Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 34 - anak kampong sebelah ayahnye Lebai BeRkat, si Kulok name bujang yan jawab ayah sigadis, artinya; dengan anak siapa ? dari mana yang mau datang? Anak kampong sebelah, bapaknya Lebai Berkat si Kulok nama pemuda itu, kemudian sambil melihat kepada saudara yang lain ia menjawab - mu kat ambe cadek, entahlah daRi sedare nang lain, artinya; kalau sama saya tidak ada, entahlah dari saudara yang lain. setelah yang lain memberi isyarat dengan mengangkat kedua tangan sambil menggeleng, percakapanpun dilanjut ambe agak, cadek judu daRi kami ne udahlah teRime sajelah uRang nang nak datang yan artinya; saya rasa tidak ada jodoh dari kami ini, sudahlah terima sajalah orang yang mau datang itu. Biasanya kalau kedua ibu bapanya telah setuju, maka sanak family yang hadir itupun setuju pula. Lalu tepak sirih tadi dibuka dan dimakan sirihnya oleh semua family sigadis. Akan tetapi jika yang datang ngerisik adalah orang yang tak pantas diterima sebagai calon menantu dari segala aspek (mis; dari keturunan yang tidak jelas, perilaku yang tidak baik, pekerjaaan dan finansial yang tidak mendukung, pengetahuan agama kurang, tidak berpendidikan serta wajah juga tidak sepadan) sedang yang dilamar memiliki semua kriteria tersebut maka ini dianggap sebuah pelecehan dan penghinaan, maka risikan ditolak artinya bukan saja tepak sirih risik yang tidak dibuka tetapi disertai dengan memberi cermin atau segelas air sebagai isyarat bercermin dulu pantas atau tidak untuk melamar, karna telah menyinggung marwah. (hal seperti ini biasanya dilakukan oleh orang tua si bujang (pemuda) atas permintaan anaknya tanpa mempertimbangkan kepantasan, kondisi
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 35 ini dapat memicu konflik bila orang tua si bujang (pemuda) tidak menerima, akan tetapi bila orang tua tersebut maklum atas kekeliruannya maka ia pulang dengan membawa rasa malu, dan hal ini disembunyikan dengan orang lain. Oleh sebab itu pada proses ini selalu dilakukan oleh orang tua sibujang langsung ataupun salah satu wali adat dari pihak bujang yang melakukannya Pada waktu hari yang telah dijanjikan yaitu hari yang ketiga, datanglah kembali utusan orang tua sipemuda untuk mengambil kembali tepak sirih risik. Oleh orang tua sigadis diserahkanlah tepak sirih tersebut kembali kepada utusan yang datang dengan menyatakan bahwa tepak ini sudah dibuka oleh keluarga mereka dan sudah pula dimakan isinya dengan memberi pujian terhadap rasa sirih yang telah dicicip, Alhamdulillah, manih ngan lemak Rase siReh ne ambe agak, ade siReh datang lagi kedian. Artinya Alhamdulillah, manis dan lemak rasa sirih ini saya rasa ada sirih datang lagi kemudian Pihak bujang (pemuda) menerima kembali tepak sirih itu seraya mengucapkan kata-kata kias, Alhamdulillah tenyate “baek mimpi kami”, kalo peh begian kaba kami bawe, sekalian ngumpol ke sanak sodaRe, sekaligus nyeRah ke kat datok ngan telangke, semoge tuRai madah besambong kele…….. Artinya; Alhamdulillah ternyata “baik mimpi kami” kalaupun demimikan berita kami bawa, sekalian mengumpulkan sanak saudara, sekaligus menyerahkan kepada kepala desa dan telangkai, semoga turai madah (kata-kata) bersambung nanti. Ini berarti orang tua si gadis membuka peluang untuk melangkah pada peminangan karna hasil risikannya telah diterima.
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 36 Maka dari itulah sirih yang diberikan ketika datang ngerisik dan kemudian corong dikembalikan ini dinamakan juga “sirih mimpi” yang merupakan jelmaan dari sirih risik, dengan kata lain jawaban sirih risik adalah sirih mimpi. Utusan minta izin pulang membawa kembali tepak sirih tersebut dan menyampaikan kepada keluarga bahwa tepak sirih sudah dibuka dan mimpi orang tuanya baik.. 2. Peminangan. Dalam adat menempat ke anak, proses peminangan merupakan langkah penting yang akan dimusyawarah oleh kedua belah pihak, pada tahap ini peran kedua orang tua dari kedua belah pihak telah lepas dan diserahkan kepada penghubung yaitu “telangkai” dipihak laki-laki dan “tandei” dipihak gadis yang merupakan perpanjangan tangan dari orang tua masing-masing dalam segala aspek adat perkawinan tersebut. Peminangan merupakan tahap awal untuk melangkah pada proses perkawinan, oleh karena pada proses ini terjadi kesepakatan kedua belah pihak dalam segala hal, meski sirih mimpi telah bergema kemungkinan untuk gagal masih mungkin terjadi baik disebabkan oleh kesepakatan resam yang tidak mendapat titik temu maupun dalam penetapan mahar, namun demikian hal seperti ini jarang terjadi dimana Ketika sirih mimpi telah dijawab dengan setuju maka proses selanjut semua dalam permakluman kedua belah pihak dengan harapan proses perkawinan lancar tiada hambatan. Beberapa tahapan dalam proses peminangan yaitu; 2.1. Serah Telangkai, Telangkai bagi suku Tamiang merupakan seseorang yang memiliki keahlian sebagai penghubung dalam proses perkawinan dari pihak laki-laki yang mampu merangkai kata dalam turai madah penjemput resam, sedangkan penghubung dari pihak perempuan Namanya Tandei ini merupakan profesi yang dimiliki oleh orang tertentu biasanya satu atau dua orang disetiap wilayah
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 37 kemukiman (struktur wilayah diatas desa/kampung, satu kemukiman terdiri dari beberapa desa/kampung) yang saling bertukar antara Telangkai dan tandai. Fungsi telangkai untuk mencari tahu resam dan qanun yang berlaku disuatu tempat untuk dapat difahami dan disepakati, tandei akan menyampaikan hal-hal yang tabu tak boleh dilakukan ataupun tak boleh tidak ada. Setelah selesai ngerisik beserta sirih mimpi diterimanya kembali oleh pihak keluarga laki-laki dengan mengetahui bahwa dalam proses bisik risik telah disudahi dengan mimpi baik yaitu tepak sirih mimpi yang dikembalikan dalam bentuk terbuka artinya telah membuka ruang untuk pintu pertunangan, maka orang tua fihak lakilaki dengan permufakatan keluarga lalu menanam “Tok Telangke” (menentukan penyerahan urusan) guna mewakili (sebagai utusan) kepada adat kaum keluarga pihak lelaki untuk meminang secara resmi. Baik dipihak laki-laki maupun perempuan (yang datang meminang dan yang akan menerima pinangan), haruslah sudah diketahui oleh tuhe adat atau pemangku adat (Datok Penghulu kampung adalah pemangku adat di kampung, tok Mukim adalah pemangku adat di kemukiman). Orang tua pihak laki-laki yang hendak meminang (menurunkan sirih pinangan) secara resmi akan dibawa oleh tok telangkei, terlebih dahulu dipersembahkan kepada datuk Penghulu kampung, demikian juga yang menerima sirih pinangan dipihak perempuan (dinamakan naik sirih). Kepala adat setempat haruslah dipersembahkan terlebih dahulu dan turut serta mempersaksikan upacara naik sirih itu. Demikian pula dipihak lakilaki kepala adat (tuhe adat) setempat turut mempersaksikan upacara turun sirih ngantar pinangan. Apabila hal ini dilangkahi siempunya upacara dapat disalahi oleh adat empat kaum (sekarang Datok Penghulu kampung, Tok Imam kampung, tuhe adat kampung dan Urang patot-patot). Dalam hal ini orang tua laki-laki apabila hendak mengambil tok telangkei haruslah juga terlebih dahulu memberi
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 38 tahukan kepada Datuk Penghulu kampung dan mengambil tok telangke itu harus dengan membawa sirih secorong sebagai tanda kemuliaan kepada orang yang kita hajati untuk membantu urusan kita dan kain pinggang (kain sarung yang akan diberikan kepada tok telangkei) sebagai ikatan tanggung jawab secara adat. Dalam permohonan kepada Tok telangkai orang tua sipemuda menyampaikan Hasrat; “Begini tok telangkai, dalam upaye meneRuske hasil Risikan yang telah diteRime oleh tuan (polan) dalam mimpi baek kami, dengan jawaban tepak soRong sebagai siReh mimpi telah dibuke, untuk yan sebagai upaye lanjutan adelah naek siReh besa dalam peminangan, kami beharap dengan penoh mohon bekenanlah kiRenye tok telangkai menjadi utusan daRi pihak kami untok menyambong tuRai madah dalam menunaike kewajiban yang udah disaRiat ke kat bujang kami. Sebagai saRat sepanjang adat ne ade ambe baweke siReh secoRong ngan sesalen kaen kaRong” Artinya; Begini Tok Telangkai, dalam upaya meneruskan hasil risikan yang telah diterima oleh tuan polan dalam mimpi baik kami, dengan jawaban tepak sorong sebagai sirih mimpi telah dibuka, untuk itu sebagai upaya lanjutan adalah naik sirih besar dalam peminangan, kami berharap dengan penuh permohonan berkenanlah kiranya tok telangkai menjadi utusan dari pihak kami untuk menyambung kata dalam menunaikan kewajiban yang telah disyariatkan kepada anak laki-laki kami. Sebagai syarat sepanjang adat ada saya bawakan sirih secorong dengan kain sarung sesalin. Telangkai menjawab sambil memandang kedua orang tua si bujang; Baeklah Tuan………, kaRene ne sudah menjadi kewajiban ambe, insya Allah akan ambe jalan ke dengan penoh tanggong jawab sesuai dengan Resam adat yang udah diwaReh ke datu nini kite
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 39 sepanjang yang udah beRlaku Artinya: Baiklah Tuan……... karena ini sudah menjadi kewajiban saya, insya Allah akan saya jalankan dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan resam adat yang sudah diwariskan orang tua-orang tua kita dulu sepanjang yang sudah berlaku. 2.2. Penyiapan sirih besar Pada hari yang telah ditentukan berkumpullah seluruh keluarga dari pihak orang tua yaitu sanak keluarga yang tercakup dalam tingkatan; Wali hukum (wali syara’) – Wali Adat – Wali karung – suku sakat dan kaom biak serta karib keluarga yang hendak meminang untuk mempersiapkan sirih tepak (sirih besar). Sirih besar ini dipersiapkan oleh sanak keluarga (wali hukum, wali adat, wali karung biasanya terdiri dari anak gadis yang diawasi oleh orang tua) sebanyak 3 (tiga) atau 5 (lima) tepak, yang berisi lengkap disusun dengan segala kelengkapannya menurut tata cara spesifik resam adat. Sirih pinangan yang dibawa tuan telangkei adalah sirih adat (resam adat) yang menurut adat empat kaum harus dihormati karna menyangkut nama baik kaum dan tuhe adat. Oleh sebab itu sirih ini dinamakan sirih adat (resam adat), kelima tepak tersebut adalah: - 1 Tepak sirih peminang/sirih besar (sirih pembuka kata) - 1 Tepak sirih ikat janji - 3 tepak sirih pengiring. sedangkan pihak calon pengantin juga telah menanti 3 tepak sirih yaitu: - 1 tepak sirih nanti, - 1 tepak sirih ikat janji. - 1 tepak sirih tukar tanda. Bila pada saat ngantar sirih besar dibawa 5 tepak maka pada saat ngantar mempelai (dihari pesta perkawinan) dibawa sirih 2 tepak
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 40 lagi sebagai sirih balai (sirih besar) dan sirih emas. Dan bila sewaktu mengantar sirih dibawa tiga tepak maka pada saat mengantar mempelai dibawa sirih sebanyak 4 tepak sehingga jumlahnya menjadi tujuh tepak, namun demikian tetap merupakan kesepakatan yang ditanyakan oleh pihak laki-laki pada saat peminangan, berapa jumlah yang di ucapkan oleh pihak perempuan sedemikianlah yang harus dibawa, hal ini menyangkut resam yaitu adat kesepakatan antara kedua belah pihak. Bila yang akan dilamar adalah keturunan datok-datok, pihak perempuan boleh meminta sirih antar penganten dalam balei, hal ini tidak boleh berlaku bagi orang-orang kebanyakan (orang Biasa). Satu Balei Sirih ini sama nilainya dengan 7 tepak sirih disebut juga dengan sirih balei, maka untuk memberi balas emas haruslah senilai 7 tepak sirih. Meskipun mengantar sirih tidak dalam balai namun pada sireh pendamping sirih emas tetap bernama sireh balai sebagai perlambang kemuliaan resam adat yang melambangkan kelengkapan 7 tepak meskipun jumlahnya tidak sampai tujuh tepak, demikianlah kemuliaan yang telah ditatah dan dipapah oleh datu nini sempene keberkahan dalam proses perkawinan. Sirih disusun sedemikian rupa, ujung bersatu dengan ujung dan pangkal bersatu dengan pangkal, pangkal adalah sebagai tanda menjadi kepala tepak sedang ujung daun sirih sebagai ekor tepak, yang ketika penyerahannya kepala tepak menghadap ke sipenerima, tidak boleh terbalik ketika dibuka, didalam tepak berisi beberapa cembul yang telah berisi dengan kelengkapan makan sirih, cembul berada didepan juga sebagai kepala tepak sirih, jumlah sirih disesuaikan dengan besarnya tepak. Setelah tepak tersusun sirih dengan rapi dan diletakan cembul-cembul yang berisi gambir, kapur, pinang, cengkeh, kemudian diletakan pinang berkait yaitu pinang yang diukir seperti cincin saling berkait seperti rantai (biasanya
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 41 dibuat dari pinang penawa karena buahnya besar, ada yang berkait dua dan ada yang berkait tiga) disekeliling tepak bagian pinggir disusun sirih yang dilipat bentuk jajaran genjang seperti pagar, lalu dihiasi dengan bunga putik piang/bunga mayang pinang disekeliling pinggir tepak yang telah berpagar dengan sirih jajaran genjang. 2.3. Ngantar Sirih Besar). Setelah semua tepak sirih yang telah ditentukan dan cicin tande persiapan dengan sempurna sepanjang resam adat, maka dimulailah upacara “nurunke atau ngantar sirih besar”. (sirih besar yang dimaksud dalam tepak tersebut jika anak datok ada cembul terbuat dari emas, sirih tersebut dinamakan juga “sirih besar” karena salah satu tepak ada namanya tepak kepala, dimana sirih kepala tersebut juga membawa serta satu tanda (istilah tamiang cincin tande) untuk mengikat tali pertunangan dengan satu tepak corong sirih pengampe (pengiring), tepak sirih kepala berisi sirih susun dan beberapa cembul (wadah kecil bulat bertutup terbuat dari perak atau tembaga) dan batil tempat emas tanda (zaman dahulu untuk anak raja, anak datuk dan urang bepake, cembul yang terdepan tutupnya berlapiskan emas), semua cembul berisikan berbagai kelengkapan sirih seperti gambir (kacu), pinang, kapur sirih, cengkeh dan juga satu buah batil perak atau tembaga sebagai tempat emas tanda. Pada saat sekarang ini karena peralatan semacam itu sudah sulit didapati maka tepak tetap berisi cembul dan kelengkapannya, sedangkan batil tempat emas tanda diluar tepak yang telah dihias secara estetik dan dibungkus dengan kain sebanyak 3 lapis yaitu lapisan pertama kain merah bermakna keberanian mempertahankan hak-hak, kedua warna putih yang bermakna kesucian, dan lapisan ketiga kain kuning yang bermakna kemuliaan. Hal ini tidaklah berarti telah merubah adat karena yang terpenting dari bagian adat tersebtu adalah emas tanda ditempatkan pada tempat yang mulia sebagai
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 42 lambang beradab. Semua bahan-bahan tersebut diletakkan terlebih dahulu diatas tikar cio bekasab/belapis ditengah ruang dimana telah hadir datuk Penghulu kampung (Kepala Desa), Tok Imam kampung, Orang patot-patot dan seluruh tingkatan kaum dan keluarga (wali-wali dari keluarga rumah). Setelah salah seorang keluarga yaitu wali dekat dari siayah mengangkat tangan sembah kepada datuk Penghulu kampung dan tok Imam seraya menyatakan bahwa hajatnya hendak mengantar sirih besar, sirih pinangan beserta tanda kerumah (sipolan) dikampung polan sepanjang bisik dan risik yang telah disudahi dengan sirih mimpi dan segala sesuatunya dilanjutkan menurut tingkatan sepanjang resam adat dalam hukum adat resam dan qanun perkawinan di Tamiang. Selanjutnya dijelaskan apa-apa yang telah diputuskan oleh proses risik dan bisik tempo hari. Datuk Penghulu kampung setelah menerima sembah dari keluarga laki-laki (setelah mengetahui tiada kurang sesuatu sepanjang adat) lalu menyatakan kepada tok telangkei supaya dilaksanakan mengantar “sirih besar” dengan baik menurut adat istiadat. Tok telangke mengangkat tangan sembah kepada datuk Penghulu kampung dan Tok Imam serta menyatakan bahwa ia akan melaksanakan tugasnya dan amanah datuk selaku utusan pelaksanaan adat dalam rangka menyelesaikan perkawinan sepanjang adat istiadat yang berlaku, ia harus menjaga jangan sampai terjadi hukum – adat – resam – dan qanun (perkawinan) lupa terisi dan terpenuhi. Setelah Tok Imam kampung membaca doá selamat, maka tok telangke bersalaman dengan seluruh hadirin lalu mengepik “corong telangkei” dan tiga atau lima pembantunya masing-masing menyandang satu tepak dan berangkatlah mereka menuju tujuan bersama-sama seorang wanita pengampe dan beberapa orang wanita
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 43 lainnya, dalam perjalanan membawa tepak sirih, orang yang membawa tepak sirih besar harus ingat yang mana kepala dan yang mana ekor juga harus diketahui, agar tidak terbalik ketika menyorong tepak, bila hal ini terjadi maka ada dialog yang bertendensi (berkecenderungan) untuk menyindir sebagai isyarat nyelahi adat (menyalahi adat) apalagi kalau tertinggal ini merupakan aib karna lamaran ditolak disuruh pulang untuk melengkapi yang tertinggal. Setibanya rombongan tok telangkei dirumah yang dituju, mereka disambut dengan hormat oleh seluruh kaum keluarga (wali adat) wali karong dari pihak wanita yang menanti. Seluruh tepak sirih yang dibawa disambut oleh famili yang menanti dan diletakanlah diatas tempat yang telah tersedia. Setelah para utusan yang datang itu selesai disuguhi minum dan makanan ringan maka tok telangke menyerahkan “sirih corongnya” kepada datok Tandei yang menanti dan dimana datok tandei didampingi oleh datok penghulu kampung dan tok imamnya pula, seiring dengan itu tok tandei juga menyorong sirih corong artinya bertukar tepak antara sirih sorong datang dengan sirih sorong menanti. Setelah saling tukar antara tepak sirih sorong datang dengan tepak sirih sorong menanti diantara kedua belah pihak, maka mereka saling menyicipi sirih tersebut barulah tok telangkai mengangkat tangan sembah kepada datuk Penghulu kampung pihak perempuan dan menyatakan hajat maksud kedatangan dalam rangka “meminang dan tukar tande” sebagai kelanjutan bisik dan risik yang telah lalu, menyampaikan maksud dilakukan lewat turai madah dengan percakapan secara adat yang biasanya dalam bahasa kias, pantun dan berseloka, dan kadang kala disertai debat senda gurau dan diselingi dengan istirahat sambil makan sirih. Barulah akhirnya pinangan diterima secara resmi, maka cincin yang dibawapun ditukar dengan cincin sigadis (tukar tande ini artinya masing-masing menyiap
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 44 cincin emas belah rotan yang nantinya akan saling tukar antara pihak laki-laki dan perempuan). Cincin tanda ini tidak termasuk dari bagian mahar (ini tidak dilakukan oleh semua orang, hanya sebatas anak datok, anak orang patut-patut (cerdik pandai) anak urang bepake /orang yang terpandang) dan apabila dalam perjanjian peminangan ada uang mahar maka uang inipun harus diberikan segera. Pemberian cincin tanda dan uang dilakukan dengan cara memasukkannya kedalam batel yang juga berisikan beras padi, lalu batel tersebut diletakkan diatas piring yang dialas dengan kain tiga warna yaitu merah, kuning dan putih. Batel yang terletak diatas piring ini dibungkus dengan sapu tangan yang diikat dengan benang tiga warna pula yaitu, merah, kuning dan putih, ketiga warna ini memberi sempena kepada makna dari keberanian, kemuliaan dan kesucian yang tersimpul dalam Kaseh Pape Setie Mati. Bila perlakuan ini tidak dilakukan oleh pihak laki-laki maka pihak perempuan diberi denda untuk menyediakan tempatnya, perbuatan ini sangatlah memalukan pihak laki-laki yang dianggap menyalahi adat. Pada perkembangan zaman sekarang uang mahar sudah tidak pernah ada lagi hanya emas saja namun diluar mahar ada istilah beras pasang atau beras pasang penuh yaitu kesepakatan dalam bantuan bahan untuk kenduri yaitu beras pasang penuh. Istilah ini telah diselewengkan dengan pemahaman yang keliru, semula istilah uang hangus karena beras pasang penuh yang seharusnya bantuan bahan – bahan rumah tangga seperti beras, gula, minyak goreng dan lainlain akan tetapi setelah dikonversikan kedalam uang disebut dengan “uang hangus” sebab bantuan tersebut cuma-cuma maka disebut hangus, kemudian kalangan tertentu merubah istilah ini menjadi “uang kasih sayang”, istilah yang kedua ini merupakan penyimpangan terhadap merendahkan marwah, memiliki makna uang pengasihan atau dengan kata lain bantuan karena kasihan
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 45 identik dengan peminta-minta/pengemis, jika uang hangus masih relevan dengan status pemberian itu yaitu pemberian cuma-cuma, namun istilah sebenarnya yang telah ditabalkan oleh orang tua terdahulu adalah “beras pasang penuh”, ini diluar dari mahar yang merupakan ketentuan syara’ dan adat Dalam proses peminangan ini orang tua pihak laki tidak boleh hadir, demikian juga dengan orang tua pihak perempuan juga tidak diperkenankan untuk mencampuri urusan didalam majelis peminangan (karena telah terlebih dahulu dirembuk dengan wali), segala urusan ditangani oleh wali dan tok telangkai. Dalam hal menyorongkan tepak sirih kepala (sirih besar) ini sangat berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan yang bisa terbalik sorong yaitu ekor sirih yang tersorong lebih dahulu, bila ini terjadi maka pihak penyorong akan mendapat sindiran, pihak gadis akan berkata sesamanya tidak ditujukan langsung kepada yang menyorong yaitu “Ganjel betol juge tamu kite ne, ikoR nye duluan maju” (ganjil sekali tamu kita ini, ekornya duluan yang maju), merahlah muka pihak laki-laki mendengarkan sindiran tersebut, untuk itu diperlukan orang yang harus pandai bersilat lidah maka ia akan menjawab dengan berpantun. Dalam percakapan pinang meminang tepak sireh menjadi moderator, artinya siapa yang memulai berbicara maka ia yang memegang tepak setelah pembicaraan akan dialihkan kepada pihak lawan maka tepak sirih disorong sebagai tanda pihak itulah yang berhak berbicara demikian sebaliknya, inilah adab dan etika berutur kata dalam sebuah dialog resmi adat sebagai lambang kemuliaan. Percakapan pada saat mengantar sirih dengan memakai pantun : Telangkai memulai pembicaraan; Alhamdulillah puji kat Allah seRte selawat kepade Nabi, begianlah adat yang besariat sudah kite papah daRi jaman datu nini hingge kekini ne semoge hidup mendapat beRkah, kami menyampaike kate daRi tuan polan……… dan datok penghulu kampong………
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 46 (kampung sibujang) dengan 4 kaom, 8 pihak, 16 dengan handai tolan, 32 seRte keRabat dan kaom selingka. Walau peh begian, entah kami telajak cakap, entah cakap kuRang beRadab, bia jangan menjadi cele, jangan kele jadi pesune hingge timbul pitnah nang hine, daRi jaoh duli dijunjong, daRi dekat menjunjong sembah, mohon dimaapke atas kekhilapan kami, tuan ngan puan dan tok tandel yang dimulie ke Hujanlah aRi Rintik-Rintik, Tumboh cendawan gelang kaki Kami ne seumpame telo itik Kasih ayam make menjadi. Limo puRut laboh kelembah Sampe kelembah tetumbuk duRi Pinang menghadap siReh menyembah JaRi sepuloh menjunjong duli Ne lah kate mule daRi kami mudah-mudahan tanye bejawab gayong besambut. Atinya Alhamdulillah puji kepada Allah serta selawat kepada nabi, begitulah adat yang bersyariat sudah kita papah dari zaman dahulu sampai sekarang ini, semoga hidup mendapat berkah,…. kami menyampaikan pesan dari tuan polan……..dan kepala desa (kampung silaki-laki) dengan 4 kaum, 8 pihak, 16 dengan kaum keluarga, 32 dengan teman dan tetangga sekitarnya. Walaupun demikian entah kami terlanjur cakap, entah cakap kurang beradab, agar jangan menjadi cela, jangan nanti jadi umpatan hingga timbul fitnah yang hina, dari jauh duli dijunjung (memuliakan yang mulia), dari dekat menjujung sembah (mengangkat tangan sembah), mohon dimaafkan atas kekhilafan kami tuan dan puan dan tok tandai yang dimuliakan.
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 47 Hujanlah hari rintik-rintik, Tumbuh cendawan gelang kaki Kami ini seumpama telur itik Kasih ayam maka menjadi. Limau purut jatuh kelembah Sampai kelembah tetumbuk duri Pinang menghadap sirih menyembah Jari sepuluh menjunjung duli Ini lah ucapan mula dari kami mudah-mudahan tanya bejawab gayung besambut. Pihak Perempuan (Tok Tandai) Selaseh tumboh melilet tinggi Same dimakan sedap ngan wangi Sampenye tuan kemuliean kami Hajat manye datang ke hini Kedudok didalam dulang URatnye bejalo-jalo Dudok kite dudok bebilang Adat yang mane kite kelua ke SoRong papan taRek papan Buah langsat dalam peti SiReh sorong belom dimakan Manye hajat didalam hati Artinya Selasih tumbuh melilit tinggi bersama dimakan enak dan wangi Sampainya tuan kemuliaan kami Hajat apa datang ke sini Keduduk didalam dulang Uratnya bejalur-jalur Duduk kita duduk bebilang Adat yang mana kita keluar kan
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 48 Sorong papan tarik papan Buah langsat dalam peti Sirih sorong belum dimakan apa hajat didalam hati Tepak sirih disorong pada tok telangkai Pihak laki (Telangkai); Mahap sedaRe-sedaRe, besa gunong lebih besa maksud yang kami kandong, tinggi gunong lebih tinggi haRapan yang kami gantong ke. ye lah sebabnye kami kehini, Kami denga sedaRe uRang nye arip, lagi bjaksane tau dikias, tau diumpame, jabat adat dan kebiasaan, pemegang janji dan kate-kate daRi dulu sempe kinine, sape salah, sape ditimbang, adat ngan saRa’ jadi pegangan. Udah lah ye................... besalah sudah anak mas diRumah, sikulok name pemude umo sudah setahon jagong, daRah sudah setampok pinang, laki-laki Remaje lajang menjadi hutang emak ayah, jadi tanggongan seluRoh keluaRge, baRu sebagian hutang dibaya. Petame : keRat pusat dan beRayon. Kedue : bekhitan sunat Rasol Ketige : Mengaji khatam Qor’an. Keempat : diajaR sopan santon. Hanye tinggal satu lagi, hukom adat hukom negeRi Wajeb disuRoh beRumah tangge, baRu sempuRne umat manusie. Datok yang kami mulieke...................................... kalo pemude diumpameke, seko kumbang yang tengah teRbang sudah ngelintas ngelewati taman, tepandang die pade jembangan, indah letaknye ditengah Ruang, beRisike kembang yang tengah ngembang. Pulanglah kumbang nemui keluaRge menceriReke bunge yang tengah meka
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 49 siang malam teRingat saje, te peRnah lupe baRang sekejap pelin keluaRge udah mupakat nyeRahke tugas hame kami ne.. untok betanye secaRe adat, nyempeke maksud dengan Resmi Bulehke kami dengan ceRane bagike siReh dengan setangan buleh ke kami datang betanye adeke bunge dalam jembangan artinya Maaf saudara-saudara, besar gunung lebih besar maksud yang kami kandung, tinggi gunung lebih tinggi harapan yang kami gantung, itulah sebabnya kami kesini, Kami dengar saudara orangnya arif, lagi bjaksana tau dikias tau diumpama pegang adat dan kebiasaan, pemegang janji dan kata-kata dari dulu sampai sekarang, siapa salah, siapa ditimbang, adat dan syara’ jadi pegangan. Setelah itu ................... besarlah sudah anak mas dirumah, sikulok nama pemuda umur sudah setahun jagung, darah sudah setampuk pinang, laki-laki remaja lajang menjadi hutang emak ayah, jadi tanggungan seluruh keluarga, baru sebagian hutang dibayar. Pertama : potong pusat dan berayun. Kedua : berkhitan sunat rasul Ketiga : Mengaji khatam Al Qur’an. Keempat : diajar sopan santun. Hanya tinggal satu lagi, hukum adat hukum negeri wajib disuruh berumah tangga, baru sempurna umat manusia. Datok yang kami muliakan...................................... kalau pemuda diumpamakan, seekor kumbang yang tengah terbang sudah melintas melewati taman, terpandang dia pada jambangan indah letaknya ditengah ruang, berisikan kembang yang tengah mengembang. Pulanglah kumbang menemui keluarga menceritakan bunga yang tengah mekar
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 50 siang malam teringat saja, tak pernah lupa barang sekejap semua keluarga sudah mufakat menyerahkan tugas kepada kami ini untuk betanya secara adat, menyampaikan maksud dengan resmi Bolehkah kami dengan cerana membagikan sirih dengan setangan boleh kah kami datang betanya adakah bunga dalam jambangan Tepak sirih disorong kembali kepada tok Tandai pihak perempuan (Tok Tandai); Banpelen kate udah didenga Rupenye kumbang tukang pesia keRene tuan datang menjengok membuat hati kami jadi sejok seluRoh keluaRge pe udah beRembok kate ne kami sempe ke..............sebelom siReh kami makan Banyaklah bunge dalam taman kami ne, lebih satu dalam puRi, takot ke kumbang datang menyeRi, ngeleh ke bunge dikelilingi duRi. Sunggoh peh bunge belom betali, namun tetap dijage famili ye...lah kate dari kami......... ucapan seperti diatas berarti pihak perempuan telah membuka harapan bagi keluarga laki-laki, maka dengan segala perasaan gembira keluarlah kata-kata sanjungan dari pihak laki-laki: Artinya: Semua ucapan sudah didengar rupanya kumbang tukang pesiar karena tuan datang menjenguk membuat hati kami menjadi sejuk seluruh keluargapun sudah berembuk ucapan ini kami sempaikan.............sebelum sirih kami makan banyaklah bunga dalam taman kami ini, lebih satu dalam puri,
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 51 takutkan kumbang datang menyeri, melihat bunga dikelilingi duri Sungguhpun bunga belum bertali, namun tetap dijaga famili itulah kata dari kami......... Tepak disorong pada tok telangkai Telangkai Rumah mulie ade penunggu masyho semeRbak segenap Ranto kehile keseluRoh tanjong, kehulu sempe kegunong bukan bunge sembaRang bunge, mawa hidup suntingan utame suci beRseh, penghias dan pelaksane, untok Rumah tangge beRulang kepade pangkal dikaji dari alip, dihitong daRi mule. Hidup manusie dikandong adat, mati dikandong tanah kunci kate pade kias, siReh besuson pinang belonggok Tepak bebaReh nanti ke sape, kaom wali menanti izin daRi sedaRe keluaRge dihini ne menyuRoh mengabdi kepade kembang, mawa bunge suntingan yang teRtuhe didalam jembangan untok dijage dan disayang lebeh daRi anak kediRi segale saRat jadi pikolan,cadek engka daRi janji baek yang sudah, baek yang kedian asalke lulus adat dan sara’, Ringan kami jinjing, beRat kami pikol. bukan maksud mengade-ade, cume takot akan Ilahi begini pantonnye sedaRe; daRi mane hendak kemane bawe bekal telo itik salahke kami kalo betanye buleh ke bunge kalo dipetik ?
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 52 artinya ; Rumah mulia ada penunggu masyhur semerbak segenap rantau kehilir keseluruh tanjung, kehulu sempai kegunung bukan bunga sembarang bunga, mawar hidup suntingan utama suci bersih, penghias dan pelaksana, untuk rumah tangga berulang kepada pangkal dikaji dari alif, dihitung dari awal. Hidup manusia dikandung adat, mati dikandung tanah kunci kata pada kias, sirih bersusun pinang melonggok Tepak bebaris menantikan sapa, kaum wali menanti izin dari saudara keluarga disini menyuruh mengabdi kepada kembang, mawar bunga suntingan yang tertua didalam jambangan untuk dijaga dan disayang lebih dari anak sendiri segala syarat jadi pikulan, tidak ingkar dari janji baik yang sudah, baik yang kemudian asalkan lulus adat dan syara’, ringan kami jinjing, berat kami pikul, bukan maksud mengada-ada, cuma takut akan Ilahi begini pantunnye tuan; dari mana hendak kemana membawa bekal telur itik salahkah kami kalau betanya bolehkah bunga jika dipetik ? Tepak disorong pada tok tandai Tandai ; Bawe bekal telo itik untok dimakan sampe tujuan Bunge mane yang tuan nak petik DiRumah ne ade tige jambangan
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 53 Artinya; membawa bekal telur itik untuk dimakan sampai tujuan Bunga mana yang tuan nak petik Dirumah ini ada tiga jambangan Tepak disorong kembali Telangkai TeRbang Rendah siunggas gagak SuaRe pendek seRte mendengong Yang indah ceRdas dan juge lagak Die siakak yang paling sulong Artimya; Terbang rendah siunggas gagak Suaranya pendek serta mendengung Yang indah cerdas dan juga lagak (cantik) Dia siakak yang paling sulung Tepak disorong pada tok tandai Tandai Oi……oi…… pande sunggoh sibujang mengintei, meski peh same ceRdas dan pandei sudah dicaRi tau kelebehan sisulong. Artinya; Oi……oi…… pandai sungguh sibujang mengintai, meskipun sama cerdas dan pandai sudah dicari tau kelebihan sisulung Tepak disorong pada tok telangkai Telangkai Maksud kami sudah tejawab seRte Resmi sudah diteRime tinggal ke langkah beRikotnye kite buat janji (ikat janji) mengenei maha peRkawenan……… artinya; Maksud kami sudah terjawab serta resmi sudah diterima tinggal langkah berikitnya kita buat janji (ikat janji) mengenai mahar perkawinan………
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 54 Tepak disorong pada tok tandai Tandai Cadek menambah cadek menguRang santon dalam peRlakuan adat, muRah bukan dijaje ke, mahal bukan dijual, yang sudah dilajimke oleh adat ielah maha 10 manyam, hempang pintu kaen titi, kaen sesalen, siReh bale, siReh emas, siReh penghias, beRas pasang penoh diselesaike sesuai mupakat Artinya; tidak menambah tidak mengurang santun dalam perlakuan adat, murah bukan dijajakan, mahal bukan dijual, yang sudah dilazimkan oleh adat ialah mahar 10 manyam, hempang pintu kain titi, kain sesalin, sirih balai, sirih emas, sirih penghias, beras pasang penuh diselesaikan sesuai mufakat 2.4. Ikat Janji; Proses tahapan berikutnya dalam peminangan adalah ikat janji, dimana bila pinangan telah secara resmi diterima, maka selanjutnya adalah mengadakan mufakat mengenai ketentuan yang harus dipenuhi ketika peresmian perkawinan. Mufakat adalah mengambil satu komitmen dalam menempuh proses berikutnya untuk mendapat kan kesempurnaan yang membawa keberkahan seperti falsafah “Sekate Sepakat SempuRne buat, Hidup Sepakat Membawe BeRkat”. Artinya satu kata dalam mufakat sempurna perbuatan, hidup sepakat membawa berkat. “Semende-mende buat bepakat, sejahat-jahat buat bepakse”, Artinya sebaik-baik perbuatan bermufakat (musyawarah), sejahat-jahat perbuatan dipakasakan. Setelah diadakan jamuan naik/ menerima sirih pinangan selesai maka tok telangkei selanjutnya mengadakan ikatan dan ketentuan-ketentuan tentang waktu peresmian perkawinan dilaksanakan (istilahnya pulang naik) dan segala persyaratan yang harus diselesaikan ketika pulang naik nanti.
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 55 Telah menjadi ketentuan adat suku perkauman Tamiang yang berlaku pada zaman dahulu, mengenai mahar perkawinan diatur sebagi berikut : - Putri Raja 1.000 ringgit. - Putri Datok empat suku 140 ringgit. - Putri Kadhi 100 ringgit. - Putri Imam 80 ringgit. - Putri Datok delapan suku 60 ringgit. - Putri rakyat biasa 40 ringgit. (Ketentuan ini berlaku pada zaman Raja-raja Tamiang dahulu, namun sekarang telah disesuaikan dan berpedoman dengan harga emas). Dalam soal penetapan Mahar bagi suku Tamiang sangat terikat pada ketentuan yang tidak saling merendahkan dituangkan dalam falsafah “Mahal bukan berarti menjual, murah bukan berarti dienjok” (Mahal bukan berarti menjual anak, murah bukan berarti menjajakan /memberi anak), oleh sebab itu ditentukan dengan kemustahakan dan kesepadanan antara yang meminang dan yang dipinang, disamping itu seperti yang telah dilazimkan oleh adat yaitu; empang pintu kain titi, kain sesalin, sirih bale, sirih tepak, sirih emas, sirih penghias, beras pasang penoh dan lain-lain ketetapannya diselesaikan melalui mufakat. - Empang/hempang pintu atau palang pintu yaitu kain panjang yang dibentang didepan pintu masuk arah kepelaminan sebagai penghalang mempelai masuk, hempang (artinya halang/palang) pintu yang dijaga kiri dan kanan oleh dua orang gadis tanggung saudara dari pengantin yang memegang kedua ujung kain panjang tersebut sehingga pintu tertutup, untuk membuka terjadi dialog antara telangkai dan tandai bahwa segala sesuatu yang menyangkut adat dan resam dalam proses perkawinan ini telah selesai dipenuhi secara adat dan untuk memuliakan tuan rumah dan kemuliaan yang
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 56 datang tok telangkai memberikan dua buah uncang (katongan kecil yang terbuat dari kain untuk tempat uang dirham zaman dahulu) yang berisi uang (tidak ditentukan nilainya). Hempang pintu merupan adat dalam prosesi perkawinan suku perkauman Tamiang, ini merupakan pernyataan bagi khalayak baik suku sakat kaom biak dan handai tolan, ketika hempang pintu dibuka berarti semua ketentuan adat dalam proses perkawinan dari naik sirih sampai pada pesta perkawinan semua telah selesai dipenuhi, dan jika terjadi penghadangan hempang pintu tidak dibuka berarti ada proses yang ditinggalkan maka akan mendapat denda terhadap nyalahi adat, ini merupakan aib bagi pihak laki-laki mulai dari telangkai sampai pada sekalian pemangku adat, namun ini jarang bahkan tidak pernah terjadi, karna komunikasi yang intent dan terus menerus dilakukan oleh tok telangkei dan tok tandei, sedangkan uncang (kantongan kecil) digunakan karena zaman dahulu uangnya dirham dalam bentuk koin, sekarang terkadang diisi dalam amplop, hal ini tidak menyalahi adat, yang menyalahi adat jika tidak diberi uang palang pintu karna ini merupakan marwah, martabat dan kemuliaan dari kedua belah pihak. - Kain Titi, adalah kain panjang yang dibentang menuju pelaminan sempene perjuangan dalam menempuh mahligai rumah tangga, bahwa dalam mengharungi bahtera kehidupan untuk mencapai suatu harapan butuh perjuangan layaknya melewati jembatan, dengan sempene do’a ketika menaiki pelaminan berarti telah melewati rintangan. Hal ini merupakan wujud pengakuan dan tanggung jawab terhadap seorang suami yang akan membina rumah tangga, dengan bekal kain sesalin (hantaran yang telah diberikan) ia telah meyakini isteri dan keluarga isterinya bahwa ia akan mampu meniti kehidupan menuju kebahagian dalam membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah.
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 57 - Kain sesalin, (kain sesalin artinya perlengkapan pakaian untuk dipakai yang jumlahnya satu pasang) merupakan perlengkapan kehidupan awal yang dibawa pada saat mempelai diantar (disebut juga turun naik), kain sesalin berisi kain, pakaian, peralatan rias, sepatu dan lain-lain yang kalau zaman dahulu dimasukkan kedalam talam kecil ditutup tudung saji yang dilapisi sahab kemudian dibungkus dengan tidak kelihatan isinya, karna ini merupakan rahasia yang tidak boleh dipertontonkan, cukup mempelai dan pengantin saja yang tau ketika telah dibawa masuk kedalam kamar, sekarang sudah dimasukkan kedalam keranjang parsel namun tetap ditutup dan tidak boleh kelihatan umum, karena akan menimbulkan fitnah bagi yang melihat, jika yang dibawa adalah barang yang mahal (bermerek) tentu saja akan mendapat pujian yang berlebihan yang kemudian akan merambat pada persoalan ingin tahu apa kerja mempelai dan berapa pengahasilannya dan seterusnya demikian sebaliknya jika yang dibawa itu harganya murah maka akan menjadi upat caci untuk mempelai bagi yang melihat bahkan bisa merendahkan pengantin atas bawaan tersebut, oleh karenanya bawaan kain sesalin tersebut tidak boleh dipertontonkan (dibawa secara terbuka). - Sirih balai. sirih yang disusun dalam balai (terbatas kalangan tertentu yang nilainya 7 tepak sirih) dan merupakan kelengkapan sirih perkawinan sejak dari turun naek sirih sampai pada mengantar mempelai sejumlah 7 tepak, sekarang meskipun dibuat didalam tepak tetap bernama sirih balai karena merupakan sirih penutup yang dibawa pada saat hari pesta bersamaan dengan tepak sirih emas dan yang lainnya, artinya dengan kata lain tepak yang dibawa pada saat mengantar mempelai bersama dengan sirih emas tetap dinamakan sirih balai sebagai pernyataan atas kelengkapan sirih tepak dari awal naik sirih besar sampai saat pesta perkawinan mengantar mempelai.
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 58 - Sirih tepak, sirih emas dan sirih penghias, merupakan kelengkapan sirih pada saat mengantar mahar yang belum selesai, zaman dahulu sirih emas dibawa pada saat pesta karena mempelai dilaksanakan pernikahannya pada saat hari pesta itu juga, sirih tepak dan sirih penghias adalah sirih pendamping sirih emas. Pada masa sekarang tepak sirih ini tetap dibawa juga dinamakan sirih emas dan sirih pendamping meskipun kedua mempelai telah dinikahkan terlebih dahulu guna untuk diserahkan kepada pihak gadis sebagai serah terima mempelai yang akan menjadi bagian dari keluarga pihak perempuan, setelah itu tidak ada lagi serah terima mempelai. Sirih emas yang dibawa ketika sudah terjadi pernikahan, ini sebagai perlambang dimana tepak tersebut tidak lagi berisi emas hanya sebagai pernyataan bahwa semua mahar telah diselesaikan dan tepak tersebut menjadi pendamping terhadap penyerahan suami kepada isterinya dan penyerahan menantu kepada mertuanya lewat perantaraan tandai. Sebagai kelaziman yang tetap disertakan adalah sirih corong yang digunakan sebagai pembuka kata dalam setiap prosesi perkawinan demikian juga pada saat mengantar mempelai kerumah pengantin sirih corong turut serta sebagai pembuka kata. - Beras Pasang Penoh, arti pasang disini bukanlah seperti air pasang, akan tetapi yang dimaksud dengan “pasang” disini adalah “diisi/dipenuhi” jadi beras pasang penoh yaitu beras dan kelengkapannya untuk pesta. Beras pasang penoh adalah bantuan yang diberikan mempelai kepada pihak keluarga pengantin dalam bentuk bahan pangan (sembako) dikatakan pasang penuh karena pemberiannya komplit berbagai macam bahannya tapi jumlahnya tidak ditentukan semua berdasarkan kesepakatan, sekarang sudah diberikan dalam bentuk uang yang besarnya sesuai kesepakatan atau sesuai kemampuan mempelai, bantuan ini statusnya tidak
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 59 dalam hitungan atau disebut dengan hangus (gratis). Setelah beras pasang penuh ini mulai berlaku dengan mengkonversikannya dengan uang maka muncullah istilah uang hangus dan kemudian muncul lagi istilah uang kasih sayang sebagai pengganti dari istilah uang hangus tapi kedua istilah ini bukan sebutan adat, uang hangus disebut hanya karena statusnya hangus (gratis), beras pasang penoh atau yang telah dikonversikan dengan uang ini sudah harus diantar sebelum hari pesta (± 1 bulan lagi sebelum pesta). Istilah “uang hangus” masih lebih mulia jika dibandingkan dengan sebutan “uang kasih sayang” yang sekarang sudah mulai populer meskipun kedua istilah ini bukan istilah adat. Bagi orang Tamiang “uang kasih sayang” ini merendahkan martabat, dianggap sebagai bantuan karena kasihan atau sebagai menghiba/mengemis sementara beras pasang penuh adalah sebuah ketentuan adat atas dasar kesepakatan yang harus dipenuhi sebagai wujud rasa tanggung jawab pihak mempelai, oleh karenanya uang kasih sayang dan uang hangus tidak ada dalam sebutan adat, sejak zaman dahulu biaya bantuan mempelai ini disebut beras pasang penuh. Dalam penentuan mahar ini yang berkomunikasi dari pihak lakilaki adalah telangkai dan wali adat sedangkan pihak perempuan adalah tandai, setelah mahar ditentukan oleh pihak perempuan jika pihak laki-laki merasa keberatan maka terjadi kompromi, apabila telah disanggupi dan ternyata nantinya tidak dipenuhi ini termasuk menyalahi adat dan akan mendapat sangsi adat, namun apabila belum disepakati karena ada sedikit perbedaan didalam memenuhi permintaan dari keluarga wanita, maka telangkei harus mampu menyampaikan keberatannya dengan penuh sopan santun, seperti misal percakapan dibawah ini; “…….Mu nang panjang minte le kami pandak ke, mu nang belebeh haRap dikami dikuRangke, ……tapi mu nang beRat bia kami sapehi ampu besame.
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 60 Mu dikami daRi ke pecah mende le Retak, daRi ketumpah mende le ngelimbak, kalo nang banyak te ek teRade ke kami, bia le hikik asal ke sempoRne. ……...Dapat baek same baek, kalo malu same malu, kaRene kalo sengek kite baek i same-same, kite ne kan same, daRi malu kan lebeh mende le mati. ..........Kalo pelin ne sepanjang adat, baek le kami isi, tetap bene cadek pelak, janji adat kami junjong tinggi, seRupe minyak ditatang penoh, seRupe Raje kite dolat tinggi, kami bejanji mule dan pengabih memenoh adat pusake datu nini. artinya: Kalau yang Panjang kami mohonlah dipendekkan, jika yang berlebih kami berharap dikurangkan, ……tapi jika berat biarlah kami ampu bersama, bagi kami dari pada pecah lebih baik retak, dari pada tumpah lebih baik melimpah, kalau yang banyak tak terpenuhi kami, biarlah sedikit tapi sempurna. Dapat baik sama-sama baik, kalau malu sama-sama malu, karena kalau miring kita perbaiki sama-sama, kita ini kan sama, dari malu kan lebihlah baik mati. ..........Kalau semua ini sepanjang adat, baiklah kami isi, tetap benar tidak mengelak, janji adat kami junjung tinggi, seperti minyak ditatang penuh, seperti Raja kita daulat tinggi, kami berjanji awal dan penghabisan memenuhi adat pusaka datu nini. Percakapan lain setelah pinangan akan diterima dari pihak perempuan seperti; PeRiok gebang dikampong dadap buatke lidi jadike penyapu
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 61 siReh pinang tengah dihadap saRat janji tentuke dulu Kami daRi pangkalan, ngeleh peRahu datang belaya dibawe aRus pasang naik, saRat muatan bemacam Ragam penoh haluan penoh buRitan, sampe pade saRa’ kiasan menyuRoh bepike dan bepedoman takot bencane datang kedian hidup manusie dikandong adat, hukom adat hukom negeRi adat belom betuka, sumpah Tamiang tetap setie baek keatas, baek kebawah, asal adat Tamiang lame sape nang ngubah janji, bubong Rumah kang tejungke kaki tiang tengadah ke langet mangkenye.................. lembah same ditimbuni, gunong same diRateke kehulu same beRaket, kehile same beRenang Rotan bejalen tetap bejalen jadi satu kutok manusie ingka janji, mawa tetap belom betali hanye bedetik didalam hati. Bunge ditaman belom tekopek, jumlahnye pe lebeh satu same tuhe same mudenye, same umo setahon jagong same daRah setampok pinang, same akal tumboh kelua, dunie akheRat tengah dituntut, mungkin isok jadi upatan sesal dulu pendapatan, sesal kedian cedek begune makenye............. pelin kate udah didenga, kunci kate dengan kias mule pangkal daRi kami, jadi Rembukan kaom wali menentuke hajat nang baek, cade’ sie-sie pasang naik, cade’ sie-sie sampan belaya, cade’ sie-sie mate aRi terbit, cade’ sie-sie lembu disembeleh,
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 62 cade’ sie-sie malem diundang, cade’ sie-sie janji dibuat gune mengikat silatuRahmi. balek kite pade pangkalnye................................ Kaom wali penggalang sampan, bebantalke adat besendi saRa’ timbol tenggelam untok kaom, segale kate cukop Rukonnye manusie cukop saRatnye lajang Remaje cade’ cedeRe, cade’ saket cade’ cacad bedaye lahe baten, dapat ngikat anak tangge nggantike kayu selang, bename, begela macam uRang` Kalo sah dapat dikate, kalo dijanji baRu jadi lenja disambong soal lanjutan, kalo cadek hanye bejamu, kaom keRabat daRi jaoh ............... Artinya; Periuk gebang dikampung dadap buatkan lidi jadikan sapu sirih pinang tengah dihadap syarat janji tentukan dahulu Kami dari pangkalan, melihat perahu datang belayar dibawa arus pasang naik, sarat muatan bemacam ragam penuh haluan penuh buritan, sampai pada syara’ kiasan menyuruh berfikir dan berpedoman takut bencana datang kemudian hidup manusia dikandung adat, hukum adat hukum negeri adat belum bertukar, sumpah Tamiang tetap setia baik keatas, baik kebawah, asal adat Tamiang lama siapa yang merubah janji, bubung rumah akan terjungkir kaki tiang tengadah ke langit makanya.................. lembah sama ditimbuni, gunung sama diratakan kehulu sama berakit, kehilir sama berenang rotan berjalin tetap berjalin jadi satu
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 63 kutuk manusia ingkar janji, mawar tetap belum bertali hanya berdetik didalam hati. Bunga ditaman belum terkopek, jumlahnyapun lebih dari satu sama tua sama mudanya, sama umur setahun jagung sama darah setampuk pinang, sama akal tumbuh keluar dunia akhirat sedang dituntut, mungkin esok jadi umpatan sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna makanya............. semua ucapan sudah didengar, kunci kata dengan kias mula pangkal dari kami, jadi rembukan kaum wali menentukan hajat yang baik. tidak sia-sia pasang naik, tidak sia-sia sampan berlayar, tidak sia-sia mata hari terbit, tidak sia-sia lembu disembelih, tidak sia-sia orang alim diundang, tidak sia-sia janji dibuat guna mengikat silaturrahmi. kembali kita pada pangkalnya................................ Kaum wali penggalang sampan, berbantalkan adat bersendi syara’ timbul tenggelam untuk kaum, segala kata cukup rukunnya. manusia cukup syaratnya lajang remaja tidak cedera, tidak sakit tidak cacad berdaya lahir dan batin, dapat mengikat anak tangga menggantikan kayu selang, bernama, bergelar seperti orang yang lain. Kalau syah dapat diucap, kalau dijanji baru jadi Terus disambung soal lanjutan kalau tidak, hanya bertamu kaum kerabat dari jauh .......... Setelah selesai peminangan dan telah sepakat segala sesuatu telah diterima bertukar cincinpun sudah dilakukan, (tukar cincin adalah pihak laki-laki membawa cincin belah rotan dan pihak perempuan juga menyiapkan cincin yang sama, ini tidak
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 64 ditentukan berapa beratnya karna tidak dalam hitungan mahar, oleh sebab itu yang melakukan tukar cincin ini pada orang-orang tertentu dan sekarang sudah jarang dilakukan dalam prosesi pinang meminang), maka pihak laki-laki menyorong tepak janji guna membuat suatu kesepakatan dalam bentuk perjanjian tentang: a. Hari nikah. b. jumlah mas kawin (mahar). c. Beras pasang penoh (bantuan belanja bahn kenduri komplit) d. mengantar mas kawin. e. hari bersanding (hari bedemba/ pesta perkawinan). f. dan lain yang dianggap perlu sesuai kesepakatan. Setelah ditentukan jumlah mahar (emas kawin) berapa jumlahnya misal 20 mayam (setara dengan 66,6 gram), maka pihak laki-laki memberi emas tanda kepada pihak perempuan sebagai tanda pertunangan yang besarannya tidak ditentukan biasa dalam bentuk cincin karna inilah yang akan dipakai oleh si gadis dan sudah menjadi kelaziman bagi suku perkauman Tamiang ketika anak gadis memakai cincin belah rotan maka sudah dipastikan ia sudah bertunangan, pada pemberian inilah terjadi kemufakatan dari pihak laki-laki tentang status cincin tanda tersebut, pihak perempuan akan bertanya apakah tanda ini statusnya mati atau hidup, jika mati maka cincin tanda tersebut tidak termasuk dalam bagian mahar artinya jumlah mahar tetap utuh seperti yang dijanjikan (20 mayam) dan cincin tersebut merupakan sebagai hadiah atau pemberian cuma-cuma, akan tetapi jika dikatakan oleh pihak laki-laki hidup maka, pemberian tanda tersebut akan mengurangi jumlah mahar, jika cincin tanda diberi 3 mayam maka sipihak laki-laki akan membawa mahar sisanya sebesar 17
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 65 mayam. Kondisi ini sangat tergantung kepada calon mempelai, jika calon mempelai memiliki tingkat ekonomi yang mapan dia akan memberi tanda yang jumlahnya besar dan statusnya mati (sebagai hadiah yang tidak dikurangi dengan mahar). Dalam ikat janji ini adakalanya disepakati untuk mengadakan upacara nikah lebih dahulu, apabila jarak antara pernikahan dengan bersanding (pesta perkawinan) tidak bersamaan memakan rentang waktu sampai satu tahun, maka dinamakan “nikah gantung”, dalam hal ini meskipun telah menikah namun pihak laki-laki tidak boleh pulang kerumah perempuan sebelum dipersandingkan (pesta diadakan). Semua pelaksanaan ini dilakukan atas dasar kesepakatan dengan tujuan sudah menjadi ikatan yang syah secara syariat untuk tidak berpaling kepada lakilaki lain tapi belum dianggap resmi secara adat jika ada kesepakat untuk melaksanakan pesta. Bila pesta ditiadakan maka biasanya selesai pernikahan mempelai diperbolehkan pulang kerumah isteri, meskipun tidak melaksanakan pesta tetap dilakukan tepung tawar dengan mengumpulkan sanak saudara sekedar melaksanakan do’a selamat. Dalam proses ini pihak laki-laki (tok Telangkai) menyatakan maksud seperti misalnya; Bukan lebah sembaRang lebah lebah besaRang dibuku buloh bukan sembah sembaRang sembah sembah besuson jaRi sepuloh KaRene Risikan sudah begeme, Pinangan nyate udah diteRime Gametpeh udah bebalas pule, tinggal lagi menetapke aRi keRbo diikat dengan talinye, manusia dijabat dengan katenye haRaplah dimaklom..............................
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 66 Kami uRang jaoh di sungei, ndak lekas selesei beban beRat minte Ringani, simpol kuat minte lunggari mahap sedaRe.............. Nikah dimaksud sebelom mengetam langsong maha setengah bagian jumlah genap 10 mayam tepat pade tujoh sa’ban udah ye........................ nganta siReh besatu, besandeng seminggu kedian seRentak dengan maha nang ketinggalan, diwaktu bulan puRname besa, meneRangi alam bahagie semoge beRasel banpelin pinte. Artunya ; Bukan lebah sembarang lebah lebah bersarang dibuku buluh bukan sembah sembarang sembah sembah bersusun jari sepuluh Karena risikan sudah begema, Pinangan nyata sudah diterima Gamitpun sudah berbalas pula, tinggal lagi menetapkan hari kerbau diikat dengan talinya, manusia dipegang dengan ucapannya haraplah dimaklum.............................. Kami orang jauh di sungai, ingin lekas selesai beban berat minta ringani, simpul kuat minta longgari maaf tuan.............. Nikah dimaksud sebelum mengetam langsung mahar setengah bagian jumlah genap 10 mayam tepat pada tujuh sya’ban
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 67 sudah itu........................ mengantar sirih bersatu, bersanding seminggu kemudian serentak dengan mahar yang ketinggalan, diwaktu bulan purnama besar, menerangi alam bahagia semoga berhasil semua pinta. pihak perempuan (Tok Tandei) akan menyahut: Jamu nang mulie......................... Sudah biase nang demikian nang udah dapat pasti mendesak ke.. bia ban pelin deRas dikeRjeke mungkin sebab keRjenye te sebeRape Laen dudoknye hame kami atap boco mesti diganti, lantei selang peRlu ditambah kaom keRabat dibagi tau, maklomlah ndak neRime penganten baRu te buleh keRje setengah hati, padi di belang dikaot dulu lembu keRbo dijeRat pule. untok ye........ ijinke pule kami meminte dan menghaRap peRsetujuan, nikah pade pagi sawal tepat sepuloh aRi bulan, seRentak naek setengah maha same dengan 10 mayam, nganta siReh dan besandeng naeke maha setengah lagi. Adat lame jangan dibuang, hak kaom wajeb dibeRike kaen titi dan hempang pintu, buke tabing kembang tika begielah adat Tamiang lame, jadi pegangan anak cucu begielah jamu.... adat dihini, waktu nikah jangan lupe pake peci artinya; Tamu yang mulia......................... Sudah biasa yang demikian yang sudah dapat pasti memaksakan.. agar semua cepat dikerjakan
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 68 mungkin sebab kerjanya tak seberapa lain persoalannya dengan kami atap bocor mesti diganti, lantai selang perlu ditambah kaum kerabat diberi tahu, maklumlah hendak menerima pengantin baru tak boleh kerja setengah hati, padi di sawah dikaut dulu lembu kerbau dijerat pula. untuk itu........ izinkan pula kami meminta dan mengharap persetujuan, nikah pada pagi syawal tepat sepuluh hari bulan, serentak naik setengah mahar sama dengan 10 mayam, mengantar sirih dan bersanding membawa mahar setengah lagi. adat lama jangan dibuang, hak kaum wajib diberikan kain titi dan hempang pintu, buka tabing kembangkan tikar begitulah adat Tamiang lama, jadi pegangan anak cucu begitulah tamu adat disini, waktu nikah jangan lupa pakai peci. Apabila dalam perkawinan ini yang dinikahi adalah adik dari pihak perempuan sementara si kakak belum bersuami, maka dikenakan lagi mahar langkahan istilahnya “Langkah Bendol” yaitu pihak laki-laki harus membayar diluar maharnya kepada sikakak sesuai dengan perjanjian yang di sepakati, misalnya emas satu mayam, kain sesalin, dan lain-lainnya. Bendol adalah palang yang melintang didepan pintu bagian bawah sebagai penutup lubang jarak antara lantai dan daun pintu yang setiap orang menaiki tangga ingin masuk tetap melangkahi bendul baru dapat masuk, langkah bendol bermakna laki-laki menikahi seorang perempuan dimana siperempuan tersebut memiliki kakak yang belum menikah, untuk mendapatkan adik harus melewati sikakak sperti bendol yang melintang didepan pintu dilangkah dahulu baru dapat masuk. Semula zaman dahulu langkah bendol
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 69 ini merupakan “hukuman” dimana sering terjadi yang dilamar adalah sikakak tapi ketika dilakukan pernikahan silaki-laki meminta untuk dinikahi dengan siadik, gagalnya sebuah pernikahan ini merupakan aib bagi pihak perempuan, aib keluarga, aib kampung juga aib suku, oleh karenanya peristiwa ini sangat dihindarkan, setelah putusan yang dilakuan lewat dudok setika berembok besapat kaom (musyawarah keluarga) memutuskan, memberi hukuman kepada calon mempelai agar membayar pelangkahan yang disebut langkah bendol dengan sejumlah emas, kain sesalin dan lain-lain menurut keputusan suku sakat kaom biak dengan penuh kearifan. Setelah peristiwa ini sering terjadi, maka diputuskanlah secara adat bahwa ketika keluarga laki-laki datang melamar kepada keluarga perempuan terlebih dahulu ditanya sebenar-benarnya gadis mana yang dituju, jika adiknya maka untuk memuliakan kakaknya silaki-laki harus memberi hadiah kepada kakak gadis tersebut yang disebut langkah bendol, langkah bendol yang awal terjadinya dahulu sebagai hukuman, atas kearifan adat maka dijadikan sebuah kemuliaan yaitu untuk memuliakan kakaknya yang telah didahului oleh siadik. Hal ini tidak berlaku bagi anak laki-laki meskipun adiknya (adik laki-laki maupun adik perempuan) yang terlebih dahulu menikah, karna anak laki-laki adalah yang mencari judu (jodoh) maka terserah siapa yang duluan mendapat jodoh mereka boleh saling mendahului jika segala sesuatu persyaratan telah dipenuhi untuk berumah tangga, begitulah ketentuan adat yag telah diwarisi. 2.5. Masa bertunang Diantara sarat-sarat resam adat dan sebagainya yang dibicarakan waktu “mengikat janji” diatas, juga diputuskan tempo (masa) berapa lama bertunangan. Kebiasaan di Tamiang tenggang waktu (lama masa) bertunangan selama satu tahun atau selalu
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 70 dipakai istilah sesudah siap padi naik kerumah (siap mengetam/menuai padi). Dalam masa bertunangan tersebut kedua mereka yaitu sipemuda (bujang) dan sigadis (daRe) yang sudah bertunangan tidak boleh bertemu karena akan mengakibatkan “ benci resam”, juga masa bertunangan itu menurut pribahasa Tamiang sipemudi jangan sampai “ngeleh songkok sengek” (melihat peci miring) begitu juga sipemuda jangan sampai “ ngeleh sanggol sengek” (melihat sanggul miring), ini artinya sudah menjadi pantang pemali bagi bujang dan daRe tidak boleh saling bertemu berduaan dalam tenggang waktu bertunangan, jika bujang yang mendatangi gadis artinya bujang telah melihat sanggul miring, dan jika gadis yang mendatangi bujang artinya gadis telah melihat peci miring. Apabila salah satu pihak dalam masa bertunangan itu mungkir (ingkar) janji maka pihak yang mungkir didenda sepanjang adat, segala ongkos-ongkos perkendurian dibayar oleh pihak yang mungkir, jika pihak laki-laki yang mungkir maka segala apa yang telah diserahkannya sewaktu naik tanda dulu adalah tetap menjadi milik wali siwanita, tetapi sebaliknya kalau wanita yang mungkir, maka segala tanda yang telah diterimanya dahulu itu, harus dikembalikan dua kali lipat artinya setelah dikembalikan mahar yang diberikan bujang (pemuda) ditambah lagi dengan sejumlah mahar yang telah diberi si bujang (pemuda) tersebut, maka jumlah dua kali lipat satu milik pemuda ditambah satu lagi denda sesuai dengan jumlah yang diberikan pemuda serta mengembalikan segala ongkos dan biaya upacara “sirih besar” dirumah pihak lakilaki, harus diganti oleh pihak wanita yang telah memutuskan janji. Apabila terjadi seorang pemuda melarikan tunangan orang lain, maka pemuda yang membawa lari tersebut harus menggantikan segala kerugian atas biaya upacara turun sirih dari pihak bujang
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 71 yang bertunangan dan naik sirih tanda yang telah dikeluarkan oleh keluarga gadis. Denda ini bukanlah perjanjian yang dibuat oleh kedua belah pihak (bertransaksi), akan tetapi ini merupakan ketetapan hukum yang telah ditetapkan oleh majelis lewat datu nini orang Tamiang dahulu, ketentuan ini bukan merupakan tujuan akan tetapi sebagai alat untuk menghindari agar tidak terjadi kemungkinan tersebut, karena hal itu merupakan aib bagi keluarga, aib bagi Majelis kampung (pemerintah kampung), aib bagi kampung dan aib bagi suku, oleh karenanya persoalan ini tidak masuk dalam wilayah pemaksaan atau ada yang dirugikan, sebab malu itu imbangnya (lawannya) mati, dengan ada ketetapan hukum ini maka semua pihak akan sangat berhati-hati untuk menjaga perjanjian tersebut, dengan demikian ketetapan adat tersebut merupakan rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar. Jika hal ini ditolerir sejak zaman dahulu maka perkawinan akan menjadi permainan yang tidak ada aturannya, kapan saja dan dimana saja kedua belah pihak punya potensi untuk ingkar jika tidak ada aturan yang mengikat. Pertunangan merupakan ikatan secara adat meskipun belum menikah, maka banyak pantang pemali yang harus dijaga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan baik hal yang nyata yang dapat menimbulkan fitnah maupun hal-hal yang tidak nyata yang sudah dipercayai sejak lama, perempuan yang sudah bertunangan sampai saat hari pernikahan tidak lagi dibiarkan berpergian sendirian dan tidak boleh berpergian jauh, Ketika seminggu lagi hari pesta akan tiba siperempuan dilarang keluar rumah kecuali pada hal-hal yang mendesak karena dianggap rentan terhadap mara bahaya baik yang nyata maupun yang gaib, kondisi ini pada perempuan yang akan menikah disebut dengan istilah “darah manis”. Dalam ikat janji waktu pelaksanaan pernikahan dan pesta serta
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 72 persyaratan lain harus jelas diucapkan meskipun belum pasti, tidak ada jawaban kapan ada rezeki hal-hal lain yang berkalang dengan kejelasan janji, ini adalah jawaban yang memalukan berkonotasi seperti ingin menipu. Perjanjian harus jelas dalam ucapan, jika bila waktu yang disepakati akan tiba ternyata pihak laki-laki belum siap dalam segala hal maka perjanjian dapat diperbaiki lagi oleh telangkei artinya dilakukan perjanjian baru (hal ini jarang terjadi, oleh karenanya setiap ingin melamar sudah pasti persiapan menikah sudah disediakan. 3. Pelaksanaan Perkawinan. 3.1. Duduk Pakat; Andaikata tidak ada sesuatu hal yang menyebabkan masa bertunangan yang telah disepakati harus berubah, maka ketika janji sudah dekat dengan waktunya tok telangke datang kepada kedua belah pihak menanyakan hari dan tanggal (dahulu dan sekarang masih dipakai tanggal bulan/tahun hijrah) untuk meresmikan kedua anak mereka. Setelah kedua belah pihak menentukan tanggal peresmian dimaksud, maka yang punya kerja (perhelatan) masing-masing membawa sirih setepak menghadap Datok Penghulu kampung mereka masing-masing, untuk menyampaikan waktunya mengadakan duduk pakat dan mulai berduduk kerja. Datok Penghulu kampung membenarkan supaya diadakan duduk pakat dan oleh yang berkepentingan diundanglah sanak keluarga laki-laki/perempuan (suku sakat kaom biak) dan keluarga kampung pada suatu hari yang telah ditentukan untuk datang kerumahnya. Dalam duduk pakat tersebut, dihadiri oleh Datok Penghulu kampung dan oleh yang berhajat lalu menyerahkan pelaksanaan upacara itu kepada Datok Penghulu kampung dan tok Imam kampung (tiang adat dan pengampu hukom). Segala persiapan
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 73 dan keperluan untuk peralatan yang akan dilangsungkan itu, dibicarakan masak-masak (secara detail) dalam upacara duduk pakat itu, apalagi kalau perkawinan itu berlaku antara satu daerah Datok Penghulu dengan daerah Datok Penghulu yang lain. Kalau hal seperti itu yang terjadi maka segala tertib majelis pelaksanaan perhelatan tersebut sepenuhnya langsung dibawah tanggung jawab Datok Penghulu kampung setempat demi menjaga nama baik anak rakyat dan daerah kedatuannya. Segala persiapan untuk perhelatan itu oleh Datok Penghulu kampung dikerahkanlah anak kampung untuk bergotong royong yang disebut “nyeraye” dan segala pelaksanaan persiapan dan tertib majelisnya dibagi dan harus diatur dan dipersiapkan dengan sempurna sepanjang adat resam dan qanun. Dalam peradatan (resam adat) di Tamiang, mengundang untuk upacara perkawinan dan khitanan tidaklah bisa dengan surat atau pesan, tapi dengan ketentuan Datok Penghulu kampung diutuslah keluarga dari yang akan berhelat (berhajat kenduri) itu untuk naik turun kerumah dengan membawa tempat sirih menurut tingkatannya. Ada yang diundang dengan “sirih Corong” (tempat sirih yang terbuat dari kuningan) dan ada pula dengan sirih tepak (untuk Raja, Datok Kadhi dan Tok Imam). Yang disampaikan itu adalah atas nama datok dan keluarga yang akan berhelat seperti “ambe nyempeke Amanah daRi datok penghulu kampong ….polan... dan ….tuan polan… besa haRap minte langkah tuan sekeluaRge (orang yang diundang) untok dapat datang pade acaRe kenuRi ngawenke anak tuan …polan.. (orang yang akan pesta) pade haRi… tanggal..” yang diundang akan menjawab “baeklah jika Allah meluangke waktu ambe, insya Allah ambe datang” artinya; saya menyampaikan Amanah dari kepala desa (desa yang akan pesta) dan tuan (orang yang akan pesta) besar harapannya mohon
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 74 langkah tuan sekeluarga untuk dapat hadir pada acara pesta tuan polan pada hari… tanggal..). Dalam persiapan dan masa berhelat seluruh famili (wali karung laki-laki dan wanita, pemuda dan pemudi, tugas masing-masing berusaha agar perhelatan berjalan baik jangan sampai gagal (tersendat) dan memalukan. Dalam setiap perhelatan keluarga (dudok kerja hidup maupun dudok kerja mati) maka keluarga lingkungan suku perkauman yang terdiri atas wali syara’, wali adat, wali karung mempunyai tanggung jawab dan kewajiban masing-masing sebagaimana kata-kata yang telah diistiadatkan; “DaRah besuku, kaum biak besegani, wali waReh penuntut bɛle, biak boleh mengambil bɛle, handai tolan besetolongan. Suku sakat ngan kaom biak sama sepakat, wali dekat je kaRong same setilik, labe ngan Rugi same sepaham sepakat sekate suku ngan biak, diatas hak utusan empat besa nang adel”. Artinya “Darah bersuku (berketurunan), saudara saling menghormati, wali waris penuntut bela, saudara ibu boleh mengambil bela, sesama kerabat saling bersetolongan (tolong menolong), keluarga ayah dan keluarga ibu satu mufakat, wali dekat (wali syara’) dan wali karung sama pandangan, untung dan rugi sama dimaklumi, satu kata semua keluarga diatas putusan datuk empat besar yang adil. Duduk pakat sangat menentukan lancar atau tidaknya proses pesta (kenduri) yang akan dilaksanakan, pada saat duduk pakat menentukan orang-orang kerja ini harus proporsional sesuai dengan keahlian masing-masing dan bertanggung jawab dengan tugas masing-masing. Dalam duduk pakat ini disusunlah tugas masing-masing sesuai dengan pekerjaan yang dibutuhkan dalam pesta perkawinan tersebut dan orang yang ditugaskan (pendelegasian kewenangan)
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 75 adalah orang-orang yang telah berpengalaman dalam bidang masing-masing sehingga pesta berjalan lancar tiada kendala apapun. Proses ini merupakan indikator kekerabatan masyarakat kampung yang kuat dan utuh tanpa pamrih, ini pulalah yang memaknai “pengaseh pape setie mati” mereka menjalankan tugas atas dasar cinta sesama tanpa pamrih, tidak mengharap bayaran namun jerih payah mereka terkadang dihargai dengan berbagai pemberian dari yang berhajat setelah segala sesuatunya selesai. 3.2. Duduk Kerje; Sejak dimulai bergotong royong (nyeraye), dirumah yang bakal berhelat telah mulai ramai berdatangan semua sanak famili baik yang datang dari jauh maupun dekat, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu yang mempunyai perhelatan tersebut, masing-masing telah mempunyai tugas diluar maupun didalam rumah. Saat duduk kerja pada hari yang telah ditentukan, dilakukan memasang tenda (dulu teratak namanya kerjanya nyambat namanya) dan menata ruang untuk tamu dan untuk keluarga, membuat dapur tempat memasak dan menyiapkan segala bumbu masak (istilah duduk kerja didapur bagi perempuan namanya giling awas (ketumbar) atau giling cabɛ (cabai), sekarang semua sudah menggunakan mesin, terkadangpun diongkos pada tukang jual bumbu namun istilahnya tetap duduk kerja menggiling “awas”. Duduk kerja ini sudah dimulai sejak 7 hari sebelum hari pesta sampai pada saat pesta dan berlanjut sampai pada membersihkan rumah setelah selesai pesta (biasanya sampai 2 atau 3 hari setelah pesta). Itulah sebabnya di Tamiang bila ada duduk kerja hidup atau duduk kerja mati, ikut sertanya wali hukum – wali adat – wali karung mutlak tidak boleh tidak. Terhadap mereka yang tidak boleh hanya sekedar dipesan, tetapi harus datang sendiri oleh kepala keluarga atau wakil kepala keluarga yang berkepentingan. Kalau hal tersebut sampai dilalaikan bisa menyebabkan pecah
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 76 saudara atau disebut dengan benci ruman (“benci ruman” artinya seluruh yang berkaitan dengan orang yang menyalahi tersebut sampai anak cucunya dibenci), hal mana penyelesaiannya tidak dapat diselesaikan oleh siapapun, kecuali dengan usaha duduk setikar dan kata putus terletak ketentuannya ditangan keluarga turunan yang tertua. 3.3. Mandi Berandam dan Malam Berinai; Dipihak pengantin wanita diadakan malam berinai yaitu malam hari pada esok harinya akan pesta atas kehendak wali karungnya, dan dengan persetujuan isteri datok. Pada malam berinai resmi baik mempelai laki-laki maupuan pengantin perempuan dilaksanakan masing-masing dirumah orang tuanya terlebih dahulu. Terhadap pengantin (perempuan) diadakan mandi berandam, belangir (dinamakan juga berdandan) lalu dihias dan didudukan diatas pelaminan. Mandi berandam adalah mandi yang dilakukan pada malam hari bersamaan dengan malam berinai, mandi ini dilakukan oleh orang tua adat yang perempuan (mpuan datok), dengan berbagai rinjisan kembang dan jeruk purut lalu dipukulkan pelepah daun pisang ketanah, kekaki ke tangan dan kebadan dengan membaca do’a-do’a bermohon kepada Allah agar sipengantin terhindar dari penyakit (dengan ridha Allah diberi kesehatan dan terhindar dari segala penyakit baik rematik dan lain-lain). Kemudian melakukan khatam Al-Qur’an (bagi yang belum pernah dikhatamkan) sekaligus kenduri memohon do’a selamat. Selanjutnya pengantin didudukkan diatas pelaminan, tuhe adat perempuan (mpuan datok) dan isteri pemangku adat (isteri Datok Penghulu kampung) meletakkan “mahkota” dikepalanya, lalu sipengantin ditepung tawari (setawar sedingin rasi kesejukan dan kedamaian serta keselamatan dalam ridha Allah), setelah tepung tawar sempene
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 77 keberkahan selesai, pemuda-pemuda mengadakan tari inai dan dilanjutkan dengan tari japin didepan pelaminan. Diruangan lain setelah tari inai selesai dimulailah marhaban dan berzikir sampai menjelang pagi. Setelah acara tari selesai dilanjutkan dengan memalitkan (menempel) inai resmi oleh 4 orang perempuan dimasing-masing penjuru pada ujung jari kedua belah kaki dan tangan dengan diiringi marhaban sampai sipengantin tertidur dikamarnya. Pada malam itu juga dari pihak pengantin wanita mengirimkan satu batil perak inai kepada mempelai laki-laki (ini dilakukan jika jarak mempelai tidak berjauhan, jika berjauhan mempelai melakukan hal yang sama dirumahnya sendiri). Melilitkan inai dikuku semua jari baik tangan maupun kaki sebagai tanda bagi mempelai laki-laki maupun pengantin perempuan, ketika mereka berjalan berdua maka semua orang yang melihat sudah mengerti bahwa mereka adalah suami isteri yang baru menikah (kenduri) sehingga tidak menimbulkan fitnah atau ketika mereka berjalan masing-masing secara terpisah, orang yang melihatpun sudah faham bahwa gadis atau pemuda tersebut sudah bersuami atau beristeri sehingga orang lain tidak melakukan pembicaraan seloro yang dapat menimbulkan fitnah. 3.4. Ngisi Batil; mengisi batil adalah kegiatan yang dilakukan mengumpulkan uang yang disumbangkan oleh sanak saudara sebagai upaya keluarga atau suku sakat kaom biak untuk membantu mempelai ketika hendak diantar kerumah pengantin pada saat hari pesta, disebut isi batil karena pada zaman dahulu uangnya masih dalam bentuk “dirham” (berbentuk coin), akan tetapi sekarang tidak saja dengan uang, sumbangan dalam bentuk barangpun namanya tetap ngisi batil karena itu merupakan sumbangan bantuan keluarga sebagai muara dari falsafah “Pengaseh Pape
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 78 Setie Mati” (pengaseh menunjukkan kepedulian pada orang lain sedang kaseh adalah perasaan sayang, cinta atau suka) artinya kehidupan yang saling tolong menolong dalam kesetiaan tanpa pamrih sampai mati, sesusah apapun saudara mempelai tetap memberi apa yang ia miliki, apapun pemberian itu tidak masuk dalam penilaian, akan tetapi jika tidak memberi sesuatu ini yang akan menjadi penilaian saudara. Bagi orang Tamiang wujud kasih sayang itu pada sebuah pemberian yang tidak tergantung kepada berapa jumlahnya karena orang Tamiang sangat hina jika tidak memberi. Telah pula diistiadatkan bahwa beberapa jam lagi mau berangkat mengantarkan mempelai diserambi muka rumah perhelatan akan diadakan istiadat “ngisi batil”. Ngisi batil tersebut terutama adalah kewajiban anggota keluarga suku sakat, kaom biak mempelai, kepala adat melalui wakilnya mengumumkan bahwa upacara ngisi batil akan dimulai. Datuk beserta imam-imam kampung telah duduk ditempatnya, maka semua yang hendak mengisi batil masuk keserambi yang telah ditentukan. Datuk mengumumkan bahwa mengisi batil dimulai, masingmasing silih berganti menyerahkan cemetoknya kepada datuk seraya menyebutkan jumlah nilainya dimasukkan kedalam batil perak sambil ditulis pula nama yang bercemetok. Setelah selesai jumlahnya diumumkan oleh datuk, kemudian uang yang catatan nama-nama orang yang bercemetok diserahkan kepada ayah simempelai, penyerahan nama-nama tersebut bukanlah ingin mengetahui berpa jumlah nilai pemberian melainkan lebih cenderung melihat kepedulian dengan tidak memperhitungkan jumlah pemberian. Ngisi Batil disini khusus untuk membantu mempelai/ keluarga mempelai yang akan menikah/kenduri, tidak sama dengan batil yang dijadikan wadah / tempat mengisi emas
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 79 mahar atau uang yang dikonfersikan dari beras pasang penoh. Pada keluarga pengantin perempuan berlaku juga bagi suku sakat dan kaom biak, wali syara’, wali adat dan wali karong yaitu memberi bantuan sumbangan, pada saat beberapa hari lagi pesta dilaksanakan dan juga pada hari pesta, istilah bagi orang Tamiang “bebawe” artinya membawa sesuatu tidak saja dalam bentuk uang, akan tetapi juga dalam bentuk benda, seperti kelapa, beras, pisang, kambing, ayam, kue-kue dan lain sebagainya, yang intinya ada sesuatu yang dibawa apapun bendanya yang ada dirumah mereka sebagai wujud dari “Pengaseh Pape Setie Mati” karena seperti apapun kondisi kehidupan mereka (sesusah apapun) bagi orang Tamiang (sering juga disebut dengan orang kampong), dipekarangan rumahnya ada yang bertanam kelapa atau pisang dan memelihara ayam dan lain sebagainya. 3.5. Nganta mempele; Sampailah pada tahapan hari pesta dirumah pengantin, mempelai laki-laki harus diantar sesuai dengan waktu yang telah disepakati, jika pernikahan dilakukan pada saat hari pesta, maka mengantar mempelai dilakukan lebih awal pada waktu pagi hari (antara pukul 9.00 – pukul 10.00) jika pernikahan telah lebih dahulu dilakukan sebelum hari pesta perkawinan maka mengantar pengantin biasa dilakukan mulai pukul 11.00 sampai dengan pukul 12.00 sehingga segala sesuatu proses selesai dilakukan menjelang waktu shalat zuhur. Sebelum mempelai datang, dirumah pengantin pada tengah ruangan depan pelaminan telah disiapkan sirih tepak nanti (tunggu) yang akhir, yaitu kalau naik tande dahulu sirih tepak tiga, maka sirih naik mempelai dinamakan “sirih emas dan sirih balai yang terdiri dari empat tepak. Maka dengan demikian genaplah sirih kawin itu tujuh tepak sepanjang adat sesuai perjanjian (bisa 7, 5, atau 3 tepak keseluruhannya dari mulai naik sirih sampai pesta)
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 80 Mengantar mempelai (nganta mempelai) dilakukan dengan rombongan pihak laki-laki yang dikepalai oleh wali syara’, Wali adat dan wali karong dibawah koordinir tok telangkai yang disertai oleh Datok Penghulu kampung dan Tok Imam kampong. Pada saat mengantar mempelai orang tua si mempelai tidak boleh ikut (ini merupakan pantang pemali, karna belum waktunya untuk bertandang). Tok Telangkai beserta pengampe (pendamping) membawa sirih emas dan sirih pendamping sesuai perjanjian, didalam sirih emas disediakan batil perak berisi mahar (jika mahar sudah diselesaikan pada saat menikah maka tidak perlu lagi batil tersebut didalam tepak, namun tepak tersebut tetap dinamakan tepak sirih emas yang berisi sirih susun dan perangkat sirih lainnya sebagai simbol penyerahan mempelai kepada isteri dan mertuanya, sedangkan jika belum menikah sireh emas tersebut sebagai penyerahan mahar dan mempelai kepada orang tua sigadis untuk dinikahkan), tepak sirih emas dan sirih pendamping yang dibawa turut juga disertai dengan membawa bingkisan sesalin pakaian, bingkisan kain titi, jika rumah pengantin berjauhan jaraknya (dari luar daerah) maka pihak pengantin menyediakan rumah tempat mempelai berteduh sebelum tiba dirumah pengantin, setelah pengantin laki-laki siap dihias tok telangkai berangkat duluan dengan rombongan membawa sirih emas dan sirih balai untuk menanyakan kepada tandai apakah pengantin sudah dapat berjalan menuju rumah mempelai, dengan mengucapkan salam tok telangkai disambut tok tandai dan meletakkan sirih emas dan sirih balai diatas tikar cio yang telah disediakan beserta tepak nanti dari pihak pengantin perempuan sebanyak dua tepak yang sudah disediakan dengan demikian ada empat tepak yang sudah terletak diatas tikar cio. Jika segala sesuatu persiapan pengantin telah
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 81 selesai maka tok tandai bersama-sama dengan tok telangkai dan rombongan menjemput mempelai ditempat yang telah ditentukan yang disebut dengan “jemput resam”. Tok Tandai didampingi tuhe pengampe (mpuan datok) dengan membawa tepak corong untuk tukar tepak yang disebut tepak menanti dan seorang bujang pembawa payung untuk bertukar payung yang disebut payung menanti, dipihak mempelai juga tuhe pengampe pihak mempelai membawa tepak corong yang disebut dengan tepak datang dan seorang bujang pembawa payung yang disebut dengan payung datang. 3.6. Nerime Mempelai; yaitu menyambut mempelai datang kerumah pengantin. Setelah tok telangkai dengan rombongannya yang membawa sirih emas dan sirih balai diterima dengan khidmat dan diletakkan ditempat yang telah disediakan, mempelai laki-laki dengan segenap pengiringnya secara perlahan-lahan bergerak menuju tempat tujuan, ketika pengantin laki-laki keluar dari pintu, tok imam segera membacakan do’a dan selawat Nabi yang disambut oleh hadirin beramai-ramai serentak untuk mengiringi perjalanan memperlai menuju rumah pengantin. Pihak pengantin perempuan sudah pula mengerti, bahwa sebentar lagi pengantin laki-laki akan tiba, maka tuhe pengampe/bidan pengantin segera mempersiapkan pengantin perempuan untuk diduduki diatas pelaminan. Setelah perjalanan mengantar dimulai kedengaran pulalah lantunan selawat mengiringi mempelai bersahut-sahutan yang didengungkan oleh para rombongan pengantar mempelai, maka tok telangkai bersama rombongan orang tuhe-tuhe perempuan (orang tua adat yang perempuan) dari pihak pengantin turun kehalaman menuju depan perkarangan untuk mengadakan “jemput resam”. Didepan pekarang tok telangkei segera mendapatkan mempelai sambil diiringi marhaban,
Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 82 kemudian dengan mengucapkan salam serentak mpuan datok (mpuan datok disini tidak dimaknai isteri datok penghulu dapatjuga perempuan tua yang faham adat atau perempuan yang dituakan yang faham adat) melakukan tukar tepak dengan pihak mempelai yang juga membawa tepak corong (menukar tepak datang dengan tepak nanti/tepak menunggu disebut dengan “tukar tepak”), seiring dengan membuka payung yang menanti dan pihak mempelai menutup payung yang datang (payung menanti dibuka dan payung datang ditutup) lalu tuhe wanita pengampe mengapit mempelai membawanya menuju rumah, segera disambut dengan pencak silat songsong dan marhabanpun selesai. Penyambutan pencak silat songsong sempene rebas tebang merupakan adat dalam menyambut pengantin (pencak silat adalah seni budaya bukanlah adat sedangkan menyambut pengantin dengan pencak silat adalah adat), karena disitu ada kehormatan menyongsong tamu yang datang selain itu juga ada tunjuk ajar sebagai sempene memapah kehidupan keluarga, ketika hulubalang pendekar menebas pohon pisang arahnya menghadap kearah mempelai, ini merupakan tunjuk ajar terhadap mempelai agar kelak dapat menjadi pahlawan (hulubalang /pendekar) dalam rumah tangganya dalam mempertahankan marwah martabat terhadap kemuliaan harta yang dimilikinya yaitu isteri, anak dan harta yang telah dikumpulkan untuk menghidupi kelurganya yang jika diganggu oleh orang lain konsekwensinya berhadapan dengan antara hidup dan mati, hal ini sesuai dengan pesan Raje Mude Sedie “tumbok datang balas tumbok tipak datang balas tipak, mu gayam sudah disiku pedang sudah digenggam, tetak tangkih moh dicube baRu tau sape nang agam sape nang daRe” ( artinya tinju datang dibalas dengan tinju tendang datang dibalas dengan tendang, kalau perisai sudah disiku pedang sudah ditangan tetak tangkis ayo dicoba, baru
Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 83 tahu siapa yang jantan (menang) dan siapa yang betina (kalah), jika yang diantar keturunan datok atau urang bepake (orang terpandang) maka mempelai ditandu / dijulang diatas kursi yang telah dihias sampai kedepan pintu. Dalam prosesi menyambut mempelai/pengantin tidak ada tarian sekapur sirih (ini bukan bagian adat), jika pihak pengantin menginginkan tarian sebagai hiburan ini dilakukan setelah prosesi penyambutan keseluruhannya selesai sampai tahap makan beradab silakan pengantin didudukan disuatu tempat lalu dihibur dengan tarian sekapur sirih (yang merupakan tarian persembahan untuk tamu yang datang maupun untuk tamu yang akan berpisah) atau pertunjukan pencak silat sebagai seni. Silat songsong dan rebas tebang Ketika menyambut mempelai Tepak sirih yang ditarikan tersebut selesai menari diletakkan dihadapan para tetamu sebagai sempene kemuliaan sesuai dengan falsafah (kate tuhe) “mulie kaom besiReh tepak kembang keRabat