FARAH AULIA NAJWA (A1M021009) [email protected] DOSEN PENGAMPU : Prof. Dr. Aceng Ruyani, M.Si Identifikasi Bunga Bangkai Raksasa (Amorphophallus Titanum) di Daerah Sumatera 45
NAMA : FARAH AULIA NAJWA NPM : A1M021009 KELAS : 5A TTL : CURUP, 15 APRIL 2003 HOBI : MEMBACA BIODATA 46
POIN PEMBAHASAN 1.GAMBAR AMORPHOPHALLUS TITANUM 2.DESKRIPSI HABITAT AMORPHOPHALLUS TITANUM 3.STATUS KONSERVASI AMORPHOPHALLUS TITANUM 4.PELUANG PERBANYAKAN AMORPHOPHALLUS TITANUM 5.PELUANG PEMANFAATAN AMORPHOPHALLUS TITANUM 6.TANTANGAN KONSERVASI AMORPHOPHALLUS TITANUM 7.KESIMPULAN 8.DAFTAR PUSTAKA 47
GAMBAR AMORPHOPHALLUS TITANIUM Amorphophallus Titanum merupakan salah satu jenis tanaman yang unik karena ukuran bunganya yang besar (diameter 1,5 m, tinggi 3,2 m) dan bau bunga seperti bangkai. (Witjaksono et al., 2012). Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Liliopsida Ordo: Alismatales Famili: Araceae Genus: Amorphophallus Spesies: A. titanum 48
DESKRIPSI HABITAT AMORPHOPHALLUS TITANUM Habitat amorphophallus titanum umumnya berada di Hutan hujan Sumatra (Bengkulu, Lampung) Tumbuh di bawah kanopi (undergrowth). Iklim tropis dan subtropis. Ketinggian 0–1.200 mdpl. Tanah berkapur. Di hutan sekunder, ladang-ladang penduduk, pinggir sungai atau di tepi hutan. A. titanum dapat tumbuh pada habitat yang cukup ekstrim antara lain pada batu gamping (limestone), tanah yang telahtererosi berat, ataupun pada ladangladang penduduk. Tumbuhan ini sering ditemukanpada tempat-tempat yang agak terbuka pada hutan sekunder, pada daerah yang ratamaupun pada perbukitan yang curam. Jenis ini ditemukan tumbuh di habitatnya pada ketinggian 0– 1.200 m dpl. (Hetterscheid & Ittenbach, 1996). 49
LOKASI DITEMUKAN AMORPHOPHALLLU S DI DAERAH SUMATERA 50
Amorphophalus titanum merupakan salah satu tumbuhan langka yang ada di Indonesia. Amorphophallus titanum di kategorikan ke dalam status kelangkaan ‘vulnerable’ oleh IUCN dan WCMC, dan di tahun 2002 dikeluarkan dari IUCN dan WCMC. Hal ini dikarenakan belum ada data komprehensif yang menjelaskan tentang populasi dan keberadaannya di alam sampai sekarang. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999, tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, telah memasukkan Amorphophallus titanum ke dalam jenis tumbuhan yang dilindungi, terdapat dalam lampiran jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi (Tumbuhan – I. Palmae – No. 238. Amorphophallus titanum) (Fitri, 2019). STATUS KONSERVASI AMORPHOPHALLUS TITANUM 51
Terdapat peluang perbanyakan amorphophallus titanum agar terhindar dari kepunahan. Pembiakan tanaman ini secara kultur jaringan telah berhasil dilakukan pada tahun 1988 oleh ohlenbach (1988). Koleksi tanaman A. titanum di Kebun Raya Bonn juga berasal dari penelitian ini (Lobin et al. 2007). Irawati (2011) berhasil mendapatkan planlet dari eksplan tunas samping asal umbi A. titanum yang diambil dari tanaman yang dikoleksi dari lapang di Sumatra Barat. Jenis tanaman genus Amorphallus lain yang telah diteliti teknik regenerasinya meliputi A. campanulatus (Irawati et al. 1986 ) A. muelerii (Imelda et al. 2007;2008 ), A. rivieri (Hu et al. 2005), A. konjac (Ban et al. 2009). Teknik perbanyakan Amorphophallus titanum dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan yang melibatkan pembentukan mata tunas secara adventif di medium padat dan perbesaran tunas di medium cair. PELUANG PERBANYAKAN AMORPHOPHALLUS TITANUM 52
PELUANG PEMANFAATAN AMORPHOPHALLUS TITANUM AMORPHOPHALLUS TITANUM Amorphophallus Titanum memiliki bentuk yang unik dan menarik TANAMAN HIAS BAHAN PANGAN Umbi amorphophallus titanum dapat digunakan sebagai bahan pangan karena adanya kandungan glukomanan yang mencapai 20% 53
TANTANGAN KONSERVASI AMORPHOPHALLUS TITANUM Tantangan konservasi Amorphophallus yaitu menghindari ancaman yang mungkin terjadi sebagai berikut : 54
KESIMPULAN Amorphophallus Titanum merupakan salah satu jenis tanaman yang unik karena ukuran bunganya yang besar (diameter 1,5 m, tinggi 3,2 m) dan bau bunga seperti bangkai. Amorphophallus mengalami fase vegetatif dan generatif. A. titanum dapat tumbuh pada habitat yang cukup ekstrim antara lain pada batu gamping, tanah yang telah tererosi berat, ataupun pada ladang-ladang penduduk, hutan sekunder, daerah yang rata maupun pada perbukitan yang curam. Di daerah sumatera, amorphophallus dapat ditemui di aceh, sumatera utara, sumatera barat, sumatera selatan, bengkulu, riau, lampung, dan jambi. Jenis ini ditemukan tumbuh di habitatnya pada ketinggian 0– 1.200 m dpl. Amorphophalus titanum merupakan salah satu tumbuhan langka yang ada di Indonesia. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan kultur jaringan. Amorphophalus titanum dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias ataupun pangan. Amorphophalus titanum memiliki tantangan konservasi yaitu menghindari ancaman seperti perubahan lahan, kebakaran hutan dan pemburuan. 55
Fitri, W.M. (2019) ‘Amorphophalus titanum Bunga Endemik Sumatra’ , Jurnal Universitas Sebelas Maret, 1(1), pp. 24–31. Patty, J, T., Arianto, W. and Hery, S. (2022) ‘KAJIAN POPULASI BUNGA BANGKAI ( AMORPOPHALLUS TITANUM [ Becc .] Becc . Ex ARCANG .) DI KHDTK ( KAWASAN HUTAN DENGAN’ , 2(3), pp. 78–89. Witjaksono et al. (2012) ‘Perbanyakan Amorphophallus titanumBecc (Araceae) dengan Teknologi In Vitro’ , Jurnal Biologi Indonesia, 8(2), pp. 343–354. Available at: http://ejournal.biologi.lipi.go.id/index.php/jurnal_biologi_indonesia/articl e/view/3056. DAFTAR PUSTAKA 56
MILZEN ADRIATASPEN (A1M021011) Dosen pengampuh : Dr. Bhakti Karyadi, M.Pd / Prof.Dr. Aceng Ruyani,M.Si MENGENAL STATUS KELANGKAHAN HEWAN TAPIR SUMATRA NAMA ILMIAH :Tapirus indicus NAMA LOKAL : TAPIR,TENUK DAN BADAK BABI 57
HABITAT HEWAN TAPIR (TAPIRUS) Tapir biasanya hidup di habitat hutan hujan tropis, rawa-rawa, dan daerah bersemak. Mereka dapat ditemukan di Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara. Habitat tapir mencakup wilayah yang memiliki akses ke udara untuk mandi dan berenang, serta vegetasi yang cukup untuk makanan mereka. Keberagaman lingkungan ini memungkinkan tapir menjalani kehidupan yang beragam, mulai dari hutan pegunungan hingga dataran rendah yang lembab.di Indonesia, tapir hanya bisa ditemui di pulau Sumatra, yakni bagian selatan Danau Toba di Sumatra Utara hingga Provinsi Lampung. Gambar 1.1 58
Tapir, tenuk, atau badak babi adalah kelompok hewan herbivor dari genus Tapirus. Kelompok hewan ini umumnya hidup memakan dedaunan muda di sepanjang hutan atau pinggiran sungai. KLASIFIKASI TAPIRUS INDICUS Kerajaan: Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Perissodactyla Famili : Tapiridae Genus : Tapirus Spesies : T. indicus 59
Tapir sendiri terdiri dari empat jenis ,Tiga jenis tapir dari amerika Selatan yaitu Tapirus bairdii, Tapirus pinchaque, dan Tapirus terrestris hanya bisa dijumpai di Amerika Selatan, sedangkan satu jenis tapir yang kerap kita temui di Indonesia adalah Tapirus indicus. (Tapirus indicus). merupakan hewan yang aktif pada malam hari atau biasa disebut sebagai hewan nokturnal, hewan yang memiliki ciri khas dengan bentuk moncongnya yang Panjang dan fleksibel mirip belalai gajah, belalai tersebut merupakan gabungan dari mulut dan hidung Tapir yang digunakan untuk mengambil dedaunan muda serta buah-buahan pada tumbuhan yang menjadi pakan tapir (Anonim, 2013). 60
Status konservasi internasional : Pada tahun 2022, Tapir Sumatera (Tapirus indicus) terdaftar sebagai spesies rentan dalam daftar Merahnya IUCN. Kondisi ini mencerminkan tingkat pengungkapan terhadap populasi tapir Sumatera yang terus berkurang akibat hilangnya habitat dan tekanan berlanjutnya perburuan ilegal. Untuk pembaruan terkini terkini, disarankan untuk merujuk ke sumber konservasi terkait atau situs web IUCN. Status konservasi nasional : tapir telah dilindungi pada masa pemerintahan kolonial Belanda dengan adanya Peraturan Perlindungan Binatang Liar Nomor 266. Tapir juga terdaftar dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Pada 2009, tapir juga masuk prioritas konservasi di Indonesia. Status konservasi tapirus 61
Tapir usia 5 bulan 62
Peluang perbanyakan tapirus Sumatra kawasan konservasi yang dikenal sebagai habitat tapir Sumatra adalah Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatra, Indonesia. Taman Nasional Gunung Leuser adalah salah satu kawasan konservasi yang sangat penting di dunia dan merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO. Kawasan ini meliputi sejumlah ekosistem, termasuk hutan hujan tropis yang menjadi habitat bagi berbagai spesies, termasuk tapir Sumatra dan elain itu, terdapat kawasan konservasi lain di Sumatera yang juga berperan dalam pelestarian tapir Sumatera, meskipun mungkin tidak secara eksklusif untuk spesies ini. Misalnya, Taman Nasional Way Kambas di Lampung 63
Manfaat hewan tapirus penyimbang Ekosistem Sebagai Penyebar Benih: Tapir Sumatra berperan sebagai agen penting dalam penyebaran benih di hutan. Mereka mengonsumsi buah-buahan, dan biji yang tidak dicerna di dalam tubuh tapir dapat disebarkan di lingkungan melalui kotoran mereka. Proses ini membantu dalam regenerasi alam hutan dan mempertahankan keanekaragaman hayati dan juga bermanfaat untuk Penelitian Ilmiah: Tapir Sumatra adalah subjek penelitian ilmiah untuk memahami perilaku, ekologi, dan kesehatan mereka 64
Tantangan konservasi Ancaman utama dalam konservasi tapir adalah hilang dan terfragmentasinya habitat yang tersisa, serta adanya tekanan akibat perburuan. Status dalam daftar merah IUCN juga berarti spesies ini berpeluang punah > 20 persen dalam kurun waktu 20 tahun. Hal itu dapat terjadi jika tidak ada upaya konservasi yang dilakukan. 65
66
Kesimpulan 1.) Tapir kelompok hewan herbivor dari genus Tapirus. Kelompok hewan ini umumnya hidup memakan dedaunan muda di sepanjang hutan atau pinggiran sungai. 2.) tapirus terdiri dari empat jenis yaitu Tapirus bairdii, Tapirus pinchaque, dan Tapirus terrestris dari amerika Selatan dan dari Indonesia tapiurus indicus 3.) Makanan tapiurus sendiri daun muda tumbuhan dan buah-buhan 67
Daftar pustaka nonim. (2013). Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia. https://123dok.com/document/z12npwpy-permenhut-ttg-strategi-dan-rencana aksikonservasi-tapir.html Downer, C. C. (2001). Observations on the diet and habitat of the mountain tapir (Tapirus pinchaque). Journal of Zoology, 254(3), 279–291. https://doi.org/10.1017/S0952836901000796 Meijaard, E., & Strien, N. van. (2006). The Asian tapir (Tapirus indicus). Briefing Book, Malay Tapir Conservation Workshop, 183–216 https://betahita.id/news/detail/6190/data-ilmiah-tapir-di-indonesia-minimkonservasinya-bagaimana-.html?v=1621268313 68
Bunga Abadi Edelweis (Anaphalis javanica) Fristin Harianja_A1M021013 69
Gambar Spesies 70
Habitat Edelweis Jawa Anaphalis javanica atau Edelweis Jawa, adalah tumbuhan asli daerah Alpina atau Montana di berbagai pegunungan tinggi di Nusantara. Menurut Aliadi (1990), bagian tengah bunga Edelweis Jawa memiliki bunga berwarna oranye dan kepala bunga yang menyerupai aster. Bunga ini dapat bertahan lebih dari seratus tahun, yang menjadikannya bunga abadi. Anaphalis javanica adalah jenis tumbuhan berbunga dari Familia Asteraceae yang tumbuh di daerah puncak gunung. Beberapa gunung di pulau jawa seperti Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, dan Gunung Semeru. 71
Status Konservasi Edelweis Jawa Bunga Edelweis Jawa (Anaphalis javanica) termasuk tanaman yang langka dan terancam kepunahan karena perburuan liar dan perusakan habitat. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia dan beberapa LSM telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi tanaman ini dan mempromosikan program konservasi. Melansir situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Edelweis terbilang "tumbuhan langka" karena berbagai sebab. Pertama, habitat atau tempat hidupnya sangat terbatas (endemik). 72
Peluang Perbanyakan Sadar bahwa bunga edelweis ini rawan terhadap kepunahan, maka Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pun menjadi salah satu pihak yang mulai melakukan budidaya bunga edelweis. Wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo dapat mampir dan menikmati keindahan hamparan bunga edelweis yang berada di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Wisatawan yang berkunjung juga bisa melihat langsung proses budidaya bunga edelweis mulai dari persemaian benih, pembibitan, hingga penanaman dan perawatan. 73
Pemanfaatan Edelweis Jawa Bunga Edelweis Jawa memiliki manfaat medis. Tanaman ini telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, seperti sakit kepala, sakit perut, dan radang tenggorokan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa bunga Edelweis Jawa memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Mencegah kerusakan sel kulit, penggunaan ekstrak bunga edelweiss dapat membantu mencegah munculnya tanda penuaan dini. Hal itu karena, ekstrak bunga edelweiss mengandung leontopodic acid, komponen kimia yang memiliki sifat antioksidan tinggi. 74
Tantangan Konservasi Cara budidaya bunga Edelweis Jawa tidak terlalu sulit. Syarat budidaya bunga edelweis hanya satu, yakni harus berada di ketinggian paling tidak 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Budidaya bunga edelweis membutuhkan biji dari bunga yang sudah tua. Dalam budidaya bunga Edelweis Jawa ada beberapa faktor yang harus diperhatikan meliputi: 1. Lingkungan tumbuh 2. Media tumbuh 3. Irigasi 4. Pencahayaan 5. Pemeliharaan kelembapan 6. Perawatan rutin 7. Pemupukan 8. Perlindungan terhadap hama dan penyakit 75
Daftar Pustaka Afiari, F. (2023). Distribusi dan Kerapatan Edelweis Jawa (Anaphalis javanica) di Kawasan Wisata Alam Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya Sebagai Bahan Ajar Biologi (Doctoral dissertation, Universitas Siliwangi). Hidayat, P. A., Pratiknyo, H., & Basuki, E. (2016). Keragaman serangga polinator pada tumbuhan edelweiss Jawa (Anaphalis javanica) di Gunung Slamet Jawa Tengah. Rahmawati, D. E., & Trimulyono, G. (2022). Validitas instrumen penilaian Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada materi keanekaragaman hayati. Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi (BioEdu), 11(1), 138-147. 76
Duyung (Dugong dugon) Mamalia Laut yang Dilindungi oleh Pemerintah Indonesia Prof.Dr. Aceng Ruyani,M.Si 77
Nama : Intan Purnama NPM : A1M021015 Kelas : 5A TTL : Riak Siabun,10 Februari 2003 Asal : Bengkulu Hobi : Memasak 78
Nama ilmiah : Dugong dugon Nama lokal : Duyung 79
Deskripsi Duyung atau Dugong Duyung (Dugong dugon) atau biasa dikenal dengan nama Duyung (Dugong dugon) merupakan satu dari 35 jenis mamalia laut yang dijumpai tersebar di perairan Indonesia khususnya di habitat padang lamun. Dugong ialah jenis mamalia laut yang hidup diperairan dangkal. Dugong tergolong kedalam ordo Sirenia dengan ciri sebagai mamalia herbivora dan mampu beradaptasi dengan baik dilingkungan lautnya (Safitri et al., 2021). Dugong (Dugong dugon) termasuk dalam kelas mamalia laut yang bercirikan hewan yang menyusui anaknya tergolong sebagai Ordo Sirenia, yang mana dicirikan bersifat herbivora. Dugong dewasa jarang melebihi panjang 3 meter dan beratnya mencapai sekitar 420 kg (Mubarok et al., 2022). Sumber Gogel.com 80
DESKRIPSI HABITAT DUGONG Habitat dugong adalah daerah pesisir di perairan dangkal sampai sedang sekitar 20 meter di bawah permukaan laut. Hewan ini sering bermigrasi ketika terjadi perubahan curah hujan. Sebagian besar aktivitas seharihari dugong adalah mencari makan diperairan dangkal. Selain memiliki kehidupan sosial, dugong juga memiliki kebiasaan muncul ke permukaan air (surfacing), menggelinding (rolling), dan istirahat (resting). Kondisi ekosistem yang paling cocok untuk dugong ini adalah ekosistem lamun di iklim tropis dan subtropic Kawasan Indo-Pasifik (Mubarok et al., 2022). Sumber Gogel.com Sumber Gogel.com 81
STATUS KONSERVASI DUGONG Dugong (Dugong dugon) merupakan biota yang dilindungi secara nasional berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Hewan yang Telah diperbaharui oleh Permen LHK No.P 20 Tahun 2018 tentang Tumbuhan dan Satwa Liar jo Permen KLHK No.P92 Tahun 2018 (Farhaby & Supratman,2021). dugong terlampir dalam daftar jenis satwa yang dilindungi undang-undang dan Lembaga konservasi dunia (IUCN) bahwa dugong termasuk dalam daftar hewan yang berstatus rentan punah (vulnerable) dalam skala global.dugong ini dilaporkan dapat dijumpai di wilayah peraiaran Indonesia, walaupun denganfrekuensi yang relatif rendah. Rendahnya perjumpaan dengan dugong di wilayah perairan mengakibatkan statusnya tercatat dalam red list IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Langkanya dugong dapat disebabkan oleh beberapa faktor,diantaranya resproduksi, perburuan oleh manusia, dan kondisi habitat yang terancam rusak (Octavina et al., 2020). 82
PELUANG PERBANYAKAN DUGONG duyung betina akan melahirkan anak pada setiap interval 3-5 tahun. Duyung betina bersifat poliandri, dimana satu betina akan melakukan perkawinan dengan beberapa ekor jantan. Janin yang terbentuk akan dikandung selama 13-15 bulan. Duyung hanya melahirkan seekor anak saja. Masa menyusui dijalani selama 14-18 bulan dengan masa pengasuhan berkisar antara 3-7 tahun. Betina mencapai dewasa pada umur 17 tahun,sedangkan jantan mencapai dewasa setahun lebih cepat (Marsh et al.,2002). Tingkat kelahiran duyung tergolong sangat rendah yaitu hanya 5 % per tahun . Pada kondisi yang sangat ideal sekalipun, di mana seluruh faktor yang merugikan seperti bencana alam dan gangguan manusia diabaikan, maka laju kelahiran duyung tetap tidak akan melebihi 5 % dari jumlah total populasi per tahun. Rata-rata laju kematian duyung secara alami juga mencapai 5 % per tahun. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa laju kelahiran dan kematian duyung pertahun secara alami adalah seimbang. 83
Jika faktor penyebab kematian duyung oleh manusia juga diperhitungkan maka laju penambahan populasi duyung akan menjadi negatif dan berangsur-angsur akan punah. Upaya untuk meningkatkan laju reproduksi duyung sangatlah sulit, mengingat belum pernah seekor duyung pun yang dipelihara di penangkaran mampu bereproduksi (Priosambodo et al., 2017).Peluang perbanyakan dugong sangat rendah atau kecil karena kemampuan reproduksinya yang sangat lambat atau rendah serta Upaya meningkatkan laju resproduksi dugong yang sangat sulit. Sumber Gogel.com 84
PELUANG PEMANFAATAN DUGONG Sebagai sumber pangan dan obat,Menurut nelayan setempat, daging duyung rasanya seperti daging Sapi, Duyung umumnya diburu dan ditangkap oleh penduduk setempat untuk diambil daging dan minyaknya (lemaknya) sebagai bahan baku pembuatan obat-obatan tradisional, jimat dan berbagai produk lainnya (Priosambodo et al., 2017). Dugong atau duyung bisa dimanfaatkan untuk melindungi kebun dari kerusakan yang disebabkan oleh babi. Tulang duyung yang ditanam di sisi kebun menyebabkan babi tidak mau masuk ke dalam kebun. berdasarkan cerita dari nenek moyang terdahulu cerita turun temurun.Masyarakat Kurau Timur hanya memanfaatkan dagingnya sebagai sumber lauk yang lezat. Masyrakat daerah Kurau Timur Kabupaten Bangka Tengah, umumnya tidak mengetahui berbagai manfaat dan khasiat dari mengkonsumsi bagian tubuh duyung. Minyak ikan duyung memiliki berbagai khasiat, (Amelia, Nisa, 2017) menjelaskan ada 7 khasiat dari minyak air mata duyung yakni :Sarana mencari jodoh, mempermudah menemukan pasangan;Mencegah ilmu hitam, yang bisa melindungi tubuh dari serangan ilmu jahat seperti: teluh, santet dan sejenisnya (Wiseli, 2017). 85
TANTANGAN KONSERVASI 1.Degradasi dan hilangnya habitat Ekosistem lamun sangat sensitif terhadap dampak antropogenik. Aktifitas perikanan seperti:penangkapan ikan dengan menggunakan pukat (trawl), pengambilan pasir laut (Pulau Bone Batang),reklamasi pantai losari serta (20% dari luas total habitat lamun di daerah tersebut). (Hal ini menyebabkan timbulnya kelaparan pada Sebagian besar duyung sehingga untuk bertahan hidup duyung memakan makroalgae seperti Sargassum sp dan memakan invertebrata kecil sepertipolychaeta, teripang dan makhluk kecil lainnya 2. Aktifitas perikanan yang intensif dapat mengancam kelestarian duyung. Pemasangan jaring insang dan perangkap untuk menjebak ikan di perairan dangkal menyebabkan terjeratnya duyung secara tidak sengaja, sehingga menimbulkan kematian pada duyungkarena tidak dapat mengambil napas di permukaan air 3. Polusi Kimia dan Sampah Polusi bahan kimia menyebabkan abnormalitas pada sistem reproduksi dan sistem kekebalan duyung sehingga Merupakan ancaman bagi kelestarian duyung. Sampah terutama sampah plastik juga terbukti berbahaya bagi pencernaan duyung dan dapat menimbulkan kematia 86
KESIMPULAN Dugong ialah jenis mamalia laut yang hidup diperairan dangkal. Dugong tergolong kedalam ordo Sirenia dengan ciri sebagai mamalia herbivora dan mampu beradaptasi dengan baik dilingkungan lautnya. Habitat dugong adalah daerah pesisir di perairan dangkal sampai sedang sekitar 20 meter di bawah permukaan laut. Kondisi ekosistem yang paling cocok untuk dugong ini adalah ekosistem lamun di iklim tropis dan subtropic.dugong merupakan biota yang dilindungi secara nasional berdasarkan peraturan pemerintahan dan Lembaga Lembaga konservasi dunia (IUCN) bahwa dugong termasuk hewan yang rentan punah dalam skala global. Peluang perbanyakan dugong sangat rendah atau kecil karena kemampuan reproduksinya yang sangat lambat atau rendah serta Upaya meningkatkan laju resproduksi dugong yang sangat sulit. Peluang pemanfaatan dugong Sebagai sumber pangan,obat-obatan tradisional, jimat dan berbagai produk lainnya.Tantangan konservasi dari kegiatan manusia seperti Aktifitas perikanan,transportasi air,polusi kimia dan sampah. 87
DAFTAR PUSTAKA Farhaby, A. M., & Supratman, O. (2021). Sebaran spasial kemunculan Dugong (Dugong dugon) di Pulau Bangka. Enggano, 6(2), 309–322. Mubarok, Z., Hidayat, R. A., & Moekti, L. (2022). Pemodelan Sebaran Habitat Dugong Dugon Kawasan Pesisir. 02(01), 39–49. Octavina, C., Fazillah, M. R., Ulfah, M., Purnawan, S., & Perdana, A. W. (2020). KERAGAMAN LAMUN SEBAGAI POTENSI PAKAN Dugong dugon DI TELUK LAMTENG, KABUPATEN ACEH BESAR. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Kelautan Tropis, 12(1), 69–79. https://doi.org/10.29244/jitkt.v12i1.26747 Priosambodo, D., Nurdin, N., Amri, K., Massa, Y., & Saleh, A. (2017). Penampakan Duyung (Dugong Sighting) Di Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Kelautan Spermonde, 3(1), 20–28. Safitri, Y., Farhaby, A. M., Supratman, O., & Adi, W. (2021). Sebaran Spasial Kemunculan ( Dugon- Dugong ) Sebagai Dasar Pengelolaan Mamalia Laut Di Kabupaten Bangka Selatan Spatial Distribution of ( Dugong dugon ) Appearance as the Basis of Marine Mammal Management in South Bangka Regency. Jurnal Sumberdaya Perairan, 15, 75–81. https://journal.ubb.ac.id/index.php/akuatik/article/download/3105/1817/ Wiseli, R. (2017). Strategi Pengelolaan Dugong (Dugong dugon) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung [Dugong (Dugong dugon) Management Strategy In The Province of Bangka Belitung Islands]. Jurnal Sumberdaya Perairan Akuatik, 11(1), 67–70. 88
Kajian ekologi dan Konservasi exsitu tanaman Palem jawa (Ceratolobus glaucescens) Dosen pengampuh: Prof.Dr. Aceng Ruyani,M.Si Dr. Bhakti Karyadi, M.Si Pendidikan IPA Universitas Bengkulu 89
Tentang penulis Nama : Nora Ayudi Asti Npm : A1M021017 Kelas : A Semester 5 TTL : Pasar Talo, 02 November 2003 Asal : Seluma Hobi : Olahraga 90
Palem jawa atau Ceratolobus glaucescens rotan endemik Jawa. Namanya memang lebih dikenal sebagai palem jawa bukannya rotan jawa, meskipun jenis tumbuhan endemik jawa ini termasuk jenis rotan. Namun penamaannya sebagai palem juga tidak salah karena rotan memang termasuk anggota famili Arecaceae (palem-paleman). Palem jawa termasuk tumbuhan langka Indonesia. Selain endemik jawa, jenis palem ini juga termasuk salah satu tanaman yang dilindungi di Indonesia berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999. LIPI juga memasukkan palem jawa dalam bukunya Seri Panduan Lapangan Tanaman Langka Indonesia diantara 200 jenis tanaman lainnya. Deskripsi 91
Persebaran,Habitatda01. n Konservasi Palem jawa merupakan tumbuhan endemik Jawa, Indonesia yang mempunyai persebaran terbatas hanya di daerah Jawa Barat saja. Habitat tumbuhnya adalah di daerah hutan basah tropis terutama di daerah pesisir. Beberapa tempat yang menjadi habitat populasi palem jawa (Ceratolobus glaucescens) antara lain Cagar Alam Sukawayana dan Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Taman Nasional Ujung Kulon (Banten), dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Tumbuhan langka endemik Jawa Barat ini walaupun tidak terdaftar dalam IUCN Redlist namun melihat dari persebarannya yang endemik lokal (hanya terdapat di Jawa Barat saja) dan tingkat kerusakan hutan yang semakin tinggi membuat populasi palem jawa terancam. Palem jawa merupakan tumbuhan endemik Jawa, Indonesia yang mempunyai persebaran terbatas hanya di daerah Jawa Barat saja. Habitat tumbuhnya adalah di daerah hutan basah tropis terutama di daerah pesisir. Beberapa tempat yang menjadi habitat populasi palem jawa (Ceratolobus glaucescens) antara lain Cagar Alam Sukawayana dan Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Taman Nasional Ujung Kulon (Banten), dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Tumbuhan langka endemik Jawa Barat ini walaupun tidak terdaftar dalam IUCN Redlist namun melihat dari persebarannya yang endemik lokal (hanya terdapat di Jawa Barat saja) dan tingkat kerusakan hutan yang semakin tinggi membuat populasi palem jawa terancam. Persebaran,Habitat dan Konservasi 92
Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Sub Kelas : Arecidae Ordo : Arecales Famili : Arecaceae (suku pinang-pinangan) Genus : Ceratolobus Spesies : Ceratolobus glaucescens 93
Palem jawa atau rotan beula adalah tumbuhan sejenis rotan yang berwarna merah dan merupakan tumbuhan endemik yang berada di pulau jawa. Palem jawa hidup merumpun, setiap rumpun terdiri dari minimal satu individu palem jawa. Individu palem jawa memiliki batang yang kecil sehingga termasuk rotan kecil (Rudi 2009). Menurut Dransfield, 1974 rotan mencapai keragaman yang tinggi di area yang selalu basah seperti di kawasan paparan sunda terutama di sepanjang pesisir kawah ratu. Pada saat ini, populasi palem jawa hanya dapat ditemukan di kawasan cagar alam sukawayana yang merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai cagar alam karena keberadaan palem jawa di kawasan tersebut. Deskripsi fisik palem jawa 94