Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 231
Di bidang perekonomian, pajak menjadi unsur penting bagi Kerajaan
Jambi. Kehidupan kerajaan berasal dari penarikan pajak ekspor lada asal
Jambi yang jumlahnya mencapai 10 persen. Pajak ekspor dari para saudagar
Cina, Belanda dan Inggeris yang terbesar berada di tangan raja senior (ayah),
sedangkan bagian terkecil diperoleh dari orang-orang Melayu yang bekerja
pada raja yunior (anak). Orang Jambi hanya mempunyai 50 hingga 60 perahu
dan cuma dua kali dalam setahun pergi menuju hulu untuk membeli lada
lalu diangkut ke pasar yang berada di hilir. Dalam perniagaan lada di wilayah
Jambi ini, orang Jambi harus bersaing dengan para saudagar yang antara lain
terdiri dari orang kaya, orang Cina dan bangsa asing lainnya.59 Orang kaya
dan bangsawan Jambi dengan kapal-kapal yang dimilikinya mengangkut
lada ke berbagai tempat atau pasar. Mereka, seperti juga bangsawan lainnya
di berbagai kota, melakukan aktivitas perniagaan lada dan komoditas lain.
Orang kaya Patani mengapalkan barang dagangan berupa arak ke Kepulauan
Maluku, begitu pula dengan syahbandar dan datuk besar Patani melakukan
perniagaan dengan kapal-kapal milik mereka. Para penguasa kota-kota lainnya
seperti di Aceh, Johor, Surabaya, Makassar, Banten, Jakarta, Ternate, Demak,
Kendal, Sukadana, syahbandar Gresik dengan kapal-kapal mereka melakukan
perniagaan. Pemberian modal untuk berlayar dan perjalanan niaga mereka
lakukan dalam bentuk memberikan sejumlah uang atau meminjamkan uang
dan kapalnya dengan harapan beroleh laba dari hasil perniagaan antarpulau di
perairan Nusantara.60
Lada yang diangkut dari hulu Sumatera dengan perahu tiba di pasar yang
berada di hilir pelabuhan-pelabuhan pantai barat Sumatera yaitu Selebar,
Indrapura, dan Pariaman, sedangkan untuk pantai timur Sumatera di Jambi,
Indragiri, dan Kampar. Lada asal Sumatera juga diangkut ke pasar-pasar yang
berada di pantai utara Jawa yaitu pelabuhan Jepara dan Gresik. Lada Jambi
yang diangkut dengan perahu dari hulu dibeli oleh para saudagar Cina yang
bertindak sebagai pedagang perantara dalam perniagaan lada, juga berperan
penting dalam perniagaan kain. Sementara pembelian lada dalam jumlah
besar juga melibatkan orang kaya Jambi, saudagar Cina dan orang Jawa. 61
59 Lihat Lindayanti dkk. Op.cit, hlm 136-137.
60 Lihat J.C. van Leur. Indonesian Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History.
Dordrecht: Foris Publications, 1983, hlm 134: Zeid. Op.cit. Saudagar Pariaman.
61 Lihat van Leur. Op.cit., hlm 125, 150.
232 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Dengan pedagang-pedagang asal Gujarat, lada Jambi dipertukarkan dengan
kain. Mereka membawa kain untuk diperdagangkan di Nusantara, termasuk di
Jambi dan juga Banten.
Jung-jung Cina dengan kapasitas muatan yang besar mampu mengangkut
18 ribu karung berisi lada ke Cina, sementara kapal-kapal Belanda hanya
mampu mengangkut 9 ribu kantung lada dan kapal-kapal saudagar Gujarat
mampu mengangkut lada sebanyak 3 ribu kantung. Dari kapasitas muatan
kapal-kapal pengangkut lada tersebut dan peran yang dimainkan orang-
orang Cina sebagai pedagang perantara dalam perniagaan terlihat bahwa Cina
memegang posisi penting di jalur perniagaan lada dan rempah-rempah mulai
dari hulu yang diangkut melalui perahu sepanjang aliran Batang Hari hingga ke
negeri tujuan akhir di Cina dengan jung-jung melalui lautan lepas.62
Perniagaan dalam skala besar dengan kapal-kapal yang mampu me
ngangkut berbagai komoditas terutama rempah-rempah dalam ribuan
kantung dan didukung dengan modal besar sulit dikatakan hanya dilakukan
oleh individu tanpa melibatkan orang lain dan berbagai pihak atau dalam
bentuk perkongsian. Perdagangan lada Jambi misalnya tidak didominasi oleh
perdagangan keliling berskala kecil dan juga bukan pelayaran perniagaan yang
dilakukan oleh individu. Pengusaha lokal Jambi seperti Ketjil Japon punya peran
dalam perniagaan baik menyangkut modal maupun koneksi dengan penguasa
dan bangsawan. Perdagangan jarak jauh dengan ongkos dan biaya yang tinggi
yang dilakukan orang-orang Cina juga selektif dalam memilih dan membawa
barang dagangan karena hanya barang dagangan yang bernilai tinggi, mewah,
yang akan mereka bawa ke luar Cina untuk dipertukarkan dengan rempah-
rempah, lada, atau komoditas lain asal Nusantara yang laku dan dibutuhkan di
pasaran atau Cina.
Sejak kehadiran VOC di Nusantara, Belanda terlibat pula dalam perniagaan
lada di wilayah pantai timur Sumatera. Di wilayah itu, kapal-kapal yang datang
ke pantai timur Sumatera tidak hanya jung-jung Cina, tetapi juga kapal-kapal
dari Siam, Patani, Jawa dan Malaka. Perniagaan antarbangsa selama berabad-
62 Di Banten misalnya, orang Cina juga bertindak sebagai eksportir antara lain kayu cendana,
rempah-rempah, pala, cengkeh, kulit penyu, dan gading gajah. Sebaliknya mereka sebagai importir
kain sutera, benang, porselen, dan senjata api ringan. Lihat Meilink-Roelofsz. Op.cit. Asian Trade and
European Influence…., hlm 246.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 233
abad dengan mengarungi lautan, menembus terpaan angin, menerjang ombak
selama berbulan-bulan dengan biaya yang besar bukan hanya berharap sebuah
keuntungan atas jual-beli komoditas yang ditawarkan dan dibawa pulang ke
negerinya semata. Di dalam kontak perniagaan itu juga terkandung suatu
kontak dan jalinan antarbangsa melalui komoditas yang ditawarkan dan juga
menghubungkan antara satu kota dengan kota-kota lainnya. Berbagai kota
di wilayah Nusantara mulai dari Sumatera di bagian barat hingga Kepulauan
Maluku di bagian timur saling terhubung melalui pelayaran dan perniagaan
dan rempah-rempah menjadi titik pertemuannya. Interaksi antarbangsa juga
berlangsung dan tentunya bahasa serta budaya ikut berperan dalam kaitan
ini, tidak semata komoditas yang bernilai ekonomis saja. Temuan sejumlah
benda-benda arkeologis berupa keramik asal Cina, Vietnam, Thailand, Jepang
dan Eropa sejak abad ke-9 hingga ke-20 di Kepulauan Natuna di kawasan
Laut Natuna Utara misalnya menunjukkan bahwa perairan Nusantara sejak
dulu memang menjadi jalur pelayaran dan persinggahan kapal-kapal yang
menghubungkan Asia Timur dengan Asia Selatan dan Asia Teggara. Kepulauan
Natuna sebagai wilayah persilangan pelayaran merupakan pula penghasil
cengkeh, teripang, damar, gaharu pada masa era perdagangan abad ke-13 hingga
ke-14.63 Temuan-temuan penting di Natuna dan juga sejumlah benda-benda
lain berupa keramik Cina dan benda-benda logam yang kini masih tersimpan
di Museum Siginjai, Jambi, makin mengukuhkan dan memperlihatkan bahwa
perairan Nusantara penting kedudukannya dalam persilangan bangsa-bangsa
di masa lalu baik secara ekonomi maupun sosial-budaya. Rempah-rempah dan
lada misalnya menjadi daya tarik utama yang membuat bangsa-bangsa asing
ke Nusantara untuk melakukan barter dan jual-beli berbagai barang dagangan
atau komoditas pertanian dan kehutanan. Jambi dengan lada, damar, dan
hasil hutan lainnya yang telah menarik bangsa-bangsa lain untuk datang dan
melakukan transaksi niaga menjadi bagian penting dari gelombang besar kapal-
kapal yang berlayar menuju Nusantara sejak abad ke-10 hingga ke-16. Sisa-sisa
bahwa Jambi termasuk bagian dari jalur pelayaran dan perniagaan rempah-
rempah dan lada di masa lampau masih dapat disaksikan pada masa sekarang.
Batang Hari yang dahulu sangat hidup dan aktif dilayari oleh berbagai perahu
yang mengangkut berbagai barang dan lada, kini masih berfungsi dengan baik.
Situs-situs sejarah maritim masa lalu berupa misalnya sisa-sisa perahu kuno,
63 “Kepulauan Natuna Simpan Jejak Penting,” Kompas, 19 September 2017
234 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
barang pecah-belah keramik asal Cina dan tempat-tempat lain, berbagai jenis
koin atau uang kuno sisa perdagangan masa lalu masih dapat dilihat dalam
ruang-ruang kaca museum. Benda-benda bernilai sejarah itu memperlihatkan
bahwa sebaran geografis antarbangsa melalui pelayaran dan perniagaan di
jalur rempah sangat luas dan melebihi batasan geografis tempat asal barang itu
dibuat atau dihasilkan.
Masyarakat Pantai Utara Dalam Kehidupan
Perniagaan Nusantara
Pulau Jawa sejak awal Masehi telah dikenal menjadi bagian penting dalam
jaringan pelayaran dan perniagaan di kepulauan Nusantara. Kota-kota dan
pelabuhan yang terletak di sepanjang pesisir Jawa dari tahun ke tahun sibuk
melakukan aktivitas bongkar muat dan transaksi perniagaan, serta menjadi
tempat berlabuhnya bagi kapal-kapal asing dan kapal-kapal dari berbagai
kota di Nusantara. Pasar menjadi salah satu tempat pertemuan dan terjadinya
transaksi perdagangan berbagai komoditas dan kebutuhan penduduk. Pesisir
dengan pelabuhan sebagai pusat aktivitas pelayaran dan juga perniagaan
merupakan suatu tempat perjumpaan antarbangsa. Selain itu, pelabuhan dan
wilayah sekitarnya menjadi persemaian dan pertumbuhan sebuah kota dengan
beragam masyarakat dan aktivitas di dalamnya.
Kapal-kapal beragam ukuran dari berbagai negeri dan wilayah di Nusantara
dengan muatan komoditas-komoditas utama hingga berton-ton beratnya
sepanjang tahun bersandar di pelabuhan-pelabuhan selama berminggu-
minggu atau bahkan berbulan-bulan menunggu perubahan angin musim yang
akan membawa mereka berlayar ke tujuan lain atau justru kembali ke negeri
asalnya. Kesibukan dan padatnya kapal-kapal berbagai ukuran hasil kemajuan
teknologi perkapalan dengan muatan hasil bumi dan barang-barang dagangan
lainnya masih dapat disaksikan hingga kini di pelabuhan-pelabuhan pantai
utara Jawa. Sepertinya denyut nadi aktivitas pelabuhan pada masa kini tidak
pernah berhenti dan kapal-kapal terus bergantian keluar-masuk pelabuhan.
Pergerakan kapal-kapal yang tidak pernah berhenti itu pula yang terus
berlangsung sejak dulu yakni ketika Jawa menjadi tujuan pelayaran dan
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 235
perniagaan. Kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai utara Jawa seperti
Jepara, Rembang, Juwana, Lasem, Tuban dan Gresik dalam jaringan pelayaran
dan perniagaan rempah sepanjang abad ke-10 hingga ke-16 Masehi bukan
hanya menghubungkan satu kota dengan kota lainnya antara Jawa dengan
Sumatera, Kalimantan, Banda dan kota-kota lain di luar Jawa, kota-kota
tersebut juga menghubungkan wilayah hulu dengan hilir di Pulau Jawa. Hulu
yang menghasilkan beras dan kebutuhan pangan lainnya seperti sayur-mayur,
buah, atau kayu dan hasil hutan lainnya yang dibutuhkan oleh penduduk di
kota-kota lainnya menjadi pemasok bagi hilir, yang kemudian meneruskan
komoditas pertanian dan kehutanan itu ke kota lain atau diperdagangkan di
sekitar pelabuhan. Beras asal pedalaman Jawa memang menjadi komoditas
utama dalam perniagaan antara Jawa terutama kota-kota pelabuhan di pantai
utara Jawa dengan pusat-pusat penghasil rempah di Pulau Sumatera ataupun
kepulauan rempah-rempah Maluku dan Banda.
Jalur perniagaan komoditas pertanian dari kantong-kantong pertanian
di Jawa seperti Jepara, Rembang dan Demak misalnya memanfaatkan aliran
sungai yang ada untuk membawa barang-barang itu dengan perahu-perahu
menuju pelabuhan. Gresik menjadi salah satu tujuan pengiriman beras dan
hasil-hasil pertanian dari kota-kota pantai utara Jawa sebelum komoditas itu
dikapalkan menuju berbagai kota di luar Jawa. Sebagai kota pelabuhan, Gresik
penting kedudukannya dalam jaringan perniagaan pantai utara Jawa dengan
kota-kota lainnya. Sejak abad ke-11 Masehi kota pelabuhan di wilayah Jawa
Timur ini menjadi tujuan kapal-kapal asal Cina, Gujarat, Arab dan negeri-
negeri lainnya. Kota pelabuhan ini juga terus berkembang dan menduduki
posisi penting dalam jaringan pelayaran dan perniagaan di Nusantara pada
abad ke-14, ketika perairan di Nusantara terutama menjadi jalur pelayaran dan
perniagaan berbagai kapal-kapal asing.
Kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa selain menjadi tempat
persinggahan bagi kapal-kapal sebelum melanjutkan perjalanan mereka baik
menuju wilayah barat Nusantara maupun ke timur Nusantara, kota-kota
pelabuhan itu juga menjadi pelabuhan antara dari dan ke Malaka. Hubungan
antara Jawa dengan Malaka penting bagi keduanya karena Malaka menjadi
tujuan kapal-kapal asal Jawa yang mengangkut beras ke kota pelabuhan tersebut.
Sebaliknya, kapal-kapal asal Jawa dalam perjalanan pulang menuju pantai utara
236 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Jawa membawa pulang komoditas dan barang-barang yang diperdagangkan di
Malaka antara lain asal India, Persia, Cina. Kapal-kapal asal Jawa mengangkut
beras ke Malaka rata-rata sebanyak 50 ton per kapal.64
Kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa menjalin hubungan niaga
dengan Malaka karena Malaka strategis letaknya dalam jalur pelayaran dan
perniagaan antarbangsa, serta menjadi tempat penjualan beras dan produk-
produk makanan bagi Jawa. Malaka juga menjadi persinggahan bagi kapal-
kapal asing yang melintasi Selat Malaka baik dari arah barat Asia maupun timur
untuk mengisi perbekalan dan air minum sebelum melanjutkan perjalanannya.
Hubungan kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa dengan Malaka mengalami
perubahan ketika kota pelabuhan tersebut ditaklukkan oleh Portugis pada
1511. Sejak penaklukkan Malaka, Portugis praktis menguasai jalur pelayaran
yang melintasi Selat Malaka.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis berpengaruh terhadap pelayaran
dan perniagaan di wilayah barat Nusantara. Rute pelayaran bagi kapal-kapal
dari India, Persia dan Timur Tengah yang menyusuri pantai timur Sumatera
sebelum Malaka jatuh ke tangan Portugis kemudian mengalihkan sebagian
rutenya melintasi pantai barat Sumatera. Jalur pelayaran yang menyusuri
pantai barat Sumatera dipilih dan menjadi rute alternatif bagi para saudagar
yang akan menuju perairan Nusantara tanpa harus melintasi Selat Malaka.
Kapal-kapal mereka berlayar sepanjang pantai timur Sumatera melintasi kota-
kota seperti Barus, Tiku, Pariaman, Indrapura, sebelum memasuki Selat Sunda
dan menuju Banten atau kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai utara Jawa.65
Kemunculan kota-kota pelabuhan di wilayah Nusantara terutama
di pantai utara Jawa erat kaitannya dengan perkembangan dalam dunia
pelayaran. Ramainya pelayaran memacu masyarakat yang tinggal di sekitar
pelabuhan merespons segala kebutuhan para saudagar dan awak kapal. Hal ini
mendorong tumbuhnya migrasi dan pemukiman di sekitar pelabuhan, pasar
pun ikut berkembang dengan berbagai jenis barang atau komoditas dan juga
perdagangan budak.66
64 Lihat Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga…Jilid 2, hlm 91.
65 Zed. Op.cit. Saudagar Pariaman.
66 Budak juga berasal dari Banten dan Kepulauan Maladewa. Kebutuhan terhadap budak karena
tanah yang dipakai sebagai lahan pertanian dan perkebunan luasnya tidak sebanding dengan kebutuhan
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 237
Perairan Nusantara tidak hanya merintis jalan bagi terbukanya interaksi
antarbangsa secara meluas di bidang ekonomi tetapi juga hingga ke bidang
sosial dan budaya karena para saudagar maupun awak kapal masing-masing
datang dengan latar belakang sosial-budaya yang berbeda. Keragaman
antarbangsa yang dipertemukan melalui dunia pelayaran dan perniagan inilah
yang memberi karakter pada sebuah kota pelabuhan. Watak kosmopolitan,
pluralistis, pada kota-kota pelabuhan sangat melekat di dalamnya. Semua kota-
kota pelabuhan utama di Asia Tenggara adalah pelaku aktif dalam perniagaan
antarbangsa, dan sebutan sebagai orang Melayu, orang Jawa, maupun orang
Cina umum digunakan kepada golongan orang Asia Tenggara yang melakukan
aktivitas perniagaan pada abad ke-16.
Pertemuan berbagai bangsa dalam dunia perniagaan jarak jauh pada
akhirnya juga mengembangkan dan meningkatkan transaksi dalam
perdagangan lokal. Pasokan pangan dan minuman berupa beras, sayur-mayur,
ikan asin, daging, tuak, gula dan garam serta berbagai barang dagangan lokal
dan bahan bangunan juga meningkat. Sebaliknya pusat-pusat perniagaan
hasil bumi kemudian membawa logam, keramik, tekstil dari produsen kepada
konsumen, mengumpulkan barang-barang ekspor, dan mendistribusikan
kembali barang-barang impor.67 Sastrawan Pramoedya Ananta Toer melukiskan
aktivitas di kota pelabuhan Tuban dengan narasi berikut. “Paling tidak telah
seribu tahun perahu dan kapal-kapal berlabuh di bandar Tuban Kota. Dari
barat, timur dan utara. Dari timur orang membongkar rempah-rempah dari
kepulauan yang belakangan ini mulai disebut bernama Mameluk dan cendana
dari Nusa Tenggara. Dari Tuban sendiri orang memunggah beras, minyak
kelapa, gula[,] garam, minyak tanah dan minyak-minyak nabati lainnya, kulit
binatang hewan.”68 Pertumbuhan kota-kota pelabuhan juga meningkatkan
permintaan air tawar bagi kapal-kapal sebelum melanjutkan perjalanannya.
Oleh karena perairan atau laut menjadi fokus dalam aktivitas penduduk,
maka kontruksi kota-kota pelabuhan pun menghadap ke laut dan pesisir
menjadi pusat aktivitas masyarakat. Kota-kota di sepanjang pantai utara Jawa
akan tenaga kerja. Budak juga dibutuhkan sebagai anak buah kapal dalam dunia pelayaran. Lihat Reid.
Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga… Jilid 2, hlm 44, 59.
67 Lihat Reid. Ibid., hlm 80-81.
68 Mameluk adalah sebutan dari saudagar-saudagar Arab yang kemudian berubah menjadi
Maluku. Lihat Pramoedya Ananta Toer. Arus Balik. Jakarta: Hasta Mistra, 1995, hlm 20.
238 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
seperti Lasem, Jepara, Rembang, Juwana, Tuban dan Gresik menghadap ke
laut, dan kehidupan masyarakat di kota tersebut berpusat di sekitar pelabuhan
ataupun pesisir. Tercatat, Demak pada tahun 1512 terdapat 8-10 ribu rumah
yang setara dengan populasi 58.500 dan 30 ribu jago berkelahi yang setara
dengan populasi 120 ribu. Gresik pada 1512 terdapat 6-7 ribu “laki-laki” yang
setara dengan populasi lebih dari 25 ribu. Jepara pada tahun 1654 terdapat
100 ribu penduduk. Tuban pada tahun 1600 terdapat 32-33.500 jago berkelahi
yang setara dengan populasi 130 ribu. Kemudian Surabaya pada 1625 terdapat
50-60 ribu penduduk.69 Jika melihat angka-angka populasi di atas, terlihat ada
pertumbuhan pada beberapa kota di pantai utara Jawa dan perkembangan
kependudukan ini terkait pula dengan perniagaan di kota-kota tersebut.
Kehidupan masyarakat juga berpusat pada sungai-sungai yang dapat
dilayari perahu-perahu70 yang mampu mengangkut hasil-hasil pertanian dan
berlayar dari hulu ke hilir dengan tujuan kota-kota pelabuhan atau pasar di
sekitarnya.71 Di Desa Dasun, Lasem, contohnya, konstruksi sebuah rumah
warga Tionghoa memiliki jalur bawah tanah yang menghubungkan dengan
sungai terdekat. Jalan menuju sungai itu dibuat untuk memudahkan akses
langsung ke sungai yang kemudian membawanya ke kota pelabuhan. Seiring
dengan pendangkalan sungai dan sedimentasi di sekitar pesisir Lasem, juga
kemudahan dalam transportasi darat, maka jalur rumah warga yang menuju
sungai itu pun tidak berfungsi lagi.
Pelayaran dan perniagaan jarak jauh memanfaatkan angin musim yang
69 Lihat Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga…Jilid 2, hlm 83, 85, 88-9.
70 Prasasti Dhimanasrama pada abad ke-10 menyebut tentang jenis-jenis perahu yang digunakan
untuk mengangkut barang atau hasil bumi yaitu perahu dengan pengayuh galah [batasnya] 6, perahu
dengan lima gandung, perahu penawa dengan lima gandung, perahu pakbowan dengan empat gandung,
perahu jurag [batasnya] lima, perahu pangagaran [batasnya] lima, perahu pedagang [batasnya] lima,
perahu pannayan [batasnya] lima. Lihat Titi Surti Nastiti. Peranan Pasar di Jawa Pada Masa Mataram
Kuna (Abad VIII-XI Masehi). Tesis Program Studi Arkeologi Pascasarjana Universitas Indonesia, 1995,
hlm 136.
71 Lihat Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga… Jilid 2, hlm 98. Dalam prasasti Jawa
kuno disebutkan bahwa ada dua jalur yang ditempuh oleh masyarakat Jawa untuk membawa dagangan
mereka menuju pasar. Untuk jalur darat, pedagang yang membawa dagangan dalam jumlah besar
menggunakan gerobak atau pedati (padati, mapadati, maguluhan). Lelaki pedagang yang tidak banyak
membawa barang dagangannya menggunakan kuda ataupun sapi (atitih), atau dibawa dengan pikulan
(pinikul dagannya), sedangkan perempuan pedagang membawa barang dagangnnya dengan bakul yang
digendong di belakang dengan memakai kain gendongan. Untuk jalur sungai, barang dagangan diangkut
dengan perahu (maparahu). Lihat Nastiti. Ibid., hlm 86.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 239
bertiup pada bulan-bulan tertentu sepanjang tahun. Ketika kapal menuju
daratan Asia, maka kapal berlayar memanfaatkan angin musim yang bertiup
ke arah utara pada bulan April hingga Agustus. Sedangkan saat kapal berlayar
menuju selatan dari daratan Asia menuju Samudera Hindia dan Laut Natuna
Utara, maka kapal memanfaatkan angin musim yang bertiup ke selatan pada
bulan Desember hingga Maret. Pelayaran dengan berpedoman pada angin
musim itu berakibat berkembangnya pelabuhan antara. Pada abad ke-15, Pasai
dan Malaka merupakan pelabuhan antara. Selama masa transisi atau pergantian
arah angin, kapal-kapal mempunyai masa tunggu dari pergantian angin musim
ini sebelum melanjutkan pelayaran kembali.72
Sebagai kota pelabuhan, kota-kota di pantai utara Jawa seperti Lasem,
Jepara, Tuban, Gresik juga dihuni oleh berbagai bangsa dan penduduk
Nusantara. Mereka datang ke kota-kota tesebut untuk melakukan aktivitas
perniagaan baik sebagai penjual maupun pembeli. Barang-barang dagangan
yang diperjualbelikan di kota-kota tersebut sebagian dijual kembali di tempat
lain, diekspor, ataupun ditukar dengan barang-barang lain yang nilainya setara.
Sebagai kota pelabuhan, interaksi antarbangsa dan juga kebudayaan lebih
sering terjadi sehingga kota pelabuhan terkadang juga menyandang sebutan
sebagai “kota internasional”.
Tuban misalnya, kota yang dibangun pada sekitar abad ke-7 ini dihuni
oleh berbagai bangsa antara lain asal Arab, Bengala, Persia. Tuban menjadi
tempat persinggahan kapal-kapal dan saudagar yang datang dari India,
Kamboja, Cina, Vietnam, Campa, Bengala, dan Siam.73 Kota pesisir di Jawa
Timur ini juga penting bagi Kerajaan Majapahit karena diandalkan untuk
mengumpulkan pajak. Selain itu, sebagai kota pelabuhan yang memiliki laut
dalam dan pantai yang baik untuk kapal-kapal besar berlabuh, Tuban menjadi
tempat penumpukan rempah-rempah asal Kepulauan Maluku dan Banda.
Pramoedya Ananta Toer dalam roman sejarahnya berjudul Arus Balik menulis
tentang kota pelabuhan ini sebagai berikut, “Pedagang-pedagang Atas Angin
menamai bandar ini Permata Bumi Selatan.”74
Tentang pajak sebagaimana disebut di atas, Nagarakertagama menyebutkan
72 Lihat Reid. Op.cit. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga…Jilid 2, hlm 78.
73 Lihat Lombard. Op.cit. Nusa Jawa: Silang Budaya. Jilid 2 Jaringan Asia, hlm 38-9.
74 Toer. Arus Balik, hlm 21.
240 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
tentang organisasi perdagangan atau jaringan perniagaan abad ke-14 antara
Jawa dan “wajib pajak” di 98 daerah di Nusantara, yang keseluruhannya kira-kira
mencakup wilayah Nusantara sekarang. Para wajib pajak itu tersebar di banyak
daerah mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Palembang,
Lampung, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku,
Papua, bahkan hingga Semenanjung Melayu. Jaringan perniagaan antara
Majapahit dan wilayah-wilayah di Nusantara yang terbentuk melalui wajib
pajak ini menunjukkan pula suatu bentuk penguasaan Majapahit atas wilayah-
wilayah itu. Ada sanksi atau hukuman yang diberikan oleh Majapahit jika salah
satu dari wajib pajak itu menolak memberikan upeti kepada Majapahit.75
Kota-kota di pantai utara Jawa seperti Gresik dan Tuban juga menjadi
tempat perdagangan rempah-rempah. Gresik bersama Jaratan merupakan kota
pelabuhan di mana para pedagang dan berbagai komoditas mengalir tanpa
henti sepanjang tahun. Sejak Kerajaan Srwijaya melemah kekuasaannya atas
wilayah perairan barat Nusantara, peran kota-kota pantai utara Jawa termasuk
Gresik sebagai pelabuhan rempah-rempah meningkat sejak abad ke-14. Lada
asal Jambi dan Sumatera, cengkeh asal Kepulauan Maluku, banda dan fuli
asal Kepulauan Banda, juga kain, beras, ikan asin, gula, dan garam bertemu di
Gresik.
Pasar di Jawa dibagi dalam dua tipe yaitu pasar daerah pantai dan pasar
daerah pedalaman. Pasar pantai terdiri dari dua jenis komoditas yaitu barang-
barang impor yang dibawa oleh kapal-kapal niaga dan barang-barang hasil
produksi lokal baik berupa produk makanan maupun kerajinan. Barang
dagangan yang diperjualbelikan di pasar daerah pantai antara lain garam, terasi,
ikan asin, dendeng ikan, berbagai jenis ikan yaitu ikan kembung, ikan duri, ikan
kakap, ikan tenggri, ikan bawal, ikan selar, ikan pari, ikan gabus, cumi-cumi,
kepiting, udang. Ikan-ikan yang diperdagangkan di pasar itu ditangkap di laut
atau sungai dengan cara menjala, memakai bubu, atau mengail. Selain hasil-
hasil tangkapan laut, pasar-pasar di Jawa juga menjual beberapa jenis palawija
antara lain labu, ubi, talas/keladi, beligo, kacang jelasi, jawawut, terong dan
cabai.76 Sedangkan rempah-rempah dalam masyarakat Jawa berfungsi sebagai
75 Lihat Lombard. Nusa Jawa…Jilid 2, hlm 39-40. Untuk peta tentang wajib pajak pada masa
pemerintahan Hayam Wuruk ini lihat dalam karya Lombard ini pada halaman 37.
76 Prasasti Pangumulan A yang beragka tahun 825 Saka/903 Masehi menyebutkan jenis-jenis
barang yang dperdagangkan di pasar-pasar di Jawa. Lihat Nastiti. Op.cit, hlm 96-7, 100, 102, 117.
Dinamika Masyarakat Jalur Rempah | 241
bumbu dapur atau sebagai obat. Rempah sebagai bumbu dapur antara lain lada,
jemuju, jahe, sirih, dan kapulaga.77
Pesisir Jawa juga dikenal sebagai penghasil garam yang diperlukan
masyarakat untuk berbagai kebutuhan. Jawa sebagai produsen garam disebut
dalam berita dinasti T’ang (618-906 Masehi) yang menyatakan bahwa ada gua
yang menghasilkan air garam atau dalam bahasa Jawa disebut bledug. Pembuatan
garam di wilayah pesisir diketahui dari prasasti Biluluk I yang berangka tahun
1288 Saka/1366 Masehi. Prasasti tersebut menyebutkan tentang sumber mata
air asin di Desa Biluluk, Lamongan, sebagai tempat pembuatan garam. Tradisi
masyarakat membuat garam di beberapa desa di Lamongan, Jawa Timur,
sudah ada sejak zaman Majapahit atau sebelumnya.78 Garam yang dihasilkan
dari kota-kota di pantai utara Jawa sangat dibutuhkan dalam pengolahan
makanan berupa ikan asin. Di pantai timur Sumatera, garam asal pantai utara
Jawa dipakai sebagai bahan mengolah makanan enak troeboek atau telur ikan
shad yang diasinkan. Produk olahan ini disukai di wilayah Nusantara, dan para
perompak yang tinggal di sekitar pantai Sumatera menjadi pemasok makanan
enak ini ke Malaka. Pada abad ke-17, Bengkalis menjadi pusat produksi
pengolahan ikan tersebut.79
Jaringan pelayaran dan perniagaan Nusantara dan juga internasional
tidak dapat melepaskan pantai utara Jawa yang penting kedudukannya dalam
jejaring perniagaan di wilayah perairan Nusantara. Kota-kota di pantai utara
Jawa penting karena menghubungkan dunia agraris dengan maritim. Kota-
kota itu tidak hanya menjadi tempat penjualan rempah-rempah yang dibawa
dari Kepulauan Maluku dan Banda, tetapi juga mempertukarkan komoditas
tersebut dengan tekstil, keramik, emas, lada, beras dan lain-lain yang dibawa
oleh kapal-kapal dari berbagai wilayah.
Perdagangan dalam skala besar antar kota-kota pelabuhan di Nusantara
itu juga melibatkan pedagang-pedagang besar dengan kemampuan modal
yang besar, jaringan perdagangan, dan kedekatannya dengan kekuasaan
(kerajaan atau kesultanan). Di beberapa kota-kota pelabuhan di Nusantara,
seperti diuraikan pada masing-masing wilayah narasi jalur rempah ini, tipe
77 Lihat Nastiti. Op.cit, hlm 112.
78 Nastiti. Ibid., hlm 128-9.
79 Lihat Pires. Op.cit., hlm 149; Meilink-Roelofsz. Op.cit., hlm 81.
242 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
saudagar dengan kemampuan modal dan jaringan yang besar tumbuh seiring
berkembangnya perniagaan di wilayah Nusantara. Mereka juga mampu
berbisnis dalam aneka usaha, tetapi tetap mempertahankan bisnis pokoknya
di bidang transportasi, sebagai distributor rempah atau hasil-hasil pertanian.
Kemunculan jenis pedagang grosir demikian yang tumbuh di kawasan pantai
utara Jawa seiring dengan ramainya dunia pelayaran dan perniagaan di
sepanjang pantai utara Jawa.
Dalam perniagaan di Jawa, mata rantai perniagaan antara hulu dan hilir
juga dipegang oleh pedagang keliling kecil dengan perahu-perahu miliknya
membawa hasil-hasil pertanian dari wilayah hulu ke pedagang perantara yang
siap menampung barang dagangan mereka. Dari pedagang perantara, barang
dagangan kemudian dibawa ke kota pelabuhan sebelum diangkut menuju
kapal-kapal. Perjalanan komoditas dari hulu ke hilir tidak dikuasai oleh
pedagang keliling kecil saja, tetapi juga melibatkan pedagang besar dengan
jaringan niaga yang luas dan modal yang besar dimiliki oleh mereka. Mereka
juga mempunyai kapal-kapal sendiri yang disewakan kepada para saudagar.
Dunia pelayaran dan perniagaan memang melibatkan banyak pihak termasuk
di dalamnya menyangkut jaringan maupun permodalan. Menguasai jalur
rempah sesungguhnya identik dengan menguasai dunia. Jalur rempah yang
terbentuk sejak lama seiring tumbuhnya keinginan bangsa-bangsa untuk
memanfaatkan rempah-rempah asal Nusantara sebagai aroma pewangi, obat-
obatan, dan bumbu masakan mendorong bangsa-bangsa asing datang ke
Nusantara.
Kedatangan bangsa-bangsa asing ke Nusantara dalam urusan perniagaan
juga berpengaruh terhadap migrasi dan berkembangnya pemukiman di kota-
kota pelabuhan Nusantara. Kota-kota tumbuh dan berkembang, begitu pula
dengan kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai utara Jawa. Berbagai bangsa
asal Arab, India, Persia, dan Cina saling berinteraksi dengan masyarakat
Nusantara. Hubungan antarbangsa itu setidaknya berpengaruh terhadap
banyak aspek kehidupan dan saling memperkaya kehidupan sosial-budaya
masing-masing. Dunia pelayaran dan perniagaan Nusantara tidak hanya
menghubungkan Nusantara dengan negeri-negeri lain secara ekonomi, tetapi
juga menghubungkan masyarakat dan kebudayaan di masing-masing kota
pelabuhan.
PENUTUP
Perdagangan rempah dalam sejarah Nusantara abad 10 - 16 merupakan
geografis historis mata rantai perniagaan antara hulu dan pesisir. Laut
dan perairan nusantara memiliki peran penting sebagai penghubung
jejaring pelayaran dan perniagaan di sepanjang jalur rempah dari Sumatera
hingga Papua. Perdagangan rempah ini menghubungkan satu wilayah dengan
wilayah lainnya, satu pelabuhan dengan pelabuhan lain. Hal ini tentunya tidak
terlepas dari pergerakan orang, komunitas dan kapal-kapal dari berbagai
penjuru yang melintasi perairan nusantara untuk berdagang dan kemudian
ditukar dengan rempah-rempah asal nusantara.
Dinamika masyarakat jalur rempah ini berupaya menjelaskan pentingnya
sungai, selat, laut dan korelasi mata rantai pelayaran dan perniagaan rempah-
rempah dan komoditas perairan nusantara. Bagian penting lainnya akibat
korelasi pelayaran dan perniagaan rempah adalah kekuasaan, sosial budaya
dan keagamaan (Hindu dan Budha) sebagai akibat hubungan antar bangsa. Ini
menunjukkan bahwa korelasi pelayaran dan perniagaan rempah-rempah ini
melibatkan banyak pihak terkait didalamnya.
Paparan tentang dinamika masyarakat jalur rempah ini diharapkan
dapat membangun sebuah pemahaman tentang masyarakat jalur rempah
pada abad ke 10 – 16 dari sisi sejarah sosial rempah-rempah. Dalam konteks
geografis historis tentang pelayaran dan perniagaan rempah-rempah ini untuk
membangkitkan kesadaran sejarah dan dapat dijadikan referensi dalam melihat
peran nusantara dalam berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain sebagai bahan
kebijakan dengan adanya wacana Indonesia sebagai poros maritim sehingga
mampu membawa kita pada suatu pemahaman dan cara pandang dalam
melihat sejarah nusantara khususnya dinamika masyarakat jalur rempah di
Indonesia (konteks Jambi, Pantai Utara Jawa dan Pulau Banda, Maluku).
DAFTAR BACAAN
Achmad, Sri Wintala. Sejarah Raja-Raja Jawa Dari Kalingga Hingga Mataram
Islam. Yogyakarta: Araska, 2017.
Alwi, Des. Sejarah Maluku, Banda Neira, Ternate, Tidore, dan Ambon. Jakarta:
Dian Rakyat, 2005.
Amal, M. Adnan. Kepulauan Rempah-Rempah. Perjalanan Sejarah Maluku
Utara 1250-1950. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2016.
Andaya, Barbara Watson. “The Cloth Trade in Jambi and Palembang Society
During The Seventeenth and Eighteenth Centuries,” Indonesia, No. 48,
1989.
Asnan, Gusti. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. Yogyakarta: Ombak,
20017.
Boechari. “Epigraphy and Indonesian Historiography,” dalam An Introduction
to Indonesian Historiography, Soedjatmoko (et.al). Ithaca. NY: Cornell
University Press, 1966.
_______. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedia, 2012.
Burke, Peter. “History and Folklore: A Historiographical Survey,” Foklore 115,
2004.
Casparis, J.G. De. Indonesian Paleography: A History Writing in Indonesia from
the Beginnings to c. AD 1500. Leiden: E.J. Brill, 1975.
Coedes, George. Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha. Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedia, Forum Jakarta-Paris, dan Pusat Penelitian dan
Pengembangan Arkeologi Nasional, 2010.
Christie, Jan Wisseman. “Javanese Market and the Asian Sea Trade Boom of
248 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
the Teenth to Thirteenth Centuries AD,” Journal of the Economic and Social
History of the Orient (JESHO), 1998 (41), Vol. 3.
Djoko MR, Suhardi. Kepulauan Banda dan Masyarakatnya. Jakarta: Direktorat
Jenderal Kebudayaan, 1999/2001.
Drakard, Jane. “An Indian Ocean Port: Sources of the Earlier History of Barus,”
Archipel, Vol 37, 1989.
Farid, Muhammad dan Najiwa Amsi. “Studi Masyarakat Banda Naira: Sebuah
Tinjauan Sosiologis-Anthropologis,” Paradigma, Vol. 3. Februari 2017.
Gulliot, Claude. Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia, École française d’Extrême Orient, Forum
Jakarta-Paris, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional,
2008.
_____________ (Ed.). Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, École française d’Extrême Orient, Pusat Arkeologi Nasional,
2014.
Hadimulyono dan C.C. Macknight. “Imported Ceramics in South Sulawesi,”
RIMA, No. 17, 1983.
Hall, Kenneth. “Indonesia’s Evolving International Relationships in the Ninth
to Early Eleventh Centuries: Evidence from Contemporary Shipwreck and
Epigrapraphy,” Indonesia, Vol 90, Oktober 2010.
____________. A History of Early Southeast Asia: Maritime Trade and Societal
Development 100-1500. Lanham: Rowman and Littlefield, 2011.
Handoko, Wuri. “Aktifitas Perdagangan Lokal di Kepulauan Maluku Abad ke-
15 − 19. Tinjauan Awal Berdasarkan Data Keramik Asing dan Komoditas
Lokal,” Kapata Arkeologi, Vol. 3, No. 4, Juli 2007.
Hanna, Willard A. Kepulauan Banda. Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan
Pala. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-Gramedia, 1983.
Hardjowardojo. Pararaton. Jakarta: Bhratara, 1965.
Kartodirdjo, Sartono. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari
Emporium Sampai Imperium, Jilid 1. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1999.
Kathirithamby-Wells, J. “Royal Authority and the ‘Orang Kaya’ in the Western
Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI | 249
Archipelago, circa 1500-1800,” Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 17,
No. 2 (Sept 1986).
Kruijt, A.C.. “Het Ijzer in Midden Celebes,” BKI 53 (1901).
Lapian, Adrian B. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17.
Depok: Komunitas Bambu, 2008.
_______________. Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut
Sulawesi Abad XIX. Depok: Komunitas Bambu, 2009.
Leirissa, R.Z. et.al. Sejarah Kebudayaan Maluku. Jakarta: Direktorat Jenderal
Kebudayaan, 1999.
Leur, J.C. van. Indonesian Trade and Society. Essays in Asian Social and Economic
History. The Hague, Bandung: W. van Hoeve, 1955.
____________. Indonesian Trade and Society: Essays in Asian Social and
Economic History. Dordrecht: Foris Publications, 1983.
Lindayanti dkk. Jambi Dalam Sejarah 1500-1942. Jambi: Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata Provinsi Jambi, 2013.
Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya. Batas-batas Pembaratan. Jilid I.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996.
_______________. Nusa Jawa: Silang Budaya. Jaringan Asia. Jilid II. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1996.
_______________. Nusa Jawa: Silang Budaya. Warisan Kerajaan-kerajaan
Konsentris. Jilid III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996.
_____________. Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636).
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, Forum Jakarta-Paris, École
française d’Extrême Orient, 2014.
Manguin, Pierre-Yves. “Merchant and King: Political Myths of Southeast Asian
Coastal Politics,” Indonesia Vol. 52, Oktober 1991.
__________________. “Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara
Kepulauan: Pusat-pusat yang Terbatas, Pinggiran-pinggiran yang Meluas,”
dalam George Coedes (et.al). Kedatuan Sriwijaya. Depok: École française
d’Extrême Orient, Pusat Arkeologi Nasional, Komunitas Bambu, 2014.
Marsden F.R.S., William. Sejarah Sumatera. Jogjakarta: Indoliterasi, 2016.
250 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Meilink-Roelofsz, M.A.P.. Asian Trade and European Influence in The Indonesian
Archipelago Between 1500 and About 1630. The Hague: Martinus Nijhoff,
1962.
Miksic, John. “Traditional Sumatran Trade,” Bulletin de l’Ecole français
d’Extrême-Orient, Tome 74, 1985.
___________. An Historical Dictionary of Ancient Southeast Asia. Lanham,
Maryland: The Sacrecrow Press, 2007.
Muljana, Slamet. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi. Jakarta: Yayasan
Idayu, 1981.
Munoz, Paul Michel. Early Kingdoms. Indonesian Archipelago & Malay
Peninsula. Singapore: Didier Millet, 2006.
Nastiti, Titi Surti. Peranan Pasar di Jawa Pada Masa Mataram Kuna (Abad
VIII-XI Masehi). Tesis Program Studi Arkeologi Pascasarjana Universitas
Indonesia, 1995.
Pelras, Christian. Manusia Bugis. Jakarta: Forum Jakarta-Paris, 2006.
Pigeaud, Theodore. G. Th. Java in The 14th Century. A Study in Cultural History.
The Hague: Martinus Nijhoff, 1962.
Pires, Tome. The Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Francisco
Rodrigues, Volume 1. London: The Hakluyt Society, 1944.
Ptak, Roderich. “China and the Trade in Cloves, Circa 960-1435,” Journal of
American Oriental Society, Vol. 113, No. 1 (Jan-Mar 1993).
____________. “The Northern Trade Route to the Spice Islands: South China
Sea – Sulu Zone – North Moluccas (14th to Early 16th Century),” Archipel,
Vol 43, 1992.
Purwanti, Retno. “Karangberahi Dalam Struktur Perekonomian Kerajaan
Sriwijaya,” dalam Kumpulan Pertemuan Ilmiah Arkeologi X, 26-30
September 2005.
Reid, Anthony. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 1: Tanah di
Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011.
_____________. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 2: Jaringan
Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2015.
Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI | 251
Salmon, Ch. dan D. Lombard. Klenteng-klenteng Masyarakat Tionghoa di
Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1985.
__________. “The Chinese Community of Surabaya, From its Origins to the
1930s Crisis,” Chinese Southern Diaspora Studies, Vol 3, 2009.
Sastri, Nilakanta. “Sri Vijaya,” Bulletin de l’Ecole français d’Extrême-Orient,
Tome 40 No 2, 1940.
Schrieke, B.J.O. Indonesian Sociological Studies. I: Selected Writings: II: Ruler
and Realm in Early Java. The Hague: W.van Hoeve, 1957.
Scott, William Henry. Barangay. Sixteenth Century Phillippine Culture and
Society. Manila: Ateneo University Press, 2004.
Soegondho, Santoso. et.al. Survai Kepurbakalaan Maluku (Seram dan Ambon)
Tahun 1994. Maluku: Bagian Proyek Penelitan Purbakala, 1994
_________________. et.al. Laporan Penelitian Arkeologi Bidang Prasejarah.
Survei Kepurbakalaan Maluku (Seram dan Ambon Tahun 1994). Maluku:
Bagian Proyek Penelitian Purbakala, 1994.
Sontani, Utuy Tatang. Tambera. Jakarta: Balai Pustaka, 2002.
Thalib, Usman. Islam di Banda Naira. Centra Perdagangan Rempah-Rempah di
Maluku. Ambon: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2015.
Thalib, Usman dan La Raman. Banda Dalam Sejarah Perbudakan di Nusantara.
Swastanisasi dan Praktek Kerja Paksa di Perkebunan Pala 1770-1860.
Jogjakarta: Ombak, 2015
Tjandrasasmita, Uka. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia, École française d’Extrême Orient, Fakultas Adab dan Humaniora
UIN Syarif Hidayatullah, 2009.
Toer, Pramoedya Ananta. Arus Balik. Jakarta: Hasta Mitra, 1995.
Usmany, Desy P dkk. Sejarah Terbentuknya Kota Dagang Banda, Hitu, Dan
Ambon Abad 15-17. Ambon: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional,
2006.
Utomo, Bambang Budi. “Awal Perjalanan Sejarah Menuju Negara Kepulauan,”
dalam Dorothea Rosa Herliany (Eds. Et.al). Arus Balik: Memori Rempah
dan Bahari Nusantara Kolonial dan Poskolonial. Yogyakarta: Ombak, 2014.
252 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
___________________. Pengaruh Kebudayaan India Dalam Bentuk Arca di
Sumatera. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2016.
Villiers, John. “Trade and Society in The Banda Islands in The Sixteenth
Century,” Modern Asian Studies, Vol. 15, No. 4, 1981.
Vlekke, Bernard H.M. Nusantara: A History of The East Indian Archipelago.
Cambridge, Mass: Harvard University Press, 1943.
____________. Nusantara. Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia, 2017.
Wall, V.I. Van De. “Bijdrage Tot de Geshiedenis der Perkeniers, 1621-1671,”
B.K.I. LXXIV, 1934.
Wiyana, Budi. “Perdagangan di Pantai Timur Sumatra Bagian Selatan
Berdasarkan Temuan Manik-manik,” dalam Kumpulan Pertemuan Ilmiah
Arkeologi X, 26-30 September 2005.
Zeid, Mestika, Saudagar Pariaman: Menerjang Ombak Membangun Maskapai.
Jakarta: LP3ES, 2017.
BIODATA
RAZIF lahir di Jakarta. Pada 1981, ia kuliah S1 di Jurusan Sejarah, Fakultas
Sastra Universitias Indonesia. Pada akhir 1990-an, ia bergabung dengan Media
Kerja Budaya, majalah yang membahas jaringan kerja budaya di Indonesia.
Pada 2007, ia melanjutkan kuliah S2 di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu
Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak 2004 hingga sekarang, ia
bergabung dengan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI). Minat dia dengan
studi pergerakan buruh sangat besar. Ia telah menghasilkan beberapa tulisan
seperti sejarah buruh Tanjung Priok tahun 1890 hingga 1950; sejarah buruh
kereta api di Manggarai, serta “Romusha dan Pembangunan: Sumbangan
Tahanan Politik untuk Rezim Soeharto,” dalam John Roosa, Ayu Ratih, dan
Hilmar Farid (Eds.). Tahun Yang Tak Pernah Berakhir.
M. FAUZI lahir di Jakarta. Pada 1990 ia menyelesaikan S1 di Jurusan
Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Pada 2010 ia menyelesaikan
S2 dalam Program Studi Ilmu Sejarah, Program Pascasarjana Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, dengan tesis “Jagoan Jakarta dan
Penguasaan di Perkotaan, 1950-1966”. Sejak 2004 hingga kini, ia bergabung
dengan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI). Ia telah menyunting beberapa
buku dan menulis esai-esai antara lain “Pendudukan Jepang dan Wacana
Kebudayaan”; dua esai dalam buku Ismail Marzuki: Musik, Tanah Air dan Cinta;
“Bandit dan Watak Revolusi Indonesia”; “Wong Tjilik: Sebuah Sejarah Politik,” dalam
Rémy Madinier (ed). Revolusi Tak Kunjung Selesai: Potret Indonesia Masa Kini; serta
dua esai dalam Sejarah/Geografi Agraria Indonesia.
INDEKS
A Arab vii, xii, 11, 14, 24, 37, 43, 45, 47, 51, 52,
69, 81, 84, 85, 86, 107, 124, 141, 150,
Aceh vii, x, 42, 44, 45, 46, 47, 48, 52, 68, 92, 154, 157, 158, 159, 162, 164, 165, 166,
94, 97, 124, 166, 174, 231, 240 170, 171, 175, 180, 181, 186, 194, 199,
208, 213, 214, 222, 228, 235, 237, 239,
Aceh Barat 46 242
adas 110
Afrika 50, 106, 165 arkeologi 11, 12, 15, 17, 18, 52, 61, 95, 149,
Ai 10, 73, 143, 145 176, 177
Airlangga 56, 106
Aleksandria 33, 71, 141, 204, 206 armada 30, 32, 37, 39, 40, 82, 83, 93, 94, 119,
Alifuru 25 120, 127, 128, 164, 190, 199, 210, 224,
Alor 27, 84 230
Amahusu 11
Ambon xiii, 11, 12, 15, 16, 18, 19, 20, 21, 22, Aru xiv, 11, 21, 40, 71, 75, 77, 79, 80, 214, 224
Asia ix, xi, xii, xiii, 3, 5, 11, 18, 23, 25, 27, 29,
27, 33, 34, 35, 39, 40, 41, 70, 74, 77, 78,
79, 81, 82, 83, 85, 89, 92, 110, 122, 139, 30, 32, 33, 34, 35, 36, 42, 43, 44, 48, 50,
142, 149, 150, 152, 156, 157, 158, 160, 52, 54, 59, 64, 67, 68, 69, 75, 76, 84, 89,
165, 168, 186, 204, 205, 208, 215, 224 90, 92, 94, 97, 101, 102, 103, 107, 108,
Ambwan 33 111, 112, 113, 118, 120, 125, 126, 129,
Anden 71 130, 133, 141, 142, 143, 144, 145, 146,
angin xii, xiv, 9, 43, 44, 45, 51, 63, 75, 76, 77, 148, 149, 164, 166, 172, 174, 177, 184,
80, 105, 121, 131, 132, 140, 146, 147, 185, 186, 191, 204, 211, 217, 224, 233,
154, 158, 161, 164, 165, 168, 171, 174, 236, 237, 238, 239
185, 194, 206, 212, 213, 215, 226, 233, Asia Barat ix, 11, 129, 130, 164, 204
234, 238, 239 Asia Tenggara xii, xiii, 5, 23, 25, 27, 29, 33, 34,
angin musim xii, xiv, 43, 44, 45, 51, 63, 194, 35, 36, 42, 43, 44, 48, 50, 52, 54, 59, 64,
234, 238, 239 67, 68, 69, 84, 89, 90, 92, 94, 97, 101,
Anthony Reid xii, 25, 29, 34, 112, 143 102, 103, 107, 112, 113, 125, 126, 133,
Anusapati 57 141, 143, 144, 145, 148, 166, 172, 174,
211, 236, 237, 238, 239
Asia Timur ix, xiii, 11, 68, 164, 233
Ay 9, 10, 12, 14, 18, 34, 37, 39, 205, 211, 213,
219, 220, 221
256 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
B bawang 71, 99, 155, 158, 171
bea cukai 79
Babad Tanah Jawa 160, 161 bea impor 99, 100
Babar 84 Beirut 33
Bacan xii, 71, 85, 89, 139, 162, 208 Belanda xiii, 14, 18, 20, 36, 37, 38, 39, 40, 41,
bahar 76, 78, 88, 89, 98, 140, 198, 220
Bahari vi, 114, 228 43, 54, 72, 76, 78, 79, 80, 83, 93, 96, 99,
Bahuwa 18 100, 101, 102, 103, 123, 124, 125, 129,
bajak laut 127, 169 132, 149, 170, 192, 204, 205, 208, 209,
Bali 3, 27, 84, 106, 107 210, 220, 224, 225, 226, 227, 231, 232
banda 76, 204, 240 Belang 157
Banda Besar 36, 39, 40, 72, 73, 88, 143, 145, belerang 9, 206
Bengala xi, 132, 239
147, 159, 168, 204, 205, 209, 211, 212, Bengawan Solo 115
213, 214, 219, 220 Benggala 28, 30, 31, 32, 76, 79, 105, 129, 133,
Banda Elat 80 162, 164, 169
Banda Eli 80 Benteng Belgica 205
Bandan 40, 140 Benteng Eldorado 10, 14
Bandar 13, 23, 27, 30, 34, 44, 104, 129, 152, Benteng Nassau 14, 39, 40, 205, 225
199, 204, 216 Benteng Victoria 82
Banggai 90, 91, 111, 168 beras x, xi, 3, 5, 13, 30, 33, 34, 35, 43, 54, 61,
Banggawi 111 62, 63, 68, 71, 77, 85, 92, 93, 99, 102,
Bangka 44, 46, 98, 122, 196 107, 109, 110, 111, 121, 122, 123, 127,
banjaga 106, 107 128, 129, 132, 133, 140, 142, 147, 152,
Banjar 103 155, 158, 165, 169, 170, 171, 184, 185,
Banjarmasin x, 3, 44, 93, 102, 122, 170, 185 190, 191, 192, 193, 196, 197, 198, 199,
Banten vii, x, xi, 40, 44, 45, 48, 92, 94, 96, 97, 211, 213, 214, 215, 217, 218, 222, 227,
98, 100, 102, 103, 104, 121, 132, 133, 235, 236, 237, 240, 241
135, 165, 175, 182, 183, 188, 197, 198, Bersih Negeri 11
215, 231, 232, 236 biduk 214
barangay 139 bokor-bokor 25
Barcelona 33, 71, 204 Bondan Kejawen 160, 161
Barus viii, 46, 47, 68, 94, 98, 101, 182, 236 Borneo xiii, xiv, 77, 152, 170, 171, 185
Batang Hari 46, 47, 48, 51, 52, 95, 96, 172, bowsprit 131
173, 174, 175, 176, 179, 180, 232, 233 brazil 83, 111
Batavia 40, 41, 83, 118, 119, 123, 204, 223, 224 Brunei x, xiv, 13, 77, 92, 97, 152, 171
buah 11, 17, 36, 37, 39, 57, 68, 71, 73, 76, 77,
Indeks | 257
78, 82, 84, 85, 92, 120, 139, 140, 142, Champa 13, 150, 152
145, 147, 150, 159, 168, 169, 183, 203, Chola 13, 69
206, 207, 208, 209, 210, 214, 215, 222, Chuan Chuo 23
223, 226, 235, 237 Cilubintang 80, 159, 160, 161, 203
budak 3, 39, 40, 41, 68, 74, 84, 90, 92, 93, 99, Cina xi, xii, xiii, 11, 12, 13, 14, 17, 20, 21, 23,
106, 111, 127, 139, 143, 144, 168, 169,
170, 172, 198, 199, 204, 210, 220, 222, 24, 25, 27, 28, 30, 37, 39, 42, 43, 44, 47,
223, 224, 225, 226, 227, 236 48, 50, 51, 52, 54, 61, 68, 69, 71, 72, 75,
budak senggi 106 81, 83, 84, 85, 86, 88, 90, 93, 94, 95, 97,
Budha 4, 21, 52, 54, 245 98, 99, 100, 101, 102, 105, 106, 107,
Bugis 24, 25, 28, 45, 73, 81, 93, 154, 166, 168, 109, 110, 111, 118, 119, 121, 123, 124,
169, 170, 186, 199, 211, 212 125, 127, 129, 131, 132, 133, 140, 141,
bukit Sirimau 11, 17, 20 146, 147, 149, 150, 152, 154, 155, 156,
burgher 39 157, 165, 171, 175, 178, 179, 185, 186,
Buru xiv, 223 188, 190, 191, 193, 194, 195, 196, 198,
burung nuri 79 199, 211, 214, 215, 218, 222, 224, 230,
Busuanga 23 231, 232, 233, 234, 235, 236, 237, 239,
Buton 14, 27, 73, 139, 146, 166, 168, 169, 170, 242
172, 204, 212 commenda 99
Butuan 13 Crusado 31, 72
Butun xiv Cuci Negeri 17, 20
Cuci Parigi 20, 156
C
D
cadik 150
Cakalele 21, 22 Dade Nanhai Zhi 13
Cambay 30, 31 daging 85, 99, 191, 194, 199, 206, 207, 210,
Candi Perot 106
Canggu 63 222, 237
cendrawasih 150 Daha 116
cengkeh xii, xiii, 13, 15, 23, 28, 31, 32, 33, 36, damar ix, xi, 43, 47, 52, 68, 77, 97, 98, 99, 185,
43, 44, 52, 68, 70, 71, 75, 81, 82, 84, 85, 199, 233
86, 87, 88, 89, 92, 93, 100, 101, 104, Danau Matano 90
109, 111, 113, 128, 129, 134, 139, 140, Daogi Zhilue 13
141, 147, 150, 154, 155, 157, 158, 203, dataran Kedu 55
205, 208, 213, 215, 218, 232, 233, 240 dataran tinggi Dieng 55, 56
cerita rakyat 72, 173, 174, 176, 182, 183 Demak 13, 34, 54, 117, 118, 120, 121, 122,
123, 124, 125, 126, 132, 133, 134, 142,
188, 192, 196, 197, 231, 235, 238
desa 11, 15, 20, 21, 61, 63, 73, 80, 113, 114,
139, 144, 145, 157, 188, 189, 209, 217,
220, 241
258 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
desa Ouw 15, 20 G
di Bawah Angin 34, 250
Dieng 55, 56 Galangan Kapal 114
Dinasti Ming xiii, 12, 17, 18, 20, 21, 23, 27, galle 166, 169
Galvao 23
75, 149 Gampa 92
Dinasti Song 23 garam x, 5, 10, 13, 15, 35, 36, 68, 97, 100, 102,
Dinasti Yuan 23, 28
Dirksen t’Lam 39 109, 111, 121, 128, 133, 140, 147, 193,
dolmen 11, 17, 113, 184 214, 237, 240, 241
Donggala 23 Genoa 33
dusun Ekang 17 gerabah 15, 17, 18, 20, 75, 81
goa 113
E Gresik x, xiv, 3, 13, 24, 28, 30, 32, 34, 36, 44,
77, 81, 83, 98, 110, 113, 121, 122, 125,
Ekang 17 126, 128, 129, 130, 131, 132, 133, 134,
Ekskavasi 18 135, 140, 142, 146, 184, 185, 188, 189,
Ekspedisi 10, 37, 39, 40, 41, 63, 78 190, 191, 195, 198, 204, 213, 231, 235,
Eldorado 10, 14, 37 238, 239, 240
emas 3, 25, 36, 43, 68, 69, 72, 75, 77, 79, 85, grosir xi, 13, 28, 30, 129, 134, 242
Gua Hatu 17
96, 98, 99, 101, 109, 111, 144, 147, 152, Guangdong 25, 131
154, 169, 171, 189, 190, 203, 206, 211, Gujarat xi, 13, 24, 28, 30, 31, 32, 67, 71, 76, 81,
241 83, 84, 85, 87, 88, 90, 98, 104, 105, 124,
era perdagangan 13, 21, 233 128, 129, 132, 140, 141, 147, 162, 164,
Eropa vii, ix, xii, xii, xiii, xiv, 3, 5, 11, 14, 18, 169, 204, 211, 214, 217, 218, 232, 235
24, 33, 35, 36, 37, 44, 70, 76, 84, 90, 97, gula 68, 69, 109, 111, 193, 214, 237, 240
102, 103, 104, 141, 157, 158, 170, 180, Gunung Api 10, 34, 36, 143, 155, 156, 205,
185, 205, 206, 211, 220, 224, 228, 233 206, 212, 213, 215, 225, 226
Gunung Muria 196
F
H
Filipina xiv, 13, 50, 68, 88, 105, 110, 139, 144,
148, 152, 166, 216 hadas 109
Halaai 14
folklor vii, 72, 132, 176, 182 Halmahera 73, 224
fuli ix, x, 13, 30, 31, 32, 33, 36, 37, 38, 70, 71, Hanoi 25
Hayam Wuruk 114, 115, 116, 190, 240
72, 73, 75, 76, 78, 82, 92, 128, 129, 140, Heeren XVII 38
141, 143, 145, 147, 148, 149, 154, 157,
161, 168, 170, 203, 206, 207, 209, 211,
213, 214, 215, 216, 217, 220, 221, 223,
226, 227, 228, 240
Indeks | 259
He-ling 106 J
Hikayat Bacan 89
Hikayat Banjar 103 Jacob van Neck 78
Hikayat Lonthor 80, 157, 159, 203, 204 jahe 241
hiliran 107 Jailolo 162
Hindu 4, 14, 21, 48, 52, 54, 59, 94, 105, 114, Jalan lada 103
jalur lada 92, 97
125, 126, 128, 245 jalur rempah vii, viii, ix, x, xi, xii, xiv, 4, 5, 6,
Hindu-Budha 4, 21, 52, 54
Hitu iii, 11, 15, 28, 34, 71, 78, 81, 82, 83, 89, 11, 13, 98, 139, 140, 143, 174, 184, 191,
193, 199, 228, 234, 241, 242, 245
104, 127, 128, 142 jalur selatan xi, xiii, 72, 83, 128, 146, 155, 158,
Hoi An 92 171, 185, 218
Hormuz 71, 104, 158, 162, 164, 171, 204 jalur utara xi, xii, 13, 67
Huamual 78, 81 Jambi vii, viii, x, xi, 3, 4, 42, 44, 45, 46, 47, 48,
50, 51, 52, 53, 68, 93, 94, 95, 96, 97, 98,
I 99, 100, 101, 102, 103, 121, 123, 133,
142, 172, 173, 174, 175, 176, 177, 178,
ikan 12, 15, 20, 36, 68, 75, 85, 140, 145, 154, 179, 180, 181, 182, 183, 192, 193, 196,
168, 170, 178, 186, 188, 195, 196, 206, 228, 229, 230, 231, 232, 233, 240, 245
212, 213, 214, 237, 240, 241 jamuju 109, 110
Janggala 55, 57
Ince Muda 123, 133 Janggala-Kediri 55, 57
Inderapura 45 jangkar 74
India v, ix, x, 5, 11, 13, 24, 28, 30, 31, 32, 37, Jan Pieterszoen 38, 40, 80
Jaratan 36, 68, 98, 121, 133, 140, 142, 240
42, 43, 44, 45, 47, 48, 50, 62, 68, 69, 71, jaringan perdagangan 23, 27, 62, 72, 83, 105,
84, 94, 97, 98, 102, 103, 104, 105, 106, 109, 127, 134, 241
107, 109, 110, 111, 113, 114, 119, 132, jaringan perniagaan 5, 28, 71, 107, 110, 111,
133, 134, 141, 146, 147, 152, 162, 164, 235, 240
165, 173, 174, 184, 186, 194, 208, 213, Jawa vii, viii, ix, x, xi, xii, xiii, xiv, 3, 4, 11, 13,
214, 218, 224, 228, 230, 236, 239, 242 14, 20, 21, 23, 24, 27, 28, 30, 32, 33, 34,
Indragiri 45, 98, 133, 231 35, 37, 40, 44, 45, 46, 48, 50, 51, 52, 54,
Inggris ix, 35, 37, 43, 76, 78, 99, 102, 103, 205, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 67,
211, 220, 222, 226 68, 69, 71, 72, 73, 75, 76, 77, 79, 81, 82,
Iskandar Muda 44, 249 83, 84, 85, 87, 90, 91, 92, 93, 94, 98, 99,
Islam vii, 4, 18, 23, 33, 35, 68, 82, 88, 94, 96, 100, 102, 104, 105, 106, 107, 108, 109,
105, 115, 117, 118, 120, 121, 125, 126, 110, 111, 113, 114, 115, 116, 117, 118,
131, 141, 142, 144, 157, 158, 159, 160, 119, 120, 121, 122, 123, 124, 125, 126,
161, 162, 164, 165, 166, 171, 172, 181, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 133, 140,
182, 190, 191, 196, 219, 220, 228, 247, 141, 142, 143, 146, 147, 148, 149, 154,
251
Islamisasi 157, 158, 160, 161, 162, 166, 171,
196
260 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
160, 161, 163, 164, 167, 169, 170, 175, Kalingga 105, 119, 184, 247
176, 177, 179, 182, 183, 184, 185, 186, Kampar 45, 231
187, 188, 189, 190, 191, 193, 194, 195, kamper 31, 43, 44, 47, 52, 68, 69
196, 197, 198, 199, 204, 211, 212, 213, kampung Bandan 40
214, 215, 216, 217, 218, 219, 227, 228, Kampung Baru 9
230, 231, 232, 234, 235, 236, 237, 238, kapak 84, 90, 147, 168
239, 240, 241, 242, 245 kapal ix, x, xiii, xiv, 3, 4, 5, 13, 20, 28, 30, 31,
Jawadwipa 52
Jawa Tengah 54, 55, 56, 57, 94, 114, 117, 118, 32, 33, 34, 37, 38, 39, 40, 42, 43, 44, 45,
119, 120, 121, 125, 179, 184 46, 47, 48, 51, 52, 54, 55, 67, 69, 70, 72,
Jawa Timur x, xi, 34, 35, 55, 56, 57, 59, 61, 73, 74, 75, 78, 81, 82, 83, 84, 87, 88, 89,
62, 68, 94, 98, 105, 106, 107, 109, 110, 90, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 98, 99, 100,
114, 117, 133, 141, 146, 194, 195, 235, 101, 102, 103, 104, 110, 111, 114, 120,
239, 241 121, 123, 124, 125, 126, 127, 128, 129,
Jazirah Almamluk 162 131, 132, 133, 135, 140, 141, 146, 147,
Jepara vi, 3, 13, 30, 34, 54, 68, 98, 100, 102, 148, 150, 152, 154, 158, 161, 164, 165,
117, 118, 119, 120, 121, 122, 123, 124, 168, 169, 171, 174, 175, 178, 179, 182,
125, 126, 133, 134, 158, 165, 167, 184, 184, 185, 189, 192, 193, 195, 196, 197,
188, 192, 193, 195, 197, 204, 231, 235, 198, 199, 204, 205, 211, 213, 214, 215,
238, 239 216, 218, 219, 220, 223, 224, 228, 229,
Johor xiv, 92, 177, 178, 231 230, 231, 232, 233, 234, 235, 236, 237,
jung xiv, 28, 30, 31, 32, 34, 72, 73, 77, 87, 89, 239, 240, 241, 242, 245
96, 97, 100, 101, 102, 120, 121, 123, kapitalisme 28
127, 128, 129, 132, 135, 141, 146, 148, kapsete 21
150, 154, 169, 180, 188, 196, 197, 211, Karaeng Matoaya 35
213, 218, 232 kardumunggu 52
junk 82, 133, 165, 211 Karnataka 105
Juwana 113, 114, 117, 123, 133, 197, 235, 238 kasturi 44
kasumba 109, 110
K katun 30, 31, 32, 68, 69, 75, 98, 99, 111, 129,
132, 133, 140, 141, 147, 152, 171, 214,
kacang 109, 240 218
Kahuripan 55, 56, 57, 116 kayu 3, 15, 43, 44, 48, 52, 68, 69, 70, 74, 77, 81,
kain ix, x, xi, 3, 13, 24, 25, 28, 30, 31, 32, 36, 83, 84, 96, 97, 101, 107, 111, 119, 121,
124, 133, 141, 142, 143, 145, 150, 170,
37, 43, 69, 71, 75, 79, 81, 82, 84, 87, 88, 178, 185, 199, 203, 232, 235
90, 92, 93, 100, 104, 107, 111, 121, 122, kayu brazil 83, 111
128, 129, 130, 132, 133, 134, 152, 155, kayu cendana 3, 52, 77, 84, 107, 121, 203, 232
169, 170, 185, 189, 190, 199, 210, 211, kayu gaharu 44, 52, 68, 96
214, 216, 218, 231, 232, 238, 240 kayu jati 68, 119
kain tenun x, 13, 30, 71, 79, 81, 92, 107, 111,
128, 129, 155, 170, 189, 190, 199, 211
Kakehang 11
Indeks | 261
kayu manis 3, 44, 68, 70 ketumbar 109, 110
kayu pewarna merah 111 kilala 106
kayu sapang 44 kilalan 106
kebudayaan Jawa 147 Kisar 84
kecamatan Amahai 17 klenteng 155, 156, 157, 179, 251
Kecamatan Elpa Putih 17 Kolano 85, 86
Kedah 102 kompas 162
Kediri 55, 56, 57, 191 komunitas pelabuhan 5, 111, 165, 186, 188,
Kedu 55, 106
Kei xiv, 11, 14, 21, 34, 40, 55, 71, 75, 77, 79, 189, 190, 195, 196
komunitas pesisir 177, 195
80, 150, 152, 154, 170, 211, 214, 224 Kong Hu Cu 14
Keling 31, 119, 146, 173, 174, 196, 199 Kora-Kora 156
kemukus 52 Korea xiii
kenari 24, 145, 147, 169, 209 Koromandel xi, 13, 28, 30, 31, 32, 105, 124,
Kenneth R. Hall 61
Kepulauan Banda viii, ix, x, 9, 10, 11, 12, 13, 128, 132, 169, 190, 218, 224
kota internasional 3, 192, 194, 195, 239
14, 15, 20, 22, 24, 25, 30, 32, 33, 35, 36, Kota Seberang 179, 180, 181
37, 40, 41, 71, 73, 74, 76, 78, 80, 82, 83, Kozhikode 129
92, 139, 141, 145, 146, 149, 157, 166,
185, 203, 204, 205, 206, 207, 208, 210, L
211, 212, 214, 216, 217, 218, 219, 220,
221, 222, 224, 225, 226, 227, 240 lada ix, xi, xiii, 5, 31, 43, 44, 47, 68, 69, 71,
Kepulauan Seram 11, 16, 17, 24, 25, 71, 80, 81 76, 92, 93, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 102,
Kepulauan Sunda Kecil 21, 77, 83, 84, 211, 103, 107, 109, 110, 111, 113, 121, 128,
220 133, 147, 152, 155, 158, 171, 179, 180,
kerajaan vii, 5, 23, 38, 42, 46, 47, 48, 50, 52, 191, 192, 193, 197, 198, 199, 214, 230,
55, 56, 57, 59, 61, 62, 63, 68, 69, 73, 78, 231, 232, 233, 241
81, 90, 94, 103, 106, 107, 109, 110, 111,
114, 115, 116, 117, 118, 119, 120, 123, Lamongan 241
125, 126, 127, 128, 139, 141, 144, 162, Lampung 98, 197, 240
164, 184, 186, 199, 216, 229, 230, 231, Lapian, Adrian B. 249
241, 249 Lasem vi, 44, 54, 98, 113, 114, 115, 116, 117,
Keramik 20, 21, 23, 27, 248
Kerinci 96, 172 118, 119, 120, 121, 133, 179, 184, 188,
keris 90, 111, 144, 229 195, 196, 235, 238, 239
Kerja Paksa 223, 251 Lautan Hindia xii
Ketjil Japon 102, 180, 232 Laut Cina Selatan 150, 152
Laut Jawa xiii, 69, 125, 126, 176, 198, 230
Laut Merah 92, 103, 158, 162, 164
262 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Laut Natuna Utara xiii, 230, 233, 239 105, 107, 113, 120, 121, 122, 123, 128,
Laut Sulawesi xiii, xiv, 178, 249 129, 132, 134, 135, 146, 149, 152, 154,
Laut Sulu xiii, 75, 150, 152 158, 161, 162, 164, 165, 167, 169, 170,
Laut Tengah 43, 71, 76, 92, 94, 102, 103, 139, 171, 174, 175, 176, 178, 190, 191, 192,
196, 197, 198, 199, 203, 204, 213, 215,
157 216, 217, 218, 219, 220, 228, 230, 232,
leenheer 41 235, 236, 239, 241
Leihitu 81 Maloko 33, 162
lembah Brantas 61, 109 Maluku xi, xii, xiii, 3, 9, 11, 12, 13, 14, 15, 17,
lilin 68, 207 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 27, 28, 30, 31,
Lingapati 59 32, 33, 34, 35, 36, 42, 43, 50, 55, 67, 68,
loji 36, 96, 124, 196 69, 70, 71, 72, 73, 75, 76, 77, 78, 79, 82,
Lonthor 38, 78, 80, 88, 145, 147, 157, 159, 83, 84, 85, 87, 88, 89, 93, 104, 105, 109,
110, 111, 121, 122, 123, 126, 127, 128,
203, 204, 209 129, 130, 132, 133, 134, 139, 140, 141,
Luwu iii, 90, 91 146, 149, 150, 152, 154, 155, 157, 158,
Luzon 23, 150 162, 165, 166, 168, 169, 170, 171, 190,
192, 203, 204, 205, 208, 213, 215, 216,
M 218, 219, 220, 224, 228, 231, 233, 235,
237, 239, 240, 241, 245
madu xi, 68, 81, 98, 99, 101, 133, 185 Maluku Tengah 9, 15, 17, 20, 21, 23, 25, 208
Madura 118, 131, 186, 190, 191, 198 Maluku Tenggara 11, 71, 75, 157, 158
Magelang 55 Mamluk 33, 206
maharaja 51, 52 Manananjung 110, 111
Ma Huan 63, 69, 194 Manggarai 27, 253
Majapahit vii, 33, 50, 55, 56, 57, 59, 62, 63, 69, manik-manik 18, 20, 21, 84, 90, 95, 149, 152
mardijker 39
90, 91, 94, 109, 110, 111, 113, 114, 115, Mataram 55, 56, 57, 93, 94, 114, 116, 117, 118,
116, 117, 125, 126, 127, 128, 160, 161, 123, 124, 125, 161, 238, 247, 250
195, 196, 239, 240, 241 Medang 55, 56, 57, 191
Makassar vii, x, 3, 13, 27, 35, 44, 69, 70, 85, Meilink-Roelofsz, M.A.P. 250
90, 92, 93, 122, 132, 166, 170, 198, 215, meja batu 11, 156
225, 231 Melayu xiv, 11, 13, 14, 21, 28, 37, 46, 50, 68,
Makian xii, 23, 71, 85, 89, 139, 208, 215, 218, 75, 76, 77, 79, 83, 84, 92, 93, 99, 104,
224 114, 120, 121, 124, 134, 140, 141, 146,
Maladewa 198, 236 150, 154, 161, 169, 170, 175, 178, 180,
Malaka xi, xii, xiii, xiv, 3, 13, 25, 28, 30, 31, 32, 181, 186, 192, 199, 204, 211, 213, 214,
42, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 51, 67, 68, 215, 231, 237, 240
69, 71, 72, 76, 77, 78, 83, 84, 92, 93, 94, merkuri 84
95, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 103, 104, Mesir x, 103, 129, 139, 141, 204, 206
Indeks | 263
Miksic, John 250 Neira 11, 12, 14, 18, 37, 38, 39, 40, 73, 77, 141,
Minangkabau 45, 46, 99, 101 143, 149, 156, 157, 159, 161, 165, 204,
Mindanao xii, 85, 152 212, 213
Mindoro 23
monopoli 14, 27, 28, 36, 37, 38, 39, 73, 87, nikel 90
Nina Suria Dewa 31
99, 149, 205, 208, 210, 215, 217, 218, Nusantara vii, viii, ix, x, xi, xii, xiii, xiv, 3, 4,
226, 227
monopoli rempah-rempah 38, 39, 215 5, 6, 9, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47,
Morotai 85 48, 50, 54, 65, 67, 68, 69, 70, 75, 85, 93,
Moti x, 89, 208 94, 96, 97, 100, 101, 103, 107, 109, 110,
Muara 48, 52, 95, 96, 115, 172, 178, 230 114, 121, 123, 127, 131, 151, 152, 153,
Muara Jambi 172 172, 174, 175, 176, 177, 179, 184, 185,
Muara Sabak 52, 95 186, 190, 191, 192, 193, 197, 198, 223,
Muara Zabak 48, 95, 178 228, 230, 231, 232, 233, 234, 235, 236,
Muko-muko 45 237, 239, 240, 241, 242, 245
mutiara 31, 68, 69, 81 Nusa Tenggara xii, 45, 50, 142, 146, 155, 157,
237, 240
N Nyai Ageng Pinatih 130, 131, 190
naga 150, 156, 157, 171, 179 O
Nagarakertagama 110, 188, 239
Naira 18, 20, 21, 25, 27, 35, 39, 79, 105, 141, orang Belanda 14, 36, 37, 39, 40, 41, 79, 123,
210
143, 145, 146, 147, 155, 158, 159, 160,
161, 165, 166, 203, 204, 205, 211, 212, orang Inggris 37, 226
213, 214, 215, 217, 219, 220, 221, 222, orang kaya 14, 25, 27, 36, 37, 38, 39, 40, 41,
225, 248, 251
nakhoda 214, 215, 216 68, 71, 72, 73, 75, 79, 99, 131, 139, 140,
Namasawar 157 143, 144, 145, 146, 147, 149, 152, 161,
narasi vii, viii, ix, x, xii, 4, 5, 6, 132, 159, 160, 166, 168, 178, 182, 204, 205, 206, 209,
237, 241 210, 211, 213, 215, 216, 217, 218, 219,
Narasi rempah 4 230, 231
nasi 146 Orang Kaya Sierra Lela 102
Nassau 14, 38, 39, 40, 205, 225 Orang Kayo 182, 229
negeri Amakusu 17 orang laut 169, 176, 177, 178, 229, 230
negeri pesisir 13 Orang Tionghoa 178
Negeri Waraka 17, 21 Orantata 24, 36, 73, 143, 145, 147, 209, 210,
211, 213
Ouw 15, 17, 20
P
Padang viii, 228
padi gogo 33
264 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
Pahang xiv, 92, 102, 152, 169 patasiwa 88
pajak 61, 64, 67, 106, 149, 186, 190, 221, 231, Pati 28, 30, 117, 118, 120, 133, 134, 135, 161,
239, 240 197
Paku 118, 191 Pati Adam 134
pala ix, x, 9, 11, 13, 14, 23, 25, 27, 30, 31, 32, Pati Yusuf 28, 30, 134, 135
Pecinan 179, 180
33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 43, 44, pedagang vii, xi, xii, xiv, 12, 13, 20, 21, 24,
52, 68, 70, 71, 72, 73, 75, 76, 77, 78, 82,
84, 87, 92, 93, 100, 101, 104, 109, 111, 25, 28, 30, 31, 32, 33, 35, 36, 37, 38, 42,
113, 128, 129, 132, 134, 139, 140, 141, 61, 62, 63, 67, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75,
142, 143, 145, 147, 148, 149, 152, 154, 76, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 87,
157, 158, 161, 168, 169, 170, 172, 193, 89, 90, 92, 93, 94, 96, 98, 99, 100, 101,
203, 204, 205, 206, 207, 208, 209, 210, 102, 105, 106, 107, 111, 113, 121, 122,
211, 213, 214, 215, 216, 217, 218, 220, 127, 128, 129, 131, 132, 133, 134, 135,
221, 222, 223, 224, 225, 226, 227, 228, 139, 140, 141, 143, 144, 145, 146, 147,
232 148, 149, 150, 152, 154, 155, 156, 157,
Palembang vii, xiii, 42, 44, 45, 46, 48, 50, 51, 158, 159, 162, 164, 165, 166, 168, 169,
94, 98, 99, 100, 103, 119, 120, 121, 131, 170, 171, 179, 180, 181, 185, 186, 190,
142, 196, 197, 198, 216, 229, 240 191, 193, 198, 199, 203, 204, 208, 211,
pandai besi 85, 90 213, 214, 215, 216, 217, 218, 219, 222,
pantai Barat Sumatera 92 223, 224, 228, 231, 232, 238, 239, 240,
pantai utara Jawa ix, xiv, 3, 4, 13, 30, 35, 54, 241, 242
59, 69, 77, 94, 98, 111, 114, 115, 117, pedagang Cina 12, 20, 24, 25, 75, 84, 85, 86,
118, 121, 122, 124, 133, 164, 184, 185, 100, 101, 102, 105, 111, 132, 149, 150,
186, 188, 193, 199, 231, 234, 235, 236, 152, 154, 155, 157, 191, 193, 215
237, 238, 239, 240, 241, 242 pedagang Muslim 131
Pantan 13 pedagang perantara ix, 20, 70, 71, 100, 102,
Pararaton 63, 116, 194, 248 154, 179, 180, 231, 232, 242
Pariaman 45, 46, 98, 133, 182, 198, 228, 231, pedang 84, 90
236, 252 Pegu 68, 105, 106, 135, 148, 223
Pasai 13, 44, 68, 98, 184, 218, 219, 239 pegunungan 113
pasar 3, 28, 30, 31, 35, 36, 37, 44, 61, 62, 63, pelabuhan vii, ix, x, xi, xii, xiv, 3, 4, 5, 11, 13,
69, 71, 73, 75, 76, 77, 79, 80, 82, 85, 88, 14, 15, 23, 24, 25, 28, 30, 31, 32, 33, 34,
92, 93, 96, 97, 101, 103, 104, 109, 110, 36, 40, 43, 44, 45, 47, 52, 54, 57, 59, 61,
124, 140, 149, 150, 154, 155, 164, 165, 62, 63, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 75, 77,
168, 169, 170, 171, 186, 189, 190, 205, 80, 81, 82, 83, 84, 87, 89, 90, 92, 93, 94,
206, 209, 215, 216, 217, 219, 226, 227, 97, 99, 100, 102, 104, 105, 107, 109,
231, 236, 238, 240 110, 111, 113, 114, 117, 118, 120, 121,
Pase 68 122, 123, 125, 126, 127, 128, 129, 130,
Patalima 21, 22, 23 131, 132, 133, 134, 139, 140, 141, 143,
Patani xiv, 92, 98, 100, 102, 192, 231, 232 145, 146, 147, 148, 149, 150, 152, 154,
155, 157, 158, 161, 162, 164, 165, 166,
Indeks | 265
170, 171, 178, 179, 183, 184, 185, 186, pisau 79, 84, 90, 147, 168
188, 189, 190, 191, 192, 193, 194, 195, Pontianak x, 170
196, 198, 199, 204, 205, 210, 211, 212, porselen 3, 17, 20, 25, 28, 75, 84, 86, 149, 152,
213, 214, 215, 216, 217, 218, 219, 220,
225, 228, 231, 234, 235, 236, 237, 238, 193, 232
239, 240, 241, 242, 245 Portugis xi, xiv, 11, 28, 30, 31, 33, 43, 44, 72,
Pelayaran xiii, 20, 42, 45, 59, 76, 97, 98, 99,
111, 119, 127, 131, 132, 133, 151, 152, 76, 77, 78, 82, 86, 87, 88, 92, 93, 96, 97,
153, 154, 162, 163, 164, 167, 183, 185, 99, 100, 101, 104, 120, 121, 123, 134,
193, 197, 238, 239 135, 140, 152, 161, 164, 166, 170, 171,
pelayaran antar pulau 71 197, 206, 208, 215, 228, 236
pembuatan kapal 5, 48, 111, 123, 133 candi
penyu 92, 232 borobudur
perahu xii, xiv, 12, 14, 20, 40, 48, 63, 72, 74, Kalasan
79, 114, 132, 141, 143, 145, 146, 150, Perot 5, 63, 110
154, 157, 166, 168, 171, 173, 177, 178, Prancis 226
181, 183, 211, 212, 213, 214, 219, 225, Prapanca 33, 110
231, 232, 233, 235, 237, 238, 242 prasasti 50, 55, 56, 57, 59, 61, 105, 106, 114,
perahu kecil 12, 74 116, 188, 194, 195, 238, 241
perahu lesung 214 prasasti Kaladi 106
perairan Nusantara ix, x, 3, 5, 6, 42, 43, 44, 45, Prasasti Kui 105
47, 50, 68, 103, 228, 231, 233, 236, 241 prasasti Matyasih 55
perk 220, 221, 222, 223, 225, 226 prou 12
perkenier 14, 40, 41, 204, 209, 220, 221, 222, Pulau Ay 9, 10, 12, 14, 18, 34, 37, 39, 205, 219,
223, 224, 225, 226, 227 220, 221
Persia xii, 69, 76, 79, 89, 105, 107, 124, 129, Pulau Babar 84
157, 158, 159, 162, 164, 194, 214, 215, Pulau Formosa 23
230, 236, 239, 242 Pulau Kei 11, 55, 80
Pesisir Arabia 71, 76, 158 Pulau Pascadores 23
pesisir barat India 13, 28, 30, 31, 32, 98, 165 Pulau Run 9, 11, 14, 35, 37, 39, 40, 83, 145,
pesisir utara Jawa 11, 13, 34, 35, 63, 71, 76, 83, 185, 205, 211, 213
107, 109, 111, 113, 128, 133, 140, 141, pulau Timor 84
185, 188, 190, 195, 199, 214, 215 Punjulharjo 114, 115, 184
Pidie 68, 98
Pidir 44 R
Pieterzoon Verhooven 37
Pinaho 17 raja 21, 24, 52, 55, 56, 57, 59, 61, 62, 81, 88, 99,
Pires, Tome 250 101, 102, 103, 106, 107, 109, 114, 116,
117, 118, 119, 139, 141, 160, 161, 173,
266 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
174, 182, 229, 231 Sanjaya 55, 56
Raja Makassar 35 Sanna 56
Rakai 55 Saparua 15, 17, 20, 21
Rakai Watukuru Dyah Balitung 55 saudagar x, xi, 11, 13, 25, 28, 32, 35, 42, 44,
rantau hilir 45
rantau pesisir 45 47, 67, 69, 71, 75, 77, 88, 89, 96, 98, 99,
Rat 14, 159, 160, 161 100, 101, 105, 128, 129, 134, 140, 142,
Ratu 119, 157, 159, 160 143, 144, 179, 180, 182, 190, 208, 210,
Rembang 54, 113, 114, 115, 117, 119, 133, 211, 214, 217, 231, 232, 236, 237, 239,
242
184, 192, 197, 235, 238 sawah 33, 188
Riau 42, 45, 94, 177 secang 107, 111
riverine xiii Selamon 9, 40, 143, 145, 147, 159, 160
Roderich Ptak xii, 151, 153 Selat xii, xiv, 9, 25, 28, 42, 44, 45, 46, 47, 48,
Rohawa 21 49, 50, 51, 67, 69, 92, 93, 94, 95, 96, 97,
Rokan 45 103, 104, 107, 158, 175, 176, 190, 191,
rotan 68, 99, 133, 185 197, 236
ruang sosial 50, 51, 96, 107 Selat Madura 190, 191
Run 9, 11, 14, 34, 35, 37, 39, 40, 73, 83, 143, Selat Malaka xii, xiv, 25, 28, 42, 44, 45, 46, 47,
48, 49, 50, 51, 67, 69, 92, 93, 94, 95, 96,
145, 185, 204, 205, 211, 213, 219, 220, 103, 104, 107, 158, 175, 176, 197, 236
221 Selat Sunda 45, 67, 69, 92, 97, 197, 236
rute Borneo xiii, xiv, 77, 152, 170, 171 Selayar 93
rute Jawa xi, xiii, xiv, 111, 185 Semenanjung Melayu 178, 192, 215, 240
rute pelayaran 3, 79, 110, 121 Sempe Bokor 15
rute selatan 77, 129, 132, 152, 162, 184, 215 Seram 9, 11, 15, 16, 17, 19, 21, 22, 24, 25, 34,
rute utara 12 40, 71, 72, 80, 81, 82, 85, 204, 205, 211,
Ryukyu 68, 131 213, 214, 223, 224, 251
Shin Tay 180
S Shun Feng Shiang Suug 23
Siak vii, 45
Sabak 52, 95 Siam xii, 13, 93, 100, 106, 133, 232, 239
safflower 111 Sida Arif Malano 85
sagu 10, 15, 20, 34, 75, 79, 85, 88, 89, 150, Singapura 42
Singasari 55, 57, 116, 194
214, 222 Sirimau 11, 17, 20
Samudra Hindia 33, 47, 107, 157, 158, 164, sistem sungai 62, 63
165
Indeks | 267
situs Lambur 48 Sutu 23
Soekarno 6 Syahbandar 67, 75, 123, 133, 190, 215, 216
Solor 27, 83
Soya 11, 17, 20 T
Spanyol 87, 88, 140, 207
Sribuza 52 Taiwan 23
Sriwijaya vii, 13, 42, 46, 48, 50, 51, 52, 54, 69, Tajela Bokor 15
Tamil 105
94, 104, 114, 119, 157, 175, 176, 177, Tamwlang-Kahuripan 55, 56
178, 184, 229, 230 Tanimbar 40, 152
Sulawesi vii, xi, xii, 3, 23, 24, 27, 33, 35, 36, 45, tawas 31
67, 85, 90, 92, 111, 133, 166, 168, 170, teh 68
171, 178, 218, 228, 240 tekstil xii, 3, 13, 28, 30, 31, 32, 43, 61, 68, 69,
Sultan Agung 118, 124
Sultan Almansoer 88 77, 79, 81, 85, 96, 102, 103, 106, 121,
Sultan Iskandar Muda 44, 249 129, 132, 134, 140, 141, 147, 152, 186,
Sulu xii, xiii, xiv, 75, 150, 152, 185, 250 214, 218, 237, 241
Suma Oriental 13, 28, 30, 31, 32, 34, 68, 69, Teluk Bone 90
72, 96, 97, 104, 105, 113, 121, 125, 126, Teluk Persia 76, 89, 157, 158, 159, 162, 230
129, 131, 132, 134, 146, 190, 192, 196, Temanggung 106
197, 198, 203, 211, 213, 214, 216, 218, Batang
220 Merangin
Sumbawa 3, 21, 30, 83, 84, 93, 106, 107, 111, Sangir
129, 139, 168, 169, 170, 185, 204, 213, Tebo 46, 47, 48, 51, 52, 95, 96, 172, 173,
220 174, 175, 176, 179, 180, 232, 233
Sunan Giri 131, 191 Tenasserim 92
Sunda iii, 21, 45, 67, 69, 77, 83, 84, 92, 97, 98, Tengger 57
99, 110, 197, 198, 211, 220, 236 Ternate vii, xii, 15, 18, 22, 23, 28, 31, 34, 35,
Sunda Kecil 21, 77, 83, 84, 211, 220 70, 71, 73, 79, 80, 81, 85, 86, 87, 88, 89,
Sunda Kelapa 198 90, 139, 149, 150, 152, 162, 170, 186,
Sungai Brantas 33, 57, 63, 190, 191 204, 208, 213, 215, 218, 220, 224, 231,
Sungai Kalaena 90 247
Sungai Musi 48 Thailand 18, 98, 111, 148, 218, 233
Surabaya 34, 36, 63, 83, 118, 122, 124, 125, Thanh-hoi 25
126, 129, 131, 133, 140, 154, 155, 185, Tidore xii, 18, 23, 28, 70, 71, 73, 79, 81, 85, 87,
204, 231, 238 88, 89, 92, 139, 149, 150, 152, 162, 186,
sutra 30, 68, 98, 144, 171, 189, 199, 218 204, 208, 213, 215, 218, 224
Tiku 46, 98, 228, 236
268 | Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X - XVI
timah 68, 69, 84, 109 W
Timor 27, 77, 84, 100, 109, 203, 223, 225
Timur Tengah 43, 44, 50, 68, 95, 141, 158, Wandan 33, 40, 128, 139, 160
wangsa 191
170, 236 WanuWa 188
Tionghoa 45, 96, 100, 101, 102, 119, 133, 175, Waraka 17, 18, 21
watak 195, 219
178, 179, 180, 181, 238, 251 Wendan 13
Tobunggu 90 Wenlaogu 13
Tome Pires 13, 84, 96, 120, 121, 125, 126, 128, Wenlugu 13
Wetar 84
146, 190, 192, 196, 197, 198, 250 wungkudu 110
Tuban iv, viii, 36, 44, 54, 81, 111, 113, 117,
118, 122, 125, 126, 127, 128, 140, 142,
146, 184, 185, 188, 193, 194, 195, 198,
235, 237, 238, 239, 240
Tumasik 42
U Y
uang kepeng 133 Yuwana 133
Ujung Pelancu 48
Ulakan 45 Z
V Zabak 48, 51, 52, 54, 95, 178
zaman bahari 162
Venesia 33, 71, 105, 204 zaman harmoni 72
Victoria 82 zaman kuno xiii, 11, 15, 21, 22, 23, 113, 184,
Vietnam 18, 25, 111, 150, 152, 233, 239
VOC 14, 27, 31, 36, 37, 38, 39, 73, 78, 79, 80, 206
zaman perdagangan 143, 144, 150
83, 95, 118, 119, 123, 124, 125, 198, Zanggi 106
208, 215, 220, 221, 222, 223, 224, 225, Zheng He 63
226, 232