Setitik Embun di Tanah Suci | i
Setitik Embun di Tanah Suci
Penulis: Fataty Maulidiyah
ISBN
Editor: Lilik Fatkhu Diniyah
Penata Letak: @timsenyum
Desain Sampul: @timsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2020
xiv, 188 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Desember 2020
Diterbitkan oleh
CV. Pustaka MediaGuru
Anggota IKAPI
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya
Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan Didistribusikan oleh
Pustaka Media Guru
Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72
Persembahan
Buku ini saya persembahkan untuk Almarhum-
almarhumah
kedua orang tua tercinta, Drs. H.M Thohir Al-
Aly,M.Ag dan Ibunda Hj. Afifah
Untuk suamiku, H.Sulaiman
Untuk kedua buah hatiku, M.Abdullah Al Hasan
dan M.Ali Ridho
Untuk Saudara-saudaraku, Husnuz Zaimah,
Khotibul Umam, Kamilatud Diniyah, dan M. Athok
Muzakky
Prakata
A lhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang
memberikan kesempatan dan kesehatan kepada
penulis untuk menyelesaikan penulisan buku perdana
ini. Buku berjudul Setitik Embun di Tanah Suci bercerita
tentang perjalanan penulis ketika menunaikan ibadah haji
pada 2019.
Menunggu sembilan tahun untuk bisa menyempurnakan
rukun Islam yang ke‐5 merupakan hal yang megharukan bagi
penulis. Kedua orang tualah yang memberi pengaruh besar
bagi penulis untuk menyegerakan diri mendaftar haji. Tidak
menunggu mapan materi atau karir. Yang penting niat dulu.
Begitu Almarhum Abah bilang.
Kedua orang tua penulis pertama kali menunaikan ibadah
haji sekitar tahun 1996. Saat itu ibu berusia 42 dan Abah
berusia 47 tahun. Suatu usia yang masih muda, sehat, dan
produktif. Penulis mengingat itu. Beliau menyampaikan
ibadah haji selain ibadah spiritual juga membutuhkan fisik
yang kuat.
Kepada kelima anak‐anaknya, penulis nomor dua, orang
tua penulis juga menyarankan untuk memiliki niat dan tekad
supaya bisa mengunjungi Baitullah di Mekkah dan
mengunjungi makam Rasulullah SAW di Madinah. Orang tua
penulis berhasil menanamkan motivasi itu kepada kelima
anaknya.
iv | Fataty Maulidiyah
Abah pun berangkat haji untuk kedua kalinya sebagai
petugas sekitar tahun 2005. Pada haji kedua ini Abah
menyusun sebuah buku haji singkat. Pada waktu itu Abah
sangat suka membaca buku Haji dari Ali Syariati dan Pusaran
Energi Ka’bah karya Agus Mustofa. Di sela‐sela menjelang
waktu berangkat, Abah membuat buku haji dan hikmahnya
meskipun tipis. Isinya sejarah haji, tata cara, dan hikmahnya.
Abah print sendiri dan sepulang haji dibagikan bersama oleh‐
oleh haji pada tamu‐tamu yang berkunjung.
Penulis lebih banyak meniru Almarhum Abah. Tidak bisa
menyimpan pengalaman ibadah haji ini sendirian. Jika Abah
banyak sekali bercerita baik pengalaman spiritual dan
menjelajahi jejak sejarah sehingga hampir setiap titik tempat
itu dijelaskan riwayatnya, penulis telah tuntas dibuai oleh
indah dan berharganya kisah‐kisah itu. Hanya bisa
membayangkan kapan saat itu tiba, penulis pergi ke Tanah
Suci.
Dalam buku ini penulis tumpah‐ruahkan motivasi,
kenangan cerita haji dari orang tua, perjuangan, perjalanan,
dan pengalaman berharga berada di dua tempat suci ini.
Menjumpai apa yang selama ini penulis baca dalam biografi
perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.
Tak ada yang paling indah ketika kita dapat bersimpuh
memohon ampun dan memenuhi panggilan‐Nya di Baitullah
lalu tertunduk di Raudhah.
Apa yang penulis kisahkan ini sejatinya oleh‐oleh terbaik
dari yang pernah memenuhi undangan‐Nya dan bermonolog
rindu dengan sang Rasul Agung yang akan saya bagikan rasa
itu untuk pembaca. Masih banyak kekurangan dalam buku ini.
Setitik Embun di Tanah Suci | v
Namun sederhana harapan penulis, semoga apa yang tertulis
dalam buku ini bermanfaat.
***
vi | Fataty Maulidiyah
Kata Pengantar
Kepala Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau
(Tokoh Penggerak Literasi Nasional)
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Segala puji bagi Allah yang telah
memberikan petunjuk dan hidayah
kepada hamba‐Nya. Salawat beserta
salam semoga tercurah kepada Nabi
Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam,
nabi akhir zaman yang diutus untuk
memperbaiki akhlak manusia dan
namanya selalu disebut setiap waktu.
Seiring dengan semakin
meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek),
berbagai informasi dari beragam media informasi
berkembang begitu pesat. Upaya menggelorakan budaya
literasi di tengah‐tengah kehidupan masyarakat
membutuhkan komitmen bersama.
Selaku Tokoh Penggerak Literasi Nasional sekaligus
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bintan saya
menyambut baik diterbitkannya buku berjudul Setitik Embun
di Tanah Suci karya Fataty Maulidiyah. Buku ini bercerita
tentang perjalanan penulis ketika menunaikan ibadah haji
pada 2019. Yang di awali dari keinginan, menjelang
Setitik Embun di Tanah Suci | vii
keberangkatan, kegiatan di asrama haji, hingga menuju Tanah
Suci. Penulis juga menyelipkan kisah sejarah Islam di sekitar
Mekkah dan Madinah dan tips‐tips mengunjungi tempat‐
tempat mustajab, belanja sehari‐hari, serta pengalaman
penulis mengalami hal‐hal yang tidak terduga di ceritakan
secara detail dan dramatis.
Semoga buku ini dapat menjadi ladang ilmu bagi
pengarangnya dan bermanfaat bagi pembacanya. Maju terus,
gelorakan literasi, mari berkarya dan berjaya melalui kerja
keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Bintan, Desember 2020
Kepala Kemenag Bintan
Drs. H. Erman Zaruddin, M.M.Pd.
viii | Fataty Maulidiyah
Motivasi
J ika kita berteman dengan penjual parfum, kita akan
mendapatkan harumnya. Jika kita berteman dengan
seorang pandai besi, kita juga akan mendapatkan
panasnya. Demikian juga dengan ibadah haji ini. Motivasi
terkuat yang saya dapat adalah dari orang tua dan saudara‐
saudara, juga suami yang sudah lebih dulu menunaikan haji
pada 2004.
Sekitar tahun 2011, adik perempuan saya, Kamilatud
Diniyah memenangkan suatu ajang perlombaan Tingkat
Nasional dalam bidang Tafsir Al‐Qur’an berbahasa Inggris di
Kendari. Hadiahnya adalah umrah. Di antara kami berlima,
dialah yang pertama kali mengunjungi Baitullah. Setelah itu,
sekitar tahun 2013, Almarhumah Ibunda berangkat haji yang
kedua. Rencananya didampingi oleh adik laki‐laki bungsu saya
yang sudah di daftarkan ONH oleh ibu angkatnya di Surabaya
sewaktu ikut mengabdi di Pesantren Al‐Jihad milik K.H. Imam
Hambali di Surabaya.
Sebelum keberangkatan, kami menguatkan ibu meskipun
tidak di dampingi, ibu akan baik‐baik saja. Kami sebagai anak‐
anaknya meyakinkan ibu bahwa nanti akan ada petugas dan
ketua kloter maupun ketua regu yang akan menjaga. Saat itu
ibu berusia 61 tahun. Selang 1 tahun saja setelah pensiun.
Dalam masa sebelum berangkat itulah kami, yaitu ibu, kakak
perempuan, dan saya sendiri sedang seneng‐senengnya
Setitik Embun di Tanah Suci | ix
membaca buku Kisah Perjalanan Nabi Berdasarkan Sumber
Klasik, Karya Abu Bakr El‐Sirajuddin (Martin Lings).
Saat itu buku tersebut masih sulit didapat sehingga buku
hasil pinjam seorang teman ini saya fotokopi sejumlah tiga.
Menurut saya, buku ini sangat penting bagi siapa pun yang
akan berkunjung ke Tanah Suci. Termasuk saya yang saat itu
masih berharap dan menanti waktu itu tiba. Menantikan saat‐
saat berada di sebuah tempat penuh sejarah.
Seusai haji, ibunda berpesan agar kami anak‐anaknya
segera menabung, mendaftar, dan banyak‐banyak berdoa
agar bisa berangkat ke Tanah Suci untuk haji maupun umrah.
Enam bulan setelah kepulangan ibu dari ibadah haji, yaitu
pada bulan April 2014, ibu saya wafat. Sedangkan Abah kami
lebih dulu meninggalkan kami pada tahun 2008 tiga tahun
setelah menunaikan haji yang kedua pada 2005. Kami berlima
anak‐anaknya akan selalu mengingat‐ingat pesan tersebut.
Di antara kami berlima, yang lebih dulu haji adalah adik
bungsu laki‐laki saya. Dia sebelum nikah sudah di lunasi ONH
oleh ibu angkatnya dan berangkat sekitar 2015. Pada tahun
2017, adik laki‐laki (anak ke‐3) berangkat umrah. Diam‐diam
Almarhumah Ibunda telah menabung umrah pada travel haji
untuknya. Ketika ibu wafat, salah satu pengurus travel haji
memberitahu kami bahwa ibu saya sudah titip uang tinggal
menambahi sedikit saja untuk umrah adik saya.
Menurut kakak perempuan saya, anak pertama, ibu
mengumrahkan adik ketiga karena kakak sudah daftar haji,
tinggal tunggu berangkat. Adik perempuan saya sudah umrah
dari hadiah dan saya sendiri sudah daftar pada 2010 tinggal
menunggu berangkat. Sementara adik bungsu saya sudah
x | Fataty Maulidiyah
dihajikan ibu angkatnya. Begitulah keinginan orang tua kami
agar semua anak‐anaknya bisa berkunjung ke Baitullah.
Tahun 2018, kakak perempuan saya Husnuz Zaimah
berangkat haji. Artinya, dari kami berlima tinggal saya yang
belum pernah mengunjungi Baitullah. Adik perempuan, anak
ke‐4 umrah tahun 2012, adik bungsu haji 2015, adik laki‐laki
(anak ke‐3) tahun 2017, dan kakak (anak pertama) berangkat
haji tahun 2018.
Jika ada perkumpulan keluarga kami berlima, sungguh
seru melihat mereka sharing pengalaman meskipun saya
hanya jadi penonton. Saya manggut‐manggut saja seolah
mengerti dan bisa merasakan pengalaman mereka. Namun,
tak apa karena saya sudah mengetahui bahwa tahun
depannya yaitu 2019 adalah waktu keberangkatan saya,
insyaallah.
***
Setitik Embun di Tanah Suci | xi
Daftar Isi
Prakata ....................................................................................... iv
Kata Pengantar Kepala Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau ............................ vii
Motivasi ..................................................................................... ix
Daftar Isi .................................................................................... xii
Ali Syariati dan Martin Lings .......................................... 1
Mendaftar ...................................................................... 6
Persiapan ...................................................................... 10
Keberangkatan ............................................................. 13
Di Udara ........................................................................ 18
Selamat Datang ............................................................ 22
Negeri yang Aman ........................................................ 27
Tempat Kelahiran Nabi ................................................. 31
Umrah untuk Ibunda ................................................... 35
Ziarah Armuzna ........................................................... 39
Hari‐Hari Menjelang Armuzna .................................... 42
Pilar Pink ...................................................................... 47
Hilang ............................................................................ 51
Sepeda Nabi Adam ...................................................... 56
Menuju Arafah ............................................................. 62
Wukuf ........................................................................... 66
Muzdalifah .................................................................... 71
Jamarat Ula ...................................................................75
Jamarat Wustho .......................................................... 80
xii | Fataty Maulidiyah
Jamarat Aqabah .......................................................... 85
Bertolak dari Mina ....................................................... 88
Ifadhah ......................................................................... 95
Sejarah Kota Mekkah .................................................. 99
Kuliner ......................................................................... 105
Hijir Ismail dan Maqam Ibrahim .................................. 111
Solidaritas Pakaian Hitam .......................................... 118
Museum El Moudy dan Arab Pra‐Islam ..................... 122
Muya Zam‐Zam ........................................................... 127
Umrah Tiga Riyal .......................................................... 131
Bertemu Orang‐Orang ............................................... 137
Berkunjung ke Thaif ................................................... 145
Wada’, Pergi untuk Kembali ....................................... 151
Menuju Madinah ......................................................... 156
Madinah Pertama ....................................................... 163
Berburu Raudhah ....................................................... 168
Madinah City Tour ...................................................... 174
Hari Terakhir di Madinah ............................................ 180
Bertemu Keluarga ...................................................... 184
Daftar Pustaka ........................................................................ 186
Profil Penulis............................................................................ 187
Setitik Embun di Tanah Suci | xiii
xiv | Fataty Maulidiyah
Ali Syariati dan Martin Lings
Ali Syariati
Dalam buku Haji yang disusun oleh Almarhum Abah saya,
Drs. H.M. Thohir Al Aly, M.Ag., pada tahun 2005 beliau banyak
mengutip refleksi haji menurut Ali Syariati. Berikut ini kutipan
refleksi Haji menurut Ali Syariati:
Esensi ritual haji adalah evolusi eksistensial manusia
menuju Allah. Haji, menurut Ali Syari’ati, adalah drama simbolik
dari filsafat penciptaan anak‐cucu Adam.
Dengan kata lain, dia memuat kandungan objektif dari
setiap sesuatu yang relevan dengan filsafat itu. Haji sama
dengan penciptaan, sejarah, dan monoteisme. Dalam drama
simbolik itu, Allah sebagai sutradara, tema yang
diproyeksikan adalah aksi (movement) dengan karakter
pelaku Adam, Ibrahim, Hajar, dan Iblis.
Lokasi‐lokasi pertunjukannya dilakukan di tempat suci seperti
Masjidil Haram, Mas’a, Arafah, Masy’ar, dan Mina.
Simbol‐simbolnya adalah Ka’bah, Shafa dan Marwa, siang
dan malam, terbit dan tenggelamnya matahari, serta berhala‐
berhala dan pengorbanan. Pakaian dan ornamennya adalah
ihram. Dan siapakah aktornya? “Inilah yang luar biasa,” Kata
Ali Syariati. Aktornya hanya satu, yaitu engkau sendiri.
Dan engkau pula yang memainkan semua peran. Sebagai
Adam, Ibrahim sekaligus Hajar. Di situ hanya ada satu “hero”:
Kemanusiaan. Ali Syariati menyebut gelombang haji sebagai
Setitik Embun di Tanah Suci | 1
sebuah gerakan pulang kepada Allah Yang Maha Mutlak yang
tidak memiliki keterbatasan. Pulang kepada Allah adalah
sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan,
kekuatan, pengetahuan, dan nilai absolut.
Tujuan ibadah haji secara keseluruhan bukanlah sekadar
melaksanakannya, tetapi untuk terlibat di dalamnya secara
sosiologis yang mendalam sehingga membawa pelaksananya
melampaui batas‐batas pengalaman sebelumnya. Tujuan
ibadah haji telah tercapai bila si pelakunya telah mampu
melaksanakan nilai‐nilai ini dengan penuh keyakinan bahwa
Tuhan akan memelihara sang haji sebagaimana Tuhan tidak
membiarkan Ibrahim terbakar oleh api. Jika mereka yang
berhaji dapat kembali ke negerinya sebagai orang‐orang yang
telah membina diri mereka di atas keimanan yang mengarah
2 | Fataty Maulidiyah
pada tujuan ini, lalu mereka akan kembali ke negeri dan desa
mereka seperti “sungai yang mengalir mengairi bumi,”
masing‐masing membantu menumbuhkan beribu‐ribu benih.
Inilah tujuan haji, ia bukan sekadar tugas keagamaan,
tetapi sebuah tujuan yang dengannya Tuhan memperbarui
masyarakat. Inilah yang ditegaskan Syariati bahwa “Eksistensi
manusia tidak ada artinya kecuali tujuan hidupnya adalah
untuk mendekati Allah”.
Martin Lings
Jika Abah saya suka menulis buku, ibu saya suka sekali
mendongeng dan bercerita. Ibu penyuka sejarah. Ibu suka
berbicara tentang Taman Gantung Babylonia, situs Petra
Jordan, Madain Shaleh, Istana Versailles, Haggya Shopia,
kisah Raja Nebukadnezar, Piramid suku Maya dan Incha, dan
terutama adalah sejarah Islam yaitu cerita‐cerita dalam Al‐
Qur’an dan napak tilas auliya (para wali).
Berkaitan dengan haji, buku Martin Lings dengan judul
asli Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources (1983)
atau Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik,
penerbit Serambi, 2007 inilah yang menjadi favorit kami
bertiga, ibu, saya, dan kakak. Buku ini sudah mengalami cetak
ulang. Saya akan menceritakan secara singkat tentang Martin
Lings.
Martin Lings dilahirkan di Burnage, Lanshire pada 24
Januari 1909. Pada tahun 1940 Martin Lings datang ke Mesir
untuk mengunjungi temannya yang ada di Universitas Kairo.
Ketika temannya itu meninggal dalam suatu kecelakaan,
Setitik Embun di Tanah Suci | 3
Martin Lings diminta menggantikan posisi temannya itu
sebagai pengajar.
Pada saat yang sama, Lings juga dekat dengan seorang
filosuf mistis asal Perancis, Rene Guenon yang juga sudah
memeluk Islam. Setelah memutuskan menetap tinggal
selamanya di Mesir, situasi politik mengubah segalanya, Lings
kembali ke Inggris dan melanjutkan studi jurusan studi Arab
dan mendapatkan gelar P.hd‐nya dari School of Oriental and
Africans Studies (SOAS).
Martin Lings banyak menulis buku. Yang paling terkenal
adalah buku Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources
yang ia persembahkan untuk pemimpin Pakistan Zia Ul Haq.
Ditulis dari perspektif seorang cendekiawan‐sejarawan yang
juga mempraktikkan Islam dalam keseharian, buku tersebut
cepat terkenal dan menjadi bacaan wajib mengenai
kehidupan Nabi Muhammad SAW. Buku ini telah
diterjemahkan dalam 10 bahasa.
Menurut Profesor Hamid Dabashi dari Columbia
University yang mengungkapkan kekagumannya: ”Ketika
membaca buku Muhammad karya Lings kita akan bisa
merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi
bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah
syair. Lings adalah cendekiawan‐sejarawan‐penyair,” katanya.
Komitmennya terhadap Islam terbawa sepanjang hayat.
Bahkan, sepuluh hari sebelum meninggal dunia, Lings masih
sempat menjadi pembicara di depan tiga ribu pengunjung
pada acara Maulid Nabi Muhammad bertajuk “Bersatu untuk
sang Nabi” yang diadakan di Wembley.
4 | Fataty Maulidiyah
Lings mengatakan, itu adalah pertama kalinya dia
berbicara mengenai makna kehidupan Nabi Muhammad
dalam waktu 40 tahun. Martin Lings telah masuk Islam sejak
mempelajari Sufi Tarekat Sadziliyyah lalu berganti nama
menjadi Abu Bakr El Sirajjuddin. Pada 12 Mei 2005, Martin
Lings mengembuskan napas terakhir di usia 96 tahun. Umat
Islam dari seluruh dunia pun berkabung atas wafatnya
penyair sufi modern terkemuka ini.
***
Setitik Embun di Tanah Suci | 5
Mendaftar
S ekitar bulan November 2010, saat itu saya hamil 8
bulan anak kedua. Pada tahun‐tahun itu talangan haji
yang diadakan berbagai KBIH (Kelompok Bimbingan
Ibadah Haji) maupun travel umrah lagi marak. Hanya dengan
setor 2 juta sudah mendapat porsi haji. Porsi haji 25 juta
tersebut harus lunas dalam waktu 2 tahun, kemudian tinggal
menunggu waktu berangkat.
Saat mendaftar haji, saya tidak tahu kalau kakak
perempuan mendaftar juga lebih awal satu bulan di tahun
yang sama. Hanya beda satu bulan waktu daftar saja sudah
beda tahun keberangkatan. Mendaftar di saat hamil besar
menjadi keputusan yang agak sulit karena saya fokus
persiapan persalinan. Tetapi, suami meyakinkan saya yang
penting daftar dulu, nanti kalau ditunda akan menyesal.
Urusan rezeki anak akan ada sendiri. Alhamdulillah, dengan
menurut kata suami, apa yang terjadi sekarang sungguh saya
syukuri.
Saat ini ibadah haji sangat sulit. Tidak semua orang yang
memiliki uang bisa berangkat. Jika daftar pada tahun ini maka
keberangkatannya 32 tahun lagi. Kecuali kita beli waktu itu
dengan ONH Plus‐plus yang harganya ratusan juta. Masa
tunggu 3‐6 tahun.
Pada saat itu ada saudara yang menjadi agen travel haji
dan umrah yaitu KBIH Uluwiyah yang di pimpin K.H. DR.
Zainul Ibad, M.M., menawari pendaftaran haji dengan setoran
6 | Fataty Maulidiyah
hanya dua juta. Tanpa ragu‐ragu, saya dan suami mendaftar.
Seminggu ke depan, kami sudah menyerahkan berkas
pendaftaran di Bagian Haji Kementerian Agama Kabupaten
Mojokerto.
Bahagia tak terkira, menerima tabungan talangan sebagai
setoran porsi 25juta, lalu berfoto, menerima printout porsi
haji. Dada berdebar‐debar tidak percaya. Saya membelai
perut yang makin membesar. Satu bulan lagi waktu
melahirkan dan membayangkan anak dalam kandunganku ini
kelak akan kutinggalkan selama haji. Saya juga berharap saat
usia tidak begitu renta ketika berangkat 9 tahun ke depan.
Saat itu usia saya 31 tahun.
Mulailah setelah mendaftar haji dan mendapat talangan
haji 25 juta itu, saya menyisihkan pendapatan. Berapapun
rezeki yang didapat satu juta, dua juta aku titipkan ke Travel
Haji. Sambil menunggu waktu itu, saya larut dalam rutinitas
sehari‐hari. Meskipun tetap ingat bahwa dalam dua tahun,
25juta itu harus lunas.
Dua tahun masa pelunasan itu tiba. Alhamdulillah sesuai
target. 25juta itu sudah saya bayar. Biaya ONH haji tahun 2019
belum ada kepastian. Pihak travel hanya mengharuskan
pelunasan porsi haji dulu. Informasi dari pihak KBIH dilakukan
setiap bulan. Ada pertemuan rutin untuk bimbingan dan
penyelesaian administrasi. Saya jarang mengikuti kegiatan
rutin tersebut karena masa berangkat masih lama. Hanya
suami saja yang datang ke kantor travel untuk mengangsur.
Tahun 2018 adalah tahun‐tahun yang mendebarkan.
Kakak bersama suaminya berangkat haji. Saya melihat
sepertinya begitu banyak biaya yang dikeluarkan untuk
Setitik Embun di Tanah Suci | 7
persiapan kegiatan haji selain urusan haji itu sendiri.
Menyiapkan biaya untuk anak‐anak yang ditinggalkan, biaya
sekolah, pesantren, uang saku, gaji pembantu, uang lembur
pembantu, biaya menjamu tamu, dan yang paling besar
adalah oleh‐oleh haji, syukuran haji, juga acara pada saat
berangkat.
Saya melihat begitu banyak biaya yang dikeluarkan kakak.
Waktu berbincang dengan kakak saya menangis. Saya
berkata kepada kakak.
“Neng, biaya di luar buat haji habis berapa sampek tetek‐
bengeknya?”
Kakak tidak menjawab berapa nominalnya. Kakak malah
menjawab, “Pokoknya orang haji ada rezekinya. Di luar nalar.
Ya, tetap kamu ikhtiar tapi perhitunganmu jangan pakai
logika semua. Pokok kamu yakin. Ajaib, wes.”
Saya mendesak berapa kira‐kira angka nominalnya agar
tahun ini bisa saya persiapkan. Kakak hanya menjawab,
“Oleh‐oleh haji saja bisa mencapai 10 juta. Bisa lebih, apalagi
kayak kamu yang tinggal di desa gak di perumahan kayak aku,
tamumu pasti membludak”.
Benar saja. Orang yang sudah niat haji dan berketetapan
memenuhi panggilan Allah untuk menjadi tamu‐Nya di
Baitullah akan ada rezekinya. Mulai Januari 2018 kegiatan
manasik haji secara rutin wajib di hadiri oleh CHJ tahun 2019.
Ada perasaan was‐was juga karena ada kabar diundur karena
jemaah tahun kemarin yang tertunda berangkat. Dengan
berbagai sebab.
Pada bulan Januari 2019 sudah ada informasi resmi biaya
ONH 2019 yaitu sekitar 37juta ditambahi biaya bimbingan dan
8 | Fataty Maulidiyah
lain‐lain seperti baju, kaos, mukena, sajadah, payung tas, dan
sebagainya. Total yang harus dilunasi di travel haji ditambah
porsi 25 juta adalah 43 juta yang bisa dilunasi mulai Februari
sampai Mei 2019.
Bersama suami kami berjuang dengan cara masing‐
masing untuk melunasinya. Suami yang wirausaha harus giat
mengembangkan usahanya, mencari terobosan ke sana
kemari. Sementara saya sebagai PNS tinggal pinjam bank atau
koperasi saja, yang penting bulan Februari 2019 itu semua
harus di bayar.
Alhamdulillah semua masalah biaya sudah terlewati.
Tinggal persiapan mencari ilmu berkaitan dengan tata cara
ibadah haji, sambil tetap mengumpulkan rezeki buat biaya
persiapan keberangkatan dan bekal buat anak‐anak selama di
tinggalkan.
***
Setitik Embun di Tanah Suci | 9
Persiapan
M eninggalkan empat anak laki‐laki di rumah bukan
persoalan sederhana. Saya dan suami sudah
merencanakannya dengan matang. Ada 4 anak
laki‐laki di rumah yang sulung 20 tahun, lalu 17, 11, dan 8
tahun. Tidak ada sanak saudara yang tinggal dekat. Jadi,
rumah kami tidak ada siapa‐siapa kecuali mereka. Saya dan
suami hanya titip‐titip ke tetangga sebelah rumah.
Untuk belanja keperluan haji pihak KBIH dan kakak
perempuan saya memberikan list belanja. Hal itu saya lakukan
dua bulan sebelum hari H karena pikiran saya yang
bercabang‐cabang. Bagi saya yang penting pegang uang
langsung ke toko perlengkapan haji. Sehari sudah beres
untuk mengisi kopor besar maupun travel bag.
Anak sulung diserahi menghandle usaha ayahnya.
Keuangan dia pegang untuk kebutuhan sehari‐hari. Uang
saku 45 hari sudah disiapkan untuk mereka berempat.
Namun, ada yang berat, tanggung jawab sebelum
keberangkatan pada bulan Juni 2019 nanti. Anakku yang 11
tahun belum di khitan, juga waktunya masuk pesantren.
Walhasil pikiranku terbagi antara mempersiapkan haji dan
anak.
Saya belum hunting pesantren. Target saya anak yang 11
tahun itu sudah daftar sekolah jenjang MTs (setara SMP) dan
harus tinggal di pesantren. Dalam masa satu bulan sebelum
berangkat, banyak hal yang harus saya selesaikan.
10 | Fataty Maulidiyah
Perlengkapan haji, mengikuti sesi‐sesi pertemuan yang
diadakan Kementerian Agama maupun KBIH yang jadwalnya
makin padat, juga mengkhitankan anak, mendaftar sekolah
dan pesantrennya, belum lagi menyerahkan urusan belanja
harian dan menjaga anak bungsu pada pembantu.
Saya dahulukan mengkhitankan anak. Barengan acara
syukuran haji. Setelah itu saya daftar sekolah dan melunasi
semua biayanya. Saya lega akhirnya menemukan sekolah
yang pas. Yang lokasinya dekat tempat mengajar. Lanjut ke
pesantren yang satu yayasan dengan sekolah. Anak saya yang
11 tahun ini sudah saya ajak dialog bahwa dia harus setuju
dimasukkan pesantren supaya kegiatan sekolahnya bisa
lancar.
Alhamdulillah dia setuju dan tidak rewel. Jika dia tidak
setuju akan rumit. Tidak ada yang antar jemput sebab lokasi
sekolah kakaknya beda. Belum lagi kalau di rumah, bisa
berantakan proses belajarnya. Setelah itu, sambil dia
menunggu pulih dari khitan, saya mempersiapkan segala
sesuatunya, membeli lemari, kasur, bantal, selimut,
gantungan pakaian, semua yang diperlukan anak pesantren.
Saya pesan semua lewat kurir dan tinggal diantar di
pesantrennya.
Setelah selesai urusan anak yang 11 tahun, yang bungsu
ternyata bersedia menginap di rumah emak, pembantu saya.
Kalau pagi ke rumah beres‐beres, mencuci, menyetrika,
memasak, dan antar anak sekolah, sekitar pukul 11 sudah
pulang sama anak saya. Anak bungsu saya juga merasa
kerasan di sana malah senang dapat teman banyak katanya.
Keesokan harinya saya dan suami berziarah ke makam kedua
Setitik Embun di Tanah Suci | 11
orang tua kami. Mengirimkan doa‐doa, juga mohon pamit
pada mereka yang sejatinya masih bisa menyaksikan kami
telah mengunjunginya.
H‐4 keberangkatan. Saya disibukkan mengurus surat cuti
haji dan menyiapkan materi pembelajaran selama saya haji.
Untung saja ada anak PPL yang menggantikan sehingga saya
tidak perlu merepotkan teman yang sudah memiliki beban
kerja sendiri. Esok harinya, sekitar 120 tamu dari rekan kantor
datang ke rumah.
Mereka semua bersilaturahmi dan mendoakan saya
menjelang keberangkatan agar selalu sehat dan semua
lancar. Setelah itu, tamu yang datang ke rumah tak kunjung
berhenti, baik dari kalangan tetangga, komunitas pengajian
suami dan saya sendiri, gurunya anak‐anak dari TK, MI, MTS,
saudara dari pihak suami, dan saya sendiri. Tamu‐tamu itu
masih datang beberapa jam sebelum saya berangkat ke
Tanah Suci. Alhamdulillah.
***
12 | Fataty Maulidiyah
Keberangkatan
H ari itu gelap, Sabtu 27 Juni 2019. Saat di mana saya
dan suami akan berangkat ke Tanah Suci. Jadwal
keberangkatan sesuai informasi adalah pukul 03.00
masuk pendopo kabupaten dan upacara pelepasan di masjid
harus berlangsung pukul 02.00. Saat itu anak‐anak saya masih
lelap.
Kupandangi satu‐satu wajah mereka saat terpejam.
Meninggalkan mereka ke Tanah Suci selama kurang lebih 42
hari bukan hal yang mudah. Namun, saya yakin anak‐anak
saya kuat, Tangguh, dan mandiri. Saya meyakini, yakin pula
Allah‐lah yang akan menjaga dan menguatkan mereka.
Tepat pukul 02.00 dini hari. Pengeras suara masjid mulai
melantunkan kalimah talbiyah sebagai tanda upacara
keberangkatan segera dimulai. Setelah mandi sunnah saya
kenakan jubah putih bersih dan menghadap cermin. Air mata
saya menetes tak terbendung.
Air mata itu dingin membasahi wajah. Terlintas
berkelebat‐kelebat wajah almarhum kedua orang tua. Saya
merasakan kehadiran mereka mengantar saya berangkat.
Lalu saya melanjutkan memakai baju putih dan batik nasional,
melengkapinya dengan kerudung lalu mengusap air mata
bahagia dan haru.
Saya membangunkan anak‐anak, mereka masih
mengantuk kemudian menuntun mereka berdua ke kamar
Setitik Embun di Tanah Suci | 13
mandi, membersihkan mukanya dan mengganti bajunya
dengan yang lebih rapi.
“Nak, Ayah sama Ibu akan ke Mekkah, kalian nanti ikut ke
masjid ya berdoa bersama dan mengantar ke pendopo
kabupaten.” Bungsu saya mengangguk. Setelah semua siap,
saya, suami, dan anak berfoto bersama sejenak dan langsung
menuju masjid.
Upacara dimulai. Pembukaan, azan, bacaan Talbiyah, dan
doa dilantunkan. Orang‐orang berjajar menghadap 13 jemaah
haji termasuk saya dan suami. Dengan menitikkan air mata
haru, mereka melepas keberangkatan kami, mendoakan, dan
minta dipanggil namanya di Tanah Suci.
Sambil menuju pintu keluar masjid, saya menyalami satu
per satu sanak saudara dan tetangga yang dini hari itu
menyempatkan diri hadir mendoakan kami rombongan calon
jemaah haji berjumlah 13 orang dari desa kami. Perasaan haru
memenuhi dada. Haru akan perhatian dan ketulusan doa‐doa
mereka mengantar kami menunaikan rukun Islam yang ke‐5.
Saya yakin dengan iringan doa mereka inilah insyaallah
perjalanan haji di lancarkan.
Mobil bergerak menerobos kegelapan malam sekitar
pukul 03.00 menuju pendopo kabupaten. Semua calon
jemaah haji bersiap‐siap menuju masjid pendopo menunaikan
salat Subuh. Anggota keluarga yang mengantar tidak
diperkenankan masuk. Anak‐anak langsung pulang. Suara
petugas mengumumkan agar para jemaah haji harus masuk
bus menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya.
Saya dan calon jemaah tiba sekitar pukul 09.00. Kami
ditempatkan di gedung baru yaitu gedung Zam‐zam yang
14 | Fataty Maulidiyah
fasilitasnya setara dengan hotel bintang 3. Cukup nyaman. Di
tempat tersebut kami beristirahat selama 24 jam untuk
persiapan pemeriksaan urine, pembagian kartu kesehatan,
paspor, dan living cost.
Semalam di Sukolilo juga menjadi cerita tersendiri. Kami
diberi jadwal kegiatan antara lain salat berjemaah di masjid
bersama pembimbing KBIH. Menyiapkan keperluan yang
mungkin belum sempat masuk daftar barang‐barang yang
harus dibawa, serta koordinasi menerima informasi dari
petugas. Waktu itu saya belum mengurus kartu perdana
khusus edisi haji karena saat itu pada H‐2, saya masih sibuk
mendaftarkan anak di pesantren. Di Asrama haji ini ternyata
banyak sekali operator yang melayani pemasangan kartu
perdana paket haji.
Saat itu saya didatangi salah satu operator yang siap
mengaktifkan kartu perdana dengan biaya sekitar 540ribu
yang aktif selama 45 hari dengan kuota data puluhan GB.
Saya kira cukup untuk bekal di Tanah Suci untuk
berkomunikasi dan dokumentasi. Di asrama haji juga tedapat
toko perlengkapan. Barangkali para jemaah belum sempat
membeli topi, kaos kaki, sandal, sepatu, kaos tangan, legging
dan sebagainya termasuk alat tukar Rupiah ke Riyal.
Pagi harinya setelah sarapan dan memakai baju ihram,
kami dikumpulkan di sebuah Aula Bir Ali di mana akan
dibagikan paspor, paket obat, serta living cost sebesar 1500R.
Menurut pembimbing kami, niat ihram di atas pesawat, ketika
melintasi Ya Lam Lam sehingga kami berangkat sudah
berpakaian ihram.
Setitik Embun di Tanah Suci | 15
Minggu pukul 08.00 semua jemaah haji diberangkatkan
menuju Bandara Juanda. Bus langsung berada di lapangan di
mana pesawat berada. Karena penerbangan haji adalah
penerbangan khusus, kami tidak perlu masuk Bandara.
Memang berbeda dengan jemaah umrah.
Betapa bahagianya manakala sebuah pesawat berukuran
besar bernama Saudia Airlines terparkir gagah menunggu
kami. Hati berdebar‐debar penuh kebahagiaan. Kami
menyeret travel bag dengan penuh semangat.
Pramugari dan pramugara yang menawan dengan ramah
menyapa kami dan membolehkan kami duduk di kursi mana
saja. Tidak harus sesuai tiket. Eh karena memang kami tidak
pakai tiket. Saya memilih duduk dekat jendela agar bisa
memandang luar jendela.
Dengan penuh hikmah, kami dibimbing untuk berdoa,
diberi arahan cara salat Shafar dan petunjuk penggunaan
fasilitas di pesawat seperti ketika akan buang air kecil. Kami
semua khusyuk namun gembira semua sangat hidmat
menikmati perjalanan sekitar 9 jam diantar menuju tanah
Hijaz.
***
16 | Fataty Maulidiyah
Setitik Embun di Tanah Suci | 17
Di Udara
M inggu, 28 Juli 2019 pukul 10.00. Bus jemaah haji
embarkasi Surabaya bergerak beriring‐iringan
menuju Bandara. Bus langsung menuju landasan
dan jemaah haji tidak masuk ruang tunggu sebagaimana
penumpang pada umumnya. Tampak sebuah pesawat
berkapasitas 450 penumpang yaitu Saudi Arabian Airlines.
Pesawat ini adalah milik maskapai penerbangan Arab
Saudi yang di‐carter oleh pemerintah Indonesia untuk
melayani jemaah haji. Semua bergerak dengan cepat dan
alhamdulillah saya duduk dekat jendela sebagaimana idaman
kebanyakan orang.
Saya menikmati memandang luar jendela bak anak kecil
yang kegirangan melihat bagaimana pesawat lepas landas
atau ketika mendarat. Memandang ke gumpalan awan putih
atau mesin pesawat. Ah, biarlah saya kampungan, melihatnya
bagi saya sangat membahagiakan.
Tepat pukul 11.00 pesawat lepas landas. Dengan
dibimbing ketua kloter, kami berdoa bersama dan
memberikan arahan tata cara salat Jamak Qasar dan salat
Shafar di pesawat. Setelah itu ada pemberitahuan bahwa
durasi penerbangan 9 jam. Tak berapa lama pramugari
membagikan headset, hidangan jus buah, minuman hangat,
dan kudapan. Penumpang dinyamankan dengan fasilitas
seperti bantal dan selimut serta layar kecil dengan beberapa
fitur hiburan.
18 | Fataty Maulidiyah
Tak berapa lama pembimbing memberi informasi bahwa
ihram akan dilakukan di atas pesawat saat melintasi Miqat Ya
lam lam. Jadi, para jemaah semua niat umrah qudum (umrah
tanda baru datang) di pesawat. Dari pemberitahuan ini,
mengingatkan lagi bahwa perjalanan haji adalah menuju
Allah. Adapun kenikmatan yang lainnya seperti bisa melihat
pemandangan kota, belanja oleh‐oleh, berfoto ria
mendokumentasikan perjalanan yang mungkin terjadi seumur
hidup, hanyalah tambahan‐tambahan kesenangan yang
menyertai ibadah. Allah‐lah yang menyediakan view untuk
kita nikmati. Bahwa belahan bumi bernama tanah Hijaz
tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW layak dinikmati.
Namun, kita tidak lupa untuk selalu mengingat tujuan utama
adalah kepada Allah.
Berada 9 jam di udara membuat saya sedikit termenung
tentang awal mula perjalanan ini. Diajak daftar haji oleh suami
dalam keadaan hamil 8 bulan tentu tidak lazim. Sebab
umumnya seorang ibu adalah memikirkan persiapan
persalinan dan fokus merawat anak yang akan lahir. Bulan
November 2010 saat itu hanya dengan dua juta saja kami
berdua mendapat porsi haji. Suami meyakinkanku bahwa kita
tak akan menyesali apa yang kita mulai hari ini, bahkan kita
akan mensyukurinya.
Bagi saya haji adalah gelitik. Gelitik memenuhi panggilan‐
Nya di antara keinginan, cita‐cita, dan memenuhi kebutuhan
hidup. Bergerak berlahan, menahan, dan menyabarkan diri
memenggal ego. Kita harus peka dengan gelitik dari
membaca sejarah Nabi, menyimak cerita orang yang haji,
meneladani orang tua yang sudah haji, membaca buku
Setitik Embun di Tanah Suci | 19
tentangnya, atau apa pun tentang keindahan dan kemuliaan
Tanah Suci dan memantapkan diri menginjakkan kaki kesana.
Seperti saat itu, saya berikhtiar menangkap energi orang
yang haji. Ikut senang, kepo, banyak tanya, serta positif
thinking dengan apa yang mereka kabarkan melalui media
sosial atau cerita‐cerita pengalaman mereka. Kemudian
bergerak menyembelih sebagian kesenangan, mengeluarkan
harta bukan untuk keperluan, tapi untuk penghambaan,
meninggalkan sejenak urusan‐urusan dunia, keluarga, dan
anak‐anak. Setelah ikhtiar, serahkan kepada Allah demi
menjadi tamu‐Nya.
Saya ingin mengutip ulasan Ali Syariati tentang Haji.
Esensi ritual haji adalah evolusi eksistensial manusia menuju
Allah. Haji adalah drama simbolik dari falsafah penciptaan
anak cucu adam. Haji adalah wujud monotheisme. Haji adalah
drama kolosal para jemaah memerankan Adam, Ibrahim, Siti
Hajar dan Ismail lalu menyesap inti sari maknanya dan
mengejawantahkannya dalam kehidupan. Haji adalah
gambaran Islam yang utuh. Islam tak sekadar kata‐kata, tapi
ia adalah pengamalan juga sarat dengan simbol‐simbol.
Waktu terus bergerak. Jendela pesawat harus ditutup,
lampu‐lampu dipadamkan. Terlihat Aktivitas penumpang ada
yang berzikir, istirahat, dan saya memilih menulis setelah
amalan‐amalan. 50 menit sebelum landing di Bandara Jeddah
ada pemberitahuan untuk ambil miqat di Ya lam lam, bersama
melantunkan niat umrah qudum, lalu salat sunnah li ihrami.
Semua tunduk dan khusyuk mulai meneguhkan diri menjaga
larangan‐larangan Ihram.
***
20 | Fataty Maulidiyah
Setitik Embun di Tanah Suci | 21
Selamat Datang
S ekitar pukul 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS), pesawat
mendarat di Bandara Jeddah. Begitu turun dari
pesawat, jemaah diangkut trem, menuju sebuah
bangunan besar dan megah semacam drop zone para jemaah.
Tak sempat saya sujud syukur di Tanah Hijaz untuk pertama
karena petugas pemerintah Arab Saudi berpostur raksasa,
berbicara dalam bahasa Arab menggiring jemaah menuju
petugas imigrasi.
“Move, move…. Ta’al.. Ta’aal ya Hajj!” Yang mungkin
artinya.. Ayooo… cepat, cepat… mereka terlihat tidak
telaten dengan langkah para jemaah yang pendek‐pendek.
Saya berlari‐lari, sebagian mencari kamar kecil, termasuk saya
sambil terus mengingat bahwa saya dalam keadaan ihram
yang tidak boleh terlihat aurat di area publik.
Terlihat 1‐2 petugas mendampingi dan menunjukkan arah
menuju petugas imigrasi. Ada yang ramah sambil mengucap
salam juga menyebut kata “Indonesia” dengan
mengacungkan jempol. Di depan petugas imigrasi, saya
menyerahkan paspor, scan finger dan mata, lalu bergegas
menuju kelompok.
Para jemaah disuruh berbaris sesuai rombongan, saya
lihat koper besar ada di troli. Kami langsung masuk bus. Di
dalam bus, paspor kami diminta petugas, sejak itu saya tidak
bertemu paspor lagi. Kata petugas Indonesia yang
22 | Fataty Maulidiyah
mendampingi, paspor akan diberikan ketika pulang ke tanah
air.
Dalam bus kami diberi paket makanan. Sejak makan
kedua di pesawat memang para jemaah belum makan sama
sekali. Menu saat itu fried chicken oseng sayur wortel, puding
coklat, jus buah, dan pisang cavendish. Saya makan lahap
sekali.
Perjalanan dari Jeddah menuju Mekkah memakan waktu
sekitar dua jam perjalanan. Di perjalanan saya melihat kanan
kiri pemandangan asing. Maklum, baru pertama keluar
negeri. Hanya gunung dan tanah tandus, bangunan
berbentuk kotak, dan jalanan luas empat lajur yang meluncur
mobil‐mobil mewah dengan merk yang tidak saya ketahui.
Saya lelah dan tertidur. Sekitar pukul 20.00 sampai di
hotel. Ruang lobi sangat riuh karena proses pembagian
kamar. Saya mendapat kamar di lantai 3 dengan isi empat
orang. Terlihat nyaman, empat bed, ada dapur kecil, kamar
mandi lengkap dengan kloset, shower dan hairdryer. Setelah
membersihkan diri dengan tetap mengenakan baju ihram,
kami diberitahukan untuk turun lobi persiapan Umrah Qudum.
Kami berbaris sesuai rombongan berjalan menuju
terminal Mahbas Jin. Di sanalah tempat bus shalawat yaitu
bus yang sehari‐hari mengangkut jemaah ke masjid dengan
gratis. Namun, malam itu tidak ada bus. Rombongan
memutuskan berjalan kaki. Alhamdulillah 15 menit kemudian
ada bus yang mengangkut kami. Hanya tiga menit perjalanan,
bus kami sudah sampai di pelataran Masjidil Haram.
Subhanallah wal hamdulillaah….
Setitik Embun di Tanah Suci | 23
Kami langsung masuk masjid untuk tawaf. Saat itu saya
terpisah dengan suami sebab dia mengutamakan
mendampingi jemaah lanjut usia. Saya berdua saja dengan
seorang perempuan yang juga terpisah dengan suaminya.
Kami berdua nekat menuju tawaf, kami ada di lantai dua.
Kelihatannya juga kami berdua tertinggal dengan
rombongan.
Sampai putaran kedua melewati greenlight, kami
bertemu sepasang suami istri dari kloter dan KBIH yang sama,
kami berdua minta tolong ikut gabung lalu mereka mengajak
tawaf di lantai dasar. Saya sangat bersyukur bisa melihat dan
menyentuh ka’bah dalam jarak yang sangat dekat. Tepat
dekat pintu ka’bah yang ada tanda bingkai putih di pondasi
ka’bah. Di situlah tempat jibril mengajari Nabi Muhammad
SAW salat sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj. Subhanallah wal
hamdulillaah….
Umrah Qudum adalah ritual haji sebagai tanda selamat
datang. Ketika pertama kali memasuki Kota Mekkah dan
melihat ka’bah juga masuk Masjidil Haram. Dalam buku‐buku
manasik terdapat doanya. Rangkaian Umrah Qudum bagi
saya sangat menakjubkan. Sebab semua serba pertama kali.
Saya pertama kali memiliki paspor, pergi keluar negeri,
pertama ke Tanah Hijaz, pertama ke Mekkah, pertama
melihat Masjidil Haram, dan pertama melihat ka’bah, tawaf,
dan sai. Pakaian ihram saya adalah yang saya kenakan sejak di
asrama haji di Sukolilo, menuju Bandara Juanda, di pesawat,
di bandara jeddah, naik dari kendaraan satu ke kendaraan
lain, sampai di hotel lalu menuju Masjidil Haram
melaksanakan tawaf dan sai.
24 | Fataty Maulidiyah
Saya bergerak tanpa henti di antara rasa lelah, menjaga
ihram, rasa haru dan bahagia campur aduk menjadi satu. Saya
baru bertemu suami bersama rombongan di tempat sai
menuju Marwa. Saya sudah putaran tujuh tinggal menunggu
beberapa langkah menuju Marwah untuk tahallul. Suami
bersama rombongan masih baru sai yang pertama. Saya
menunggu sampai suami dan rombongan selesai putaran
tujuh lalu bersama bertahallul.
Imajinasi saya melesat ke masa lampau membayangkan
kisah Rasulullah menjalankan ibadah haji pertama kali.
Kerinduan kaum Muhajirin terhadap Baitullah tak
terbendung. Suatu ketika Rasullullah menyampaikan
mimpinya bahwa umat Islam berbondong‐bondong menuju
Mekkah dengan berpakaian ihram, dan rambutnya sudah
tercukur, sebagai tanda saatnya umat Islam beribadah haji
meneladani keluarga Ibrahim.
Berangkat saat itu sekitar 1400 kaum Muhajirin menuju
Mekkah bersama Rasulullah dengan membawa hewan
kurban 70 unta. Tidak seorang pun membawa senjata sebagai
tanda mereka datang untuk ibadah haji dengan kedamaian.
Istri Nabi yang ikut saat itu adalah Ummu Salamah.
***
Dengan sisa‐sisa tenaga, saya menjalani semua rangkaian
umrah Qudum. Pakaian ihram yang lusuh, berdebu
bercampur keringat dan air mata masih melekat. Seorang
perempuan mesir menawarkan diri mencukur sebagian
rambut saya sebagai tanda saya menyelesaikan semua
rangkaian umrah Qudum.
Setitik Embun di Tanah Suci | 25
Saya sujud syukur. Di dekat Bukit Marwah. Saya sangat
bersyukur atas nikmat Allah yang tidak terhingga ini. Labbaik
Allahumma labbaik.... (Aku memenuhi panggilan‐Mu ya Allah).
***
Sama El Deaffa, Makkah Al‐Mukarramah, 18 Agustus 2019
Tangan Penulis memegang Buku Hijau
26 | Fataty Maulidiyah
Negeri yang Aman
Dilihat dari letak geografisnya, sulit dipercaya jika
lembah Bakkah (Mekkah) akan menjadi kota besar.
Di mana‐mana tanah tandus dan kering. Di lembah
Mekkah terdapat Baitullah sebagai bangunan tertua yang
dikelilingi pegunungan berbatu. Dalam perjalanan memasuki
Kota Mekkah terlihat kering. Hanya sedikit saja tumbuhan
hijau yang tampak. Bangunannya pun hanya kotak‐kotak.
Setelah menyelesaikan umrah qudum saya mulai menata
diri, menata hati, menata waktu, menata kamar, dan
sebagainya. Sebab program dari KBIH baru ada beberapa hari
ke depan yakni sekitar 8 hari lagi. Selama itu para jemaah
dibebaskan beraktivitas.
Semua dipersilakan mengatur waktu sendiri. Mau leha‐
leha di hotel, aktif jemaah di masjid depan hotel, atau tidak
mau menyia‐nyiakan waktu dan kesempatan ke Masjidil
Haram. Alhamdulillah hotel tempat tinggalku yang ada di
kawasan Mahbas Jin adalah yang terdekat sekitar lima menit
saja dengan naik bus shalawat. Dari hotel, nyebrang ke
terowongan pejalan kaki langsung naik bus lima menit saja
sudah sampai masjid.
Hari kedua di Mekkah, saya manfaatkan bersama suami
mengenali medan untuk beraktivitas sehari‐hari. Terutama
menuju masjid dan menjelajah bagian‐bagian dalam masjid.
Pagi itu Senin, 29 Juli 2019 bagi saya adalah hari yang sangat
indah. Saya keluar hotel bersama suami, jalan‐jalan pagi di
Setitik Embun di Tanah Suci | 27
sekitar hotel dan berselfi ria mengabadikan moment
pertama.
Saya sangat antusias berfoto karena inilah kali pertama
keluar negeri. Dengan latar belakang gunung batu dan
bangunan berarsitek khas Tanah Hijaz. Rencana hari itu
adalah ke Masjidil Haram. Sungguh akan mengasyikkan
karena saat ini agak santai, tidak berbarengan dengan umrah,
jadi sedikit leluasa.
Meskipun bagi suami adalah
kali kedua ke Masjidil Haram
setelah haji di tahun 2004, tetap
saja laksana pertama karena
begitu banyak perubahannya.
Kami berdua berangkat pukul 10
pagi dan berniat menghabiskan
waktu dari zuhur, asar, magrib,
sampai isya. Kami tidak berpikir
membawa snack atau minuman
padahal sekitar 12 jam waktu
akan kami habiskan di masjid.
Pertama dari pelataran masjid
yang ada rumah kelahiran Nabi,
kami memilih sisi kanan dan masuk langsung ke lantai bawah
lalu ke area tawaf.
Kami tawaf dan suami mengajak saya mendekat
menempel bangunan ka’bah yang tinggi, besar, dan hitam.
Subhanallah. Setelah itu kami menepi dan menunggu salat
zuhur. Selesai zuhur, kami bergeser ke area sai sambil
28 | Fataty Maulidiyah
menunggu waktu asar. Di situ agak lama sambil salat sunnah,
mengaji, dan berzikir.
Saat batal wudu, saya tanya petugas untuk tempat wudu.
Dia menjawab, “Hajj? Wudu bi zam‐zam” (Haji? Mau wudu?
Wudu dengan zam‐zam, ya?).
Wouw mata saya berbinar, begini istimewanya salat di
Masjid Haram, wudunya saja pakai air zam‐zam. Selain wudu,
saya juga mengisi penuh botol minuman. Cukup dengan zam‐
zam saja sudah kenyang. Kemudian suami berkenalan dengan
jemaah haji asal Malaysia. Dia bercerita tentang maktab haji
Malaysia yang ada di kawasan misfalah dekat Grand Zam‐
zam. Dia juga bilang Malaysia sudah punya hotel di Mekkah
jadi tidak perlu menyewa. Lalu saya bilang pada suami ingin
ke pelataran masjid yang langsung menghadap Grand Zam‐
Zam.
Benar saja, keinginan saya terpenuhi, tapi dalam rangka
salah pintu keluar. Setelah jemaah isya mestinya ke area sa’i
lalu ke Quraisy Gate eh malah ke King Abdul Aziz gate. Waktu
sudah pukul 9 malam, saya dan suami masih kebingungan.
Setiap petugas ditanya. Petugas India, Malaysia dan Arab.
Semua ditanya.
Kami masih mbulet berputar‐putar di pelataran,
sementara suami cemas, saya malah senyum‐senyum melihat
suasana. Saya merekam seadanya. Dalam keadaan sedikit
cemas belum menemukan jalan keluar yang dimaksud, kami
masuk masjid lagi, bertanya lagi. Saya meyakinkan diri lagi
bahwa negeri dan kota ini adalah negeri yang aman. Di mana‐
mana orang ibadah dari segala penjuru dunia. Sebagaimana
doa Nabiyullah Ibrahim.
Setitik Embun di Tanah Suci | 29
“ Ya Tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan
sebagian keturunanku dilembah yang tidak memiliki tanaman‐
tanaman didekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya
Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat
maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung pada mereka
dan berilah mereka rezeki dari buah ‐buahan dan mudah‐
mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim 37).
Akhirnya kami bertemu petugas Indonesia yang
menunjukkan arah terminal bus untuk kawasan Mahbas Jin.
Dalam waktu lima menit saja, bus sudah mengantar kami di
terminal. Kami sampai di hotel pukul 10 malam. Ada sedikit
pelajaran pada hari itu, “Be careful with you wish for”. Waktu
awal suami mengajak jalan‐jalan, dia bilang “Yuk, kita eksplore
Masjidil Haram”. Saya senang saja mengangguk‐angguk, lupa
bahwa ini masjid sangat luas dengan kapasitas jutaan dan
juga saya bilang ingin ke pelataran masjid yang ada Grand
Zam‐Zamnya.
Keduanya terpenuhi, tapi dalam rangka kesasar. Kaki
terasa sangat capek. Kami memang benar‐benar eksplore
mencari pintu keluar yang benar. Akhirnya alhamdulillah kami
berdua bisa istirahat tidur dengan nyenyak.***
Lobi Hotel Samaa el Deafa,
Makkah, Kamis, 22 Agustus 2019
30 | Fataty Maulidiyah
Tempat Kelahiran Nabi
D i suatu biara, seorang rahib yang sedang menekuni al
kitabnya dikejutkan oleh suara‐suara dari para budak
yang dibelenggu meneriakkan kata‐kata, “Bintang
jatuh, hujan bintang, hujan bintang….“ Suara ‐suara parau itu
saling bersahutan. Dalam mitos Arab kuno bintang jatuh adalah
isyarat alam akan datangnya kabar gembira.. Sang rahib
menatap keluar, menuju hamparan langit gelap penuh bintang‐
gemintang. Bibirnya berguman: “Sang utusan Allah telah lahir.”
Lembah Bakkah, 571 Masehi
Sementara itu, di pinggiran Kota Mekkah hampir seluruh
penduduknya keluar rumah menatap penuh kecemasan.
Barisan pasukan Abrahah dari Abisynia yang bergerak
menbawa panji‐panji, senjata, dengan tunggangan kuda dan
unta, juga pasukan khusus berjumlah ribuan yang menunggang
gajah berukuran raksasa, menghalau penduduk Mekkah. Abdul
Muthaallib sang penjaga Baitullah berlari‐lari menuju pintu
ka’bah, seraya berdoa, “Ya Allah ya Rabb, ini adalah RumahMu,
aku serahkan pada Engkau, Engkau sendirilah yang
menjaganya. “
Lalu beliau berlari menuju kampung sekitar Baitullah,
mencari‐cari Aminah yang saat itu menahan sakit menjelang
kelahiran. Di tengah riuh karena paniknya penduduk Mekkah,
Abdul Muthalib terpana menatap langit yang menjadi gelap
Setitik Embun di Tanah Suci | 31
karena jutaan kawanan burung membawa batu pijar menaungi
langit Kota Mekkah.
Abdul Muthalib terpusat pada Siti Aminah yang saat itu
ditemani Ummu Hani. Di kejauhan rumah itu tampak
ruangannya berpendar cahaya. Abdul Muthalib menyaksikan
Siti Aminah telah melewati masa kelahiran, diambilnya bayi itu
dalam dekapannya. Alangkah elok dan rupawan sang cucu
terkasih, beliau menamainya Muhammad.
Sekitar pukul 02.00, kami bersama kiai pembimbing
berangkat ke Masjidil Haram. Kami qiyamullail (salat malam)
bersama dan dilanjutkan salat Subuh berjemaah. Kami salat di
pelataran karena akan jalan‐jalan di sekitar halaman masjid
yang penuh sejarah.
Di sebelah kiri masjid terdapat bangunan besar dan
megah yang merupakan kediaman Raja Fadh. Di belakangnya
adalah gunung batu yang disebut Jabaal Abi Qubais, tempat di
mana kaum kafir quraisy mengumumkan sayembara yang
berisi “imbalan bagi yang bisa menyerahkan kepala
Muhammad”. Tepat di depan pelataran masjid, adalah
perpustakaan yang diyakini sebagai tempat kelahiran
Rasulullah, sementara di sebelah kirinya adalah toilet yang
besar, merupakan bekas rumah Abu Lahab.
Rombongan mengikuti pembimbing menuju selatan
menyeberang jalan dan singgah sebentar di bekas pasar Seng
yang kini berdiri hotel‐hotel. Kami terus ke selatan berhenti
sejenak di masjid Jin. Di masjid inilah dulunya Rasulullah
membacakan ayat‐ayat di depan kerumunan jin yang datang
bagai sekelompok burung. Mereka ada yang takjub dan
menangis tatkala dibacakan firman Allah. Rombongan
32 | Fataty Maulidiyah
meneruskan perjalanan menuju Makam Ma’la di mana Ummul
Mukminin Siti Khadijah dimakamkan juga Almarhum K.H.
Maimoen Zubair dimakamkan.
Suasana pagi itu sejuk,
para pedagang di sepanjang
jalan bergeliat dan semangat
menyapa para rombongan
yang lewat dengan jumlah
sekitar 100 orang,
menawarkan susu, jus buah,
roti, kurma, kismis, maupun
souvenir.
Musim haji menjadi
berkah tersendiri bagi
mereka. Saat itu saya hanya
membeli dua kilo kurma
muda titipan saudara dan
teman yang kepingin punya anak. Selebihnya tidak beli apa‐
apa dulu. Ini masih hari ketiga. Kami masih 27 hari lagi di
Mekkah. Di trotoar berjajar pohon‐pohon yang dikenal
dengan pohon Soekarno, yaitu hadiah dari presiden pertama
RI lalu dibudidayakan oleh pemerintah Arab untuk
penghijauan Kota Mekkah. Saya bergelayut dan berfoto
sebentar.
Setitik Embun di Tanah Suci | 33
Acara jalan‐jalan pagi itu diakhiri di pelataran masjid
tempat kami memulai. Di situ pula kami langsung menuju bus
Shalawat yang mengantar kami kembali ke hotel.
Subhanallah lembah pelataran itulah saksi peristiwa sejarah
perjalanan Nabi Muhammad dimulai. Semoga kita selalu
mengambil hikmah dan mensyukuri nikmat iman dan Islam
yang dibawa beliau.
***
Mekkah, 25 Agustus 2019
34 | Fataty Maulidiyah