PESONA USAHA Jilid Pertama 1
PESONA USAHA Jilid Pertama 2 OLEH: APTAREC Bontang Indonesia PENERBIT SEGALA JENIS BUKU PESONA USAHA Jilid Pertama MUH IHSAN
PESONA USAHA Jilid Pertama 3 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA PASAL 72 KETENTUAN PIDANA SANKSI PELANGGARAN PESONA USAHA Jilid Pertama HAK CIPTA @ 2016 MUH. IHSAN Penulis : Muh. Ihsan ISBN : 978-602-60019-0-0 (no.jil.lengkap) ISBN : 978-602-60019-1-7 (jil . 1) Editor : Sabrina, S.Ag. Penyunting : Ibrahim, S. Disain Sampul dan Tata letak : Sitti Raodah, S.Pd. Penerbit : APTAREC Bontang Indonesia REDAKSI & DISTRIBUTOR: KOMPLEK MASJID BAITUR RAHAMAN Jl. Pangandaran RT 12 No. 49 Bontang Indonesia 75322 Hp.085387785322 E-Mail: [email protected] E-mail: [email protected] Cetakan Pertama: Agustus 2016 Hak Cipta dilindungi Undang-undang Dilarang memperbanyak karya ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit. 1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu Ciptaan atau memberikan izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling singkat satu (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah). 2. Barang siapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksudkan pada ayat 1, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
PESONA USAHA Jilid Pertama 4 . PESAN UNTUK PEMBACA YANG BAIK MENGENAI ISI BUKU INI: AMBIL DAN LAKSANAKANLAH APA YANG DIANGGAP BAIK LAGI BENAR. DAN TINGGALKAN DAN ABAIKAN YANG DIANGGAP BURUK JUGA SALAH DAN SESAT
PESONA USAHA Jilid Pertama 5 ر ِحْيم ر ْحم ِن ال َّ ْسِم هللاِ ال َّ KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah Swt. Tuhan seruh sekalian alam, Tuhan seluruh makhluk, Tuhan yang wajib disembah oleh siapapun. Yang memberikan sekaligus membatasi rezeki kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Seiring dengan itu, shalawat dan salam selalu kita sampaikan kepada junjungan Nabi Muhammad Saw. semoga Allah Swt. menempatkannya pada tempat yang terpuji lagi mulia. Dan semoga dengan shalawat dan salam yang selalu kita sampaikan kepada Beliau dapat menjadi jembatan terbetiknya syafaat kelak di hari kemudian. Amin. Berlomba untuk meraih pahala merupakan cirikhas kehidupan para sahabat. Seharusnya kita sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw demikian juga adanya, berlomba mengumpulkan pahala, bukan berlomba mengumpulkan harta semata. Bahwa buku yang berjudul “Pesona Usaha Jilid Pertama” ini intinya adalah menjelaskan mengenai pentingnya berusaha dengan tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai ajaran agama yang dianut. Dan diharapkan pula bahwa semoga buku ini dapat menjadi penggugah dalam rangka mengamalkan ajaran Islam terutama yang berkenaan dengan usaha yang dirangkaikan dengan berinfaq yang dipadukan pelaksanaannya dengan shalat berjamaah di masjid, beserta shalat-shalat sunnat lainnya. Dalam buku ini juga menjelaskan mengenai nilai-nilai yang harus dihidupkan dan yang harus ditinggalkan sama sekali, baik dalam berusaha maupun dalam pergaulan hidup bermasyarakat .
PESONA USAHA Jilid Pertama 6 Selanjutnya, bahwa buku ini dibuat dalam bentuk sederhana dengan bahasa yang sederhana. Hal ini dilakukan agar yang membacanya dapat dengan mudah memahami isi dan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja. Terima kasih penulis ucapakan kepada pihak penerbit APTAREC yang telah bersedia menerbitkan buku ini. Yang terakhir, buku ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun kepada semua pihak sangat diharapkan. Penulis
PESONA USAHA Jilid Pertama 7 Daftar Isi KATA PENGANTAR …………………………………………. DAFTAR ISI …………………………………………………... BAGIAN PERTAMA …………………………………………. PENDAHULUAN……………………………………………… A. Latar Belakang …..…………………………………………. B. Alasan-alasan sehingga seseorang harus berusaha dan berinfaq………………………………………. C. Sasaran, …………………………………………………….. D. Maksud dan Tujuan ….…………………………………….. BAGIAN KEDUA, ……………………………………………. REZEKI DAN KARUNIA ALLAH SWT. TIDAK TERHITUNG ...………………………………………. BAGIAN KETIGA ……………………………………………. SEBAB – SEBAB DATANGNYA REZEKI ………………… BAGIAN KEEMPAT ………………………………………….. IKHTIAR YANG BAIK, TITIAN DATANGNYA REZEKI YANG HALAL ………………………………………………... BAGIAN KELIMA ……………………………………………. STATUS HARTA BAGI MANUSIA …………………………. BAGIAN KEENAM …………………………………………... ANTARA ZAKAT, INFAQ, DAN SEDEKAH ……………… BAGIAN KETUJUH …………………………………………... HUBUNGAN SHALAT, ZAKAT DAN INFAQ …………….. BAGIAN KEDELAPAN …………………………… BERUSAHA DENGAN TETAP MENGABDIKAN DIRI KEPADA ALLAH ……………………………………..... A. SHALAT BERJAMAAH DI MASJID .......………………... B. SHALAT SUNNAT ……………………………………….. 1. Shalat sunnat wudhu ……………………………………. 5 7 9 9 9 22 39 44 46 46 52 52 62 62 67 67 71 71 76 76 82 82 85 89 89
PESONA USAHA Jilid Pertama 8 2. Shalat sunnat tahyatul masjid …………………………… 3. Shalat sunnat taubat ……………………………………... 4. Shalat sunnat Rawatib (kabliyah dan baddiyah) ..……… 5. Shalat sunnat awwabin ………………………………….. 6. Shalat sunnat Tahajjud ………………………………….. 7. Shalat sunnat dhuha’ ……………………………………. C. DZIKIR DAN DO’A ………………………………………. D. MENGHIDUPKAN NILAI-NILAI YANG DIANJURKAN 1. Sabar ……………………………………………………. 2. Amanah ………………………………………………… 3. Istiqamah ........................................................................... 4. Syukur nikmat ………………………………………….. 5. Ikhlas …………………………………………………… 6. Dermawan ……………………………………………… 7. Jujur …………………………………………………….. E. MENINGGALKAN NILAI-NILAI YANG DILARANG ………………………………………………... 1. Mengumpat dan mencela ………………………………. 2. Menyakiti perasaan orang lain …………………………. 3. Malas …………………………………………………… 4. Serakah …………………………………………………. 5. Boros …………………………………………………… 6. Sombong, membanggakan diri ………………………… 7. Riya’ ……………………………………………………. 8. Bakhil dan kikir ……………………………………….. 9. Iri dan dengki ………………………………………….. BAGIAN KESEMBILAN …………………………………….. Penutup ……………………………………………………….. A. Simpulan …………………………………………………… B. Saran-saran ………………………………………………… Dafatar Pustaka ………...……………………………………… Lampiran-lampiran ...…………………………………………... 90 90 90 93 95 97 100 105 105 106 108 112 115 118 123 127 127 132 135 139 146 147 152 162 168 171 171 171 174 175 177
PESONA USAHA Jilid Pertama 9 PENDAHULUAN A.Latar Belakang Pertama, ketika kondisi seseorang dalam keadaan miskin, ia kemudian berkeinginan untuk menjadi kaya dengan harta yang banyak. Kedua, tetapi pada saat dalam keadaan sakit, ia lalu berkeinginan untuk sembuh dengan kesehatan yang prima. Uang pada saat itu menjadi nomor sekian. Dan ketiga, ketika hidupnya berstatus social biasa-biasa saja, ia kemudian berhayal agar bisa berkedudukan tinggi, terhormat, disegani bahkan mungkin berkeinginan pula untuk disembah oleh orang lain. Tetapi bagaimana dengan hak atas kekayaan pribadi yang terancam atau bahkan sudah dirampas oleh orang lain? Apakah orang tersebut berhak membela diri, meskipun yang mengancam itu adalah keluarga dekatnya sendiri? Apa sebenarnya yang membuat seseorang sehingga berkeinginan untuk menjadi kaya? Sementara sulit menerima keadaan BAGIAN PERTAMA
PESONA USAHA Jilid Pertama 10 dirinya sebagaimana adanya. Lalu dengan cara bagaimana yang harus dilakukan seseorang sehingga tujuan menjadi kaya itu dapat tercapai, jalan pintaskah ataukah usaha sungguh-sunggu? Kemudian setelah seseorang menjadi kaya, lalu apa lagi yang hendak dicarinya, kepuasankah? atau hanya mengikuti kecenderungan-kecenderungan nafsu belaka saja? Apakah kepuasan tersebut terbatas atau malah tidak berujung? Pernyataan-pernyataan tersebut di atas menunjukkan bahwa demikian itulah sifat manusia, memiliki kecenderungan tidak puas atas apa yang sudah dimilikinya dalam hidup ini. Sudah memiliki satu barang sesuatu, masih mau dua dan seterusnya. Demikian dalam hadits 622. Yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, Rasulullah Saw bersabda: سو َل هللاِ صلى هللا عليه ُ ن َر َّ َ ِن َماِل ٍك، أ ِس ْب نَ َ حديث أ ْن َ ب أ َّ َح َ َه ٍب أ ًا ِم ْن ذَ َ َواِدي ِن آدَم ن ِالْب َّ َ ْو أ وسلم، قَا َل: لَ ُ فَاه َولَ ْن يَ ْمألَ ِن، َواِديَا ُ ُكو َن لَه ب ُ و ُ َو يَ يَت ب، َرا ُ ُّ الت َّ ِال إ هللاُ َعل ------------------------------- َى َم ْن تَا َب Artinya: “Anas bin Malik r.a. berkata: Nabi Saw. bersabda. Andaikan anak Adam telah memiliki satu lembah emas. tentu ia ingin mempunyai dua lembah, dan tidak akan menutup mulutnya kecuali tanah, dan Allah akan memberi taubat kepada siapa yang bertaubat. (Bukhari, Muslim). Yakni tidak ada sesuatu yang dapat menghentikan keinginannya itu kecuali mati Kemudian apa kaitannya antara usaha, rezeki dan berinfaq sementara uraian diatas menunjukkan ketidakpuasan terhadap harta? Dimana letak hubungan antara usaha, rezeki dan infaq itu? Dan mengapa juga harus berinfaq? Apakah infaq itu? Bagaimana cara berinfaq? Apa yang diinfaqkan? Siapa yang harus berinfaq dimana dan kapan harus mengeluarkan infaq?
PESONA USAHA Jilid Pertama 11 Apakah berinfaq itu mempunyai persyaratan? Apakah benar berinfaq itu dapat membuat seseorang menjadi kaya? Apa hakekat yang sebenarnya mengenai infaq itu? Dan apa pula tujuannya? Mengapa infaq dikatakan investasi dunia akhirat, bagaimana cara memahami dan melakukannya? Apakah ada perbedaan antara orang yang berusaha sambil berinfaq dengan yang berusaha tetapi tidak disertai dengan berinfaq? Untuk memberikan sekelumit gambaran tentang mengapa seseorang senantiasa berkeinginan menjadi kaya. Berangkat dari kata miskin tentu disini diklasifikasikan menjadi tiga bagian utama, yaitu terkait dengan (1) kesenjangan harta, (2) kesenjangan ilmu, (3) dan kesenjangan iman. Kesenjangan pertama akan menimbulkan apa yang disebut dengan miskin harta. Kesenjangan yang kedua akan menimbulkan apa yang disebut dengan miskin ilmu sementara kesenjangan yang ketiga akan menampakkan apa yang disebut dengan miskin iman. Dalam kaitan itu Rasulullah Saw. bersabda sebagaimana hadits 616 riwayat Abu Hurairah, و َل هللاِ صلى هللا ُ ن َرس َّ َ َرةَ رضي هللا عنه، أ َرْي ُ ِي ه ب َ حديث أ َّا ِس، ُف َعلَى الن و ِذي يَطُ َّ ن ال ُ ِم ْس ِكي ْ َس ال ْي عليه وسلم، قَا َل: لَ ُ َمة ُ اللقْ ه ُّ رد ُ ن الَ ُ تَ ِم ْس ِكي ْ َول ِك ِن ال ِن، ْمَرتَا َّ َوالت ُ ْمَرة َّ َوالت ِن، َمتَا قْ ُّ َوالل ُل َ م فَيَ ْسأ ُ و َوالَ يَقُ ْي ِه، َّ ُق َعلَ َصد ُتَ ِ ِه فَي ن ب ْف َط ُ ُ َوالَ ي ُ ْغنِي ِه، ُ ِغنًى ي يَ ِجد َّا --------------------------- َس الن Artinya: “Abuhurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Bukan yang bernama miskin itu, orang yang keliling mintaminta pada orang sehingga tertolak dari sesuap, dua suap, atau sebiji dua biji kurma, tetapi orang miskin yaitu orang tidak ada penghasilan yang mencukupinya, dan tidak mengingatkan
PESONA USAHA Jilid Pertama 12 orang agar dia disedekahi, juga tidak berjalan minta-minta kepada orang. (Bukhari, Muslim). Maksud “orang yang tidak punya penghasilan yang mencukupinya” adalah terdapat kesenjangan yang terlampau jauh antara penghasilan dengan kebutuhan hidupnya. Tetapi dewasa ini makna miskin pada sebagian wilayah tertentu bahkan mungkin sudah tidak relevan lagi apabila dihubungkan dengan perkembangan yang terjadi di wilayah itu, mengapa? Alasannya bahwa kekayaan alam melimpah ruah dan telah terbuka lebar, kesempatan untuk berusaha mencari rezeki yang halal sudah terbuka lebar pula. Oleh karena itu, terjadinya kondisi miskin pada seseorang yang ada pada sebagian wilayah tertentu tersebut dapat dipastikan bahwa itu karena dipengaruhi oleh sikap malas ditimpali rasa gengsi yang segaris lurus pula dengan kufur nikmat dan sengaja pula memiskin-miskinkan dirinya. Sebenarnya, kadar miskin dan kaya hanya merupakan ukuran yang membedakan antara seorang dengan yang lain. Bahkan sekarang ini banyak di antara manusia dengan sengaja memiskin-miskin dirinya sendiri. Bahwa kedua variable itu “miskin dan kaya” sama-sama mendapatkan ujian, apabila lulus, masuk syurga dan apabila gagal, maka keduanya pun masuk neraka. Singkat kata, tidak ada orang miskin, yang ada hanyalah orang malas berusaha dan orang yang tidak pandai mensyukuri nikmat yang sudah diberikan begitu banyak oleh Allah Swt. kepadanya. Perbedaan kondisi rezeki seseorang dengan orang lainnya sudah dijelaskan dalam al-Qur’an, surah: an-Nisa’ ayat 32. Pada ayat yang lain, (QS. An Nahl: 71), selengkapnya berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 13 ُكْم َعلَى بَ ْع ٍض فِي ال َّض َل بَ ْع َض ََّّللاُ فَ ْز ِق ر َو ِ “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki.” Ibnu Katsir menjelaskan maksud penggalan ayat terakhir (QS. Al Isra’: 30), “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat manakah di antara hamba-Nya yang pantas kaya dan pantas miskin. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Sahabat Umar bin al-Khattab: كتب عمر بن الخطاب، رضي هللا عنه، هذه الرسالة إلى أبي موسى األشعري: واقنع برزقك من الدنيا، فإن الرحمن فَ ي الرزق، بل َّضل بعض عباده على بعض ف يبتلي به كال فيبتلي من بَ َسط له، كيف ُشكره هلل وأداؤه الحق الذي افترض عليه فيما رزقه وخوله؟ رواه ابن أبي حاتم -------------------------------------- “Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menuliskan surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari yang isinya: Merasa cukuplah (qana’ah-lah) dengan rezeki dunia yang telah Allah berikan padamu. Karena Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) mengaruniakan lebih sebagian hamba dari lainnya dalam hal rezeki. Bahkan yang dilapangkan rezeki sebenarnya sedang diuji pula sebagaimana yang kurang dalam hal rezeki. Yang diberi kelapangan rezeki diuji bagaimanakah ia bisa bersyukur dan bagaimanakah ia bisa menunaikan kewajiban dari rezeki yang telah diberikan padanya.” (HR. Ibnu Abi Hatim. Bahwa kecenderung-kecenderung menjadi kaya tersebut pertama kali digerakkan oleh motif emosional tertentu.
PESONA USAHA Jilid Pertama 14 Timbulnya motif tersebut disebabkan oleh kemampuan yang dimiliki seseorang berkesenjangan jauh dengan barang sesuatu yang diinginkan. Sebagai contoh seseorang berkeinginan untuk memiliki kompor gas dengan harga katakanlah 500 ribu rupiah, tetapi kemampuan keuangannya pada saat itu hanya tersedia katakanlah seratus ribu rupiah. Dengan demikian terjadi kesenjangan sebesar empat ratus ribu rupiah. Dalam pada itu orang tersebut dapat dikategorikan sebagai orang miskin harta karena ketidak mampuannya membeli kompor gas dengan harga sebagaimana tersebut di atas. Di lain pihak bahwa dengan kesenjangan itulah kemudian seseorang termotivasi untuk melakukan usaha keras lalu memacu diri dalam bekerja agar tujuannya tercapai, yaitu menjadi orang kaya. Dan asal tidak berpangku tangan sama sekali. Di sanalah kelak setelah seseorang berhasil mencapai apa yang diharapkan atau sudah menjadi kaya, maka dalam kekayaan itulah kemudian terdapat hak orang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan hak orang lain disini adalah berupa derma, sedekah, infak atau zakat yang harus dikeluarkan dari harta kekayaan yang dimiliki itu. Tentu saja harta kekayaan yang ada tersebut bersumber dari hasil kerja keras sebagai rezeki yang telah diberikan oleh Allah Swt. Hal ini sesuai dengan QS. AlDzariayh:19, berbunyi: Artinya: “Dan pada harta kekayaan mereka ada hak, bagi golongan, baik yang meminta maupun yang tidak meminta”. Memberikan hak orang atas kekayaan yang dimiliki adalah perbuatan baik. Pun hal ini sesuai pula dengan hadits riwayat Ibnu Umar, 612, Sabda Rasulullah Saw, berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 15 سو َل هللاِ صلى هللا عليه وسلم، ُ ن َر َّ َ ع َمَر، أ ِن ُ حديث اْب َف ُّ عَف َّ َوالت صدَقَةَ َوذَ َكَر ال َّ ِمْنبَ ِر، ْ هَو َعلَى ال ُ َو قَا َل، سْفلَى، يَِد ال ُّ ْ ر ِم ْن ال ٌ يَا َخْي ْ ُل ع ْ ُ ال يَد ْ َم ْسئَلَةَ: ال ْ َي ال يَا ِه َو ْ ُل ع ْ ُ ال يَد ْ فَال ُ سائِلَة َي ال َّ سْفلَى ِه َوال ُّ ، ُ مْنِفقَة ُ ال ----------------------- ْ Artinya: “Ibn Umar r.a. berkata: Ketika Nabi saw. khutbah di atas mimbar dan menyebut sedekah dan minta-minta, maka bersabda: Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah, tangan yang di atas itu yang memberi dan yang di bawah yang meminta. (Bukhari, Muslim). Pada hadits lain riwayat Hakiem bin Hizam (613) Rasulullah Saw. bersabda, bunyinya: ِ يِ صلى ب َّ ِن ِح َزاٍم رضي هللا عنه، َع ِن الن حديث َح ِكيِم ْب سْفلَى، ليَِد ال ُّ ْ ر ِم َن ا ٌ ليَا َخْي ْ ُ لع ْ ُ ا ليَد ْ هللا عليه وسلم، قَا َل: ا ُل، و ُ ِ َم ْن تَع ب ْ َواْبدَأ ِة َع ْن َظ ْهِر ِغنًى، صدَقَ ر ال َّ ُ َو َم ْن َو َخْي ، ُ هللاُ ه َّ ُ ِعف ُ ْغنِ ِه ْعِف ْف ي َو َم ْن يَ ْستَ ْغ ِن يَ ْستَ ي هللاُ -------------- Artinya: “ Hakiem bin Hizam r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu belanjai), dan sebaik-baik sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak minta-minta), maka Allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang teriman merasa sudah cukup, maka Allah akan membantu memberinya kekayaan. (Bukhari, Muslim). Bahwa seseorang mengeluarkan sebagian harta kekayaannya itu berarti memberikan bantuan kepada orang yang berhak menerimanya.
PESONA USAHA Jilid Pertama 16 Tetapi apa yang terjadi setelah tujuan dan harapan itu tercapai, misalnya sudah memiliki kompor gas. Sudah barang tentu dapat dipastikan bahwa ternyata seseorang belum puas dengan itu, melainkan justeru berusaha semakin keras untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, selengkapnya berbunyi: Dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سو َل هللاِ صلى هللا ُ ُت َر َّا ٍس، قَا َل: َسِم ْع ِن َعب حديث اْب ب َّ َح ِم ْل َء َواٍد َماالً ألَ َ ِن آدَم ن ِالْب َّ َ ْو أ ُل: لَ و عليه وسلم، يَقُ َرا ُّ الت َّ ِال إ َ ِن آدَم َعْي َن اْب َوالَ يَ ْمألُ ، ُ لَه ْ ْي ِه ِمث لَ ِ ُ إ ن لَه َّ ب، َ أ ُ ب هللاُ َعلَى َم ْن تَا َب ُ و ُ َويَت --------------------------- Artinya: “Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6437) Kecenderungan-kecenderungan ke arah perbanyakan harta tersebut sebenarnya juga sudah tergambar dalam al-Qur’an surah ali-Imran ayat 14, berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 17 Artinya: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuanperempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak186 dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. 1[1] Selanjutnya, bahwa pernyataan pertama atau pada awal ulasan di atas mengandung makna yaitu apabila memang benar-benar seseorang dalam keadaan miskin maka akan timbul dalam pikiran untuk melakukan segala cara agar dapat menjadi kaya raya. Lalu kerja keras, banting tulang, peras keringat, pergi subuh pulang malam demi untuk mencapai tujuannya, yaitu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekeluarga. Bahkan tidak puas sebelum tujuan utamanya tercapai, yaitu menjadi orang kaya raya. Aspek positif dari keadaan miskin sebagimana penjelasan di atas adalah bahwa keadaan miskin tersebut dapat menjadi lokomotif kereta kerja keras untuk mencapai tujuan. Jadi pada aspek-aspek tertentu, sebenarnya miskin itu adalah bukanlah suatu perkara buruk. Melainkan kondisi seseorang yang dapat dimaknai sebagai terjadinya kesenjangan yang terpaut jauh antara kemampuan finansial yang dimiliki dengan nilai atau harga barang suatu yang ingin dimiliki. Itu jika berkaitan dengan situasi ekonomi. Dan apabila berkaitan dengan pengetahuan, maka miskin dimaknai sebagai terjadinya kesenjangan yang terpaut jauh antara kemampuan pengetahuan yang dimiliki dengan nilai atau persoalan-persoalan yang harus diselesaikan dengan baik dan benar. Serta apabila berkaitan dengan iman, maka miskin dimaknai sebagai terjadinya kesenjangan yang terpaut jauh antara ajaran-ajaran agama yang dianut (terlalu sedikit) yang dilaksanakan dengan derajat nilai 1. [186]. Yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri. (Al-Qur’an dan Terjemahannya)
PESONA USAHA Jilid Pertama 18 atau keselamatan hidup yang ingin diraihnya terlampau besar. (menginginkan syurga tetapi shalatnya kadang dilaksanakan kadang tidak, ya ini namanya mimpi indah di siang bolong) Kalau demikian apa yang menyebabkan sehingga kesenjangan itu terjadi? kesenjangan itu terjadi disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: (1) dapat berupa memiliki sikap-sikap negative yang diperturutkan, seperti malas dibarengi pula dengan sikap gengsi dan enggan pula bersyukur. Akibatnya adalah potensipotensi yang dimiliki menjadi tidak berkembang sehingga menyebabkan terjadi kesenjangan ekonomi (harta). (2) Taqlid buta terhadap anggapan-anggapan yang sama sekali tidak memiliki dasar pegangan yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan ilmu. (3) Mitos terlampau banyak mendapat kepercayaan, sehingga ajaranajaran agama lupa dilaksanakan dengan baik dan benar sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan keimanan. Singkat kata, bahwa ketiga hal itulah yang menyebabkan seseorang mengalami kemiskinan dalam kehidupannya, baik yang berkaitan dengan harta, ilmu terlebih lagi dengan iman. Padahal, Sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, berbunyi, artinya kerang lebih demikian: Jika manusia telah meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: (1) Sedekah jariyah (yang tahan lama) (2) ilmu yang bermanfaat (3) anak shaleh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya. Dalam kaitan itu, Allah berfirman sebagaimana termaktub dalam AL-Qur’an Surat An-Nisa ayat 9 berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 19 Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. Sementara itu pernyataan kedua dan ketiga sebagaimana tersebut di atas saling berkaitan dan mengandung makna bahwa tidak selamanya kekayaan harta menjadi primadona dalam segala situasi. Justeru pada kondisi tertentu misalnya sakit, orang malah tidak mengingat kekayaan yang dimilikinya, bahkan yang diinginkan hanyalah bagaimana hidup sehat secara prima. Pada kondisi seperti ini sebagian diantara sekian banyak orang berprinsip tidak perlu kaya raya atau berkedudukan tinggi itu tidak terlalu penting, yang penting hanyalah hidup sehat. Apabila kondisi kesehatan dalam keadaan prima, tentu segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan hidup akan mudah dicari termasuk tidak tertutup kemungkinan bahwa kedudukan tinggi pun juga dapat diraih. Seperti kisah Nabi Yusuf Alaihissalam, yang difirmankan Allah dalam al-Qur’an surah Yusuf: ayat 54 - 56, berbunyi: Artinya: “Dan Raja berkata, bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku”. Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia (yusuf), dia (raja) berkata, sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi dilingkungan kami dan dipercaya”.
PESONA USAHA Jilid Pertama 20 Artinya: “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan”. Artinya: “Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir), untuk tinggal dimana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. Keterangan al-Qur’an pada ayat-ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Nabi Yusuf sebelum mendapatkan kedudukan yang tinggi itu, Beliau diuji oleh Allah dengan berbagai ujian, seperti dibuang ke dalam sumur, (QS,12:10), berbunyi: Artinya, “Seorang diantara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat”.
PESONA USAHA Jilid Pertama 21 Kemudian mendapat godaan dan seorang perempuan dan karenanya Nabi Yusuf dipenjara, sebagaimana (QS,12:23), berbunyi: Artinya: “Dan Perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku. “Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. “Sesungguhnya orang zalim itu tidak akan beruntung”. Dan bagaimana dengan pernyatan terakhir yang berkaitan dengan hak atas kekayaan pribadi terancam dirampas oleh orang lain meskipun keluarga sendiri? Tentu saja orang yang terancam haknya itu akan mencari segala cara dan solusi terbaik agar haknya tersebut tetap ia miliki sepenuhnya. Dan memang siapapun orangnya jika hak pribadinya terancam sudah pasti berhak bahkan tak terhitung berapa daya yang digunakannya untuk mempertahankan haknya itu. Hanya saja perlu bahkan sangat penting untuk diingat terhadap semua pernyataan-pernyatan di atas bahwa ada peringatan Allah Swt. yang disampaikan dalam al-Qur’an,102:1 dan 8, berbunyi: Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [1598] , 2[1] 2. [1598]. Maksudnya: bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan.
PESONA USAHA Jilid Pertama 22 Artinya: “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu). Terkait dengan peringatan tersebut, Rasulullah bersabda, berbunyi, artinya demikian: “Seseorang pada hari akhir nanti akan ditanya tentang empat hal: (1) usianya untuk apa dihabiskan, (2) jasmaninya untuk apa dipergunakan, (3) hartanya darimana didapatkan dan kemana dipergunakan, (4) dan ilmunya untuk apa dipergunakan”. (al-Hadits) Pada ayat yang lain, seperti QS.28:78-82 Artinya, “Dia (Karun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku”. Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosadosa mereka”. “Maka keluarlah dia (Karun) kepada kaumnya dengan kemegahannya[1139] . 3[1] Orang-orang yang menginginkan Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (S.102:1-2) turun berkenaan dengan dua qabilah Anshar. Bani Haritsah dan Bani Harts yang saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan keturunannya dengan saling bertanya: "Apakah kalian mempunyai pahlawan yang segagah dan secekatan si Anu?" Mereka menyombongkan diri pula dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang yang masih hidup. Mereka mengajak pula pergi ke kubur untuk menyombongkan kepahlawanan dari golongannya yang sudah gugur, dengan menunjukkan kuburannya. Ayat ini (S.102:1-2) turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hidup bermegah-megah sehingga terlalaikan ibadahnya kepada Allah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Buraidah.) (Sumber: al-Qur’an dan terjemahannya) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Ali pernah berkata: "Pada mulanya kami sangsi akan siksa qubur. Setelah turunnya ayat ini (S.102:1-4) hilanglah kesangsian itu." (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Ali.) 3. [1139]. Menurut mufassir: Karun ke luar dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan pengawal, hamba sahaya dan inang pengasuh untuk memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya)
PESONA USAHA Jilid Pertama 23 kehidupan dunia berkata, “mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. “Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, “Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar”. “Maka kami benamkan dia (Karun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu penolong pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri”. “Dan orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudukannya (Karun) itu berkata, “Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya pada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orangorang yang mengingkari (nikmat Allah)”. B. Alasan-alasan sehingga seseorang harus berusaha dan berinfaq 1. Alasan-alasan sehingga orang harus berusaha Banyak alasan yang dapat diungkapkan, tetapi beberapa hal yang dapat diketengahkan terutama yang terkait dengan usaha yang mengandung unsur-unsur pesona di dalamnya, antara lain:
PESONA USAHA Jilid Pertama 24 a. Karena Tuntutan Kebutuhan Hidup Bahwa manusia selagi masih hidup tentu memerlukan kebutuhan-kebutuhan dasar, seperti: sandang, pangan, papan. Untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup tersebut tentulah seseorang harus berusaha sesuai cara dan kemampuan masing-masing. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam al-Qur’an surah al-Qhashas ayat 77, selengkapnya berbunyi: Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berbuat kerusakan. Kandungan ayat tersebut, adalah bahwa mengejar kehidupan akhirat diutamakan tetapi jangan melupakan bagian dari kenikmatan dunia. Artinya bahwa ayat tersebut menganjurkan kepada kita semua agar kehidupan akhirat itu diseimbangkan dengan kenikmatan dunia. Akhirat melulu, dunia merana. Dunia melulu, di akhirat kelak mendapat siksa. Oleh karena itu berbuat baiklah dan janganlah berbuat kerusakan. Sebab yang demikian Allah sangat suka kepada orang yang berbuat baik dan akan menyiksa orang suka berbuat kerusakan.
PESONA USAHA Jilid Pertama 25 b. Karena untuk mengubah hidup menuju penghidupan yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Swt dalam al-Qur’an Surat Al-Ra’d (13) ayat 11, selengkapnya berbunyi: Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah(767) 4[1]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan(768) 5[1] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Pada galibnya, manusia dalam hidupnya diperhadapkan pada kondisi yang tidak terlepas dari diri manusia itu sendiri yaitu takdir dan nasib. Takdir merupakan ketentuan yang sudah ditetapkan Allah Swt. seperti hidup dan matinya ciptaan. Sementara nasib merupakan proses-proses kehidupan yang mesti dijalani setelah manusia ditakdirkan Tuhan untuk hidup. 4. [767]. Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya) 5. [768]. Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya)
PESONA USAHA Jilid Pertama 26 Ukuran nasib tersebut dapat berupa: kaya dan miskin, susah dan senang, pintar dan dungu, melarat dan gembira dan lain yang semisal dengan itu. Nasib merupakan uraian hidup yang terkuak sebagai takdir yang tercakup di dalamnya, antara lain: 1. Harapan dan putus asa 2. Tantangan dan kedamaian 3. Perjuangan, ujian, cobaan 4. Pilihan dan uraian Oleh karena takdir merupakan ketentuan mutlak Tuhan sementara nasib merupakan sarana bagi manusia untuk mengubah sekaligus menjalani kehidupan ini. Dan diantara sarana campur tangan Tuhan terhadap nasib manusia adalah Usaha dan Do’a. Disitulah awalnya nasib itu dapat berubah menjadi baik. dan dapat pula berubah menjadi buruk bila usaha dan do’a tidak dilakukan atau tidak dipanjatkan atau keduaduanya diabaikan. Singkat kata kita ditakdirkan untuk hidup. Dan kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah nasib kita itu, sebagaimana ayat al-Qur’an yang sudah dikemukakan. Agar nasib itu dapat dengan mudah kita jalani, maka kita patut untuk memanjatkan do’a kepada-Nya sesuai dengan apa yang kita inginkan yang dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh untuk meraih sukses, bukan berpangku tangan. c. Karena untuk pengejewantahan tugas dan tanggungjawab kehalifahan manusia di muka bumi Dua aspek penting yang harus berkembang terkait dengan alasan ini, yaitu yang pertama adalah aspek sumber daya manusia dan yang kedua adalah aspek sumber daya alam. Agar sumber daya alam dapat terkelola dengan baik, maka penting pertama kali pengembangan terhadap sumber daya manusia sejak dini.
PESONA USAHA Jilid Pertama 27 Jauh sebelumnya Al-Qur’an sudah menjelaskan secara gamblang mengenai tugas kehalifahan tersebut. Demikian pula dengan pengembangan potensi diri manusia. QS: 2:30 menjelaskan firman Allah Swt. yang terkait dengan tugas kehalifahan manusia tersebut, yaitu: Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Sementara QS:96:1 – 5 menjelaskan Firman Allah Swt tentang pengembangan potensi diri manusia yang diawali dengan cara belajar baca tulis, berbunyi: Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Artinya: Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
PESONA USAHA Jilid Pertama 28 Artinya: Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Artinya: Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589] 6[1], Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Artinya: Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya d. Karena untuk mewujudkan pengabdian diri seluruh makhluk ciptaan-Nya terutama manusia. Hal ini sesuai dengan QS adz-Dzaariyaat (56):22, berbunyi: Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 2. Alasan-alasan sehingga orang harus berinfaq Berikut ini merupakan alasan-alasan yang dapat dikemukakan sehingga seseorang harus mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah dan untuk kepentingan Agama antara lain, yaitu: 6. [1589]. Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya)
PESONA USAHA Jilid Pertama 29 a. Kerena merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Dalam al-Qur’an surah at-Taubah (9) ayat 99, berbunyi: Artinya: “Dan di antara orang-orang arab Badui itu ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang diinfaqkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya infaq itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan measukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS.9:99). b. Memperoleh ampunan dan karunia atas infaq dari hasil usaha yang baik-baik. Sebagaimana al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 267 berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 30 Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. dan 268 berbunyi: Artinya: “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia[170] 7[1]. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268) Pada al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 133, berbunyi: Artinya: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, 7. [170]. Balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan sewaktu di dunia. (Sumber alQur’an dan terjemahannya)
PESONA USAHA Jilid Pertama 31 dan dalam surat ali-Imran (3) ayat 134, berbunyi: Artinya: “(yaitu) orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. c. Membersihkan dan mensucikan harta dan jiwa Sebagaimana al-Qur’an surah al-Taubah ayat 103 berbunyi: Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan[658] 8[1] dan mensucikan[659] 9[1] mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’amu itu menumbuhkan ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. Dan pada qur’an surah al-Mujadilah ayat 12, berbunyi: 8. [658]. Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya) 9. [659]. Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).
PESONA USAHA Jilid Pertama 32 Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum (melakukan) pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih. Tetapi jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. d. Memperoleh kebaktian (yang sempurna) Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh segala yang diinginkannya. Melaksanakan seluruh ajaran agama, tetapi belum sempurnah apabila orang tersebut belum menginfaqkan sebagaian harta yang dicintainya itu di jalan Allah Swt. sebagaimana Allah berfirman dalam alQur’an, 3:92 berbunyi, Artinya: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang (sempurna), sebelum kamu menginfaqkan sebagian (harta) yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infaqkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.
PESONA USAHA Jilid Pertama 33 e. Memperoleh visi yang jauh kedepan dan tanggap terhadap segala situasi yang terjadi. Visi yang jauh ke depan dan tanggap terhadap segala situasi yang terjadi merupakan factor penyebab terhadap keberhasilan berbagai usaha yang dilakukan pada masa yang akan datang. Inilah merupakan keberuntungan yang amat-sangat berharga bagi orang-orang yang beriman. Tetapi perlu diingat bahwa keberhasilan tersebut pasti ada batas-batas waktunya, yaitu pada suatu hari dimana tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, sebelum datang hari penyesalan yaitu kematian menjemput setiap orang, maka infaqkanlah sebagian hasil usahamu yang baik-baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt yang terdapat dalam al-Qur’an, surah 14:31 sebagai berikut: Artinya: “Dan Katakanlah (Muhammad) kepada hambahamba-Ku yang telah beriman, “Hendaklah mereka melaksanakan shalat, menginfaqkan sebagian rezeki yang Kami berikan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan sebelum datang hari, ketika tidak ada lagi jual beli dan persahabatan. Dan pada al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 254 berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 34 Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat(160) 10[1]. Orangorang kafir itulah yang zalim. Dalam (QS. 63:10-11), berbunyi: Artinya: “Dan Infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang diantara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shaleh. Artinya: “Dan Allah tidak menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. f. Pembebas kemiskinan Apabila seseorang menginfaqkan atau menyedekahkan hartanya dijalan Allah dengan ikhlas dan hanya mengharapkan 10. [160]. Syafa'at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. Syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).
PESONA USAHA Jilid Pertama 35 keridhaan-Nya, maka orang tersebut akan terbebas dari kemiskinan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. yang terdapat dalam al-Qur’an Surah, al-Mujadilah (58) ayat 13, berbunyi: Artinya: “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum (melakukan) pembicaraan dengan Rasul? Tetapi jika kamu tidak melakukannya dan Allah telah memberi ampun kepadamu, maka laksanakanlah shalat, dan tunaikanlah zakat serta taatlah kepada Allah dan RasulNya! Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 261, berbunyi: Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah(166)11[1] seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat- 11. [166]. Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).
PESONA USAHA Jilid Pertama 36 gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui. Dan dalam al-Qur’an surah (34) ayat 36, berbunyi: Artinya: “Katakanlah, “Sungguh Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki) tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan dalam al-Qur’an surah (34) ayat 39, berbunyi: Artinya: “Katakanlah, “Sungguh Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infaqkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik. g. Memperoleh keridhaan dan keteguhan jiwa Setiap orang berkeinginan untuk meraih sukses dalam hidupnya. Apalagi jika kesuksesan itu diridhai oleh Allah Swt. maka demikian itulah orang yang memperoleh keuntungan besar. Kesuksesan seperti itulah kelak yang menghantarkannya menuju kehidupan yang lebih abadi dengan selamat. Dengan berinfaq, seseorang dapat memperoleh keridhaan Allah
PESONA USAHA Jilid Pertama 37 sekaligus memperteguh jiwanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 265, berbunyi: Artinya: “Dan perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai) Allah Maha Melihat Apa yang kamu kerjakan. h. Jalan dihapusnya kesalahan-kesalahan Sungguh beruntung orang yang lapang dadanya, ikhlas hatinya untuk menginfaqkan sebagian rezeki yang dianugerahkan Allah Swt. kepadanya, tidak hanya akan mendapatkan ganti dari apa yang dinfaqkan itu, melainkan juga mendapatkan penghapusan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 271, berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 38 Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu(172)12[1] maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya(173) 13[1] dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahankesalahanmu. Dan Allah Maha Teliti atas apa yang kamu kerjakan. i. Pembebas sikap boros lagi kikir Sikap boros dan kikir adalah sikap buruk dan dapat menghantarkan pelakunya menuju kekufuran. Tetapi dengan berinfaq, seseorang dapat terhindar sikap seperti itu. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Furqan (25) ayat 67, berbunyi: Artinya: “Dan (termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfaqkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, diantara keduanya secara wajar. Dan dalam Qur’an surah at-Tagabun (64) ayat 16, berbunyi: 12. [172]. Menampakkan sedekah dengan tujuan supaya dicontoh orang lain. (Sumber alQur’an dan terjemahannya). 13. [173]. Menyembunyikan sedekah itu lebih baik dari menampakkannya, karena menampakkan itu dapat menimbulkan riya pada diri si pemberi dan dapat pula menyakitkan hati orang yang diberi. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).
PESONA USAHA Jilid Pertama 39 Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infaqkanlah yang baik untuk dirimu(1480) 14[1]. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. j. Memperoleh kesempurnaan pahala, penambahan karunia dan perdagangan yang tidak akan rugi Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surah alFatir (35) ayat 29 – 30, berbunyi: Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfaqkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri(714) 15[1] 14. [1480]. Maksudnya: nafkahkanlah nafkah yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya). 15. [714]. Maksudnya: Allah mensyukuri hamba-Nya: memberi pahala terhadap amalamal hamba-Nya, mema'afkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya dan sebagainya. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).
PESONA USAHA Jilid Pertama 40 k. Pinjaman yang baik Sesuatu yang dipinjam sudah pasti dikembalikan. Jika sesoerang yang meminjam kepada orang lain, pinjaman tersebut bisa dikembalikan juga bisa dibawa kabur. Tetapi Allah meminjam. Pinjaman tersebut akan dikembalikan dalam jumlah yang berlipat ganda. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Hadid ayat 18, berbunyi: Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipat gandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia. (QS.57:18) Dan dalam al-Qur’an surah 64 ayat 17 dan 18 berbunyi: Artinya: “Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, maha Penyantun. QS: 64:17 Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS: 64:18)
PESONA USAHA Jilid Pertama 41 l. Mendapat balasan dengan infaq pula. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah Saw. bersabda, Allah swt berfirman, “Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu.” (HR Muslim) بارك هللا لى ولكم فى القران العظيم ونفعنى واياكم بما فيه من اال يات والذكرالحكيم وتقبل منى ومنكم تالوته انه هو التواب الرحيم ------ C. Sasaran Sasaran mengenai usaha tertuju kepada semua bidang usaha yang dapat digarap untuk mendatangkan hasil usaha. Bidang usaha yang dimaksud antara lain: bidang kedirgantaraan, kelautan dan usaha-usaha yang ada di darat. Cakupan bidang usaha ini sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat AlBaqarah ayat 164, selengkapnya berbunyi: Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut
PESONA USAHA Jilid Pertama 42 membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Sasaran usaha juga sudah termaktub dalam Pasal 33 UUD 1945 dan merupakan salah satu undang-undang yang mengatur tentang Pengertian Perekonomian, Pemanfaatan sumber daya alam (SDA), dan Prinsip Perekonomian Nasional, yang bunyinya sebagai berikut: 1. Ayat 1 : Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. 2. Ayat 2 : Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. 3. Ayat 3 : Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 4. Ayat 4 : Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. 5. Ayat 5 : Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Demikianlah pasal 33 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5) Undangundang Dasar 1945, yang merupakan aturan dasar pemerintah, maupun rakyatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
PESONA USAHA Jilid Pertama 43 yang mengatur berbagai hal, dari hal-hal sederhana hingga berbagai hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sedangkan sasaran untuk hasil usaha yang harus dikeluarkan atau diinfaqkan dan disampaikan tertutama kepada: 1. Non Fisik Hasil usaha yang dikeluarkan yang dalam bentuk infaq, terutama diberikan kepada: a. Kedua orang tua b. Kerabat dekat c. Anak yatim d. Orang miskin e. Ibnu Sabil 2. Fisik Dalam bentuk amal jariyah dan kebaikan apa saja yang dikerjakan, seperti: a. Membantu pembangunan masjid, mushallah, langgar b. Membantu pembangunan pendidikan islam c. Membantu pembangunan rumah sakit d. Membantu pembangunan jalanan, jembatan Sasaran tersebut di atas terdapat dalam al-Qur’an surah alBaqarah ayat 215 dan al-Qur’an surah at-Taubah ayat 60 dan Sabda Rasulullah Saw. menegaskan, berturut-turut, selengkapnya berbunyi, yaitu:
PESONA USAHA Jilid Pertama 44 Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infaqkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infaqkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalan. Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. QS. 2:215 Dan dalam al-Qur’an surah at-Taubah (9) ayat 60, berbunyi: Artinya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, mualaf (yang dilunakkan hatinya), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana(647) 16[1]. (QS. 9:60) 16. [647]. Maksudnya: Yang berhak menerima zakat ialah: 1. Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
PESONA USAHA Jilid Pertama 45 Dalam Hadits (581) Rasulullah bersabda, yaitu berbunyi: ي صلى هللا َّ ِ ب َّ َغ الن ِ ٍر، قَا َل: بَلَ ن اب َّ َ حديث َج عليه وسلم أ ُ ًما ع ْن د غالَ ُ ْعتَ َق َ ِ ِه أ ْص َحاب َ ِم ْن أ جالً ُ ، َر ُ ٍر ب ُك ْن َ َما ٌل ْمل يَ ُ لَه َمانِ ِمائَ ِة ِثَ ب ُ ، فَبَا َعه ُ َره َغْي ُ م ْر ِد ْر َهٍم، ث َّ َ أ ْي َس َل ب ِه ِثَ لَ ِ َمنِ ِه إ Artinya: “Jabir r.a. berkata: Nabi saw. mendapat berita bahwa seorang sahabatnya memerdekakan budaknya jika ia mati. padahal ia tidak mempunyai harta selain satu budak itu, maka oleh Nabi saw, budak itu dijual dengan harga delapan ratus dirham, kemudian uang itu dikirimkan kepada pemilik budak itu. (Bukhari, Muslim) Dalam riwayat Muslim: Jabir r.a. berkata: Seorang dari suku Bani Udzrah memerdekakan budak, kelak jika ia mati, maka hal itu sampai kepada Rasulullah saw. langsung ditanya: Apakah anda mempunyai kekayaan selain budak itu? Jawabnya: Tidak. Lalu Nabi saw. berkata kepada sahabat: Siapa yang suka membeli budak itu dari padaku. Maka dibeli oleh Abu Na'iem bin Abdullah Al-Adawi dengan delapan ratus 3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lainlain. 8. Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya)
PESONA USAHA Jilid Pertama 46 dirham, maka diterima budak itu, kemudian Nabi saw. bersabda kepadanya: Utamakan dirimu bersedekahlah padanya, jika ada lebih maka untuk keluargamu, jika ada lebih dari keluarga maka untuk famili kerabatmu, jika lebih dari kerabatmu maka begini dan begitu, ke kanan, ke kiri dan ke depanmu. Hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, yaitu berbunyi: ه َرْي ُ ِي ب َ ُل هللاِ سو ُ َرةَ رضي هللا عنه، قَا َل: قَال َر حديث أ َّا ِس َمى ِم َن الن سالَ ُ ، ٌ ْي ِه َصدَقَة ُك ُّل َعلَ صلى هللا عليه وسلم: ُل س؛ يَ ْعِد ُ ع فِي ِه ال َّش ْم ُ ُ ْطل ِن بَْي َن ا ُك َّل يَ ْوٍم تَ نَْي ْ َص ث ُ ِعي َوي ، ٌ ن دَقَة ُ َها ْي ُل َعلَ َّتِ ِه فَيَ ْحِم ج َل َعلَى دَاب ُ ر ال َّ َ أو يَ ْرفَ ْي ع َعلَ ُ ُ َمتَا َعه َها ٌ َو َصدَقَة ٌ َصدَقَة ُ ِبَة طي َّ ال ُ َمة َكِل ْ َوال ُك ُّل َخ ةٍ يَ لَ ْط ى َو ، ِ ُطو َها إ ْخ ط َّ ذَى َع ِن ال ُط األَ ُ ِمي َوي ، ٌ صالَةِ َصدَقَة ِر ِق ال َّ َص ي دَقَة ------ ٌ Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Katanya: Rasulullah Saw. bersabda: “Pada setiap hari terdapat sedekah di setiap sendi manusia ketika matahari terbit.” Selanjutnya Nabi bersabda: “Berbuat adil di antara dua manusia adalah sedekah, membantu seseorang naik ke atas binatang tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas belakang binatang tunggangannya adalah sedekah.”Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah dan membuang sesuatu yang berbahaya di jalan adalah sedekah.
PESONA USAHA Jilid Pertama 47 Selanjutnya, riwayat hadits Abu Hurairah, berbunyi: َرةَ رضي هللا عنه، ه َرْي ُ ِي ب َ ي صلى هللا َّ ِ ب َّ ن الن َّ َ حديث أ أ ِع ْ ح ال ُ ِ ُ ْصب َملَ َكا َن َما ِم ْن يَ ْوٍم ي َّ ِال عليه وسلم، قَا َل: بَاد فِي ِه إ َ م أ َّ ه ُ َّ ه َما: الل ُ ُ َحد َ ُل أ و ِن، فَيَقُ ِزالَ م ا ْن يَ ْع ِط ُ ُل ِفقً و ْن َخ قُ َويَ لَفًا؛ مْم ِس ًكا تَلَفًا م أ ْع ِط ُ َّ ه ُ َّ ر: الل اآل َخ ----------------------- ُ Artinya: “Setiap hari ketika umat manusia memasuki waktu pagi, pasti ada dua malaikat turun. Satu di antara keduanya akan mengucapkan: Ya Allah, karuniakanlah ganti kepada orang yang berbelanja untuk beribadah, untuk kepentingan keluarga, tetamu, bersedekah dan sebagainya. Sedangkan Malaikat yang satu lagi akan mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kerugian kepada orang yang tidak mau menginfaqkan hartanya. D. Maksud dan tujuan 1. Maksud a. Agar Ketakwaan kepada Allah tetap terpelihara dengan baik b. Agar terhindar sikap meminta-minta c. Agar terpelihara dari penyakit hati seperti: (iri, tamak, boros, kikir dll) d. Agar menjadi kaya, secara ekonomi, pengetahuan dan terutama iman e. Agar menjadi penghubung atau penghapus gap antara orang kaya dengan orang yang berpeluang menjadi kaya (miskin) f. Agar terhindar dari perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme
PESONA USAHA Jilid Pertama 48 2. Tujuan a. Mengukur kualitas keimanan umat secara pribadi b. Menumbuhkan minat untuk melaksanakan tuntunan agama Islam secara kaffah c. Mendorong umat untuk senantiasa berinfaq sebagai wujud kepedulian terhadap sesama dan kepetingan pembangunan agama Islam d. Menumbuhkan semangat berusaha untuk mencari rezeki dan karunia yang halalan tayyibah e. Menggalakkan infaq untuk melahirkan generasi berbudaya infaq f. Untuk mendapatkan jaminan keselamatan hidup dunia dan akhirat
PESONA USAHA Jilid Pertama 49 REZEKI DAN KARUNIA ALLAH SWT.TIDAK TERHITUNG Setiap manusia yang lahir ke dunia ini sudah membawa fitrah dan rezekinya masing-masing. Apabila manusia ditakdirkan untuk hidup, maka rezeki, jodoh dan ajalnya pun sudah ditetapkan. Dengan demikian, maka hidup di dunia ini janganlah dipandang sebagai sesuatu yang istimewah. Kehidupan tersebut ada masa berakhirnya. Tetapi bagi sebagian orang yang tidak mempercayai akan adanya hari kemudian, maka kehidupan dunia ini akan dianggap sebagai sesuatu yang memiliki keindahan dan tidak akan berkesudahan. BAGIAN KEDUA
PESONA USAHA Jilid Pertama 50 Hal ini sesuai dengan Firman Allah Swt, surah al-Baqarah ayat 212 yang berbunyi: Artinya: “Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka menghina orangorang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan, (QS.2:212) Selanjutnya Allah memberikan rezeki kepada siapa saja dengan catatan bahwa seseorang tidak boleh iri terhadap rezeki yang dilebihkan oleh Allah terhadap yang lain. Dan dalam surah an-Nisa’ ayat 32, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, (QS.4:32)