The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by christinelay2, 2022-06-24 04:16:50

Laporan Ilmiah SURILI 2019

Studi Konservasi Lingkungan

di savana akan menyebabkan penurunan di dalam biomassa rumput. Secara formasi
vegetasi hutan dan savana memiliki karakteristik vegetasi yang tentunya berbeda.
Perbedaan dalam hal komposisi jenis ini dapat terjadi secara gradual sehingga
menyebabkan adanya daerah batas atau boundaries antara hutan dan savana. Selain
itu kondisi mikroklimat juga akan berbeda antara hutan dan savana (Sutomo 2016).

Indeks Keanekaragaman, Indeks Kekayaan, dan Indeks
Kemerataan Jenis

Hasil analisis vegetasi didapatkan beberapa indeks yang mendeskripsikan
kondisi vegetasi pada lokasi penelitian yaitu indeks keanekaragaman, indeks
kekayaan jenis, dan indeks kemerataan jenis.

3.5
2.88 2.88

3

2.5

2 1.09 1.24
1.5 0.89 1.04 0.68
0.29 0.41
1
0.5

0

H' (Keanekaragaman)

Gambar 43 Indeks keanekaragaman jenis

Indeks keanekaragaman digunakan untuk melihat tingkat keanekaragaman
jenis tumbuhan pada suatu komunitas hutan. Berdasarkan Gambar 43 diketahui
bahwa indeks keanekaragaman jenis yang diperoleh tergolong tinggi (1.5 <H’< 3.0)
karena nilai indeks keanekaragaman mencapai 2.88. Semakin tinggi
keanekaragaman jenis, maka komunitas tersebut akan semakin stabil dan memiliki
kemampuan lebih tinggi dalam menghadapi gangguan hutan (Irwan 2009). Nilai
indeks keanekaragaman sangat dipengaruhi oleh dua hal yaitu kelimpahan jenis dan
kemerataan jenisnya (Mulyasana 2008). Jika jenis yang ditemukan semakin banyak
dan jumlah individu pada masing-masing jenisnya merata, nilai indeks
keanekaragaman yang diperoleh akan semakin tinggi.

91

7 5.83 6.183 5.48
6

5

4 3.355

3

2
1 0.49 0.5 0.22 0.19 0.33

0

R (Kekayaan)

Gambar 44 Indeks kekayaan jenis

Selanjutnya, indeks kekayaan jenis digunakan untuk mengetahui kekayaan
jenis dalam suatu komunitas. Berdasarkan Gambar 44, diketahui bahwa nilai indeks
kekayaan tergolong tinggi (R > 5). Nilai indeks kekayaan jenis berbanding lurus
dengan jumlah jenis dan individu tumbuhan pada suatu komunitas. Semakin banyak
jumlah jenis tumbuhan yang ditemukan, nilai indeks kekayaannya akan semakin
besar (Fathia 2017). Pada area pengambilan data tajuk lebih terbuka sehingga
cahaya yang sampai ke lantai hutan dan dimanfaatkan untuk pertumnuhan semai
meskipun memiliki jumlah individu yang lebih banyak dibandingkan tiang namun
semai memiliki tingkat kekayaan jenis yang lebih rendah dibandingkan tingkat
pertumbuhan tiang, hal tersebut dikarenakan beberapa jenis yang ditemukan pada
tiang tidak ditemukan pada tingkat semai.

1.2 0.99 0.98

1 0.82 0.81 0.89

0.8
0.59

0.6 0.42

0.4 0.281 0.28

0.2

0

S (Kemerataan)

Gambar 45 Indeks kemerataan jenis
Indeks kemerataan menunjukkan persebaran suatu jenis tumbuhan di dalam
suatu komunitas atau suatu lokasi penelitian. Krebs (1978) menyatakan bahwa

92

indeks kemerataan yang mendekati satu menunjukkan bahwa spesies tersebut
memiliki persebaran yang merata dalam suatu lokasi atau komunitas, sedangkan
apabila indeks kemerataan mendekati nol maka hal tersebut menunjukkan
ketidakmerataan suatu spesies dalam komunitas. Kemudian pada indeks kemerataan
jenis yang diperoleh cenderung mendekati 1. Hal ini menunjukkan bahwa
penyebaran spesies pada lokasi penelitian hampir sama rata. Fathia (2017),
menyatakan bahwa penambahan jenis pada suatu komunitas, terutama jenis yang
memiliki nilai individu yang rendah dapat berpengaruh signifikan terhadap nilai
indeks kemerataan jenis.

Beberapa Jenis Tumbuhan yang Memiliki Ciri Khas di
Lokasi

1. Kiloba (Symplocos sp.)

Gambar 46 Kiloba (Symplocos sp.)
Kiloba (Symplocos sp.) merupakan tanaman endemik di Nusa Tenggara
Timur (NTT), yang banyak tumbuh di Pulau Sumba. Masyarakat Nusa Tenggara
Timur menggunakan serbuk daun gugur tanaman loba (Symplocos sp.) untuk
meningkatkan kekuatan warna kain tradisional yang berasal dari bahan pewarna
alami tumbuhan. Penguat warna kain yang umum digunakan masyarakat Nusa
Tenggara Timur berasal dari jenis tanaman loba, yaitu kiloba manu (Symplocos
chaoanensis) dan kiloba wawi (Symplocos fasciculata Zoll.) yang cukup banyak
terdapat di Pulau Sumba.
Masyarakat Sumba menggunakan bagian tanaman kiloba tersebut sebagai
campuran pada proses pewarnaan kain tradisional dengan cara yang sederhana.
Bagian tanaman yang digunakan adalah daun. Daun kiloba yang sudah gugur
dikeringkan dengan cara daun yang dijemur dibawah terik matahari untuk

93

meningkatkan keawetan selama penyimpanan. Daun kemudian dihancurkan hingga
menjadi serbuk dan siap untuk digunakan. Serbuk daun gugur loba dapat digunakan
karena kandungan garam logam aluminium (Al) pada daunnya yang dapat
menguatkan warna kain tenun tradisional yang dibandingkan bagian tanaman
lainnya. Pewarna alami daun kiloba dapat menghindarkan kelunturan kain dan
meningkatkan tensitas warna pada kain.

2. Gaharu Putih (Aquilaria malaccensis L.)

Gambar 47 Gaharu Putih (Aquilaria malaccensis L.)

Kata gaharu diperkirakan berasal dari bahasa Melayu yang berarti harum.

Bahasa Sansekerta, gaharu berasal dari kata ‘aguru’ yang mempunyai arti kayu

sebagai produk resin atau dammar wangi dengan aroma yang khas (Setyaningrum

dan Saparinto 2014). Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk yang

memiliki warna yang khas, serta memiliki kadar damar wangi, berasal dari pohon

atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati,

sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik ecara alami maupun buatan pada

pohon tersebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aquilaria spp. yang dikenal

dengan nama daerah seperti karas, alim, gaharu dan lain-lain (Wahyudi 2013).

Secara taksonomi gaharu termasuk ke dalam golongan:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Dycotiledoneae

Ordo : Myrtales

Family : Thymelaeaceae

Genus : Aquilaria

Spesies : Aquilaria malaccensis L

94

Daerah sebaran tumbuh pohon penghasil gaharu di Indonesia, salah satunya
dijumpai di Nusa Tenggara Timur. Secara ekologis, karakteristik penyebaran
gaharu berada pada ketinggian 0 – 2400 mdpl, pada daerah beriklim panas dengan
suhu antara 28º – 34ºC, berkelembaban sekitar 80% dan bercurah hujan antara 1 000
– 2 000 mm/th. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim di kawasan TN
Matalawa termasuk tipe iklim C sampai dengan F. Rata-rata curah hujan pada bulan
basah adalah 400 mm sedangkan pada bulan kering adalah 18 mm. Kawasan hutan
Laiwangi Wanggameti keadaan curah hujan berkisar antara 100 – 1500 mm, dengan
ketinggian 1 225 mdpl. Lahan tempat tumbuh pada berbagai variasi kondisi struktur
dan tekstur tanah, baik pada lahan subur, sedang hingga lahan marginal. Gaharu
dapat dijumpai pada ekosistem hutan rawa, gambut, hutan dataran rendah atau hutan
pegunungan, bahkan dijumpai pada lahan berpasir berbatu yang ekstrim (Sumarna
2012). Berdasarkan peta Geologi Bersistem Nusa Tenggara, formasi geologi pulau
Sumba, terdiri dari endapan permukaan (Aluvium), batuan sedimen yang tersusun
dari batu gamping, batu pasir, batu lempung, dan batuan konglomerat. Sesuai data
parameter ekologis yang diamati, secara biologis kawasan hutan alam di wilayah
Taman Nasional Matalawa sangat cocok upaya pembinaan dan pengembangan
berbagai jenis tumbuhan hutan, termasuk upaya budidaya pohon penghasil gaharu.
3. Edelweiss (Anaphalis longifolia)

Gambar 48 Edelweiss (Anaphalis longifolia)
Anaphalis spp. adalah jenis tumbuhan dari suku Asteraceae yang hidup di
daerah pegunungan dengan ketinggian antara 800 – 3 400 mdpl. Tumbuhan ini
dikenal sebagai bunga abadi karena sangat tahan lama dan tidak mudah rusak.
Dalam Bahasa Sumba tumbuhan ini disebut Kondumerada. Masyarakat setempat
sangat menghormati tumbuhan ini. Secara taksonomi Edelweiss termasuk ke dalam
golongan:

95

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famil : Asteraceae
Genus : Anaphalis
Spesies : Anaphalis longifolia

Bunga Edelweiss (Anaphalis longifolia) adalah tumbuhan dengan ciri
morfologis, merupakan tumbuhan perdu dengan bulu putih, bercabang lebat,
ranting-rantingnya berdaun kering putih kelabu, bunganya berbentuk bonggol kecil,
pada tengah bunga yang berwarna kuning dan daun tidak lengket. Sering menjadi
tumbuhan pionir pada lereng batuan lava dan abu vulkanik pada 1 200 – 2 850 mdpl.
Jarang turun sampai ketinggian 800 mdpl (Van Steenis 1979).

4. Gamal (Gliricidia sepium)

Gambar 49 Gamal (Gliricidia sepium)

Tanaman gliricidia biasa disebut gamal terdiri atas dua spesies, yaitu yang

berbunga merah muda dan berbunga putih. Di Indonesia yang banyak ditanam

adalah gliricidia yang memiliki bunga berwarna merah muda. Ada yang hidup

dipermukaan laut tetapi juga dapat ditemukan pada ketinggian 1 200 mdpl. Gamal

berbentuk semak, pohon dengan daun yang mejemuk bersirip ganjil (Susilo 2014).

Secara taksonomi gamal termasuk ke dalam golongan:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Fabales

96

Famili : Fabaceae
Genus : Gliricidia
Spesies : Gliricidia sepium

Masyarakat Sumba memanfaatkan tumbuhan ini sebagai pagar hidup.
Tanaman ini berfungsi pula sebagai pengendali erosi dan gulma terutama alang-
alang. Dalam Bahasa Indonesia, gamal merupakan akronim dari: ganyang mati
alang-alang. Bunga-bunga gamal merupakan pakan lebah yang baik, dan dapat pula
dimakan setelah dimasak.

Keanekaragaman Potensi Tumbuhan Obat

Tumbuhan obat adalah tanaman yang salah satu, beberapa atau seluruh bagian
tanaman tersebut mengandung zat aktif yang berkhasiat untuk menyembuhkan
penyakit (Rahardi 1996). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 21 famili terdiri
atas 35 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar Taman
Nasional. Keanekaragaman jenis tumbuhan obat disajikan dalam Gambar 50.

PhyllanthaceaeFamili
Nysaceae

Thymelaceae
Fabaceae
Ericaceae
Theaceae
Rubiaceae

Aspleniaceae
Apocynaceae

Rutaceae
Asteraceae

0123456
Jumlah

Gambar 50 Famili tumbuhan obat di Taman Nasional Matalawa

Keanekaragaman jenis tumbuhan obat didominasi oleh famili Asteraceae
dengan jumlah spesies sebanyak 5 spesies tumbuhan obat. Berdasarkan pernyataan
Romanaputra (2017), famili Asteraceae dan Fabaceae merupakan tumbuhan yang
dapat mendominasi dalam suatu vegetasi di wilayah yang beriklim tropis dan
sedang. Sebagian besar tumbuhan dari famili Asteraceae dapat digunakan sebagai
pangan, obat, bahan kimia, dan varietas hortikultura. Bagian tumbuhan yang
digunakan sebagai tumbuhan obat oleh masyarakat Taman Nasional diantaranya
akar, batang, buah, daun, bunga, dan kulit batang. Bagian daun merupakan bagian

97

yang paling banyak dimanfaatkan untuk dijadikan obat. Persentase penggunaan
daun sebesar 42%, sedangkan bagian tumbuhan yang paling sedikit dimanfaatkan
sebagai tumbuhan obat adalah bagian bunga sebesar 2% dapat dilihat pada Gambar
51.

Bunga Batang Buah Kulit batang Akar Daun

2% 7%

7%

42% 10%

32%

Gambar 51 Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan

Hamzari (2008) menyebutkan bahwa daun merupakan tempat pengelolaan
nutrisi tumbuhan yang mudah diperoleh dan mudah diramu menjadi obat
dibandingkan dengan bagian tumbuhan lainnya. Penggunaan daun sebagai obat
berbanding lurus dengan usaha konservasi tumbuhan, karena daun merupakan
bagian dari tumbuhan yang mudah didapatkan tanpa harus merusak tumbuhan
tersebut (Zenebe et al. 2012). Selain itu, penggunaan daun sebagai bahan obat tidak
berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman karena daun dapat tumbuh kembali
pada pucukpucuk tumbuhan, sedangkan penggunaan bagian lain, seperti akar,
batang, rimpang, umbi atau seluruh bagian tumbuhan dapat mengganggu proses
ekologi dan kemampuan bertahan hidup tumbuhan tersebut (Wakhidah et al. 2017).

Berdasarkan hasil eksplorasi spesies tumbuhan obat, dapat diklasifikasikan ke
dalam 11 kelompok penyakit. Dilihat dari komposisi jumlah spesies tumbuhan
obatnya, kelompok penyakit yang tertinggi adalah kelompok penyakit lain-lain dan
kelompok penyakit terendah adalah kelompok penyakit kelainan darah dan
gangguan organ tubuh. Adapun data macam penyakit dan jumlah spesies tumbuhan
obat yang dapat digunakan pada masing-masing kelompok penyakit tersaji pada
Tabel 10.

98

Tabel 10 Pengelompokkan penyakit tumbuhan obat di Taman Nasional Matalawa

No Kelompok Penyakit / Macam Penyakit / Penggunaan Jumlah spesies
Tumbuhan Obat
Penggunaan
2
1 Gangguan Sakit perut, keras hati
4
pencernaan
2
2. Gangguan fungsi Rheumatik, pusing , ayan, kepala
1
otot dan syaraf berat, kaki lumpuh 4

3. Gangguan Melancarkan haid, sfilis 1
3
reproduksi/ vital 1

4. Gangguan mulut Panas dalam, sakit gigi

5. Gangguan saluran Batuk, influenza, sesak napas

pernapasan

6. Kelainan pada darah Obat malaria

7. Imunitas Menambah nafsu makan

8. Gangguan organ Ginjal

tubuh

9. Penyakit kulit Kulit gatal, luka pada kulit, bisul 9
11. Lain-lain 15
Penyakit demam tinggi,
menghangatkan tubuh, pegal-pegal,
sakit pinggang, patah tulang, penyubur
rambut, bau badan, mempercepat bayi
bisa jalan, antipacet, obat penenang

Potensi Anggrek

1. Appendicula sp.

Gambar 52 (Appendicula sp.)

99

Anggrek ini merupakan genus anggrek epifit yang pertumbuhan batangnya
tumbuh ke atas berakhir dengan tangkai bunga yang terdiri dari banyak sekali
kuntum bunga mekar yang tidak bersamaan. Anggrek ini belum dibudidayakan atau
masih terdapat di alam karena kurang menarik namun masih tetap dipelihara oleh
kolektor. Anggrek ini memiliki persebaran di Sumatera yang merupakan lokasi
persebaran terbanyak yaitu sekitar 35 spesies. Jenis Appendicula yang ditemukan di
lokasi penelitian antara lain: Appendicula micrantha.
2. Calanthe triplicata

Gambar 53 (Calanthe triplicata)
Sebutan populer untuk tanaman anggrek yang satu ini, salah satunya adalah
“anggrek bayi sedang tidur”. Anggrek ini mempunyai warna bunga berwarna putih
mirip bayi yang sedang tidur, daunnya yang berwarna hijau tua mempunyai panjang
50 cm dan lebar 20 cm, sedangkan tingginya bisa mencapai 100 cm. Calanthe
triplicata banyak tumbuh secara alami di benua Asia, Kepulauan Afrika Timur,
dan Australia, berasal dari suku Orchidaceae, tumbuh subur pada tanah lembab
berhumus di hutan hujan tropis dekat sungai dengan ketinggian 500 sampai
dengan 1 500 mdpl. Di bumi belahan selatan tanaman anggrek ini umumnya
berbunga pada bulan Desember sehingga disebut juga anggrek natal.

100

3. Anoectochilus reinwardtii

Gambar 54 (Anoectochilus reinwardtii)
Anoectochilus adalah genus dalam famili Orchidaceae yang beranggotakan
kira-kira 50 spesies. Anggrek dari genus ini sering disebut dengan anggrek permata
(Jewel orchid) karena penampakannya yang menarik. Jewel orchid (Anoectochilus
reinwardtii) dapat tumbuh pada lantai hutan dengan cahaya yang sangat minim, dan
apabila terkena sinar matahari, urat daunnya akan menyala dengan indah. Anggrek
jenis ini tidak seperti anggrek jenis lain yang dinikmati bunganya tetapi anggrek ini
indah pada bagian daunnya. Jewel orchid (Anoectochilus reinwardtii) oleh
masyarakat dianggap sama dengan Macodes petola, karena bentuknya yang mirip.
Jewel orchid (Anoectochilus reinwardtii), tulang daun dan urat daunnya berwarna
merah bata hingga kuning, bahkan ada yang pink. Anggrek ini memiliki persebaran
di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara sampai dengan Papua.
4. Bulbophyllum sp.
Bulbophyllum merupakan anggrek epifit dan merupakan salah satu genus
anggrek terbesar dengan mencapai 1 200 spesies. Anggrek ini memiliki umbi semu
beruas satu, berdaun satu. Daunnya sangat tebal dengan ukuran yang beragam,
tumbuh di ujung umbi semu, beruas, duplikatif. Jenis anggrek ini memiliki akar
rimpang merayap, perbungaan satu (soliter) dan beberapa ada yang majemuk
susunan bunganya beragam, tandan kepala atau berkas, bunga besar-sedang dengan
jumlah satu atau lebih setiap kali berbunga. Umumnya bunga memiliki kelopak
menonjol lebih besar atau lebih panjang dari mahkota, kelopak samping tumbuh
pada kaki tiang sekaligus membentuk dagu. Bibir tumbuh pada ujung kaki tiang atau
bercupang. Persebaran anggrek ini meliputi Afrika, Asia Selatan Timur, Australia
dan Amerika Selatan.

101

Simpulan dan Saran

Simpulan

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian dapat disimpulkan bahwa
keanekaragaman tumbuhan yang terdapat di lokasi penelitian Resort Laiwanggi
Wanggameti Taman Nasional Matalawa tergolong tinggi dan kondisi hutan masih
dalam keadaan baik. Potensi tumbuhan obat yang ditemukan di lokasi penelitian
ditemukan 35 jenis diantaranya dapat teridentifikasi dan digunakan oleh masyarakat
sekitar Taman Nasional, dengan famili yang mendominasi yaitu Asteraceae dan
bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah bagian daun. Potensi jenis
anggrek yang ditemukan dalam penelitan terdapat 4 jenis anggrek, diantaranya
Parapteroceras sp., Appendicula sp., Calanthe triplicate, Aneoctochilus reinwardtii,
dan Bulbophyllum sp.

Saran

Perlu adanya pemberdayaan masyarakat baik melalui penyuluhan tentang
pemanfaatan tumbuhan yang memiliki potensi yang dapat memberikan keuntungan
bagi masyarakat, disamping itu tidak merugikan pihak taman nasional dan tidak
mengakibatkan kerusakan bagi keanekaragaman hayati. Perlu juga untuk
melibatkan masyarakat dalam pengelolaan taman nasional sehingga dapat
membantu perekonomian masyarakat dan memberikan pengetahuan baru bagi
mereka tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di sekitarnya.

102

DAFTAR PUSTAKA

Fachrul MF. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta (ID):Bumi Aksara.

Febriliani, Ningsih SM, Muslimin. 2013. Analisis vegetasi habitat anggrek di
sekitar Danau Tambing kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Warta Rimba
1(1):1-9.

Fathia AA. 2017.Komposisi jenis dan struktur tegakan serta kualitas tanah di Hutan
Gunung Galunggung Tasikmalaya [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.

Greig-Smith P. 1993. Quantitative Plant Ecology. Studies Ecology Volume 9.
Oxford (UK): Blackwell Scientific Publication.

Gunawan W, Basuni S, Indrawan A, Prasetyo LB, Soedjito H. 2011. Analisis
komposisi dan struktur vegetasi terhadap upaya restorasi kawasan hutan
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. JPSL 1(2):93-105.

Hamzari. 2008. Identifikasi tanaman obat-obatan yang dimanfaatkan oleh
masyarakat sekitar Hutan Tabo-Tabo. Jurnal Hutan Masyarakat 3(2): 111-
234.

Haryadi N. 2017. Struktur dan komposisi vegetasi pada kawasan lindung air terjun
telaga Kameloh Kabupaten Gunung Mas .ZIRAA’AH 42(2):137-149.

Heriyanto NM, Garsetiasih R. 2004. Potensi pohon kulim (Scorodocarpus
borneensis Becc.) di kelompok Hutan Gelawan Kampar Riau. Buletin Plasma
Nutfah 10(1): 37-42.

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid 3. Jakarta (ID): Badan Litbang
Kehutanan. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta (ID): Bumi Aksara.

Irwan ZD. (2009). Prinsip-Prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem Komunitas
dan Lingkungan. Jakarta (ID): Bumi Aksara.

Ismaini L, Lailati M, Rustandi, Sunandak D. 2015. Analisis komposisi dan
keanekaragaman tumbuhan di Gunung Dempo, Sumatera Selatan. Prosiding
Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia; 2018 Nov 1;
Surakarta, Indonesia. Surakarta (ID): Masyarakat Biodiversitas Indonesia.
1397- 1402.

Kartijono NE, Rahayuningsih M, Abdullah M. 2010. Keanekaragaman jenis
vegetasi dan profil habitat burung di hutan mangrove Pulau Nyamuk Taman
Nasional Karimunjawa. Biosaintifika 2(1): 27-39.

[KLHK] Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. 2016. Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.7 Tahun

103

2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman
Nasional. Jakarta (ID): KLHK.

Kusmana C, Melyanti AR. 2017. Keragaman komposisi jenis dan struktur vegetasi
pada kawasan hutan lindung dengan pola PHBM di BKPH Tampomas, KPH
Sumedang, Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten. Jurnal
Silvikultur Tropika 8(2):123-129.

Latifah S. 2005. Analisis vegetasi hutan alam [skripsi]. Medan (ID): Universitas
Sumatera Utara.

Latupapua MJJ. 2011. Keanekaragaman jenis nekton di mangrove Kawasan segoro
anak Taman Nasional Alas Purwo. Jurnal Agroforestri 6(2):81-91.

Leksono. 2012. Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta (ID): Pakem Sleman.

Maisyaroh W. 2010. Struktur komunitas tumbuhan penutup tanah di Taman Hutan
Raya R. Soerjo Canggar, Malang. Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari
1(1):76-108.

Mulyasana D. (2008). Kajian keanekaragaman jenis pohon pada berbagai
ketinggian tempat di Taman Nasional Gunung Ciremai Propinsi Jawa Barat
[skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Parmadi EH, Dewiyanti I, Karina S. 2016. Indeks nilai penting vegetasi mangrove
di kawasan Kuala Idi, Kabupaten Aceh Timur. Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Kelautan dan Perikanan Unsyiah 1(1):82-95.

Rahardi F. 1999. Membuat Kebun Tanaman Obat. Jakarta (ID): Puspa Swara.

Rengganis H. 2016. Zona wilayah pendayagunaan sumberdaya air untuk
pembangungan irigasi di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Analisis
Kebijakan Pertanian 14(1):17-33.

Romanaputra A. 2017. Keanekaragaman tumbuhan obat di desa Cibuntu,
Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan [skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.

Setyaningrum HD, Saparinto C. 2014. Panduan Lengkap Gaharu. Jakarta (ID)
:Penebar Swadaya.

Sumarna.2012. Budidaya Pohon Penghasil Gaharu. Bogor (ID): Departemen
Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Litbang
Produktivitas Hutan.

Surahman M, Rachman DA. 2018. Jejak Selingkuh Matalawa. Waingapu (ID):
Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Laiwangi Wanggameti.

Susilo. 2014. Status taksonomi dan populasi jenis-jenis Aquilaria dan Gyrinops
pusat penelitian dan pengembangan konservasi dan rehabilitasi Bogor. Jom
Faperta 3(1):18-25.

104

Solikin.2003. Jenis-jenis tumbuhan suku poaceae di Kebun Raya Purwodadi.
BIODIVERSITAS 5(1):23-27.

Sorianegara I, Indrawan A. 2002. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor (ID): Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Van Steenis CJ. 1947. Flora. Jakarta (ID): PT. Pradya Paramita.
Wahyudi. 2013. Buku Pegangan Hasil Hutan Bukan Kayu. Yogyakarta (ID): Pohon

Cahaya.
Wakhidah HMH, Wirian AS, Yaputra T, Dalimartha, Wibowo B. 1992. Tanaman

Berkhasiat Obat di Indonesia Edisi I. Jakarta (ID): Pustaka Kartini.
Zanebe GM, Zerihun, Solomon Z. 2012. An ethnobotanical study of medicinal

plants in Asgede Tsimbila District, Northwestern Tigray, Northen Ethiopia.
Journal of Plants, People and Applied Research 10: 305-320.

105

LAMPIRAN

Lampiran 3 Jenis tumbuhan di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Laiwangi
Wanggameti (Matalawa) Resort Wanggameti

No Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Habitus
1 Ai Katabi Litsea elliptica Lauraceae Pohon
2 Ai kawau Acronichya trifoliata Rutaceae Pohon
3 Ai Watu Nysa sp. Nysaceae Pohon
4 Ando Mangili Myrica esculenta Myricaceae Pohon
5 Bakahao Podocarpus rumphii Podocarpaceae Pohon
6 Bunga padang Vaccinium varingiaefolium Ericaceae Pohon
7 Cemara Casuarina sp. Casuarinaceae Pohon
8 Gaharu Aquilaria filaria Thymelaeaceae Pohon
9 Gaharu putih Aquilaria malaccensis Thymelaeaceae Pohon
Lophopetalum sp. Celastraceae Pohon
10 Halada Tuna Pittosporum glaberrimum Pittosporaceae Pohon
11 Hali Macaranga tanarius Euphorbiaceae Pohon
12 Hambala Mata Ficus sp. Moraceae Pohon
13 Haramanjara Omalanthus populneus Euphorbiaceae Pohon
14 Kabebak Elaeocarpus sphaericus Elaeocarpaceae Pohon
15 Kadu rawa Palaquium sp. Sapotaceae Pohon
16 Kaduru Schleichera oleosa Sapindaceae Pohon
17 Kahambi Dacrycarpus imbricatus Podocarpaceae Pohon
18 Kahembi Omang Simarouba sp. Simaroubaceae Pohon
19 Kahi Omang Glochidion obscurum Phyllanthaceae Pohon
20 Kahuduk 1 Podocarpus imbricatus Podocarpaceae Pohon
21 Kahuduk 2 Sundacarpus amarus Podocarpaceae Pohon
22 Kajiu Omang Podocarpus rumphii Podocarpaceae Pohon
23 Kaju Omang Neonaucle excelsa Rubiaceae Pohon
24 Kalada Tuna Calophyllum soulattri Clusiaceae Pohon
25 Kalauki Zanthoxylum sp. Rutaceae Pohon
26 Kamala Jarek Litsea velutina Lauraceae Pohon
27 Kamala kaninggu Glochidion sp. Phyllanthaceae Pohon
28 Kanunu 1 Melicope lanu-akenda Rutacea Pohon
29 Kanunu 2 Planchonella nitida Sapotaceae Pohon
30 Katang Litsea accedentoides Lauraceae Pohon
31 Katikataru Litsea sp. Lauraceae Pohon
32 Kawita Kaba Magnolia glauca Magnoliaceae Pohon
33. Kayarak 1

106

Lampiran 3 Jenis tumbuhan di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Laiwangi
Wanggameti (Matalawa) Resort Wanggameti (lanjutan)

No Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Habitus

34. Kayarak 2 Quercus piriformis Fagaceae Pohon
35 Kayu Manis Cinnamomum verum Lauraceae Pohon
36 Kiru Dyxoxylum Meliaceae Pohon
caulostachyum
37 Kondorawa Elaeocarpus serratus Elaeocarpaceae Pohon
38 Laru Garcinia sp. Clusiaceae Pohon
39 Loba Symplocos sp. Symplocaceae Pohon
40 Lobung Syzygium antisepticum Myrtaceae Pohon
41 Lopuwe Sauropus macranthus Phyllanthaceae Pohon
42 Malairau (blank) Meliaceae Pohon
43 Murungiha Memecylon edule Melastomataceae Pohon
44 Pangandu Kiking Eurya acuminata Theaceae Pohon
45 Papa Schefflera sp. Araliaceae Pohon
46 Rakang Rhus sp. Araliaceae Pohon
47 Rita Alstonia scholaris Apocynaceae Pohon
48 Rokowaw Melicope triphylla Rutaceae Pohon
49 Tada Katabi Prunus sp. Rosaceae Pohon
50 Tada Malara Melicope latifolia Rutaceae Pohon
51 Tanggala Elaeocarpus sp. Elaeocarpaceae Pohon
52 Walabara Tabernaemontana Apocynaceae Pohon
sphaerocarpa
53 Walaru 1 Harrisonia perforata Rutaceae Pohon
54 Walaru 2 Weinmania blumei Cunnonaceae Pohon
55 Alang-alang Imperata cylindrica Poaceae Tumbuhan
bawah
56 Wau Kabanga / Ageratum conyzoides L. Asteraceae Tumbuhan
babandotan Digitaria sp. Poaceae bawah
Tumbuhan
57 Brabuan bawah
Epifit
58 Anggrek spesies 1 Parapteroceras Orchidaceae
odoratissimum Epifit
59 Anggrek spesies 2 Appendicula micrantha Orchidaceae Epifit
60 Paku sarang burung Asplenium nidus Aspleniaceae Epifit
61 Epifit spesies 1 Colysis pedunculata Polypodiaceae Liana
62 Sirih spesies 1 Piper sp. Piperaceae Liana
63 Sirih spesies 2 Piper betle Piperaceae Pandan
64 Pandan rambat Freycinetia sp. Pandanaceae Pandan
65 Pandan Pandanus sp. Pandanaceae Palem
66 Enau/Kanoru Arenga pinnata Arecaceae Palem
67 Rotan Calamus sp. Arecaceae

107

Lampiran 4 Potensi jenis tumbuhan obat di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Laiwangi Wanggameti (Matalawa) Resort Wanggameti

N Nama lokal Nama Ilmiah Famili Manfaat Bagian yang
o dimanfaatka
Obat luka n
1 Bunga padang Vaccinium Ericaceae Buah
varingiaefolium Obat batuk Daun
Piper sp. Obat anti keras Daun
2 Sirih Nysa sp. Piperaceae hati dan
penenang Batang
3 Ai watu Nysaceae Mengobati
luka kulit Daun
4 Gaharu putih Aquilaria Thymelaceae
malaccensis Obat panas Daun
dalam dan
Lam bisul Daun
5 Wotakanawabi Tabernaemontan Apocynaceae Kayu
a sphaerocarpa bangunan, Daun
obat anak
6 Lawu lobung Elaeocarpus sp. Elaeocarpacea kurang gizi Daun
e Obat Daun
memandikan Daun dan Akar
7 Rawu Ai Acronichya Rutaceae bayi
trifoliata Obat sesak Kuit batang dan
Kawawo nafas dan obat Daun
anti pacet
8 Ai malara Melicope Rutaceae Obat luka Daun
latifolia Akar
Obat anak Daun dan Kulit
9 Rumput teki Cyperus Poaceae kurang gizi batang
rotundus Obat untuk
10 Kaju omang Podocarpus mempercepat Akar dan Daun
imbricatus Podocarpaceae bayi bisa jalan Akar
Bahan
11 Pangandukikin Eurya acuminata Theaceae pembuat kue, Akar
untuk
g menghangatka
n badan
12 Kaningu/kayu Cinnamomum Lauraceae Obat kulit
zeylanicum gatal
manis Sakit pinggang
Obat flu,
13 Tai kabala / Eupatorium Asteraceae rheumatik,
odoratum lumpuh pada
Kirinyuh Arenga pinnata Arecaceae anak
Araliaceae Bau badan
14 Kanoru Polyscias sp. Obat pusing
sakit kepala
15 Epapa berat
Obat malaria
16 Rauri Digitaria sp. Poaceae dan
17 Kara unang/tali Cassytha Convolvulacea melancarkan
oren Filiformis e menstruasi

18 Ai ritta Alstonia Apocynaceae
scholaris

108

Lampiran 4 Potensi jenis tumbuhan obat di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Laiwangi Wanggameti (Matalawa) Resort Wanggameti (lanjutan)

No Nama local Nama Ilmiah Famili Manfaat Bagian yang
Apocynaceae dimanfaatkan
19 Ai halai Alstonia Asteraceae Obat
20 Tapak kuda spectabilis demam Akar
Elephantopus Rutaceae Obat bisul
scaber Connaraceae dan kulit Daun
gatal
21 Hanjua Leea angulata Elaeocarpaceae Mengobati Kulit batang
karteki luka kulit
Connarus Sapotaceae Obat Buah dan Akar
22 Kasikara semidecandrus Arecaceae demam
Rara Jack Asteraceae
Elaeocarpus Fabaceae Sakit ginjal, Kulit batang
23 Kadu rawa ganitrus Rubiaceae patah
Arecaceae tulang Batang
24 Kaduru Palaquium Obat kulit Akar
25 obovatum gatal Daun dan akar
Arenga pinnata Sakit Daun dan bunga
pinggang
26 Kundu Anaphalis Obat sakit
longifolia gigi
27 Gamal / Gliricidia Obat batuk
cebreng moculata
Timonius timon Obat sakit Daun
28 Cimung perut Batang
Air minum,
29 Rotan Calamus sp. penyubur Akar
rambut
30 Paku sarang Asplenium nidus Aspleniaceae Obat ayan

burung Bischofia javanica Phyllanthaceae

31 Wai rara Obat sifilis Akar
32 Terong / Solanum torvum Solanaceae Obat Buah
/ Swartz demam dan
pokak batuk Daun dan Akar
Obat sakit Akar
takokak Imperata pinggang
Obat pegal
33 Alang cylindrica Poaceae

34 Tai ruha Erigeron Asteraceae
sumatrensis
Ageratum
35 Wau Asteraceae Obat Akar
Kabanga / conyzoides demam

babandotan

109

110

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Keberadaan kawasan karst di Indonesia, dianggap memiliki nilai-nilai yang
sangat strategis. Nilai strategis tersebut merupakan sebagai kawasan pemasok dan
tandan air untuk keperluan domestik. Menurut Ko (1997), PBB memperkirakan
bahwa sebesar 20% persediaan sumber air dunia merupakan sumber air karst. Selain
itu juga, kawasan karst mempunyai sumberdaya yang dapat dimanfaatkan sebagai
pariwisata, penambangan bahan galian, penghasil sarang burung wallet dan lain
sebagainya yang dapat menambah devisa negara.

Taman Nasional Laiwangi Wanggameti merupakan salah satu kawasan yang
mempunyai daerah resapan air utama dan pengairan bagi lahan pertanian
masyarakat di Kabupaten Sumba Timur dengan luasan sekitar 47 014 ha (TN
Matalawa 2017). Secara geomorfologi Taman Nasional Matalawa memiliki
bentang alam lahan berupa kawasan karst yang terbentang dari wilayah timur
hingga barat. Potensi yang terdapat pada kawasan karst Taman Nasional Matalawa
hampir separuh dari luasan merupakan potensi gua. Gua yang diibaratkan seperti
laboratorium alam memiliki arti penting dalam pengendalian keseimbangan
ekosistem, pemanfaatan sumber daya air, sekaligus sebagai objek wisata alam
(ekowisata). Hal ini tentu beralasan karena kawasan Laiwangi Wanggameti
memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Ekowisata
merupakan salah satu bentuk pemanfaatan jasa lingkungan hutan yang secara
ekonomi menguntungkan (economically viable), secara ekologi ramah lingkungan
(environmentally benign), secara teknis dapat diterapkan (technically feasible), dan
secara sosial dapat diterima oleh masyarakat (socially acceptable) (Karsudi et al.
2010).

Kelompok Pemerhati Gua (KPG) “Hira” Himakova melakukan eksplorasi
gua di TN Manupeu Tanahdaru, Sumba Barat pada tahun 2009. Tahun 2019
Kelompok Pemerhati Gua kembali ke bagian timur Sumba untuk menjelajahi
potensi gua dan kawasan karst yang ada di Taman Nasional Matalawa. Keindahan
alam, keunikan, serta kealamian Sumba Timur menjadi salah satu daya tarik wisata
bagi masyarakat sekitar taman nasional maupun pengunjung dari berbagai daerah.
Pengelola Taman Nasional Matalawa telah mengembangkan beberapa lokasi di
kawasannya sebagai objek wisata alam, namun potensi kawasan karst dan gua di
TN Matalawa masih belum dimanfaatkan oleh pengelola taman nasional, maka dari
itu tim KPG melakukan kajian identifikasi potensi serta studi kelayakan gua sebagai
objek wisata di TN Matalawa.

111

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Eksplorasi gua di Taman Nasional Matalawa
2. Inventarisasi fauna gua di Taman Nasional Matalawa

METODE

Waktu dan tempat

Eksplorasi gua dilakukan pada tanggal 1 – 7 Agustus 2019 yang berlokasi di
Resort Wanggameti tepatnya di Blok Mahaniwa, Taman Nasional Matalawa.
Pengamatan dilakukan pada pagi hingga sore hari.

Gambar 55 Peta Pengambilan Data KPG

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian, yaitu alat perlindungan dasar
penelusuran gua (coverall, helm, sepatu bot, sarung tangan), alat pertolongan
pertama, alat penerangan (senter dan headlamp), Global Positioning System (GPS),
alat ukur (disto laser, kompas, klinometer), kamera, Tally sheet pengukuran gua,
fauna gua, dan ornamen gua.

Metode pengambilan data

Pengambilan data pada penelitian ini adalah melalui studi literatur,
pengamatan langsung, dan pengukuran langsung.

112

1. Studi Literatur
Studi literatur digunakan untuk mengetahui kondisi umum Taman Nasional

Matalawa seperti letak, luas, sejarah, status, topografi, dan ketinggian. Studi
literatur bersumber dari jurnal, buku, hasil penelitian, maupun web resmi dari TN
Matalawa.
2. Pengamatan langsung

Pengamatan langsung digunakan untuk mendidentifikasi tipe ornamen, jenis
fauna gua yang dijumpai, serta potensi bahaya pada penelusuran gua.
Pengamatan ornamen gua dilakukan dengan mencatat jenis ornamen yang ada
didalam tiap gua kemudian diklasifikasikan berdasarkan proses pembentukan
ornamennya menjadi empat kelas, yaitu batu tetes (dripstone), batu alir
(flowstone), endapan pori (pore deposit), serta endapan kolam (pool deposit).
3. Pengamatan fauna gua dilakukan dengan mencatat jenis fauna yang ada di tiap
gua melalui observasi langsung maupun koleksi fauna untuk jenis yang belum
dapat diidentifikasi. Fauna yang telah dikoleksi terlebih dahulu
didokumentasikan serta diidentifikasi jenisnya sebelum dilakukan preservasi.
4. Pengamatan potensi bahaya dilakukan dengan menelusuri gua serta mencatat
potensi bahaya yang dapat terjadi. Potensi bahaya yang didapat kemudian
dikelompokkan berdasarkan matriks risk assessment (Tabel 10).

Metode Pengukuran Langsung
Pengukuran dilakukan dengan memetakan gua dari pintu masuk hingga ke

ujung gua. Pemetaan dilakukan oleh empat orang surveyor yang berperan sebagai
pemimpin survey atau leader, pembaca alat, target dan pencatat. Pembaca alat dan
pencatat berada pada stasiun pengukuran pertama, seorang lagi sebagai target pada
stasiun kedua. Setelah kegiatan pembacaan selesai, pembaca alat dan pencatat
berpindah ke stasiun kedua, kemudian target berpindah ke stasiun selanjutnya
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 56.

Gambar 56 Ilustrasi metode pemetaan

113

Setelah pengambilan data selesai, dilanjutkan dengan pembuatan gambar peta
gua. Pembuatan gambar peta menggunakan perangkat lunak Compass dan Corel
Draw.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kawasan Karst TN Matawala

Bentang lahan karst adalah suatu bentang alam yang dibentuk oleh batu
gamping. Bentang lahan karst juga merupakan daerah resapan air. Topografi
bentang lahan karst dapat berupa cekungan-cekungan, kubah-kubah serta gua kapur.
Topografi bentang lahan karst dapat dengan mudah dikenali berdasarkan morfologi
yang spesifik tersebut (Kasri N 1999). Gua merupakan sebuah bentukan alami
berupa ruangan karst yang terbentuk pada medan batu gamping dibawah tanah baik
yang berdiri sendiri maupun saling terhubung dengan ruangan-ruangan lain sebagai
hasil proses pelarutan oleh air maupun aktivitas geologi yang terjadi pada suatu
daerah. Gua dapat dikembangkan menjadi berbagai macam pemanfaatan seperti
wisata, penyimpanan air, pertambangan, dan habitat makhluk hidup. Olehnya itu,
gua merupakan salah satu asset yang harus di data.

Taman Nasional Matalawa mempunyai kawasan padang savana yang luas.
Padang savana yang membentang di Blok Mahaniwa menjadi pelengkap ekosistem,
termasuk kawasan karst. Kawasan karst yang berada di Blok Mahaniwa mempunyai
penyimpanan air yang cukup baik. Hal tersebut dapat menunjang fungsi kawasan
sebagai lokasi penyimpanan sumber air yang dapat digunakan untuk masyarakat.

Karst merupakan medan dengan bentuk muka bumi dan pola aliran khas yang
terbentuk pada batu gamping akibat proses pelarutan oleh air (Jennings 1985). Tidak
semua batu gamping memperlihatkan morfologi sebagai kawasan karst. Morfologi
karst terjadi apabila bentang alam batu gamping mengalami karstifikasi (proses
pembentukan topografi karst) yang didominasi oleh pelarut. Terdapat 2 bentukan
morfologi karst, yaitu endokarst dan eksokarst. Endokarst merupakan bentuk-
bentuk morfologi relief karst yang berada di bawah permukaan. Eksokarst
merupakan bentuk morfologi topografi wilayah karst yang berada di permukaan.
Secara morfologi, Pulau sumba didominasi oleh bentukan lahan berupa kawasan
karst, tidak terkecuali di Taman Nasional Matalawa. Hampir setengah dari kawasan
Taman Nasional merupakan kawasan karst, potensi yang membentang dari timur
hingga barat didominasi oleh potensi gua (website TN Matalawa).

Gua di Taman Nasional Matalawa

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan petugas taman nasional,
diketahui bahwa terdapat 94 gua di Taman Nasional Matalawa. Penelitian dilakukan
dengan mengeksplor 5 gua pada daerah Mahaniwa, dan terdapat 1 gua di daerah
Matailarawa. Survey gua di Taman Nasional Matalawa dilakukan pada 6 gua di

114

Resort wanggameti. Sebelumnya, inventarisasi gua di Taman Nasional Matalawa
pernah dilakukan oleh peneliti jepang pada tahun 2015. Survey gua dilakukan pada
ke-6 gua yang membutuhkan waktu selama 7 hari. Keadaan gua di Taman Nasional
Matalawa cenderung memiliki mulut gua berbentuk vertikal serta mempunyai
lorong berbentuk horizontal. Akses menuju lokasi gua berupa jalan tanah selebar 1
meter dan cenderung mudah untuk dilalui. Hasil survey yang dilakukan pada 6 gua
menunjukkan sebanyak 5 gua (Gua Humur Bakul, Gua Hibukarik, Gua Lawola,
Gua Matawai Latuna, dan Gua Uaka Karambua) terletak pada zona pemanfaatan
taman nasional dan hanya Gua ke-6 (Matailarawa) yang terletak di Matailarawa
mendekati zona inti. Hasil eksplorasi gua di Taman Nasional Matalawa Resort
Wanggameti disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Hasil eksplorasi gua di Taman Nasional Matalawa

Nama gua Lokasi Koordinat Elevasi
SE (mdpl)
Gua Humur Bakul Mahaniwa 100 01`06.24” 1200 09`40.21”
Gua Lawola Mahaniwa 846
Gua Hibukarik Mahaniwa 100 01`06.25” 1200 09`40.71” 784
Gua Matawai Latuna Mahaniwa
Gua Uaka Karambua Mahaniwa 100 01`16.48” 1200 09`45.53” 779
Gua Matai Larawa Matailarawa
100 01`28.95” 1200 09`26.85” 802
834
100 00`29.10” 1200 09`31.27” 846
100 00`54.66” 1200 07`45.85”

Kondisi Fisik Gua

1. Gua Humur Bakul

Gua Humur Bakul merupakan gua yang diberi nama dari bentuk mulut gua
yang menyerupai sumur dan berukuran sangat besar. Gua Humur Bakul berada di
tengah kerapatan vegetasi yang lokasinya berjarak kurang lebih 21 km dari Kantor
Resort Wanggameti. Akses menuju gua ini dapat dilalui serupa dengan akses gua
lain di Taman Nasional Matalawa Resort Wanggameti yang ditempuh dengan
melalui perkebunan masyarakat namun sudah masuk dalam kawasan taman
nasional dan tidak bisa dilalui dengan menggunakan kendaraan. Mulut gua yang
berukuran besar dan harus dimasuki menggunakan bantuan alat SRT karena
berbentuk vertikal. Potensi yang terdapat pada Gua Humur Bakul yaitu pintu masuk
gua yang berukuran besar, keanekaragaman fauna gua, dan keindahan ornamen gua.
Pemetaan gua dilakukan dengan waktu 1 jam, karena ukuran gua yang tidak terlalu
panjang. Panjang Gua Humur Bakul yaitu 73.8 m. Hasil pemetaan Gua Humur
Bakul disajikan pada Gambar 57.

115

Gambar 57 Peta Gua Humur Bakul

Hasil pengukuran morfometri Gua Humur Bakul, didapatkan jumlah stasiun
sepanjang lorong gua yaitu 8 stasiun. Stasiun terpanjang berada pada stasiun 7 – 8
dengan panjang 57.75 meter, sedangkan stasiun yang memiliki jarak terpendek
terdapat pada stasiun 0-1 dengan jarak 2,04 meter. Perubahan kemiringan lantai gua
paling besar terdapat di stasiun 7 – 8 dengan kemiringan 69°, sedangkan kemiringan
terendah terletak pada stasiun 2 – 3 dengan kemiringan -15°. Tanda (-)
menunjukkan lantai mengalami penurunan, sebaliknya jika tidak menggunakan
tanda (-) menunjukkan kenaikan lantai gua (tanjakan). Hasil penelitian terdapat 6
ornamen gua yang berada di Gua Humur Bakul yaitu stalaktit, stalakmit, pilar,
helectit, pearl, gorden, dan flowstone.

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengolahan data pengukuran pada Gua
Humur Bakul, diperoleh hasil bahwa gua tersebut mempunyai sejumlah 3 ruangan
(chamber). Keadaan chamber yang berada di dalam Gua Humur Bakul berukuran
sangat luas. Chamber yang memiliki ruang paling luas yaitu pada stasiun 7-8.
Chamber tersebut diukur dengan menggunakan 4 sisi dari sudut yang berbeda. Hasil
dari pengukuran yaitu 7-8a (15.5 m), 7-8b (15.43 m), 7-8c (25.1 m), 7-8d (22.25
m).

Kondisi fisik lorong Gua Humur Bakul mempunyai bentuk yang lebar dan
menurun. Lorong gua tersebut tidak ditemukan jalur atau aliran air seperti sungai
bawah tanah. Gua Humur Bakul merupakan bagian yang besar dan seluruh bagian
didominasi oleh bentuk ruangan (chamber).

116

Gambar 58 Kondisi fisik Gua Humur Bakul

Ditemukan jenis ornamen stalactite dan stalacmite di sepanjang gua Humur
Bakul. Ornamen gua berupa stalactite yang ditemui pada gua tersebut tidak terlihat
dengan jelas karena kondisi gua yang mempunyai keadaan atap cukup tinggi, rata-
rata tinggi atap Gua Humur Bakul mencapai 11.5 meter. Ornamen lain (stalacmite)
yang ditemukan pada gua tersebut mempunyai bentuk yang berukuran besar yang
lebih besar daripada ukuran manusia pada umumnya. Stalacmite terbentuk karena
adanya rembasan pada atap gua yang berupa tetesan air. Tetesan air tersebut
membawa senyawa CaCO3 dan mengendapkannya di lantai gua. Proses
pembentukan kedua ornamen gua tersebut bisa mencapai puluhan bahkan ratusan
tahun. Gua Humur Bakul mempunyai kondisi bahwa tetesan air dari atap
mempunyai intensitas yang cukup tinggi. Hal tersebut dapat terjadi bahwasannya
vegetasi yang berada di atas Gua Humur Bakul mempunyai kerapatan yang cukup
tinggi.

2. Gua Lawola

Gua Lawola merupakan gua yang berlokasikan lebih dekat dengan
pemukiman warga. Kurang lebih berjarak 100 meter dari pemukiman. Terletak di
sebelah kiri jalan yang berukuran 1 meter, gua tersebut sangat mudah dijangkau.
Mulut gua tersebut berjarak sekitar 7 meter dari jalan setapak. Jika gua Humur
Bakul mempunyai bentuk mulut yang lebar dan luas, berbeda dengan Gua Lawola
yang mempunyai kondisi fisik mulut gua yang berukuran sempit. Gua Lawola
mempunyai bentuk gua horizontal, sehingga alat yang diperlukan untuk memasuki
gua tersebut cukup dengan alat penelusuran gua.

Potensi yang terdapat pada Gua Lawola yaitu keanekaragaman fauna gua dan
keindahan ornamen gua. Pemetaan gua dilakukan dengan waktu 1 jam, karena
ukuran gua yang tidak terlalu panjang. Panjang Gua Lawola yaitu 74.12 meter.
Hasil pengukuran morfometri Gua Lawola diperoleh jumlah stasiun sepanjang

117

lorong gua yaitu 12 stasiun. Stasiun terpanjang berada pada stasiun 8 – 9 dengan
panjang 8.4 meter, sedangkan stasiun yang memiliki jarak terpendek terdapat pada
stasiun 2 – 3 dengan jarak 1,6 meter. Perubahan kemiringan lantai gua paling besar
terdapat di stasiun 0-1 dengan kemiringan -15°, sedangkan kemiringan terendah
terletak pada stasiun 1-2 dan 8-9 dengan kemiringan -2° dan 2°.

Gambar 59 Peta Gua Lawola
Hasil penelitian terdapat 6 ornamen gua yang berada di Gua Lawola yaitu
stalaktit, stalakmit, pilar, pearl, gorden, dan flowstone. Berdasarkan hasil
pengamatan dan pengolahan data pengukuran pada Gua Lawola, diperoleh hasil
bahwa gua tersebut mempunyai sejumlah 1 chamber. Keadaan chamber yang berada
di dalam Gua Lawola berukuran tidak terlalu luas yaitu pada stasiun 1. Hasil dari
pengukuran yaitu 1a (1.7 m), 1b (1.6 m), 1c (6 m), 1d (5.6 m). Kondisi fisik lorong
Gua Lawola mempunyai bentuk yang tidak terlalu lebar. Lorong Gua Lawola
mempunyai cabang pada stasiun 1 sebelah kiri. Cabang lorong tersebut panjangnya
mencapai 14.9 meter hingga sampai ujung. Lorong gua tersebut tidak ditemukan
jalur atau aliran air seperti sungai bawah tanah.
Gua Lawola mempunyai jalur aliran air bawah tanah hingga sampai ujung
lorong gua. Pengambilan data terhenti pada ujung lorong gua, karena kondisi lorong
berupa lubang dan dipenuhi air (sum). Diduga lorong gua akan berlanjut hingga
melewati lubang tersebut. Belum adanya penelitian lebih lanjut untuk meneruskan
sum tersebut.
3. Gua Hibu Karik
Gua Hibu Karik ini berlokasidekatan dengan gua Laawola dengan akses yang
sangat mudah. Letak gua ini sangat dekat dengan pemukiman warga dan termasuk

118

pada zona pemanfaatan Taman Nasional Matalawa. Posisi Gua ini dapat dilihat dari
jalan setapak dan berada di lereng bukit karst. Mulut gua berbentuk horizontal
sehingga mudah untuk mengakses masuk kedalam gua. Disekitar mulut gua
terdapat runtuhan batuan yang berasal dari luar gua.

Gambar 60 Peta Gua Hibu Karik
Gua Hibu Karik memiliki ornamen yang beragam. Namun gua ini sudah tidak
aktif dilihat dari tidak adanya tetesan air kapur. Gua Hibu Karik dapat
dikembangkan menjadi objek wisata dengan menambah fasilitas penunjang karena
tergolong dalam gua dengan tingkat energi dan potensi bahaya yang rendah. Gua
Hibu Karik memiliki kondisi fisik panjang gua yang relatif pendek dengan fauna
gua yang tidak terlalu beragam. Dikarenakan gua Hibu Karik kering, fauna gua yang
berada didalam gua ini pun relatif sedikit, hanya jangkrik dan kalacemeti.

119

4. Gua Matawai Latuna

Gambar 61 Peta Gua Matawai Latuna
Gua Matawai Latuna merupakan salah satu gua yang berada Blok Mahaniwa
dinamakan Mataiwaila tuna dinamakan dari bahasa setempat yang berarti mata air
belut lokasi gua Lawatuna berada di 3 km dari desa Mahaniwa. Akses menuju Gua
ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki dengan medan yang berbukit dan sedikit
curam. Lokasi Gua Matawai Latuna berada di kawasan pemanfaatan Taman
Nasional Matalawa. Posisi mulut Gua Matawai Latuna sedikit tersembunyi tertutup
beberapa vegetasi yang ada di sana, kondisi mulut gua Matawai Latuna yaitu
vertikal dengan kemiringan tidak terlalu tajam namun banyak serasah daun yang
dapat membuat akses masuk kedalam gua sedikit licin. Kondisi panjang gua
Matawai Latuna tidak terlalu panjang dengan dua jalan yang terdapat di pintu masuk
gua. Jalan sepanjang gua ini sangat sempit dan diharuskan untuk merangkak dan
jongkok jika menyusuri gua lebih dalam. Masih sangat besar karena gua ini
merupakan cerukan dan topografinya paling rendah dibandingkan dengan kawasan
sekitar.

120

Gambar 62 Kondisi ornamen Gua Lawatuna
5. Gua Uaka Karambua

Gua Uaka Karambua berada dikawasan hutan Mahaniwa. Lokasi gua
Uaka Karambua sangat jauh dari pemukiman warga. Letak Uaka Karambua
berdekatan dengan gua Matawai Latuna dengan jarak sekitar 1 km. Mulut gua
berbentuk horizontal yang cukup lebar dengan vegetasi disekitar gua sangat
beragam, bahkan merupakan hutan dengan kerapatan yang tinggi. Disekitar
mulut gua terdapat banyak bebatuan karst. Jalan menuju gua Uaka Karambua
terbilang cukup mudah, dengan topografi landai dan melewati banyak bebatuan
karst. Gua ini terdapat pada ketinggian 834 mdpl.

Gambar 63 Peta Gua Uaka Karambua

121

Gua Uaka Karambua memiliki ornamen yang sangat menarik. Setelah
masuk beberapa meter, gua ini memperlihatkan keindahan stalaktit dalam
bentuk yang unik dan berlimpah di satu ruangan, tim menyebutnya dengan
istana stalaktit (Gambar 64) yang sangat megah dan menarik perhatian. Lokasi
ini dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata yang menarik dan sebagai objek
fotografi gua.

Gambar 64 Kumpulan stalaktit
Gua ini dapat dikembangkan menjadi wisata dengan adanya ornamen-
ornamen menarik yang ada didalam gua dengan potensi bahaya gua yang tergolong
rendah. Di ujung gua Uaka Karambua, terdapat bukit dengan ruangan yang besar.
Bukit ini sekaligus sebagai penghujung dari gua Uaka Karambua dimana tidak ada
lagi ruang yang bisa dieksplor. Bukit ini membentuk ruangan besar yang dinamakan
chamber. Didalam gua ini juga terdapat danau kecil (Gambar 66) yang selalu ada
walaupun musim kemarau.

Gambar 65 Bukit didalam gua Uaka Karambua
122

Gambar 66 Danau kecil yang tertelat di Gua Uaka Karambua

6. Gua Matawai Larawa
Gua Matawai Larawa terletak pada kawasan zona inti Taman Nasional

Matalawa, berbeda dengan gua lainnya gua ini memiliki lokasi terjauh dengan jarak
sekitar 10 km dari desa terdekat. Akses menuju gua ini berbukit dengan bebatuan
karst hampir di sepanjang perjalanan. Nama Matawai Larawa merupakan bahasa
yang diambil dari nama daerah sekitar yeng memiliki arti ’Mata air kerbau’ salah
satu gua yang berada blok kawasan Mahaniwa dinamakan Lawatuna dari bahasa
setempat yang berarti ‘mata air belut’. Kondisi mulut gua ini horizontal dengan
kondisi mulut gua yang berair, air tesebut berasal dari mata air yang lokasinya tidak
jauh dari mulut gua ini. Akses untuk memasuki mulut gua ini cukup sulit karena
mulut gua yang sempit dan berair yang mengharuskan merangkak untuk bisa masuk
kedalam gua ini.

Panjang dari Gua Matawai Larawa saat ini belum diketahui secara pasti
karena sejauh ini belum ada penelitian yang dapat mengakses hingga keujung gua,
hal ini di akibatkan oleh sulitnya akses menuju dalam gua yang di dominasi oleh
jalan yang sempit dan kondisi air yang sangat tinggi sehingga resiko bahaya di gua
ini sangat besar, sejauh ini panjang gua yang sudah di ketahuai sepanjang 100 meter.
Terdapat 3 pintu yang sudah diketahaui saat ini dan hanya pintu 1 saja yang
kondisinya horizontal dan sisanya vertical. Kondisi bebatuan di Gua Matawai
Larawa masih sangat terjaga, hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya stalaktit
yang msaih hidup dan terawat dengan baik.

123

Gambar 67 Kondisi mulut ke-2 Gua Matawai Larawa

Keanekaragaman Fauna Gua

Gua Humur Bakul mempunyai keanekaragaman fauna yang menarik. Hasil
penelitian bahwa ditemukan 3 jenis fauna, yaitu kelelawar, jangkrik gua, dan laba-
laba. Fauna-fauna gua yang ditemukan sebagai mana mestinya fauna yang
ditemukan pada gua-gua lain. Fauna yang mendominasi di Gua Humur Bakul yaitu
Kelelawar. Kelelawar merupakan salah satu hewan yang disebut dengan
Trogloxene, yaitu hewan yang bersarang di dalam gua dan mencari makan di luar
(Traister 1983). Sebagai hewan Trogloxene, kelelawar mempunyai peran penting
di dalam gua karena menghasilkan guano. Guano dapat berfungsi sebagai sumber
energi bagi hewan kecil lainnya (Sridhar et al. 2006).

Fauna yang ditemukan di gua Matawai Latuna yaitu burung walet
(Coollocalia vestita), Lipan serta katak. Lokasi penemuan burung walet berada
disekitar 20 meter di ujung gua 1, ditemukan pula sarang dan telur burung walet di
gua ini, hal ini menunjukan bahwa ekosistem gua ini masih sangat baik untuk
menunjang kehidupan walet. Lipan serta katak ditemukan di sekitar mulut gua.

Fauna yang ditemukan di gua Matailarawa yaitu burung walet (Coollocalia
vestita), Lipan, katak, dan jangkrik. Jumlah fauna yang masih beragam
menunjukann ekositem yang masih bagus dan masih terjaga sehigga satwa dapat
hidup dengan baik.

124

Gambar 68 Anak burung walet di sarang, di dalam Gua Matailarawa

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Eksplorasi gua di Taman Nasional Matalawa Blok Mahaniwa menghasilkan
sejumlah 6 gua dengan melakukan penelusuran dan pengambilan data pada 5 gua
dan 1 gua terakhir melakukan penelusuran gua tanpa memetakan gua karena
keterbatasan alat dan waktu.

2. Fauna yang ditemukan pada gua di Taman Nasional Matalawa Blok Mahaniwa
menghasilkan jenis-jenis kelelawar, jangkrik gua, dan laba-laba, walet
(Coollocalia vestita), lipan, kalacemeti, kelabang.

Saran

1. Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh data tentang gua
dan kawasan karst di Taman Nasional Matalawa. Kekayaan gua yang masih
banyak belum teridentifikasi menjadi tantangan untuk pengelolaan Taman
Nasional agar lebih diperhatikan untuk kemajuan pengelolaan gua dan kawasan
karst Taman Nasional Matalawa.

2. Pengembangan wisata gua sangat penting dilakukan untuk menunjang zona
pemanfaatan dari Taman Nasional.

125

DAFTAR PUSTAKA

[BTNMatalawa] Balai Taman Nasional Matalawa. 2017. Profil Taman Nasional
Matalawa. [Internet].[diunduh 2017 Okt 25]. Tersedia pada:
http://tnmatalawa.com/kakatua-jambul-jingga/profil-taman-nasional-
matalawa/

[BTNMatalawa] Balai Taman Nasional Matalawa. 2017. Data gangguan kawasan
selama 5 tahun terakhir (tidak dipublikasi). Waingapu (ID)

Jennings JN. 1985. Karst Geomorphology. Basil Blackwell (UK): Oxford
Karsudi et.al. 2010. Strategi pengembangan ekowisata di Kabupaten Yapen

Propinsi Papua. JMHT. 16(3): 148-154.
Kasri N. 1999. Kawasan Karst di Indonesia: Potensi dan Pengelolaan

Lingkungannya. Jakarta (ID): Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Ko RKT. 1984. Peranan Ilmu Speleologi Dalam Penyelidikan Fenomena Karstik

dan Sumberdaya Tanah dan Air. Bogor (ID): Pusat Penelitian Tanah.
Sridhar KR, Ashwini KM, Seena S, Sreepada KS. 2006. Manure qualities of guano

of insectivorous cave bat. Tropical and Subtropical Agroecosystems. (6): 103
– 110.
Traister RJ. 1983. Cave Exploring. USA.

126

127

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan segala keindahan dan kekayaan
alamnya memiliki banyak sumberdaya alam yang dapat dikembangkan dengan
berbagai macam potensi yang dimiliki baik dari segi ekologis maupun ekonomis
yang tetap memperhatikan kelestariannya. Salah satu pengembangan sumberdaya
yang tetap menjaga nilai konservasi yaitu ekowisata. Ekowisata merupakan
kegiatan perjalanan wisata yang bertanggungjawab di daerah yang masih alami atau
di daerah-daerah yang dikelola dengan kaidah alam dengan tujuan selain untuk
menikmati keindahannya juga melibatkan unsur pendidikan, pemahaman, dan
dukungan terhadap usaha-usaha konservasi alam dan peningkatan pendapatan
masyarakat setempat (Walhi 1995). Daerah yang bersifat alami dapat berupa hutan
yang berada di kawasan konservasi maupun kawasan non-konservasi. Salah satu
prinsip ekowisata ialah berkelanjutan dalam pelaksanaan dan manajemennya secara
ekologi yang berarti semua fungsi lingkungan baik biologi, fisik, dan sosial tetap
berjalan dengan baik, karena pada dasarnya suatu tempat yang pernah didatangi
akan mengalami perubahan namun perubahan tersebut tidak menganggu fungsi-
fungsi ekologis yang seharusnya terjadi di kawasan tersebut.

Selain sumberdaya alam, Indonesia juga kaya akan budaya lokal yang
tersebar di pelosok nusantara. Pola ekowisata berbasis masyarakat adalah pola
pengembangan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh
oleh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengembangan dan
pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh. Ekowisata
berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif
komunitas. Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki
pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai
daya tarik wisata, sehingga keterlibatan masyarakat menjadi mutlak. Pola ekowisata
berbasis masyarakat mengakui hak masyarakat lokal dalam mengelola kegiatan
wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai pengelola.
Ekowisata berbasis masyarakat dapat menciptakan kesempatan kerja bagi
masyarakat setempat, dan mengurangi kemiskinan, dimana penghasilan ekowisata
adalah dari jasa-jasa wisata untuk wisatawan lokal maupun internasional yang juga
membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat
yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa
bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan
ekowisata.

Tataran implementasi ekowisata perlu dipandang sebagai bagian dari
perencanaan pembangunan terpadu yang dilakukan di suatu daerah, sehigga
keterlibatan para pihak terkait mulai dari level komunitas, masyarakat, pemerintah,
dunia usaha dan organisasi non pemerintah yang diharapkan dapat membangun

128

suatu jaringan dan menjalankan suatu kemitraan yang baik sesuai peran dan
keahlian masing-masing. Banyak sekali potensi ekowisata di Indonesia yang masih
belum dimanfaatkan, salah satunya adalah di kawasan konservasi Taman Nasional
Matalawa yang terletak di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Keanekaragaman hayati
yang unik di Taman Nasional Matalawa terkhusus di Laiwangi Wanggameti
mengandung potensi ekowisata dan budaya lokal yang berpotensi untuk
dikembangkan. Partisipasi masyarakat setempat merupakan salah satu faktor yang
penting dalam pengembangan kawasan ini agar pembangunan atau pengembangan
kawasan berjalan lancar dan dapat berkelanjutan.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Memetakan potensi ekowisata di Taman Nasional Matalawa
2. Merencanakan pengembangan ekowisata di Taman Nasional Matalawa
3. Mengkaji interaksi masyarakat sekitar kawasan dengan keberadaan Taman

Nasional Matalawa
4. Mengkaji kebudayaan lokal suku yang ada di sekitar Taman Nasional Matalawa

METODE

Waktu dan Tempat

Kegiatan ekspedisi SURILI tim KPE Himakova dilaksanakan selama 7 hari,
dimulai pada tanggal 1 – 7 Agustus 2019. Kegiatan SURILI dilaksanakan di
kawasan Wanggameti, Resort Wanggameti SPTN III.

Gambar 69 Peta Pengambilan Data KPE

129

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan SURILI ini yaitu GPS Garmin
64s, pita ukur, meteran jahit, klinometer, kompas, tally sheet, kamera, binokuler,
dan alat tulis. Instrumen yang digunakan ialah panduan wawancara.

Metode Pengambilan Data

Ekowisata

Tim KPE melakukan kegiatan inventarisasi potensi objek wisata dengan
metode eskplorasi. Eksplorasi merupakan penjajahan lapangan dengan tujuan
memperoleh pengetahuan lebih banyak mengenai keadaan, terutama sumber-
sumber alam yang terdapat di tempat itu. Tim pengamat melakukan penggalian data
potensi sumberdaya biologis yang terdiri dari satwa dan tumbuhan yang ditemukan
sepanjang lokasi pengamatan serta potensi sumberdaya fisik yang terdiri dari
kemiringan lahan, hamparan dataran, sumber air yang berada di sepanjang jalur
menuju objek wisata dan kegiatan wisata yang dapat dilakukan di lokasi. Setelah
dilakukan pengamatan potensi objek kemudian dilakukan penilaian Objek dan Daya
Tarik Wisata Alam berdasarkan Direktort Jendral Perlindungan Hutan dan
Konservasi Alam tahun 2003. Komponen yang dinilai diantaranya: 1) kondisi
biologis meliput jenis flora dan fauna yang dijumpai di sekitar objek wisata, 2) objek
dan daya tarik wisata alam diantaranya keindahan alam, keunikan sumberdaya,
kerawanan kawasan, dan keutuhan sumberdaya, 3) aksesibilitas diantaranya
meliputi kondisi dan jarak jalan darat, waktu tempuh menuju objek, dan frekuensi
kendaraan umum dari pusat penyebaran wisata ke objek dan menggunakan metode
pengambilan data manajemen pengunjung secara keseluruhan di wisata Taman
Nasional Matalawa. Komponen yang diambil yaitu antara lain sistem informasi,
distribusi pengunjung, pelayanan interpretasi, dan keselamatan pengunjung.

Kegiatan wawancara kepada masyarakat juga dilakukan dengan teknik
snowball untuk mengetahui sejarah, adat istiadat dan kebiasaan serta budaya yang
berkembang pada masyarakat di lokasi pengambilan data. Teknik snowball
merupakan teknik pengambilan responden secara bertahap dengan mengidentifikasi
orang yang dianggap dapat memberikan informasi untuk diwawancarai, kemudian
orang tersebut dijadikan sebagai informan untuk mengidentifikasi orang lain
sebagai sampel selanjutnya, hingga sampel yang dibutuhkan sesuai dengan jumlah
yang dkehendaki (Silalahi 2012). Berdasarkan penjelasan tersebut yang menjadi
informan kunci adalah tokoh masyarakat yang dianggap sesuai dengan informasi
yang dibutuhkan.

Analisis Data

Data dari objek dan daya tarik wisata yang telah didapatkan di lapangan akan
diolah dengan analisis deskriptif mengenai potensi yang dimiliki oleh setiap objek

130

wisata sesuai dengan parameter Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA).
Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan
terperinci (KBBI 2001:258). Berdasarkan pemaparan tersebut kemudian
dikembangkan perencanaan kegiatan yang dapat dilakukan di setiap objek wisata
yang kemudian dari objek dan daya tarik (flora, fauna, dan objek lainnya) yang telah
diperoleh kemudian dianalisis sesuai dengan kriteria penskoringan pada pedoman
Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam Dirjen PHKA tahun
2003 sesuai dengan nilai yang telaah ditentukan untuk masing-masing krteria.
Jumlah nilai dari masing-masing kriteria dapat dihitung dengan rumus:

S=NxB

Keterangan:

S = Skor atau nilai suatu kriteria

N = Jumlah nilai unsur-unsur pada kriteria

B = Bobot nilai

Kriteria daya tarik diberi 6 karena daya tarik merupakan faktor utama alasan
seseorang melakukan perjalanan wisata. Aksesibilitas diberi bobot 5 karena
merupakan faktor penting yang mendukung wisatawan dapat melakukan kegiatan
wisata. Skor yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan skor total suatu kriteria
apabila setiap sub krteria memiliki nilai kuat yaitu 5. Menurut Karsudi (2010)
menyatakan setelah dilakukan perbandingan, maka diperoleh indeks kelayakan
dalam persen. Indeks kelayakan suatu kawasan ekowisata seperti yang terlihat pada
Tabel 12, sedangkan untuk hasil wawancara mengenai sejarah, adat istiadat serta
kebudayaan masyarakat setempat juga akan di analisis deskriptif.

Tabel 12 Penilaian tingkat kelayakan suatu kawasan ekowisata

No. Tingkat Kelayakan Penilaian Kelayakan
1 > 66,6% Layak dikembangkan

2 33,3% – 66% Belum layak dikembangkan

3 < 33% Tidak layak dikembangkan

Indeks kelayakan suatu kawasan ekowisata pada tingkat kelayakan > 66,6%
layak dikembangkan, dengan kriiteria suatu kawasan wisata yang memiliki potensi,
sarana dan prasarana yang tinggi berdasarkan parameter yang telah ditetapkan serta
didukung oleh aksesibilitas yang memadai. Tingkat kelayakan 33,3% – 66,6%
belum layak dikembangkan, dengan kriteria suatu kawasan wisata yang memiliki
potensi, saran dan prasarana yang sedang berdasarkan parameter yang telah
ditetapkan serta didukung oleh aksesibilitas yang cukup memadai. Tingkat
kelayakan < 33,3% tidak layak dikembangkan, dengan krteria suatu kawasan wisata

131

yang memiliki potensi, sarana dan prasarana yang rendah berdasarka parameter
yang telah ditetapkan serta aksesibiltas yang kurang memadai.

Tabel 13 Kriteria Penilaian Objek dan Daya Tarik Wisata Alam

No. Unsur/Sub Unsur Ada 5 Nilai
1. Keindahan Alam 30 Ada 4 Ada 3 Ada 2 Ada 1

a. Pandangan lepas dalam Ada 5 25 20 15 10
objek 30
Ada 4 Ada 3 Ada 2 Ada1
b. Variasi pandangan dalam 25 20 15 10
objek

c. Pandangan lepas menuju
objek

d. Keserasian warna dan
bangunan dalam objek

e. Pandangan lingkungan
objek

2. Keunikan Sumber Daya Alam

a. Sumber air panas

b. Gua

c. Air Terjun

d. Flora Fauna

e. Adat istiadat

3. Banyaknya potensi sumberdaya Ada 5 Ada 4 Ada 3 Ada 2 Ada 1

alam yang menonjol

a. Batuan 30 25 20 15 10

b. Flora

c. Fauna

d. Air

e. Gejala Alam

4. Keutuhan sumberdaya alam Ada 5 Ada 4 Ada 3 Ada 2 Ada 1

a. Batuan 30 25 20 15 10

b. Flora

c. Fauna

d. Air

e. Gejala alam

5 Kepekaan sumberdaya alam Ada 5 Ada 4 Ada 3 Ada 2 Ada 1

a. Batuan 30 25 20 15 10

b. Flora

c. Fauna

d. ErosiEkosistem

6 Jenis kegiatan wisata alam >7 6-7 4-5 2-3 1

a. Tracking 30 25 20 15 10

b. Mendaki

c. Rafting

d. Camping

e. Pendidikan

132

f. Religius

g. Hiking

h. Dll

7 Kebersihan udara dan lokasi Tidak 1-2 3-4 5-6 7

bersih tidak ada pengaruh ada

dari :

a. Alam 30 25 20 15 10

b. Industri

c. Jalan aramai motor/ mobil

d. Pemukiman penduduk

e. Sampah

f. Binatang
g. Coret – coret (vandalism)

8 Kerawanan kawasan Ada 5 Ada 4 Ada 3 Ada 2 Ada 1

a. Perambahan 30 25 20 15 10

b. Kebakaran

c. Gangguan terhadap flora

fauna

d. Masukya flora/fauna

e. Eksotik

Keterangan: Kriteria penilaian daya tarik (bobot 6)

Tabel 14 Penilaian Kadar Hubungan/ Aksesibilitas

No Kondisi dan Jarak Jalan Baik Cukup Sedang Buruk

Darat 80 60 40 20
60 40 25 15
< 75 Km 40 20 15 5
20 10 5 1
76 – 150 Km Jarak
151-300 (Km) 451-600 .600
151 – 225 Km 20 1 -
301-450
>225 Km 20 5 10 5
25 15 10
2 Pintu Gerbang 35 15 25 20
2-3 20 4-5 >5
Udara 30
25 3-4 15 10
Internasional/ 5001- 2500- <1000
20
Regional 7500 2501- 1000 10

S/d 150 25 5000 15

Jayapura/ 15 20

Pekanbaru/

Ambon/Kupang

Medan/Manado 25

Denpasar 30

Jakarta 40

3 Waktu tempuh ke 1-2

Obyek

30

4 Kendaraan >7500

bermotor di

Kabupaten/kota

30

133

5 Frekuensi >50 40-50 30-40 20-30 <20

kendaraan umum 20 15 10
1500- 1000- <1000
dari pusat
2000 1500
penyebaran wisata
20 15 10
ke obyek

30 25

6 Kapasitas tempat >2500 2000-

duduk kendaraan 2500

menuju obyek

wisata

30 25

Keterangan: Kadar Hubungan/ Aksesibilitas (Bobot 5)

Manajemen pengunjung merupakan suatu kegiatan untuk mengelola
pengunjung yang datang ke suatu obyek wisata sehingga memberikan manfaat.
Terdapat dua elemen dasar yaitu mencapai keseimbangan antara kebutuhan dan
persyaratan dari obyek wisata dan pengunjung, dan menjadi bagian penting dalam
pengembangan dan pengelolaan suatu obyek wisata. Pada intinya manajemen
pengunjung yaitu untuk mempengaruhi pergerakan pengunjung, mendorong
penyebaran kunjungan secara merata dan memberikan pengalaman wisata yang
menarik dan terbaik untuk disesuaikan dengan kebutuhan obyek wisata dan
wisatawan. Pengelola kawasan juga diharapkan dapat memberikan pelayanan
terhadap para pengunjung yang datang untuk dapat memaksimalkan pengalaman
berwisata mereka. Pelayanan-pelayanan tersebut antara lain:

a. Penyebaran pengunjung
Pengunjung yang datang ke suatu kawasan wisata cenderung terkonsentrasi

pada suatu bentang alam tertentu dengan atraksi yang tertentu pula dan
mengabaikan bentang alam lain. Hal tersebut umumnya disebabkan karena
kurangnya akses yang dimiliki oleh pengunjung terkait potensi lainnya. Adanya
konsentrasi pengunjung disuatu tempat menyebabkan terjadinya dampak negative
yang cukup besar di suatu kawasan dan menimbulkan ketidaknyamanan dan akan
menyebabkan turunnya tingkat kepuasan pengunjung. Oleh karena itu, pengelola
perlu melakukan suatu upaya penyebaran pengunjung ke potensi lainnya (Muntasib
2014).

b. Pelayanan informasi dan interpretasi
Pelayanan interpretasi dimaksudkan untuk memberian pengetahuan dan

pemahaman pada pengunjung tentang alam atau sumberdaya yang dikunjunginya
sehingga lebih mengerti dan memahami serta dapat mengembangkan apresiasinya.
Interpretasi merupakan elemen penting dalam pengelolaan pengunjung karena
interpretasi merupakan suatu cara untuk mengeksplorasi pendekatan pengelolaan
pengunjung yang diharapkan.

134

c. Pengelolaan keselamatan pengunjung
Penyebab terjadinya ancaman terhadap pengunjung dapat berasal dari

beberapa hal, sehigga pengelola perlu melakukan pengelolaan terhadap penyebab
ancaman. Menurut Muntasib (2014) penyebab ancaman keselamatan pengunjung
terbagi menjadi 3 yaitu :

1) Dari pengunjung pada pengunjung
Perilaku negatif pengunjung yang datang ke suatu kawasan wisata dapat
membahayakan dan atau menganggu aktifitas pengunjung lainnya.

2) Dari sumberdaya terhadap pengunjung
Keberadaan sumberdaya yang berbahaya (misalnya fauna yang ganas atau
beracun, sumberdaya fisik yang berbahaya dan lainnya) akan
membahayakan dan atau mengganggu kenyamanan pengunjung beraktifitas.

3) Dari pengunjung terhadap sumberdaya
Aktifitas yang dilakukan oleh pengunjung selama berada di kawasan dapat
menganggu atau berdampak pada kondisi sumberdaya yang terdapat di
kawasan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Potensi Ekowisata di Taman Nasional Matalawa

Potensi wisata alam merupakan suatu keadaan, jenis flora dan, bentang alam
seperti pantai, hutan, pegunungan serta keadaan fisik suatu daerah. Berdasarkan
Undang-Undang No. 48 tahun 2010 tentang pengusahaan pariwisata alam di suaka
margasatwa, taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam, wisata alam
adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut, yang dilakukan
secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati gejala keunikan dan
keindahan alam di kawasan suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya
dan taman wisata alam. Wisata alam hutan merupakan salah satu sektor hasil hutan
yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Hutan wisata alam adalah hutan
wisata yang memiliki keindahan alam, baik keindahan tumbuhan, keindahan
hewani, maupun kaindahan alamnya sendiri. Menurut Rigma (2012), manfaat hutan
wisata alam yaitu: 1) pariwisata alam dan rekreasi, 2) penelitian dan pengembangan
(kegiatan pendidikan dapat berupa karya wisata, widya wisata, dan pemanfaatan
hasil-hasil penelitian serta peragaan dokumentasi mengenai potensi kawasan wisata
alam tersebut), 3) sebagai sarana pendidikan, dan 4) kegiatan penunjang budaya.

Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2009),
ekowisata memiliki banyak definisi, yang seluruhnya berprinsip pada pariwisata
yang kegiatannya mengacu pada 5 (lima) elemen penting, yaitu: 1) memberikan
pengalaman dan pendidikan kepada wisatawan, sehingga dapat meningkatkan
pemahaman dan apresiasi terhadap daerah tujuan wisata yang dikunjunginya.
Pendidikan diberikan melalui pemahaman tentang pentingnya pelestarian
lingkungan, sedangkan pengalaman diberikan melalui kegiatan-kegiatan wisata

135

yang kreatif disertai dengan pelayanan yang prima, 2) memperkecil dampak negatif
yang bisa merusak karakteristik lingkungan dan kebudayaan pada daerah yang
dikunjungi, 3) mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan dan
pelaksanaannya, 4) memberikan keuntungan ekonomi terutama kepada masyarakat
lokal. Oleh karena itu, kegiatan ekowisata harus bersifat profit (menguntungkan),
dan 5) dapat terus bertahan dan berkelanjutan.

Berdasarkan dari elemen ekowisata, terdapat beberapa cakupan ekowisata
yaitu untuk edukasi, pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi, serta upaya
dalam kegiatan konservasi. Dalam pengembangan ekowisata, diperlukan sebuah
dukungan khusus dalam pengadaan sebuah produk wisata, yang dapat menjadi
bahan pertimbangan wisatawan. Wisatawan dengan minat khusus, umumnya
memiliki latar belakang intelektual yang lebih baik, pemahaman serta kepekaan
yang lebih terhadap etika, moralitas, dan nilai-nilai tertentu, sehingga bentuk dari
wisata ini adalah untuk mencari pengalaman baru (Fandeli 2000).

Taman Nasional Matalawa memiliki dua blok yakni blok Manupeu Tanah
daru dan Laiwangi Wanggameti. Kegiatan studi potensi terfokus pada blok
Laiwangi Wanggameti, Resort Wanggameti SPTN III dan bagian hutan Mahaniwa
yang merupakan bagian dari Resort Wanggameti. Masing-masing daerah memiliki
potensi ekowisata yang cukup menarik yang dapat dijadikan sebagai objek wisata.
Observasi dilakukan di kawasan aliran sungai dengan bebatuan dan bertebing, serta
daerah perbukitan hutan dan perbukitan savana yang menjual pemandangan sangat
indah.

Kondisi Umum Kawasan Hutan Laiwangi Wanggameti

Pengambilan data mengenai ekowisata dilakukan di Resort Wanggameti
Taman Nasional Matalawa, Desa Wanggameti, Kecamatan Matawai Lapau, Nusa
Tenggara Timu. Lokasi pengambilan data memiliki topografi yang bervariasi baik
darat maupun perairan dengan didominasi perbukitan savana dan hutan tertutup.
Kawasan Laiwangi Wamggameti memiliki luasan 42.567,50 Ha dengan tipe
pengelolaan konservasi yaitu tipe B. Secara geografis Kawasan Laiwangi
Wanggameti berada pada 120°03’ – 120°19’ BT dan 9°57’ – 10°11’ LS. Menurut
klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim dikawasan Matalawa termasuk tipe iklim
C sampai dengan F. Curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 100-1500 mm.
Kawasan hutan Laiwangi Wanggameti secara administratif terletak di wilayah
Kabupaten Sumba Timur pada 4 (empat) wilayah kecamatan, yakni Kecamatan
Tabundung, Pinu Pahar, Karera dan Matawai Lapau. Kawasan hutan Laiwangi
Wanggameti berbatasan langsung dengan wilayah pemukiman dan budidaya dari 18
desa. Desa yang berada disekitar kawasan Laiwangi Wanggameti terdapat 3 desa,
yakni adalah Desa Ramuk dan Desa Mahaniwa di Kecamatan Pinu Pahar serta Desa
Katikuwai di Kecamatan Matawai Lapau, ketga desa tersebut merupakan enclave.
Sebanyak empat desa merupakan desa pemekaran yaitu, Desa Prekomba, Desa

136

Watubokul, Desa Laputi, dan Desa Laiwangi. Berdasarkan hasil dilapang, didapat
dua jenis ekowisata yang berpotensi untuk dikembangkan yaitu Puncak
Wanggameti yang merupakan puncak tertinggi di Pulau Sumba dan air terjun
Ampupu yang memiliki danau diatasnya.

A. Puncak Wanggameti

Puncak Wanggameti berada di Desa Wanggameti, Kecamatan Matawai
Lapau, Dusun Laironja, Nusa Tenggara Timur yang merupakan bagian dari potensi
obyek wisata yang berada di zona pemanfaatan di Resort Wanggameti Taman
Nasional Matalawa dengan panorama yang memiliki daya tarik wisata yang cukup
berpotensi untuk dikembangkan. Puncak ini memiliki ketinggian 1 225 mdpl.
Obyek wisata tersebut dapat ditempuh dengan menggunakan roda 2 dan roda 4.
Jarak dari ibukota kabupaten ke Puncak Wanggameti adalah ±80 km dengan waktu
tempuh sekitar 3 – 4 jam. Dari Kantor Resort Wanggameti menuju gerbang jalur
pendakian dibutuhkan waktu ± 30 menit. Pengunjung yang mendaki akan disambut
dengan gapura selamat datang yang berada dibagian samping pintu masuk utama,
selain itu juga sudah dilengkapi dengan tata tertib pendakian, papan informasi
mengenai larangan, shelter yang berada diseberang gerbang pendakian, dan papan
interpretasi nama jenis pohon.

Gambar 70 Gapura Selamat Datang Gambar 71 Papan interpretasi

Keunikan dari Puncak Wanggameti dapat dilihat dari nilai sejarahnya, yaitu
memiliki cerita yang cukup religius bagi pendatang atau pengunjung tepatnya
dibagian Puncak Wanggameti terdapat kuburan emas berbentuk bayi yang dulunya
dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai sesembahan atau yang biasa disebut
dengan bagian dari kepercayaan Marapu sebagai bentuk rasa syukur masyarakat
terhadap sumberdaya alam. Kawasan Laiwangi Wanggameti sebelum ditetapkan
sebagai kawasan taman nasional, dulunya memang dijadikan sebagai lokasi
pemujaan roh nenek moyang oleh aliran kepercayaan Marapu. Oleh masyarakat
setempat disebut sebagai hamayang. Biasanya lokasi hamayang menjadi tempat
yang sangat sakral dan dianggap sebagai kawasan religi bagi masyarakat yang tidak
boleh dimasuki oleh sembarang orang apalagi untuk mengambil kayu dan hasil
hutan lainnya. Kebiasaan ini masih dipertahankan sampai dengan saat ini. Kegiatan

137

pemujaan tersebut biasaya dilakukan di waktu tertentu seperti perayaan adat.
Kawasan disekitar puncak Wanggameti adalah lokasi yang subur dan selalu ditutupi
kabut yang tebal apabila hujan turun dengan tipe ekosistem hutan hujan, ekosistem
sabana dan ekosistem hutan musim yang mewakili tipe-tipe ekosistem utama Pulau
Sumba.

Akses untuk menuju puncak Wanggameti dapat ditempuh dengan waktu 3-
4 jam waktu normal. Panorama yang disajikan puncak Wanggameti cukup unik
dengan menampilkan nilai sejarah yang masih kental dan lanskap alam yang masih
asri dengan perpaduan hutan yang lebat dengan sabananya yang menjadi daya tarik
utama di Pulau Sumba. Para pendaki sangat mudah melakukan tracking karena jalur
sudah cukup terbuka dibagian awal jalur pendakian, namun mendekati puncak, jalur
belum terlalu jelas, sehingga perlu adanya pembukaan jalur yang lebih jelas dan
pengadaan pembatas jalan sebagai fungsi keamanan ketika melakukan pendakian
karena jalan cukup curam. Disepanjang jalur dipenuhi dengan papan nama pohon
sebagai bentuk pengetahuan bagi pengunjung yang melakukan pendakian. Pada
papan pohon diinformasikan mengenai nama lokal dan nama ilmiah dari pohon
tersebut. Selain itu, terdapat rest area di pertengahan jalur menuju obyek untuk
tempat beristrahat para pendaki. Bagian rest area diberi fasilitas berupa tempat
duduk yang terbuat dari pohon yang sudah rebah dan dibiarkan melintang, terdapat
sumber air yang apabila musim kemarau cukup kering dan pada musim hujan airnya
banyak, serta adanya papan interpretasi mengenai larangan, selain aksesnya yang
jauh, puncak Wanggameti juga berpotensi bahaya bagi pegunjung, seperti jalur
yang licin apabila musim hujan dan banyaknya pohon yang sudah tua dan rapuh
akibat jarang terjamah oleh masyrakat sekitar.

Puncak Wanggameti merupakan salah satu obyek wisata yang sangat jarang
dikunjungi oleh pengunjung baik lokal maupun internasional dibanding dengan
obyek wisata lainnya yang ada di Taman Nasional Matalawa dikarenakan
aksesibilitasnya yang cukup jauh dan sulit dijangkau oleh pengunjung pada
umumnya. Hal tersebut juga dibuktikan dengan data pengunjung yang dimiliki
Taman Nasional Matalawa, bahwa jumlah pengunjung pada Puncak Wanggameti
sangat sedikit dan sebagian besar berasal dari masyarakat lokal. Motivasi
merekapun hanya sebatas bersenang-senang tanpa mempunyai tujuan untuk
melakukan wisata. Dari topografi dan keadaan Resort Wanggameti beserta obyek
wisatanya pengunjung yang cocok dan sesuai ialah pengunjung yang memiliki
minat khusus terhadap alam sehingga baginya aksesibiltas yang jauh bukan suatu
masalah besar.

Rekomedasi

a. Secara Keseluruhan:
1. Jalur tracking lebih diperjelas
2. Menyediakan peta jalur pendakian di bagian gapura selamat datang
3. Ada pemandu wisata/ guide

138

4. Papan informasi mengenai keanekaragaman hayati didalamnya (flora fauna
yang unik) dan sejarah yang ada dibagian puncak

5. Papan interpretasi tumbuhan/pohon lokal dan potensial (deskripsi dan
manfaat) di lokasi yang potensial

6. Sistem pembatasan pengunjung
7. Di sepanjang jakur pendakian berpotensi spot birdwatching

b. Bagian Rest Area
1. Tempat istirahat/ pondok khas sumba
2. Tempat duduk dari kayu yang ada di hutan
3. Dibuat bilik kecil (toilet) di sekitar mata air

c. Bagian Puncak
1. Dibagian puncak lebih dirapihkan dan dilakukan pemangkasan secara
berkala untuk mendapatkan pemandangan yang menarik
2. Menyediakan papan atau tempat khusus rekam jejak pengunjung

B. Air Terjun Ampupu
Air Terjun Ampupu berada di Desa Wanggameti Kecamatan Matawai Lapau

Kawasan Taman Nasional Matalawa. Memiliki ketinggian 4.7 m dan terdapat danau
dengan lebar 5 m, panjang 4 m berbentuk hati dengan kedalaman 2.4 m. Saat musim
kemarau kondisi air sangat tenang sehimgga untuk menempuh obyek wisata Air
terjun Ampupu dibutuhkan waktu sekitar 1-2 jam dengan jarak 5 km dari kantor
Resort Wanggameti dengan jalan kaki. Sepanjang jalan menuju lokasi disuguhkan
beberapa jenis tumbuhan dengan tajuk yang cukup rapat dengan udara yang sejuk
dan tapak yang berbukit (naik turun), selain tumbuhan banyak juga fauna sepeti
beberapa jenis burung seperti Elang Bondol (Haliastur indus), Gagak kampung
(Corvus macrorhynchos), Perkici orange (Trichoglossus capistratus) dengan
suaranya yang merdu dan kupu-kupu yang menjadi penghias diperjalanan. Kegiatan
yang dapat dilakukan di Air terjun ialah aktivitas renang dan menikmati keindahan
alam yang tersedia.

139

Gambar 72 Danau diatas air terjun utama Gambar 73 Aliran air terjun Ampupu

Keindahan alam dan Air terjun Ampupu tidak terlepas dari potensi bahaya
yang suatu waktu akan terjadi. Jalan yang licin apabila musim hujan disepanjang
perjalanan, air dengan arus yang cukup deras dan disekitar obyek Air Terjun
Ampupu berpotensi longsor yang sebelumnya juga sudah pernah terjadi, banyak
pohon yang rapuh dan tua sehingga dapat tumbang ketika musim kemarau, selain
akses jalan yang cukup sulit dan jauh, jalur menuju obyek Air Terjun Ampupu juga
belum terbuka dengan baik, karena obyek tersebut belum terjamah oleh pengunjung
dan belum dijadikan sebagai obyek wisata. Namun, walaupun belum terjamah tidak
mengurangi nilai potensi wisatanya dengan keadaan alam yang masih alami serta
kicauan burung dan lambaian tumbuhan yang kerap kali menyapa.

Keunikan lain yang dimiliki oleh Air terjun Ampupu ialah terdapat dua
tingkat air terjun. Dibagian bawah danau yang berbentuk hati terdapat air terjun
utama Ampupu. Jadi bentuk dari air terjunnya yakni, aliran air berbatu disambut air
terjun Ampupu tingkat pertama dengan ketinggian 4,7 m, kemudian ditampung oleh
danau berbentuk hati pada Gambar 72, setelah itu terdapat air terjun utama Ampupu
yang memiliki ketinggian 4 kali lipatnya dari air terjun tingkat pertama, namun
akses untuk mencapai air terjun utama sulit dan curam serta cukup jauh untuk di
jangkau.

C. Kuburan Batu Megalitik

Objek wisata Kubur Batu Megalitik terletak di Desa Wanggameti Kecamatan
Matawai Lapau Kabupaten Sumba Timur. Kuburan Batu Megalitik merupakan
kuburan tua berumur ratusan tahun yang terbuat dari batu, merupakan salah satu
simbol kebudayaan yang mempunyai makna sebagai manifestasi kejayaan jaman
megalitik di masa lampau. Keunikan lain dari objek tersebut ialah memiliki nilai
religi yang sangat tinggi. Di dalam Kubur Batu Megalitik terdapat mayat yang
sebelumnya sudah diawetkan dirumahnya. Mayat akan dikubur apabila keluarga
sudah dikatakan mampu untuk membeli kebutuhan rangkaian pemakaman. Disetiap
depan rumah masyarakat Sumba mempunyai Kubur Batu tersebut. Masyarakat
Sumba percaya bahwa rumah ketika masih hidup harus berdampingan dengan

140


Click to View FlipBook Version