PESONA USAHA Jilid Pertama 101 6. Shalat sunnat Tahajjud 1. Pengertian dan tata cara shalat tahajjud Shalat sunnat tahajjud atau disebut juga shalat al-lail adalah shalat sunnat yang dilakukan pada waktu malam, selepas bangun dari tidur hingga sebelum adzan shubuh berkumandang. Perkataan tahajjud artinya meninggalkan tidur. Di dalam surah al-Isra’ (17) ayat 79, Allah berfirman, selengkapnya berbunyi, Artinya: “Dan pada sebagian malam bershalat tahajjudlah kamu, sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudahmudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. Shalat sunnat tahajjud dilaksanakan paling sedikit dua raka’at dan paling banyak tak terbatas, kemudian diakhiri dengan shalat witir. Pada setiap dua raka’at diselingi satu salam. 2. Keutamaan shalat tahajjud Shalat sunnat tahajjud ini besar keutamaannya dan banyak pahalanya. Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dari Abi Umamah radiallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata: Rasulullah Saw. bersabda yang artinya kurang lebih demikian ini: “Hendaklah kamu melakukan shalat malam. Sesungguhnya ia merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu. Ia merupakan pendekatan kepada Tuhanmu, penghapus segala kejahatan dan pencegah dari perbuatan dosa”. Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Amr Bin Anbasah r.a. bahwa beliau berkata: Rasulullah Saw.
PESONA USAHA Jilid Pertama 102 bersabda yang artinya kurang lebih demikian ini: “Masa yang paling dekat Tuhan dengan hambanya ialah pertengahan malam yang terakhir. Jika kamu mampu untuk menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengingati Allah (berdzikir kepada Allah) pada saat tersebut maka lakukanlah”. Abu Daud dan Nasai meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa beliau berkata: Rasulullah Saw. bersabda yang artinya kurang lebih demikian ini: “Allah menyayangi seorang lakilaki yang bangun tengah malam, kemudian shalat, kemudian membangunkan istrinya, maka istrinya pun shalat. Jika istrinya menolak, maka ia memercikkan air ke mukanya. Allah menyayangi seorang wanita yang bangun tengah malam, kemudian shalat, kemudian membangunkan suaminya, maka suaminya pun shalat. Jika suaminya menolak, maka ia memercikkan air ke mukanya”. 3. Niat shalat tahajjud اصلى سنة التهجد ركعتين هلل تعالى . هللا اكبر Ushalli Sunnata Tahajjud raka’ataini Lillahi Ta’ala Allahu Akbar. Artinya: Saya berniat shalat tahajjud semata-mata karena Allah Ta’ala, Allah Maha Besar. 4. Do’a shalat tahajjud Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu sgala pujian. Engkaulah Penegak seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya, Bagi-Mu segala pujian, Engkaulah Raja seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala pujian, Engkaulah cahaya seluruh langit dan bumi serta semua
PESONA USAHA Jilid Pertama 103 yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala pujian, Engkaulah Yang Maha Benar, Janji-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, firman-Mu benar, syurga itu benar, neraka itu benar, para nabi benar, Muhammad Saw. benar, dan kiamat itu benar. Ya Allah, kepad-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku bermusuh, dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah bagiku atas segala dosaku yang terdahulu dan juga yang terkemudian, yang aku sembunyikan dan juga yang aku nyatakan serta yang Engkau lebih mengetahui tentangnya dari diriku sendiri. Engkaulah yang terdahulu dan Engkau pulalah yang terakhir. Tiada Tuhan yang layak disembah selain dari-Mu dan tidak ada daya dan kekuatan selain dari-Mu”. 7. Shalat sunnat dhuha’ Niat Shalat Sunnat dhuha’ اصلى سنة الضحى ركعتين هلل تعالى. هللا اكبر Artinya: “Aku niat shalat sunnat dhuha’ dua rakaat karena Allaah Ta’aalaa. Allaahu akbar. Shalat sunnat ini memiliki keutamaan antara lain: 1. Bagi yang mengerjakan akan mendapatkan pahala yang besar. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw., yang artinya kurang lebih demikian ini: “Siapa yang shalat shubuh dengan berjamaah, lalu duduk berzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua raka’at, maka ia mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna (diulang tiga kali) (HR. Al-Tirmidzi).
PESONA USAHA Jilid Pertama 104 2. Shalat sunnat dhuha dua raka’at senilai dengan 360 shadaqah. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, yang artinya kurang lebih demikian ini: “Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, dan melarang berbuat munkar adalah shadaqah, semua itu dapat diganti dengan dua raka’at.” 3. Shalat sunnat dhuha empat raka’at membawa kecukupan sepanjang hari. Allah Assa wa jalla berfirman: “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat raka’at di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu sepanjang hari. 4. Menjaga shalat dhuha dicatat sebagai awwabin “Tidaklah menjaga shalat sunnat dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin (HR. Ibnu Khuzaimah). Keutamaan ini didapatkan karena mampu memanfaatkan waktu istimewah dengan dzikir, tilawah, dan shalat sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt. Siapa pun dapat memperoleh keutamaan tersebut selama melaksanakan syarat-syaratnya; shalat shubuh berjamaah, berada di tempat dimana ia shalat shubuh sampai terbit matahari dan diakhiri dengan dua raka’at shalat dhuha di waktu pagi pada saat itu juga. Kalau syarat-syaratnya dilaksanakan dengan benar, yaitu saat matahari sudah mulai memanas (sekitar jam 10 sampai seperempat jam sebelum matahari dipertengahan) adalah lebih
PESONA USAHA Jilid Pertama 105 baik. Itulah yang disebut shalat awwabin. Rasululla Saw. bersabda yang artinya kurang lebih demikian ini: “Shalat awwabin adalah apabila anak onta sudah merasa kepanasan di waktu dhuha”. Do’a shalat sunnat dhuha’ اللهم ان الضحاء ضحاىك والبهاء بهاىك والجمال جمالك والقوة قوتك والقدرة قدرتك والعصمة عصمتك. اللهم ان كان رذقى فى السماء فانذله وان كان فى االرض فاخرجه وان كان معسرا فيسره وان كان حراما فطهره وان كان بعيدا فقربه بحق ضحاىك وبهاىك وجمالك وقوتك وقدرتك اتنى مااتيت عبادك الصالحين ----------------------- Artinya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya dhuha’ itu adalah dhuha’-Mu, keagungan itu adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan itu adalah kekuatan-Mu, ketetapan itu adalah ketetapan-Mu, dan penjagaan itu adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku jika rezeqiku berada di langit maka turunkanlah, jika berada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sulit maka mudahkanlah, jika haram maka bersihkanlah, dan jika jauh maka dekatkanlah dengan kebenaran dhuha’-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu dan ketetapan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah kepadaku apa yang telah Engkau datangkan kepada hamba-Mu yang shaleh.
PESONA USAHA Jilid Pertama 106 C. DZIKIR DAN DO’A 1. Pengertian Saksikanlah air terjun pun bertuliskan Allah sebagai tanda pengingat dan mengingatkan bahwa Allah itu ada dimana-mana. Kata dzikir menurut bahasa artinya sama dengan ingat. Sedangkan dzikir menurut pengertian syariat islam adalah mengingat Allah Swt. Dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu kita sebagai hamba Allah, wajib untuk senantiasa mengingat kepada-Nya kapan dan dimanapun kita berada. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surah al-Ahzab (33) ayat 41, selengkapnya berbunyi, Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya”. Pengertian Do’a menurut bahasa adalah memanggil; meminta tolong; atau memohon sesuatu. Sedangkan Do’a menurut pengertian syariat adalah memohon sesuatu atau memohon perlindungan kepada Allah Swt. dengan merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya. Do’a merupakan bagian dari pada ibadah, oleh kerena itu lakukan setiap waktu dan di setiap tempat, karena Allah Swt. semata. Allah Swt memerintahkan hambaSumber Gambar: Google
PESONA USAHA Jilid Pertama 107 Nya agar selalu berdo’a kepada-Nya sebagaimana firman-Nya pada surah al-Mukmin (40) ayat 60, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orangorang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] 26[1] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. 2. Tatacara berdzikir dan berdo’a a. Cara melakukan dzikir Saksikanlah buahpun bertuliskan Allah sebagai tanda mengingat dan mengingatkan bahwa Allah itu ada dimanamana. Dzikir dapat dilakukan, sambil berdiri, duduk dan berbaring atau dalam keadaan bagaimanapun, asal tidak sedang di WC atau di tempat lain yang tidak sesuai dengan kesucian Allah Swt. dalam kaitan ini, Allah Swt. berfirman dalam alQur’an surah Ali-Imran (03) ayat 191, selengkapnya berbunyi: 26. [1326]. Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya). Sumber Gambar: Google
PESONA USAHA Jilid Pertama 108 Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”. Dzikir yang ganjarannya seperti membebaskan empat orang budak sebagaimana hadits Rasulullah Saw., yang artinya kurang lebih demikian ini: “Barang siapa yang membaca (artinya): “Tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Dia-lah yang memiliki kekuasaan dan pujian, dan Dia di atas segala sesuatu Maha Kuasa, dibaca sebanyak 10 kali, maka bagi yang membacanya akan beroleh ganjaran seperti membebaskan empat orang budak dari anak-anak cucu Nabi Ismail. (HR. Bukhari dan Muslim) Saksikanlah ranting pohonpun bertuliskan Allah sebagai tanda mengingat dan mengingatkan bahwa Allah itu ada dimana-mana. Dzikir yang dicintai oleh Allah Swt. yaitu: “Bacaan (dzikir) yang paling dicintai oleh Allah ada empat macam, yang tidak akan membahayakan dirimu dari mana Sumber Gambar: Google
PESONA USAHA Jilid Pertama 109 saja engkau akan memulainya yaitu (artinya): Maha Suci Allah, Segala Puji Bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha Besar. (HR. Muslim). Intinya bahwa kita umat Nabi Muhammad Saw. dianjurkan untuk senantiasa mengingat Allah Swt. dalam segala waktu, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw., berbunyi: “Dari Aisyah ra. Mengatakan: “Adalah Rasulullah Saw. mengingat Allah pada segala waktunya”. (HR. Muslim). b. Cara melakukan do’a Kita sering mengalami kesulitan dalam kehidupan ini. Kesulitan itu terkadang datang secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka sebelumnya. Pada waktu itulah kita perlu memanjatkan do’a kepada Allah Swt. memohon pertolongan agar kesulitan yang dihadapi dapat dipermudah oleh Allah Swt. Tetapi do’a tidak hanya dipanjatkan ketika menghadapi kesulitan, dalam keadaan gembira pun kita harus berdo’a, kiranya Allah Swt. selalu memberikan pertolongan dan perlindungan kepada kita. Saksikanlah, daging pun bertuliskan Allah sebagai tanda mengingat dan mengingatkan bahwa Allah itu ada dimana-mana. Do’a yang dipanjatkan tersebut hendaknya dimulai dengan basmalah, karena melakukan suatu perbuatan yang baik hendak dimulai dengan basmalah. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw. yang berbunyi: “Dari Fadhalah Bin Ubaidillah ia berkata: Rasulullah Saw. telah Sumber Gambar: Google
PESONA USAHA Jilid Pertama 110 bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu berdo’a hendaklah memulainya dengan memuji kepada Allah dan berterima kasih kepada-Nya, kemudian membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian berdo’a sesuai dengan keinginannya. Berdo’a hendaknya disertai dengan hati yang khusyu’ dan meyakini bahwa do’a itu pasti dikabulkan oleh Allah Swt. hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw., berbunyi: “Dari Abu Hurairah, Ia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda: “Berdo’alah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu meyakini do’a itu akan dikabulkan oleh-Nya. Ketahuilah bahwa Allah Swt. tidak akan memperkenankan do’a dari hati orang yang lalai dan lengah”. (HR. At-Turmuzi). Saksikanlah ikan pun bertuliskan Allah. Menunjukkan bahwa Allah ada di mana-mana. Berdo’a dengan suara yang lemah dan (lembut tidak perlu suara yang keras), karena sesungguhnya Allah Swt. itu sangat dekat dengan kita semua. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam al-Qur’an surah al-Baqarah (02) ayat 186, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku. Dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”. Sumber Gambar: Google
PESONA USAHA Jilid Pertama 111 3. Waktu-waktu yang lebih baik untuk berdo’a Ada beberapa waktu yang lebih utama untuk berdo’a karena kemungkinan dikabulkannya sangat besar. Waktu-waktu itu antara lain: a. Waktu tengah malam atau waktu sepertiga malam yang terakhir, dan waktu shalat lima waktu. Hal ini sesuai hadits yang artinya: “Dari Abu Umamah r.a. ia berkata: Rasulullah Saw. ditanya oleh sahabat tentang do’a yang lebih di dengar oleh Allah Swt. Rasulullah Saw. menjawab, yaitu pada waktu tengah malam yang akhir dan sesudah shalat fardhu”. b. Pada hari Jum’at. Hal ini sesuai dengan Hadits, artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwasanya ketika Rasulullah Saw. membicarakan hari Jum’at beliau bersabda: “Pada hari itu ada suatu saat apabila ada seseorang muslim yang sedang shalat bertepatan dengan saat itu kemudian ia memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah mengabulkan permohonannya. (Beliau berisyarat dengan tangannya menunjukkan bahwa saat itu sangat sebentar) (HR. Bukhari dan Muslim) c. Waktu antara adzan dan iqamat. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw., berbunyi: “Dari Anas Bin Malik ia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda: “Do’a di antara adzan dan iqamat tidak ditolak. (HR. Ahmad, Abu Daud dan AtTurmudzi) d. Waktu seseorang sedang berpuasa. Hal ini sesuai dengan hadits Saw., berbunyi: “Ada tiga golongan yang tidak tertolak do’anya, yaitu: orang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka, penguasa yang adil dan orang yang teraniaya. (HR. At-Turmudzi)
PESONA USAHA Jilid Pertama 112 e. Ketika seseorang melakukan sujud dalam shalat. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw, berbunyi: “Hubungan paling dekat antara hamba (manusia) dengan Tuhannya yaitu ketika seseorang bersujud, maka perbanyaklah do’anya (HR. Muslim) D.Menghidupkan Nilai-nilai yang dianjurkan 1. Sabar Sabar adalah salah satu bentuk sikap yang diajarkan dalam Islam. Sabar bermakna bersikap tenang, baik pikiran maupun perasaan. Ketenangan hati dalam menghadapi ujian, cobaan bahkan musibah besar sekalipun yang menimpa kita tetap dianjurkan untuk bersabar. Hal ini sesuai dengan QS, 2:156, berbunyi: Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Wujud sikap sabar, sebenarnya dapat menjadi sarana yang ampuh dalam rangka memohon pertolongan terkait dengan persoalan-persoalan yang dihadapi. Tetapi sabar yang dimaksudkan disini ialah sabar yang dibarengi dengan pelaksanaan shalat secara konsisten, baik shalat wajib maupun sunnat. Hal ini sesuai dengan QS.2:153, berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 113 Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. Dalam Qs. al-Mudatstsir (74) ayat 7, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan karena Tuhanmu, bersabarlah. Demikian juga Qs. an-Nahl (16) ayat 127, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. 2. Amanah Amanah dalam Islam merupakan sifat yang sangat didorong untuk dilakukan oleh setiap umatnya. Amanah ini bermakna pesan atau perintah yang harus disampaikan oleh seseorang kepada orang yang berhak menerimanya. Hal ini sudah ditegaskan dalam Qs. an-Nisa (4) ayat 58, selengakpnya berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 114 Artinya: “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Dalam kehidupan modern saat sekarang sikap amanah ini sangat dibutuhkan, misalnya dalam hal bendahara pada suatu institusi. Hal tersebut sesuai dengan hadits 602 riwayat Abu Musa, Rasulullah Saw bersabda: ِز ُن َخا ْ ِ يِ صلى هللا عليه وسلم، قَا َل: ال ب َّ ِي ُمو َسى، َع ِن الن ب َ حديث أ ًرا، َّ ُمَوف ِ ِه َكاِمالً ِمَر ب ُ َما قَا َل: يُ ْع ِطي َما أ َّ َو ُرب ، ِذي يُْنِفذُ َّ ِمي ُن ال ُم األَ ُم ْسِل ْ ال َ ِ ِه أ ِمَر لَهُ ب ُ ِذي أ َّ لَى ال ِ ْف ُسهُ، فَيَدْفَعُهُ إ ِ ِه نَ ِبًا ب ِن َطي ْي َصِد قَ ُمتَ َحدُ ال --------- ْ ---------------- Artinya: “Abu Musa r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Bendahara muslim yang amanat yang melaksanakan (memberikan) apa yang diperintahkan padanya dengan sempurna dan senang hati, lalu diserahkan kepada yang diperintahkan, termasuk salah seorang yang bersedekah. (Bukhari, Muslim). Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah
PESONA USAHA Jilid Pertama 115 Nabi Muhammad Saw. dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Apa pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah orang senang berbohong. Artinya: “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” Al A’raaf (07) ayat 68. Mustahil Nabi itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah. Ketika Nabi Muhammad Saw. ditawari kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy agar beliau meninggalkan tugas keilahiyahnya tersebut dalam rangka menyiarkan agama Islam, beliau menjawab: ”Demi Allah…wahai paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suci ku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur karena-Nya”…… Meski kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Nabi Saw., namun Beliau tidak gentar dan tetap menjalankan amanah yang disampaikan kepadanya. Seorang Muslim harusnya bersikap amanah sama seperti yang sudah dicontohkan Nabi Muhammad Saw. 3. Istiqamah Sifat Istiqamah membawa maksud tetap atau berpendirian teguh atas kebenaran. Secara umum, diartikan sebagai
PESONA USAHA Jilid Pertama 116 berpegang pada akidah Islam dan melaksanakan syariat dengan teguh, tidak berubah atau berpaling walau bagaimana pun keadaannya. Sifat yang mulia ini menjadi tuntutan Islam seperti yang diperintahkan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya dalam Surah Fussilat (41) Ayat 6, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa; karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah orang-orang yang mempersekutukan-(Nya)”. Istiqamah merupakan daya kekuatan yang diperlukan sepanjang hidup manusia dalam melaksanakan tuntunan Islam, mulai dari hati, lisan dan anggota tubuh atau badan. Yang jelas, segala amalan yang dapat dirumuskan dalam pengertian ibadah fardu ain atau fardu kifayah memerlukan istiqamah. Istiqamah merupakan perbuatan dan amalan yang berkenaan dengan ketekunan dalam bekerja untuk melakukan apa saja yang baik yang diridhai Allah Swt. Seperti: sikap dedikasi, rajin, tidak mudah putus asa, senantiasa menegakkan kebenaran dalam perbuatan keseharian. Perjuangan dalam hidup manusia amat luas dan berbedabeda. Perjuangan yang suci diridhai Allah tidak terlepas daripada ajaran islam terutama yang terkait dengan perjuangan menegakkan Islam bagi diri, keluarga dan masyarakat. Ajaran Islam hanya dapat terlaksana dengan semangat jihad yang tinggi, beristiqamah, bersabar dan tidak berputus asa. Firman
PESONA USAHA Jilid Pertama 117 Allah Taala di dalam Surah Yusuf Ayat (12): 87 selengkapnya berbunyi: Artinya “Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir.”. Istiqamah bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan oleh seseorang, tidak banyak orang yang mampu melaksanakan istiqamah ini dalam kehidupan sehari-hari. Ia memerlukan keimanan dan ketakwaan yang teguh kepada Allah Swt. Apabila kita diberikan kekuatan melakukan sesuatu kebaikan keimanan dan ketakwaan akan memberikan kita kekuatan dan motivasi untuk melaksanakannya secara konsisten. Walaupun adakalanya amalan tersebut nampak kecil, tetapi kebaikan yang dilaksanakan secara istiqamah itu akan memberikan dampak yang baik kepada pelakunya secara terus-menerus. Dari Aisyah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai manusia lakukanlah amalan mengikut kesanggupan kamu. Sesungguhnya Allah tidak jemu sehingga kamu jemu. Amalan yang paling Allah sukai ialah amalan yang tetap walaupun sedikit.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) Terdapat tiga syarat dalam Istiqamah. Yang pertama adalah Niat. Niat adalah dimasukkan ke dalam hati untuk beristiqamah. Teguhkan dan ajarkan hati untuk berniat melakukan perkara-perkara baik setiap hari. Ini karena setiap amalan itu bermula dengan niat dan kita akan diberi ganjaran bersadarkan niat kita. Selain meniatkan hati untuk membuat amalan baik maka berniat juga untuk beristiqamah.
PESONA USAHA Jilid Pertama 118 Mudahkanlah hati dan fikiran untuk berniat membuat kebaikan dalam kehidupan dan memberi manfaat kepada diri dan orang lain terutama pasangan dan keluarga. Syarat kedua adalah menentukan pilihan atas apa yang ingin dilakukan. dahulukanlah perkara-perkara yang ‘utama’ dalam membuat amalan. Elakkanlah memilih hal-hal yang ringanringan saja, tetapi pilihlah yang paling utama. Tidak ada manusia yang terlalu sibuk untuk sesuatu, ia adalah satu pilihan seseorang dalam memberi keutamaan terhadap apa yang dilakukannya. Oleh karena itu tentukanlah keutamaan dalam hidup kita dan ini akan menghasilkan istiqamah dalam amalanamalan. Kemudian syarat yang ketiga adalah memperbanyak Doa. Doa itu senjata bagi orang-orang beriman, ia adalah permohonan atau pengucapan seorang hamba dilakukan secara langsung dengan Allah Swt. dan setiap rintihan yang dimohon didengar oleh Allah Swt. Allah Swt. tidak suka kepada hambaNya yang tidak pernah memanjatkan doa. Ini jelas berdasarkan firmanNya “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orangorang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. Surah AlMu’min Ayat 60. Justeru dalam usaha beristiqamah melakukan ibadah dan kebaikan, mintalah bantuan dari Allah agar diberi kekuatan dan kesabaran. Setelah berusaha menunaikan syarat-syarat beristiqamah, kemudian setelah itu, terdapat beberapa perkara yang bisa membantu seseorang untuk memudahkan amalan yang istiqamah. Perkara yang pertama adalah memiliki sahabat baik. Sahabat yang baik adalah seseorang yang mengajak kepada kebaikan. Ibn Asakir menceritakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Jauhilah kawan yang buruk (akhlak dan perangainya), kamu akan dikenali sepertinya.” Sabda Baginda
PESONA USAHA Jilid Pertama 119 lagi : “Seseorang itu berada atas cara hidup kawannya, maka perhatikanlah tiap seorang daripada kamu, siapakah yang didampinginya.” (Hadis riwayat aTirmizi dan Abu Dawud). 4. Syukur nikmat Banyak cara untuk melakukan dan membuktikan bahwa kita itu pandai mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya. Tetapi yang paling utama kita laksanakan adalah sujud syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada kita hamba-hamba-Nya. Qs. ad-Dhuha (93) ayat 11, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). Demikian pula pada al-Qur’an surat Lukman ayat 12, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan sungguh, Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji”. Sujud merupakan salah satu bakti bagi seorang hamba untuk tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah Swt. sekaligus
PESONA USAHA Jilid Pertama 120 mengaku diri sebagai makhluk yang paling lemah dan tidak berdaya. Dalam melaksanakan shalat, wajib atau sunnat, sujud merupakan bagian dari rukun shalat yang harus dilaksanakan. Syukur dalam arti berterima kasih apabila disampaikan kepada manusia biasanya lebih cenderung menunjukkan perasaan senang dan menghargai sesama. Berkaitan dengan itu, Rasulullah Saw. bersabda: “Dari Abdurrahman bin Auf, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, ”Aku bertemu dengan Jibril Alaihis-salaam, lalu ia memberikan kabar gembira kepadaku dengan berkata: “Sesungguhnya Rabbmu telah berfirman: “Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadamu, maka Aku akan mengucapkan shalat kepadanya. Barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu, maka Aku akan mengucapkan salam kepadanya”. Mendengar hal itu, aku pun bersujud kepada Allah sebagai tanda bersyukur kepadaNya”. (HR. Baihaki dan Hakim). Sementara bersyukur kepada Allah Swt. lebih cenderung kepada pengakuan bahwa semua kenikmatan adalah pemberian Allah Swt. saja. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka azab-Ku pasti amat berat. Hal itu sesuai dengan firman Allah yang terdapat dalam al-Qur’an surat Ibrahim (14) ayat 7, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan
PESONA USAHA Jilid Pertama 121 menambah (nikamat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikamat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. Demikian pula perintah bersyukur tersebut juga terdapat dalam al-Qur’an pada surat al-Baqarah (2) ayat 153, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkari nikmat-Ku. Laksanakanlah sujud syukur dengan niat yang baik dan benar: “Aku berniat bersujud atas nikmat yang diberikan kepadaku karena Allah semata. Kemudian sujud tanda syukur, lalu disertai do’a: “Wajahku bersujud kepada penciptanya, yang membentuknya, yang membentuk pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya. Maha suci Allah sebaik-baik pencipta”. (HR. Tirmidzi) Adapun hal-hal yang menyebabkan seseorang melakukan sujud syukur adalah: a. Karena ia mendapat nikmat dan karunia dari Allah Swt. b. Mendapatkan berita yang menyenangkan c. Terhindar dari bahaya (musibah) yang akan menimpanya Dalam praktek kehidupan sehari-hari, ada beberapa hal yang menybabkan Rasulullah Saw. dan pada sahabat beliau sehingga melaksanakan sujud syukur, yaitu:
PESONA USAHA Jilid Pertama 122 a. Ketika Nabi Saw. mendapat surat dari Ali Bin Abi Thalib yang isinya kabar gembira bahwa suku Hamzah masuk Islam b. Ketika Malaikat Jibril memberi kabar gembira kepada Nabi Muhammad Saw. bahwa orang yang selalu bershalawat kepada beliau akan diberi rahmat dan keselamatan c. Ketika mendengar kematian Musailamah Al-Kadzdzaab (nabi palsu), Abu Bakar As-Shiddiq ra. melakukan sujud syukur d. Ka’ab bin Abdul Malik ra. melaksanakan sujud syukur ketika mendengar bahwa tobatnya diterima oleh Allah Swt. Manfaat syukur nikmat, antara lain: a. Menjadikan manusia selalu ingat kepada Allah Swt. Karena nikmat, kurnia dan anugerah hanya datang dari-Nya. b. Terhindar dari sikap sombong, serakah karena apa yang diraihnya berasal dari Allah Swt. c. Akan menambah nikmat dari Allah Swt., karena orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya d. Di akhirat kelak akan disediakan tempat istimewah bagi manusia yang pandai bersyukur. 5. Ikhlas Allah Swt. akan senantiasa menolong kaum muslimin karena keikhlasan sebagian orang dari umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
PESONA USAHA Jilid Pertama 123 Artinya: “Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena do’a orang miskin tersebut, karena shalat mereka dan karena keikhlasan mereka dalam beramal.” Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai pula dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka. Ibnu Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.” Perintah untuk Ikhlas Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, َما ِل َّ ِن َوإ َّا ِت، ِي ِالن ْع َما ُل ب َما األَ َّ ِ إن ُك ل ا َو ْمِر ٍئ َم ى ا نَ Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.” Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, ُ الِد ِصي َن لَه م ْخِل وا ََّّللاَ ُ ُ د ُ ِال ِليَ ْعب روا إ ُ ِم ُ َو َم َء ا أ حنَفَا ي َن ُ َمِة ِ قَي ْ ن ال ُ ِل َك ِدي َوذَ ز َكاةَ وا ال َّ ُ ُ ْؤت َوي صالةَ موا ال َّ ُ ُِقي َوي ---- Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)
PESONA USAHA Jilid Pertama 124 Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati hamba. Allah Ta’ala berfirman, ْب ُ ْو ت َ ُكْم أ و ِر ُ صد ُ َما فِي وا ُ ْخفُ ْن ت ِ ُ ََّّللاُ ْمه يَ ْعلَ ُ وه ُ قُ ْل إ د Artinya: “Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”.” (QS. Ali Imran: 29) Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ yang merupakan lawan dari ikhlas dalam firman-Nya, َك ُ ن َع َمل َط َّ يَ ْحبَ ْش َر ْك َت لَ َ ئِ ْن أ لَ Artinya: “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az Zumar: 65) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ْغنَى ال ُّش َر َكا ِء َ نَا أ َ َر َك َوتَعَالَى أ ََّّللا ْن ُ تَبَا َع ِن ال شِ ْر ِك َم ُ َو ِش ْر َكه ُ ه ُ َر ْكت ِرى تَ ْش َر َك فِي ِه َمِعى َغْي َ َعِم َل َع َمالً -- أ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan perbuatan syiriknya.” An Nawawi mengatakan, bahwa “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
PESONA USAHA Jilid Pertama 125 ُ مه ُ َّ ل َّل الَ يَتَعَ ز َو َج َّ ُ ََّّللاِ َع َو ْجه ِ ِه ُْبتَغَى ب ما ي َّ ًما ِم ْ ِعل َ م َّ ل َم ْن تَعَ َج ْ ْم يَ ِج ْد َع ْر َف ال ُّْنيَا لَ ِ ِه َع َر ًضا ِم َن الد ُ ِصي َب ب ِلي َّ ِال إ َ ِة يَ ْوم َّ ن َمِة ِقيَا ال -------------------------------------------- ْ Artinya: “Barangsiapa yang menutut ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan materi duniawi, maka ia tidak akan pernah mencium bau surga pada hari kiamat nanti.” Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya sama. Berikut perkataan ulamaulama tersebut. Abul Qasim Al Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.” Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zhahir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya’. Riya’ adalah amalan zhahir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimal sama antara lahiriyah dan batin. Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas: 1. Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain. 2. Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
PESONA USAHA Jilid Pertama 126 3. Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia). Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.” Ada empat definisi ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas. a. Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah. b. Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal. c. Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi. d. Mengharap balasan dari amalannya di akhirat. 6. Dermawan atau murah hati atau berani berkorban Dalam ajaran agama Islam, kedermawanan merupakan salah satu kunci kebaikan dan mulianya agama. “Sesungguhnya inilah agama (islam) yang aku ridhai untuk diri-Ku. Dan tidak akan memperbaiki agama ini kecuali dengan kedermawanan dan akhlak yang baik, karena itu muliakan agama ini dengan kedua hal itu” (HR. Thabrani). R. Thabrani) Kedermawanan adalah akhlak terpuji lagi mulia. Ia merupakan himpunan dari kebaikan, kemurahan, kekayaan jiwa, dan keutamaan. Orang yang dermawan adalah orang yang senantiasa mencurahkan kebaikan kepada siapa pun yang membutuhkan uluran tangannya, tidak membedakan suku, ras maupun agama, baik di minta maupun tidak. Orang yang dermawan juga adalah orang yang ikhlas dalam berderma, tidak ada niat untuk mencari sesuatu ataupun mendapatkan sesuatu, bahkan tidak berharap mendapatkan
PESONA USAHA Jilid Pertama 127 ucapan terima kasih sekalipun dari orang yang ditolongnya. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya mengharap pahala dan keridhaan Allah Swt. Allah Swt. berfirman, Artinya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, Artinya: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (QS.Al-Insan: 8-9) Al-Hasan RA. pernah ditanya, "Siapakah orang yang dermawan itu?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang seandainya dunia di tangannya maka ia akan menafkahkannya, kemudian setelah itu ia tidak melihat adanya hak baginya pada dunia itu." Hal ini terjadi karena kebaikan, kemurahan hati, dan keutamaan yang menghiasi dirinya yang bersumber dari keimanan yang benar dan niat yang ikhlas dalam beramal, sehingga jiwanya bersih dan hatinya bersinar. Dengan jiwanya yang bersih dan sinar hatinya tersebut menyebabkan kekikiran lenyap dan yang muncul kepermukaan adalah kasih sayang, kemurahan hati, dan kedermawanan.
PESONA USAHA Jilid Pertama 128 Dengan kebaikan, kemurahan hati, dan keimanan, serta keikhlasannya, orang yang dermawan memiliki keutamaan dan berbagai macam kebaikan yang didapatkannya, di antaranya, Pertama, menjadi orang yang dicintai oleh Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah itu dermawan yang menyukai kedermawanan, menyukai akhlak-akhlak mulia, dan membenci akhlak yang buruk”. (Mutafaqun ‘alaih). Dalam hadits lain Rasulullah Saw. bersabda: “Allah tidak menarik Maha Rahim-Nya kecuali atas kedermawanan dan akhlak yang baik (HR. Ibnu Hiban) Kedua, dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan jauh dari Neraka. Dalam riwayat Abu Hurairah r.a. Nabi Saw. bersabda: “Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari syurga”. Ketiga, akan mengantarkannya masuk syurga. Rasulullah Saw. bersabda: “Kedermawanan adalah pohon yang kokoh di syurga, tidak akan masuk syurga kecuali orang yang dermawan. Kebakhilan adalah pohon neraka. Tidak akan masuk neraka, kecuali karena kebakhilan”. Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Syurga adalah kampung orang dermawan”. Keempat, akan memberikan pahala dan mengganti harta yang ia dermakan dengan yang lebih baik dan lebih banyak. Allah Swt. berfirman:
PESONA USAHA Jilid Pertama 129 Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orangorang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 261) Pada ayat lain, Artinya: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. AlBaqarah: 272) Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Azza wa Jalla, berfirman, “berinfaklah engkau, niscaya aku berinfaq kepadamu”. (Muttafakun ‘Alaih). Kelima, menjadikan sehat lahir dan bathin. Rasulullah Saw. bersabda: “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah”. (HR. Bukhari)
PESONA USAHA Jilid Pertama 130 Keenam, Allah Swt. akan menutupi aib-aibnya. Dalam kitab Diwan, Asy-Syafi’I halaman 16, Imam Syafi’I berkata, “Engkau tutupi dengan kedermawanan, karena setiap aib dapat ditutupi”. Rasulullah Saw. adalah orang yang paling dermawan terlebih pada bulan ramadhan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya, Al-Manaqib, (23,4/165-166, Nabi Saw. adalah manusia yang paling dermawan, kedermawanan belaiu lebih-lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril. Jibril as. Biasa menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengajarkanAl-Qur’an. Sungguh Rasulullah Saw. lebih dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus. ُل هللاِ صلى هللا عليه سو ُ َّا ٍس، قَا َل: َكا َن َر ِن َعب حديث اْب ن فِي َر َم َضا َن، ُ َما يَكو ُ ْجَود َ َو َكا َن أ َّا ِس، ْجَودَ الن َ وسلم، أ ٍة ِم ْن َر َم َضا َن، ْيلَ ُك لِ لَ ُ فِي قَاه ْ ُل َو َكا َن يَل ِري ُ ِجْب قَاه ْ ِحي َن يَل ِر ُ دَا د ُ ْجَو فَي َ ُل هللاِ صلى هللا عليه وسلم أ سو ُ َر ْرآ َن فَلَ ُ القُ سه ُ ِة مْر َسلَ ُ ْ ال ِ ِر ِم َن ال رِ يح َخْي ْ ب -------------- ِال Artinya: 1490. Ibnu Abbas r.a. berkata: Adanya Nabi saw. sangat dermawan, dan lebih dari itu di bulan Ramadhan ketika lebih sering berjumpa dengan Jibril a. s. dan pada bulan Ramadhan tiap malam bertemu dengan Jibril untuk tadarus Alqur an sungguh Nabi saw. sangat murah, dermawan terhadap amal kebaikan, lebih lancar dari angin yang terlepas. (Bukhari, Muslim).
PESONA USAHA Jilid Pertama 131 Untuk itu, sebagai hamba Allah Swt. dan umat Rasulullah Saw., mari kita berusaha menanamkan dan menumbuhkan sifat kedermawanan pada diri masing-masing. Dengan cara melatih dan membiasakan diri sendiri untuk mendermakan apa yang bisa dan kita miliki kepada siapa pun yang membutuhkan uluran tangan. Pasalnya, akhlak itu dapat melekat dan menghiasi diri seseorang melalui dengan latihan dan pembiasaan diri. Kita jadikan momentum ini sebagai sarana pendidikan kedermawanan dan sarana untuk meneladani kedermawanan Rasulullah Saw. 7. Jujur Islam Mengajarkan Sifat Jujur Dalam beberapa ayat, Allah Swt. telah memerintahkan untuk berlaku jujur. Di antaranya pada firman Allah Swt. selengkapnya berbunyi: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS. At Taubah: 119). Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman, Artinya: “Ta'at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar
PESONA USAHA Jilid Pertama 132 (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. Qs. Muhammad (47) ayat 21. Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga menjelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta. Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Muslim). Begitu pula dalam hadits dari Al Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, hasan shahih). Jujur adalah suatu kebaikan sedangkan dusta (menipu) adalah suatu kejelekan. Yang namanya kebaikan pasti selalu mendatangkan ketenangan, sebaliknya kejelekan selalu membawa kegelisahan dalam jiwa. Penekanan Sifat Jujur bagi Pelaku Usaha Terkhusus lagi, terdapat perintah khusus untuk berlaku jujur bagi para pelaku usaha karena memang kebiasaan sementara kalangan adalah melakukan penipuan dan menempuh segala cara demi melariskan barang dagangan.
PESONA USAHA Jilid Pertama 133 Dari Rifa’ah, ia mengatakan bahwa ia pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tanah lapang dan melihat manusia sedang melakukan transaksi jual beli. Beliau lalu menyeru, “Wahai para pedagang!” Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menengadahkan leher dan pandangan mereka kepada beliau. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ِقيَا ْ ال َ و َن يَ ْوم ُ ُْبعَث َر ي جا َّ ُّ ن الت َّ َم إ ِة ِ را جا ً َّ ِ فُ إ َّ ََّّللاَ َم ِن ات قَى َّ ال ر َو َصدَ َق َوبَ َّ ----------------------------------- Artinya: “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih dilihat dari jalur lain). Contoh bentuk penipuan yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim). 27[2] 27. (2 : Hadits) Maksudnya: Jika dikatakan tidak termasuk golongan kami, maka itu menunjukkan perbuatan tersebut termasuk dosa besar. (sumber shahih bukhari Muslim dalam ‘Allu’lu wal Marjan).
PESONA USAHA Jilid Pertama 134 Demikian pula pada hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ر َو َم ْكُ ْ َوال َّا، َس ِمن ْي َّشنَا فَلَ َم ْن َغ ْ ع فِي ا ِر ال ِخدَا ُ َّا لن Artinya: “Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban, shahih). Lebih-lebih sifat jujur ini ditekankan pada pelaku bisnis online karena tidak bertemunya penjual dan pembeli secara langsung. Si penjual kadang mengobral janji, ketika dana telah ditransfer pada rekening penjual, barang pun tak kunjung datang ke pembeli. Begitu pula sebagian penjual kadang mengelabui pembeli dengan gambar, audio dan tulisan yang tidak sesuai kenyataan dan hanya ingin menarik pelanggan. Jujur Dapat Menuai Berkah Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu” (Muttafaqun ‘alaih). ُل هللاِ و ُ ِن ِح َزاٍم رضي هللا عنه، قَا َل: قَا َل َرس حديث َح ِكيِم ْب ْو قَا َل: َ رقَا أ َّ ْم يَتَفَ ِر َما لَ ل ِخيَا ْ ِا ِن ب عَا ِ لبَي ْ صلى هللا عليه وسلم: ا ْن َكتَ ِ َوإ هَما فِي بَ ْي ِعِهَما، ُ و ِر َك لَ ُ َّنَا ب َوبَي ْن َصدَقَا ِ رقَا، فَإ َّ ى يَتَفَ َّ َحت َما بَ ْي ِعِهَما ُ مِحقَ ْت بَ َر َكة َو َكذَبَا ُ ---------
PESONA USAHA Jilid Pertama 135 Artinya: 980. Hakiem bin Hizaam r.a. berkata: Nabi Saw. bersabda: Penjual dan pembeli keduanya bebas selama belum berpisah atau sehingga berpisah keduanya, maka jika keduanya benar jujur dan menerangkan maka berkat jual beli keduanya dan bila menyembunyikan dan dusta dihapus berkat jual beli keduanya. (Bukhari, Muslim). Di antara keberkahan sikap jujur ini akan memudahkan kita mendapatkan berbagai jalan keluar dan kelapangan. Coba perhatikan baik-baik perkataan Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan surat At Taubah ayat 119. Beliau mengatakan, “Berlaku jujurlah dan terus berpeganglah dengan sikap jujur. Bersungguh-sungguhlah kalian menjadi orang yang jujur. Jauhilah perilaku dusta yang dapat mengantarkan pada kebinasaan. Moga-moga kalian mendapati kelapangan dan jalan keluar atas perilaku jujur tersebut.” 28[3] E. Meninggalkan nilai-nilai yang dilarang 1. Mengumpat dan mencela Konsep dasarnya terdapat dalam al-Qur’an surat al-Humaza (104) ayat 1-9, selengkapnya berbunyi: 28. (3: Tafsir) Sumber bahan berasal dari Tafsir Ibnu Katsir..
PESONA USAHA Jilid Pertama 136 Artinya: “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencelah” (1). 29[1] “yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya” (2). Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya” (3). Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) hutama” (4). “Dan tahukah kamu apakah (neraka) Hutama itu (5)?. “(yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan” (6). “yang (membakar) sampai ke hati” (7). “Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka” (8). (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang” (9). Ketahuilah bahawa batas mengumpat (ghibah) itu, ialah apabila anda menyebut sesuatu yang bisa menimbulkan kebencian atau kemarahan seseorang, bila ia mendengarnya, terhadap apa yang disebutkan oleh anda sebagai kekurangan-kekurangan pada anggota badannya, atau keturunannya, atau bentuk kejadiannya, atau perbuatannya, atau perkataannya, atau agamanya, atau dunianya ataupun pada pakaiannya, rumahnya dan binatang kenderaannya sekalipun. 29. ()Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Utsman dan Ibnu Umar berkata: "Masih segar terdengar di telinga kami bahwa ayat ini (S.104:1,2) turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy yang kaya raya, yang selalu mengejek dan menghina Rasul dengan kekayaannya." Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim yang bersumber dari Utsman dan Ibnu Umar.) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.104:1,2,3) turun berkenaan dengan al-Akhnas bin Syariq yang selalu mengejek dan mengumpat orang. Ayat ini turun berkenaan sebagai teguran terhadap perbuatan seperti itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim yang bersumber dari as-Suddi.) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.104:1-3) turun berkenaan dengan Jamil bin Amir al-Jumbi seorang tokoh musyrik yang selalu mengejek dan menghina orang. (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari seorang suku Riqqah.) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Ummayah bin Khalaf selalu mencela dan menghina Rasulullah apabila berjumpa dengannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (S.104: sampai akhir surat) sebagai ancaman siksa yang sangat dahsyat terhadap orang-orang yang mempunyai anggapan dan berbuat seperti itu. (Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Ishaq.) Sumber al-Qur’an dan tejemahannya.
PESONA USAHA Jilid Pertama 137 Yang dikatakan kekurangan-kekurangan dalam anggota badan, ialah seperti anda mengatakan dia itu rabun, juling, botak, pendek, panjang, hitam, kuning dan lain-lain sifat yang boleh menjadikan ia merasa benci dan marah jika mendengarnya. Mengenai kekurangan-kekurangan dalam nasab keturunan, ialah seperti anda mengatakan, bahwa bapaknya seorang fasik, jahat dan rendah kelakuannya, ataupun bapaknya tukang pikul air, atau sebagainya yang bisa menyebabkan ia marah dan benci. Mengenai kekurangan-kekurangan dalam bentuk dan rupa, ialah seperti anda mengatakan, bahwa ia itu buruk atau jelek bentuk kejadiannya, kikir, sombong, bongkak, suka bermegah diri, pemarah, pengecut, dan lainnya yang semisal dengan itu. Adapun tentang kekurangan-kekurangan dalam perbuatannya mengenai urusan keduniaan ialah seperti anda mengatakan, bahwa ia itu seorang pencuri, penipu, pembohong, pengkhianat, zalim suka meninggalkan shalat, tidak keluarkan zakat, tidak pusing terhadap perkara-perkara najis, durhaka kepada ibu bapak atau seumpamanya. Manakala perbuatannya yang mengenai urusan keagamaan, seperti anda mengatakan, ia itu kurang ajar orangnya, tidak mengindahkan orang, banyak mulut, tak tahu meletakkan diri pada tempatnya. Yang mengenai pakaian pula ialah seperti anda mengatakan bahwa lengan bajunya terlalu panjang, sarungnya terlalu ke bawah, bajunya kotor dan seumpamanya. Dengan kata lain bahwa pengertian ghibah atau mengumpat adalah seperti yang terkandung di dalam Hadis Rasulullah Saw. berikut:
PESONA USAHA Jilid Pertama 138 “Ghibah (mengumpat) itu adalah anda menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Pada hadits lain, yaitu: رو ٍق، قَا َل: ُ َو ِعْندَ َها َع ْن َم ْس لنَا َعلَى َعائِ َشةَ، حديث َعائِ َشةَ دَ َخْ َوقَا َل: ، ُ ْبيَا ٍت لَه َ ِأ ب ب ُ ِ ُ َشب ُ َها ِش ْعًرا، ي ُْن ِشد ٍت، ي ِ اب ن ثَ ُ سان ْب َّ َح َوافِ ِل غَ ْ حوِم ال ُ ُ ح َغ ْرثَى ِم ْن ل ُ ِ ْصب ُ َوت ِ ِريبَ ٍة ن ب ُّ ُ َز َح َصا ٌن َر َزا ٌن َما ت ْس َت َكذِل َك قَا َل َك لَ َّ : ل ِكن ُ َعائِ َشة ُ فَقَالَ ْت لَه َ َها ِلم ُت لَ ْ رو ٌق: فَقل ُ َم ْس ُ َره ى ِكْب َّ َول ِذي تَ َّ َوال ْي ِك َوقَ ْد قَا َل هللاُ تَعَالَى ) خ َل َعلَ ُ ْن يَ ْد َ ُ أ ذَنِي لَه ْ تَأ عَمى قَالَ ْت ْ ُّ ِم َن ال َشد َ ُّي َعذَا ٍب أ َ َوأ ٌم( فَقَالَ ْت: َعذَا ٌب َع ِظي ُ هْم لَه ِمْن ُ ِج َها ُ ْو ي َ ح، أ ُنَافِ ُ ُ َكا َن ي ه َّ ِن : إ ُ سو ِل ل هللاِ صلى هللا عليه َه ُ ي َع ْن َر وسلم Artinya: 1619. Masruq berkata: Ketika kami masuk ke rumah A'isyah bertepatan di situ ada Hassan yang sedang membacakan sya'ir yang membela dan memuji A'isyah, yaitu: Hashaanun razaanun maa tuzan-nu biribatin, wa tushbihu har-tsa-min luhumil ghawafili (Wanita yang sopan dan sangat cerdas tidak layak dituduh dengan sesuatu yang meragukan, bahkan ia kosong dirinya dari sifat suka membicarakan hal-hal orang (yakni tidak suka ghibah membicarakan kejelekan orang lain). A'isyah berkata padanya: tetapi anda tidak begitu. Masruq bertanya pada A'isyah: Mengapa anda izinkan ia masuk kepadamu, padahal Allah berfirman: Sedang orang mengepalai tuduhan itu mendapat siksa yang berat. Jawab A'isyah: Azab apalagi yang lebih berat daripada buta. A'isyah berkata: Dia dahulu selalu membela Rasulullah saw. (Bukhari, Muslim).
PESONA USAHA Jilid Pertama 139 Yang dilarang, ialah menyebut perihal saudaramu dengan lidah, sebab dengan sebutan itu anda dapat menyampaikan kekurangan-kekurangan saudaramu dan mengumbar perkaraperkara yang dibencinya kepada orang lain. Oleh yang demikian, maka membuat sindiran itu samalah seperti berkata terang-terangan, perbuatan samalah seperti perkataan, mengisyarat samalah seperti mengangguk, berkelip mata samalah seperti menunjuk perilaku. Pendek kata apa saja yang dilakukan olehmu bisa menunjukkan kepada maksud ghibah atau mengumpat, maka perbuatan tersebut dilarang. Jadi orang yang mengisyaratkan dengan tangannya perihal pendek atau panjangnya seseorang, ataupun ia meniru-niru tentang gaya perjalanan orang itu, maka itu juga adalah ghibah yang dilarang. Menulis mengenai keaiban diri seseorang adalah ghibah juga, sebab qalam atau pena itu pengganti lisan. Dan, sesungguhnya orang yang suka mengumpat tidak akan diampunkan dosanya sebelum dimaafkan oleh orang diumpat." (Hadis riwayat Ibnu Abib Dunya dan Ibnu Hibbad) Al-Qur’an pun menjelaskan, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang
PESONA USAHA Jilid Pertama 140 diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.. (Surah al-Hujurat (49), ayat 12). Rasulullah bersabda, artinya: "Tidak akan masuk syurga AlNammam (kaki umpat)" (Riwayat Muslim). Mengumpat adalah suatu yang sangat salim kerena orang yang diumpat tidak tahu bahwa dirinya diumpat. Maksud mengumpat dapatlah didefinisikan sebagai bercerita tentang perihal keburukan dan kelemahan seseorang kepada orang lain di mana yang diumpat merasa marah dan benci dengan perkara yang didengar tentang dirinya. Bercerita tentang keburukan dan kelemahan seseorang samalah juga seperti membuka aib seseorang itu kepada orang lain. Rasulullah Saw. pernah bersabda, artinya: "Mengumpat itu ialah apabila kamu menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu perkara yang dibencinya." (Hadis Riwayat Muslim) Bersabda Rasulullah Saw. yang artinya: "Barangsiapa yang melakukan kezaliman terhadap saudaranya melibatkan harga diri ( kehormatan ) atau sebagainya, maka lebih baik dia memohon maaf kepada orang itu sebelum tiba hari di mana dinar dan dirham tidak lagi diperlukan. Jika dia mempunyai kebaikan, perkara itu akan ditarik daripadanya sebagai balasan ke atas kejahatan yang diperbuatnya. Jika dia tidak ada amalan kebaikan, maka kejahatan orang yang diumpat itu akan diberikan kepadanya”. (HR. Bukhari) Sabda Rasulullah Saw. di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; "Rasulullah bertanya, "Adakah kamu tahu apa itu ghibah?", mereka berkata: Allah
PESONA USAHA Jilid Pertama 141 dan RasulNya lebih mengetahui. Nabi Saw. berkata: "Engkau menyebut sesuatu mengenai saudaramu dengan perkara yang tidak disukainya". Dikatakan: “Beritahukanlah kepadaku, bagaimana sekiranya ada pada saudaraku itu apa yang aku katakan? Baginda berkata: "Sekiranya ada padanya apa yang kamu katakan, maka kamu telah mengumpatnya, jika tiada padanya apa yang kamu katakan maka kamu telah memfitnahnya" (HR. Muslim, Abu Daud, al-Damiri, Ahmad dan Ibn Hibban). Oleh karena itu barangsiapa yang memelihara lidahnya (tidak menceritakan keburukan orang lain), Allah akan menutup halhal buruk mengenainya di akhirat nanti, barang siapa yang menahan kemarahannya, Allah akan lindungi daripada siksaanNya. Bersama-samalah kita menghindarkan diri masing-masing dari perbuatan mengumpat ini dari masa ke masa kerana Rasulullah pernah bersabda, yang artinya: "Wahai orang yang beriman dengan lidahnya tetapi belum beriman dengan hatinya! Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah kamu mencari-cari kesalahannya. Sesungguhnya, barangsiapa yang mencari-cari kesalahan saudaranya, Allah akan membuka aibannya dan Dia akan membeberkannya, meskipun berada dalam rumah sendiri ". (HR. Abu Daud, Ahmad dan Tirmidzi). 2. Menyakiti perasaan orang lain Menyakiti perasaan orang lain merupakan perbuatan yang dilarang di dalam ajaran Islam. Konsep dasar mengenai menyakiti perasaan orang lain ini terdapat dalam al-Qur’an pada surat al-Baqarah (2) ayat 264, selengkapnya berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 142 Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jangalah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditempa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apapun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir”. Dan pada surat al-Baqarah ayat 263, juga memberikan pengertian secara jelas mengenai perbandingan antara “menyakiti peraaan dengan memberikan maaf, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun”. Islam menolak segala hal yang buruk. Islam dan iman datang untuk kebahagiaan dan kebaikan bagi setiap orang. Di dalam
PESONA USAHA Jilid Pertama 143 Iman sejati dilarang untuk menyakiti orang lain, termasuk menyakiti kehormatannya, tubuh atau harta miliknya. Oleh karena itu, kita harus menjaga perasaan orang lain sehingga mereka tidak merasa disakiti oleh kita. Hal terburuk dalam Islam adalah membuat orang sedih, sementara yang terbaik dalam Islam adalah membuat orang senang. Allah Swt. menyukai hal ini. Buatlah orang bahagia semampu kalian. Ini adalah ibadah yang terbaik. Syah Naqsyband QS berkata bahwa jika seseorang pergi ke Mekah dan menghancurkan Masjidil Haram, dosanya masih lebih ringan dibandingkan orang yang menyakiti hati orang lain. Hal ini membuat nilai yang sesungguhnya bagi agama sejati. Islam sangat memperhatikan kehormatan dan adab manusia. Seseorang yang menyakiti orang lain baik dengan tangan atau lidahnya berarti bukan Muslim dan ia tidak beriman. Ini adalah Islam yang sebenarnya, tetapi kita menghilangkannya dengan perbuatan buruk kita. Setiap saat Syekh berkata, “Wahai anakku, saudaraku, berusahalah agar orang senang denganmu.” Syah Naqsyband QS berkata, “Kami malu untuk meminta syafaat di Hadirat Ilahi bagi orang yang menyakiti hati orang lain. Kami tidak dapat menolongnya. Untuk dosa-dosa yang lain kami dapat memintakan ampunan.” Seseorang yang menjaga dirinya dari menyakiti hati orang lain adalah Muslim sejati dan merupakan Sufi sejati. Menyakiti termasuk memikirkan hal yang buruk tentang seseorang. Misalnya kalian melihat seorang pria berbicara dengan seorang wanita dan kalian bicara dalam hati atau bicara kepada orang lain, “Lihat, pria itu menggoda si wanita.” Ini adalah pikiran yang buruk, kalian tidak berhak melakukannya. Bagaimana kalian tahu mengenai hal ini? Itu hanya spekulasi. Seseorang menjaga dirinya dari prasangka seperti itu. Allah Swt. akan membersihkan hatinya dan ia akan meraih karakter
PESONA USAHA Jilid Pertama 144 yang baik sebelum meninggal dunia. Suuzan atau buruk sangka merupakan tanda kotornya hati. Misalnya, anak ini (Mawlana menunjuk seorang anak berusia 6 tahun) jika ia melihat pada pria dan wanita itu, apakah ia berpikirian buruk? Suuzan pertama kali berasal dari kaum Yahudi kepada Jesus dan kedua dari seluruh umat Kristen kepada Nabi Muhammad Saw. Baik sangka atau husnuzan pasti akan mengatakan bahwa Beliau adalah seorang Nabi. Beliau memiliki seluruh atribut bagi seorang Nabi dan masanya adalah yang terdekat dengan kita. Jika mengakui kenabian dari Ibrahim as., Musa as. dan Jesus as., yang masa hidupnya sangat jauh dari kita, maka tidak logis bila menyangkal Nabi Muhammad Saw. yang masa hidupnya paling dekat. Bagi anda pernah mengalami nasib disakiti, maka mari kita coba renungkan sebuah kisah yang berlaku pada zaman Rasulullah Saw. dan buatlah pilihan dengan bertegas tidak mau memaafkan atau sebaliknya. Pilihannya ada pada anda. Kisahnya begini, suatu hari, tatkala melihat Rasulullah Saw. tertawa sendirian Syaidina Umar pun bertanya apa sebabnya. Jawab Rasulullah Saw., “Ada dua orang umatku yang memperhitungkan hak-haknya. Yang seorang berkata, “Ya Allah, berikanlah hak-hakku yang dizalimi oleh orang itu”. Maka berfirman Allah Swt., “Berikanlah haknya yang telah engkau zalimi itu!” Menjawab orang yang dituntut itu dengan sedih, “Ya Allah, wahai Tuhan ku. Sesungguhnya kebaikanku telah habis semuanya, maka tiadalah lagi yang dapat aku berikan kepada orang ini.” Dijawab oleh orang yang menuntut itu, “Olehnya itu engkau mesti menanggung segala dosaku sebagai gantinya.”
PESONA USAHA Jilid Pertama 145 Tatkala sampai pada kisih ini, kelihatan Rasulullah Saw. mengalirkan air matanya menahan kesedihan lalu meneruskan sabdanya, “Kemudian Allah Swt. berfirman kepada orang yang menuntut itu, “Angkatlah kepalamu dan lihatlah syurga itu.” Ketika dilihat oleh si penuntut syurga tersebut yang penuh keindahan di dalamnya, yang bertahtakan perak dan gedunggedung indah yang terbuat dari emas, bertahtakan intan permata, yang elok-elok, dia bertanya, “Apakah semua itu untuk Nabi-nabi atau apakah untuk orang syahid?’ Maka dijawab oleh Allah Swt., “Itu untuk siapa saja yang sanggup membayarnya!” Maka kata si penuntut itu, “Ya Allah, siapakah yang memiliki harta yang banyak untuk membeli syurga yang amat hebat itu.” Dijawab oleh Allah Swt., “Engkau pun dapat membayarnya, yaitu dengan memaafkan orang yang telah menzalimimu itu.” Maka kata si penuntut itu, “Kalau begitu aku sanggup memaafkan dosanya terhadapku.” Firman Allah Swt., “Pimpinlah tangan orang itu bersama-sama ke dalam syurga itu.” Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Maka berbuat baiklah kepada saudaramu sesama Muslim.” 3. Malas Kehidupan di dunia modern sekarang ini membawa kemudahan bagi semua kalangan, namun hal ini juga dapat menjadi salah satu penyebab munculnya rasa malas dalam diri bagi orang tertentu. Teknologi baru saat ini telah mempermudah manusia untuk melakukan pekerjaan-pekerjaannya bahkan ia tidak banyak melakukan aktivitas fisik yang diperlukan. Padahal, tidak melakukan aktivitas fisik dan tidak terbiasa untuk berolah raga atau kegiatan fisik lainnya, akan memunculkan rasa malas dalam diri seseorang.
PESONA USAHA Jilid Pertama 146 Malas dan lalai dalam pekerjaan adalah hal-hal yang sering diperingatkan dalam Islam, dan umat Islam selalu ditekankan untuk menjauhi sifat tercela itu. Sifat buruk tersebut juga sangat dicela dalam al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad Saw. dan Ahlul Bait Imam Shadiq berkata, “Jauhilah malas dan tidak semangat, sebab kedua sifat tersebut akan menghalangimu untuk memperoleh manfaat dari dunia dan akhirat.” Sementara Imam Ali berkata: seseorang yang malas hingga berlebihan maka akan menjadi lemah dan ia akan menghancurkan kehidupannya, dan akibatnya, akan mengarah kepada dosa dan ketidaktaatan kepada Allah Swt. Dalam penjelasan di atas, sifat malas dicela disebabkan dampak dari sifat itu akan dapat merusak kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Sementara di dalam berbagai keteranganketerangan lainnya, juga disinggung mengenai beberapa dampak perusak dari sikap malas ini, seperti: kemiskinan, pengucilan, kehinaan dan dianggap tak berharga oleh orang lain. Sifat malas juga akan menghalangi harapan manusia dan menyebabkan pelanggaran terhadap hak-hak Tuhan dan hamba-hamba-Nya. Manusia yang malas tidak akan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, dan pada akhirnya ia akan terjerumus ke dalam lembah dosa dan maksiat serta kesengsaraan abadi. Dengan demikian, dampak malas bagi manusia telah sampai pada tahap yang tidak mudah untuk diperbaiki. Al-Quran menyebut malas khususnya dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan ibadah kepada Allah Swt, sebagai sifat yang buruk, dan sifat itu dianggap sebagai ciri orang-orang munafik. Dalam Surat An-Nisa (4) Ayat 142, Allah Swt. berfirman, selengkapnya berbunyi:
PESONA USAHA Jilid Pertama 147 Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah menipu mereka pula. Dan jika mereka berdiri untuk mengerjakan shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bersifat riya di hadapan manusia dan tidak berzikir kepada Allah kecuali sebentar." Shalat adalah perantara terbaik untuk menjalin hubungan dengan Allah Swt dan merupakan bentuk pengabdian dan kerendahan hati di hadapan-Nya. Orang yang munafik tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan Tuhan, sehingga ketika ia mengerjakan shalat ia akan melaksanakannya dengan malas dan tidak bersemangat. Dengan demikian, malas dalam mengerjakan tugas terpenting manusia di hadapan Tuhan tidak menunjukkan sifat keimanannya. Dengan mengkaji ayat-ayat dan riwayat dapat dipahami bahwa tidak adanya pemahaman yang benar atas situasi dan kondisi serta posisi individu menjadi akar utama dari malas. Masalah tersebut tidak hanya terbatas di ranah agama saja, tetapi lebih dari itu. Barang siapa malas atas sesuatu dan tidak mengerjakan pekerjaannya, maka ia sebenarnya tidak memahami situasi dan kondisinya sendiri. Sebaliknya, orang yang memiliki pandangan benar terhadap dirinya dan dunia, serta memahami bahwa dunia merupakan kesempatan singkat dan menentukan nasib kehidupannya di akhirat, maka ia akan menghindarkan diri dari sifat malas. Jika seseorang memiliki iman kuat yang didukung oleh pengetahuan, maka ia tidak akan pernah malas dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban agama seperti shalat, puasa,
PESONA USAHA Jilid Pertama 148 jihad, haji, infaq dan kewajiban lainnya, dan ia akan mampu mencapai kebahagiaan abadi. Langkah pertama untuk memerangi malas adalah memiliki pandangan yang benar tentang manusia, dunia dan Tuhan. Yaitu, mengenai mengapa manusia diciptakan dan bagaimana ia dapat mencapai kebahagiaan? Tentang apa sebenarnya peran dan pengaruh perbuatan dan perilaku setiap manusia dalam kehidupan dunia dan akhiratnya? Pemahaman tentang masalahmasalah tersebut dan iman kepada Tuhan akan mendorong seseorang untuk selalu berusaha dan bersemangat mengerjakan tugas dan kewajibannya. Langkah berikutnya adalah menguatkan keinginan. Imam Ali berkata, “Pergilah kalian untuk memerangi malas dengan tekad dan keinginan.” Ada banyak jalan untuk memperkuat keinginan. Salah satunya adalah bergaul dengan orang-orang yang memiliki keinginan dan semangat kuat serta rajin bekerja. Bergaul dengan mereka memiliki banyak pengaruh bagi manusia untuk menjauhkan diri dari kebiasaan buruk dan malas. Memperhatikan kecenderungan-kecenderungan diri secara berlebihan akan melemahkan keinginan. Oleh sebab itu, mengontrol hawa nafsu dan naluri dapat menguatkan keinginan manusia. Hal lain yang dapat memperkuat keinginan manusia adalah memiliki tujuan hidup dan mempunyai pemikiran kepada tujuan-tujuan yang tinggi, namun hal ini jangan sampai disalahpahami sebagai idealisme ekstrim, tetapi dimaksudkan bahwa penentuan tujuan harus logis. Dalam Islam, sifat malas dicela, namun keinginan dan kemauan tinggi dipuji dalam agama Samawi tersebut. Jika seseorang ingin terbebas dari malas, ia harus memiliki semangat kuat dan tekad membaja. Orang-orang yang memiliki keinginan kuat akan mampu menjauhkan rasa malas dari dalam
PESONA USAHA Jilid Pertama 149 dirinya dan mereka akan mampu melewati berbagai rintangan dan mengambil langkah konstruktif untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan individu dan sosial. Orang yang bersemangat adalah orang yang melaksanakan pekerjaannya dengan mudah dan cepat dan tidak menundanunda pekerjaan hari ini untuk dilaksanakan besok. Semangat, pengetahuan dan perbuatan orang yang memiliki semangat kuat akan selalu selaras, bahkan ia akan melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Imam Ali berkata, "Mereka yang berada di jalan hidayah akan selalu bersemangat (berbahagia)." 4. Serakah Serakah merupakan salah satu sikap yang dapat dimaknai sebagai mengambil bagian atas sesuatu jauh melampaui atas apa yang menjadi hak dan bagiannya. Sikap ini telah banyak menimbulkan permusuhan antar sesama yang dapat menyebabkan timbulnya ketegangan dalam hidup bermasyarakat, tidak hanya itu bahkan bisa sampai saling bunuh-membunuh. Hal melampaui batas ini telah ditegaskan dalam Al-Qur’an, yaitu: Artinya: “Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi (serakah), tetapi Dia menurunkan dengan ukuran
PESONA USAHA Jilid Pertama 150 yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Teliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat”. (Qs. asy-Syuura (42) ayat 27) Bagai meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Mungkin itu kalimat yang cocok untuk menggambarkan dunia ini. Semakin kita mengejar dunia, maka ia semakin bergerak mundur ke belakang dan menjauh. Walaupun ia menjauh, namun dunia tetap melambaikan tangannya, agar kita selalu datang menghampirinya. Dunia selalu memakai baju keindahannya dan segala perhiasannya sehingga menyilaukan mata para pencintanya. Akhirnya, mereka susah melihat antara yang benar dan yang batil, yang halal dan yang haram, melalaikannya dari perintah Rabb-nya, yang penting terpenuhi hasrat dan keinginannya. Hal itu senantiasa berjalan sampai ia harus berpisah dengan dunia. Allah Subhana Wa Ta’ala- berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2) Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy berkata, “Maksudnya, kalian telah disibukkan oleh sikap bangga dengan banyaknya harta dan jumlah pengikut dari ketaatan kepada Allah sampai kalian meninggal dan dipendam dalam kuburan”. Pembaca yang bijak, dunia begitu indah dan hijau sehingga selalu enak dipandang mata. Tapi pada hakikatnya ia merupakan kesenangan yang menipu lagi memperdaya.