Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 181
Baragbah yang dihormati oleh masyarakat Arab Melayu di kampung tersebut.
Ia juga dikenal sebagai seorang penyebar agama Islam di wilayah Jambi.
Kampung Arab Melayu di Kota Seberang ini sejak dahulu menjadi tempat
pemukiman masyarakat keturunan Arab. Letak kampung berdekatan dengan
pemukiman masyarakat Tionghoa sehingga dapat dikatakan bahwa di wilayah
ini interaksi antar kedua masyarakat telah berlangsung lama. Perniagaan besar
kemungkinan menjadi titik simpul pertemuan antara kedua masyarakat ini di
wilayah Jambi.
Sebagian besar masyarakat Arab Melayu di kampung itu bekerja sebagai
pedagang. Ketek, sejenis perahu yang mampu mengangkut belasan orang,
menjadi alat transportasi bagi masyarakat kampung ini untuk menuju ke
kampung lainnya yang masih dalam wilayah peCinan.67
Masyarakat Arab Melayu lainnya juga tinggal di sekitar ibukota kesultanan.
Mereka mempunyai hubungan dengan Kesultanan Jambi, dan di antara
mereka ada yang menikah dengan anggota kesultanan. Melalui perkawinan
itu, masyarakat Arab masuk dalam lingkaran kesultanan dan menjadi bagian
penting di dalamnya, berikut sejumlah posisi dan hak-hak istimewa yang
diberikan oleh kesultanan kepada mereka.68
Orang Kayo Dalam Pandangan Orang Jambi
Lapisan sosial lain dalam masyarakat Jambi adalah orang kayo, terkadang
disebut pula rangkayo. Mereka adalah salah satu lapisan sosial yang mendapat
posisi terhormat dalam masyarakat Jambi atau masyarakat Sumatera. Mereka
mempunyai garis kebangsawanan dari kesultanan Melayu. Orang kayo cukup
aktif dan juga berperan dalam dunia perniagaan. Kemakmuran ekonomi yang
mereka raih dari usaha perniagaan membawa mereka dalam posisi terhormat
di masyarakat. Aktivitas perniagaan yang mereka kelola dan juga jaringan
niaga yang terbentuk dari hubungan atau kontak dagang mereka dengan
67 Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Arab_Melayu,_Pelayangan,_Jambi; https://way4x.
wordpress.com/kyai-abdurahman-wahid/foto-%E2%80%93-foto-para-ulama/sayid-husin-bin-ahmad-
baragbah-jambi/; http://jambidaily.com/detail/wisata-ziarah-di-sekoja-mensyukuri-jejak-langkah-
ulama-jambi-1/
68 Lihat Lindayanti et.al, Op.cit., hlm 18.
182 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
pelaku-pelaku ekonomi terus berkembang dari tahun ke tahun, juga antarkota
di sepanjang pesisir timur Sumatera. Sebagai saudagar, orang kayo termasuk
golongan orang-orang yang rajin, ulet, dan bersemangat dalam menjalankan
perniagaannya. Di Pulau Sumatera, kontak dagang yang mereka bangun tidak
terbatas pada masyarakat lokal yang tinggal dalam satu kota dengan mereka,
tetapi kontak dagang juga dibangun dengan saudagar-saudagar di lain kota
terutama sepanjang pesisir Sumatera baik di bagian barat maupun timur.69
Dalam masyarakat Jambi, yang juga akrab dengan berbagai folklor atau
cerita rakyat seputar sungai dan masyarakat sungai, kisah tentang orang kayo
juga hidup dalam tradisi lisan mereka. Dalam cerita rakyat itu, Rangkayo Hitam
dikenal sebagai orang sakti yang pemberani dan tidak bisa ditaklukkan oleh
raja Jawa. Dia putra Raja Jambi Datuk Paduko Berhalo dengan permaisuri Putri
Selaras Pinang Masak. Datuk Paduko Berhalo memiliki nama asli Ahmad Barus
atau Ahmad Salim. Pasangan Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinang
Masak ini mempunyai empat anak yang semuanya menyandang nama Orang
Kayo di awal namanya. Ahmad Barus adalah keturunan Turki. Dia datang ke
Jambi untuk menyebarkan agama Islam. Sementara itu Putri Selaras Pinang
Masak adalah putri Raja Pagaruyung.70 Orang kayo dalam tradisi lisan yang
berkembang dalam masyarakat Jambi ini erat kaitannya dengan kesultanan/
kebangsawanan. Pengakuan atas peran dan kontribusi orang kayo di masa lalu
bagi masyarakat Jambi terutama, kini diabadikan dalam bentuk nama jalan di
kota itu yakni Jalan Orang Kayo Hitam.
Orang kaya juga dikenal di wilayah lain seperti Banten. Di kota tersebut,
orang kaya umumnya tinggal di rumah. Jika ada kapal yang akan berlayar,
mereka akan meminjamkan uang kepada orang-orang yang akan berlayar
dengan tujuan agar uang dikembalikan sebanyak dua kali lipat. Jumlah uang
yang dipinjamkan dihitung atas dasar lama dan jauhnya pelayaran. Jika
pelayaran mendapatkan keuntungan yang baik, maka si pemberi uang dibayar
kembali sesuai perjanjian. Namun demikian jika si peminjam uang tidak
69 Lihat Zeid. Op.cit. Saudagar Pariaman…, yang mengisahkan tentang Muhammad Saleh gelar
Datuk Orang Kaya Besar, seorang saudagar Pariaman yang sukses membangun usahanya di bidang
pelayaran dan perniagaan sepanjang pesisir barat Sumatera; lihat pula J. Kathirithamby-Wells. “Royal
Authority and the ‘Orang Kaya’ in the Western Archipelago, circa 1500-1800”, Journal of Southeast Asian
Studies, Vol. 17, No. 2 (Sept 1986), hal 256-267.
70 Lihat https://daerah.sindonews.com/read/1017868/29/rangkayo-hitam-penguasa-jambi-
yang-tak-bisa-ditaklukkan-raja-jawa-1435515455, diakses 18 September 2017, pkl 5.37 pm
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 183
mampu mengembalikan sejumlah pinjamannya karena kemalangan, maka ia
harus memberikan istri dan anaknya sebagai jaminan sampai seluruh utangnya
lunas kecuali jika kapalnya karam. Dalam hal ini pemilik modal kehilangan
uang yang dipinjamkannya.71
Keragaman penduduk Jambi yang diuraikan sebagian dan secara historis
mempunyai kisah yang panjang dengan segala asal-muasal, keunikan dan
kebudayaan masing-masing masyarakat di dalamnya telah menjadikan sungai
sebagai bagian penting kehidupan mereka selama berabad-abad, bahkan
hingga kini. Jejak-jejak sejarah mereka di masa lalu masih bisa dilacak melalui
berbagai temuan-temuan penting di bidang arkeologis yang kini tersimpan
di museum berupa serpihan-serpihan keramik, patung, uang, perahu kuno,
bekas-bekas hunian mereka di sekitar sungai, juga buah tangan mereka
berupa tenunan, pahatan, dan benda-benda seni lainnya. Jejak-jejak itulah
sebagai penanda sekaligus dijalin menjadi suatu kisah bahwa di masa lampau
ada kehidupan dan peradaban yang aktif dan berlangsung di wilayah Jambi.
Aktivitas dan kehidupan mereka juga disampaikan dari generasi ke generasi
secara lisan melalui berbagai folkor atau cerita rakyat yang berpusat pada
masyarakat sungai sebagai tema utama kisah-kisah tentang masyarakat Jambi.
Masyarakat Pantai Utara Jawa
Bagi sebuah pulau, tentulah peran kawasan pantai sangat penting sebagai
titik penghubung (connecting point) antara masyarakat setempat dan hinterland
dengan dunia luar atau foreland. Peran ini sungguh sangat penting apalagi
ketika teknologi informasi dan dan komunikasi serta transportasi belum bisa
memanfaatkan ruang udara. Artinya kontak, komunikasi, dan pertukaran
(exchange) yang dilakukan masyarakat pulau dengan dunia luar pada zaman
pramodern masih semuanya dilakukan dengan melalui laut. Dalam konteks
inilah daerah pantai, khususnya pelabuhan menjadi titik perjumpaan atau
meeting point antara hinterland dan foreland.72 Oleh sebab itu bisa dipahami
71 Lihat Lapian. Op.cit. Pelayaran dan Perniagaan, hlm 62-63; lihat pula Guillot. Op.cit. Banten,
hlm 185, 236.
72 Peter Reeves dan kawan-kawan kota pelabuhan sebagai: “a city whose main economic base
184 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
jika sejak zaman kuno pantai utara Jawa juga memiliki peran yang signifikan
dalam sejarah pulau Jawa secara umum. Seperti diketahui bahwa tanda-tanda
kemajuan masyarakat Jawa pada awalnya ditemukan di kawasan pantai. Kubur
batu dan dolmen serta peninggalan punden berundak yang menunjukkan
kemajuan sebelum terjadikan kontak dan komunikasi dengan India ditemukan
di kawasan Lasem yang terletak di pantai utara Jawa Tengah bagian timur.
Demikian juga kerajaan tertua di Jawa yaitu Tarumanegara juga ditemukan
di kawasan pantai di Bekasi, Jawa Barat. Kerajaan Kalingga atau Holing juga
diperkirakan di pantai utara Jawa tengah yaitu sekitar Jepara. Dalam hal ini
peran dunia kemaritiman sangat penting dalam konteks perkembangan
masyarakat pantai utara Jawa. Penemuan situs kapal kuno di Punjulharjo,
Lasem, kabupaten Rembang yang seusia dengan masa awal Kerajaan Sriwijaya
juga menunjukkan betapa masyarakat pantai utara Jawa sudah mengalami
perkembangan yang pesat sebelum wilayah pedalaman menggantikannya.
Dalam perkembangan selanjutnya ketika kedudukan Nusantara menjadi
semakin peting dalam perdagangan internasional, pantai utara Jawa mengambil
posisi yang sangat penting bukan hanya sebagai pemasok utama salah satu
produk yang diperdagangkan yaitu beras tetapi juga sebagai transito dan gudang
rempah sebelum diperdagangkan lebih lanjut. Pantai utara Jawa menjadi salah
satu matarantai utara dalam jalur perdagangan internasional di Nusantara.
Pantai utara Jawa merupakan jalur rempah “rute selatan”. Oleh karena kemajuan
perdagangan inilah komunitas pantai utara Jawa semakin berkembang pesat.
Komunitas yang tinggal di pelabuhan menjadi semakin berkembang di
pantai utara Jawa.73 Sebagai salah satu gambaran bisa dikemukakan bahwa
setiap pelayaran dari Pasai yang terletak di ujung utara Sumatera senantiasa
melalui rute selatan untuk memperoleh beras Jawa dan singgah mencari air
bersih pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa. Demikian pula orang-orang
for its non local market is its port, i.e. the area where goods and/or passengers are phisically transferred
between two modes of transport, of which at least one is maritime (transfer from ship to ship can of
course also occur and, in the case of pure intrepots, may assume overwhelming importance). Frank
Broeze, “Introduction”, dalam: Frank Broeze & Peter Reeves (eds), Brides of the Sea: Port Cities of Asia
from 16th-20th Century (Kinshington: New South Wales University, 1989), hlm. 30.
73 Pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa jenisnya beragam. Terdapat pelabuhan yang
mempunyai hubungan langsung antara aliran sungai dengan muara, arus air yang akan melaju ke laut,
dan terdapat pula pelabuhan yang tidak mempunyai hubungan dengan pedalaman melalui arus sungai,
tetapi melalui daratan. Pelabuhan yang tidak mempunyai hubungan melalui sungai adalah pelabuhan
Tuban, sedangkan pelabuhan yang mempunyai relasi dengan sungai sebagai contoh adalah bandar
Gresik.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 185
Banjarmasin yang berdagang batu permata dan memperoleh beras Jawa harus
menyusuri rute Jawa. Sebaliknya orang-orang Jawa baik dari Gresik maupun
Tuban berlayar ke Banjarmasin untuk mendapatkan hasil hutan seperti damar,
kayu, madu dan rotan. Hal itu berlangsung hingga masa-masa selanjutnya.74
Dalam konteks perdagangan intra-Asia, orang-orang Cina berlayar dari
Guang Dong, Cina selatan ke pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa untuk
menukarkan produk kain sutera dan barang pecah belah seperti keramik dan
porselein.75 Pelayaran kapal dari Guang Dong tersebut membutuhkan waktu
beberapa bulan untuk mencapai pelabuhan pantai utara Jawa. Oleh karena
itu, perjalanan waktu yang panjang itu membutuhkan tempat singgah guna
mendapatkan air bersih dan makanan.76 Sebagaimana diketahui, alur pelayaran
ketika itu sangat ditentukan oleh musim yang menentukan arah angin dan arus
laut. Untuk dapat berlayar ke arah barat, haruslah menunggu musim tertentu
di mana angin berhembus ke barat, demikian pula halnya dengan pelayaran
ke arah timur. Untuk itu, jadwal dan jalur pelayaran diatur berdasarkan
musim. Semua ini karena kapal ketika itu merupakan kapal layar yang hanya
mengandalkan tenaga angin sebagai tenaga penggeraknya.
Deskripsi musim dan kapal layar di atas, mengkondisikan pelaut/pedagang
untuk singgah dan bahkan menetap membentuk komunitas di pelabuhan
pantai utara Jawa. Pertanyaan penting perlu dikemukan di sini kenapa orang-
orang asing yang berdagang dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir
utara Jawa dapat diterima oleh komunitas setempat? Masalah ini menjadi
salah satu faktor yang memudahkan orang Eropa untuk masuk ke kawasan
Nusantara. Sudah menjadi tradisi bahwa masyarakat Nusantara sudah terbiasa
bisa menerima kaum pedagang asing dalam masyarakat.77 Di Nusantara pada
74 R. Broersma, Handel en bedrijf in Zuid- en Oost-Borneo (The Hague: Naeff, 1927), hlm. 25-27.
75 Untuk perjalanan pelayaran orang-orang Cina dari Guang Dong lihat. Roderick Ptak.
“Northern Trade Route to the Spice Islands: South China Sea-Sulu Zone North Moluccas (Fourteenth to
Early Sixteenth Century). Dalam, Archipel No. 43, 1992, hlm. 27-56.
76 Pelayaran kapal dari Indonesia Timur menuju pelabuhan-pelabuhan Jawa utara masih
mempergunakan jalur selatan hingga tahun 1970-an. Pelaut-pelaut itu masih mempergunakan kapal
layar dan jadwal musim angin. Dari cerita para pelaut Banda pada 1970an mereka mengangkut kopra
dan rempah-rempah, biasanya mereka singgah di pelabuhan Sumbawa sebelum tiba di Surabaya.
Singgah di Sumbawa untuk mendapatkan air bersih dan makanan. Untuk hal ini lihat wawancara dengan
Abdullah pada 8 Mei 2017 di Pulau Run, Kepulauan Banda.
77 Situasi ini sangat berbeda di Eropa dan di Asia. Ketika itu di Eropa “kekasaisaran” lama pada
186 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
abad ke 15-16 terjadi gabungan yang padu antara perdagangan dan politik.
Kesultanan di Nusantara juga aktif dalam sektor perdagangan. Para penuasa
pesisir beserta kerabatnya ikut berdagang dan mempunyai saham dalam
ekspedisi-ekspedisi di laut. Seperti diketahui bahwa bagian terbesar dari
pendapatan negara berasal dari pabean dan aneka ragam pajak perdagangan.78
Berdasarkan sumber-sumber sajarah dapat dituturkan beberapa pelabuhan
diciptakan untuk kebutuhan singgah para pedagang dan bahkan menetap di
pelabuhan pantai utara Jawa.
Sumber-sumber sejarah lokal mengenai pembentukan masyarakat
pelabuhan dan perdagangan itu sangat langka, sebaliknya banyak tersedia karya
sastra, yang kabanyakan ditulis dalam bahasa Melayu dan kadangkala bahasa
Jawa dan Bugis, untuk menghibur atau mendidik komunitas-komunitas niaga
itu.79 Oleh karena aktivitas perdagangan inilah maka komunitas pelabuhan
di pantai utara Jawa mencakup beragam suku bangsa, terdapat orang Jawa,
Madura, Cina, India, Arab dan pedagang dari Indonesia Timur seperti Ambon,
Ternate, Tidore dan Banda.
Komunitas pelabuhan itu yang menciptakan suasana yang ramai dalam
bidang perdagangan. Masing-masing kelompok bangsa menggelar hari pasar
untuk memperdagangkan komoditi dan upaya mencukupi kebutuhan makan
sehari-hari. Komunitas pelabuhan mempunyai hubungan dengan masyarakat
yang tinggal di pedalaman yang mempunyai sumber-sumber komoditas
pertanian yang akan diangkut ke pelabuhan, sebaliknya penduduk yang tinggal
tepi aliran sungai membutuhkan tekstil, rempah, dan ikan yang merupakan
produk perdagangan internasional. Oleh karena itu, untuk lebih memudahkan
akhirnya berantakan. Sebagai akibat dari konflik-konflik antara Negara dengan Paus, Negara berkembang
menjadi sekuler. Banyak kota niaga tumbuh berkembang di atas fragmentasi politik dan membebaskan
diri menjadi kota “bebas” tempat kaum “borjuis” tidak hanya memegang kekayaan ekonomi tetapi
juga kekuasaan politik. Sebaliknya di Cina, sekalipun sering terjadi guncangan, pengertian “kerajaan”
sama sekali belum hilang kekuatannya. Kekuasaan agama dan kekuasaan politik tetap tak terpisahkan
dan masih di tangan para “menteri” (mandarin) yang mengelola wilayah agraris dan penuh prasangka
terhadap kalangan dagang. Untuk hal ini lihat. Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Jaringan
Asia. Jilid II. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008, hlm. 9-10.
78 Untuk hal ini lihat. Jan Wisseman Christie. “Javanese Markets and the Asian Sea Trade Boom
of Tenth to Thirteenth Centuies AD.” Dalam, JESHO No. 41 (3) 1998, hlm. 344-381.
79 Berkat analisa teks-teks itu, dapat diperoleh bayangan kembali sebagian mentalitas yang
telah berkembang ditengah-tengah masyarakat tersebut. Lihat, Ibid., Lombard. Nusa Jawa: Silang
Budaya……Jilid II, hlm. 8.
Peta 15. Peta Konektivitas Pesisir Jawa Abad 16 Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 187
Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Lombard, Nusa Jawa Jilid II
188 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
penyusunan deskripsi komunitas pelabuhan pantai utara Jawa, pemaparan
akan disajikan sebagai perkembangan pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara.
Pelabuhan itu mencakup Gresik, Tuban, Demak, Jepara, Lasem, dan Banten
sepanjang abad ke-13 hingga abad ke-17.
Masyarakat Pelabuhan Gresik
Kemunculan pelabuhan Gresik sebagai perubahan masyarakat akibat dari
perdagangan pada abad ke-14. Wanua Gresik merupakan desa spesialisasi untuk
pengolahan terasi dan hasil ikan laut. Peran desa spesialisasi itu ditulis dalam
prasasti bertanggal 1387 yang dikeluarkan oleh seorang penguasa yang tidak
disebut namanya berhubungan dengan pendirian sebuah “lungguh” di suatu
tempat di tepi laut.80 Dalam prasasti itu dituliskan bahwa tanah itu mencakup
satu jung sawah (Pasawahanesa Jung) dan setengah jung tanah yang sudah
dibuka (babatan sakikil), tetapi juga tambak-tambak yang ikannya dipakai
untuk membuat terasi.81 Orang yang bertanggung jawab atas usaha itu adalah
Patih Tambak, seorang nelayan Gresik (saking Gresik wariguluh). Sebagai abdi
(kawula), karena kesalahan tertentu ia dijatuhi denda sebanyak 120.000 butir
uang.82 Ia harus datang menetap di tempat itu bersama beberapa penangkap
ikan lain dan membuat terasi yang sebagian harus diserahkan kepada istana
dan sisanya kepada majikannya. Dalam komentarnya, Th. Pigeaud mengatakan
bahwa piagam itu adalah pertanda munculnya “orang-orang baru” yang bisa
disamakan dengan ministerealis dari abad pertengahan Barat.83
Ada juga informasi yang sangat menarik yang berasal dari sumber-sumber
sejarah perjalanan orang Cina, Mingshi dan Ying Yan Sheng Lan mengenai
komunitas Cina yang menetap di pelabuhan Gresik. Mereka berasal dari Kanton,
Zhangzhou, dan Quanzhou yang telah meninggalkan Cina dan menetap di
pelabuhan-pelabuhan pesisir utara Jawa. Di Gresik hanya ada “pantai tanpa
penghuni”, sebelum orang Kanton menetap di sana. Waktu Zeng He singgah
80 Untuk hal ini lihat. Th. Pigeaud. Java in the Fourteenth Century, Nagarakertagama. The
Hague: Martinus Nijhoff, 1966, hlm. 449-454.
81 Dalam teks prasasti tertulis acan, bentuk yang sekarang ditemukan kembali dalam kata
blacan, yang juga berarti terasi.
82 Ibid., Pigeaud. Java in the Fourteenth Century, hlm. 454.
83 Ibid., Pigeaud. Java in the Fourteenth Century, hlm. 456.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 189
“ada kira-kira seribu keluarga” dan orang-orang pribumi berdatangan dari
seluruh penjuru kota. Pasar mulai dibuka, dan yang diperdagangkan adalah
emas, batu mulia, barang impor kain tenun dan sutra, dan banyak dari mereka
telah menjadi kaya di sana.84
Gambar 4.4 Pelabuhan Gresik Saat ini
Sumber: Dokumentasi Direktorat Sejarah, 2017
Di dalam komunitas pelabuhan Gresik telah berlangsung perdagangan
keperluan sehari-hari dan terutama makanan. Perdagangan itu ditentukan
oleh irama “hari besar” sesuai dengan ritme siklus lima hari dalam pasaran
tradisional. Bahkan hingga jauh kemudian hari masih terdapat desa-desa Jawa
yang dikelompokkan berlima-lima dengan hari pasar yang bergilir. Selain itu,
yang menarik dari masyarakat pelabuhan Gresik adalah bahwa kapal-kapal
layar bagian atasnya bisa menyentuh rumah-rumah di tepi pantai. Oleh karena
84 Ibid., Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya….Jilid II, hlm. 41-42.
190 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
bandar Gresik berseberangan dengan Selat Madura, maka komunitas Gresik
banyak pula yang berasal dari keluarga-keluarga Madura yang berlayar dan
berniaga di sepanjang selat tersebut. Selain itu, para pedagang Madura yang
bermukim di Gresik membawa hasil bumi berupa jagung yang dipertukarkan
dengan beras yang menjadi salah satu komoditi andalan pelabuhan Gresik.85
Hal lain yang menarik dari komunitas pelabuhan Gresik adalah Sunan atau
Raja turut pula dalam perdagangan. Pihak keluarga Sunan melakukan
seleksi terhadap kain-kain tenun kelas satu yang berasal dari setiap pedagang
Koromandel yang datang dari Malaka. Kemudian, kain tenun hasil seleksi
tersebut sebagian mereka perdagangkan kembali ke pasar kawasan timur
Nusantara seperti Banda dan kepulauan Maluku.86
Komunitas pelabuhan Gresik mempunyai relasi dengan komunitas
pedalaman yang bermukim di pinggir sungai. Relasi tersebut ditunjukkan
melalui piagam tentang pajak yang harus dibayar oleh pedagang itu di tempat
tambangan. Piagam itu disebut dengan nama “ferry charter” yang berasal
dari tahun 1358 dan dikeluarkan oleh istana Hayam Wuruk. Dalam piagam
itu, dijelaskan hak-hak istimewa yang diberikan kepada penjaga tempat
penyeberangan sungai (tambang) yang terdapat di Sungai Brantas. Dengan
mengingat bahwa jumlah nama tempat yang disebut sangat banyak yaitu hampir
80 tempat maka dapt disimpulkan bahwa pengangkutan dari pedalaman ke
pelabuhan atau sebaliknya telah menjadi sangat penting.87
Sepanjang abad ke-14 hingga ke-16 di pelabuhan-pelabuhan pesisir
utara Jawa berlangsung semangat zaman bercampurnya perdagangan dengan
penyebaran agama Islam. Tokoh-tokoh perdagangan digambarkan sebagai
sosok pendekar penyebar Islam. Nyai Ageng Pinatih misalnya digambarkan
sebagai perempuan keturunan peranakan Cina yang ikut dalam ekspedisi
armada Cheng Ho. Dia menjadi saudagar kaya di pelabuhan Gresik dan pernah
menjabat sebagai Syahbandar perempuan di pelabuhan tersebut. Pinatih, juga
85 Baik orang Madura maupun orang Gresik menyebut Selat Madura sebagai “selat keluarga”
yang berkumpul untuk melakukan perdagangan. Untuk hal ini lihat. Tome Pires. The Suma Oriental.
London: Hakluyt Society, 1944, hlm. 180.
86 Ibid., Pires. The Suma Oriental, hlm. 183.
87 Dipergunakannya logam mulia seperti emas, dan perak, sebagai sarana transaksi, disusul
dengan pengenalan picis atau keping Cina ikut merangsang pertumbuhan perdagangan. Untuk hal ini
lihat. Op.Cit., Wisseman. “Javanese Markets and the Asian Sea Trade Boom of the Tenth to Thirteenth
Centuries AD, dalam JESHO 41 (3) 1998, hlm. 344-81.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 191
sangat erat hubungannya dengan sosok Wali Songo di Jawa seperti Wali Lanang
dan Sunan Giri Gresik.
Adapun Sunan Giri adalah Raden Paku yang menjalin persahabatan dengan
Sunan Bonang, keduanya menjalin persahabatan. Mereka berdua mengadakan
perjalanan laut ke bandar Malaka, dengan rencana dari sana hendak ke Mekkah.
Setelah kembali ke Gresik, Raden Paku menetap di dekat pelabuhan, di bukit
Giri (“Gunung”), yang mempunyai pemandangan yang mengagumkan ke Selat
Madura.88 Ia membuka pondok pesantren yang murid-muridnya berasal dari
segala penjuru Nusantara. Ia memerintahkan pembangunan sebuah istana
(kedaton) dengan sebuah kolam besar. Untuk selanjutnya, ia terkenal dengan
nama Sunan Giri “Penguasa Gunung” yang memiliki kewibawaan yang tinggi
hingga wafatnya kira-kira tahun 1506. Makamnya dipahat indah dengan gaya
Cina. Hal itu merupakan karya seni yang paling elok masa itu.89 Dari situasi ini
memperlihatkan pula bahwa elit perdagangan tidak lagi menetap di tengah-
tengah dataran persawahan yang kaya, tetapi di dekat laut yang menjadi sumber
kehidupan mereka, di kota-kota pelabuhan dan perdagangan yang bakal
menjadi pusat-pusat sebuah peradaban baru. Karena fungsi dagang menjadi
penting, kota-kota pelabuhan tidak lagi berada di bawah kekuasaan ibukota-
ibukota lama yang agraris di pedalaman.
Komunitas pelabuhan Gresik, selain menghasilkan makanan olah laut,
mereka juga mendapatkan pasokan beras, lada, daging, dan sayur mayur dari
wilayah pedalaman seperti Kediri dan Malang. Beras produksi yang melimpah
dari tanah subur disekitar lembah Sungai Brantas menjadi komoditi andalan
untuk ekspor. Pedagang-pedagang Cina yang telah menetap di pelabuhan
kota Gresik mengusahakan pasokan sayur-mayur dan lada dari daerah agraris
seperti Mojokerto dan sekitarnya.90
88 Sunan Giri yang mempunyai makna sebagai Penguasa Gunung menunjukkan identitas
warisan Jawa Kuno yang hidup di masa wangsa Medang. Identitas penguasa gunung itu terus tertanam
sebagai pengaruh orang yang disegani di masa penyebaran Islam. Untuk hal ini lihat bab satu pada
tulisan ini tentang latar belakang jalur rempah.
89 Menurut sumber-sumber Jawa, pembangunan istana itu dari tahun 1485 dan pembuatan
kolam dari tahun 1488. Pada 1977, beberapa arkeolog Indonesia menemukan reruntuhan tidak jauh
dari makam Sunan Giri yang kemungkinan bekas kedaton tadi. Lihat. Ibid., Lombard. Nusa Jawa: Silang
Budaya…..Jilid II, hlm. 389.
90 Op.Cit. Wisseman. “Javanese Market and the Asia Sea Trade”, dalam, JESHO 41 (3) 1998,
hlm. 344-81.
192 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Pelabuhan Jepara
Salah satu kota penting daam jalur perniagaan rempah Nusantara adalah
Jepara. Penduduk Jepara lebih sedikit dibandingkan dengan Demak. Namun
demikian pelabuhannya sangat penting. Letak pelabuhan Jepara berada di
dalam teluk yang dapat dilayari oleh kapal-kapal besar. Kapal-kapal itu datang
dari Malaka, Semenanjung Melayu, Patani, dan berbagai wilayah lain di
Nusantara. Oleh karena itu, Jepara menjadi bagian penting dalam mata rantai
pelayaran dan perniagaan antara Malaka dan kepulauan rempah-rempah
di Maluku dan Banda. Kota pelabuhan ini tampaknya juga menjadi “kota
internasional” karena interaksi antarbangsa melalui aktivitas pelayaran dan
perniagaan berlangsung di sekitar kota ini.91 Pedagang dari berbagai bangsa
saling bertemu melakukan transaksi jual-beli rempah-rempah, beras, sutera,
keramik, dan komoditas berharga lainnya.
Posisi Jepara yang penting dalam pelayaran dan perniagaan itulah yang
tampaknya menjadi pertimbangan Belanda untuk membangun sebuah
benteng yang mengarah ke teluk di wilayah Jepara pada sekitar abad ke-17.
Masyarakat setempat menyebut benteng tersebut sebagai Loji Gunung. Dari
letak dan ketinggian benteng sekitar 85 meter di atas permukaan laut, benteng
ini setidaknya mampu mengawasi kapal-kapal yang masuk dan melintasi teluk
Jepara. Sasaran sejauh 2 hingga 3 kilometer di sekitar teluk setidaknya masih
bisa dijangkau oleh meriam benteng ini. Benteng peninggalan Belanda yang
masih tersisa ini dahulu tidak hanya mengawasi kapal-kapal di sekitar teluk
atau pelabuhan Jepara saja, tetapi juga masyarakat yang berada di sekitarnya.
Hingga kini, tidak jauh dari lokasi benteng tinggalan Belanda itu menjadi
pusat aktivitas ekonomi masyarakat Jepara. Di kota pelabuhan ini pula denyut
kehidupan dan interaksi antarmasyarakat tidak banyak berubah sejak dulu
hingga kini, kecuali pada tata ruang dan meningkatnya populasi di wilayah ini.
Jepara tidak hanya menjadi simpul hubungan antara Malaka dan kepulauan
rempah-rempah seperti disebut di atas, tetapi kota pelabuhan ini juga terhubung
dengan Jambi dan kota-kota di sekitar pesisir timur Sumatera. Beras asal
Jepara yang dikirim ke pelabuhan dari pedalaman atau dari Rembang misalnya
dikirim ke Jambi untuk dipertukarkan dengan lada Jambi. Lada asal Jambi yang
91 Lihat Tome Pires. Suma Oriental, hlm 187-188.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 193
tersedia di pelabuhan Jepara ini ternyata telah menarik para pedagang Cina
untuk datang dan membeli lada. Lada yang tersedia di Jepara dipertukarkan
dengan sutera, porselen dan belanga asal Cina.92
Gambar 4.5 Sisa Reruntuhan Benteng Jepara
Sumber: Dokumentasi Direktorat Sejarah, 2017
Pelabuhan Tuban
Seperti juga Jepara, kota lain di pantai utara Jawa yang penting perannya
dalam jalur rempah adalah Tuban. Kota ini dalam karya sastra Pramoedya
Ananta Toer dilukiskan sebagai kota yang aktif dalam perniagaan dan pelayaran.
Kapal-kapal dari berbagai penjuru barat, timur dan utara silih berganti setiap
waktu mendatangi pelabuhan Tuban untuk melakukan perniagaan. Komoditas
seperti rempah-rempah, pala, beras, minyak kelapa, gula, garam, kulit hewan
92 Lapian. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara, hlm 50-51.
194 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
dan lain merupakan barang-barang yang diperdagangkan di kota pelabuhan
Jawa Timur ini.93 Selain itu, orang-orang Cina dari Kanton, Zhangzhaou,
dan Quanzhou telah sejak abad ke-13 bermukim di kota pelabuhan Tuban.
Di Tuban, mereka merupakan sebagian besar dari penduduk yang menurut
taksiran mencapai “seribu keluarga lebih sedikit”, dan sudah pasti karena
kehadiran mereka “daging unggas dan sayur mayur murah harganya.94
Tuban juga menjadi kota internasional dan berbagai bangsa dipertemukan
pula di kota ini melalui perniagaan. Orang-orang dari berbagai penjuru negeri
datang mengikuti angin musim dalam pelayaran ke Tuban untuk berniaga
sekaligus menetap sementara waktu ataupun bertahun-tahun di kota ini. Bangsa
Arab, India, Persia, dan Cina menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat
Tuban. Dengan bangsa-bangsa itu pula, kehidupan di kota pelabuhan yang
bermula pada aktivitas pelayaran dan perniagaan sepanjang abad ke-10 hingga
ke-16 berlangsung. Wilayah Tuban diperkirakan merupakan pelabuhan tertua
di Jawa Timur. Hal itu berdasarkan prasasti Kembang Putih yang diperkirakan
berasal dari tahun 1015 dan ditemukan di sekitar Tuban. Prasasti tersebut
antara lain menyebut adanya aktvitas perbaikan pelabuhan di Kembang Putih.
Sementara kitab Pararaton menyebutkan bahwa Panji Aragani mengantar, dan
menjemput ketika kembali, balatentara Singasari yang dikirim ke Malayu di
pelabuhan Tuban. Keterangan lain tentang pelabuhan Tuban disebutkan dalam
berita Cina dari sekitar akhir abad ke-13 yang menyatakan bahwa Tuban
atau Tu-ping-tsuh sebagai tempat pendaratan pertama tentara yang hendak
menyerang Singasari pada tahun 1292. Dalam catatan lain yaitu catatan Ma
Huan pada 1433 menyebutkan bahwa Tuban atau Tu-pan sebagai salah satu
dari empat kota utama di Jawa. Cina memandang Tuban sebagai salah satu
pelabuhan penting. Semua keterangan di atas sesuai pula dengan sejumlah
temuan-temuan arkeologis dari masa dinasti Sung (1127-1279), dinasti Yuan
(1278-1367) dan dinasti Ming (1368-1644). Hal itu memperlihatkan bahwa
Tuban menduduki posisi penting baik sebagai kota pelabuhan maupun tempat
pertemuan berbagai bangsa dan budaya.95
93 Lihat Pramoedya Ananta Toer. Arus Balik. Jakarta: Hasta Mistra, 1995, hlm 20.
94 Lihat WP. Groeneveldt. Historical Notes on Indonesia and Malaya, compiled from Chinese
Sources. Jakarta: Bharata 1960, hlm. 53
95 Lihat Supratikno Rahardjo. Peradaban Jawa: Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi
Jawa Kuno. Depok: Komunitas Bambu, 2002, hlm 363.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 195
Pelabuhan Tuban dengan pantainya yang langsung berhadapan dengan laut
lepas memang menarik bagi kapal-kapal untuk datang dan berlabuh di kota ini.
Komunitas internasional dari berbagai negeri dan jejak-jejak hubungan antar
mereka di kota pelabuhan Tuban masih bisa dibaca melalui tinggalan berupa
benda-benda arkeologis yang kini tersimpan dalam Museum Kambang Putih
di Tuban. Seperti halnya Jepara, watak kota pelabuhan Tuban sebagai “kota
internasional” melekat erat pada kota pantai utara ini sepanjang abad ke-10
hingga ke-16, mengingat pelabuhan ini sebagai pelabuhan penting di wilayah
Jawa Timur dan juga bagi Kerajaan Majapahit. Meski demikian, pada abad ke-
15 Tuban disebut pula sebagai pelabuhan yang tidak aman bagi kapal-kapal
Cina sehingga Tuban harus menggunakan kekerasan untuk memaksa kapal-
kapal Cina berlabuh di pelabuhan Tuban. Tuban juga dikenal dengan bajak
lautnya yang mengganggu dan merugikan kapal-kapal dagang di perairan
Tuban dan juga Gresik.96
Pelabuhan Lasem
Kemudian, masyarakat pelabuhan Lasem, pendiriannya dituliskan dalam
prasasti bertanggal 1387 Masehi dan dikeluarkan oleh seorang penguasa
yang tidak disebutkan namanya (barangkali penguasa Lasem). Prasasti itu
berhubungan dengan pendirian sebuah “lungguh” di suatu tempat yang
disebut Karang Bogem atau “karang berbentuk kotak” di tepi laut.97 Pendirian
komunitas pelabuhan Lasem itu, tampaknya bukan untuk aktivitas pertanian,
namun untuk kegiatan pertukangan tertentu yang berhubungan dengan hasil
laut.
Prasasti di atas menjelaskan bahwa Lasem salah satu komunitas pesisir
utara Jawa yang mengembangkan pembudidayaan ikan secara besar-besaran.
Tambak-tambak itu tampaknya berdampak sangat positif dalam menunjang
makanan sehari-hari. Piagam Karang Bogem menyebutkan pengaturan
96 Lihat Meilink-Roelofsz. Asian Trade and European Influence…, hlm 276.
97 Lihat. Ibid., Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya….Jilid III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2008, hlm. 33.
196 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
budidaya ikan di daerah Lasem. Barangkali bisa dikatakan perkembangan
perikanan berkaitan dengan loji-loji Islam yang pertama.98
Pelabuhan Demak
Masyarakat pelabuhan Demak berkembang sekitar abad ke-14. Demak
berkaitan dengan tokohnya Raden Patah yang mendirikan kantor dagang
baru di dekat Gunung Muria. Raden Patah tetap mempertahankan Majapahit,
meskipun pindah ke Demak. Kemudian, menurut Lombard, kekuasaan Raden
Patah digantikan oleh cucunya yang bernama Arya Sumangsang.99 Ketika
Tome Pires mengunjungi Demak pada abad ke-15, dia mencatat bahwa
“Demak memiliki sampai empat puluh kapal jung yang telah memperluas
kewibawaannya hingga ke Palembang, Jambi, pulau-pulau Menamby, dan
sejumlah pulau lain di depan Tanjung Pura, yaitu Bangka. Pada waktu itu,
di Demak terdapat tidak kurang dari “delapan sampai sepuluh ribu rumah
dan tanah sekelilingnya menghasilkan beras berlimpah-limpah, yang untuk
sebagian besar diekspor ke bandar Malaka.100 Selain itu, Demak menjadi salah
satu kota pelabuhan penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Periode
Islamisasi itu berlangsung pada masa Arya Sumangsang, yang ditandai dengan
pembangunan masjid besar. Sunan Bonang yang pertama kali menjabat
kedudukan sebagai imamnya. Kemudian, tersebarlah dongeng bahwa
pembangunannya selesai dalam satu malam saja berkat bantuan Wali Sanga,
yang untuk kesempatan itu telah berkumpul di sana.101
Tome Pires, juga menonjolkan asal-usul kosmopolit komunitas pelabuhan
Demak dan gejala akulturasi “generasi kedua”. Penguasa-penguasa patih itu
belum lama menjadi orang Jawa, sebab mereka keturunan Cina, Parsi, Keling,
98 Kata tambak terkadang berbentuk Tamwak—ditemukan dalam epigrafi sejak abad ke 9
untuk menamai “tanggul”, yakni pekerjaan umum yang bertujuan menahan air. Namun, artinya telah
bergeser menjadi tempat memelihara ikan, dibangun di lahan berawa di pantai, diisi air payau, dan
sangat baik untuk memelihara jenis ikan-ikan tertentu, terutama ikan bandeng. Ibid., Lombard, Nusa
Jawa: Silang Budaya…Jilid II, hlm. 272.
99 Ibid., Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya….Jilid II, hlm. 44.
100 Ibid., Tome Pires. The Suma Oriental, hlm. 176-177.
101 Ibid., Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya….jilid II, hlm. 44.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 197
dan bangsa-bangsa lain. Namun, mereka besar dalam tatacara Jawa dan terutama
karena mereka telah kaya karena perdagangan. Selain itu, Demak dikelilingi
beberapa kota lain yang juga memanfaatkan kemajuan pesat perniagaan
besar: Juwana, Pati, Rembang, dan terutama Kudus dan Jepara. Sementara
itu Semarang pada waktu itu hanya merupakan kota kecil dengan “tiga ribu
penduduk” dan baru kemudian menggeser tetangga-tetangganya Jepara dan
Rembang yang letaknya dekat hutan-hutan jati dan terkenal karena galangan
kapalnya. Tome Pires menggambarkan bahwa “Pedagang yang beruang datang
ke sana untuk dibuatkan jung.”102
Keadaan yang menguntungkan itu adalah faktor penting bagi kemajuan
Demak. Dengan demikian, Demak mempunyai kapal-kapal untuk mengangkut
hasil-hasil pertanian daerah pedalamannya (terutama beras) dan menjualnya
melalui pelayaran laut ke wilayah Nusantara lainnya. Selain itu, adanya industri
kapal itu memungkinkan Demak untuk mengerahkan sejumlah kapal untuk
ekspedisi lintas laut baik untuk maksud damai maupun untuk tujuan perang.
Selain untuk dipakai sendiri, kapal-kapal tersebut merupakan sarana ekspor
yang penting. Demak mempunyai 40 jung untuk membawa bahan makanan ke
bandar Malaka.103
Pelabuhan Banten
Pelabuhan Banten menjadi sibuk hilir mudik kapal layar, karena jatuhnya
Selat Malaka ke tangan Portugis pada 1511. Hubungan pelayaran tidak lagi
bisa melalui kedua belah sisi Selat Malaka. Kapal-kapal yang ingin berlayar
melalui rute “selatan” atau “Jawa” harus memutar melalui Selat Sunda. Banten
menduduki tempat penting sejak awal abad ke 16. Sebagian perdagangan Selat
Malaka beralih ke Selat Sunda. Usaha Banten untuk menguasai Lampung
dan melakukan ekspansi ke daerah Palembang mungkin pula dikembangkan
dengan ambisinya untuk memegang hegemoni di wilayah Selat Sunda, selain
keinginannya untuk menguasai lada di Sumatera Selatan.
102 Ibid., Tome Pires. The Suma Oriental, hlm. 180.
103 Lihat. A. B. Lapian. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara. Abad ke 16 dan 17. Depok:
Komunitas Bambu, 2008, hlm. 36.
198 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Ketika Tome Pires melakukan perjalanan panjang di Nusantara, Banten
masih menduduki kedudukan kedua setelah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sini
pedagang-pedagang dari barat dan timur berkumpul, seperti pedagang dari
Palembang, Pariaman, Lawe dan Tanjungpura (Kalimantan Selatan) dan dari
Malaka, Makassar, Gresik, Tuban dan Madura. Dari pulau-pulau Maladewa
kapal-kapal datang untuk menjual budak.104 Pada 1527, Banten sudah
menduduki Sunda Kelapa sehingga perdagangan di pelabuhan ini banyak
dialihkan ke Banten. Baru setelah 1619 perdagangan di sini mulai ramai lagi.
Pada masa itu, Banten menjadi pelabuhan pengekspor lada terpenting di Jawa.
Jumlah lada yang diekspor sekitar 1600 bahar. Sebagian besar ekspor lada itu
menuju Cina.105
Masyarakat pelabuhan Banten mengalami kemajuan pesat dalam
perniagaan sepanjang abad ke-16, karena mendapat dukungan besar dari
Kesultanan Banten yang menggunakan strategi perdagangan yang tepat. Oleh
karena komoditi utama perdagangan ketika itu lada, Sultan berpendapat untuk
menanam tanaman komersial ini lebih menguntungkan daripada menanam
tanaman pangan. Atas dasar itu, Kesultanan Banten membuat kebijakan untuk
mengutamakan ekspor lada di satu pihak dan mengimpor beras di lain pihak.106
Namun demikian, kejayaan Banten dalam era perniagaan abad ke-16 telah
diawasi oleh VOC. Pada abad ke-17 VOC telah membangun benteng Speelwijk
di tengah pusat Kesultanan Banten. Benteng itu didirikan di sebelah barat laut
Istana Surosowan, sedangkan Laut Jawa berada di sebelah utara. Sementara itu,
posisi Pamarican (tempat pengolahan dan pergudangan tempat menyimpan
lada yang akan diekspor) ditutup dari jalur laut oleh Benteng Speelwijk. Dengan
penempatan seperti itu, Banten yang komoditi andalannya adalah lada menjadi
terpotong oleh perdagangan VOC. Geografi sejarah Banten menjadi terhambat
untuk mengakses jalan laut bagi perniagaan mereka.107
104 Ibid., Tome Pires. The Suma Oriental, hlm. 182.
105 Ibid., Meilink Roelofsz. Asian Trade and European Influences…..hlm. 86-87.
106 Untuk hal ini lihat. Nurhadi Megatsari. “Bangunan Bersejarah di Zaman VOC Persebaran
Letaknya dan Maknanya.” Dalam, Perspektif Arkeologi Masakini Dalam Konteks Indonesia.
Jakarta:Penerbit Buku Kompas, 2016, hlm. 39-53.
107 Ditambah pula akibat erosi, aliran sungai di Banten yang pada abad ke 16 berada di tepi
laut, menimbulkan kedangkalan laut disekitar muaranya. Masyarakat pelabuhan Banten redup dan tidak
terjadi lagi hilir-mudik kapal-kapal internasional di sana. Ibid., Nurhadi. “Bangunan Bersejarah….”hlm.
39-53.
Terbentuknya Komunitas Pesisir dalam Perniagaan Rempah | 199
Masyarakat pelabuhan pantai utara Jawa aktif dalam pernigaan sejak abad
ke-10 hingga abad ke-17. Tidak dapat dipungkiri bahwa kejayaan jalur rempah
sangat didukung rute perjalanan laut, armada kapal dagang dan perang.
Beragam suku bangsa menghuni pelabuhan dan membangun menjadi kota
pelabuhan atau Bandar yang menjadi tempat singgah dan pertemuan para
pedagang.
Masyarakat pelabuhan itu meliputi orang-orang Cina, Keling, Parsi, Arab,
Melayu, Jawa dan Bugis. Mereka semua berupaya untuk komoditi seperti
daging, lada, rempah-rempah, beras, kain tenun, sutra, keramik, kayu, damar
dan budak. Mereka secara regular senantiasa mengunjungi pelabuhan agar
bandar itu tetap hidup sebagai jalur perdagangan. Komunitas pelabuhan itu
juga mempunyai hubungan dengan masyarakat pertanian yang berada baik di
tepi sungai maupun di pedalaman. Di sana komunitas itu memproduksi beras,
lada, daging dan produksi makanan lainnya.
Masyarakat pelabuhan pesisir utara Jawa pada era puncak perniagaan di
abad ke-16 dapat mengembangkan dan memasarkan produknya ke pasa global.
Komoditas utama mereka adalah lada dan beras. Produk komoditi itu, terutama
diekspor ke Malaka dan Cina dalam jumlah besar. Namun demikian, kejayaan
mereka mengalami kehancuran dengan didirikannya sejumlah benteng yang
letaknya baik di pusat kesultanan/kerajaan maupun di pelabuhan yang menjadi
pemotong akses mereka menuju perdagangan internasional.
DINAMIKA
MASYARAKAT JALUR
REMPAH
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 203
Masyarakat Banda dan Buah Pala
Penduduk Banda telah ratusan tahun lampau menyebut buah pala
sebagai buah emas. Buah pala separuh usianya akan berwarna
kuning keemasan. Dalam masa kuning keemasan buah pala belum
boleh dipetik. Buah pala boleh dipetik, pada saat berwarna kuning merekah
kemerahan Ketika sudah merekah dan fuli berwarna merah, dia diizinkan
untuk masuk ke dalam “Takiri”, sebutan untuk keranjang anyaman bambu bagi
pengumpulan buah pala. Hampir dipastikan buah pala berasal dari Kepulauan
Banda. Tome´ Pires mengutip ungkapan peribahasa pedagang Malaka terhadap
anugerah Tuhan yang Maha Kuasa atas menciptakan rempah dan kayu cendana.
“Tuhan membuat Timor untuk cendana, Banda untuk buah pala, dan Maluku
untuk cengkeh.1 Dalam Hikayat Lonthor dikisahkan buah pala di Kepulauan
Banda tumbuh meluas karena permintaan putri Cilubintang, bungsu dari
lima bersaudara. Menurut Hikayat Lonthor kelima bersaudara itu lahir dari
manusia pertama Banda, Andan dan Dalima. Cilubintang sekarang ini
sumber mata air di Naira dan setiap upacara buka kampung pada pukul 24.00
penduduk mengambil air dengan toples dan botol. Dalam Hikayat Lonthor juga
diceritakan adanya buah pala di Banda atas permintaan Cilubintang ketika dia
dipinang oleh Kapitan Timur.
“Pulau Banda banyak pula didatangi orang-orang dari kepulauan sebelah
timur. Sampai hari ini tempat itu pun disebut Pantai Timur. Salah seorang
Kapitan Timur bermaksud meminang Cilubintang (si bungsu), keempat
saudara pun menyetujuinya sedangkan sebagai mahar perkawinan
permintaan diserahkan sendiri kepada Cilubintang. Keputusan Cilubintang
maharnya berupa buah pala sebanyak 99 buah. Mendengar permintaan
Cilubintang, Kapitan Timur terkejut mendengarnya. Karena nama buah pala
baru didengarnya, bentuk dan rupanya pun belum diketahuinya. Setelah
beberapa lama mencari buah pala, kemudian Kapitan Timur itu kembali
dengan membawa 99 buah pala sebagai mahar, namun sayangnya sebelum
memasuki hari pernikahan Kapitan Timur meninggal dunia. Buah pala
yang diberikan Kapitan Timur itu oleh kelima bersaudara mulai ditanam di
tempat kelahiran mereka yaitu Gunung Kulit Cipu dan Gunung Bendera.
1 Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 204.
204 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Semakin banyak pendatang dari seluruh pulau dari bagian barat ke Pulau
Banda, seperti orang Jawa, Kalimantan dan Sumatra.”2
Nama Lonthoir (baca: Lonthor) adalah sebuah tempat yang terletak di
Kepulauan Banda Besar. Wilayah Lonthor mempunyai pohon pala yang banyak
dan lebat. Di wilayah Lonthor bisa dikatakan pohon pala tumbuh seperti hutan
belantara. Penduduk Banda sangat dekat dengan tanaman pala. Mereka percaya
pohon pala mempunyai jenis kelamin perempuan dan lelaki, seperti layaknya
manusia. Apabila pohon pala hanya dihuni oleh jenis kelamin lelaki maka
tanaman pala tersebut menjadi lama untuk berbuah. Cara pandang seperti ini
adalah pemahaman kebudayaan orang Banda terhadap tanaman komersial
yang mereka bergantung demi nafkah hidup. Cerita masyarakat banda, bahwa
orang-orang Banda yang dibuang ke Batavia pasca peristiwa 1621, dipulangkan
kembali ke Banda karena sejumlah perkebunan pala (perkenier) kesulitan untuk
berbuah.3 Sementara itu, pekerja yang sehari-hari mengurus perkebunan,
seperti menyiangi rumput di sekitar pohon pala, memanen, dan bekerja
di dapur pala adalah budak-budak yang dibeli oleh orang kaya dari Buton,
Sumbawa, Ambon dan juga Seram. Kebanyakan budak-budak itu meliputi
perempuan yang mengurus perawatan tanaman pala. Ketika panen pala setiap
4 bulan sekali (setahun 3 kali panen) banyak pedagang dari luar negeri dan
domestik hadir di Banda. Pedagang-pedagang ini berasal dari Gresik, Surabaya,
Jepara dan Melayu. Pada umumnya, mereka hadir di pelabuhan Banda setelah
pala diproses menjadi barang dangan komersial. Pemberangkatan produksi
pala dari pelabuhan Naira menuju Ambon terlebih dahulu. Kemudian, kapal
berlayar ke Gresik, dan selanjutnya dibawa berlayar menuju bandar Malaka.
Pada masa pendudukan Belanda atas Banda, alur produksi dan distribusi
perkebunanakanmenjadiberbeda,ketikaperkebunanpaladikuasaiolehkolonial
Belanda. Produksi pala tidak lagi mengalir ke tangan pedagang-pedagang Jawa
dan Melayu. Monopoli Belanda atas Pala di Banda mengakibatkan produksi
pala tidak lagi menuju ke pelabuhan Aden, Hormuz di Asia Barat yang dibawa
oleh pedagang Gujarat dari Bandar Malaka. Juga, produksi pala tidak lagi
didistribusikan ke pelabuhan Aleksandria, Mesir menuju Bandar Venesia dan
Barcelona. Akan tetapi produksi pala dari pelabuhan Banda dibawa ke Ambon
2 Cerita dari Hikayat Lonthor ini dikutip dari Alwi. Op.cit. Sejarah Maluku, Banda Neira, Ternate,
Tidore dan Ambon, hlm. 15-16.
3 Cerita ini penulis peroleh dari wawancara dengan petani pala di Pulaun Run, pada 10 Mei 2017.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 205
dan selanjutnya dikirim langsung ke pelabuhan Antwerp dan Amsterdam di
negeri Belanda.
Alur distribusi rempah-rempah mengalami perubahan drastis setelah
produksi pala dan cengkeh dikuasai oleh monopoli dagang kolonial Belanda.
Pemerintah kolonial Belanda memagari produksi dan distribusi rempah
dengan instrumen yang ampuh. Instrumen itu adalah ekstirpasi,4 pembinasaan
pohon pala menurut daftar yang telah dibuat lebih dulu, yakni pohon yang
pernah berbunga sekali atau lebih masuk dalam daftar penebangan. Tujuan
kebijakan pemusnahan pohon pala untuk mengatur agar jumlah pasokan pala
tidak terlalu banyak di pasar internasional Eropa.
Selain itu, biji dan benih pala dilarang untuk dibawa keluar Banda untuk
ditanam di tempat lain. Pemerintah kolonial melakukan pengawasan ketat
untuk distribusi pala baik ke pasar internasional maupun domestik oleh rakyat
atau maskapai lain. Setelah melakukan penumpasan terhadap orang-orang
kaya pada 1621, kekuasan kolonial di Banda melakukan koreksi terhadap
keberadaan Benteng Nassau dan kemudian membangun Benteng baru yang
lebih kokoh dan menggunakan arsitektur pentagon di atas ketinggian 30 meter
di atas permukaan laut. Pada 1672 pembangunan benteng telah rampung dan
dinamai Benteng Belgica. Benteng yang baru dibangun ini mempunyai letak
yang strategis dan tidak jauh dari Benteng Nassau. Melalui Benteng Belgica ini
hampir semua titik Kepulauan Banda dapat di pantau. Benteng ini dibangun
untuk mengawasi gerak-gerik kapal yang melakukan penyelundupan rempah-
rempah, dan mengintai tentara Inggris yang masih berada di Pulau Run.
Perkebunan Pala Banda
Perkebunan pala berada di Pulau Banda Naira, Banda Besar, Pulau Ay,
Run, Rozingein dan Pulau Gunung Api. Dari seluruh perkebunan pala itu yang
paling besar produksinya adalah Banda Besar. Pohon-pohon pala baik tua
maupun muda sulit dibedakan. Karena pohon pala yang sudah tua produksi
4 Ekstirpasi menjadi satu paket dengan kebijakan kolonial lainnya yang dipergunakan untuk
tanaman cengkeh yang tumbuh subur di Maluku Utara, yakni politik hongi. Hongi merupakan program
menghancurkan kebun-kebun cengkeh, baik yang tumbuh alami maupun yang ditanam oleh penduduk,
di pulau-pulau asalnya di Maluku Utara, dipindahkan ke Pulau Ambon, Seram, dan sekitarnya dengan
tujuan supaya persediaan di pasar dunia sedikit hingga harganya tinggi.
206 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
buahnya tetap banyak. Pohon-pohon pala yang tumbuh subur di Kepulauan
Banda akibat dari kandungan belerang yang tertiup angin dari sumbernya di
Pulau Gunung Api. Selama ribuan tahun kandungan belerang tersebut menjadi
semacam humus yang menyuburkan tanaman pala. Tak dapat disangkal pohon
pala di Banda di zaman kuno tumbuh secara liar. Pada abad ke-14 orang-orang
Banda mulai melakukan budidaya pala dalam bentuk perkebunan. Titik tolak
ini didasarkan atas bukti-bukti sistematis pengiriman biji pala dan fuli ke pasar
Eropa. Agen perdagangan Italia telah melaporkan secara teratur pasokan pala
dan fuli dari Kepulauan Banda. Pasar kawasan Eropa didistribusikan dari
bandar Mamluk Aleksandria, Mesir.5
Pohon pala ketika panen dengan warna merah merekah, buahnya
menyebarkan harum semerbak. Buah pala tidak hanya dipergunakan untuk
penyedap makanan atau menghilangkan bau dan rasa tidak sedap dari ikan
serta daging, tetapi juga bermanfaat untuk mengobati perut mual dan sakit
kepala. Buah pala itu berasal dari pohon myristica fragrans. Terdapat dua
komponen dalam buah pala. Pertama, orang Banda menyebutnya fuli. Fuli
bukanlah bunga pala, secara harfiah, melainkan pembungkus yang melekat
di biji pala. Warnanya merah bersemarak, bentuknya berlubang-lubang,
seperti renda. Fuli, harganya tinggi daripada biji pala. Kedua, adalah biji pala
yang dipergunakan untuk penghangat dan pewangi makanan. Orang Banda
menggunakan biji pala untuk sajian sup ikan yang harumnya semerbak.
Ketika orang-orang kaya membudidayakan tanaman pala, para pengunjung
dari barat berimajinasi secara puitis yang dalam konteks jamannya agak
berlebihan. Sejarawan kolonial dari abad ke-17, Argensola menulis tentang
pohon pala, yang didasarkan atas laporan orang-orang Portugis.
“Pohon pala menyerupai pohon pir di Eropa. Buahnya pun mirip dengan
buah pir, atau dengan bulatan yang agak mirip buah Melocotone (sejenis
jambu). Bila berbunga, pala menyebarkan bau harum yang sedap. Sedikit
demi sedikit warna hijau aslinya memudar, sebagaimana layaknya sebuah
sayuran. Kemudian, muncul warna biru bercampur abu-abu—warna buah
cherry –serta warna emas yang pucat, seperti warna pelangi. Bukan dalam
pembagian yang teratur seperti itu, tetapi berupa titik-titik laksana batu
jaspar. Kakatua yang tak terbilang banyaknya dan burung-burung lain dari
5 Meskipun catatan itu tidak terlalu lengkap, namun jika digunakan untuk memperkirakan
produksi ekspor pala ke Eropa pada abad ke-15.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 207
aneka warna bulu, amat mengesankan untuk dipandang, bertengger di
atas dahan-dahan, tertarik oleh bau harum semerbak itu. Buah pala—bila
kering—menanggalkan kulit yang melingkupinya, dan merupakan fuli. Di
dalamnya terdapat biji berwarna putih, yang rasanya tidak begitu tajam
dibanding palanya sendiri, dan bila kering berubah substansinya. Dari fuli
ini, yang pada tahap kedua menjadi panas dan kering, pada tahap ketiga orang
Banda membuat minyak yang tinggi nilainya untuk mengobati segala macam
penyakit pada saraf dan rasa sakit akibat hawa dingin. Mereka memilih buah
pala yang paling segar, berat, gemuk, berair dan tak berlubang. Dengan pala
itu mereka mengobati atau mengusir nafas berbau busuk, membersihkan
mata, menyehatkan perut, hati dan limpa serta mencernakan daging. Pala
merupakan obat buat banyak penyakit lainnya, dan untuk menambah
kecermelangan wajah.”6
Terdapat pula penulis yang memaparkan tinggi dan besarnya pohon pala.
Di dalam tulisan itu, juga dipaparkan bahwa tanaman pala dapat berbuah
sepajang tahun dan jumlah buah yang diproduksi oleh satu pohon pala cukup
banyak.
“Pala adalah pohon yang indah. Bila mencapai ukuran yang terbesar,
tingginya kira-kira dua puluh lima atau tiga puluh kaki. Dan bila bentuknya
bagus, garis tengah dari ujung ke ujung dahan-dahan bawahnya hanya
sedikit kurang dari itu. Rimbun daunnya berwarna hijau tua yang mengkilat
(seperti daun pohon bay), yang terus subur dan segar sepanjang tahun.
Daun yang gugur segera digantikan daun yang lain. Bunganya kecil, tebal
dengan kelopak seperti lilin, sangat mirip ukuran dan bentuknya dengan
bunga atau leli lembah. Buahnya tumbuh perlahan-lahan, dan pada saat
masanya masak, mudah disangka buah persik. Sebab besarnya sama dan
kulitnya sama-sama berbulu halus yang diperlukan untuk menyempurnakan
persamaannya hanyalah warna merah jambu. Kalau biji pala di dalamnya
sudah masak, buahnya membelahnya sampai ke tengahnya dan tetap dalam
keadaan setengah terbuka, menyingkapkan fuli merah tua cemerlang yang
membungkus biji pala terebut.
Dalam beberapa hari bila tidak dipetik buah tersebut akan terbuka lebar
besar. Biji dengan fuli di sekelilingnya jatuh, membiarkan kulit buahnya
tetap tergantung pada pohon, hingga menjadi layu dan runtuh pula. Apabila,
bijinya dikumpulkan, fulinya disingkirkan lebih dulu dengan hati-hati, lalu
dijemur sampai kering, di bawah fuli tersebut terdapat lapisan kulit tipis dan
keras yang mengandung biji pala. Ini tidak dipecah hingga biji pala tersebut
6 Karya Bartholomew Leonardo de Argensola, ditulis pada abad ke-17 dan dialihbahasakan dari
bahasa Spanyol ke Inggeris pada abad ke-18. Untuk hal ini lihat. Hanna. Op.cit. Kepulauan Banda..., hlm.
5.
208 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
siap dikapalkan. Sebuah pohon yang baik menghasilkan 600 buah pala per
tahun, atau kurang lebih 8 pon beratnya. Buah pala tidak mengenal musim.
Bunga serta buahnya yang telah masak sering dapat terlihat bergantungan
pada dahan yang sama. Secara keseluruhan tidak banyak pohon yang lebih
indah baik dalam bentuk, kerimbunan daun, bunga dan buahnya, daripada
pohon pala yang sehat.”7
Tanaman pala ditemukan pula di Ambon dan Ternate, akan tetapi tidak
dalam jumlah besar, seperti yang tumbuh di Kepulauan Banda. Hal yang sama
pohon cengkeh ditemukan pula di Banda, akan tetapi dalam jumlah kecil
hanya sekitar tiga persen dari seluruh tanaman di Kepulauan Banda. Berbeda
dengan Ternate, Tidore, Moti, Makian, Bacan dan Ambon tanaman cengkeh
berlimpah di pulau rempah-rempah itu.8 Namun, tanaman cengkeh, syzjgium
aromaticum, yang melimpah di Ternate, pada abad ke-15 dan ke-16 ketika
panen sebagian kecil dibeli oleh saudagar Banda dan kemudian dijual kepada
pedagang-pedagang India, Portugis dan Arab.9
Puting cengkeh sebagaimana pala tidak hanya membawa keuntungan dan
kemakmuran bagi penduduk di kepulauan Maluku, akan tetapi membawa
duka nestapa dengan peperangan berkepanjangan. Kepulauan Ambon dan
Uliase menjadi penting karena sejak paruh abad ke-17 oleh VOC dijadikan
wilayah monopoli, produksi cengkeh dipindahkan dari Maluku Utara. Sejak
itu, kepulauan Ambon dan Uliase menjadi satu-satunya produsen cengkeh bagi
Belanda, sedangkan wilayah asli cengkeh di Maliku Utara menjadi larangan
produksi cengkeh.10
Sementara itu, budidaya pala merupakan menata tanaman-tanaman pala
agar mendapatkan ruang untuk tumbuh dan memperoleh makanan yang baik
dari tanah. Juga, secara teratur rumput dan ilalang di bawah sekeliling pohon
pala perlu dibersihkan. Dalam menjalankan budidaya pala, setiap hari keluarga
dari pemilik kebun pala, biasanya perempuan (istri atau anaknya) berkeliling
untuk memungut buah pala yang jatuh ke tanah. Budidaya pala sudah dimulai
7 Hanna. Ibid., hlm. 5-6.
8 Jack Turner seorang ahli antropologi botani menegaskan bahwa pada abad ke-16 baru ditemukan
tempat asal tanaman cengkeh di Kepulauan Maluku.
9 Villier. Op.cit. “Trade and Society in The Banda Islands…,” hlm. 723-750.
10 Perpindahan produksi cengkeh dari Maluku Utara ke Maluku Tengah itu berlangsung melalui
suatu peperangan yang cukup lama, berselang-seling masa damai sepanjang 50 tahun, dari 1600-1850.
Untuk hal ini lihat. Leirissa et.al. Op.cit. Sejarah Kebudayaan Maluku, hlm. 68.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 209
sejak abad ke-14, ketika permintaan pala di pasar dunia telah meningkat.
Budidaya tanaman pala di zaman itu sudah dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah. Pertama, jarak antara satu pohon pala dengan tanaman pala
lainnya sekitar enam meter. Kedua, pohon pala perlu mempunyai tanaman
besar untuk melindungi dari sinar terik matahari. Biasanya yang dipergunakan
penduduk Banda adalah pohon kenari. Jarak antara satu pohon kenari
dengan pohon kenari lainnya empat puluh meter. Pilihan orang-orang Banda
memanfaatkan tanaman kenari, karena pohonnya besar dan tinggi menjulang
ke angkasa. Apabila orang mau melihat pucuk kenari dia harus melongok ke
atas. Untuk itu tanaman kenari cocok untuk melindungi pohon pala. Selain
itu, kenari, canarium vulgare leenh, mengandung lemak dan protein tinggi.
Juga, pohon kenari berbuah sepanjang tahun. Biasanya dipungut oleh kaum
perempuan bersamaan dengan mereka mengumpulkan buah pala yang jatuh
setiap hari.11 Proses budidaya yang terakhir untuk mendapatkan buah pala
yang berkualitas adalah perlu menunggu buah pala hingga merekah, kondisi
seperti itu buah baru bisa dipetik.12
Pada abad ke-15, budidaya perkebunan pala diurus oleh orang-orang kaya
(pengetua desa) yang berjumlah 44 orang sesuai dengan desa yang mereka
pimpin. Orang-orang kaya di Banda bisa dikatakan sebagai manejer dari
perkebunan pala. Setiap menjelang panen pala orang-orang kaya berkumpul
di Orantata (baca: Urtatang), Pulau Banda Besar. Pertemuan di kalangan orang
kaya itu untuk membicarakan berapa harga ditentukan di pasar. Pertemuan ini
cara untuk mengatasi agar harga pala tidak anjlok di pasar dunia.
Terdapat proses produksi buah pala agar dapat menjadi komoditi. Pertama,
pemetikan buah pala, sebagaimana telah diutarakan sebelumnya buah pala
harus dipetik dalam kondisi buah merekah. Kondisi seperti itu, menandakan
biji pala yang berada dibawah fuli sudah masak. Sehingga setiap hari kaum
perempuan dari keluarga pemilik kebun pala berkeliling di kebun mereka
11 Buah kenari dijatuhkan oleh burung walor, penduduk Banda menyebutnya burung kenari.
Karena burung walor, hanya bisa memakan kulit kenari, sedangkan biji atau cangkangnya tidak mungkin
dikupas oleh burung kenari. Pada umumnya kaum perempuan pemungut biji kenari membelah cangkang
kenari dengan sebilah golok.
12 Di masa perkenier zaman kolonial Belanda, jika didapatkan pelaku pemetik buah pala belum
merekah, akan dikenakan hukuman penjara selama dua bulan. Informasi ini penulis peroleh dari
wawancara dengan Pongki Van Broike di Walang, Lonthor, 8 Mei 2017.
210 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
membawa penjapit (berbentuk galah memiliki tempat untuk buah pala) dan
keranjang untuk menampung (takiri) pala. Ketika itu, peraturan pemetikan
pala untuk sehari-hari tidak harus dari keluarga pemilik kebun, akan tetapi
siapa pun yang tinggall di Kepulauan Banda boleh mengumpulkan pala yang
telah jatuh dari pohon.
Produksi pala yang dipetik sehari-hari, kemudian dipisahkan dari daging
yang menutupi buah dari biji pala. Kemudian, agar biji pala itu dapat bertahan
lama, maka harus dikeringkan melalui pengasapan api atau melalui penjemuran
sinar matahari. Kebanyakan orang Banda memilih pengeringan pala dengan
metode pengasapan, karena lebih sempurna dan tidak mudah berjamur. Biji-
biji pala yang dikumpulkan sehari-hari dijadikan simpanan (stock), sewaktu-
waktu dapat dipertukarkan, apabila saudagar mencari pala. Sebagai ilustrasi
menarik simpanan pala penduduk Banda dikeluarkan untuk ditukarkan
dengan kain sekelat yang dibawa oleh armada Belanda pertama kali berlabuh
di Orantata tahun 1599.
“Setelah jurubahasa menyampaikan persetujuan orang-orang Belanda itu
kepada Imbata, setelah Imbata menyampaikan kepada penduduk pulau,
pertukaran pun lantas dilangsungkan. Semua penduduk pulau yang ada
mempunyai buah pala, pergi ke rumahnya atau ke kebunnya, untuk membawa
simpanan pala itu ke hadapan orang-orang Belanda.”13
Dari novel sejarah Tambera di atas, dapat terlihat pada waktu itu penduduk
mempunyai tempat penyimpanan di kebun. Juga, dipergunakan untuk
pengeringan atau pengasapan biji pala, orang Banda menyebutnya dapur pala.
Sementara itu, proses produksi buah pala menjadi komoditi berbeda dengan
panen pala empat bulan sekali dalam satu tahun. Ketika, panen pala diperlukan
tenaga kerja cukup banyak. Pada umumnya, ketika panen pala, orang-orang
kaya membeli budak untuk pemetikan pala dan pengangkutan ke pelabuhan.14
13 Dikutip dari Tambera. Tambera adalah novel sejarah yang menceritakan perjanjian orang kaya
Banda dengan orang-orang Barat yang memerangkap mereka ke dalam aksi monopoli perdagangan
pala. Tambera pertama kali terbit pada 1949. Untuk hal ini lihat. Utuy Tatang Sontani. Tambera. Jakarta:
Balai Pustaka, 2002, hlm. 32.
14 Terdapat pula panen raya yang berlangsung tujuh tahun sekali, yang membedakan panen
empat bulan sekali dengan panen raya adalah jumlah pala yang dihasilkan bisa mencapai dua kali lipat
dari panen biasa.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 211
Pelabuhan Niaga Pala Banda
Terdapat lima pelabuhan di Kepulauan Banda, yakni Pelabuhan Naira,
Orantata, Kombir, Selammon, dan Lonthoir. Kelima pelabuhan itu menampung
produksi pala dan fuli dari perkebunan. Masing-masing pelabuhan terkait
dengan perkebunan yang memproduksi pala, mereka juga memutuskan
kepada siapa produksi pala akan dipertukarkan. Pelabuhan Naira seringkali
didatangi oleh pedagang Jawa yang membawa beras, kain tenun kasar produksi
Kepulauan Sunda Kecil dan Gujarat. Namun demikian empat pelabuhan
lainnya yang berlokasi di Pulau Banda Besar telah ramai dengan perniagaan.
Terdapat dua Pulau lagi yang menghasilkan pala dan fuli yakni Pulau Run dan
Ay. Namun, kedua Pulau itu tidak memiliki dermaga pelabuhan. Sehingga alih
muatan dioperasikan di tengah laut dengan bantuan perahu. Sementara itu,
orang-orang kaya (kepala kampung) sebagai saudagar rempah juga memiliki
perahu. Mereka memperoleh perahu dari orang-orang Seram. Perahu-perahu
itu dibeli oleh orang kaya dipertukarkan dengan kain tenun dan keping emas.
Orang-orang kaya, juga membeli perahu dari pelaut-pelaut Kei yang telah lama
menjadi sahabat orang-orang Banda dalam perniagaan.15 Orang-orang kaya
juga memperoleh perahu dari orang Bugis yang dikenal dengan perahu gallay.
Orang kaya Banda, membeli pula kapal layar jung dari pedagang-pedagang
Jawa.16
Pada abad ke-16, penduduk Kepulauan Banda berjumlah 15.000 orang.17
Separuh dari jumlah penduduk itu tinggal di Pulau Banda Besar. Pulau itu
merupakan gugusan pulau dengan luas daratan 14 km persegi. Di pulau ini
terdapat batu karang menjulang dengan ketinggian 20 meter, dari jauh seperti
kapal kandas. Penduduk tinggal di pinggir pantai dengan rumah panggung
yang mempergunakan tangga untuk turun dan naik. Di bagian bawah rumah
mereka manfaatkan untuk memelihara ternak seperti kambing dan ayam.
Untuk upacara tertentu binatang-binatang itu akan disembelih, makan besar
orang sekampung.
15 Reid. Op.cit. Asia Tenggara Tenggara Dalam Kurun Niaga…Jilid 2, hlm. 91
16 Kapal dalam bahasa Inggris “junk”, tapi itu bunyi suara Cina. Sebetulnya kata itu masuk ke
dalam bahasa Eropa melalui bentuk Melayu dan Jawa, “jong”. Sementara itu, teks Cina dalam periode itu
juga beranggapan bahwa itu adalah kata Melayu untuk kapal. Meskipun baik kata maupun teknologinya
barangkali masuk ke Jawa sebagai akibat adanya ekspedisi Mongolia. Reid. Ibid, hlm. 47.
17 Pires. Op.cit. Suma Oriental…, hlm. 204.
212 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Pulau Banda Besar berbentuk mirip bulan sabit. Rumah penduduk
mengitari sabuk sabit tersebut, Gunung Api tampak jelas dari Pulau Banda
Besar, sosok Gunung Api tampak seperti penjaga Kepulauan Banda. Penduduk
di sekitar pelabuhan sebagai nelayan yang memperoleh nafkah hidup dari
menangkap ikan.
Sejak abad ke-15 di pesisir Pulau Banda Besar dan Naira telah menghuni
penduduk lain dari luar yakni Jawa, Bugis, dan Buton yang mendapatkan nafkah
sebagai nelayan penangkap ikan. Bagi nelayan, laut merupakan nafkah hidup
sehari-hari bagi keluarga. Untuk itu, laut mereka asumsikan sebagai halaman
rumah yang harus teratur dan bersih. Dengan tujuan ikan dapat diperoleh
secara berkesinambungan sesuai dengan musim angin. Selama ratusan tahun
silam penangkapan jenis ikan oleh nelayan Kepulauan Banda tergantung
musim angin dan lokasi penangkapan ikan.
Jenis ikan tale atau ikan layang penangkapannya pada musim timur (Juni-
September) dengan lokasi sebelah barat Pulau Gunung Api, Pulau Banda Neira
dan Karaka. Sementara itu, untuk musim angin Barat (Desember-Maret) ikan
layang bisa ditangkap di wilayah timur Pulau Pisang, sebelah timur Pulau
Banda Naira dan bagian tenggara Pulau Banda Besar.
Penangkapan ikan cakalang (munggai) dan ikan mandidihilang pada
musim angin barat dan angin timur bisa ditangkap di lokasi perairan yang
sama yakni sebelah selatan dan timur Pulau Banda Besar, dan sebelah barat
Pulau Gunung Api. Selain itu, jenis ikan matopef, nakongnak, dan makai
dapat diperoleh pada musim angin timur (Juni-September) dengan wilayah
penangkapan di perairan teluk-teluk curam Pulau Banda Neira, Pulau Gunung
Api dan Pulau Banda Besar. Sementara itu, untuk penangkapan jenis ikan sarui
dapat ditangkap di wilayah perairan sebelah utara Pulau Neira dan sebelah
barat Pulau Gunung Api pada musim angin timur.18
Pada abad ke-14 penduduk nelayan yang tinggal di pesisir Pulau Banda
Besar dan Naira menggunakan jenis perahu tonda dan bubu untuk menangkap
ikan. Jenis perahu itu memiliki tonase sekitar satu ton, jenis perahu yang bisa
18 Para nelayan Kepulauan Banda mempunyai pengalaman dan pengetahuan tentang jenis ikan
yang berkumpul di tempat dan waktu tertentu. Untuk hal ini lihat. Suhardi Djoko MR. Kepulauan Banda
dan Masyarakatnya. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1999/2001, hlm. 14-15.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 213
berlayar di pesisir dengan pendayung sekitar dua dan tiga orang. Mereka
membawa peralatan penangkapan ikan seperti jaring dan pancing.
Kapal-kapal tersebut jika tidak dipergunakan ditambatkan di pelabuhan
Orantata dan Naira. Kedua pelabuhan ini sangat terlindung dari angin dan
gelombang besar, karena Gunung Api seluruh badannya memberikan proteksi
kepada pelabuhan-pelabuhan di sekelilingnya. Kecuali pelabuhan di Pulau
Run dan Ay yang langsung berhadapan dengan gelombang besar Laut Banda.
Kedua pulau itu berjarak sekitar 10 kilometer dari pelabuhan Naira.
Pada umumnya pedagang Banda berlayar jarak jauh setiap tahun sekali ke
bandar Malaka dengan menggunakan kapal layar jung yang tonasenya sekitar
30-40 ton. Sementara itu, mereka menggunakan kapal galley untuk mencari
cengkeh ke Ternate dan Tidore. Cengkeh yang mereka kumpulkan itu, mereka
jual lagi kepada pedagang Jawa dan Melayu.19
Kelima pelabuhan yang berlokasi di Pulau Neira dan Banda Besar saling
berhubungan, terutama komunikasi di antara orang kaya yang terlibat
melakukan pengawasan terhadap pelabuhan. Kontrol orang kaya itu terutama
terhadap penyediaan pala dan fuli di pelabuhan. Di kalangan orang kaya
seringkali melakukan perjalanan jarak pendek antar kepulauan Banda yang
ditempuh setengah hari perjalanan, menggunakan perahu-perahu yang dibuat
oleh orang-orang Seram.
Juga, mereka berkomunikasi calon-calon pembeli pala dan fuli. Jika
belum ada pedagang yang hadir di kepulauan Banda, beberapa orang kaya
berlayar menyusuri pesisir selatan untuk singgah di Sumbawa dan Gresik.
Kalau beruntung mereka di sana berjumpa dengan pedagang dari Malaka,
Jawa dan India. Juga di paruh abad ke-16 mereka dapat berlayar ke Makasar
untuk mendapatkan pembeli pala dan jika pala mereka dapat dipertukarkan,
sekaligus bisa membeli beras. Pelabuhan Banda yang strategis menyebabkan
orang-orang Banda paling aktif di Kepulauan Maluku yang terlibat perniagaan
pelayaran selama selama abad ke-15 dan ke-16.
Apabila perniagaan jarak jauh dari Arab, India menuju ke Kepulauan
rempah-rempah di Banda dan Maluku yang menyebabkan orang banyak
19 Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 206.
214 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
dari berbagai bangsa itu berkumpul. Pada gilirannya jalur itu menimbulkan
perdagangan lokal yang makin sibuk dan memberikan pasokan kepada
pelabuhan-pelabuhan itu, dengan bahan makanan, bahan bangunan, dan
barang-barang dagangan lokal. Sebagian besar dari arus pengiriman ini
dilakukan dengan kole-kole20 atau lepa-lepa21 milik orang-orang Seram, Kei,
dan Aru. Mereka membawa sagu, sayuran, ikan asin, hewan, tuak, garam, dan
gula untuk memberi makan kepada orang-orang di daerah pelabuhan dan
perdagangan hasil bumi, membawa barang-barang logam, keramik dan tekstil
dari distributor kepada konsumen, mengumpulkan barang-barang ekspor dan
mendistribusi barang-barang impor.
Demikian pula, saudagar pesisir utara Jawa dan Melayu ramai mendatangi
pelabuhan Banda. Mereka datang tidak hanya membawa barang dagangan
produk negerinya saja, akan tetapi barang-barang dari negeri lain ada dalam
kargo kapal mereka. Misalkan, pedagang Jawa selain membawa beras, mereka
juga membawa tekstil produksi Gujarat. Hal yang sama dengan orang-orang
Melayu dari Sumatera, mereka tidak hanya membawa lada hasil bumi di sana,
tetapi juga keramik dari Cina dan lain-lain. Juga, saudagar Arab membawa
karpet Persia, kain katun Gujarat dan buah kurma.22
Pedagang dari pesisir utara Jawa, Melayu, India dan Arab pada abad ke-
15 dan ke-16 datang ke kepulauan Banda hampir setiap tahun. Kecuali orang-
orang Jawa dan Sumatra yang mempunyai jaringan penyaluran pala dan fuli.
Pada umumnya mereka singgah di pelabuhan Banda hanya beberapa minggu,
setelah mereka mendapatkan hasil bumi orang Banda mereka kembali berlayar.
Para pedagang itu, selama singgah di Kepulauan Banda mempunyai
kebebasan untuk tinggal di Naira atau di Banda Besar. Biasanya rumah-
rumah penduduk dipergunakan untuk tempat tinggal sementara untuk tamu
saudagar dan nakhoda. Apabila pedagang itu tidak datang pada musim panen,
maka ada kemungkinan mereka akan tinggal lama di Banda. Perlu waktu
untuk mengumpulkan pala dari berbagai kebun penduduk. Apabila mereka
20 Perahu kecil untuk jarak dekat, biduk, perahu lesung.
21 Sejenis perahu untuk jarak yang tak terlalu jauh, memuat sekitar belasan awak atau
penumpang, tidak bercadik.
22 Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade and European Influence, hlm. 93; Pires. Op.cit. Suma
Oriental, hlm. 207.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 215
tinggal lama dan kemungkinan bisa menjadi pelanggan, maka penduduk akan
membangun rumah.
Sementara itu, sejak Malaka dibuka sebagai bandar perdagangan perantara
pada akhir abad ke-15, pedagang Cina tidak lagi berlayar menyusuri pesisir
utara Jawa melalui rute selatan. Pedagang Cina setelah tiba di bandar Malaka
menghuni di sana. Mereka mempunyai kalkulasi biaya lebih mahal, apabila
perjalanan memperoleh rempah-rempah ke Kepulauan Maluku. Pedagang
Cina menunggu pedagang-pedagang Jawa dan Malaka tiba di sana membawa
kargo rempah-rempah.
Demikian pula, ketika bandar Malaka dikuasai oleh Portugis pada 1511,
dan mereka ingin mengawasi para pedagang yang berlayar melalui selat. Maka,
para pedagang memutar Semenanjung Melayu untuk menghindari Malaka.
Akibatnya muncul pelabuhan dan pusat perdagangan baru seperti bandar
Makassar, Banten, Ambon dan lain-lain. Pada awal abad ke-16 Pelabuhan
Makassar menjadi penting bagi penyaluran pala dan fuli produksi Banda.
Sebaliknya, pedagang Makassar dapat mendistribusikan produksi beras petani
Maros yang surplus melalui jalur pelayaran utara menuju pelabuhan Banda.
Juga, munculnya pelabuhan Ambon23 sebagai bandar penumpukan
rempah-rempah, terutama dari Maluku Utara. Saudagar Banda seringkali
berlayar ke Ternate, Tidore dan Makian untuk mendapatkan cengkeh yang
akan mereka tukarkan kepada pedagang Cina di Malaka.
Pada saat kapal berlabuh di pelabuhan dan anak buah kapal menambatkan
tembang dan mengikatnya di dermaga pelabuhan. Nakhoda dan pedagang
Jawa menuruni tangga kapal menuju pelabuhan Naira. Kapal berlabuh persis
berhadapan dengan Gunung Api, yang menyebabkan kapal terlindung dari
ombak dan angin besar. Nakhoda kapal disambut oleh orang kaya yang juga
berperan sebagai syahbandar.24
Biasanya orang kaya memberikan persyaratan kepada nakhoda sebelum
memperdagangkan barang-barangnya di pasar, perlu menimbang terlebih
23 Pelabuhan Ambon akan menjadi pusat perdagangan penting ketika VOC mengoperasi politik
perdagangan monopoli rempah-rempah.
24 Syahbandar, sebuah kata yang berasal dari bahasa Persia, biasanya digunakan di Timur untuk
menunjukkan orang yang dipercaya dengan pengawasan sebuah pelabuhan.
216 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
dahulu barang-barang yang dibawa oleh pedagang Jawa. Mengukur berapa
panjang kain dan berat dari tekstik itu. Tujuannya menimbang barang itu
agar dalam pertukaran menghormati asas keadilan. Kedua, nakhoda kapal
harus memberikan hadiah kepada orang kaya. Hadiah itu untuk menandakan
penghormatan kepada orang kaya sebagai pengetua kampung dan syahbandar
yang akan menghubungkan keluarga-keluarga di perkebunan.25
Sebagaimana telah dibahas sekilas, kepulauan Banda bukan negeri kerajaan,
akan tetapi masyarakat komunal tradisional. Pertukaran yang berlangsung
antara pedagang dari luar dengan orang-orang Banda yang memproduksi pala
ditentukan oleh kepala kampung atau orang kaya. Pada awalnya perniagaan
dan yang mengurus para pedagang asing di pelabuhan, juga menyediakan
akomodasi para pedagang selama di tinggal di Banda dipenuhi oleh orang kaya.
Namun, setelah perniagaan beberapa tahun, dan terutama ketika orang-
orang kaya melakukan perniagaan pelayaran ke Bandar Malaka. Mereka
di sana mempunyai pengalaman, dan melihat langsung tata cara peranan
syahbandar melayani pedagang-pedagang dari luar negeri. Ketika mengetahui
terdapat empat syahbandar yang melayani beragam bangsa di bandar Malaka.
Di pelabuhan Malaka orang-orang kaya dilayani oleh syahbandar ketiga yang
meliputi bangsa Jawa, Maluku, Banda, Palembang, Kalimantan dan Filipina.26
Ketika orang kaya kembali ke Banda, mereka mengoperasikan keberadaan
syahbandar sebagai orang yang bertanggung jawab penguasaan pelabuhan.
Setelah dilakukan pertemuan di kalangan orang kaya, mereka memodifikasi
pengalaman di bandar Malaka tentang syahbandar. Mereka memutuskan
untuk memilih orang-orang Jawa yang telah menetap di Kepulauan Banda
untuk menjalankan fungsi syahbandar.
Orang-orang Jawa itu sudah tinggal di Banda dan mempersunting istri dari
wilayah setempat. Syahbandar itu sudah mempunyai jaringan dengan kepala
kampung di perkebunan, untuk menjamin pengawasan mereka terhadap
produksi pala dan fuli serta memonopoli pasar di Banda. Pendek kata, orang-
orang Jawa itu sudah mengenal dan memahami relasi antara pelabuhan dengan
komunitas produksi di perkebunan. Hal ini, yang membuat sosok mereka
25 Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 207.
26 Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade…, hlm. 40.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 217
dipercaya oleh orang kaya.27
Namun, syahbandar yang diperankan oleh orang-orang Jawa itu berjalan
kurang maksimal, tidak diketahui apa permasalahannya, kemungkinan karena
tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat Banda. Peran syahbandar orang
Jawa itu tetap dipengaruhi oleh peranan orang kaya. Setiap kehadiran pedagang-
pedagang asing di pelabuhan Banda bernegosiasi dengan syahbandar/orang
kaya untuk kepentingan seluruh komunitas Banda yang memproduksi pala
dan fuli.
Sebagai contoh, dapat diperbandingkan dengan pelabuhan Malaka, elit
saudagar yang menetap di pelabuhan mempunyai jaringan dengan kepala
kampung di hulu atau elit politik tradisional lainnya, untuk mengizinkan mereka
mengontrol atas mengalirnya produksi lokal masuk ke pasar perdagangan
internasional. Di Kepulauan Banda, orang kaya tidak mempunyai pesaing lokal
seperti yang diperumpamakan di bandar Malaka. Posisi orang kaya di Banda
hanya berfungsi sebagai aristokrasi. Mereka menetap di pesisir melakukan
negosiasi untuk perniagaan dengan pedagang-pedagang asing. Saudagar asing
itu tidak bisa mematahkan dan menantang monopoli orang kaya atas akses
produksi pala.28
Kekuasaan syahbandar/orang kaya Banda terletak pada kapasitas mereka
untuk mewakili kepentingan masyarakat desa kolektif perkebunan, yang
mereka peroleh dari pengaruh dan popularitas daripada pemaksaan. Orang
kaya yang menetap di pelabuhan mempunyai keistimewaan sebagai saudagar,
yang mendistribusikan barang dagangan yang berasal dari kekayaan orang-
orang desa, hasil seluruh perdagangan dikembalikan ke komunitas produksi
agar dapat memproduksi pala dan fuli kembali.
Pada awalnya pedagang-pedagang asing itu berupaya untuk menyuap
penguasa lokal, atau bersekutu dengan kelompok lokal lainnya, atau memaksa
mereka dengan kekuatan, tetapi elit saudagar Banda dan komunitas lokal yang
memproduksi pala bersatu, mereka bekerjasama saling menguntungkan.29
27 Pedagang Jawa yang menjadi syahbandar sebelumnya adalah saudagar yang membawa beras,
pakaian dari Gujarat ke Pelabuhan Naira. Untuk hal ini lihat. Hall. Op.cit. A History of Early Southeast
Asia…, hlm. 316.
28 Villiers. Op.cit., “Trade and Society in The Banda Islands…,” hlm. 729.
29 Hall. Op.cit. A History of Early Southeast Asia…, hlm. 318.
218 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Hingga awal abad ke-17, pedagang asing yang berkunjung ke Pelabuhan
Banda tidak pernah dapat mematahkan perdagangan monopoli orang kaya,
karena penghematan yang mereka terima dari produksi pala dan mereka
tidak mempunyai kemampuan untuk menaklukan secara militer komunitas
produksi perkebunan.
Posisi strategis yang dimiliki oleh Kepulauan Banda di timur jalur
perdagangan kepulauan Maluku. Menurut Pires, pada awal abad ke-15
pedagang yang berkedudukan di Jawa dan Malaka, setiap tahun berlayar ke
Kepulauan Banda membawa kargo kain katun dan pakaian sutra dari Gujarat,
Koromandel dan Bengal, juga sutera Cina, beras Jawa, keramik Cina dan
Thailand, gading gajah dan gong Jawa.30
Sudah dikatakan dalam bagian sebelumnya, orang-orang kaya Banda
mendominasi perdagangan dan pelayaran di kepulauan Maluku. Mungkin
dikarenakan banyaknya produksi tekstil dari India yang dibawa oleh pedagang-
pedagang Jawa diperniagakan di pelabuhan Banda. Suatu ketika pengiriman
kargo pakaian katun dibawa oleh kapal layar jung Jawa melalui jalur selatan.
Ketika kapal memasuki perairan Maluku atas arahan orang kaya, mereka
menggunakan tulisan “Awak Kapal Banda” (Bandanese) crews yang dalam
realitas adalah golongan etnisitas yang menyebut pesisir Banda rumah mereka.31
Juga, orang kaya seringkali berlayar ke pelabuhan Ternate, Tidore dan
Makian untuk mendapatkan tambahan pendapatan daru perniagaan. Mereka
mengeskpor kembali gading gajah dan komoditi lain yang mereka pertukarkan
dengan cengkeh Maluku, yang dapat mereka jual lagi ke pedagang-pedagang
asing yang melakukan kunjungan tahunan ke Banda.
Kepulauan Banda, juga tetangganya Maluku dan Kepulauan Sulawesi telah
mewakili tanggapan lokal di kepulauan Indonesia timur untuk kesempatan
perdagangan internasional yang baru pada abad ke-15. Berkebalikan dengan
Samudera Pasai dan Malaka, keduanya secara strategis bertetangga dengan
arus utama perdagangan internasional, Banda berada di jalur perniagaan
pinggiran dan akibatnya posisinya sangat kuat, setidaknya pada waktu itu,
30 Pires. Op.cit. Suma Oriental…, hlm. 209
31 Dikutip dari Hall. Op.cit. A History of Early…, hlm. 318.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 219
untuk mengikuti syarat-syarat perdagangan secara lokal. Karena nilai yang
ditawarkan oleh orang Banda, berpasangan dengan jerih payah komunitas
produksi Banda. Pemilik-pemilik kapal yang berada di Malaka dan Jawa
paling banyak mengirim kapal kunjungan ke Banda memilih tidak menantang
watak ulung lokal dari elit pedagang orang kaya Banda.32 Masyarakat Banda
memperoleh manfaat menghasilkan kesempatan awal dengan keterhubungan
perdagangan baru tanpa secara subtansial mengubah tatanan sosial komunal
tradisional.
Hirarki elemen baru itu telah menutup masyarakat tradisional pinggiran
dengan meminimalisir keterlibatan dengan pasar eksternal, kecuali pasar
eksternal dapat memperbaiki standar kehidupan lokal. Menjamin perwakilan
orang kaya/syahbandar di pelabuhan untuk meneruskan relasi perdagangan
antar pulau di seputar kepulauan Maluku. Masyarakat Banda tidak menghendaki
pemeriksaan secara terperinci keberadaan sosial dan struktur politik untuk
mendampingi keistimewaan ekonomi baru. Bagaimanapun, masyarakat Banda
telah beralih memeluk agama baru yang lebih kondusif untuk kehidupan sosial
yang baru, ekonomi dan realitas politik, sebagaimana kasus dengan Samudera
Pasai dan Malaka menjadi Kesultanan Islam.33
Hubungan Pelabuhan dengan Perkebunan Di Banda
Kepulauan Banda secara geografis mempunyai bentang alam Kepulauan
yang berbukit-bukit dan tidak rata. Di pulau ini tidak memiliki sungai, sehingga
hubungan hilir dan hulu tidak berlangsung dengan perahu. Transportasi dari
pelabuhan ke perkebunan ditempuh melalui darat dengan berjalan kaki.
Mungkin untuk Banda Besar dan Naira bisa dipergunakan gerobak dan
kuda. Namun, untuk Pulau Ay dan Run dari pelabuhan ke lokasi perkebunan
ditempuh dengan berjalan kaki. Landskap dari kedua pulau itu adalah jalan
setapak dan berbukit-bukit, dan ketika musim hujan jalan menjadi becek dan
licin.
32 Untuk hal ini lihat. Pierre-Yves Manguin. “Merchant and King: Political Myths of Southeast
Asian Coastal Politics,” Indonesia Vol. 52, hlm. 41-54.
33 Hall. Op.cit. A History of Early…, hlm 318.
220 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Perkebunan-perkebunan di Naira dan Banda Besar dimiliki oleh komunal
tradisional yang meliputi keluarga-keluarga desa.34 Ketika musim panen,
keluarga-keluarga di desa bergotong royong untuk mengangkut biji pala dan
fuli ke pelabuhan. Namun, banyak dari kepala keluarga itu menggunakan
budak untuk pengangkutan ke pusat pelabuhan. Orang Banda membeli budak
di Kepulauan Sunda Kecil, terutama Sumbawa. Juga, mereka membeli budak
di sekitar Maluku. Diperoleh cerita, bahwa pada 1562 kapten kapal dari Raja
Ternate memaksa mengubah orang Kristen di Ternate menjadi Islam dengan
bermacam siksa. Ada beberapa calon pendeta membantu mereka menjualnya
kepada orang-orang Islam di Banda35.
Keluarga desa dan budak-budak milik mereka membawa ratusan ton ke
gudang di pelabuhan. Biasanya di gudang ditimbang berapa jumlah hasil panen
mereka. komunitas produksi itu tidak hanya pada musim panen membawa
pala dan fuli ke tempat penyimpanan di pelabuhan, tetapi bisa kapan saja
setelah produksi pala terkumpul. Pada umumnya, untuk hasil panen per tahun
perkebunan Ortanta 1560 bahar, sedangkan untuk Lonthoir 400 bahar, Pulau
Ay sebanyak 200 bahar, untuk pulau Banda Naira per tahun 150 bahar dan
pulau Run mencapai 100 bahar per tahun. Sementara itu, untuk panen raya
yang terjadi tujuh tahun sekali bisa memproduksi 6000 hingga 7000 bahar
untuk biji pala dan 5000 hingga 6000 bahar fuli.36 Harga pala dan fuli akan
menjadi berlipat ganda nilainya setelah tiba di pelabuhan Eropa. Misalkan, di
Inggris pada 1350-an 28 ons fuli setara dengan nilai seekor lembu.37
Setelah penaklukkan Kepulauan Banda pada 1621, VOC melakukan
perombakan terhadap perkebunan pala. Perkebunan pala mendapatkan nama
baru yakni perk, dalam bahasa Belanda bermakna konsesi perkebunan. Satu
perk diperkirakan luasnya 3.130 meter persegi.38 Sementara itu, orang yang
bertanggung jawab terhadap keberlangsungan perkebunan itu adalah perkenier
34 Tanah komunal desa itu tidak boleh dialihkan ke pemilik lain atau diperjualbelikan. Secara
turun-temurun tanah komunal itu untuk perkebunan pala.
35 Villiers. Op.cit. “Trade And Society in The Banda Islands…,” hlm.729
36 Ukuran bahar di beberapa kepulauan berbeda, misalkan untuk Kepulauan Banda satu bahar
sama dengan 550 pounds, sedangkan di Maluku satu bahar sama dengan 600 pounds, dan di Malaka
satu bahar sama dengan 530-540 pounds. Untuk hal ini lihat. Pires. Op.cit. Suma Oriental…, hlm. 206.
37 Villiers. Op.cit. “Trade And Society in The Banda Islands…,” hlm. 738.
38 Untuk hal ini lihat. Hanna. Op.cit. Kepulauan Banda…, hlm. 64.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 221
atau tuan kebun. Para tuan kebun ini dituntut oleh VOC untuk menghasilkan
pala yang berkualitas.
Hampir seluruh Kepulauan Banda berdiri perkebunan pala yang baru
dikuasai oleh VOC. Hanya pulau Run tidak terdapat perk, karena ketika itu
pulau itu masih dikuasai oleh orang-orang Inggeris. Untuk di wilayah Lonthoir
terdapat 34 perk, sedangkan di Pulau Ay terdapat 31 perk, dan di Banda Naira
mempunyai 3 perk. Jumlah seluruh perkebunan pala di Kepulauan Banda di
masa VOC adalah 68 perk.39
Perkenier harus menyerahkan seluruh hasil panen pala kepada VOC
dengan harga yang sudah ditentukan. Jika mereka melanggar peraturan itu,
maka tanah perk akan disita. Para perkenier itu juga diharuskan membayar
pajak konsesi perkebunan yang pembayarannya dinilai sebesar 4.000 hingga
6000 rijksdaalder (mata uang sebelum gulden). Para perkenier yang melamar
untuk mendapat konsesi perkebunan di Banda sebagian besar merupakan
pegawai kasar VOC. Mereka melamar sebagai perkenier dengan menebus sisa
kontrak mereka di VOC, panjangnya kontrak selama 12 tahun. Sebagian besar
dari mereka adalah petualang, penipu dan penjahat yang tidak pantas dijadikan
contoh bagi sosok tuan kebun. Namun sebagian dari mereka diakui sebagai
orang yang pemberani, rajin dan tekun, yang bercita-cita untuk mencapai
posisi yang lebih tinggi daripada keinginan mereka semula. Akan tetapi,
mereka secara keseluruhan tidak mempunyai pengalaman dalam mengelola
konsesi perkebunan di negeri mana pun.
Birokrasi VOC yang kaku dan semangat kebebasan kepioniran dari
para perkenier, senantiasa dihambat oleh birokrasi VOC. Para perkenier
mengemukakan kontrak yang tak tertulis, sering dilanggar oleh VOC sendiri.
Misalnya VOC gagal mencegah penyerangan dan pendudukan oleh pihak
Inggeris. Pendudukan orang-orang Inggeris terhadap kepulauan Banda
yang pertama pada 1790-1803, dan yang kedua pada 1810-1817. Walaupun
pendudukan tentara Inggeris tidak mempunyai pengaruh pada perubahan
struktur perkebunan pala di Banda, mereka berhasil merampas dari gudang
pala sebesar 84.777 pon pala dan 19.587 pon fuli. Produksi biji pala dan fuli
39 Perkenier adalah pengusaha perkebunan yang berlisensi yang memenuhi syarat untuk
mengelola dari satu perk.
222 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
itu dilelang oleh Inggeris di suatu pelelangan di London, dan kabarnya hasil
pelelangan itu dapat menutup biaya ekspedisi mereka ke kepulauan Banda.40
Pada tahun-tahun awal di Kepulauan Banda, para perkenier mendapatkan
keuntungan dari perkebunan pala. Mereka melakukan foya-foya dengan pamer
kekayaan dan berhutang. Kehidupan perkenier dari generasi ke generasi utang
terus menumpuk. Para perkenier merasa lebih cocok dan merasa untung
menyerahkan kepengurusan perk tersebut kepada pengawas yang digaji tinggi.41
Para perkenier senang tinggal di Naira, pada awalnya pemukiman primitif
yang berkembang ke arah metropolis kecil. Sementara itu, para pejabat VOC
senantiasa mengeluh dengan gaya hidup perkenier. Para pejabat VOC sering
mengatakan keluhannya, bahwa mustahil untuk mendidik para perkenier agar
menjadi gesit dan rajin.42 Mereka lebih suka hidup dalam kemewahan dan
bermalas-malasan di kota Naira daripada memelihara dengan tekun kebun-
kebun mereka. Membiarkan perk mereka terlantar untuk melakukan usaha
pengeluaran barang yang sangat spekulatif. Mereka menjual dan mengekspor
dengan harga tinggi sebagian besar barang-barang kebutuhan yang disediakan
kompeni dengan harga subsidi untuk memelihara budak-budak mereka. Selain
itu, mereka memaksa budak-budak agar hidup dari sagu yang murah daripada
beras. Para budak hanya menggunakan satu setel pakaian daripada dua setel
pakaian yang lengkap yang disediakan VOC.
Para perkenier menjadi penjudi dan spekulan yang telah mendarah daging.
Di antara para tuan kebun itu bersaing dalam kemewahan yang tidak perlu.
Mereka menjadi ketagihan berutang dengan pedagang Arab dan Cina. Mereka
berhutang tanpa mungkin dapat dibayarkan mengingat cara hidup yang boros.
Dalam berutang para perkenier mengajukan perk dan pendapatan tahunan
dari hasil bumi mereka sebagai jaminan. Dalam realitasnya perk itu sebagai
tanah sewaan dengan syarat-syarat yang ketat, dan bukan sebagai hak milik
40 Selain perampasan terhadap produksi pala, tentara Inggris juga mendapatkan pemberian uang
dari Gubernur Banda ketika itu sebesar 66.675 rijksdaalder. Untuk hal ini lihat. Hanna. Op.cit. Kepulauan
Banda…, hlm. 100-101.
41 Pengawas ini adalah mandor yang melakukan pengawasan terhadap pekerjaan menyiangi
rumput di perk, dalam pemetikan buah pala di perk dan pengasapan biji pala di dapur pala.
42 Para pejabat VOC mempunyai anekdot bahwa para perkenier seperti burung kasuari, sejenis
burung darat yang besar dan cepat larinya, tetapi buruk rupanya, menyerupai seekor emu. Anekdot
ini dapat diterjemankan bahwa para perkenier melakukan ketidakjujuran yang tidak terbilang. Hanna.
Op.cit. Kepulauan Banda…, hlm. 89.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 223
yang mudah dipindahalihkan, dan dengan demikian tidak dapat disita oleh
tukang gadai.
Hampir semua perkenier mempunyai utang yang sangat besar. Mereka
meminta bantuan kepada VOC yang tidak hanya meminjamkan uang, akan
tetapi juga mengurangi utang-utang mereka yang telah menumpuk itu.
Sementara itu, VOC tidak mempunyai pilihan lain kecuali membantu tuan-
tuan kebun itu, yang menjadi tumpuan untuk mendapatkan pala dan fuli.
Para perkenier tidak dapat menanam modal di perk karena utang mereka
menumpuk. Namun, pada awal tuan kebun mengoperasi perk yang seluruh
perk berjumlah 68 buah, para perkenier pernah merasakan bahagia pada 1627
dapat menghasilkan pala dan fuli, hampir menyamai produksi pala, sebelum
peristiwa tahun 1621. Pada tahun 1627 itu, setiap perk dapat menghasilkan
10.000 pon per tahun, namun setelah tahun-tahun selanjutnya mengalami
kemerosotan karena bencana alam yang berkepanjangan.43
Sebaliknya ketika perkebunan pala masih dijalankan oleh orang-orang
Banda, dalam mengelola perkebunan menggunakan budak dalam jumlah yang
tidak banyak. Namun, ketika perk dioperasikan oleh perkenier penggunaan
budak begitu massif. Orang Banda yang selamat pada peritstiwa 1621, sebagian
besar sebagai budak. Mereka dengan sabar dan setia melatih para budak yang
didatangkan dari Papua, orang Alfuru dari kepulauan Seram, orang dari Buru,
Timor dan Kalimantan. Pejabat VOC membeli budak itu dari pedagang budak
regional yang mungkin juga sudah dipesannya.
Orang-orang Banda yang pada peristiwa pembantaian tahun 1621 dibuang
ke Batavia, pada awal tahun 1622 sebanyak 307 orang meliputi perempuan dan
anak-anak dikirim kembali ke Banda untuk menjadi budak di perkebunan
pala. Kemudian, orang Pegu sebaganyak 539 orang kebanyakan perempuan
dikirim ke Banda. 44
Pengiriman budak ke kepulauan Banda tanpa henti, pihak VOC mem
43 Untuk hal ini lihat. V.I. Van De Wall. “Bijdrage Tot de Geshiedenis der Perkeniers, 1621-1671.
Dalam B.K.I. LXXIV, 1934, hlm 45.
44 Pengangkutan budak-budak itu menggunakan kapal VOC untuk pelayaran tropis. Untuk hal ini
lihat. Usman Thalib dan La Raman. Banda Dalam Sejarah Perbudakan di Nusantara. Swastanisasi dan
Praktek Kerja Paksa di Perkebunan Pala 1770-1860. Yogyakarta: Ombak, 2015, hlm. 249.
224 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
butuhkan 3000 budak sebagai tenaga kerja perkebunan pala dan melayani
perkerjaan lainnya. Oleh karena itu, armada VOC dengan gencar mencari
budak ke India depan, dan pantai Koromandel. Selain itu, mereka memperoleh
ratusan penduduk Kepulauan Kei dan Aru, juga penduduk Seram, dan Papua
telah diangkut menuju Banda dalam status sebagai Budak. Pada Januari 1624
kapal Amsterdam kembali mengirim 400 orang budak dan pada Februari
menyusul pula pengiriman 200 orang budak.45
Hal yang menarik dalam pengangkutan sejumlah budak dari beberapa
tempat di wilayah barat menuju Banda menggunakan rute timur kepulauan
rempah. Jalur timur membentang langsung ke timur dari Batavia ke kepulauan
rempah. Tiga tujuan pada rute ini adalah kelompok Pulau Banda, Ambon,
dan kelompok yang ketika itu disebut Maluku (Ternate, Tidore, Makian dan
Halmahera). Pengangkutan budak atau lainnya dari Batavia ke Ambon pada
Oktober hingga Maret. Pengangkutan itu berlaku, tidak hanya untuk kapal
kargo Belanda yang lebih besar, akan tetapi untuk kapal-kapal kecil, baik yang
dibuat di Eropa maupun di Asia.46
Pada 1627, pengiriman budak disertai dengan penduduk, mereka meliputi
kulit hitam dan putih, warga bebas dan budak sekitar 2500 jiwa, termasuk 436
pegawai telah dikirim ke Banda. Pada 1638, atas laporan Wurfsbann jumlah
budak penduduk asli Banda sebesar 255 orang dengan meliputi 53 orang budak
pria, 133 orang budak perempuan dan 69 budak anak-anak. Sementara itu,
jumlah budak asing (Cina, India, Koromandel, dan sebagainya), sebanyak 1910
orang meliputi 782 orang pria, 723 budak perempuan dan 405 budak anak-
anak.47
Budak-budak ini diangkut ke Banda untuk disalurkan ke perkebunan
pala dan berada dalam kekuasaan perkenier. Setiap kebun pala rata-rata
mempekerjakan kurang lebih 25 budak. Sedangkan perkenier yang berukuran
kecil mempekerjakan 6 sampai 10 budak untuk perkebunan dan rumah
45 Thalib dan La Raman. Ibid., hlm. 239.
46 Thalib dan La Raman. Ibid., hlm. 240.
47 Laporan harian dari Johan Sigmund Wurfbainn, seorang Jerman dari Nurnberg yang tinggal
selama lima tahun di Kepulauan Banda (1633-1638) dan secara secara metodis mencatat apa yang
dilihatnya, memberikan pengertian tentang rincian secara kolonial pada masa awal. Wurffbain bekerja
pada VOC mula-mula sebagai serdadu, kemudian sebagai pedagang muda. Untuk hal ini lihat. Hanna.
Op.cit., Kepulauan Banda…, hlm. 71-72.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 225
tangganya, akan tetapi ada juga yang mempekerjakan 3-5 budak.
Pada 1711-1712, VOC mengubah peraturan dalam pengadaan budak.
Selama beberapa tahun perkenier diperbolehkan mendatangkan 400 orang
budak dari Makassar. Dengan pengiriman itu, perkenier telah memilki 1400
budak, dan mereka masih terus mengajukan permintaan untuk memenuhi
jumlah yang dibutuhkan. Selain itu, budak-budak lain didatangkan dari
kepulauan tenggara, seperti Nova Guinea dan Timor. Budak terbaik penduduk
Banda merupakan ras campuran berkulit hitam dan menguasai bahasa Belanda.
Jumlah budak yang diperkerjakan di perkebunan pala, baik sejak awal
maupun masa perkenier VOC jumlahnya sering tidak menentu. Hal ini lebih
disebabkan oleh tingginya angka kematian budak dari waktu ke waktu sebagai
akibat dari beban pekerjaan, serangan wabah penyakit, dan bencana alam.
Kekurangan budak karena kematian harus diisi kembali melalui permintaan
perkenier kepada VOC. Melalui kantong-kantong penyedia budak yang
tersebar luas di berbagai Kepulauan Indonesia, VOC dengan mudah melayani
permintaan perkenier sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.
Perkembangan perkebunan pala masa perkenier VOC pernah mengalami
masa buruk, terutama akibat bencana alam meletusnya Gunung Api. Tercatat
tahun-tahun terburuk sepanjang abad ke-17 adalah tahun 1615, 1629, 1638,
1691, dan 1695.48 Letusan Gunung Api pada tahun 1615 begitu hebat hingga
batu-batu besar terlempar jauh terjatuh di atas Benteng Nassau yang baru
saja diselesaikan oleh orang Banda. Tahun 1629, gelombang pasang menyapu
pelabuhan Naira dan kotanya yang baru, mengangkat perahu-perahu melampui
pinggiran laut, membongkar batu-batu besar dari jalanan dan meriam-meriam
tembaga di benteng, serta meruntuhkan dinding rumah sakit militer.
Pada April hingga Juni 1636 dan di akhir abad ke 17, guncangan gempa
bumi yang kuat dirasakan berulang kali, uap-uap yang keras baunya dan hujan
abu panas yang lengket berlangsung selama lima tahun (1691-1696). Wabah
penyakit paling buruk menyusul terjadi seiring dengan letusan Gunung Api
terjadi tahun 1638, ketika 375 orang meninggal di kota Naira, tahun 1693 ketika
771 budak tewas di perk. Kematian budak-budak merupakan kerugian besar,
dengan kehilangan banyak budak harus cepat diganti dengan harga mahal.
48 Hanna. Ibid. Kepulauan Banda…, hlm. 92
226 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Kehilangan budak pada 1693 dan dua wabah penyakit pada 1702 dan 1765
melenyapkan 1.529 orang dengan nilai nominal keseluruhan 61.160 reaal.49
Bencana alam yang terjadi pada 1778 membuat bangkrut perkenier Belanda.
Pada 28 April 1778 pada pagi hari selama satu jam yang menakutkan terjadi.
Secara serentak letusan Gunung Api, gempa bumi, ombak besar air pasang dan
angin topan yang menimbulkan kerusakan luar biasa. Wujud dari bencana
alam itu berupa kerusakan di kota-kota, perk, juga di benteng-benteng yang
kuat bangunannya itu. Kerusakan di kebun-kebun pala begitu besar sehingga
satu dari setiap dua pohon tumbang. Panen selama 12 bulan berikutnya turun
menjadi hanya 30.000 pon pala dan 10.000 pon fuli disbanding dengan 800.000
pon pala dan 200.000 pon fuli secara berturut-turut tahun 1777.50 Pendapatan
para perkenier anjlok sebanding dengan itu. Mereka begitu terpukul oleh
bencana tersebut, dan dihadapkan pada kenyataannya yang menyusul tidak
ada lagi orang yang mau meminjamkan uang, sehingga VOC turun tangan
untuk melindungi kepentingnnya sendiri. Serangkaian bencana alam baru
berlangsung pada 1815 dan 1816, dan kemudian pada 1820—hanya beberapa
tahun setelah kembalinya Belanda ke Banda,51 berlangsung gempa yang paling
merusakkan dalam sejarah Kepulauan Banda.
Pada perempat pertama abad ke-19 harga pala mulai merosot di pasar
dunia. Hal ini dikarenakan penanaman pala telah dilakukan di Bengkulu dan
beberapa tempat di jajahan Inggris seperti Ceylon (Srilanka).52 Penanaman itu
menghasilkan kualitas buah pala yang sama dengan Kepulauan Banda. Selain
itu, perkenier sudah kesulitan untuk melakukan monopoli perdagangan pala,
karena utang sudah bertumpuk, dan kondisi perkebunan perlu mendapatkan
perbaikan dari kerusakan bencana alam.
Tahun 1859 situasi keuangan di kalangan perkenier telah semakin
memburuk. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mengambil alih
49 Hanna. Ibid. Kepulauan Banda…, hlm. 93.
50 Hanna. Ibid. Kepulauan Banda…, hlm 94.
51 Terjadi dua kali pendudukan Inggris atas kepulauan Banda, akibat peperangan dengan Prancis
yakni terakhir pada 1815, Banda dikembalikan ke Pemerintah Belanda.
52 Sejak tahun 1798 di Bengkulu, Sumatera Selatan telah dilakukan penanaman pala. Orang-
orang Inggris melakukan pembudidayaan tanaman pala, sekitar 500 hingga 600 pohon pala ditanam di
Bengkulu. Untuk hal ini lihat. William Marsden. F.R.S. Sejarah Sumatera. Yogyakarta: Indoliterasi, 2016,
hlm. 217.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 227
kewajiban membayar utang perkenier selama satu tahun. Jumlah dana itu
mencapai f.17.688. Sebenarnya biaya itu tidak begitu besar, akan tetapi perkenier
tidak punya uang untuk membayar. Selain itu, pemerintah mengambil alih
pula kewajiban pengobatan budak-budak perkebunan yang sakit. Kondisi ini
membebaskan para perkenier dari beban untuk menanggung pembiayaan itu.
Biaya yang dikeluarkan pemerintah sebesar f. 21,25 mencakup perumahan,
sandang, dan pangan untuk 530 budak per tahun.
Dengan pembayaran utang para perkenier itu oleh pemerintah Belanda,
dapat dibaca merupakan gejala mengambil ancang-ancang untuk mengakhiri
monopoli perdagangan rempah-rempah dan perbudakan. Pada 31 April 1864
diterbitkan beleid, keputusan penghentian monopoli perdagangan rempah
dan penghapusan perbudakan di perkebunan. Produksi pala dan fuli akan
didistribusikan secara bebas oleh perusahaan keuangan Nerdelandsche Handel
Maatschappij (NHM). Perusahaan NHM akan mendistribusi hasil bumi
kepulauan Banda ke seluruh pasar dunia.
Sementara itu, penghapusan perbudakan di perkebunan pala diganti
dengan tenaga kerja kuli kontrak. Para kuli kontrak itu didatangkan dari
Jawa dikirim ke Banda yang kadangkala disertai oleh keluarganya. Para kuli
kontrak itu dikontrak oleh pemerintah untuk jangka waktu 5 hingga 8 tahun,
dan dikontrakkan kembali kepada para perkenier. Dalam kontrak kerja, kuli
kontrak itu mendapatkan pemondokan pakaian dan beras. Pada awalnya gaji
yang mereka terima f 12 hingga f. 16 per tahun. Kemudian, pada akhir abad
ke-19, gaji mereka telah naik sekitar f. 6 per bulan, dan beberapa tunjangan
eksternal telah ditambahkan
Meskipun kerja kuli kontrak lambat dalam produksi pala, peningkatan hasil
setiap tahun tampak jelas. Pada 1854 untuk setiap pohon pala menghasilkan
biji pala 1,8 pon pala dan 0,45 pon fuli dan 291,6 pon pala serta 72,6 pon fuli
secara berturut-turut per tahun setiap tenaga kerja. Di tahun 1860 jumlah
menjadi 4,3 pon pala dan 1,01 pon fuli, dan 622,6 pon pala dan 177,2 pon fuli
setiap tenaga kerja.53
Perkebunan pala masa perkenier membaik kembali setelah adanya perbaikan
produksi pohon-pohon pala adalah dampak dari berhentinya bencana alam.
53 Hanna. Op.cit. Kepulauan Banda…, hlm. 117.
228 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Juga, penggunaan tenaga kerja bebas terbukti lebih menguntungkan. Pulau
Banda sebagai produsen pala dan fuli mulai bangkit kembali pada akhir
abad ke-19. Namun, kebangkitan produksi pertanian itu tidak diikuti dengan
ramainya pelabuhan dengan bermacam-macam pertukaran dan jalur rempah
yang dinamis. Karena jaringan jalur rempah yang mencakup pelabuhan dan
pelayaran perniagaan di sekitar perairan Sulawesi, Papua, Maluku, Banda dan
pesisir utara laut Jawa telah redup
Masyarakat Jambi
Dalam Kehidupan Bahari dan Agraris
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 berpengaruh terhadap
aktivitas pelayaran dan perniagaan di perairan Nusantara. Portugis sejak Malaka
berada dalam genggamannya memegang kontrol atas setiap kapal-kapal yang
melintasi wilayah itu. Bagi pedagang dan pelaut Nusantara, jatuhnya Malaka
setidaknya telah membuka kesempatan bagi mereka untuk menyusuri pantai
barat Sumatera sebagai jalur pelayaran dan perniagaan dari Nusantara menuju
India dan Eropa. Pantai barat Sumatera sebagai jalur pelayaran dan perniagaan
juga ramai terutama dalam perniagaan antara kota-kota di Sumatera Barat
seperti Pariaman, Padang, Tiku, Indrapura. Berbeda dengan sungai-sungai di
sekitar pantai timur Sumatera yang tergolong lebar dan mudah dilayari oleh
kapal-kapal, sungai-sungai di sekitar pantai barat Sumatera yang bersumber
dari kaki Bukit Barisan berukuran kecil dan sulit dilayari oleh kapal-kapal.
Oleh karena itu, pelayaran dan perniagaan dengan menyusuri pantai sepanjang
wilayah barat Sumatera ini menjadi penting baik bagi penduduk Sumatera
bagian barat maupun bangsa asing yang melakukan transaksi niaga dengan
mereka.
Dalam perkembangan lain, sejak akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16,
Jambi memasuki masa pemerintahan Kerajaan Jambi. Agama Islam menjadi
bagian dalam kehidupan masyarakat Jambi selama di bawah kekuasaan Kerajaan
Jambi ini. Islam di Jambi diperkirakan mulai berkembang pada sekitar abad
ke-14, seiring terjalinnya kontak-kontak pelayaran dan perniagaan dengan
bangsa-bangsa Arab yang datang ke Nusantara.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 229
Pola kekuasaan raja bergantung pada luas daerah dan kekuasaan para
pengikutnya. Wilayah kekuasaan raja adalah pada banyak-sedikit wilayah
kekuasaan para pengikutnya. Raja sebagai pimpinan resmi pemerintahan
mempunyai batas wilayah kekuasaan yakni “dari Tanjung Jabung sampai
Durian ditakuk Rajo, dari Sialang Balantak Besi ke Bukit Tambun Tulang.”
Tanjung Jabung merupakan wilayah pantai termasuk perairannya dan gugusan
Pulau Berhala. Durian Takuk Rajo berada di Tanjung Simalidu. Sementara
Sialang balantak besi berdiri tegak di Sitinjau Laut , dan Bukit Tambun Tulang
berada di Singkut.54
Kerajaan Jambi memiliki ikatan erat dengan orang laut. Orang Kayo Hitam
mengangkat orang laut melalui pemberian sebilah keris kerajaan dan hak
untuk mencari penghidupan di sepanjang pantai antara Jambi dan Palembang.
Rentang geografis itu juga menunjukkan wilayah kekuasaan Sriwijaya dahulu.
Ikatan antara kerajaan dengan orang laut ini dapat pula dipahami sebagai
bentuk relasi yang saling menguntungkan di kedua pihak. Di satu sisi, kerajaan
mendapat pendukung yang setia yakni orang laut ketika wilayah kerajaan berada
di luar jangkauan kekuasan raja dan orang laut sebagai komunitas terdepan
yang justru paling mengetahui apa pun yang akan datang atau mengancam
wilayah kerajaan. Pada sisi lain, orang laut mendapat dukungan pihak kerajaan
ketika penghidupannya merasa aman dan dijamin melalui kontrak antara
mereka dengan pihak kerajaan. 55
Kerjasama kedua pihak dalam lingkup wilayah Kerajaan Jambi ini juga
terjadi pada masa Kerajaan Sriwijaya. Wilayah dataran rendah di kawasan
pantai timur Sumatera sejak dulu menjadi tempat bermukimnya orang
laut. Penguasaan wilayah bahari itu oleh Sriwijaya dapat berlangsung jika
kerajaan mendapat dukungan dari orang laut. Melalui kerjasama dan ikatan
antara kerajaan dengan orang laut inilah maka kekuatan laut dapat dihimpun
dan mampu menjangkau wilayah bahari yang lebih luas. Dalam hitungan
waktu, Kerajaan Sriwijaya membutuhkan waktu selama dua tahun dengan
menggunakan kapal layar cepat untuk menjangkau semua pulau yang berada di
bawah kekuasaannya. Penguasaan wilayah maritim yang sangat luas pada masa
Kerajaan Sriwijaya itu hanya mungkin terlaksana bila ada angkatan laut yang
54 Lihat Lindayanti dkk. Op.cit. Jambi Dalam Sejarah 1500-1942, hlm 133.
55 Ibid.
230 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
didukung tenaga dan armada serta perlengkapannya yang kuat yang diperoleh
dari orang laut yang sangat loyal kepada kerajaan.56 Begitu pula halnya dengan
Jambi, jika mengikuti kebijakan yang ditempuh oleh Kerajaan Sriwijaya dahulu,
tentunya Raja Jambi melihat arti penting dan strategisnya orang laut sebagai
bagian dari kekuasaannya, termasuk menjadi bagian dalam pengamanan
terhadap kapal-kapal yang melakukan perniagaan rempah-rempah dan lada di
wilayah Kerajaan Jambi.
Muara sungai besar yang menjadi tempat pemukiman orang laut, juga
menjadi lintasan berbagai kapal dari Teluk Persia dan India yang menuju Cina
atau dari Laut Jawa menuju Laut Natuna Utara, memberikan kepada kerajaan
suatu pertahanan dan pengawasan terhadap laut. Dalam sumber Cina yang
berasal dari tahun 1225 disebutkan bahwa wilayah Sriwijaya menjadi lintasan
berbagai kapal asing dan hasil semua negeri disimpan di sini untuk kemudian
dijual kembali kepada kapal-kapal yang singgah. Penduduk di wilayah itu
tersebar di luar kota atau di air di atas rakit yang terbuat dari papan yang ditutupi
dengan daun kering. Mereka berani mati jika menghadapi musuh dan tidak
ada tandingannya di antara bangsa-bangsa lain.57 Dari laporan di atas terlihat
bahwa orang laut di masa kekuasaan Sriwijaya yang menempati posisi penting
dan kuat di bagian barat Nusantara menjadi faktor penting dalam pertahanan
laut kerajaan ini. Mereka menjadi ujung tombak ketika menghadapi kapal-
kapal asing dan sangat setia kepada kerajaan. Jika mengikuti penjelasan di atas,
kerjasama antara Kerajaan Jambi dengan orang laut tentulah sangat strategis
dari sisi pertahanan terutama menyangkut wilayah kerajaan ini di pantai timur
Sumatera, juga berperan dalam mengamankan dan mengawasi jalur pelayaran
dan perniagaan kerajaan ini di sepanjang pantai timur Sumatera. Peran dan
kedudukan orang laut dalam geografi sejarah pantai timur Sumatera dan juga
Semenanjung Malaya sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga masa Kesultanan
Malaka pada abad ke-15 sangat penting. Bahkan, dalam Kesultanan Malaka
mereka menempati kedudukan penting sebagai satu kekuatan politik sekaligus
pertahanan untuk mempertahankan kesultanan baik terhadap ancaman dari
luar kesultanan maupun dari dalam yakni kekuatan orang kaya.58
56 Lihat Lapian. Op.cit. Orang Laut Bajak Laut Raja Laut…, hlm 101.
57 Lihat Lapian. Ibid. Orang Laut Bajak Laut Raja Laut…, hlm 101-102.
58 Ibid., hlm 104.