The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tewasnya Gagak Hitam (Misteri Pertama) (Sidik Nugroho)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-05-31 09:39:34

Tewasnya Gagak Hitam

Tewasnya Gagak Hitam (Misteri Pertama) (Sidik Nugroho)

http://facebook.com/indonesiapustaka 14

ElANG menceritakan kepada Ronny bahwa dia be­

kerja sama dengan polisi, dan ada seseorang yang
mengintainya. Ia juga meminjam celana pendek dan
kaus. Untunglah pemilik rumah juga sedang pergi.
Elang menjamin, Ronny tidak akan dilibatkan sebagai
saksi atau apa pun. Tapi, Ronny malah doyan ber­
tanya, sampai Elang kewalahan menjawabnya. Elang
segera menelepon Agung, menceritakan apa yang
baru saja ia alami. Sekitar lima menit ia bercerita,
sesekali Agung menanggapi dengan pertanyaan untuk
memperjelas maksud Elang, dan ia memintanya
untuk meringkas beberapa bagian.

”Beruntung sekali, tadi sore aku sudah sempat
mengobrol dengan Pak Siswoyo, polisi di Jakarta yang
menangani kasus Dokter Nina,” kata Agung. Ada
kegembiraan dalam suaranya. ”Ada kecurigaan, bunuh

149

http://facebook.com/indonesiapustaka diri Dokter Nina rekayasa. Aku akan segera mene­
leponnya. Kau hebat, lang. Baru beberapa hari di
Jakarta, kau sudah akan membawa seorang calon
tersangka.”

”Tapi, Dokter Bunga bisa melarikan diri malam
ini! Aku...”

”Kalau begitu,” potong Agung, ”aku akan mene­
lepon Hotel Twin Plaza, meminta satpam mereka
segera bertindak.”

Telepon diputus setelah Elang memberitahukan
nomor kamarnya saat menginap di hotel itu dan me­
nyebutkan ciri­ciri Dokter Bunga. Ia menatap Ronny
yang terpana mengamatinya sambil menggeleng­ge­
leng. Ia memperhatikan Elang saat menelepon Agung.
”Jadi, Bapak sedang bertugas menangkap seorang
dokter? Siapa namanya... Dokter Bunga?”

Elang mengangguk. ”Dokter Bunga, sejauh ini, saya
kira terlibat dalam pembunuhan terhadap Dokter
Nina. Dan, yang mengerikan, mereka berdua bersa­
habat.”

Ronny menggeleng­geleng lagi, kali ini lebih keras
dan sambil menunduk. ”Duh, duh... bisa sampai be­
gitu, ya?”

Elang mengangkat bahu. ”Entahlah, kita tunggu
penyelidikan. Semuanya masih dalam proses.”

Elang teringat Tesha, lalu meneleponnya. ”Tesha,
jujurlah kepadaku,” kata Elang setelah teleponnya
diangkat, ”aku baru saja mengalami hal buruk. Apa­

150

http://facebook.com/indonesiapustaka kah kau bersekongkol dengan Dokter Bunga, menje­
bakku?”

Tesha terdiam. ”Pak, ada apa? Kok kayaknya marah­
marah? Aku nggak tahu... ada masalah apa?”

”Benar kau tidak tahu? Kalau mau tahu, kuberi­
tahu.”

”Apa yang terjadi?”
”Tengkorakku hampir diledakkan pistol, kalau kau
mau tahu. Dan... Dokter Bunga yang membawa pistol
itu!”
Tesha menjerit. ”Hah? Yang benar saja, Pak!”
”Kalau tidak percaya, tunggu sampai besok. Ada
tiga kemungkinan yang terjadi besok. Pertama, Dokter
Bunga ditahan polisi. Kedua, bila dia tetap bekerja
kau akan melihat luka di kepalanya. Ketiga, dia bisa
saja menghilang, mulai besok tidak bekerja.”
Suara Tesha terdengar histeris. ”Apa yang terjadi,
Pak? Pak, Bapak di mana? Bapak baik­baik saja?”
”Tunggu sampai besok, Tesha. Aku tidak bisa
menjelaskan semuanya sekarang. Yang jelas, aku ingin
tahu, apa saja yang kauceritakan kepada Dokter
Bunga tentang aku?”
Tesha terdiam, lalu terisak. ”Pak, saya sempat ber­
cerita tadi siang, setelah makan siang, bahwa Bapak
akan bercerai. Juga, tentang istri Bapak yang mem­
bohongi Bapak, tidak jadi membawa anak Bapak
berobat, masih di Bandung. lalu, Bapak merasa
nggak enak sudah mengobrol dengan Dokter Bunga
saat jam kerja. Sudah, itu saja yang saya katakan. Saya

151

http://facebook.com/indonesiapustaka nggak menduga cerita saya membuat Bapak sampai
mau dibunuh Dokter Bunga.”

Elang jadi paham, memaki kecil. ”Sebelumnya, dia
menanyakan data Angelita Kurniawan?”

”Benar sekali, Pak!” seru Tesha. ”Bahkan, sebelum
menanyai saya, dia menemui perawat yang dulu men­
jadi asisten Dokter Nina. Waktu istirahat, perawat
itu menemui saya, nggak lama setelah Bapak mene­
lepon saya tadi siang. Dia pun bercerita bahwa Dok­
ter Bunga bertanya tentang pasien almarhumah yang
bernama Angelita Kurniawan. Perawat itu nggak me­
nemukannya.”

”lalu, kau menceritakan sesuatu kepada perawat
itu tentang aku, bapaknya?”

”Nggak, Pak. Kepada perawat itu saya nggak ber­
cerita apa­apa.”

Elang terdiam beberapa detik, menghela napas. Ia
sadar ia sudah bertindak ceroboh. Ia mengutuki
dirinya sendiri yang mudah terpikat wanita. Ah, andai
saja ia tak mengenal Tesha, menggodanya, mengarang
cerita berbeda. Mungkin ia tidak akan sampai dito­
dong pistol, Dokter Bunga hanya akan berfokus
menyelidiki keberadaan Angelita, dan persoalannya
tidak akan serumit itu. ”Baik, aku percaya kepadamu.
Kita memang bukan siapa­siapa—bukan kawan, bukan
saudara. Tapi, bolehkah aku meminta satu hal
darimu, Tesha?”

”Apa itu, Pak?”
”Siapa pun yang meneleponmu atau mengirimi

152

http://facebook.com/indonesiapustaka pesan, menanyakan tentang aku, tolonglah—kumohon
dengan sangat—jangan kauladeni. Untuk saat ini,
semua tidak bisa kujelaskan. Dan malam ini pun
polisi sedang bergerak cepat, aku mungkin akan lebih
sibuk. Satu hal saja yang perlu kaucamkan: Dokter
Bunga kemungkinan besar terlibat dalam kematian
Dokter Nina.”

Tesha terdiam, hanya desah napasnya yang ter­
dengar.

”Tesha?”
Tak terdengar jawaban.
”Tesha?”
”Aku nggak tahu harus berkata apa. Baiklah, aku
akan memenuhi permintaan Bapak tadi. Aku jadi
takut, Pak.”
”Kau tidak perlu takut, Tesha. Kau tidak bersalah,
kan?”
”Pak,” bisik Tesha, ”aku takut, ada apa­apa dengan
Bapak.”
Elang meremas ponsel, jadi merindukan gadis itu.
”Aku akan baik­baik saja, Tesha.”
”Aku sayang Bapak.”
Elang tak mampu membalas kata­kata itu, meng­
akhiri pembicaraan. Ia tak mau bersayang­sayangan
terlebih dulu, walau saat ini ia sangat ingin berada
di samping Tesha, memeluknya hingga terlelap. Ia
sadar sepenuhnya, pelukan Tesha membuatnya merasa
nyaman; dan kegairahan cinta Tesha membuatnya
merasa lebih sempurna sebagai seorang pria. Ia

153

http://facebook.com/indonesiapustaka mengutuki diri sendiri, tapi jauh di dalam hati ia
sangat bahagia bisa mengenal Tesha.

Wajahnya yang pura­pura cemberut bila digoda,
lekuk­lekuk tubuhnya, sifat centilnya, hingga desah­
annya yang manja. Tapi ia harus tetap waspada, apa
yang baru saja ia alami membuktikan: penilaiannya
itu bisa sepenuhnya salah. Generalisasi yang payah—
sekali lagi ia teringat dengan kata­kata Agung.

Saat asyik merenung, ponsel Elang berbunyi, dari
nomor asing. ”Ya... ini siapa?”

”Pak Elang, ini Pak Siswoyo. Kami mengucapkan
terima kasih atas bantuan Bapak. Kami sedang dalam
perjalanan menuju Hotel Twin Plaza, hampir sam­
pai.”

”Oh! Sama­sama, Pak. Bagaimana dokter itu?”
”Dia sedang diamankan satpam. Semuanya ber­
langsung cepat sekali, untung kita tidak kecolongan.
Setelah menerima telepon dari Agung, saya segera
menelepon hotel itu. Beberapa menit kemudian pi­
hak hotel mengabari, dokter itu baru saja akan me­
nutup pintu kamar hotel ketika dua satpam menyer­
gapnya.”
”lalu, sekarang dia di mana? Hati­hati, dia bersen­
jata.”
”Kami tahu dia bersenjata, tadi Agung sudah
bilang. Sekarang dia dimasukkan ke kamar, dan di­
kunci dari luar. Kamar akan dibuka sebentar lagi,
karena sekarang saya baru saja sampai di depan ho­
tel.”

154

http://facebook.com/indonesiapustaka Elang berdiri, merentangkan kedua tangan, ber­
gerak­gerak melemaskan badannya. Ronny muncul
dari balik pintu, membawa dua gelas teh panas. Ia
tadi keluar kamar saat Elang berbicara dengan Tesha.
”Bagaimana, Mas? Sudah aman semua?”

”Oh... Ronny, kamu baik sekali!” kata Elang sambil
memperhatikan asap yang mengepul dari atas gelas.

”Hampir selesai tugas saya di sini, Ron. Oh ya,”
Elang mengecilkan suaranya, ”tidak perlu kauberi­
tahukan ke saudaramu, atau siapa pun ya, bahwa
saya ini detektif.”

”Iya, Mas. Saya akan menjaga rahasia.”
Elang bertanya apakah Ronny mempunyai rokok.
Ia menarik laci meja, mengeluarkan sebungkus
Gudang Garam. Mereka berdua menyulut rokok,
Elang menceritakan kepadanya tentang kasus bunuh
diri Dokter Nina, juga siapa dirinya. Tapi Elang mem­
batasi cerita, ia tak mau bercerita kenapa ia berlari­lari
di jalanan dengan hanya bercelana dalam.
Elang masih shock, sesekali ia merenung sambil
bercerita. Ia bertanya­tanya, mengerahkan kemampuan
berpikirnya, dari mana Dokter Bunga bisa mengetahui
nama dan pekerjaannya. Ia pun jadi sadar, selama ini
lebih sering menggunakan perasaan dan imajinasi,
kurang membiasakan bernalar. Memikirkan Tesha,
misalnya; yang muncul lebih dominan dalam hatinya
adalah rasa sayang; ada juga rasa curiga, tapi itu
sangat kecil.
Saat rokok yang diisap Elang tinggal sepertiga

155

http://facebook.com/indonesiapustaka bagian, ponselnya kembali berbunyi. Dari nomor
asing. Ia amati nomornya berbeda dengan nomor Pak
Siswoyo. ”Ya... ini siapa?”

Suara yang sangat berat terdengar. ”Kau jangan
suka ikut campur! Karena sudah ikut campur, kau
tidak aman. Mulai sekarang, kau tidak aman! Dia
juga tidak aman!”

”Hei... siapa kau?”
”Seseorang selain Dokter Bunga yang tahu bahwa
kau bernama Elang Bayu Angkasa, dan kau pelukis.
Seseorang yang tahu bahwa kau baru saja bertindak
bodoh dengan berlari­lari di jalan hanya bercelana
dalam. Seseorang yang tahu bahwa kau mudah tergila­
gila dengan wanita. Seseorang yang tahu bahwa kau
kemarin malam bercinta dengan perawat, dan malam
ini gagal bercinta dengan dokter.”
Bulu kuduk Elang berdiri mendengar suara itu.
”Hahaha.” Tawa itu begitu berat dan datar. Sam­
bungan telepon terputus.
Elang memaki sambil membanting ponselnya. Ia
pun segera sadar, seseorang telah menguntitnya.
Kapan orang itu mulai menguntitnya? Dokter Bu­
nga tampaknya baru mencurigai dirinya tadi pagi
setelah memperoleh informasi dari Tesha; tapi orang
itu bisa tahu bahwa kemarin malam ia bercinta de­
ngan Tesha.
Perihal namanya, tentu diperoleh orang itu dari
resepsionis. Elang memang sudah menyiapkan be­
berapa lembar fotokopi KTP sebelum berangkat ke

156

http://facebook.com/indonesiapustaka Jakarta, dan itu yang ia berikan kepada resepsionis
di kedua hotel sebelum check in. Tentu orang itu
menelepon atau bertanya kepada resepsionis di salah
satu hotel itu.

Sialan, Elang benar­benar tidak punya ide dan
firasat, siapa orang itu! Ah, Elang ingat, orang itu
tadi menyebut kata ”dia”.

Siapakah ”dia” yang tidak aman, selain Elang?

157

http://facebook.com/indonesiapustaka 15

ElANG jadi merasa tak aman tinggal di Bamboo Inn

dan rumah­rumah penginapan di sekitar Jalan Kota
Bambu. Tidak sedikit orang di jalanan itu yang
menyaksikannya berlari hanya bercelana dalam. Siapa
saja bisa memberitahukan keberadaannya. Nomor
ponselnya juga berencana akan ia ganti, atau pon­
selnya akan jarang diaktifkan. Bisa saja yang mem­
burunya memiliki semacam detektor yang bisa me­
ngetahui lokasi atau posisinya—ia pernah mendengar
ada alat semacam itu. Ia pun berniat segera menge­
masi barangnya, menghubungi dan menemui Pak
Siswoyo, dan mencari tempat tinggal yang aman.

Ia meninggalkan rumah penginapan Ronny, di­
temani Ronny. Ronny menitipkan kunci kamar ke­
pada orang yang menginap di kamar sebelahnya.
Elang beruntung, Ronny pemberani. Ia juga banyak

158

http://facebook.com/indonesiapustaka akal, cepat paham ketika Elang menjelaskan kepada­
nya gerak­gerik yang perlu dilakukan seorang penya­
mar: pura­pura bertanya, menelepon, dan sebagainya.
Setelah memahami apa yang dihadapi Elang dan
menyimak penjelasannya, Ronny pun memutuskan
akan mengantarkan Elang sampai selamat ke Bamboo
Inn. Ronny mengenakan sweter yang memiliki tudung
di bagian kepalanya. Ia pun keluar lebih dulu,
memantau keadaan di Jalan Kota Bambu. ”Akan
kupastikan Jalan Kota Bambu aman sebelum Mas
sampai di Bamboo Inn,” katanya.

Ronny keluar dari rumah itu mendekati pukul
sebelas malam. Ia sering memasukkan kedua tangan
ke saku jaket. Jarak dari mulut gang tempat Ronny
menginap menuju Bamboo Inn sekitar tiga ratus
meter. Dari mulut gang, Ronny mengamati, suasana
di Jalan Kota Bambu sudah mulai sepi. Ia perhatikan
mobil atau motor yang sudah berhenti, baru berhenti,
atau pergi. Elang berpesan, yang lebih perlu diwas­
padai adalah mobil. Bila ada mobil diparkir, dan di
dalamnya ada orang, bisa saja orang itu yang meng­
intai Elang.

Ronny berjalan pelan­pelan, sesekali berhenti. Ia
berhenti di sebuah toko yang menjual pulsa elek­
tronik, menanyakan harga kartu seluler perdana. Ia
membeli sebuah untuk Elang, meminta penjual untuk
melakukan registrasi, lalu mengisikan pulsa ke da­
lamnya. Sambil membeli kartu itu, matanya jelalatan
ke segala arah. Ia berjalan lagi perlahan, mampir ke

159

http://facebook.com/indonesiapustaka gerobak yang menjual gorengan. Sudah hampir habis
dagangannya. Ia menyapa penjual gorengan dengan
ramah, membeli dua pisang goreng.

Dari gerobak gorengan, Ronny terus berjalan. Jarak
Bamboo Inn sekitar empat puluh meter lagi. Ronny
melihat satu mobil berhenti di tepi jalan. Mobil itu
sudah ada di sana sejak ia berada di mulut gang
menuju rumah penginapannya. Sambil mendekati
mobil itu, Ronny melihat ke belakang, apakah ada
mobil atau motor lain yang berhenti di pinggir jalan.
Setelah berada di belakang mobil itu, Ronny menekan
ponsel, mengangkatnya. Cahaya yang muncul dari
ponsel karena ditekan pun ia gunakan untuk menyeli­
diki, apakah ada orang di dalam mobil. Kosong. Di
seberang jalan, di rumah makan, Ronny melihat ada
pria yang memperhatikan gerak­geriknya di belakang
mobil itu. Ia pun menggoyang­goyangkan ponsel, lalu
menempelkan ke telinga. Dengan suara agak keras ia
berkata, ”Baterainya sudah mau habis, Bos. Nanti
kuhubungi lagi, aku masih di jalan.”

Ronny memasukkan ponselnya ke saku jaket bagi­
an dalam, melambai ke arah pria itu sambil terse­
nyum. Pria itu balas tersenyum, tampaknya ia men­
dengar suara Ronny ketika pura­pura menelepon tadi.
Seorang datang kepada pria itu, mereka berbicara
sambil menunjuk­nunjuk makanan. Pria itu mengambil
sendok nasi dan piring. Oh, Ronny baru ingat, pria
itu pelayan di rumah makan—ia pernah melihatnya.

160

http://facebook.com/indonesiapustaka Ronny terus berjalan menuju Bamboo Inn. Saat
Ronny sudah hampir sampai hotel itu, sebuah Toyota
Alphard berjalan mendekatinya dari arah berlawanan,
lalu berhenti tepat di depan hotel. Ronny pun
berhenti berjalan selama beberapa detik. Karena tak
ingin dicurigai, ia segera menyeberang, mendekati
hotel.

Saat Ronny hampir mendekati halaman hotel, se­
orang pria keluar dari mobil itu. langkahnya terburu­
buru saat masuk. Ronny berjalan di belakang pria itu,
ingin tahu apa yang akan ia sampaikan. Saat berada
di depan resepsionis, pria itu berkata, ”Jadi, orang tadi
masih belum datang?”

”Masih sama seperti tadi, Pak. Belum datang,” kata
si resepsionis, seorang pria yang tampaknya mengan­
tuk.

Pria itu berbalik, melangkah buru­buru. Ronny
menduga, orang yang dimaksud belum datang adalah
Elang. Ia mundur beberapa langkah, mengeluarkan
ponselnya, lalu pura­pura berbicara dengan seseorang.
Ia terus mengamati gerakan pria itu sampai ia berada
di samping mobil. Sebuah ide muncul di kepalanya,
ia bergegas mendekati mobil itu, mencatat nomor
platnya, lalu agak menjauhinya.

Kaca mobil bagian samping kiri terbuka ketika pria
itu tepat berada di samping mobil. Ronny yang
berada sekitar sepuluh meter dari mereka tidak men­
dengar apa yang pria itu bicarakan dengan orang yang
berada di dalam mobil. Ronny bergerak ke samping

161

http://facebook.com/indonesiapustaka beberapa langkah, mengamati siapa saja yang berada
di dalam mobil. Dari kejauhan ia hanya melihat
seorang pria dan wanita yang menduduki kursi
tengah. Kalau ia tidak salah menebak, ada lima orang
di dalam mobil itu: sopir, seorang di kursi depan,
dan tiga orang di kursi tengah termasuk pria yang
tadi keluar.

Kaca mobil terangkat lagi, mobil itu berjalan,
meninggalkan hotel. Ronny mendekati resepsionis,
bertanya kepadanya, ”Mas, saya kelihatannya pernah
kenal dengan orang tadi. Apakah dia punya saudara
yang akan dioperasi di Harapan Kita?”

Resepsionis mengerutkan dahi, tampak bingung
mendapat pertanyaan itu. Ronny sengaja mengajukan
pertanyaan aneh, karena ia tidak membutuhkan ja­
wabannya. ”Wah, saya juga nggak kenal mereka.”

”Kalau begitu, siapa yang mereka cari tadi di sini?”
Itulah pertanyaan pentingnya.

”Seorang pria yang menginap di sini sejak kemarin.
Namanya Elang Bayu Angkasa.”

Ronny mendesah panjang mendengar jawaban itu,
menggeleng lemah, pura­pura tidak peduli. Ketika
berbalik, ekspresinya langsung berubah: tinjunya ter­
kepal kuat, hampir saja ia berkata ”Yes!” keras­keras
seperti yang biasanya ia lakukan.

”Keadaan sudah aman,” kata Ronny saat menelepon
Elang. ”Jangan diputus teleponnya. Aku nggak sabar
Mas Elang mendengar kabar ini: aku baru saja
melihat orang yang mencari­cari Mas, dan aku ber­

162

http://facebook.com/indonesiapustaka hasil mencatat nomor plat mobil orang itu!” Elang
yang saat itu sudah bersiap­siap di teras rumah peng­
inapan Ronny segera membuka pagar, lalu berjalan.

lima menit kemudian mereka bertemu di halaman
hotel. Ronny dan Elang saling menepukkan telapak
tangan kanan mereka, menimbulkan bunyi yang
cukup keras. ”Kau berbakat—hebat!” kata Elang.

Ronny menyerahkan kartu perdana yang dibelinya
kepada Elang, lalu menceritakan kejadian selengkapnya.
Elang pun bergegas masuk ke hotel, mengambil kunci
dari resepsionis. ”Ke mana saja, Pak? Ada orang yang
berkali­kali ke sini, mencari Anda,” tanya resepsio­
nis.

”Saya ke Bandung, ada perlu. Orangnya berapa
kali ke sini?”

”Wah, berkali­kali. Sejam bisa dua kali.”
Elang mengangguk. ”Mereka saudara saya, datang
jauh­jauh dari Bogor. Kasihan mereka.” Elang jadi
sadar, semakin lama dia semakin mudah mengarang
cerita. Ia sendiri heran, bisa­bisanya muncul ide di
kepalanya bahwa mereka yang mau menghabisinya
adalah keluarganya dari Bogor. ”Tapi, mereka nggak
ada yang masuk ke kamar saya? Atau, ada yang meng­
inap juga di sini?”
”Nggak ada,” kata si resepsionis sambil meletakkan
kunci kamar Elang di meja. ”Kami nggak bisa sem­
barangan menyerahkan kunci kamar tamu kepada
siapa pun.” Kepalanya bergerak, memandang ke arah

163

http://facebook.com/indonesiapustaka di belakang Elang. ”Oh... kelihatannya mereka datang
lagi tuh!”

Keringat dingin mengucur seketika dari kepala
Elang. Ia harus bergerak cepat, maut mengintai
kembali—kali ini sangat dekat. Ia berpikir cepat,
mengeluarkan uang seratus ribu dari dompet. ”Mas,
saya ngantuk sekali, sangat lelah. Saya nggak siap
dengan kunjungan mereka. Tolong katakan, saya
masih belum kembali. Ini, sedikit uang. Saya lihat
Mas juga ngantuk, buat beli kopi.”

Resepsionis itu hendak menolak. ”Wah, jangan...”
Belum sempat bicara lebih banyak, Elang memo­
tong. ”Tolong, kali ini saya pusing sekali. Benar­benar
perlu istirahat, nggak mau diganggu. Mereka akan
datang besok, tawari saja menginap di sini.”
Resepsionis itu mengangguk mantap. ”Beres. Saya
akan menangani mereka.”
”Pastikan tidak ada yang ke kamar saya!” kata
Elang sambil berlari kecil tanpa menoleh ke bela­
kang.
Sambil berlari di atas anak­anak tangga menuju
kamarnya, Elang menelepon Ronny. ”Ron, mereka
datang lagi,” kata Elang.
”Ya. Mereka yang keluar dari mobil kali ini jum­
lahnya tiga orang, tidak hanya satu. Mereka duduk­
duduk di lobi.”
”Apakah mereka sempat melihatku? Apakah mobil
itu kosong?” tanya Elang sambil memasang anak
kunci di pintu kamar, membukanya.

164

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku yakin mereka tidak melihat Mas Elang. Mung­
kin mereka capek mondar­mandir, sekarang ingin
duduk­duduk. Dan, mobil itu... entahlah. Yang jelas,
dari tempatku berdiri, kulihat kacanya terbuka.”

Elang berpikir, apakah ia akan keluar diam­diam.
Orang­orang yang mencarinya itu belum tentu
mengenal ciri­cirinya dengan sempurna. Bisa jadi ia
hanya melihat foto yang ada di lembar fotokopi KTP
Elang, atau ciri­ciri yang disebutkan Dokter Bunga.
Tapi ia teringat Internet. Ya, di Internet, foto dirinya
bisa ditemukan! Ia pun mulai khawatir, orang­orang
itu akan menginap juga di Bamboo Inn sambil
menunggu kedatangannya.

Ia berdiri di cermin, menatap wajahnya yang kusut.
Segera ia ganti kartu seluler yang ada di ponselnya
dengan kartu yang tadi Ronny belikan. Beberapa
kontak penting yang tercatat di kartu seluler lama
sudah ia salin ke ponsel. Elang bingung, harus ber­
buat apa. Tapi, kalau keluar hotel, ia tak tahu harus
ke mana. Ia pun memutuskan menelepon Pak Sis­
woyo. ”Pak, ini Elang, menggunakan kartu lain. Saya
sedang tidak aman sekarang. Saya tadi baru saja
diteror lewat telepon. Ada beberapa orang yang saya
yakin mengintai saya, sedang berada di Bamboo Inn,
tempat saya menginap.”

”Anda tahu dari mana, orang­orang itu mengincar
Anda?”

”Saya tahu dari seorang teman di sini, juga resep­
sionis, orang­orang itu mencari saya. Teman itu saya

165

http://facebook.com/indonesiapustaka tugaskan memata­matai mereka sebelum saya kembali
ke hotel ini sekitar lima belas menit yang lalu.”

”Oh. Baik. Saya akan menghubungi anak buah
saya, menyuruhnya ke sana untuk mengamankan
Anda. Kira­kira, apakah mereka bersenjata?”

”Saya dan teman saya yang menjadi mata­mata
tidak tahu. Yang jelas, jumlah mereka paling sedikit
tiga orang. Oh ya, saya punya catatan penting: plat
nomor mobil mereka. Mungkin bisa membantu.”
Elang pun menyebutkan huruf dan angka­angka
itu.

”Baik, sudah saya catat. Tetap bertahan di sana
dulu. Saya sedang berkoordinasi dengan beberapa
orang di kantor, menyusun rencana investigasi lebih
jauh. Beberapa barang bukti sudah kami temukan,
kelihatannya makin menguatkan bahwa bunuh diri
Dokter Nina sangat dipengaruhi oleh banyak hal.
lalu, Dokter Bunga sudah kami tahan. Tapi dia ku­
rang bisa diajak bekerja sama, lebih banyak diam.”

Elang teringat sesuatu. ”Apakah Agung sudah
bercerita tentang kiriman surat dari Gagak Hitam
untuk Dokter Nina?”

”Ya, kami sudah menemukannya di kamar Dokter
Nina. Sebelumnya itu bukan fokus kami dalam men­
cari petunjuk. Ternyata, setelah benda itu kami
temukan kemarin, hasilnya mengejutkan sekali. Nanti
akan saya tunjukkan setelah kita bertemu.” Sebuah
teka­teki yang memenuhi pikirannya beberapa waktu
sebelum ke Jakarta akhirnya akan segera ia ketahui.

166

http://facebook.com/indonesiapustaka Elang agak kecewa sebenarnya, bukan ia yang me­
ngurai misteri itu.

Semenit kemudian Elang menelepon Ronny. ”Ma­
sih di situ? Ini Elang, baru saja ganti nomor.”

”Masih, Mas. Ada temuan menarik. Saya tadi
mendengar rintihan. Saya pun berjalan, mendekati
mobil itu. Ternyata, di dalamnya ada seorang wanita
yang tangannya diikat dan mulutnya diisolasi.”

”Hanya dia sendiri di mobil itu?”
”Seorang pria ada di sampingnya, tapi mungkin
tertidur.”
Elang memutus pembicaraan, menelepon Pak Sis­
woyo sekali lagi. Ia memberitahu bahwa ada seorang
wanita yang ditawan oleh orang­orang yang menung­
gunya di hotel. Mendengar hal itu, Pak Siswoyo pun
akhirnya memutuskan turun tangan. ”Saya sendiri
yang akan menjemput Anda, dan menyelamatkan
wanita itu, ditemani dua polisi lain.”
Ronny masih menunggu Elang di warung kopi
kecil tak jauh dari hotel. Ia menelepon Elang, berkata
akan kembali ke rumah kalau Elang sudah keluar
selamat dari hotel itu. Ia juga penasaran, apakah
malam itu wanita yang ditangkap akan berhasil di­
loloskan.
Saat hampir sampai, Pak Siswoyo hanya berkata
bahwa dua orang akan masuk ke hotel menjemputnya,
seorang di luar untuk mengamankan keadaan. Kata­
katanya cepat, tampaknya ia sibuk menelepon ke
beberapa orang setelah Dokter Bunga ditahan. Elang

167

http://facebook.com/indonesiapustaka bahkan tidak diberitahu, siapa nama polisi yang men­
jemputnya. lewat tengah malam, dua polisi berpakaian
preman masuk ke hotel. Seorang tampak masih mu­
da; satunya tampak berumur mendekati lima puluh.
Elang sampai di lobi bersamaan dengan kedatangan
dua polisi itu. Mereka mengangguk pelan, tidak
berbicara.

Tiga pria yang menunggu Elang di lobi masih di
situ. Mereka saling berpandangan ketika Elang dan
dua polisi itu mendekati resepsionis, menyerahkan
kunci kamar. Repsionis yang tadi diberi uang seratus
ribu oleh Elang menatap dua pria di samping kiri
dan kanannya dengan bingung. Elang mengangkat
alis, menyilangkan telunjuk di bibir. Mereka bertiga
berbalik, melangkah perlahan, keluar hotel. Elang
berbisik, ”Mereka kelihatannya mengamati kita.”

”Hei, berhenti!” kata salah satu pria yang menung­
gu Elang di lobi. Mereka bertiga menghentikan lang­
kah, membalikkan badan. Tiga orang itu berjalan
cepat, mendekati Elang dan dua polisi itu.

Saat Elang hendak berbicara kepada tiga pria itu,
terdengar letupan senjata di luar hotel. Dua polisi
yang berada di kanan dan kiri Elang mengeluarkan
pistol dari jaket mereka, salah satu memberikan
instruksi: ”Kami polisi. Sekarang kalian berlutut dan
angkat tangan. Jangan bergerak! Sekali saja kalian
bergerak, pistol ini akan meledak!” Mendengar suara­
nya Elang pun tahu, ia Pak Siswoyo.

168

http://facebook.com/indonesiapustaka Pak Siswoyo menggerakkan kepala, memerintahkan
polisi yang mengawal Elang bersamanya keluar hotel.
”Cek ada apa di sana! Mungkin Solikhin tertem­
bak.”

”Robert, hati­hati!” teriak seseorang ketika polisi
itu keluar.

Itu suara Solikhin, polisi yang ditugaskan Pak
Siswoyo untuk membebaskan wanita yang ditawan
dan mengamankan keadaan. Robert memandang ke
segala arah, mencari di mana kawannya berada. ”Kau
di mana?”

Ia tak menjawab, malah berkata, ”Awas, dia entah
ada di mana! Bisa saja di balik mobil kita! Hati­hati!”
Mobil yang dikendarai para polisi berada agak jauh
dari hotel, sekitar dua puluh meter dari Toyota
Alphard yang ditumpangi para pengincar Elang.

Dalam situasi seperti ini, Elang bingung. Robert
dan seorang polisi yang terluka membutuhkan ban­
tuan Pak Siswoyo. Ia harus bertindak: keluar mem­
bantu menyelamatkan wanita yang ditawan atau tetap
berada di lobi. Ia pun memutuskan melakukan yang
pertama, mengambil korek api pistol yang tadi siang
dibelinya, dan sebelum keluar dari kamar hotel ia
sembunyikan di dalam jaketnya. ”Biar saya yang meng­
amankan mereka, Pak Siswoyo!” kata Elang setengah
berteriak.

Pak Siswoyo memandang Elang beberapa detik,
mulutnya sedikit menganga. Elang menyikut lengan

169

http://facebook.com/indonesiapustaka polisi itu, menyuruhnya keluar. ”Mereka dalam ba­
haya,” bisik Elang.

Pak Siswoyo memutuskan keluar. Tak lama setelah
keluar, terdengar lagi letupan senjata. ”Tunjukkan
dirimu! Keluar!” Bentakan Pak Siswoyo begitu kuat.
Elang yang berada di lobi menduga­duga, apa yang
terjadi: siapa lagi yang ditembak.

Satu dari tiga orang yang ditahan Elang kepalanya
bergerak­gerak. Elang yang berdiri membelakangi
pintu keluar hotel menduga bahwa pria itu sedang
melihat sesuatu, atau menerima bahasa isyarat sese­
orang. Elang lengah, membalik badannya, mencari
tahu. Sedetik kemudian perutnya ditendang, mulutnya
ditinju, dan korek api pistol dalam genggamannya
terlempar jauh. Elang terjengkang.

Tiga orang itu bergegas keluar, dan dari balik mo­
bil polisi muncullah kawan mereka yang tadi meng­
amankan tawanan wanita. ”Kita pergi sekarang, tanpa
dia!” katanya menunjuk Elang. ”Situasinya gawat!”
kata salah satu dari ketiga orang itu. Suaranya mirip
sekali dengan yang menelepon Elang.

Pria yang muncul dari balik mobil Toyota Alphard
dengan cepat membuka pintu mobil, menarik wanita
yang mereka tawan keluar. Ia meletakkan moncong
pistolnya ke dahi wanita itu. ”Kalau kalian bergerak
sedikit saja, pistol ini meledak. letakkan pistol di
tanah! Tetap tinggal di tempat kalian, jangan ber­

170

http://facebook.com/indonesiapustaka gerak!” Pak Siswoyo dan Robert melakukan apa yang
pria itu perintahkan.

”Mana Solikhin?” bisik Robert kepada Pak Siswoyo
di sampingnya, sambil sedikit menoleh.

”Jangan bicara!” bentak pria itu.
Robert pun menggerakkan wajah, menatap lurus
ke depan. Pria itu memerintahkan tiga kawannya
masuk ke mobil. Setelah tiga orang itu masuk, baru­
lah pria bersenjata dan wanita itu masuk.
Sesaat sebelum masuk ke mobil, Elang melihat
wajah wanita itu. Tesha!
Tesha pun memandang Elang yang kini berada di
teras hotel. Air mata Tesha mengalir di pipinya. Elang
hanya melihat wajahnya sedetik, mobil itu melaju
sesaat setelah ia masuk. Elang berlari keluar hotel,
merasa begitu bodoh tidak bisa menyelamatkan gadis
itu. Beberapa detik setelah mobil melaju, sepeda
motor melintas. Pengemudinya tak terlihat oleh
Elang, karena ia berada di samping mobil polisi, di
bagian jalan yang lebih jauh dari hotel.
Elang masuk lagi ke hotel, mengambil korek api
pistolnya yang tadi terlepas dari genggamannya dan
terlempar ke sudut ruangan, keluar lagi, menghampiri
Pak Siswoyo dan Robert. Mereka bergegas ke samping
mobil polisi. Di situlah Solikhin tertembak. Kakinya
selonjor, tangan kanannya memegangi pinggang
bagian kiri yang mengeluarkan banyak darah. Ia
hampir pingsan, matanya setengah tertutup. ”lukanya

171

http://facebook.com/indonesiapustaka tidak dalam, tapi harus segera ditolong,” kata Pak
Siswoyo.

Beberapa orang keluar hotel, termasuk resepsionis
yang tadi Elang beri uang, dan satpam yang tadi se­
dang berada di ruangan untuk membuat kopi. Mere­
ka menanyakan apa yang terjadi. Pak Siswoyo dan
Elang pun menjelaskan apa yang terjadi secara sing­
kat.

Dengan cepat Solikhin bercerita bahwa ia kurang
waspada ketika mendekati Toyota Alphard itu. Pintu
mobil terbuka tiba­tiba, dan pria yang ada di dalam
mobil dengan cepat menembak Solikhin. Untunglah
posisi Solikhin masih jauh dari pria bersenjata itu.
Pelurunya hanya mengenai bagian pinggir pinggangnya.
Kalau dekat, Solikhin tentu akan tewas. Setelah
menembak Solikhin, pria itu bersembunyi di balik
mobil, dari gerak­geriknya tampak berencana masuk
ke hotel menjemput teman­temannya. Tapi, tiga
temannya itu keluar sebelum dijemput.

Pak Siswoyo, Robert, Solikhin, dan Elang masuk
ke mobil. Elang mencari­cari Ronny, tapi tidak
ketemu. Mobil berjalan, Elang sedih tak sempat
mengucapkan salam perpisahan kepada Ronny. Ia
agak menyesal, waktu kali pertama bertemu, sempat
merasa risi dengan keramahan Ronny dan saudaranya.
Tanpa Ronny, ia bisa saja tewas di Jakarta.

Di sini ia berjumpa dengan orang asing yang
ramah dan tulus seperti Ronny. Ia juga berjumpa

172

http://facebook.com/indonesiapustaka dengan dokter cantik jelita yang hampir saja mele­
dakkan kepalanya. Dan, ia berjumpa dengan seorang
gadis yang kini tak berdaya.

Tesha. Ia harus menyelamatkan gadis itu.
Jakarta, oh Jakarta... Elang pun teringat pada lagu
yang dinyanyikan Iwan Fals.

173

http://facebook.com/indonesiapustaka 16

SABTU, 29 November 2014, pukul enam pagi, Elang

terbangun. Ia sedang berada di kamar, di rumah Pak
Siswoyo. Elang mendengar suara orang­orang berbi­
cara, juga suara bayi. Ia tak langsung bangun, pikir­
annya mengingat peristiwa­peristiwa menegangkan
yang ia alami kemarin. Robert menemani Solikhin
di rumah sakit, ia dan Pak Siswoyo pulang ke rumah
sekitar pukul dua malam.

Ia menelepon Tesha, tapi tidak terhubung. Ia
membuka pintu kamar, tersenyum. Pak Siswoyo, istri­
nya, dan dua anaknya sedang berkumpul di ruang
tengah. Pak Siswoyo tampak baru selesai mandi,
sudah mengenakan kaus dalam dan celana cokelat
polisinya. Ia suka sekali melihat bayi yang digendong
polisi itu, menanyakan umurnya. ”Baru sembilan bu­
lan, Mas Elang,” kata Pak Siswoyo. Bayi itu tampaknya

174

http://facebook.com/indonesiapustaka sangat gembira mendengar lagu­lagu yang diputar dari
ponsel yang dipegang kakaknya. Sesekali ia bertepuk
tangan, juga berteriak­teriak kecil.

”Kakaknya nggak sekolah?” kata Elang sambil
tersenyum kepada anak pertama, gadis kecil yang
umurnya sekitar tujuh tahun.

”Oh, kalau Sabtu libur, Mas,” jawab istri polisi
itu.

Semuanya tersenyum kepada Elang, juga bayi
itu—ah, keluarga yang ramah. Elang pun meminta
izin ke kamar mandi, membersihkan diri.

Setelah keluar dari kamar mandi, Elang hanya
melihat Pak Siswoyo di meja makan. Ia sudah menge­
nakan seragam lengkap. Istri dan kedua anaknya
tampaknya masuk ke kamar. ”Mari, Mas, sarapan
bareng,” kata polisi itu.

Elang mengangguk, ia harus segera bersiap­siap.
”Saya ganti baju sebentar di dalam, Pak.”

Dua menit kemudian Elang keluar kamar, makan
bersama polisi itu. Pak Siswoyo memiliki kewibawaan
yang besar walaupun ramah, tampak kurang suka
bicara. ”Kita sedang memburu waktu,” kata Pak
Siswoyo sambil melihat jam dinding. ”Kalau bisa,
setengah jam lagi kita sudah berada di kantor.” Elang
melihat jam tangan, pukul setengah tujuh.

Mereka menghabiskan makanan di piring masing­
masing dengan cepat, lalu berpamitan kepada istri
dan anak­anak polisi itu. Pukul 06.40 mereka keluar

175

http://facebook.com/indonesiapustaka rumah, melintasi gang, dan tiga menit kemudian su­
dah berada di mobil.

”Pak, bagaimana rasanya menjadi polisi, sekaligus
memiliki keluarga?” tanya Elang ketika mobil mulai
melaju.

Pak Siswoyo tersenyum, menoleh sebentar ke arah
Elang. ”Mas tentu belum berkeluarga. Benar?”

Elang ingin mengatakan sudah bercerai, tapi tidak
jadi. ”Iya, Pak. Memang belum,” kata Elang sambil
memandangi jalan, merenungkan lagi peristiwa
semalam. ”Kejadian seperti semalam, apakah Bapak
sering mengalaminya?”

”Sebenarnya tidak terlalu sering.”
Elang menangkap nada merendah dalam suaranya.
”Tidak terlalu sering, tapi saya duga... tentu ada yang
lebih mengerikan daripada semalam.”
Pak Siswoyo mengangguk­angguk. ”Bisa jadi begitu,
Mas. Oh ya, omong­omong saya teringat sesuatu,”
katanya, tampak hendak mengalihkan pembicaraan.
”Kejadian semalam membuat saya senang, memberi
kami sebuah jalan. Semalam, ada salah satu orang
yang kami incar selama ini.”
”Siapa? Si penembak?”
Pak Siswoyo menggeleng. ”Masih ingat dengan
nomor plat mobil yang Anda sampaikan kemarin?”
Elang mengangguk. ”Ya, milik siapa mobil itu?”
”Pemiliknyalah orang yang kami incar, Mas. Nama­
nya Yogi Andhimas. Dia... suami Dokter Nina Se­
karwati.”

176

http://facebook.com/indonesiapustaka Elang mengerutkan dahi, teringat nama itu pernah
disebut Agung. Ia mendesah panjang. ”Apa? Suami
Dokter Nina? Bagaimana bisa? Dia melakukan keja­
hatan apa?”

”Dari beberapa mata­mata kami, dia diduga kuat
menjadi pengedar narkoba selama dua tahun terakhir.
Dia punya kaki tangan di mana­mana. Hasil penye­
lidikan yang kami kumpulkan belum cukup kuat
untuk menjeratnya. Dia sangat licin, belum pernah
tertangkap tangan dalam menjalankan bisnisnya. Dia
juga punya kenalan beberapa pejabat tinggi di kepo­
lisian. Sudah tiga bulan lebih tugas untuk menyelidi­
kinya saya terima dari atasan.”

”Semalam... dia juga ada di Bamboo Inn?”
”Ada. Yang gemuk, badannya agak pendek. Dia
salah satu yang berada di lobi, yang kita suruh tidak
bergerak. Tentu Mas masih ingat ciri­cirinya.”
Elang mengangguk. ”Iya, waktu mereka kabur, dia
duduk di kursi depan.” Elang tak habis pikir, bagai­
mana mungkin suami seorang dokter anak menjadi
pengedar narkoba. ”lalu, kematian Dokter Nina, juga
hubungannya dengan Dokter Bunga, bagaimana?”
”Kita hampir sampai, nanti saya akan tunjukkan
temuan­temuan kami,” kata polisi itu sambil me­
nambah kecepatan.
Di mobil, polisi itu bernyanyi mengikuti lagu yang
ia putar.

177

http://facebook.com/indonesiapustaka I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove what I know to be true
But I know that I still have to try

Elang ikut menyanyikannya.

If I die tomorrow, I’d be alright
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

— The Spirit Carries On, Dream Theater

Sebelum sampai kantor polisi, Elang sudah bisa
menyimpulkan: Yogi­lah yang meneleponnya kemarin.
Ia segera mengganti kartu selulernya, tentu pria sialan
itu akan menelepon lagi. Di kantor Polres Jakarta
Barat, di Jalan S. Parman, Pak Siswoyo mengajak
Elang masuk ke ruangannya. Ada Robert dan bebe­
rapa polisi lain di sana. Pak Siswoyo mengenalkan
mereka kepada Elang. Jabatan Robert sama dengan
Agung, Kanit Jatanras, tapi berpangkat lebih tinggi,
yaitu AKP, sama dengan Pak Effendi. Pak Siswoyo
berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP),
menjabat sebagai Kasat Reskrim (Reserse Kriminal).
Selain Robert ada Albert, Arik, Yono, dan Mukh­
sin.

178

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Nah, teman­teman, inilah Elang Bayu Angkasa.
Dia seorang pelukis yang sedang menganggur. Kita
tidak pernah menduga, kesediaannya menyelidiki
kematian seorang pengarang di Singkawang malah
membuka pintu bagi kita di sini untuk terus mengejar
salah satu target kita selama ini. Saya, mewakili
teman­teman, juga tentu Agung di Singkawang, sangat
berterima kasih atas bantuan Anda.”

Elang jadi kikuk ketika melihat polisi­polisi yang
ada di dalam ruangan menatapnya dengan bangga.
”Orang seperti Anda menjadi ilham bagi kami,” kata
Pak Siswoyo dengan suara yang lebih kecil. ”Beberapa
dari kami, mungkin karena begitu sering melihat
kejahatan, kadang menjadi bosan. Beberapa orang
dari kami bahkan menjadi bagian di dalam kejahatan,
begitu ada uang yang mengintip di balik pintu.”

Setelah berpidato, Elang pun diberi amplop cokelat
oleh Pak Siswoyo. Membaca tulisan di sampul, ia pun
tahu, itu surat kiriman Gagak Hitam untuk Dokter
Nina. Ia mengeluarkan isinya, selembar halaman TTS
yang disobek. Ia berdebar­debar ketika menyimak
beberapa soal yang ditandai dengan bolpoin di
halaman 21, lalu melihat jawabannya. Ada dua soal
di pertanyaan menurun dan tiga soal di pertanyaan
mendatar:

Menurun:
3. Soal: Dengan tidak. Jawaban: TANPA.
15. Soal: Perempuan. Jawaban: WANITA.

179

http://facebook.com/indonesiapustaka Mendatar:
4. Soal: Kamu, Anda. Jawaban: ENGKAU.
6. Soal: Saya. Jawaban: AKU.
12. Soal: lenyap, tanpa bekas. Jawaban: SIRNA.

Elang masih merenungkan soal dan jawaban itu
saat Pak Siswoyo berbicara perlahan: ”Tanpa engkau
wanita, aku sirna. Tewas. Itu sebuah berita, Elang,
pengirimnya memang akan bunuh diri. Setidaknya,
itulah kesimpulan kami yang berada di sini sejauh
ini. Penyelidikan kami di sini, juga Agung di Sing­
kawang, mungkin saja akan mempertegas kesimpulan
itu.”

Tangan Elang bergetar. Ia pun teringat, dua soal
belum ia temukan jawabannya, yaitu ”TANPA” dan
”SIRNA”.

”Semalam Robert sudah menginterogasi Dokter
Bunga. Dokter Bunga takut pada penjara, ia akhirnya
berbicara setelah kami menceritakan dan menakut­
nakuti betapa mengerikannya penjara itu,” kata Pak
Siswoyo. ”Sebelumnya dia begitu angkuh dan menu­
tup diri. Dia pun buka mulut, menyatakan bahwa
dia dan Yogi Andhimas bersekongkol membunuh
Dokter Nina. Menurutnya, niat itu sepenuhnya meru­
pakan ide Yogi. Pistol yang dibawa Dokter Bunga saat
berada di hotel dengan Anda juga dia pinjam dari
Yogi.”

”Dokter Nina dibunuh? Tidak mati bunuh diri?”
tanya Elang.

180

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Keberadaan racun potasium sianida di dalam
tubuhnya memperkuat dugaan kami. lalu, lihatlah
amplop itu. Pengirimnya bernama Gagak Hitam. Dua
nama burung itu—Gagak Hitam dan Merpati Putih—
mungkin saja sering digunakan keduanya untuk saling
memanggil selama mereka masih hidup. Dokter
Bunga tahu siapa Gagak Hitam karena tentu Anda
tidak lupa, dia sahabat Dokter Bunga,” jelas Ro­
bert.

”Sahabat yang berkhianat?” geram Elang.
Pak Siswoyo berkata, ”Kau mungkin terkejut
mendengar ini: Dokter Bunga adalah selingkuhan
Yogi. Bayangkan, betapa mengerikan percintaan ini!
Tapi, sampai dia meninggal, Dokter Nina tampaknya
tak mengetahui perselingkuhan itu. Dokter Nina,
menurut cerita Dokter Bunga, jarang mendapat
perhatian suaminya.
”Dokter Nina berselingkuh dengan Gagak Hitam,
hingga dia hamil. Sudah lama dia ingin memiliki
anak, tapi tak pernah kesampaian karena suaminya
mandul. Kami semakin yakin pembunuhan ini terjadi
karena Yogi tidak berhasil memerintahkan istrinya
untuk menggugurkan kandungan. Begitulah, sejauh
ini kami menganggap ceritanya masuk akal dan bisa
kami pergunakan untuk menangkap Yogi.”
Elang teringat sesuatu, kemudian ia bertanya, ”Apa­
kah dia sempat bercerita, kenapa awalnya dia seperti
memberi harapan mau bercinta dengan saya, tapi lalu
menyerang saya tiba­tiba? Kenapa dia tidak langsung

181

http://facebook.com/indonesiapustaka menghabisi saya?” Ia awalnya ragu menanyakan hal
itu, tapi terus­menerus ia pikirkan. Cepat atau lam­
bat, para polisi itu pun akan tahu, tidak perlu ia
tutup­tutupi. Ia berharap pertanyaan itu sudah bisa
dijawab.

”Dokter itu ingin menyelidiki Anda dulu,” kata
Robert. ”Dia heran, kenapa seorang pelukis seperti
Anda bisa terlibat dalam hal ini. Saya simpulkan, dia
sebenarnya tidak benar­benar ingin membunuh Anda,
tapi merasa terancam dengan kehadiran Anda. Dia
tidak senang Anda ikut campur. Dan...” Robert tam­
pak ragu melanjutkan kata­katanya.

”Dan... apa?” tanya Elang penasaran.
”Dan dia tahu... entah dari mana, Anda suka
meniduri wanita.”
Elang mengangguk, mencoba menghayati semua
penjelasan itu. Ia segera teringat pada Tesha yang
sedang diculik Yogi. Ia berdiskusi dengan Pak Siswoyo
dan polisi­polisi di ruang itu, apa yang harus dilaku­
kan. Belum selesai menyusun rencana, ponsel Elang
berbunyi. Dari Ronny. Oh, Elang lega sekali mendapat
panggilan darinya. ”Ya, Ronny. Bagaimana semalam?
Kenapa kau tiba­tiba hilang?”
”Nggak lama setelah salah satu polisi tertembak,
aku segera berpikir untuk menolong polisi itu. Tapi,
tentunya akan berbahaya sekali. Jadi, aku termenung
di depan warung yang nggak jauh dari hotel, memi­
kirkan apa yang harus kulakukan. Saat seorang polisi
berteriak, seorang pengunjung warung selain aku

182

http://facebook.com/indonesiapustaka bertanya, ada kejadian apa di hotel itu? Aku pun
berkata kepadanya bahwa ada penculikan seorang
wanita.

”Ide gila itu justru muncul dari si pengunjung. Dia
mengajakku mengintai di mana orang­orang dalam
mobil itu tinggal ketika orang bersenjata di dalam
mobil mulai masuk satu per satu. Supaya tidak men­
curigakan, kami melintas dengan laju di depan hotel.
Kami lewat duluan, berada di depan mobil itu saat
melintasi Jalan Kota Bambu. Di pangkalan ojek, di
pertigaan Jalan Kota Bambu dan S. Parman, kami
berhenti, menunggu mobil itu melintas. Setelah mo­
bil itu lewat, kami pun mengikutinya dari bela­
kang.”

Elang mengepalkan tinju, tersenyum begitu lebar.
Sahabat kadang ditemui di tempat dan waktu yang
tak terduga. ”Jadi, kau tahu di mana orang­orang itu
tinggal?”

”Di Mangga Besar, di salon kecantikan Kayla Ayu.
Salon itu memiliki dua lantai. Aku yakin wanita itu
berada di sana. Aku masih siap membantu jika di­
perlukan. Bahkan, semalam, orang asing yang mem­
boncengku itu jadi berkawan denganku, aku punya
kontaknya yang bisa dihubungi bila Mas butuh
bantuan.”

Elang mengelus­elus dagu ketika Ronny selesai
menelepon. Ia menceritakan tentang Ronny kepada
Pak Siswoyo. ”Jadi, apa yang harus kita lakukan?”
tanya Elang.

183

http://facebook.com/indonesiapustaka Pak Siswoyo tidak langsung menjawab pertanyaan
itu, mendesah panjang, menepuk­nepuk pundak
Elang, lalu duduk di kursi. ”Kalian lihat, kawan­
kawan. Kalian lihat, orang­orang ini. Elang, Ronny,
orang asing di warung itu. Aku tidak menganggap
remeh apa yang Ronny lakukan. Tanpa bantuan
Ronny pun, pagi ini kita bisa melacak di mana
keberadaan Yogi. Aku juga beberapa kali menerima
kabar bahwa dia berada di salon itu. Di kantor kita
ada detektor—keberadaan seseorang bisa kita ketahui
dari ponsel yang dibawanya. Tapi, lihatlah hati nurani
mereka yang masih peka dengan rasa keadilan;
sementara di gedung kita ini...,” kata­kata Pak Siswoyo
terhenti, ”kalian bisa melihat orang­orang yang hati
nuraninya sudah tumpul—para pelindung kejahat­
an.”

Robert dan beberapa polisi saling pandang. Elang
menangkap kecurigaan merambat di udara. ”Baik,
soal penyelamatan gadis itu,” kata Pak Siswoyo,
”kukira... kita perlu bergerak secepatnya. Cuma, aku
khawatir akan ada korban kalau kita salah langkah.
Kita tidak pernah tahu, siapa saja polisi yang mungkin
berada di pihak mereka. Aku menduga, sebentar lagi
Yogi akan menelepon Elang, memintanya melakukan
sesuatu. Cara lama, kawan­kawan, aku sebut sebagai
’pertukaran’: tawanan dikembalikan, tapi ada penggan­
tinya.”

Elang, Pak Siswoyo, Robert, dan semua polisi di

184

http://facebook.com/indonesiapustaka ruang itu merencanakan penyergapan terhadap Yogi
dan kawan­kawannya. Arik membuka Internet, men­
cari lokasi salon yang menjadi lokasi kunci. Pak
Siswoyo mengemukakan, ada tiga kemungkinan
tempat atau penyergapan yang bisa dilakukan terha­
dap Yogi dan kawan­kawannya. Pertama, di rumahnya.
Kedua, di tempat yang akan ditentukan Yogi untuk
melakukan pertukaran. Ketiga, di jalan saat hendak
melakukan pertukaran. Masing­masing cara atau
tempat penyergapan ada risikonya. Yang jelas, ia tidak
ingin ada anak buahnya yang menjadi korban.

Ia juga mengatakan, Yogi tentunya tidak bodoh.
”Begitu berhasil bicara dengan Elang, dia akan men­
jadi penguasa dari pertukaran yang dia buat, tidak
menawarkan negosiasi. Dia hanya menawarkan satu
hal: kita harus menuruti apa maunya.”

”Tapi kita tidak bisa terus­menerus di sini, Pak.
Maaf, menurutku, Bapak masih khawatir dengan
peristiwa semalam. Tapi syukurlah, Solikhin baik­baik
saja. Kita sudah memegang kesaksian Dokter Bunga
sebagai modal untuk menangkap penjahat itu, dan
nyawa Tesha sedang berada di ujung tanduk,” kata
Robert. ”Jadi, apa yang harus kita lakukan seka­
rang?”

Elang mengangkat ponselnya. ”Apakah saya yang
harus menelepon biadab itu?”

Pak Siswoyo dan Robert berpandangan. Polisi itu
mengangguk. ”lakukanlah. Tapi jangan di sini. Ke­

185

http://facebook.com/indonesiapustaka luar dari sini, cari warung atau apa pun. Bisa saja,
dia punya detektor yang sama, atau polisi yang
memberikan segala informasi yang dia butuhkan, yang
membuat dia lolos dari setiap sergapan. Dan, jangan
sebut namanya, anggap saja Mas tidak tahu­menahu
perihal dirinya, hanya menanyakan Tesha.”

Bersama Robert, Elang pun pergi ke warung yang
agak jauh, lima belas menit bersepeda motor dari
kantor polisi. Begitu telepon dijawab, Elang langsung
menyebutkan namanya sendiri.

”Hahaha.” Suara Yogi terdengar berat saat meres­
ponnya. ”Ada apa, Elang Bayu Angkasa? Kangen sama
gadismu?”

”Benar. Saya ingin bertemu dengannya, mengajaknya
makan siang.”

”Hahaha.” Kali ini suara itu terdengar berat, tawa­
nya begitu kencang. ”Kau sungguh lucu, Elang.
Sungguh lucu. Gadismu baik­baik saja. Dia baru saja
sarapan. Hari ini dia izin, tidak masuk kerja di rumah
sakit, karena dokter atasannya ditahan polisi. Haha­
ha.”

”Oh... aku tahu sekarang. Anda ingin ketemu
dengan sang dokter?”

”Ya!!!” Pria itu membentak, mengagetkan Elang;
ponselnya nyaris jatuh dari genggaman. ”Sore ini, jam
tiga tepat, di lapangan Banteng. Di sana baru saja
ada pembukaan pameran flora dan fauna. Bawa dia!
Keluarkan dia dari tahanan polisi! Kau sahabat me­
reka. Betapa mereka bahagia punya sahabat pelukis

186

http://facebook.com/indonesiapustaka dan pejuang kebenaran yang tampan sepertimu. Ha­
haha.”

Elang marah sekali, ingin juga ia ber­hahaha, tapi
menahan diri.

”Dan di sana, tak ada polisi, tak ada pengintai.
Hanya kau dan dokter itu. Hanya aku dan perawatmu.
Dua pasangan kekasih yang mesra. Hahaha.” Pem­
bicaraan pun selesai.

Robert yang mendengar pembicaraan itu dengan
menempelkan telinganya di dekat ponsel Elang me­
narik tangan Elang. ”Orang itu cerdas. Tapi... ah,
tidak bisa!”

”Kenapa tidak bisa? Apanya yang tidak bisa?”
Robert membayar kopi. Sambil keluar warung dia
berkata, ”Tidak bisa kalau di tempat seperti itu!
Ramai. Kita akan kalah. Dia akan menempatkan
banyak kaki­tangan di mana­mana. Dan... si brengsek
itu gila. Dia bisa saja tiba­tiba menawan orang lain,
lalu menjadikannya sandera. Kalau dia kalap, bisa
saja ada orang yang terbunuh. Hanya satu pilihan:
kita ke salon itu sekarang! Tinggalkan handphone Mas
di sini.”
”Kenapa handphone saya mesti ditinggal di warung
ini?”
”Detektor ponsel yang canggih bisa bekerja se­
kalipun handphone itu mati, Mas. Bisa saja Yogi
memilikinya, atau polisi lain membantunya melacak
handphone itu. Kalau dia memilikinya, atau punya
informan, aku ingin Mas dianggapnya sedang berada

187

http://facebook.com/indonesiapustaka di sini terus. Aku kenal pemilik warung ini, pasti
aman.”

Robert menyalakan mesin sepeda motor, menancap
gas.

188

http://facebook.com/indonesiapustaka 17

SUDAH hampir pukul sepuluh ketika Elang kembali

ke kantor polisi. Pak Siswoyo segera menutup pintu,
Robert melaporkan peristiwa yang terjadi. Terjadi
perbedaan pendapat. Pak Siswoyo, Robert, Albert,
dan Mukhsin setuju bila mereka menyergap tiba­tiba
ke salon. Sementara Arik dan Yono memilih me­
nyergap di lapangan Banteng.

”Paling tidak, kalau di lapangan Banteng, dia tidak
terlalu marah. Kita semua tahu, dia punya dekingan
di kepolisian yang bisa saja menginformasikan penyer­
gapan kita,” kata Yono.

”Tidak ada kata­katanya yang menyiratkan atau
menjadi pertanda bahwa dia mengetahui apa yang
sedang kita lakukan,” kata Robert. ”Bicaranya ringkas.
Orang seperti dia berbahaya. Dia tahu segalanya, tapi
tidak banyak bicara. Kalau dia berhasil membawa

189

http://facebook.com/indonesiapustaka Dokter Bunga, kuduga... mereka akan pergi mening­
galkan kota ini, kemungkinan besar ke luar nege­
ri.”

Polisi­polisi itu saling berdebat. Elang menyimak
sambil memikirkan sebuah alternatif. ”Penyamaran!”
katanya setengah berseru. ”Dengan bantuan penya­
maran, Bapak­Bapak yang terhormat, saya kira akan
membantu kita menyergapnya di salon itu!”

Keenam polisi itu memandang Elang, nyaris ber­
samaan. ”Apa maksudmu? Kau mau menyamar?”

Elang menggeleng, lalu berbisik. ”Kalian sudah
melihat, sebagian mendengar, apa yang saya lakukan.
Apa yang saya akan sampaikan di sini berasal dari
niat yang tulus: menangkap pria itu. Sang pembunuh
istri! Penculik perawat tak bersalah! Pengedar narko­
ba!” katanya sambil menatap Pak Siswoyo dan polisi­
polisi di situ.

Pak Siswoyo, Robert, dan polisi­polisi lainnya saling
pandang. Pak Siswoyo melirik jam dinding. ”Coba
kausampaikan, Mas Elang.”

”Kita akan menyergap, tapi dengan didahului pe­
nyamaran. Saya akan meminta bantuan Ronny. Saya
yakin dia penyamar yang hebat, bisa diandalkan. lagi
pula, jumlah kita hanya bertujuh. Dia akan menjadi
sales, menawarkan produk kecantikan atau kesehatan.
Ia menjadi sales dengan tujuan agar bisa memperoleh
informasi tentang salon itu. Ia bisa membuka perca­
kapan dengan bertanya kosmetik apa yang digunakan,
lalu mengembangkan pertanyaan ke siapa pengelolanya,

190

http://facebook.com/indonesiapustaka apa saja fasilitasnya, siapa saja yang dipekerjakan,
sampai siapa yang tinggal di salon itu.

”Seorang pelanggan akan lebih susah bila banyak
bertanya. Salon itu tentu sedang buka sekarang. Hari
Sabtu tentu ramai pengunjung. Aktivitas salon umum­
nya dilakukan di lantai satu. Kecuali salon itu plus­
plus, di lantai dua mungkin ada beberapa ruang
khusus—kita tidak ada yang tahu pasti. Nah, supaya
lebih lancar, nanti kuminta Ronny untuk menjadi
pelanggan, selain sales. Ini untuk menghindari kecu­
rigaan, dan orang yang melayaninya tidak merasa
terlalu risi ditanyai banyak hal—tidak merasa sedang
diinterogasi.

”Dan, pikirkan baik­baik, ada kemungkinan juga
Yogi tidak berada di situ sekarang. Kalaupun ada situ,
sangat mungkin dia akan berada di lantai dua, ber­
istirahat untuk kegiatan nanti sore. lalu, Ronny akan
meminta izin ke toilet. Di dalam toilet, Ronny akan
mengabari kita situasi dan informasi yang bisa dia
peroleh di dalam salon. Kita akan membagi informasi
itu lewat ponsel masing­masing.

”Tapi, ada salah satu dari kita yang harus berada
agak jauh dari salon, menelepon tidak lama setelah
Ronny mengirim pesan. Si penelepon mengaku
sebagai seorang polisi misterius, memberi informasi
rahasia dari seorang petinggi polisi bahwa Pak Siswoyo
sedang bergerak menyergap salon itu.

”Tentu Yogi tidak akan segera memercayai telepon
itu. Dia akan berpikir bahwa anak buah Pak Siswoyo

191

http://facebook.com/indonesiapustaka yang melakukannya, menjebaknya. Agar dia percaya,
Ronny­lah yang harus bertindak. Mungkin Ronny
tidak mendapatkan banyak informasi, tergantung dari
sampai sejauh mana dia bisa menyelidiki siapa dan
apa saja aktivitas di salon itu. Tapi, tugas terpenting
Ronny justru setelah keluar dari toilet. Dia harus
membuat keributan.

”Di dalam tasnya, Ronny perlu memperlengkapi
diri dengan senjata atau apa pun yang bisa merusak
benda keras. Kubayangkan dia merusak kaca mobil,
atau kaca jendela, atau apa pun, setelah keluar dari
toilet. Dia harus bertindak cepat, tak terduga. lalu
kawannya yang semalam memboncengnya muncul,
membawanya pergi. Ronny dan kawannya harus me­
mastikan, sedapat mungkin tidak ada yang akan
mengejarnya. Ronny segera mengabari kita semua
setelah dia pergi, termasuk si penelepon.

”Si penelepon beraksi lagi, mengatakan bahwa
seorang polisi baru saja berangkat terlebih dahulu,
bahkan mungkin saja sudah sampai. Jelas, Ronny­lah
yang dimaksudkannya. Dia akan menekankan kata­
kata bermakna ganda ini: ’Polisi itu kelihatannya
menyamar, memberi peringatan. Polisi­polisi lain se­
dang mendatangi salon dalam jumlah yang sangat
banyak. Sedapat mungkin tinggalkan salon sekarang
kalau mau selamat.’

”Kali ini Yogi tidak mungkin berpikir bahwa si
penelepon main­main. Dia bisa saja menyimpulkan,
kerusakan yang dibuat Ronny itu memang peringatan

192

http://facebook.com/indonesiapustaka untuknya: Ronny adalah suruhan seorang petinggi
polisi yang menjadi dekingannya. Atau, dia akan
berpikir bahwa itu semacam pertanda untuk diada­
kannya penyergapan polisi­polisi yang selama ini sudah
mengintainya. Kalau Yogi ada di situ, bisa dipastikan
dia akan keluar. Kalau hanya anak­anak buahnya yang
ada di situ, maka mereka semua akan keluar. Dan,
pasti mereka akan keluar membawa Tesha. Saat itulah
kita, yang sudah bersiap di sana, menyergap salon itu,
membekuk mereka, mungkin sebelum mereka sempat
menyalakan mesin.”

Pak Siswoyo menepuk­nepuk pundak Elang, terse­
nyum lebar. ”Sempurna. Imajinatif. Mari kita keluar
dari sini, pergi ke rumah makan. Segera telepon
Ronny, ajak dia dan temannya makan bersama!”

Di warung makan tempat Robert dan Elang mene­
lepon Yogi, sembilan orang itu berkumpul, membahas
rencana mereka. Elang memeluk Ronny erat­erat
ketika mereka berjumpa lagi—mereka seperti kawan
lama yang sudah tidak berjumpa selama bertahun­
tahun. Orang asing yang bersama Ronny itu bernama
Alex, seorang karyawan di perusahaan kue. Ia sedang
libur, Sabtu tidak bekerja. Pak Siswoyo beberapa kali
mengucapkan terima kasih atas bantuan Ronny dan
Alex semalam.

Sebelum ke warung makan, Albert sudah menyiap­
kan pakaian untuk Ronny yang menyamar jadi sales,

193

http://facebook.com/indonesiapustaka tas ransel untuk menyimpan pentungan polisi yang
ditutupi banyak kain supaya bentuknya tidak mencu­
rigakan, juga beberapa produk kosmetik buatan
dalam negeri yang diletakkan paling atas. Saat itu
pukul sebelas siang, semua orang makan dengan
lahap.

Setelah makan, Pak Siswoyo menyampaikan ren­
cana penyergapan siang itu di Salon Kayla Ayu. Saat
polisi­polisi itu—juga Ronny dan Alex—berbicara dan
saling menanggapi, menyempurnakan rencana, Elang
berkali­kali merasa ada yang mengganjal hatinya. Hal
itu tampak dari gerak­gerik Pak Siswoyo dan Robert—
kadang mereka berdua menaikkan alis, melirik, atau
mengangguk kecil. Elang jadi khawatir, penyergapan
ini tidak berjalan lancar.

Rencana mereka selesai dibahas pukul 12.30. Ronny
dan Alex akan berjalan paling depan, bersepeda motor,
diikuti Robert dan Elang yang juga mengendarai
sepeda motor. Pak Siswoyo, Albert, Mukhsin, Arik,
dan Yono semobil, berada paling belakang. Semua
polisi mengenakan pakaian preman. Selain itu, untuk
menghindari kecurigaan, Pak Siswoyo menggunakan
Kijang Innova, bukan mobil polisi.

Pukul 13.15, Ronny dan Alex sudah sampai di
kompleks ruko tak jauh dari salon itu, sekitar dua
ratus meter. Alex yang hafal daerah itu mengatakan
bahwa ia akan menunggu di situ sampai Ronny
menelepon. Pesan sebelum Ronny merusak sesuatu,
hanya akan ditulis dalam satu kata: ”Cabut!”

194

http://facebook.com/indonesiapustaka Ronny dan Alex mendapat kabar dari Robert yang
sudah bersiaga bersama Elang di halaman parkir
sebuah bank yang tutup. Mereka siap menelepon Yogi
kapan saja ada instruksi. Pesan dari Ronny kepada
Robert untuk melakukan panggilan telepon pertama
kepada Yogi adalah ”Telepon 1”, lalu telepon kedua
adalah ”Telepon 2”.

Ronny menelepon Pak Siswoyo, menanyakan
posisinya. Mereka agak terlambat karena lalu lintas
agak macet. ”Paling lambat, sepuluh menit lagi kami
sampai,” ujarnya di telepon.

Pukul 13.30, semua penyergap sudah berada di
posisinya. Pak Siswoyo mendapat informasi dari re­
kannya di kantor yang menggunakan detektor, bahwa
ponsel Yogi berada di salon itu. ”Besar kemungkinan
dia ada di situ, tidak mungkin hanya meninggalkan
ponselnya di situ,” kata Pak Siswoyo kepada polisi­
polisi yang bersamanya.

”Kita akan tahu setelah Ronny masuk ke sana,”
timpal Albert.

Ronny mengembuskan napas panjang, menutup
mata, mulutnya bergumam mengucapkan doa. Ia
memasang dasi yang dipinjamkan Albert kepadanya,
warnanya merah muda, ada motif bunga di bagian
bawah. Dasi itu akan memudahkannya berinteraksi
dengan wanita, termasuk para pelayan salon, walau­
pun kurang serasi dengan celana hitam dan baju
putih yang ia kenakan. Ia berjalan mantap, mengamati
jalan dan ruko­ruko yang ia lewati. Salon itu meru­

195

http://facebook.com/indonesiapustaka pakan ruko yang berada dalam sebuah kompleks. Di
depan salon, terparkir mobil Toyota Alphard.

Ronny sampai di lokasi, ia mengetuk pintu. Pintu
dibuka, ada dua pelanggan di salon itu. Melihatnya,
Ronny mendesah lega—apalagi keduanya pria. Ia tak
sendiri. Seorang pelayan salon menyambutnya. Pela­
yan itu gadis yang manis, mirip pemeran utama se­
buah sinetron. ”Pagi, Mas, ada yang bisa dibantu?”

Ronny tersenyum, meletakkan tas ranselnya, meng­
ambil beberapa produk kosmetik. ”Saya hendak
menawarkan produk kecantikan. Maaf mengganggu.
Di sini, kalau facial atau lulur menggunakan produk
apa?”

Pelayan itu berbisik kepada seorang kawan yang
mendekatinya, pelayan lain. ”Kami sebenarnya sudah
pakai produk lain sih, Mas. Tapi kami pernah men­
dengar produk ini, saya sendiri pakai,” jawab kawan
si pelayan pertama, sambil melihat Ronny dan kawan­
nya bergantian. Dari cara mereka berpandangan, lalu
melihat Ronny, mereka tampaknya menyukai keha­
diran Ronny.

”Memang untuk yang hand body sama lulur itu
harganya berapa, Mas?” tanya pelayan pertama yang
mirip artis sinetron.

”Sedang ada diskon sih, Mbak, apalagi kalau beli
banyak. Harga hand body ini biasanya 45 ribu, tapi
kalau beli dengan saya jadi 35 ribu.”

Pelayan pertama memandang pelayan kedua, mu­

196

http://facebook.com/indonesiapustaka rutnya membentuk huruf ”u”. ”Murah, ya?” kata­
nya.

”Kalau yang lulur, Mas?” tanya pelayan kedua.
”Kalau yang itu juga ada potongan. Harga resminya
32 ribu. Kalau beli sama saya cuma 28 ribu.”
Pelayan kedua mengangkat alis, tersenyum. Ia tak
bisa menyembunyikan ketertarikannya. Dua pelayan
lain pun datang, ikut mengajak Ronny mengobrol.
Mereka semua berpakaian ketat dan menggoda. Saat
para pelayan itu mulai membuatnya kewalahan, Ronny
pun ganti bertanya, menggali informasi. Dalam waktu
lima belas menit ia pun tahu bahwa salon itu salon
plus­plus. Ada beberapa kamar di lantai dua yang
digunakan untuk layanan khusus dan spesial, semen­
tara aktivitas di lantai satu digunakan untuk potong
rambut, creambath, ataupun facial.
”Ah, kebetulan stok barang saya sedang dalam
pengiriman. Saya dan dua teman sedang berkeliling
di kawasan Mangga Besar ini, menawarkan produk
kami. Kalau memang Mbak berminat, pesanan bisa
saya catat. Paling lambat, nanti sore sudah saya antar
ke sini kok,” katanya kepada pelayan pertama.
”Tapi, apa produknya dua itu saja?”
Ronny menggeleng. ”Ada beberapa produk lain,
tapi saya mohon maaf, daftarnya tadi tertinggal di
mobil. Mau saya ambil sih, tapi saya sekarang pengin
creambath dulu. Boleh?”
”Oh... boleh, Mas. Boleh!” Pelayan pertama me­

197

http://facebook.com/indonesiapustaka minta Ronny duduk di kursi yang berada di tengah.
Tas ransel yang Ronny bawa ia letakkan di bawah
kursinya. Ia melepas dasi, duduk, menghela napas
panjang. Pelayan itu memijati leher dan pundaknya.
Ronny jadi lebih rileks. Saking rileksnya ia sampai
lupa ke toilet. Di sana pengiriman pesan akan lebih
aman. Ia pun mengirim pesan kepada Robert ketika
pelayan mengambil kosmetik untuk dioleskan ke
rambutnya: ”Telepon 1”.

Robert yang menerima pesan itu meminta Elang
meneruskan berita kepada teman­teman lain dengan
ponsel yang Robert pinjamkan kepadanya. Pak Sis­
woyo meminta anak buahnya bersiap­siap. Alex yang
tadi duduk di anak tangga depan sebuah ruko yang
tutup kini sudah berada di atas motornya.

Robert menelepon Yogi. ”Saya polisi, diminta se­
orang petinggi menginformasikan berita penting
kepada Anda, Salon Kayla Ayu sedang akan disergap.
Segeralah keluar kalau Anda ingin selamat.”

”Hahaha.” Hanya itu yang Yogi katakan, lalu me­
nutup pembicaraan.

”Mbak, yang punya salon ini siapa ya, kok bagus
sekali? Saya suka interiornya, artistik sekali,” tanya
Ronny.

”Yang punya Pak Yogi, Mas.”
”Oh...,” kata Ronny. ”Tentu, dia orang kaya
yang...”
”Ssst... tuh orangnya turun,” kata si pelayan sambil
melirik ke tangga. ”Selamat pagi, Pak Yogi.”

198


Click to View FlipBook Version