuanya bila hal ini terjadi merupakan aib yang lebih buruk dari mereka melakukan kawin lari. Bagi suku Perkauman Tamiang masalah perkawinan merupakan kebebasan mutlak bagi sianak untuk memilih, namun oleh karena kepatuhan terhadap orang tua yang membuat mereka tidak sanggup untuk mengungkapkannya. Perkawinan seperti ini meskipun awalnya tidak baik, setelah kembali pulang kedalam keluarga dengan damai akan dilaksanakan peresmian perkawinan secara adat. Kawin lari ini tidak terbatas pada bujang yang serumah bisa saja peminangan secara normal dengan orang luar rumah yang telah menjalin kasih dengan sigadis secara mendalam, ketika peminangannya ditolak maka keputusan akhir yang mereka ambil adalah kawin lari. Selain itu juga sering terjadi ketika sigadis telah memiliki kekasih yang saling mencintai kemudian dipinang oleh


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 18 pemuda (bujang) lain yang belum dikenal (tidak dicintai), namun peminangannya disetujui oleh kedua orang tua, maka sering mereka mengambil keputusan untuk kawin lari dengan kekasihnya. Hal ini dapat juga terjadi karena kebiasaan dalam suku perkauman Tamiang waktu-waktu tertentu merupakan suatu kebebasan bagi sigadis untuk keluar dari rumah dengan dandanan yang menarik yaitu ketika membantu dirumah orang yang akan mengadakan pesta atau pada saat nyeraye menanam padi dan mengirik padi (merontokkan padi secara manual). Disamping itu juga kawin lari dapat terjadi pada pemuda yang sering bertandang dirumah sigadis dan sering bermalam diberandang rumah tersebut yang sengaja disediakan buat anak lajangnya. Suatu hal yang tabu bagi suku perkauman Tamiang yaitu sipria tidak dibenarkan bertandang kerumah sigadis bila dirumah tersebut tidak ada orang tua atau orang yang berkeluarga hal ini akan dianggap sumbang pandang, namun bukan tidak mustahil pertemuan secara diam-diam juga dapat dilakukan. Apabila sigadis yang turun dari rumahnya untuk menemui laki-laki maka hal ini bila diketahui oleh saudaranya dapat terjadi pertikaian bahkan bisa menimbulkan pertumpahan darah. Proses perkawinan apapun diluar ketentuan adat dan syara’, ketika telah reda dan berakhir dengan kebaikan tetap dilakukan proses adat sesuai dengan ketentuan yang melibatkan wali syara’ (yaitu pihak dari ayah yang laki-laki yaitu uwak dan pakcik), wali adat (yaitu pihak dari ayah yang perempuan, yaitu uwak perempuan dan makcik) dan wali karung (yaitu pihak dari emak yang laki-laki yaitu uwak laki-laki dan pakcik) serta suku sakat (pihak keluarga sebelah bapak) dan kaom biak (pihak keluarga sebelah emak). Oleh karena cara perkawinan dengan kawin lari ini juga merupakan aib bagi keluarga maka ini sangat dihindarkan, orang tua terutama


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 19 ibu (emaknya) sangat ketat untuk mengawasi anak daRenya (gadis), kemanapun ia pergi cenderung lebih banyak bersama ibunya ketimbang dengan teman perempuannya, namun demikian seketat apapun pengawasan tetap ada saja peluang-peluang untuk terjadinya peristiwa itu, maka tunjuk ajar serta nasehat terus diberikan baik dari orang tua sendiri maupun dari kaum biak lainnya. Tata ruang rumah suku perkauman Tamiang ditata sedemikian rupa, dimana kamar dara terletak didepan kamar ayah dan ibu, sedangkan disamping (disebelah) kamar ayah dan ibu terletak kamar bujang. Hal ini menunjukkan bahwa peranan orang tua didalam mengawasi anak–anaknya sangat menonjol. Dan bila orang tua tidak ada dirumah disediakan manju untuk tempat tamu menunggu bagi laki–laki, selang muka dan selang belakang bagi tamu wanita, selang muka dan selang belakang serta manju tidak berdinding penuh, biasanya hanya didinding sebatas bahu bila kita sedang duduk. Ruang tamu dan ruang tidur sering dipasang lelangit, yaitu kain yang disambung – sambung dalam beberapa warna (sering dibuat dari kain–kain perca). Untuk ruang tamu biasanya dipasang kain penutup dinding yang disebut “tabing” yang dibuat juga dari kain berwarna–warni. Sedangkan untuk duduk para tamu disediakan tikar Cio yang juga dianyam secara terawang dengan diberi warna warni dan dipinggir tikar juga dilapisi (dibingkai) dengan kain berwarna juga. Untuk membuat rumah dipilih tempat yang baik dan menurut ramalan-ramalan serta perhitungan yang baik letaknya. Kemudian tempat yang telah ditetapkan itu dibersihkan, ditepung tawari dan terkadang ada yang membuat sesajian (sebagai persyaratan makbulnya doa) dan do’a - do’a yang lain secara syariat untuk mengusir hantu tanah. Pada waktu menepung tawari (setawar sedingin / nyejok) ketika mendirikan rumah, diatas tiang tengah digantung setandan pisang dan sebiji kelapa tumbuh, sebiji buah


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 20 kundur dan rinjisan tepung tawar (batang jejerun, pepulut, sedingin dan lain-lain yang diikat jadi satu). Benda ini terus tergantung sampai rumah selesai dibangun (dibuat). Makna dari gantungan pada tiang tengah itu adalah : • Setandan pisang emas bermakna sebagai perlambang bahagia, cukup, dan tiada ke kurangan (emas = rezeki), • Sebiji kelapa tumbuh itu bermakna perlambang pertumbuhan yang lemak = kehidupan yang sempurna, • Sebiji buah kundur itu bermakna perlambang sejuk = ketentraman berdiam, • Ikatan rinjisan tepung tawar itu bermakna perlambang seruan atau do’a atas kesempurnaan kehidupan dirumah tersebut, Semua bahan yang disebutkan diatas hanya sebagai perlambang bukan sebagai asbab, semua terjadi atas ridha Allah berkat do’a. Dipuncak setiap tiang dilapisi dengan kain perca (lapek tiang) yang berwarna merah=berarti keberanian, kehidupan; putih = kebersihan; hitam = tenaga/kekuatan. Keseluruhan lapek tiang tersebut berarti bahwa tiang-tiang itu sebagai penegak dan pendukung rumah, telah diberkati dengan kekuatan gaib untuk kehidupan dan kebersihan penghuni tersebut.11 Rumah berbentu panggung bertiang empat persegi dengan jumlah tiang rumah induk 9 atau 12, bubung panjang melengkung sedikit ditengah, bubungan dapur terpisah dari rumah induk dan agak rendah sedikit dari bubungan rumah induk. Tinggi rumah induk “sekerunjong” (seperjangkauan orang dewasa/ ketika berdiri mengangkat tangan lurus keatas ini yang dinamakan sekerunjong), jumlah anak tangga 7 tengkah, manju, serambi muka dan dapur 11 T.M. Lah Husni, ”Butir-butir Adat BudayaMelayu” 1968. halaman 80.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 21 Guci Guci Telaga Kepok Padi Tangga Tangga Tangga Selang belakang keatas) Tangga Kamar ayah dan ibu Kamar bujang Kamar dara Batang ruang (Ruang tamu) Serambi muka Selang muka Manju Guci (tidak berdinding sampai sama tingginya (separas) dan lebih rendah ± 30 cm dari rumah induk, rumah menghadap kebarat dan jika rumah dipinggir sungai rumah menghadap kesungai dengan bubung rumah sejajar arus sungai. Denah tata ruang rumah suku perkauman Tamiang Tampak depan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 22 Tampak samping 2.3. Kawin Berambǝ(el) yaitu perkawinan berambil yang dilakukan oleh orang tua si daRe (sigadis) menjodohkan anak daRenya (gadisnya) dengan pria pilihan orang tuanya untuk dijadikan suami anak gadisnya. Ada beberapa alasan mengapa perkawinan ini sering dilakukan, yaitu karena orang tua sigadis menginginkan menantunya dari orang baik-baik dalam hal budi pekerti, selain itu juga khawatir jika anak gadisnya tidak laku, oleh karenanya dalam persoalan ini anak gadis itu dianggap “aib” jika menjadi perempuan tua atau terlambat kawin, maka orang tua sigadis berinisiatif menempuh cara perkawinan berambǝ. Pada perkawinan seperti ini pertimbangan orang tua yang utama dalah menyangkut budi pekerti, meski secara finansial berkecukupan jika budi pekerti dan perangainya tidak baik maka tidak akan diterima menjadi menantu demikian juga sebaliknya meskipun secara finansial ia lemah (kurang mampu secara ekonomi) jika perangainya baik maka ia akan diterima menjadi menantu.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 23 Perangai-perangai yang dianggap tidak baik sebagai kriteria untuk tidak diterima jadi menantu dantaranya adalah; - Penjudi - Pemabuk - Congkak, angkuh dan sombong - Karakter yang temperamental dan kasar (pemarah) - Tidak taat beragama (tidak faham agama) - Tidak sopan (dalam istilah Tamiang “belaga”) - Pemalas 2.4. Kawin Sumbang, telah disyariatkan bahwa perbuatan yang halal tapi dibenci Allah adalah talak (cerai). Bagi suku Tamiang perceraian adalah sesuatu aib dan tabu dilakukan kecuali jika terpaksa oleh sebuah perbuatan yang tidak dapat ditolerir baik secara adat maupun secara syariat, oleh sebab itu perceraian dipandang sebuah kehinaan baik bagi laki-laki maupun perempuan, status janda bagi perempuan Tamiang memiliki gelar tersendiri yaitu “PeRangkap BuRok”, ketika seorang janda mendekati laki-laki atau sebaliknya seakan-akan ia akan terperangkap untuk mengawini janda tersebut, maka duduk dengan janda dipandang sumbang yaitu pandangan yang menimbulkan berbagai kecurigaan. Laki-laki yang masih lajang (bujang) maupun laki-laki yang sudah beristeri ataupun duda (laki-laki yang sudah bercerai), karena mendekati janda kemudian janda mencintainya dan memaksa minta untuk dinikahi maka oleh adat menikahi mereka, maka perkawinan ini dikatakan “kawin sumbang”. 2.5. Kawin ganti tika(R), Kawin ganti tikar adalah sebuah perkawinan yang terjadi karena kematian. Jika seorang laki-laki dalam perjalanan kehidupannya isterinya meninggal dunia maka


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 24 atas kesepakatan keluarga ia dikawinkan dengan adik isterinya atau kakak isterinya baik yang masih gadis maupun yang sudah janda demikian juga sebaliknya bila seorang isteri yang meninggal suaminya, maka atas kesepakatan keluarganya ia dikawinkan dengan abang suaminya atau adik suaminya baik yang masih lajang (belum pernah beristeri) maupun yang sudah duda (yang sudah pernah beristeri kemudian isteri meninggal dunia), ini dikatakan berganti tikar (tikar yang selama ini sebagai alas duduk maupun tidur). Hal ini dilakukan atas dasar beberapa pertimbangan diantaranya adalah; 1. Tidak memutuskan hubungan keluarga, bila isterinya meninggal dunia ataupun suaminya yang meninggal dunia, ketika ia kawin dengan orang lain mereka berpindah tempat tinggal maka keluarga merasa kehilangan cucu bagi kakek dan neneknya dan kehilangan kemanakan bagi adik, abang dan kakaknya sehingga seolah-olah telah putus hubungan apalagi dipisahkan oleh jarak yang jauh. 2. Untuk anak-anak yang ditinggalkan oleh emak atau bapaknya tidak merasa kehilangan bila ia diasuh oleh saudara emaknya yang kemudian menjadi emaknya ataupun saudara bapaknya yang kemudian menjadi bapaknya, karena mereka sudah merasa dekat bahkan terkadang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka atas hubungan kekeluargaan dekat yang telah terjalin semasa emak dan bapaknya masih hidup. 3. Harta yang ditinggalkan oleh salah satu yang meninggal dunia tidak akan jatuh kepihak orang lain (yaitu laki-laki/isteri baru yang dinikahi) bahkan bila perilaku orang yang baru dinikahi sebagai pengganti ister/suami tidak baik akan berdampak buruk terhadap anak-anak yang ditinggalkan.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 25 4. Tidak memikirkan lagi jodoh untuk orang yang mau dikawinkan tersebut, perawan tua maupun lajang tua merupakan fitnah dalam masyarakat dan akan menjadi aib keluarga dianggap tidak laku dengan berbagai anggapan. C. NEMPAT KE ANAK Setelah segala persyaratan terpenuhui bagi bujang dan daRe (lakilaki dan peremuan) secara lahir dan batin untuk membina rumah tangga maka sudah menjadi kewajiban orang tuanyalah untuk mempersiapkan anak mereka kearah tersebut yaitu mengawinkan anaknya. Dalam hal “nempat ke anak” (melakukan Perkawinan terhadap anak) secara adat dilakukan dengan melalui beberapa tahapan antara lain; 1. Ngencari Judu (Mencari Jodoh). Mencari jodoh bagi suku perkauman Tamiang adalah mencarikan pasangan buat anak bujang (anak laki-lakinya), seperti telah diuraikan diatas jika anak bujang telah dianggap cukup dewasa maka kewajiban orang tuanya mencarikan jodoh, selain sianak orang tua juga menginginkan mendapat menantu dari keturunan yang baik-baik, karena perkawinan merupakan suatu yang sakral untuk membangun rumah tangga sampai akhir hayat maka mencari jodoh buat sianak dilakukan beberapa tahap yaitu; 1.1. Ngeleh/ngintɛ; artinya melihat/mengintai (intip), dalam proses mencari jodoh untuk anak bujang (anak lajang/pemuda), yang pertama dilakukan adalah penyelidikan pendahuluan sebelum merisik proses ini dilakukan oleh emak sibujang (pemuda) dengan tujuan untuk menyelidiki keberadaan sigadis yang dilakukan secara diam-diam oleh orang tua si bujang. Bila pemuda telah menyatakan hasratnya untuk berumah tangga baik ia sudah memiliki gadis yang ia suka, ataupun orang tua yang menentukan maka kedua orang tua melakukan musyawarah menentukan arah yang dituju atau memang


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 26 sudah ada yang akan dituju, berangkatlah emak sipemuda menuju rumah tetangga anak gadis dimaksud. Mengintai yang dilakukan adalah mencari tau keberadaan si gadis lewat informasi dari jiran tetangga sigadis yang dituju. Emak sipemuda mencari tahu atau menyelidiki tingkah laku gadis yang akan dijadikan menantu, apakah anak yang baik sudah pandai memasak dan menganyam tikar (sebagai indikator gadis yang siap berumah tangga bagi orang Tamiang) atau apakah telah ada orang lain yang meminangnya terhadap gadis yang dihajati, pekerjaan ini disebut juga “suloh peraeh” (penerang terhadap sesuatu yang akan didapat). Dilakukan penyelidikan kepada tetangga karena kultur masyarakat Tamiang, tetangga adalah saudara yang paling dekat dan mereka saling mengetahui dan memahami satu sama lain tentang kondisi keluarga, oleh karenanya hubungan tetangga adalah hubungan kekeluargaan sehingga setiap persoalan dan kesulitan maka tetangga terlebih dahulu yang dihubungi. Ketika keterangan dari tetangga sekitarnya telah diketahui dengan jelas tentang hal keadaan anak gadis tersebut serta belum ada pula yang meminangnya, maka emak pemuda menyampaikan kepada suaminya (ayah pemuda) bahwa langkahnya dalam mengintai (melihat) tak terdapat tanda-tanda yang menghalangi malahan mendapat sempene (sesuatu yang berkenaan/menyertai) yang baik. Setelah mendapat informasi dan keterangan dari tetangga, emak sibujang membawa berita ini kepada orang alim untuk melihat “rejang” yaitu melihat rasi apakah anak gadis tersebut cocok rasinya jika menjadi isteri sipemuda, rejang ini akan diberi penjelasan dalam bentuk kias atau perumpamaan terkadang dengan menyatukan nama kedua bujang dan dare (gadis) untuk mencari kesesuaian dengan menggunakan alat batu misalnya dengan anak korek api lalu didapatlah keterangan umpama sumur dibawah bukit yang banyak


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 27 airnya ini merupakan kebaikan karena akan membawa kedamaian dalam rumah tangga, kadang seperti abu diatas tunggul, ini pertanda tidak baik bila diterpa angin akan habis ini pertanda buruk labil mudah dihasut dan lain-lainnya. Hal ini masih juga melekat disebagian masyarakat sekarang dan masih diyakini. 1.2. Ngerisik; artinya mencari tahu, setelah ditemui hasil ngeleh/ ngintai lewat penyelidikan awal dan telah didapati sesuai hajat yaitu gadis tersebut memang belum dipinang orang lain ataupun dijodohkan orang tuanya serta memiliki tingkah laku dan perangai yang baik, ayah dan emak pemuda bermusyawarah untuk menentukan hari baik bulan baik (menentukan waktu dan perhitungan hari bulan) untuk berkunjung kerumah sigadis, untuk itu terlebih dahulu dikirimkan utusan (dari keluarga dekat baik wali adat maupun wali karung) guna menyampaikan pesan kepada salah seorang orang tua sigadis tersebut bahwa pada hari yang telah ditentukan akan datang orang yang berhajat untuk ngerisik (disebut siapa yang akan datang). Padahari yang telah ditentukan, suami isteri yang berhajat (orang tua pemuda) mendatangi rumah gadis atau terkadang jika tidak kedua orang tuanya yang datang maka diambilah wali adat yaitu makcik dari adik bapak pemuda atau uwaknya (kakak dari ayah pemuda) dengan membawa sirih secorong (dalam perlakuan adat Tamiang sirih merupakan kemuliaan dalam segenap prosesi adat), namun biasanya orang tuanya langsung yang datang berkunjung karena ini merupakan misi yang rahasia, oleh karena itu pada tahap ini belum melibatkan orang lain, karena hal ini akan berhadapan dengan aib, dimana seandainya hajat ditolak ini merupakan sebuah aib yang tidak boleh diketahui orang lain yang dapat menimbulkan fitnah dan bahan gunjingan bagi masyarakat kampung tersebut. Oleh sebab itu ketika hajat ditolak, tidak ada orang lain yang mengetahuinya kecuali keluarga kecil saja. Untuk


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 28 datang kerumah gadis ini sangat hati-hati, jangan sempat ketika datang sigadis sedang menyapu rumah atau sedang bersisir maka hal ini diurungkan karena ini merupakan pertanda tidak baik untuk membangun sebuah rumah tangga, akan tetapi bila didapati sigadis sedang memasak atau mengambil air masak ini merupakan pertanda yang sangat baik. Setelah yang berkepentingan hadir maka kata-kata atau turai madah yang berisi dan dinyatakan dengan sopan santun mengenai maksud kedatangannya ketempat tersebut, dimulai sebagai berikut: Emak pemuda Sesuai pesan nang kami kiRem, cadeklah pule nyelahi adat, udah jadi kebiasean daRi datu nini, make kami membeRani ke diRi datang ke hini. Artinya; Sesuai pesan yang kami kirim, tidaklah pula menyalahi adat, sudah menjadi kebiasaan dari orang tua dahulu maka kami memberanikan diri datang kesini. Orang tua gadis Baeklah jamu, pesan sudah kami teRime, meski peh sedaRe belom ditanye, cukop dulu isi rumah nang ade, mu dah jelas baRu kumpol sedaRe…… Baeklah pembuke cakap sudah kami denga tinggal selanjutnye maksud nang ndak disampe ke, sile kemuke ke kat kami bedue……… baek buRok haRus didenga, kaRene jamu sudahlah datang, kecik tangan nyiRu kami tampong sile jelaske manye nang dimaksud. Artinya Baiklah tamu, pesan sudah kami terima, meskipun keluarga/saudara belum ditanya cukuplah dulu isi rumah (keluarga yang di rumah) yang ada, jika sudah jelas baru dikumpulkan saudara.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 29 Baiklah pembuka kata sudah kami dengar tinggal selanjutnya maksud yang akan disampaikan, silakan sampaikan pada kami berdua,…. baik dan buruk haruslah didengar, karena tamu sudahlah datang, kecil tangan tampah kami tampung, sila jelaskan apa yang dimaksud. Emak Pemuda “hajat kami nen datang kemaRi adelah besa kali, besa gunong, besa lah lagi hajat kami. HaRap kami ku Allah, haRap ku Nabi haRaplah pule kami kukake… (adi) dihini, bahwe kami nen nak beRume luas, beRempus leba. Rumah beRuang-Ruang, bantal besuson tinggi, tika belapis tebal, bekaom Rapat besedaRe dekat. Kake…dihini ade buah hati, kat kami ade pengaRang jantong, Kalo le ade judu ditakde ku Allah, besa le hajat kami ndak nyadike keduenye buah hati pengaRang jantong kite sekaom, besame idup kite dibelenye, mu mati kite ditanamnye, kalo peh bodoh besame kite aja, pandɛi same kite megah, Susah same besetolong, mu senang same-same tempat kite belindong”. Kami datang nak denga beRite, hanye membawe siReh secoRong sebagai haRapan ade jawaban, sebagae usahe keRje bemuslihat dengan haRapan mendapat beRkat artinya : maksud kami ini datang kesini, terutama adalah besar sekali besar gunung besarlah lagi maksud kami. Berharap kami kepada Allah, berharap kepada Nabi berharaplah pula kami kepada saudara (adik) disini bahwa kami ini ingin berumah besar, bekebun lebar. Rumah beruang-ruang, bantal bersusun tinggi, tikar belapis tebal, berkaum rapat bersaudara dekat, saudara disini ada buah hati, dikami ada pengarang jantung, kalaulah ada jodoh ditakdirkan Allah besar maksud kami ingin menjadikan keduanya buah hati pengarang jantung kita semua, bersama hidup kita dijaganya (diurusnya), jika mati kita dikuburnya, kalaupun bodoh bersama kita ajar, kalaupun


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 30 pandai bersama kita megah (bangga),susah sama bersetolongan, jika senang sama-sama tempat kita berlindung”. kami datang ingin mendengar berita, hanya membawa sirih secorong sebagai harapan ada jawaban, sebagai usaha kerja yang sungguh dengan harapan mendapat berkah. Lalu kemudian diserahkanlah sirih setepak dan sirih ini dinamai “siReh Risik”. setelah sirih diterima oleh ibu sigadis, pada kelazimannya dengan perlakuan yang sama akan dijawab oleh ibu sigadis; “Alhamdulillah, kuuRsemangat.. jamu kami…………. kami nen manyelah, begian juge sisubang (sisanggul) yan peh cadek taunye manye peh, badannye saje nang besa, tapi akalnye mantang pendek, nanak peh matah lembik, maye lagi nganyam tika, konon pule nak nguRuih diri. baeklah…… siReh sudah kami teRime peRtanyaan peh sudah begeme, segale sesuatu tetap besanda kat ketentuan Allah dimane langkah Rejeki peRtemuan ngan maot adelah hak Allah semoge ade jawaban sesuai haRapan, tapi kalo pe begian hajat jamu, baeklah ambe pakat ke same ayahnye begimane peh juge kami mentong punye sanak sodaRe yang peRlu banyak betanye, 3 hari kele ngipatlah lagi dengan senang hati jawaban dibagi. artinya; Alhamdulillah, kuursemangat (ucapan yang berarti mem bangkitkan/ memanggil semangat)…tamu kami kami ini apalah, begitu juga sisubang/sisanggul (nama panggilan bagi gadis Tamiang) itupun tak tahu apapun, badannya saja yang besar tapi akalnya masih pendek, masak nasipun mentah lembek, apalagi menganyam tikar, konon pula untuk mengurus diri sendiri. Baiklah …sirih sudah kami terima pertanyaanpun sudah bergema, segala sesuatu tetap bersandar kepada ketentuan Allah, dimana


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 31 langkah rezeki pertemuan dengan maut adalah hak Allah, semoga ada jawaban sesuai harapan, tapi kalaupun bagitu maksud tamu, baiklah saya musyawarahkan dengan ayahnya, bagaimanapun kami juga masih punya sanak saudara yang perlu banyak bertanya, 3 hari kemudian baliklah lagi dengan senang hati jawaban diberi. Lalu emak sigadis segera memanggil suaminya yang sedang becakap dengan ayah pemuda yang datang kerumah. Kedua siayah tersebut masuk ketengah ruang dan oleh siisteri tuan rumah disampaikan hajat kedua suami isteri yang datang tersebut. Kelaziman bagi suku perkauman Tamiang dalam nama panggilan sehari-hari selalu digunakan nama “Subang” untuk anak perempuan dan “Kulok” untuk anak laki-laki. Panggilan bagi sepasang muda mudi bagi suku tamiang adalah Bujang dan daRe dan ada juga istilah teRune dan daRe kemudian setelah bermufakat sejenak ayah sigadispun menjawab; “ambe nen manyelah, kalau indong Rumah sudah sepakat udah peh kene dihatinye, kecik tangan nyiRu hambe tampong, tapi maklom lah anak kami yan mantang matah betol, teserah same kake bedue, kalo bodoh diaja kalau mende dituRot kaRene manye pe kate kite, langkah Rejeki petemuan maot yan adelah hak Tuhan kalo ke sian judunya, te ek lagi kemane laen, tapi kalo pe begian pakatlah kami dulu dengan sedaRe-sedaRe ban pelen sematenye. Make sementaRe nen, tepak siReh ne belom buleh kami buke, kami sampeke dulu kat keluaRge dan minte tempolah kami selame tige aRi.” Artinya: saya ini apalah, kalau induk rumah (isteri maksudnya) sudah setuju dan berkenan dihatinya, kecil tangan tampah saya tampung, tapi maklumlah anak kita yang masih muda belia sekali,


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 32 terserah sama kalian berdua, kalau bodoh diajar, kalau baik diturut, karena apapun yang kita ucapkan, langkah rezeki pertemuan maut, itu adalah hak Allah, kalau kesitu jodohnya takkan bisa kemana lain, tapi walaupun begitu, musyawarahlah kami dahulu dengan sanak keluarga semuanya, maka sementara ini tepak sirih ini belumlah boleh kami buka, akan kami sampaikan kepada keluarga, dan mohon tempolah selama 3 hari. Sirih bagi suku Tamiang merupakan kemuliaan sesuai dengan kate tetuhe “Mulie kaom besiReh tepak, kembang keRabat manih base” artinya mulia kaum bersirih tepak mengembangkan kerabat (saudara/sahabat) manis bahasa, sirih merupakan lambang pergaulan, ketika tamu/sahabat datang sirih sombul disodorkan demikian juga ketika menyampaikan amanah (undangan/ jemputan), sebelum kata diucapkan (turai madah) sirih sombul disodorkan. Oleh karenanya setiap perlakuan dalam tatanan kehidupan masyarakat Tamiang tidak pernah melupakan sirih. Struktur/anatomi tanaman sirih memberi makna tersendiri dalam peri kehidupan masyarakat Tamiang yang bernama sempene (sesuatu yang berkenaan/yang menyertainya) yang bermuara kepada Pengaseh Pape Setie Mati yaitu kehidupan yang saling bersetolongan dalam kebersamaan dengan penuh tanggung jawab tanpa pamrih dalam kesetiaan sampai mati 1.3. Sireh mimpi; Proses berikutnya adalah Sireh mimpi Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa ahli waris /wali waris bagi suku Perkauman Tamiang itu terdiri dari 3 bagian yaitu; 1. Wali Syara’ yaitu wali waris sesuai dengan ketentuan syarak dari anak laki-laki, saudara ayah yang laki-laki (pakcik / adik ayah, uwak/abang ayah)


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 33 2. Wali Adat yaitu wali menurut ketentuan adat dari pihak ayah yang perempuan (makcik/adik ayah, uwak/kakak ayah). 3. Wali karung yaitu wali dari sebelah ibu yang laki-laki (pakcik/adik ibu, uwak/abang ibu) Dalam segala kegiatan adat bagi suku Perkauman Tamiang dan dalam tatanan kehidupan berkeluarga, para wali ini berperan sesuai kapasitasnya masing-masing. Orang tua sigadis mengundang para wali untuk dudok setika berembok kaom (bermusyawarah keluarga) dan disini berlaku adat basa basi, yaitu pihak ayah sigadis bertanya kepada kaum keluarga dengan ucapan; ne…anak kite sisubang, udah ade nang ngeRisiknye, kiRe-kiRe diantaRe abang, akak dan adek-adek manye ade sudah disiap ke judu untuk subang, mu ade kite tulak uRang nang nak datang… Kitene daRah besuku, kaum biak besegani, wali waReh penuntut bɛle, biak boleh mengambil bɛle handai tolan besetolongan. Suku sakat ngan kaom biak same sepakat, wali dekat je kaRong same setilik, labe ngan Rugi same sepaham sepakat sekate suku ngan biak, diatas hak utusan datok nang adel. Artinya; ini anak kita sisubang sudah ada yang menanyakan (ngerisik) kira-kira diantara abang, kakak dengan adik-adik apakah ada sudah yang menyiapkan jodoh untuk sisubang? Jika ada biar kita tolak orang yang mau datang. Kita ini darah bersuku, saudara saling menyegani, wali waris penuntut bela, saudara boleh mengambil bela kaum kerabat bersetolongan, saudara ayah dan saudara bapak sama sepakat, wali dekat dan wali karung sama sepandang, untung dan rugi sama sefaham, sepakat kata sekalian saudara diatas putusan datok yang adil. (biasanya jika ada yang ingin menjodoh kan anaknya untuk kawin berimpal, jauh sebelumnya sudah dibicarakan). Salah satu mereka bertanya, - dengan anak sape ?... dari mane yang nak datang …..?


Click to View FlipBook Version