The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by aziza.nimah, 2022-01-10 01:11:37

Semangat Phinisi

Setelah seluruh jaringan dalam kota Mamuju selesai di telusuri, kami pun memetakan urutan prioritas penyalaan penyulang yang layak untuk dinyalakan.
Dengan melihat kondisi jaringan yang mengalami kerusakan dimana- mana, dan kondisi tim yang ada di Mamuju mengalami trauma, serasa sangat berat untuk memulihkan sistem ketenaga listrikan Mamuju dengan kekuatan yang ada saat itu.
Akhirnya di WhatsApp Group (WAG) saya memohon bantuan para MB jaringan UP3 se -ulselrabar untuk turun membantu kami. Demikian juga teman-teman teknik yang ada diseluruh ULP asuhan UP3 Mamuju.
Sambil menunggu bala bantuan dari luar Mamuju, kami mendapat informasi bahwa GI Mamuju berhasil tersupply tegangan 150 kV dan trafo daya bisa di operasikan. Lalu, kami melokalisir gangguan yang ada dan berhasil menyalakan section pertama semua penyulang asuhan GI Mamuju, meski ada beberapa trafo distribusi yang tidak bisa dinyalakan karena jatuh ketanah.
Akibat dari gempa yang terjadi, ada beberapa titik longsor yang menutup jalur Trans Sulawesi, sehingga akses masuk Mamuju dari arah Majene terputus. Sementara tim bantuan/relawan dari UP3 lain sudah ada yang mengkonfirmasi bahwa mereka dalam perjalanan menuju Mamuju.
Tim yang datang berasal dari arah utara dan selatan Sulbar.
Dari utara ada tim UP3 Palu, UP3 Gorontalo, UP3 Palopo, dan UP3 Luwuk Banggai, sedangkan dari selatan berasal dari UP3 Makassar Selatan, UP3 Makassar Utara, UP3 Parepare, UP3 Pinrang dan UP3 Kendari serta tim supporting dari UP2D Makassar dan ICON+. Jumlah personel yang bergabung dengan tim UP3 Mamuju adalah 391 orang.
SEMANGAT PHINISI | 183


Karena akses jalan Majene-Mamuju tertutup longsor di daerah Tappalang, kami pun membagi zona recovery sistem kelistrikan menjadi dua Zona, yaitu Zona Mamuju dan Zona Malunda.
Zona Mamuju melakukan proses recovery untuk daerah kota Mamuju yang terdiri dari tim UP3 Mamuju, ULP Manakarra, ULP Mamasa, ULP Pasangkayu, UP3 Palopo, UP3 Palu, UP3 Gorontalo dan UP3 Luwuk Banggai.
Adapun zona Malunda untuk melakukan perbaikan di daerah Malunda ke arah Mamuju yang terdiri dari tim ULP Majene, ULP Wonomulyo, ULP Polewali, UP3 Pinrang, UP3 Parepare, UP3 Makassar selatan, UP3 Makassar utara dan UP3 Kendari.
Pada hari H+2, akses jalan poros Mamuju-Majene sudah terbuka dan seluruh tim bergabung ke posko utama di PLN UP3 Mamuju.
Bukan hanya support tenaga yang diberikan kepada kami, support material juga berdatangan membantu percepatan pemulihan yang dilaksanakan. Peralatan mulai berdatangan yakni tiang besi, dan trafo distribusi yang saat itu sangat dibutuhkan dari berbagai penjuru. Bantuan datang ada dari Palu, Gorontalo, Kalimatan, Kendari sampai dari Jawa Timur pun ada. Yang berkesan terkait material bantuan ini, yaitu material yang dikirim dari Disjatim melalui KRI Soeharso 990 yang terdiri trafo distribusi 50 kVA 10 bh, Trafo 100 kVA 10 bh, Trafo 160 kVA 3 bh, Trafo 200 kVA 10 bh dan tiang besi 20 batang. Seluruh material ini berhasil kami turunkan dari kapal dan membawanya ke kantor UP3 dengan waktu 6 jam yang berakhir sekitar pukul 04.00 WITA dini hari dengan mengerahkan seluruh personel relawan dan 15 crane.
Dengan kekuatan tim ini, atas berkat Rahmat Allah ‘Azza Wajalla, kemudian semangat, kerja keras dan kekompakan seluruh tim kami berhasil merampungkan proses recovery sistem di H+5 pasca gempa, atau tepatnya tanggal 20 Januari 2021.
SEMANGAT PHINISI | 184


Kedatangan bala bantuan dari luar UP3 Mamuju menjadi penambah semangat dan pengobat trauma buat kami di Mamuju. Ternyata kami tidak sendiri, PLN adalah Satu di seluruh indonesia.
Selain tim recovery sistem ketenagalistrikan, yang menambah semangat dan mengobati trauma kami adalah support penuh dari manajemen PLN, baik di tingkat pusat, regional maupun unit induk wilayah dengan kehadiran Direg Sulawesi Bapak Syamsul Huda, EVP Operasi Bapak Johannes, VP Distribusi bapak Sofyan Hadi, GM Sulselrabar bapak Awaluddin Hafid serta SRM SDM Bapak Mundhakir selama proses recovery berlangsung.
Kata terimakasih yang kami ucapkan buat semua pihak yang terlibat dalam proses recovery sistem ketenagalistrikan pasca gempa ini pasti tidak cukup, kami hanya bisa berdoa semoga Allah membalas kebaikan semua pihak dan diganjar pahala pemberat timbangan amal kebaikan di hari kemudian.
#2 Sinergis Unit Gerak Cepat Pulihkan Listrik Mamuju- Majene – sebuah catatan diawal penugasan di UIW Sulselrabar
Oleh Awaluddin Hafid
Hari Jumat, tgl 15 Januari 2021 pukul 06.43 WITA, berita singkat dari Manajer UP3 Mamuju, bapak Setyawan mengabarkan bahwa telah terjadi gempa bumi di Mamuju dan Majene dengan skala 6,2 SR pada pukul 02.28 yang berdampak pada Sistem Kelistrikan Mamuju padam,
SEMANGAT PHINISI | 185


komunikasi celluler terganggu hanya bisa WA, kantor UP3 Mamuju rusak demekian juga kantor ULP Manakara dan alhamdulillah pegawai dan keluarga masih aman.
Rapat koordinasi segera digelar pagi itu yang dihadiri seluruh Senior Manajer dan beberapa staf untuk menghimpun informasi yang lebih lengkap dari lapangan dan menentukan langkah penanganan pemulihan kelistrikan, namun data dari lapangan tidak bisa terhimpun dengan cepat dan cukup karena gangguan komunikasi serta masih adanya gempa susulan.
Koordinasi dengan PLN UP3 dilakukan, meminta UP3 segera mempersiapkan Tim Pemulihan di unit masing masing untuk dimobilisasi ke Mamuju, Sulawesi Barat demikian juga dilakukan komunikasi lintas instansi diantaranya koordinasi dengan TNI dalam hal ini Panglima Kodam Hasanuddin, Mayor Jenderal Andi Sumangerukka untuk koordinasikan permintaan bantuan transportasi material dan personil menggunakan angkutan pesawat Hercules.
Karena belum ada penerbangan pesawat Hercules dari Lanud Hasanuddin pada hari H, akhirnya pada sore harinya perjalanan ke Mamuju diputuskan lewat darat dan alhamdulillah setelah tiga kali harus berhenti menunggu terbukanya jalan yang tertutup longsoran tanah dan jalan kaki melewati longsoran batu batu besar yang menutup jalan serta ganti kendaraan menjelang kota Mamuju, akhirnya bisa tiba di kota Mamuju dengan waktu tempuh dari Makassar selama 17 jam.
Menyaksikan kerusakan kantor UP3 Mamuju dan ULP Manakara, tiang listrik yang tumbang, trafo yang jatuh dan kerusakan bangunan pemerintahan dan fasiltas umum lainnya seperti rumah sakit, terbayang dahsyatnya goncangan bumi saat gempa 6,2 SR terjadi. Alhamdulillah semua pegawai PLN dan tenaga alih daya beserta keluarganya selamat.
SEMANGAT PHINISI | 186


Dampak gempa terhadap jaringan distribusi, 872 gardu trafo distribusi tidak dapat dioperasikan dan 90.688 pelanggan di Kota Mamuju dan Kota Majene padam, tidak bisa menikmati listrik.
Pada hari H+1, dalam suasana masih terjadinya beberapa kali gempa susulan dan seiring dengan mulai berdatangannya Tim Pemulihan dari unit unit PLN, pemulihan kelistrikan dimulai.
Pemulihan dipriortaskan pada Rumah Sakit, Kantor Pemerintahan, Kantor Polda, Kantor TNI, sarana telekomunikasi, posko pengungsian, posko penanggulangan bencana dan Bandara Tampa Padang. Disamping itu puluhan mobile genset dan lampu emergency di distribusikan untuk mempercapat adanya pencahayaan dimalam hari.
Secara bertahap unit unit PLN baik yang dari PLN UIW Sulselrabar, UIW Sulutenggo (UP3 Luwuk, UP3 Gorontalo dan UP3 Palu), UIKL Sulawesi dan PT ICON+ secara bertahap mulai berdatangan di Mamuju dan Majene.
Dengan dukungan relawan sebanyak 303 orang dan disupervisi langsung dari VP Distribusi Regional Sulmapana, bapak Soffin Hadi, peralatan kerja dan kendaraan operasional yang cukup, Tim PDKB serta material tiang dan trafo yang dimobilasasi dari berbagai lokasi diantaranya dari UP3 se UIW Sulselrabar, trafo dari UIW Suluttenggo dan UIW Kaltimra, trafo dan tiang listrik dari UID Jawa Timur mendukung gerak cepat pemulihan.
Secara bertahap pemulihan kelistrikan mengalami progres yang sangat signifikan. Pada H+2 atau tanggal 17 Januari 2021, pemulihan telah mencapai 75,77% yang ditandai dengan telah beroperasinya kembali 666 gardu trafo dan menyalanya 68.713 pelanggan.
SEMANGAT PHINISI | 187


Pencapaian pemulihan pada H+2 tentunya sangat menggembirakan bagi semua pihak dan diluar ekspektasi dari beberapa stake holder. Gubernur Sulawesi Barat, Bapak Andi Ali Baal Masdar sangat mengapresiasinya atas gerak cepat pemulihan tersebut sebagaimana pernyataan beliau dibeberapa media “PLN langsung turun setelah gempa, saya apresiasi. Saya berharap, langkah itu terus berlanjut agar harapannya listrik dapat kembali menyala seluruhnya,”
Pada H+2 pukul 8.30. tanpa disangka Direktur Utama, bapak Zulkifli Zaini dan Direktur Regional, bapak Syamsul Huda secara khusus memberikan apresiasi dan semangat melalui telpon. Tentunya hal ini semakin menyalakan semangat untuk segera menuntaskan pemulihan kelistrikan Mamuju dan Majene.
Untuk mendukung Tim Pemulihan, dibuka tiga posko dapur umum yaitu di Rumah BUMN Majene, Kantor Pelayanan PLN Onang Majene, dan PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan Mamuju. Disamping itu, memperhatikan jumlah personil yang dilibatkan sangat banyak dan potensi terpapar Covid sangat tinggi maka protokol Covid-19 tetap wajib dipatuhi dan laksanakan, tidak boleh diabaikan oleh setiap relawan. Dan untuk menjaga kesehatan para relawan juga dilibatkan Tim Medis sebanyak 4 dokter dan 8 tenaga perawat kesehatan yang setiap harinya memeriksa kondisi kesehatan para relawan. Tim dokter dan tenaga perawat tersebut juga terlibat dalam membantu masyarakat korban bencana gempa.
Tidak hanya memulihkan kelistrikan, PLN juga memasang VSAT atau stasiun penerima sinyal dari satelit di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Barat untuk membantu komunikasi dan koordinasi pemerintah provinsi dengan pemerintah Pusat.
Semangat untuk pemulihan kelistrikan Mamuju dan Majene tidak pernah kendor terlebih lagi pada hari H+5, Direktur Regional Sulmapana, bapak Syamsul Huda beserta EVP Retail Regional Sulmapana, bapak Johanes Sukrilasmono hadir langsung di Mamuju.
SEMANGAT PHINISI | 188


Hal ini
menggelorakan
seluruh relawan
memberikan yang tebaik bagi
masyarakat Mamuju dan
Majene. Bapak Syamsul Huda
bersedia bergabung di Posko
bukan hanya memberikan
arahan dan motivasi tetapi
bersedia tidur di posko yang
hanya beralaskan tikar
seadanya bersama sama dengan relawan, satu keteladanan dari seorang pemimpin yang telah diperlihatkan oleh beliau.
Pada hari H+5 atau tanggal 20 Januari 2021 pemulihan kelistrikan telah mencapai 93,59% yang ditandai dengan telah beroperasinya 856 gardu trafo dan pelanggan yang menyala sebanyak 84.873. Tersisa sebanyak 16 gardu trafo yang belum dapat dioperasikan dan sekitar 5.815 pelanggan yang belum dapat dinyalakan didaerah Ulumanda yang mengalami keruskan jalan akses yang sangat parah dan tidak bisa dilalui kendaraan untuk memobilsasi material. Diputuskan pemulihan kelistrikan Ulumanda menunggu terbukanya kembali akses jalan. Dan untuk membantu penerangan dimalam hari serta komunikasi masyarakat bersifat sementara PLN mendistribusikan lampu solar cell dan genset mobile.
Dengan memperhatikan progress pemulihan kelistrikan serta kendala akses jalan ke Ulumanda, maka diputuskan untuk menutup pemulihan kelistrikan Mamuju-Majene oleh Tim Pemulihan dari berbagai unit unit PLN. Pada tanggal 21 Januari 2021 atau hari H+6 bertempat dihalaman kantor UP3 Mamuju secara resmi Pemulihan Kelistrikan Mamuju- Majene ditutup oleh Gubernur Sulawesi Barat diwakili oleh Kepala Dinas ESDM Sulawesi Barat bersama dengan Direktur Regional Sulmapana dan sekaligus melepas seluruh relawan untuk kembali ke
semakin semangat untuk
SEMANGAT PHINISI | 189


SEMANGAT PHINISI | 190 daerah dan unit tempat tugas masing masing. Selanjutnya pemulihan
kelistrikan diserahkan ke UP3 Mamuju.
Seiring dengan mulai terbukanya akses jalan ke Ulumanda, pemulihan kelistrikan di Ulumanda dilanjutkan oleh Tim UP3 Mamuju serta Tim ULP Majene. Alhamdulillah pada tanggal 4 Februari 2021 sistim kelistrikan di Ulumanda kembali pulih dan seluruh pelanggan kembali menikmati listrik, dengan demikian sisitim kelistrikan Mamuju dan Majene pasca gempa bumi tanggal 15 Januari 2021 telah pulih 100%.
Gerak cepat pemulihan kelistrikan Mamuju dan Majene dapat terjadi karena adanya Sinergis dari Unit unit PLN yang telah terbina dengan baik, dukungan dari Regional serta adanya jiwa korsa yang tinggi dari para insan PLN yang memandang wilayah pelayanan adalah NKRI.
# 3 Dapur Umum Untuk Para Pejuang
Oleh SYAHLAN – Tim Tanggap Darurat UIW Sulselrabar
Makanan siap santap menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat di Mamuju dan Majene pasca terdampak gempa dengan magnitudo 6,2 skala richter (SR), pada Jumat (15/01) dinihari. Melihat hal tersebut, PLN Peduli membuka dua posko dapur umum yang berlokasi di Posko Kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Mamuju dan Rumah BUMN Majene.


Posko dapur umum PLN telah didirikan sejak Jumat (15/1) pagi. Saat ini, setiap harinya posko ini dapat menyediakan makanan siap santap hingga 2.000 porsi setiap harinya. Makanan tersebut dibagikan ke masyarakat, petugas penanganan gempa, dan relawan
melalui beberapa posko yang ada di Mamuju dan Majene.
Karena pasar masih belum dibuka, untuk mendapatkan bahan makanan berupa sayuran dan buah buahan didatangkan dari Wonomulyo dan Mamasa oleh teman ULP.
Furqon, warga jalan Sultan Hasanuddin, Mamuju menyatakan sangat terbantu dengan adanya bantuan masakan siap santap dari PLN.
“Setelah gempa kami kesulitan mendapatkan bahan makanan untuk kebutuhan keluarga, kalau ada pun harganya sudah mulai naik. Kami berterima kasih PLN sudah membagikan makanan ini,” ucap Furqon.
Selain bagi masyarakat, makanan siap santap ini juga diberikan kepada petugas PLN yang melakukan pemulihan kelistrikan terdampak gempa.
Tak hanya memberikan makanan siap santap, PLN Peduli juga telah menyalurkan bantuan lebih dari Rp 598 juta kepada korban gempa. Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk bahan pangan, tenda dan tikar, pakaian, selimut, obat-obatan, perlengkapan medis serta alat penampungan air bersih.
SEMANGAT PHINISI | 191


#4 Semangat Dari Pak Direktur
Oleh Ria Rizky Agustina
Untuk memastikan percepatan pemulihan dan memberikan semangat kepada tim yang bekerja dilapangan, Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara, Bapak Syamsul Huda terjun langsung ke Mamuju, Rabu (20/1).
“Alhamdulillah, listrik sudah hampir normal seluruhnya. Untuk fasilitas umum, khususnya rumah sakit dan posko pengungsian yang memang menjadi prioritas kami, listriknya telah kembali menyala dan bisa dimanfaatkan masyarakat,” tutur Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara, Bapak Syamsul Huda.
Fasilitas umum vital tersebut antara lain Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mamuju, Rumah Sakit Regional Provinsi Sulbar, Rumah Sakit Bhayangkara, Bandara Tampa Gadang, Markas Kepolisian Daerah Sulbar, Posko Komando Distrik Militer (Kodim) Mamuju, posko-posko pengungsian, Lembaga Pemasyarakatan, Telkom, PDAM Rangas, dan beberapa tempat vital lainnya. Beberapa fasilitas umum yang mengalami kerusakan cukup parah, demi keamanan dan
keselamatan gedungnya belum dialiri listrik..
Hingga Rabu (20/1) pagi, petugas PLN masih terus berupaya memulihkan kelistrikan terdampak gempa. Sejak Selasa (16/1) hingga Rabu (17/1) pagi, PLN kembali berhasil menyalakan tambahan 57 gardu, sehingga total gardu terdampak yang telah menyala sebanyak 851
SEMANGAT PHINISI | 192


SEMANGAT PHINISI | 193 gardu atau 97 persen dari total 872 gardu terdampak. Kini lebih dari 83
ribu pelanggan dapat kembali menikmati listrik.
Adapun 16 gardu yang belum menyala terdapat di Kecamatan Ulumanda, akibat jalan menuju lokasi belum dapat diakses. Sementara enam gardu sisanya berada tersebar di Kecamatan Tapalang Barat, Mamuju dan Malunda.
“Kami terus berkoordinasi dengan Pak Gubernur, Pak Bupati dan aparat yang bertugas, jika nanti jalan sudah bisa dilalui, petugas kami langsung menuju Ulumanda untuk memulai 16 gardu yang belum menyala,” sambung Pak Huda.
# 5 Pulih 5 Hari, Gubernur Apresiasi
Oleh Agus Salim – UIW Sulselrabar
Memasuki hari ke-5, listrik Mamuju dan Majene kembali pulih. PLN berhasil menyalakan 856 gardu yang sebelumnya terdampak gempa, 84 ribu pelanggan kini dapat kembali menikmati listrik.
Kecepatan pemulihan listrik ini mendapat apresiasi dari Gubernur Sulawesi Barat, Andi Ali Baal Masdar. Hal tersebut disampaikan saat dirinya menerima kunjungan dari Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PLN, Bapak Syamsul Huda.
“PLN telah bekerja keras dan bergerak cepat pasca gempa di Mamuju dan Majene sehingga listrik sudah kembali menyala. Atas nama pemerintah


SEMANGAT PHINISI | 194 dan masyarakat saya ucapkan terima kasih banyak untuk PLN,” ucap Pak
Andi Ali.
Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PLN, Bapak Syamsul Huda menyampaikan bahwa PLN komitmen untuk terus mendukung pemerintah dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dalam rangka pemulihan gempa di Mamuju dan Majene.
“Kami bersyukur, setelah lima hari bekerja keras, listrik sudah kembali normal. Semoga ini bisa membuat Mamuju dan Majene segera bangkit,” tutur pak Huda.
Saat ini petugas PLN masih terus bersiaga, menunggu dibukanya akses jalan ke Kecamatan Ulumanda untuk melakukan pemulihan 16 gardu yang ada di kecamatan tersebut.
“Semua gardu sudah berhasil dipulihkan. Kecuali yang ada di Kecamatan Ulumanda, karena memang aksesnya belum bisa dilalui. Untuk sementara di sana kita kirimkan genset. Begitu nanti jalur sudah bisa dilalui dan dinyatakan aman oleh aparat, petugas kami akan langsung memulihkan kelistrikan di sana,” tambah pak Huda.
Selanjutnya demi keamanan, PLN akan melakukan pengecekan, dan perbaikan terhadap kabel Sambungan Rumah dan kWh meter pada bangunan pelanggan terdampak gempa.
Dalam kunjungannya, PLN juga menyerahkan bantuan berupa 10 unit toilet portable yang digunakan untuk posko pengungsian dan 25 unit Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) dengan total nilai lebih dari Rp 141 juta. Sehingga total nilai bantuan yang diberikan PLN mencapai Rp 739 juta.


“LTSHE tersebut digunakan sebagai alternatif cahaya sementara bagi warga kecamatan Ulumanda, sampai dengan petugas kami bisa ke lokasi untuk melakukan pemulihan kelistrikan” kata pak Huda.
Melalui program PLN Peduli, PLN juga telah membuka dua posko dapur umum yang menyediakan makanan siap santap hingga 2.000 porsi setiap harinya. Makanan tersebut dibagikan ke masyarakat, petugas penanganan gempa, dan relawan.
PLN juga menyalurkan bantuan dalam bentuk bahan pangan, tenda dan tikar, pakaian, selimut, obat-obatan, perlengkapan medis serta alat penampungan air bersih. Tidak hanya itu, PLN juga menerjunkan sembilan tenaga medis dan dua ambulance untuk memberikan layanan kesehatan kepada korban gempa.
#6 Ringankan Beban, Gratiskan Penyambungan
Oleh Sudirman – UIW Sulselrabar
Guna memberikan keringanan terhadap pelanggan terdampak gempa di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), PLN akan memberikan layanan penyambungan listrik kembali secara gratis bagi pelanggan yang bangunannya mengalami kerusakan. PLN sedang melakukan pendataan bangunan, seperti rumah, toko, rumah ibadah, ataupun bangunan lain yang rusak akibat guncangan gempa untuk mengamankan kabel Sambungan Rumah (SR) dan kWh meternya.
“Untuk bangunan pelanggan yang mengalami rusak berat, tentu demi keamanan dan keselamatan kita amankan dulu kabel SR dan kWH meternya. Nanti ketika bangunan sudah kembali jadi dan instalasi listriknya dipastikan aman, PLN segera akan memasang kembali kWh meter di bangunan pelanggan tersebut. Kami pastikan tidak ada biaya,” tutur GM PLN UIW Sulselrabar, pak Awaluddin Hafid.
SEMANGAT PHINISI | 195


Jika membutuhkan layanan PLN, pelanggan dapat menghubungi melalui aplikasi PLN Mobile yang tersedia di Playstore atau Appstore, serta melalui Contact Center PLN 123.
Sejak, Rabu (20/1), PLN telah berhasil memulihkan seluruh gardu terdampak gempa di Mamuju dan Majene. Total 856 gardu yang melistriki 85 ribu pelanggan kini menyala kembali.
Pemulihan kelistrikan sendiri kini hanya menyisakan 16 gardu wilayah Ulumanda. Hingga Sabtu (23/1), akses jalan menuju lokasi masih terputus akibat longsoran tanah. PLN terus berkoordinasi dengan Bupati Majene untuk proses pemulihan kelsitrikan di Ulumanda.
Untuk sementara, PLN telah mengirimkan genset ke lokasi dan 25 unit Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) sebagai alternatif cahaya sementara bagi warga kecamatan Ulumanda.
“Petugas kami siap untuk melakukan pemulihan di Ulumanda. Nanti, begitu jalur sudah bisa dilalui, petugas langsung ke lokasi untuk pemulihan,” tambah Pak Awal
Tidak hanya itu, PLN juga menjadi koordinator satuan tugas penyaluran bantuan di Sulawesi Barat dari berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hingga Sabtu (23/1) total bantuan yang disalurkan oleh BUMN dan dilaporkan melalui satgas lebih dari Rp 2,8 Miliar.
#7 Menembus Ganasnya Ulumanda
Oleh Bachtiar – MULP Majene
Setelah berjuang menembus akses ke Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), PLN berhasil memulihkan lima gardu
SEMANGAT PHINISI | 196


terdampak gempa. Sebelumnya gempa bermagnitudo 6,2 Skala Richter (SR) yang terjadi pada Jumat (15/1) dinihari lalu, menyebabkan longsor dan memutus akses jalan ke Kecamatan Ulumanda.
Untuk menyalakan listrik di Kecamatan Ulumanda, sebanyak 73 personil PLN harus melewati akses jalan yang ekstrim dan rusak berupa tanah berlumpur serta rawan longsor akibat gempa. Untuk memulihkan kelistrikan di Ulumanda, material kelistrikan harus diangkut menggunakan motor trail dan mobil “hardtop”. Di beberapa titik pun material harus dipanggul atau diangkat secara manual oleh petugas.
Berkat upaya tersebut, lima gardu yang berlokasi di Kampung Kabiraan, Kampung Tamarimbi, Kampung Tamalonang serta Kampung Aholeang kini telah menyala. Sebanyak 550 pelanggan di Kecamatan Ulumanda kini dapat menikmati listrik PLN kembali.
Secara umum, kelistrikan Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) telah pulih sejak Rabu (20/1). Seluruh gardu terdampak gempa telah berhasil dinyalakan lima hari pasca diguncang gempa pada Jumat (15/01) dinihari. Kecamatan Ulumanda menjadi satu-satunya wilayah yang belum dapat diakses oleh PLN, karena jalan yang terputus.
PLN kini terus berkordinasi dengan pemerintah daerah untuk memulihkan sisa 11 gardu terdampak gempa di Ulumanda. PLN menunggu ijin untuk mengakses lokasi, karena saat ini sedang dilakukan pengerjaan untuk membuka akses oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum.
Untuk sementara, PLN telah mengirimkan genset ke lokasi dan 25 unit Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) sebagai alternatif cahaya sementara bagi warga
kecamatan Ulumanda.
Setelah hari sebelumnya memulihkan lima gardu listrik,
SEMANGAT PHINISI | 197


setelah dibukanya akses jalan akibat longsor menuju ke Kecamatan Ulumanda. Total 10 gardu di Kecamatan Ulumanda kini kembali menyala.
Lima gardu tambahan yang berhasil dipulihkan terletak di Kampung Panggalo, Taukong, Tandeallo, dan Paku.
Untuk memulihkan listrik di Kecamatan Ulumanda, personil PLN harus melewati akses jalan yang ekstrim dan rusak berupa tanah berlumpur serta rawan longsor akibat gempa. Untuk memulihkan kelistrikan di Ulumanda, material kelistrikan harus diangkut menggunakan motor trail dan mobil “hardtop”. Di beberapa titik pun material harus dipanggul atau diangkat secara manual oleh petugas.
Berkat upaya tersebut, sebanyak 2.035 pelanggan di Kecamatan Ulumanda kini dapat menikmati listrik PLN kembali.
Hingga Minggu (31/1), PLN telah memulihkan 866 gardu terdampak gempa. Kini lebih dari 85 ribu pelanggan dapat menikmari listrik kembali.
PLN berhasil memulihkan 100 persen gardu listrik terdampak gempa magnitudo 6,2 Skala Richter (SR) yang mengguncang Mamuju dan Majene Sulawesi Barat. Total, 872 gardu listrik terdampak gempa telah menyala. Sebanyak enam gardu terakhir di Kecamatan Ulumanda berhasil dipulihkan setelah PLN berhasil menembus akses ke Kecamatan Ulumanda yang sebelumnya terisolir akibat tanah longsor.
Ketika akses dibuka pada Rabu (27/1) dan Minggu (31/1), PLN juga langsung memulihkan 10 gardu listrik, setelah dibukanya akses jalan akibat longsor menuju ke sebagian wilayah Kecamatan Ulumanda.
Untuk memulihkan listrik di Kecamatan Ulumanda, personil PLN harus melewati akses jalan yang ekstrim dan rusak berupa tanah berlumpur serta rawan longsor akibat gempa. Material kelistrikan harus diangkut
SEMANGAT PHINISI | 198


SEMANGAT PHINISI | 199 menggunakan motor trail dan mobil “hardtop”. Di beberapa titik pun
material harus dipanggul atau diangkat secara manual oleh petugas.
Tidak hanya itu, 56 petugas bahkan harus berkemah di lokasi demi memulihkan enam gardu listrik terakhir.
Ketua DPRD Sulbar, Hj. Sitti Suraidah Suhardi menyampaikan apresiasinya kepada PLN yang sejak awal gerak cepat memulihkan kelistrikan terdampak gempa di Sulbar.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada PLN telah sigap pasca bencana. Kurang lebih dua sampai tiga hari sudah membenahi aliran-aliran listrik. Saya sempat ketemu juga di daerah pelosok, bukan hanya di dalam kota, mereka jalan. Bahkan ada dari PLN Palu, kebersamaan dari PLN patut kita apresiasi,” ucap Sitti.
Listrik memiliki peran penting dalam pemulihan masyarakat pasca bencana gempa. PLN berharap dengan pulihnya listrik, Mamuju dan Majene dapat segera bangkit. Masyarakat dapat beraktivitas normal dan ekonomi dapat kembali tumbuh.
#8 Goresan Sang Nahkoda
Oleh Setiyawan – MUP3 Ponorogo
Gempa bumi magnitude (M) 6,2 di Majeen dan mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), telah merenggut puluhan nyawa merusak ratusan rumah dan perkantoran. Bencana ini menyisakan duka dan trauma mendalam bagi kami dan semua warga sulbar utamanya warga Mamuju dan Majene.


SEMANGAT PHINISI | 200
Gempa bumi tektonik ini terjadi 2 kali gempa pertama terjadi pada hari kamis (14/1) pukul 14.30 WITA dengan magnitude 5,9 SR dengan gerakan gempa naik turun selama kurang lebih 15 detik. Selang 12 jam kemudian pada Jumat dini hari (15/1) pukul 01.28 WIB atau pukul 02.28 WITA. Episentrum gempa di Majene terletak pada koordinat 2,98 LS dan 118,94 BT atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 6 kilometer arah timur laut dari Majene pada kedalaman 10 km.
Pada saat gempa pertama kali di siang hari ini tidak berdampak pada kerusakan gedung yang berarti, namun berdampak pada padamnya pasokan listrik ke Mamuju dan sekitarnya pasca gempa tersebut dengan 356 gardu yang padam.
Tim PLN UP3 Mamuju pada saat itu bergerak cepat untuk segera memulihkan gardu yang padam tersebut yang dikordinir oleh Asnur Aris selaku Manager Bagian Jaringan bersama Manager UP3 Mamuju Setiyawan.
Tepat pukul 23.30 WITA kami berhasil menyalakan 350 gardu dari 356 gardu yang padam. Sisa 6 gardu rencana akan kami lanjutkan besok harinya karena lokasi 6 gardu tersebut dengan akses jalan yang sulit untuk dilewati apalagi pada malam hari. Lalu, kami bersama tim pemulihan waktu itu kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.
Belum hilang rasa lelah kami, Mamuju diguncang gempa kedua dengan magnitudo yang lebih besar yaitu 6.2 SR gempa malam, gerakannya lebih kuat terasa sekali kami didalam rumah seperti didorong maju mundur diiringi suara gemuruh seperti suara ekskavator sedang mengeruk gunung.


SEMANGAT PHINISI | 201
Gempa pada dini hari itu membuat kami semua termasuk keluarga sangat shock dan panik sehingga semua warga mamuju berhamburan keluar dari rumah untuk mencari perlindungan ke tempat yang lebih tinggi dan aman karena ketakutan akan munculnya tsunami.
Suasana malam itu sungguh sangat mencekam bahkan kepanikan itu membuat tenggorokan kering seolah tak sanggup berkata-kata, hanya kepasrahan dan usaha sekuat tenaga untuk bisa menyelamatkan diri berusaha menjauh dari bibir pantai mengingat posisi kota mamuju yang berada persis di pinggir pantai Manakara.
Dalam perjalanan kami pada malam itu diiringi hujan yang terus mengguyur Mamuju sejak maghrib, kami melihat suasana kota Mamuju yang berantakan listrik langsung padam sinyal ponsel langsung hilang.
Di sepanjang perjalanan kami melihat warga yang berlari ada yang sudah memegang kepala dengan darah yang berlumuran, karena tertimpa reruntuhan bangunan bahkan banyak warga yang kebingungan di pinggir jalan mencari pertolongan dan mencari keluarganya yang terpisah entah kemana.
Pada saat itu kami sekeluarga ikut mencari tempat perlindungan yang aman, hingga pada akhirnya mobil kami terjebak macet sudah tidak dapat bergerak sama sekali dan tepat berhenti di depan RSUD Kabupaten Mamuju pada pukul 03.00 WITA.


SEMANGAT PHINISI | 202
Hingga menjelang subuh pada pukul 04.30 WITA kami baru dapat berkomunikasi kembali dengan teman-teman PLN UP3 Mamuju dan akhirnya kami sekeluarga dijemput dengan motor oleh teman-teman UP3 Mamuju untuk berkumpul di kantor PLN UP3 Mamuju bersama rekan-rekan pegawai beserta keluarga besar pegawai PLN UP3 Mamuju.
Pada pukul 06.00 WITA setelah matahari terbit, dengan iringan rintik hujan yang masih awet dari semalam dan suasana langit yang masih terlihat mendung barulah kami dapat mengecek bagaimana keadaan bangunan kantor UP3 Mamuju.
Setelah melihat kondisi kantor yang rusak parah serta kondisi kelistrikan yang masih padam total, mengingat saat itu masih ada sinyal komunikasi meski agak sulit kami berusaha komunikasi dengan GM UIW SSTB bapak Awaluddin Hafid serta bapak Syamsul Huda selaku Direktur Regional Sulmapana untuk menyampaikan kondisi terkini terkait sIstem kelistrikan Mamuju Kota dan sebagian Majene yang Padam total. Termasuk melaporkan kondisi gedung kantor UP3 Mamuju yang rusak parah akibat gempa.
Segera kami melalukan koordinasi untuk mendata keselamatan teman- teman pegawai, TAD beserta seluruh keluarga besar PLN UP3 Mamuju. Setelah kami pastikan seluruh pegawai dan keluarga besar dalam kondisi selamat, segera kami membuat titik kumpul sementara dengan memanfaat gudang terbuka di belakang kantor sebagai tempat mengungsi dan koordinasi sementara.
Pagi itu tepatnya pukul 07.30 WITA, kami berkoordinasi dengan semua pegawai melibatkan semua bagian untuk membagi tugas dalam rangka penanganan pasca gempa. Sebagai langkah antisipasi awal untuk


SEMANGAT PHINISI | 203
menghilangkan trauma keluarga dan pegawai bagian KSA yang dikomandoi oleh pak Agus Dwi Setiyawan menyiapkan tempat peristirahatan sementara untuk semua anggota keluarga, menyiapkan dapur darurat.
Kemudian pengaturan dan pengelolaan dapur umum dan logistic di komandoi ibu Hanisah (MB Pemasaran dan PP) yang dibantu oleh ibu- ibu PIKK UP3 Mamuju.
Setelah memastikan keluarga aman dan nyaman di tempat penampungan sementara, maka kami koordinasi dengan tim teknik untuk melalukan survey jaringan untuk mendata kerusakan serta material yang dibutuhkan untuk recovery kelistrikan Mamuju. Pelaksanaan pendataan dilakukan bersama tim teknik dan PDKB UP3 Mamuju yang dikoordinir oleh Manager Bagian Jaringan Asnur Aris.
Dari hasil pendataan tersebut didapatkan ada sebanyak 872 Gardu yang mengalami padam total dengan trafo dan rusak sebanyak 36 trafo akibat jatuh dari tiang.
Dengan padam 872 gardu tersebut mengakibatkan pelanggan padam 90.688 pelanggan, segera setelah mengetahui kerusakan tim PLN UP3 Mamuju bergerak cepat dengan mengerahkan tim dari seluruh ULP, dengan total personil pada hari pertama 123 orang. Dengan gerak cepat dan kerjasama yang solid pada hari pertama tim berhasil menormalkan kembali 484 gardu atau 50% dari total gardu yang padam.
Pada hari kedua kami mendapat bantuan dari UP3 Makassar Selatan, Makasar Utara, Pare-pare, Pinrang, Watampone dan Palopo. Karena akses jalan Majene-Mamuju yang masih terputus akibat longsoran


SEMANGAT PHINISI | 204
material dampak dari gempa bumi, maka tim bantuan tersebut langsung bergabung dengan tim ULP Majene di Posko Majene untuk membantu perbaikkan konstruksi jaringan yang rusak di Majene-Mamuju.
Kami di posko UP3 Mamuju mengawali dengan melakukan doa dan briefing pagi bersama tim UP3 Mamuju serta tambahan Tim dari Palopo yang sudah tiba dimamuju,untuk menentukan target perbaikkan yang akan dilakukan tim. Sebelum kelokasi kami sarapan bareng di posko bersama-sama dengan masakan dari tim logistik yang dikoordinir ibu-ibu PIKK UP3 Mamuju.
Pada hari kedua, Bapak GM UIW SSTB Awaluddin Hafid langsung menuju ke Mamuju untuk memberikan semangat dan arahan kepada tim pemulihan kelistrikan di Mamuju.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang serta harus melewati longsoran sepanjang jalan menuju Mamuju, bahkan beliau harus menempuh sebagian perjalanan dengan berjalan kaki karena kendaraan tidak bisa tembus.
Alhamdulillah pada sabtu 16 Januari 2021 sekitar pukul 12.00 WITA, kami bersama MUP2K Sulbar Bapak Dadang Wahyudi berhasil bertemu dengan pak GM, untuk langsung menuju posko Mamuju.
Alhamdulillah pada hari kedua paska gempa tim pemulihan berhasil menyalakan gardu 528 gardu, serta beberapa objek vital lain dan beberapa titik pengungsian.


SEMANGAT PHINISI | 205
Menutup pemulihan hari kedua ini pada malam hari dilanjutkan evaluasi, serta pengaturan strategi penormalan selanjutnya mulai dari pembentukan susunan tim recovery gempa, dimana rapat evaluasi dan pengarahan ini dipimpin langsung oleh Bapak Awaluddin Hafid.
Pada kesempatan ini pak Awaluddin Hafid menemui tim supporting yaitu tim logistik yang dikoordinir Ibu-ibu PIKK UP3 Mamuju untuk memberikan semangat dan ucapan terima kasih pada tim logistik.
Pada hari ketiga ada tambahan tim dari Palu, Gorontalo, Luwuk untuk bergabung dengan tim di Mamuju. Pagi hari setelah tim melakukan sarapan pagi yang sudah disiapkan dapur umum PIKK, kami melakukan briefing dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh pak Awaluddin Hafid.
Untuk tim kedua yang masih bergabung di posko Majene langsung menyelesaikan perbaikkan jaringan jalan poros Majene-Mamuju, untuk selanjutnya bisa bergabung dengan tim pemulihan di Kota Mamuju.
Pada hari
pemulihan
menyalakan
dengan total pelanggan yang menyala 68.713 pelanggan. Untuk penormalan beberapa kontruksi tiang,
ketiga tim berhasil 666 gardu
trafo yang rusak akibat gempa dibutuhkan material pengganti yang baru, karena stock yang ada di unit kami kosong tim dari UIW SSTB yang dikoordinir SRM Distribusi M Taqwa melakukan koordinasi dengan


SEMANGAT PHINISI | 206
UID Jatim untuk dapat dibantu material untuk pemulihan berupa 30 Unit Trafo dan 30 batang tiang baja.
Untuk mempercepat pengiriman ke Mamuju PT PLN berkoordinasi dengan TNI AL yang kebetulan akan memberangkatkan Kapal KRI Dr Soeharso ke Mamuju.
Setelah dilakukan koordinasi dengan baik akhirnya material bisa dikirim ke Mamuju dengan bantuan KRI Dr Soeharso. Untuk mempermudah bongkar muat barang di Mamuju, kami melakukan koordinasi dengan komandan Kapal KRI Dr Soeharso yaitu LetKol Agus dan Kapten Kapal Amrullah.
Untuk bongkar muat di Lanal Mamuju kami komunikasikan dengan Komandan Lanal Mamuju yaitu Letkol Laode Jimy. Dengan perjuangan yang luar biasa dari seluruh personel PLN, akhirnya pada selasa dini hari material tersebut dapat dikeluarkan dari KRI Dr Soeharso untuk selanjutnya langsung dibawa tim ke lokasi.
Pada tanggal 18 Januari 2021 atau H+3 setelah gempa 6.2 SR dengan semangat dan kerjasama yang solid tim pemulihan kelistrikan PLN berhasil menormalkan 794 gardu dengan total pelanggan yang berhasil dinyalakan 81.897 pelanggan.
Rabu 19 Januari 2021 Direktur Regional Sulmapan bapak Syamsul Huda, beserta rombongan hadir di Mamuju untuk memberikan support dan semangat kepada tim Pemulihan system kelistrikan di Mamuju.


SEMANGAT PHINISI | 207
Setelah tiba di Mamuju pak Syamsul Huda langsung bertemu dengan Gubernur Sulawesi Barat Andi Ali Baal Masdar untuk melaporkan progress pemulihan sistem kelistrikan yang sudah hampir rampung semua kecuali 16 gardu di Kecamatan Ulumanda yang masih belum bisa ditembus kendaraan akibat terisolir longsoran material.
Pada kesempatan tersebut Direktur Regional Sulmapana juga menyampaikan bantuan untuk korban bencana di Sulbar serta dukungan PLN untuk membangun Sulawesi barat.
Gubernur Sulbar menyampaikan apresiasi yang luar biasa atas kesigapan dan aksi cepat tanggap tim PLN untuk memulihkan system kelistrikan Sulawesi Barat dengan Cepat dimana dalam waktu lima hari semua kelistrikan di Mamuju sudah normal kecuali di Ulumanda yang masih terisolir.
PLN berhasil menambah lima gardu terdampak gempa yanh berhasil dipulihkan, sesaat setelah akses menuju Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), yang tertutup longsor pasca diguncang gempa magnitudo 6,2 Skala Richter (SR) yang terjadi pada Jumat (15/1) kembali terbuka.
Sebelumnya pada Rabu (27/1), PLN juga telah memulihkan lima gardu listrik, setelah dibukanya akses jalan akibat longsor menuju ke Kecamatan Ulumanda. Total 10 gardu di Kecamatan Ulumanda kini kembali menyala.
Lima gardu tambahan yang berhasil dipulihkan terletak di Kampung Panggalo, Taukong, Tandeallo, dan Paku. Untuk memulihkan listrik di Kecamatan Ulumanda, personil PLN harus melewati akses jalan yang


SEMANGAT PHINISI | 208
ekstrim dan rusak berupa tanah berlumpur serta rawan longsor akibat gempa. Untuk memulihkan kelistrikan di Ulumanda, material kelistrikan harus diangkut menggunakan motor trail dan mobil “hardtop”.
Di beberapa titik pun material harus dipanggul atau diangkat secara manual oleh petugas.
Berkat upaya tersebut, sebanyak 2.035 pelanggan di Kecamatan Ulumanda kini dapat menikmati listrik PLN kembali.
Hingga Minggu (31/1), PLN telah memulihkan 866 gardu terdampak gempa. Kini lebih dari 85 ribu pelanggan dapat menikmari listrik kembali.
PLN kini terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memulihkan sisa 6 gardu di Kampung Kalausu, Kampung Kalo'bang, Kampung Seppong, Kampung Lemo-lemo, Kampung Popenga, dan Kampung Urekang. Dirinya menyadari, listrik memiliki peran penting dalam pemulihan masyarakat pasca bencana gempa. Dirinya pun memastikan petugas PLN terus bersiaga dan siap untuk segera memulihkan ketika akses sudah bisa dilalui dan mendapatkan ijin dari pemerintah daerah.
PLN berkomitmen untuk terus bersiaga demi memulihkan kelistrikan di Ulumanda. Hadirnya listrik diharapkan dapat membuat Mamuju dan Majene kembali bangkit.


Kamis (04/2) pada pukul 13.30 WITA, sudah 872 gardu yang telah berhasil dinyalakan kembali oleh PLN akibat banjir bandang dan tanah longsor, dari total 872 Gardu Distribusi yang terganggu akibat gempa.
Menjadi kenangan yang sangat berkesan selama 3,5 tahun bertugas di Mamuju dan saat ini memulai langkah baru Bumi Reog Ponorogo Jawa Timur.
# 9
Oleh
Recycle House, Bangkit Dari Keterpurukan
Abdul Azis – Manajer Aset & Umum
Tidak hanya fokus memulihkan kelistrikan, PLN juga menyalurkan bantuan bagi korban terdampak gempa di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar). Sebagai koordinator Tanggap Bencana Badan Usaha Milik Negara
SEMANGAT PHINISI | 209
(BUMN) di Provinsi Sulawesi Barat, PLN membuka tiga posko bantuan guna membantu korban terdampak gempa, antara lain di Rumah BUMN Majene, Kantor Pelayanan PLN Onang Majene dan PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Mamuju.
Hingga Minggu (17/01), PLN melalui Program PLN Peduli dan Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN telah menyalurkan bantuan dalam bentuk bahan pangan, tenda dan terpal, pakaian, selimut, obat-obatan dengan total nilai lebih dari Rp 500 juta bagi korban gempa. Selain bantuan, YBM PLN juga menerjunkan tenaga medis yaitu dua dokter dan tiga perawat dengan dua mobil ambulance. Tenaga medis ini melakukan pengobatan di Posko PLN dan posko-posko pengungsian.


Bantuan yang ada disalurkan melalui beberapa posko pengungsian di Mamuju dan Majene, antara lain Posko Pengungsian Kayuangin Malunda, SPN Makkatta dan Tappalang.
Sinar, salah satu penerima bantuan yang tinggal di Lorong Pelangi, Mamuju menyampaikan syukurnya atas bantuan yang diberikan oleh BUMN. “Saya sangat berterima kasih kepada BUMN, khususnya PLN, bantuan ini sangat membantu di tengah kondisi seperti saat ini,” ujar Sinar.
Bantuan YBM tidak cukup sampai disitu. Setelah pengurus YBM Sulselrabar Bapk Abdul Azis bersama Ust Salman Al Farisi dari YBM Pusat Jakarta meninjau lokasi gempa, dimana didapati satu dusun rumahnya hancur semua rata dengan tanah.
Disana, YBM membangunkan kembali rumah bagi warga sebanyak 50 unit rumah RECYCLE HOUSE, BANGKIT DARI RERUNTUHAN, yang berada di Dusun Palada, Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju.
Pak Rajab dan 49 warga lainnya sangat berterima kasih kepada PLN atas kepedulian dan bantuannya, karena telah membangunkan rumah tersebut sehingga masyarakat dusun Palada bisa segera beraktifitas kembali, bangkit kembali untuk menata kehidupannya setelah terpuruk akibat bencana alam gempa.
#10 Bandung Bondowoso Bukan Legenda
Oleh Mundhakir-UIW Sulselrabar
Satu persatu anggota tim mulai meninggalkan ruang makan yang terletak ruang terbuka eks tempat parkir.
SEMANGAT PHINISI | 210


Sejak gempa menerjang Mamuju dan ruangan kantor tidak bisa dimanfaatkan lagi, tempat parkir beratap dimanfaatkan untuk dapur, ruang makan sekaligus ruang pertemuan dan klinik kesehatan. Ditempat inilah semua tim makan malam sambil
diskusi ringan untuk menceritakan kegiatan siang hari tadi dan evaluasi dengan tim lainnya. Karena tim berjumlah lebih dari 300 orang, maka mereka datang bergantian dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Teman-teman K3L tidak ada henti-hentinya mengawasi dan mengingatkannya.
Duduk bersila bersama pak Awaluddin Hafids, pak Soffin Hadi, Pak Setiyawan dan beberapa teman Distribusi Mamuju membahas rencana mengangkut trafo dan tiang besi dari kapal yang sempat tertunda.
Kami mendapat informasi kalau crane tidak bisa masuk sampai pelabuhan karena jembatan ada yang retak, sementara untuk beralih ke pelabuhan lainnya tidak memungkinkan karena banyak barang yang harus diturunkan didermaga AL dan penugasan lainnya sudah menunggu.
Mengeluarkan material trafo tanpa alat bantu sulit untuk dilakukan karena rata rata beratnya diatas 1 ton. Beberapa kali diskusi belum memberikan didapat solusi yang memungkinkan.
“Cak, sampean orang lapangan pernah mengangkat barang beratkan?. Sewaktu di Kalimantan pernahkan kerja jaringan dan trafo di daerah gambut? atau kerja dipedalaman yang tidak ada jalan ? sampean pakai apa ?,” tanya pak Soffin Hadi pada saya.
“Kerja di daerah gambut Sambutan, dipematang tambak Anggana, di pedalaman Long Bawan pernah lah. Di Tigolurah Solok juga sama
SEMANGAT PHINISI | 211


kondisinya. Semua cara dipakai dan harus bisa. Apapun bisa dipakai, mulai balok kayu ulin, papan, treccker, travers, pipa, potongan tiang semua bermanfaat,“ jawab saya.
“Lah, kalau begitu, untuk angkat trafo, kita bisa pakai baja leter L yang biasa dipakai pasang LBS. Itu tebal. Kita angkut kedalam mobil kecil, baru kita bawa keluar dermaga.” Sambung pak Soffin.
“Mas supervisor Opdist, punya baja leter L yang biasa dipakai pasang LBS. seperti yang diatas itu loh,” lanjut pak Soffin sambil menunjuk ke jaringan samping tenda.
Sepertinya gak ada pak, tapi coba kami carikan dulu di gudang kasdal di belakang, mungkin saja ada. Tapi pakai apa keluarkan dari kapalnya pak ?” jawabnya.
Semua terdiam sejenak, memikirkan cara angkut keluarnya.
Cak, mboh yo opo carane kudu iso metu. Setuju kan ?” kata pak Soffin hadi lagi pada saya. “Iso lah, sudah dibaya dari Surabaya sampai sini, masak gak bisa keluarkan. Bisa lah,” jawab saya meyakinkan..
Gini saja, kita lihatin dulu ke lokasi, mumpung masih sore, siapa tau kondisi lapangan tidak sesulit yang kita bayangkan. Kalau sudah lihat barang dan kondisi, adalah nanti solusinya” jawab saya.
“Ayolah, kita ajak beberapa teman kesana. Pak Setiyawan mau ikut ?” Tanya pak Soffin Hadi pada pak Setiyawan. “Bisa pak, saya hubungi pak Kapten Bastian Arief, perwira penghubung yang biasa koordinasi.
Bersama beberapa teman, bergegas menuju Dermaga Angkatan Laut. Setelah diberikan ijin di pos pemeriksaan depan, kami parkir mobil di depan markas Lanal Mamuju. Dari kejauhan Nampak Kapal Dr. Suharsa yang sedang bersandar. Setelah berbasa basi sebentar, saya Tanya pak Bastian, “Besar sekali kapalnya, sepertinya kapal Rumah Sakit Apung”. Kataku pada Kapten Bastian.
SEMANGAT PHINISI | 212


“Iya Pak, ini kapal Rumah Sakit milik AL. termasuk jenis baru yang dimiliki Armatim Surabaya. Kita kesana jalan kaki pak, kendaraan tidak bisa masuk, parkir disana saja” jawab pak Bastian.
Ditemani pak Bastian, berjalan kaki melewati jembatan sambil memeriksa jembatan. Pak Bastian menunjukkan kondisi jembatan yang tidak rata dan ada perbedaan ketinggian, sehingga rawan saat membawa material. Sesampai di dermaga juga diperkenalkan dengan Kapten Amrullah, selaku perwira deck muatan.
Sambil menyaksikan
puluhan tentara
mengangkut material
yang sedang
dikeluarkan, kami
diajak masuk kedalam
deck untuk melihat
barang milik PLN. Ada
33 trafo 50 KVA, 100
KVA dan 160 KVA serta tiang besi 12 M
disana. Kebetulan saat itu air laut sedang pasang sehingga permukaan deck diatas dermaga.
Setelah kembali di dermaga pak Soffin bergegas ngajak diskusi,”Cak. Apa kendala ngangkut barang kita ini. Lah semua normal saja, bisa kita angkat malam ini. Lihat, permukaan deck diatas dermaga, posisi crane kapal juga ada, didalam ada forklift. Bisa lah ini” kata pak Soffin.
“Kalau lihat posisinya, tidak ada yang susah, semua normal, tidak sesulit yang kita bayangkan. Tadi kita merasa sulit karena tidak lihat sendiri kondisinya. Kalau seperti ini bisa lah. Setelah barang milik Angkatan Laut dikeluarkan, material kita bisa dikeluarkan. Kalau sulit, nanti diangkut keluar ramai-ramai sampi lokasi parkir. Tapi kalau melihat mobil AL itu, mobil kecil kirta bisa masuk” jawab saya. ‘Wis bisa ya, kita keluarkan malam ini, sampean bilang ke pak Setiyawan untuk bawa
SEMANGAT PHINISI | 213
sebanyak 20 batang berada


seluruh pasukan dan armada, kita keluarjan mala mini. Pokokke bisa” sahut pak Soffin dengan semangat. Segera saya panggil pak Setiyawan ke ujung dermaga dan saya ceritakan hasil diskusi dengan pak Soffin.
Selanjunya bersama pak Setiyawan koordinasi dengan pak Bastian dan Kapten Amrullah. Melalui diskusi panjang akhirnya disepakati barang PLN bisa dikeluarkan setelah barang milik Angkatan Laut dikeluarkan semua. Diperkirakan pukul 24.00 WITA bisa dikeluarkan.
“Ada kendala pak, beberapa teman ditegur karena pakai celana pendek, penjaga marah jadi gak boleh masuk lokasi” kata salah satu anggota. “Lah, Pak Soffin juga pakai celana pendek, bisa dimarahin nantinya”, sahutku. “Sudah didalam lokasi, gak papa lah, nanti kalau ditegur ya minta maaf, karena kondisi darurat,” Kata saya lagi.
Kami semua duduk dipinggir dermaga sambil menyaksikan tentara Angkatan Laut menaikkan barang ke mobil.
Melihat barang masih banyak, saya minta ijin untuk bisa membantu dengan mengerahkan tim PLN dan kendaraan PLN agar cepat selesai.
Dengan agak sungkan Kapten Amrullah dan Kapten Bastian mempersilahkan. Segera diajak tim PLN untuk mengangkutnya.
Puluhan orang serentak bergerak bersama dengan 14 kendaraan PLN yang silih berganti untuk mengangkutnya. Bahkan tentara banyak yang tertegun melihat kesigapan tim PLN, bagaikan gelombang menggulung barang yang ada. Pukul 22.15 semua barang Angkatan Laut telah dibawa ke Markas lantamal.
Kendala ditemui saat akan mengeluarkan trafo dari galangan ke depan pintu anjungan, karena tidak memungkinkan mengangkat trafo secara manual.
SEMANGAT PHINISI | 214


Ada forklift disana tetap operator tidak ada. Setelah negosiasi sebentar, pak Soffin Hadi menyampaikan kalau di unit terbiasa mengoperasikan forklift.
Beliau mulai mengoperasikan dan pihak Angkatan Laut meyakini pak Soffin Hadi mahir mengoperasikannya. Mulai satu per satu trafo dikeluarkan ke depan anjungan dan dengan mempergunakan crane mobil dipindahkan ke mobil PLN yang sudah standbay di dermaga. Selanjutnya trafo dibawa keluar kawasan Angkatan Laut ke tempat yang telah ditentukan untuk besoknya dibawa ke lokasi pemasangan.
Dengan penuh semangat memindahkan trafo, mengeluarkan dan memindahkan ke mobil serta mengangkutnya keluar dermaga. Teriakan teriakan komando menghiasi malam itu. Beberapa tentara AL mengawasi dari sisi dermaga untuk memastikan semua aman dan terkendali.
Setelah trafo selesai dikeluarkan, giliran berikutnya mengeluarkan tiang besi yang panjang dan berat.
Sudah terbayang beratnya tiang itu untuk mengangkatnya. Dengan mempergunakan forklift, pak Soffin hadi mengangkatnya, kemudian secara bersama-sama digotong ramai-ramai oleh pasukan PLN.
Setiap langkah menyesuaikan komando yang diberikan Spv Hardist selaku komandan lapangan. Selanjutnya tiang tersebut dinaikkan kedalam mobil untuk dikeluarkan dari kawasan dermaga AL.
Tidak kurang 30 orang unuk mengangkut setiap batang tiang. Untuk dramatis dan fenomenal kejadian itu. Perwira AL yang menyaksikan sempat tertegun, bagaimana mungkin tiang seberat itu digotong ramai- ramai keluar kapan dan dinaikkan ke mobil. Pasukan PLN sepertinya tidak mengenal lelah dan tidak ada yang capi, penuh semangat menuntaskannya.
SEMANGAT PHINISI | 215


Sesaat sempat terjadi kevakuman, semua terdiam. Sebuah tragedi terjadi. Sambil menunggu mobil yang angkut tiang keluar datang, tiang sudah diangkat oleh pak Soffin dengan forklift. Karena cukup lama, pak Soffin tertunduk sambil menyandarkan badannya di sandaran kemudi.
Semua terdiam dan tidak ada yang berani bersuara. Rupanya pak Soffin ketiduran saking capeknya. Setelah menunggu lama, salah satu anggota tim melemparkan barang tumpukan tiang agar ada suara bisik.
Cleng cleng... benar saja, pak Sofin terbangun dari tidurnya dan mempersilahkan tim PLN mengangkut tiang keluar kapal..
Pukul 03.22 WITA semua tiang berhasil dikeluarkan dari dermaga. Kebahagiaan dan kebanggan menyelimuti seuruh anggota tim.
Sambil menikmati minuman dan makanan kecil, semua senyum bahagia, karena telah menuntaskan tugas dengan sangat sempurna. Keringat yang membasahi baju menjadi pelengkap kebahagiaan malam ini.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Kapten Amrullah dan kapten Bastian yang dengan sabar menunggui, seluruh tim kembali ke Kantor PLN untuk istirahat untuk istirahat dan bersiap melanjutkan pekerjaan pemulihan esok hari.
Dua hari kemudian, kami kembali ke kapal tersebut bersama pak Awaluddin bersilaturahim dengan Komandan Lanal Letkol Laut Laode Jimmy.
SEMANGAT PHINISI | 216


Kesempatan ini dimanfaatkan untuk menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan, termasuk rencana pengiriman bantuan dan peralatan ke Ulumanda yang masih terisolir.
Selanjutnya menuju kapal untuk bersilaturakhim dengan Komandan kapal Letkol laut Dr. Agus. Kepada beliau diucapkan terima kasih dan penghargaan agar bantuannya telah memfasilitasi PLN untuk mengangkut material dari Surabaya sampai ke Mamuju. Juga bantuan peralatan crane, forclift dan personel untuk mengeluarkan barang PLN.
Pak Letkol Laut Dr Agus sangat kagum dan terkesima dengan semangat dan cara kerja PLN, dimana menurutnya melebihi seorang tentara terlatih pun.
Bagaimana tidak, melihat tentara AL mengeluarkan barang, langsung sigap membantu semua. Mengeluarkan trafo 33 buah dengan cekatan dan cepat sekali. Yang fenomenal mengeluarkan tiang besi yang panjang tersebut. Pak Letkol Agus masih bingung memikirkan cara mengeluarkan tiang tersebut dari kapal, karena kalau di Surabaya pakai peralatan tetapi di Mamuju tidak tersedia peralatan.
Diluar dugaan, mereka mengangkutnya secara manual. 30 orang lebih dengan sigap bersama-sama membawa tiang keluar kapal dan mengangkatnya ke atas mobil untuk selanjutnya dibawa keluar. Melihat dari atas sangat takjub dan terpesona. Rupanya semangat dan kerja pasukan PLN diluar dugaan, melebihi pasukan yang sudah terlatih. Betul- betul luar biasa.
Berkali kali pak Agus memutar video yang dikirim anggotanya dan rasa takjub yang ada. Ditengah malam, pasukan PLN berjibaku untuk mengeluarkan barang, bersama-sama mengangkut tiang. Seperti Pasukan Bandung Bondowoso saja, semalam membangun candi Prambanan.
Setelah lama berdiskusi, kami pamitan dan mengucapkan terima kasih, serta penghargaan tinggi atas bantuan dan sinergi dari AL kepada PLN
SEMANGAT PHINISI | 217


SEMANGAT PHINISI | 218 untuk percepatan pemulihan kelistrikan di Mamuju paska gempa Jumat
lalu.
#11 Lubang Keyakinan
Oleh Mundhakir-UIW Sulselrabar
Setelah selesai makan malam, Pak Soffin Hadi mengajak saya kedalam gudang untuk melihat dan memperhatikan lokasi penyimpanan peralatan PDKB yang ada didalam kamar yang hampir roboh. Dinding- dinding kamar miring dan terlepas dari bangunan utama akibat gempa. Rolling door yang ada sebagai satu satunya penyangga dinding yang akan roboh. Jika rolling door ini terbuka atau bergeser maka dinding akan roboh dan alat alat PDKB akan tertimbun.
Pak Soffin memanjat tangga samping dinding untuk melihat kedalam kamar, setelah memperhatikan beberapa menit segera turun lagi. Kemudian menggerak-gerakkan kontral crane permanen eks PLTD yang ada disitu, dan ternyata masih berfungsi. Ada suara getaran dari penyangga crane saat digerakkan ke kiri dan kanan, namun tidak mempengaruhi dinding-dinding bangunan.
Setelah kami diskusi sejenak, selanjutnya tim PDKB Mamuju dikumpulkan bersama MB Jaringan Mamuju disamping gudang. Berdiri seperti saat entry briefing memulai pekerjaan, Pak Soffin hadi mengajak mereka semua untuk mencari jalan menyelamatkan peralatan PDKB yang sangat mahal dan berharga itu.
“Teman-teman semua, didalam gudang yang mau roboh itu terdapat peralatan PDKB, dimana teman-teman tahu harganya saat mahal. Itu merupakan peralatan yang sangat berharga, senjata tempur kita. Tadi saya sempat mengintip dari celah rolling down dan memanjat tangga yang ada disamping itu. Saya minta pendapat teman-teman bagaimana cara


untuk menyelamatkannya. Karena dinding kiri, kanan posisinya miring patah dan mau roboh. Kalau tidak diselamatkan segera, maka akan ada keruntuhan dan bisa rusak semua,” kata pak Soffin Hadi.
“Keselamatan jiwa manusia lebih penting Pak, posisinya sangat membayakan, tolong ini menjadi pertimbangan utama kita,” saut salah satu tim.
“Iya saya tahu, justru saya minta pendapat teman-teman semua untuk membicarakan itu. Saya sudah naik untuk mengecek, termasuk mengecek crane gantung yang ada. Kalian tahu kan harga alat-alat PDKB itu sangat mahal, dan kalau itu sampai rusak belum tentu tahun ini atau tahun mendatang kita bisa beli lagi. Ini juga perlu dipertimbangkan,” saut pak Soffin Hadi.
Tetapi melihat posisi dinding yang retak miring di kedua sisi dan dan hanya bertumpu pada rolling door sangat membahayakan. Kalau dibuka rolling atau digerakkan down akan roboh semua. Jadi sangat membahayakan jiwa manusia. Kita tidak mau ada korban jiwa disini,” jawab yang lainnya.
“Bagaimana kalau memanjat lewat tangga, kemudian naik diatas baja crane gantung. Kemudian dikerek bergantung pada crane untuk turun, sehingga bisa mengambil peralatan yang
memungkinkan diselamatkan. Lalu, ditarik keatas dan digeser cranenya, diturunkan diluar gudang alat-alat tadi yang bisa diraih. Apa bisa begitu ?” pak Soffin
menawarkan.
“Semua peralatan itu terkunci pak, stick menempel didinding dan dalam kotak yang ada dalam rak yang tertimbun. Kita harus membuka kunci
SEMANGAT PHINISI | 219


dan membuka reruntuhan atap serta mengeluarkannya. Berarti ada goncangan, dan sangat beresiko pada robohnya dinding sebelah kiri itu. Artinya sangat mengancam jiwa kami yang turun kebawah. Bisa bisa ada korban malahan. Jiwa manusia itu lebih penting pak. Ini perlu menjadi perhatian,” jawab yang lainnya.
Diskusi tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Kami semua menuju samping gudang dari sebelah kiri, lewat lorong kecil antara bangunan utama. Kami coba buka dinding seng yang menutup untuk melihat dinding yang miring sebelah kiri. Ada beberapa beton eser yang mengait dinding tersebut. Dinding sebelah atas masih menyatu dengan slop beton, dan mengatit pada bangunan utama. Setelah melihat lihat dinding tersebut pak Soffin Hadi pergi ke Mushola tempat kami biasa istirahat.
Beberapa petugas saya ajak diskusi di belakang untuk melihat adanya peluang dan resiko yang mungkin timbul.
“Mas, saya sepakat jiwa manusia itu lebih penting dari semuanya. Di Mamuju sudah banyak korban karena gempa kemarin dan saya tidak mau ada korban lagi. Saya sependapat itu. Makanya saya minta pendapat sampean agar untuk melihat semua peluang dan menghindari semua resiko yang mungkin timbul. Kita mitigasi semuanya. Prinsipnya tidak boleh ada jiwa yang jadi korban” kata saya.
“Iya pak, kami tidak mau ada korban jiwa, karena bangunan itu sudah miring patah. Hanya rolling door sebagai satu satunya penyangga. Kalau itu bergerak atau dibuka maka dinding bangunan sebelah kiri, sebelah kanan dan depan akan roboh.” Jawabnya. “Betul sekali mas, kita tidak boleh menggerakan atau membukanya” saut saya.
“Maksud saya begini, didalam itu ada peralatan yang sangat mahal harganya dan menjadi peralatan utama kita. Kalau sampai rusak, maka kita belum tentu akan dibelikan dalam waktu dekat. Dari semua itu apa yang bisa diselamatkan ? yang bisa saja, tidak perlu harus semuanya. Yang
SEMANGAT PHINISI | 220


SEMANGAT PHINISI | 221 bisa saja. Tentunya keselamatan jiwa tadi menjadi pertimbangan
utamanya,” sahut saya lagi.
“Iya pak, kalau mau menyelamatkan harus masuk dalam kamar gudang, dan itu membahayakan, apalagi posisinya semua dalam box dalam rak yang tertimbun dan dinding yang terkunci pak. Artinya kemungkinannya kecil sekali” jawabnya.
“Kemungkinannya memang kecil mas, menurut saya kalau kecil itu masih ada, bukan gak ada. Itulah kenapa saya ajak sampean semua untuk mencoba melihat lebih detail dan peluang apa yang memungkinkan serta melakukan mitigasi resiko yang timbul. Mencari cara agar selamat semuanya,” saut saya meyakinkan.
“Tadi dinding kiri, dinding depan, dinding kanan yang miring mau roboh. Coba kita lihat dinding belakang yang itu. Coba senter sampean diarahkan kesitu. Kalau kita perhatikan, dinding itu merupakan dinding bangunan utama, artinya tidak terhubung dengan dinding kamar. Dinding berada pada baja-baja penyangga bangunan utama. Blok- bloknya mengikuti bangunan utama dan terlihat tidak ada keretakan ataupun kerusakan. Coba kita perhatikan lebih detail,” ajakku pada 2 orang tim PDKB untuk kesamping dinding dekat parit.
“Tidak ada keretakan apa-apa kan ?”, tanya saya sambil memegang dinding belakang yang dibangun dari bata yang tidak di plester.
“Tidak ada kerusakan pak kalau bangunan utama. Dia kuat sekali karena bekas PLTD. Sepertinya dia terpisah” jawabnya. Sambil memukul- mukul, saya yakinkan kalau masih kuat dan tidak ada kerusakan apapun. Beberapa teman
yang menyaksikan dari jauh terdiam semua.
“Dinding ini tidak ada kerusakan apa apa, dia dibangun mengikuti blok baja yang ada pada bangunan utama. Tidak terhubung dengan


dinding kamar tempat alat PDKB, artinya ada peluang kita di sana. Kalau kita bisa buat lubang disini, kita akan bisa melihat posisi peralatan kita didalam. Dengan tahu persis posisi peralatan dan kondisi didalam, kita pikirkan bersama untuk cara menyelamatkannya. Prinsipnya masih tetap, bahwa jiwa manusia tetap menjadi prioritas utama” kata saya meyakinkan.
Semua masih terdiam, tetapi mulai ada keyakinan dengan berbisik-bisik pada lainnya. “Iya, dengan membuat lubang disitu kita bisa melihat keadaan didalam, mungkin saja ada yang bisa kita selamatkan” gumannya.
Tidak lama terlihat pak Nasrul Ansar, Asman PDKB UIW Sulselrabar mendekati lokasi kami diskusi dbelakang gedung. “Dinding disana itu, bagian samping dan depan membahayakan sekali pak Mun, mohon dipertimbangkan lagi kalau dicoba mau dilakukan tindakan. Teman- teman semua khawatir dengan langkah Bapak,” kata Pak Nasrun.
“Iya pak Nasrun, tadi kami semua sudah memperhatikan dengan teliti, sangat membahayakan, makanya kami tidak menyentuhnya lagi,” jawab saya.
“Pak Nas, barusan kami diskusi dengan teman-teman ini. Kami tidak menyentuh dinding depan, samping kiri dan samping kanan. Coba lihat itu dinding bagian belakang. Posisinya terpisah dari dinding kamar sebelah samping, serta melekat pada baja baja bangunan utama. Saya perhatikan tidak ada keretakan atau kerusakan apapun, karena bangunan PLTD lama. Posisinya menghadap keluar. Kalau kita bisa membuat lubang disitu maka kita bisa melihat kondisi sebenarnya didalam, kita akan tahu kondisi peralatan kita. Bekerjanyapun dari luar ,sehingga aman bagi petugas kita. Karena bata tanpa plester, bisa pakai linggis dan gerinda buat lubangnya. Tidak membahayakan kan?,” sahut saya pada pak Nasrun.
SEMANGAT PHINISI | 222


Pak Nasrun terdiam sesaat untuk memperhatikan dinding itu. Senter diarahkan ke semua dinding belakang untuk melihat struktur bangunan dan kemungkinan kalau ada yang rusak atau retak. “kalau dinding belakang masih utuh pak, sepertinya memang terpisah karena slopnya tidak nyambung. Anak anak bisa pakai linggis saja bisa pak” jawabnya.
“Tetapi mohon maaf pak Mun, ini sudah hampir jam 11 malam, kalau harus mengerjakan sekarang kasihan teman teman, mereka capek, butuh istirahat dan besok harus bekerja ke lokasi lagi. Sekali lagi minta maaf pak Mun.” kata pak Nasrun.
“Oh iya pak, saya tidak minta malam ini kok. Kita tadi itu baru diskusi bersama untuk mencari jalan menyelamatkan peralatan PDKB yang mahal itu, dan menyelamatkan seluruh jiwa petugas semua. Kamar yang miring patah dindingnya harus segera dirobohkan agar tidak membahayakan semuanya. Didalamnya ada peralatan PDKB, makanya dicari solusi dan mitigasi resiko untuk kemungkinan menyelamatkannya. Eksekusinya bisa besok lah ya’” jawab saya sambil senyum. “Beres pak oleh anak-anak itu kalau lewat belakang. Kalau saya lihat aman. Bagaimana teman teman semua ini ?” Tanya pak Nasrun pada tim PDKB yang masih berkumpul.
“Kalau lewat situ aman pak, kita bekerjanya lewat belakang, dindingnya masih sangat kokoh sehingga resiko sangat kecillah kalau seandainya roboh. Kan tidak mungkin roboh ke belakang. Kita buat lubang dan bisa melihat ke belakang. Besok pagi kami kerjakan pak, siap laksanakan” jawabnya dengan penuh keyakinan.
“jadi besok seperti itu ya, kita coba buat lubang dari belakang, untuk mengetahu kondisi sebenarnya di dalam. Kita yakinkan dulu keadaannya. Barulah dicarikan solusi bersama. Gitu ya teman-teman semua. Sekarang kita istirahat semua, agar besok pagi bangun bugar kembali dan siap memulihkan listrik lagi. Makasih teman-teman semua atas masukannya.” Kata saya menutup perbincangan. Segera kami tinggalkan teman teman PDKB. Dari jauh saya lihat mereka kembali
SEMANGAT PHINISI | 223


memperhatikan dinding bagian belakang, dengan pahat dan palu dipukul pukul untuk meyakinkan. Semoga mereka semakin yakin untuk melakukan semua itu.
Mentari baru saja menampakkan sinarnya, suasana tenda masih sepi. Mushola tempat saya beristirahat juga mulai ditinggalkan jamaah subuh yang tadi istirahat sejenak. Diteras sudah siapk minuman dan makanan kecil untuk Pak GM dan beberapa tim yang biasa diskusi disitu.
Tiba-tiba pak Soffin Hadi menghampiri dan mengajak untuk melihat ke gudang belakang. ‘Cak, mreneo ta (Cak, kesini). Alat PDKB sudah dikeluarkan semuanya, mereka membuat lubang dinding bagian belakang dan bisa mengambil semua peralatan. Hebat rupanya mereka itu”, kata pak Soffin Hadi.
“Loh ini masih pagi sekali pak, mereka sudah mengerjakannya?. Jam berapa dia kerja ? wak luar biasa sigap mereka. Semua bisa diselamatkan ?,” tanyaku tidak percaya.
‘Wis ta, lihat kesana saja. Kosong sudah didalam kamar, semua bisa dipindahkan. Luar biasa kok mereka. Padahal semalam diajak ngomong pada nolak, jiwa manusia lah taruhannya. Rupanya mereka buat lubang keyakinan”, kata pak Soffin sambil senyum manisnya.
“Mereka memang hebat pak, luar biasalah,” sahut saya.
Kami berjalan ke kamar didalam gudang. Dari rolling door terlihat sudah kosong melompong. Kemudian kami lihat lubang belakang yang idak seberapa besar tempat mereka masuk untuk mengambil dan menyelamatkan peralatan PDKB yang sangat berharga itu. Senyum bahagia karena mereka semua telah meyakini dan melakukan hal terbaik bagi perusahaan dan dirinya. Terima kasih teman-teman semuanya. Tim PDKB memang terlatih dan teruji
SEMANGAT PHINISI | 224


#12 Kalau Ragu, Pulang Saja
Oleh BACHTIAR – MULP Majene
Kejadian Gempa Sulbar pada
Januari 2021 lalu menjadi
pengalaman tersendiri bagi saya
sebagai petugas PLN. Dimana
disaat yang bersamaan harus
segera memulihkan listrik yang
padam sekaligus diminta untuk
menjadi koordinator Posko BUMN untuk KabupatenMajene untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dari BUMN seluruh Indonesia yang akan disalurkan melalui Posko Majene.
Karena ini adalah keterlibatan pertama sebagai ‘relawan’ gempa maka segala sumber daya dimanfaatkan semaksimalnya untuk sukses recovery listrik sekaligus penyaluran bantuan posko BUMN.
Keberadaan Rumah Kreatif BUMN Majene yang selama ini menjadi binaan PLN menjadi pusat Posko dan binaan ukm dan masyarakat sekitar Rumah BUMN menjadi bagian relawan Posko. Rumah BUMN ini ‘disulap’ menjadi markas relawan Posko BUMN dan menjadi dapur umum untuk relawan dan pengungsi yang masuk kota. Hal yang sangat berkesan saat menangani posko BUMN ini yaitu Membersamai Keikhlasan Relawan.
Ada banyak relawan yang bergabung membantu untuk Posko BUMN namun diantara mereka ada yang terasa sangat tulus dalam membantu sehingga semangat ini menjadi pelecut buat kami meski hampir tidak ada waktu untuk istirahat dalam beberapa hari pasca gempa.
Berbagai kegiatan telah dilakukan, seperti :
SEMANGAT PHINISI | 225


1. Lingkungan Lipu. Kepala lingkungan hanya perlu menyampaikan pengumunan di Toa Masjid dan pagi-pagi ibu-ibu berbondong-bondong datang untuk menyumbangkan tenaga untuk memasak. Bahkan, ada seorang ibu karena juga sebagai penjual di sekitar posko pagi-pagi datang meminta izin tidak bisa bergabung bersama ibu yang lain. Terus ibu tersebut menyampaikan bahwa meski tidak bisa hadir di posko, masih bisa membantu dengan memasak di rumahnya karena sambil menjual, hanya perlu ambil bahan baku dari Posko.
2. Komunitas pecinta motor trail Majene datang ke posko menawarkan untuk melakukan survey untuk lokasi yang belum bisa dijangkau oleh kendaraan roda empat dan relawan yang lain yaitu lokasi popenga ulumanda sekaligus membawa sembako seadanya.
Survey kondisi kelistrikan ini sukses sekaligus bisa membawa sembako dari YBM dan Pertamina. Ternyata ide ini menjadi pelopor datangnya ratusan pecinta trail dari Mamuju, Makassar dan daerah lain di Sulawesi Selatan. Melalui kerjasama dengan relawan trail ini kami berhasil mengirim ratusan paket sembako BUMN dan YBM untuk empat desa terisolir di Ulumanda. Medan yang berat tak menghalangi mereka untuk misi kemanusiaan sebagaimana tagline salah satu komunitas trail dari Enrekang yaitu “Kalo Ragu Pulang Saja”.
#13 Siap Siaga, Untuk Tugas Negara
Oleh Zulham – PDKB UP3 Parepare
Hari itu sabtu 15 Januari 2021, seperti biasa di akhir pekan kami habiskan bersama keluarga di rumah. Sementara sebagian dari kami mengisinya dengan ngopi di warung kopi. Namun, hari itu saya dikejutkan dengan notifkasi BMKG mendadak masuk di gawai. Sulawesi Barat diguncang gempa berkekuatan 5,9 skala richter, dengan pusat gempa tercatat berada di Kabupaten Majene. Getarannya lumayan dapat
SEMANGAT PHINISI | 226


kami rasakan sampai di kota Parepare. Dilaporkan melalui grup WhatApps, beberapa penyulang di UP3 Mamuju tumban, sehingga mengakibatkansebagian Kota Mamuju padam. Berselang beberapa jam, saya terus memantau di grup WhatsApp. Alhamdulillah seluruh penyulang berhasil dinormalkan.
Malamnya ketika beristirahat di rumah, saya dibangunkan oleh getaran yang lumayan keras. Atap seng rumah saya berbunyi dan bergesekan sekitar 30 detik. Kembali notifikasi BMKG berbunyi mengatakan gempa kembali mengguncang Sulawesi Barat. Kali ini lumayan keras 6,2 Skala Richter dan berpotensi tsunami. Seluruh penyulang dilaporkan tumbang. Dari 872 Gardu Distribusi dan 90.688 pelanggan yang terdampak, hanya 507 gardu distribusi dan 52.336 yang bisa ter-recovery.
Pukul 05.42 WITA jajaran Manajemen Atas menginformasikan melalui grup WhatsApp untuk membentuk tim recovery kelistrikan akibat bencana gempa. Ditunjuklah kami, Tim PDKB beranggotakan 10 orang yang siap untuk dikirim ke Sulawesi Barat.
Hari Pertama, pada pukul 09.00 WITA Kami Tim PDK bertolak menuju Majene, Sulawesi Barat yang dipimpin manajer bagian jaringan, dengan membawa peralatan, termasuk Mobil Crane. Ba’da duhur, rombongan kami tiba di ULP Majene, yang merupakan titik kumpul semua tim yang datang dari arah selatan untuk pembagian tugas. Hampir seluruh tim yang ditugaskan saat itu, sebelumnya sudah pernah ditugaskan ke bancana Gempa di Palu Sulawesi Tengah. Jadi sebagian dari kami sudah memiliki gambaran tentang apa yang harus dipersiapkan dan dilakukan.
Titik pekerjaan kami di hari pertama adalah melakukan normalisasi di daerah Kampung Malunda, yang letaknya 13 Km dari pusat titik gempa. Terlihat banyak rumah-rumah sudah kosong ditinggalkan penghuninya mengungsi ke atas gunung, mengingat Desa Malunda sendiri merupakan daerah pesisir pantai.
SEMANGAT PHINISI | 227


Berbagai berita tentang tsunami simpang siur terdengar di masyarakat. Malam itu, kami bekerja mendirikan tiang rubuh dan mengembalikan aspan pada tempatnya. Sampai akhirnya, harus kami akhiri karena hujan deras. Tim kemudian di arahkan ke Kampung Onang untuk menginap yang letaknya di dataran tinggi. Kami semua masih berjaga-jaga apabila terjadi gempa susulan dan menghindari tsunami.
Hari Kedua, kami kembali ke Kampung Malunda untuk mandi dan memasak sarapan mie instan. Dalam kondisi bencana, kita tentu akrab dengan makanan yang serba instan. Sesekali gempa kecil susulan terjadi. Hari itu kami ditugaskan untuk melakukan pemeliharaan pada gardu yang miring, bahkan jatuh akibat gempa bumi di sekitar Desa Malunda sampai ke daerah Tappalang.
Beberapa kali, kami melihat ambulance dan rombongan yang membawa bantuan baik itu berupa sembako, pakaian, bahkan air bersih. Kami kemudian makan siang di Kampung Tappalang.
Walaupun hanya dengan menu nasi dan mie instan, tetapi tetap terasa begitu nikmat. Sewatu menuju kota Mamuju, kami tertahan hampir 6 jam karena jalan poros yang menghubungkan Kapubaten Majene tertutup tanah longsor. Sehingga kami harus menunggu sampai jalanan bisa dilewati, itupun harus dengan hati-hati. Tidak jarang harus dipandu dan dibantu, karena beberapa kendaraan berat tergelincir akibat sisa-sisa lumpur bekas tanah longsor. Malam itu kami akhirnya tiba di kantor UP3 Mamuju. Sesampainya di sana kami pun terkejut, melihat bangunan kantor UP3 yang megah dan kokoh sudah hampir ambruk.
Hari Ketiga, kami diberikan tugas pertim untuk melakukan recovery. Setelah menyiapkan material yang dibutuhkan, kami lansung menuju ke lapangan untuk melaksanakan tugas.
Hari itu kami mendapat tugas melakukan penormalan gardu-gardu yang sebelumnya, sengaja dilepas guna mengamankan asset instalasi ke rumah rumah pelanggan, dan objek objek vital seperti Bank, SPBU dan Kantor
SEMANGAT PHINISI | 228


SEMANGAT PHINISI | 229 Gubernur yang ambruk. Kemudian melakukan perbaikan pada gardu
yang miring, bahkan yang jatuh akibat gempa.
Alhamdulillah, tugas hari itu dapat kami rampungkan. Malam itu setelah selesai bekerja, kami mandi dan makan malam. Makan malam masih dengan lauk mie instan, hanya saja sekarang ditambah telur goreng. Setelah itu kami berkumpul bersama rekan-rekan kami dari UP3 lain, untuk sekedar minum kopi bersama, bersenda gurau, ataupun bertukar pikiran dan pengalaman. Ada juga yang berkabar dengan anggota keluarga di rumah, dan ada pula yang tertidur lelap karena kelelahan. Hari ketiga dilaporkan dari 872 gardu dan 90.688 pelanggan yang terdampak, sebanyak 666 gardu distribusi dan 68.713 pelanggan yang telah terrecovery.
Hari keempat dan kelima, kami mendapatkan tugas untuk membangun ulang gardu distribusi yang roboh. Gardu ini men-supply salah satu objek vital, yang digunakan sebagai pusat pengumpulan bantuan. Pekerjaan kami fokuskan untuk membangun ulang gardu distribusi yang melayani Rumah Susun dan Asrama para perwira TNI di Korem 142. Di hadapan kami saat itu, terlihat jelas bangunan rusun yang belum genap dua tahun roboh akibat gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter.
Menurut informasi yang kami dengar, terdapat tiga korban jiwa yang tertimpa reruntuhan bangunan tersebut.
Hari itu, kami hanya dapat melaksanan pemancangan tiang pembenahan konstruksi JUTM yang rusak dan mengamankan instalasi luar pelanggan. Hari kelima kami mulai pagi-pagi sekali, mengingat banyak hal yang harus kami selesaikan. Kami mengerjakan pembesian konstruksi gardu distribusi.
Siang itu, kami dikunjungi oleh Bapak Syamsul Huda ,selaku Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua & Nusa Tenggara, berserta jajaran direksi lainnya guna memantau perkembangan di lapangan terkait recovery kelistrikan bencana gempa bumi di Sulawesi Barat.


Beliau memberikan kami semangat dan arahan. Di hari itu, tim kami merampungkan titik terakhir dalam operasi recovery tenaga listrik di Sulawesi Barat. Listrik di Kompleks KOREM 142 sudah berhasil dinyalan. Sebanyak 98 % dari total gardu distribusi berhasil ter-recovery, sisanya belum dapat dipulihkan karena akses ke daerah terdampak tertutup longsor.
Di hari keenam, kami bersiap untuk kembali ke unit masing-masing. Kami dilepas secara seremonial oleh Bapak DIREG SULMAPANA dan Gubernur Sulawesi Barat. Beliau menyampaikann apresiasi setinggi- tingginya dan ucapan terima kasih atas kerja keras para Tim Recovery yang sudah datang jauh-jauh untuk ikut membantu melakukan recovery tenaga listrik di Sulawesi Barat. Kamipun meninggalkan kota Mamuju, dengan rasa bangga dan haru yang kami bawa pulang bertemu dengan keluarga di rumah. Kami tim PDKB, Senantiasa siap siaga untuk tugas negara.
# 14 Dari Pinrang Untuk Mamuju Terang
Oleh Muhammad Irsan – Spv Hardist UP3 Pinrang
Jumat dinihari tanggal 15 Januari 2021 Pukul 02.30 WITA, Ibu Rizky Ardiana (Ibu Kiki) Manajer UP3 Pinrang, memulai percakapan disalah satu WAG unit dan memberikan infografis terkait bencana gempa susulan yang terjadi di Provinsi Sulawesi Barat, sekaligus memastikan kondisi kelistrikan PLN UP3 Pinrang terkait gempa tersebut. Alhamdulillah kondisi kelistrikan diwilayah kerja Pinrang tidak terdampak. Kami turut berduka cita atas apa yang telah menimpa saudara-saudara kami di Provinsi Sulawesi Barat.
Tepat pukul 05.43 WITA, Ibu Kiki menerima Instruksi dari UIW Sulselrabar dan langsung menginstruksikan serta menugaskan langsung
SEMANGAT PHINISI | 230


kepada kami untuk segera membentuk Tim Relawan, mempersiapkan personel, peralatan serta kebutuhan material untuk segera bergerak ke Mamuju. Bapak Baso Nurahman selaku MB Jaringan ditunjuk sebagai ketua tim Recovery. Total personel Tim Relawan Recovery PLN UP3 Pinrang sebanyak 16 orang dan kendaraan sebanyak 4 unit (Pegawai 4 org, Alih daya 12 orang, Mobil crane 1 unit, mobil pickup 2 unit dan double cabin 1 unit)
Manager juga menugaskan 1 Tim Relawan YBM PLN yang dipimpin oleh MB Pemasaran H.M.Akil bersama 4 personel untuk membawa bantuan logistik dan obat-obatan bagi para korban bencana. Satu hal yang patut kita contoh sebagai generasi muda PLN adalah SEMANGAT para senior-senior kita yang masih memberikan dedikasi terbaiknya dalam melaksanakan tugas. Betapa tidak, kami melihat semangat dari bapak Haji Akil dimasa dinasnya yang tersisa 16 hari saat itu masih menunjukkan semangat yang tidak kalah dengan para generasi muda PLN.
Bangga rasanya pribadi ini mengabdi dalam suatu perusahaan yang sangat peduli dengan aspek social. Sebagai contoh saat terjadi di Palu Sulawesi Tengah pada tanggal 28 September 2018 lalu. Mendengar kisah heroik dari rekan-rekan yang tergabung dalam tim recovery sungguh menggugah hati dan memecut semangat saya untuk lebih optimal melayani masyarakat. Kala itu saya saya masih bertugas di PLN UP3 Baubau bagian TE dan UP3 Baubau belum dapat bergabung karena jarak kami ke Palu terpaut jauh dan dibatasi oleh lautan. Sejak 01 Juli 2020 saya ditugaskan untuk mengabdi di PLN UP3 Pinrang pada bagian pemeliharaan jaringan.
Berbekal kisah heroik tadi saat ini saya tergabung bersama para superhero dibagian Jaringan PLN UP3 Pinrang untuk bahu membahu membantu memperbaiki sitem kelistrikan di Mamuju-Majene. Saya merasa malu jika tidak dapat memberikan kontribusi terbaik, padahal sudah menjadi bagian dari supertim yang hebat dan teruji. Sangatlah
SEMANGAT PHINISI | 231


berdosa pribadi ini jika amanah yang diberikan tidak dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Salah satu motivasi ekstrinsik dari kisah tadi itulah yang menguatkan motivasi saya pribadi agar terus berusaha maksimal untuk memberikan kontribusi terbaik untuk perusahaan ini.
Kurang dari 2 jam sejak tugas diberikan, para relawan sudah berkumpul di kantor PLN UP3 Pinrang untuk mempersiapkan segala perlengkapannya. Saya sangat terkesan, mereka sangat responsif. Sepertinya insan PLN sudah sangat terlatih dalam kondisi darurat seperti ini. Terlihat semangat dan antusias para relawan, terpancar harapan dimata mereka untuk saudara-saudara kami di Sulbar yang sedang berduka. Dapat kami bayangkan betapa tertekannya psikis saudara- saudara kami di sana akibat gempa tersebut. Rumah rumah hancul, sarana umum rusak, korban jiwa, jalur komunikasi dan transportasi dibeberapa lokasi terputus. Kami ikut merasakan penderitaan dan tekanan mental masyarakat yang terdampak.
Disaat melakukan persiapan perlengkapan keberangkatan sejenak terlintas :
“Dalam benak ini tergambar suasana yang menaruh harapan, keprihatinan, kekhawatiran serta doa yang terpanjatkan untuk para korban gempa dan untuk keselamatan para relawan.
Dalam benak ini terbersit kecemasan dalam melaksanakan tugas akan keselamatan kami yang tentunya bertaruh nyawa dan meninggalkan keluarga untuk sebuah misi kemanusiaan. Namun bersitan energi positif jauh lebih kuat memancar dalam susasana kala itu untuk ikut ber-Jihad dalam misi tersebut. Dalam benak ini tergambarkan harapan para korban gempa yang semakin pedih akibat padamnya listrik yang tentunya menambah penderitaan mereka. Keprihatinan kami mengalahkan rasa bimbang dan membangkitkan semangat kami untuk berbagi energi optimisme kepada para korban gempa hingga menguatkan kami untuk bersatu dalam satu tekad dengan terus MAJU dan PANTANG PULANG SEBELUM SULBAR TERANG.”
SEMANGAT PHINISI | 232


Click to View FlipBook Version