The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berjudul khazanah ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor Kabupaten Malaka. Bidang utama kajian ini adalah ekolinguistik yang mengungkap ke-batar-an. Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan sebuah karya penting di dalam disiplin ilmu Ekolinguistik. Selain karena karya ini menyajikan sebuah model kajian ekolinguistik yang penting dan berguna. Buku ini menyajikan model analisis koleksikon ke-batar-an orang Malaka berdasarkan perspektif ekolinguistik

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG, 2023-10-02 23:14:29

KHAZANAH EKOLEKSIKON KE-BATAR-AN

Buku ini berjudul khazanah ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor Kabupaten Malaka. Bidang utama kajian ini adalah ekolinguistik yang mengungkap ke-batar-an. Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan sebuah karya penting di dalam disiplin ilmu Ekolinguistik. Selain karena karya ini menyajikan sebuah model kajian ekolinguistik yang penting dan berguna. Buku ini menyajikan model analisis koleksikon ke-batar-an orang Malaka berdasarkan perspektif ekolinguistik

Keywords: Maria Nahak

149 Demikian pula mitos-mitos yang ada dimasyarakat yang hidup dipulau Timor, dimiliki dan dikenal baik oleh guyub tutur dilingkungan tersebut. Mitos-mitos kebatar-an itu memengaruhi sikap dan tingkah laku guyub tutur dalam menjalani kehidupan mereka dilingkungan tersebut. Adapun mitos-mitos ke-ke-batar-an yang dituturkan itu disebutkan dan diuraikan sebagai berikut. H. Bei Lafaek/Bei Nai Dalam mitos guyub tutur Tetun Fehan terdapat ceritera tentang asal mula jagung ‘batar’ atau dikenal dengan sebutan batar. Mitos ini adalah mitos yang paling melekat dengan lingkungan ke- batar-an karena berhubungan dengan aktivitas mereka yang pada dasarnya membutuhkan kehadiran Bei Nai sebagai penjelmaan rai nain ‘jin’ dalam upacara hamis batar. Sinopsis mitos mengenai Bei Naidipaparkan sebagai berikut. Suku Mamulak dan Kisah Tentang Buaya Suku Mamulak adalah salah satu suku dalam wilayah kerajaan Liurai-Malaka dengan pusatnya di sebuah kampung terpencil bernama Numbei (Desa Kateri, Kecamatan Malaka Tengah,Kabupaten Belu). Kerajaan Liurai Malaka secara geografis berada di wilayah Kabupaten Belu, bagian Selatan, dengan pusatnya di uilaran (Desa Fatuaruin, kecamatan Sasitamean). Adapun tugas pokok yang diberikan oleh Raja Liurai Malakakepada suku ini adalah memimpin doa dalam ritual-ritual kerajaan. Salah satu contoh yang dilakukan adalah “foti hamulak” (memimpin doa) saat raja meninggal dunia. Untuk itulah suku ini dibaptis oleh raja dengan nama Suku Mamulak Liurai. “Mamulak” dalam bahasa Tetun berasal dari kata hamulak yang artinya berdoa. Dalam suku ini terdapat barang antik yang diberikan oleh raja yakni sebuah jubah dan buku doa. Setiap kali kepala suku Mamulak memimpin doa di Liurai, ia harus mengenakanjubah dan berdoa menggunakan buku doa tersebut. Sejarah Asal usul Buaya ‘lafaek’ Dalam bahasa Tetun, buaya dikenal dengan istilah lafaek. Akan tetapi anggota suku Mamulak menyebutnya dengan namaBei Nai, sebuah sapaan penuh hormat untuk buaya.Secara harafiah, Bei Nai artinya nenek atau kakek raja. Kata lafaek tidak digunakan, sebab dalam percakapan sehari-hari kata ini mengandung makna yang kasar. Karena itu, anggota suku merasa tidak layak menggunakannyauntuk menyebut binatang totem seperti buaya. Berdasarkan sejarahnya, penghormatan terhadap Bei Nai (buaya) dilatarbelakangi oleh sebuah peristiwa di masa lampau. Menurut keyakinan umum suku Mamulak, pada zaman dulu dua orang Meo (panglima perang yang memiliki kekuatan sakti) dari suku Mamulak, mendapat kepercayaan untuk menjadi pengawal KerajaanLiurai.Dua orang Meo itu adalah Ati Mamulak dan Bere Mamulak. Waktu itu ada pesta di pusat kerajaan Liurai. Tanpa sengaja dua orang


150 meo ini memakan buah pisang dan membenamkannya dalam butir-butir Muti (perakyang digunakan untuk membuat kalung dan ornamen Nain Liurai atau raja Liurai. Muti tidak hanya sekadar perak sebab ia mengandung unsur emas) lalu menelannya. Karena tindakan ini, mereka dituduh sebagai pencuri Muti (uang perak). Karena takut dibunuh atau mendapat hukuman dari Raja, maka mereka berdua melarikan diri ke laut.Di dalam laut itulah tubuh mereka berdua berubah menjadi buaya. Tempat di mana mereka berubah menjadi buaya adalah muara Ati Bere, Pantai Taberek, Teluk Ati bere. Sebagai wujud nyata penghormatan terhadapkedua orang Meo ini, maka diadakan ritual khusus untuk menjalin komunikasi yang intens dengan mereka. Hubungan anggota suku dengan Bei Naibegitu terjalin erat dan harmonis. Berdasarkan cerita yang diwariskan Kepala Suku, setiap kali upacara hamis (pemberkatan jagung muda yang siap dimakan oleh orang dewasa) maka akan muncul Bei Nai yang berjalan dari arah sungai Benenai menuju rumah adat. Mereka datang untuk turut hadir dalam upacara hamis. Dalam upacara ini, bahasa adat yang digunakan untuk berkomunikasi dengan Bei Nai antara lain: Ohin loron haklibur hodi husu bensa, uma itak Mamulak uma madomik, nadomi duni ba feto no mane, ita feto no mane halianfatik (Pada hari ini kita berkumpul untuk memohonkan rahmat, Sang rumah Mamulak, rumah penyayang, yang mengasihisiapapun, baik pria dan wanita, kita ini satu). Ami ata fafudi tehin ta’tis, tehin ta’tis hodi tane la’lok (Kami ini hamba yang berada di pinggiran, di tempat ini kami juga memberikan sirih pinang). Tane la’lok hodi, lok Liurai, Liurai sei hau moris hokedan (Membawa sirih pinang, sirih pinang bagi Liurai, Liurai yang termeteraikan sejak lahir) Mereka (Bei Nai) biasanya mengambil posisi duduk di atas labis (Balai depan, tempat yang digunakan untuk pertemuan dalam Uma Lulik atau rumah adat). Anggota suku tidak merasa takut dengan kehadiran mereka. Keyakinan umum orang Mamulak menyebutkan bahwa Bei Nai tidak mengganggu atau memangsa manusia secara sembarangan.Ia akan mencelakakan anggota suku apabila anggota suku melakukan tindakan jahat seperti mencuri atau mengganggu kehidupan Bei Nai itu sendiri. Jika ada anggota suku yang melakukan tindakan jahat demikian, maka ia tidak akan selamat pada saat menyeberang sungai Benenai, atau berada di dalam air laut. Sebagai bentuk penghormatan terhadap kehadiran Bei Nai, maka diadakan lok mama (pemberian sirih pinang). Pada saat sirih pinang diberi kepada Bei Nai, bahasa adat seperti yang tertera di atasdapat diungkapkan. Hingga sekarang, orang-orang Mamulak tetap meyakini Bei Nai sebagai pelindung dan penjaga Uma Lulik, Uma Mamulak (penjaga rumah adat Mamulak) dan semua anggota suku dari ancaman bahaya maut.


151 Bentuk penghormatan terhadap Bei Nai dalam suku Mamulakadalah salah satu bentuk totem yang begitu kuat dihidupi oleh anggota suku.Hal ini terjadi karena latar belakang historis dari suku ini yaknikedua orang Meo yang menjelma menjadi buaya. Anggota suku ini tidak akan pernah membunuh atau mengusik kehidupan para Bei Nai, baik yang berada di laut maupun sungai Benenai. Malapetaka seperti sakit atau meninggal dunia akan menimpa mereka yang coba mengusik kehidupan Bei Nai. Mitos yang diuraikan mengenai Bei Nai tersebut memiliki makna kultural yang kuat yang berkedudukan dalam ideologi guyub tuturnya.Sebagaimana yang dinyatakan oleh Lindø dan Bundsgaard (2000:11), fungsi dan makna ideologis terkait dengan mental kolektif,kognitif individu, sistem ideologi, dan psikis.Fungsi ideologis dapat dilihat dari kata Bei Nai ‘buaya’ merupakan penghormatan terhadap Bei Nai yang diyakini oleh seluruh anggota suku Mamulak.Konsep kebudayan ini terlahir dari tradisi lisan yang diwariskan turun- temurun dari matabian ‘leluhur’ GTF. Mitos ini semakin kuat di lingkungan guyub tutur Malaka karena banyak masyarakat Malaka yang memiliki pengalaman empirik setelah Hubungan anggota suku dengan Bei Naibegitu terjalin erat dan harmonis. Berdasarkan cerita yang diwariskan Kepala Suku, setiap kali upacara hamis (pemberkatan jagung muda yang siap dimakan oleh orang dewasa) maka akan muncul Bei Nai yang berjalan dari arah sungai Benenai menuju rumah adat. Mereka datang untuk turut hadir dalam upacara hamis. Mitos Bei Nai juga berkaitan dengan dimensi biologis yang mengatur hubungan manusia dengan spesies lain (hewan, tumbuhan, tanah, laut, dan lain-lain) dalam lingkungan hidupnya. Gambar Bei Nai (buaya) Sumber: Kompasiana Beyond Blogging, Maria 2017


152 Dari hasil analisis data yang ditemukan, seluruh responden kategori usia tua hampir semua mengetahui leksikon bagian-bagian lafaek ‘buaya’ yaitu berkisar antara 85%-100% yang menjawab sangat tahu.Hal tersebut dikarenakan leksikon-leksikon lafaek ‘buaya’ masih tersimpan sangat baik dalam ingatan generasi tua, dewasa, dan usia remaja dan mereka masih menggunakan mitos/ungkapan-ungkapan tersebut dalam percakapan, karena mayoritas masyarakat tua guyub tutur Tetun Fehan masih memosisikan lafaek ‘buaya’ sebagai nai rajadalam proses ritual hamis. Hal ini karena leksikon tentang mitos/ungkapan-ungkapan permohonan padaBei Nai sering diggunakan dalam kehidupan GTTF.Konsep nilai dan sikap kebersamaan antara manusia dan alamnya. Manusia bertindak sebagai pemohon dan pengolah serta penjaga alam.Guyub tutur Malaka sebagai makhluk sosial selalumembina hubungan yang harmonis dengan alam. Hubungan manusia dengan manusia adalah refleksi dari hubungan manusia dengan Bei Nai.Kedisharmonisan hubungan antarmanusia diyakini mengakibatkan kedisharmonisan hubungan vertikal transendental dengan Sang Pencipta.Oleh karena itulah maka harmonisasi antara manusia dengan sesama manusia dalam lingkungannya, dalam hal ini lingkungan ke-batar-an perlu dijaga. Dengan demikian hubungan vertikal manusia dengan Bei Nai dan Maromak, Matabian juga tetap harmonis. I. Mitos Mendatangkan Hujan Mitos ini berkaitan erat dengan ke-batar-an, yaknidalamproses halon udan sangat menentukan. Guyub tutur Tetun Fehan saat melakukan pemanggilan hujan menggunakan syair mantra sebagai berikut. Amaitabot Bapakami Adj ‘Tuhan Maha Kuasa’ Ami halon hakmasin Kami mohon merendah‘Kami memohon’ Tulun ami matun udan mai Bantu kami turun hujan datang‘basahi bumi’ fini atu monu onan ne Benih sudah turun jadi ini‘N-sudah ditanam’ Ami halon hakmasin Pr-1 mohon meendah’‘Kami Memohon’ Hatun udan we malirin Turunkan hujan air dingin’‘Air menyegarkan’ Finiat sae mai oan


153 benih akan hidup datang sudah‘Benih mulai tumbuh’ Syair mantra tersebut mencerminkan adanya fungsi dan makna biologis yang didasarkan pada dimensi biologis yang berhubungan dengan keterkaitan manusia yang hidup berdampingan dengan spesies yang lainnya (hewan, tumbuhan, tanah, angin, hutan,dan lain sebagainya). Syair mantra ini menggambarkan pengharapanpara petani kebun batar ‘jagung’agar setelah membaca mantra ini, hujan akan segera turun di lahan yang sudah disipakan. Harmonisasi manusia dengan spesies lain merupakan bukti adaptasi dalam suatu lingkungan. Harmonisasi tersebut dapat terjaga jika penghubung manusia dengan lingkungan (bahasa dan budaya) tetap dapat beradaptasi, berinteraksi, berinterelasi, bahkan berinterdependensisatu dengan yang lainnya. Mantra memohon hadirnya hujan di lahan yang sudah disiapkan. Sebelum ritual dilakukan, berunding dengan warga desa untuk mencari penyebab belum datangnya hujan. Setelah penyebab ditemukan dan dilakukan denda serta ritual lain yang dikehendaki dunia arwah, maka ritual mendatangkan hujan dapat dilakukan. Doa ritual mendatangkan hujan ini sangat panjang, intinya merayu Tuhan dan memohon hujan dengan bahasa “tutur adat” berupa puisi yang sangat indah (Foni, 2002). Penyebab yang dicari umumnya dari pelaksanaan ritual sebelumnya, apakah ada kesalahan ritual, atau adanya kesalahan pada aspek yang lain, yang menyebabkan disharmoni dunia manusia dengan roh-roh dan arwah-arwah (Foni, 2002).Juga dicari, apakah ada hal-hal teknis di lapangan yang mengganggu kenyamana roh-roh leluhur, atau ada perbuatan- perbuatan yang merusak bumi, seperti memotong akar secara salah, atau menggali tanah secara salah di tempat roh-roh berdiam.Jika sudah ditemukan penyebabnya, maka pelaku perbuatan dapat didendauang (Foni, 2002), dan warga desa harus melakukan ritual di beberapatempat untuk menghilangkan perbuatan salah tersebut. Berdasarkan semua mitos yang berhubungan dengan lingkungan ke-batar-an, secara tidak langsung guyub tutur Tetun Fehan masih menjaga konsep tatanan sosial yang disebut kesilesu hakaer oe ‘pengukuhan/penobatan’ atau adat istiadat yang mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan (dimensi idiologis), hubungan manusia dengan sesama manusia (dimensi sosiologis) maupun hubungannya dengan lingkungan atau alam (dimensi biologis). Hal itu, sejalan dengan ajaran agama katolik, yaitu tiga kewajiban manusia di dunia.Kewajiban tersebut adalah untuk menyeimbangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan lingkungan.Ketiga kewajiban itu tidak ada yang bisa dipisahkan karena saling berkaitan satu sama lain, semua harus dilaksanakan demi kebaikan manusia dan alam seisinya. Hubungan tersebut juga sesuai dengan hubungandialektikal bahasa danpraksissosial yang dipaparkan oleh Lindø dan Bundsgaard (2000:11) yang mencakuptiga dimensi, yakni dimensi ideologis, sosiologis, dan biologis.


154 J. Kecenderungan dan Daya Tahan Leksikon Pertanian Teks Ke-batar-an Dinamika pengetahuan dan pemahaman leksikon ke-batar- an menghasilkan kebertahanan, kepunahan, dan inovasi pada konsepsi GTTF. Jikalau ketiga hal di atas dihubungkan dengan tiga dimensi dalam praksis sosial yang mempengaruhi perubahan bahasa, maka dapat dikatakan bahwa leksikon yang bertahan adalah leksikon yang secara biologis entitas acuannya masih banyak ditemukan di lingkungan tempat tinggal GTTF karena ekologinya cocok; secara sosiologis entitasnya dibutuhkan untuk bertahan hidup, dan kebutuhan untuk menjaga interaksi dengan entitas sesama makhluk hidup lainnya; serta secara ideologis sejumlah entitas acuannya dikembangkan dan dibudidayakan untuk mendukung keberlangsungan kedua dimensi sebelumnya. Sebaliknya, ditemukansejumlah leksikon mengalami pergeseran dan yang hampir punah. Berdasarkan tabel-tabel tingkat pemahaman leksikon yang sudah dipaparkan dapat diketahui bahwa tingkat kebertahanan yang sangat tinggi uumnya ditemukan pada leksikon umum yang terdapat di lingkungan ke-batar-an. Sementara itu, tingkat kebertahanan pada sejumlah leksikon spesifik ditemukan pada leksikon yang entitas acuannya masih banyak ditemukan.di lingkungan tempat tinggal GTTF karena interaksimereka yang tinggi dengan entitas acuannyasehingga tingkat pengetahuan dan pemahamannya hampir sama. Di samping itu, ketergantungan yang tinggi terhadap entitas acuannya juga merupakan faktor penyebab adanya fenomenatersebut. Analisis data menunjukkan bahwa kelompok leksikon yang mengalami penurunan ditemukan hampir pada semua kelompok leksikon, walaupun dengan tingkat yang beragam. Perbedaan yang ekstrim pada tingkat penggunaan dan pemahaman antargenerasi terdapat pada beberapa leksikon spesifik yang hanya ditemukan dandigunakan di lingkungan pertanian ke-batar-an, khususnya ada generasi muda. K. Kesenjangan Pengetahuan danPewarisanLeksikon ke-batar- an Antargenerasi Pengetahuan tentang kebudayaan dan lingkungan saling memengaruhi. Pendekatan ekologis cenderung melihat secara spesifik mengenai hubungan antara kegiatan manusia, kegiatan biologis, dan proses alam tertentu ke dalam satu sistem análisis, yaitu ekosistem. Menurut Sears (2016:5), jika seseorang memasuki suatu tempat bukan melihat apa yang ada, melainkan melihat apa yang sedang terjadi di situ. Pendapat tersebut menyatakan bahwa apa yangterjadi di situ adalah pertukaran energi antara berbagai komponen dari ekosistem itu, yaitu pada saat makhluk hidup mengambil materi atau segala sesuatu dari lingkungan tersebut sebagai makanan ataupun ramuan obat maupun kebutuhan lainnya. Pandangan tersebut mengisyaratkan bahwa terdapat beragam bahasa terutama pengetahuan dan pemahaman tentang leksikon teks ke-batar-an pada guyub tutur Tetun Fehan harus mendapat perhatian secara khusus. Hal tersebut disebabkan oleh sebagian besar masyarakat terutama


155 generasi muda yang kurang peduli terhadap leksikon yang berhubungan dengan pengetahuan leksikon kebataran dalam pertanian batar ‘jagung’ secara tradisioal. Pewarisan pengetahuan dan pemahaman antargenrasi mengalami kesenjangan. Pengetahuan dan pemahaman tentang leksikon batar secara trdisional hanya diwariskan pada generasi atauorang–orang tertentu karena turunan atau secara natural. Hal ini disebabkan pula oleh generasi muda yang tidak memiliki keinginan untuk mencari tahu dan berusaha untuk mengerti serta memahami apayang disampaikan atau dituturkan oleh seseorang. Pengetahuan tentang leksikon ke-batar-an secara tradisional secara khusus dilihat pada tataran leksikon merepresentasikan fenomena sosial dan budayasetempat yang belum direspons sepenuhnya oleh masyarakat. Pengetahuan, pemahaman, dan penggunaan tentang leksikon dan pemanfaatannya mengalami kesenjangan dan sangat jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Minimnya keaktifan generasi muda dalam menggunakan bahasa merupakan faktor melemahnya kehadiran ataupun kehidupan bahasa yang berhubungan dengan leksikon teks ke-batar-an. Pada zaman dahulu, masyarakat umumnya bersama-sama dan berusaha untuk mengenal serta memahami berbagai pengetahuan dan juga leksikon yang berhubungan dengan pemanfaatan pengobatan tradisional. Selain itu, masyarakat tiap generasi sangat peduli dan mengenal lingkungan dan berusaha untukmenjaga dan merawat lingkungannya. Terjadi penyusutan dalam penggunaan leksikon tentang proses ekokuliner dalam ke-batar-an disebabkan oleh sebagian besarjenis makanan dan juga jenis hewan pada guyub tutur Tetun Fehan yang tergerus dan tergantikan dengan jenis lain, seperti makanan instan. Hal tersebut menjadikan generasi muda maupun sebagian generasi dewasa kurang mengenal memahami kekayaan leksikon pertanian tradisional di lingkungannya. Fenomena tersebut disebabkan oleh tidak adanya transfer pengetahuan dari generasi pendahulu terhadap generasi muda dan sebagian generasi dewasa sehingga pengetahuan tentang leksikon yang berhubungan dengan batar ‘jagung’ hanya sebatas ekokuliner. Selain itu, pengetahuan dan tingkat pemahaman tentang bagian- bagian jagung dalam bahasa etnik Tetun Fehan sangat minim. Padahal di dalamnya terdapat kekayaan metafora. Generasi muda dansebagian generasi desawa kurang memahaminya dan hanya diketahuioleh generasi tua. Sebagai contoh, tatera batar ‘melempar jagung’ dipahami sebagai kegiatan melempar jagung karena kalimat tersebut tidak pernah didengar. Hal tersebut menyebabkan penyusutan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang kekayaan bahasa yang terkandung didalamnya.


156 BAB V IDEOLOGI, DAN MAKNA TEKSRITUAL KEBATAR-AN A. Pengertian Ideologi Ideologi merupakan suatu proses mencerna dan menghayati berbagai tanda. Setiap tanda memiliki makna, dan makna persepsi yang menguat menjadi ideologi. Hal ini secara eksplisit dikemukakan oleh Volosinov (1973:9), ‘Without signs, there is ideology’tanpa tanda, tiada pula adicita, tidak ada ideologi tanpa tanda-tanda verba. Bahkan, dikatakannya bahwa kata merupakan fenomena ideologi yang paling utama (Bdk.Volosinov,1973: 13). Konsep idologi, menurut Storey (2004:4-9), yang mengacu pula pada pandangan KarlMarx, Louis Althsser dan Roland Bartes mengandung lima konsep seperti berikut. Ideologi sebagai pelembagaan gagasan-gagasan sistematis yang diartikulasikan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Ideologi sebagai penopengan, penyimpangan, atau pembunyian realitas tertentu. Ideologi mengacu pada bentuk-bentuk ideologis. Ideologi adalah cara karena ritual-ritual dan kebiasaan tertentu menghasilkan akibat-akibat yang mengikat dan melekatkan kita pada tatanan sosial; sebuah tatanan sosial yang ditandai adanya kesenjangan kesejahteraan, kesenjangan status, dan jurang kekuasaan yang kian menonjol. Ideologi adalah makna yang ditampilkan oleh teks dan praktik, atau yang bisa ditampilkan oleh apa pun. Kelima konsep ideologi tersebut di atas mengandung sebuah konstelasi atau perpaduan antara teks, gagasan (yang melembaga), dan tindakan-tindakan. Konstelasi ini menjadikan konsep ideologi mirip dengan konsep budaya (Volosinov, 1973:9). Storey mengatakan bahwa budaya dan ideologi memiliki banyak kesamaan dalam lingkup konseptualnya, sedangkan ideologi lebih mencakup dimensi politik. Dalam kaitan dengan penelitian kebahasaan, ideologi sebagai konstelasi antara teks, gagasan, dan tindakan harus dih ubungkan dengan teks (segala sesuatu yang dapat dimaknai) kebahasaan, gagasan yang dibangun karena pemaknaan terhadapteks, dan tindakan-tindakan sebagai ekspresi terhadap pemaknaan teks. Ideologi adalah sesuatu yang membuat keyakinan-keyakinan yang ingin ditanamkan penguasa kepada warganya makin terasa, wajar dan massuk akal (Jones dan Wareing, 2014:50). Ideologi adalah keyakinan-keyakinan yang dirasakan logis dan wajar oleh penganutnya. Ideologi adalah sesuatu yang kita yakini dan kita pikirkan. Dikatakan juga bahwa bahasa bisa memengaruhi/ mengubah ideologi, sesuatu yang diterima (sebagai


157 kewajaran) sehingga bisa memengaruhi cara pikir orang lain (Jones dan Wareing, 2014:57). Fairclough (1995:73) mengklaim bahwa di dalam istilah ‘wacana” penggunaan bahasa berhimpitan dengan hubungan sosial dan proses sosial yang secara sistematis menentukan variasi-variasi di dalam propertinya, termasuk bentuk linguistik yang muncul di dalam teks. Satu aspek yang berhimpitan degan ikhwal masyarakat yang inheren pada pengertian wacana, yakni bahasa bentuk materiel dari ideologi, dan ideologi diselubungi bahasa. Dengan demikian, bahasa merupakan wahana untuk membangun, mempertahankan sekaligus mengubah dan mewarisi ideologi karena bahasa merupakan wadah penyimpanan makna bersama oleh anggota suatu guyub budaya (Zoltan, 2006: 336). Ideologi sebagai sebuah keteraturangagasan dibentuk dari sudut pandang tertentu. Ideologi, dengan demikian, merupakan sebuah kerja sama antara perspektif dan persepsi yang sudah tentu dibangun dengan sarana bahasa. Dalam teks ritual ke-batar-an terkandung ideologi yang sangat bermanfaat bagi setiap orang yang mendengar dan juga memahami isinya. Setiap orang yang paham terhadap teks ke-batar- an dapat memiliki suatu keyakinan yang wajar dan masuk akal. Ideologi tersebut sanat dirasakan dan diyakini oleh setiap orang yang memaknai teks tesebut. Ideologi dalam Teks Ritual ke-batar-an Orang Malaka, Timor, Nusa Tenggara Timur, memiliki budaya yang sangat kental dengan lingkungan alam, dapat dilihat dalam setiap sisi kehidupan orang Malaka menggunakan atau memanfaatkan lingkungan alam, mengelolanya sebagai sarana dalammemenuhi setiap kebutuhan sehari-hari. Batar adalah salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia,selain gandum dan padi. Guyub tutur Tetun Fehan memiliki kepercayaan bahwa dari sebutir jagung (batar) terkandung ideologi karena batar ‘jagung menyangkut hajat hidup orang banyak, menyangkut petani, dan konsumennya adalah guyub tutur Tetun FehanMalaka.Bercocok tanambatar ‘jagung’ dan diyakini guyub tutur Tetun Fehan bahwa batar menjadi pangan pokok. Di samping itu,batar ‘jagung’adalah representasi kultur dalam ritual – ritual wujudnya dalam bentuk tuturan. Menurut Lindo dan Bundsgaaard (eds), 2000:11 fungsi dan makna adicita (ideology) bahasa lingkungan kebahasaan tertentu bertautan dengan mental individu, mental efektif, kognitif, sistem adicita ‘ideologi’, dan sistem psikis. Sebagaimana pula diutarakan Thomson (2004: 18-18), adicita hadir dan bekerja melalui tuturan ataupun bahasa yang digunakan oleh guyub tutur, yang dalam konteksini adalah guyub tutur Tetun Fehan, Kabupaten Malaka, Timor,Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fungsi dan makna adicita dalam tuturan ke-batar-an bagi guyub tutur Tetun Fehan khususnya adalah pola pikir, gagasan, ide, bahkan adicita kolektif yang dimiliki oleh guyub tutur bahasa Tetun Fehan dalam komunitas budaya dan budidaya ke-bataran, khususnyaaneka kegiatan bertanam batar ‘jagung’ yang berujud dalam tuturan kebatar-an.Secara substansial, fungsi dan makna adicita yang paling penting dalam


158 tuturan ke-batar-an guyub tutur Tetun Fehan bersifat pengharapan yang diserahkan dan dipasrahkan kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Harapan yang dimohonkan kepada arwah leluhur, kepada arwah-arwah di sekitar kebun, dan kepada to’os nain agar hasil panen senantiasa berlimpah. Fungsi dan pengharapan itu terkandung dalam setiap tuturan pada ritual-ritual selama masa tanam, tanam, pascatanam, dan panen. Berikut ini fungsi dan makna adicita yang bertumpu pada deretan pengharapan yang terkandung dalam tuturan ke-batar-an. Konteks budaya dan budidaya ke-batar-an guyub tutur TetunFehan dapat dirinci dan dideskripsikan sebagai berikut ini. Ideologi Pengharapan akan Hujan sebagai Sumber Hidup Masyarakat Kabupaten Malaka umumnya bekerja sebagai petani, hidup mereka sangat bergantung dari alam. Guyub tutur TetunFehan memiliki tradisiritual dalam setiap kegiatan hidup mereka. Kehidupan guyub tutur Tetun Fehan memiliki hubungan erat antara ritus dan mitos pertanian. Yang juga berhubngan erat dengan keyakinan religius tradisional. Ketergantungan (dependensi) petani lahan kering guyub tutur Tetun Fehan akan hujan sngat tinggi. Bahkan sangat menentukan nasib petani batar ‘jagung’ di Kabupaten Malaka, Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tanpa hujan yang memberikan air untuk memenuhi kebutuhan biologis tanaman padi, jagung, seperti juga bagi manusia dan makhluk hidup lainnya tidak bisa hidup. Berikut ini dipaparkan teks-teks dalam bahasa Tetun Fehan yang mengandung makna harapan guyub tuturnya sebagai petani tradional batar ‘jagung’ yang mendambakan hujan demi kehidupan petani dalam bercocok tanam. Teks 1 Ata oan hakmasin no halonHambaanak harapandan mohon “Hamba berharap dan memohon” Ba kukun no kroman raiklaranUntuk gelap dan terang bumi “kelihatan dan yang tak kelihatan” Iha leten no as ba. Di atasdan tinggi sana “Yang Maha Tinggi (Tuhan)” Fini rai kabun a ami fo tonen tian ne Benih tanah perut nya kami beri kesitu sudah ini“Benih sudah ditanam” Matun udan learmai ami Tutunkan hujan besar datang kami “hujan turun membasahi bumi/tanah”


159 Cuplikan data dimaksud berisikan harapan dan permohonan guyub tutur Tetun Fehan.Dalam hal ini, petani yang bercocok tanam batar ‘jagung’ agar mendapatkan hujan sebagai sumber air sebagai alat vital bagi mereka dalam bercocok tanam. Para petani mengibaratkan diri mereka sebagai ata oan ‘orang miskin’ dan ema kmukit ‘orang yang tak berdaya’ memerlukan belaskasihan orang lain. Batar ‘jagung’ kebutuhan pangan pokok masyarakat Kabupaten Malaka, Timor, Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian, interdependensi para petani batar ‘jagung’ benar-benar menggantungkan hidup mereka dalam bercocok tanam batar ‘jagung’agar hasil panen dapat dinikmati. Dalam kaitan dengan kebutuhan air oleh para petani, merekamemantau musim dan sudah menyiapkan segala sesuatu untuk untuk menanam sebelum musim hujan tiba sehingga proses tanam segera dilakukan. Untuk mendapatkan hal tersebut para petani batar ‘jagung’ menyebut diri mereka sebagai orang miskin dan tidak berdaya dengan meminta belaskasihan dari Sang Pencipta, leluhur, dan pemilik alam melalui restu ama nai bot raiklaran ‘penguasa wilayah’ dengan menurunkan hujan buat mereka. Ritual husu udan wen ‘meminta hujan’ merupakan salah satu ritual penting terkait dengan hujan.Hujan di Timor tidak menentu datangnya, maka dengan ritual itu diyakini hujan dapatdidatangkan sesuai kehendak manusia (Foni, 2002). Ritualnya sama dengan pada ritual sebelumnya, demikian juga tempatnya. Penyebab yang dicari umumnya dari pelaksanaan ritual sebelumnya, apakah ada kesalahan ritual, atau adanya kesalahan pada aspek yang lain, yang menyebabkan disharmoni dunia manusia dengan roh-roh dan arwah-arwah (Foni, 2002).Juga dicari, apakah ada hal-hal teknis di lapangan yang mengganggu kenyamanan maisokan dan roh-roh leluhur, atau ada perbuatan-perbuatan yang merusak bumi, seperti memotong akarsecara salah, atau menggali tanah secara salah di tempat roh-roh berdiam.Jika sudah ditemukan penyebabnya, maka pelaku perbuatan dapat 221ersama uang (Foni, 2002), dan warga desa harus melakukanritual di beberapa tempat untuk menghilangkan perbuatan salah tersebut. Ideologi Pengharapan Keberhasilan Proses Tanam Setelah mengharapkan turunnya hujan, selanjutnya dipaparkan pula teks doa secatra semantik mengandung makna harapan. Makna harapan yang dimaksud kan adalah supaya proses tanam menjadi lancar, sebagai tahapan awal tumbuhnya tanaman pangan batar ‘jagung’ agar tumbuh dengan subur. Ritual furi batar juga dilakukan seorang fukun (mengelilingi 4 sudut kebun) yang dilakukan oleh fukunseraya berdoa agar penghuni dunia gaib tidak mengganggu mereka selamamenempati kebun tersebut dengan tujuan agar petani yang berkebun di lokasi tersebut terhindar dari bahaya, bencana atau wabah penyakityang akan merusak tanaman batar ‘jagung’ sehingga para pemilik kebun (toos nain) memperoleh hasil panen melimpah. Berikutnya, selesai pembacaan doa, dilanjutkan dengan makan


160 221ersama dan seterusnya mencari waktu yang baik untuk menanam. Teks Ideologi PengharapanKelimpahan panen batar ‘Jagung Melimpah’ Teks 2: Malo no fulin no isin ba ami Buat ada pulir ada biji pergi kami “Bertumbuh subur dan berbuahlah” Oras ne’e ai a moris ti’an ne, Sekarang inikayu itu hidup sudah ini“Tanaman sudah berbuah (ada hasil)” ami hodiba uma lulik sia onanTan to’os no i’sin, tua no wen Karena kebun ada hasil laru ada air “ karena tanaman sudah berbuah’ Teks tuturan di atas berisikan ungkapan pengharapan bahwa dalam hal menanam batar ‘jagung’fini rai kabun moris tian ‘benih sudah hidup’, matun udan ‘hujan’ guyub tutur Tetun Fehan memilikisuatu kepercayaan bahwa dengan memohon kepada Nai Maromak ‘Tuhan Allah’ dan matabian‘leluhur’ agar terkabulnya doa pengharapan para petani batar ‘jagung’ sehingga dijauhkan dari berbagai malapetaka yang menghambat pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber dan juga pemuka masyarakat yang memahami tentang teks ke-batar-an tradisional dalam ideologi masa panen juga terdapat ideologi- ideologi yang sudah dipercayai oleh masyarakat Malalaka setempat. Hanya dengan kekuatan kata-kata yang disampaikan olehfukun ‘tetuah adat’maka, semua permintaan tentang hasil panen akan terkabulkan dan hasil panenan melimpah. Selanjutnya akan dipaparkan pandangan guyub tutur Tetun Fehan tentang jenis ideologi dalam teks ke-batar-an . Teks 3 Ata oan hakmasin no halonhambaanak harapdan mohon “Hamba berharap dan memohon” Ba kukun no kroman raiklaranUntuk gelap dan terang bumi “kelihatan dan yang tak kelihatan” Iha leten no as ba. Di atas dan tinggi sana “Yang Maha Tinggi (Tuhan)” Fini rai kabun a ami fo tonen tian ne Benih tanah perut nya kami beri kesitu sudah ini“Benih sudah ditanam” Matun udan learmai ami Tutunkan hujan besar datang kami “hujan turun membasahi bumi/tanah”


161 Malo no fulin no isin ba ami Buat ada pulir ada biji pergi kami “Bertumbuh subur dan berbuahlah” tan ami susar tinan hitu laran karena kami susah tahun tujuh dalam Tujuh tahun hidup didera susah (kelaparan) Oras ne’e ai a moris ti’an ne, Sekarang ini kayu itu hidup sudah ini“Tanaman sudah berbuah (ada hasil)” ami hodi ba uma lulik sia onan kami sudah pergi rumah pamali mereka sudah “kami hantarkan ke rumah suci (rumah adat/pamali) Tan to’os no i’sin, tua no wen karena kebun ada hasil laru ada air“ hasil panen melimpah” Makna Teks Ke-batar-an Cara manusia memenuhi kebutuhannya untuk mendapatkan makanan serta tempat berteduh atau tempat hunian bukan hanya menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya, melainkan berusaha mengelola alam (cultívate) seluasnya dan pada taraf terakhir juga megendalikan dan ada gejala hendak menguasainya pula (Kusumohamidjojo, 2010:67). Dalam hubungan dengan makna suatu teks, khususnya dalam batar‘jagung’ menurut Leech (2003), makna suatu bahasa dapat dianalisis yangmencakup makna stilistik, makna afektif, dan makna kolokatif. Makna Stilistik Makna stilistik merupakan makna sebuah kata yang menunjukkan lingkungan sosial penggunaanya. Makna stilistik dipahami melalui pengenalan terhadap suatu dimensi dari tingkat penggunaannya di dalam lingkungan bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang mengenal dan memahami sebuah kata menurut lingkungan georafis dan asal usul lingkungan sosialnya. Dalam hubungan dengan makna untuk menyampaikan sesuatu, dapat disampaikan berupa monolog dan juga dialog. Bentuk penyampaian dengan gaya yang relatif temporer berkaitan dengan segi status (bahasa sopan, santai, kasar tegas). Pada guyub tutur Tetun Fehan seseorang dalam menyampaikan sesuatu secara khusus dalam hubungan dengan petanianbatar ‘jagung’secara tradisional. Makna stilistik yang berkaitan dengan letak geografis dan asal usul lingkungan sosial dapat dilihat pada data berikut. Teks 1 Makna Stilistka foho sasaen rai fatuk gunung bukit tanah batu ‘alam semesta’


162 fhosifoho letento’o rai henek KONJ atas kepala sampai ombak pecah ‘dari puncak gunung sampai pesisir pantai’ hose tasi lidun to’o tasi lidun KONJ ujung laut sampai ujung laut ‘dari ujung laut sampai ujung laut’ maiita hamulak marihlah doa ‘berdoalah’ Data tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa letakgeografis, dan topografis pada lingkungan guyub tutur Tetun Fehan terdiri atas gunung bukit yang sangat tinggi serta sangat jauh antara desa yang satu dan wilayah desa lainnya. Masyarakat harus menempuh perjalanan yang jauh untuk melakukan suatu aktivitas. Dalam hubungan dengan pengobatan penyakit secara tradisional,salah satu jalan yang ditempuh ialah memberi sesajian dengan meminta restu penjaga alam semesta dalam hal ini, raiklaran, yang berada di puncak gunung sampai ke pesisir pantai. Guyub tutur Tetun Fehan memiliki suatu keyakinan bahwa para penjaga alam semesta tentu selalu menjaga dan melindungi masyarakat yang mendiami wilayah, selalu berbuat baik baik, terhadap sesama maupun lingkungan alam sekitarnya. Makna stilistik dalam teks ke-batar-an pada guyub tutur Tetun Fehan yang berhubungan dengan suatu wacana berupa penyampaian gagasan disampaikan secara lisan dan bersifat monolog.Monolog yang disampaikan pada umumnya menggunakan bahasa- bahasa khusus atau doa khusus yang tidak boleh didengarkan oleh orang lain. Makna stilistik yang relatif temporer dalam batar ‘jagung’ umumnya dapat menggunakan kata-kata yang sopan, permohonan, kasar, kolokial atau sehari-hari, dan tegas atau perintah. Penggunaan kata sopan dan permohonan dilakukan untuk proses ritual pratanam, tanam, panen, dan pascapanen. Sedangkan kata-kata yang kasar, kolokial penggunaannya berhubungan dengan musibah atau penyakit tanaman yang disebabkan oleh keserakahan orang-orang tertentu atau hal lainnya yang dapat menyebabkan petani jagungmengalami musibah kelaparan seperti data di bawah ini. Teks 2 Makna Stilistika Hasae ba leten husu matabian no bei sianaikan PART atas mnta arwah KONJ leluhur ‘naikan hasil panenan’’ hasae ba uma mana’ik ‘naikan hasil panenan’, Ha batar lulik makan isi 2TGL ‘makanlah isinya’ Data tersebut menunjukkan rasa amarah dari seorang fukun‘tetuah adat’ terhadap sesuatu yang mengganggu terutama gangguan duniawi ataupun permusuhan dengan makhluk gaiB Makna Afektif Makna afektif adalah makna bahasa yang dilihat sebagai cerminan perasaan


163 pribadi seorang penutur terhadap orang yang mendengarkan apa yang dituturkan atau didoakan. Hal ini merupakancerminan perasaan yang dialami oleh seorang fukun, yaitu maknakakaluk no makaerkakaluk’. Makna berkaitan dengan perasaanseseorang jika ia mendengar. Perasaan yang muncul dapat berupa perasaan yang positif ataupun negatif. Kata manu uat los ‘baik/lurus’, neon diak ‘baik’ dia dan langa angkat’ menimbulkan makna afektif yang positif, sedangkan ndate ‘berat’, uat kleuk ‘bengkok/tidak lurus’ menunjukkan makna afektif yang negatif. Nilai rasa terhadap kata atau yang lazim disebut konotasi, ditentukan oleh makna asosiatif dan makna afektif yang ditimbulkan kata tersebut terhadap seseorang (Kushartanti, 2005: 120). Stilistik merupakan makna sebuah kata yang menunjukkan lingkungan sosial penggunaannya, berbeda dengan makna afektif yang dilihat sebagai cerminan perasaan pribadi penutur, terrmasuk juga sikapnya terhadap pendengar, yakni makaer kakaluk ‘pegang jimat’ terhadap apa yang dikatakannya. Cara berbicara orang fukun/makaer kakaluk ‘pemangku adat/tetuah adat’ pada saatpenyemblian hewan terhadap kata-kata atau kalimat yang diucapkan sangat dipengaruhi oleh ekspresi wajah, intonasi, gema suara, dan juga ancaman. Dalam hal ini karena suatu perasaan makaerk kakaluk melanggar ritual/perintah/yang bersangkutan makan makanan yang dilarang maka konsekuensinya adalah sakit bisul dan badan gatal- gatal. Penyakit dikaitkan dengan kesalahan, dosa, dan ketidakharmonisan hubungan dengankakalaukuma lulik ataupun telah terjadi hubungan yang salah dengan roh jahat. Termasuk di dalamnya persantetan, monu hosi oto, monu osi aileten, bat tasi lafekna atau kena black magic, jatuh dari pohon, kecelakaan-kecelakaan, ataupun aneka peristiwa tragis lainnya (Mbete, 2006: 82). Makna afektif pada leksikon yang muncul dalam upacara ritual hamisbatar tersebut mengandung makna afektif positif. Hal ini dapat menimbulkan suasana hati makna kakaluk ‘seorang pemegang jimat’ menjadi nyaman dan berharap agar kesalahan karena melanggar pantangan yang diderita dapat dipulihkan. Tuturan hadiak’ pulihkanlah’ hasae buat at’ roh jahat’ dapat memberi suatu pengharapan bahwa seseorang yang menderita pasti dapat dipulihkan. Guyub tutur Tetun Fehan mempercayai bahwa kata-kata yang diucapkan seorang mak kaer kakaluk/fukun‘pemangku adat/tetuah adat’ memiliki energi atau kekuatan. Hal ini diyakini karena pada saatmengucapkan teks batar ‘jagung’, seorang mak kaer kakaluk ‘pemangku adat/tetuah adat’ juga memohon jamahan tangan Nai Maromak‘Tuhan Maha Kuasa’ melalui perantaraan matabian ‘para leluhur’, dan juga rainain ‘penguasa alam’ yang menguasai alam semesta. Selain makna afektif positif, terdapat pula makna afektif negatif bahwa seorang makaerk kakaluk ‘pemangku adat’ pada saat mengetahui bahwa makna kakalukmendapat musbah karena melanggar pantangan adat, secara tidak langsung mak na kakaluk merasa takut mati, tidak nyaman, dan menyesal. Penggalan data makna afektif negatif dapat dilihat seperti data berikut. Teks Makna Afektif mora ne leur tian sakit DET lama


164 sudah‘sakit sudah lama’ hau kamulak moras bele, sai nosi nosi hau1TGL doasakit bisakeluardari singgak saya ‘memohon disembuhkan’ Data tersebut menunjukkan suasana hati mak na kakaluk ‘pegang jimat’ yang tidak nyaman terdapat pada frasa leur tian‘sudah lama’. Apabila seorang mak na kakaluk mendengar kata trsebut, suasana batin merasa kurang nyaman karena luka yang dideritanya. Ema moras‘orang sakit’ atau pesakitan sangat berharap agar luka/sakit karena kecelakaan diderita dapat dipulihkan, namun mendengar bahasa yang disampaikan suasana batin menjadi tidak nyaman.Satu hal yang sangat diharapkan mak na kakaluk adalah agarlukanya dapat disembuhkan. Makna Refleksif Makna refleksif merupakan makna yang timbul dalam hal makna konseptual ganda (sinonimi), jika suatu pengertian membentuk kata sebagian dari respons kita terhadap pengertian lain. Guyub tutur Tetun Fehan mayoriras beragama Katolik dalam hubungan dengan proses penyembuhan/pemulihanoarang mak na kakaluk selalu dihubungkan dengan agama. Dalam setiap doa yang diungkapkan seseorang selalu terdapat pula doa dan ungkapan yang menghibur dan juga doa untuk memohon karunia Roh Kudus dalamsuatu mujizat agar ‘mak na kakaluk’yang sedang saki disembuhkan.Keduanya menunjuk pada tritunggal dalam bentuk orang ketiga menurut keya kinan masyarakat beragama katolik. Pandangan masyarakat, terdapat reaksi terhadap kedua ungkapan tersebut oleh makna nonreligius dari confort (penghiburan) dan ghost (roh). Sang penghibur memberikan rasa terhibur meskipun dalam konteks religius berarti yang memperkuat atau yang mendukung, sedangkan Roh Kudus mengandung nuansa adanya jarak dengan manusia karena hadirnya kata kudus. Makna Religius Makna religius merupakan sesuatu yang abstrak dan merupakan unsur penting dalam suatu kebudayaan. Makna tersebut merujuk pada sesuatu yang boleh dilakukan dan juga tidak boleh dilakukan. Sistem ini mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dandunia gaib, antara sesama, dan antara manusia dan lingkungannya. Seluruh sistem dijiwai dalam suasana yang dirasakan sebagai suasana kerabat oleh umat yang menganutnya (Koentjaraningrat dkk., 2003:5). Makna religius merupakan penghormatan kepada Sang Pencipta, atau dengan kata lain, proyeksi makna yang paling menonjol atau yang berkaitan dengan tindakan atau perilaku keagamaan. Sehubungan dengan konteks ritual batar ‘jagung’dalam hal itu sebagai tindakan atau perilaku religius, merupakan proses refleksi atau peristiwa pengakuan penyerahan diri dan ketakberdayaan manusia. Ketakberdayaan inilah yang mengusung semangat spiritualitas yang tinggi dalam kehidupan manusia, secara


165 khusus guyub tutur Tetun Fehan dan masyarakat etnik lainnya, yang diyakini dapat memberi rezeki, kesehatan, dan kehidupan yang layak. Selain itu, seseorang dapat menjauhkan diri dari malapetaka, bencana yang melanda, dan pengaruh lingkungan alam disekitarnya. Dengan semangat spiritualitas, manusia mengungkapkan diri dan hidupnya untuk dibentuk sesuai dengan semangat SangPencipta.Hal ini secara nyata ditemukan dalam kehidupan sosialkolektif guyub tutur Tetun Fehan dan juga masyarakat umum di wilayah lainnya. Makna religius memberi hormat kepada wujud tertinggi Nai maromak yang telah memelihara, melindungi dan memberkati semua yang hidup. Makna penghormatan pada wujud tertinggi, merupakan hal yang sangat penting, yang tak dapat dipisahkan dari manusia dan alam sekitarnya. Makna penyerahan diri dan permohonan untuk selalu dilindungi seperti terlihat pada teks berikut. Teks Makna Religius Maromak maak fo beran Tuhan Allah KONJ kasihkekuatan‘Tuhan yang memberi kekuatan’ Halo moras diak Buat sakit pulih‘pulihkan’ Penggalan data ritual ke-batar-an ‘makan jagung muda’ tersebut menunjukkan penghormatan dan permohonan pada Sang Pencipta untuk menjauhkan seluruh masyarakat dari utara sampai ke selatan, dari sakit/penyakit yang menimpah masyarakat setempat. Guyub tutur Tetun Fehan memiliki suatu keyakinan bahwa dengan memohon dengan sungguh pada Yang Kuasa Nai Maromak tentu akan terkabulkan serta jauh segala rintangan yang menimpa. Dalam konteks dunia kebatar-an secara tradisional, kalimat permohonan yang selalu terungkap, yakni halo moras diak. Penggalan tekshamis batar tersebut mengandung makna untuk memulihkanluka dan penyakit gatal-gatal dialami oleh orang yang melanggar kakalukuam lulik. Masyarakat merasa yakin dan percaya segala permohonan dapat terkabulkan apabila dilakukan dengan sungguh dan penuh kepasrahan kepada Yang Kuasa. Makna Sosial Guyub tutur Tetun Fehan sebagai makhluk sosial, seperti guyub tutur lainnya, memiliki rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang humanis. Teks batar ’jagung’ mengekspresikan hubungan vertikal antara manusia dan leluhur dan kekuatan adikodrati. Hal tersebut terjadi demikan karena adanya suatu hubungan yang harmonis dalam ritual hasae batar fohon/atau hamis batar yang dialami seseorang ‘tetuah adat’. Masyarakat sebagai makhluk sosial terdapat dalam parameter interaksi, interrelasi, dan juga interdependensi antara masyarakat yang satu dan masyarakat lainnya, dan juga berkaitan dengan lingkungan. Relasi yang terungkap dalam tuturan dengan leluhur


166 dengan orang yang masih hidup menjadi pilar makna sosial yang memiliki kekuatan yang turut memperkokoh cara pandang humanis dan kolegial. Penggalan data teks kebatar-an dapat dilihat seperti teks makna sosial berikut. Teks Makna Sosial mai ita lifuan ida mari 1TGLsuara satu hati‘marilah sehati’ Data tersebut menunjukkan makna sosial terlihat pada kalimatmai lifuan ida‘ marilah sehati’. Frasalia fuan ida menunjukkan adanya penyantuan kekuatan dari yang kuasa yang tidak terlihat secara kasat mata. Selain itu, ada penyatuan kekuatan dengan para leluhur dan juga sesama untuk menjalin rasa persaudaraan dalam pemulihan maha kakaluk. Makna Kolokatif Suatu makna yang terdiri atas asosiasi-asosiasi yangdiperoleh pada suatu kata yang disebabkan oleh makna kata cenderung muncul di lingkungan yang sama. Sebagai contoh parang,pahat, gergaji merupakan kata-kata yang muncul pada tukang kayu Chaer (1994). Makna kolokatif pada teks batar ‘jagung’ disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau tempat di mana seseorang tersebut berada. Teks berikut menggambarkan asosiasi tentang makhluk gaib ataupun yang berhubungan dengan hewan, seperti kepercayaan masyarakat setempat. Teks Makna Kolokatif La bele lao ba oras loro monu jangan jalan KONJ hari matatahri turun‘jangan berjalan di senja hari’ La bele lau kalan bot Jangan bisa jalan malam besar ‘jangan berjalan di tengah malam’ Manu semo kalan iha ai leten Ayam terbang malam ada kayu atas ‘Ayam terbang malam hari di atas pohon’ Feto foiwai la bele tuur iha uma oin Perempuan muda ING bolehduduk di uma depan‘Anak perempuan dilarang duduk di depan pintu’ Frasa tersebut menunjukkan bahwa loro monu ‘ senja ‘ kalan‘malam’ dan ai leten ‘di atas pohon’ merupakan bagian dari bayangan makhluk gaib. Kata-kata tersebut diasosiasikan dengan buiotuk ‘manusia bertopeng’ yang berfungsi menakut-nakuti seseorang. Makna asosiasi tersebut mengisyaratkan fukun ‘tetuah adat’ agar selalu waspada karena bukan hanya penyakit yang menyerang tanaman, namun suatu kekuatan di alam, terutama makhluk gaib dapat sebagai penyebabnya.


167 Kepercayaan terhadap kekuatan alam seperti bunyi dedaunan di tempat sepi, dapat mengakibatkan rasa takut sesorang pada saat melintasi tempat tersebut. Selain itu, bunyi anjing meraung atau menggonggong pada tengah malam pertanda bahwa ada makhluk lain yang sedang melintasi tempat tersebut.Selain itu, kepercayaan etnis Malaka bahwa makluk gaib bisaberbicara dengan manusia misalnya melihat lampu berkedip atau berkilau seperti apapun, dipercaya bahwa makhluk tersebut berada di dekat kita.


168 Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur 234 BAB VI FAKTOR-FAKTOR PEMENGARUH PENYUSUTAN LEKSIKON RITUAL DANPRAKTIK BUDAYA DALAM TEKS KE-BATAR-AN Orang Malaka, dan sebagaian orang Timor, Nusa Tenggara Timur pada umumnya, memiliki relasi yang intim dengan alam.Keintiman relasi ini menjelma dalam ritus-ritus saat mereka membuka lahan, menanam benih, dan memanen hasil kebun batar ‘jagung’.Bahasa Tetun Fehan dipandang sebagai salah satu bahasa daerah sebagai jembatan penghubung antara penguasa bumi rainain ‘jin’, nai maromak ’sang pencipta’ hingga sekarang ini masih hidup di Pulau Timor, khususnya di Kabupaten Malaka, Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Dalam kesahariannya guyub tutur Tetun Fehan masih menggunakan dan memelihara bahasa Tetun Fehan sebagai bahasa ibu. Di samping bahasa Tetun Fehan, guyub tutur Tetun Fehanjuga menggunakan bahasa Indonesia, bahasa bahasa Dawan R, dan bahasa Kemak dalam pergaulan sehari-hari maupun upacara ritual ke-bataran guyub tutur Tetun Fehan. Sebagaimana halnya makhluk hidup, bahasa juga hidup, berkembang, dan memungkinkan untuk mati.Bahasa memerlukan tempat atau lingkungan untuk hidup yaitu penutur sebagai bagian dari guyub tutur, dan ekosistem yang senantiasa dimaknai lewat media bahasa. Akibatnya, bahasa akan selalu hidup, terpakai, terpelihara, dan terwariskan dengan baik. Sehubungan dengan itu, al-Gayoni(2012:27-28) menyatakan bahwa bahasa sangat memengaruhi pola pikir, sikap, dan pola tindak manusia.Hal tersebut, dapat berimplikasi positif terhadap lingkungan fisik, ekonomis, dan sosial yaitu dengan terpelihara, adanya keseimbangan dan terwarisnya lingkungan yang ada kepada generasi berikutnya.Sebaliknya, dapat pula berdampak negatif dengan terjadinya pelbagai perubahan, ketidakseimbangan, dan kerusakan ekosistem.Dengan demikian, bahasa dapat mengarahkan penggunanya baik untuk hal-hal yang bersifat konstruktif maupun yang bersifat destruktif terkait lingkungan. Mbete (2009:7) menyatakan bahwa bahasa mengalami perubahan seiring dengan perubahan lingkungan alamiah danlingkungan sosialnya. Perubahan tersebut dapat berupa penyusutan dan penghilangan sejumlah leksikon yang terjadi dalam kurun waktuyang lama dan tdak dapat disadari.Berdasarkan keadaan tersebut, sesungguhnya suatu leksikon dapat bertahan dan atau menyusut,bergeser, bahkan keberadaannya telah hilang bergantung pada berbagai faktor di lingkungan guyub tutur.


169 Dalam kaitannya dengan lingkungan ke-batar-an, berdasarkan analisis data dan temuan di lapangan, secara garis besar ada empat faktor yang melatarbelakangi terjadinya dinamika pemahaman leksikon-leksikon, ungkapan metaforis, pemali, dan mitos antargenerasi dalam GTTF.Keempat faktor yang dimaksud adalah faktor agama, faktor kebahasaan, faktor penutur TF, dan faktor perubahan ekologi.Berikut adalah uraian dari masing-masing faktor yang dimaksud. Faktor Persepsi Guyub Tutur Tetun Fehan Tentang batar ‘jagung’ Persepsi guyub tutur Tetun Fehan tentang bahasa dan budayake-batar-an sangat kuat.Batar dianggap sebagai sumber penghidupan.Seluruh aspek kehidupan orang Malaka berhubungan erat dengan batar ‘jagung’.Seiring dengan perubahan lingkungan kebahasaan dan kebudayaan yang juga telah berubah dan secara intensif masuknya budaya Indonesia sebagai bahasa nasional, pengaruh penyusutan leksikon asli sudah terjadi.Dewasa ini, di wilayah Kabupaten Malaka, alat-alat tradisonal ke-batar-an yang ramah lingkungan yang merajut kebersamaan itu telah mengalami penyusutan dan tergantikan.Perubahan budaya, perubahan pola pikir, dalam alih teknologi tradisi ke teknologi baru itu tergambarkan pada gejala perubahan segi-segi kebahasaan.Ungkapan-ungkapan dan leksikon-leksikon tertentu yang merekam budaya dan teknologi tradisi guyub tutur Tetun Fehan itu, diantaranya ada yang mengalami penyusutan. Perangkat leksikon yang mengalami penyusutan pada saat membajak tanah sebelum menanam batar ‘jagung’ seperti, aisuak ‘alu’ telah diganti dengan traktor yakni mesin pertanian modern. Hal ini, menunjukkan bahwa banyak leksikonleksikon teks ke-batar-an yang berkaitan dengan proses ritual pada pratanam, tanam, panen, dan pascapanen telah mengalami penyusutan. Selanjutnya, Bunsdgaard dan Steffensen menjelaskan ekolinguistik adalah studi tentang interrelasi dimensi biologis, sosiologis, dan ideologis bahasa (dalam Lindo dan Bundsgaard (eds),2000: 11). Ketiga dimensi yang tergambar di atas saling berhubungan satu sama lain. Dimensi ideologi terkait dengan mental individu, mental kolektif, kognitif, sistem ideologi, dan sistem psikis,sedangkan dimensi sosiologis terkait cara manusis mengatur hubungannya satu sama lain. Sistem Kepercayaan Bagi guyub tutur Tetun Fehan, budaya bertani pada masa lampau tentu tidak lagi sama persis dengan yang dipraktikkan saat inikarena dari aspek kepercayaan dan keyakinan sudah mengalami pergeseran. Yang masih tersimpan hanya cerita mitos serta kumpulan material di alam. Pergeseran leksikon-leksikon bertani dalam pengelolaan, benih, lahan, dan tanaman secara langsung (struktural) dan tidak langsung, telah tergeser, seiring dengan diperkenalkan “pertanian ilmiah” menggunakan mesin modern traktor. Mayoritas penduduk di Kabupaten Malaka beragama Katolik. Faktor agama


170 Katolik ikut memengaruhi perkembangan ke-batar-andi Kabupaten Malaka termasuk pekembangan ke-batar-andi Desa Kamanasa, Desa Fahiluka, Desa Laenmanen/Sasitamean, dan Desa Bereliku. Guyub tutur Tetun Fehan sebelumnya sangat kuat mempertahankan dan melaksanaan ritual ke-batar-an secara utuh seperti tradisi yang dilakukan oleh leluhur guyub tutur Tetun Fehan. Pada awalnya, sejak dahulu kala, guyub tutur Tetun Fehan menganggap upacara rirual batar ‘jagung’bukan hanya sekadar sebagai salah satu jenis makananlokal masyarakat Malaka, melainkan batar‘jagung’ dipandang sebagai gambaran pemikiran orang hidup yakni harus selalu dipelihara, disiram,dan dirabuk. Jagung juga mengajarkan bagaimana menanam jagung, memasukan ke dalamlubang butuh kesabaran. Benih jagung yang sudah ditanam harus ditutup tanah, jagung harus menanggung beban tanah yang ditimbunkan. Jagung yang ditanan untuk keluar dari tumpukan tanah itu tentunya membutuhkan air.Filosofi inilah yang terpatri di dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Malaka sehingga selalu bekerja keras tanpa mengenal lelah. Faktor Kebahasaan Bahasa Tetun Fehan menggambarkan realitas lingkungan dan realitas guyub tuturnya.Bahasa Tetun Fehan selain sebagai alat pemersatu, dan pengungkap jati diri guyub tutur, juga sebagai alat komunikasi yang digunakan baik di dalam keluarga maupun di dalamkehidupan sosial budaya dalam masyarakat penuturnya.BTF terdapat di wilayah Kabupaten Malaka, Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Wilayah pemakaiannya meliputi Pulau Timor, yaitu Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Malaka.Oleh karena itu, BTF sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia, sehingga perlu dibina dan dilestarikan. BTF sebagai bahasa daerah di Pulau Timor hidup berdampingan dengan bahasa daerah lainyakni bahasa Dawan, Bahasa Kemak, dan bahasa Bunak. Juga, bahasa lain yang berimigrasike Malaka, seperti bahasa Tetum Dili (Timor Leste), bahasa Ende, bahasa Manggarai, Bahasa, Maumere (Sika Krowe), bahasa Jawa, bahasa Sulawesi (Buton), bahasa Bali, dan lain-lain. Hal ini, menyebabkan terjadinya kontak sosial dengan etnisetnis tersebut sehingga munculnya penggunaan bahasa lain, seperti bahasa Indonesia (BI) sebagai bahasa nasional dan bahasa negara dan juga sebagai lingua franca menjadi bahasa pengantar dalam berkomunikasi GTTT dalam komunikasi sehari-hari. Kehadiran BI sebagai bahasa pengantar di daerah Malaka berdampak, baik secara positif maupun negatif terhadap eksistensi bahasa Tetun sebagai bahasa lokal terutama pada tataran leksikon. Dampak positif kehadiran BI, antara lain dapat memperkaya khasanah leksikon BTF melalui proses pinjaman (borrowing pocess)dan juga proses integrasi, terutama entitas-entitas tertentu yang tidakterwadahi oleh BTF. Sementara itu, dampak negatifnya adalah tergantikannya penggunaan beberapa nama entitas dalam BTF yang harus menyerap dari bahasa BI seperti leksikon flora BTFdambu ‘jambu air’ saat ini lebih digunakan leksikon dambu ’jambu air’. Selain itu, BTF yang hidup berdampingan begitu erat dengan bahasa- bahasa daerah lain


171 menyebabkan terjadinya kontak bahasa sehingga semakin memberi ruang seluasluasnya bagi penggunaan BI. Pilihan penggunaan BI tersebut dilatarbelakangi oleh usaha GTTF untuk menghilangkan kesenjangan komunikasi antaretnis (berlainan suku) dan juga prestise atau gengsi agar tidak terkesan ‘kampungan’ karena menggunakan bahasa daerah TF. Faktor Penutur Bahasa Tetun Fehan Dinamika pemahaman leksikon, ungkapan metaforis, pemali, dan mitos kebatar-an di lingkungan ke-batar-an antargenerasi guyubtutur Tetun Fehan tidak hanya ditentukan oleh faktor kebahasaan daribahasa itu sendiri, tetapi juga disebabkan oleh guyub tuturnya. Dewasa ini, pola kehidupan sosial budaya sehari-hari guyub tutur Tetun Fehan (GTTF) telah menunjukkan berbagai pengaruh yang sangat kuat yang disebut sebagai pola kehidupan global. Hoed (2008:115) menyatakan bahwa transformasi budaya adalah proses perubahan budaya karena proses globalisasi, yaitu perkembangan budaya internasional yang kemudian memasuki dan mengikutsertakan masyarakat. Sejalan dengan itu, Giddens (2003:9- 15) menyatakan juga bahwa warga masyarakat mengalami berbagai perubahan cara hidup, gaya hidup, bahkan pandangan hidupmereka. Perubahan tersebut telah mengancamkeberadaan tradisi lokal, antara lain warisan budaya, kebiasaan, nilai, identitas, dan simbol-simbol kehidupan masyarakatnya. Perkembangan globalisasi juga memberikan salah satu dampak kecil bagi masyarakat di Pulau Timor. Meminjam istilah Hoed, transformasi budayapadaGTTF khususnya yang berhubungan dengan batar sangat berpengaruh dan mengakibatkan adanya transformasi bahasa ke-batar-an. Transformasi budaya kebatar-an di Malaka adalah bentuk terkikisnya budaya ke-batar-an pada guyub tutur tersebut. Hal tersebut, sangat berdampak pada buruknya kelestarian bahasa lingkungan ke-batar-an Tetun Fehan. Transformasi budaya terjadi karena keinginan dari dalam masyarakat tersebut, yaitu perubahan bertolak dari kebutuhan (need), dan kemudian berkembang menjadi keinginan (want).Namun, kebutuhan yang menyebabkan berbagai keinginan (wants) itudasarnya berbeda-beda. Keinginan (want) dibedakan dengan kebutuhan(need). Kebutuhan adalah berbagai kepentingan dasaryang harus dipenuhi oleh suatu masyarakat, keinginan, lebih dari kebutuhan adalah keperluan akan hal-hal lain setelah semua kebutuhan dipenuhi. Berdasarkan pendapat Hoed tersebut, dapat dikatakan bahwa perubahan atau transformasi budaya pada suatu masyarakat terjadi didasari oleh keinginan-keinginan yang muncul setelah kebutuhan dipenuhi (Hoed,2008:119). Masih menurut Hoed, keinginan tersebut dilatarbelakangi oleh tiga pertimbangan yaitu (1) pertimbangan kreatif (wants); (2) pertimbangan melepaskan diri atau menghindarkan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan (reliefandavoidancewants); atau (3) pertimbangan bahwa yang berlaku tidak memberikan sesuatu yang bernilai (misalnya uang atau kesempatan) yang dapat


172 dihitung secarakuantitatif (the desirefor quantit \ativevariation). Seperti yang sudah dijelaskan Hoed, terjadi pula pada generasi muda guyub tutur Tetun Fehan, transformasi budaya terjadi pada budaya ke-batar-an khususnya di Kabupaten Malaka Generasi muda yang mengenyam pendidikan atau bekerja di luar daerah Kabupaten Malaka, mengalami perubahan komunitas pergaulan dan tempat untuk beraktivitas. Keadaan yang dialami oleh guyub tutur tersebut sedikit demi sedikit dapat mengubah pola bahasa dan pola pikir terutama pada tempat baru yang menggunakan bahasa lain, dan pola pikir, modern. Hal tersebut, dapat dibuktikan dari kurangnya penguasaan leksikon teks ke-batar-an oleh generasi muda, khususnya pada leksikon bahan dan alat dalam proses mengolah batar. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, dahulunya hampir di setiap rumah terdapat sasanan rai ‘periuk tanah’.Saat ini kurang lebihdi bawah 50% generasi dewasa dan tua yang masih mampu membuatsasanan rai. Kesenjangan Pewarisan Antargenerasi Ketika modernisasi belum menyentuh aspek kehidupan GTTF, tingkat ketergantungan mereka pada lingkungan alam cukup tinggi. Seperti diketahui bahwa tingkat interaksi, interelasi, dan interdependensi sebuah kelompok masyarakat dengan ligkungan alam sekitarnya sangat tinggi pada wilayah-wilayah yang tidak memiliki akses komunikasi, interaksi, dan transportasi atau terisolir dari kelompok masyarakat lainnya, terutama untuk keberlangsungan hidup. Namun, setelah pembangunan merambat ke desa-desa, isolasi menjadi terbuka dan alat transportasi juga semakin maju dan bertambah banyak. Bahasa Tetun Fehan dalam hal ini berkaitan dengan ke-batar- an perlu mendapat perhatian khusus, tetapi kenyataan riil saat ini pewarisan antargenerasi mengalami kesenjangan. Hal tersebut, berkaitan dengan proses pewarisan budaya yang tidak dilakukandengan proses belajar. Generasi tua berasumsi bahwa pewarisan budaya dengan sendirinya terwarisi pada generasi muda dalam suatu lingkungan. Artinya, pemahaman generasi tua bahwa pewarisan budaya dapat terjadi secara natural atau alamiah. Hal tersebutlah yangmenyebabkan terjadinya kesenjangan pewarisanan targenerasi. Kebudayaan merupakan suatu pola tingkah laku yang dipelajari dan disampaikan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Proses belajarkebudayaan yang dikenal dengan istilah enkulturasi atau ‘pembudayaan’ yaitu seseorang harus mempelajari dan menyesuaikan sikap dan alam berpikirnya dengan sistem norma yang hidup dalam kebudayaannya. Proses pewarisan kebudayaan di lingkungan GTTF, khususnya pada lingkungan ke-batar-an yang tidak terlaksana secara optimal sehingga pengetahuan, pemahaman, dan pemanfaatan leksikon-leksikon, ungkapan metaforis dan pemali kebatar-an pada lingkungan generasi muda mengalami kesenjangan yang sangat jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Hal tersebut, dapat dilihat dari rendahnya


173 perentase ketidaktahuan generasi muda terhadap leksikon bagian-bagian ke-batar-an, bahan dan alat yang saat ini referennya telah digantikan dengan barang lain, jumlahnya terbatas ataupun hilang, serta ungkapan metaforis, pemali, dan mitos yang berkaitan dengan ke-batar-an yang telah jarang didengarkan. Generasi muda yang belum memiliki kognisi megenai lingkungan tertentu memerlukan adanya suatu keterwarisan agar referennya yang ada di dalam kognisi penutur tidak hilang. Perkembangan arus globalisasi yang sangat cepat telah membuat media hiburan tradisional masyarakat Malaka tergerus dan tergantikan dengan media-media hiburan yang siap pakai, mudah penggunan, dan pemerolehannya. Keaktifan Guyub Tutur Kedekatan dan pengetahuan guyub tutur dalam lingkungan ke-batar-an dapat dilihat dari keaktifan dan ikutsertaannya terhadap hal-hal yang berhuungan dengan teks ke-batar-an. Minimnya keaktifan generasi muda dalam menggunakan bahasa Tetun, khususnya minimnya keinginan dalam mengakrabi bahasa-bahasa lingkungan ke-batar-an merupakan faktor melemahnya kehidupan bahasa ke-bataran pada generasi muda. Berdasarkan hasil wawancara pada generasi muda, khususnya yang sedang mengenyam pendidikan SMTP, dan SLTA di Kabupaten Malaka, mereka mengakui dan mengetahui adanya proses mengolah batar ‘jagung’ di wilayah kabupaten tersebut, tetapi tidak mengetahui leksikon alat yang digunakan untuk menanam jagung, memanen jagung, dan cara penyimpanan jagung di dalam rumah adat. Serta cara proses dalam mengolah batar ‘jagung’. Bagi mereka, mengolah batar ‘jagung’cukup sederhan saja. Generasi muda jarang berinteraksi dengan lingkungan pertanian ke-batar-an. Sementara itu, pola pikir mereka sudah berubah dan memengaruhi budaya yang dimiliki oleh generasi muda dengan alasan kepraktisan dan ketidaktahuan mereka mendorong mereka lebih banyak memilih dan tertarik pada yang mudah mereka dapatkan. Kondisi serupa terjadi pula pada generasi muda masyarakat Malaka khususnya GTTF yang sudah menamatkan diri tingkat pendidikan SLTA dan sedang melanjutkan pendidikan pada tingkat perguruan tinggi. Pemahaman generasi muda pada tingkat ini, sebagian kecil masih memahami, mengenal dengan baik leksikon bahan dan alat pertanian batar, peralatan dan sampai pada tahap pengolahan batar,tetapi sebagian besar hanya mengetahuinya sebagaimemori yang masih tersimpan dalam pikiran, sudah tidak dipahami lagi secara nyata. Dinamika pergeseran, penyusutan pengetahuan, dan pemahaman tentang kebudayaan ke-batar-an adalah dampak bagi pergeseran, dan penyusutan bahasa lingkungan pertanian ke-batar- an. Menyusutnya konsep leksikal pada penutur remaja dan penutur dewasa merupakan dampak menyusutnya, bahkan dapat berdampak pada kematian bahasa ke-batar-an bahasa Tetun di Malaka.


174 Faktor Perubahan Ekologi (Lingkungan Fisik) Perubahan ekologi adalah salah satu faktor fisik yang signifikan pada perubahan suatu ekosistem. Perubahan habitat suatu makhluk juga dapat mengakibatkan suatu spesies mengalami penyusutan, bahkan kepunahan. Perubahan fisiklingkungan tempat hidup guyub tutur tertentu juga memiliki pengaruh dalam dinamika khazanah leksikon ke-batar-an guyub tutur Tetun Feahan. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, perangkat leksikon dapat menunjukkan kondisi lingkungan, karakter guyub tutur yang hidup dilingkungan tersebut, dan kebudayaan yang berkembang sebagai hasil interaksi antara guyub tutur dan lingkungannya (Sapir,1912). Berkaitan dengan lingkungan ke-batar-an, tempat keseluruhan ritual pratanam, tanam, panen, dan pascapanen bahan- bahan ritual ke-batar-an diperoleh dari interaksi , interelasi, dan interpedendensi GTTF dengan lingkungan alam, khususnya flora atau tumbuh-tumbuhan yang terdapat di hutan Malaka. Lingkungan hidup hewan dan tumbuhan tertentu berada jauh dari perkampungan atau tempat tinggal penduduk. Kondisi ini membuat penutur terutama sebagian generasi muda kurang, bahkan ada yang belum pernah samasekali berinteraksi dengan tumbuhan dan hewan itu .Akibatnya, penutur tidak mengenali dan mengakrabi tumbuhan dan hewan itudengan baik terutama generasi muda. Berdasarkan pengamatan di lapangan, pemerolehan bahan dan alat upacara ritual batar ‘jagung’ sekarang ini sudah mulai sukar didapat seperti sasan rai ‘periuk dari tanah liat’ tanasak ‘piring ingkai dari daun gewang’, lantora ‘lamtoro’ menjadi makanan kesukaan bagi sapi, babi, dan kambing yang populasinya semakin banyak karena adanya program pemerintah mengenai pembagian ternak kepada masyarakat Malaka, dan para pemiliknya melepas begitu saja sapi, babi, dan kambing mereka sehingga ternak tersebut bebas memakan dan merusak tumbuhan yang sudah tidak lagi ditanami ataudibudidayakan oleh GTTF. Faktor Sosiologis Teks Ke-batar-an Realitasmenunjukkan bahwa interaksi sosial merupakan fondasi dari hubunganatau relasi manusia dengan manusia adalah refleksi dari hubungan manusia dengan sang pencipta. Ketidakharmonisan relasi atau hubungan antaramanusia diyakini menimbulkan ketidakharmonisan hubungan secara vertikal transcendental dengan sang pencipta. Dalam hubungan sosial, masyarakat Malaka memiliki entitas sosial yang terdiri atas ragam latar belakang sosial dan budaya dalam hubungan dengan manusia (dimensi sosialogis) dan hubungannya dengan lingkungan alam (dimensi biologis). Hubungan antarmanusia dalam guyub tutur Tetun Fehan, khususnya dalam


175 lingkungan ke-batar-an merupakan suatu hubungan sosiologis terkait cara manusia mengatur hubungannya satu sama lain(dimensi sosiologis). Dimensi sosial guyub tutur Tetun Fehan tidak saja tercermin dalam kehidupan sehari-hari tetapi tercermin pula dalam ritual ke-batar-an. Hubungan sosiologis tersebut dapat dilihat pada teks berikut. Fo ba ami moris diak bodik ami iha raiklaran tomakBeri pergi kami hidup baik untuk kami di duniautuh Berikan kami kesejahtraan di seluruh negeri Hali leon diak nee naleon ema renu rai Malaka tomak Pohon teduh baik ini V orang masyarakat tanah Malaka utuh Pohon yang memberikan keteduhan bagi seluruh masyarakat Malaka (Sadan Hali leon ‘beringin’ Sumber: Dokumentasi Maria 2017) Sera koto ba lulik matabian sia ‘Ritual membuka upacara hamis dantebe bei Mau bagi arwah nenek moyang’ fo tua no wen, batar no isin bat ami hodi moris ihaumakain laran Beri lontar ada air jagung ada buah KONJ kami bawa hidup adarumahtangga dalam Hosi ain tasi to’o ain foho.Fo kroman no isin diak baami hodi moris iha Singgah kaki laut sampai kaki gunung Beri terang ada daging baikpergi kami bawa hidup ada Raiklaran ‘Dari kaki laut hingga gunung.Berikan terang kepada kami untukkesejahtraan di bumi.


176 Faktor Biologis Teks ke-batar-an Dimensi biologis berhubungan dengan kolektivitas biologis manusia yang hidup berdampingan dengan species yang lainnya(hewan, tumbuhan, tanah, laut, dan lain sebagainya. (Lindo dan Bundgaard (eds), 2000: 11). Keterikatan manusia yang secara spesies harus hidup berdampingan dengan yang lainnya seperti hewan, tumbuhan, tanah, dan lain-lain. Selain batar ‘jagung’ banyak tumbuhan dan hewan lainnya, termasuk air dan udara, sangat pentingbagi kehidupan biologis manusia dan hewan. Ritual ke-batar-an guyub tutur Tetun Fehan tidak hanya membangun keharmonisan antara manusia, leluhur, dan Maromak (Sang Pencipta) tetapi juga membangun keharmonisan dengan spesies lain. Sejumlah hewandikuhususkan dalam sesajen atau persembahan untuk ritual ke-batar- an, artinya dalam ritual ke-batar-an tidak dapat terpisah dari spisies lain. Bukti keharmonisan antara manusia dengan spesies lain dalam lingkungan ritual ke-batar-an dapat ditemukan dalam gambar ritualho’o fahi bodik lulik lamakberikut. Ritual Koto (ritual penyemblian babi)Sumber: Dokumentasi Maria 2017 Upacara ritual Koto adalah ritual menyemblih hewan (Kelen = Kerbau, dan Made = Babi), mengupas kulit pulir jagung, dan dilanjutkan dengan memasak untuk disajikan sebagai persembahan kepada leluhur. Faktor Ekologis Representasi ekologis teks ke-batar-an melibatkan tridimensi yaitu dimensi ideologis, biologis dan ekologis. Selain penerapan tridimensi yang dipaparkan oleh Lindo dan Bundsgaard (2000:11) yaitu dimensi ideologis, dimensi biologis, dan dimensi ekologis, dalam melihat persepsi orang Malaka dalam ujaran ke-batar-an, representasi ekologis dan rerepresentasi kosmologis menjadi ruang dalam memandang


177 ruang dalam memandang kebutuhan representasi persepsi orang Malaka dalam tuturan ke-batar-an. Dalam representasi ekologis khusus membahas ekologibatar ‘jagung’ yang langsung berpengaruh pada spesies yang lain. Batar ‘jagung’ sampai saat ini, jagung lebih sering digunakan sebagai bahan pangan karenamangandung karbohidrat. Orang Malaka memnanfaatkan bonggol jagung untuk membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Masyarakat Malaka, Timor, Nusa Tenggar Timur dalam kehidupan seharihari memanfaatkan dadus ‘tongkol’ sebagai komoditas yang memiliki nilai jual. Hal ini, tentu saja akan sangat menguntungkan para petani jagung karena selain menghasilkan sesuatu yang baru, pengolahan dadus ‘tongkol’ juga akan mengurangi pencernaan. Dalam perspektif biologis khususnya batar ‘jagung’ jelaslahterlihat bahwa batar ‘jagung’ sangat berperan penting dalam menjagakelestarian lingkungan.Selain dadus ‘tongkol’ batar kain ‘batang jagung’ yang masih muda sering digunakan orang Malaka sebagai pakan makanan ternak.Batang yang tua bermanfaat untuk pupuk, sedangkan batang yang kering sering digunakan untuk penganti kayu bakar.Berikutnya ialah tahan ‘daun’ digunakan sebagai pakan hewanternak seperti sapi dan kambing.Daun yang sudah terlalu tua bahkan sudah mengering biasaya diguakan pupuk kompos. Ekologi Ritual Teks Ke-batar-an Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa selain penerapantridimensi dalam memandang orang Malaka dalam kaitannya dengan bahasa dan budaya ke-batar-an, terdapat juga dimensi ritual ekologis. Dalam pembahasan prespektif ritual ekologis khusus membahas khusus interelasi doa dengan konektifitas kehidupan bermasyarakat dalam ekologi pertanian batar ‘jagung’ mulai dari proses persiapan benih (pratanam), tanam, panen, dan pascapanen guyub tutur Tetun Fehan. Proses ritual teks ke-batar-an dimaksud terdapat unsur-unsur yang penting, yaitu unsur yang mengatur ikatan-ikatan di antara anggota guyub tutur Tetun Fehan dari masa pratanam, tanam, panen,dan pascapanen. Menurut Emile Durkheim, dalam tulisannya The Elementary Forms of the Religious Life. Joseph Ward Swain (trans). (London: George Allen & Unwin Ltd., 1954, 251) memandang bahwa ritual dalam perspektif sosiologis collectiveconsciousness, yaitu kesadaran kolektif yang berada di luar individu dapat merasuk ke dalam individu dengan wujud : aturan moral, aturan agama, aturan- aturan tentang yang baik dan yang buruk, luhur, mulia dan lain-lain. Collective consciousnessa tetap bertahan sekalipun manusia meninggal. Ia mengandung daya memaksa, sehingga ada hukuman bagi yang melanggarnya. Dengan perkataan lain, collective consciousness tidak lain adalah konsensus masyarakat, yang mengatur hubungan sosial di dalam masyarakat yang bersangkutan. Ia menampakkan bentuk tertinggi dari kehidupan psikis manusia yangberada di luar dan di atas individu. Dengan kesadaran demikian, setiap individu menyadari bahwa masyarakat lebih


178 tinggi daripada individu dan di sanalah terdapat "dewa" yang mereka sembah yang diajarkan. Demikian juga spiritual dalam pengertian luas tentang ke- batar-an orang Malaka merupakan hal yang berhubungan dengan spirit hidup guyub tutur Tetun Fehan. Sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup orang Malaka dalam ritual ke-batar-an, dengan sesuatu yang bersifat duniawi, dan sementara. Di dalamnya, mungkin terdapat kepercayaan terhadap kekuatan supernatural seperti dalam upacara ritual ke-batar- an, tetapi memiliki penekanan terhadap pengalaman guyub tuturTetun Fehan. Spiritual orang Malaka dapat merupakan eksperesi dari kehidupan yang dipersepsikan lebih tinggi, terhadap naimaromak ‘Sang Pencipta’, matebian, ‘arwah’, dan rainain ‘leluhur’ lebih kompleks atau lebih terintegrasi dalam pandangan hidup seseorang, dan lebih daripada hal yang bersifat indrawi. Salah satu aspek ritual ke-batar-an menjadi spiritual dalam teks ke-batar-an karena memiliki arah tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan berkehendak orang Malaka, untuk mencapai hubungan yang lebih dekat dengan Ketuhanan dan alam semesta dan menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra, perasaan, dan pikiran. Pihak lain mengatakan bahwa aspek spiritual memiliki dua proses. Pertama, proses keatas yang merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan.Kedua, proses kebawah yang ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan internal. Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang dengan meningkatnya kesadaran diri, karena nilai-nilaiKetuhanan di dalam akan termanifestasi keluar melalui pengalaman dan kemajuan diri melalui proses ritual-ritual teks ke-batar-an. Dalam ritual ke-batar-an gereja memandang inkulturasi sebagai sebuah kesatuan budaya umat yang dimasukkan dalam gereja. Hal ini, terlihat sifat terbuka gereja.Berikut ini doa pemberkatan benih yang menunjukkan relevansi/kesepakatan kolektiforang Malaka yang solit dalam inkulturasi gereja Katolik. Berikut ini Teks ke-batar-an pada saat pemberkatan benih jagung oleh pastor (pemimpin agama Katolik) sebagai berikut. P : Ya Allah, Bapa yang maharahim berkatilah benih yang akankami taburkan ini Semoga benih ini dapat tumbuh subur, berkembang, dan berbuah banyak


179 Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur 254 Misa Pemberkatan Benih Jagung oleh Pastor Romo Leo Nahas Paroki LeseleonSumber: Radarmalaka. Com) Proses hisik fini ‘pemberkatan benih’ oleh pastor setempat merupakan salah satu bagian dari proses ritual ke-batar-an yang dilakukan oleh guyub tutur Tetun Fehan di Kabupaten Malaka. Proseshisik fini diupacarakan bersama jenis benih tanaman yang lain, sebelum dibawa ke lahan untuk ditanam atau disemaikan. Hisik batarfini ‘pemberkatan benih jagung’ biasanya dipimpin oleh nai lulik ‘Pastor’. Kegiatan hisik fini dilangsungkan di dalam upacara ekaristi kudus.Tempat upacara pemberkatan benih bisa dilakukan di rumah dengan mendatangkan pemimpin gereja (Pastor) atau di rumah ibadahyaitu gereja. Hisik fini ini sudah menjadi bagian dari kehidupan budaya ritual pratanam jagung (batar) oleh masyarakat Malaka. Makna dari proses ritual hisik fini ‘pemberkatan benih’ unggulan diberkati agar bisa memberikan hasil melimpah bagi masyarakatpetani di Kabupaten Malaka.


180 DAFTAR PUSTAKA Adisaputera, Abdurahman. 2009. “Ancaman terhadap Kebertahanan Bahasa Melayu Langkat: Studi pada Komunitas Remaja di Stabat Kabupaten Langkat”. Disertasi Universitas Udayana, Denpasar. Al-Gayoni,Yusradi Usman. 2012. Ekolinguistik. Jakarta Selatan. Pang Linge bekerjasama dengan Research Center for Gayo. Mahara Publishing. AlGayoni ,Yusri. http://ekormguistik- tradisilisan.blogspot.corn Arikunto, SuhanL 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: RinekaCipta. Bale, Melkianus.2014. Kabupaten Malaka dalam Angka.MalakaFigures. Badan Pusat Statistik Kabupaten Belu. BPS – Statistics Of Belu Regency. Bang, J. Chr. dan Door, J. (1996). Language, Ecology, and Truth - Dialogue and Dialectics, [online] Dapat diakses lewat situs: www.pdfio.com/k-22479.html. Barthes, Roland. 2004. Mitologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Bakker Sj, J.W.M. Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar. Jakarta.Black, AJ dan DJ. Champion.1999.Masalah Penelitian Sosial.(Terjemahan) Bandung: Refika Aditama. Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Rineka Cipta. Jakarta. Cassirer, Ernst. 1987. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei Tentang Manusia. Diindonesiakan oleh Alois A. Nugroho.Jakarta. PT Gramedia. CreswelL J.W. 2009.Risearch Design Qualitatif, Quantitatif, and Mixed Methods proocAes.Singapure: Sage Daeng, Harts J. 2000. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Danesi, Marcel, 2012. PESAN, Tanda, dan Makna. Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra. Departemen Pendidikan Nasional. (2008): Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: Depertemen Pendidikan Nasional Derni, Ammaria. 2008. The Ecolinguistic Paradigm: An Integrationist Trend in Language Study”. The International Journal of Language Society and Culture.Issue 24. [online] Dapat diakses lewat situs: www.educ.utas.eduau/users/tIe/JOURNAL Duranti, A. 1997.Linguistic Anthropology.Cambridge: CambridgeUniversity Press. Duranti, A. 2001.Linguistic Anthropology: “History, Ideas, and Issues”. dalam Duranti: (Ed) hlm. 1-38). Cambridge: Cambridge University Press. Dwi Susilo, Rachmad K. 2008. Sosiologi Lingkungan. Jakarta. Rajawali Press. Fairclough. 1989. Relasi Bahasa, Kekuasaan, dan Ideologi. Diterjemahkan oleh


181 Indah Rohmani judul asli Language dan Power. Malang: Boyan Publishing. Fasold, Ralp. 1984. The Sociolinguistics of Sociaty. Oxford: Basil Blackwell. Fasold, Ralp. 1990. The Sociolinguistics of Language. Oxford: Basil Blackwell. Ferguson, Charles A. 1971.“National Sociolinguistic Profile Formulas” dalam William Bright (Ed.) 1971.Sociolinguistics. Page 309-323. Paris: Mouton & Co; The Haque. Fill, Alwin and Peter Muhlhausler. 2001. (Eds.). The Ecolinguistics Reader.Language, Ecology, and Environment.London and New York: Continuum. Fishman, Joshua, ed. 1968. ‘Reading in the Socialogi of Language.’ The Hague: Mouton. Fraley, William. 1992. Linguistic Semantics. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. Genua. 2018. Ekoleksikon Nijo Pada Guyub Tutur Lio-Flores:KajianEkolinguistik. (Disertasi) Universitas Udayana. Gibbons, Michael T.2002. Tafsir Politik Telaah Hermeneutis Wacana Sosial-Politik Kontemporer. Yogyakarta: Qalam. Graedler, A.L. 2000.Culture Shock.Retrieved December 6, 2006 from http://www.hf.uio.no/iba/nettkurs/translation/grammar/top7culture.html. Halliday, M.A.K. 1978. Language as Social Semiotic: The Social Intrepretation of Language and Meaning. London: Edward Arnold. Halliday, M.A.K. & Hasan, R. 1992.Bahasa, Konteks dan Teks:Aspek-aspekBahasa dalam pandangan Semiotika Sosial. Terjemahan oleh Barori Tou. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Haugen, Einer. 1972. The Ecology of Language. Standford, CA: Standford University Press. Hoed, B.H. 1994.Linguistik, Semiotik, dan Kebudayaan Kita. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Irwan, Z. Djamal. 2014. Prinsip-Prinsip Ekologi, Ekosistem, Lingkungan, dan Pelestariannya. Jakarta: Bumi Aksara. Karamanian, A. Patricia. 2002. Translation and Culture.In Translation Journal. Vol.6,No.1 Januari 2002.URL: http://accurapid.com/journal/14theory.htm. Keraf A. Sonny. 2014. Filsafat Lingkungan Hidup Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan. Yogyakarta: PT Kanisius. Keraf A. Sonny. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Gramedia. Kibrik, A.E.1997. The Methodologi of Field Investigation in Linguistik.Paris: Mouton


182 Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik Edisi Ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Koentjaraningrat. 1990. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan. Koentjaraningrat.1981. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta, Gramedia. Koroh, 2017.Bahasa dan Budaya Ke-due-anPada Guyub Tutur Sabu-Raijua:Kajian Ekolinguistik.(Disertasi) Unversitas Udayana. Lindo, Anna Vibeke & Bundsgaard (eds.). 2000. Dialectical Ecolinguisticts Tree Essays for the Symposium 30 Year ofLanguange and Ecology in Graz December 2000. Austria: University of Odence Research Group for Ecology, Language and Ecology. Mahsun, M.S. 2014. Metode Penelitian Bahasa. Tahapan Strategi, metode, dan tekniknya. Jakarta. Rajawali Pers. Mbete, Aron Meko. 2003. “Bahasa dan Budaya Lokal Minoritas: Asal-muasal, Ancaman Kepunahan, dan Ancangan Pemberdayaan dalam Kerangka Pola Ilmiah Pokok Kebudayaan Universitas Udayana”.Pidato pengukuhan jabatan guru besar tetap dalam bidang linguistik pada Fakuftas Sastra Universitas Udayana 25 Oktober 2003. Mbete, Aron Meko. 2008. Nggua Bapu Ritual Perladangan Etnik Lio Ende. Denpasar: Pustaka Larasan Mbete, dkk (2012). Khazanah Verbal sebagai representasi Pengetahuan Lokal, Fungsi Pemeliharaan, dan Pelestarian Lingkungan danBahasa Waijewa dan Bahasa Kodi, Sumba Barat Daya. Penelitian Hibah Unggulan PT. Pasca Sarjana Universitas Udayana Mbete, Aron Meko.2013. Penuntun Singkat Penulisan Proposal Penelitian Ekolinguistik. Denpasar: Penerbit Vidia Miles, Mattew B dan A.M. Huberman.2007. Analisis Data Kualitatif. Penerjemah: Tjetep Rehendi Rohidi. Jakarta: Univerrsitas Indonesia Moleong, Leksi. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung :Remaja Rosdakarya Muhadjir, Noeng,H.. 1996. Metode Penelitian Kualilitatif. Edisi III.Yogyakarta: Rake Sarasin Mufwene, Salikono. 2004. The Ecology of Languange Evolution. Cambridge: University Press. Neonbasu, Gregorius. 2016. Citra Manusia Berbudaya. Sebuah Monografi tentang Timor dalam Perspektif Melanesia.Jakarta:Antara Publishing. Nirmalasari, 2019.Bahasa Lingkungan Ke-gahati-an Guyub Tutur Bahasa Muna: Kajian Ekolinguistik.(Disertasi) Universitas Udayana. Nuswaty, 2014.Keterkaitan Metafora dengan Lingkungan Alam Pada Komunitas Bahasa Aceh di Desa Trumon Aceh Selatan: KajianEkolinguistik. (Disertasi)


183 Universitas Sumatra Utara. Gregor, Neonbasu. 2016. Citra Manusia Berbudaya. (Sebuah Monografi Tentang Timor Dalam Perspektif Melanesia). Jakarta. Antara Publishing. Odum, Eugene P. 1996. Dasar-Dasar Ekologi.Edisi Ketiga Diterjemahkan dari Fundamentals of Ecology Third Edition.Diterjermahkan oleh Gadjah Mada University Press.Yogyakarta. Patty, Servas, dkk. Ine Pare: (Mitos Dewi Padi Di Keli Ndota). Ende:DEPDIKNAS Kabupaten Ende-Flres-NTT. Purwanto, Hari.2010. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi.Yogyakarta: Pustaka Pelajar Putrayasa, I. Bagus. 2014.Analisis Kalimat Fungsi, Peran, danKategori. Bandung: Refina Aditama. Rahyono, F.X. 2012. Studi Makna.Jakarta: Penaku Rahyono, F.X. 2015.Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. Rasna, I Wayan. 2010. “Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap Tanaman Obat Tradisional di Kabupaten Buleleng dalam Rangka Pelestarian Lingkungan: Sebuah Kajian Ekolinguistik”(Tesis) Universitas Pendidikan Singaraja Renjaan, M. Raynold (2014). “Pemahaman dan kebertahanan Ekoeksikal KelautanGuyub Tutur Bahasa Kei: Kajian Ekolinguistik”(Tesis) Universitas udayana Sarmi, Ni Nyoman 2015. “Khazanah Leksikon Lingkungan Alam Dalam Dinamika Pertanian Guyub Tutur Bahasa Using: Kajian Ekolinguistik”. (Disertasi) Universitas Udayana. Satori, Djam'an & Komariah Aan.2013 Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung : Pustaka Larasan. Samsuri, 1980.Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga. Santoso, 2017.Slogan Bertema lingkungan Hidup Dalam PerpektifPragmatik dan Ekolinguistik; Model Steffensen.Koferensi Linguistik Tahunan ke-15 (KOLITA 15).Jakarta.UniversitasAtma Jaya. Simpen, I Wayan. 2008. Sopan Santun Berbahasa Masyarakat Sumba Timur. Pustaka Laras. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Soemarwoto, Otto. 2004. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan.Jakarta: Djambatan. Subyanto, A. 2013. “Ekolinguistik: Model Analisis dan Penerapannya.“ ejournal.undip.ac.id/index.php/humanika/…/5091. Sudaryanto. A. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik.Yogyakarta: Duta Wacana University Press Sugiono. 2011.Metode Penelitian Kombinasi (moxed Methods).


184 Bandung: ALFABETA,cv Thompson, J.B. 2003.Analisis Ideologi: Kritik Wacana Ideologi- Ideologi Dunia. Yogyakarta:IRCiSOD Toebes, dkk.(1987). Struktur Bahasa Tetum.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Tnouf, Jhon. (2017). Bei Mau-Bei Bui:Pesta Jagung Muda Orang Kamanasa, Kabupaten Malaka. (Edisi Bijak MemahamiNTT).Majalah Warta Flobamora. Surabaya:Yayasan Kamitra Abdi Jawa Timur Steffensen, Sune York. (2007). “Language, Ecology and Society: AnIntroduction to Dialectical Linguistics”. Dalam Steffensen, S.V dan J. Nash (Eds). Language, Ecology ami Society - a Dialectal Approach.London: Continuum. Stibbe, Arran. 2010. “Ecolinguistics and Globalization” dalam: Coupland, Nokilas, editor. 2010. The handbook of language and Globalization. Blackwell Publishing. Strauss, Anselm & Jdiet Corbin. 2003. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Tataiangkah dan Teknik-teknik Teorisasi Data. Penerjemah. Muhammad Shodiq & Imam Motaqin. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Suka, I Ginting. 2012. Teori Etika Lingkungan. Denpasar.Udayana University Press. Taum, Yosep. 2011. Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode dan Pendekatan DisertasiContoh Penerapannya. Yogyakarata: Lamalera Verhaar, J.W.M. 2006. Azas-Azas Linguistik Umum. Yogya: Gadjah Mada Univerity Press. Whhe, L. and Dillingham, B. 1973.The Concept of Culture.New York: Burgess Publishing Company Wierzbicka, A. 1991.Cross-Cultural Pragmatics, The Semantics of Human Interaction. New York: Mouton de Gruyter. Wierzbicka, A. 1992.Semantics, Culture, and Cognition.Oxford: Oxford University Press. http://www.kompasiana.com/milto.com/milto.com.../kisah-tentang- buaya-dari Belu-Timor-NTT (Diakses tanggal 26 Maret 2019) https:/www.academia.edu/3098701/miltos_Asa_Usul_Nama_Pulau_Timor


185 LAMPIRAN - LAMPIRAN


186 Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Maria M. Malaka Nmok di Nahak Timor, Nusa Tenggara Timur 272 Lampiran 1: PETA LOKASI PENELITIAN Data Ritual Hamis Batar ‘jagung’ Tuturan Hamis Mata bian tuan no murak, ami atu hasa‘e ha uma laran onan. Ida, rua, tolu, hat, lima, nen, hitu. Tfo.. hitu wauke walu wauke.Mo ami ba foho hot te‘en Lobus se‘en Tabaki ne’ en, be Rae ne ‘en ne be Rika ne ‘ene. Ida, rua, tolu, hat, lima, nen, hitu. Tfo... hitu wauke walu wauke. Matabian tuanno nurak, ami atu simu matak no malirin. Hodi halo ledoma Provinsi NTT


187 halo funu. Monas se ‘en, war ‘ne ‘en, kmutis se ‘en, mafone ‘en,tabaki we ‘en, Rae kiik ke ‘en ne, Rika waik ke ‘en. Bei tuan no nurak, oman lai wain lai, lahasoru hiker malu. Ami sai onan. Tuturan Hamis yang telah dipaparkandi atas memiliki maknaseperti di bawah ini: Para leluhur tua dan muda, sekarangkami akan menaikkan hasilpanen ini kedalam rumah. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.Oh... tujuh delapan sama saja. Bawalah kami ke gunung Lobus danTabaki, yang pemah dilewatileluhur Raedan Rika. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Oh... tujuh dan delapandianggapsama. Para leluhur tua dan muda, kamimemohon berkat. Berikanlah kami kesehatan dan kekuatanuntuk berperang. Dari Monas, War, Kmutis, Mafo, Tabakiyang pernah dilewati olehRae Kiik danRika Wai‘ik. Leluhur tua dan muda, hingga saatnya tiba barulah kita berjumpalagi di lain kesempatan. Kami pamit dulu. Mata leluhur tua dan muda “Para leluhur tua dan muda,” Ami Atu Hasa ‘e Ba uma laranonan. Kami mau naikan ke rumah dalamsudah. “...sekarang kami akan menaikkan hasilpanen ini ke dalam rumah.” Ida, rua. loin, hat, lima, nen, hitu. Tfo... hitu wauke walti wauke. Mo ami ba foho hot ic ‘en Lobus se’en Tabaki ne ‘en, be Rae Bawa kami ke gunung besar itu Lobus sana Tabaki sana. be Rae ne ‘en ne be Rika ne ‘en. Ida, rua. tolu. hat, lima, nen, hitu. him wauke wain wauke. Satu, dua, riga empat, lima, enam. tujuhOh... tujuh sama delapan sama “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.Oh... tujuh delapan sama saja.” Mo ami ba foho bot te’en Lobus se’en Tabaki ne’en, re Rae Bawa kami ke gunung besar itu Lobus sana Tabaki sana, be Rae ne’en ne be Rika ne’en sana be Rika sana. Ida, rua, tolu, hat, lima, nen, hitu. Tfo... hitu wauke walu wauke. Matabian tuan no murak, ami atu simu matak no malirin. Hodi halo ledoma halo funu. Monas se’en war’ne’en, kmutis se’en, mafo ne’en,tabaki we’en, Rae kiik ke ‘en ne, Rika waik ke ‘en.


188 Ida rua tolu, hat, lima, nen, hitu.Tfo... hitu wauke walu wauke. Satu, dua tiga, empat, lima, enam, tujuh. Oh...tujuh sama delapan sama “Satu dua, tiga, empat, lima, enamm, tujuh. Oh...tujuh dan delapandianggap sama”. Mata bian tuan no nurak, ami atu simu matak no malirin. Mata leluhur tua dan muda, kami mau terima mentah dan dingin“Para leluhur tua dan muda, kami memohon berkat”. Hodi halo ledoma halo funu Bawa buat baik buat perang “Berikanlah kami kesehatan dan kekuatan untuk berperang” Monas se’en War ‘ne’en, Kamus se’en Mafo ne’en Tabaki we’en RaeKiik Monas sana, Tabaki sana, Rae Kiik ke’en ne, Rika Wa’ik ke’en sama,Rika Waik sana. “Dari Monas, War, Kmutis, Mafo, Tabaki yang pernah dilewati olehRae Kiik dan Rika Wai’ik”. Bei tuan no nurak, oman lai wain lai, la hasoru hiker malu. Ami saionan. Bei tuan no nurak, oman lai wain lai, la hasoru hikar malu Nenek tua dan muda, saatnya dulu nanti dulu, baru ketemu kembalikita Ami sai onan Kami keluar sudah “Leluhur tua dan muda, hingga saatnya tiba barulah kita berjumpalagi di lain kesempatan Kami pamit dulu”.


189 DOKUMENTASI DATA VISUAL A. Proses Hamis Gambar 1. Proses Hamis batar (Sumber: Dok. Maria 2017) B.Proses Mengolah Filun (Lemet jagung) Gambar 2. Proses Batas Filu (Sumber: Dok. Maria 2017)


190 Maria M. Namok Nahak C. Proses Penyiangan Jagung Gambar 3. Proses Batas Filun(Sumber: Dok. Maria 2017) D. Proses Mengolah Jagung Tua Gambar 4. Proses Pengolahan Jagung Tua(Sumber: Dok. Maria 2017)


191 E. Pengambilan Data Melalui Wawancara Gambar 5. Proses Pengambilan Data(Sumber: Dok. Maria 2017)


192 F. Proses ta batar tasak ‘Panen Jagung Muda’ Gambar 6. Proses Pemanenan Jagung(Sumber: Dokumentasi, Maria 2017)


Click to View FlipBook Version