Ketika waktu magrib tiba, Rasulullah memerintahkan
sahabat Bilal menaiki atap ka’bah untuk azan. Suara Bilal yang
merdu menggema‐gema di penjuru lembah Mekkah,
melambung hingga ke puncak bukit. Kaum kafir Quraisy yang
memandang mereka dari bukit Aby Qubaish marah melihat
Bilal yang berkulit hitam itu naik di atas ka’bah. Namun, apa
daya mereka sudah melakukan perjanjian.
Perjanjian yang menguntungkan umat Islam itu menjadi
saat‐saat yang paling membahagiakan. Tanah kelahiran
tercinta dan Baitullah yang mereka muliakan dapat mereka
kunjungi. Umat Islam dapat melaksanakan umrah bersama
Rasulullah dengan hikmat. Saat itu kaum kafir Quraisy
mengosongkan Kota Mekkah untuk umrahnya umat Islam
selama 3 hari.
Tidak dapat saya bayangkan kebahagiaaan umat Islam
saat itu. Kerinduan pada tanah air dan pada Baitullah yang
menyatu dalam umrah yang damai. Tanpa perang dan
gangguan juga melaksanakan ibadah umrah bersama yang
kekasih tercinta Rasulullah SAW sebagai pemimpinnya. Oh….
Alangkah indahnya.
***
Setitik Embun di Tanah Suci | 135
136 | Fataty Maulidiyah
Bertemu Orang‐Orang
B erada di Tanah Suci di musim haji menjadi suatu ajang
silaturahmi internasional. Menurut saya, kita harus
membuka diri dengan sesama muslim dari negara lain.
Dengan syariat inilah Allah mengumpulkan hambanya dari
seluruh penjuru dunia untuk menyembah dan mengesakan‐
Nya di Tanah Suci yang mulia Makkah Al‐Mukarramah.
Perintah Allah untuk mengenal bangsa lain disebutkan
dalam QS. Al Hujurat 13 yang artinya, “Hai manusia,
Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki‐laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa‐
bangsa dan bersuku‐suku supaya kamu saling kenal‐mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi
Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Di sinilah tempat dan saatnya mengamalkan surat
tersebut. Saat di mana bertemu sesama umat Islam di seluruh
dunia. Saya banyak bertemu orang meski hanya sekadar
mengucap salam atau berswafoto. Namun, ada saat‐saat saya
menghabiskan beberapa waktu berbincang dengan mereka
baik ketika berada di Masjidil Haram, masjid Nabawi, atau
dalam kendaraan.
Ketika di masjdil haram di waktu zuhur, saya dibimbing
suami untuk mendapat tempat salat wanita dan diberi pesan
agar tidak ke mana‐mana sampai waktu magrib dan harus
Setitik Embun di Tanah Suci | 137
menunggu di jemput. Suami mencari tempat lain yang saya
tidak tahu. Mungkin bergabung di jemaah laki‐laki.
Setelah menyamankan diri, tempat yang asalnya longgar
berangsur‐angsur penuh. Beberapa jemaah perempuan
berdatangan. Seorang perempuan berwajah Asia Selatan
kelihatannya entah Pakistan, Bangladesh, atau India meminta
saya bergeser sedikit agar mendapat tempat. Saya
memberinya tempat. Kami pun bersalaman dan saling
senyum.
Saya melanjutkan tadarus saya. Saya menghentikan
sejenak tadarus saya untuk minum. Di saat itulah perempuan
yang berusia sekitar 45 tahun atau lebih mengajak saya
berdialog. Saya menutup Al‐Qur’an untuk saya lanjutkan
nanti. Saya menyambutnya dan berniat akan meresponnya.
Kami berbicara dalam bahasa masing‐masing. Mulai
menanyakan asal negara. Kemudian dia menawarkan diri
untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Saya mengiyakan
dan mengisyaratkan setuju menggunakan bahasa Inggris
meskipun saya hanya bisa sedikit. Bahasa inggris ala orang
chatting.
Kami saling menyebutkan nama. Namanya Salma dari
Pakistan. Dia seorang janda dengan dua anak laki‐laki. Dia
seorang guru matematika. Lalu saya menyampaikan bahwa
saya juga seorang guru. Guru pengajar Al‐Qur’an Hadis di
State Islamic High School atau Madrasah Aliyah Negeri.
Dia menceritakan dengan antusias bagaimana dia
mengajar. Bu Salma ini juga menanyakan apakah guru di
Indonesia menggunakan seragam. Saya mengiyakan. Dia
bilang di Pakistan guru tidak memakai seragam, tetapi
138 | Fataty Maulidiyah
memakai sari. Seperti busana orang india. Dia lalu
menunjukkan beberapa foto di ponselnya. Rambutnya
panjang berwarna pirang kecoklatan. Memakai banyak
gelang, berbusana sari ala India. Yang kelihatan perutnya
sedikit. Di sebuah kelas. Cantik.
Saya lebih banyak mendengarkan dan bertanya. Bu Salma
yang antusias bercerita. Dia mengatakan gaji guru di pakistan
sebulan sekitar 600 Dollar atau sekitar 6‐7 jutaan. Juga ada
tunjangan‐tunjangan lain. Setelah membicarakan dunia
sekolah, Bu Salma menanyakan di hotel mana saya tinggal
selama di Mekkah. Kalau bu Salma di kawasan Aziziyah. Dia
haji dengan adik laki‐lakinya. Dia juga bercerita sudah
beberapa kali umrah.
Perbincangan bergeser pada
kuliner di Mekkah. Dia bilang
suka sekali dengan Ayam goreng
Al‐Baik. Ya. Saya mengetahui
fried chicken itu sangat ngetren
di Mekkah dari Youtube. Tapi
saya tidak begitu tertarik. Di
mana‐mana dan merk apa pun
ayam goreng ya begitu‐begitu
meskipun beda merk. Lalu saya
bilang saya suka nasi biryani.
Bu Salma bilang nasi biryani
ala Pakistan itu enak. Warnanya lebih kuning dan pedas. Dia
menyampaikan resepnya pada saya. Lalu saya bilang di
Indonesia ada nasi kuning. Bumbunya mirip hanya di kasih
santan. Cuma saya salah ucap. Maksudnya santan, tapi
Setitik Embun di Tanah Suci | 139
menyebutnya “Coconut Oil, mestinya Coconut Milk. Waktu itu
dia bilang “ What, it is for Hair.“ Kami pun tertawa bersama
sambil saya ralat, “ Its Coconut Milk, not Coconut Oil, Sorry.”
Makin asyik perbincangan kami. Lalu dia mengeluarkan
Al‐Qur’annya kami pun sama‐sama mengaji setelah swafoto
bersama sebagai kenang‐kenangan. Kami bertukar akun Fb.
Di waktu lain, saat saya salat zuhur di masjid area baru.
Saya tidak kedapatan tempat karena masuk masjid ketika
menjelang azan. Seorang perempuan berwajah manis
memberikan tempat, sepertinya kami sebaya. Dia tersenyum,
membantu saya menggelar sajadah dan bersalaman. Kami
pun berkenalan.
Namanya Nadia 41 tahun dari Bangladesh. Ibu muda dua
putri. Sangat ramah dan lemah lembut. Dia bilang bersyukur
sekali bisa haji karena tahun‐tahun sebelumnya mengalami
kesulitan. Kami berbincang dalam bahasa Inggris seadanya.
Kami tidak bisa berbincang lama karena waktu zuhur tiba dan
setelah itu suaminya menjemput
demikian juga suami saya. Tapi,
kami saling swafoto di Hp masing‐
masing.
Di Madinah pun saya bertemu
lagi dan berbincang‐bincang
dengan seseorang. Selama di
Madinah, suami membebaskan
saya beraktivitas sendirian. Sebab
kalau sudah masuk masjid, kita
pisah. Di situlah naluri mbolang
saya melonjak‐lonjak. Sesekali saja
140 | Fataty Maulidiyah
saya belanja dengan suami. Suami lebih suka di kamar di
antara waktu habis subuh menunggu zuhur, sedangkan saya
suka berkelana ke mana‐mana sendirian. Kadang teman
perempuan sekamar lebih suka dengan suaminya.
Suatu ketika di waktu zuhur, saya memilih tempat untuk
mengaji dan menunggu waktu salat. Sekitar pukul 11 siang. Di
Madinah ini membaca Al‐Qur’an bisa leluasa dengan suara
agak keras. Respon jemaah di sekitar kita juga baik. Berbeda
ketika di Mekkah. Ketika saya bertadarrus, saya mengaji
dengan suara sebagaimana saya ngaji di rumah. Seorang
perempuan bermata biru membelalakkan matanya ke arah
saya sambil bilang, ”Sssshhhh!” telunjuknya mengisyaratkan
tutup mulut jemarinya di gerakkan horizontal sejajar dengan
bibir sambil menatap saya dengan tajam. Isyarat yang saya
tangkap adalah, Sshhh! Jangan keras‐keras baca Qur’annya,
berisik!”. Sakit hati saya. Namun, hanya dalam hati saja. Saya
mengaji dengan berbisik‐bisik.
Di Madinah banyak majelis‐majelis baca Al‐Qur’an. Baik di
bagian jemaah khusus laki‐laki maupun perempuan. Suami
saya pernah ikutan. Dia gabung dalam Halaqah (lingkaran
majelis) itu dan ikutan kelas baca Qur’an, suami juga di tashih
seorang ustadz. Begitu dia bercerita. Di bagian jemaah
perempuan juga ada, tetapi saya tidak ikut. Waktu itu saya
mengaji dengan suara seperti saya ngaji di rumah. Saya
bersebelahan dengan seorang perempuan lanjut usia yang
sedang khusyuk mengaji.
Mendengar saya mengaji dia menoleh ke arah saya
sambil mengelus ubun‐ubun saya dan mengucap,
Alhamdulillah,Alhamdulillah. Dia berbicara dalam bahasa yang
Setitik Embun di Tanah Suci | 141
tidak saya pahami. Saya melihat tasnya, Tunisia. Lalu saya
bilang Indonesia. Dia masih berbicara. Kemudian wanita
Tunisia itu memberi saya suatu kitab tipis, Tukhfatul Athfal,
suatu kitab yang pernah saya pelajari di pesantren. Tentang
hukum‐hukum tajwid atau tata cara membaca Qur’an. Saya
mengucap terima kasih. Wanita itu membantu saya
memasukkan kitab dalam tas kecil saya. Ukurannya lebih
lebar dari tas.
Ternyata di sebelah kanan saya adalah anak
perempuannya yang rupanya sedari tadi mendengarkan saya
berbincang dengan ibunya. Muda dan cantik. Dia tidak
berbincang apa pun pada saya. Hanya saja ketika saya pamit
beranjak usai salat zuhur, dia memeluk, mencium kening, dan
dua pipi saya, serta tangan saya. Mengejutkan dan membuat
saya Ge‐Er. Saya merasa ngaji saya biasa‐biasa saja. Seperti
umumnya orang. Suara saya juga tidak merdu. Mungkin
mereka menghormati ayat‐ayat yang saya baca, bukan saya.
Sampai kini kitab pemberian perempuan itu tersimpan di
lemari. Suatu kenang‐kenangan yang indah.
Yang unik dan lucu adalah saya bertemu oppa korea di
Madinah. Pemilik sebuah toko gamis, El Joufrey. Yang berada
di lorong lurus pintu 25 masjid Nabawi. Saya tertarik masuk
toko tersebut karena gamisnya yang cantik‐cantik dengan
harga bervariasi. Toko ini di penuhi perempuan. Termasuk
saya.
Waktu itu saya sedang memilih‐milih gamis. Waktu
melihat ke arah penjual, saya spontan bilang dalam bahasa
jawa, ”Loh ! ono Chino Nang Madinah.“
142 | Fataty Maulidiyah
Sambil tertawa sendiri. Eh tak disangka penjual tadi
mendengar dan dia bisa berbahasa bahasa Indonesia. Dia
menjawab, ”Eh, saya bukan China, tapi saya Korea. Suka orang
Korea?”
Saya hanya menjawab suka lihat Drama Korea. Penjual ini
sangat ramah. Kira‐kira usianya 25 tahun. Karena tokonya
yang sempit berjubel, dia memberi saya kursi dan bilang nanti
saya kasih diskon. Orang Madinah memang ramah.
Sebagaimana karakter sahabat Anshor ketika menerima
kedatangan umat Islam saat hijrah.
Setelah melayani pembeli yang lain, Oppa Korea ini
menanyakan asal negara saya, haji bersama siapa. Dia cukup
sopan dan menghormati saya. Saya membeli 4 gamis waktu
itu dan mendapat diskon 10R. Dia meminta difoto dan selfi
dengan saya.
Dia menyodorkan beberapa kartu nama untuk promo
tokonya. Sejak itu kami saling sapa saja ketika saya pulang
dan berangkat ke masjid. Dia melambaikan tangan dan
berteriak, ”Hai Indonesia!
Saya hanya menjawab dengan lambaian tangan, “Hai
Korea!”
Saya tidak tahu Namanya, saya juga tidak memberi tahu
nama saya. Hanya saling melambaikan tangan saja. Suatu
ketika dia mencegat saya di jalan hanya menawarkan
minuman. Saya menolak dengan halus. Tidak enak
berkomunikasi dengan laki‐laki bukan muhrim. Saya tahu
maksud baiknya. Tapi, ini di Tanah Suci. Saya harus menjaga
haji saya. Berkomunikasi boleh‐boleh saja. Jadi, selama itu
Setitik Embun di Tanah Suci | 143
saya hanya melambaikan tangan saja jika ada yang
memanggil, “Indonesia”.
Beberapa jam sebelum meninggalkan Madinah, saya
bertemu Oppa ini lagi. Dia mendekat, saya bilang nanti malam
saya terbang pulang ke Indonesia. Saya minta maaf. Lalu dia
dengan muka sedihnya bilang, “Kenapa cepat sekali, jangan
lupakan saya, tahun depan semoga kamu bisa ke Madinah lagi,
ingat El Joufrey, pintu 25”.
Saya menjawab, “Amin, amin. Semoga.
***
Masjid, Miqat Qarnul Manazil
144 | Fataty Maulidiyah
Berkunjung ke Thaif
P agi itu Rabu, 28 Agustus 2019 sekitar pukul 6 pagi
seluruh jemaah KBIH berkumpul di depan hotel
menunggu kedatangan bus wisata yang sudah di sewa
untuk mengantar kami tour ke Thaif. Perjalanan Makkah
menuju Thaif di perkirakan memakan waktu 2,5 jam. Kami
masuk bus sesuai rombongan. Ada sekitar 12 kendaraan yang
mengantar kami kesana. Beberapa tempat akan kami
kunjungi antara lain masjid Sahabat Ibnu Abbas, Masjid Quff
(tempat Rasulullah dilempari batu oleh penduduk Thaif),
pasar buah, pabrik parfum, Math’am Bukhari (resto) dan
berakhir di masjid Qarnun Manazil sebagai tempat kami
mengambil Miqat. Hari itu kami wisata dan melaksanakan
umrah untuk ke sekian kalinya.
Kota Thaif merupakan salah satu kota yang berada di
suatu dataran tinggi di Arabia, berjarak sekitar 2,5 jam dari
Kota Mekkah. Selain Kota Thaif yang sangat sejuk dan subur
serta banyak menghasilkan buah‐buahan, kisah Rasulullah
dan Thaif menjadi suatu kisah tersendiri yang dramatis.
Sebelum memutuskan hijrah ke Madinah, Rasulullah
bermaksud hijrah ke Thaif. Namun, penduduk Thaif menolak
kedatangan beliau juga menolak ajarannya.
Beliau kemudian diolok‐olok, dicaci maki, dan dilempari
batu‐batuan serta kotoran hewan. Saat itu banyak darah
bercucuran dari luka beliau. Namun, doa Nabi untuk
Setitik Embun di Tanah Suci | 145
penduduk Thaif adalah “Semoga anak‐cucu mereka (penduduk
Thaif) kelak akan memeluk agama Islam.“
Doa Rasulullah benar adanya. Meskipun ditolak
penduduk Thaif di masa itu ,setelahnya banyak pemeluk
agama Islam dari kalangan mereka di generasi berikutnya.
Karena itulah untuk memperkuat syiar Islam di sana
Rasulullah mendelegasikan Ibnu Abbas.
Sahabat Ibnu Abbas adalah sahabat Nabi yang memiliki
hubungan kekerabatan yaitu ayahnya (Abbas) merupakan
paman Nabi. Ibnu Abbas sejak kecil sekitar usia 9‐15 tahun
sering bergabung dengan halaqah keilmuan bersama Nabi
dan para sahabat lainnya. Tampak kecerdasan dan
kemampuan pemahaman yang tinggi terutama dalam hal
maksud wahyu Allah. Rasulullah sendiri merekomendasikan
beliau sebagai Mubayyin (Intrepeter/penafsir) setelahnya jika
umat Islam kesulitan dalam memahami Al‐Qur’an.
Sebagai mufassir masa sahabat Ibnu Abbas telah
menghasilkan karya tulis berupa “Tafsir Ibnu Abbas”. Selain
berpengetahuan luas dalam memahami ayat‐ayat Al‐Qur’an,
beliau juga aktif dalam meriwayatkan Hadis. Banyak Hadis
shahih yang periwayatannya melalui beliau. Beliau jugalah
yang menurunkan seluruh kekhalifahan dengan nama Bani
Abbasiyyah. Abbasiyah di rujuk pada keturunan dari paman
Nabi yang termuda yakni Abbas Bin Abdul Muthallib.
Di Thaif, Ibnu Abbas sangat aktif dalam syiar Islam. Beliau
dimakamkan di Kota Thaif juga. Terletak di ketinggan 1700 M
di atas permukaan laut suasana sekitar masjid ibnu abbas
serasa sejuk dan teduh. Di depan masjid banyak para
pedagang menjajakan buah yang menyegarkan. Delima,
anggur, pisang, apel, dan sebagainya.
146 | Fataty Maulidiyah
Bahkan, menurut informasi muthawwif (sebutan guide),
Thaif pada musim dingin turun salju. Tak heran kota ini sangat
subur. Masjid Ibnu Abbas didirikan pada 592 H. Disebut
Masjid Ibnu Abbas karena letaknya yang berdampingan
dengan Maqbarah Ibnu Abbas. Setelah berwudu, lalu salat
sunnah Thahiyyatul Masjid, saya berjalan berkeliling masjid
wanita dan halaman depannya menikmati semilir sejuknya
hawa Kota Thaif sembari merenung dan mengingat sejarah
betapa perjuangan Rasulullah dan para sahabat dalam
menyebarkan ajaran Allah senantiasa dilakukan dengan
sungguh‐sungguh tak kenal lelah.
Rasulullah dan Kota Tha’if
Saat itu intimidasi dan serangan kaum kafir Quraisy
semakin menjadi‐jadi pada Rasulullah. Kepemimpinan kaum
Quraisy yang semula dipegang oleh paman Nabi Abu Thalib,
digantikan oleh Abu Lahab. Perlindungan terhadap dakwah
Nabi sudah tidak ada. Suatu hari Nabi pulang dengan luka‐
Setitik Embun di Tanah Suci | 147
luka dan penuh kotoran unta, Siti Fatimah menangisi ayahnya
sambil membasuh dan membersihkan luka itu.
“Sudahlah jangan menangis, anakku. Allah akan melindungi
anakku”. Kemudian Rasulullah mencari pertolongan pada
Tsaqif, salah seorang penduduk Thaif. Keputusan beliau ini
semakin mengindikasikan posisi beliau yang semakin sulit di
Mekkah. Terlepas dari kebenaran akan mengalahkan
segalanya apa yang bisa diharapkan dari seorang Tsaqif. Ia
adalah penjaga kuil berhala Latta.
Rasulullah mencoba di suatu tempat di Thaif. Namun,
segerombolan budak‐budak kaum kafir telah diperintahkan
mengejar dan meneriaki Nabi. Beliau kemudian
menyelamatkan diri di sebuah kebun anggur. Ketika beliau
masuk ke kebun tersebut gerombolan budak itu pun bubar.
Beliau mengikat untanya pada sebatang pohon kurma. Beliau
berteduh dan bermunajat disana.
Kebun tempat nabi berteduh ini adalah milik tokoh suku
Abd Asy Syams, yaitu Uthbah dan Syaibah. Saat itu keduanya
sedang duduk‐duduk di tepi kebun anggur yang subur.
Mereka menyaksikan kejadian Nabi dikejar dan diserang
gerombolan orang. Keduanya tergerak untuk menolong
beliau.
Pemilik kebun anggur itu pun menyuruh budaknya yang
masih muda bernama Addas seorang Kristen. Mereka berkata
pada Addas, ”Ambilkan setangkai anggur dan air minum untuk
laki‐laki yang bertediuh di sana.” Addas melakukan apa yang
diperintahkan tuannya. Ketika nabi akan memakan anggur
tersebut, beliau mengucap Bismillahirrahmanirrahim. Dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.
148 | Fataty Maulidiyah
Addas menatap nabi dengan seksama seraya
berkata,” Ucapan itu tak lazim diucapkan pendidik negeri ini”.
Lalu Nabi balik bertanya, ”Dari negeri mana kamu berasal
dan apa agamamu”, “Agamaku Kristen dan aku berasal dari
Ninawa.”
Kemudian Nabi berkata, ”Ninawa adalah tempat Yunus Bin
Matta, hamba Allah yang saleh”.
”Dari mana kau tahu tentang Yunus Bin Matta?” tanya
Addas.
“Dia adalah saudaraku, dia adalah seorang nabi, aku juga
seorang nabi,” jawabnya. Kemudian Addas memeluk nabi,
mencium kepala, tangan, dan kaki beliau.
***
Pasar Buah Kota Thaif
Setitik Embun di Tanah Suci | 149
Gerbang Ibnu Abbas
150 | Fataty Maulidiyah
Wada’, Pergi untuk Kembali
Tawaf Wada’
Hari itu tiba. Hari di mana saya dan jemaah haji kloter 64
dijadwalkan meninggalkan Kota Mekkah sekitar pukul 16.00
waktu Arab Saudi. Hatiku gelisah, sedih juga gembira karena
selanjutnya kami akan menuju Kota Cahaya, Madinah Al‐
Munawarah. Kota di mana jasad suci Rasulullah bersemayam.
Tawaf wada’ sebagai tanda kita berpamitan pada Baitullah
kami laksanakan setelah salat Subuh di Masjidil Haram.
Berangkat sekitar pukul 4.
Pagi itu seperti biasa suasana riuh orang bergerak tanpa
henti. Orang tawaf dan sai sambil membaca doa‐doa. Saya
dan suami memilih tawaf di ring 1 mendekat sedekat‐
dekatnya ke Baitullah. Meskipun ini simbol berpamitan, saya
tawaf seraya berbisik, “Ya Allah Ya Rabb, kami akan datang
lagi memenuhi undangan‐Mu, duhai Baitullah, aku pergi untuk
kembali”.
Kami berenam bersama teman sebelah kamar Tawaf dan
menangis bersama. Air mata itu tak kunjung reda. Di antara
kami tidak ada yang berbicara. Kami tenggelam dalam tangis
masing‐masing. Di akhir putaran ke tujuh kami menepi,
memandang ka’bah yang makin jauh, yang meninggalkan,
padahal kami yang menjauh. Saya memandang ka’bah
dengan air mata basah di seluruh wajah. Saya melambaikan
Setitik Embun di Tanah Suci | 151
tangan dan mengecup dari kejauhan rasanya seperti berpisah
dengan kekasih.
Saya mengusap kedua mata sambil mengucapkan
hamdallah tak terhitung. Sungguh kenikmatan pandang yang
tak terkira. Seperti mimpi. Lalu kami berenam menepi
melaksanakan salat sunnah tawaf dan sujud syukur. Tangisan
kami meledak dan dada terasa sesak. Kami menangis
bersama‐sama. Tangis bahagia karena bisa menunaikan haji,
tangisan sedih karena saatnya meninggalkan Baitullah
tercinta. Kami sama‐sama mengatakan bahwa kami bukan
pamit. Kami yakin suatu saat akan kembali.
Haji Perpisahan Rasulullah
Ketika berada di Madinah Nabi dan para sahabat memiliki
kebiasaan beri’tikaf di masjid selama sepuluh hari
pertengahan bulan Ramadan. Namun, pada tahun itu
Rasulullah mengajak iktikaf pada para sahabat sampai
sepuluh hari di akhir Ramadan.
Setiap tahun di bulan Ramadan jibril menemui Rasulullah
untuk memastikan bahwa wahyu‐wahyu yang telah
diturunkan sedikit pun tidak ada yang luput dari ingatan Nabi.
Tahun itu, setelah I’tikaf beliau mengungkapkan suatu rahasia
kepada putrinya Fathimah yang belum boleh diceritakan
kepada orang lain, ”Jibril membacakan Al‐Qur’an kepadaku
dan aku membacakan kepadanya sekali setahun, tetapi tahun
ini dia membacakannya dua kali. Aku menduga waktuku telah
tiba.” Fathimah meneteskan air mata.
Bulan syawal telah berlalu. Pada bulan kesebelas
diumumkan di seluruh Madinah bahwa Nabi sendiri yang akan
152 | Fataty Maulidiyah
memimpin jemaah haji. Berita ini disebarkan ke berbagai suku
di padang pasir. Orang datang berbondong‐bondong ke oasis
itu dari segala penjuru. Dalam setiap langkahnya mereka
sangat gembira berkesempatan haji bersama Nabi. Ibadah
haji kali ini sangat berbeda dengan yang dilakukan beratus‐
ratus tahun silam.
Seluruh jemaah akan menyembah hanya pada satu Tuhan
dan tidak ada lagi para penyembah berhala yang akan
mencemari Rumah Suci dengan mengadakan ritus‐ritus
kemusyrikan. Lima hari sebelum akhir bulan Nabi keluar
Madinah memimpin 30.000 lelaki dan perempuan. Para isteri
turut serta ditemani oleh sahabat Abdurrahman Bin Auf dan
Ustman Bin Affan. Abu Bakar ditemani istrinya, Asma.
Saat mentari tenggelam pada hari kesepuluh sejak
meninggalkan Madinah, Nabi sampai di jalan yang beliau
lintasi saat memasuki Mekkah pada hari kemenangan. Di
sanalah beliau bermalam dan paginya beliau menuruni
lembah. Ketika sampai di dekat ka’bah, beliau mengangkat
tangannya, berdoa hingga tali pelana untanya jatuh. Yang
kemudian beliau ambil kembali dengan tangan kirinya
sementara tangan kanannya tetap menengadah ke arah
langit dan berdoa:
“Ya Allah tambahkanlah pada rumah suci‐Mu ini kemuliaan,
keagungan, kemakmuran, dan kehormatan serta ketaatan bagi
manusia”.
Kemudian beliau tawaf tujuh kali lalu salat di maqam
Ibrahim lalu menuju bukit Shafa berlari‐lari tujuh kali antara
Shafa dan Marwah. Orang‐orang yang bersamanya merekam
Setitik Embun di Tanah Suci | 153
baik‐baik dalam ingatan mereka berbagai bacaan pujian dan
doa yang Nabi lantunkan disetiap tempat.
Kembali ke masjid beliau kini memasuki ka’bah bersama
penjaganya, Utsman dari Abd ad Dar juga disertai Bilal dan
Usamah. Namun, sore harinya saat menemui Aisyah di tenda
beliau tampak bersedih dan Aisyah menanyakannya.
“Aku telah melakukan sesuatu hari ini,” kata beliau, “yang
tidak akan kau lakukan. Aku memasuki rumah suci dan
mungkin umatku tidak akan dapat memasukinya.”
Maksud beliau adalah pada tahun‐tahun mendatang
umat Islam hanya diperintahkan mengitari ka’bah saja tanpa
memasukinya. Haji itu adalah haji terakhir Rasulullah. Dalam
tahun tersebut 632 M adalah tahun wafatnya Nabi
Muhammad SAW. Setelah haji wada’, beliau menemui
sahabatnya dan umat Islam. Saat itu matahari tenggelam di
waktu senja. Beliau menemui mereka dan menyampaikan
pesan.
“ Hai Manusia! Simaklah baik‐baik apa yang hendak aku
katakan karena aku tidak tahu apakah aku dapat bertemu lagi
dengan kalian sesudah tahun ini”. Kemudian beliau menasihati
mereka agar memperlakukan satu sama lain dengan baik,
mengingatkan mereka apa yang diperintahkan dan dilarang.
Akhirnya beliau berkata, ”Aku tinggalkan untuk kalian dua
petunjuk yang jelas. Jika kalian berpegang teguh kepadanya
maka akan terhindar dari semua kesalahan. Keduanya adalah
Kitab Allah dan sunnahku. Hai umatku, dengarlah kata‐kataku
dan pahamilah.”
154 | Fataty Maulidiyah
Lalu Nabi membacakan sebuah ayat yang baru saja
diterimanya dari jibril. Ayat itu menyempurnakan Al‐Qur’an
karena merupakan wahyu terakhir yang diturunkan.
“Pada hari ini, kaum kafir telah berputus asa untuk
mengalahkan agamamu, maka janganlah kalian takut pada
mereka melainkan takutlah kepada‐Ku!. Hari ini telah aku
sempurnakan bagimu agamamu dan telah Kucukupkan nikmat‐
nikmatKu bagimu dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi
agamamu.” (QS.Al Maidah:3).
***
Ka’bah seusai Thawaf Wada’
Setitik Embun di Tanah Suci | 155
Menuju Madinah
S ore itu pada 30 Agustus 2019, hotel Sama El Deaffa
kelihatan sangat sibuk. Para jemaah haji sudah
mengemas kopor besar maupun travel bag yang akan
dibawa menuju Kota Suci Madinah. Sekitar pukul 16.00 WAS,
semua diinstruksikan turun ke lobi hotel. Kopor besar dulu
yang diturunkan sejak jam 8 pagi untuk penataan. Beberapa
pemuda kulit hitam membantu mengangkat kopor‐kopor itu
dalam bus yang sudah berjajar di tepi jalanan kawasan
Mahbas Jin.
Saya belum move on dari Kota Mekkah. Wada’ tadi subuh
masih melekat dalam benak dan menyisakan rasa sedih dalam
hati. Saya sudah menyatu dengan kota ini. 32 hari bukanlah
waktu yang pendek. Saya masih mengingat keseharian di
kota ini. Belanja di pagi hari, memasak, mencuci baju di lantai
10, dan menjemurnya di atap hotel lantai 17. Lalu berkemas‐
kemas bak anak sekolah.
Menyiapkan ransel berisi Al‐Qur’an kecil, tissue, permen,
majmu’, tasbih digital, parfum, sandal, sarung tangan, kaos
kaki, tempat sandal, botol kosong untuk mengisinya dengan
zam‐zam, lalu berangkat menuju terminal penjemputan
menuju Masjidil Haram. Saya juga tidak melupakan pelayanan
hotel ini. Petugasnya yang ramah, membantu menyalakan
wifi di loby hotel, siap setiap waktu kalau dimintai
pertolongan atau memberi layanan membersihkan kamar di
lantai 3 tempat saya tinggal.
156 | Fataty Maulidiyah
Saya juga masih mengingat sapaan‐sapaan pedagang
sayur langganan. Yang tokonya hanya 10 meter di sebelah
hotel kami. Mereka suka melayani dengan bahasa Indonesia.
Riuhnya pasar kaget dekat terowongan pejalan kaki.
Pedagang kopyah, tasbih, gamis, kayu siwak, tasbih koka,
juga pengemis‐pengemis yang berwajah rupawan. Saya juga
merindukan ratusan burung dara di taman yang sering saya
kejar sepulang dari masjid. Alangkah indah saat‐saat itu.
Saya masih di lobi hotel menunggu panggilan nomor
rombongan untuk masuk bis. Lobi terasa sesak dan riuh. Ada
sekitar 3 kloter yang ada di hotel ini. Kloter 63, 64, dan 65.
Kami harus sabar menunggu giliran evakuasi. Antara sedih
dan gembira. Sedih karena sudah tiba saatnya meninggalkan
Kota Mekkah dengan segala pesona dan ceritanya, gembira
karena kami akan menuju kota Cahaya.
Pukul 17.00 kami semua sudah berada dalam bus yang
siap mengantar menuju Madinah. Di situlah saya memulai
memperbanyak shalawat sejak bus ini bergerak
meninggalkan hotel. Sebanyak‐banyaknya. Jika tertidur atau
makan saya berhenti. Selanjutnya saya hanya menggerakkan
bibir membaca shalawat dalam perjalanan yang makin gelap.
Saya memandang di sisi kiri jendela. Papan nama
berpendar bertuliskan Arab yang berarti “Selamat Tinggal
Mekkah” menggoreskan rasa sedih sejenak dalam hati. bus
bergerak beriring‐iringan. Suasana makin gelap. Jarak
Mekkah dan Madinah sekitar 453 Km ditempuh 9 jam
perjalanan. Ketika tiba waktu isya, kami transit di suatu
tempat yang saya tidak tahu namanya. Ada beberapa
pedagang, kedai minuman, masjid, dan minimarket. Setelah
Setitik Embun di Tanah Suci | 157
itu, perjalanan kami hanya diiringi pemandangan pegunungan
batu.
Perjalanan sangat nyaman dan lancar. Jalan tol yang rata,
lebar sangat menenangkan kami sehingga perjalanan yang
jauh itu tak terasa lelahnya. Untung saja saya dan suami
membawa bekal buah, minuman, dan roti untuk mengganjal
perut kami karena tidak ada konsumsi yang disediakan dalam
perjalanan ini. Saya menatap luar jendela yang saat itu
gerimis. Jendela kaca ini basah berembun.
Gerimis di luar sana. Meskipun jalan ini bukanlah rute
hijrah Nabi bersama para sahabat, saya membayangkan
betapa sulitnya Nabi menempuh perjalanan jauh ini melewati
gunung‐gunung batu yang tajam dan keras, berjalan kaki
maupun menaiki unta. Saya menatap jendela lalu munculah
adegan hijrah itu seperti yang digambarkan dalam buku‐buku
yang saya baca.
Hijrah Rasulullah dan Para Sahabat
Kemarahan kaum kafir Quraisy menjadi‐jadi. Mereka
bahkan merencanakan pembunuhan kepada Muhammad.
Berhijrahnya beberapa rombongan orang‐orang mukmin
yang berangkat lebih dahulu menambah kelengangan Kota
Mekkah. Rumah‐rumah besar ditinggalkan penghuninya dan
berisi orang‐orang lanjut usia.
Pengikut Muhammad bertambah dari waktu ke waktu.
Kini mereka berangsur‐angsur meninggalkan Mekkah. Kota
yang dahulu tampak sejahtera dan penuh kedamaian dapat
berubah hanya dalam waktu 10 tahun. Lantaran satu orang
itu, Muhammad.
158 | Fataty Maulidiyah
Kaum kafir Quraisy melakukan suatu konspirasi untuk
merencanakan pembunuhan pada Muhammad. Lalu jibril
datang padanya dan memberitahukan apa yang harus
dilakukan. Waktu sore hari Muhammad pergi ke rumah Abu
Bakr waktu kunjungan yang nampak tidak biasa. Abu Bakr
mengerti bahwa suatu hal penting akan terjadi. Aisyah dan
kakaknya Asma sedang bersama ayahnya saat Nabi datang.
Beliau berkata, ”Allah mengizinkanku untuk meninggalkan
kota ini dan berhijrah.” Aisyah menuturkan bahwa ia tidak
pernah melihat ayahnya Abu Bakr sebahagia itu hingga
menangis.
Setelah itu, Nabi menuju rumah Ali memberitahukan
maksud keberangkatannya menuju Yatsrib (Madinah). Beliau
menyuruh Ali untuk tetap tinggal di Mekkah sampai semua
barang‐barang yang dititipkan di rumahnya selesai
dikembalikan dan menjaga keamanan pemiliknya. Nabi sudah
dikenal sebagai Al‐Amin. Masih banyak orang kafir yang
mempercayainya. Nabi juga memberitahu Ali bahwa jibril
telah memberitahu rencana jahat kafir quraisy pada dirinya.
Rumah Nabi dikepung. Nabi menyuruh Ali berbaring di
tempat tidur dan memakai selimutnya.
“Tidurlah kau di tempat tidurku! Selimutilah dirimu dengan
selimut Hadramiku ini! Tidurlah di sana sebab mereka tidak
akan mencelakaimu”.
Kemudian beliau mulai membacakan surat Yasin ketika
sampai pada kalimat, ”Dan Kami adakan di hadapan mereka
dinding dan di belakang mereka dinding pula, dan Kami tutup
(mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”
(QS.36:9).
Setitik Embun di Tanah Suci | 159
Nabi telah bersama Abu Bakr menuju dua unta yang
sudah berpelana. Satu ditunggangi Nabi dan satunya Abu
Bakr bersama putera lelakinya Abdullah. Sebagaimana telah
direncanakan mereka melintasi rute menuju sebuah gua di
gunung Tsur agak ke selatan, jalan ke arah Yaman karena
mereka mengetahui ada mata‐mata yang menguntit mereka.
Nabi keluar Kota Mekkah. Di suatu perbatasan luar Kota
Mekkah Nabi memberhentikan untanya. Memandang ke arah
tanah airnya.
“Dari seluruh bumi Allah engkaulah tempat yang paling aku
cintai dan paling dicintai Allah. Jika kaumku tidak mengusirku,
aku tidak akan meninggalkannmu”.
Amir Bin Fihayra, budak Abu Bakr diminta
menggembalakan kambing‐kambingnya, mengikutinya agar
menghilangkan jejak‐jejak unta Nabi dan Abu Bakar. Namun,
kafir Qurasiy telah melakukan sayembara bagi yang bisa
mencari jejak Nabi dan Abu Bakar, mereka berhasil
mengetahuinya. Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di gua
Tsur. Keheningan bukit tempat mereka bersembunyi pecah
oleh kicau burung. Sepasang burung merpati yang sedang
mengepakkan sayap‐sayapnya, membuat sangkar dan
bertelur sana. Sejenak terdengar suara orang yang tidak jauh
dari mereka berada.
Ada sekitar enam orang yang mendekati gua itu. Raut
wajah Abu Bakar gundah dan sangat cemas. Nabi menoleh ke
arah Abu Bakar seraya berkata,” Laa Tahzan Innallaha ma’naa,
Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS 9:40).
Enam orang itu menjauh dari bukit. Nabi dan Abu Bakr
menyiapkan diri menunggang unta menuju rute Mekkah‐
Yatsrib.
160 | Fataty Maulidiyah
Rombongan sahabat yang lain juga melanjutkan
perjalanan menunggang unta dan kuda lalu setelah
meninggalkan gua Tsur dan sampailah mereka di lembah
Aqiq. Dengan melintasi lembah, mereka juga mendaki lereng
gunung bebatuan yang hitam terjal. Ketika sampai di bukit
terakhir terlihat sebuah dataran yang hijau dari kejauhan.
Nabi memutuskan bertahan di sana. Suatu lembah yang
hijau subur dengan lahan anggur banyak pula pepohonan
yang rindang. Lembah subur itu bernama Quba’. Penduduk
Quba sebagian telah mengetahui kedatangan Nabi.
Sebelumnya penduduk oasis itu telah disinggahi para sahabat
yang lebih dulu berangkat. Kedatangan utusan Allah sudah
mereka nantikan.
Orang‐orang Quba berdatangan, melewati lahan dan
kebun. Wanita, pria dan anak‐anak berlari‐larian menyambut
Nabi dan sahabat Abu Bakar. Tampak pakaian putih beliau
sangat kontras diantara pemandangan hijau di sekelilingnya.
Lalu Nabi menemui mereka dan berkata, “Hai orang Quba,
sambutlah satu sama lain dengan salam kedamaian, berilah
makan orang‐orang lapar, sambunglah silaturahmi, salatlah di
saat‐saat orang‐orang sedang tidur. Jika kalian melakukannya
kalian akan masuk surga dalam kedamaian.” Di tempat ini Nabi
mendirikan masjid untuk pertama kalinya.
Nabi tiba di Madinah pada hari senin, 27 September 622
M. Berbagai kabar menyampaikan bahwa penduduk Madinah
sudah tidak sabar menunggu kedatangan beliau. Selama tiga
hari tinggal di Quba dan mendirikan masjid di sana, di lembah
rainuna, Nabi salat bersama Bani Salim dari suku Khazraj yang
telah menunggunya. Saat itu hari jumat. Di tempat itu pula
Setitik Embun di Tanah Suci | 161
Nabi melakukan salat jumat yang pertama. Masjid itupun di
namai masjid Jumat.
Beberapa orang dari suku Najjar dan Bani Amr mengawal
Nabi dan Abu Bakr di sayap kanan dan kirinya. Disertai
pakaian perang dan pedang yang terhunus. Mereka juga
terdiri dari suku Aus dan Khazraj berperan sebagai penjaga
Nabi dan membuktikan janjinya untuk melindungi Nabi
bukanlah omong kosong belaka. Meskipun mereka sadar
Nabi tidak memerlukan perlindungan saat ini ataupun di
waktu kemudian.
***
Lokasi di Masjid Quba
162 | Fataty Maulidiyah
Madinah Pertama
T iada hari yang paling membahagiakan melebihi hari itu.
Penduduk Madinah bersuka cita membentuk pagar
badan yang memanjang menyambut Rasulullah.
“Selamat datang wahai Nabi Allah! Selamat datang wahai Nabi
Allah!” Begitulah luapan kegembiraan yang diserukan
berulang‐ulang oleh lelaki, perempuan juga anak‐anak yang
berbaris di sepanjang jalan.
Qashwa memperlambat langkahnya dan berjalan secara
mengesankan seperti ketika lewat di tengah‐tengah kebun
dan pepohonan kurma. Rumah‐rumah di Madinah masih
sedikit dan jarang‐jarang. Namun, secara perlahan‐lahan Nabi
dan rombongan masuk lebih dalam ke pemukiman. Banyak
yang menawari undangan. “Mampirlah di sini wahai
Rasulullah, karena kami memiliki kekuatan dan perlindungan
bagimu serta kekayaan yang melimpah.”
Lebih dari sekali seseorang atau sekelompok dari suatu
kabilah memegang tali kekang Qashwa. Akan tetapi, Nabi
hanya memberkati mereka dan berkata, “Biarkan unta ini
berjalan karena ia berada dalam perintah Allah”. Qashwa
tampaknya memilih suatu tempat di antara kediaman kerabat
terdekat Nabi dari Bani ‘Adi, cabang Bani An‐Najjar kabilah
terbesar suku Khazraj.
Ternyata Qashwa berlalu saja. Lalu Qashwa terus berjalan
diamati banyak orang karena jika dia berhenti di situlah Nabi
akan tinggal. Qashwa menuju tempat salat yang sempit milik
Setitik Embun di Tanah Suci | 163
As’ad, Qashwa berlutut, Nabi belum turun dari Qashwa.
Qashwa beranjak lalu berhenti tidak jauh dari tempatnya
berlutut. Kali ini dia berlutut. Qashwa merapat dadanya ke
tanah. Lama.
Nabi turun dan berkata, ”Inilah tempat kediamanku,
insyaallah!”
***
Saya tertidur lama. Suara‐suara jemaah dalam bus
membangunkan lelap. Ternyata bus sudah sampai di depan
hotel. Hotel Mubarak Silver inilah yang saya tinggali selama 9
hari. Selama itulah jemaah haji melaksanakan Arba’in atau
salat 40 waktu di Masjid Nabawi. Hukumnya sunnah, tetapi
bagi kami para jemaah haji juga saran Kiai pembimbing,
selama 8 hari kita upayakan melaksanakan 5 waktu penuh di
masjid Nabawi, serta usahakan kita ziarah ke makam Nabi di
raudhah.
Saat itu sekitar pukul 2 dini hari. Para jemaah mencari
kopor‐kopor yang diturunkan oleh petugas hotel. Mereka
juga membantu mengangkatnya sesuai pembagian kamar.
Suami sebagai ketua regu sibuk menata anggotanya. Saya
disuruh istirahat di kursi lobi. Tak berapa lama kami sudah
sampai di kamar. Tidak seperti di Mekkah, hotel ini tidak
menyediakan tempat masak. Jika kita ingin makan selain jatah
katering kita bisa beli di resto dan kedai yang banyak sekali di
sekitaran hotel.
Petugas haji menginformasikan bahwa masjid Nabawi
hanya lurus 300 meter. Betapa bahagianya. Hanya jalan kaki
kami sudah sampai. Rata‐rata hotel jemaah haji Indonesia
berada sangat dekat dengan masjid. Tidak perlu naik
164 | Fataty Maulidiyah
kendaraan. Suatu kemudahan
yang tidak pantas dilewatkan
begitu saja.
Setelah menata kamar
senyaman mungkin, kami
sekamar berempat tak sabar
ingin segera ke masjid Nabawi
meskipun lelah melanda setelah
menempuh 9 jam perjalanan
dari Mekkah. Setelah mandi,
berganti pakaian, kami
berangkat sekitar pukul 03.30
waktu Madinah. Masjid dibuka sekitar pukul tiga. Saya
berjalan dengan hati gembira. Tak sabar langkah‐langkah ini
untuk bisa segera sampai di masjid.
Sesuai arahan pembimbing, kami harus menandai, di
mana pun kami berkelana di masjid, kalau keluar carilah pintu
25. Pintu 25 adalah tanda arah hotel. Saya mengingat pesan
itu dengan baik. Pintu 25 lurus 300 meter sudah sampai hotel.
Saya memasuki gerbang khas masjid Nabawi ini yang banyak
direplika masjid‐masjid maupun mushala di tanah air.
Alangkah tinggi dan besar pintu keemasan itu.
Saya memilih posisi tidak begitu jauh ke dalam. Sangat
sepi. Saya segera melaksanakan salat sunnah Tahiyyatul
Masjid, dan salat sunnah lainnya. Dua bocah Arab mendekati
saya. Ternyata yang mengasuh adalah orang Indonesia dari
Madura. Saya berbincang sejenak. Dia hanya menyampaikan
asalnya dan dua tahun sudah di Madinah sebagai pengasuh.
Setitik Embun di Tanah Suci | 165
Karena terlihat lucu, saya selfi sebentar dengan dua anak kecil
itu.
Sujud pertamaku di Nabawi terasa lama. Saya menghirup
dalam‐dalam karpet merah itu. Ornament masjid hitam putih
di atas kepala itu membuat saya tak percaya bahwa akhirnya
bisa berada di tempat mulia ini. Khataman Qur’an sesi 3 saya
mulai. Ini adalah amalan ibunda ketika haji yang dicatat dalam
buku agenda hariannya yang dibawa ketika ibadah haji, baik
di tahun 1996 maupun 2013 lalu. Saya menirunya. Persis.
Khataman pertama mulai di baca di pesawat ketika niat
ihram harus selesai ketika di Arafah. Khataman kedua setelah
ifadhah (selesai rangkaian haji) harus dikhatamkan sebelum
berangkat ke Madinah, dan setiba di Madinah ini saya
memulai juz 1 harus selesai sebelum pulang ke tanah air.
Azan subuh berkumandang menggema‐gema di penjuru
masjid yang indah ini. Dadaku seperti disiram air dingin dan
sejuk. Mataku menghangat. Saya membisikkan doa di antara
azan dan iqamah berharap dibawa angin menuju tanah
kelahiran. Subhanallah, Madinah pertamaku yang syahdu.
Saya keluar masjid setelah salat Duha di pelataran.
Menikmati fajar merekah yang memecah kegelapan malam.
Langit‐langit di Nabawi tampak sangat menakjubkan. Gradasi
langit yang berganti‐ganti gelap menuju terang beradu
dengan menara dan payung‐payung masjid yang bermekaran.
Pandanganku berbinar‐binar. Saya seperti anak kecil yang
sedang diajak bertamasya. Subhanallah. Nikmat pandangan
yang tiada bandingnya.
Seekitar pukul tujuh saya pulang ke hotel. Untuk
beristirahat menunggu waktu zuhur. Kata suami, nanti
166 | Fataty Maulidiyah
berangkatnya tidak boleh mepet, kami sepakat berangkat ke
masjid sekitar pukul 11 siang.
***
Setitik Embun di Tanah Suci | 167
Berburu Raudhah
T ak ada yang lebih mengharukan manakala mengingat
kembali perjalanan saya mendekat di makam beliau di
masjid Nabawi. Sebuah moment di mana saya yang
hina ini ingin menyapa beliau dari dekat. Di mana beliau
bersemayam. Lalu bersimpuh menyampaikan shalawat di
hamparan karpet hijau itu.
Meninggalkan Kota Mekkah saat itu di musim haji 2019
lalu, setelah bermukim selama hampir 32 hari, rindu saya
membuncah. Saya membayangkan betapa bahagianya
perjalanan menuju sang kekasih agung, panutan seluruh umat
manusia, makhluk terbaik yang pernah di ciptakan, Rasulullah
Muhammad SAW.
Waktu itu setelah zuhur para jemaah haji dievakuasi dari
Kota Mekkah, menempuh perjalanan panjang dengan bus
membelah jalanan menuju Kota Cahaya, Madinah. Sepanjang
jalan saya memutar tasbih entah berapa kali berharap
shalawat ini terdengar sampai makam beliau.
Setelah menempuh perjalanan darat sekitar 9 jam
rombongan kami tiba di Kota Madinah. Saat itu gelap karena
masih pukul 2 dini hari. Kami cek in di Hotel Mabarak Silver,
tempat kami tinggal selama 9 hari.
Tak jauh dari hotel kami, petugas haji memberitahukan
bahwa masjid Nabi hanya 300 meter. Di kejauhan tampak
gerbang masjid yang masih ditutup dan nanti akan dibuka
sekitar pukul 3 dini hari. Meski lelah dan mengantuk, saya
168 | Fataty Maulidiyah
berencana salat Tahiyyatul Masjid, salat malam, sambil
menunggu salat jemaah subuh untuk pertama kalinya.
Kemudian saya dan suami mulai menata‐nata kopor di kamar
serta barang‐barang agar nyaman ditempati kami berempat.
Setelah istirahat sejenak, saya langsung mandi dan
bersiap berangkat menuju masjid Nabawi yang selama ini
hanya saya lihat di foto‐foto teman yang haji atau umrah, juga
di google image. Tak sabar rasanya saya berjalan cepat‐cepat.
Jalanan dari hotel hanya lurus saja melewati pertokoan dan
tibalah saya masuk melalui pintu 25.
Subhanallah, hati saya berdebar dan air mata menetes
hangat di pipi. Menghayati bahwa di sini bersemayam 3
manusia mulia, Rasulullah SAW, Abu Bakar Ashiddiq, dan
Umar Bin Khattab. Sebuah persahabatan yang agung dan
mulia sampai di liang lahat.
Hari pertama pagi hari saya masih belum ke Raudhah,
menunggu bimbingan dan arahan Bu Nyai kami yang ternyata
menginformasikan bahwa setelah jemaah salat Isya kami
bersama‐sama ke Raudhah. Setelah salat isya berjemaah, saat
itu saya memilih tempat dekat pintu kayu yang ada monitor
flat di mana informasi Raudhah dibuka untuk peziarah wanita.
Sambil menunggu pintu yang dibuka sekitar pukul 11 malam.
Saya harus menahan diri agar tidak batal dengan
melakukan banyak salat sunnah, membaca Al‐Qur’an, dan
tentu saja mengkhatamkan shalawat jazariyah sebagai
wasilah dan salam pada beliau.
Setelah petugas mengisyaratkan pintu akan dibuka, kami
jemaah wanita dari berbagai Negara Asia, menghambur ke
arah pintu kayu dan saling berdesakan. Setelah petugas
Setitik Embun di Tanah Suci | 169
membuka, kami berhamburan sambil sama‐sama menangis
berlari‐lari seperti orang yang dilanda kerinduan yang
menyesak tak sabar bertemu dengan kekasih.
Lalu saya duduk di bawah naungan 6 payung yang
menaungi area depan raudhah untuk wanita. Sambil
menunggu antrian dipanggil, saya tak henti menangis di
sajadah. Melafalkan kalimah Hamdalah dan sujud syukur.
Bahwa saya yang banyak dosa dan hina ini berada beberapa
meter saja dari makam Rasulullah SAW.
Setelah, itu petugas mengizinkan kami masuk dengan
derai air mata, hiruk pikuk peziarah yang melantunkan
shalawat tak ada yang tidak menangis meski kami
berdesakan.
“Assalamu’alaikum ya Sayyidina Rasulullah,
Assalamu’alaikum ya Sayyidina Abu Bakar, Assalamu’alaikum ya
Sayyidina Umar.”
Saya sesenggukan tanpa henti. Tak peduli badan dan
kepala saya berbenturan dengan badan peziarah lain. Saya
sebut‐sebut nama almarhum kedua orang tua, memanggil
mereka bahwa saya sudah di Raudhah, membayangkan
bahwa keduanya telah mendengar suara saya dengan
gembira.
Hanya 15 menit saja perjuangan pertama saya di
Raudhah, petugas sudah menggiring kami keluar karena di
belakang kami masih banyak peziarah yang menunggu giliran.
Saya keluar sekitar pukul satu malam.
Keesokan harinya saya mulai menyusun strategi.
Perjuangan menuju raudhah yang kedua adalah bakda subuh.
Saya memilih waktu ini supaya pulang ke hotel tidak larut
170 | Fataty Maulidiyah
malam. Raudhah hanya di buka di 2 waktu, bakda isya pukul
23.00‐01.00 dan pagi di buka pukul 07.30‐09.00 untuk sekian
ribu jemaah.
Menikmati waktu subuh di dalam masjid Nabawi sungguh
syahdu dan indah. Apalagi di area dekat gerbang kayu itu.
Setiap pukul 6 kubah besar di atas kami yang akan menuju
Raudhah bergeser dan tampaklah langit biru dan awan putih,
beberapa burung merpati yang masuk tampak sangat
menakjubkan.
Para peziarah wanita selalu riuh dan mengabadikannya
dengan kamera ponsel. Saya pun tak ketinggalan. Merekam
detik‐detik bergesernya kubah sebagai kenangan yang tidak
terlupakan.
Kali ini saya tidak tergesa‐gesa. Saya malah bersantai‐
santai di area payung 6. Membiarkan jemaah lain yang
dipanggil masuk lebih dahulu, saya memilih belakangan saja
agar tidak berdesakan. Benar saja, terlihat petugas yang
duduk kelelahan memanggil sisa peziarah termasuk saya
masuk ke Raudhah.
Raudhah lebih lengang dan longgar, saya bisa berganti‐
ganti tempat untuk salat sunnah, saya menikmati lebih
banyak waktu sekitar 25‐30 menit di sana. Lebih lama
dibanding sebelumnya.
Perjuangan saya memilih waktu subuh ini, tak salah. Saya
bisa menikmati sejuk dan indahnya suasana pagi masjid
Nabawi ini pasca ziarah Raudhah dengan berjalan‐jalan
mencari view yang bagus untuk dokumentasi.
Suatu ketika saya ingin sekali berfoto dengn latar
belakang Kubah Hijau di mana di bawahnya tepat adalah
Setitik Embun di Tanah Suci | 171
makan Nabi. Dari pintu 25 saya berjalan menuju pintu 35‐40,
kata jemaah haji yang saya temui adalah tempat yang
dimaksud.
Saya berjalan terus sampailah di mana saya di area
tersebut. Panas dan sepi. Terlihat beberapa orang dari negara
lain menangis sesenggukan menatap kubah hijau,
melantunkan shalawat sambail mengangkat dua tangan
layaknya orang memanjatkan doa. Saya menatap kubah hijau
itu dari kejauhan, menangis bahagia, mensyukuri tiada henti
menikmati pandangan mata sambil terus bermonolog rindu.
Rindu pada Nabi saw, para sahabat, dan kedua almarhum
orang tuaku.
Setelah itu saya meminta tolong sepasang peziarah dari
tanah air untuk mengambil foto saya. Dengan background
kubah hijau itu. Sebagai kenangan bahwa diri yang selalu
diliputi dosa ini pernah menginjakkan dengan telapak kaki
yang kotor ini, mendekat‐lekat dan tepat di “Taman Surga”.
Saya ingin menyampaikan pada Rasulullah segala
kerinduan dan keluh kesah, menumpahkan rintihan‐rintihan,
menggumamkan cita‐cita yang mungkin terlalu tinggi agar
bisa meminum air telaga itu langsung dari telapak tangan
beliau dan mendapat syafaatnya di akhirat kelak nanti.
Allhummasholli ala sayyidina Muhammad.
***
172 | Fataty Maulidiyah
Setitik Embun di Tanah Suci | 173
Madinah City Tour
A da dua kegiatan Madinah Ciry Tour untuk kami. Yang
pertama diadakan oleh pihak Hotel Mubarak Silver
sebagai salah satu bentuk pelayanan dan yang di
adakah oleh KBIH. Hari itu pada 2 September 2019, jam 6 pagi
kami sudah masuk bus yang disediakan pihak manajemen
hotel. Seperti biasa untuk kloter kami sekitar 12 bis. Menurut
informasi ada beberapa tempat yang kami kunjungi antara
lain : Masjid Khandaq, Qiblatain, kebun kurma, masjid Quba,
dan Jabal Uhud.
Excited. Saya sangat antusias. Pagi itu cerah, bus berjalan
dengan kecepatan sedang melewati jalur‐jalur dalam Kota
Madinah. Kota yang didirikan oleh Rasulullah SAW. Saya
menikmati pemandangan yang cukup berbeda dengan Kota
Mekkah. Di Mekkah kanan kirinya kebanyakan pegunungan
batu, sedangkan di Madinah sudah banyak gedung‐gedung
tinggi. Penataannya cukup modern dan sangat bersih.
Kami sampai pada tujuan pertama yaitu Masjid Khandaq.
Masjid Khandaq merupakan masjid yang tempat di mana
sahabat Salman Al Farisi membantu Rasulullah membuat
parit. Parit ini dibuat untuk melindungi diri dari serangan
kaum kafir yang tidak henti‐henti memusuhi Nabi. Dalam
perang Khandaq tidak ada pertumpahan darah. Beberapa
utusan musuh Nabi jatuh ke parit, selanjutnya tenda‐tenda
mereka porak‐poranda di serang angin puyuh. Saat itu umat
Islam menang tanpa perang.
174 | Fataty Maulidiyah
Hari itu kami tidak turun mendekati Masjid Khandaq
hanya lewat saja dan mengambil gambar seadanya dari dalam
bis. Perjalanan dilanjutkan ke Masjid Qiblatain. Kami semua
turun untuk melaksanakan salat sunnah Tahiyyatul Masjid dan
Duha berjemaah. Masjid Qiblatain merupakan saksi bisu
berubahnya arah kiblat umat Islam dari masjidil Aqsa
Palestina berganti ke Baitullah Mekkah. Ada dua mimbar di
sana. Satu menghadap ke arah Masjid Al‐Aqsa dan mimbar ke
kiblat sekarang.
Mimbar lama dijadikan sebagai hiasan saja. Tidak ada
rongganya. Seperti hiasan dalam bentuk jendela. Saya tidak
bisa mendekat mimbar tersebut karena berada di tempat
jemaah laki‐laki. Saya meminta suami
mendokumentasikannya untuk saya.
Saya bersama sekitar 15 jemaah perempuan melakukan
duha bersama. Masjid ini tidak begitu besar. Disediakan
eskalator di sana untuk menuju lantai dua, tempat untuk
jemaah perempuan. Masjid Qiblatain juga dilengkapi
perpustakaan. Ada toko buku di depannya, sayangnya toko
tersebut tutup.
Di depan masjid Qiblatain yang sekilas mirip masjid Quba’,
banyak pedagang. Saya tertarik dengan pedagang batu akik
Yaman yang berwarna oranye. Tampak sangat berkilau. Batu‐
batu itu ada yang masih mentah. Masih natural bentuknya.
Sebagian sudah diolah bulat‐bulat seperti kelereng ditaruh
dalam mangkuk‐mangkuk. Saya hanya memegang saja. Saya
tidak berkenan membeli sebab waktu di Mekkah sudah
membeli tasbih akik Yaman sejumlah 3. Saya hanya membeli
Setitik Embun di Tanah Suci | 175
sepasang sandal untuk sehari‐hari ke Masjid. Sandal karet
sederhana itu hanya 10R.
Tempat berikutnya yang dituju adalah wisata kebun
kurma. Wisata kebun kurma ada di mana‐mana. Konsepnya
adalah supermarket besar yang menjual aneka kurma dari
berbagai jenis. Penataannya yang nyaman, pengunjung bebas
mengincipi sepuas‐puasnya. Saya menyebutnya surganya
kurma.
Saya tidak belanja kurma. Saya serahkan sepenuhnya
pada suami. Saya hanya ngevlog dan bikin adegan inci‐incip
kurma. Subhanallah. Nikmat nian kurma‐kurma itu. berbagai
jenis. Pelayannya banyak yang dari indonsia. Begitu 12 bus
berhenti di parkiran pemilik tempat tersebut dengan hormat
membuka pintu toko dan menyambut para jemaah dengan
ramah.
Pintu dibuka selebar‐lebarnya. Kami berhamburan
menuju pusat toko. Kami juga diberi sebungkus kurma dan air
mineral sebagai tanda selamat datang. Di luar toko bagian
belakang ternyata ada kebun kurma. Ada spot selfi. beberapa
bangku dan sofa serta pohon‐pohon kurma yang rindang.
Saya pun berfoto‐foto ria.
Setelah dari kebun kurma perjalanan berlanjut ke masjid
Quba. Masjid ini merupakan masjid yang pertama kali
didirikan Nabi dalam perjalanan hijrah ke Madinah.
Bangunannya yang putih memperindah panorama di
sekelilingnya. Banyak pedagang di sana seperti di Masjid‐
masjid yang saya singgahi. Di sana saya membeli 2 botol
Minyak zaitun untuk bude saya. Saya juga menikmati
setandan kurma basah. Warnanya merah dan ukurannya
176 | Fataty Maulidiyah
besar‐besar. Diberikan gratis oleh pedagang yang melihat
rombongan kami berduyun‐duyun turun dari bus. Rasanya
seperti buah sawo. Segar dan renyah.
Perjalanan tour kami berakhir di Jabal Uhud. Suasana
sangat panas. Kalau melihat di layar ponsel suhunya saat itu
sekitar 45 derajat. Suami dan beberapa teman lelakinya
bermaksud mendaki ke bukit uhud. Di sana juga banyak
pengunjung. Tempat yang dituju itu merupakan tempat di
mana Nabi menempatkan 50 pemanah pada perang uhud.
Karena mereka tidak taat dengan perintah Nabi barisan
pertahanan itu jebol. Umat Islam saat itu mengalami
kekalahan.
Dalam sejarah, perang uhud adalah perang yang paling
berat. Dalam perang tersebut paman Nabi, Sayyidina
Hamzah, gugur dengan cara mengenaskan. Beliau wafat
terkena tombak. Yang dilesatkan oleh Washis, budak kulit
hitam yang disewa oleh Hindun istri Khalid BinWalid yang saat
itu belum masuk islam.
Hindun menaruh dendam lantaran ayahnya gugur di
medan perang Badar. Ayahnya terbunuh oleh Hamzah.
Hindun mendatangi jenazah Hamzah dengan penuh dendam
kesumat. Dipotong dua telinganya, dicongkel dua biji
matanya, juga dadanya di belah.
Hindun mengambil jantung Hamzah dan mengunyahnya
lalu memuntahkaannya kembali ke jasad Hamzah. Saat
mengetahui keadaan jenazah sang paman, Rasulullah marah
besar. Beliau berteriak dan memerintahkan pasukannya
untuk menyayat 7 jenazah musuh setiap 1 jenazah umat Islam
Setitik Embun di Tanah Suci | 177
yang syahid. Beliau juga kecewa pada 50 pemanah yang tidak
taat.
Lalu turunlah wahyu Allah padanya, “Maka disebabkan
oleh rahmat Allah kamu bersikap lemah lembut pada mereka,
sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, niscaya
mereka meninggalkanmu, maafkanlah kesalahan mereka, dan
mohonkan ampun untuk mereka. Dan bermusyawarahlah
dalam setiap urusan, Maka jika kamu telah bertekad bulat,
bertawakkallah pada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang‐orang yang bertawakkal.” (QS. Ali Imran 159)
Padang uhud sangat panas. Saya lihat suami masih asyik
menjelajah. Saya dilanda rasa sesak. Aura peperangan besar
itu sangat terasa. Saya selfi sebentar dilatar belakangi medan
perang di mana Rasul mengalami luka‐luka yang parah. Dalam
kekalahan peperangan ini beliau berpesan pada umat Islam,
ada yang lebih besar dari perang ini, yakni “Perang melawan
hawa nafsumu sendiri”.
Saya membeli es krim cone ukuran besar untuk
menghilangkan dahaga. Terasa segar di tengah cuaca yang
panas. Di antara teriakan‐teriakan pedagang yang
menawarkan barang saya menepi, menata hati, meraba‐raba
diri betapa saya sering berpihak pada hawa nafsu sendiri.
***
178 | Fataty Maulidiyah
Latar Belakang Foto Medan Perang Uhud
Setitik Embun di Tanah Suci | 179
Hari Terakhir di Madinah
H ari itu Sabtu, 7 September 2019, adalah hari terakhir
saya berada di Kota Madinah Al‐Munawarah. Terasa
sangat singkat. Tidak genap 9 hari. Hari‐hari begitu
cepat berlalu dan belum juga saya menuntaskan rindu pada
Rasulullah SAW, rindu pada anak‐anak di rumah juga tidak
terbendung.
Saya awali hari itu dengan salat malam berangkat sekitar
pukul 03.30 WIB. Saya menunggu Raudhah terakhirku.
Merapat di dinding kayu itu menanti saat‐saat di buka
gerbangnya, lalu berlari‐lari kecil dan bernaung di bawah
enam payung yang teduh. Saya memperbanyak salat sunnah
di depan Raudhah. Memilih barisan akhir agar mendapat
tempat yang longgar dan waktu yang lama.
Saya melanjutkan shalawat jazariah. Riuh para peziarah
yang tidak sabar masuk Raudhah tidak mengusik
ketenanganku menunggu. Saya meneguk dua gelas air zam‐
zam. Sambil terus membaca shalawat serta menekan tasbih
digital yang entah menuju angka berapa. Seorang laskar
wanita memanggilku. Laskar itu menyelonjorkan kakinya,
melambaikan tangan ke arahku dan mempersilahkan masuk.
Karpet hijau itu sangat lapang. Selapang hatiku. Saya
salat sunnah dan sujud syukur di beberapa sudut. Saya ingin
meninggalkan banyak jejak di sana. Tempat ini adalah tempat
Rasulullah dan para sahabat berkumpul. Menyampaikan
wahyu, dan Hadis. Semua orang mulia pernah di sini. Para
180 | Fataty Maulidiyah
Imam Madzab, wali, ahlussuffah, perawi Hadis dan ulama.
Saya ingin berlama‐lama.
Sekitar 30 menit saat itu saya juga membuat video
pendek yang mengarah pada doa khatam Qur’an berlatar
belakang karpet raudhah sebagai kenang‐kenangan. Saya
memeluk tiang bermotif bunga kuning itu yang lurus ke arah
makam Rasulullah. Saya bermonolog. Setelah itu, seorang
petugas menepuk pundakku untuk mempersilahkan keluar.
Saya berjalan pelan meninggalkan Raudhah melalui selasar
bernuansa hijau.
***
Kegiatan saya berikutnya adalah berkemas‐kemas, kopor
besar sudah diturunkan. Saya memastikan bahwa tidak ada
yang ketinggalan. Kami dijadwalkan masuk Bandara King
Abdul Aziz sekitar pukul 24.00. Saya harus menuntaskan
Arbain sampai isya. Pada waktu magrib tiba, saya memilih
salat di pelataran. Tiap jam 6 pagi dan sore saya menyaksikan
mekar dan nguncupnya payung‐payung nabawi. Sangat
indah.
Senja itu menjelang magrib, payung‐payung itu
menguncup bersamaan. Rasa‐rasanya seperti simbol
berakhirnya saya berada di kota suci ini. Senja yang sendu.
Saya bertahan sampai waktu isya. Setelah itu segera pulang
menuju hotel untuk berkemas. Merelakan kemuliaan masjid
dan Raudhah di belakangku karena hari itu saatnya tiba. Kami
jemaah haji kloter 64 dijadwalkan check out hotel sebelum
pukul 24.00.
Saya tidak bisa tidur. Saya memeriksa HP untuk
menghubungi anak‐anak di rumah mengabarkan bahwa kami
Setitik Embun di Tanah Suci | 181
sudah waktunya pulang. Grup kantor pun muncul banyak
notifikasi. Ada salah satu pengumuman yang mengejutkan
karena jadwal kunjung haji orang sekolahan rute pertamanya
adalah rumah saya. Ada 4 rekan sekolah yang haji saat itu.
Dari Madinah ini saya mengatur persiapan itu semua.
Saya menyuruh anak sulung mengambil tas di lemari yang
ada ATM‐nya menarik sejumlah uang untuk memesan
hidangan bagi 300 orang di hari Senin. Sajian‐sajian dan lain
sebagainya. Alhamdulillah semua beres.
Kami menuju bandara King Abdul Aziz. Benak dan hati
kami sudah melayang‐layang di tanah air. Ingin memeluk anak
dan sanak saudara. Di Bandara itu kami menunggu waktu
agak lama karena pemeriksaan barang oleh pihak Imigrasi.
Tidak boleh ada muatan tambahan selain travel bag yang kecil
itu. Banyak saya lihat orang meninggalkan barang‐barangnya.
Sebagian sudah berinisiatif dikirim pulang melalui ekspedisi
kirim barang yang tersedia di depan masjid. Mahal memang.
Saya tidak memiliki masalah dengan muatan barang
karena saya tidak membeli banyak. Semua barang itu sudah
ada di Indonesia. Hanya beberapa saja untuk kenang‐
kenangan. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi di waktu
subuh, kami semua sudah lengkap berada di pesawat.
Penerbangan sekitar 9 jam sampai di juanda dan kami transit
di Sukolilo.
Kami sampai sekitar pukul delapan malam WIB. Di
sukolilo diadakan upacara penyambutan dan sebagainya.
Kami di panggil satu per satu untuk mengambil kopor di
gudang besar dan menerima 10 liter Zam‐zam. Beberapa
jemaah ada yang menjemputnya dari Asrama Haji ini. Namun,
182 | Fataty Maulidiyah
suami dan teman satu kamar sepakat naik bus yang
disediakan untuk mengantar kami di pendopo kabupaten.
Kami sampai di pendopo sekitar pukul 12 malam. Di sana
kami disambut pejabat dari Pemerintah Kabupaten,
Kementerian Agama, dan sebagainya menyambut kami
dengan hormat. Kakak dari suami menjemput kami.
Membantu membawa kopor dan mengantar kami pulang.
***
Kubah Nabawi Saat Bergeser pada Pagi Hari Dekat Raudhah
Setitik Embun di Tanah Suci | 183
Bertemu Keluarga
A cara di pendopo telah selesai, kami satu mobil
berlima dengan keponakan suami yang mengantar
kami menuju rumah. Perjalanan ibadah kami telah
selesai. Berikutnya saya sudah tidak tahan menciumi dan
memeluk anak‐anak. Mereka sangat tangguh. Tidak ada
masalah selama kami tinggalkan. Sehat dan lancar
sekolahnya. Alhamdulillah.
Bahkan, mereka bisa menyiapkan hidangan‐hidangan
untuk tamu sekitar jam 8 pagi nanti. Di rumah. Sebelum
banyak tamu sekitar jam 2 pagi, anak sulung saya sudah
menyiapkan nasi bebek lengkap dengan es teh dan krupuk
sesuai pesanan saya. Saya rindu makanan kampung. Kami
bercengkrama sambil makan bersama.
Menjelang subuh saya naik ke kamar. Saya mandi dan
merebahkan diri. Saya mendengar teman‐teman suami sudah
mampir di ruang tamu dan kedengaran ramai. Saya masih
memilih di lantai atas. Istirahat untuk kemudian menyiapkan
tenaga menyambut tamu yang akan terus berdatangan
sampai lima hari ke depan.
Saya masih rindu berbincang‐bincang dengan anak‐anak.
Tetapi, tamu‐tamu itu datang tak henti‐henti. Namun, rasa
lelah ini sudah terbayar oleh perjalanan 42 hari di Tanah Suci.
Jika di Tanah Suci kami telah dihormati, maka saatnya ketika
kami datang ke tanah air harus bersedia menghormati tamu‐
184 | Fataty Maulidiyah