PESONA USAHA Jilid Pertama 201 Makna nishab di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syar’i (agama) untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya, jika telah sampai ukuran tersebut. Orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah: Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] 36[1] dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,.” (Qs. Al Baqarah: 219) Makna al afwu (dalam ayat tersebut), adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itu, Islam menetapkan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang. Syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut: 1. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian. 36. (136) Yang dimaksudkan adalah Segala minuman yang memabukkan (Sumber alQur’an dan tejemahannya).
PESONA USAHA Jilid Pertama 202 2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul) terhitung dari hari kepemilikan nishab dengan dalil hadits Rasulullah Saw. yang artinya: “Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani) Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buahbuahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya. Misalnya, jika seorang muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut. Nishab, Ukuran dan Cara Mengeluarkan Zakatnya 1. Nishab emas Nishab emas sebanyak 20 dinar. Dinar yang dimaksud adalah dinar Islam. 1 dinar = 4,25 gr emas, Jadi, 20 dinar = 85gr emas murni. Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatupun yaitu dalam emas sampai memiliki 20 dinar. Jika telah memiliki 20 dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya zakat ½ dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali setelah satu haul.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi) Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka
PESONA USAHA Jilid Pertama 203 diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling kuat. Contoh: Seseorang memiliki 87 gram emas yang disimpan. Maka, jika telah sampai haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gram = 2,175 gram atau uang seharga hasil perkalian tersebut. 2. Nishab perak Nishab perak adalah 200 dirham. Setara dengan 595 gram, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas. 3. Nishab binatang ternak Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu binatanngya lebih sering digembalakan di padang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan. Hal ini sesuai hadits Nabi Saw. yang artinya: “Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…” (HR. Bukhari) Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut: a. Onta Nishab onta adalah 5 ekor. Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang memiliki ternak onta, maka nishab onta tidak dijabarkan secara rinci (red). b. Sapi Nishab sapi adalah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.
PESONA USAHA Jilid Pertama 204 Cara perhitungannya adalah sebagai berikut: Jumlah Sapi Jumlah yang dikeluarkan 30-39 ekor 1 ekor tabi’ atau tabi’ah 40-59 ekor 1 ekor musinah 60 ekor 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah 70 ekor 1 ekor tabi dan 1 ekor musinnah 80 ekor 2 ekor musinnah 90 ekor 3 ekor tabi’ 100 ekor 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah Keterangan: 1. Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun. 2. Musinnah adalah sapi betina yang berusia 2 tahun. 3. Setiap 30 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor musinnah. c. Kambing Nishab kambing adalah 40 ekor. Perhitungannya adalah sebagai berikut: Jumlah Kambing Jumlah yang dikeluarkan 40 ekor 1 ekor kambing 120 ekor 2 ekor kambing 201 – 300 ekor 3 ekor kambing > 300 ekor setiap 100, 1 ekor kambing
PESONA USAHA Jilid Pertama 205 4. Nishab hasil pertanian Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyari’atkan dalam Islam dengan dasar firman Allah Swt., selengkapnya berbunyi: Artinya:“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanamtanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebihlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-An’am (6) ayat 141) Adapun nishabnya ialah 5 wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Zakat itu tidak ada yang kurang dari 5 wasaq.” (Muttafaqun ‘alaihi) Satu wasaq setara dengan 60 sha’ (menurut kesepakatan ulama, silahkan lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364). Sedangkan 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian menurut takaaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan fatwa dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian adalah 300 sha’ x 3 kg = 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila
PESONA USAHA Jilid Pertama 206 pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (atau menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan jika pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” (HR. Muslim 2/673) Misalnya: Seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000 kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) adalah 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak 1000 x 1/10 = 100 kg 5.Nishab barang dagangan Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas. Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan 3 syarat lainnya: 1) Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah, dan yang sejenisnya. 2) Memilikinya dengan niat untuk perdagangan. 3) Nilainya telah sampai nishab. Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong hutang.
PESONA USAHA Jilid Pertama 207 Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan laba bersih sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia memiliki hutang sebanyak Rp. 100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut: Modal – Hutang: Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000 Jadi jumlah harta zakat adalah: Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000 Zakat yang harus dibayarkan: Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000 6. Nishab harta karun Harta karun yang ditemukan, wajib dizakati secara langsung tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.” (HR. Muttafaqun alaihi) Cara Menghitung Nishab Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja? Imam Nawawi berkata, “Menurut mazhab (Syafi’i), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur, adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak, dan binatang ternak dan keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika sempurna nishab tersebut.” (Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-
PESONA USAHA Jilid Pertama 208 Sunnah 1/468). Inilah pendapat yang rajih (paling kuat red) Insya Allah. Misalnya nishab tercapai pada bulan Muharram 1423 H, lalu bulan Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada bulan Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari bulan Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, lalu dikeluarkannya zakatnya. Keterangan Tambahan: Kalau salah tolong dibenarkan! Bagilah ilmu yang anda punya dan anda yakini benar. Jika mampu bayarlah zakat. Dan bila dirasakan ada kelebihan setelah itu, keluarkanlah infaq dengan hanya mengharapkan ridha Allah Swt. semata. Nasab, Hitungan satu tahun, gunakan kalender hijriah atau penanggalan islam.
PESONA USAHA Jilid Pertama 209 Lampiran Tambahan KUTBAH PERTAMA السالم عليكم ورحمة هللا وبركابه الحمد هلل الزى هدانا لهذاوما كنا لنهتدى لوال ان هدانا هللا اشهد ان ال اله ا ال هللا وحده الشر يك له واشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله . الهم صل وزسلم و برك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه اجمعين . اما بعد . -------------------------------- فياعبادهللا اتقوهللا فقد فاز المتقون قال هللا تعال فى كتابه اكريم --------------------- اعوزباهلل من الشيطان الرجيم.------------- بسم هللا الرحمن الرحيم ----------------- يا ايهاالزين ءامنوا اتقوهللا حق تقاته وال تموتن وانتم مسلمون -------------------- صدق هللا العطيم
PESONA USAHA Jilid Pertama 210 Ma’asyiral muslimin rahimakumullah! Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Swt. Atas limpahan rahmat dan hadayah-Nya sehingga kita dengan penuh kesadaran dan keimanan meninggalkan segala aktivitas kita masing-masing guna memenuhi panggilan Allah yaitu untuk melaksanakan shalat jum’at di masjid yang penuh barakah ini. Seiring dengan itu shalawat dan salam kita sampaikan dengan penuh keikhlasan kepada Rasulullah Saw, Rasul suri teladan kita semua. Rasul yang menghantarkan kita dari alam jahiliyah menuju alam yang penuh cahaya keselamatan. Jamaah yang dimuliakan Allah! (dilanjutkan dengan isi khutbah)
PESONA USAHA Jilid Pertama 211 KHUTBAH KEDUA السالم عليكم ورحمة هللا وبركابه ---------- الحمد هلل حمد اكثيرا كما امر. اشهد ان ال اله ا ال هللا وحده الشر يك له ارغامالمن جحد به وكفرواشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله سيدالخالءق والبشر. الهم صل وزسلم و برك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه اجمعين . اما بعد --------------- فياعبادهللا اتقوهللا فقد فاز المتقون --------- قال هللا تعال فى كتابه اكريم -------------- اعوزباهلل من الشيطان الرجيم ------------ بسم هللا الرحمن الرحيم ------------------ يا ايهاالزين ءامنوا اتقوهللا حق تقاته وال تموتن اال وانتم مسلمون -----------------
PESONA USAHA Jilid Pertama 212 وقال عظن ان هللا وملىكته يصىلون على النبى يا ايها الذين امىن ا صلوا عليه وسلموا تسليما اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد كما صليت على سيدنا ابرهيم وعلى ال سيدنا ابرهيم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد كما باركت على سيدنا ابرهيم وعلى ال سيدنا ابرهيم فى العالمين انك حميد مجيد ورض عنا برحمتك ياارحمالرحمين . امن . ------------------ الهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات االحياءمنهم واالموات وانك سميع قريب مجيب الدعوات وياقاضى الحاجات -------------------------------- ربنا اغفرلنا ولوالدين ورحمهما كم ربينا صغرا ---------------------------------- ربنا ظلمنا انفسنا وان لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين --------------------
PESONA USAHA Jilid Pertama 213 ربنا ال تذغ قلوبنا بعد اذهديتنا وهب لنا من لدنك رحمة انك انتالوهاب ---------------- ربنا اغفرلنا والخواننا الذين سبقونا بااليمان والتجعل فى قلوبنا غال للذين امنوا ربنا انك رؤوف رحيم ---------------------------- ربنا تقبل منا انك انت السمع العليم وتب علينا انك انت توبرحيم ------------------- اللهم ربنا تقبل منا صالتنا وصيا منا وركوعنا وسجودنا وقعودنا وتضرعنا وتحشعنا وتعبدنا وتمم تقصيرنا يا هللا يا رب العا لمين -------------------------------- ربنا والتحمل علينا اصرا كم حملته على الذين من قبلنا ربنا وال تحملنا ما الطا قةلنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا انت موالنا فانصرنا على القوم الكفرين -------------- ربنا اتىنا قى الدنيا حسن وقى االخرة حسنة وقنا عزاب النار -------------------------
PESONA USAHA Jilid Pertama 214 عبد هللا ان هللا يامربالعدل واالحسا وايتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكرا والبغي يعظكم لعلكم تذكرون اذكروا هللا العظيم يذكركم واسعلوا من فضله يعطكم ويهدكم ولذكرهللا اكبروهلل يعلم ما تسنعون --
PESONA USAHA Jilid Pertama 215 TENTANG PENULIS Penulis bukanlah siapa-siapa. Bukan pakar, apalagi penguasa. Penulis hanyalah orang biasa sebagaimana riwayat singkat berikut ini: A. Identitas Nama : Muh. Ihsan TT.Lahir : Kombong Suli, 23 Januari 1971 Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pend. Terakhir : S2 Tekonologi Pembelajaran Prinsip Hidup : Menjadi manusia bermanfaat Alamat : Jl. Pangandaran RT 12 No 49 Bontang Contak Person : (HP) 0853 8778 5323 B. Nama Orang tua Kandung: 1. Nama Bapak : M. Ibrahim bin sammaila 2. Nama Ibu : Sitti Hasanah binti Lira 3. Nama Istri : Sitti Raoda S.Pd. 4. Nama Anak : Sa’adillah Yusuf Al-Ghifari 5. Nama Saudara: Iwan, Arsyid (alm), Rahmawati (almh), Jamil, Junaid. C. Riwayat Pendidikan 1. Madrasah Ibtidayah Negeri Murante, lulus tahun 1984 2. Sekolah Menengah Pertama Negeri Suli, lulus tahun 1987 3. Sekolah Menengah Atas Negeri Belopa, lulus tahun 1990 4. Strata satu Aqidah Filsafat Institut Agama Islam Negeri Alauddin Ujung Pandang, lulus tahun 1995, gelar, Sarjana Agama (S.Ag) 5. Strata dua Tekonologi Pembelajaran Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, lulus tahun 2005, gelar, Magister Pendidikan (M.Pd.) D. Pengalaman 1. Bekerja pada perusahaan pertambangan batu bara, sub kontraktor PT Indominco Mandiri (PT. Arthayasa Wiracaraka) selama satu tahun (1997-1998) 2. Bekerja Pada Perusahaan Minyak dan Gas sub kontraktor PT. Badak NGL & Co (PT. Elnusa) selama satu tahun (1998-1999) 3. Bekerja pada Perusahaan Elektronik (PT. Columbindo Perdana & CV. Hesta Mulya Jaya) selama tiga tahun pada bagian survey dan collector di Bontang dan Kutim (1999 – 2002) 4. Mengabdi pada Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Bontang di bawah naungan Yayasan Pesantren As’adiyah pusat Sengkang Sul-Sel sejak 2002 sampai sekarang dan terpilih menjadi Kepala MTs. As’adiyah Bontang pada 16 Desember 2011 dan berakhir pada tanggal 01 April 2016. 5. Mengabdi pada Pendidikan Luar Sekolah (PKBM Bina Karya dan terpilih menjadi Ketua FK-PKBM pada periode yang sama) Di bawah Naungan Kementerian Pendidikan Nasional bidang PLS Kota Bontang (2006 - 2010). 6. Mengabdi pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syamsul Ma’arif Kota Bontang sebagai dosen filsafat (2010 - sampai sekarang). 7. Melakukan kegiatan penerbitan buku melalui APTAREC selaku pimpinan 8. Sekarang berusaha menulis. Dan telah membuahkan tulisan, antara lain: a. Gugah Potensi,
PESONA USAHA Jilid Pertama 216 b. Infaq, Shalat Berjamaah, Bangsaku Jagalah …., c. Utusan Terakhir, d. Pesona Usaha jilid satu dan dua, e. Pesona Ramadhan f. Mengenal Filsafat g. Mengenal Filsafat Ilmu h. Memahami Pokok-pokok Ajaran Islam i. Media dan Teknologi Pembelajaran PAI, j. Metodologi Pengajaran PAI k. Evaluasi Hasil Belajar PAI l. Psikologi Belajar PAI
PESONA USAHA Jilid Pertama 217