rumah ketika mereka meninggal, dalam hal ini kuburan. Hal tersebut sebagai simbol
kedekatan antara arwah dan keluarga yang masih hidup.
Sebagai bentuk penghormatan kepada kerabat yang telah meninggal, keluarga
akan membuatkan batu kubur yang besar dan indah dengan relief yang
menggambarkan manusia dan hewan seperti kuda, kerbau, ayam, buaya dan tanduk
kerbau ditambah miniatur rumah adat dan rupa-rupa perhiasan sebagai lambang
kebangsawanan dan kekayaan pemiliknya.. Batu - batu itu diambil dari gunung,
kemudian dipahat sesuai dengan bentuk dasar yang diingankan, setelah itu ornamen
- ornamen akan diukir di setiap sisi batu yang telah terbentuk menjadi sebuah
dolmen atau sarkofagus. Semakin indah dan besar sebuah batu kubur, maka hal itu
menyimbolkan juga semakin besar status dan martabat dari yang meninggal.
Gambar 74 Kubur Batu Megalitik
Kubur Batu Megalitik tidak terlepas dari upacara-upacara ritual yang
merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat Sumba yang setiap rangkaiannya
membutuhkan biaya yang banyak. Akses menuju Kubur Batu Megalitik bisa dengan
berjalan kaki maupun dengan kendaraan, berjarak sekitar 50 meter dari Resort
Wanggameti dan terletak ditepi jalan.
Obyek Daya Tarik Wisata Alam
Hasil perhitungan dari setiap unsur dan sub unsur pada penilaian daya tarik
wisata areal mengacu pada pedoman penilaian ODTWA PHKA 2002 dan tingkat
kelayakan suatu obyek wisata. Hasil perhitungan untuk penilaian daya tarik wisata
ketiga wisata di Wanggameti dapat dilihat pada Tabel 15.
141
Tabel 15 Penilaian tingkat kelayakan obyek wisata di Wanggameti
No Obyek Wisata Tingkat Kelayakan Penilaian Kelayakan
Wisata (%)
1 Puncak Wanggameti Layak dikembangkan
77 % Layak dikembangkan
2 Air Terjun Ampupu 66,67 % Layak dikembangkan
68,75 %
3 Kubur Batu
Megalitik
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan nilai tertinggi dari unsur dan
subunsur serta tingkat kelayakan daya tarik wisata sesuai keunikan sumberdaya
alam yaitu pada obyek wisata Puncak Wanggameti sebesar 1 110 dengan skor 77%.
Nilai skor yang didapat dikalikan dengan bobot nilai untuk kriteria penilaian daya
tarik wisata dengan nilai bobot 6. Nilai kriteria penilaian daya tarik Puncak
Wanggameti dengan nilai keseluruhan 185 x 6 = 1 110. Nilai yang didapat
dikelaskan dengan penilaian kelayakan berdasarkan tingkat kelayakan wisata alam,
maka kawasan Puncak Wanggameti memiliki daya tarik areal yang bernilai layak
untuk dikembangkan menjadi obyek wisata alam. Selain obyek wisata Puncak
Wanggameti, kedua obyek wisata berupa Air Terjun Ampupu dan Kubur Batu
Megalitik juga layak untuk dikembangkan menjadi wisata alam karena tingkat
kelayakan diatas 66.6% dengan persentase berturut-turut 66.67% dan 68.75%.
Aksesibilitas merupakan salah satu faktor penting dalam melakukan kegiatan
wisata. Aktivitas wisata sebagian besar tergantung pada transportasi dan
komunikasi karena faktor jarak dan waktu yang sangat mempengaruhi keinginan
seseorang melakukan perjalanan wisata berupa transportasi yang terdiri dari
frekuensi penggunaannya, jumlah transportasi, dan kecepatan yang dimiliki, selain
itu prasarana juga menjadi sangat penting karena keterkaitan satu sama lain, seperti
jalan, jembatan, terminal, stasiun, dan bandara yang berfungsi untuk
menghubungkan suatu tempat ke tempat yang lain. Aksesibilitas atau tingkat
keterjangkauan dalam wisata merupakan upaya wisatawan dalam mencapai obyek
wisata. Wisatawan akan memperhatikan kondisi jalan yang akan dilalui, jarak dan
waktu yang ditempuh, pilihan transportasi yang tersedia dan digunakan serta biaya
yang dikeluarkan ketika menuju obyek wisata (Mustofa 2018). Berdasarkan
perhitungan, penilaian aksesibilitas secara keseluruhan masih rendah hanya bernilai
600 (50%) dari beberapa kriteria yang dinilai, antara lain kondisi jarak jalan darat,
jarak bandara terdekat ke tujuan, waktu tempuh, jumlah serta frekuensi transportasi
di kawasan. Hal tersebut menunjukkan perlu adanya pengembangan aksesibilitas
dan sarana prasarana utama maupun pendukung dalam mendukung kegiatan wisata
untuk mencapai tingkat kepuasan wisatawan yang maksimum.
142
Manajemen Pengujung
a. Sistem Informasi
Penyebaran informasi mengenai ekowisata yang ada di Taman Nasional
Matalawa tidak terlepas dari media yang digunakan. Di era yang modern, informasi
mengenai sesuatu akan sangat mudah tersebar. Taman Nasional Matalawa
menggunakan media elektronik dan media cetak dalam melakukan promosi wisata.
Media elektronik yang digunakan berupa website Taman Nasional Matalawa,
instagram, dan facebook. Media tersebut digunakan karena dianggap efektif dalam
menjangkau pengunjung jarak jauh. Sedangkan untuk media cetak melalui buku
informasi milik taman nasional dan berupa selebaran pada saat mengikuti kegiatan
pameran tingkat nasional seperti yang sudah pernah diikuti sebelumnya di 3
pameran nasional. Kegiatan promosi sudah gencar dilakukan sejak tahun 2017 dan
efektif dilakukan oleh tim humas dan informasi Taman Nasional Matalawa. Selain
kedua media, Taman Nasional Matalawa juga bekerjasama dengan beberapa biro
travel atau biro perjalanan. Bentuk promosi yang dilakukan berupa deskripsi dari
objek wisata dan penawaran paket wisata yang menggabungkan beberapa objek
wisata dari sumba timur ke sumba barat atau sebaliknya. Taman Nasional Matalawa
menganggap bahwa bentuk promosi yang sudah dilakukan efektif dan sangat mudah
diakses oleh semua orang. Hal tersebut dibuktikan dengan terus meningkatnya
jumlah pengunjung baik domestik maupun internasional.
b. Interpretasi
Objek wisata yang ada di resort Wanggameti tidak terletak persis di tepi jalan,
tetapi akses untuk masuk ke dalam kawasan dengan berjalan kaki. Perjalanan
menuju kawasan sebaiknya dilengkapi dengan papan interpretasi untuk
menjelaskan tentang apa saja yang ada di sepanjang jalur atau manfaat dari apa yang
ada di jalur tersebut. Perjalanan menuju puncak Wanggameti dilengkapi papan
interpretasi sepanjang jalurnya, tapi kebanyakan dari papan interpretasi
menjelaskan tentang nama lokal dan ilmiah dari pohon, belum menjelaskan tentang
fungsi atau manfaat dari pohon tersebut.
Banyak pohon dalam jalur pendakian puncak Wanggameti yang biasa
dimanfaatkan untuk membuat rumah tradisional ataupun dimanfaatkan untuk obat
tradisional, dan bisa dijelaskan dalam papan interpreatasi untuk menarik dan
menambah pengetahuan pengunjung. Jalur menuju air terjun Ampupu belum
memiliki papan interpretasi, untuk penjelasan tentang air terjun Ampupu juga
belum ada, jika diberikan papan interpretasi akan menarik pengunjung. Interpretasi
juga bisa dilakukan melalui pemandu wisata. Pemandu wisata yang ada di resort
Wanggameti menggunakan jasa dari warga lokal yang memang bisa lebih mengerti
tentang jalur, flora dan fauna yang ada di kawasan tersebut.
143
c. Distribusi Pengujung
Pengunjung dapat mengakses informasi mengenai objek wisata yang ada di
Taman Nasional Matalawa melalui media elektronik maupun cetak yang dianggap
efesien dan mampu meningkatkan jumlah pegunjung baik mancanegara maupun
nusantara. Konsentrasi pengunjung tidak tersebar secara merata. Menurut informasi
yang didapat dari Taman Nasional Matalawa sebagian besar pengunjung
berkunjung ke objekk wisata yang sudah memiliki paket wisata. Taman Nasional
Matalawa mempunyai tiga jenis paket wisata yaitu 2 paket wisata 3 hari 3 malam
dan 1 paket wisata 3 hai 2 malam. Untuk paket wisata I akan diarahkan
mengunjungi berbagai tempat di Kabupaten Sumba Timur dan Taman Nasional
Matalawa khususnya Blok Hutan Wanggameti, paket wisata II akan mengunjungi
berbagai tempat di Kabupaten Sumba Timur dabn Taman Nasional Matalawa
khususnya Blok Hutan Laiwangi di Tabundung, dan paket wisata III akan
mengunjungi berbagai tempat di Kabupaten Sumba Barat, Sumba Tengah, dan
Taman Nasional Matalawa khususnya Blok Hutan Manupeu Tanah Daru.
Ketiga paket wisata tersebut memiliki objek wisata yang berbeda-beda dengan
jalur yang berbeda pula. Kebanyakan pengunjung memilih paket wisata III dengan
keindahan objek wisatanya dari mulai Sumba Barat hingga Taman Nasional
Matalawa Blok Hutan Manupeu Tanah Daru. Karena potensi dan panorama yang
disajikan pada paket wisata III jauh lebih indah dan unik serta arah jelajahnya yang
cukup memuaskan. Objek wisata yang disajikan ialah dimulai dari Wisata budaya
Kampung Praijing yang berada di Sumba Barat, Kampung Tarung, Air Terjun
Lapopu yang sekarang sangat terkenal dengan keindahan dan kesejukkannya serta
akses yang cukup mudah dijangkau, Air Terjun Matayangu, birdwatching yang ada
di Bila, dan pantai Konda Maloba. Pesona yang disajikan membuat pengunjung
berpendapat bahwa jika mereka memilih paket wisata III, mereka akan sekaligus
menjelajahi sebagian besar wilayah Sumba. Apabila dibandingkan objek wisata
yang ada di sekitaran Sumba Barat dan Blok Hutan Manupeu Tanah Daru memang
lebih banyak serta akses untuk menuju objek tersebut juga sangat mudah. Berbeda
dengan Sumba Timur dan Blok Hutan Wanggameti walaupun terdapat Puncak
Wanggameti yang merupakan puncak tertinggi di Sumba, namun akses untuk
menuju ke objek tersebut sangat jauh membutuhkan waktu 3 – 4 jam dengan
menggunakan transportasi darat.
144
3500 Wstwan Mancanegara Wstwan Nusantara
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
Gambar 75 Perbandingan pengunjung mancanegara dan nusantara
Berdasarkan Gambar 75 bahwa sebagian besar pengunjung berasal dari lokal
atau nusantara yang kebanyakan berkunjung dan memilih paket wisata III. Hal ini
sesuai dengan informasi yang didapat dari Taman Nasional Matalawa ketika
melakukan wawancara. Musim terbaik ketika berkunjung ialah ketika musim hujan
pada bulan dan adanya kegiatan festival nasional. Kemudian didukung oleh data
statistk milik Taman Nasional Matalawa sebanyak 3 821 pengunjung berkunjung
pada bulan Desember karena sebgaian besar pengunjung merayakan akhir tahun di
Sumba.
d. Keselamatan Pengunjung
Kegiatan wisata tidak terlepas dari keamanan dan keselamatan pengunjung.
Keamanan dan keselamatan pengunjung bukan semata menjadi tanggun jawab
pemilik atau pengelola wisata (owner). Keamanan dan keselamatan pengunjung
akan memberikan kontribusi pada peningkatan pengunjung selanjutnya dan
merupakan faktor terciptanya tanggungjawab sosial kepada masyarakat. Sebuah
kawasan atau destinasi wisata persoalan keamanan dan keselamatan menjadi
tanggungjawab semua masyarakat khususnya pengelola obyek wisata aparat
keamanan, maupun para pengunjung atau wisatawan pada umumnya. Taman
Nasional Matalawa memiliki sistem tersendiri dalam menangani keamanan dan
keselamatan pengunjung. Setiap tahunnya Taman Nasional Matalawa melakukan
monitoring dan evaluasi dengan melakukan pengecekan kondisi kesehatan
pengunjung dan lokasi yang akan dikunjungi serta pengadaan guide/ pemandu
wisata.
145
Sosial Budaya Masyarakat Desa Wanggameti
Kehidupan Sosial
Kebudayaan merupakan segala hal yang dimiliki oleh manusia diperoleh
dengan belajar dan menggunakan akalnya. Manusia dapat berkomunikasi, berjalan
karena kemampuannya untuk berjalan dan didorong oleh nalurinya serta terjadi
secara alamiah (Saliyo 2012). Kebudayaan merupakan sesuatu yang melekat dalam
kehidupan manusia. Kehidupan sosial dan budaya tidak dipisahkan satu sama
lainnya, begitu pun dengan kehidupan masyarakat sekitar resort Wanggameti di
wilayah Desa Wanggameti dan Desa Katikuwai yang menjadi lokasi kajian sosial
budaya masyarakat di Sumba Timur.
Masyarakat Desa Wanggameti dan Desa Katikuwai memiliki kehidupan
sehari-hari dan kebudayaan yang relatif sama, berbeda dengan masyarakat di
wilayah Sumba Barat yang memiliki perbedaan khususnya dari segi bahasa daerah
pada setiap daerahnya. Bahasa yang digunakan di Sumba Timur adalah bahasa
Sumba Tmur, berbeda dengan masyarakat Sumba Barat yang setiap suku dan
daerahnya memiliki perbedaan bahasa, di Sumba Timur perbedaan lagam dan
bahasa setiap suku daerahnya hanya berbeda tipis saja bahkan dapat dikatakan
hampir sama. Terdapat sekitar 12 bahasa di wilayah Sumba Timur, yang paling
umum digunakan adalah mahu karera. Sebelum era modern, pemegang kekuasaan
tertinggi ada di tangan ketua adat atau raja besar dan raja kecil di setiap sukunya,
namun saat sudah modern seperti sekarang yang memimpin adalah kepala desa, dan
beberapa ada yang dibagi berdasarkan dusun seperti di Desa Wanggameti yang
dibagi menjadi dusun Laironja dan Pahulu Bandil, Desa Katikuwai dibagi menjadi
tiga dusun yaitu dusun Pingi Ailuri, Matawai Watu, dan Matawai Petaku. Selain
karena kini sudah mengkuti struktur dari pemerintahan, keturunan raja saat ini juga
sudah mulai terbuka pola pikirnya untuk mengikuti perkembangan zaman, sehingga
sudah jarang ditemui wilayah yang dipimpin oleh seorang raja.
Masyarakat Wanggameti terbagi menjadi beberapa suku, 3 suku yang diakui
hingga saat ini yakni suku Tawiri, suku Mangiluwai, dan suku Tapuhawai, akan
tetapi suku besar yang mendominasi adalah suku Tawiri. Pada umumya kata “suku”
yang dimaksud oleh masyarakat diartikan sebagai marga, sehingga masyarakat
mengatakan bahwa terdapat banyak suku, yaitu marga dari silsilah keluarganya.
Mayoritas masyarakat di Sumba Timur adalah kristen protestan, dan seluruh
masyarakat di Desa Wanggameti dan Katikuwai beragama kristen protestan.
Kepercayaan lokal masyarakat (agama lokal) yang biasa disebut kepercayaan
marapu secara besar sudah ditinggalkan, namun sebagian kecil masih dilakukan
karena berkaitan dengan adat yang berlaku. Pendidikan masyarakat lebih dari 90%
adalah sekolah dasar, hanya sekitar 0.5 % yang melanjutkan sampai tingkat SMA,
selain terbatasnya tempat pendidikan di sekitar pemukiman, sekolah SMA hanya
terdapat di Kota Waingapu yang dapat terjangkau. Pekerjaan dan aktivitas
146
masyarakat pada umumnya adalah berkebun dan bertani. Jenis yang ditanam
umumnya sayur mayur dan umbi-umbian untuk dijual ke pasar dan dikonsumsi
pribadi. Penghasilan rata-rata masyarakat berkisar antara Rp 50 000-200 000 per
bulan.
Sejarah dan Kepercayaan
Konon sejarahnya pada zaman nenek moyang, saat itu nenek moyang sudah
mulai memiliki banyak keturunan dan ingin agar keturunannya terbagi menjadi
beberapa suku, ragamnya suku dimulai saat prosesi penyembelihan seekor babi pada
kegaiatan adat kala itu nenek moyang sudah meminta bagian kepala saat babi belum
juga disembelih, melihat sikap dari nenek moyang keturunan sepakat bahwa suku
yang akan dibawa nenek moyang adalah Tawiri karena berani mengambil bagian
terlebih dahulu. Bagian dari babi lainnya terbagi menjadi suku lain yang berada
diluar kawasan Wanggameti. Selain dengan pembagian potongan babi, suku lain
yang tidak mendapat bagian dinamai berdasarkan penyebab lain misalnya
berdasarkan ketinggian tempat tinggal seperti suku Mbaradita yang rumahnya di
atas dan Mbarawa yang berada di bawah. Selain cerita itu, dahulu kala ketika
masyarakat sedang mencari air dan diberi petunjuk untuk mencari di sekitar puncak
Wanggameti orang yang pertama meminum air berjanji mengakui diri dan
keturunan serta orang sekitarnya sebagai suku Mangiluwai. Sedangkan yang
membawa pulang air dinamakan suku Tapuhawai (dibawah puncak = laipukul). Sisa
air minum ditumpahkan dan berdoa agar sumber air tersebut tetap ada, hal tersebut
menjadi sumber sejarah terbentuknya danau paberiwai yang berarti pembagi air dan
saat ini terbagi menjadi 12 aliran air yang mengaliri daerah Wanggameti dan
sekitarnya.
Gambar 76 Tempat emas berbentuk bayi Gambar 77 Puncak Wanggameti
Suku Tawiri merupakan keturunan dari Jawa, Makassar, Bima, Sumatera, dan
Bali. Tokoh masyarakat setempat mengatakan bahwa ada darah gadjah mada yang
mengalir dalam darah suku tawiri, sehingga sampai saat ini suku tawiri terkenal
dengan ketangguhannya, konon saat zaman berperang suku tawiri dikenal dengan
semangatnya yang pantang menyerah, meskipun dadanya sudah robek, badan sudah
luka-luka, kepala sudah hampir terlepas mereka akan tetap maju melawan. Istilah
147
Wanggameti umumnya dikenal sebagai pohon beringin, akan tetapi Wanggameti
yang menjadi nama daerah di Sumba Timur ini berartikan pengusir arwah kematian.
Hal itu karena pada zaman dahulu ketika daerah Sumba masih berupa hutan lebat
tidak berpenghuni, saat itu masyarakat dari luar mulai menjajakan kakinya di tanah
Sumba dan melakukan perambahan serta penebangan pohon untuk membuka hutan,
namun lambat laun hutan yang lebat mulai terkikis habis, sehingga menurut
kepercayaan masyarakat disana bahwa ada arwah yang marah disertai dengan
fenomena alam yang mencekam seperti badai dan petir, satwa buas dalam hutan
juga menyerang, sehingga masyarakat percaya bahwa mereka harus melakukan
sesuatu untuk menghentikan bencana itu, inisiatif masyarakat yakni memberikan
sesembahan kepada arwah yang menempati daerah tersebut, sesembahan itu
diberikan di puncak wanggameti, yaitu puncak tertinggi di tanah sumba dengan
ketinggian 1 225 mdpl.
Sesembahan yang diberikan yakni berupa emas yang berbentuk bayi, yang
kini tengah terkubur disana. Sebelum sesembahan tersebut diberikan banyak terjadi
kematian akibat kejadian tersebut, sehingga setelah diberikan sesembahan, bencana
kematian pun selesai, kemudian masyarakat bersenang-senang di sebelah bawah
Puncak Wanggameti yang sekarang dikenal dengan Puncak Kariki (tempat
tertawa), setelah kejadian itu masyarakat mulai berhenti dan mengurangi kegiatan
mernebang pohon serta aktivitas merusak hutan lainnya. Namun seiring
bertambahnya pendatang baru disana, dan mengetahui bahwa ada emas berbentuk
bayi yang mereka katakan sebagai benda yang antik terkubur di puncak
Wanggameti, banyak orang yang ingin mengambil karena nilainya yang dianggap
antic dan mahal. Akan tetapi setiap orang yang hendak mencuri emas tersebut akan
mengalami hal serupa seperti dulu, angin kencang dan badai petir serta satwa buas
akan menyerang, hingga ada beberapa yang meninggal dan tidak diketahui
keberadaannya. Tepat di Puncak Wangggameti tempat terkuburnya emas bayi
banyak lalat hijau yang berterbangan di atas kuburan, lalat hijau tersebut dipercaya
sedang mengerubungi bangkai pencuri yang hingga sekarang lalat hijau tersebut
masih tetap banyak karena masyarakat mengganggap bahwa arwah nenek moyang
yang menyebabkan adanya lalat hijau tersebut, bukan lagi akibat keberadaan
bangkai. Misteri di Puncak Wanggameti pun masih dirasakan oleh masyarakat
sekarang, berdasarakan kejadian sebelumnya bahwa saat mendaki Puncak
Wanggameti selalu saja ada anggota yang hilang, selain itu ketika sudah berada di
puncak dilarang untuk ribut dan berisik karena akan mengundang badai dan hujan,
karenanya tim pendaki bersama pemandu menyusun formasi pendakian dan tidak
menimbulkan kegaduhan selama berada di Puncak Wanggameti.
148
Pengetahuan masyarakat terhadap sumberdaya alam
Tabel 16 Jenis sumbedaya alam yang dimanfaatkan
No Jenis SDA Manfaat
1 Ewi Pangan
2 Ganyu Pangan
3 Singkong Pangan
4 Pisang Pangan
5 Ubi Jalar Pangan
6 Mayela Anaratu Papan
7 Kilu Matamanu Papan
8 Tualaku Kanunu Papan
9 Loba Industri
10 Kihu Kataru
11 Sirih Obat
12 Pinang Obat
Obat
Pengetahuan masyarakat terkait sumberdaya alam lebih kepada kebiasaan
yang berkaitan adat dengan memanfaatkan SDA sebagai obat-obatan tradisional,
masyarakat percaya bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya yang tersedia di alam,
mereka menyebutnya dengan istilah nai dan muru yang berarti bahwa penyakit yang
tidak dapat disembuhkan secara medis dapat disembuhkan dengan kebiasaanya
mengonsumsi obat tradisional yang tersedia di alam, selain itu kepecayaan dalam
pembangunan rumah adat yang mengharuskan penggunaan pohon tertentu sebagai
bahan dasar kayu membuat masyarakat mengetahui kulaitas kayu dari pohon
tersebut, masyarakat juga memanfaatkan SDA lainnya sebagai bahan industrI dan
pangan seperti pemanfaatan daun pohon loba sebagai pewarna alami untuk
mewarnai kain sumba karena dapat memberikan corak warna yang jauh lebih baik
sehingga dapat meningkatkan nilai jual dari kain tersebut, lalu memanfaatkan umbi-
umbian dan sayur mayur untuk konsumsi pangan pribadi, masyarakat mampu
mengolah salah satu umbi-umbian yang dinamakan ewi sebagai bahan pangan saat
melewati musim kelaparan (bertepatan saat panceklik), ewi merupakan umbi-
umbian yang beracun namun mampu diolah dengan baik sehingga aman untuk
dikonsumsi.
Akan tetapi untuk pengelolaan lanjutan yang berpotensi sebagai sumber
peningkatan ekonomi masih belum tercapai mengingat pengetahuan dan ranah
teknologi yang masih terbatas. Pengetahuan masyarakat terkait obat-obatan
misalnya kebiasaan masyarakat dalam melakukan hapa (mengunyah rempah-
rempah seperti pinang, buah sirih, dan kapur) atau biasa dikenal dengan minang,
nyirih, dan nyeupah (dalam bahasa sunda) juga memberi manfaaat untuk
menghilangkan bau mulut, gigi kuat, obat sakit mata, panas tinggi, dan penyakit
kelamin. Selain itu tumbuhan yang dinamai kihu kataru daun dan kulitnya sebagai
obat sakit gigi dan pencegah gigi berlubang.
149
Adat Istiadat dan Kebiasaan
a. Hapa
Kebiasaan hapa atau minang merupakan kebiasaan yang masih sangat
melekat dalam kehidupan masyarakat sumba, baik sumba timur maupun sumba
barat. Hapa merupakan simbolis penghargaan atau penghormatan masyarakat
sumba timur untuk menyambut atau menerima tamu, hapa adalah hal pertama yang
disajikan sebelum minuman seperti kopi, makanan, dan jamuan lainnya.
Masyarakat percaya jika tidak menyajikan hapa kepada tamu akan dianggap sebagai
orang yang sombong dan tidak menghargai tuan rumah.
Gambar 78 Sirih pinang
b. Hewan Adat
Sebagian besar masyarakat sumba timur memlihara hewan seperti kuda, sapi,
kerbau, anjing, babi, dan ayam. Hewan tersebut ada yang dilepas liarkan di alam dan
ada yang dipelihara disekitar rumah. Hewan-hewan tesebut menjadi umum dimiliki
masyarakat sumba timur karena berkaitan dengan adat dan kebudayaannya. Babi
menjadi wajib dimiliki setiap keluarga sebagai simbol tradisi, sedangkan hewan
lainnya digunakan untuk konsumsi, diperjual belikan dan untuk keperluan adat
seperti adat pernikahan dan kematian. Setiap hewan yang disembelih atau dikenal
dengan istilah tikam hewan dalam setiap proses adat tersebut dianggap sebagai
persembahan dan rasa syukur mereka kepada sang pencipta.
150
Gambar 79 Hewan peliharaan Gambar 80 Babi yang dipelihara
b. Adat Perkawinan
Adat perkawinan budaya yang dikenal adalah kawin mawin, seorang laki-laki
yang jatuh cinta pada perempuan tidak dapat mengutarakan rasa cintanya secara
langsung pada perempuan tersebut. Hal pertama yang dilakukan biasanya meminta
bantuan pada temannnya atau teman perempuan yang disukainya, laki-laki tersebut
akan memberikan simbol melalui ikatan sebatang rokok lokal (dari daun lontar),
setelah itu diberikan melalui temannya, apabila sang perempuan menerima maka
laki-laki tersebut akan memberikan cincin yang menandakan bahwa dia sudah
menjadi kekasihnya. Perempuan itu akan memberitahu ke orangtuanya, dan orang
tua akan memanggil laki-laki tersebut untuk menanyakan kesungguhannya. Setelah
diyakinkan orang tua akan meminta laki-laki tersebut untuk datang kembali dengan
membawa juru bicara yang mereka sebut sebagai wunang untuk melakukan
kegiatan lamaran di acara selanjutnya dan membawa seekor hewan. Setelah
kegiatan tersebut dilakukan, keluarga perempuan akan berunding untuk
menentukan jumah hewan yang diminta untuk dibawa laki-laki tersebut, penentuan
jumlah hewan dilakukan secara musyarawah dengan seluruh keluarga, misalnya
kakak perempuan ingin 10 ekor, ibu ingin 15 ekor, ayah ingin 20 ekor, dan paman
ingin 5 ekor, sehingga jumlah hewan yang harus dibawa sebanyak 50 ekor. Namun
biasanya juga jumlah mahar hewan tersebut berpatokan dengan jumlah mahar ibu
perempuannya. Dalam kawin mawin mahar tidak hanya diberikan oleh pihak laki-
laki saja, tetapi pihak perempuan juga memberi timbal balik berupa peralatan rumah
tangga berupa isi rumah seperti lemari, mutiara (muti salak/ anahida), dan kain.
Cara kawin mawin yang kedua selain memakai rokok, ketika kedua pasangan
sudah saling cinta, laki-laki akan langsung menghampiri orang tua untuk
perkenalan diri dan meminta persetujuan, setelah disetujui masuk proses ketiga
yaitu pangga untuk menentukan jumlah ekor hewan yang harus dibawa pihak laki-
laki. Setelah itu laki-laki akan datang dengan membawa juru bicara/ wunang dan
membawa hewan yang sudah setujui. Cara kawin yang ketiga yaitu tamarumbak,
yaitu pasangan yang tidak atau kurang disetujui, maka sang laki-laki akan
menyerobot masuk ke dalam kamar perempuannya, tamarumbak yang artinya
serobot. Cara kawin terakhir yaitu kawin masuk untuk pihak laki-laki yang miskin
dan tidak mampu memenuhi keharusan adat (belis = mahar). Sehingga pihak laki-
151
laki melepas sukunya secara sementara dan menyandang suku perempuannya yang
ditujukan untuk penyederhanaan upacara adat dan setelah upacara adat selesai pihak
laki-laki akan kembali kepada suku awalnya.
c. Juru Bicara (wenang)
Juru bicara atau dikenal juber yang dipakai saat kegiatan adat bukan
sembarang orang. Juber adalah orang yang memiliki kemampuan berbicara dengan
bahasa sastra lokal yang tidak dimiliki orang lain. Meskipun bahasa yang dipakai
tetap bahasa sumba tetapi masyarakat umum tidak akan mengerti arti yang
dikatakan, sehingga biasanya ada sesi untuk menerjemahkan bahasa tersebut kepada
masyarakat yang menghadiri upacara atau kegiatan adatnya. Kemampuan juber
dimiliki bukan berdasarkan proses belajar, tetapi kemampuan yang lahir secara
turun temurun, sehingga tanpa ada proses apapun orang yang sudah ditakdirkan
sebagai juber akan langsung memiliki kemampuan tersebut. Dalam melaksanakan
tugasnya sebagai juber harus sangat berhati-hati, karena berdasarkan ceritanya juber
yang melakukan kesalahan seperti salah bicara ia akan menanggung risiko yang
membahayakan dirinya, seperti sakit hingga meninggal karena tumbal pada hewan
akan berbalik pada dirinya dan dalam kegiatan adatpun seperti kawin mawin
sebaiknya menggunakan dua juber agar terjadi timbal balik dan interaksi dari
masing-masing juber dari pihak laki-laki maupun perempuan.
.
Gambar 81 Juru bicara
d. Adat Pemakaman
Adat pemakaman di Sumba Timur juga masih dipertahankan, sama halnya
dengan pernikahan kegiatan ini diadakan secara besar-besaran, melakukan
penyembelihan puluhan hewan, dihadiri hingga ribuan warga, dan menggunakan
juru bicara/wunang. Umumnya orang yang meninggal di Sumba Timur tidak
langung dikuburkan, selain karena prosesnya yang panjang, juga anggaran yang
dikeluarkan terbilang besar, keluarga dari orang yang meninggal harus menyiapkan
sejumlah hewan untuk keperluan adat, sehingga apabila keluarga belum mampu
152
melakukan prosesi adat kematian maka mayat akan disimpan selama kurun waktu
tertentu sesuai kesepakan sampai kebutuhan sudah siap sedia. Mayat yang disimpan
di rumah biasanya disimpan di kamar atau ruangan lainnya, disimpan dalam peti
dengan beralaskan tembakau dan kapur sirih didalamnya untuk menyerap bau yang
dikeluarkan. Secara singkat proses pemakaman dimulai dari memandikan,
memakaikan baju, hingga dikuburkan. Namun selang sebelum dikuburkan diadakan
terlebih dahulu musyawarah untuk menetapkan tanggalnya. Dalam setiap prosesnya
dilakukan penyembelihan hewan sebagai persembahan dan syukur kepada Tuhan
Yang Maha Esa sebagai pemberi kehidupan dan juga bentuk terimakasih dan
pernghormatan kepada orang yang meninggal. Misalnya ketika ibu yang meninggal
maka pemotongan hewan tersebut sebagai tanda terima kasih atas kasih sayang,
cinta,dan jasa yang telah diberikan selama hidupnya.
Gambar 82 Kubur batu raja
e. Adat Membangun Rumah dan Bercocok Tanam
Kebiasaan masyarakat lainnya adalah melaksanakan prosesi adat sebelum
pembangunan rumah, dalam pembangunan rumah adat dikarenakan harus
menggunakan bahan dasar kayu dari pohon tertentu yakni Mayela Anaratu, Kiru
Matamanu, dan Tualaku Kanunu maka pengambilan kayu tidak dapat dilakukan
sembarangan, harus melalui prosesi adat terlebih dahulu, meskipun tidak
menggunakan bahan kayu dari ketiga pohon tersebut, tetap harus melakukan proses
adat sebagai bentuk rasa syukur. Sama dengan kegiatan adat lainnya masyarakat
akan diundang oleh yang memiliki hajat untuk datang dalam proses pemnbangunan,
sebelum mendirikan tiang pertama masyarakat akan berdatangan dan melaksanakan
pesta adat, begitupun dengan penyembelihan hewan tetap dilakukan, dalam
prosesnnya pun tetap menggunakan juru bicara (wunang).
153
Gambar 83 Rumah menara atap alang Gambar 84 Tempat menyimpan makanan
Gambar 85 Rumah menara dengan atap seng
Rumah adat di Sumba Timur dikenal dengan sebutan Uma Mbatangu yang
berarti rumah menara, bahan dasar kayu yang digunakan tidak sembarang
melainkan kayu dari pohon tertentu yakni Mayela anaratu, Kiru matamanu,dan
Tualaku kanunu, dengan beratapkan dari alang-alang. Akan tetapi seiring
berjalannya waktu rumah adat yang betul-betul 100% menggunakan bahan tersebut
sudah jarang sekali ditemukan, alang alang sudah berganti bahan seng, dan rangka
rumah juga bercampur kayu dari pohon lain karena bahan dasar seperti ketiga pohon
tersebut sangat sulit didapatkan dan dalam pengambilan pohonnya pun mempunyai
tradisi tersendiri. Kegiatan melaksanakan aktivitas sehari-harinya yakni bercocok
tanam, masyarakat akan malakukan sembahyang sebelum membuka lahan kebun
pertanian karena mereka sangat percaya bahwa tuhanlah satu-satunya yang mampu
memberhasilkan kegiatan menanam mereka, mereka juga akan sembahyang dan
upacara pasca panen sebagai bentuk rasa syukur.
f. Alat Musik
Alat musik tradisional yang masih digunakan hingga saat ini ada tiga yaitu
gitar sumba (jungga), gong (anakalang), dan tambur. Sumba memiliki berbagai
macam variasi Jungga. Jungga adalah sebutan untuk berbagai alat musik sumba
yang memiliki berbagai bentuk,baik itu menyerupai ukulele dan kecapi. Sumba
Timur memiliki setidaknya dua variasi Jungga, yang memiliki dua, empat, hingga
enam senar. Jungga yang memiliki empat hingga enam senar sering disebut “juk”.
154
Sementara di Jawa, alat musik ini disebut Jungga Jawa. Biasanya jungga mengiringi
nyanyian dalam bahasa Kambera yang merupakan salah satu bahasa di Sumba.
Musik jungga awalnya dimainkan untuk mengiringi lagu selama ritual tradisional.
Lagu-lagu yang diiringi bercerita tentang kehidupan di Sumba, nasihat tentang
cinta, dan lainnya yang berkaitan dengan kehidupan. Pada tipe jungga bersenar dua
diperkirakan memiliki umur yang lebih tua daripada yang bersenar empat sampai
enam dan tidak berasal dari instrument gitar. Jungga bersenar dua berbentuk seperti
lute menyerupai kapal yang berasal dari Sukawesi Selatan. Jungga jenis ini
memiliki nada yang tinggi.
Gambar 86 Tambur dan gong
Tambur merupakan alat musik yang terbuat dari kayu, rotan, dan kulit
binatang. Tambur terbuat dari kayu lai sejenis kurma hutan dan kulit rusa. Alat
musik ini dimainkan saat berlangsung upacara adat dan untuk mengiringi lego-legi
(tari tradisional) bagi kalangan bangsawan. Konon, tambur seperti ini pertama kali
ditemukan oleh Agustinus. Benda aslinya sekarang tersimpan di suku bangsa Alalu,
Desa Aramaba, Kecamatan Pantar Tengah. Setiap ketukan atau nada yang
dihasilkan akan menginformasikan kejadian yang berbeda, seperti pada tambur,
tambur yang dipukul dari sebuah rumah akan menghadirkan orang-orang sebagai
tanda adanya informasi yang mendadak, tambur dengan ketukan tertentu dalam
upacara kematian menandakan berita duka.
g. Tarian dan Lagu
Terdapat lebih dari 100 tarian lokal Sumba yang menggambarkan
kepercayaan kepata Tuhan agama asli Marapu, kehidupan warga, keadilan,
kejujuran, pesta panen, dan persta perkawinan, namun sebagian besar tarian itu
sudah terlupakan dan hanya menyisakan 22 jenis tarian yang masih sering
ditampilkan. Tarian tersebut antara lain Kabokang (tarian untuk menghormati raja
agar selalu jujur dan adil memimpin), Mapandamu (tarian mewujudkan rasa syukur
atas kelahiran anak), Kandingan (tarian syukur pada pesta panen), Patanjangung
155
(tarian syukur atas panen perdana), dan panapang banu (tarian melamar gadis). Ada
juga tarian Ningguharana yang dibawakan pria dan perempuan untuk menyambut
pahlawan yang pulang dari peperangan. Kini, tarian itu dibawakan saat menjemput
para peserta pasola yang baru pulang dari pertarungan (permainan melempar
tongkat kayu sambil menunggang kuda). Tarian yang sering dimainkan adalah
tarian yungga (tarian humba=sebutan lain untuk sumba) diiringi gitar sumba dan
tarian panapang baru yang melambangkan kebahagiaan masyarakat menggunakan
tambur, mereka akan menari pada setiap kegiatan upacara adat, seperti upacara
pernikahan, berkebun, dan lainnya.
h. Kain Sumba
Pakaian adat yang dikenal adalah dari kain sumba, kain yang ditenun dan
diberi corak warna dari pewarna alami pohon loba, semakin mahal dan baik kualitas
kain tersebut orang yang memakainya pun akan naik derajatnya. Kain tenun Sumba
Timur memiliki ciri khas dan nilai yang cukup tinggi. Menurut cerita turun temurun
kain tenun Sumba Timur memiliki nama dan arti yang sangat mendalam yang
didalam bahasa Sumba Timur disebut “Lukamba Nduma Luri” berarti benang yang
memberi ruh atau kain yang memberi hidup sebagaimana filosofi agama Marapu,
yakni agama kepercayaan masyarakat asli Sumba, sehingga bila diterjemahkan
dalam kehidupan sehari-hari memiliki arti bahwa benang dapat meyambung
kehidupan masyarakat Sumba Timur seperti memberi makan untuk keluarga atau
dapat pula menyekolahkan anak-anak, juga menaikan harga diri keluarga, sebab
benang yang tadinya tidak berarti ketika setelah dipntal dengan seni yang tinggi
menghasilkan sebuah tenun yang cantik dan bernilai tinggi.
Gambar 87 Proses menenun kain Gambar 88 Kain sumba
sumba
Kain tenun Sumba sudah berumur ratusan tahun memiliki corak yang unik
dan langka. Motif dari kain tenun Sumba bervariasi, namun kebanyakan
menggunakan motif gambar kuda yang memiliki filosofi tinggi yang diartikan
kepahlawanan atau kebangsaan, kuda juga symbol harga diri bagi perempuan. Lalu
ada motif buaya yang memiliki arti kekuatan atau gambar papanggang yang biasa
digunakan saat upacara kematian karena menggambarkan proses penguburan.
156
Papanggang ialah hamba yang paling dekat selama hidup dengan sang Raja dan juga
Mamuli yang terlihat seperti rahim wanita yang melambangkan kesuburan.
Ada dua warna yang menjadi ciri khas pada kain tenun Sumba yaitu warna
merah dan biru. Warna merah didapatkan dari akar mengkudu, biru dari akar
tumbuhan nila atau indigo, juga terdapat warna hitam kecoklatan. Warna ini didapat
dari perpaduan warna merah dan biru. Selain itu, ada pula warna putih yang menjadi
dasar benang serta warna kuning yang berasal dari sogan kayu kuning. Warna-
warna kain sumba berbahan dasar dari beberapa jenis tumbuhan seperti buah
mengkudu, daun gewang, atau kemiri. Sebelum diberi warna, kain akan dicelupkan
terlebih dahulu kedalam santan kemiri agar warnanya meresap sehingga
meimbulkan aroma kain yang begitu khusus dan unik yang merupakan ciri
utamanya. Ciri lainnya ialah kain tenun Sumba bisa awet sampai ratusan tahun
lamanya.
i. Makanan
Makanan tradisional masyarakat sumba timur umumnya memanfaatkan hasil
SDA disekitar areal tempat tinggal mereka seperti pisang yang dibuat menggulu,
ubi jalar dibuat menjadi kilu, dan umbi-umbian lainnya seperti ganyu dan ewi
(tanaman lokal saat musim kelaparan) yang diolah menjadi keripik. Salah satu
makanan yang cukup terkenal di Sumba Timur adalah manggulu yang mempunyai
rasa sedikit asam namun ada manisnya yang berasal dari gula merah dan kacang
tanah. Caranya cukup mudah, pisang cukup dijemur sampai 3 hari, kemudian goring
kacang tanah tanpa menggunakan minyak, dan siapkan gula merah. Kemudian
pisang ditumbuk dengan menggunakan alu. Adonan tesebut dibungkus dengan
menggunakan daun pisang atau daun lontar. Berdasarkan informasi kebanyakan
wisatawan sudah pernah merasakan makanan dan menyukai makanan ini.
j. Salam Khusus
Salam hidung merupakan tradisi khas dari Nusa Tenggara Timur, salam
hidung memiliki filosofi bahwa hidung sebagai alat pernapasan yang memiliki arti
kehidupan. Salam hidung memiliki makna yang dalam sebagai bentuk
kekeluargaan, keakraban, dan rasa saling memiliki serta keterikatan antar
sesamanya. Tradisi ini tidak mengenal usia, jenis kelamin, dan status sosial,
meskipun sering menjadi simbol kehormatan bagi seseorang terhadap yang lebih
tua. Tradisi salam hidung berasal dari wilayah Kabupaten Sabu dan masih sangat
terjaga hingga saat ini. Sehingga menyebar dan menjadi dikenal sebagai tradisi di
wilayah Nusa Tenggara Timur lainnya. Berdasarkan penelitian, di Desa
Wanggameti pada kerabat dekat atau pada orang dicintai juga terdapat kebiasaan
bersalaman khusus yakni dengan menempelkan kedua hidung dan saling menarik
nafas yang terhembus sebagai tanda kasih sayang sesama. Berdasarkan pengalaman
orang yang pernah melakukan hal tersebut, akan terasa ada sesuatu yang berbeda,
seolah-olah kedua pihak akan merasakan kedekatan yang begitu luar biasa.
157
k. Humba
Hampir kata kata dengan komposisi huruf S di Sumba, huruf S nya akan
dileburkan, seperti Sumba menjadi Humba dan Susu menjadi Huhu. Konon saat
NTT terbagi menjadi empat pulau besar yakni Flores, Sumba, Timor, dan Alor .
Sebelah timur pulau Timor terdapat pulau kecil yaitu pulau Sabu, Sabu dan Sumba
memiliki keterkaitan darah, budaya dan kebiasaan yang tidak jauh berbeda, sehingga
biasanya orang menyebut dengan istilah Sabu Sumba, terpisahnya dua pulau itu
melahirkan kebiasaan yaitu di Sabu penyebutan kata biasanya ditambahan kata
akhiran, sedangkan di Sumba penyebutan kata biasanya dikurangi walau hanya satu
kata, sehingga huruf seperti S menjadi lebur dalam penyebutan kata Sumba menjadi
Humba.
l. Hamba
Pada zaman dahulu hingga sekarang raja atau tokoh besar di Sumba Timur
akan mempunyai hamba yang akan melayani raja. Ketika raja tersebut meninggal
maka hamba tersebut harus ikut dikubur bersama raja, hamba tersebut akan dibunuh
dan dikuburkan disetiap sisi makan raja, yakni di kiri, kanan, atas (kepala), dan
bawah (kaki). Masyarakat percaya bahwa saat perjalanan sang raja menuju akhirat
maka raja masih harus dilayani, sehingga hamba tersebut harus mengantar rajanya.
Namun seiring berjalannya waktu dan semakin terbuka pola pikir masyarakat,
banyak raja yang tidak dikubur dengan empat hambanya, satu saja sudah menjadi
sulit, karena itu banyak hamba yang kabur saat rajanya meninggal.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Hasil inventarisasi objek wisata di kawasan Resort Wanggameti, Taman
Nasional Matalawa memberikan hasil bahwa terdapat 3 objek wisata yang layak
dikembangkan berdasarkan perhitungan tingkat kelayakan objek wisata yaitu
Puncak Wanggameti yang merupakan puncak tertinggi di Sumba, Air Terjun
Ampupu, dan Kubur Batu Megalitik yang mempunyai keunikan sejarahnya. Setiap
objek memiliki ciri khas tersendiri. Kearifan lokal berupa kebudayaan yang masih
kental dan mitos yang berkembang di masyarakat Desa Wanggameti juga dapat
menjadi daya tarik wisata sebagai bentuk pelestarian kebudayaan masyarakat tanah
Sumba. Keterlibatan dan peran serta masyarakat juga diperlukan dalam
pengembangan ekowisata sekaligus untuk menyejahterakan masyarakat sekitar
dalam aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budayanya. Objek-objek wisata yang
berada di kawasan Resort Wanggameti merupakan objek wisata yang dapat
dikembangkan sebagai wisata minat khusus dengan perpaduan alam dan budayanya
158
karena pengunjung dituntut untuk memiliki keahlian tertentu untuk dapat mencapai
lokasi objek wisata yang jarak lokasinya cukup jauh.
Saran
Berdasarkan hasil inventarisasi, ketiga objek wisata layak untuk
dikembangkan. Sehingga sebaiknya pihak Taman Nasional Matalawa dapat
mempertimbangkan pengembangan ketiga objek wisata tersebut dalam hal
akomodasi, sarana prasarana, aksesibilitas, dan pelayanan penunjang lainnya, serta
meningkatkan kegiatan promosi dari objek wisata yang ada di Resort Wanggameti
dengan tetap memperhatikan sumberdaya pengelolanya. Hal tersebut bertujuan
untuk melestarikan objek wisata dan kebudayaan setempat agar tetap terjaga dan
tidak terjadi kerusakan pada kawasan.
159
DAFTAR PUSTAKA
Darsiharjo, Supriatna U, Saputra IM. 2016. Pengembangan Geopark Ciletuh
berbasis partisipasi masyarakat sebagai kawasan geowisata di Kabupaten
Sukabumi. Jurnal Manajemen Resort dan Leisure Vol.13 (1): 55-66.
Fandeli Ch. 1992. Analisis mengenai Dampak Lingkungan, Prinsip Dasar dan
Pemempanannya dalam Pembangunan. Yogyakarta (ID): Liberty.
Karsudi, Soekmadi dan Kartodiharjo. 2010. Strategi Pengembangan Ekowisata di
Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua. JMHT Vol. XVI, (3): 148-154.
KBBI. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Online]. Available at:
http://kbbi.web.id/pusat. [Diakses 13 Oktober 2018].
Mustofa D. 2018. Aksesibiltas Objek Wisata Air Terjun Sinar Tiga di Desa Harapan
Jaya Kecamatan Way Ratai Kabupaten Pesawaran [skripsi]. Bandar Lampung
(ID): Universitas Lampung.
Saliyo.2012.Konsep diri dalam budaya jawa. Jurnal Buletin Psikologi 20(1-2) : 26-
35.
Walhi. 1995. Strategi Keanekaragaman Hayati Global. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
160
LAMPIRAN
Lampiran 5 Dokumentasi kegiatan Surili 2019
161
162