The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berjudul khazanah ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor Kabupaten Malaka. Bidang utama kajian ini adalah ekolinguistik yang mengungkap ke-batar-an. Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan sebuah karya penting di dalam disiplin ilmu Ekolinguistik. Selain karena karya ini menyajikan sebuah model kajian ekolinguistik yang penting dan berguna. Buku ini menyajikan model analisis koleksikon ke-batar-an orang Malaka berdasarkan perspektif ekolinguistik

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG, 2023-10-02 23:14:29

KHAZANAH EKOLEKSIKON KE-BATAR-AN

Buku ini berjudul khazanah ekoleksikon Ke-batar-an Orang Timor Kabupaten Malaka. Bidang utama kajian ini adalah ekolinguistik yang mengungkap ke-batar-an. Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan sebuah karya penting di dalam disiplin ilmu Ekolinguistik. Selain karena karya ini menyajikan sebuah model kajian ekolinguistik yang penting dan berguna. Buku ini menyajikan model analisis koleksikon ke-batar-an orang Malaka berdasarkan perspektif ekolinguistik

Keywords: Maria Nahak

114 Maria M. Namok Nahak Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui secara terperinci mengenai pemahaman responden tentang leksikon lulik ‘ritual’ di lingkungan pertanian kebatar-an. Tingkat pemahaman terhadap leksikon-leksikon tersebut menunjukkan persentase yang sangat bervariasi pada ketiga kelompok responden. Penjelasannya dapatdicermati berikut ini. Diketahui bahwa dari keempatbelas leksikon yang telah diujikan kepada seluruh responden, 100% menjawab A yang artinya mereka tahu, kenal, dan masih sering digunakan (dalam percakapan). Leksikon-leksikon tersebut masih aktif digunakan dalam percakapan sehari-hari sehingga masih terkonsep dengan baik di dalam benak penutur. Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dari 50 respondenusia 15-24 tahun, 71,4%, yaitu tahu, kenal, dan masih sering digunakan. Untuk responden usia 25-45 tahun, dari 50 responden, 96,8%, dan untuk responden usia 46-65 tahun, dari 50 responden, 100% menjawab A. Rendahnya persentase yang ditunjukkan oleh kelompok responden usia 15-24 tahun karena sudah jarang, bahkan tidak lagi berinteraksi, berinterelasi, dan berinterdependensi dengan ke-batar-ansehingga hal yang berkaitan dengan aturan yang ada di lingkungan pertanian batar ‘jagung’ dalam ritual (lulik) tidak lagi dikenali dan diindahkan. Tingginya persentase kelompok responden tua dan dewasa dibandingkan kelompok usia remaja disebabkan karena leksikon- leksikon ritual ke-batar-an masih sangat sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sebagian besar GTTF beranggapan bahwa dengan pelaksanaan berbagai ritual dapat mencapai hidup yang seimbang baik material maupun spritual. Adapun pelaksanaannya bergantung pada individu masing-masing. C. Pengetahuan Leksikon Verba Ke-batar-an Dalam melakukan aktivitas yang berhubungan dengan ke- batar-andan lingkungan ke-batar-an, guyub tutur Tetun Fehan memiliki sebutan atau nama-nama tersendiri untuk kegiatan tertentu. Oleh karena itu, lingkungan pertanian ke-batar-an juga berhubungandengan verba khusus yang digunakan oleh guyub tutur dalam proses pratanam, tanam, panen, dan pascapanen batar ‘jagung’ dan dan lain- lain. Untuk mengetahui tingkat pemahaman guyub tutur mengenai leksikon yang berhubungan dengan verba ke-batar-an, diujikan 80 leksikon.


115 Maria M. Namok Nahak Grafik Pengetahuan Leksikon Verba Ke-batar-an GTTF 90,0 80,3 80,0 70,0 67,3 60,0 50,0 46,4 40,0 29,5 30,0 Remaja Dewasa Tua 20,0 10,0 0,0 3, 6,6 8 4,0 11,29,6 5,3 7,1 1,0 Sangat Paham Paham Cukup Tidak Tahu Paham


116 Deskripsi Verba Ke-batar-an No. Leksikon Verba Makna 1. Hola mengambil jagung muda dari kebun untuk persiapan upacara hamis batar ‘jagung’ sejumlah 7 pohon jagung yang bulirnya besar. 2. Lere Menebas rumput, ilalang 3. Fokit Mencabut rumput, mencabut akar jagung untuk ritual hamis 4. Nakuak melubangi tanah sebagai tempat untuk menana benih jagung 5. Ta potong, memotong kayu,mamacul tanah untuk persiapan lahan baru 6. Libur Mengumpulkan jagung, mengumpulkan kayu 7. Haladik Mematok batas tanah antara tanah kosong dan kebun jagung milik orang lain 8. Halo Lutu Pagar kebun/memagari kebun sebelum menanam jagung 9. Kesi Ikat/mengikat jagung mana’ik persis di tiang utama (kakuluk) rumah adat 10. Fila Membaalik tanah menggunakan aisuak ‘alu’ yang runcing 11. Kuda Membuat lubang tanah untuk menanam benih jagung 13. Habon/kee Melubangi tanah untuk memasukan benih jagung 14. Hodi Membawa bahan sejajian ke troman ‘mesba’ untuk diritualkan 15 Loke Membuka kulit jagung sebelum jagung direbus/dibakar untuk upacara ritual hamis 16 Hawai Menjemur biji jagung yang sudah tua untuk disimpan buat benih jagung 17 Tatera Mengangkat-angkat sambil melempar jagung saat upacara pembukaan ritual hamis jagung di dalam kampong 18 Dahur Mengeluarkan biji jagung dari tongkol 19 Tae Pukul/memukul bulir jagung dengan tongkolnya hingga hancur terpisah dari tongkol jagung. 20 Tuku Memipih jagung/menghancurkan jagung menggunakan batu 21 Bobi Menumbuk jagung muda hingga hancur untuk bahan filun ‘lemet’ jagung 22 Konen memantrai sesajian batar di pelaksanaan ritual 23 Sasiri Menampih beras/memisahkan beras jagung yang bijinya besar dan yang kecil 24 Soe Membuang/melempar jagung saat upacara ritual berlangsung di halaman rumah adat (tempat syukuran)


117 Maria M. Namok Nahak No. Leksikon Verba Makna 25 Hasan Memikul jagung tanpa menggunakan alat bantu 26 Kaba Menempelkan jagung, siri-pinang yag sudah dikunyah laluditempel pada dahi anggota keluarga yang mengikuti upacara hamis batar 27 Lok Melayani tamu dengan menyuguhkan siri pinang saat tamudating 28 Tiha Menangkap/menjaring ikan menggunakan jaring ikan 29 Loke Membuka pintu utama rumah ritual ‘lulik’ pada saat hamis batar 30 Kisu Mengeluarkan biji jagung menggunakan jari atau ujung pisau 31 Huan Menebang pohon yang dekat kebun untuk membuka lahanbaru 32 Hakous Gendong/menggendong bahan pusaka ritual memasuki rumahritual (lulik) sebelum upacara hamis dimulai 33 Taka mengikat yang banyak dengan menggunakan tali dan yangdiikat itu yang dikuatkan 34 Loke Membuka ritual hamis oleh fukun/dato 35 Hananu Menyanyikan lagu dalam syukuran hasil panen jagung. 36 Hakrake Teriak/berteriak saat membawa jagung ritual memasukihalaman upacara ritual hamis batar 37 Taulia Memberikan amanat/pesan kepada anak-anak muda untuk menginformasikan kepada keluarga besar dalam suku tentangjadwal persiapan hamis batar 38 Tebe Tarian khas tradisonal masyarakat Malaka dalam acara ritualtahunan syukuran atas hasil panen jagung 39 Haksoit Lompat/melompat saat mengikuti tarian tebe bei mau Sali 40 Sona Goreng/menggoreng jagung tua atau muda 41 Tunu Bakar/membakar jagung, babi,ayam untuk persiapan upacararitual hamis batar ‘jagung’ 42 Daan Rebus/merebus jagung muda persiapan upacara ritual ha,is batar ‘jagung’ di rumah pamali 43 Sura Menghitung sesajian berupa jagung, siri-pinang, daging kemuadian menaruhnya di tempat sesajian sebelum upacararitual batar ‘jagung’ 44 Futu Ikat/mengikat jagung ritual sebelum diantar ke rumahadat/rumah pamali 45 Latan Menyerahkan tongkat pimpinan suku kepada pemimpin baru


118 No. Leksikon Verba Makna 46 Hanesa Mensejajarkan/meluruskan bahan sesajian untuk ritualsebelum upacara ritual dimulai 47 Hatun Menurunkan bahan ritual berupa benda pusaka sebelumupacara ritual di dalam rumah adat dan sekaligus meritualkan kembali benda-benda pusaka sebelum 1 tahun sekali. 48 Hisa Menggantungkan jagung yang sudah dipanen di bawah lotengrumah adat untuk diasap 49 Hoku Menundukkan kepala waktu memasuki rumah adat. 50 Harik Berdiri saat menerima bahan sajian yang diantar oleh rumahadat 51 Tur Duduk mengikuti upacara ritual hamis batar 52 Solur turun dari gunung, pohon, rumah panggung 53 Hakean menyekat atau membagi etu hamis, dimana satu sekatan terdiri dari 5 lembar daun nanas atau jumlahnya lebih sesuai denganyang dibutuhkan 54 Haketak Menjauhi dari roh jahat/jin 55 Haklot Mengecilkan ukuran 56 Tane Memuja kebersaran Tuhan, para leluhur dan arwah atas hasilpanen jagung melimpah atas para petani 57 Foti naik/panjat, ke gunung, pohon, ke rumah panggung 58. Sera Memberi sedekah kepada Tuhan, Leluhur, dan arwah di dalamsuku 59. Haruka Menyuruh mengangkat sesuatu missal jagung, tempat sesajianuntuk diserahkan kepada dato, fukun, nain ‘tetuah adat’ 60. Hasan memikul tanpa menggunakan alat, langsung diletakkan padabahu 61 Hakelu Menggotong/memikul menggunakan kedua tanggan 62 Koa mengiris/potong/sayat (seperti tulang daun), dipisahkan daundari tulang tangkainya; mengiris/menyayat hewan ritualdengan menggunakan pisau apabila manu, krau, fahi telah diritual 63. Fae Membagi sesajian yang sudah diritualkan kepada anggotakeluarga yang hadir mengikuti upacara syukuran ritual hamis batar 64 Tulun menolong, orang lain untuk secara gotongroyong menanamdan memanen hasil kebun jagung hingga diantar ke rumah adat tempat penyimpanan jagung manaik. 65. Hamos Membersihkan kebun untuk menanam jagung


119 Maria M. Namok Nahak No. Leksikon Verba Makna 66. Leno membaca doa dilakukan setelah oleh fukun ‘tetah adat’ ataupastor sebelum ritual batar dimulai 67. Hean menarik tali untuk untuk menanam jagung 68. Hean bit Menarik tali dengan keras berkaitan dengan proses tanamjagung (batar) 69. Husu Meminta kepada sang pemilik alam semesta semoga diberikan hujan sehingga tanaman jagung tumbuh subur dan hasil panenberlimpah 70. Halon Memohonkepada Tuhan,arwah, leluhur agar hasil panenberlimpah 71 Hase Menyapa peserta ritual jagung yang hadir dalam upacarasyukuran hamis batar 72. Haruka Menyuruh/memerintah para ainliman/klosan untukmenyampaikan jadwal ritual panen jagung dan hamis batar (makan jagung muda bersama-sama) 73. Halokiik Kecili membuat menjadi kecil 74 Metin Mengeratkan tali pengikat jagung manai’k 75. Halon Memohon kepada Tuhan, arwah, dan leluhur 76 Sanaliman Mengatupkan tangan pada saat menerima pemberkatan daripastor 77. Sabete duduk bersila; berkaitan dengan sikap duduk saat mengikutiritual 78. Human mempercayai, berkaitan dengan keberadaan mitos ke-batar-anorang lain untuk membantu 79 Haleka Membuka, berkaitan dengan ritual hamis. 80 Tein Memasak, berkaitan dengan cara memasak batar ‘jagung’sebagai bahan sesajian untuk arwah pada saat ritual hamisbatar.


12Tabel Tingkat Pemahaman Leksikon Verba Teks Ke-batarNo. Leksikon Verba Makna (Bahasa Tetun Fehan Bahasa Latin Bahasa Indoenesia A 1. Hola accipere Mengambil 50 2. Hatun Minus Menurunkan 9 3. Hasai Auget Menaikan 13 4. Hodi Porto Membawa 50 5. Lori Move Memindahkan 50 6. Badu Ban Melarang 6 7. Hamis Saeclum insapiens Hambar 50 8. Soe/tatera Abiicias Membuang 50 9. Kuda Foraminis Melubangkan 32 10. Furui Plant Menanam (menceplok benih jagung ke dalam tanah yang sudah dilubangi) 30 11. tesi conscidisti Memotong jagung menggunakan parang/sabit secara menyamping dari bagian bawah 40


20 r-an Antarargenerasi GTTF Tingkat Pemahaman Responden Remaja 15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) B C D A B C D A B C D - - - 50 - - - 50 - - - - 19 22 30 - 10 - 50 - - - - 21 16 28 8 12 2 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - 50 - - - 50 - - - 11 18 15 30 - 10 - 40 10 - - =- - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - 8 10 50 - - - 50 - - - - 5 15 50 - - - 50 - - - - - 10 50 - - - 50 - - - Maria M. Namok Nahak


1212. lere Et interficiam Tebas/menebas jagung secara tidak beraturan 2 13. Ko’a conscidisti Memotong secara lurus dari arah kanan ke kiri 13 14. Fokit Interesting Menarik jagung menggunakan tangan hingga akar jagung terjabut dari akarnya. 50 15. Hatiu/hasan Bear Memikul 50 16. Fai Mashed Tumbuk/menumbuk jagung 8 17. libur Cumulate Mengumpulkan jagung 23 18. hase Salutaret Menyapa 4 19. hawai Ad solem siccare Jemur 11 20. hatama Inserere Memasukan 7 21. tae Ledo Memukul 3 22. halo Fac Membuat 5 23. hili Eligere Memilih 2 24. hakean separetum Memisahkan 50 25. hemu Bibe Minum 50 26. Ha manducare Makan 50 27. Sera/tula Bosiorum Memantrai 11 28. daka Vigilate Menjaga 20 29. hili Eligere Pilih/memilih 21 30. foti Vitae Mengakat 50


21 - 4 43 31 - 9 - 50 - - - 3 20 14 32 - 16 2 50 - - - - - - 50 50 - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - 22 20 27 8 12 3 50 - - - - 17 10 50 - - - 50 - - - 7 14 25 25 6 13 6 50 - - - 2 21 16 27 8 13 2 35 5 10 - 16 13 14 25 6 13 6 33 7 8 2 16 17 14 26 5 10 9 50 - - - - 25 20 26 8 12 4 50 - - - 3 22 23 26 8 7 5 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 2 21 16 30 - 10 - 50 - - - 24 4 2 50 - - - 50 - - - 9 18 2 35 5 2 3 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur


1231. hamos Clean Membersihkan 50 32. fila praepostera Membalikan 50 33. sunu adolebitque Membakar 12 34. kaer Habere Memegang 50 35. kaba Praelino Mengoles 50 36`. Loke patentibus Membuka 50 37 dahur Excorio Mengupas 50 38. tur Sit Duduk 10 39. harik Consurge Berdiri 4 40. hatoba Otium Menidurkan 50 41. rai Salvum facere Menyimpan 15 42. tein Coquus Memasak 13 43. hamaran Exiccavi vestigio Mengeringkan 30 44. nono Undis Merebus air 4 45. daan Frumentis undis Merebus jagung 10 46. sura Numerare Menghitung 4 47. bakar Numerare Membakar 8 48. sona Fry Mengoreng 5 49. diak Bonum Baik 9 50. hatete Row Menjejer 4 51. tun Descendit Turun - 52. hakous Habere Mengendong 2 53. hodi Porto Membawa 50


22 - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - 14 26 34 8 6 2 40 10 - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - 23 17 50 - - - 50 - - - 11 19 16 27 5 12 6 37 8 3 2 - - - 50 - - - 50 - - - 13 9 13 50 - - - 50 - - - - 16 21 34 3 6 7 36 2 8 4 - - 10 50 - - - 50 - - - 7 17 22 25 12 9 4 38 7 5 - 2 14 26 27 8 13 2 35 5 10 - 16 13 17 25 9 13 3 33 7 8 2 12 18 12 27 5 12 6 37 8 3 2 - 25 20 29 8 9 4 35 - 15 - 3 22 16 26 8 7 5 35 9 6 - 8 20 17 25 5 14 6 33 8 6 3 - 2 48 30 5 12 3 36 - 14 - - 6 42 19 13 8 10 28 12 6 4 - - - 50 - - - 50 - - - Maria M. Namok Nahak


1254. Ti’i Aedificum Menimba 3 55 fasi Lava Mencuci/membasuh 50 56 tutur Honoris Menjunjung 10 57. Haleka Propagationem Membentangkan 14 58. tara Suspendisse Menggantung 50 59. halon Appeal Memohon 50 60. tamun Faciem Mengasapi 2 61. simu Gratias ago terima/menerima 4 62. foba Dabo Memberikan 10 63. Ba Vade Pergi 4 64 Lao Ambulate Berjalan 50 65 hamos Clean Membersihkan 50 66. halo Fac Membuat 50 67. Fali Nent Memintal 5 68. Hakat Vestigium Melangkah 2 69. Sabete Warped Graphics Lesehan 3 70. Falu Verterunt Menoleh 50 71. Hoo Occider Membunuh 8 72. Sona Confossis porcos Menikam babi 14 73. Tataek Filter Menampih 6 74. Kee Metalla Menggali 16


23 16 17 14 25 5 14 6 33 8 6 3 - - - 50 - - - 50 - - - 2 14 26 27 8 13 2 35 5 10 - 12 9 15 34 3 6 7 36 2 8 4 - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 3 22 23 26 8 7 5 35 9 6 - - 6 40 21 18 4 7 35 - 15 - 6 10 24 27 9 10 4 36 4 10 - - 6 40 30 11 3 6 39 - 11 - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - 25 20 26 8 12 4 35 - 15 - 3 22 23 26 8 7 5 35 9 6 - 12 20 15 25 5 14 6 33 8 6 3 - - - 50 - - - 50 - - - 7 14 21 40 - 5 3 40 10 - - 16 17 3 39 - 9 2 50 - - - 15 9 20 29 11 3 7 50 - - - 4 11 19 35 6 4 5 50 - - - Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur


75 Saki Split Belah/memelah 14 76. Ra’ut Accipere Mengambil jagung yang seudah dijemur 77 hanuku Ostendite Menaruhkan periuk di atas tungkuh 40 78. kaba Iam ostendimus Menempelkan 50 79. homan Texentes subitia Mengayam 30 Keterangan: A. Tahu, kenal, dan masih sering digunakan B. Tahu, kenal, dan sudah jarang digunakan C. Tahu, kenal, dan sudah tidak pernah digunakan D. Sama sekali tidak tahu atau tidak kenal


2 20 18 28 8 10 4 50 - - - - - 50 18 1 16 15 50 - - - - - 10 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 -- - - 6 8 6 50 - - - 50 - - - Maria M. Namok Nahak


125 Maria M. Namok Nahak Tabel di atas secara terperinci mengenai pemahaman responden tentang leksikon yang diujikan. Dari seluruh leksikon yangada, sebagian besar leksikon masih diketahui oleh responden yang berusia dewasa sebesar 67,3% (baik) dan responden tua sebesar 80,3% (baik). Keadaan itu dapat terjadi karena mereka masih sering menggunakan leksikon verba tersebut dan sebagian besar guyub tutur mempraktikannya. Dibandingkan dengan kedua kelompok responden tersebut, pemahaman yang dimiliki oleh responden usia remaja sangat kurang hanya sebesar 46,4%. Hal itu disebabkan kurangnya proses transmisi bahasa, tidak aktif menggunakan leksikon-leksikon tersebut, terutama dalam kegiatan yang berkaitan dengan ke-batar- ansehingga tidak terkonsep baik dalam benak penutur usia remaja. D.Pemahaman Leksikon Adjektiva Ke-batar-an Satu kegiatan ritual ke-batar-an GTTF yang keseluruhanbahannya diperoleh dari alam. Ke-batar-an memiliki sifat-sifat tertentu yang menggambarkan keadaan fisik dan non fisik bahan dan alat dalam ke-batar-antersebut. Selain adjektiva yang menggambarkan sifat ke-batar-an, disebutkan pula adjektiva yang menggambarkan lingkungan ke-batar-an tersebut. Untuk mengetahui tingkat pemahaman guyub tutur Tetun Fehan mengenai leksikon yang berhubungan dengan adjektiva ke-batar-an, diujikan 119 leksikon. Grafik Tingkat Pemahaman Leksikon Adjektiva Ke-batar-an GTTF 100,0 80,3 80,0 67,3 60,0 40,0 20,0 0,0 46,4 29,5 3,8 6,6 4,0 11,29,6 5,3 7,11,0 Remaja Dewasa Tua Sangat Paham Paham Cukup Tidak Tahu Paham


126 Deskripsi Adjektiva Ke-batar-an No. Leksikon Adjektiva Makna 1. Bot besar,menggambarkan keadaan bu;ir jagung; besarnya batar, besarnya musan atau fulin 2. Fuhuk lapuk, menggambarkan keadaan biji jagung tua (batar tuk) fulin atau musan. 3. Tohar patah, menggambarkan keadaan batang jagung, ranting bambu, daun jagung. 4. As tinggi, menggambarkan keadaan tanaman jagung, keadaan batar di kebun. 5. Kabuar bulat, menggambarkan salah satu bentuk alat measak jagung sasanan rai ‘periuk dari tanah liat’, 6. Makur gerah, menggambarkan rasa pada badan saat memanen jagung tua di kebun, membersihkan lahan, untuk menanmjagung, menikat agung pamali. 7. Kbit kuat/keras, menggambarkan keadaan aisuak ‘alat cepluk tanah untuk memasukan benih jagung. 8. Dok jauh, menggambarkan jarak kebun jagung saat panen jagung dengan rumah adat hasae batar mana’ik. 10. katar gatal, jika peserta hamis melanggar aturan badu ukunadat maka akan muncul kemerah-merahaan dan gatal di seluruhtubuhn. 11. Larandodok lunak, menggambarkan jagung yang di dalamnya sudah hancur 12. Taumatalet Menggambarkan bahwa tidak setiap saat makan jagung muda, hanya pada musim tertentu yaitu hamis jagung muda 13. Reis dekat, menggambarkan jarak tempat troman dengan rumah adat tempat hamis batar.jaraktempat ritual syukuran batartebe bei mau ke rumah adat dekat. 14. Los lurus, menggambarkan keadaan batang jagung 15. Badak Pendek, menggambarkan jenis jagung


127 Maria M. Namok Nahak No. Leksikon Adjektiva Makna 16. Nonok diam, menggambarkan keadaan atau situasi hening saat upacara ritual jagung di rumah adat 17. Naktesi patah, menggambarkan batang jagung yang patah karena hujan angina 18. Naruk Tinggi, menggambarkan jagung yang tinggi 19. Kiik Kecil, menggambarkan sifat bulir jagung kecil, biji jagung kecil. 20. Ma’ar Tebal, membuat filun ‘lemet’jagung 21. Nakfota Retak,memggambarkan jagung yang sudah 22. Nurak kecil, menggambarkan keadaan batang bambu, daun gadung, 23. Tuk tipis, menggambarkan keadaan batang bambu, sayatan daun gadung 24. Todan Berat, menggambarkan jagung yang dipikul berat 25. Naruk liu hotu Sanggat tinggi, menggambarkan jagung yang sudah tinggi 26. Manas Panas, menggambarkan cuaca panas 27. Udan Hujan, waktunya menanam benih jagung 28. Matak Mentah, menggambarkan jagung yang masih dalam keadaan mentah 29. Modok Kuning, menggabarkan jagung kuning 30. Mutin Putih jagung putih 31. Nakara Senang, menunjukkan hasil panenan jagung (batar) berlimpah 32. Meik Tajam/runcing, menuntukkan aisuak ‘alat yang digunakan untuk melubangi tanah’ 33. Tuk Tua, jagung yang sudah tua/sudah kering 34. Moris hidup, menunjukkan jagung yang sudah mulai tumbuh 35. Mate Mati, sebagian jagung yang mati/tidak hidup karena kurang air hujan 36. Los Lurus, jalan lurus tanpa belok melihat ke samping ketika membawa bahan sajian


128 No. Leksikon Adjektiva Makna 37. Wain Banyak, menggambarkan hasil panen berlimpah/banyak 38. Uit Sedikit, menggambarkan hasil panen tahun ini sedikit 39 Fini Bibit/benih jagung yang siap untuk ditanam 40. Mis Tawar, menggambar makanan yang tawar 41. Mer Asin, menggambarkan makanan yang asin 42. Monas Keras, mengambarkan jagung yang keras 43. Todan basuk sangat berat 44. Matenek liu sangat pintar 45. Naruk liu sangat panjang 46. Bot lais cepat besar 47. At lais cepat rusak 48. Naksira lais cepat robek 49. Isin ole lais liu mudah capek 50. Beo lais mudah pecah 51. Moras at mudah sakit 52. Dodok lais mudah rusak


12Maria M. Namok Nahak Tingkat Pemahaman Leksikon AdjektivaTeks Ke-batar-No. Leksikon Adjektiva Makna Bahasa Tetun Fehan Bahasa Latin (A 1. Bot Magna Besar 502. Fuhuk Obsolete Lapuk - 3. Tohar Contitum Patah 504. As/naruk Altum Tinggi 505. Kabuar Circum Bulat 6 6. Makur Oraclum Gerah 507. Kbit Fortis Kuat 508. Dok Tantum Jauh 509. Namamar Inutilis Kendur - 10. Katar Scabrosus Gatal 5011. Larandodok Molluscus Lunak 5012. Taumatalet Raro Jarang 5013. Reis Prope Dekat 5014. Kli’is Pavo muticus Miring - 17. Klos/los Recta Lurus 5018. Matenek Subtiliter Pintar 5019. Tun Humilis Rendah 50


29 -an Antargenerasi GTTF Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) B C D A B C D A B C D - - - 50 - - - 50 - - - - 7 43 30 - 14 6 44 3 1 2 - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 9 17 18 27 4 6 13 43 1 1 5 - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 10 - 40 36 - 7 3 39 3 6 2 - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 4 1 45 20 6 11 13 31 - 12 7 - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur


13No. Leksikon Adjektiva Makna Bahasa Tetun Fehan Bahasa Latin (A 20. Badak Be Pendek 5022. Nonok Cessabit Tenang 2 23. Sitlais Rumpitur mudah putus - 24. Naktesi Contritum Patah 1125. Kleuk Collis humiliabitur Bengkok 5026. Naruk Longus Panjang 5027. Kiik Tragulus Kecil 5028. Niis Spicae tenues Tipis 5029. Maar Densissima Tebal 5030. Nakfota Crack Retak - 31. Nurak Puer Muda 5032. Tuk Sense Tua 5034. Todan Pondus Berat 5035. Manas Zingiber Panas 5036. Malirin Frigus Dingin 5037. Lalan Calidum Hangat 1338. Kbit Fortis Kuat 1039. Makaas Accersitum Tegang 9 40. Sit Contritum Patah 3


30 Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) B C D A B C D A B C D - - - 50 - - - 50 - - - 6 20 22 31 9 7 3 41 7 2 - - - 50 16 12 2 10 45 - 5 - 9 10 20 22 5 16 7 40 7 3 - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - 24 26 25 4 9 12 39 2 9 - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 3 14 20 23 7 12 8 32 9 8 2 - 22 18 19 19 10 2 40 5 5 - 8 16 17 23 16 6 5 41 7 - 2 6 19 22 14 8 18 10 34 10 6 - Maria M. Namok Nahak


13No. Leksikon Adjektiva Makna Bahasa Tetun Fehan Bahasa Latin (A 41. Kman Lux Ringan - 42. Kole Fessi robore Lelah/cape 50Makur Iners Malas Madinas Industrii Rajin 43. Kroman Clara Terang 5044. Makukun Tenebris Gelap 5047. Kleuk Collis homily Bengkok - 48. Nakfuit Sonum sibili bunyi siulan - 49. Metis/metin Occurrens Rapat - 50. Nafota Crack Retak 1251. Klubuk Intellectu estis Tumpul 5052. Meik Acri Tajam 5054. Los Rectus Tegak - 55. Sitlais Rumpitur mudah putus 5056. Dokoan Imperium Goyang/Bergoyang - 57. Moras Ill Sakit 5058. Diak Sanus Sehat 5059. Isin mamar Mollis Lunak 5060. Nesan Libratum Seimbang 50


31 Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) B C D A B C D A B C D - - 50 27 - 2 23 33 1 14 2 - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - 2 48 24 6 4 16 30 3 13 4 5 17 28 21 7 12 10 31 - 16 3 - 29 21 25 4 9 12 39 2 9 - 2 17 19 20 5 15 10 46 3 1 - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 3 3 44 23 7 11 9 32 9 9 1 - - - 50 - - - 50 - - - - 20 30 21 15 10 4 40 5 - 5 - - - 50 - - - 50 - - - - - 50 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur


13No. Leksikon Adjektiva Makna Bahasa Tetun Fehan Bahasa Latin (A 61. Nonok Tacet Diam 5062. Nalon/halon Appeal bunyi berdzikir/ memohon - 63. Sorin karuk, sorin kwana Sinistra ut dextra ke kiri ke kanan 1064. Narukliu hotu Summa paling tinggi - 65. Dokodoko Vel gestation goyang-goyang 2066. Kananuk Fit sonitus,sonitus bunyi bersenandung 1467. Manas Calor Panas 5068 Udan Pluviam Hujan 5069 Viridi Hijau 5070 Modok Flavor Kuning 5071 Mutin Alba Putih 5072 Nakara Ipsum audite Senang 5073 Meik Gablet Runcing 5074 Tuk Sense Tua 5075 Moris Vivit Hidup 5076 Mate Mate Mati 5077 Los Recta Lurus 5078. Wain Multis Banyak 50


32 Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) B C D A B C D A B C D - - - 50 - - - 50 - - - - 2 48 50 - - 50 50 - - - - 22 18 32 3 12 3 50 - - - - 7 43 19 5 15 11 34 - 6 - - 15 25 50 - - - 50 - - - 2 16 18 30 3 7 10 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - -1 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - Maria M. Namok Nahak


13No. Leksikon Adjektiva Makna Bahasa Tetun Fehan Bahasa Latin (A 79. Uit Paulo Sedikit 5080. Metin Gravidus Lebat - 81 Wain Multis Banyak 5082. Kanek Vulnere Luka 5083. Kronak Lubricam Licin 1084. Kriit Viscosi Lengket 2285. Mutin Alba Putih 5086. Kwer Eleganter Rapi 2 87. Mos Clean Bersih 5088. Dor Sordidum Kotor 5089. Nakdulis Ventum Melilit 3 90. Metin Occurrens Rapat 9 91. Terus Patients estote Sabar 5092. Lais Ieiunium Cepat 5093. Kleur Tarda Lambat 3694. Maran Siccum Kering 5095. Bubuk Infectum Basah 5096. Buras Fertilis Subur 2


33 Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) B C D A B C D A B C D - - - 50 - - - 50 - - - - - 50 27 10 10 3 34 5 1 - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - 22 18 21 17 7 5 40 10 - - 4 14 10 19 19 10 2 40 8 2 - - - - 50 - - - 50 - - - 6 20 22 31 9 7 3 41 7 2 - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 6 19 22 14 8 18 10 34 10 6 - 13 15 13 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - 14 43 - 3 4 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 4 18 26 25 7 14 4 37 2 10 1 Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur


13No. Leksikon Adjektiva Makna Bahasa Tetun Fehan Bahasa Latin (A 97 Todan liu/ todan basuk/ todan tebes Taeder sangat berat 5098 Matenekbasuk Subtiliter sangat pintar/terampil, 5099 Naruk liu Longus sangat panjang 50100 Buras Fertilis Subur 32101 Tasak Maturescere Masak 29102 Faihedik Globosum Bose 25103 Sona Frixum Goring 50104 Beolais Frangibile mudah pecah 13105 Tein Coquus Rebus 50106 Namotuk Ambusti Hangus 50107 Fini Semen Benih - 108 Dodok lais Angibile Mudah rusak 17109 Tuk Sense Tua 110 Mis Saeclum insapiens Hambar 25111 Mer Sallietur Asin 50112 Monas Durum Keras 50113 Sin Patres mollem Kecut 50114 Makas/maran Siccum Kering 50


34 Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) B C D A B C D A B C D - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 9 7 2 50 - - - 50 - - - 11 1 9 50 - - - 50 - - - 13 9 3 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 16 13 16 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - 50 50 - - - 50 - - - - 20 15 32 - 6 2 40 7 2 1 5 10 10 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - Maria M. Namok Nahak


13No. Leksikon Adjektiva Makna Bahasa Tetun Fehan Bahasa Latin (A 115 Todan basuk Taedere Sangat berat 50116 Man liu Ipsum lumen Sangat ringan 50117 Matenek liu Subtiliter Sangat pintar 50118 Naruk liu Duitissime Sangat tinggi 50119 Bot lais Magna celeriter Cepat besar 45Keterangan: A. Tahu, kenal, dan masih sering digunakan B. Tahu, kenal, dan sudah jarang digunakan C. Tahu, kenal, dan sudah tidak pernah digunakan D. Sama sekali tidak tahu ataupun tidak kenal


35 Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) B C D A B C D A B C D - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - - - - 50 - - - 50 - - - 5 - 5 50 - - - 50 - - - Teks dan Ekoteks KE-BATAR-AN Masyarakat Malaka di Timor, Nusa Tenggara Timur


136 Secara terperinci tabel di atas menunjukkan pemahaman responden tentang leksikon yang diujikan, yaitu sebesar 46,4% (kurang) untuk responden usia 15-24 tahun; 67,3% (baik) untukresponden usia 25-45 tahun; dan sebesar 80% (sangat baik) untuk responden usia 46-65 tahun. Dari seluruh leksikon, ada beberapa leksikon yang paling susah untuk dikenali karena responden yang berusia remaja jarang mendengar dan menggunakan leksikon tersebutsehingga tidak terkonsep dalam benak penutur. Misalnya, leksikon- leksikon halon ‘memohon’,los ‘lurus’, fini ‘benih’ adalah leksikon yang bersifat spesifik atau khusus digunakan dalam istilah ke-bataran. E.Tingkat Pemahaman MetaforaAntargenerasi GTTF Haugen (1972) berupaya menggunakan analogi dari ekologi dan lingkungan dalam menciptakan metafora berupa metafora ekosistem yang ditujukan untuk menjelaskan hubungan dan interaksi bermacam-macam bentuk bahasa yang ada di dunia. Dalam bentuk metafora tersebut, Haugen membuat perbandingan antara ekologi dengan spesies hewan atau fauna dan tanaman atau flora, serta seluruh kandungan mineral yang berada di lingungan ekologi tersebut. Menurut Stibbe (2015), metafora (sejenis framing atau bingkai) menjelaskan tentang sebuah kisah atau cerita dengan menggunakan struktur yang berbeda dan jelas dari berbagai bidang kehidupan. Misalnya, kita dapat mengatakan bahwa metafora ‘pigs are machines’ ada di benak para manajer pabrik peternakan, manisfest sendiri sebagai bentuk penggunaan bahasa tertentu, dan memiliki dampak pada dunia, membenarkan bentuk pembingkaian binatang yang bersifat kejam dan merusak lingkungan. Kajian ekolinguistik adalah kajian yang berhubungan dengan bahasa dan lingkungannya.Dari kajian ini, leksikon-leksikon yang berhubungan dengan lingkungan alamiah dapat dikaji secara mendalam pada tataran leksikon dan juga pada tataran yang lebih jauh.Penelitian tentang ekolinguistik ke-batar-an ini juga mengkaji ungkapan metafora yang dibentuk dari leksikon-leksikon ke-batar-an yang telah dijelaskan.Oleh karena adanya interaksi, interelasi, dan interdependensi lingkungan dengan kehidupan sosial guyub tutur, ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan ke-batar-an muncul sebagai tanda bahwa lingkungan sangat memengaruhi kognisi penuturnya.Berikut adalah pemahaman informan mengenai ungkapanmetafora ke-batar-an yang ditemukan di Kabupaten Malaka, Timor yang disajikan dalam bentuk tabel.


13Tabel Tingkat Pemahaman MetaforNo. Metafora Ke-batar-an Makna 1 Batar nuu dalan maromak Jagung sumber Kehidupan 22 Hahalok nuu batar moris ai isin dei Jadilah seperti pohon jagung, hidup hanya sekali 33 Sura batar musan Menghitung biji jagung/memberi dengan meminta balasan 4 Batar hisa tali-talin, batar hisa kanaha-kanah Hasil panen berlimpah 3Keterangan: A. Tahu, kenal, dan masih sering digunakan B. Tahu, kenal, dan sudah jarang digunakan C. Tahu, kenal, dan sudah tidak pernah digunakan D. Sama sekali tidak tahu atau tidak kenal


37 raKe-batar-an Antargenerasi GTTF Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) A B C D A B C D A B C D 23 - 2 25 21 12 8 9 41 - 5 4 30 - 3 47 17 8 15 10 32 10 2 6 15 - - 25 28 1 9 12 39 2 9 - 36 - - 14 30 5 5 10 50 - - - Maria M. Namok Nahak


138 Grafik Tingkat Pemahaman Metafora Ke-batar-an GTTF Untuk mengetahui tingkat pemahaman responden mengenai ungkapan metaforis pertanian ke-batar-an, diujikan 4 ungkapan metaforis pada seluruh responden. Berdasarkan tabel 6.10, dapat diketahui secara terpernci mengenai pemahaman tentang ungkapan metaforis dan masing-masing dapat duraikan sebagai berikut. a. batar dalam maromak Jagung sumber kehidupan Ungkapan metaforis ini digunakan untuk menggambarkan bahwa jagung GTTF menjadikan batar tidak hanya menjadi makanan pokok bagisebagai media sehingga orang menjadi kenyang namun dibalik itu batar ‘jagung’ orang malaka, adalah nafas kehidupan mereka karena batar memiliki peran dan kontribusi yang dapat disumbangkan oleh pembudidayaan jagung di masa datang, jagung sejatinya dapat mengeluarkan massa rakyat NTT dari rantai lingkaransetan kemiskinan, yang tengah “mengungkung” masyarakat Malaka. Berdasarkan tabel 6.10, diketahui bahwa dari 50 responden usia 15-24 tahun, 46% atau 23 responden menjawab A, yaitu tahu, kenal, dan masih sering digunakan. Untuk responden usia 25-45 tahun, dari 50 responden, 42% atau 21 responden menjawab A, dan untuk responden usia 46-65 tahun, dari 50 responden, 82% atau 41 responden menjawab A. b. hahalok nu’u batar no fulin ai ida dei sifat seperti jagung ada berbuah hanya satu saja‘jadilah seperti pohon jagung berbuah hanya sekali’ Ungkapan metaforis ini digunakan untuk menggambarkan bahwa seseorang yang dimaksud memiliki dasar berpikir positif.B erpikir positif juga meningkatkan 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 81 52 55,5 48 18,5 20,5 13 Remaja Dewasa Tua 6 8 0 2,5 5 Sangat Paham Paham Cukup Paham Tidak Tahu


139 tingat kepuasan jiwa dan perasaan bahagia. Orang yang berpikir positif selalu melihat segala sesuatu darisisi positif sehingga bisa menikmati hidup lebih baik. Selain itu, orang yang bersyukur positif selalu berssyukur atas apa yang ada dimilikinya. Hal yang terpenting harus kita belajar dari tananam jagung ialah bahwa berpikiran positif dapat meningkatkan kualitas interaksi dengan orang lain. Diketahui bahwa dari 50 responden usia 15-24 tahun, 46% atau 23 responden menjawab A, yaitu tahu, kenal, dan masih sering digunakan. Untuk responden usia 25-45 tahun, dari 50 responden, 42% atau 31 responden menjawab A, dan untuk responden usia 46- 65 tahun, dari 50 responden, 82% atau 42 responden menjawab A. c. fo sasa ba ema sura nuu batar musan memberi apa-apa kepada orang selalu menghitung seperti biji jagung memberi dengan meminta balasan Ungkapan metaforis ini digunakan untuk menggambarkan bahwa seseorang yang dimaksud memiliki sifat memberi sambilmeminta balasan. Orang yang berharap imbalan yang lebih besar atau bisa dikatakan orang tersebut tidak memiliki niat tulus dalam hatinyauntuk memberi sedekah kepada orang lain. Berdasarkan tabel 6.10, diketahui bahwa dari 50 responden usia 15-24 tahun, 30% atau 15 responden menjawab A, yaitu tahu, kenal, dan masih sering digunakan. Untuk responden usia 25-45 tahun, dari 50 responden, 50% atau 25 responden menjawab A, dan untuk responden usia 46-65 tahun, dari 50 responden, 78% atau 39 responden menjawab A. d. batar mosan metin loos biji jagung rapat dan tertata rapi Ungkapan metaforis ini menggambarkan bahwa di dalam kehidupan dibutuhkan adanya keseimbangan hidup antara satu dengan yang lainnya.Misalnya, keseimbangan alam, keseimbangan manusia sebagai individu, dan keseimbangan manusia sebagai makhluk sosial.Leksikon batar musan metin yang menungkapkan pikiran manusia hendaknya tumbuh dan berkembang seperti biji jagung yang rapat dan tertata rapi.Jagung meunjukkan pemikiran orang hidup, yaitu harus dipelihara, disiram, begitu pemikiran manusia, senantiasa agar tumbh dan berkembang Dari sebiji jagung, dapat melahirkanratusan biji jika sudah berbuah. Berdasarkan table di atas menunujukkan bahwa dari 50 responden usia 15- 24 tahun, 30% atau 15 responden menjawab A, yaitu tahu, kenal, dan masih sering digunakan. Untuk responden usia 25-45 tahun, dari 50 responden, 50% atau 25 responden menjawab A, dan untuk responden usia 46-65 tahun, dari 50 responden, 78% atau 39 responden menjawab A. e. batar hisa tali-tali, batar kanaha-kanaha jagung gantung tali, jagung keranjang dari anyaman lontar ‘hasil panen berlimpah-limpah’


140 Ungkapan metaforis ini juga menggambarkan keseimbanganhidup. Leksikon tali, kanahayang digunakan dalam ungkapan ini berkaitan dengan alat yang digunakan untuk menyimpan jagung disimpan/digantung di dalam loteng rumah GTTF. Orang yang memiliki hasil panen yang berlimpah tidak akan mengalami kelaparan sepanjang tahun. Hal ini bisa dibuktikan jika kita memasukirumah petani jagung di dalam rumah mereka terdapat hasil panen berupa jagung yang bergantungan dan di simpan dalam kanaha ‘keranjang’ anyaman dari daun lontar alat untuk menyimpan jagung’oleh petani jagung di Malaka. Orang tersebut dijamin tidak akan mengalami kelaparan seperti orang lain, Karena orang tersebut cukuppersedian bahan pangan yaitu batar ‘jagung’. Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dari 50 responden usia 15-24 tahun, 72% atau 36 responden menjawab A, yaitu tahu, kenal, dan masih sering digunakan. Untuk responden usia 25-45 tahun, dari 50 responden, 60% atau 30 responden menjawab A, dan untuk responden usia 46-65 tahun, dari 50 responden, 100% atau 50 responden menjawab A. Dari hasil analisis data, dapat diketahui secara terperinci mengenai pemahaman responden tentang ungkapan metaforis yang diujikan, yaitu sebesar 11.2% (sangat kurang) untuk responden usia 15-24 tahun; 6.6% (paham) untuk responden usia 25-45 tahun; dan sebesar 80.3% (sangat paham) untuk responden usia 46-65 tahun. Putusnya transmisi pengetahuan generasi pendahulu ke generasi berikutnya mengenai ungkapan metaforis yang berkaitan erat dengan pertanian kebatar-an, dapat dilihat dari rendahnya persentase pemahaman, khususnya yang dimiliki oleh generasi muda. F. Tingkat Pemahaman Badu ‘Pemali’ Antargenerasi GTTF Etnik Malaka merupakan salah satu suku bangsa yang mendiami Pulau Timor.Dalam sosio-kultural, Etnik Malaka merupakan salah satu suku bangsa yang memiliki aneka ragam budaya.Salah satu produk budaya yang memiliki peran yang sangat tinggi ialah bahasa.Bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi orang Malaka ialah liafuan Tetun ‘bahasa Tetun Fehan (BTF)’.Bahasa Tetun Fehan dipakai dalam berbagai keperluan.Di antaranya, BTF dipakai dalam komunikasi luas, BTF dipakai dalam konteks adat-istiadat; BTF dipakai dalam upacara keagamaan, upacara ritual, dan BTF dipakai dalam dunia pendidikan keluarga. Fungsi bahasa Tetun dalam pendidikan keluarga, misalnya, liafuan ‘nasihat’, ukun ‘perintah’, hanorin ‘ajaran’, hato’o ‘penyampaian’, makoan ‘petuah’, dan badu ‘pemali’. Dari fungsi yang disebutkan di atas, salah satu fungsi yang diungkap dan dianalisis lebih mendalam, yakni badu yang terdapat dilingkungan ke-batar-an. badu pada jamannya sulit atau berat untuk dilanggar oleh masyarakat pendukungnya. Badu ‘pemali’ merupakan ungkapan bertuah bernilai magis, sehingga orang takut melanggarnya. Ketakutan ini muncul karena ada dampak empirisnya.Adanya interaksi, interelasi, dan interdependensi lingkungan dengan kehidupan sosial guyub tutur,


141 ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan ke-batar-an muncul sebagai tanda bahwa lingkungan sangat memengaruhi kognisi penuturnya.Berikut adalah pemahaman responden dan beberapa ungkapan pemali ke-batar-an yang ditemukan di pulau Timor, Malaka yang disajikan dalam bentuk tabel.


Tabel Tingkat Pemahaman Ungkapan Badu (Pemali)Ke-baNo. Ungkapan Pamali Ke-batar-an Makna 1. Badu soi batar tasak Larangan makan jagung/memanen jagung muda sebelum diritualkan di tempat troman untuk disajikan kepada arwah, leluhur dan diantar ke rumah ibadah (gereja) untuk mendapatkan berkat pastor 2 badu ha batar iha loron hamis hodi bikan fatuk Larangan keras bagi peserta ritual hamis batar menggunakan piring kaca pada saat upacara makan ritual 3 Badu hakfuit no hakrake iha fatin hasae lulik Larangan bersiul di tempat upacara ritual jagung Keterangan: A. Tahu, kenal, dan masih sering digunakan B. Tahu, kenal, dan sudah jarang digunakan C. Tahu, kenal, dan sudah tidak pernah digunakan D. Sama sekali tidak tahu atau tidak kenal


atar-an Antargenerasi GTTF Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) A B C D A B C D A B C D 18 - - 32 27 - 12 11 50 - - - 9 - 26 15 28 13 2 7 50 - - - 7 - 23 20 24 3 13 10 40 6 - 4


143 Grafik Pemahaman Badu (Pemali) Ke-batar-an GTTF Guyub tutur Tetun Fehanpada jaman dahulu, mendidik anak umumnya melalui bahasa seperti ungkapan badu, nasihat, atau petuah. Pendidikan karakter melalui ungkapan badu dapat dilakukan oleh siapapun, baik sesama anak, remaja dengan anak, dewasa dengan remaja, remaja dengan remaja, maupun orang tua dengan orang tua. Dalam hubungannya dengan ke-batar-an, guyub tutur Tetun Fehan memandang ritual bataritu sebagai bentuk pendekatan diri dan rasa syukur kepada Tuhan, arwah dan para leluhur. a. Badu so’i batar tasak seidauk hamis Larang petik jagung muda belum tawar ‘dilarang makan jagung muda sebelum diritualkan’ Badusoi batar btasak merupakan larangan makan jagung muda dan larangan tidak boleh membawa jagung muda memasuki perkampungan adat sebelum larangan dicabut. Sebalum 1 hari melakukan ritual hamis seluruh suku-suku yang ada di kampung adat Manliman, Leoklaran, Umamalae, Klotlaran, dan Lawalu, dilarang membuat pesta sukacita, dan atau acara lainnya seperti lepas kain hitam (koremetan). Apalagi membuat keributan/kasakusuk di dalam area perkampungan Kamanasa sangat dilarang keras. Hal ini, karenasemua warga masyarakat Kamanasa diharapkan mematuhi pasal- pasal Ukun Badu (Peraturan Larangan) yang sudah disepakati masing-masing suku adat. Ungkapan badu soi batar sebelum pesta makan jagung mudabersama, tujuannya untuk mengenang nama Bei Mau-Bei Bui. Momentum sakral habot liurai kroman no kukun (memuliakan raja yang berkuasa dan memuliakan Leluhur Liurai yang diyakini mendiami uma bot Liurai ) sekaligus mengenang para leluhur dan diyakini sebagai leluhur pertama adalah Bei Mau dan Bei Bui. Bei Mau dan Bei Bui adalah nama leluhur sebagai sepasang suami-istri, menurut legenda, pada zaman dahulu, relasi manusia dan 80 70 60 50 40 30 20 10 0 70 39,5 33,5 24,5 17 13,5 14 Remaja Dewasa Tua 8 0 3 0 2 Sangat Paham Paham Cukup Paham Tidak Tahu


144 Tuhan sangat dekat. Selain Tebe, ada ritual-ritual yang dilakukan di sela waktu tiga hari tiga malam pesta adat itu. Ungkapan badusoi batar ini lebih menekankan pada keseimbangan dalam hidup ini agar tidak berat sebelah sehingga tercipta ketenangan hidup menuju kebahagiaan yang berdimensi ideologis, sosiologis, dan biologis. Berdasarkan tabel 4.11, diketahui bahwa dari 50 responden usia 15-24 tahun, 36% atau 18 responden menjawab A, yaitu tahu, kenal, dan masih sering digunakan. Untuk responden usia 25-45 tahun, dari 50 responden, 54% atau 27 responden menjawab A, dan untuk responden usia 46-65 tahun, dari 50 responden, 76% atau 38 responden menjawab A. b. badu ha batar iha loron hamis hodi bikan fatuk Ungkapan badu ha batar iha loron hamis hodi bikan fatuk ‘pemali makan jagung pada saat ritual hamis menggunakan piring kaca’ karena diyakini bendabenda peninggalan terbuat dari bahan baku yang bernilai historis yang tinggi. Benda-benda budaya peninggalan nenek moyang etnis Malaka sampai sekarang masih terus dipertahankan.Misalnya etnis Malaka memasak menggunakan periuk dari tanah liat.Misalnya tempat untuk menyimpan air, menyimpan jagung, memasak hingga piring.Hal ini menunjukkan tanda ikatan kekeluargaan Makan menggunakan piring dari tanah liat atau memasak dari tanah liat melalui pesta budaya yaitu syukuran panen hasil jagung.Pesta budaya ini menunujukan ikatan persaudaraan atau sebagai simbol tali persaudaraan. Ungkapan badu ini menyiratkan bahwa jika ada yang melanggar maka yang bersangkutan akan mendapat kutukan dari arwah, leluhur nenek moyang dan bisa berakibat fatal misalnya orang itu akan mendapat musibah atau jatuh sakit. Perbuatan tersebut dianggap melanggar aturan adat ukun badu ‘perintah larangan’. c. Badu oras loron hamis batar la bele hakfuit, hakrakae iha leolaran Larangan hari saat makan jagung tidak boleh bersiul, berteriak ada kampong ‘Pemali keras bersiul, berteriak-teriak di dalam kampong pada saat ritual hamis batar’ Ungkapan badu iha loron hamis batar labele hakfuit, hakrake iha leolaran jika dilangkahi maka orang tersebut tak lama lagi akan dimasuki roh halus yang menguasai diri orang itu (kesurupan). Selain itu, baduini juga mengingatkan kepada GTF agar lebih menjaga adat sopan santun karena kepercayaan etnis Malaka sangat kuat, hubungan personal antara masyarakat Berdasarkan tabel 4.11, diketahui bahwa dari 50 responden usia 15-24 tahun, 30% atau 15 responden menjawab A, yaitu tahu, kenal, dan masih sering digunakan. Untuk responden usia 25-45 tahun, dari 50 responden, 66% atau 33 responden menjawab A, dan untuk responden usia 46-65 tahun, dari 50 responden, 100% menjawab A.


145 Ungkapan Oa feto labele tur iha odatan rae ‘pemalianak perempuan atau gadis duduk di depan pintu karena dikwatirkan ada makluh halus yang lewati pintu tersebut dan akan jatuh sakit. Baduini menggambarkan betapa kuatnya kepercayaan pada hal yang gaib; terutama kepercayaan adanya kehidupan sesudah mati. Selain itu juga, guyub tutur Malaka juga percaya adanya susar‘musibah’ yang akan menimpa bila mereka akibat mengabaikan ritual. Badu ini mengajarkan untuk selalu melakukan kebaikan di dunia karena apa yang dikerjakan di dunia, ganjarannya akan diperoleh juga di akhiratkelak. Berdasarkan tabel 6.11, diketahui bahwa dari 50 responden usia 15-24 tahun, 64% atau 32 responden menjawab D, yaitu sama sekali tidak tahu atau tidak kenal. Untuk responden usia 25-45 tahun, dari 50 responden, 10% atau 4 responden menjawab D, dan untuk responden usia 46-65 tahun, dari 50 responden, 2% atau hanya 1 responden menjawab D. Dari hasil analisis data, secara keseluruhan dapat diketahui persentase rata-rata antargenerasi mengenai pemhaman terhadap ungkapan badu ‘pemali’di lingkungan ke-batar-an, yaitu sebesar14% (sangat kurang) untuk responden kelompok usia 15-24 tahun; 39.5% (kurang) untuk responden usia 25-45 tahun; dan 70% (sangat baik) untuk responden usia 46-65 tahun.Rendahnya tingkat pemahaman kelompok usia responden remaja disebabkan oleh rendahnya interaksi, interelasi, dan interdependensi terhadap lingkungan alam dan keberadaan ke-batar-anitu sendiri. G. Tingkat Pemahaman Mitos ke-batar-anAntargenerasi GTTF Ekolinguistik merupakan ilmu yang tidak hanya membahas mengenai leksikon-leksikon yang brhubugan dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial, tetapi juga berhubungan dengan mitos yang muncul di antara guyub tuturnya.Pada dasarnya, mitos yang terdapat dalam guyub tutur disampaikan dengan menggunakan bahasa. Oleh karena itu, mitos dapat dianalisis dari perspektif linguistik. Di pulau Timor, interaksi dan interelasi budaya yang ada di antara guyub tutur dengan lingkungan ke-batar-an menghasilkan mitos-mitos yang berkaitan dengan lingkungan tersebut. Ke-batar-antelah dkenal oleh GTF sejak guyub tutur ke-batar-an memiliki kedekatan khusus dengan mitos yang ada sehingga menjadi pengetahuan bagi guyub tuturnya, baik kekayaan informasi maupun kekayaan ke-batar-an leksikon di dalam pikiran guyub tutur bahasa Tetun lingkungan ke-batar-an. Adapun pengetahuan guyub tutur terhadap beberapa mitos ke-batar-an yang telah melekat pada lingkungan kebatar-an dalam guyub tutur Tetun Fehan itu disajikan dalam tabel berikut.


Tabel Tingkat Pemahaman Mitos No. Mitos batar (TF) Makna Bahasa Latin (BL) Bahasa Indonesia (BI) 1. Felu Nuak no Nita Nuak Fabulas de Felu Nuak and Bita Nuak Kisah Felu Nuak dan BiNuak 2. Bei Lafaek Crocodilis ad originem Kisah tentang asal mubuaya keterangan: A. Tahu, kenal, dan masih sering dituturkan B. Tahu, kenal, dan sudah jarang dituturkan C. Tahu, kenal, dan sudah tidak pernah dituturkan D. Sama sekali tidak tahu atau tidak kenal


Ke-batar-an Antargenerasi GTTF Tingkat Pemahaman Responden Remaja (15-24 th) Dewasa (25-45 th) Tua (46-65 th) A B C D A B C D A B C D ita 35 5 - 10 50 - - - 50 - - - ula 50 - - 10 50 - - - 50 - - -


147 Grafik Pemahaman Mitos Ke-batar-an antargenerasi GTTF Berdasarkan pada tabel 6.12 dapat diketahui bahwa mitos Felu Nuak no Bita Nuak atau asal mula bataradalah mitos yang cukup diketahui oleh ketiga kelompok responden. Kenyataan tersebut dapatdilihat pada persentase yang muncul, yaitu 54% diketahui oleh responden usia 15-24 tahun; 82% diketahui oleh responden usia 25- 45 tahun; dan 100% diketahui oleh responden usia 46-65 tahun. Hal tersebut terjadi karena guyub tutur Malaka berpendapat bahwa Felu Nuak no Bita Nuak dianggap sebagai catatan sejarah dianggap sakrak walupun belum dituliskan. Namun, GTTFmasih sangat percaya bahwa Felu Nuak no Bita Nuak adalah sebuah legenda yang menggambarkan asal mula penyebaran benih jagung di Kabupaten Malaka jaman dahulu. Kognitif penutur dibedakan menjadi tiga bagian berdasarkan perbedaan pendistribusiannya dalam populasi (Casson, 1981:20), yaitu pendistribusian universal, idiosinkresi (idiosyncratic), dan kultural. Skemata universal adalah basis pengorganisasian informasi yang dimiliki dan diketahui semua orang. Sebagai contoh struktur dan proses persepsi, memori, bahasa sebagai intuisi (innate faculties ofthe mind) alami dalam pikiran setiap orang. Pendistribusian skemata idiosinkresi (idiosyncratic) pada individu tertentu bersifat unik misalnya mengingat nama, tanggal, nomor telepon. Struktur perkembangan kebiasaan mengatur rutinitas, dan ide, serta kepercayaan yang dimiliki adalah hasil dari pengalaman unik penutur. Berbeda dengan kedua skemata sebelumnya, skemata kultural merupakan skemata yang pendistribusiannya terjadi pada anggota masyarakat tertentu. Sebagai contoh, system pengklasifikasian tanaman, hewan, benda, prosedur pendiagnosisan sakit dan penyakit, strategi pembentukan keputusan hukum dan aturan-aturan yang mengarah pada kegiatan kultural secara spesifik dimiliki dan diketahui anggota masyarakat tertentu tersebut. Casson (1981:20-21) mengatakan bahwa skemata linguistik merupakan bagian atau subset dari skemata kultural yang mengandung pengetahuan-pengetahuan hasil interaksi guyub tutur yang dapat dikodekan secara 120 100 100 100 85 80 60 Remaja Dewasa 40 20 Tua 20 5 0 0 0 0 0 0 0 0 Sangat Paham Paham Cukup Tidak Tahu Paham


148 lingual dan kebudayaan. Skemata kultural tersebut menjadi acuan tingkah laku baik dalam berbicara maupun dalam bertindak. Selain itu, skemata kultural dapat direpresentasikan oleh skemata linguistic karena skema itu dapat dikodekan secara lingual dalam bentuk konstruksi kultural, sedangkan dalam bentuk prinsip tidak mudah diverbalkan tetapi terjadi secara tidak sadar acuan dalambertindak bagi anggota guyub tutur tertentu tersebut, seperti dalam kutipan berikut. “Many culturals chemataare orcanbe represented by linguistic schemata. Constructs for identifying and classifying plants, kinsmen, diseases, andevents, forexample, aregenerally encoded in words, and principles fordiagnosing illnesses, for postmarital residence, for descent group membership, and for arithmetical calculation and logical reasoningare oftenovertly verbalizable. Cultural constructs are frequently covert, and cultural principlesare often difficultor impossible to express in language, out of the individual’s awareness even though they guide his orher behavior.” Skemata kultural mengandung informasi kebudayaan yang menghubungkan pikiran manusia dan ranah kultural terlihat jikakebudayaan dipandang sebagai sistem struktural. Lévi-Strauss (dalam Casson, 1981:47) memandang kebudayaan sebagai sistem simbolik yang merupakan akumulasi dari kreasi pikiran, hasil elaborasi kultural dari pikiran utama seperti dalam struktur ranah budaya padamitos, seni, kekerabatan, dan bahasa. Melalui paparan tersebut dapatdisimpulkan bahwa banyaknya mitos yang ada dikomunitas tertentu merupakan hasil kreasi pikiran manusia dan menjadi kebudayaan yang mengacu pada pengalaman masa lampau dan menjadi acuan untuk menghadapi pengalaman-pengalaman yang akan ditemui padamasa mendatang. Dister (1982:32:33 dalam Daeng 2000:81), mengatakan bahwa kerangka acuan mitos membuat manusia berorientasi dalam kehidupan, sehingga mengetahui asal usul kehidupan. Jadi, mitos menjadi pegangan hidup. Mitos juga dapat dianalisis melalui perspektif linguistic karena dalam penyampaian pesan-pesan, mitos guyub tutur menggunakan bahasa sebagai sarana berkomunikasi antar anggota guyub tutur (Levi-Strauss, 2001). Seperti halnya bahasa, mitos juga terbentuk dari unit-unit pembentuk, kendati dalam tataran yang lebih kompleks yang disebut ceriteme (mythemes). Unit-unit pembentuk yang disebut ceriteme atau unit terkecil dari cerita dikumpulkan untuk mengetahui kedudukan ceriteme pada posisi simbol dan tanda dan pada akhirnya dapat membantu untuk mengetahui makna mitos keseluruhan (Levi-Strauss, 2001). Mitos hidup dalam lingkungan masyarakat tertentu dengan symbol tetentu pula yang membuka jalan untuk menghayati mitos- mitos tersebut dan hanya dimengerti jika hidup dalam lingkungan masyarakat tertentu tersebut. Geertz (dalam Casson, 1981:48) memandang kebudayaan sebagai sistem simbol patau semiotik. Dengan demikian, memahami mitos berarti mempelajari kebudayaan, selain juga mempelajari makna kode yang didistribusikan secarasosial.


Click to View FlipBook Version