The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

JALUR REMPAH DAN DINAMIKA MASYARAKAT ABAD X-XVI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sejarahboomas17, 2022-09-19 05:20:11

JALUR REMPAH DAN DINAMIKA MASYARAKAT ABAD X-XVI

JALUR REMPAH DAN DINAMIKA MASYARAKAT ABAD X-XVI

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 31

Menjelang akhir abad ke-15, perdagangan antara pelabuhan Malaka dengan
kepulauan rempah-rempah dikuasai oleh pedagang Keling bernama Nina
Suria Dewa, orang yang mengirim 8 kapal jung setiap tahunnya ke Maluku dan
Banda. Kebanyakan pala dan cengkeh, ia peroleh dari pelayaran perniagaan
yang diekspor kembali ke Cambay. Nina Suria melanjutkan perniagaan rempah
setelah Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Hal ini dibuktikan dengan
dia masih mengirimkan kapal jung ke Banda tahun 1517 dan kapal lainnya
pada 1523 ke Ternate.34

Pola perdagangan pakaian kantun yang diproduksi di Gujarat dibawa oleh
pedagang Gujarat yang bertolak dari pelabuhan Surat menuju bandar Malaka.
Setiap tahun sekitar Maret, empat kapal layar Gujarat membawa kargo berangkat
ke pelabuhan Malaka. Menurut Pires, kargo tersebut bernilai 10.000 hingga
15.000 Crusado.35 Kargo kapal-kapal itu terutama mencakup kain Gujarat dan
barang-barang lain yang telah disebutkan sebagai barang impor. Sementara
itu, di pelabuhan Malaka pedagang yang datang dari Gujarat menjadi pembeli
utama rempah-rempah yang meliputi cengkeh, pala, dan fuli.

Produsen kain katun yang juga berasal dari pesisir barat India adalah
Koromandel. Telah terselenggara pelayaran langsung dari sana ke pelabuhan
Malaka. Bagi orang-orang Koromandel pada abad ke-15-16 pasar Indonesia
begitu penting bagi produksi tekstil mereka.36 Tekstil Koromandel mencakup
kain katun murah dan mahal. Diperkirakan setiap tahun ada tiga atau empat
kapal yang berlayar dari Koromandel ke pelabuhan Malaka. Kargo setiap kapal
diperkirakan bernilai 12.000 hingga 15.000 Crusado. Di Malaka orang-orang
Koromandel membeli cendana putih, kamper, tawas, mutiara, lada, pala, fuli
dan cengkeh. Hanya sebagian kecil dari ketiga rempah terakhir yang dibawa ke
Koromandel.37

Penghasil kain katun berkualitas dan digemari di Indonesia bagian timur
adalah Benggala. Kain putih Benggala begitu populer, kain ini ditenun menjadi

34  Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 193-194.
35  Crusado adalah mata uang Portugis yang dipergunakan untuk pertukaran di bandar Malaka.
Untuk hal ini lihat. Pires. Ibid., Suma Oriental, hlm.197.
36  Pasar Kepulauan Indonesia untuk tekstil Koromandel sudah sangat penting sebelum tahun
1500. Kemudian, pasar itu dikuasai oleh VOC untuk alat tukar rempah.
37  Pala oleh penduduk India dipergunakan pula untuk menghilang sakit kepala dan obat manjur
untuk penderita pencernaan. John Villier. Op.Cit. Trade and Society…

32 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

20 macam. Kain ini teksturnya sangat halus. Kain ini sangat diminati di
wilayah Indonesia. Keuntungan besar dapat diraih dari ekspor kain-kain ini
di pelabuhan Malaka. Produk kain Benggala sebagian besar mereka tukarkan
dengan cengkeh, pala dan fuli.

Dari tiga kota pelabuhan pesisir barat India sebagai penghasil tekstil tidak
satupun dari mereka yang berdagang langsung ke Kepulauan rempah-rempah.
Meskipun, produk tekstil mereka digemari di Kepulauan Banda. Produk kain
katun dari Gujarat, Koromandel, dan Benggala hanya alih muat di pelabuhan
Malaka. Setiap tahun pedagang Gresik yang bertolak dari pelabuhan mereka
dengan kargo membawa rempah-rempah seperti cengkeh, pala dan fuli
berlayar ke Malaka. Mereka kembali dari pelabuhan Malaka dengan kargo
penuh dengan kain-kain produk dari pesisir barat India. Kadangkala orang-
orang Banda dengan armada jung berlayar ke bandar Gresik dengan membawa
kargo memuat cengkeh, pala dan fuli. Kemudian, mereka kembali dengan
kargo penuh dengan dengan kain-kain katun itu untuk didistribusikan kepada
penduduk Kepulauan Banda.38

Pelabuhan Gresik dapat dipandang seperti Malaka karena Gresik
mengendalikan impor rempah-rempah dari Maluku dan Banda. Meskipun
Pires tidak menyebutkan dengan jelas, sepertinya dia menunjukkan adanya
kombinasi perdagangan Jawa-Malaka-Maluku. Setiap tahun 8 kapal layar
jung berlayar dari Malaka dan Gresik menuju Banda dan Maluku. Setengah
dari jumlah kapal ini berasal dari Malaka dan sisanya dari Gresik.39 Pedagang
Gresik bersama dengan saudagar Malaka telah mempunyai pengalaman untuk
menguasai seluk beluk pernigaan rempah-rempah dan mereka sudah lama
mengenal perdagangan di bandar Malaka.40

38  Kenneth Hall. A History of Early Southeast Asia: Maritime Trade and Societal Development 100-
1500. Lanham: Rowman and Littlefield, 2011, hlm. 317.

39  Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 198.
40  Pada awal abad ke-16 ketika perdagangan Jawa dengan Maluku dilakukan menggunakan jung-
jung kecil dengan tonase maksimum 40 ton. Sekitar 40 hingga 60 jung terlihat dalam perdagangan ini.
Untuk hal ini lihat. B.J.O. Schrieke. “Shifts In Political And Economic Power” dalam Indonesian Sociological
Studies. I: Selected Writings: II: Ruler and Realm in Early Java. The Hague: W.van Hoeve, 1957, hlm. 24

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 33

Beras dan Garam dari Jawa untuk Kepulauan Banda

Sekitar abad ke-14 Kepulauan Banda telah dikenal dikalangan pedagang
Timur dan Barat sebagai penghasil pala beserta fuli. Demikian pula, orang-
orang Eropa walaupun belum menjejakkan kakinya di Kepulauan Banda,
namun data sistematik mengenai banyaknya rempah-rempah dari sana yang
diimpor ke Eropa sudah tersedia sejak periode 1390-1404. Data perniagaan ini
bisa tersedia pada saat agen perdagangan Italia melaporkan muatan hasil bumi
dari timur yang setiap tahun dikirimkan dari bandar Mamluk Aleksandria
dan Beirut ke Venesia, Genoa dan Barcelona. Peningkatan yang melesat tahun
1390-an hingga mencapai sekitar 30 ton untuk cengkeh dan 10 ton untuk pala.
Pada abad ke 15 mencapai 75 ton untuk cengkeh, 37 ton untuk pala dan 17 ton
untuk fuli.41

Seiring dengan meluasnya perniagaan rempah-rempah itu, Kerajaan
Majapahit pada paruh kedua abad ke 14 juga telah menyebut kepulauan
Maluku dan pesisir timur Sulawesi. Rangkawi Prapanca menyebutkan Wandan
(Banda) sebagai salah satu pelabuhan di kepulauan Maluku yang disinggahi.42
Kemungkinan besar Kerajaan Majapahit menjalin hubungan dagang rempah-
rempah dari Banda dan menawarkan produksi beras mereka yang melimpah.
Hal ini, dikarenakan irigasi mereka dengan tekhnologi pengairan teknis dari
sungai Berantas ke sawah-sawah yang berada di tepi sungai.43 Juga, mereka
menanam padi gogo untuk wilayah pertanian perladangan.44

Pada abad ke 15 dan 16, pedagang Jawa membatasi pelayaran perniagaan
mereka. Hal ini karena faktor ekonomi mereka, hanya berlayar di wilayah
Kepulauan Indonesia dan sekitarnya, melimpahnya produksi beras—yang

41  Majunya perdagangan ini secara drastis menjadi kacau sejak tahun 1499 karena masuknya
kapal-kapal Portugis Ke Samudra Hindia. Orang-orang Portugis sedapat mungkin menenggelamkan atau
merampok setiap kapal Islam yang mengangkut rempah-rempah. Untuk hal ini lihat. Reid. Op.cit. Asia
Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 2, hlm. 17-18.

42  Dalam kitab Negarakertagama untuk wilayah Kepulauan Maluku disebutkan nama tempat di
antaranya Ambwan (Ambon), Maloko (Maluku), dan Wandan (Banda). Untuk hal ini lihat. Theodore. G.
Th. Pigeaud. Java in The 14th Century. A Study in Cultural History. The Hague: Martinus Nijhoff, 1962,
hlm. 34.

43  Rekaman inskripsi pasca abad ke-9 menjelaskan pembangunan komponen utama untuk sistem
pengairan persawahan dari Sungai Brantas, yakni bendungan, pintu air dan kanal. Untuk hal ini lihat.
Hall. Op.cit. A History Early Southeast Asia…, hlm. 138.

44  Pigeaud. Op.cit. Java In The 14 Century…hlm. 300-301.

34 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

produksinya jauh melebihi konsumsi domestik—memungkinkan Jawa untuk
mengirimkan surplusnya ke negeri-negeri lain. Menurut Pires, beras Jawa
mempunyai 4 atau 5 jenis berwarna putih dan berkualitas baik.45 Sementara
itu kepulauan rempah sedikit memiliki bahan makanan. Penduduk Banda
pada abad ke 16 telah menukarkan rempah mereka yang berharga dengan
beras Jawa. Karena itu, perdagangan perantara yang ramai telah muncul di
pelabuhan-pelabuhan pesisir utara Jawa.46

Seiring dengan kemajuan perniagaan dan pertukaran produksi pertanian
dan pelabuhan pada abad-15 di Maluku khususnya Banda berlangsung pula
budidaya pala di kepulauan Banda. Selain merawat pohon-pohon pala yang
telah berbuah, juga mereka melakukan perluasan penanaman pala di pulau-
pulau yang bisa ditanam seperti Pulau Ay, Run, dan Rozinguin. Bahkan, Pulau
Gunung Api menjadi lahan perluasan penanaman pala. Sebelumnya, area
sekitar Gunung Api menjadi tempat penanaman sayur-mayur dan sagu. Untuk
tambahan kekurangan makanan, penduduk melakukan pertukaran melalui
orang-orang kepulauan Seram dan Kei. Selain itu, tidak tersedianya beras
secara memadai di kepulauan Banda bukan hanya lahan terbatas, tetapi tidak
ada satupun aliran sungai yang mengalir di kepulauan tersebut.

Kebutuhan akan makanan pokok seperti beras terus meningkat
permintaannya seiring dengan pertumbuhan penduduk Banda. Pada abad ke-
15 penduduk kepulauan Banda telah mencapai 12.000 hingga 15.000 jiwa.47
Sehingga orang-orang Banda membutuhkan beras sebagai makanan pokok
sehari-hari cukup banyak.

Selain Gresik pelabuhan di pesisir utara Jawa sebagai perniagaan beras
perantara untuk penduduk Banda, adalah Bandar Jepara. Pelabuhan Jepara
mengirim beras lima hingga enam puluh jung (sekitar 15.000 ton) per tahun
pada awal abad ke-16 untuk kepulauan Maluku dan Banda. Sementara itu,
pelabuhan Gresik mempersiapkan kapal-kapal layar yang berukurun 40-100

45  Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 180.
46  Pada awal abad ke-16 Jepara merupakan pemasok beras utama untuk kepulauan Banda dan
Maluku. Demikian pula, Jawa Timur pada abad ke-16 mengekspor beras ke kepulauan Maluku dan
Banda. Anthony Reid. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 1: Tanah di Bawah Angin.
Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011, hlm. 28.
47  Villie. Op.cit. Trade and Society…

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 35

ton ke Maluku dan Banda. Pelabuhan lainnya yakni Surabaya dan Demak
menjual beras kepada orang-orang Maluku, Ambon, (Hitu) dan Ternate.
Sebaliknya orang-orang Banda dan Ternate menjual Pala dan Cengkeh kepada
saudagar pesisir utara Jawa.48

Pertukaran beras dan rempah-rempah selain di lokasi oleh pedagang Jawa
juga pedagang dari Sulawesi.Pada 1590, Raja Makassar, Karaeng Matoaya
setelah berhasil mengorganisir para bangsawannya di tanah pertanian Maros
untuk menanam beras, maka 20 tahun kemudian terjadi surplus. Mereka
melihat kemungkinan mengembangkan surplus beras secara teratur yang dapat
dijual di Maluku untuk memperoleh rempah-rempah yang mahal. Dikabarkan
pada 1606:

“ Di setiap kota dan pasar di seluruh negeri, ia telah mendirikan lumbung-
lumbung kukuh penuh beras, yang baru boleh jual setelah hasil panen baru
masuk, agar tidak terjadi kekurangan pangan disaat paceklik. Ia sangat
rajin menghimbau perdagangan ke negerinya. Untuk itu dia menempatkan
seorang agen di Banda yang setiap tahun dikirimi beras, pakaian, dan segala
sesuatu yang diperlukan di sana demi memasukkan sebanyak mungkin pala
ke negerinya, dan dengan demikian mendekatkan para saudagar kepadanya.49

Situasi ini memperlihatkan, beberapa di antara bangsawan Makassar
menggunakan persawahannya di Maros untuk menghasilkan surplus beras
untuk ekspor. Orang Inggris yang tinggal di Pulau Run, dalam satu bulan bisa
membeli 190 koyang (450 ton) beras. Maka pada masa-masa puncak, jumlah
keseluruhan mencapai lebih dari 1000 ton per tahun. 50

Selain beras, orang-orang Banda juga mendatangkan garam untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itu dilakukan karena di sepanjang
pantai Kepulauan Banda tidak terdapat lahan landai, lahan pantai senantiasa
berhadapan dengan laut dalam. Di tambah pula dengan perubahan musim yang
mempengaruhi pasang-surutnya air laut yang tidak terduga. Situasi geografi
Kepulauan Banda seperti itu, menciptakan penduduk tidak dapat mengolah air

48  Untuk hal ini lihat. Usman Thalib. Islam di Banda Naira. Centra Perdagangan Rempah-Rempah
di Maluku. Ambon: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2015, hlm. 75-75.

49  Raja yang bijak ini merupakan salah seorang penjual beras utama kepada para pedagang Eropa
pada abad ke-17 yang bertolak ke Maluku dan Banda. Untuk hal ini lihat. Reid. Op.cit. Asia Tenggara
Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 1, hlm. 29.

50  Reid. Ibid., Asia Tenggara…hlm. 30.

36 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

laut menjadi garam berkualitas. Pada abad ke-15 pedagang-pedagang Banda
membeli garam di sepanjang pantai utara Jawa Timur. Mereka kembali pulang
setelah menjual komoditi pala dan cengkeh di Gresik dan Jaratan. Garam
merupakan komoditi ekspor utama di Surabaya.51

Sebaliknya para pedagang Gresik dan Tuban itu berlayar ke kepulauan
Maluku dan Sulawesi untuk membeli rempah-rempah. Penduduk Banda
menggunakan garam sebagai kebutuhan hidup sehari-hari, terutama untuk
pengasinan dan pengawetan ikan. Meskipun mayoritas penduduk kepulauan
Banda tinggal dekat laut yang banyak ikan, mereka tidak siap menerima
ketidakmenentuan persedian ikan segar akibat perubahan musim. Perdagangan
ikan sehari-hari, terutama dalam bentuk yang sudah dikeringkan atau
diasinkan, sehingga bisa selalu siap dan tambahan pula materi perdagangan
penting di kepulauan Banda.

Banda Ditaklukkan VOC

Armada Belanda tiba di Banda pada 1599 di Pelabuhan Orantata, Banda
Besar. Armada Belanda dipimpin oleh Van Hemskerk. Tujuan mereka hadir di
Kepulauan Banda untuk mendapatkan pala beserta fuli yang harganya mahal
setelah tiba di pasar Eropa, bisa mencapai 60 kali lipat diperdagangkan di
pasar Eropa. Kedatangan mereka langsung meminta kepada orang kaya atau
pengetua adat di Banda agar mereka diizinkan untuk mendirikan loji (pos
perdagangan). Sebelum meminta izin mendirikan loji, orang Belanda telah
memberikan hadiah kepada orang kaya berupa cermin, porselein, keramik,
beludru, kain woll dan senjata laras panjang.52

Belanda juga meminta kepada penduduk Banda agar mereka menyerahkan
pala beserta fuli dengan harga yang telah ditentukan. Orang Belanda ingin
secepatnya untuk menyelenggarakan kekuasaan monopoli terhadap “buah
emas” tersebut. Orang-orang Banda telah mulai mencurigai maksud dari

51  Di pelabuhan-pelabuhan Gresik dan Jaratan di produksi garam dengan kualitas yang baik.
Produk garam itu mereka jual ke Banda dan Maluku, atau sebaliknya pedagang Banda membelinya ke
pelabuhan Gresik dan Jaratan. Reid. Ibid., Asia Tenggara …, hlm. 33.

52  Secara periodik orang kaya harus diberikan hadiah agar mereka dapat bernegosiasi dengan
perwira VOC. Willard A. Hanna. Kepulauan Banda. Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-Gramedia, 1983, hlm. 11.

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 37

kedatangan orang Belanda. Ditambah pula mulai bergolaknya Gunung
Api. Mereka mempercayai dengan keluarnya letupan-letupan Gunung Api
menandakan datang marabahaya, terutama dengan datangnya orang-orang
berambut merah. Setelah berhasil mendirikan pos perdagangan di Neira,
Armada van Hemskerk kembali ke Belanda. Para pedagang dan beberapa
orang Belanda yang berjumlah 20 orang meneruskan pengumpulan pala dan
menjaga pos.

Namun, pada 1601 armada Inggris datang ke kepulauan Banda untuk
tujuan yang sama yaitu mendapatkan pala dan fuli untuk dibawa ke pasar Eropa.
Orang-orang Inggris memilih Pulau Ay dan Run53 sebagai pos perdagangan
mereka. Sejak saat itu, orang Belanda menganggap orang Inggeris sebagai
musuh dan saingan mereka di Kepulauan Banda.

Tahun 1602 kedatangan armada Belanda yang kedua. Ekspedisi armada
Belanda ini dibiayai oleh VOC. Beberapa hari kemudian, pejabat VOC
menyelenggarakan pertemuan dengan orang-orang kaya. Dalam pertemuan
itu, orang-orang Belanda diberikan hak monopoli dari orang-orang kaya.
Pemberian hak itu dilakukan lebih karena orang-orang kaya khawatir akan
terjadi tindakan pembalasan. Akan tetapi mereka tidak mematuhi peraturan
monopoli untuk menyerahkan buah pala kepada Belanda.

Pada 1605 kedatangan armada baru Belanda dipimpin oleh Laksamana
Van der Hagen. Dia membawa 13 kapal 1500 serdadu dan pedagang. Pada satu
kesempatan Hagen bertemu dengan orang-orang kaya, dan dia mengingatkan
untuk patuh kepada ketentuan monopoli pala sebagaimana dalam perjanjian
1602. Dalam pertemuan penguatan kesepakatan monopoli pala itu, Hagen
memberikan kembali hadiah berupa keramik, meriam kecil, mesiu, dan kain
beludru merah bagi orang-orang kaya. Namun, orang-orang kaya hanya
sepakat dengan perjanjian dalam pertemuan. Setelah armada Van der Hagen
bertolak dari Banda, orang-orang kaya kembali melanggar perjanjian itu,
dengan menjual pala kepada pedagang Jawa, Melayu, India, Arab, Cina dan
Inggris yang fleksibel dalam tawar-menawar.

Pada 1608, datang armada baru Belanda yang dipimpin oleh Pieterzoon

53  Pulau Run tidak mempunyai aliran sungai dan sumber mata air. Pasokan air bersih hanya bisa
diperoleh dari menampung air hujan. Orang-orang Inggeris membuat penampungan air bersih diatas
bukit di benteng Eldorado.

38 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Verhooven dengan membawa 14 kapal dan 1000 prajurit ditambah dengan
86 orang serdadu bayaran Jepang.54 Verhooven di depan publik Banda
membacakan instruksi Heeren XVII untuk melakukan perdagangan monopoli
rempah-rempah baik dengan perjanjian maupun melalui tindakan kekerasan.
Selain itu, pejabat VOC di Lonthor memberikan hadiah kepada orang-orang
kaya yang bernilai 12.000 real. Dalam acara pemberian hadiah itu, para pejabat
VOC menuntut memberikan produksi pala dan fuli kepada mereka daripada
dengan Inggeris.

Pada awal 1609, Verhooven yang sudah tidak sabar atas pelanggaran
monopoli yang terus-menerus dilakukan oleh orang kaya, membuat dia
ingin menyelesaikan perundingan secepatnya. Seiring dengan itu Verhooven
membangun benteng Nassau di tepi pantai Neira. Pembangunan benteng itu
membuat orang kaya khawatir dengan ramalan kekuasaan rambut merah.
Mereka mengirim perwakilan untuk bertemu dengan Verhooven untuk
mengantakan sepakat dengan perundingan yang tempatnya ditentukan
Verhooven.

Setelah itu, Verhooven bersama pasukannya berangkat ke tempat
perundingan yang telah mereka sepakati bersama. Setelah tiba di tempat
perundingan Verhooven dan pasukan tidak melihat adanya kelompok orang
kaya. Dengan cepat Verhooven mengutus salah seorang prajurit untuk mencari
keberadaan mereka. Akhirnya ditemui keberadaan kelompok orang kaya di
tempat tersembunyi. Orang-orang kaya mengatakan bahwa mereka ketakutan
dengan pasukan yang dibawa oleh Verhooven. Mereka mengatakan agar
Verhooven datang ke tempat ini dengan beberapa pengawalnya saja. Kemauan
orang-orang kaya diikuti oleh Verhooven dengan hanya membawa beberapa
pengawal. Dalam perundingan tersebut Verhooven dan 26 pengawalnya
dibunuh. Pembunuhan itu disaksikan oleh Jan Pieterszoen Coen yang masih
muda sebagai pedagang VOC.

Perangkap yang jitu dari orang-orang kaya Banda membuat VOC mundur
ke Pulau Banda Neira. Mereka membuat perjanjian kepada penduduk Neira,
bahwa “Banda Neira untuk selama-lamanya dikuasai oleh kerajaan Kerajaan
Belanda”. Juga setiap kapal yang masuk ke Neira harus diperiksa di depan

54  Untuk hal ini lihat. Bernard H.M. Vlekke. Nusantara. Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedia, 2017, hlm. 148.

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 39

benteng Nassau. Banyak orang Banda yang tinggal di Neira sudah putus asa
dengan keputusan ini pindah dari rumah-rumah mereka ke bukit-bukit dan
pulau-pulau terdekat.

Gambar 2.4 Denah Benteng Nassau di Banda Naira

Sumber: Koleksi Balai Pelestarian Nilai Budaya, Ambon

Banda Neira pada paruh pertama perempat abad ke-17 telah dihuni oleh
para mardijker (budak yang telah merdeka), burgher (orang Belanda bebas yang
telah keluar dari dinas VOC) dan orang Cina—tetapi pulau itu tidak banyak
menghasilkan buah pala. Pada 1616, armada Belanda yang dipimpin oleh
Dirksen t’Lam tiba di Banda meliputi 12 kapal dan 10.000 serdadu. Belanda
memandang orang-orang Inggeris yang menjadi kendala bagi berlangsungnya
monopoli rempah-rempah Belanda karena orang-orang kaya menjualnya pala
kepada orang-orang Inggeris dari produksi Pulau Banda Besar. Penyerangan
pasukan Belanda ke Pulau Ay yang dipimpin oleh t’ Lam berhasil membuat

40 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

orang-orang Inggeris mundur ke Pulau Run. Ekspedisi yang menentukan untuk
menaklukkan penduduk Kepulauan Banda terjadi pada April 1621. Ekspedisi
penaklukkan ini dipimpin oleh oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoen Coen
yang bertolak dari Pelabuhan Batavia menuju Ambon. Di kota Ambon, Coen
merencanakan dengan menyusun kekuatan sekitar 1500 serdadu ditambah
puluhan tentara bayaran Jepang. Setelah itu, armada berangkat menuju
kepulauan Banda Besar yang berlabuh di Lonthoir. Pasukan berpencar dan
melakukan penyerbuan ke beberapa titik secara serentak yang membuat orang-
orang Banda bingung, sebenarnya serangan diarahkan ke mana. Tidak lama
kemudian, pelabuhan Selamon yang tidak begitu kuat jatuh ke tangan Belanda.
Setelah dua minggu lebih orang-orang Belanda menduduki Lonthoir membuat
penduduk Banda kocar-kacir. Masyarakat Banda yang sebelum penyerangan
Belanda berjumlah 15.000 jiwa pada Mei 1621 tersisa 1000 orang. Selebihnya
melarikan diri dan mengungsi ke Pulau Seram, Kei, Aru dan Tanimbar. Sekitar
ratusan orang, karena berdesakan di perahu tenggelam di laut. Sisa sekitar
1000 orang dibawa ke Batavia untuk menjadi budak dan tinggal di kampung
Bandan.55 Namun demikian di kemudian hari, orang-orang Banda di Batavia
dikembalikan ke Banda untuk melatih perkenier dan budak di sana untuk
menanam pala yang baik.56

Kekejaman yang luar biasa dilakukan oleh J.P. Coen terhadap orang-
orang kaya dengan memasukkan ke kapal Dragon dan berlayar ke Neira untuk
membawa mereka ke Benteng Nassau. Terdapat 44 orang kaya yang dibawa dari
Lonthoir, kedua tangan mereka diikat erat-erat dan dimasukkan ke kerangkeng
bambu. Kemudian, bagian tubuhnya seperti tangan, kaki dan kepala dimutilasi
oleh tentara Jepang. Peristiwa pembantaian tak berperikemanusiaan ini
disaksikan oleh orang tua, istri dan anak-anak korban agar mereka di masa
depan jera untuk melawan kekuasaan Belanda.57 Peristiwa ini juga disiarkan
dengan cepat ke penduduk Inggeris di Pulau Run. Mereka merespons berita

55  Orang-orang asli Banda menyebut identitas mereka sebagai Wandan, sesuai dengan dialek
bahasa mereka. Terdengar oleh orang Betawi menjadi Bandan. Di Batavia tiga belas “orang kaya” telah
dihukum mati, karena bersama dengan beberapa orang Jawa terlibat dalam dalam suatu komplotan
untuk membunuh Coen. Untuk hal ini lihat. Hanna. Op.cit. Kepulauan Banda.., hlm. 57.

56  Lima ratus tiga puluh orang Banda yang rindu kampung halaman, melarat dan menimbulkan
banyak kesulitan kemudian dikirim kembali ke Banda. Untuk hal ini lihat. Bernard H.M. Vlekke.
Nusantara: A History Of The East Indian Archipelago. Mass: Cambridge Press, 1943, hlm. 342.

57  Replika lukisan dari suasana pembantaian orang-orang kaya itu yang berlangsung di Benteng
Nassau terdapat di Museum Yayasan Warisan Budaya dan Sejarah Banda.

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 41

itu dengan bersiap-siap melarikan diri ke Banten untuk meninggalkan Banda.
Sejak awal Coen telah mempersiapkan konsep perkebunan pala di

Banda adalah dengan menaklukkan kekuasaan orang-orang kaya. Kemudian,
mengirimkan budak-budak sebagai pekerja perkebunan dan orang Belanda
sebagai pengawas perkebunan.58 Menyadari setelah aksi pembunuhan orang-
orang kaya dan larinya penduduk Banda ke pulau lain. Kepulauan Banda
kosong, tidak mempunyai penduduk.

Gubenur Jenderal J.P. Coen mengumumkan kepada orang-orang Belanda
yang tinggal di Batavia dan Ambon bisa menjadi leenheer (penyewa) tanah
perkebunan pala di Kepulauan Banda. Demikian pula, pemerintah akan
menyediakan budak bagi tenaga kerja perkebunan. Oleh karena itu, Pemerintah
Belanda mengajukan persyaratan panen pala harus dijual kepada pemerintah.
Juga, mereka yang mengajukan diri menjadi perkenier (tuan kebun) harus
menetap permanen di kepulauan itu untuk mengusahakan rempah-rempah
bagi Kompeni.

Gambar 2.5 Pala dan Fuli Banda Sebagai salah satu Rempah
yang Paling Berharga

Sumber: Ahmad Faizin, Ekspedisi Jalur Rempah, Kemendikbud 2017
58  Vlekke. Op.cit. Nusantara…hlm. 343

42 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Pulau Sumatera

Jalur Pelayaran dan perdagangan penting dan di nusantara salah satunya
Selat Malaka. Selat Malaka yang diapit oleh Pulau Sumatera dan Semenanjung
Malaya dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran dan perniagaan paling sibuk
di dunia. Dalam sejarah Sepanjang selat Maluku yang dapat dilayari oleh kapal-
kapal berukuran besar di sekitarnya terletak pusat-pusat politik dan ekonomi
penting Asia Tenggara yaitu Aceh, Riau, Malaka, Jambi, Palembang, Tumasik
(Singapura). Tempat-tempat tersebut berperan dalam dunia pelayaran dan
perniagaan Asia Tenggara atau antara dunia timur dan barat, juga secara politis
dan geografis sebagai pusat-pusat peradaban era masa awal modern dan modern.
Malaka, Kepulauan Riau, Jambi dan Palembang misalnya peran ekonominya
melebihi batas-batas wilayahnya karena menjadi tempat berlabuh bagi kapal-
kapal yang datang dan pergi dari timur menuju barat atau sebaliknya. Pusat-
pusat peradaban sepanjang Selat Malaka juga menjadi titik pertemuan antara
dua bangsa yang sejak lama berperan dalam dunia pelayaran dan perniagaan
yaitu Cina dan India. Hubungan kedua bangsa tersebut sudah terjalin sejak
lama, bahkan hingga awal Masehi. Bagi masyarakat Nusantara, termasuk
penduduk di wilayah pantai timur Sumatera, selat Malaka menjadi tempat
persinggahan atau berlabuh bagi para pedagang Nusantara dan saudagar dari
negeri-negeri lain. Pertemuan berbagai penduduk Nusantara dengan bangsa-
bangsa lainnya di sekitar Selat Malaka sejak awal abad Masehi menunjukkan
bahwa kawasan perairan ini menjadi suatu kawasan internasional. Berbagai
kapal dan bangsa hilir-mudik melewati dan singgah di kawasan Selat Malaka
untuk berniaga atau singgah sebelum melanjutkan ke tempat tujuan. Sebagai
suatu kawasan perairan tersibuk, setiap kapal yang akan menuju Cina atau India
ataupun berbagai tempat di sekitar perairan Nusantara dan Nusantara tentu
akan melintasi Selat Malaka sebagai jalur pelayaran mereka. Oleh karena itu,
Malaka menjadi salah satu wilayah yang menjadi incaran untuk diperebutkan
atau dikuasai sumber-sumber sejarah, seperti halnya Kerajaan Sriwijaya yang
terletak di pantai timur Sumatera dan berkuasa sejak abad ke-7 hingga abad
ke-11 memndang penting Selat Malaka bagi kekuasaannya. Demikian pula era
setelah meredupnya kekuasaan kerajaan Sriwijaya.

Nusantara sepanjang abad ke-10 hingga ke-16, atau sebelum kedatangan

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 43

bangsa-bangsa barat seperti Portugis, Belanda dan Inggris bahwa penduduk
nusantara telah menjalin kontak dan hubungan niaga dengan bangsa-
bangsa lain. Kontak antara penduduk Nusantara dengan bangsa-bangsa lain
setidaknya tercatat dalam berbagai catatan yang ditulis oleh bangsa-bangsa
Arab, Cina atau India. Hubungan antarbangsa yang berlangsung di wilayah
Nusantara cukup luas, yakni membentang mulai dari bagian barat di Pulau
Sumatera hingga ke bagian timur di Kepulauan Maluku, Banda dan sekitarnya.
Cakupan kontak antarbangsa di wilayah Nusantara juga meluas hingga ke
bagian utara mulai dari kawasan Asia Tenggara, Indocina hingga Cina, serta
ke bagian barat yaitu India hingga kawasan Timur Tengah dan Laut Tengah.
Hubungan antarbangsa sebelum tibanya bangsa-bangsa barat yang kemudian
mengukuhkan kolonialisme di berbagai wilayah Nusantara ini tidak semata
hanya berurusan dengan keagamaan, tetapi juga perniagaan. Perniagaan
menjadi salah satu penghubung yang mempertemukan berbagai kepentingan
bangsa-bangsa di dunia hingga ke Nusantara.

Kontak antara Nusantara dan bangsa-bangsa lain seperti di atas setidaknya
membentuk suatu jalinan jejaring antarbangsa yang meluas dalam suatu
“jalur perniagaan” antara timur dan barat. Kapal-kapal kayu berukuran besar,
bergantung pada embusan angin musim, dengan puluhan orang di dalamnya
berbulan-bulan lamanya berlayar dari negeri asal mengarungi samudra dengan
muatan beragam komoditas unggulan yang laris di pasaran silih berganti
berlabuh dan bongkar-muat di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Logistik
selama pelayaran berupa makanan dan minuman, juga air bersih menjadi bagian
penting kesuksesan awak kapal mengarungi lautan untuk berniaga. Aktivitas
bongkar-muat komoditas di berbagai pelabuhan mulai dari India atau Cina
hingga ke wilayah Nusantara menjadi bagian kehidupan penduduk Nusantara
sepanjang abad ke-10 hingga ke-16, Kapal-kapal dari berbagai negeri atau
daerah-daerah di Nusantara setiap waktu hilir-mudik di perairan Nusantara
mengangkut berbagai barang seperti beras, kamper, pala, lada, cengkeh, kayu,
kapas, damar, dan hasil-hasil hutan dari berbagai tempat di Nusantara untuk
kemudian diperjual-belikan atau dipertukarkan dengan produk-produk asing
seperti kain, keramik, dan produk logam baik yang ada di Cina, India, maupun
dunia Arab. Barang-barang tersebut merupakan komoditas yang dibutuhkan
dan diperjual-belikan dalam transaksi antarbangsa. Komoditas unggulan
lain seperti emas, keramik dan tekstil juga merupakan barang dagangan lain

44 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

yang tak kalah penting dalam jual-beli di pasaran seperti halnya pala, cengkeh
dan lada. Bandar atau pelabuhan-pelabuhan di berbagai wilayah Nusantara
mulai dari Aceh, Bangka, Jambi, Palembang, kemudian Banten, Semarang,
Lasem, Tuban, Gresik, hingga Banjarmasin, Makassar, dan Banda menjadi
tujuan saudagar-saudagar berbagai negeri atau Nusantara untuk mendapatkan
barang-barang yang dibutuhkan oleh pasar Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah,
India, Cina dan kawasan Asia Tenggara.

Letak Sumatera yang secara geografis sangat strategis karena berada
di pertemuan jalur pelayaran dan perniagaan antara timur dan barat yang
melintasi Selat Malaka menjadikan pulau ini sangat penting. Aceh misalnya
menjadi “pintu gerbang” bagi kapal-kapal asing untuk masuk ke perairan
Nusantara menuju pelabuhan atau bandar di Nusantara, seperti Bangka,
Palembang, Banten, Pantai Utara Jawa lalu ke Makassar dan Banda. Di Aceh,
pada abad ke-14 beberapa pelabuhan yang berada di pesisir dan menunjukkan
kesibukan pengangkutan hasil-hasil hutan seperti kamper, kayu sapang, kayu
gaharu, kasturi ke kapal-kapal yang datang dari India atau Cina sebelum
dikapalkan menuju tempat tujuan. Kemungkinan saudagar-saudagar dari India
(asal Malabar) yang datang ke Aceh sekitar abad ke-14 adalah mereka yang
memperkenalkan lada di wilayah Pidir dan Pasai. Dari teks-teks Cina pada awal
abad ke-15 juga disebutkan tentang adanya penanaman lada di pulau tersebut.
Sementara itu menurut kesaksian-kesaksian Portugis menyebutkan bahwa
pada awal abad ke-16 Pidir dan Pasai telah mengekspor lada dalam jumlah
besar ke Cina dan tempat-tempat lain.59 Catatan-catatan itu sesungguhnya
memperlihatkan bahwa beberapa daerah di Nusantara seperti Aceh misalnya
sejak dulu telah menjalin ikatan dagang atau kontak yang intens dengan bangsa
lain. Beberapa komoditas seperti lada asal Sumatera yang disebutkan di atas
misalnya telah menjadi barang dagangan utama untuk dipertukarkan dengan
barang lain yang dibutuhkan oleh masyarakat. Begitu pula halnya dengan
komoditas lain seperti pala, cengkeh, atau kayu manis yang sangat bernilai di
pasaran.

Kapal-kapal kayu besar mampu memuat berton-ton barang dagangan
dengan bantuan angin musim dalam pelayarannya telah menyusuri garis

59  Lihat Denys Lombard. Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia, Forum Jakarta-Paris, École française d’Extrême Orient, 2014, hm 59-60.

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 45

pantai atau perairan Nusantara selama berbulan-bulan. Pelayaran dengan
mengandalkan angin musim juga menuntut suatu persediaan logistik yang
cukup agar bisa tiba di tempat tujuan tanpa kekurangan apa pun. Dari
wilayah barat, berbagai kapal bersandar atau berlabuh sebelum melanjutkan
perjalanannya menuju daerah-daerah lain di sepanjang pesisir barat Sumatera
untuk menuju ke Pulau Jawa dengan menyusuri pantai barat Sumatera, atau
menuju Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan bagian timur Nusantara.
Dalam pelayaran ini, pelayaran dengan menyusuri bagian barat atau timur
Sumatera menjadi jalur bagi kapal-kapal itu untuk menuju berbagai daerah di
Nusantara. Kota-kota yang berada dalam lintasan atau berlabuh bagi kapal-
kapal itu kemudian berkembang dan dihuni berbagai etnis atau suku. Malaka,
Aceh, Jambi, Palembang dan kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatera
contohnya menjadi kota-kota yang dihuni oleh beragam etnis. Suku Bugis
termasuk salah satu yang tinggal di berbagai kota pelabuhan, termasuk Jambi
di sekitar pantai timur Sumatera. Suku Bugis dikenal luas di berbagai kawasan
pesisir dan hampir setiap kota dapat ditemukan orang Bugis, begitu pula halnya
dengan masyarakat Tionghoa dan Arab. Kapal-kapal yang masuk ke perairan
Nusantara dari India tidak hanya melintasi pantai timur Sumatera, tetapi juga
menyusuri pesisir barat Sumatera kemudian melintasi Selat Sunda sebelum
menuju Banten dan tempat-tempat lainnya di Pantai Utara Jawa atau kota-kota
lain.

Dalam historiografi tradisional Minangkabau, pantai timur Sumatera
terutama pantai timur bagian tengah dikenal pula sebagai daerah rantau
mereka dan disebut sebagai rantau hilir.60 Dalam pandangan orang Minangkau
dikenal dua rantau (rantau nan duo) yaitu rantau hilir dan rantau pesisir.
Rantau hilir meliputi daerah yang terletak di sepanjang sungai-sungai besar
yang bermuara ke Selat Malaka di pesisir timur seperti Sungai Kampar,
Batanghari, Rokan, Siak dan Indragiri. Umumnya kawasan di sepanjang aliran
sungai tersebut merupakan daerah rantau orang Minangkabau. Sebagian
besar wilayah Jambi dan juga Riau sejak dulu menjadi daerah rantau orang
Minangkabau. Sedangkan rantau pesisir yakni semua kawasan rantau di
pantai barat Sumatera mulai dari Muko-muko di selatan, Inderapura, Ulakan,

60  Lihat Mestika Zeid, Saudagar Pariaman: Menerjang Ombak Membangun Maskapai. Jakarta:
LP3ES, 2017, hlm 16-24; Gusti Asnan. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. Yogyakarta: Ombak, 20017,
hlm 53-54.

46 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Pariaman, Tiku sampai ke Barus dan Aceh Barat. Minangkabau di bagian barat
menjadi hulu bagi pantai timur. Istilah hulu-hilir dalam masyarakat maritim
seperti Sumatera selain menjadi konsep ruang atau geografis, juga menandai
suatu kebudayaan dalam masyarakatnya. Masyarakat yang berada di hilir
misalnya karena interaksinya dengan dunia luar atau seringnya pertemuan
dengan beragam masyarakat dipandang memiliki pandangan atau budaya
yang lebih terbuka daripada masyarakat hulu. Pandangan bahwa pantai timur
sebagai daerah rantau setidaknya bagi masyarakat Minangkabau menunjukkan
bahwa wilayah seputar Jambi, Bangka dan Palembang menempati kedudukan
penting bagi mereka. Daerah-daerah tersebut dipandang membuka jalan bagi
masyarakat yang berada di hulu untuk menjalin kontak atau hubungan dengan
masyarakat lain di kawasan Selat Malaka, Pantai Utara Jawa, atau bagian barat
dan selatan Kalimatan. Secara geografis, ketiga daerah tersebut juga membuka
jalan bagi hubungan niaga antara hulu dan hilir di wilayah tersebut dan kota-
kota lain di Nusantara. Posisi strategis bagian tengah Sumatera seperti Jambi
misalnya menempatkan kota ini sebagai salah satu wilayah yang penting dalam
arus pelayaran dan perniagaan Sumatera.

Tumbuhnya pusat-pusat politik seperti Kerajaan Sriwijaya dan kerajaan
Melayu di Sumatera bagian tengah punya kontribusi penting menempatkan
bagian tengah Sumatera dan pantai timur dalam hubungan ekonomi, politik,
kebudayaan dan keagamaan antarbangsa. Jambi dengan Batanghari sebagai
sungai terpanjang dan terpenting di Sumatera degan panjang sekitar 800 km
di wilayah ini memiliki sembilan anak sungai yang terhubung dengan Batang
Hari. Sungai-sungai ini menjadi urat nadi pelayaran dan perniagaan antara hulu
dan hilir, sekaligus menghubungkannya dengan kawasan pantai timur. Sungai
yang bermuara ke laut di Sumatera dan berbagai wilayah Nusantara menjadi
bagian penting dalam aktivitas penduduk serta arus pelayaran dan perniagaan
di berbagai tempat di Nusantara. Sebagian pulau-pulau besar di Nusantara
mempunyai anak-anak sungai yang dapat dilayari oleh kapal-kapal berbagai
ukuran dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Aktivitas pelayaran dan perniagaan
yang bergantung atau mengandalkan pada sungai masih bisa disaksikan hingga
saat ini di Jambi atau kota-kota lainnya di Sumatera dan Kalimantan.

Pulau Sumatera, distribusi produksi rempah-rempah dari pedalaman
ke pesisir dilakukan melalui jalur sungai. Lada asal Jambi menjadi barang

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 47

dagangan unggulan di pasaran berasal dari daerah pedalaman atau hulu sungai
Batang Hari. Pengangkutan lada dari wilayah hulu menuju hilir bertumpu pada
transportasi sungai di wilayah bagian tengah Sumatera seperti halnya Jambi. Di
perairan sungai Batang Hari mampu dilayari oleh kapal-kapal hingga bobot 20
ton dengan jarak tempuh hingga 300 km ke arah hulu. Batang Hari mempunyai
banyak anak sungai yang juga menjadi urat nadi pelayaran dan perniagaan di
Jambi antara lain Sungai Tembesi, Merangin, Bungo, Tebo. Anak-anak Batang
Hari itu hingga kini masih digunakan oleh penduduk untuk melakukan
berbagai aktivitas termasuk misalnya mengangkut hasil-hasil perkebunan atau
pertanian dari hulu menuju hilir. Sungai terpanjang ini berujung pada pantai
timur Sumatera, sekaligus menghubungkan wilayah Jambi dengan laut lepas
dan Selat Malaka yang tergolong sangat sibuk dan padat dengan kapal-kapal
berbagai ukuran dan muatan.

Berita-berita tentang Sumatera dan denyut kehidupan masyarakat serta
peradabannya disampaikan oleh para pengelana dari Cina, India, dan juga
Arab. Salah satu berita tentang Sumatera berasal dari abad pertama Masehi yang
ditulis oleh Ptolomeus yang menyebut nama Barus sebagai nama pelabuhan di
wilayah pesisir barat Sumatera. Barus memang terkenal dengan hasil hutannya
berupa kamper yang juga dikenal masyarakat sebagai kapur Barus, bahkan
hingga masa sekarang. Letak Barus yang termasuk dalam jejaring pelayaran
dan perniagaan dari India atau Cina ke Nusantara, juga karena letak tempat
tersebut yang berdekatan dengan Aceh sebagai kerajaan penting dan Selat
Malaka sebagai di pintu masuk jalur pelayaran timur-barat ini menjadikan
daerah penghasil kamper ini dikenal luas dalam komunitas antarbangsa. Hasil
hutannya berupa kamper menjadi komoditas utama dan dibutuhkan oleh
para saudagar. Kendati letak Barus cukup jauh dari Selat Malaka, daerah ini
mempunyai sejarah yang panjang dalam kontak dengan bagian barat India dan
negeri-negeri lain yang datang-pergi melintasi Samudra Hindia atau perairan
Nusantara.61

Para saudagar yang menuju Sumatera dari India yang semula bertujuan
mencari hasil-hasil hutan yang sangat diminati misalnya damar, kamper, dan
kemenyan, dalam perkembangannya kemudian berkembang membawa tujuan

61  Lihat Jane Drakard. “An Indian Ocean Port: Sources of the Earlier History of Barus,” Archipel,
Vol 37, 1989, hlm 53-82; Claude Gulliot (Ed.). Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, École française d’Extrême Orient, Pusat Arkeologi Nasional, 2014.

48 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

lain yakni menyebarkan agama Buddha dan Hindu di luar India. Sumatera
menjadi salah satu pelintasan dan persinggahan para rohaniwan agama Buddha
dan Hindu dalam menyebarkan agama mereka. Para rohaniwan kedua agama
tersebut berlayar menuju Nusantara dengan menaiki kapal-kapal niaga yang
berlayar menuju timur atau melintasi Selat Malaka yang mengangkut berbagai
komoditas yang akan diperjualbelikan di kota-kota sepanjang Semenanjung
Malaya, kawasan Indocina dan bahkan ke Cina, Aceh dan dan Sumatera Utara,
atau menuju pantai timur Sumatera hingga ke Banten dan Pulau Jawa atau
bagian timur Nusantara.

Kontak antarbangsa yang melibatkan masyarakat Sumatera dengan India
atau negeri-negeri lain telah meninggalkan jejak budaya, jejak perkembangan
agama Buddha yang ditemukan tersebar di berbagai wilayah bagian tengah
Sumatera. Situs keagamaan Buddha dan Hindu memperlihatkan tentang
kontak, pengaruh, dan hubungan antara orang-orang di Sumatera dengan India

Peninggalan arkeologis lain yang menandai adanya jejak peradaban dan
aktivitas pelayaran di Sumatera di masa lampau adalah penemuan sisa-sisa
perahu kuno di situs Lambur, Muara Zabak dan Ujung Pelancu di Daerah
Aliran Sungai Batang Hari, Jambi Sisa-sisa kayu yang menggunakan sambungan
papan perahu berupa pasak kayu dan ijuk sebagai penyambung merupakan
teknologi pembuatan kapal Asia Tenggara yang berkembang pada abad ke-7.
memperlihatkan bahwa kehidupan di sekitar aliran Batang Hari terkait erat
dengan aktivitas pelayaran dan perdagangan.

Sungai dan Ruang Sosial Jambi

Sungai sebagai pusat kegiatan kota.62 punya arti penting bagi penduduk
Sumatera. Kerajaan Sriwijaya yang berkedudukan di Sumatera saat berkuasa
juga memanfaatkan sungai-sungai yang berada di wilayah kekuasaannya untuk
berbagai aktivitas. Sungai Musi di Palembang seperti halnya Batang Hari di
Jambi juga menjadi jalan utama penduduk untuk melakukan aktivitasnya.
Selama masa kekuasaan Sriwijaya sejak abad ke-7 hingga ke-11, kerajaan ini
memegang kendali atas jalur pelayaran dan perniagaan di sepanjang pantai timur

62  Lihat Dennys Lombard. Op.cit. Kerajaan Aceh …, hlm 73.

Peta 5. Peta Kawasan Selat Malaka Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 49

Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017

50 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Sumatera hingga Selat Malaka dan Indocina. Ruang sosial Kerajaan Sriwijaya
yang menunjukkan seberapa jauh pengaruhnya di luar Sumatera hingga ke
India menunjukkan luasnya pengaruh kerajaan ini baik melalui kontak ekonomi
maupun politis. Ruang sosial Sriwijaya ditunjukkan oleh Pierre-Yves Manguin
dalam sebuah peta dengan menunjukkan bentang kekuasaan Sriwijaya saat
berkuasa berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan di beberapa tempat.
Dalam peta itu, sejumlah prasasti Melayu kuno yang tidak berkaitan dengan
Sriwijaya (abad ke-8-11), maupun prasasti Sanskerta dan Cina yang ditulis atas
nama Raja Sriwijaya (abad ke-9-11) ditemukan di India dan Sumatera. Dalam
ruang sosial Sriwijaya itu, pertama, lingkup kekuasaan politik Sriwijaya berada
di sekitar Palembang atau bagian tengah Sumatera. Kedua, lingkup interaksi
dan kontak ekonomi dan politik Sriwijaya menjangkau hingga ke kawasan Selat
Malaka, Semenanjung Malaya, kawasan Indocina, sebagian besar Kalimantan,
dan sebagian Jawa. Ketiga, lingkup ekonomi dan relijius menjangkau hingga
ke sebagian barat dan tengah India, selatan Cina, Filipina, Kepulauan Maluku
dan Banda, hingga Nusa Tenggara. Keempat, lingkup luar pertukaran ekonomi
meluas hingga bagian barat Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tengah.63

Ruang sosial tersebut menunjukkan betapa luas lingkup interaksi dan
pengaruh Sriwijaya ke berbagai penjuru negeri semasa kekuasaannya dari
bagian selatan dan tengah Sumatera. Membaca pembagian ruang sosial di atas
juga terlihat dengan jelas terjadinya kontak antara Nusantara dengan dunia
luar atau bangsa-bangsa lain di berbagai bidang sejak abad ke-7 Masehi hingga
abad ke-11. Laut dalam hal ini menjadi penghubung utama terjadinya interaksi
dan kontak antara Nusantara dengan bangsa-bangsa lain semasa kekuasaan
Sriwijaya itu. Hubungan yang telah dibangun atau terjadi pada era kejayaan
Sriwijaya terus berlanjut pada masa berikutnya ketika Kerajaan Majapahit
berperan penting dalam ruang-ruang sosial yang ditinggalkan Sriwijaya
terutama di perairan Nusantara dan kawasan Selat Malaka. Jambi yang menjadi
bagian dari wilayah kekuasaan Sriwijaya dengan geografinya yang lebih dekat
ke Selat Malaka punya arti penting dari sisi pelayaran dan perniagaan di
kawasan pantai timur Sumatera. Posisi Jambi yang menghadap ke laut lepas

63  Lihat Pierre-Yves Manguin. “Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara Kepulauan: Pusat-
pusat yang Terbatas, Pinggiran-pinggiran yang Meluas,” dalam George Coedes (et.al). Kedatuan
Sriwijaya. Depok: École française d’Extrême Orient, Pusat Arkeologi Nasional, Komunitas Bambu, 2014,
hlm 335.

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 51

tentulah lebih penting daripada Palembang, yang hanya disinggahi oleh kapal-
kapal dalam pelayaran antara Selat Malaka dan Pulau Jawa.64

Gambar 2.6 Gambaran Sungai Muaro Jambi sebagai Ruang Sosial di Jambi

Sumber: Agus Widiatmoko, Dokumentasi Pribadi, 2017

Wilayah lain di Jambi yang juga menjadi ruang sosial dan penting
kedudukannya karena letaknya yang mengarah ke laut lepas dan sering kali
disebut dalam berbagai catatan-catatan bangsa Arab adalah Zabak.65 Disebutkan
bahwa Zabak letaknya berhadapan dengan negeri Cina. Jarak antara keduanya
ditempuh dalam satu bulan pelayaran, bahkan kurang jika tiupan angin
musim membantu. Raja Zabak dikenal dengan nama maharaja. Luas kota ini
diperkirakan 900 parasange [ukuran parasange itu setara kira-kira 6,25 km].
Raja Zabak disebutkan pula berdaulat atas banyak pulau yang terbentang sejauh

64  Slamet Muljana. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi. Jakarta: Yayasan Idayu, 1981, hlm 51-
53.

65  Zabak –seperti diucapkan oleh penduduk Jambi– sebagai nama tempat di muara Batang Hari
terkadang ditulis dengan Zabak, Zabag, atau Zabaj. Untuk tulisan ini digunakan dengan nama Zabak.
Lihat Nilakanta Sastri. “Sri Vijaya,” Bulletin de l’Ecole français d’Extrême-Orient, Tome 40 No 2, 1940,
hlm 239-313.

52 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

1000 parasange lebih. Di antara negeri-negeri yang diperintahnya terdapat pulau
yang bernama Sribuza dengan luas sekitar 400 parasange, dan pulau bernama
Rāmī (Aceh?) dengan luas 800 parasange. Wilayah yang juga merupakan milik
maharaja adalah negeri maritim Kalah yang terletak di tengah jalan antara Cina
dan negeri Arab. Dinyatakan pula bahwa ke pelabuhan itulah datang sejumlah
kapal dari Omān, dan dari pelabuhan itu pula berlayarlah kapal-kapal dengan
tujuan Omān. Kewibawaan Maharaja Zabak berlaku di pulau-pulau tersebut.
Pulaunya, tempat tinggal maharaja, tanahnya subur dan pemukimannya padat.
Pandangan mata pengelana yang merekam dengan agak detil Zabak setidaknya
memberi ilustrasi tentang kota ini dan interaksinya dengan negeri atau bangsa
lain di luar Sumatera.66 Ahli arkeologi Soekmono mengidentifikasi lokasi Zabak
dalam berbagai catatan bangsa Arab dan lainnya yang tersedia dengan Muara
Sabak, suatu wilayah yang terletak di wilayah Jambi.67

Dalam catatan lain yakni dari ahli geografi Mas’udi pada tahun 995
tentang Zabak, kota di muara Batang Hari ini adalah kerajaan dari maharaja,
raja pulau-pulau Zabak, di antaranya Kalah [Kra] dan Sribuza dan pulau-
pulau lain lagi di Laut Cina. Raja-raja Zabak semuanya disebut dengan gelar
maharaja. Negeri kekuasaan Maharaja Zabak mempunyai banyak penduduk
dan balatentaranya tidak terhitung jumlahnya. Disebutkan pula bahwa tidak
seorang pun mampu menjelajahi pulau-pulau yang semuanya berpenghuni itu
dengan kapal yang paling cepat sekalipun dalam tempo dua tahun. Raja mereka
mempunyai jenis wewangian dan rempah lebih banyak dari raja mana pun.
Tanahnya menghasilkan kamper, kayu gaharu, cengkeh, kayu cendana, pala,
kardumunggu, kemukus dan sebagainya.68 Sementara itu Ibnu Batuta menyebut
Al-Jaway yang merujuk kepada pulau penghasil utama adalah damar. Istilah
tersebut tidak berhubungan dengan Jawa yang memang dikenal dengan istilah
Jawadwipa.

Pohon damar dalam catatan Batuta banyak tumbuh di sepanjang pantai
timur Sumatera Selatan.69 Catatan-catatan tersebut memuat informasi tentang
beberapa komoditas utama atau unggulan yang menjadi barang dagangan

66  Coedes. Op.cit. Asia Tenggara Masa Hindu-Budha, hlm 184-85.
67  Muljana. Op.cit. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, hlm 56-58.
68  Coedes. Op.cit. Asia Tenggara Masa Hindu-Budha, hlm 185, cetak miring ditambahkan.
69  Muljana. Op.cit. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, hlm 58-59.

Peta 6. Peta Wilayah Aliran Sungai di Jambi dan Sumatera Selatan Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 53
Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017

54 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Zabak dengan bangsa-bangsa lainnya. Berbagai pelukisan Zabak dalam catatan
di atas juga dilengkapi oleh catatan lain dari Edrisi pada 1154 yang menyebut
Zabak dalam kaitannya dengan politik di Cina. Ia mencatat Zabak menempati
posisi penting sewaktu Cina mengalami pergolakan di dalam negerinya. Mereka
memindahkan penduduknya ke Zabak dan pulau-pulau lain yang tergantung
kepada kota ini. Zabak dinilai sebagai tempat yang aman dan tentram bagi
penduduk Cina.70 Pada akhir abad ke-13, seiring meredupnya kekuasaan
Sriwijaya di kawasan Sumatera, Zabak dikatakan tidak ada lagi. Hal itu mungkin
dapat dibaca bahwa Zabak tidak lagi berperan dalam perkembangan di wilayah
bagian tengah dan selatan Sumatera, serta pantai timur Sumatera.

Pulau Jawa

Jejak-jejak peradaban yang tumbuh dan berkembang di sekitar sungai
dan pesisir Jawa terlihat misalnya di pantai utara Jawa dan Lasem di Jawa
Tengah. Orang Belanda yang pertama kali datang ke Nusantara menyatakan
bahwa Lasem –yang terletak di antara Tuban dan Jepara dan dekat dengan
hutan jati Rembang adalah pusat industri galangan kapal. Adanya galangan
kapal ini setidaknya memperlihatkan Lasem menempati kedudukan penting
sebagai wilayah pesisir bagi kota-kota di sekitar pantai utara Jawa atau lainnya.
Keberadaan galangan kapal itu juga menunjukkan bahwa Lasem menjadi
kota penting bagi industri perkapalan Jawa khususnya di masa lampau. Letak
pelabuhan Lasem di sekitar Bonang saat ini, yang juga menjadi pelabuhan
penting dan besar di masa lampau, memperlihatkan bahwa aktivitas di
pelabuhan ini masih berlangsung dan akses menuju laut lepas di utara Jawa
memungkinkan kapal-kapal besar berlabuh di Lasem. Galangan kapal dan
juga pelabuhan Lasem setidaknya menjadi faktor penting bagi perkembangan
Demak, yang mempunyai kapal-kapal untuk mengangkut hasil-hasil pertanian
dari daerah pedalamannya terutama beras kemudian menjualnya di bagian
lain di Nusantara melalui Lasem. Selain itu, industri kapal Lasem ini juga
memungkinkan Demak membangun dan melengkapi armadanya utuk
melakukan ekspedisi ke berbagai wilayah lain. Di bagian timur Nusantara,

70  Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Budha, hlm 233.

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 55

khususnya pada abad ke-19, Pulau Kei menjadi salah satu pusat industri
galangan di kawasan Kepulauan Maluku dan Banda. Maluku menjadi tempat
penjualan kapal asal Pulau Kei, dan industri kapal Kei ini sekaligus menjadi
sumber ekspor bagi kepulauan tersebut.

Berdasarkan sumber prasasti dan karya sastera yang berasal dari seluruh
periode Jawa kuno yang meliputi kurun waktu 754 tahun, dapat diketahui
terdapat sekurang-kurangnya 50 raja pernah memerintah. Seluruh raja dapat
digolongkan ke dalam lima periode kerajaan, yakni Mataram (732-928),
Tamwlang-Kahuripan (929-1051), Janggala-Kediri (1052-1222) Singasari
(1222-1292) dan Majapahit (1293-1486).71

Pada masa kerajaan Mataram, pusat kerajaan berada di wilayah Jawa
Tengah untuk itu periode ini dikenal sebagai periode Jawa Tengah. Akhir
periode ini ditandai oleh perpindahan pusat pemerintah ke Jawa Timur yang
meliputi seluruh kerajaan berikutnya. Dengan demikian, periode kerajaan sejak
Tamwlang Kahuripan hingga Majapahit sering pula disebut dengan periode
Jawa Timur. Sementara itu, periode Mataram ini meliputi jangka waktu 196
tahun (731-928), lebih dari seperempat dari seluruh periode Jawa kuno yang
berlangsung 754 tahun (732-1486). Selama periode Mataram itu tidak kurang
dari dari 17 orang memerintah.72

Secara kronologi kerajaan-kerajaan Jawa kuno dimulai oleh raja-raja
Medang. Istilah Medang mengacu pada ruang geografi dataran tinggi Dieng dan
dataran Kedu, sedangkan penamaan kerajaan Medang sama dengan Mataram.
Dalam prasasti Matyasih73 yang diterbitkan oleh Rakai Watukuru Dyah Balitung
tahun 907. Sementara itu, Prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya pada
732 mengatakan bahwa negeri Medang merupakan peninggalan pamannya

71 Dalam susunan politik kerajaan Jawa kuno, para penyelenggara pemerintahan di tingkat
kerajaan dapat dibagi ke dalam lima kelompok umum atas dasar peranannya dalam pemerintahan,
yakni para raja, dewan pertimbangan kerajaan, para pejabat non-keagamaan, para pejabat keagamaan
dan peradilan dan pejabat-pejabat lainnya. Untuk hal ini lihat. Rahardjo. Op.cit. Peradaban Jawa…, hlm.
53.

72  Keterangan tentang kronologi dari masa pemerintahan raja-raja ini sulit ditetapkan karena
masih menjadi persoalan mengenai identifikasi tokoh-tokohnya dan juga kurangnya data tentang masa
pemerintahannya.., Rahardjo. Ibid. Peradaban Jawa…, hlm. 454.

73  Prasasti Matyasih ditemukan di Matesih, Magelang Utara, Jawa Tengah. Prasasti yang disebut
dengan prasasti Balitung atau prasasti tembaga Kedu berangka 828 saka atau 907 M.., Achmad. Op.cit.
Raja-Raja Jawa…, hlm. 14.

56 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

yang bernama Sanna. Dalam hal ini disebutkan Prasasti Canggal negeri Medang
didirikan pada 717 atau awal abad ke-8. Kerajaan Sanjaya berlokasi di dataran
tinggi Dieng, tidak diketahui secara pasti kapan raja Sanjaya berkuasa.

Kemudian, periode Tawnlang-Kahuripan merupakan periode minimnya
informasi nama-nama rajanya dan lamanya memerintah. Bukan hanya
sedikitnya prasasti yang diproduksi dalam kerajaan Tawnlang-Kahuripan,
namun juga banyak periode kosong yang berdampak tidak tampak pergantian
dari satu raja ke raja lainnya. Kekosongan ini mungkin disebabkan oleh
banyaknya pertempuran dan bencana alam. Sepanjang sejarah kerajaan Jawa,
hanya Kahuripan yang semasa penyelenggaraan pemerintahannya dari tahun
1019 hingga 1042 hanya dikuasai oleh seorang raja yaitu Airlangga Putra
Udayana.74

Pusat-pusat kerajaan Jawa kuno meliputi rentang waktu mulai kerajaan
Mataram tahun 732 M hingga Majapahit yang berakhir pada 1486.75 Dari
rentang waktu 754 tahun itu mencakup dua periode wilayah yakni: Periode
Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terutama pada kurun kerajaan Mataram, pusat
kerajaan berada di wilayah Jawa Tengah. Akhir dari periode ini ditandai dengan
perpindahan pusat kerajaan ke bentang geografi Jawa Timur yang meliputi
seluruh kerajaan berikutnya. Dengan demikian, periode-periode kerajaan
sejak Tamwlang-Kahuripan hingga kerajaan Majapahit kerap disebut sebagai
periode Jawa Timur.76

Sebelum abad ke-10, pusat-pusat kerajaan di Jawa berada di sekitar wilayah
persawahan yang subur di pedalaman bagian tengah pulau itu. Pada abad ke-
10, pusat-pusat kerajaan kuno bergeser ke timur; awalnya ke Kediri di bagian
barat propinsi Jawa Timur sekarang. Kemudian, pada awal abad ke-13 pindah
ke Singhasari, sebuah kota yang terletak di ujung barat Pegunungan Semeru.
Perpindahan ke Timur ini mungkin berkaitan dengan semakin meningkatnya
perniagaan rempah-rempah dengan pulau-pulau di Indonesia bagian timur, di

74  Sanggaramawijaya Tunggadewi yang merupakan putra sulung Airlangga tidak berkenan
menjadi raja Kahuripan, melainkan sebagai pertapa bergelar Dewi Killi Suci. Achmad. Ibid., Raja-Raja
Jawa…, hlm. 12.

75  Untuk hal ini lihat. Supratikno Rahardjo. Peradaban Jawa. Dari Mataram sampai Majapahit
Akhir. Depok: Komunitas Bambu, 2011, hlm. 53.

76  Rahardjo. Ibid., Peradaban Jawa…, hlm. 54.

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 57

masa penguasa Jawa Timur berperan sebagai pialang.77
Kompetisi politik di kalangan pusat-pusat kerajaan baru di Jawa Timur

begitu intensif. Pada 1222 Kediri ditaklukkan oleh Singhasari, sebuah pusat
kerajaan yang didirikan oleh orang kebanyakan yang tidak memiliki darah
biru. Tujuh puluh tahun kemudian, tentara Kediri kembali untuk menebus
kekalahan dengan merebutistana Singasari. Akan tetapi, kemenangan
Kediri tidak bertahan lama, karena tentara Singhasari segera kembali untuk
menghancurkan penyerbu. Sesuai dengan tradisi Jawa, para pemimpin
Singasari tidak lagi membangun ibukota yang pernah direbut oleh musuh
mereka. Dengan demikian, sebuah istana baru dibangun 90 kilometer ke arah
barat laut (garis lurus) di tempat yang dikenal dengan Majapahit. Berada di
dekat lembah Sungai Brantas, tempat ini dicocok sekali untuk mengendalikan
daerah pertanian di belakangnya. Juga, lokasi ini memiliki akses yang baik ke
pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa Timur di muara sungai.78

Periode selanjutnya adalah Kerajaan Singasari meliputi jangka waktu
tersingkat dibandingkan periode-periode kerajaan lainnya, hanya 70 tahun.79
Pertarungan internal yang menandai awal periode ini sedikitnya menerbitkan
prasasti, hanya delapan buah. Bandingkan dengan periode Mataram atau
Medang mencapai 128 prasasti, masa Tawnlang-Kahuripan memproduksi 38
prasasti, dan kekuasaan Janggala-Kediri mencapai 37 prasasti.80 Akan tetapi,
semua raja yang memerintah pada masa itu dapat diperoleh identitasnya. Hal ini
dapat diatasi berkat diproduksinya karya sastra Negarakertagama, yang ditulis
sekitar 75 tahun sesudah runtuhnya kerajaan ini. Beberapa raja dari masa itu
memerintah selama 20 tahun atau lebih, yakni Anusapati (21), Wisnuwardhana
(20) dan Kertanegara (21). Dua tokoh terakhir adalah hubungan ayah dan
anak. Figur pertama merintis tradisi pemerintahan multikerajaan yang bersifat
kedinastian, sedangkan yang kedua mengawali tradisi kerajaan yang bersifat

77  Terdapat pula teori perpindahan itu adalah akibat dari larinya petani Jawa Tengah yang ingin
menghindari kerja paksa membangun berbagai monumen di sana. Untuk hal ini lihat. Robert. W. Hefner.
Geger Tengger. Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik. Jogjakarta: LKIS, 1999, hlm. 50.

78  Hefner. Ibid. Geger Tengger…, hlm. 51.
79  Rahardjo. Op.cit. Peradaban Jawa…, hlm. 57.
80  Rahardjo. Op.cit. Peradaban Jawa…., hlm. 58.

58 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Peta 7. Peta Kerajaan Kuno di Jawa dan Pengaturan Perairan Sawahnya

Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya Jilid III: Warisan Kerajaan- Kerajaan Konsentris

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 59

ekspansif dan juga mengembangkan tradisi agama Siwa-Buddha.81
Periode terakhir adalah Kerajaan Majapahit yang mencakup kurun

waktu sekurangnya 193 tahun jika tahun akhirnya jatuh pada 1486 (prasasti
berangka terakhir yang diterbitkan oleh Majapahit). Namun, terdapat dugaan
bahwa kerajaan ini secara mutlak musnah pada dasawarsa kedua abad ke-16,
atau kerajaan ini terselenggara sekitar 230 tahun.82 Apabila pengandaian ini
benar, maka periode Majapahit merupakan periode terpanjang dalam sejarah
kerajaan-kerajaan Jawa Kuno. Pasca tahun 1486 tidak terdapat lagi sumber
tertulis sezaman yang secara meyakinkan menyebutkan nama seorang raja
yang berkuasa di Majapahit.

Kerajaan Majapahit Dalam Dunia Pelayaran dan Perdagangan

Sepanjang abad ke-14 kekuasaan Kerajaan Majapahit terus berkembang,
pada akhirnya menuju pada periode transisi yang paling penting. Perubahan
dalam struktur politik menjadi tanda untuk melakukan ekspansi ke wilayah
Asia Tenggara, secara jelas perkembangannya dapat terlihat tahun 1294.
Kemudian, Majapahit tampil sebagai ciri umum bina-negara Asia Tenggara
di abad ke-14 hingga ke-16. Jawa adalah kekuasaannya bersumber dari upeti
melalui jaringan secara seremonial. Istana hadir bersandar pada melaksanakan
pemungutan langsung ke lokal dan terjadi surplus.

Kerajaan periode Jawa Timur juga yang pertama memulai mengembangkan
kekuatan perniagaan dan pusat perdagangan internasional pada abad ke-11.
Bertambahnya interaksi perniagaan antara penduduk pedesaan Jawa dan
wilayah pelabuhan di pantai utara Jawa tercermin pada salah satu prasasti
kerajaan berkedudukan di Jawa Timur. Sesungguhnya, persentase paling
besar dari piagam kerajaan yang dikeluarkan sejak abad ke-10 hingga abad
ke-12 menunjukkan perhatian pada pelabuhan atau hunian pesisir di wilayah

81  Kejadian terpenting dalam pemerintahan Wisnuwardhana (1248-1268 M) adalah penindasan
pemberontakan dari seorang bernama Lingapati. Sudah sejak tahun 1254 M ia menyerahkan kekuasaan
nyata kepada anaknya Kertanegara, dan pada tahun itulah ibukota Kutaraja diberi nama Singhasari.
Untuk hal ini lihat. Coedes. Op.cit. Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, hlm. 258.

82  Rahardjo. Op.cit. Peradaban Jawa…, hlm. 57.

60 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Peta 8. Peta Persebaran Negeri Negeri Jawa Abad ke 13 - 15

Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya Jilid III: Warisan Kerajaan- Kerajaan Konsentris

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 61

lembah Brantas, Jawa Timur.83 Strategi kerajaan untuk pemasukan pendapatan
dari perdagangan termasuk pajak dan menentukan harga. Strategi itu juga
berfungsi mengawasi perdagangan dan orang yang berdagang dengan perantara
asing menghubungkan produksi beras Jawa di pedesaan dan mendorong
mengembangkan kontak dengan luar Jawa.

Bukti-bukti tertulis dari periode ini memperlihatkan bahwa kehadiran
perwakilan/pedagang asing ke keraton raja telah meningkatkan pertambahan
pemasukan untuk penguasa Jawa. Dengan kata lain, perdagangan merupakan
aktifitas baru sebagai sumber pendapatan bagi penguasa Jawa. Dengan
demikian, hubungan internasional tampaknya hanya mempunyai dampak
langsung yang kecil pada pasar perdagangan di tingkat desa.84

Meskipun, sejumlah situs di pedesaan Jawa ditemukan sejumlah besar
pecahan keramik Cina yang dapat dipertimbangkan pada abad ke-10 dan ke-
11. Demikian pula, sumber Cina menyebutkan jumlah tingkat perdagangan
wilayah yang secara tidak langsung meningkatkan konsumsi untuk barang
perdagangan Cina di luar lingkaran keraton Jawa. Sementara itu, prasasti
setempat menyebutkan peningkatan kehadiran pedagang asing.85 Pedagang-
pedagang asing setidaknya dapat absen di pasar lokal. Untuk transaksi
perdagangan tidak hanya mekanisme untuk mendapatkan barang-barang
dengan cara datang ke pedesaan. Khususnya untuk kasus barang-berang mewah.
Bahkan, barang-barang mewah tidak disebutkan dalam prasasti, hal itu dapat
dipercaya dari pembuktian arkeologi bahwa raja-raja Jawa memperoleh barang-
barang asing berprestise seperti barang-barang baja, keramik bergelasir, tekstil,
dan khususnya besi dari pedagang luar negeri di pelabuhan pesisir Jawa.86

Kemudian, raja mendistribusikan kembali barang-barang mewah ini
melalui kekuasaannya, termasuk ke pedesaan, melalui hubungan sekutunya
atau hadiah yang disajikan. Pendistribusian kembali barang-barang itu

83  Untuk hal ini lihat. Jan Wisseman Christie. “Javanese Market and the Asian Sea Trade Boom of
the Teenth to Thirteenth Centuries AD,” Journal of the Economic and Social History of the Orient (JESHO)
1998 (41), Vol. 3, hlm. 344-81.

84  Kenneth R. Hall. “Indonesia’s Evolving International Relationships in the Ninth to Early Eleventh
Centuries: Evidence from Contemporary Shipwreck and Epigrapraphy,” Indonesia 90 (Oktober 2010),
hlm. 15-31.

85  Christie. Op.Cit., Javanese Market…., hlm. 344-81.
86  Hall. Op.cit. Indonesia’s Evolving…., hlm. 15-31

62 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

diasumsikan sebagai peranan utama untuk menggalang hegemoni penguasa
Jawa. Sepertinya barang-barang nonprestise asal luar negeri, khususnya besi
dan barang celup, ini dapat terlihat di daftar pasar lokal dan tidak disangsikan
dapat diperoleh di pasar setempat melalui jaringan perdagangan pribumi.
Pedagang-pedagang Jawa yang membawa komoditi ini ke pedesaan, yang
mereka peroleh di pelabuhan Jawa Timur. Kemudian mereka pertukarkan di
pedesaan dengan produk-produk setempat, khusunya beras yang dipasarkan
di pelabuhan pesisir.87 Di kemudian hari pada puncak perniagaan abad ke-16,
dari pelabuhan ini beras dikirim bersamaan dengan pakaian dari India menuju
ke kepulauan Indonesia bagian timur, di mana komoditi itu dipertukarkan
dengan rempah-rempah.

Di Jawa, permintaan untuk ekspor beras dipromosikan secara bertahap
dengan penyatuan jaringan pasar dalam negeri berkaitan dengan pelabuhan
pesisir Jawa. Di masa era Majapahit telah berkembang sistem jalan raya besar
untuk melayani penambahan sistem sungai di Jawa. Pada abad ke-14 seluruh
jalan mengarah pada keraton Majapahit, menghubungkan wilayah penting
yang kekurangan rute sungai ke ibukota.88

Dalam Negarakertagama kronik kraton abad ke-14 menyebutkan, jalan
penyeberangan dekat kraton kerajaan digambarkan sebagai berikut “bagian
selatan tempat pasar, itulah jalan persimpangan, suci, mengangumkan.”89
Puisi penyucian sistem jalan mendekati antar seksi keraton mencerminkan
pandangan kerajaan Majapahit terhadap jaringan jalan raya yang penting bagi
kekuasaan secara keseluruhan. Nilai jaringan itu mencakup dua hal, politik dan
ekonomi. Penguasa dan rombongannya secara periodik berjalan sepanjang
jaringan jalan, apa yang digambarkan dalam Negarakertagama sebagai “gerak
maju kerajaan” untuk menerima penghormatan personal dari berbagai kerajaan
taklukkan dan untuk mengkonfirmasi otoritas kerajaan atas wilayah yang jauh
yang raja tidak secara langsung mengurusnya.90

Jaringan jalan raya juga alat untuk mengangkut beras dan barang dagangan

87  Wisseman Christie. Op.cit., Javanese Market…, hlm. 344-81
88  Schrieke. Indonesian Sociological Studies. I: Selected Writings: II: Ruler and Realm in Early Java.
The Hague: W.van Hoeve, 1957, hlm. 103.
89  Untuk hal ini lihat. Pigeaud. Op.cit. Java in The Fourteenth Century. Vol. IV, hlm. 3-9.
90  Pigeaud. Ibid., Java in The Fourteenth Century … hlm. 24.

Latar Belakang Historis Tiga Wilayah | 63

lainnya, meskipun bagian terbesar komoditi diangkut oleh sistem sungai.
Negarakertagama menyatakan: “kereta karavan” sepanjang jalan-jalan Jawa dan
jalan raya kerajaan sibuk.91 Pengaturan khusus dibuat untuk para pedagang yang
mengiringi kemajuan kerajaan dan membuka tenda di lapangan terbuka dekat
pondokan keraton, dapat disimpulkan setiap hari berlangsung perjalanan.92
Kereta-kereta itu dan para pedagang telah disajikan dalam pahatan candi
Majapahit. Tetapi, penggunaan jaringan jalan telah menjadi musiman karena
angin musim, dan mempengaruhi pergerakan jaringan jalan dipusatkan dalam
musim kemarau dari Maret hingga September.

Karena kesulitan mengangkut komoditi sepanjang jaringan jalan, sebagian
besar beras Jawa diangkut melalui sungai dari pedesaan ke pesisir, dan barang-
barang dari luar negeri dari muara sungai dan sebaliknya. Adapun, Canggu
merupakan pusat perniagaan penting yang berlokasi dekat ibukota Majapahit,
sebagaimana didokumentasi oleh Ma Huan atas laporan Zheng He ekspedisi
angkatan laut awal abad ke-15 ke Jawa. Ekspedisi itu melaporkan bahwa tempat
pasar Canggu adalah 42 kilometer di muara sungai Brantas dari Surabaya
di pesisir dan dari sana setengah hari ditempuh dengan berjalan kaki ke
Majapahit.93

Akhir abad ke-15 dalam Pararaton Jawa prosa kronik menggambarkan
Canggu sebagai titik pengumpulan barang yang melewati antara pesisir dan
ibukota.94Konteks dari piagam Canggu itu memperlihatkan bahwa perdagangan
mengangkut muatan kereta barang melalui jalan darat dan perahu sungai.
Dalam jaringan jalan raya dapat menampung lebih banyak kendaraan kereta
pedagang. Sementara itu, terdapat 79 perahu disebut dalam piagam itu.95

Kerajaan Majapahit yang mendiami lembah Sungai Brantas pada
masanya mengalami kejayaan karena bertumpu pada pada kekuatan ekonomi
perdagangan internasional. Pihak kerajaan selain mempersiapkan infrastruktur
jalan raya yang dapat mendukung dan melancarkan transportasi perniagaan
dari desa-desa pertanian ke pelabuhan pesisir utara Jawa juga mengembang

91  Pigeaud. Ibid., Java in The Fourteenth Century …hlm. 25.
92  Pigeaud. Ibid., Java in The Fourteenth Century …hlm. 26.
93  Pigeaud. Ibid., Java in The Fourteenth Century …hlm. 34.
94  Hardjowardojo. Pararaton. Jakarta: Bhratara, 1965, hlm. 58.
95  Christie. Op.cit., Javanese Market…, hlm. 344-81.

64 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

sistem wajib pajak kepada negeri-negeri di luar Pulau Jawa hingga mencapai
Asia Tenggara. Relasi kekuasaan itu tidak hanya pemungutan upeti, akan
tetapi membentuk jaringan niaga tidak hanya dengan masyarakat di nusantara,
namun juga dengan dunia internasional yang berkembang pada waktu itu.

PRODUKSI REMPAH,
PELABUHAN DAN

JARINGAN PERNIAGAAN
DI NUSANTARA



Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 67

Dalam rantai perniagaan Nusantara, ada beberapa jalur yang digunakan
para saudagar untuk menjangkau wilayah Nusantara. Pertama, para
pedagang ini masuk melalui Selat Malaka kemudian menyusuri
sepanjang pantai timur Sumatera sebelum menuju Jawa, bagian tengah dan
timur Nusantara. Kedua, mereka menyusuri sisi barat Sumatera lalu melewati
Selat Sunda untuk menuju kota-kota lain di Jawa atau bagian selatan Kalimantan
hingga bagian tengah dan timur Nusantara. Para pedagang juga menggunakan
jalur utara dengan berlayar menyusuri sisi barat dan utara Kalimantan, bagian
utara Sulawesi lalu menuju Kepulauan Maluku dan Banda. Jalur-jalur pelayaran
dan perniagaan ini dahulu telah membentuk suatu jaringan antarbangsa di
wilayah Nusantara.1

Dalam jejaring pelayaran dan perdagangan itu selain melalui laut juga
tidak kalah pentingnya keberadaan sungai-sungai yang berada baik di sekitar
pesisir barat dan pantai timur Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Sungai menjadi
penghubung atau mata rantai antara hulu dan hilir untuk mengangkut berbagai
komoditas penting. Peran sungai dalam pelayaran dan perniagaan Nusantara
sepanjang abad ke-10 hingga ke-16 besar artinya dalam pembentukan jejaring
perniagaan dan juga interaksi antarbangsa di wilayah Nusantara. Jaringan
perniagaan yang terbentuk di Nusantara itu merupakan suatu proses sosial yang
terjadi ketika berlangsung transaksi komoditas antara pelaku perdagangan yang
mencakup penduduk atau saudagar Nusantara dengan bangsa-bangsa asing di
sepanjang pantai timur dan juga barat Sumatera.2 Dalam jejaring perniagaan
antarbangsa ini, pelabuhan dan pengelolaannya sebagai pusat perniagaan
menempati posisi penting dalam rantai pelayaran dan juga perniagaan.

Posisi penting di pelabuhan itu biasanya dipegang oleh Syahbandar
sebagai kepala bandar atau pelabuhan untuk mengatur lalu lintas pelayaran
dan perniagaan di wilayah Nusantara ini. Termasuk peran syahbandar yaitu
mengatur tata kelola pelabuhan seperti pajak pelabuhan atau barang dagangan
dibayar oleh saudagar asing yang tiba melalui laut. Di Malaka misalnya, terdapat
empat syahbandar untuk mengelola pelabuhan dan kapal-kapal yang merapat
ke pelabuhan yakni pertama mewakili saudagar Gujarat, kedua untuk semua

1  Lihat Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga Jilid 2, hlm 73.
2  Lihat Asnan. Op.cit., hlm 143.

68 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

orang yang datang dari barat (India, Pegu dan Pasai), ketiga untuk mereka yang
berbahasa Melayu yang datang dari timur (termasuk Jawa, Maluku, Sumatera
bagian selatan, Kalimantan, Filipina), dan keempat untuk orang-orang Asia
Timur (Cina dan Ryukyu). Tata kelola kesyahbandaran di Malaka ini juga
berpengaruh di berbagai tempat di tanah air. Pelabuhan Jambi misalnya pernah
dijabat oleh orang Islam Cina, begitu pula halnya dengan pelabuhan Jepara
dan pelabuhan Jaratan (Jawa Timur). Jabatan strategis di pelabuhan-pelabuhan
ini menempatkan syahbandar punya nilai penting dan secara ekonomi
menjadikannya masuk dalam golongan orang kaya dalam masyarakat lokal.3

Berbagai komoditas dalam jejaring pelayaran dan perniagaan yang
terbentuk di kawasan perairan Nusantara yang menghubungkan penduduk
Nusantara dengan bangsa-bangsa di Wilayah Asia Tenggara dan India
sepanjang abad ke-14 meliputi lada, pala, cengkeh, kapur barus, beras, gula,
gajah, timah, tembaga, kayu manis, kayu jati, emas, tekstil, sutra, berlian, perak.
Sementara itu komoditas perniagaan antara Nusantara dengan Asia Tenggara
dan Cina meliputi lada, rempah, timah, beras, gula, ikan, garam, kayu gaharu,
damar, sutra, teh, keramik, buah. Komoditas-komoditas ini sebagian berasal
atau dapat ditemukan di berbagai wilayah Nusantara. Sumatera misalnya sejak
lama dikenal sebagai penghasil emas, lada, damar, kapur barus, kayu berbagai
jenis, juga mutiara, sutra, madu, lilin, katun, dan rotan.4

Sementara Kepulauan Maluku dan Banda menjadi sentra penghasil
rempah dan pala. Jawa yang subur tanahnya bagi pertanian menjadi penghasil
atau lumbung beras. Sejak abad ke-6 kamper sesungguhnya telah dikenal di
berbagai kawasan, termasuk di Cina dan Timur Tengah. Kamper ditemukan di
pedalaman Barus, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Dalam perkembangan
kemudian yakni sejak abad ke-16 Barus dikenal sebagai pelabuhan ekspor
kamper. Sumber Cina mengatakan bahwa Barus adalah kerajaan di timur
laut Sumatera dan mempunyai beberapa pelabuhan di pantai timur.5 Kayu jati
dibawa ke Semenanjung Malaya dari Jawa. Kamper, emas, rotan, lilin, madu,
budak laki-perempuan dijual di Pase dan Pidie (Aceh). Barang-barang tersebut

3  Lihat Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga…Jilid 2, hlm 139-41.
4  Lihat Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm 136.
5  Lihat Guillot (ed). Op.cit. Lobu Tua Sejarah Awal Barus, hm 10, 77.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 69

juga dibawa melalui sungai, lalu dipertukarkan dengan kain atau tekstil dan
komoditas lainnya. Catatan Ma Huan dalam Ying-yai Shêng-lan menyebutkan
bahwa uang berbahan emas dan timah telah dipakai pula di Sumatera.6

Komoditas-komoditas penting dalam perniagaan di Asia Tenggara dan
Nusantara itulah yang diangkut dari hulu ke hilir melalui sungai-sungai besar
dan kecil sebelum dipindahkan ke kapal-kapal besar untuk menuju India
ataupun Cina. Ketika Kerajaan Sriwijaya berkuasa pada abad ke-7 hingga ke-
11 Masehi, kerajaan yang berpusat di bagian selatan dan tengah Sumatera ini
menguasai sebagian wilayah di Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatera
bagian utara hingga bagian selatan dan Selat Sunda. Adapun komoditas yang
diperdagangkan pada masa kejayaan Sriwijaya antara lain tekstil, kapur barus,
mutiara, kayu, rempah, lada, gading, katun, perak, emas, keramik, dan gula.7
Sebagian besar komoditas yang diperdagangkan itu terus berlanjut hingga
kekuasaan Sriwijaya mengalami kemerosotan setelah serangan Chola pada
abad ke-11 dan terdesak pengaruhnya oleh kekuasaan Majapahit pada akhir
abad ke-13.

Pada bagian lain pedagang-pedagang Jawa di sisi lain juga menguasai
perniagaan rempah Maluku, dan pelabuhan-pelabuhan di sekitar pantai utara
Jawa dan juga pelabuhan Makassar di bagian utara menjadi bagian dalam
aktivitas perniagaan di sepanjang Laut Jawa ini. Jawa dalam hal kebutuhan
rempah-rempah sangat strategis.8 Dalam perniagaan antara timur dan barat,
barang dagangan yang dibawa menuju barat terdiri atas rempah, kayu, kamper,
sementara barang dagangan yang dibawa para saudagar asal India, Persia, atau
Arab yaitu tekstil atau kain. Sedangkan porselin atau keramik dibawa dari Cina.
Dalam jejaring pelayaran dan perniagaan timur-barat Nusantara, pertukaran
komoditas antara Nusantara dan bangsa-bangsa lain dalam perniagaan itu
sesungguhnya menempatkan Nusantara dalam kedudukan yang penting
terutama jika melihat beberapa komoditas seperti rempah-rempah yang sangat
berharga dalam pasar internasional.

6  Lihat Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm 140 dan 148.
7  Lihat Sartono Kartodirdjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium
Sampai Imperium, Jilid 1. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.
8  Lihat Kartodirdjo. Ibid. hlm 3 dan 5.

70 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Pelabuhan dan Jaringan Perdagangan
di Kawasan Timur Nusantara

Meskipun kawasan timur Nusantara merupakan wilayah yang semakin
dipandang sebagai kawasan periferi semenjak abad ke-19, namun sesungguh­
nya kawasan ini merupakan wilayah yang berkembang dan dinamis
semenjak Nusantara terlibat dalam pelayaran dan perdagangan internasional.
Keterlibatan Nusantara dalam pelayaran dan perdagangan internasional tidak
dapat dipisahkan dari kawasan timur Nusantara sebaai penghasil berbagai jenis
rempah yang dibutuhkan dalam perdagangan inernasional tersebut khususnya:
cengkeh, pala, fuli, kayu manis, dan sebagainya. Dengan demikian kawasan
timur Nusantara merupakan sentra-sentra produsen yang penting dalam
konteks perdagangan baik yang berskala lokal, regoinal, maupun internasional.
Berbagai pelabuhan kuno elah berkembang sebelum kedatangan orang-orang
Eropa seperti pelabuhan Makassar, Ambon, Ternate, Tidore, dan berbagai
pelabuhan lainnya baik di kepulauan Maluku maupun kawasan pantai kepala
burung di Pulau Papua.

Sebagai kawasan produsen berbagai jenis rempah yang sangat penting
bagi perdagangan internasional, kawasan timur Nusantara telah memiliki
hubungan dengan jaringan pelayaran dan perdagangan internasional. Oleh
karena itu muncullah berbaai pelabuhan kuno di kawasan ini yang merupakan
simpul-simpul tempat transaksi perdagangan antara penjual dan pembeli serta
kelompok pedagang perantara. Dari kegiatan ekonomi inilah maka berkembang
kota-kota pelabuhan sebagai market place yang memiliki fungsi penting
bagi perembangan politik dan budaya serta ekonomi wilayah di sekitarnya.
Pelabuhan-pelabuhan ini juga memiliki arti yang sangat penting sebagai tempat
perlindungan bagi para kapal dan pelaut yang sedang dalam pelayaran jarak
jauh baik untuk mengisi perbekalan maupun untuk perlindungan dari bahaya
perompakan atau pun gangguan alam seperti badai.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 71

Kepulauan Banda

Produksi rempah Banda yang dicari oleh saudagar di dunia adalah buah
pala yang di dalamnya terdapat fuli. Pusat-pusat perdagangan di dunia barat,
pala mempunyai nilai pasar yang cukup tinggi. Sebagai gambaran ketika
pedagang yang membawa pala dari Banda dan tiba di pelabuhan Anden,
Hormuz, Surat, Aleksandria, Venesia, Barcelona dan Antwerp, maka pedagang
sekaligus menjadi distributor yang meraup untung besar dan menjadi kaya
raya. Termasuk sejumlah saudagar Gujarat yang mengontrol distribusi pala
untuk wilayah pasar Laut Tengah.9

Perdagangan rempah itu tidak hanya menguntungkan pedagang asing,
seperti Gujarat dan Pesisir Arabia, namun saudagar Jawa bagian pesisir utara
juga menjadi makmur karena menjadi pedagang perantara produksi pala dari
Banda. Lewat perdagangan pala ini peran bandar Malaka menjadi salah satu
bandar yang paling sibuk, karena merupakan salah satu lokasi bertemunya
pedagang dari Cina, India, dan dunia barat dengan pedagang nusantara. Kondisi
ini juga ikut Ramainya perdagangan rempah juga membuat perniagaan dan
pelayaran antar pulau (insular) di Maluku Tenggara, seperti Kepulauan Seram,
Kei, Aru, dan Hitu yang tidak ada hentinya membawa barang makanan produk
mereka ke pelabuhan Banda untuk ditukarkan dengan pala dan fuli.

Hal yang sama juga terjadi di Kepulauan Maluku yang pada abad ke-
13 seperti Ternate, Tidore, Makian dan Bacan sibuk melakukan pertukaran
cengkeh dan pala Banda. Sebaliknya, pedagang Banda hadir di pelabuhan
Ternate dan Makian untuk mencari cengkeh sebagai simpanan yang mereka
tukarkan dengan gading. Sedangkan pedagang pesisir utara Jawa membantu
pedagang Banda dalam pelayaran perniagaan. Pedagang pesisir utara Jawa
memperkenalkan pertukaran perantara antara kain tenun dengan pala serta
fuli. Demikian pula, beras dan bahan makanan lain seperti lada, bawang putih
dan merah dipasok pedagang Jawa. Atas peran pedagang Jawa inilah orang-
orang Banda diperkenalkan dalam jaringan perniagaan internasional. Pedagang
Jawa juga mendorong orang kaya melakukan pelayaran jarak jauh menuju ke

9  Saudagar Gujarat mengumpulkan kekayaan yang sangat banyak. Meilink-Roelofsz mencatat
tentang betapa kayanya dan berbudayanya pedagang di Randar, sebuah pelabuhan di wilayaj utara
Surat. Mereka membuat koleksi pribadi berupa porselein Cina yang paling indah dan sangat mahal.
Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade and European Influence…, hlm. 63

72 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

bandar Malaka. Pedagang Banda membeli kapal layar jung dengan orang Jawa,
selanjutnya Orang kaya berlayar ke bandar Malaka dengan menggunakan jalur
selatan yang menjadi rutenya orang Jawa berlayar ke kepulauan Maluku.10

Panen pala dan fuli mengalir ke pelabuhan Banda, kemudian dipertukarkan
dengan bermacam-macam barang yang dapat dipertukarkan kembali. Pada
waktu itu pertukaran pala dan fuli belum menggunakan mata uang karena
masih sedikitnya beredar matang uang koin kepeng Cina. Pertukaran pala lebih
banyak dilakukan secara barter sebagaimana di kepulauan Banda dan Maluku
yang telah berlangsung dari abad ke-10 hingga abad ke-17.11 Dalam periode
barter itu, kadangkala orang-orang Banda melalui orang kaya bernegosiasi
dengan pedagang Jawa untuk bertukar pala dan fuli dengan keping emas atau
dengan gading. Kedua barang itu bisa menjadi simpanan penduduk Banda.

Perniagaan dengan cara itu membuat masyarakat Banda makmur, mereka
dapat membeli perahu dengan pedagang kepulauan Seram dan kapal-kapal
lainnya untuk berlayar jarak jauh. Ketika itu, orang kaya mengekspresikan
kemakmuran masyarakat Banda dengan sepatah pantun: “Menggoyang pohon
pala, ringgit jatuh dari langit.” Pantun itu, sudah menjadi sebuah foklor12 atau
cerita rakyat dari satu pulau ke pulau lain di Banda. Buah pala menjadi simbol
zaman harmoni, yakni pada zaman perniagaan di abad ke-14 hingga akhir
abad ke 16. Sebagai simbol kemakmuran, pada saat itu terjadi dorongan kuat
di kalangan penduduk Banda menjaga dan membudidayakan tanaman pala.
Penduduk Banda konsentrasi dengan tanaman pala, mereka tidak menanam
tanaman pertanian lainnya. Juga, melalui pala terbentuk jaringan perdagangan
antar pulau di kepulauan Maluku. Jaringan perniagaan itu menghubungkan
pelabuhan satu dengan pelabuhan lainnya di nusantara.

Pelabuhan kepulauan Banda sebagai jalur produksi rempah mempunyai
lima pelabuhan, empat pelabuhan berada di pulau Banda Besar dan satu

10  Meilink-Roelofsz. Ibid., Asian Trade and European Influence ….., hlm. 103; Juga lihat. Pires.
Op.cit. Suma Oriental, hlm. 193.

11  Mata uang diperkenalkan pertama kali di kepulauan Maluku oleh orang-orang Portugis
pada abad ke-15. Mata uang Portugis yang populer adalah Crusado. Namun, mata uang yang secara
massif diperkenalkan kepada masyarakat Banda untuk pertukaran oleh Belanda dengan rijkdalder.

12  Pantun itu menjadi populer dan menjadi cerita rakyat Banda pada masa itu. Sebagai simbol
pengikat antara penduduk dan tanaman pala. Untuk tulisan tentang folklor menjadi simbol zaman
harmoni. Lihat. Peter Burke. “History and Folklrore: A Historiographical Survey,” Foklore 115, 2004, hlm.
133-139.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 73

pelabuhan lainnya di pulau Banda Neira. Sementara pulau Run dan pulau Ai
yang juga menghasilkan pala dan fuli terletak berjauhan dari Banda Neira dan
pulau Banda Besar. Namun, Pulau Ai dan Run setiap kali panen pala mereka
mengirimkan ke pelabuhan Orantata di Banda Besar untuk ditaksir volume
dan nilai dari pala tersebut.

Penduduk di Kepulauan Banda pada awalnya tidak diatur oleh kekuasaan
kerajaan sebagaimana berlaku di wilayah kepulauan Maluku lainnya seperti
Ternate, Tidore dan Halmahera. Di kepulauan Banda setiap desa mempunyai
otonomi dan kemandirian. Setiap desa dipimpin oleh orang kaya termasuk
yang mengatur perolehan tanah untuk penanaman pala. Dapat diperkirakan
pada abad ke-13 telah dibudidayakan perkebunan-perkebunan pala. Mereka
melakukan penyiangan rumput dan perlindungan pohon pala dari sinar
matahari secara langsung dengan menanam pohon besar. Sementara itu, Di
Banda, budidaya buah pala menjadi tugas kaum perempuan. Setiap 3-4 bulan
berlangsung panen pala, sedangkan panen raya berlangsung setiap 7 tahun
sekali, pada panen raya buah pala berlimpah ruah. Namun, demikian, orang
kaya senantiasa menjaga harga yang tinggi untuk produksi pala Banda. Agar
harga pala tetap tinggi di pasar, maka orang kaya mengambil keputusan untuk
mengurangi pertumbuhan pohon pala dengan mendaftar pohon-pohon yang
telah berbuah dari satu kali untuk ditebang.13 Dengan demikian pasokan pala
tetap mempunyai harga bersaing di pasar internasional.

Sementara itu kelompok desa di kepulauan Banda mempunyai tata cara
pengaturan proses produksi perkebunan pala. Para orang kaya setiap menjelang
masa panen berkumpul di Orantata untuk membicarakan penetapan harga
produk penjualan pala. Dalam pertemuan itu, orang kaya juga membicarakan
prediksi panen ke depan, perlukah mengurangi pohon pala yang telah berbuah,
agar harga jual pala dan fuli tetap mempunyai harga jual tinggi. Pesatnya
perdagangan di kepulauan Banda mendorong para pedagang di sana untuk
membeli kapal layar besar agar dapat menyelenggarakan pelayaran jarak jauh.
Kapal jung yang dipergunakan oleh orang-orang Jawa dibeli pedagang Banda.
Demikian pula, kapal layar galei milik pedagang Bugis dan Buton dibeli oleh
mereka. Namun demikian, orang-orang Banda bukan pelaut yang tangguh.

13  Di kemudian hari tindakan orang kaya itu ditiru oleh VOC untuk melakukan monopoli. Untuk
hal ini lihat. R.Z. Leirissa. Sejarah Maluku Dalam Perniagaan Rempah. Jakarta: Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, 2006, hlm. 112.

74 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Karena, awak kapal sebagai budak yang tidak mempunyai disiplin kerja.
Seandainya kapal layar mengalami ketidakstabilan atau akan karam, mereka
cepat-cepat meninggalkan kapal. Ditambah pula, jangkar kapal layar yang
dipergunakan orang Banda dibuat dari kayu, bukan besi. Meskipun demikian,
pedagang Banda membeli kapal, kadang-kadang mereka sendiri lupa kapal
tersebut pernah menjadi milik mereka.14

Gambar 3.1 Buah Pala dan Fuli di Kepulauan Banda

Sumber: Dokumentasi Direktorat Sejarah, 2016

Kemajuan orang Banda terhadap perkembangan perdagangan rempah
pada abad ke-15 turut meramaikan kepulauan Banda. Kapal dagang yang
semula tidak dapat berlabuh di pesisir pantai dan sebelumnya alih muatan
menggunakakan perahu kecil untuk memindahkan barang yang ada di darat
dan di atas kapal, kemudian membangun dermaga tempat bersandar kapal-
kapal besar untuk mendekatkan kapal dengan daratan dan bongkar muat dapat
dilakukan secaqra langsung.

14  Informasi ini penulis peroleh dari wawancara dengan Usman Thalib, Ambon, 11 Mei 2017.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 75

Bertambah ramainya kepulauan Banda juga ditandai kehadiran saudagar
baik dari dari Jawa dan Melayu maupun pedagang-pedagang lokal sendiri,
seperti dari Geser, Gorang, kepulauan Aru, kepulauan Kei dan Maluku Utara.
Orang-orang Kei biasanya menciptakan kapal dan memperdagangkan kepada
orang Banda. Kapal-kapal dipergunakan mereka untuk berdagang di sekeliling
perairan Maluku Tenggara. Barang dagangan lain yang berasal dari seputar
kepulauan Maluku ke pasar Banda adalah sagu, cengkeh, kelapa, dan ikan
asin dipertukarkan dengan kain basta, tenun, gading, emas, yang kemudian
dijadikan sebagai harta kawin bagi masyarakat kepulauan Banda. Perdagangan
di kepulauan Banda dimulai di pesisir, transaksi perdagangan mempergunakan
pertukaran barang atau barter sebagaimana diselenggarakan pula di beberapa
wilayah Nusantara. Barter diselenggarakan dengan menukarkan cengkeh,
pala, dan fuli dengan barang yang dibawa oleh pedagang asing dan Indonesia,
seperti katun, piring/gelas porselen, gerabah dan peralatan pertanian. Proses
perdagangan ini mendorong terbentuknya pasar sebagai pusat dan tempat
pertemuan antara penjual dan pembeli.

Ramainya perdagangan di kepulauan Banda pada tahap berikutnya juga
mendorong masyarakat perdagangan membentuk jaringan produksi dan
distribusi barang yang diperdagangkan di pesisir pantai kepulauan Maluku
Tenggara. Orang kaya Banda menggalang kerjasama dengan pedagang di
kepulauan Maluku. Situasi ini membentuk kepulauan Banda sebagai pusat
pelabuhan perdagagnan perantara terutama komoditas pala dan fuli yang
menjadi primadona perdagangan dunia.

Untuk menguatkan kedudukan Banda sebagai pelabuhan rampah yang
semakin ramai, kemudian orang-orang kaya Banda membentuk syahbandar
secara kolektif yang meliputi orang-orang Jawa. Tujuan dibentuknya
syahbandar kolektif adalah untuk melayani beragam pedagang di kepulauan
Banda. Syahbandar awalnya memasok rempah-rempah Banda dalam jumlah
kecil kepada pedagang yang singgah, yang telah melakukan perjalanan jarak
jauh ke Banda dan kembali ke negerinya pada musim angin sebaliknya.15
Seperti halnya bulan November merupakan musim angin timur, dalam musim

15  Menjelang akhir abad ke-14 era Dinasti Ming, pelaut-pedagang Cina telah berlayar ke sana
melalui Laut Sulu. Bagaimanapun, dari akhir abad ke-14 ke atas pedagang Cina tampaknya kurang
tertarik dengan perdagangan langsung, produk rempah-rempah Banda lebih terjamin diperoleh dari
pelabuhan perantara. Untuk hal ini lihat. Hall. Op.cit. A History of Early Southeast Asia …, hlm. 314.

76 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

angin ini pedagang-pedagang asing berasal dari Gujarat, Benggala, Pesisir
Arabia dan Teluk Persia berlayar menuju kepulauan Banda. Pelayaran mereka
bertolak dari Malaka dan tiba di kepulauan Banda pada Januari. Hal yang sama
dilakukan pula oleh pedagang dari pesisir utara Jawa dan Tengah, Melayu dan
sekitar kepulauan Maluku.

Kepulauan Banda sebagai sumber produksi eksotik rempah pada awalnya
belum dapat diakses langsung oleh pedagang dari Barat, dan baru pada abad
ke-16, perkumpulan pedagang Portugis, Belanda dan Inggris mulai hadir di
Banda.16 Kehadiran orang-orang Eropa yang mencari pala beserta fulinya akhir
abad ke-16 telah meningkatkan kemakmuran masyarakat Banda. Gambaran
kemakmuran masyarakat banda terekam dalam pantun di kalangan orang-
orang Banda pada masa itu, “menggoyang pohon pala gemerincing ringgit
jatuh dari langit.”17 Pantun ini membuktikan betapa bernilainya tanaman
produksi pala dan fuli. Ketika panen raya terselenggara untuk setiap 7 tahun
di akhir abad ke-16 adalah sebesar 500 bahar fuli dan sekitar 6000 hingga 7000
bahar untuk buah pala.18 Selain itu, rempah memiliki rasio nilai tertentu jika
dibandingkan dengan rempah lainnya.

Pada awal abad ke-16, satu bahar fuli sama dengan tujuh bahar biji pala,
namun secara bertahap harga buah lada semakin murah jika dibandingkan
dengan harga fuli. Pada 1603 rasio perhitungannya adalah 1:10.19 Sementara
itu, Pires menyatakan bahwa harga satu bahar fuli sama dengan tiga hingga
tiga setengah cruzado (mata uang Portugis), sesuai kualitas barang yang akan
ditukar dengan fuli. Di sini Pires menduga, harga ini pasti sudah dipengaruhi
oleh persaingan antara orang Portugis dengan para pedagang Asia lainnya
yang menyebabkan naiknya harga di Kepulauan Banda. Dalam kenyataannya
pada 1603 menurut sebuah memorandum Belanda yang ditulis pada tahun itu

16  Padahal permintaan produksi rempah dari Banda sangat diminati di kalangan pedagang
internasional. Hingga akhir abad ke-14 produksi rempah kepulauan Banda dikonsumsi oleh pasar
internasional melalui pedagang Gujarat yang melakukan reekspor ke pasar Laut Tengah dan kemudian
mendistribusikan ke pasar Eropa. Untuk hal ini lihat, Hall. Op.cit. A History of Early Southeast Asia…,
hlm. 314.

17  Pantun ini dalam buku-buku teks membahas sejarah maritim Indonesia tidak penulis
temukan, namun penulis temukan di sebuah novel sejarah karya Hanna Rambe. Mirah dari Banda.

18  Satu bahar sama dengan 550 pound. Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz, Op.cit. Asian
Trade and European Influence ….., hlm. 324.

19  Meilink-Roelofsz, Ibid. Asian Trade and European Influence ….., hlm. 93.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 77

standar media sirkulasi adalah pala. Dapat diperkirakan bahwa nilai penting
buah pala Banda sudah melesat meningkat pada abad ke 16.20

Hampir seluruh bahan makanan dan tekstil, penduduk Banda sangat
bergantung pada impor. Selain rempah-rempah, buah kelapa, dan beberapa
jenis buah, tidak ada tanaman pertanian di kepulauan ini. Sagu datang ke
Banda bagian timur, terutama dari kepulauan Aru dan Kei. Sagu ditukarkan
dengan tekstil yang diperoleh orang Banda dari orang Jawa dan Melayu yang
ditukarkan dengan rempah-rempah. Sementara itu, beras dan bahan makanan
lainnya yang dibawa orang Jawa dan Melayu dikonsumsi oleh orang Banda
sendiri. Akibat rempah-rempah yang ditanam untuk ekspor, kebutuhan orang
Banda juga meningkat. Menanam beras dianggap tidak menguntungkan
karena akan mengurangi luas lahan rempah-rempah. Untuk tekstil mereka
sangat tergantung dari impor luar negeri. Jadi, rempah-rempah menjadi pusat
keberadaan mereka. Karena rempah-rempahlah mereka bisa mendapatkan
makanan dan pakaian.21

Kedatangan bangsa-bangsa Barat di kepuluan Banda dimulai dengan
Portugis. Kapal Portugis menyelenggarakan pelayaran pada November 1511,
mereka bertolak dari Malaka pada musim angin timur melalui rute selatan
dan tiba di Banda Neira pada Januari 1512. Kapal Portugis berlayar pertama
kali kepulauan Banda mengikuti jalur pelayaran yang sama seperti jung-jung
Malaka dan Jawa, singgah di Gresik dan pelabuhan lain di pantai utara Jawa,
dan kemudian berlayar melalui Kepulauan Sunda Kecil menuju Banda, Ambon
dan Maluku. Sekitar tahun 1520, mereka mulai menggunakan “rute Borneo”
yang membawa mereka ke Maluku melalui Brunei hanya 40 hari merupakan
jarak tempuh yang cepat. Namun demikian, jalur tradisional (selatan) secara
komersil masih menguntungkan, memungkinkan para saudagar Poetugis untuk
berdagang menuju pelabuhan Jawa dan mengumpulkan barang-dagangan di
Kepulauan Sunda Kecil, khususnya kayu cendana Timor.22 Kehadiran Portugis

20  Meilink-Roelofsz, Ibid. Asian Trade and European Influence ….., hlm.93.
21  Oleh karena itu di kepulauan Banda, benar-benar diselenggarakannya sebuah pasar
untuk barang-barang yang dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari. Untuk hal ini lihat. J.C. van Leur.
Indonesian Trade And Society. Essays in Asian Social and Economic History The Hague, Bandung: W. van
Hoeve Ltd, 1955, hlm 388.
22  Sebetulnya dengan menggunakan jalur Borneo, orang-orang Portugis sedikit mendapatkan
barang dagangan yang dapat dijual, kecuali damar dan emas. Untuk hal ini lihat. Villiers. Op.cit. “Trade
and Society in The Banda Islands in Sixteenth Century”, hlm. 723-750.

78 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

tidak mengubah sistem perdagangan yang telah terbentuk di Kepulauan
Banda. Mereka menjual pala dan fuli dengan harga tertinggi yang diterima oleh
Portugis.

Situasi ini memperlihatkan bahwa orang Portugis memberikan pengakuan
terhadap sistem perdagangan yang telah ada dan berjalan. Orang-orang
Portugis cukup lama berada di kepulauan Banda yakni sekitar 87 tahun,
mereka juga sempat mendirikan gereja katolik di Lonthor.23 Sebenarnya
selama kerajaan Portugis menyelenggarakan perdagangan di kepulauan Banda
mengalami kerugian. Pedagang Portugis yang memperoleh keuntungan besar,
Raja Portugis hanya menerima sedikit keuntungan dari perdagangan Banda,
yang memiliki kekurangan yang sama dengan perdagangan Maluku. Biaya
pengiriman ekspedisi ke kepulauan Banda sangat tinggi. Jika dibandingkan
dengan rempah-rempah lainnya, buah pala mengambil ruang yang sangat
banyak di kapal. Oleh karena itu pengiriman harus menggunakan kapal terbesar
yang dimiliki Portugis di Hindia. Setiap tahun satu kapal semacam ini (yang
dapat memuat 1.200 bahar buah pala dan fuli) berlayar ke kepulauan Banda.24
Ekspedisi perdagangan kerajaan Portugis ini mengambil bentuk pelayaran
yang diserahkan kepada seorang kapten yang layak menerimanya. Sementara
itu, kerajaan sendiri mempunyai hak 2/7 dari kargo. Selain itu, para pedagang
swasta dizinkan untuk berlayar menumpang kapal kerajaan ke Banda untuk
membeli buah pala dan fuli yang ditukar dengan barang dagangan yang bisa
diperoleh dari toko-toko kerajaan. Ketika kapal tiba di Malaka, cukup banyak
jumlah buah pala dan fuli yang seharusnya untuk kerajaan jatuh ke tangan
yang salah.25

Kemudian, tahun 1599 perusahaan dagang Belanda (VOC) hadir di
kepulauan Banda, dan diikuti oleh perusahaan dagang Inggris (EIC) pada
1601. Kapal-kapal layar Belanda di bawah pimpinan Laksamana Jacob van

23  Orang-orang Portugis di kepulauan Banda tidak melakukan penaklukkan atau memecah
belah masyarakat di sana, tidak seperti mereka hadir di Hitu, Ambon yang membantu Hitu untuk
mengalahkan Huamual. Untuk hal ini lihat. Desy P Usmany dkk. Sejarah Terbentuknya Kota Dagang
Banda, Hitu, Dan Ambon Abad 15-17. Ambon: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 2006, hlm. 57.

24  Satu bahar sama dengan 550 pon untuk ukuran pala di Kepulauan Banda.
25  Karena viceroy dan para gubernur memberikan hadiah kepada teman dan relasi. Untuk hal
ini lihat. Meilink-Roelofz. Op.cit.,, hlm. 160.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 79

Neck. Seluruh biaya perjalanan mereka ditanggung oleh VOC. Ketika mereka
datang ke syahbandar mendapatkan persyaratan untuk memberikan hadiah
kepada orang kaya dan membayar seluruh bea cukai terhadap syahbandar.
Orang-orang Belanda menyetujui permintaan tersebut dengan memberikan
hadiah cermin, pisau, gelas kristal, beludru merah dan meriam berukuran
kecil beserta mesiunya.26 Kemudian, orang kaya Banda membalas dengan
mengizinkan kepada Belanda untuk mendirikan pos dagang di rumah sewa
di tepi pantai. Pada sisi lain Belanda juga mulai menyusun strategi untuk
menguasai kepulauan Banda.

Kepulauan Aru dan Kei

Jalur perdagangan kepulauan Aru dan Kei ke kepulauan Banda merupakan
rute perniagaan tradisional. Kepulauan Aru dan Kei yang berlokasi di sebelah
timur dari kepulauan Banda, para pedagang dari dua kepulauan tersebut
menyusuri pesisir selatan dari Laut Banda. Produksi bahan makanan terpenting
yang dibawa oleh pedagang Aru dan Kei adalah sagu. Sagu ditukar dengan kain
tenun kasar dan tekstil yang didapat orang Banda dari orang Jawa dan Melayu
yang ditukarnya dengan rempah-rempah. Sagu sangat penting bagi kepulauan
Banda sehingga pada abad ke-15 sagu digunakan sebagai alat pembayaran.

Pedagang Aru dan Kei tidak hanya membawa sagu, mereka juga membawa
emas dan produk mewah ke Banda, teristimewa burung nuri dan cenderawasih
yang dikeringkan. Kemudian, produk ini ditukar dengan tekstil oleh orang
Banda. Oleh karena itu melalui pedagang Benggala, produk mewah ini tiba di
tangan orang Turki dan Persia yang menggunakannya sebagai jambul penutup
kepala. Selain itu, pedagang Kei memperdagangkan perahu kepada pedagang
Banda. Perahu buatan orang Kei diminati oleh penduduk Banda untuk
melakukan pelayaran jarak pendek. Perahu ini cocok untuk rute pelayaran dari
kepulauan Kei ke kepulauan Banda. Perahu-perahu itu dipertukarkan dengan
tekstil atau rempah-rempah. Ketika, pasar dibuka di kepulauan Banda, terutama

26  Setiap Belanda memberikan hadiah kepada orang kaya, mereka harus memberikan hadiah
itu kepada seluruh orang kaya yang berjumlah 44 orang. Untuk hal ini lihat. Alwi. Op.cit. Sejarah Maluku,
Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon., hlm. 48-49.

80 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

pada musim angin timur, pedagang Aru dan Kei datang ke Banda. Kedekatan
orang Kei dengan penduduk Banda menciptakan hubungan yang erat dalam
perniagaan, mereka dapat memesan barang-barang yang diinginkan terlebih
dahulu.

Ketika terjadi penaklukkan orang-orang Banda oleh Belanda di bawah Jan
Pieterszoen Coen, penduduk Banda melarikan diri ke kepulauan Kei. Ribuan
penduduk Banda berbondong-bondong meninggalkan Banda pada 1621.
Orang-orang Banda ini seluruhnya menetap di pulau Kai Besar (Nuhu Yuut).
Terdapat dua desa di kepulauan Kei yang dihuni oleh orang-orang Banda yakni
Banda Eli (Wanda Eli) dan Banda Elat (Wanda Elat) di bagian barat dan timur
laut Pulau Kei Besar. Jalur perniagaan ini terhenti selama perang penaklukan
itu. Akibatnya biaya pengiriman makanan dari pulau Aru dan Kei ke Banda
menjadi biaya tinggi. Kemudian, Belanda mengupayakan untuk menghidupkan
kembali jalur perdagangan kuno yang dilakukan oleh penduduk Kei dan Aru
dengan kepulauan Banda. 27

Kepulauan Seram

Pengaruh Kepulauan Seram terhadap masyarakat Banda bisa terlihat dari
Hikayat Lonthor, menceritakan Cilubintang putri bangsawan Lonthor dipinang
oleh kapitan dari timur. Gelar kapitan timur dapat diterjemahkan bangsawan
dari Kesultanan Ternate. Di dalam Hikayat Lonthor, juga ditegaskan, “Pulau
Banda banyak pula didatangi orang-orang dari kepulauan dari sebelah timur,
sampai hari ini tempat itu disebut pantai timur.”28

Perdagangan dari kepulauan Seram ke kepulauan Banda merupakan pola
perniagaan yang hampir sama dengan perdagangan kepulauan Aru dan Kei.
Kepulauan Banda sebagai tempat pasar perantara. Para pedagang bertolak dari
Seram melalui pelabuhan Amahai. Jalur perdagangan ditempuh oleh pelaut-
pedagang Seram dengan menyusuri pesisir Seram bagian timur memutar
haluan ke selatan dan tiba di Banda. Pedagang Seram sebelum memutar

27  Upaya yang dilakukan VOC adalah mendorong penyebaran agama Kristen di kalangan
penduduk kepulauan Aru dan Kei serta kepulauan Banda dengan harapan bisa membantu memulihkan
kembali hubungan perniagaan. Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz. Op.cit., hlm. 216.

28  Untuk hal ini lihat. Alwi. Op.cit., hlm. 15.


Click to View FlipBook Version