http://facebook.com/indonesiapustaka Ronny menahan napas, memperhatikan Yogi dari
cermin di depannya. Ia tak menanggapi salam pelayan
itu. Badannya pendek, gemuk, langkahnya tergesa
gesa. Ia memandangi Ronny dan dua orang yang
sedang dilayani di salon itu. ”Ada orang yang men
curigakan ke sini?” katanya, setengah membentak.
Ketiga pelayan yang sedang bekerja hampir serentak
memandangnya. ”Mencurigakan?” kata seorang pela
yan, bukan yang melayani Ronny.
Tak menggubris pertanyaan itu, Yogi keluar. Di
luar, ia mengamati keadaan sekeliling. Tidak ada
mobil polisi, tidak ada yang mencurigakan. Ia masuk
ke dalam. ”Ngawur saja telepon itu!” bentaknya
sambil menaiki tangga. Mendengar bentakan itu,
Ronny ingin segera ke toilet, memberi kabar selan
jutnya. Tapi ia segera sadar, tak boleh gegabah. ”Itu
tadi Yogi? Orangnya sering gegabah begitu, ya?”
”Kadang sih, Mas. Anehaneh saja, siangsiang
begini kok menanyakan orang mencurigakan,” kata
nya sambil tertawa kecil.
Ronny membiarkan rambutnya diolesi cairan, ke
palanya dipijat, terus berpikir agar katakatanya tidak
tampak mencurigakan. ”Mbak, kalau habis ini pi
jatannya selesai, atau sebelum mengolesi cairan se
lanjutnya, saya permisi ke belakang, ya?”
”Oh, ini pas sudah selesai. Silakan, Mas.”
Ronny masuk ke toilet, memandang dirinya di
cermin, merapikan rambutnya setelah membasuhnya
199
http://facebook.com/indonesiapustaka dengan air. Ia pun mengirim pesan kepada Alex:
”Cabut!”
Ronny keluar dari toilet, mengambil tasnya. Ia
mengeluarkan pentungan dari tas itu, berlari, menen
dang sebuah kursi untuk pelanggan hingga terlempar
semeter. Sampai di luar, ia memukulkan pentungannya
ke kaca di bagian depan hingga pecah. Alex sudah
ada di depan, dengan motornya membawa Ronny
pergi, meninggalkan salon.
Di atas motor, Ronny mengirim pesan kepada
Robert: ”Telepon 2”.
”Anda masih berhahaha?” tanya Robert kepada
Yogi. ”Saya baru saja mendapat kabar, polisi yang
akan menyerang Anda akan datang dalam jumlah
banyak. Satu polisi tadi sudah dikirimkan ke sana
sebagai matamata, atau bisa juga memberi peringatan.
Mungkin, dia bahkan sudah sampai di sana beberapa
menit yang lalu.”
”Bajingan!” umpat Yogi. Ia menerima telepon itu
di lantai satu, semenit setelah Ronny melesat bersama
Alex.
”Semua keluar dari salon ini! Keluar!” teriaknya
keraskeras.
Robert menelepon Pak Siswoyo. ”Ronny sudah
sukses membuat masalah. Penyergapan siap dimu
lai.”
”Kamu dan Elang segera ke sini, bisa saja kami
butuh bantuan mendesak.”
Ronny dan Alex tertawatawa, gembira karena bisa
200
http://facebook.com/indonesiapustaka ikut membantu polisi menangkap penjahat. ”Ayo kita
kembali,” kata Alex setelah mereka yakin tak ada
yang mengikuti mereka. ”Mungkin mereka mem
butuhkan bantuan kita.”
Dalam perjalanan kembali ke ruko itu, Ronny dan
Alex melintasi jalan lain yang tidak mereka lewati
sebelumnya. Ronny menelepon Pak Siswoyo, menga
barkan ada dua pelanggan pria di salon itu dan enam
wanita yang menjadi pelayan. Selain mereka berde
lapan, hampir bisa dipastikan yang lainnya adalah
Yogi, anak buahnya, dan Tesha.
201
http://facebook.com/indonesiapustaka 18
PAK SISWOYO mendekati salon itu bersama Albert,
Mukhsin, Arik, dan Yono. Mereka berlima mende
katinya dari arah berlainan. Agar tidak mencurigakan,
anakanak buah polisi itu hanya akan lewat atau
berlalulalang. Ronny dan Alex ia minta untuk tidak
terlibat, nyawa mereka bisa jadi taruhan. Pak Siswoyo
berjalan mengendapendap karena wajahnya sudah
dikenali Yogi dan anak buahnya semalam. Beberapa
orang yang dudukduduk di anak tangga di depan
rukoruko sepanjang jalan itu disuruh masuk oleh
Pak Siswoyo.
Karena tidak ada tembok pembatas antara ruko
satu dan lainnya, Pak Siswoyo bersembunyi di balik
beberapa tiang penyangga bangunan bagian depan
rukoruko itu, juga sesekali di balik mobil. Mobilnya
ia letakkan sekitar seratus meter dari salon, meng
hindari terkena tembakan.
202
http://facebook.com/indonesiapustaka Semenit kemudian, tiga orang wanita keluar dari
salon. Pak Siswoyo menelepon Ronny yang berada di
balik sebuah mobil yang agak jauh, tapi tetap bisa
mengamati salon itu. ”Tiga orang yang keluar ini,
mereka semua pelayan?”
”Iya.” Mereka bertiga pergi meninggalkan salon,
mengendarai dua motor—salah satu motor dinaiki
berdua.
Semenit kemudian, keluar tiga orang lagi. Polisi
itu kembali menelepon Ronny, ”Tiga orang yang
keluar ini, mereka juga semua pelayan?”
”Iya.” Dua dari mereka berjalan kaki, seorang
mengendarai motor.
Tidak ada yang terjadi selama dua menit. Pintu
terbuka, seorang pria keluar sambil menoleh ke sana
kemari. Pak Siswoyo melihat Mukhsin yang kini ber
sembunyi di balik sebuah tiang, di ruko seberang
salon itu. Ia mengangkat senjata dalam posisi mem
bidik. Pak Siswoyo menggeleng. Ia kenal pria itu,
sopir semalam. Pria itu masuk ke mobil Toyota Al
phard yang berada di depan salon, duduk di kursi
sopir. Polisi itu mengembuskan napas dari mulutnya
perlahan, menggerakkan tangannya kepada kelima
anak buahnya untuk segera mengambil posisi siaga.
Tak lama kemudian, Yogi muncul, diikuti seorang
wanita di belakangnya, lalu seorang pria di bela
kangnya. Itu Tesha, dan pria yang keluar terakhir
adalah penembak Solikhin.
Sebelum mereka sampai ke mobil, Pak Siswoyo
203
http://facebook.com/indonesiapustaka maju, mengacungkan senjata. ”Angkat tangan! Saya
polisi, akan menahan Anda karena kasus pembu
nuhan...”
Belum selesai Pak Siswoyo berbicara, terdengar
suara tembakan. Kaki Pak Siswoyo tertembak saat ia
berada sekitar empat puluh meter dari mobil Yogi.
Albert yang berada tak jauh dari Mukhsin melotot.
Mukhsinlah yang menembak, betapa tidak terduga.
”Bajingan! Kau ternyata ada di pihak lawan!” katanya
sambil menendang tangan Mukhsin, membuat pis
tolnya terlempar.
Mukhsin mencoba melawan, mereka berdua pun
terlibat perkelahian sengit. Setelah berjuang mengerah
kan sepenuh kekuatannya, Albert berhasil memborgol
Mukhsin, mematahkan tangan kanannya, dan mem
buat hidungnya berdarah.
Setelah Pak Siswoyo tertembak, Arik yang sedang
bersembunyi di balik sepeda motor berlari sekuat
tenaga mendekati dan melindungi Pak Siswoyo. Ia
merangkul Pak Siswoyo, membawanya menjauhi mo
bil. Ia menembak pria penembak Solikhin yang ke
luar terakhir, tapi tembakannya meleset. Ia juga
ditembak beberapa kali oleh pria penembak Solikhin
yang sudah berada di dalam mobil, tapi tidak kena.
Arik meminta Yono keluar dari persembunyiannya
di balik tiang di bagian depan sebuah ruko, mem
bantunya mengamankan Pak Siswoyo. Yono menembak
beberapa kali, melindungi Arik membawa Pak Sis
204
http://facebook.com/indonesiapustaka woyo yang masih bisa berjalan ke tepi jalan. Pak
Siswoyo ia baringkan di balik sebuah sepeda motor.
Mesin Toyota Alphard itu menyala. Yono merampas
pistol Arik sambil berkata, ”Peluruku habis!” Ia
berlari di belakang mobil itu, dan berhasil menembak
satu ban belakangnya, membuat mobil itu perlahan
berjalan oleng.
Yono mendengar sepeda motor melaju di bela
kangnya. Ia yang sedang berlutut menoleh ke bela
kang, tersenyum, lalu menepi. Elang dan Robert...
mereka datang tepat waktu! ”Ambil mobil kalian,
bawa semua teman. Kami akan membekuk mereka!”
seru Robert kepada Yono.
”Siap!”
Robert tak mendengar jawaban itu, buruburu
menancap gas. Ia mengejar mobil itu, mengarahkan
pistolnya ke arah ban belakang kiri yang belum
tertembak. Tembakan pertamanya meleset, mengenai
plat nomor mobil. Mobil sudah keluar kompleks,
berada di jalan raya. Tak lama setelah menembak,
Elang melihat moncong pistol dari kaca mobil tengah
bagian kanan. ”Awas, Robert!” kata Elang di bela
kangnya.
Robert menepi ke kiri. Tembakan itu meleset. Ro
bert membidik ban lagi, tapi masih meleset. Moncong
pistol muncul lagi dari kaca mobil depan bagian kiri.
Itu tentu Yogi. Robert menunduk, meliukliukkan
motornya, hampir saja menabrak seorang pengendara
motor di sampingnya.
205
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kali ini harus berhasil,” katanya kepada Elang di
belakangnya sambil mengacungkan pistol. Dor!
Tembakan ketiga itu pun mengenai ban belakang kiri.
Tak sampai dua menit kemudian, mobil itu ber
henti.
Robert turun dari motor. ”Kau di sini saja. Bahaya,
nggak bawa senjata,” katanya kepada Elang. Jarak
antara motor Robert dengan mobil itu sekitar dela
pan puluh meter. lalu lintas sedang tidak begitu
ramai saat itu; beberapa orang ikut menepi, meng
amati apa yang terjadi. Robert berlarilari kecil,
sesekali menunduk. Elang khawatir, Robert harus
seorang diri menghadapi dua pria bersenjata. lengah
sedikit, habislah ia.
Belum sampai semenit setelah Robert mendekati
mobil itu, Elang melihat dua pria yang dikenalnya
melintas di sampingnya. Ronny dan Alex. Ronny yang
berada di belakang merapatkan telunjuk di bibir,
meminta Elang diam. Mereka mengendarai motor
sampai melewati mobil itu. Elang pun tahu, mereka
akan menyergap diamdiam dari arah yang berlawanan
dengan Robert.
Terdengar suara letupan pistol. Robert baru saja
menembak ke langit. ”Saya polisi! Saya perintahkan
kalian keluar dari mobil!” seru Robert yang bersem
bunyi di balik pohon besar di tepi jalan.
Tak ada jawaban, malah perintah itu disambut
dengan tembakan balasan. Yogi menembak, tapi me
leset. Dari dalam mobil, tentunya ia susah membidik.
206
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Saya peringatkan sekali lagi, Anda semua keluar dari
mobil!” seru Robert, kali ini disusul dengan tembak
annya ke arah mobil. Elang mengambil tindakan,
mencegah orangorang yang berkendaraan di bela
kangnya untuk berhenti. Salah satu ruas jalan se
panjang delapan puluh meter—dari tempat Elang
berdiri hingga Toyota Alphard itu berhenti—tak
dilintasi siapa pun. Untunglah Ronny dan Alex tadi
sudah melintas lebih dulu.
Tesha keluar dari pintu tengah bagian kanan,
disusul pria bersenjata yang menodongkan pistolnya
ke kepala Tesha. Tak lama kemudian sopir keluar,
mengangkat tangan. Robert memerintahkannya ke
belakang mobil, berlutut, menyatukan kedua telapak
tangannya di leher belakang. Pria bersenjata itu
menolak menaati perintah Robert, terus mengarahkan
pistol di kepala Tesha. Sopir itu menurut.
Yogi tak kunjung keluar. Robert kembali berteriak
teriak, menyuruh Yogi keluar. Elang yang berada di
kejauhan jadi geram melihatnya. Ia mengamati ke
adaan sekeliling, berupaya melakukan sesuatu. Dari
arah di depan mobil, Elang melihat Ronny dan Alex
mengendapendap. Elang pun bersiaga, mengeluarkan
korek api pistolnya, bersiapsiap di atas motor.
Ronny berjalan mengendapendap di antara orang
orang yang makin ramai, membungkukkan badan. Ia
mendekati pria bersenjata, lalu menggebuk kakinya
sekuat tenaga dengan pentungan hingga ia ambruk.
207
http://facebook.com/indonesiapustaka Setelah ambruk, tangan pria itu dipukul dengan pen
tungan, pistol yang dipegangnya terlepas.
Pria itu mencoba melawan, tapi Ronny memukul
perutnya dengan keras. ”Kalau kau mencoba melawan,
kepalamu akan kuremukkan!” ancam Ronny.
Tak lama kemudian Alex mendekati Ronny, ikut
mengamankan pria bersenjata, juga sopir yang tadi
sudah menyerah. Alex dan Ronny membungkuk,
menghindari tembakan Yogi yang masih berada di
kursi depan. Elang menyalakan mesin, menancap gas,
menghampiri Tesha. Tesha duduk di belakangnya,
memeluknya eraterat. Air matanya mengalir deras.
Untuk menghindari tembakan Yogi, Elang membalik
kan sepeda motornya, melewati jalan yang tadi
dilaluinya. Beberapa orang bertepuk tangan menyak
sikan kejadian itu!
Sebuah Kijang Innova yang membawa lima orang
polisi muncul semenit setelah Elang menyelamatkan
Tesha. Robert mendesah panjang, tampak sangat lega.
Pak Siswoyo tidak bisa berjalan, tetap duduk di
mobil. Mukhsin diborgol, didudukkan di kursi bela
kang. Yono, Arik, dan Albert keluar, masingmasing
membawa pistol.
Yogi akhirnya keluar dari mobil, mengangkat ta
ngan, setelah beberapa kali polisipolisi itu menem
baki mobilnya. Ia pun melempar pistol, berlutut, dan
mengangkat tangan. Robert tak menduga, pria gendut
itu menangis keraskeras meminta ampun.
Robert pun mendekatinya, mengambil borgol.
208
http://facebook.com/indonesiapustaka Sambil memborgol, ia pun berkata, ”Cup, cup,
cup...”
Yogi marah, memakimaki ketika diborgol.
Setelah memborgol Yogi, lalu menyuruhnya berdiri,
Robert menirukan tawa Yogi dengan suara berat,
”Hahaha.”
209
http://facebook.com/indonesiapustaka 19
TUGAS pun selesai dilaksanakan. Pak Siswoyo di
rawat di Rumah Sakit Pelni di Petamburan. Elang
menungguinya, ditemani Tesha. Elang menuju rumah
sakit setelah mengambil ponselnya di warung; se
mentara Tesha menyusul setelah membersihkan diri
di rumah kosnya. Istri Pak Siswoyo dan kedua anak
nya datang tak lama setelah Elang mengabari. Elang
menyalami mereka, meyakinkan bahwa Pak Siswoyo
akan baikbaik saja. Robert dan polisipolisi lainnya
sedang sibuk mengurai perkara.
Pak Siswoyo tampak sangat lelah, hanya berbicara
sebentar saat Elang datang, lalu terlelap lagi. Elang
menatap wajahnya—ada kebanggaan yang muncul
dalam hati. Apalagi melihat anakanak dan istrinya
yang tampak sangat menyayanginya.
Elang pun mengajak Tesha ke kantin. Setelah ma
kan ia bertanya, ”Tesha, siapakah orang yang kaute
210
http://facebook.com/indonesiapustaka mui sebelum kita bertemu makan malam? Atau,
orang yang bertemu denganmu saat kau hendak
makan malam? Atau, orang yang kauberitahu bahwa
kau akan makan malam denganku? Karena melihat
kita pernah berduaanlah maka kau diculik.”
Tesha menganggukangguk, lalu menjawab, ”Aku
tidak sengaja bertemu Yuli, Mas.” Kali ini Tesha
menurut ketika Elang meminta memanggilnya ”Mas”,
bukan ”Pak” lagi. ”Ketemunya waktu kita mau masuk
warung nasi goreng. Masih ingat dengan Yuli? Dia
asisten selain aku, yang kuberitahu lebih dekat de
ngan Dokter Bunga. Dialah yang kuyakin memberi
tahukan bahwa kita berduaan. Bahkan, kuduga dia
menguntit kita sampai di hotel.”
Elang pun menemukan titik terang.
”Makanya, waktu kembali ke rumah kos keesokan
harinya, aku kan nggak mau diantar, Mas. Aku kha
watir ketemu dia lagi. Tapi, sungguh aku nggak men
duga, semua akan jadi seperti ini, Mas! Kadang Yuli
memang ketemu aku, kami tinggal berdekatan.”
Elang pun merangkai semuanya dalam pikiran.
”Jadi, Yuli menguntit kita, sampai tahu nomor kamar
ku. Dia pun mendapatkan namaku. lalu dia, atau
Dokter Bunga, atau mungkin juga Yogi, kemudian
mencari tahu identitasku. Kuyakin, dia juga mengecek
Internet, tahu kalau aku sebenarnya pelukis. Dan
keesokan harinya, Dokter Bunga menanyai Angelita,
mencari tahu lebih banyak tentang aku. Kalau aku
polisi, mungkin nyawaku sudah melayang.”
211
http://facebook.com/indonesiapustaka Elang pun bercerita tentang semua yang telah ia
alami. Tesha berulang kali menggelenggeleng dan
menutup wajah mendengar cerita Elang dan identitas
aslinya. Ia baru tahu bahwa Dokter Bunga selingkuhan
suami Dokter Nina. Kabar yang beredar di rumah
sakit, ia gantung diri karena stres dengan pekerjaan
dan tidak akur dengan suaminya.
Tesha pun bercerita tentang penculikannya. ”Sebe
lum diculik, aku ditelepon Yuli, Mas. Dia menelepon
setelah Mas menelepon. Aku dimintanya untuk me
nunggu di tepi jalan raya, di dekat pangkalan ojek.
Dia bilang ada pesan penting yang mau dia sampaikan.
Kukira, itu berkaitan dengan Dokter Bunga—Mas baru
saja menelepon, bermasalah dengan dia. Ternyata, di
sana yang menjemputku bukan Yuli, melainkan Yogi
dan anakanak buahnya. Aku benarbenar bingung
dengan apa yang terjadi. Aku dipaksa masuk ke mobil.
lalu kita bertemu di hotel itu lagi, disekap, dan aku
pun menduga, Mas sebenarnya polisi.”
”Yuli... berarti dia disuruh Dokter Bunga menele
ponmu, nggak lama setelah aku keluar dari Hotel
Twin Plaza.”
Tesha mengangguk. ”Tentunya begitu.”
”Oh ya, di salon itu, kamu nggak diapaapain,
kan?”
”Untungnya nggak, Mas, walaupun Yogi kelihatan
nya sempat ingin macammacam. Kelihatannya mere
ka lelah sekali malam itu, jadi aku aman. Aku kem
bali bingung, sebenarnya ada masalah apa. Karena
212
http://facebook.com/indonesiapustaka selama ini aku nggak pernah bertemu Yogi, atau tahu
Yogi itu suami Dokter Nina.”
Elang agak membatasi cerita saat dia berduaan
dengan Dokter Bunga di hotel. Ia memotong bebe
rapa bagian, terutama adegan di kamar mandi. Ia
membuatnya lebih ringkas: ”Dokter Bunga kehujanan,
mampir ke hotel itu untuk membersihkan diri, lalu
kupinjami bajuku. Tapi, di hotel itu, dia malah mau
membunuhku.”
”Mas kok bisa pindah ke hotel itu? Kan tadinya
di Bamboo Inn?”
”Kawanku, polisi di Singkawang itu, punya kenal
an, seorang pengusaha travel. Dari kenalannya itu
aku memperoleh voucher menginap di Hotel Twin
Plaza,” dusta Elang.
Selesai bertukar cerita, Elang menggandeng Tesha
dengan mesra melintasi koridor rumah sakit. Ketika
sampai di kamar Pak Siswoyo, ternyata ia sudah ter
tidur. Istrinya bercerita adiknya baru saja ke rumah
sakit, membawa kedua anaknya pulang ke rumah.
”Mas Elang boleh tidur di rumah kalau mau.”
Elang teringat tasnya yang masih ada di rumah Pak
Siswoyo. Ia melirik ke arah Tesha. ”Malam ini, saya
akan menemani Tesha pulang saja, Bu. Besok saya
akan ke sana.”
Dari depan rumah sakit, Elang memanggil taksi.
”Malam ini Mas tidur di Bamboo Inn lagi?” tanya
Tesha.
Elang menggeleng.
213
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Jadi, mau ke mana? Mau mengantar aku ke
rumah kos? Setelah itu Mas mau ke mana?”
”Di Jakarta ada banyak hotel, Tesha. Dan,” kata
Elang sambil meremas jemari gadis itu, ”malam ini
aku ingin ditemani kamu. Kamu jangan pulang ke
kos, ya? Pulangnya besok pagipagi saja.”
Tesha merebahkan kepalanya di pundak Elang.
Elang meminta sopir taksi mengantar mereka ke
sebuah hotel di wilayah Slipi. ”Dari mana Mas tahu
tentang hotel itu?” tanya Tesha.
”Waktu jalanjalan sendirian di Blok M, aku iseng
bertanya kepada seorang pedagang tentang hotelhotel
di wilayah Slipi.”
Ketika keluar dari taksi, Elang melihat jam tangan,
sudah hampir pukul sebelas malam. Elang dan Tesha
check in, masuk ke kamar hotel. Ia baru saja mere
bahkan diri di kasur ketika Agung meneleponnya.
”Elang, tugas kita sudah hampir selesai. Masih ingat
dengan Gabriel? Yang dikirimi surat oleh Gagak Hi
tam?”
”Tentu. Ada kabar apa?”
”Gabriel ternyata seorang dokter juga, membuka
apotek di Malang, selain praktik dokter. Sayangnya,
apotek itu tutup, hanya buka tidak sampai setahun.
Ruko yang dulu digunakan sebagai Apotek Berkat
milik Gabriel dihuni pria bernama Udin, pembantu
Gabriel. Udin jarang tinggal di ruko itu karena sibuk
membantu pekerjaan mertua Gabriel di rumah lain.
Gabriel juga tinggal di rumah lain, sudah jarang ke
214
http://facebook.com/indonesiapustaka ruko itu. Itulah sebabnya, telepon ke apotek itu tak
pernah diangkat.
”Udin tidak tahu, atau bisa juga lupa, kalau surat
itu penting. Dia tidak mengabari Gabriel. Semalam,
Gabriel mampir ke ruko itu, ada perlu dengan Udin.
Udin teringat surat itu, lalu menyerahkannya kepada
Gabriel. Tadi pagi Gabriel menelepon ke kantor polisi,
lalu aku pun menggali keterangan darinya. Gabriel
shock setelah tahu Gagak Hitam bunuh diri.”
Elang menganggukangguk, menatap lampulampu
kendaraan dan gedunggedung dari kamar hotel.
”lalu?”
”Gilbert Petrucci Malmsteen, itulah nama pena
yang sering digunakan Gagak Hitam sang penulis
ketika menulis cerita fiksi. Kalau kau membuka In
ternet, kau akan menemukan beberapa cerita karya
nya. Tiga kata itu merupakan namanama dari gitaris
metal kelas dunia: Paul Gilbert, John Petrucci, dan
Yngwie Malmsteen. Jelas dia seorang pengagum
musikmusik metal. Dia menulis fiksi sejak tahun
2005, tapi tidak banyak karyanya yang mendapat
sambutan luas. Bisa dikatakan, dia pengarang gagal.
Nama aslinya Gunawan Petrus Mulyanto—kita sebut
dia Gunawan. Mengapa akhirnya dia menggunakan
nama Gagak Hitam, akan kuceritakan nanti.
”Gunawan asli Blitar, sejak lahir hingga SMA dia
di sana, tinggal tidak jauh dari makam Bung Karno.
Ayah dan ibunya bercerai, dia tidak akur dengan
saudarasaudaranya. Dia menetap di Malang saat
215
http://facebook.com/indonesiapustaka mulai kuliah tahun 2005. Dia berkuliah sambil
menjadi karyawan di sebuah toko fotokopi. Kuliahnya
di Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri
Malang tak berjalan mulus—dia meraih gelar sarjana
pada tahun 2012 setelah berkuliah tiga belas semester.
Selama kuliah, dia sibuk mempelajari filsafat, puisi,
dan prosa. Dia tidak bergaul dengan banyak orang,
nyaris tidak memiliki teman dekat.
”Beberapa karyanya berupa resensi buku, cerpen,
dan artikel pernah terbit di beberapa koran lokal dan
nasional. Dia suka bergantiganti nama saat menulis
cerpen. Ia sangat mengagumi Anton Chekov, cerpenis
asal Rusia yang juga suka menggunakan nama samar
an.
”Setelah lulus kuliah, dia menggantungkan hidup
nya dari menulis cerita. Menyedihkan sekali, dia
menulis bukubuku yang jauh sekali dari apa yang
getol dia pelajari saat berkuliah: kumpulan resep
masakan, pengobatan herbal, kumpulan pantun lucu,
dan bukubuku instan lainnya yang selesai ditulis
dalam hitungan hari.
”April 2014, dia mendapat tawaran menulis biografi
dari kawannya waktu SMA, seorang dokter muda
bernama Gabriel. Kawannya mengenalkan Gunawan
pada Dokter Wawan, spesialis bedah plastik yang
terkenal di Malang. Saat itu dia sedang tak memiliki
banyak uang, royalti yang dia tunggutunggu dari
beberapa bukunya yang diterbitkan sebuah penerbit
kecil tak kunjung cair.
216
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Wawan, sang dokter, berkata akan memberi Guna
wan dua puluh juta rupiah dari proyek penulisan
biografi itu. Dia pun menyanggupi tawaran itu untuk
bertahan hidup selama beberapa bulan. ’Mungkin,
karena Gunawan senang mendapat uang cukup ba
nyak dari saya, dia sering bercerita kepada saya, walau
pun waktu SMA kami kurang akrab,’ kata Gabriel,
masih kuingat katakatanya. Dalam dua bulan, bio
grafi itu selesai digarapnya.
”Agustus 2014, Gunawan pergi ke Jakarta. Dia
berkata kepada Gabriel bahwa dia mendapat ide
cemerlang: buku biografi tentang Dokter Wawan yang
ditulisnya akan ditunjukkannya kepada beberapa
dokter di Rumah Sakit Harapan Kita. Dari kawannya
dia mendengar bahwa di samping rumah sakit itu
banyak penginapan murah, seperti rumah kos. Dia
beranganangan mencari kenalan lain, menulis bio
grafi lain.
”Gunawan pun tinggal di rumah kos di Jalan Kota
Bambu, di samping RSAB itu. Sebulan satu setengah
juta rupiah. Di rumah sakit, dia bertemu dokter itu,
Nina Sekarwati. Mereka pun akrab. Gabriel sempat
meminta Gunawan menjauhi dokter itu. Bagaimana
pun, dia istri orang, tapi tampaknya tak terlalu di
gubrisnya. Gunawan bahkan berencana menulis bio
grafi Dokter Nina, walaupun singkat. Beberapa kali
mereka menginap berdua di Hotel Twin Plaza.
”Yogi, suami Dokter Nina itu, seorang pebisnis.
217
http://facebook.com/indonesiapustaka Tapi entah apa bisnisnya. Kepada Gabriel, Gunawan
pernah bercerita, Dokter Nina berkata kepadanya
bahwa dia sangat menyesal terpikat dengan kekayaan.
Yogi sama sekali tidak menarik secara fisik dan man
dul. Padahal Dokter Nina selalu menginginkan anak
tiap kali melihat pasien. Sungguh, dokter anak yang
tidak bahagia. Di situlah dia sadar, kekayaan tak
mampu membeli semuanya. Dia malah senang de
ngan Gunawan yang sesekali memberinya puisi atau
kejutankejutan kecil.
”Tapi, hubungan mereka diketahui oleh seorang
anak buah Yogi yang menguntitnya. Dokter Nina
menyuruh Gunawan pergi. Yogi berkata akan men
carinya ke mana pun dia pergi. Apalagi setelah Yogi
tahu bahwa Gunawan penulis biografi, dia jadi
berang. Dia takut Dokter Nina membeberkan borok
nya. Padahal Dokter Nina tidak terlalu banyak tahu
tentang bisnis suaminya.
”Gunawan pun meninggalkan Jakarta, berkirim
pesan kepada Gabriel lewat kotak pesan Facebook:
Aku menuju gerbang 1C, tak jauh dari gerbang ke-
berangkatan ada loket Kalstar. Aku membeli tiket.
Sekarang aku ke Pontianak. Itu pesan Facebook terakhir
yang dikirimkan Gunawan kepada Gabriel. Tak lama
setelah pesan itu dikirimkan, Gunawan menonaktifkan
akun Facebooknya, sekitar akhir Oktober 2014. Sejak
saat itu, Gunawan kurang berkomunikasi dengan
Gabriel. Mungkin dia malu, hendak merebut istri
218
http://facebook.com/indonesiapustaka orang; dan Gabriel pernah berkata kepadanya agar
sebaiknya menghindari Dokter Nina.
”Oh ya, Gunawan sempat bercerita kepada Gabriel
bahwa kesukaan menulis bisa ditumbuhkan lewat
tekateki silang. Kukira, kesukaannya itu dia ceritakan
juga kepada Dokter Nina.
”Aku pun akhirnya menarik kesimpulan: anak yang
ada di dalam kandungan Dokter Nina dipaksa oleh
suaminya untuk digugurkan. Tapi dokter itu tidak
mau. Sulit dipercaya, suami Dokter Nina malah
selama ini dekat dengan Dokter Bunga, sahabatnya.
Dokter Bunga pun dimanfaatkan Yogi untuk mera
cuni Dokter Nina, lalu merekayasa peristiwa gantung
diri. Kematian Gagak Hitam dijadikan alasan agar
peristiwa itu mirip dengannya: sepasang kekasih saling
berjanji untuk mati bersama.” Agung berhenti bicara,
suara napasnya terdengar. ”Kau masih mendengar?”
”Tentu,” kata Elang. Sekarang Tesha menggodanya,
ingin diajak berbicara. Tapi Elang menggeleng, me
nutup mata. ”Sebentar lagi,” katanya sambil menutup
bagian ponsel yang digunakan untuk bicara, lalu
mengecup kening gadis itu.
”Kalau kau belum mengantuk, aku akan mem
bacakan surat yang dikirim oleh Gagak Hitam.”
”Oh, aku harus mendengarnya!”
219
http://facebook.com/indonesiapustaka Singkawang, 13 november 2014
gabriel,
Ini aku, gunawan. Sengaja kugunakan nama
gagak Hitam di sampul surat ini untuk meng-
hilangkan jejak. nina Sekarwati, dokter itu, sudah
berencana pindah ke Singkawang. Dia hamil dua
bulan saat surat ini kutulis, buah asmara kami. Tapi,
seperti yang kauketahui, hubungan kami ketahuan
kira-kira sebulan lalu. Seseorang menguntit kami,
menangkap basah kami berduaan di Hotel Twin
Plaza. Pada hari itu juga aku meninggalkan Jakarta,
terbang ke Pontianak, akun Facebook-ku kunonaktifkan
hingga saat ini.
Aku berganti nomor ponsel beberapa kali. Tapi
tampaknya suaminya meminta bantuan polisi untuk
melacak keberadaanku. Dokter nina pernah bercerita,
suaminya punya kenalan beberapa pejabat tinggi di
kepolisian. Tapi bisa saja yang mengikutiku bukan
polisi—entahlah. Yang jelas, aku sering merasa diikuti
selama berada di Pontianak. Aku pun pindah ke
Singkawang. Di Singkawang, aku tinggal di sebuah
rumah kos. Selama beberapa hari aku merasa aman
di sini; aku sempat berbicara cukup panjang dengan
Dokter nina pada suatu malam.
Tapi aku terkejut. Dua hari setelah percakapan
itu, aku mendapat pesan di ponselku: ”Kau tidak
bisa ke mana pun lagi. Kami ada di kota ini untuk
menghabisimu.” Sejak saat itu aku mengemasi
220
http://facebook.com/indonesiapustaka barangku, pindah ke rumah kos lain tanpa izin
kepada pemilik yang lama, dan semua barangku
masih ditinggalkan di sana. Aku diliputi rasa takut,
khawatir nyawaku dihabisi.
Kematian terasa begitu dekat. Aku pun memberi
ibu kosku yang baru uang cukup banyak. Uang
itu—ah, aku menangis saat menuliskan ini—siapa
tahu diperlukan untuk membiayai pemakamanku.
nyawaku sedang berada di ujung tanduk. Aku
tidak tahu, harus meminta tolong kepada siapa.
gagak Hitam
”Begitulah, nama Gagak Hitam dia gunakan untuk
menyamarkan diri. Dia tidak pernah menggunakan
nama itu sebelumnya. Tidak ada satu pun jejak dari
ceritaceritanya yang dapat menggiringku untuk
mengerti, kapan atau mengapa dia memilih nama
itu. lalu, aku bertanya kepadamu, lang, siapakah
yang menulis katakata ’Merpati Putih menyusulmu’
di dinding kamar Dokter Nina? Apakah Dokter
Bunga?”
Elang berpikir beberapa detik. ”Entahlah, Gung.
Sebentar lagi semuanya akan menjadi jelas. Yang bisa
kupahami, Gagak Hitam bukan lagi sekadar nama
pena,” tanggap Elang. ”Itu simbol penyerahan diri.
Kau mungkin lupa, gagak adalah burung pengabar
kematian. Dan, melihat jalan hidupnya yang sering
dirundung malang, bisa jadi dia sendiri putus asa,
221
http://facebook.com/indonesiapustaka tak mendapat ide untuk menulis sesuatu yang benar
benar hebat. Dia juga merasa bersalah, menghamili
seorang dokter, membuat dokter itu terjerumus dalam
berbagai kesulitan. Dia juga merasakan dirinya sebagai
buron, diintai polisi. Sungguh, dia tertekan. Aku bisa
merasakan itu.
”Dokter Nina menerbitkan harapan dalam dirinya,
bisa jadi dia mendapat cerita untuk menulis karya
yang bukan biografi. Mungkin novel, atau memoar,
mengingat dia punya pengalaman menulis cukup
banyak. Tapi, harapan itu sirna setelah hubungan
mereka terancam kandas. Gagak Hitam merana.”
Elang meletakkan ponsel, memandangi langit Jakarta.
Kendaraan yang melintas makin sepi. Ia berdiri,
meninggalkan kursinya, memeluk Tesha yang tidur
menghadap tembok. ”Kau sudah tidur, Tesha?”
Tesha memutar badannya, mencium bibir Elang.
”Sudah selesai tugasmu, Mas?”
”Sudah, tapi ada yang belum.”
”Apa yang belum?”
Kepalanya dipenuhi banyak pikiran tentang Gagak
Hitam dan Merpati Putih. Masih ada beberapa perta
nyaan yang belum terjawab, walau misteri ini sudah
nyaris jelas. ”Memberimu mimpi yang indah malam
ini.”
Elang pun memeluk Tesha lebih erat dan mengelus
rambutnya. ”Tidurlah, Tesha.”
222
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Mas,” kata Tesha, ”ada Gagak Hitam, Merpati
Putih, juga Elang Bayu Angkasa. Aku juga ingin jadi
burung... bisa terbang.”
Elang menatap langitlangit, berpikir sebentar, lalu
tersenyum. ”Kamu kuberi nama Pipit saja mau?”
”Kenapa Pipit?”
”Karena kamu imut,” kata Elang sambil menjewer
hidungnya.
”Ah, Mas...,” kata Tesha, merengek manja.
”Sudahlah, malam sudah larut. Tidurlah, Tesha.”
223
http://facebook.com/indonesiapustaka 20
SENIN, 1 Desember 2014, malam hari, Elang bertemu
dengan Pak Siswoyo, Ronny, Alex, dan Robert di
warung tempat mereka merencanakan penyergapan.
Setelah menginap semalam di Hotel Ibis, Elang
menumpang di rumah Pak Siswoyo. Di warung itu,
mereka semua tampak bahagia. Pak Siswoyo masih
berjalan tertatihtatih, kakinya belum sembuh benar.
Elang pun mendapat keterangan dari Robert
bahwa Yogi mengirim beberapa orang ke Pontianak
dan Singkawang untuk menghabisi Gunawan. Yogi
memiliki kenalan di kepolisian yang selalu memban
tunya melacak keberadaan beberapa orang dengan
detektor ponsel. Itu yang membuatnya bisa mengetahui
keberadaan Gunawan setelah mengecek catatan pang
gilan di ponsel istrinya.
Yogi yang saat itu masih khawatir kalau tibatiba
224
http://facebook.com/indonesiapustaka biografi Dokter Nina yang mungkin juga menyebut
nyebut dirinya tetap terbit setelah Gunawan tewas,
menyuruh anak buahnya mencari racun, menyerah
kannya kepada Dokter Bunga. Ia sungguh tidak sudi
namanya disebutsebut oleh pria yang meniduri dan
menghamili istrinya dalam buku yang mungkin dibaca
banyak orang. Ia juga sadar, cepat atau lambat, Dok
ter Nina akan meninggalkannya.
Dokter Bunga yang mengetahui bahwa sahabatnya
sedang bersedih, memutuskan menemaninya di ru
mah, mendengar ceritanya. Dokter Bunga membuat
kopi dua gelas, mengantarkan kopi beracun untuk
diminum Dokter Nina. Setelah dokter itu tewas, ia
menyuruh dua anak buah Yogi menggantung dokter
itu dengan tali, diikatkan di ventilasi di atas pintu
toilet yang berada di dalam kamar. Salah satu anak
buah Yogi mengambil lipstik yang biasa Dokter Nina
gunakan, menulis di dinding yang berdekatan dengan
pintu toilet.
Saat Elang sedang asyik mengobrol di warung,
Tesha mengirim pesan yang membuat kebahagiaannya
lengkap: Permohonan cutiku disetujui. Dua minggu!
Horeee. Besok Elang akan kembali ke Pontianak, lalu
ke Singkawang. Ia akan bertemu Agung, membawa
Tesha turut serta. Ah, betapa sempurna kebahagia
annya.
Tapi, ia juga sedih, harus berpisah dengan sahabat
sahabat barunya. Alex akan kembali bekerja, Ronny
akan kembali ke Solo, kota asalnya. Pak Siswoyo dan
225
http://facebook.com/indonesiapustaka Robert akan kembali sibuk, menangkap penjahat
penjahat lainnya.
Elang memandangi mereka satu per satu, memper
hatikan wajah mereka baikbaik. ”Suatu saat aku akan
membuat lukisan yang terdiri atas wajahwajah kita,”
kata Elang.
Semua yang berkumpul menganggukangguk. Pak
Siswoyo mengucapkan terima kasih dengan suara
lirih, hampir tak terdengar. Mereka pun berfoto
bersama, mengobrolkan halhal lainnya sampai larut
malam.
Selasa, 2 Desember 2014, Elang kembali ke Pontianak.
Tesha berseriseri, tak bisa menyembunyikan kebaha
giaannya. Di dalam pesawat, Tesha menunjukkan foto
di ponselnya: foto Pak Siswoyo, istri, dan kedua anak
nya. Polisi yang sedang dikelilingi tiga orang kesayang
annya itu tersenyum lepas, anaknya yang masih kecil
duduk tersenyum dalam pangkuannya.
”Kau sering melihat pemandangan seperti ini,
Tesha?”
”Sering sih. Tapi, setelah semua yang kita alami,
foto ini terasa lain, Mas,” katanya sambil masih
memandangi foto itu.
Sepulang dari Hotel Ibis, Tesha bercerita ia ingin
bekerja di Pontianak. Ia juga mengaku memiliki
seorang kawan yang bekerja di Rumah Sakit Santo
Antonius di Pontianak. Elang tahu ia sudah menda
226
http://facebook.com/indonesiapustaka patkan semua cinta dalam hati Tesha ketika gadis itu
berkata, ”PontianakJakarta dekat kok, Mas. Kalau
mau pulang ke Garut, ke rumah orangtuaku, juga
nggak terlalu jauh.”
Elang khawatir, kehidupannya di masa lalu—bahkan
masa kini—tidak cukup layak untuk bersanding
dengan kehidupan Tesha. lukisanlukisan telanjangnya,
wanitawanita yang ia gauli: Irin, bahkan nyaris Dok
ter Bunga—betapa ia terlalu kotor untuk menjalani
kehidupan bersama Tesha. Umurnya juga berbeda
agak jauh dengan Tesha, empat belas tahun lebih.
Tesha tak menjanjikan apa pun, atau mengucapkan
katakata romantis yang menawan. Tapi, raut wajah
dan gerakgeriknya semuanya mengatakan satu hal
kepada Elang: Jangan tinggalkan aku.
Pesawat tiba di Pontianak. Elang membawa Tesha ke
rumahnya. Seperti yang Elang duga, Tesha pun ter
pana dengan lukisanlukisannya, terutama lukisan
telanjang. Ia bertanya, apakah Elang suatu saat akan
melukisnya seperti itu juga. Elang tahu jawaban yang
diharapkan Tesha, dan itulah jawabannya. ”Tidak.
Tidak akan pernah,” katanya sambil menggeleng.
Elang mengajaknya melihat Sungai Kapuas di alun
alun Kota Pontianak, Rumah Radakng yang hampir
selesai pengerjaannya di Kota Baru, juga mengunjungi
temannya di Rumah Sakit Santo Antonius. Elang
juga mengajak Tesha mencicipi berbagai kuliner di
227
http://facebook.com/indonesiapustaka Pontianak: bubur pedas, bakmi, dan lempok durian.
Tesha yang hobi makan durian begitu bersemangat
saat Elang memberitahu bahwa di Pontianak sedang
musim durian; mereka makan durian sampai teler.
Elang juga membawa Tesha ke warung kopi yang paling
sering dikunjunginya, tempat ia membaca berita
kematian Gunawan, memperkenalkan Tesha kepada
Hanif, pelayan di warung kopi langganannya.
Kamis, 4 Desember 2014, Elang mengajak Tesha ke
Singkawang. Mereka pun bertemu Agung. Agung
mengatakan bahwa mereka kelihatannya cocok.
Agung mengajak Elang bertemu Pak Effendi yang
sudah menunggunya. ”Kau semestinya menjadi polisi,
Elang, bukan pelukis,” katanya sambil memeluk erat
pundak Elang.
Agung mengajak Elang ke ruangannya, lalu ber
bisik. ”Semua sudah lengkap. Kasus ini sebentar lagi
berlalu. Tapi kau sadar, ada satu misteri terakhir yang
belum tersingkap?”
Elang mengangguk. Ia tahu jawabannya. ”Soal laci
meja yang dipendam itu, kan?”
Agung menyalakan rokok, tak menanggapi. Itulah
jawaban yang ia harapkan dari Elang. ”Kita tidak
pernah tahu, mengapa dia sampai sekarang menyimpan
buku TTS dan nota itu.”
***
228
http://facebook.com/indonesiapustaka Elang menikmati harihari di Singkawang bersama
Tesha. Mereka berjalanjalan ke Pantai Pasir Panjang,
menyeberang ke Pulau lemukutan dari Pantai Samu
dera Indah. Harihari Elang jadi lain setelah Tesha
hadir dalam hidupnya. Ia merasakan gairah dan
semangat hidup. Tesha tak pernah mendesaknya un
tuk memperistrinya—mereka bahkan tak pernah
membicarakan tentang pernikahan.
Tesha bahkan jarang membicarakan topik serius
berlamalama dengan Elang. Ia lebih suka tertawa,
bertingkah manja, memasak, dan mengajak Elang
bepergian. Ia jarang bicara mesra, tapi Elang mera
sakan kasih sayangnya yang besar setiap kali mereka
hendak tidur. Tesha sering memeluk Elang yang suka
tidur telentang, memainkan jemarinya di wajah
Elang.
Setelah menimbangnimbang, bertanya dengan Pak
Effendi dan Agung, ia pun akhirnya membiarkan
Tesha membuat surat lamaran ke Rumah Sakit Santo
Antonius. Elang masih sulit membayangkan kemung
kinan itu: menikah dengan Tesha. Ia sudah terlalu
lama sendiri.
Sehari sebelum Tesha kembali, ia bahkan berkata:
”Kalaupun aku tidak diterima, aku akan menjadi
perawat pribadimu.”
Bagaimana mungkin, Elang tidak menyayangi
Tesha?
***
229
http://facebook.com/indonesiapustaka Hari demi hari berlalu. Elang kembali ke Singkawang
setelah melepas kepergian Tesha dari Bandara Supa
dio, Pontianak. Ia menghubungi Irin, menyatakan
bahwa hubungan mereka harus berakhir. Irin merasa
sedih dengan keputusan itu, tapi Elang meyakinkannya
bahwa itulah jalan terbaik yang harus mereka tempuh.
Begini katanya, ”Aku akan menikahi seseorang.”
Saat berbicara dengan Irin, bayangbayang Gunawan
kadang menghantuinya. Hubungan antara Gunawan
dan Dokter Nina sungguh mirip dengan Elang dan
Irin. Bahkan, tempattempat di sekitar rumah sakit
itu—ia juga tinggal di situ—kadangkadang membuat
Elang membayangkan Gunawan ketika ia sendiri di
rumah.
Elang mampir ke rumah Agung dan Pak Effendi,
berkenalan dengan keluarga mereka. Setelah dari
rumah Pak Effendi, Elang mengajak Agung mengobrol
tentang Tesha di warung kopi di Pasar Hongkong.
”Aku sudah pernah beristri, berpacaran, juga
berkencan. Aku juga sudah pernah sendiri, berkelana
ke berbagai kota di Jawa—benarbenar sendiri, hanya
berteman alam dan kehidupan yang terpampang di
depan mataku. Dan kalau kau ingin tahu, apa yang
membuatku memilih bertahan tetap sendiri saat ini
adalah peristiwa yang kualami, justru tak lama setelah
aku melamar mantan istriku, Elang,” kata Agung.
”Peristiwa apa itu?”
”Setelah kulingkarkan cincin di jari manis kekasih
230
http://facebook.com/indonesiapustaka ku, lalu mengecup keningnya, aku pulang. Tapi, aku
tidak langsung pulang. Aku ke warung kopi.”
”Apa yang kaulihat di warung kopi?”
”Di depan warung kopi ada rumah kecil, mirip
gubuk. Penghuninya seorang pria tua yang hidup
sendiri. Kata orang, keluarganya tinggal jauhjauh.
Dia terkenal ramah, tersenyum kepadaku saat itu,
berada di muka pintu.” Agung berhenti bicara,
mengisap rokoknya dalamdalam. ”Saat aku duduk di
warung kopi, memandangnya, dia menutup pintu
rumahnya perlahanlahan sekali, lalu cahaya lampu
di rumahnya mati. Seakanakan dia berpamitan.
”Dari terang menuju gelap, dia melaluinya sendiri.
Kita akan melalui kegelapan yang menanti kita
masingmasing—satu per satu. Kegelapan, kesunyian,
keheningan—misteri. Misteri kehidupan, itu yang
terusmenerus kupikirkan saat itu, ketika aku yakin
bahwa aku dan kekasihku mesti mengarungi hidup
bersama.”
Elang termenung memandang langit—sendiri atau
berdua, apakah ada bedanya? Purnama tertutup awan
sebagian. Asap rokok menari dan meliukliuk di atas
kepalakepala manusia di warung kopi, embusan
angin menjadi musik yang indah baginya, lalu sirna
dalam kegelapan. Tanpa bekas.
231
http://facebook.com/indonesiapustaka 21
NATAl akan tiba dua hari lagi, Elang menyempatkan
diri mampir ke kantor polisi. Ia akan berpamitan,
pulang ke Pontianak, tidak jadi merayakan Tahun
Baru di Singkawang. Agung mengajaknya mengobrol
di kantor. Saat Elang sedang mengobrol dengan
Agung, seorang pria mendatangi mereka. ”Masih
ingat dengan saya?”
Agung dan Elang berpandangan. ”Anda... siapa,
ya?”
”Saya orang yang berpurapura jadi wartawan, yang
hendak mengambil benda di dalam laci yang kalian
temukan di rumah kos itu.”
”Oh...,” kata Agung sambil berdiri. ”Jadi... Anda
siapa? Suruhan Yogi? Hendak menyerahkan diri?”
”Bukan, bukan! Saya justru teman baik Gunawan.
Saya Rinto.”
232
http://facebook.com/indonesiapustaka Elang terkejut, memandang Agung. Oh, Gunawan—
nama itu kembali disebut.
Rinto pun bercerita bahwa dia teman satu kos
Gunawan di rumah kos sebelumnya. Beberapa kali
Gunawan bercerita kepadanya tentang masalah yang
ia hadapi. Ia tidak bisa memberikan bantuan apaapa.
Di kamarnyalah Gunawan menitipkan semua barang
nya yang jumlahnya tidak banyak. Sehari sebelum
Gunawan bunuh diri, ia mendatangi Rinto, lalu
berpesan: ”Kalau ada sesuatu terjadi padaku, kau bisa
memperoleh informasi tentang aku dari dua alamat
yang di nota pengiriman yang dikeluarkan Kantor
Pos. Dua nota itu kusimpan di laci meja, kuselipkan
di buku TTS, dan laci itu kupendam di samping
rumah kos.” Rinto beberapa kali mencari laci meja
itu, hampir tiap malam, tapi tidak ketemu. lagi pula,
hujan sering turun pada malam hari—pencariannya
tidak optimal.
”Jadi, kenapa Anda tidak memberikan informasi
kepada kami dari dulu?” tanya Agung.
”Iya, Anda terlalu berbelitbelit,” imbuh Elang.
”Seharusnya Anda membantu kami sejak peristiwa
bunuh diri itu diberitakan di koran.”
”Saya panik. Saya takut malah disalahkan kalau
ikut campur. Saya baca berita, hampir tidak ada data
atau identitas tentang Gunawan atau Gagak Hitam
setelah dia tewas. Saya khawatir, kalau saya buka mu
lut, saya akan dilibatkan terlalu jauh. Setelah mem
233
http://facebook.com/indonesiapustaka baca berita itu, sempat saya berpikir, biarlah kasus
itu menjadi misteri selamanya saja.
”Saya juga takut kalau rumah kos saya dan Guna
wan diserbu orang tak dikenal karena beberapa kali
Gunawan merasa dirinya diikuti orang lain. Dan, dia
pernah bercerita, mungkin saja orang yang mengejar
ngejarnya adalah polisi, suruhan suami Dokter Nina.
Kalau saya mengaku sahabat Gunawan, lalu menjadi
saksi, lalu media meliput saya, lalu saya dicaricari...
bisabisa, habislah saya. Matamata ada di manamana.
Tapi, saya benarbenar penasaran, siapa kedua orang
yang dikirimi surat—Gunawan tidak pernah memberi
saya petunjuk itu.
”Nah, malam itu, saya terkejut ketika melintas di
depan rumah kos itu. Ramai. Saya bertanya kepada
seseorang di situ, sedang ada peristiwa apa. Orang
itu bercerita, ada dua polisi yang sedang menggali
barang bukti. Kebetulan saya habis dari acara perni
kahan, membawa kamera untuk berfoto. Saya pun
menyamar jadi wartawan, berusaha mendekat, meng
ambil buku TTS itu. Pemikiran saya begini: selama
ini saya sudah tahu banyak tentang Gunawan, ter
pancing rasa penasaran, ingin mengungkapkan ke
benaran. Bila barang bukti ini berada di tangan
polisi, bisa jadi kematiannya justru akan tetap jadi
misteri, karena seperti yang tadi saya katakan, Guna
wan pernah berkata, mungkin saja yang mengincarnya
selama ini adalah polisi.”
Elang dan Agung menganggukangguk. Cerita dan
234
http://facebook.com/indonesiapustaka alasan Rinto memang masuk akal. ”Wartawan me
mang tak jarang menyulitkan kita, walaupun saya
terlibat di sini karena jasa wartawan juga,” kata
Elang.
”Begitulah, setelah mendengar suara tembakan,
saya pun pasrah—saya kembali takut. Biarlah Bapak
Bapak saja yang mencari tahu identitas Gunawan.
Setelah peristiwa malam itu, saya sebenarnya ingin
menemui BapakBapak. Tapi, firasat saya mengatakan:
jangan dulu. Dan, keinginan itu pun batal setelah
saya membaca koran, ada peristiwa bunuh diri lainnya
yang masih berhubungan. Saya jadi makin takut,
memutuskan untuk sama sekali tidak terlibat. Tapi,
saya kira sekarang keadaan sudah aman.”
Elang teringat sesuatu. ”Pernahkah Gunawan ber
cerita kepadamu tentang penulis atau seniman yang
depresi, yang akhirnya bunuh diri. Apakah dia me
nyebut sebuah nama—Ernest Hemingway, misalnya?”
Mata Rinto bersinar. ”Ya, dia pernah menyebut
nama itu. Sebelumnya, nama itu asing bagi saya.”
”Apakah dia pernah bercerita, bahwa dia kehabisan
ide menulis cerita?” Kali ini Agung yang bertanya.
Rinto mengangguk mantap. ”Beberapa kali dia
berkata seperti itu.”
Elang dan Agung berpandangan, mereka teringat
pembicaraan mereka beberapa malam lalu saat Elang
berada di Hotel Ibis.
”Eh,” kata Elang yang teringat sesuatu, ”kenapa
235
http://facebook.com/indonesiapustaka kau membawa senjata malam itu? Dan menembak
kami?” tanya Elang.
Agung dan Rinto menoleh ke arah Elang hampir
bersamaan. ”Oh, aku lupa memberitahu. Waktu itu,
siapa namanya... yang mengejar Rinto?” tanya
Agung.
”Rudi,” sahut Elang.
”Nah, hanya Rudi yang kuberitahu bahwa aku yang
menembak, bukan dia. Aku lupa memberitahu kau,
lang.” Agung berhenti bicara sebentar. ”Oh ya, kau,
Rinto, waktu itu kau bawa pistol, kan?”
Rinto berdiri, memasukkan tangan ke bagian bela
kang celananya. Agung bersiaga, segera mengeluarkan
pistolnya.
”Jangan takut, ini pistol mainan. Ini hanya korek,”
kata Rinto sambil menarik pelatuk korek api pistol
itu. ”Pistol ini selalu saya bawa ke manamana, saya
gunakan untuk menyalakan rokok. Dan malam itu
saya panik, mengeluarkannya ketika Rudi menangkap
saya.”
Elang tersenyum lebar. ”Kurang ajar! Dengan pistol
model revolver begini juga aku bertugas selama di
Jakarta!”
Melihat senyum Elang, Rinto pun ikut tersenyum.
”Jadi, sekarang sudah jelas semuanya?”
Agung memesan tiga gelas kopi, mengobrolkan apa
saja dengan Elang dan Rinto. Rinto menyimak cerita
cerita mereka dengan wajah antusias. Mereka pun
236
http://facebook.com/indonesiapustaka sebentar lagi akan menyelidiki identitas Gunawan di
rumah kos Rinto.
Saat mereka asyik mengobrol sambil minum kopi,
seorang tamu lain datang. Pak Effendi. Raut wajah
Elang dan Agung seketika berubah ketika melihat
wajah Pak Effendi yang pucat.
”Ada apa, Pak?”
”Seorang ditemukan tewas pagi ini, sekitar sejam
lalu. Diduga kuat, dia pemilik sebuah warung kopi
yang berada di wilayah Pasar Baru. Mayatnya dite
mukan terpisah di dua buah keranjang, terapung
apung di sungai di depan Pasar Ikan Singkawang.
Kau harus segera bertindak.”
Agung menatap tembok beberapa detik, mengisap
rokok, dan mengembuskan asapnya perlahanlahan.
Ia mengambil jaket kulit yang ia sampirkan di san
daran kursi perlahan, mengenakannya. ”Jadi, bagai
mana, Elang? Kau jadi kembali ke Pontianak?”
Elang tidak menjawab, masih menatap tembok. Ia
membungkuk, lalu berdiri tegak.
”Elang, kau ikut denganku?”
237
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka CATATAN PENUlIS
Bagian ini tidak ada hubungannya dengan cerita—
tidak wajib dibaca. Hanya, saya suka menuliskannya
karena beberapa pembaca suka bertanya: ”Dari mana
ide menulis suatu novel didapatkan?”
Setelah novel Melati dalam Kegelapan yang saya tulis
terbit pada bulan Oktober 2014, saya sering berpikir
tentang novel lain yang serupa. Hanya saja, unsur
horor di dalamnya tidak berasal dari atau berhubungan
dengan hantu. Saya pun teringat film Misery yang
http://facebook.com/indonesiapustaka diangkat dari novel Stephen King. Paul Sheldon,
tokoh utama dalam film itu, adalah penulis yang
malang. Ia mengalami kecelakaan, dirawat seorang
psikopat yang juga sangat menyukai karyakaryanya.
Ide tentang penulis yang malang, ketakutan, dan
frustrasi memenuhi pikiran saya saat menonton atau
teringat film itu. lalu, saya teringat pada pengalaman
saya sendiri yang pernah batal menuliskan dua
biografi karena beberapa alasan pribadi.
Awal Desember 2014 saya berkesempatan ke Ja
karta untuk suatu keperluan keluarga. Selama di
Jakarta saya sempat mampir ke Pusat Jantung Nasio
nal Harapan Kita, tempat bapak saya menjalani
operasi jantung bypass pada Juni 2006. Saat beliau
dioperasi saya menungguinya, menginap di sebuah
rumah penginapan di Jalan Kota Bambu Selatan
selama sebulan.
Begitulah, dari peristiwaperistiwa di atas, ideide
pun bermunculan untuk menulis cerita ini. Bila su
dah selesai membaca cerita ini, Anda pun akan tahu
peristiwaperistiwa di atas turut membentuk cerita
ini.
Saya berterima kasih kepada saudara saya di Ma
kassar, Markus Rolik, dan untuk tiga nama yang saya
sebutkan di halaman persembahan—merekalah orang
orang yang sering memotivasi saya menulis cerita
cerita baru. Juga kepada Sandika Purba, seorang polisi
yang sempat membagi beberapa informasi tentang
kepolisian saat saya menulis buku ini.
Pontianak, akhir Januari 2015
Sidik Nugroho
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Elang Bayu Angkasa akan beraksi lagi.
NANTIKAN MISTERI
BERIKUTNYA!
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
TEnTAng PEnulis
Sidik Nugroho lahir pada 1979; suka minum kopi,
main gitar, menonton film, dan jalanjalan. Ia menulis
beberapa buku fiksi dan satu buku nonfiksi. Info
tentang bukubukunya ada di http://sidiknugroho.
com dan ia bisa dihubungi di sidiknugroho@yahoo.
com.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka BAcA jugA
novEl MisTERi DARi
siDik nugRoho
Karier Tony bagus, ia berhasil membeli
sebuah rumah. Orangtuanya ingin ia
segera menikah. Tony sudah punya calon
istri, namun tak yakin pernikahan
akan membuatnya bahagia.
Dalam kebimbangannya, Tony
malah mengalami hal-hal mengerikan.
Ia dihantui seorang gadis yang tewas
dibunuh pacarnya. Lalu, suatu ke-
tika, di kamarnya ia menemukan
kepala anjing yang dipenggal dan
dimasukkan ke kardus. Di dinding
tertoreh tulisan ”UTAngMU
ADALAH UTAng DARAH!”
dengan darah anjing itu.
Siapakah gadis yang menghantuinya? Mengapa tiba-tiba Tony diteror?
Apakah Tony memutuskan akan menikah?
pembelian online: www.gramedia.com
ebook: www.gramediana.com dan www.getscoop.com
gRAMEDiA penerbit buku utama
http://facebook.com/indonesiapustaka