The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini menjelaskan tentang pesona usaha yang dilakukan bersarkan ajaran islam

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ihsanmuh, 2024-06-21 05:11:31

Pesona Usaha Jilid I

Buku ini menjelaskan tentang pesona usaha yang dilakukan bersarkan ajaran islam

Keywords: pesona usaha

PESONA USAHA Jilid Pertama 151 Karenanya, Allah mengumpamakan dunia seperti tumbuhan yang hijau nan subur, lalu akhirnya sirna. Allah Subhana Wa Ta’ala menjelaskan tentang hakekat dunia, sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat Yunus (10) ayat 24, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[683] 30[1], dan pemilikpermliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya[684] 31[1], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, Artinya: “Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian semua sebagai 30. (683) Maksudnya: bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau dengan tanam-tanamannya. 31. (684) Maksudnya: dapat memetik hasilnya. (Sumber al-Qur’an dan tejemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 152 pengganti di bumi itu (untuk mengolah dan memakmurkannya). Maka Allah akan melihat bagaimana kalian beramal. Oleh sebab itu, takutlah kalian kepada dunia dan takutlah kalian dari wanita. Sebab fitnah yang pertama menimpa Bani Isra’il adalah pada wanita” (HR. Muslim 2742) Karena indahnya dunia ini, banyak manusia yang dihinggapi penyakit tamak dan serakah. Mereka tidak merasa cukup dan puas terhadap karunia yang Allah berikan kepada mereka. Bahkan hak dan milik orang lain pun berusaha untuk diambil dan dikuasainya. Jika tidak mampu dengan cara yang halus, cara yang kasarpun tak jadi masalah. Yang penting keinginan terpenuhi. Sebenarnya ada dua istilah yang mirip, tapi memiliki makna yang berbeda, yaitu antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan manusia sebenarnya tidak terlalu banyak, akan tetapi keinginanlah terkadang yang mengantarkan kepada sikap serakah. Jika keinginan tidak dikontrol oleh syariat, maka pemiliknya tidak akan pernah merasa cukup dan puas. Walaupun hartanya berlimpah, rumahnya banyak dan kendaraan super mewah, tapi tetap saja merasa kurang dan sedikit. Ia selalu berusaha menambah dan melengkapi hal-hal yang sebenarnya lebih dari kebutuhannya. Padahal apakah semua harta yang dimiliki dapat ia konsumsi? Semua rumah yang ia miliki dapat ia nikmati ? Jawabannya, tentu saja tidak!! Oleh karenanya, sifat tamak dan serakah termasuk amalan yang tercela di dalam Islam. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, َ َواِد ِن آدَام ِإلْب نِ َّ َ ْو أ َه ٍب َ ل ِم ْن ذَ ياً ُ ُكْو َن لَه ْن يَ َ ب أ َّ َح ألَ ب َرا ُ ُّ الت َّ ِال ُ إ فاَه ِن َولَ ْن يَ ْمألَ َو َو اِدياَ ب هللاُ ْن تاَ ُ ْو ُ َب َى َم يَت َعل


PESONA USAHA Jilid Pertama 153 “Jika anak Adam memiliki satu lembah emas dia akan mencari agar menjadi dua lembah dan tidak ada yang akan menutup mulutnya melainkan tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 1049) Al-Imam Al-Kirmaniy berkata, “Yang dimaksud hadits ini bukan hanya satu anggota badan saja (yakni mulut) karena tanah tidak hanya menutupi mulut saja namun (bagian tubuh) yang lain pun bisa tertutupi. Hadits ini merupakan inayah tentang kematian yang akan menutupi seluruh jasad. Seakanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan merasa puas terhadap dunia sampai dia mati”. Ini merupakan tabiat pada kebanyakan manusia. Dia amat mencintai harta benda. Jika memiliki harta benda, maka ia takut bila kehilangan sebagian dari hartanya. Disinilah sebagian manusia terserang penyakit kikir saat ia enggan berinfak di jalan Allah. Ath-Thibiy berkata, “Makna hadits ini adalah bahwa anak Adam diberi tabiat cinta kepada harta benda dan tidak merasa puas untuk mengumpulkannya, kecuali orang-orang yang telah dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diberi taufiq untuk menghilangkan tabiat ini dan sedikit sekali dari mereka yang mendapatkan taufiq.” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “Makna hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwa bani Adam tidak akan merasa puas terhadap harta benda. Jika dia memiliki satu lembah, dia akan berusaha untuk menjadi dua lembah dan tidak ada yang akan menutupi mulutnya, melainkan tanah bila dia telah mati dan meninggalkan dunianya. Di saat inilah dia menjadi percaya setelah dunia hilang darinya. Bersamaan dengan itu, Rasulullah Saw. memerintahkan untuk bertaubat, karena mayoritas orang yang rakus dunia tidak akan


PESONA USAHA Jilid Pertama 154 memelihara diri dari perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan.” Penyakit hati ini memiliki kerusakan yang sangat besar dan banyak. Seperti menzhalimi orang lain, membuang-buang harta dan mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. sangat khawatir tentang penyakit serakah ini. Rasulullah Saw. bersabda, ٍم ْر ِسالَ فِي َغنَ ُ ِن أ ِن َجائِعَا بَا َم ِ ا ِذئْ ب فْ َ َه أ ا ِم ْن َسدَ لَ ِل َوال َّش َر ِح ْر ِص ا ِف ِل َما ْ َمْر ِء َعلَى ال ل ِدينِ ِه ---------- ْ Artinya: “Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas di tengah kawanan kambing lebih merusak bagi kambing itu dibandingkan rakusnya seseorang terhadap harta dan kedudukan (karena hal itu lebih merusak) agamanya “. [HR Ath-Tirmidzi (2376). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Rasulullah Saw. memberitakan bahwa rakusnya seseorang terhadap harta benda dan kedudukan akan merusak agamanya dan kerusakan ini lebih dahsyat dibanding kerusakan dua serigala yang sedang lapar terhadap kambing yang menyendiri.” Pengaruh harta bagi agama seseorang amatlah kuat. Banyak orang yang tidak menyadari hal itu sehingga ia pun tertipu dengan kehidupan orang-orang kaya. Akibatnya, ia menyangka bahwa kebahagiaan hakiki adalah banyaknya harta. Padahal boleh jadi harta yang banyak justru menjadi sebab kehancuran agama dan akhlak seseorang. Al-Imam Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarokfuriy berkata, “Adapun harta, maka perusakannya bahwa harta itu merupakan sejenis kemampuan yang akan membangkitkan pendorong syahwat-syahwat dan menyeret kepada bersenang-


PESONA USAHA Jilid Pertama 155 senang dalam hal-hal mubah. Akhirnya, gaya hidup bersenangsenang tersebut menjadi kebiasaan. Boleh jadi rasa hausnya terhadap harta semakin menjadi-jadi dan tak mampu lagi memperoleh harta yang halal. Dia pun terjerumus dalam halhal syubhat (samar hukumnya), disamping hal itu melalaikan dari mengingat Allah Swt. Hal-hal seperti ini tak akan lepas dari seorangpun. Adapun kedudukan, maka cukuplah kerusakannya bahwa harta dikorbankan demi kedudukan, sedang kedudukan tidaklah dikorbankan demi harta. Ini adalah kesyirikan yang halus. Lantaran itu, ia pun terjun dalam sikap mencari-cari muka, menjilat, kemunafikan dan seluruh perilaku tercela. Jadi, ia (kedudukan) lebih merusak dan perusak”. Apa yang dinyatakan oleh Al-Mubarokfuriy amatlah benar. Kedudukan amatlah merusak sampai seseorang rela merusak agama dan perilakunya. Lihatlah para pengejar kedudukan di musim-musim partai dan pesta demokrasi. Apapun ia akan korbankan demi kedudukan!! Rasulullah Saw. mendoakan kejelekan bagi orang yang tamak kepada dunia ini. Sebagaimana sabdanya, Artinya: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah, celakalah hamba khamilah. Jika diberi, maka dia senang. Tetapi jika tidak diberi, maka ia marah. Celakalah dia dan merugilah. Jika tertusuk duri, maka duri itu tak akan tercabut”. HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2730) Oleh karenanya, hendaklah kita waspada terhadap penyakit berbahaya ini. Gunakanlah nikmat yang Allah berikan sesuai dengan kebutuhan kita. Sebab seluruh nikmat yang ada pada kita, kelak akan di mintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Hal ini sesuai firman-Nya, selengkapnya berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 156 ِعيم َّ ن يَ ْو َمئِ ٍذ َع ِن الن َّ ُ ل َ ْسأ ُ ت م لَ َّ ُ ث Artinya: “kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur : 8) 5. Boros Al-Raghib al-Ashfahani dalam bukunya al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an mengartikan kata israf (boros) dengan berlebihlebihan. Adapun kata mubazzir diartikannya dengan menyianyiakan harta. Kedua kata ini meskipun selalu diartikan dengan satu makna dalam bahasa Indonesia yaitu “boros” namun keduanya tetap saja memiliki sisi-sisi perbedaan. Israf nampaknya lebih mengarah kepada sifat royal dengan mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan (over dosis). Orangorang yang seperti ini ingin saja memiliki setiap yang baru padahal barang yang lama masih berfungsi dengan baik. Pada sisi lain. Alqur’an juga menggunakan kata ini untuk tindakan yang berlebih-lebihan karena yang bersangkutan tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Adapun sifat mubazir nampaknya lebih mengarah kepada sifat kesenangan sesaat padahal masih banyak lagi manfaat yang dapat diambil dari harta yang dimilikinya. Bila mengeluarkan harta kekayaan dalam jumlah yang banyak (israf), akan tetapi pengeluaran ini dilakukan di jalan kebaikan tertentu, dan ada manfaatnya tidaklah dinamakan dengan tabdzîr. Karena israf, menyia-nyiakan dan merusak kekayaan memiliki makna yang lebih luas dan mencakup berbagai aspek; seperti berlebihan dalam infak-infak pribadi dan urusan sosial yang tidak bisa diartikan sebagai tabdzîr, akan tetapi tabdzîr mencakup penyia-nyiaan dan berlebihan dalam menggunakan makanan dan perlengkapan kehidupan. Dengan kata lain, bisa


PESONA USAHA Jilid Pertama 157 dikatakan setiap tabdzîr adalah israf, akan tetapi setiap israf belum tentu tabdzîr. Perilaku setan Saudara setan yang tak lain adalah para pelaku israf memiliki berbagai macam perilaku, dan dalam setiap kondisi akan memiliki perilaku yang berbeda-beda. Mereka yang melakukan israf secara sadar dan dengan sengaja, berarti ia telah menyertai setan. Hal tersebut sudah disinyalir Allah Swt. sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-Isra’ (17) ayat 26-27, selengkapnya berbunyi: Artinya: 26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. 27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. 6. Sombong, membangga-banggakan diri Sombong dan membangga-banggakan diri merupakan sifat amat tercelah. Dan amat Islam dilarang mengamalkan sifat semacam ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang terdapat dalam al-Qur’an pada surat al-Isra’ (17) ayat 37, selengkapnya berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 158 “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan menjulang setinggi gunung”. Demikian pula pada Qs. al-Hadid (57) ayat 23-24, selengkapnya berbunyi: Artinya: (23) “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membaggakan diri”. Artinya (24) “yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Barang siapa berpaling (dari perintahperintah Allah), maka Sesungguhnya, Allah, Dia Maha Kaya, Maha Terpuji”. Sombong adalah penyakit hati yang seringkali dapat menghinggapi semua orang. Benih kesombongan terlalu kerap muncul tanpa disadari.


PESONA USAHA Jilid Pertama 159 Sombong oleh sebab faktor materi (material). Di tingkat pertama, sombong disebabkan oleh faktor materi ialah bahwa seseorang merasa diri lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Sombong oleh sebab faktor kecerdasan (pintar). Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan ialah bahwa seseorang merasa diri lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibanding orang lain. Sombong oleh sebab faktor kebaikan. Dan di tingkat ketiga, sombong disebabkan faktor kebaikan ialah bahwa seseorang sering menganggap diri sendiri lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula dimendeteksi. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi kerana seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin (hati) seseorang. Diantara ego dan Kesadaran Sejati Kita sebenarnya terdiri atas dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai kain dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, nafsu lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Justru, indera kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Tawadhu melawan kesembongan Kita lahir dengan tangan kosong. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik semata, tetapi juga makhluk spiritual. Kita lahir dengan tangan kosong,


PESONA USAHA Jilid Pertama 160 dan kita pun akan meninggal dengan tangan kosong. ”Sesungguhnya kami adalah milik Tuhan dan kepada-Nyalah kami kembali.” (Al-Baqarah, 2: 156) Syurga bagi orang-orang sombong Allah Swt. menyebutkan bahwa alam akhirat dan segala kenikmatannya yang tidak pernah berakhir, diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang mukmin, yang tidak merasa tinggi diri dan lebih mulia di hadapan makhluk lainnya. Mereka inilah yang telah Allah Swt. tanamkan kemuliaan dan ketawadhu'an di dalam sanubarinya, dan Allah Swt. sediakan untuknya syurga Firdaus yang indah dan tidak pernah terbayangkan kenikmatannya. Allah Swt. berfirman: "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakaan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (AlQashash, 28: 83) Tawadhu dianggkat derajatnya oleh Allah Swt. Seorang yang tawadhu' bukan berarti hina di hadapan manusia, bahkan dengan akhlak ini seseorang dapat diangkat derajatnya oleh Allah Swt. sehingga setiap kali bertambah ketawadhu'an seorang hamba niscaya bertambah pula derjatnya. Inilah janji Allah Swt. yang disampaikan Rasulullah Saw. bersabda yang artinya: "Dan tidak ada seorang pun dari kalian yang tawadhu' karena Allah, kecuali pasti Allah mengangkat derajatnya." (HR. Muslim). Dalam hadits shahih Rasulullah Saw. telah berpesan agar kaum muslimin berakhlak tawadhu' dan tidak saling menyombongkan diri, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar hendaknya kalian tawadhu', sehingga tidak ada yang saling menyombongkan dirinya dari


PESONA USAHA Jilid Pertama 161 lainnya dan tidak ada yang mendzalimi satu dengan lainnya." (HR. Muslim) Kesombongan menolak Syari’at Allah Swt. Sementara itu, dalam skala yang lebih luas, kesombongan dan ketakaburan itu sangat tampak dalam perilaku manusia yang bukan saja tidak mau diatur oleh syariah Allah Swt., tetapi bahkan menolak dan mengingkari syariah itu sendiri. Selayaknya manusia-manusia yang sombong dan takabur takut terhadap ancaman Allah Swt. yang terdapat dalam al-Qur’an, selengkapnya berbunyi: Artinya: Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghunipenghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Qs. al-A‘raf, (7) ayat 36. Sementara hadits Rasulullah Saw. yang artinya: "Tidak akan masuk syurga siapa saja yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim dan lainnya) Terkait dengan itu dalam kisah Iblis bersama dengan Adam as, kesombongan dapat mendorong kepada penolakan terhadap perintah Allah Swt. Allah berfirman sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an surat al-Hijr (15) ayat 33, selengkapnya berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 162 Artinya: “Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk Pada surat Shaad ayat 76, Allah Swt. berfirman, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." Al-Qur'an dalam berbagai ayatnya mencela orang yang melakukan kesombongan, dan menjelaskan bahwa kesombongan tersebut mencegah banyak orang untuk beriman kepada Allah Swt. dan kepada Rasulullah Saw., sekaligus menjerumuskan diri mereka ke neraka Jahanam: "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenarannya)..." (An-Nahl: 14). "Maka masuklah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal didalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.” (An-Nahl: 29). "... Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong." (An-Nahl: 23). "... Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." (Ghafir: 35). "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku..." (Al-A'raf: 146).


PESONA USAHA Jilid Pertama 163 Luqman (Dalam Surah Luqman) menasihati anaknya agar berakhlak mulia. Hal ini dikemukakan Allah dalam Al-Qur'an yang artinya: "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (Luqman :18-19) Dari ayat di atas, yang amat ditekankan oleh Luqman terhadap anaknya adalah jangan berlaku sombong, baik dalam sikap dan tingkah laku maupun dalam perkataan. Orang yang sombong adalah orang yang merasa memiliki kelebihan dibanding orang lain lalu merendahkan dan menghina orang itu. Sedangkan sombong kepada Allah Saw. adalah tidak mau menerima ketentuan-ketentuanNya yang meliputi kehidupan ini. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolokolok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolokolokkan) lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (mengolok-olok)." (Al-Hujurat:11). 7. Riya’ Secara bahasa, Riya’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia. Adapun secara istilah riya’ berarti melakukan ibadah dengan niat dalam hati karena demi manusia, dunia yang dikehendaki dan tidak berniat beribadah kepada Allah Swt. Riya’ adalah melakukan suatu amal perbuatan bukan untuk mencari keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian dan atau


PESONA USAHA Jilid Pertama 164 kemasyhuran di masyarakat. Hal ini sesuai dengan al-Qur’an pada surat al-Anfaal (8) ayat 47, selengkapnya berbunyi: Artinya: Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Demikian pula Qs. an-Nisa (4) ayat 38, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan hartaharta mereka karena riya[297] 32[1] kepada manusia, dan orangorang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburukburuknya.”. Imam Al-Ghazali, pernah berkata bahwa riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal yang behubungan dengan kebaikan. Sementara Imam Habib Abdullah Haddad pula berpendapat bahwa riya’ adalah menuntut kedudukan atau meminta 32. (297) Maksudnya: Riya ialah melakukan sesuatu karena ingin dilihat dan dipuji orang. (Sumber al-Qur’an dan tejemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 165 dihormati dari orang banyak dengan amalan yang ditujukan untuk akhirat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan penghormatan padanya. Sebagaimana ulama mengatakan: ْصِد ا ْربَ ِة ِلقَ قُ ْ ُ ال ْيقَاع ِ ء إ ُ ِ ريَا َّا ِس َوال لن “Riya’ adalah melakukan ibadah karena mengharap arah kepada manusia supaya mendapat keuntungan darinya (pujian dan penghormatan)”. Oleh karena itu, Syeikh Ahmad Rifa’i pernah berpesan bahwa riya’ merupakan perbuatan haram dan satu diantara dosa besar yang harus dijauhi serta di tinggalkan supaya selamat dan amalnya manfaat sampai di negeri akhirat. Macam-macam Riya’ Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa riya’ ada 2 macam, sebagaimana ulama menguraikannya: ِن هَو قِ ْس َما ُ َو ص َكا َن الَ ء َخاِل ٌ ِر : يَا ٌ ْ ْفعَ َل ال ْربَ يَ قُ َّ ِال إ ةَ َّا ِس , َه ِللن ْفعَلَ ٌك َكا َن يَ ء ِش ْر َو ِر َو يَا ٌ َّ َو ا ِس َو اِهللِ ِللن ُ ه و ِل َّ ْألَ َخ ُّف ِم َن ا أ -------------------------------- َ Artinya: “ riya’ dibagi kedalam dua tingkatan: riya’ khalish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia. Sementara riya’ syirik yaitu melaku-


PESONA USAHA Jilid Pertama 166 kan perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur”. Fudhail berkata: “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Sementara ikhlas akan Allah menyelamatkanmu dari keduanya”. Oleh karena itu, sifat riya’ sekiranya sudah menjalar masuk ke dalam aktivitas keseharian dan mendarah daging dalam tubuh seseorang amat susah untuk menghilangkannya, karena mereka menganggap sifat riya’ merupakan satu sikap berbuat baik kepada orang lain, dengan dalih bahwa apa yang mereka kerjakan dalam pandangan misalnya adalah perbuatan yang terpuji, hal ini sesuai dengan isyarat al-Qur’an dalam surah AlBaqarah (2) ayat 11-12: Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat bencana dan kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang hanya membuat kebaikan”. Artinya: “Ketahuilah! Bahwa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya membuat bencana dan kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya. Diantara kelembutan riya’ adalah menjadikan ikhlas sebagai wasilah untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan bahwa, “Dihikayatkan dari Abu Hamid Al-Ghazali bahwasanya telah sampai kepadanya kabar, bahwa barangsiapa yang ikhlas kepada Allah selama 40


PESONA USAHA Jilid Pertama 167 hari, niscaya akan terpancar hikmah dari hatinya melalui lisannya. Ia berkata: “Aku telah berbuat ikhlas selama 40 hari, namun tidak juga terpancar hikmah sedikitpun”. Kemudian aku ceritakan hal itu kepada orang-orang yang arif, mereka mengatakan kepadaku: Karena kamu berbuat ikhlas untuk mendapatkan hikmah, bukan ikhlas karena Allah!”. Yang demikian itu dikarenakan tujuan manusia berbuat ikhlas untuk mendapatkan kelembutan dan hikmah, atau untuk mendapatkan pengagungan dan pujian manusia. Maka hal ini sesuai dengan perkataan ulama ahli sufi, bahwa kita kadang tidak bisa membedakan antara riya’ jali (terang) dan khafi (samar), kecuali orang-orang yang benarbenar selalu mensucikan hatinya, yaitu yang hanya beribadah kepada Allah semata. Karena dengan kedekatan kepada-Nya, sudah barang tentu hati dibersihkan dari penyakit-penyakit yang buruk (madzmumah). Sebab hati yang kotor tidak mungkin dapat mendekati Tuhan. Allah Swt. berfirman dalam surat al-Kahfi ayat 110: Artinya “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa, Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.


PESONA USAHA Jilid Pertama 168 Ayat diatas menerangkan kepada kita, sekiranya beramal tapi masih mengharapkan pujian daripada selain Allah, maka sifat riya’ sudah masuk dalam diri sendiri, dan itu sangat berbahaya. Perlu disadari bahwa kita beramal untuk menuai hasilnya nanti di akhirat, bukan di dunia juga bukan karena menginginkan pujian dari orang lain. Allah Swt. berfirman dalam surat Asy-Syuura ayat 20: Artinya: “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”. Apapun jenis ibadah yang kita lakukan, hendaklah dengan satu tujuan menghadap kepada sang Penguasa alam semesta, seperti shalat yang dikerjakan setiap hari, lakukanlah itu hanya untuk Allah, baik ketika shalat sendiri atau pun ada orang di sekitarnya, beribadahlah hanya untuk Allah yang Maha Mulia. Allah berfirman dalam surat al-Maa’uun ayat 4-7: Artinya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. Al-Qurthubi mengatakan bahwa makna dari “orang-orang yang berbuat riya,” adalah orang yang (dengan shalatnya) memperlihatkan kepada manusia bahwa dia melakukan shalat dengan penuh ketaatan, dia shalat dengan penuh ketakwaan seperti seorang yang fasiq melihat bahwa shalat sebagai suatu


PESONA USAHA Jilid Pertama 169 ibadah atau dia shalat agar dikatakan bahwa ia seorang yang (melakukan) shalat. Hakikat riya’ adalah menginginkan apa yang ada di dunia dengan (memperlihatkan) ibadahnya. Pasalnya riya adalah menginginkan kedudukan di hati manusia. Ini termasuk syirik yang tersembunyi. Nabi Saw. bersabda :“Wahai sekalian manusia, jauhilah kemusyrikan yang tersembunyi!” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu syirik yang tersembunyi?” Beliau menjawab, “Seseorang bangkit melakukan shalat kemudian dia bersungguh-sungguh memperindah shalatnya karena dilihat manusia. Itulah yang disebut dengan syirik yang tersembunyi.” HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi. Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Siapa orang yang berpuasa hanya ingin di lihat orang maka itu adalah riya’, siapa orang yang shalat hanya ingin dilihat orang maka itu adalah riya’, dan barangsiapa yang bersedekah hanya ingin dilihat orang maka itu adalah riya’.(HR. Ahmad). Riya’ sangat mungkin muncul di dalam diri seseorang pada saat setelah dan sebelum suatu ibadah selesai dikerjakan. Imam Ghazali mengatakan bahwa apabila di dalam diri seseorang yang selesai melakukan suatu ibadah muncul kebahagiaan tanpa berkeinginan memperlihatkannya kepada orang lain, maka hal ini tidaklah merusak amalnya karena ibadah yang dilakukan tersebut telah selesai, dan keikhlasan terhadap ibadah itu pun sudah selesai serta tidaklah ia menjadi rusak dengan sesuatu yang terjadi setelahnya apalagi bila ia tidak bersusah payah untuk memperlihatkannya atau membicarakannya. Namun, bila orang itu membicarakannya setelah amal itu dilakukan dan memperlihatkannya maka hal ini ‘berbahaya’.


PESONA USAHA Jilid Pertama 170 Imam al-Ghazali menerangkan bahwa barangsiapa yang tidak membuang sifat riya’ ini, niscaya akan ditimpa kecelakaan serta akan tergolong dalam golongan kufur. Jika hal ini berlaku, maka tentulah dia tidak lagi layak mencium bau syurga, apatah lagi memasukinya. Rasulullah Saw. menasihatkan umatnya agar tidak sesekali menyebut kebaikan diri dan keluarga karena sikap demikian akan mendorong seseorang kepada sifat riya’. Justeru, keikhlasan saja yang dapat membunuh perasaan riya’ sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam al-Qur’an surat Al-Bayyinah (98) ayat 5, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595] 33[1], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”. Dalam ayat yang lain: Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (al-Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (dari syirik).” Ibnu-Qudamah mengatakan,”bila sifat riya’ muncul sebelum selesai suatu ibadah dikerjakan, seperti shalat yang dilakukan dengan ikhlas dan apabila hanya sebatas kegembiraan maka hal itu tidaklah berpengaruh terhadap amal tersebut namun apabila 33. (1595) Maksudnya: Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan. (Sumber al-Qur’an dan tejemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 171 sifat riya’ sebagai faktor pendorong amal itu seperti seorang yang memanjangkan sholat agar kualitasnya dilihat oleh orang lain maka hal ini dapat menghapuskan pahala. Adapun apabila riya’ menyertai suatu ibadah, seperti seorang yang memulai sholatnya dengan tujuan riya’ dan hal itu terjadi hingga selesai sholatnya maka sholatnya tidaklah dianggap. Dan apabila ia menyesali perbuatannya yang terjadi didalam sholatnya itu maka seyogyanya dia memulainya lagi. Dalam surah al-Baqarah ayat 264 Allah berfirman:-------------- - Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebutnyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir[168] . 34[1] Secara mudah dapat disimpulkan bahwa riya’ adalah perbuatan yang semata-mata hanya untuk mengharapkan sanjungan, 34. (168) Maksudnya: Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat (Sumber al-Qur’an dan tejemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 172 pujian atau penghormatan dari orang lain. Hal ini amat bertentangan dengan kehendak Islam yang senantiasa menyeru umatnya agar beramal atau melakukan perkara kebaikan dengan hati penuh keikhlasan dan mengharapkan keridhaan Allah. Sekiranya penyakit ini dibiarkan terus bersarang dalam hati seseorang, lama kelamaan ia bisa membinasakan orang yang mengamalkannya. Kemurnian akidah, keluhuran akhlak dan kesempurnaan amal umat Islam akan tercemar dan dapat rusak jika tidak dilandasi keimanan dan keikhlasan hati serta mengharapkan keridhaan Allah. Justru, dalam Islam setiap amal kebajikan yang disertai dengan riya’ adalah tergolong dalam perbuatan syirik kecil yang dapat merusakkan amal kebajikan, melunturkan kemurnian akhlak dan akan mendapat kerugian hidup di dunia dan akhirat. Memang ada di kalangan umat Islam yang melakukan sesuatu amalan kebajikan atau mengerjakan ibadah hanya untuk mengaburi mata orang banyak, Mereka melakukan amalan kebajikan atau ibadah untuk menunjukkan yang konon mereka baik, pemurah, wara’ atau rajin beribadah. Mereka lakukan karena didorong hawa nafsu yang selalu berusaha memalingkan mereka yang lemah imannya. Hal ini diperingatkan Allah dalam firman-Nya pada syrat al-Jatsiyaah (45) ayat 18: ِ ِع ب َّ َال تَت َو ِ َك َع ْن َسب َّ ُ ِضل َهَوى فَي ْ ي هللاِ ِل ال “Dan janganlah kamu turuti hawa nafsu, nanti ia menyesatkan kamu daripada (agama) Allah”. Dalam surah Muhammad ayat 16, Allah berfirman: ِ وب ُ ل َع هللاُ َعلَى قُ ِذي َن َطبَ َّ ئِ َك ال ولَ ُ ه ِهْ َو أ ُ ُ بَع َّ َء م ات ْهَوا ْم َ وا أ “Mereka itu telah dicap (ditutup) Allah mata hatinya dan mereka mengikut hawa nafsunya”.


PESONA USAHA Jilid Pertama 173 Adalah sangat jelas umat Islam yang melakukan perbuatan riya’ akan mendapat balasan buruk dari Allah. Sementara Rasul Saw. sendiri selalu mengingatkan umatnya supaya menjauhkan diri dari perbuatan riya’. Hal ini seseuai dengan beberapa hadits Beliau. Seperti: Rasul Saw bersabda: Awaslah kamu jangan mencampuradukkan antara taat kepada Allah dengan keinginan dipuji orang (riya’), niscaya gugur amalanmu. (HR. Ad-Dailami). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadapmu ialah syirik kecil, lalu ditanya oleh sahabat, apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? Kemudian baginda bersabda: itulah riya’. (HR. Ahmad dan Baihaqi). Untuk menjauhkan diri atau membersihkan hati dari perbuatan riya’, umat Islam hendaklah mengamalkan sifat muraqabah. Muraqabah dapat memperlihatkan dan menghayati kepentingan dan hak Allah dengan memperhitungkan diri sendiri, berapa banyak kebaikan dan dosa yang telah dilakukan sebagai perbandingan supaya terus berhati-hati dalam setiap perbuatan dan apa pun tindakan yang akan dilakukan. Bertaubat adalah jalan terbaik bagi mereka yang melakukan dosa atau yang terlanjur perbuatannya. Taubat dan istighfar amat dituntut kepada setiap orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 135: Artinya: “Dan orang-orang yang melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampunan atas dosa mereka. Dan tiada siapa


PESONA USAHA Jilid Pertama 174 yang mengampuni dosa melainkan Allah dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya sedang mereka mengetahui”. 8. Bakhil lagi kikir Sifat bakhil dan kikir merupakan sifat yang amat dilarang dalam islam. Hal ini sesuai dengan al-Qur’an surat Ali-Imran (3) ayat 180, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan jangan sekali-sekali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karuniaNya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka. Apa (harta) yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. Pada al-Qur’an Surat al-Hadid (57) ayat 24, selengkapnya berbunyi: Artinya: “yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Barang siapa berpaling (dari perintahperintah Allah), maka Sesungguhnya, Allah, Dia Maha Kaya, Maha Terpuji”.


PESONA USAHA Jilid Pertama 175 Siapakah pada saat ini insan di dunia yang tidak mengalami kesulitan hidup? Kesulitan hidup, baik itu dari aspek ekonomi maupun sosial bisa menerpa siapa saja, seseorang, keluarga ataupun masyarakat. Kesulitan hidup itu disebabkan antara lain karena melakukan tindakan maksiat. Maksiat yang dimaksud disini adalah bukan saja yang sering diartikan orang sebagai perbuatan asusila saja, tetapi juga dalam bentuk ketidaktaatan manusia kepada segala sesuatu yang diperintahkan Allah Swt. kepadanya. Sepahit dan sesulit apapun kehidupan dunia maka itu tidak akan kekal, yang kekal adalah kehidupan akhirat. Jadi, sebaiknya kita ketahui apa saja yang bisa menyebabkan kesulitan hidup kelak di akhirat yang pedih lagi kekal. Salah satu penyebab kesulitan hidup adalah bakhil dan kikir. Sebagaimana Allah Swt. berfirman : Artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran : 180) Maksudnya, Allah akan menjadikan harta yang ia bakhil menginfakkannya sebagai beban di pundaknya pada hari


PESONA USAHA Jilid Pertama 176 kiamat. Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan satu hadits dari Rasulullah saw : Dari Abu Hurairah r.a. : bahwa Rasulullah Saw bersabda, yang artinya: “Barang siapa yang diberikan oleh Allah harta kepadanya, kemudian ia tidak mengeluarkan zakatnya, maka ia akan berwujud ular yang sangat besar yang akan menariknya dengan dua tulang rahangnya yang lebar, kemudian ia berkata, “saya adalah harta simpananmu.” Kemudian Rasulullah Saw. membacakan ayat ini , sampai akhir hayat (mutttafaq alaih) Sehubungan dengan itu, Allah Swt. berfirman sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat at-Taubah (9) ayat 76, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-nya, mereka kikir dengan karunia itu dan ia berpaling dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Selanjutnya dalam surah al-Lail (92) ayat 7-9, Allah berfirman, selengkapnya berbunyi: Artinya: (7) “ Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (8) Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup[1580] 35[1], (9) serta mendustakan pahala terbaik. 35. (1580) Yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya (Sumber al-Qur’an dan tejemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 177 Menafsirkan ayat di atas , Ibnu Abbas berkata, “ Bakhil dengan hartanya dan tidak mau menyembah Allah Swt. tidak percaya terhadap surga dan nikmat-Nya, maka akan Kami persiapkan untuknya nasib yang menjadikannya dalam kesusahan yaitu kehidupan yang sulit di dunia dan akhirat. Ia adalah jalan kejahatan.” Para ahli tafsir berkata,” jalan kebaikan disebut sebagai jalan kemudahan, karena akibat yang akan dialaminya adalah sebuah kemudahan yaitu masuk surga . Dan dinamakan jalan kesusahan, karena akibat yang akan ia rasakan adalah kesusahan yaitu masuk neraka jahanam. Pada surat Muhammad Firman Allah, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada Jalan Allah. Maka diantara kamu ada orang yang kikir dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap diri nya sendiri. Dan Allahlah yang Maha kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya); dan jika kamu berpaling , niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). (Muhammad (47) ayat 37-38)


PESONA USAHA Jilid Pertama 178 Maksudnya, barang siapa yang bakhil, tidak mau mengeluarkan infak di jalan Allah, maka sesungguhnya mudharat yang diakibatkan karena ia bakhil akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena ia sendiri yang menghalangi pahala dan balasan dari Allah. Allah tidak membutuhkan infak yang kita keluarkan. Bahkan kitalah yang butuh terhadap harta tersebut. Jika berpaling dari taat kepada Allah dan tidak mengikuti perintah-perintahNya maka Ia akan menggantikan posisi kita dengan kaum yang lain yang lebih taat kepada Allah daripada kita. Selanjut Firman Allah dalam surat ath-Thagabun, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infaqkanlah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (ath- Thagabun (64 : 16) Maksudnya, orang-orang yang dijaga oleh Allah dari sifat bakhil dan jiwa mereka dan dijauhkan dari pengaruhnya (dengan mengikuti hawa nafsu), maka mereka berbeda dengan golongan lain yang tidak menyukai untuk infak, mereka itulah orang-orang yang akan Allah selamatkan dari siksaan-Nya. Dari Jabir Ibnu Abdillah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ”Jauhilah perbuatan zalim, karena kezaliman akan membawa kegelapan di hari kiamat. Dan jauhilah dari sifat kikir dan tamak, karena ia telah menghancurkan umat sebelum kalian. Ia


PESONA USAHA Jilid Pertama 179 telah mendorong mereka menumpahkan darah saudara mereka sendiri dan menghalalkan kehormatan mereka. (HR Muslim). Perbedaan sifat bakhil dan dermawan sebagaimana yang diungkapkan oleh sahabat Abu Hurairah r.a. berkata bahwa ia mendengar Rasululah Saw. bersabda, yang artinya: ”Perumpamaan orang yang bakhil dan orang yang mengeluarkan infaknya seperti dua orang yang mempunyai dua kantong yang terbuat dari besi yang panjangnya dari dada mereka hingga di atasnya. Ada pun orang yang suka berinfak, ia tidak mengeluarkan infak kecuali sampai semua yang ada dalam kantong itu habis, sehingga jari-jari tangannya tertutup ketika ia mengambil hartanya untuk infak atau tidak ada lagi tersisa sesuatu pun dalam kantongnya. Ia akan menjadi penghapus dosa-dosanya hingga tidak ada bekas sedikitpun. Adapun orang yang bakhil, ia tidak mau mengeluarkan infak kecuali semua anggota badannya akan saling lekat, ia berusaha melebarkannya tetapi tidak mampu juga “ (muttafaq ‘alaih). Makna hadits tersebut, Bahwa orang yang mengeluarkan infak itu akan terasa lapang hidupnya dan lebar jiwanya, sehingga ia mampu menarik yang ada dibelakangnya dan membawa kedua kakinya serta semua bekas perjalanan dan langkahnya. Imam Al Khattabi berkata,” Ini adalah perumpamaan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. tentang dua orang yang suka mengeluarkan infak dan orang yang bakhil seperti dua orang yang ingin memakai baju perang (tameng) untuk melindungi dirinya dari serangan senjata musuh. Kemudian mereka memakainya di atas kepala. Tameng biasanya dipakai mulai dari atas kepala hingga menutupi dada, sampai kedua tangannya tertutupi. Demikanlah orang yang mengeluarkan infak seperti orang yang memakai tameng yang lebar hingga menutupi semua anggota badannya. Dan perumpamaan orang yang bakhil sperti orang yang memangku tangannya hingga sampai kepundaknya. Setiap


PESONA USAHA Jilid Pertama 180 hendak ia memakainya, ia harus mengumpulkan tangannya ke pundak. Inilah maksudnya bahwa orang yang dermawan ketika hendak berinfak dadanya lapang, tidak terhalang, jiwanya bersih, pun rezekinya menjadi bertambah banyak. Sedangkan orang bakhil, jika dikatakan tentang infak, ia akan merasa tamak dan rakus, seakan dadanya sempit dan tangannya selalu tergenggam. 9. Iri dan dengki Iri dan dengki merupakan penyakit hati yang sangat dilarang untuk dikerjakan oleh orang Islam. Larangan tersebut dinyatakan secara tegas dalam al-Qur’an surat an-Nisa (4) ayat 32, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Mengetahui segala sesuatu”. Iri dan dengki merupakan perbuatan buruk. Pernyataan itu ditegaskan dalam al-Qur’an pada surat al-Baqarah (2) ayat 90 Allah berfirman Selengkapnya berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 181 Artinya: “Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya, dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, kerena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan kepada orangorang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan”. Allah melarang setiap hamba-Nya agar tidak iri pada yang lain karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah jadi ketentuan Allah. Iri hanya boleh dalam dua hal, yaitu bersedekah dan ilmu. Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari) Jika kita mengagumi milik orang lain, agar terhindar dari iri hendaknya mendoakan agar yang bersangkutan dilimpahi berkah. Apabila seorang melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya (dikaguminya) maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah. Sesungguhnya pengaruh iri adalah benar. (HR. Abu Ya’la) Dengki lebih parah dari iri. Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan.


PESONA USAHA Jilid Pertama 182 Oleh karena itu Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki: “Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (Al Falaq ayat 5) Kedengkian bisa menghancurkan pahala-pahala seseorang. Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu. (HR. Abu Dawud).


PESONA USAHA Jilid Pertama 183 PENUTUP a. Kesimpulan Bahwa semua manusia yang ada di dunia ini berkeinginan menjadi kaya raya. Bahwa kekayaan tersebut tidaklah sertamerta datang begitu saja tanpa usaha sungguh-sungguh dan kerja keras. Bahkan Dengan keinginan begitu kuat untuk menjadi kaya raya lalu sebagian orang menempuh jalan pintas, seperti: korupsi, mencuri, atau perbuatan-perbuatan lain yang semisal dengan itu. Padahal kekayaan yang dikejar itu, sebenarnya hanyalah merupakan perhiasan dunia belaka, dan titipan yang akan dimintakan pertanggung jawaban kelak di kemudian hari. BAGIAN KESEMBILAN


PESONA USAHA Jilid Pertama 184 Selanjutnya bahwa dalam kehidupan ini banyak tantangan yang harus dihadapi, misalnya saja jalan pintas sebagaimana dijelaskan di atas. Tantangan tersebut yang paling dahsyat bahkan bisa berbahaya dan dapat menyesatkan adalah terutama yang berkenaan dengan pertarungan keimanan yang bersumber dari dalam diri seseorang. Membelanjakan sebagian rezeki melalui zakat, infaq dan shadaqah tidaklah mudah dilakukan, jika tidak didasari keikhlasan dengan tujuan untuk mencari keridhaan Allah Swt. semata. Itu sebabnya latihan perlu dilakukan. Dan melalui proses latihan pembelajaan ZIS itulah akan terdeteksi kadar keimanan seseorang. Kesemua bentuk tantangan tersebut oleh siapapun harus mampu mengantisipasinya demi pencapaian tujuan yaitu untuk mendapatkan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Bahwa rezeki setiap orang ada, namun eksistensinya berbedabeda. Bahwa rezeki tersebut, sebenarnya tidak dapat dihitung jumlahnya. Dan yang dapat melapangkan rezeki seseorang sekaligus membatasinya, hanya Allah semata. Bahwa rezeki itu bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka jika Allah Swt. menghendaki. Oleh karena itu sudah semestinya semua makhluk terutama manusia mengharapkan rezeki hanya kepada Allah Swt. saja. Sudah diketahui bahwa rezeki itu ada yang mengaturnya. Oleh karena itu kepada pemberi rezeki itulah kita semua berharap, melaksanakan terutama yang terkait dengan hal-hal yang menyebabkan dapat mendatangkan rezeki, diantaranya adalah, bertakwa kepada Allah Swt., Menyambung tali kekeluargaan, berinfaq dengan dasar mencari keridhaan dan ikhlas karena Allah Swt.


PESONA USAHA Jilid Pertama 185 Tentu jalan yang paling dekat dengan datangnya rezeki adalah ikhtiar yang baik. Bahkan dapat menjadi titian datangnya rezeki yang halal pula. Akan sulit kita mengeluarkan infaq, shadaqah atau zakat sekalipun jika tanpa sumber penghasilan. Dan sumber penghasilan itu adalah ikhtiar, apapun pekerjaan itu tetap disebut ikhtiar, misalnya presiden, gubernur, bupati atau walikota, PNS, Tentara, Polisi, guru, nelayan, petani, pemulung dan lain sebagainya. Karena itu Allah Swt. sangat menganjurkan setiap hamba-hamba-Nya untuk berikhtiar. Dan dengan tegas Allah Swt. firmankan dalam al-Qur’an pada surah ar-Ra’d ayat 11, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu yang mengubah nasibnya sendiri. Tentu yang dimaksud mengubah nasib di sini adalah ikhtiar yang baik. Ikhtiar yang dilakukan tentu kita mengharapkan hasil daripadanya. Hasil ikhtiar yang diperoleh kemudian disebut harta kekayaan yang memiliki status. Bahwa status harta tersebut pada hakekatnya bukan merupakan hak-miliki pribadipribadi, melainkan hanya sebagai titipan, cobaan, sarana perjuang hidup, perhiasan yang pada suatu saat akan dimintakan pertanggung jawaban atasnya. Terutama berkenaan dengan dari mana dan dibelanjakan kemana harta titipan itu? Sebagian harta tersebut ada hak orang lain di dalamnya. Dengan demikian merupakan kewajiban untuk mengeluarkannya, baik dalam bentuk zakat, infaq ataupun shadaqah. Bahwa intisari dari infaq yang dikeluarkan terpadu dengan shalat berjamaah di masjid adalah diperolehnya jenis-jenis kekayaan, seperti kaya harta, kaya ilmu dan kaya iman. Yang dijadikan sebagai sarana untuk meraih keselamatan hidup yang lebih pasti dan kekal.


PESONA USAHA Jilid Pertama 186 Yang terakhir ternyata bahwa “penyembahan itu tidak akan pernah bisa berhenti dan dihentikan. Penyembahan tersebut terus menerus berproses tanpa henti, rodanya berputar terus menerus sampai pada suatu saat Allah Swt. memanggil kita menuju keharibaan-Nya. Hal ini sesuai dengan al-Qur’an yang berbunyi: “Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk menyebah kepada-Ku”. b. Saran-saran Infaqkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu sebelum datang suatu hari dimana pada hari itu tidak ada lagi persahabatan dan jual beli. Benifaqlah walau separuh biji kurma. Berinfaqlah dengan ikhlas hanya untuk mencari keridhaan Allah Swt. semata-mata. Jangan pernah menggantungkan harapan kepada siapapun selain Allah karena hal itu adalah kemusyrikan. Dan dosa yang tidak akan pernah terampuni adalah syirik. Latihlah diri kita masing-masing untuk berinfaq, sebab proses latihan berinfaq itu faedahnya sangat besar disamping banyak hal yang dapat kita hindari juga banyak hal yang dapat diperoleh terutama yang berkenaan dengan kekayaan harta, ilmu dan iman, kesemuanya dapat dinikmati tidak hanya di dunia yang sementara ini tetapi terutama pada kehidupan selanjutnya yang kekal di akhrat kelak. Bahwa tulisan ini masih dianggap belumlah sempurna. Oleh karena itu saran-saran diketengahkan untuk meminta dan memohon pandangan yang bersifat membangun demi dan atau paling tidak dengan saran yang membangun tersebut, tulisan ini dapat mendekati kesempurnaan. Karena itu kritik dan saran yang membangun kepada semua pihak sangat diharapkan.


PESONA USAHA Jilid Pertama 187 Daftar pustaka Al-Qur’qnul Kariim Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada, Ensiklopedia Etika Islam, 2008, Maghfirah Pustaka, Jakarta Abdul Qadir Syaibah al-Hamd, Fiqhul Islam, 2005, Darul Haq, Jakarta Abu Hudzaifah Ath-Thalibi, Dahsyatnya Sedekah Orang Miskin, 2010, Multazam, Solo Ahmad Ifham Sholihin, Buku Pintar Ekonomi Syariah, 2010, PT. Gramedia, Jakarta. Ahmad Hatta, DR.,MA., dkk, Bimbingan Islam Untuk Hidup Muslim, 2014, Jakarta. Al-Bayan, Shahih Bukhari – Muslim, 2011, Jabal, Bandung. Amin, Ahmad, Prof. Dr., Etika; Ilmu Akhlak, 1998 CV. Bulan Bintang, Jakarta Amir Abyan, H. Drs. MA. Fiqih, 2006, Karya Toha Putra, Semarang. Asy-Syiarbay, Ridwan Membentuk Pribadi yang Lebih Islami, 2012 Intimedia, Jakarta. Badroen Paisal, Drs., M.BA. dkk, Etika Bisnis Dalam Islam, 2006 Kencanan Media Jakarta. Choiruddin Hadhiri SP. Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an, 1993 Gema Insani Press, Jakarta Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Edisi Revisi 2010, Pustaka Assalam, Jakarta.


PESONA USAHA Jilid Pertama 188 Hamid Usman Abdul, Yuk Mengenal Shalat-shalat Sunnah Rasulullah, 2014, Yayasan Abu Hurairah Sangata Kutim. Hussen Bahreisj, Hadits Shahih Bukhari-Muslim, Karya Utama, CV. Surabaya. Imam Nawawi, Zikir dan Do’a, 2007, Sinar Baru Algesindo, Bandung Jaelani, A.F., Drs. Membuka Pintu Rezeki, 2004 Gema Insani Jakarta Khalid Hilmi Muhammad Amr, Akhlak Mukmin Sejati, 2004 Media Qalbu Bandung Labib MZ, Kunci Ibadah, 2008, Bintang Usaha Jaya, Surabaya. Lauer, H., Robert, Perspekrif Tentang Perubahan Sosial, 1993, PT. Rineka Cipta, Jakarta M. Zaidi Abdad, Drs. M.Ag., Lembaga Perekonomian Umat, 2003, Angkasa, Bandung Muh. Ihsan, Infaq, Shalat Berjamaah, Bangsaku …. Jagalah, 2016, Halaman Moeka, Jakbar Nawawi Imam, Riadus Shalihin, 2004, Irsyad Bandung Sabid Sayyid, Fiqih Sunnah, 2004, Pena Pundi Aksara, Jakarta Syaikh Ziyad Ghazal, Buku Pintar Bisnis Syar’I, 2011, Al Azhar Press, Bogor. Zaidah Kusumawati, M.Pd.I. dkk, Ensiklopedia Nabi Muhammad Saw Sebagai Keturunan Bangsa Arab (2), 2011, PT Lentera Abadi, Jakarta.


PESONA USAHA Jilid Pertama 189 Lampiran-lampiran 1.Cara Menghitung Zakat Maal atau Harta, Fitrah & Profesi Serta Nisab Seorang muslim yang mampu dalam ekonomi wajib membayar sebagian harta yang dimiliki kepada orang-orang yang berhak menerimanya baik melalui panitia zakat maupun didistribusikan secara langsung atau sendiri. Hukum zakat adalah wajib bila mampu secara finansial dan telah mencapai batas minimal bayar zakat atau yang disebut nisab. Berikut ini diketengahkan rumus dan contoh pembayaran zakat fitrah untuk membersihkan diri, zakat mal atau zakat harta kekayaan dan zakat profesi dari penghasilan yang didapat dari pekerjaan yang dilakoni. Bandingkan dengan shadaqah atau infaq yang tidak mempunyai waktu dan perhitungan tetap untuk pengeluarannya. Berikut pembahasannya. A. Zakat Fitrah dan Perhitungannya Zakat Fitrah ialah zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap individu lelaki dan perempuan muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Kata Fitrah yang ada merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan sehingga dengan mengeluarkan zakat ini manusia dengan izin Allah akan kembali fitrah. Yang berkewajiban membayar Pada prinsipnya seperti definisi di atas, setiap muslim diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya, keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. Berikut


PESONA USAHA Jilid Pertama 190 adalah syarat yang menyebabkan individu wajib membayar zakat fitrah: Individu yang mempunyai kelebihan makanan atau hartanya dari keperluan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya Idul Fitri. Anak yang lahir sebelum matahari jatuh pada akhir bulan Ramadan dan hidup selepas terbenam matahari. Memeluk Islam sebelum terbenam matahari pada akhir bulan Ramadan dan tetap dalam Islamnya. Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadan. Besar Zakat Besar zakat yang dikeluarkan menurut para ulama adalah sesuai penafsiran terhadap hadits adalah sebesar satu sha' (1 sha'=4 mud, 1 mud=675 gr) atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.7 kg makanan pokok (tepung, kurma, gandum, aqith) atau yang biasa dikonsumsi di daerah bersangkutan (Mazhab syafi'i dan Maliki) Waktu Pengeluaran Zakat Fitrah dikeluarkan pada bulan Ramadan, paling lambat sebelum orang-orang selesai menunaikan Salat Ied. Jika waktu penyerahan melewati batas ini maka yang diserahkan tersebut tidak termasuk dalam kategori zakat melainkan sedekah biasa. Penerima Zakat Dan dalam al-Qur’an surah at-Taubah ayat 60, berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 191 Artinya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, mualaf (yang dilunakkan hatinya), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. 9:60) Penerima Zakat secara umum ditetapkan dalam 8 golongan atau asnaf (fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil) namun menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrah mesti didahulukan kepada dua golongan pertama yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan dengan alasan bahwa jumlah atau nilai zakat yang sangat kecil sementara salah satu tujuan dikelurakannya zakat fitrah tersebut adalah agar para fakir dan miskin dapat ikut merayakan hari raya dan saling berbagi sesama umat islam. Sumber Hadits berkenaan dengan Zakat Fitrah Hadits 570, Rasulullah bersabda, berbunyi: سو َل هللاِ صلى هللا عليه وسلم ُ ن َر َّ َ ع َمَر، أ ِن ُ حديث اْب ٍر، ْو َصا ًعا ِم ْن َش ِعي َ ْمٍر، أ ْطِر َصا ًعا ِم ْن تَ ِف ْ َر َض َز َكاةَ ال فَ ْنثى، ُ ْو أ َ ْو َعْبٍد، ذَ َكٍر أ َ حٍ ر أ ُك لِ ُ م ْسِل ِمي َن َى ُ َعل ِم َن ال ------ ْ Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata : Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah dari bulan Ramadan satu sha' dari


PESONA USAHA Jilid Pertama 192 kurma, atau satu sha' dari sya'iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim) Diriwayatkan dari Umar bin Nafi' dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata; Rasulullah Saw. telah mewajibkan zakat fitrah satu sha' dari kurma atau satu sha' dari sya'iir atas seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin dan dia memerintahkan agar ditunaikan atau dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk shalat 'ied. (H. R : Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa'i). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Rasulullah Saw. telah memfardhukan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti nilai zakat yang diterima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah salat 'ied, maka itu berarti bernilai shadaqah seperti shadaqah biasa (bukan zakat fitrah). (H.R: Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni) Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Saw. bersabda: “Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dan lain lain) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang dikeluarkan dari kelebihan kekayaan (yang di perlukan oleh keluarga) (H.R: Al-Bukhary dan Ahmad) Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah Saw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah unutk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya dari


PESONA USAHA Jilid Pertama 193 orang yang kamu sediakan makanan untuk mereka (tanggunganmu). (H.R : Daaruquthni, hadits hasan). Artinya: Diriwayatkan dari Nafi' berkata : Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat fitrah) kepada mereka yang menerimanya (panitia penerima zakat fitrah atau amil) dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum 'iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary) Diriwayatkan dari Nafi': Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang mengeluarkan zakat fitrah kepada petugas yang kepadanya zakat fitrah di kumpulkan (amil) dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik) Hikmah disyari'atkannya Zakat Fitrah Di antara hikmah disyari'atkannya zakat fitrah adalah: 1.Zakat fitrah merupakan zakat diri, di mana Allah memberikan umur panjang baginya sehingga ia bertahan dengan nikmat-Nya. 2.Zakat fitrah juga merupakan bentuk pertolongan kepada umat Islam, baik kaya maupun miskin sehingga mereka dapat berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah Swt. dan bersukacita dengan segala anugerah nikmat-Nya. 3.Hikmahnya yang paling agung adalah tanda syukur orang yang berpuasa kepada Allah atas nikmat ibadah puasa. Di antara hikmahnya adalah sebagaimana yang terkandung dalam hadits Ibnu Abbas ra. di atas, yaitu puasa merupakan pembersih bagi yang melakukannya dari kesia-siaan dan perkataan buruk, demikian pula zakat sebagai salah satu sarana pemberian makan kepada fakir miskin.


PESONA USAHA Jilid Pertama 194 B. Rumus Perhitungan Zakat Profesi atau Pekerjaan Zakat Profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi tersebut misalnya pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, dan wiraswasta. Latar belakang masalah Adapun orang-orang yang disyariatkan zakat profesi atasnya memiliki alasan sebagai berikut: Berbeda dengan sumber pendapatan dari pertanian, peternakan dan perdagangan. Sumber pendapatan dari profesi tidak banyak dikenal pada masa generasi terdahulu. Oleh karena itu pembahasan mengenai tipe zakat profesi tidak dapat dijumpai dengan tingkat kedetilan yang setara dengan tipe zakat yang lain. Namun bukan berarti pendapatan dari hasil profesi terbebas dari zakat, karena zakat pada hakikatnya adalah pungutan terhadap kekayaan golongan yang memiliki kelebihan harta untuk diberikan kepada golongan yang membutuhkan. Referensi dari Al Qur'an mengenai hal ini dapat ditemui pada surat Al Baqarah ayat 267, Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau


PESONA USAHA Jilid Pertama 195 mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji" Waktu Pengeluaran Berikut adalah beberapa perbedaan pendapat ulama mengenai waktu pengeluaran dari zakat profesi: 1. Pendapat Iman Syafi'i dan Iman Ahmad mensyaratkan haul (sudah cukup setahun) terhitung dari kekayaan itu didapat. 2. Pendapat Iamm Abu Hanifah, Imam Malik dan ulama modern, seperti Muh Abu Zahrah dan Abdul Wahab Khalaf mensyaratkah haul tetapi terhitung dari awal dan akhir harta itu diperoleh, kemudian pada masa setahun tersebut harta dijumlahkan dan kalau sudah sampai nisabnya maka wajib mengeluarkan zakat. 3. Pendapat ulama modern seperti Yusuf Qardhawi tidak mensyaratkan haul, tetapi zakat dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Mereka mengqiyaskan dengan Zakat Pertanian yang dibayar pada setiap waktu panen. (haul:lamanya harta tersimpan) Nisab Nisab zakat pendapatan atau profesi mengambil rujukan kepada nisab zakat tanaman dan buah-buahan sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah setara dengan 520 kg beras. Hal ini berarti bila harga beras adalah Rp 4.000/kg maka nisab zakat profesi adalah 520 dikalikan 4000 menjadi sebesar Rp 2.080.000. Kadar Zakat Penghasilan profesi dari segi wujudnya berupa uang. Dari sisi ini, ia berbeda dengan tanaman, dan lebih dekat dengan emas dan perak. Oleh karena itu kadar zakat profesi yang diqiyaskan dengan zakat emas dan perak, yaitu 2,5% dari seluruh


PESONA USAHA Jilid Pertama 196 penghasilan kotor. Hadits yang menyatakan kadar zakat emas dan perak adalah: “Bila engkau memiliki 20 dinar emas, dan sudah mencapai satu tahun, maka zakatnya setengah dinar (2,5%)” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Baihaqi). Perhitungan Zakat Menurut Yusuf Qardhawi perhitungan zakat profesi dibedakan menurut dua cara: 1. Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5% dari penghasilan kotor secara langsung, setelah penghasilan diterima. Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang tidak mempunyai tanggungan atau kecil tanggungannya. Contoh: Seseorang yang masih lajang dengan penghasilan Rp 3.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5% X 3.000.000=Rp 75.000 per bulan atau Rp 900.000 per tahun. 2. Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakat dihitung 2,5% dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Metode ini lebih adil diterapkan oleh mereka yang mempunyai tanggungan. Contoh: Seseorang yang sudah berkeluarga dan punya anak dengan penghasilan Rp 3.000.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.500.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar : 2,5% X (3.000.000-1.500.000) = Rp 37.500 per bulan atau Rp 450.000,- per tahun. C. Menghitung Zakat Maal atau Harta Kekayaan Zakat Mal (bahasa Arab: الزكاة المال ;transliterasi: zakah māl) adalah zakat yang dikenakan atas harta yang dimiliki oleh individu dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.


PESONA USAHA Jilid Pertama 197 Dalam Hadits 576, riwaya Abu Dzar Al-Ghifari, Rasulullah Saw bersabda: ٍ ر رضي ِي ذَ ب َ يِ ِب َّ لَى الن ِ ُت إ َهْي حديث أ هللا عنه، قَا َل: اْنتَ ِذي الَ َّ ْو َوال َ ِيَِدِه أ ِذي نَ ْف ِسي ب َّ َوال صلى هللا عليه وسلم، قَا َل: ر ٌ ْو بَقَ َ ٌل أ ِ ِب ُ إ ن لَه ُ ج ٍل تَ ُكو ُ َف َما ِم ْن َر َحلَ ْو َكَما َ ُ أ ره ُ لهَ َغْي ِ إ ِ َها يَ َي ب تِ ُ أ َّ ِال َها إ َّ ُ َؤِد ي َحق م الَ ي ٌ ْو َغنَ َ َ َم أ ا ْع َظم َ َمِة أ ِقيَا ْ ال َ ْوم َما َّ ُكل َها، رونِ ُ ِقُ ب ُ حه َوتَْن َط ُ َها، ْخفَافِ َ ِأ ب ُ ؤه ، تَ َط ُ ُ ْس َمنه َ ن َوأ ُ تَ ُكو َضى بَْي َن ُقْ ى ي َّ َها، َحت والَ ُ ْي ِه أ َّ ْت َعلَ رد ْخ َرا َها ُ ُ َجا َز ْت أ َّا ِس --------------------------------------------- الن Artinya: “Abu Dzar r.a. berkata: Saya datang kepada Nabi Saw. sedang Nabi Saw. bersabda: “Demi Allah yang jiwaku ada di tangannya, atau: “Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, tiada seorang yang memiliki onta, lembu atau kambing lalu tidak menunaikan kewajiban zakatnya melainkan didatangkan pada hari qiyamat sebesar segemuk biasanya, lalu menginjak-injak pemiliknya dan menanduk dengan tanduknya, tiap sudah selesai yang terakhir diulang oleh yang pertama, sehingga selesai putusan orang-orang, lalu ditentukan ke syurga atau neraka. (Bukhari, Muslim). Dalam hadits 567 riwayat Abu Said Al-Qudri, Rasulullah bersanda: سو َل هللاِ صلى هللا عليه وسلم ُ ن َر َّ َ ع َمَر، أ ِن ُ حديث اْب ٍر، ْو َصا ًعا ِم ْن َش ِعي َ ْمٍر، أ ْطِر َصا ًعا ِم ْن تَ ِف ْ َر َض َز َكاةَ ال فَ ْو َ حٍ ر أ ُك لِ ُ م ْسِل ِمي َن َى ُ َعل ْ ْنثى، ِم َن ال ُ ْو أ َ َع ------ ْبٍد، ذَ َكٍر أ Artinya: “Ibn Umar r.a. berkata: Rasulullah Saw. telah mewajibkan zakat fitri satu sha' dari kurma atau jawawut, beras, jagung atas tiap orang merdeka atau budak, lelaki atau


PESONA USAHA Jilid Pertama 198 wanita, besar atau kecil dari kaum muslimin (Bukhari, Muslim). 1 Wasaq = 60 Sha. 1 Sha' = 2 1/2 kg. 1 Sha' = 4 Mud. 1 Mud = 6 ons. 5 Wasaq - 300 Sha'. 5 Uqiyah = 20 mitsqal = kurang lebih atau kira-kira 12 paund (12 dinar) kira-kira 96 gram emas. Perak juga 20 mitsqal atau 200 dirham. Syarat-syarat harta Harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Milik Penuh, yakni harta tersebut merupakan milik penuh individu yang akan mengeluarkan zakat. 2. Berkembang, yakni harta tersebut memiliki potensi untuk berkembang bila diusahakan. 3. Mencapai nisab, yakni harta tersebut telah mencapai ukuran atau jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan, harta yang tidak mencapai nishab tidak wajib dizakatkan dan dianjurkan untuk berinfak atau bersedekah. 4. Lebih dari kebutuhan pokok, artinya orang yang berzakat hendaklah kebutuhan minimal atau kebutuhan pokoknya terpenuhi lebih dahulu. 5. Bebas dari Hutang, bila individu memiliki hutang yang bila dikonversikan ke harta yang akan dizakatkan mengakibatkan tidak terpenuhinya nisab, dan akan dibayar pada waktu yang sama maka harta tersebut bebas dari kewajiban zakat. 6. Berlalu Satu Tahun (Haul), kepemilikan harta tersebut telah mencapai satu tahun khusus untuk ternak, harta simpanan dan harta perniagaan. Hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak memiliki syarat haul.


PESONA USAHA Jilid Pertama 199 Macam-macamnya Macam-macam zakat mal dibedakan atas obyek zakatnya antara lain: Hewan ternak. Meliputi semua jenis & ukuran ternak (misal: sapi, kerbau, kambing, domba, dan ayam) Hasil pertanian. Hasil pertanian yang dimaksud adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, dedaunan, dan lain lain. Emas dan Perak. Meliputi harta yang terbuat dari emas dan perak dalam bentuk apapun. Harta Perniagaan. Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dan lain lain. Perniagaan disini termasuk yang diusahakan secara perorangan maupun kelompok atau korporasi. Hasil Tambang (Makdin). Meliputi hasil dari proses penambangan benda-benda yang terdapat dalam perut bumi atau laut dan memiliki nilai ekonomis seperti minyak, logam, batu bara, mutiara dan lain-lain. Barang Temuan (Rikaz). Yakni harta yang ditemukan dan tidak diketahui pemiliknya (harta karun). Zakat Profesi. Yakni zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi dimaksud mencakup profesi pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, dan wiraswasta. Yang berhak menerima Berdasarkan firman Allah QS. At-Taubah ayat 60, bahwa yang berhak menerima zakat atau mustahik sebagai berikut:


PESONA USAHA Jilid Pertama 200 1. Orang fakir ialah orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupan kesehariannya. 2. Orang miskin ialah orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan. 3. Amil ialah orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Mualaf ialah orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. Hamba sahaya ialah memerdekakan budak mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. Orang berhutang ialah orang yang berutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar utangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. Sabilillah ialah untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufassirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, madrasah, masjid, pesantren, ekonomi umat, dan lain lain. 8. Ibnu sabil ialah orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. Atau juga orang yg menuntut ilmu di tempat yang jauh yang kehabisan bekal. Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut: 1. Islam 2. Merdeka 3. Berakal dan baligh 4. Memiliki nishab


Click to View FlipBook Version