Judul Buku :
Laporan Ilmiah Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2019
Penulis :
TIM SURILI 2019
Editor :
Ir Memen Suparman, MM
Staff Balai Taman Nasional Matalawa
Dr Ir Nyoto Santoso, MS
Dr Ir Agus Hikmat, MScFTrop
Dede Aulia Rahman, SHut MSi PhD
Dr Ir Jarwadi Budi Hernowo, MScF
Dr Ir Mirza Dikari Kusrini, MSi
Ir Lin Nuriah Ginoga, MSi
Ir Siswoyo, MSi
Dr Ir Arzyana Sunkar, MSc
Prof Dr E.K.S. Harini Muntasib, MS
Korektor:
Penata Isi:
Henning Ilmi Wijayanti
Teguh Purnomo
Dewa Made Juli Santika
Dhea Fauziyah Muttaqien
Desain Sampul:
Humaira Nurulakmal
Sumber Illustrasi/Sampul:
Fotografi Konservasi
Tim Surili 2019
Jumlah Halaman:
161 + 7 halaman romawi
Edisi/Cetakan:
Cetakan Pertama, Januari 2020
Naskah dan Dokumentasi:
Tim SURILI 2019, HIMAKOVA
i
PRAKATA
Alhamdulillahirabbil’alamin segala puji bagi Allah SWT, karena sudah
memberikan nikmat serta hidayahNya sehingga laporan ilmiah kegiatan Ekspedisi
Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2019 dapat berjalan dengan baik dan
lancar. Ekspedisi SURILI 2019 dilaksanakan pada tanggal 28 Juli – 10 Agustus
2019 yang bertempat di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi
Wanggameti (Matalawa), Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Lokasi
pengambilan data dibagi menjadi dua yaitu Blok Wanggameti dan Blok Mahaniwa.
Ekspedisi Studi Konservasi Lingkungan merupakan program dari Himpunan
Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Himakova), Fakultas
Kehutanan, IPB University. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan data terbaru
dan termutakhir mengenai keanekaragaman flora, fauna, kawasan karst, potensi
wisata, dan sosial budaya masyarakat di kawasan konservasi di Indonesia. Kegiatan
ini telah mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai
kegiatan mahasiswa terbanyak dan berkelanjutan.
Kegiatan ini tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak yang telah membantu
kelancaran SURILI 2019, baik dalam bentuk finansial maupun bentuk dukungan
lain. Harapan kami semoga laporan ilmiah hasil ekspedisi SURILI 2019 ini dapat
bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi Taman Nasional sebagai bahan acuan
pengelolaan kawasan.
Bogor, Oktober 2019
ii
Ir Memen Suparman, MM
Kepala Balai Taman Nasional Matalawa
Salam Hangat dari Tanah Marapu
Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji dan syukur mari panjatkan ke khadirat
ALLAH Subhanahuwata’ala atas rahmat, nikmat dan hidayah-Nya sehingga kegiatan Studi
Konservasi Lingkungan (SURILI) 2019 Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan
Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2019 – 10
Agustus 2019 oleh Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Institut Pertanian Bogor (HIMAKOVA IPB) telah diselenggarakan dengan baik dan lancar.
Kawasan TN Matalawa merupakan satu-satunya kawasan konservasi yang ada di
Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi keanekaragaman hayati yang
sangat tinggi. Potensi tersebut diantaranya yaitu flora/tumbuhan tercatat 375 jenis, 70 jenis
tumbuhan paku, 90 jenis tumbuhan berhasiat obat, 16 jenis anggrek; avifauna/burung
tercatat 159 jenis (110 jenis sudah terdokumentasikan); mamalia tercatat 28 jenis; reptil
tercatat 30 jenis, amphibi tercatat 6 jenis; capung tercatat 41 jenis; dan kupu-kupu tercatat
94 jenis. Disamping itu juga terdapat potensi keunikan alam yang dapat dikembangkan
menjadi jasa lingkungan dan wisata alam seperti air terjun, pantai, gua dan perbukitan
(landscape). Namun demikian, dari potensi yang sudah ada tersebut masih banyak yang
belum tergali secara optimal sehingga pihak pengelola TN Matalawa secara proaktif
melakukan riset lingkup pengelola atau bekerjasama dengan akademisi dan para peneliti
termasuk diantaranya dari HIMAKOVA IPB yang diharapkan dapat menambah
data/informasi tentang keanekaragaman hayati di kawasan TN Matalawa.
Tema yang diusung dari kegiatan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2019
Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) adalah
“Menapaki Pesona Keanekaragaman Hayati, Ekowisata, Kawasan Karst, dan Sosial
Budaya Masyarakat di Tanah Sumba Timur” sehingga sangat sesuai dan diperlukan dalam
mendukung pengelolaan TN Matalawa serta sejalan dengan Visi dan Misi Balai Taman
Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti dalam upaya melakukan
penggalian potensi Sumberdaya Alam dan Ekosistem kawasan TN Matalawa.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Institusi dari Institut Pertanian Bogor
melalui Himpunan Mahasiswa Konservasi (HIMAKOVA) Fakultas Kehutanan IPB dan
pihak lain atas kerjasama dan keterlibatan dalam pelaksanaan kegiatan ini sehingga
kegiatan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2019 Taman Nasional Manupeu Tanah
Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) berjalan dengan lancar.
Waingapu, Oktober 2019
Kepala Balai Taman Nasional Matalawa
Ir Memen Suparman, MM
iii
Dr Ir Agus Hikmat, MScFTrop
Pembina Umum Himakova
Kata Pengantar
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan ke hadlirat Allah SWT, yang telah
memberikan segala nikmatnya sehingga Tim Ekspedisi SURILI HIMAKOVA
dapat menyelesaikan laporannya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Kegiatan Ekspedisi SURILI HIMAKOVA merupakan kegiatan tahunan
HIMAKOVA melatih keprofesionalan mahasiswa Departemen Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) ekstrakurikuler, yang dilakukan di
berbagai kawasan konservasi di Indonesia, khususnya di kawasan taman nasional
yang ada di luar Pulau Jawa. Kegiatan SURILI ini meliputi studi tentang
keanekaragaman hayati khususnya satwa liar, tumbuhan, potensi wisata alam,
kawasan karst, dan sosial budaya masyarakat.
Ekspedisi SURILI tahun ini dilaksanakan di Taman Nasional Matalawa, Nusa
Tenggara Timur pada 28 Juli – 10 Agustus 2019. Taman Nasional Matalawa ini
merupakan gabungan antara Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Taman
Nasional Leiwangi Wanggameti. Kegiatan ekspedisi yang telah dilakukan
mengumpulkan banyak data tentang keanekaragaman hayati, potensi wisata alam,
dan soaial budaya yang ada di dalam kawasan TN Matalawa, khususnya di blok
Laiwangi Wanggameti. Ekspedisi SURILI di TN Matalawa tahun 2019 ini
merupakan ekspedisi yang kedua kalinya, untuk melengkapi Ekspedisi SURILI
sebelumnya pada tahun 2009 di blok Manupeu Tanah Daru.
Sebagai pembina HIMAKOVA, kami berharap laporan ini dapat bermanfaat
bagi pengelola TN Matalawa Nusa Tenggara Timur, serta khususnya bagi
mahasiswa anggota HIMAKOVA sebagai karya ilmiah yang melengkapi dan
memperkaya khasanah kekayaan keanekaragaman hayati dan potensi wisata serta
kearifan tradisional masyarakat yang ada di dalamnya untuk Indonesia yang lebih
maju.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan kegiatan
Ekspedisi SURILI 2019, sehingga kegiatan tersebut dapat berjalan lancar sesuai
dengan yang diharapkan. Semoga Allah SWT meridhoi kegiatan ini dan menjadi
amal ibadah untuk kita semua.
Bogor, Oktober 2019
Pembina Umum HIMAKOVA
Dr Ir Agus Hikmat, MScFTrop
iv
UCAPAN TERIMAKASIH
Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2019 di Taman Nasional Manupeu
Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (Matalawa) tidak lepas dari bantuan dan
kerja sama dari berbagai pihak, baik ketika persiapan kegiatan ekspedisi, ketika
kegiatan ekspedisi maupun dalam penyusunan laporan ilmiah. Bantuan yang
diberikan tidak hanya berbentuk finansial, melainkan doa dan dukungan. Oleh
karena itu, Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Keluarga besar Fakultas Kehutanan IPB, khususnya Dr Ir Rinekso Soekmadi,
MScFTrop, selaku Dekan Fakultas Kehutanan, Dr Ir Nyoto Santoso, MS selaku
ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata yang telah
memberikan izin dan dukungan kepada Tim dalam kegiatan SURILI 2019
Taman Nasional Matalawa.
2. Ir Memen Suparman, MM selaku Kepala Balai Taman Nasional Matalawa, dan
seluruh staff Balai Taman Nasional Matalawa yang telah memberikan
dukungan dan bantuan serta kekeluargaan yang hangat selama kegiatan
berlangsung. Kepala SPTN III Vivery Okthalamo S.Hut, Kepala Resort
Wanggameti Bapak Okto yang selalu mendampingi kegiatan bersama tim.
3. Dr Ir Agus Hikmat, MScFTrop selaku pembina HIMAKOVA dan segenap
Pembina Kelompok Pemerhati (KP) yang banyak meluangkan waktu untuk
membantu baik persiapan kegiatan maupun penyusunan laporan: Dede Aulia
Rahman, SHut MSi PhD (Pembina KP Mamalia), Dr Ir Jarwadi B. Hernowo,
MSc (Pembina KP Burung), Dr Ir Mirza D. Kusrini, MSc (Pembina KP
Herpetofauna), Ir Lin Nuriah Ginoga, MSi (Pembina KP Kupu-kupu), Ir
Siswoyo, MSi (Wakil Pembina Himakova dan Pembina KP Flora), Dr Ir
Arzyana Sunkar, MSc (Pembina KP Gua) dan Prof Dr E.K.S Harini Muntasib,
MS (Pembina KP Ekowisata), Ir Dones Rinaldi, MScF (Pembina Fotografi
Konservasi.
4. Dosen-dosen DKSHE atas bantuan yang telah diberikan kepada Tim SURILI
2019.
5. Pendamping lapang yang juga sebagai masyarakat lokal (Umbu Nawan, Umbu
Leti, Umbu Deki, Bapak John, Bapak Della, Ambu Dominikus).
6. KLHK dan BKSDA Nusa Tenggara Timur yang telah memberikan izin
pelaksanaan kegiatan ini.
7. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang telah membantu dalam
mengidentifikasi spesimen dan herbarium.
8. Terimakasih kepada rekan media yang telah membantu dalam publikasi
kegiatan ini, baik peliputan secara langsung maupun tidak langsung.
v
9. Yoga Rudianto, SHut (KSHE 51) selaku pengisi kuliah pembekalan persiapan
kegiatan.
10. Seluruh anggota Tim SURILI 2019 Taman Nasional Matalawa atas
kekompakan dan kerjasama selama persiapan, kegiatan ekspedisi dan
penyusunan laporan.
11. Segenap pengurus HIMAKOVA periode 2018 – 2019 atas dukungan selama
kegiatan SURILI 2019.
12. Segenap senior dan alumni Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB yang telah memberikan arahan, doa dan
dukungannya kepada Tim SURILI 2019.
13. Terimakasih kepada senior dan alumni Fakultas Kehutanan IPB di NTT
terutama di Taman Nasional Matalawa yang turut membantu dalam persiapan,
finansial, dukungan, dan pendampingan selama kegiatan berlangsung.
14. Seluruh pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungannya sehingga
SURILI 2019 Taman Nasional Matalawa dapat berjalan dengan baik dan lancar
yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Bogor, Oktober 2019
Tim SURILI 2019
vi
DAFTAR ISI ii
vi
PRAKATA vii
UCAPAN TERIMAKASIH 1
DAFTAR ISI 2
PENDAHULUAN 2
TUJUAN 3
MANFAAT 4
LOKASI DAN WAKTU 6
KONDISI UMUM KAWASAN 30
MAMALIA 48
BURUNG 69
HERPETOFAUNA 80
KUPU-KUPU 110
FLORA 127
GUA
EKOWISATA DAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT
vii
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) merupakan kegiatan tahunan
Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Himakova),
Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berbentuk kegiatan
eksplorasi keanekaragaman hayati, inventarisasi potensi ekowisata, kajian sosial
budaya masyarakat lokal dan pemetaan kawasan karst di kawasan konservasi.
Kegiatan SURILI memfasilitasi mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang
didapatkan di perkuliahan maupun pendalaman melalui kelompok pemerhati (KP).
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menjalin hubungan dengan
pengelola kawasan konservasi sebagai wujud tridharma perguruan tinggi. Kegiatan
SURILI telah terlaksana sebanyak 16 kali pada beberapa kawasan konservasi di
Indonesia. Pada tahun 2019, SURILI dilaksanakan pada tanggal 28 Juli – 10
Agustus 2019 di Taman Nasional Matalawa, Provinsi Nusa Tenggara Timur
khususnya di blok Wanggameti.
Taman Nasional Matalawa merupakan gabungan dari dua Taman Nasional
yaitu Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dengan luas 50 122 Ha dan Taman
Nasional Leiwangi Wanggameti dengan luas 41 771.18 Ha, sesuai dengan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor
P.7/Menlhk/Setjen/0TL.0/1/2016. Taman Nasional Matalawa terbagi menjadi dua
wilayah terpisah yakni wilayah Manupeu Tanah Daru dengan ketinggian 0 – 918
mdpl dan wilayah Leiwangi Wanggameti dengan ketinggian 50 – 1 225 mdpl.
Secara administratif, Taman Nasional Matalawa terletak di Pulau Sumba Timur,
Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Taman Nasional Matalawa memiliki tipe ekosistem yang beragam yang
mewakili tipe-tipe ekosistem utama Pulau Sumba. Tipe-tipe ekosistem kawasan
Taman Nasional Matalawa tersebut dicirikan oleh perbedaan kondisi vegetasi
penyusunnya, yaitu ekosistem hutan hujan, ekosistem padang sabana (savana), dan
ekosistem hutan musim. Taman Nasional Matalawa memiliki beragam
keanekaragaman flora dan fauna. Blok Laiwangi Wanggameti merupakan
perwakilan semua tipe hutan di pulau Sumba. Tercatat sebanyak 215 jenis burung,
22 jenis mamalia, 72 jenis kupu-kupu, 7 jenis amphibi, dan 4 jenis reptil. Burung
yang terdapat di TN Matalawa, sembilan diantaranya merupakan spesies endemik
Sumba dari 215 jenis burung.
Taman Nasional Matalawa memiliki peran penting dalam tata air di Pulau
Sumba. Secara geomorfologi Pulau Sumba didominasi oleh bentuk lahan berupa
kawasan karst, tidak terkecuali di Taman Nasional Matalawa. Hampir separuh dari
luasan kawasan terbentang dari wilayah timur hingga ke barat adalah wilayah karst.
Taman Nasional Matalawa menjadi pusat konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistem di Pulau Sumba serta pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat,
1
sehingga perlu memiliki data dan informasi terbaru yang komprehensif mengenai
sumberdaya alam sebagai rujukan atau acuan dalam pengelolaan yang bijaksana
serta melindungi nilai kawasan, termasuk aspek sosial dan ekologis. Oleh karena
itu, perlu diadakan kegiatan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2019 yang
mengangkat kajian ekspedisi dengan tema “Menapaki Pesona Keanekaragaman
Hayati, Ekowisata, Kawasan Karst, dan Sosial Budaya Masyarakat di Tanah Sumba
Timur”.
TUJUAN
Tujuan Umum
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk menghasilkan data dan informasi
terbaru tentang keanekaragaman hayati, potensi ekowisata, kawasan karst, dan
sosial budaya masyarakat di Taman Nasional Matalawa.
Tujuan khusus
Menghitung keanekaragaman, kelimpahan, dan pemetaan sebaran jenis fauna
(mamalia, burung, herpetofauna, dan kupu-kupu) serta peranannya dalam
ekosistem, mengidentifikasi dan menghitung struktur dan komposisi vegetasi,
penilaian ekowisata sesuai dengan budaya masyarakat lokal, menginventarisasi
potensi kawasan karst, serta mempelajari bentuk-bentuk interaksi, kearifan lokal,
dan kekhasan budaya masyarakat lokal di Taman Nasional Matalawa.
MANFAAT
Manfaat untuk Kawasan Konservasi
1. Dokumentasi kekayaan kawasan dalam bentuk laporan ilmiah, laporan semi
populer, dan video dokumenter.
2. Menggali potensi keanekaragaman flora, fauna, kawasan karst, gua, ekowisata,
dan sosial budaya masyarakat lokal.
3. Pembaharuan data dan informasi keanekaragaman hayati dan sosial budaya
masyarakat yang dapat menjadi bahan pertimbangan pengelolaan kawasan
maupun pengambilan keputusan.
Manfaat untuk Mahasiswa
1. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam kegiatan eksplorasi, analisis, dan
kerja sama tim.
2. Melatih kemampuan mahasiswa dalam berorganisasi dan bernegosiasi dengan
baik.
2
3. Melatih kepekaan mahasiswa terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan
sekitar.
4. Melatih mahasiswa dalam pembuatan laporan ilmiah.
LOKASI DAN WAKTU
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 28 Juli – 10 Agustus 2019 di
Taman Nasional Matalawa yang terletak di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara
Timur. Tim Surili dibagi menjadi 2 lokasi di Resort Wanggameti. Kajian mamalia,
burung, herpetofauna, gua dan fotografi konservasi berada di Resort Mahaniwa.
Kelompok kajian kupu-kupu, flora ekowisata, dan sosial budaya berada di Resort
Wanggameti (Gambar 1).
Gambar 1 Peta lokasi pengambilan data Resort Wanggameti
3
KONDISI UMUM KAWASAN
Kondisi Fisik
Taman Nasional Matalawa secara geografis kawasan hutan Manupeu Tanah
Daru berada pada 9°53’32,013’’ – 9°29’43,809’’LS, 119°26’5,64’’ –
119°53’21,172’’BT, sedangkan Kawasan hutan Laiwangi Wanggameti berada pada
120˚03’ – 120˚19΄ BT dan 9˚57΄ – 10 ˚11΄ LS. Menurut klasifikasi Schmidt dan
Ferguson, iklim di kawasan TN Matalawa termasuk tipe iklim C sampai dengan F.
Curah hujan rata-rata tahunan hutan Manupeu Tanah Daru berkisar antara 500 – 2
000 mm. Rata-rata curah hujan pada bulan basah adalah 400 mm sedangkan pada
bulan kering adalah 18 mm. Untuk kawasan hutan Laiwangi Wanggameti keadaan
curah hujan berkisar antara 100 – 1 500 mm.
Berdasarkan Peta Geologi Bersistem Nusa Tenggara Skala 1 : 250.000 yang
dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung (1993)
formasi geologi pulau Sumba dapat diuraikan sebagai berikut: a) Endapan
permukaan (Aluvium) tersusun dari lempung, lanau, pasir, kerikil dan bongkah. b)
Batuan sedimen tediri dari Formasi Praikajelu, Formasi Watopata, Formasi
Tanahroong, c) Formasi Paumbapa, Formasi Pamalar, Formasi tandaro, Formasi
Waikabubak, Formasi Kananggar dan Formasi Kaliangga yang tersusun antara lain
dari batu gamping, batu pasir, batu lempung, batu lanau, napal, tufan, konglomerat.
d) Batuan gunung api terdiri dari formasi masu dan formasi jawila yang tersusun
dari lava, breksi gunung api tuf dan andesit. e) Batuan terobosan yang tersusun dari
sienit, diorit, granodiorit, dan granit.
Letak kawasan Taman Nasional Matalawa menurut secara administratif
kawasan hutan Manupeu Tanah Daru berada pada tiga wilayah kabupaten yaitu
Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Timur.
Kawasan hutan Laiwangi Wanggameti secara administratif terletak di wilayah
Kabupaten Sumba Timur pada empat wilayah kecamatan, yakni Kecamatan
Tabundung, Pinu Pahar, Karera, dan Matawai Lapau.
Dasar Hukum Penunjukan Kawasan
Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 576/Kpts-II/1998
Tanggal 3 Agustus 1998 Tentang Perubahan Fungsi Sebagian Kawasan Cagar
Alam, Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas Seluas ± 134.998,09 (Seratus
Tiga Puluh Empat Ribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh Delapan, Sembilan
Perseratus) Hektar Menjadi Kawasan Taman Nasional Manupeu – Tanah Daru
Seluas ± 87.984,09 (Delapan Puluh Tujuh Ribu Sembilan Ratus Delapan Puluh
Empat, Sembilan Perseratus) Hektar dan Kawasan Taman Nasional Laiwangi –
Wanggameti Seluas ± 47 014.00 (Empat Puluh Tujuh Ribu Empat Belas) Hektar,
Yang Terletak Di Kabupaten Daerah Tingkat II Sumba Barat dan Kabupaten Daerah
Tingkat II Sumba Timur, Propinsi Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur.
4
Keanekaragaman Hayati
Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
(TN Matalawa) terletak di gugusan kepulauan Wallacea (Sulawesi, Bali, dan Nusa
Tenggara) merupakan wilayah yang sangat eksotis dan memiliki keanekaragaman
jenis flora dan fauna yang sangat khas dan tidak dapat dijumpai di wilayah lainnya.
Berdasarkan hasil pengumpulan data, terdapat 375 jenis tumbuhan, 70 jenis
tumbuhan paku-pakuan, 90 jenis tumbuhan berkhasiat obat. Fauna yang terdapat di
kawasan TN Matalawa antara lain 158 Jenis burung, 94 jenis kupu-kupu, 41 jenis
capung, 28 jenis mammalia, 6 jenis amfibi dan dan 30 jenis reptil. Objek Daya Tarik
Wisata (ODTWA) yang telah terinventarisasi dan teridentifikasi berjumlah 18
ODTWA yang tersebar di beberapa titik lokasi. Beberapa ODTWA unggulan TN
Matalawa diantaranya Air Terjun Lapopu – Sumba Barat, Air Terjun Matayangu –
Sumba Barat, Air Terjun Laputi – Sumba Timur, Pantai Mondulambi – Sumba
Timur, dan Puncak Wanggameti – Sumba Timur (Balai Taman Nasional 2018).
5
6
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mamalia merupakan kelompok vertebrata dengan volume otak yang besar,
relatif mampu menghadapi berbagai ancaman di alam, sehingga hampir tersebar di
seluruh belahan dunia. Van Hoeve (1992) juga menyatakan bahwa mamalia
merupakan kelompok tertinggi taksonominya dalam dunia hewan. Ciri khusus dari
mamalia yaitu memiliki kelenjar susu, bernafas dengan paru-paru, berambut dan
melahirkan. Berdasarkan stratifikasi ekologinya, mamalia terdiri atas 3 kelompok,
yaitu mamalia teresterial (hidup di permukaan tanah), arboreal (hidup di atas tajuk
pohon) dan akuatik (hidup di wilayah perairan) (Meijaard 2006). Mamalia hidup di
berbagai habitat, mulai dari kutub sampai daerah ekuator. Beberapa jenis mamalia
kebanyakan ditemukan di dataran rendah, lainnya kebanyakan ditemukan di daerah
pegunungan serta beberapa jenis di pegunungan tinggi. Habitat yang sesuai bagi
suatu jenis satwa belum tentu sesuai untuk jenis lainnya. Hal ini disebabkan karena
setiap individu menghendaki kondisi habitat yang berbeda-beda (Alikodra 2002).
Indonesia salah satu negara yang memiliki sebaran mamalia yang tinggi. Kekayaan
jenis mamalia di Indonesia mencapai 515 jenis dan 36% diantaranya merupakan
satwa endemik (Mustari et al. 2010).
Taman Nasional Matalawa merupakan wilayah yang berada dalam gugusan
kepulauan Wallacea sehingga memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang khas.
Data terbaru sampai tahun 2005, menunjukkan jumlah jenis mamalia Sumba sampai
saat ini ada 32 jenis, yang terbagi ke dalam 6 bangsa (LIPI 2016). Sumba
mempunyai banyak kesamaan hewan mamalia dengan di bagian barat Indonesia.
Jenis-jenis mamalia di Sumba memiliki peran dan potensi yang sangat penting.
Selain memiliki peran alamiah dan fungsi ekologis yang penting bagi ekosistem
sebagai penyerbuk, penyebar biji, predator, dan sebagainya, keberadaan mamalia di
TN Matalawa menjadi salah satu daya tarik dari potensi biologis yang ada baik
untuk pemanfaatan protein hewani maupun mendukung ekowisata di TN Matalawa
khususnya Resort Manggaweti. Berdasarkan data yang disajikan dapat menjadi
pertimbangan bagi pengelolaan fauna khususnya mamalia di TN Matalawa di masa
yang akan datang.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis
mamalia di Taman Nasional Matalawa khususnya di Resort Manggaweti.
7
METODE
Waktu dan Tempat
Pengambilan data dilaksanakan di Blok Mahaniwa, Resort Wanggameti,
Taman Nasional Matalawa, Nusa Tenggara Timur (Gambar 2). Pengamatan
dilakukan pada dua tipe ekosistem, yaitu ekosistem hutan primer dan ekosistem
hutan sekunder. Pengamatan dilaksanakan pada 1 – 7 Agustus 2019.
Gambar 2 Peta Pengamatan Kajian Mamalia SURILI 2019
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu buku panduan identifikasi
mamalia, trap Rodentia, kompas, GPS, thermometer dry wet, mistnet kelelawar,
jam tangan, senter/head lamp, pita ukur, meteran jahit, sarung tangan, pinset, jarum
suntik, gelas spesimen, dan kamera. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu alkohol 96%, tali rafia, kapas, pisang, selai kacang, dan terasi.
Metode Pengumpulan Data
A. Pengamatan Langsung
1. Metode Transek Jalur (Line Transect)
Metode pengamatan menggunakan metode transek jalur dilakukan melalui
pengamatan sepanjang jalur yang telah ditentukan sebelumnya, kemudian mencatat
seluruh jenis mamalia yang ditemukan secara langsung. Informasi yang dicatat
meliputi nama jenis, jumlah individu, waktu perjumpaan, jarak tegak lurus satwa
8
terhadap jalur, dan keterangan lainnya. Jarak antara pengamat dan satwa dapat
disimbolkan dengan r dan jarak tegak lurus antara satwa dengan jalur disimbolkan
dengan x. Jarak tegak lurus x didapatkan menggunakan trigonometri dengan sudut
antara r dan jalur (sudut pandang) diketahui θ (Navarro dan Díaz-Gamboa 2014).
Terdapat satu jalur pengamatan di masing-masing tipe ekosistem. Lebar jalur
pengamatan disesuaikan dengan kemampuan jarak pandang pengamat yang
dipengaruhi oleh kondisi topografi dan kerapatan tegakan pada lokasi pengamatan
(Gambar 3). Pengamatan dilakukan pada masing-masing jalur sebanyak 2 hari
dengan tiga pengulangan di setiap harinya, yaitu pagi hari (05.30 – 09.00 WITA),
sore hari (15.00 – 18.00 WITA), dan malam hari (19.00 – 21.00 WITA).
r Y
Zθ x
L
Gambar 3 Metode transek jalur
Keterangan:
L: panjang jalur, Z: posisi pengamat, Y: posisi satwa; r: jarak pengamat terhadap satwa; x: jarak
tegak lurus satwa terhadap jalur pengamatan, θ: sudut perjumpaan satwa
1. Metode Perangkap Hidup (Live Trapping)
Metode perangkap hidup digunakan untuk menginventarisasi jenis mamalia
kecil. Perangkap dipasang di bekas ladang kopi di dekat camp di Patamuwai.
Perangkap hidup yang dipasang selama penelitian bertujuan untuk
menginventarisasi Rodentia dan musang. Umpan yang digunakan untuk perangkap
hidup Rodentia berupa selai kacang dan terasi, sedangkan umpan untuk perangkap
hidup musang berupa pisang kepok. Jumlah perangkap hidup Rodentia yang
digunakan sebanyak tiga buah, sedangkan perangkap hidup musang berjumlah 1
buah.
2. Metode Jaring kabut (Mistnetting)
Metode jaring kabut/mistnetting digunakan untuk menginventarisasi
keanekaragaman jenis kelelawar atau bangsa Chiroptera. Jaring kabut dipasang di
dua lokasi, yaitu di mulut Gua Humurbakul dan di sekitar camp di Patamuwai.
Jaring kabut dipasang 0.5 – 3 m merentang di atas permukaan tanah dan dikaitkan
pada pohon di kedua sisinya (Gambar 4). Jaring kabut yang digunakan berukuran 3
x 6 meter. Pemasangan dilakukan selama 2 x 24 jam. Setiap kelelawar yang terjebak
jaring kabut dibawa ke camp menggunakan clothbag untuk diidentifikasi dengan
membandingkan ciri-ciri tubuhnya menggunakan buku panduan lapangan
Kelelawar di Indonesia.
9
Gambar 4 Ilustrasi pemasangan jaring kabut (Prasetyo et al. 2011)
3. Metode Pengamatan Cepat (Rapid Assessment)
Metode pengamatan cepat merupakan metode untuk menginventarisasi jenis-
jenis mamalia di suatu kawasan tanpa menduga populasinya. Metode ini dilakukan
pengamat di wilayah-wilayah di luar jalur pengamatan yang berpotensi sebagai
habitat dari mamalia baik secara perjumpaan langsung maupun tidak langsung.
Lokasi metode pengamatan cepat adalah Maradda Pangadu Jawa, Maradda
Kalimbung, Maradda Lei Muji, Omang Barakamundu, Omang Welatuna, dan Jarik.
A. Pengamatan Tidak Langsung
Metode pengamatan tidak langsung dilakukan untuk menginventarisasi
jenis mamalia tanpa melihat mamalia tersebut secara langsung. Metode ini
digunakan dengan mengidentifikasi feses, suara, jejak kaki, tempat tidur, tulang
belulang dan jejak keberadaan satwa lainnya yang ditemukan sepanjang jalur
pengamatan.
Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menggambarkan kondisi
mamalia serta lokasi perjumpaan sesuai dengan yang teramati di lapangan. Data
yang dikumpulkan berupa jenis mamalia yang ditemukan dan marking GPS lokasi
perjumpaan. Analisis deskriptif menggambarkan atau menganalisis suatu hasil
penelitian tetapi tidak dapat digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Habitat
Habitat merupakan kondisi dan sumber daya di suatu wilayah yang secara
spesifik dibutuhkan oleh organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Habitat
menghubungkan keberadaan suatu jenis satwaliar, baik pada tingkat individu
maupun populasi, dengan komponen biologis (biotik) dan fisik (abiotik) di wilayah
10
tertentu (Hall et al. 1997). Informasi mengenai kondisi umum habitat lokasi
penelitian mamalia yang dilakukan di hutan primer dan hutan sekunder Blok
Mahaniwa Resort Wanggameti TN Matalawa diperoleh dengan melakukan studi
literatur dan pengamatan langsung.
Hasil studi literatur menunjukkan bahwa iklim di kawasan TN Matalawa
menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson berada pada tipe iklim C (agak basah)
sampai dengan F (kering). Curah hujan rata-rata tahunan di kawasan hutan
Laiwangi Wanggameti berkisar antara 100 – 1 500 mm (BTN Matalawa 2018).
Menurut curah hujan tersebut, hutan di kawasan TN Matalawa termasuk ke dalam
tipe ekosistem hutan musim selalu hijau (dry evergreen forest) (Murphy dan Logo
1986). Sementara itu, menurut ketinggian tempat, hutan di kawasan TN Matalawa
memiliki ekosistem tipe hutan hujan tropis Zona 1 atau hutan hujan bawah (Collins
et al. 1991; Kartawinata 2013). Pengamatan langsung dilakukan dengan
pengukuran suhu dan kelembaban menggunakan termometer dry-wet, mencatat
ketinggian tempat menggunakan GPS, dan deskripsi kondisi topografi dan
kerapatan vegetasi. Kondisi umum habitat lokasi penelitian adalah sebagai berikut:
a. Hutan Primer
Gambar 5 Hutan primer bernama Omang Padadalu yang penuh batuan karang
Kawasan hutan primer yang menjadi lokasi penelitian bernama Omang
Padadalu (omang = hutan) yang berada di sebuah bukit yang berjarak sekitar 870 m
dari camp di Patamuwai dan berjarak sekitar 2.5 km dari Desa Umandundu (Gambar
5). Suhu rata-rata di lokasi penelitian berkisar antara 21 – 24 ˚C dengan kelembaban
rata-rata 56.6%. Satu jalur pengamatan yang digunakan memotong kontur bukit
dengan ketinggian antara 892 – 956 mdpl. Panjang jalur pengamatan adalah 645 m.
Kondisi topografi tergolong datar-hampir datar hingga curam. Kerapatan vegetasi
11
tergolong sedang hingga rapat. Permukaan tanah di beberapa wilayah di lokasi
pengamatan ditutupi oleh batu karang berukuran kecil hingga besar.
b. Hutan Sekunder
Kawasan hutan sekunder yang menjadi lokasi penelitian bernama Omang
Humurbakul yang berjarak sekitar 450 m dari camp di Patamuwai dan berjarak 1.5
km dari Desa Umandundu (Gambar 6). Suhu rata-rata di lokasi penelitian berkisar
antara 20 – 24 ˚C dengan kelembaban rata-rata 55.8%. Satu jalur pengamatan yang
digunakan mengikuti jalur warga lokal dengan ketinggian antara 833 – 941 mdpl.
Panjang jalur pengamatan adalah 716 m. Kondisi topografi tergolong datar-hampir
datar. Kerapatan vegetasi tergolong sedang. Terdapat wilayah di lokasi pengamatan
yang ditanami oleh tanaman kopi.
Gambar 6 Hutan sekunder bernama Omang Humurbakul
Secara umum jalur pengamatan di Omang Padadalu cenderung lebih sulit
dibandingkan dengan jalur pengamatan di Omang Humurbakul sebab beberapa
wilayah di Omang Padadalu ditutupi oleh batu karang. Sumber air tidak ditemukan
di sepanjang jalur pengamatan namun ditemukan saat eksplorasi di bagian tenggara
bukit Omang Padadalu yang tidak masuk ke dalam jalur pengamatan, Omang
Welatuna, dan sebelah utara camp di Patamuwai.
Komposisi Jenis
Tujuh jenis mamalia ditemukan secara langsung dan tidak langsung di kedua
jenis ekosistem serta omang dan maradda (padang savana) lokasi eksplorasi.
Penemuan secara tidak langsung yaitu melalui feses, suara, jejak kaki, tempat tidur,
bekas pakan, dan bekas garukan ranggah (rusa timor). Data jenis mamalia yang
ditemukan pada lokasi penelitian tercantum pada Tabel 1.
12
Tabel 1 Komposisi Jenis Mamalia yang Dijumpai di Blok Mahaniwa
No. Famili Nama Nama Nama Ilmiah Perjumpaan
Indonesia Inggris
Lang- Tidak
sung Langsung
Monyet Nicobar Macaca HP, HS,
1. Cercopithaecidae ekor Crab-eating fascicularis OB, DU, HP (BP)
Macaque Camp
panjang Rusa
timorensis
2. Cervidae Rusa Javan Deer HP (F,
timor GR, TT)
Rattus
3. Muridae Tikus Brown Rat norvegicus Camp
cokelat
Kelelawar Western
Naked- Dobsonia
4. Pteropodidae kubu backed Fruit peronii HS
Nusa
Tenggara Bat
Intermediate
5. Pteropodidae Prok-bruk Horseshoe Rhinolophus HS
hutan Bat affinis
HP (F, S,
6. Suidae Babi Wild Boar Sus scrofa TT), HS
hutan (J), MPJ
(F, TT)
7. Viverridae Musang Common Paradoxurus HP, HS HP (F),
luwak Palm Civet hermaphroditus MPJ
HS (F),
MPJ (F)
Keterangan:
HP: hutan primer, HS: hutan sekunder, OB: Omang Barakamundu, MPJ: Maradda Pangadu Jawa,
DU: Desa Umandundu, BP: bekas pakan, GR: bekas garukan ranggah, F: feses, S: suara, TT:
tempat tidur, J: jejak kaki
Jenis Mamalia yang Ditemukan
1. Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Menurut Napier dan Napier (1967), monyet ekor panjang yang menghuni
pulau-pulau yang berdekatan dengan Pulau Sumba seperti Pulau Lombok, Pulau
Sumbawa, Pulau Flores, dan Pulau Kambing adalah subspesies M. f. sublimitis.
Oleh karena itu, monyet ekor panjang yang ditemukan di TN Matalawa dapat
disimpulkan merupakan subspesies ini. Monyet ekor panjang ditemukan di kedua
jalur pengamatan. Selain itu, satwa ini juga ditemukan di Omang Barakamundu
yang berlokasi di sebelah barat-daya bukit Omang Padadalu (hutan primer), camp
di Patamuwai, dan Desa Umandundu. Satwa ini menjadi mamalia yang paling
sering ditemukan secara langsung selama waktu penelitian dengan frekuensi
perjumpaan tertinggi di Omang Humurbakul (hutan sekunder). Menurut Crockett
dan Wilson (1980), monyet ekor panjang lebih menyukai habitat-habitat sekunder
seperti Omang Humurbakul sebab berjarak dekat dengan pemukiman penduduk dan
ladang pertanian yang menyediakan sumber pakan.
13
Monyet ekor panjang yang ditemukan di lokasi penelitian teramati sangat
sensitif dengan kehadiran pengamat. Hal ini ditunjukkan dengan monyet seketika
meninggalkan pohon bahkan saat pengamat masih berjarak cukup jauh dari pohon
di mana monyet terdeteksi. Hal ini menunjukkan bahwa monyet ekor panjang di
lokasi penelitian merupakan satwaliar yang waspada terhadap kehadiran
pengganggu, salah satunya adalah manusia. Kewaspadaan merupakan salah satu
fungsi hidup berkelompok (Napier dan Napier 1985; Van Schaik 1985). Setiap
anggota kelompok berperan dalam mendeteksi adanya gangguan/benda asing di
sekitarnya sehingga primata akan lebih cepat (lebih dulu) mengetahui (mendeteksi)
kehadiran predator (pengganggu).
Perilaku monyet ekor panjang lainnya yang teramati adalah pilihan ruang
untuk melarikan diri. Kelompok monyet yang berada di Omang Padadalu dan
Omang Humurbakul menjauhi pengamat dengan cara melompat dari pohon ke
pohon. Sementara itu, kelompok monyet yang berada di Omang Barakamundu
teramati menjauhi pengamat dengan menuruni pohon dan berlari di lantai hutan.
Hal ini dapat disebabkan adanya adaptasi oleh monyet ekor panjang terhadap
lingkungannya. Lokasi perjumpaan monyet ekor panjang Omang Barakamundu
berada di bagian tepi hutan di mana tajuk pohon tidak begitu rapat mengakibatkan
monyet dapat terlihat jelas oleh pengamat yang berada di padang terbuka dan
dianggap sebagai pengganggu atau predator (Daniel 1979; Peetz et al. 1992). Oleh
karena itu, monyet di lokasi ini diduga memilih berlari di lantai hutan yang
terhalangi dari pandangan pengamat dengan keberadaan semak-semak tinggi di tepi
hutan. Perilaku ini menunjukkan bahwa penggunaan ruang oleh monyet juga
dipengaruhi oleh tingkat resiko predasi (predation risk). Hal ini didukung dengan
hasil penelitian Makin et al. (2012) terhadap penggunaan ruang monyet vervet yang
melakukan penyesuaian ruang vertikal dan horisontal untuk menghindari predator
aerial dan terestrial.
Monyet ekor panjang juga teramati bertengger di pohon yang sama atau
berdekatan dengan julang sumba di Omang Humurbakul dan Omang Barakamundu.
Monyet ekor panjang teramati sedang bertengger dan makan pada pohon kaduru
(Palaquium sp. dan Planchonella sp.). Bekas pakan monyet ekor panjang berupa
sisa buah kadu rawa (Elaeocarpus sphaericus) yang ditemukan di Omang
Humurbakul menunjukkan bahwa satwa ini juga memanfaatkan tumbuhan ini
sebagai sumber pakan. Berdasarkan hasil pengamatan tim kajian burung, kadu rawa
juga merupakan pakan julang sumba (Rhyticeros everetti). Berdasarkan informasi
dari pemandu, monyet ekor panjang juga memanfaatkan kalihi omang
(Lophopetalum javanum) (Gambar 7) sebagai sumber pakan dan tumbuhan ini
ditemukan berada di dekat pohon-pohon tempat monyet ekor panjang dan julang
sumba terdeteksi selama pengamatan. Di Desa Umandundu monyet ekor panjang
teramati bertengger di pohon-pohon beringin (Ficus sp.) dan berdasarkan informasi
dari masyarakat satwa ini seringkali tidur di gua-gua yang ada di perbatasan antara
desa dengan taman nasional seperti Gua Lawola dan Gua Hibu Karik.
14
Gambar 7 Kalihi omang (Lophopetalum javanum)
Interaksi antara monyet ekor panjang dan julang sumba menarik untuk dikaji
sebab monyet ekor panjang terkenal sebagai mamalia invasif yang apabila
populasinya tidak dikelola dengan baik dapat merusak ekosistem. Sementara itu,
julang sumba merupakan salah satu satwa khas TN Matalawa yang berstatus
konservasi ‘Rentan’ atau Vulnerable menurut IUCN. Berdasarkan hasil pengamatan
tidak ada interaksi negatif antara monyet ekor panjang dan julang sumba sehingga
diduga interaksi antara kedua spesies ini adalah interaksi antara spesies frugivor
(pemakan buah).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembahasan mengenai interaksi antar
spesies frugivor adalah karakter-karakter buah-buah yang menjadi sumber pakan,
hubungan intraspesifik, dan hubungan interspesifik. Namun, pada suatu ekosistem
interaksi antara tumbuhan dan satwa merupakan sebuah produk evolusi sehingga
interaksi antara komponen ekosistem saat ini, termasuk ada tidaknya persaingan
antar spesies frugivor, merupakan hasil dari hubungan saling mempengaruhi sekian
lamanya (Fleming 1979). Sementara itu, menurut Sebastián-González et al. (2016),
pemilihan jenis buah oleh burung frugivor banyak dipengaruhi oleh morfologi
tubuh, sedangkan pemilihan jenis buah oleh mamalia frugivor banyak dipengaruhi
oleh preferensi dan perilaku.
Beberapa studi juga berpendapat bahwa pemilihan jenis buah sebagai pakan
oleh satwa dilakukan melalui proses pengambilan keputusan secara hierarki
(hierarchial decision-making process). Ketiadaan interaksi negatif antara monyet
ekor panjang dan julang sumba dapat juga disebabkan oleh monyet ekor panjang
yang bersifat generalis dan omivora sehingga mengurangi persaingan terhadap
sumber pakan yang sama dengan julang sumba. Sementara itu, hasil pengamatan
menunjukkan bahwa jenis mamalia lainnya dapat dijumpai di lokasi keberadaan
15
monyet ekor panjang yaitu musang luwak dan babi hutan. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian Kartono et al. (2009) di TN Gunung Ciremai di mana berdasarkan
korelasi Pearson (r) sebaran populasi monyet ekor panjang memiliki hubungan
negatif yang sangat nyata dengan musang luwak dan babi hutan. Hal ini berarti
keberadaan monyet ekor panjang tidak memengaruhi keberadaan musang luwak dan
babi hutan dan sebaliknya.
2. Rusa Timor (Rusa timorensis)
Rusa timor yang berada di Pulau Sumba merupakan subspesies R. t.
floresiensis (Van Bemmel 1951). Rusa timor dijumpai secara tidak langsung
melalui keberaadan feses, tempat tidur, dan bekas garukan ranggah di Omang
Padadalu. Menurut informasi yang diperoleh dari pengelola Taman Nasional
Matalawa, rusa timor baru dijumpai di lokasi tersebut sejak tahun 2015. Selama ini,
rusa timor di Resort Wanggameti paling banyak hidup di Maradda La Pahar
(maradda = padang savana). Menurut Semiadi (2006), rusa timor mempunyai
habitat utama berupa savana dan di daerah hutan terbuka. Rusa mencari makan di
padang rumput dan daerah-daerah terbuka, sedangkan hutan dan semak belukar
merupakan tempat berlindung.
Gambar 8 Bekas tempat tidur rusa timor Gambar 9 Feses rusa timor
Feses dan tempat tidur rusa timor dijumpai di lokasi yang sama yaitu di bagian
puncak bukit Omang Padadalu yang cukup datar dan di bawah tutupan tajuk
(Gambar 8 dan 9). Lokasi tersebut dapat dicapai melalui hutan yang cukup rapat di
sebelah utara atau sisi bukit yang cukup terjal di bagian lainnya. Hasil pengamatan
menunjukkan rusa mencapai lokasi ini melalui sisi bukit yang terjal sebab lebih
dekat dengan sumber air. Menurut Masy’ud et al. (2007), rusa merupakan satwa
dengan kebutuhan air yang cukup tinggi. Selain itu, hasil penelitian Kayat et al.
(2017) menunjukkan bahwa rusa timor di kawasan Tanjung Torong Padang, Nusa
Tenggara Timur juga ditemukan tersebar pada daerah dengan kemiringan terjal.
Pemilihan lokasi tidur rusa timor di bawah tutupan tajuk dapat merupakan strategi
anti-predator. Penelitian Smith et al. (1986) mengenai pemilihan lokasi tidur oleh
rusa mule (Odocoileus hemionus) dan penelitian Mysterud (1996) oleh rusa roe
(Capreolus capreolus) menunjukkan bahwa lokasi tidur rusa seringkali tersembunyi
16
oleh vegetasi dibandingkan oleh topografi sebagai strategi anti-predator di mana
vegetasi akan membuat rusa yang tidur membaur dengan sekelilingnya. Hal yang
sama ditunjukkan oleh hasil penelitian Brodie et al. (2009) yang menunjukkan
bahwa kijang (Muntiacus muntjak) dan rusa sambar (Rusa unicolor) memilih lokasi
tidur dengan tutupan tajuk yang tinggi dan topografi datar yang dapat memberikan
bidang pandang yang lebih luas (Canon dan Bryant 1997).
Di Omang Padadalu juga ditemukan bekas garukan ranggah rusa. Menggaruk
ranggah pada rusa merupakan tanda bahwa ranggah sudah matang atau akan lepas
(Wirdateti et al. 2005). Menurut Handarini (2006), rusa jantan memasuki tahap
ranggah keras pada awal musim kemarau dan mengalami casting ketika musim
hujan tiba. Musim hujan di Kabupaten Sumba Timur biasanya terjadi pada bulan
Desember dan Maret (Molyoutami et al. 2016). Selain itu, menggaruk ranggah juga
merupakan bentuk penandaan teritori, mempertajam tanduk, dan mencari harem
untuk dikawini (Handarini et al. 2004).
3. Tikus cokelat (Rattus norvegicus)
Selama waktu penelitian tikus cokelat dijumpai secara langsung melalui
metode trapping dengan menaruh jebakan atau trap di sekitar bekas ladang kopi
sekitar 30 m sebelah timur camp di Patamuwai. Jebakan dipasang pada saat malam
hari yang merupakan waktu aktif tikus (Tristiani et al. 2003). Selama waktu
penelitian pemasangan jebakan hanya berhasil menjebak satu ekor tikus dewasa
yaitu pada malam pertama pemasangan jebakan (Gambar 10). Menurut Stokes
(2013), efisiensi jebakan untuk tikus hitam (R. rattus) dapat dipengaruhi oleh
ukuran jebakan, perilaku tikus, desain jebakan, fitur habitat, dan kombinasi dari
faktor-faktor tersebut. Perilaku menghidari resiko dan diduga mengakibatkan tikus
hitam tidak mendekati objek yang tidak familiar. Perilaku ini kemungkinan juga
dimiliki oleh tikus cokelat. Menurut hasil penelitian Davis dan Emlen (1956) dan
Himsworth et al. (2014), tikus dewasa juga menunjukkan kemungkinan lebih besar
untuk memasuki jebakan pada hari-hari pertama pemasangan dibandingkan tikus
yang belum dewasa. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat
kesuksesan tertinggi pemasangan jebakan pada tikus terjadi pada hari-hari pertama
pemasangan dan semakin menurun pada hari-hari berikutnya (Himsworth et al.
2014; Byers et al. 2019). Hal ini menunjukkan perilaku ‘trap shy’ pada tikus.
17
Gambar 10 Tikus cokelat (Rattus norvegicus)
Keberadaan tikus juga terdeteksi melalui perjumpaan langsung disertai suara
gemerisik vegetasi yang diakibatkan pergerakan tikus (Tristiani et al. 2003) dan
perjumpaan seperti ini terjadi beberapa kali pada siang hari. Tikus polinesia (Rattus
exulans) merupakan jenis Rodentia lainnya yang tercatat ditemukan di TN
Matalawa (BTN Matalawa 2018). Namun, jenis ini diketahui memiliki hubungan
kompetisi dengan tikus cokelat dan cenderung menghindari habitat yang telah
dihuni oleh tikus cokelat (Harper dan Veitch 2006) sehingga hal ini diduga menjadi
penyebab tikus polinesia tidak dapat dijumpai selama waktu penelitian. Rodentia
berperan penting dalam penyebaran biji dan spora, polinasi, pemangsaan biji, siklus
energi dan nutrisi, modifikasi suksesi tumbuhan dan komposisi spesies, serta
menjadi pakan bagi berbagai jenis predator (Witmer dan Shiels 2018). Di Omang
Padadalu dijumpai lubang sarang tikus berupa cerukan pada batuan karang dengan
sisa-sisa buah kalihi. Hal ini dapat merepresentasikan peran tikus dalam
pemangsaan dan penyebaran biji.
4. Kelelawar Kubu Nusa Tenggara (Dobsonia peronii) dan Prok-bruk Hutan
(Rhinolophus affinis)
Kelelawar kubu Nusa Tenggara dijumpai secara langsung terjebak di jaring
kabut atau mistnet yang dipasang di mulut Gua Humurbakul yang berada di Omang
Humurbakul (Gambar 11). Menurut Goodwin (1979), koloni terbesar kelelawar ini
menghuni chamber besar di dalam suatu gua kapur. Kelelawar ini langsung dapat
teridentifikasi saat dijumpai melalui ciri khas rambut nya yang berwarna kuning
kehijauan. Kelelawar kubu Nusa Tenggara merupakan salah satu jenis
Megachiroptera, yaitu jenis kelelawar berukuran tubuh besar dan pemakan buah.
Kelelawar ini diketahui memakan buah dari Borassus dan Ficus (Goodwin 1979).
Ficus merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai di dalam kawasan dan menjadi
18
pakan bagi berbagai jenis satwa, sedangkan Borassus banyak dijumpai di
pekarangan atau ladang masyarakat setempat sebab dimanfaatkan menjadi bahan
baku pembuatan tas dan keranjang.
Gambar 11 Kelelawar Kubu Nusa Tenggara (Dobsonia peronii)
Prok-bruk hutan juga dijumpai secara langsung terjebak di jaring kabut atau
mistnet yang dipasang di mulut Gua Humurbakul bersama dengan kelelawar kubu
Nusa Tenggara (D. peronii) (Gambar 12). Kelelawar jenis ini diketahui bersarang
di gua kapur (Kingsada et al. 2011). Perjumpaan jenis ini di Omang Humurbakul
yang merupakan ekosistem hutan sekunder juga ditunjukkan melalui hasil
penelitian Furey et al. (2010) dimana jenis ini lebih sering ditemukan di hutan yang
sudah terganggu dibandingkan di hutan primer. Prok-bruk hutan merupakan salah
satu jenis Microchiroptera, yaitu jenis kelelawar berukuran tubuh kecil dan
pemakan serangga. Kelelawar Microchiroptera berperan penting dalam
mengendalikan populasi serangga yang dapat menjadi hama (Wijanarko 2008).
Menurut hasil penelitian Jiang et al. (2008), serangga yang menjadi pakan Prok-
bruk hutan mayoritas berasal dari famili Pyralidae, Geometridae, dan
Melolonthidae.
19
Gambar 12 Prok-bruk Hutan (Rhinolophus affinis)
Pemasangan jaring kabut di malam kedua di tempat yang sama menunjukkan
ketidaksuksesan. Hal ini dapat disebabkan memori spasial yang dimiliki kelelawar
(Robbins et al. 2008) yang menyebabkan kelelawar menghindari lokasi jaring kabut.
Selain itu, keefektifan penggunaan jaring kabut juga dipengaruhi oleh tinggi
terbang, kecepatan terbang, tipe ekolokasi, dan ukuran tubuh (Kofoky et al. 2006).
Eonycteris spelaea dan Rousettus amplexicaudatus merupakan dua jenis kelelawar
yang juga tercatat ditemukan di TN Matalawa (BTN Matalawa 2018). Namun,
kedua jenis ini tidak terjebak jaring kabut selama waktu penelitian. Hal ini dapat
disebabkan kedua jenis ini mencari makan di ruang terbuka di puncak kanopi hutan
(Hodgkison 2001) sehingga tidak terjebak oleh jaring kabut yang dipasang setinggi
2 – 3 m dari atas permukaan tanah.
5. Babi Hutan (Sus scrofa)
Babi hutan dijumpai secara tidak langsung di jalur pengamatan di kedua
ekosistem, Omang Padadalu dan Omang Humurbakul, serta di Maradda Pangadu
Jawa. Perjumpaan secara tidak langsung berupa perjumpaan suara, feses, tempat
tidur, dan jejak kaki. Suara babi hutan terdengar saat pengamatan sore menjelang
malam di puncak bukit lokasi Omang Padadalu. Suara terdengar datang dari bagian
bawah bukit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa babi hutan seringkali bersifat
nokturnal dan menggunakan matahari tenggelam sebagai tanda untuk mulai
beraktivitas (Spitz 1986; Lemel et al. 2003; Pei 2006). Walaupun diketahui sebagai
satwa generalis dalam hal pemilihan habitat, hasil pengamatan menunjukkan bahwa
jejak keberadaan babi hutan lebih banyak ditemukan di ekosistem hutan primer yaitu
di Omang Padadalu. Hal ini dapat disebabkan Omang Padadalu memiliki vegetasi
rapat yang baik untuk lokasi sarang dengan memberikan perlindungan dari cuaca
dan predator (Allwin et al. 2016). Tempat tidur babi hutan yang dijumpai selama
pengamatan mayoritas berbentuk tumpukan daun-daun rerumputan. Selain itu,
tempat tidur babi hutan juga ditemukan berada di cerukan-cerukan batuan karang
membentuk gua yang banyak terdapat di Omang Padadalu (Gambar 13). Perilaku
20
yang sama juga ditunjukkan oleh hasil penelitian Nichols (1962) terhadap babi
hutan di Hawaii yang menggunakan gua-gua sebagai tempat tidur.
Gambar 13 Tempat tidur babi hutan (Sus scrofa) di cerukan batu karang
Satwa ini menjadi mamalia yang paling sering ditemukan secara tidak
langsung selama waktu penelitian. Hal ini perlu menjadi pertimbangan dalam
pengelolaan kawasan sebab babi hutan memberikan dampak yang bertentangan bagi
komunitas tumbuhan dan satwaliar lainnya. Perilaku makan babi hutan yang
mencabut tumbuhan pakannya untuk mendapatkan umbi (rooting) dapat
mengakibatkan penurunan populasi tumbuhan pakan dan penggemburan tanah yang
dapat berakibat erosi di lokasi dengan topografi yang curam. Namun, perilaku ini
juga menyebabkan tanah menjadi lebih subur akibat penggemburan tanah yang
mempermudah pertukaran mineral dan kation. Babi hutan juga memangsa telur dari
burung-burung terestrial (Massei dan Genov 2004). Bagi komunitas satwaliar babi
hutan diketahui memangsa larva serangga yang berpotensi menjadi hama. Oleh
karena itu, penelitian lebih lanjut mengenai ekologi babi hutan sangat diperlukan
untuk menjadi dasar bagi pengelolaan populasinya.
6. Musang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus)
Musang luwak dijumpai secara langsung maupun tidak langsung selama
waktu pengamatan. Musang luwak dijumpai secara langsung di Omang Padadalu
pada pengamatan sore (Gambar 14) dan di Maradda Pangadu Jawa pada pengamatan
malam. Selama pengamatan hanya satu individu musang luwak yang dijumpai
setiap kalinya. Hal ini menunjukkan sifat nokturnal dan soliter dari musang luwak
(Nakashima et al. 2010). Perjumpaan musang luwak pada sore hari di Omang
Padadalu diduga adalah saat ketika musang luwak keluar dari pohon istirahatnya di
dalam hutan untuk mulai mencari makan. Hal ini didukung oleh pernyataan
21
Nakashima et al. (2013) yaitu musang luwak seringkali kembali ke hutan untuk
beristirahat pada siang hari. Musang luwak yang dijumpai di Maradda Pangadu
Jawa pada malam hari selalu dijumpai berada di atas pohon Gaik yang tumbuh di
antara padang rumput. Perilaku ini juga ditunjukkan oleh hasil penelitian Joshi et
al. (1995) di mana musang luwak beristirahat pada pohon tertinggi dan terbesar yang
ada di sekitarnya pada malam hari. Pohon gaik bertajuk jarang sehingga pantulan
cahaya dari mata musang luwak sangat mudah terlihat pada saat pengamatan
malam.
Hasil penelitian Nakashima et al. (2013) menunjukkan bahwa keberadaan
buah dan lokasi tidur siang (day-bed site) merupakan faktor penting yang
mempengaruhi penggunaan ruang oleh musang luwak. Walaupun secara klasifikasi
ilmiah musang luwak termasuk dalam bangsa Carnivora, musang diketahui banyak
mengkonsumsi buah-buahan (Zhou et al. 2008). Musang memakan buah secara utuh
dan mengeluarkan bijinya secara utuh pula melalui feses (Mudappa 2001). Perilaku
makan ini menyebabkan musang luwak mampu menyebarkan biji dengan jarak
yang lebih jauh dibandingkan frugivora toleran-gangguan (disturbance-tolerant)
lainnya (Nakashima dan Sukor 2010). Menurut Wunderle (1997), penyebar biji
jarak jauh sangat penting baik bagi melestarikan populasi jenis-jenis tumbuhan
maupun untuk restorasi hutan. Oleh karena itu, musang luwak merupakan satwaliar
yang sangat perlu untuk dilestarikan.
Gambar 14 Musang luwak di atas pohon Gambar 15 Feses musang luwak
Status Konservasi
Status konservasi merupakan indikator yang digunakan untuk menunjukkan
tingkat keterancaman spesies mahluk hidup dari kepunahan. Status konservasi
diterapkan baik untuk hewan maupun tumbuhan. Penetapan status konservasi
bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pelestarian terhadap spesies mahluk
hidup. Status tersebut bisa berbeda-beda di setiap negara, sehingga status konservasi
juga merupakan salah satu indikator dalam pengelolaan satwaliar. Status konservasi
bisa dikeluarkan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga yang memiliki perhatian
pada keanekaragaman hayati. Status konservasi yang paling banyak dijadikan
rujukan secara global diantaranya The IUCN Red List of Threatened Species dan
22
CITES Appendices. Status yang dikeluarkan oleh kedua lembaga ini tidak mengikat
secara hukum sampai suatu negara mengadopsinya dalam sistem hukum masing-
masing. Penerapan perlindungan terhadap fauna di Indonesia diatur oleh Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No. P.106 Tahun 2018.
Tabel 2 Status Konservasi Mamalia yang Dijumpai di Blok Mahaniwa
Status Konservasi
No Famili Nama Ilmiah IUCN CITES Permen
LHK
No.106
1. Cercopithaecidae Macaca fascicularis LC Appendix II -
2. Cervidae Rusa timorensis VU - √
3. Muridae Rattus norvegicus LC - -
4. Pteropodidae Dobsonia peronei LC - -
5. Pteropodidae Rhinolophus affinis LC - -
6. Suidae Sus scrofa LC - -
7. Viverridae Paradoxurus LC Appendix III -
hermaphrodites
Secara status, penilaian ancaman bagi rusa timor (Rusa timorensis) di habitat
alaminya adalah perburuan, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat. Rusa diburu
untuk pemenuhan pangan dan kesenangan bagi manusia (Jacoeb dan Wiryosuhanto
1994). Salah satu upaya untuk menjaga keberadaan rusa timor yaitu dengan
melakukan upaya penangkaran untuk mengantisipasi kepunahan rusa. Berdasarkan
Kategori IUCN Red list, sejak tahun 2008 rusa timor termasuk kategori rentan
(Vulnerable) (Tabel 2). Sebelumnya pada tahun 1996 rusa timor berstatus resiko
rendah (Lower Risk). Perubahan status ini disebabkan total populasi asli rusa timor
di darah penyebaran aslinya diperkirakan kurang dari 10.000 individu dewasa,
dengan perkiraan penurunan sekurangnya 10% selama tiga generasi sebagai akibat
dari hilanganya habitat dan perburuan (IUCN 2015). Pemerintah dalam Permen
LHK No P.106 juga memasukkan rusa timor kedalam satwa dilindungi, namun
dalam status perdagangannya, CITES tidak menempatkan rusa timor dalam daftar
Appendix-nya.
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) termasuk dalam status beresiko
rendah atau Least Concern dalam IUCN dan termasuk dalam Appendix II dalam
CITES. Appendix II meliputi spesies yang tidak selalu terancam punah, namun
perdagangannya harus dikontrol untuk menghindari pemanfaatan yang
membahayakan kelangsungan hidupnya. Musang Luwak (Paradoxurus
hermaphroditus) termasuk dalam status Least Concern dalam IUCN dan termasuk
dalam Appendix III dalam CITES. Appendix III meliputi spesies yang dilindungi
oleh paling sedikit satu negara dan pihak tersebut meminta bantuan CITES untuk
mengendalikan perdagangannya. Mamalia lain yang ditemukan seperti babi hutan
(Sus scrofa), tikus cokelat (Rattus norvegicus), kelelawar jenis Rhinolophus affinis
23
dan Dobsonia peronii merupakan mamalia yang berstatus Least Concern dalam
IUCN, dan untuk status perlindungan terhadap perdagangan liar dan perlindungan
fauna dalam negeri tidak disinggung sama sekali. Hal ini dapat disebabkan
keberadaan jenis satwa yang berlimpah dan juga kurangnya data terkait keberadaan
satwa tersebut serta kedudukan satwa yang kurang primer dalam rantai ekosistem.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Jenis mamalia yang dijumpai selama penelitian di Blok Mahaniwa Resort
Wanggameti TN Matalawa berjumlah 7 jenis dari 6 famili. Jenis mamalia yang
paling sering dijumpai secara pengamatan langsung maupun tidak langsung adalah
babi hutan (Sus scrofa). Selain itu, tidak dijumpai interaksi negatif antara monyet
ekor panjang (Macaca fascicularis) dan julang sumba. Rusa timor dijumpai secara
tidak langsung melalui keberaadan feses, tempat tidur, dan bekas garukan ranggah
di Omang Padadalu dan baru dijumpai di lokasi tersebut sejak tahun 2015. Jenis
kelelawar yang dijumpai selama penelitian adalah kelelawar kubu nusa tenggara
(Dobsonia peronii) dan prok-bruk hutan (Rhinolophus affinis) yang terperangkap
oleh mistnet. Musang luwak dijumpai secara langsung di Omang Padadalu pada
pengamatan sore dan di Maradda Pangadu Jawa pada pengamatan malam. Rusa
timor memiliki status konservasi rentan (Vurnerable) menurut IUCN dan termasuk
ke dalam daftar satwaliar dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
dan Kehutanan RI No. P.106 Tahun 2018. Sementara itu, jenis mamalia lainnya
berstatus beresiko rendah (Least Concern).
Saran
Pemantauan (monitoring) mamalia di TN Matalawa perlu rutin dilakukan
untuk mengetahui kondisi populasi dan habitatnya yang penting sebagai dasar
dalam pengelolaanya. Kajian terhadap jenis-jenis Pteropodidae perlu lebih banyak
dilakukan sebab informasi mengenai famili satwaliar ini di Nusa Tenggara masih
minim. Kajian lebih mendalam perlu dilakukan mengenai hubungan antara monyet
ekor panjang dengan jenis-jenis burung endemik. Kondisi habitat di Omang
Padadalu perlu diteliti lebih lanjut dalam kesesuaiannya sebagai habitat rusa timor
yang dapat menjadi dasar untuk peningkatan kuantitas dan kualitas habitatnya.
Potensi babi hutan untuk menjadi satwa buru untuk aktivitas wisata berburu dapat
juga dikaji lebih lanjut.
24
DAFTAR PUSTAKA
Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwa Liar. Jilid 1. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.
Allwin B, Swaminathan R, Mohanraj A, Suhas GN, Vedaminckam S, et al. 2016.
The wild pig (Sus scrofa) behavior – a retrospective study. J Veterinar Sci
Techno. 7:333.
[BTN Matalawa] Balai Taman Nasional Manapeu Tanah Daru-Laiwangi
Wanggameti. 2018. Statistik Balai TN Matalawa 2018. Tidak dipublikasikan.
Brodie JF, Brockelman YF. 2009. Bed site selection of red muntjac (Muntiacus
muntjac) and sambar deer (Rusa unicolor) in a tropical seasonal forest. Ecol.
Res. doi: 10.1007/s11284-009-0610-9.
Byers KA, Lee MJ, Bidulka JJ, Patrick DM, Himswort CG. 2019. Rat in a cage:
trappability of urban Norway rats (Rattus norvegicus). Front. Ecol. Evol. 7:
68.
Canon SK, Bryant FC. 1997. Bed-site characteristics of pronghorn fawns. J. Wildl.
Manag. 61:1134-1141.
Collins NM, Sayer JA, Whitmore TC. 1991. The Conservation Atlas of Tropical
Forests: Asia and The Pacific. London (UK): Macmillian Press Ltd.
Crockett CM, Wilson WL. 1980. The ecological separation of Macaca nemestrina
and Macaca fascicularis in Sumatra. Dalam: The Macaques: Studies in
Ecology Behaviour and Evolution. Lindburg DG, editor. New York (US):
Van Nostrand Reinhold Company.
Daneel ABC. 1979. Prey size and hunting methods of the crowned eagle. Ostrich
50:120-121.
Davis DE, Emlen JT. 1956. Differential trapability of rats according to size and sex.
J. Wildl. Manag. 20:326–327.
Fleming TH. 1979. Do tropical frugivores compete for food?. AMER. ZOOL.
19:1157-1172.
Furey NM, Mackie IJ, Racey PA. 2010. Bat diversity in Vietnamese limestone karst
areas and the implications of forest degradation. Biodiversity Conservation
19:1821-1838.
Goodwin RE. 1979. The bats of Timor: systematics and ecology. Bulletin of The
American Museum of Natural History 163(2):73-122.
Hall LS, Krausman PR, Morrison ML. 1997. The habitat concept and a plea for
standard terminology. Wildlife Society Bulletin 25(1):173-182.
25
Handarini R, Nalley WMM, Semiadi G, Agung P, Subandriyo, Purwantara B,
Toelihere MR. 2004. Lama tahap pertumbuhan ranggah dalam satu siklus
ranggah rusa pada rusa timor (Cervus timorensis) jantan. Teknologi
Peternakan dan Veteriner 459-465.
Handarini R. 2006. Pola dan siklus pertumbuhan ranggah rusa timor jantan (Cervus
timorensis). Jurnal Agribisnis Peternakan 2(1):28-35.
Harper G, Veitch D. 2006. Population ecology of Norway rats (Rattus norvegicus)
and interference competition with Pacific rats (Rattus exulans) on Raoul
Island, New Zealand. Wildlife Research 33:539-548.
Himsworth CG, Jardine CM, Parsons KL, Feng AYT, Patrick DM. 2014. The
characteristics of wild rat (Rattus spp.) populations from an inner-city
neighborhood with a focus on factors critical to the understanding of rat-
associated zoonoses. PLoS ONE 9: e91654.
Hodgkison R. 2001. The Ecology of Fruit Bats (Chiroptera: Pteropodidae) in a
Malaysian Lowland Dipterocarp Forest, with Particular Reference to The
Spotted-Winged Fruit Bat (Balionycteris maculata, Thomas) [tesis]. Scotland
(UK): University of Aberdeen.
IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Reserves).
2015. The Redlist of Threathened Species [Internet]. [Diakses 2019
September 04]. Tersedia pada: http://www.iucnredlist.org.
Jacoeb TN, Wiryosuhanto SD. 1994. Prospek Budidaya Ternak Rusa Jilid I. Jakarta
(ID): Kanisius.
Jiang T, Feng J, Sun K, Wang J. 2008. Coexistence of two sympatric and
morphogically similar bat species Rhinolophus affinis and Rhinolophus
pearsoni. Progress in Natural Science 18(5):523-532.
Joshi AR, Smith JLD, Cuthbert FJ. 1995. Influence of food distribution and
predation pressure on spacing behavior in palm civets. Journal of
Mammalogy 76:1205–1212.
Kartawinata K. 2013. Diversitas Ekosistem Alami Indonesia: Jakarta (ID): LIPI
Press dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Kartono AP, Gunawan, Maryanto I, Suharjono. 2009. Jurnal Biologi Indonesia
5(3):279-294.
Kayat, Pudyatmoko S, Maksum M, Imron MA. 2017. Potensi konflik
penggembalaan kuda pada habitat rusa timor (Rusa timorensis Blainville
1822) di kawasan Tanjung Torong Padang, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Imu
Kehutanan II 2017:4-18.
26
Kingsada P, Douangboubpha B, Saveng I, Furey N, Sisook P, Bumrungsri R,
Satasook C, Thong VD, Csorba G, Harrison D et al. 2011. A checklist of bats
from Cambodia, including the first record of the intermediate horseshoe bat
Rhinolophus affinis (Chiroptera: Rhinolophidae), with additional information
from Thailand and Vietnam. Cambodian Journal of Natural History
2011(1):49-59.
Lemel J, Truve J, Soderberg B. 2003. Variation in ranging and activity behavior of
European wild boar Sus scrofa in Sweden. Wildlife Biology 9:29-36.
[LIPI] Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2016. Ekspedisi Sumba. Jakarta (ID):
LIPI Press.
Kofoky A, Andriafidison D, Ratrimomanarivo F, Razafimanabaka HJ,
Rakatondravony D, Racey PA, Jenkins RKB. 2006. Habitat use, roost
selection and conservation of bats in Tsingy de Bemaraha National Park,
Madagascar. Biodivers Conserv. 16 (4):1039-1053.
Makin DF, Payne HFP, Kerley GIH, Shrader AM. 2012. Foraging in a 3-D world:
how does predation risk affect space use of vervet monkeys?. Journal of
Mammalogy 93(2):422-428.
Massei G, Genov PV. 2004. The environmental impact of wild boar. Galemys. 16:
135-145.
Masy’ud B, Wijaya R, Santoso IB. 2007. Pola distribusi, populasi dan aktivitas
harian rusa timor (Rusa timorensis, De Blainville 1822) di Taman Nasional
Bali Barat. Media Konservasi 12(3).
Meijaard E, Sheil D, Nasi R, Augeri D, Rosenbaum B, Iskandar D, Setyawati T,
Lammertink M, Rachmatika I, Wong A, et al. 2006. Hutan Pasca Pemanenan:
Melindungi Satwaliar dalam Kegiatan Hutan Produksi di Kalimantan. Jakarta
(ID): Center for International Forestry Research.
Mudappa D. 2001. Ecology of the Brown Palm Civet Paradoxurus jerdoni in the
Tropical Rainforests of the Western Ghats, India [tesis]. Coimbatore (IN):
Barathiar University.
Mulyoutami E, Sabastian G, Roshetko JM .2016. Pengetahuan dan Persepsi
Masyarakat Pengelola Padang Savana Sebuah kajian Gender di Sumba Timur,
Indonesia: Working Paper no. 245. Bogor (ID): World Agroforestry Centre
(ICRAF) Southeast Asia Regional Program.
Murphy PG, Logo AE. 1986. Ecology of tropical dry forest. Annual Review of
Ecology and Systematics 17:67-88.
Mustari AH, Fatimah DN, Setiawan A, Febria R. 2010. Diversity of Mammals in
Sebangau National Park, Central Kalimantan. Media Konservasi 15:115–119.
27
Mysterud A. 1996. Bed-site selection by adult roe deer Capreolus capreolus in
southern Norway during summer. Wild. Biol. 2:101-106.
Nakashima Y, Inoue E, Inoue-Murayama M, Sukor JA. 2010. High potential of a
disturbance-tolerant frugivore, the common palm civet Paradoxurus
hermaphroditus (Viverridae), as a seed disperser for large-seeded plants.
Mammal Study 35:209–215.
Nakashima Y, Sukor JA. 2010. Importance of common palm civets (Paradoxurus
hermaphroditus) as a long distance diperser for large-seeded plants in
degraded forests. TROPICS 18(4):221-229.
Nakashima Y, Nakabayashi M, Sukor JA. 2013. Space use, habitat selection, and
day-beds of the common palm civet (Paradoxurus hermaphroditus) in human-
modified habitats in Sabah, Borneo. Journal of Mammalogy 94(5):1169–
1178.
Napier JR, Napier PH. 1967. A Handbook of Living Primates. London (UK):
Academic Press.
Napier JR, Napier PH. 1985. The Natural History of the Primates. London (UK):
British Museum (Natural History).
Navarro J, Díaz-Gamboa R. 2014. Line Transect Sampling. Di dalam: Manly BFJ
dan Alberto JAN, editor. Introduction to Ecological Sampling. Florida (US):
Chapman and Hall/CRC.
Nichols L. 1962. Ecology of the Wild Pig, Federal Aid in Wildlife Restoration Final
Report Project W-5-R-13. Hawaii (US): Hawaii Department of Land and
Natural Resources, Division of Fish and Game, Honolulu, Hawaii.
Pei KJC. 2006. Present status of the Formosan wild boar (Sus scrofa taivanus) in
the Kenting National Park, southern Taiwan. Suiform Soundings 6:9-10.
Peetz A, Norconk MA, Kinzey WG. 1992. Predation by jaguar on howler monkeys
(Alouattaseniculus) in Venezuela. Am J Primatol. 28:223-228.
Prasetyo PN, Noerfahmy S, Tata HL. 2011. Jenis-jenis Kelelawar Agroforest
Sumatera. Bogor (ID): World Agroforestry Centre - ICRAF, SEA Regional
Office.
Robbins LW, Murray KL, McKenzie P. 2008. Evaluating the effectiveness of the
standard mist-netting protocol for the endangered Indiana bat (Myotis
sodalis). Northeastern Naturalist 15.
Sebastián-González E, Pires MM, Donatt CI, Guimarães Jr. PR, Dirzo R. 2016.
Species traits and interaction rules shape a species-rich seed-dispersal
interaction network. Ecology and Evolution 2017:1-11.
28
Semiadi G. 2006. Biologi Rusa Tropis. Bogor (ID): Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI).
Smith HD, Overson MC, Pritchett CL. 1986. Characteristics of mule deer beds.
Great Basin Naturalist 46(3):542-546.
Spitz F. 1986. Current state of knowledge of wild boar biology. Pig News and
Information 7:171-175.
Stokes VL. 2013. Trappability of introduced and native rodents in different trap
types in coastal forests of south-eastern Australia. Australian Mammalogy
35(1):49-53.
iga MRM. 2018. Pengembangan Ekowisata sebagai Alternatif Upaya Konservasi
Taman Nasional Matalawa di Kabupaten Sumba Timur, NTT [tesis]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Tristiani H, Murakami O, Watanabe H. 2003. Ranging and nesting behavior of the
ricefield rat Rattus argentiventer (Rodentia: Muridae) in West Java,
Indonesia. Journal of Mammalogy 84(4):1228-1236.
Van Bemmel ACV. 1951. Some additions to a revision of the rusine deer in the
Indo-Australian archipelago. TREUBIA 21:105-110.
Van Hoeve IB. 1992. Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna (Mamalia I). Jakarta (ID):
Perpustakaan Nasional.
Van Schaik C. 1985. The Socio-Ecology of Sumatran Long-Tailed Macaques
(Macaca fascicularis). Utrecht (NL): Drukkerij Elinkwijk BV-Utrecht.
Wijanarko A. 2008. Pengaruh penambahan bahan organik pada fosfat alam terhadap
hasil kedelai di Ultisol Lampung. Jurnal Agritek 16(4):13-23.
Wirdateti, Mansur M, Kundarmasno A. 2005. Pengamatan tingkah laku rusa timor
(Cervus timorensis) di PT Kuala Tembaga, Desa Aertembaga, Bitung,
Sulawesi Utara. Animal Production 7(2):121-126.
Witmer GW, Shiels AB. 2018. Ecology, impacts, and management of invasive
rodents in the United States. Dalam: Ecology and Management of Terrestrial
Vertebrae Invasive Species in the United States I. Pitt WC, Beasley JC,
Witmer GW, editor. Florida (US): CRC Press.
Wunderle JM. 1997. The role of animal seed dispersal in accelerating native forest
regeneration on degraded tropical lands. Forest Ecology and Management
99:223-235.
Zhou Y, Zhang J, Slade E, Palomares F, Chen J, Wang X, Zhang S. 2008. Dietary
shifts in relation to fruit availability among masked palm civets (Paguna
larvata) in Central China. Journal of Mammalogy 89:435-447.
29
30
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pulau Sumba merupakan salah satu pulau yang terletak diposisi terluar di
Indonesia. Luas Pulau Sumba kurang lebih 11 005 km2 memiliki luas kawasan hutan
37% dengan komposisi luas hutan konservasi terbesar sebanyak 57%. Keberadaan
Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (Matalawa)
menjadi salah satu pilar dalam pengelolaan keanekaragaman hayati yang ada di
tanah Sumba sebagai habitat flora maupun fauna. Taman Nasional Matalawa
memiliki variasi ketinggian 0 – 1 224 mdpl sehingga terdiri dari berbagai tipe
vegetasi diantarnya padang savana terbuka, hutan tropika kering, hutan semi awet
hijau dan hutan mangrove. Ketinggian yang bervariasi pada kawasan Taman
Nasional Matalawa menyebabkan pergerakan musiman satwa sangat baik. Taman
Nasional Matalawa merupakan kawasan konservasi terluas di Sumba Timur
sehingga merupakan salah satu dari DPB (Daerah Penting Burung) di Pulau Sumba.
Menurut Rombang et al. (2002) DPB merupakan kriteria-kriteria baku yang
ditetapkan untuk menentukan pelestarian keanekaragaman hayati dalam tingkat
global, regional, dan sub regional yang menggunakan burung sebagai indikatornya.
Kawasan padang savana yang cukup luas dan diapit oleh tutupan hutan
merupakan salah satu daya tarik Taman Nasional Matalawa, kawasan tersebut
merupakan habitat bagi burung-burung endemik yang menjadi spesies kunci seperti
Julang sumba (Rhyticeros everetti) sebagai jenis endemik di Pulau Sumba. Oleh
sebab itu diperlukan penelitian mengenai jenis-jenis burung yang berada di kawasan
Taman Nasional Matalawa. Data keanekaragaman burung sangatlah penting
dikarenakan informasi tersebut diperlukan sebagai salah satu acuan untuk
mengambil kebijakan dalam mengelola kawasan, terutama mengenai jenis-jenis
burung dan habitatnya.
Tujuan
Tujuan dilakukan penelitian inventarisasi burung di Taman Nasional
Matalawa antara lain adalah sebagai berikut:
1. Menghasilkan data terbaru Taman Nasional Matalawa.
2. Menghitung keanekaragaman jenis yang mencakup kelimpahan, dominansi,
serta mengetahui pola penggunaan strata tajuk oleh burung di Resort
Wanggameti, Taman Nasional Matalawa.
31
METODE
Waktu dan Tempat
Pelaksanaan pengambilan data dilakukan pada kawasan hutan Wailatuna,
aliran sungai Petamawai, dan bukit Hiliwuku wilayah Mahaniwa yang termasuk
wilayah Resort Wanggameti, STPN Wilayah III TN Matalawa pada tanggal 2 – 7
Agustus 2019. Pengulangan dilakukan sebanyak empat kali untuk setiap tipe
habitat. Pengamatan dilakukan pada dua waktu dalam satu hari menyesuaikan
waktu aktif burung diurnal dan waktu matahari terbit yaitu pada pukul 05.30 – 11.00
WITA dan 14.30 – 17.30 WITA.
Gambar 16 Peta Pengambilan Data KPB
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam kegiatan pengamatan burung adalah binokuler,
GPS (Global Positioning System), zoom recorder, tally sheet, buku panduan lapang
burung-burung di kawasan Wallacea (Coates & Bishop 2000), kamera, alat tulis,
dan jam tangan. Objek yang diamati dan dimasukan ke dalam data adalah burung-
burung yang ditemukan secara langsung maupun melalui identifikasi suara pada
setiap habitat pada setiap ekosistem.
Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data burung menggunakan metode daftar jenis
MacKinnon dan metode point count atau titik hitung pada jalur (transect). Metode
daftar jenis MacKinnon yaitu mencatat jenis-jenis burung yang ditemukan selama
32
pengamatan. Burung-burung yang telah diidentifikasi dimasukan kedalam daftar
jenis-jenis burung yang sudah diamati dan satu daftar memuat maksimal sepuluh
jenis burung. Satu jenis hanya dicatat satu kali pada daftar tabel tetapi bisa dicatat
dalam daftar tabel selanjutnya, apabila sudah mencapai sepuluh jenis burung maka
dibuat daftar yang baru hingga seterusnya (MacKinnon et al. 2010). Pengambilan
data menggunakan metode MacKinnon dimulai sejak kedatangan di kawasan TN
Matalawa pada kawasan Mahaniwa hingga meninggalkan kawasan.
Pengambilan data menggunakan dalam metode titik hitung yaitu pengamat
berhenti pada suatu titik di habitat yang diamati dan menghitung semua burung yang
terdeteksi baik yang terlihat langsung maupun melalui suara burung yang didengar
selama selang waktu 15 menit dalam setiap titik hitung yang beradius 50 meter
kemudian menuju titik lainnya (Gambar 17). Jumlah titik yang diamati selama
pengamatan yaitu sebanyak 5 titik. Jenis data yang diambil meliputi jenis burung,
jumlah individu, aktifitas, waktu perjumpaan, dan strata tajuk. Burung yang terlihat
dan terdokumentasi di identifikasi menggunakan buku panduan lapang pengenal
jenis burung Wallacea. Sedangkan suara burung yang terekam disesuaikan dengan
kumpulan suara rekaman burung pada situs www.xeno-canto.org.
50 m
150 m
700 m
Gambar 17 Ilustrasi titik pengamatan metode titik hitung
Analisis Data
Data jumlah individu tiap jenis burung pada setiap plot menghasilkan data
mengenai keanekaragaman jenis burung yang dianalisis menggunakan indeks
keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), kemerataan jenis burung menggunakan
indeks kemerataan jenis (E’) dan dominansi jenis burung. Habitat dianalisis secara
deksriptif berdasarkan kondisi lapangan kemudian dihubungkan dengan jenis
burung yang dijumpai. Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut:
1. Indeks keanekaragaman jenis Shannon Wiener
H’ = – Σ (pi ln pi)
33
Keterangan : jumlah individu
H’ : indeks keanekaragaman
pi : perbandingan jumlah individu satu jenis dengan
keseluruhan sampel dalam plot (n/N)
Ln : Logaritma natural
Indeks ini didasarkan pada teori informasi dan merupakan suatu hitungan rata-
rata yang tidak pasti dalam memprediksi individu spesies apa yang dipilih secara
acak dari koleksi S spesies dan individual N akan dimiliki. Rata-rata ini naik dengan
naiknya jumlah spesies dan distribusi individu antara spesies-spesies menjadi sama
atau merata. Ada dua hal yang dimiliki oleh indeks Shanon-Wiener yaitu :
H’= 0 jika dan hanya jika ada satu jenis dalam sampel.
H’ adalah maksimum hanya ketika semua jenis diwakili oleh jumlah individu
yang sama, ini adalah distribusi kelimpahan yang merata secara sempurna.
Nilai keanekaragaman jenis menurut dibagi menjadi tiga kategori:
H’ < 1,5 : kategori rendah
1.5 ≤ H’ ≤ 3.5 : kategori sedang
H’ > 3.5 : kategori tinggi
2. Indeks kemerataan
Kestabilan suatu jenis juga dipengaruhi oleh tingkat kemerataannya, semakin
tinggi nilai H’, maka keanekaragaman jenis dalam komunitas tersebut semakin
stabil. Indeks kemerataan bertujuan untuk mengetahui kemerataan setiap jenis
dalam setiap komunitas yang dijumpai. Rumus untuk menghitung indkes
kemerataan adalah sebagai berikut:
E’ = H’ / ln S
Keterangan:
E’ : Indeks kemerataan jenis (nilai antara 0 – 10)
H’ : Indek Shannon
S : Jumlah jenis yang ditemukan
Ln : Logaritma natural
Bila E mendekati 0 (nol), jenis penyusun tidak banyak ragamnya, ada
dominasi dari jenis tertentu dan menunjukkan adanya tekanan terhadap ekosistem.
Bila E mendekati 1 (satu), jumlah idividu yang dimiliki antar jenis tidak jauh
berbeda, tidak ada dominasi dan tidak ada tekanan terhadap ekosistem.
3. Dominansi
Penentuan jenis burung yang dominan dalam pengamatan ditentukan melalui
rumus menurut van Helvoort (1981), yaitu:
34
Di = Ni x 100%
N
Keterangan:
Di : indeks dominansi suatu jenis burung
Ni : jumlah individu suatu jenis
N : jumlah individu dari seluruh jenis
Perhitungan nilai dominansi berguna untuk mengetahui spesies yang
dominan pada suatu ekosistem.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keanekaragaman Jenis Burung
Jumlah jenis yang dijumpai selama pengambilan data di kawasan Mahaniwa
Resort Wanggameti sebanyak 43 jenis burung dari 24 famili dengan perbandingan
28 jenis dari 20 famili ditemukan pada ekosistem hutan dataran rendah dan 32 jenis
dari 21 famili pada ekosistem riparian. Perbandingan jumlah jenis pada kedua
ekosistem dapat dilihat pada Gambar 18.
33
32
32
31
Jumlah Jenis 30
29
28
28
27
26 Riparian
HutanDataran Rendah
Gambar 18 Jumlah jenis burung pada setiap ekosistem
Perbandingan keanekaragaman famili pada keseluruhan lokasi pengamatan
dan masing–masing ekosistem di kawasan Mahaniwa dapat dilihat pada Gambar 19.
Famili yang paling banyak ditemui dari kedua tipe ekosistem yaitu Pssitacidae dan
Columbidae yang memiliki jumlah jenis yang sama yaitu sebanyak 5 jenis.
35
6
55
5
4
333
3
22
2
1111111111111111111
1
0
Gambar 19 Jumlah jenis pada famili di kawasan Mahaniwa
Perbandingan keanekaragaman famili ekosistem dataran rendah di kawasan
Mahaniwa dapat dilihat pada Gambar 20. Famili yang paling banyak ditemukan di
ekosistem hutan dataran rendah antara lain Meliphagidae dan Pssitacidae. Sebanyak
tiga jenis dari famili Meliphagidae, yaitu isapmadu australia (Lichmera indistincta),
myzomela sumba (Myzomela dammermani), dan cikukua tanduk (Philemon
buceroides). Kelompok famili Meliphagidae ditemukan pada pucuk-pucuk pohon
yang sedang berbunga, hal tersebut dikarenakan famili Meliphagidae merupakan
kelompok penghisap madu sehingga menyukai daerah-daerah tajuk pohon yang
banyak terdapat bunga (Trainor et al. 2000). Sebanyak empat jenis dari famili
Psittaciidae yang ditemukan yaitu nuri bayan (Eclectus roratus), nuri pipi merah
(Geoffroyus geoffroyi), perkici orange (Trichoglossus capistratus), dan kakatua
sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata).
4.5
4
4
3.5
3
3
2.5
222
2
1.5
111111111111111
1
0.5
0
Gambar 20 Jumlah jenis pada famili di ekosistem hutan dataran rendah
36
Jenis-jenis dari famili Psittacidae umumnya ditemukan bertengger pada
pohon-pohon yang berdameter lebih dari 2 meter. Kelompok burung famili
Pssitacidae umumnya menggunakan pohon berukuran besar dan berumur tua
sebagai sarangnya dengan melubangi pohon atau memanfaatkan celah pohon
kemudian menggunakannya tidak hanya pada saat musim kawin tetapi
menggunakan sarangnya sepanjang tahun sebagai sarana perlindungan (Irham
2014). Sarang nuri bayan (E. roratus) dijumpai pada pohon Mara (Tetrameles
nudiflora) dari famili Tetramelaceae. Berdasarkan aktivitas nuri bayan (E. roratus)
yang dijumpai, diduga jenis nuri bayan betina sedang mengerami telur. Hal tersebut
karena nuri betina selalu dijumpai saat pengamatan berlangsung. Terlihat beberapa
kali nuri bayan betina keluar dari sarangnya, dan bertengger pada pohon lain didekat
sarang selama rentang waktu 10 – 15 menit sampai kembali ke sarangnya tanpa
membawa pakan. Jenis nuri bayan jantan tidak selalu dijumpai disarang, akan tetapi
berada disekitar pohon sarang tersebut pada dahan pohon yang berbeda. Pohon
tersebut juga merupakan habitat bagi jenis Pssitacidae lain seperti perkici orange (T.
capistratus) dan nuri pipi merah (G. geoffroyi), akan tetapi jenis kakatua sumba (C.
sulphurea citrinocristata) tidak dijumpai pada pohon yang telah dihuni oleh jenis
Psittacidae lainnya.
Gambar 21 Nuri bayan (Eclectus roratus)
Pada ekosistem riparian, famili yang paling banyak ditemukan adalah
Columbidae dan Muscicapidae. Sebanyak empat jenis yang ditemukan dari famili
Columbidae yaitu pergam hijau (Ducula aenea), walik rawamanu (Ptilinopus
dohertyi), uncal kouran (Macropygia ruficeps), dan delimukan zamrud
(Chalcophaps indica). Jenis-jenis burung famili Columbidae umumnya dijumpai
bertengger pada puncak-puncak pohon Gamal (Gliricidia sepium) yang
mendominasi pada sekitar ekosistem riparian. Famili Columbidae umunya
37
ditemukan beraktifitas dipermukaan tanah dan di atas tajuk. Aktivitas yang biasa
dilakukan yaitu mencari makan biji-bijian, terkadang mereka memakan batu atau
pasir untuk membantu proses pencernaannya (Hidayat 2012). Perbandingan
keanekaragaman famili pada ekosistem riparian di kawasan Mahaniwa dapat dilihat
pada Gambar 22.
4.5 4
4
3.5 3 3
3
2.5 2 2 2 2
2
1.5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
1
0.5
0
Gambar 22 Jumlah jenis pada famili di ekosistem riparian
Kelompok jenis-jenis burung dari famili Muscicapidae ditemukan sebanyak
tiga jenis yaitu sikatan sumba (Ficedulla harterti), sikatan bubik (Muscicapa
dauurica), dan sikatan kepala abu (Culicicapa ceylonensis).
Gambar 23 Pergam hijau (Ducula aenea)
38
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dengan Metode Daftar Jenis
MacKinnon (Gambar 24) kurva ekosistem riparian cenderung lebih curam
dibandingkan dengan ekosistem hutan dataran rendah karena pada ekosistem
riparian selalu mengalami pertambahan daftar jenis. Ekosistem dataran rendah
memiliki kurva cenderung relatif mendatar karena tidak mengalami kenaikan kurva
pada daftar jenis ke 6 dan 8. Kecuraman yang terjadi pada kurva kekayaan jenis
menandakan bahwa terdapat kemungkinan adanya jenis burung baru yang belum
tercatat pada daftar jenis apabila ada penambahan waktu dalam pengamatan
(Mackinnon 1998).
35 32
30 29 28
25 26
25 24 24 24 25
23
19 21
Jumlah jenis 20 18
15
15
10
10
5
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Daftar Jenis ke -
Hutan Dataran Rendah Riparian
Gambar 24 Kurva pertambahan jenis pada masing-masing ekosistem
Jenis – jenis yang sering dijumpai pada ekosistem hutan dataran rendah
antara lain nuri bayan (E. roratus), perkici orange (T. capistratus), dan julang sumba
(R. everetti). Struktur vegetasi dari ekosistem hutan dataran rendah cenderung
tertutup dan ditumbuhi oleh jenis pohon ai marra (Toona sureni) dan kondorawa
(Elaeocarpus sphaericus). Penggunaan ruang pada burung pemakan buah
(frugivora) biasanya cenderung beraktivitas pada bagian tengah pohon, dimana
terdapat buah dan biji (Jarulis 2007). Julang Sumba (R. everetti) dijumpai pada tajuk
bagian atas pohon. Hal tersebut disebabkan karena kelompok Burcerotidae
cenderung memilih tajuk bagian atas karena kemudahannya mendatangi tempat
tersebut dan persaingan dengan jenis lain (Mardiastuti et al. 1999).
Pada ekosistem riparian ditemukan lebih banyak jenis burung dari pada
ekosistem hutan dataran rendah. Perjumpaan burung lebih mudah ditemukan karena
tutupan lahan dari ekosistem riparian lebih terbuka apabila dibandingkan dengan
hutan dataran rendah. Struktur vegetasi ekosistem riparian umumnya di dominasi
dengan tanaman Gamal (G. sepium), oleh sebab itu jenis – jenis burung yang
dijumpai pada ekosistem riparian relatif berukuran lebih kecil seperti kipasan
arafura (Rhipidura dryas), burungmadu sumba (Cinnyris buettikoferi), dan
kacamata wallacea (Zosterops wallacei) yang memanfaatkan lapisan sub-canopi
39
atau strata II yang memungkinkan untuk berpindah diantara ranting-ranting.
Kelompok burung famili Nectariniidae sering memanfaatkan ketinggian 3 – 10 m
untuk mencari makan, disamping itu juga digunakan untuk istirahat, dan bersuara
(Jarulis 2007).
Indeks Keanekaragaman, Indeks Kemerataan, dan Dominansi
Burung
Berdasarkan pengambilan data yang dilakukan pada dua ekosistem
menggunakan analisis indeks keanekaragaman Shannon-Winner, ekosistem hutan
dataran rendah memiliki nilai H’ lebih tinggi yaitu H’ = 2.51 nilai tersebut lebih
tinggi dari ekositem riparian yang memiliki nilai H’= 2.07. Menurut Krebs (1978)
terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nilai keanekaragaman jenis dalam
suatu komunitas antara lain waktu, heteroginitas ruang, persaingan, pemangsaan,
kestabilan lingkungan dan produktivitas. Heterogenitas ruang pada ekosistem hutan
dataran rendah lebih beragam karena memiliki kerapatan yang lebih rapat dan
cenderung beragam vegetasinya dengan strata yang lebih kompleks, sedangkan
ekosistem riparian yang didominasi oleh jenis Gamal (G.sepium).
Indeks kemerataan pada ekosistem hutan dataran rendah memiliki nilai 0.91
yang lebih tinggi dibandingkan ekosistem riparian yang memiliki nilai 0.72. Nilai
indeks kemerataan dikategorikan tinggi apabila > 0.60 (Odum 1971). Hal tersebut
menunjukan pada masing-masing ekosistem tidak terjadi dominansi antar jenis dan
keberadaan jenis merata. Nilai yang mendekati nilai 1 menunjukan bahwa
kemerataan populasi semakin tinggi. Persebaran jenis burung yang merata
dipengaruhi oleh ketersediaan pangan yang berlimpah sehingga memperkecil
interaksi antar jenis baik kompetensi dan aktivitas predasi.
Tabel 3 Indeks keanekaragaman dan kesamaan jenis burung tiap ekosistem
No Indeks Ekosistem
1 Keanekaragaman HDR R
2 Kemerataan 2.51 2.07
0.91 0.72
Keterangan : HDR = Hutan Dataran Rendah, R = Riparian
Dominansi jenis burung pada suatu ekosistem menunjukkan bahwa jenis
burung tersebut memiliki kecocokan dengan ekosistemnya sebagai bagian dari
habitatnya dan hal tersebut dapat diartikan kemampuan beradaptasi dengan
lingkungannya sangat baik. Menurut Dewi et al. (2007), penentuan nilai dominansi
berfungsi untuk menentukan atau menetapkan jenis burung yang dominan, sub-
dominan, atau tidak dominan dalam pengamatan. Jenis burung yang sering
ditemukan pada saat pengamatan menunjukkan bahwa jenis burung tersebut dapat
dengan mudah dijumpai atau cukup dominan pada kawasan tersebut (Wisnubudi
40