The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MEMBERDAYAKAN ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wdmuntasirwd, 2023-06-14 12:16:39

ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

MEMBERDAYAKAN ADAT PERKAWINAN SUKU PERKAUMAN TAMIANG

Keywords: ADAT

Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 134 setiap Majelis upacara peradatan sebagai kemuliaan, balai yang berisi pulut kuning rasidah dan inti serta terkadang rasidah dengan cenerut (cenerut lempengan seperti apam berwarna coklat yang terbuat dari tepung pulut (ketan) yang manis dan agak liat dimakan beserta pulut kuning) tetap ada ditengah majelis. Dalam fungsinya sebagai kelengkapan tertib majelis (acara adat resmi) mengandung arti sempene perlambang dukungan suku sakat dan kaum biak (keluarga ayah dan keluarga ibu) serta kerabat selingkar (kaum jiran tetangga), atas sesuatu perhelatan baik dalam kalangan sendiri maupun antar suku perkauman, yang selesai acara pulut dan telur yang ada didalam balai dibungkus dan diberikan kepada orang-orang tua tertentu yang diundang dalam acara adat tersebut. 2. Sempene Balai 2.1. Balai berbentuk empat segi dan bertiang empat, (setiap tiang bersegi empat pula), ini perlambang dukungan dan ampuan seluruh puak pancar persukuan kaum dan kerabat selingkar (artinya dukungan martabat saudara persukuan dan kerabat jiran sekitarnya). 2.2. Tata warna (kuning, putih dan hijau) adalah perlambang sempene kerukunan kesucian dan kesejahteraan dalam dukungan kesetiaan dan kasih sayang yang muaranya ada pada “PENGASEH PAPE SETIE MATI”. 2.3. Sesamping balai (hiasan yang melilit sekeliling balai, dari kain, kertas atau pucuk daun kelapa beranyam jejari lipan) perlambang kesopanan sepanjang pencerminan adat dan syara”. 2.4. Merawal (sejenis bendera dari kertas minyak berbentuk berukir segi tiga lancip tirus kebawah), bunga telepuk bertangkai dan bersusun yang dibuat (dikerjakan) oleh gadis-gadis (anak


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 135 dare), sedangkan wadah balai dikerjakan oleh laki-laki (bujang), mengisi balai dengan pulut dan lainnya dilakukan oleh wanita yang telah berumah tangga adalah lambang sempena keagungan hikmah “nyeraye” (gotong royong) kaum. Balai ampuan Rasidah yang ditaburi dengan bawang goreng 2.5. Telur ayam rebus berbungkus dalam hiasan kulit durian atau lain sebagainya tergantung pada bilah, mengandung arti sempene perlambang kesabaran dalam usaha membina dan mempertahankan ketinggian martabat kaum dan/atau pribadi,


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 136 tanggung jawab yang mandiri dimana telur ayam mampu menetaskan dirinya tanpa ada bantuan orang lain. 2.6.Pulut kuning, rasidah, inti dan atau cenerut adalah sempene perlambang hidup rukun bersatu padu, mulia budi dan indah bahasa. Kesimpulan dari sempena balai ampuan tersebut secara keseluruhan dengan meresapi lebih mendalam arti hikmah yang dikandung ruang lingkup fungsi balai tersebut, sepanjang tertib majelis dan tata peradatan, adalah untuk jura (lambang) kebesaran kemuliaan dan kesetiaan ampuan perkauman, balai telah menjadikan keberadaan kaum dan suku yang bermarwah dan bermartabat tinggi atas kesopan santunan budi, kesemuanya tetap bermuara kepada keberkahan dalam ridha Allah subhana huwa ta’ala. Oleh karenanya perlakuan adat tidak pada tataran kemampuan orang yang akan berhajat tapi telah menjadi kewajiban suku sakat kaom biak untuk memenuhi ketentuan adat sesuai kemampuan yang ada dengan tidak mengurangi dari sempena perlakuan. G. TEPAK SIRIH 1. Pengertian kandungan sempene Tepak adalah tempat sirih susun/sirih sombul dengan segala kelengkapan tertentu, sirih susun atau sirih sombul menjadi sempene resam tertentu pengiring sembah membuka madah, ketika madah hendak diturai sirih sombul dicicip terlebih dahulu yang merupakan perlambang rukun damai mencakup seluruh ruang lingkup tata kerama kehidupan. Sirih susun adalah lembaran sirih yang disusun didalam tepak yang sejajar antara pangkal dan ujung yang didalam tepak tersebut berisi cembul-cembul untuk tempat kelengkapan sirih tersebut, sedangkan sirih sombul adalah sirih yang telah lengkap perlengkapan ramuannya siap untuk dimakan dengan bentuk sombul seperti pyramid


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 137 yang disusun didalam tepak. Kedua sirih ini ( sirih susun dan sirih sombul) bersusun berangkai dengan ramuannya pengisi tepak adalah sempene wadah ampuan kaum sepangku resam peradatan, subur kembang meresapi rasa cinta dan setia dalam setiap peri hidup dan kehidupan. Seluruh ramuannya mengandung arti tabi’at hidup dimana sirih yang rasanya pedar jika dimakan bersama kacu (gambir) akan berwarna merah merupakan lambang keberanian dan juga sirih sebagai penawar berbagai jenis penyakit yang berfungsi sebagai antiseptik, kapur rasanya lecup berwarna putih bersih menyatakan kesucian, pinang dengan rasanya kelat menambah kelezatan dan pengharum mulut, kacu (gambir) dengan rasanya pahit kelat melambangkan keuletan, bunga lawang rasanya hangat yang keseluruhannya diramu menjadi satu dan menjadi kunyahan yang menagih serta bermanfaat bagi tubuh, diantaranya dapat memperkokoh gigi, menambah kekebalan tubuh terhadap serangan berbagai penyakit, oleh karenanya muncullah istilah sekapur sirih setampuk pinang dalam menyebutkan sirih sombul yang tersusun dalam tepak atau cerana dan puan. Peran tepak yang berisi dengan sirih susun atau sirih sombul yang bersusun berangkai dikalangan masyarakat suku perkauman Tamiang merupakan kelengkapan istiadat dari pada resam dan qanun peradatan yang tersimpul dalam kate tuhe (peribahasa adat); “Mulie kaom besiReh tepak, kembang keRabat manih base” (memuliakan saudara dengan sirih bertepak, mengembangkan teman dan saudara dengan manis bahasa) Artinya - sirih merupakan lambang kemuliaan, ketika tamu datang maka sirih sombul yang disorong sebagai tanda memuliakan tamu. Sirih sebagai lambang pergaulan yang dapat memperluas sahabat / teman Ketika bertemu teman sirih sombul disodorkan dengan penuh basa basi dalam mengembangkan pergaulan, sirih pergaulan sering ada dalam tepak songsong (tepak sorong/corong) atau cerana yang terbuat dari kuningan.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 138 2. Hiasan Tepak 2.1. Tepak Jemput Resam Menurut resam adat tepak yang akan digunakan untuk jemput resam yaitu segala tepak dalam keperluan adat perkawinan harus dihiasi dengan bungkusan beberapa lapisan kain lepas, sekurang-kurangnya 3 (tiga) lapis: - Lapisan pertama dibungkus dengan kain bertekat atau bersulam - Lapisan kedua dengan kain lepas dari sutera (disesuaikan). - Lapisan ketiga dengan kain panjang (kain sabɛi) Cara membungkusnya mempunyai ciri-ciri tersendiri 2.2. Tepak Songsong/Tepak corong Tepak yang terbuat dari kuningan atau tembaga yang selalu digunakan sebagai tepak pengiring, tepak ini tidak dibungkus, akan tetapi cukup ditutup dengan sahab betekat (yaitu yang dibuat dari kain bersulam yang pinggir sekelilingnya berumbai). Tepak pembuke kate ketika madah berturai, tepak corong ketika bertukar tepak pada saat proses peminangan dan pada saat jemput resam. 3. Menyerahkan dan Menerima Tepak Dalam menyerahkan dan/atau menerima tepak sirih satu sama lainnya mempunyai tata cara tertentu harus sesuai dengan resam peradatannya, jika keliru atau salah dalam menyerahkannya (istilah orang Tamiang sorong tepak), yang menerimanya akan tidak menyambut, apa lagi membuka dan mencicipinya, kecuali sipenyorong meminta ma’af dan memperbaiki caranya (hal ini terkadang mendapat teguran dari sipenerima jika salah sorong). Pada proses perkawinan telah dijelaskan terdahulu bahwa menyorong tepak haruslah tahu lebih dahulu kepalanya, karena yang duluan didepan adalah kepalanya. Tepak kepala adalah


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 139 dimana tangkai sirih menghadap kepada sipenerima dan didepannya sudah tersusun cembul yang berisi ramuan dan mahar jika belum menikah, dan jika anak datok dan orang bepakei maka cembul yang didepan adalah cembul emas. H. TEPUNG TAWAR (SETAWAR SEDINGIN) 1. Pengertian Tepung Tawar Tepung tawar atau setawar sedingin adalah sebuah tata cara dalam peradatan, baik peradatan perkawinan (menempatke anak) ataupun peradatan lainnya. Tepung tawar atau setawar sedingin merupakan do’a terhadap orang yang ditepung tawari yang bermuara pada keberkahan dari Allah subhana huwata’ala, oleh karenanya orang yang menepung tawarinya adalah orang-orang yang mustahak dalam mendo’akan orang lain sehingga do’a yang dibacakan makbul dan tidak menjadi perbuatan yang sia-sia. Jika perlakuannya sempurna sesuai adab maka orang yang ditepung tawari akan merasakan kedamaian atas do’a tersebut maka perlakuan tersebut dinamai “Setawar Sedingin” karna salah satu rinjisannya ada tepung yang akan ditaburkan sebagai penawar maka disebut dengan “Tepung Tawar” 2. Kandungan sempene Tepung Tawar Disebut tepong tawar karena tepung yang dipalitkan diujung tangan dan ujung kaki sempene keberkahan dalam melangkah, dan disebut setawar sedingin juga sempene keberkahan yang tidak menggunakan tepung yang keduanya bermuara pada rasi tawar sedingin membawa kedamaian dan kesejukan dalam segala aspek kehidupan. Perangkat Tepung Tawar terdiri atas ramuan-ramuan yang mengandung arti sempene yang harus diresapi oleh setiap orang Tamiang. Beberapa ramuan dan arti kandungan sempene dari Tepung Tawar yaitu;


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 140 2.1. Beras Kuning dan beretih (padi yang digongseng), adalah sempene lambang kemuliaan pertanian “jangan tau dibeRasnye tapi tahu juge dipadi benehnye” artinya kemuliaan itu dilihat dari keturunannya yaitu janganlah hanya tahu pada berasnya tapi tahu dan fahamilah padi benihnya (bibit). Bertih adalah lambang kekuatan bathin karena zaman dahulu orang-orang bertapa (berkhalwat) bekal makanannya hanya membawa bertih dan dengan izin Allah dapat memberi kekuatan dalam perjuangan bathin tersebut. Beras kuning dan bertih terkadang diganti dengan beras padi sempene lambang kesejahteraan dan kemuliaan terhadap keturunan yang sama seperti diatas, seperti yang dilakukan pada saat berpantun menyambut pengantin. 2.2. Disuntingkan pulut kuning di kuping (telinga) dan disuapkan kemulutnya, semoga melekatlah hatinya mendengar nasehat pelajaran yang mulia dan baik dari siapapun. 2.3. Dipalitkan bedak putih/tepung diujung tangan dan kaki sempene pergunakanlah tangan dan kaki pada pekerjaan dan jalan yang baik. 2.4. Memercikkan air dari batil yang berisi keratan-keratan limau purut dan isi telur ayam adalah sempene lambang pengobatan dan kepercayaan diri, karena ayam menetas tak pernah dibantu memecahkan kelonsongannya. 2.5. Dipercikan air dari batil dengan beberapa jenis dedaunan dan akar yang diikat jadi satu (sekurang-kurangnya 5 macam dedaunanan) dengan memiliki arti makna perlambang masingmasing yaitu” 2.5.1. Daun Sambo (Eleusine indica), sempene keuletan, ketahanan dan keteguhan hidup, adalah tumbuhan rumput kecil dan pendek tumbuh kokoh diatas tanah, dimana ia hidup tahan menderita bahkan tak tumbang karena badai tak pula tumbang dan tercabut karena banjir.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 141 2.5.2. Pohon jejerun (Starcytarpheta folia), rumput kecil batang berkayu berbunga, walau kecil hidup melata diatas tanah tetapi sanggup menyerahkan suntingan yang mulia (jangan mapas (enteng/rendah /memandang remeh) diorang kecil. 2.5.3. Pohon Pepulut (urena lobata pepulut), rumput buah kecil bulat berduri jika terkena celana atau kain yang dipakai maka ia akan lengket dan lepas dari tangkainya, sempene lambang kesetiaan dan kekekalan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 142 2.5.4. Daun sepenoh (Proiphys amboinensis syn. Eurycles amboinensis), tanaman kuncup kebatang, menadah kelangit berumbi keakar sempene harap kepada rahmat dan karunia Allah, bentuk daunnya seolah-olah bertampung do’a tanda kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 143 2.5.5. Daun sedingin (cocor bebek, Kalanchoe pinnata) adalah sempene lambang sejuk rasi, ketenangan dan kesehatan Kelima rinjisan ini diikat menjadi satu yang akan dicelupkan keair dan dipercikan, kesemuanya merupakan sempene Lambang rezeki, kemakmuran dan kedamaian yang berkekalan. 2.6. Tata cara melaksanakan Tepung Tawar (setawar sedingin). Dalam melaksanakan tepung tawar harus sesuai adab yaitu yang ditepung tawari dalam keadaan duduk, jika duduk dikursi maka yang menepung tawar sambil berdiri dan jika yang ditepung tawari duduk bersila dan bersimpuh diastas tilam / kelece (ini ada pada pelaminan Tamiang duduk diatas tilam), maka yang menepung tawarinya haruslah duduk bersimpuh dan bergerak dengan berdiri diatas lutut. Langkah-langkah menepung tawar adalah; 1. Beras kuning dan bertih (beras padi) digenggam dengan membalik-balikkannya dari genggaman tangan kanan ke genggaman tangan kiri dengan membaca selawat nabi


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 144 sebanyak 3 x dan dilanjutkan dengan do’a untuk kehidupan dalam menempuh rumah tangga terhadap pasangan pengantin. 2. Beras kuning dan bertih (beras padi) ditaburkan, jika menggunakan kedua belah tangan ditabur dari bawah kiri dan kanan kearah atas membentuk lingkaran kedalam dan jika menggunakan sebelah tangan maka dimulai dari kiri bawah kekanan atas membentuk lingkar searah jarum jam sempene perlambang kerukunan bagi kedua pengantin yang memiliki kedamaian dalam menempuh ruang lingkup kehidupannya. 3. Menyuapkan pulut dan menyuntingkannya ketelinga sempene perlambang dengan sifat pulut yang melekat atas berkat Allah akan lengketlah hatinya ketika mendengar nasehat-nasehat yang baik 4. Memalitkan bedak diujung kaki dan tangan serta memercikan air dengan ikatan rinjisan dedaunan yang dimulai dari ujung kaki dan ketangan yang saling bertimpa kekepala berbentuk melingkar sempene rasi sedingin dalam lingkupan kehidupan yang damai atas ridha dan berkat rahmat Allah subhana huwata’ala. Diwaktu memercikan air setawar sedingin inilah sipelaku kadang kala mengucurkan air mata karena terharu dalam hati ia merenungkan arti sempene ramuan rinjisan dedaunan disertai dengan do’a semoga yang ditepung tawari berkat rahmat Allah mendapat limpahan dengan arti-arti perlambang sempene tersebut dan menjadi sejuk rasi dalam ruang lingkup kehidupannya. 5. Menyalami orang yang ditepung tawari sempene keselamatan dengan bercemetok, pihak perempuan bercemetok kepada mempelai laki-laki dan pihak laki-laki bercemetok kepada pengantin perempuan.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 145 Semua kelengkapan tepung tawar (setawar sedingin) diisi dalam tempat yang telah disediakan (dalam batil cerana dan lain-lain) dan diletakan ditas dalung yang beralaskan sahab ditutupi dengan tudung saji (sange) yang berlapis sengore (kain tutup sange) Kelengkapan Tepung Tawar I. HUKUM ADAT PERKAWINANA Seperti yang telah diuraikan terdahulu, setiap perlakuan adat Tamiang itu telah ada qanunnya yang tak tertulis diwariskan secara turun temurun lewat tunjuk ajar baik secara perlakuan maupun secara lisan (tutor) dan di implementasikan lewat kebijakan resam atas kemufakatan. Hukum adat adalah segala sesuatu ketentuaan yang telah ditetapkan perlakuannya dalam kelompok masyarakat dan tidak boleh dilanggar, jika dilanggar akan mendapat sangsi. Perilaku sekelompok orang yang lahir secara spontan serta muncul dari kehidupan kolektif sebagai respon terhadap suatu kejadian tertentu dan tidak terstruktur. Perilaku-perilaku ini muncul atas dasar kolektifitas tersebut yang muaranya adalah terbentuknya kaedah-kaedah atau norma-norma hukum, moral etika serta kaedah-kaedah lain yang perlakuannya diterapkan dalam menata hidup dan kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan kolektifitas akan berlaku komformitas yaitu sikap dan


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 146 perilaku akan sesuai dengan nilai dan kaedah yang berlaku untuk memenuhi dan mendapatkannya dilalui lewat kompetisi yang memiliki kecenderungan terhadap penyelewengan dan penyimpangan soisal, oleh karenanya diaturlah hukum adat sebagai sarana untuk menata perilaku tersebut. Menurut Suryaman Mustari Pide, hukum adat itu merupakan keseluruhan adat (yang tidak tertulis) dan hidup dalam masyarakat berupa kesusilaan, kebiasaan dan kelaziman yang mempunyai akibat hukum12. Begitulah yang berlaku dalam adat perkawinan suku perkauman Tamiang semua perilaku dalam tatanan kehidupan yang sudah berlaku dan memiliki kekuatan mengikat jika dilanggar mendapat sangsi. Menurut Soerjono Soekanto apabila sebuah kebiasaan tersebut diterima sebagai kaidah, maka kebiasaan tersebut memiliki daya mengikat menjadi sebuah tata kelakuan. Adapun ciri-ciri pokoknya yaitu; 1. Tata kelakuan merupakan sarana untuk mengawasi perilaku masyarakat. 2. Tata kelakuan merupakan kaidah yang memerintahkan atau sebagai patokan yang membatasi aspek terjang warga masyarakat. 3. Tata kelakuan mengidentifikasi pribadi dengan kelompoknya. 4. Tata kelakuan merupakan salah satu sarana untuk mempertahankan solidaritas masyarakat13 Begitulah yang terjadi dalam lahirnya adat yang kemudian atas penerimaan kelompok masysarak memiliki kekuatan mengikat bila terjadi pelanggaran akan mendapat sangsi yang mengikat pula, oleh karenanya hukum adat perkawinan suku Perkauman Tamiang juga lahir 12 Prof. Dr. A.Suriyaman Mustari Pide, SH, M.Hum Hukum adat dahulu kini dan akan datang 2017 hlm 5 13 Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia 2016 hlm 69


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 147 atas adanya tata kelakuan yang menyimpang terhadap kaidah yang telah disepakati. Manusia yang memiliki tingkah laku kemudian ditata menjadi tata kelakuan yang sistematis terjadi berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan, bila mana kebiasaan ini diterima oleh kelompok masyarakat maka akan menjadi adat, demikian juga selanjutnya jika adat ini telah menjadi kaidah yang memiliki kekuatan mengikat dan bila dilanggar mendapat sangsi maka ia telah menjelma menjadi hukum adat. Beberapa perlakuan dalam proses perkawinan yang dimulai dari proses peminangan sampai pada proses pesta perkawinan yaitu; 1. Adat peminangan yang dalam perlakuannya tetap membawa sirih dalam tepak, jika dilanggar maka akan mendapat sangsi ada yang berlaku menurut resam. 2. Adat pertunangan, dalam masa bertunangan dilarang bertemu kedua pemuda dan gadis jika dilanggar juga akan mendapat sangsi. 3. Adat dalam masa pertunangan yang telah diikat oleh tanda berupa emas, a. jika siperempuan ingkar maka akan mendapat sangsi yaitu mengembalikan tanda yang telah dberikan sebanyak dua kali lipat dari jumlah yang diberikan artinya mengembalikan milik pemuda yang telah diberikan dan ditambah lagi denda sebesar tanda yang telah diberikan oleh sipemuda maka disebut dua kali lipat dan termasuk mengembalikan seluruh biaya ketika naik sirih besar saat peminangan. b. Jika sipemuda yang ingkar maka semua pemberian baik itu tanda maupun pemberian lainnya menjadi milik pihak perempuan. c. Jika dalam masa bertunangan sigadis dibawa lari oleh orang lain atas dasar sama-sama suka, maka silaki-laki yang


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 148 membawa lari anak gadis tersebut akan diberi sangsi yaitu mengembalikan semua biaya yang telah dikeluarkan oleh laki-laki tunangan sigadis sejak proses pertunangan dan mengembalikan semua biaya yang dikeluarkan oleh orang tua sigadis pada saat proses pertunangan. d. Ketentuan ini bukan merupakan transaksi kedua belah pihak yang bertikai melainkan sebuah keputusan adat yang telah berlaku secara turun temurun dalam kelompok masyarakat dan telah diakui secara kolektif oleh masyarakat umum, artinya ketentuan yang telah ditetapkan dalam musyawarah majelis adat “sejak awal” proses perkawinan oleh orang tua-orang tua terdahulu telah diakui menjadi hukum secara kolektif bukan individu dalam sebuah transaksi. 4. Adat naik mempelai atau mengantar mempelai, pihak laki-laki sudah menyiapkan seperangkat perbekalan dalam mengantar mempelai, mulai dari tepak sirih, uang palang pintu beserta kelengkapannya sesuai resam yang telah disepakati, bila ini diingkari atau tidak dipenuhi maka akan mendapat sangsi sesuai dengan kelengkapan yang tidak terpenuhi secara ekstrem bila hal-hal yang urgen (penting) ditinggalkan terjadi penundaan penerimaan mempelai.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 149 BAB IV NGIDUPI - DIRI A. MASA BERSAMA MERTUA Hidup bersama mertua bagi seseorang menantu laki-laki suku perkauman Tamiang bukanlah suatu karakter untuk menghindar dari tanggung jawab mencari nafkah atau dengan bahasa lainnya menumpang hidup akan tetapi merupakan takzim dan patuh terhadap kehendak mertua yang tidak ingin merasa kehilangan dengan anak perempuannya, anak perempuan dalam suku perkauman Tamiang merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi orang tuanya dalam arti kewas-wasan ketika berpisah, karena anak perempuan dikawal dan dibimbing secara terkontrol dengan ketat berbeda dengan keberadaan anak laki-laki. Oleh karena itu anak perempuang menurut adat kebiasaan orang Tamiang ia baru boleh memisahkan diri dari orang tua (ibuk bapak isteri / mertua) ialah setelah beroleh seorang anak, inipun terkadang sukar dilaksanakan jika siisteri merupakan anak perempuan satu-satunya dari mertua. Keadaan yang seperti ini bisa memakan waktu berlarut-larut sampai memperoleh empat atau lima orang anak, baru menegakkan rumah lain untuk hidup sendiri, bahkan terkadang jika simertua sudah berusia lanjut mereka tidak diperkenankan untuk pindah, hal yang seperti ini biasanya mertua menghibahkan rumah tersebut kepada anak puterinya. Bila hal seperti ini terjadi, maka menantu laki-laki tersebut telah mengambil alih beban rumah tangga keatas dirinya. Hasil usaha yang diperolehnya dibawanya pulang kerumah mertuanya, menyimpang dari hal kecuali ini lazimnya tidak ditahan malah dibantu sepatutnya apalagi dalam rangka mendirikan rumah anak menantunya. Dibalik ketentuan tersebut diatas bila sampai waktunya yang biasa dilakukan jika anak pertama sudah turun tanah (lepas dapo), sisuami akan membawa isterinya pindah


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 150 kerumah yang telah disiapkannya (tidak tergantung rumahnya seperti apa layak atau tidak layak, ini sangat tergantung pada kondisi ekonomi keluarga), jika mertua tidak menahan untuk tidak pindah dan ternyata simanantu tetap bersamanya ini dapat menimbulkan fitnah baik dari orang sekitar yang mengetahuinya maupun dari mertua tersebut mereka menggap menantu yang mau menumpang hidup dirumah mertuanya, maka bagi orang Tamiang sesusah apapun kehidupannya ia selalu mendesak isterinya untuk pindah dari rumah mertuanya. Tradisi enggan berkomunikasi antara menantu dengan mertua merupakan sebuah kekakuan dalam berkomunikasi, dan ini membutuhkan waktu yang lama sampai memiliki anak 1 atau dua baru pembicaraan agak mencair, selama komunikasi tersendat untuk menyampaikan sesuatu maka dilakukan lewat perantara isteri kecuali hal-hal yang sifatnya urgen yang harus dikomunikasikan secara langsung tentu saja mengenai kebijakan-kebijakan yang sifatnya prinsipil, namun juga terkadang menantu dapat merebut kasih sayang mertua sama halnya seperti mertua tersebut menyayangi anaknya sendiri. B. MASA BERSAMA ORANG TUA Menghidupi diri bagi orang Tamiang adalah proses mempersiapkan diri untuk dapat hidup berdiri sendiri memisahkan rumah (tinggal dirumah sendiri) tanpa ketergantungan pada orang tua, telah menjadi kewajiban bagi suku Perkauman Tamiang seorang bapak merasa bertanggung jawab mendidik (membele = memperbaiki / membimbing) anaknya sejak kecil sampai kepada mampu menghidupi diri (berdiri sendiri), maka oleh karena itu bagaimanapun tingkat kehidupan sibapak, untuk anaknya itu tidak luput dari asuhan. Sejak anak usia 10 tahun sampai mencapai dewasa, ia telah dibawa


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 151 mengerjakan pekerjaan yang menghendaki pertanggung jawaban, kesawah mengerjakan sawah dari mulai menebas (menajak), mengangkat rumput kepematang sawah itu tugas bagi anak laki-laki sampai pada membantu menanam dengan mengangkat bibit (ini dilakukan dengan senang hati dan merupakan awal terbentuknya tanggung jawab), keladang dengan membabat memerun mengumpulkan kayu-kayu kecil yang dibabat kemudian dibakar lalu ditanami berbagai jenis sayur-sayuran dan kekebun yang ditanami dengan tanaman keras (kelapa, pinang dan lain-lain), kesemuanya membutuhkan pekerjaan tindak lanjut yang penuh tanggung jawab untuk keberhasilan usaha. Ketika anak sudah cukup dewasa siibu dan bapak telah mengunggukkan (menunjuk) sebagian bidang tanah itu kepada anaknya untuk diusahakan dan dikerjakan baik dalam bentuk mengerjakan huma (dalam bahasa Tamiang disebut rume = ladang darat) dan sawah tadah hujan atau sekarang sudah ada irigasi (dalam bahasa Tamiang disebut belang). Pada waktu-waktu senggang sianak mengerjakan tanah itu secara sempurna menurut yang dicita-citakannya sendiri. Hal ini antara beradik-abang tidak sama keinginan kadang-kadang ada yang menanaminya dengan pinang dan tanaman keras lainnya, bila kondisi tanahnya tidak memadai untuk diberikan maka mereka mengerjakannya bersama-sama sampai dapat memiliki bidang tanah yang lain. Pada prinsipnya kebun atau ladang (dalam bahsa Tamiang disebut padang) dan sawah itu nantinya yang menjadi dasar hidup mereka setelah ia beristeri / bersuami. Harta yang sifatnya seperti ini tidak lagi sebagai harta yang diwariskan apalagi orang tuanya meninggal dunia. Adapun kerja atau usaha orang tuanya yang terjadi pada kebun tersebut adalah merupakan bantuan yang diberikan saja, ketentuan ini turut dikuatkan oleh adat. jika masa bersama mertua telah dianggap cukup mungkin sampai memiliki satu anak atau sudah satu tahun lebih maka sipemuda membawa isterinya keluar dari rumah


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 152 mertua untuk hidup secara mandiri dan jika ia belum memiliki rumah sendiri maka ia menumpang pada orang tuanya dahulu. Akan tetapi hal seperti ini jarang terjadi karena sipemuda seperti yang telah diceritakan, jauh sebelumnya telah mempersiapkan diri untuk berumah tangga secara mandiri (ngidupi diri) yang tidak berjauhan dari rumah orang tuanya. Oleh karena itu kekerabatan orang Tamiang hidup selalu berumpun tidak boleh jauh dari orang tuanya, dan sering terjadi dalam satu kampung dihuni oleh sanak keluarga secara turun temurun yang tidak dilepaskan dari kehidupan orang tuanya, namun kehidupan mereka sekarang cenderung telah ditantang dengan berbagai profesi lewat pengetahuan dan Pendidikan yang dituntut maka telah terjadi pemisahan dengan rentang jarak yang tidak tertentu namun pada harihari tertentu seperti kedua hari raya (idul fitri dan idul adha), hari kenduri dan kematian pada keluarga maka semua sanak saudara wajib berkumpul. C. BERDIRI SENDIRI Pemuda yang patuh kepada orang tuanya akan menjadi pemuda yang cerdik maka semenjak ia masih lajang sudah mempersiapkan sesuatu untuk masa tuanya, selain dari pada tanah yang diunggukan (diberikan) kepadanya, ia juga sudah menambah lahan miliknya yang lain bahkan sampai pada persiapan bahan bakal membuat rumah atau terkadang sudah menyelesaikan rumahnya (istilah orang Tamiang rumah lajang), seketika hidup lain sudah mengizin kan (berumah tangga), dan tidak menempuh kesulitan maka ia telah dapat hidup sendiri. Rumah didirikan secara gotong royong (nyeraye), setelah rumah selesai masing-masing orang tua baik ibu bapak maupun mertua membekali anak menantunya yang telah memulai menghidupi diri dengan alat keperluan rumah tangga menurut patut dan kemampuan.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 153 Semenjak itulah mereka dua suami isteri sudah bertanggung jawab terhadap rumah tangganya dan bertanggung jawab pula terhdap kampung dan masyarakat sebagai seorang kepala keluarga. Pada saat menaiki rumah baru ia mengundang orang tuanya maka orang tua silaki membawa beras (yang jumlahnya tidak ditentukan) sebagai syarat pada kunjungan pertama kerumah anaknya (ini berlaku bukan saja pada rumah milik sendiri tetapi juga rumah sewa yang baru ditempati). Pada hari baik bulan baik (hari raya puasa atau haji) sekalipun mereka sudah berumah lain, maka pada hari-hari itu mereka wajib harus menggabungkan diri kerumah orang tuanya, kalau orang tuanya kedua belah pihak masih ada, biasanya berbagi dua atau setidak-tidaknya anak-anaknya pergi menggabungkan diri dengan neneknya sebelah pihak dan ia suami isteri yang sebelah lagi, atau dilakukan secara bergliran untuk kunjungan pertama kepada kedua belah pihak orang tua mereka, sudah menjadi adat kebiasaan turun mandi dipagi hari raya turut bersama-sama serentak segala sanak keluarga bersama imam dan datuk, dan setelah tangkoh mandi (selesai mandi), masing-masing mengenai pakaian yang serba baik ini pada daerah yang memiliki tradisi mandi sungai, maka barulah mereka diantar kerumah tetangga melakukan upacara minta izin dan ampun sesama mereka, dimulai kepada yang lebih tua dengan mencium tangan dan berlutut. Setelah ini merekapun pergi kerumah imam dan dari sana beramai-ramai pergi kemesjid untuk mengerjakan sembahyang hari raya, selesai sembahyang para jamaah menuju rumah Datuk untuk sama-sama berhari raya. Begitulah ketakziman yang telah terbentuk bagi suku Tamiang dalam menempuh hidup berkeluarga dan bermasyarakat.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 154 BAB V MENYAMBUT KELAHIRAN ANAK (BUDAK) A. RESAM DAN PANTANG PEMALI 1. Resam. Resam adalah peraturan-peraturan yang dijalankan lewat kesepakan masyarakat maupun kelompok masyarakat tertentu dalam suku perkauman Tamiang. Resam dalam menyambut kelahiran anak merupakan kaedah peraturan yang telah disepakati oleh Suku Perkauman Tamiang dan menjadi kebiasaan tradisi yang tidak boleh dilanggar karena secara filosofi akan berdampak buruk, baik pada proses kehamilan sampai pada kelahiran anak, oleh karenanya ketentuan adat yang bersandarkan pada syara’ bermuara pada keberkahan dalam segala aspek, demikian juga halnya pada proses kehamilan sampai pada pasca melahirkan berlaku ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh tuhe adat lewat tatanan kehidupan kelompok masyarakat suku perkauman Tamiang. Suatu kebiasaan bahkan juga merupakan adat resam suku perkauman Tamiang, apabila seorang ibu mempunyai anak perempuan (istilah Tamiang anak mpuan) dan anak tersebut telah pula selesai ditempatkan (telah bersuami) maka perubahan pada tubuhnya semenjak ia bersuami selalu dalam penilikan (perhatian) ibunya, sebaliknya sianakpun selalu menyampaikan sesuatu yang terasa pada dirinya kepada ibunya sendiri terlebih dahulu. Setelah ibunya yakin menurut tanda-tanda yang dilihatnya pada anak perempuanya tersebut, ia memberitahukan kepada bisannya (orangtua suami anaknya) yang perempuan bahwa sianak/menantu mereka telah mengandung. Semenjak itu pula berlakulah resam dan pantang pemali waktu mengandung, sianak yang mengandung tidak boleh teledor (ceroboh/lalai) sedikitpun dari penjagaan ibunya dan ibu mertuanya


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 155 harus pula selalu datang menjenguk. Famili perempuan dari kedua belah fihak selalu pula datang membawakan juadah (makanan/pulut manis) sempene (berkat, tuah, bersamaan (bersempene = berkat / bertuah) doá dan menghibur saudaranya yang sedang mengandung pertama itu. Dari kalangan family yang tua-tua selalu memberikan nasehat-nasehat dan memberitahukan hal-hal yang harus dihindarkan supaya jangan terkena atau terlanggar pantang pemali menurut kepercayaan suku perkauman Tamiang seperti membunuh binatang, memukul kucing, melangkah tali lembu/kerbau, melayur (salai dengan api) dan membakar serta menganiaya binatang dan melilitkan kain keleher. Selain itu juga sangat ditekankan supaya pengantin perempuan yang sedang mengandung tersebut melaksakan perbuatan-perbuatan yang baik seperti bersikap sopan, beribadat dan lain-lain, dan menurut keyakinan hal ini akan langsung mendidik pertumbuhan watak sibayi dalam kandungan. Secara filosofi orang Tamiang sejak melakukan setubuh (berhubungan suami isteri) dengan maksud mengharap anak, sudah memulai mendidik dengan membaca do’a yang berharap semoga Allah memberi keturunan (anak yang baik), dengan melafalkan do’a; تَنَا َر َزقْ ِ ِب ال َّشْي َطا َن َما ِ ْبنَا ال َّشْي َطا َن َو َجنّ م َجنّ َّ ُه ّ بِ ْسِم هللاِ اَلل ("Bismillahi, Allahumma jannibnaasyyaithaana wa jannibi sysyaithaana maarazaqtanaa"). Artinya; Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami. Karena anak merupakan rezeki dari pemberian Allah maka ketika sudah ketahuan hamil dimanapun ia duduk dengan ibu atau neneknya tidak ada cerita lain kecuali bercerita tentang menjaga kehamilan dan mempersiapkan kelahiran serta bagaimana mendidik anak, hal ini


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 156 secara terus menerus termasuk pantang pemali sampai waktu melahirkan tiba. Pada saat anak dilahirkan kedunia ia sudah diperkenalkan dengan kalimah tauhid lewat azan bagi anak lakilaki dan iqamat bagi anak perempuan. Ada beberapa resam dalam kehamilan bagi suku Perkauman Tamiang antara lain; 1. Orang Tua sigadis memperhatikan setiap perubahan anak gadisnya Ketika sudah bersuami. 2. Perubahan yang telah meyakinkan bahwa telah hamil, lalu memberi tahukan kepada ibu sisuami (besan). 3. Orang tua berkewajiban menjaga kehamilan secara teliti dan rutin. 4. Menghibur sigadis yang hamil agar tidak merasa takut pada melahirkan yang berdampak pada Kesehatan. 5. Para orang tua selalu memberi nasehat tentang kehamilan dan kelahiran anak. 6. Menjaga keta’atan beribadah dan berlaku baik dalam segala hal agar anak yang akan lahir dapat menjadi anak yang shaleh maupun shaleha. 7. menjaga setiap perkataan dan tingkah laku tidak boleh berbicara sembarangan, karena dapat menimbulkan akibat kepada anak yang dikandungnya, kelak akan mewarisi sifat seperti itu juga. 8. Menempah bidan setelah kehamilan memasuki usia tertentu. 9. Setelah melahirkan (mase bedapô) harus menjaga kesehatan dengan berbagai perawatan. 10. Mencukur rambut bayi setelah melahirkan sekaligus haqiqah (memotong kambing atau domba) bila mampu paling lambat pada usia kelahiran bayi 7 hari dengan ketentuan anak laki-


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 157 laki 2 ekor kambing jantan (kambing randok) dan anak perempuan 1 ekor kambing jantan. 11. Mengayun anak dan turun tanah pada saat usia bayi 44 hari sekaligus menabalkan nama. 12. Nyecapkan bayi serta membuat syarat (disebut tangkal) yang sudah dirajah dengan do’a bermohon pada Allah agar sibayi terhindar dari berbagai gangguan. 13. Nyuci tangan bidan sebagai ucapan terima kasih, tanda berakhir masa urusan bidan. 2. pantang pemali Pantang pemali bagi Wanita hamil merupakan suatu larangan dalam melakukan aktifitas dimasa kehamilan karena telah diyakini secara turun temurun sebagai petuah yang harus dijaga karena kesemuanya akan berdampak buruk baik pada bayi yang akan dilahirkan maupun ibu dan keluarga lainnya, oleh karenanya pantang pemali benar-benar harus ditaati untuk menghindari kemungkinankemungkian akibat ulah sendiri. Beberpa pantang pemali bagi orang hamil yang mesti dihindarkan yaitu: 1. Pada saat hamil tidak boleh berada diluar rumah pada waktu magrib karena dianggap banyak setan yang lewat. 2. Tidak boleh keluar rumah pada waktu tengah hari (istilah suku Tamiang “tengah hari timbang” sekitar jam 12.00 siang), jika terlintas matahari timbang dianggap akan berdampak buruk. 3. Tidak boleh melewati tempat-tempat yang angker sendirian seperti kuburan, pohon-pohon kayu besar, semak-semak karena banyak setan. 4. Baik suami maupun iseri tidak boleh menganiaya binatang ataupun sengaja menyakitinya, karena dapat


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 158 berdampak pada anak yang dikandungnya kelak jika sudah lahir akan cacat. 5. Tidak boleh makan sambal dalam lagan (cobek-an). Karena kelak bibir anaknya akan tebal seperti lagan tersebut. 6. Tidak boleh mencicipi masakan dalam sendok. Hal ini dipercayai setelah lahir dahi atau kepala anaknya lapang/jendul 7. Bagi sisuami maupun isteri tidak boleh melilitkan handuk dileher pada saat mau pergi mandi, karena dapat berakibat terlilitnya tali pusat dileher janin. 8. Tidak boleh makan dalam mangkuk, ini dipercaya kelak anak yang dilahirkan akan kuat makan. 9. Tidak boleh duduk di tengah pintu karena akan sulit dalam persalinan. 10. Tidak boleh banyak tidur siang, kelak anak di dalam perut akan besar. 11. Tidak boleh banyak menangis, nanti anaknya menjadi cengeng. 12. Tidak boleh merepet (mengomel) di waktu hamil, kelak anaknya suka melawan orang tua. 13. Tidak boleh berbohong, kelak kepala anak besar. 14. Tidak boleh malas, kelak anaknya kemayu/gemulai. 15. Tidak boleh melihat gerhana bulan dikhawatirkan anak akan mendapat tanda hitam di badan. 16. Tidak boleh memaku (memukul paku), memahat dan sebagainya karena dikhawatirkan bayi akan lahir dengan bibir sumbing. 17. Tidak boleh memakai kain sarung dari kaki, dikhawatirkan ketika melahirkan sang bayi songsang.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 159 Bagi kehidupan modern sekarang ini memang sulit untuk di yakini dapat dipercaya atas segala yang terdapat pada pantang pemali tersebut, dalam kenyataannya meskipun dianggap tidak mungkin, aneh dan remeh namun kebanyakan dari pantang larangan ini memberi kenyataan pada dampak tersebut, pantang larangan ini juga bertujuan untuk mendidik masyarakat agar mengamalkan nilai-nilai dan normanorma dalam kehidupan, inilah yang bakal diturunkan dari satu generasi ke generasi seterusnya. Bagaimanapun pantang larangan dalam budaya suku Perkauman Tamiang aspek agama tidak akan pernah diabaikan tetap bersandarkan pada syariat dengan harap mendapat keberkahan dari Allah Subhana huwa ta’ala. Anak merupakan anugerah Allah, dan kita wajib memelihara serta menjaganya sedari kandungan. Bagi muslimah yang tengah mengandung harus memperbanyak melakukan kebaikan dan ibadah dengan mengerjakan shalat, berdoa, membaca Alquran, berzikir serta amalan lainnya. B. MASA BERSALIN 1. Menempah Bidan. Secara adat resam Suku Tamiang apabila sipengantin diyakini telah mengandung lebih kurang 6 atau 7 bulan, maka ibunya dan ibu mertuanya mufakat untuk minta pertolongan bidan guna membantu waktu melahirkan. Di zaman dahulu dimasa kerajaan dimana hukum dan adat mutlak harus berlaku dan dipatuhi, meminta bantuan bidan mempunyai cara-cara tertentu yang telah diatur sepanjang adat resam yaitu “nempah Bidan” karena bidan adalah ditabalkan kepala adat menurut tingkatnya masing-masing. Ibu sipengantin yang sedang mengandung tersebut bersamasama dengan ibu mertuanya terlebih dahulu harus mempersiapkan : a. Sirih setepak. b. Pakaian sesalin.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 160 c. Uang seringgit (sekarang telah disesuaikan dengan kondisi rupiah yang sedang berlaku) Sekarang untuk menolong persalinan sudah tidak ada lagi mak bidan, karena sudah diganti oleh bidan kesehatan /Puskesmas (yang disebut dengan “bidan” saja) yang terus merawat secara medis, akan tetapi perawatan alami tetap ditangani oleh mak bidan seperti berkusuk rutin dan perawatan alami lainnya, ketiga benda tersebut diatas sebagai persyaratan menempah bidan dibawa lalu diserahkan kepada mak bidan yang bersangkutan dengan ucapan permohonan agar berkenan mengurus anak/menantu sampai habis masa bedapo (nifas) yang kemudian mak bidan menerimanya dengan penuh rasa tanggung jawab dengan ucapan “ne idup mati anak ambe, entah siang entah ke malam aRi ambe seRah ke kat mak bidan untok nguruhinye sampe selesei artinya; ini hidup mati anak saya, entah kan siang hari ataupun malam hari, saya serahkan kepada mak bidan untuk mengurusinya sampai selesai. Lalu mak bidan menerimanya dengan ucapan; “kite ne kan beRusahe umo kat Tuhan” (artinya kita ini kan berusaha, umur pada Allah). Selesai serah terima diberikanlah sirih setepak, pakaian sesalin dan sejumlah uang tersebut kepada mak bidan lalu mak bidan menerima dan menyanggupi tempahan itu, ianya membuat “Tangkal” (penangkal terhadap gangguan makhluk halus) benang panca warna yaitu benang yang terdiri dari lima warna yang telah dirajah (dijampi dengan membaca ayat-ayat alquran) ditambah dengan sepotong kemenyan dan putik limau mungkur (limau purut) tiga buah untuk dipakai oleh sipengantin yang sedang mengandung itu. Pada usia kehamilan 7 bulan dilakukan tepung tawar kepada isteri yang hamil dan suaminya, mohon do’a keselamatan baik pada siibu dan bapak serta bayi yang dikandung agar terhindar dari segala mara bahaya, dan dilancarkan proses kelahirannya dengan selamat dan selesai ditepung tawari suami isteri ini bersalaman kepada sanak saudara memohon maaf


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 161 serta kepada kedua orang tuangnya memhon ampun dan doa restu untuk keselamatan isteri dan keluarga semuanya. Apabila bidan yang telah ditempah dan menerima tempahan tersebut, pada waktu diperlukan kebetulan ia mungkir maka perbuatannya itu telah melanggar resam adat, ia akan disalahi oleh kepala adat (Datuk/Raja) menurut adat empat kaum dan dikenakan denda adat. 2. Melahirkan budak dan masa bedapô. Melahirkan seorang anak dipandang sebagai sebuah keberkahan dari Allah subhana huwa ta’ala oleh karenanya salah satu tujuan dari pada perkawinan itu adalah untuk mendapatkan anak yang diridhai oleh Allah subhana huwa ta’ala, karena lewatnyalah keturunan (zuriat) akan tersambung. Anak sebagai penghibur dalam kelelahan dan pelipur lara dalam kesusahan serta kesedihan dia menjadi penyejuk pandangan mata (qurrata a’yun = ن ْعيُ َ َّرةَ أ ُق .(Suku Perkauman Tamiang beragama islam oleh karenanya adat yang dijalankan adalah adat yang bersyariat yaitu adat yang bersandarkan pada syariat maka lahir falsafah (kate tuhe) sebadi adat dengan saRa’, adat dipangku saRa’ dijunjong qanun diato Resam dijalen dudok setika (sebadi adat dengan syara’, adat dipangku syara’ dijunjung peraturan (kanun) disusun (dibuat) menyepakati aturan dijalin duduk setikar/musyawarah), artinya menyatukan adat dengan syara’ dimana perlakuan adat tidak lagi bertentangan dengan syara’, dalam menjalankan adat sandarannya adalah syara’ lalu kanun (undang-undang atau peraturan) diatur, dalam menerapakan aturan disepakati dengan menjalin komunikasi lewat musyawarah (dudok setika) , oleh sebab itu faham tentang banyak anak banyak rezeki sangatlah diyakini, karena semua rezeki masing-masing telah dijamin oleh Allah. Ada beberapa tahapan kelahiran anak sampai lepas dapô (habis masa melahirkan 44 hari) sebagai berikut;


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 162 2.1. Menyambut budak; Sewaktu bayi hendak lahir sepanjang tanda -tanda yang ada pada tubuh seseorang yang sedang mengandung/hamil (apa lagi mengandung anak yang pertama) si ibu segera menyuruh menantunya menjemput bidan yang telah ditempah itu serta memberitahukan kepada seluruh sanak saudara yang terdekat bahwa isterinya hendak melahirkan. Sanak saudara terdekat dan jiran selingkar yang telah diberi tahukan itu segeralah datang menolong mempersiapkan segala sesuatu. Setelah bidan datang siperempuan yang akan bersalin (melahirkan) telah disediakan tempatnya diruang (serambi) belakang dari rumah indung (induk). Sewaktu bayi tersebut lahir, ia segera disambut oleh bidan, dikeratkan pusatnya dengan sembilu buluh, lalu diobati dengan arang, kunyit dan lain-lainnya. Sebelum tali pusat itu dikerat, terlebih dahulu pangkal pusatnya diikat. Kalau laki-laki 7 (tujuh) ikatan, dan kalau perempuan 5 (lima) ikatan (sekarang sudah dilakukan dengan obat-obatan dan perlakuan medis tidak lagi menggunakan sembilu tapi dengan menggunakan gunting dan tidak lagi diobati dengan arang, kunyit dan lain-lain akan tetapi dibersihi dengan alkohol), kemudian barulah bayi tersebut dibersihkan (dimandikan). Telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Tamiang dan diyakini bahwa setiap perempuan melahirkan selalu akan datang gangguan berupa jembalang (hantu), untuk menangkal gangguan tersebut selain do’a-do’a yang dibacakan oleh tok imam juga dibuat syarat berupa lidi mergat (lidi bulu ijuk/aren/enau) yang digantungkan didalam rumah bagian atas dimana siibu dan bayi dibaringkan. Placenta (adi/uri) yang telah dipisahkan dari tali pusat dengan cara dikerat (dipotong), maka placenta (adi/uri) tersebut dimasukkan kedalam periuk tanah lalu ditanam (dikuburkan), jika


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 163 anak laki-laki ditanam dihalaman rumah dan dipasang api untuk menghindari dari binatang yang akan mengoreknya, ditanam dihalaman rumah karena anak laki-laki merupakan cerminan kepala rumah tangga, pahlawan dalam keluarga yang akan menjaga hartanya yang sangat pribadi yaitu keluarga maka ia harus berada didepan sedangkan anak perempuan placenta (adi/urinya) ditanam dibawah tangga rumah, ini merupakan cerminan tempat berlindung, perempuan merupakan makhluk yang harus dilindungi oleh laki-laki dalam segala aspek, baik lahir maupun batin, kesemua perlakuan tersebut bersempene kepada keberkahan dan ridha Allah subhana huwata’ala Setelah bayi dimandikan maka dibelahkan kelapa sempene (berkat) agar bayi tersebut tidak terkejut oleh petir (halilintar), selanjutnya ia disemburi (jemput semangat dengan membaca do’a oleh bidan) dan digunggumi (dibedung), lalu sibayi diserahkan kepada ayahnya atau orang alim untuk diazankan bila laki-laki dan di iqamatkan bila perempuan sebagai awal pengenalan tauhid setelah lahir kedunia sempene keberkatan mendapat petunjuk untuk menjadi anak yang shaleh dan shaleha, oleh karenanya yang melakukan azan atau iqamat haruslah orang yang taat beribadah, jika ayahnya tidak dalam cerminan tersebut maka dicari orang tua lain dari kalanagan keluarga baik kakek atau yang lainnya dan jika tidak ada barulah meminta pertolongan tok imam untuk melakukannya agar anak kelak dapat juga menjadi anak yang ta’at. Setelah semua selesai bayi diserahkan kepada salah seorang familinya yang terkemuka (yang terpandang terutama dalam segi agama), proses ini dinamakan nyambut untuk nyecapi budak. 2.2. Nyecapi Budak; budak (anak itu dicecapi dengan madu lebah). Setelah selesai proses melahirkan anak sampai diserahkan kepada salah seorang keluarga, lalu diambil sebentuk cincin suasa


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 164 dan dicelup (dioleskan) kedalam madu lebah, kemudian cincin suasa tersebut di cecapkan pada bibir bayi dengan terlebih dahulu mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” dan diseduakan (satu – due – tige – empat – lime – enam – tuuujoh), manis-manis lidahmu, pandjang umomu, murah rejekimu, taat dan beriman dalam hidupmu serta terpandang didalam kaummu, madu itu lalu diisap oleh sibayi dengan nikmat karena rasanya yang manis. Perlakuan ini sebagai sempene kebaikan dalam bertutur kata dan berperilaku layak manisnya madu lebah (jika tak ada madu maka diganti dengan gula). “temuni bayi” (adinya/placenta) yang oleh bidan ditanamkan dihalaman rumah bagi laki-laki dan dibawah tangga bagi perempuan setiap malam dihidupkan api sampai 40 hari. Setelah selesai nyecapi, bayi dibaringkan diatas dalung (dulang) yang telah dihiasi seperlunya, cincin suasa yang dipergunakan untuk nyecapi sibayi, dipulangkan (diserahkan) sementara kepada bidan yang nantinya setelah habis iddah berdapur (bedapo) 44 (empat puluh empat) hari akan ditebus cincin tersebut dari bidan (diambil kembali dengan memberi uang) proses ini dinamakan “lapik ngerat tali pusat” (alas memotong tali pusat). Tali pusat yang berputar linan ditanam ditengah halaman serta yang berbenang serat (seperti spiral) ditanam dikiri naik (tangga naik). Dan bila anak itu laki-laki maka dapat ditandai pada bekas penanaman temuni dibuatkan empat patok sedangkan pada anak perempuan dibuatkan tiga patok, pada anak yang sewaktu dilahirkan berselendang tali pusat (terbelit tali pusat dibahunya) maka anak tersebut ditepung tawari guna sempene keberkahan dan keselamatan, kadangkala ada pula bayi yang dilahirkan bersarung yang menutupi kepalanya, suatu kepercayaan pula


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 165 ditengah-tengah masyarakat bahwa sarung tersebut dapat dijadikan obat kuat dan kebal bagi anak tersebut (setelah diolah terlebih dahulu kemudian dimakankan kepada sibayi). Bukan saja pada posisi anak yang sungsang yaitu kakinya kebagian bawah pintu keluar akan tetapi pada kondisi anak terbelit tali pusatpun, akan sangat susah sewaktu proses melahirkan terkadang harus dilakukan lewat operasi, namun pada zaman dahulu dikampungkampung yang belum tersentuh medis hal ini dilakukan dengan ikhtiar “air selusuh”, yaitu air yang dijampi (dibacakan do’a ayat alqur’an) oleh orang alim lalu diminumkan kepada perempuan hamil yang sedang menghadapi proses melahirkan yang sulit, selain itu juga daun sirih yang telah dijampi ditempelkan diatas perut yang mau melahirkan, dengan izin Allah proses kelahiran bayi berjalan normal. Hal ini akan sulit diterima akal dan ilmu medis pada pola fikir sekarang ini akan tetapi pada kenyataannya semua terbukti seperti yang diharapakan, tidak ada yang mustahil atas kekuasaan Allah. Dalong (dulang) sebagai tempat pembaringan bayi dialasi dengan “sengore” (kain dijahit bulat seperti dalong yang disekelilingnya dibuat berumbai dengan manik-manik) ditaburi dengan beras sebanyak seare (satu are = 2 liter sama dengan satu bambu) diatasnya dikembangkan (lipatan-lipatan kain panjang) dan kain sarung sebanyak 7 (tujuh) lapis dan terakhir dialasi pula dengan kain sutera halus, barulah bayi dibaringkan diatasnya. Setelah 5 (lima) atau sampai 7 (tujuh) hari biasanya pusat sibayi akan tanggal (titik/lepas dari badannya), maka pada pada saat seperti ini beras lapik dalong tersebut dimasak dan dikendurikan. Selama sebelum tanggal pusat sibayi, mak bidan setiap hari datang memandikan bayi dan memberikan obat-obatan seperlunya agar pusat sibayi tidak terinfeksi. Pekerjaan mak bidan tidak saja pada proses melahirkan dan memandikan, akan tetapi


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 166 juga mencuci kain dan kotoran darah bekas alas siibu yang melahirkan juga menjadi bagian dari pekerjaan mak bidan oleh karenanya ucapan terima kasih diluar biaya nebus bidan bagi orang yang mampu ia akan memberi lebih kepada mak bidan meskipun dulu biaya melahirkan tidak ditarifkan (tidak ditentukan besar jumlahnya). 2.3. Masa Bedapo; adalah masa dimana seorang perempuan melahirkan sampai habis masa nifasnya yaitu sampai 44 hari, ia melakukan tindakan-tindakan untuk merawat diri seperti bersalai (mengasapkan diri), ini dilakukan dengan membakar batu besar (batu kali besar), setelah batu tersebut benar-benar panas perempuan yang baru melahirkan duduk dilantai lalu diselimuti dengan kain berlapis-lapis sampai tebal bersama dengan batu panas, kemudian batu panas tersebut disirami dengan air sehingga terjadi penguapan didalam selimut tebal tersebut yang dapat mengeluarkan keringat, keringat yang keluar adalah keringat kotor sehingga otot-otot dan kulit dapat meregang kembali seperti sedia kala. Tahap berikutnya selesai mandi dengan bedak dan berbagai ramuan yang dipakaikan lalu memakai kemban diperut dan dibekung (dalam Bahasa Tamiang setagen) sekuat mungkin agar perut tetap mengecil yang pada lapisan dalam sudah disusun daun sirih kemudian diikat dengan gurita barulah dikemban dengan setagen, seterusnya berbaring ditempat tidur dan batu kali tersebut dipanaskan kembali, setelah panas diletakan diatas perut selama beberapa saat (± 30 menit) guna untuk mengembalikan otot perut seperti semula, oleh karenanya perempuan zaman dahulu sampai 10 orang anaknyapun perutnya tidak pernah membesar (molor) dan tetap langsing, tahapan inilah yang disebut dengan masa “bedapo” (masa berdapur atau bediang) kondisi ini dilakukan diruang dapur selama 44 hari dan selama itu


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 167 perawatannya didalam tangan bidan (tanggung jawab bidan), ibu yang berada pada masa bedapo tidak boleh melakukan aktifitas sampai masa 44 hari hingga semua otot yang bekerja keras pada saat proses melahirkan dapat Kembali lagi seperti sedia kala dan selama masa bedapô orang tersebut tidak dibenarkan melanggar pantang pemali bedapô, misalnya memakan makanan yang berbisa dan gatal serta bekerja berat. 2.4. Mupus; adalah membesuk perempuan yang sedang bersalin atau melahirkan, Sejak dua atau tiga hari sesudah bersalin, sudah pula merupakan resam adat, bahwa siwanita bersalin itu mendapat kunjungan dari para wanita-wanita keluarga dekat dan jauh, terutama terlebih dahulu adalah kunjungan ibu mertuanya yang membawakan pulut kuning dalam balai lengkap dengan bunga merawal yang berisi telur ayam/telur itik rebus dalam sarang yang dijalin, diatas pulut kuning dalam balai tersebut diletakkan kue rasidah atau cenerut (seperti apam berwana cokelat bulat tipis yang dibuat dari tepung ketan) dan seperangkat bahan tepung tawar. Sudah menjadi adat bahwa anak pertama (cucu pertama bagi orang tua perempuan) anak perempuan harus melahirkan dirumah ibunya dan ini merupakan tanggung jawab ibunya (sekarang meski sianak telah pindah dirumah sendiri, Ketika melahirkan maka ibu siperempuan harus menunggunya sampai selesai masa bedapô), jika hal ini diabaikan maka akan menimbulkan fitnah dan akan dianggap bahwa simenantu (suami anaknya) telah berselisih faham dengan mertuanya (orang tua isterinya) sehingga ia tidak mau menunggui anaknya yang sedang melahirkan. Pada saat mupus yang datang membesuk melakukan tepung tawar terhadap yang bersalin sekaligus dengan bayi (cucunya) dan keduanya disunting pulut kuning, siibu juga


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 168 disulangi pulut kuning yang dibawa tersebut, dan diberi hadiah sehelai kain Panjang (kain sabɛ). Kunjungan membawa pulut kuning atau nasi lada dalam balai serta hadiah yang dilakukan silih berganti oleh kedua belah pihak sampai habis masa berdapur yaitu selama 44 hari disebut dengan “Mupus” dan ini biasanya hanya pada anak pertama saja, namun demiakian terkadang anak selanjutnyapun dilakukan mupus oleh keluarga. Jika balai yang dibawa berisi nasi lada maka pulut kuning tetap dibawa bersamaan dengan perangkat tepung tawar secukupnya. 3. Turun Tanah dan basoh Tangan Bidan. Sesudah masa bedapô habis selama 44 hari maka disediakanlah upacara kenduri mencukur rambut bayi (manjang ke rambut budak artinya selesai dicukur maka akan tumbuh rambut yang baru dialam dunia, jika rambut si bayi pada saat dilahirkan sangat lebat/tebal maka 7 hari setelah melahirkan dilakukan mencukur rambut, akan tetapi jika rambutnya tipis dan sedikit maka dilakukan ketika mengayunkan anak), rambut hasil cukuran jika anak laki-laki dimasukkan kedalam kelapa muda yang telah dilubangi dengan bentuk bertutup lalu ditanam beserta dengan kelapa tumbuh, tapi jika anak perempuan rambutnya ditanam dalam umbi pisang. Dalam kebiasaan resam adat di Tamiang upacara turun tanah (turon dapô) diadakan kenduri yang disertai marhaban sambil mengayun budak serta memberi nama (menabalkan nama) budak. Pertama sekali budak dihiasi dan dibaringkan kedalam ayunan yang telah dihiasi serba indah dan digantungkan ditengah-tengah ruang serta dikelilingi oleh para anggota marhaban. Sewaktu marhaban dimulai bayi tersebut diayun dan setelah anggota marhaban berdiri bayi diangkat dari ayunan oleh salah seorang keluarganya yang ditunjuk oleh orang tua sibayi, lalu diampu diatas kelece (kain alas


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 169 tilam yang bersulam) beralaskan tikar cio bertekat, berapis dan didampingi oleh seorang pengapik dengan membawa dalong atau talam berisikan; 1. Pulut Kuning. 2. Perangkatan tepung tawar. 3. Kelapa muda (mumbang) yang ditebok (diukir) dan kelapa tumbuh 4. Pisau lipat. 5. Gunting 6. Kelaci/kacip) pinang Sibayi tadi dibawa berkeliling menemui satu persatu para anggota marhaban yang dimulai dari muka tuan guru marhaban dengan berhenti sebentar, ketika mana didalam suasana marhaban sibayi ditepung tawari oleh tuan guru marhaban kemudian menggunting rambutnya sedikit dan guntingan rambut tersebtu dimasukan kedalam kelapa bertebok tadi yang telah tersedia didalam talam. Demikanlah upacara penepung tawaran dan menggunting rambut bayi tersebut dilakukan berkeliling setelah berganti dikalangan anggota marhaban untuk menepung tawari dan menggunting rambutnya. Kemudian terakhir sibayi oleh pengampunya diserahkan kepada bidan untuk menyelesaikan pencukuran rambut. Sementara bidan menyelesaikan pencukuran dihalaman rumah telah disediakan “tempat bersiram” yang dihiasi dengan bentuk “panca persada” dengan segala perlengkapannya, dalong berisi tepung tawar, bedak langir dan air mandi yang kesemua tempatnya dihiasi menurut hukum peradatan dan sesuai menurut tingkatannya. Rambut sibayi yang telah dicukur ditimbangkan sama berat dengan uang emas ataupun uang perak dan kemudian uang terebut diserahkan ataupun disedekahkan kepada orang yang patut-patut. Antara tangga menuju tempat bersiram telah siap sedia anggota silat pelintau untuk


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 170 mengadakan silat penyambutan /penghormatan (rebas tebang). Tepung tawar sewaktu turun tahan/mengayun anak Setelah siap sibayi dicukur oleh mak bidan, ia segera digendong oleh orang yang telah ditentukan dan sipenggendongpun harus dihiasi seperlunya. Bila anak yang turun tanah itu laki-laki maka yang menggendongnya adalah laki-laki, demikian pula sebaliknya jika yang turun tanah adalah anak perempuan maka yang menggendongnya adalah perempuan dan dipayungi dengan payung berwarna kuning yang melambangkan turunan orang baik. (turun tanah ialah pada saat usia anak 44 hari maka sianak sudah harus dicecahkan kakinya kebumi /tanah sebagai pertanda anak tersebut sudah boleh dibawa keluar rumah) dan awal menginjak bumi dengan mengucapkan selawat nabi dan do’a-do’a lainnya sempena keselamatan, turun tanah memberi sempene kepada keselamatan bagi bayi atau dapat terlindung dari segala gangguan yang menyebabkan kesehatan bayi akan sering terganggu. Selanjutnya bayi yang digendong berjalan dibelakang bidan diiringkan oleh keluarga dan orang banyak berjalan menuju pintu


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 171 depan. Dipintu depan telah siap pula menanti tukang payung dengan payung siap terkembang dan sibayi dipayungi menuju tempat bersiram, dalam suasana silat rebas tebang dan bunyi-bunyian (gong – gendang – bangsi dan biola). Marhaban mengayun anak Sewaktu turun tangga sibidan menyiramkan abu kekiri dan kekanan sebagai isyarat membuang penyakit. Ditempat bersiram sibayi ditepung tawari beserta dengan orang tuanya, selesai tepung tawar bayi barulah dimandikan yang didahului dengan membelah kelapa yang dialasi pada siraman pertama dengan nasi kulah (nasi yang dibungkus dengan daun pisang) dan disambut sipenggendong bayi. Setelah selesai bersiram anak tersebut didukung kembali lalu dibawa naik kerumah. Dimuka pintu anak tersebut telah dinantikan oleh keluarganya dengan beras padi, ditaburkan menyambut anak naik dengan mengucapkan “seRampak seRimbun, betuah bebahagie, bebuku bemate, becabang beperdu, baik pinte makbul doé, jauh bale, hidup subo panjang umo, selamat…selamat… kuuuRRRR


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 172 semangat, (satu naungan yang teduh, bertuah berbahagia, berbuku bernata, bercabang berperdu, baik pinta nmakbul do’a, jauh bala / mara bahaya, hidup sehat Panjang umur selamat…selamat kuur semangat) silakan naik sewaktu memasuki ruang sipenggendong menyampaikan ucapan salam (assalamualaikum) dengah iringan kata "kami pulang aman sibayi”. Menabalkan nama anak Budak terus dibawa ketengah ruang yang telah dihiasi lalu diriba (dipangku dalam riba/duduk bersila dan meletakkan anak diatas sila = namanya riba) oleh keluarganya, dan datanglah imam menseduekan nama (menabalkan nama) untuk anak tersebut yang telah dipilihkan oeh orang tuanya, dengan do’a menabal nama; َك ْي َس َّمْيتُ ِ ْي اََلَز ِل اِن ِ ِه ِف َس َّما َك هللاُ ب ِ َما َك ب ْي َس َّمْيتُ ِ ي اِن ُّ ِ َها ال َّصب ُّ يَا اَي َك َر َك هللاُ لَ ).....( بَا Yaa ayyuhash shabiyyu, innii sammaituka bimaa sammaakallaahu bihii fii lazali. Innii sammaituka (sebut namanya). baarakallaahu laka.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 173 Wahai anak laki-laki, aku akan memberikanmu nama dengan nama yang telah Allah berikan padamu di alam azali. Aku memberimu nama.. (sebut nama yang hendak diberikan). Semoga Allah memberikan keberkahan padamu. (untuk laki-laki) ك ك )..... بَا َر َك هللاُ لَ ْي َس َّم ْيتُ ْي اََلَز ل ا ن ه ف َما َس َّما ك هللاُ ب ك ب ْي َس َّم ْيتُ ا ن يَّةُ يَا اَيُّ َها ال َّصب Yaa ayyuhash shabiyyah, innii sammaituki bimaa sammaakillaahu bihii fii lazali. Innii sammaituki (…). baarakallaahu laki Wahai anak perempuan, aku akan memberikanmu nama dengan nama yang telah Allah berikan padamu di alam azali. Aku memberimu nama.. (sebut nama yang hendak diberikan). Semoga Allah memberikan keberkahan padamu. (untuk anak perempuan) Setelah menabalkan nama tok imam berdoa َمالَهُ ِ َما يُ ْر ِضْي َك اَ َوب َطا َعتِ َك اِ ْشتِغَالَهُ ِ ْل ب َر ًكا لَهُ َفا ْجعَ َ ُمبَا َِل ْسم ْ ْل َهذَا ا ُهَّم ا ْجعَ َّ اَلل َو َجالَهُ َحا ِت اَ ِال َّصاِل ْم ب َوا ْختِ َهادَهُ ِم َك اِ ْجتِ ْ ِب ِعل َطلَ ِ ب . ْج َسا َدهُ ِفى ِص َّح ة َو اَل َعاِفيَ ِة ُهَّم َطِّو ْل ُع ْمَرهُ ِفى َطا َعتِ َك َو َطا َعة َر ُسْوِل َك َو َص ِّح ْح اَ َّ ل ِن اَْنبِيَائِ َك اِلَى يَ ْوِم َما َمانَهُ َكِاْي ْت اِ ْي ِ َوثَبّ ِت ِكبَ ِرِه هُ َز ِعْي ًماِفى َوقْ ْ ل ُهَّم ا ْجعَ َّ َم ة. اَلل َو َسالَ ُهَّم ا ْر َّ َو َعن ال َّشِّر الِّدْين. اَلل ْربَهُ ِر قُ ًخْي ل ْ َر ًكا َجِمْي ًال َواِلَى ا ِبًا ُمبَا ا َحالَالً َطيّ ِر ْزقً ُزقْهُ ال َّرا ِحِمْي َن َ ْر َحم اَْبعَ َدهُ يَا اَ - Allahummaj’al haadzal isma mubaarakan lahuu faj’al bithaa ’atika isytighaa lahuu wa bimaa yur dhiika amaa lahuu wa bithalabi ‘ilmika ijtihaadahuu wakhtim bish-shaalihaati ajaalahuu. - Allahumma thawwil ‘umrahuu fii thaa’atika wa thaa’ati rasuulika wa shahhih ajsaadahuu fii shihhatin wa ‘aafiyatin wa salamah - Allahummaj’alhu za’iiman fi waqti kibarihii wa tsabbit iimaanahuu kaiimaani anbiyaa-ika ilaa yawmiddiin. Allahummarzuqhu rizqan halaalan thayyiban mubaarakan jamiilan wa ilal khairi qurbahuu wa ‘anisy-syarri ab’adahuu yaa arhamar raahimiin. - Ya Allah, jadikanlah nama ini berkah baginya, dan jadikanlah taat kepada-Mu merupakan pekerjaannya, dan perkara yang Engkau


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 174 ridhai adalah cita-citanya, menuntut ilmu menjadi perjuangannya, dan akhirilah hidupnya dengan amalan saleh. - Ya Allah, panjangkanlah umurnya dalam ketaatan kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Jadikanlah badannya dalam keadaan sehat afiat serta sejahtera. - Ya Allah, jadikanlah dia pemimpin di waktu besarnya dan tetapkanlah imannya seperti iman para nabi-Mu hingga hari kiamat. Ya Allah, berikanlah rezeki yang halal lagi baik dan berkah, dan bagus. - Dekatkanlah dia dengan perkara-perkara yang baik, dan jauhkanlah dia dari perkara-perkara yang buruk lagi jahat. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. Biasanya waktu untuk menurun mandikan anak tersebut ialah pada waktu matahari sedang naik dan rambut yang telah dicukur tadi bila anak perempuan dimasukan dalam umbi pisang susu dan setelah pisang itu ditanamkan kembali dan pisang itu berbuah, buahnya disedekahkan. Dan bila anak laki-laki ditanamkan bersama-sama kelapa yang tumbuh. Setelah para hadirin dalam upacara kenduri diberi makan semuanya maka selesailah sudah acara tersebut. Sesudah para tamu pulang, maka bidan membuang abu dapur tempat berdiang sekalian alat-alat lainnya dipindahkan yang berarti masa berdapur telah selesai dan berakhir, maka siwanita yang bersalin tadi dimandikan dan dilangiri pula, demikian juga seluruh rumah ditepung tawari. Akhirnya sibidan oleh siibu dan ibu mertua yang bersalin (melahirkan) didudukan diatas tikar cio, lalu ditepung tawari oleh kedua ibu yang bersalin tadi dan dibasuhkan tangannya dengan air limau purut. Seterusnya pada bidan dimintakan izin dan maaf atas jerih payah dan bantuannya serta diserahkan pula; 1. Pakaian sesalin .


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 175 2. Uang sedikit-dikitnya 2 ringgit (disesuaikan dengan nilai uang sekarang). 3. Uang lapik tali pusat penebus cincin suasa alat penyecap yang masih dipegangnya sejumlah setali. 4. Beras se are/satu bambu (sekumpik) 5. Padi segantang (2 bambu). 6. Pulut kuning dan ayam panggang serta seekor ayam hidup. Mengayun anak Inilah yang dinamakan membasuh tangan bidan. Perlakuan ini merupakan kemuliaan atas balas jasa terhadap pekerjaan mak bidan yang telah membersihkan kotoran orang yang melahirkan serta merawatnya hingga selesai masa bediang (lepas dapo), dengan demikian selesailah kewajiban kedua belah pihak sepanjang pengertian nempah dan basuh tangan bidan.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 176 C. PEREMPUAN MANDUL Yang dimaksud dengan perempuan mandul adalah perempuan yang telah menikah tapi tidak dapat memiliki anak (hamil) baik disebabkan oleh sesuatu penyakit maupun faktor keturunan. 1. Faktor penyakit Faktor penyakit dapat menyebabkan perempuan tidak dapat hamil, hal ini terkadang tidak diketahui sebelumnya dan sudah bersuami gejala ini akan tampak, hal seperti ini jarang dipersoalkan dalam rumah tangga karena ini merupakan takdir, tidak ada siapapun yang menghendaki kehidupan yang tidak normal, tapi ketika takdir yang menentukan mereka harus menerimanya, meskipun berlaku ketentuan adat lain tentang persoalan tersebut. Jika sebelum bertunangan telah diketahui penyakitnya biasanya diberi kesempatan untuk berobat, adakalanya pertunangan tidak dilanjutkan dan ada juga ketika cinta telah tumbuh mekar tak ada satu penghalangpun untuk menolaknya maka semua proses berjalan normal. 2. Faktor Keturunan Faktor keturunan jarang terjadi pembatalan pertunangan karena hal ini sangat tersembunyi, karena dianggap tidak mutlak, maka persoalan ini sering muncul setelah berumah tangga dalam waktu sampai 5 tahun, maka akan berlaku ketentuan adat yang telah berlaku dalam masyarakat. Pada faktor keturunan ini sulit untuk diprediksi karena orang tuanya sendiripun memiliki anak, keberadaan kemampuan menghasilkan anak, susah untuk dideteksi secara nyata karena dalam keadaan nyata segala tampak normal. Begitulah kekuasaan Allah yang telah mengatur segala perjalanan kehidupan manusia. Pada zaman dahulu telah menjadi tradisi dikalangan masyarakat Suku Perkauman Tamiang, secara adat jika seorang perempuan yang


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 177 dikawini tidak mendapat anak (mandul) dalam jangka waktu 5 (lima) tahun lamanya, maka lelaki itu berhak kawin lain, ataupun dikawinkan lain oleh orang tuanya dan kaumnya ataupun mertuanya (orang tua siisteri) dengan tidak menceraikan isteri pertamanya yang mandul tersebut. Bagi Masyarakat Tamiang isteri yang mandul itu dianggap kurang bahagia dan disebut dengan istilah “mpuan kengal” (perempuan yang tak beruntung / perempuan sial). Perempuan yang tak dapat beranak ini tidak ada “hak apa-apa” untuk melarang suaminya berkawin lain, ia hanya dapat menuntut (meminta) “hak madu” dan “hak baik”. Oleh karena itu justru terkadang orang tua siisteri yang terlebih dahulu menyuruh menantunya untuk mencari isteri lain, sebab hal demikian (perempuan mandul) juga merupakan aib bagi keluarganya. Lain hal sebaliknya bagi laki-laki mandul perempuan tidak berhak meminta cerai karena perceraian juga merupakan aib bagi keluarga meskipun secara syariat talak (cerai) merupakan perbuatan halal tapi dibenci Allah. Bila ini terjadi pada laki-laki maka berlaku hukum adopsi atau mengangkat anak dan biasanya diambil dari anak saudara baik dari saudara isteri maupun saudara suami, hal ini untuk memberi kepercayaan kelak ketika mereka sudah tua ada yang mengurusnya demikian juga dalam hal mengelola harta mereka sewaktu mereka masih hidup. Berdasarkan hukum islam sebagaimana yang dituangkan dalam Alqur’an surat Annisa ayat 3 dibenarkan berkawin hingga sampai 4 orang isteri, jika ada kesanggupan dan mampu berbuat dengan adil, bukan kawin hanya menurutkan hawa nafsu ini terlarang dalam islam. Untuk tidak terjerumus pada perbuatan zina dibenarkan berkawin 4 dan jika ada perempuan yang melarang suaminya berkawin lebih dari seorang, dan karena suaminya kawin lagi ia minta cerai, maka ini dianggap perempuan tersebut telah bertentangan dengan hukum islam, dan dianggap perempuan itu bukan pengikut Rasulullah, demikianlah tradisi yang dipegang pada zaman dahulu.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 178 Jika suami melakukan perkawinan lagi dengan perempuan lain maka Sebelum itu ia harus menyatakan kepada isteri tua bahwa ia telah kawin lain dan sisuami harus menyerahkan ½ bagian uang kawin isteri muda kepada isteri tua yang disebut “hak madu” (yaitu ½ dari nilai yang diberikan kepada isteri muda sebagai uang kawin atau mahar), selanjutnya suami harus dapat membujuk isteri tuanya itu untuk mau berdamai dengan isteri muda, maka suami harus memberi atau menyerahkan sejumlah ¼ bagian uang kawinnya yang disebut “duit baik” (uang Perdamaian), lalu isteri muda itu dibawa kerumah perempuan tua dan disana disalamkan (berjabat tangan) tanda berdamai dengan membuat hidangan makan-makan. Sehabis makan-makan bersama lalu pulanglah isteri muda itu kerumahnya kembali. Dalam kebiasaan masyarakat suku perkauman Tamiang “pantang pemali” (tidak boleh) isteri pertama dengan isteri kedua ditempatkan satu rumah bersama-sama, tetapi harus satu perempuan satu rumah, dua perempuan dua rumah, dan seterusnya, demikianlah ketentuan yang telah berlaku. Menurut qanun dalam Adat Tamiang, laki-laki yang sudah pernah kawin tidak lagi boleh kawin resmi dengan gadis-gadis, meskipun lakilaki itu masih muda. Kalau seorang laki yang sudah pernah kawin, lalu mengawini seorang gadis maka lelaki itu wajib pula membayar “duit timbal” (hak sepadan) artinja “uang sebaya” ataupun “uang cacat badan” kepada gadis itu selain/diluar uang antarannya (mahar). Ketentuan yang dimaksud dalam qanun adat Tamiang tersebut adalah gadis harus dikawinkan dengan perjaka, lelaki balu (laki-laki yang pisah/bercerai hidup atau mati dengan isterinya) ataupun yang telah beristeri harus kawin dengan wanita janda, sebagimana telah diatur dalam qanun (peradaban) itu, seperti yang tertuang dalam kate tuhe’ “Kawen ngan sepadan, bekawan ngan ndak nutup malu, jangan bebbedak bepupor lalu kebagan, bekawan ngan situmpo hari-hari kedapatan”.


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 179 Artinya; kawin dengan yang sepadan, berteman dengan yang mau menutup malu, jangan bersolek (berdandan) pergi ke WC, berteman dengan pemboros setiap hari ketahuan. Makna dari kate tuhe tersebut lakukan sesuatu yang pantas dan sesuai menurut kaedahnya, oleh karena kebiasaan yang berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakat Tamiang telah diatur sesuai dengan tahapantahapan dalam proses adat perkawinan dan cara serta jenis perkawinan, agar tidak terjadi hal-hal kemungkinan yang dapat menimbulkan konflik, meskipun penyelsaiannya sudah diatur menurut qanuan adat yang telah berlaku


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 180 BAB VI MASA KANAK-KANAK A. MASA TANDANG Ketika upacara turun tanah bayi atau setelah hari turun mandi bayi, pada waktu sore hari selepas waktu zuhur bayi tersebut dibawakan (ditandangkan) oleh neneknya kerumah keluarga atau jiran tetangga terdekat (kaom selingka) yang terletak disebelah bagian hulu (sebelah barat) rumah mereka, kemudian oleh keluarga yang ditandangi atau dikunjungi menyambut bayi yang datang dengan resam mencicipi, jika anak laki-laki dicicipi dengan garam, dan jika anak perempuan dicicipi dengan gula atau madu lebah bersempene rasi kepada kelembutan cakap dan tata kerama bersopan santun jika kelak telah dewasa . Sewaktu anak itu hendak dibawa pulang, ibu rumah yang ditandangi (dikunjungi) haruslah memberikan hadiah (namanya cemetok) kepada anak tersebut berupa uang (kalau tidak ada uang boleh juga sebutir telur ayam), kalau ini juga tidak ada haruslah diambilkan rambu atap lalu digenggamkan ketangan anak itu dengan mengucapkan sempena kata “nen lah yang ade, janganlah ko serapei (sumpahi/kutuki) andong atau makcik dan lain-lain do’e andong/makcik dan lain-lain menyerteimu” Menurut kepercayaan di Tamiang dalam hal menandangkan bayi mula pertamanya haruslah kearah hulu (kebarat) dari rumahnya kemudian seterusnya barulah boleh ditandangkan kearah-arah yang lain setidak-tidaknya sampai bayi berusia enam bulan. Setiap rumah yang mendapat tandangan (kunjungan) bayi, sewaktu pulangnya haruslah dihadiahi (digenggamkan) kedalam tangannya, jangan sampai ia pulang kosong takut anak tersebut berputus asa, karena keyakinan orang-orang Tamiang bahwa anak itu selalu disertai oleh malaikat. Sinenek adalah orang yang pertama kali menandangi bayi


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 181 (membawa bayi berkunjung) kerumah jiran tetangga untuk dicicipi garam atau gula/madu, kemudian setelah itu biasanya nenek bersama anak dan anak menantunya silih berganti mengunjungi rumah-rumah keluarga dan jiran terdekat lainnya, ini sempene kasih sayang dalam kepedulian sesame sanak saudara dan jiran tetangga. B. NYERAH KE NGAJI 1. Mengantar anak mengaji Mengaji pada anak suku Tamiang diusia pertumbuhan adalah belajar membaca Alquran yang dimulai dari juz amma, adalah menjadi suatu kewaiban bagi orang Tamiang apabila sianak telah tahu malu kira-kira berumur 6 atau 7 tahun belum diserahkan mengaji pada tok imam kampong/menasah. Syarat-syarat nyerah ke ngaji (menyerahkan anak kependidikan agama Islam ) pada zaman dahulu, sepanjang resam adat di Tamiang haruslah disediakan: 1. Pulut kuning + ayam panggang + pisang raja sesikat+ telur ayam rebus sebutir. 2. Beretih sepinggan. 3. Rotan sage sepanjang ± 1 hasta, separuh ujungnya dibelah tujuh, pangkalnya ditajami. 4. Surat Juz amma beserta rehalnya. 5. Sirih secorong. 2. Mengkhatam Juz Amma Setelah sianak khatam surat juz Amma, maka seterusnya Sianak harus pindah kaji, naik membaca Quran, dikalam indah kaji ini orang tua sianak kembali membawa: 1. Pulut kuning +panggang ayam. 2. Bereteh satu pinggan. 3. Telur ayam rebus. 4. Pisang raja sesikat. 5. Sirih secorong.


Muntasir bin Wan Diman Adat Perkawinan 182 3. Mengkhatamkan alquran Setelah mengaji alquran Quran telah selesai, selanjutnya sianak akan dikhatamkan secara resmi menurut resam qanun peradaban orang Tamiang. Adapun persediaan untuk khatam alquran yang disiapkan /disediakn oleh orang tua anak adalah; 1. Balai pulut beserta ayam panggang. 2. Hiasan balai serba putih. 3. Telur ayam rebus sedikitnya 20 buah. 4. Kain putih sekabung (panjangnya setinggi diri). 5. Sirih setepak. 6. Pisau sebilah. 7. Pakaian sesalin (bagi yang mampu). 8. Sedekah beberapa ikhlas. 9. Beras banar sesumpik (beras ± 1bambu/2 liter). 10. Padi segantang (2 bambu). 11. Tepung Tawar selengkapnya Orang yang akan menepung tawari anak dalam acara khatam quran adalah orang tua sianak, kemudian tok imam/tuan guru yang mengajar anak tersebut. Setelah selesai melakukan tepung tawar selanjutnya orang tua sianak bersalaman dengan tuan guru/ tok imam, sambil meminta izin atas susah payahnya tuan guru yang mengajarkan anaknya untuk pandai membaca alquran. Setelah saling izin mengizinkan maka orang tua sianak menyerahkan segala apa yang dibawanya pada guru tersebut , kemudian sianak menyembah atau mencium tangan dan lutut gurunya (menyembah). Bagi orang tua sianak yang mampu, waktu khatam quran anaknya diadakan dirumahnya sendiri dengan mengadakan kenduri sesuai dengan kemampuannya seraya mengundang orang patut - patut dalam kampong, dalam upacara tersebut diadakan tempat duduk yang khas dihiasi terutama untuk


Adat Perkawinan Muntasir bin Wan Diman 183 tempat duduk guru, orang-orang alim diundang duduk bersama-sama guru untuk mengkhatamkan kaji al quran sianak dimaksud. 4. Mengkhitankan sianak. Apabila sianak telah sampai umurnya yang pantas (aqil baligh) untuk dikhitankan maka setelah mufakat kedua ibu bapaknya, ayah sianak suami isteri membawa sirih secorong menghadap datuk Penghulu kampung tempat tinggalnya, untuk menyatakan hajat hendak kenduri mengkhitankan anaknya. Datuk menyatakan agar ia lebih dahulu pergi meminang Mudin (orang yang mengkhitan, sekarang mantri kesehatan /tenaga medis atau para medis), atas persetujuan datuk maka ayah sianak pergi meminang tuan mudin dengan membawa sirih secorong, setelah yang berkepentingan menyampaikan hajatnya kepada tuan mudin, tuan mudinpun menentukan hari dan tanggal berapa ianya berkesempatan. Selanjutnya ayah sianak bermufakat dengan isterinya dan sanak keluarganya tentang besar kecilnya upacara kenduri khitan dimaksud diadakan (biasanya bila yang mampu hampir sama dengan pesta perkawinan). Hal ini dilaporkan kembali kepada datuk, Datuk memerintahkan petua-petua (kepala dusun dan perangkat lainnya) didalam kampung untuk mengumpulkan orang-orang kampung membantu yang berkepentingan menyiapkan tempat-tempat peralatan dan lain-lain sebagainya yang didahului dengan duduk pakat (nyeraye persiapan peradatan). Duduk pakat di Tamiang dilakukan dengan “duduk setikar” (musyawarah) yang dipimpin oleh datuk Penghulu Kampung. Lazim dalam kenduri upara khitan itu, malamnya diadakan malam “serapal enam”, kadang-kadang disudahi dengan khatam kaji Al quran untuk anak yang akan dikhitankan, dalam suasana “serapal enam” bergema, anak yang akan dikhitan ditepung tawari oleh ibu bapanya dan keluarganya dan gurunya beserta keluarganya yang akrab (tujuh, sembilan atau sebelas orang).


Click to View FlipBook Version