The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berjudul khazanah ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor Kabupaten Malaka. Bidang utama kajian ini adalah ekolinguistik yang mengungkap ke-batar-an. Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan sebuah karya penting di dalam disiplin ilmu Ekolinguistik. Selain karena karya ini menyajikan sebuah model kajian ekolinguistik yang penting dan berguna. Buku ini menyajikan model analisis koleksikon ke-batar-an orang Malaka berdasarkan perspektif ekolinguistik

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG, 2023-10-02 23:14:29

KHAZANAH EKOLEKSIKON KE-BATAR-AN

Buku ini berjudul khazanah ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor Kabupaten Malaka. Bidang utama kajian ini adalah ekolinguistik yang mengungkap ke-batar-an. Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan sebuah karya penting di dalam disiplin ilmu Ekolinguistik. Selain karena karya ini menyajikan sebuah model kajian ekolinguistik yang penting dan berguna. Buku ini menyajikan model analisis koleksikon ke-batar-an orang Malaka berdasarkan perspektif ekolinguistik

Keywords: Maria Nahak

1


i KHAZANAH EKOLEKSIKON KE-BATAR-AN ORANG TIMOR Buku ini kupersembahkan kepadaAnakku tercinta “Barbara Viola Gracia Tianeza Bouk”


ii KHAZANAH EKOLEKSIKON KE-BATAR-AN Orang Timor Penulis Dr. Maria Magdalena Namok Nahak, S.Pd.,M.Hum. ISBN 978-623-6032-86-2 Editor : Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes. Penyunting: Muh Nur Fajrin Yunus Desain Sampul dan Tata Letak Muh Yunus Nabbi Penerbit: Percetakan CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG Redaksi : Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo BTN Indira Residence Blok E No. 10 Sungguminasa Kab. Gowa No. HP: 085256649684 Email : [email protected] Distributor Tunggal Percetakan CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo BTN Indira Residence Blok E No. 10 Sungguminasa Kab. Gowa No. HP: 081937538693/ WA: 085290480054 http//cahayabintangcemerlang.com Anggota UMKM Nomor : 04933-0615-20 Anggota IKAPI Nomor : 027/SSL/2020 Cetakan Pertama, Juli 2023 Hak cipta dilindungi Undang-undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara Apapun tanpa ijin tertulis dari Penerbit.


iii HASRAT PENULIS Buku ini berjudul khazanah ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor Kabupaten Malaka. Bidang utama kajian ini adalah ekolinguistik yang mengungkap ke-batar-an. Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan sebuah karya penting di dalam disiplin ilmu Ekolinguistik. Selain karena karya ini menyajikan sebuah model kajian ekolinguistik yang penting dan berguna. Buku ini menyajikan model analisis koleksikon ke-batar-an orang Malaka berdasarkan perspektif ekolinguistik. Melalui kajian lapangan (field research), buku ini mengungkap empat pokok penelitian, yaitu: (1) bentuk dan kategori lingual teks ke-batar-an; (2) perubahan dinamis khazanah leksikon, ungkapan metaforis, pemali, dan mitos antargenerasi sebagai representasi perubahan ekologi kebahasaan dalam teks kebatar-an; (3) ideologi dan nilai-nilai yang terkandung di dalam teks ke-batar-an; dan (4) faktor-faktor pemengaruh dinamika khazanah leksikon teks ke-batar-an. Sumbangan penting buku ini adalah mendemonstrasikan sebuah model kajian dialektik dengan mengungkap aspek-aspek kebahasaan yang berkaitan dengan dimensi biologis, sosiologis, dan ideologis teks-teks dari sebuah komunitas budaya tertentu, yaitu guyub tutur Tetun Fehan di Kabupaten Malaka, Timor, Nusa Tenggara Timur. Kajian seperti ini akan memberikan sumbangan yang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan linguistik, khususnya ekolinguistik dengan parameter ekologi, keberagaman, interaksi, interelasi, dan interdependensi. Karena itu, buku ini menjadi salah satu rintisan penting bagi studi ekolinguistik di Indonesia yang bermanfaat di dalam mengungkap makna-makna filosofis dan kekayaan kultural kelompok etnis tertentu. Inilah tanggungjawab keilmuan bidang kajian ekolinguistik. Pada kesempatan yang berahmat ini, penulis persembahkan ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa, para arwah lelehur Usi Lorokida dan Usi Lebonaruk karena atas kekuatan, berkenan menyertai penulis, sehingga buku ini dapat diselesaikan dengan baik. Buku yang berjudul “Khazanah Ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor”merupakan salah satu keterlibatan langsung penulis dalam mengembangkan bidang kelinguistikan sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya, dan kajian ekolinguistik pada khususnya. Penulisan buku ini dapat diselesaikan berkat bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah penulis melalui kesempatan ini menyatakan rasa syukur dan terima kasih yang tulus, penghargaan, dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Drs. I Wayan Simpen, M.Hum.,Prof. Dr. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A., dan Prof. Dr. Made Sri Satyawati, S.S.,M.Hum., yang telah meluangkan waktu dan mengerahkan pikiran dalam arahan, petunjuk tiada hentinya, serta dorongan dengan ketenangan hati sehingga penulis dapat menyelesaikan buku ini dengan baik. Semoga kebajikan dan perbuatan baik beliau bertiga dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan imbalan yang layak. Ucapan terima kasih yang seiklas-iklasnya penulis haturkan kepada yang terhormat Prof.Dr. Made Budiarsa., M.A; Prof. Dr. I Ketut Darma Laksana., M.Hum; Prof Dr. Aron


iv Meko Mbete; Dr. Ana Agung Putu Putra, M.Hum; Dr.Nuzwaty.,M.Hum;yang telah memberikan masukan, koreksi, dan kritik yang berguna sehingga penulis mempunyai pandangan yang luas untuk menyelesaikan buku ini. Terima kasih tak terhingga kepada Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum, dosen pada Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta yang telah banyakmenyumbangkan pikiran sekaligus sebagai penyemangat untuk terus menulis . Semoga Tuhan dapat membalas semua kebaikannya. Karya ini didukung oleh banyak pihak yang sudah disebutkan di atas. Akan tetapi, segala kelemahan, kekurangan, dan kesalahan yang masih terdapat di dalamnya merupakan tanggung jawab saya semata-mata.Semoga buku ini bermanfaat. Maria M. Namok Nahak


v SAMBUTAN Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum. Saya menyambut baik penerbitan hasil penelitian Saudara Maria Magdalena Namok Nahak, di tengah kerisauan, kegalauan, dan kekhawatiran akan keterdesakan, keterpnggiran, dan kepunahan bahasa etnik, yaitu bahasa Tetun Fehan. Bahasa Tetun Fehan adalah bahasa etnis yang ada di Kabupaten Malaka, Timor, Nusa Tenggara Timur. Sejak dulu, bahasa ini telah menjadi refresentasi penuturnya dalam semua bidang kehidupan. Namun, seiring berjalannya waktu bahasa ini telah mengalami keterdesakan, keterpinggiran, dan keterancaman kepunahan akibat derasnya modernisasi. Saudara Maria Magd. Namok Nahak, seorang akademisi, yang sekaligus penutur asli bahasa Tetun Fehan tergerak dan terpanggil untuk melakukan penelitian. Tujuannya hanyalah untuk membuktikan, apakah benar sinyalemen itu. Penelitian dilakukan terhadaprelasi bahasa yang paling riil, yaitu lingkungan hidup bahasaitu. Seperti diketahui, bahwa bercocok tanam, terutama bercocok tanam jagung (dalam bahasa Tetun Fehan disebut batar) merupakan sumber kehidupan dan penghidupan bagi sebagian besar masyarakat Malaka. Oleh karena itu, melalui kajian Ekolinguistik, Saudara Maria Magda Namok Nahak membuktikan bahwa keterancaman terhadap bahasa Tetun Fehan, memang nyata adanya. Berdasarkan data dan fakta emperis yang direfresentasikan melalui teks ritual ke-batar-an, tersingkap bahwa bahasa Tetun Fehan telah mengalami gradasi dalam segala aspek kebahasaan. Hal itu, ditandai dengan banyaknya lesikal, gramatikal, ungkapan, dan metafora yang tidak dikenal, dipahami, dan diakrabi oleh sebagian besar penutur bahasa Tetun Fehan. Hal itu, terjadi karena tidak adanya sistem pewarisan adat, budaya, dan bahasa Tetun Fehansecara masiv. Sinyalemen akan punahnya suatu bahasa, terutama bahasa Tetun Fehan jangan sampai terbukti atau terjadi karena kematian ataukepunahan suatu bahasa akan diikuti oleh punahnya suatu budaya (baca: peradaban). Hal ini, sesuai dengan yang dikemukakan oelh Fisman (1991), bahwa ”The road to sociatal death is paved by language activity that is not focused on intergenerational continuity” ‘Jalan menuju lenyapnya suatu peradaban (kebudayaan) dipercepat oleh menurunnya atau tidak terfokusnya penggunaan bahasa antargenerasi.’ Bagi masyarakat Malaka, khususnya guyub tutur bahasa Tetun Fehan tentu tidak berharap kehilangan peradaban yang sudah diwarisi secara turun-temurun. Oleh karena itu, hasil penelitian MariaMagd. Namok Nahak patut dicermati karena indikasi ke arah itu sudah tampak. Hal ini, dibuktikan dengan adanya kesenjangan pengetahuan ke-batar-an antargenerasi yang sangat mencolok. Tingkat pengetahuan ke-batar-an didominasi kelompok usia tua,yaitu 85 %, disusul kelompok pemuda 65 %, dan usia remaja 45%.


vi Sebaran persentase ini, membuktikan bahwa yang mengenal, memahami, dan mengakrabi leksikon ke-batar-an terkonsentrasi pada kelompok usia tua. Artinya, beberapa puluh tahun ke depan penutur yang menguasai leksikon itu akan berangsur menyusut, dan akhirnya punah. Mati hidupnya suatu peradaban atau bahasa, bukanlah tanggung jawab mutlak para akademisi atau linguis. Peneliti hanyalah menemukan dan menunjukkan fakta kebahasaan yang sesungguhnya.Selanjutnya, terserah penutur bahasa itu sendiri. Akan tetapi, hasil penelitian Saudara Maria Magda. Namok Nahak sedikitnya berfungsi sebagai rekaman, bahwa budaya ke-batar-an yang adi luhung itu pernah ada dalam masyarakat guyub turur Tetun Fehan . Semoga!


vii PROLOG EKOLINGUISTIK DAN TANGGUNGJAWAB KEILMUANNYA Yoseph Yapi Taum Pada awalnya, ekologi adalah sebuah cabang ilmu biologi yang mempelajari interaksi antarmakhluk hidup atau kelompok makhluk hidup (organisme) dengan dengan lingkungannya. Istilah ini diperkenalkan oleh ahi biologi Jerman Ernst Heinrich Philipp AugustHaeckel (1866). Secara etimologis, ekologi berasal dari Bahasa Yunani, yakni oikos (rumah atau habitat) dan logos (ilmu pengetahuan). Jadi ekologi ialah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari rumah atau habitat. Jika diurutkan, ruang lingkup ekologi meliputi individu atau organisme, populasi, komunitas, ekosistem dan biosfer. Kerusakan lingkungan yang mengancam kehidupan semua makhluk hidup membuat ilmu ekologi memasuki hampir semua bidang ilmu dan menarik perhatian hampir semua ilmuwan. Momentumnya terjadi 1962, ketika harian The New Yorker menerbitkan serial tulisan dari buku Silent Spring karya Rachel 1Dr. Yoseph Yapi Taum, dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma,Yogyakarta Carson. Buku ini menyuarakan ketertindasan alam dari kaum kapitalis yang mengeksploitasi alam. Terutama berkenaan penggunaan pestisida berlebihan yang untuk membasmi hama di Amerika.Penggunaan pestisida berakibat kerusakan ekosistem dan hancurnya ekologi. Banyak burung didapati mati atau menghilang, mata rantai ekosistem terputus, dan manusia sendiri terdampak kanker. Buku itu selanjutnya memberikan pengaruh besar terhadap regulasi di Amerika. Beberapa negara bagian kemudian melarang penggunaan bahan kimia tertentu untuk melindungi alam dari kehancuran. Sepuluh tahun kemudian sebuah peristiwa eksploitasi alam kembali menggugak kepedulian manusia atas pentingnya kelestarian alam. Di tahun 1972, di Colorado, AS, sebuah perusahaan bermaksud kembali membabat hutan untuk dijadikan Resort. Kali ini muncul tokoh bernama Profesor Christopher D. Stone --seorang ahli hukum- yang menentang eksploitasi alam itu. Alam seolah mengucapkan keinginannya melalui Stone. Bagaimana caranya agar suara alam terdengar oleh hakim di pengadilan? Stone menulis artikel, “Should Trees Have Standing? Law, Morality, and the Envoronment” (1972). Apakah pohon memiliki hak untuk pergi ke pengadilan dan membeladirinya before the law bahwa dia tidak ingin ditebang? Ini adalah sebuah fenomena baru yang ajaib dan mengejutkankarena pada waktu itu pohon bukan subjek hukum. Pohon tidak memiliki hak untuk membela dirinya. Tradisi hukum kita bersifat antroposentris. “Barangsiapa --adalah manusia, bukan tumbuhan. Orang: dewasa, laki-laki. Perlu ada saksi. Saksi/alat bukti minimal dua. Unus testis nullus testis.” (Satu testis bukan saksi). Tulisan Stone mengejutkan banyak orang. Diskusi hukum panjang lebar hingga memunculkan teori: Legal Standing ---sebagai dasar hukum lingkungan. Legal standing adalah keadaan di mana seseorang atau suatu pihak dikatakan


viii memenuhi syarat dan oleh karena itu mempunyai hak untuk mengajukan permohonan penyelesaian perselisihan atau sengketa atau perkara di depan Mahkamah Konstitusi. Pertanyaannya, apakah pohon mempunyai legal standing? Muncullah teori perwalian. Pohon mempunyai hak hukum melalui pengampunya/walinya. Teori perwalian digunakan di dalam sitem hukum. Pohon memiliki wali/ampu komunitas pengampu hutan, masyarakat adat. Pohon tidak mempunyai “testis” kesaksian. Sejak saat itu muncullah hak etis lingkungan di dalam konsep etika kepedualian (ethics of care). Langit memiliki hak untuk jernih. Laut memiliki hak untuk biru. Pohon memiliki hak untuk tidak ditebang. Burung memiliki hak untuk bersarang di atas pohon. Inilahnew kind of ethics yangmenghadirkan egalitarianisme baru. Dasar teorinya keadilan lingkungkungan (environmental justice). Ethics of care menghadirkan sebuah konsep baru tentang justice (bukan distribusi hak, ethics of rights)…. keadilan adalah ethics of care. Di tahun 1992, di Amerika kemudian berdiri sebuah lembagayang bergerak pada literasi lingkungan, Association for the Study of Literature and Environment (ASLE). Cheryll Glotfelty dan Michael P Branch adalah tokoh pertama dan utamanya. ASLE kemudian mempromosikan setiap karya baik humaniora, sastra, seni, dan lainnya yang mengangkat isu lingkungan hidup. Kelebihan dan keunggulan sastra ialah memiliki potensi yang ampuh dalam menyadarkan hati nurani manusia sejagat, tanpa harus bernada menggurui atau propaganda yang terlalu bombastis. Gerakanini juga kemudian mempromosikan sastra hijau di dunia. Sebuah gerakan sadar lingkungan yang disuarakan melalui sastra hijau atau environment literature. Melalui ekokritisisme, sebuah metode kritis yang menelisik sastra dan lingkungan, kemudian mencoba merangsang tumbuhnya minat para pengarang untuk peduli terhadaplingkungan hidup melalui karya mereka. Ekolinguistik dan Ekoleksikon Gambaran di atas memperlihatkan perkembangan teori etika lingkungan, yang dimulai dari model etika yang dangkal (shallow environmental ethics) yang bersifat antroposentrisme, medium (intermediate environmental ethics) yang bersifat biosentrisme (abad ke-20), dan mode etika yang mendalam (deep environmental ethics) yang bersifat ekosentrisme (dimuali awal tahun 1960-an). Ekolinguistik termasuk salah satu bidang kajian mendalam yangberkaitan dengan etika lingkungan. Kajian interdisipliner yang mengkaitkan ekologi dan linguistik diawali pada tahun 1970-an ketika Einar Haugen (1972) menciptakan paradigma ‘ekologi bahasa.’ Dalam pandangan Haugen, ekologi bahasa adalah kajian tentang interaksi bahasa dan lingkungannya. Haugen menggunakan konsep lingkungan bahasa secara metaforis, yakni lingkungan sebagai masyarakat pengguna bahasa, sebagai salah satu kode bahasa. Bahasa berada dalam pikiran penuturnya, dan oleh karenanya bahasa hanya berfungsi apabila digunakan untuk menghubungkan antarpenutur, dan menghubungkan penutur dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial ataupun lingkungan alam. Dengan demikian, ekologi bahasa ditentukan oleh orang-orang yang mempelajari, menggunakan, dan menyampaikan bahasa tersebut kepada orang lain (Haugen, 2001:57). Dua dekade setelah diciptakannya paradigma ‘ekologi bahasa’ muncullah istilah ekolinguistik ketika Halliday (1990) pada konferensi AILA memaparkan elemenelemen


ix dalam sistem bahasa yang dianggap ekologis (holistic system) dan tidak ekologis (fragmented system). Berbeda dengan Haugen, Halliday menggunakan konsep ekologi dalam pengertian nonmetaforis, yakni ekologi sebagai lingkungan biologis. Bagi Halliday, sistem bahasa berpengaruh pada perilaku penggunanya dalam mengelola lingkungan. Bahasa dan lingkungan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Perubahan bahasa, baik di bidang leksikon maupun gramatika, tidak dapat dilepaskan dari perubahan lingkungan alam dan sosial (kultural) masyarakatnya. Kajian terhadap hubungan dialektika antara bahasa dan lingkungannya telah melahirkan topik-topik penelitian dibawah payung ekolinguistik, dan sejak saat itu pula cakupan aplikasi konsepekologi dalam linguistik berkembang dengan pesat, baik di bidang pragmatik, analisis wacana, linguistik antropologi, linguistik teoretis, pengajaran bahasa, dan berbagai cabang linguistik lainnya. Ekolinguistik memandang bahwa alam adalah subjek yang memiliki nilai pada dirinya sendiri dan untuk dirinya sendiri. Alam bukan objek, sumber daya, alat, atau sarana pemenuhan kepentingan, kebutuhan, dan tujuan manusia. Jika manusia mengambil sesuatu darialam, dia harus ijin terlebih dahulu dan berkewajiban menggantikannya. Alam semesta harus diperlakukan secara etis, karena alam dan manusia adalah komunitas moral. Alam semesta, tmbuhan, maupun hewan mempunyai hak hidup. Ekolinguistik bahkan memperluas etika lingkungannya ke seluruh sistem ekologi, baik yang hidup (biotik) maupun yang tak hidup (abiotik). Sumbangan penting buku ini adalah mendemonstrasikan sebuah model kajian dialektik dengan mengungkap aspek-aspek kebahasaan yang berkaitan dengan dimensi biologis, sosiologis. Kajian seperti ini akan memberikan sumbangan yang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan linguistik, khususnya ekolinguistik dengan parameter ekologi, keberagaman, interaksi, interelasi, dan interdependensi dalam komunitas guyub tutur Malaka, Timor NTT. Yogyakarta, 25 Juli 2021


x EPILOG Drs. Anton Berkanis, M.Hum. Mengangkat kembali mutiara yang terpendam. Tulisan Dr. Maria Magd. Namok Nahak, S.Pd.,M.Hum tentang “Jagung” atau istilah malaka lazim disebut “Batar” telah mengangkat kembali yang terpendam. Tulisan doktor maria tentang Jagung ini boleh disebut karya kreatif penelitian dari pendekatan Linguistik. Ini sesuatu hal yang unik karena masalah Jagung bukan merupakan obyek kajian linguistik inilah yang saya sebut karya kreatif yang didekati dari sudut kajian Linguistik, bahkan dari orang awam malah terkaget-kagetternyata Jagung bisa didekati dari sudut studi Linguistik. Ini memangbenar semua orang tahu bahwa obyek studi Linguistik adalah strukturInternal Bahasa. Dari aspek budaya tulisan doktor Maria itu dapat diapresiasi sebagai sumbangsihnya bagi Revitalisasi budaya tanam jagung yang akhir-akhir ini terpendam. Padahal sudut budaya jagungterkait erat dengan budaya misalnya budaya Hamis Batar. Jika jagung sudah musim tuai, belum bisa dimakan sembarang kalau belum ada “Hamis Batar”. Hamis batar adalah satu momen budaya, dimana pada musimmakan jagung setiap anggota sesuku akan wajib masing-masing membawa bulir jagung dari kebunnya untuk dikumpulkan bersama ke dalam rumah adat untuk dimasak bersama lalu ramai-ramai dikonsumsi oleh setiap anggota suku tanpa membeda-bedakan umur. Hamis batar hanya dihadiri oleh anggota inti dari suku yang bersangkutan. Sebelum “Hamis Batar” jagung tidak bisa dikonsumsi sembarang “ini terkait dengan budaya pemali”. Setelah hamis batar yang berpusat internal suku disamping itu ada budaya tebe-tebe atau pesta jagung muda yang acaranya sungguh meriah melibatkan setiap anggota suku dari seluruh perkampungan. Acara tebe-tebe disebut acara perang jagung muda. Orang saling melempar dengan jagung, lalu diakhir pesta tarian budaya yangberlangsung kurang lebig 3 hari siang dan malam. Selanjutnya makan jagung muda bersama di rumah yang jadi rumah adat. Budaya tebe- tebe itu sangat kental dengan budaya relisiasi dari budaya mistik. Budaya tebe-tebe dilakukan 3 tahun sekali sesuai dengan konsensus suku-suku. Sebagai akhir kata, saya boleh berkata tulisan kata pengantarini sangat sederhana sebagai upaya mengapresiasi hasil karya kreatifpenelitian Dr. Maria Namok Nahak, S.Pd., M.Hum. dari saya adalah tidak berlebihan kalau saya katakan sosok ibu Dr. Maria Magd. Namok Nahak, S.Pd., M.Hum. patut dibanggakan sebagai orangpekerja keras tekun untuk terus belajar dan maju. Hal ini bisa terbacamelalui tulisan beliau dalam publikasi bukunya ini. Saya merasa bangga memperoleh kehormatan tertinggi dari seorang yunior yang saya cintai, dan saya banggakan. Kalau boleh saya ungkapkan disini bahwa saya mengenal Dr. Maria Namok Nahak, S.Pd., M.Hum. sejak menjadi mahasiswa program (S1) Pendidikan Bahasa Indonesia (FKIP) di Universitas Timor-Timur Dili. Selain sebagai sesama Dosen Senior dan Yunior Universitas Timor (Kefa), dalam kehidupan bersama sesama Dosen.


xi Bagi saya Dr. Maria Magd. Namok Nahak, S.Pd., M.Hum. seorang yang patut dibanggakan sebab beliau pekerja keras tekun dan ulet dalam hal soal belajar untuk berkembang dan terlebih di bidang pendidikan Tinggi umumnya terutama di bidang studi ilmu linguistik.Hal ini terbukti melalui bukunya yang memuat hasil studi tentang Jagung/ Batar. Tulisan Dr. Maria Namok Nahak, S.Pd., M.Hum. ini tidak hanya turut meramaikan pelbagai studi-studi linguistik atau memperkaya khasanah studi linguistik melainkan sebagai upaya mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara terutama membangun kembali Budaya Tanah Leluhur dengan karya-karyaberikutnya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa Memberkati pengabdian kitabersama untuk setia pada panggilan kita bersama sebagai sesama akademisi. Selain daripada itu, tulisan Dr. Maria Magd. Namok Nahak, S.Pd., M.Hum. ini mengingatkan kita orang Rai Malaka/ Orang Timor umumnya untuk terus menerus mulai menggalakan budaya tanam jagung sebagai sarana turut serta melestarikan budaya hamis batar dan budaya tebe-tebe. Semoga... Kamanasa, Jumat 9 Juli 2021 Drs. Antonius Berkanis, M.Hum.


xii DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL .....................................................................................................i HALAMAN REDAKSI PENERBIT ................................................................................ii HASRAT PENULIS ..........................................................................................................iii SAMBUTAN PROMOTOR..............................................................................................v PROLOG...........................................................................................................................vii EPILOG ............................................................................................................................x DAFTAR ISI.....................................................................................................................xii LAMBANG DAN SINGKATAN ....................................................................................xv BAB I EKOLINGUISTIK SEBAGAI LIFE SCIENCE...............................................1 A. Bahasan sebagai ilmu ......................................................................................1 B. Prinsip Dasar dan Sejarah Linguistik...............................................................3 C. Munculnya Ekolinguistik: Prinsip Dasar dan Sejarahnya ................................5 D. Teori dan Metode dalam Kajian Ekolinguistik ................................................5 E. Metode Ekolinguistik, dan Pemanfaatannya ....................................................12 F. Manfaat Ekolinguistik sebagai Life Science ....................................................13 BAB II KAJIAN EKOLINGUISTIK GUYUB TUTUR TETUN FEHAN...............16 A. Sejarah Tetun Fehan di Kabupaten Malaka .....................................................16 B. Susunan Strafikasi Masyarakat Malaka ...........................................................18 C. Letak Geografi, Kondisi Topografis, dan Ekologi Orang Malaka....................19 D. Budaya dan Ritual Pertanian batar ’jagung’ ....................................................21 E. Wilayah Penutur Bahasa Tetun........................................................................34 F. Peranan dan Kedudukan Bahasa Tetun Fehan .................................................35 G. Ekologi Alamiah orang Malaka .......................................................................36 H. Kekayaan Leksikon Pertanian Ke-batar-an......................................................37 I. Ekoleksikon Pertanian batar ‘jagung’ dalam Teks Ke-batar-an GTTF ............38 BAB III CIRI DAN KATEGORI LINGUAL TEKS KE-BATAR-AN.......................40 A. Ciri Fonologi ...................................................................................................40 B. Ciri Suprasegmental ........................................................................................42 Asonansi ..................................................................................................43 Aliterasi....................................................................................................46 C. Ciri Morfologi....................................................................................................47 D. Nomina ..............................................................................................................49 E. Nomina ..............................................................................................................55


xiii BAB IV DINAMIKA PEMAHAMAN LEKSIKON, UNGKAPAN METAFORIS, PEMALI, DAN MITOS TEKS KE-BATAR-AN...........................................75 A. Pemahaman Ekologi Ke-batar-an GTTF ............................................................75 B. Tingkat Pemahaman Leksikon Bagian–Bagian Ke-batar-an ..............................82 C. Pengetahuan Leksikon Verba Ke-batar-an .........................................................114 D. Pemahaman Leksikon Adjektiva Ke-batar-an ....................................................125 E. Tingkat Pemahaman MetaforaAntargenerasi GTTF...........................................136 F. Tingkat Pemahaman Badu ‘Pemali’ Antargenerasi GTTF .................................140 G. Tingkat Pemahaman Mitos ke-batar-an Antargenerasi GTTF............................145 H. Bei Lafaek/Bei Nai.............................................................................................149 I. Mitos Mendatangkan Hujan ...............................................................................152 J. Kecenderungan dan Daya Tahan Leksikon Pertanian Teks Ke-batar-an ............154 K. Kesenjangan Pengetahuan dan Pewarisan Leksikon ke-batar-an Antargenerasi.154 BAB V IDEOLOGI, DAN MAKNA TEKS RITUAL KE-BATAR-AN 156 A. Pengertian ...........................................................................................................156 BAB VI FAKTOR-FAKTOR PEMENGARUH PENYUSUTAN LEKSIKON RITUAL DANPRAKTIK BUDAYA DALAM TEKS KE-BATAR-AN....168 A. Faktor Persepsi Guyub Tutur Tetun Fehan Tentang batar ‘jagung’ .................169 B. Sistem Kepercayaan ........................................................................................169 C. Faktor Kebahasaan ..........................................................................................170 D. Faktor Penutur Bahasa Tetun Fehan ................................................................171 E. Kesenjangan Pewarisan Antargenerasi ............................................................172 F. Keaktifan Guyub Tutur....................................................................................173 G. Faktor Perubahan Ekologi (Lingkungan Fisik .................................................174 H. Faktor Sosiologis Teks Ke-batar-an.................................................................174 I. Faktor Biologis Teks ke-batar-an.....................................................................176 J. Faktor Ekologis ...............................................................................................176 K. Ekologi Ritual Teks Ke-batar-an .....................................................................177 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................180 LAMPIRAN-LAMPIRAN................................................................................................190


xiv DAFTAR LAMBANGDAN SINGKATAN SINGKATAN BT : Bahasa Tetun BD : Bahasa Daerah BL : Bahasa Latin BTF : Bahasa Tetun Fehan GTTF : Guyub Tutur Tetun FehanTF : Tetun Fehan EM : Etnis Malaka N : Nomina V : Verba Adj : Adjektiva NUM : Numeralia KONJ : Konjungsi Ket : Keterangan Asp : Aspek Pr : Pronomina Pre : Preposisi T : Terhitung Tt : Tak terhitung Pref : Prefiks Suf : Sufiks Art : Artikel 1T : Pertama tunggal 3T : Ketiga tunggal 1J : Pertama jamak 3J : Ketiga jamak LAMBANG ‘….’ : Makna → : menjadi { } : pengapit morfem [ ] : pengapit fonetis / / : pengapit fonem + : memiliki ciri - : tidak memiliki ciri


1 Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur BAB I EKOLINGUISTIK SEBAGAI LIFE SCIENCE A. Bahasa sebagai Ilmu Linguistik adalah ilmu tentang bahasa, sebuah ilmu yang mengkaji, menelaah atau mempelajari bahasa secara umum. Bahasa sebagai objek kajian linguistik adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa memiliki ciri atau sifat sebagai berikut: (1) bahasa adalah sebuah sistem, (2) bahasa itu berwujud lambang, (3) bahasa itu bunyi, (4) bahasa itu bermakna, (5) bahasa itu arbitrer, (6) bahasa itu konvensional, (7) bahasa itu produktif, (8) bahasa itu unik disampinguniversal, (9) bahasa itu dinamis, (10) bahasa itu manusiawi, dan (11)bahasa itu sangat bervariasi. Sebagai ilmu bahasa, linguistik telah mengalami tahap-tahap perkembangan seperti ilmu lainnya.Tahap perkembangan yang dimaksud itu meliputi tiga tahap, yakni: tahap spekulasi, tahap observasi, serta tahap perumusan teori (Lihat Chaer,2013).1 Pada tahap pertama: tahap spekulasi, perkembangan ilmu bahasa bersifat spekulatif, terutama cara pengambilan kesimpulan mengenai bahasa, tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur ilmiah tertentu.Dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia ini diturunkan dari bahasa Ibrani.Orang juga mengira Adam dan Hawa memakai bahasa Ibrani di taman Firdaus. Suku Dayak Iban di Kalimantan mempunyailegenda yang menyatakan bahwa pada zaman dulu manusia hanya memiliki satu bahasa; tetapi karena mereka keracunan cendawan mereka jadi berbicara dalam berbagai bahasa, sehingga timbul kekacauan dan manusia berpencar ke segala penjuru arah ke mana- mana. Bahkan sampai abad ke-17 seorang filosof Swedia masihmenyatakan bahwa di Surga Tuhan berbicara dalam bahasa Swedia, Adam berbicara dalam bahasa Denmark, dan ular berbicara dalam bahasa Prancis. Semua ilmu bahasa ini hanyalah spekulasi yang pada zaman sekarang sukar diterima kebenarannya. Tahap kedua dinamakan ‘tahap observasi’ dan klasifikasi, yaitu tahap di mana para ahli bahasa mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Ilmu bahasa menjadi deskriptif belaka. Cara ini belum dapat dikatakan ilmiah sebab belumsampai pada tahap penarikan suatu teori. Pada saat ini cara kerja tahap kedua (observasi, deskripsi, klasifikasi) ini masih diperlukam bagi kepentingan dokumentasi kebahasaan khususnya di Indonesia, sebab masih banyak bahasa di Indonesia yang belum terdokumentasikan. Bahasa-bahasa di nusantara masih hperlu didaftarkan, ditelaah


2 ciri- cirinya, lalu dikelompokkan berdasarkan kesamaan ciri yang dimiliki bahasabahasa tersebut. Tahap seperti ini belum dapat dikatakan“ilmiah” sebab belum sampai pada penarikan suatu teori. Pada tahap ketiga ‘perumusan teori’ inilah ilmu bahasa berkembang sebagai sebuah sistem ilmu seperti disebutkan di atas. Ada sistem perumusan teori. Pada tahap ini ilmu linguistik berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan- pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesis-hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada. Disiplin ilmu linguistik sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah karena sudah mengalami ketigatahap di atas. Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksankan penelitiannya. Kajian ekolinguistik yang pada awal kemunculannya dinamakan sebagai kajian ekologi bahasa merupakan paradigma baru yang berkaitan dengan hubungan ekologi dan linguistik yang diprakarsai oleh Einar Haugen pada tahun 1970. Kajian ini menyandingkan kajian bahasa dengan kajian kajian ekologi yang dapat didefenisikan sebagai sebuah kajian atas interaksi antara bahasa-bahasa dengan lingkungannya atau lingkungan tempat keberadaan bahasa itu digunakan (Haugen, 1972:323). Bab ini membicarakan tentang eksistensi ekolinguistik sebagai bagian dari kajian linguistik yang secara khusus mengkaji keterhubungan antara bahasa manusia dan lingkungan ragawi ekologis yaitu lingkungan alam semesta ragawi, baik lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik. Betapa tidak, kesalingtergantungan, kesalinghubungan (interrelasi) dan interaksi antara manusia dengan lingkungan hidup di sekitarnya dalam keharmonisan yang memberi ruang kreasi simbolik manusia, telah menghasilkan kebudayaan, dan manusia menandainya dan merakamnya secara verbal pelbagai pengetahuan dan pemahaman manusia di lingkungan tertentu dengan lingkungannya. Untuk itu, dalam bab ini secara berturutturut akan dibahas 1) Prinsip Dasar dan Sejarah Linguistik, 2) Munculnya Ekolinguistik: prinsip Dasar dan Sejarahnya, 3) Teori dan Metode dalam Kajian Ekolinguistik, dan 4)Manfaat Ekolinguistik sebagai Life Science. 1Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta


3 B. Prinsip Dasar dan Sejarah Linguistik Kata linguistik dalam bahasa Indonesia merupakan unsur serapan dari bahasa asing. Dikatakan serapan karena istilah linguistik sekarang kita kenal berasal dari bahasa Latin. Dalam bahasa Latin terdapat kata lingua yang memiliki arti yaitu bahasa. Akan tetapi, penyerapan istilah linguistik ke dalam bahasa Indonesi tidak secara langsung dari bahasa Latin. Bangsa Yunani, sebagai penutur bahasa Latin, merupakan salah satu bangsa yang memiliki andil sangat besar pada pengembangan ilmu pengetahuan secara ilmiah. Filosof besar Yunani, seperti Ariestoteles, Socrates, dan Plato telah meletakkan prinsip-prinsip dasar ilmu. Oleh karena itu, banyak konsep dasar dalam berbagai bidang ilmu diungkapakan dalam bahasa Latin. Konsep-konsep dasar bidang ilmu itu tersebar ke berbagai penjuru dunia dan diadaptasi ke dalam berbagai bahasa, termasuk ke dalam bahasa Prancis. Pada tahun 1916, kumpulan materi kuliah Ferdinand de Saussure diterbitkan oleh para muridnya. Terbitan itu diberi judul Course de Linguistique Generale. Dalam buku yang ditulis dalam bahasa Prancis itu, konsep yang berhubungan dengan bahasa diungkapkan secara cermat dengan istilah yang berbeda-beda. Untukmewadahi konsep bahasa secara umum dalam bahasa Prancis digunakan istilah langage. Istilah langage digunakan untuk mewadahi keuniversalan bahasa. Untuk menyatakan bahasa tertentu (seperti bahasa Inggris, Prancis, Indonesia, Bali, dan lain-lain) digunakan istilah langue. Istilah langue digunakan untuk mewadahi konsep yangberkaitan dengan sistem abstrak atau gramatikal dalam bahasa- bahasa, dan untuk menggambarkan realisasi penggunaan bahasa secara natural diungkapkan dengan parole. Arnawa (2008) keterkaitan konsep langage, langue, dan parole tersebut di atas dapat dibagankan secara visual seperti berikutini. Bagan Model Keterkaitan Langage, Langue, dan Parole. Diadaptasi dari Arnawa, 2008 Langage Bahasa Universal Langue Abstrak pada bahasa tertentu Parole Realisasi Penggunaan Bahasa secara alamiah dalam tindak tutur


4 Hubungan langage, langue, dan parole secara verbal dapat dijelaskan bahwa ujaran penutur suatu bahasa (parole) merupakan realisasi dari sistem abstrak yang berlaku pada bahasa itu (langue). Sistem abstrak dalam suatu bahasa dapat berupa kaidah-kaidah gramatikal, yang mencakup kaidah fonologi, morfologi, dan sintaksis bahkan pada tataran yang lebih luas (seperti wacana) dan dapat pula berupa ‘kaidah pragmatika’ yang mengatur penggunaan bahasa secara sosial. Kaidah gramatikal mengatur struktur lahir bahasa secara internal sedangkan kaidah prgmatik mengatur realisasi penggunaan bahasa secara eksternal. Hanya ujaran yang sesuai dengan sistem abstrak suatu bahasa yang dapat digunakan dalam suatu tindak ujar. Sistem abstrak dalam suatu bahasa pada hakikatnyamerupakan pengejawantahan dari keuniversalan bahasa-bahasa alamiah. Semua bahasa di dunia terdiri dari unsur fonologi, morfologi, sintaksis, wacana, semantik, dan lain-lain. Lihat (Arnawa,2008). Dalam bahasa Prancis, ilmu yang mempelajari langage itu disebut linguistique. Istilah linguistik dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Inggris tersebut. Beberapa pakar memberikan definisi linguistik secara redaksional berbeda tetapi secara konseptualsama. Langacker (1973) mengatakan linguistics is the study of human language (linguistik adalah kajian tentang bahasa manusia); Lyons (1975) mengatakan linguistics may be defined as the scientific study of language (linguistik dapat didefinisikan sebagai kajian ilmiah tentang bahasa); Stork and Widdowson (1985) mengatakan linguistics is the study of language (linguistik adalah kajian tentang bahasa). Matthews (1997) mengatakan linguistics is the science of language or the the scientific study of language (linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau kajian ilmiah tentang bahasa). Harimurti (1993) mengatakan linguistik adalah ilmu tentang bahasa; penyelidikan bahasa secara ilmiah. Martinet (1987) mengatakan linguistik adalah telaah ilmiah mengenai bahasa manusia. Berdasarkan definisi-definisi pakar tersebut dapat disimpulkan bahwa linguistik adalah ilmu yang menelaahkeuniversalan bahasa atau telaah tentang azas-azas umum yang berlaku pada bahasa secara universal. Berangkat dari pandangan itu, linguistik atau bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia dan bahasa merupakan dua hal yang bersifat koeksistensial, yakni keduanya tidak dapat dipisahkan. Bahasa berfungsi untuk identifikasi diri, begitupun dengan Bahasa ada karena manusia menggunakanya dalam proses komunikasi sehari-hari. Linguistik juga diartikan sebagai salah satu ilmu yang mempelajari ilmu bahasa sebagai bagian dari ilmu kebudayaan dengan berdasarkan struktur bahasa itu sendiri. Selanjutnya Sapir (1949:162) menyatakan bahwa dunia realitas suatu masyarakat bahasa dibangun berdasarkan kebiasaan berbahasa mereka. Oleh sebab itu, setiap masyarakat bahasamemandang dunia realitas dengan caranya sendiri, sehingga parole sebagai ujaran-ujaran yang diproduksi oleh penutur dan yang didengar oleh mitra tutur, atau disebut performance oleh Chomsky berbeda dari suatu bahasa ke bahasa lainnya.


5 Mbete (2009) mengungkapkan bahwa bahasa tidak sebatas sebagai alat komunikasi. Bahasa mengandung visi budaya: merekam,memelihara, dan mewariskan konsep-konsep kolektif, nilai-nilai historis, filosofis, sosio-budaya, dan ekologis dari suatu masyarakat. Bahasa merupakan simbol dan unsur kebudayaan yang melekat padakehidupan manusia. Secara sosio-kultural, bahasa adalah komponen kebudayaan yang ada secara nyata dan secara langsung juga dapat membedakan komunitas etnik yang satu dengan komunitas etnik yanglain. C. Munculnya Ekolinguistik: Prinsip Dasar dan Sejarahnya Kajian ekolinguistik, pertama kali diperkenalkan oleh Einar Haugen dalam tulisannya yang bertajuk Ecology of Language tahun 1972. Haugen lebih memilih istilah ekologi bahasa (ecology of language) daripada istilah lain yang bertalian dengan kajian ini. Pemilihan istilah tersebut karena pencakupan yang luas di dalamnya, yakni para pakar bahasa dapat bekerja sama dengan pelbagai jenis ilmu sosial lainnya dalam memahami interaksi antarbahasa (Haugan dalam Fill & Mohlhausler, 2001:57) Pemilihan istilah ekologi bahasa oleh para pakar bahasa (Haugen, dkk) tersebut, selain untuk memahami interaksi antara bahasa, memahami interaksi lingkungan sosial budaya menjadi sangat penting. Di sisi nilai keberagaman bahasa, hak-hak kebahasaanperorangan, dan kelompok, kesadaran, dan sikap tentang budaya komunikasi terjalin damai. Dalam konteks ini, Haugen menggunakan konsep lingkungan bahasa sebagai metaforis, yakni lingkungan dipahami sebagai masyarakat pengguna bahasa, sebagai salah satu kode bahasa. Bahasa berada hanya dalam pikiran penuturnya, dan oleh karenanya bahasa hanya berfungsi apabila digunakan untuk menghubungkan antarpenutur, dan menghubungkan dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial ataupun lingkungan alam. Dengan demikian, ekologi bahasa ditentukan, ekologi bahasa ditentukan oleh orang-orang yang menyampaikan bahasa tersebut kepada orang lain (Haugen, 2001:57, dalam Subyanto, 1-2). Secara tradisional, ekolinguistik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu analisis wacana eko-kritis dan ekologi linguistik.Wacana eko-kritis tidak terbatas pada pengaplikasian analisis wacanaterhadap teks yang berkenaan dengan lingkungan dan pihak-pihak yang terlibat dalam lingkungan serta pengungkapan ideologi-ideologiyang mendasari teks tersebut, tetapi kajian ini menyertakan pula penganalisisan pelbagai macam wacana yang berdampak besar terhadap ekosistem D. Teori dan Metode dalam Kajian Ekolinguistik Berikut ini, sekilas tentang teori, metode dalam kajian ekolinguistik. Teori Ekolinguistik Sebagai ilmu tentang kehidupan atau sesuatu yang hidup, niscaya dimensi biologis dan ekologis menjadi syarat multak bagi kehidupan bahasa-bahasa. Hak hadir


6 dan hak hidup semua yang ada, termasuk hak hidup setiap bahasa (languages rights) di lingkungan tertentu, sempit atau luas negara-bangsa, semyuanya itu layak dijaga, dikembangkan, dan dilestarikan tanpa ada dominasi dan hegemonibangsa manapun. Hak hidup bahasa adalah perwujudan keberagamandi suatu lingkungan, luas ataupun sempit, besar ataupun kecil yang memang harus dihormati dan dilindungi. Lihat (Mbete, 2013:28-29). Secara teoretis pula perjalanan sejarah masyarakat etnik di pelbagai belahan bumi, secara khusus di Bumi Nusantara memiliki hubungan dengan lingkungan tempat leluhur mereka dan para ahli warisnya hidup berabatabat, dengan tradisi dan keetnikan yang unik, dan secara khusus berwujud bahasa verbal pula. Lingkungan alam lokal dan rincian pengetahuan tentang lingkungan dengan keanekaragaman hayatinya, apalagi telah dimanfaatkannya dari generasi ke generasi, jelas memengaruhi persepsi, kebeudayaan, peradaban, bahasabahasa, dan kosmologi masyarakat yang ada,. Semuanya itu sangat tergantung pada dinamika lingkungan yang saling “menghadirkan” demi keberlanjutan dan keterwarisannya, dalam perjalanan waktu (Skutnabb-Kangas & Phillipson, 2010). Demikian pula, sejumlah pustaka dapat dirujuk untuk membangun kerangka teoretik, dengan catatan penting bahwa rujukan-rujukan yang memang dari berkembang itu memerlukan upaya pengembangan sendiri. Namun, kita dapat menggunakan dan mendalami pustaka-pustaka ekolinguistik yang sudah mulai mengisi perkembangan kajian yang interdisipliner itu, termasuk artikel-artikel terkini yang diunduh dari internet. (1) Buku The Ecolinguistics Reader yang diterbit diedit oleh Alwin Fill and Peter Muhlsausler (2001) yang diperkaya dengan sejumlah tulisan pilihan di dalamnya (yang diseleksi dan disesuaikan dengan topik bahasan atau masalah yang dikaji)., (2) Buku Ana Vibeke Lindo dan Jeppe For Three Essaysfor The Symposium 30 Years of Language and Ecology in Graz December 2000, serta sejumlah artikel ekolinguistik yang telah diunduh, untuk disebutkan sebagai contoh, merupakan sumber penting. Dengan merujuk pada sumber-sumber yang antara lain disebutkan di atas, sejumlah konesep dasar landasan teoretis berikut ini sangat penting untuk digunakan. Ekolinguistik sebagai sebuah pendekatan, dalam hal ini pendekatan ekologi terhadap bahasa-bahasa yang hidup di suatu kawasan, pendekatan ekologi terhadap bahasa-bahasa mempertimbangkan jejaring hubungan yang kompleks antara lingkungan (environment) bahasa-bahasa yang hidup di lingkungan tersebut, dan dengan penutur-penuturnya. Lingkungan di sini dimaksudkan sebagai adanya kenyataan ragawi (fisik), biologis, dan lingkungan sosial (lihat Skutnabb-Kangas & Phillipson, 2007). Defenisi-defenisi tentang sebagai ilmu interdisipliner antara linguistik dan ekoligi, perlu dikemukakan terlebih dahulu. Sebagai batarsan pengertian yang dapat digunakan, defenisi Crystal (2008:161-162) berikut ini dapat digunakan. Ecolinguistics (n.) in linguistics, an emphasis- reflectiong ekolinguistik the notion of ecology in biological studies-in which the interaction between language and cultural environment is seen as central; also called the ecology of language,


7 ecological linguistics, and sometimes green linguistics, an ecolinguistics approach highlights the value of linguistic diversity in the word, the importance of individual and community linguistic rights, and the role of language attitudes, language awareness, language variety, and language change in fostering a culture of communicative peace. Di dalam pengertian tersebut, interaksi antara bahasa dan lingkungan budaya menjadi sangat penting di sisi nilai keberagaman bahasa, hak-hak kebahasaan perorangan dan kelompok, kesadaran, dan sikap tentang budaya komunikasi yang damai. Aspek teoretis dalam payung ekolinguistik, yang di dalam kajiannya terutama menjadikan teks atau wacana-wacana, selain leksikon-leksikon tentang lingkungan, perlu dikerangkai pula dengan konsep dan kerangka teori dialektika morfologi. Sehubungan dengan itu, teori interelasi antara dimensi-dimensi biologis, sosiologis, dan ideologis yang diajukan oleh Bundsgaard dan Steffensen (2000: 11- 14), sangat penting menopang kajian ekolinguistik. Dimensi adicita (ideology) bertautan dengan mental, kognisi, ideologis, dan sistem psikis individual-kolektiva kita sebagai warga guyub tutur; dimensi yang sosiologis berkaitan dengan cara-cara kita mengorganisasi dan mengelola interelasi untuk merawat kolektivitas antarindividu agar saling mengasihi, mengenali, memelihara, menyayangi, dan mengakrabi tetangga atau guyub etnik, atau tidak segolongan, dengan sesama yang tidak dikenal. Dimensi biologis berkaitan dengan kolektiva biologis, kebersamaan hadir dan hidup atau koeksistensi manusia dengan spiesies lainya (hewan-hewan, tetumbuhan, tanah, pasir bebatuan). Lebih jauh, ekolinguistik menyoroti pula sumberdaya manusia dan sumberdaya budaya, dan kaitannya dengan simbolisasi verbal,khususnya bahasa Tetun. Ini mencakup penggunaan berkas- berkas lingual (kata, teks) sebagai cermin (pemahaman) dan pengetahuan serta pengaruh tentang lingkungan sosial dan lingkungan alami termasuk penggunaan simbol-simbol bahasa dan budaya yang mencerminkan relasi simbolis verbal manusia dengan manusia dan manusia dengan alam di sekitarnya. Lingkungan bahasa dalam ekolinguistik meliputi lingkungan ragawi dan sosial (Sapir dalam Fill dan Muhlhausler, 2001:14). Jeppe Bundsgaard & Sune Stefensen(2000) tentang The Dialectics of Ecolinguistical Morphology or the Morfology of Dialectics. Arrtikel ekolinguistik ini membahas konsep tentang ekologi bahasa yang menjadi istilah payung yang mencakup keberagaman pendekatan teoretis (Fill, 1996). Dalam artikel ini, mereka menyarankan bahwa pengenalan dan pembahasan pendekatan yang berbeda terhadap konstitusi lingkungan bahasa adalah suatu hal yang penting untuk pemertahanan dan pengembangan ekolinguistik sebagai wadah yang ramah dan dialog yang demokratis. Menurut mereka, adalah suatu hal mendasar yang tidak demokratis untuk mengeluarkan kajian bahasa dari diskusi publik dengan mengklaim bahwa orang lain tahu-menahu tentang apa sebenarnya bahasa itu. Teori ekolinguistik didasari pada prinsip interaksi, interelasi dan interpendensi


8 keberagaman/kevariasiaan (diversity). Bentuk interaksi antara lingkungan fisik dan lingkungan sosial atau bahasa dan kebudayaan dapat dilihat pada level interelasi leksikon. Di sisi lain, bentuk keberagaman (diversity) dapat dilihat pada tatanan kebervariasian leksikon yang dihasilkan oleh suatu bahasa tersebut. Hal tersebut untuk melihat kebervariasiaan leksikon terjadi dalam pikiran manusia (human mind) dalam komunitas yang realitas, sistembahasa, ataupun interelasi antara pembicara. Menurut Muhlhursler (2006), kebervariasian terjadi karena faktor adaptasi terhadap lingkungan, sedangkan Glausiusz dalam Muhlhursler, (2001:6) menyatakan bahwa kebervariasian bahasa (leksikon) terjadi karena proses evolusi. Dalam konteks ini, dua parameter yang hendak dihubungkan adalah bahasa dan lingkungan. Tergantung pada perspektif yang digunakan, baik ekoiogi bahasa maupun bahasa ekologi. Kombinasi keduanya menghasilkan kajian ekolinguistik. Ekologi bahasa mempelajari dukungan pelbagai sistem bahasa yang diperlukan bagi kelangsungan makhluk hidup, seperti halnya dengan faktor-faktor yang memengaruhi kediaman (tempat) bahasa-bahasa dewasa ini. Ekologi merupakan ilmu yang berhubungan dengan mahkluk hidup dan lingkungannya, sedangkan ekolinguistik merupakan hubungan antara bahasa dan lingkungannya. Ekologi bahasa dapat dideflnisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi bahasa dan lingkungannya. Haugen (dalam Filldan Muhlhausler, 2001:57) menyebut komponen-komponen utama dalam ekolinguistik, yang Pertama, adalah aspek psikologis, yakni hubungan antara bahasa lain yang terdapat dalam pikiran penutur bilingual atau multilingual. Kedua, adalah aspek sosiologis, yakni hubungan lingkungan dengan masyarakat yang berfungsi sebagai media komunikasi. Ketiga, aspek ideologi adalah bahasa hidup dalampikiran penutumya, dan akan berfungsi bila penutumya saling berhubungan atau berkomunikasi satu sama lain, seperti interaksi antara lingkungan sosial atau pun lingkungan alamiah. Kendati bahasa merupakan alat atau instrumen komunikasi, tetapi bahasa tersebut tidak dapat digunakan semenamena dalam meningkatkan efisiensi komunikasi. Dalam perkembangan selanjutnya, kajian ekologi bahasa dikenal dengan istilah ekolinguistik (Fill & Mühaüsler, 2001:1). Ekolinguistik merupakan payung istilah terhadap semua studi pendekatan bahasa yang dikombinasikan dengan ekologi. Rakitan kerangka konsep dan teori ekolinguistik menggunakan parameter ekologi. Seperti yang diajukan oleh Fill & Mühaüsler (2001:1) bahwaada tiga parameter penting yang juga saling terkait, yakni (1) satuan lingkungan (environment), (2) adanya interaksi (interaction) dan interelasi atau kesalingterhubungan (interrelation), juga interdependensi (interdependence) atau kesalingtergantungan di antara semua yang ada, dan (3) adanya keberagaman (diversity). Bang dan Door (1996: 10) menyatakan bahwa teori ekolinguistik adalah keterkaitan antara ekologi yang merefleksi manusia dan permasalahan dalam fenomena bahasa. Teori ekolinguistik juga merupakan teori ekologi, yakni sebuah pendekatan ekologi yang menyelidiki objek penelitian dalam hubungan dengan lingkungan sebagai sebuah penyelidikan relasional (Bang dan Door, 1996:3).


9 Bunsdgraard dan Steffensen menjelaskan bahwa ekolinguistik adalah studi tentang interrelasi dimensi biologis, sosiologis, dan ideologis bahasa (Lindø dan Bundsgaard, ed, 2000:11). Faktor lingkungan tercermin dalam bahasa. Penggunaan kosakata atau leksikon juga mencerminkan lingkungan fisik dan juga lingkungan sosial dari penutumya. Oleh karena itu, bila topografi berbeda, berbeda pula kosa katanya (Sapir dalam Fill dan Muhlhauser, 2001;14). Fill (1993) menyatakan bahwa ekolinguistik adalah istilah umum untuk pendekatan yang mengombinasikan studi bahasa (bahasa-bahasa) dengan ekologi (dalam Lindo dan Bundsgaard) (eds), 2000:40). Selain itu, Bundsgaard dan Steffensen menyatakan bahwa ekolinguistik adalah studi tentang interelasi dimensi biologis, sosiologis, dan ideologis bahasa (dalam Lindo dan Bunsdgaard (eds), 2000:11) dan studi tentang intrarelasi, interrelasi, dan ekstralerasi dan hubungannya satu sama lain (dalam Lindo dan Bundsgaard (eds), 2000:19). Bunsdgaard dan Steffensen juga menyatakan bahwa ekolinguistik berkaitan dengan bahasa secara keseluruhan, yang meliputi dimensi pragmatik, semantik, sintaktik, morfologi, fonetik, dan dimensi lainnya (dalam Lado dan Bundsgaard (eds), 2000: 33). Bunsdgaard dan Steffensen menambahkan bahwa fenomena ekologi merupakan fenomena linguistik dan permasalahan ekologi bahasa juga merupakan permasalahan bahasa (dalam Lado dan Bundsgaard (eds), 2000):26). Ekologi bahasa dalam kajian sosiolinguistik sesungguhnya telah disinggung oleh Gumperz (1962). Gumperz (1962:137) berpendapat bahwa sosiolinguistik adalah studimengenai tingkah laku verbal yang berhubungan dengan karakteristik sosial penutur, latar belakang budaya mereka, dan sifat ekologis lingkungan tempat berinteraksi. Ekolinguistik merupakan sebuah teori yang mengaitkan linguistik dengan ekologi. Ekologi dalam ilmu linguistik memainkan peran yang sangat penting. Pentingnya ekologi dalam ilmu linguistik,terutama untuk kebertahanan bahasa. Berangkat dari pemikiran filosofis tersebut, lingkungan menjadi salah satu kajian penting dalam linguistik. Sebaliknya, fakta telah menunjukkan bahwalingkungan tanpa bahasa adalah mati. Tanpa bahasa, seorang tidak mungkin bisa mengungkapkan kerahasiaan alam tersebut kepadaorang lain. Segala sesuatu yang ada dilakukan harus menggunakan bahasa. Melalui bahasa, masyarakat komunitas dapat dikonstruksikan pengetahuan dan pengalaman atau diekspresikan dalam dunia nyata yang ada di sekitar kita. Bagaimanapun bahasa merupakan hasil konfigurasi pikiran manusia dengan ekologinya dan mempertegas dirinya sebagai makhluk ekologi. Melalui bahasa akan tergambar cara berpikir seseorang tentang sesuatu yang ada dalam dunia nyata termasuk budaya. Pengodean tiap budaya tentu mengalami perbedaan atau bervariasi. Bentuk pengodeannya bisa terjadi melalui lexicalize, gramaticalize, teztualize, dan culturalize. Perbedaan pengkodean dapat dilihat pada tingkat kekayaan leksikon, gramatikal, teks, dan budaya (Al-Gayoni) forum ekolinguistik indonesia, blogspot.com). Ekologi bahasa may be defined as the study of interactions between any given


10 language and its environment (Haugen,1972, dalam Peter, 1995:57). Jadi, ekologi bahasa dapat didefinisikan sebagai studi tentang interaksi antarbahasa yang ada dengan lingkungannya. Fill (1993:126) dalam Lindo & Bundsgaard (eds.) (2000), mendefmisikan ekolinguistik sebagai berikut. Ecolinguistics is an umbrella term for '[..,] all approaches in which the study of language (and languages) is in any way combined with ecology'. Ekolinguistik merupakan payung istilah terhadap '[...] semua pendekatan studi bahasa (dan bahasa-bahasa) yang dikombinasikan dengan ekologi. Sementara itu, MQhlhSusler, dalam salah satu tulisannya yang berjudul Ecolinguistics in the University,menyebutkan “Ecology is the study of functional interrelationships. The two parameters we wish to interrelate are language and the environment/ecology. Depending on whose perspective one takes one will get either ecology of language, or language of ecology. Combined they constitute the field of ecolinguistics. Ecology of language studies the support systems languages require for their continued wellbeing as well as the factors that have affected the habitat of many languages in recent times” (p.2) Haugen (1972:325, dalam Fill dan Muhlhuasler, 2007:57) menyatakan bahwa ekologi dapat dibedakan secara psikologis dan sosiologis. Ekologi secara psikologis adalah interaksi ekologi dengan bahasa lain dalam pikiran penutur dwibahasa dan multibahasa, sedangkan ekologi secara sosiologis adalah interaksi ekologi dengan masyarakat yang berfungsi sebagai media komunikasi. Ekologi suatubahasa ditemukan oleh orang yang mempelajarinya, menggunakannya, dan menyebarkannya kepada orang lain. Berikut ini adalah tabel mengenai lingkungan bahasa yang penting dalam ekolinguistik. Pakar ekolinguistik Haugen (1972:326) menggambarkan lingkungan alam sebuah bahasa sebagai masyarakat pengguna bahasa itu, dan bahasa sesungguhnya hanya ada dalam otak penuturnya yang hanya berfungsi menghubungkan penutur dengan sesamanya, dan dengan alam sekitar yaitu lingkungan sosial dan lingkungan alam. Makna lingkungan yang dimaksud mencakup pikiran seseorang yang merujuk kepada dunia atau wilayah tempat bahasa itu ada dandigunakan.


11 biolog i Berikut ini abstraksi hubungan antara Ideologis,Sosiologis, dan Biologis Terkait dengan Perubahan Bahasa Keterangan: S1 : Pembuat teksS2 : Penikmat teks S3 : Konteks : Objek yang dirujuk dalam komunikasi Diadopsi dari bagan Dialogue Model oleh Bang & Door (dalam Lindo dan Bundesgard, ed.,2000:10) Bagan di atas menunjukkan bahwa sebuah dialog sekurang- kurangnya melibatkan tiga orang atau subjek. Dalam konteks ini, walaupun hanya dua orang yang terlibat dalam sebuah komunikasi, selalu ada pihak ketiga anonim yang ikut terlibat di dalamnya, sepertiyang dikemukakan oleh Door (1998) yang dikutip dan diterjemahkan oleh Steffensen (2007:24) berikut ini. There is always an anonymous third party presentwhen we use language. The anonymous third expresses the cultural dan social order that has pre-organized the language use to a certain degree. This means that the child learning a language is forced to consider the anonymous third. Often we do not reflect on these matters, because it is so tempting to believe that our inner speech in a conversation with ourselves and no-one else. We are tempted to believe that -we are m a 'free' conversation. But even the so-called monological situation contains a number of subjects (Steffensen, 2007:24). Ideologi s Sosiologis S S LINGKUNG AN S O biologis


12 Kutipan tersebut menjelaskan bahwa ketika menggunakan bahasa, selalu ada pihak ketiga anonim yang hadir. Pihak ketiga tersebut menyatakan perintah sosial budaya yang sebelumnya mengatur penggunaan bahasa kita. Dengan kata lain, bentuk bahasa yang digunakan dipengaruhi oleh konstituen sosial budaya, dan hal ini sering tidak disadari. Bahkan, ketika kita sedang berkomunikasi dalam situasi monolog pun, tidak terlepas dari sejumlah subjek atau pihak ketiga yang hadir dalam komunikasi. Pihak ketiga tersebut dapat berupa orang-orang atau institusi yang ikut membentuk perilaku berbahasa. Model dialog di atas merupakan dasar dalam kajian linguistik dialektikal. Sebuah teks harus dipahami dalam situasi dialogis yang meliputi dimensi ideologis, sosiologis, dan biologis.Di samping itu, harus diingat pula bahwa untuk memahami sebuah teks secara holistik, harus dilihat teks sebagai produk dari situasi dialogis yang melibatkan empat konstituen, yakni penutur, petutur, objek yang diacu, dan pihak ketiga yang anonim. Ketiga dimensi menurut Bang & Door di atas saling berhubungan satu dengan yang lain. Dimensi ideologis terkait denganmental individu, mental kolektif, kognitif, sistem ideologi, dan sistempsikis, sedangkan dimensi sosiologis terkait cara manusia mengatur hubungannya satu sama lain. Dimensi biologis berhubungan dengan kolektivitas biologis manusia yang hidup berdampingan dengan spesies lainnya (hewan, tumbuhan, tanah, laut, dll). Fenomena bahasa berjalan secara berkesinambungan dan saling terkait Bahasa merupakan objek ketiga dimensi tersebut (Lindo dan Bundsgraad (eds), 2000:11). E. Metode Ekolinguistik, dan Pemanfaatannya Secara singkat metode ekolinguistik menjadikan bahasa yang hidup dan diproduksi oleh masyarakat, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, sebagai objek formal dan objek material untuk pembedahan dan pengkajian. Khazanah kata lengkap yang terwadahkan dalam kamus bahasa tertentu (termasuk thesaurus), khususnya satuan-satuan lingual yang memiliki acuan makna tentanglingkungan, demikian juga teks-teks tentang lingkungan hidup alam dan manusia, wacana-wacana, termasuk takshow di media elektronikmuthakir yang sangat penting dan menarik untuk diteliti. Dengan demikian, dokumen-dokumen dan atau publikasi itu semuanya merupakan sumber data. Menurut Mbete, data ekolinguistik sudah tersedia dan peneliti tinggal memilah dan memilihnya sesuai dengan cakupan penelitiannya. Selanjutnya, Mbete (2013:34) menyatakan bahwa, penjaringan data memang memerlukan metode yang tepat. Pengamatan dan perekaman dengan peralatan canggih membantu tugas pemerolehan data. Wawancara mendalam adalah upaya menggali makna. Kendati kamus dan tesaurus yang lengkap sesungguhnya sudah merupakan sumber data yang dapat digunakan secara memadai, penelitian dan validasi data di lapangan sangat


13 penting. Bertemu, wawancara, berdialog, membahas topik-topik hangat tentang kerusakan lingkungan alam, tentang ketidakserasian hubungan antaranggota masyarakat, menjamin kebenaran yang lebih kuat dan lebih objektif, bahkan lebih “mengasyikkan”, membuat kitalebih percaya diri. Jadi, penelitian dan penjaringan data di lapangan, termasuk melalukan diskusi kelompok, menjamin kebenaran data danfakta yang akan diperoleh si peneliti. Sumber data dapat diperoleh dari sejumlah guyub tutur bahasa yang dikaji. Misalnya jikalau kajian “kritis” mau membedah kesenjangan liingual-kultural yang ekologis antara genersi penutur tua dan penutur muda, terutama dalam kaitan dengan keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan. Pembedahan gejala kebahasaan tersebut sangat penting. Persoalan kesenjangan lingual-kultural ekologis dalam kaitan dengan ekolinguistik kritis ini memang sedang menimpah bangsa Indonesia yang multietnik, multikultural, dan multibahasa di tengah arus global bahasa dan budaya dunia. Apalagi dikaitkan dengan persoalan lumpuhnya infrastruktur komunikasi dan interaksi verbal tradisional lintas generasi dalam komunitas bahasa, budaya, dan etnik tertentu, niscaya pembedahan persoalan ekolinguistis kritis menjadi sangat pendesak (Periksa. Mbete (2013:35). Analisis makna yang terkandung di dalam kata, fras, kalimat, wacana, dan penggolongan (klasifikasi), merupakan pembedahan, ekolinguistik (band. Strauss & Cobin, 2003: 79-82). Bahasa adalah “sarang” budaya sedangkan kebudayaan adalah sistem makna yang dibangun dan ditenun oleh manusia (lihat Geertz, 1993) dan secara dinamis hidup dan berkembang dalam masyarakat. Masyarakat etnik dengan bahasanya juga merupakan satuan sosial dengan guyub tutur dan guyub kulturnya tersendiri yang membangun dan memiliki sistemmakna verbal tertentu. F. Manfaat Ekolinguistik sebagai Life Science Tampaknya, tidak dapat dipungkiri bahwa kajian tentang ekolinguistik sedang hangat dibicarakan banyak kalangan dewasa ini. Kenyataan menunjukkan bahwa ekolinguistik menyoroti pula sumber daya manusia dan sumberdaya budaya, dan kaitannya dengan simbolisasi verbal, misalnya bahasa-bahasa lokal di Nusantara mencakup penggunaan berkas-berkas lingual (leksikon, teks-teks ritual) sebagai cermin (pemahaman) ,dan pengetahuan serta pengaruhtentang lingkungan sosial dan lingkungan alami termasuk penggunaan simbol-simbol bahasa, dan budaya yang mencerminkan relasi simbolis verbal manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam di sekitarnya. Penggunaan simbol-simbol verbal bahasamisalnya, bahasa Jawa, Bali, Ende, bahasa Kei di Sumba, dan bahasa Tetun Fehan di Kabupaten Malaka memiliki pengaruh terhadap bahasa yang ada di lingkungannya, terutama di bidang leksikal. Benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang dihadapi terikat dalam keadaanya di dalam ruang dan waktu, Akan tetapi dengan kata-kata yang melambangkan konsep-konsepnya, terbataslah sekaliannya dari waktu dan ruang, yaitu mendapat kedinamisan dalam pikiran dan dalam perbuatan. Begitu pun perubahan yang terjadi pada lingkungan suatu bahasa akan


14 memberi pengaruh, bahkan perubahan terhadap bahasa tersebut. Dalam hubungan ini, masyarakat bahasa menyesuaikan diri pula dengan lingkungannya. Di sisi lain, lingkungan bahasa (ecological language) adalah bentuk verbal yang mengandung makna tentang lingkungan. Lingkungan alam adalah produk dan kondidi alam, dan bersifat alamiah. Sedangkan bahasa lingkungan (languange ecology) adalah produk budaya, produk manusia, dan masyarakat. Dalam hubungan ini, masyarakat bahasa menyesuaikan diri pula dengan lingkungannya. Mencermati fenomena yang terjadi di masyarakat bahasa sekarang ini, kajian ekolinguistik memiliki manfaat berkaitan dengan penambahan atau pengayaan fakta, dan informasi yang memperkaya khazanah kelinguistikan,kearifan lokal,(local wisdom), dan untuk mengetahui usaha manusia dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapinya dalam keberagaman. Hidup manusia memengaruhi bahasa, dan bahasa mencerminkan kehidupan manusia. Hubungan bahasa dan kehidupan manusia menimbulkan perbedaaan cara berpikir dan sudut pandang mengenai bahasa (dalam Lindo dan Bundsgaard (eds), 2000:32). Sebab sifat manusia adalah makhluk ekologis, selain sosiologis dan ideologis.Manusia dan lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial-budaya, merupakan sebuah sistem yang saling terkait satu sama lain. Dalam menjalani kehidupannya, manusia tidak terlepas dari pengaruh sosial, budaya, dan lingkungan alam, dan semuanya itu membangun pola pikir atau ide setiap manusia terhadap keberadaannya dalam lingkungan yang melingkupinya. Setiap manusia memiliki pengetahuan tentang lingkungan tempatnya berada, memiliki kekuatan untuk memberdayakan lingkungan di sekitarnya, dan mampu mengubah, bahkan tak jarang merusak lingkungan. Keberagaman bahasadipengaruhi pula oleh lingkungan, walau berada dalam satu masyarakat bahasa yang sama. Keberagaman bahasa yang dimaksud memiliki manfaat berkaitan dengan penambahan atau pengayaan fakta, dan informasi yang memperkaya khazanah kelinguistikan, kearifan lokal, (local wisdom), dan untuk mengetahui usaha manusia dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapinya dalam keberagaman. Hidup manusia memengaruhi bahasa, dan bahasa mencerminkan kehidupanmanusia. Hubungan bahasa dan kehidupan manusia menimbulkan perbedaaan cara berpikir dan sudut pandang mengenai bahasa (dalamLindo dan Bundsgaard (eds), 2000:32). Buku ekolinguistik sebagai life science ini akan memberikan manfaat;pertama, diharapkan dapat menyadarkan generasi penerus atau pewaris bahasa dan budaya agar selalu menjaga kelestarianhidup, melestarikan lingkungan alam karena dapat juga berpengaruh pada pemanfaatannnya bagi kelangsungan hidup masyarakat. Keberadaan alam yang lestrai, dapat mengungkapkan identitas dan personalitas suatu komunitas yang berada di antara guyub tutur yanglain. Kedua, ekolinguistik bermanfaat dalam rangka pengidentifikasian, penganalisisan, dan pendokumentasian leksikon- leksikon lingkungan yang menggambarkan hubungan masyarakat etnik dengan lingkungan alamnya.Ketiga, ekolinguistik mengungkap fenomena tentang kehidupan lingkungan bahasa para penutur dalam memahami


15 sebuah interaksi antarbahasa. Fenomena ini menarik karena akan tumbuh kehidupan baru yang memiliki pengaruh terhadap bahasa yang ada di lingkungannya, terutama di bidangleksikal. Begitu pun perubahan yang terjadi pada lingkungan suatu bahasa akan memberi pengaruh, bahkan perubahan terhadap bahasa tersebut.


16 Khazanah Ekoleksikon Ke-Batar-an Orang Timor 2 4 BAB II KAJIAN EKOLINGUISTIK GUYUB TUTUR TETUN FEHAN Dalam bab-bab selanjutnya, buku ini akan terfokus pada kajian ekolinguistik Guyub Tutur Tetun Fehan di Kabupaten Malaka,Timor, NTT, yang bertujuan mempelajari struktur bahasa, semantik, dan daya pragmatik dalam kerangka ekolinguistik untuk mengetahuinilai-nilai budaya, dan ideologi, yang terkandung di dalam ungkapanke-bataran. Dari segi ekolinguistiknya, ungkapan ke-batar-an guyub Tutur Tetun Fehan sarat dengan nilai-nilai moral, budaya, dan ideologi yang mencerminkan kondisi masyarakat Tetun Fehan. Tuturan Peribahasa memiliki pragmatik sangat tinggi. Untuk itu, berturut-turut akan dijelaskan tentang sejarah singkat Tetun Fehan di Kabuapeten Malaka, Timor, NTT. A. Sejarah Tetun Fehan di Kabupaten Malaka Berbagai penelitian dan cerita sejarah daerah Malaka diceritakan, bahwa sebelum orang Malaka menghuni daerah Malaka,sebelumnya sudah ada suku bangsa yang terlebih dahulu mendiami wilayah Kabupaten Belu, yaitu "Suku Melus". Orang Melus dikenal dengan sebutan ’Emafatuk oan ai oan, (manusia penghuni batu dankayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar orangnya dan bertubuh pendek. Selain Suku Melus yang menghuni daerah tersebut, berdasarkan sebuah sumber terpercaya yang penulis ketahuibahwa Orang Malaka sebenarnya berasal dari ’Sina Mutin Malaka’ yang kelak mendominasi wilayah Kabupaten Malaka. Berdasarkan sumber-sumber terpercaya (lihat Wouden, 1985 dan Taum, 1997),1 dikisahkan bahwa beberapa ratus tahun yang lalu, datang dari Negara Cina dan Thailand yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka dan mendiami daerah Belu umumnya. Namun,seiring berjalannya waktu terjadilah kawin campur antara orang asli Suku Melus dengan pendatang Sina Mutin Malaka hingga menyebar ke wilayah selatan Kabupaten. Belu yang sekarang mendiami wilayah Malaka, tetapi perlu diketahui bahwa disisi lain terdapat berbagai versi cerita. Kendati demikian, intinya bahwa, ada kesamaan universal yang dapatditarik dari semua informasi dan data. Berdasarkan cerita, ada tiga orang bersaudara dari tanahMalaka yang datang dan tinggal di Belu umumnya, bercampur dengan suku asli Melus. Nama, ketiga saudara itu menurut para tetua adat mendiamidaerah berlainan. Dari makoan Faturuin menyebutnya Nekin Mataus (Likusen), Suku Mataus (Sonbay), dan Bara Mataus (Fatuaruin), sedangkan Makoan asal Dirma menyebutnya Loro Sankoe (Debuluk, Welakar), Loro Banleo (Dirma, Sanleo) dan Loro Sonbay (Dawan). Akan tetapi, menurut beberapa Makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah; Wehali Nain, Wewiku Nain dan Haitimuk Nain.


17 Para pendatang dari Malaka itu bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dengan masyarakatnya. Kedatangan mereka ke tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan dagang antardaerah di bidang kayu cendana dan hubungan etnis keagamaan kekuasaan Tanah Malaka pada saat itu dipimpin atau dipegang oleh "Liurai Nain” di Malaka. Bahkan, menurut para peneliti asing ”Liurai Nain” kekuasaaannya juga merambah sampai sebahagian daerah Dawan (Insana dan Biboki). Dalam melaksanakan tugasnya di Malaka, Liurai Nain memiliki perpanjangantangan yaitu Wewiku-Wehali dan Haitimuk Nain. Selain juga ada Faturuin, Sonbai dan Suai Kamanasa serta LoroLakekun, Dirma, Fialaran, maubara, Biboki dan Insana. Liu Rai sendiri menetap di Laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali. Menurut para sejarahwan, Tanah Malaka disebarluaskan menjadi Belu bagian Selatan. Pada masa penjajahan Belanda, muncullah siaran dari pemerintah raja-raja dengan apa yang disebutnya "Zaman Keemasan Kerajaan". Apa yang dicatat dan dikenal dalam sejarah daerah Belu, khususnya wilayah Malaka adalahadanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan seluruh Malaka).Menurut penuturan para tetua adat dari Wewiku-Wehali, untuk mempermudah pengaturan sistem pemerintahan, Liurai Nain mengirim para pembantunya ke seluruh wilayah Kabupaten. Belu sebagai Loro dan Liurai. Tercatat nama- nama pemimpin besar yang dikirim dari Wewiku-Wehali seperti Loro Dirma, Loro Lakekun, Biboki Nain, Harneno dan Insana Nain, serta Nenometan Anas dan Fialaran. Ada juga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak. Selain itu, ada juga nama seperti Dafala, manleten, Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya, muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin, dan Aitoon. Sesuai pemikiran sejarahwan Belu, dalam berbagai penuturan di Utara dan di Selatan terkenal dengan nama empat jalinanterkait. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rin besi hat yaituDafala, Manuleten, Umaklaran Sorbau dibagian Timur ada Asumanu Tohe, Besikama-Lasaen, Umalor-Lawain. Dengan demikian, rupanyakeempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal-usul pendatang di Belu membaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah. Ditinjau dari segi Budaya dan Antropologis, penduduk Malaka dalam susunan masyarakatnya terbagi atas 2 sub etnik yang besar yaitu : Ema Tetun dan Ema Dawan ”R”. Kedua sub etnik mendiami lokasi - lokasi dengan karerkteristik tertentu dengan kekhasan penduduk bermayoritas penganut agama Kristen Katolik. Masing - masing etnik tersebut mempunyai bahasa dan praktek budaya yang saling berbeda satu sama lain dan kesamaan dilain segi. Kendati demikian masyarakat Malaka dapat dengan mudah hidup rukun dikarenakan aspek kesamaan-kesamaan spesifik. Mata Pencaharian utama adalah bertani yang masih dikerjakan secara ekstensif tradisional.


18 Dari aspek ekologis, kondisi tanah Malaka sangat subur karena selain memiliki lapisan tanah jenis berpasir dan hitam juga dikondisikan dengan curah hujan yang relative merata sepanjang tahun. Daerah Malaka yang subur tersebut membuatnya potensial untuk dikembangkan menjadi daerah peternakan dan pertanian. Sub sektor perikanan dengan kawasan pantai yang membentang dari Malaka bagian selatan sampai utara turut mempengaruhi pemerataan pekerjaan dan pendapatan. Selain itu dari sub sektor kehutanan kontribusi yang diperoleh juga signifikan dengan beberapa jenis pohon produktif seperti cendana, eukaliptus, kayu merah dan jati. Dari sektor dan sub sektor lainnya seperti perdagangan dan jasa, industri dan lainnya juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan PDRB dan peningkatan PAD. B. Susunan Strafikasi Masyarakat Malaka Membahas tentang struktur masyarakat tidak lain dari pada mengulas tentang tingkatan - tingkatan dalam masyarakat yang ada dalam.suatu komunitas atau persekutuan tertentu. Yang tersusun dalam susunan atau lapisan - lapisan dalam masyarakat yang disebut stratifikasi sosial. Pembagian dan pembedaan masyarakat Malaka dalam kelas - kelas hirarkis di bawah ini di dasarkan pada turunan/ras yang yang ada sejak penduduk para pendatang sampai dengan kejayaan zaman kerajaan. Menurut H.J. Grijzen seperti dikutip dalam tulisan Rm. Florens Maxi Un Bria dalam " The Way To Happiness Of Belu People" bahwa masyarakat Malaka mengenal klasifikasi masyarakatnya atas 3 (tiga) golongan, yang secara hirarkis terdiri dari :Dasi atau golongan bangsawan yang menempati lapisan terpusat dan dari kelompok inilah terpilih Loro / Liurai / Na'I yang akan memangku jabatan kepemerintahan secara turun temurun. Renu yangtidak lain adalah rakyat jelata yang merdeka. Ata atau klason yang merupakan golongan hamba sahaya. Mereka yang masuk dalam golongan ini biasanya merupakan tawanan perang yang dijadikan budak untuk melayani kebutuhan masyarakat golongan renu atau golongan dasi. Perdagangan budak belian ini sempat menjadi komoditi pada tahun 1892 (pada daerah Jenilu - Atapupu) sampai pada akhirnya di awal abad 20-an Pemerintah Belanda mengeluarkann "Pax Nederlandica" sehingga perdagangan budakdihapus. Pembagian masyarakat Malaka sendiri ditinjau dari segi ekonomis terdiri dari klasifikasi "orang berpunya/the haves" (Ema Mak Soin) dan kelompok "orang miskin/the haves not" (Ema Kmukit). Ukuran untuk menentukan dua macam kelas ini tergantungpada pendapatan yang ia peroleh dan cara atau pola hidupnya setiap hari. Dari sudut politik pemerintahan nasional, kita mengetahui bahwa penggolongan masyarakat Jawa atas tiga golongan / tiga kelompok besar yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Dalam keterkaitannya dengan struktur masyarakat Malaka maka kitamengenal beberapa kelompok/golongan masyarakat yang terdiri dari : Pertama adalah kelompok teratas atau kelompok raja (Nain Oan) masuk kelompok priyayi. Kelompok lain adalah kelompok masyarakat bawah (Hutun Renu) atau marjinal dan orang kecil. Antara dua kelompok itu ada kelompok penengah atau


19 disebut Fukun dato. Keterkaitan antara ketiga kelompok utama tersebut terwujud dalam realisasi program dan kerja nyata. Dalam hal ini, kelompok Raja berperan mengawasi pelaksanaan pembangunan dan membuat putusan pemerintahan. Kelompok Hutun Renu sebagai mediator antara kedua kelompok tersebut. Perlu dicatat di sini bahwa dalam proses pengambilan keputusan (fui mutu lian-fui mutu ibun) secara adat dengan korban bakaran. Perlu ditambahkan disini bahwa dalam jajaran dan tataran kelompok penurutan raja atau kerabatan horizontal yang dinamakan "klaken soman" ada juga kelompok vertikal yang disebut "Tohu LarusHudi Oan". Dalam catatan sejarah lokal, menuturkan bahwa di kerajaan Wewiku - Wehali ada 4 dato yang sangat berperan dalam fungsinya sebagai mediator yaitu, Dato Leki Nahak Tamiru UsiHawai Lerek (penguasa daerah pesisir laut) atau yang disebut Meti Ktuik. Dato Klisuk Rai dan Klisuk Lor yang menguasai daerah enclave laut (hasan). Sedangkan Dato Mota menguasai daerah pesisir kali Benenai (Mota Ninin Hare Ninin). Sehingga sesekali dalam kurun waktu tertentu seorang Dato wajib membawahi upeti kepada rajanya. C. Letak Geografi, Kondisi Topografis, dan Ekologi OrangMalaka Secara administratif, Kabupaten Malaka terletak di Pulau Timor dan berada di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Malaka adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Malaka merupakan hasil pemekaran dariKabupaten Belu yang disahkan dalam sidang Paripurna DPR RI pada14 Desember 2012 di gedung DPR RI tentang Rancangan UU Daerah Otonomi Baru (DOB). Pusat Pemerintahan Kabupaten Malaka dalamangka tercatat bahwa jumlah penduduk Kabupaten Malaka adalah 171.079 jiwa. Daerah Kabupaten Malaka pada umumnya terdiri atas dataran rendah, bukit, dan pegunungan, serta hutan. Daerah Makala tergolong daerah yang curah hujannya sedikit yang secara tidaklangsung iklim tersebut memengaruhi pola hidup dan watak keseharian orang Malaka.Tempat tinggal orang Malaka dulunya banyak berada di daerah perbukitan yang dikelilingi oleh semak berduri dan batu karang yang tidak mudah didatangi orang dan hidupsecara berkelompok, dengan maksud untuk menjaga keamanan dari gangguan orang luar dan binatang buas. Batas wilayah Kabupaten Malaka, yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Naneut Duabesi dan Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu. Sebelah selata berbatasan dengan Laut Timor. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Negara Republik Demokratik TimorLeste, dan sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kecamatan Insana dan Kecamatan Biboki Tampah Kabupaten Timor Tengah Utara dan wilayah Kecamatan Kokbaun, Kecamatan Fatukopa, Kecamatan Toianas, Kecamatan AmanatunUtara Kabupaten Timor Tengah Selatan. Secara topografi, Kabupaten Malaka terletak antara koordinat124º 38’ 32.17” BT– 125º 5’ 21.38” BT dan 9º 18’ 7.19” LS – 9º 47’26.68” LS. Keadaan topografi


20 Kabupaten Malaka bervariasi antara ketinggian 0 sampai dengan +806 m.dpal (meter di atas permukaan air laut). Variasi ketinggian rendah (0-269 m.dpal) mendominasi wilayah bagian selatan, yaitu Kecamatan Wewiku, Malaka Barat, sebagian Malaka Tengah, dan Kobalima. Sementara pada bagian tengah wilayah ini terdiri atas area dengan dataransedang (270-537 m.dpal), yaitu sebagian Kecamatan Weliman, Malaka Tengah, Kobalima, dan Botin Loebele. Dataran tinggi (538- 806 m.dpal) di Kabupten Malaka menempati kawasan bagian Utara, yakni Kecamatan Laenmanen, Io Kufeu, sebagian Kecamatan Sasitamean, Malaka Timur, dan Kobalima Timur. Bentuk topografi wilayah Kabupaten Malaka merupakan daerah datar berbukit-bukit hingga pegunungan dengan sungai-sungai yang mengalir ke utara danselatan mengikuti arah kemiringan lerengnya. Sungai-sungai yang ada di Kabupaten Malaka mengalir dari bagian selatan dan bermuaradi Selat Ombai dan Laut Timor. Iklim di wilayah Kabuapaten Malaka dengan temperatur rata- rata 24-34°C beriklim tropis, umumnya berubah–ubah tiap setengah tahun berganti dari musim kemarau dan musim penghujan dengan musim kemarau yang lebih dominan. Kondisi curah hujan di Kabupaten Malaka bervariasi antara 16-172 mm/bulan. Curah hujan rendah (16-68 mm/bulan) mendominasi wilayah bagian timur, yakni Kecamatan Kobalima Timur, Kobalima, Botin Loebele, Malaka Timur, Malaka Tengah, Malaka Barat, Weliman dan Wewiku denganluasan wilayah sebesar72.788,56 Ha. Curah hujan sedang (69-119 mm/bulan) terdapat di wilayah bagian barat, yakni Kecamatan Rinhat, Io Kufeu dan Sasitamean dengan luasan wilayah sebesar33.389,17 Ha. Sementara curah hujan tinggi (120-172 mm/bulan) terdapat di sebagian besar Kecamatan Laenmanen dengan luasan wilayah sebesar5.428,25 Ha. Kabupaten Malaka pada umumnya terdiri atas daratan dan bukit dan pegunungan serta hutan.Daerah Malaka tergolong daerah yang curah hujannya sedikit yang secara tidak langsung iklim tersebutmemengaruhi pola hidup dan watak keseharian orang Malaka.Tempat tinggal orang Malaka dulunya banyak berada di daerah perbukitan yang dikelilingi oleh semak berduri dan batu karang yang tidak mudah didatangi orang dan hidup secara berkelompok, dengan maksud untuk menjaga keamanan dari gangguan orang luar maupun binatang buas.


21 Berikut Peta Kabupaten Malaka Sumber: Peta-kota.blogspot.com/2017/03/peta-kabupaten-malaka.html D. Budaya dan Ritual Pertanian batar ’jagung’ Pada hakikatnya ritual adalah rangkaian kata, dan tindakan pemeluk agama dengan menggunakan benda-benda, peralatan dan perlengkapan tertentu, di tempat tertentu dan memakai pakaian tertentu pula. Penjelasan Turner tentang ritual sesungguhnya telah memberi gambaran pada apa yang ia sebut dengan simbol-simbol (Turner, 1974: 19). Ritual ke-batar-an merupakan praktik ritual bagi etnis Malaka di Kabupaten Malaka pada saat persipan lahan, penyiangan bibit, penanaman jagung, panen, dan pascapanen. Proses ritual ke- batar-an ini, telah tertanam dalam diri petani dan menjadi tradisi padaguyub tutur Tetun Fehan di Kabupaten Malaka. Praktik ritual ke- batar-an guyub tutur Tetun Fehan (GTTF) berbagai macam tahapan dari pembukaan lahan hingga pascapanen dilakukan serta tidak boleh ditinggalkan oleh petani dalam pelaksanaannya. Dari kesepuluh tahapan tersebut, dijabarkan tiap tahapanserta materi budaya yang digunakan dan pelaku dari budaya dapat diuraikan dalam tahapan ritual berikut ini.


22 lere to’os ‘Pembukaan Lahan’ Lere to’os atau membuka lahan baru bagi guyub tutur Tetun Fehan adalah kegiatan awal petani sebelum menanam batar ‘jagung’. Oleh sebab itu, petani memula kegiatan membuka lahan. Petani sudah mengetahui kapan waktu yang baik untuk memulai kegiatan membuka lahan. Kegiatan lere to’os dimulai dari penentuan hari baik.Petani membutuhkan seorang fukun yang dipercaya memiliki pengetahuan tentang tata cara serta mantra yang ada pada ritual tersebut. Setiap fukun melakukan suatu pekerjaan, ataupun tindakaknsosial yang sifatnya mistik. Guyub tutur Tetun Fehan harus melalui berbagai macam perhitungan-perhitungan tertentu. Seperti halnyadalam pertanian batar ‘jagung’ harus melihat menentukan hari baik, dan sebagainya. Hal ini, diyakini dan dipercaya, bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan tergesa-gesa tidak baik. Weber mendefinisikan tindakan sosial sebagi proses berpikir yang melibatkan suatu kejadian, stimulus, hingga dihasilkan respon terakhir (Ritzer, 2012: 200). Setelah terjalin kesepakatan antara petanidan fukun melakukan perhitungan bulan di langit untuk mencari hari baik memulai kegiatan. Setelah hari baik ditentukan, maka dengan izin fukun dimulailah membuka lahan. Pada lahan yang sama sekali belumpernah digarap (lahan baru). “Fukun mulai berdoa pada penguasa alam sekitarnya (penjaga hutan) sebelum ritual lere toos, fukun dan pemilik kebun (toos nain) pergi menyimpan bahan ritual di hutan. Dizinkan atau tidak tandanya adalah bahan ritual yang disimpan tidak diganggu, jikadiganggu berarti tidak diizinkan atau ditolak.” Bila disetujui oleh penguasa alam, fukun ‘tetuah adat’ terlebih dahulu melakukan kegiatan ritual lere toos, yaitu pertama mulaidengan memegang tanah, tanah dipegang dengan membaca doa sebagai berikut ini. “Imi mak daka rai ne’e hosi kukun kalan tau matan mai.Fo netik tanda bat ami hatene. Rai nee at ami lere ka lae.Ita botsiak lamak a, hatetu tian.”, Terjemahan bebas Hai penguasa alam sesajian telah kami persembahkan. Berilah tanda agar kami boleh membuka lahan ini untuk berkebun. Inilah yang dikatakan. Setelah itu kalau manu kwa ‘burung elang putih’ berbunyi berarti memberi tanda bahwa lahan boleh ditebas untuk berkebun. Menurut pengetahuan fukun elang membawa khabar gembira atau suka cita seingga kegiatan lere toos/lere ai boleh dilanjutkan.Apabila tidak datang burung elang, maka kegaiatn lere toos/lere ai tidak boleh dilakukan. Ritual lere toos dilakukan oleh fukun ‘tetuah adat .Fukun adalah orang pertama yang berhak untuk melakukan penebasan (lere) rerumputan dengan mengucapkan mantra terlebih dahulu. Sunuailere ‘Membakar Tebasan’ Setelah menebang pepohonan pada lahan yang akan ditanami batar


23 ‘jagung’, kegiatan berikutnya ialah sunu lere ‘membakar tebasan’ juga memerlukan seorang fukun sebab fukunlah yang memiliki kuasa dalam hal ritual. Pada kegiatan ritual menebang pohon besar, disyarati lagi menggunakan tujuh daun sirih dan pinangkering masing-masing tujuh, dan 1 botol sopi, tali dari daun gewang kering. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan para petani jagung (batar) dan masyarakat Malaka yang memiliki lahan untuk siap diolah baik seecara pribadi maupun oleh pemerintah Malaka bahwa, sebelum mengolah lahan-lahan yang kosong perlu dilakukan ritual.Sunu ailere “membakar lahan’ sudah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh para petani batar ‘jagung’. Petani yang ada di Kecamatan Malaka Tengah, Malaka Barat dan Laen Mane sangat erat kehidupannya dengan alam sekitar. Banyak hal yang menjadi syarat dalam melakukan aktivitas bertani sebagai penyeimbang antara kehidupan nyata dan gaib.Nilai budaya tersebut mengandung ajaran supaya manusia menjaga keharmonisan dengan alam melalui sikap sopan santun antarsesama makhluk. Selaras dengan pernyataan Sujarwa (2011) bahwa manusia yang telah mengenal sifat-sifat alam lingkungan hidupnya dengan baik akan membuat falsafah hidup yang menuntun manusia supaya hidup selaras dengan alam. Alat yang digunakan yaitu baliun ‘kapak’ dan taha ‘parang’.Pada kegiatan ini memerlukan fisik yang kuat, sebab pohon yang biasanya ditebang berukuran besar. Batang-batang pohon yang telah ditebang disiapkan untuk pagar pada kebun yang akan ditanami. Keesokan harinya setelah pembakaran selesai dilakukan, petani mulaimembersihkan sisa-sisa pembakaran atau dikenal dengan istilah hamos toos. Sisa-sisa ranting pohon yang tidak habis terbakar dikumpulkan kembali lalu dibakar. Selain dibakar, ranting-ranting pohon tersebut dimanfaatkan menjadi kayu bakar. Membersihkan sisa-sisa pembakaran biasanya membutuhkanwaktu sekitar 4 hari dalam pelaksanaannya. Alat yang digunakan juga masih sederhana yaitu parang dan cangkul. Penggunaan cangkul di sini dimaksudkan untuk mencabut sisa-sisa akar pepohonan kecil yang tidak habis termakan api karena dapat mengganggu pada saat penanaman dilakukan. Walaupun lahan telah bersih dan siap untuk ditanami, kegiatan berikutnya adalah memagari lahan untuk melakukan proses tanam jagung (furi batar). Proses hisik fini ‘pemberkatan benih’ oleh pasttos setempat merupakan salah satu bagian dari proses ritual ke-batar-an yang dilakukan oleh guyub tutur Tetun Fehan di Kabupaten Malaka.Proses hisik fini diupacarakan bersama jenis benih tanaman yang lain, sebelum dibawa ke lahan untuk ditanam atau disemaikan. Hisik batarfini ‘pemberkatan benih jagung’ biasanya dipimpin oleh nai lulik ‘pastor’. Kegiatan hisik fini dilangsungkan di dalam upacara ekaristi kudus. Tempat upacara pemberkatan benih bisa dilakukan di rumah dengan mendatangkan pemimpin gereja atau di rumah ibadah yaitu gereja. Hisik fini ini sudah menjadi bagian dari kehidupan budaya ritual pra tanam jagung (batar) oleh


24 masyarakat Malaka. Makna dari proses ritual hisik fini ‘pemberkatan benih’ unggulan diberkati agar bisa memberikan hasil melimpah bagi masyarakat petani di Kabupaten Malaka.Upacara hisik fini sudah adasebelum agama katolik masuk. Uapacar ini dilakukan setiap tahun sebelum penanam jagung (batar) dipimpin oleh seorang tetuah adat (fukun). Pada proses penanaman batar ‘jagung’ sebagai fukun kebun diberi kekuasaan sepihak untuk memulai terlebih dahulu sebelum orang lain mulai menanam, dengan mengawali melakukan ritualtaman batar, fukun membacakan mantra pada ritual taman batar membacakan mantra pada bibit jagung yang akan ditanam yangdisimpan dalam wadah seperti taan ‘tempat menyimpan benih jagungterbuat dari daun lontar’, setelah bibit jagung telah dimantrai (didoakan) barulah dapat ditanam oleh petani lainnya. Perlengkapan ritual yang dibawa yakni lilin, hewan korban, sopi, dan diakhiri dengan makan bersama semua peserta upacara. Setelah upacara doahisik fini selesai, para perempuan beramairamai menanam benih di kebun raja (nain). Setelah penanaman di kebun raja barulah menanam benih di kebun masing-masing diawali dengan doa seerhana (hamulak/halon, doa menanam). Proses menanam benih dimulai dari “kaki kebun” (to’os ain)) terletak di bagian rendah dan bertahap naik ke “kepala kebun” (to’os ulun) yang letaknya di bagianlahan yang relafif tinggi. Halon udan ‘mendatangkan hujan’ Ritual halon udan GTTF merupakan salah satu ritual pentingterkait dengan hujan. Hujan di Timor tidak menentu datangnya, makadengan ritual itu diyakini hujan dapat didatangkan sesuai kehendak manusia (Foni, 2002). Ritualnya sama dengan ritual sebelumnya, demikian juga tempatnya. Bedanya pada inti doa, yaitu memohon hadirnya hujan di lahan yang sudah disiapkan. Sebelum ritual dilakukan, fukun berunding dengan warga desa untuk mencari penyebab belum datangnya hujan. Setelah penyebab ditemukan dan dilakukan denda serta ritual lain yang dikehendaki dunia arwah, maka ritual mendatangkan hujan dapat dilakukan.Doa ritual mendatangkan hujan ini sangat panjang. Intinya adalah merayu Tuhan dan memohonhujan dengan bahasa “tutur adat” berupa puisi yang sangat indah (Foni, 2002). Penyebab yang dicari umumnya dari pelaksanaan ritual sebelumnya, apakah ada kesalahan ritual, atau adanya kesalahan padaaspek yang lain, yang menyebabkan disharmoni dunia manusia dengan roh-roh dan arwaharwah (Foni, 2002).Juga dicari, apakah ada hal-hal teknis di lapangan yang mengganggu kenyamanan pawanghujan dan roh-roh leluhur, atau ada perbuatanperbuatan yangmerusak bumi, seperti memotong akar secara salah, atau menggali tanah secara salah di tempat roh-roh berdiam.Bahan-bahan yangdisipkan dalam ritual halon udan yaitu berupa fuik bua ‘siri pinang, ahu ‘kapur’ manu aman ‘ayam jantan’ manu tolun ‘tais ‘sarung’ osanmurak ‘koin/perak’.


25 Furi batar ‘Menanam Jagung’ Setelah melewati ketujuh ritual tadi tibalah waktunya untuk menanam jagung. Proses penanaman jagung pada lahan yang luas, dilakukan dengan memanggil sanak saudara serta tetangganya untuk membantu melakukan penanaman. Namun, bila lahan tidak terlalu luas mereka cukup dibantu oleh saudara ataupun keluarga dekatnya. Begitu pentingnya relasi yang harus dibangun petani dengan masyarakat lain dalam bertani jagung, karena kegiatan ini tidak dapatdilakukan secara individual. Bercocok tanam jagung adalah aktivitas yang membutuhkan banyak orang, sehingga petani dituntut untuk selalu berhubungan baik dengan masyarakat lain.Pada proses penanamanbatar‘jagung’ sebagai dukun kebun diberi kekuasaan sepihak untuk memulai terlebih dahulu sebelum orang lain mulai menanam, dengan mengawali melakukan ritual taman batar (menanam jagung), fukun membacakan mantra pada ritual taman batar yang akan ditanam yang disimpan dalam wadah seperti taan ‘tempat menyimpan benih jagung terbuat dari daun lontar’, setelah bibit jagung telah dimantrai barulah dapat ditanam oleh petani lainnya. Pada proses penanaman, biasanya para petani membagi tugas, yaitu laki-laki melakukan pelubangan menggunakan kayu yang telah diruncingkan ujungnya, untuk tempat bibit jagung, sedangkan untuk perempuan ataupun anak-anak yang ikut serta membantu bertugas memasukan bibit jagung ke dalam tanah yang telah dilubangi tadi. Adapun waktu proses penanaman tergantung dari luaskebun. Penyambutan musim tanam batar ‘jagung’ adalah kegiatan yang dinantinati oleh GTTF di Kabupaten Malaka. Lahan yang telahdipagari tidak langsung ditanami jagung, tetapi masih ada proses ritual yang harus dilakukan oleh petani, fukun ‘tetuah adat’ memiliki peran penting dalam ritual furi batar ‘menanam jagung’. Setelah pelaksanaan ritual tersebut ada acara makan-makan yang telah disiapkan oleh petani yang membuka lahan. Para sanak saudara, kerabat hingga tetangga berbodong-bondong menuju kebun tempat pelaksanaan ritual furi batar ‘menanam benih’. Ritual furi batar dilaksanakan setelah masyarakat membersikan lahan dan lahan tersebut telah siap untuk ditanami jagung. Sebelum pelaksanaan furi batar ‘menanam jagung’, terlebih dahulu diadakan pertemuan untuk menentukan hari pelaksanaan, yang dipimpin oleh fukun. Dalam musyawarah itu diperoleh kesepakatan kapan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan hari baik. Pemilihan hari yang baik, dimaksudkan agar pelaksanaan acara tidak mendapat hambatan dalam proses penanaman. Beberapa perlengkapan yang harus disiapkan dalam upacara furi batar ‘tanam jagung’seperti taha ‘parang’, aisuak ‘ceplok’ alat membuat lubang yaitu kayu yang sudah diruncing, besita ‘pacul’, manu tolun ‘telur ayam kampung’ air, sopi, sesajen (nasi, daun sirih, pinang dan kapursiri). Sesajen diletakkan di troman ‘tempat ritual sesajen’ sambil didoakan oleh fukun ‘tetuah adat’. Dalam ritual furi batarjuga dilakukan seorang fukun (mengelilingi 4 sudut


26 kebunseraya berdoa agar penghuni dunia gaib tidak mengganggu mereka selama menempati kebun tersebut. Hal ini bertujuan agar petani yang berkebun di lokasi tersebut terhindar dari bahaya, bencana atau wabah penyakit yang akan merusak tanaman batar ‘jagung’ sehingga para pemilik kebun (toos nain) memperoleh hasil panen melimpah. Berikutnya, selesai pembacaan doa, dilanjutkan dengan makan bersama dan seterusnya mencari waktu yang baik untuk menanam. Seluk batar ‘Penyiangan jagung’ Pemeliharaan tanaman jagung (batar) di Kabupaten Malaka dikenal dengan nama seluk batar. Kegiatan seluk batar dilakukan pada saat tanaman jagung berumur kurang lebih 7 hari, pada kegiatan ini petani mengecek kembali jagung yang telah ditanam dengan membawa bibit jagung yang disimpandalam sebuah wadah seperti keranjang atau ember. Petani mengelilingi kebunnya dan apabila ditemukan ada jagung yang tidak tumbuh maka akan digantikandengan menanam bibit yang baru. Tidak hanya itu, kadangkala ada beberapa lubang yang ditemukan petani tidak berisi jagung, maka bibit jangung yang dibawa tadi akan diisi ke dalam lubang kosong tersebut. Kegiatan biasanya diselingi dengan perawatan tanaman jagung. Meskipun dari awal pelaksanaannya telah diberikan doamelalui mantra yang dibacakan oleh fukuntetap saja tanaman jagung tersebut harus dipelihara atau dirawat.Dari pagi hingga sore hari petani membersihkan gulma yang dapat menggangu pertumbuhan jagung.Kadang kala para petani di Malaka harus menginap di kebun untuk melanjutkan kegiatan penyiangan di esok hari.Untuk tempat tidur mereka biasanya membuat pondokan dengan ukuran yang sederhana, tetapi agak tinggi, hal tersebut dimaksudkan agar dapat memantau lokasi kebun yang lebih jauh. Setelah kegiatan penyiangan dilakukan, dirangkaikan pula ritual fukunyang dipercaya oleh petani untuk menjaga tumbuhanjagung dari angin atau gejala alam lainnya. Ritual seluk batar adalah kegiatan mengelilingi kebun yang dimulai dari arah kanan, dan dilakukan pada saat jagung berumur sekitar 40 hari.Ritual ini harus dilakukan oleh fukun/dato, sebab dalam mengelilingi kebun ada mantramantra yang diucapkan oleh fukun dengan niat agar tanaman jagung tumbuh subur dengan baik. Hasae batar tasak ‘panen jagung muda’ Kegiatan hasae batar tasak ‘panen jagung muda’ oleh GTTFdilaksanakan pada saat jagung berumur 60 hari. Pada saat hasae batartasak, pengambilan jagung pertama di kebun pertama oleh fukun/toos nain. Setelah itu, barulah pemanenan jagung boleh dilakukan oleh orang lain. Saat pengambilan batar ‘jagung’ tidak semua buah jagungakan diambil. Biasanya, pada hari pertama hasae batar tasak hanya mengambil satu pohon jagung dengan buah jagung (batar) untuk diikat pada troman ‘mesbah’ tempat sesajian di dekat kebun jagung. Kemudaian, barulah fukun/toos nain mengambil jagung untuk dibawa ke gereja sebagai persembahan hasil usaha manusia kepada Tuhan sang pemberi rezeki. Hal ini


27 dinyatakan sebagai rasa syukur GTTF/ etnis Malaka atas hasil panen yang diperoleh tahun ini. Proses ritual hasae batar tasak sebelum dilakukan sesajian, jagung (batar) yang telah diambil kemudian direbus atau dengan istilah tein serta ada juga yang diiris dan ditumbuk kemudian dibungkus menggunakan kulit jagung untuk dijadikan filun ‘lemet jagung’. Hasae batar tuk/so’i batar ‘panen jagung tua’ Setelah kegiatan hasae batar tasak selesai dilakukan, saat umur jagung mencapai kira-kira 70 hari, barulah kegiatan panen jagung tuadilakukan. Kegiatan hasae batar tuk/soi batar merupakan proses panen terakhir dalam tradisi penanaman jugung pada etnis Malaka di Kecamatan Malaka Tengah. Sebelum kegiatan soi batar dilakukan, petani masih membutuhkan fukun untuk mengatur atau menghitung hari baik pada saat kapan fukun harus dilaksanakan. Berdasarkan pengetahuan lokal yang dimiliki seorang fukundengan melihat gejalagejala alam bulan di langit, serta perhitungan menggunakan kalender mampu mengetahui hari yang baik untuk melaksanakan pemanenan. Setelah hari baik diketahui, petani dan masyarakat yang akan membantu bersama-sama fukun menuju kebun untuk proses pemanenan. Hasae batar Fohon/batar Mana’ik ‘Syukuran hasil panen jagung’ Dalam melaksanakan pekerjaan bertani, GTTF memiliki ritual dan teknik pengolahan tradisonal yang masih kental dengan nuansa budaya berupa ritus-ritus pertanian yang masih dipegangteguh oleh masyarakat Wese-Wehali yaitu Hamis dan Hasae Batar Fohon. Kendatipun, banyak di antara Guyub Tutur Tetun telah menganut agama-agama resmi yang ada di Indonesia, baik agama Katolik, agama Kristen, maupun agama Islam, tetapi sebagian besar tradisi bercocok tanam bertani batar (jagung) tetap dilasanakan. Khususnya, dalamkehidupan pertanianjagung’batar’mereka tetap mempertahankan ciri-ciri tradisi, adat, dan religi Hamis dan Hasae Batar Fohon. Ritual pertanian yang dilaksanakan oleh masyarakat Guyub Tutur Tetun Fehan berkaitan dengan pertanian tanaman pangan, khususnya batar jagung. Jagung termasuk salah satu jenis tanaman yang paling penting di antara tanaman pangan lainnya. Dalam tata bertani atau berkebun jagung secara tradisional ada rangkaian waktu pelaksanaan ritual sesuai dengan kepercayaan asli, ritual yang dilaksanakan pada saat tanam, pasca tanam, tanam, dan panen jagung muda/jagung tua hingga pesta hamis dan hasae batar fohon (syukuran hasil panen) jagung. Dalam melaksanakan pekerjaan bertani, masyarakat guyub tutur Malaka memiliki tradisi dan teknik pengolahan secara tradisional yang masih sangat kental dengan budaya berupa ritual pertanian yang dilaksanakan oleh guyub tutur bahasa Tetun Fehan di Kabupaten Malaka,Timor, NTT. Kedekatan masyarakat Malaka dengan alam dan lingkungan hidup tampak secara simbolis verbal pada


28 tuturan leksikon dan teks-teks kebabahasan, yakni bahasa Tetun Fehan.Secara khusus, bahasa lingkungan, green grammar dalam bahasa Tetun, mengandung makna pengetahuan, pemahaman, dan nuansa kedekatan relasi dengan alam, sesama, dan dengan kekuatan adikodrati itu tampak pada kekayaan perangkat verbal nama-nama pepohonan, nama-nama hewan, nama orang, nama batu, tanda-tandacuaca, di sekitar mereka seperti terurai di bawah ini. Ukun Badu merupakan larangan makan jagung muda dan larangan tidak boleh membawa jagung muda memasuki perkampungan adat sebelum larangan dicabut. Sebalum 1 hari melakukan ritual hamis atau hasaebatar fohon seluruh suku yang adadi kampung adat Manliman, Leoklaran, Umamalae, Klotlaran, dan Lawalu, dilarang membuat pesta sukacita, dan atau acara lainnya seperti lepas kain hitam (koremetan). Membuat keributan/kasakusuk di dalam area perkampungan Kamanasa sangat dilarang keras. Hal ini, karena semua warga masyarakat Kamanasa diharapkan mematuhi pasal-pasal Ukun Badu (Peraturan Larangan) yang sudah disepakati setiap suku adat. Ukun Badu ’Perintah larangan’ sebelum pesta makan jagung muda bersama, tujuannya untuk mengenang nama Bei Mau-Bei Bui.Momentum sakral habot liurai kroman no kukun (memuliakan raja yang berkuasa dan memuliakan Leluhur Liurai yang diyakini mendiami uma bot Liurai ) sekaligus mengenang para leluhur dan diyakini sebagai leluhur pertama adalah Bei Mau dan Bei Bui. Bei Mau dan Bei Bui adalah nama leluhur sebagai sepasang suami-istri, menurut legenda, pada zaman dahulu, relasi manusia dan Tuhan sangat dekat. Selain Tebe, ada ritual-ritual yang dilakukan di sela waktu tiga hari tiga malam pesta adat itu. Ritual-ritual yang dimaksudadalah sebagai berikut. Ritual Tatera (Perang Saling Melempar Jagung Muda) Upacara ritual hamis/hasae batar fohon diwarnai denganperayaan Tebe Bei Mau-Bei Bui dan diawali dengan memasukan jagung di dalam rumah adat Uma Ro Bot. Biasanya hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki. Namun, sebelum meletakkan jagung di atas bale- bale (rai fohon) di rumah adat tersebut, para pembawa jagung muda tersebut saling melempar jagung. Seusai tatera batarpembacaan jagung muda itu masuk dalam rumah adat melanjutkan kegiatan Bei- Mau-Bei-Bui dengan memulai acara tebe bersama di halaman tengah perkampungan adat. Sementara itu, jagung muda yang dibawa ke dalam rumah adat mulai dikupas kulitnya dan dimasak untuk dimakan pada acara hamis batar (makan jagung muda bersama). Upacara Ritual Koto Upacara ritual Koto adalah ritual menyemblih hewan(Kelen= Kerbau dan Made=Babi), mengupas kulit pulir jagung, dan dilanjutkan dengan memasak untuk disajikan sebagai persembahan kepada leluhur.


29 Upacara Ritual Haseka/Haleka Batar Fohon (persembahan upeti kepada raja) Upacara haseka/Heleka Batara Fohonadalah ritualmembawa persembahan sebagai upeti kepada raja, dan leluhur sebagai syukur atas panen jagung melimpah. Hamis ’Pesta Makan Jagung Muda Bersama’ Hajatan hamis ’makan jagung muda bersama’ berakhir dengan perjamuam bersama.Peserta hajatan disuguhi daging sapi atau daging kerbau yang menjadi hewan kurban. Warga Kabupaten Malaka (Kamanasa dan Fahiluka memiliki kebiasaan bahwa walaupun orang yang mengikuti hajatan banyak, cukup menyembelihseekor sapi atau seekor kerbau saja, kebutuhan hadirin tercukupi. Pesta Tebe Bei Mau-Bei Bui Setelah semua upacara ritual 1,2,3, dan 4 digelar oleh GTTF,selanjutnya kegiatan ritual hamis batar ’jagung’ digelar dengan tariandan lagu Tebe Bei MauBei Bui di pelataran Kampung Adat Bolan dan Kampung Adat Kamanasa, Kabupaten Malaka, Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kesi batar mana’ik ‘ikat jagung pemali’ Di kalangan masyarakat Kabupaten Malaka, Timor, NTT, terutama di pedesaan, jagung tidak sekadar hasil kebun untuk kebutuhan konsumsi di rumah. Jagung disebut pula sebagai “usi nahat” atau bahan makanan level ”darah biru”— bersama padi dan turis karena diyakini memiliki roh penunggunya. Itu sebabnya proses budidaya hingga pemanfaatannya selalu dengan perlakukan khusus. Tanaman jagung (Zea mays L) yang berbuah matang tidak bisalangsung dipanen dan dikonsumsi begitu saja. Harus didahului ritual khusus dengan sebutan berbeda-beda di sejumlah kawasan di Timor.Masyarakat pedesaan di Kabupaten


30 Belu dan Kabupaten Malaka menyebutnya hamis batar. ”Budaya berkebun jagung menjadi bagian dari pameran kami kali ini karena tanaman atau bahan makanan itu sejak leluhur tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat NTT.Hampir seluruh prosesnya, mulai dari pembukaan kebun, penanaman benih, hingga panen selalu dengan ritual tersendiri karena jagung merupakan roh kehidupan,” jelas Kepala Museum NTT Leonard Nahak. Pameran budaya jagung, menampilkan Jusuf Boimau (70), asal Niki-Niki, sekitar 130 kilometer sebelah timur Kota Kupang. Jusuf Boimau, pensiunan PNS guru sekolah dasar, adalah tetua yang dianggap mengetahui dan memiliki pemahaman secara baik terkait budaya berkebun jagung di Timor. ”Kalau di Niki-niki, Boti, Amanuban, dan sekitarnya, ritual syukuran panen jagung itu disebut poepah. Terutama di Boti dan beberapa kampung tua lainnya di TTS,ritual masih tetap dipertahankan hingga sekarang,” tutur Jusuf Boimau yang juga sebagai ”kurator” amatir. Salib dan ”tola” Seperti dipamerkan, setidaknya ada dua berkas batang jagung yang berbuah matang dan dinilai terbaik menjadi sesajen bagi Wujud Tertinggi dan para leluhur. Seberkas di antaranya diikatkan pada bagian tengah pohon usapi atau kesambi (Schleichera oleosa) di halaman museum. Ritual bermakna sama bernama hamis batar di perkampungan Kabupaten Malaka melibatkan kaum lelaki dan perempuan hingga arak-arakan buah jagung untuk dipersembahkan melalui pohon usapi dan tiang kurban tola di depan rumah adat. Buahjagung dalam arak-arakan adalah panenan dari kebun masing- masing keluarga. Setelah berkumpul di pelataran kampung, hasil panen itu selanjutnya secara bersama diarak menuju rumah adat dalam suasana penuh kegembiraan. ”Kalau di Belu dan Malaka tidak ada pembatasan peserta ketika arak-arakan hasil panen,” tambah tetua lainnya.Orang Belu dan Malaka sejak lama mengandalkan jagung sebagai bahan pangan utama meski belakangan gengsinya mulaitergusur oleh beras. Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran melalui Asisten Bagian Administrasi Umum Setda Malaka, Yoseph Parera mengatakan kegiatan Festival Batar Mana’ik di Kabupaten Malaka merupakan ikon wisata adat masyarakat Malaka yang harus dijaga dandilestarikan. Kegiatan ini hanya ada di NTT, khususnya di wilayah Kerajaan Liurai Malaka Wehali Kabupaten Malaka, sehingga kegiatan seperti ini harus didukung agar menjadi ikon wisata adat bagi masyarakat Malaka khususnya desa Builaran. Hal itu disampaikan Yoseph Parera saat puncak Perayaan Festival Batar Manaik di desa Builaran-Kecamatan SasitameanKabupaten Malaka-Provinsi NTT, Jumat (28/9-2018).


31 Gambar 4.13 Kesi batar mana’ik ‘ritual ikat jagung pemali’ Sistem Sosial Masyarakat Malaka Ditinjau dari aspek budaya dan Antropologi, penduduk Malaka dalam susunan masyarakat Malaka terbagi atas 2 subetnik yang besar yaitu: Ema Tetun ‘dan Ema Dawan “R.” Kedua sub etnik mendiami lokasi-lokasi dengan karakteristik tertentu dengan kekhasan penduduk bermayoritas penganut agama Kristen Katolik. Setiap etnik mempunyai bahasa dan praktik budaya yang saling berbeda satu sama lain dan kesamaan dilain segi. Kendati demikian masyarakat Malaka dapat dengan mudah hidup rukun dikarenakan aspek kesamaa-kesamaan spesifik. Mata pencaharian utama adalah bertani yang masih dikerjakan ekstensif tradisional. Dari aspek ekologis, kondisi tanah Malaka sangat subur karena selain memiliki lapisan tanah jenis berpasir dan hitam juga dikondisikan dengan curah hujan yang relatif merata sepanjang tahun. Daerah Malaka yang subur tersebut membuatnya potensial untuk dikembangkan menjadi daerah peternakan dan pertanian. Subsektor perikanan dengan kawasan pantai yang membentang dari Malaka bagian selatan sampai utara turut memengaruhi pemetaan pekerjaan dan pendapatan. Selain itu, dari subsektor kehutanan kontribusi yang diperoleh juga signifikan dengan beberpa jenis pohon produktif seperti cendana, eukaliptus, kayu merah dan jati. Dari sub sector dan sub sector lainnya seperti perdagangan dan jasa, industri dan lainnya juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhahadap pembentukan PDRB dan peningkatan PAD. Berdasarkan struktur sosial masyarakat Malaka masih terpelihara dengan baik hingga kini. Semangat kekeluargaan dibangun atas kombinasi antara garis ayah (matriarkat) yaitu Mane dan garis ibu (patriarkat) yaitu feto.Feto (perempuan) di Malaka mendapat tempat terhormat dalam struktur sosial masyarakat Kabupaten Malaka. Dalam urusan gender kaum perempuan termasuk


32 supergender. Di Kabupaten Malaka perkawinan patri, garis keturunannya mama, kleinnya perempuan. Mane (laki-laki) kawin masuk.Feto (perempuan) diidentikkan sebagai pemilik rumah,pemilik kekayaan, penjaga rumah, dan pusat keindahan dan pusat orang berkumpul. Dalam perkawinan di Malaka kalau berbicara tentang adat harus di rumah perempuan baru sah, di rumahnya laki-laki tidak sah,karena di Malaka menganut perkawinan parlikat, di samping perkawinan secara karena kawin masuk sebagai penghargaan kepadakaum perempuan’. Dalam struktur adat Malaka ada Fukun Mane (laki-laki) dan Fukun Feto (perempuan). Dengan demikian, kaum perempuan mendapat tempat istimewah bagi orang Malaka.Perempuan Malaka adalah aset pembangunan dan mempercepat akselerasi di wilayah Kabupaten Malaka. Struktur Sosial Guyub Tutur Orang Malaka Struktur sosial adalah “organisasi suatu kelompok atau masyarakat yang dilihat sebagai struktur kedudukan dan peranan: abstraksi formal dari hubunganhubungan sosial yang berfungsi dalam komunitas” (Kessing, Roger M., 1992: 113). Struktur sosial dapat juga didefenisikan sebagai “suatu jaringan dari kedudukan- kedudukan sosial yang diserahi tugas-tugas, tanggung jawab dan saluran-saluran komunikasi yang secara relatif bersifat tetap”(Lundberg, George A., CS., 1963: 141). Struktur sosial Ema Tetun di Kabupaten Malaka pada umumnya, dan di kerajaan Wesei-Wehal, khususnya terdiri atas fukun-fukun, uma manaran atau uma hun (secara harafiah, ruas buku bambu, uma suku yang bernama, uma inti atau uma asal usul; secara simbolis artinya klan, suatu komunitas kerabat seketurunan). Stratifkasi masyarakat Malaka tersusun dalam susunan atau lapisan- lapisan dalam masyarakat yang disebut stratifikasi sosial. Pembagian dan pembedaan masyarakat Malaka dalam kelas-kelas hirarkis di bawah ini didasarkan pada turunan/ras yang yang ada sejak pendudukpara pendatang sampai dengan kejayaan zaman kerajaan. Menurut H.J. Grijzen seperti dikutip dalam tulisan Rm. Florens Maxi Un Bria dalam " The Way To Happiness Of Belu People" bahwa masyarakat Malaka mengenal klasifikasi atas 3 (tiga) golongan, yang secara hirarkis terdiri atas tiga kelompok. 1. Dasi atau golongan bangsawan yang menempati lapisan terpusat dan dari kelompok inilah terpilih Loro / Liurai / Na'I yang akan memangku jabatan pemerintahan secara turun temurun. 2. Renu yang tidak lain adalah rakyat jelata yang merdeka 3. Ata atau klosan yang merupakan golongan hamba sahaya. Mereka yang masuk dalam golongan ini, biasanya merupakan tawanan perang yang dijadikan budak untuk melayani kebutuhan masyarakat golongan renu atau golongan dasi. Perdagangan budak belian ini sempat menjadi komoditi pada tahun 1892 (pada


33 daerah Jenilu - Atapupu) sampai pada akhirnya di awal abad 20- an Pemerintah Belanda mengeluarkann"Pax Nederlandica" sehingga perdagangan budak dihapus.Pembagian masyarakat Malaka sendiri ditinjau dari segi ekonomis terdiri atas klasifikasi "orang berpunya/the haves" (Ema Mak Soin) dan kelompok "orang miskin/the haves not" (Ema Kmukit). Ukuran untuk menentukan dua macam kelas ini tergantung pada pendapatan yang ia peroleh dan cara atau pola hidupnya setiap hari. Dari sudut politik pemerintahan nasional, diketahui bahwa penggolongan masyarakat Jawa atas tiga golongan/tiga kelompok besar yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Dalam keterkaitannya dengan struktur masyarakat Malaka maka dikenal beberapa kelompok/golongan masyarakat yang terdiri atas hal-hal berikut ini. Pertama adalah kelompok teratas atau kelompok raja (Nain Oan)masuk kelompok priyayi. Kelompok lain adalah kelompok masyarakat bawah (HutunRenu) atau marjinal dan orang kecil. Antara dua kelompok itu ada kelompok penengah atau disebutFukun dato. Keterkaitanketiga kelompok utama tersebut terwujud dalam realisasi program dan kerja nyata. Dalam hal ini, kelompok Raja berperan mengawasi pelaksanaan pembangunan dan membuatputusan pemerintahan. Kelompok Hutun Renu sebagai mediator antara kedua kelompok tersebut. Perlu dicatat di sini bahwa dalam proses pengambilan keputusan (fui mutu lian-fui mutu ibun) secara adat dengan korban bakaran. Dalam jajaran dan tataran kelompok penurutan raja atau kerabatan horizontal yang dinamakan "klaken soman" ada juga kelompok vertikal yang disebut "Tohu Larus Hudi Oan". Catatan sejarah lokal, menuturkan bahwa di kerajaan Wewiku-Wehali ada 4 dato yang sangat berperan dalam fungsinya sebagai mediator yaitu, Dato Leki Nahak Tamiru Usi Hawai Lerek (penguasa daerah pesisir laut) atau yang disebut Meti Ktuik. Dato Klisuk Rai dan Klisuk Lor yang menguasai daerah enclave laut (hasan), sedangkan Dato Mota menguasai daerah pesisir kali Benenai (Mota Ninin Hare Ninin) sehingga sesekali dalam kurun waktu tertentu seorang Dato wajib membawahi upeti kepada rajanya. Sistem Kepercayaan Sebelum pengaruh agama ke Kabupaten Malaka, Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, masyarakat Malaka sudah mempunyai kepercayaan kepada Sang Pencipta, Sang Pengatur, yangbiasa disebut dengan Uis Neon (Dewa langit), dan Uis Afu (Dewa Bumi). Banyak ragam upacara dan sesaji yang ditujukan kepada dewa-dewa tersebut untuk meminta berkah kesuburan tanah, menanam, pasca panen, hasil panen. Salah satu contoh upacara hamis batar no hatama mamaik/hamis batar fohon upacara sebagai rasa syukur dimulainya musim petik


34 jagung. Pengertian hamis batar, berarti orang sudah dibolehkan untuk makan jagung dari hasil kebunnya yang seelumnya dilarang makan oleh perintah adat dari fukun/liurai yang disebut badu leolaran. Larangan itu disampaikan ketika jagung/batar fuk mean. Hamis batar didahului suatu perintah adat dari liurai (larangan makan jagung dicabut). Hamis batar dilaksakan berdasarkan tahaptahap sebagai berikut. Hamis batar di rumah-rumah yang punya gelar adat (misalkanuma Makbalin, uma Makaer Kmeik, Uma Katuas, dll) ritualnya dipimpin oleh lelaki tertua dari ibu dalam rumah adat tersebut. Ritualnya meliputi: Pertama, menaruh sirih pinang pada tempat sirih pinang (koba bei feto), dan (kakaluk bei Mane). Kedua, haleka tebok nai kukun sia dan halamak Nai Kukun sia,kemudian simu seka (resepsi adat bersama anak suku). Ketiga, hatama batar fohon adalah ritual membawa persembahan/upeti kepada liurai, kliban liurai dlanjutkan dengan halo khahur liurai kliban liurai (pesta adat liurai). Bentuknya adalah tebe selama tiga hari, tiga malam disebut tebe Bei Mau-Bei Bui karena memontum kdahur/pesta itu adalah suasan sakral habot liurai kroman no kukun (memuliakan raja yang berkuasa dan memuliakan leluhur liurai yang diyakini mendiami Uma Ro Bot Liurai) sekaligus mengenang para leluhur, dan yang diyakini sebagai leluhur pertama adalah Bei Mau dan Bei Bui. Berkaitan dengan upacara ritual hamis dan hatama batar fohon., Neonbasu, 2014:151 mengatakan bahwa secara ekologis- spritual, masyarakat Guyub Tutur Tetun Fehan (GTTF) Kabupaten Malaka, Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengenal tempat-tempat suci dansakral sebagai lokasi istimewa dan khusus untuk melaksanakan ritual-ritual yang diarahkan kepada Sang Ilahi (Sang Pencipta). Pada tempat ini masyarakat terus membangun harmonisasidi antara manusia dan alam (keselarasan ekologis), juga relasi antara manusia dan sesama, bahkan juga komunikasi manusia dengan sang ilahi. Di tempat-tempat sakral ketika masyarakat melaksanakan ritus, masyarkat menghadirkan kembali realitas yang harmonis seperti sediakala ketika para leluhur masih tinggal dalam persaudaraan pada bingkai kehidupan ekologi yang tertata baik. E. Wilayah Penutur Bahasa Tetun Bahasa Tetun merupakan bahasa yang digunakan secara mayoritas oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Belu dan wilayah Kabuapaten Malaka, Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Bahasa Tetun mempunyai dua dialek yaitu dialek Fehan yang sering disebutjuga dengan dialek Tetun Fehan atau Tetun Terik dan yang kedua adalah dialek bahasa Tetun dialek Foho. Bahasa Tetun dialek Fehan digunakan di beberapa Kabupaten Malaka seperti di Kecamatan Malaka Barat, Kecamatan Malaka Tengah, Kecamatan Weliman, Kecamatan Wewiku, Kecamatan Rinhat, dan


35 sebagian di KecamatanKobalima dan Kobalima Timur, sebagian Kecamatan Malaka Timur. Masyarakat Guyub Tutur Bahasa Tetun Terik digunakan oleh masyarakat pesisir pantai di wilayah selatan Kabupaten Malaka. Masyarakat Malaka (Ema Fehan) menganut sistem perkawinan patrilineal, sedangkan masyarakat Foho menganut sistem perkawinan matrilineal. Masyarakat matrilineal suku Tetun di Kabupaten Malaka, Timor, Nusa Tenggara Timur, yang menggunakan bahasa Tetun dialek Fehan sebagai alat berkomunkasi,mempunyai ciri khas tersendiri yang dapat dibedakan dengan guyub tutur yang lain. Seperti umumnya masyarakat matrilineal, secara adat perempuan Tetun Fehan menduduki posisi yang lebih penting daripada laki-laki karena garis keturunan yang dianut oleh masyarakat ini adalah garis keturunan ibu. Di samping itu, perempuan merupakan ahli waris kekayaan orang tuannya. Begitu pentinnya peranan perempuan sehingga masyarakat mengungkapkan penghargaan terhadap perempuan dengan uangkapan ina maromak raiklaran ‘ibu kehidupan’. Pentingnya perempuan dalam keluarga diwujudkan dengan lebih memperhatikan anak perempuan daripada anak laki-laki. Anak perempuan dianggap sebagai penerus keturunan sehingga menduduki posisi penting dalam keluarga. F. Peranan dan Kedudukan Bahasa Tetun Fehan Bahasa Tetun Tehan digunakan sebagai alat komunikasi dan merupakan sebagaian kebudayaan masyarakat Kabupaten Malaka.Bahasa Tetun dalam kehidupan sehari-hari digunakan dalam pergaulan hidup keluarga dan anggota masyarakat suku Tetun Fehan, juga sebagai upacara adat dan bahasa pengantar dalam berjenis-jenis khotbah, ceramah di desa-desa, dan sebagai pengantar di kantor, sekolah dalam situasi yang tidak resmi. Dalam kegiatan tulis-menulis,bahasa Tetun jarang digunakan. Sikap ramah dan bangga masyarakat Malaka terhadap bahasa ibunya menyebabkan suku Tetun Fehan (Malaka) merasa terpanggil untuk membetulkan kesalahan bila seseorang yang bukan penutur aslibahasa Tetun Fehan mencoba untuk berbahasa Tetun Fehan. Di dalam upacara resmi yang melibatkan kehadiran orangorang yang bukan penutur asli bahasa Tetun Fehan seperti dalam upacara perkawinan, keagamaan, khotbah, serta kegiatan sosial lainnya menggunakan bahasa Indonesia.Akan tetapi, upacara adat (ritual-ritual adat) menggunakan bahasa Tetun Fehan. Guyub tutur masyarakat Kabupaten Malaka mayoritas beragama Kristen Katolik. Mereka bergaul dengan suku lain yang berbahasa Bunak di Haroe, Alas, Kecamatan Kobalima, berbahasa Dawan di daerah Manlea, Fatuarui, di Kecamatan Malaka Tengah, dan di Desa Kusa Kecamatan Malaka Timur. Perlu diketahui bahwa para pemakai bahasa lain itu, juga menguasai bahasa Tetun dengan aktif, sehingga sebelum mengenal bahasa Indonesia. Suku-suku tersebut mengenal bahasa Tetun


Click to View FlipBook Version