The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tewasnya Gagak Hitam (Misteri Pertama) (Sidik Nugroho)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-05-31 09:39:34

Tewasnya Gagak Hitam

Tewasnya Gagak Hitam (Misteri Pertama) (Sidik Nugroho)

http://facebook.com/indonesiapustaka Ronny menahan napas, memperhatikan Yogi dari
cermin di depannya. Ia tak menanggapi salam pelayan
itu. Badannya pendek, gemuk, langkahnya tergesa­
gesa. Ia memandangi Ronny dan dua orang yang
sedang dilayani di salon itu. ”Ada orang yang men­
curigakan ke sini?” katanya, setengah membentak.

Ketiga pelayan yang sedang bekerja hampir serentak
memandangnya. ”Mencurigakan?” kata seorang pela­
yan, bukan yang melayani Ronny.

Tak menggubris pertanyaan itu, Yogi keluar. Di
luar, ia mengamati keadaan sekeliling. Tidak ada
mobil polisi, tidak ada yang mencurigakan. Ia masuk
ke dalam. ”Ngawur saja telepon itu!” bentaknya
sambil menaiki tangga. Mendengar bentakan itu,
Ronny ingin segera ke toilet, memberi kabar selan­
jutnya. Tapi ia segera sadar, tak boleh gegabah. ”Itu
tadi Yogi? Orangnya sering gegabah begitu, ya?”

”Kadang sih, Mas. Aneh­aneh saja, siang­siang
begini kok menanyakan orang mencurigakan,” kata­
nya sambil tertawa kecil.

Ronny membiarkan rambutnya diolesi cairan, ke­
palanya dipijat, terus berpikir agar kata­katanya tidak
tampak mencurigakan. ”Mbak, kalau habis ini pi­
jatannya selesai, atau sebelum mengolesi cairan se­
lanjutnya, saya permisi ke belakang, ya?”

”Oh, ini pas sudah selesai. Silakan, Mas.”
Ronny masuk ke toilet, memandang dirinya di
cermin, merapikan rambutnya setelah membasuhnya

199

http://facebook.com/indonesiapustaka dengan air. Ia pun mengirim pesan kepada Alex:
”Cabut!”

Ronny keluar dari toilet, mengambil tasnya. Ia
mengeluarkan pentungan dari tas itu, berlari, menen­
dang sebuah kursi untuk pelanggan hingga terlempar
semeter. Sampai di luar, ia memukulkan pentungannya
ke kaca di bagian depan hingga pecah. Alex sudah
ada di depan, dengan motornya membawa Ronny
pergi, meninggalkan salon.

Di atas motor, Ronny mengirim pesan kepada
Robert: ”Telepon 2”.

”Anda masih ber­hahaha?” tanya Robert kepada
Yogi. ”Saya baru saja mendapat kabar, polisi yang
akan menyerang Anda akan datang dalam jumlah
banyak. Satu polisi tadi sudah dikirimkan ke sana
sebagai mata­mata, atau bisa juga memberi peringatan.
Mungkin, dia bahkan sudah sampai di sana beberapa
menit yang lalu.”

”Bajingan!” umpat Yogi. Ia menerima telepon itu
di lantai satu, semenit setelah Ronny melesat bersama
Alex.

”Semua keluar dari salon ini! Keluar!” teriaknya
keras­keras.

Robert menelepon Pak Siswoyo. ”Ronny sudah
sukses membuat masalah. Penyergapan siap dimu­
lai.”

”Kamu dan Elang segera ke sini, bisa saja kami
butuh bantuan mendesak.”

Ronny dan Alex tertawa­tawa, gembira karena bisa

200

http://facebook.com/indonesiapustaka ikut membantu polisi menangkap penjahat. ”Ayo kita
kembali,” kata Alex setelah mereka yakin tak ada
yang mengikuti mereka. ”Mungkin mereka mem­
butuhkan bantuan kita.”

Dalam perjalanan kembali ke ruko itu, Ronny dan
Alex melintasi jalan lain yang tidak mereka lewati
sebelumnya. Ronny menelepon Pak Siswoyo, menga­
barkan ada dua pelanggan pria di salon itu dan enam
wanita yang menjadi pelayan. Selain mereka berde­
lapan, hampir bisa dipastikan yang lainnya adalah
Yogi, anak buahnya, dan Tesha.

201

http://facebook.com/indonesiapustaka 18

PAK SISWOYO mendekati salon itu bersama Albert,

Mukhsin, Arik, dan Yono. Mereka berlima mende­
katinya dari arah berlainan. Agar tidak mencurigakan,
anak­anak buah polisi itu hanya akan lewat atau
berlalu­lalang. Ronny dan Alex ia minta untuk tidak
terlibat, nyawa mereka bisa jadi taruhan. Pak Siswoyo
berjalan mengendap­endap karena wajahnya sudah
dikenali Yogi dan anak buahnya semalam. Beberapa
orang yang duduk­duduk di anak tangga di depan
ruko­ruko sepanjang jalan itu disuruh masuk oleh
Pak Siswoyo.

Karena tidak ada tembok pembatas antara ruko
satu dan lainnya, Pak Siswoyo bersembunyi di balik
beberapa tiang penyangga bangunan bagian depan
ruko­ruko itu, juga sesekali di balik mobil. Mobilnya
ia letakkan sekitar seratus meter dari salon, meng­
hindari terkena tembakan.

202

http://facebook.com/indonesiapustaka Semenit kemudian, tiga orang wanita keluar dari
salon. Pak Siswoyo menelepon Ronny yang berada di
balik sebuah mobil yang agak jauh, tapi tetap bisa
mengamati salon itu. ”Tiga orang yang keluar ini,
mereka semua pelayan?”

”Iya.” Mereka bertiga pergi meninggalkan salon,
mengendarai dua motor—salah satu motor dinaiki
berdua.

Semenit kemudian, keluar tiga orang lagi. Polisi
itu kembali menelepon Ronny, ”Tiga orang yang
keluar ini, mereka juga semua pelayan?”

”Iya.” Dua dari mereka berjalan kaki, seorang
mengendarai motor.

Tidak ada yang terjadi selama dua menit. Pintu
terbuka, seorang pria keluar sambil menoleh ke sana
kemari. Pak Siswoyo melihat Mukhsin yang kini ber­
sembunyi di balik sebuah tiang, di ruko seberang
salon itu. Ia mengangkat senjata dalam posisi mem­
bidik. Pak Siswoyo menggeleng. Ia kenal pria itu,
sopir semalam. Pria itu masuk ke mobil Toyota Al­
phard yang berada di depan salon, duduk di kursi
sopir. Polisi itu mengembuskan napas dari mulutnya
perlahan, menggerakkan tangannya kepada kelima
anak buahnya untuk segera mengambil posisi siaga.

Tak lama kemudian, Yogi muncul, diikuti seorang
wanita di belakangnya, lalu seorang pria di bela­
kangnya. Itu Tesha, dan pria yang keluar terakhir
adalah penembak Solikhin.

Sebelum mereka sampai ke mobil, Pak Siswoyo

203

http://facebook.com/indonesiapustaka maju, mengacungkan senjata. ”Angkat tangan! Saya
polisi, akan menahan Anda karena kasus pembu­
nuhan...”

Belum selesai Pak Siswoyo berbicara, terdengar
suara tembakan. Kaki Pak Siswoyo tertembak saat ia
berada sekitar empat puluh meter dari mobil Yogi.
Albert yang berada tak jauh dari Mukhsin melotot.
Mukhsin­lah yang menembak, betapa tidak terduga.
”Bajingan! Kau ternyata ada di pihak lawan!” katanya
sambil menendang tangan Mukhsin, membuat pis­
tolnya terlempar.

Mukhsin mencoba melawan, mereka berdua pun
terlibat perkelahian sengit. Setelah berjuang mengerah­
kan sepenuh kekuatannya, Albert berhasil memborgol
Mukhsin, mematahkan tangan kanannya, dan mem­
buat hidungnya berdarah.

Setelah Pak Siswoyo tertembak, Arik yang sedang
bersembunyi di balik sepeda motor berlari sekuat
tenaga mendekati dan melindungi Pak Siswoyo. Ia
merangkul Pak Siswoyo, membawanya menjauhi mo­
bil. Ia menembak pria penembak Solikhin yang ke­
luar terakhir, tapi tembakannya meleset. Ia juga
ditembak beberapa kali oleh pria penembak Solikhin
yang sudah berada di dalam mobil, tapi tidak kena.
Arik meminta Yono keluar dari persembunyiannya
di balik tiang di bagian depan sebuah ruko, mem­
bantunya mengamankan Pak Siswoyo. Yono menembak
beberapa kali, melindungi Arik membawa Pak Sis­

204

http://facebook.com/indonesiapustaka woyo yang masih bisa berjalan ke tepi jalan. Pak
Siswoyo ia baringkan di balik sebuah sepeda motor.

Mesin Toyota Alphard itu menyala. Yono merampas
pistol Arik sambil berkata, ”Peluruku habis!” Ia
berlari di belakang mobil itu, dan berhasil menembak
satu ban belakangnya, membuat mobil itu perlahan
berjalan oleng.

Yono mendengar sepeda motor melaju di bela­
kangnya. Ia yang sedang berlutut menoleh ke bela­
kang, tersenyum, lalu menepi. Elang dan Robert...
mereka datang tepat waktu! ”Ambil mobil kalian,
bawa semua teman. Kami akan membekuk mereka!”
seru Robert kepada Yono.

”Siap!”
Robert tak mendengar jawaban itu, buru­buru
menancap gas. Ia mengejar mobil itu, mengarahkan
pistolnya ke arah ban belakang kiri yang belum
tertembak. Tembakan pertamanya meleset, mengenai
plat nomor mobil. Mobil sudah keluar kompleks,
berada di jalan raya. Tak lama setelah menembak,
Elang melihat moncong pistol dari kaca mobil tengah
bagian kanan. ”Awas, Robert!” kata Elang di bela­
kangnya.
Robert menepi ke kiri. Tembakan itu meleset. Ro­
bert membidik ban lagi, tapi masih meleset. Moncong
pistol muncul lagi dari kaca mobil depan bagian kiri.
Itu tentu Yogi. Robert menunduk, meliuk­liukkan
motornya, hampir saja menabrak seorang pengendara
motor di sampingnya.

205

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kali ini harus berhasil,” katanya kepada Elang di
belakangnya sambil mengacungkan pistol. Dor!
Tembakan ketiga itu pun mengenai ban belakang kiri.
Tak sampai dua menit kemudian, mobil itu ber­
henti.

Robert turun dari motor. ”Kau di sini saja. Bahaya,
nggak bawa senjata,” katanya kepada Elang. Jarak
antara motor Robert dengan mobil itu sekitar dela­
pan puluh meter. lalu lintas sedang tidak begitu
ramai saat itu; beberapa orang ikut menepi, meng­
amati apa yang terjadi. Robert berlari­lari kecil,
sesekali menunduk. Elang khawatir, Robert harus
seorang diri menghadapi dua pria bersenjata. lengah
sedikit, habislah ia.

Belum sampai semenit setelah Robert mendekati
mobil itu, Elang melihat dua pria yang dikenalnya
melintas di sampingnya. Ronny dan Alex. Ronny yang
berada di belakang merapatkan telunjuk di bibir,
meminta Elang diam. Mereka mengendarai motor
sampai melewati mobil itu. Elang pun tahu, mereka
akan menyergap diam­diam dari arah yang berlawanan
dengan Robert.

Terdengar suara letupan pistol. Robert baru saja
menembak ke langit. ”Saya polisi! Saya perintahkan
kalian keluar dari mobil!” seru Robert yang bersem­
bunyi di balik pohon besar di tepi jalan.

Tak ada jawaban, malah perintah itu disambut
dengan tembakan balasan. Yogi menembak, tapi me­
leset. Dari dalam mobil, tentunya ia susah membidik.

206

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Saya peringatkan sekali lagi, Anda semua keluar dari
mobil!” seru Robert, kali ini disusul dengan tembak­
annya ke arah mobil. Elang mengambil tindakan,
mencegah orang­orang yang berkendaraan di bela­
kangnya untuk berhenti. Salah satu ruas jalan se­
panjang delapan puluh meter—dari tempat Elang
berdiri hingga Toyota Alphard itu berhenti—tak
dilintasi siapa pun. Untunglah Ronny dan Alex tadi
sudah melintas lebih dulu.

Tesha keluar dari pintu tengah bagian kanan,
disusul pria bersenjata yang menodongkan pistolnya
ke kepala Tesha. Tak lama kemudian sopir keluar,
mengangkat tangan. Robert memerintahkannya ke
belakang mobil, berlutut, menyatukan kedua telapak
tangannya di leher belakang. Pria bersenjata itu
menolak menaati perintah Robert, terus mengarahkan
pistol di kepala Tesha. Sopir itu menurut.

Yogi tak kunjung keluar. Robert kembali berteriak­
teriak, menyuruh Yogi keluar. Elang yang berada di
kejauhan jadi geram melihatnya. Ia mengamati ke­
adaan sekeliling, berupaya melakukan sesuatu. Dari
arah di depan mobil, Elang melihat Ronny dan Alex
mengendap­endap. Elang pun bersiaga, mengeluarkan
korek api pistolnya, bersiap­siap di atas motor.

Ronny berjalan mengendap­endap di antara orang­
orang yang makin ramai, membungkukkan badan. Ia
mendekati pria bersenjata, lalu menggebuk kakinya
sekuat tenaga dengan pentungan hingga ia ambruk.

207

http://facebook.com/indonesiapustaka Setelah ambruk, tangan pria itu dipukul dengan pen­
tungan, pistol yang dipegangnya terlepas.

Pria itu mencoba melawan, tapi Ronny memukul
perutnya dengan keras. ”Kalau kau mencoba melawan,
kepalamu akan kuremukkan!” ancam Ronny.

Tak lama kemudian Alex mendekati Ronny, ikut
mengamankan pria bersenjata, juga sopir yang tadi
sudah menyerah. Alex dan Ronny membungkuk,
menghindari tembakan Yogi yang masih berada di
kursi depan. Elang menyalakan mesin, menancap gas,
menghampiri Tesha. Tesha duduk di belakangnya,
memeluknya erat­erat. Air matanya mengalir deras.
Untuk menghindari tembakan Yogi, Elang membalik­
kan sepeda motornya, melewati jalan yang tadi
dilaluinya. Beberapa orang bertepuk tangan menyak­
sikan kejadian itu!

Sebuah Kijang Innova yang membawa lima orang
polisi muncul semenit setelah Elang menyelamatkan
Tesha. Robert mendesah panjang, tampak sangat lega.
Pak Siswoyo tidak bisa berjalan, tetap duduk di
mobil. Mukhsin diborgol, didudukkan di kursi bela­
kang. Yono, Arik, dan Albert keluar, masing­masing
membawa pistol.

Yogi akhirnya keluar dari mobil, mengangkat ta­
ngan, setelah beberapa kali polisi­polisi itu menem­
baki mobilnya. Ia pun melempar pistol, berlutut, dan
mengangkat tangan. Robert tak menduga, pria gendut
itu menangis keras­keras meminta ampun.

Robert pun mendekatinya, mengambil borgol.

208

http://facebook.com/indonesiapustaka Sambil memborgol, ia pun berkata, ”Cup, cup,
cup...”

Yogi marah, memaki­maki ketika diborgol.
Setelah memborgol Yogi, lalu menyuruhnya berdiri,
Robert menirukan tawa Yogi dengan suara berat,
”Hahaha.”

209

http://facebook.com/indonesiapustaka 19

TUGAS pun selesai dilaksanakan. Pak Siswoyo di­

rawat di Rumah Sakit Pelni di Petamburan. Elang
menungguinya, ditemani Tesha. Elang menuju rumah
sakit setelah mengambil ponselnya di warung; se­
mentara Tesha menyusul setelah membersihkan diri
di rumah kosnya. Istri Pak Siswoyo dan kedua anak­
nya datang tak lama setelah Elang mengabari. Elang
menyalami mereka, meyakinkan bahwa Pak Siswoyo
akan baik­baik saja. Robert dan polisi­polisi lainnya
sedang sibuk mengurai perkara.

Pak Siswoyo tampak sangat lelah, hanya berbicara
sebentar saat Elang datang, lalu terlelap lagi. Elang
menatap wajahnya—ada kebanggaan yang muncul
dalam hati. Apalagi melihat anak­anak dan istrinya
yang tampak sangat menyayanginya.

Elang pun mengajak Tesha ke kantin. Setelah ma­
kan ia bertanya, ”Tesha, siapakah orang yang kaute­

210

http://facebook.com/indonesiapustaka mui sebelum kita bertemu makan malam? Atau,
orang yang bertemu denganmu saat kau hendak
makan malam? Atau, orang yang kauberitahu bahwa
kau akan makan malam denganku? Karena melihat
kita pernah berduaanlah maka kau diculik.”

Tesha mengangguk­angguk, lalu menjawab, ”Aku
tidak sengaja bertemu Yuli, Mas.” Kali ini Tesha
menurut ketika Elang meminta memanggilnya ”Mas”,
bukan ”Pak” lagi. ”Ketemunya waktu kita mau masuk
warung nasi goreng. Masih ingat dengan Yuli? Dia
asisten selain aku, yang kuberitahu lebih dekat de­
ngan Dokter Bunga. Dialah yang kuyakin memberi­
tahukan bahwa kita berduaan. Bahkan, kuduga dia
menguntit kita sampai di hotel.”

Elang pun menemukan titik terang.
”Makanya, waktu kembali ke rumah kos keesokan
harinya, aku kan nggak mau diantar, Mas. Aku kha­
watir ketemu dia lagi. Tapi, sungguh aku nggak men­
duga, semua akan jadi seperti ini, Mas! Kadang Yuli
memang ketemu aku, kami tinggal berdekatan.”
Elang pun merangkai semuanya dalam pikiran.
”Jadi, Yuli menguntit kita, sampai tahu nomor kamar­
ku. Dia pun mendapatkan namaku. lalu dia, atau
Dokter Bunga, atau mungkin juga Yogi, kemudian
mencari tahu identitasku. Kuyakin, dia juga mengecek
Internet, tahu kalau aku sebenarnya pelukis. Dan
keesokan harinya, Dokter Bunga menanyai Angelita,
mencari tahu lebih banyak tentang aku. Kalau aku
polisi, mungkin nyawaku sudah melayang.”

211

http://facebook.com/indonesiapustaka Elang pun bercerita tentang semua yang telah ia
alami. Tesha berulang kali menggeleng­geleng dan
menutup wajah mendengar cerita Elang dan identitas
aslinya. Ia baru tahu bahwa Dokter Bunga selingkuhan
suami Dokter Nina. Kabar yang beredar di rumah
sakit, ia gantung diri karena stres dengan pekerjaan
dan tidak akur dengan suaminya.

Tesha pun bercerita tentang penculikannya. ”Sebe­
lum diculik, aku ditelepon Yuli, Mas. Dia menelepon
setelah Mas menelepon. Aku dimintanya untuk me­
nunggu di tepi jalan raya, di dekat pangkalan ojek.
Dia bilang ada pesan penting yang mau dia sampaikan.
Kukira, itu berkaitan dengan Dokter Bunga—Mas baru
saja menelepon, bermasalah dengan dia. Ternyata, di
sana yang menjemputku bukan Yuli, melainkan Yogi
dan anak­anak buahnya. Aku benar­benar bingung
dengan apa yang terjadi. Aku dipaksa masuk ke mobil.
lalu kita bertemu di hotel itu lagi, disekap, dan aku
pun menduga, Mas sebenarnya polisi.”

”Yuli... berarti dia disuruh Dokter Bunga menele­
ponmu, nggak lama setelah aku keluar dari Hotel
Twin Plaza.”

Tesha mengangguk. ”Tentunya begitu.”
”Oh ya, di salon itu, kamu nggak diapa­apain,
kan?”
”Untungnya nggak, Mas, walaupun Yogi kelihatan­
nya sempat ingin macam­macam. Kelihatannya mere­
ka lelah sekali malam itu, jadi aku aman. Aku kem­
bali bingung, sebenarnya ada masalah apa. Karena

212

http://facebook.com/indonesiapustaka selama ini aku nggak pernah bertemu Yogi, atau tahu
Yogi itu suami Dokter Nina.”

Elang agak membatasi cerita saat dia berduaan
dengan Dokter Bunga di hotel. Ia memotong bebe­
rapa bagian, terutama adegan di kamar mandi. Ia
membuatnya lebih ringkas: ”Dokter Bunga kehujanan,
mampir ke hotel itu untuk membersihkan diri, lalu
kupinjami bajuku. Tapi, di hotel itu, dia malah mau
membunuhku.”

”Mas kok bisa pindah ke hotel itu? Kan tadinya
di Bamboo Inn?”

”Kawanku, polisi di Singkawang itu, punya kenal­
an, seorang pengusaha travel. Dari kenalannya itu
aku memperoleh voucher menginap di Hotel Twin
Plaza,” dusta Elang.

Selesai bertukar cerita, Elang menggandeng Tesha
dengan mesra melintasi koridor rumah sakit. Ketika
sampai di kamar Pak Siswoyo, ternyata ia sudah ter­
tidur. Istrinya bercerita adiknya baru saja ke rumah
sakit, membawa kedua anaknya pulang ke rumah.
”Mas Elang boleh tidur di rumah kalau mau.”

Elang teringat tasnya yang masih ada di rumah Pak
Siswoyo. Ia melirik ke arah Tesha. ”Malam ini, saya
akan menemani Tesha pulang saja, Bu. Besok saya
akan ke sana.”

Dari depan rumah sakit, Elang memanggil taksi.
”Malam ini Mas tidur di Bamboo Inn lagi?” tanya
Tesha.

Elang menggeleng.

213

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Jadi, mau ke mana? Mau mengantar aku ke
rumah kos? Setelah itu Mas mau ke mana?”

”Di Jakarta ada banyak hotel, Tesha. Dan,” kata
Elang sambil meremas jemari gadis itu, ”malam ini
aku ingin ditemani kamu. Kamu jangan pulang ke
kos, ya? Pulangnya besok pagi­pagi saja.”

Tesha merebahkan kepalanya di pundak Elang.
Elang meminta sopir taksi mengantar mereka ke
sebuah hotel di wilayah Slipi. ”Dari mana Mas tahu
tentang hotel itu?” tanya Tesha.

”Waktu jalan­jalan sendirian di Blok M, aku iseng
bertanya kepada seorang pedagang tentang hotel­hotel
di wilayah Slipi.”

Ketika keluar dari taksi, Elang melihat jam tangan,
sudah hampir pukul sebelas malam. Elang dan Tesha
check in, masuk ke kamar hotel. Ia baru saja mere­
bahkan diri di kasur ketika Agung meneleponnya.
”Elang, tugas kita sudah hampir selesai. Masih ingat
dengan Gabriel? Yang dikirimi surat oleh Gagak Hi­
tam?”

”Tentu. Ada kabar apa?”
”Gabriel ternyata seorang dokter juga, membuka
apotek di Malang, selain praktik dokter. Sayangnya,
apotek itu tutup, hanya buka tidak sampai setahun.
Ruko yang dulu digunakan sebagai Apotek Berkat
milik Gabriel dihuni pria bernama Udin, pembantu
Gabriel. Udin jarang tinggal di ruko itu karena sibuk
membantu pekerjaan mertua Gabriel di rumah lain.
Gabriel juga tinggal di rumah lain, sudah jarang ke

214

http://facebook.com/indonesiapustaka ruko itu. Itulah sebabnya, telepon ke apotek itu tak
pernah diangkat.

”Udin tidak tahu, atau bisa juga lupa, kalau surat
itu penting. Dia tidak mengabari Gabriel. Semalam,
Gabriel mampir ke ruko itu, ada perlu dengan Udin.
Udin teringat surat itu, lalu menyerahkannya kepada
Gabriel. Tadi pagi Gabriel menelepon ke kantor polisi,
lalu aku pun menggali keterangan darinya. Gabriel
shock setelah tahu Gagak Hitam bunuh diri.”

Elang mengangguk­angguk, menatap lampu­lampu
kendaraan dan gedung­gedung dari kamar hotel.
”lalu?”

”Gilbert Petrucci Malmsteen, itulah nama pena
yang sering digunakan Gagak Hitam sang penulis
ketika menulis cerita fiksi. Kalau kau membuka In­
ternet, kau akan menemukan beberapa cerita karya­
nya. Tiga kata itu merupakan nama­nama dari gitaris
metal kelas dunia: Paul Gilbert, John Petrucci, dan
Yngwie Malmsteen. Jelas dia seorang pengagum
musik­musik metal. Dia menulis fiksi sejak tahun
2005, tapi tidak banyak karyanya yang mendapat
sambutan luas. Bisa dikatakan, dia pengarang gagal.
Nama aslinya Gunawan Petrus Mulyanto—kita sebut
dia Gunawan. Mengapa akhirnya dia menggunakan
nama Gagak Hitam, akan kuceritakan nanti.

”Gunawan asli Blitar, sejak lahir hingga SMA dia
di sana, tinggal tidak jauh dari makam Bung Karno.
Ayah dan ibunya bercerai, dia tidak akur dengan
saudara­saudaranya. Dia menetap di Malang saat

215

http://facebook.com/indonesiapustaka mulai kuliah tahun 2005. Dia berkuliah sambil
menjadi karyawan di sebuah toko fotokopi. Kuliahnya
di Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri
Malang tak berjalan mulus—dia meraih gelar sarjana
pada tahun 2012 setelah berkuliah tiga belas semester.
Selama kuliah, dia sibuk mempelajari filsafat, puisi,
dan prosa. Dia tidak bergaul dengan banyak orang,
nyaris tidak memiliki teman dekat.

”Beberapa karyanya berupa resensi buku, cerpen,
dan artikel pernah terbit di beberapa koran lokal dan
nasional. Dia suka berganti­ganti nama saat menulis
cerpen. Ia sangat mengagumi Anton Chekov, cerpenis
asal Rusia yang juga suka menggunakan nama samar­
an.

”Setelah lulus kuliah, dia menggantungkan hidup­
nya dari menulis cerita. Menyedihkan sekali, dia
menulis buku­buku yang jauh sekali dari apa yang
getol dia pelajari saat berkuliah: kumpulan resep
masakan, pengobatan herbal, kumpulan pantun lucu,
dan buku­buku instan lainnya yang selesai ditulis
dalam hitungan hari.

”April 2014, dia mendapat tawaran menulis biografi
dari kawannya waktu SMA, seorang dokter muda
bernama Gabriel. Kawannya mengenalkan Gunawan
pada Dokter Wawan, spesialis bedah plastik yang
terkenal di Malang. Saat itu dia sedang tak memiliki
banyak uang, royalti yang dia tunggu­tunggu dari
beberapa bukunya yang diterbitkan sebuah penerbit
kecil tak kunjung cair.

216

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Wawan, sang dokter, berkata akan memberi Guna­
wan dua puluh juta rupiah dari proyek penulisan
biografi itu. Dia pun menyanggupi tawaran itu untuk
bertahan hidup selama beberapa bulan. ’Mungkin,
karena Gunawan senang mendapat uang cukup ba­
nyak dari saya, dia sering bercerita kepada saya, walau­
pun waktu SMA kami kurang akrab,’ kata Gabriel,
masih kuingat kata­katanya. Dalam dua bulan, bio­
grafi itu selesai digarapnya.

”Agustus 2014, Gunawan pergi ke Jakarta. Dia
berkata kepada Gabriel bahwa dia mendapat ide
cemerlang: buku biografi tentang Dokter Wawan yang
ditulisnya akan ditunjukkannya kepada beberapa
dokter di Rumah Sakit Harapan Kita. Dari kawannya
dia mendengar bahwa di samping rumah sakit itu
banyak penginapan murah, seperti rumah kos. Dia
berangan­angan mencari kenalan lain, menulis bio­
grafi lain.

”Gunawan pun tinggal di rumah kos di Jalan Kota
Bambu, di samping RSAB itu. Sebulan satu setengah
juta rupiah. Di rumah sakit, dia bertemu dokter itu,
Nina Sekarwati. Mereka pun akrab. Gabriel sempat
meminta Gunawan menjauhi dokter itu. Bagaimana­
pun, dia istri orang, tapi tampaknya tak terlalu di­
gubrisnya. Gunawan bahkan berencana menulis bio­
grafi Dokter Nina, walaupun singkat. Beberapa kali
mereka menginap berdua di Hotel Twin Plaza.

”Yogi, suami Dokter Nina itu, seorang pebisnis.

217

http://facebook.com/indonesiapustaka Tapi entah apa bisnisnya. Kepada Gabriel, Gunawan
pernah bercerita, Dokter Nina berkata kepadanya
bahwa dia sangat menyesal terpikat dengan kekayaan.
Yogi sama sekali tidak menarik secara fisik dan man­
dul. Padahal Dokter Nina selalu menginginkan anak
tiap kali melihat pasien. Sungguh, dokter anak yang
tidak bahagia. Di situlah dia sadar, kekayaan tak
mampu membeli semuanya. Dia malah senang de­
ngan Gunawan yang sesekali memberinya puisi atau
kejutan­kejutan kecil.

”Tapi, hubungan mereka diketahui oleh seorang
anak buah Yogi yang menguntitnya. Dokter Nina
menyuruh Gunawan pergi. Yogi berkata akan men­
carinya ke mana pun dia pergi. Apalagi setelah Yogi
tahu bahwa Gunawan penulis biografi, dia jadi
berang. Dia takut Dokter Nina membeberkan borok­
nya. Padahal Dokter Nina tidak terlalu banyak tahu
tentang bisnis suaminya.

”Gunawan pun meninggalkan Jakarta, berkirim
pesan kepada Gabriel lewat kotak pesan Facebook:
Aku menuju gerbang 1C, tak jauh dari gerbang ke-
berangkatan ada loket Kalstar. Aku membeli tiket.
Sekarang aku ke Pontianak. Itu pesan Facebook terakhir
yang dikirimkan Gunawan kepada Gabriel. Tak lama
setelah pesan itu dikirimkan, Gunawan menonaktifkan
akun Facebook­nya, sekitar akhir Oktober 2014. Sejak
saat itu, Gunawan kurang berkomunikasi dengan
Gabriel. Mungkin dia malu, hendak merebut istri

218

http://facebook.com/indonesiapustaka orang; dan Gabriel pernah berkata kepadanya agar
sebaiknya menghindari Dokter Nina.

”Oh ya, Gunawan sempat bercerita kepada Gabriel
bahwa kesukaan menulis bisa ditumbuhkan lewat
teka­teki silang. Kukira, kesukaannya itu dia ceritakan
juga kepada Dokter Nina.

”Aku pun akhirnya menarik kesimpulan: anak yang
ada di dalam kandungan Dokter Nina dipaksa oleh
suaminya untuk digugurkan. Tapi dokter itu tidak
mau. Sulit dipercaya, suami Dokter Nina malah
selama ini dekat dengan Dokter Bunga, sahabatnya.
Dokter Bunga pun dimanfaatkan Yogi untuk mera­
cuni Dokter Nina, lalu merekayasa peristiwa gantung
diri. Kematian Gagak Hitam dijadikan alasan agar
peristiwa itu mirip dengannya: sepasang kekasih saling
berjanji untuk mati bersama.” Agung berhenti bicara,
suara napasnya terdengar. ”Kau masih mendengar?”

”Tentu,” kata Elang. Sekarang Tesha menggodanya,
ingin diajak berbicara. Tapi Elang menggeleng, me­
nutup mata. ”Sebentar lagi,” katanya sambil menutup
bagian ponsel yang digunakan untuk bicara, lalu
mengecup kening gadis itu.

”Kalau kau belum mengantuk, aku akan mem­
bacakan surat yang dikirim oleh Gagak Hitam.”

”Oh, aku harus mendengarnya!”

219

http://facebook.com/indonesiapustaka Singkawang, 13 november 2014

gabriel,
Ini aku, gunawan. Sengaja kugunakan nama

gagak Hitam di sampul surat ini untuk meng-
hilangkan jejak. nina Sekarwati, dokter itu, sudah
berencana pindah ke Singkawang. Dia hamil dua
bulan saat surat ini kutulis, buah asmara kami. Tapi,
seperti yang kauketahui, hubungan kami ketahuan
kira-kira sebulan lalu. Seseorang menguntit kami,
menangkap basah kami berduaan di Hotel Twin
Plaza. Pada hari itu juga aku meninggalkan Jakarta,
terbang ke Pontianak, akun Facebook-ku kunonaktifkan
hingga saat ini.

Aku berganti nomor ponsel beberapa kali. Tapi
tampaknya suaminya meminta bantuan polisi untuk
melacak keberadaanku. Dokter nina pernah bercerita,
suaminya punya kenalan beberapa pejabat tinggi di
kepolisian. Tapi bisa saja yang mengikutiku bukan
polisi—entahlah. Yang jelas, aku sering merasa diikuti
selama berada di Pontianak. Aku pun pindah ke
Singkawang. Di Singkawang, aku tinggal di sebuah
rumah kos. Selama beberapa hari aku merasa aman
di sini; aku sempat berbicara cukup panjang dengan
Dokter nina pada suatu malam.

Tapi aku terkejut. Dua hari setelah percakapan
itu, aku mendapat pesan di ponselku: ”Kau tidak
bisa ke mana pun lagi. Kami ada di kota ini untuk
menghabisimu.” Sejak saat itu aku mengemasi

220

http://facebook.com/indonesiapustaka barangku, pindah ke rumah kos lain tanpa izin
kepada pemilik yang lama, dan semua barangku
masih ditinggalkan di sana. Aku diliputi rasa takut,
khawatir nyawaku dihabisi.

Kematian terasa begitu dekat. Aku pun memberi
ibu kosku yang baru uang cukup banyak. Uang
itu—ah, aku menangis saat menuliskan ini—siapa
tahu diperlukan untuk membiayai pemakamanku.

nyawaku sedang berada di ujung tanduk. Aku
tidak tahu, harus meminta tolong kepada siapa.

gagak Hitam

”Begitulah, nama Gagak Hitam dia gunakan untuk
menyamarkan diri. Dia tidak pernah menggunakan
nama itu sebelumnya. Tidak ada satu pun jejak dari
cerita­ceritanya yang dapat menggiringku untuk
mengerti, kapan atau mengapa dia memilih nama
itu. lalu, aku bertanya kepadamu, lang, siapakah
yang menulis kata­kata ’Merpati Putih menyusulmu’
di dinding kamar Dokter Nina? Apakah Dokter
Bunga?”

Elang berpikir beberapa detik. ”Entahlah, Gung.
Sebentar lagi semuanya akan menjadi jelas. Yang bisa
kupahami, Gagak Hitam bukan lagi sekadar nama
pena,” tanggap Elang. ”Itu simbol penyerahan diri.
Kau mungkin lupa, gagak adalah burung pengabar
kematian. Dan, melihat jalan hidupnya yang sering
dirundung malang, bisa jadi dia sendiri putus asa,

221

http://facebook.com/indonesiapustaka tak mendapat ide untuk menulis sesuatu yang benar­
benar hebat. Dia juga merasa bersalah, menghamili
seorang dokter, membuat dokter itu terjerumus dalam
berbagai kesulitan. Dia juga merasakan dirinya sebagai
buron, diintai polisi. Sungguh, dia tertekan. Aku bisa
merasakan itu.

”Dokter Nina menerbitkan harapan dalam dirinya,
bisa jadi dia mendapat cerita untuk menulis karya
yang bukan biografi. Mungkin novel, atau memoar,
mengingat dia punya pengalaman menulis cukup
banyak. Tapi, harapan itu sirna setelah hubungan
mereka terancam kandas. Gagak Hitam merana.”

Elang meletakkan ponsel, memandangi langit Jakarta.
Kendaraan yang melintas makin sepi. Ia berdiri,
meninggalkan kursinya, memeluk Tesha yang tidur
menghadap tembok. ”Kau sudah tidur, Tesha?”

Tesha memutar badannya, mencium bibir Elang.
”Sudah selesai tugasmu, Mas?”

”Sudah, tapi ada yang belum.”
”Apa yang belum?”
Kepalanya dipenuhi banyak pikiran tentang Gagak
Hitam dan Merpati Putih. Masih ada beberapa perta­
nyaan yang belum terjawab, walau misteri ini sudah
nyaris jelas. ”Memberimu mimpi yang indah malam
ini.”
Elang pun memeluk Tesha lebih erat dan mengelus
rambutnya. ”Tidurlah, Tesha.”

222

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Mas,” kata Tesha, ”ada Gagak Hitam, Merpati
Putih, juga Elang Bayu Angkasa. Aku juga ingin jadi
burung... bisa terbang.”

Elang menatap langit­langit, berpikir sebentar, lalu
tersenyum. ”Kamu kuberi nama Pipit saja mau?”

”Kenapa Pipit?”
”Karena kamu imut,” kata Elang sambil menjewer
hidungnya.
”Ah, Mas...,” kata Tesha, merengek manja.
”Sudahlah, malam sudah larut. Tidurlah, Tesha.”

223

http://facebook.com/indonesiapustaka 20

SENIN, 1 Desember 2014, malam hari, Elang bertemu

dengan Pak Siswoyo, Ronny, Alex, dan Robert di
warung tempat mereka merencanakan penyergapan.
Setelah menginap semalam di Hotel Ibis, Elang
menumpang di rumah Pak Siswoyo. Di warung itu,
mereka semua tampak bahagia. Pak Siswoyo masih
berjalan tertatih­tatih, kakinya belum sembuh benar.

Elang pun mendapat keterangan dari Robert
bahwa Yogi mengirim beberapa orang ke Pontianak
dan Singkawang untuk menghabisi Gunawan. Yogi
memiliki kenalan di kepolisian yang selalu memban­
tunya melacak keberadaan beberapa orang dengan
detektor ponsel. Itu yang membuatnya bisa mengetahui
keberadaan Gunawan setelah mengecek catatan pang­
gilan di ponsel istrinya.

Yogi yang saat itu masih khawatir kalau tiba­tiba

224

http://facebook.com/indonesiapustaka biografi Dokter Nina yang mungkin juga menyebut­
nyebut dirinya tetap terbit setelah Gunawan tewas,
menyuruh anak buahnya mencari racun, menyerah­
kannya kepada Dokter Bunga. Ia sungguh tidak sudi
namanya disebut­sebut oleh pria yang meniduri dan
menghamili istrinya dalam buku yang mungkin dibaca
banyak orang. Ia juga sadar, cepat atau lambat, Dok­
ter Nina akan meninggalkannya.

Dokter Bunga yang mengetahui bahwa sahabatnya
sedang bersedih, memutuskan menemaninya di ru­
mah, mendengar ceritanya. Dokter Bunga membuat
kopi dua gelas, mengantarkan kopi beracun untuk
diminum Dokter Nina. Setelah dokter itu tewas, ia
menyuruh dua anak buah Yogi menggantung dokter
itu dengan tali, diikatkan di ventilasi di atas pintu
toilet yang berada di dalam kamar. Salah satu anak
buah Yogi mengambil lipstik yang biasa Dokter Nina
gunakan, menulis di dinding yang berdekatan dengan
pintu toilet.

Saat Elang sedang asyik mengobrol di warung,
Tesha mengirim pesan yang membuat kebahagiaannya
lengkap: Permohonan cutiku disetujui. Dua minggu!
Horeee. Besok Elang akan kembali ke Pontianak, lalu
ke Singkawang. Ia akan bertemu Agung, membawa
Tesha turut serta. Ah, betapa sempurna kebahagia­
annya.

Tapi, ia juga sedih, harus berpisah dengan sahabat­
sahabat barunya. Alex akan kembali bekerja, Ronny
akan kembali ke Solo, kota asalnya. Pak Siswoyo dan

225

http://facebook.com/indonesiapustaka Robert akan kembali sibuk, menangkap penjahat­
penjahat lainnya.

Elang memandangi mereka satu per satu, memper­
hatikan wajah mereka baik­baik. ”Suatu saat aku akan
membuat lukisan yang terdiri atas wajah­wajah kita,”
kata Elang.

Semua yang berkumpul mengangguk­angguk. Pak
Siswoyo mengucapkan terima kasih dengan suara
lirih, hampir tak terdengar. Mereka pun berfoto
bersama, mengobrolkan hal­hal lainnya sampai larut
malam.

Selasa, 2 Desember 2014, Elang kembali ke Pontianak.
Tesha berseri­seri, tak bisa menyembunyikan kebaha­
giaannya. Di dalam pesawat, Tesha menunjukkan foto
di ponselnya: foto Pak Siswoyo, istri, dan kedua anak­
nya. Polisi yang sedang dikelilingi tiga orang kesayang­
annya itu tersenyum lepas, anaknya yang masih kecil
duduk tersenyum dalam pangkuannya.

”Kau sering melihat pemandangan seperti ini,
Tesha?”

”Sering sih. Tapi, setelah semua yang kita alami,
foto ini terasa lain, Mas,” katanya sambil masih
memandangi foto itu.

Sepulang dari Hotel Ibis, Tesha bercerita ia ingin
bekerja di Pontianak. Ia juga mengaku memiliki
seorang kawan yang bekerja di Rumah Sakit Santo
Antonius di Pontianak. Elang tahu ia sudah menda­

226

http://facebook.com/indonesiapustaka patkan semua cinta dalam hati Tesha ketika gadis itu
berkata, ”Pontianak­Jakarta dekat kok, Mas. Kalau
mau pulang ke Garut, ke rumah orangtuaku, juga
nggak terlalu jauh.”

Elang khawatir, kehidupannya di masa lalu—bahkan
masa kini—tidak cukup layak untuk bersanding
dengan kehidupan Tesha. lukisan­lukisan telanjangnya,
wanita­wanita yang ia gauli: Irin, bahkan nyaris Dok­
ter Bunga—betapa ia terlalu kotor untuk menjalani
kehidupan bersama Tesha. Umurnya juga berbeda
agak jauh dengan Tesha, empat belas tahun lebih.

Tesha tak menjanjikan apa pun, atau mengucapkan
kata­kata romantis yang menawan. Tapi, raut wajah
dan gerak­geriknya semuanya mengatakan satu hal
kepada Elang: Jangan tinggalkan aku.

Pesawat tiba di Pontianak. Elang membawa Tesha ke
rumahnya. Seperti yang Elang duga, Tesha pun ter­
pana dengan lukisan­lukisannya, terutama lukisan
telanjang. Ia bertanya, apakah Elang suatu saat akan
melukisnya seperti itu juga. Elang tahu jawaban yang
diharapkan Tesha, dan itulah jawabannya. ”Tidak.
Tidak akan pernah,” katanya sambil menggeleng.

Elang mengajaknya melihat Sungai Kapuas di alun­
alun Kota Pontianak, Rumah Radakng yang hampir
selesai pengerjaannya di Kota Baru, juga mengunjungi
temannya di Rumah Sakit Santo Antonius. Elang
juga mengajak Tesha mencicipi berbagai kuliner di

227

http://facebook.com/indonesiapustaka Pontianak: bubur pedas, bakmi, dan lempok durian.
Tesha yang hobi makan durian begitu bersemangat
saat Elang memberitahu bahwa di Pontianak sedang
musim durian; mereka makan durian sampai teler.
Elang juga membawa Tesha ke warung kopi yang paling
sering dikunjunginya, tempat ia membaca berita
kematian Gunawan, memperkenalkan Tesha kepada
Hanif, pelayan di warung kopi langganannya.

Kamis, 4 Desember 2014, Elang mengajak Tesha ke
Singkawang. Mereka pun bertemu Agung. Agung
mengatakan bahwa mereka kelihatannya cocok.
Agung mengajak Elang bertemu Pak Effendi yang
sudah menunggunya. ”Kau semestinya menjadi polisi,
Elang, bukan pelukis,” katanya sambil memeluk erat
pundak Elang.

Agung mengajak Elang ke ruangannya, lalu ber­
bisik. ”Semua sudah lengkap. Kasus ini sebentar lagi
berlalu. Tapi kau sadar, ada satu misteri terakhir yang
belum tersingkap?”

Elang mengangguk. Ia tahu jawabannya. ”Soal laci
meja yang dipendam itu, kan?”

Agung menyalakan rokok, tak menanggapi. Itulah
jawaban yang ia harapkan dari Elang. ”Kita tidak
pernah tahu, mengapa dia sampai sekarang menyimpan
buku TTS dan nota itu.”

***

228

http://facebook.com/indonesiapustaka Elang menikmati hari­hari di Singkawang bersama
Tesha. Mereka berjalan­jalan ke Pantai Pasir Panjang,
menyeberang ke Pulau lemukutan dari Pantai Samu­
dera Indah. Hari­hari Elang jadi lain setelah Tesha
hadir dalam hidupnya. Ia merasakan gairah dan
semangat hidup. Tesha tak pernah mendesaknya un­
tuk memperistrinya—mereka bahkan tak pernah
membicarakan tentang pernikahan.

Tesha bahkan jarang membicarakan topik serius
berlama­lama dengan Elang. Ia lebih suka tertawa,
bertingkah manja, memasak, dan mengajak Elang
bepergian. Ia jarang bicara mesra, tapi Elang mera­
sakan kasih sayangnya yang besar setiap kali mereka
hendak tidur. Tesha sering memeluk Elang yang suka
tidur telentang, memainkan jemarinya di wajah
Elang.

Setelah menimbang­nimbang, bertanya dengan Pak
Effendi dan Agung, ia pun akhirnya membiarkan
Tesha membuat surat lamaran ke Rumah Sakit Santo
Antonius. Elang masih sulit membayangkan kemung­
kinan itu: menikah dengan Tesha. Ia sudah terlalu
lama sendiri.

Sehari sebelum Tesha kembali, ia bahkan berkata:
”Kalaupun aku tidak diterima, aku akan menjadi
perawat pribadimu.”

Bagaimana mungkin, Elang tidak menyayangi
Tesha?

***

229

http://facebook.com/indonesiapustaka Hari demi hari berlalu. Elang kembali ke Singkawang
setelah melepas kepergian Tesha dari Bandara Supa­
dio, Pontianak. Ia menghubungi Irin, menyatakan
bahwa hubungan mereka harus berakhir. Irin merasa
sedih dengan keputusan itu, tapi Elang meyakinkannya
bahwa itulah jalan terbaik yang harus mereka tempuh.
Begini katanya, ”Aku akan menikahi seseorang.”

Saat berbicara dengan Irin, bayang­bayang Gunawan
kadang menghantuinya. Hubungan antara Gunawan
dan Dokter Nina sungguh mirip dengan Elang dan
Irin. Bahkan, tempat­tempat di sekitar rumah sakit
itu—ia juga tinggal di situ—kadang­kadang membuat
Elang membayangkan Gunawan ketika ia sendiri di
rumah.

Elang mampir ke rumah Agung dan Pak Effendi,
berkenalan dengan keluarga mereka. Setelah dari
rumah Pak Effendi, Elang mengajak Agung mengobrol
tentang Tesha di warung kopi di Pasar Hongkong.

”Aku sudah pernah beristri, berpacaran, juga
berkencan. Aku juga sudah pernah sendiri, berkelana
ke berbagai kota di Jawa—benar­benar sendiri, hanya
berteman alam dan kehidupan yang terpampang di
depan mataku. Dan kalau kau ingin tahu, apa yang
membuatku memilih bertahan tetap sendiri saat ini
adalah peristiwa yang kualami, justru tak lama setelah
aku melamar mantan istriku, Elang,” kata Agung.

”Peristiwa apa itu?”
”Setelah kulingkarkan cincin di jari manis kekasih­

230

http://facebook.com/indonesiapustaka ku, lalu mengecup keningnya, aku pulang. Tapi, aku
tidak langsung pulang. Aku ke warung kopi.”

”Apa yang kaulihat di warung kopi?”
”Di depan warung kopi ada rumah kecil, mirip
gubuk. Penghuninya seorang pria tua yang hidup
sendiri. Kata orang, keluarganya tinggal jauh­jauh.
Dia terkenal ramah, tersenyum kepadaku saat itu,
berada di muka pintu.” Agung berhenti bicara,
mengisap rokoknya dalam­dalam. ”Saat aku duduk di
warung kopi, memandangnya, dia menutup pintu
rumahnya perlahan­lahan sekali, lalu cahaya lampu
di rumahnya mati. Seakan­akan dia berpamitan.
”Dari terang menuju gelap, dia melaluinya sendiri.
Kita akan melalui kegelapan yang menanti kita
masing­masing—satu per satu. Kegelapan, kesunyian,
keheningan—misteri. Misteri kehidupan, itu yang
terus­menerus kupikirkan saat itu, ketika aku yakin
bahwa aku dan kekasihku mesti mengarungi hidup
bersama.”
Elang termenung memandang langit—sendiri atau
berdua, apakah ada bedanya? Purnama tertutup awan
sebagian. Asap rokok menari dan meliuk­liuk di atas
kepala­kepala manusia di warung kopi, embusan
angin menjadi musik yang indah baginya, lalu sirna
dalam kegelapan. Tanpa bekas.

231

http://facebook.com/indonesiapustaka 21

NATAl akan tiba dua hari lagi, Elang menyempatkan

diri mampir ke kantor polisi. Ia akan berpamitan,
pulang ke Pontianak, tidak jadi merayakan Tahun
Baru di Singkawang. Agung mengajaknya mengobrol
di kantor. Saat Elang sedang mengobrol dengan
Agung, seorang pria mendatangi mereka. ”Masih
ingat dengan saya?”

Agung dan Elang berpandangan. ”Anda... siapa,
ya?”

”Saya orang yang berpura­pura jadi wartawan, yang
hendak mengambil benda di dalam laci yang kalian
temukan di rumah kos itu.”

”Oh...,” kata Agung sambil berdiri. ”Jadi... Anda
siapa? Suruhan Yogi? Hendak menyerahkan diri?”

”Bukan, bukan! Saya justru teman baik Gunawan.
Saya Rinto.”

232

http://facebook.com/indonesiapustaka Elang terkejut, memandang Agung. Oh, Gunawan—
nama itu kembali disebut.

Rinto pun bercerita bahwa dia teman satu kos
Gunawan di rumah kos sebelumnya. Beberapa kali
Gunawan bercerita kepadanya tentang masalah yang
ia hadapi. Ia tidak bisa memberikan bantuan apa­apa.
Di kamarnyalah Gunawan menitipkan semua barang­
nya yang jumlahnya tidak banyak. Sehari sebelum
Gunawan bunuh diri, ia mendatangi Rinto, lalu
berpesan: ”Kalau ada sesuatu terjadi padaku, kau bisa
memperoleh informasi tentang aku dari dua alamat
yang di nota pengiriman yang dikeluarkan Kantor
Pos. Dua nota itu kusimpan di laci meja, kuselipkan
di buku TTS, dan laci itu kupendam di samping
rumah kos.” Rinto beberapa kali mencari laci meja
itu, hampir tiap malam, tapi tidak ketemu. lagi pula,
hujan sering turun pada malam hari—pencariannya
tidak optimal.

”Jadi, kenapa Anda tidak memberikan informasi
kepada kami dari dulu?” tanya Agung.

”Iya, Anda terlalu berbelit­belit,” imbuh Elang.
”Seharusnya Anda membantu kami sejak peristiwa
bunuh diri itu diberitakan di koran.”

”Saya panik. Saya takut malah disalahkan kalau
ikut campur. Saya baca berita, hampir tidak ada data
atau identitas tentang Gunawan atau Gagak Hitam
setelah dia tewas. Saya khawatir, kalau saya buka mu­
lut, saya akan dilibatkan terlalu jauh. Setelah mem­

233

http://facebook.com/indonesiapustaka baca berita itu, sempat saya berpikir, biarlah kasus
itu menjadi misteri selamanya saja.

”Saya juga takut kalau rumah kos saya dan Guna­
wan diserbu orang tak dikenal karena beberapa kali
Gunawan merasa dirinya diikuti orang lain. Dan, dia
pernah bercerita, mungkin saja orang yang mengejar­
ngejarnya adalah polisi, suruhan suami Dokter Nina.
Kalau saya mengaku sahabat Gunawan, lalu menjadi
saksi, lalu media meliput saya, lalu saya dicari­cari...
bisa­bisa, habislah saya. Mata­mata ada di mana­mana.
Tapi, saya benar­benar penasaran, siapa kedua orang
yang dikirimi surat—Gunawan tidak pernah memberi
saya petunjuk itu.

”Nah, malam itu, saya terkejut ketika melintas di
depan rumah kos itu. Ramai. Saya bertanya kepada
seseorang di situ, sedang ada peristiwa apa. Orang
itu bercerita, ada dua polisi yang sedang menggali
barang bukti. Kebetulan saya habis dari acara perni­
kahan, membawa kamera untuk berfoto. Saya pun
menyamar jadi wartawan, berusaha mendekat, meng­
ambil buku TTS itu. Pemikiran saya begini: selama
ini saya sudah tahu banyak tentang Gunawan, ter­
pancing rasa penasaran, ingin mengungkapkan ke­
benaran. Bila barang bukti ini berada di tangan
polisi, bisa jadi kematiannya justru akan tetap jadi
misteri, karena seperti yang tadi saya katakan, Guna­
wan pernah berkata, mungkin saja yang mengincarnya
selama ini adalah polisi.”

Elang dan Agung mengangguk­angguk. Cerita dan

234

http://facebook.com/indonesiapustaka alasan Rinto memang masuk akal. ”Wartawan me­
mang tak jarang menyulitkan kita, walaupun saya
terlibat di sini karena jasa wartawan juga,” kata
Elang.

”Begitulah, setelah mendengar suara tembakan,
saya pun pasrah—saya kembali takut. Biarlah Bapak­
Bapak saja yang mencari tahu identitas Gunawan.
Setelah peristiwa malam itu, saya sebenarnya ingin
menemui Bapak­Bapak. Tapi, firasat saya mengatakan:
jangan dulu. Dan, keinginan itu pun batal setelah
saya membaca koran, ada peristiwa bunuh diri lainnya
yang masih berhubungan. Saya jadi makin takut,
memutuskan untuk sama sekali tidak terlibat. Tapi,
saya kira sekarang keadaan sudah aman.”

Elang teringat sesuatu. ”Pernahkah Gunawan ber­
cerita kepadamu tentang penulis atau seniman yang
depresi, yang akhirnya bunuh diri. Apakah dia me­
nyebut sebuah nama—Ernest Hemingway, misalnya?”

Mata Rinto bersinar. ”Ya, dia pernah menyebut
nama itu. Sebelumnya, nama itu asing bagi saya.”

”Apakah dia pernah bercerita, bahwa dia kehabisan
ide menulis cerita?” Kali ini Agung yang bertanya.

Rinto mengangguk mantap. ”Beberapa kali dia
berkata seperti itu.”

Elang dan Agung berpandangan, mereka teringat
pembicaraan mereka beberapa malam lalu saat Elang
berada di Hotel Ibis.

”Eh,” kata Elang yang teringat sesuatu, ”kenapa

235

http://facebook.com/indonesiapustaka kau membawa senjata malam itu? Dan menembak
kami?” tanya Elang.

Agung dan Rinto menoleh ke arah Elang hampir
bersamaan. ”Oh, aku lupa memberitahu. Waktu itu,
siapa namanya... yang mengejar Rinto?” tanya
Agung.

”Rudi,” sahut Elang.
”Nah, hanya Rudi yang kuberitahu bahwa aku yang
menembak, bukan dia. Aku lupa memberitahu kau,
lang.” Agung berhenti bicara sebentar. ”Oh ya, kau,
Rinto, waktu itu kau bawa pistol, kan?”
Rinto berdiri, memasukkan tangan ke bagian bela­
kang celananya. Agung bersiaga, segera mengeluarkan
pistolnya.
”Jangan takut, ini pistol mainan. Ini hanya korek,”
kata Rinto sambil menarik pelatuk korek api pistol
itu. ”Pistol ini selalu saya bawa ke mana­mana, saya
gunakan untuk menyalakan rokok. Dan malam itu
saya panik, mengeluarkannya ketika Rudi menangkap
saya.”
Elang tersenyum lebar. ”Kurang ajar! Dengan pistol
model revolver begini juga aku bertugas selama di
Jakarta!”
Melihat senyum Elang, Rinto pun ikut tersenyum.
”Jadi, sekarang sudah jelas semuanya?”
Agung memesan tiga gelas kopi, mengobrolkan apa
saja dengan Elang dan Rinto. Rinto menyimak cerita­
cerita mereka dengan wajah antusias. Mereka pun

236

http://facebook.com/indonesiapustaka sebentar lagi akan menyelidiki identitas Gunawan di
rumah kos Rinto.

Saat mereka asyik mengobrol sambil minum kopi,
seorang tamu lain datang. Pak Effendi. Raut wajah
Elang dan Agung seketika berubah ketika melihat
wajah Pak Effendi yang pucat.

”Ada apa, Pak?”
”Seorang ditemukan tewas pagi ini, sekitar sejam
lalu. Diduga kuat, dia pemilik sebuah warung kopi
yang berada di wilayah Pasar Baru. Mayatnya dite­
mukan terpisah di dua buah keranjang, terapung­
apung di sungai di depan Pasar Ikan Singkawang.
Kau harus segera bertindak.”
Agung menatap tembok beberapa detik, mengisap
rokok, dan mengembuskan asapnya perlahan­lahan.
Ia mengambil jaket kulit yang ia sampirkan di san­
daran kursi perlahan, mengenakannya. ”Jadi, bagai­
mana, Elang? Kau jadi kembali ke Pontianak?”
Elang tidak menjawab, masih menatap tembok. Ia
membungkuk, lalu berdiri tegak.
”Elang, kau ikut denganku?”

237

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka CATATAN PENUlIS

Bagian ini tidak ada hubungannya dengan cerita—
tidak wajib dibaca. Hanya, saya suka menuliskannya
karena beberapa pembaca suka bertanya: ”Dari mana
ide menulis suatu novel didapatkan?”

Setelah novel Melati dalam Kegelapan yang saya tulis
terbit pada bulan Oktober 2014, saya sering berpikir
tentang novel lain yang serupa. Hanya saja, unsur
horor di dalamnya tidak berasal dari atau berhubungan
dengan hantu. Saya pun teringat film Misery yang

http://facebook.com/indonesiapustaka diangkat dari novel Stephen King. Paul Sheldon,
tokoh utama dalam film itu, adalah penulis yang
malang. Ia mengalami kecelakaan, dirawat seorang
psikopat yang juga sangat menyukai karya­karyanya.

Ide tentang penulis yang malang, ketakutan, dan
frustrasi memenuhi pikiran saya saat menonton atau
teringat film itu. lalu, saya teringat pada pengalaman
saya sendiri yang pernah batal menuliskan dua
biografi karena beberapa alasan pribadi.

Awal Desember 2014 saya berkesempatan ke Ja­
karta untuk suatu keperluan keluarga. Selama di
Jakarta saya sempat mampir ke Pusat Jantung Nasio­
nal Harapan Kita, tempat bapak saya menjalani
operasi jantung bypass pada Juni 2006. Saat beliau
dioperasi saya menungguinya, menginap di sebuah
rumah penginapan di Jalan Kota Bambu Selatan
selama sebulan.

Begitulah, dari peristiwa­peristiwa di atas, ide­ide
pun bermunculan untuk menulis cerita ini. Bila su­
dah selesai membaca cerita ini, Anda pun akan tahu
peristiwa­peristiwa di atas turut membentuk cerita
ini.

Saya berterima kasih kepada saudara saya di Ma­
kassar, Markus Rolik, dan untuk tiga nama yang saya
sebutkan di halaman persembahan—merekalah orang­
orang yang sering memotivasi saya menulis cerita­
cerita baru. Juga kepada Sandika Purba, seorang polisi

yang sempat membagi beberapa informasi tentang
kepolisian saat saya menulis buku ini.

Pontianak, akhir Januari 2015
Sidik Nugroho

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka

Elang Bayu Angkasa akan beraksi lagi.

NANTIKAN MISTERI
BERIKUTNYA!

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka

TEnTAng PEnulis

Sidik Nugroho lahir pada 1979; suka minum kopi,
main gitar, menonton film, dan jalan­jalan. Ia menulis
beberapa buku fiksi dan satu buku nonfiksi. Info
tentang buku­bukunya ada di http://sidiknugroho.
com dan ia bisa dihubungi di sidiknugroho@yahoo.
com.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka BAcA jugA
novEl MisTERi DARi

siDik nugRoho

Karier Tony bagus, ia berhasil membeli
sebuah rumah. Orangtuanya ingin ia
segera menikah. Tony sudah punya calon

istri, namun tak yakin pernikahan
akan membuatnya bahagia.

Dalam kebimbangannya, Tony
malah mengalami hal-hal mengerikan.
Ia dihantui seorang gadis yang tewas
dibunuh pacarnya. Lalu, suatu ke-

tika, di kamarnya ia menemukan
kepala anjing yang dipenggal dan
dimasukkan ke kardus. Di dinding
tertoreh tulisan ”UTAngMU
ADALAH UTAng DARAH!”
dengan darah anjing itu.
Siapakah gadis yang menghantuinya? Mengapa tiba-tiba Tony diteror?
Apakah Tony memutuskan akan menikah?

pembelian online: www.gramedia.com
e­book: www.gramediana.com dan www.getscoop.com

gRAMEDiA penerbit buku utama

http://facebook.com/indonesiapustaka


Click to View FlipBook Version