http://facebook.com/indonesiapustaka menunjuk lantai yang tadi ditunjuk Elang. ”Ya, di
sini... sebelum Mas Gagak tinggal di kamar ini, ada
meja kecil kayu, tapi kakinya dari besi. Meja lama,
sudah jelek, ada lacinya, ada kunci lacinya juga.
Seingat saya, meja itu dijadikan semacam meja bela
jar. Kalau nggak salah sudah diturunkan, dimasukkan
ke gudang, diganti meja yang lebih besar ini,” kata
Ibu Kos sambil menepuknepuk meja di kamar.
”Jadi, selama Mas Gagak di sini, Ibu mengira meja
itu berada di gudang?” tanya Agung.
Ibu Kos mengangguk beberapa kali dengan ce
pat.
”Nah, saya kira imajinasi saya mulai menemukan
kecocokan. Mari ke gudang!” tukas Elang.
Gudang di rumah kos itu berada di bagian bawah,
di sebelah kamar penghuni wanita yang di dalamnya
ditemukan minyak wangi dan celana dalam pria. Ha
nya ada satu penghuni kos pada saat itu, dan tampak
nya ia sedang tidur. Ibu Kos berlarilari kecil ke
rumahnya, semenit kemudian keluar membawa ba
nyak kunci. ”Ini, kuncinya yang ini!”
”Ibu selalu mengunci ruang ini?” tanya Elang.
”Kadang saya buka kalau ada barang yang perlu
diangkat keluar atau dimasukkan. Kalau dibersihkan
agak jarang—seminggu sekali juga belum tentu.”
Ketika pintu terbuka, Ibu Kos mencaricari meja
kecil itu. ”lho... kok hilang?” Matanya mendelik,
49
http://facebook.com/indonesiapustaka kepalanya bergerakgerak ke segala arah di ruang
itu.
”Gung,” sela Elang tibatiba, ”meja itu kukira dilem
par Gagak Hitam. Dia menyeretnya sampai depan
kamar mandi di sebelah kamar, lalu melemparnya ke
luar, ke bawah.”
Elang dan Agung pun bergegas menuju samping
rumah. Agung pernah menyelidiki tempat itu, tapi
tak menemukan apa pun. Sebagian besar lahan ko
song di situ ditumbuhi tanaman liar dan ilalang yang
tingginya hampir satu meter, namun ada juga bebe
rapa bagian yang berupa tanah saja. Elang dan Agung
mulai menjejakjejakkan kaki, melompatlompat di
bagian tanah, berharap menginjak benda keras.
Ibu Kos muncul, mendekati mereka. ”Menemukan
sesuatu?”
Kaki Agung menginjak benda licin di antara ila
lang. Ia membungkuk, meraih benda itu. Besi ber
diameter sekitar dua sentimeter, panjangnya sekitar
setengah meter. Ia angkat benda itu, Ibu Kos serta
merta berteriak. ”Itu salah satu kaki meja itu!”
Hari menjelang sore, mendung menyelimuti langit.
Agung dan Elang berhasil menemukan tiga kaki meja
dari besi. Elang tampak bersemangat, berkalikali ia
berkata kepada dirinya sendiri di dalam hati, ternyata
ia berbakat menjadi detektif. Ibu Kos meninggalkan
mereka, pergi untuk sebuah urusan.
Gerimis turun, Elang dan Agung berteduh di
50
http://facebook.com/indonesiapustaka warung kopi kecil tak jauh dari rumah kos. Hujan
turun makin deras ketika mereka memesan kopi.
Sambil menyeruput kopi, Agung bertanya, ”Kau
tidak melihat sesuatu yang aneh pada Ibu Kos?”
”Kau mencurigainya?”
”Bukan begitu. Tidak ada bukti yang mengarah
kepadanya. Kaulihat, Ibu Kos ini orang yang suka
sekali berbicara, pandai merayu. Hari ini dia tidak
seperti biasanya, mungkin karena ada kau. Kalau dia
mengajakmu bicara halhal yang tidak penting,
abaikan. Beberapa kali dia yang memintaku agar
kasus ini ditutup, tidak perlu diselidiki lebih lanjut.
Baginya, ini tidak ada gunanya. Toh yang bunuh diri
orang tidak jelas. Dia pernah menawariku sejumlah
uang agar aku melupakan saja kasus ini.”
”Jelas, dia khawatir usahanya mandek,” tanggap
Elang.
”Ya, begitulah. Kukatakan ini karena pada hari
pertamamu ini kau sudah bekerja cukup baik. Kau
berbakat. Sedapat mungkin, hindarilah omong ko
song yang melantur, Elang. Atau anggapananggapan
umum. Mulai hari ini kau berada dalam penyelidikan
yang serius. Kalaupun harus mendengar omongan
melantur atau anggapan umum, dengarkan sambil
memikirkan hal lainnya—bukan hanya dari Ibu Kos,
nanti bahkan kau mungkin mendengarnya dari polisi
lain atau siapa pun.”
Elang mengangguk, mencoba memahami. ”Aku
51
http://facebook.com/indonesiapustaka akan coba fokus pada kasus ini. Aku senang menda
pat kesempatan ini.”
”Bagus. Kaulihat saja, begitu banyak omong kosong
tiap hari. Kuberi contoh. Suatu ketika dua orang yang
dulu tinggal satu rumah kos denganku memberi peni
laian berbeda tentang badanku dalam hitungan jam
setelah kami tak bertemu sekitar tiga tahun. Yang
satu berkata, ’Tambah gemuk ya sekarang?’ Satunya
lagi berkata, ’Kok agak kurus?’”
”Padahal... kau...?”
”Tidak bertambah kurus atau gemuk. Seminggu
sekali kutimbang berat badanku, tidak berubah sejak
empat tahun lalu. lalu, pernahkah kau mendengar,
’Anakanak SD sekarang kecilkecil badannya’, atau
’Pontianak lebih panas daripada Semarang’, atau
kalimatkalimat sampah semacam itu?”
”Sampah?”
”Ya, itu sampah. Generalisasi payah adalah sampah
yang harus dibuang oleh pencari kebenaran. Kita
mengutamakan detail, bukan apa kata orang, peni
laian sekilas, kesan, prasangka, halhal yang sudah
bersifat umum, dan segala bentuk omong kosong
lainnya. Sejak dulu, selalu ada anak SD yang besar
atau kecil badannya. Dan, suhu tiap kota berubah—
bahkan berubah setiap hari. Semakin sering kau
menghindari omong kosong semacam itu, semakin
baik.”
Elang tidak yakin katakata Agung itu memang
benarbenar ia perlukan, terutama untuk saat ini.
52
http://facebook.com/indonesiapustaka Tapi, ia merenungkannya dalamdalam, akan meng
ingatnya baikbaik.
Hujan sudah reda ketika hari mulai gelap. Agung
meminjam senter, linggis, dan cangkul, merasa sangat
yakin bahwa kakikaki meja itu dipatahkan, dan ada
meja berlaci yang dipendam di dalam tanah. Peka
rangan di samping rumah kos itu cukup luas, sekitar
tiga ratus meter per segi. Ketiga kaki meja ditemukan
pada posisi berjauhan. Agung dan Elang meminta
bantuan kepada dua pria, tetangga Ibu Kos, untuk
menggali tanah, mencari meja yang hampir pasti
dipendam di tanah kosong itu. Anakanak kos dan
beberapa tetangga Ibu Kos mengamati apa yang me
reka kerjakan sambil berbisikbisik, wajah mereka
dipenuhi tanda tanya.
”Saya menemukan sesuatu!” teriak seorang pria
bernama Rudi, salah satu tetangga yang ikut menggali.
Saat itu hampir pukul sembilan malam.
Meja itu ditemukan, dipendam di kedalaman sete
ngah meter dari permukaan tanah. Agung meminta
seorang anak kos untuk memanggil Ibu Kos. ”Benar,
itu mejanya!”
Rudi dan Agung mengangkat meja yang sudah tak
berkaki itu, lalu membawanya ke halaman rumah
kos. Mereka membersihkannya, meletakkan meja itu
di lantai garasi. Orangorang yang berkumpul di
sekitar rumah Ibu Kos bertambah ramai, sekitar dua
53
http://facebook.com/indonesiapustaka puluh orang. Mereka menyemut di sekitar garasi.
Agung meminta mereka semua mundur, karena ba
rang bukti ini perlu diamankan, tidak boleh dijamah
siapa pun.
”Awas, di laci meja itu mungkin saja ada bom!”
kata seseorang. Mendengar hal itu, beberapa orang
bergegas meninggalkan garasi.
Elang menoleh, mencari sumber suara. ”Benarkah
demikian?” tanyanya kepada Agung, suaranya sedikit
bergetar.
Agung menggeleng. ”Instingku hampir selalu be
nar, dan kukira yang ada di dalam laci meja ini tidak
membahayakan,” kata Agung sambil mengangkat
meja itu, mengamatinya dari berbagai sisi. ”lacinya
terkunci, Yon,” katanya kepada Elang. ”Tolong ambil
tisu, agar sidik jari kita tidak membekas di barang
yang ada di dalam laci ini. Ambilkan juga palu,
obeng, dan tang.”
Elang meminta bantuan Ibu Kos dan seorang peng
huni kos untuk menyiapkan barangbarang itu. Saat
itu, dua orang datang, masingmasing membawa ka
mera, memotret. ”Aduh, sialan!” umpat Agung.
Elang datang, membawa barangbarang yang tadi
diminta Agung. ”Mereka wartawan?” tanyanya kepada
Agung sambil melirik orang yang datang. Agung me
naikkan alis, mengiyakan. ”Apakah kita perlu pindah
ke dalam rumah?”
”Tidak usah, Yono! Kita selesaikan saja di sini,”
kata Agung sambil mencongkel laci yang terkunci.
54
http://facebook.com/indonesiapustaka Sepuluh menit kemudian, laci itu berhasil dibobol.
Agung dan Elang saling berpandangan. Dari sorot
matanya, Elang menilai, ada sedikit kegentaran di
mata Agung. ”Bom?” selidik Elang.
Agung mengangkat bahu.
Seorang wartawan yang membawa kamera mende
kat, hendak menjamah barang bukti itu. Ia menge
nakan topi dan kacamata berlensa cokelat. ”Hei,
minggir!” sentak Agung kepadanya. Seketika ia men
jauh, dimaki beberapa orang.
Setelah menimbangnimbang, Elang dan Agung
membawa meja yang lacinya sudah berhasil dibobol
itu ke tepi jalan. ”Aku jarang sekali berurusan dengan
bom,” bisik Agung sambil membawa meja itu ke
tengah jalan. ”Aku jadi khawatir akan ada ledakan
setelah kita membuka laci meja ini.”
Agung pun meminta Ibu Kos mengambil tiang
bendera, lalu meminta paku kecil. Ia menancapkan
paku itu di ujung tiang bendera. ”Yono,” katanya
kepada Elang sambil mengusap dahinya yang ber
keringat, ”kau dan Mas Rudi tolong mengatur orang
orang ini agak menjauh. Aku akan menarik laci meja
ini menggunakan tiang bendera yang sudah kutancapi
paku.”
Orangorang di depan rumah Ibu Kos melotot
ketika Agung membungkuk, berada sekitar tiga meter
dari meja itu. Beberapa orang berbisikbisik. Elang
memastikan tidak ada orang yang berada cukup dekat
dengan meja itu.
55
http://facebook.com/indonesiapustaka Paku mulai terkait di bawah laci, laci meja ditarik
perlahanlahan. Tidak terdengar ada ledakan atau apa
pun. Dari kejauhan, Elang melihat sebuah buku ber
sampul gambar gadis seksi di dalamnya—buku teka
teki silang. Ia berjalan perlahan, mendekati meja
itu.
Tapi, sebelum ia sampai di meja itu, seorang pria
berlari cepat, mengambil buku TTS itu, lalu berlari
kencang di jalan di depan rumah ibu kos itu. ”Kejar
dia!” teriak Agung.
Elang mengejar pria itu, disusul Rudi yang masih
membawa linggis. Elang yang kelelahan tertinggal
jauh, napasnya ngosngosan. Agung berlari lebih
kencang dari belakang Elang, hampir menyusul Rudi.
Rudi terus berlari kencang, berhasil mengejar pria
itu, berada sekitar dua meter di belakangnya. Saat
jarak keduanya makin dekat, Rudi melemparkan
linggis yang dibawanya, mengenai pundak pria itu.
Pria itu berteriak kecil, lalu terjatuh. Rudi menindih
nya, merampas buku TTS yang dipegangnya. Saat
Rudi berhasil merampas buku itu, pria tersebut me
ngeluarkan pistol dari saku jaketnya. Rudi pun meng
hindar, melemparkan badan ke samping, hampir
masuk ke parit. Ia tengkurap, tangannya di bawah
perut memegang buku itu eraterat.
DOR!
Beberapa detik kemudian terdengar suara mesin
motor menyala, lalu melaju kencang.
56
http://facebook.com/indonesiapustaka Rudi bangkit, di sampingnya ada Agung.
”Kau baikbaik saja?” tanya Agung yang memegang
pistol.
Rudi menggeleng, tangannya bergetargetar saat
menyerahkan buku TTS yang ia selamatkan. ”Terima
kasih, Mas Rudi,” kata Agung sambil merangkul
pundaknya. ”Kau tahu siapa pria itu?” tanya Agung
kepada Rudi.
”Ya. Topi dan kacamatanya! Dia salah satu warta
wan yang tadi memotret meja yang kita temukan.”
Agung tersenyum. ”Sudah kuduga, kasus ini terkait
dengan kasus lain. Untuk saat ini, cukup sampai di
sini pekerjaan kita.”
”Siapa tadi yang menembak?” tanya Rudi.
”Saya,” kata Agung. ”Hanya menembak ke langit,
untuk menggertak. Untunglah gertakan itu berhasil.
Orang itu kabur.”
Elang menghampiri Agung dan Rudi, mereka
bertiga berjalan kembali ke arah rumah kos yang
berada sekitar dua ratus meter dari tempat TTS itu
diselamatkan. Orangorang makin ramai di tepi jalan,
berhamburan keluar dari dalam rumah setelah men
dengar suara tembakan. Seorang wartawan yang
masih berada di depan rumah Ibu Kos menghampiri
ketiga orang itu sambil berlarilari kecil.
”Bagaimana pendapat Anda, Pak, atas kejadian
tadi?”
Agung sebenarnya enggan menanggapi. ”Nah, kau
57
http://facebook.com/indonesiapustaka punya berita bagus untuk koranmu. Ada barang bukti
baru, sebuah tembakan, dan Rudi sang penyelamat
barang bukti. Selain itu, ada orang misterius yang
berprofesi sama sepertimu, yang sudah mempersiapkan
diri cukup baik untuk merampas barang bukti ini,
dibuktikan dengan motor yang dia letakkan cukup
jauh dari rumah kos,” katanya.
58
http://facebook.com/indonesiapustaka 6
MINGGU, 23 November 2014. Kantor polisi sepi.
Elang dan Agung mengamati temuan mereka: buku
TTS dan dua nota pengiriman surat berwarna kuning
yang diterbitkan Kantor Pos di Singkawang. Nota
pertama berisi catatan pengiriman kepada dokter
bernama Nina Sekarwati di Rumah Sakit Anak dan
Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jakarta. Nota kedua
berisi catatan pengiriman kepada Gabriel, dialamatkan
ke Apotek Berkat di Kota Malang. Dua nota itu
merupakan bukti pengiriman paket kategori kilat
khusus. Di kedua nota tersebut tidak ada nomor
telepon penerima. Tanggal pengiriman yang sama
tercantum di sana: 13 November 2014, dua hari
sebelum kematian Gagak Hitam.
Agung menggeleng beberapa kali. ”Akhirnya mun
cul keterangan!”
59
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kita baru saja memulai, akhirnya masih jauh,”
ujar Elang sambil tersenyum.
”Baik, supaya cepat, kita harus membagi tugas.
Elang, kauselidiki buku TTS itu. Amati apakah ada
yang ganjil. Gunakan tisu untuk membolakbalik
halaman. Cari katakata yang mungkin saja diberi
tanda. Amati semua detail, kukira kau cukup ahli.
Sementara itu, aku akan meminta bantuan kawanku
untuk mencari telepon dan identitas penerima kedua
surat ini.
”Baik,” kata Elang sambil mengangkat jempol.
”lalu,” potong Agung sambil menghentikan
langkah, ”aku teringat sesuatu. Semalam aku curiga,
meja ini bukan dipendam, Elang. Untuk apa dia
repotrepot memendamnya? Bukankah lebih mudah
membakar atau melenyapkan buku TTS dan dua
nota ini? Dipendam dengan tujuan untuk memberi
petunjuk?”
”Jadi, yang memendamnya adalah pria yang me
nyamar jadi wartawan semalam?” Agung mengangkat
bahu, memajukan bibirnya. ”Bisa jadi begitu.”
”Atau, janganjangan... dia pembunuhnya? lalu,
yang memendam meja itu adalah... Ibu Kos? Gagak
Hitam tidak mati bunuh diri... tapi dibunuh pria
itu?”
Agung menggelenggeleng. ”Pertanyaanmu terlalu
banyak, dan semua kemungkinan itu sudah kupikirkan
juga semalam. Entahlah... kita tak perlu terlalu cepat
menyimpulkan. Yang jelas aku perlu tahu dulu siapa
60
http://facebook.com/indonesiapustaka kedua orang yang dikirimi surat oleh Gagak Hitam,”
katanya sambil mengangkat dua nota kuning yang
dimasukkannya ke kantong barang bukti.
”Kau juga akan mengidentifikasi sidik jarinya?”
Agung mengangguk, meninggalkan Elang, menuju
ruangan lain. Elang mengamati buku TTS yang ada
di depannya dengan cermat. Ada TTS yang semua
kotak putihnya terisi jawaban, tapi lebih banyak yang
hanya dikerjakan sedikit. Elang mencaricari, apakah
ada yang tersembunyi di balik jawabanjawaban itu.
Gadis yang berada di sampul depan adalah wanita
Jepang atau Tiongkok yang tidak dikenal Elang.
Saat Elang membolakbalik buku TTS itu, Pak
Effendi datang membawa koran. Wajahnya tampak
serius, penuh tanda tanya. ”Untung wajahmu tidak
terlalu besar di foto itu!” serunya sambil melempar
koran.
Elang membolakbalik halaman koran, terkejut
melihat berita dengan judul yang cukup besar: ”Dite-
mukan Barang Bukti Peristiwa Bunuh Diri Pengarang”.
Sadarlah ia sekarang, mengapa ia butuh nama samar
an. Elang membaca berita itu dengan cepat, mendesah
lega ketika ia disebut sebagai Detektif Yono dalam
berita itu. Di berita tersebut ada fotonya yang sedang
menunduk, dan Agung yang mengamati meja tanpa
kaki. Elang menggelenggeleng. Ia masih ingat benar,
tepat seminggu yang lalu ia berada di warung kopi,
membaca berita tentang Gagak Hitam yang mati bu
nuh diri.
61
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Nah, kau sudah menjadi Detektif Yono sekarang,
Elang?” kata Pak Effendi, membuyarkan konsentrasi
nya.
Elang tersenyum, menceritakan dengan cepat keja
dian semalam. Pak Effendi menyimak dengan per
hatian penuh, lalu terdiam hampir lima menit setelah
Elang mengakhiri ceritanya. Suasana di ruangan ter
sebut jadi begitu sunyi, Elang melanjutkan mencari
sesuatu yang ganjil pada buku TTS itu.
”Ternyata, dari ceritamu, kau berbakat. Sekarang...
menemukan sesuatu?”
Elang menggeleng. ”Bapak sendiri bagaimana? Dari
cerita ini, adakah sesuatu yang Bapak simpulkan?”
Pak Effendi mengeluselus dagunya. ”Kukira, ada
tiga hal yang perlu dicamkan. Pertama, peristiwa
bunuh diri ini jelas ada hubungannya dengan sebab
sebab eksternal, seperti yang dulu pernah kuper
tanyakan. Peristiwa ini bisa jadi bukan benarbenar
bunuh diri. Wartawan menyimpulkan itu bunuh diri
karena mayat Gagak Hitam ditemukan di kamar
dalam posisi leher tergantung di tali tambang. Kedua,
pria yang kalian temui semalam bisa jadi si pem
bunuh, bisa juga dia utusan seseorang yang selama
ini mengawasi gerakgerik Gagak Hitam. Ketiga...”
Pak Effendi berhenti sebentar.
”Ketiga?” tanya Elang tidak sabar.
”Peristiwa kematian Gagak Hitam sudah diliput
media. Hari ini berita itu tentulah menyebar dengan
cepat. Aku curiga, kalau ada pihak luar yang benar
62
http://facebook.com/indonesiapustaka benar terlibat, dalam waktu dekat pasti akan ada
kematian lain.”
”Tapi, setelah kupikirpikir sambil membolakbalik
buku TTS ini... kasus ini tetap bunuh diri, Pak.
Alasannya sederhana: Gagak Hitam tidak meninggalkan
satu keterangan pun di kamarnya. Ini sudah dia
rencanakan dengan matang. Sangat matang.”
Pak Effendi menggumam, mondarmandir dalam
ruangan. ”Agung ke mana?”
Agung muncul di depan pintu sebelum Elang men
jawab. ”Bagaimana?” tanya Elang dan Pak Effendi,
nyaris serentak.
”Satu kontak sudah terdeteksi. Nina Sekarwati
adalah dokter di RSAB Harapan Kita. Hari ini dokter
itu tidak praktik. Seorang petugas rumah sakit sedang
mencari tahu nomor ponselnya ketika kuberitahukan
ada peristiwa penting yang memerlukan penjelasannya.
Secepatnya dia akan menelepon balik.”
”Yang satunya lagi?” tanya Elang.
”Telepon tidak diangkat. Aku sudah mendapatkan
nomor telepon Apotek Berkat di Malang dari 108.
Mungkin mereka sedang tutup. Ini hari Minggu.”
Pak Effendi mengulurkan tangan, menjabat Agung.
”Selamat, kau berhasil membuktikan hipotesismu
yang waktu itu memang kukira benar. Ada sebab
eksternal dalam kasus ini. Setelah berharihari, akhir
nya muncul juga keterangan itu.”
Agung mengucapkan terima kasih, hampir tak
terdengar. Kemudian ia menengok ke luar sebentar,
63
http://facebook.com/indonesiapustaka menutup pintu. ”Pak, banyak kawan kita pesimistis
pada kasus ini. Hampir semua yang kumintai saran
berkata agar aku mengabaikannya saja,” bisiknya,
terdengar oleh Elang.
”Kami tahu, Agung,” bisik Pak Effendi, ”kasus ini
memang aneh. Aku mendengar ada kawankawan kita
yang lebih parah dalam menangani kasus seperti ini,
investigasinya minim sekali. Kalau sudah ada katakata
bunuh diri, banyak yang enggan menyelidiki lebih
lanjut.” Pak Effendi suka mengajak Agung berbicara
walaupun mereka berbeda satuan dalam kepolisian.
Pak Effendi berpangkat AKP (Ajun Komisaris Polisi),
menjabat sebagai Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat
(Kasat Binmas), sementara Agung yang menjadi Ke
pala Unit Kejahatan dan Kekerasan (Kanit Jatanras),
berpangkat Inspektur Satu (Iptu).
”Padahal bunuh diri, gantung diri, atau mencelakai
diri sendiri adalah istilahistilah yang abstrak, mak
nanya berubahubah. Generalisasi payah sangat mu
dah menggiring opini publik ke arah yang keliru.
Dalam hal ini, media yang mengambil peran penting.
lihat saja: bunuh diri, pengarang—bukankah itu sen
sasional sekali?” kata Agung. Seketika Elang teringat
pada katakata Agung yang ia sampaikan kemarin di
warung kopi saat mereka berdua sedang menunggu
hujan reda.
”Sangat sensasional, sudah pasti,” kata Pak Effendi
sambil melirik ke arah Elang yang menyimak pem
64
http://facebook.com/indonesiapustaka bicaraan kedua polisi itu, lalu tersenyum kecil. ”Sampai
sampai kau mendapatkan asisten baru.”
Elang berdeham kecil, lalu tersenyum. Agung meno
leh ke arahnya, lalu berkata kepada Pak Effendi,
”Dugaanmu benar, Pak, aku harus memujinya, dia
pengamat yang detail.”
Ponsel Agung berbunyi. Nomor yang tidak dikenal
memanggilnya. ”Ya?”
Suasana di ruangan itu begitu hening.
”Terlambat? Baru saja... Terlambat? Ada apa?” kata
Agung, setengah membentak. Elang sampai berdiri
mendengar suara Agung. Ia dan Pak Effendi menatap
wajah Agung dengan penuh tanda tanya.
”Ya Tuhan... tewas gantung diri dalam keadaan
hamil?” kata Agung sambil duduk di kursi, mulutnya
menganga, tak hentihentinya ia menggeleng.
Ketika menutup telepon, Pak Effendi dan Elang
bertanya kepadanya, hampir bersamaan, ”Ada apa?”
”Petugas RSAB Harapan Kita baru saja menelepon.
Dokter Nina Sekarwati baru saja ditemukan bunuh
diri, diduga kuat karena meminum racun. Tapi,
mayatnya juga tergantung di kamar. Dia tewas dalam
keadaan hamil. Hasil visum mengatakan kematiannya
terjadi empat jam lalu, sekitar pukul lima pagi. Ada
kandungan racun mematikan dalam darahnya. Dan,
yang mengejutkan adalah katakata yang dia tuliskan
dengan lipstik di tembok kamarnya.”
”Apa itu?” tanya Elang.
65
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Merpati Putih menyusulmu.”
Pak Effendi terduduk, menyandarkan kepalanya di
kursi. Elang menatap langitlangit, terdiam.
66
http://facebook.com/indonesiapustaka 7
”GAGAK Hitam dan Merpati Putih. Satu di Sing
kawang, satu di Jakarta. Duaduanya tewas, sejauh
ini, kemungkinan besar karena bunuh diri. Ada
keterkaitan, dan tentu hubungan emosional. Nah,
misteri apa yang harus kita singkap, Elang?” tanya
Agung dengan suara pelan, nyaris bergumam.
Elang terpana. Gagak, Merpati, dan Elang—ia
merasa ditakdirkan untuk masuk ke dalam kasus ini.
”Apakah kita harus ke Jakarta?” tanyanya, bergantian
memandang Pak Effendi dan Agung.
Tak ada jawaban selama hampir semenit.
”Ini kasus terunik yang pernah kuperoleh selama
aku menjadi polisi. Bagaimana pendapat Bapak?” kata
Agung sambil memandang Pak Effendi.
”Aku kagum dengan instingmu, Gung. Tapi, ku
kira... entahlah...” kata Pak Effendi sambil melirik
67
http://facebook.com/indonesiapustaka koran. Elang mengamati bahwa Pak Effendi tidak
membaca, bola matanya tak bergerak. Telunjuknya
terusmenerus mengetuk meja.
”Aku tahu,” kata Elang. ”Aku duga, Bapak sedang
mengira, berita di media ikut berperan dalam
peristiwa bunuh diri kedua. Betul begitu, Pak?”
Pak Effendi menatap Elang, tersenyum sambil me
nyipitkan mata. ”Ya... tepat sekali, itu yang kupikirkan.
Tapi memang harus diselidiki, apa yang dikirimkan
Gagak Hitam. Itu tidak bisa diabaikan.”
”Baik,” sergap Agung sambil mengeluarkan kunci
motor dari saku celananya. ”Sekarang kita beristirahat
dulu beberapa jam. Aku akan mengabari polisi di
Jakarta tentang peristiwa bunuh diri yang terjadi di
sini, meminta mereka melakukan identifikasi forensik
selengkap mungkin. Nanti sore, kita lanjutkan pe
nyelidikan.”
”Baik. Aku akan mengantarkan Elang ke hotel,”
kata Pak Effendi. ”Bagaimana semalam? Kukira tidur
mu kurang nyenyak.”
”Iya. Sofa di ruangan itu agak keras,” aku Elang.
Semalam ia tidur di sofa yang berada di ruangan Pak
Effendi.
Dalam perjalanan, Elang berkata kepada Pak Effen
di agar ia tidak usah diantar ke Hotel Mahkota—
ongkosnya mahal. Ia meminta agar ia dibawa ke hotel
yang ongkosnya lebih murah karena belum tahu
sampai berapa lama di Singkawang. Pak Effendi
beberapa kali menawari Elang menginap di rumahnya,
68
http://facebook.com/indonesiapustaka tapi Elang menolak. Ia beralasan, kesendirian akan
membantunya lebih fokus menyelesaikan persoalan.
lagi pula, kesendirian mungkin saja membantunya
memperoleh ide membuat lukisan baru. Pak Effendi
pun membawa Elang ke Hotel Mitra Tanjung.
”Bagaimana, mau melihatlihat dulu?” tanya Pak
Effendi ketika mereka sampai di hotel itu.
”Kelihatannya layak sekali kok, Pak,” kata Elang
sambil memperhatikan hotel itu saat mereka berada
di halaman parkir.
Mereka masuk. Resepsionis menyambut dan me
nunjukkan daftar harga kamar. Elang memilih yang
berAC dan bertelevisi. Ia berkata akan menginap
selama beberapa hari. Ia mengeluarkan sejumlah
uang, membayar untuk dua hari ke depan. ”Kalau
memang lebih dari dua hari, nanti pasti saya berita
hu,” katanya.
Pak Effendi meninggalkan Elang sebelum ia masuk
ke kamar. ”Terima kasih, Pak. Sungguh, saya tidak
menduga akan terlibat sejauh ini. Kalau ada halhal
yang perlu masukan dan bantuan dari Bapak, akan
saya kabari.”
Pak Effendi menepuk pundak Elang, berkata, ”Kau
sudah bekerja sangat baik. Pintu rumahku selalu
terbuka untukmu kalau kau tidak betah di sini. Tapi,
walaupun kau betah, mampirlah sesekali ke rumah,
kukenalkan kepada anakanak dan istriku.”
Elang mengangguk, tersenyum. ”Pasti, saya akan
mampir ke sana.”
69
http://facebook.com/indonesiapustaka ***
Di kamar, Elang tak bisa langsung tidur. Ia terus
mengamati buku TTS itu, membolakbalik halamannya
dengan hatihati menggunakan tisu. Ia mencermati
kata demi kata, kotak hitam dan kotak putih, per
tanyaan, jawaban, dan sesuatu yang ia kira mencuri
gakan. Ia mencaricari katakata seperti ”merpati”,
”burung”, ”gagak”, ”mati”, dan lain sebagainya yang
menurutnya dapat menjadi semacam petunjuk. Sem
pat ia memaki dalam hati, tampaknya ini akan sia
sia.
Tak terasa ia terlelap dengan posisi tengkurap.
Tidurnya pulas, hampir tiga jam. Menjelang pukul
tiga sore ia terbangun oleh suara motor yang cukup
keras. Saat terbangun matanya melihat sesuatu yang
ganjil pada buku TTS itu.
Halaman! Ya, ada halaman yang hilang! Dari
halaman 6, langsung halaman 9. Dan di bagian lain,
dari halaman 20, langsung halaman 23. Buku TTS
itu dijilid hanya dengan dua staples di bagian tengah.
Halaman 7 dan 8 yang hilang, bila buku itu dibuka,
masih merupakan lembaran yang sama dengan
halaman 21 dan 22. Jadi, ada selembar kertas yang
disobek atau dikeluarkan dari buku!
Ah, tampaknya inilah petunjuknya!
Elang pun mandi, keluar kamar, bertanya kepada
resepsionis hotel, di mana ia bisa membeli buku TTS.
”Untuk mengisi waktu luang, biar tidak bosan di
70
http://facebook.com/indonesiapustaka kamar. Acara televisi cuma gitugitu saja,” jelasnya
tanpa diminta.
Kata si resepsionis, ada toko buku yang ia lupa
namanya di depan Bioskop Kota Indah yang tak lagi
terpakai. ”Tapi saya tidak yakin, apakah toko itu buka
pada hari Minggu.”
”Toko itu cukup lengkap?”
”Kalau yang lebih lengkap sebenarnya ada, di dekat
Jembatan Agen. Tapi, toko buku itu sepertinya tidak
menjual bukubuku TTS. Toko Buku Karisma, pernah
dengar toko buku itu?”
Elang mengangguk. Toko Buku Karisma mirip
Toko Buku Gramedia, menjual bukubuku bacaan
dan alatalat kantor. Kalaupun ada TTS, mungkin
yang dijual hanya yang edisi baru. Ia melirik, me
mastikan. Buku TTS ini sudah cukup lama, edisi
November 2012, dua tahun lalu. Mungkinkah dia
menemukan buku TTS yang sama? ”Baiklah, bisakah
saya minta tolong dipanggilkan ojek?”
Resepsionis menyanggupi, menelepon seseorang.
lima menit kemudian tukang ojek muncul di
halaman hotel. Elang minta diantar ke Bioskop Kota
Indah. Dalam perjalanan ke sana, ia meminta nomor
ponsel si tukang ojek. ”Mungkin saya akan sering
membutuhkan bantuan Bapak,” katanya.
Sudah pukul empat sore ketika Elang sampai di
toko buku itu. Hatinya sempat tergoda melihat buku
buku yang dipajang di sana—ia lumayan suka mem
baca buku. Tapi, ia sedang memburu waktu, memilih
71
http://facebook.com/indonesiapustaka melaksanakan apa yang sudah ia rencanakan sebelum
sampai ke toko itu.
”Bang,” katanya kepada penjaga toko buku sambil
mengeluarkan buku TTS yang ia bawa dan bungkus
dalam plastik, ”saya perlu bantuan. Apakah ada buku
ini di sini?”
”TTS? Banyak...” sahut si penjaga.
”Maksud saya, yang sama seperti ini. Yang edisi
November 2012, yang sampul depannya seperti ini.
Ada?”
Si penjaga toko mengerutkan dahi, memperhatikan
tumpukan buku TTS di sebuah sudut. ”Wah, banyak
sekali TTS, di bagian belakang toko juga masih ada
beberapa tumpuk. Memang bukubuku TTS lama
banyak yang dijual. Jadi, kalau harus menemukan
yang sama persis, mungkin...,” katanya sambil meng
garuk kepala, ”perlu waktu.”
Elang tersenyum, mengeluarkan dua lembar uang
lima puluh ribu dari dompetnya. ”Bagaimana kalau
saya minta dicarikan agak cepat? Sebelum besok,
kalau ada, kabari saya.”
Penjaga toko itu menoleh sedikit ke belakang,
melihat bosnya yang sedang sibuk dengan kalkulator.
”Boleh. Saya kira ada kok, Bang. Kalau nggak
ada?”
Elang berpikir beberapa detik, mengamati wajah
penjaga toko itu. ”Kalau nggak ada, lima puluh ribu
untukmu, sisanya kamu kembalikan.” Elang berhenti
bicara. ”Hm... apakah saya nggak sopan?”
72
http://facebook.com/indonesiapustaka Penjaga toko menggeleng. ”Saya kira... adil kok.
Santai saja, akan saya carikan.” Ia mengeluarkan
ponsel dari saku celananya, memotret sampul depan
buku TTS yang dibawa Elang. ”Supaya ingat,” katanya
sambil memotret.
Elang mengamati wajah penjaga toko itu, ada keju
juran yang terpancar di matanya. Dilihat dari gerak
geriknya, ia juga seorang yang cekatan. Elang senang,
penjaga toko itu tidak banyak bertanya. Ia memberikan
nomor ponselnya kepada si penjaga toko, lalu mening
galkannya. ”Kabari aku kapan saja kalau menemukan
buku TTS edisi ini. Tengah malam juga nggak apa
apa.”
Tak jauh dari toko itu, masih di depan Bioskop
Kota Indah, Elang menemukan warung kopi. Ia
duduk di situ, memesan kopi susu. Ia menyulut
sebatang rokok, merenung, mencoba merangkai se
mua kejadian yang ia alami. Baru sepuluh menit
berada di tempat itu, ponselnya berbunyi.
”Ya, Agung. Ada kabar apa?”
”Polres Jakarta Barat mengabari, suami Dokter
Nina Sekarwati sedang dalam keadaan stres berat,
membuatnya susah diselidiki, enggan ditemui. Ada
kecurigaan, hubungan rumah tangga mereka retak
sebelum peristiwa bunuh diri terjadi,” jelas Agung.
”Siapa nama suami Dokter Nina? Apa pekerjaan
nya?”
”Yogi Andhimas, biasa dipanggil Yogi. Dia seorang
pebisnis yang sibuk, mengelola banyak bidang usaha.”
73
http://facebook.com/indonesiapustaka Seketika Elang teringat Irin. ”Jadi, ini cinta segi
tiga?”
”Entahlah. Tidak ada yang tahu berapa banyak
kekasih gelap Yogi. Semakin kaya seseorang, semakin
mudah dia mendapatkan kekasih gelap. Kalau
kekasihnya ada dua, berarti ini cinta segi empat: Yogi
dan Dokter Nina, Gagak Hitam dan Dokter Nina,
Yogi dan Kekasih Gelap 1, Yogi dan Kekasih Gelap
2,” kata Agung sambil tertawa kecil.
Elang ikut tertawa. ”Aku sedang ngopi di depan
Bioskop Kota Indah. Mau gabung ke sini?”
”Baik. lima belas menit lagi aku sampai di sana.”
Agung datang ke warkop itu dengan pakaian santai:
baju klub bola dan celana pendek. Ia tampak segar,
habis mandi, walau wajahnya tetap seperti biasanya:
muram, dipenuhi tanda tanya. Ia memesan kopi dan
sebungkus rokok. ”Bagaimana? Bisa beristirahat tadi
di hotel?”
”lumayan, sekitar dua atau tiga jamlah. Hotelnya
juga bersih kok. lagi pula, ongkosnya murah.”
”Kita akan berhadapan dengan kasus yang agak
rumit. Singkawang, Jakarta, dan Malang. Tiga kota.
Aku sempat khawatir jika orang yang mendapat ki
riman dari Gagak Hitam akan tewas bunuh diri se
mua. Aku sempat membayangkan jika dia sosok
peneror, punya kelainan jiwa, dan menyebarkan ke
putusasaan.”
74
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Hm, aku tidak berimajinasi sejauh itu. Aku belum
bisa menyimpulkan. Hanya saja, aku sudah mendapat
temuan menarik.”
”Temuan? Apa itu?”
Elang pun mengisahkan tentang empat halaman
yang hilang dari buku TTS itu. Agung tampak kurang
yakin, apa yang Elang temukan berpengaruh signi
fikan dalam penyelidikan itu. ”Kukira, buku TTS itu
hanya pelengkap, menjadi semacam pengaman untuk
dua nota pengiriman yang diselipkan di situ.”
”Aku berpikir lain. Seorang penulis selalu berhu
bungan dengan diksi. Kawanku pernah berkata, pe
nulis harus selalu mengasah kemampuannya dalam
hal meramu atau merangkai katakata agar tulisannya
tidak membosankan. Nah, TTS ini kukira memiliki
peran di situ.”
Agung menyeruput kopinya, merenung sambil me
natap jalan. ”Benar juga katamu. Tapi aku menduga
dua manusia ini, Gagak dan Merpati, sedang men
jalin hubungan gelap. Dan tugas kita jelas menyelidiki
apa bentuk hubungan itu.”
”Menurutmu, Gagak Hitam sudah menikah atau
belum?”
Agung menggeleng.
”Belum menikah, sendiri, dan bunuh diri. Ah,
menyedihkan,” gumam Elang.
”Mereka yang tidak menikah adalah pecundang
dan orangorang menyedihkan—sudah terlalu sering
aku mendengarnya, Elang. Kalau kau mau menyelidiki
75
http://facebook.com/indonesiapustaka sesuatu, milikilah pola pikir yang lain, bersiap dengan
segala kemungkinan. Kuberitahu, tidak sedikit orang
yang tidak menikah kukenal sebagai pemberani.”
”Pemberani? Apa maksudmu?” tanya Elang sambil
mengubah posisi duduk, menyulut sebatang rokok.
”Mereka berani menghadapi kesepian dan kesu
nyian. lalu, tidak sedikit pula mereka yang menikah
itu sebenarnya pengecut. Takut pada kesepian dan
kesunyian. Takut dicap tidak laku. Takut dibilang
pecundang. Mereka menikah, tapi akhirnya ambu
radul. Kawanku yang dulu sering mendesakku me
nikah lagi, seminggu yang lalu bercerai. Kasihan dia,
sekarang dia tidak pernah membahas pernikahan
kalau bertemu denganku. Dia tampaknya malu.
”Sudah terlalu sering kita berpikir bahwa hanya
mereka yang berstatus sebagai biarawan dan biarawati
yang bisa dimaklumi kalau tidak menikah. Di luar
status itu, semua tuduhan miring siap menyerang
kapan saja: gay, impoten, berpenyakit kronis, dan lain
sebagainya. Padahal pernikahan adalah pilihan; dan
mereka yang tidak menikah jauh lebih sering diang
gap membuat pilihan keliru.”
Elang menyeruput kopinya, kagum dengan pemi
kiran Agung. Ia kembali teringat istilah itu: generalisasi.
Ia tahu Agung sudah bercerai. Ia pernah mendengar
dari Pak Effendi bahwa Agung memang menutup
hatinya untuk wanita mana pun. Elang ingin bertanya,
bagaimana caranya bertahan dari godaan seksual, tapi
sungkan. Ia sendiri, walaupun belum menikah, punya
76
http://facebook.com/indonesiapustaka beberapa wanita yang bisa diajak bersenangsenang.
Elang tetap berkeinginan menikah, walau entah kapan.
Katakata Agung kali ini sungguh menyentak kesadar
annya. Ia menyadari dirinya salah satu pengecut yang
kadang gentar dan tak tahan menghadapi kesepian.
”Agung, bolehkah aku tahu, mengapa kau bercerai?”
”Kau benarbenar ingin tahu?” Mata Agung me
natap tajam, Elang jadi agak takut kepadanya.
Elang mengangguk. ”Terserah, kau mau bercerita
atau tidak.”
Agung mengembuskan asap rokok perlahan. ”Jujur,
Elang, kau bukan gay, kan?”
Elang menggeleng berkalikali sambil tersenyum.
”Aku punya pacar. Wanita, tentu saja. Kami sering
bertemu dan bercinta.”
”Baguslah. Aku selalu menjaga jarak dengan pria
pria gay. Kadang, jujur saja, aku takut dengan mereka.
Sebenarnya tidak boleh begitu, tapi sering kali aku
merasa jijik membayangkan pilihan mereka. Baik,
kembali ke pertanyaanmu. Kuberitahu, aku bercerai
karena kami terlalu sering bertengkar.”
”Apa penyebab pertengkaran kalian?”
”Istriku menganggapku terlalu tenggelam dalam
pekerjaan. Dia juga menganggapku kasar dan tidak
romantis. Wanita berhati lembut—tipe seperti itulah
dia. Tapi, dia sangat gila harta dan pesolek yang
hobinya belanja. Kami juga tidak memiliki keturunan,
entah siapa yang mandul; aku atau dia. Akhirnya,
77
http://facebook.com/indonesiapustaka demi kebaikan bersama, kami memutuskan berpisah
dua tahun lalu.”
”Sudah berapa lama kalian menikah?”
”Tiga tahun,” kata Agung sambil memandang ke
atas, tampaknya mengenang masa lalu. ”Hampir em
pat tahun.”
Elang ingin bertanya, apakah Agung masih men
cintai istrinya dan berharap kembali lagi, tapi meng
urungkan niatnya. Kini makin jelas, Agung adalah
sosok penyendiri yang dingin. Elang jadi ingin tahu
lebih banyak, apa yang bisa membuat pria itu tidak
terlalu muram. Ia kadang khawatir, Agung hanya
berbahagia bila berhasil menangkap penjahat, mengge
bukinya, atau melemparkannya ke penjara. ”Apakah
kesendirian benarbenar terasa akrab untukmu, Gung?
Apakah ada keluarga lain yang menjadi tempatmu
berbagi cerita? Atau membuktikan bahwa... apa yang
kaulakukan tidak siasia?”
”Elang, orang sepertiku sudah tidak perlu membuk
tikan apa pun. Sejak bercerai dengan istriku, aku
makin terbiasa dengan kesepian, tidak lagi meratapinya.
Kesepian menjadi teman terbaikku dalam menye
lesaikan pekerjaan. Aku masih punya keluarga yang
baik: ibuku dan keluarga adikku.
”Kalau bukan karena ibuku, juga adikku dan
keluarganya, aku mungkin sudah mengambil tindakan
nekat, mencelakai diriku sendiri. Ibu sudah makin
tua, dan tiap hari aku selalu memikirkan cara mem
bahagiakannya. Seminggu sekali kubelikan makanan
78
http://facebook.com/indonesiapustaka makanan kesukaannya. Dua atau tiga hari sekali kami
mengobrolkan apa saja, paling tidak satu atau dua
jam. Aku begitu sering melihat kematian, namun
sering kali gelisah ketika memikirkan suatu saat... Ibu
juga akan meninggal.”
”Bagaimana dengan adikmu? Keluarganya baha
gia?”
”Aku senang melihat adikku berbahagia bersama
istri dan anakanaknya, tapi tidak pernah cemburu.
Justru aku ingin melindungi mereka. Setelah rumah
adikku terbakar beberapa tahun lalu, dia kuminta
tinggal di rumahku. Aku tinggal di rumah kos sampai
mereka bisa membangun rumah yang baru.”
Bertemu Agung, banyak anggapan yang rontok
dalam pola pikir Elang. Dalam kesendiriannya, Agung
telah menemukan arti hidupnya, menjadi pahlawan
bagi keluarganya. Walaupun sering berwajah muram,
pria itu tampak bahagia. Elang pun makin yakin,
bahwa ia sedang bekerja bersama rekan yang bisa
diandalkan.
Tibatiba ponsel Elang berbunyi, dari nomor asing.
79
http://facebook.com/indonesiapustaka 8
”BAGUS. Saya ada di warung kopi, nggak jauh dari
tokomu. Kamu keluar dari toko, belok ke kiri, lalu
seberangilah jalan. Ada warung kopi tepat di seberang
jalan itu, di ujung pertigaan,” kata Elang.
Semenit kemudian penjaga toko itu muncul. Elang
melihat jam, sudah hampir pukul enam. Agung me
natap penjaga toko itu keheranan. ”Ini, saya mene
mukannya. Saya bawa dua. Anggap saja satunya bonus,
atau mungkin salah satunya ada yang nggak cocok.
Benar, nggak? Sudah saya cocokkan dengan foto di
kamera saya tadi.”
”Duduk dulu,” kata Elang sambil tersenyum, lalu
mengacungkan jempol. ”Sebentar, nggak lebih dari
lima menit. Aku cek dulu ya.” Elang meminta tisu,
mengeluarkan buku TTS yang ia bungkus plastik. Ia
mencocokkan halaman demi halaman, tidak ada
perbedaan.
80
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Bagaimana? Sama persis?” katanya sambil ikut meng
amati halaman demi halaman yang dicek Elang.
”Sama. Dua buku TTS yang kamu bawa ini
lengkap. Nggak ada halaman yang hilang. Sempurna.
Tadi aku cuma memesan satu, kamu bawa dua.
Untuk aku duaduanya, boleh?”
Abang itu menatap Elang, lalu Agung. ”Oh, boleh,
boleh,” katanya—tampaknya ia takut melihat Agung.
Agung mengangguk kecil, raut wajahnya berubah,
tapi tetap tak tersenyum. Elang menepuk pundak
abang itu, mengucapkan terima kasih. Abang itu
berdiri, tapi duduk lagi. ”Oh ya,” katanya, ”kenapa
buku TTS edisi ini dicaricari. Apakah ada sesuatu
yang khusus, aneh, atau lainnya di sini?”
”Ada sesuatu yang hebat di situ!” Elang terkejut
mendengar Agung berbicara. Agung mengangkat alis,
meminta Elang tetap rileks. ”Kamu lihat tadi teman
ku membelinya lagi karena ada beberapa halaman
yang hilang. Mungkin kamu pernah mendengar,
tahun 2012 dianggap banyak orang sebagai tahun
terakhir dalam peradaban umat manusia. Dunia, kata
banyak orang pada waktu itu, akan berakhir pada
tanggal 12 Desember. Nah, TTS edisi November ini
adalah TTS supermega bonus.”
”Supermega bonus? Maksudnya?” tanya penjaga
toko itu penuh minat.
”Aku kenal dengan penerbit TTS ini. Mereka wak
tu itu membocorkan bonus hebat itu hanya ke bebe
rapa orang, salah satunya aku dan sahabatku ini,”
81
http://facebook.com/indonesiapustaka katanya sambil menepuk pundak Elang. ”Barangsiapa
bisa menjawab semua TTS dalam buku ini, hadiahnya
super—sangat super.”
”Apa itu?”
Agung mengangkat TTS itu, menunjukkan gambar
wanita yang menjadi model di sampul depan. ”Kamu
lihat wanita bahenol ini? Dia memiliki dada yang
indah, bukan?”
Penjaga toko itu tersenyum, kelihatannya sadar
akan dikerjai.
”lho,” kata Agung dengan wajah serius. ”Aku
nggak bercanda. Hadiahnya tamasya ke Jepang, tiga
hari tiga malam. Hadiah diberikan untuk orangorang
tertentu, sebagai bentuk perayaan bahwa dunia belum
berakhir. Dan siapa pun pemenangnya...,” kata Agung
dengan suara yang makin kecil, ”akan ditemani wa
nita ini. Hanya berdua. Dan, ini yang menarik, wa
nita ini akan menemani sepanjang waktu. Tiga kali
24 jam, ke mana pun sang pemenang berwisata di
Jepang.”
”Makanya,” sambung Elang sambil menahan se
nyum, ”tadi kubeli dengan harga tinggi.”
Penjaga toko itu tampaknya berhasil dikelabui. ”Ini
serius?” tanyanya.
”Kamu boleh mencoba kalau mau. Kita bertiga
berlomba. Pesaing kita hanya dua orang lain; satu di
Semarang, dan satu lagi di Jakarta.”
”Jadi, hanya ada lima orang yang berlomba!” sam
bung Elang.
82
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Boleh juga, tadi saya lihat masih ada beberapa
edisi yang sama. Nanti saya coba. Oh ya, bolehkah
saya tahu di mana alamat pengiriman jawaban untuk
buku TTS ini?” kata abang itu sambil melirik wanita
di sampul depan buku TTS tersebut.
Agung terdiam beberapa saat, tampak mengingat
ingat. ”Kamu punya pensil atau bolpoin? Sini aku
catatkan,” katanya sambil membaca sebuah pesan
lama di ponselnya.
Penjaga toko itu meminjam bolpoin dari penjaga
warung, dan meminta secarik kertas, lalu menyerah
kannya kepada Agung. Agung menyalin alamat itu,
wajahnya selalu serius. Elang memaki dalam hati
melihat kepandaiannya berakting. ”Ini alamatnya?
Pontianak?” kata penjaga toko itu sambil membaca
secarik kertas yang Agung berikan.
”Betul. Segera kirimkan buku TTS edisi ini yang
sudah lengkap jawabannya ke alamat itu, nanti akan
ada pemberitahuan lebih lanjut. Jangan lupa, sertakan
fotokopi KTP dan nomor telepon yang bisa dihu
bungi, kamu satukan dengan halaman sampul buku
TTS yang kamu kirimkan.”
”Baik, baik. Terima kasih banyak. Saya akan berpar
tisipasi. Akan saya kirimkan segera jawabannya! Saya
buruburu, toko buku sebentar lagi tutup.”
Elang melambai, mengacungkan jempol. Agung
menjabat tangan penjaga toko itu. ”Jangan beritahu
ini kepada siapa pun,” bisiknya. ”Kami memberitahukan
ini kepadamu karena membawa dua edisi TTS itu
83
http://facebook.com/indonesiapustaka untuk kami. Kukira tadi kamu hanya akan membawa
satu. Jadi, anggap saja, kita bertiga teman seper
juangan.”
Penjaga itu menggoyang tangan Agung yang masih
menjabatnya. ”Siap, Bang.” Tak lama kemudian ia
pergi, berlarilari kecil menyeberang jalan, kembali ke
tokonya.
”Jadi, itu tadi alamat siapa, Gung?” Elang jadi me
rasa lebih akrab dengan Agung, lebih leluasa memang
gilnya ”Gung”. Selalu begitu: sayaAnda berubah
menjadi akukamu atau akukau ketika dua orang
makin akrab; ElangAgung berubah menjadi lang
Gung, karena orang suka memanggil atau menyapa
dengan satu suku kata.
”Itu tadi alamat Rumah Sakit Jiwa di Pontianak,
di Jalan Alianyang,” kata Agung sambil tersenyum
lebar, lalu tertawa lepas—baru kali ini Elang melihat
Agung tertawa lepas. Elang tertawa sampai nyaris
menyemburkan kopi yang ia seruput setelah bertanya
kepada Agung.
Elang dan Agung pun mengamati buku TTS itu.
Hampir sejam mereka mencaricari jawaban untuk
tekateki silang pada halaman yang hilang dalam buku
TTS milik Gagak Hitam. Elang mengisi jawaban pada
TTS halaman 7 dan 8, Agung mengisi TTS pada
halaman 21 dan 22. Sesekali terdengar gumaman,
pertanyaan, atau ketukan bolpoin di meja. Penjaga
warung tampak bingung, melihat dua orang itu tak
saling bicara, masingmasing sibuk berpikir.
84
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku menyerah, lang,” kata Agung. ”Jawaban
jawaban kedua TTS ini sulit sekali. Aku hanya bisa
menjawab tidak sampai setengahnya.” Ia memesan
segelas kopi lagi.
Elang masih berkutat dengan dua TTS yang ia
kerjakan. Ia berhasil menjawab lebih banyak daripada
Agung; hampir tiga perempat bagian TTS di halaman
7 dan setengah bagian TTS di halaman 8. ”Soalnya
memang susahsusah,” kata Elang, masih terus berpi
kir.
Agung tersenyum lebar. ”Kukira aku tadi keter
laluan. Aku tak bisa membayangkan kalau penjaga
toko itu mengerjakan semua TTS yang ada di buku
ini. Bisa stres berat dia.”
Elang menutup buku TTS itu, mengambil sebatang
rokok. ”Tidak ada petunjuk sama sekali. Tapi aku
belum menyerah. Nanti malam akan aku otakatik
lagi.”
Agung menengok jam. ”Gagak Hitam dan Merpati
Putih... dua manusia, dua kerumitan. Tapi menelusuri
jejak Dokter Nina jauh lebih mudah. Bersuami, berke
luarga, dan bekerja. Yang susah adalah merangkai
hubungan kedua orang itu.”
”Menurutmu, suami Dokter Nina takkan bersedia
memberikan informasi?”
Agung menggeleng. ”Aku berencana ke Jakarta.
Tapi aku tidak yakin kasus ini dianggap penting, lalu
aku tidak diizinkan ke sana. lokasi kematian Dokter
Nina bukan berada di wilayahku.”
85
http://facebook.com/indonesiapustaka Elang menghitung jumlah uangnya diamdiam.
”Aku akan ke Jakarta. Aku punya teman di sana,
dulu akrab denganku waktu aku tinggal di Yogyakarta.
Dan, aku masih punya cukup uang.”
”Kau benarbenar mau ke sana?” tanya Agung, ter
dengar nada tak percaya dalam katakatanya. ”Begitu
pentingkah kasus ini di matamu, lang?”
”Aku tidak tahu. Mungkin kasus ini seperti menda
tangiku, membawaku masuk ke dalamnya. Dan, aku
tidak suka dihantui tekateki, Gung. Jadi, selama aku
bisa, aku akan terus mencoba menguraikan misteri
ini. Kebetulan aku merasa cukup baik dalam mela
kukan pendekatan kepada orang yang baru kukenal.
Kasus ini imajinatif sekali di mataku.” Kembali Elang
teringat pada saat ia menyamar jadi polisi, mengarang
ngarang cerita kepada orangorang asing atau orang
yang kurang waras. Itu mungkin tidak selalu baik—
bahkan bisa saja kurang sopan di mata beberapa
orang—tapi memang menyenangkan. Ia juga teringat,
waktu remaja ia begitu mengagumi sosok detektif
seperti Hercule Poirot atau Sherlock Holmes yang ia
baca kisahkisahnya. Kali ini, sebuah misteri terbentang
di depannya. Ia tak boleh melewatkannya.
Agung menggarukgaruk kepala. ”Baik, baik. Aku
tidak meremehkanmu. Kau memang pandai berkomu
nikasi. Tapi, sekarang aku ingin tahu—jawab perta
nyaan ini. Sederhana saja: apa tiga hal yang harus
kaulakukan pertama kali kalau pergi ke Jakarta untuk
menyelidiki kasus ini?”
86
http://facebook.com/indonesiapustaka Elang mengetukngetukkan telunjuk di meja. ”Me
nurutku, pertama, aku akan pergi ke rumah Dokter
Nina. Kedua, aku akan mencari informasi tentang
dokter itu di rumah sakit tempatnya bekerja. Ketiga,
aku akan mencari tahu tentang suaminya.”
”Salah! Kau akan menyulitkan dirimu kalau itu
yang kaulakukan, lang. Kau kan tahu, suaminya
tidak bersedia ditemui.”
”Jadi, yang benar, bagaimana?”
”Yang kedua kauubah jadi yang pertama. Cari dulu
informasi tentang Dokter Nina di rumah sakit. Kalau
bisa, kau berkenalan dengan orang yang cukup dekat
dengannya di rumah sakit. Dengan bantuan orang
terdekat itu, baru kau bisa ke rumahnya. Kalau bisa,
minta diantar dia. Berhubung kau bukan polisi, bi
lang saja kau saudara jauhnya yang ingin menyam
paikan belasungkawa; kalau dia wanita, kau bisa
sedikit berlaku emosional dengan menyatakan bahwa
kau nyaris terkena serangan jantung ketika mendengar
berita bunuh dirinya. Menyamarlah, jadi orang lain,
agar lebih aman. Tentu teman terdekatnya akan de
ngan senang hati mengantarkanmu ke rumah Dokter
Nina. Di rumahnya, baru kaulakukan langkah per
tama yang kausebut tadi.”
Elang mengangguk mantap. ”Ya! Benar sekali.
Kelihatannya itu akan lebih mulus.”
”Nanti aku akan meminta bantuan polisi di sana
untuk memberikan informasi, siapa yang bertanggung
87
http://facebook.com/indonesiapustaka jawab dalam penyelidikan kasus Dokter Nina. Aku
yakin kasus ini jadi berita besar juga di sana.”
Agung mengantarkan Elang kembali ke hotel
pukul sembilan malam. Di kamar hotel Elang masih
mengerjakan empat TTS di empat halaman yang
dilepas itu. Ia mencaricari jawaban, sambil mereka
reka apa yang harus ia persiapkan. Elang mulai me
nyusun berbagai rencana dalam pikirannya, mengambil
bolpoin lalu menulis di kertas. Ia akan segera mencari
tahu beberapa hal yang berkaitan dengan kepergiannya
ke Jakarta: tiket pesawat, transportasi ke rumah sakit,
penginapan selama berada di Jakarta, cara membuka
komunikasi dengan orangorang yang tak dikenal di
rumah sakit, dan sebagainya. Hampir pukul sebelas
malam ketika Elang merasa letih.
Selasa, 25 November 2014, pukul sepuluh pagi, Elang
kembali ke Pontianak. Dalam perjalanan menggunakan
travel ke Pontianak, Elang membuat beberapa catatan
di buku kecil. Ia teringat sesuatu, lalu menelepon
Agung.
”Gung, tentang Gabriel… apakah ada perkembangan
di Malang?”
”Kemarin sudah kutelepon beberapa kali. Panggilan
tersambung, tapi tetap tidak diangkat. Aku menanya
kan ke 108 apakah apotek itu juga punya nomor lain,
mereka bilang hanya satu itu nomornya.”
88
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Status pengiriman dari Gagak Hitam, sudah
kaucek di situs Kantor Pos?”
”Sudah kucek. Statusnya terkirim. Nama peneri
manya bahkan masih kuingat: Udin.”
”Baiklah. Aku berfokus pada kasus di Jakarta du
lu.”
Pukul dua siang Elang tiba di Bandara Supadio,
Pontianak. Ia menunggu pesawat yang akan memba
wanya ke Jakarta sejam lagi, bersiap menguak misteri
yang ada di Ibukota.
89
http://facebook.com/indonesiapustaka 9
DI BANDARA SoekarnoHatta, Elang bertanya kepada
petugas, angkutan apa yang harus ia gunakan jika
hendak pergi ke RSAB Harapan Kita. Petugas itu
memberi keterangan bahwa RSAB tersebut satu
wilayah dengan Pusat Jantung Nasional atau biasanya
disebut Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Untuk
sampai di rumah sakit, bisa menggunakan taksi, atau
menggunakan Bus Damri. Dari keterangannya, kalau
menggunakan taksi jelas akan diantar sampai tujuan;
sementara bila menggunakan Bus Damri perlu sedikit
berjalan kaki.
Saat Elang keluar, Bus Damri melintas. Ia pun
bergegas mendekati, bertanya kepada sang sopir. ”Ini
bus yang lewat Rumah Sakit Jantung Harapan Ki
ta?”
Sopir mengangguk. ”Iya. Turunnya di seberang
90
http://facebook.com/indonesiapustaka Slipi Jaya, Mas. Jalan balik arah sedikit setelah Mas
turun, nggak jauh kok.”
Elang masuk ke bus, menata lagi semua rencana
dalam pikirannya. Bus masih sepi, ia berharap ada
seseorang di dekatnya yang bisa ia ajak bicara. Bus
terus berjalan, melewati terminal demi terminal di
dalam bandara—sampai akhirnya meninggalkan
bandara, masih banyak kursi yang kosong. Kondektur
datang, menarik ongkos. Elang menyampaikan
tujuannya: Slipi Jaya. Ia tidak tahu apa itu Slipi Jaya,
hanya menirukan perkataan sopir.
Satu jam berlalu, Elang turun dari bus. Ternyata
rumah sakit itu berada sekitar tiga ratus meter se
belum jalan tol berakhir. Jalan yang berada di depan
Slipi Jaya—ternyata adalah sebuah pusat perbelanjaan—
merupakan pertigaan antara jalan tol dan jalan raya,
Jalan S. Parman. Elang berjalan berbalik arah untuk
sampai di rumah sakit itu. Di samping rumah sakit,
Elang melihat banyak warung makan kecil. Ia pun
singgah ke salah satunya. Elang memesan mi goreng
dan es teh manis, lalu duduk. langit sudah gelap
ketika Elang menyeruput es teh di warung itu.
”Jadi, saudarasaudaramu memutuskan menginap
di mana?” tanya seorang pria kepada seorang wanita
di dalam warung. Wajah mereka agak mirip, ke
mungkinan besar bersaudara.
”Belum tahu. Kalau di Bamboo Inn kudengar
sehari sekitar tiga ratus ribu. Tadi di rumah kos yang
sebulan dua setengah juta itu, yang punya bilang bisa
91
http://facebook.com/indonesiapustaka bayar harian. Sehari seratus lima puluh ribu,” kata
si wanita.
”Tapi, apakah sudah dipastikan, rumah itu ber
sih?”
”Aku sudah cek. Keluarga Paman bilang kelihatannya
cukup layak tinggal di situ. Kita masih perlu ongkos
lainnya, Mas. Boros kalau harus menginap di hotel.”
Elang pun menganggukangguk. Ia terus memasang
telinga sambil menikmati makanan, jadi tahu bahwa
di samping Rumah Sakit Harapan Kita ternyata ba
nyak terdapat rumah kos atau penginapan. Dua orang
itu sedang berunding memutuskan tempat menginap
untuk keluarga mereka. Selesai makan, ia pun berkata
kepada dua orang itu, ”Mas, Mbak, permisi, saya mau
tanya. Rumah kos yang tadi dua setengah juta sebulan
itu di daerah mana, ya? Saya juga barusan mencari,
tapi kena harga agak mahal.”
”Nggak jauh dari sini. Saya lupa nama gangnya.
Bisa saya tunjukkan kok. Yang Mas cari tadi, kena
harga berapa, Mas?” tanya si wanita. Ia tampak mu
dah sekali akrab dengan orang asing.
Elang segera mengarang jawaban yang membuatnya
terhindar dari pertanyaan lebih jauh dari salah satu
atau kedua orang itu, atau diminta menunjukkan
lokasi. ”Bukan saya sih, Mbak, yang cari saudara saya.
Harganya... sekitar empat juta gitu.”
Si wanita menunjukkan ekspresi yang diharapkan
Elang. Ia cemberut, dan berkata ketus, ”Mahal ba
nget.”
92
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Siapa yang sakit, Mas?” tanya si pria.
Elang tak menduga mendapat pertanyaan itu. ”Om
saya, Mas. Adik bapak saya.”
”Kapan jadwal operasinya?”
Pertanyaan itu membuat Elang terdiam beberapa
saat. Ia tak menerima informasi yang lengkap dari
hasil menguping barusan. Operasinya tentu jantung,
tapi soal penjadwalan, ia bingung mengarang jawaban.
”Kabarnya sih awal Desember. Saya juga masih me
nunggu saudara yang lain, anak om saya itu, sepupu
saya. Dia yang tahu pasti, besok dia ke sini.”
”Wah, Om Mas sekarang ada di mana? Apa nggak
tinggal di sini sebelum operasi?”
Elang mulai kebingungan. Ia pun mengeluarkan
ponsel dari saku celananya. ”Sebentar, ada pesan ma
suk,” katanya—padahal tidak ada. Elang hanya ber
purapura membaca. Ia memasang alarm untuk ber
bunyi di ponselnya semenit lagi. ”Nah, itu dia, Mas.
Beberapa bulan lalu kalau nggak salah diagnosisnya
bukan sakit jantung sih. Katanya kanker atau apa
gitu, tapi diagnosis dokter salah, dia ternyata sakit
jantungnya parah banget.”
Kedua orang itu berpandangan, samasama menge
rutkan dahi. Elang pun tahu, jawabannya barusan
tentulah sangat mengadaada. Ia pun memaki dalam
hati, menjadi lebih tertantang untuk bisa lebih luwes
dan meyakinkan orang asing dalam pembicaraanpem
bicaraan tematis semacam itu. Ponselnya berbunyi,
alarm yang ia setel menyala. Ia pun mendesah pan
93
http://facebook.com/indonesiapustaka jang, lega. ”Nah, ini, telepon dari sepupu saya. Se
bentar, ya?” katanya sambil membalikkan badan.
Elang pun purapura mengobrol. Tertawa, bertanya,
mengubah tinggirendah suaranya. Ia benarbenar
merasa seperti orang gila. Ia mengerling, melihat ke
dua orang itu lagi. Mereka masih di sana. ”Iya nih,
ada dua orang yang tadi juga mau menginap di
Bamboo Inn,” katanya sambil tersenyum kepada salah
satu dari mereka, mengangguk kecil. ”Ya udah, aku
di sini sampai dua atau tiga hari ke depan. Nggak
apaapa, santai saja. Aku segera ke sana.” Elang ber
henti berpurapura menerima telepon. Ia kesal sekali,
dua orang itu masih ada di warung, bahkan tam
paknya memperhatikannya.
”Jadi, Mas...”
”Maaf, Mbak,” potong Elang sebelum si wanita
melanjutkan bicara. ”Saya ternyata sudah ditunggu
di Bamboo Inn. Ada dua keluarga yang sudah datang,
mereka menginap di sana,” kata Elang sambil menge
luarkan dompet, buruburu membayar.
Kedua orang itu menganggukangguk ketika Elang
berpamitan. ”Semoga operasi omnya lancar, cepat
sembuh,” kata yang pria.
Elang menyalami mereka, berusaha ramah. Baru
beberapa langkah meninggalkan warung, si wanita
tadi berteriak di belakangnya. ”Mas! Mau ke Bamboo
Inn, kan?”
Elang mengangguk.
”Salah jalan, Mas. Bukan ke situ, tapi ke sana,”
94
http://facebook.com/indonesiapustaka kata wanita itu sambil menunjuk arah yang berla
wanan dengan yang dilalui Elang.
”Oh iya, tadi saya lupa bertanya,” kata Elang
sambil tersenyum. ”Terima kasih, Mbak!” serunya.
Elang membanting badannya di kasur begitu masuk
kamar di Bamboo Inn. Ia pun mengabari Agung
bahwa ia sudah sampai di Bamboo Inn, penginapan
yang sangat dekat dengan Rumah Sakit Harapan Kita,
di Jalan Kota Bambu.
”Aku baru saja mengenal Jalan Kota Bambu di
sini. Rumah sakit pun bahkan belum kumasuki. Ren
cananya, malam ini aku akan mengecek akun Face
book, Instagram, Twitter, bahkan nomor ponsel
Dokter Nina yang mungkin saja dia publikasikan.
Apakah dia pernah menyebutnyebut nama tertentu
yang berhubungan dengan Gagak Hitam.”
”Itu perlu, tapi jangan terlalu buruburu. Ingat,
kedua kasus ini misterius, dan publik sudah menge
nalnya sebagai kasus bunuh diri. Kecurigaan yang
menuntun kita bergerak sejauh ini, mencoba mencari
kebenarannya, atau kemungkinan lain. Nah, ini juga
yang perlu kauamati: mengenali lokasi. Kau pengamat
yang baik, aku tidak ragu.”
”lokasi? Maksudmu?”
Agung menyarankan agar selama satu hingga dua
hari Elang menyelidiki rumah sakit tersebut, mencatat
namanama dokter yang ada di rumah sakit, melihat
95
http://facebook.com/indonesiapustaka lihat berbagai ruangan, berjalan ke tempattempat
yang tak jauh dari rumah sakit. ”Tempattempat di
sekitar seseorang—apalagi di dekat sehariharinya
orang itu bekerja di sana—punya kemungkinan besar
memberitahukan sesuatu kepada kita. Nanti kau akan
tahu sendiri. Sama seperti pistol yang kubawa, juga
nama palsumu, Brigadir Yono. Jadi, pastikan, sebelum
kau menyapa seseorang yang hampir pasti memberikan
banyak informasi kepadamu tentang Dokter Nina,
kau sudah lebih siap.”
Mereka pun mengobrol tentang jati diri Elang bila
harus berhadapan dengan orangorang yang bertanya
kepadanya. Ia berencana melakukan penyamaran.
Nama baru, istri rekaan, anak yang tidak pernah ada,
setelan yang pantas untuk bertemu dokter di rumah
sakit yang tampak elite, dan sebagainya.
Setelah selesai mengobrol, Elang pun menyalakan
laptop yang ia bawa. Ia langsung terhubung dengan
WiFi, berselancar, mencari berbagai informasi tentang
Dokter Nina, juga aktivitas yang ada di dalam dan
sekitar rumah sakit. Dari penelusurannya, ia pun jadi
tahu, yang lebih ramai dikunjungi dari orangorang di
berbagai daerah di Indonesia adalah Rumah Sakit
Jantung Harapan Kita—makanya disebut Pusat Jantung
Nasional—ketimbang RSAB. Ia pun mencari informasi
tentang operasi dan penyakit jantung, ingin meng
obrolkan topik itu dengan seseorang.
***
96
http://facebook.com/indonesiapustaka Rabu, 26 November 2014, pukul delapan pagi, Elang
keluar dari hotel. Ia bercelana pendek, bertopi, berka
camata netral—yang lensanya berwarna kecokelatan.
Elang mengobrol dengan seorang penjaga warung
bakmi saat sarapan. Ia memilih warung yang tidak
terlalu ramai. Sengaja ia tidak langsung ke rumah
sakit, mencari informasi tentang Dokter Nina, ingin
melihat apakah penyamaran kecilnya berhasil di
hadapan penjual makanan itu.
Saat mulai membuka percakapan, ia merasa lebih
luwes, mengaku sebagai anggota keluarga yang sedang
menunggu pamannya yang akan dioperasi jantung di
rumah sakit. Ia bahkan pandai mengarang cerita
bahwa penyumbatan pembuluh darah yang ada di
jantung pamannya sudah sangat parah.
”Jadi, nggak bisa dipasangi cincin, ya?” kata penjual
bakmi itu.
Elang menggeleng dengan mantap. ”Harus operasi.
Kemarin sudah dikateter, penyumbatan di dua pem
buluh jantungnya bahkan mencapai seratus persen.
Jadi, harus operasi bypass.”
Si penjual bakmi menganggukangguk mendengar
penjelasan Elang, lalu banyak bercerita tentang orang
orang dari segala penjuru yang datang ke rumah sakit
itu untuk berobat.
Elang pun bertanya kepada si penjaga warung,
apakah ia mendengar kabar kematian Dokter Nina
Sekarwati. Penjaga warung mendengar berita itu,
membacanya dari sebuah koran. ”Saya nggak kenal
97
http://facebook.com/indonesiapustaka sih sama dokter itu. Nggak pernah lihat dia di sekitar
sini. Mas sendiri kenal dia?”
Elang menggeleng. ”Saya orang dari luar kota,
dapat info ada dokter bunuh diri karena membaca
koran di penginapan. Kasihan juga. Mas tahu, mung
kin dari cerita orangorang di sini, karena apa sih dia
kok sampai bunuh diri? Di koran nggak banyak
keterangannya tuh!”
”Ya itu, Mas, saya juga nggak tahu pasti. Beritanya
simpang siur. Dan, kejadiannya tibatiba.”
Setelah hampir setengah jam mengobrol, Elang
pun bertanya kepada si penjaga warung tentang pintu
pintu gerbang yang ada di rumah sakit. Penjaga
warung itu memberitahu bahwa Elang bisa masuk ke
Rumah Sakit Jantung dari gerbang di bagian belakang
rumah sakit, dekat kamar mayat. Tak jauh dari kamar
mayat ada Wisma Bidakara, penginapan untuk orang
orang yang menjenguk pasien.
Elang pun masuk dari gerbang itu, melintasi kori
dor kecil yang berlikuliku. Koridor itu membawanya
masuk ke semacam ruang tunggu. Ada beberapa
orang dudukduduk di situ; di depan ruangan ada
jalan yang bisa dilintasi dua mobil. Elang bertanya
kepada seseorang, jalan mana yang harus ia ambil
bila hendak menuju RSAB. Orang itu memberitahu
agar Elang melintasi jalan yang ada di depannya, lalu
belok kanan.
Di kiri jalan ia melihat Unit Gawat Darurat
(UGD), dan di seberang UGD ada dua restoran: satu
98