SEMANGAT PHINISI | 33 Bicara tentang merdeka, saya sempat bertanya dalam diri dan ke
rekan sejawat.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan merdeka ? Merasa bebas ? Independen ? Bisabersuara ? Tidak terkekang ? Atau kembali ke sejatinya hak warga bernegara yaitu setara ? Merasakan fasilitas yang sama, dengan yang dirasakan
oleh orang – orang di luar sana.
Kesetaraan akan mendorong kita untuk berdiri dan menentukan arah hidup di kaki sendiri, tentunya dengan pilihan yang baik. Karena tanah, air, kekayaan alam, energi dan segala sesuatu penyokong hidup manusia layak untuk dirasakan manfaatnya oleh semua yang berpijak di bumi ini, termasuk listrik.
Kehadiran energi listrik sangat dirindukan oleh mereka warga di Desa Tolala,Amokuni, Raka Dua, Polara dan ratusan Desa yang lain. Bagi mereka, merdeka itu setara. Berhak merasakan kehadiran listrik di setiap malam, hingga mereka tidak merasakan kegelapan Ketika matahari terbenam.
Bukan tanpa halangan untuk menyalakan listrik di pelosok negeri, bahkan nyawa pun menjadi taruhannya. Mulai dari medan yang berat, cuaca buruk, terbatasnya akses dan bencana alam, adalah halangan yang harus dihadapi.
Atas kehendak Tuhan, semua perjuangan itu terbayarkan ketika melihat senyum di wajah mereka. Kala itu, saya melihat
wajah yang begitu tulus berterima kasih karena PLN telah mewujudkan harapan seluruh penduduk desa untuk menikmati listrik.
PLN memberikan salah satu arti kemerdekaan yang dicari selama ini yaitu merasakan energi listrik sama seperti Rakyat Indonesia yang lain.
Apa sudah cukup ? Saya rasa tidak! Tantangan masih banyak. Ratusan Desa menunggu untuk di listriki, dengan halangan lebih sulit dan sangat beragam. Kita adalah perpanjangan tangan PLN yang menjadi sosok pahlawan kemerdekaan yang mereka tunggu, untuk mengalirkan cahaya di rumah-rumah mereka.
SEMANGAT PHINISI | 34
Merdeka itu apa ?
Merdeka itu apa ?
Bebas ? Bersuara ? Berekspresi ? Punya Pilihan ? Mana yang benar ? Mana yang tepat ?
Merdeka lahir dari darah, keringat dan sengsara
Namun terlihat memaknai kemerdekaan nyatanya lebih mudah daripada memperjuangkannya.
Apalagi menjaganya ?
Jelas, merdeka itu perlu upaya, perlu tenaga, perlu kuasa.Apa bagusnya menjadi kecil dan mahir mengeluh ?
Apalagi hanya diam dan menunggu ?
Percuma saja jika diam kalau berharap emas.Emas pun bukan apa -apa. Dia hanya akan membuatmu lebih berkilau dan mengundang pencuri datang. Sekarang jadilah cahaya, yang berbagi terang dan mengusir kesengsaraan. Besarkan dayamu untuk manfaat sesama, sebelum nanti masamu padam.
#9 Bertransformasi Jadi Lebih Baik
Oleh Desta Andri Muryono – UPDK Punagaya
Dengan penerapan Transformasi Budaya PLN Unggul, diharapkan akan tercipta sebuah budaya yang lebih baik dari sebelumnya. Dimana Budaya Unggul itu sendiri merupakan semangat dan kultur untuk mencapai kemajuan dengan cara kita harus bisa, danharus berbuat yang terbaik. Seseorang yang memiliki budaya unggul senantiasa berupaya melakukan yang terbaik untuk menghasilkan sesuatu dengan mutu yang setinggi- tingginya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang dilakukan dengan optimal dan serius.
Membangun budaya unggul memerlukan komunikasi yang efektif dan leadership. Keduanya merupakan hal penting yang harus dijaga dan harus menjadi suatu kesadaran dalam perusahaan.
Budaya unggul dan prestasi diri adalah dua hal yang saling berkaitan erat, tanpa adanya budaya unggul maka karakter prestasi diri tidak akan terwujud. Di PLN, prestasi diriyang saya capai adalah saya bertransformasi menjadi lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama dan negara.
Beberapa hal menarik yang dapat saya uraikan, sekaligus merupakan pengalaman terbaik selama menjadi bagian dari keluarga besar di PLN. dan tentunya disitu saya merasa kehidupan saya
Transformasi pertama saya adalah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan swasta yang bergerak di
SEMANGAT PHINISI | 35
bidang pertambangan batubara dan hijrah menjadi bagian dari keluarga besar PLN. Di sini saya merasa lebih bermanfaat bagi orang lain, baik itu rekan kerja ataupun masyarakat sekitar. Karena tidak hanya bekerja mencari penghasilansaja, tetapi ada suatu rasa yang istimewa bahwa kita bisa membantu dalam memajukan kehidupan masyarakat dan negara. Hal seperti ini tidak saya rasakan ketika masih bekerja diperusahaan swasta dimana profit perusahaan adalah harga mati.
Transformasi kedua adalah di sisi potensi diri. Bahwa
Decision making is important key tosolve the problem (pengambilan keputusan adalah kunci penting untuk memecahkan masalah).
Di PLN saya selalu dihadapkan dengan bebagai situasi dan kondisi yangmengharuskan untuk membuat keputusan dengan bijak, serta mengasah kreatifitas untuk mendapatkan suatu solusi atau pemecahan masalah.
Di sini saya merasa diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi potensi dalam diri pegawai masing-masing ke arah yangpositif sesuai dengan visi perusahaan.
Transformasi yang ketiga adalah, PLN membuka banyak kesempatan kepada pegawainya untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan melalui organisasi yang ada di dalamnya yaitu YBM PLN. Di sini kita diberikan kesempatan untuk menyisihkan Sebagian penghasilan kita untuk disalurkan kepada yang membutuhkan
SEMANGAT PHINISI | 36
Untuk itulah saya merasa bangga bekerja sebagai bagian dari PLN yang memiliki andil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
#10 Keberkahan Di Mattaro Decceng
Oleh Muh Akbar – VP Pelayanan Sumatera Kalimantan
Setelah menyusuri jalan aspal sepanjang 30 KM dari Pinrang kearah perbatasan Pulowasi, bemudian melewati jalanan aspal yang tidak rata sepanjang 25 KM kearah PLTA Bakaru, rombongan memasuki jalanan tanah yang sempt dan banyak lubangnya. Bagaikan sedang bermain dansa, tubuh bergoyang kiri kanan mengikuti alunan gerakan mobil yang menyesuaikan jalanan yang tidak rata. Hampir sepanjang 9 KM kami melalui sampai ke sebuah jembatan ditepi sungai Mamasa. Semua rombongan semua berhenti disebuah tanah lapang yang baru saja diratakan. Beberapa teman PLN Pinrang telah siap dengan motor trail kawasakinya untuk mengantar rombongan ke lokasi peresmian. Rombongan dari PLN terdiri dari Pembina YBM PLN Sulselrabar, Manajer UP3 Pinrang Ibu Rizki Abdiana dan beberapa pejabat serta pegawai di UP3 Pinrang dan ULP Pekkabata.
Beberapa anggota dari Kodim 1404 Pinrang juga telah siap untuk menjemput dan mengantar Komandan Kodim Pinrang Bapak Letkol Inf. M Wahyudi Amry ke lokasi peresmian. Dengan sigap memakai motor menyusuri jalan licin setelah hujan semalam. Demikian juga dari pihak Kecamatan Lembang yang menjemput
SEMANGAT PHINISI | 37
Asisten I Sekda Kabupaten Pinrang Bpk. H Hasnawi Haruna menuju lokasi acara, di Lembang Mesakada, Lembang, Kabupaten Pinrang.
Melewati jembatan bambo yang sangat sederhana menjad sensasi tersendiri. Bagaimana tidak, jembatan terdiri dari 4 batang bamboo utuh yang diikat dengan seutas tali yang tidak rapat. Membentang diatas sungai kecil. Sebagai pegangan dibuatlah
bamboo yang berada diatas jembatan. Saat dilewati, jembatan berayun ayun karena menahan beban. pada saat ada yang melewati, maka orang lain yang berada diatas jembatan ikut bergoyang.
Melihat kondisi jembatan seperti ini, sebagian besar rombongan memilih jalan menyeberangi sungai dengan cara membuka sepatu dan menyingsingkan celana agar tidak basah.
Jika hujan dan banjir, jembatan bambo tersebut menjadi satu satunya jalan untuk menyeberang. Beberapa kali jembatan tersebut rusak dan hanyut diterjang banjir sehingga masyarakat tidak bisa melewati sungai dan terganggu aktifitasnya.
Hari itu, YBM PLN Sulselrabar bersama Kodim 1404 Pinrang dan Pemkab Pinrang akan melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan jembatan gantung penyeberangan yang lebih layak. Jembatan terbuat dari besi baja dengan pondasi beton cor pada ketinggian 4 M diatas permukaan sungai, sehingga saat hujan dan banjir masyarakat masih bisa menyeberang dan aktifitasnya tidak
SEMANGAT PHINISI | 38
SEMANGAT PHINISI | 39 terganggu. Lebar jembatan 2 M sehingga motor dan alat angkut
hasil pertanian bisa melewatinya.
Setelah semua berkumpul di aula, acara peletakan batu pertama jembatan di mulai dengan laporan Ketua YBM Pinrang Bapak Muh Akil. Beliau menyampaikan beberapa kegiatan yang dilaksanakan YBM di daerah tersebut untuk memberdayakan masyarakat, diantaranya :
1. Pengiriman Pembina Rohani Bpk Ust Ilham Husain dari Aceh sebagai pedamping dan memberikan pengajaran mengaji di pemukiman tersebut, dengan biaya operasional kegiatan dari YBM Sulselrabar. Pengiriman sebagai tindak lanjut kunjungan GM Sulselrabar Bapak Bambang Yusuf dan Ketua YBM Sulselrabar Bpk Muh Akbar ke dusun tersebut.
2. Berikutnya pembangunan sarana ibadah berupa mushola
3. Periode berikutnya berupa pembuatan aula ukuran 5 x 10 M
4. Pembuatan tempat dan mesin pengolahan air bersih kapasitas
10 M kubik bagi masyarakat
5. Pengadaan mesin pengolahan kopi kapasitas 25 Kg
6. Pengadaan tempat/ tanah pemakaman muslim seluas 1000 M
7. Bedah rumah sebanyak 2 unit
8. Biasiswa 2 orang anak yang melanjutkan sekolah ke Pinrang
9. Pembangunan jembatan gantung sepanjang 12 M yang akan
dilaksanakan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulinya pembangunannya hari ini.
Acara dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dari Camat Lembang yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada PLN
atas perhatian dan banyaknya bantuannya untuk kemajuan kampung tersebut. Kemudian dilanjutkan sambutan Pembina YBM PLN Sulselrabar Bapak Mundhakir. Dalam sambutannya pak Mundhakir mengusulkan perubahan kembali perubahan nama kampung mualaf menjadi kampung Mattaro Decceng (Menympan Kebaikan).
Usulan perubahan nama dusun sebelumnya pernah disampaikan oleh General Manager PLN Sulselrabar yang lama Bpk Bambang Yusuf dan telah disampaikan juga ke Bupati Pinrang Bapak Irwan Hamid di kediamannya. Terkait pembangunan jembatan gantung yang akan dilakukan peletakan batu pertama hari ini, disampaikan bahwa desain jembatan dibuat oleh Dinas PU Kabupaten Pinrang hasil diskusi dengan Bupati Pinrang Bapak H Irwan Hamid, sumber pendanaan berasal dari YBM PLN Sulselrabar dan pelaksanan kegiatan oleh Kodim 1404 Pinrang. Sebuah sinergi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat dan akan terus ditingkatkan.
Saat memberikan sambutan Asisten I Sekda Pinrang Bapak H Hasnawi Haruna akan terus meningkatkan sinergi dan kolaborasi dengan berbagai stakeholder termasuk PLN yang sudah banyak berbuat untuk Kabupaten Pinrang, Juga akan memproses usulan perubahan nama dusun menjadi mattaro Decceng dan secara prinsip mendukungnya. Berikutnya sambutan Dandim Pinrang Bapk Letkol Wahyudi Amri yang menyatakan siap untuk melaksanakan pembangunan jembatan tersebut dalam waktu 1 (satu) bulan.
SEMANGAT PHINISI | 40
Setelah acara seremoni selesai, dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan jembatan gantung di lubang pondasi jembatan yang terletak disisi kampung. Beberapa batu gunung telah disiapkan untuk acara tersebut. Wajah wajah berseri mengiringi prosesi ini dan terbayang masalah yang mereka hadapi pada musim hujan selama ini akan segera terselesaikan.
Acara dilanjutkan dengan peninjauan lokasi pengolahan kopi yang terletak tidak jauh dari lokasi peresmian. Uji coba mesin pengolahan kopi, dengan memasukkan biji kopi kedalam tungku dan mesin dinyalakan. Debu kopi menyebar sehingga rombongan kaget dan kotor bajunya. Ternyata plastic dan box penampung tidak dipasang rapat pada pipa produksi. Kopi yang telah diolah akan dibungkus, di packing untuk selanjutnya dijual ke pasar Pinrang.
Setelah selesai memeriksa mesin pengolah kopi, rombongan melihat mesin pengolah air bersih yang terletak diatas bukit. Air bersumber dari mata air yang terletak di lereng bukit, ditampung dan diolah di mesin yang ada untuk selanjutnya dialirkan ke masyarakat yang ada. Dengan kapasitar 25M kubik perhari dapat memenuhi kebutuhan 37 KK di kampung Lembang Mekasada.
Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan bagi semuanya.
SEMANGAT PHINISI | 41
#11 Willing To Do Willing To Helf
Oleh PUSPASARI SUAIB – UIW Sulselrabar
Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan PT PLN (Persero) mengadakan penandatanagan Perjanjian Kerja Sama yang ditanda tangani oleh Direktur MSDM dengan Jasa Agung Muda yang dilaksanakan di Kantor PLN (Persero) Pusat Jakarta pada hari Jum’at, 26 Maret 2021. Perjanjian kerja sama tersebut sebagai bentuk dukungan dalam optimalisasi tugas dan pelaksanaan masing pihak, yang meliputi pemberian bantuan hukum, pertimbangan hukum dan tindakan hukum lain di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, Pengamanan Pembangunan Strategis Infrastruktur Ketenagalistrikan, Penelusuran Aset dan pengamanan Investasi Ketenagalistrikan.
Penandatanganan perjanjian kerja sama tesebut, sebagai tindak lanjut atas MoU antara Jaksa Agung Republik Indonesia dengan Direktur Utama PT PLN (Persero) yang dilaksanakan di Jakarta. Setelah acara penada tanganan PKS antara Direkstur SDM dengan Jamdatun, Jamdatel, Jam Pembinaan dan Badiklat Kejakssan. Selanjutnya secara serentak juga dilaksanakan penandatanaganan antara Kajati Seluruh Indonesia dengan GM PLN Unit Seluruh Indonesia.
Untuk Kejaksaan Tinggi yang berada di Indonesia Timur yang terdiri dari Kajati Sulsel, Kajati Sulbar, Kajati Sultra, kajati Sulteng, Kajati Gorontali, Kajati Sulut, Kajari Maluku Utara, Kajati Maluku, Kajati Papua dan Kajari Papua Barat bersama PLN dipusatkan di Hotel Claro Makassar. Hal ini dimaksudkan untuk
SEMANGAT PHINISI | 42
mempermudah akses transformasi dan akomodasi seluruh Kajati maupun pihak PLN untuk hadir secara bersama sama, sehingga bisa mengikuti secara langsung kegiatan yang ada di PLN Pusat Jakarta dengan Jaksa Agung Burhanuddin secara zoom vitual.
Berbagai persiapan dilakukan untuk mensukseskan acara penting ini dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan. Mulai dari penyiapan penyambutan di bandara, kendaraan ke hotel, tempat menginap, ruang acara, tempat singgah tamu, ruang pemeriksaan kesehatan rapid antigen, ruang makan hingga kamar bagi para tamu dan rombongan. Secara detail disiapkan oleh pihak PLN region Makassar (UIP Sumbagsel, UIKL Kalimantan, UIW Sulselrabar) agar acara berlangsung lancar, hikmat, tidak ada kendala apapun.
Saat persiapan ruangan di hari Rabu tidak berjalan lancar, karena malam itu masih dimanfaatkan untuk acara pernikahan. Di musim pandemic ini, ballroom masih bisa dimanfaatkan dengan penerapan protocol ketat dan pengawasan dari Tim Gugus Covid di Makassar. Perasaan khawatir kalau sampai mala mini belum selesai dan Kamis besok saat gladi bersih belum siap, maka berbagai persiapan berikutnya juga bermasalah. Dengan waktu pelaksanaan Jumat pagi dan sudah harus steril, maka idealnya rabu pagi sudah mulai persiapan.
Waktu telah menunjukkan pukul 21.45 Wita, tetapi acara resepsi masih ramai. Setelah berkoordinasi dengan pihak hotel, panitia PLN mulai mempersiapkan berbagai kepeluan dekor dan panggung di depan pintu masuk paling ujung. Even organizer yang akan mulai melakukan persiapan juga nampak gusar, karena waktu
SEMANGAT PHINISI | 43
yang mepet, mereka harus menunggu pihak hotel membersihkan ruangan untuk melakukan persiapan. Mondar mandir sambil mengawasi ruangan yang masih banyak tamu yang bertahan. Pukul 23. 00 Wita ruangan baru kosong untuk persiapan. Segera semua bergerak untuk menyiapkan semua perlengkapan agar acara berlangsung dengan lancar, tertib dan tidak ada kendala.
Kekhwatiran akan terjadinya kendala pada saat acara inti berlangsung, membuat saya harus tetap berkordinasi dengan semua lini dari pihak hotel. Khusus acara ini sebenarnya saya ditugaskan menangani komsumsi, tetapi menyadari tugas saya sebagai pic hotel membuat saya harus mendedikasikan seluruh perhatian dan pikiran di setiap acara kantor di hotel.
Kamis malam diadakan acara ramah tamah (gala dinner) dengan seluruh Kajati Indonesia Timur beserta rombongan yang hadir di Makassar. Acara disiapkan di skygarden Lt.6 dengan mode terbuka, penataan tempat duduk menyebar sesuai protokol kesehatan dan terbatas dari tamu umum. Ada kendala ketika akan memasang backdrof. Bingkai yang disiapkan tidak bisa digeser masuk dalam ruang yang disiapkan, karena posisi atap pendek dan panggung permanen terlanjur terpasang. Sempat ada inisiatif backdrop untuk dipotong, tetapi harus mengganti cetakan, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17.25 Wita, dimana tidak memungkinkan lagi untuk mencetaknya. Akhirnya diputuskan backdrop tidak jadi dipasang dan diganti dengan tanaman hias sebagai asesories panggung, dan backdrop dipakai untuk foto di depan pintu ruang utama pertemuan.
SEMANGAT PHINISI | 44
Berikutnya posisi duduk untuk tamu VVIV yang belum tersusun dari panitia pada malam gala dinner, sedang undangan telah banyak hadir membuat kami harus merubah konsep gala dinner lebih santai tanpa harus menunggu daftar kursi dari panitia, dengan menata ulang kursi yang ada sedemikian rupa, agar lebih terkesan santai dan elegan tetapi tetap prifacy. Jangan sampai ada kesan “tidak professional” dari tanggapan para tamu. .seiring jam berlalu acara pun di mulai.
Berikutnya pelaksanaan rapid antigen bagi para tamu sudah datang agar keesokan harinya saat acara tidak lagi disibukkan dengan proses rapid. Ada yang keberatan karena saat akan melaksanakan penerbangan sudah mengikuti rapid antigen dengan hasil negative. Dengan sabar petugas menjelaskan, kalau salah satu protocol yang ditetapkan oleh Tim Gugus Covid, utk tamu tamu yang akan mengikuti acara esok hari harus dilakukan test ulang di Makassar sebelum acara. Maka mala mini dilaksanakan dengan mengambil posisi ruangan berseberangan dengan ruang gala dinner untuk mengurangi mobilitas para tamu dan menjaga privacy.
Melewatkan malam ramah tamah dengan berbagai perubahan tidak menyulutkan semangat kami untuk tetap optimis mensukseskan acara inti pada keesokan hari nya .
Waktu menunjukkan dini hari pada saat itu. seorang diri wanita diantara panitia tidak membuat saya canggung.membahas segala persiapan ,tidak ada lelah yang terasa di raga walau saat itu saya tidak mendapatkan fasilitas kamar menembus pukul 1 dini hari kulaju kendaraan pulang keperaduan. Pagar rumahku dan penghuninya tidak kaget menyambut kedatanganku.terkadang
SEMANGAT PHINISI | 45
kondisi seperti ini sering terjadi manakalah saya harus mengurus suatu acara. Sekitar 4 jam terpejam cukuplah bagiku untuk mempersiapkan fisik untuk acara inti. teriring dalam sujud subuh ku kala itu semoga acara berjalan dengan lancar tanpa kendala...
SEMANGAT PHINISI | 46
BAB 2
MELISTRIKI HINGGA KE PELOSOK NEGERI
SEMANGAT PHINISI | 47
SEMANGAT PHINISI | 48
" Le' ba kusuronna biseangku, kucampa'na sombalakku, tamassaile punna teai labuang "
Bila perahu telah kudorong, layar telah berkembang, tak akan kuberpaling kalau bukan labuhan yang kutuju
Makna :
Orang Makassar malu untuk melihat kebelakang, mereka hanya fokus untuk melihat ke depan. Pandangan kedepan dimaknai sebagai tujuan yang akan dicapai, sementara pandangan kebelakang hanya jadi simbol menyerah atau lepas tangan
#1 Andil K3L Jaga Kelistrikan
Oleh AGUSTIAN – ULP Sinjai, UP3 Bulukumba.
Peresmian jaringan listrik segera akan dilakukan. Sebelum diresmikan dan dioperasikan, Saya sebagai Pejabat Kesehatan Kerja dan Linkungan (K3L) di Unit PLNULP Sinjai bertugas memastikan semua peralatan dan jaringan distribusi tegangan menengah (TM) sudah sesuai batas aman, yaitu jarak jaringan dengan pohon berjarak sekitartiga meter. Harapannya agar setelah dioperasikan, jaringan baru tidak mengalami gangguanpenyulang, yang disebabkan oleh pohon atau peralatan.
Selain hal yang disebutkan di atas, tugas bagian K3L antara lain mensosialisasikan bahaya listrik kepada masyarakat setempat. Kegiatan ini salah satunya bertujuan agar masyarakat mengerti ketentuan batas aman jarak bangunan ataupun pohon dengan jaringan tegangan menengah. Kami juga sering menjelaskan penyebab terjadinya listrik padam,
menghimbau kepada masyarakat untuk tidak bermain layang-layang di dekat jaringan listrik,menghindari membakar sampah di bawah tiang listrik, serta tidak memasang steker secara bertumpuk karena dapat mengakibatkan arus pendek (korsleting).
Setelah melakukan pengecekan, keesokan harinya kami meresmikan listrik di Desa Barania yang di hadiri oleh manager PLN ULP Sinjai
SEMANGAT PHINISI | 49
yaitu Bapak Andhika Prananda dan disaksikan oleh Kepala Dusun, serta warga masyarakat setempat. Sungguh bahagia hati sayasaat itu, melihat warga tersenyum gembira, setelah sekian lama tidak bisa menikmati listrik secara utuh. Sebelumnya para penduduk desa hanya mengandalkan mesin diesel (Genset) untuk penerangan di malam hari saja. Semoga dengan masuknya listrik desa ke Desa Baraniabisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sana.
#2 Asa Ke Pelosok Desa
Oleh ARIFUDIN – ULP Pasangkayu
Melistriki sampai ke pelosok pedesaan adalah salah satu tekad kami, ketika diamanahkan bekerja di Unit Layanan Pelanggan (ULP Pasangkayu). Suatu ketika di salah satu desa yang kami kunjungi, yang letaknya kurang lebih 200 kilometer dari kantor kami, yaitu Desa Pasapa.
Hari itu kami ditemani oleh Supervisor Pelayanan & Administrasi yang tengah hamil tua dan beberapa anggota tim dari Kantor Pelayanan terdekat. Perjalanan kami tempuh selama beberapa jam dari kantor ULP menuju ke desa tersebut.
Pepohonan yang rindang mewarnai perjalanan kami, menyusuri jalan di tengah perkebunan sawit yang berderet. Dalam perjalanan rasa lapar pun mendera, pastinya tak adawarung yang buka di tengah perkebunan seperti itu. Sambil berharap akan segera sampai di pemukiman penduduk untuk mencari warung, dan bisa segera mengganjal perut, sekalipunhanya dengan mie instan.
Namun, di tengah perjalanan, setelah melewati perkebunan sawit, kami mendapati jalanan mulai bergelombang bercampur bebatuan.
SEMANGAT PHINISI | 50
SEMANGAT PHINISI | 51 Mobil kami terasa bak kapal yang dihantam ombak di tengah lautan,
bergoyang, dan berguncang ke sana ke mari.
Semakin jauh semakin sulit untuk dilewati, sehingga kami terpaksa harus berhenti. Komunikasi pun sulit dilakukan, karena daerah tersebut tidak terjangkau signal telepon seluler. Harapan kami, semoga saja ada warga yang melintas dan bisa menjadi pembawa pesan ke aparat desa setempat yang akan yang kami kunjungi.
Doa kami pun terjawab ketika Raipon Arrasangga putra dari Bapak Kepala Desa Paulus Randapuang, kebetulan melintas menggunakan Mobil Pick Up Double Cabin (4x4). Daerah seperti itu memang cocok dilalui dengan kendaraan berjenis ini.
Beliau mengimbau agar kendaraan kami dibawa kembali ke daerah sebelumnya, karena dikhawatirkan apabila terjadi hujan, maka dipastikan bahwa kendaraan kami tak akan bisa lewat lagi.
Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan menuju ke desa tujuan dengan mobiltersebut. Meskipun kendaraan yang digunakan sudah sesuai medannya, tetapi karena jalananterjal bergelombang, kembali membuat kami terguncang sepanjang perjalanan. Tentu saja halini sedikit membuat kami panik, apalagi kondisi salah seorang anggota tim kami yang sedanghamil tua. Dalam benak kami pun terlintas, jangan sampai melahirkan di tengah jalan. Dengan semangat perjuangan dalam melistriki membuat kami dan tim, termasuk Supervisor Pelayanan & Administrasi kami yang sedang hamil pun tak menjadi gentar.
Berusaha tetap tegar, optimis dan berharap segera sampai di tujuan. Akhirnya kami sampai juga di rumah Bapak Kepala Desa dan langsung disambut oleh warga yang sudah berkumpul menanti kedatangan kami.
Terlihat di raut wajah mereka, ada sejuta asa meraih mimpi menikmati listrik PLN, setelah sekian tahun hanya diterangi dengan cahaya pelita. Kegiatan sosialisasi dan agresive marketing pun langsung kami lakukan di desa tersebut.
Rasa lelah menjadi bahagia, ketika melihat antusiasme warga untuk segera menggunakan listrik PLN. Menjelang malam kegiatan sosialisasi kami akhiri, karena harus bergegas kembali sebelum larut malam. Putra dari Bapak Kepala Desa itu mengantar kami sampai di tempat kendaraan kami parkir sementara. Setelah itu dengan kendaraan kami tadi, kami melanjutkan perjalanan pulang, dengan melewati perkebunan sawit yang gelap gulita. Sembari tak henti memanjatkan doa, semoga tidak ada hal-hal yang akan menghambat perjalanan kami lagi.
Alhamdulillah beberapa jam kemudian, tibalah kami di pemukiman, dan akhirnya bertemu warung makan untuk segera mengobati rasa lapar. Setelah rehat sejenak, kami melanjutkan perjalanan pulang hingga tiba di tujuan dengan selamat.
Segala bentuk tantangan dalam perjuangan melistriki pelanggan sampai ke pelosok pedesaan tak menjadikan hambatan dalam mengabdi tuk menjadikan Indonesia terang. Semoga bisa menjadikan motivasi, semangat, serta energi positif pada insan PLN di unit kami, dan juga kepada semua pelanggan bahwa PLN selalu hadir untuk kehidupan yang lebihbaik.
SEMANGAT PHINISI | 52
SEMANGAT PHINISI | 53 #3 Berjuang Demi Terang Di Tutar
Oleh BASRI YUSUF – UP2K Sulawesi Barat
Pagi itu, kami berangkat menuju Kecamatan Tutar, tepatnya ke Desa Ratte, Besoangin dan Besoangin Utara. Kondisi jalan yang rusak parah, ditambah hujan deras di pertengahan jalan membuat perjalanan kami menjadi lebih berat. Beberapa kali kami harus mendorong mobil, karena terjebak lumpur.
Kecamatan Tutar berada di Wilayah Pegunungan Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Majene dan kabupaten Mamasa. Kondisi geografis itu pula yang membuat akses ke Tutar sangat sulit, terutama tiga desa terjauh, yaitu Desa Ratte, Besoangin dan Besoangin Utara.
Akses jalan ke Tutar sangatlah memprihatinkan, untuk sampai ke desa terjauh butuhperjuangan yang luar biasa, sebab jalan yang dilalui bukanlah jalan mulus beraspal. Namun jalan tanah bercampur batu, penuh tanjakan curam yang licin, bahkan harus sampai melewati aliran sungai yang deras tanpa ada jembatan.
Sekitar pukul 3 sore kami sampai di desa Besoangin, rasa lapar karena belum makan siang mulai terasa. Kami pun berbincang dengan beberapa warga. Saya masih ingat betul bagaimana antusias warga desa begitu besar, ketika mengetahui kami dari PLN, sedang melakukan survey pembangunan jaringan listrik desa. Walaupun sebagian lagi nampak pesimis.
"Bisaji kah masuk pak ? Rusak sekali jalan ini,"seru warga saat menyambut kedatangan kami.
Saya cuma tersenyum, berusaha menanggapi dengan bijak. Tak ingin harapan merekapupus dengan memberikan janji yang berlebihan.
Setelah beberapa saat berbincang dengan warga, kami memutuskan untuk pulang. Namun, belum jauh kami meninggalkan perkampungan. Tibalah, kami di sungai yang lumayan besar, tapi syukurlah air sungai belum begitu deras sehingga masih bisa lewat.
Sampai diseberang sungai, kami kembali diuji. Material longsor bertebaran ditengah jalan, sehingga kami harus membersihkannya terlebih dahulu agar bisa melanjutkan perjalanan.
Perjalanan kami lanjutkan melewati jalan setapak kecil di tengah hutan. Suasana terasa hening, hanya ada suara mobil dan hujan, serta sesekali bunyi perut yang mulai anarkis karena kelaparan.
Hingga akhirnya kami kembali berhenti, di depan sungai kecil yang arusnya sangat deras. Kami mencoba menyeberangi sungai dengan berjalan kaki, menunggu beberapa menit ternyata air terlihat surut. Kami memutuskan untuk menunggu sekitarsetengah jam sampai akhirnya supir memastikan bisa lewat. Saya berusaha meyakinkan diri,apa betul sungai ini bisa dilewati. Kami pun menyeberang dengan perasaan was-was, dengan tak henti-hentinya melafazkan doa. Rasa syukur tak terhingga ketika akhirnya kami berhasil lewat.
Kembali rasa semangat dalam hati memuncak, sampai akhirnya kembali harusberhenti, karena jalan mendaki dan sangat licin. Mobil kami sudah tak mampu mendaki, danwaktu menunjukkan hampir pukul 5 sore, sehingga akhirnya memutuskan kembali ke perkampungan dan menginap di rumah warga.
Malam pun tiba, hari berlalu terasa lebih lambat dari biasanya. Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan disana, signal tak ada, penerangan pun seadanya. Satu-satunya tempat yang ramai disana hanya dibawah lampu depan masjid. Di sana anak-anak muda berkumpul, mungkin fungsinya sama dengan cafe kalau di kota. Setelah makan malam, kami memutuskan tidur lebih cepat.
SEMANGAT PHINISI | 54
Keesokan harinya kami bangun cukup pagi, suasana masih dingin, dan kami semua masih memakai sarung. Teh dan kue taripang (kue khas mandar) sudah siap di ruang tamu. Lumayan buat mengganjal perut yang mulai kelaparan.
Pukul 9 pagi setelah sarapan, kami memutuskan pamit untuk kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melewati banyak rintangan, akhirnya kami bisa sampai kembali ke kota di sore hari.
Melalui proses yang tidak mudah, akhirnya saat yang dinanti pun tiba, impian wargadesa menjadi nyata. Dengan proses konstruksi yang memakan waktu lebih dari setahun lamanya, listrik kini bukan lagi sekedar angan semata. Anak-anak desa tak lagi belajar dengancahaya pelita. Seluruh warga desa menyambut dengan penuh suka cita.
Pada hari Senin, tanggal 27 April 2020, jaringan listrik PLN di desa Ratte, Besoangindan Besoangin Utara resmi dioperasikan. Ini tentu menjadi kado Ramadan yang luar biasauntuk warga desa, semoga menjadi penambah semangat dalam beribadah.
Ini hanya merupakan contoh kecil dari perjuangan kawan-kawan insan PLN yang takkenal kata menyerah dalam melistriki Nusantara.
#4 Gotong Royong di Kodingareng
Oleh DWI SUPRIYANTO – UP3 Makassar Selatan.
Hari itu, kami akan merelokasi satu unit Mesin Pembangkit Diesel berkapasitas 250 KVA ke PLTD Kodingareng di Pulau Kodingareng, Makassar, Sulawesi Selatan.
SEMANGAT PHINISI | 55
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kodingareng saat ini hanya memiliki Dua mesin pembangkit diesel, dengan kapasitas masing- masing 175 KVA dan 200 KVA. Sehingga sistem isolated Pulau Kodingareng belum memenuhi
syarat N-1 dan harus menggunakan mesin tambahan untuk memenuhi persyaratantersebut.
Malam itu, pukul 01.00 WITA, mesin baru untuk Pulau Kodingareng dinaikkan ke atas crane untuk dibawa ke pelabuhan Paotere, Makassar. Sesampainya di sana, mesin ditempatkan di salah satu kapal yang telah kami siapkan untuk membawa mesin tersebut ke Pulau Kodingareng.
Cuaca hari itu sedang tidak bersahabat, angin berhembus cukup kencang, dengan ombak yang cukup tinggi. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat kami, tim PLNuntuk merelokasi mesin.
Pukul 04.00 WITA, akhirnya kami sampai ke Dermaga Kayu Pulau Kodingareng. Setelah berhasil bersandar, kami turun dari kapal untuk melakukan ibadah shalat subuh berjamaah di salah satu masjid di pulau tersebut dan beristirahat sejenak sebelum menurunkan mesin dari kapal.
Pukul 06.00 WITA kami mulai untuk menurunkan mesin dari kapal. Kapal yang kami gunakan cukup besar, ketinggian kapal tempat mesin diletakkan berada sekitar 2 meter di atas permukaan dermaga kayu. Tentu saja di pulau Kodingareng tidak adatruck dengan crane ,yang dapat mengambil mesin tersebut dengan mudah dari atas kapal.
Kami menggunakan papan-papan kayu yang disusun secara cermat, untuk meluncurkan mesin tersebut. Mesin berbahan bakar Diesel itu,
SEMANGAT PHINISI | 56
SEMANGAT PHINISI | 57 kami tarik secara perlahan dan hati -hati, menggunakan tackel secara
manual agar dapat turun ke dermaga.
Hal tersebut kami lakukandengan sangat hati-hati, karena dermaga yang digunakan adalah dermaga kayu yang usianyasudah sangat tua. Akhirnya sekitar pukul 09.00 WITA mesin dapat turun di Dermaga.
Kami kemudian melanjutkan pekerjaan yaitu memindahkan mesin agar dapat masukke power house PLTD. Jarak dari dermaga ke PLTD sekitar 650 meter. Dengan menggunakan tali tambang berukuran besar, Tim PLN yang hanya berjumlah delapan orangharus menarik mesin yang cukup berat itu ke dalam untuk menarik mesin tersebut ke PowerHouse. Tentunya hal tersebut tidak mudah dan sangat melelahkan, sehingga mesin bergeraksedikit demi sedikit.
Warga sekitar yang sangat antusias ingin melihat mesin baru berdatangan ke dermaga. Mereka diimbau oleh beberapa tokoh masyarakat di sana agar datang beramai-ramai danmembantu kami.
Kami tertegun melihat masyarakat yang sangat bersemangat.Akhirnya kamibersama warga menyambung tali agar menjadi lebih panjang dan dapat digunakan untuk menarik mesin. Mesin yang ditarik bersama- sama, akhirnya tiba di dalam power house PLTD Kodingareng pada pukul 16.00 WITA.
Belum cukup sampai di situ, setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan dengan pekerjaan wiring. Pekerjaan tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit lalu setelah itu dilakukan pengecekan dengan teliti.
Setelah selesai, kami melakukan pengecakan terhadap mesin dan melakukan persiapan operasi. Akhirnya, sekitar 17.30 WITA beban dimasukkan dan mesin dapat memikul beban secara normal. Dengan hadirnya mesin ini pada PLTD Kodingareng, sistem isolated Pulau
SEMANGAT PHINISI | 58 Kodingareng telah memenuhi syarat sistem N-1,sehingga pasokan
listrik di Pulau Kodingareng dipastikan handal.
#5. 100% Penuh Makna
Oleh GALANG BELA BINA NUGRAHA – UP3 Palopo
Perkenalkan saya Galang Bela Bina Nugraha, Saya berasal dari kabupaten dengan julukan The Sunrise of Java.Saat ini Saya sedang berada pada petualangan hebat di suatu kapal kelistrikan terbesar di Indonesia, PLN, dan ditugaskan di unit yang berada di kota IDAMANyang nyatanya memang benar memberikan suasana yang begitu Indah, Damai dan Nyaman.
100, angka yang biasa disebut dengan angka sempurna dan pencapaian yang luar biasa apabila kita telah mengerjakan dengan tuntas atau menjawab benar soal yang telah diberikan tanpa ada yang salah.
Teringat dulu waktu masih kelas 1 Sekolah Dasar ketika ada ujian Matematika, saya berhasil menjawab semua soal dengan benar dan mendapatkan nilai 100 dari Guru dan membuathati menjadi sangat senang.
Sesampainya di rumah dengan bangga menunjukkan ke orang tua dengan nilai yang saya dapatkan dan mendapat pujian. Hal tersebut tentu menjadi pelecut untuk bocah kecil tersebut dan menambah gairah belajarnya.
Pengalaman saat kecil tersebut merupakan suatu hal yang tidak akan terlupakan. Di mana untuk mendapatkan nilai 100, anak kecil tersebut telah mempersiapkan diri dengan belajar sebelum mengikuti ujian. Ketika mendapatkan nilai 100 dia merasa senang karena mendapatkan apresiasi berupa pujian dari Guru dan Orang Tuanya.
Cerita tersebut adalah analogi dari pengalaman yang akan saya bagi sebagai bagian dari TE UP3 Palopo bidang Pemeliharaan Meter., dalam mendapat nilai 100 dalam hal pembacaan Automatic Meter Reading atau AMR dalam masa pandemi COVID-19 di wilayahkerja PLN UP3 Palopo.
Tahun 2020, Saya dan rekan – rekan TE ULP merasa sangat optimis akan melewatinya dengan sukses baca AMR 100%, karena hal tersebut berhasil dicapai di tahun 2019.
Pembacaan bulan Januari dan Februari 2020 seolah baik –baik saja . Tiba – tiba rintangan itu datang saat pembacaan AMR untuk bulan Maret 2020, dengan munculnya pandemi COVID-19 sehingga membuat setiap orang lebih berhati – hati saat keluar rumah dan saling menjaga jarak antar individu. Saya pun sempat dilanda perasaan ragu untuk memberikan instruksi ke rekan – rekan ULP untuk keluar ke lapangan melakukan perbaikanpelanggan AMR.
Rutinitas saya adalah melakukan pengecekan pelanggan AMR apabila ada pelangganoffline harian, biasanya akan segera ditindaklanjuti agar statusnya online kembali. Pada tanggal 31 Maret 2020, terdapat empat pelanggan yang offline dan lokasi tersebar di empat ULP (Palopo Kota, Malili, Belopa, Tomoni). Hal tersebut segera saya menyampaikan ke rekan – rekan Supervisor Teknik ULP untuk segera melakukan pengecekan di lapangan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Ternyata setelah dilakukan pengecekan diketahui bahwapenyebabnya adalah dua kWh Meter rusak dengan indikasi Blank LCD-nya (ULP
SEMANGAT PHINISI | 59
Malili danBelopa) dan dua pelanggan lainnya hanya perlu dilakukan reset modem sehingga dapat online kembali. Setelah dilakukan penggantian dan perbaikan, kami pun optimis untuk pembacaan AMR di tanggal 1 nanti bisa 100 %.
Namun, pada tanggal 01 April 2020 dini hari, musibah itu datang. Cuaca di daerah Luwu Utara sangat buruk. Hujan deras, petir dan angin yang sangat kencang menyebabkan pohon yang tadinya berdiri kokoh langsung roboh dan menimpa Jaringan Udara Tegangan Menengah (JUTM) double circuit di daerah Pongko, Luwu Utara. Hal tersebut mengakibatkan penyulang Sabbang dan penyulang Tandipau trip dan sekitar 59 Gardu Distribusi padam.
Salut, kompak dan pantang menyerah. Tiga kata ini yang layak ditujukan untuk teman– teman Distribusi ULP Masamba dan dibantu PDKB PLN UP3 Palopo yang sejak dini hari sampai menjelang maghrib melakukan perbaikan di titik gangguan. Mereka mengerahkan 100% tenaga dan pikirannya agar sistem segera normal kembali. Saat sore hari sekitar 15.41WITA kondisi pembacaan stan billing AMR untuk wilayah yang terdampak padam masih 32 pelanggan yang offline.
Alhamdulillah, setelah magrib sistem normal, satu per satu pelanggan AMR yang offline mulai aktif kembali dan dapat dilakukan penarikan stan billing. Sampai pukul 20.00 WITA ternyata masih tersisa lima pelanggan yang belum bisa terbaca, satu pelanggan ULP Belopa, satu pelanggan ULP Malili, dan tiga pelanggan ULP Masamba.
Mas Syarif, Supervisor Teknik ULP Masamba mencoba mengunjungi salah satu pelanggan yang offline yaitu Base Transceiver Station atau biasa disebut BTS. Ternyata BTS tersebut sengaja dipadamkan oleh teknisi karena terdapat gangguan internal. Sialnya lagi, dua pelanggan ULP Masamba masuk di dalam zona BTS ini, sehingga harus dilakukan pencatatan manual. Untuk pelanggan lainnya terjadi
SEMANGAT PHINISI | 60
gagal baca karena kesalahan system. Semangat dan komitmen Mas Syarif patut diacungi jempol, atas bantuan beliau hasil billing AMR kami selesai di 99,34%.
Pepatah berkata, “Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. Thatis why it is called the present.”.
Pasca billing AMR periode Maret 2020, Saya dan Supervisor Teknik ULP bertekad agar pembacaan meter via AMR bisa mencapai 100%. Billing AMR bulan lalu seakan memberikan pelajaran, bahwa kita belum tahu apa yang terjadi esok hari apa sajabisa terjadi.
Oleh karena itu, do’a dan harapan yang baik – baik mulai kami sampaikan ke Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan kelancaran dan kembali menuju 100%. Pasrah dengan keadaan memang tetapi tetap berikhtiar dengan semangat satu tujuan.
Pada tanggal 29 April 2020, tiba – tiba diketahui tujuh pelanggan tidak dapat dibacastan instannya yaitu dua di Palopo Kota, satu di Tomoni, satu di Masamba, satu diMakale, dan dua di Belopa.
Ternyata setelah dicek port dari kWh meter rusak. Segera hari itu kami lakukan perbaikan di empat ULP (Palopo Kota, Makale, Tomoni, Masamba). Sedangkan ULP Belopa berhasil kami lakukan pemeliharaan tanggal 30 April 2020 ,tepat H-1 sebelumpembacaan AMR.
Akhirnya hari H billing tiba, tanggal 01 Mei 2020, dengan segala rasa syukur, TuhanYang Maha Esa begitu melancarkan proses pembacaan stan billing AMR dan kami kembalimencapai 100% tepat pukul 16.00 WITA. Nilai 100% ini layak didedikasikan untuk rekan –rekan Teknik ULP yaitu Mas Hasri ULP Palopo Kota, Dwi Rudi ULP Makale, Luthfil ULP Malili, Ami Prawoto ULP Belopa, Wozali ULP Tomoni, Mas Syarif ULP Masamba dan Imam ULP Rantepao yang mau soro sampai titik penghabisan pembacaan AMR.
SEMANGAT PHINISI | 61
Semangat 100 persenmu, Semoga selalu terwujud 100 Persen pembacaan AMRmu. Selalu ingat nilai kesempurnaan adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, berbuatlah yang terbaik hari ini untuk menyongsong hari esok yang lebih baik. Semangat terus billing AMR Selanjutnya.
#6. Integritas, Bukan Formalitas
Oleh GALIH RENDRA PUTRA – UP3 Kendari
Apa yang ada di pikiran anda, jika mendengar Biro Pengadaan Barang dan Jasa ? Korupsi, Gratifikasi, dan Penyuapan adalah hal – hal negatif yang pasti sering anda dengar, jika membahas tentang Pengadaan Barang dan Jasa.
Stigma negatif yang muncul di kalangan masyarakat tersebut terbentuk, akibat ulah oknum – oknum pejabat yang tidak bertanggung jawab. Tapi percayalah, di PLN tidak akan seperti itu. Karena untuk menjadi pegawai PLN, kamu harus punya tiga hal utama. Apa saja tiga hal utama tersebut?
Halo, saya Galih, pegawai PLN angkatan 49. Menjadi pegawai PLN adalah impian yang jadi kenyataan. Punya cita – cita untuk bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang energi, akhirnya membawa saya menjadi salah satu insan PLN.
Saya meyakini bahwa perusahaan yang bergerak di bidang energi adalah perusahaan yang paling memberikan manfaat bagi banyak orang.
Tidak pernah terbersit sedikitpun di pikiran saya, bekerja di bagian Pengadaan Barang dan Jasa, mengingat basic saya adalah Akuntansi dan Keuangan. Namun, begitulah dunia pekerjaan, banyak tantangan
SEMANGAT PHINISI | 62
SEMANGAT PHINISI | 63 yang muncul dan tidak ada waktu untuk mundur kembali. Kalaukata
orang pintar, show must go on.
Bukan hanya sekedar formalitas, Biro Pengadaan Barang dan Jasa menduduki posisi yang sangat penting dalam organisasi, karena merupakan sarana penggunaan anggaran dalam jumlah signifikan guna mendapatkan barang, jasa, dan pekerjaan yang dibutuhkan bagi pelaksanaan misi organisasi. Pengadaan barang/jasa juga menduduki posisi penting dalam penyediaan infrastruktur ketenagalistrikan yang dilakukan oleh PLN.
Di PLN, struktur organisasi pengadaan telah diubah dari model kepanitiaan temporer, menjadi model pejabat pengadaan yang struktural dan profesional, di dalam Direktorat Pengadaan. Hal ini sangat diapresiasi, karena dengan adanya pejabat pengadaan yang independen dan tidak terhubung dengan bagian lain, akan menjaga obyektivitas dan jauh dari konflik kepentingan.
Jadi kenapa pemisahan tugas itu perlu dilakukan dalam sebuah struktur organisasi?. Dulu saat kuliah Audit Internal, saya pernah mendapatkan materi terkait Fraud (Kecurangan). Kalau bicara tentang Fraud, kita harus bicara tentang The Fraud Triangle.
Teori yang dikemukakan oleh Cressey pada tahun 1953, berpendapat bahwa terdapat tiga kondisi yang selalu mempengaruhi terjadinya kecurangan. Kondisi ini terdiri dari pressure, opportunity, dan rationalization. Dalam sebuah organisasi, salah satu bentuk pengendalian internal yang dilakukan untuk mencegah terjadinya Fraud adalah dengan pemisahan tugas. Dengan adanya pemisahan tugas akan mengurangi kesempatan (opportunity) dalam penyalahgunaan wewenang.
Setiap pekerjaan memang memiliki risiko masing – masing. Begitu juga dengan pengadaan barang dan jasa yang risikonya tidak kalah besar, dengan resiko pekerjaan jaringan. Tak ayal, banyak pegawai
yang enggan menduduki jabatan ini. Banyak tekanan yang harus dihadapi sebagai pejabat pengadaan. Mulai dari intimidasi, ancaman dan juga tawaran gratifikasi.
Namun, percayalah, semua itu bisa kita hadapi. Jangan menyerah pada keadaan. Perusahaan sudah mengeluarkan Peraturan - peraturan Direksi yang bisa kita pakai sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas ini. Kita tinggal melaksanakan sesuai dengan apa yang sudah diatur secara detail di dalam pedoman tersebut. Untuk memudahkan kita dalam menjalankan tugas ini, perusahaan juga telah membentuk Divisi Hukum dan Satuan Pengawas Intern sebagai wadah untuk berkonsultasi.
Dalam melaksanakan tugas ini kita memang dituntut untuk teliti, jujur dan bermentalbaja. Integritas adalah harga mati, tidak boleh ditawar – tawar lagi. Pernah dengar cerita tentang The Great Wall ? Ya, Tembok Besar Cina, Barikade pertahanan sepanjang 21.196 KM yang dibangun jutaan manusia selama 2000 tahun itu, dalam 100 tahun pertama setelahdiselesaikannya telah disusupi musuh sebanyak tiga kali.
Bukan dengan cara dirobohkan, tetapi dengan cara memberi gratifikasi kepada penjaga benteng. Belajar dari cerita tersebut,kita bisa menyimpulkan, bahwa sebesar apa pun citra perusahaanmu, akan langsung hancurjika insan – insannya tidak punya Integritas.
Dalam menjalankan sebuah pekerjaan pastilah ada hal negatif dan positifnya. Salah satu hal positif yang bisa didapat selama menjadi pejabat pengadaan adalah bisa memahami proses bisnis di Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3), khususnya untuk alur administrasi. Mulai dari Proses Perencanaan (RKAP) hingga proses pengeluaran uang(pembayaran). Selain itu, secara tidak langsung kita juga akan mempelajari nama–nama material dan jenis–jenis pekerjaan yang ada di PLN. Bahkan,kita belajar juga teknik negosiasi dan komunikasi dengan stakeholder.
SEMANGAT PHINISI | 64
SEMANGAT PHINISI | 65 “Jalan - jalan ke losari, tidak lupa membeli saraba. Begitulah suka
duka kami, bekerja di Biro Pengadaan barang dan Jasa”.
Beratnya tanggung jawab dalam sebuah pekerjaan, berbanding lurus dengan kapasitasinsan yang mengembannya. Untuk itu kita perlu ingat 3 hal yang harus dimiliki insan PLN. Pertama, Integritas. Kedua, Integritas. Ketiga, Integritas. Di bagian apapun kita bekerja, marimulai dari diri sendiri wujudkan misi PLN bersih. Bersama-sama, kita bisa jaga kelangsungan hidup perusahaan ini. PLN, Power Beyond Generations.
#7. Never Give Up! – Penakluk Medan
Oleh INDRA TRISNAWATI – UP3 Watampone
Penakluk medan menerjang rintangan. Mungkin hal ini terdengar berlebihan, tapi ituyang sebenarnya kami alami. Kami menjadi salah satu insan PLN yang mengemban tugas mulia untuk melistriki setiap pelosok daerah guna mencapai target rasio elektrifikasi.
Lappabosse, merupakan salah satu dusun yang terletak di Kecamatan Kajuara yang masukdi wilayah kerja PT PLN (Persero) ULP Tellu Boccoe. Pasti nama tersebut masih asing di telinga.
Tak disangka 73 tahun Indonesia merdeka ternyata di dusun tersebut belum merasakan adanya aliran listrik untuk memberikan penerangan di rumah-rumah mereka. Rata-rata mata pencaharian mereka memang petani ataupun berkebun. Harus berapa lama lagi mereka menunggu mimpi untuk menikmati energi listrik seperti daerah-daerah lainnya.
Mereka percaya dengan adanya listrik akan membawa perubahan untuk kehidupan mereka. Untuk mencapai dusun tersebut, kami harus menempuh jarak 89 km dari PT PLN (Persero) UP3 Watampone. Waktu tempuh sekitar dua jam dan perjalanan melewati medanyang cukup ekstrem.
Pertama kali survei lokasi dusun tersebut, tepatnya, pada tanggal 19 Juli 2019, kamiterkejut., Ternyata masih ada daerah-daerah pelosok yang belum terlistriki seperti ini.
Itulah Lappabosse, dengan menempuh jalan yang hanya bisa dilewati satu mobil dalam kondisi jalanan becek karena hujan, membuat kami harus ekstra hati-hati.
Salah fokus sedikit, kami bisa saja terjatuh kesungai, lalu untuk melanjutkan survei kami juga harus menyeberangi sungai berpasir. Namun, jangan dibayangkan ada jembatan yang bisa dilewati mobil.
Ban mobil kami selip karena pasir di sungai, dengan kedalaman air hampir satu meter yang membasahi seluruh ruangan di dalam mobil. Tim kami saat itu ada enam orang.
Tentu saja, jumlah personil kami saat itu tidak mampu untuk mengangkat mobil dari pasir di sungai tersebut. Saya dan rekan perempuan yang lain terpaksa mencaribantuan dengan berjalan kaki sepanjang 600 meter untuk sampai ke pemukimanwarga.
SEMANGAT PHINISI | 66
Dengan di bantu enam orang warga setempat, akhirnya mobil kami bisa melewatisungai tersebut. Dan kami pun bisa bernafas lega karena bisa melanjutkan perjalanan.
Wargadesa pun semringah mengetahui kedatangan tim PLN, artinya ada secercah harapan dusun mereka akan segera terlistriki. Kami pun juga bahagia melihat senyum mereka.
Tahap selanjutnya pembangunan Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 1,39 kMs dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 1,45 kMs yang tak kalah heroik.
Kondisi medan yang tak bersahabat, mengharuskan kami pantang menyerah untuk menyelesaikan misi ini. Tiang beton berukuran 13 meter harus terpancang. Jika tidak hati –hati, truk pengangkut tiang beton tersebut bisa tergelincir di atas jalan yang bergelombang.
Tak hanya itu, beberapa titik pemancangan tiang juga tidak dapat diakses dengan mobil. Mau tak mau harus diangkat oleh setidaknya 10 orang, tentunya dengan bantuan warga setempat.
Sedikit demi sedikit pembangunan jaringan listrik menunjukkan progres yang signifikan. Semakin cepat pembangunan jaringan listrik, semakin cepat juga listrik di dusun tersebut menyala. Saat bahagia yang ditunggu telah tiba, ketika listrik akhirnya masuk ke dusun tersebutt, ibarat jodoh yang telah datang setelah sekian lama ditunggu. Sungguh tak ternilai kebahagiaan yang mereka rasakan.
Setelah pemeriksaan dan pengoperasian jaringan listrik sesuai standar PLN, kami mulai mengaliri listrik di rumah warga yang sudah dipasang kWh meter. Ketika peresmianlistrik dusun di Lappabosse, kami juga mempersiapkan kegiatan sosialisasi kepada warga.
Pada tanggal 13 Desember 2019 kedatangan kami disambut antusias saat kegiatan sosialisasi tersebut. Keterbatasan tempat tak
SEMANGAT PHINISI | 67
menyurutkan semangat untuk melakukan sosialisasi. Di tempat seadanya di rumah salah satu warga, kami membuka acara tersebut yang dipimpin oleh perwakilan Manajemen PT PLN (Persero) UP3 Watampone yakni Manajer Bagian Pelayanan dan Pemasaran Bapak Muh Basir dan didampingi oleh Manajer PT PLN (Persero)ULP Tellu Boccoe Muh Said.
Tentunya sosialisasi tersebut memberikan informasi tentang pelayanan pelanggan, informasi PLN, K3 maupun cara pengaduan gangguan listrik. Kebetulan listrik prabayar sudah terpasang di sana, tak lupa kami sampaikan tata cara pengisian token dan memasukkan token tersebut ke kwh meter. Dengan seksama mereka mendengarkan, bahkan terjadi tanya jawab yang sangat interaktif, karena keingintahuannya akan hal baru.
Kini tidak hanya wajah Bahagia penuh tawa terpancar di wajah para warga dusun Lappabose. Sungguh terharu bisa mewujudkan sedikit mimpi mereka. Akhirnya 23pelanggan resmi menikmati listrik PLN
Doa kami untuk mereka semoga mimpi mereka yang lebih besar bisa terwujuddengan adanya dukungan listrik PLN. PLN Terbaik dan kami bangga menjadi insan PLN.
# 8 Mewujudkan Selayar Berbinar
Oleh MUHAMMAD HAMI PRADIPTA – ULP SELAYAR.
14 Oktober 2019, menjadi hari yang cukup membanggakan, karena pembahasan tentang Selayar muncul dalam materi COC Nasional berjudulkan “Selayar Berbinar” yang ditulis oleh Pak Johanes Sukrisliasmono, Executive Vice President (EVP) Operasi Regional Sulawesi. Judul tersebut diambil dari nama WhatsApp Group (WAG) yang sebelumnya berjudul “Perbaikan SELAYAR” yang kemudian diubah
SEMANGAT PHINISI | 68
SEMANGAT PHINISI | 69 oleh General Managerkami pada waktu itu Pak Bambang Yusuf, menjadi
“Selayar Berbinar”.
WAG tersebut muncul setelah sidang teknik yang cukup mengerikan di Pusat. Namun, dibalik Selayar Berbinar terdapat cerita yang sangat berharga dan pengalaman luar biasa bagi saya.
Selayar merupakan salah satu kabupaten kepulauan di sisi selatan Sulawesi Selatan, secara sistem masih Isolated (belum terhubung) dan menggunakan PLTD. Hampir sepanjang tahun dihantam angin keras, dan di sepanjang jalan adalah hutan kelapa. Di daerah sini, kelapa menjadi musuh seluruh jaringan listrik PLN.
Alhasil, gangguan jaringan listrik seperti minum obat harian dan Black Out seringkali terjadi. Seminggu dua kali Black Out itu sudah sangat bagus. Jujur saja selama 2,5 tahun ini, saya memutar otak, mengganti ganti system pekerjaan supaya fasilitas yang diberikan untuk Pulau Selayar bisa maksimal. Namun, dengan fasilitas yang sama jaringan di Selayar makin bertambah, 14 desa terlistriki di masa saya sehingga wilayah kerja semakin luas.
Jaringan PLN yang bersifat radial dan cukup panjang dengan minim segmen proteksi, sangat terpengaruh dengan kondisi masyarakat yang tidak mengijinkan pohonnya ditebang sehingga mati lampu. Sampai akhirnya Bupati dari Kepulauan Selayar membantu kami untuk menyampaikan langsung ke pusat. Tidak lama kemudian, tim kami yang terdiri dari saya (mewakili MULP Selayar), Manajer Bagian Jaringan dan Senior Regional Manajer (SRM) Jaringan ke pusat untuk menjalani
sidang engineering.
Hasil Sidang Engineering kami di pusat, segera saya sampaikan kepada Bapak Bupati, yang diwakili oleh Asisten 1. Di sana saya bermohon agar segera diadakan rapat dengan Muspida, Camat dan seluruh kepala desa yang agendanya adalah “Percepatan Pembangunan Kelistrikan”.
Peserta yang datang pada saat rapat cukup banyak, mulai dari Bupati, Asisten, Kepala Dinas dari Diinas terkait, TNI, POLRI Camat, Kepala Desa, BHABINKAMTIBNAS (Bhayangkari Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), hingga POLSEK.
Di sana, saya mewakili Manajer ULP Selayar menjadi pembicara, untuk menyampaikan rencana dariPLN. Dalam rapat tersebut, saya sampaikan pula bahwa pembangunan jaringan listrik ini tidak akan bisa membawa pengaruh untuk masyarakat Selayar, apabila tidak terjalin kerjasaman antara PLN, Pemerintah dan Masyarakat. Kami juga menyampaikan untuk dilakukan pembentukan tim “Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Kelistrikan”, agar mudah dilakukan komunikasi, apabila terjadi kendala. Terdapat tiga poin yang kami sampaikan saat itu:
1. Distribusi material (Penyeberangan kapal yang terkadang memakan waktu hingga tiga hari).
2. Perijinan pohon dan tanah untuk pemancangan tiang (faktor eksternal yangpaling susah dalam pembangunan jaringan).
3. Bantuan dalam penebangan pohon.
Satu orang yang ditunjuk sebagai perantara antara PLN dan Pemerintah (ditunjuklah Ketua Tim Satgas, Pak Moediono Kadis Penanaman modal)
Setelah dibentuk Tim Satgas Percepatan Pembangunan Kelistirkan yang mempunyai tanggung jawab membantu kendala-kendala PLN. Dinas perhubungan, memberikan prioritaskepada PLN dalam penyebrangan kapal ke Selayar, kemudian masing-masing Camat, BHABINKAMTIBNAS dan Kepala Desa menjadi penanggung jawab untuk mediasi ke masyarakat untuk perijinan.
SEMANGAT PHINISI | 70
Sementara itu pihak BPBD membantu PLN dalam penebanganpohon, dengan menyediakan delapan orang dengan chainsaw segede gaban setiap harinya untuk melakukan penebangan pohon. Tidak lupa bantuan dari Kepolisian dalam pengaturan lalu lintas ketika perampalan pohon. Alhamdulillah, saya dipercaya untuk mengkomandoi tim yang melibatkan banyak instansi tersebut.
Tiga bulan yang menantang untuk mewujudkan “Selayar Berbinar.” Kami dipantau setiap hari melalui WAG oleh seorang EVP dan kadang pembahasan sampai harus dihentikan oleh SRM kami, Bapak Andi Imran untuk beristirahat, karena hari sudah lewat tengah malam. Belum lagi telepon berjenjang setiap pagi dari MB Jar, MUP3, DM Opdis.
Proyek ini melibatkan lebih dari 10 Vendor yang dikontrol secara bersamaan. Menjalin komunikasi dengan pemerintah dan muspida. Membangun 7 Penyulang, memasang 4 Recloser, mengoperasikan 2 Gardu Hubung, Fuse saver dan Fault Indicator bertebaran, serta membangun setting proteksidari nol. Semua itu menjadi kenangan yang tidak bisa dilupakanseumur hidup.
Semoga kelak impian saya sebagai EVP bisa tercapai, sehingga saya bisa memberikan ceramah kepada pegawai-pegawai baru dengan bertanya apakah mereka tahu dimanakah Pulau Selayar ?.
Pelajaran yang penting, bahwa kita harus pandai-pandai bersosialisai dan menjalin Kerjasama dengan lingkungan dan instansi sekitar. Sehingga ketika terjadi sesuatu, bisa lekas ditangani dengan bahu membahu.
SEMANGAT PHINISI | 71
#9. Lika Liku Sinjai Benderang
Oleh HERDA DWI CAHYANOVA – ULP Sinjai
Tahun 2018, adalah tahun yang cukup menantang untuk saya Setelah dianggap sukses menakhodai Bidang Teknik di ULP Tanete, dengan menurunkan gangguan hingga 90% dan menjadi ULP dengan gangguan Frekuensi Gangguan Tegangan Menengah (FGTM) terbaik di UP3 Bulukumba.
Namun, di akhir tahun 2018 terdengar isu bahwa saya akan di mutasi ke ULP Sinjai. Sempat timbul keraguan karena ULP Sinjai memang menjadi salah satu momok yang ditakuti oleh orang –orang di bidang teknik. Akhirnya saya mengafirmasi diri saya bahwa apapun yang terjadi pasti bisa dihadapi. Akhirnya pada bulan oktober 2018, saya menerima SK Mutasi menjadiSPV Teknik ULP Sinjai.
Pada tanggal 1 November 2018, bertepatan dengan hari ulang tahun saya adalah haripertama dinas di ULP Sinjai. Selama satu minggu pertama saya melakukan pemetaan masalah dan kemudian mendapatkan kesimpulan tiga poin besar permasalahan di bidang teknik:
• Tegangan Drop jaringan.
• Kebutuhan jaringan baru Desa dan Dusun belum berlistrik.
• Kehandalan system jaringan
Belum sempat saya merencanakan untuk mengeksekusi 3 permasalahan tersebut, diminggu kedua saya berdinas di ULP Sinjai terjadi Blackout atau padam serentak. Alhamdulillah setelah dua hari system kelistrikan sudah kembali normal dan saya dapatmemulai perencanaan untuk pola pemetaan pembenahan system kelistrikan di ULP Sinjai.
Kabupaten Sinjai terdiri dari sembilan Kecamatan yaitu Sinjai Utara, Sinjai Timur,Sinjai tengah, Sinjai barat, Sinjai Selatan, Bulupodo, Sinjai
SEMANGAT PHINISI | 72
SEMANGAT PHINISI | 73 Borong, Telulimpoe, dan PulauSembilan. Kabupaten Sinjai secara garis
besar memiliki geografis yang cukup menantang.
Bagian pegunungan yang merupakan bagian hutan lindung yang cukup membuat saya dan tim memutar otak, dalam upaya pemangkasan pengamanan ROW untuk jaringan listriknya.
Daerah selatan yang di dominasi dengan tanaman - tanaman produktif, sehingga butuh perhatian khusus untuk perijinan ke masyarakat. Tak lupa dengan cuaca yang cukup ekstrim di Kabupaten Sinjai, serta seringnya bencana tanah longsor terjadi yang dapat mengganggu kelancaran distribusi aliran listrik.
Inti permasalahan di ULP Sinjai adalah keandalan kelistrikan, terlebih dengan misikhusus yang diberikan ke saya untuk memecahkan tiga poin besar yang sudah dijelaskan diatas.
Alhamdulillah untuk point 1 (satu) dan 2 (dua) terkait tegangan drop dan kebutuhan jaringan baru dan dusun di ULP Sinjai sudah mengarah positif sekitar 95% permasalahan tersebut sudah dapat kami selesaikan.
Daerah-daerah yang masih mengalami tegangan drop dan belum berlistrik, sekarang sudah dapat menikmati listrik dan kami mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sinjai dalam hal tersebut.
ULP Sinjai mempunyai empat penyulang yang tiga penyulangnya masuk dalam daftar lima besar gangguan penyulang terbanyak di PLN UIW
SEMANGAT PHINISI | 74 Sulselrabar, yaitu penyulangLitha, Penyulang Lamatirillau dan Ekspres
Tangka.
Alhamdulillah setelah upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk penyulang Litha dan Lamarillau sudah terlihat dampak positif dan sudah keluar dari daftar lima penyulang terburuk.
Namun, masih ada Penyulang Express Tangka yang mempunyai kondisi geografis yang cukup Ekstrem yang terdiri dari hutan lindung dan memikul dua ULP yaitu ULP Sinjai dan ULP Malino di UP3 Makassar Selatan. Segala Upaya saya lakukan untuk fokus menurunkan gangguan di Penyulang Ekspres Tangka ini, karena sudah menjadi isu panas di unit induk wilayah Sulselrabar pada tahun 2020. Dari pembenahan di sisi proteksi, kerja sama dengan pemda setempat untuk pemangkasan bersama dan juga membuat inovasi-inovasi untuk upaya menurunkan gangguan penyulang
Inovasi Stick pembersih kawat rantas dan pembersih sampah layang –layang, Pemangkasan pohon terpadu dengan masyarakat dan pemda, dan pemasangan inovasipipa instalasi dengan dioleskan gemuk untuk pengahalang binatang.
Alhamdulillah, sedikit demi sedikit gangguan pada Penyulang Ekspres Tangka sudahmulai terlihat trend yang cukup baik dan terlihat menurun setiap bulan, Semua tidak lepas dari upaya – upaya yang dilakukan secara bersama –sama dengan melakukan pemeliharaan terpadu, baik perampalan pohon bersama dengan pemda dan masyarakat, pemasangan penghalang biantang, serta membenahi proteksi tiap sectionalizer.
Semua hal tersebut, dilakukan dalam upaya meningkatkan pelayanan PLN, khususnya di wilayah kerja PLN ULP Sinjai. Kami berusaha memberikan yang terbaikdalam sektor penyaluran listrik, yang akan berdampak ke semua aspek di masyarakat dari bidang pendidikan, pemerintahan, kesehatan, dan masih banyak lagi.
Hal ini tentu saja akanmemperkuat citra PLN di mata masyarakat, karena kita (PLN) ada pelayan masyarakat yangharus kembali ke kodratnya, yaitu melayani masyarakatdibidang kelistrikan.
Dengan adanya SK mutasi saya ke ULP Sinjai, banyak sekali pelajaran yang dapat saya ambil, khususnya di sisi Teknik Distribusi. Dalam menghadapi semua tantangan dan masalah, saya selalu mengafirmasi diri dengan motto, “kerjakanlah suatu masalah sampai selesai jika kamu sudah memulai untuk mengerjakan hal tersebut, jangan ada sisa!”, serta mengingat pesan dari para senior saya yaitu “Kerjakanlah sesuatu dengan ikhlas, Insha Allah semua akan bernilai ibadah”.
Sebagai penutup, tidak ada hal yang tidak mungkin, jika kita mau berusaha. Semangat melistriki negeri.
# 10 Listrik Kini Tak Berjarak di Pulau Battoa
Oleh M. ASHARI B. – ULP Pulowali
Pulau Battoa terbagi menjadi tiga Dusun dan dihuni sekitar 150 kepala keluarga. Sampai dengan tahun 2014, pulau ini tak kunjung menikmati layanan listrik dari PLN. Padahal jaraknya hanya lima kilometer saja dari kantor PLN Polewali, empat kilometer perjalanan darat dan satu kilometer perjalanan laut ke arah selatan. Jarak satu kilometer inilah, yang menjadi pemisah warga yang dapat menikmati listrik PLN dan warga Pulau Battoa yang belum bisa menikmati listrik PLN.
Menurut penuturan I Pua’, salah satu warga Pulau Battoa sudah sejak tahun 1987, warga di Pulau Battoa menyampaikan permohonan mereka untuk bisa menikmati listrik. Namun, kondisi yang serba terbatas dan jarak satu kilometer yang dipisahkan laut menjadi kendala. Dan sampai
SEMANGAT PHINISI | 75
SEMANGAT PHINISI | 76 tahun 2014, warga hanya memanfaatkan genset untuk menikmati listrik
seadanya.
Genset dinyalakan pukul 09.00 WITA sampai dengan pukul 21.00 WITA. Padamnya bisa lebihcepat kalau genset bermasalah, bahkan tidak ada listrik berhari-hari kalau masalahnya berat. Apalagi kapasitas genset yang kecil dan biaya bahan bakar yang cukup memberatkan,hal ini tentu saja menganggu aktivitas masyarakat di sana.
Akhirnya tiba waktu yang dinantikan warga pulau Battoa. Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar bekerja sama dengan PLN, mengupayakan pembangunan jaringan listrik yang tidak biasa ke Pulau Battoa.
Hasil survei di laut membuka kemungkinan pembangunan jaringan listrik tegangan menengah. Dengan menempatkan tiang di titik terdangkal di laut dan memanfaatkan waktu air laut surut di pagi hari, Pemerintah menyiapkan tempat pemancangan tiang dengan melakukan pengecoran di tengah laut, disusul dengan pemancangan tiang dan pengecoran tapak tiang.
Tiang beton yang beratnya lebih dari satu ton, diangkut dengan kapal dan dipancang di lokasi yang sudah disiapkan, tidak mudah, tetapi bisa. Tiang terpancang, artinya bagian tersulit sudah dilewati. Selanjut bagian yang tidak kalah susahnya adalah pemasangan pembesian dan isolator disusul dengan pemasangan pengantar.
Jarak antar tiang sejauh lima ratus meter tentu saja membuat pekerja kewalahan dalam memasang kawat penghantar. Setelah pekerjaan tersebut selesai, dilanjutkan dengan pemasangan trafo dan pembangunan jaringan tegangan menengah. Konstruksinya jaringan tegangan menengah untuk Pulau Battoa terdiri dari tiga titik, satu konstruksi tiang “H” diPulau Sulawesi, satu titik konstruksi tiang “H” di tengah laut dan satu konstruksi segitiga dipulau Battoa menggunakan tiang besi.
Tiga bulan berselang, sejak dimulainya pembangunan jaringan listrik ke Pulau Battoa.Tepatnya 22 Desember 2014, jaringan selesai dan langsung dioperasikan. Warga pulau Battoa tentu saja menyambut dengan suka cita, akhirnya bisa menikmati pelayanan PLN. Tidak ada lagi mesin genset, listrik sudah bisa dinikmati 24 jam penuh dan dapat digunakan untuk aktivitas apa saja.
“Akhirnya Pulau Battoa merasakan namanya merdeka”, sahut istri mantan kelapa dusun yang menuturkan cerita almarhum suaminya yang kerap mengatakan bahwa mereka belum merdeka karena belum merasakan listrik PLN menyala di Pulau Battoa.
Pembuat kapal yang biasanya mengerjakan satu kapal dalam sebulan, kini bisa mengerjakan dua kapal dengan memanfaatkan mesin listrik.
Warga yang kebanyakan nelayan tidak perlu lagi menyeberang dulu untuk membeli es batu sebelum ke laut, karena di pulau mereka sudah ada listrik untuk menyalakan lemari pendingin. Banyak lagi manfaat yang dirasakan masyarakat Pulau Battoa dengan hadirnya listrik dari PLN.
# 11
Oleh
Dari Ulurina Menebar Bahagia
RIVAN RERIZKI PUTRA – UP2K Sulawesi Tenggara
SEMANGAT PHINISI | 77
lebih3,5jamlewat jalurdarat.
Hari itu, pagi-pagi sekali saya sudah bersiap untuk berangkat. Sepiring nasi dan telurmata sapi menjadi menu sahur. Agendanya melakukan survey lokasi listrik desa di Desa Ulurina. Perjalanan menuju lokasi ditempuh kurang
Desa Ulurina terletak di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka. Desa ini terdiri dari empat dusun, di mana di dalamnya terdapat kurang lebih 106 kepala keluarga. Mayoritas mata pencaharian masyarakat di sana adalah berkebun. Mulai dari cengkeh, cokelat, merica,dan beragam buah-buahan seperti durian dan langsat. Di beberapa rumah juga dapat dijumpai bantuan pembangunan kolam ikan dari pemda setempat untuk budidaya ikan air tawar.
Diperlukan nyali ekstra untuk dapat sampai ke Desa Ulurina. Pasalnya, medan yangdilalui tidak main-main. Sepanjang perjalan kita disuguhi oleh jalan menanjak dan berkeloktajam. Tapi sesampainya di atas, semua terbayar lunas. Pemandangan dari atas sana sungguhmenakjubkan.
Sebuah desa di atas bukit diwarnai hamparan perkebunan yang luas, dengan latar belakang laut lepas. Sungguh kombinasi yang Ciamik!.
“Kami sudah sangat lama merindukan PLN di desa kami, Pak,” ucap salah seorang warga.
Singkat cerita, pembangunan jaringan pun dimulai. Proses dimulai dengan pemancangan tiang beton. Meski medan yang dilalui cukup sulit, untungnya kepala desa dan masyakarat sekitar sangat kooperatif. Setelah semua tiang selesai dipancang, tahap selanjutnya yaitu meakukan penarikan jaringan. Alhamdulillah, pada tanggal 5 Mei 2020, pembangunan jaringan di Desa Ulurina telah 100% selesai.
Senang rasanya masih bisa berbagi kebahagiaan di tengah masa - masa sulit pandemic covid-19 seperti sekarang ini. Menyalakan listrik untuk masyarakat di Desa Ulurina tentu salah satu jalan berbagi bahagia.
Perjalanan belum berakhir, masih banyak desa menanti yang harus dilistriki. Raut wajah gembira dan tawa dari masyarakat di Desa Ulurina, menjadi pemicu semangat kami untuk terus melistriki sampai ke pelosok negeri ini.
SEMANGAT PHINISI | 78
#12 Penantian di Bonti
Oleh Vinca Resti Apriani - UP3 Makassar Utara.
Tanggal 6 Juni 2021 merupakan tanggal yang bersejarah untuk warga desa Kampung Bonti, Desa Balocci Baru, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Akhirnya setelah menunggu sekian lama, kini 45 Kepala Keluarga (KK) di dusun terpencil tersebut bisa merasakan nikmatnya penerangan listrik, terutama di malam hari.
Kampung Bonti sendiri berjarak kurang lebih empat belas kilometer dari Jalan Poros Pangkep- Maros. Medan yang sulit dilalui kendaraan membuat warga di sana harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan listrik. Di tahun 2019, sebenarnya rekan-rekan Lisdes dari PLN Makassar Utara telah melakukan survei ke sana. Namun, kondisi lokasi yang berupa bukit terjal dan berbatu, serta tidak adanya jalan masuk kendaraan mobil yang bisa dilewati untuk menuju ke sana, membuat rencana untuk melistriki daerah tersebut harus tertunda. Satu-satunya akses menuju ke Kampung Bonti pada saat itu, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau sepeda motor. Kemudian di tahun 2021, PLN mendapat kabar gembira bahwa jalan masuk menuju ke sana sudah dibuat dan bisa dilalui oleh mobil. Sehingga impian warga di sana untuk mendapatkan penerangan, kini bisa segera terwujud.
Untuk menghadirkan listrik di dusun tersebut, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 1,1 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah sepanjang 3,47 kms dan Gardu Distribusi dengan kapasitas daya sebesar 50 kilo Volt Ampere. PLN mengeluarkan investasi sebesar Rp 657 Juta atau sebesar Rp 14 juta untuk setiap KK.
Walaupun sudah terdapat akses menggunakan mobil, tetapi tantangan tentu tidak berhenti sampai di situ saja. Jalan yang ada, bukan jalan beraspal yang bisa dilalui dengan mudah, tetapi jalan pasir dan berbatu. Hanya kendaraan berjenis 4 WD atau Four-wheel Drive yang dapat
SEMANGAT PHINISI | 79
menembus medan seperti ini. Itupun sesekali rekan-rekan PLN harus turun dari mobil untuk membantu menyingkirkan batu-baru besar yang menghalangi jalan. Belum lagi kondisi bukit yang terjal, menanjak, serta diapit jurang di kiri dan kanan, membuat berkendara menuju ke sana semakin menantang.
Niat dan semangat rekan-rekan PLN untuk membuat warga di Desa Kampung Bonti merasakan nyala terangnya listrik di desa mereka tak pernah surut, walaupun harus melewati berbagai macam rintangan. Bahkan tepat di saat akan dinyalakan, rekan-rekan PLN yang diwakili oleh Bapak Darwis, Bapak Awaludin dari PLN UP3 Makassar Utara, Bapak Rachmat dari P2K Sulawesi Selatan, serta staf kelurahan bapak Syamsudin, dimana beliau harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih empat kilometer dengan berjalan kaki, padahal sedang melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan.
Namun, semua lapar dan dahaga hilang seketika melihat senyum kebahagian Pak RT dan warga masyarakat Desa Kampung Bonti yang bergembira karena desa mereka telah teraliri listrik. Dengan pembangunan tersebut, kelistrikan di Kampung Bonti kini tersambung dengan sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan, sehingga lebih andal. Semoga dengan masuknya listrik di sana, dapat membantu warga sekitar meningkatkan roda perekonomian mereka.
SEMANGAT PHINISI | 80
BAB 3
TETAP MELAYANI DI KALA PANDEMI
SEMANGAT PHINISI | 81
SEMANGAT PHINISI | 82
"Teai mangkasara' punna bokonna loko' "
Bukan orang makassar kalau yang luka di belakangnya Makna :
Orang Makassar tidak boleh lari dari masalah, setiap persoalan diselesaikan dengan cara menghadapinya langsung bukan untuk kabur dan menghindar