The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berjudul khazanah ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor Kabupaten Malaka. Bidang utama kajian ini adalah ekolinguistik yang mengungkap ke-batar-an. Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan sebuah karya penting di dalam disiplin ilmu Ekolinguistik. Selain karena karya ini menyajikan sebuah model kajian ekolinguistik yang penting dan berguna. Buku ini menyajikan model analisis koleksikon ke-batar-an orang Malaka berdasarkan perspektif ekolinguistik

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG, 2023-10-02 23:14:29

KHAZANAH EKOLEKSIKON KE-BATAR-AN

Buku ini berjudul khazanah ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor Kabupaten Malaka. Bidang utama kajian ini adalah ekolinguistik yang mengungkap ke-batar-an. Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan sebuah karya penting di dalam disiplin ilmu Ekolinguistik. Selain karena karya ini menyajikan sebuah model kajian ekolinguistik yang penting dan berguna. Buku ini menyajikan model analisis koleksikon ke-batar-an orang Malaka berdasarkan perspektif ekolinguistik

Keywords: Maria Nahak

36 Fehan sebagai bahasa pendamping bahasa Indonesia dalam situasi resmi. G. Ekologi Alamiah orang Malaka Silsilah manusia Malaka merupakan suatu komunitas masyarakat yang berada pada lingkungan (environment) hidup batar‘jagung’. Kepercayaan, dan pandangan orang Malaka menganggap bahwa manusia merupakan bagian dari alam raya. Manusia pada satu pihak dikuasai oleh alam,tetapi sebaliknya manusia juga menguasai alam. Manusia Malaka harus mengambil bagian di dalam alam, dengan hidup menurut hukum alam atau hukum harmoni.Apabila terdapat penyimpangan, harus diadakan upacara untuk mengembalikan keseimbangan itu. Menurut Dahlan & Efendy (1992) (dalam KMNLH (1997) mengatakan bahwa melalui lingkungan sosial, manusia melakukan interaksi dalam bentuk pengolahan keutuhan hubungan masyarakat dengan alam dan binaannya melalui pengembangan perangkat nilai, normideologi, dan perangkat sosial serta budaya lainya. Dari kegiatan tersebut, masyarakat dapat menentukan arah pengembangan lingkungan yang selaras dan sesuai dengan daya dukung lingkungan alam dan lingkungan binaan. Berdasarkan penuturan para tetua adat dan para sejarahwan Tanah Malaka mengatakanbahwa sebelum orang Malaka menghuni daerah Malaka, sudah ada suku yang terlebih dahulu mendiami wilayah Kabupaten Belu yaitu "Suku Melus". Orang Melusdikenal dengan sebutan "Emafatuk oan ai oan", (manusia penghuni batu dan kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar, dan bertubuh pendek. Suku Melus yang menghuni daerah tersebut, berdasarkan sebuah sumber terpercaya yang penulis ketahui bahwa Orang Malaka sebenarnya berasal dari "Sina Mutin Malaka"yang datang dari Negara Cina dan Thailand yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka dan mendiami daerah Belu. Namun, seiring berjalannya waktu terjadilah kawin campur antara orang asli Suku Melus dengan Pendatang Sina Mutin Malaka hingga menyebar ke wilayah selatan Kab. Belu yang sekarang mendiami wilayah Malaka.Perlu diketahui bahwa disisi lain terdapat berbagai versi cerita. Kendati demikian, versi itu ternyata tidak berbeda secarasignifikan. Ada cerita bahwa ada tiga orang bersaudara dari tanah Malaka yang datang dan tinggal di Belu, kemudian bercampur dengansuku asli Melus. Nama ketiga saudara itu menurut para tetua adat masing - masing daerah berlainan. Dari makoan Faturuin menyebutnya Nekin Mataus (Likusen), Suku Mataus (Sonbay), dan Bara Mataus (Fatuaruin). Makoan asal Dirma menyebutnya Loro Sankoe (Debuluk, Welakar), Loro Banleo (Dirma, Sanleo), dan Loro Sonbay (Dawan). Namun, menurut beberapa Makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah; Wehali Nain, Wewiku Nain, dan Haitimuk Nain. Pendatang dari Malaka itu bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dengan masyarakatnya.


37 Kedatangan mereka ke tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan dagang antardaerah di bidang kayu cendana. Hubungan etnis keagamaan yang mana kekuasaan Tanah Malaka pada saat itu dipimpinan atau dipegang oleh "Liurai Nain” diMalaka. Menurut para peneliti asing ”Liurai Nain” kekuasaaannya juga merambah sampai sebahagian daerah Dawan (insana dan Biboki). Dalam melaksanakan tugasnya di Malaka, Liurai Nain memiliki perpanjangantangan yaitu Wewiku-Wehali dan Haitimuk Nain. Selain juga ada Faturuin, Sonabi dan Suai Kamanasa serta Loro Lakekun, Dirma, Fialaran, maubara, Biboki dan Insana. Liu Raisendiri menetap di Laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali. Menurut para sejarahwan Tanah Malaka diperluas menjadi Belu bagian Selatan. Pada masa penjajahan Belanda, muncullah siaran dari pemerintah raja - raja dengan apa yang disebutnya "ZamanKeemasan Kerajaan". Apa yang kita catat dan kenal dalam sejarahdaerah Belu, khususnya wilayah Malaka adalah adanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan seluruh Malaka). Menurut penuturan para tetua adat dari Wewiku-Wehali, untuk mempermudah pengaturan sistem pemerintahan, Liurai Nain mengirim parapembantunya ke seluruh wilayah Kab. Belu sebagai Loro dan Liurai.Tercatat nama - nama pemimpin besar yang dikirim dari Wewiku-Wehali seperti Loro Dirma, Loro Lakekun, Biboki Nain, Harneno dan Insana Nain serta Nenometan Anas dan Fialaran. Adajuga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak. Selain itu ada juga nama seperti Dafala, Manleten, dan Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin dan Aitoon. Sesuai pemikiran sejarahwan Belu, dalam berbagaipenuturan di Utara maupun di Selatan terkenal dengan nama empat jalinan terkait. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rin besi hat yaitu Dafala, Manuleten, Umaklaran Sorbau dibagian Timur ada Asumanu Tohe, Besikama-Lasaen, dan Umalor-Lawain. Dengan demikian rupanya keempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal - usul pendatang di Belumembaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah. H. Kekayaan Leksikon Pertanian Ke-batar-an Setiap bahasa memiliki konsep kosmolgi atau pandangan tentang alam semesta. Demikian juga GTTF memiliki konsep kosmologi bahwa alam semesta ini terdiri atas tiga tingkatan. Ketiga tingkatan itu adalah langit sebagai lapisan teratas, isinya bagian tengah dan bumi atau tanah sebagai lapisan bawah. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, guyub tutur Tetun Fehan senantiasa membangun relasi yang harmonis dengan langit, dan dengan segala isinya, relasi dengan bumi dengan aneka sumberdaya biotik danabiotik yang ada di sekitar mereka, dan tentunya relasi


38 dengan tanah dan batu. Dengan demikian demikian, jagat raya atau semesta alam itu disadarisebagai wahana kehidupan yang memang harus dijaga dandirawat. Masyarakat Guyub Tutur Tetun Fehan dengan keberagaman keadaan dan topografinya memiliki bahasa lokal. Selain itu, bahasa Tetun merupakan salah satu warisan leluhur yang sangat penting. Oleh sebab itu, warisan leluhur itu harus dilestarikan lintas generasi yakni termasuk pewarisan kekayaan leksikon pertanian kebataran yang menjadi bagian terpenting sebagai dokumentasi bahasa lokal GTTF, Kabupaten Malaka, Timor, NTT. I. Ekoleksikon Pertanian batar ‘jagung’ dalam Teks Ke-batar-an GTTF Sejak zaman dahulu, manusia beradaptasi dan sangat mengandalkan lingkungan alam sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya, untuk makan, tempat berteduh, pakaian, obat, dan bahkan untuk kecantikan dapat diperoleh dari lingkungan. Kekayaan alam di sekitar manusia sebenarnya sangat bermanfaat dan belum sepenuhnya digali, dimanfaatkan, atau bahkan dikembangkan. Kekayaan leksikon ke-batar-an secara umum dapat digunakan oleh semua orang dan juga sudah dibukukan atau terdatapada media sosial dan juga media cetak. Hal ini, dimungkinkan karena leksikon teks ke-batar-an, mencakupi lingkungan pertanian dan lingkungan sosial. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di lokasi penelitian pada guyub tutur Tetun Fehan, terdapat berbagai jenis leksikon pertanian batar ‘jagung’ yang dikenal dapat digunakan padaritual-ritual dalam upacara pratanan, masa tanam, panen jagung muda, dan panen jagung tua dan pada masa puncak ritual yaitu hamisdan hasae batar fohon. Bentuk-bentuk lingual leksikon lingkungan alam terutama leksikon pertanian batar ‘jagung’ untuk ritual tradisional seperti dan leksikon-leksikon pada ranah lainnya secara morfologis bentuk kata dasar dan bentuk turunan. Bentuk dasar adalah satuan, baik bentuk tunggal maupun kompleks yang menjadi dasar bentukan bagi satuan yang lebih besar. Bentuk dasar (batar) adalah sebuah bentuk yang menjadi dasar suatu proses morfologis. Artinya, bisa diberikan afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisadiulang dalam proses reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfemlain dalam proses pemajemukan. Bentuk dasar tersebut berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan morfem (bdk. Katamba, 1993:45). Berikut disajikan klasifikasi leksikon ke-batar-an bahasa Tetun.Klasifikasi leksikon mencakup nomina, verba, dan adjektiva. Dalam bab ini dipaparkan tentang identitas kekayaan leksikon batar ‘jagung’ secara khusus lingkungan pertanian dalam bahasa Tetun Fehan, yang dapat dijadikan sebagai lingkungan pertanian jagung (Corn ecoagricultural environment). Di samping itu, dipaparkan pula makna referensial eksternal leksikon ke-batar-an yang digunakan masyarakat dalam kehidupan seharisehari. Teks ke-batar-an yang digunakan memiliki beragam leksikon yang dapat


39 memperkaya khazanah kebahasaan pada guyub tutur Tetun Fehan yang perlahanlahan mulai menghilang seiring dengan masuknya sistem pertanian modern. Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah penutur guyub tutur Tetun di Kabupaten Malaka, sebagian besar teks-teks ke- batar-an yang digunakan dalam upacara ritual hamis batar tidak lagidiketahui oleh masyarakat umum. Hal ini terjadi karena hanya sebagian masyarakat atau orang-orang tertentu yang masih menggunakan leksikon tersebut. Ke-batar-an merupakan produk penggunaan bahasa Tetun yang mencerminkan seperangkat norma dan nilai sosial budaya yangdianut oleh masyarakat guyub tutur Tetun Fehan dalam meghadapi upacara ritual pratanam, tanam, panen dalam kehidupan setiap hari. Teks ke-batar-an juga dapat diartikan sebagai sebuah fenomena bahasa dalam bentuk lisan yang terbentuk dalam lingkungan sosial- budaya dan lingkungan alam yang mengekspresikan fungsi sosial- budaya dan fungsi ekologi ke-batar-an yang didukung juga oleh konteks budaya. Bentuk atau ekspresi teks kebatar-an dalam mantra yang ditujukan kepada to’os nain saat ritual tanam batar ‘jagung’ Data I: furi batar ‘tanam jagung’ “ Fini rai kabun a ami fo tonen tian ne, “Malo no fulin.no isin ba ami, tan e ami susartian hitu laran”“Oras ne’e ai a moris ti’an ne, ami hodi ba uma lulik sia onan” “ tabe ba Nao maromak, uma sia no matabian sia hotu-hotu” Terjemahan bebas Benih siap untuk ditanam, biji sudah kami taburkan Turunkan berkatmu yang suci, bulir jagung berbuah banyak Tanaman sudah bertunas, bulir jagung berbuah banyakPernah kami kelaparan tujuh tahun erima kasih Tuhan seru sekalian alam


40 BAB III CIRI DAN KATEGORI LINGUALTEKS KE-BATAR-AN Dalam bab ini dipaparkan tentang identitas berdasarkan teks ke-bataran secara khusus dalam meghadapi upacara ritual pratanam, tanam, panen, dan pascapanen dalam kehidupan setiap hari guyub tutur bahasa Tetun Fehan yang dapat dijadikan sebagai konsep budaya dalam bidang pertanian. Di samping itu, dipaparkan pula makna referensial eksternal ekoleksikon teks ke-batar-an yang digunakan masyarakat Kabupaten Malaka dalam kehidupan sehari- sehari. Penggunaan leksikon–leksikon teks ke-batar-an memiliki proses yang unik dan memiliki beragam leksikon yang dapat memperkaya khazanah kebahasaan pada guyub tutur Malaka. yang perlahan-lahan mulai menghilang seiring dengan masuknya sistem pertanian modern. Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah guyub tutur masyarakat Malaka, sebagian besar leksikon yang digunakan dalam teks-teks ke-batar-an tidak lagi diketahui oleh masyarakat umum. Berdasarkan informasi yang dihimpun bahwasebagian besar kosa kata bahasa daerah beralih ke bahasa Indonesia. Hal ini terjadi karena hanya sebagian masyarakat atau orang-orang tertentu yang masih menggunakan leksikon tersebut. A. CIRI FONOLOGI Secara tradisional, pertanian batar ‘jagung’ yang berhubungan dengan teks ke-batar-an terdapat bunyi-bunyi bahasa yang menunjukkan unsure-unsur segmental dan unsur suprasegmental, asonansi, dan literasi. Ciri tersebut berhubungan eratdengan unsur dalam teks ke-batar-an yang juga mementingkan kesatuan ucapan, dan kesatuan bunyi yang menimbulkan pola rima atau persajakan dan nuansa magis. Dalam pengucapan teks ke-batar- an ditemukan tekanan, nada (datar, rendah, dan tinggi), tempo yang bermakna sapaan dan permohonan terhadap Na’i Maromak ‘Yang Kuasa’, Matebian ‘para leluhur’, mak daka raiklaran sia ‘penguasa alam semesta’,baik sia mak ita hare ‘yang kelihatan’, no sia ma’ak ita lahare maupun ‘yang tak kelihatan’. Semua sapaan dan permohonan itu menunjukkan relasi keintiman yang menyatukan ketiga kekuatan tersebut agar tetap dan selalu menunjukkan keharmonisan. Bahasa Tetun Fehan, Kabupaten Malaka, Timor, Nusa Tenggara Timur, sama seperti halnya, bahasa-bahasa nusantara lainnya memiliki ciri-ciri bunyi, baik vokoid maupun kontoid. Telaahteks ke-batar-an difokuskan pada bentuk-bentuk lingual yang menunjukkan: (1) bunyi segmental, (2) suprasegmental, (3) aliterasi, dan (4) asonansi fonem vokal (vokoid) dan fonem konsonan (kontoid).


41 Bunyi Segmental Vokoid Vokoid adalah bunyi ujar yang pada dasarnya dihasilkan oleh alat ucap tanpa hambatan pada pita suara. Berdasarkan bagan daerah artikulasi dan cara artikulasi, fonem vokal bahasa Tetun Fehan dalam teks ke-batar-an terdiri atas 9 (Sembilan) buah vokal yaitu: [a],[i], [I],[u], [U],[e], [E], dan [o], [∂]. Vokoid bahasa Tetun Fehan terdiri atas: vokoid depan tinggi-tak bundar [i], vokal tinggi-belakangbundar [u],vokal madya-depan-tak bundar [e], vokal depan sedang-takbundar [e], vokal belakang sedang-bundar [o], dan vokal rendah tengahrendah-takbundar [a ]. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Tarno,dkk (1987:15) diketahui bahwa bahasa Tetun Fehan tergolong bahasa vokalis. Semua vokal menempati posisi, awal, tengah, dan akhir (sebagai penutup kata). Bahasa Tetun Fehan hanya memiliki lima buah, maka setiap vokal dengan sendirinya memiliki variasi yang cukup banyak. Tidak semua realisasi vokal yang ada diperikan, tetapi hanya dipilih varian yang pengucapannya cukup besar bedanya. Kontoid Berdasarkan bagan daerah artikulasi dan cara artikulasi, bahasa Tetun Fehan memiliki 19 fonem konsonan. Dari Sembilan belas konsonan tersebut terdapat konsonan ganda, yaitu [kh], [kd], [kl], [km], [kn], dan [kr]. Konsonan ganda ini disebut kluster. Hal itu, didasarkan bahwa kombinasi itu bersifat tetap. Dengan memperhatikan cara pengucapan, daerah artikulasi, kegiatan larinks, dan akhir ucapan, konsonan dapat digolongkan sebagai berikut. Fonem konsonan dalam diagram di atas dapat dirinci sebagai berikut: hambat bilabial bersuara /p/, hambat bilabial tak bersuara /b/, hambat dental bersuara /d/, hambat dental bersuara /t/, hambat velar tak bersuara /k/, lateral alveolar /l/, hambat velar bersuara /g/, hambat palatal tak bersuara /j/, nasal bilabial bersuara /m/,nasal alveolar bersuara /n/, nasal velar bersuara //, frikatif labiodental tak bersuara /f/ frikatif alveolar tak bersuara /s/ getar alveolar tak bersuara /r/, dansemivokal labiodental bersuara /w/. Berikut dipaparkan bunyi segmental secara leksikal dan secara budaya dari vokoid [e].Perbedaan bunyi segmental secara leksikal dan secara budaya dari vokoid [e] dapat dilihat pada tuturanberikut ini. Teks: “Fini rai kabun ami fotone ti’ane, N N N Pr-3 V Ket T Bibit tanah perut kami berikan sudah ya “bibit sudah ditanam” “Malo no fulin no isin ba amie V Asp N Asp N Konj Pr Buat ada pulir ada biji (hasil) untuk kami“Semoga


42 berbuah dan berisi” “tan ami susar tinan hitu laran” Konj Pr-3 Adj Wkt Num wkt Karena kami susah tahun tujuh selama ‘kami susah selama tujuh tahun’ Orase batar moris ti’ane ‘Wkt N Adj Asp Sekarang ini pohon itu hidup sudah‘jagung sudah hidup’ batar no fulin tian e ami so’i hodi ba sera ba N ada N Asp Pr-1 V V V Vi Jagung ada pulir sudah kami patah bawa pergi taruh pergiMatabian Arwah ‘Panen jagung untuk persembahan arwah’ ami hodi ba uma lulik sia onan Pr-1j V Pre N Adj Pr-3j Asp Kami bawa ke rumah pemali mereka sudah ‘Diantar ke rumah pamali’ Vokoid [e] pada data tersebut menunjukkan ciri khas bunyisegmental dalam guyub tutur Tetun Fehan dalam tekske-batar-an. Vokoid [e] tersebut memiliki makna permohonan agar benih jagung yang ditanam bertumbuh subur dan mendapatkan hasil yangberlimpah. Teks ke-batar-an tidak terlepas dari unsur-unsur ekspresi atau kesatuan ucapan dan mementingkan keindahan bunyi (Yunus, 1985: 133). Sementara itu, Palmer (1996: ) mengatakan bahwa fonologi berhubungan dengan pembahasan bunyi ujaran pada masyarakat tertentu walaupun fonem-fonemnya tidak sama persis dengan bunyi ujaran. B. Ciri Suprasegmental Sebuah bunyi tidak mempunyai batas tertentu, tetapi secara mekanis dapat dicatat sebagai puncak dari mekanisme pelaksanaan/ inisiator lalu ada puncak kemudian menurun menutup, /⌃/. Penggunaan unsur suprasegmental bersifat emik bagi pendukung budaya tertentu. Unsur suprasegmental menggambarkan perbedaan warna budaya setiap guyub tutur.Secara suprasegmental, bunyi-bunyitersebut memiliki ciri yang berbeda berdasarkan cara artikulasinya. Ciri-ciri yang dimaksud adalah tempo, nada (keras lembut, tinggi rendah dan datar), di samping intonasi dan irama (rhythm). Untuk melihat ciri segmental yang ditandai dengan pemakaian bentuk lingual secara fonologis, seperti bunyi vokoid [e], yang secara suprasegmental diucapkan panjang. Data teks batar ‘jagung’ menunjukkan kemunculan, kombinasi, dan keteraturan pemakaian yang mampu menimbulkan nilai rasa terhadap nuansa makna tertentu dalam budaya guyub tutur Tetun Fehan. Unsur suprasegmental sebagai ungkapan emosional seperti atu[u:] atu emi halamak:adalah unsur suprasegmental


43 yang pengucapannya dipanjangkan pada vokoid [u:] Pengucapan vocoid [u:] u:ma [u:] diawali dengan tekanan suara tinggi hingga berakhir pada bunyi panjang vokal akhir yang bernuansa mistis. Bunyi tersebut, selain berfungsi sebagai sapaan makhluk gaib, juga sebagaiunsur suprasegmental yang bernada permohonan atau permintaan. Data berikut ini menunjukan bunyi denganintonasi yang panjang berfungsi sebagai sapaan makhluk halus dan juga sebagai unsur suprasegmental bernada permintaan. Kemunculan vokoid [u:] pada teks batar pada kalimat u:ma: “ami hodi ba u:ma lulik sia onan” tersebut menunjukkan bunyi suprasegmental dengan tempo pengucapan vokoid [u:] panjang sepertiu:ma: danua: Hal tersebut dimaknai bahwa u:ma: ‘rumah/roh’merupakan tempat menyimpan hasil panen seperti jagung. Bagian atas dari rumah merupakan tempat penyimpanan hasil panen dan benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang. U:ma ‘rumah/roh’ juga memiliki roh kekuatan sudah dipercayai guyur tutur TetunTerik. Ua ‘anak’ seorang Dato yaitu kelompok penengah dalamsusunan stratifikasi masyarakat Kabupaten Malaka. Asonansi Aliterasi dan asonansi merupakan bentuk gaya bahasa retorisyang berwujud pengulangan bunyi, baik bunyi konsonan maupun vokal (lihat Keraf, 2001:130). Kedua bentuk gaya bahasa ini paling produktif karena menempati hampir dalam keseluruhan kata, frasa, klausa, ataupun kalimat yang ada dalam teks batar ‘jagung’. Asonansi dan aliterasi erat pula kaitannya dengan faktor “pilihan”, di samping unsur estetis dan musikalitasnya. Pilihan aliterasi yang produktif dalam batar ‘jagung’, yakni /l/, /b/, /d/, /ng/, /k/, g/, /r/, t/, gh/, /m/, /w/, di samping bunyi konsonan lainnya. Asonansi merupakan pengulangan bunyi vokal yang sama dari kata yang berurutan dan dilekatkan berbagai macam bunyi konsonan. Proses asonansi dalam teks batar ‘jagung’ sama halnya dengan pengulangan bunyi pada aliterasi, yaitu menciptakan suasanamagis. Pada setiap teks batar terdapat pengulangan kontoid yang tanpa disadari tersusun dengan rapi. Bunyi-bunyi tersebut dapat menimbulkan makna tertentu karena dalam hubungan dengan teks- teks ke-batar-an secara tradisional. Untuk lebih jelasnya, asonansi yang terdapat pada tekske-batar-an dalam syair lagu dalam ritual hamis batar/hasae batar fohon dapat dilihat pada data berikut. Teks : Batar no fulin tian e ami so’i hodi ba sera ba mate N ket N ket N V V Vi V ViJagung ada pulir sudah ya kami patah bawa pergi persembahkan pergi arwah


44 ‘bulir jagung (yang) besar kami bawa untuk persembahan arwah’ ami hodi ba uma lulik sia onanPr-3 V Pre N Adj Pr-3 Asp Kami bawa ke rumah pemali mereka sudahDiantar ke rumah pamali” E la taes masin e, o etu o … tidak saring garam ya ya nasi Anda o ya ya tidak saring garam ya Anda nasi ha mis o la taes masin N Adj Anda tidak saring garam ‘rasa hambar’ ha mis o makan hambar Anda V Ad Pr makan hambar Anda ‘rasa hambar’ E la tiha daie, o etu o ha mis o, la … ing N N ya Pr N Pr V Adj Pr Ing … tidak jala pukat Anda nasi Anda makan hambar Anda tidak dai etu o pukat nasi Anda ‘tidak jala pukat Anda nasi makan hambar’ E falu nalo sena.. tiha o tun tasi o, falu nalo sena tiha .. … V V V V Pr V ket.T Pr V V V balik buat tutup jala Anda turun laut Anda balik buat tutup jala turun Holiho ho ho asu ain ne’e, e he asu ainee, e N N Pr N N ‘kaki anjing ini’ ‘kaki anjing ini’ Holi ho ho ho hali lain ne’e, e he hali lain ee N N Pr N N … ……….. Beringin ranting ini beringin ranting ini ‘ranting beringin ini’ ranting beringin ini’ E Matan dukur onan e, e ba o ba toba o, Matan dukur onan e, N Ad Asp V Pr Vi V Pr N Adj ket .. Mata kantuk sudah pergi Anda pergi tidur Anda Mata kantuk sudah ba toba


45 V V pergi tidur Pengulangan vokoid akhir [i] pada kata So’i, hali, Bei bertujuan menimbulkan musikalitas bunyi sekaligus bernada permohonan kepada leluhur, Sang Pencita atas hasil panen batar ‘jagung’. So’i. Dalam hal ini, merupakan aktivitas memanen jagung sebelum makan jagung muda melalui upacara ritual hamis batar. Seteleh memamen ada ritual hamis sebagai penghormatan kepada leluhur dengan mengucapkan doa permohonan melalui lagu dan tarian Tebe bei Mau dan Bei Bui. Bei Bui merupakan istri dari Bei Mau nama leluhur penguasa tanah yang melampui bumi. Pria maupunwanita menari mengelilingi hali ‘beringin’ yang memiiki nilai kebersaaman dan magis. Selain itu, pada data yang sama terdapat pengulangan vokoid [e] pada akhir setiap kata, yaituEdan ne’e. Pengulangan bunyi menunjukkan suasana rendah hati dan dalam keadaan khusuk memohon hasil panen berlimpah. Selain pengulangan vokoid akhir [i] dan [e] pada data tersebut di atas, terdapat pula beragam pengulangan bunyi vokal akhir [o], seperti terdapat pada data berikut. Teks: Ehe e Bei Mau e, o Bei o Mau Sali o, ya ya ya Nenek Mau ya Anda Nenek Anda Mau Sali Anda E he e Bei Mau Sali ai ho ho Bei Mau Sali o ya ya ya Nenek Mau Sali kayu ya ya Nenek Mau Sali Anda Terjemahan bebas: Suatu hari ketika Bei Bui hendak mengambil api di atas langit (surga), tiba-tiba tali penghubung itu putus sehingga memisahkan kedua leluhur tersebut. Teks tersebut menunjukkan asonansi, yakni pengulangan vokoid akhir [o] pada kata no, mau o, sali o, ho ho yang mengandungmakna rendah hati. Ciri artikulasi bunyi vokal [o] tersebut menunjukkan permohonan kepada para leluhur, untuk selalu menjagadan melindungi turunannya dari bala penyakit. Bagi guyub tutur Tetun Fehan, hubungan dengan para leluhur sangat dekat, karena selalu menjaga dan melindungi turunannya. Vokoid [o] secara budaya bermakna penyerahan / perlindungan diri kepada lelulur. To,os nain, Bei Mau- Bei Bui ,Dato, Nai Maromak ‘Tuhan Maha Besar’, Dato ‘leluhur’ sebagai penjaga kehidupan guyub tuturnya. Selain pengulangan bunyi vokal akhir, terdapat pula bunyi vokal yang menunjukkan efek musikalitas yang membuat indah,namun tanpa disadari oleh orang yang mengucapkan teks tersebut, seperti terlihat pada penggalan teks berikut. Teks: E he e bei Mau e, o bei o Mau sali o, Pr N Pr N Pr N N N ya nenek Mau ya Anda nenek Anda Mau sali Anda


46 ‘Bei Mau Sali’ E he e bei Mau sali ai ho ho Bei Mau Sali o ya ya ya nenek Mau sali kayu ya ya nenek Mau sali AndaPr N N N Pr N N N ‘bei Mau Sali’ Terjemahan bebas: Suatu hari ketika Bei Bui hendak mengambil api di atas langit (surga),tibatiba tali penghubung itu putus sehingga memisahkan kedua leluhur tersebut. Selain pengulangan bunyi yang sama pada data ke-batar-an,terdapat pula efek musikalitas pada data tersebut yang menunjukkan permainan bunyi yang tanpa disadari, tetapi memiliki makna tertentu, yakni bunyi vokal [a/ - / i/, /e/-/u/, /e/-/a]. Efek musikalitas tersebut, terdapat pada kata bei ’leluhur’, etu ‘nasi’, ‘mau’, raja’. Efek musikalitas pada bunyi vokal tersebut yakni memiliki relasi yang intim dengan alam,leluhur,dan Sang Pencipta. Keintiman relasi ini terjelma dalam ritus-ritus saat membuka lahan, menanam benih, dan memanen hasil kebun khususnya batar ‘jagung’. Aliterasi Aliterasi merupakan pengulangan bunyi konsonan dan suku kata yang berurutan untuk medapatkan efek kesejajaran (kesedapan bunyi).Paralelisme bunyi tersebut pada guyub tutur Tetun Fehansangat erat kaitannya dengan hakikat batar ‘jagung’.Bunyi-bunyi yang diucapakan menimbulkan nuansa magis. Terdapat pengulangan bunyi konsonan, baik pada bunyi konsonan maupun vokal tertentu, dapat dilihat pada data ke-batar-anberikut. Teks: bei sia tun mai N N V V Leluhur mereka turun datang ‘Para leluhur datang/turunlah’ ata sia kose tian ne,e sia halamak onan N N V ket Asp N V ket hamba mereka oles sudah ini mereka makan sudah‘hambamu sudah meminta ijin untuk makan’ Teks ke-batar-an di atas menunjukkan pengulangan bunyi konsonan dapat menimbulkan nuansa magis, seperti bunyi kontoid [t] dan [k] pada kata kose ‘poles’ dan tun ’turun’. Kontoid [k] lateral alveolar dan berubah bunyi menjadi konsonan [t] hambat dental tak bersuara dan juga pengulangan bunyi konsonan /k/ hambatvelar tak bersuara memiliki hubungan dengan mereka yang memilikikakaluk ‘jimat’ dari nenek moyang. Hal ini, menunjukkan agar diberi izin makan jagung


47 muda kepada ata ‘hamba’. Selain pengulangan bunyi konsonan pada satu kalimat, terdapat pula pengulangan konsonan pada awal setiap kalimat yang dapat menimbulkan nilai rasa tertentu, seperti terlihat pada penggalan data berikut ini. Teks : matabian tuan no nurak N N KONJ Adj ‘Leluhur tua dan muda’ iha kukun kalan ba Adj Adj Adj Ket‘ gelap malam’ ami atu hasa’e ba uma lulik N V Pr N N ‘pergi ke troman besar’ mo ami ba troman bot ne’eKONJ N Vi N Adj Kd dengan kami pergi besar ini matabian tuan no nurak N Adj Adj ‘para leluhur tua dan muda’ ami atu simu matak no malirin N V V KONJ Adj ‘Mohon berkat para leluhur’ bet ami abut kakias mos malirinKONJ Pr 2 N Adj sudah Adj ‘kami mohon berkat dari para leluhur’ Teks tersebut menunjukkan pengulangan kontoid pada awalsetiap kalimat seperti kontoid [t] pada kata tuan ‘tua’, dan kontoid [n] seperti pada kata nurak‘muda’. Jika, pengulangan kontoid pada awal kata, seperti [t] tuan’ ‘lama’,sebagaipenunjuk/arah batasan wilayah untuk menyapa pen guasa alam, dalam hal ini, matabian ‘para leluhur’. Selain itu, pengulangan kontoid [n] pada awal kalimat seperti kata nurak ‘ muda’ bermakna permohonan kepada lelulur,agarhasil panen berbuah banyak. C. Ciri Morfologi Bentuk dan struktur satuan-satuan lingual dalam teks ke- batar-an dapat dilihat dari cirri morfologi, dan secara keseluruhan dapat memperlihatkan kategorikategori. Ciri morfologi teks ke- batar-an secara rinci dapat dipaparkan di bawah ini. Hal yang dilakukan untuk persiapan jagung sama seperti hal yang dilakukan pada persiapan tanam padi, yaitu tindakan pertama yang dilakukan untuk persiapan tanam batar ‘jagung’ adalah membuat lubang yang secara lingual dikodekan dengan bentuk habon rai ‘membuat lubang tanah’. Seteah lubang dibuat disiapkan, dilanjutkan dengan tindakan lanjutan yang dikodekan dengan frasa- frasa verba hodi fini ‘mengantar bibit’ dari rumah, hola fini ‘mengambil bibit’ dari tempat bibit, taman


48 fini ‘menamam bibit’, merupakan bentuk verbal yang agak spesifik yang secara semantik menunjukkan makna lubang, mengantar bibit, mengambil bibit,dan menanam bibit. Setelah proses tanam dilakukan dengan lancar, tahap berikutnya dilanjutkan dengan pemeliharaan tanaman batar ‘jagung’ Pemeliharaan dilakukan dengan tindakan hafaho mo’at ‘mencabut rumput’ di sela-sela tanaman jagung dengan menggunakan alat tahatur ‘tajak’ atau besita ‘pacul’. Selain itu dilakukan juga seluk ‘mengganti’ batar ‘jagung’ yang mati akibat bibit jagung dimakan semut sebelum hidup.Rentangan waktu seluk ‘mengganti’ batar ‘jagung’ sekitar satu minggu setelah masa tanam. Dalam proses pemeliharaan dan perawatan dikodekan dengan bentuk lingual verbalseluk ‘mengganti’. Jenis bibit batar ‘jagung’ yang ditanam adalah bibit jagung unggul berwarna mutin ‘putih’ atau modok ‘kuning’ bersih. Ada juga jenis jagung yang lain seperti, batar mean’merah’, makakerek ‘mutiara’, ainaruk ‘sorgum’, belit ‘pulut’. Jenis-jenis jagung yang telah diuraikan di atas menggambarkan keberagaman biota batar‘jagung’ dengan keberagaman spesiesnya menjadi makanan pokok lokal, masyarakat guyub tutur Tetun Terik. Selanjutnya, saat jagung sudah samara ‘gejala jagung berisi’,sekitar 8 minggu batar ‘jagung’, fukun ‘tetuah adat’ mengeluarkan perintah badu ‘larangan’ kepada masyarakat adat sekitarnya agar tidak mengambil, memotong, mematahkan batar ‘jagung’ dan makan batar ‘jagung’ muda sampai dengan jagung isin ‘berisi’. Proses berikutnya dilakukan ritual hamis ‘makan jagung bersama-sama’. Batar ‘jagung’ sudah berisi yang direpresentasikan dengan bentuk lingual isin ‘bersisi’. Proses pascatanam batar ‘jagung’ dalam teks kebataran guyub tutur Tetun Fehan memiliki leksikon verba dijelaskan sebagi berikut. Kegiatan panen batar ‘jagung’ disebut dengan so’ibatar yakni mematahkan, memetik jagung dengan tangan. Bagian yang diambil adalah pulir jagung.Pada saat mematahkan batar ‘jagung’ tangan kiri memegang batang jagung, lalu tangan kanan berfungsi untuk mematahkan batar ‘jagung’ atau memetik pulir jagung.Kemudian batar ‘jagung’ yang sdah dipetik dengan tangan tadi, lalu ditumpuk tanah. Dalam proses panen batar ‘jagung’ biasanya dilakukan secara bergotong-royong oleh ibu-ibu di dalam perkampungan mereka. Selanjutnya, tugas laki-laki yaitu memindahkan jagung dan menikat jagung manaik yang sudah dikumpulkan oleh ibu-ibu. Proses mengikat batar mana’ik ‘jagung pamali’ dilakukan oleh laki-laki. Jagung yang sudah diikat adalah jagung yang pulirnya besar sebagai batarmana’ik ‘jagung pemali’. Fungsi batarmana’ik ‘jagung pamali’ berfungsi sebagai fini diak ‘bibit terbaik’ jagung untuk ditanam pada musim tanam berikutnya. Fini diak ‘bibit terbaik’ dalam kepercayaan petani tradisional. Jagung mana’ik ‘jagung pamali’ yang diikat di loteng rumah di bawah semakin lama akan semakin tua karena selalu kena asap api. Kepercayaan guyub tutur Tetun Fehan percaya bahwa jagung yang disimpan di atas loteng. Ketika kami wawancarai informan kunci di lokasi penelitian, bahwa jagung manaik ‘jagung pamali’ disimpan dirumah adat untuk ritual, juga digunakan sebagai makanan lokal cadangan keluarga,


49 apabila musim kelaparan tiba. Ada makna yang dan fungsi di balik frasa batar mana’ik adalah peristiwa berperan membangun kebersamaan guyub tutur Tetun Fehan. D. Verba Kategori verba dalam teks ke-batar-an dapat diklasifikasi, baik secara umum maupun secara khusus, berdasarkan penggunaannya dalam proses pengobatan. Terdapat verba aktif yang subjeknya berperan sebagai pelaku dan penanggap peristiwa. Menurut Putrayasa (2014: 76-77), secara umum, menyatakan bahwa verba dapat diidentifikasi dan dibedakan berdasarkan kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva karena ciri-ciri sebagai berikut. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang berkaitan dengan sifat dan kualitas. Secara umum, bahasa Tetun Fehan sangat miskin akan afiks, baik prefiks, sufiks, maupun gabungan kata keduanya. Untuk itu, dapat dikatakan bahwa bahasa Tetun Fehan pada umumnya berwujud bentuk dasar, tetapi memiliki makna melakukan sesuatu. Yang dimaksudkan di sini, yakni verba-verba yang berkaitan atau berhubungan dengan proses pengolahan lahan atau pratanam, tanam, panen dan pascapanen secara tradisional. Secara keseluruhan, kategori verba tersebut dapat dideskripsikan di bawah ini. Verba kesi ‘mengikat’ Verba kesi ‘mengikat’ merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam mengerat atau mengikat sesuatu. Verba kesi yang dimaksud dalam kajian ini, yaitu suatu kegiatan mengikat atau mengeratkan atau menyatukan jagung dengan tali yang akan dijadikan sebagai persembahan kepada para leluhur. Untuk itu, dapat dikatakan bahwa bahasa Tetun Fehan padaumumnya berwujud verba dasar, tetapi memiliki makna melakukan sesuatu. Verba futu ‘mempertalikan’ bagi masyarakat dilakukan untuk jenis fulin ‘pulir’ ataupun kain ‘batang’, tahan ‘daun’. Verba kesi termasuk perbuatan atau aksi dalam melakukan sesuatu Verba kesi yang dimaksud dalam kajian ini berkaitan dengan kuantitas bahan yang akan digunakan dalam pertanian tradisional pada saat hamis batar ‘ritual makan jagung bersama’. Bagi guyub tutur Tetun Fehan, ikatan jumlah atau kuantitas sangat menentukan kadar kesakralan ritual. Berbicara tentang verba kesi tentunya selalu berkaitan dengan peralatan yang digunakan untuk melakukan sesuatu. Peralatan yang dapat digunakan untuk mengikat, yakni tali ‘tali’ dan batar kakun ‘kulit jagung’. Verba kesi dalam permohonan kepada para leluhur, yaitu suatu permohonan kepada leluhur tuan no nurak ‘tua dan muda’ yang


50 dilakukan selalu menggunakan jumlah jagung yang ganjil yaitu lima, tujuh, dan sembilan. Hal ini, dilakukan sesuai tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat guyub tutur Tetun Fehan. Berdasarkan hasil wawancara serta pengetahuan dan pengalaman dari guyub tuturTetun Fehan, secara khusus hamis, bahwa dalam ritual hamis batarsecara khusus pada saat tatera batar dan batar manaikselalu menggunakan angka ganjil mengacu pada gambar 4.8 ritual tatera batar (perang melempar jagung muda). Dalam acara ritual hamis batar ‘makan jagung muda’ jumlah kuantitas jumlah ikatan jagung yang dipersembahkan kepada para leluhur memiliki makna penting ritual hamis batar. Hal tersebut, selalu ada dalam kognisi guyub tutur Tetun Fehan sebagai ungkapanrasa syukur guyub tutur Tetun Fehan di Kabupaten Malaka kepada Sang Pencipta, leluhur tuan no nurak (tua dan muda), baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan yang telah memberikan hasil panen yang berlimpah seingga masyarakat tidak mengalami kelaparan. Verba kose‘Tempel/menempel’ Verba kose ‘tempel/menempel’ adalah verba konstatatif. Verba kose ’menempel/menempel’ yang dimaksud dalam kajian ini, yaitu suatu tindakan yang dilakukan seorang fukun,dato/ferik tur uma‘tetuah adat/pemangku adat’ di dalam upacara ritual hamis batar/hasae batar fohon’upacara ritual makan jagung muada’. Verbakose ini berhubungan dengan menempelkan biji jagung yang telah dikunyah oleh tetuah adat, lalu ditempelkan pada dahi,lengan, dan bagian dada sesorang sebelum makan jagung ritual hamis batar. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikatakan,bahwa sebelum hamis batar selalu dilakukan ritual kose “menempelkan’ untuk tujuan yang sama. Selain verba kose ‘tempel/menempelkan’ musan ‘biji’ pada tubuh seseorang dapat juga dengan menggunakan batar musan ‘biji jagung’. Tradisi yang sering dilakukan oleh fukun/dato tersebut untuk memohon/meminta perlindungan dan izindari para lelulur sebelum makan jagung muda. Verba kuda/furi ’menanam Verba kuda/furi ‘menanam’ merupakan proses menaruh bibit jagung di dalam tanah supaya tumbuh atau menaruh bibit jagung di dalam tanah yang dilubangi, lalu ditimbuni dengan tanah. Verbakuda/furi ‘menanam’ dalam hal ini, menaruh bibit jagung di dalam tanah yang dilubangi, lalu ditimbuni dengan tanah. Verba tamandapat dilakukan oleh para kaum wanita dalam preoses kegiatan menanam. Verba kuda/furi dilakukan dengan manruh benih jagung ke dalam tanah dengan menggunakan alat aisuak ‘alu’. Hingga saat ini, aisuak hanya dimiliki keluarga-keluarga tertentu yang dapat digunakan, dalam menanam jagung berkaitan dengan mengolah menanam benih jagung. Verba kuda ‘menanam’ hingga saat ini ada dalam pikiran antargenerasi terutama generasi tua.


51 Generasi muda dan generasi dewasa pada guyub tutur Tetun Fehan mengetahuiserta memahami verba tersebut. Verba tein ‘memasak/merebus’ Verba tein ‘memasak’ mengandung makna inheren perbuatan (aksi), dalam hal ini, membuat (mengolah) batar ‘jagung’ untuk upacara rtual hamis yang dilakukan setiap tahun oleh GTTF. Verba tein ‘memasak/merebus’ dalam bahasa tein hanya berhubungan dengan memasak jenis nasi. Walaupun mengandung makna yang sama, yakni memasak /merebus hanya untuk jenis makanan tertentu. Proses tein ‘memasak’ selalu menggunakan peralatan, yakni alat untuk memasak seperti sasanan ‘periuk’. Leksikon tein ‘gerabah’ merujuk pada peralatan yang dibuat dari tanah liat, kemudian dibakar untuk digunakan sesuai kebutuhan masyarakat. sasanan ‘periuk’ sangat baik dan berkhasiat untuk merebus jagung karena terbuat dari tanah yang belum tersentuh zat kimia dan peralatan pabrik. Verba tein berparalelisme dengan nono‘memasak’, memiliki makna yang sama, yakni memasak, namun apabila dilihat dari jenis masakannya terdapat perbedaan masing-masing. Verba nono ‘merebus’ umbi-umbian, kacangkacangan atau jenis biji-bijian seperti jagung. Verba da’an ‘merebus’ hanya berhubungan merebus jagung,dan pisang,buah-buahan. Verba memasak secara khusus berhubungan dengan batar dalam kaitan dengan pengolahan secara tradisional. Verba nono hanya berhubungan dengan memasak jenis air dan juga jenis obat-obatan baik abut ‘akar’ maupun tahan ’daun’. Pilihan verba tersebut berdasarkan penggunaan bahasa yang telah disepakati bersama. Dikatakan demikian karena bahasa tersebut telah dipahami oleh penggunanya. Untuk lebih dipahami dengan baik, perhatikan kalimat data 5.3 berikut. Teks: tein batar ne hodi sasanan rai masak jagung itu KONJ periuk gerabah‘Masaklah jagung menggunakan gerabah’ Verba yang bercetak tebal yakni tein ‘bermakna memasak/merebus’ dengan tindakan untuk melakukan proses memasak batar ‘jagung’ pada guyub tutur Tetun Fehan. Jadi verbatein khusus digunakan untuk memasak/merebus nasi, air maupun jenis masakan lainnya pada guyub tutur Tetun Fehan/ Terik. Verba badu ‘melarang’ Verba badu ‘melarang’ merupakan verba konstantif melakukan suatu perbuatan atau tindakan tindakan. Perbuatan atau tindakan tersebut suatu perintah adat dari liurai atau fukun (kepala kampung) untuk melarang masyarakat guyub tutur Tetun Fehan tidak boleh makan jagung muda sebelum larangan dicabut


52 untuk menyambut upacara ritual hamis batar ‘makan jagung muda bersamasama). Larangan itu disampaikan ketika batar fuk mean ‘mulai muncul rambut jagung). Kegiatan atau tindakan larangan ini hingga sekarang masih terus dilaksakan secara turun temurun oleh guyub tutur Tetun Fehan. Badu sudah dibuat dalam rancangan hukum adat yaitu ukun badu dengan pasal-pasalnya yang mengikat masyarakat guyub tutur Tetun Fehan di dalam lingkungan perkampungan adat. Verba ta ‘potong/memotong Verba ta ‘potong/memotongmerupakan verba konstatatif yakni melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Perbuatan atau tindakan tersebut dilakukan berulang–ulang dengan menggunakan parang atau sabit. Selain verba ta ‘potong/memotong’ terdapat pula verba lere/hu’an ‘patah/mematahkan’ yang memiliki kesamaan maknanya. Verba lere/huan ‘patah/mematahkan’ merupakan verba konstatatif yakni melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Verba lere/hu’an ‘patah/mematahkan’yang dimaksud merupakan tindakan atau perbuatan. Verba lere/hu’an ‘patah/mematahkan menurut guyub tutur Tetun Terik dimaksudkan untuk memotong jagung untuk dibawa ke rumah adat lelulur pada saat hamis. Verba hu’an‘patah/mematahkan’merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Verba-verba tersebut diketahui oleh orang Tetun Terik karena dapat digunakan dalam komunkasi sehari-hari. Verba fai ‘numbuk/menumbuk’ Verba fai ’tumbuk/menumbuk’merupakan verba konstatatif, yakni melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Verba faimerupakan suatu perbuatan atau tindakan menumbuk atau melantakan jagung menggunakan lesung merupakan kayu pilihan, proses menumbuk jagung biji yang sudah direndam semalam. Kegiatan melantakan tersebut dapat dilakukan di rumah agar besok dapat dimasak menjadi jagung bose/ketemak. Proses pembuatan jagung bose/ketemak ini dilakukan bersama-sama oleh ibu-ibu di rumah/lingkungan sekitar. Verba hasa’e ‘menaikan Verba hasae ‘menaikan’ merupakan verba konstatatif, yakni melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Verba hasae menggunakan tangan. Verba so’i merupakan suatu perbuatan menaikan jagung dengan menggunakan tangan untuk menyimpan sajian dan hasil panen di atas loteng. Tempat menyimpan sesajian untuk para leluhur secara turun temurun. Perbuatan hasae ‘menaikan’ selalu dilakukan guyub tutur Tetun Fehan untuk bersyukur dan berterimakasih atas berkat yang diterima dari-Nya, karena hasil panenan berlimpah.Perbuatan hasae


53 ‘menaikan’ batar ‘jagung’ hingga kini masih terus dilaksakan oleh guyub tutur Tetun Fehan. Tindakanhasae‘menaikan’ hanya dilakukan oleh seorang anak nain oan ‘anak raja’ di dalam rumah adat suku mereka. Menurut keterangan yang diperoleh dari informan bahwa orang yang menuturkan ritual hasae mempunyai kekuatan yang diilhami oleh para leluhur mereka. Sehigga perbuatan hasai ‘menaikan’ tidak dilakukan oleh orang lain. Hal tersebut masih menunjukkan verba konstatatif dalam melakukan suatu perbuatan atau tindakan dalam hasae batar fohon (menaikan jagung inti) secara tradisional. Verba tesi ‘menebang’ Verba tesi‘menebang’ merupakan verba konstatatif yakni melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Verba tesi termasuk perbuatan yang memiliki makna menebang pohon, batang dan pulir jagung, biasanya yang besar-besar untuk suatu keperluan hamis. Verba tesi termasuk verba intransitif, yakni membutuhkan objek serta menggunakan nomina peralatan, yakni taha ‘parang’. Dalam hubungan dengan ke-batar-an, sebelum seorang menebang batang jagung harus meminta izin kepada pemilik kebun yaitu to’os nain ‘penjaga kebun’ sebagai bukti syukur dan terimakasih untuk memeroleh kekuatan baru sekaligus untuk diperbolehkan makan darihasil kebun yang ada. Guyub tutur Tutur Tetun Fehan sudah memiliki suatu keyakinan bahwa verba tesi dalam kaitan dengan hamis batar ‘makan jagung bersama’ hanyadapat dilakukan oleh orang khusus. Selain itu, budaya masyarakat setempat pada saat melakukan kegiatan tesi ‘menebang’ (verba) tidak boleh dilihat oleh orang lain. Alat yang digunakan dalam kegiatan tesi ‘menebang’ yakni taha ‘parang’. Verba so’i ‘panen/memetik’ Soi batar‘panen/memetik’ jagung merupakan verba konstatatif yang menyatakan perbuatan untuk melakukan sesuatu. Verba so’i ‘mematahkan/memetik’tersebut masih terekam dan digunakan sehari-hari dalam komunikasi. Verba so’i ‘mematahkan/memetik’ dilakukan dengan menggunakan tangan. Verba so’i ‘memetik/mematahkan’ merupakan suatu perbuatan mematahkan jagung dengan menggunakan tangan untuk mengambil bulir jagung dari pohon jagung. Tindakan so’i ‘panen/memetik’ dilakukan dengan bergerak maju kedepan dan pada umumnya tindakan so’ibatar dilakukan oleh kaum ibu/bapak dan keluarga pemilik kebun. Gerakan ke belakang pada saat soi batar dari tradisi turun- temurun diyakini oleh masyarak guyub tutur Tetun Fehan/Terik akan membawa sial pada tahun berikutnya berupa hasil panen akan menurun. Alasan lain faktor keberuntungan tidak berpihak pada pemilik kebun.


54 Verba tuku batar ’memipih jagung’ Verba tuku batar ‘memipih jagung’ merupakan verba konstratif dilakukan menggunakan tangan secara berulangkali. Jagung biji yang sudah kering/tua dipipih sampai hancur. Perbuatan/pekerjaan memipih batar ‘jagung’ sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala dan secara turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang guyub tutur Tetun Fehan (GTTF) sampai dengan sekarang ini. Bahan dan alat yang digunakan ialah batu yang berukuran besar dan batu kecil untuk dipipih jagung. Serangkaian proses mengolah batar ‘jagung’ dan peralatan yang digunakan adalah kekayaan leksikon ke-batar-an. Data berikut ini adalah proses tein batar ‘masak jagung’ batar tasak ‘jagung muda’ menggunakan alat tradisional sasanan rai ‘peruk gabah’ untuk upacara ritual hamis batar ‘ritual makan jagung muda’ di desa Fahiluka uma mamulak. Serangkaian peralatan yang digunakan merupakan bentuk nomina. Peralatan tein ‘masak jagung’ menjadi tein mana’ik/lulik ‘masak pemali’. Secara morfologis dapat dijelakandi bawah ini. Teks: Hatama batar Hatama batar V N Menaikan jagung ‘Menaikan jagung ke dalam rumah’ Hatama batar adalah proses menghantarkan jagung pamali untuk diritualkan di dalam rumah adat. Proses hatama batar ‘mengantarkan jagung’ ini dilakukan oleh keluarga dekat di dalam rumah adat/suku uma katuas. Cara mengantarkan batar manaik (jagung pemali) menuju rumah pamali oleh laki-laki dan perempuan berdeda. Laki-laki memikul jagungnya memasuki rumah pemali. Sementara itu, para ibu/kaum perempuan mengendong batar mana’ik ‘jagung pamali’ dengan tangan mereka menuju rumah pamali tempat penyelenggaraan upacara ritual makan jagung muda. Setibaanya di rumah pemali, dekat pintu samping rumah pemali semua berdiri di sekitar uma rae ‘pintu selatan’ dan dua orang laki- laki memasukan batar manaik ke dalam lalu diterima oleh ferik tur uma ‘penjaga rumah adat’. Proses selanjutnya adalah dimulainya ritual tein batar manaik ‘memasak jagung manaik’ dilanjutkan dengan doa ritual oleh fukun ‘tetuah adat’. Proses selanjutnya ritual makan jagung muda bersama pertanda acara ritual hamis sah dan segera digelar. Secara morfologis leksikon hatama batar merupakan bentuk verba proses yang terdiri dari dua kata yaitu verba dan nomina.


55 Teks: hamis batar Proses hamis batar ‘makan jagung muda’ menggunakan perlengkapan masak yaitu sasanan rai ‘periuk tanah’. Leksikon sasanan rai ‘periuk tanah’ termasuk nomina yaitu terdiri atas kategori ekologi biotik dan abiotik. Kategori ekologi ini berada pada satu ruang lingkungan kebataran, dalam hal ini ritual hamis ‘ritual makan jagung muda bersama’ seluruh kebutuhan ritual hamis disiapkan feriktu uma. Teks: Tein batar mana’ik V N pemaliMemasak jagung ritual Memasak jagung untuk ritual hamis E. Nomina Selain verba, terdapat pula leksikon yang berkaitan dengan cara pengolahan berkategori nomina dasar/tunggal dan juga nomina majemuk. Leksikon berkategori nomina pada tumbuhandapat berupabenda benda bernyawa atau biotik dan juga benda tidak bernyawa atau abiotik. Penggunaan nomina-nomina dalm konstruksi kelinguistikan yang morfomis menghasilkan bentuk-bentuk turunan dalam bahasa Tetun Fehan, dapat dijelaskan sebagai berikut ini. a. Nomina + Nomina dalam leksikon ke-batar-an Teks: batar + kakun Nomina + NominaJagung + kulit ‘kulit jagung’ batar + kain Nomina + NominaJagung + batang ‘batang jagung’ batar + dadus Nomina + Nominajagung + tongkol ‘tongkol jagung’ batar + fulin Nomina + NominaJagung + Pulir ‘pulir jagung’ b. Nomina + Numeralia Leksikon Ke-batar-an Teks: to’os laran udanwen nakonu N Num (uncountable) ‘ Di kebun penuh air hujan’ fatukmota wain liu N Num (uncountable)‘batu kali banyak sekali’ batartalin ida Nom Num ‘satu ikat jagung’ batarmusan rua Nomina Num‘dua biji jagung’ batar sasanan ida Nomina Num‘satu periuk jagung


56 batar fulin tolu Nomina Numeralia‘tiga pulir jagung muda’ c. Nomina + Adjektiva leksikon ke-batar-an Teks: batar + tasak Nomina + AdjektivaJagung + muda ‘jagung muda’ batar + modok Nomina + Adjektivajagung + kuning ‘jagung kuning’ batar + mean Nomina + adjektivajagung + merah ‘jagung merah’ Leksikon bahasa Tetun Fehan yang termasuk ke dalam kategori adjektiva, secara semantik dapat menyatakan taraf atau tingkatan dan tidak bertaraf yang meliputi ukuran, warna dan cerapan yang terkait dengan pancaidera. Uraian tentang leksikon yang berkategori adjektiva dapat dilihat pada leksikon-leksikon batar mutin ‘putih’; batar midar ‘manis’ batar monas ‘keras’ batarlulik ‘keramat’batarburas ‘rindang’ dan leksikon batar fulin bot ‘besar’ Leksikon Nomina + adjektiva, dan leksikon nomina+numeralia di atas menunjukkan bahwa leksikon-leksikon monas ‘keras’, lulik ‘keramat’, buras ‘rindang’, bot ‘besar’, memberikan ciri semantis yang khas. Ciri semantik itu menginformasikan dan mengacu kepada kualitas yang dapat diukur secara kuantitatif. Leksikon bot ‘besar’ menginformasikan ukuran fulin ‘pulir’. Demikian juga ajektiva buras ‘rindang’ menjelaskan dan menginformasikan keadaaan dedaunan pohon yang rimbun, sedangkan mean ‘merah’, modok ‘kuning’, mutin ‘putih’, metan ‘hitam’ pada data-data kebahasaan di atas merupakan ajektiva bertaraf yang menjelaskan tentang warna dan keadaan tanaman. Selanjutnya, ajektiva bertaraf yang berkaitan atau berhubungan dengan pancaindera rasa, yaitu midar, untuk batar ‘jagung’ yang manis, mer ‘asin’ untuk menginformasikan keadaan dan kualitas we ‘air’ dari mer (yang asin). Sebaia objek di lingkungan, kaitan dengan pancaindra melihat dan merasa khususnya, mempertegas acuan atas sesuatu yang diindrakan, yang dapat dirasakan, yang dapat disimak, dan dapat dialami secara langsung penutur bahasa Tetun Fehan berinteraksi dengan bendabenda alam dalam berkas nomina dan ajektiva tersebut. Dengan demikian, bahasa lingkungan (green grammar) dan khususnya ketersediaan leksikon- leksikon lingkungan ke-batar-an mempresentasikan kekayaan dan keanekaragaman isinya. Konteks itu ada di lingkungan pertanian ke-batar-an. Kategori gramatikal yang kedua, yakni nomina. Nomina kategori merupakan kelas kata yang biasanya dapat berfungsi sebagaisubjek atau objek dari klausa; kategori yang sering berpadanan dengan orang, benda atau hal lain yang dibendakan dalam alam di luar bahasa (Kridalaksana, 2008:163). Nomina (kata benda) mencakup pronominal dan numeralia. Nomina dapat dilihat dari tiga segi yaitu semantis, sintaksis, dan bentuk. Secara morfologis, nomina dalam bahasa


57 Tetun Fehan dapat dibedakan atas nomina tunggal dan nomina majemuk (compound nauns). Nomina tunggal adalah nomina yang hanya terdiri atas sebuah kata, sedangkan nomina majemuk adalah nomina yang terdiri atas dua kata atau lebih (Yuda, 2011 : 81) . Sejalan dengan pendapat tersebut, dalam tekske-batar- an‘kejagungan’ pun terdapat nomina tunggal dan nomina majemuk. Yang tergolong nomina tunggal, yaitu batar ‘jagung’ tahan ’daun’ abut ‘akar’, fulin ‘buah’ dan sebagainya, sedangkan nomina majemuk yaitu batar fulin ‘pulir jagung’, batar makarek ’ jagung mutiara’, matabian sia ‘para leluhur, batar manaik ’jagung pamali’,daka raiklaran ‘penjaga alam semesta’. Nomina majemuk tersebut semuanya terbentuk melalui penggabungan dua morfem dasar dantiap unsur tersebut memiliki makna masing-masing. Dari segi semantis, nomina adalah kata yang merujuk pada seseorang, tempat, atau semua benda, dan segala yang dibendakan. Hal tersebut dapatterlihat pada data teks ke-batar-an berikut. Data: Matabian tuan no nurak N N KONJ Adj ‘para leluhur tua dan muda ’ Daka raiklaran V N ‘penjaga alam semesta’ Teks ke-batar-an tersebut menunjukkan nomina yang berhubungan dengan nomina persona, yakni nama-nama para leluhur,seperti bei ’moyang’, ubu ’nenek’ matabian ’leluhur’. Hal tersebut sebagai ungkapan permohonan kepada para leluhur agar tanaman batar ‘jagung’ bertumbuh subur, dan para petani dapat memetik hasilpanen yang berlimpah dari kebun mereka. Selain nomina persona, terdapat pula nomina benda tak bernyawa, seperti rai ‘tanah dan fatuk ‘batu’. Guyub tutur Tetun Fehan memiliki kepercayaan bahwa alamsemesta seperti tanah dan batu memiliki roh yang dapat memberi kehidupan dan kekuatan. Dari segi sintaksis, nomina mempunyai ciri tertentu, seperti menduduki posisi subjek, objek atau pelengkap dalam kalimat yang predikatnya verba (Putrayasa, 2014:72). Kutipan kalimat pada ke- batar-an yang menunjukkan ciri tersebut terdapat pada penggalan data berikut. Teks : Matabian tuan no nurakN Pr KONJ Adj ‘Para leluhur’


58 kiik no bot fo ami udan wenAdj KONJ Adj V Pr Adj Air ‘beri hujan’ Berdasarkan kategori sintaktisnya dapat dilihat ciri nomina dan pelengkap yang predikatnya verba, seperti terdapat pada kalimat fo ‘beri’ udan ‘hujan’ Dari segi bentuk, nomina dapat dibagi menjadi nomina dasar dan nomina turunan. Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem, dan nomina dapat dibagi menjadi nomina dasar umum dan nomina dasar khusus. Nomina turunan adalah nomina yang diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan. Data nomina dasar dan nomina majemuk pada teks ke-batar-an dapat dipaparkan di bawah ini. Teks: Matabian tuan no nurakN Adj KONJ Adj ‘Para leluhur’ Malo no fulin no isin ba amiberilah KONJ bulir KONJ biji V N ‘Berilah tanah yang subur dan berbuahlah’ tanami susar tinan hitu larankarena N Adj tahun NUM adj ‘Tujuh tahun hidup didera kelaparan’ Nomina dasar pada data tersebut seperti terlihat pada frasa mata bian ‘para leluhur’.Sapaan bagi matabian ‘para leluhur’ agar meminta turut mendoakan emahafao rai koa tua ‘ ‘petani’ agar tanaman jagung subur dan berbuah besar. Selain itu nomima majemuk pada data to’os no isin ‘kebun ada hasil‘ yang memiliki makna berbeda. Yakni matabian dapat tuut mendoakan ema hafao raikoa tua ‘petani’ agar hasil panen batar ‘jagung’ berlimpah. d. Adjektiva Adjektiva (kata sifat) merupakan kata yang menerangkan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Adjektiva yang memberi keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif (Putrayasa, 2014: 80). Kata-kata yang menunjukkan adjektiva dalam teks kebataran‘kejagungan’ yang berhubungan dengan taman batar ‘tanam jagung’, yaitu tuan ‘tua,nurak ‘muda’ yang terlihat ada data berikut. Teks: Matabian tuan no nurak Para leluhur tua KONJ muda ‘Para leluhur tua dan muda’ Fo to’os no isin tua no wen Berilah N KONJ ADJ Adj KONJ N ‘berilah kesuburan tanah’


59 e. Kategori Numeralia Selain adjektiva, terdapat pula bentuk numeralia yang beragam dalam teks ke-batar-an pada guyub tutur Tetun Fehan. Menurut Hasan, dkk 92007:788) bahwa numeralia/kata bilangan adalah kata atau frasa yang menunjukkan bilangan atau kuantitas; menyatakan jumlah benda atau urutannya dalam suatu deretan. Numeralia dalam tekske-batar-an sangat beragam, baik numeralia pokok/terhitung maupun tak terhitung. Hal tersebut muncul terutamapada tuturan ritual ke-batar-an seperti perhitungan jumlah fulin ‘bulir‘’ yang akan digunakan dalam ritual hamis. Dimakan sesuai dengan aturan adat hamis. Untuk itu, kata atau kelompok numeralia dalam teks ke-batar-an dibedakan atas numeralia takrif dan numeralia tak takrif. Numeralia takrif merupakan numeralia yang menyatakan jumlah tertentu, sedangkan numeralia tak takrif merupakan numeralia yang menyatakan jumlah yang tak tertentu. Secara terperinci numeralia tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut. Teks: tanasak no batar fulin tolu N KONJ N bulir tiga (NUM)‘tiga bulir jagung’ Contoh penggalan teks tersebut terlihat jelas numeralia yang menyatakan jumlah tertentu, yakni numeralia takrif, seperti pada kata ida ‘satu’, ruaa ‘dua’ dan sanulu´ sepuluh’. Bentuk-bentuk tersebut berdiri sendiri., dan tidak dapat digabungkan dengan kata lainnya, Selain itu, terdapat pula numeralia tak takrif yang menyatakan jumlah tak tentu ritual teks ke-batar-an. Untuk lebih jelasnya perhatikan penggalan data teks ke-batar-anberikut. Teks : taman batar ‘tanam batar’ Batar iha to’os wain N N KONJ N tak takrif‘banyak jagung di kebun’ Bentuk wain ’banyak’ pada teks kebataran tersebut menunjukkan jumlah tak tentu atau tak terhitung. Bentuk wain ‘banyak’ menyatakan jumlah batar ‘jagung’ dalam tempat penyimpan jagung benih yang lebih dari satu. itu Oleh karena, fukun ‘tetuah adat’ dapat melakukan deteksi sesuai dengan tradisi ritual adat dari para tetuah adat dapat memprediksi hasil panen di dalam kebun pada saat panen jagung.


60 f. Semantik Leksikal Semantik leksikal atau disebut sebagai makna leksikal adalah makna satuanunsur-unsur bahasa, yang secara mandiri, merupakan lambang sesuatu yang berada di luar bahasa sebagaimana makna referensial eksternal (Verhaar: 2014). Makna leksikal dapat terbentuk baik oleh sebuah satuan bahasa tanpa mengalami proses gramatikal dengan satuan-satuan struktural bahasa yang lain maupun setelah mengalami proses gramatikal (Rahyono, 2012: 51). Penjelasan perkembangan makna disebabkan oleh adanya perubahan makna akibat lingkungan sosial budaya yang merupakan hal penting. Sebab lingkungan ke-batar-an memiliki keterkaitan yangtak terpisah dengan lingkungan hidup orang Tetun Fehan. Sejumlah makna leksikal dari leksikon ke-batar-an berdasarkan tabel-tabel di atas dapat dilihat sebagai berikut. Teks (2) pada tabel 4.3 yang juga merupakan data leksikon dari tanaman jagung adalah kulit jagung‘batar kakun’. Dari sisi pemanfaatan dalam kehidupan sehari-hari batar tahan merupakan satu bahagian penting yang tak dapat dipisahkan dari dimensi biologisatau kehidupan orang Malaka. Batar kakun matak digunakan sebagai pakan ternak sapi, kambing, sedangkan batar kakun maran ‘daun kering’ juga dapat digunakan sebagai kerajinan tangan berupa hiasan. Pemanfaatan lain dari batar kakun maran ‘ kulit jagung kering’ adalah dari pemanfaatan untuk kebutuhanpakan ternak,. Teks (3) tabel 4.2 batar komak ‘kulit jagung’ dapat digunakan sebagai kerajinan tangan, bahan dasar rokok, dan juga sebagai bahan bakar tungku. Selain itu, batar komak ‘kulit jagung’ digunakan sebagai tali pengikat yang sangat kuat, dan dapat digunakan untuk mengikat batarmanaik ‘jagung inti’ pada saat ritual manaik hasae batar fohon ke rumah adat. Berikutnya adalah data leksikon (42) masih pada tabel 4.2 batarfilun ‘lemet jagung manis ’ makna leksikal dari batar filun tidak ditemukan dalam kamus. Namun secara eksternal, makna ini merujuk pada ‘biji jagung muda yang ditumbuk halus’. Proses pembuatan fulin ini adalah proses merebus jagung muda hingga bijinya empuk. sehingga oleh orang Tetun Malaka menyebutnya dengan batar filun,selain itu filunjuga hanya disajikan pada saat ritual hamis. Secara leksikal atau makna sosial atau berdasarkan kamus, filun tidaklah memiliki makna. Akan tetapi, jika dilihat dari aspek makna individual filun merujuk pada ‘biji jagung yang muda ditumbuk menjadi hancur lalu direbus’, hingga saat ini, jika orang Timor guyub tutur Tetun Fehan, Kabupaten Malaka menyebut filun maka dipahami sebagai biji jagung muda ditumbuk sampai hancur kemudian direbus’. Beberapa leksikon lainnya, katemak, ikis, tomak, rahun, adalah daftar leksikon yang dapat ditemukan di dalam kamus. Ketiga leksikon tersebut merupakan kelas kata nomina dasar. Filun biasanya disajikan pada saat ritual


61 hamis ‘makan jagung muda secara bersama- sama’ di rumah adat guyub tutur Tetun Fehan, Timor, Malaka. Data leksikon selanjutnya adalah sasanan rai ‘periuk tanah’,sasanan rai terbuat dari tanah liat, sampai saat ini masih digunakan oleh guyub tutur Tetun Fehan di Kabupaten Malaka. Walaupun memiliki ukuran mulai dari terkecil hingga terbesar, namun tidak ada perbedaan penamaan atau penyebutan, guyub tutur Tetun Fehan tetap menyebutnya dengan sasanan rai. Begitu pula dengan fungsinya, untuk merebus/memasak batar manaik pada saat ritual hamisguyub tutur Tetun Fehan tetap menyebutnyadengan sasanan rai. Sasanan rai juga berfungsi untuk menampung air konon cerita bahwa orang yang sering meminum air yang dimasak menggunakan sasanan rai dapat mengurangi sakit ginjal. Sasanan rai juga digunakan untuk memasak jagung lebih cepat matang. Sasanan rai ‘periuk tanah’ dibuat dari tanah liat. Proses sasanan raiyang berukuran kecil dan besar dapat memakan waktu 2 jam. Dewasa ini sasanan rai mulai diganti dengan produk pabrik seperti panci yang lebih mudahdidapatkan di pasar. g. Semantik Metaforik Leksikon adalah komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemaknaan kata dalam bahasa atau kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara (Kridalaksana, 2008: 142). Leksikon dalam kebataran ‘kejagungan’ memiliki beragam maknasosial budaya serta ekologi budaya masyarakat setempat. Menurut Keraf (1981:19), pemilihan kata merupakan kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk sesuai dengan situasi dan nilai rasa. Nuansa pemilihan leksikon dalam kebatar-an ‘kejagungan’ dan nilai rasa tanpa disusun dengan teratur, tetapi memiliki susunan yang indah danmakna yang dapat menyembuhkan penyakit yang sedang diderita. Berbagai bentuk lingual ke-batar-analam ciri semantis dapatdifokuskan pada beberapa hal yakni, (1) Sinonimi, (2) antonimi, dan hiponimi yang dapat dipaparkan sebagai berikut. (1) Sinonimi Bahasa Tetun Fehan memiliki sinonim yang merupakan ciri unik seperti teks lainnya. Dalam batar ‘jagung’ terdapat pula sinonim yang tanpa disengaja terungkap di dalamnya. Motivasi pemakaian leksikon dalam teks ke-batar-an agar fukun ‘tua adat’ hasil panen batar ‘jagung’ berlimpah. Sinonimi merupakan relasimakna antarkata (frasa atau kalimat) yang maknanya sama atau mirip tetapi bentuknya berlainan. Contoh data sinonimi dapat dilihat pada penggalan data berikut.


62 Teks: laran diak isin midar Dalam baik dalam manis ‘jagung manis’ Teks tersebut menunjukkan bahwa bentuk laran ‘dalam’ dan isin ‘dalam’ memiliki makna yang sama, yakni dalam. Selain itu bentuk diak ‘baik’ dan midar ‘manis’ memiliki makna yang mirip atau hampir sama, yakni baik atau manis. Jadi, dapat dikatakan bahwa bentuk kata pada guyub tutur Tetun Terik pada umumnya memiliki padanan kata yang sama atau mirip yang menyatakan makna tertentu. (2)Antonimi Selain sinonimi dalam ke-batar-an‘kejagungan’, terdapat pula antonimi atau oposisi yaitu relasi antarmakna yang bertentangan atau berkelebihan makna. Istilah antonimi digunakanuntuk oposisi makna dalam taraf leksikal bertaraf, seperti terdapat dalam teks kebataran’ pada guyub tutur Tetun Fehanberikut. Data : Loro manas dadi loro malirinMatahari panas KONJ matahari dingin ‘Panas menjadi dinginkan Data yang menunjukkan antonimi dapat terlihat pada ritual kebataran sanagat beragam. Hal ini menunjukkan bahwa seorang fukun/dato/liurai ‘tetuah adat’ mendoakan dengan memohon pada yang kuasa agar musim tanam tahun ini dapat tidak sampai panas berkeapnajangn dan terhindar dari hama tanaman yang dapat menyerang hasil kebun batar ‘jagung’. Yang diderita atau orang yang sedang didoakan pulih atau sehat Hal tersebut seperti terlihat pada data antonimi seperti berikut. Batar ‘jagung’ todan x kman ‘ berat’ ‘ ringan’ manas’ x malirin ‘panas’ x ‘dingin’ moras x diak manas x malirin ‘Panas’ ‘dingin’ Bentuk antonimi tersebut memiliki hubungan yang erat dengankebaaran. pada masyarakat guyub tutur Tetun Fehan. Data tersebut bermakna permohonan yakni memohon agar batar ‘jagung’ yang ditanam berbuah, tidak dimakan hama tanaman, dan hasil panen berlimpah. Dikatakan demikian karena seorang petani harapan yang berlawanan yakni panas/dingin. Selain itu, todan X kman memiliki makna permohonan agar seorang petani yang kelaparan dapat memperoleh hasil


63 panen pada tahun berukutnya. Tradisi masyarakat selalu menggunakan antonimi tersebut untuk menyatakan sesuatu yang berlawanan atau bertentangan dengan satu tujuan untk memohon agar hasil panen batar ‘jagung’ berlimpah’ sehingga bisa terbebas dari musim kelaparan. (3) Hiponimi Selain antonimi, dalam teks ke-batar-an terdapat pula hiponimi yang secara khusus membicarakan relasi makna yang berhubungan dengan teks kebatar-an yaitu mulai dari tahap pratanam, tanam, panen, dan pascapanen. Berdasarkan kajian tersebut maka hiponimi merupakan hubungan antarkata yang menunjukkan hierarki atasan dan bawahan atau relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna spesifik dalam makna generik,tercakup dalam makna bentuk dan ujaran lain. Data leksikon teks ke-batar-an menunjukkan bahwa terdapat banyak unsur leksikonyang memiliki hubungan semantik jenis hiponimi. Gambar 5.10 Memperlihatkan contoh hiponimi batar ‘jagung’ Gambar tersebut menunjukkan hiponimbatar ‘jagung’ berdasarkan jenisnya yang dapat bermanfaat atau berkhasiat sebagai makanan lokal tradisonal pada guyub tutur Tetun Fehan yang tetap digunakan hingga saat ini. Bahasa Tetun Fehan sangat kaya akan leksikon dalam teks ke-batar-an. Hubungan Interelasi, interaksi, dan interdependensi dan adaptasi guyub tutur Tetun Fehan ttentang teks ke-batar-an dapat dilihat pada sejumlah leksikon yang hadir dalam ekoregion orang Malaka. Hal ini, menunjukkan bahwa batar ‘jagung’ sangat menyatu dengan kehidupan orang Malaka. Bahkan, batar ‘jagung’ bagi guyub Tetun Funan ‘bunga’’ Kain ‘batang’ Tahan ‘daun’ Kakun ‘kulit’ Fulin ‘buah’ Abut ‘akar’ mentah Kain bot‘ batang besar’ Tahan matak ‘daun mentah’ Kakun batak ‘kulit menatah’ ‘kulit’ Fulin bot ‘Bulir besar’ Abutmatak ‘akar mentah’ kring Kain kiik ‘batang Kecil’ Tahan maran ‘daun kering’ Kakun Fulin kiik Abutmaran maran ‘kulit ‘Bulir kecil’ ‘akar kering’ ‘buah’ kering’ Batar ‘jagung’


64 Fehan merupakan hajad hidup orang Malaka umumnya dan khususnya bagi guyub tutur Tetun Fehan di daerahperbatasan Negara NKRI dan Timor Leste. Analisis bentuk-bentuk leksikon ke-batar-an dilandasai oleh aspek-aspek intratekstual yaitu pengkategorian leksikon baik terdiri atas dua kata atau lebih, hingga pada aspek intertekstual yaitu makna satuan bahasa. Aspek-aspek dimaksud dapat dibahaspada subbab berikutnya. h. Struktur Dalam komunikasi verbal, penutur (asli/jati) tidak pernah memikirkan kaidah bagaimana ia menyusun kata-kata agar pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami oleh mitra tuturnya. Sebagai pemilik dan pengguna bahasa, penutur tidak pernah berpikir bahwa bahasa yang digunakan terdiri atas satuan-satuan kecil yang membuat rangkaian bermakna. Dalam penggunaan bahasa secara lisan, spontanitas penutur dalam menggunakan bahasanya berjalan secara wajar. Proses berpikir dalam penggunaan bahasa berjalan secara cepat, seakan-akan tidak terjadi proses berpikir dalam menyusun kata-kata. Proses berpikir terjadi jika penutur dituntut untuk mengomunikasikan pesannya secara tertulis. Penutur menuliskan pesan yang dikmunikasikan menggunakan lambang-lambang bunyi satu persatu. Spontanitas dalam berbahasa tersendat oleh proses penulisan yang memerlukan waktu, sehingga penulis memerlukan waktu, untuk mengingat apa yang sebenarnya dikomunikasikan (Rahyono, 2012: 24). Sejalan dengan pandangan tersebut, guyub tutur TetunFehan dan juga guyub tutur lainnya akan secara spontan menyampaikan pikiran atau pandangan kepada orang lain. Jika komunikasi verbal yang dilakukan gagal hanya karena kesalahan kecil, berarti bahasa dibangun oleh satuan-satuan kecil yang berdampingan membentuk struktur rangkaian yang berrmakna.Hal ini menunjukkan bahwa secara natural dan spontan para penutur mampu memahami satuan-satuan bahasa yang bermakna dalam mewujudkan sebuah bahasa sebagai sarana komunikasi verbal. Guyub tutur Tetun Fehan dan guyub tutur lainnya, akan selalu mengomunikasikan apa yang akan disampaikan pada orang lain. Dalam hal ini secara khusus berhubungan dengan bahasa yang akan dituturkan seorang fukun/dato/liurai ‘tetuah adat’. Seorang fukun/dato 'tetuah adat’dalam upacara ritual batar ‘jagung’ tanpa disusun dengan baik, namun memiliki struktur teks dari struktur skematis pada umumnya yang terdiri atas pendahuluan, isi, dan penutup yang memiliki makna. Skema teks tersebut dapat menunjukkan bagian-bagian teks ke-batar-an diurutkan sehingga menjadi satu kesatuan arti. Struktur skematis tersebut juga memberikan penekanan pada bagian yang harus didahulukan yang disebut pendahuluan atau pembuka kemudian isi dan penutup. Hal ini tergantung pada teks ke-batar-an dengan jenis ritual dalam ritual batar ’jagung’. Dalam menganalisis skematik teks ke-batar-an digunakan cara kerja yang dikemukakan Van Dijk (1985). Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, yaknifukun/dato’tetuah adat’ (bapak Yoseph Nahak, tanggal, 20 Juli 2016) dan juga masyarakat yang selalu


65 menggikuti upacara ritual batar ‘jagung’ tradisional diketahui bahwa terdapat struktur pada teks kebataran. Struktur kalimat Nain/fukun/dato ‘tetuah adat’ yang diucapkan tidak tersusun namun terungkap secara spontan. Hal ini terjadi berkat karunia atau kharisma khusus yang sudah diberikan oleh para leluhur yang diterima tanpa disadari. Struktur skematis datateks kebataran terdiri atas: 1) pembuka, 2) isi, dan 3) penutup. Masing-masing skema struktur tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. (1) Pembuka Teks ke-batar-an pada umumnya mempunyai skema atau alur dari pembuka, isi, dan penutup. Alur yang disampaikan membentuk satu kesatuan arti. Sebuah teks kebataran dapat dimulai dari menyapa Nai maromak iha leten as ba ‘Allah Yang Maha Tinggi’, matabian tuan no nurak ‘para leluhur’, Makleat iha raiklaran’penguasa/penjaga alam semesta’. Ucapan tersebut mengindikasikan bahwa fukun/dato ‘tetuah adat’ harus memohon dengan harapan agar hasil panen berlimpah. Seorang fukun/dato ‘tetuah adat’ dalam memulai doa dengan menyapa merupakan kunci pembuka pintu dalam pengobatan. Dalamguyub tutur Tetun Fehan, termasuk fukun/dato’tetuah adat’ sebagaimana hasil wawancara dengan para fukun/dato ‘tetuah adat’ terdapat keyakinan bahwa tanpa campur tangan Tuhan, leluhur, dan penguasa alam dikuatir petani guyub tutur bahasa Tetun bisa gagal panen. Pada bagian ini dapat dipaparkan data struktur kebataran pada bagian pembuka dengan menyapa nai maromak ‘penguasa tertinggi ‘ untuk suatu pengharapan yang dituturkan oleh fukun/dato ‘tetuah adat’ dapat terlihat pada data berikut. Teks: fukun/dato ‘ritual pada tahap tanam ’ Nai Maromak leten no iha as ba Tuhan Allah atas KONJ ada tinggi pergi‘Tuhan yang maha tinggi di surga’ Maromak iha railaranTuhan KONJ bumi ‘Tuhan di Bumi’ Hosi ain Foho to’o ain tasiDari kaki gunung KONJ laut ‘dari gunung ke laut ‘ Tuturan tersebut menunjukkan bahwa suatu ritual tahap pratanam dan tahap tanam selalu mengawali untuk membuka pintu membuka lahan dan tahap tanam dengan menyebut nama Maromak iha leten as ba ‘Tuhan Yang Maha Kuasa’ dengan penuh keyakinan, kepercayaan, dan rendah hati agar segala sesuatu yang diminta dikabulkan. Kalimat pembuka untuk menyatakan pengharapan akan membuka pintu bagi proses pratanam, tanam batar ‘jagung’ diawali dengan menyapa Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya. Kalimat yang diucapkan dengan menyebut nama nai maromak iha leten as ba ‘Tuhan di surga’ dan maromak raiklaran ‘Tuhan di


66 bumi’ merupakan suatu pegharapan dengan iman dan kepercayaan bahwa hanya Tuhanlah satu-satu jalan kehidupan serta pemberi napas kehidupan bagi setiap orang. Tuhan adalah penguasa tertinggi dari langit dan bumi berserta segala isinya. Dengan menyampaikan permohonan maka ritual doa yang disampaikan dapat dikabulkan. Hal ini diyakini bahwa Tuhan sebagai wujud tertinggi yang diimani setiap orang yang beragama secara khusus yang beragama Khatolik. Hal inidimungkinkan karena pada umumnya beidok ‘dukun’ dan informan pada wilayah guyub tutur Tetun Fehan mayoritas beragama Katolik. Sesudah permohonan kepada Sang Pencipta, kalimat pembuka juga menunjukkan permohonan/pengharapan pada tahap pratanam, tanama untuk membuka pintu ritual ke-batar-an dengan menyebut atau menyapa matabian ’para leluhur’. Hal tersebut merupakan suatu kepercayaan masyarakat bahwa para leluhur yang telah meninggal selalu mendoakan para petani agar dijauhkan dari hama tanaman dan gagal panen. Data kalimat pembuka dengan menyapa para leluhur dapat dilihat pada data berikut. Teks: matabian tuan no nurak ‘para leluhur’ Data tersebut menyatakan permohonan kepada maromak ‘Tuhan’ dengan perantaraan matabian ’para leluhur’ untuk membebaskan hama tanaman yang merusak tanaman batar ‘jagung’ di dalam kebun. Para fukun ‘tetuah adat’ dan guyub tutur Tetun Fehan/Terik memiliki keyakinan bahwa matabian ‘para leluhur’ sebagai perantara dapat mendengarkan doa yang disampaikan kemudian diteruskan pada Tuhan penguasa atau penentu hidup dan mati seseorang. Guyub tutur Tetun Fehan memiliki kepercayaan bahwa orang yang telah meninggal selalu berada di sekeliling orang yang masih hidup. Selain disampaikan kepada Maromak ‘Yang Kuasa’ juga kalimat pembuka untuk para leluhur. Permohonan disampaikan untuk membuka kunci memulai tanam menyapa maromak raiklaran ‘penguasa alam semesta’. Guyub tutur Tetun Fehan memiliki kepercayaan/keyakinan bahwa suatu lakarat ‘gagal panen’ yang dialami oleh para petani dapat disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan dengan merusak atau melanggar pernyataan yang disampaikan. Di samping itu,penyebabnya ialah karena teguran atau peringatan yang harus ditaati. Jika seseorang melanggar maka suatu musim kelaparan akan kembali melanda para petani dalam bercocok taman batar ‘jagung’. Ke-batar-an pada kaliamt pembuka dapat pula didahului denganmenyapa penguasa alam semesta atau penjaga alam, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa. Masyarakat yakin dan percaya bahwa semua benda yang ada di alam memiliki roh atau kekuatanseperti terdapat pada data berikut. Data : Nai Maromak leten no iha as ba


67 Tuhan Allah atas KONJ ada tinggi pergi‘Tuhan yang maha tinggi di surga’ Maromak iha raiklaranTuhan KONJ bumi ‘Tuhan di Bumi’ Hosi ain Foho to’o ain tasiDari kaki gunung KONJ laut ‘dari gunung ke laut ‘ Sapaan pembuka yang diucapkan oleh orang-orang tertentu, telah menjadi suatu kepercayaan bahwa dalam setiap doa, baik untuk ritual pada tahap pratanam, tanam secara tradisional maupun ritual adat tertentu, dapat menyebut kalimat seperti emik han na ami haleka iha troman. Kata troman selalu berhubungan dengan roh penjaga alam semesta, baik roh jahat maupun roh baik. (2) Isi Isi dalam suatu teks merupakan pesan yang ingin disampaikan. Isi dalam teks ke-batar-an ‘kejagungan’ adalah isiberita atau informasi secara keseluruhan. Isi yang terkandung di dalamnya, yakni proses jalannya peristiwa ritual ke-batar-an. Seorang liurai/dato/fukun ‘tetuah adat/kepala suku’ dalam memulai proses pratanam, tanam, panen, pascapanen, akan selalu melihat waktu yang tepat dalam melaksanakan ritual doa yang akan dituturkan pada saat acara ritual ke-batar-an. (3) Penutup Sebagaimana halnya dengan bagian pendahuluan, doa ritual ke-batar-an ‘jagung’ selalu terdapat pada bagian awal dilanjutkan dengan isi yang membuat proses pratanam, tanam dan pascatanam ritual ke-batar-an. Keyakinan orang Malaka, selalu menyapa alam semesta serta segala isinya mulai dari timur hingga barat, utara hingg selatan, dari gunung hingga pesisis pantai, akan terungkap pada kalimat penutup setiap tuturan ritual permohonan. Model kalimat tersebut selalu digunakan untuk menyebut keadaan. Berikut teks doaritual penutup; Teks: Matabian uma sia tuan no nurak sia hoto Arwah rumah PRO-3 tua ada muda PRO-3 mereka‘Arwah leluhur tua dan muda’ Hosi ain foho too ain tasi Dari kaki gunung sampai kaki laut‘dari gunung sampai pesisir pantai’ Hosi foho too fehan Dari gunung sampai selatan‘dari gunung hingga Selatan Tinan ne’e ami krian no isin tian Tahun ini PRO-1 kerja ada hasil sudah‘hasil panen bagus’ Imiklamak ami sera ohin loron no kalan Kamu makanan kami beri sekarang siang juga malam‘sesajian kami hantarkan’


68 To’os no isin tua no wenKebun ada hasil laru ada air ‘Hasil panen berlimpah’ Penggalan data ke-batar-an tersebut mengisyaratkan alam semesta untukmelindungi serta menjauhkan segala sesuatu yang mengganggu tanaman jagung agar berbuah banyak dan hasil panen melimpah. i. Fungsi Teks Ke-batar-an Bahasa Tetun Fehan Fungsi bahasa dalam teks ke-batar-an tradisional, ialah untuk menelaah penggunaan dari bahasa itu sendiri. Haliday (1994:20) mengatakan bahwa fungsi bahasa dipandang sebagai padanan penggunaan. Fungsi tersebut diartikan sebagai cara orangmenggunakan bahasa, baik cara bertutur, menulis, maupun mendengar dan membaca, agar dapat mencapai sasaran atau tujuan. Fungsi bahasa dalam kebatar-an dianalisis berdasarkan kerangka yang disampaikan Jakobson (1992) dan Leech (2003). Fungsi bahasa dalam teks ke-batar-an berbentuk kata, frasa, dan klausa maupun kalimat, mempunyai fungsi sendiri. Fungsi dalam kebataran selalu berhubungan dengan Sang Pencipta, manusia, makhluk gaib, hewan, dan tumbuhan. Keseluruhan fungsi tersebut dapat diuraikan seperti berikut. j. Fungsi Informatif Teks Ke-batar-an Guyub Tutur Tetun Fehan Fungsi informatif dalam teks ke-batar-an ialah untuk memberi informasi mengenai segala sesuatu yang akan disampaikan oleh seorang fukun ‘tetuah adat’. Seorang fukun dalam melakukanritual tentang teks kebataran yang dilaksanakan pada tahap pratanam, tanam, pascatanam, panen, dan tahap pascapanen. Di samping itu fungsi informatif menggambarkan bahwa segala proses kebataran secara tradisional pada masyarakat guyub tutur Tetun Fehan. Fungsi informatif tentang hubungan manusia denganmaromak ‘Sang Pencipta’ merupakan hubungan secara vertikal, antara manusia sebagai makhluk lain dan Tuhan sebagai pencipta. Segala keberhasilan atau pun kegagalan hasil panen yang kita terima, semuanya kehendak yang Mahakuasa. Fungsi informatif tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta dapat dilihat pada data ke-batar-an berikut. Teks : Maromak iha leten as ba Tuhan KONJ atas surga ‘Tuhan di surga/Tuhan yang ada di langit tertinggi’ Rainai sia iha raiklaran Tuhan mereka KONJ bawah tanah‘Tuhan yang ada di bumi’ Data tersebut menyatakan hubungan antara manusia dan Sang Pencipta tidak dapat dipisahkan. Semua permohonan dan permintaan untuk kesembuhan suatu penyakit hanya berharap pada kuasa Maromak ‘Sang Pencipta’ yang merupakan wujud tertinggi. Selain hubungan dengan Maromak ‘Sang Pencipta’ menurut


69 kepercayaan, guyub tutur Tetun Fehan juga memercayai hubungannya dengan penguasa alam semesta, yaitu rai nain ‘penjaga alam semesta’. Hubungan tersebut terjadi secara abstrak yang dilakukan oleh fukun/to’os nain seperti data berikut. Teks: Rainain daka to’os lidun hat jin jaga kebun sudut empat‘Penguasa alam semesta’ Hosi foho to’o aintasi mulai gunung KONJ di pinggir pantai‘dari gunung sampai pantai’ Mai ita hamotuk neon idaMari N kumpul hati satu‘Mari kita satu hati’ Malo to’osno isin Beri kebun KONJ hasil‘Beri hasil’ Nebeami sai hosi rai halao KONJ kami keluar dari tanah kelaparan‘Keluar dari musim kelaparan’ Hubungan antara manusia dalam hal ini para petani kebun batar ‘jagung’ dan makhluk gaib harus selalu dijaga keharmonisannya dalam kehidupan, dalam hal ini, kelestarian lingkungan alam, terutama menjaga tempat-tempat hidup. Selain itu untuk menjaga keharmonisan pula, penguasa alam dapat disapa dengan baik, dan dapat pula diberi sesajian untuk dapat memberikan kehidupan dan hubungan baik sebagai penjaga alam. k. Fungsi Emotif (Ekspresif) Fungsi bahasa yang berorientasi pada sikap, status dan keadaan sosial pembicara yakni fukun ‘tetuah adat’. Fungsi emosif sejajar dengan fungsi ekspresif yang dikemukakan oleh Leech ( 2003: 63-88), yaitu mengungkapkan perasaan dan sikap penuturnya. Emosi dan ekspresi seorang fukun/to’os nain ‘tetuah adat/petani’dalam menuturkankebataransangat dominan perannya karena sikap, status, dan keadaan dukun merupakan syarat dalam berkonsentrasi penuh dalam tugasnya. Sesuatu yang diekspresikan adalah cerminan pikiran,perasaan dan suasana hati fukun/liurai/dato ‘tetuah adat’. Beberapa ekspresi fukun/liurai/dato dalam teks ke-batar-an berupa keseriusan, keramahan, dan kemarahan. Ekspresi keseriusan merupakan faktor utama dalam proses mendoakan seorang yang sedang sakit. Pada saat fukun/liurai/dato ‘tetuah adat’ melakukan ritual yang disertai dengan ke-batar-an tentu dengan sendirinya fukun/dato/liurai ‘tetuah adat’ juga melakukan hal demikian. Keseriusan fukun/liurai/dato ‘tetuah adat’ tergambar pada saat menyapa Maromak ‘Sang Pencipta’, agarmenundukkan kepala memohon agar hasil panen berlimpah. Bagi fukun/liurai/dato ‘tetuah adat’, keseriusan dilakukan untuk memohon penyatuan ketiga kekuatan tersebut dalam hasil panen berlimpah dari seorang petani. Data keseriusan permohonan dalam ke-batar-an dapat dipaparkan seperti berikut.


70 Teks : Rainain daka to’os lidun hat jin jaga kebun sudut empat‘Penguasa alam semesta’ Hosi foho to’o aintasi mulai gunung KONJ di pinggir pantai‘dari gunung sampai pantai’ Mai ita hamotuk neon ida mari N kumpul hati satu‘Mari kita satu hati’ Keseriusan dalam teks ke-batar-an tersebut dilakukan agar dapat menyatukan seluruh penjaga alam, untuk bersama-sama menyatukan kekuatan untuk mengusir hama yang merusak tanaman para petani batar ‘jagung’. Selain ekspresi konsentrasi atau penuh dengan keseriusan, terdapat pula ekspresi keramahan, yaitu seorang fukun/liurai/dato ‘tetuah adat’ melakukan sapaan kepada maromak ‘Sang Pencipta’ dan juga rainain ‘penguasa alam dengan penuh keakraban. Keramahan dan keakraban dapat terlihat pada saat fukun/to’os nain ‘tetuah adat/liurai/dato’ menyapa seperti pada kalimat mai ita hamutuk ‘marilah bersama’. Bentuk keramahan dan keakraban tersebut dapat dilakukan juga melalui memberi sesajian sesuai dengan kepercayaan setempat. Ekspresi lain yang dilakukan dalam ke-batar-an ’ yaitu kekecewaan. Rasa kecewa para petani batar ‘jagung’ akibat terhadap alam karena perlakukan tidak adil atau tidak sepantasnya karena hasil panen berkurang dari tahun sebelumnnya.Ekspresi tersebut dapat dilakukan oleh para petani dalam mengusir hama yangmenyerang tanaman batar ‘jagung’menyerang tanaman batar ‘jagung seperti lakar sai ‘keluarlah’. Berbagai ekspresi yang dilakukan oleh fukun/liurai/dato ‘tetuah adat/pemilik kebun’ merupakan bahan refleksi dan sekaligus membangun kesadaran akan keterbatasan kemampuan yang dialaminya. Keterbatasan tersebut mendorong seseorang, secara khusus fukun/liurai/dato untuk mengekspresikan suatu permohonan melalui kebataran dalam suatu ritual. Ekspresi kekecewaan dapat diungkapkan seperti kalimat berikut. Teks Tinan ida ne to’os la no isin Tahun satu ini kebun tidak KONJ hasil‘Tidak ada hasil’ Ami halon tinan tenik ba to’os bele no isin Kami mohon tahun lagi pergi kebun bisa KONJ hasil ‘Mohon tahun depan ada hasil’. Ekspresi kemarahan yang dituturkan oleh fukun/to’os nain ‘tetuah adat/tuan kebun pada saat memohon kepada maromak ‘Sang Pencipta’, rainain ‘penguasa alam semesta’ yang sedang sakit. Hal tersebut dilakukan untuk


71 menunjukkan sikap kekecewaan apabila para petani gagal panen yang dialami oleh para petani tradisional batar ‘jagung’. l. Fungsi Direktif Fungsi direktif merupakan fungsi bahasa yang berusaha untuk memengaruhi perilaku dan sikap orang lain untuk melakukan sesuatu. Hal ini lebih ditekankan pada penerima pesan, menurut kepercayaan masyarakat guyub tutur Tetun Fehan yakni Maromak dan fukun/to’os nain. Fungsi tersebut dapat memengaruhi perilaku atau sikap orang lain dalam bentuk perintah, permohanan, ajakan, dan larangan. Fungsi direktif ini berawal dari fungsi konatif yang dikemukakan oleh Jakobson yang sudah disederhanakan oleh Leech (2003, 63-88). Setiap kepercayaan atau keyakinan terhadap alam gaib atau alam supernatural menjadi bagian kehidupan manusia. Guyub tutur Tetun Fehan memiliki suatu keyakinan terhadap adanya alam gaib dan juga keyakinan adanya penghuni alam gaib. Keyakinan tersebut menyebabkan manusia menyadari bahwa di luar alam nyata, masih ada alam yang tidak dapat dilihat secara kasat mata yang dihuni makhluk lain.Selain permohonan, terdapat pula ke-batar-an yang menyatakan ajakan atau permintaan agar seseorang dapat berbuat sesuatu. Ajakan yang dimaksud dalam ke-batar-an dapat ditujukan pada makhluk gaib, flora, dan fauna. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjalin keharmonisan antara segala sesuatu yang dituju. Kalimat ajakan pada umumnya didahului dengan kata mari (lah), sedangkan kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan permintaan, dapat ditandai dengan kata minta (Alwi, 1998, 356). Dalam data berikut dapat dilihat fungsi direktif yang berupa ajakan atau permintaan tersebut. Teks: Mai ita neon mesakmari 1 JMKsatu hati ‘Mari kita sehati’ mai ita halon ba Naimaro kmarilah 1 JMK mohon pergi Tuhan ‘Marilah kita mohon’ Nebe tinan oin to’os no isin KONJ tahun depan kebun KONJ hasil Kalimat ajakan tersebut memiliki dua versi, yakni ajakan yang diikuti partikel dan kalimat ajakan yang tidak diikuti partikel. Kalimat ajakan tanpa diikuti oleh partikel lah ditujukan pada makhluk gaib. Bentuk ajakan tersebut berfungsi sebagai penegasan untuk bermitra antara manusia dan makhluk gaib. Kalimat yang diikuti partikel lah berfungsi untuk menghaluskan isi pada teks ke-batar-an. Pada data tersebut terdapat ajakan yang dimaksudkan untuk memohon kepada Maromak ‘Sang Pencipta’ agar hasil panen berlimpah.


72 m. Fungsi Puitik (Estetik) Fungsi puitik berorientasi pada pesan atau bagaimana pesan tersebut disampaikan (Zoest, 1992:69). Fungsi puitik berkaitan dengan keindahan suatu bahasa bukan hanya pada puisi atau novel, melainkan hadir juga dalam teks kebatar-an untuk memohon agar hasil hasil panen berlimpah. Menurut Jakobson, fungsi puitik digunakan untuk menyampaikan amanat atau pesan tertentu. Bahasa mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, kemauan, dan tingkah laku seseorang. Sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesanyang dituangkan lewat tekske-batar-an memiliki keindahan seperti terlihat pada data berikut. Teks : Fo malirinno manasberi dingin KONJ panas ‘berilah kesegaran’ Batar nea bot Jagung gigi besar‘jagung besar’ ‘ la taes masin e, o etu o ha mis o tidak saring garam PART Anda nasi Anda makan hambar Anda‘kebersihan’ Efek keindahan terlihat pada bunyi suku kata e pada kata masin dan e yang menunjukkan partikel sesuai dengan dialek masyarakat setempat. Selain itu, terdapat pula keindahan, seperti terlihat pada kalimat masin e ‘garam’ yang menunjukkan konotasi pada maksud kalimat tersebut. Keindahan kalimat tersebut terlihat pada bunyi suku kata e pada frasa masin e Maksud dari frasa tersebut bermakna kebersihan. Selain fungsi puitik, terdapat pula fungsi fatik yakni memelihara hubungan yang baik atau kohesi di dalam kelompok sosial. Kalimat ataupun katakata yang digunakan dalam teks ritual ke-batar-an berdasarkan situasi untuk mempertahankan keseimbangan dalam guyub tutur Tetun Fehan. Kata-kata yang diucapkan dalam ke-batar-anyang menunjukkan keramahan, yaitu ucapan salam, penghormatan, selamat berpisah, dan sapaan yang kontroversial (Leech, 2003:81). Fungsi fatik dalam ke-batar-an berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan antara fukun, hewan, makhluk gaib dan tumbuhan yang sering muncul dalam bentuk ucapan salam dan juga penghormatan. Sapaan yang dilakukan tersebut untuk menjaga keharmonisan dan saling menghargai satu sama lain. Selain sapaan dalam teks ke-batar-an, terdapat pula sapaan penghormatan pada jenis tanaman dan hewan yang akan dijadikan sebagai teks ke-batar-an. Sapaan tersebut dilakukan dengan mengucapkan kata mohon izin, dalam arti memohon izin kepada pemilik kebun atau jenis tanaman


73 tertentu untuk memetik bagian tanaman yang dibutuhkan ataupun jenis binatang yang akan ditangkap. Rainain iha raiklaran Penguasa di bumi ‘penguasa alam semesta’ Sapaan pada data tersebut digunakan untuk menyapa penguasa alam pemilik alam, agar bersama-sama menjaga seluruh masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Tujuan dari sapaan tersebut agar penguasa alam dapat juga mengenal dan melindungi masyarakat dari tanaman para petani jagung di kebun mereka. n. Fungsi Magis Selain fungsi puitik, terdapat pula fungsi magis yang berfokus pada kegiatan ritual untuk menghubungkan aktivitas ritual dengan Sang Pencipta. Untuk dapat mencapai kesempurnaan dalam laku mistik, seseorang harus melewati jenjang menuju pada penyatuan dengan Tuhan. Doa merupakan kunci pembuka hubungan dengan Sang Pencipta. Setiap makhluk hidup mempunyai suatu tenaga serta kehidupan yang penuh rahasia. Kekuatan yang tidak bisa diterangkan secara akal budi pada zamannya, yang melampaui kesanggupan manusia biasa, diserap begitu saja, dengan serta merta ditelusuri kembali asal muasalnya pada yang gaib (Fernandes, 1990:133). Selain itu, dikatakan bahwa kegiatan manusia bertopang pada keyakinan bahwa makhluk-makhluk dunia, seperti manusia, tindakan, ritus-ritus, ataupun kejadian alam, dipenuhi dengan kemampuan untuk mendatangkan keuntungan atau malapetaka. Dalam teks kebatar-an, pola komunikasi dapat berupa tuturan ritualyang bersifat satu arah atau monolog. Penerima bersifat supernatural,abstrak, dan cenderung bersifat mistik. Interaksi yang bersifat supernatural dan abstrak dijembatani oleh doa (Dhavamony, 1995:269) sebagaimana dalam tuturan ritual. Media interaksi berupa tuturan ritual kadang-kadang menyiratkan fungsi magis bahasa, seperti terlihat pada data tekske-batar-an berikut. Teks: Rainain daka to’os lidun hat jin jaga kebun sudut empat‘Penguasa alam semesta’ Hosi foho to’o aintasi mulai gunung KONJ di pinggir pantai‘dari gunung sampai pantai’ Mai ita hamotuk neon ida mari N kumpul hati satu‘Mari kita satu hati’


74 Doa tersebut memiliki kekuatan gaib dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan penguasa alam semesta. Selain itu, doa tersebut berfungsi pula untuk mendatangkan keselamatan agar terbebas dar sakit/penyakit dan mara bahaya yang akan menimpah masyarakat setempat. Istilah yang digunakan oleh Palmer (1996:113), yakni tuturan bersifat konstitutif terhadap pandangan, pemikiran dan perilaku transedental. Teks ke-batar-an dapat pula digunakan untuk keperluan mistis ataupun magis yang berarti hal-hal yang tidak dapatdijangkau oleh pancaindra dan logika. Komunikasi satu arah menunjukkan kekuasaan dan kekuatan penerima, sedangkan pilihan leksikal yang khas mencerminkan rasa hormat. Teks ke-batar-an seperti fukun tersebut menunjukkan sesuatu yang kelihatan dan juga tidak kelihatan yang berada pada wilayah guyub tutur Tetun Fehan dari Utara sampai Selatan. Sesuatu yang kelihatan, seperti rai, fatuk, ai, ’tanah dan batu, kayu, pohon’, namun dapat menimbulkan malapetaka atau bencana apabila tidak dihormati dan dijaga. Hal tersebut dimungkinkan karena rai, fatuk, aimemiliki kekuatan dan roh, sedangkan rainain ‘jin/penguasa alam’ yang tidak kelihatan, yang memiliki keajaiban, dapat membawa dampak baik atau buruk pada manusia.


75 BAB IV DINAMIKA PEMAHAMAN LEKSIKON, UNGKAPAN METAFORIS, PEMALI, DAN MITOS TEKS KE-BATAR-AN A. Pemahaman Ekologi Ke-batar-an GTTF Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa Masyarakat Kabupaten Malaka merupakan lingkungan yang majemuk, baik secara lingual, sosial, maupun kultural. Secara lingual, di tengah-tengah mereka digunakan beberapa bahasa daerah, seperti bahasa bahasa Tetun, bahasa Dawan, bahasa Bunak/Kemak, bahasa Jawa, bahasa Bugis, bahasa Ende, bahasa Manggarai, dan bahasa Bali. Sementara itu, secara sosial GTTF selalu hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya, yang masingmasing memiliki keberagaman status sosial secara tradisional. Di samping karena adanya perubahan lingkungan alam tempat GTTF bermukim, fenomena di atas berperan dalam terjadinya perkembangan, perubahan, dan pergeseran bahasa, dalam hal ini pada tataran leksikon. Lindø dan Bundsgaard (2001:10-11) menyatakan bahwa dinamika dan perubahan bahasa pada tataran leksikon dipengaruhi oleh tiga dimensi yakni (a) dimensi ideologis, yaitu adanya ideologi atau adicita masyarakat.Misalnya, ideologi kapitalisme yang disangga pula dengan ideologi pasar sehingga perlu dilakukan aktivitas terhadap sumber daya lingkungan, seperti muncul istilah dan wacana eksploitasi, pertumbuhan, dan keuntungan secara ekonomis.Jadi, ada upaya untuk tetap mempertahankan, mengembangkan, dan membudidayakan jenis ikan atau tumbuhan produktif tertentu yang bernilai ekonomi tinggi dan kuat, (b) dimensi sosiologis, yakni adanya aktivitas wacana, dialog, dan diskursus sosial untuk mewujudkan ideologi tersebut. Dalam dimensi ini bahasa merupakan wujud praktis sosial yang bermakna, dan (c) dimensi biologis, berkaitan dengan adanya diversifitas (keanekaragaman) biota danau (atau laut, ataupun darat) secara berimbang dalam ekosistem, serta dengan tingkat vitalitas spesies dan daya hidup yang berbeda antara satu dengan yang lain; ada yang besar dan kuat sehingga mendominasi dan “menyantap” yang lemah dan kecil, ada yang kecil dan lemah sehingga terpinggirkan dan termakan. Dimensi biologis itu secara verbal terekam secara leksikon dalam khazanah kata setiap bahasa sehingga entitas-entitas itu tertandakan dan dipahami. Menurut Mbete dan Abdurahman (2009), leksikon yang terekam melalui proses konseptualisasi dalam pikiran penutur menjadi leksikon yang fungsional untuk digunakan. Dengan demikian, penutur bahasa akan menggunakan leksikon yang ada dalam konseptual mereka jika didukung dengan lingkungan ragawi yang ada. Sebaliknya, konsepsi leksikal dalam alam pikiran penutur ini akan berubah jika


76 adanya perubahan lingkungan ragawi tersebut. Perubahan itu terjadi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan menghilang atau menyusutnya sejumlah leksikon. Bahkan, pada komunitas yang dwibahasawan, tidak hanya terjadi perubahan, tetapi pergeseran ke konsepsi leksikal bahasa yang lain. Interaksi, interelasi, dan interdependensi antara GTTF dan lingkungan tempat mereka bermukim terekam dalam alam pikiran dalam bentuk gagasan-gagasan konseptual atau pengetahuan mereka tentang lingkungannya tersebut, khususnya di lingkungan ke-batar- an. Hal ini berdasarkan pengalaman masyarakat, secara khusus antargenerasi, yang berkaitan dengan bioregion yang diakrabinya seperti juga pengetahuan tentang lingkungannya. Pengetahuan mereka tentang lingkungan kebatar-an ini direpresentasikan dalam bentuk pemahaman leksikon-leksikon BTTF dari entitas-entitas yangsecara semantik referensial eksternal diacunya dalam komunikasi verbal mereka sehari-hari.Lingkungan fisik atau ragawi yang berhubungan dengan batar ‘jagung’ sangat memengaruhi pemahaman guyub tutur mengenai hal tersebut.Pengetahuan dan pemahaman tersebut kemudian dikodekan secara lingual dalam bentuk leksikon-leksikon yang terekam dalam pemikiran guyub tuturnya. Pengetahuan kognitif tersebut meliputi kosakata, khususnya satuan leksikal yang penutur gunakan untuk menyebut dan merujuk objek, kegiatan, dan aktivitas yang penting dalam lingkungannya.Penggunaan kata yang berbeda dari orang yang berbeda, berbeda pula dalam menamai flora dan fauna di lingkungan mereka (Casson, 1981:1).Selain itu, dapat pula dikatakan bahwa bahasa lebih dari sekadar alat untuk mengomunikasikan realitas.Di samping itu, dikatakan bahwa bahasa merupakan alat untuk menyimpan realitas. Bahasa yang berbeda akan menciptakan dan mengekspresikan realitas yang berbeda. Bahasa yang berbeda akan mengategorikan pengalaman yang berbeda. Bahasa yang berbeda memberi pola-pola alternatif untuk berpikir dan memahami (Spradley, 2007:25). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa adanya pengetahuan, pemahaman, pengenalan, dan pewarisan yang mendalam adalah fakta adanya interaksi, interelasi, dan interdependensi antara GTTF dengan lingkungan pertanian ke-batar-an. Makin tinggi interaksi, interelasi, dan interdependensi mereka terhadap keberagaman entitas lingkungan ke-batar-an mereka, makamakin tinggi pula tingkat pemahaman mereka terhadap leksikon- leksikon yang ada atau juga sebaliknya. Pada bagian ini dipaparkan mengenai tingkat pemahaman leksikon, ungkapan metaforis, pemali, dan mitos ke-batar-an antargenerasi guyub tutur Tetun Fehan.Tingkat pemahaman dalam hal ini, adalah pengetahuan, pemahaman, dan keeratan relasi dengan kekayaan leksikon yang dimiliki GTTF, baik dalam bentuk leksikonleksikon aktif maupun pasif. Dari hasil observasi dan wawancara, terdapat 532 leksikon ke-batar-an yang ditemukan dalam guyub tutur Tetun Fehan di desa Fahiluka, desa Berelikudan desa Kamanasa Leksikon tersebut terdiri atas leksikon nomina, 243 leksikon verba, dan 119 leksikon adjektivayang diujikan kepada 150 orang responden yang terdiri atas 50 responden kelompok usia 15-24 tahun, 50 responden kelompok usia 25-45 tahun,


77 dan 50 responden kelompok usia 46-65 tahun. Tingkat pemahaman leksikon-leksikon BTTF oleh ketiga kelompok responden ditampilkan dalam bentuk persentase.Perbedaan persentase tingkat pemahaman antargenerasi terhadap leksikon- leksikon tersebut digunakan sebagai parameter aspek tersebut.Derajatkedekatan (degree of familiarity) antara guyub tutur Tetun Fehan dengan batar ‘jagung’ baik itu oleh generasi tua yang masih mengenal setiap leksikon maupun pada generasi muda yang mulai tidak mengenal setiap leksikon ke-batar-an. Untuk memeroleh gambaran secara keseluruhan, berikut disajikan grafik yang dapat menunjukkan pemahaman guyub tutur terhadap leksikon ke-batar- an.


Tabel Tingkat Pengetahuan Ekologi Batar ANo Pertanyaan RespondenRemaja Pemuda A B C A B C 1 Apakah di lingkungan terdapat kebun jagung 48 2 - 49 1 - 2 Apakah Anda tahu manfaat dari tanaman jagung 5 3 37 7 4 383 Apakah Anda tahu, bagianbagain dari batar ‘jagung’ 5 2 43 36 2 2 4 Apakah Anda tahu bagaimana persiapan sebelum menanam batar (jagung) 6 5 49 12 4 345 Apakah Anda tahu bagimana menanam jagung 3 20 27 10 35 156 Apakah Anda tahu perlengkapan Menanam batar (jagung) 4 9 37 5 25 2078


Antargenerasipada GTTF n Tua Keterangan A B C 49 1 - Tidak semua lingkungan terdapat kebun jagung. Kebun jagung biasanya jauh dari rumah 8 50 - - Generasi tua mampu menjelaskan dengan baik 50 - - Pengetahuan remaja dan pemuda hanya dalam bahasa Indonesia 4 50 2 1 Remaja dan pemuda mengetahui perlengkapan menanam batar (jagung) dalam bahasa Indonesia 5 50 1 1 Remaja dan pemuda mampu menjelaskan secara umum budi daya jagung dengan ritual hanya dilakukan oleh sebagian besar guyub tutur Tetun Fehan 0 48 1 1 Remaja dan pemuda mengetahui perlengkapan menanam batar (jagung) dalam bahasa Indonesia


No Pertanyaan Responden Remaja Pemuda Tua A B C A B C A B C 7 Apakah Anda tahu perlengkapan panen batar (jagung) 5 10 35 4 15 31 49 1 - Remajapenen b8 Apakah Anda ritual khusus hamis batar (makan jagung muda) - - 50 2 29 19 47 3 1 Pengetritual Te9 Apakah Anda tahu kapan ritual hamis batar dilaksakan? - - 50 3 20 27 48 1 1 Pengetyang informamulut k10 Apakah Anda Tahu tentang leluhur yang menguasai alam, tumbuh-tumbuhan dan lainnya? - - 50 2 30 22 45 2 3 Pengetkecil me79


Keterangan a dan pemuda mengetahui perlengkapan batar (jagung) dalam bahasa Indonesia tahuan pemuda sebatas bentuk-bentuk etun Fehan dan dalam bahasa Indoensia tahuan pemuda sebatas informasi yang terekam dalam ingatan/berdasarkan asi yang disampaikan secara lisan dari e mulut tahuan pemuda sebatas cerita di masa ereka, tapi tidak mengetahui dengan pasti Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur


80 Maria M. Namok Nahak Pada umumnya, pengetahuan tentang penggunaan leksikon ke-batar-an sangat berbeda antargenerasi. Berdasarkan data koesioner tentang pengetahuan yang dimiliki guyub tutur Tetun Fehan terutama antargenerasi dapat dilihat pada gambar berikut Grafik Ekologi Ke-batar-an antargenerasi GTTF Dinamika pengetahuan pada guyub tutur Tetun Fehan tentang ekologi leksikon yang berhubungan dengan teks ke-batar-an antargenerasi sangat berbeda. Hal ini disebabkan oleh tradisi yang berhubungan ke-batar-an secara tradisional hanya diketahui oleh masyarakat atau orang-orang tertentu. Hal tersebut menyebabkan pengetahuan, pemahaman tentang ekologi jagung dan penggunaan atau pemanfaatan batar ‘jagung’ secara khusus leksikon-leksikon yang berhubungan dengan teks ke-batar-an antargenerasi terutama generasi muda mengalami kesenjangan dengan generasiterdahulunya. Merosotnya pengetahuan tentang leksikon yang berhubungandengan ekologi pertanian batar ‘jagung’ secara tradisional berpengaruh pada minimnya leksikon yang dimiliki. Hal ini disebabkan minimnya usaha untuk mengakrabi leksikon kebatar-an yang berada di lingkungan sekitar yang bermanfaat bagi kebutuhan faktor ekonomi sebagai makanan lokal etnik Malaka. Secara umum, hanya leksikon tertentu yang diketahui karena tumbuh dan berkembang di lingkungan dan dapat digunakan. Namun, terdapat leksikon yang merupakan ciri khas masyarakat guyub tutur Tetun Fehan yang telah diwariskan oleh leluhur sejak zaman dahulu sebagian leksikon ada dalam pikiran, namun secara riil jenis tersebut sudah punah. Data dalam grafik ekologi ke-batar-an menunjukkan bahwa pada kelompok tua paham denpan persentase (92,8%), kelompok dewasa (93,0%), dan remaja (79,6%). Selanjutnya, berdasarkan data tentang bagian-bagian ke- batar-an, yakni bagian-bagian yang dimanfaatkan terdiri atas funan‘bunga’ sampai akar yang diketahui antargenerasi dapat dilihatseperti Gambar 6.2 berikut. 120,0 100,0 93,0 79,6 80,0 98,2 60,0 40,0 Remaja Dewasa Tua 20,0 6,51,90,9 4,11,80,3 7,2 0,60,6 0,0 Sangat Paham Paham Cukup Tidak Tahu Paham


81 Maria M. Namok Nahak Grafik Pengetahuan Antargenerasi tentang bagian-bagian teks Ke-batar-an Berdasarkan Grafik di atas dikatakan bahwa proses pewarisan pengetahuan tentang ke-batar-an secara tradisional, baik tentang leksikon maupun bahasaritual batar ‘jagung’ tidak dilakukan dengan proses belajar. Guyub tutur Tetun Fehan memiliki asumsi bahwa pewarisan tersebut karena lingkungan yang memengaruhinya.Dalam hal ini, dapat dikatakan, karena pewarisan budaya terutama ritual ke-batar-an dapat terjadi secara natural sesuai dengan lingkungannya. Hal tersebut yang menyebabkan terjadinya kesenjangan pewarisan antargenerasi. Berbicara tentang kebudayaan, menurut Purwanto (2003:88),bahwa terdapat tiga proses belajar kebudayaan. Pertama, yang berkaitan dengan manusia sebagai makhluk hidup dan juga bagian dalam sistem sosial. Proses belajar kebudayaan seseorang harus dimulai sejak seorang anak dilahirkan. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan pengembangan hasrat, perasaan, emosi dalam rangka pengembangan kepribadian manusia itu sendiri, atau dapat pula disebut dengan proses internalisasi. Kedua, manusia adalah makhluk sosial, maka setiap individu harus belajar mengenai pola-pola tindakan agar dapat mengembangkan hubungan dengan individunya. Hal ini dapat pula dikenal dengan sebutan proses sosialisasi. Ketiga, proses belajarkebudayaan yang dikenal dengan istilah enkulturasi kebudayaan,yakni seseorang harus mempelajari dan menyesuaikan sikap dan alam berpikirnya dengan sistem norma yang berlaku dalamkebudayaannya. Proses pewarisan kebudayaan yang telah dipaparkan tidak dilakukan secara optimal, dalam hal ini ritual ke-batar-an,Hal ini disebabkan oleh pengetahuan, pemahaman serta pemanfaatan bagian- bagian jagung secara tradisional yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Hal ini pula berdampak pada pengetahuan tentang leksikon yang berkaitan dengan bagianke-batar-ansecara tradisional. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), 100,0 92,3 90,0 80,0 70,0 60,0 50,0 40,0 30,0 20,0 10,0 0,0 78,3 Remaja Dewasa Tua 12,8 7,88,16,1 6,14,90,8 4,60,9 Sangat Paham Paham Cukup Paham Tidak Tahu 69,1


82 Maria M. Namok Nahak pertanian ke-batar-ansecara tradisional yang diwariskan sejak zaman dahulu sudah tergerus dan tergantikan atau beralih menjadi pertanian modern. Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa responden usia 46-65 tahun memiliki pemahaman yang tertinggi dengan rata- rata sebesar 92,3% (sangat paham) untuk setiap kelompok leksikon yang diujikan, kemudian diikuti oleh responden usia 25-45 tahun dengan rata-rata sebesar 78,3% (paham), dan selanjutnya pemahaman terendah dengan rata-rata sebesar 69.1% (cukup paham). B. Tingkat Pemahaman Leksikon Bagian–Bagian Ke-batar-an Untuk mengetahui tingkat pemahaman responden mengenai leksikon bagian batar, diujikan 20 leksikon pada seluruh responden, baik responden usia remaja, dewasa, maupun usia tua. Dari data yangditemukan, seluruh responden kategori usia tua hampir semua mengetahui leksikon bagian-bagianbatar, yaitu berkisar antara 95%-100% yang menjawab sangat tahu, kemudian dari responden kategoriusia dewasa berkisar antara %78-100%, dan pada responden kategori usia remaja hanya berkisar antara 69%-42% saja yang mengetahui leksikon bagian ke-batar-an. Hal tersebut dikarenakan leksikon- leksikon bagian ke-batar-ankhususnya pada responden tua masih tersimpan sangat baik dalam ingatan generasi tua, dan mereka masih menggunakan leksikon-leksikon tersebut dalam percakapan, karena mayoritas masyarakat tua guyub tutur Tetun Fehan masih dapatmengenal bagian batar ‘jagung’ baik dalam proses ritual dengan menggunakan bahan-bahan alami tersebut dalam pertanian ke-batar- an. Pada kelompok generasi dewasa, hanya sebagian besar yang masih menggunakan leksikon-leksikon tersebut dalam percakapan, dan tidak semua mampu mengenal bagian teks ke-batar- an.Berdasarkan tingkat pemahaman leksikon bagian ke-batar-anpada generasi remaja, hampir semua responden tidak mengetahui, serta tidak mengenal baik leksikon -leksikon tersebut. Dapat dikatakan bahwa sangat minimnya pengetahuangenerasi muda tentang leksion bagian-bagian ke-batar-an. Hal ini, terjadi karena entitas tersebut tidak diwariskan kepada generasi mudadan generasi muda pun tidak berusaha untuk mencari tahu. Di samping itu, karena perkembangan ilmu dan teknologi, generasi muda tidak dilibatkan secara langsung di dalam pekerjaan petani kebun sehingga mereka tidak lagi mengenal akan entitas-entitas atauabagian-bagian kebataran. Hal ini, disebabkan oleh adanya alat bantú pertanian modern seperti mesin traktor. Mereka kurang berusaha untuk mengenal serta mencintai budaya ke-batar-ansebagai warisan leluhur guyub tutur Tetun Fehan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 6.1 tentang bagianbagian ke-batar-an tersebut.


8Maria M. Namok Nahak Tabel Tingkat Pemahaman Leksikon Bagian-Bagian Ke-bNo. Leksikon TF Makna Etnokultur Re(15-2A B 1. Kain’batang’ matak ‘mentah’ maran’kering’ bot ‘besar’ kiik ‘kecil’ los ‘lurus’ kleuk ‘bengkok’ Pakan ternak 50 - Pakan ternak 50 - Bahan bakar tungku 50 - Kerajinan tangan berupa celengan keranjang 50 - belanja, tempat lampu 50 - Kerajinan tangan berupa celengan keranjang 50 - belanja, tempat lampu 50 - 2 Tahan ‘daun’ Matak ‘metah’ Pakan ternak Pakan ternak, pembungkus rebusan jagung, pembungkus lemet jagung 50 50 - - Maran ‘kering Bahan bakar tungku 50 - 3 Batar komak ‘kulit jagung’ Matak ‘mentah’ Maran ‘kering’ Kerajian tangan, kulitnya untuk bahan dasar rokok, dan bahan bakar tungku 50 50 50 - - - 83


Click to View FlipBook Version