The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MEMBERDAYAKAN ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wdmuntasirwd, 2023-06-14 12:16:39

ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

MEMBERDAYAKAN ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

Keywords: ADAT

Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 184 Pada pagi berikutnya, tuan mudinpun datang sesuai dengan jadwal yang telah disepakati, anak yang akan dikhitan mandi terlebih dahulu untuk membersihkan seluruh badan, karena setelah dikhitan 2-3 hari tidak dapat mandi untuk cepat kesembuhan. Selesai mandi anak dibawa dihadapan tuan mudin, dengan memakai kain sarung lalu berbaring dan tuan mudin akan memulai melakukan pengkhitanan, anak disyahadatkan yang dituntun oleh tuan mudin mengucapkan “dua kalimah syahadat” dengan tenang dan meresap, sianak mengikutinya dengan tenang dan meresap pula. Setelah selesai tuan mudin melaksnakan tugasnya, kemudian ibu sianak merendaman ujung rambutnya kedalam batil perak yang berisi air putih, lalu air putih bekas rendaman ujung rambut siibu diminumkan kepada sianak untuk sempena penawar bisa. Selanjutnya ayah sianak mengangkatkan talam air minum yang berisikan air sejuk (airteh dengan kue-kue) beserta keratan-keratan limau purut, untuk membasuhkan tangan tuan mudin dan siayah menepung tawari pula, selesai itu siayah lalu meminta izin kepada tuan mudin seraya menyerahkan; a. Uang lapik tangan menurut kemampuannya antara satu sampai lima rupiah (zaman dahulu). b. Kain putih sekabung (sepanjang diri) c. Ayam seekor d. Beras banar sesumpik e. Padi segantang. f. Kelapa dua buah (Pada saat sekarang tidak dilakukan lagi penyerahan diatas, karena khitanan tidak lagi dilakukan oleh tuan mudin, akan tetapi dilakukan oleh tenaga medis dan para medis dengan tarif yang telah ditentukan yang dibayar dengan uang tunai). Suatu hal yang penting untuk diketahui bahwa andaikata tuan


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 185 mudin menyunat rasulkan si anak, tiba-tiba darahnya tidak mau pantan (darahnya terus menerus keluar) sampai sianak itu maut. Hal kejadian ini tuan mudin disalahi oleh adat, ia wajib membayar salah adat kepada orang tua sianak dengan syarat-syarat; a. Sirih lengkap secorong. b. Pulut kuning + ayam panggang sedalong (sedulang). c. Kain Putih sekabung. d. Tebu dua puluh tujuh batang. e. Pisang raja secukupnya. f. Kambing seeekor. g. Uang sebanyak 12 (dua belas) ringgit. h. Tuan mudin mengunjukkan anaknya sebagai pengganti anak yang meninggal itu serta bersyah (mengaku secara syah) bersaudara sekali antar dua pihak (saling bersejengukan hilang becari – mati betanam), sumpah setia dan bersyah bersaudara tersebut dilakukan didepan kepala adat (Datuk-datuk) dan Imam kampung, orang patutpatut serta keluarga kedua belah pihak (suku sakat kaom biak). Selesai pelaksanaan khitan, anak dibaringkan diatas tilam, diatasnya dibentangkan tali untuk mengikat kain sarung yang dipakai anak secara pincuk (berbentuk kerucut) agar kain tersebut tidak menyentuh kemaluan (punɛ) yang baru saja dikhitan. Setelah dapat berjalan meskipun belum sembuh kain sarung diikat dipinggang, dibagian depan dimasukkan sabut kelapa yang berbentuk cekung, sehingga kain sarung bagian depan terangkat tidak menyentuh kemaluan sehingga tidak terasa sakit.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 186 BAB VII MASA – MUDA. A. PERGAULAN PEMUDA Pada umumnya anak lajang (pemuda) Tamiang bergaul berkelompok sesama laki-laki sekampung. Pada waktu senggang mereka bertandang kekampung lain untuk menghubungkan pergaulan secara luas. Didalam masa pergaulan inilah mereka mengadakan berbagai kegiatan, seperti bersepak raga (sepak bola), bersilat (pencak silat pelintau), bersaing ketangkasan memancung (rebas tebang), menombak, memanah dan lain-lain. Untuk kepentingan ketangkasan lahir mereka rajin melatih diri demikian pula ketangkasan bathin, mereka juga tidak rela meninggalkan kampung halaman dalam waktu tertentu untuk menuntut ilmu-ilmu pengisi bathinnya dengan ilmu agama. Konon ada pula yang pergi bertapa untuk mendapatkan ilmu kebal, kuat dan hilang dari pandangan kasar, selain dari pada itu mereka juga mempunyai kegemaran berburu, mengaring rusa, mendekut (perangkap burung dari bambu dengan memberi umpan dan ada juga menjaring burung dimalam hari) dan menggetah burung, mengumban ikan dan mengambil manisan (madu) lebah, ini semua dilakukan secara berkawan. Dalam keseharian mereka pergi mengaji berkawan dengan menggunakan obor (bambu suloh dengan diisi minyak tanah dan dibuat sumbu dari kain), bangka (daun kelapa kering yang disatukan diikat menguncup lalu dibakar seperti obor), bangka ini bergiliran membawanya atau dengan membawa satu orang satu yang jumlahnya sesuai dengan jarak yang ditempuh, dibakar bergantian habis yang satu dibakar yang lainnya sampai tiba ketempat mengaji dan pulang kerumah masing-masing, terkadang mereka menginap dirumah guru


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 187 mengaji pagi hari baru pulang, bagi anak laki-laki yang sudah lajang mereka sering menginap dirumah salah satu teman yang rumahnya memiliki manju ataupun menginap dilanggar (menasah/mushalla), pagi hari baru mereka pulang kerumah masing-masing untuk melakukan aktifitas masing-masing sesuai tugas yang telah ditunjuk orang tuanya. B. KEWAJIBAN ORANG TUA Falsafah “sayang anak dipukul sayang isteri ditinggal” ini menjadi pegangan orang tua dalam menjalani hidup dan kehidupannya, falsafah tersebut merupakan bahasa istilah tendensi, yang bermuara kepada tanggung jawab jika dalam kondisi ekonomi sempit maka harus hijrah demi memenuhi nafkah keluarga, disisi lain mendidik anak meskipun anak orang yang salah tapi orang tua lebih cenderung memukul anaknya sendiri, sebagai tunjuk ajar kepada yang berbuat salah tersebut. Kewajiban Orang tua terutama bapak tidak meluputkan diri untuk mngganti anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, kepada anak laki-lakinya sibapak berkewajiban membawakan anaknya bekerja untuk pribadi, seperti berbelang (beladang), berhuma (bersawah), membuat kebun dan segala keperluan rumah tangga, sedang untuk anak perempuan disediakan alat dan bahan kerja tangan seperti bahan anyaman, kerawang, tekat dan jahit-jahitan. Kalau ada kemungkinannya atau kampung terdekat mengerjakan (pesta kawin atau seumpamanya), pemuda dan pemudinya disuruh menyamai (ikut serta) kerja itu sampai selesai, dengan pesan agar supaya memperhatikan pelaksanaan adat resam kanun yang dilakukan didalam upacara dimaksud, untuk diresapi dan diingat sebagai ilmu pengetahuan. Apabila kedapatan tingkah laku yang mungkin membawa akibat buruk, segera siibu menyampaikan kepada siayah, maka sibapaklah yang bertindak secara bijaksana. Bagi siibu yang senantiasa mengamatngamati segala tingkah laku anaknya serta memberi nasehat dan petuah.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 188 Kemudian kalau anaknya sudah patut ditempatkan (dipersuamiisterikan), ibu bapa sudah mulai mengusahakan jodoh anaknya. Kalau anak laki-laki mereka sudah mulai memperhatikan kesanakesini, siapa gerangan yang pantas jadi menantunya. Dan kalau anaknya perempuan mulailah melisikkan telinga menanggapi risik-bisik yang datang. Menempatkan anak bagi setiap orang gtua, amat penting artinya dalam kehidupan kampong dan seperkauman, karena bila anak patut bersuami/beristeri, tapi masih belum terlaksana, serasa aib dan cacat sudah terselip dimuka mereka sepangku diri. C. TANGGUNG JAWAB PEMUDA Pemuda mempunyai julukan “ Tulang Tega (tulang keras)”, Justeru karena itu tiap pemuda tidak membiarkan orang tuanya bekerja yang sifatnya berat atau mempunyai akibat berat, apalagi menghadapi kerja atau bahaya sipemuda merasa berkewajiban dan lebih dahulu tampil menghadapnya, terkadang kepentingan masyarakat kampung, segenap pemuda merasa berkewajiban ikut serta dalam segala kepentingan. Dalam rebas-nebang huma dan belang, para pemuda lebih mengutamakan pekerjaan dengan nyeraye (gotong rotong), juga pada pekerjaan-pekerjaan mendirikan rumah, membuat menasah, malah kerja hidup, kerja mati dilaksankan secara kekeluargaan dan pemuda merupakan tenaga inti (tulang tega). Jika dalam kerja ramai ada pemuda yang tidak sama, ia dianggap anak tidak berguna. Dalam mencarikan jodoh, faktor ini yang menjadi pokok penilaian yang menentukan.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 189 LAMPIRAN-LAMPIRAN A. KATE TUHE 1. Falsafah Hidup Siakong begumbak mirah, Mati tepanah siraje wali Hidup ne begantong ku Allah, Betungkat ku Nabi Artinya; siakong bergumbah merah, mati terpanah burung rajawali hidup ini bergantung kepada Allah, bersandar kepada Nabi Seperti menggantang anak ayam (kerja yang tak berputusan) Seperti abu diatas tunggul (orang yang labil, mudah terombang ambing) 2. Adat Istiadat (kemasyarakatan, pemerintahan dan lain-lain) Syara’ dijunjong, adat dipangku /, resam dijalen dudok setika, kanun diato Artinya; Syara’ dijunjung, adat dipangku, resam dijalin, duduk setikar (musyawarah), aturan disusun Pelaksanaannya “Sebadi Adat ngan hukom” (tidak adalagi pertentangan antara adat dengan syara’) 3. Pimpinan Pemerintahan Raje sukat sipat, Datok sidik sasat, Imam pardhu sunat, Penggawe setie ta’at Rakyat genap mupakat Artinya; Raja sukat sifat (yang memberi pertimbangan) Datuk sidik siasat (datuk yang menyidik) Imam fardhu sunat (imam yang faham hukum) Pengawal setia ta’at, rakyat genap mufakat (rakyat satu kata) Sah hukom empat besa, Raje hak beputusan, Hak rakyat pusa didahi, Putusan raje (adat) Daulat disembah, Raje adel rakyat memapah, Raje jalim rakyat menyanggah Artinya;


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 190 Syah hukum empat besar, Raja yang punya keputusan rakyat patuh dan taat, Putusan raja diterima, Raja adil rakyat menurut (patuh), raja zalim rakyat menyanggah 4. Kemasyarakatan Hilang becari mati betanam Pengaseh pape setie mati Besenoh ke bukan kada bunge celake Muang pusake bunge bangsat Muang adat tumpang karu Muang suku biak nak hine Muang harte biak nak pape Janganlah hanye tahu berasnye, tapi tahu jugelah padi benehnye Muleilah dari padi benehnya Artinya; Hilang dicari, mati dikuburkan Pengasih papa setia mati (sesusah apapun tetap setia sampai mati) Berebut yang bukan kapasitasnya, sumber petaka Membuang pusaka pertanda bangsat Membuang adat sumber kegaduhan Membuang suku turunan akan hina Membuang harta keluarga sengsara Janganlah hanya tahu diberasnya (hasilnya) Tapi tahu jugalah benih padinya (keturunannya) Mulalilah dari keturunannya. Utang same ditanggong, Malu same ditudong Artinya; Hutang sama-sama ditanggung, malu sama-sama ditutupi “Semende-mende buat bepakat, sejahat-jahat buat bepakse”


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 191 PASU (Sebaik-baik kerja musyawarah, sejahat-jahat kerja dipaksa) Bulat aye kerne pembuloh, bulat kate kerne mufakat (bulat air karena pembuluh, bulat kata karna mufakat) Dudok sorang terase sempit, dudok rami terase lapang (duduk sendiri sempit, duduk ramai lapang) - Adat be naskah Jase behibah (ada pewarisan adat budaya) - kuat lilet karene simpul B. PERALATAN ADAT Dua buah Gebok adalah sebagai tempat air yang sering digunakan untuk mandi berandam dan mandi bedemba, pasu adalah tempat air yang sering diletakkan dikaki tangga untuk mencuci kaki. Talam tempat untuk mengangkat hidangan, untuk tempat kue balas emas,


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 192 DALONG TEPAK CORONGBATEL talam ukuran kecil sering digunakan tempat pakaian hantaran dan lainlain Dalong tempat kemulian adat digunakan untuk tempat hidangan dalam menjamu tokoh-tokoh adat atau urang bepake, tempat hidangan makan beradab dan hidangan pengantin baru, tempat peralatan tepung tawar dan lain-lain. Tepak sirih (corong) yang berisi cembul (tempat perangkat makan sirih) juga tempat sirih pengiring dan batil tembaga tempat


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 193 TEPAK SIRIH kemuliaan adat (tempat mahar perkawinan dalam tepak) Tepak sirih pada saat ngantar sirih (naik sirih) sampai pada acara pesta perkawinan Mahkota pakaian pengantin perempuan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 194 Detar (tengkulok) Tengkulok dengan bentuk runcing keatas dan runcingnya menghadap kesebelah kanan serta belahannya sebelah kiri Tikar Cio Kelece (alas Tilam tempat duduk)


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 195 Ayu-ayu 1 2 3 K e t: 1 . A y u -a y u 2. G u n u n g a n 3. Kipas Ayu-Ayu


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 196 1 2 2 3 Ket: 1. pengikat bantal 2. ikat kelambu 3. bantal duduk Keterangan: 1. Pengikat Bantal 2. Ikat Kelambu 3. Bantal duduk Langit-langit Pelaminan Langit-langit pelaminan


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 197 C. PANTUN MENERIMA PENGANTIN Tata cara dalam menabur beras padi ketika menyambut mempelai adalah dengan melakukan menabur beras yang telah dicampur dengan padi didalam batil secara sedikit sedikit (dijumput diujung jari) seraya melantunkan pantun dimana pantun yang dilantunkan terdiri dari beberapa bagian 1. pantun pembuka 2. Selawat kepada Nabi dan Puji Syujur kepada Allah 3. Isi yang terdiri dari • Nasehat agama • Nasehat adat 4. Penutup dengan selawat kepada nabi Kepiawaian para pemantun mereka dapat menyampaikannya secara berkelakar dan jika disampaikan secara berdua maka semakin ramailah kelakar yang diramunya, namun kesemuanya tetap bermuara kepada pesan dan nasehat baik kepada pengantin maupun kepada masyarakat Beras padi yang ditaburkan sebagai perlambang dan isayarat, oleh karena beras yang ditabur tersebut cukup mengambil dua atau tiga butir biji beras dan padi yang telah dicampur maka disebut beras padi, ketika beras padi ditabur pantunpun dilantunkan Contoh beberap bait pantun dalam menabur beras padi Ketika menyambut mempelai; Assalamualaikum tuan ngan puan Duli dijunjong mulie bebudi Selamat datang kaom ngan jiraneras padi), Ketika beras padi ditSejahtere ngan mulie sampe dihinii Jari sepuloh tangan due belah Berupe sembah sambutan mulie Kite begantong pelen kat Allah Berharap berkah hidup sejahtere


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 198 Pembuke kate dengan bismillah Tandenye kite urang berugame bejabat tegoh kat ketentuan Allah bermule ngidupke diri diatas dunie Mempelai mulie bijak bestari Impian dare manis jelite Memang disini judumu menanti Membine hidup damai sejahtere Tuan puteri selaseh mayang Pengikat jiwe penentram sukme Jalan meniti kaseh ngan sayang Haluan pembuke hidup bahagie Falsafah hidup pengaseh pape Setie mengikat sampe mati Pemapah hidup kat urang tuhe Terjalen cinte kaseh sejati Ikoti perangai adat budaye Dalam meraih hidup berkah Jangan ade satu yang ditinggal ke Kalo nak hidup cadek terpisah Sebadi adat dengan syara’ Adat dipangku syara’ dijunjong Jadi ke rumah tempat mubarak Judu yang didapat membawe untong Jiwe dahage siram selalu Kewajiban suami menuntun isteri Pertanggung jawab pasti ditunggu Begianlah kewajiban yang sudah dibagi


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 199 Isteri tersenyum sambut suami Tanggong jawab dalam ngencari nafkah Materi cadek dalam tuntutan janji Kaseh sayang hale hidup nang berkah Sampei engkat ne madah ku turai Laen cerite tentang ugame Kokoh ke hidup jangan bercerai Berpeganglah petuah ayah dengan me PANTUN YANG LAIN Assalamualaikum kaom sedare Tangan diangkat bermule sembah Tamu disambut adab mulie Lewat panton beriring madah Panton disuson rangkaian kate Serawe memuji kepade Allah Dengan syafaat nabi mulie Hidup mulie mendapat berkah Bermule kalam dengan bismillah Seiring puje kepade nabi Beginilah adat yang sudah dipapah Warisan dari datu ngan nini Adat dipangku syara’ dijunjong Pedoman hidup sehari-hari Kalolah hidup nak dapat sanjong Jagelah iman berseh ke hati Kepade mempele yang sudah datang Kami ingatke adat dihini Besopan santon kat tiap urang Kemane lalu mendapat puji Ngelangkah pelan naek bedemba Cemetok dibagi kat jari penganten Diatas pelamin dudok ngan saba Jangan gadoh ngene ke lenten


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 200 Adab dijage dudok dipelamin Sebab bukan tempat besende Sopan santon disian tecermin Salah langkah jadi ke bale Hidup mulie ajaran abah Kaseh ngan sayang tuntunan eme Gune ke harte kat jalan Allah Bahgie hidup selame-lamenye Berlaku takzim kat kedue mentue Ikuot tuntunan adat dihini Alang tujoh tahan selere Cadek buleh pulang ndatangi bini Banyak lagi ketentuan adat Besanda tetap kepade syari’at Banyak betanye tuntunan dapat Pasti hidup cadek tesesat Engkat ne petuah ambe sampe ke Tunjok aja atok kite dulu Tuntunan keluarge sepakat sekate Damai hidup sampe kecucu Ma’af telangke lame tetunggu Gayenye kaki peh udah beguncang Mu penganten nak ngelangkah masok kepintu Bagi ke uncang pembuke palang Menjelang pagi sukme merasok Sejok kalbu menembus somsom Uncang dibagi bukanlah sogok Begianlah memulieke sesame kaom KUURSEMANGAT……………………………….. ALLAHUMMA SHALI’ALA MUHAMMAD


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 201 CATATAN Jenis pakaian tradisional yang kami paparkan dalam buku ini dikutip dari dokumentasi penjajakan pendahuluan IKMAT tahun 1972 yang disusun oleh OK. Makmunarrasyid anak Datok Setia Maharaja Bendahara Hilir, naskah ringkas tersebut merupakan hasil dari pada penjajakan pendahuluan yang dilakukan pada tahun 1958 dan tahun 1972 dalam waktu yang relatif singkat, selain dari itu beliau juga telah menyaksikan terhadap beberapa hal pada upacara-upacara adat di keDatukan Empat Besar/Empat Suku dimasa pemerintahan kolonial Belanda dahulu, dimana pada saat itu adat masih terpelihara dan dihayati oleh sebahagian besar dikalangan masyarakat suku perkauman Tamiang. Dalam kurun waktu yang tersebut diatas beliau juga telah mengunjungi berbagai narasumber dalam rangka mengumpul data dan informasi terhadap masalah tatakerama adat dan hal-hal yang terkait dengannya. Kesemua tatakerama dan cara berpakaian bukanlah sesuatu yang mengada-ada melainkan memiliki kaedah dan sempene dari keberkahan kehidupan masyarakat Tamiang dalam segala aspek, oleh karenanya Pakaian teluk belanga digunakan didalam setiap kesempatan aktifitas masyarakat Tamiang sehari-hari yang dibedakan pada tata cara memakainya seperti yang telah dijelaskan diatas. Demi memperkuat keyakinan terhadap catatan tersebut perlu kami cantumkan kembali nama-nama para narasumber sebagai amanah beliau yang merupakan wujud rasa hormat dan terimakasih beliau yang sangat tinggi kepada para narasumber tersebut yang merupakan bagian dari amal mereka, demikian juga selanjutnya yang kami tulis merupakan amanah OK. Mahmunarrasyid kepada muridnya Drs Syarifuddin ismail yang sebelum meninggal dunia sempat menuliskan sambutan atas buku ini yang beliau juga mengamanahkan kepada penulis agar dapat meneruskan tunjuk ajar ini kepada masyarakat Tamiang, ini juga akan menjadi amalan beliau.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 202 Berikut nama-nama narasumber yang dikunjungi oleh OK Mahmunarrasyid sebagai berikut; 1. Nyak Patan bin Idris dengan jabatan Datuk Setia Maharaja Bendahara Hilir (ayahanda beliau) meninggal dunia tahun 1960 pada usia ± 105 tahun 2. Datuk Temenggung Negeri Seruway meninggal dunia tahun 1985 pada usia ± 65 tahun 3. OK. Dahlan mantan Ketua Mahkamah Syariat Kuala Simpang, meninggal dunia tahun 1968 pada usia ± 71 tahun 4. OK. Bakar Husin mantan Kepala Mukim Sungai Kuruk Kecamatan Seruway, meninggal dunia tahun1983 pada usia ± 60 tahun 5. OK. Muhammad Yusuf Kota Lintang Kuala Simpang, meninggal dunia tahun 1969 pada usia ± 90 tahun 6. OK. Amir Husin Mantan Camat Bendahara di Sungai Iyu, putera Sulung Datuk Panglima Perang Ben Negeri Sungai Iyu meninggal dunia tahun 2001 pada usia ± 85 tahun 7. Tengku Mambang Tanjung Mancang Pangkalan Kejuruan Muda umur ± 75 tahun 8. T. Ben Uroy Kepala Mukim Kaluy Tamiang Hulu usia ± 85 tahun 9. Ismail Arif Kota Lintang Kuala Simpang (Sesepuh Ikatan Kesatuan Masyarakat Tamiang /IKMAT) meninggal dunia ditanah suci Mekkah tahun 1985 pada usia ±71 tahun 10. OK. Alang Tanjung Karang Putera Datok Bandar Gunung Negeri Karang, meninggl dunia pada usia ± 75


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 203 tahun 11. Datuk Gelang Muka Sungai Kuruk Kecamatan Seruway meninggal dunia tahun1981 pada usia ± 85 tahun 12. Tengku Amir Hasan mantan Camat Kejuruan Muda, meninggal dunia tahun 1969 pada usia ± 70 tahun 13. T. Uray T. Syahrul Amany (isteri T. Syahrul Amany) Kualasimpang telah meninggal dunia 14. Hajjah T. Nasfatul Qamar – Kejuruan Muda usia ± 50 tahun 15. H. Abdurrasyid mantan Camat Karang Baru dan Kepala Inspektorat Kabupaten Aceh Timur (Ketua seksi Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh/LAKA Kabupaten Aceh Timur, Ketua umum IKMAT, usia ± 60 tahun


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 204 DAFTAR PUSTAKA Anonimous “Resam Kanun Peradatan Mengawinkan Anak Suku Perkauman Tamiang”. Lembaga Adat Kebudayaan Aceh (LAKA) Aceh Timur (T.T.) (Tidak dipublikasikan). Al Ghazali Etika kehidupan, alih bahasa A. Mujab Mahal, cet I, Jogyakarta,1984 A.Suriyaman Mustari Pide, Prof. Dr. S.H., M.Hum, Hukum Adat, Dahulu, Kini dan akan Datang, Kencana Jakarta 2017. Amal Yasin, Dr. dkk, Tuntunan Praktis Adab Walimah menurut Al Quran dan As-Sunnah Pustaka Ibnu ‘Umar Jakarta 2018 Direktorat Jenderal Pembinaan kelembagaan agama Islam Departeman Agamma, Ilmmu fiqh,jilid II, Departemen Aama R.I., Jakarta G. Moch. Isnaeni, Prof. Dr. S.H. MS, Hukum Perkawinan Indonesia, Refika Aditama, Bandung 2016 Koentjaraningrat, Prof, Dr. “Pengantar Ilmu Antropologi”. Aksara Baru Jakarta. 1986.- Lah Husny, T.M. “Butir-butir Adat Budaya Melayu”. Badan Penerbit Husny Medan 1968.- Lukma Sinar, Tengku. “Adat Perkawinan dan Tatarias Pengantin Melayu”. Lembaga Pembinaan dan pengembangan Seni Budaya Melayu (SATGAS – MABMI) Medan 2001.- Mahmunarrasyid, OK, Draf Sejarah Tamiang 1961 tidak dipublikasikan _________________ Risalah singkat tentang Pakaian Adat, Balai Ampuan, Tepak Sirih susun Pelaminan Jadi, Rumah Adat Suku Perkauman Tamiang, Dokumentasi Penjajakan Pendahuluan IKMAT (tt) tidak dipublikasikan Natzir Said, HM. Silariang, Siri’ Orang Makasar, Pustaka Refleksi Makasar, 2005


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 205 Nizami Jamil, H.OK. Drs, dkk Adat Perkawinan Melayu Riau, Lembaga Warisan Budaya Melayu Riau, 2013 Prakoso, Djoko, Azas-Azas hukum perkawinan, cet.I, Bina Aksara, Jakarta, 1987 Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, PT Raja Grafindo Persada Jakarta, 2016 Syarifuddin Ismail dkk, “Senibudaya Suku Perkauman Tamiang” Dalam Memperkaya Khasanah Senibudaya Aceh. Panitia Pekan Kebudayaan Aceh III Kabupaten Aceh Timur, 1988.- (tidak dipublikasikan). Wan Diman, Muntasir, Ir. Tamiang dalam Lintasan Sejarah, Mengenal Adat dan Budaya Tamiang, Yayasan Perguruan Sri Ratu Syafiyatuddin Kualasimpang 2003 Zainuddin, H.M. “Tarich Atjeh dan Nusantara”. Pustaka Iskandar Muda Medan, jilid 1, 1961.- Zakiah Daradjat, Ilmu pendidikan Islam, cet.II, Aksara, Jakarta 1992


Click to View FlipBook Version