Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 131
pelabuhan perdagangan Jawa yang paling berharga tempat kapal-kapal bisa
berlabuh dengan aman dari ancaman angin, dengan bowsprit (cucur kapal)
menyentuh rumah-rumah. Di kalangan orang Jawa pelabuhan ini disebut
pelabuhan orang kaya.138
Pelabuhan Gresik sendiri memiliki posisi geografi yang lebih
menguntungkan dengan pelabuhan yang terlindung secara alami di sebuah
selat yang terletak di antara pulau Madura dan Jawa.139 Sumber Cina mengklaim
bahwa kota pelabuhan ini didirikan oleh orang Cina di sebuah tempat yang
sepi. Apabila ini benar, Gresik didirikan pada paruh pertama abad ke-14
karena sebuah sumber Cina dari tahun 1349 tidak menyebutkan adanya
sebuah pemukiman di bagian pantai tersebut.140 Pemukiman ini berkembang
dan dengan cepat meraih kemakmuran. Antara 1425 hingga 1432, jumlah
penduduk di Gresik diperkirakan mencapai 1000 orang.141
Dalam sumber sejarah lokal menyebutkan di pelabuhan Gresik pada abad
ke-15 dikuasai oleh syahbandar perempuan bernama Nyai Ageng Pinatih.
Menurut kronik kecil negeri Ryukyu, tampaknya Nyai Pinatih adalah putri
tertua Shi Jinging, seorang berasal dari Guangdong, orang yang menguasai
pelabuhan Palembang dari 1405 hingga 1421. Konon juga Pinatih seorang
penganjur Islam dan ibu angkat dari Sunan Giri. Ia adalah pedagang Muslim
kelahiran asing yang daerah asalnya ditempatkan oleh sumber yang berbeda-
beda di Palembang, Cina, atau Kamboja.142
Selain itu, Pinatih adalah pemimpin keagamaan Giri yang kekuasaannya
meningkat selama abad ke-16 hingga dia memiliki kekuasaan spiritual,
inilah yang sangat terkait dengan perdagangan. Bahkan ada sebuah legenda
tentang seorang pedagang perempuan yang giat mendapatkan pendidikan dari
penguasa Giri pertama. Dia telah melakukan operasi bisnis skala besar, seperti
138 Pires. Ibid. Suma Oriental, hlm. 193.
139 Untuk hal ini lihat. Lapian. Op.cit. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara, hlm. 50.
140 Meilink-Roelofzs. Op.cit. Asian Trade and…., hlm. 105.
141 Meilink-Roelofzs. Op.cit. Asian Trade and…., hlm. 106.
142 Nyai Pinatih orang Cina yang masuk Islam, juga diperingati di Gresik, makamnya telah
menjadi jenis keramat di mana dipercaya secara teratur untuk meditasi. Untuk hal ini lihat. Claudine
Salmon. “The Chinese Community of Surabaya, From its Origins To the 1930s Crisis,” Chinese Southern
Diaspora Studies, Voluume 3, 2009, hlm. 22-60.
132 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
“perempuan dari staveren” versi timur.143 Sebagaimana dari narasi foklor
tersebut seorang perempuan tidak hanya berperan dalam aktifitas domestik,
akan tetapi sebagai negosiator dan diplomasi untuk pelabuhan.
Pada waktu itu Gresik juga merupakan pelabuhan utama untuk kain tekstil
dari India, dan rempah-rempah dari Maluku. Eratnya perdagangan Maluku di
pelabuhan Gresik dengan Malaka terlihat jelas. Selain itu perniagaan Gresik
dengan kepulauan rempah-rempah telah mendorong pedagang kepulauan
Banda untuk aktif berniaga di perairan laut di rute selatan. Ketika, orang-orang
Banda memperoleh keuntungan dari perdagangan pala, mereka membeli
perahu-perahu jung di pelabuhan Gresik.144
Pires mencatat bahwa pedagang Gresik yang mengajak orang-orang
Banda berniaga di bandar Malaka. Dalam kesempatan itu, orang-orang Banda
berlayar ke Malaka ikut kapal jung pedagang Gresik. Perjalanan mereka ke
bandar Malaka memakan waktu sekitar tiga tahun, pelayaran pulang pergi.
Di sana para pedagang Gresik dan Banda tinggal di wilayah Ilir.145 Pedagang
Gresik di pelabuhan Malaka berniaga beras dan rempah-rempah yang
kemudian mereka tukarkan dengan keramik dan sutera dari Cina.146 Juga
mereka bertukar untuk memperoleh kain katun dari Bengala, Gujarat dan
Koromandel.147Di pelabuhan Malaka mereka tidak hanya berniaga, akan tetapi
di Malaka kapal-kapal bertemu dan menunggu angin baik untuk kembali ke
negeri asalnya. Mereka kembali pada bulan Maret, ketika angin barat bertiup
yang melancarkan perjalanan ke timur.148 Para pedagang ketika kembali ke
pelabuhan Gresik, biasanya pedagang Malaka ikut bersama komoditi mereka
143 Cerita rakyat atau folklor ini adalah sebuah sindiran terhadap sebuah legenda terkenal
Belanda tentang seorang perempuan pedagang kaya sebuah kota terkenal stavoren atau staveren.
Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade…, hlm. 106.
144 Perahu jung itu dipergunakan oleh pedagang Banda untuk keperluan pelayaran jarak jauh.
Pedagang Banda merupakan pelaut dari Indonesia bagian timur pada abad ke-16 yang satu-satunya hilir
mudik dalam perniagaan maritim. Untuk hal ini lihat.Meilink-Roelofsz. Ibid., hlm.110.
145 Untuk hal ini lihat. Pires. Op.cit. Suma Oriental…, hlm. 199.
146 Pedagang-pedagang Cina sejak berdirinya bandar Malaka pada akhir abad ke-15 tidak lagi
singgah ke pelabuhan-pelabuhan di Jawa, akan tetapi mereka menunggu pedagang Jawa dan kepulauan
rempah-rempah hadir di Malaka.
147 Untuk hal ini lihat. Pires. Op.cit. Suma Oriental…., hlm. 230.
148 Pada bulan Oktober kapal-kapal sudah berangkat dari Maluku menuju pusat-pusat
perdagangan di Makassar, Gresik, Demak, Banten, sampai ke Malaka dan kota-kota lain disebelah barat.
Lapian. Op.cit. Pelayaran dan Perniagaan…, hlm. 4.
Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 133
(kiwi). Karena perjalanan jauh dan menempuh waktu yang lama, maka mereka
singgah di sejumlah pelabuhan pesisir utara-tengah Jawa. Pada abad ke-15-16
kota pelabuhan pesisir utara Jawa telah seperti emporium, artinya pelabuhan
telah menyediakan segala macam komoditi yang diperlukan. Sehingga mereka
dapat bertransaksi dengan mudah pada hari-hari di mana mereka singgah.
Misalkan di Jepara, mereka bisa mendapatkan beras murah, dan memperoleh
keramik dan gelas asal Siam. Kemudian, singgah di pelabuhan Lasem bisa
berniaga dan memperoleh uang kepeng tembaga Cina dan kain-kain berasal
dari Benggala.149
Demikian pula, mereka bisa singgah di pelabuhan Rembang untuk
mendapatkan kayu dan hasil hutan seperti rotan dan madu. Rembang juga
terdapat pembuatan kapal junk Jawa. Penduduk distrik Rembang menggemari
kain-kain katun dari India. Rembang, juga mempunyai beras yang enak dan
bahan makanan lain, yang biasanya diekspor melalui Demak dan kemudian
melalui Jepara.150 Sementara itu, di kota-kota pelabuhan Jawa utara seperti
Gresik dan Jaratan,151pedagang dari kepulauan rempah dapat menukarkan
atau membeli lada, beras dan garam. Pada abad ke-16 dan ke-17 di sepanjang
pantai utara Jawa Timur terdapat petak-petak garam, yang merupakan salah
satu ekspor utama antara Yuwana dan Surabaya. Para pedagang membawa
garam Jawa Timur ini ke Sulawesi dan Maluku serta memperdagangkan
secara langsung maupun melalui Banten ke Sumatera: “Dari Jaratan, Gresik,
Pati, Juwana dan tempat-tempat sekitarnya, mereka membawa garam yang
mutunya baik. Orang biasanya membeli 800 gantang seharaga 150.000 perak
dan menjualnya di Banten seharga 1000 perak tiap tiga gantang. Juga, mereka
membawa ke Sumatera (ke pelabuhan-pelabuhan) seperti Baros, Pariaman,
Tulang Bawang, Indragiri dan Jambi.”152
149 Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade…., hlm. 213.
150 Pelabuhan Jepara terletak di sebuah teluk yang bisa dimasuki kapal yang cukup besar.
Letaknya yang strategis membuat pelabuhan Jepara menjadi pelabuhan singgah yang penting bagi
kapal-kapal yang berdagang dari Jawa ke kepulauan rempah-rempah. Untuk hal ini lihat. Meilink-
Roelofsz. Op.cit. Asian Trade…., hlm. 109.
151 Pelabuhan Gresik dan Jaratan merupakan pelabuhan kembar yang terletak berhadapan
dengan muara sungai. Syahbandar utama berkedudukan di Gresik, sedangkan di Jaratan ditempatkan
syahbandar muda. Pada 1625, syahbandar muda di Jaratan dikenal pula sebagai Ince Muda yang
merupakan seorang Tionghoa. Untuk hal ini lihat. Lapian. Op.cit. Pelayaran dan Perniagaan…, hlm.108.
152 Reid. Op.cit. Asia Tenggara… Jilid II, hlm. 33-34.
134 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Peranan penting pelabuhan Gresik dalam jaringan perdagangan rempah
dan komoditi perdagangan lainnya terlihat ketika pada abad ke-15-16 M,
Gresik membentuk jaringan perdagangan dengan bandar Malaka. Tokoh
berpengaruh dalam perdagangan Gresik dengan bandar Malaka adalah Pati
Yusuf, seorang penguasa wilayah Gresik yang memiliki hubungan dengan
penguasa sedayu dan Jepara. Pati Yusuf dalam sejarah dikenal sebagai rekan
seperjuangan Pati Demak.153 Pati Yusuf mempunyai koneksi niaga yang baik
dengan para saudagar dan penguasa di Malaka, bahkan Pati Yusuf berhasil
memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku untuk dipasarkan di
Malaka. Keberhasilan Pati Yusuf di Malaka juga didorong oleh ayahnya yang
bernama Pati Adam, seorang pedagang yang sudah lama menetap di Malaka. Di
Malaka, Pati Adam menikah dengan seorang perempuan dari sebuah keluarga
Melayu yang keluarga dekat dengan bendahara dan Sultan Malaka. Dari hasil
pernikahan itu lahir Pati Yusuf yang kelak setelah dewasa juga melanjutkan
usaha niaganya di Malaka. Hubungan keluarga Pati Adam dengan keluarga
di Gresik terus terpelihara dan ketika Pati Yusuf kembali ke Gresik bersama
ayahnya tetap membagun usaha niaga keluarganya yakni tetap melanjutkan
usaha perdagangan rempah-rempah dengan Maluku.
Jaringan usaha perniagaan Pati Yusuf pada gilirannya juga dimanfaatkan
membuka usaha perdagangan grosir kain tekstil India dengan produksi
rempah-rempah Maluku. Produksi tekstil India yang diperoleh Pati Yusuf
dalam jumlah besar dari jaringan bandar Malaka. Kemudian, tekstil itu dijual
ke ke Banda dan Maluku154. Demikian pula, produksi rempah-rempah yang
meliputi cengkeh, biji pala, dan bunga pala dari Banda dan Maluku dijual
ke bandar Malaka. Pati Yusuf merupakan fenomena burjuasi yang sedang
tumbuh-kembang dan menguasai jaringan perdagangan antar kepulauan di
kawasan timur dan barat nusantara.155
Rempah-rempah dan tekstil usaha Pati Yusuf mengalami kemerosotan
setelah Portugis menguasai Malaka. Pati Yusuf berupaya untuk merebut kembali
bandar Malaka dari tangan Portugis, dengan melakukan penyerangan dengan
153 Pires. Op.cit. Suma Oriental…, hlm. 198.
154 Pires. Ibid., hlm. 199.
155 Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade…, hlm. 112.
Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 135
menggunakan kapal jung berukuran kecil, usaha Pati Yusuf itu mengalami
kegagalan. Dia kembali melakukan penyerangan terhadap kekuasaan Portugis
di Malaka dengan memesan sejumlah kapal di Pegu, akan tetapi tetap
mengalami kegagalan.156 Sejak itu hubungan Gresik dan Pelabuhan di Malaka
mengalami kemunduran dan para pedagang nusantara memindahkan pusat-
pusat perdagangannya ke daerah lain di pantai timur dan barat Sumatera dan
Banten di Jawa.
156 Meilink-Roelofsz. Ibid…, hlm. 120.
TERBENTUKNYA
KOMUNITAS PESISIR
DALAM PERNIAGAAN
REMPAH
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 139
Komunitas Di Kepulauan Banda
Sumber-sumber Sejarah tentang kepulauan Banda bersepakat bahwa di
kepulauan itu tidak ada kerajaan yang dipimpin oleh raja. Desa-desa
di sana dipimpin oleh orang kaya. Istilah orang kaya adalah keluarga
(oligarki) tertua di desa yang mempunyai basis kekayaan atas tanah dan
harta. Hal ini seperti di Mangindanao, Filipina desa komunal (barangay) yang
dipimpin oleh orang kaya.
Orang kaya yang menegosiasi perdagangan pala dengan pedagang asing
atau luar kepulauan Maluku. Sementara untuk urusan produksi pala diserahkan
kepada kepala kampung kebun pala. Produksi pala dari kepulauan Banda
sudah dikenal baik di jalur rempah Indonesia bagian timur maupun di jalur
perniagaan internasional. Misalkan dalam kitab Negarakertagama yang terbit
pada paruh kedua abad ke-14 telah menyebutkan Wandan (Banda) sebagai salah
satu kepulauan Indonesia bagian timur penghasil rempah-rempah. Bahkan di
pelabuhan Alexandria, Mesir pada abad ke-10 produksi pala kepulauan Banda
telah masuk ke daftar perdagangan. Hal ini berarti telah berlangsung pelayaran
jarak jauh yang menempuh sepanjang jalur perdagangan dari kepulauan Banda
hingga perairan Laut Tengah.
Kemungkinan besar, pohon-pohon pala di kepulauan Banda yang tumbuh
subur seperti hutan itu merupakan tanaman liar, dan kemudian dibudidayakan.
Hal serupa pohon cengkeh yang tumbuh subur di pulau-pulau utama dan kecil
di kepulauan Maluku seperti Tidore, Ternate, Makian dan Bacan tumbuh liar
dan kemudian dibudidayakan. Pada awal abad ke-15 setelah menghasilkan
keuntungan besar, mereka menata pohon-pohon pala itu ke dalam sistem
perkebunan.1 Kepala kampung menyelenggarakan perkebunan pala dengan
menggunakan sejumlah budak yang mereka beli di Ambon, Buton, dan
Sumbawa. Pohon pala yang sudah besar dapat menghasilkan buah sepanjang
tahun. Perempuan Banda yang memetik buah pala setiap harinya dan mereka
yang mengurus budidaya pala.
1 Dalam sistem perkebunan ada keteraturan dan perawatan untuk pohon pala hingga
menghasilkan buah berkualitas. Juga, terdapat peraturan memetik buah pala, harus sudah merekah,
kalau melanggar akan dikenakan hukuman.
140 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Berdasarkan catatan Tom´e Pires penduduk Banda pada abad ke-16 antara
2500 hingga 3000 jiwa. Penduduk Banda memiliki kulit yang cerah dan rambut
hitam yang lurus, berkebalikan dengan orang Maluku yang mempunyai
kulit hitam dan rambut ikal keriting. Andreas Der Urdaneta, orang yang
mengunjungi kepulauan Banda pada 1535, mempunyai kesan telah tampak
tanda kemakmuran, usaha-usaha perniagaan dan kemajuan peradaban di
sana.2
Tidak dapat disangkal pedagang datang ke kepulauan Maluku dan Banda
untuk mendapatkan rempah-rempah. Padahal cengkeh dan pala hanya sebagian
kecil dalam barang dagangan. Justru bahan makanan seperti beras, garam,
ikan kering, tekstil dan barang logam yang memenuhi muatan kapal yang
melintasi perairan jalur rempah. Harga pala yang bernilai tinggi dan terutama
bunga pala (fuli) penutup luar biji buah pala mempunyai harga tinggi. Jika
diperbandingkan di pasar rempah-rempah 10 bahar pala sama dengan 7 bahar
fuli. Pada 1532 satu perangkat gong Jawa bernilai 20 bahar fuli. Sementara itu,
orang kaya Banda menyetujui satu bahar fuli senilai dengan 28 pakaian katun
dari Gujarat, sedangkan satu bahar pala senilai 4 helai pakaian katun Gujarat.3
Dari deskripsi pertukaran di atas, pala dan fuli menjadi daya tarik
kedatangan pedagang Jawa, Melayu dan Cina di abad ke-15 dan ke-16 ke
kepulauan Banda. Akhirnya mereka tinggal di sana dan menikahi perempuan
lokal. Pedagang dari pelabuhan pesisir utara Jawa seperti Tuban, Jaratan,
Gresik, Sedayu dan Surabaya biasanya mereka beberapa bulan tinggal di
kepulauan Banda menunggu musim angin yang baik untuk membawa mereka
kembali. Dalam situasi seperti ini mereka seringkali mengambil istri sesaat di
kalangan perempuan lokal. Pada 1609, saudagar Jawa menetap di kepulauan
Banda sekitar 1500 orang.4
Dengan keuntungan besar dalam berdagang pala dan fuli, penduduk
Banda memperluas area penanaman pohon pala di beberapa pulau. Pada abad
ke-16 secara alamiah menciptakan Banda sebagai satu-satunya produksi pala
di dunia, tetapi sekaligus sebagai pengimpor beragam bahan makanan yang
2 Untuk hal ini lihat. Villers. Op.cit. “Trade and Society in The Bandan Islands…”, hlm. 723-750.
3 Pada 1547 saudagar Spanyol yang bersaing dengan Portugis dapat memperoleh 800 kuintal fuli
dan 6000 kuintal pala. Villiers. Op.cit.. “Trade and Society….,” hlm. 723-750.
4 Untuk hal ini lihat Villiers. Ibid., hlm. 723-750
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 141
mereka butuhkan sehari-hari. Bahan makanan itu berasal dari komunitas di
luar kepulauan Banda seperti Melayu, Jawa, Cina dan Arab. Komunitas yang
saling bertukar barang dagangan itu di kepulauan itu saling berinteraksi. Proses
pembentukan komunitas itu yang menjadi pembahasan dalam penulisan pada
bagian tiga ini.
Orang Banda Sebagai Penghuni Awal Kepulauan Banda
Komunitas Banda telah terbentuk seiring dengan mulainya permintaan fuli
dan biji pala dari Timur Tengah dan India. Permintaan dari kedua negeri itu
dimulai pada abad ke-9 dan ke 10, terutama di Timur Tengah untuk kebutuhan
muminisasi (pengawetan jasad-jasad raja) dan pengobatan. Produk-produk
rempah dari Banda muncul dalam kitab zat kimia tahun 870 karya Al Kindi.5
Sementara itu, cengkeh, biji pala dan fuli telah masuk daftar catatan perdagangan
di pelabuhan Kairo dan Aleksandria, Mesir pada abad ke-10, namun semua itu
sangat jarang, dan mahal di Eropa hingga abad ke-14.6
Saudagar pesisir utara Jawa pertama kali mengunjungi kepulauan Banda
menyandarkan kapal jung7 di pelabuhan Naira. Mereka membawa pakaian
tekstil katun yang berasal dari Gujarat, Koromanel, dan Bengal. Pakaian tekstil
itu oleh orang-orang Banda masih dipandang sebagai keajaiban supernatural.
Oleh karena itu, penduduk Banda menghormati orang Jawa sebagai manusia
pembawa peradaban baru. Peristiwa itu berlangsung pada abad ke-13, ketika
kerajaan Jawa Timur mulai meningkatkan perniagaan rempah-rempah dengan
pulau-pulau Indonesia Timur.8
Nampaknya penduduk Banda ketika itu masih belum berpakaian secara
sempurna. Pria Banda masih berpakaian kulit kayu yang banyak diproduksi
5 Produk-produk rempah Maluku dan Banda yang dikapalkan oleh para pedagang Arab ke Timur
Dekat biasanya melewati pelabuhan-pelabuhan di India atau Srilanka dan sebagian dijual di sana. Untuk
hal ini lihat. Thalib. Op.cit. Islam di Banda Neira…, hlm. 63.
6 Orang Cina juga mengenal cengkeh dan pala pada masa Dinasti Tang, tetapi menggunakannya
dengan hemat sebelum abad ke-5. Untuk hal ini lihat. Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga….
Jilid II, hlm. 5.
7 Jung, perahu layar besar dilengkapi beberapa tiang layar untuk perjalanan jauh membawa awak
seratus lebih bobot dari 150 hingga 400 ton, asal dari Jawa.
8 Untuk hal ini lihat. Schieke. Indonesian Sociological Studies. Selected Writing. Vol.2. The Hague:
W. Van Hoeve, 1957, hlm. 103.
142 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
di wilayah Nusa Tenggara Timur. Hal yang sama dilakukan oleh perempuan
Banda mengenakan pakaian kulit kayu untuk bagian tubuh bawah, sedangkan
bagian atas telanjang. Mereka berpakaian seperti itu hanya pada upacara tradisi
keagamaan yang membutuhkan berpenampilan sempurna di hadapan Tuhan
Maha Pencipta. Oleh karena itu, ketika saudagar Jawa pertama kali datang ke
kepulauan Banda membawa pakaian bagi mereka merupakan suka cita.9
Pada saat orang-orang Banda masih memungut buah pala sebagai
tumbuhan endemik, mereka memeluk agama pagan atau animisme. Namun,
setelah mereka sudah berhasil membudidayakan tanaman pala, mereka mulai
dipengaruhi dengan agama Islam. Perkembangan agama Islam di kepulauan
Banda dibawa oleh saudagar Jawa pesisir utara seperti Gresik, Jaratan, Tuban
dan Demak. Hal yang sama juga berlangsung di Hitu, Ambon saudagar Tuban
menghuni di Hitu atas permintaan Raja untuk mengajarkan agama Islam.10
Gambar 4.1 Produksi Pala di Banda pada masa lalu
Sumber: Troppenmueum, Koleksi BPNB Ambon, 2017
9 Pada umumnya pakaian dipergunakan awalnya untuk upacara keagamaan. Dengan
mempergunakan pakaian yang baik, rapi dan sopan yang menjadi syarat untuk menjalankan upacara.
Untuk hal ini lihat. Barbara Watson Andaya. “The Cloth Trade in Jambi and Palembang Society During
The Seventeenth and Eighteenth Centuries,” Indonesia, No. 48, 1989, hlm. 26-46.
10 Orang-orang Tuban hadir di Hitu untuk menukarkan beras Jawa dengan rempah-rempah.
Untuk hal ini lihat. Lombard. Op.cit. Nusa Jawa: Silang Budaya. Jaringan Asia, hlm. 251.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 143
Juga, pada awal abad ke-12 penduduk Banda masih mengumpulkan pala
yang jatuh ke tanah dari pohon pala liar. Mereka mengumpulkan pala itu
sebelum dipertukarkan yang pengumpulannya dipusatkan di Orantata, Pulau
Banda Besar. Ketika itu, kepulauan Banda yang menghasilkan pala adalah
pulau Banda Besar, Neira, Ai, Run dan Rozengain (Pulau Hatta). Sedangkan,
pulau Gunung Api dijadikan tempat sebagai tanaman pohon lain yang
kayunya dipergunakan untuk membangun rumah dan kayu api. Sementara itu,
setelah pengiriman fuli dan biji pala secara teratur berlangsung tahun 1370
ke luar kepulauan Banda, maka mereka dapat membeli sejumlah budak untuk
membudidayakan pohon pala.11
Pada abad ke-15 dan ke-16 pertumbuhan Banda sebagai komunitas
bersamaan dengan puncak zaman perdagangan. Di kepulauan Banda Besar
terdapat empat pelabuhan yang mendukung perkembangan perniagaan
komunitas Banda. Keempat pelabuhan itu adalah Selamon, Kombir, Orantata,
dan Lontor. Ditambah pula dengan pelabuhan Naira yang cukup penting,
terutama seringkali dikunjungi oleh pedagang dari Jawa.12 Kepulauan lain
tidak mempunyai pelabuhan dan perpindahan produksi pala dari pulau lain
di sekitar Banda diselenggarakan di pelabuhan Lontor, yang memberikan
tempat bersandar perahu paling aman dan terbaik. Perkampungan penduduk
menyebar membentuk arit sepanjang Teluk Banda dan di sana juga ditemukan
pohon-pohon pala.
Bersamaan dengan “zaman perdagangan”13 di jalur rempah tumbuh elit
perdagangan, orang yang menjadi kaya dan berkuasa dalam perdagangan. Di
kepulauan Banda, orang kaya melesat dalam bernegosiasi perdagangan pala
dengan pedagang asing. Anthony Reid dalam membahas kedudukan dan peran
orang kaya yang cukup luas di Asia Tenggara membagi tiga pengelompokkan
peran orang kaya. Pertama, saudagar asing tertarik pada pelabuhan karena
terdapat kesempatan berniaga tetapi dapat meninggalkan pekerjaan itu
lagi. Kedua, orang asing atau keturunan orang asing, sebagian pembauran
11 Lombard. Ibid., hlm. 252.
12 Pedagang dari Jawa pada abad ke-15 sudah mulai menetap di Banda Naira dan membangun
komunitas di sana. Villies, Op.Cit., hlm. 723-750. Juga, wawancara dengan Usman Thalib, 13 Mei 2017.
13 Zaman perdagangan meupakan istilah untuk menjelaskan kejayaan Asia Tenggara di jalur
maritim pada abad ke-15 hingga ke-16. Untuk hal ini lihat, Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun
Niaga… Jilid 2, hlm. 3-4.
144 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
saudagar pejabat, menjadi perantara antara istana dan pedagang. Ketiga,
bangsawan pribumi yang tertarik pada perdagangan karena kedudukannya
atau kekayaannya.14
Dari penjelasan di atas tentang pengelompokkan orang kaya dalam
zaman perdagangan, sepertinya orang kaya kepulauan Banda bisa diterapkan
dalam pengelompokkan yang ketiga. Meskipun, di kepulauan Banda tidak
terdapat kerajaan, akan tetapi bangsawan dapat dipergunakan sebagai status
kekuasaannya. Kekayaan yang mereka miliki dipergunakan untuk menentukan
pengawasan terhadap perdagangan.
Orang kaya di kepulauan Banda hampir mirip dengan orang kaya di
Magindanao, Filipina pada abad ke-14, di sana orang kaya adalah sejenis
bangsawan dengan hak dan kekuasaan dalam perdagangan. Dapat pula sebagai
sebagai seorang pandita orang yang bijak berpengetahuan hukum Islam dan
adat istiadat. Juga, orang kaya berperan sebagai pengetua desa yang mewakili
adat tradisional dan sumber kekuasaan.15 Selain itu, orang kaya memiliki makna
yang mengekspresikan asal-usul aktifitas dagang sejumlah keluarga penguasa.
Mereka adalah bangsawan berbasis modal yang kaya karena perdagangan.
Orang kaya kepulauan Banda tidak hanya dari kalangan jenis kelamin
lelaki, tetapi juga perempuan. Orang kaya perempuan dalam menyelenggarakan
kegiatan perniagaan seperti negosiasi dengan pedagang asing berpakaian
berjubah yang menutupi kepala dan berlengan panjang. Ketika, perempuan
orang kaya keluar dari rumah, dia diikuti dan dikawal oleh budak perempuan
yang membawa kipas dan payung.
Sementara itu, orang kaya pria berpakaian celana hingga sebatas betis dan
baju berbahan sutra, sedangkan bagian kepala berbulu burung cenderawasih.
Juga di bagian belakang orang kaya diikuti oleh budak-budak yang membawa
senjata laras panjang milik tuannya. Dalam berpakaian mewah seperti itu,
14 Pengelompokkan orang kaya dipergunakan Reid untuk menganalisa peran mereka di zaman
perdagangan Asia Tenggara dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga Jilid 2 Jaringan Perdagangan
Global, hlm. 134-135.
15 Gaya hidup orang kaya di Mangindanao, Filipina berlimpah kekayaan mulai dari berpakaian
berlapis emas, keris dengan gagang emas, berlian, dan makanan yang banyak dilayani oleh istri-istri
mereka. Untuk hal ini lihat. William Henry Scott. Barangay. Sixteenth Century Phillippine Culture and
Society. Manila: Ateneo University Press, 2004, hlm. 175-176.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 145
mereka menjadi percaya diri dalam menyelenggarakan kegiatan perdagangan.16
Pada abad ke-15, penduduk kepulauan Banda hidup dalam komunitas-
komunitas kecil di pesisir berjalan baik yang mirip dengan republik desa-
desa. Ketika itu, penduduk kepulauan Banda ditaksir berjumlah 13.000 jiwa.17
Masing-masing desa diketuai oleh orang kaya atau warga terkemuka. Kota
pelabuhan terkemuka adalah Orantata, Selamon, Lonthoir dan Kombir yang
terletak dalam wilayah Banda Besar yang berbentuk bulan sabit. Kepulauan
Banda Besar terpisah beberapa kilometer dari Banda Naira. Para orang kaya
sering melakukan pertemuan di balai desa untuk mendiskusikan permasalahan
tempat ibadah, penyelenggaraan upacara dan pembagian hak atas kebun-kebun
pala.
Orang-orang Banda sebagian besar menghuni di pesisir pantai menangkap
ikan dan mengumpulkan pala yang sudah matang dan memprosesnya menjadi
biji pala yang siap diperniagakan. Juga, buah pala diproses menjadi fuli (serat
kering di sekitar biji tersebut) untuk dijual kepada para pedagang setempat
atau pendatang. Mereka menyelenggarakan perniagaan itu berdasarkan suatu
sistem keluarga yang telah lama disepakati, dan hak desa atas setengah juta
pohon yang mungkin sengaja ditanam, atau tumbuh dengan sendirinya,
namun tetap memerlukan pemeliharaan yang terus-menerus. Hal ini meliputi
membersihkan rumput di bawah pohon, menyingkirkan dahan-dahan kayu
yang mati atau patah, dan melindungi kebun-kebun tersebut dengan tanaman
peneduh, atau pohon kenari. Pohon kenari tumbuh hingga dalam ukuran besar
dan menghasilkan buah yang dapat dimakan, kayu api, dan batang kayu ukuran
raksasa yang dapat dipergunakan untuk pembuatan perahu.
Di Pulau Lonthor, kebun-kebun pala tersebar dari dataran rendah sebelah
utara sampai ke dataran tinggi pusat setinggi 100 meter dan hampir sampai ke
puncak daerah sekitarnya setinggi 200 meter, yang mengelilingi sebagian dari
pantai sebelah selatan Pulau Run dan Ai yang jauh lebih kecil. Sementara itu,
Banda Naira mempunyai kedudukan utama. Perselisihan antar keluarga dan
desa, terutama mengenai hak atas hasil panen, pada umumnya dapat diatasi
16 Deskripsi ini didasarkan atas gambar yang diciptakan oleh Jacob Van Neck mengenai aktifitas
orang kaya Banda dalam perniagaan dengan orang-orang asing. Reid. Op.cit. Asia Tenggara…. Jilid II,
hlm. 140.
17 Penduduk kepulauan Banda terbesar menghuni Banda Besar, dan kemudian disusul dengan
Naira. Untuk hal ini lihat. Hanna. Op.cit. Kepulauan Banda…, hlm. 23-24.
146 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
oleh orang kaya. Singkatnya, terdapat dewan yang terdiri dari orang-orang tua
kampung yang sangat dihormati, tetapi tidak ada federasi dewan-dewan di satu
pulau atau yang meliputi seluruh kepulauan tersebut.
Komunitas Jawa Di Kepulauan Banda
Penduduk kepulauan Banda menyukai orang Jawa, Cina, dan Buton
sebagai relasi dagang yang teratur. Para pengusaha Asia itu banyak sekali
mengirimkan kapal layar, beberapa di antaranya selalu berada di pelabuhan.
Sebagai contohnya setiap tahunnya pedagang Keling dari India yang berbasis
di pelabuhan Malaka mengirimkan 8 kapal layar dan 4 kapal layar dari Gresik,
Jawa Timur ke kepulauan Banda.18 Ditambah pula, orang-orang Banda lebih
cocok mengkonsumsi barang-barang yang dibawa oleh pedagang Jawa.
Alih-alih pedagang Jawa mau melakukan tawar-menawar dengan santai atas
transaksi, suatu kebiasaan yang meningkatkan jual beli menjadi pergaulan
sosial yang menyenangkan.
Pedagang Jawa pesisir utara seperti Gresik, Tuban, dan Melayu berlayar
menuju kepulauan Banda melalui jalur selatan yakni mulai dari Sumatera, Jawa,
Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan masuk
ke kepulauan Maluku bagian tenggara di perairan kepulauan Banda. Jalur
selatan ini memudahkan pelayaran karena jarak antara satu pulau dengan pulau
lainnya dekat bahkan terlihat sambung-menyambung dan hanya dibatasi oleh
selat yang tidak begitu besar, sehingga lebih aman, mudah dicapai dan dikenali.
Pada abad ke-14 pedagang Jawa hampir setiap tahun berlayar mengunjungi
kepulauan Banda, mereka menggunakan perahu jung berlayar dengan awak 100
orang. Pada umumnya, perjalanan ditempuh selama 3 bulan tiba di pelabuhan
Banda Naira.19 Mereka menetap di sana untuk sementara menunggu arah angin
yang menguntungkan untuk membawa mereka pulang. Jika, mereka berangkat
18 Mulai abad ke-15 pedagang Jawa dan Malaka yang berdagang di pelabuhan Malaka berkunjung
ke kepulauan Banda setiap tahun. Untuk hal ini lihat. Tome Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 240
19 Selama perjalanan 3 bulan dengan membawa awak kapal 100 orang mereka memerlukan
makanan yang memadai. Kegiatan awak kapal yang pokok dan tidak pernah disoroti adalah memasak
makanan seperti menanak nasi. Untuk menanak nasi adalah perlunya pengapian. Pada abad ke-14
sudah dipergunakan arang untuk mendapatkan api yang baik bagi memasak. Arang ini diproduksi secara
masif di Cina. Ibid., Lombard. Op.cit. Nusa Jawa…Jilid II, hlm. 263.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 147
pada musim timur, yakni sekitar Juni-September, maka mereka kembali ke
pesisir Jawa pada Desember-Maret. Sehingga, mereka paling lambat tinggal di
kepulauan Banda sekitar 3 bulan.
Pedagang Jawa ini membawa barang makanan seperti beras, garam,
dan lada. Juga, di kargo kapal membawa peralatan besi seperti kapak, pisau,
arit, dan cangkul. Selain itu, mereka membawa tekstil/pakaian katun dari
Corommandel, Bengal dan Gujarat, juga sutera dari Cina. Kadangkala mereka
membawa pula perhiasan emas, apabila ada yang memesan. Sebagaimana
sekilas dikatakan di atas, orang-orang kepulauan Banda cocok dengan barang-
barang yang dibawa oleh orang-orang Jawa, terutama tekstil dari India, sangat
dinantikan kedatangannya.20
Sementara itu, setelah pertukaran disepakati antara barang-barang
yang dibawa oleh pedagang dengan pala dan fuli dari penduduk Banda,
maka orang-orang Jawa akan memuat ke dalam ruang kargo kapal mereka.
Pedagang-pedagang Jawa, ketika mereka berada di kepulauan Banda, mereka
tidak hanya di Naira, akan tetapi berkunjung pula ke pelabuhan-pelabuhan
lain seperti Selamon, Kombir, Orantata dan Lonthor. Mereka, juga melakukan
transaksi perdagangan di sana. Mereka, juga datang ke kebun-kebun pala
di dataran tinggi Banda Besar. Untuk menuju ke perkebunan pala dengan
menempuh perjalanan kaki dari pantai sekitar 4-5 kilometer dapat mencapai
kebun pala seperti hutan lebat bercampur pula dengan pohon-pohon besar
kenari. Kadangkala terdapat pula beberapa pohon cengkeh di perkebunan pala
tersebut. Pada saat menjelang panen pala bertengger kakatua dan burung-
burung lainnya untuk membaui wangi harum buah pala.21
Orang-orang Jawa lambat-laun mulai menghuni kepulauan Banda,
meskipun ketika angin baik mereka kembali ke Jawa. Mereka diperbolehkan
oleh orang kaya untuk membentuk semacam komunitas, dan mereka mulai
memperkenalkan kesenian dan kebudayaan Jawa seperti pakaian Jawa dan
memainkan gong kesenian Jawa. Perangkat gong itu tentunya diikuti dengan
tarian dan cerita-cerita Jawa. Perangkat gong Jawa disukai oleh orang Kaya,
20 Lombard. Op.cit. Nusa Jawa….Jilid II, hlm. 245.
21 Suasana ketika panen pala di kepulauan Banda dideskripsikan dengan menarik dalam novel
sejarah yang ditulis, Hanna Rambe. Mirah dari Banda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010, hlm. 43-
45.
148 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
dan mereka meminta untuk menjadi alat tukar dengan pala dan fuli.
Setelah seringkali pedagang Jawa singgah di kepulauan Banda, mereka
membutuhkan hubungan perkawinan sementara dengan perempuan setempat.
Pola perkawinan sementara antara pedagang Jawa dengan perempuan lokal
digambarkan oleh Van Naeck pada awal abad ke-17:
“Jika orang asing dari negeri lain tiba di sana dan bertanya apakah mereka
menginginkan seorang wanita, wanita-wanita dan gadis-gadis muda itu
sendiri juga menunjukkan dirinya, dan pedagang asing dapat memilih yang
paling berkenan dihatinya, asalkan mereka setuju dengan harga yang harus
dibayarkan, hingga jumlah bulan tertentu. Begitu mereka setuju dengan
bayaran tersebut (yang sesungguhnya tidak seberapa dibandingkan dengan
kenikmatan yang diperoleh darinya), si wanita pun datang ke rumahnya,
dan melayaninya siang hari sebagai pelayan, dan malam hari sebagai istri.
Sejak itu dia tidak boleh bermain dengan perempuan lain, sebab jika itu
terjadi dia akan mendapatkan kesulitan besar dengan istrinya, sedangkan si
wanita pun sama saja, sepenuhnya tidak boleh bermain dengan lelaki lain,
tetapi perkawinan itu berlangsung selama si pedagang tinggal di sana, secara
damai dan rukun. Jika si pedagang akan pergi, dia memberikan apa saja yang
telah dijanjikannya, dan begitulah mereka saling berpisah sebagai dua orang
sahabat, dan si wanita itu lalu dapat mencari pria mana pun yang disukainya,
dengan tetap terhormat, tanpa skandal”.22
Pola relasi perempuan dan pria itu merupakan ritus perkawinan resmi
dilakukan untuk hubungan yang sifatnya sementara ini, atas mana kedua
belah pihak terikat secara hukum. Apabila suaminya mempunyai barang untuk
dijual, dia membangun tempat jualan, dia menjualnya secara eceran, dengan
keuntungan yang jauh lebih baik dibandingkan kalau dijual secara borongan.
Pada abad ke-15 semakin ramainya perdagangan di kepulauan Banda,
karena Banda menjadi pelabuhan perantara untuk rempah-rempah jenis pala
dan fuli. Orang kaya di Banda membutuhkan kepala pelabuhan yang mengatur
para pedagangan asing yang singgah di pelabuhan. Misalkan, menyediakan
tempat parkir kapal-kapal jung baik dari Jawa maupun negeri-negeri lain.
Kemudian, syahbandar juga menyusun persediaan tempat tinggal, dan
menyediakan pula tempat berjualan bagi pedagang asing. Di samping itu,
22 Pola perkawinan sementara antara pedagang Jawa dan perempuan lokal berlaku pula untuk
pedagang asing di Asia Tenggara seperti di Pegu, Filipina dan Thailand pada abad ke-15 dan ke-16. Cerita
di atas dikutip dari Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga…Jilid 1, hlm. 178.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 149
syahbandar memungut hunian sementara, dan pajak-pajak perniagaan
pedagang asing tersebut. Pada awalnya, orang kaya Banda tidak mempunyai
pengalaman untuk menjalankan peran sebagai syahbandar. Untuk itu, para
orang kaya mengangkat komunitas Jawa untuk menjalankan peran sebagai
syahbandar. Namun, orang kaya berkeinginan tidak sebagai personal, akan
tetapi secara kolektif.23
Orang kaya telah mempercayai komunitas pedagang Jawa untuk berperan
sebagai syahbandar, karena mereka sudah mengenal lama orang-orang
Jawa tersebut. Namun demikian, untuk mengontrol pengangkutan pala
dari perkebunan ke pelabuhan, orang kaya melakukan persekutuan dengan
syahbandar. Orang kaya tetap mempertahankan kekuatan yang menentukan
dalam menetapkan harga pala dan fuli. Mereka senantiasa menetapkan harga
pala dan fuli dengan harga yang tinggi. Bahkan mereka berani melakukan
pengurangan pohon dengan menggunakan metode ekstirpasi,24 penebangan
pohon yang pernah berbuah. Jumlah pohon pala tidak boleh banyak. Di
kemudian hari cara seperti ini ditiru oleh Belanda untuk melakukan monopoli
penanaman pala, agar harga pala dan fuli tetap tinggi. Mereka menentukan
kebijakan harga pala, agar harga pala tidak jatuh dalam nilai perdagangan yang
rendah. Selain itu, ketentuan orang kaya itu agar keuntungan harga pala tetap
berada di kebun-kebun pala, bukan di tangan para pedagang.
Komunitas Cina di Kepulauan Banda
Pada awalnya pedagang Cina telah hadir sekitar abad ke-11, kehadiran
mereka didukung dengan pembuktian penggalian arkeologi di salah satu situs
purbakala kepulauan Banda. Dalam penggalian arkeologis itu ditemukan
pecahan piring-piring porselen periode Dinasti Ming.25 Mereka datang ke
sana dengan membawa tenunan, perak, gading, manik-manik, dan piring
23 Tampaknya orang kaya Banda belajar berdasarkan pengalaman mereka, ketika mengunjungi
Malaka, di sana melihat syahbandar kolektif melayani beragam suku bangsa. Untuk hal ini lihat Hall.
Op.cit. A History of Early Southeast Asia…, hlm. 316.
24 Ekstirpasi—pembinasaan pohon pala menurut daftar yang telah dibuat lebih dulu, terutama
pohon yang pernah berbuah sekali atau lebih, tujuan kebijakan tersebut, mengatur supaya jumlah
pasokan pala dan fuli tidak terlalu banyak di pasar.
25 Informasi penggalian arkeologis ini diperoleh dari Alwi. Op.cit. Sejarah Maluku. Banda Neira,
Ternate, Tidore dan Ambon, hlm. 18.
150 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
mangkok buatan Cina. Barang-barang ini merupakan pelayaran jarak jauh dan
menggunakan jalur yang berbahaya. Juga, barang-barang ini menggunakan
ruang-ruang yang terbatas di dalam kapal. Menurut Meilink-Roeloefsz barang-
barang tersebut merupakan kelompok komoditi mewah. Kelompok barang-
barang ini dikenakan tarif 1/11 bagian dari jumlah modal.26
Kemudian, kapal atau perahu layar pedagang Cina adalah kapal jung,
biasanya mereka dengan membawa awak kapal sekitar 100 orang dengan
berat volume kapal 400 ton. Kapal layar pedagang Cina ini mempunyai layar
sebanyak tiga buah. Satu layar di depan dan dua layar lainnya di bagian tengah
perahu. Kapal jung pedagang Cina mempunyai dua cadik, bagian depan dan
bagian belakang. Kedua cadik itu mempunyai hiasan ular naga yang sedang
menyeringai seperti kijang.
Mereka berdagang di sebuah tempat pasar yang telah disediakan oleh
syahbandar. Pasar tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi pedagang Cina, akan
tetapi juga pedagang asing lainnya seperti Arab dan Melayu. Juga bergabung di
pasar tersebut pedagang lokal seperti orang-orang Kei yang menawarkan sagu,
perahu dan kayu, terdapat pula pedagang Tidore dan Ternate yang menggelar
barang dagangan seperti cengkeh dan bulu burung cendrawasih.
Pedagang Cina dikenal dalam melakukan pelayaran jarak jauh, mereka
mempunyai dua jalur pelayaran dalam menuju kepulauan rempah-rempah.
Pertama, berangkat dari kota pelabuhan Guangzhou melewati semenanjung
Formosa, kemudian masuk ke Laut Cina Selatan, dan melalui Luzon, Mindano,
masuk ke Laut Sulu. Kemudian, melalui Basilan, dan memasuki Ternate, Tidore,
Maluku, Ambon dan tiba di kepulauan Banda.
Jalur perniagaan ini berbahaya, karena di Laut Sulu terdapat perompak
yang ganas. Namun, rute ini bisa dikatakan lebih sederhana untuk mencapai
sasaran kepulauan Banda. Maka tidak mengherankan apabila melalui jalur ini
pedagang Cina melakukan pelayaran konvoi. Jalur ini seringkali dipergunakan
oleh pelaut Cina di “zaman perdagangan “ pada abad ke-15 dan ke-16.
Jalur kedua, berangkat dari kota pesisir Guangzhou melewati pesisir barat
Vietnam, pelabuhan Hannam, kemudian melalui Champa (Kambodia), Pulau
26 Barang-barang yang diangkut dengan jarak jauh biasanya sudah diasumsikan sebagai barang
mewah. Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade and European Influence, hlm. 56.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 151
Peta 11. Peta Jalur Timur Pelayaran Bangsa Tiongkok ke Nusantara
Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Roderich Ptak, Chinaand The Trade in Cloves
152 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Condorse, Pahang, Perak dan tiba di Malaka. Setelah singgah di Malaka,
mereka melaju melalui Sumatera, NTB, NTT, Maluku dan tiba di pelabuhan
Banda. Jalur kedua ini, telah dipergunakan oleh pedagang Cina sejak abad ke-
10, pedagang Cina terlebih dahulu singgah di kota pelabuhan Annam, Vietnam
untuk mengambil keramik dan tekstil Champa yang akan diperdagangkan di
Banda.27
Pedagang Cina dalam berlayar dan berniaga ke kepulauan Banda, mereka
sering kali menggunakan jalur timur melalui Laut Cina Selatan, Laut Sulu
dan Mindanao. Pada umumnya, mereka singgah terlebih dahulu di Mindanao
sebelum memasuki perairan Ternate dan Tidore. Pada abad ke-14, pelayaran
kapal Cina jarang melalui rute selatan karena masih terlalu jauh dan Bandar
Malaka belum ramai. Hal yang menarik pula dengan singgah di Mindanao
mereka dapat membawa beragam barang dagangan ke kepulauan Banda,
seperti emas dengan kualitas rendah, produk hutan dan bahan makanan. Dari
pelabuhan Mindanao, mereka juga membawa beras, lada, (mereka membawa
bahan makanan mengetahui bahwa penduduk yang menanam bahan pertanian
yang disukai dunia, pasti area tanahnya habis untuk menanam pala) kain sutera,
manik-manik dan pakaian katun India dan perkakas besi. Pedagang Cina juga
membawa barang mewah seperti emas, perak, batu permata, keramik dan
porselen.28
Komoditi di atas tidak hanya diperdagangkan di kepulauan Banda,
tetapi mereka juga menyelenggarakan perniagaan di kepulauan Kei, Ambon,
Tanimbar dan pulau kecil lainnya di gugusan kepulauan Maluku. Dengan
melakukan perniagaan seperti itu, pedagang Cina mendapatkan keuntungan
yang besar.
Selain itu, pedagang Cina senantiasa ditunggu oleh penduduk Banda
dengan membawa keramik, terutama oleh orang kaya. Bagi mereka keramik
buatan Cina menjadi aset atau tabungan yang sewaktu-waktu dipertukarkan
27 Sebenarnya masih ada jalur maritim yang ketiga, dikenal dengan nama “rute Borneo”. Jalur
ini ditemukan oleh pedagang Portugis, ketika mereka berlayar ke Banda, setelah menaklukkan Malaka.
Pedagang Portugis dari Malaka menuju ke Brunei dan mereka menyebut Brunei menjadi Borneo untuk
seluruh kepulauan tersebut sesuai dengan ejaan dan ucapan Portugis. Untuk hal ini lihat. Lapian. Op.cit.
Pelayaran dan Perniagaan Nusantara…, hlm. 83.
28 Sebagaian besar perdagangan di Filipina dikuasai oleh orang Cina. Untuk hal Ini lihat. Meilink-
Roelofsz. Op.cit. Asian Trade…, hlm, 71.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 153
Peta 12. Peta Jalur Pelayaran Selatan Bangsa Tiongkok ke Nusantara
Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Roderich Ptak, Chinaand The Trade in Cloves
154 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
dengan komoditi lain. Biasanya barang-barang mewah seperti keramik atau
emas bisa dipertukarkan dengan perahu yang dibuat oleh orang-orang Kei. 29
Pedagang Cina berlabuh di Banda pada musim angin Timur sekitar Juni
hingga Oktober. Mereka menghindari musim angin Barat, karena Laut Banda
tidak bersahabat ketika musim itu. Pada musim angin Barat sekitar Desember
hingga Maret Laut Banda berombak besar dan angin kencang. Pedagang Cina
berangkat dari Guangzhou atau Guandhong pada Mei dan singgah lebih dulu
di Malaka.
Pedagang Cina dengan pelabuhan kepulauan Banda karena pasarnya yang
ramai oleh penduduk lokal dan penduduk regional sekitar kepulauan Maluku.
Ditambah pula hadirnya pedagang-pedagang asing seperti Jawa, Arab, Bugis
dan Melayu. Juga di pelabuhan Banda senantiasa secara disiplin menampung
air hujan untuk keperluan mandi, minum dan memasak. Wilayah mereka tidak
mempunyai aliran sungai yang airnya bisa dipergunakan untuk minum dan
memasak.
Penduduk yang ramai di pasar pelabuhan membuat pedagang Cina
gembira karena barang-barang mereka cepat laku. Pada abad ke-16 penduduk
kepulauan Banda telah mencapai 15.000 jiwa dan mereka mengimpor hampir
seluruh bahan makanan, hanya ikan laut yang tidak mereka impor. Pada hari
pasar mereka datang dengan perahu dari sejumlah pulau yang berdekatan.
Pedagang Cina menetap sementara di Banda karena harus menunggu
angin yang baik untuk membawa mereka kembali ke kampung. Apalagi jika
terjadi transaksi mundur yang membuat mereka memperpanjang masa singgah
mereka di musim angin berikutnya. Peranan pedagang Cina di kepulauan
Banda adalah sebagai pedagang perantara. Seluruh jenis rempah, baik pala,
fuli maupun cengkeh mereka tampung dan mendistribusikan ke pasar Malaka
dan Cina. Masyarakat Cina sendiri menggunakan rempah-rempah untuk
pengobatan, sebagian dipergunakan bagi campuran makanan dan minuman.
Juga, seringkali diselenggarakan pedagang Cina setelah mereka tampung
hasil rempah-rempah tersebut dikirim ke Surabaya dengan kapal jung melalui
29 Sudah lama orang-orang Kei membuat perahu nelayan berukuran kecil yang diimpor salah
satunya ke kepulauan Banda. Lapian. Op.cit. Pelayaran dan Perniagaan…, hlm. 93
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 155
jalur selatan. Cara kerja seperti itu membutuhkan waktu panjang, situasi itu
membuat pedagang Cina untuk memutuskan tinggal sementara di kepulauan
Banda.
Orang-orang Cina di Banda Naira tinggal di blok bagian timur atau di
belakang dekat pelabuhan nelayan. Mereka berinteraksi dengan suku bangsa
lainnya hanya ketika berniaga di pasar, namun setelah itu kembali ke rumah
mereka. Orang-orang Cina membawa pula adat-istiadat termasuk agama
kepercayaan mereka ke Banda. Mereka sangat taat dengan agama kepercaannya,
dan jarang atau hampit tidak ada yang berpindah ke agama lain.
Pedagang Cina juga rajin berlayar ke pulau Maluku untuk mendapatkan
cengkeh. Mereka juga seringkali berlayar ke pelabuhan Surabaya untuk
menyerahkan rempah-rempah kepada agen besar. Setelah itu, mereka kembali
ke Banda dengan membawa beras, bawang merah dan putih serta lada. Dalam
pelayaran kembali ke Banda, mereka singgah di pelabuhan Sumba, Nusa
Tenggara Timur, untuk membawa kain tenun.
Kampung Cina di Banda Naira mempunyai rumah-rumah tembok tebal,
atap berat dari genting dan adanya loteng—yang hanya dihuni pada malam
hari—memungkinkan untuk menahan panas ruangan dan mengisolasi lantai
dasar. Ruang-ruang yang ditata berderet, antara beranda yang menghadap ke
jalan dan halaman belakang, mendukung aliran udara secara permanen dan
menjamin ventilasi yang optimal. Dinding yang dicat putih dengan kapur dan
terutama lantai, yang dibuat dari ubin, di samping higienis juga menambah
kesegaran dan memudahkan perawatan. Di abad ke-14 dan ke-15, rumah-
rumah mereka berhadapan dengan laut, dan tentunya dengan Pulau Gunung
Api.
Sebagaimana dipaparkan sekilas di atas orang-orang Cina di Banda sangat
puritan dengan agama kepercayaan mereka, nyaris tidak ada seorang pun di
Banda yang berpindah kepada kepercayaan lain. Untuk memantapkan dan
melanggengkan kepercayaan dan kebudayaan mereka, di tengah kampung
Cina itu dibangun klenteng. Nama klenteng itu adalah Son Tien Kong yang
berarti “Rumah Kuasa Tuhan” menurut sumber Cina di Banda Naira dibangun
pada akhir abad ke-16. Klenteng itu dibangun khusus dengan mendatangkan
tukang-tukang dari Cina. Posisi klenteng Son Tien Kong pada abad ke-16
156 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
menghadap ke laut dan Pulau Gunung Api.
Klenteng dengan tembok tebal, ruang-ruangnya berderet rapi. Ornamen-
ornamen seperti patung dewa-dewi, meja batu sembahyang dan keramik
vas bunga berukuran besar dengan warna merah serta motif flora dan fauna
diimpor langsung dari Cina. Klenteng ini didirikan untuk bersembahyang
kepada Tuhan sebagai rasa hormat dan terima kasih dari para pedagang yang
telah memberikan berkah yang berlimpah. Klenteng ini merupakan rumah
ibadah para pedagang. Sebagai klenteng pedagang terdapat kedai meminum
anggur di ruang sebelah dari klenteng tersebut.30
Gambar 4.2 Kora-Kora Banda dengan motif ular naga
saat upacara Cuci Parigi
Sumber: Koleksi BPNB Ambon, 2017
Meskipun, komunitas Cina begitu taat dengan kepercayaan agama dan
30 Informasi tentang kLenteng Son Tien Kong ini berasal dari pengelola Yayasan Museum Warisan
Sejarah Budaya Banda Neira.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 157
mempunyai klenteng untuk memantapkan keyakinan mereka terhadap
kepercayaannya, tidak pernah terjadi perselisihan bahkan konflik dengan
masyarakat lokal, karena kebudayaan yang berbeda. Bahkan perahu kora-kora
dan Belang yang dipergunakan oleh penduduk Banda untuk ritual tahunan
mencuci parigi bagian cadiknya bermotif ular naga. Penggunaan ukiran naga
menjelaskan pengaruh kebudayaan Cina di jalur maritim kepulauan Banda.
Pengaruh kebudayaan Cina terhadap penduduk kepulauan Banda cukup
meluas. Di masa proses Islamisasi di Banda Neira ada podium untuk khotbah di
bagian tengahnya beraksara Cina. Podium untuk khotbah dan ceramah agama
itu sudah berkali-kali diperbaiki karena dimakan usia, akan tetapi aksara Cina
itu senantiasa tetap berada di sana.31
Persahabatan antara komunitas pedagang Cina dengan penduduk Banda
digambarkan pula dalam Hikayat Lonthor. Dalam Hikayat itu dikisahkan
bendera kampung adat Namasawar adalah naga Cina. Bendera itu diserahkan
oleh pedagang Cina kepada penduduk Banda. Demikian pula, dengan perahu
kora-kora desa adat Ratu dan Namasawar memakai ukiran-ukiran naga
Komunitas Arab Di Kepulauan Banda
Proses terbentuknya komunitas dan pengaruh kebudayaan Arab di
kepulauan Banda berlangsung secara bertahap. Tahap pertama, kedatangan
orang-orang Arab itu ke Banda secara spontan pada abad ke-7 untuk
mendapatkan rempah-rempah, terutama, fuli, biji pala dan cengkeh. Rempah-
rempah itu, mereka jual di Eropa dan Laut Tengah. Pedagang-pedagang Arab
itu meliputi wilayah Teluk Persia, pesisir Arabia, dan Yaman. Mereka berangkat
menuju kepulauan Indonesia Timur dari kota pelabuhan Aden melalui rute
pesisir barat Samudra Hindia masuk ke Sumatera yang masih dikuasai oleh
Dinasti Sriwijaya.32 Kemudian, menyusuri Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara
Timur, Maluku Tenggara dan tiba di kepulauan Banda.
Tahap kedua, kedatangan pedagang Arab di kepulauan Banda, ketika
31 Informasi pengaruh kebudayaan Cina dalam Islamisasi di Banda itu diperoleh dari wawancara
dengan Usman Thalib, Ambon, 11 Mei 2017.
32 Thalib. Op.cit. Islam di Banda Neira…., hlm. 109.
158 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
berdirinya dan ramainya bandar Malaka di abad ke-15 hingga abad ke-17.
Pada periode kedua, jalur perniagaan yang dilalui oleh pedagang Arab juga
berbeda. Pada periode ini, mereka berangkat dari kota pelabuhan Hormuz di
pintu gerbang masuk Laut Merah. Kemudian mereka menyusuri pesisir timur
Samudra Hindia, dan masuk ke Selat Malaka. Dari Malaka, mereka mencari
barang dagangan untuk dibawa ke kepulauan Banda. Terutama, mereka
menuju ke pelabuhan Jepara untuk memperoleh beras, bawang merah dan
putih serta lada. Mereka berangkat ke kepulauan Banda dari Malaka dengan
menggunakan jalur selatan melalui Maluku Tenggara.
Agar cerita mengenai kehadiran pedagang Arab di kepulauan Banda
menjadi runtut, maka akan dimulai dengan tahap pertama, kehadiran para
pedagang Arab di kepulauan Banda. Sumber yang dipergunakan untuk
penyusunan pengaruh kebudayaan Arab, terutama proses Islamisasi di Banda
dipergunakan informasi cerita legenda yang dituturkan melalui hikayat dan
kitab kronik serta catatan harian dan para pedagang di masa itu.
Pada abad ke-7, pedagang-pedagang Arab telah membawa rempah-
rempah seperti cengkeh, dan pala ke pelabuhan-pelabuhan Teluk Persia dan
Pesisir Arabia, untuk kemudian diperjualbelikan di Timur Tengah dan daratan
Eropa.33 Pedagang Arab memerlukan banyak rempah-rempah, selain untuk
campuran pengolahan dan pengawetan makanan dan untuk dunia pengobatan.
Pada abad ke-7 pedagang-pedagang Arab dan Persia menggunakan kapal
layar Dhow berlayar menuju Banda Naira dan Maluku Utara untuk mencari
rempah-rempah yang nilai keuntungannya tinggi di Timur Tengah dan Eropa.
Konon, para pedagang Arab ini dalam menunggu angin yang baik untuk
membawa mereka kembali ke negerinya, menetap sementara di Banda Naira.
Juga, ada kemungkinan mereka menikah dan kawin-mawin dengan perempuan
lokal. Islam sufi yang banyak dianut oleh para musafir seperti pedagang
mengizinkan para pedagang Arab untuk menikah dengan perempuan lokal.34
Juga, mereka bisa saja menetap lama dan meninggal di sana.
33 Pada saat itu, produksi rempah-rempah dari kepulauan Banda dipergunakan di Eropa dengan
hemat, karena sulit untuk mendapatkannya. Untuk hal ini lihat. Leirissa. Op.cit. Sejarah Kebudayaan
Maluku, hlm. 16.
34 Informasi ini berdasarkan wawancara dengan Usman Thalib, Ambon, 11 Mei 2017.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 159
Namun, ketika itu penyiaran agama Islam di kepulauan Banda belum
bisa mengubah sistem sosialnya. Sehingga, ketika pedagang-pedagang Arab
meninggalkan atau wafat di kepulauan Banda, belum dapat mengubah prilaku
penduduk ke dalam institusi Islam. Dengan kata lain, Islam belum menjadi
institusi, dan berakibat bisa saja agama baru itu melenyap dari kehidupan
masyarakat Banda.35
Kemudian, berdasarkan cerita lisan yang sudah menjadi ingatan sosial
masyarakat Banda, Islam berkembang di sana melalui orang asing bernama
syekh Abubakar Al Pasya yang berasal dari Persia. Kedatangan Al Pasya
berkaitan dengan pergolakan di Teluk Persia yaitu peristiwa peralihan
kekuasaan dari Bani Umayyah ke tangan Bani Abbasiyah yang terjadi pada
750 Masehi atau abad ke-8. Kepedulian penduduk Banda terhadap Al Pasya
karena konon dia dapat menurunkan hujan lebat pada saat kemarau panjang
di kepulauan Banda.
Proses penyebaran Islam di kepulauan Banda selanjutnya adalah sebuah
narasi mengenai lima bersaudara di dalam mitos yang membentuk sistem
pemerintahan. Mitos itu dikenal luas oleh masyarakat Banda sebagai Hikayat
Lonthor. Ringkasan cerita hikayat Lonthor sebagai berikut:
“Dengan kodrat dan iradah Allah Subhanahuwataalah, dipuncak gunung kil
Sarva atau Qul Sir Hua di pulau Banda Besar datang seekor burung yang
membawa buah delima. Buah itu, kemudian jatuh di gunung Qur Sir Hua
dan ketika buah itu pecah keluar darinya lima orang bangsawan yakni empat
orang laki-laki dan satu orang perempuan. Keempat orang bangsawan
laki-laki itu adalah Kaleyai, Kelelaiy, Leleway dan Keleliway, sedangkan
bangsawan perempuan adalah Cilubintang. Hari berganti hari, mereka
bertiga mempunyai pengalaman dalam mempelajari agama Islam. Setelah
itu, mereka membagi tugas membentuk kekuasaan di pulau-pulau Banda.
Saudara ketua kakyai menjadi Raja dan Imam negeri Lonthor, saudara
kedua Kelelay menjadi Raja dan Imam di Lanthaka, saudara ketiga Leleway
menjadi Raja dan Imam di Selamon dan saudara keempat menjadi Raja di
Waer. Susunan kekuasaan itu disebut Lebe Tel Rat At (Pemerintah Tiga Imam
Empat Raja). Putri Cilubintang sebagai saudari bungsu diberi kekuasaan atas
masyarakat di kampung Ratu Pulau Neira.36
35 Di Banda Besar, di Selamon terdapat makam tua orang Arab yang diduga sebagai salah satu
penyiar agama Islam. Untuk hal ini. Thalib. Op.cit. Islam di Banda Naira…, hlm. 120.
36 Informasi mengenai Hikayat Lonthor ini dikutip dari. Thalib. Ibid., hlm. 112.
160 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Sistem pemerintahan “Lebe Tel Rat At” (Pemerintahan “Tiga Imam Empat
Raja”) mencerminkan pengalaman tiga bersaudara memperoleh pelajaran
Islam di luar daerah yang dimitoskan dengan perjalanan laut ke tempat yang tak
dikenal, memberi status keagamaan yang berbeda diantara keempat bersaudara
itu. Oleh karena saudara ketiga, Keleliang tidak mengikuti perjalanan agama
itu mendapatkan hanya gelar raja di Waer. Sementara itu, masalah keagamaan
di wilayah itu menjadi tanggung jawab Leleway yang menjabat Imam dan raja
di negeri Selamon. Sementara itu, putri bungsu Cilubintang mendapatkan
kedudukan sebagai pemimpin di sebuah hunian baru di Banda Naira, negeri
ratu. Negeri ratu sendiri adalah sebuah kampung dengan garis kepemimpinan
menurut garis keturunan ibu (matrilineal).37 Akan tetapi, persoalan keagamaan,
rakyat negeri Ratu tunduk kepada raja sekaligus imam negeri Lautaka.
Kemudian, proses penguatan pelembagaan Islam di kepulauan Banda
digambarkan pula di Babad Tanah Jawa pada 1365. Meskipun dalam kronik
Jawa ini memaparkannya dengan perkawinan politis antara Cilubintang, putri
kampung ratu dengan salah satu bangsawan Majapahit, namun makna dari
narasi ini adalah upaya memperkuat Islamisasi di Banda.
“Pada suatu waktu Raden Tanduran Raja Majapahit jatuh sakit, namun
tidak satu pun obat yang dapat menyembuhkannya. Dalam tidurnya dia
mendengar ada suara yang mengatakan bahwa ia akan sembuh, jika ia dapat
mengawini seorang perempuan dari Wandan. Ia pun percaya atas nasehat
dari suara itu, dan perkawinan pun dapat dilaksanakan. Kemudian, wanita
itu melahirkan anak yang dipelihara oleh Arya Sora yang menamakan bayi
laki-laki itu Bondan Kajawen. Arya Sora kemudian meninggalkan kota
Majapahit dan mengembara di hutan-hutan bersama Bondan Kejawen.
Dalam pengembaraan di hutan, pada suatu waktu Bondan Kejawen melihat
bidadari sedang mandi. Ia pun mengambil baju dari salah satu bidadari
tercantik, sehingga tidak bisa kembali ke kahyangan. Ki Bondan kemudian
menikah dengan salah satu bidadari cantik itu, dan dari perkawinan itu lahir
seorang anak laki-laki yang diberi nama Panjuwed. Pada suatu hari istirinya
itu mendesak kepada suaminya untuk mengambil istri dari jenis suaminya.
Anak perempuan Ki Gede dari Sesela dianggap yang paling pantas untuk
menjadi istri kedua Ki Bondan. Setelah perkawinan dengan anak Ki Gede,
Bidadari itu pun kembali ke kahyangan. Dari perkawinan dengan istri kedua,
Ki Bondan mendapatkan seorang anak laki-laki yang bernama Pamanahan.
37 Di kepulauan Banda apakah seorang anak mengikuti garis keturunan ibu (matrilineal) atau
ayah (patrilineal) berdasarkan pilihan anak setelah akil balik. Informasi ini berasal dari wawancara
dengan Usman Thalib. Ambon, 11 Mei 2017.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 161
Setelah Ki Bondan meninggal dunia, kedua anaknya itu bekerja pada Raja
Pajang. Ketika raja Pajang meninggal dunia, Panjuwed mendapat kota
Mataram dan Pamanahan mendapatkan kota Pati.”38
Dari teks cerita yang diuraikan dalam Babad Tanah Jawa secara tersamar
dapat diterjemahkan bahwa dengan perkawinan politik antara Cilubintang
dengan bangsawan Majapahit, dan melahirkan seorang anak bernama Bondan
Kejawen yang di kemudian hari anak-anaknya melakukan penyiaran Islam
ke kota-kota pelabuhan utara Jawa. Selain itu, teks Babad Tanah Jawa, juga
memperlihatkan relasi antara Banda Naira dengan Majapahit berkaitan dengan
proses perkembangan Islam di Banda Naira. Cerita itu ditulis akhir abad ke-14
menjelang proses Islamisasi mencapai puncaknya di Naira.
Kemudian, dalam buku catatan harian seorang Portugis Francisco Serrau
dikemukan mengenai ketakjubpan dia terhadap penyebaran Islam di kepulauan
Banda. Orang-orang Portugis berangkat ke kepulauan Banda beberapa bulan
setelah mereka berhasil menaklukkan Malaka. Mereka berangkat ke Banda
ketika angin muson barat bertiup. Juga, dalam situasi mereka masih bertempur
dengan Sultan Melayu.
“Kami berlayar dari Malaka pada 11 November 1511 pada musim bertiup
angin barat. Sewaktu meninggalkan Malaka kami tidak banyak membawa
bekal, karena perang dengan Sultan Melayu masih berlangsung ternyata
dalam pelayaran dua bulan lebih itu bekal yang kami bawa habis. Untuk
mempertahankan hidup terpaksa segala yang ada di kapal dijadikan
makanan termasuk kecoa, tikus kapal dan keju busuk. Setelah dua bulan
berlayar, pada pertengahan Januari 1512, tibalah kami di kepulauan Banda
Neira yang indah. Kepulauan yang bagaikan surga yang kaya dengan pala.
Alangkah terperanjatnya kami, ketika mengetahui orang-orang Moro (Islam)
yang begitu lama berperang dengan kami di negeri kami sendiri telah tiba di
kepulauan ini 100 tahun duluan dari kami.39”
Dari buku catatan harian Francisco Serrau dapat memperjelas bahwa Islam
telah hadir menjadi institusi pada abad ke-15. Selain itu, di kepulauan Banda
telah terselenggara sistem pemerintahan Lebe Tel Rat At atau Tiga Imam Empat
Raja. Juga orang kaya yang mengatur persoalan perdagangan pala dan fuli dan
syahbandar yang mengatur masalah kepelabuhan.
38 Teks Tanah Babad Tanah Jawa ini dikutip dari Thalib. Op.cit. Islam di Banda Naira…, hlm. 115-
116.
39 Teks buku catatan harian dari Francisco Serrau dikutip dari, Thalib. Ibid., hlm. 117.
162 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Demikian pula, pada abad ke-15 pengetahuan nautika dan teknologi
perkapalan perdagang Arab mengalami perkembangan pesat. Mereka telah
mengenal polaritas jarum magnetik dan deviasi.40 Mereka secara intensif
berlayar ke kepulauan Maluku dan Banda dari Malaka melalui jalur lama yakni
rute selatan atau perairan Maluku bagian tenggara.
Proses kedua kedatangan pedagang Arab di kepulauan Maluku dan Banda
pada abad ke-13 dan ke-14, setelah Malaka didirikan. Juga, hubungan antara
pelabuhan Aden, pesisir Arab telah digantikan dengan pelabuhan kota Hormuz,
di pintu masuk Laut Merah. Namun pengaruh kebudayaan Arab di kepulauan
Maluku dan Banda sangat akrab. Misalkan nama Maloko (Maluku) dan
Wanda (Banda) disebut di Negarakertagama diduga diadopsi oleh penulisnya
dari kebanyakan pedagang Arab. Juga, pedagang Arab menamakan deretan
pulau-pulau di bagian utara Maluku sebagai “Jazirah Almamluk” (Kepulauan
Raja-Raja. Menunjuk kepada empat kerajaan di zaman bahari yang sangat
berpengaruh secara politis dan ketatanegaraan, yaitu Jailolo, Ternate, Tidore,
dan Bacan). 41
Demikian pula, sebuah legenda terkenal Jafar Sadek seorang keturunan
Arab, merupakan seorang ayah yang keturunannya adalah para pendiri empat
kerajaan di Maluku Utara. Mereka adalah Said Muhammad Bahir pendiri
dan Raja Bacan. Kemudian, Said Ahmad Sani pendiri dan Raja Jailolo; Said
Muhammad Nukil pendiri dan Raja Tidore dan terakhir Said Muhammad
Nurussafar pendiri dan Raja Ternate.42
Pelayaran pedagang Arab menuju kepulauan Indonesia Timur tidak dapat
dilepaskan dari proses pengislaman dan perdagangan rempah-rempah. Namun
sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai peranan pedagang Arab dalam
proses Islamisasi di Indonesia bagian timur perlu diklarifikasi (diuraikan) bahwa
pedagang Arab itu pengertiannya campur baur antara Gujarat, Benggala, Teluk
Persia dan Pesisir Arab. Akan tetapi, wilayah geografi ini telah dikuasai oleh
Islam. Pada awal abad ke-14 Gujarat yang berada di pesisir Barat India berhasil
40 Tidak disebutkan adanya penggunaan kompas di laut hingga abad ke-13, tetapi penggunaanya
dari akhir abad ke-11.
41 Cerita legenda di Maluku banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab, terutama sebelum
kedatangan bangsa-bangsa Barat. Untuk hal ini lihat. Amal. Op.cit. Kepulauan Rempah-Rempah…., hlm.
5.
42 Amal. Ibid., hlm. 19.
Peta 13. Peta Jalur Pelayaran Samudera Hindia Barat dan Timur Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 163
Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Lombard, Nusa Jawa Jilid II
164 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
diislamkan. Kemudian, pada akhir abad ke-14 Gujarat berhasil memerdekakan
diri dan menjadi kerajaan terpisah.
Pelayaran pedagang Gujarat terutama dilakukan oleh orang Muslim.
Demikian pula dengan Benggala, para pedagangnya adalah Muslim. Mereka
yang melakukan pengislaman di kota pelabuhan pantai utara Jawa dan Sumatera.
Sementara itu, orang-orang Arab jarang menggunakan menggunakan jalur
Samudera Hindia bagian timur, lebih memilih menumpang kapal India. Mereka
bersandar di pelabuhan Malaka dan juga melakukan penyiaran agama Islam.
Pada abad ke-15 perkembangan pengetahuan nautika pelaut Arab telah
mencapai puncaknya. Situasi ini dapat dijelaskan bagaimana pedagang Arab
membuat rute laut secara bertahap untuk mengatasi angin muson di Samudera
Hindia. Sebelum Malaka berdiri pedagang Arab di pesisir Arabia menggunakan
pelabuhan Aden sebagai jalur perdagangan di Asia Barat. Para pelaut Arab
harus melalui Samudera Hindia bagian timur dan menyusuri pesisir mencapai
Malaka. Juga, pelabuhan Aden merupakan pintu masuk ke Laut Merah. Namun,
setelah perkembangan pengetahuan nautika dan pengalaman para pelaut Arab,
berdiri pelabuhan Hormuz di pesisir Persia dan India. Pusat perdagangan di
Kerajaan Gujarat.
Hormuz merupakan pelabuhan penting bagi hubungan langsung ke
Malaka. Kota pelabuhan itu pertumbuhannya berasal dari alih muatan dan
stasiun antar rute laut yang panjang dari Barat ke Asia Timur dan sebaliknya.
Ini tidaklah mungkin untuk berlayar bolak-balik di Samudera Hinda hanya
dengan sebuah angin muson. Dengan bertambahnya lalu lintas yang semakin
terorganisasi, jalur laut dibagi menjadi “tahap-tahap” dan pusat alih muatan.
Situasi ini kemudian juga menyebabkan sebuah pasar berdiri, maka pelayaran
pedagang Arab hanya mulai berlayar di Samudra Hindia bagian barat.43
Pedagang Arab berangkat dari pelabuhan Hormuz ketika musim angin
barat menyusuri pesisir barat Samudra Hindia dan tiba di Malaka dengan
waktu tempuh sekitar tiga bulan. Di pelabuhan Malaka mereka alih muatan,
mereka berlayar menggunakan kapal layar dhow mempunyai kecepatan dan
43 Pelayaran pedagang Arab menggunakan teks nautika berbahasa Arab yang diberi judul Mohit
(Mengelilingi Laut). Naskah ini disusun di Gujarat pada pertengahan abad ke-16 oleh seorang Laksamana
Turki bernama Sidi Ali Celebi. Dia adalah komandan armada Sultan Soliman yang melawan Portugis.
Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade and European Influence.., hlm. 57.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 165
kemampuan bermanuver. Kapal Arab lebih kecil dan lebih mudah beradaptasi
dengan kondisi angin dan cuaca di Samudra Hindia daripada junk-junk Cina
yang berat dan berbobot. Walaupun demikian, dhow Arab tidak terlalu kuat
melawan badai.44
Pada umumnya pedagang-pedagang Arab dari Malaka tidak langsung
ke Banda, akan tetapi mereka terlebih dahulu ke Jepara untuk memuat kapal
mereka dengan komoditi beras. Produksi beras di Jepara melimpah ruah
sehingga beras dapat dibeli dengan murah di Jepara dan dapat dijual di Banda
dan Maluku dengan harga 50 dan 60 real per ton.45 Dengan demikian pedagang-
pedagang Arab dapat memperoleh keuntungan besar.
Kehadiran pedagang Arab di kepulauan Banda mendapatkan sambutan
dari penduduk sebagai pedagang terhormat dan dengan barang dagangan
yang bagus. Kemudian, mereka di Banda Naira membentuk komunitas Arab di
sebelah utara atau blok depan tidak jauh dari pelabuhan utama Naira.46 Bagian
depan dekat pelabuhan juga tempat digelarnya pasar diperuntukkan untuk
seluruh pedagang baik lokal maupun asing.
Pedagang Arab dalam kesempatan berdagang di kepulauan Banda juga
melakukan siar-siar agama Islam. Juga, mereka memperkenalkan peralatan
shalat seperti tasbih, kitab suci Alquran sebagai benda-benda keagamaan yang
diperlukan oleh penduduk Banda. Selain itu, mereka juga menyiarkan dalam
menjalankan agama Islam disyaratkan perlunya kebersihan dan kerapian
dalam berpakaian.
Bagi penduduk Banda Naira Alquran menjadi daya tarik tersendiri. Karena
sebagian besar penduduk tidak bisa baca tulis mendengar orang membaca
Alquran dengan keras-keras mereka takjub. Dengan hanya menundukkan
44 Kapal Samudra Arab atau dhow masih digunakan hingga beberapa saat sebulan perang dunia
kedua. Kapal layar itu beroperasi dari pelabuhan Kuwait, mereka membawa penumpang dan barang
dengan biaya murah ke dan dari pesisir timur Afrika dan pesisir barat India. Meilink-Roelofsz. Ibid., hlm.
336
45 Persediaan beras yang melimpah di Jepara hanya 15 real per koyan atau 2 ton, tetapi di Banten
mencapai 40 atau 50 real. Meilink-Roelofsz. Ibid., hlm. 280-281.
46 Pada abad ke-14 komunitas pelabuhan di Neira meliputi orang-orang Arab yang menghuni di
blok terdepan atau bagian utara, sedangkan di blok tengah dihuni oleh orang-orang Banda asli, dan blok
timur atau paling pojok didiami oleh orang-orang Cina. Informasi ini diperoleh dari wawancara dengan
Usman Thalib. Ambon, 11 Mei 2017.
166 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
kepala, mata menatap huruf bergaris bisa melantunkan suara yang merdu.
Penduduk Banda melihat pembaca Alquran sebagai orang sakti yang tidak
tertandingi.47
Orang kaya menempatkan mereka sebagai pedagang yang membawa
anugrah, karena selain mereka menonjol dalam spiritual keagamaan, dan juga
mahir dalam berlayar mengarungi perairan lautan. Tidak hanya itu, orang
kaya meniru cara berpakaian pedagang Arab menggunakan jubah panjang,
yang menggunakan pula celana panjang. Sedangkan untuk perempuan
menggunakan pakaian tertutup hingga bagian kepala. Selain itu, penduduk
setempat juga sangat bangga dapat bergaul dengan pedagang asing itu yang
beragama Islam.
Di kalangan penduduk lokal, para pedagang dan mubalig dipandang
sebagai orang-orang yang memiliki pengetahuan dan spiritual yang hebat.
Oleh karena itu, orang asing dan pedagang yang beragama Islam dapat dengan
mudah menikahi perempuan lokal, terutama dari kalangan bangsawan dan
kemudian membentuk keluarga Islam. Ditambah pula, Islam memberikan
ruang kepada kaum pria untuk dapat beristri lebih dari satu daripada berzina.
Jadi, perkawinan antara pedagang atau mubalig dengan perempuan lokal
merupakan Islamisasi yang alamiah.
Komunitas Buton dan Bugis Di Kepulauan Banda
Secara geografi, Buton terletak di Sulawesi Tenggara mempunyai hubungan
dengan kepulauan Banda sejak lama. Pelaut Buton terkenal dengan produksi
perahu layar galle. Perahu galle yang diciptakan oleh pelaut Buton merupakan
salah satu yang terindah di Asia Tenggara. Panjang perahu galle yang mereka
ciptakan mencapai 40 meter.48
Pedagang Buton berlayar ke pelabuhan kepulauan Banda dari perairan
47 Thalib. Op.cit. Islam Di Banda Naira…., hlm. 130.
48 Pelaut Makassar menyebut perahu gallay adalah galle, istilah ini membuktikan pengaruh
orang-orang Portugis yang datang ke tempat itu. Di Maluku dikenal sebagai perahu galai-galai perang
yang cepat di Filipina sebagai korakora, yang beradal dari bahasa Arab, kurkur. Sementara itu di Aceh
sebagai gurab yang berasal dari perkataan Arab pula. Untuk hal ini lihat. Reid. Op.cit. Asia Tenggara
Dalam Kurun Niaga…hlm. 268-269.
Peta 14. Peta Jalur Pelayaran Jepara – Malaka Abad ke 15 Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 167
Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Lombard, Nusa Jawa Jilid II
168 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Sulawesi bagian tenggara yang menjadi pintu gerbang sebelah barat menuju
kepulauan rempah-rempah. Mereka berlayar ke Banda menggunakan angin
muson barat. Lama perjalanan dari Buton menuju kepulauan Banda sekitar
satu bulan. Mereka ke Banda dengan tujuan berniaga dengan membawa
peralatan besi seperti kapak, pisau, arit dan mata tombak yang diproduksi di
Tobungku, Luwuk-Banggai. Orang Buton juga menjual suami,49 jenis makanan
yang berasal dari singkong. Makanan singkong ini melalui proses direbus
dengan air bersih dan kemudian disusun tinggi seperti gunung. Jenis makanan
ini menjadi populer di perkebunan-perkebunan pala di masa yang lampau.
Pada abad ke-14 hingga abad ke-16 perniagaan pala dan fuli di kepulauan
Banda semakin ramai, situasi ini berakibat pula pada perkembangan
perkebunan, terutama dirasakan berkurangnya tenaga kerja di perkebunan.
Tenaga perkebunan itu, terutama untuk memetik buah pala dan memprosesnya
menjadi biji dan menguliti dagingnya untuk dijadikan fuli. Pekerjaan ini
membutuhkan banyak tenaga kerja. Pada periode itu, penduduk Banda
membutuhkan budak untuk dapat bekerja di perkebunan. Mereka, juga
mempergunakan mandor sebagai pengawas pekerjaan bagi para budak
tersebut.50
Budak yang bekerja di perkebunan di kepulauan Banda dalam jumlah
ratusan orang yang diperoleh dari pedagang-pedagang Bugis. Sementara itu,
pelaut Bugis mendapatkan budak-budak Buton itu dari penyergapan di laut.
Mereka dengan kapal ringan melakukan pembajakan terhadap perahu orang
Buton yang sedang mencari ikan. Setelah pembajakan itu, orang-orang Buton
dijadikan budak dan dijual kepada orang kaya Banda. Namun, bisa juga budak-
budak tersebut diperoleh di pasar-pasar reguler untuk penjualan budak hasil
sergapan, seperti di Maluku, Sumbawa dan Bima.51
Namun demikian, budak-budak dari Buton dapat diperoleh pula dari orang
49 Informasi ini diperoleh dari Dodi staf peneliti BNP-Ambon melalui surat elektronik pada 5 Juli
2017.
50 Terdapat tiga mandor dalam melaksanan pengawasan di perkebunan. Pertama, mandor yang
mengawasi pemetikan buah pala. Kedua, mandor yang mengawasi pengasapan di dapur pala. Ketiga
atau terakhir, mandor yang mengawasi penyediaan makanan bagi para budak. Informasi ini diperoleh
dari Pongki van Broike di Banda Besar pada 5 Mei 2017.
51 Hanya kapal-kapal layar yang bersenjata yang dapat lolos dari sergapan para pembajak Bugis.
Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade…, hlm. 84.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 169
kaya melalui pemesanan dari kelas bangsawan Buton yang juga menggunakan
budak. Mereka menggunakan budak untuk mengayuh kapal galle mereka,
sekitar 60-an orang untuk mendayung kapal layar galle, yang seluruhnya
adalah budak. Mereka datang ke perkebunan pala secara bergelombang.
Mereka menciptakan semacam koloni di kebun-kebun pala. Budak sangat
diperlukan oleh perkebunan pala, saat panen dan juga merawat pohon pala,
seperti menyiangi rumput agar pohon pala sehat dan menghasilkan buah yang
berkualitas.
Kemudian, budak Buton ini membangun komunitas di perkebunan-
perkebunan pala. Mereka memperoleh pemondokan yang bangunannya
seperti barak. Sebagai budak mereka adalah milik pengusaha perkebunan
yang melarang mereka untuk kembali lagi ke Buton. Akhirnya, mereka kawin-
mawin dengan sesama budak perkebunan. Biasanya budak perempuan adalah
orang setempat yang bekerja memungut buah pala dan kenari yang jatuh dari
pohonnya.
Sementara itu, orang Bugis dikenal oleh pelaut-pelaut Indonesia seperti
Jawa dan Melayu sebagai orang laut. Mereka juga sebagai bajak laut yang
menciptakan ketidakamanan laut di sekitar mereka dan Maluku. Para bajak laut
ini mengajak kaum perempuan mereka dalam ekspedisinya. Dalam menghadapi
kapal pembajak yang berlayar cepat, hanya kapal jung bersenjata yang aman.
Semua kapal yang ringan adalah mangsa yang mudah menjadi sasaran. Mereka
mempunyai pasar reguler untuk hasil jarahan mereka. Di sana mereka menjual
para budak yang ditangkapnya. Akan tetapi, tempat pertemuan para bajak laut
Melayu adalah pasar pembajak permanen yang berada di dekat Pahang. Juga di
dekat Maluku, kesempatan yang sama juga ditemukan di Sumbawa dan Bima.52
Namun demikian, orang Bugis yang ditemukan oleh Pires di Malaka—
adalah pedagang jujur. Mereka membawa banyak produk makan seperti
beras dan sejumlah emas. Di Malaka, pedagang Bugis membeli kain Gujarat,
Benggala dan Koromandel serta benzoin, dan kemenyan dalam jumlah besar.
Mereka membawa barang-barang tersebut untuk perniagaan di kepulauan
Maluku dan Banda.53
52 Para pembajak dari Bugis ini telah berlayar hingga ke Bago dan berkeliaran di Pesisir Jawa.
Meilink-Roelofsz. Ibid., hlm. 83
53 Meilink-Roelofsz. Ibid., hlm 85.
170 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Ekspansi perdagangan orang Bugis pada paruh pertama abad ke-17,
terutama disebabkan oleh para pedagang yang berbondong-bondong datang
dari luar negeri. Namun, pedagang Bugis sudah sejak lama memiliki aktivitas
perkapalan yang luas. Pedagang Bugis sebetulnya telah ekspansif sejak abad
ke-16, ketika orang-orang Portugis menemukan kembali “rute Borneo” yang
harus melewati perairan Sulawesi sebagai pintu gerbang menuju kepulauan
rempah-rempah.
Pedagang Bugis sudah sejak lama membuka pelayaran maritim untuk
seluruh kepulauan Indonesia. Titik berangkat tidak hanya di pelabuhan
Makassar atau perairan pelabuhan yang dikuasai oleh orang-orang Bugis. Tapi,
juga meliputi Kaili di Sulawesi Tengah, beberapa daerah Kalimantan Timur
seperti Pasir dan Berau, dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Pontianak,
Kalimantan Barat dan Sumbawa. Sementara itu, untuk tujuan ke Indonesia
bagian Timur adalah Buton, Ternate, Banda dan Kei. Meskipun, mulai paruh
abad ke-17 rute perairan Maluku dilarang Belanda, tetap mereka layari.54
Sejak abas 15, pedagang Bugis membentuk komunitas di Banda. Mereka
secara tetap memasok budak-budak dari Buton untuk menggerakkan
perkebunan pala. Selain itu, mereka juga menyediakan bahan-bahan makanan
untuk keperluan budak-budak perkebunan, seperti beras, ikan asin dan juga
singkong. Mereka, juga ikut melakukan perdagangan pala dan fuli hingga ke
Sumbawa. Di sana mereka melakukan pertukaran kain tenun kasar dan kayu
cendena.
Sejak abad ke-14 pedagang-pedagang asing baik dari Indonesia maupun
seberang lautan, secara intesif mendatangi kepulauan Banda untuk memperoleh
pala dan fuli. Kedua komoditi itu mempunyai nilai yang tinggi di Timur Tengah
dan Eropa. Di tambah pula, ketika pasar Malaka terbentuk pada abad ke-15,
kepulauan Maluku dan Banda menjadi pelabuhan perantara untuk alih muat
rempah-rempah bagi Malaka.
Situasi itu, menciptakan perniagaan yang ramai di kepulauan Banda.
Pedagang-pedagang asing, seperti Arab, Jawa dan Melayu hilir mudik di
perairan Laut Banda. Mereka berniaga ke sana membawa produk makanan
54 Pelaut Bugis juga memiliki undang-undang maritim yang konon disusun oleh Amanna Gappa,
kepala komunitas Wajo di Makassar. Untuk hal ini lihat. Pelras. Op.cit., Manusia Bugis, hlm. 316.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 171
seperti beras, bawang merah dan putih, serta lada. Juga, pakaian katun dan
sutra, keramik, peralatan besi, dan emas mereka perdagangkan di pasar Banda.
Ramainya perniagaan di kepulauan rempah-rempah menciptakan jalur
perniagaan yang baru. Misalnya pedagang Arab yang biasanya titik berangkat
dari Aden, kemudian menyusuri pesisir barat Samudera Hindia. Namun, sejak
Malaka menjadi pasar alih muatan dibuka pelabuhan Hormuz menyusuri
pesisir timur Samudera Hindia dan memasuki perairan Sumatera untuk
berlabuh di Malaka. Jalur lain yang ditemukan kembali oleh Portugis pada awal
abad ke-16 yang dikenal sebagai rute Borneo. Jalur perniagaan dari Malaka
menuju Brunei, kemudian berbelok ke pesisir barat Sulawesi untuk memasuki
kepulauan rempah-rempah. Selain itu, rute lama yang dikenal sebagai jalur
selatan berangkat dari Malaka (Sumatera) menyusuri NTT, NTB, perairan
Maluku bagian tenggara dan tiba di kepulauan Banda, tetap dipergunakan.
Kemudian, pengaruh angin muson barat dan timur sangat penting bagi
pedagang asing, terutama untuk menetap sementara di Banda. Pedagang
berlayar tidak sendiri, tetapi satu kapal bisa membawa 100 orang pendayung,
dan ketika mereka menghuni membutuhkan ruang tertentu di Banda.
Menghuni sementara merupakan pertukaran kebudayaan, mereka tidak hanya
berinteraksi satu sama lain, tetapi saling mempengaruhi dan membentuk
proses kebudayaan.
Di samping itu, kawin-mawin antara pedagang asing dengan perempuan
lokal tidak terelakkan. Ada pedagang yang menikah untuk sementara waktu,
dan juga ada pedagang yang kawin-mawin dengan perempuan setempat untuk
selamanya. Ditambah pula dengan proses Islamisasi di kepulauan Banda
yang dimulai sejak abad ke-7 hingga abad ke-14, ketika Islam melembaga di
kepulauan Banda. Perkawinan pedagang asing dengan perempuan setempat
merupakan salah satu proses Islamisasi alamiah. Islamisasi menyumbangkan
pula kebudayaan Arab di kepulauan Banda. Jalur perniagaan rempah juga
menghasilkan pengaruh kebudayaan Cina yang membentuk tradisi perahu
kora-kora dengan kepala ular naga.
Hal yang menarik dari kebudayaan Banda bercirikan nilai-nilai Islam
yang kuat, sehingga dapat dirumuskan sebuah ungkapan “adat Banda, adalah
(agama) Islam itu sendiri.” Meskipun, masyarakat Banda bukan mayoritas
172 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Islam, penduduk non-Islam bisa menyelenggarakan adat (kebudayaan) Islam
dengan baik, bahkan diwariskan secara turun-temurun.
Demikian pula, kehadiran orang-orang Buton di perkebunan pala sebagai
budak membentuk kebudayaan di perkebunan. Mereka kawin-mawin dengan
perempuan setempat, dan mereka dapat ikut serta dalam menyelenggarakan
adat Banda dengan baik. Bagi penduduk Banda mempunyai pandangan,
apabila seseorang telah lama tinggal di Banda, mereka dapat dengan mudah
untuk ikut serta dalam menyelenggarakan ritual kebudayaan Banda.
Komunitas Di Wilayah Jambi
Wilayah Jambi sebagian besar atau enam puluh tujuh persen wilayahnya
merupakan dataran rendah dan selebihnya dataran tinggi serta perbukitan.
Sungai dan rawa mengelilingi sebagian wilayah Jambi. Laut sepanjang pesisir
timur Sumatera menjadi penghubung antara Jambi dengan kota-kota lain
Nusantara dan Asia Tenggara. Rawa air tawar dan gambut Jambi meliputi luas
30-50 km dari pesisir pantai. Sementara ketinggian dataran rendahnya berkisar
0-100 meter di atas permukaan laut meliputi beberapa kabupaten yaitu Kota
Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Merangin
dan Batang Hari. Dataran sedang dengan ketinggian 100-500 meter di atas
permukaan laut meliputi kabupaten-kabupaten sebagian Sarolangun, Tebo,
sebagian Batang Hari, Kota Sungai Penuh, Merangin, dan sebagian Tanjung
Jabung Barat. Sedangkan dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 500 meter
di atas permukaan laut meliputi kabupaten-kabupaten Kerinci, Kota Sungai
Penuh, sebagian Merangin, sebagian Sarolangun, dan sebagian Bungo.55 Material
abu vulkanik Pegunungan Kerinci yang dibawa oleh arus sungai-sungai yang
mengalir ke arah Jambi menyuburkan tanah di sepanjang aliran sungai Jujuhan
dan Tebo, sedangkan di wilayah Muara Jambi tanah di sekitarnya justru kurang
subur karena proses sedimentasi sehingga tanah banyak mengandung asam.
Kondisi geografis seperti ini berpengaruh terhadap pola kehidupan
55 Lihat Lindayanti dkk. Jambi Dalam Sejarah 1500-1942. Jambi: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Provinsi Jambi, 2013, hlm 2.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 173
masyarakat Jambi yakni menjadikan sungai dan perairan sebagai bagian
penting aktivitas penduduk selama berabad-abad, baik dalam hal perniagaan
maupun keagamaan. Temuan berbagai benda-benda berharga hasil penggalian
arkeologis berupa keramik, patung, ataupun sisa-sisa perahu kuno di sepanjang
aliran Batang Hari yang sebagian disimpan di berbagai museum baik di Jambi
maupun tempat lain sesungguhnya suatu petunjuk bahwa wilayah aliran Batang
Hari telah menjadi pusat peradaban di masa lalu. Di dalamnya berkembang
suatu kehidupan masyarakat yang menempatkan sungai sebagai prasarana
aktivitas utama dan penting bagi kelangsungan hidup mereka. Sungai-sungai
yang bercabang di wilayah Jambi membelah dan menghubungkan satu wilayah
dengan wilayah lainnya, dan memungkinkan penduduk menjalin kontak serta
terhubung satu sama lain. Sungai juga menjadi penghubung antara Jambi
dengan dunia luar sehingga terbuka luas masuknya bangsa-bangsa lain dan
menjadikan Jambi sebagai wilayah yang terbuka. Hal itu tersirat pula dalam
kisah-kisah rakyat yang cukup populer di kalangan masyarakat tentang arti
penting sungai dan hubungan antara masyarakat Jambi dengan dunia luar
mereka.
Satu cerita rakyat yang dikenal dalam masyarakat Jambi terkait hubungan
antara perairan dan aktivitas sosial adalah kisah tentang Batang Hari. Kisah ini
berjudul “Asal Mula Nama Sungai Batang Hari”56 yang menceritakan tentang
pencarian masyarakat Jambi mengenai calon raja yang akan memimpin
Jambi pada suatu masa. Dalam kisah itu disebutkan bahwa calon raja baru
dianggap terpilih jika ia mampu melewati tahapan-tahapan ujian dan beberapa
persyaratan lainnya. Oleh sebab itu dimulailah pemilihan untuk menentukan
calon raja Jambi. Beberapa tokoh masyarakat atau adat pun mengikuti seleksi
calon raja itu, tetapi semuanya mengalami kegagalan karena beratnya ujian.
Adapun tahapan ujian yang harus dilalui oleh para calon raja yaitu lolos dari
api yang dibakar berkobar-kobar, direndam dalam sungai selama tiga hari,
dan digiling dengan kilang besi yang besar. Calon-calon asal Jambi gagal,
kemudian pencarian calon raja baru diarahkan ke luar Jambi yakni hingga ke
India bagian selatan atau “Negeri Keling”, demikian negeri itu disebut dalam
56 Lihat Kaslani. Cerita Rakyat dari Jambi, Volume 2. Jakarta: Grasindo, 1997, dalam pranala
https://books.google.co.id/books?id=cRxVaY59occC&printsec=frontcover&dq=Cerita+Rakyat+dari+
jambi+2&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiusIDgg5_WAhWFs48KHfIVBXEQ6AEIJTAA#v=onepage&q=
Cerita% 20Rakyat%20dari%20jambi%202&f= false diakses 12 September 2017, 1.41 pm
174 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
cerita rakyat itu. Di India mereka temukan calon raja yang bersedia memimpin
Jambi sekaligus mengikuti ujian dan berjanji akan menyejahterakan rakyatnya
jika terpilih nanti. Atas kesediaannya itu, calon raja yang memahami astronomi
ini lalu dibawa ke Jambi dengan menggunakan dendang, yakni kapal besar
yang dibawa dari Jambi. Perjalanan mereka dari “Negeri Keling” itu dengan
menyusuri Samudera, melintasi bukit, dan menahan kencangnya tiupan angin
sebelum tiba di Jambi. Rombongan sempat singgah di Malaka untuk membeli
perbekalan, lalu di Aceh untuk beristirahat atau menambah persediaan air
tawar.
Selesai rombongan itu singgah dan mengisi perbekalan secukupnya di
kedua bandar itu, tibalah mereka di muara sungai yakni tempat asal mereka
melakukan perjalanan untuk mencari calon raja. Meskipun mereka mengenal
dan sering berlayar melintasi sungai itu bahkan meminum airnya, nama
sungai ini justru belum dikenal waktu itu. Maka, bertanyalah seorang anggota
rombongan kepada calon raja tersebut tentang nama sungai itu. Calon raja pun
kemudian menjawabnya dengan menyebut “muaro kepetangan hari”. Dalam
perkembangannya sungai tersebut kemudian disebut sebagai Batang Hari,
sungai besar yang selama berabad-abad berfungsi sebagai jalur pelayaran dan
perniagaan.
Apa makna cerita rakyat tersebut dalam konteks kemaritiman dan jalur
rempah selain sebagai tradisi lisan yang terus hidup dan dikisahkan secara
lisan turun-temurun dari satu generasi ke generasi dalam masyarakat Jambi.
Setidaknya penyebutan beberapa tempat seperti India atau “Negeri Keling”,
Malaka, Aceh, dan juga dendang (kapal), jalur pelayaran, muara dalam kisah
itu menunjukkan suatu hubungan atau relasi Jambi dengan bangsa dan
negeri lainnya, juga tentang pengetahuan masyarakat menyangkut pelayaran,
perkapalan, dan adat-istiadat dalam kehidupan sosial masyarakat Jambi.
Tradisi lisan dan pengetahuan lokal dalam cerita rakyat itu juga mengandung
suatu pesan penting bahwa hubungan antarbangsa sesungguhnya telah
berlangsung sejak lama dan Jambi merupakan suatu negeri yang terbuka,
sesuai karakter geografisnya yang dikelilingi banyak sungai yang bermuara
ke laut menjadi bagian penting kehidupan sosial-ekonomi Jambi. Perniagaan
maritim terutama di wilayah Sumatera dan bagian barat Nusantara serta
kawasan Asia Tenggara yang menempatkan Jambi sebagai bagian penting
dalam jalur pelayaran dan perniagaan di dalamnya, sebagaimana diuraikan
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 175
pada bagian terdahulu, berpengaruh pula pada terbentuknya suatu masyarakat
sungai sekaligus mendorong berkembangnya wilayah pesisir sebagai pusat
aktivitas atau perkotaan baru.57 Pesisir dalam perkembangannya menjadi titik
pertemuan berbagai orang dan bangsa untuk saling berinteraksi, menjadi
tempat persinggahan bagi kapal-kapal yang sedang berniaga, atau sebagai
tempat bongkar-muat berbagai komoditas dari berbagai kapal dan tempat.
Wilayah pesisir juga menjadi lokasi bagi transaksi perniagaan atau sebagai
tempat tinggal masyarakat setempat atau bangsa lain. Posisi geografi Jambi
diuntungkan terutama karena letaknya yang berada di lintasan kapal-kapal
dari utara yakni Selat Malaka menuju Banten dan wilayah lain di Jawa atau
sebaliknya. Kerajaan Sriwijaya pada masa kejayaannya yang menguasai
perairan bagian timur Nusantara hingga Semenanjung Malaya juga memberi
peluang bagi Jambi untuk berperan dalam pelayaran dan perniagaan di
sepanjang pesisir timur Sumatera. Hubungan atau kontak antara Jambi dengan
Cina juga dijalin, dan hubungan ini menjadikan pula jalur pelayaran di bagian
timur Sumatera menjadi ramai. Sumber Cina mencatat bahwa setidaknya telah
terjadi kontak atau pengiriman utusan dari Jambi ke daratan Cina pada sekitar
tahun 1079, 1082 dan 1088. Hal itu menunjukkan bahwa pada abad ke-11
hubungan keduanya dapat dikatakan berlangsung lancar.
Penduduk Jambi yang beraneka suku dan latar belakang, sejak lama hidup
berdampingan dalam suatu ruang bersama sepanjang aliran Batang Hari.
Masing-masing memegang teguh dan mengembangkan kebudayaan serta
adat-istiadatnya dengan segala keunikannya. Mereka terdiri dari antara lain
masyarakat Melayu yang menjadi mayoritas penduduk Jambi hingga kini,
berbagai suku bangsa baik yang tinggal dan menetap di wilayah pedalaman
dan hutan, maupun masyarakat yang karena dihubungkan dengan perniagaan
ataupun pelayaran di masa lampau seperti masyarakat Tionghoa dan Arab
seluruhnya tinggal di berbagai wilayah di Jambi. Sungai menjadi bagian
penting dari kehidupan dan peradaban mereka selama berabad-abad. Beberapa
komunitas atau masyarakat yang menempati posisi penting dalam struktur
masyarakat Jambi, di antara masyarakat Melayu yang menghuni sebagian besar
wilayah Jambi, dan terutama dalam kaitannya dengan masyarakat sungai dan
kehidupan maritim di dalamnya diuraikan secara ringkas berikut ini.
57 Lihat John N. Miksic. “Traditional Sumatran Trade,” Bulletin de l’Ecole français d’Extrême-
Orient, Tome 74, 1985, hlm 437.
176 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Orang Laut Di Wilayah Jambi
Jambi yang dikelilingi banyak sungai dan terhubung dengan laut menjadikan
penduduknya mengembangkan suatu kehidupan yang bergantung pada sungai
ataupun perairan. Sungai-sungai yang bercabang di sepanjang Batang Hari
menjadi penting dan merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dalam
keseharian penduduk. Aktivitas pelayaran dan perniagaan yang berlangsung di
sepanjang aliran sungai dan laut turut berpengaruh pada kegiatan penduduk.
Dalam sastra misalnya berkembang tradisi lisan yang berakar pada folklor atau
cerita-cerita rakyat yang mengambil tema tentang sungai dan masyarakat yang
hidup di sekitarnya. Di bidang arsitektur juga berkembang suatu desain tempat
tinggal yang berakar pada tradisi masyarakat sungai yakni bentuk rumah
panggung yang tegak berdiri di atas perairan atau aliran sungai. Hubungan
penduduk dengan alam sekitarnya seperti tercermin pada tradisi lisan dan
bangunan tempat tinggal mereka sesungguhnya memperlihatkan suatu
interaksi antara manusia dengan lingkungan sekitar tempat mereka tinggal.
Hal itu dapat diamati pada orang laut yang hidup dan melakukan aktivitas
kesehariannya di sekitar sungai dan laut. Mereka lah bagian dari orang laut
yang hidup dan tersebar di berbagai wilayah di Nusantara, termasuk di Jambi
dan pesisir timur Sumatera.
Jalur pelayaran dan perniagaan yang ramai di sepanjang pesisir timur
Sumatera antara Selat Malaka dengan Laut Jawa yang berlangsung sejak awal
Masehi setidaknya berpengaruh terhadap pembentukan masyarakat yang
berada di sepanjang lintasan itu. Orang laut dalam hal ini menjadi bagian
dari suatu kehidupan masyaralat sungai atau pesisir selama puluhan tahun.
Aktivitas pelayaran dan perniagaan di sepanjang Batang Hari dengan anak-
anak sungainya yang bermuara ke laut lepas telah mendorong terbentuknya
suatu pemukiman penduduk di atas air. Temuan berbagai benda arkeologis
dari berbagai periode di sepanjang aliran Batang Hari dan juga di pesisir timur
Sumatera menunjukkan adanya suatu kehidupan di masa lampau di sekitar
aliran sungai tersebut. Laut atau sungai selain sebagai sumber kehidupan,
wilayah ini juga tempat tumbuhnya suatu peradaban bagi orang laut.58
58 Lihat Retno Purwanti. “Karangberahi Dalam Struktur Perekonomian Kerajaan Sriwijaya,” dalam
Kumpulan Pertemuan Ilmiah Arkeologi X, 26-30 September 2005; lihat pula Budi Wiyana. “Perdagangan
di Pantai Timur Sumatra Bagian Selatan Berdasarkan Temuan Manik-manik,” dalam Kumpulan
Pertemuan Ilmiah Arkeologi X, 26-30 September 2005; lihat pula laporan survei arkeologi Jambi yang
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 177
Gambar 4.3 Sungai Batanghari di Jambi
Sumber: Agus Widiatmoko, Dokumentasi pribadi, 2017
Orang laut59 merupakan suku bangsa yang tinggal di perahu dan hidup
mengembara dari perairan yang satu ke perairan yang lain. Di bagian barat
Nusantara misalnya mereka tinggal di sekitar Kepulauan Riau, Lingga, dan juga
pantai selatan Johor. Wilayah sekitar muara sungai seperti di Jambi atau pesisir
timur Sumatera dijadikan sebagai tempat pemukiman bagi orang laut. Meski
hidupnya kerapkali berpindah-pindah, mereka juga mempunyai pimpinan
tersendiri dan tidak berada di bawah Kesultanan Jambi.60 Saat Sriwijaya berkuasa
dilakukan oleh para ahli arkeologi dan peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi pada Mei 2012
(selanjutnya disebut Laporan Survei Arkeologi Jambi 2012, naskah tidak diterbitkan).
59 Lihat Lindayanti et.al. Op.cit. Jambi Dalam Sejarah 1500-1942.Lombard juga menguraikan
panjang lebar tentang komunitas pesisir yang sangat menarik ini dalam karyanya Nusa Jawa: Silang
Budaya Jilid 2 Jaringan Asia, hlm 87-101.
60 Lihat Lindayanti et.al., Op.cit., hlm 17-18.
178 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
misalnya, pantai barat Semenanjung Melayu termasuk dalam wilayah bahari
kekuasaan Sriwijaya dan ini menempatkan bagian timur Sumatera menjadi
penting bagi kapal-kapal asing dalam pelayaran menuju Cina atau perjalanan
kembali dari negeri tersebut. Wilayah Srwijaya menjadi tempat yang sering
dilalui kapal-kapal asing dan berbagai komoditas berpindah tempat dari satu
kapal ke kapal lain atau ditempatkan dan disimpan sementara menunggu dijual
kepada kapal-kapal yang singgah ke pelabuhan-pelabuhan sepanjang pesisir
timur Sumatera.
Dalam hal ini, orang laut menjadi bagian tak terpisahkan kehidupan
masyarakat sungai dan laut. Kehidupan mereka antara lain diisi dengan aktivitas
menangkap ikan, tinggal tersebar di atas sungai atau perahu yang terbuat dari
papan yang ditutup dengan daun kering. Di kawasan Lambur misalnya, sekitar
12 kilometer dari Muara Zabak, ditemukan sisa-sisa perahu yang terbuat dari
kayu bulian, tali ijuk pengikat papan perahu, dan pasak pengunci papan yang
terbuat dari kayu. Selain itu, ditemukan pula tonggak-tonggak kayu nibung
yang diduga merupakan fondasi bangunan rumah kuno. Temuan-temuan
arkeologis seperti di atas atau yang berkaitan dengan pemukiman juga pernah
ditemukan di Dusundua Sungairaya.61 Dalam hal ketangguhan, orang laut siap
bertarung bila menghadapi musuh. Kehidupan mereka berpindah-pindah dari
satu tempat ke tempat lainnya, seiring pergerakan perahu sebagai tempat tinggal
sekaligus alat transportasi mereka melakukan berbagai aktivitas termasuk
perniagaan. Di Kerajaan Malaka dan Johor misalnya, orang laut menempati
posisi penting sesudah sultan, menteri dan orang kaya.62 Sementara di bagian
pantai timur Sumatera, jika melihat geografi pantai timur Sumatera orang laut
termasuk salah satu masyarakat yang paling awal dan terdepan menjalin kontak
atau berhubungan dengan bangsa-bangsa lain yang datang ke wilayah itu.
Komunitas Tionghoa Di Wilayah Jambi
Orang Tionghoa diperkirakan tinggal di wilayah Jambi sejak lama, jika
melihat geografi Jambi yang berada pada lintasan pelayaran dan perniagaan
61 Lihat Laporan Survei Arkeologi Jambi 2012.
62 Lihat Adrian B. Lapian. Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad
XIX. Depok: Komunitas Bambu, 2009.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 179
antarbangsa sejak awal Masehi. Kapal-kapal asal Cina termasuk pelaku penting
dalam jalur pelayaran dan perniagaan di Nusantara. Hubungan masyarakat
Tionghoa dengan masyarakat Jambi di masa lalu terjadi karena interaksi
kedua bangsa ini di bidang perniagaan. Benda-benda arkeologis dalam bentuk
keramik yang kini tersimpan dalam ruang-ruang pamer Museum Siginjai di
Jambi memperlihatkan bahwa hubungan dengan Cina telah berlangsung sejak
lama. Di berbagai kota di Nusantara, termasuk pula Jambi, orang Tionghoa
yang datang ke Jambi dan kemudian membangun komunitasnya sendiri serta
tinggal dalam suatu lokasi yang dikenal sebagai “Kampung Pecinan”. Kampung
peCinan dapat ditemukan di berbagai kota di Nusantara, terutama tak jauh
atau berada di sekitar wilayah pesisir, di mana perniagaan menjadi aktivitas
utama perekonomian di wilayah itu. Lokasi pemukiman komunitas Tionghoa
ini berada di sekitar atau tak jauh dari kawasan pelabuhan yang menjadi
sentra aktivitas perniagaan. Dari segi arsitektur, desain rumah tinggal di
kawasan peCinan atau pemukiman komunitas Tionghoa ini tercermin dalam
rumah-rumah mereka yang berornamen naga disertai berbagai ukiran-ukiran
berbentuk barongsai yang melekat pada tempat tinggal mereka. Di sekitar
kawasan peCinan itu juga biasanya dibangun sebuah klenteng sebagai tempat
peribadatan bagi komunitas Tionghoa. Sisa-sisa klenteng yang dibangun sejak
berabad-abad lalu di berbagai wilayah di Nusantara sebagian masih berdiri
megah dan dapat dilihat kemegahan arsitekturnya.63
Di kawasan peCinan itulah komunitas Tionghoa tinggal dan membangun
perniagaannya serta membentuk jaringan perdagangannya dengan bangsa-
bangsa lain. Di wilayah Jambi, masyarakat Tionghoa berprofesi sebagai
pedagang perantara dalam perdagangan lada atau hasil bumi lainnya, dan
menjalin kontak dengan saudagar-saudagar bumiputera untuk bertransaksi
berbagai komoditas utama hasil kehutanan dan pertanian. Saat ini, jejak-
jejak pemukiman masyarakat Tionghoa di Jambi masih terlihat dari berbagai
bangunan yang berada di sekitar Kota Seberang Jambi yang letaknya di tepi
aliran Batang Hari. Kota Seberang ini sekarang telah berkembang pesat dan
63 Tentang sejarah dan fungsi klenteng-klenteng, terutama yang didirikan di Jakarta sejak abad
ke-17, lihat Ch. Salmon dan D. Lombard. Klenteng-klenteng Masyarakat Tionghoa di Jakarta. Jakarta:
Yayasan Cipta Loka Caraka, 1985; Di Desa Dasun, Lasem, Jawa Tengah, Klenteng Tjoe An Kiong yang
diperkirakan dibangun pada abad ke-15 hingga kini masih kokoh berdiri dan aktif digunakan untuk
berbagai kegiatan peribadatan masyarakat Tionghoa. Posisi klenteng ini menghadap ke arah sungai yang
letaknya tak jauh dari klenteng ini.
180 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
menjadi salah satu pusat perniagaan paling sibuk di kota Jambi. Jika melihat
aktivitas ekonomi yang berlangsung di Kota Seberang, besar kemungkinan
kawasan ini dahulu menjadi “kawasan internasional” yang menghubungkan
berbagai bangsa melalui perniagaan, sekaligus menjadi pemukiman mereka
selama menjalankan aktivitas perekonomiannya atau sekadar singgah untuk
menyelesaikan urusan perdagangan.
Seorang pedagang perantara Jambi abad ke-17 yang terkenal dalam
perniagaan lada ialah Ketjil Japon, yang juga dikenal sebagai Orang Kaya Sirre
Lela.64 Ia membawa lada dengan menggunakan jung keluar dari wilayah Jambi
menuju Jakarta. Relasi pergaulan Ketjil Japon luas tidak hanya di kalangan
saudagar, tetapi juga di kalangan bangsawan Jambi dan bangsa Eropa. Oleh
karena itu, Ketjil Japon juga diterima di kalangan bangsawan Jambi. Saudagar
lain yang juga dikenal dalam masyarakat Jambi ialah Shin Tay.65 Dia adalah
seorang saudagar Tionghoa pada abad ke-17, yang juga dikenal sebagai juru
dakwah. Sebagai saudagar, Shin Tay mengembangkan dan menjalin kontak
perniagaan lada serta menjalin hubungan dengan Kesultanan Melayu Jambi.
Ia menikah dengan putri keluarga sultan dan menerima gelar sebagai datuk.
Shin Tay termasuk seseorang yang turut membangun Kampung Pecinan,
meliputi lima kampung yaitu Olak Kemang, Ulu Gedong, Tengah, Jelmu dan
Arab Melayu. Meski kampung Arab Melayu masuk wilayah Pecinan, kampung
ini banyak dihuni oleh masyarakat asal Yaman. Hubungan antarsuku di antara
suku-suku bangsa itu berlangsung harmonis saja, perbedaan di anatara mereka
bukan penghalang dalam berinteraksi antar mereka.
Komunitas Arab Di Wilayah Jambi
Kota Seberang Jambi yang terletak di tepi Batang Hari dan masuk wilayah
peCinan ini menjadi tempat pemukiman masyarakat Arab Melayu. Mereka
diperkirakan telah menetap dan membangun pemukimannya di wilayah itu
sejak abad ke-13. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan Yaman.66 Di
kampung masyarakat Arab Melayu ini terdapat makam Sayid Husin bin Ahmad
64 Lihat Meilink-Roeloefsz. Op.cit. Asian Trade and European Influence…, hlm 259-60.
65 Lihat “Jejak Pecinan di Kota Santri,” Kompas, 8 Juni 2017.
66 Lihat “Jejak Pecinan di Kota Santri,” Kompas, 8 Juni 2017.