Jamarat Aqabah
S etelah merampungkan jamarat Ula dan Wustho, kami
para jemaah sudah tidak terlalu merasa berat karena
sedikit banyak sudah mengetahui medan. Jarak yang
ditempuh sama, tetapi rasanya lebih dekat. Kami juga
berjalan santai namun lebih cepat. Pihak maktab 44 juga
mendelegasikan petugas untuk mendampingi kami agar tidak
ada jemaah yang tertinggal dan tersesat. Kami juga merasa
cukup istiahat.
Pelaksanaan jamarat aqabah saat itu bertepatan dengan
13 Agustus 2029 yakni 4 hari sebelum hari Kemerdekaan RI.
Sengaja juga aku mengenakan pakaian bertema
kemerdekaan. Saya memakai jubah merah, hijab putih, dan
ikat kepala merah menyala. Semangat nasionalisku tetap
kunyalakan sembari berangkat menuju jamarat. Jikalau
Kemerdekaan Indonesia adalah direbut dari tangan penjajah,
maka jamarat Aqabah ini adalah merebut nafsu dari pengaruh
dan godaan setan.
Pembimbing haji tetap menjadwalkan lempar jamarat
pukul 3 dini hari. Kami bangun laksana pasukan yang
dikomando untuk perang. Menyiapkan bekal, merapatkan
ikat pinggang dan ransel, memakai kaos kaki dan sepatu.
Adapula yang membawa bendera. Kami berangkat serempak
penuh semangat dalam barisan yang rapat.
Dalam sejarah jamarat Aqabah sebagaimana jamarat Ula
dan Wustho adalah menapktilasi keluarga Ibrahim as yang
Setitik Embun di Tanah Suci | 85
diganggu setan. Jamarat Ula adalah Ibrahim yang melempar
setan, jamarat Wustho adalah setan menggoda Siti Hajar, dan
jamarat aqabah adalah seluruh keluarga Ibrahim yakni diikuti
oleh Siti Hajar dan puteranya Ismail secara bersamaan
melawan godaan setan dengan melempar batu bersama‐
sama.
Momentum ini terjadi pada saat Nabi Ibrahim sedang
menuju perjalanan ke sebuah tempat untuk menyembelih
Nabi Ismail. Tak henti‐henti setan berusaha menghentikan
niatnya namun kekuatan taat pada Allah lebih besar. Langkah
beliau dan puteranya Ismail tak terhentikan. Mereka
melempar batu ke arah setan sebanyak 7 kali sambil
mengucap, “Bismillahi Allahu Akbar.”
Akhirnya kami tiba di dekat tugu. Kami merapat lalu
mengeluarkan kerikil dalam genggaman tangan melemparnya
ke arah tugu mengucap dengan sepenuh tenaga
menapaktilasi Ibrahim dan puteranya, setelah itu sambil
berjalan ke arah pulang kami bertakbir. Lorong‐lorong Mina
digaungi kalimah takbir. “Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu
Akbar Walillahil Hamdu.“
Sekitar waktu 04.30 waktu Mina, kami salat Subuh
berjemaah. Di mana‐mana orang salat. Dalam perjalanan
penuh suka cita saling sapa para jemaah dari seluruh dunia
bersalaman, saling foto dan sedikit berbincang. Petugas juga
menyemprotkan air dingin ke arah para jemaah dan
melambaikan tangan. Saya berhenti di tepian memandang
jauh ke bawah terlihat kelap‐kelip lampu Kota Mina di waktu
subuh yang syahdu. Subhnallah, jamarat yang tak terlupakan.
86 | Fataty Maulidiyah
Kami tak lagi bertanya‐tanya ke arah mana, kami tinggal
mengingat apa yang telah kami lalui di hari‐hari kemarin. Lagi‐
lagi saya berpose sejenak di jembatan layang sambil melihat
ke bawah melambaikan tangan pada para jemaah haji
meskipun tidak kami kenali. Langit kian putih. Saya
mengepalkan tangan menatap ke arah kamera handphone
suami, sambil berpose saya memekikkan kata “Merdeka!”
Tak lupa kuucapkan doa untuk negeriku. “Dirgahayu negeriku
yang ke‐74 semoga menjadi negeri yang tentram baldatun
thoyyibatun warabbun ghafuur “.
***
Jamarat, Mina
Setitik Embun di Tanah Suci | 87
Bertolak dari Mina
J amarat Aqabah selesai sekitar pukul 06.30. Kami semua
sudah tidak begitu mengalami kesulitan setelah edisi
mengucapkan Dirgahayu Kemerdekaan RI di atas
jembatan layang. Saya dan suami berjalan menuju tenda.
Jalanan setelah terowongan sangat ramai. Banyak jemaah
yang mampir ke kedai‐kedai jalan Mina. Aroma samosa dan
kebab amat harum menusuk hidung. Tetapi, saya dan suami
ingin segera bersih‐bersih diri dan packing meskipun rasa hati
ingin mampir ke kedai karena info penjemputan bus menuju
Mekkah tiba sekitar pukul 10.00.
Setelah tiba di tenda lalu membersihkan diri dan ganti
pakaian, kami sarapan lalu packing. Memastikan tidak ada
yang ketinggalan. Hari masih pagi sekitar pukul tujuh. Saya
merebahkan diri sambil menunggu komando dari petugas
maktab Mina. Namun, ketua rombongan kami rupanya lebih
memilih menunggu bus di depan maktab. Mungkin punya
maksud agar dapat bus lebih awal.
Hal itu menyebabkan beberapa jemaah yang istirahat di
dalam tenda ikut‐ikutan keluar. Termasuk saya. Saya keluar
tenda membawa travel bag lebih memilih berpanas‐panas
didepan maktab daripada masuk tenda. Namun, bus‐bus
penjemput yang lewat tak kunjung berhenti. Petugas maktab
sudah menginformasikan bus datang sekitar pukul 10 atau 11
siang, sedangkan saat itu masih pukul delapan pagi. Kami
memang kurang sabar menanti.
88 | Fataty Maulidiyah
Memang keadaan tenda yang berdesakan, kamar mandi
yang harus antre, di tambah rasa lelah menyelesaikan jamarat
membuat kami para jemaah merindukan kamar hotel di
Mekkah. Kami berhamburan keluar kecuali jemaah lansia dan
yang sakit lebih memilih bertahan dalam tenda.
Ketua rombongan tetap memilih menunggu di depan
maktab. Petugas maktab mengimbau pada para jemaah agar
kembali ke tenda. Meyakinkan mereka bahwa penjemputan
dilaksanakan pukul 11.00 WAS.
Saya kembali ke tenda. Tidur lagi karena masih kurang 3
jam. Saya sangat kelelahan, berharap bus segera datang dan
menjemput kami menuju hotel agar pula merasakan kembali
hangatnya springbed dan selimut tebalnya. Kami sudah
sangat rindu Kota Mekkah. Saya tertidur. Entah berapa lama
dan tiba‐tiba saja dibangunkan suami karena bus sudah
datang.
Saya terkejut karena tenda sudah sepi. Tinggal sebagian
kecil saja. Saya sedikit panik. Saya merasa ketinggalan.
Apalagi petugas maktab Mina menyerukan agar kami
mengosongkan tenda. Saya lihat beberapa tas berderet di
depan maktab. Ternyata tas troli milik saya juga sudah ada
yang membawa entah siapa.
Saya segera naik bus meskipun berdesakan. Saya tidak
mendapatkan tempat duduk. Saya pun berdiri berdesakan.
Tak apa. Ujian kesabaran memang belum sepenuhnya selesai
untuk merampungkan seluruh kegiatan haji ini. Saya juga
menenangkan hati bahwa berdiri berdesakan ini tak perlu
waktu lama karena jarak Kota Mina‐Mekkah sekitar 40 menit
saja.
Setitik Embun di Tanah Suci | 89
Bus pun berangkat melambat. Di mana‐mana macet
karena hampir semua dijadwalkan secara bertahap evakuasi
jemaah haji dari Mina menuju Mekkah. bus berjalan, kami
melewati tenda‐tenda Mina dari berbagai negara. Bus menuju
arah yang tidak kami pahami. Mula‐mula ke kota‐kota. Kami
masih menikmati pemandangan. Komplek perumahan elit ala
Arab, pusat pertokoan, dan hotel‐hotel.
Tapi, lama‐lama selama lebih dari satu jam berlangsung
kami mulai dilanda rasa gelisah. Bus berjalan tak tentu arah.
Menuju bukit‐bukit yang sepi. Kami semua penumpang
berjumlah sekitar 60 orang mulai panik. Berusaha
berkomunikasi dengan sopir namun buntu.
Sopir afrika yang terlihat nekad dan tidak bisa diajak
berbicara dalam bahasa apa pun. Salah satu dari kami
berbicara dengan sopir dengan bahasa jawa sedangkan sopir
afrika membalasnya dengan bahasa afrika. Tidak nyambung.
Bus berjalan dari terowongan ke terowongan. Bahkan,
bus meloncat dari pembatas tengah jalan membuat jemaah
makin panik. Laksana di film speed saja. Ternyata di mana‐
mana kota di blokade. Lalu selama sekitar dua jam sebagian
dari kami turun. Rasanya kami tersesat dan sopir afrika tidak
tahu arah jalan.
Sebagian kami memaksa sopir berhenti. Lalu suami dan
dua orang lainnya berinisiatif turun menyewa taksi untuk
mengawal bus menuju Mekkah. Akhirnya dapat juga taksi
yang disewa dengan harga yang fantastis yakni 400 R. Taksi
memang mengawal bus kami yang tersesat.
Dari luar memang tak terlihat bahwa bus kami adalah
tersesat berputar‐putar sekitar 3 jam. Bahkan, para jemaah
90 | Fataty Maulidiyah
mengira ini trik sopir minta biaya tambahan. Tersesat yang
disengaja. Kami para jemaah pun patungan 1‐5 R untuk sopir
agar mau mengantar kami dan tak perlu disesat‐sesatkan.
Namun, rupanya dugaan kami salah. Sopir kami memang
tak tahu jalan dan komunikasipun buntu. Sopir hanya bisa
berteriak, “Ya Allah, ya Allah“ menghadapi jemaah kami yang
kian panik serta berkata‐kata sepanjang jalan dalam bahasa
jawa. Sebagian pun menenangkan diri sambil bershalawat
sebab ini masih ihram. Ini masih haji yang belum kami
rampungkan.
Taksi tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju hotel
kami sebab jalanan diblokade polisi. Hari itu blokade di mana‐
mana. Lalu akhirnya kami memutuskan berhenti dan keluar
dari bus dengan sopir gak jelas ini. Kami ingin istirahat.
Setelah kesepakatan dengan bus bahwa kami memaksa turun
di sebuah tempat yang tidak kami pahami, kami membiarkan
bus meninggalkan kami.
Kami memilih berada di tepian jalan raya agar
mendapatkan pertolongan lain. Sebagian dari kami menelpon
petugas kloter, tetapi tak ada yang bisa dilakukan kecuali
kami harus bisa kembali sendiri dengan menempuh berbagai
upaya. Kami kelelahan. Kami duduk‐duduk di trotoar tepat di
sebuah minimarket. Membeli minum dan buah untuk melepas
dahaga kami. Kami juga didatangi pedagang yang sepertinya
kasihan melihat kami. Membawakan semangka segar dan
dingin yang sudah di iris‐iris.
Ada pula yang membawakan air mineral dua dus, ada
pula yang membawakan kami nasi kebuli beberapa box. Kami
makan dari sumbangan dari orang‐orang arab yang melihat
Setitik Embun di Tanah Suci | 91
kami sebagai jemaah haji yang mengalami masalah. Saya
sendiri tidak panik. Saya yakin pasti akan ada yang menolong
kami.
Lalu ketika kami duduk sambil makan, melintaslah
seorang petugas Indonesia memakai rompi hitam dan ada
logo merah putih. Kami mendatangi dan bertanya pada
petugas tersebut tentang arah menuju Mahbas Jin tempat
hotel kami berada. Ternyata petugas tersebut tak dapat
membantu karena dia juga tersesat.
Lalu beberapa saat kemudian. Rupanya kami menarik
perhatian seorang petugas yang lain karena melihat kami dari
tadi duduk‐duduk di trotoar. Dengan jumlah sekitar 60 orang
pasti terlihat mencolok. Petugas tersebut mendekati kami
lalu menanyakan permasalahan kami. Kami menjelaskan kami
mau menuju hotel kami di kawasan Mahbas Jin.
Petugas tersebut lalu memanggil temannya. Lalu
menjelaskan bahwa mereka bisa membantu. Petugas
tersebut memberitahu kami agar tidak terlihat tercecer
dipinggir jalan, dia mengajak kami menuju hotel di seberang.
Saya lihat hotel tersebut dihuni jemaah haji Indonesia kloter
30an.
Petugas tersebut mengajak masuk untuk istirahat ke lobi,
salat di musala ataupun yang ingin ke toilet. Saat itu sekitar
pukul 16.00 artinya sudah sekitar 5 jam kami terlunta‐lunta
pada arah yang tidak jelas.
Alhamdulillah. Kami mendapat tempat berlindung.
Bertemu jemaah haji Indonesia sepertinya dari kalimantan.
Toilet yang bersih, musala yang nyaman, dan kursi‐kursi yang
92 | Fataty Maulidiyah
empuk di lobi bisa menyamankan kami memulihkan energi
sebelum akan diantar petugas menuju Mahbas Jin.
Petugas ternyata mengetahui arah jalan tujuan kami.
Beliau menyampaikan akan mengawal perjalanan kami. Ya,
kami pulang dengan jalan kaki. Saat itu memang tidak ada
kendaraan bermotor yang lewat. Di mana‐mana orang
berjalan kaki. Kami pun berjalan beriringan dikawal petugas
sejumlah tiga. Saya sendiri karena tidak membawa tas,
membantu membawakan tas jemaah yang lanjut usia.
Langkah kami tertatih‐tatih karena kelelahan.
Saat itu Kota Mekkah sangat kotor. Sampah di mana‐
mana. Yang terlihat hanya orang asing. Eropa, Afrika, Asia
Tengah, jarang kami menemui orang Indonesia. Seperti
berada di tempat antah berantah. Namun, petugas yang saya
sendiri tidak tahu namanya, dengan telaten mengawal kami.
Melewati lorong‐lorong, di bawah jembatan, pasar, dan
tempat‐tempat yang sangat kumuh. Sambil terus
menggumamkan doa dan shalawat setelah berjalan entah
berapa lama, kami akhirnya sampai di tempat yang kami
kenali, yakni terminal Mahbas Jin.
Tak terkira gembira hati kami jemaah yang mendapat bus
dengan sopir pemuda Afrika dan tidak bisa bahasa selain
bahasa negerinya sendiri, membawa kami terlunta‐lunta di
jalanan tanpa arah selama hampir 5 jam. Dengan menangis
gembira, kami sampai di hotel. Hotel yang menjadi rumah
bagi kami selama di Mekkah. Saya lihat tulisan hotel itu begitu
jelas. Hotel Sama El Deaffa.
Di lobi kami disambut para petugas kloter dan kiai
pembimbing, menenangkan kami. Mengucapkan selamat dan
Setitik Embun di Tanah Suci | 93
menyebutnya kami pejuang yang lulus diuji kesabaran. Saya
menangis dan langsung naik lift menuju kamar. Kulihat tas
saya sudah tiba lebih dulu di depan pintu kamar. Sambil
mengucap alhamdulillah.
Saya menghambur di tempat tidur yang sudah 5 hari ini
saya tinggalkan. Alhamdulillah. Selanjutnya setelah bersuci
dari hadas, kami sekamar sepakat melaksanakan tawaf sai
ifadhah pada esok hari waktu asar, sebagai rangkaian akhir
kegiatan kami menyempurnakan rukun islam.
***
Mekkah, Agustus 2019
94 | Fataty Maulidiyah
Ifadhah
S elang sehari dari Mina, alhamdulillah saya sudah suci
dari hadas. Setelah memulihkan tenaga dan masih
menjaga ihram karena rangkaian haji belum selesai,
saya meminta suami membersamai saya. Karena umumnya,
para jemaah tidak menunda. Sepulang dari Mina, esok
harinya sudah melanjutkan tawaf dan sai.
Saya, suami, dan sepasang teman sekamar kami serta
seorang teman beda kamar memutuskan berangkat tawaf
ifadhah setelah asar. Bus shalawat belum ada. Di mana‐mana
jemaah haji yang berangkat ke masjid berjalan kaki. Jarak dari
terminal sekitar 4 km, 3 kali terowongan.
Kami menyiapkan diri. Berdoa semoga kaki‐kaki kami kuat
karena yang kami tempuh nanti sangat panjang. Semua
bertumpu pada kekuatan kaki. Ifadhah yang berat, tapi harus
kami selesaikan rangkaian kegiatan inti haji ini.
Berjalan dengan santai dan konstan agar telapak kami
tidak sakit sebab kami masih akan terus berjalan. Setelah
masuk ke palataran masjid sudah menjelang waktu magrib,
kami langsung menuju area sai untuk mengikuti salat Magrib.
Setelah selesai, kami bergerak ke area tawaf. Semua tempat
penuh dan berdesakan. Di mana‐mana orang tawaf. Riuh
dengan kumandang doa‐doa dan bacaan Al‐Qur’an.
Akhirnya kami berlima memutuskan lantai paling atas
untuk menyelesaikan tawaf. Artinya rute yang kami tempuh
akan sangat‐sangat jauh dengan tujuh putaran. Tidak ada
Setitik Embun di Tanah Suci | 95
yang longgar. Di sekitaran ka’bah, lantai lantai 1, 2, dan yang
kami tempuh ini paling atas terlihat langit. Selama itu harus
fokus pada lampu hijau sebagai tempat memulai dan
pedoman putaran berikutnya. Juga menjaga wudu. Suatu hal
yang sangat sulit. Menjaga wudu, bertahan dengan kelelahan
dan fokus dengan doa serta jumlah tawaf yang sudah
diselesaikan.
Membutuhkan totalitas jiwa raga, akal pikiran, dan hati.
Pada saat yang sama, kami harus menjaga syariat, menjaga
sikap, menjaga kekuatan, menjaga hadas, juga harus khusyuk,
sabar, dan kosentrasi. Suatu hal yang benar‐benar menguji
kami semua setelah apa yang kami lalui di Arafah, Mina, dan
Musdalifah.
Kami salat Isya di mana kami berhenti tawaf.
Berdampingan dengan siapa pun yang dekat dengan kami.
Begitu azan berkumandang, semua jemaah yang berputar‐
putar laksana benda‐benda langit yang berputar pada garis
edarnya masing‐masing. Begitu kumandang azan terdengar
seketika kami berhenti. Kami pun salat jemaah setelah
menemppuh 5 putaran. Masih kurang 2 putaran. Salat Isya
tadi merupakan istirahat bagi kami. Telapak kaki kami terasa
panas.
Setelah mengolesi kaki dengan krim untuk otot kami
melanjutkan lagi sampai selesai 7 putaran tawaf. Tanpa
berhenti kami berlima langsung turun untuk melaksanakan
sai. Kami masih terus berjalan kaki. Dengan sisa‐sisa tenaga
kami. Kami merampungkan sai dan tahallul sekitar pukul 11.00
WAS. Alhamdulillah.
Kami keluar masjid. Mengambil air wudu di wastafel zam‐
zam, saya melakukan sujud syukur tak terhingga. Rangkaian
96 | Fataty Maulidiyah
haji telah kami selesaikan. Sebelum pulang kami sempat
berdiskusi bagaimana teknis kepulangan kami. Kami
berencana menyewa taksi. Namun, setelah bertanya ke sana
kemari. Ada petugas yang memberitahu semua kendaraan
roda empat hari ini masih dilarang. Semua jemaah yang
datang ke masjid ini datang dengan jalan kaki. Baru besok di
perbolehkan. Petugas menyarankan menginap dalam masjid
saja. Menunggu besok bakda subuh.
Saya sudah sangat lelah. Ingin istirahat nyaman di hotel.
Namun, apa daya tidak ada transportasi pun yang ada malam
itu. Maka, dengan sedikit kecewa kami memutuskan pulang
dengan berjalan kaki lagi. Melewati 3 terowongan lagi. Saya
tidak mau menghitung berapa kilometer langkah‐langkah
yang telah kami tempuh. Saya sendiri hanya memfokuskan
diri untuk bersyukur telah melewati seluruh rangkaian haji ini
masih dalam keadaan sehat wal afiat.
Saya berjalan sangat lambat. Telapak kaki dan tungkai
terasa sangat kaku. Tapi, saya harus terus berjalan sambil
membayangkan bahwa hotel telah dekat. Tempat tidur dan
kamar yang sejuk sudah menanti. Untuk menghibur diri saya
minta difoto. Merentangkan tangan di depan terowongan.
Mengekspresikan kegembiraan setelah selesai melewati ini
semua.
Dalam perjalanan pulang ada perempuan yang menepuk‐
nepuk pundak memberi semangat. Saya menjadi
bersemangat dan merasa kuat melanjutkan perjalanan.
Akhirnya sampai juga di terminal yang saat itu tidak ada
busnya. Ternyata saking gembiranya saya tidak langsung
menuju hotel. Saya duduk melemaskan kaki di rumput taman
Setitik Embun di Tanah Suci | 97
terminal. Saat pagi hari tampak indah dengan burung‐burung
dara yeng berkeliaran. Di rumput taman ini saya dan suami
minum, istirahat, dan berfoto‐foto di suasana remang‐remang
lampu taman.
Sangat ramai. Semua kelihatan bersantai menikmati kopi
panas dari penjual. Setelah merasa cukup menyelonjorkan
kaki, teman‐teman kami sudah pulang lebih dulu. Kami
menuju hotel sekitar pukul satu dini hari. Setelah mandi air
hangat, kami tidur dalam kedamaian dan kebahagiaan.
***
Depan Terowongan, Masjidil Haram, Mahbas Jin
98 | Fataty Maulidiyah
Sejarah Kota Mekkah
M ekkah Al‐Mukarramah merupakan negeri Allah
yang suci. Di dalamnya terdapat Ka’bah Al‐
Musyarafah, kiblat umat Islam di seluruh penjuru
dunia. Allah menyebutnya sebagai Ummul Qura sebagaimana
firman‐Nya daam QS. Al An’am 92 yang artinya, ”Agar kamu
memberi peringatan pada penduduk Ummul Qura (Mekkah)
dan orang‐orang yang ada di sekitarnya”.
Allah pun menjadikan Mekah sebagai negeri yang aman
seperti yang terdapat dalam firman‐Nya, “Demi buah Tin dan
Zaitun, demi bukit Sinai dan demi kota (Mekah) yang aman ini”
(QS.At Tin 1‐3).
Allah juga menjadikan sebagai tempat berkumpul
manusia sebagaimana yang difirmankan‐Nya dalam QS. Al‐
Maidah 97, ”Allah telah menjadikan Ka’bah rumah suci itu
sebagai tempat manusia berkumpul.”
Kota Suci Mekkah Al‐Mukarramah berada di 227 M di atas
permukaan laut dan dikelilingi oleh pegunungan batu yang
sangat tandus. Semua terlihat tanah yang berwarna coklat,
batu‐batuan yang besar, juga bukit‐bukit. Semuanya
merupakan batu yang keras. Hampir tidak ada tumbuh‐
tumbuhan di sana.
Nabi Ibrahim dan istrinya, Siti Hajar, beserta anaknya,
Ismail, berhijrah dari Hebron Palestina menuju Mekah yang
masih berupa lembah yang dikelilingi pegunungan.
Setitik Embun di Tanah Suci | 99
Allah berfirman, “Ya Rabb, sesungguhnya aku telah
menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak
mempunyai tanam‐tanaman di dekat Rumah‐Mu (Baitullah)
yang dihormati. Ya Rabb (yang demikian itu) agar mereka
mendirikan salat maka jadikanlah hati sebagian manusia
cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah‐
buahan. Mudah‐mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim
37).
Kemudian Allah memancarkan air di bawah kaki Ismail,
selama masa itu Ibrahim pulang pergi menjumpai istri dan
anaknya tersebut sehingga Allah memerintahkan supaya ia
membangun ka’bah bersama putranya ismail. Lembah yang
tandus itu kemudian sering di singgahi oleh kafilah‐kafilah
dagang yang lewat. Hajar dan ismail dikenal sebagai
penguasa mata air di lembah tersebut. Lalu mulailah dari
mulut ke mulut tersebar bahwa di lembah tersebut terdapat
air yang mengalir dan melimpah. Para kafilah rela membayar
dengan barang‐barang dan bahan makanan pada Hajar dan
Ismail. Seperti itulah Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim
pada keluarganya.
Lalu tibalah saatnya keluarga Ibrahim mendapat ujian dari
Allah yang disebutkan melalui QS. Al Baqarah 124‐129.
124. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji[87] Tuhannya
dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim
menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan
menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata:
"(Dan saya mohon juga) dari keturunanku"[88]. Allah
berfirman: "Janji‐Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim."
100 | Fataty Maulidiyah
125. “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu
(Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang
aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim[89] tempat
salat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail:
"Bersihkanlah rumah‐Ku untuk orang‐orang yang tawaf, yang
i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud."
126. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku,
Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah
rezki dari buah‐buahan kepada penduduknya yang beriman
diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah
berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun aku beri
kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa
neraka dan Itulah seburuk‐buruk tempat kembali."
127. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan
(membina) dasar‐dasar Baitullah bersama Ismail (seraya
berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan
kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi
Maha Mengetahui."
128. “Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang
tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak
cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan
tunjukkanlah kepada Kami cara‐cara dan tempat‐tempat ibadat
haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah
yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
129. “Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul
dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka
ayat‐ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al
Qur’an) dan Al‐Hikmah (As‐Sunnah) serta mensucikan mereka.
Setitik Embun di Tanah Suci | 101
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha
Bijaksana.”
Pada awalnya Mekkah ditinggali oleh Bani Amaliq.
Kemudian Ibrahim datang ke wilayah tersebut seperti yang
telah dikisahkan sebelumnya. Setelah itu munculah Bani
Jurhum dan Qathura’ mereka adalah kabilah dari Yaman
keturunan ‘Amm. Kabilah tersebut melihat sebuah negeri
yang memiliki air dan pepohonan sehingga mereka singgah di
negeri tersebut.
Ismail berhasil membimbing kabilah Jurhum. Ketika Ismail
wafat, Mekkah (Baitul Haram) selanjutnya dipimpin oleh
Nabit bin Ismail. Dia anak Ismail yang paling besar. Kemudian
kepemimpinan setelahnya dipegang oleh Mudhadh bin Amr
Al‐Jurhumy, paman bagi putra Ismail. Selanjutnya kabilah
Jurhum dan Qathura’ bersaing.
Bani Jurhum tetap tinggal di Mekkah hingga mereka
menghalalkan yang haram sampai akhirnya kabilah Khuza’ah
berhasil mengalahkan mereka dan mengambil alih
kepemimpinan Baitul Haram (Mekkah) selama 300 tahun
secara turun temurun.
Hingga akhirnya, datanglah Qusyai Bin Kilab seorang
Quraisy. Dia adalah kakek ke‐4 Rasulullah SAW. Qusyai
menyatukan suku Quraisy setelah berhasil mengusir bani
Khuza’ah dari Mekkah. Kemudian dia mendirikan tempat
perkumpulan (Dar Nadwah) untuk bertukar pikiran atau
bermusyawarah seputar masalah mereka.
Dalam Shahih Bukhari Aisyah RA meriwayatkan, “Dulu
suku Quraisy dan orang yang seagama dengan mereka
melakukan wukuf di Muzdalifah. Mereka disebut dengan Al‐
102 | Fataty Maulidiyah
Hums. Sementara itu semua orang Arab melakukan wukuf di
Arafah.setelah Islam datang Allah swt memerintahkan Nabi‐Nya
untuk mendatangi Arafah dan berwukuf di sana dan bertolak
dari sana”.
Dalam hal ini Allah berfirman, “Kemudian bertolaklah
kalian dari tempat bertolaknya orang banyak (arafah).” QS. Al
Baqarah 199.
Mekkah terus melaju dalam keadaan seperti itu di tangan
orang‐orang Quraisy sanpai akhirnya datang Rasulullah SAW.
Di sana Allah memperlihatkan Islam melalui Nabi Muhammad
SAW. Kaum Quraisy sempat mengusir Nabi bersama para
sahabat dari Mekkah. Setelah itu, kaum muslimin kembali lagi
ke Mekkah sekaligus membebaskannya pada tahun 8 H di
bawah kepemimpinan Rasulullah SAW. Peristiwa
pembebasan Kota Mekkah dari kafir Quraisy ini dikenal
sebagai “Fathul Makkah” yang diabadikan dalam QS. Al Fath.
***
Setitik Embun di Tanah Suci | 103
104 | Fataty Maulidiyah
Kuliner
R asanya tak lengkap jika perjalanan saya selama
berada di Tanah Suci tidak menceritakan tentang
wisata dan kulinernya. Selain dua hal ini yang paling
banyak disukai dan membahagiakan orang, berkuliner
merupakan salah satu cara berinteraksi dengan budaya suatu
daerah. Sebenarnya hanya sebagian kecil saja kegiatan
berkuliner di tengah padatnya kegiatan ibadah sehari‐hari.
Meskipun makan adalah kegiatan yang penting, tetapi bukan
menjadi tujuan utama perjalanan saya. Tetap saya akan
menceritakannya.
Saya mulai dari kuliner yang ada di sekitaran hotel tempat
saya tinggal selama kurang lebih 32 hari. Hotel yang saya
tinggali ini bernama Sama El Deaffa yang berada di kawasan
distrik Mahbas Jin. Berlantai 17 dan memiliki kamar berjumlah
ratusan. Menyatu dengan gedung adalah supermall yang
menyediakan aneka oleh‐oleh haji yang menarik. Seperti
sajadah, jilbab, gamis, tasbih, jam tangan, dan sebagainya.
Selain toko‐toko souvenir, di sekitaran hotel terdapat
minimarket kalau di Indonesia mungkin disebut toko
kelontong. Kalau di tempat saya semacam “pracangan”. Di
sana dijual sembako dan bahan‐bahan memasak juga alat‐alat
dapur. Para jemaah haji Indonesia juga China maupun
Malaysia sering saya temui berbelanja di swalayan kecil ini.
Paling ramai suasananya kalau habis subuh.
Setitik Embun di Tanah Suci | 105
Ada beberapa pickup yang datang mengirim sayuran
segar, buah‐buahan, dan bumbu‐bumbu. Semuanya lengkap.
Merk‐merk bumbu masakan seperti Masako, Royko, Indomie,
Pop Mie, aneka mie instan lengkap, juga suplemen seperti
Kukubima, Antangin, obat‐obatan yang lazim digunakan
orang Indonesia tersedia semua di sini. Mereka sepertinya
paham kalau orang Indonesia suka belanja.
Beberapa teman saya ternyata banyak yang membawa
bumbu instan dari rumah. Seperti bumbu racik soto, sop,
sayur asem, lodeh, dan sebagainya. Waktu mempersiapan isi
kopor saya tidak kepikiran untuk membawa bumbu‐bumbu
tersebut. Saya menyesal. Sebab katering yang dikirim dua kali
yaitu pada jam 1 siang dan 7 malam menunya kadang tidak
sesuai dengan lidah kita. Keadaan tersebut ternyata memang
mengharuskan kami memasak. Waktu pertama belanja,
ternyata harga bumbu masak per bungkus 3R atau setara
dengan 12ribu rupiah. Bayangkan jika kita masak lebih dari 3
minggu.
Suatu ketika saya belanja. Memang ingin memasak. Saya
memilih menu nasi pecel sebab ada tetangga yang
membawakan 1 kg bumbu pecel. Hanya 10 meter dari hotel
saja toko tersebut berada, saya belanja Zuccini dan pakcoy
sebagai sayurannya. Di toko tersebut juga ada rempeyek
yang harga per bungkus ukuran sedang 28R, tinggal dikalikan
saja dengan 4000 Rupiah. Saya tidak perlu rempeyek. Lalu
saya membeli 10 butir telur yang per 1R dapat dua butir,
seikat daun pre 3R dan minyak goreng 1 liter seharga 18R.
Lengkap sudah memasak sederhana menu nasi pecel telur
dadar.
106 | Fataty Maulidiyah
Di sekitaran penyeberangan jalan, terowongan pejalan
kaki maupun pinggir jalanan banyak sekali dijual makanan
khas Indonesia. Nasi kuning, nasi goreng teri, nasi krawu,
rames, soto ayam, bakso, onde‐onde, ote‐ote, tempe
mendoan, dan telur rebus yang per biji dijual 1R. Sedangkan
nasi rata‐rata 5R. Selain makanan khas orang Indonesia yang
penjualnya kebanyakan dari Madura, ada juga makanan khas
Arab seperti kebab, samosa, roti Nan (mirip kulit kebab agak
tebal), teh susu, dan sebagainya yang dijual di pinggir jalan.
Banyak sekali penjual jus buah. Beberapa toko berjajar
menjual jus strawberry, apukat, anggur, juga es tebu. Dalam
satu toko minuman ini mereka memiliki stok jus buah dalam
jirigen 10 liter yang ditaruh dalam freezer besar. Jika ada
pembeli dituang dari jirigen tersebut di toples besar berisi
banyak es batu. Per gelas ukuran standar gelas pop ice
seharga 5R.
Suatu ketika saya pernah mencoba mencicipi makanan di
restoran Arab, tetapi juga menyediakan masakan Indonesia
seperti bakso dan nasi goreng. Namun, yang saya coba tentu
makanan khas timur tengah. Kokinya asli orang arab juga
pelayan‐pelayannya. Saat itu saya mencoba nasi biryani lauk
ayam goreng porsi setengah yang harganya 9R. Jika penuh
satu nampan, harganya 18R. Saya memesan separuh karena
saya ingin makan di tempat dan jika pesan full porsi terlalu
banyak untuk saya habiskan.
Waktu itu saya duduk dengan sepasang suami istri dari
Turki. Saya basa‐basi dengan mereka. Saya melirik ke arah
nampan yang menunya mirip dengan yang saya pesan.
Mereka mampu menghabiskan satu nampan besar sendirian.
Setitik Embun di Tanah Suci | 107
Mungkin karena postur tubuh mereka yang besar atau
memang sudah kebiasaan.
Begitu sehari‐hari para jemaah haji bakda salat Subuh,
pulang ke kamar selalu membawa aneka jajanan. Pesan
tenaga medis memang para jemaah harus doyan makan, enak
makan, lidah bisa menikmati segala jenis masakan, baik yang
disediakan katering, masak sendiri atau beli. Hal ini adalah
untuk menjaga stamina dan menjaga kesehatan dalam
menghadapi hari‐hari inti haji. Ada beberapa jemaah haji yang
tidak mau makan. Entah karena tidak berselera atau karena
kurang enak badan. Kondisi seperti ini berakibat mereka
sakit.
Pengalaman makan yang unik waktu habis wisata ke
Thaif. Mampir di sebuah resto khas Arab bernama “Math’am
Bukhari”. Cara makannya, para jemaah berkelompok di
hamparan karpet sejumlah 4‐5 orang. Hidangannya adalah
nasi kuning dengan rempah
khas Arab, ayam ukep
dengan ukuran besar, dan
cabe hijau utuh sebagai
lalapannya. Kita makan ala
anak pesantren dengan satu
nampan besar.
Jemaah haji Indonesia
memang menjadi favorit
banyak pedagang di Mekkah.
Mereka kadang memanggil
jemaah wanitanya dengan
sebutan nama artis seperti
108 | Fataty Maulidiyah
Syahrini dan Ayu Ting‐ting. Rupanya mereka mengikuti dunia
entertaintment di Indonesia. Mungkin juga dengan cara itu
mereka menarik pembeli. Awalnya saya merasa geli, ketika
lewat di depan toko ada yang memanggil, “Syahrini, syahrini,
Ayu Ting‐Ting, gamis, gamis, murah, muuurahh!” Mereka
sangat ramah dan bersemangat.
Meskipun saya bukan Syahrini atau Ayu Ting‐ting ,saya
merespon tawaran mereka yang lumayan menarik. Terutama
jilbab silky‐nya yang motifnya indah kainnya‐pun halus. Rata‐
rata harganya 10R saja. Tetapi, hati‐hati dengan sapaan
pedagang Arab yang kebanyakan laki‐laki. Jangan terlalu
ramah atau antusias merespon, mereka suka sekali ngajak
salaman dengan perempuan Indonesia. Setiap kali saya
membeli, saya sering dimintai salaman, tentu saja saya
menolak dengan menjawab, “Haraaam, haram.”
***
Setitik Embun di Tanah Suci | 109
110 | Fataty Maulidiyah
Hijir Ismail dan Maqam
Ibrahim
Hijir Ismail
Hijir Ismail merupakan sebuah tempat di sebelah utara
ka’bah yang berbentuk setengah lingkaran. Disebut Hijir
Ismail karena tempat tersebut adalah bagian yang dibangun
oleh Nabi Ismail as. Ka’bah sendiri merupakan bangunan yang
dibangun oleh Nabi Ibrahim, lalu datanglah Nabi Ismail
membantu ayahnya dengan membawa batu‐batu. Dalam
bahasa arab Hijir sendiri memiliki arti batu. Oleh karena itu,
bagian bangunan yang dikerjakan oleh Nabi Ismail disebut
dengan Hijir Isma’il.
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah bersama‐sama
membangun ka’bah dengan sempurna termasuk di dalamnya
hijir ismail ini. Kemudian dinding ka’bah sempat roboh akibat
gempa dan hujan yang pernah menerjangnya. Kemudian pada
606 M kaum Quraisy merobohkan dinding ka’bah untuk
merenovasinya sesuai dengan pondasi yang dibangun oleh
Nabi Ibrahim. Akan tetapi, karena kurangnya dana yang halal
untuk meneruskan renovasi tersebut mereka mengeluarkan
bagian bangunan hijir ismail dan membangun dinding pendek
sebagai tanda bahwa hijir ismail termasuk bagian dalam dari
ka’bah.
Setitik Embun di Tanah Suci | 111
Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Ummul
Mukminin Aisyah ra, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW
tentang dinding (Hijir Ismail): ‘Apakah ia termasuk ka’bah?’
Rasul menjawab, ’Ya’, kenapa mereka tidak memasukkannya ke
dalam ka’bah?’ Kemudian Rasul menjawab, ‘Sesungguhnya
kaummu kekurangan dana.” (HR.Bukhari Muslim).
Hijir Ismail merupakan salah tempat yang mustajabah,
tempat dimakbulkannya sebuah doa. Adapun beribadah di
hijir ismail hukumnya adalah sunnah. Sebagaimana yang
diriwayatkan Aisyah RA, “Aku pernah meminta pada
Rasulullah SAW agar diberi izin masuk ka’bah beribadah salat di
dalamnya, lalu rasulullah membawaku ke hijir ismail dan
bersabda, “Salatlah di sini kalau engkau ingin salat di dalam
ka’bah, karena Hijir Ismail ini termasuk bagian dari ka’bah.”
***
Saat itu 23 Agustus 2019, suami mengirim foto dirinya
yang sedang diajak temannya belanja di Grand Zam‐zam
Tower, di sebuah toko jam tangan. Dari kemarin saya sudah
bilang ingin jalan‐jalan ke sana. Padahal sepuluh hari lagi
sudah ke Madinah. Saya hampir menangis. Waktu suami
pulang saya mengatakan ingin diajak ke sana meskipun hanya
jalan‐jalan sama foto‐foto saja dan ke Bin Daood beli apa gitu
buat kenang‐kenangan.
Suami bilang nanti ke Masjidil Haram akan diajak masuk
ke Hijir Ismail sama Maqam Ibrahim selama tawaf 7 kali. Saya
disuruh menghafal doa‐doanya dulu bakda asar berangkat.
Suami bilang sudah beberapa kali ke hijir ismail waktu umrah
bareng teman bapak‐bapak lainnya. Lalu suami bertanya,
112 | Fataty Maulidiyah
”Gimana, mau Hijir Ismail dan Maqam Ibrahim apa jalan‐jalan
ke Grand Zam‐zam?” Tentu suami tahu pilihan saya.
Setelah salat Asar di pelataran masjid, kami bergerak ke
area tawaf di lantai dua. Selesai salat Asar kami bergerak
turun ke area tawaf ring 1, melebur bersama ribuan orang,
kami salat magrib di sana hanya beberapa meter di depan
ka’bah. Mulailah saat‐saat berjuang menuju Hijir Ismail,
tempat mustajabah, tempat Abdullah Muthallib biasa
mengasuh Nabi waktu kecil, tempat doa beliau sewaktu akan
mendapat petunjuk untuk menggali sumur zam‐zam yang
bertahun‐tahun hilang, tempat ditemukannya manuskrip
kuno berbahasa Syiria ketika ka’bah akan di robohkan, yang
bunyi manuskrip itu.
”Aku adalah Tuhan, Pemilik Ka’bah, Aku Ciptakan ia pada
hari Kuciptakan langit dan bumi, ketika Kuciptakan matahari
dan bulan, dan Kutempatkan di sekelilinganya 7 malaikat yang
suci. Ka’bah akan tetap berdiri selama dua bukit di
sekitarnyaberdiri, berkah bagi penduduknya susu dan air.”
Suami mendekap tubuhku dari belakang, saya memegang
erat tangan suami karena takut terpisah dengan banyaknya
jemaah. Yang kami tuju adalah rukun yamani, lalu merambat
maju terus ke arah kiri ke rukun Iraqi, merapat di dinding
setengan lingkaran itu dengan penuh haru dan berdesakan
dengan banyak jemaah dari seluruh dunia tidak jadi masalah.
Pintu hijir ismail yang kecil sebagai arus dua arah yang masuk
dan keluar sangat sesak. Tidak ada petugas yang mengatur.
Akhirnya saya bisa masuk. Saya terlebih dulu memberi
ruang seorang perempuan untuk salat, memberi lingkaran
bergandengan tangan dengan suami. Setelah mereka salat
Setitik Embun di Tanah Suci | 113
dua rakaat dan bisa sujud dan berdoa, lalu bergantian
pasangan suami istri itu memberi ruang bagi kami.
Saya bisa salat dua rakaat sujud dengan hikmad, berdoa.
Setelah merasa cukup dan untuk memberi kesempatan
jemaah lain, saya berdiri lama di belakang punggung suami.
Saya sambil tengadah ke arah talang emas, ke arah ujung
bangunan ka’bah yang hitam, menerawang ke arah langit,
menengadahkan kedua tangan, melangitkan doa‐doa
pertaubatan, istighfar, permohonan baik urusan keduniaan
dan akhirat. Air mataku tumpah ruah tak henti‐heti
membasahi pundak suami.
Setelah dari Hijir Ismail saya dan suami langsung menuju
pelataran masjid, berjemaah isya di sana agar mudah dan
cepat menuju pintu terminal penjemputan bus menuju
kawasan hotel. Kami tiba sekitar pukul 23.00 WAS.
Maqam Ibrahim
Dari sudut bahasa “Al‐Maqam” memiliki arti “Tempat
Pijakan”. Maqam Ibrahim merupakan sebuah bangunan
dengan batu kecil yang dibawa oleh Nabi Ismail ketika
membangun ka’bah. Digunakan oleh Nabi Ibrahim untuk
berdiri guna melengkapi bongkahan‐bongkahan batu saat
membangun ka’bah. Apabila Ismail memberikan bongkahan‐
bongkahan batu kepada Ibrahim, Ibrahim akan menyusunnya
pada ka’bah sehingga bangunan ka’bah semakin meninggi.
Batu pijakan ini pun atas izin Allah ikut meninggi sesuai
kebutuhan Nabi Ibrahim.
Maqam Ibrahim merupakan struktur batu lebar kecil yang
terletak kurang lebih 20 hasta di sebelah timur ka’bah. Di
114 | Fataty Maulidiyah
dalam bangunan ini terdapat sebuah batu yang diturunkan
oleh Allah dari surga bersamaan dengan batu‐batu kecil
lainnya yang terdapat di hajar Aswad. (Al‐Ihsan fi Taqrib
Shahih Ibn Hibban /3710 : al‐Sunan Al‐Kubra al‐Baihaqi
/575,Hadis Shahih) batu inilah yang dijadikan Nabi Ibrahim dan
Ismail saat membangun ka’bah.
Batu maqam Ibrahim dipelihara oleh Allah yang saat ini
ditutupi oleh perak, sedangkan bekas telapak Ibrahim
memiliki spesifikasi panjang 27 cm, lebar 14 cm dengan
kedalaman 10 cm. Masih tampak jelas dan dapat dilihat
sampai sekarang. Atas kepepimpinan Khalifah Al‐Mahdi dari
dinasti Abbasiyah di sekeliling batu Ibrahim ini sudah diikat
dengan perak dan dibuat sangkar besi seperti bentuk sangkar
burung.
Di antara keutamaan maqam Ibrahim adalah dijadikannya
sebagai tempat salat. Sebagaimana yang difirmankan Allah
pada Al Baqarah 125, ”Dan jadikanlah sebagian dari maqam
Ibrahim sebagai tempat salat”.
Terdapat dalam suatu hadits shahih yang telah
diriwayatkan oleh sahabat Jabir dari Rasulullah SAW
mengenai haji beliau, Ketika sampai di ka’bah bersama
Rasulullah SAW, beliau langsung mencium rukun Hajar Aswad,
kemudian berlari‐lari kecil selama tiga putaran dalam tawafnya
lalu selebihnya empat putarannya beliau berjalan biasa. Lalu
beliau menghadap maqam ibram seraya membaca: dan
jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat salat, dan
menjadikannya di antara dirinya dan ka’bah”.
Kemudian dijelaskan juga bahwa batu yang dijadikan
sebagai batu pijakan nabi Ibrahim ini adalah berasal dari
Setitik Embun di Tanah Suci | 115
surga. Rasulullah saw bersabda bahwa dua batu yang berasal
dari surga ada dua yakni Hajar Aswad dan maqam Ibrahim.
Seandainya Allah tidak menghilangkan cahaya dari keduanya
niscaya dia akan menerangi timur dan barat secara
keseluruhan. Menurut Imam Hasan Al Bashri berdoa di dekat
Maqam Ibrahim akan dikabulkan oleh Allah.
***
Siang itu setelah waktu zuhur saya dan suami mengajak
saya turun, menceburkan diri dalam samudera lingkaran
tawaf dekat ka’bah. Suami telah menjanjikan ke maqam
Ibrahim sepanjang saya tawaf. Saya gembira tak terkira.
Desakan para jemaah yang mulutnya hanya menggaungkan
asma Allah dan shalawat tak menjadi masalah bagi kami.
Setelah suami yakin dengan kekuatan saya, kami
mengikuti arus tawaf, sebelumnya dilantai dua, suami seperti
sedang mengobservasi medan untuk menentukan darimana
kami akan turun. Saya mengikuti saja, yang penting mendekat
kalau bisa menyentuh, melihat, menempel kalau bisa bisa
mengambil gambar maqam Ibrahim dari ponselku sendiri.
Kami sudah menyatu mengikuti arus yang putarannya
melawan peredaran jarum jam. Tibalah saat saya didekatkan
suami sedekat‐dekatnya di maqam Ibrahim. Ada penjaga di
situ, saya menempel dan memegang erat‐erat sangkar yang
meliputi maqam itu, doa sudah saya hafalkan di luar kepala.
Saya melihat ke arah dalam terlihat jelas batu yang berwarna
kekuningan itu tercetak dua telapak. Sang penjaga manggut‐
manggut saja tidak melarang saya berdiri menempel maqam
Ibrahim agak lama.
116 | Fataty Maulidiyah
Begitu seterusnya, jam tanganku sampai putus terdesak
orang‐orang yang berebut. Letak maqam Ibrahim yang
berada di jalur tawaf tidak memungkinkan jemaah haji
melakukan salat di sana. Mungkin bisa bila musim umrah.
Saya tawaf sampai putaran ke‐7. Artinya 7 kali saya menempel
maqam Ibrahim dan berdoa di sana, saya sempatkan
mengambil gambar dengan kamera ponsel sedapat mungkin.
Hanya ada lima foto saja sebagai kenang‐kenangan.
***
Maqam Ibrahim, difoto oleh penulis
Setitik Embun di Tanah Suci | 117
Solidaritas Pakaian Hitam
Di mana bumi berpijak di situ langit di junjung.
Demikian bunyi pepatah yang saya ketahui dari guru
bahasa Indonesia saya waktu SD. Pepatah ini
sungguh bermanfaat sebagai upaya kita menerapkan sikap
toleransi di mana pun dan kapan pun kita berada. Termasuk
ketika saya berada di Tanah Suci.
Saya sering menggunakan pakaian serba hitam. Lengkap
dari hijab, sarung tangan, gamis, dan kaus kaki. Seperti
kebanyakan perempuan Arab. Kadang‐kadang saya pernah ke
Masjidil Haram dengan menggunakan jubah batik. Dari baju
itu saya disapa seorang perempuan di sebelah saya dari
Uzbekistan yang memberi isyarat menanyakan asal negara
saya. Dengan bangga saya menyebut Indonesia.
Memakai pakaian hitam saat di Tanah Suci bagi saya
adalah bentuk penghargaan dan pemghormatan saya pada
Negeri Hijaz ini. Bahkan, saya juga memakai alis dan celak
arab yang saya beli dari toko souvenir. Saya menyukainya.
Memakai serba hitam dan berada di antara mereka orang‐
orang timur tengah. Saya merasa bahwa saya adalah bagian
dari mereka.
Pernah suatu ketika menjelang azan saya baru sampai di
area tawaf yang sudah padat jemaah perempuan. Saat
memakai pakaian bercorak, saya harus ke sana kemari
mencari tempat. Saya mendapat yang berimpitan dengan
118 | Fataty Maulidiyah
tong air zam‐zam. Tidak nyaman. Sebenarnya itu tidak selalu
terjadi.
Namun saat memakai pakaian hitam, kebetulan suami
mendapat tempat di antara orang‐orang asing. Setelah
dipisah oleh laskar, saya diarahkan ke tempat jemaah
perempuan di bagaian belakang yang diberi pembatas tali,
semua penuh. Tetapi, salah seorang perempuan bercadar
memanggil saya, saat itu saya memakai baju serba hitam, dia
duduk sambil melambaikan tangan ke arah saya dan memberi
tempat.
Saya sangat senang karena tempatnya nyaman, tidak
berdesakan, di samping saya seorang perempuan tua yang
memilih salat dengan duduk. Dia mengajak saya salaman dan
diberinya saya kurma dan permen. Kelihatannya dia suka saya
memakai baju hitam‐hitam yang sama dengan dirinya. Saya
tidak tahu dari negara mana, yang jelas ketika membaca Al‐
Qur’an wajahnya di buka, parasnya khas timur tengah.
Hal ini saya lakukan juga di masjid Nabawi. Saya sering
mengenakan baju serba hitam. Saya tetap berprinsip, ”Di
mana bumi berpijak di situ langit di junjung”. Bu Nyai
pembimbing sendiri menyampaikan saran kalau mau ziarah
Nabi lebih baik memakai pakaian hitam‐hitam agar lebih
mudah ke raudhah. Entah benar atau tidak saat itu saya
belum membuktikan.
Suatu ketika saya berada di pelataran masjid Nabawi.
Bernaung di bawah payung‐payung yang mekar di suatu
subuh. Saya sendirian bertadarrus. Dua orang remaja putri
yang sangat cantik khas timur tengah duduk di depan saya
menyapa, berbicara pada saya dalam bahasa inggris, “Sister,
Setitik Embun di Tanah Suci | 119
keep this”. Mereka melemparkan tasbih kristal kecil yang
cantik dan tampak berkilauan. Saya tersenyum dan menjerit
kecil kesenangan seraya mengucapkan,”Thanks”.
Dalam suatu kesempatan yang lain masih di masjid
Nabawi. Di masjid ini ada majelis‐majelis bimbingan baca
Qur’an. Untuk anak dan remaja putri yang dibimbing seorang
ustadzah. Semua mengenakan baju hitam sekujur badan.
Seperti yang saya kenakan. Sebelum majelis itu di mulai, saya
berkeliaran di sekitar mereka yang masih berdiri. Saya hanya
penasaran dengan gerbang kayu dan meraba‐raba ukirannya.
Seorang perempuan membawa Al‐Qur’an dan berbaju
serba hitam dengan parasnya yang rupawan mendatangi
saya, menyampaikan salam dan menggenggam tangan saya.
“Assalamu’alaikum”. Suaranya yang kearab‐araban dan
mencium pipi saya kanan dan kiri. Aromanya harum sekali
membuat saya melayang dan tersanjung. Saya dibimbing
untuk duduk bersama dan dia menyediakan meja lipat untuk
mengaji.
Teman saya mendekati dan berbisik, ”Sampeyan di kiro
koncoe bekne.” Kamu dikira temannya barangkali. Saya
mengerti. Bukan karena wajah saya yang jauh dari paras
orang Arab. Tetapi, saya yakin ini pasti karena baju saya yang
serba hitam.
Mengapakah perempuan Arab menyukai pakaian hitam‐
hitam? Perempuan Arab menyukai pakaian hitam karena
mereka menganggap warna hitam dapat melindungi mereka
dari perhatian laki‐laki. Dengan cara itulah mereka merasa
terlindungi. Selain itu, ada sebagian ulama yang
menganjurkan para wanita menggunakan pakaian hitam
120 | Fataty Maulidiyah
sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud,
”Wanita‐wanita Anshar keluar seolah‐olah ada burung gagak di
atas kepala mereka dikarenakankain‐kain yang mereka
kenakan.” Hadis ini menunjukkan bahwa wanita‐wanita
Anshar menggunakan pakaian gelap atau hitam laksana
burung‐burung gagak.
Sementara sebagian ulama lain memnbolehkan para
wanita menggunakan pakaian yang berwarna‐warni. Salah
satunya adalah Syekh Abdul Karim Al‐Khudhair. Menurutnya
hukum memakai pakaian sesuai dengan kebiasaan
masyarakat setempat atau Al ‘Urf yang bermakna budaya.
Bisa jadi warna gelap di suatu negeri akan menimbulkan
fitnah, demikian juga warna‐warni pakaian di negeri lain justru
menjadikan mudharat dan fitnah. Para wanita harus
memahami manfaat dan mudharat dari pakaian yang
dikenakannya. Jika warna tertentu dipandang mengganggu di
suatu lingkungan tertentu, lebih baik warna tersebut
ditinggalkan.
Pakaian bercorak hijau dan kuning pun tidak masalah
dikenakan oleh seorang muslimah. Hal ini berdasarkan hadits
Nabi soal pemberian baju pada Ummu Khalid yang saat itu
masih kecil. Nabi memberi sejumlah kain dan memberikannya
kepada Ummu Khalid. Di antara warna baju itu ada kuning
dan hijau (HR. Bukhari).
Sejatinya pakaian merupakan identitas seseorang.
Identitas agama, budaya bangsanya, bisa juga profesinya
sehari‐hari. Pakaian juga dikenakan menurut keperluan.
Sesuai situasi dan kondisi serta ekspresi diri seseorang dalam
beraktivitas. Namun, Allah memberi pesan dalam firman‐Nya
bahwa ”Sebaik‐baik pakaian adalah takwa”.
Setitik Embun di Tanah Suci | 121
Museum
El Moudy dan Arab Pra‐Islam
S alah satu destinasi wisata bagi para jemaah haji dan
umrah adalah museum El‐Moudy yaitu suatu museum
yang menyajikan budaya klasik Arabia. Berjarak sekitar
20 menit saja dari Masjidil Haram. Museum ini berada di
kawasan El Shimeisi. Luasnya sekitar 2000 meter persegi. Dari
depan eksterior bangunan ini mirip dengan sebuah benteng
di masa lampau, warnanya kuning kecoklatan karena terbuat
dari campuran tanah liat dan susu.
Saya serasa terjebak di suatu masa lalu. Menyusuri
lorong‐lorong yang di kiri kanannya merupakan instalasi
berbagai peralatan yang digunakan orang Arab. Begitu masuk
saya disambut dengan sebuah sumur tradisional dengan
timba yang terbuat dari kulit hewan. Saya langsung berpose
ala Siti Zulaikha yang menarik timba air berharap ada Yusuf
kecil yang rupawan ketika dibuang saudara‐saudara tirinya.
Di sebelah kanannya ada ayunan bayi, timbangan,
tembikar, dan sebuah ruangan yang lengkap dengan ruang
tamu khas orang Arab. Ada shisha di sana yaitu semacam
rokoknya orang Arab yang terdiri dari sebuah guci transparan
dan slang. Banyak spot selfi yang menarik. Para pengunjung
bisa mencoba memakai pakaian khas Arab berupa jubah yang
terdapat ornamen renda dan batu‐batuan. Untuk wanitanya
lebih gemerlap karena ada bandana dari kuningan sebagai
122 | Fataty Maulidiyah
asesoris kepala. Saya mencoba bandananya saja tidak
mencoba pakaian sebab pengunjung antre bergantian
dengan latar belakang tenda‐tenda ala cerita seribu satu
malam. Kemudian saya mengabadikan diri sejenak.
Bapak‐bapak pengunjung lebih tertarik berpose dengan
replika pedang Ali yang bermata dua. Memang kelihatan
gagah dan berwibawa. Juga ketika mencoba senjata panah.
Di dalam sebuah ruangan ternyata terdapat banyak benda‐
benda unik. Seperti mesin ketik, replika talang emas, juga
foto 3 dimensi hajar aswad. Banyak pengunjung yang berpose
sedang mencium hajar aswad. Termasuk saya. Petugas
mengarahkan gaya dan membantu memotretnya. Hasilnya
kita seperti benar‐benar mencium hajar aswad.
Museum ini didirikan oleh seorang pengusaha bernama
Abu Bakr El‐Moudy. Dia membangun museum ini tepi jalan
raya Mekkah‐Jeddah, 20 tahun sebelum jalanan tersebut
dibuka pada 1435 H. Sayangnya museum yang harga tiketnya
3R atau sekitar 12.000 ini terlihat dirawat seadanya. Banyak
alat‐alat yang berdebu seperti pakaian dan benda‐benda.
Mungkin juga karena tempatnya yang berada di tanah yang
panas dan tandus.
Dari kunjungan ke museum El‐Moudy ini saya ingin
mengulas tentang Arab Pra‐Islam. Bagaimanakah
sesungguhnya situasi yang digambarkan dalam instalasi‐
instalasi budaya Arab klasik ini yang mewakili keadaan Jazirah
Arab terutama budayanya sebelum Islam.
Setitik Embun di Tanah Suci | 123
Kondisi Arab Pra‐Islam
Sebelum masa kerasulan Muhammad SAW, kabilah‐
kabilah di dunia Arab terpecah‐pecah dan lebih
mementingkan nafsunya. Pertentangan kabilah, perbedaan
ras, dan perselisihan keyakinan telah mendominasi hubungan
sosial mereka. Kelompok masyarakat saat itu tidak memiliki
raja yang mendukung kemerdekaannya atau panutan yang
menjadi rujukan, serta tempat bersandar saat mereka
menghadapi kesulitan dan penderitaan.
Sementara itu, pemerintah Hijaz merupakan kekuasaan
yang sangat dihormati dan dijadikan panutan. Kabilah‐kabilah
Arab memandang pemerintahan ini sebagai pemimpin dan
pusat keagamaan. Padahal sebenarnya pemerintahan
tersebut merupakan gabungan antara unsur duniawi, social,
124 | Fataty Maulidiyah
dan kepemimpinan agama (DR. Sami’ bin Abdullah al‐
maghlust, Atlas Perjalanan Hidup Nabi Muhammad, 2008)
Pemerintah ini memerintah dunia arab dengan nama
‘Azi’ammah ad‐diniyah (kepemimpinan Agama). Sementara di
Mekkah pemerintah ini berfungsi sebagai pengawas yang
memantau kepentingan orang‐orang yang berkunjung ke
Baitullah sekaligus menerapkan syariat Ibrahim.
Pada masa jahiliah, bangsa Arab saling membanggakan
diri untuk menjadi yang paling unggul di antara para kabilah.
Ketika Islam dating, persaingan tidak sehat itu dihilangkan.
Kemudian Islam membawa barometer takwa sebagai dasar
keunggulan seseorang daripada anggota masyarakat.
Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW
bersabda, ”Janganlah kalian membanggakan nenek moyang
kalian di masa jahiliah. Demi dzat yang jiwa Muhammad berada
dalam genggaman‐Nya, al‐Ju’al (sejenis kumbang) yang
membalikkan kotoran dengan hidungnya itu lebih baik
daripada nenek moyang kalian yang meninggal pada masa
jahiliah.”
Abu Hurairah ra dalam sebuah Hadis shahih menyebutkan
bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya, ”Siapakan orang yang
paling baik?”, “Yang paling bertakwa di antara mereka”.
Dengan demikian, Al‐Qur’an dan sunnah telah
menunjukkan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah
adalah yang paling bertakwa di antara mereka. Dalam sebuah
kitab As‐sunan juga disebutkan Rasulullah saw bersabda,
"Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Non Arab
(Ajam) tidak juga orang Ajam atas orang Arab, tidak juga
berkulit hitam atas berkulit putih dan orang kulit putih atas
Setitik Embun di Tanah Suci | 125
orang berkulit hitam, kecuali karena takwanya. Kalian semua
adalah keturunan Adam dan Adam diciptakan dari tanah.”
Jadi, masa jahiliah adalah suatu keadaan bangsa Arab
sebelum masa pengutusan Muhammad SAW sebagai nabi.
Mereka menyembah berhala dan memberikan persembahan
kepadanya. Kemudian Islam datang dan menyelamatkan
mereka dari penyembahan terhadap sesama makhluk menuju
Zat Sang Pencipta dari agama yang zalim menuju Islam yang
adil. Sebelumnya mereka biasa berinteraksi dengan riba dan
menjalankan berbagai macam kebiasaan buruk yang
kemudian semua itu dihapus dengan datangnya ajaran Islam
yang mulia.
***
126 | Fataty Maulidiyah
Muya Zam‐Zam
Muya Zam‐zam artinya air zam‐zam. Merupakan
mata air jernih penuh keistimewaan dalam sejarah
maupun khasiatnya. Zam‐zam juga merupakan
anugerah yang tiada terkira bagi saya selama berada di Tanah
Suci. Kesegarannya tidak terlupakan. Selama berada di
Masjidil Haram di antara aktivitas ibadah baik ketika
melaksanakan tawaf, sai, tadarus, dan berzikir, air zam‐zam
selalu menemani saya dalam botol minuman maupun botol
spray untuk menyegarkan wajah dan leher.
Air zam‐zam memang disediakan untuk menjamu tamu
Allah dalam haji dan umrah. Di beberapa tempat selalu
tersedia wastafel air zam‐zam. Ada pula yang diletakkan di
tong‐tong air berwarna putih yang bersatu dalam satu rak. Di
letakkan di tepi‐tepi tempat jemaah salat sehingga mudah
dijangkau. Disediakan yang sangat dingin dan biasa. Pada
musim haji banyak jemaah sepulang dari masjid membawa
jirigen besar untuk di bawa pulang ke hotel. Saya sendiri
selalu membawa botol air mineral kosong sekitar 2‐3 buah
setiap berangkat ke masjid. Berharap botol‐botol zam‐zam ini
dapat dibawa pulang ke tanah air.
Sebagaimana yang dilakukan almarhum kedua orang tua
saya sebelum menutup botol zam‐zam itu dengan lakban
bening sebagai oleh‐oleh, zam‐zam tersebut diberi energi
positif dulu dengan aktivitas ibadah. Seperti dibawa ketika
tawaf, sai, maupun membaca Al‐Qur’an. Air zam‐zam yang
Setitik Embun di Tanah Suci | 127
mulia ini akan menyerap energi positif tersebut baik berupa
aktivitas ibadah maupun doa‐doa.
Air zam‐zam benar‐benar melimpah ruah sepanjang
tahun sebagai bukti kemukjizatannya. Bahkan, saya berwudu
dengannya, menyiram kerudung, sarung tangan, dan kaos
kaki dengan zam‐zam sepuas‐puasnya. Air zam‐zam juga di
jual di tanah air dalam bentuk kemasan. Harga 1 liternya
sekitar 150 ribu.
Zam‐zam dalam bahasa Arab berarti banyak atau
melimpah ruah. Merupakan air yang dianggap suci oleh umat
Islam. Zam‐zam merupakan sumur mata air yang terletak di
kawasan Masjidil Haram sebelah tenggara ka’bah.
Berkedalaman 42 meter. Banyak peziarah haji maupun umrah
yang berkunjung di sumur zam‐zam dan sebagian membawa
pulang air zam‐zam tersebut ke tanah air sebagai oleh‐oleh.
Menurut ulama tidak masalah membawa air zam‐zam ke
kampung halaman. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,
”Barangsiapa yang membawa sesuatu dari air zam‐zam,
sungguh ulama‐ulama salaf pada zaman dahulu telah
melakukannya”. Menurut riwayat mata air tersebut
ditemukan pertama kali oleh Siti Hajar.
Ketika Sarah meminta Ibrahim membawa pergi jauh Siti
Hajar dan Ismail kecil, Ibrahim mengantar dan menitipkan
keduanya bersama kafilah yang melakukan perjalanan
menuju rute “Minyak Wangi” di wilayah jazirah Arab. Disebut
rute minyak wangi karena dilewati parfum, kemenyan,
gaharu, dan barang‐barang lain yang dibawa dari Arabia
selatan menuju Mediterania. Saat itu Hajar meminta berhenti
di sebuah lembah yang sekarang adalah Kota Mekkah. Kafilah
128 | Fataty Maulidiyah
itu telah meninggalkan Hajar sendirian di sebuah lembah yang
tidak ada tanda‐tanda kehidupan bersama bayi Ismail.
Tak lama kemudian sang ibu dan bayinya merasa sangat
kehausan. Sampai‐sampai Hajar sangat khawatir akan
keselamatan Ismail. Menurut riwayat, Ismail menangis di
hadapan Tuhan dan tergeletak di atas pasir, sementara sang
ibu berdiri di atas bebatuan sambil berjingkat memandang
sekelilingnya berharap mendapat pertolongan.
Namun, dia tidak melihat seorangpun. Hampir putus asa,
dia bolak‐balik melintasi jalan yang sama sampai tujuh kali.
Diantara bukit Shafa dan Marwa. Pada saat yang sama
Nabiyullah Ibrahim mendoakan keturunannya di tanah
Kan’an. Akhirnya, ketika Hajar duduk istirahat di dekat sebuah
batu karena sangat lelah datanglah malaikat menemuinya.
Dalam Kitab Kejadian diriwayatkan, “Dan Allah
mendengar suara bayi itu dan mengutus malaikat surga untuk
menemui Hajar dan berkata, ‘Apa yang membuatmu susah,
Hajar? Jangan takut! Tuhan telah mendengar suara bayimu di
tempat ia berbaring. Bangkit dan angkatlah bayimu dan
gendonglah dengan tanganmu, Dia akan menjadikannya
pemimpin bangsa yang besar.’ Dan Tuhan membukakan
matanya dan Hajar menyaksikan mata air yang menakjubkan.”
(Martin Lings, hal 12).
Mata air itu memancar dari gundukan pasir yang
disentuh tumit Ismail. Tak lama kemudian daerah itu menjadi
suatu perkampungan karena memiliki sumber air yang sangat
bagus dan menakjubkan. Mata air itu bernama Zam‐Zam.
Para jemaah haji boleh saja berpuas‐puas membawa
sebanyak‐banyaknya air zam‐zam bergalon‐galon kalau kuat.
Setitik Embun di Tanah Suci | 129
Tetapi, jangan berharap bisa di loloskan oleh petugas imigrasi
saat menuju tanah air.
Pengalaman saya waktu itu sepakat bersama suami
membagi tempat kopor besar di dalamnya memenuhi isi
kopor botol‐botol zam‐zam sejumlah 30 botol ukuran 600 Ml.
Dengan optimis 30 botol ini bisa dibawa pulang sebagai oleh‐
oleh untuk anak‐anak, tamu dan saudara yang sakit. Air dalam
botol ini spesial karena tak hanya sekadar diisi dalam botol,
tetapi kami membawanya selama tawaf, sai, dan ibadah
selama di masjid.
Saya sendiri hanya bisa mengemas 15 botol saja dalam
travel bag. Ketika packing menuju Madinah masih aman 30
botol di kopor besar suami. Namun, dua hari menjelang ke
bandara King Abdul Aziz, petugas imigrasi memeriksa kopor
besar tersebut dan mengeluarkan 30 botol zam‐zam dalam
kopor besar suami. Nasib 30 botol tersebut tidak bisa dibawa
pulang. Namun 15 botol saya selamat dan lolos.
Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw bersabda, “Andai
Ibu Ismail tidak menampung mata air itu, tentu sekarang sumur
zam‐zam akan menjadi air yang mengalir”. Jibril kemudian
menceritakan bahwa lokasi itu kelak adalah Baitullah yang
akan dibangun Ibrahim dan Ismail as. Peristiwa
memancarkanya air zam‐zam tersebut terjadi pada 1910 M,
2572 sebelum kelahiran Rasulullah atau sekitar 4000 tahun
yang lalu.
***
130 | Fataty Maulidiyah
Umrah Tiga Riyal
S alah satu keuntungan menjadi jemaah haji regular
adalah rentang waktu yang lama selama di Tanah Suci.
Yakni sekitar 42 hari. Sebuah waktu yang lama untuk
memaksimalkan diri beribadah dan mengunjungi beberapa
tempat. Salah satu keuntungannya antara lain adalah dapat
melakukan umrah berkali‐kali jika badan dan kaki kita kuat.
Jemaah satu bimbingan haji yang badannya sehat, usia juga
masih di bawah 40‐an. Terutama laki‐laki, bahkan melakukan
umrah sampai belasan kali selama berada di Mekkah.
Motivasi mereka bermacam‐macam. Ada yang untuk
mengumrahkan orang tua, saudara, leluhurnya yang sudah
wafat. Bahkan ada yang memang menerima jasa
mengumrahkan. Bukannya mereka memang joki umrah,
bukan. Tetapi, mereka tak kuasa menolak titipan umrah dari
orang lain yang di atas namakan keluarga mereka yang wafat.
Saya menerima informasi ini dari suami yang umrah bareng.
Kata suami, orang tersebut sejak di rumah sudah dititipi
tetangga dan kerabatnya dan rata‐rata memberi uang
sekitaran 2 juta. Kata suami badannya memang sehat,
berotot, dan kekar.
Salah satu keuntungan bagi orang yang sudah melakukan
ibadah haji antara lain adalah bisa melakukan haji dan umrah
atas nama orang lain dengan syarat orang lain tersebut sudah
wafat. Pahala tersebut bisa sampai juga diperoleh bagi yang
melakukannya.
Setitik Embun di Tanah Suci | 131
Saya sendiri selama berada di Mekkah karena mengikuti
program umrah dari grup bimbingan haji juga umrah sendiri
dengan teman dan suami, sudah melakukan untuk kedua
orang tua, kakek, nenek dari jalur ayah dan ibu, mertua dari
kakak. Alhamdulillah. Teknik kami melakukan umrah berbeda‐
beda.
Kalau ikut grup jemaah bimbingan haji kita berangkat
bersama sekitar 12 bus kadang barengan dengan wisata
sekitar Mekkah pulangnya menuju miqat di Tan’im, Ji’rona,
Hudaybiyah, Qarnun Manazil, lalu diturunkan di Masjidil
Haram di Ismail Gate. Pulangnya sendiri‐sendiri naik bus
shalawat.
Teknik berikutnya, kadang kami berenam atau
berdelapan sepakat memilih waktu, bakda subuh atau asar.
Kita menyewa taksi. Satu taksi dengan mobil Innova dari
distrik Mahbas Jin ke Tan’im untuk miqat dan lanjut ke
Masjidil Haram sekitar 200‐250R yang ditanggung bersama.
Saya melakukan cara seperti itu sekitar 2‐3 kali. Setiap orang
mengeluarkan uang sekitar 30‐40R
Kemudian suami mendapat kabar dari teman beda lantai
yang sudah melakukan umrah beberapa kali dengan
menggunakan tiket 3R saja. Suami kaget. Kalau ongkosnya
murah bisa umrah berkali‐kali dan tidak perlu menyewa taksi.
Lalu teman suami itu mengajak mulai besok kalau senggang
umrah bersama dengan tiket 3R atau 12.000 rupiah saja.
Teman suami ternyata punya tiket banyak. Secara gratis
diberinya dua tiket itu kepada saya dan suami. Tiket tersebut
dibeli di terminal bus umum dekat Masjidil Haram. Setelah
membeli tiket kami menuju bus besar mirip bus Damri menuju
132 | Fataty Maulidiyah
Tan’im. Tiket hanya ditandai. Setelah kami sampai di masjid
Tan’im untuk salat dan niat ihram, kita langsung bisa masuk
bus mana saja yang mengantar kita ke Masjidil Haram.
Ternyata pengguna tiket umrah 3R ini banyak. Tidak
hanya jemaah haji Indonesia. Waktu naik bus saya lihat dari
Afrika, Iran, Uzbekistan, Bangladesh, India dan lain‐lain.
Mereka bertalbiyah bersama dalam bus. Sekitar 20 menit saja
dari Tan’im kita sudah sampai di Masjidil Haram. Sepulangnya
kita naik bus shalawat yang gratis itu. Cukup mengesankan!
Umrahnya Rasululullah
Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah dan umat Islam
dilanda rindu tanah kelahiran yakni Mekkah Al‐Mukarramah.
Hampir setahun sejak penandatangan perjanjian Hudaibiyah,
yaitu sebuah perjanjian antara kaum kafir Quraisy di Mekkah
dan umat Islam yang hijrah ke Madinah. Perjanjian ini
disepakati di sebuah daerah sebelah barat 22 km dari Kota
Mekkah. Isi perjanjian tersebut adalah kesepakatan gencatan
senjata, tidak berperang, dan berdamai selama 10 tahun.
Umat Islam diperbolehkan mengunjungi Mekkah untuk
bertawaf selama 3 hari. Tanpa membawa senjata. Penguasa
Quraisy mengizinkan mereka untuk melaksanakan umrah.
Ada sekitar 2000 jemaah mengikuti Nabi menuju Mekkah.
Kerinduan mereka akan tanah kelahiran sudah tidak
terbendung. Dengan pakaian putih‐putih, tanpa senjata
berbondong‐bondong menuju Mekkah dengan damai.
Saat tiba di perbatasan Kota Mekkah, kaum Quraisy
mengosongkan Kota Mekkah dan mereka menyingkir di
bukit‐bukit untuk memantau umat Islam yang akan memasuki
Setitik Embun di Tanah Suci | 133
kota menuju Baitullah. Di Jabal Aby Qubaish (kalau sekarang
sebelah rumah Raja Fadh) mereka mengawasi dan
memandang ke seluruh kota menyaksikan ribuan umat Islam
yang berbaris rapi dalam balutan kain ihram. Berduyun‐duyun
menuju lembah di Baitullah berada.
Telinga mereka sayup‐sayup mendengar lantunan
kalimah thayyibah, ”Labaikallahumma Labaik, Labaika laa
Syariika laka Labbaik. Ya Allah, Kami memenuhi panggilan‐Mu,
Kami datang memenuhi panggilan‐Mu”. Gelombang pawai
jemaah dengan kepala terbuka berpakaian ihram putih itu
dipimpin oleh Rasulullah yang dengan anggunnya
menunggangi unta kesayangannya, Qashwa. Dan Abdullah
Ibn Rawajjah yang memegang kendali unta itu, sebagian
jemaah mengendarai unta, sebagian yang lain berjalan kaki.
Begitu memasuki masjid, Nabi meletakkan jubbah
ihramnya di bawah lengan kanannya, punggungnya dibiarkan
terbuka, jemaah lain mengikuti apa yang dilakukan
Rasulullah. Lalu beliau menuju sisi tenggara ka’bah. Menuju
hajar aswad dan menciumnya. Kemudian beliau diikuti ribuan
jemaah lain mengitari ka’bah tujuh kali lalu menuju bukit Safa
dan Marwah. Beliau berlari‐lari kecil antara Shawa‐Marwah
selama tujuh kali.
Setelah itu beliau di dekat bukit Marwah menyembelih
seekor unta sebagai kurban. Rambut beliau dicukur oleh
Khirash. Lalu Rasulullah bermaksud meminta kaum Quraisy
masuk ka’bah yang di dalamnya banyak berhala. Namun,
kaum quraisy menolaknya sebab perjanjian Hudayiiyah tidak
termasuk memasuki Baitullah. Pada tahun itu tidak seorang
pun yang masuk dalam Baitullah.
134 | Fataty Maulidiyah