The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by christinelay2, 2022-06-24 04:16:50

Laporan Ilmiah SURILI 2019

Studi Konservasi Lingkungan

2009). Hasil perhitungan dominansi disajikan pada Gambar 25. Nilai dominansi
pada tingkat dominan, sub-dominan, dan tidak dominan memiliki angka yang sama.
Hal tersebut menunjukkan bahwa jalur pengamatan memiliki ciri-ciri habitat yang
hampir sama.

10 9
9

8 7

76 3
65
54 Tidak Dominan
4 R

3

2

1

0

Dominan Sub Dominan

Hutan Dataran Rendah

Gambar 25 Jumlah jenis dominan tiap ekosistem

Ekosistem hutan dataran rendah pada lokasi pengamatan memiliki
karakteristik yaitu hutan galeri (hutan yang terkonsentrasi di lembah-lembah),
kerapatan vegetasi tinggi, dan memiliki aliran sungai (Hidayat dan Kayat 2014).
Berdasarkan karakteristik hutan dataran rendah tersebut, ekosistem riparian terdapat
di dalam ekosistem dataran rendah. Hal tersebut berpengaruh terhadap jenis burung
yang ditemukan hampir sama antara ekosistem hutan dataran rendah dengan
ekosistem riparian. Jenis-jenis burung yang mendominasi setiap ekosistem
dijelaskan pada Tabel 4.

Tabel 4 Jenis burung yang mendominasi tiap ekosistem

Hutan Dataran Rendah Nilai Indeks Riparian Nilai Indeks

Corvus macrorhynchos 7.527 Cinnyris buettikoferi 6.207
Rhyticeros everetti 7.527 Corvus macrorhynchos 5.517
Rhipidura dryas 5.376 Zosterops wallacei 5.517
Eclectus roratus 9.677 Rhipidura dryas 5.517
Ducula aenea 10.753 Trichoglossus capistratus 9.655

Trichoglossus capistratus 13.978 Collocalia estulenta 45.517
Terpsiphone floris 5.376
Muscicapa dauurica 6.452
Collocalia estulenta 17.204

Hutan menyediakan sumberdaya untuk mempertahakan kelangsungan
mahluk hidup termasuk makanan dan tempat berlindung. Burung berperan dalam

41

berbagai tingkat trofik di hutan dari konsumen primer hingga predator. Sebagai
konsumen utama, burung mendapatkan pakan dari nektar, buah, biji, dan serangga.
Jenis burung yang sering ditemukan pada kawasan Mahaniwa Resort Wanggameti
yaitu burung pemakan atau pengisap madu (nektarinivor) dan pemakan buah
(frugivor). Jenis pengisap madu yang sering ditemukan antara lain jenis cikukua
tanduk (P. buceroides) dan burungmadu sumba (C. buettikoferi). Burung pengisap
madu lebih banyak ditemukan pada ekosistem riparian pada ranting dan dahan
pohon gamal (G. sepium) dan memanfaatkan bunganya sebagai sumber pakan,
sementara burung pemakan biji lebih banyak ditemukan di ekosistem hutan dataran
rendah.

Gambar 26 Julang Sumba (Rhyticeros everetti)
Salah satu jenis burung pemakan buah yang sering dijumpai yaitu julang
sumba (R. everetti). Karakteristik dari buah pakan famili Bucerotidae yaitu buah
Ficus sp sebagai pakan utamanya (Dahlan 2015). Pakan julang sumba (R. everetti)
yang ditemukan yaitu buah dari pohon Kondorawa (Elaeocarpus sphaericus) dengan
karakteristik buah berukuran kecil seperti Ficus sp dan berwarna ungu. Kemampuan
burung famili Bucerotidae sebagai pemakan buah dalam jumlah banyak dan
keahliannya dalam menelan dan memuntahkan biji-biji besar di area hutan,
menjadikan mereka sebagai penyebar biji tumbuhan secara alami di kawasan hutan
yang sangat penting untuk dilestarikan (Kitamura 2008).

Status Konservasi

Status konservasi dari 43 jenis burung yang ditemukan di Taman Nasional
Matalawa khususnya pada Resort Wanggameti kawasan Mahaniwa menurut daftar
jenis IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural
Resources) menunjukan sebagian besar memiliki status LC (Least Concern) atau

42

beresiko rendah. Terdapat dua jenis memiliki status VU (Vulnerable) atau rentan
yaitu jenis julang sumba (R. everetti) dan walik rawamanu (P. dohertyi). Jenis anis
nusa tenggara (Zoothera dohertyi) berstatus NT (Near Threatened) atau terancam
punah dan kakatua sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) memiliki status CR
(Critically endangered) atau kritis. Terdapat tiga blok hutan sebagai habitat utama
kakatua sumba di TN Matalawa yaitu Billa, Praingkareha, dan Mahaniwa. Kakatua
sumba bertahan hidup melalui kelompok-kelompok kecil pada wilayah hutan yang
tersisa di wilayah Sumba. Penurunan jumlah kakatua sumba akibat degradasi hutan
dan maraknya perburuan liar (Hidayat 2014).

Menurut PermenLHK No P.106 Thn 2018 terdapat 12 jenis yang dilindungi.
Beberapa famili yang dilindungi oleh Permenhut No. 106 Thn 2018 antara lain
Pssitacidae, Bucerotidae, Columbidae, dan Acciptridae. Semua jenis burung paruh
bengkok famili Pssitacidae yang ditemukan dilindungi, yaitu kakatua sumba (C.
sulphurea citrinocristata), nuri pipi merah (G. geoffroyi), perkici orange (T.
capistratus), dan nuri bayan (E. roratus).

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan pada dua ekosistem di kawasan Mahaniwa
Resort Wanggameti ditemukan 43 jenis, 28 jenis ditemukan di ekosistem hutan
dataran rendah dan 32 jenis pada ekosistem riparian. Melalui perhitungan dan
analisis data didapatkan indeks keanekaragaman pada ekosistem hutan dataran
rendah sebesar 2.51 dan indeks keanekaragaman pada ekosistem riparian sebesar
2.07. Hasil pengamatan pada 10 plot dengan pengulangan sebanyak 4 kali
didapatkan jenis yang dominan menetap pada kawasan Mahaniwa, spesies yang
dikategorikan dominan atau sering dijumpai yaitu walet sapi (C. esculanta), perkici
orange (T. capistratus), dan pergam hijau (D. aenea). Pada ekosistem riparian
ditemukan lebih banyak jenis burung dari pada ekosistem hutan dataran rendah.
Perjumpaan burung lebih mudah ditemukan karena tutupan lahan dari ekosistem
riparian lebih terbuka apabila dibandingkan dengan hutan dataran rendah. Hal
tersebut juga mempengaruhi penggunaan tajuk, burung berukuran kecil cenderung
memanfaatkan lapisan sub-canopi atau strata II yang memungkinkan untuk
berpindah diantara ranting-ranting. Jenis burung yang sering ditemukan pada
kawasan Mahaniwa Resort Wanggameti yaitu burung pemakan atau pengisap madu
(nektarinivor) dan pemakan buah (frugivor).

Saran

Perlu adanya kajian lebih lanjut di Resort Wanggameti TN Matalawa
sehingga dapat ditemukan jenis-jenis baru yang sebelumnya belum pernah
ditemukan.

43

DAFTAR PUSTAKA

Dahlan J. 2015. Perilaku makan julang emas (Rhyticeros undulatus) pada saat
bersarang [skripsi]. Semarang (ID): Universitas Negeri Semarang.

Dewi RK, Mulyani Y, Santosa Y. 2007. Keanekaragaman jenis burung di beberapa
tipe habitat Taman Nasional Gunung Ciremai. Media Konservasi 12(3):1-3.

Hidayat O dan Kayat. 2014. Karakteristik dan preferensi habitat kakaktua Sumba
(Cacatua sulphurea citrinocristata) di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Widyariset. 17(3):399-408.

Hidayat O. 2012. Keragaman spesies avifauna hutan penelitian Oilsonbai, Kupang,
Nusa Tenggara Timur. Di dalam: Pratiwi, Heriansyah I, Gunawan H,
Dharmawan IWS, Irianto RSB, Kuntandi, editor. Peran IPTEK Hasil Hutan
Bukan Kayu untuk Kesejahteraan Mayarakat Nusa Tenggara Timur; 2012 16
Okt; Kupang Indonesia. Kupang (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan
Konservasi dan Rehabilitasi. hlm 23–29.

Hidayat O. 2014. Komposisi, preferensi dan sebaran jenis tumbuhan pakan kakatua
sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) di Taman Nasional Laiwangi
Wanggameti. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 3(1):25-36.

Irham M. 2015. Perilaku persarangan burung nuri pipi merah (Geoffroyus geoffroyi
Bechstein, 1811). Fauna Indonesia 13(1):39–44.

Jarulis. 2007. Pemanfaatan ruang secara vertikal oleh burung- burung di hutan
kampus kandang limun Universitas Bengkulu. Jurnal Gradien 3(1):237-242.

Kitamura S, Yumoto T, Poonswad P, Noma N, Chuailua P, Plongmai K, Maruhashi
T, Suckasam C. 2004. Pattern and impact of hornbill seed dispersal at nest
trees in a moist evergreen forest in Thailand. J Trop Ecol. 20(2):545–553.

Krebs CJ. 1978. Ecological Methodology. New York (US): Harper dan Row
Publisher.

MacKinnon J, Phillips K, van Ballen B. 2010. Burung-Burung di Sumatera, Jawa,
Bali, dan Kalimantan. Bogor (ID): Burung Indonesia.

Mardiastuti A, Salim LR, Mulyani YA. 1999. Perilaku makan Rangkong Sulawesi
pada dua jenis Ficus di Suaka Margasatwa Lambusango, Buton (Feeding
behavior of Sulawesi Red-Knobbed Hornbills on two ficus trees in
Lambusango Wildlife Sanctuary, Buton). Media Konservasi 6(1):7-10.

Odum EP. 1971. Fundamental of Ecology. Philadelphia. WB Sounders.

Rombang WM, Trainor C dan Lesmana, D. 2002. Daerah Penting bagi Burung:
Nusa Tenggara [Important Bird Areas of Indonesia: Nusa Tenggara]. Bogor
(ID): PKA and BirdLife International. [In Indonesian]

44

Trainor C, Lesmana D, Gatur A. 2000. Kepentingan hutan di daratan Timor bagian
barat telaah awal informasi keanekaragaman hayati dan sosial ekonomi di
Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Laporan No. 13). Bogor (ID):
PKA/Birdlife International/WWF.

Wisnubudi G. 2009. Penggunaan strategi vegetasi oleh burung di kawasan wisata
Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Vis Vitalis. 2(2):41-49.

45

LAMPIRAN

Lampiran 1 Jenis burung dilindungi berdasarkan IUCN, CITES, dan Permenhut No.106 Tahun
2018

No Nama Jenis Nama Latin Famili IUCN CITES Permenhut
No. 106
Thn 2018

1 Elang bondol Haliastur indus Accipitridae LC Appendix II D

2 Branjangan Jawa Mirafra javanica Alaudidae LC Non Appendix -

3 Walet Sapi Collocalia estulenta Apodidae LC Non Appendix -

4 Julang sumba Rhyticeros everetti Bucerotidae VU Appendix II D
Kepudangsungu Coracina Campephagidae LC Non Appendix -
novaehollandiae
5 besar

6 Delimukan zamrud Chalcophaps indica Columbidae LC Non Appendix -

7 Pergam hijau Ducula aenea Columbidae LC Non Appendix -

8 Uncal buau Macropygia emiliana Columbidae LC Non Appendix -

9 Uncal kouran Macropygia ruficeps Columbidae LC Non Appendix -

10 Walik rawamanu Ptilinopus dohertyi Columbidae VU Non Appendix D

11 Gagak kampung Corvus macrorhynchos Corvidae LC Non Appendix -

12 Kedasi emas Chrysococcyx lucidus Cuculidae LC Non Appendix -

13 Wiwik uncuing Cacomantis sepulclaris Cuculidae LC Non Appendix -

14 Cabai sumba Dicaeum wihelminae Dicaediae - Non Appendix -
Srigunting Dicrurus densus Dicruridae LC Non Appendix -

15 wallacea

16 Bondol peking Lonchura punctulata Estriltidae LC Non Appendix -
Gosong Kaki- Megapodius reinwardt Megapodiae LC Non Appendix D

17 merah

18 Cikukua tanduk Philemon buceroides Meliphagidae LC Non Appendix -

19 Isapmadu australia Lichmera indistincta Meliphagidae LC Non Appendix -

20 Myzomela sumba Myzomela dammermani Meliphagidae LC Non Appendix -

21 Kehicap kacamata Monarcha trivirgatus Monarchidae LC Non Appendix -
Seriwang nusa- Terpsiphone floris Monarchidae LC Non Appendix -

22 tenggara

23 Sikatan bubik Muscicapa dauurica Muscicapidae LC Non Appendix -

24 Sikatan kepala-abu Culicicapa ceylonensis Muscicapidae LC Non Appendix -

25 Sikatan sumba Ficedulla harterti Muscicapidae LC Non Appendix -
Burungmadu Cinnyris buettikoferi Nectarinidae LC Non Appendix D

26 sumba

46

Lampiran 1 Jenis burung dilindungi berdasarkan IUCN, CITES, dan Permenhut No.106 Tahun
2018 (lanjutan)

No Nama Jenis Nama Latin Famili IUCN CITES Permenhut
No. 106
Burungmadu Thn 2018
27 kelapa
Anthreptes malacensis Nectariniidae LC Non Appendix -
Burungmadu Nectarinia jugularis Nectariniidae
28 sriganti Oriolus chinensis Oriolidae LC Non Appendix -

Kepudang kuduk- LC Non Appendix -
29 hitam

30 Kancilan emas Pachycephala pectoralis Pachycephalidae LC Non Appendix -

31 Ayamhutan Hijau Gallus varius Phasianidae LC Non Appendix -

32 Paok laus Pitta elegans Pittidae LC Non Appendix D
Betetkelapa paruh- Tanygnathus Psittaciidae LC Appendix II D
megalorynchos Psittaciidae CR Appendix I D
33 besar Cacatua sulphurea
citrinocristata
34 Kakatua Sumba

35 Nuri Bayan Elcectus roratus Psittaciidae LC Non Appendix D

36 Nuripipi merah Geoffroyus geoffroyi Psittaciidae LC Appendix II D
37 Perkici Orange Trichoglossus Psittaciidae LC Appendix II D
capistratus

38 Tikusan ceruling Rallina fasciata Rallidae LC Non Appendix -

39 Kipasan arafura Rhipidura dryas Rhipiduridae LC Non Appendix -

40 Perling kecil Aplonis minor Sturnidae LC NonAppendix -

41 Anis nusatenggara Zoothera dohertyi Turdidae NT Non Appendix -

42 Gemak totol Turnix maculosa Turnicidae LC Non Appendix -

43 Kacamata wallacea Zosterops wallacei Zosteropidae LC Non Appendix D

Keterangan :
D : Dilindungi
LC : Least Concern

47

48

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
(Matalawa) merupakan salah satu kawasan konservasi yang memiliki kondisi alam
yang masih terjaga. Kawasan ini memiliki kekayaan flora dan fauna yang paling
tinggi di Pulau Sumba. Hal ini juga didukung oleh tipe ekosistem yang beragam.
Tipe ekosistem yang terdapat di kawasan taman nasional ini dicirikan oleh
perbedaan kondisi vegetasi habitat penyusunya, seperti ekosistem hutan hujan,
savana, dan hutan musim. Keberagaman tipe ekosistem tersebut menjadikan
kawasan ini memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi. Berdasarkan
hasil pengumpulan data, terdapat 375 jenis tumbuhan, 70 jenis tumbuhan paku-
pakuan, dan 90 jenis tumbuhan berkhasiat obat. Jenis fauna didalam kawasan TN
Matalawa terdapat 158 jenis burung, 94 jenis kupu-kupu, 41 jenis capung, 28 jenis
mamalia, 6 jenis amfibi, dan 30 jenis reptil (Balai TN Matalawa 2018).

Potensi sumberdaya alam yang terdapat di kawasan Taman Nasional
Matalawa yang sangat beragam ini tentunya sangat penting untuk diteliti,
khususnya potensi herpetofauna. Keberadaan herpetofauna (reptil dan amfibi) ini
tentunya sangat penting, karena merupakan bagian dari rantai makanan di alam dan
berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem. Amfibi dan reptil merupakan kelompok
satwa yang kurang mendapat perhatian dalam penelitian di Indonesia, padahal
pemanfaatan amfibi dan reptil di Indonesia relatif besar (Kusrini 2019). Penelitian-
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya di kawasan taman nasional ini juga
belum banyak yang mengkaji mengenai keberadaan amfibi dan reptil. Berdasarkan
hal tersebut, Kelompok Pemerhati Herpetofauna (KPH) Himakova melalui kegiatan
ekspedisi Studi Konservasi Lingkungan (Surili) ini melakukan kegiatan
inventarisasi jenis herpetofauna dalam rangka membantu menginformasikan serta
menambah data mengenai keberadaan jenis herpetofauna di Taman Nasional
Matalawa.

Tujuan

1. Mengidentifikasi komposisi jenis dan kelimpahan relatif herpetofauna di
Resort Wanggameti, Taman Nasional Matalawa.

2. Mengindentifikasi keberadaan spesies invasif herpetofauna di kawasan Taman
Nasional Matalawa.

49

METODE

Waktu dan Lokasi

Pengambilan data dilakukan selama enam hari, sejak tanggal 1 – 6 Agustus
2019 yang berlokasi di Resort Wanggameti tepatnya di Blok Mahaniwa, Taman
Nasional Matalawa (Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi
Wanggameti). Lokasi pengamatan dilakukan pada dua tipe habitat, yaitu habitat
akuatik dan terestrial. Kondisi habitat di lokasi pengamatan secara umum
merupakan wilayah padang rumput (ekosistem savana) yang ditumbuhi dengan
ilalang dengan tinggi mencapai satu meter. Vegetasi lain yang terdapat di lokasi
pengamatan berupa semak belukar dan pepohonan berukuran kecil hingga sedang
yang cukup rapat.

Gambar 27 Peta lokasi pengamatan herpetofauna di Taman Nasional Matalawa
Pengambilan data dilakukan di dua tipe ekosistem, yaitu habitat akuatik

(Sungai Patamawai dan Sungai Laiju) dan terestrial (Hutan Wailatuna) (Gambar
28). Waktu saat dilakukan pegambilan data yakni ketika musim kemarau dengan
suhu antara 33o – 34 oC pada siang hari dan 14o – 23 oC pada malam hari dengan
kelembaban antara 47 – 98 %. Lokasi pengamatan pertama terletak di Sungai
Patamawai. Sungai Patamawai merupakan sungai utama yang terdapat di Blok
Mahaniwa. Sungai ini memiliki lebar sebesar 3 – 5 m dengan aliran air yang tidak
terlalu deras. Kedalaman sungai mulai dari 10 – 70 cm. Vegetasi di kanan dan kiri
sungai cukup rapat dengan tumbuhan yang mendominasi adalah bambu dan

50

beberapa jenis palem, juga tumbuhan bawah. Pepohonan yang terdapat di sekitar
sungai hanya sebagian kecil yang berukuran besar.

Gambar 28 Atas kiri: Jalur pengamatan akuatik-1 di Sungai Patamawai; Atas
kanan: Jalur pengamatan akuatik 2 (Sungai Laiju); Bawah: Jalur
pengamatan terestrial (Hutan Wailatuna)

Lokasi pengamatan kedua merupakan habitat terestrial yang terletak di Hutan
Wailatuna. Hutan Wailatuna merupakan hutan yang terletak di Desa Mahaniwa
tepatnya di Resort Wanggameti Taman Nasional Matalawa. Hutan Wailatuna
memiliki topografi curam dan terdapat bebatuan karst. Vegetasi cukup rapat dengan
pohon-pohon berukuran besar. Lantai hutan tidak ditutupi oleh tumbuhan bawah,
namun banyak ditumbuhi pandan serta semai dan pancang dari famili
Dipterocarpaceae.
51

Lokasi pengamatan ketiga merupakan habitat akuatik yang terletak di Sungai
Laiju. Lokasi ini cukup jauh dari dua lokasi pengamatan sebelumnya, namun masih
berada di kawasan Mahaniwa. Sungai Laiju merupakan sebuah sungai yang terletak
di sekitar perbukitan Mahaniwa. Sungai ini memiliki air yang jernih dengan aliran
air yang tidak terlalu deras dan juga terdapat bebatuan yang cukup besar. Sungai
tidak terlalu lebar dan juga tidak terlalu dalam, lebar sungai 1 – 3 m dan kedalaman
20 – 60 cm. Vegetasi di bagian kanan dan kiri sungai tidak terlalu rapat, didominasi
oleh tumbuhan bawah, pinang, dan beberapa jenis pohon dengan diameter yang
tidak terlalu besar.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan yaitu hook stick, grab stick, kantong ular,
kantong plastik ukuran 2 kg, termometer dry-wet, GPS, pita ukur, lem, papan
ukuran 30 x 30 cm, tallysheet, spidol, buku panduan lapang pengenalan amfibi dan
reptil, alat tulis, kamera, meteran jahit, kaliper, neraca digital, alat bedah, alkohol
70%, kapas, kotak spesimen, dan pita penanda.

Metode Pengambilan Data

Survei awal dilakukan saat siang hingga sore hari sebelum dilakukan
pengamatan pada malam harinya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenali area
penelitian, kondisi lapang, dan titik pengamatan untuk memudahkan pengamatan.
Data primer diperoleh melalui observasi di lapang. Metode yang digunakan adalah
Visual Encounter Survey (VES), yaitu penangkapan satwa yang dijumpai langsung
di habitat terestrial maupun akuatik (Heyer et al. 1994). Metode ini dimodifikasi
dengan metode time search dan transect. VES digunakan untuk menentukan
kekayaan jenis suatu daerah, mengumpulkan daftar jenis, dan memperkirakan
kelimpahan relatif spesies (Kusrini 2019).

Metode VES dilakukan dengan mencatat usaha pencarian sejumlah surveyor
yang terlibat (search effort dalam bentuk jam-orang) yang bergerak dalam hutan
secara acak dan mengamati semua mikrohabitat yang dijumpai. Metode transect
merupakan pencarian yang dibatasi oleh panjang jalur pengamatan, yakni sepanjang
200 m. Metode time search merupakan pencarian yang dibatasi oleh waktu yang
ditentukan, yakni selama 2 jam.

52

Gambar 29 Survei lokasi pengamatan (kiri atas), pemasangan glue trap (pojok
kanan atas), pencatatan di lapang (kanan tengah), dan pengamatan malam
(bawah)

Gambar 30 Pembuatan spesimen di lapang (kiri) dan hasil pengawetan spesimen
(kanan)

Pengamatan dilakukan pada malam hari dengan jumlah pengamat sebanyak 4
orang perhari, sehingga usaha pencarian total yang digunakan dalam penelitian ini
adalah 8 jam-orang. Pengamatan juga dilakukan pada pagi hari dengan metode pasif
berupa pemasangan glue trap dengan menempatkan sebanyak 10 papan berukuran
53

30 x 30 cm di jalur terestrial. Jenis herpetofauna yang dijumpai pada setiap titiknya
ditangkap dan dicatat segala bentuk aktivitasnya. Data sekunder meliputi data
penunjang yang berkaitan dengan penelitian ini untuk mencari, mengumpulkan, dan
menganalisis data penunjang berupa keadaan fisik lokasi penelitian, iklim, vegetasi,
dan jenis-jenis herpetofauna menggunakan studi literatur.

Amfibi dan reptil yang tertangkap secara langsung diidentifikasi di lapang
dengan melakukan pengukuran panjang dan bobokuput tubuh. Pengukuran panjang
mulai dari moncong hingga anus (SVL) untuk katak, sedangkan untuk reptil
mengukur SVL dan panjang total hingga ujung ekor. Pengukuruan panjang
menggunakan kaliper (amfibi) dan meteran jahit (reptil), dalam satuan cm. Bobot
tubuh ditimbang menggunakan timbangan digital dalam satuan gram. Hal
berikutnya yakni identifikasi dan pengambilan foto. Herpetofauna tersebut
dilepaskan kembali kecuali untuk beberapa ekor yang akan diawetkan untuk
identifikasi lebih lanjut. Panduan lapang herpetofauna yang digunakan dalam
identifikasi diperoleh dari berbagai macam literatur antara lain buku dan jurnal,
seperti Buku Panduan Lapang Alas Purwo (Yanuarefa et al. 2012), A Fieldguide to
The Reptiles of Southeast Asia (Das 2010), Panduan Lapang Fauna Taman
Nasional Gunung Tambora (HIMAKOVA 2015), dan Panduan Bergambar
Identifikasi Amfibi Jawa Barat (Kusrini 2013). Herpetofauna yang tidak
teridentifikasi secara langsung di lapangan akan diawetkan menjadi spesimen basah
menggunakan alkohol 70%. Spesies yang sudah diawetkan akan dibawa ke Museum
Zoologicum Bogoriense (MZB) LIPI Cibinong untuk diidentifikasi lebih lanjut dan
disimpan. Penamaan herpetofauna mengacu pada Frost (2017) untuk amfibi dan
Uetz et al. (2017) untuk reptil.

Analisis Data

Kondisi habitat secara umum diketahui dengan pengumpulan data vegetasi
melalui survei rapid assessment untuk mendapatkan gambaran secara umum
komposisi vegetasi pada setiap plot pengamatan. Prinsip umum rapid assessment
adalah berbasis lapangan yang fokus pada suatu lokasi untuk mengumpulkan data
dan mencatat data secara cepat dan akurat untuk mendapatkan gambaran secara
umum tipe vegetasi ditemukannya keberadaanya herpetofauna.

Komposisi jenis herpetofauna pada lokasi penelitian disusun dalam tabel
daftar jenis yang akan berisi nama latin, famili, dan status konservasi berdasarkan
daftar merah IUCN, apendiks CITES dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Republik Indonesia (Permenhut) No. 106 Tahun 2018 Tentang Jenis
Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi. Jenis-jenis yang bukan jenis asli dari wilayah
ini maka akan dicatat sebagai spesies alien. Kelimpahan relatif jenis dihitung
berdasarkan pembagian jumlah individu spesies ke-i dengan jumlah individu
keseluruhan dikalikan 100%. Pencatatan kondisi habitat (substrat ditemukan, jarak
dari air, suhu, dan kelembaban) dari masing-masing jenis saat ditemukan akan
digunakan untuk mengetahui hubungan keberadaan jenis tersebut dengan

54

karakteristik habitatnya. Data habitat yang dihimpun selama pengamatan meliputi
vegetasi dominan, kelembaban, suhu, serta kondisi habitat selama pengamatan akan
dijelaskan secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Komposisi Jenis Herpetofauna

Hasil pengamatan di Blok Mahaniwa menemukan 8 jenis herpetofauna dari 7
famili. Jumlah amfibi yang ditemukan sebanyak 3 jenis dan reptil sebanyak 5 jenis
(lihat lampiran untuk deskripsi jenis). Terdapat dua spesies yang belum berhasil
diidentifikasi sampai ke tingkat spesies. Seluruh jenis amfibi dan reptil yang
ditemukan sebagian besar berkategori LC (Least Concern) menurut daftar merah
IUCN, tidak termasuk ke dalam apendiks CITES, dan bukan merupakan jenis
dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Republik Indonesia (Permen LHK) No. 106 Tahun 2018 Tentang Jenis Tumbuhan
dan Satwa yang dilindungi. Berdasarkan data statistik TN Matalawa (2018), jumlah
jenis herpetofauna yang ditemukan di kawasan taman nasional ini yaitu 6 jenis
amfibi dan 30 jenis reptil. Jumlah jenis herpetofauna yang ditemukan di Mahaniwa
lebih sedikit jika dibandingkan dengan data penelitian HIMAKOVA (2009) dan
LIPI (2017). HIMAKOVA (2009) menemukan 4 jenis amfibi dan 14 jenis reptil,
sedangkan LIPI (2017) menemukan 9 jenis amfibi dan 25 jenis reptil.

Komposisi jenis amfibi dan reptil yang ditemukan dipengaruhi oleh beberapa
faktor, seperti ukuran daerah pengamatan, keterpencilan, ketinggian, letak lintang
dan bujur, keragaman tumbuhan, adanya bencana alam, dan kondisi cuaca (Kusrini
2019). Penelitian yang dilakukan oleh tim Surili Himakova hanya terletak di satu
lokasi. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh LIPI (2017) terletak di dua
lokasi yaitu di Desa Wanggameti dan Desa Praing Kareha. Desa Mahaniwa
memiliki luas kawasan sebesar 2 210 ha, Desa Wanggameti seluas 5 590 ha, dan
Desa Praing Kareha seluas 5 120 ha (Balai TN Matalawa 2018). Luas daerah
pengamatan yang lebih kecil (± 2% dari luas TN Matalawa) ini membuat jumlah
jenis yang ditemukan sedikit.

Faktor lain adalah kondisi cuaca. Kondisi cuaca saat pengamatan adalah saat
musim kemarau. Hal ini diduga juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
jumlah jenis yang ditemukan tidak terlalu banyak, terutama di jalur pengamatan
terestrial. Tidak adanya sumber air di jalur pengamatan terestrial menyebabkan
sulitnya menemukan jenis herpetofauna. Menurut Riyanto dan Trilaksono (2012),
air menyebabkan kondisi lingkungan menjadi lembab sehingga menguntungkan
kebanyakan jenis herpetofauna. Suhu dan kelembaban juga sangat berpengaruh
terhadap kelimpahan jenis herpetofauna. Suhu dan kelembaban di daratan
(terestrial) akan menjadi faktor pembatas kuat bagi satwa, hal ini akan terlihat dari
distribusi dan kelimpahannya. Semakin ekstrim suhu dan kelembaban, maka sedikit

55

jenis maupun jumlah individu yang akan hidup ditempat itu (Sukarsono 2012). Hal
ini sesuai dengan kondisi daerah pengamatan yang memiliki selisih suhu dan
kelembaban yang cukup ekstrim antara siang dan malam hari. Suhu di Mahaniwa
antara 33o – 34o C pada siang hari dan 14o – 23o C pada malam hari dengan
kelembaban antara 47 – 98%. Perbedaan hasil penelitian juga dapat disebabkan oleh
beberapa kendala seperti lama pengamatan. Menurut Kusrini (2009) bila waktu
pengamatan terlalu pendek mungkin hanya mampu melingkup kurang dari 50%
jenis yang ada di lokasi tersebut. HIMAKOVA (2009) melakukan pengambilan data
di blok Manupeu Tanah Daru dengan waktu pengambilan data selama 8 hari.
Sementara itu, pengambilan data kali ini dilakukan selama 6 hari.

Hasil pengamatan ditemukan lebih banyak amfibi (147 individu; 93%)
daripada reptil (11 individu; 7%). Duttaphrynus melanostictus merupakan jenis
amfibi yang paling banyak ditemukan (Gambar 31). Spesies ini ditemukan sebanyak
89 individu (60.54%) dan dapat dijumpai di seluruh jalur pengamatan, baik di
habitat akuatik maupun terestrial. D. melanostictus banyak ditemukan di habitat
akuatik dengan aliran air yang tidak terlalu deras dan tidak terlalu dalam, di substrat
berupa bebatuan, tanah, dan serasah. Sementara itu, jenis amfibi yang paling sedikit
ditemui adalah Polypedates leucomystax yaitu berjumlah 5 individu (3.40 %).

70
60.54

60

50

40 36.05

30

20

10 3.40

0

Duttaphrynus Papurana elberti Polypedates

melanostictus leucomystax

Gambar 31 Kelimpahan relatif amfibi (%) di Blok Mahaniwa Resort
Wanggameti, TN Matalawa (1-6/8 2019)

Kodok buduk (D. melanostictus) merupakan salah satu jenis amfibi hasil
introduksi. Spesies ini dapat dijumpai di berbagai tipe habitat, mulai dari kawasan
hutan hingga ke daerah pemukiman. Penyebaran kodok buduk di Indonesia sudah
dijumpai di berbagai pulau, mulai dari Sumatera hingga Papua. Menurut Kennedi
(2018), penyebaran kodok buduk khususnya di wilayah Nusa Tenggara juga sudah
cukup luas, yakni tersebar hampir di seluruh pulau yang berada di kawasan Nusa
Tenggara. Hal ini disebabkan oleh kemampuan kodok buduk dalam beradaptasi
dengan lingkungan. Wowor (2010) juga menyatakan bahwa kodok buduk
merupakan amfibi yang dapat hidup di perairan atau daratan yang tergenang oleh

56

air hujan. Postur tubuhnya yang relatif besar dan kulitnya yang tebal dapat menjadi
salah satu faktor mengapa jenis ini dapat bertahan hidup di semua habitat.

Kemampuan kodok buduk dalam beradaptasi dengan lingkungannya ini juga
dibuktikan dengan ditemukannya spesies ini di seluruh jalur pengamatan, mulai dari
habitat akuatik hingga terestrial. Kodok ini ditemukan di sekitar bebatuan sungai,
tanah, serasah, di air mengalir, bahkan di sekitar kubangan yang airnya sedikit
keruh. Kehadiran kodok buduk sebagai spesies invasif masih harus dilakukan
penelitian lanjutan. Keberadaan kodok buduk yang mendominasi kawasan Blok
Mahaniwa belum dapat dikatakan sebagai spesies invasif, karena perlu waktu yang
cukup lama untuk melihat dampak negatif dari suatu spesies yang terintroduksi
hingga menjadi spesies invasif. Menurut Kennedi (2018), luasnya penyebaran
kodok buduk di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara menunjukkan adanya
kemungkinan spesies ini menjadi spesies invasif.

Kelimpahan jenis reptil tertinggi adalah Trimeresurus insularis. Spesies ini
ditemukan sebanyak 6 individu (54.55%). Seluruh individu ditemukan di jalur
pengamatan akuatik, di sekitar bebatuan dan bambu. Jenis lain hanya ditemukan
sebanyak satu hingga dua individu. Kelimpahan jenis reptil seperti ditunjukkan pada
Gambar 32.

60 54.55
50

40

30

20 18.18

9.09 9.09 9.09
10

0

Trimeresurus Dendrelaphis Sphenomorphus Ramphotyphlops RaImnpdhootytpyphlops

insularis inornatus sp. sp. bbrarmaminiunsus

Gambar 32 Kelimpahan relatif reptil (%) di Blok Mahaniwa Resort
Wanggameti, TN Matalawa (1-6/8 2019)

Trimeresurus insularis merupakan salah satu jenis ular yang banyak
ditemukan di kawasan Nusa Tenggara. Penyebarannya meliputi Bali, Komodo,
Rinca, Adonara, Lembata, Pantar, Alor, Roti, Semau, Wetar, Romang, Flores,
Kisar, Lombok, Sumbawa, Sumba, dan Timor (Das 2010). Jenis ini memilki tiga
warna berbeda, yakni berwarna biru (di Pulau Komodo), kuning (di Pulau Wetar),
dan hijau (jenis yang umum dijumpai). Menurut Das (2010), ular jenis ini
merupakan ular arboreal yang aktif pada malam hari (nokturnal) dan ditemukan

57

pada ekosistem hutan dengan ketinggian mencapai 880 mdpl. Makanan berupa
kadal, tokek, tikus, dan katak. Lokasi tempat ditemukannya ular ini adalah di sekitar
sungai, tepatnya di bagian tepi sungai. Ular ini banyak dijumpai sedang diam di
bagian akar-akar bambu, dan beberapa juga ditemukan di bebatuan dekat bambu.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Komposisi jenis herpetofauna yang terdapat di Blok Mahaniwa, Resort
Wanggameti, Taman Nasional Matalawa terdiri dari delapan jenis, yaitu tiga amfibi
dan lima reptil yang terbagi dalam tujuh famili. Seluruh jenis yang ditemukan bukan
merupakan jenis yang dilindungi dan bukan jenis yang terancam punah.
Kelimpahan jenis herpetofauna terbanyak untuk amfibi adalah jenis Duttaphrynus
melanostictus sedangkan dari reptil kelimpahan tertinggi adalah jenis Trimeresurus
insularis. Kodok buduk (D. melanostictus) teridentifikasi sebagai jenis introduksi
yang berpotensi menjadi spesies invasif di masa yang akan datang karena spesies
ini merupakan jenis yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Saran

Lokasi penelitian yaitu Blok Mahaniwa hanya bagian kecil dari Taman
Nasional Matalawa dan survei ini mendapatkan data pertama untuk jenis
herpetofauna di blok ini sehingga tidak menutup kemungkinan dapat ditemukan
jenis baru. Waktu pengambilan data yang terlalu singkat serta kurangnya survei
pendahuluan sehingga membuat penelitian ini kurang optimal, untuk itu diperlukan
monitoring berkala dan penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi lebih banyak
lokasi.

58

DAFTAR PUSTAKA

Balai Taman Nasional Matalawa. 2018. Statistik Balai TN Matalawa. Waingapu
(ID): Taman Nasional Matalawa.

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora.
2019. CITES-listed species [diunduh pada 20 Agustus 2019
https://www.cites.org].

Das I. 2010. A Field Guide to the Reptiles of Southeast Asia. London (UK):
Bloomsbury Publishing Plc.

Frost DR. 2017. Amphibian Species of The World: an Online Reference Version
6.0 [diunduh pada 20 Agustus 2019
https://research.amnh.org/herpetology/amphibia/index.html]

Heyer WR, Donnelly MA, McDiarmid RW, Hayek LC, Foster MS. 1994.
Measuring and Monitoring Biodiversity: Standard Methods for Amphibians.
Washington (US): Smithsonian Institution Press.

HIMAKOVA. 2009. Laporan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2009 di
Taman Nasional Manupeu Tanahdaru, Nusa Tenggara Timur. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.

HIMAKOVA. 2015. Panduan Lapang Fauna Taman Nasional Gunung Tambora.
Mataram (ID): BKSDA NTB.

International Union for Conservation of Nature. 2019. The IUCN red list of
threatened species [diunduh pada 20 Agustus 2019
https://www.iucnredlist.org].

Kennedi UF. 2018. Keanekaragaman jenis herpetofauna di Taman Nasional
Komodo dan sekitarnya [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Kusrini MD. 2009. Pedoman Penelitian dan Survei Amfibi di Alam. Bogor (ID):
Fakultas Kehutanan IPB

Kusrini MD. 2013. Panduan Bergambar Identifikasi Amfibi Jawa Barat. Bogor
(ID): Fakultas Kehutanan IPB.

Kusrini MD. 2019. Metode Survei dan Penelitian Herpetofauna. Bogor (ID): IPB
Press.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2017. Ekspedisi Sumba. Jakarta (ID): LIPI
Press.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Permen
LHK) No. 106 Tahun 2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang
dilindungi.

59

Riyanto A, Trilaksono W. 2012. Komunitas Herpetofauna di Lereng Timur Gunung
Slamet, Jawa Tengah. Ekologi Gunung Slamet. 153-155.

Sukarsono. 2012. Pengantar Ekologi Hewan. Malang (ID): UMM Press.
Uetz P, Freed P, Hosek J. 2017. The reptile database [diunduh pada 20 Agustus

2019 http://www.reptile-database.org]
Wowor D. 2010. Studi Biota Perairan dan Herpetofauna di Daerah Aliran Sungai

(DAS) Ciliwung dan Cisadane: Kajian Hilangnya Keanekaragaman Hayati.
Laporan Akhir Program Insentif Peneliti dan Perekayasa LIPI. 1-48.
Yanuarefa MF, Hariyanto G, Utami J. 2012. Panduan Lapang Alas Purwo.
Banyuwangi (ID): Balai Taman Nasional Alas Purwo.

60

LAMPIRAN

Lampiran 2 Jenis herpetofauna yang ditemukan di TN Matalawa
Famili: Bufonidae
Duttaphrynus melanostictus
Kodok berukuran sedang hingga besar. Bagian atas tubuh terdapat bintik

hitam dan garis berwarna merah. Bagian kepala terdapat garis hitam yang melingkar
di belakang mata. Kaki depan tidak berselaput, kaki belakang pendek dan berselaput
hingga ruas jari kedua. Ukuran tubuh anakan mulai dari 0.4 – 2.9 cm dengan bobot
0.1 – 0.5 gram. Ukuran kodok dewasa mulai dari 3.2 – 9.9 cm dengan bobot 3.90
gram. Kodok ini ditemukan di seluruh jalur pengamatan, seperti di serasah,
bebatuan, kubangan, dan di sekitar aliran air. Jumlah yang ditemukan sebanyak 89
individu, 13 anakan dan 76 dewasa.

61

Famili: Ranidae
Papurana elberti

Katak berukuran sedang hingga besar, dengan ukuran mulai dari 3.93 – 7.29
cm dan bobot mulai dari 4 – 35 gram. Tubuh berwarna hijau, putih, hingga keabu-
abuan. Timpanum terlihat jelas, terdapat garis dari belakang mata hingga kaki dan
pola garis hitam dari bagian moncong hingga mata. Mata bulat menonjol, pupil mata
horizontal dan berwarna hitam. Kepala berbentuk segitiga. Kaki depan tidak
berselaput, memiliki kaki belakang yang panang dan berselaput hingga ruas jari
kedua, disk bulat namun tidak terlalu besar. Jenis ini banyak ditemukan di daerah
sungai dengan aliran air yang tenang hingga deras. Ditemukan juga di bebatuan, di
atas tanah, dan beberapa ditemukan di bawah perakaran. Jumlah yang ditemukan
sebanyak 53 individu.

62

Famili: Rhacoporidae
Polypedates leucomystax

Katak pohon dengan panjang tubuh mulai dari 3.76 – 4.86 cm dan bobot dari
3 – 7 gram. Jenis yang ditemukan berwarna oranye, abu-abu, dan kehitaman. Katak
ini memiliki kepala berbentuk segitiga. Mata bulat dengan pupil mata horizontal.
Memiliki garis hitam yang memanjang dari moncong hingga anus sebanyak 6 garis.
Kaki depan tidak berselaput. Kaki belakang berselaput hingga ruas jari kedua.
Memiliki disk yang cukup lebar dan lengket di kaki depan dan belakang. Jenis ini
ditemukan di daun, akar, dan bebatuan sungai. Jumlah yang ditemukan sebanyak 4
individu. Satu ekor ditemukan di bebatuan gua.

63

Famili: Colubridae
Dendrelaphis inornatus
Ular yang mempunyai panjang SVL 40.3 cm, panjang total 59.8 cm dan

berat 6 gram. Mempunyai mata bulat, pupil hitam dan berbentuk bulat. Mempunyai
bentuk kepala lonjong, bagian dorsal berwarna coklat keemasan, terdapat garis
hitam memanjang sampai anus dan bagian ventral berwarna putih kekuningan. Ular
ini hanya ditemukan sebanyak satu individu, di atas ranting pohon.

64

Famili: Typhlopidae
Indotyphlops braminus

Ular ini ditemukan sebanyak satu individu, di tanah sekitar rumah warga
pada siang hari. Bentuk tubuh ular ini menyerupai cacing. Warna tubuh bagian
dorsal berwarna hitam, bagian ventral berwarna lebih terang. Kepala dan ekor
tumpul, mata dan mulut berukuran kecil. Jenis yang ditemukan memiliki ukuran
SVL 19 cm dengan panjang total 29 cm, bobot tubuh sebesar 4 gram.

65

Famili: Typhlopidae
Ramphotyphlops sp.

Ular berukuran kecil, tubuh bagian dorsal berwarna hitam kecoklatan,
bagian vetral berwarna coklat. Ular ini ditemukan di atas tanah pinggir jalan dalam
keadaan mati. Mempunyai panjang SVL 15 cm, panjang total 19 cm dan berat 2
gram.

66

Famili: Viperidae
Trimeresurus insularis

Merupakan salah satu ular berbisa tinggi. Tubuh bagian dorsal berwarna
hijau terang. Tubuh bagian ventral berwarna hijau kekuningan. Kepala berbentuk
segitiga, mata berwarna merah dengan pupil vertikal. Ekor berwarna coklat
kemerahan. Ular ini ditemukan di bambu dekat aliran sungai. Mempunyai panjang
SVL dari 30 – 49 cm, panjang total dari 37.5 – 63 cm dan berat dari 7 – 63 gram.
Jumlah yang ditemukan sebanyak 6 individu.

67

Famili: Scincidae
Sphenomorphus sp.

Kadal berukuran kecil, panjang tubuh 4.57 cm, bobot tubuh 0.5 gram.
Memiliki timpanum berwarna putih dan garis hitam dari ujung mulut hingga kaki
bagian depan. Pupil mata berbentuk bulat dan berwarna hitam. Tubuh bagian dorsal
berwarna cokelat, bagian ventral warna putih. Memiliki bintik hitam di bagian atas
tubuh. Ditemukan di atas tanah dekat akar, sebanyak dua individu (satu hasil glue
trap dan satu hasil penangkapan langsung).

68

69

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pulau Sumba merupakan salah satu pulau yang terletak di posisi terluar
Indonesia. Luas Pulau Sumba kurang lebih 11 005 km2, memiliki luas kawasan
hutan 37% dengan komposisi luas hutan konservasi terbesar sebanyak 57%.
Keberadaan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
(Matalawa) menjadi salah satu pilar dalam pengelolaan keanekaragaman hayati
yang ada di tanah Sumba sebagai habitat flora maupun fauna. Taman Nasional
Matalawa memiliki variasi ketinggian 0 sampai 1 225 mdpl sehingga terdiri dari
berbagai tipe vegetasi diantarnya padang savana terbuka, hutan tropika kering,
hutan semi awet hijau dan hutan mangrove. Kawasan padang sabana yang cukup
luas dan diapit oleh tutupan hutan beserta flora dan fauna endemik didalamnya
merupakan salah satu daya tarik Taman Nasional Matalawa.

Resort Wanggameti merupakan salah satu resort yang terdapat di Taman
Nasional Matalawa tepatnya di wilayah kerja seksi 3. Resort ini dikelilingi oleh 2
desa, yaitu Desa Wanggameti dan Desa Mahaniwa, serta 1 desa enclaf, yaitu Desa
Katikuwai. Terdapat berbagai macam ekosistem pada resort tersebut, seperti
ekosistem riparian, hutan tertutup, dan savana. Resort Wanggameti dijadikan
sebagai lokasi penelitian kupu-kupu karena habitatnya mendukung berbagai jenis
kupu-kupu untuk hidup, terutama jenis kupu-kupu raja Troides haliphron yang
dilindungi menurut Permen LHK No. 20 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan
Satwa yang Dilindungi.

Kupu-kupu merupakan satwa yang memiliki keindahan pada corak sayapnya.
Sayap kupu-kupu sangat berperan dalam pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) dan
menjadi salah satu bioindikator lingkungan. Intensitas cahaya yang cukup bagi
kupu-kupu terbang dan ketersediaan tumbuhan pakan menjadi faktor penentu
keberadaan kupu-kupu pada habitat tertentu. Kupu-kupu memiliki kisaran suhu
tertentu agar dapat bertahan hidup. Kupu-kupu hanya dapat terbang jika suhu
tubuhnya di atas 30°C (Sihombing 1999).

Keanekaragaman hayati harus dijaga dari kerusakan habitat dan kepunahan
maupun penurunan keanekaan jenis hayatinya. Seperti satwa lainnya, kupu-kupu
juga mengalami ancaman kelangkaan jika tidak dilakukan perlindungan, pelestarian
serta pembinaan habitat agar tetap lestari (Lestari 2018). Letak geografis Taman
Nasional Matalawa membuat taman nasional tersebut memiliki habitat yang cocok
bagi kupu-kupu untuk hidup. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian mengenai
keanekaragaman hayati khususnya kupu-kupu di kawasan Taman Nasional
Matalawa, Resort Wanggameti. Data keanekaragaman hayati adalah penting karena
informasi tersebut dapat menjadi acuan pengelola untuk mengelola kawasan taman
nasional, khususnya perlindungan satwaliar dan pengembangan kawasan di Resort
Wanggameti.

70

Tujuan

Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman jenis, kekayaan jenis,
kemerataan jenis, kelimpahan jenis kupu-kupu dan mengetahui tumbuhan pakan
kupu-kupu di Resort Wanggameti, Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan
Laiwangi Wanggameti sehingga dapat dijadikan sebagai data dasar untuk
melakukan pengembangan kawasan khususnya di Resort Wanggameti.

METODE

Waktu dan Tempat

Pengamatan ini dilaksanakan di dalam kawasan Resort Wanggameti, Taman
Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti, Sumba Timur, Nusa
Tenggara Timur tanggal 1 – 7 Agustus 2019. Pengamatan dilakukan mulai dari
pukul 08.30 – 12.00 WITA. Pengamatan dilakukan pada 3 (tiga) tipe ekosistem,
yaitu lahan tertutup dan lahan terbuka (savana) di Desa Wanggameti, serta
ekosistem riparian di Desa Katikuwai.

Gambar 33 Peta Pengambilan Data KPK

Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan selama penelitian adalah jaring serangga sebagai
alat pembantu untuk menangkap kupu-kupu, papilot untuk menyimpan spesimen
kupu-kupu yang ditangkap, suntikan dan alkohol 70%, tallysheet dan alat tulis,
termometer dry-wet untuk mengukur suhu dan kelembaban lokasi penelitian, global

71

positioning system (GPS) untuk tracking, trap untuk menangkap kupu-kupu dengan
metode tidak langsung, kamera untuk mendokumentasi kupu-kupu, serta buku
panduan lapang kupu-kupu. Sampel penelitian ini adalah kupu-kupu yang terdapat
di Resort Wanggameti, Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi
Wanggameti, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Metode Pengambilan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan metode tidak langsung menggunakan
trap dan metode langsung menggunakan pollard transect. Metode tidak langsung
menggunakan trap untuk memerangkap kupu-kupu dengan cara memasang trap
pada plot pengamatan yang diduga memiliki banyak potensi kupu-kupu dengan
umpan terasi. Metode pollard transect dilakukan dengan menangkap kupu-kupu di
sepanjang jalur pengamatan dengan lebar 10 meter dan panjang 50 meter.
Penangkapan dilakukan dengan cara berjalan perlahan atau menunggu sambil terus
mengawasi keberadaan kupu-kupu untuk ditangkap. Pengamatan tidak dibatasi oleh
waktu di setiap plotnya. Antar plot pengamatan terdapat jeda sepanjang 10 meter
agar tidak terjadi perhitungan ganda (double counting). Sketsa metode pollard
transect dapat dilihat pada Gambar 34.

Jeda

10 m Plot 1 Plot 2

10 m

50 m Arah Jalur

600 m

Gambar 34 Sketsa jalur pengamatan kupu-kupu metode pollard transect

Analisis Data

Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan rumus indeks sebagai
berikut:
1. Keanekaragaman Jenis

Keanekaragaman jenis kupu-kupu ditentukan dengan menggunakan Indeks
Keanekaragaman Shannon-Wiener dengan rumus:

72

H’ = − ∑ ln

Keterangan:
H’ = indeks keanekaragaman jenis
Pi = proporsi nilai penting
Ln = logaritma natural

Tabel 5 Klasifikasi nilai indeks keanekaragaman Shanon-Wieners

Nilai Indeks SW Kategori
>3 Keanekaragaman tinggi, penyebaran jumlah individu tiap
1–3 spesies tinggi dan kestabilan komunitas tinggi
<1 Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap
spesies sedang dan kestabilan komunitas sedang
Keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individu tiap
spesies rendah dan kestabilan komunitas rendah

2. Kekayaan Jenis
Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai kekayaan jenis adalah:

( − 1)
= ( )

Keterangan:
R = Indeks kekayaan jenis
S = Jumlah jenis yang ditemukan
N = Jumlah individu keseluruhan jenis

3. Kemerataan Jenis

Kemerataan jenis digunakan untuk mengetahui gejala dominansi diantara

setiap jenis dalam suatu lokasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai

Evennes adalah:

Keterangan: ′
=

E = Indeks kemerataan jenis

H’= Indeks Shannon-Wiener

S = Jumlah jenis

4. Kelimpahan Jenis

Untuk kelimpahan jenis, digunakan nilai kelimpahan jenis relatif. Persamaan

yang dipakai adalah persentase kelimpahan relatif (Brower & Zar 1977) sebagai

berikut:


= 100%

73

Keterangan:
Psi = Nilai percent similarity untuk jenis ke-I
N = Jumlah individu jenis ke-I
N = Jumlah individu total

Tumbuhan pakan dianalisis menggunakan studi literatur, yaitu tumbuhan
pakan yang ditemukan pada lokasi pengamatan dibandingkan dengan data
tumbuhan pakan kupu-kupu yang ditemukan di literatur berupa jurnal dan buku
yang membahas tentang tumbuhan pakan kupu-kupu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keanekaragaman Jenis

Keanekaragaman jenis adalah indeks yang menggambarkan keragaman kupu-
kupu. Keanekaragaman jenis berkaitan dengan kekayaan jenis kupu-kupu pada
suatu habitat (Magurran 1998). Krebs (1978) menyebutkan bahwa terdapat enam
faktor yang saling berkaitan yang menentukan naik turunnya keanekaragaman jenis
pada suatu komunitas, yaitu waktu, haterogenitas ruang, persaingan, pemangsaan,
kestabilan lingkungan dan produktivitas jenis. Selain ke enam faktor tersebut,
Soerianegara (1996) menambahkan bahwa keanekaragaman jenis tidak hanya
ditentukan oleh banyaknya jenis, tetapi ditentukan juga oleh banyaknya individu
dari setiap jenis. Nilai indeks keanekaragaman jenis dari 3 (tiga) tipe ekosistem di
Resort Wanggameti dapat dilihat pada Gambar 35.

3.5
3

2.5
2

1.5
1

0.5
0
Riparian Lahan Terbuka Lahan Tertutup

Gambar 35 Nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu pada 3 (tiga) tipe
ekosistem di Resort Wanggameti

74

Hasil analisis nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu pada 3 (tiga) tipe
ekosistem diperoleh, H’ = 3.10 di riparian, H’ = 1.61 di lahan tertutup, dan H’ =
3.15 di lahan terbuka (savana). Menurut ketentuan rentang nilai indeks
keanekaragaman jenis Shannon-Wiener, keanekaragaman jenis kupu-kupu
tertinggi terdapat pada ekosistem lahan terbuka dan keanekaragaman jenis terendah
terdapat pada ekosistem lahan tertutup. Hal tersebut berkaitan dengan kekayaan
jenis yang terdapat pada masing-masing tipe ekosistem. Nilai indeks kekayaan jenis
kupu-kupu di lahan tertutup lebih rendah dibandingkan dengan lahan terbuka dan
riparian.

Kekayaan Jenis

Kekayaan jenis merupakan nilai yang ukurannya dipengaruhi oleh banyaknya
jenis dan jumlah individu pada suatu lokasi pengamatan. Menurut Lestari (2018),
kekayaan jenis menunjukkan perbandingan jumlah jenis yang ditemukan di suatu
lokasi dengan jumlah dari masing-masing jenis yang ditemukan. Semakin banyak
jumlah jenis dan individu pada suatu lokasi maka nilai indeks kekayaan semakin
tinggi (Syaputra 2015). Nilai indeks kekayaan jenis dari 3 (tiga) tipe ekosistem di
Resort Wanggameti dapat dilihat pada Gambar 36.

8

7

6

5

4
3

2

1

0 Lahan Terbuka Lahan Tertutup
Riparian

Gambar 36 Nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu pada 3 (tiga) tipe
ekosistem di Resort Wanggameti

Hasil analisis nilai indeks kekayaan jenis kupu-kupu pada 3 (tiga) tipe
ekosistem diperoleh, R = 6.82 di riparian, R = 2.08 di lahan tertutup, dan R = 7.16
di lahan terbuka (savana). Nilai indeks kekayaan jenis dipengaruhi oleh jumlah jenis
dan jumlah individu pada ekosistem tersebut. Kekayaan jenis di lahan terbuka
tertinggi dan kekayaan jenis di lahan tertutup terendah. Hal tersebut disebabkan
jumlah jenis kupu-kupu dengan jumlah individu yang ditemukan di lahan terbuka
lebih banyak, yaitu sebanyak 29 jenis dengan 50 individu ditemukan sedangkan di
lahan tertutup sebanyak 7 jenis dengan 17 individu ditemukan.

75

Kemerataan Jenis

Kemerataan merupakan nilai yang menunjukkan sebaran jumlah individu per
setiap jenis pada suatu lokasi. Tingkat kemerataan juga mempengaruhi kestabilan
suatu jenis di alam, hal ini berkaitan dengan kemampuan suatu spesies bertahan dari
ancaman kepunahan. Mawazin dan Subiakto (2013) menyatakan bahwa suatu jenis
yang memiliki tingkat kestabilan yang tinggi mempunyai peluang yang lebih besar
untuk mempertahankan kelestarian jenisnya. Nilai indeks kemerataan jenis dari 3
(tiga) tipe ekosistem di Resort Wanggameti dapat dilihat pada Gambar 37.

0.9 Lahan Terbuka Lahan Tertutup
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1

0
Riparian

Gambar 37 Nilai indeks kemerataan jenis kupu-kupu pada 3 (tiga) tipe ekosistem
di Resort Wanggameti

Hasil analisis nilai indeks kemerataan kupu-kupu pada 3 (tiga) tipe ekosistem
diperoleh, E = 0.60 di riparian, E = 0.56 di lahan tertutup, dan E = 0.80 di lahan
terbuka (savana). Hasil tersebut menggambarkan bahwa individu jenis kupu-kupu
di seluruh lokasi pengamatan hampir merata, tetapi tidak menutup kemungkinan
ada jenis yang mendominasi karena nilai indeks berada di pertengahan rentang
angka 0 sampai 1. Menurut Magurran (1988), apabila indeks kemerataan jenis
mendekati 0 berarti kemerataan antar jenis di dalam ekosistem tersebut adalah
rendah, sedangkan apabila indeks kemerataan jenis mendekati 1 berarti kemerataan
antar jenis di dalam ekosistem tersebut adalah tinggi. Indeks kemerataan yang tinggi
menunjukkan bahwa suatu ekosistem memiliki jumlah individu per jenis yang
hampir sama atau merata, sedangkan indeks kemerataan yang rendah menunjukkan
adanya kecenderungan dominansi jenis tertentu di suatu habitat.

Kelimpahan Jenis

Kelimpahan jenis adalah nilai yang menunjukkan banyaknya jenis individu
suatu jenis dibandingkan dengan total individu dari setiap jenis yang ditemukan.

76

Nilai indeks kelimpahan jenis kupu-kupu di Resort Wanggameti dapat dilihat pada
Gambar 38.

Lainnya 1%
Papilio memnon 5%
Danaus chrysippus 5%
7%
Zizina otis 12%
Neptis hylas 11%
Eurema blanda 6%
Catopsilia pomona

0 5 10 15 20 25 30

Gambar 38 Kelimpahan jenis kupu-kupu di Resort Wanggameti

Jenis kupu-kupu dengan kelimpahan tertinggi adalah Neptis hylas, yaitu
sebesar 12% dari famili nymphalidae. Jenis kupu-kupu tersebut ditemukan pada
seluruh tipe ekosistem, sedangkan jenis yang lainnya hanya ditemukan pada satu
atau dua tipe ekosistem yang diamati. Menurut Odum (1993), nilai kelimpahan jenis
kupu-kupu N. hylas, P. memnon, D. chrysippus, Eurema blanda, Z. otis dan C.
pomona tergolong tinggi dan merupakan jenis yang dominan di Resort Wanggameti
karena memiliki nilai kelimpahan jenis > 5% (lebih dari 5%), sedangkan jenis kupu-
kupu lainnya tergolong sedang dan merupakan jenis sub-dominan pada lokasi.

Tumbuhan Pakan

Banyaknya jumlah jenis kupu-kupu hasil tangkapan di lokasi penelitian
berkaitan dengan ketersediaan tumbuhan pakan. Menurut Rahayu dan Basukriadi
(2012), kekayaan jenis kupu-kupu yang tinggi tidak terlepas dari faktor ketersediaan
tumbuhan inang kupu-kupu, baik sebagai sumber makanan maupun tempat
bernaung. Beberapa jenis tumbuhan yang dikenal sebagai tumbuhan inang dan
tumbuhan pakan larva kupu-kupu banyak tumbuh di lokasi penelitian. Menurut
Efendi (2009) dan Lamatoa et al. (2013), kupu-kupu jenis ini bersifat polifagus.
Polifagus merupakan sifat kupu-kupu yang dapat melakukan oviposisi pada
beberapa jenis tumbuhan (Vane 2003). Tanaman inang dari jenis Catopsilia pamona
antara lain yaitu Caesalpinacea, Capparaceae, dan Papilionaceae (Peggie 2006).

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Hasil analisis data menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman dan
kekayaan jenis kupu-kupu tertinggi terdapat pada ekosistem lahan terbuka

77

(savanna). Persebaran jenis kupu-kupu pada tiga tipe ekosistem tersebar hampir
merata, namun masih ada beberapa jenis yang mendominasi. Jenis kupu-kupu yang
memiliki kelimpahan relatif tinggi antara lain N. hylas, P. memnon, D. chrysippus,
Eurema blanda, Z. otis dan C. Pomona yang merupakan jenis dominan ditemukan
pada tiga tipe ekosistem pengamatan.

Saran

Resort Wanggameti merupakan kawasan yang memiliki satwa kupu-kupu
langka dan dilindungi Permen LHK No. 20 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan
Satwa yang Dilindungi, yaitu kupu-kupu raja Troides haliphron. Oleh karena itu,
sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan pakan kupu-kupu
tersebut serta kaitannya dengan konservasi kupu-kupu T. haliphron berbasis
kearifan masyarakat lokal (masyarakat sumba timur). Penelitian tersebut dapat
dijadikan sebagai dasar bagi pengelola Taman Nasional Matalawa khususnya
Resort Wanggameti dalam melestarikan kupu-kupu T. haliphron.

78

DAFTAR PUSTAKA

Efendi MA. 2009. Keragaman Kupu-Kupu (Lepidoptera: Ditrysia) di Kawasan
“Hutan Koridor” Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Jawa Barat. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.

Magguran AE. 1998. Ecologycal Divercity and Its Measurement. Yogyakarta (ID):
Princeton University Press.

Lamatoa DC, Koneri R, Siahaan R, Maabuat PV. 2013. Populasi kupu-kupu
(Lepidoptera) di Pulau Mantehage, Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Sains
13(1):2-56.

Lestari VC, Erawan TS, Melanie, Kasmara H, Hermawan W. 2018.
Keanekaragaman jenis kupu-kupu familia nymphalidae dan familia pieridae
di Kawasan Cirengganis dan Padang Rumput Cikamal Cagar Alam
Pananjung Pangandaran. Jurnal Agrikultura 29(1):1-8.

Mawazin, Subiakto A. 2013. Keanekaragaman dan komposisi jenis permudaan
alam hutan rawa gambut bekas tebangan di Riau. J Forest Rehabilitation.
1(1):59–73.

Peggie D, Amir M. 2006. Practical Guide to the Butterflies of Bogor Botanic
Garden. Bogor (ID): Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Sihombing DTH. 1999. Satwa Harapan I Pengantar Ilmu dan Teknologi Budidaya.
Bogor (ID): Pustaka Wirausaha Muda.

Syaputra M. 2015. Pengukuran keanekaragaman kupu-kupu (lepidoptera) dengan
menggunakan metode time search. Media Bina Ilmiah 9(4).

79

80

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Laiwangi Wanggameti (Matalawa)
merupakan taman nasional gabungan dari dua taman nasional yang terdapat di Pulau
Sumba Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan Permen LHK Nomor 7 Tahun 2016
tentang Organissi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional, BTN
Manupeu Tanah Daru dan BTN Laiwangi Wanggameti digabung menjadi BTN
Manupeu Tanah Daru Laiwangi Wanggameti (Matalawa). Secara umum, taman
nasional memiliki fungsi pelestarian keanekaragaman hayati yang terdapat di
dalamnya. Dasar penetapan Taman Nasional Matalawa yaitu karena terdapat jenis
burung endemik yang dilindungi, yaitu Kakatua Jambul Kuning (Cacatua
sulphurea) dan Julang Sumba (Rhyticeros everetti). Ekosistem taman nasional
memiliki fungsi melindungi seluruh komponen ekosistem karena antar
komponennya saling berkaitan satu dengan yang lainnya, termasuk
keanekaragaman floranya.

Kondisi topografi daerah Sumba Timur secara umum datar di daerah pesisir,
landai hingga bergelombang di daerah dataran rendah < 100 mdpl dan berbukit
(Rengganis 2016). Sebaran flora di kawasan Taman Nasional Matalawa
dipengaruhi oleh kondisi topografi yang ada. Tipologi kawasan Taman Nasional
Matalawa di dominasi oleh perbukitan dengan bukit tertinggi adalah Bukit Tanah
Daru dengan ketinggian sekitar 918 mdpl dan Puncak Wanggameti dengan
ketinggian sekitar 1 224 mdpl. Tipe vegetasi di kawasan TN Matalawa terbagi
menjadi vegetasi hutan pantai, vegetasi hutan bakau, vegetasi padang dan savana,
dan vegetasi hutan dataran rendah (Surahman dan Rachman 2018). Berdasarkan
data flora TN Matalawa tahun 2017, masih banyak jenis flora yang belum
teridentifikasi secara lokal dan belum diketahui potensi pemanfaatannya terutama
untuk obat-obatan.

Kelompok Pemerhati Flora (KPF) yang tergabung dalam kegiatan Ekspedisi
Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) melakukan penelitian untuk mengkaji
keanekaragaman jenis flora serta pemanfaatannya terutama untuk obat-obatan dan
akan menghasilkan data ilmiah terkait keanekaragaman hayati Taman Nasional
Matalawa.

Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keanekaragaman flora,
jenis tanaman yang berpotensi obat, dan potensi anggrek di Taman Nasional
Matalawa.

81

METODE

Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan pada 1 – 7 Agustus 2019 di Resort Wanggameti dengan
dua jenis ekosistem, hutan dataran rendah dan padang savana. Waktu pengambilan
data pada ekosistem hutan dataran rendah adalah enam hari dan ekosistem padang
savana satu hari.

Gambar 39 Peta Pengambilan Data KPF

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pengambilan data yaitu alat tulis, tallysheet,
kamera digital, pita ukur, meteran (phiband), golok, GPS, kompas, penanda
spesimen, tali rafia, dan tali tambang. Bahan berupa alkohol 70%, kertas koran, dan
objek yang diamati adalah spesies flora.

Metode Pengambilan Data

Data yang diambil berupa data biotik dan data abiotik. Data yang diambil
adalah data vegetasi dengan menggunakan metode analisis vegetasi. Data yang
diambil dalam kegiatan analisis vegetasi yaitu keanekaragaman jenis tumbuhan dari
berbagai habitus, kesuburan tanah, kelerengan, topografi, ketinggian, suhu dan
kelembaban. Menurut Latifah (2005), analisis vegetasi merupakan studi untuk
mengetahui struktur dan komposisi vegetasi. Analisis vegetasi dilakukan dengan
dua cara yakni dengan metode jalur berpetak dan metode petak. Metode jalur
berpetak digunakan untuk ekosistem hutan dataran rendah dengan petak berukuran

82

20 m x 20 m untuk tingkat pohon, 10 m x 10 m untuk tangkat tiang, 5 m x 5 m
untuk tingkat pancang, dan 2 m x 2 m untuk tingkat semai dan tumbuhan bawah
(Febriliani et al 2013) disajikan dalam Gambar 40.

Gambar 40 Jalur analisis vegetasi ekosistem hutan tutupan
Metode petak yang dilakukan untuk ekosistem savana yaitu petak berukuran
2 m x 2 m di dalam petak 20 m x 20 m disajikan pada Gambar 41.

Gambar 41 Jalur analisis vegetasi ekosistem padang savana
Heriyanto dan Garsetiasih (2004), struktur vegetasi dibagi menjadi pohon,
tiang, pancang, dan semai berdasarkan kriteria:
1. Pohon, vegetasi dengan diameter setinggi dada (1.3 m) ≤ 20 cm dan untuk
pohon berbanir, diameter diukur 20 cm diatas banir.
2. Tiang, vegetasi dengan diameter setinggi dada (1.3 m) ≥ 10 cm sampai < 20
cm.
3. Pancang, vegetasi yang memiliki tinggi ≥ 1.5 m dan berdiameter ≤ 10 cm.
4. Semai, vegetasi muda mulai dari kecambah sampai tinggi < 1.5 m.
83

Data abiotik diperlukan sebagai data penunjang dalam analisis vegetasi. Data
yang diambil berupa suhu basah dan suhu kering pada petak pertama ukuran 2 m x
2 m pada setiap jalur pengamatan.

Metode selanjutnya yang digunakan dalam pengambilan data adalah metode
eksplorasi. Eksplorasi dilakukan dengan mencatat semua jenis tumbuhan yang
ditemukan dalam setiap jalur pengamatan serta mencatat kegunaan dan potensi
pemanfaatan tumbuhan yang diperoleh. Metode eksplorasi digunakan untuk
pengambilan data inventarisasi potensi tumbuhan obat. Data spesies yang diperoleh
di lapangan didokumentasikan dalam berbagai bentuk seperti foto identifikasi
spesies dan herbarium. Metode pembuatan herbarium yang dilakukan adalah dengan
tahapan berikut:
1. Spesimen herbarium yang diambil adalah ranting, daun, buah, biji maupun

bagian batang yang lengkap dan apabila ada bunganya maka bagian bunga juga
dapat diambil untuk dijadikan herbarium.
2. Spesimen herbarium dimasukkan ke dalam kertas koran dengan memberi label
berukuran 3 cm x 5 cm dan berisi informasi nama lokal, nama ilmiah dan lokasi
pengumpulan spesimen.
3. Spesimen herbarium disusun di atas kertas koran dan disiram dengan alkohol
70%.
4. Spesimen disimpan dalam kotak atau di dalam trashbag bening sebelum dibawa
ke laboratorium untuk diidentifikasi lebih lanjut.

Analisis Data

Data dianalisis menggunakan analisis indeks nilai penting, indeks kekayaan,
indeks keanekaragaman jenis, dan indeks kemerataan seperti berikut:

Analisis vegetasi

a. Kerapatan (K) Jumlah individu suatu jenis

= Luas petak contoh
Jumlah kerapatan suatu jenis
b. Kerapatan Relatif (KR) = Jumlah kerapatan seluruh jenis x 100%

c. Frekuensi (F) Jumlah plot ditemukannya suatu spesies

= Jumlah total plot
F suatu jenis
d. Frekuensi Relatif (FR) = Jumlah F seluruh jenis x 100%

e. Dominansi (D) Luas bidang dasar suatu spesies

= Luas petak contoh
Dominansi suatu jenis
f. Dominansi Relatif (DR) = Dominansi seluruh jenis x 100%

g. Indeks Nilai Penting (semai dan pancang) = KR+FR

h. Indeks Nilai Penting (tiang dan pohon) = KR+FR+DR

84

Nilai penting suatu spesies berkisar antara 0% – 300% untuk tingkat tiang dan
pohon dan 0% – 200% untuk tingkat semai dan pancang. Menurut Parmadi et al.
(2016) nilai penting suatu spesies menunjukkan pengaruh atau peranan suatu jenis
terhadap jenis lain dalam suatu ekosistem.

Analisis Habitat

Analisis habitat menggunakan indeks keanekaragaman jenis, indeks
kemerataan dan indeks kekayaan jenis pada setiap petak pengamatan menggunakan
beberapa formula sebagai berikut :

1. Indeks Kekayaan Margalef

Kekayaan jenis adalah adalah jumlah jenis yang ditemukan suatu komunitas.
Indeks margalef mengindikasikan kekayaan jenis yang ditunjukkan dari jumlah
jenis (spesies) yang ditemukan (Ismaini et al. 2015).

Margalef’s indeks: Dmg = (S-1)/ln N

Keterangan:
Dmg : Indeks Margalef
S : Jumlah individu teramati
N : Jumlah total Individu

2. Indeks Keanekaragaman Jenis

Indeks keanekaragaman jenis dihitung dengan menggunakan metode indeks
keanekaragaman Shannon-Wienner (H’). Metode ini digunakan untuk mengetahui
keanekaragaman jenis (Latupapua 2011) dengan rumus:

H’= -∑Pi ln Pi

Keterangan:
H’ : Indeks keanekaragaman
Pi : ni/N (perbandingan jumlah individu suatu jenis dengan jumlah seluruh
jenis)

Indeks keanekaragaman (H’) terdiri dari beberapa kriteria:

H’ > 3.0 : menunjukkan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi

1.5 < H’ < 3.0 : menunjukkan tingkat keanekaragaman yang tinggi

1.0 < H’ < 1.5 : menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang

H’ < 1 : menunjukkan tingkat keanekaragaman rendah

3. Indeks Kemerataan

Indeks kemerataan digunakan untuk menunjukkan keseragaman kelimpahan
antar jenis (Kartijono et al. 2010). Metode perhitungan yang digunakan yaitu
dengan perhitungan Indeks Simpsons dengan rumus:

E= H’/ln S

85

Keterangan:
E : Indeks kemerataan
H’ : Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner
S : Jumlah jenis

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Vegetasi

Analisis vegetasi adalah cara mempelajari vegetasi tumbuhan dilihat dari
struktur dan komposisi vegetasi yang dapat menghasilkan data kuantitatif terkait
keanekaragaman tumbuhan (Greig dan Smeith 1993). Menurut Indriyanto (2006),
analisis vegetasi merupakan suatu cara mempelajari susunan atau komposisi jenis
dan bentuk atau struktur vegetasi, dan tujuan yang ingin dicapai adalah untuk
mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang
dipelajari. Komposisi vegetasi merupakan daftar floristik dari jenis vegetasi yang
ada dalam suatu komunitas. Struktur vegetasi adalah hasil penataan ruang oleh
komponen penyusun tegakan dan bentuk hidup, stratifikasi, dan penutupan vegetasi
yang digambarkan melalui keadaan diameter, tinggi, penyebaran dalam ruang,
keanekaragaman tajuk, serta kesinambungan jenis (Fachrul 2007). Data yang
diambil dalam kegiatan analisis vegetasi yaitu keanekaragaman jenis tumbuhan dari
berbagai habitus, kesuburan tanah, kelerengan, topografi, ketinggian, suhu dan
kelembaban.

Struktur tegakan horizontal suatu tegakan hutan alam pada umumnya
cenderung mendekati bentuk sebaran huruf J-terbalik yang menunjukkan bahwa
pohon berukuran kecil yang menyusun ekosistem tersebut cenderung lebih rapat
dibandingkan dengan pohon berukuran besar (Gunawan et al. 2011) . Berdasarkan
hasil analisis vegetasi yang dilakukan di ekosistem hutan dataran rendah diperoleh
sebanyak 3 371 individu tumbuhan. Terdiri dari 35 jenis pohon dengan jumlah
individu 497, tiang sebanyak 34 jenis dengan 208 individu, 41 jenis pancang dengan
956 individu, 24 jenis semai sebanyak 949 individu, 3 jenis tumbuhan bawah dengan
57 individu, 2 jenis liana dengan 95 individu, 4 jenis epifit dengan 397 individu, 2
jenis palem dengan 21 individu, dan 2 jenis pandan dengan 191 individu (Gambar
42).

86

1200
1000 949 956

800

600 497

397
400

208 191
2
200 95 Pandan
2
24 41 34 35 57 2 21
33 Liana Palem

0

Semai Pancang Tiang Pohon Tumbuhan Epifit

Bawah

Jumlah jenis Jumlah Individu

Gambar 42 Jumlah spesies dan individu di ekosistem hutan tutupan

Tingginya jumlah vegetasi tingkat semai dan pancang dapat disebabkan
karena perubahan lingkungan yang terjadi seperti terbukanya tajuk yang
berpengauh terhadap masuknya cahaya matahari dan kurangnya dominansi dari
tingkat pertumbuhan pohon, sehingga semai yang sangat membutuhkan cahaya
matahari untuk pertumbuhannya mendapat cukup cahaya dan tumbuh optimal
(Haryadi 2017). Tingkat pancang memiliki jumlah individu yang lebih tinggi
dibandingkan semai. Hal ini dapat terjadi karena semai tidak mengalami gangguan
yang berarti dalam pertumbuhannya, sehingga peluang untuk tumbuh menjadi
tingkat pancang lebih besar (Haryadi 2017). Tingkat pertumbuhan tiang memiliki
jumlah individu yang paling rendah diantara tingkat pertumbuhan lainnya. Hal ini
dapat disebabkan oleh vegetasi tingkat tiang mendapatkan banyak gangguan, antara
lain penebangan, terbukanya lapisan tanah sehingga terjadi kurangnya kesuburan
tanah dan rusaknya sistem perakaran vegetasi tingkat tiang (Haryadi 2017).

Jumlah spesies penyusun padang savana di lokasi pengambilan data, sebanyak
19 spesies dari 11 famili, disajikan pada Tabel 6.

87

Tabel 6 Jenis tumbuhan di ekosistem savana

No Nama Jenis Nama Latin Famili
1 Wau Kabanga Ageratum conyzoides Asteraceae
2 Lorotan Brachiaria reptans Poaceae
3 Pegagan Centella asiatica Apiaceae
4 Rumput Teki Cyperus rotundus Cyperaceae
5 Rumput pangola Digitaria eriantha Poaceae
6 Rumput jariji Digitaria sanguinalis Poaceae
7 Brabuan Digitaria sp Poaceae
8 Tapak liman Elephantopus scaber Asteraceae
9 Tai ruha Erigeron sumatrensis Retz Asteraceae
10 Tai kabala / Kirinyuh Eupatorium inulifolium Asteraceae
11 Daun Ungu Graptophyllum pictum Acanthaceae
12 Alang-alang Imperata cylindrica Poaceae
13 Rumput knop Hyptis capitata Lamiaceae
14 Tembelekan Lantana camara Verbenaceae
15 Melastoma Melastoma aculeolatum Melastomataceae
16 Putri Malu Mimosa pudica Fabaceae
17 Buah berry Rubus moluccana Rosaceae
18 Gletang /Katumpang Tridax procumbens Asteraceae
19 Bunga padang Vaccinium varingiaefolium Ericaceae

Indeks nilai penting (INP) digunakan untuk menganalisis dominansi suatu
jenis dalam komunitas tertentu (Kusmana dan Melyanti 2017). Kemudian peranan
suatu tumbuhan dalam suatu ekosistem dapat terlihat dari besarnya INP pada setiap
tingkat pertumbuhan dalam ekosistem tersebut.

Tabel 7 Jenis dominan pada setiap tingkat pertumbuhan di ekosistem hutan dataran
rendah

Habitus No Nama Lokal Nama Ilmiah Famili INP (%)
Semai Laru Garcinia sp. Clusiaceae
1 Kalauki Calophyllum soulattri Clusiaceae 72.13
Pancang 2 Loba Symplocos sp. Symplocaceae 33.65
3 Laru Garcinia sp. Clusiaceae 27.13
Tiang 1 Kalauki Calophyllum soulattri Clusiaceae 65.69
2 Loba Symplocos sp. Symplocaceae 33.26
Pohon 3 Kalauki Calophyllum soulattri Clusiaceae 27.82
1 Ai Watu Nysa sp. Nysaceae 94.30
2 Laru Garcinia sp. Clusiaceae 32.00
3 Kalauki Calophyllum soulattri Clusiaceae 20.82
1 Kalada Tuna Neonaucle excelsa Rubiaceae 44.14
2 Kaju Omang Podocarpus rumphii Podocarpaceae 40.88
3 31.65

88

Jenis pohon yang memiliki INP tertinggi adalah dari famili Clusiaceae yakni
kalauki (Calophyllum soulattri) jika dibandingkan dengan jenis pohon lainnya.
Tumbuhan ini memiliki nama khas masing-masing untuk setiap daerah. Di daerah
Bangka tanaman ini dikenal dengan sebutan bintangur bunut atau malang-malang,
di daerah Belitung terkenal dengan sebutan membalung, di daerah sunda terkenal
dengan nama sulatri, dan di daerah Jawa sering disebut dengan bintangur, slatri atau
sletri. Tumbuhan ini tumbuh liar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat dibawah
ketinggian 300 mdpl.

Pohon kalauki (C. soulattri) menjulang tinggi hingga 23 m dan berdiameter
sampai 50 cm. Bentuk batang bundar lurus tanpa banir. Bunganya sangat harum
dan buahnya terasa masam (Heyne 1987). Kalauki (C. soulattri) dapat
dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat tradisional. Seduhan daun dan akarnya
digunakan sebagai obat oles untuk nyeri encok. Minyak dan bijinya dapat
dimanfaatkan untuk plitur, minyak rambut, minyak urut, berkhasiat juga untuk obat
rematik (Heyne 1987). Menurut Leksono (2012) sebagian besar jenis tumbuhan dari
famili Clusiaceae seperti bintagur dapat tumbuh pada habitat dengan ketinggian
tempat berkisar antara 100 - 150 mdpl dan dapat tumbuh dengan baik di tanah
mineral. Suhu yang baik untuk pertumbuhan Clusiaceae adalah berkisar antara 18 –
33°C. Jenis tumbuhan famili Clusiaceae dapat tumbuh di hutan dataran rendah –
hutan pantai. Jenis tumbuhan ini dapat tumbuh dengan baik di habitat yang dekat
dengan air seperti sungai dan pantai. Hal tersebut sesuai dengan kondisi habitat di
lokasi penelitian yakni hutan Wanggameti yang merupakan hutan dataran rendah
dan memiliki suhu dengan kisaran 15 – 28°C.

Jenis kalauki (Calophyllum soulattri) ditemukan pada setiap tingkat
pertumbuhan yakni semai, pancang, tiang, dan pohon sehingga regenerasi jenis
tersebut baik. Selain itu Laru (Garcinia sp.) merupakan jenis yang memiliki prospek
regenerasi positif karena Laru (Garcinia sp.) memiliki jumlah semai dan pancang
yang mendominansi struktur pertumbuhan, dan merupakan jenis yang memiliki INP
tertinggi dan kehadiran tingkat pertumbuhan yang lengkap. Kedepannya akan ada
kemungkinan pergantian jenis yang mendominansi pada tiap tingkat pertumbuhan.

Tabel 8 Persentase INP tertinggi di ekosistem savana

No Nama Ilmiah Famili INP (%)
Cyperaceae 51.28
1 Cyperus rotundus Poaceae 45.15
2 Imperata cylindrica Apiaceae 15.31
3 Centella asiatica Poaceae 15.25
4 Brachiaria reptans

Indeks Nilai Penting (INP) jenis tumbuhan pada suatu komunitas merupakan
salah satu parameter yang menunjukkan peranan jenis tumbuhan yang bersangkutan
dalam komunitasnya atau pada lokasi penelitian (Sundarapandian dan Swamy
2000). Kehadiran suatu jenis tumbuhan pada suatu daerah menunjukkan

89

kemampuan adaptasi dengan habitat dan toleransi yang lebar terhadap kondisi
lingkungan. Indeks Nilai Penting (INP) dapat menunjukkan peranan suatu spesies
dalam komunitas dimana nilai yang tinggi menunjukkan tingkat vegetasi yang
memiliki nilai dan jumlah individu paling banyak (Sorianegara dan Indrawan 1998).
Persaingan terjadi antar masyarakat hutan yang menyebabkan adanya spesies
dominan sehingga spesies dominan tersebut adalah yang memiliki INP tertinggi.
Indeks Nilai Penting (INP) yang tinggi menggambarkan tingkat pertumbuhan
vegetasi yang paling banyak dan mendominasi yang menyebabkannya dapat
bersaing dengan spesies lainnya dalam suatu ekosistem. Perbedaan jumlah jenis dan
INP suatu jenis tumbuhan dalam eksosistem disebabkan oleh adanya persaingan
antar jenis dalam memperebutkan sumberdaya yang sama dan terbatas dalam suatu
kawasan disamping adanya faktor adaptasi dan kebutuhan hidup yang berbeda antar
jenis dan tingkat pertumbuhan (Maisyaroh 2010).

Analisis vegetasi yang dilakukan di savana dijumpai 19 jenis dari 11 famili.
Famili dengan jenis yang banyak dijumpai adalah Asteraceae dan Poaceae,
disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9 Komposisi famili di ekosistem savana

No Famili Jumlah Persentase (%)

1 Asteraceae 5 27.78
2 Poaceae 5 27.78
3 Acanthaceae 1 05.56
4 Apiaceae 1 05.56
5 Cyperaceae 1 05.56
6 Ericaceae 1 05.56
7 Fabaceae 1 05.56
8 Melastomataceae 1 05.56
9 Rosaceae 1 05.56
10 Verbenaceae 1 05.56
11 Lamiaceae 1 05.56

Berdasarkan data pada Tabel 9, dapat diketahui bahwa famili Poaceae pada
umumnya mempunyai jumlah individu lebih banyak dari pada spesies lainnya.
Kemudian dengan demikian komunitas yang diteliti dicirikan oleh spesies rumput
dengan nilai penting relatif tinggi. Poaceae merupakan tanaman yang dapat dengan
mudah dijumpai dan jumlahnya sangat banyak, selain itu Poaceae juga berperan
dalam kehidupan manusia, baik menguntungkan ataupun merugikan. Peran Poaceae
yang menguntungkan adalah dapat digunakan sebagai bahan pangan, papan, dan
obat. Sedangkan peran yang merugikan adalah banyak anggota familia Poaceae
hidup sebagai gulma (Solikin 2003). Kemudian di lokasi penelitian ekositem savana
dijumpai kotoran hewan ternak masyarakat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
masyarakat sekitar memanfaatkan padang savana sebagai tempat merumput hewan
ternak. Menurut Sutomo (2016) intensitas grazing oleh mamalia yang cukup tinggi

90


Click to View FlipBook Version