The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tewasnya Gagak Hitam (Misteri Pertama) (Sidik Nugroho)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-05-31 09:39:34

Tewasnya Gagak Hitam

Tewasnya Gagak Hitam (Misteri Pertama) (Sidik Nugroho)

http://facebook.com/indonesiapustaka Pengarang tewas gantung diri
Pelukis berupaya menyingkap misteri

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta

Ketentuan Pidana:
Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan

perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal
49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-
masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit
Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama
7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelang-
garan hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

http://facebook.com/indonesiapustaka Sidik Nugroho

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta

http://facebook.com/indonesiapustaka TEWASNYA GAGAK HITAM
oleh Sidik Nugroho
616 1 75 001

© Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Gedung Kompas Gramedia Blok 1, Lt.5
Jl. Palmerah Barat 29–37, Jakarta 10270

Desain Sampul: Wahyu Widodo
Diterbitkan pertama kali oleh

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
anggota IKAPI, Jakarta, 2016

www.gramediapustakautama.com
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

ISBN: 978 - 602 - 03 - 2429 - 6
248 hlm; 18 cm

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab Percetakan

Untuk Teguh Adi Prasetyo, adik saya yang menyukai cerita-
cerita seru, dan mendengarkan beberapa penggalan cerita ini

saat saya menulisnya.

Juga untuk Albert Lutano, teman yang selalu setia menemani
jalan-jalan bila saya ke Jakarta.

Dan Syah Rinto, kawan seperjuangan yang menyukai misteri
dan dunia gaib.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka 1

”PengARAng Tewas gantung Diri”. Itu salah satu

judul berita koran Pontianak Post pagi itu, Minggu,
16 November 2014. Seketika, kantuk Elang lenyap.

Pengarang! Seingatnya, baru ibu rumah tangga,
pejabat, atau penjahat yang melakukannya. Baru kali
ini ia membaca berita tentang pengarang bunuh
diri.

Demi Tuhan, pengarang!
”Mas, kopinya,” kata pelayan sambil meletakkan
segelas kopi di atas meja di depan Elang. Masih pagi,
hanya Elang pengunjung di situ.
Elang terus membaca, tak menggubris si pelayan.
Sesekali ia menggeleng, masih tidak percaya dengan
berita yang terpampang. Jempol dan telunjuk tangan
kanannya bergerak cepat mengelus lembar koran. Abu
rokok yang terselip di jari tengah dan telunjuk kanan­

7

http://facebook.com/indonesiapustaka nya sudah sangat panjang—rokok itu disulutnya se­
belum pergi ke warung kopi, hampir habis.

”Berita apa, Mas Elang?” sapa si pelayan sambil
mendekatinya. Elang baru saja selesai membaca. Ia
merenung sambil melihat jalan, mengisap lagi rokok­
nya dan mengembuskan asapnya perlahan dari hi­
dung.

Elang menggeser koran di meja, menggerakkan
alisnya kepada si pelayan. ”Bacalah,” katanya sambil
mengacungkan jari tengah dan telunjuknya yang
mengapit rokok ke judul berita itu. Ia membuang
puntung ke lantai, mematikan bara rokok dengan
sandalnya.

Si pelayan duduk di hadapan Elang, matanya se­
ketika menyipit, dahinya berkerut. ”Pengarang?” gu­
mamnya, nyaris tak terdengar.

”Dunia ini makin gila, benar­benar gila!” kata Elang
sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.
Ia mendesah panjang, menyalakan korek api untuk
membakar rokok yang dijepit bibirnya. Ia jadi lebih
sering merokok bila berpikir keras.

”Jadi, cuma begini beritanya? Pengarang gantung
diri—selesai? Bahkan, tidak ada buku karangannya
yang disebutkan. Hanya lokasi, perkiraan waktu bu­
nuh diri, orang yang menemukan, dan...,” ucap si
pelayan sambil membaca sekilas berita itu, ”beberapa
penjelasan yang sangat sedikit. Aku jadi penasaran,”
imbuhnya kemudian.

”Mungkin masih dalam penyelidikan, Mas Hanif.

8

http://facebook.com/indonesiapustaka Keterangan lainnya bisa menyusul. Tapi, kukira tidak
banyak yang tertarik dengan berita ini. Pengarang itu
bukan Andrea Hirata, Raditya Dika, atau Mario
Teguh. Jelas, namanya itu samaran—Gagak Hitam.”

”Gagak Hitam,” gumam Hanif si pelayan sambil
mengerutkan dahi. ”Kenapa pengarang ini menggu­
nakan nama burung?”

”Mungkin karena dia ingin melepaskan diri dari
tanggung jawab moral atas karya­karyanya. Atau, dia
mengarang sesuatu yang bisa saja mengancam dirinya
kalau menggunakan nama asli.”

”Seperti ninja, begitu?”
Elang tersenyum kecil. ”Mungkin dia ninja.”
Hanif tersenyum lemah, melipat koran, dan ber­
tanya, ”Omong­omong, bagaimana lukisan terakhir?
Sudah selesai digarap?”
”Dua hari lalu selesai, Mas Hanif. Sekarang masih
santai dulu. Mungkin beberapa hari atau minggu ke
depan mau rileks sejenak, cari suasana baru.”
Hanif mengangguk. ”Enak ya jadi pelukis. Aku
selalu penasaran dengan cara hidup para seniman.”
”Ah, biasa saja,” kata Elang sambil mengibaskan
tangan. Wajahnya yang tadi tersenyum berubah serius
usai melihat Hanif merengut. ”Tapi, aku tidak ber­
maksud merendahkan anggapanmu bahwa kami he­
bat. Ya, memang banyak yang mengira kami hebat.
Kami pun kadang merasa hebat, harus kuakui. Tapi,
setelah dijalani, ya... sebenarnya biasa saja. Mungkin
kami hebat karena... kami mencipta.”

9

http://facebook.com/indonesiapustaka Hanif melirik koran. ”Pengarang juga mencipta,”
katanya pelan.

”Apakah dia stres, Mas Hanif?” tanya Elang dengan
tatapan kosong ke arah jalan. ”Apakah dia sedang
bingung dengan karya yang tidak selesai? Atau lain­
nya?”

”Mas Elang yang lebih tahu. Kalian sama­sama
mencipta, kan?”

”Aku pernah mendengar, seorang pengarang begitu
bersemangat menulis saat dia baru saja memulai
ceritanya, atau akan segera mengakhirinya. Kuduga,
pengarang ini sedang melalui proses menulis cerita
yang berat baginya.”

”Menggarap bagian tengah cerita?”
Elang mengangguk mantap. ”Mungkin seperti itu.
Kuduga kuat seperti itu—kalau tidak ada tekanan dari
luar seperti masalah keluarga, ekonomi, dan sebagai­
nya.”
”Penyebab lain?”
”Kesepian. Ide. Imajinasi. Tokoh­tokoh yang dia
ciptakan. Banyak sekali. Seorang pengarang konon
mudah mengalami kelainan.”
”Kelainan?”
”Namanya bipolar, kalau tidak salah. Semacam
gangguan emosi yang terlalu ekstrem.”
”Korslet?”
Elang terbahak. ”Mungkin begitu, Mas Hanif.”
Pengunjung lain datang ke warung kopi. ”Ninja

10

http://facebook.com/indonesiapustaka yang pikirannya korslet—Mas Elang, betapa polisi akan
kelimpungan mencari jati diri penulis ini!” balas
Hanif sambil menggeleng beberapa kali, lalu mening­
galkannya.

Ponsel Elang bergetar, sebuah pesan pendek
masuk: Terima kasih untuk semalam, Mas. Besok aku ke
Singkawang, mau ikut?

Dari Irin, kekasih gelapnya. Elang pun seketika ter­
ingat akan percumbuan mereka semalam di Hotel
Borneo, Jalan Merdeka. Benar­benar menyenangkan.

Elang membalas: Sama-sama. Terima kasih untuk
malam yang menyenangkan. Kamu ke Singkawang sama
siapa?

Tak lama kemudian Irin menelepon. ”Uh, Mas
ini,” katanya begitu Elang mengangkat telepon.

Elang cekikikan, memandang jalan sambil mende­
sah panjang. ”Kamunya sih... genit banget semalam!
Oh ya, sama siapa besok ke Singkawang?”

”Sama...,” Irin terdengar ragu­ragu melanjutkan,
”suami dan anak­anak sih. Tapi, bisa diatur kok. Kita
bisa ketemuan kalau Mas mau ke sana.”

”Nggak enak ah. Nanti mengganggu acara keluarga­
mu.”

”Iya sih... tapi aku bakal bosan di sana. Mungkin
sampai anak­anak terima rapor, sekitar pertengahan
Desember, aku di Singkawang.”

”Setelah itu?”
”Ke Jakarta, sampai tahun baru. Tahun depan baru
balik lagi ke Pontianak.”

11

http://facebook.com/indonesiapustaka Elang berkata bahwa ia mungkin akan pergi ke
Singkawang jika memungkinkan. Saat mengatakannya,
ia teringat berita yang dibacanya. Pengarang itu, ia
bunuh diri di sebuah kos di Singkawang.

Irin bertemu Elang pertama kali pada acara kebuda­
yaan yang diadakan di Taman Budaya, Pontianak,
November 2012. Pada acara itu Elang diminta mem­
baca puisi oleh pembawa acara. Setelah membaca
puisi, sang pembawa acara memperkenalkan Elang
kepada seluruh hadirin, bahwa ia ”seorang pelukis
hebat yang mahir menggoreskan kuas cinta pada
kehidupan”. Masih ingat benar ia pada kata­kata
itu—sungguh hiperbolis, tapi menyenangkan dipuji
demikian.

Selesai acara, Irin menghampiri Elang, menanyakan
apakah ia boleh melihat­lihat lukisannya. ”Saya ingin
membeli lukisan untuk rumah baru saya,” katanya.
Elang suka melihat pembawaan Irin yang rileks dan
lincah, bicaranya pun lancar. Ia tampak anggun me­
ngenakan rok selutut dan kemeja garis­garis. Mereka
pun bertukar kontak.

Seminggu setelah acara itu, Irin mampir ke rumah
Elang yang berada di wilayah Kota Baru. Irin ber­
pakaian lebih santai, mengenakan celana pendek dan
kaus oblong. Penampilannya tampak segar, menun­
jukkan bahwa ia merawat kulitnya. Ia memperkenalkan
diri lebih jauh sebagai manajer perusahaan travel

12

http://facebook.com/indonesiapustaka milik suaminya. Travel itu menyediakan jasa angkut
penumpang maupun barang dari Pontianak ke Sing­
kawang dan sebaliknya.

Irin bercerita bahwa suaminya sibuk mengelola
beberapa perusahaan. Selain travel, suaminya memiliki
ratusan hektar lahan sawit di Sekadau dan Sintang,
serta memiliki beberapa kios dan toko yang menjual
pakaian di Singkawang. ”Jadi, saya kadang di Pon­
tianak, kadang di Singkawang. Sering mondar­man­
dir,” kisahnya.

Irin takjub melihat lukisan­lukisan Elang. Matanya
membelalak ketika melihat beberapa lukisan wanita
telanjang di sebuah ruangan yang pintunya sedikit
terbuka.

”Boleh melihat lukisan­lukisan di situ, Pak?” tanya
Irin sambil mengacungkan telunjuk ke ruangan itu.

Elang mengangkat alis. ”Tertarik?”
”Mungkin,” kata Irin sambil membuang muka,
menghindari tatapan Elang. Di mata Elang, gerakan
kepala Irin mewakili rasa penasarannya.
Elang pun berdeham kecil, membuka pintu ruang­
an itu lebih lebar. ”Silakan,” katanya sambil sedikit
membungkuk.
”Apakah... semua lukisan ini... ada modelnya, Pak?
Maksud saya, lukisan­lukisan ini dibuat benar­benar
berdasarkan...” Irin bingung melanjutkan pertanyaan­
nya.
”Saya tahu maksud Anda, Ibu Irin. Ya, ada yang

13

http://facebook.com/indonesiapustaka dibuat berdasarkan model, ada yang imajinatif,” jawab
Elang.

Irin mengangguk beberapa kali, lalu memperhatikan
sebuah lukisan. Sepasang matanya menatap wanita
dalam lukisan itu. Elang menutup mata beberapa
detik, menahan tawa.

Setelah melihat­lihat lukisan itu, Irin meminta
Elang membuatkannya lukisan. Awalnya lukisan
pemandangan, lalu taman, lalu lukisan dirinya yang...
juga tanpa busana. Saat melukis, Elang pun makin
terpana dengan kulit kuning langsatnya yang begitu
mulus dari kepala hingga kaki. Sambil melukis, Elang
pun mendengar cerita Irin tentang suaminya yang ia
dengar memiliki istri simpanan di beberapa tempat.
Irin sudah beranak dua, itu yang membuat pinggangnya
tampak sedikit lebar, tapi payudaranya masih kencang.
Anaknya yang pertama kelas 2 SD, yang kedua
berumur tiga tahun. ”Umurku 35 tahun, tapi sering
dikira orang di bawah tiga puluh tahun lho, Mas,”
katanya—ia tak lagi memanggil ”Pak”.

Bulan demi bulan berlalu, hubungan mereka ma­
kin lama makin akrab. Dari Taman Budaya ke rumah
kontrakan Elang. Dari rumah kontrakan ke kamar­
kamar hotel.

”Jangan takut, Irin. Kamu juga akan kusimpan.
Mungkin bukan sebagai kekasih, melainkan keindah­
an. Keindahan dalam hati,” kata Elang saat menye­
lesaikan lukisan Irin tanpa sedikit pun benang yang

14

http://facebook.com/indonesiapustaka melekat di tubuhnya, dan Irin berjanji menyimpan
lukisan itu di kamarnya.

15

http://facebook.com/indonesiapustaka 2

SElASA, 18 November 2014. Elang merenung di ka­

mar, menatap langit­langit. Ia baru makan, hendak
tidur siang. Selama dua hari terakhir ia tak memiliki
ide membuat lukisan baru. Berita bunuh diri itu
sering terlintas di pikirannya. Ia merasa, misteri mirip
inspirasi: datang tanpa permisi, menawan pikiran
berhari­hari. Ketika hampir terlelap, ponselnya ber­
bunyi. Ada pesan yang ia terima dari seorang pembeli.
Seketika, pesan itu melenyapkan kantuknya. Uang
lima juta rupiah baru saja dikirim ke rekeningnya, si
pembeli akan mengambil lukisan pesanannya nanti
malam.

Elang bangkit, menuju ATM terdekat. Gembira
sekali hatinya, seminggu terakhir ini tiga lukisannya
laku terjual. Ia mendapatkan tiga belas juta rupiah
dari ketiga lukisan itu. Ia pun menelepon Irin, ber­
kata akan pergi ke Singkawang. Uang sebanyak itu

16

http://facebook.com/indonesiapustaka ia rasa lebih dari cukup untuk tinggal di Singkawang
sampai akhir tahun: menginap di losmen murah,
makan, menyewa sepeda motor, dan berjalan­jalan ke
beberapa tempat yang menyenangkan. lagi pula, ada
Irin yang selalu bersedia menemaninya bila suaminya
sedang tidak ada di Singkawang. Ia pun mengabari
Irin akan berangkat menyusulnya nanti malam atau
besok pagi.

”Pas banget! Tiga hari ke depan suamiku akan ke
Sintang. Aku tunggu ya!” Suara Irin terdengar begitu
mesra.

Keesokannya, Elang berangkat ke Singkawang.
Sekitar pukul dua siang ia sampai di Hotel Mahkota.
Sudah lima kali ia dan Irin menginap di hotel itu.
Irin membuka pintu, menyambutnya dengan mesra.
Wanita itu tampak menggairahkan, hanya menutup
badannya dengan sehelai handuk putih yang tidak
terlalu besar, membuat payudaranya nyaris menyembul
keluar.

Tapi, Elang sedang kurang bergairah.
”Kenapa, Mas? Kok kelihatan lesu? Bukannya kema­
rin kudengar kamu tertawa di telepon karena habis
dapat setoran?” tanya Irin, nada bicaranya terdengar
khawatir.
Elang ragu­ragu menceritakan apa yang meresahkan
hatinya. ”Mungkin... aku sedikit kurang sehat.”
Irin berbaring di samping Elang, menempelkan
tangannya di kening Elang. ”Nggak panas kok, Mas...
Mas Elang masuk angin?”

17

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Mungkin begitu, Rin.”
Irin mengelus­elus jenggot dan leher Elang. ”Mas,
sudah berapa hari nih nggak dicukur jenggot dan
kumisnya? Pasti sudah seminggu lebih, ya?”
”Iya nih, sudah seminggu lebih nggak aku cukur.
Memangnya kenapa?” tanya Elang sambil memegang
tangannya, tersenyum menggoda.
”Ah, Mas pura­pura nggak tahu deh. Sebel ah!”
kata Irin setengah cemberut, tapi tangannya mulai
melepas beberapa kancing baju Elang. ”Mas, nanti
malam jam tujuh aku harus berangkat ke Pontianak,
ada sopir travel yang perlu kujenguk. Dia sakit. Dia
sopir kami yang baik dan jujur.”
”Terus, aku sendiri di sini?”
”Besok pagi aku langsung balik lagi ke sini kok.
Mungkin setelah sampai di sini aku ke rumah se­
bentar, menengok anak­anak. Tapi, selama Mas ada
di sini, sebisa mungkin aku akan menemani.”
”Rin...,” desah Elang ketika semua kancing bajunya
telah lepas. Ia mengubah raut wajahnya, berusaha
lebih ceria, melupakan sejenak peristiwa pengarang
nahas itu.
”Kenapa, Mas?”
”Kamu selalu bilang kalau jenggot dan kumis yang
panjang membuat bibirmu sedikit sakit kalau kita
berciuman.”
Irin tersenyum lebar. ”Iya sih, Mas. Mas mau ber­
cukur dulu?”

18

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Nggak ah. Aku mau mencium bagian yang nggak
sakit saja,” kata Elang sambil menempelkan bibirnya
ke kening Irin.

”Di situ masih agak sakit, Mas.”
”Ya sudah, di sini saja,” kata Elang sambil menu­
runkan handuk yang membungkus tubuh Irin.
lima menit kemudian, dua manusia itu menang­
galkan semua pakaian mereka. Elang selalu suka
bercinta dengan Irin karena ia sering mendesah agak
keras, sedikit serak—mirip suara seorang penyanyi rock
wanita asal Malaysia yang Elang lupa siapa nama­
nya.

Tak lama setelah Irin berangkat ke Pontianak, Elang
pergi ke warung kopi di Pasar Hong Kong, Singkawang.
Elang tidak jadi menyewa motor karena Irin memin­
jamkan sepeda motor sepupunya yang sedang belanja
di Jakarta. Pasar Hong Kong yang berada di Sing­
kawang sifatnya temporer: pedagang berbagai maka­
nan dan minuman bermunculan di pinggir­pinggir
jalan dekat pasar tradisional terbesar di Singkawang
menjelang sore dengan rombong mereka masing­
masing. Ada yang menjual bakmi, martabak, bakso,
nasi campur, dan lain sebagainya. Hampir semua
rombong buka sampai lewat tengah malam.

Hanya Elang yang duduk di warung kopi itu.
Sempat terpikir olehnya untuk menghubungi bebe­
rapa seniman yang ia kenal di Singkawang, bertemu

19

http://facebook.com/indonesiapustaka di acara pameran lukisan atau kebudayaan. Tapi ia
mengurungkan niatnya. Sambil merokok ia membuka
Facebook, melihat berbagai kiriman teman­temannya.
Foto, status, tautan—tidak ada yang menarik perha­
tian. Ia sendiri sekarang sudah jarang mengirim apa
pun di Facebook. Matanya berhenti pada sebuah
kiriman: tautan dari temannya bernama Effendi Ra­
ditya, tentang peristiwa bunuh diri itu. Effendi menu­
lis di atas tautan itu: Sayang sekali, kasus ini masih
menjadi misteri. Saya masih belum percaya, pengarang ini
gantung diri tanpa sebab eksternal. Ia merenung sejenak,
mengingat­ingat siapa Effendi Raditya.

Ia pun membuka profil Effendi Raditya: polisi,
tinggal di Singkawang. Setelah ia telusuri profilnya,
ternyata Effendi berteman dengan Singgih laksono,
kepala seksi di Badan Pertanahan Nasional Pontianak
yang menyukai lukisan­lukisan Elang. Tentu Effendi
yang mengiriminya permintaan pertemanan. Elang
pun mengirim pesan kepadanya: Selamat malam, Pak
effendi. Saya elang Bayu Angkasa, teman Pak Singgih.
Saya kira, Bapak yang mengulurkan pertemanan di
Facebook. Oh ya, saya tertarik dengan berita bunuh diri
yang baru saja Bapak bagikan. Apakah kita bisa
mengobrolkannya? Kebetulan, saya sedang berada di
Singkawang.

Tak sampai sepuluh menit, muncul balasan: Halo,
Mas elang. Iya, saya yang mengajak berteman waktu itu.
Maaf, saya lupa menyapa dulu. Biasanya saya menyapa
teman yang saya ajak berteman. Saya sempat lihat lukisan-

20

http://facebook.com/indonesiapustaka lukisan Mas di rumah Pak Singgih waktu berada di
Pontianak. Sedang di Singkawang? Ayo ngopi!

Elang tersenyum. Sekarang saya sedang ngopi di Pasar
Hong Kong. Kalau Bapak tidak sibuk, yuk merapat.

Semenit kemudian terdengar panggilan ponsel.
”Ya? Oh, ini Pak Effendi? Ya, ya... saya tunggu. Saya
di warkop yang lokasinya tidak jauh dari ATM.”
Elang memang mencantumkan nomor ponselnya di
profil Facebook.

Elang melihat­lihat foto Pak Effendi, tampaknya
dia seorang bapak dan suami yang baik, tampak
mesra dengan istri dan ketiga anaknya. Sosok seperti
ini selalu membuat Elang minder, merasa tidak se­
tara. Banyak wanita yang memuji ketampanan Elang,
terutama karena matanya yang dalam dan tulang
pipinya yang sedikit menonjol. Ia juga selalu menjaga
kebugaran, tak pernah terlihat buncit. Tapi, ia sering
merasa dirinya kurang menarik, terutama karena
hidupnya tidak teratur, tanpa arah.

Pak Effendi berteman dengan Elang di Facebook
lebih dari setahun lalu. Keduanya terhitung jarang
mengirim apa pun di kronologi Facebook mereka; Pak
Effendi kadang kala mengirim berita­berita seputar
kepolisian atau hukum. Elang lebih sering menggunakan
Facebook untuk berkirim pesan kepada beberapa
orang.

Polisi itu pun sampai di warung kopi sepuluh
menit setelah ia menelepon. Sosoknya tinggi besar,
perutnya agak buncit; jenggot dan kumisnya begitu

21

http://facebook.com/indonesiapustaka rapi, memancarkan kewibawaan dan ketenangan;
umurnya mendekati lima puluhan. Ia menjabat ta­
ngan Elang dengan erat. ”Jadi, Mas Elang di sini
dalam rangka apa nih?” katanya sambil mengambil
posisi duduk.

Elang berpikir beberapa detik, belum waktunya
membahas tentang pengarang nahas itu. ”Saya baru
saja menyelesaikan beberapa proyek melukis, ingin
rehat beberapa hari atau mungkin sampai akhir tahun
ini. Kebetulan di Singkawang saya punya beberapa
teman yang bisa diajak jalan.” Tentu saja kalimat
terakhir yang ia ucapkan dusta belaka.

”Oh... selamat, selamat. Tentu senang sekali proyek­
proyeknya lancar.”

Elang tersipu. ”Begitulah, Pak. Tapi, omong­omong,
saya lebih suka dipanggil Elang saja.”

”Oh, baiklah.”
Pembicaraan mereka pun menyerempet tentang
lukisan. Pak Effendi menyukai lukisan Elang—sebuah
ruangan dari gedung kuno yang berada di rumah Pak
Singgih. Kata Elang, lukisan itu sedikit banyak di­
pengaruhi sebuah bagian di lawang Sewu. Pak Effen­
di tampaknya punya cita rasa dan wawasan yang bagus
perihal seni. Ia mengagumi karya­karya Claude Monet
dan Salvador Dali.
Setelah hampir setengah jam mengobrol tentang
lukisan, barulah Elang mengalihkan topik pembicaraan.
”Saya benar­benar terkejut ketika membaca berita itu
di koran, Pak. Pengarang! Status itu menyentak saya,

22

http://facebook.com/indonesiapustaka mengingatkan saya pada Ernest Hemingway. Mungkin
Bapak pernah mendengar namanya?”

Pak Effendi menggeleng. ”Siapa?”
”Cerpenis terkenal. Dia membunuh dirinya sendiri
dengan pistol. Sejauh yang saya dengar, dia mengalami
depresi berat.”
”Depresi...,” gumam Pak Effendi sambil menyalakan
korek api, lalu menyulut rokok. ”Mungkin memang
begitu. Pekerja kreatif atau seniman saya kira memiliki
semacam gangguan mental. Pengguna narkoba dan
obat bius juga tidak sedikit yang berasal dari kalangan
demikian.”
Elang tersenyum. ”Tapi, orang yang sekarang ada
di depan Bapak merokok saja. Sesekali minum bir,
arak, atau... apa namanya minuman keras orang Da­
yak itu?”
”Tuak!”
”Ya, ya, ya... tuak! Saya pernah meminumnya.
Rasanya manis, tapi mabuknya lama sekali. Ya... iseng­
iseng, sekadar menghibur diri, Pak. Bukan pemabuk
tulen,” kata Elang sambil tertawa.
”Sama, Elang,” bisik Pak Effendi sambil sedikit
membungkuk dan tersenyum kecil. ”Saya kadang juga
minum bir kok.”
Elang tersenyum lebar, tawanya nyaris meledak.
”Jadi... siapa yang menyelidiki kasus kematian Gagak
Hitam ini?”
Sepasang mata Pak Effendi menyipit, mengangguk
kecil. ”Tertarik?”

23

http://facebook.com/indonesiapustaka Elang mengangkat bahu. ”Bisa jadi begitu.” Ia bi­
ngung melanjutkan, ”Mungkin karena sedang libur,
tidak ada pekerjaan.”

Pak Effendi mengisap rokok dalam­dalam, mengem­
buskan asapnya perlahan. ”Sudah dua puluh tahun
lebih saya menjadi polisi. Dunia kejahatan, bagi
banyak orang, seperti kuburan, lang. Semua orang
hanya ke kuburan sesekali, tidak ada yang mendirikan
rumah, pondok, atau warung kopi di sekitar kuburan.
Sedikit sekali yang tertarik padanya. Kalaupun ada
yang tertarik, biasanya karena rasa penasaran sesaat,
sekadar memuaskan rasa ingin tahu. Dan, baru saja
kau berkata, kau tertarik karena sedang tidak ada
proyek melukis. Nah, kalau sedang sibuk, apakah ada
ketertarikan itu?”

Elang menatap wajah Pak Effendi beberapa detik.
Kata­kata itu membuatnya merenung, tapi juga
menjadi sinyal bahwa Pak Effendi tak ingin membahas
hal itu lebih jauh. ”Entahlah, Pak. Belum pernah
saya seperti ini.”

Pak Effendi melirik jam tangan. Dugaan Elang
benar. ”Sudah hampir jam sebelas malam. Saya harus
pulang, besok masuk pagi. Kontak saya kapan saja.
Kalau memang sedang luang, saya dengan senang hati
menemani ngopi, mengobrol tentang lukisan.”

Elang ingin bertanya sekali lagi, siapa yang menye­
lidiki kasus tersebut, tapi ia mengurungkan niat.
”Pak, biar saya yang membayar,” cegah Elang ketika
Pak Effendi mengeluarkan dompet.

24

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Sudah, tak apa­apa. Anggap saja kau tamu di kota
ini,” kata Pak Effendi.

Elang pun pasrah. Kata ”tamu” yang diucapkan
Pak Effendi membuatnya terenyak. Ya, ia hanya tamu,
juga bagi pengarang yang kini sudah mulai membusuk
di dalam tanah.

25

http://facebook.com/indonesiapustaka 3

JUMAT, 21 November 2014, malam menjelang pukul

22.00. Ponsel Elang berbunyi. Ia terkejut ketika
melihat nama Pak Effendi di layar ponsel. Elang baru
saja bercinta dengan Irin yang kini terbaring di sam­
pingnya.

”Ya, Pak Effendi,” kata Elang sambil duduk di
ranjang. ”Ada apa?”

”Saya bertemu dengan Agung tadi sore, saya cerita
tentangmu kepadanya.”

”Agung? Siapa dia?” tanya Elang. Mata Irin yang
tadi terpejam, kini terbuka, ia memiringkan kepala,
menguping.

”Inspektur Agung Prasetyo, dia yang bertugas
menyelidiki kasus kematian Gagak Hitam. Dia ber­
kata kepada saya, ingin berkenalan dengan kamu.”

”Bagaimana bisa begitu?” Elang menggeser badan­
nya, agak menjauhi Irin.

26

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Saya teringat kata­katamu dua hari lalu saat kita
ngopi. Dia kelihatannya penasaran ketika saya ber­
cerita kepadanya tentang Ernest Hemingway. lalu,
tentang dunia seniman yang tak jauh dari minuman
keras, depresi, dan... semua yang kita obrolkan malam
itu.”

”Oh ya?” Elang jadi penasaran dengan Agung Pra­
setyo.

”Jadi, kalau memang Elang tidak sibuk, mampirlah
ke kantor kami besok.”

Elang mendesah panjang dan tersenyum kecil saat
menyelesaikan pembicaraan dengan Pak Effendi. Irin
menarik selimut hingga menutupi dadanya, ikut du­
duk di samping Elang. ”Agung Prasetyo, Pak Effendi,
siapa mereka, Mas? Calon pembelimu?”

Elang tak ingin Irin mengetahui masalah ini. Ia
tersenyum kecil dan mengangguk. ”Betul, Irin. Me­
reka berdua... ingin bertemu, ingin kubuatkan lu­
kisan.”

Irin menyipitkan mata, tersenyum ragu. ”Benar
begitu? Kalau nggak salah dengar, tadi aku mendengar
ada kata­kata ’kasus’, ’depresi’, dan... entahlah, Mas...
aku mendapat kesan, barusan kamu sedang berbicara
dengan polisi.”

Elang menyembunyikan kekagetannya, memandang
langit­langit di hotel. ”Ngawur kamu, Rin. Orang itu
minta dibuatkan lukisan bertema depresi, orang yang
terlibat kasus kejahatan... semacam itulah.”

Irin memandang jam dinding. Seketika raut muka­

27

http://facebook.com/indonesiapustaka nya jadi muram. Elang jadi khawatir, kalau­kalau Irin
curiga kepadanya. Ia pun menimbang­nimbang dalam
hati, ingin berkata jujur saja. Tapi ia khawatir Irin
akan mencegahnya, atau malah ingin ikut campur.
”Mas,” kata Irin setengah mendesah.

”Ya?” Elang memikirkan kalimat­kalimat dusta lain
yang bisa ia karang.

”Aku kadang merasa bersalah. Aku juga sering
merasa depresi. Suami yang nggak perhatian, mertua
yang banyak menuntut, anak­anak yang rewel... aku
nggak bahagia, Mas.”

Elang terpejam, lega. Ia sadar, dugaan Irin bahwa
ia baru saja bercakap­cakap dengan polisi tentulah
sudah hilang dari pikirannya. Keluhan yang baru saja
Irin ucapkan sudah beberapa kali ia dengar. ”Kamu
tahu, Rin. Aku nggak bisa menjanjikan banyak hal.
Hanya kehadiran dan kepuasan yang seperti kamu
bilang.”

”Kejahatan. Ya, tadi kamu menyebut kata itu. Aku
kadang merasa jahat, Mas. Senang bersamamu, puas
bersamamu—bukankah itu jahat? Kalau sudah melihat
anak­anakku yang polos, rasanya aku begitu kotor.
Aku bukan ibu yang baik untuk mereka, Mas.”

”Jadi...,” kata­kata yang hendak Elang ucapkan
seperti tersangkut di lehernya.

”Jadi?” Irin balas bertanya dengan mata sayu,
menoleh ke wajah Elang.

”Aku takut apa yang aku katakan ini akan mem­

28

http://facebook.com/indonesiapustaka buatmu marah. Aku tadi mau berkata: jadi... apakah
aku semestinya meninggalkanmu, Rin?”

Mata Irin berkaca­kaca. Elang pun mendekatkan
duduknya, hendak merangkul pundak Irin. Tapi Irin
menjauh, menepis lengan Elang.

”Kenapa marah, Rin? Bukankah keluhan ini nggak
kusampaikan hanya kali ini saja? Sudah berkali­kali,
tapi kita selalu kembali seperti ini lagi. Aku nggak
memiliki beban apa pun, kamu yang tampak begitu
sengsara.”

”Mas, jujurlah padaku. Maukah kamu menikahiku?
Aku ingin lari dari keluargaku, membawa anak­
anakku, hidup bersamamu. Dulu aku benar­benar
terpesona dengan pria kaya, yang kukira akan mem­
buat hidupku lebih nyaman dan terjamin. Tapi...
semua kekayaan itu, apalah artinya sekarang? Kami
sekarang sangat jarang bicara. Dan kuyakin, seling­
kuhan dia jauh lebih banyak.”

Elang menunduk, menggeleng. Ini bukan pertama
kalinya Irin menyatakan hal ini.

”Aku tahu, Mas, kamu mudah meniduri wanita­
wanita yang kamu sukai. Di hadapanmu gadis­gadis
molek bersedia melepas semua pakaian mereka...”

”Cukup, Irin!” potong Elang. ”Sudah kukatakan
kepadamu, nggak semua gadis yang kulukis mau
kuajak berbuat begitu.”

”Ya, memang nggak semua! Dari sepuluh orang, sem­
bilan yang mau. Begitu, kan?” Kali ini Irin menangis,
memunggungi Elang.

29

http://facebook.com/indonesiapustaka Kata­kata Irin membuat Elang merenungkan kehi­
dupannya. Memang, selama ini ia sangat mudah
meniduri wanita, apalagi yang meminta dibuatkan
lukisan. Elang tahu, wanita suka bila kemolekan
tubuhnya dipuji. Sambil melukis, ia menyampaikan
pujian­pujian kecil sambil bercanda, membuat hati
para wanita melambung dan pipi mereka merona.
Jika sudah demikian, hampir dipastikan mereka
bersedia diajak tidur oleh Elang.

Selain itu, ada juga wanita­wanita yang bersedia
tidur dengan Elang bukan karena minta dibuatkan
lukisan, tapi karena Elang memilih mereka menjadi
model untuk lukisannya. Ia mengenal mereka dari
beberapa teman fotografer. Untuk wanita­wanita
seperti itu, Elang menyediakan imbalan sejumlah
uang bila lukisan telanjang mereka laku terjual.

Elang akan berumur 38 tahun sebentar lagi, pada
tanggal 20 Januari. Ia pernah menikah saat berumur
25 tahun, setelah ia tamat kuliah dari Universitas
Diponegoro, tapi tak bertahan lama, hanya tiga ta­
hun. Pernikahan itu tidak mendatangkan keturunan
bagi Elang, istrinya mandul. Selain itu, Elang memang
doyan selingkuh, susah terikat pada satu wanita saja.
Ia memutuskan tak menikah lagi setelah ibunya me­
ninggal. Saat itu ia berumur 32 tahun.

Elang juga suka berpindah­pindah tempat tinggal.
Ketika umurnya 34 tahun ia pindah ke Yogyakarta
dari Semarang, membuka galeri lukisan di Jatimulyo,
dekat Jalan Magelang. Ia hanya tinggal dua tahun di

30

http://facebook.com/indonesiapustaka sana karena tak tahan dengan ketatnya persaingan
mendapatkan pembeli lukisan. Ia pun pindah ke
Pontianak karena ajakan kawan, dan merasa cukup
sukses sejak berada di Kota Khatulistiwa.

”Sudahlah, Irin.” Elang mengelus pundak sang
kekasih. ”Mungkin ini waktu yang baik untuk kita
merenung,” kata Elang setelah isak tangis Irin reda.
Ia pun mendapat ide, mendustai Irin. ”Aku akan
kembali ke Pontianak besok, bertemu dengan dua
calon pembeli lukisanku itu.”

”Jadi, Mas besok kembali? Nggak jadi di Singkawang
sampai akhir tahun?” kata Irin sambil membalikkan
badan, menatap Elang.

Elang menggeleng pelan. ”Ini malam terakhirku di
kota ini. Mungkin...,” Elang berdeham kecil, ”akan
lebih baik kalau aku merenung sendiri, tanpa kamu
temani. Mungkin pikiranku akan jadi lebih jernih.”

”Tapi...” Irin terdengar tak rela, kecewa.
”Kita nggak tahu bagaimana kelanjutan hubungan
kita. Aku nggak mau menghantuimu dengan perasaan
bersalah sepanjang waktu.”
Tiba­tiba Irin tersenyum, mengusap matanya. ”Ka­
ta­katamu memang ajaib, Mas. Kadang meyakinkan,
kadang memabukkan. Jarang yang menyakitkan,
walau kelakuanmu sering menyebalkan. Aneh, kamu
selalu membuat aku terkesan,” ujar Irin sambil me­
mainkan telunjuknya di bibir Elang.
Sesuatu bergerak di balik selimut. Tangan Irin.
Elang lekas tanggap dengan gelagat itu. Ia mendekatkan

31

http://facebook.com/indonesiapustaka tubuhnya perlahan, menempelkan kakinya ke tubuh
Irin. Pelan­pelan ia mengusap dahi Irin, mengecup
lehernya. ”Percayalah, Irin, semua akan baik­baik
saja,” bisik Elang.

”Ups,” ucap Irin sambil sedikit mendelik dan terse­
nyum nakal. Sisa­sisa tangisnya sudah sirna. ”Adik
kecilmu sudah bangun, Mas!”

32

http://facebook.com/indonesiapustaka 4

SABTU, 22 November 2014, Irin sudah kembali dari

hotel tadi malam. Pagi­pagi Elang menelepon Irin,
berkata kepadanya bahwa ia akan mengembalikan
sepeda motor milik sepupu Irin secepatnya dan sudah
memesan travel untuk kembali ke Pontianak.

Setelah mengembalikan motor dan meninggalkan
hotel, Elang pun menghubungi Pak Effendi. Sepuluh
menit kemudian polisi itu pun datang. ”Wah, kalau
di Singkawang menginapnya di sini terus ya, lang?”
tanya Pak Effendi dengan nada kagum di depan
Hotel Mahkota.

Elang berpikir sejenak. ”Oh... tidak kok, Pak. Kebe­
tulan saya diberi voucher menginap di sini. Voucher
itu semacam bonus kepemilikan kartu kredit pelang­
gan lukisan saya yang sudah seperti sahabat sendiri.”
Elang mendesah lega. Ia teringat kepada Irin yang

33

http://facebook.com/indonesiapustaka berkata bahwa ia sering mendapat voucher belanja
atau menginap di hotel tertentu karena memiliki
beberapa kartu kredit.

”Baik. Sekarang kita ke kantor polisi,” kata Pak
Effendi sambil menyerahkan helm kepada Elang.
”Agung sudah menunggu,” imbuhnya.

Dalam perjalanan menuju kantor polisi, Elang ter­
ingat, di warung kopi Hanif, beberapa kali ia bertemu
orang­orang yang terlalu ramah, mencoba menge­
nalnya. Ia pernah mengarang cerita spontan bahwa
ia seorang polisi, tukang parkir di sebuah mal, juga
penjual buah di sebuah pasar.

Ia mengira, cerita­cerita karangannya akan dilupa­
kan. Ia kurang suka mengaku bahwa ia seniman yang
bekerja tak terikat waktu. Kepada orang kurang waras
yang beberapa kali mampir ke warkop itu ia bahkan
pernah mengaku ninja, berkawan dengan Ultraman,
juga sempat menjadi anggota Power Rangers.

Sampai suatu malam ia didatangi seorang pemuda
yang tak asing wajahnya. Dengan wajah lemah, pemuda
itu berkata, ”Pak Polisi, bisa membantu saya?”

”Ada apa?” tanyanya keheranan.
”Motor saya kemarin hilang, Pak.”
Elang tersenyum mengingat kejadian itu—sekarang
ia akan bekerja sama dengan polisi.
Kantor polisi tidak terlalu ramai ketika Elang sam­
pai di sana sekitar pukul sebelas siang. Pak Effendi
membawa Elang ke ruangan tempatnya bekerja. Sam­
bil berjalan ia menelepon Agung Prasetyo, memintanya

34

http://facebook.com/indonesiapustaka untuk segera ke ruangannya. Tak sampai semenit,
sosok yang mereka tunggu pun tiba.

Agung Prasetyo mengenakan pakaian preman,
tidak berseragam dinas seperti Pak Effendi. Ia ter­
senyum kecil saat menjabat tangan Elang dan menye­
butkan namanya. Umurnya sekitar empat puluh
tahun. Di pelipis kirinya ada bekas luka sayatan yang
cukup dalam. Elang ingin mengajaknya bercanda,
apakah ia mengenal Harry Potter, tokoh ciptaan
penulis J.K. Rowling yang di jidatnya juga memiliki
luka berbentuk kilat, tapi ia urungkan karena sosok
Agung terkesan dingin.

”Jadi inilah Elang yang kuceritakan. Nah, kalian
bisa mengobrol di sini,” kata Pak Effendi kepada
Agung sambil melihat jam tangan, ”karena aku ada
perlu sebentar dengan polisi lain.”

”Baik, Pak,” kata Elang, berusaha tenang. Agung
hanya mengangguk kecil. Waktu Pak Effendi mening­
galkan mereka, Elang khawatir pertemuan ini akan
menjadi canggung karena sosok yang ada di depannya
tampak muram, kurang menunjukkan antusiasme.

”Jadi... bagaimana para penulis, pelukis, musisi,
dan orang­orang seperti Anda menjalani kehidupan?
Apakah kalian terlalu imajinatif, suka berandai­andai?
Maksudku, apakah ide­ide di dalam diri kalian mem­
buat kalian sering berpikir untuk mencelakai diri
sendiri? Melakukan hal yang tidak­tidak?”

Elang terenyak mendapat pertanyaan yang begitu

35

http://facebook.com/indonesiapustaka banyak. Ia berpikir sejenak, memutuskan tak men­
jawab, tapi ganti bertanya, ”Maaf, Mas Agung...”

”Panggil Agung saja,” potongnya.
”Ya, Agung. Kalau begitu, panggil saya Elang.
Begini, pertanyaan Anda tadi terlalu banyak. Sebelum
menjawab, saya ingin tahu, apakah sebelumnya Anda
pernah menangani kasus seperti ini?”
”Beberapa kasus bunuh diri, iya. Tapi tidak sering,
baru tiga kali dengan yang ini. Tapi, dua kasus bunuh
diri yang saya tangani sebelumnya menyisakan jejak,
walaupun jejak itu kadang masih menimbulkan
beberapa tanda tanya setelah kasus itu ditutup.”
”Jejak? Maksud Anda?”
”Ya, jejak. Bisa berupa apa saja. Bisa berupa jati
diri si pelaku, motif, tekanan dari luar atau dalam
diri si pelaku, keluarga si pelaku, atau yang lainnya.
Nah, baru kali ini aku menemukan kasus yang unik.
Bisa dikatakan, tanpa jejak. Sudah seminggu dan
tidak ada perkembangan yang berarti.” Suara Agung
terdengar lirih.
Elang jadi paham di bagian mana ia dibutuhkan.
Imajinasi, itu kata kuncinya. ”Di tempat kejadian,
tidak ditemukan barang­barang apa pun?” tanya
Elang.
Agung menggeleng. ”Kamar kosnya hanya berisi
barang­barang yang memang sudah ada di kamar
sebelum digunakan penyewa kamar mana pun.”
”Kartu identitas, pakaian, atau lainnya?”
”Dompet, KTP, SIM, foto, atau kartu apa pun,

36

http://facebook.com/indonesiapustaka tidak ada,” kata Agung sambil membuka sebuah map.
”Pakaian, makanan, buku­buku, puntung rokok, atau
lainnya... tidak ada! Tidak ada sama sekali! Di
kamarnya waktu itu hanya ada satu meja, satu kursi,
satu lemari kosong, satu kasur tanpa seprai, dan
gantungan pakaian yang dipaku di balik pintu. lihat
ini,” kata Agung sambil menyodorkan beberapa
foto.

Elang mual, nyaris muntah melihat foto­foto itu.
Gagak Hitam mati dengan cara gantung diri meng­
gunakan tali tambang cokelat berdiameter tiga senti­
meter. Tali itu ia kaitkan di ventilasi kamar yang
berupa celah­celah kecil berjumlah enam buah. Ma­
sing­masing celah berukuran lima kali dua puluh
sentimeter, disusun dua baris, di tiap barisnya ada
tiga celah.

”Bagaimana dengan hasil visum? Apakah ada tan­
da­tanda bahwa dia meminum racun sebelum gantung
diri?”

Agung menggeleng. ”Sama sekali tidak. Hasil vi­
sum mengatakan dia tewas pada Sabtu, 15 November,
sekitar pukul tiga dini hari. Kematiannya murni dise­
babkan oleh leher yang tercekik. lihat,” Agung me­
nunjuk salah satu bagian pada sebuah foto, ”pipinya
menggelembung... begitu besar.”

Elang menggeser foto­foto itu dari hadapannya.
”Ibu pemilik kos, sudah ditanyai? Apakah dia tidak
pernah berbicara kepada Gagak Hitam? Dia tidak
menanyakan KTP, asal, dan sebagainya?”

37

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Sudah dua kali aku berbincang­bincang dengannya.
Kata Ibu Kos, Gagak Hitam pernah mengobrol sing­
kat dengannya, menyebut dirinya sebagai Mas Gagak
dan bekerja sebagai penulis cerita atau pengarang.
Ketika ditanyai siapa nama lengkapnya, sambil terse­
nyum dia berkata namanya Gagak Hitam, seperti yang
ditulis di koran. Ibu Kos memaklumi keanehan ter­
sebut setelah si pengarang bercerita singkat bahwa
banyak pengarang suka menggunakan nama samaran.
Dan tahu sendiri kan, banyak sekali pemilik rumah
kos yang tidak memusingkan identitas penyewa ka­
mar.

”Jangankan meminta fotokopi KTP, mengajak mere­
ka bicara pun enggan. Yang penting duit lancar, beres.
Nah, Gagak Hitam ini memberikan uang yang cukup
banyak kepada Ibu Kos saat pertama kali bertemu
dengannya. Tarif sewa kamar di situ per bulan rata­
rata enam ratus ribu rupiah. Tapi Gagak Hitam
memberinya uang empat juta rupiah. Ketika ditanyai
Ibu Kos, uang itu katanya untuk biaya sewa enam
bulan. Kembaliannya, empat ratus ribu rupiah, bah­
kan dia minta agar Ibu Kos menyimpannya saja.

”Gagak Hitam baru seminggu lebih berada di
rumah kos itu. Jadi, dugaanku, uang itu dia berikan
untuk persiapan pemakamannya, kalau dia memang
merencanakan bunuh diri. Ibu Kos yang rumahnya
berada di bangunan terpisah di samping kos itu tidak
terlalu sering mengontrol. Hanya saja, beberapa kali
Ibu Kos melihatnya keluar kamar kira­kira setelah

38

http://facebook.com/indonesiapustaka magrib, dan baru kembali selepas tengah malam. Dia
pergi sendiri. Entah ke mana, tidak ada yang tahu.”

”Dia tidak mengobrol dengan teman­teman satu
kosnya?”

”Dia tinggal di lantai dua, hanya sendiri. Di lantai
dua rumah kos itu sebenarnya ada empat kamar, dan
satu kamar sudah dihuni. Hanya saja, penghuni yang
ada di lantai dua sekarang sedang dinas ke luar kota,
ke Ketapang.”

”Yang menempati lantai satu?”
”Ada delapan kamar di lantai satu. Tiga kamar
kosong. Dua kamar dihuni wanita, tiga kamar dihuni
pria.”
”Hm... kos campuran?” Elang ingin bercanda, asyik
juga tinggal dengan wanita­wanita, tapi ia segera meng­
urungkan niat.
Agung mengangguk. ”Dari hasil penyelidikanku,
mereka berlima termasuk orang­orang sibuk. Semuanya
bekerja. Tapi aku curiga, ada seorang wanita yang men­
jalin hubungan gelap dengan seorang pria di sana. Pria
itu, entah teman satu kos atau tidak, aku masih
ragu.”
”Dari mana Anda bisa menyimpulkan begitu?”
”Aku melihat ada minyak wangi pria di kamar
wanita itu, dan aku juga menemukan celana dalam
pria di tumpukan pakaian yang ada di tepi kasur­
nya.”
”Celana dalam pria? Bisa saja itu milik... Gagak
Hitam?”

39

http://facebook.com/indonesiapustaka Agung menggeleng. ”Kamar wanita itu sudah ku­
geledah, tidak ditemukan benda lain yang mencu­
rigakan. Minyak wangi dan celana dalam itu aku
bawa, dan sudah kuperiksa, tidak ada sidik jari Gagak
Hitam di sana. Bahkan, ukuran celana dalam itu
berbeda jauh dengan yang melekat di badan Gagak
Hitam waktu dia ditemukan tewas.”

”Oh ya, pertanyaan saya tadi belum dijawab, ada
teman kos yang pernah diajak Gagak Hitam meng­
obrol?”

Agung menggeleng beberapa kali. ”Dia terkenal
murah senyum, hanya menyapa dengan berkata,
’Selamat pagi’, ’Halo’, atau semacam itu.”

Elang menggeleng­geleng. Manusia tanpa jejak. Ia
teringat pada kata­kata Hanif: seperti ninja. ”Tentunya
dia memiliki barang­barang. Pakaian, laptop untuk
menulis, buku­buku untuk dibaca, atau yang lainnya.
Tidak mungkin kan kamarnya kosong melompong?”

”Itulah yang sedang kutelusuri, Elang. Kuduga dia
punya kawan di kota ini, barang­barangnya dititipkan
di sana. Tapi, tidak ada satu jejak pun yang meng­
giringku ke sana.”

Elang menyatukan jemari kedua tangannya, mem­
bentuk seperti menara. Ia merasa Agung memiliki
harapan besar kepadanya—caranya bercerita sangat
serius. Kasus ini jadi makin menarik. ”Jangan­ja­
ngan...,” katanya setengah berbisik, ”Ibu Kos adalah
teman Gagak Hitam? Mereka sudah kenal sebelumnya?
lalu, semua barang si Gagak dititipkan kepadanya?”

40

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku juga sempat berpikir begitu, tapi belum ada
bukti sama sekali. Aku juga sudah menggeledah
rumah Ibu Kos, tapi tidak menemukan apa pun.
Ralat, belum menemukan apa pun sejauh ini. Dan
kalau kau melihat sosoknya yang keibuan dan ramah,
rasa­rasanya tidak mungkin ibu itu menjadi orang
yang... katakanlah, menyediakan rumah untuk digu­
nakan sebagai tempat gantung diri. Mana ada orang
yang mau menyewa kamar kepadanya lagi kalau be­
gitu?”

”Jadi, Anda berpikir positif tentang ibu itu?”
Agung mendesah panjang, tersenyum sinis. ”Ber­
pikir positif adalah kebiasaan penyuka damai, atau
orang­orang yang sebenarnya malas berpikir tapi
mengaku berpikir.” Ia berhenti sebentar, mengeluarkan
rokok dan menyulutnya. ”Kalau rumah adikmu
terbakar pada suatu malam dan kau nyaris terpanggang
di dalamnya, lalu kau mendapat kabar dari seorang
saksi mata bahwa ada sosok mencurigakan yang ia
lihat melempar sesuatu ke atap rumah adikmu bebe­
rapa saat sebelum kebakaran terjadi, kau tidak bisa
berpikir positif. Itu yang aku alami dua tahun lalu.
Dengan bantuan beberapa kawan, akhirnya aku mene­
mukan biang kerok itu dengan bukti­bukti yang
lengkap. Aku remukkan dulu dua gigi seri si biang
kerok dan kupatahkan pula tulang hidungnya se­
belum dia dilempar ke penjara. Nah, Elang, itu semua
bukan tindakan orang yang sedang berpikir posi­
tif.”

41

http://facebook.com/indonesiapustaka Elang menganga mendengar jawaban dan cerita
itu.

Selanjutnya mereka jadi lebih akrab ketika masing­
masing bercerita bahwa mereka berasal dari Jawa.
Elang dari Semarang, Agung dari Ngawi. ”Eh, banyak
tukang pijat dari Ngawi di Pontianak lho,” kata
Agung. Baru kali itu Elang melihatnya tersenyum.

”Ya, saya tahu tempatnya. Di Jalan Dokter Sutomo.
Saya beberapa kali pijat di sana.”

”Oh ya? Teman sekampungku ada yang menjadi
tukang pijat di sana.”

Satu jam berlalu, kekhawatiran Elang pun lenyap.
Agung memang sosok yang dingin, tapi sebenarnya
menyenangkan saat diajak bicara. Walaupun sering
murung dan jarang tersenyum, Agung suka bicara
ceplas­ceplos. Agung mengajak Elang ke ruangannya.

”Jadi, apa agenda kita hari ini, Gung?” tanya Elang
saat mereka sampai di ruangan Agung.

Agung menarik laci mejanya, mengeluarkan revol­
ver, meletakkannya di meja. Ia mengambil jaket kulit
yang tersampir di sandaran kursi, mengenakannya
dengan cepat. Ia memasukkan pistol ke saku jaket
bagian dalam, lalu menarik ritsleting jaket. ”Yuk, kita
ke rumah kos itu.”

Elang mengangkat alis, tersenyum tipis mendengar
ajakan itu. Ia berjalan di samping Agung, meninggalkan
kantor polisi. Jantungnya berdebar, tapi ia merasa
senang. Sungguh, Elang tidak menyangka bakal ter­
libat sejauh ini.

42

http://facebook.com/indonesiapustaka 5

KEDUA pria itu mengendarai sepeda motor, tiba di

kos Gagak Hitam sepuluh menit setelah keluar dari
kantor polisi. Ada pembatas kuning polisi yang diren­
tangkan di sekitar rumah kos itu. Pembatas itu sudah
mulai longgar. Tampaknya beberapa orang sering
keluar­masuk kawasan penyelidikan. Di tanah yang
masih becek terdapat banyak jejak tapak sandal atau
sepatu. ”Ah, orang­orang ini menyulitkan saja,” keluh
Agung.

Agung mengetuk pintu depan rumah Ibu Kos yang
berada di samping rumah kos. ”Ingat,” bisiknya
kepada Elang sambil menunggu pintu dibuka, ”tadi
kau sudah dapat identitas baru; kalau ditanyai, na­
mamu Brigadir Yono.” Elang ingin protes, mengapa
ia harus menyamar segala. Selain itu, rasanya janggal
dipanggil Yono. Agung tidak memberikan banyak

43

http://facebook.com/indonesiapustaka penjelasan selain, ”Suatu saat nanti kau juga akan
tahu.”

Pintu berderit, tampak seorang wanita berumur
lima puluhan tahun membuka pintu. Postur tubuhnya
gemuk dan pendek, pipinya tembam. Ada kerutan di
pinggir mata, dekat dahinya, menjadi penanda bahwa
ia sering tersenyum. Saat mendengarnya berbicara,
Elang langsung mendapat kesan bahwa si ibu ramah
dan cerewet. ”Oh, Mas Agung. Mari masuk, Mas. Ini
saya baru beres­beres rumah. Maaf agak kotor.
Maaf.”

Agung tersenyum kecil, ia duduk di sofa yang ada
di ruang tamu. ”Kenalkan, Bu, ini rekan baru saya
yang akan membantu penyelidikan ini. Dia polisi dari
Pontianak. Namanya Brigadir Yono.”

Elang berdiri, menyalami Ibu Kos. ”Yono,” katanya
sambil mengulurkan tangan. Sedetik kemudian ia
menyadari, suaranya sedikit berubah, menjadi lebih
berat.

”Ratna. Panggil saja Ibu Ratna,” kata Ibu Kos.
”Baik, Bu Ratna. Ini pertemuan ketiga kita, dan
saya sebenarnya menunggu­nunggu kabar lain yang
ada hubungannya dengan Gagak Hitam,” kata
Agung.
”Seperti... kiriman pakaiannya dari binatu, yang
waktu itu kita bicarakan?”
”Benar. Tidak ada ya, Bu?”
Ibu Ratna menggeleng. ”Tidak ada apa pun. Saya
tidak menerima panggilan telepon, SMS, atau lainnya.

44

http://facebook.com/indonesiapustaka Seminggu ini tidak ada satu hal pun yang muncul
sehubungan dengan Mas Gagak. Saya curiga, dia ini
seorang pelarian.”

”Pelarian?” Kali ini Elang yang bicara.
”Ya, dia mungkin melarikan diri dari tanggung
jawab yang berat, Mas Yono. Terlilit utang, dikejar­
kejar istri atau mertuanya, atau apalah. Dan dia
pandai sekali menghilangkan jejak. Bagaimana hasil
visum? Sidik jarinya? Sudah pernah kita bahas atau
belum waktu itu? Saya kadang lupa.”
”Belum. Sidik jari Mas Gagak sampai sekarang
masih diselidiki. Kami dari kepolisian bingung karena
Mas Gagak tidak punya data antemortem, data­data
sebelum meninggal. Postmortem—data­data setelah me­
ninggal, ya cuma mayatnya itu. Itu pun tidak memberi
keterangan apa pun. Hanya pakaian yang melekat di
badannya, dan di dalam saku pakaian tidak ada dom­
pet, catatan, atau apa pun. Untuk sementara penye­
lidikan agak mandek. Tapi,” Agung melirik Elang,
”penyelidikan terus kami lakukan.”
”Akankah proses penyelidikan itu lama?” tanya Bu
Ratna.
”Tergantung. Mencari identitas korban lewat ber­
bagai identifikasi forensik bukanlah perkara mudah,
apalagi orangnya misterius seperti ini. Korban yang
hancur lebur dalam kecelakaan pesawat, misalnya,
justru lebih mudah diidentifikasi, karena ada data­
data yang masih dibawa korban lewat dompet atau
barang­barangnya yang belum musnah. Selain itu, ada

45

http://facebook.com/indonesiapustaka data­data tambahan lain—dari maskapai penerbangan,
atau keterangan keluarga, misalnya. Nah, untuk kasus
ini...” Agung berhenti bicara, tak melanjutkan kata­
katanya.

”Kecuali jika ada laporan orang hilang, lalu orang
tersebut identik dengan Mas Gagak, prosesnya akan
lebih cepat karena si pelapor paling tidak menyebutkan
nama dan ciri­ciri si orang hilang,” sambar Elang,
yang tampaknya mulai paham.

Agung tersenyum agak lebar, memandang Elang,
lalu mengangguk kecil.

Elang tampak memikirkan sesuatu, lalu berdiri,
melihat­lihat keadaan di luar rumah. ”Agung, Ibu,
saya izin pergi ke lantai atas. Bolehkah saya diberi
kunci kamar Mas Gagak?”

”Ini,” sahut Ibu Kos sambil berjalan cepat mende­
kati Elang, menyerahkan kunci, ”sudah saya siap­
kan.”

Ketika Elang berada di kamar, ia mengamati ben­
da­benda yang ada di situ. Kasur tak berdipan dan
berseprai, lemari, kursi, meja, dan cantolan pakaian
yang dipasang di balik pintu. Juga ada lampu, sakelar,
dan colokan listrik di salah satu dinding di bagian
sudut.

Ia terpejam, membayangkan wajah Gagak Hitam
yang ia lihat di foto yang disodorkan Agung di kantor
tadi. Betapa malang nasib pengarang itu. Sungguhkah
ia bunuh diri hanya karena depresi? Di mana ayah,

46

http://facebook.com/indonesiapustaka ibu, dan saudara­saudaranya? Apakah ia betul­betul
sendiri?

Bulu kuduknya meremang, membayangkan kehi­
dupan yang begitu sunyi dan hampa.

”Kau mendapatkan sesuatu?” tanya Agung di
depan pintu kamar, mengejutkannya. Agung menyulut
rokok, mengembuskan asapnya perlahan.

Elang mengangkat bahu. ”Aku sedang berpikir,”
kata Elang sambil menjulurkan lehernya, memastikan
Ibu Kos tidak ada di dekat mereka, ”apa keahlian
seorang pelukis yang dibutuhkan dalam hal ini?”

”Mengamati detail. Kalian, para pelukis, selalu
peka dengan detail, bukan? Pak Effendi bercerita, kau
pengamat detail yang hebat, dia mengetahuinya dari
lukisanmu. Mungkin ada yang bisa kauamati dan
temukan di sini.”

Elang menyipitkan mata, mengangkat telunjuk, dan
menggoyang­goyangkannya, ”Ya, ya, ya...”

Tiba­tiba mata Elang menangkap sesuatu di sudut.
Agung yang melihat perubahan gelagat Elang ber­
tanya, ”Apa, Elang?”

Elang menarik Agung perlahan, lalu memintanya
mengamati lantai pada salah satu sudut. ”Kaulihat
itu?” katanya sambil menunjuk arah lantai yang ia
maksud, ”ada semacam bekas goresan di lantai. Dan
di sana, ada semacam bekas karat, bercak­bercak
cokelat itu.”

”Iya. Jadi, kesimpulanmu?”
”Kukira pernah ada satu benda yang diletakkan di

47

http://facebook.com/indonesiapustaka sudut sini sebelumnya. Benda itu kemudian dipindah­
kan, dibawa ke luar. lihat, goresan itu menuju pin­
tu,” kata Elang sambil sedikit membungkuk. ”lalu,
perhatikan, benda itu kukira dibawa melintasi arah
ini,” kata Elang sambil merangkak, ”dan kalau diseret
terus sampai pojok, benda itu akan berada di depan
kamar mandi, di depanku ini.”

Agung tersenyum. ”Baik, kita harus ke bawah,
menemui Ibu Kos.”

Elang menyusul di belakang Agung. Otaknya mulai
dipenuhi beberapa imajinasi, tak sabar mendapat
keterangan dari Ibu Kos. Ibu Kos mereka ajak naik
ke lantai dua. ”Ibu yakin, sebelum Mas Gagak atau
selama Mas Gagak di sini, tidak ada benda yang
dipindahkan?”

Ibu Kos mengerutkan dahi, menggeleng­geleng,
mondar­mandir di sekitar kamar, mengamati. ”Tidak
ada. Dari dulu ya cuma ini barang­barangnya.”

”Sebelum Mas Gagak ke sini, kapan terakhir kamar
ini ditempati penyewa sebelumnya?”

Ibu Kos menggaruk­garuk kepala. ”Seingat saya,
jaraknya cuma tiga hari. Memang banyak yang suka
menyewa kamar ini, tempatnya di paling pojok, jadi
tenang. lagi pula, di sebelahnya ada kamar mandi.”

”Tapi Ibu yakin, tidak ada barang­barang yang ber­
kurang dari sini?” tanya Elang.

Ibu Kos diam sejenak, mengingat­ingat, lalu mulut­
nya menganga lebar­lebar. ”Di sini!” kata Ibu Kos

48


Click to View FlipBook Version