The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MEMBERDAYAKAN ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wdmuntasirwd, 2023-06-14 12:16:39

ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

MEMBERDAYAKAN ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

Keywords: ADAT

Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 84 manih base” artinya mulia tamu bersirih tepak, mengembangkan kerabat manis bahasa, tidak dibenarkan mengutip uang seperti menjual sirih, karena ini merupakan kehinaan dan pelecehan terhadap adat yang bermarwah dan bermartabat. Selesai pencak silat songsong mempelai tiba dikaki tangga lalu disambut pantun dengan menabur beras padi. 3.7. Nabor beras padi; Tiba didepan tangga naik atau gerbang masuk yang telah ditentukan mempelai diistirahatkan sebentar, karena haruslah disambut dengan menabur beras padi oleh seorang laki-laki atau perempuan yang bijak dan pandai mengucapkan rangkaian kata-kata bidal dan kias yang mengandung harapan dan sempena (doa) terhadap diri mempelai. Hal ini tidak saja dilakukan pada saat menyambut mempelai ketika diantar (naik mempelai) namun juga berlaku pada saat hari meminjam (turun mempelai yaitu pada saat pesta dirumah laki-laki), sembari beras padi ditaburkan diatas payung mempelai dan diucapkan kata-kata: “Bismillahirrahmanirrahim, Puja kepada Allah selawat kepada Nabi. Tuah pucok suloh, patah tumboh hilang beganti Tumboh macam Rebong, satu jadi due, due jadi banyak. Rampak beRimbun, Ruas bebuku, buku bemate, mate betunas, tunas becabang, cabang beperedu, kecik bebesa, Rendah betinggi, miskin bekaye, hine bemulie, alah bise kaRene biase, alah do’e kaRene sempene, tabiát tabi’ín, pusake lame daRi datu nini, hidup Rukon damai laki bini makbol pinte, muRah rejeki lenja ketuhe Assalamualaikom sedaRe bisan SeRte ban pelen wali nang ade Kami datang beseRte Rombongan Memenohi janji yang udah diucapke


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 85 Assalamualaikom waRahmatullah Tangan due belah ateh kepale JaRi sepuloh ambe angkat sebelah Pengganti pedang tampok suase Tebedik bintang dilanget biRu Cahaye beRambo bulan puRname HoRmat kami kat penganten baRu Dengan tuanku mempelei mude Pemude pimpinan tiang negeRi Hukom nang ade jangan dilupe Tugas empuan nguRuhi laki Adat dikampong mende dijage Selamat bebahagie penganten baRu Dalam peRahu dunie kedue Dalam nyebeRangi laot nang biRu Bagi ya Tuhanku Rahmat bebahagie Macam sedaRe beramah tamah Macam nabi adam ngan siti hawe Macam ali dengan Fatimah Selalu begaiRah cinte menyinte Jadilah pemude lampu pelite NeRangi kampong waktu geRhane Jadilah Rumah tangge dengan bahagie MengaRongi hidup dengan sedeRhane Janganlah lalei dengan dunie Hanye sementaRe jadi muslihat Janganlah mempelai menjadi hine Hanye mengingkaRi janji adat Janji dunie hutang akheRat Wajeb penuhi jangan dilupe Rante ke hati jadi pengikat Supaye Rumah tangge jadi bahagie


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 86 NegeRi betuah lagi beRadat Dipapah majelis damai sejahteRe Janji ban pelen hendaklah dijabat supaye hidup cadek tecele DaRi hulu sudah dicaRi NyebeRangi sunge lubok sidup Jangalah bujang datang kehini Hanye Cume nak numpang hidup Jangan isok mu sudah beRade Hame emak bujang jadi lupe Manye lagi tuan puteRi Lenten jelite Mu ikan masen lupe ko kiRe Hanye engkat ne ku bagi kaba Laen ceRite tentang ugame Waktu suboh bangket ko lenja Datangi telage junub segeRe Tuan puteRi bangket ke dudok Jangan besuci cadek sedie Lalulah lenja ambel ke wudok Sembahyang khusok puji Rabbane Mane ade siReh nang cadek mirah Mane ade masalah nang cadek dipike Mane ade cakap nang cadek salah Mu cadek di awal pasti diakhe Engkat ne petuah ambe sudahi Salah ngan silap teselip kate Mu ade nang cadek bekenan dihati Ampon ngan maap nang ambe pinte KuuuR semangat penganten baRu KuuuR semangat penganten baRu KuuuR semangat penganten baRu DeRaeh ko ngelaju kat judu mu ne Allhamdulillah puje kepade Allah, selawat ke Nabi Sileke naik tok telangke


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 87 ini hanya Sebagian saja dapat dilanjutkan dengan pantun yang lain Artinya; “Bismillahirrahmanirrahim, Puja kepada Allah selawat kepada Nabi. Tuan pucok suloh, patah tumbuh hilang berganti Tumbuh bagai rebong, satu menjadi dua, dua menjadi banyak. Berampak, berimbun, ruas berbuku, buku bermata, mata bertunas, tunas bercabang, cabang berperdu Kecil menjadi besar, rendah menjadi tinggi, miskin menjadi kaya, hina menjadi mulia Alah bisa karena biasa, alah do’a karena sempena Tabiát tabi’ín, pusaka lama dari datu nini, hidup rukun damai suami isteri, makbul pinta, murah rezeki terus sampai tua Assalamualaikum saudara bisan Serta semua wali yang ada Kami datang beserta rombongan Memenuhi janji yang sudah dikata Assalamualaikum warahmatullah Tangan dua belah atas kepala Jari sepuluh saya angkat sebelah Pengganti pedang tampuk suasa Tebedik bintang dilangit biru Cahaya berhambur bulan purnama Hormat saya pada pengantin baru Dengan tuanku mempelai muda Pemuda pimpinan tiang negeri Hukum yang ada jangan dilupa Tugas isteri mengurus suami Adat dikampung baik dijaga Selamat berbahagia pengantin baru Dalam perahu dunia kedua Dalam menyeberangi laut yang biru Bagi ya Tuhanku rahmat berbahagia


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 88 seperti saudara beramah tamah seperti nabi adam dengan siti hawa seperti ali dengan Fatimah Selalu begairah cinta menyinta Jadilah pemuda lampu pelita menerangi kampung waktu gerhana Jadilah rumah tangga dengan bahagia Mengharungi hidup dengan sederhana Janganlah lalai dengan dunia Hanya sementara jadi muslihat Janganlah mempelai menjadi hina Hanya mengingkari janji adat Janji dunia hutang akhirat Wajib penuhi jangan dilupa Rantaikan hati jadi pengikat Supaya rumah tangga jadi bahagia Negeri betuah lagi beradat Dipapah majelis damai sejahtera Janji semua hendaklah dijabat supaya hidup tidak tercela Dari hulu sudah dicari menyeberangi sungai lubuk sidup Jangalah bujang datang kesini Hanya Cuma menumpang hidup Jangan besok kalau sudah berada dengan emak bujang jadi lupa apa lagi tuan puteri cantik jelita ikan asinpun lupa kau bawa sampai disini ku bagi pemutus Lain cerita tentang agama Waktu subuh bangkit kau terus Datangi sumur junub segera Tuan puteri bangkit dan duduk Jangan besuci tidak sedia pergilah terus mengambil wuduk


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 89 Sembahyang khusuk puji Rabbana Mana ada sirih yang tidak merah Mana ada masalah yang tidak difikir Mana ada cakap yang tidak salah jika tidak di awal pasti diakhir Sampai disini petuah aku sudahi Salah dan khilaf terselip kata jika ade yang tak bekenan dihati Ampun dan maaf yang saya pinta Kuuur semangat pengantin baru Kuuur semangat pengantin baru Kuuur semangat pengantin baru cepat ngelaju tuju jodohmu Allhamdulillah puja kepada Allah, selawat kepada Nabi Silakan naik tok telangkai Menabur beras padi didepan pintu menyambut mempelai Pantun adalah salah satu sarana komunikasi bagi suku Tamiang dan ini merupakan sebuah kemulian dan ketinggian budi yang memiliki nilai sastra yang tinggi dalam penyampaiannya memberi keteduhan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 90 bagi yang mendengarnya dengan siraman beras padi sempene kesejahteraan bagi mempelai, oleh karenanya Pantun yang dilakukan sebagai penyambutan pengantin berisi beberapa bagian, salam pembuka yang berisi pujian kepada Nabi, berserah kepada Allah, kemudian ada pesan agama, adat dan nasehat sebagai tunjuk ajar yang terkadang diramu dalam bentuk kelakar terakhir salam penutup yang tetap bersandar kepada Allah, selanjutnya mempelai melangkah yang diiringan dengan selawat nabi. Setelah itu mempelai digiring dengan diiringi selawat untuk naik kerumah atau tempat yang telah ditentukan bersama tok telangkai pada tempat sirih emas dan sirih balai diletakkan. Tok telangkai dan tok tandai duduk diatas tikar cio saling berhadapan yang diantarai dengan tepak sirih emas dan sirih balai serta dua tepak menanti. 3.8. Naik Mempelai; Selesai menabur beras padi yang diiringi dengan pantun, mempelai digiring untuk naik kerumah atau tempat yang sudah ditentukan dengan diapit oleh tuhe pengampe penuh kehormatan didudukkan dibelakang tok telangkai beralaskan tikar cio berlapis dengan diapit rombongan suku sakat dan kaom biak, kedua orang tuanya tidak dibenarkan ikut mengantar karena ini merupakan tabu dan pantang pemali. Jika mempelai belum dinikahi maka dilakukan penyerahan oleh tok telangkai beserta sirih emas kepada calon mertua untuk dinikahkan dengan anak gadisnya, yang diterima oleh tok tandai sebagai penghubung pihak perempuan untuk menerima penyerahan mempelai agar segera dinikahkan, seandainya mempelai sudah dinikahkan maka tok telangkai tetap melakukan serah terima sirih emas sebagai simbol penyerahan mempelai kepada isterinya untuk segera disandingkan


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 91 (duduk bedemba) dan kepada mertuanya yang akan menjadi bagian dari keluarga perempuan juga diterima oleh tok tandai 3.9. Serah terime sirih emas; Tepak sirih emas adalah tepak sirih yang berisi batil emas mahar (kalau sekarang batil emas tersebut ada kalanya diluar tepak dihias dengan tersendiri). Pada saat sekarang ini sudah menjadi kelaziman pernikahan dilakukan lebih dahulu tidak bersamaan dengan hari kenduri (pesta perkawinan), hal ini tidaklah merubah proses adat yang telah diwariskan oleh datu nini (orang tua-orang tua Tamiang zaman dahulu) karena dalam perlakuan tersebut ada sempene keberkahan, setelah jemput resam pengantin karena pernikahan telah terlebih dahulu dilakukan maka serah terima sirih emas ini sama dengan menyerahkan mempelai seperti yang dijelaskan pada poin (3.8) menurut adat istiadat dan perjanjian, serah terima sirih emas ini yang nantinya akan dibalas oleh pihak gadis yang disebut dengan “balas emas” (ada kalanya dikonversikan dengan uang yang dinilai berapa bawaan pihak laki-laki dan adakalanya dibalas dengan kue-kue tergantung berapa tepak sirih yang telah dibawa, jika tepak sirih yang dibawa komplit 7 tepak, maka jumlah kue balas emas tersebut sebanyak 7 dalung/talam atau diuangkan dengan nilai tujuh talam kue kalau dahulu tempat kuenya dalam dalong), Jika mempelai telah dinikahkan sebelum hari kenduri maka mempelai menunggu sampai selesai serah terima sirih emas. Dalam proses serah terima sirih emas didampingi sirih pengiring dan sirih penghias yang keseluruhannya disebut sirih balai” dilakukan oleh tok telangkai dan tok tandai, disatu pihak duduklah tok telangkai dan dipihak yang lain duduklah pula tok tandai dan sekalian wali – kaum wareh pihak pengantin perempuan beserta ayahnya yang akan menerima penyerahan sirih emas yang sekaligus menjadi bagian serah terima mempelai, saling berhadapan dengan tok telangkai dan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 92 rombongannya. Dalam serah terima ini tok telangkai pandai sekali bersilat lidah dengan tok tandai yang dihadiri oleh datuk/kepala adat beserta imam dari kedua belah pihak. Sebelum mempelai dan tok telangkai masuk untuk serah terima sirih emas dan mempelai Tuhe pengampe /bidan pengantin segera mendudukan pengantin perempuan diatas pelaminan. Percakapan serah terima sirih emas; TELANGKAE Lebae beRrkat memanglah hebat URang tepandang lagi mulie Sesuae janji yang sudah sepakat Bujang datang dengan sedie DaRi jaoh bujanglah datang Sampae jugelah kami kehini Meski peh lekoh badan meRiang Mempelae sudah cek saba lagi Artinya; Lebai berkat memanglah hebat orang terpandang lagi mulia Sesuai janji yang sudah sepakat Bujang datang dengan sedia Dari jauh bujanglah datang Sampai jugalah kami kesini Meskipun lelah badan meriang Mempelai sudah tak sabar lagi TANDEI Sampae juge tuan kehini Penganten senang juge bahagie Meski mempelae cadek saba lagi Nanti tuntunan petuah uRang tuhe Pelen cakap udah didenga BetuRai madah Rapat sedare Tugas kite bagi tunjok aja Sampae dapat hidup bebahagie


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 93 Artinya; Sampai juga tuan kesini Pengantin senang juga bahagia Meski mempelai tak sabar lagi menunggu tuntunan petuah orang tua semua cakap sudah didengar Berturai madah rapat saudara Tugas kita memberi tunjuk ajar Sampai dapat hidup berbahagia TELANGKAE Allahumma shali’ala sayidina Muhammad…………… Mahap tuan-tuan…………… Tahapan nikah sudah dilakuke (seminggu nang lalu) Pade haRi baek bulan baek Datang pule kami kemaRi Menageh dan menepati janji Janji yang dimulieke Pemude Remaje kami bawe ke Untok bedemba dipelaminan Pembaya hutang yang diucapke Hutang adat haRus selesae seluRohnye Begielah pinte daRi kami Artinya; Allahumma shali’ala sayidina Muhammad…………… Maaf tuan-tuan…………… Tahapan nikah sudah dilakukan seminggu yang lalu Pada hari baik bulan baik Datang pula kami kemari Menagih dan menepati janji Janji yang dimuliakan Pemuda remaja kami bawakan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 94 Untuk bersanding dipelaminan Pembayar hutang yang diucapkan Hutang adat harus selesai seluruhnya Begitulah pinta dari kami TANDEI Tuan-tuan yang mulie…… suko kite pade ilahi segale sesuatu menuRut janji tande manusie tetap beRadat tande kampong tetap bepenghulu tande luhak tetap beRaye tande saRa’ tetap dijabat tetap adat jadi pusake Artinya; Tuan-tuan yang mulia…… syukur kita pada ilahi segala sesuatu menurut janji tanda manusia tetap beradat tanda kampung tetap bepenghulu tanda luhak tetap berair tanda syara’ tetap dipegang tetap adat jadi pusaka TELANGKEI Bujang baRu seumo jagong, darah baRu setampok pinang Betuto sape ngan sopan santon mentong peRlu bimbingan Anggaplah bujang anak kediRi Petuah peRlu untok bekali diRi Cadek Ragu dan juge sangsi Untok ninggae ke bujang dihini


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 95 Jangan segan untok dinasehat Semoge Rumah tanggenye mendapat beRkat Ikhlas kami sudah sepakat Semoge mempelae dapat hidup bemasaRakat Demikianlah seRah teRime kami ucapke Kite bejanji same membǝlǝ Artinya; Bujang baru seumur jagung, darah baru setampuk pinang Bertutur sapa dengan sopan santun masih perlu bimbingan Anggaplah bujang anak sendiri Petuah perlu untuk bekali diri tak ragu dan juga sangsi Untuk meninggalkan bujang disini Jangan segan untuk dinasehat Semoga rumah tangganya mendapat berkat Ikhlas kami sudah sepakat Semoga mempelai dapat hidup bermasyarakat Demikianlah serah terima kami ucapkan Kita berjanji sama membetuli/memperbaiki TANDEI Penganten juge daRe belie Banyak kuRang ngan juge cele Mu sudah sepakat kite ampu besame Insya Allah usahe cadek sie-sie Sibujang gagah lagi teRpeRi Rasenye cadek yang diRaguke lagi Die sudah dianggap anak kediRi Same macam penganten daRe yang bebudi Semoge Allah membagi beRkat DaRi dunie hingge akhiRat


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 96 udah yan…………… sudah tekembang tika cio sudah tegantong tabing didinding sudah teRentang langet-langet sudah teRidang pulot kuning sudah tebilang uRang dudok sudah sekate kaom keRabat oleh kaRene yan…………………………… pemude dipeRsile untok dibawe kepelaminan demikianlah kate dari kami Artinya; Pengantin juga dara belia Banyak kurang dengan juga cela Jika sudah sepakat kita ampu bersama Insya Allah usaha tidak sia-sia Sibujang gagah lagi terperi Rasanya tidak diragukan lagi Dia sudah dianggap anak sendiri Sama macam pengantin dara yang bebudi Semoga Allah memberi berkat Dari dunia hingga akhirat selanjutnya…………… sudah terkembang tikar cio sudah tergantung tabing didinding sudah terentang langit-langit sudah terhidang pulut kuning sudah terbilang orang duduk sudah sekata kaum kerabat oleh karena itu…………………………… pemuda dipersila untuk dibawa kepelaminan demikianlah kata dari kami


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 97 Setelah selesai serah terima sirih emas, barulah mempelai dinaikkan. Jika mempelai belum dinikahkan maka tandei mengganti bahasa diatas dengan; Udah yan……….. Sudah menanti tepak nikah sudah tekembang tika cio sudah tegantong tabing didinding sudah teRentang langet-langet sudah teRidang pulot kuning sudah tebilang uRang dudok sudah menanti tuan kadhi sudah sekate kaom kerabat oleh kaRene yan…………………………… usahe baek dideRaeh ke pemude dipeRsile mengambel tempat demikianlah kate daRi kami artinya; selanjutnya…………. Sudah menunggu tepak nikah Sudah terkembang tikar cio Sudah tergantung tabing didinding (kain yang digantung untuk penutup dinding) Sudah terbentang langit-langit Sudah terhidang pulut kuning Sudah terhitung orang yang duduk Sudah menunggu tuan kadhi Sudah mufakat kaum kerabat Oleh karena itu……. Usaha baik didahulukan (disegerakan) Pemuda dipersilakan mengambil tempat Demikianlah ucapan dari kami


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 98 3.10. Naik Bersanding (dudok bedemba); Tok Imam atau kadhi bersama-sama dengan orang tua pengantin perempuan didampingi oleh wali-walinya segera mengadakan akad nikah (hal ini jika belum dinikahkan). Orang tuanya bersama imam lalu menanyakan kepada pengantin perempuan atas persetujuan pernikahan yang akan dilaksanakan. Setelah ada persetujuan pernikahan segera dilaksankan. Selesai akad nikah tok telangke memberi tahukan kepada bidan pengantin/ pengampe agar “nyandengke mempelai” (dudok bedemba) segera dapat dilaksanakan. Jika mempelai sudah melakukan pernikahan sebelum pesta baik nikah gantung maupun nikah yang dilakukan beberapa hari sebelum pesta, maka setelah serah terima sirih emas mempelai segera dibawa oleh tok telangkai dengan diiringi oleh kekundangnya (pengawal mempelai) menuju ruang pelaminan untuk bersanding (bedemba). Didepan pintu masuk ruangan pengantin (pelaminan) oleh wanita-wanita pihak karong (pihak ibu) sipengantin menghempang (menghalang) pintu atau disebut dengan “hempang/palang pintu”, sehingga tok telangkai bersama mempelai tidak segera dapat masuk, karena harus memberi uang palang pintu (pada zaman dahulu karena uangnya dari dirham atau koin maka dimasukkan kedalam uncang (kantong kecil yang dibuat dari kain, namun tempatnya tidak merupakan adat akan tetapi uangnya adalah adat tidak boleh tidak, namun untuk sebuah kemuliaan maka uncang lebih baik dari wadah yang lainnya ) sebanyak dua uncang. Dalam proses membuka palang pintu terjadilah dialog antara tok telangkai dengan tok tandai; Tok Telangkai : Buah paoh selaseh mayang Angin menyape ditengah sepi DaRi jaoh kami ne datang Nak betemu sijantong hati


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 99 Anak gagak ditepi telage Laboh kebawah bedaRah kaki Kalolah bukan kaRene daRe Cadeklah patot kami kehini Artinya; Buah pauh selasih mayang Angin menyapa ditengah sepi Dari jauh kami ini datang ingin bertemu sijantung hati Anak gagak ditepi telaga Jatuh kebawah berdarah kaki Kalaulah bukan karene dara Tidaklah patut kami kesini TokTandai DaRe dudok ditepi taman Memetik sekuntom bunge Kalolah betol ucapan tuan Manye pule sebagai jaminannye Artinya; DaRa duduk ditepi taman Memetik sekuntum bunga Kalaulah betul ucapan tuan Apa pula sebagai jaminannya Tok Telangkai Gayenye kedatangan kami ne ngeRaguke tok tandai, baeklah Belaya kapal keselat melake Nakhoda bedendang ngan hati senang Kalolah jaminannye yang tuan Raguke Kateke saje janganlah bimbang Artinya; Berlayar kapal keselat melaka Nakhoda berdendang dengan hati senang Kalaulah jaminannya yang tuan ragukan Katakan saja janganlah bimbang


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 100 TokTandai Pasang galang penguat lantai Kapal kandas sangkot dipantai Sengaje kami menghadang mempelai manye ke sarat adat sudah selesai artimya; Pasang galang penguat lantai Kapal kandas sangkut dipantai Sengaja kami menghadang mempelai apakah syarat adat sudah selesai Pihak Laki-Laki : Mate meliRik kaki tesandong Hujan piRang langet peh teRang Janganlah dibuat kami ne bingong Pintu nak masok kami dihadang DaRe dipinang keRabat diundang Beginilah adat Resam melayu Hajat baek kami ne datang Ngapelah pule diempang pintu Artinya Mata melirik kaki tersandung Hujan berhenti langitpun terang Janganlah dibuat kami ini bingung Pintu kami masuk dihadang DaRa dipinang kerabat diundang Beginilah adat resam melayu Hajat baik kami datang mengapalah pula diempang pintu Pihak Perempuan Resam Temiang empanglah pintu Kaen panjang dijabat kuat Begianlah adat jaman dahulu Pintu diempang menuRut adat


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 101 Ambel penyapu dibalek dinding Jangan tundok takot menyuRok Tapi kite sudah beRunding Adeke dibawe penawa sejok Artinya; Resam Tamiang empanglah pintu Kain panjang dijabat kuat Begitulah adat jaman dahulu Pintu diempang menurut adat Ambil penyapu dibalik dinding Jangan tunduk takut menyuruk Tapi kita sudah berunding Adakah dibawa penawar sejuk Pihak Laki-Laki : URang melayu masak ketupat BeRisi pulot becampo santan Tapi kan kite sudah sepakat Kami nak masok ngape ditahan Kalo tuan lalu kekedei Beli ke kami buah-buahan Kalo Sarat ngan Rukon sudah selesei Mempelai nak masok ngape ditahan Ketasik sudah........ke Penang sudah........ ke kedah peh sudah Hanye kebanda yang belom NgeRisik sudah – meminang sudah – menikah peh sudah hanye bedemba saje yang belom Jadi ndak manye lagi tuan…..? Artimya; orang melayu masak ketupat Berisi pulut becampur santan Tapi kan kita sudah sepakat Kami ingin masuk mengapa ditahan Kalau tuan pergi kekedai Belikan kami buah-buahan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 102 Kalau sarat dengan rukun sudah selesai Mempelai masuk mengapa ditahan Ketasik sudah........ke Penang sudah........ ke kedahpun sudah Hanya kebanda yang belum NgeRisik sudah – meminang sudah – menikahpun sudah hanya bersanding saja yang belum Jadi mau apa lagi tuan…..? Pihak Perempuan : Besabalah dulu tuan Impal laRangan tegak bediRi Lengkap pule uRangnye due Jike nak masok sediekelah kunci BaRulah pintu dapat dibuke Artinya; Bersabarlah dulu tuan Impal larangan tegak bediri Lengkap pula orangnya dua Jika ingin masuk sediakanlah kunci Barulah pintu dapat dibuka Pihak Laki-Laki : MenuRot adat ngan suku sakat Jage petuah uRanglah tuhe Kalolah pintu dijage ketat SaRat pembuke tolong tunjukke Artinya;MenuRut adat dengan suku sakat Jaga petuah oranglah tua Kalaulah pintu dijaga ketat Sarat pembuka tolong tunjukkan Pihak Perempuan : NegeRi Malake poRak poRande Sejak Hang jebat jadi doRhake Kalolah pintu ndak dibuke Pakei kunci bukan emas, bukan suase (cume uncang berisi yang due)


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 103 Artinya; Negeri Malaka porak poranda Sejak Hang jebat jadi durhaka Kalaulah pintu hendak dibuka Pakai kunci bukan emas, bukan suasa (cuma uncang berisi yang dua) Pihak Laki-Laki : Masak kue buah melake di hidangke diatas meje ne uncang beRisi duet kami beRike Bukelah pintu dengan segeRe. Artinya; Masak kue buah melaka di hidangkan diatas meja ini uncang berisi uang telah disedia Bukalah pintu dengan segera. Pihak Perempuan : Tunggu dulu tuan, kami hendak mengeleh dulu manyeke beRisi atau ke kosong ……………………… KaRene saRat udah dipenohi Sileke mempelai teRus ngelaju Menemui daRe jelite judumu Tunggu dulu tuan, kami hendak melihat dulu apakah berisi ataukah kosong ……………………… Karena syarat sudah dipenuhi Silakan mempelai terus melaju Menemui dara jelita jodohmu - Uang Palang Pintu, merupakan kehormatan dan kemuliaan bukan saja bagi pihak laki-laki (mempelai) tapi juga bagi pihak perempuan (pengantin) untuk dilihat oleh khalayak ramai, sebagai perlambang bahwa dengan memberikan uang sebagai syarat pembuka palang pintu yang dihadang dengan kain Panjang (kain sabɛ) agar mempelai dapat diizinkan masuk, ini merupakan isyarat


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 104 bahwa rangkaian adat sejak turun naik sirih besar sampai pada naik mempelai sudah diselesaikan dan semuanya telah terpenuhi sepanjang resam adat yang berlaku sebagai ketentuan adat Tamiang lama warisan datu nini suku Tamiang. Jika hal ini diabaikan maka akan menimbulkan fitnah dimata orang banyak karena dianggap ada yang ganjil dalam prosesi tersebut yang berakibat menimbulkan aib bagi kedua belah pihak, aib keluarga, aib kampung dan juga aib suku. Setelah melewati palang pintu mempelai berjalan diatas kain titi menuju kepelaminan. Kain Titi adalah kain panjang (orang Tamiang menyebutnya kain sabɛ) yang dibentang menuju pelaminan bersempene tanggung jawab dengan bekal kain sesalin (pakaian lengkap sekali pakai /salin) yang telah disediakan untuk menyeberang menuju pelaminan (mahligai kehidupan), dalam hal ini mempelai menunjukan kepada keluarga perempuan bahwa untuk membangun kehidupan mereka ia telah menyiapkan bekal jembatan menuju kebahagiaan artinya tidak akan menyia-nyiakan isterinya kelak. Setelah sampai didepan pelaminan bidan pengampe menyambut mempelai dan didudukkan disebelah kanan pengantin perempuan, inilah yang disebut “dudok bedemba”. Diatas pelaminan kedua pengantin haruslah menjaga tata kerama dan etika yang telah ditentukan karena ini merupakan adab yang tidak boleh dilanggar, hal ini menyangkut nama baik kedua orang tuanya, yang dapat menimbulkan kesan bahwa anak yang tak pernah didik oleh orang tuannya. Adab diatas pelaminan adalah kedua mempelai duduk diam agak tertunduk (agar mata tidak liar, matanya memperhatikan tamu, sesekali boleh melihat orang yang datang), jika ada keperluan maka bidan pengampelah yang berperan sebagai penghubung. Tukang foto atau dokumentasi tidak merupakan bagian dari prosesi perkawinan, mereka tidak berhak


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 105 mengatur dan memegang pengantin yang telah menjadi isteri orang lain (ini artinya tidak beradab). Tukang foto hanya bertugas meliputi apapun kejadian dalam prosesi perkawinan, karena Pesta perkawinan bukanlah sebuah ajang permainan melainkan sesuatu hal yang sangat menentukan dalam mendapatkan keberkahan yang akan didapat dan dibawa dalam menempuh hidup berumah tangga. 3.11. Cemetok Penganten; Setelah mempelai duduk, lalu bidan pengampe memegang pengantin dan menuntunnya untuk jongkok dan bersalaman dengan mencium lutut mempelai yang dinamakan dengan “nyembah mempelai”. Dalam sembah tersebut mempelai menyerahkan sebentuk cincin dengan memasukan kejari tangan isterinya sebagai hadiah (tidak ditentukan berapa besarnya dan ini tidak termasuk dalam bagian mahar hanya merupakan hadiah suami kepada isterinya) yang dinamakan “Cemetok pengantin” dipelaminan (Cemetok artinya memberikan sesuatu kepada orang lain atas kaedah tertentu). Selesai cemetok pengantin, keduanya didudukan diatas pelaminan selanjutnya dilakukan setawar sedingin atau Tepung Tawar atau disebut juga nyejok. Tepung tawar merupan prosesi adat sempene do’a untuk mendapatkan keberkahan yang dilakukan dengan menggunakan perlambang-perlambang lewat berbagai rinjisan (akan dijelaskan pada bagian akhir buku ini) dan dilakukan secara sistematis sebagai resam adat yang telah diwariskan adat Tamiang lama dari datu nini. Tepung tawar dilakukan dari keluarga kedua belah pihak dipilih orang-orang yang mustahak karna tepung tawar merupakan do’a, jumlah masing-masing pihak biasanya ganjil (5, 7 ayau 9 orang) tergantung kemustahakan orangnya. Tata cara menepung tawari pengantin secara sistematis adalah; 1. Beras padi atau bertih digenggam dalam tangan kanan dengan mengucapkan selawat kepada nabi Muhammad


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 106 Sallallahu’alaihi wassalam dituangkankan ketangan kiri kemudian ketangan kanan lagi dengan ucapan selawat sebanyak 3 kali, lalu ditabur pada kedua pengantin, jika menaburnya dengan menggunakan kedua belah tangan maka arah dari bawah kiri dan kanan ditabur melingkar keatas dan jika ditabur dengan satu tangan dimulai dari bawah sisi kiri keatas dan menuju kebawah kearah kanan (searah dengan putaran jarum jam) sebanyak 3 kali, ini bersempena kepada dengan berkat ridha Allah akan menghimpun keduanya dalam kesejahteraan dan kedamaian sampai akhir hayatnya. 2. Memercikan air yang telah dicampur keratan-keratan limau purut dan lain-lain dengan menggunakan rinjisan dedaunan yang diikat menjadi satu (sebanyak ± 5 macam dedaunan) yang dipercik dari bawah (kaki ketangan yang telah bersimpuh kekepala dan kembali kekaki sebanyak 3 kali, ini bersempena kepada rasi kesejukan dalam kehidupan membawa kedamaian berkat rahmat dan ridha Allah subhana huwa ta’ala yang bermula dari bawah menuju keatas dan melingkupi semua kehidupan.. 3. Menyuntingkan pulut disisi kedua belah telinga dan menyuapkannya kemulut yang bersempene kepada berkat rahmat Allah diberikan kelekatan hatinya seperti sifatnya pulut yang melekat ketika mendengar nasehat-nasehat yang baik dari orang lain. Pulut yang merupakan makhluk Allah diberikan sifat melekat antara satu dengan yang lainynya, pulut atas sifat melekatnya diperlambangkan kepada berkat do’a dengan ridha Allah akan dapat mendengar dan meresapi segala nasehat yang baik dan dapat bertutur kata yang baik. 4. Selesai menepung tawari lalu bersalaman dengan pengantin dan memberi cemetok kepada pengantin berupa uang yang


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 107 jumlahnya tidak ditentukan sempene kerkahan rezeki, jika pihak laki-laki yang melakukan tepung tawar maka ia harus bercemetok kepada pengantin perempuan dan jika yang menepung tawari dari pihak perempuan maka ia harus bercemetok kepada mempelai laki-laki. Cemetok ini untuk tidak memberati orang lain meskipun dari suku sakat kaum biak, mengingat tidak semua memiliki kemampuan ekonomi yang sama maka masing-masing pihak memberi uang ala kadarnya kepada yang akan menepung tawari untuk dicemetokkan kepada pengantin, namun sekarang sudah jarang dilakukan karena setiap yang akan menepung tawari sudah menyiapkan uangnya sendiri. Cemetok merupakan perlambang kasih sayang serta kepedulian dalam kehidupan sesama saudara suku sakat dan kaom biak yang juga muara dari falsafah (kate tetuhe) pengaseh pape setie mati, tepukat diikan same dipileh tepukat dibatang same dijelas. 3.12. Makan Beradab; merupan tata cara adab isteri melayani suami untuk makan bersama dalam rumah tangga. Selesai upacara tepung tawar kedua pengantin diturunkan dari pelaminan dan didudukan dihalaman pelaminan dikelilingi oleh keluarga kedua belah pihak untuk santap bersama yang telah dihidangkan didepan pelaminan sesuai dengan jumlah orang yang telah ditentukan. Untuk santapan pengantin khusus diadakan hidangan belapih (berlapis) makan bersama sedulang (sedalong) dibawah tuntunan pengampe /bidan pengantin, hidangan yang ada diatas dalung tidak boleh diturunkan. Pengantin mengambil nasi, kemudian memilih lauk yang mungkin disukai oleh mempelai, sewaktu mengambil lauk tidak boleh piring atau mangkuk lauk pauk diangkat dari dalung, setelah selesai nasi dan lauk barulah


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 108 diserahkan kepada mempelai, pengantin tidak boleh menyuapkan nasi kemulutnya sebelum mempelai menyuapkan nasi terlebih dahulu, sewaktu mampelai menyuapkan nasi kemulutnya, pengantin melihat yaitu matanya mengikuti gerak tangan mempelai dari mulai nasi disuapkan sampai nasi tersebut masuk kedalam mulut mempelai, setelah ia kunyah beberapa kali lalu mempelai melihat wajah isterinya sambil mengangguk dan tersenyum yang bermakna pujian bahwa masakannya enak, barulah pengantin boleh mengambil makanan (nasi beserta lauknya) dan menyuapkan kemulutnya. Inilah yang dinamakan “makan beradab”, yang dilakukan secara berhadap-hadapan dengan sanak saudara) setelah selesai makan beradab menurut resam dan kanun peradatan, maka kedua pengantin dan mempelai disandingkan kembali sampai menjelang sore berselang ganti pakaian dan shalat (kalau pada zaman dahulu pesta dilakukan pada malam hari maka duduk bedemba sampai subuh) , maka selesailah prosesi adat naik mempelai (mengantar mempelai) sementara dalam masa sanding itu berlakulah puncak keramaian/ kegembiraan dalam perhelatan yang diiringi dengan makan minum, marhaban, dondang sayang silih berganti sampai pagi. Dekat masa subuh berakhirlah masa sanding, dan kedua pengantin lalu dipisahkan, karena pagi tersebut pengantin lakilaki akan pulang kembali bersama-sama kaum keluarganya yang mengantar kerumah semula, zaman sekarang pesta dilakukan siang hari maka mempelai tidak pulang, masa bersanding berakhir sampai sebelum waktu magrib tiba dan jika ada tamu undangan sampai malam hari maka bersanding dilanjutkan kembali sampai waktu yang ditentukan, keesokan hari mempelai barulah pulang kerumahnya. Ketika rombongan yang mengantarkan mempelai pada hari pesta hendak pulang, sirih


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 109 emas yang telah diberikan dibalas dengan dalong balas emas yang berisi kue dan buah-buahan (sekarang biasa ditempatkan dalam talam kemudian ditutup dengan tudung saji kecil dan dibugkus dengan kain), namun adakalanya atas kesepakatan kue balas emas ditaksir dengan uang (ini jarang dilakukan, kecuali mempelai berasal dari wilayah yang jauh). Makan beradab ini merupakan tunjuk ajar bagi siisteri untuk melayani makan suaminya kelak sehari-hari, maka hal ini dilakukan sampai 40 hari sejak hari pesta siisteri menghidang makan suami didalam kamarnya dengan hanya makan berdua saja. 3.13. Hari Berkurung; seperti biasa sejak selesai pesta sisuami (mempelai) setiap pagi pulang kerumahnya dan pada sore hari menjelang magrib mempelai laki-laki disertai dengan kekundangnya pulang kembali kerumah isterinya, kemudian pagi esoknya ia lalu meninggalkan rumah isterinya pula pulang kerumahnya. Pada hari ketiga mempelai laki-laki tidak dibenarkan meninggalkan isterinya (dikurung) dirumah isterinya selama satu hari, maka disebut dengan “hari berkurung” pada hari keempat wali karong dari mempelai laki-laki dengan membawa hidangan nasi selengkapnya diumpamakan sebagai upah bagi wali pengantin perempuan agar membenarkan pengantin laki-laki tersebut dibawa pulang kembali, dengan bahasa santun dimungkinkan bahwa anaknya (laki-laki) lupa membawa belanja kepada isterinya, ini sempene dari tanggung jawab sebagai tunjuk ajar terhadap kewajiban laki-laki untuk menafkahi isterinya juga kepedulian wali syara’ dan wali adat terhadap nafkah anak kemenakan sehingga ia tidak bergantung pada mertuanya (ayah siperempuan).


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 110 3.14. Mandi Bedemba; adalah mandi bersanding yang dilakukan dihalaman rumah dalam upacara tersendiri dengan didinding kain Panjang disekelilingnya (tidak dipertontonkan). Didalam tingkatan perkawinan pemangku adat (anak-anak kepala adat/urang bepake ) diistiadatkan juga diadakan upacara adat istiadat “Mandi Bedemba” ditempat pengantin perempuan pada hari ketiga oleh pihak pengantin wanita. Tempat mandi tersebut berupa panca persada (atap/tudung berbentuk segilima) ditengah halaman. Waktu kedua mempelai turun menuju panca Persada diikuti dengan bunyi-bunyian (gong – biola – gendang). Keduanya diikat dengan tujuh lapis benang pada pinggangnya, mereka kemudian dijongkokkan dan diselimuti dalam satu kain panjang, lalu ditepung tawari barulah kedua ujung dari benang tersebut dengan mempergunakan api lilin dibakar. Dalam mandi bedemba pengantin tersebut turut juga dimeriahkan oleh para keluarga, sedangkan sebagai bahan atau alat-alat mandi bedemba tersebut adalah: 1. Dua gebug (seperti pasu terbuat dari kuningan) air bunga cencang dan irisan limau purut yang dinamakan air akup dan leher gebug tersebut dihiasi dengan rangkaian daun kelapa yang dinamakan “jari lipan”. 2. Satu gebug air sempena selamat. 3. Satu gebug air berisi sempene tolak bala. 4. Dua buah kelapa muda yang telah dikupas habis kulitnya (tinggal kelongkong). 5. Dua butir telur ayam, Dua buah dian/lilin dalam sebuah baki. 6. Dalong tempat setawar dan rerumput dari untaian mayang pinang muda yang kuning warnanya. 7. Satu pasu air yang juga dihiasi jari lipan berisi air bunga cincang.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 111 8. Dua ember air biasa. 9. Satu talam air rias lainnya. Setelah selesai mandi berdemba mempelai baru dibenarkan berangkat pulang kembali bersama keluarganya yang menjemput. Mandi bedemba melambangkan sempene keberkahan dalam rumah tangga atas kebersamaan dalam segala aspek, sehingga siisteri tetap mendampingi suami pada hal-hal mustahak dalam rumah tangga. 3.15. Alang Tujuh dan Memberi Gelar; yang dimaksud dengan alang tujuh yaitu hitungan hari keenam silaki-laki pulang kerumah keluarga isteri yang hitungan malamnya adalah malam ketujuh. Pada malam tujuh harinya diadakan malam “alang Tujuh” dimana fihak famili laki-laki keesaokan harinya harus membawa bermacam-macam makanan dan buah-buahan, kue dan lain-lain, pakaian sesalin (tidak sama seperti mengantar mempelai), dan juga tujuh dalong kue-kue sebagai balasan dalong balas emas (jumlah ini tidak mutlak tujuh tergantung berapa banyak balas emas yang diberikan oleh siwanita) bawaan alang tujuh ini untuk mengembalikan tempat yang dibawa oleh pihak laki-laki pada saat pulang mengantar mempelai (andaipun balas emas pada saat pesta dikonversikan dengan uang, bawaan kue yang bermakna mengembalikan tempat balas emas pada hari ketujuh tetap dilakukan). Sudah menjadi tradisi bagi suku Tamiang setiap orang membawa sesuatu kerumah seseorang dengan menggunakan tempat yang harus dikembalikan, maka ketika mengembalikan tempat tersebut haruslah berisi dengan sesuatu, andaikata yang datang tiba-tiba tanpa sepengetahuan yang dikunjungi (ini diluar adat perkawinan) maka tempat tersebut tidak boleh dicuci, dikembalikan dalam keadaan bekas


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 112 bawaan karena untuk tidak menghilangkan semangat tempat yang dikembalikan kosong. Kunjungan alang tujuh dengan mengembalikan tempat (dalong atau sekarang diganti dengan talam kecil) merupakan silaturahmi keluarga untuk menjenguk anak menantunya sebagai wujud kesetiaan yang tersimpul dalam kate tetuhe “Pengaseh Pape Setie Mati, hilang becari mati betanam” artinya kondisi ekonomi seperti apapun (walau hidup dalam keadaan susah) namun kasih sayang dan kesetiaan tetap sampai mati, jika tiada pulang (hilang) lalu dicari, jika sudah meninggal ada kuburannya. Pada hari ketujuh bersamaan dengan kunjungan alang tujuh diadakan pemberian gelar terhadap menantu laki-laki, oleh keluarga perempuan (ganti nama panggilan untuk keluarga perempuan). Dalam pemberian gelar tersebut dilihat keturunan menantu laki-laki, dan juga keluarga perempuan, jika dari orang terpandang (urang bepake) maka gelar diberi diambil dari namanama orang alim (lebei dan lain-lain) atau keturunan istana (bante, Urang Kaye, dan lain-lain), ketika kelak mertua memanggilnya maka dengan menyebut nama gelar yang telah ditabalkan tersebut dan jika adik dari pihak siperempuan memanggil abang iparnya maka mereka akan memanggil dengan panggilan “Temude” sedangkan abang atau kakak dari pihak siperempuan memangli adik iparnya ini berdasarkan tutur yang melekat pada adik perempuannya tersebut (misalnya; ngah, alang, uteh dan lain-lain), untuk kakak ipar (isteri abang) maka dipanggil dengan “Dapô (dibaca dapao)”, gelar untuk pengantin perempuan diberi oleh pihak laki-laki sewaktu pengantin perempuan berada dirumah pengantin laki-laki pada waktu minjam menantu dilaksanakan pada malam pertamanya.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 113 3.16. Hari larangan (Alang Sembilan); kebalikan hari berkurung yang terjadi pada tiga hari pertama dimana silaki-laki tidak boleh pulang kerumah orang tuanya, maka pada hari kedelapan pengantin laki-laki tidak boleh pulang kerumah isterinya, pada hari kesembilan mempelai barulah pulang kerumah isterinya pada pagi menjelang siang hari dengan membawa ikan basah (ikan tangkapan dilaut), ini merupakan sempene tanggung jawab dan kasih sayang, ketika suami tidak pulang siisteri tidak serta merta marah dan curiga setelah ia melihat suaminya membawa ikan dan belanjaan lainnya barulah ia tahu bahwa suaminya mencari rezeki, peristiwa ini hanya diumpamakan sebab suami isteri bagi suku Tamiang adalah kesetiaan, kemanapun suami pergi isteri harus tahu demikian juga sebaliknya kemanapun isteri pergi tetap lewat izin suami, merupakan sebuah aib jika orang bertanya tentang keberadaan suami siisteri tidak mengetahuinya demikian juga sebaliknya jika orang bertanya tentang keberadaan isteri suami tidak tahu maka ini akan menimbulkan fitnah terhadap hubungan suami isteri ini, oleh karenanya kondisi ini jarang bahkan tidak pernah terjadi. Pada hari kesembilan itu sekaligus datang keluarga dengan tok telangke untuk meminjam pengantin perempuan dibawa kerumah pengantin laki-laki, pada hari itu juga orang tua pengantin laki-laki datang untuk menjenguk atau menepung tawari pengantin perempuan, kemudian barulah diadakan minjam menantu (pesta disebelah laki-laki). 3.17. Nyembah Mertua dan Minjam Pengantin; Minjam pengantin Wanita (minjam menantu bagi keluarga laki-laki) yang akan dibawa kerumah laki-laki disebut juga “turun mempelai” karena diantar kerumah mempelai yang sedang melaksanakan pesta minjam menantu, sebelum keberangkatan turun mempelai diadakan upacara nyembah mertua dan seluruh keluarganya oleh


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 114 pengantin laki-laki, pada sembah menyembah itu pengantin lakilaki diberi cemetok (disalami uang dengan jumlah yang tidak ditentukan) oleh keluarga yang disembahi (sembah yang dimaksud bukanlah sembah seperti shalat, akan tetapi sembah dengan bersalaman sambil membungkuk berlutut mencium tangan sebagai lambang kehormatan dan takzim/memuliakan orang tua ). Setelah selesai upacara ini berangkatlah pengantin perempuan dan suaminya yang diiringi oleh wali karongnya dan teman karibnya kerumah suami, setibanya kedua pengantin tersebut dirumah pengantin laki-laki mereka disambut dengan upacara sebagaimana dilakukan penyambutan ngantar mempelai kerumah pengantin perempuan tempo hari, proses mengantar minjam menantu ini tidak jauh berbeda dengan mengantar mempelai kerumah perempuan. Pada proses minjam menantu kedua pengantin turun dari rumah keluarga perempuan hanya membawa sirih corong dan payung, tetap melakukan tukar tepak dan payung datang ditutup payung menanti dibuka lalu disambut dengan pencak silat dan didepan pintu disambut dengan menabur beras padi sambil berpantun, selanjutnya sama dengan ngantar mempelai, setelah selesai bersanding dirumah pengantin laki-laki diadakan juga acara nyembah mertua oleh pengantin perempuan dan dalam hal ini pihak laki-laki yang bercemetok. Masa minjam menantu ini paling lama tiga hari pengantin perempuan berada dirumah mertuanya, kemudian mereka kembali lagi kerumah keluarga perempuan. Pada acara minjam menantu pada hari berikutnya dilakukan menunjukan runtu garam (tempat garam) didapur bermakna siperempuan dimanapun ia berada dan papapun kapasitasnya (status siisteri) dapur tidak boleh ditinggalkan, lebih-lebih lagi


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 115 dirumah mertua siperempuan harus lebih aktif didapur, merupakan pantang pemali jika mertua yang menghidang menantu perempuannya. Menunnjukkan runtu garam juga menunjukkan tempat-tempat lain didapur sebagai bahan dan alat untuk memasak didapur. 3.18. Penyelesaian Kerja Perkawinan; 1. Mengantar Kembali pengantin; Setelah janji hari minjam pengantin wanita (minjam menantu) selesai dan pengantin wanita tersebut diantarkan kembali oleh tok telangke kerumah orang tuanya, selesailah sudah kewajiban tok telangke pada proses perkawinan tersebut, maka kewajiban orang tua pengantin lakilaki menyudahi hak tok telangke dengan meminta izin dan memberikan hadiah biasanya duit dan kain sepantasnya, meskipun demikian jika terjadi perselisihan antara suami isteri sampai batas memiliki anak satu (lebih kurang 1 tahun lamanya) masih dalam urusan tok telangkai sebagai penghubung penyelesaiannya. 2. Tandang Pengantin Baru; Sesudah upacara peresmian perkawinan dirumah kedua belah pihak selesai, kedua pengantin ditandangkan kerumah family kedua belah pihak dengan membawa buah tangan menurut tingkatnya, buah tangan tersebut akan dibalas oleh yang dikunjunginya. Setiap famili/saudara yang dikunjung harus bercemetok seadanya sebagai syarat keberkahan dan semangat pengantin baru yang datang. Jika yang didatangi saudara dari pihak perempuan (suku sakat dan kaom biak) maka yang di cemetok adalah pengantin laki-laki, dan sebaliknya jika silaki-laki membawa isterinya kepada sudaranya (suku sakat /saudara pihak ayah dan kaom biak/saudara pihak ibu) maka yang menerima cemetok adalah pengantin perempuan.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 116 3. Ngadapi Mak megang; Pada bulan ramadhan tahun pertama sesudah perkawinan tersebut, sewaktu menghadapi makmegang (hari menyembelih hewan sebelum ramadhan /puasa pertama), pengantin laki-aki harus membawa beberapa perlengkapan hari puasa. Perlengkapan itu antara lain daging atau kepala lembu atau dadanya, balasan nanti dari pihak wanita adalah hidangan selengkapnya dan kue-kue. Ini merupakan kemuliaan dan tanggung jawab suami terhadap isterinya yang dipersembahkan kepada mertua (orang tua siisteri), kebiasaan suku Tamiang anak gadis yang telah dikawini tidak boleh pindah dari rumah orang tuanya sampai memiliki anak pertama (kalaupun tidak beranak selama satu tahun lamanya hidup bersama mertua), Selesainya segala tatacara ini barulah acara perkawinan dianggap selesai sepanjang hukum (adat resam dan kanun) adat istiadat perkawinan bagi suku PerkaumanTamiang, namun tok telangkai dalam prosesi perkawinan dianggap sudah selesai sampai pada menghadapi mak megang akan tetapi sampai pada memiliki anak satu jika terjadi pertikaian dalam rumah tangga maka telangkai masih memiliki andil untuk menyelesaikannya hingga damai setelah itu barulah orang tua laki-laki datang berkunjung sebagai ucapan salah terhadap anak lakilakinya (meskipun tidak disampaikan dan tidak disinggung-singgung lagi) dengan membawa makanan kerumah besan, sedangkan orang tua perempuan juga tidak ikut campur atas pertikaian yang telah diselesaikan oleh tok telangkai. Bila terjadi pertikaian selanjutnya yang harus diselesaikan pihak lain maka kedua belah pihak orang tua (jika masih hidup) baru turut campur dalam penyelesaiannya, jika orang tuanya sudah tidak ada lagi maka para wali yang mengambil bagian penyelesaiaannya.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 117 BAB III PAKAIAN TRADISIONAL DAN KELENGKAPANNYA A. PAKAIAN ADAT RESMI Dalam berpakaian bagi suku perkauman Tamiang diatur sedemikian rupa karena menyangkut adab dan etika dalam kemustahakan dan kepantasannya yang merupakan sopan santun dalam pri kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan, jika hal ini tidak difahami maka akan salah dalam menggunakannya baik dalam segi warna maupun tata cara menggunakannya. Bila melanggar etika dan adab maka akan mendapat cemoohan dengan istilah “seperti tempurung naik kedalung” artinya menggunakan sesuatu yang tak pantas untuk digunakan, yang lazim naik keatas dalung yaitu batil perak ataupun batil tembaga, tempurung bukan diatas dalung tempatnya. Pakaian adat resmi suku perkauman Tamiang disebut juga dengan tertib majelis dibedakan antara laki-laki dan perempuan serta siapa yang berhak memakainya. Telah diistiadatkan oleh penguasa adat/Datuk empat suku menyangkut warna kuning pada pakaian resmi adat tidak boleh dipakai semua orang karena terkait dengan moral kesopanan. Warna kuning hanya dipakai oleh Raja-raja sebagai kepala pemerintahan, oleh karena sekarang bukan lagi pemerintahan kerajaan, maka yang menggunakan pakaian berwarna kuning adalah kepala pemerintahan menurut tingkatannya, kecuali zuriat kerajaan yang masih memiliki struktur kepemimpinan dalam kerapatan adat dikalangan kerajaan mereka, hal ini untuk membedakan antara pemimpin dan rakyatnya, dizaman raja juga tidak semua menggunakan warna kuning kecuali raja yang sedang memerintah, karna untuk membedakan yang mana raja dan yang mana bukan raja sebagai kepala pemerintahan. Dalam tata cara berpakaian Melayu teluk belanga cekak musang/timbau gunting johor dengan menggunakan kain sampen (kain


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 118 yang diikat dipinggang), baju berada didalam kain semetara kain diikat dipinggang dengan mempertemukan kedua sisinya ditengah sehingga seperti terbelah dua sempene kerukunan dalam kebersamaan. Dahulu dizaman pemerintahan raja di Tamiang tinggi kain sampen dibedakan berdasarkan jabatan yang diatas lutut dan ada yang dibawah lutut, seluruh pembesar istana dan raja memakai kain sampen diabawah lutut dan rakyat kebanyakan memakai kain sampen diatas lutut, setelah berakhir masa kerajaan oleh tuhe dan tetuhe adat Tamiang menetapkan cara memakai kain sampen disama ratakan tanpa ada perbedaan yaitu dibawah lutut (10 cm dibawah lutut) sempene sopan santun dan etika karena batas kesopanan dalam berpakaian menurut adat dan syariat adalah dibawah lutut, berpakaian bagi orang Tamiang mengandung makna keindahan, tuah dan marwah, daulat, penolak bala, dan mengandung nilai tunjuk ajar. Adapun aturan yang di adatkan dalam berpakaian Tamiang adalah; - Kalau memakai baju Melayu, betulkan butang terlebih dahulu, sebab di situ letaknya malu, (butang adalah rantai pengias pada kancing baju) - kalau warna tidak sesuai disitulah nampak buruk perangai, - kalau baju terlalu lapang, aib menimpa malupun datang, - kalau baju terlalu sempit, disitu tempat celaka berjangkit, - kalau seluaR (celana) terlalu berlabuh, disitu aib malupun tumbuh, - kalau seluaR (celana) terkiting kiting, kerja menyalah kepalapun pening, - kalau seluaR (celana) terlalu singkat, itulah tanda kurang beradat, - kalau seluaR (celana) terlalu sempit, alamat marwah tidaklah bangkit, - kalau memakai kain songket dibawah lutut maka akan terlihat patut, - belah ditengah terlihat gagah, kalau di ikat pusar kebawah sebagai tanda tunjuk arah,


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 119 - kalau memakai tengkulok lurusnya benar tempatnya tegak, Miring kekanan jangan merusak kalau miring, miringlah kekanan sebab berat kekanan mengutamakan kebaikan. - kalau memakai detar, lurus kedepan adil tegambar, kalau miring kurang penyabar, kalau menukik sombongnya besar, Berpakaian bagi orang Temiang malambangkan tahu adat dan tahu diri, sebab itu tidak sembarangan menggunakan warna, 1. Pakaian Kalangan Raja-raja (kepala pemerintahan) 1.1. Pakaian Laki-laki - Tengkuluk berpucuk bersimpul dari kain betakat (songket) - Baju Teluk Belanga berhias/bekasab dibahagian dadanya, leher cekak musang, warana baju kuning telur ketam (telur kepiting). - SeluaR (celana) panjang longgar hingga mata kaki - Kain sampen (kain yang diikat dipinggang) betakat/bekasab warna kuning sesuai dengan baju. - Pending (ikat pinggang) berkepala perak besepuh emas dan bertampuk. - Selempang warna kuning dari kain tenun benang emas - Senjata kebesaran (Tumbuk Lada, siwah atau keris) berhulu/berkepala; gading, - tanduk, - akar kemuning atau akar sawoh berkelahkan emas, perak atau suasa. - Sepatu pansus (selop capal kerucut betekat dari benang emas atau perak) 1.2. Wanita - Sanggul Tegang Lintang dengan hiasan a. Repin Sanggul (cucuk sanggul) dari emas atau perak b. Tekan Kundai c. Bunga goyang gerak gempa. d. Tusuk sanggul hiasan bunga melur atau melati atau


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 120 bunga mawar - Baju Kebaya panjang hingga betis berwarna kuning telur Ketam (telur kepiting) - Kain Sarung bekasab warna kuning sesuai dengan baju bertenun benang emas atau perak - Kain selendang sutera warna kuning bekasab benang emas atau perak - Pending (ikat pinggang) dengan kepala dari emas atau perak - Gelang emas beputar atau dari rangkaian paon untuk tangan (bentuk koin ukuran sedang dan kecil) - Gelang kaki beputar berkepala naga - Cincin jari manis dan cincin markis untuk jari tengah - Peniti baju tiga buah dari emas atau paon dan bros serta rantai emas untuk leher dan subang (kerabu/anting-anting), subang duduk atau subang gantung (biasanya isteri mamakai subang duduk dan gadis memakai subang gantung - Selop kerucut betekat 2. Pakaian Pembesar/Penguasa Adat 2.1. Datuk Besar /Datuk Empat Suku - Tengkuluk bepucuk besimpul dari kain betakat atau kupiah pesemen benang emas - Baju teluk belangan leher cekak/kecak musang atau timbau warna (biru, hitam muda kebiruan, lembayung) dengan hiasan terawang besulam atau betekat pada bahagian dada baju - seluaR (celana) panjang longgar hingga mata kaki - kain sampen bekasab atau kain tenunan batu bara - Pending (ikat pinggang) berkepala emas atau perak bersepuh emas


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 121 - Selempang kuning benang emas - Senjata kebesaran; Tumbuk lada atau siwah atau keris - Sepatu pansus atau selop capal Untuk para isteri datuk memakai serupa dengan para wanita isteri bangsawan. 2.2. Pakaian Datuk Delapan Suku - Songkok/kupiah - Baju teluk belangan leher timbau/cekak musang warna hitam tua atau cokelat muda - seluaR (celana) panjang longgar hingga mata kaki - kain sampen bekasab - Pending (ikat pinggang) berkepala - Selempang Hijau muda - Senjata kebesaran; tumbuk lada, rencong atau siwah - Sepatu pansus atau selop capal 2.3. Para Penghulu - Songkok/kupiah - Baju teluk belanga leher timbau warna hitam, putih - seluaR panjang longgar hingga mata kaki - kain sampen (kain pelekat) - pending berkepala - selempang warna biru - senjata kebesaran tumbuk lada atau siwah/rencong - sepatu atau selop capal 2.4. Ulama (Qadhi, Raja Imam, imam/lebai) - Baju teluk belanga leher cekak musang/timbau atau bajukot tutup (lima buah kancing, dua buah pada leher cekak) warna baju putih - Songkok/kupiah warna hitam atau putih - seluaR (celana) panjang longgar hingga mata kaki


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 122 - kain sarung pelekat - sepatu pansus atau selop capal - ikat pinggang 2.5. Pakaian dikalangan Wanita - Sanggul tegang lintang atau sanggul bulat dengan hiasan sanggul ; a. Repin b. Tusuk Sanggul perhiasan (emas dan/atau perak) c. Tusuk sanggul bunga goyang gerak gempa - Selendang sutera atau kain sabei (kain panjang( - Kain sarung tenunan atau kain pelekatatau kain sarung batik - Kain tudung kepala (kerudung kepala( - Selop tali satu atau selop kerucut - Baju kebaya panjang hingga betis Namun biasa juga kalangan wanita terutama gadis-gadis remaja memakai kebaya panjang terbuat dari sutera halus (lembut) satu stell atau seragam warna baju dengan kain sarungnya. Kerudung empat segi bersulam, cara memakainya dilipat salah satu segi (sudut) dililit dari atas kepala keleher dibawah dagu dengan ikatan berpariasi dari kedua ujung segi (sudut) dan segi yang lainnya tergerai/terjumbai dibelakang kepala menutupi kuduk B. PAKAIAN HARIAN Pakaian seharian adalah pakaian yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keadaan santai maupun juga digunakan untuk berkunjung kesesama (bertamu), kebiasaan dalam kehidupan masyarakat Tamiang dalam segala aspek kegiatan sehari-hari tetap memakai baju teluk belanga atau baju gunting cina atau baju kemeja cekak leher, dengan lengan panjang berkancing. Pakaian ini hanya


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 123 dibedakan bahan yang digunakan menurut tingkat kegiatannya, sehingga ciri khas masyarakat Tamiang itu atau melayu pada umumnya sangat mencolok pada cara dan bentuk pakaiannya. 1. Pakaian untuk kalangan laki-laki - songkok/kupiah - Baju teluk belangan leher timbau atau baju jenis gunting cina atau baju kemeja cekak leher dengan lengan panjang berkancing - seluaR ( celana) panjang longgar hingga diatas mata kaki - kain sarung pelekat - selop atau sepatu - warna baju atau celana menurut keinginan. 2. Pakaian dikalangan Perempuan - Tudung kepala dari kain benang sering digunakan yang polos atau bersulam - Baju kebaya panjang atau pandak/pendek atau baju kurung panjang batas betis atau baju pokok (baju kurung hingga batas pinggang) - Kain sabɛ/kain panjang batik atau kain sutera agak tebal yang dinamakan kain petenom atau kain sabɛ negeri pray (sekarang tidak ketemukan lagi) - Kain sarung pelekat/batik atau tenunan batu bara (bagi gadis remaja biasa menggunakan kain batik - Selop tali satu atau selop kerucut - Warna polos atau berbunga-bunga menurut yang disukai. 3. Pakaian Kerja - Songkok atau ikat kepala - Baju kemeja leher cekak (tanpa lidah) tangan panjang batas antara siku dan pergelangan tangan. - SeluaR (celana) panjang longgar hingga betis - Warna hitam atau cokelat tua


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 124 - Kain basahan warna hitam atau merah karna ketika basah tidak tembus pandang sepanjang ± 1,5 meter C. PAKAIAN PENDEKAR/PANGLIMA (HULU BALANG) 1. Busana - Baju teluk belangan atau baju gunting cina leher timbau (gunting johor/leher oblong) - SeluaR (celana) panjang hingga diatas mata kaki model pinggang dan pisak (segi tiga) agak longgar agar mudah bergerak tangkas - Kain tengkuluk untuk ikat kepala (bukan tengkuluk bepucuk dan besimpul) - Warna hitam pekat - Kain sarung pelekat warna cokelat - Kain ikat pinggang warna kuning 2. Tata warna kain selempang bahu - Untuk Pendekar /panglima (hulu balang) Selempang bahu warna kuning dengan pita merah disekelilingnya dipakai melingkari dari bahu sebelah kanan ke arah pinggang sebelah kiri (panjang ± 2 (dua) meter) berlapis dua lebar 10 cm - Wakil Pendekar / wakil panglima (wakil hulu balang) selempang bahu warna kuning dengan pita merah disepanjang tengahnya - Selempang bahu pendekar / kepala pasukan (kepala regu) warna merah dengan pita kuning sepanjang tengahnya - Selempang bahu Pendekar / wakil kepala pasukan warna merah dengan pita hijau disepanjang tengahnya - Selempang para pendekar/anak buah pasukan warna hijau dengan pita kuning disepanjang tengahnya - Ukuran selempang bahu lebar 10 cm panjang 200 cm


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 125 3. Sempene dari warna; - Warna kuning merupakan kemuliaan dan warna merah lambang dari keperanian, bagi Hulu balang sudah berada pada posisi kemuliaan yang dikelilingi oleh keberanian, menonjolnya kemuliaan membuat para hulu balang seperti ilmu padi semakin berisi semakin merundudk, oleh karenanya kemulian lebih tampak dominan dari keberanian, namun ketika ada penyimpangan dari olang lain keberanian yang melingkari kemuliaan akan muncul dengan sendirinya. - Warna kuning dominan dengan pita merah ditengah merupakan kemuliaan yang mendasari keberanian, ini adalah posisi dari wakil hulubalang (timbalan hulu balang), keberanian tersebut terkonsentrasi pada kemuliaan yang sewaktu-waktu muncul secara spontan. - Warna merah dengan warna pita kuning ditengah, ini merupakan keberanian yang sangat dominan yang mendasari kemuliaan, pemberani yang mulia memiliki karakter yang reaksioner, ini merupakan karakter/posisi dari kepala regu. - Warna merah dengan pita hijau ditengah ini merupakan posisi wakil kepala regu dimana syariat/agama merupakan peredam dari keberanian yang reaksioner


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 126 - Warna hijau dengan pita kuning ditengah ini adalah posisi anak buah pasukan, mereka dilandasi agama/syariat/dan keimanan untuk memunculkan kemuliaan. Bagi pendekar pasukan awal dari bekal pendekar adalah landasan agama untuk menampilkan budi perkerti yang mulia sehingga memiliki pondasi yang kuat dalam mengendalikan setiap tingkatan, yang pada titik akhir kemuliaan yang lebih menonjol bagi seorang hulu balang. D. PAKAIAN PENGANTIN 1. Pakaian Pengantin Pria (mempelai) Sebelum mempelai diantar ke rumah sigadis maka mempelai dihias dan didandan dengan pakaian pengantin adat Tamiang yang terdiri dari; 1.1. D e t a r, model tengkuluk, bertingkat menurut taraf kedudukannya ( pada bagian bawah untuk raja memiliki 3 tingkat lipatan, datuk dan keluarga istana memiliki 2 lipat tingkatan dan untuk rakyat biasa memilikai satu tingkat lipatan, dengan cara memakainya lancip segitiga menghadap sebelah kanan). Tengkuluk berpucuk simpul dari jenis kain songket tenunan Batubara atau sejenisnya Kelengkapan hiasan detar adalah; 1. Cuping, tempat melekatkan umbai lidah tengkuluk 2. Lingkar, kerangka tempat membentuk lidah pucuk tengkuluk 3. Renda, adalah hiasan tengkuluk 4. Umbai-umbai, hiasan yang berumbai-umbai 5. Gunjai, untaian rantai hiasan (seperti butang dikancing dibaju) 1.2. Baju teluk belanga leher cekak/kecak musang atau leher timbau.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 127 1.3. Kain sampin, yaitu kain songket yang disampin (dipakai dipinggang dengan kedua sisi bertemu ditengah membelah tengah) 1.4. Selempang, yaitu kain kecil dengan lebar ± 10 cm dengan panjang 2 x dari bahu ke pinggang yang diselempang pada bahu kanan menuju pinggul kiri 1.5. Serati, yaitu hiasan umbai-umbai didada baju 1.6. Pending, yaitu kepala ikat pinggang 1.7. Kelat bahu, yaitu hiasan lengan yang berumbai 1.8. Terapang, yaitu senjata pakai pengantin (keris/tumbuk lada) 2. Pakaian pengantin Perempuan 2.1. Baju kebaya Panjang yaitu baju kebaya lepas Panjang kebawah sampai ke betis kain tenun betakat 2.2. Kain betekat yaitu songket yang sama warna dengan baju 2.3. Selendang 2.4. Sanggul lintang tegang berhiaskan Kelengkapannya ; a. Bunga gerak gempa b. Repin sanggul c. Gunjai d. Jejak murai e. Tekan kundai (tusuk konde) atau tunggul cemara yaitu tusuk sanggul untuk memperkokoh sanggul buatan yang melekat dirambut aslinya dan pengikat hiasan sanggul 2.5. Tunggul cemara pengikat hiasan sanggul 2.6. Rantai Serati, yaitu hiasan umbai-umbai didada 2.7. Gelang kaki,yaitu gelang berkepala naga dari emas 2.8. Gelang tangan emas 2.9. Cincin emas 2.10. Kerabu atau subang emas


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 128 2.11. Kelat bahu 2.12. Selop capal kerucut bertekat 2.13. Peniti baju dari emas atau untaian paon Tumbok Lade Cara memakai pisau tumbuk lada pada setiap kesempatan adalah sama yaitu pisau yang berada didalam sarung diselipkan pada pinggang sebelah kiri dengan hulu mengarah kesebelah kanan, ketika pendekar atau hulubalang atau pemimpin yang sedang berdiri siaga maka tangan kanan bertumpu pada hulu pisau dan tangan kiri memegang sarung dibawah tangan kanan, ini bermakna dalam setiap saat harus siaga, karena kita tidak mengetahui musuh itu siapa dan ada dimana, ini wujud dari sifat kebaharuan manusia. E. PELAMIN JADI SUKU TAMIANG Pelamin jadi suku Tamiang berbentuk “Panca Persada” atau “Tuha Panca”, sempene renungan penghayatan kate Tuhe yang harus diresapi dan dilestarikan oleh kedua mempelai sebagai pemimpin keluarga kelak. 1. Denah Pelaminan Bahan pelaminan biasa dibuat dari kayu dan dapat juga dibuat dari bahan lainnya, bentuk khas Pelaminan Jadi suku Perkauman Tamiang adalah bentuk segi lima dengan puncak berbentuk lengkung tudung payung berpucuk rebung sebagai punca pengikat kerukunan, berlantai diampu dengan 5 tiang sudut pada 3 sisi anak tangga pelaminan, dengan


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 129 jumlah tukah anak tangga sebanyak ; - 9 tukah anak tangga untuk keluarga Raja - 7 tukah anak tangga untuk pembesar istana - 5 tukah anak tangga untuk urang bepake - 3 tujah anak tangga untuk rakyat biasa Seluruh kerangka (tiang) pelaminan dihiasi dengan kain sutera indah (warna warni dalam bentuk genting gelembung) serta ukiran kertas perada yang berukir motif burung-burung, ikan-ikanan dan diselang seling hiasan kerawang bertekat awan berarak yang bergantungan. Bentuk pelaminan suku perkauman Tamiang tetap mengacu pada falsafah (kate tetuhe) dari mulai perencanaan sampai kepada bentuk. Kate tuhe merupakan pegangan ampuan atas tata kerama masyarakat suku Tamiang yang menjadi falsafah pegangan hidup dan kehidupan sebagai cerminan hakiki insan yang bertaqwa kepada Allah Subhanahuwata’ala Beberapa kate tetuhe yang menjadi pegangan dalam ampuan hidup dalam memapah kehidupan atas pencerminan hakiki insan yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, Tuhan Maha Pencipta Alam Semesta; SaRa’ dijunjong, …….. Syara’ dijunjung Adat dipangku, ………..Adat dipangku Resam dijalen………….Aturan yang disepakati dijalin Dudok setika…………..duduk setikar (musyawarah) Qanun diato……………Peraturan disusun Besenoh ke bukan kada bunge celake…. Muang pusake bunge bangsat Muang adat tumpang kaRu Muang suku biak nak hine Muang harte biak nak pape Artinya Berebut yang bukan kapasitasnya bakal mendapat


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 130 malapetaka Membuang pusaka perbuatan bangsat(jahat/laknat) Membuang adat berakibat rusuh/kacau Membuang suku keturunan hina Membuang harta keturunan akan susah Raje sukat sifat datok sidik sasat Imam paRdhu sunat Penggawe setie taat Rakyat genap mupakat Hati gajah same dilapah Hati tungo same dicicah Raje adil Raje disembah Raje jalim Raje disanggah Artinya Raja yang mempertimbangkan Datok yang menyidik dan memeriksa Imam yang faham terhadap benar dan salah (hukum) Pengawal harus setia dan ta’at Rakyat satu kata dalam bermusyawarah Sesuatu yang besar sama-sama dinikmati Sesuatu yang kecil sama dirasa Raja adil raja disembah Raja yang zalim raja disanggah 2. Kelengkapan dan Hiasan Pelaminan 2.1. Tempat/alas duduk bedemba (bersanding), tikar ciyo berlapis dan berterawang atau kelece (kain bersulam bertekat yang diletakan diatas tilam sebagai alas duduk) bersampul dengan hiasan sulaman bunga berpucuk atau bunga telepuk, merupakan tempat duduk kehormatan dan kemuliaan. Tikar cio dan kelece bukan saja ada pada prosesi perkawinan tapi juga untuk tamu-tamu kehormatan yang akan ditepung tawari.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 131 160 cm 120 cm 180 cm 120 cm 30 cm 20 cm 360 cm 380 38.00 cm Denah Pelaminan Suku Perkauman Tamiang (Panca Persada) 2.2. Gegunung betekat berpucuk rebung dengan berlatar belakang tabing (kain yang dibentang penutup dinding) berterawang bertekat, bantal betampuk (bentuknya agak petak disebut serage) bersusun tinggi. Gegunung dibentang dibelakang pelaminan sebagai latar belakang pelaminan sehingga tampak ruangan pelaminan tersebut empat segi, karena tiang dibelakang tertutup oleh gunungan dimana tiang tersebut berfungsi sebagai penyokong atap pelaminan yang berbentuk segi lima (panca persada, Panca berarti lima sedangkan persada adalah lantai yang tinggi sebagai kehormatan orangorang besar). 380 cm


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 132 Tampak depan 2.3. Seragɛ dinding (bantal bertampuk seperti guling tapi agak petak yang disusun tinggi menjadi dinding). 2.4. Bantal kalang betampok 2.5. Lelangit (kain yang dibentang dilangit-langit ruangan dibawah plafon) dan tabing dinding. 2.6. Balai pulut kuning lengkap untuk upacara sunting mempelai 2.7. Sirih balai 2.8. Sirih tepak lengkap


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 133 2.9. Dalung bersahab (kain yang bersulam bentuk lingkaran/bulat yang pinggirnya berumbai dan bermanik sebagai alas yang diletakkan/dikembang diatas dalung), bersangaei (tudung saji), dan bersengore (kain yang bersulam sebagai alas tutup sangei (tudung saji). 2.10.Corong sirih pengampei (sirih pendamping) F. BALAI AMPUAN Pengertian kandungan makna sempene balai ampuan sepanjang adat resam dikalangan puak suku Perkauman Tamiang meliputi pada fungsi balai, yang dimaksud dengan balai ampuan adalah sebuah wadah yang berbentuk empat persegi terbuat dari kayu berkaki empat yang tingginya ± 15 – 20 cm dan terdapat tonggak kayu ditengah tempat menancap bendera, dibuat untuk tempat pulut kuning atau nasi lada (nasi minyak) yang besarnya disesuaikan dengan isi antara 1 bambu = 2 liter pulut atau isi 2 bambu = 4 liter) yaitu antara 30 cm x 30 cm x 15 cm atau 40 cm x 40 cm x15 cm. Balai adat merupakah sebuah kemuliaan dalam setiap prosesi, maka keberadaannya sangat diperlukan, ketika pesta perkawinan ia menjadi penghias kebesaran adat didepan pelaminan terletak disebelah kiri dan disebelah kanan pelaminan dengan jumlah antara 1 atau 2 buah balai dimasing-masing sisi. Pulut kuning yang dihiasi dengan rasidah dan cenerut diatasnya membuat aroma ruangan semakin mempesona. Selepas acara pulut kuning rasidah serta telur yang melengkapi isi dari pada balai diberikan kepada sanak keluarga dan kaum selingka, serta kepada peserta marhaban yang mengisi acara adat perkawinan tersebut. 1. Fungsi Balai Sepanjang kate tuhe “Adat dipangku, Syara’ dijunjong” yang turun temurun dipusakai dan masih hidup subur kembang dan bertahan utuh dalam masyarakat perkauman Tamiang, maka dalam


Click to View FlipBook Version