Yayasan Tarakanita Pendidikan Agama dan Budi Pekerti Kelas IX i
PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
KELAS IX
Tim Penyusun: SMP Carolus Surabaya
1. Damianus Kusviantono, M.Pd SMP Tarakanita 5 Jakarta
2. Pardamean Sihombing, S.Ag SMP Tarakanita Citra Raya Tangerang
3. Katarina Daryati, S. Pd. SMP Tarakanita Solo Baru Jawa Tengah
4. Patricia Jetty Surya Dewi
Ilustrator & Cover : Agus Budi Santoso
Editor & Penelaah :
1. Tim penyusunan buku Yayasan Tarakanita
2. Agnes Ratih Widiawati,S.Ag. SMP Santo Yosef Lahat
3. E. Panca Setyanta S.Pd SMP Tarakanita Gading Serpong
4. Joshua Raymundus Silalahi, S.Pd SMP Sint. Carolus Bengkulu
Hak Cipta pada Yayasan Tarakanita dan dilindungi Undang-Undang.
Dilarang mengutip, memperbanyak, atau memperjual-belikan sebagian atau seluruh isi buku ini
dalam bentuk apa pun (seperti cetakan, fotocopy, microfilm, VCD, CD-ROM, Rekaman Suara,
softfile pdf) tanpa izin tertulis dari pemegang hak cipta/ penerbit.
* E-book ini untuk kalangan Internal Peserta Didik Sekolah Tarakanita Indonesia
Yayasan Tarakanita Pendidikan Agama dan Budi Pekerti Kelas IX i
KATA PENGANTAR
“Dengan kesabaran dan susah payah kami terus bekerja dengan keinginan
besar untuk maju, ya... maju...” (Elisabeth Gruyters art. 53)
Pujian dan syukur ke hadirat Tuhan sang Pecinta hati kami yang manis, yang
karena kasih dan penyertaanNya, kami senantiasa dianugerahi rahmat kesehatan,
ketekunan, dan kesiapsediaan memberikan diri dalam keseluruhan proses
pelayanan kepada peserta didik. Pun atas perkenananNya, dengan berbekal
komitmen untuk memberikan layanan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan
kondisi kontekstual, kami berproses mulai dari persiapan, penyusunan, dan
finalisasi referensi belajar yang dikemas dalam bentuk elektronik ini dengan baik.
Seluruh materi buku ini disusun berdasarkan tuntutan Kurikulum Nasional
ditujukan secara khusus bagi peserta didik sekolah-sekolah di bawah pengelolaan
Yayasan Tarakanita. Disusun berdasarkan konsep dan pengertian baku dari ilmu
pengetahuan, disesuaikan dengan kebutuhan taraf perkembangan dan tuntutan
kemahiran kompetensi sesuai jenjang, dan disertai dengan berbagai pembahasan
beserta contoh-contoh dalam kehidupan konkrit, diharapkan materi pembelajaran
ini sesuai dengan kebutuhan implementatif pengalaman sehari-hari peserta didik di
tengah-tengah masyarakat.
Sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi di era digital, di mana
dibutuhkan akses yang mudah, cepat, dan efektif dalam proses pembelajaran,
maka buku ini kami terbitkan dalam bentuk buku elektronik. Semoga keberadaan
buku elektronik ini dapat membantu peserta didik mempersiapkan pembelajaran,
memenuhi kebutuhan pengetahuan, dan menjadi referensi yang cukup bagi
persiapan dan proses penyelesaian tugas dan/atau penilaian sesuai dengan tuntutan
materi tertentu.
Buku elektronik yang telah tersedia ini tentu masih jauh dari sempurna, pun
demikian kekurangan dan kesalahan yang tentu tidak disengaja. Kami sangat
terbuka terhadap masukan, kritik dan saran dari siapapun yang berkehendak baik
membantu proses perbaikan dan peningkatan kualitas/mutu dari buku ini di masa
yang akan datang.
Jakarta, Juni 2021
Tim e-book Yayasan Tarakanita
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas IX i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah, berkat pendampingan dan penyertaanNya
kami Tim E-book Tarakanita Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
dapat menyelesaikan E-book ini
E-book Mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
khususnya Kelas IX (Sembilan) ini berbicara banyak tentang sikap orang beriman dalam
segala aspek kehidupannya seperti : Orang beriman menanggapi karya keselamatan Allah,
orang beriman yang hidup di tengah masyarakat, orang beriman yang menghargai
martabat manusia, orang beriman yang menjaga keutuhan alam ciptaan, orang beriman
yang membangun persaudaraan sejati, dan orang beriman yang menanggapi panggilan
Allah dalam membangun masa depannya. Dalam E-book Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekerti ini disajikan dengan model pembelajaran yang meransang pola pikir para
peserta didik dalam membangun pengetahuannya melalui model pembelajaran : Saintifik –
Kateketis , Inquery, berbasis project , dll yang kesemuanya itu mendorong aktivitas
peserta didik lebih aktif dalam membangun pengetahuannya.
Buku pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti yang dikemas
dalam bentuk E-book ini merupakan buku digital atau sering juga disebut buku elektronik
yang menyajikan informasi berupa teks, gambar, video, audio atau pun multimedia lain
yang bisa digunakan melalui laptop, komputer, dan smartphone.
Tim E-book Tarakanita khsususnya Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Katolik menyadari akan keterbatasan dalam penyusunan e-book ini, maka dengan segala
kerendahanhati kami terbuka terhadap kritik, masukan guna pengembangan dan
penyempurnaan E-book Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti.
Semoga E-book Tarakanita khususnya Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekerti bermanfaat bagi kita semua dan menghasilkan buah-buah iman yang menjadi
tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan. Tuhan memberkati.
Tim Penyusun
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas IX i
DAFTAR ISI i
ii
Kata Pengantar ……………………...............................………………...… 1
Daftar Isi ………………………………...........................................……… 2
Bab 1 Orang Beriman Menanggapi Karya Keselamatan Allah…........ 15
28
A. Allah adalah Sumber Keselamatan Sejati……………………......... 37
B. Beragama Sebagai Tanggapan Atas Karya Keselamatan …….....… 48
C. Beriman Sebagai Tanggapan Atas Karya Keselamatan Allah …...... 62
D. Beriman Kristiani ……………………………………………......... 74
E. Iman dan Kebersamaan Dalam Jemaat ………………………………..... 74
F. Maria Teladan Hidup Beriman Kristiani ………………………………… 86
Bab 2 Orang Beriman Hidup Ditengah Masyarakat.............……........... 94
A.Hak dan Kewajiban Sebagai Anggota Gereja ………………………...... 94
B.Hak dan Kebajiban Orang Beriman Dalam Masyarakat ………………. 101
Bab 3 Orang Beriman Menghargai Martabat Manusia ……………….. 109
A.Keluhuran Martabat Manusia ………………………………………….. 118
B.Mengembangkan Budaya Kehidupan …………………………………. 118
C.Mengembangkan Keadilan Dan Kejujuran ……………………………. 130
Bab 4 Orang Beriman Menjaga Keutuhan Ciptaan ….…………………
A.Alam Sebagai Bagian Hidup Manusia ………………………………….
B.Bersahabat Dengan Alam ……………………………………………….
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas IX ii
DAFTAR ISI 118
118
Bab 4 Orang Beriman Menjaga Keutuhan Ciptaan ….………………… 130
A.Alam Sebagai Bagian Hidup Manusia …………………………………. 141
B.Bersahabat Dengan Alam ………………………………………………. 141
152
Bab 5 Orang Beriman Membangun Persaudaraan Dengan Semua Orang 164
A.Kemajemukan Agama dan Kepercayaan Berbeda Tetapi Satu …………. 174
B.Sikap Gereja Katolik Terhadap Agama Dan Kepercayaan Lain ………... 174
C.Kebersamaan Itu Indah …………………………………………………. 189
199
Bab 6 Orang Beiman Membangun Masa Depan ………………………... 209
A. Cita-Cita Demi Menggapai Masa Depan ………………………………...
B. Sakramen Perkawinan ……………………………………………………
C. Sakramen Tahbisan ………………………………………………………
Daftar Pustaka …………………..…………………......................................
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas ii
BAB PAK-SMP KELAS 9
1 ORANG BERIMAN MENANGGAPI KARYA
KESELAMATAN ALLAH
Kasih Allah kepada manusia sungguh besar. Ia menciptakan alam semesta beserta isinya
demi kebahagiaan dan keselamatan umat manusia. Allah itu tidak tinggal tersembunyi,
tetapi berkenan menyatakan diri kepada manusia. Allah menyatakan diri kepada
manusia dalam pertemuan pribadi. Dalam pertemuan itu, Allah tidak hanya
memperkenalkan diri-Nya, tetapi juga menyingkapkan kepada manusia rencana
keselamatan-Nya. Manusia diajak bertemu dengan Allah dan hidup dalam kesatuan-
Nya. Keselamatan itu tidak lain dari kesatuan Allah dengan manusia. Manusia
menanggapi kebaikan dan kemurahan Allah yang dengan penuh cinta telah
mengundangnya untuk hidup bersama-Nya dengan iman. Iman berarti jawaban atas
panggilan Allah, penyerahan diri kepada Allah. Dalam iman, manusia menempatkan
Allah sebagai sumber keselamatan sejati dan menanggapinya dengan beragama dan
beriman. Dalam iman Kristiani, keselamatan itu terlaksana sepenuhnya dalam diri
Yesus Kristus. Dalam bab ini, kita akan mempelajari tentang Orang Beriman
Menanggapi Karya Keselamatan Allah yang terdiri atas beberapa tema sebagai berikut:
A. Allah adalah Sumber Keselamatan yang Sejati
B. Beragama sebagai Tanggapan atas Karya Keselamatan Allah
C. Beriman sebagai Tanggapan atas Karya Keselamatan Allah
D. Beriman Kristiani
E. Iman dan Kebersamaan dalam Jemaat
F. Maria Teladan Hidup Beriman
Renungan Katolik: Wordpress.com
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 1
A. ALLAH ADALAH SUMBER KESELAMATAN YANG
SEJATI
Kompetensi Dasar Indikator
3.1 Memahami karya Allah yang 3.1.1 Menceritakan pengalaman dikasihi Allah dalam
menyelamatkan dan praktik kehidupan sehari-hari.
hidup beriman kristiani dalam
Gereja Katolik. 3.1.2 Menjelaskan bahwa manusia membutuhkan Allah
dalam hidupnya.
4.1 Melakukan aktivitas
3.1.2 Merumuskan pandangan tentang sumber-sumber
(misalnya mengucapkan doa keselamatan yang ada dalam masyarakat.
3.1.4 Menjelaskan pandangan kristiani tentang Allah
sumber keselamatan sejati menurut Kisah Para Rasul
17:16-34 dan Yesaya 44: 9-21.
3.1.5 Menjelaskan bahwa Yesus adalah tanda Kasih Allah
paling agung.
4.1.1 Membuat refleksi secara tertulis tentang Allah
sebagai sumber keselamatan dalam hidupnya.
syahadat/ menuliskan
refleksi/ menyusun doa/
mengikuti kegiatan di
lingkungan) yang berkaitan
dengan praktik hidup beriman
kristiani.
Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik dapat menceritakan pengalaman dikasihi Allah dalam kehidupan sehari-hari.
2. Peserta didik dapat menjelaskan bahwa manusia membutuhkan Allah dalam hidupnya.
3. Peserta didik dapat merumuskan pandangan tentang sumber-sumber keselamatan yang ada dalam
masyarakat
4. Peserta didik dapat menjelaskan pandangan kristiani tentang Allah sumber keselamatan sejati
menurut Kisah Para Rasul 17:16-34 dan Yesaya 44: 9-21.
5. Menjelaskan bahwa Yesus adalah tanda Kasih Allah paling agung.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 2
IX
A. Pengantar
Setiap manusia selalu mendambakan keselamatan dalam hidupnya. Orang akan
berusaha memperjuangkan keselamatan itu agar dapat menjalani kehidupannya saat ini
maupun kehidupan kekal nanti dengan baik. Orang percaya bahwa apa yang dilakukan
dan diperbuat saat ini juga akan berdampak pada kehidupan setelah kematian nanti.
Bagi orang beriman, keselamatan sejati menjadi tujuan pertama dan terutama. Allah
merupakan sumber keselamatan sejati. Hal in tampak dalam Kitab Kej 1-2, dimana
Allah menciptakan alam beserta isinya demi kebahagiaan dan keselamatan manusia.
Sejak semula, Allah menghendaki agar hidup manusia selamat. Keselamatan itu
ditujukan kepada semua manusia tanpa melihat latar belakang, suku atau kelompok
tertentu karena di hadapan Allah, semua manusia adalah sama. Manusia diciptakan baik
adanya agar mampu mengolah, merawat, dan menggunakan alam beserta isinya dengan
baik sehingga keselamatan itu dapat terwujud dengan baik dan demi kesejahteraan
manusia
Kesadaran akan Allah yang berkehendak menyelamatkan manusia dan segala ciptaan-
Nya seharusnya semakin mendorong manusia untuk semakin dekat dengan Allah.
Namun dalam kenyataan hidup sehari-hari yang kita jumpai, banyak orang pada zaman
sekarang ini yang hidupnya semakin menjauh dari kehendak Allah bahkan beranggapan
hidup dapat dijalani tanpa Allah. Keyakinan seperti ini yang perlu diluruskan. Sebagai
orang beriman kristiani kita percaya bahwa Allah sumber segala keselamatan. Allah
telah mengutus putra-Nya yang tunggal, yakni Yesus Kristus ke dunia untuk
menyelamatkan dan membebaskan manusia dari dosa.
Yesus Kristus menjadi tanda kasih Allah yang teragung. Yesus menjadi puncak kasih
Allah bagi manusia. Kehadiran Yesus Kristus menjadi perwujudan kehendak Allah
yang menyelamatkan manusia. Yesus Kristus menjadi tanda kehadiran Allah sendiri
dalam usaha-Nya menyelamatkan manusia.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 3
A. Doa Pembuka
Sesawi.Net Allah sumber keselamatan sejati,
Kami bersyukur kepada-Mu atas segala anugerah yang
telah Kau berikan kepada kami. Banyak pengalaman
suka dan duka yang telah kami alami. Engkau selalu
hadir dan menopang kami disaat megalami kesulitan
dalam hidup ini.Pertolongan-Mu tepat pada saatnya.
Ajarilah kami untuk senantiasa berserah diri kepada-
Mu dan mendegarkan kehendak-Mu. Sekarang kami
akan memulai pembelajaran agama di semester 1 ini,
dampingilah dan terangilah hati serta budi kami agar
dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Semoga
melalui pembelajaran ini kami mampu memahami
kehendak-Mu dan menemukan nilai-nilai kehidupan
yang dapat membantu kami untuk mengembangkan
diri secara utuh sesuai dengan kehendak-Mu. Doa ini
kami haturkan kepada-Mu, karena Engkaulah Tuhan
dan Juru Selamat kami. Amin.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 4
IX
B. Menggali Pengalaman
RAHMAT
Seorang imam duduk di meja makan dekat jendela menyiapkan khotbah tentang
Penyelenggaraan Tuhan, ketika ia mendegar sesuatu seperti ledakan. Segera ia
melihat orang lalu-lalang berlari-lari dalam kepanikan dan menemukan, bahwa
bendungan telah meledak, sungai meluap dan rakyat sedang diungsikan.
Imam melihat air semakin tinggi di jalanan bawah. Ia merasa sedikit sulit
menakan rasa panik yang mencengkeram, tetapi ia berkata: “Di sini aku sedang
menyiapkan khotbah tentang Penyelenggaraan Tuhan, dan aku mendapat
kesempatan untuk mempraktekkan khotbahku. Aku tidak akan seperti lainnya.
Aku akan tetap tinggal di sini dan percaya akan penyelenggaraan Ilahi untuk
menolong aku.”
Ketika air sudah sampai di jendela, perahu penuh orang lewat. “Naiklah, pastor,”
teriak mereka.” Ah tidak anak,” kata pastor penuh percaya.” Aku percaya
penyelenggaraan Tuhan akan menolong aku.” Pastor memang betul naik ke atap,
tetapi ketika air sampai di sana, seperangkat orang dalam perahu lewat, mendesak
pastor agar naik, sekali lagi ia menolak. Kali ini ia naik ke puncak menara
lonceng. Ketika air sampai di lututnya, seorang petugas dalam perahu motor
dikirim untuk menolongnya. “Terima kasih, saudara, “ kata pastor dengan senyum
tenang. “Aku percaya kepada Tuhan, Ia tidak akan meninggalkan aku.”
Ketika pastor tengelam dan naik ke surga, pertama-tama yang ia lakukan ialah
mengeluh kepada Tuhan. “Aku percaya kepada-Mu. Mengapa Engkau tidak
berbuat apa-apa untuk menolong aku.” “Ah,” kata Tuhan. “Aku sudah mengirim
perahu tiga kali.”
(Disadur dari buku Doa Sang Katak, hal. 139-140)
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 5
IX
B. Menggali Pengalaman
Pertanyaan Pendalaman
1. Pesan apa yang dapat kita petik dari cerita “Rahmat?”
2. Sebagai orang beriman, apakah kita percaya akan Penyelenggaraan Ilahi dalam
kehidupan sehari-hari?
3. Ceritakanlah 1 pengalaman diselamatkan oleh Allah dalam kehidupan sehari-hari!
Peneguhan
Pengalaman Pastor dalam cerita tersebut menggambarkan bahwa kita percaya kepada Allah
saja tidak cukup. Manusia perlu mendengarkan sapaan Tuhan dan berusaha untuk dapat
mengatasi kesulitan dalam hidupnya sehingga keselamatan itu dapat terjadi. Kasih Allah
kepada manusia sangat besar. Hal ini dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, dimana
Allah selalu hadir dalam berbagai macam cara dan situasi. Allah hadir menyelamatkan
manusia bisa melalui persitiwa apa saja. Misalnya, kehadiran orang-orang di sekitar kita,
persitiwa hidup manusia, pengalaman iman, dan sebagainya.
Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik dan
menyelamatkan manusia. Kasih Allah tidak berkesudahan. Allah mengasihi kita lebih dahulu,
maka kitapun juga mampu membagikan kasih itu kepada sesama dan alam ciptaan Tuhan
lainnya.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 6
IX
C. MEMBACA KITAB SUCI
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 7
IX
C. MEMBACA KITAB SUCI
1. Kisah Para Rasul 17:16-34
Paulus di Atena
31Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan
menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan
kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari
antara orang mati.” 32Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati,
maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: “Lain kali saja kami mendengar
engkau berbicara tentang hal itu.” 33Lalu Paulus pergi meninggalkan mereka.
34Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi
percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang
perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan
mereka.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 8
IX
C. MEMBACA KITAB SUCI
2. Yesaya 44:9-20
Kebodohan pemujaan patung
44:9 Orang-orang yang membentuk patung, semuanya adalah kesia-siaan, dan barang-
barang kesayangan mereka itu tidaklah memberi faedah. Penyembah-penyembah patung
itu tidaklah melihat dan tidaklah mengetahui apa-apa; oleh karena itu mereka akan
mendapat malu. 44:10 Siapakah yang membentuk allah dan menuang patung yang tidak
memberi faedah? 44:11 Sesungguhnya, semua pengikutnya akan mendapat malu, dan
tukang-tukangnya adalah manusia belaka. Biarlah mereka semua berkumpul dan bangkit
berdiri! Mereka akan gentar dan mendapat malu bersama-sama. 44:12 Tukang
besi membuatnya dalam bara api dan menempanya dengan palu, ia mengerjakannya
dengan segala tenaga yang ada di tangannya. Bahkan ia menahan lapar sehingga
habislah tenaganya, dan ia tidak minum air sehingga ia letih lesu. 44:13 Tukang
kayu merentangkan tali pengukur dan membuat bagan sebuah patung dengan kapur
merah; ia mengerjakannya dengan pahat dan menggarisinya dengan jangka, lalu ia
memberi bentuk seorang laki-laki kepadanya, seperti seorang manusia yang tampan, dan
selanjutnya ditempatkan dalam kuil. 44:14 Mungkin ia menebang pohon-pohon aras atau
ia memilih pohon saru atau pohon tarbantin, lalu membiarkannya tumbuh menjadi besar
di antara pohon-pohon di hutan, atau ia menanam pohon salam, lalu hujan membuatnya
besar. 44:15 Dan kayunya menjadi kayu api bagi manusia, yang memakainya untuk
memanaskan diri; lagipula ia menyalakannya untuk membakar roti. Tetapi juga ia
membuatnya menjadi allah lalu menyembah kepadanya; ia mengerjakannya menjadi
patung lalu sujud kepadanya. 44:16 Setengahnya dibakarnya dalam api dan di atasnya
dipanggangnya daging. Lalu ia memakan daging yang dipanggang itu sampai kenyang;
ia memanaskan diri sambil berkata: "Ha, aku sudah menjadi panas, aku telah merasakan
kepanasan api. " 44:17 Dan sisa kayu itu dikerjakannya menjadi allah, menjadi patung
sembahannya; ia sujud kepadanya, ia menyembah dan berdoa kepadanya, katanya:
"Tolonglah aku, sebab engkaulah allahku!" 44:18 Orang seperti itu tidak mengetahui apa-
apa dan tidak mengerti apa-apa, sebab matanya melekat tertutup, sehingga tidak dapat
melihat, dan hatinya tertutup juga, sehingga tidak dapat memahami. 44:19 Tidak ada yang
mempertimbangkannya, tidak ada cukup pengetahuan atau pengertian untuk
mengatakan: "Setengahnya sudah kubakar dalam api dan di atas baranya juga sudah
kubakar roti, sudah kupanggang daging, lalu kumakan. Masakan sisanya akan kubuat
menjadi dewa kekejian? Masakan aku akan menyembah kepada kayu
kering? " 44:20 Orang yang sibuk dengan abu belaka, disesatkan oleh hatinya yang
tertipu; ia tidak dapat menyelamatkan jiwanya atau mengatakan: "Bukankah dusta yang
menjadi peganganku?“
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 9
IX
D. DISKUSI KELOMPOK
BAHAN DISKUSI KELOMPOK
1. Bagaimana pemahaman orang Atena tentang sumber kesalamatan menurut Kis 17:
16-34?
2. Apa yang dilakukan Paulus melihat keyakinan orang Atena tersebut?
3. Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari Kitab Yesaya 44:9-20?
4. Bagaimana penghayatanmu tentang sumber keselamatan dalam kehidupan sehari-
hari?
Hasil diskusi :
1.
2.
3.
4.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 10
IX
E. PENEGUHAN
1. Dalam Kisah Para Rasul 17:16-34 dikisahkan tentang orang-orang Atena yang
meyakini bahwa sumber keselamatan pada patung-patung berhala.
Kepercayaan orang-orang Atena terhadap patung-patung berhala yang diyakini
memiliki kekuatan gaib di mana dianggap mampu melindungi hidup mereka,
membuat sedih hati Paulus. Sikap orang-orang Atena tersebut juga dapat kita
temukan dalam masyarakat kita dewasa ini yang menggantungkan hidupnya
pada berhala-berhala bentuk yang lain, seperti, mendewakan barang-barang
duniawi (hedonisme, materialisme, dan konsumerisme), memuja benda dan
mantra-mantra yang dianggap memiliki kekuatan gaib, serta menomor satukan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dibandingkan menyerahkan
hidupnya kepada kehendak Allah.
a. Keselamatan bersumber pada barang duniawi Keselamatan hidup diukur
dari kemampuan seseorang mengumpulkan harta benda atau barang-barang
duniawi. Harta benda duniawi menjadi jaminan keselamatan hidup. Orang
yang memiliki anggapan seperti ini akan berusaha sekuat tenaga untuk
mengumpulkan harta benda dengan menghalalkan segala macam cara
bahkan dengan cara menentang kehendak Allah. Mereka merasa tidak
membutuhkan Allah lagi karena segala sesuatu di dunia ini dapat diatasi
dengan harta yang dimilikinya.
b. Keselamatan bersumber pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ada sebagian orang beranggapan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai
sumber keselamatan. Penemuan-penemuan baru dalam dunia teknologi dan
informatika yang begitu pesat dan mendunia seringkali membuat orang lupa
pada Tuhan dan sesama.
c. Keselamatan bersumber pada kekuatan gaib atau supranatural. Dalam dunia
modern ini kita masih menjumpai masyarakat yang menggantungkan
keselamatan pada kekuatan gaib. Benda-benda atau mantra-mantra yang
menyimpan kekuatan gaib ini dihormati dan dipuja dengan cara disimpan di
tempat khusus, bahkan dengan upacara-upacara tertentu dengan korban
sajian agar kekuatannya tidak hilang. Kekuatan gaib ini dianggap mampu
menjauhkan malapetaka, memberikan rasa aman, dan memberikan jaminan
keselamatan hidup. Kekuatan gaib dipuja sebagai sumber keselamatan
sehingga kehendak Allah dilupakan.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas IX 11
E. PENEGUHAN
2. Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa Allah adalah sumber keselamatan
sejati. Allah adalah Pencipta, awal dari segala kehidupan dan sekaligus
menjadi tujuan hidup setiap ciptaan. Dia adalah Alpha dan Omega, Awal dan
Akhir. Karya penyelamatan Allah tetap berlangsung dari dulu hingga
sekarang. Bahkan ketika manusia jatuh kedalam dosa, Allah tetap setia untuk
menyelamatkan manusia. Kita dapat bernapas dan hidup sampai sekarang
itulah bukti karya keselamatan Allah yang selalu menyertai kita
2. Bukti terbesar kasih Allah yang menyelamatkan umat manusia adalah dengan
mengutus Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa
manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16).
2. Kasih Allah secara nyata dapat kita rasakan melalui kehadiran orang tua,
saudara, keluarga, guru, sahabat, dan sesama yang kita jumpau di sekitar kita.
Bahkan Allah telah menciptakan alam beserta isinya untuk kebahagiaa dan
kesejahteraan manusia. Karena kasih Allah begitu besar kepada manusia,
maka kitapun dapat menjadi tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan
dengan cara; mengucap syukur melalui doa, ibadah, perayaan ekaristi,
membantu orang tua sesuai dengan kemampuan kita, membantu teman kita
yang kesulitan dalam memahami materi pelajaran, menjenguk dan
mendoakan teman yang sakit, menyisihkan sebagian yang kita miliki untuk
berbela rasa pada orang-orang yang miskin dan teraniaya dalam hidupnya dan
sebagainya.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 12
IX
F. REFLEKSI
Duduklah dengan tenang dan ciptakan suasana hening, secara perlahan-lahan
pejamkan matamu dan renungkan hal-hal berikut ini!
Anak-anakku yang terkasih,
Tuhan telah begitu baik kepada kita, Ia selalu menopang dan menyelamatkan kita.
Melalui orang-orang yang kita cintai, kita merasakan kasih-Nya yang luar biasa.
Tuhan telah menganugerahkan orang tua yang baik dan begitu mencintai kita,
Tuhan telah memberikan teman, sahabat, dan sesama yang begitu baik
Alam semesta Engkau ciptakan bagi kami, untuk kebahagiaan, untuk kesejahteraan
dan untuk keselamatan kami.
Sadarkan kita akan hal itu? Apakah selama ini kita sungguh percaya bahwa Ia sumber
keselamatan sejati? Ataukah kita seringkali masih mudah berpaling dari-Nya.
Mari kita hening sejenak…..kita refleksikan perjalanan hidup kita selama ini!
G. EVALUASI
Pengetahuan:
1. Ceritakan 1 pengalaman dikasihi Allah dalam kehidupan sehari-hari!
2. Jelaskan mengapa manusia membutuhkan Allah dalam hidupnya?
3. Rumuskan pandangan tentang sumber-sumber keselamatan yang ada dalam
masyarakat!
4. Jelaskan pandangan kristiani tentang Allah sumber keselamatan sejati menurut
Kisah Para Rasul 17:16-34 dan Yesaya 44: 9-21!
5. Jelaskan bahwa Yesus adalah tanda Kasih Allah paling agung!
Ketrampilan:
Membuat refleksi secara tertulis tentang Allah sebagai sumber keselamatan dalam
hidupnya
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 13
IX
G. DOA PENUTUP
Allah Bapa yang maha baik,
Kami bersyukur atas pembelajaran hari ini. Engkau telah menyadarkan kami akan
peran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dampingilah hidup kami, agar kami setia
kepada-Mu, tidak mudah berpaling dari hadapan-Mu. Ajarlah kami untuk senantiasa
menyandarkan hidup kami seutuhnya kepada kuasa kehendak-Mu. Sebab bagi kami,
Engkaulah satu-satunya sumber keselamatan sejati. Dengan perantaraan Kristus,
Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 14
IX
B. BERAGAMA SEBAGAI TANGGAPAN ATAS KARYA
KESELAMATAN
Kompetensi Dasar Indikator
3.1 Memahami karya Allah yang 3.1.6 Mengemukakan alasan seseorang beragama.
menyelamatkan dan praktik 3.1.7 Menganalisa hal-hal baik yang diperoleh jika
hidup beriman kristiani dalam
Gereja Katolik. manusia menghayati hidup beragama dengan baik
dan benar.
4.1 Melakukan aktivitas 3.1.8 Menganalisa dampak negatif yang ditimbulkan jika
manusia tidak menghayati hidup beragama dengan
(misalnya mengucapkan doa baik dan benar.
3.1.9 Menjelaskan ajaran Gereja tentang agama dan
beragama menurut Injil Lukas 18:9-14
3.1.10 Menyimpulkan hidup beragama yang benar
menurut Yesus Kristus berdasarkan Matius 5: 17-
48
4.1.2 Membuat artikel atau doa tentang kerukunan antar
umat beragama.
syahadat/ menuliskan
refleksi/ menyusun doa/
mengikuti kegiatan di
lingkungan) yang berkaitan
dengan praktik hidup beriman
kristiani.
Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik dapat mengemukakan alasan seseorang beragama.
2. Peserta didik dapat menganalisa hal-hal baik yang diperoleh jika manusia menghayati hidup beragama dengan baik dan
benar.
3. Peserta didik dapat menganalisa dampak negatif yang ditimbulkan jika manusia tidak menghayati hidup beragama dengan
baik dan benar.
4. Peserta didik dapat menjelaskan ajaran Gereja tentang agama dan beragama menurut Injil Lukas 18:9-14
5. Peserta didik dapat menyimpulkan hidup beragama yang benar menurut Yesus Kristus berdasarkan Matius 5: 17-48
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 15
A. PEMIKIRAN DASAR
Agama merupakan ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan
peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan
pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi
ketiga, Balai Pustaka 2001).
Di Indonesia banyak tersebar agama-agama asli, sebagian masih dianut oleh suku-suku
tertentu, sebagian sudah terpengaruh oleh agama-agama besar. Agama yang terdapat di
seluruh dunia pada umumnya dengan berbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati
manusia yang terus menerus bertanya tentang makna hidupnya yang terdalam “apakah
manusia, mengapa manusia hidup, mengapa ada penderitaan dan kesusahan, mengapa
manusia bisa sakit, apa akhir dari kehidupan ini, ke manakah sesudah kematian” Hal itu
dilakukan dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup
maupun upacara-upacara suci. Bagi manusia semua pertanyaan tersebut merupakan suatu
misteri yang tidak terjawab. Pada akhirnya, manusia mempercayakan seluruh hidupnya
kepada penyelenggaraan Tuhan melalui agama yang dianutnya. Hubungan yang semakin
dekat dan mendalam dengan Allah dapat dilaksanakan melalui praktik-praktik pelaksanaan
ibadah sesuai agama yang dianutnya dan penghayatan ajaran agama dalam kehidupan sehari-
hari.
Kita dapat belajar banyak dari pribadi Yesus Kristus yang senantiasa taat dan setia dalam
menjalankan kehidupan keagamaan. Dalam Injil Matius 5:17-48, dikisahkan tentang Yesus
dan Hukum Taurat. Dalam perikope tersebut Yesus mengktitik orang-orang Farisi, para
pemuka agama, dan ahli Taurat yang seringkali merasa hidup keagamaannya lebih baik
daripada orang lain. Mereka menyombongkan dirinya dan menganggap orang lain hidup
keagamaannya lebih rendah. Disini Yesus ingin mengajak kita semua untuk dapat
menghayati hidup keagamaan dengan baik dan benar seperti yang Ia katakan “Janganlah
kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi.
Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Lih. Mat 5:17)
Sinarharapan.co 16
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas
IX
B. DOA PEMBUKAAN
Allah Bapa, pencipta semua umat manusia dan alam semesta. Engkau menghendaki semua
umat manusia bahagia dan selamat. Sudilah Engkau membimbing kami semua agar mampu
merasakan kebaikan-Mu dalam sehari-hari . Bantulah kami, untuk lebih memahami dan
menghayati ajaran agama kami, dan menjadikannya sebagai pedoman hidup sehari-hari,
agar dapat memperoleh keselamatan sejati seperti yang Engkau janjikan. sekarang dan
selama-lamanya. Amin.
C. MENGGALI PENGALAMAN
1. Amatilah gambar orang yang sedang menjalankan kehidupan beragama sebagai
berikut!
Kompasiana.com https://parokikeluargakuduscibinong.id
1 2
tribratanewsbantul.id detikNews
3 4
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 17
IX
Indonesiatrip.id Wikimedia.Comonds
5 6
Sinarharapan.co
7
Jatimtimes.com 18
8
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas
IX
Pertanyaan Menggali Pengalaman
1. Buatlah pertanyaan berdasarkan analisa gambar tersebut!
2. Diskusikanlah bersama teman-temanmu tentang pertanyaan yang telah dibuat berkaitan
dengan tema beragama sebagai tanggapan atas karya Allah yang menyelamatkan.
3. Permasalahan apa saja yang seringkali terjadi dalam kehidupan umat beragama?
4. Bagaimana cara mengatasi permasalahan yang terjadi dalam kehidupan umat beragama?
5. Apa manfaat dari hidup beragama?
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 19
IX
C. MEMBACA KITAB SUCI
Matius 5: 17-48
5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat
atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk
menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum
lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari
hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah
satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya
demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam
Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-
perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan
Sorga . 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih
benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 5:21 Kamu telah
mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa
yang membunuh harus dihukum. 5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang
yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada
saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata:
Jahil ! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 5:23 Sebab itu, jika
engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan
sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 5:24 tinggalkanlah
persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan
saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 5:25 Segeralah
berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan,
supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu
menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam
penjara. 5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari
sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. 5:27 Kamu telah mendengar
firman: Jangan berzinah. 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang
memandang perempuan serta menginginkannya , sudah berzinah dengan dia di dalam
hatinya. 5:29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan
buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari
pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka .
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 20
IX
5:30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu,
karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu
dengan utuh masuk neraka. 5:31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan
isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu:
Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah , ia menjadikan
isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia
berbuat zinah. 5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek
moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan
Tuhan. 5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali , baik demi langit,
karena langit adalah takhta Allah, 5:35 maupun demi bumi, karena bumi adalah
tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja
Besar; 5:36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak
berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 5:37 Jika ya, hendaklah
kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari
pada itu berasal dari si jahat. 5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan
gigi ganti gigi. 5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang
yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu,
berilah juga kepadanya pipi kirimu. 5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan
engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 5:41 Dan siapapun yang
memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua
mil. 5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang
yang mau meminjam dari padamu. 5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah
sesamamu manusia z dan bencilah musuhmu. 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu:
Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 5:45 Karena
dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang
menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan
hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 5:46 Apabila kamu
mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai
juga berbuat demikian? 5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-
saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna,
sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.perbuatan orang lain?
Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 21
IX
Lukas 18:9-14
Perumpamaan tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah
semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 “Ada dua orang pergi ke Bait
Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11Orang Farisi
itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu,
karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan
pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12aku berpuasa dua kali seminggu, aku
memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13Tetapi pemungut cukai itu berdiri
jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan
berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14Aku berkata kepadamu: Orang ini
pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab
barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia
akan ditinggikan.”
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 22
IX
D. DISKUSI KELOMPOK
BAHAN DISKUSI KELOMPOK
1. Bagaimana ajaran Yesus tentang hidup beragama menurut Injil Matius 5: 17-48?
2. Apa yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang Farisi dalam hidup keagamaan
mereka?
3. Bagaimana sikap Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan orang Farisi?
4. Bandingkan sikap orang Farisi dan pemungkut cukai dalam menjalani kehidupan
mereka menurut Injil Luk 18:9-14?
5. Apa yang dapat kita teladan dari kedua perikope tersebut sehubungan dengan
penghayatan hidup beragama?
6. Bagaimana cara kita menjalankan kehidupan agama yang baik dan benar?
Hasil diskusi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 23
IX
E. PENEGUHAN
1. Agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan
peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan
pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia
edisi ketiga, Balai Pustaka 2001). Secara sederhana dapat dirumuskan bahwa agama
adalah suatu aturan , tuntunan hidup dan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan
sesama manusia, dengan mahluk lainnya dan hubungannya dengan Tuhan yang
diyakininya. Dan agama diyakini sebagai aturan tuntunan atau petunjuk tuntunan dari
Tuhan yang diyakini, yang mana Tuhan yang diyakini mempunyai pengaruh dalam
perjalanan hidup dan kehidupan manusia, dengan keyakinan baik kehidupan didunia dan
akhirat ataupun kehidupan semasa didunia saja.
2. Hidup beragama yang benar mampu mengarahkan seseorang untuk semakin dekat
dengan Tuhan dan sesama. Gereja Katolik memandang pentingnya agama dalam
kehidupan manusia. Dalam dokumen Nostra Aetate art 1 mengajarkan bahwa:
a. agama-agama memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan manusia tentang
asal dan tujuan hidupnya, makna kematian makna sakit dan penderitaan, dan rahasia
kehidupan lainnya.
b. Dari berbagai agama, manusia mengharapkan jawaban tentang teka-teki keadaan
manusia yang tersembunyi, yang seperti di masa silam, begitu pula sekarang
menyentuh hati manusia secara mendalam. Apakah manusia itu? Manakah makna
dan tujuan hidup kita? Manakah yang baik dan apakah dosa itu? Dari mana asal
penderitaan dan manakah tujuannya? Manakah jalan untuk memperoleh
kebahagiaan yang sejati? Apakah arti mau, pengadilan dan pembalasan sesudah
mati? Akhirnya, apakah misteri terakhir dan tak terperikan itu, yang merangkum
keberadaan kita dan menjadi asal usul serta tujuan kita? Dari pertanyaan-pertanyaan
tersebut manusia diantar untuk mengalami perjumpaan dengan Allah sebagai
Pencipta, Penyelenggara, dan tujuan hidup manusia. Manusia beragama untuk
memperoleh keselamatan sejati dari Allah.
3. Hidup beragama yang benar harus didasarkan pada keyakinan bahwa Allah telah
mencintai manusia. Dialah sumber cinta, penyelenggara kehidupan sehingga hidup
beragama hendaknya mengarah pada hubungan yang semakin dekat dan mendalam
dengan Allah.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 24
IX
E. PENEGUHAN
4. Kita harus benar-benar mendalami ajaran agama kita, sehingga tidak jatuh pada
pemahaman yang dangkal dan setengah-tengah. Kita juga harus bersikap kritis dalam
menyikapi pandangan agama sendiri dan atau orang lain, dengan mengutamakan
kehendak Allah sebagai ukuran kebenaran, sehingga kita dapat bersikap rendah hati di
hadapan Allah dan sesama. (Lih. Matius 5: 17-48)
5. Menurut Injil Matius 5:17-48, Yesus juga mengkritik orang-orang Farisi, para pemuka
agama dan ahli taurat yang seringkali merasa hidup keagamaannya lebih baik
dibandingkan orang lain. Mereka menyombongkan dirinya dan menganggap orang lain
hidup agamanya lebih rendah.
6. Hidup beragama yang benar menuntut kita untuk menjalankan atau menerapkan agama
kita dalam hidup sehari-hari. Agama harus dipahami, dihayati, dan dilaksanakan sesuai
dengan kehendak Allah sumber keselematan sejati.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 25
IX
F. REFLEKSI
Anak-anakku yang terkasih…
Hidup beragama yang benar harus didasarkan pada keyakinan bahwa Allah telah mencintai
manusia. Dialah sumber cinta, penyelenggara kehidupan sehingga hidup beragama
hendaknya mengarah pada hubungan yang semakin dekat dan mendalam dengan Allah.
Apakah kita sudah menjalankan hidup keagamaan kita dengan baik?
Apakah dengan beragama hidup kita menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi Tuhan
dan sesama?
Apa yang akan kita buat agar hidup beragama kita menjadi bermakna dan bermanfaat bagi
banyak orang dan demi kemuliaan Tuhan.
Semoga pelajaran kita hari ini bermanfaat dalam meningkatkan hidup beragama kita.
G. EVALUASI
Pengetahuan
1. Bagaimana ajaran Yesus tentang hidup beragama menurut Injil Matius 5: 17-48?
2. Apa yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang Farisi dalam hidup keagamaan
mereka?
3. Bagaimana sikap Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan orang Farisi?
4. Bandingkan sikap orang Farisi dan pemungut cukai dalam menjalani kehidupan mereka
menurut Injil Luk 18:9-14?
5. Apa yang dapat kita teladan dari kedua perikope tersebut sehubungan dengan
penghayatan hidup beragama?
6. Bagaimana cara kita menjalankan kehidupan agama yang baik dan benar?
Ketrampilan:
Penugasan: Membuat artikel atau doa untuk kerukunan umat beragama.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 26
IX
G. DOA PENUTUP
Pelajaran ditutup dengan menyanyikan lagu
Bagi Tuhan Tak Ada Yang Mustahil
Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataan-Mu
Ku aman kar'na Kau menjaga
Ku kuat kar'na Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasa-Mu
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
Mujizat-Nya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkan-Nya
Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataan-Mu
Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasa-Mu
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil (amin)
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
Mujizat-Nya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkan-Nya (aku dipulihkan-Nya)
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 27
IX
C. BERIMAN SEBAGAI TANGGAPAN ATAS KARYA
KESELAMATAN ALLAH
Kompetensi Dasar Indikator
1.1.3 Beriman pada Allah yang menyelamtkan semua
1.1 Beriman pada Allah yang
menyelamtkan semua orang orang yang ditanggapi dengan beriman dan
yang ditanggapi dengan beragama.
beriman dan beragama.
2.1.3 Disiplin menjalankan hidup beriman dan
2.1 Disiplin menjalankan hidup beragama sebagai tanggapan atas iman akan
beriman dan beragama Allah yang menyelamatkan semua.
sebagai tanggapan atas iman
akan Allah yang 3.1.11 Merumuskan makna hidup beriman berdasarkan
menyelamatkan semua orang. pengalaman hidup yang telah dijalani
3.1 Memahami tentang Allah yang 3.1.12 Menjelaskan hubungan antara wahyu dan iman.
senantiasa berusaha 3.1.13 Menemukan ciri-ciri beriman dan buah-buah
menyelamatkan semua orang
yang ditanggapi dengan iman menurut Kitab Suci Yak 2:14-26
beriman dan beragama. 3.1.14 Memberi contoh pengalaman perwujudan iman
dalam kehidupan sehari-hari.
3.1.15 Menjelaskan usaha-usaha yang dapat dilakukan
untuk mengembangkan iman sebagai tanggapan
atas karya keselamatan Allah.
4.1 Melakukan aktivitas (misalnya 4.1. 3 Membuat doa tentang iman
menyusun doa/menulis
refleksi/membuat
slogan/membuat kliping) yang
berkaitan dengan beragama
dan beriman.
Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik dapat merumuskan makna hidup beriman berdasarkan pengalaman hidup yang telah dijalani
2. Peserta didik dapat menjelaskan hubungan antara wahyu dan iman.
3. Peserta didik dapat menemukan ciri-ciri beriman dan buah-buah iman menurut Kitab Suci Yak 2:14-26
4. Peserta didik dapat memberi contoh pengalaman mewujudkan iman dalam perbuatan para santo-santa
5. Peserta didik dapat menjelaskan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengembangkan iman sebagai
tanggapan atas karya keselamatan Allah.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 28
IX
A. PEMIKIRAN DASAR
Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya, Allah mewahyukan diri melalui sabda dan karya.
Allah mewahyukan diri dan rencana-Nya yang berasal dari cinta kasih yang dalam Kristus
telah dinyatakan sejak semula dan kekal. Untuk mengalami perjumpaan antara Allah dan
manusia maka dibutuhkan iman sebagai tanggapan manusia atas kasih Allah tersebut. Dalam
hidupnya manusia mengalami dan merasakan bahwa Allah senantiasa hadir menyapa dirinya.
Allah menghibur, membimbing, dan menguatkan manusia, baik dalam suka maupun duka,
baik dalam kepastian maupun keraguan, baik dalam untung maupun malang. Allah setia
menyertai manusia, karena Allah menghendaki hidup manusia selamat. Untuk memahami
lebih mendalam tentang iman, maka kita mempelajari materi tentang “Beriman.”
B. DOA PEMBUKA
Allah, Bapa sumber kekuatan iman kami,
kami bersyukur kepada-Mu atas segala
kemurahan, terlebih atas pemeliharaan-Mu
pada hari ini. Kini utuslah Roh Kudus
menerangi akal budi dan pikiran kami. Agar
kami mampu memusatkan perhatian pada
pelajaran hari ini, sehingga kami mampu
membuka hati, untuk menanggapi karya
penyelamatan-Mu dengan penuh iman.
Demi Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami.
Amin.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 29
IX
C. MENGGALI PENGALAMAN
Cerita motivasi bijak – Tempayan Retak
Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua
ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak,
yang satunya tidak. Tempayan yang tidak retak selalu dapat membawa air penuh dari mata
air ke rumah majikannya, sedang tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah
penuh.
Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tempayan yang tidak retak merasa bangga
akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan
retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat
memberikan setengah dari yang seharusnya dapat diberikannnya. Tertekan oleh kegagalan
ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air,”Saya sungguh malu pada diri saya
sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.””Kenapa?” tanya si tukang air, “Kenapa
kamu merasa malu?”
“Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air karena retakan pada
sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan
kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak dan berkata, “Jika kita kembali ke
rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang
jalan.”
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari
bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur.
Kata tukang air kepada tempayan retak, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga
di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain
yang tidak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku
memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan
setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua
tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita.
Tanpa kamu sebagaimana kamu adanya, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya
seindah sekarang.” https://lifeblogid.com/2015/01/03/kumpulan-cerita-motivasi-kehidupan-dan-
kisah-inspiratif-bijak/5/
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 30
IX
Pertanyaan Refleksi dari cerita
1. Temukan tokoh dalam cerita tersebut dan bagaimana watak mereka masing-masing?
2. Apa yang menyebabkan tempayan rusak itu merasa malu?
3. Bagaimana tukang air memberi motivasi kepada si tempayan rusak?
4. Apa hubungan cerita tersebut dengan iman?
Kompasiana.com
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 31
IX
C. MEMBACA KITAB SUCI
(Yakobus 2: 14-26)
Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati
14Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia
mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu
menyelamatkan dia? 15Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian
dan kekurangan makanan sehari-hari, 16dan seorang dari antara kamu berkata:
“Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak
memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?
17Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka
iman itu pada hakikatnya adalah mati. 18Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu
ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah
kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku
dari perbuatan-perbuatanku.” 19Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu
baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. 20Hai
manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan
adalah iman yang kosong? 21Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena
perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
22Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh
perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. 23Dengan jalan demikian genaplah
nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah
memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut:
“Sahabat Allah.” 24Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-
perbuatannya dan bukan hanya karena iman. 25 Dan bukankah demikian juga Rahab,
pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan
orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui
jalan yang lain? 26Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman
tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 32
IX
D. DISKUSI KELOMPOK
BAHAN DISKUSI KELOMPOK
1. Rumuskanlah pengertian iman yang benar menurut Kitab Yakobus 2: 14-26
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pernyataan “Iman tanpa perbuatan pada
hakikatnya mati?”
3. Bagaimana cara mewujudkan iman dalam hidup sehari-hari dalam lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat?
4. Jelaskan manfaat iman bagi hidupmu!
5. Tulislah buah-buah iman dan bahaya hidup tanpa iman!
Hasil diskusi :
1.
2.
3.
4.
5.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 33
IX
E. PENEGUHAN
1. Pengertian Wahyu dan iman
Wahyu merupakan tawaran, sapaan dan pernyataan diri Allah. Dalam pernyataan itu Allah
memperkenalkan diri-Nya dan memberikan diri-Nya untuk dikasihi. Jadi isi pewahyuan adalah diri
Allah sendiri dan rahasia kehendak-Nya. Allah sendiri yang menyapa manusia, yang berbicara
dengan manusia, yang berhubungan secara pribadi dengan manusia.
Kalau wahyu adalah Allah sendiri yang menyapa manusia, maka dari pihak manusia diharapkan
tanggapan atas sapaan itu. Tanggapan ini disebut iman. Iman merupakan tanggapan manusia atas
tawaran, sapaan, dan pernyataan kasih Allah kepada manusia. Dengan kata lain iman merupakan
bentuk penyerahan diri manusia secara total dan menyeluruh kepada Allah.
2. Orang dapat disebut betul-betul beriman bila ia sungguh-sungguh menghayati dan mewujudkan
imannya dalam hidup sehari-hari. Karena jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada
hakikatnya adalah mati. Sebab iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-
perbuatan itulah iman menjadi sempurna. Manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya,
bukan hanya karena iman. (lihat. Yakobus 2:14-26).
3. Ciri-ciri orang yang menghayati hidup dengan iman yang benar, antara lain: hidup dalam situasi
rahmat, mampu menghadapi persoalan hidup dengan tenang dan hati bersih, tidak mudah putus
asa, tabah, dan setia dalam penderitaan, selalu bersyukur dalam keadaan apapun baik dalam suka
maupun dalam duka, hidup dalam damai sukacita, selalu berserah diri kepada Tuhan, dan hidup
sesuai dengan kehendak-Nya.
4. Ciri-ciri orang yang menghayati hidup tanpa iman: hidup diliputi rasa takut, gelisah, tidak punya
harapan, cenderung mencari jalan pintas untuk menyelesaikan permasalahan, pesimis karena tidak
percaya kepada Allah
5. Tokoh dalam Gereja Katolik yang menunjukkan iman yang sangat besar kepada Allah adalah
Bapa Abraham. Ia disebut sebagai Bapa Umat Beriman. Dalam Kitab Kejadian 22: 1-19,
dikisahkan bahwa puncak iman Abraham kepada Tuhan, ujian yang paling menentukan dalam
hidup Abraham. Ketika Tuhan memerintahkan Abraham untuk menyerahkan anak semata
wayangnya (Ishak) sebagai persembahan di gunung Moria, Abraham pun rela menyerahkan anak
yang dikasihinya. Dengan perbekalan yang lengkap (kayu bakar dan Ishak yang hendak
dikorbankannya) Abraham menuju ke tempat yang Tuhan sudah tentukan. Abraham berkata
kepada bujangnya, "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi
ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." (Kejadian 22:5). Ini
adalah deklarasi iman Abraham. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan
bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Ketaatan Abraham beroleh
upah: Tuhan menyatakan kemurahan dan kasihnya dengan menyediakan domba sebagai ganti
Ishak. Kisah Abraham mempersembahkan Ishak adalah bukti bahwa ia mengasihi Tuhan lebih
dari segala-galanya.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 34
IX
F. REFLEKSI
Anak-anakku yang terkasih,
Iman merupakan bentuk penyerahan diri kita kepada Allah secaa total dan menyeluruh.
“Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan
adalah mati.”
Apakah hidup kita sudah menunjukkan sikap orang beriman?
Apakah perilaku kita menghidupi iman kita?
Penghayatan iman yang benar, tidak cukup hanya beribadah dan doa. Iman kita harus
nyata melalui perilaku hidup sehari-hari. Berpihak pada yang miskin….
Belarasa pada yang menderita….
Memberi semangat pada yang lemah dan putus harapan…. Menerima orang lain sebagai
pribadi….
Sudahkah kita melakukan itu sebagai perwujudan dari iman kita?
Marlah kita hening…kita renungkan semua itu dalam hati kita…. Semoga kehadiran kita
dapat membawa damai bagi sesama.
G. EVALUASI
Pengetahuan:
1. Rumuskanlah pengertian iman yang benar menurut Kitab Yakobus 2: 14-26
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pernyataan “Iman tanpa perbuatan pada
hakikatnya mati?”
3. Bagaimana cara mewujudkan iman dalam hidup sehari-hari dalam lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat?
4. Jelaskan aspek-aspek hidup beriman Kristiani!
5. Tulislah buah-buah iman dan bahaya hidup tanpa iman!
Ketrampilan:
Membuat doa tentang iman.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 35
IX
G. DOA PENUTUP
DOA IMAN
Allah yang Esa, Engkau telah menciptakan semesta alam, Aku percaya bahwa Engkau
adalah Bapa yang pengasih dan penyayang; Engkau sungguh mengsihiku;
Engkau telah mengutus Yesus Kristus, Putra-Mu yang tunggal, yang telah menjadi
manusia, wafat dan bangkit untuk keselamatanku. Engkau telah mengutus Roh Kudus
pemberi hidup. Dia berasal dari Bapa dan Putra. Dia telah dicurahkan ke atasku dan
berdiam di dalam diriku, sehingga aku menjadi bait Allah. Dialah penolong sejati, yang
membimbing aku kepada seluruh kebenaran.
Ya Bapa, berilah aku iman yang hidup, dan jadikanlah aku berani menjadi saksi-Mu di
hadapan sesama manusia sepanjang hayatku. Ya Allah, tambahkanlah selalu imanku.
Amin
Sumber: Puji Syukur Nomor 21.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 36
IX
D. BERIMAN KRISTIANI
Kompetensi Dasar Indikator
3.2 Memahami praktik hidup 3.2.1 Merumuskan makna hidup beriman kristiani
beriman kristiani dalam berdasarkan pengalaman hidup yang telah dijalani.
Gereja Katolik.
3.2.2 Menjelaskan aspek-aspek penting dalam hidup
beriman.
3.2.4 Menemukan ciri-ciri beriman dan buah-buah iman
menurut Kitab Suci Yakobus 2: 14-26 dan dokumen
Gereja Lumen Gentium art. 14
3.2.5 Menjelaskan usaha-usaha yang dapat dilakukan
untuk mengembangkan iman.
3.2.6 Memberi contoh pengalaman mewujudkan iman.
4.2 Melakukan aktivitas 4.1.1 Membuat doa tentang iman.
(misalnya mengucapkan doa
syahadat/ menuliskan
refleksi/ menyusun doa/
mengikuti kegiatan di
lingkungan) yang berkaitan
dengan praktik hidup beriman
kristiani.
Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik dapatmMerumuskan makna hidup beriman berdasarkan pengalaman hidup yang telah dijalani.
2. Peserta didik dapatm menjelaskan aspek-aspek penting dalam hidup beriman.
3. Peserta didik dapat menemukan ciri-ciri beriman dan buah-buah iman menurut Kitab Suci Yakobus 2: 14-26
dan dokumen Gereja Lumen Gentium art. 14
4. Peserta didik dapat menjelaskan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengembangkan iman.
5. Peserta didik dapat memberi contoh pengalaman mewujudkan iman.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 37
IX
A. Pengantar
Allah senantiasa berkehendak menyelamatkan manusia dengan berbagai macam cara
dan berbagai kesempatan. Manusia menanggapi karya penyelamatan Allah tersebut
dengan beragama dan beriman. Pada pelajaran ini kita akan membahas hal yang lebih
khusus tentang Beriman Kristiani. Secara singkat iman Kristiani dirumuskan dalam
syahadat/Credo atau Pengakuan Iman. Dalam Credo terungkaplah iman Gereja akan
Tritunggal Maha Kudus. Kunci pemahaman akan Tritunggal terletak pada iman bahwa
Allah sejak semula berkeinginan menyelamatkan manusia, dan tindakan penyelamatan
itu paling nyata dalam diri Yesus Kristus. Namun tidak berhenti disitu, sebab setelah
Yesus Kristus wafat dan bangkit serta naik ke surga, Allah tetap bekerja
menyelamatkan manusia berkat Roh Kudus yang dicurahkan pada setiap orang.
Orang beriman Kristiani sejati adalah orang yang hidup dan tindakannya diwarnai dan
dimotivasi oleh iman Kristianinya, dan bukan sekedar oleh alasan keagamaan yang
cenderung lahiriah. Seorang yang beriman Kristiani adalah seorang yang religius, yaitu
orang yang selalu menyadari bahwa seluruh peristiwa hidupnya merupakan karya
Kristus yang menyelamatkan.
Untuk menghayati iman kristiani secara benar dan sungguh-sungguh, maka dalam
pembelajaran kali akan membahasa tentang “Beriman Kristiani.” Semoga dengan
semakin mengenal dan memahami iman kristiani secara mendalam, kita terpanggil
untuk mewujudkan iman tersebut dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kehendak
Allah.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 38
IX
A. Doa Pembuka
Allah Bapa Tri Tunggal Maha Kudus,
Kami bersyukur kepada-Mu atas rahmat
pembaptisan yang telah kami terima.
Dengan pembatisan, Engkau telah
menguduskan kami dan sekaligus
menggabungkan kami dalam Gereja-Mu
yang kudus. Bimbinglah dan tuntunlah
kami agar dapat ikut ambil bagian
dalam mewartakan Kerajaan Allah
dimanapun berada. Semoga kami dapat
mempertanggunjawabkan iman iman
kami kepada-Mu dan mewujudkannya
dalam kehidupan kami sehari-hari
seturut kehendak-Mu. Demi Kristus,
Tuhan dan pengantara kami, yang hidup
dan berkuasa, kini dan sepanjang masa.
Amin.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 39
IX
B. Menggali Pengalaman
Cerita inspiratif
4 Lilin
Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka
Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku:
maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin
padam.
Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau
mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan
angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk
tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka
saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena
takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala,
Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat
selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
“Akulah HARAPAN.”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga
Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-
masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi
apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya .
https://lifeblogid.com/2015/01/03/kumpulan-cerita-motivasi-kehidupan-dan-kisah-inspiratif-bijak/11/
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 40
IX
C. MEMBACA DOKUMEN GEREJA
Lumen Gentium art 14
Maka terutama kepada umat beriman Katolik, Konsili Suci mengarahkan
perhatiannya. Berdasarkan Kitab Suci dan tradisi, Konsili mengajarkan bahwa Gereja
yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi
kita dalam tubuh-Nya yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan
baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang
melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu, andai kata ada orang yang benar-
benar tahu bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus
sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di
dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.
Dimasukkan ke dalam serikat Gereja mereka yang mempunyai Roh Kristus, menerima
baik seluruh tata susunan Gereja serta seluruh upaya keselamatan yang diadakan di
dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang
membimbingnya melalui Imam Agung dan para Uskup dengan ikatan-ikatan ini,
yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan Gerejani serta
persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan, orang yang meskipun termasuk anggota
Gereja namun tidak bertambah dalam cinta kasih; jadi yang “dengan badan” memang
berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”. Pun hendaklah
semua putra Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu
bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa
pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan
perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras.
Para calon baptis, yang karena dorongan Roh Kudus dengan jelas meminta supaya
dimasukkan ke dalam Gereja karena kemauan itu sendiri sudah tergabungkan padanya.
Bunda Gereja sudah memeluk mereka sebagai putra-putrinya dengan cinta kasih dan
perhatiannya.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 41
IX
C. MEMBACA KITAB SUCI
Matius 7:21-24
Hal Pengajaran yang Sesat
21Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam
Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah
kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan
banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak
pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
24“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan
orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 42
IX
D. DISKUSI KELOMPOK
BAHAN DISKUSI KELOMPOK
1. Apakah makna hidup beriman Kristiani menurut bacaan tersebut?
2. Menurutmu, manakah sebenarnya kekhasan iman Kristiani?
3. Apa saja aspek hidup beriman Kristiani yang terungkap dalam teks tersebut?
4. Berdasarkan Matius 7: 21-24, apa yang dikehendaki oleh Tuhan dalam mengamalkan
iman menurut teks Kitab Suci tersebut?
Hasil diskusi :
1.
2.
3.
4.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 43
IX
E. PENEGUHAN
a. Umat Kristiani menghayati karya penyelamatan Allah yang paling nyata yang tampak
dalam diri Yesus Kristus. Maka bagi umat Kristiani, Yesus Kristus menjadi Tanda
Agung Pewahyuan Allah. Kekhasan iman Kristiani terletak pada Pribadi Yesus
Kristus sendiri. Yesus Kristus diimani sebagai Penyelamat dan menjadikan-Nya
sumber keselamatan. “ Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup “ Sabda Yesus.
a. Maka, orang beriman Kristiani sejati adalah orang yang hidup dan tindakannya
diwarnai dan dimotivasi oleh iman Kristianinya dan bukan sekedar oleh alasan
keagamaan yang cenderung lahiriah. Seorang yang beriman Kristiani adalah seorang
yang religius, yaitu orang yang selalu menyadari bahwa seluruh peristiwa hidupnya
merupakan karya Kristus yang menyelamatkan.
a. Hidup beriman Kristiani meliputi beberapa aspek, yaitu:
⮚ Pengalaman religius adalah pengalaman dimana manusia sungguh menghayati
karya dan kebaikan Allah yang berpuncak dalam diri Yesus Kristus dan karena
pengalaman itu manusia sampai pada kemauan bebas untuk menyerahkan diri
kepada Kristus.
⮚ Penyerahan iman yang merupakan jawaban atas wahyu Allah yang telah
berkarya. Dengan adanya penyerahan penyerahan iman orang tidak saja mengakui
bahwa Yesus adalah Tuhan tetapi juga mewujudkan tindakan atau perbuatan
sesuai dengan ajaran-Nya. Dalam Mat 7: 21 Yesus bersabda “Bukan setiap orang
yang berseru kepada-Ku: tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,
melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
⮚ Pengetahuan iman menuntut seorang umat Kristiani dituntut untuk terus-menerus
dan semakin mampu mempertanggungjawabkan imannya.
Yayasan Tarakanita, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 44
IX