Umrah untuk Ibunda
R abu, 3 Agustus adalah hari ke‐empat di kota suci
Mekkah. Hari itu sudah mulai beradaptasi kapan dan
berapa kali makan, di mana belanja perlengkapan
sehari‐hari menghadapi sekitar 32 hari di Mekkah. Terutama
memilih waktu untuk rutinitas di Masjidil Haram.
Saya dan suami hari itu memilih berangkat pukul 2 malam
dan langsung menuju lantai paling atas agar terlihat langit.
Suasana di Masjidil Haram selama musim haji selalu padat
jemaah di hampir semua sudut. Subhanallah. Azan
berkumandang lalu kami melaksanakan salat‐salat sunnah
menggapai jutaan rakaat. Yang dimotivasi oleh Hadis Nabi
bahwa salat di Masjidil Haram tiap rakaatnya setara dengan
100.000 rakaat di masjid‐masjid lain.
Di lantai atas, suami akhirnya dapat shaf salat dekat pagar
kaca agar terlihat ka’bah. Seorang jemaah dari Tiongkok
berbincang‐bincang dengan suami entah menggunakan
bahasa apa. Sebelah kanannya dua pria asal Iraq kalau
melihat dari tasnya. Saya lihat pria Tiongkok itu memberi
suami obat balsem, lalu suami menoleh ke belakang dengan
pria Tiongkok itu seperti mengisyaratkan bahwa suami
memperkenalkan istrinya. Saya juga melihat dua pria Iraq itu
sedari tadi melirik permen mentos yang dipegang suami. Lalu
saya membisik suami,
“Yah, Ayah, sebelah pean ikuloh ket mau nyawang permen
pean. Parengno.” (Yah, sebelahmu itu dari tadi melihat
Setitik Embun di Tanah Suci | 35
permen yang kamu bawa). Suamiku mengangguk dan
langsung memberikan pada dua pria Iraq tadi. Sepertinya
suami masih asyik berbincang dengan jemaah dari Tiongkok.
Dua pria Iraq tadi menerimanya dengan sukacita lalu
bersalaman dan mengucap terima kasih.
Azan subuh yang kedua berkumandang. Setelah
berjemaah subuh, kami turun ke lantai dua untuk melaksanan
tawaf, kalau diumpamakan seperti jalan kaki 8 km tawaf 7
kalinya. Saking semangatnya kami tidak merasa begitu capek
karena kami tawaf dengan hati gembira, kami gembira sambil
vidcal‐vidcal sanak saudara. Setelah mengakhiri tawaf dengan
salat sunnah mutlak, kami pulang dan istirahat sesampainya
di hotel sekitar pukul 9 pagi.
Setelah zuhur ada informasi kalau setelah asar ada
kegiatan umrah sunnah bersama dengan miqat (tempat
memulai niat umrah) Tan’im. Miqat ini berarti yang kedua
kalinya setelah umrah Qudum (umrah selamat datang). Kami
berangkat setelah salat asar dengan 8 bus. Kami turun di
masjid Tan’im.
Bangunan yang tidak begitu besar dan arsitektur yang
biasa. Masjid Tan’im ini terdapat banyak sekali jemaah yang
akan melaksanakan umrah. Ini karena Tan’im adalah tempat
miqat yang paling dekat dengan Kota Mekkah.
Dalam sejarah, Masjid Tan’im ini dikenal sebagai masjid
Aisyah atau masjid Ummul Mukminin. Tan’im sendiri adalah
nama dari sebuah desa yang berjarak sekitar 7,5 km dari utara
Masjidil Haram. Rasulullah menetapkan Masjid Tan’im ini
sebagai salah satu tempat miqatnya Siti Aisyah. Dalam sebuah
hadits diriwayatkan ketika baru selesai menunaikan ibadah
36 | Fataty Maulidiyah
haji wada’ bersama Rasulullah, beliau menyuruh Aisyah RA
berangkat ke Tan’im dan memulai ihramnya dari tempat
tersebut.
Sebentar saja sekitar 25 menit bus sudah mengantarkan
kami di pelataran Masjidil Haram, kami masuk melalui King
Abdul Aziz gate. Kaki yang terasa capek setelah tawaf di
lantai dua pagi tadi mendorong kami memilih lantai dasar
sebagai tempat tawaf pada umroh kali ini. Awalnya sambil
berjalan menuju arah lantai bawah kami langsung niat tawaf
karena dekat lampu hijau baru setelah putaran ke‐5 kami
turun.
Meskipun berdesakan, kami berdua sudah berniat
melebur bersama ribuan jemaah lain, merebut keutamaan
tawaf juga agar terlihat pandangan kami gagahnya Ka’bah
simbol keesaan Allah SWT. Alhamdulillah saya bisa mendekat
sedekat‐dekatnya dengan ka’bah, juga menyentuhnya.
Saya bersimpuh. Duduk meratap menyandarkan pipi di
dinding ka’bah yang mulia ini. Di antara jemaah yang
berpostur besar saya memilih duduk berlama‐lama. Saya
tumpah ruah jiwa raga dan melolongkan asma Allah serta
melangitkan doa‐doa. Terlintas wajah‐wajah orang terdekat.
Orang tua, saudara, anak, keluarga besar, teman, sahabat
semuanya, yang saya ingat, saya sebut mereka agar bisa
mereguk nikmatnya mengunjungi Baitullah.
Setelah isya kami melanjutkan sai. Kami tidak tergesa‐
gesa sebab sungguh telapak kaki terasa sakit, tetapi
perjuangan untuk menyelesaikan umrah harus diselesaikan.
Setelah tahallul, saya melihat puncak bukit Marwah di buka
pagarnya dan banyak jemaah yang duduk maupun berdiri
Setitik Embun di Tanah Suci | 37
berpijak di atasnya sambil berdoa juga merenungi perjuangan
Ibunda Hajar, merasakan telapak kakinya yang memohon doa
di atas bukit ini.
Demikian juga dengan saya. Saya ingin keberadaan di
bukit ini diabadikan. Saya meminta suami
mendokumentasikannya. Sungguh hari itu hari yang
membahagiakan, penuh semangat juga melelahkan. Setelah
pukul 11 malam kami tiba di hotel lalu beristirahat.
Alhamdulillah umrah yang kedua ini saya persembahkan buat
almarhumah ibunda tercinta, Hj. Afifah, telah terlaksana
dengan lancar.
***
Penulis Duduk di Puncak Bukit Marwah
38 | Fataty Maulidiyah
Ziarah Armuzna
P agi itu pembimbing jemaah KBIH mengiformasikan
tentang kegiatan ziarah Armuzna singkatan dari
Arafah, Muzdalifah, dan Mina sebagai lokasi
pelaksanaan rangkaian ibadah haji. Saya sendiri belum ngeh
berkaitan dengan pelaksaan haji, belum juga ada
gambarannya seperti apa sebab ini haji pertama saya.
Saya juga belum pernah sama sekali mengetahui padang
Arafah, Muzdalifah dan Mina, kecuali lihat‐lihat dari Google
Pict. Berangkat sekitar pukul 7 pagi, delapan bus dilengkapi
dengan guide di masing‐masing kegiatan ini di namai Mekkah
City Tour.
Tempat yang mula‐mula kami kunjungi adalah tempat
penyembelihan hewan kurban. Jika melihat foto lama Abahku
sekitar tahun 2005 dan 1994, jemaah haji yang berkunjung
masih bisa berfoto dengan unta dan kambing‐kambing.
Sangat berbeda dengan kunjungan saya kali ini. Para jemaah
berada jauh dari tempat penyembelihan hanya melihat
kandangnya saja dari kejauhan.
Belum juga tampak hewan‐hewan kurban maupun untuk
dam (denda untuk pelaksanaan haji Tamattu’) para jemaah
haji. Hal ini karena kebijakan pemerintah Arab Saudi melarang
jemaah haji berdekatan dengan hewan‐hewan tersebut agar
tidak tertular virus dan bakteri.
Bus hanya keliling‐keliling saja sedang para jemaah tidak
perlu turun. bus lalu beranjak ke Arafah. Terlihat tenda‐tenda
Setitik Embun di Tanah Suci | 39
semi permanen telah disiapkan untuk pelaksanaan wukuf.
Lalu di lanjutkan ke Mina yang hanya ramai di musim haji saja
selama 3 hari. Setelah Mina para jemaah diantar menuju Jabal
Nur yang selama perjalanan sudah tampak dari kejauhan.
Jabal Nur adalah adalah tempat Gua Hira berada di mana
Rasulullah pernah berkhalwat selama kurang lebih 50 hari.
Jabal Nur berada sekitar 4 km dari Kota Mekkah. Melihat
kondisi medan untuk naik menuju Gua Hira saya dan suami
sempat berencana melakukan perjalanan ke sana setelah
ibadah haji.
Sambil browsing‐browsing tentang ekspedisi Gua Hira,
saya ketahui dari informasi media butuh fisik prima juga
kesabaran. Sebab tebing yang curam, tangga seadanya, dan
tidak ada fasilitas keamanan yang memadai bagi peziarah
merupakan tantangan tersendiri untuk menuju ke sana.
Namun, keadaan tersebut tidak menyurutkan beberapa
peziarah dari berbagai negara untuk tabaruk (mengambil
energi positif dari suatu tempat atau benda) ke sana. Terlihat
orang‐orang dari kejauhan serupa titik‐titik putih berada di
nun ketinggian Jabal Nur.
Perjalanan kami lanjutkan ke Jabal Tsur. Tampak kokoh
menjulang berupa bongkahan batu cadas raksasa dan tandus
di sekelilingnya. Kala itu sahabat Abu Bakar bersama
Rasulullah dalam perjalanan meninggalkan Kota Mekkah
bersembunyi di Gua Tsur. Kelihatan cemas raut wajah beliau
memandang keluar pintu gua. Kaki‐kaki kuda yang
ditunggangi mata‐mata kafir Quraisy bergerak kesana kemari.
Rasulullah menenangkan beliau,“Laa Tahzan, innallaha
ma’ana.” Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama
40 | Fataty Maulidiyah
kita. Lalu Allah mendatangkan hewan‐hewan. Laba‐laba yang
membuat sarang menutupi pintu gua dan burung merpati
yang membuat sangkar lalu mengerami telurnya.
Para jemaah selanjutnya diantar menuju Jabal Rahmah
yang diyakini sebagai tempat bertemunya Nabi Adam dan Ibu
Hawa. Saya berfoto‐foto sebentar dengan pak suami seraya
berdoa semoga keluarga kami sakinah, mawaddah
warahmah, Amin.
Melintas dari kejauhan saja melihat terowongan Mina
menuju rute Jamarat lalu bus mengantar jemaah ke hotel
menjelang zuhur dan istirahat di hotel. Menjelang asar, saya
dan suami berangkat menuju Masjidil Haram untuk
menghabiskan waktu dengan ibadah sampai isya.
***
Setitik Embun di Tanah Suci | 41
Hari‐Hari Menjelang
Armuzna
Ditetapkannya wukuf pada 10 Agustus 2019 menjadi
pedoman para jemaah haji mempersiapkan segala
sesuatunya. Kami pun tetap melakukan berbagai
rutinitas. Tidak ada ketentuan dan kegiatan yang paten
dilakukan jemaah selama berada di Mekkah. Mereka boleh
memilih. Stay cool di hotel, salat lima waktu di musala hotel
maupun masjid dekat hotel, atau konsisten menggapai jutaan
rakaat di Masjidil Haram.
H‐4 Armuzna saya dan suami tetap konsisten
melaksanakan kegiatan harian di Masjidil Haram. Kadang
kami mengambil waktu berangkat pukul 2 malam untuk
qiyamullail, subuh, tawaf dan duha, atau berangkat sebelum
asar pulangnya bakda isya. Keduanya tidak nenyulitkan sebab
bakda subuh dan duha kita bisa jalan‐jalan sepulang masjid,
sebagaimana yang berangkat asar, bakda subuh kita bisa
istirahat, mencuci baju, belanja untuk keperluan makan sebab
katering mulai distop tiga hari ke depan menjelang Armuzna.
Seperti pagi ini saya belanja keperluan masak. Memang
tidak enak kalau tidak memasak. Sedikit menyesal saya waktu
packing kopor besar maupun tas tenteng tidak membawa
bumbu masak. Meskipun banyak swalayan yang menyediakan
bumbu masak Indonesia, tidak semua tersedia. Harga juga
mahal. Per bungkus bumbu masak sekitar 3R atau Rp12.000.
42 | Fataty Maulidiyah
Seikat kangkung, sawi, bayam dan bawang juga 3R.
Tempe dan tahu kalau di Indonesia per bijinya sekitar 1000‐
1500 rupiah di swalayan Mekkah sekitar 7‐8 R kalikan saja
dengan 4000 untuk mengetahui jumlah rupiahnya.
Sedangkan telur relatif murah yaitu 2 biji 1 R.
Membawa makanan penambah selera juga penting
semacam abon, serundeng, bumbu pecel, kering tempe,
termasuk sambel bajak. Kadangkala masakan katering yang
memang sudah memenuhi standar kesehatan, tidak sesuai
dengan selera lidah kita. Sedangkan kegiatan makan bagi
jemaah haji itu sangat penting. Jangan sampai tidak mau
makan dan makan sembarangan terutama untuk menghadapi
Armuzna yang menyita energi.
Saya berkelana di sekitar hotel membeli jus buah, kadang
juga mencoba makanan di restoran Indonesia yang di
dalamnya juga menyediakan menu khas timur tengah seperti
nasi briyani, nasi bukhari, nasi mandi, kebab, samosa, dan
sebagainya. Menu Indonesia yang tersedia antara lain nasi
goreng, bakso, dan mi goreng. Harga makanan berkisar ntara
10‐25 R.
Setelah belanja dan masak lanjut sarapan dan mencuci
baju bersama. Di hotel disediakan tempat laundry yang di
sediakan sekitar 12 mesin cuci dua tabung dan untuk
menjemurnya disediakan di puncak gedung yaitu lantai 17.
Menjelang waktu asar kami berdua siap‐siap berangkat
ke Masjidil Haram. Dari pintu hotel cukup berjalan kaki saja
sekitar 20 meter menuju terowongan penyeberangan jalan
khusus pejalan kaki. Setelah itu, sudah langsung menuju
terminal bus shalawat yang tiap waktu tersedia untuk
mengantar jemaah ke Masjidil Haram.
Setitik Embun di Tanah Suci | 43
Hanya 5 menit saja bus sudah sampai pelataran masjid.
Kami biasa masuk masjid langsung lurus ke mas'a (tempat
sa'i). Setelah sampai dan mengambil tempat, kami melakukan
amalan harian seperti salat Tahiyatul Masjid, niat itikaf, salat
mutlak, hajat, taubat, dan seterusnya. Lanjut tadarus Qur’an,
kalau ada waktu ya membaca ratib, istighosah, kalau capek ya
istirahat sambil berzikir memperbanyak istigfar.
Amalan‐amalan di Tanah Suci memang sebaiknya
diprogram dan ada target. Mengingat kita cuti bekerja dan
tidak mengurus rumah tangga, waktu sangatlah luang. Yang
saya lakukan adalah sesuai tutorial dari kakak saya Husnuz
Zaimah, yang diambil dari catatan perjalanan haji almarhum
ibunda.
Beliau khatam Qur’an tiga kali dengan membaginya pada
3 waktu. Khataman pertama, Qur’an dibaca mulai juz 1 ketika
ihram qudum harus khatam juz ke‐30 doa khatam dibaca di
Padang Arafah waktu wukuf. Yang kedua juz 1 mulai dibaca
setelah tawaf ifadhah serta sai harus selesai ketika umrah
wada'. Khataman Qur’an ketiga, adalah ketika tiba di
Madinah sampai ziarah wada' rasul atau selama arbain.
Seperti itu pula yang saya lakukan.
Ransel kecil yang tiap hari saya bawa ke masjid berisi Al‐
Qur’an kecil, majmu' Al‐manan, tempat botol zam‐zam, tissu,
permen, tasbih digital, parfum, kaos kaki, kaos tangan,
penutup tangan untuk salat, kacamata, sajadah, kantung
sandal, dan uang secukupnya. Semua itu tidak boleh
ketinggalan. Dengan durasi yang lama di masjid di mulai asar
sekitar pukul 14.30 sampai bakda isya sekitar pukul 20.30,
keterampilan menahan buang air kecil dan menjaga wudu
sangat penting. Hal ini dikarenakan tempat wudu kadang
44 | Fataty Maulidiyah
agak jauh dari posisi kita salat. Kalau sudah dapat tempat
yang bagus di ring satu dekat ka’bah, tentu sayang kalau kita
tinggalkan hanya karena batal wudu atau kebelet.
Kalau batal wudu solusi saya adalah wudu dengan botol
semprot spray. Air sudah merata di wajah, tangan maupun
kaki, tanpa meninggalkan tempat. Suatu ketika ada kejadian
berkaitan dengan hamam istilah buat jemaah yang mau
buang air. Itu terjadi pada saya. Kami berdua berada di lantai
dua area tawaf menempel di pagar kaca tepat Hijir ismail.
Kami berdua menyamankan diri dengan ritual biasa. Saat itu
saya tadarus, begitu juga dengan suami. Tiba‐tiba perut saya
mulas tak tertahankan. Saya menoleh ke arah suami dengan
wajah tegang. Kupegang erat tangannya.
“Yah, Ayah! Perutku mulas!” Saya meringis dan keringat
dingin keluar seketika. Tanpa bicara, suami saya
membereskan diri menggandeng tangan dan berjalan cepat
keluar masjid. Saya meringis menahan sambil terus berdoa
semoga saja tidak mengotori tempat suci ini.
Kami fokus menuju toilet wanita. Toilet wanita yang kami
tuju ternyata adalah area masjid baru yang sedang dibangun
sebagiannya. Alhamdulillah kegiatan hamamku selesai.
Dengan toilet yang besar, pintu masuk yang dilengkapi
tangga dan eskalator, tempat wudu, wastafel, serta WC
dalam jumlah ratusan serta air hangat, para pengguna
dipastikan nyaman menggunakannya.
Menjelang waktu salat Asar, masuklah kami ke masjid
baru berinterior megah. Banyak lampu kristal yang menghiasi
bak istana raja. Karpet yang tebal, wangi, ruangan yang sejuk
dan bersih membuat kami kerasaan menghabiskan waktu
sampai salat Magrib.
Setitik Embun di Tanah Suci | 45
Setelah magrib kami memilih keluar untuk salat isya di
pelataran agar memudahkan kami cepat pulang. Terutama
masuk kendaraan tanpa antre dan berjubel yang biasanya
terjadi setelah salat isya. Dari kejadian itu kami berdua ingin
mengulangi lagi salat di area masjid yang baru di waktu yang
lain. Tak lupa saat itu kami abadikan moment berada di dalam
masjid baru itu sebagai kenang‐ kenangan.
***
Loby Sama El deafa Hotel, Makkah Agustus 2019
Lokasi Di Masjid Area Baru
46 | Fataty Maulidiyah
Pilar Pink
I ni merupakan cerita tentang pilar pink Masjidil Haram.
Sewaktu saya tadarus di area tawaf lantai dua, saya
berada di posisi pinggir pagar kaca menghadap ka'bah.
Saya membuat video singkat sekitar 1‐15 detik saja mengedar
kiri dan kanan lalu saya jadikan whatsapp story.
Oleh kakak saya ditanggapi dan discreenshoott tepat
pada pilar pink dan diberi tanda. Kakak memberi keterangan
bahwa di pilar pink itulah buraq berdiri saat peristiwa isra'. Di
lain hari, saya beserta suami berburu tiang pink setelah tawaf
di bawah dekat ka'bah. Pilar itu memang lain dari yang lain.
Sekitar tahun 1925, Kerajaan Arab saudi banyak
meratakan situs‐situs bersejarah. Namun, untuk pilar ini pun
tidak diberi tanda khusus, hanya catnya saja yang berbeda.
Tidak semua jemaah haji mengetahui apa maksud pilar pink
ini yang berbeda warna dengan yang lainnya. Bagi yang
pernah haji pun mungkin juga tidak menyadari keberadaan
dan makna pilar pink tersebut.
Ibnu Ishaq pada abad kedelapan menuturkan, pada suatu
malam setelah Rasulullah kehilangan Khadijah yang wafat
pada sekitar 621 Masehi, Rasulullah tertidur di sebelah utara
ka'bah. Selepas tengah malam, Malaikat Jibril
membangunkan Rasulullah dengan menendangnya perlahan.
Setelah terbangun, Rasulullah kemudian digandeng Jibril ke
gerbang utama menuju ka'bah.
Setitik Embun di Tanah Suci | 47
“Kemudian aku melihat seekor binatang berwarna putih,
seukuran bagal atau keledai dengan dua sayap menutupi kaki
belakangnya. Kaki depannya merentang sejauh mata
memandang.” Mengutip keterangan yang menurutnya
datang dari Rasulullah sendiri ditulis Ibnu Ishaq.
Lokasi di samping Gerbang Malik Abdulaziz tersebut
dipercayai sebagian jemaah jadi lokasi berdirinya hewan ajaib
yang dipanggil buraq tersebut. Dari situ, sembari
menunggangi Buraq Rasulullah memulai perjalanan
menakjubkannya ke Masjid Al‐Aqsa di Palestina dan kemudian
48 | Fataty Maulidiyah
menembus langit menuju Sidratul Muntaha. Umat Islam di
Indonesia, Asia Selatan dan Asia Tenggara, juga Turki dan
Afrika hingga saat ini masih merayakan kejadian tersebut
setiap 27 Rajab pada penanggalan Hijriyah.
Di pilar pink itulah buraq berada. Di musim haji tak mudah
berdekat‐dekat langsung karena tiang pink ini sejajar dengan
pintu masuk masjid area dalam yang sering di blokade laskar
masjid dengan tujuan mengatur arus lalu‐lalang para jemaah.
Dengan sedikit berputar posisi dengan putar tempat,
saya dan suami mencoba mencari posisi dengan backgroud
tiang pink ini. Segala usaha dilakukan akhirnya berhasil juga
mengambil gambar dalam jarak dekat. Sampai tak terasa
waktu zuhur tiba. Saya dan
suami tidak bisa keluar area
sekitar ka’bah, sekelilingnya
diblokade. Pada saat itu
beberapa laskar membentuk
pagar betis berjalan yang
ternyata sedang mengawal
imam Masjidil Haram dengan
beberapa pendampingnya.
Karena pas berada di
rombongan itu, saya ambil foto
suami bersalaman dengan imam
Masjidil Haram, selfi dengan
pendampingnya yang memakai
pakaian sama dengan sang
imam yaitu jubah coklat. Naluri
selfiku muncul.
Setitik Embun di Tanah Suci | 49
Sewaktu saya minta izin selfi dengan pendamping imam,
saya ditolak dengan mengucap “ La, laa, laaa...
(jangan,jangan) dia hanya setuju dengan suami saja. Tak
mengapa meski demikian hari itu saya syukuri, dapat tawaf
beberapa meter dari ka’bah, mendekat tiang buraq, bertemu
dan berfoto dengan imam Masjidil Haram adalah moment
yang tak akan terlupakan.
***
50 | Fataty Maulidiyah
Hilang
S alah satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah
waktu saya hilang di Masjidil Haram. Sebenarnya tidak
hilang, tepatnya dianggap hilang oleh suami sehingga
dari kejadian ini memicu pertengkaran kami. Mungkin karena
kekhawatiran saja.
Sore itu menjelang salat Asar kami sekamar berempat
berangkat ke Masjidil Haram. Kami berempat sudah megikuti
salat berjemaah di pelataran masjid. Kami bercampur laki
perempuan. Menjelang waktu magrib banyak laskar‐laskar
masjid yang menyisir setiap sudut untuk mengatur jemaah.
Jemaah laki‐laki, harus pisah dengan perempuan. Saat itu
saya posisi di belakang suami dan bersebelahan dengan
teman wanita sekamar.
Di tengah‐tengah ngaji, saya kaget waktu ada laskar
berperawakan tinggi besar yang menghalau saya agar pindah
ke tempat jemaah perempuan. Saking kagetnya batal wudu
saya karena kentut. Menjelang waktu magrib pintu masuk
pelataran masjid ternyata di tutup. Yang di luar tidak boleh
masuk dan di dalam tidak boleh keluar.
Waktu itu saya pamit wudu sebentar di wastafel zam‐zam
yang jaraknya hanya 10 meter saja. Ransel yang berisi HP dan
sebagainya saya titipkan ke teman sebelah saya berangkat
wudu. Saat menuju tempat wudu pagar sebelum di tutup,
tetapi waktu saya kembali pagar sudah di tutup.
Setitik Embun di Tanah Suci | 51
Waktu makin mendekati magrib. Saya keliling‐keliling
sendirian mencari pintu masuk selain pagar yang ditutup dan
di jaga laskar. Akhirnya ada pintu yang terbuka di sebelah
rumah Raja Fadh. Jalanannya yang menanjak sehingga bisa
melihat seluruh jemaah di pelataran. Saya melambai‐lambai
ke arah suami, tetapi apa daya karena terlalu jauh suami tidak
mendengar dan melihat.
Semua di‐block agar tertib dan tidak ada arus masuk
maupun keluar. Saya digiring menjauh oleh petugas menuju
terminal bus. Padahal azan magrib akan berkumandang. Saya
tidak membawa apa‐apa. Hanya sepasang sandal. Saya
kebingungan sendiri. Tidak terlihat jemaah haji dari Indonesia.
Mungkin penglihatan saya yang kurang jelas. Semua orang
asing.
Saya bersandar di pagar pintu masuk menuju
penjemputan sambil air mata keluar dengan sendirinya. Lalu
seorang laki‐laki dari Pakistan kalau melihat tulisan di tas
punggungnya memberikan kardus untuk alas salat. Magrib
telah tiba. Saya salat di jalanan beraspal yang agak jauh dari
pelataran masjid. Saya salat di antara orang‐orang asing. Saya
masih menangis. Menyesali mengapa tadi harus batal.
Setelah salat magrib, saya segera memberanikan diri
pulang sendirian. Melalui rute yang biasa kami lewati. Ingin
segera sampai hotel dan bisa menghubungi suami bahwa
saya baik‐baik saja dan bisa pulang dengan selamat.
Setelah naik bus dan sampai hotel. Saya langsung
mengambil kartu kamar di resepsionis. Menuju kamar dan
pinjam HP teman untuk menghubungi suami. Ternyata HP
suami mati. Begitu juga dengan Hp saya. Sekitar pukul 9
52 | Fataty Maulidiyah
malam waktu Mekkah kedua sepasang teman sekamar sudah
pulang dan bilang waktu ambil kartu kamar sudah ada yang
ambil berarti saya telah kembali dengan selamat.
Suami saya tidak ikut pulang karena fokus mencari saya
menyisir Masjidil Haram. Saya hanya berdoa semoga suami
memutuskan pulang. Sampai jam 11 malam belum juga
pulang. Saya yang takut dimarahi karena menyusahkan.
Akhirnya sekitar jam 11.30 sampailah suami. Dia kelihatan
sangat letih. Saya sudah menyiapkan kopi hangat, makanan,
dan buah. Tetapi melihat raut wajahnya, tampaknya suami
saya marah. Sambil makan bersama suami saya masih marah.
Kenapa saya memisahkan diri.
Saya sudah menjelaskan bahwa tadi kena blockade.
Kembalinya saya di hotel dengan selamat masih belum
meredakan kemarahannya. Saya ketakutan dan merasa tidak
aman. Ketika suami ke kamar mandi saya melarikan diri ke
lantai 17. Ada aula di atas sana yang biasa dipakai untuk
pertemuan. Ruangannya luas, harum, dan berkarpet tebal.
Saya membawa Al‐Qur’an kecil dan mengaji sambil
menangis. Pokoknya selama suami marah saya tidak mau
kembali ke kamar. Tiba‐tiba ada suara lelaki Arab sedang
menelpon. Berada di aula yang gelap gulita ini. Saya
bersembunyi di balik pembatas ruangan sambil jantung
berdebar‐debar. Sekitar 20 menit saya menahan gerakan dan
napas agar tidak ketahuan.
Ketika perempuan sendirian di ruangan tanpa muhrim
memang tidak aman. Rasa takut menghinggap sejenak. Saya
masih ingat saat saudara berkunjung menjelang berangkat
Setitik Embun di Tanah Suci | 53
bahwa ujian yang berat itu adalah terjadinya pertengkaran
suami istri ketika haji. Mungkin malam itu adalah ujian saya.
Setelah laki‐laki Arab tadi meninggalkan ruangan saya
merasa lega. Berganti langkah‐langkah seseorang yang
ternyata adalah suami saya. Saya ketakutan. Masih dengan
kedaaan marah memaksa saya kembali ke kamar. Saya tetap
tidak mau kalau dia masih marah. Ternyata semakin saya
tidak mau suami semakin marah.
Suami diam sambil menunggui saya bersedia kembali ke
kamar. Kami berdua diam beberapa lama. Saat itu belum
dilaksanakan haji, kami harus latihan menahan emosi.
Akhirnya kemarahan suami mereda, saya pun mau kembali ke
kamar. Dengan kesadaran masing‐masing, bahwa kami
sedang berada di Tanah Suci.
Sungguh tak pantas kami mempertahankan ego masing‐
masing dan bisa bertengkar di tempat mulia ini. Akhirnya
kami saling memaafkan dan kembali ke kamar sekitar pukul 2
malam. Kami pun beristirahat dengan kelelahan jiwa raga
yang teramat sangat.
***
54 | Fataty Maulidiyah
Menemukan Plakat di tengah Kota Mekkah dengan Nama Suami
Setitik Embun di Tanah Suci | 55
Sepeda Nabi Adam
S ejak usia SD, cerita tentang keberadaan sepeda Nabi
Adam sudah saya dengar dari paman saya yang haji
sekitar tahun 1986. Saat itu beliau menceritakan bahwa
betapa besarnya ukuran sepeda tersebut. Bentuknya tidak
jauh beda dengan sepeda ontel yang kita temui sehari‐hari.
Perbedaannya hanya ukurannya saja.
Waktu itu saya percaya saja bahwa benar‐benar Nabi
Adam memiliki sepeda. Tanpa berpikir bahwa teknologi
transportasi sepeda jelas mustahil ada pada masa hidup sang
manusia pertama, yakni Nabi Adam a.s. Lalu saya hanya
membayangkan bahwa memang sepeda itu benar‐benar ada.
Dari tahun ke tahun setiap kali kunjung haji atau umrah
kerabat yang baru pulang selalu ada dokumentasi dan foto
tentang sepeda besar ini. Termasuk kedua orang tua saya
yang haji sekitar tahun 1996. Abah saya bercerita bahwa
sepeda Nabi Adam memang ada. Tepatnya ada di Kota
Jeddah. Sebuah kota yang berbatasan langsung dengan Laut
Merah.
Dengan jarak sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Suci
Mekkah, Jeddah merupakan kota yang modern.
Penduduknya bercampur antara muslim dan nonmuslim, juga
imigran dari berbagai negara seperti Jepang, Korea, dan
Eropa. Di kota inilah terdapat Istana Raja Salman.
Tempat yang kami tuju pertama adalah Masjid terapung
di tepi Laut merah. Masjid ini bernama Masjid Ar‐Rahmah.
56 | Fataty Maulidiyah
Dikenal sebagai masjid terapung sebab didirikan di pantai laut
merah. Jika terjadi pasang, seakan‐akan ia terapung di lautan.
Tak lupa saya mengabadikan diri dengan bacground masjid
tersebut.
Di pusat Kota Jeddah banyak sekali monumen yang unik.
Beberapa di antaranya adalah hadiah kepala negara dari
berbagai tempat. Salah satu monumen yang terkenal bagi
orang Indonesia adalah “Sepeda Nabi Adam”. Tak jelas sejak
kapan istilah itu dipopulerkan, yang jelas ungkapan tersebut
bisa jadi disematkan sebab ukuran sepedanya yang sangat
besar.
Tibalah saat‐saat kami akan melintasi tempat di mana
sepeda Nabi Adam berada. Pemandu wisata kami
menyampaikan bahwa sepeda tersebut berada di sisi kanan
bus kami. Jadi, kami dianjurkan menyiapkan kamera dan
segera mengambil gambar sebab bus tidak bisa lama‐lama
berhenti di lajur jalan Tol.
Setitik Embun di Tanah Suci | 57
Kami berhenti. Dalam bus kami riuh saling melongok ke
arah jendela sebelah kanan. Mengambil gambar sebanyak‐
banyaknya. Untung saja saya duduk tepat di sisi jendela.
Dengan mudah saya mengambil gambar.
Sebuah sepeda ontel yang sangat, sangat besar berwarna
abu‐abu. Semuanya kelihatannya berbahan besi. Termasuk
dua ban depan dan belakangnya. Saya tersenyum geli saja
membayangkan bahwa sepeda ini benar‐benar bisa
dikendarai oleh manusia yang berukuran besar. Pantas saja
orang menyebutnya sepeda Nabi Adam.
Terparkir bergitu gagah, ini dia rupanya yang selalu
disebut‐sebut para jemaah haji dan umrah dari tahun ke
tahun. Sepeda yang sungguh unik dan menarik. Kata
pemandu wisata, kawasan Al‐Mawadi ini dulu belum
dibangun jalan tol jadi para wisatawan masih bisa turun dan
berfoto ria di dekat sepeda tersebut.
Ternyata monumen sepeda Nabi Adam adalah hadiah
kenang‐kenangan dari Gubernur DKI Jakarta Bapak Ali Sadikin
yang dihadiahkan pada pemerintah Arab Saudi 36 tahun yang
lalu. Dengan tinggi sekitar 5 meter, sepeda raksasa ini dikirim
langsung dari Jakarta.
Begitu bus melintas dan berhenti sejenak di lajur jalan tol,
jemaah dalam bus riuh sambil menunjuk‐nunjuk dan
berteriak, “Sepeda Nabi Adam, Sepeda Nabi Adam!” Sambil
tertawa mengingat begitu pernahnya kami benar‐benar
mempercayai sepeda ini sebagai sepedanya Nabi Adam.
Kemudian setiap kami melihat monumen guci raksasa, globe
raksasa, apapun yang ukurannya besar kami sebut sebagai
bendanya Nabi Adam. Ah ada‐ada saja.
58 | Fataty Maulidiyah
Selain monumen “Sepeda Nabi Adam” ada destinasi lain
yang kerap dikunjungi juga di Kota Jedaah, yakni Masjid
Qishash. Masjid tempat di mana para terpidana dieksekusi,
baik hukuman potong tangan maupun penggal. Ketika
berkunjung ke sana, ternyata tak seseram yang saya
bayangkan. Di halaman samping masjid malah banyak anak‐
anak bermain sepak bola. Bahkan di depan masjid, banyak
pedagang kuliner baik dari penduduk Jeddah sendiri maupun
luar. Termasuk pedagang dari Indonesia.
Kebanyakan para pedagang Indonesia yang berjualan
ini dari Pulau Madura. Dalam sebuah dialog singkat dengan
salah satu pedagang makanan khas Indonesia, pada musim
haji pendapatan mereka lumayan. Mereka ternyata memiliki
majikan yang juga orang Indonesia. Majikan mereka inilah
yang memiliki usaha kuliner dengan merekrut banyak
pedagang.
Jadi, berbagai menu masakan Indonesia yang mereka
jual, sudah dimasak tinggal pedagang‐pedagang ini yang
menjualnya ke berbagai lokasi dengan menyewa taksi.
Beberapa menu yang dijual antaara lain bakso, rujak cingur,
rujak manis, lontong pecel, sate madura, aneka gorengan,
dan krupuk. Per kemasan dihargai 5R atau setara dengan
20.000 Rupiah.
Setelah itu, saya beserta rombongan menuju Maqbarah,
makam Ibunda Hawa. Maqbarah Ibu Hawa tidak
diperkenankan untuk diziarahi oleh orang umum maka itu
gerbang bangunan yang mirip benteng itu tertutup rapat.
Berada di tengah kota, para peziarah biasanya tetap
berada di dalam kendaraan yang terparkir di depan
Setitik Embun di Tanah Suci | 59
bangunan. Bersemayamnya jasad Siti Hawa, menjadikan Kota
Jeddah juga di juluki sebagai Kota Ibu. Jeddah sendiri berarti
“Ibu” atau “Nenek”. Di depan makam Siti Hawa yang berada
di tengah kota, pemerintah setempat tidak mengizinkan para
pengunjung masuk untuk berziarah. Kami hanya melantunkan
doa‐doa untuk beliau di dalam bus saja.
Tempat terakhir yang kami tuju adalah Cornez Mall
Jeddah. Sebuah Mall terbesar di Jeddah yang dikenal sebagai
pusat oleh‐oleh dan perbelanjaan. Senada dengan Grand
Zam‐zam atau El‐Shafwa Tower, isinya sama. Toko emas,
parfum, jam tangan baju khas Arabia, Gift, kurma, serta
foodcourt.
Kota Jeddah tetaplah menjadi tempat yang selalu
menarik untuk dikunjungi. Kota di mana “Sepeda Nabi Adam“
berada. Monumen ikonik bukti persahabatan antara Negeri
Arab dan Indonesia. Biarlah monumen ini tetap menyandang
namanya yang akan terus kami ceritakan pada anak cucu saya
kelak agar mereka tergerak dan ditakdirkan datang ke sana,
sekaligus berkunjung ke Baitullah di Mekkah dan Makam
Rasulullah di Madinah.
***
60 | Fataty Maulidiyah
Masjid Terapung (Ar‐Rahmah) Jeddah
Setitik Embun di Tanah Suci | 61
Menuju Arafah
P emerintah Arab Saudi mengumumkan bahwa hari
Arafah jatuh pada Sabtu, 10 Agustus 2019. Hati saya
berdebar‐debar. Inilah kegiatan inti haji yang akan
saya lalui. Menunggu 9 tahun bukanlah waktu yang pendek.
Ratusan ribu orang rela berada dalam daftar tunggu,
menabung, mendaftar sampai mendapat porsi haji karena
adanya hari arafah.
Pagi ini bakda subuh para jemaah sudah mulai sibuk
packing persiapan haji esok hari. Menata tas berisi keperluan
kegiatan Arafah, Muzdalifah, dan menginap 3 hari di Mina.
Saya belum memiliki gambaran apa pun atas apa yang akan
saya jalani dalam kegiatan haji ini. Para jemaah berkumpul di
ruang P hotel atau semacam aulanya. Mengikuti pengarahan
dari pembimbing haji, salat Duha bersama dilanjut niat dan
salat sunnah ihram. Kami sudah membawa keluar kopor‐
kopor kami.
Waktu terus berjalan sampai pukul 10 pagi. Saat itu sudah
diumumkan agar semua secara bertahap turun ke lobi hotel
persiapan menuju Arafah. Dengan berpakaian ihram lengkap,
kami bergegas. Proses evakuasi jemaah dari hotel menuju bus
penjemputan tidak sesederhana yang saya kira. Karena yang
dievakuasi sekitar 2 ‐ kloter, kami harus bersabar. Antre lift,
juga berdesakan di ruang lobi menunggu instruksi dari ketua
kloter. Sekitar pukul 11.00 semua jemaah sudah berada dalam
bus menuju Arafah.
62 | Fataty Maulidiyah
Arafah adalah padang
pasir yang menyimpan
sejarah manusia. Dahulu
Nabiyullah Ibrahim alaihi
salam mengharapkan
kelahiran anak. Di usia
senjanya belum ada tanda‐
tanda akan mendapatkan
anak bersama istri, Sarah.
Nabi Ibrahim bermunajat
dan bernazar, seandainya
kelak dikaruniai anak beliau
siap menjadikan anak itu
sebaga kurban.
Setelah dikaruniai anak
dari istri Siti Hajar, yakni
Ismail, beliau diuji oleh
Allah juga mengingatkan akan nazarnya dulu. Di Padang
Arafah inilah beliau merenungi maksud mimpi tentang
perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Beliau juga
menjalani puasa yang dikenal sebagai puasa Tarwiyah. Juga
saat beliau yakin akan perintah itu beliau siap melaksanakan
penyembelihan di hari Arafah.
Sekitar pukul 12 siang, kami para jemaah calon haji kloter
64 diminta untuk turun lobi hotel. Persiapan menuju Arafah di
depan hotel Sama El Deafa telah berjejer sekitar 10 bis. Kami
masuk sesuai rombongan dengan membawa kopor travel bag
berisi bekal selama kegiatan Armuzna.
Setitik Embun di Tanah Suci | 63
Hati saya makin berdebar‐debar. Saya tidak ingin ada
halangan seperti sakit, haid, atau kendala apa pun dalam
kegiatan inilah “Haji“ harus hati‐hati. Selama ihram tidak
memakai masker, make‐up, juga parfum setelah niat ihram
pagi tadi. Akhirnya, berangkatlah bus kami menuju Padang
Arafah.
Kami tiba di tenda Arafah nomor 44. Komplek tenda semi
permanen yang sudah disiapkan. Karena tiba lebih awal, kami
segera menata dan memilih tempat yang saat itu masih
longgar. Di dalam tenda sudah tersedia paket pelengkap
makanan. Satu ransel berisi box transparan. Di dalamnya ada
kopi sachet, teh celup, gula, krimer, sendok kecil, saus tomat,
saus sambal, kecap manis lainnya buah apel, pir, dan pop mi.
Di sudut tenda disediakan air mineral yang melimpah. Di
sebelahnya juga terdapat puluhan payung putih. Siapa pun
boleh mengambil. Gratis. Ada yang memberitahu bahwa itu
sedekah hamba Allah untuk para jemaah haji.
Rombongan makin banyak berdatangan dan tenda makin
penuh. Ketua rombongan dan kloter mengatur posisi agar
jemaah bisa nyaman dalam melaksanakan aktivitas dalam
tenda baik untuk salat, istirahat, dan tidur.
Mulailah saat‐saat diuji kesabaran. Tidur berdesakan,
antre kamar mandi, juga tenda yang panas meskipun ada 4
blower di sudut‐sudut tenda. Ketua rombongan mengabsen
anggotanya, juga akan mengumumkan akan dilaksanakan
salat Jamak Zuhur dan Asar. Selanjutnya aktivitas diserahkan
individu masing‐masing. Ada yang salat sunnah, tadarus
Qur’an, berzikir termasuk saya yang merampungkan agar bisa
khatam saat hari Arafah.
64 | Fataty Maulidiyah
Senja telah tiba, waktu makin mendekati saat wukuf.
Suasana di luar tenda riuh, ramai,ada yang santai‐santai, antri
kamar mandi, duduk‐duduk mencari angin segar atau di
dalam tenda untuk beristirahat.
Bakda isya mulailah saat‐saat memperbanyak doa dalam
salat. Bermunajat di tengah malam juga sepertiga malam.
Bertahlil, beristighasah, membaca ratib apa pun, waktu yang
berlalu tidak boleh disia‐siakan begitu saja.
Pembimbing haji mengimbau kami agar istirahat cukup
dan banyak minum air putih, minum zam‐zam juga menjaga
ihram untuk menghadapi wukuf esok hari.
***
Setitik Embun di Tanah Suci | 65
Wukuf
W ukuf di Arafah merupakan salah satu rukun haji
untuk meneladani Nabi Adam dan Ibunda Hawa
ketika diturunkan di muka bumi. Dipisahkan
selama puluhan tahun dan di padang inilah mereka
dipertemukan lalu mulailah digelar drama kehidupan
manusia.
Berkunjung ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji
adalah dambaan setiap muslim, tetapi tidak semua
memperoleh dambaannya. Ada pesan ulama yang
menyatakan, ”Kalau Anda tidak dapat berkunjung ke rumah
kekasih, maka undanglah kekasih ke rumah Anda. Yakni Anda
oleh karena satu dan lain hal tidak dapat berkunjung ke
Baitullah dan berhaji, maka hadirkan Allah dalam benak Anda.
Ketika itu Anda akan lebih berbahagia daripada yang
berkunjung ke rumah kekasih tetapi ditolak, dianggap tidak
menemui kekasih.”
Inti dari ibadah haji adalah wukuf di arafah. “Al Hajj,
Arafah.” Demikian sabda Nabi SAW. Wukuf sendiri secara
etimologi berarti “berhenti” meski sejenak. Dalam
pandangan hukum Islam, siapa yang berhenti walaupun
sejenak di Padang Arafah setelah tergelincirnya matahari
pada 9 Dzulhijjah maka wukufnya dinilai shahih meski yang
dituntut oleh hukum Islam adalah keberadaan di tempat ini
meski sesaat sebelum matahari tenggelam.
66 | Fataty Maulidiyah
Mengapa walaupun sesaat? Karena sesaat yang sedikit
menghasilkan atau mengakibatkan banyak atau langgeng jika
itu diberkati dan dikehendaki oleh Allah.
Rasulullah saw berpesan, ”Ada saat‐saat dalam perjalanan
masa di mana Allah menganugerahkan aneka anugerah maka
berusahalah menemukan saat‐saat itu.”
Salah satu dari saat‐saat itu adalah wukuf di padang
Arafah. Wukuf telah sah walaupun sejenak karena sejenak itu
ada pada saat datangnya anugerah Allah SWT dan hal itu bila
kita memanfaatkannya dengan baik dan sudah cukup dapat
mengubah hidup kita menjadi jauh lebih baik.
Di tempat wukuf Allah menyiapkan situasi dan kondisi
yang dapat mengantar pikiran dan jiwa agar lebih terarah
pada pencapaian kesempurnaan kita sebagai makhluk dua
dimensi. Diciptakan dari debu tanah dan ruh Ilahi, tetapi
bukan untuk menetap di dunia, melainkan membangunnya
guna mengekalkan kita di akhirat.
Pagi itu langit Arafah begitu cerah. Setelah shalat Subuh
berjemaah dalam tenda, berzikir dan membaca Al‐Qur’an,
suami mengajak saya jalan‐jalan menikmati udara segar di
pagi hari. Kami keluar komplek tenda 42 menuju entah ke
mana karena kami berdua bahagia menapaki tanah penuh
berkah ini. Lalu saling sapa dengan jemaah lain dengan
senyum mengembang. Ada yang foto‐foto, ada yang sekadar
jalan‐jalan. Setelah itu kami kembali masuk tenda untuk
sarapan dan lanjut salat Duha. Kemudian kami diimbau untuk
istirahat persiapan wukuf yang akan berlangsung bakda salat
Zuhur.
Setitik Embun di Tanah Suci | 67
Waktu zuhur telah tiba. Saat itu suami diberikan tugas
melantunkan azan. Semua jemaah menata diri dalam shaf‐
shaf lalu salat berjemaah yang diimami oleh ketua kloter juga
ketua bimbingan haji.
Inilah wukuf. Di mana Allah mengerahkan trilyunan
makhluk cahaya untuk memadati Padang Arafah. Memenuhi
tenda‐tenda menyerbu hamba‐hamba Allah yang tengah
berdoa, meratap, memohon ampunan kepada Allah, serta
meminta apa pun hajatnya.
Sepanjang matahari tergelincir sampai terbenam
bergema‐gema udara dari tenda ke tenda. Saya juga
mendengar sebuah tenda yang sedang “Mahallul Qiyam“, ada
pula yang beristighotsah. Di tenda kami pun berzikir bersama.
68 | Fataty Maulidiyah
Setelah selesai, tiap jemaah diperkenankan melakukan
aktivitas pribadi.
Sekitar pukul 14.00 saya dan suami memilih bermunajat di
luar tenda. Agar kami bisa menengadah memandang langit
Arafah. Cuaca yang asalnya cerah, perlahan meredup. Awan
abu‐abu menaungi arafah, gerimis pun turun dan makin lama
makin deras bercampur air mata kami yang tak berhenti
mengalir.
Kelopak mataku berkelebat wajah abah, ibu, kakak, adik,
anak‐anak, dan saudara‐saudaraku. Doa kami nyaris habis.
Suara kami sudah serak. Kami kehabisan lafaz, tetapi mulut
kami tak mau berhenti memohon. Bahasa apapun kami
suarakan, rintihan, ratapan, ungkapan syukur juga mohon
belas kasihan, memohonkan agar dimudahkan semua urusan‐
urusan dan diberi kekuatan agar tegar dan sehat menjalani
haji ini. Lalu, kami kumandangkan hajat‐hajat kami tumpah
ruah bersama hujan dan angin yang semakin kencang.
Seorang anak berkulit hitam berlari menuju kami sembari
membawakan payung. Kami pun diberi tempat berteduh di
bawah pohon.
Banyak sekali lafaz‐lafaz yang kami ucapkan karena
begitu banyak dosa‐dosa yang minta diampuni, begitu banyak
pula permintaan kami pada Zat Yang Maha Memberi. Di
sinilah kami menengadah dengan takzim di hari dan tempat
paling mustajabah di mana Allah tidak akan menolak semua
doa. Saat‐saat di mana Allah membanggakan hamba‐Nya.
“Inilah tamu‐Ku, inilah tamu‐Ku, inilah hamba‐Ku yang
memenuhi undangan‐Ku, yang datang ke rumah‐Ku dengan
berjalan, merangkak atau menaiki onta‐onta yang kurus dari
Setitik Embun di Tanah Suci | 69
segala penjuru, nikmatilah hidangan‐Ku dan Akulah yang akan
memulyakan‐Nya.“ Demikian kutipan khutbah yang
disampaikan kiai pembimbing kami saat wukuf yang
disampaikan setelah salat zuhur tentang keistimewaan
wukuf.
Matahari makin tenggelam, sirine dibunyikan pertanda
jemaah akan dievakuasi menuju Muzdalifah. Pakaian kami
yang kusut, berdebu penuh peluh, dan air mata akan tetap
kami kenakan sampai tiba saatnya selesai melempar jamarat
ula, dan bertahallul awal.
Kami dikumpulkan dalam tiap rombongan di sebuah
halaman berpagar dan di sana pula kami menunggu bus yang
akan mengantar kami mabit di Muzdalifah.
***
70 | Fataty Maulidiyah
Muzdalifah
S etelah menunaikan salat magrib yang dijamak dengan
isya’ sebab mulai pukul 18.30 evakuasi jemaah haji dari
Arafah menuju Muzdalifah dilaksanakan. Kami
berkemas dengan pakaian yang lusuh berdebu dan belum
mandi, kami bergegas menuju tempat penjemputan. Semua
tertib mengikuti instruksi masing‐masing ketua regu. Baru
sekitar pukul 8 malam rombongan kami berangkat dan tiba di
Muzdalifah pada pukul 9 malam.
Muzdalifah merupakan daerah terbuka di antara Makkah
dan Mina yang merupakan tempat jemaah haji diperintahkan
untuk singgah setelah bertolak dari Arafah. Kawasan
Muzdalifah terletak di antara Ma’zamain (dua jalan yang
memisahkan dua gunung yang saling berhadapan) yaitu
Arafah dan Lembah Muhassis. Luas kawasan ini sekitar 12,25
km2 dan di sana terdapat rambu‐rambu pembatas yang
menentukan batas awal dan akhir Muzdalifah. Di Muzdalifah
ini pula para jemaah haji akan mengumpulkan batu kerikil
yang bakal digunakan untuk melempar jamarat.
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa tempat
tersebut dinamakan Muzdalifah karena manusia
mendatanginya pada permulaan malam (tengah malam).
Riwayat lain mengatakan karena manusia meninggalkan
tempat tersebut secara serentak. Sementara dalam versi lain
disebutkan bahwa Nabi Adam as dan Ibu Hawa pernah
berkumpul suami istri di Muzdalifah ini.
Setitik Embun di Tanah Suci | 71
Rombongan kami tiba
disebuah padang yang luas
dan lampu yang tidak begitu
terang. Banyak sekali kerikil
yang disediakan untuk
keperluan jamarat, bahkan
karung‐karung berwarna biru
bertebaran di mana‐mana
yang di dalamnya tersedia
kerikil berjumlah 70 butir
dalam kantung. Kantung
tersebut bertuliskan arab
yang saya tidak begitu
membacanya. Langsung saja
saya masukkan tas dan
mengikuti petunjuk suami menuju tempat di mana kami
langsung menuju pintu evakuasi yang hanya cukup untuk dua
orang. Jemaah yang lebih dulu tiba kulihat tidur di karpet‐
karpet yang disediakan. Mereka menyebar dan jauh dari
pintu.
Menurut pengalaman suami waktu haji tahun 2004,
jemaah yang tidak lurus pintu keluar akan kesulitan karena
akan berdesakan dengan jemaah lain dan bisa sampai di Mina
pukul 7, bahkan 10 pagi itu nanti akan sangat melelahkan.
Maka dari itu, melalui grup WhatsApp regu, suami
mengimbau teman‐temannya untuk langsung mendekat ke
pintu keluar agar bisa lebih awal masuk bus penjemputan.
Suami menyuruh saya tidur sekadarnya untuk melepas lelah
setelah berdesakan ketika evakuasi di Padang Arafah.
72 | Fataty Maulidiyah
Benar saja, sekitar lewat tengah malam waktu Saudi,
petugas Arab memberi aba‐aba bahwa bus menuju Mina akan
datang. Kami di barisan pertama menuju pintu evakuasi.
Beberapa jemaah yang tidur, bangun dan bersiap‐siap.
Namun, sebagaimana yang telah diprediksi suami, mereka
kesulitan menuju pintu keluar karena berebut dengan jemaah
lainnya.
Bus membawa jemaah menuju Mina menerobos
kegelapan malam. Di sisi jendela tampak beberapa jemaah
memilih berjalan kaki. Kebanyakan dari luar negeri. Mereka
berbondong‐bondong dengan pakaian ihramnya menyeret
travel bag sembari melantunkan kalimah talbiyah.
“Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariika laka
labbaik....” Kami memenuhi panggilan‐Mu ya Allah, kami
memenuhi panggilan‐Mu. Tiada sekutu bagi‐Mu, kami
memenuhi panggilan‐Mu.
Bus terus bergerak dan kami tiba di Mina sekitar pukul 1
dini hari. Komplek Mina mirip tenda Arafah. Komplek tenda
yang memiliki lorong‐lorong. Setiap lorong diberi nomor.
Untuk rombongan kami adalah nomor 42. Begitu masuk
tenda pertama adalah untuk petugas sebelah kanannya
dapur, barulah belakangnya adalah tenda‐tenda untuk
jemaah.
Sebagaimana di Arafah, tenda beralas karpet saja. Di
depannya tersedia tong air hangat dan box berisi es batu dan
air mineral. Kami segera menata diri dan istirahat sebentar
sebelum nanti akan datang rombongan lain dan menjadi
berdesakan.
Masih sepi. Di situ aku membersihkan diri. Mandi dan
berganti pakaian dalam. Namun, pakaian ihram tetap akan
Setitik Embun di Tanah Suci | 73
dipakai sampai selesai jamarat dan bertahallul awal. Dalam
penat aku menyelonjorkan diri, menata koper, dan tempat
tidur. Sebelum nanti akan berbagi dengan ratusan jemaah
yang akan datang.
Satu jam berikutnya berangsur‐angsur berdatangan
jemaah lain. Setelah lengkap ketua kloter mengumumkan
jamarat akan dilaksanakan sekitar jam 3 dini hari yang
didahului dengan qiyamullail bersama. Kami istirahat sejenak
di hari pertama di Mina mempersiapkan diri melempar
jamarat ula bersama.
***
Hotel Sama el Daffa, 12 Agustus 2019
Shafa Tower, Mekkah
74 | Fataty Maulidiyah
Jamarat Ula
S ekitar pukul 03.00 Kiai pembimbing membangunkan
dan mengimbau para jemaah yang baru sampai dari
Muzdalifah untuk segera menyiapkan diri mengambil
air wudu, lalu salat malam berjemaah dan segera
melaksanakan jamarat Ula. Setelah qiyamullail dan doa
bersama, agar kegiatan Jamarat Ula dapat dilaksanakan
dengan lancar.
Semua berbaris rapi di luar tenda mengikuti instruksi
ketua kloter. Ada yang ditugasi membawa bendera dan juga
mengatur masing‐masing regunya agar tidak terpisah dari
berangkat sampai pulang. Demikian pula yang di barisan
tengah dan belakang. Hal ini berfungsi sebagai kontrol agar
jemaah bisa tetap dalam satu barisan dan himpunan
mengingat kita akan bercampur dengan jemaah dari berbagai
daerah dan negara untuk mempermudah identitas kami
memakai seragam KBIH.
Bismillah. Kami berbaris laksana pasukan perang. Ya,
kami memang akan berangkat perang membawa 70 butir
kerikil menuju 3 tugu setan. Menapaktilasi keluarga Ibrahim
as yang saat itu digoda oleh setan. Kami berbaris rapi sambil
melantunkan kalimah talbiyyah, dengan tetap memakai ihram
kami yang lusuh sejak berangkat ke Arafah, mabit Muzdalifah
dan baru akan kami lepas setelah melempar jamarat ula dan
tahallul awal.
Setitik Embun di Tanah Suci | 75
Kami berjalan pelan menerobos gulita berjalan pelan dan
konstan. Raga kami sungguh lelah dan kesabaran kami diuji.
Tak hanya kekuatan fisik yang harus dijaga, pada saat antre
kamar mandi, tidur berdesakan, dan menjaga emosi. Maka,
sungguh benar salah satu larangan ihram adalah tidak boleh
bertengkar dan berbantah‐bantahan sebab dalam kondisi
fisik yang lelah akan mudah tersulut emosi dalam
menghadapi orang dengan berbagai karakter.
Kami konsisten dalam satu barisan yang terdiri dari 48
regu atau sekitar kurang lebih 350 dikurangi yang sakit dan
lanjut usia. Kami terus berjalan memenuhi lorong‐lorong Mina
yang membelah pegunungan batu cadas bertemu dengan
jemaah dari berbagai negara.
Saat itu yang menyapa kami ada dari Turki, Uzbekistan,
Qaheera, Libya, juga Palestina. Saya merekam perjalanan saat
itu dan seorang wanita dari Qaheera mendekati dan ikutan
selfi. Kami pun bersalaman dan saling bertanya dari mana asal
kami. Semua saat itu semangat pada hari yang bersamaan
jemaah haji dari seluruh dunia menuju titik yang sama. Tugu
setan.
Melempar jamarat adalah salah satu wajib haji yang
dilaksanakan oleh jemaah haji. Tiga tugu yang terletak di Mina
senantiasa dilempari batu pada hari‐hari tasyrik yakni 11,12,
dan 13 Dzulhijjah. Melempar jamarat adalah simbol
perlawanan terhadap setan. Perlawanan yang harus
dilakukan karena setan tak akan berhenti menyesatkan
manusia.
Dikutip dari buku Sejarah Ibadah Haji karya Syahruddin El
Fikri, kisah melempar jamarat terjadi sekitar 4000 tahun yang
76 | Fataty Maulidiyah
lalu tepatnya pada 1870 SM ketika Nabi Ibrahim as bermaksud
menyembelih putra pertamanya, yakni Ismail as. Ketika akan
bermaksud menyembelih putranya, tiba‐tiba datanglah setan
yang menggoda beliau.
Berusaha menggoyahkan keraguan agar mengurungkan
niatnya. Tetapi, Nabi Ibrahim malah mengambil 7 kerikil dan
melemparkannya ke arah setan. Beliau tetap melaksanakan
perintah Allah. Inilah yang disebut sebagai Jamarat Ula.
Kami telah tiba di tugu pertama. Tugu itulah tempat di
mana setan menggoda Ibrahim. Kami bergerak mendekat,
bergeser perlahan, lalu merapat ke tembok pembatas yang
melingkari tugu dan dengan sepenuh tenaga kami melempar
kerikil satu per satu sambil mengucap “bismillahi allahu
akbar“, kami pastikan kerikil mengenai tugu. Laksana melihat
setan dan saya melemparinya dengan batu‐batu itu.
Area jamarat yang saya datangi ini sangat lapang.
Beratap. Sehingga jemaah tidak begitu berdesakan. Selain itu,
juga karena pemerintah Arab Saudi mengatur waktu jamarat
dari berbagai negara agar tidak terjadi tragedi berdesakan
seperti waktu‐waktu yang lalu. Tugu pun diperbesar, dulunya
tugu tersebut kecil lancip seperti pena dan terbuka.
Cerita berdesakan ketika jamarat sudah sangat populer.
Namun, tentu dengan pembenahan pelayanan haji yang terus
diperbaiki, kini jamarat tidak lagi menjadi momok bagi para
jemaah haji.
Terowongan Mina yang kami lalui juga cukup nyaman.
Lajur searah untuk yang berangkat dan pulang dari jamarat.
Dalam terowongan pun sudah disediakan flat eskalator yang
berfungsi bagi jemaah sejenak istirahat dari jalan kaki. Flat
Setitik Embun di Tanah Suci | 77
eskalatornya putus‐putus. Mungkin itu untuk memudahkan
para lansia atau yang sakit dan lemah. Jarak sekitar 4 km.
Tentang terowongan mina ini, saya teringat tragedi yang
terjadi sekitar 1992 lalu yang dikenal sebagai tragedi Mina.
Penyebab utamanya adalah dalam satu lajur digunakan dua
arus berangkat dan pulang jamarat. Selain itu, belum ada
jadwal keberangkatan jamarat dari berbagai negara.
Akibatnya, terjadi saling dorong. Jemaah Indonesia saat itu
banyak yang wafat sekitar ratusan karena terdesak dan
kehabisan napas.
Prosesi jamarat Ula alhamdulillah berjalan lancar. Kami
salat Subuh di tepian rute jamarat. Setelah tahallul awal pasca
jamarat ikat kepala dalaman kerudung yang saya pakai sejak
berangkat dari hotel menuju Arafah, lalu mabit di Muzdalifah,
dan Mina, saya lepas. Lega rasanya.
Tahallul awal telah selesai. Kami melewati ihram. Kami
berjalan pulang dengan lebih santai menuju maktab 44. Saat
itu sekitar pukul 06.00. Sepanjang jalan masih lancar dan
belum begitu padat. Kami juga dimudahkan petugas Arab
memotong jalan berbalik arah karena letak maktab kami
berada di sebelah kanan lajur pulang.
Lebih siang lagi, jalan akan di blokade, jemaah yang
pulang jamarat harus berjalan memutar dan lewat jembatan
layang. Tentu jarak yang akan kami tempuh makin jauh.
Beberapa jemaah di belakang kami entah karena jalannya
pelan atau karena kepadatan arus jamarat mengalami
masalah. Ada rombongan yang salah jalur, ada yang kena
blokade hingga jalannya harus memutar juga ada yang
tersesat di komplek tenda orang india.
78 | Fataty Maulidiyah
Semua menjadi kisah suka duka tersendiri dan sebagai
ujian kesabaran dalam menjalani ibadah ini. Saya dan suami
tiba di tenda sekitar pukul 7 pagi, ada yang baru tiba pukul 10,
yang paling akhir karena salah jalur baru tiba sore hari.
Akhirnya dengan tangis haru, mereka tiba dan berkumpul
lengkap. Kelelahan yang luar biasa. Oleh Kiai hari itu menjadi
evaluasi untuk mengatur strategi pada pelaksanaan jamarat
Wustho esok hari dan Aqabah esok lusa.
Mina, Agustus 2019
Setitik Embun di Tanah Suci | 79
Jamarat Wustho
P agi itu sekitar pukul 7 setelah selesai menyelesaikan
tahallul awal di rute jamarat, melepas pakaian ihram
yang sangat‐sangat kotor dan penuh debu yang saya
kenakan, tanpa sedikit pun melepasnya sejak keluar hotel
menuju Arafah, bermalam dan wukuf di Arafah. Setelah
tenggelam matahari dan meninggalkan Arafah menuju
Musdalifah, tinggal sejenak sampai lewat tengah malam,
menuju mina, lalu bergerak menerobos terowongan mina
dalam keadaan sangat‐sangat letih, melempar jamarat
pertama sampai menyelesaikannya dan di dalam tenda mina
ini. Saya pun melepas pakaian ihram itu.
Setelah membersihkan diri, berganti pakaian baru yang
bersih. Kupandangi pakaian ihram yang tidak lagi putih
bersih. Bau keringat ini adalah bau badanku sendiri. Kotoran
ini adalah kotoran yang suci, menempel di pinggiran kain itu
laksana daki‐daki dosa saya, tetapi bukan. Ini bukan debu
dosa, tetapi debu dari tanah Arafah, Musdalifah, dan Mina
yang saya lalui dalam tangis dan haru. Melupakan luka‐luka
dari telapak kaki yang kian lemah. Saya sangat merasa betapa
rapuhnya diri ini.
Saya hanyalah debu dan makhluk yang tidak memiliki
kekuatan apa‐apa. Dalam setengah perjalanan haji ini saya
tertunduk dan malu setengah mati. Betapa seringnya saya
bangga diri dan ujub. Membanggakan gelar, pujian,
80 | Fataty Maulidiyah
pekerjaan, pengetahuan yang hakikatnya tidak memiliki arti
apa‐apa ketika menjalani ritual ini.
Saya pandangi Ihram yang kini dekil. Saya menciuminya,
bersama kerudung dan sarung tangan kumal itu, menitipkan
ribuan istighfar dan doa‐doa pertaubatan, berharap pakaian
ihram ini menjadi kain yang membersihkan jutaan dosa‐dosa.
Kemudian saya lipat pelan‐pelan, saya masukkan ihram ini
dalam plastik. Masih ada dua ritual untuk meneladani
keluarga Ibrahim, yaitu jumrah kedua (Wustha) dan Aqabah
sebagai puncak jamarat.
Setelah istirahat dalam tenda sehabis menyelesaikan
sarapan, perut saya terasa sangat sakit rasanya seperti PMS
(Pra Mestruasi) dan benar setelah saya cek di kamar mandi,
keluar bercak darah tanda menstruasi. Saya menangis.
Menstruasi di saat ritual haji adalah hal yang sangat saya
hindari. Dengan keadaan berhalangan seperti ini saya akan
kehilangan kesempatan melaksanakan salat, membaca Al‐
Qur’an, dan tawaf ifadhah nanti.
Untuk mengantisipasi ini sebelum berangkat saya sudah
meminta bidan memberi saya obat dan cairan untuk di injeksi
sebagai penahan haid. Waktu tunggu haji 9 tahun adalah
karena hari‐hari haji ini, mengapa saya harus haid di saat‐saat
ritual inti ini saya lakukan. Saya menangis, lalu meminum
banyak sekali pil penghenti haid. Ketika menjelang waktu
zuhur saya memeriksakan kembali dan ternyata makin
banyak darah. Saya semakin menangis sambil memikirkan
solusinya.
Saya langsung menuju tenda di mana ada dokter dan
perawat. Saya menyampaikan keadaan saya. Saya sudah
Setitik Embun di Tanah Suci | 81
bilang bahwa menjelang berangkat wukuf sudah minta di
suntik, saya sudah meminum pil sesuai jadwal, mengapa saya
keluar banyak darah? Bagaimana nanti saya menyelesaikan
haji saya? Saya menangis di hadapan dokter dan perawat.
Dokter mengatakan bahwa darah yang keluar meskipun
sudah disuntik dan minum pil penahan haid dikarenakan saya
lelah. Lelah jiwa raga. Lumrah saja kata dokter hal itu terjadi
karena aktivitas saya yang sangat berat, mungkin juga kaget
setelah dari Arafah dan Musdalifah lalu jalan kaki pulang pergi
menempuh rute jamarat sepanjang 8 kilometer. Wajar saja
tubuh bereaksi. Keluar darah salah satu bentuknya.
Dokter memberikan 10 butir tablet primolut, katanya
dalam waktu 2‐3 jam bisa berhenti. Saya berharap pil itu
bekerja. Sewaktu zuhur tiba, saya segera menuju kamar
mandi, berharap sudah tidak ada darah lalu saya mandi besar.
Tetapi apa daya, darah itu masih ada dan saya harus
menerima kenyataan itu. Saya terima di waktu haji ini dalam
separuh ritual saya mengalami haid di waktu yang menurut
saya adalah salah.
Dalam fikih menjalani jamarat tidak harus suci dari hadats
kecil maupun besar. Jadi, saya masih bisa melaksanakannya.
Hanya ritual tertentu yang kita harus suci dari hadas, yakni
ketika salat, tawaf, menyentuh, dan membawa Al‐Qur’an.
Alhamdulillah. Saya hanya berharap sepulang dari Mina,
ketika akan menyelesaikan tawaf Ifadhah sudah suci dari
hadas besar ini.
Pukul 2 dini hari tiba. Setelah dilaksanakan salat malam
berjemaah bersama Kiai pembimbing, kami bersiap‐siap
berangkat jamarat kedua (Wustho). Jemaah yang sakit dan
82 | Fataty Maulidiyah
lanjut usia diminta tetap tinggal dalam tenda. Diwakilkan oleh
jemaah lain yang sehat. Kami bersiap‐siap. Membawa ransel
berisi minuman, kurma, tissue, sandal cadangan, botol bekas
untuk wudu, botol minuman, dan spray untuk menyegarkan
diri. Di rute jamarat nanti ada beberapa kran bukan air zam‐
zam untuk minum, cuci tangan, dan berwudu. Nanti setelah
lempar Jamarat, kami menjalankan salat Subuh di rute
jamarat.
Dalam sejarah pelaksanaan lempar jamarat yang kedua,
mengulang kisah keluarga Ibrahim yang digoda setan. Setelah
Nabi Ibrahim yang diganggu setan agar tidak mau
melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail,
setan lalu menggoda Ibunda Hajar. Dengan maksud yang
sama agar keluarga kecil ini tidak taat atas perintah Allah.
Pelaksanaan yang kedua inilah Siti Hajar yang melempar setan
tepat di lokasi tugu setan yang kedua. Di situlah saya dengan
mengucap “Bismillahi Allahu Akbar” serasa Hajar yang
menghalau setan.
Tidak seperti jamarat pertama di mana dalam rombongan
kami banyak yang tersesat, ada yang salah arah sampai ke
perkemahan negara lain baru baru kembali jam 10 pagi, zuhur
bahkan yang paling akhir adalah sore hari yang katanya
tersesat di jalanan tol. Pengalaman pertama terjadi karena
jemaah tidak merapat dalam rombongan bisa karena
kelelahan hingga tertinggal.
Pada jamarat kedua ini relatif lancar. Rute yang melewati
beberapa terowongan terasa lebih dekat. Entah karena
perasaan saja. Beda rasanya pada hari pertama. Pada
perjalanan jamarat kedua ini agar tidak terjadi tersesatnya
Setitik Embun di Tanah Suci | 83
jemaah, pihak maktab tenda Mina menyediakan petugasnya
untuk mengawal, sambil membawa bendera besar bertulisan,
Maktab 44.
Pukul 7 pagi kami semua kembali ke tenda dalam keadaan
baik‐baik, sehat, ceria, kegiatan dilaksanakan sangat lancar.
Setelah itu kami istirahat seharian. Salat, makan, tidur
mengaji, dan sebagainya, memulihkan tenaga untuk dini hari
nanti melaksanakan jamarat Aqabah sebagai akhir perjalanan
kami di Kota Mina.
***
84 | Fataty Maulidiyah