The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

JALUR REMPAH DAN DINAMIKA MASYARAKAT ABAD X-XVI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sejarahboomas17, 2022-09-19 05:20:11

JALUR REMPAH DAN DINAMIKA MASYARAKAT ABAD X-XVI

JALUR REMPAH DAN DINAMIKA MASYARAKAT ABAD X-XVI

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 81

haluan ke Banda, mereka singgah di Hitu untuk menukarkan barang-barang
yang mereka bawa seperti perhiasan mutiara dan kain tenun kasar. Sementara
itu, pedagang kepulauan Seram berniaga ke Banda dengan membawa cengkeh.
Pada awal abad ke-16, perkebunan cengkeh di Seram diperluas penanamannya
hingga ke bagian selatan kepulauan itu. Pedagang dari Seram juga membawa
hasil hutan seperti Damar, madu dan peralatan dapur/memasak dari bahan
gerabah. Barang-barang itu dipertukarkan dengan kain tenun kasar, tekstil
Gujarat dan barang impor lainnya.29

Hitu dan Ambon

Sejak abad ke-14 pelabuhan Hitu sudah ramai dengan pedagang dari
Ternate, Tidore, Banda, Gresik dan Tuban. Hitu merupakan daerah lalu
lintas perdagangan cengkeh yang dilakukan oleh orang Banda ke Utara dan
dari Utara ke Banda. Situasi ini memperlihatkan bahwa Hitu merupakan
jaringan pelabuhan untuk transit, namun pengaruhnya mampu menciptakan
kemunculan pedagang-pedagang lokal dari jazirah Leihitu dan Huamual di
Pulau Seram.30 Asal-usul permukiman orang Jawa di Hitu dapat ditelusuri
dengan migrasi orang Jawa dari Tuban. Akan tetapi, migrasi ini tidak berkaitan
dengan perdagangan rempah. Hal ini karena pemukiman ini didirikan pada
masa sebelum ada penanaman cengkeh di Ambon dan Kepulauan Seram.
Penduduk Hitu belum menanam tanaman dan memanen cengkeh sendiri.
Mereka menerima cengkeh sebagai upeti dari wilayah lain yang lebih kecil
yang memiliki hubungan bawahan yang lebih besar dan harus menyediakan
komoditas tertentu bagi mereka. Sebagian besar upeti berupa cengkeh, kayu,
dan produk lainnya.31 Budidaya cengkeh yang meluas membuat perdagangan

29  Pedagang-pedagang kepulauan Seram berdagang ke Banda dengan membawa cengkeh
yang kemudian oleh pedagang Banda disimpan untuk dipertukarkan dengan tekstil yang dibawa oleh
pedagang Gujarat dan Arab. Untuk hal ini lihat. Desy. Op.cit., Sejarah Terbentuknya Kota Dagang…,
hlm.41

30  Jalur ini menjadi ramai dengan banyaknya orang-orang luar seperti Jawa, Cina, Arab, dan
Bugis melakukan alih muatan di Hitu. Untuk hal ini, Dessy. Ibid., Sejarah Terbentuknya Kota Dagang…,
hlm. 52.

31  Lokasi Kerajaan Hitu berdekatan dengan pelabuhan, tempat kapal bersandar dan
menurunkan cengkeh. Sehingga raja dan anggota keluarga kerajaan dapat mudah mengawasi hilir mudik
kapal di pelabuhan. Ketika itu, jarak Keraton Hitu dengan pelabuhan sekitar 100 meter, sebelum 1980-
an dilakukan reklamasi. Informasi ini diperoleh dari wawancara dengan Raja Hitu, Ambon, 9 Mei 2017.

82 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

yang ramai oleh orang Jawa. Mereka datang untuk mendapatkan cengkeh yang
ditukarkan dengan bahan makanan dan kain. Cepatnya perluasan penanaman
cengkeh itu dibuktikan dengan kedatangan sebuah armada junk pada 1538
di lepas pantai Hitu. Kedatangan armada tersebut untuk memuat cengkeh di
pelabuhan yang menjadi pusat pasar. Armada ini terdiri dari sepuluh kapal
junk besar. Diperkirakan pada perempat abad ke 16 panen cengkeh di Ambon
mencapai 2000 kuintal.32

Orang Jawa menyebarkan agama Islam di Hitu. Kota ini menjadi pusat
agama Islam, namun sebagian besar penduduknya masih kafir. Bahkan
tempat-tempat yang lebih kecil menjadi bawahan langsung Hitu tetap belum
Islam hingga awal abad ke-17. Walaupun sebagian besar kepala suku sudah
menjadi muslim pada saat itu. Pada awalnya orang Hitu melakukan hubungan
bisnis dengan orang Portugis mereka diizinkan untuk membangun sebuah
permukiman pada 1525. Akan tetapi, orang Portugis berupaya menghentikan
orang Jawa yang berdagang di sana . Karena mereka takut permintaan orang
Jawa akan menaikkan harga rempah-rempah, baik orang Jawa maupun orang
Hitu tidak dapat menerima gangguan tersebut. Penduduk Ambon menerima
bantuan melawan orang Portugis dari penduduk Kepulauan Banda serta dari
orang Jawa. Ambon sebelum kedatangan orang Portugis telah menjadi titik
pusat perdagangan. Tidak hanya rempah-rempah domestik, buah pala dan fuli.
Cengkeh dari Maluku dan Ambon juga dikumpulkan untuk dijual kepada para
pedagang asing yang datang ke Banda dari tempat-tempat di dalam dan di luar
Indonesia. Karena orang Banda adalah satu-satunya penduduk di kepulauan
rempah yang terlibat dalam pelayaran niaga, merekalah yang membawa
cengkeh dari Maluku dan Ambon ke Banda.

Pada paruh pertama abad-16 penanaman cengkeh meluas hingga ke
Ambon dan kepulauan Seram. Perluasan penanaman cengkeh ini juga didorong
oleh permintaan yang pesat dari Portugis. Sementara itu, Portugis sejak akhir
abad ke 16 sudah dapat menguasai kota Ambon dengan mendirikan beberapa
benteng, salah satunya yang terkenal Benteng Victoria yang berada ditengah
kota Ambon. Sebaliknya Hitu dan Ambon meskipun menjadi tempat perluasan
penanaman cengkeh, namun kedua bandar itu tetap berfungsi sebagai
pelabuhan transit dari kepulauan rempah. Orang-orang Banda yang aktif

32  Meilink- Roelofz. Op.cit, hlm 158.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 83

berlayar yang mengangkut rempah-rempah dari Maluku Utara dan dibongkat
muat di Hitu sebelum dikirim kembali ke pelabuhan-pelabuhan pesisir utara
Jawa seperti Gresik dan Surabaya.

Pada perkembangan selanjutnya awal abad ke-17 pelabuhan Ambon
dipergunakan VOC sebagai pelabuhan transit sebelum tiba di Banda, atau
sebaliknya sebelum armada Belanda dari Banda bertolak ke Batavia. Mereka
transit di Ambon untuk alih muatan. Juga, pelabuhan Ambon dijadikan oleh
VOC sebagai pusat pengawasan politik hongi sehingga kapal-kapal lokal
menghindari pelabuhan sekitar Ambon dan Hitu. Akhirnya, Hitu sebagai
pelabuhan menjadi sepi dan tidak lagi dikunjungi oleh jaringan perdagangan,
dan tutup sebagai bandar.

Kepulauan Sunda Kecil

Kepulauan Sunda Kecil merupakan pelabuhan yang terletak di jalur
selatan tradisional yang selalu disinggahi oleh pedagang dari Timur dan
Barat. Pelabuhan itu memiliki banyak air yang baik dan perbekalan makanan.
Tidak pelak lagi pedagang-pedagang yang menggunakan pelayaran rute
kuno selatan senantiasa singgah di sana, termasuk pedagang dari kepulauan
Banda.33 Pelabuhan Sumbawa menjadi pelabuhan transit alih muatan oleh para
pedagang yang datang ke sana. Juga, tempat ini menjadi tempat penyegaran
bagi para pedagang Melayu dan Jawa sebelum meneruskan pelayaran mereka
ke Kepulauan Maluku. Pedagang Kepulauan Sunda Kecil berlayar Kepulauan
Banda dan Maluku untuk membeli barang-barang. Mereka di pelabuhan Banda
membeli pakaian, menurut pedagang dari Kepulauan Sunda Kecil, pedagang
Banda menyedia pakaian-pakaian yang baik terutama dari Gujarat.34 Namun,
di bagian wilayah lain dari Kepulauan Sunda Kecil seperti Sumbawa dan Bima
menyediakan kayu pewarna yang dikenal dengan julukan kayu brazil untuk
pedagang Malaka yang diekspor dari Malaka ke Cina. Juga, Pulau Solor—yang
dikenal sebagai Flores—sangat penting bagi pedagang asing karena penghasil
sulfur produk itu dijual melalui Malaka hingga ke tempat-tempat yang jauh

33  Tahun 1960-an pedagang-pelaut Kepulauan Banda mengangkut kopra ke pelabuhan
Surabaya dengan menggunakan kapal layar masih menggunakan jalur selatan. Informasi ini diperoleh
dari wawancara dengan Abdullah, Pulau Run, 9 Mei 2017.

34  Meilink-Roelofsz, Op.cit., hlm. 83.

84 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

seperti Cochin Cina. Namun, daya tarik pulau Timor adalah cendana yang
banyak tumbuh di sana. Kayu ini sepertinya sudah dikenal orang Cina. Awal
abad ke-14 kapal-kapal pedagang Cina secara periodik pergi ke sana untuk
memuat muatan berharga ini.

Sementara itu, orang Jawa dan Melayu memasarkan kayu cendana kepada
orang India. Di India cendana digunakan untuk salep dan parfum. Di Eropa
cendana dipergunakan untuk obat-obatan. Cendana memiliki peran besar
dalam upacara kremasi dan pengorbanan. Menurut pedagang Malaka, kayu
ini hanya dapat ditemukan di Timor. Mereka memiliki peribahasa yang
mengatakan “Tuhan membuat Timor untuk cendana, Banda untuk buah pala,
dan Maluku untuk cengkeh.”35 Produk-produk Kepulauan Sunda Kecil ini dapat
diperoleh dengan cara ditukar dengan kain Gujarat yang murah, benda-benda
yang terbuat dari besi, seperti pedang, kapak, pisau, paku, serta manik-manik
berwarna, porselen, timah, merkuri dan timah hitam. Walaupun penduduk
Kepulauan Sunda Kecil mengunjungi pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa
menggunakan kapal-kapal kecil, pedagang dari Kepulauan Sunda Kecil tidak
memperluas perdagangannya ke pelabuhan Malaka. Para pedagang Malaka
harus mengambil sendiri produk-produk ini ke Kepulauan Sunda Kecil.
Demikian pula dengan pedagang-pedagang Banda yang melakukan pelayaran
ke sana melalui pesisir Pulau Babar, Kisar, Wetar, Alor dan tiba di Timor.
Barang-barang yang didagangkan adalah tenun kasar, manik-manik, timah,
alat-alat pertanian seperti kapak, pisau, pedang, dan paku. Barang-barang itu
dipertukarkan dengan kayu cendana, yang kemudian diperdagangkan oleh
orang-orang Banda kepada pedagang Gujarat dan Arab. Selain itu, pedagang
Banda datang ke Timor juga untuk membeli budak. Perdagangan budak sangat
ramai di seluruh kepulauan ini. Budak-budak yang dibeli pedagang Banda
untuk dipekerjakan di kebun-kebun pala. Kebanyakan budak-budak itu berasal
dari pedalaman Kepulauan Sunda Kecil seperti Sumbawa dan Bali.36

35  Ini merupakan ungkapan terkenal dari Tome Pires yang menyaksikan ramainya perdagangan
rempah-rempah di pelabuhan Malaka. Lihat, Meilink-Roelofsz, Ibid., hlm. 121.

36  Budak-budak yang diminati oleh pedagang Banda adalah budak perempuan untuk bekerja
di perkebunan. Untuk hal ini lihat. Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga…Jilid 2, hlm.72.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 85

Ternate

Nama Maluku pada mulanya hanya menunjuk kepada mata rantai lima
pulau kecil yakni Ternate, Tidore, Morotai, Bacan dan Makian. Pemegang
peranan dari kepulauan ini adalah pulau kembar Ternate dan Tidore. Kedua
pulau itu masing-masing memiliki gunung berapi yang menyembul dari dasar
laut dengan ketinggian sekitar 1000 meter di atas permukaan laut. Secara
alamiah baik Ternate maupun Tidore pada abad ke-13 dan ke-14 merupakan
penghasil cengkeh dunia. Ternate merupakan Kolano (Sultan) yang menguasai
kawasan kawasan yang membentang ke barat sampai ke Sulawesi, Mindanao di
utara, Papua di timur dan Seram serta Ambon di selatan.

Ternate di bawah pimpinan Kolano Sida Arif Malano (1317-1331)
membuka diri sebagai bandar utama perdagangan di wilayah Maluku. Pada
masa pemerintahan Sida Arif Malano Ternate, Tidore, dan Bacan mulai
kedatangan pedagang mancanegara dan dari kawasan lain di Nusantara. Dari
luar negeri adalah pedagang-pedagang Cina, Arab, dan Gujarat. Sementara,
pedagang-pedagang dari Indonesia datang dari Jawa, Maluku, dan Makassar.
Pedagang ini mulai menetap atau membuka pos-pos niaga di Ternate,
Tidore dan Makian. Situasi ini direspons secara cepat oleh Sido Arif dengan
memberikan kemudahan-kemudahan yang diperlukan para pedagang itu.
Misalkan penyediaan fasilitas pondokan, makanan dan minum serta gudang
untuk barang dagangan mereka. Ternate dalam perkembangannya muncul
sebagai kota dagang dengan berbagai fasilitas yang menarik.37

Sida Arif kemudian juga mendirikan pasar untuk mempertemukan para
pedagang asing dan nusantara tersebut. Di pasar Ternate, rakyat menggelar
dagangannya mulai dari rempah-rempah, bahan makanan seperti sagu dan
ikan, buah-buahan dari Moro, dan daging. Juga, diperdagangkan hasil pandai
besi seperti parang, dan alat-alat pertanian hingga beragam kebutuhan hidup
lainnya. Sementara, para pedagang asing dan Indonesia menjual tekstil,
berbagai perhiasan emas, perak dan batu mulia. Terdapat pula barang dagangan
beras dan alat-alat keperluan rumah tangga, seperti kaca, piring dan mangkuk

37  Untuk hal ini lihat, M.Adnan. Amal. Kepulauan Rempah-Rempah. Perjalanan Sejarah Maluku
Utara 1250-1950. Jakarta:Kepustakaan Populer Gramedia, 2016, hlm. 59.

86 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

porselen.38

Gambar 3.2 Cengkeh Sebagai Komoditas Utama Ternate

Sumber: Dokumentasi Direktorat Sejarah, 2016

Sementara itu, Ternate sebagai penghasil cengkeh utama di kepulauan
rempah pada abad ke-15 mulai dikunjungi oleh Portugis untuk memperoleh
rempah, dalam sebuah tulisan yang digoreskan mengenai kondisi Ternate
ketika itu dan selama Sultan Bayunnulah memimpin Ternate.

“Pulau ini sangat kecil walaupun dalam hal ukuran lebih panjang daripada
Banda. Penduduknya lebih miskin daripada Banda. Seandainya mereka
tidak berperawakan seperti manusia maka mereka sama sekali tidak berbeda
dengan binatang. Warna kulit mereka lebih terang dan kawasan ini lebih
sejuk. Pulau ini menghasilkan cengkeh sebagaimana juga pulau-pulau kecil
disekitarnya. Ketika cengkeh sudah matang masyarakat memukulnya dengan
bulu sehingga jatuh berguguran ke atas tikar yang telah terlebih dahulu

38  Kolano Sida Arif juga mengisi waktu luangnya untuk bergaul dengan para pedagang asing.
Ia bahkan belajar bahasa Arab dan Cina, serta memakai jubah dan destar serta pakaian yang digunakan
para pedagang Cina. Untuk hal ini lihat. Amal. Ibid., hlm. 59-60.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 87

dihamparkan di atas tanah dibawah pohon. Tanah di pulau ini berpasir
dan kawasan ini berada jauh dibawah garis khatulistiwa sehingga dari sini
bintang utara tidak tampak. Mereka menjual cengkeh dengan harga dua kali
lipat harga pala”.39
Ternate seringkali juga dikunjungi oleh pedagang Banda yang mengum­
pulkan cengkeh dengan menukarkannya dengan kain Gujarat yang diperoleh
dari pedagang Jawa. Dalam memperoleh cengkeh di Ternate, orang-orang
Banda kadangkala bersaing dengan orang-orang Portugis. Namun, orang-
orang Banda bisa mengalahkan persaingan itu, karena di antara orang Portugis
terjadi persaingan. Selain itu, orang Banda mampu menghindari dari monopoli
cengkeh Portugis. Mereka berhenti mengumpulkan cengkeh dari Ternate, di
mana orang Portugis mengandalkan mayoritas pasokan cengkeh pada paruh
pertama abad ke-16. Protugis mengalihkan pembelian ke Tidore yang awalnya
berada di bawah pengaruh Spanyol. Upaya orang Portugis yang terus-menerus
memeriksa jung-jung Banda menimbulkan konflik serius dengan Tidore.
Setelah orang Portugis diusir dari Ternate, hambatan perdagangan pribumi
menjadi hilang. Orang Banda kembali lagi mendapatkan pasokan cengkeh dari
Ternate dan pulau-pulau lain yang menjadi bawahannya.40

Tidore

Pulau Tidore lebih luas dibandingkan kepulauan Ternate. Tidore dan
Ternate terletak bersebelahan, Tidore di sebelah selatan dan Ternate di bagian
utara. Pulau Tidore didominasi oleh Kie Matubu, gunung berapi tua dengan
ketinggian 1730 di atas permukaan laut. Tidore adalah salah satu pulau di
Maluku Utara sebagai penghasil utama cengkeh. Seperti kepulauan Banda,
Tidore sangat bergantung bahan makanan yang diimpor dari luar. Hal ini
dikarenakan tenaga mereka telah terkonsentrasi dengan tanaman cengkeh
dan berasumsi bahan makanan dapat diperoleh bila cengkeh berhasil dijual.
Meskipun, Tidore sebagai penghasil puting cengkeh, namun budidaya
tanaman itu baru dimulai perempat pertama abad ke-16. Pada masa itu, Tidore
sama sekali tidak memiliki pelabuhan, tempat kapal-kapal samudra berlabuh.

39  Untuk hal ini lihat. Alwi, Op.cit. hlm. 229-300.
40  Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz, Op.cit., hlm. 160.

88 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Meskipun, pulau ini menghasilkan sekitar 1400 bahar cengkeh setiap tahun.41
Penguasa Tidore belum lama memindahkan ibukotanya ke pesisir, tidak lama
sebelum kedatangan orang Portugis, dengan alasan jalur pesisir berkaitan
dengan melesatnya pemasukan perdagangan negaranya.

Pada masa Sultan Almanzoer berkuasa, ibukota Tidore berada di Mareku
dan menjadi pusat kekuasaan. Rakyat Tidore memandang kota ini punya
harkat tersendiri sebagai sumber kegiatan sultan. Mareku, juga dipandang
sebagai pusat kesaktian para sultan. Produksi rempah-rempah dan kemajuan
perdagangan, berikut berakar dengan kuatnya agama Islam, menjadikan
Tidore bersama Ternate dikenal sebagai pusat dunia Maluku yang utama.
Orang-orang Banda seringkali berlayar dan berlabuh di Kota Mareku untuk
mendapatkan cengkeh yang ditukarkan dengan kain Gujarat. Ketika Sultan
Almansoer mulai bersekutu dengan orang-orang Spanyol mendirikan pasar
untuk kepentingan transaki perniagaan. Tidore yang sebelumnya bernama
Tadore pada tahun 1521 yang dipimpin Raja Manzoer mengakui takluk sebagai
bawahan Kerajaan Spanyol. Di tahun sebelumnya Tidore telah menjadi musuh
berbuyutan Ternate yang telah bersekutu dengan Portugis dan telah mereka
izinkan mendirikan benteng di Ternate.

“Raja dan kapten yang telah saling mengukur kemampuan masing-masing
sepakat untuk membuka sebuah pasar di darat sehingga orang-orang Spanyol
dapat berdagang dan membeli (barter) cengkeh. Atas perintah raja, tukang-
tukangnya membangun tempat-tempat berjualan dari bamboo dan atap dari
daun sagu sehingga orang-orang Spanyol dapat bertransaksi. Dari sepotong
kain merah dengan kualitas yang tidak bagus mereka menerima satu bahar
(550 pon) cengkeh; untuk 50 pasang gunting ditukar satu bahar cengkeh;
untuk tiga gong sama dengan satu bahar—gong dan barang dagangan
menarik lainnya merupakan hasil rampasan yang diperoleh Spanyol dari
kapal dagang Cina dalam pelayaran menuju Filipina”.42
Orang-orang Lhontor, Banda Besar dipengaruhi oleh Kesultanan Tidore.
Penduduk Lonthor mempercayai bahwa patasiwa, kelompok sembilan yang
berasal dari Kesultanan Ternate senantiasa membantu mereka dalam perniagaan.
Pedagang Tidore juga membantu saudagar Banda dalam mendapatkan

41  Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz, Op.cit., hlm. 96.
42  Untuk hal ini lihat. Alwi, Op.cit., hlm. 327.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 89

simpanan cengkeh. Barang dagangan cengkeh menjadi simpanan orang Banda
dalam pertukaran dengan saudagar Teluk Persia dan pesisir Arabia pada abad
ke 14.43

Makian

Dalam Hikayat Bacan diceritakan kelahiran kepulauan Maluku yang
sebagian besar meliputi produsen cengkeh yang mengundang negeri-
negeri mancanegara dan nusantara untuk berlayar ke sana. Hikayat Bacan
menyebutkan sejumlah pulau yang sebenarnya merupakan satu jalur perniagaan
di semenanjung Maluku bagian utara.

“Di zaman dahulu kala, Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan bersambung
menjadi satu semenanjung, dan semuanya bernapa Gapi. Di semenanjung ini
terdapat banyak negeri yang dikepalaian masing-masing kepalanya dengan
kekuasaannya sendiri-sendiri. Kepala tiap-tiap negeri itu bergelar Ambasoya.
Maka terdapatlah Ambasoya Kasiruta, Sungebodoi, Indapoat, Lata-lata,
Supae, Mandioli, Topa atau Ombi, Sungai Ra, Salap, dan Samboki…44”
Dari beberapa kepulauan yang disebutkan di atas, Pulau Makian merupakan
produsen cengkeh terbesar dari seluruh kepulauan rempah-rempah. Produksi
puting cengkeh Makian sekitar 1500-1600 bahar per tahun.45 Selain itu, pada
perempat pertama abad ke-16, Makian memiliki pelabuhan terbaik di Maluku.46
Hanya Ternate yang mengirim hasil cengkehnya sendiri. Pedagang Banda
seringkali berlabuh di Makian untuk mendapatkan Cengkeh untuk dibawa
ke Hitu atau Ambon. Di sinilah tempat pertemuan para pedagang asing yang
pergi ke sana dengan menggunakan kapal jung. Cengkeh dari pulau-pulau lain
juga diangkut dari sana. Makian relatif merupakan bawahan Tidore. Pulau itu
juga memproduksi bahan makanan sagu.47

43  Untuk hal ini lihat. Reid. Op.cit. Asia Tenggara, Jilid 2… hlm. 211
44  Dikutip dari, Amal, Op.cit., hlm. 18.
45  Meilink-Roelofsz. Op.cit., hlm. 95.
46  Meilink-Roelofsz. Op.cit., hlm. 96
47  Amal. Op.cit., hlm 19.

90 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Banggai dan Luwu

Banggai dan Luwu dikenal dengan produksi alat-alat pertanian. Peralatan
pertanian yang dibuat oleh pandai besi di Banggai dan Luwu, di pesisir Sulawesi
bagian timur, seperti kapak besi, pedang, dan pisau. Kepandaian orang Banggai
dan Luwu dalam memproduksi alat pertanian sangat dikenal oleh pedagang-
pedagang dari kepulauan lainnya. Orang-orang Banda pada paruh pertama
abad ke-15 dengan proa (kapal kecil) bermuatan 16 hingga 24 ton datang ke
Kepulauan Banggai untuk mendapatkan budak, pisau, dan pedang besi. Barang
dagangan itu ditukarkan oleh orang-orang Banda dengan kain Gujarat, tenun
kasar dan manik-manik.

Sumber besi yang kaya dilapisi dengan nikel juga digunakan untuk
membuat keris, Bahkan keris Majapahit konon berasal dari Sulawesi bagian
tengah. Biji besi laterit yang kandungan besinya mencapai 50 persen dengan
lapisan nikel, yang banyak ditemukan dekat permukaan di tepi Danau Matano
dan di bagian hulu Sungai Kalaena. Besi dari Sulawesi bisa diekspor melalui
Teluk Bone, yang dikuasai kerajaan Luwu, atau melalui pantai timur Sulawesi
yang pada abad ke-16 dan sebelumnya dikuasai oleh kerajaan Banggai. Banggai
dan Luwu disebutkan dalam Negarakertagama sebagai pembayar upeti kepada
Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor besi dan persenjataannya dari
sumber yang sama. “Besi dalam jumlah besar berasal dari luar, dari Kepulauan
Banggai, kapak besi, parang, pedang dan pisau.”48

Di penghujung abad ke-14, pelabuhan-pelabuhan penting di Sulawesi
bagian timur dikuasai oleh Ternate. Banggai hanyalah salah satu di antaranya
dan negara pembayar upeti. Demikian pula, Tobunggu pintu langsung menuju
laut dari Danau Matano. Tobunggu merupakan peleburan besi yang bertetangga
dengan Banggai mengekspor pedang dan lembingnya bukan hanya untuk
pembayaran upeti kepada Ternate, tetapi diperdagangkan ke Makassar dan
seluruh Kepulauan Indonesia bagian timur.49

48  Untuk hal ini lihat. A.C. Kruijt. “Het Ijzer in Midden Celebes,” BKI 53 (1901), hlm. 148-160.
49  Pada pertengahan abad ke-17, “besi Luwu” masih tetap merupakan salah satu ekspor
utama dari Makassar ke Jawa bagian timur. Besi yang lebih murah pada waktu itu sudah mulai hadir dari
Cina dan Eropa, tapi para pembuat keris di Jawa tampaknya lebih menyukai besi Sulawesi yang banyak
mengandung kandungan nikel untuk membuat keris yang berpamor. Untuk hal ini lihat. Reid. Op.cit.
Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga … Jilid I, hlm. 125.

Peta 9. Wilayah Wajib Pajak Kerajaan Majapahit, Termasuk Banggai dan Luwu Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 91

Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Lombard, Nusa Jawa Jilid II

92 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Makassar

Makassar muncul sebagai pelabuhan perdagangan pada paruh pertama
abad ke-16, terdapat dua hal penting kehadiran dari kota niaga tersebut. Pertama,
karena ledakan perdagangan menjadi awal munculnya kota dagang. Makassar
dengan penduduknya ramai mendukung perdagangan baik perniagaan
rempah-rempah maupun perdagangan nonrempah seperti produksi beras dan
kain tenun. Kedua, ditaklukkannya Malaka oleh Portugis pada 1511 dalam
upaya untuk menguasai lalu lintas di Selat Malaka, mendorong perdagangan
mengambil rute alternatif dengan berlayar melintasi Semenanjung atau
melalui pantai Barat Sumatera ke Selat Sunda. Pergeseran ini melahirkan
pelabuhan perantara yang baru atau mendorong pelabuhan perantara di Aceh,
Tenasserim, Ayutthya, Patani, Pahang, Johor, dan Banten, Manila, Makassar,
Brunei, Kamboja, Gampa dan Hoi An.50

Hubungan perdagangan antara Malaka dan Makassar secara tetap
berlangsung pada 1558. Perdagangan itu berkembang dalam bentuk rempah-
rempah, barang-barang beraroma dan bahan-bahan makanan lainnya.
Sementara itu, orang-orang Portugis berhubungan bisnis pula dengan Makassar,
yang setiap tahunnya kapal Portugis berlayar ke Makassar. Mereka membeli
buah pala, fuli dan cengkeh. Rempah-rempah ini dibawa dari Kepulauan Banda
ke Makassar oleh orang Jawa dan Melayu, mungkin juga oleh orang Banda.
Setelah jatuhnya Ambon dan Tidore pada 1605-1607, orang Makassar sendiri
yang berperan aktif dalam perdagangan ini.51

Di Makassar, orang Portugis juga bisa mendapatkan pasokan beras yang
menjadi produk domestik utama. Tempurung penyu yang diperoleh dari
penyu-penyu yang muncul di lepas pantai Sulawesi dibawa dari Makassar ke
Malaka oleh orang Jawa. Juga, Makassar menjadi pasar untuk budak perempuan
dan laki-laki yang dibeli oleh orang-orang Portugis.52 Namun, perdagangan di
pelabuhan utama berada di tangan pedagang Melayu dari Johor, Patani, dan

50  Dengan penaklukkan Malaka oleh Portugis terjadi pergeseran jalur perniagaan. Salah
satunya jalur lada yang sebelumnya melalui Laut Merah, Kairo dan Laut Tengah sampai ke dunia barat,
berangsur-angsur telah digeserkan hingga melalui Tanjung Harapan dengan menguntungkan bangsa
Portugis tetapi merugikan orang-orang Venice. Untuk hal ini Lihat. Lombard. Op.cit. Kerajaan Aceh, hlm.
63.

51  Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz Op.Cit., hlm. 160.
52  Reid. Op.cit. Asia Tenggara….Jilid I, hlm. 127.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 93

tempat-tempat lain di Semenanjung Malaya yang membawa barang-barang
dari wilayah tersebut. Bahkan, kapal datang dari Siam yang membawa barang-
barang Cina untuk Makassar. Para pedagang Portugis dan Melayu bekerja sama
dalam perdagangan antara Makassar dengan Malaka.

Pada abad ke-17 Makassar bangkit sebagai pengekspor pakaian terkemuka
di kepulauan. Proses ini diperkuat oleh berhasilnya Makassar menjadikan
dirinya sebagai titik pusat bagi pedagang rempah-rempah bukan Belanda, yang
menginginkan berlayar ke Maluku dan oleh penaklukkannya atas pusat-pusat
ekspor Sumbawa (1617) serta Selayar. Maluku menjadi pasar yang penting pada
tahap awal ekspansi ekspor ini. Produksi pakaian mereka mencapai reputasi
istimewa akan tenunannya yang halus dan kuat serta warna-warninya yang
cermerlang, terutama pola kotak-kotak yang disenangi oleh kaum muslim.

Komoditas lain yang diperdagangkan di Makassar antara lain beras dan
kain lokal, lada dari Banjarmasin dan Jambi, serta budak. Komunitas Melayu
memiliki andil besar dalam kemajuan pesat perdagangan di Makassar. Armada
Melayu bersama Banda dan Jawa, mendominasi perdagangan rempah dari dan
ke Makassar. Karena serangan Belanda dan beralihnya kegiatan perdagangan ke
pedalaman Jawa di bawah pengaruh Mataram, armada Makassar berkembang
menjadi pelaku utama di jalur ini. 53

Pelabuhan dan Jaringan Perdagangan
di Kawasan Barat Nusantara

Pelabuhan dan Jaringan Perdagangan terpenting di kawasan barat
nusantara adalah Pulau Sumatera dan Jawa. Pulau Sumatera yang berada di
bagian barat Nusantara dan berdekatan dengan Selat Malaka telah menjadi
gerbang atau pintu masuk bagi kapal-kapal asing untuk menuju Nusantara.
Mereka datang dengan tujuan melakukan transaksi perniagaan barang-barang
hasil bumi Nusantara seperti pala, cengkeh, lada, kayumanis, dan berbagai jenis
komoditas utama lainnya yang laku di pasaran. Datang dari negeri-negeri yang

53  Pedagang Bugis pun mulai terlibat dalam perdagangan di kota pelabuhan Makassar. Untuk
hal ini lihat, Christian Pelras. Manusia Bugis. Jakarta: Forum Jakarta-Paris, 2006, hlm. 163

94 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

jauh, para pedagang asal India dan Cina selama berbulan-bulan mengarungi
samudra untuk mengangkut komoditas penting dari Nusantara. Aktivitas
pelayaran dan perniagaan antarbangsa ini melibatkan jumlah orang dalam
skala besar baik penduduk lokal maupun asing. Seiring dengan aktivitas niaga
antarbangsa ini, kota dan pelabuhan di sepanjang jalur yang mereka lewati
tumbuh dan berkembang, misalnya Aceh, Barus, Riau, Jambi, Palembang,
hingga Banten dan kota-kota pantai utara Jawa, serta bagian tengah dan timur
wilayah Nusantara.

Peranan penting di kawasan barat nusantara di Pulau Sumatera, setidaknya
telah ditunjukan oleh keberadaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 hingga
ke-11. Wilayah Sriwijaya meliputi semua pelabuhan dari utara Sumatera
dan sebagian pelabuhan di Semenanjung Malaya. Kerajaan ini menguasai
jalur pelayaran kedua pesisir yang mengapit Selat Malaka. Semua kapal yang
melewati wilayah kekuasaan Sriwijaya dipaksa singgah oleh armada negerinya.
Kawasan “Laut Tengah di Asia Tenggara” ini yang berada di bawah pengaruh
Sriwijaya memiliki aturan dan sistem pengelelolaannya. Laut dalam konteks
ini yang dideskripsikan merupakan wilayah dan pelabuhan −dengan susunan
pulau-pulau yang memiliki garis pantai−adalah perbatasannya yang selalu
mempunyai suatu daerah di hulu. Kepadatan lalulintas pelayaran dan perniagaan
menjadikan laut ini sebagai suatu kesatuan dan pentingnya integrasi jaringan
pelayaran dan perniagaan dunia di kawasan tersebut.54 Sedangkan di Jawa sejak
awal-awal masehi jaringan koneksitas dan perdagangan antar pulau nusantara
sudah terbentuk sejak munculnya kerajaan Mataram Kuno masa Hindu dan
Buddha di Jawa Tengah dan berlanjut hingga masa kejayaan Majapahit yang
berpusat di Jawa Timur serta pada masa munculnya Kerajaan bercorak Islam
di Jawa Tengah.



Jambi

Peninggalan-peninggalan penting di masa lampau yang menunjukkan
adanya suatu peradaban atau aktivitas perniagaan antara Jambi dengan wilayah
lain di nusantara dan luar nusantara diketahui dari sumber-sumber Cina dan

54  Lihat Claude Guillot (ed). Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
École française d’Extrême Orient, Pusat Arkeologi Nasional, 2014, hlm 109-110.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 95

tinggalan arkeologi, utamanya yang ditemukan di aliran Batang Hari. Berbagai
keramik asal Cina dari masa dinasti Sung, Yuan, Ming, Cing banyak ditemukan
di sungai tersebut. Di Muara Sabak, salah satu lokasi dalam aliran Batang Hari,
ditemukan pula wadah dari gelas atau kaca yang berasal dari Timur Tengah.
Sementara penggalian arkeologi di Situs Muarajambi ditemukan pula manik-
manik yang terbuat dari kaca, batu, terakota yang diperkirakan berasal dari
abad ke-10 hingga ke-13 M.

Gambar 3.3 Muara Zabak (Sabak) saat ini.

Sumber: Dokumentasi Direktorat Sejarah, 2017

Secara geografis, Muara Zabak yang sekarang terletak di pantai timur
Sumatera dan menjadi saluran niaga dengan dunia luar hingga ke Selat Malaka
merupakan pula lintasan bagi kapal-kapal berbagai bangsa. Pentingnya Batang
Hari dalam pelayaran dan perniagaan terus berlangsung hingga ke masa
VOC menancapkan pengaruhnya di wilayah Jambi pada abad ke-17. Kantor

96 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

dagang Belanda itu pada abad ke-17 membangun loji atau kantor dagangnya
di sekitar Muara Kumpeh, yang masih termasuk dalam aliran Batang Hari,
untuk melakukan pembelian lada dan komoditas lain dari Jambi, serta untuk
mengontrol aktivitas perdagangan perantara yang dikuasai oleh pedagang
Tionghoa.55 Pentingnya jalur sungai dan laut yang menghubungkan Jambi atau
Sumatera dengan dunia luar dalam pelayaran dan perniagaan internasional itu
setidaknya menunjukkan bahwa sungai dan laut di Nusantara sangat penting
dalam menghubungkan pusat-pusat produksi rempah dan hasil bumi lainnya
dari tanah air dengan pasar internasional. Hubungan niaga dalam ruang sosial
pantai timur Sumatera ini menempatkan wilayah pantai timur sebagai jalur
penting dalam perniagaan di Nusantara. Kapal-kapal dalam hal ini menjadi
bagian penting dalam seluruh rantai perniagaan yang berlangsung sejak abad
ke-10 hingga ke-16. Malaka kota di sisi barat Selat Malaka dikenal sebagai salah
satu tempat penjualan kapal-kapal atau jung. Para pedagang membeli jung di
kota itu dari pedagang lain yang tiba di Malaka untuk berdagang.56

Jambi yang disebut Tome Pires dikelilingi oleh sungai besar dan indah
dalam dunia perniagaan dikenal luas sebagai penghasil lada. Lada asal Jambi
dibutuhkan dan diperjual-belikan di berbagai tempat di Nusantara. Di masa
pemerintahan Adityawarman pada pertengahan abad ke-14, lada Kerinci
menjadi komoditas unggulan dari wilayah Jambi. Komoditas ini berasal dari
perkebunan di Kerinci dan lada Kerinci sangat dikenal dalam perniagaan
rempah-rempah. Selain lada, hasil hutan Jambi seperti kayu gaharu dan hasil
tambang berupa emas menjadi penghasilan penting dari wilayah ini. Hingga
pertengahan abad ke-16 misalnya, Jambi dikenal sebagai salah satu penghasil
lada terbaik. Lada asal Jambi tersebut menjadi tujuan para saudagar asing
terutama Portugis untuk datang membelinya pada abad ke-16 setelah Banten
mulai meredup pamornya dalam perdagangan lada di kawasan barat Nusantara.

Selain lada, tekstil adalah barang dagangan lain yang utama dalam
perniagaan Jambi. Bahan sandang ini sebagian besar dijual oleh para pedagang
Portugis saat mereka melakukan transaksi pembelian lada dan hasil bumi dari
Jambi. Dalam perniagaan tekstil dan juga komoditas lainnya, sungai-sungai di

55  Lihat Meilink-Roeloefsz. Op.cit. Asian Trade and European Influence…, hlm 259; Uka
Tjandrasasmita. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, École française
d’Extrême Orient, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, 2009, hlm 178-79.

56  Lihat Pires. Op.cit. Suma Oriental…, hlm 145.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 97

wilayah Jambi berperan untuk mengangkut barang-barang dagangan ini dari
hulu ke hilir sebelum diangkut oleh kapal-kapal asing menuju Malaka atau
negeri-negeri lainnya di Eropa atau Cina. Lada yang dihasilkan dari wilayah
hulu Jambi juga dipertukarkan dengan komoditas lain seperti garam yang
diperoleh dari wilayah hilir. Perniagaan di kawasan tengah Sumatera ini dengan
sungai sebagai penghubung antara hulu dengan hilir terus berlanjut hingga
kini, meskipun dari segi kualitas dan juga kuantitasnya berkurang karena
berbagai faktor antara lain sedimentasi dan berkembangnya transportasi
darat. Di era kejayaan lada Jambi hingga abad ke-16 misalnya, puluhan kapal
berbagai bangsa terutama Portugis dan Cina sibuk melakukan bongkar-muat
lada, damar, berbagai kayu dan hasil tambang di pelabuhan Jambi.

Dalam catatan Pires, Jambi mempunyai banyak lanchara, suatu jenis
kapal, untuk membawa komoditas-komoditas di wilayah ini menuju berbagai
pelabuhan di Nusantara, Malaka, juga ke Eropa, India dan Cina. Lanchara dan
jung misalnya mampu mengangkut muatan hingga mencapai sekitar 150 ton.
Kapal-kapal jenis ini merupakan alat angkut utama berbagai barang dagangan
dari wilayah asal menuju berbagai tempat tujuan. Perniagaan dengan Malaka
sebagai salah satu tujuan utama perniagaan lada Jambi dilakukan sepanjang
tahun.57 Namun, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511 dan
Portugis memonopoli perdagangan, Jambi juga Brunei diuntungkan atas
kemunduran pusat perniagaan di kawasan Asia Tenggara ini. Jambi mengambil
peran sebagai pelaku penting perniagaan di kawasan pantai timur Sumatera
pasca kemunduruan Malaka di abad ke-16. Pada masa itu, Aceh dan Banten
menduduki posisi penting dalam perniagaan di kawasan Malaka dan bagian
barat Nusantara sekaligus menjadi pesaing Portugis. Setelah Malaka berada
dalam genggaman Portugis, arus perniagaan juga menempatkan pesisir barat
Sumatera dan Selat Sunda sebagai jalur yang cukup hidup dan ramai dengan
aktivitas perniagaan.58

Jambi dengan lada sebagai komoditas utama dalam perniagaan
sesungguhnya menjadikan wilayah pesisir ini sebagai bagian penting dalam
mata rantai perniagaan Nusantara dengan dunia luar. Perniagaan lada Jambi
setidaknya membentuk “jalur lada” dengan pasar tersendiri baik di bagian pantai

57  Lihat Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm 154; Lapian, Op.cit., hlm 49.
58  Lihat Lapian. Ibid. Pelayaran dan Perniagaan, hlm 43, 49.

98 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

timur maupun Jawa yang terbentuk seiring berkembangnya jalur rempah yang
telah berjalan sejak lama. Jalur lada bukan hanya menghubungkan Jambi dengan
Semenanjung Malaya dan kawasan Indo Cina, tetapi juga menghubungkan
Jambi dengan kota-kota dagang utama di Jawa seperti Jepara, Lasem dan kota-
kota di sekitar pantai utara Jawa dan Jawa Timur seperti Gresik dan Jaratan.
Di Jepara misalnya, lada Jambi ditukar dengan sutra, porselin, dan belanga
besi dari Cina. Pertukaran barang dagangan ini berlangsung di sepanjang abad
ke-15 dan abad ke-16. Perdagangan lada juga terjadi antara Jepara dengan
Palembang dan Indragiri. Kapal-kapal dari Semenanjung Malaya dan Patani
(Thailand) yang mengangkut lada dari Jambi ini disebutkan menjadi bagian
dalam jejaring perniagaan lada Sumatera dengan Jepara. Posisi penting lada
dalam dunia perdagangan sebagai komoditas utama yang diperjualbelikan
kemudian menjadikan barang dagangan ini ditetapkan sebagai standar mediun
dalam perniagaan pada tahun 1603.59

Lada sebagai komoditas ekspor utama ternyata menarik bagi saudagar-
saudagar datang ke Jambi untuk melakukan pertukaran dan perniagaan. Kapal-
kapal asing sepanjang tahun berlayar menuju Jambi, Pasai, Pidie, Palembang,
Lampung, dan kota-kota di sepanjang pesisir barat Sumatera (Barus, Tiku,
Pariaman), juga Banten dan Sunda Kalapa untuk melakukan pertukaran
lada dengan berbagai komoditas penting. Pasai misalnya menghasilkan lada
sebanyak 8-10 ribu bahar per tahun. Saat panen jumlah lada bisa mencapai
15 ribu bahar.60 Pesisir barat Sumatera juga melakukan ekspor lada beserta
emas, kelembak, kapur Barus, kemenyan, sutra, damar, madu, bahan makanan.
Barang-barang tersebut diekspor ke Malaka atau pedagang Gujarat datang
langsung ke pusat produksi lalu menjualnya kembali di negerinya. Sementara
itu, sesudah abad ke-9 misalnya, kapal-kapal Cina hanya sampai pesisir barat
India karena barang-barang yang dibutuhkan dalam perdagangan selalu
tersedia di wilayah ini. Tempat lain di sekitar pantai timur Sumatera seperti
Bangka juga mengekspor barang-barang yang dihasilkannya berupa bahan
makanan, hasil hutan, katun, dan besi.61

Lada telah menempatkan Jambi sebagai pusat perniagaan penting di

59  Lihat Lapian. Ibid. Pelayaran dan Perniagaan, hlm 50-51.
60  Lihat Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence, hlm 89.
61  Lihat Lapian. Ibid. Pelayaran dan Perniagaan, hlm 85.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 99

kawasan pantai timur Sumatera. Kota ini juga menjadi tempat tujuan lada asal
wilayah hulu di Minangkabau. Dalam perniagaan, untuk memasukkan barang
sandang, Jambi tidak memungut bea impor, tetapi untuk ekspor lada dipungut
10 persen. Bea ekspor ini diperuntukkan sebagian untuk raja tua dan raja
muda. Raja tua menerima 10 persen dari pungutan ini terhadap pedagang asal
Belanda, Inggris, dan Cina. Lalu Raja muda menerima 10 persen dari pedagang
Jawa dan Melayu sedangkan orang kaya menerima 90 persen.62 Jumlah terbesar
dari pungutan itu yang diterima oleh orang kaya menjadikan mereka mampu
menanamkan modalnya dalam usaha pelayaran dan perniagaan. Orang kaya
dalam struktur sosial masyarakat Sumatera misalnya bukanlah saudagar dalam
arti yang sesungguhnya. Mereka berdagang dalam bentuk commenda yakni
menyerahkan barang dagangan kepada orang lain untuk diperdagangkan atau
hanya memberikan sejumlah uang sebagai modal.63

Aspek lain dari perniagaan hingga abad ke-16 yang punya nilai penting
karena menjadi satu kesatuan di dalamnya yaitu perdagangan budak. Budak
yang diperdagangkan kemudian dipekerjakan di istana raja, rumah bangsawan
ataupun orang kaya. Budak-budak ini juga dipekerjakan di berbagai pelabuhan
sebagai pengangkut barang atau melakukan pekerjaan berat lainnya, dan
sebagai pendayung kapal terutama kapal-kapal perang. Palembang menjadi
pengekspor budak ke Malaka, bersamaan dengan pengapalan komoditas seperti
beras, bawang putih dan bawang merah, daging, arak, rotan, madu, damar,
katun, emas, dan besi. Pelabuhan lain yang juga penting dalam perdagangan
budak ini adalah Pelabuhan Sunda Kalapa. Pelabuhan ini menjadi pelabuhan
impor sekaligus ekspor bagi budak-budak yang diperdagangkan.64

Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, seiring monopoli Malaka oleh
Portugis, mereka mulai aktif berdagang dan mengunjungi berbagai pelabuhan
di Sumatera dengan menggunakan kapal-kapal kecil. Tujuannya adalah agar
kapal-kapal itu dapat menjangkau pusat-pusat produksi langsung hingga
mendekati hulu. Jambi kala itu masih menjadi pusat perdagangan dan lada
menjadi barang dagangan utamanya. Dalam hal produksi lada, Jambi mampu
mengekspor lada sebanyak 40-50 ribu bag/kantong (1 bag setara 50 pon) lada

62  Lihat Lapian. Ibid. Pelayaran dan Perniagaan, hlm 118-19.
63  Lihat Lapian. Ibid. Pelayaran dan Perniagaan, hlm 65.
64  Lihat Lapian. Ibid. Pelayaran dan Perniagaan, hlm 86.

100 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

ke Malaka. Lada-lada asal Jambi ini kemudian dibawa oleh para pedagang
Portugis maupun Cina dari Malaka menuju berbagai tempat tujuan atau
langsung ke negeri masing-masing. Saudagar-saudagar Jawa juga diketahui
membeli lada di Jambi lalu menjualnya kembali kepada para pedagang Cina
di pelabuhan-pelabuhan yang terletak di Jawa. Pelabuhan Jepara misalnya
menjadi mata rantai penting dalam perniagaan lada ini sebelum dilakukan
pertukaran dengan komoditas-komoditas lain asal Jawa. Dalam perniagaan lada
yang melibatkan Portugis, mereka pergi membawa kain ke Jambi dan barang
dagangan yang populer lainnya lalu pulang dengan membawa lada berton-ton
beratnya. Dalam perniagaan ini, tidak ada pungutan berupa bea impor untuk
kain tapi pungutan berlaku untuk ekspor lada yang ditarik sebesar 10 persen.
Peran penting dalam perdagangan lada Jambi ini dipegang oleh para pedagang
Tionghoa yang bertindak sebagai pedagang perantara. Mereka menukarkannya
dengan kain, garam dan barang-barang lainnya. Pada awal abad ke-17 misalnya
atas dorongan dari pedagang-pedagang Cina dan Portugis terjadi kesepakatan
untuk mengekspor lada melalui Jambi. Dalam aktivitas perniagaan ini Portugis
menerima dua keuntungan sekaligus yaitu mendapatkan barang-barang
yang dibawa oleh para pedagang Cina dan sekaligus juga lada asal Jambi.
Para pedagang Cina ini membawa lada dengan jung untuk kemudian dijual
di pelabuhan-pelabuhan di Cina, sedangkan Portugis membawa lada untuk
perniagaan mereka dengan Timor di bagian tengah wilayah Nusantara.65

Hingga kedatangan Belanda ke Nusantara, pelabuhan terpenting untuk
lada adalah Banten. Tetapi para saudagar masih dapat membelinya di Jambi,
Palembang, dan kota-kota lain di sepanjang pantai timur Sumatera. Di kota-
kota pesisir itu harga lada lebih rendah daripada harga di Banten. Sebagai
pelabuhan lada, Jambi tidak hanya dikunjungi oleh jung-jung asal Cina tetapi
juga kapal-kapal saudagar Jawa, Siam, Patani, dan Malaka.66 Hal ini setidaknya
memperlihatkan bahwa Jambi menduduki posisi penting di mata saudagar-
saudagar asing dalam rantai perniagaan lada. Komoditas lada, seperti halnya
pala dan cengkeh untuk bagian timur Nusantara, menjadi daya tarik para
pedagang dari berbagai negeri untuk datang langsung ke Jambi dan bagian
timur Nusantara untuk melakukan transaksi niaga dan pertukaran barang.

65  Lihat Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence, hlm 146.
66  Lihat Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence, hlm 258.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 101

Sebelum Portugis dan juga Belanda menguasai Malaka atau beberapa wilayah
di Nusantara, peran saudagar-saudagar Nusantara dalam perniagaan tetap
penting. Mereka menjadi mitra dagang yang setara saat bertransaksi berbagai
kebutuhan akan barang dagangan atau komoditas utama yang sangat laku dan
dibutuhkan pasar waktu itu. Lada, pala, cengkeh, emas, kapur Barus, madu, dan
berbagai jenis kayu adalah beberapa di antara komoditas penting dalam dunia
perdagangan Nusantara. Peran inilah juga keuntungan yang bisa diraih dari
hasil penjualan lada, rempah, dan komoditas lainnya yang menjadi daya tarik
dan incaran pedagang asing untuk datang dan menguasai Nusantara melalui
jalan perniagaan rempah di tanah air. Mereka ingin menguasai langsung pusat-
pusat produksi dan juga jalur dan pintu masuk komoditas-komoditas itu. Cara
kekerasan misalnya terpaksa juga harus dipilih seperti dilakukan Belanda
atas rakyat Banda untuk mengendalikan dan mengontrol tata niaga pala pada
tahun 1620-1623. Pala di satu sisi sangat menguntungkan, tetapi di sisi lain bisa
membawa bahaya dan penderitaan penduduk.67

Tentang arti pentingnya lada Jambi dalam perniagaan global juga tampak
sejak tanaman ini mulai memasuki masa panen atau bahkan sebelum musim
panen tiba. Pada 1616 misalnya dikabarkan bahwa ada tiga jung Cina yang
berlabuh, padahal waktu itu lada belum memasuki musim panen, tetapi kapal-
kapal ini mampu mengangkut 11 ribu kantung lada. Dalam hitungan Belanda,
saat panen lada saja bisa mencapai 1200 ton (setara 25-30 ribu kantung). Pada
1623 yakni saat panen mencapai puncaknya misalnya, lada Minangkabau yang
diekspor melalui Jambi bisa mencapai sebanyak 50 ribu kantung. Pedagang
Cina dalam hal ini dengan sedikit menekan menyatakan bahwa jika raja tidak
mendukung impor lada, maka saudagar-saudagar ini akan datang ke Jambi
dengan membawa 6-7 jung. Dengan jumlah jung sebanyak ini, maka seluruh
lada Jambi akan mereka beli sekaligus. Sebagai tawaran untuk melepaskan lada
ke tangan para pedagang Cina ini, mereka menjanjikan untuk mendatangkan
beberapa orang Tionghoa yang pandai dalam pembuatan senjata/meriam.68
Tawaran dan daya pikat agar lada dijual kepada para pedagang Cina ini menjadi
bagian tak terpisahkan dalam negosiasi perniagaan lada Jambi pada abad ke-16
dan abad ke-17.

67  Lihat Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga … Jilid 2, hlm 345.
68  Lihat Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence, hlm 258.

102 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Dalam perniagaan lada Jambi, sebagaimana disebut di atas misalnya,
pedagang Tionghoa memainkan peran penting sebagai pedagang perantara
yang mampu menjangkau hingga ke pusat-pusat produksi lada di wilayah hulu,
juga menguasai jalur perdagangan lada ini di tingkat lokal Jambi. Para pedagang
Tionghoa membeli lada dan menukarkannya dengan tekstil kemudian menjual
lada ke negeri Cina melalui jung-jung yang datang ke pelabuhan Jambi. Salah
seorang pedagang Tionghoa yang sangat dikenal sebagai pelaku perniagaan
lada Jambi adalah Ketjil Japon atau dikenal pula sebagai Orang Kaya Sierra
Lela. Ketjil Japon bersama raja muda Jambi adalah pengekspor lada dari wilayah
Jambi. Lada Jambi dibawa melalui sungai dari hulu menuju hilir atau pelabuhan
Jambi melalui kapal-kapal kecil yang jumlahnya mencapai 100 hingga 150 kapal
dengan muatan lada sekitar 150 pikul. Lada asal Jambi ini salah satu tempat
tujuan penjualannya adalah pelabuhan Jepara, dan dari Jepara kemudian
diangkut beras dan garam menuju Jambi. Dalam hal ini, Jepara juga menarik
minat para pedagang Cina untuk datang dan melakukan transaksi bisnis
pembelian lada karena pertukaran antarkomoditas utama dalam perniagaan
terjadi di kota ini. Inilah alasan mengapa posisi Jepara menjadi penting sebagai
titik pertemuan antarsaudagar berbagai bangsa, tak terkecuali para pedagang
Cina itu.69

Pada abad ke-16 dan abad ke-17 misalnya, lada menempati peringkat
penting komoditas yang diekspor dari kawasan Asia Tenggara. Pada abad
ke-16, Sumatera menjadi pemasok kebutuhan lada untuk Eropa dan Laut
Tengah, yang sebelumnya juga dipasok dari India.70 Sekitar tahun 1600,
Sumatera, Semenanjung Malaya dan bagian barat Jawa (Banten) seluruhnya
menghasilkan 4.500 ton lada. Banten sebagai produsen lada di bagian barat
Jawa menghasilkan rata-rata sekitar 2000 ton lada per tahun. Selain di Jambi
dan juga Banten, lada juga ditanam di Semenanjung Malaya (Kedah, Patani,
Songkha, Pahang), juga Banjarmasin. Seluruh produksi lada itu mencapai 6000
ton pada 1630 dan mencapai lebih dari 8000 ton pada 1670. Pada pertengahan
abad ke-17, Belanda dan Inggris membeli lada asal India dalam jumlah kecil
karena lada asal Indonesia lebih murah dan berlimpah di pasaran.71

69  Lihat Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence, hlm 259 dan 288.
70  Lihat Reid. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga … Jilid 2, hlm 4-5, 10, 12.
71  Lihat Reid. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga … Jilid 2, hlm 13-14.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 103

Pada pertengahan abad ke-17 harga lada jatuh di pasaran Asia Tenggara
dan hal ini juga berdampak terhadap komoditas lain seperti penjualan
tekstil asal India. Era keemasan lada sebagai komoditas ekspor menjelang
abad ke-17 hampir berakhir seiring jatuhnya harga di pasaran internasional,
diperkenalkannya tebu sebagai tanaman ekspor, dan kembalinya pertanian
sebagai lahan garapan baru bagi penduduk. Lada di sisi lain juga dipandang
sebagai sumber konflik antara Belanda dan Inggris di wilayah Banten, dan
karena itulah pada 1620 pemusnahan atau pencabutan tanaman lada menjadi
suatu pilihan di Banten dan mengganti tanaman ekspor ini dengan padi.
Menjelang akhir abad ke-17 keinginan untuk mengakhiri tanaman lada karena
berbagai sebab sebagai komoditas utama di pasar dunia hingga abad ke-16
menjadi kenyataan. Naiknya kekuasaan Belanda dengan hak monopolinya
turut memberi andil pahit dan matinya lada dalam perniagaan. Jalan lada
berbagai kapal Nusantara dan asing yang ramai dan berjaya sejak abad ke-13
ini saat menyusuri pantai timur Sumatera lalu Selat Malaka, dilanjutkan ke
India hingga Laut Merah, Mesir, dan Laut Tengah sebelum sampai ke Eropa
berangsur-angsur mulai bergeser, meredup dan mati. Hikayat Banjar secara
tegas mengeluhkan kehancuran lada sebagai komoditas utama Nusantara
ini sekaligus memberi penekanan pada aktivitas baru yaitu penanaman padi
–sesungguhnya termasuk pula tanaman tebu seperti dilakukan di Banten.
Hikayat ini juga menggaris bawahi sisi buruk perniagaan lada dan akumulasi
yang dikumpulkan dari tata niaga lada. Pahitnya lada dalam konteks perniagaan
di masa lampau di seluruh perairan Nusantara tercermin dalam butir-butir
paragraf hikayat berikut ini:

Biarkan tak seorang pun di negeri ini menanam lada, sebagaimana hal itu tak
dilakukan di Jambi dan Palembang. Mungkin negeri-negeri ini menanamnya
demi uang agar bisa merengkuh kekayaan. Tak diragukan lagi bahwa mereka
akan tiba pada saat keruntuhannya. Yang didapat hanya perseteruan dan
bahan pangan akan menjadi mahal. Peraturan-peraturan akan berada dalam
kekacauan karena orang di kota raja tidak akan dihormati oleh penduduk
pedesaan; pengawal-pengawal raja tidak akan ditakuti oleh orang pedesaan….
Jika lebih banyak (lada yang melebihi kebutuhan rumah tangga) ditanam,
demi menggapai uang, bencanalah yang akan menyelimuti negeri… Perintah
dari kerajaan akan diabaikan karena orang-orang akan berani menentang
raja.72

72  Lihat Reid. Opcit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga … Jilid 2, hlm 347; lihat pula Claude

104 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Malaka

Pelabuhan Malaka pada awalnya adalah tempat untuk mengambil air bersih
bagi kapal yang melintas di Selat Malaka. Pelabuhan Malaka terletak di sebelah
tenggara Sungai Malaka. Bandar Malaka berdiri sekitar tahun-tahun awal abad
ke-15 terkait dengan Penguasa Malaka. Mereka mempunyai perasaan sebagai
penerus Sriwijaya. Penguasa pelabuhan Malaka berupaya untuk mengawasi
kedua sisi selat.

Pada akhir abad ke-14 dan memasuki awal abad ke-15 produksi cengkeh
Maluku yang meliputi cengkeh dan pala, harus menempuh jalan bertahap-
tahap yang memakan waktu lebih lama untuk tiba di pasar Eropa. Produksi
cengkeh terlebih dahulu diangkut dari Maluku Utara ke Hitu dan Banda. Dari
dua pelabuhan itu, dialih muat ke kawasan barat nusantara, yakni ke pelabuhan-
pelabuhan pesisir Jawa, pantai timur Sumatera dan Selat Malaka. Pada abad ke-
15, pelabuhan Malaka berhasil menjadi pusat utama lalu lintas pernigaan dan
pelayaran rempah-rempah. Hasil hutan dan rempah-rempah dibawa langsung
dari Malaka ke India, terutama ke pelabuhan Surat dan Hormuz di tanah
Gujarat. Ketika itu, Gujarat telah mempunyai relasi perdagangan yang baik
dengan Malaka. Ditambah pula, Gujarat menjadi mata rantai penting dalam
perdagangan rempah-rempah di India.73 Pada waktu itu penghuni Malaka
selain penduduk Melayu, juga yang terbesar adalah orang Gujarat pada abad
ke-15. Pedagang Gujarat yang menghuni Malaka, menurut catatan Pires telah
mencapai 1000 orang, kebanyakan dari mereka membawa barangdagangan
kain pakaian ke sana. Selain itu, seluruh distribusi rempah-rempah untuk India
dan Eropa dikendalikan mereka dari pelabuhan Malaka. 74

Tahun 1511, Portugis menduduki Malaka, pada waktu yang sama
menguasai pelayaran di selatnya. Situasi ini membuat pelayaran perniagaan
menjadi menegangkan sebagaimana digambarkan oleh Pires dengan bangga
dalam catatannya di Suma Oriental.

Guillot. Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, École
française d’Extrême Orient, Forum Jakarta-Paris, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi
Nasional, 2008, hlm 183-85.

73  Meilink-Roelofsz, Op.cit., hlm. 102.
74  Meilink-Roelofsz. Ibid., hlm. 103.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 105

“Barangsiapa menguasai Malaka bisa mencekik Venesia. Sejauh Malaka, dan
dari Malaka ke Cina dan dari Cina ke Maluku, dan dari Maluku ke Jawa,
dan dari Jawa ke Malaka dan Sumatera, semuanya sudah dalam kekuasaan
kami.”75
Setiap tahun di musim angin barat para pedagang berkumpul di bandar
Malaka. Mereka singgah berminggu-minggu di Malaka, seperti pedagang Cina,
Gujarat, Persia, Koromandel, Benggala, Filipina, Jawa dan Banda. Pedagang
Cina sebelum berdirinya bandar Malaka, mereka berlayar ke arah timur pesisir
Jawa untuk mendapatkan rempah-rempah. Pedagang Cina itu jarang berlayar
sampai di pelabuhan Kepulauan rempah-rempah, tetapi mereka pernah singgah
di pelabuhan Banda, bahkan menetap di Naira. Setelah ada pelabuhan Malaka
pedagang Cina lebih baik menunggu di Malaka kehadiran pedagang Banda
atau saudagar perantara dari Jawa dan Malaka. Pedagang Cina mempunyai
kalkulasi biaya yang tinggi, jika mereka berlayar ke Banda atau Maluku untuk
mendapatkan rempah-rempah.

Pantai Utara Pulau Jawa

Awal terbentuknya jaringan perdagangan Jawa secara bertahap sudah
ada sejak awal masehi dan mencapai kemajuannya setelah secara intensif
berhubungan dengan masuknya pengaruh ajaran Hindu dan Buddha yang
berasal dari India. Di bidang perdagangan sendiri hubungan orang-orang Jawa
dengan para pedagang dari luar nusantara pada periode awal masehi dapat
diketahui beberapa prasasti yang berasal dari abad ke-9 M.

Prasasti Kui bertahun 840 M berasal dari Jawa Timur menjelaskan negeri
asal sekelompok “pelayan” (warggedalem), Campa (Cempa), Kalingga (kling),
India Utara (hanaya), Srilanka (singha), Bengali (gola), negeri Tamil (cwalika),
Malayalam (malayala), Karnataka (karnake), Pegu (reman) dan Kamboja
(kmir). Dari uraian antarbangsa itu telah menunjukkan sudah berlangsung
pergaulan antarbangsa sebelum penyebaran agama Islam secara meluas.76

75  Pires. Op.cit., Suma Oriental, hlm. 287.
76  Untuk pembahasan prasasti Kui yang berkaitan dengan perniagaan di Jawa.., Lombard.
Op.cit. Nusa Jawa…. hlm. 17-18.

106 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Dalam prasasti-prasasti yang lebih muda seperti Taji 901 M, Kaladi, 909 M,
dan Palebuhan 927 M semuanya dari periode Jawa Timur, menyebut langsung
para pedagang (banjaga) yang berasal dari India Utara (arya) atau selatan
(kling, pandikidya, pandikita), dari Srilanka (singhala) atau Pegu (ramman).
Juga hal yang menonjol dalam prasasti-prasasti itu menyebutkan orang-orang
itu bertugas sebagai kilala atau kilalan, artinya sebagai pemungut pajak.77
Dalam prasasti Kaladi dengan gamblang dibicarakan tentang pemungutan
pajak bangsa kling, arya dan singhala. Prasasti-prasasti itu telah menguraikan
hal yang menarik tentang hubungan antara pedagang asing dan petugas pajak
raja. Pada abad ke-11, terutama di bawah pemerintahan raja Airlangga, ketika
pusat kegiatan kerajaan telah beralih ke periode ke Jawa Timur, pedagang asing
semakin banyak disebut dalam beberapa prasasti.78

Dalam prasasti Ulang Air I atau dikenal “prasasti Candi Perot menguraikan
sebuah kelompok yang meliputi para pedagang Jawa atau asing telah mendirikan
tempat pemujaan sendiri pada pertengahan abad ke-9 di dekat Candi Perot,
di dekat Temanggung (Karesidenan Kedu). Temuan ini juga menunjukkan
adanya kelompok pedagang pada masa itu.79

Sementara itu, pedagang Jawa pada abad ke-9 dan ke-10, tidak hanya
mempunyai hubungan perniagaan tekstil India, atau keramik Siam dan gading
dari Cina, akan tetapi mereka terlibat dalam perdagangan budak hitam.
Pembuktian terhadap perdagangan budak Afrika itu ditemukan istilah jenggi
dalam daftar abdi-abdi di prasasti perunggu Jawa kuno dari tahun 960 M yang
ditemukan di Jawa Timur. Selain itu, ditemukan istilah “budak senggi” di antara
pemberian yang dipersembahkan oleh He-ling (Walaing) kepada kekaisaran
Cina pada 813 M. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebagian dari budak Zanggi
yang diperoleh di pantai-pantai Afrika dikirim ke Jawa, dan bahkan ada yang
dikirim dari sana sampai ke Cina.80

Interaksi orang-orang Jawa dengan sesama penghuni kepulauan nusantara,
yakni dengan penduduk Sumbawa dan Bali. Orang-orang Jawa berdagang

77  Lombard. Ibid. Nusa Jawa…. Jilid 2, hlm. 20.
78  Lombard. Ibid. Nusa Jawa…. Jilid 2, hlm. 21.
79 Untuk hal ini lihat. Munoz. Op.cit. Early Kingdoms. Indonesian Archipelago & Malay
Peninsula. (Singapore: Didier Millet Pte Ltd, 2006), hlm 230.
80  Nama orang si janggi juga muncul dalam prasasti Lintakan dari perunggu tahun 919 M.
Lihat. Lombard. Op.cit., hlm 20.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 107

ke Sumbawa dan Bali dengan membawa beras, lada dan tanaman pertanian
lainnya yang ditukarkan dengan kain tenun kasar.81 Sumbawa dan Bali pada
waktu itu merupakan tempat persinggahan yang bagus untuk para pedagang
jarak jauh. Karena kedua tempat itu mempunyai sumber air bersih yang baik
dan melimpah. Ditambah pula, Sumbawa penghasil kayu cendana dan secang.82
Kayu cendana merupakan sumber wangi aromatik yang banyak digemari oleh
pedagang Arab, Persia, Cina dan India, sedangkan secang minuman penyegar
dan dapat meningkatkan energi tubuh.

Dalam periode karajaan-kerajaan yang berpusat di wilayah Jawa Timur,
beberapa sumber menyebut istilah banjaga (pedagang asing). Banjaga ini
dapat melakukan perdagangan ke pedesaan Jawa, setelah menyelesaikan
administrasi niaga di pelabuhan.83 Para pedagang asing itu oleh aturan kerajaan
diberikan tanggung jawab ruang sosial. Artinya, pedagang asing tersebut dapat
berinteraksi dengan pedagang di hulu sungai wilayah pedesaan. Juga, setelah
mereka melakukan transaksi di hulu sungai, mereka dapatkan interaksi dengan
pedagang penjaja di hiliran. Para Banjaga (pedagang asing) yang kembali ke
pelabuhan memakai standarisasi ukuran dan berat untuk menjamin kualitas
barang dagangan mereka dan keadilan dalam praktek bisnis, sehingga secara
langsung dilibatkan dalam perdagangan hulu sungai. Saling keterhubungan
ini untuk mencapai penyelesaian didasarkan pada kesetaraan niaga hulu-hilir
dengan pelabuhan didasarkan pada pertukaran yang dapat memperkuat daya
tarik pelabuhan dan produktivitas yang saling menguntungkan pedagang, raja,
dan pelaku-pelaku perniagaan di hulu sungai.

Pada abad ke-11 hingga ke-13 perniagaan menjadi sibuk di jalur laut
Samudra Hindia dengan laut Kepulauan Nusantara. Seiring dengan itu
pedagang-pedagang Jawa hilir mudik berniaga antara timur dan barat.84 Pada

81  Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade…., hlm 101.
82  Meilink-Roelofsz. Ibid., hlm 100.
83  Istilah Banjaga dipergunakan pada jaringan perniagaan di pelabuhan pesisir utara Jawa
sekitar abad ke-10 dan ke-11. Lihat Hall. Op.cit. “Indonesia’s Evolving…”, hlm 15-31.
84  Pra abad ke-15 lingkaran perdagangan laut dalam maritim Asia Tenggara merupakan
perhatian yang lebih besar, tidak hanya kekayaan yang dihasilkan oleh perdagangan melalui jalan laut
jarak jauh. Pada periode ini keuangan negara tumbuh secara strategis berlokasi di Selat Malaka dan
pulau-pulau subur Jawa dan Bali, tetapi juga karena komoditi dan pertukaran informasi mempengaruhi
ekonomi dan melibatkan partisipasi masyarakat. Untuk hal ini lihat. Christie. Op.cit. “Javanese Market
and Asian…”, hlm. 344-381.

108 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Peta 10. Peta Jawa Abad Ke 15

Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Kenneth R Hall, A History of Early South East Asia, 2011

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 109

abad pertama masehi orang Jawa dan kepulauan Nusantara telah membangun
sistem perdagangan laut dunia yang menghubungan dengan Cina. Keadaan
substansial perdagangan di pesisir utara Jawa telah dicatat oleh orang-orang
Cina pada abad ke-5. Pada waktu itu, penguasa-penguasa Jawa telah mulai
meminjam politik, agama, dan budaya bacaan India.85

Kemudian, berlangsung perubahan-perubahan pada abad ke-10 hingga
pertengahan abad ke-13. Para raja periode kerajaan wilayah Jawa Timur,
terutama Kerajaan Majapahit berusaha dan mengatur pertumbuhan kekayaan
di wilayah pelabuhan. Namun demikian, berlangsung pula pergeseran dalam
pola produksi dan konsumsi periode kerajaan Jawa Timur yang mempunyai
dampak terhadap masyarakat Jawa keseluruhan. Antara abad ke-10 dan ke-
13, perdagangan Jawa dengan Cina dan India tampaknya terus meningkat.
Kesempatan pasar yang luas ditawarkan melalui perdagangan dengan Cina,
khususnya, pergeseran cepat dalam menjangkau penanaman pertanian ekspor
dan pertanian di wilayah Jawa secara langsung merespon keinginan besar Cina
untuk lada hitam dan kasumba kering.86 Kemudian, permintaan tidak secara
langsung Cina untuk rempah-rempah dari kepulauan nusantara bagian timur.
Ditambah pula, wilayah lembah Brantas, panen ganda beras telah menjadi
umum pada abad ke-15. Meningkatnya tingkat produksi tampaknya dirangsang
oleh permintaan perdagangan ekspor.

Produksi lain yang disediakan untuk ekspor di pelabuhan termasuk lada
hitam (pipernigrum), kacang (phaseolus), hadas (foeniculum vulgare), kasumba
(carthamus tictorius), jamuju (cuscuta sp), ketumbar (corianducitrifolia), garam
dan gula. Dari semua mata dagangan ini, garam, kacang, dan beras tidaklah
mungkin dikapalkan ke luar negeri.87 Kebanyakan bahan-bahan makanan
ini tampaknya dibawa ke pulau-pulau di dalam jaringan perdagangan Jawa.
Komoditi garam, kacang dan beras dapat dipertukarkan dengan cengkeh, pala
dan bunga pala dari Banda dan Maluku. Kemudian, komoditi yang sama dapat
dipertukarkan dengan cendana dan tembaga dari Timor. Lalu, garam, kacang,
dan beras dipertukarkan dengan timah dari semenanjung. Juga, komoditi
tersebut dapat dipertukarkan dengan besi, emas, dan produk hutan dari

85  Pada masa itu periode perdagangan laut di Jawa cenderung memperkaya kota-kota
pelabuhan. Untuk hal ini lihat. Christie. Ibid., hlm. 344-381.

86  Christie. Ibid., hlm. 344-381.
87  Christie. Ibid., hlm. 344-381.

110 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

sejumlah kepulauan Indonesia dan Filipina.88 Jawa mengimpor barang-barang
dari kepulauan Nusantara khususnya besi konsumsi utama di Jawa.89 Sebagian
besar rempah-rempah Maluku, cendana dan produk-produk hutan, dipihak
lain diekspor kembali ke luar negeri dari pelabuhan-pelabuhan Jawa. Selain itu,
bahan obat-obatan seperti lada hitam, adas, ketumbar, jamuju, kasumba serta
wungkudu kering telah ditanam di Jawa.

Pada abad ke-11 komposisi daftar gudang pelabuhan Manananjung
menunjukkan bahwa pasar utama di luar kepulauan Nusantara untuk produksi
pertanian Jawa adalah Cina.90 Banyak rempah dan tanaman kering telah
ditanam di Jawa tersedia dari sumber-sumber lain sekitar Samudera Hindia,
dan tampaknya sedikit yang dikirim ke nusantara bagian barat dari Jawa.
Kasumba dan lada hitam, sebenarnya berasal dari tanaman India selatan,
yang cocok ditanam di Jawa. Setelah abad ke-9 sebagian besar sebagai hasil
bumi untuk diperdagangkan. Pada abad ke-12 Jawa telah menggantikan India
Selatan sebagai pemasok lada hitam untuk Cina.91

Perniagaan dan pelabuhan di pesisir Pulau Jawa bertambah ramai seiring
dengan kemajuan Kerajaan Majapahit. Pada era Majapahit, jaringan perniagaan
memberikan peningkatan pendapatan perekonomian melalui pengendalian
produksi serta distribusi beras. Kerajaan Majapahit meningkatkan produktifitas
beras melalui perbaikan sistem irigasi teknis untuk persawahan. Distribusi
produksi beras selain ke pedesaan di hilir sungai seperti Gresik, Lumajang, dan
Buwun.92 Juga, mereka memasok beras ke kepulauan rempah-rempah seperti
Banda, Ambon, Maluku, dan Sumatera.

Kapal-kapal Majapahit yang mulai intensif menggunakan rute pelayaran
membangun jaringan perniagaan melalui jalan laut dengan kerajaan Sunda

88  Meilink- Roelofsz. Op.cit. Asian Trade…, hlm. 132.
89  Pelabuhan Manananjung, contohnya didukung komunitas besar tukang besi yang
mempunyai candi sendiri. Lihat. Christie. Op.cit. “Java Market and the Asian Sea Trade….”, hlm. 344-381.
90  Lombard. Op.cit. Nusa Jawa… Jilid 2, hlm. 26.
91  Meluasnya penanaman lada hitam di kepulauan Indonesia, tampaknya dimulai dari Jawa.
Piagam Manananjung dari Jawa Timur mencatat dengan jelas kumpulan barang untuk ekspor di
pelabuhan Jawa Timur. Jawa tampaknya tetap sumber utama lada hitam untuk berabad-abad lamanya.
Christie. Op.cit. “Javanese Market and the Asian Sea Trade…”, hlm. 344-381.
92  Nama-nama Buwun, Lumajang dan Gresik disebutkan dalam karya Prapanca,
Negarakertagama. Untuk hal ini lihat. Pigeaud. Op.cit. Java In The Fourteenth Century—
Nagarakertagama, hlm. 33-34.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 111

yang berlokasi di laut Jawa bagian barat. Dari Jawa bagian barat pedagang dari
Majapahit mendapatkan kayu, lada, emas, besi dan budak. Jaringan kerajaan
Majapahit secara intensif membangun jaringan perniagaan dengan kepulauan
Indonesia bagian timur seperti Banda, Maluku, Banggai dan Kalimantan untuk
mempromosikan produksi beras, sebaliknya Majapahit memperoleh rempah
dan kebutuhan material besi.93 Orang-orang Majapahit membangun pelabuhan
khusus Tuban pada 1352 untuk pemberangkatan kapal ke wilayah Banda dan
Maluku.94

Pada bagian lain pedagang Cina pada abad ke-14 dan ke-15 sudah intensif
berlayar menggunakan rute Jawa. Pelayaran mereka tidak hanya berasal dari
Cina selatan, akan tetapi juga berasal dari Kamboja, Vietnam dan Thailand.
Pedagang Cina mencari lada dan tanaman rempah lain seperti secang yang
tersedia di pelabuhan pantai utara Jawa.95 Pedagang Cina membawa kain
sutera dan keramik yang akan mereka pertukarkan dengan komoditas yang
mereka cari. Selain pedagang Cina, pedagang India juga singgah di pelabuhan
pesisir utara Jawa dengan membawa kain katun yang akan mereka pertukarkan
dengan lada, cendana, dan gaharu yang mereka peroleh dari pedagang Jawa.96

Orang-orang Jawa dalam membangun jaringan perniagaan menggunakan
dua cara. Pertama, mencari kebutuhan yang tidak diproduksi, seperti besi
yang dimanfaatkan untuk membuat senjata dan alat-alat pertanian. Kedua,
berupaya untuk memenuhi kebutuhan para pedagang di kepulauan nusantara
bagian timur, terutama beras. Mereka mengirimkan kapal bermuatan beras,
garam, gula dari bunga safflower dan kemudian kain tenun untuk kepulauan
Banda dan Maluku.97 Dari sana Orang-orang Jawa membawa pala dan cengkeh

93  Besi diperoleh oleh kerajaan Majapahit dari Banggai, Luwuk Sulawesi Selatan merupakan
besi yang khusus untuk membuat keris. Pada karya Negarakertagama, Banggai disebut sebagai
Banggawi. Pigeaud. Op.cit. Java in The Fourteenth Century…., hlm. 34.

94  Tuban dipergunakan sebagai pelabuhan pemberangkatan menuju kepulauan rempah-
rempah, karena pelabuhan ini tempat pembuatan kapal Majapahit dan juga pelabuhan Tuban langsung
berhadapan dengan laut lepas. Untuk hal ini lihat. Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Jaringan Asia.
Jilid. 2, hlm. 51.

95  Pedagang-pedagang pelabuhan pesisir utara Jawa memperoleh kayu secang dari Sumbawa
yang dikenal sebagai kayu brazil atau kayu pewarna merah. Untuk hal ini lihat. Meilink-Roelofsz. Op.cit.
Asian Trade and European Influence, hlm. 100.

96  Meilink-Roelofsz. Ibid., hlm. 103.
97  Pertengahan abad ke-11 komunitas pelabuhan Manananjung di lembah sungai Brantas
menempatkan beras merupakan yang pertama untuk daftar kebutuhan pokok untuk gudang pelabuhan.

112 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Peta 11. Jalur Darat, Sungai dan Laut di Asia Tenggara

Sumber: Pengolahan Data Badan Informasi Geospasial (BIG), 2017
Anthony Reid, Asia Dalam Kurun Niaga

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 113

yang di kemudian hari para pedagang Jawa mendistribusikan cengkeh dan
pala untuk bandar Malaka.98 Dengan cara ini perdagangan pelabuhan pesisir
pulau Jawa terutama Tuban dan Gresik sebagai pelabuhan utama era Majapahit
sangat terkenal dan cukup maju. Pada abad ke-16 pelabuhan-pelabuhan
pesisir utara Jawa seperti Tuban dan Gresik menjadi simpul perdagangan yang
menggerakkan pedagang-pedagang Indonesia bagian timur untuk aktif dalam
perniagaan maritim. Perdagangan ramai berkembang antara pelabuhan lada di
Sumatera bagian utara dengan kota-kota pelabuhan laut di Jawa bagian utara.99

1. Lasem, Rembang, dan Juana

Pada zaman kuno, Lasem, Rembang dan Juana barangkali merupakan
wilayah yang saling terintegrasi. Ketiga kota pelabuhan ini memiliki hinterland
yang kurang lebih sama meskipun memiliki muara aliran sungai yang berbeda.
Pelabuhan Juwana terletak di muara Sungai Juwana, pelabuhan Rembang di
muara Sungai Karanggeneng, sedangkan pelabuhan Lasem terletak di muara
Sungai Bagan. Daerah-daerah ini sebetulnya merupakan sebuah kawasan yang
memiliki bukti-bukti sejarah kehidupan umat manusia yang panjang. Kawasan
Lasem misalnya telah menjadi tempat hunian manusia sejak zaman kuno. Di
puncak Gunung Punjul yang merupakan salah satu rangkaian pegunungan
lasem, tepatnya di wilayah Desa Warugunung, Kecamatan Pancur, Kabupaten
Rembang telah ditemukan sebuah struktur bangunan punden berundak yang
pada area puncaknya ditemukan dolmen atau batu altar tempat persembahan
atau sesajian. Peninggalan ini merupakan hasil kebudayaan zaman megalithikum
yang merupakan masa-masa sebelum datangnya pengaruh India. Pemukiman
prasejarah juga dijumpai di desa Kajar, Kecamatan Lasem. Peninggalan ini
berupa sebuah goa yang oleh masyarakat sekitarnya disebut sebagai Goa
Tinatah. Peninggalan ini berupa sebuah goa kecil yang di sisi atapnya terlihat
seperti permukaan batu yang ditatah, sehingga terlihat lebih rata daripada
permukaan batu pada goa-goa umumnya. Namun demikian sayang seklai di
dalam goa tersebut tidak terdapat sesuatu yang bisa memberikan petunjuk

Untuk hal ini lihat. Christie. Op.cit. “Javanese Market and Asia Sea Trade Boom of Tenth of Thirteenth
A.D” , hlm. 344-381.

98  Untuk hal ini lihat. Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 246.
99  Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun….hlm. 189.

114 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

tentang sebuah situs historis.100
Pada masa berikutnya ketika terjadi kontak budaya dengan India,

tampaknya Lasem juga memiliki peran yang penting. Terdapat situs sejarah
yang menunjukkan adanya kontak dengan budaya India. Di wilayah desa
Kajar juga ditemukan situs Batu Lingga. Seperti diketahui bahwa batu lingga
merupakan sebuah simbol bagi masyarakat Hindu yang bermakna sebagai
simbol “kesuburan”. Sementara itu, di sekitar satu kilometer setelah situs Batu
Lingga juga terdapat situs batu prasasti dengan gambar telapak kaki. Besarnya
gambar tapak kaki tersebut relatif kecil, atau hampir sama dengan ukuran tapak
kaki orang Jawa pada umumnya. Kedua situs ini juga tidak bisa diceritakan
lebih detail karena tidak ada sumber tertulis yang menjadi petunjuk dari awal
munculnya situs tersebut.

Peran kawasan pantai Juwana, Rembang dan Lasem di pantai utara Jawa
dalam dunia maritim di Nusantara sudah muncul sejak masa-masa awal abad
masehi. Ketika kerajaan Sriwijaya berkembang pesat di dunia Melayu sejak
abad ke-7 masehi, tampaknya Lasem dan pelabuhan di sekitarnya memiliki
peran penting di bidang kemaritiman. Sebuah kapal yang diperkirakan berasal
dari abad ke-7 masehi ditemukan di pantai Punjulharjo, Lasem, Jawa Tengah.101
Tidak menutup kemungkinan kawasan ini menjadi pusat-pusat perdagangan
penting baik perdangan lokal, antarpulau maupun pelayaran dan perdagangan
internasional. Peran ini semakin penting ketika pusat kekuasaan politik di Jawa
pindah dari pedalaman Jawa Tengah ke Jawa Timur yang tampaknya sangat
menekankan pada kegiatan pelayaran dan perdagangan.

Berdasarkan catatan sejarah yang ada, nama Lasem baik sebagai kota
pelabuhan maupn sebagai sebuah wilayah administratif lebih dahulu dikenal
daripada Rembang. Nama Lasem sudah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit
ketika diperintah oleh raja Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahannya,
Lasem merupakan salah satu daerah vasal kerajaan Majapahit. Sumber lokal

100 Indrianto, dkk., “Rekontruksi Situs Galangan Kapal Lasem untuk Pengembangan Promosi
Paket Wisata Bahari di Rembang” (Laporan penelitian yang dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, 2005).

101 “Situs Perahu kuno Punjulharjo, Perahu Tertua Abad-7 Zaman Mataram Hindu”, dalam:
http://rembanghitscomunity.blogspot.co.id/2016/04/situs-perahu-kuno-punggul-harjo-perahu.
html (Dikunjungi, 18 Desember 2017).

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 115

yaitu Badrasanti menyebutkan bahwa pada tahun Saka 1273 Lasem diperintah
oleh Dewi Indu, seorang adik Hayam Wuruk dari Wilwatikta. Dewi Indu
yang bersuami Pangeran Rajasa Wardhana mempunyai wilayah kekuasaan
dari daerah Pacitan sampai ke muara Bengawan Silungangga.102 Bengawan
Silungangga diidentikan dengan Bengawan Solo. Berdasarkan keterangan
tersebut dapat diperkirakan bahwa Lasem merupakan salah satu pusat kerajaan
di bawah Majapahit yang wilayahnya cukup luas yaitu antara Pacitan di kawasan
pantai Laut Selatan hingga Muara Bengawan Solo berada di pantai utara Jawa.

Gambar 3.4 Situs Perahu Kuno Punjulharjo, Rembang

Sumber: Dokumentasi Direktorat Sejarah, 2017

Kitab Negara Kertagama pupuh X/2 memberikan gambaran mengenai
adanya kerajaan-kerajaan kecil atau daerah bawahan Majapahit di Jawa yang

102  Sri Soejatmi Satari, “Caruban, Lasem: Suatu Situs Peralihan Klasik – Islam”, Dalam:
Pertemuan Ilmiah Arkeologi III. Proyek Penelitian Purbakala Jakarta, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1985, hal. 487-488. lihat juga Rekso Wardojo (ed), Sabda Badrasanti, 1985. Semarang,
tanpa penerbit.

116 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

diperintah oleh seorang dengan gelar Paduka Bhattara, Bhrai atau Bhre.
Disebutkan dalam kitab itu bahwa kerajaan-kerajaan kecil sebagai vasal
kerajaan majapahit adalah Daha, Wengker, Matahun, Lasem, Pajang, Peguhan,
Singasari, Wirabhumi, Mataram, Kahuripan, dan Panawuhan.103

Sebuah prasasti yang berangka tahun 1273 Saka (1351 Masehi) yang
dikeluarkan oleh Rakryan Mahapatih Mpu Mada menggambarkan tentang arti
penting Lasem dalam kontek politik di pusat kerajaan Majapahit. Prasasti itu
menyebutkan adanya semacam dewan pertimbangan kerajaan Majapahit yang
disebut “Bhattara Saptaprabhu”. Dewan pertimbangan ini memiliki anggota
yang terdiri dari para sanak-saudara raja yang berjumlah 7 orang, salah satu dari
padanya adalah penguasa dari Lasem yang mendapat sebutan Bhre Lasem.104
Pentingnya Lasem juga bisa dilihat dari kenyataan bahwa dalam serangkaian
kunjungannya ke berbagai wilayah kerajaan yang dilakukan oleh Raja Hayam
Wuruk sebagaimana yang digambarkan dalam kitab Negara Kertagama.
Diceritakan dalam kitab itu bahwa raja Hayamwuruk telah berkunjung ke
Lasem pada tahun 1276 Saka, sedangkan Pajang pada tahun 1275 Saka, ke
Lumajang pada tahun 1281 Saka, dan sebagainya.

Dalam kitab Pararaton, penguasa Lasem pada masa pemerintahan raja
Hayamwuruk adalah Kusuma Wardani juga dikenal dengan nama Sang Ahayu.
Putri penguasa ini merupakan anak perempuan dari raja Hayam Wuruk dari
permaisuri Paduka Sori, anak dari Parameswara. Kusuma Wardani sendiri
menikah dengan saudara sepupunya yang bernama Wikramawardhana alias
Bhre Hyang Wisesa. Ia adalah putra Dyah Nattaya, yaitu adik Hayam Wuruk
yang kawin dengan Bhre Paguhan yaitu Singhawardhana. Selanjutnya yang
menjadi Bhre Lasem adalah Negarawardhani atau yang dikenal dengan
sebutan sang Alemu. Negarawardhani adalah putri Bhre Pajang yang diperistri
oleh Bhre Wirabhumi, seorang putra Hayam Wuruk dari istri selir. Sesudah
itu yang menjadi penguasa Lasem adalah putri Bhre Wirabhumi. Mengenai
Bhre Wirabhumi ini sumber Pararaton menyebutkan bahwa ia mempunyai
empat anak yaitu Bhre Pakembangan, Bhre Mataram yang diperistri oleh

103 Slamet Muljono, Negara Kertagama dan Tafsir Sejarahnya. 1979. Jakarta: Bharatara Karya
Aksara.

104  Slamet Muljono, ibid., hal. 56; lihat juga dalam Sartono Kartodirdjo, 1975. Sejarah Nasional
Indonesia, II. Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 279.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 117

Bhre Hyang Wisesa, Bhre Lasem yang diperistri oleh Bhre Tumapel dan Bhre
Matahun. Bhre Lasem terakhir yang disebutkan adalah anak Bhre Pandan Salas
yang diperistri Bhre Tumapel. Sesudah itu belum ditemukan lagi informasi
mengenai penguasa di Lasem, yang mungkin menghilang bersamaan dengan
kemunduran dan keruntuhan kerajaan Majapahit pada abad ke- 16.105

Setelah pusat pemerintahan Jawa bergeser dari pedalaman Jawa Timur
menuju ke pantai utara Jawa Tengah, kota-kota pelabuhan pantura berkembang
lebih pesat. Pada jaman kerajaan Demak dan kemudian digantikan kerajaan
Pajang, daerah Juwana, Rembang dan Lasem berada di bawah kontrol kerajaan-
kerajaan ini. Hal itu dapat diketahui misalnya, ketika raja Pajang yaitu Jaka
Tingkir atau Hadiwijaya sebagai Sultan pada tahun 1581 dihadiri oleh raja-
raja Sedayu, Tuban, Pati, Lasem, dan raja-raja Pantai jawa Timur lainnya.106
Menurut De Graaf hal ini sebagai bukti bahwa kedudukan Sultan Pajang
dianggap sebagai Maharaja oleh para penguasa di pesisir Jawa Tengah dan Jawa
Timur.107 Walaupun mereka bukan merupakan vasal dari Pajang, paling tidak
mereka mengakui Sultan Pajang sebagai raja Islam dan Sultan dari para raja-
raja atau penguasa kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Dalam hal ini
saling hubungan mereka adalah bersifat bersahabat.108

Namun demikian ketika kerajaan Mataram, daerah Lasem dan kota-kota
pantai utara Jawa dari Cirebon, Indramayu, Brebes, Tegal, Semarang, Demak,
Jepara Juwana, Rembang, Lasem dan lain sebagainya sama sekali terlepas dari
kontrol Mataram dan berdiri sendiri sebagai kerajaan-kerajaan maritim. Oleh
karena itu raja Mataram sejak Panembahan Senopati (1575-1601) berusaha
untuk menaklukkan penguasa-penguasa itu. Di samping motif politik, hal
ini juga didorong oleh faktor ekonomi karena sebagai kerajaan-kerajaan
maritim, kota-kota pelabuhan tersebut memiliki kekayaan ekonomi yang
penting sebagai hasil kegiatan perdagangan. Di samping itu, kerajaan-kerajaan
maritim itu merupakan pusat-pusat penyebaran Islam yang dikhawatirkan
bisa berkembang menjadi pusat-pusat kekuatan yang mengancam eksistensi

105 Titi Surti Nastiti dan Nurhadi Rangkuti, op.cit…, hlm. 2
106  Meinsma, ed Babad Tanah Jawi, 1941. S. Gravenhage: Martinus Nijhoff, hlm. 122.
107  H.J. de Graaf, Awal Kebangkitan Mataram, 1987. Jakarta: Grafiti Pres, hlm. 187.
108  Ibid., hlm. 270

118 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Mataram, sebagai kerajaan di pedalaman dengan berbasis ekonomi pertanian.109

Pada masa pemerintah Panembahan Senopati, baru Demak, Pati, dan
Jepara yang berhasil ditaklukkandan dikuasai oleh Mataram. Baru pada masa
pemerintahan raja ketiga Mataram yaitu Sultan Agung hampir seluruh kota-
kota pantai uatara Jawa dari Indramayu sampai Surabaya, bahkan sampai
Madura berhasil dikuasai oleh Mataram. Dengan demikian sejak itu para
penguasa kota-kota pelabuhan tersebut menjadi vasal-vasal dari Mataram.
Khususnya kota pelabuhan Lasem baru ditaklukkan oleh Mataram pada tahun
1616, sedangkan Tuban dengan melalui pertempuran yang sengit akhirnya bisa
dikuasai Mataram pada tahun 1619.110

Pada tahun 1740 meletus pemberontakan orang-orang Cina yang terjadi
di Batavia akan tetapi kemudian meluas hampir seluruh Jawa. Di Jawa Tengah,
khususnya di ibukota kerajaan Mataram yaitu Kartasura, para pemberontak
orang-orang Cina itu pada mulanya memang mendapat dukungan oleh raja
Kartasura pada waktu itu yaitu Paku Buwana II. Sebagai akibatnya benteng
Kompeni di Kartasura diserang dan dikuasai oleh para pemberontak. Peristiwa
yang naas bagi Kompeni terjadi pada tahun 1741, bahkan komandan Benteng
yang bernama Vilsen dibunuh, sedangkan prajurit Kompeni lainnya yang
bersedia masuk Islam diberi pengampunan.111 Namun demikian setelah
Kompeni menghimpun kekuatan militer yang besar di sepanjang pantai utara
Jawa, Paku Buwana II berbalik menarik dukungannya dari “pemberontak”.
Selanjutnya dengan terlebih dahulu meminta maaf kepada pihak Kompeni
Paku Buwana II bergabung dan bersekutu dengan Kompeni untuk bersama-
sama menumpas pemberontakan Cina.112 Setelah berhasil menumpas
pemberontakan Cina, VOC menguasai seluruh kawasan pantai utara Jawa.
Sejak saat itu perdagangan dan pelayaran di kawasan ini dikontrol secara ketat

109  Mengenai hubungan dagang antara kerajaan-kerajaan pantai utara Jawa dengan daerah-
daerah atau negeri-negeri lain di Asia dan Timur Tengan dapat dibaca dalam J.C. Van Leur, 1955,
Indonesian Trade and Society. The Hague Bandung: W Van Hoeve; Lihat juga dalam B.J.O. Schhrieke,
1959, Indonesian Sosiological Studies. The Hague Bandung: W. van Hoeve.

110 H.J. de Graaf, op.cit., hlm. 33-53.
111 Mengenai pendudukan dan pembakaran kraton Kartosuro oleh pemberontak Cina
dipimpin oleh Mas Garendi dapat dibaca dalam Leupe, “Verhaal van het gepaseerde te Kartasura voor
der vesting, door de opperchirurgijn. Aarnout Gerrits, 1742”, dalam BKI, 1964, No. 11, hlm. 119.
112 P. J. Veth, Java: Geografisch, Etnologisch, Historisch, jilid III, 1875-1878. Haarlem: De Erven
F. Bohn, hlm. 464.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 119

oleh VOC. Dengan demikian perdagangan internasional yang dilakukan oleh
penduduk lokal menjadi merosot. Pelayaran dan perdagangan internasional
selanjutnya lebih banyak dilakukan oleh VOC, sedangkan penduduk pribumi
lebih bisa survive untuk perdagangan lokal, meskipun dengan kontrol ketat
dari VOC. Bagi VOC, Rembang dan Lasem sangat penting sebagai penghasil
kayu jati yang bermutu tinggi.

Sejak tahun 1777, produksi kayu jati di Lasem dan Rembang serta daerah
sekitarnya dimonopoli oleh VOC. Sebagian besar kayu jati dari daerah ini
dikirim ke Batavia yang digunakan untuk membangun sarana dan prasarana
yang dibutuhkan oleh VOC dan sebagian dijual kepada perusahaan swasta.
Setiap tahun dari daerah Rembang (termasuk Lasem), lebih dari 50.000 batang
dan 75.000 papan kayu jati dikirim ke Batavia. Sebagian besar kayu ini diangkut
oleh para pelayar Cina. Hanya sebagian kecil saja (sekitar 15%) diangkut oleh
prahu pribumi. Baik orang-orang Cina maupun orang Jawa yang berperan
dalam pengapalan kayu jati ini berasal dari Rembang dan Lasem. Namun
demikian sebagian besar armada yang digunakan untuk mengangkut kayu ini
berasal dari Lasem yaitu sekitar 2/3 volume prahu yang mengangkut sekitar 50
hingga 60% kayu jati dari kawasan Rembang.113

2. Jepara

Meskipun masih dalam perdebatan, kemunculan Jepara di atas panggung
sejarah Jawa setua dengan kerajaan Matara di pedalaman Jawa Tengah dan
Sriwijaya di Palembang (Sumatra). Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang
(618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa
bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga
yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan
timur Jepara sekarang ini. Pada waktu itu kerajaan ini dipimpin oleh seorang
raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.114 Namun demikian

113 Lihat G.J. Knaap, Shallow Waters, Rising Tide: Shipping and Trade in Java around 1775
(Leiden: KITLV Press, 1996), hlm. 56 -60.

114 Banyak sarjana yang mengasosiasikan Ho-ling dengan kerajaan Kalingga yang berpusat
di kawasan Jepara. Pada tahun 422 seorang pendeta Buddha dari India berkunjung ke Ho-ling dalam
perjalanannya ke Cina. Ia sempat tinggal selama beberapa tahun di Ho-ling dan menjadi penasehat
raja Ho-ling yang juga beragama Buddha. Ho-ling juga telah mengirim utusan ke Cina bebeapa kali dari
tahun 430 hingga tahun 660-an. Lihat Keneth R. Hall, Maritime Trade and State Development in Early

120 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

sayang sekali bahwa tidak ada informasi lebih detail mengenai sejarah Jepara
selama periode sebelum datangnya pengaruh Islam.

Pada masa berkembangnya pengaruh Islam, terutama pada masa kerajaan
Demak, Jepara tidak hanya berperan penting sebagai pelabuhan dagang saja
tetapi juga sebagai pangkalan angkatan laut Kesultanan Demak. Pada waktu itu
Adipati Unus-lah yang menjadi penguasa lokal di Jepara sebelum ia diangkat
sebagai sultan untuk menggantikan ayahnya, yaitu Raden Patah pada tahun
1518. Dengan perencanaan selama 5 tahun, Adipati Unus akan menggempur
Malaka (sebelum dikuasai Portugis tahun 1511) dengan alasan bahwa Sultan
Malaka telah menghina pelautnya yang datang di Malaka. Sementara itu
pada tahun 1511 Portugis sudah mendahului menguasai Malaka. Kejadian
ini justru memberikan semangat yang lebih besar kepada Adipati Unus dan
armadanya untuk menghancurkan penguasa kafir. Ia berusaha menghubungi
para penguasa Melayu di Palembang dan Sultan Malaka yang melarikan diri
untuk bersama-sama bertempur melawan Portugis.115

Adipati Unus mempersiapkan armada kapal sebanyak 100 buah dengan
volume kapal yang paling kecil 200 ton. Kapal-kapal itu dibuat di Lasem dan
Semarang. Sekitar pergantian tahun 1512/1513, dilaksanakanlah serangan
terhadap Malaka yang berakhir dengan kehancuran armada laut dari Demak.
Pasukan Pati Unus itu berangkat dari dari Jepara pada tanggal 1 Januari
1513.116 Dari gabungan seluruh angkatan laut bandar-bandar Jawa Tengah dan
Palembang yang kembali hanya 10 kapal jung dan 10 kapal barang. Menurut
Tome Pires Adipati Unus memerintahkan supaya sebuah kapal perang jung
besar yang berlapis baja, yang sebenarnya dapat diselamatkannya, didamparkan
di pantai Jepara dan dibiarkan di situ, sebagai kenang-kenangan perang yang
dilancarkannya ‘terhadap bangsa yang paling gagah berani di dunia’. Oleh
karena itu tidak benar jika dikatakan bahwa setelah kegagalan penyerangan
Demak ke Malaka menyebabkan dunia maritim di Jawa tidak bisa bangkit
kembali. Meskipun Demak telah melakukan ekspedisi ke Malaka yang gagal

Southeast Asia (Honolulu: University of Hawaii Press, 1985), hlm. 104. Lihat juga W.J. Van der Meulen,
S.J., “In Search of Ho-ling”, Indonesia 23 (1977), hlm. 87-111.

115  M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta,
2005), hlm. 80-89).

116  H.J. de Graaf & Th. Pigeaud, De Eerste Muslimse Vorstendommen op Java: Studien over de
staatkundige Geschiedenis van de 15 en 16 de Eeuw (Leiden: KITLV, 1974), hlm. 93.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 121

sebanyak dua kali, namun semangat kebahariannya masih berkobar-kobar.
Setelah kegagalan itu, Demak masih mengirimkan armadanya ke Maluku
untuk bertempur melawan Portugis di sana. Menurut kesaksian Mendes Pinto
bahwa dalam rangka pengislaman di Pasuruan dan mencegah persekongkolan
antara Portugis dan penguasa non Islam di Jawa, pada tahun 1546 Demak (masa
Sultan Trenggana) mengirimkan ekspedisi laut gabungan dengan penguasa
pesisir Jawa Tengah dan Jawa Barat sebanyak 2.700 kapal yang terdiri dari 1000
kapal jung dan 1700 kapal dayung dengan disertai 80.000 orang prajurit.117

Pada abad ke-16 ekonomi maritim merupakan sektor yang menonjol
di Nusantara. Para pedagang dari bebagai daerah di Nusantara melakukan
kegiatan perdagangan laut dengan prahu-prahu mereka yeng memiliki bentuk
yang beraneka ragam. Dalam menempuh rute ke barat, mereka membawa
barang-barang dagangan seperti beras, garam, kayu cendana, kulit kerbau, dan
lain-lain. Mereka mengambil rute pelayaran dengan menyusuri pantai utara
Jawa baik untuk kepentingan transaksi dagang maupun untuk mengambil
bekal dalam perjalanan seperti bahan makanan, air minum, kayu bakar, dan
sebagainya. Di Banten mereka bisa menjual komoditi garam yang mereka bawa
dari Lasem, Gresik dan Jaratan dan membeli lada untuk dijual di Malaka. Setelah
itu mereka meneruskan pelayaran menyusur pantai menuju ke pelabuhan-
pelabuhan di pantai timur Sumatra seperti Palembang, Jambi, Melayu, dan
sebagainya untuk selanjutnya menuju ke Malaka. Di pelabuhan Malaka inilah
para pedagang Jawa menjual beras yang dibawa dari Demak dan Jepara.

Di Malaka mereka membeli berbagai komoditi yang berasal dari negeri-
negeri di kawasan Semenanjung Malaya dan negeri-negeri yang terletak di
sebelah baratnya (negeri-negeri atas angin) serta barang-barang dari dunia
timur (Cina, Jepang dan sebagainya). Mereka membeli kain sutera, tekstil,
porselin, barang pecah belah, barang logam, dan sebagainya. Komoditi-
komoditi dagang ini kemudian dibawa berlayar ke timur dengan melewati
rute yang sama hingga akhirnya mencapai Jepara. Sambil menunggu angin
barat mereka istirahat dan menjual sebagian barang dagangan yang dibeli dari
Malaka dan untuk persiapan berlayar ke timur (ke Maluku) guna membeli
rempah rempah. Ada kemungkinan bahwa ada kelompok pedagang yang

117  Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, 2nd Series
(London: Hakluyt Society, 1944), hlm. 187-188.

122 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

berspesialisasi ke timur dan ada pula yang berspesialisasi pelayaran ke barat.
Namun demikian juga tidak mustahil mereka mengambil rute dagang baik ke
barat maupun ke timur.

Komoditi utama yang dibutuhkan oleh kawasan Maluku adalah berbagai
jenis kain dan beras. Oleh karena itu pedagang Jepara membawa beras dari
pedalaman Demak dan kain dari Malaka untuk dibawa ke Maluku. Mereka
berangkat ke timur dengan menyusuri pantai utara Jawa dengan nenyinggahi
pelabuhan Tuban, Gresik, Surabaya untuk kemudian menuju Makassar dan
selanjutnya menuju Ambon dan pelabuhan lain di Maluku. Di sini mereka
mejual komoditi dari Malaka, Jawa, dan Makassar untuk kemudian membeli
rempah-rempah guna dijual di Jawa dan terutama di Malaka. Di samping
itu Jepara juga memiliki hubungan dagang bahkan hubungan politik dengan
Bangka, Kalimantan Selatan (Banjarmasin), Tanjungpura, dan Lawe.118

Gambar 3.5 Benteng Jepara sebagai gerbang jalur pelayaran abad ke 15

Sumber: Dokumentasis Direktorat Sejarah, 2017
118 Sutjipto, “Some Remarks”, hlm. 185.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 123

Peranan pelabuhan Jepara semakin meningkat ketika terjadi intrik-intrik
perebutan kekuasaan di Demak sejalan dengan semakin mendangkalnya
pelabuhan Demak sebagai akibat dari proses sedimentasi. Jepara pada akhirnya
mejadi pelabuhan utama kerajaan Demak. Kemajuan ini berlangsung terus
meskipun pada tahun 1599 Jepara diserang dan diduduki oleh tentara Mataram.
Jepara dijadikan sebagai salah satu bandar Mataram yang maju. Orang-orang
Belanda melaporkan bahwa pada tahun 1615 mereka bertemu tidak kurang
dari 60-80 jung Jawa di kawasan perairan Sumatra yang sebagian besar berasal
dari Jepara. Mataram juga memanfaatkan Jepara sebagai pusat pembuatan
kapal. Jabatan yang mengelola pelabuhan Jepara disebut sebagai pecat tanda
yang mengawasi semua kantor pabean dan berkuasa di semua muara sungai.
Syahbandar yang pernah menemui kapal-kapal Belanda pada tahun 1616
dan 1619 adalah keturunan Cina. Ia dikenal dengan nama Ince Muda yang
mengadakan hubungan dagang dengan Jambi karena ia memiliki saudara di
sana yang memiliki hubungan baik dengan Sultan Jambi. Ia memiliki beberapa
kapal kecil untuk mengangkut beras. Pegawai VOC juga mencatat bahwa kedua
bersaudara ini memiliki pengaruh besar masing-masing terhadap Jambi dan
Wedono Bupati Jepara. Selain itu Ince Muda juga berdagang dengan orang-
orang Portugis di Malaka.119

Jepara kemudian berkembang sebagai bandar utama Mataram. Ekspor
beras Mataram ke berbagai wilayah di Nusantara dilakukan melalui bandar
Jepara. Dengan kata lain, Jepara menjadi satu-satunya pelabuhan yang diijinkan
oleh penguasa Mataram untuk mengekspor beras. Hal itu disebabkan Jepara
dekat dengan daerah-daerah penghasil beras seperti Juwana, Tadunang, dan
Demak.120 Oleh karena itu, harga beras di Jepara sangat murah dibandingkan
dengan pelabuhan atau bandar-bandar lainnya di Nusantara. Sebagai contoh;
harga beras di Jepara antara 12 sampai dengan 16 real setiap koyan (1 koyan
sama dengan 30 pikul; 1 pikul sama dengan 61,76 kg), di Batavia harganya
40-60 real dan di Maluku 100-120 real.121 Dengan kedudukannya itu Jepara

119 Sutjipto, ‘Some Remarks”, hlm.185.
120 L.W. Nagtegaal, Riding The Dutch Tiger, the dutch east indies company and the northeast
coast of java 1680-1743. Leiden: KITLV Press, 1996, hlm. 129.
121 G. Gonggrijp, Schets Eener Ekonomische Geschiedenis van Nederlandsch-Indie. Haarlem:
de Erven F. Bohn, 1928, hlm. 46.

124 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

berkembang sebagai bandar dagang utama bagi Mataram, sekaligus bandar
yang besar di pantai utara Jawa.

Kemakmuran Jepara bisa dilihat dari deskripsi tentang kotanya. Kota ini
merupakan satu-satunya kota dengan tembok untuk pertahanan, di sekitar
pantainya dibangun dinding dari batu karang, dengan berbagai macam kubu-
kubu pertahanan dan meriam. Meskipun demikian, Jepara tidak terlindungi
dan terbuka bagi serangan yang datangnya dari arah pedalaman.122 Dalam
kota Jepara rumah-rumah dibangun dengan batu dan kapur. Jalan, tembok,
lapangan, dan pemandangan di sekitarnya menarik, dihiasi gedung-gedung
serba indah. Menyenangkan sekali berjalan-jalan di Jepara. Pasar-pasar penuh
dengan orang Jawa, Persia, Arab, Gujarat, Cina, Koromandel, Aceh, Melayu,
Peguana, dan lain-lain bangsa.

Sejalan dengan muncul dan berkembangnya kekuatan VOC di pantai utara
Jawa, terjadilah kontak-kontak yang semakin intensif antara Mataram dengan
VOC yang akhirnya penguasa Mataram memperbolehkan VOC membangun
loji di Jepara pada tahun 1615. Namun demikian hubungan baik tersebut
berubah menjadi perselisihan sehingga loji VOC tersebut diserang oleh pihak
Mataram pada tahun 1618. Sejak saat itu hubungan keduabelah pihak di Jepara
menjadi sangat tegang dan penuh dengan kecurigaan.123

Pada akhir tahun 1618 VOC melakukan pembalasan secara mendadak
terhadap Jepara. Dengan mengerahkan serdadu sebanyak 160 orang, VOC
dapat memporak-porandakan Jepara: benteng kayu milik pribumi diduduki
tanpa perlawanan, bekas loji VOC dan rumah di sekitarnya dibakar habis dan
sekitar 30 orang Jepara tewas. Semua kapal yang sedang berlabuh di Jepara
dan Demak disita dan dibakar setelah muatan berasnya dipindahkan ke kapal-
kapal Belanda. Konon hampir seluruh kota Jepara habis terbakar. Serangan
VOC kedua terhadap Jepara dilakukan lagi pada tanggal 23 Mei 1619. Jepara
kembali dibakar oleh VOC termasuk sembilan kapal milik orang Jawa. Setelah
hubungan Mataram dan VOC memburuk berkaitan dengan insiden Jepara,
VOC mulai membangun hubungan baik dengan penguasa Surabaya yang

122 Nagtegaal, Riding the Dutch Tiger, hlm. 91.
123  H.J.de Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung (Diterjemahkan
oleh Pustaka Utama Grafiti dan KITLV) (Jakarta: Graffiti Press dan KITLV, 2002), hlm. 66-77.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 125

pada waktu itu masih merdeka. VOC dapat memperoleh segala kebutuhan
akomodasinya dari Surabaya. Bahkan VOC pun sanggup membantu Surabaya
dalam melawan Mataram meskipun hal itu masih bersifat basa-basi karena
Belanda melihat Surabaya memiliki potensi konflik yang tinggi.124

Setelah Mataram menyerahkan Jepara kepada Kumpeni pada tahun 1743
atas jasanya membantu memadamkan pemberotakan orang Cina, pelabuhan ini
menjadi semakin mundur. Kumpeni lebih senang memilih Semarang sebagai
pelabuhan utama di Jawa Tengah karena memiliki jaringan transportasi yang
lebih baik sehingga strategis dari segi pertahanan. Akhirnya Jepara mengalami
kemunduran yang parah.

3. Tuban

Tuban merupakan kota pelabuhan tertua di Jawa dan mengalami
perkembangan pesat pada abad ke-11. Orang-orang Cina pada abad ke-13
berupaya untuk menaklukkan Tuban, tetapi gagal.125 Sebagian upeti-upeti dari
negara-negara bawahan mencapai ibukota Majapahit melalui pelabuhan Tuban.
Upeti ini membawa kekayaan dan kemakmuran bagi tuban dan penguasanya.
Tome Pires menggambarkan Tuban bukan sebagai kota perniagaan dan
pusat perdagangan. Tuban bahkan tidak memiliki pelabuhan yang layak
untuk berlabuhnya kapal-kapal yang relatif besar dan berat. Tuban hanya
memiliki tempat berlabuh terbuka yang berjarak cukup jauh dari kota.126 Pada
dasarnya Tuban menjadi pelabuhan makmur, karena menjadi kota pelabuhan
Majapahit.127

Sebagian upeti-upeti dari negara-negara bawahan mencapai ibukota
Majapahit melalui pelabuhan Tuban. Upeti ini membawa kekayaan dan

124  de Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram, hlm. 75-79.
125  Pires. Op.cit. Suma Oriental…, hlm. 123.
126  Pelabuhan Tuban langsung berhadapan dengan Laut Jawa. Selain itu, penghubung antara
kota pelabuhan dengan pedesaan pengahasil produk pertanian melalui jalan darat. Untuk hal ini lihat.
Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 190.
127  Di Jawa peperangan antara kota-kota Islam di pantai utara dan kerajaan Hindu Majapahit
merupakan pertikaian yang cukup lama, dengan akibat orang Hindu mundur ke arah timur. Kekayaan
karena perdagangan dan teknologi militer sepanjang abad ke-16 membantu meningkatkan kekuatan
kota-kota pelabuhan seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya. Untuk hal ini lihat. Reid.
Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga … Jilid 2, hlm. 75-76.

126 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

kemakmuran bagi Tuban dan penguasanya. Tome Pires menggambarkan
Tuban bukan sebagai kota perniagaan dan pusat perdagangan. Tuban bahkan
tidak memiliki pelabuhan yang layak untuk berlabuhnya kapal-kapal yang
relatif besar dan berat. Tuban hanya memiliki tempat berlabuh terbuka yang
berjarak cukup jauh dari kota.128 Pada dasarnya Tuban menjadi pelabuhan
makmur, karena menjadi kota pelabuhan Majapahit.129 Pelabuhan Tuban
memperoleh kemakmuran perdagangan, karena dari kebijakan ekspansi
Majapahit ke seberang lautan yang menjadikan Tuban sebagai pelabuhan
keberangkatan untuk perjalanan laut ke Maluku. Bahkan toponimi Tuban pun
banyak digunakan dalam berbagai nama tempat di Maluku.130

Gambar 3.6 Dermaga Boom Tuban yang masih beroperasi hingga saat ini

Sumber: Dokumentasi Direktorat Sejarah, 2017
128  Pelabuhan Tuban langsung berhadapan dengan Laut Jawa. Selain itu, penghubung antara
kota pelabuhan dengan pedesaan pengahasil produk pertanian melalui jalan darat. Untuk hal ini lihat.
Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm. 190.
129  Di Jawa peperangan antara kota-kota Islam di pantai utara dan kerajaan Hindu Majapahit
merupakan pertikaian yang cukup lama, dengan akibat orang Hindu mundur ke arah timur. Kekayaan
karena perdagangan dan teknologi militer sepanjang abad ke-16 membantu meningkatkan kekuatan
kota-kota pelabuhan seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya. Untuk hal ini lihat. Reid.
Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga … Jilid 2, hlm. 75-76.
130  Pigeaud. Op.cit. Java in The Fourtenth Century…, hlm. 33

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 127

Pedagang-pedagang Tuban pada abad ke-13-15 membatasi pelayaran
mereka. Mereka hanya berlayar di wilayah kepulauan Nusantara dan sekitarnya.
Melimpahnya produksi beras yang produksinya jauh melebihi konsumsi
domestik memungkinkan Jawa untuk mengirimkan surplus produksi
pertanian ke negeri-negeri lain.131 Karena sebaliknya, kepulauan rempah
sangat sedikit memiliki bahan makanan. Penduduk dari kepulauan penghasil
rempah sejak lama menukar rempah mereka yang berharga dengan beras Jawa.
Melalui perniagaan seperti ini, sebuah perdagangan perantara yang ramai telah
muncul di pelabuhan Jawa. Hal ini ditunjukan oleh penguasa Majapahit dalam
memperkuat kekuasaan hingga Maluku. Kuatnya kekuasaan Majapahit atas
pulau penghasil rempah bertujuan untuk memastikan pasokan rempah dari
Banda dan Maluku. Usaha Majapahit juga diikuti dengan pertukaran bahan
makanan, terutama beras Jawa. Sementara itu, wilayah produsen rempah-
rempah kekurangan produksi makanan. Pada waktu itu, pelabuhan Tuban
mungkin bertindak sebagai pusat pengumpul rempah yang didatangkan
dari wilayah timur. Situasi ini yang menyebabkan Pelabuhan Tuban menjadi
makmur.132

Menurut, Lapian pelabuhan ini merupakan tempat berlabuhnya ekspedisi
armada Cina di abad ke-13. Kota pelabuhan ini mendapatkan kemakmuran
dari abad ke-12 hingga ke-14 dari perniagaan. Pada masa Majapahit, bandar
Tuban sebagai pelabuhan keberangkatan armada Majapahit untuk perjalanan
laut ke kepulauan Maluku. Pires yang pernah mengujungi pelabuhan Tuban
dan kagum dengan kekayaan yang dipamerkan penguasa pelabuhan Tuban.
Di sana ada pawai gajah, kuda dan anjing. Kaum bangsawannya juga banyak
mempunyai budak.133

Penduduk Tuban pada abad ke-14 telah sibuk melakukan perniagaan
dengan pelabuhan Hitu. Banyak penduduk Tuban sendiri kemudian juga

131  Tuban menjadi kantor dagang kerajaan Majapahit yang mengurus jaringan perdagangan.
Dalam Negarakertagama dinyatakan bahwa daerah itu mengirim seluruh hasil tanam pada setiap musim
panen. Kepada mereka diutus “pembesar-pembesar dan pejabat-pejabat tinggi untuk memungut upeti
secara tetap. Pigeaud. Op.cit. Java in The Fourteenth Century…., hlm. 12.

132  Pada abad ke-15, kota pelabuhan Tuban pernah sebagai sarang pebajak laut. Di sini
berkumpul bajak laut dari Cina dan Jawa yang menggunakan kapal-kapal jung besar.

133  Pada waktu itu, budak memang merupakan simbol status penting, yang menandakan para
bangsawan seringkali berperang untuk mendapatkan prajurit yang dikalahkan sebagai budak. Untuk hal
ini lihat. Lapian. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara…., hlm. 51.

128 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

banyak yang menetap di pelabuhan Hitu untuk berdagang rempah-rempah.
Hitu sebagai pelabuhan transit merupakan tempat pedagang-pedagang
singgah untuk sementara waktu untuk mendapatkan rempah-rempah. Hitu
sendiri sebelum penduduknya menanam cengkeh, mendapatkan cengkeh
dari negeri-negeri bawahannya yang memberikan upeti. Pada sisi lain orang
Tuban membawa beras dan menukarkannya dengan cengkeh dengan Hitu.
Pentingnya Hitu bagi Tuban, tergambar dalam Kitab Negarakertagama yang
ditulis pujangga pada abad ke-14. Disebutkan ekspedisi armada Majapahit
ke Maluku menyebut nama Wandan (Banda) sebagai salah satu penghasil
rempah-rempah. Perjalanan kapal Majapahit itu ke Kepulauan Maluku melalui
jalur selatan. Juga, kapal-kapal itu singgah di pelabuhan Hitu sebagai bandar
ramai untuk perdagangan perantara rempah-rempah.134

Pada awal abad ke-15, orang-orang Banda sering singgah di Hitu untuk
mendapatkan beras yang dibawa oleh orang-orang Tuban. Sebaliknya, pedagang
Tuban singgah di pelabuhan Banda dengan membawa lada, beras dan garam
untuk ditukarkan dengan pala dan fuli, atau ditukarkan dengan kain tenun
Gujarat atau kain putih Koromandel. Kain putih menjadi kebutuhan orang-
orang Banda untuk ritual kematian. Jenazah yang akan dikuburkan dibungkus
dengan kain putih tersebut.

4. Gresik

Gresik merupakan Pelabuhan penting di pesisir utara Jawa pada abad ke-14
hingga awal abad ke-17. Pelabuhan Gresik ini mengendalikan impor rempah-
rempah dari Banda dan Maluku menuju ke pelabuhan Malaka. Tome Pires tidak
secara eksplisit menceritakan telah berlangsung relasi perniagaan rempah-
rempah antara Kepulauan Maluku, Jawa dan Malaka. Setiap tahun, 8 kapal
jung berlayar bersama dari Malaka dan Gresik menuju pelabuhan Banda dan
Maluku. Terdapat empat kapal dari Gresik dan empat kapal lainnya dari milik
saudagar Malaka. Penguasa Jawa di Gresik—yang bersama pedagang Hindu
di Malaka sangat menguasai seluk-beluk perdagangan rempah-rempah—juga

134  Kemungkinan kepulauan Banda tidak menjadi menjadi bawahan (vassal) dari kerajaan
Majapahit yang mesti memberikan upeti, karena agama Hindu yang dianut oleh Majapahit tidak
mempunyai pengaruh di Banda maupun di kepulauan Maluku lainnya.

Produksi Rempah, Pelabuhan dan Jaringan Perniagaan di Nusantara | 129

berasal dari lingkungan perniagaan Malaka.135

Para saudagar Gresik dan Malaka itu merupakan pedagang distributor
besar atau grosir. Mereka berlayar ke Banda dan Maluku membawa berton-ton
beras dan berkodi-kodi kain tenun yang akan dipertukarkan dengan pala dan
fuli di pelabuhan Banda. Para saudagar itu mendapatkan pala dan fuli, dan
biasanya orang-orang Banda juga menyediakan cengkeh Maluku Utara. Setelah
itu, pedagang Gresik dan Malaka berlayar menuju pelabuhan Malaka yang
ditempuh selama 2 bulan melalui rute selatan. Pedagang Gresik, ikut berlayar
ke pelabuhan Malaka. Mereka mengurus perdagangan rempah-rempah di
Malaka dengan pedagang Gujarat dan Persia yang akan membawanya ke
pelabuhan Mesir. Kemudian, mereka dari Bandar Malaka kembali ke Gresik
membawa kain tenun Gujarat. Di pelabuhan Gresik, mereka menjual kain itu
secara eceran dengan pedagang Banda dan Maluku.

Pelabuhan Gresik selain pedagang pengepul, ada pula pedagang eceran yang
diperkirakan telah dimulai abad ke-11. Perdagangan eceran masih berlangsung
ketika Belanda hadir di kepulauan nusantara akhir abad ke-16. Pedagang dari
Malaka, berlayar sebagai penumpang atau awak kapal jung besar, berlayar
dengan membawa barang dagangannya, terutama kain ke Jawa. Di Jawa,
mereka menjual semua tekstil terbaik mereka untuk mendapatkan uang tunai
(koin tembaga Cina). Kemudian, mereka melanjutkan pelayaran ke Sumbawa.
Di sana mereka membeli kain katun murah dengan barang dagangan yang
mereka bawa dari Jawa. Uang tunai dan barang dagangan itu mereka tukarkan
dengan pala, fuli dan cengkeh di kepulauan Banda dan Maluku.136

Pedagang-pedagang asing yang singgah dan menetap di sekitar pelabuhan
Gresik adalah dari Gujarat, Benggala, dan penduduk asli Kozhikode137,
sepertinya sudah lama menghuni di sini. Sebagian dari orang-orang Asia Barat
dengan cepat meraih kedudukan penting di bandar Gresik. Kemungkinan
orang Cina, posisinya di pelabuhan sudah diganti oleh orang-orang Asia

135  Pires. Op.cit. Suma Oriental, hlm 190.
136  Para pengecer mempunyai modal lebih sedikit, modal mereka jauh berbeda dengan modal
besar pedagang grosis. Pires. Ibid. Suma Oriental, hlm. 172-73.
137  Kozhikode adalah orang-orang yang berasal dari pelabuhan Calicut. Pelabuhan Gresik pada
satu sisi berbatasan dengan pelabuhan Sidayu, dan sisi lain berbatasan dengan pelabuhan Surabaya.
Lihat. Pires. Op.cit. Suma Oriental…, hlm. 192-193.

130 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI

Barat, atau pada abad ke-15 sudah berasimilasi dengan orang Asia Barat dan
penduduk Jawa.

Gambar 3.7 Prasasti Nyai Ageng Pinatih di Pelabuhan Gresik

Sumber: Dokumentasi Direktorat Sejarah, 2017

Gresik boleh dikatakan sebagai pelabuhan utama untuk kain dari rute barat
dan rempah-rempah dari Maluku. Pires dengan puitisnya mendeskripsikan
untuk pelabuhan ini “Pelabuhan perdagangan bebas terbaik di seluruh Jawa,


Click to View FlipBook Version