The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini menjelaskan tentang pesona usaha yang dilakukan bersarkan ajaran islam

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ihsanmuh, 2024-06-21 05:11:31

Pesona Usaha Jilid I

Buku ini menjelaskan tentang pesona usaha yang dilakukan bersarkan ajaran islam

Keywords: pesona usaha

PESONA USAHA Jilid Pertama 51 Dan dalam surah Ibrahim ayat 34, berbunyi: Artinya: “Dan Dia telah memberikan kepadamu segala yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah), (QS.14:34) Dan dalam surah an-Nahl’ ayat 18, berbunyi: Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang, (QS.16:18) Dan dalam surah Hud ayat 6, berbunyi: Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya”. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata. (QS.11:6).


PESONA USAHA Jilid Pertama 52 Dan dalam surah an-Naml ayat 40, berbunyi: Artinya: “Seseorang yang mempunyai ilmu dari kitab(1097) 17[1]. berkata, “Aku akan membawa singasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia, (QS.27:40) Dan dalam surah al-Qashash ayat 77, berbunyi: Artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) 17. [1097]. Maksudnya: Al Kitab di sini maksudnya: ialah Kitab yang diturunkan sebelum Nabi Sulaiman ialah Taurat dan Zabur. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 53 sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan, (QS. 28:77) Dan dalam surah al-Ankabut ayat 62, berbunyi: Artinya: “Allah melapangkan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang membatasi baginya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, (QS.29:62) Nabi Muhammad Saw. berwasiat kepada Saidina Ali maksudnya, demikian ini: "Wahai Ali ! Sedekah yang sembunyi-sembunyi itu dapat mereda murka Allah dan dapat menarik rezeki dan berkah yang banyak. Maka berpagi-pagilah kalau bersedekah. Karena sesungguhnya bahaya itu turun pagi hari, sebelum bahaya turun, bersedekahlah sehingga dapat menolak bahaya di udara." Nabi Saw. bersabda maksudnya, demikian ini: “Apabila kamu telah selesai shalat subuh janganlah kamu tidur tanpa mencari rezeki.” (Hadis Riwayat Tabrani) Nabi Saw. bersabda maksudnya, demikian ini: “Pergilah awal pagi untuk mencari rezeki dan keperluan karena pagi membawa keberkatan dan kejayaan.” (Hadis Riwayat Tabrani, Ibnu Adi) Abdullah Ibnu Abbas (Ibnu Abbas) telah melihat anaknya tidur pada waktu Subuh. Maka dikatakan kepada anaknya, "Bangun! Apakah kamu tidur pada waktu rezeki dibagi-bagikan?"


PESONA USAHA Jilid Pertama 54 Berdasarkan firman Allah Swt. dan Sabda Rasulullah Saw. di atas dapat dipahami bahwa rezeki itu tidak dapat dihitung jumlahnya dan akan diberikan kepada seluruh hamba-hambaNya, kecuali yang tidak mau. Rezeki tersebut tidak hanya berupa materi tetapi juga dalam bentuk non materi. Rezeki dalam bentuk materi dapat berupa, udara yang kita hirup, air yang kita minum, tanah yang digarap untuk menghasilkan makanan yang diperlukan, harta kekayaan yang diberikan oleh Allah Swt. melalui usaha yang dilakukan (uang yang didepositokan, rumah, kendaran, pakaian dan lain sebagainya). Sedangkan rezeki non materi dapat berupa dikabulkannya niat yang dihaturkan, diterimanya do’a yang dipanjatkan, ketenangan hati, kenyamanan dan keamanan diri, dijauhkan dari malapetaka, dan sebagainya yang semisal dengan itu. Makna rezeki dalam kaitan ini adalah pemberian barang sesuatu yang menjadi kebutuhan atas kehendak Allah kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan apapun bentuk rezeki yang diberikan oleh Allah Swt tersebut, kita harus mensyukurinya. Caranya adalah melaksanakan segala perintah (shalat lima waktu secara berjamaan di mesjid, misalnya) dan menjauhi segala larangan-Nya (kikir atau bakhil, dan suka mengumpulkan harta, lalu enggan menginfaqkannya di jalan Allah atau untuk kepentingan agama Allah; maksiat, jangan dekati perempuan yang sama sekali belum sah untuk didekati, misalnya). Demikian itulah cara yang dimaksudkan untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada setiap hambahamba-Nya. Dan demikian itulah cara yang harus kita lakukan untuk memaknai syukur nikmat atas rezeki yang diberikan oleh Allah Swt. dalam kehidupan sehari-hari bagi setiap orang, siapapun dia.


PESONA USAHA Jilid Pertama 55 SEBAB-SEBAB DATANGNYA REZEKI Diantara sebab-sebab yang melapangkan rezeki adalah sebagai berikut: a. Takwa Kepada Allah Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rezeki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surah at-Thalaq ayat 2 selengkapnya berbunyi: BAGIAN KETIGA


PESONA USAHA Jilid Pertama 56 Artinya: Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. at-Thalaq (65) ayat 3 selengkapnya berbunyi: Artinya, Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangkasangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi, maka Allah akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rezeki secara tidak terduga. Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah di atas, “Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya,


PESONA USAHA Jilid Pertama 57 dan Dia akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.” Allah Swt. juga berfirman dalam al-Qur’an surah al-A’raf (7) ayat 96, selengkapnya berbunyi: Artinya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” b. Istighfar dan Taubat Termasuk sebab yang mendatangkan rezeki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam yang terdapat dalam al-Qur’an surat Nuh (71) ayat 10,11 dan 12, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,


PESONA USAHA Jilid Pertama 58 dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” Al-Qurthubi mengatakan, “Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rezeki dan hujan.” Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”, lalu ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Ada lagi yang mengatakan, “Mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak!” Maka beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, beliau pun juga menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah.” Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar.” Beliau lalu menjawab, “Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman di dalam surat Nuh, (seperti tersebut diatas). Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya saja sementara perbuatan dosadosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta.


PESONA USAHA Jilid Pertama 59 Istighfar yang demikian tidak memberikan faedah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan. c.Tawakkal Kepada Allah Allah swt berfirman, selengkapnya berbunyi: Artinya,“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. 65:3) Nabi Saw. telah bersabda, yang artinya kurang lebih demikian in:, “Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rezeki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rezeki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani) Tawakkal kepada Allah Swt. merupakan bentuk yang memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepadaNya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan ini. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rezeki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata. Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang disampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi dan menahan, tidak ada


PESONA USAHA Jilid Pertama 60 yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia Azza Wajalla. d. Silaturrahim Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rezeki, di antaranya adalah sebagai berikut: Hadits riwayat Anas bin Malik, 1657, Rasulullah Saw. bersabda, selengkapnya berbunyi: ُث َح َل: ِدي ِن َماِل ٍك رضي هللا عنه، قَا ِس ْب نَ َ سو َل ُت َر أ ُ َسِم ْع َ ُ أ ره َّ َم ْن َس ُ ُْب َس َط لَه ُل: ْن ي و هللا صلى هللا عليه وسلم يَقُ يَ ْ ِرِه، فَل ثَ َ ُ فِي أ لَه َ ُْن َسأ َو ي ، أ ُ ه ِص َر ْل ِر ْزقُ ُ َمه ِح «. Artinya: “Anas bin Malik r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dilanjutkan umurnya maka hendaknya menyambung hubungan famili (kerabat). (Bukhari, Muslim). Sabda Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam, yang artinya kurang lebih demikian ini: “Dari Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim.” (HR Al Bukhari). Sabda Nabi saw, yang artinya kurang lebih demikian ini, “Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta


PESONA USAHA Jilid Pertama 61 dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad dishahihkan alAlbani) Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram. e. Infaq fi Sabilillah Allah swt berfirman, Artinya, “Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya. “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39) Ibnu Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau infaqkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak.” Juga firman Allah yang lain, berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 62 Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. 2:267) Artinya: “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia(170)18[1]. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2: 268) Dalam sebuah hadits (580) qudsi sebagaimana yang diriwayatkan oleh, Abuhurairah r.a. berkata: Nabi Saw. bersabda: Allah ta ak berfirman: س ُ ن َر َّ َ َرةَ رضي هللا عنه، أ ه َرْي ُ ِي ب حديث أ و َل هللاِ صلى َ ْي َك ْنِف ْق َعلَ ُ ْنِف ْق أ َ َّل: أ ز َو َج َّ هللا عليه وسلم، قَا َل: قَا َل هللاُ َع َر َها َّ ْي َل َوالن َّ ء الل ُ حا َّ ، َس ٌ ُض َها نَفَقَة ُ هللاِ َمألَى، الَ تَ ِغي َوقَا َل: يَد َّ ِن ْر َض، فَإ سمَوا ِت َواألَ َق ال َّ َخلَ مْنذُ ْنفَ َق ُ َ ْم َما أ ُ ْيت َ َرأ َ َوقَا َل: أ ُ ه ِيَ ِدِه َوب َما ِء، ْ َعلَى ال ُ ُشه َو َكا َن َع ْر ْم يَ ِغ ْض َما فِي يَ ِدِه، لَ ع ُ ْخِف ُض َويَ ْرفَ ِمي َزان يَ ال ---------------------------- ْ 18. [170]. Maksudnya: Balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan sewaktu di dunia. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 63 Artinya: “Belanjakanlah niscaya Aku membelanjaimu (memberi ganti padamu). Lalu Nabi saw. bersabda: Tangan Allah tetap tidak berkurang karena nafkah tercurah siang malam, lalu perhatikan apa yang diturunkan (dicurahkan) Allah sejak terjadi langit dan bumi hingga kini', maka tidak berkurang kekayaan Allah yang di tangan-Nya. sedang arsy Allah di atas air, dan di tangan Allah neraca timbangan menaikan dan menurunkan. (Bukhari, Muslim) f. Menyambung Haji dengan Umrah Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Mas”ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, yang artinya kurang lebih demikian ini, “Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pandai besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an-Nasai, dishahihkan oleh al-Albani) Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji. g. Berbuat Baik kepada Orang Lemah Nabi Saw. telah menjelaskan bahwa Allah Swt. akan memberikan rezeki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (perbuatan baik) kepada orang-orang lemah, Beliau bersabda, yang artinya kurang lebih demikian ini, “Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rezeki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. al-Bukhari)


PESONA USAHA Jilid Pertama 64 Dhu’afa’ (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacammacam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya dan lain sebagainya. h. Serius di dalam Beribadah Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya, “Wahai Anak Adam Bersungguhsungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu.” Tekun beribadah bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid saja tanpa bekerja, namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan hati dan raga dalam beribadah, tunduk dan khusyu” hanya kepada Allah, merasa sedang menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi. Juga menghadirkan Allah dalam setiap kegiatan, usaha dan pekerjaan yang diperbolehkan untuk dilakukan. Caranya berniat karena Allah yang diawali dengan membaca basmala dengan ikhlas dan hanya mengharapkan keridhaan Allah Swt. Cara inilah yang nantinya membuat seluruh kegiatan yang dilakukan itu menjadi bernilai ibadah.


PESONA USAHA Jilid Pertama 65 IKHTIAR YANG BAIK, TITIAN DATANGNYA REZEKI YANG HALAL Akhir-akhir ini banyak orang yang mengeluhkan masalah penghasilan atau rezeki, entah karena merasa kurang banyak atau karena kurang berkah. Begitu pula berbagai problem kehidupan, mengatur pengeluaran dan kebutuhan serta bermacam-macam tuntutannya. Sehingga masalah penghasilan ini menjadi sesuatu yang menyibukkan, bahkan membuat bingung dan stress sementara sebagian orang. Maka tak jarang di antara mereka ada yang mengambil jalan pintas dengan menempuh segala cara yang penting keinginan tercapai. Akibatnya bermunculanlah berbagai jenis perbuatan yang mengarah kepada keburukan nilai-nilai seperti, koruptor, pencuri, pencopet, perampok, pelaku suap dan sogok, penipuan bahkan pembunuhan, pemutusan silaturrahim dan meninggalkan ibadah kepada Allah hanya untuk mendapatkan uang dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup. BAGIAN KEEMPAT


PESONA USAHA Jilid Pertama 66 Pada hal, jalan terbaik yang dapat dilakukan adalah berusaha dengan segenap kemampuan dan kesabaran serta penuh keikhlasan kemudian diiringi dengan rasa syukur atas nikmat yang diberikan disertai dengan shalat dan do’a dapat menjadi jalan bagi datangnya rezeki yang halal. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an sebagaimana kutipan berikut: Setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.2:148) Pada Surah lain berbunyi: Artinya: Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu[506] 19[1], sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini[507] 20[1]. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan. QS.al-An’am (6) ayat135. 19. [506]. Maksudnya: tetaplah dalam kekafiranmu sebagaimana aku tetap dalam keislamanku. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya). 20. [507]. Maksudnya: Allah menjadikan dunia sebagai tempat mencari (hasil) yang baik yaitu kebahagiaan diakhirat. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 67 Selanjutnya dalam QS.6:162, berbunyi: Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Seruh sekalian alam (QS.6: 162) QS:13:11, berbunyi: Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767] 21[1]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] 22[1] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia., (QS.Ar-Rad (13) ayat 11) 21. [767]. Maksudnya: Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalanamalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah.. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya). 22. [768]. Maksudnya: Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 68 Sementara pada surat Al-Isra’ (17) ayat 84 Allah Swt. berfirman, selengkapnya berbunyi: Artinya: Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya[867] 23[1] masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. Dan pada surat Lukman (31) ayat 34, Allah Swt. berfirman, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187] 24[1]. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya membuat gedung- 23. [867]. Termasuk dalam pengertian keadaan disini ialah tabiat dan pengaruh alam sekitarnya. (Sumber al-Qur’an terjemahannya) 24. [1187] Maksudnya: besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 69 gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hambahamba-Ku yang bersyukur, (QS.34:13) Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), ”Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhan-mu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun, (QS.34:15) Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhan-mu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya, (QS.41:46) Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Kuat, Maha Perkasa. Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat, (QS. 42:19-20) Dan Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah., Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan, (QS.59:18) Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan; Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan; Maka


PESONA USAHA Jilid Pertama 70 apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain); dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap, (QS.94:05-08). “Rasulullah pernah bersabda, “Bukanlah orang yang baik yang meninggal masalah dunia untuk masalah akhirat dan yang meninggalkan masalah akhirat untuk urusan dunia, sehingga seimbang di antara keduanya, karena masalah dunia menyampaikan manusia kepada masalah akhirat”. (HR.Bukhari) Betapa luas karunia dan rezeki Allah Swt. hanya dengan bermodalkan kesabaran, ketekunan dan usaha sungguhsungguh yang disertai dengan shalat dan do’a yang ikhlas karena mengharapkan ridhanya semata, maka keberuntungan besar dapat diperoleh. Disamping itu kita juga terhindar dari perbuatan-perbuatan yang sangat tercelah, hina dan buruk. اقول قولى هزا فا ستغفروه انه هو التواب الرحيم


PESONA USAHA Jilid Pertama 71 STATUS HARTA BAGI MANUSIA Semua harta yang kita miliki, sebenarnya bukanlah hak milik kita sepenuhnya. Sebab di antara harta tersebut ada hak orang lain. Harta milik kita yang sepenuhnya hanya ada dua jenisnya: (1) harta yang sudah kita makan dan minum, (2) harta yang kita keluarkan di jalan Allah Swt. dan untuk membantuk orang yang membutuhkan uluran tangan dan untuk kepentingan agama Islam. Tetapi mengapa harta yang ada pada kita, di dalamnya terdapat hak orang lain? Menjawab pertanyaan ini kita analogikan misalnya: seorang pedagang yang setiap hari menjual barang dagangannya di suatu tempat katakanlah pasar. Setiap hari dia berangkat dari rumah menuju ke pasar. Sesampai di pasar dia kemudian menjajakan barang dagangannya itu lalu dibeli orang lain. Barang yang laku tersebut tentu memiliki laba. Apabila modal plus laba tersebut sampai nisabnya, baik jumlah maupun waktunya, maka kita harus mengeluarkan zakatnya sebagai BAGIAN KELIMA


PESONA USAHA Jilid Pertama 72 zakat mal disamping zakat diri atau zakat fitrah. Setelah zakatnya dikeluarkan, kemudian harta masih kita anggap ada kelebihan dari kebutuhan kita sekeluarga, maka boleh lah kita mengikhlaskan hati untuk mengeluarkannya lagi sebagai bentuk shadaqah atau infaq. Zakat, shadaqah dan infaq kita keluarkan, sebab apapun yang kita peroleh tidak semata disebabkan oleh usaha kita sendiri tetapi ada keterlibatan yang lain. Misalnya, udara yang kita hirup, jalanan yang kita lalui, transportasi yang kita gunakan, kesemua itu mempunyai andil atas keberuntungan kita. Terlebih lagi yang memerintahkan kita untuk berzakat, bershadaqah dan berinfaq adalah Allah Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi Rezeki. Demikian itulah sekelumit gambaran tentang mengapa kita harus mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqah. Untuk itu dapat dipahami dan harus pula disadari bahwa semua harta yang ada pada diri seseorang, selain yang sudah dimakan atau diminum atau yang dizakatkan, diinfaqkan dan dishadaqahkan memiliki status, yaitu: a. Sebagai cobaan Ujian, Cobaan dan teguran serta siksaan merupakan sarana yang dapat digunakan oleh Allah untuk menguji setiap makhluknya. Salah satu wujud cobaan atau ujian tersebut adalah diberikan-Nya harta benda kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Bahwa apakah pemberian tersebut digunakan sebagaimana peruntukkannya atau malah digunakan untuk menyombongkan diri dan dengannya menyebabkan orang tersebut justru lupa kepada siapa yang memberinya harta itu. Hal ini sesuai dengan firman-Nya yang terdapat dalam Qs. alAnfal (8) ayat 28, selengkapnya berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 73 Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. b. Sebagai sarana perjuangan Harta yang dimiliki oleh seseorang juga memiliki status sebagai sarana perjuangan atau berjihad di jalan Allah. Yang dimaksud dengan perjuangan disini adalah upaya yang dilakukan untuk mengamalkan seluruh ajaran Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang terdapat di dalam al-Qur’an surat At-Taubah (9) ayat (41), selengkapnya berbunyi: Artinya: “41. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Selanjutnya pada ayat 111 dalam surat at-Taubah, Allah Swt. berfirman, selengkapnya berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 74 Artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. c. Sebagai peringatan Allah Swt. memberikan peringatan terhadap seluruh hambanya dengan menggunakan salah satu di antaranya adalah harta benda yang dititipkan kepada hambanya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya, sebagaimana QS. Ibrahim (14) ayat 7, selengkapnya berbunyi: Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih, (QS.14:7) d. Sebagai perhiasan Dalah Al-Qur’an, Allah Swt. menyatakan dengan jelas bahwa harta milik seseorang merupakan perhiasan. Hal ini sesuai dengan firman-Nya yang terdapat dalam Qs. al-Kahfi (18) ayat 46, selengkap-nya berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 75 Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan, (QS.18:46). e. Sebagai Titipan atau amanah Bahwa harta yang dimiliki oleh seseorang ternyata bukan harta miliknya, melainkan harta harta dengan status titipan atau amanah. Hal ini sesuai dengan Qs. al-Hadid (57) ayat 07, selengkapnya berbunyi: Artinya: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infaqkanlah(di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orangorang yang beriman di antara kamu dan menginfaqkan hartanya (dijalan Allah) memperoleh pahala yang besar. اقول قولى هزا فا ستغفروه انه هو التواب الرحيم


PESONA USAHA Jilid Pertama 76 ANTARA ZAKAT, INFAQ, DAN SEDEKAH Istilah Zakat, Infaq dan Shadaqah menunjuk kepada satu pengertian yaitu sesuatu yang dikeluarkan. Zakat, Infaq dan Shadaqah memiliki persamaan dalam peranannya yaitu memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengentasan kemiskinan. Adapun perbedaannya yaitu zakat hukumnya wajib sedangkan infaq dan shadaqah hukumnya sunnah. Atau zakat yang dimaksudkan adalah sesuatu yang wajib dikeluarkan, sementara Infaq dan shadaqah adalah istilah yang digunakan untuk sesuatu yang tidak wajib dikeluarkan. Jadi pengeluaran yang sifatnya sukarela itu yang disebut infaq dan shadaqah. Zakat ditentukan nisabnya sedangkan infaq dan shadaqah tidak memiliki batas, Zakat ditentukan siapa saja yang berhak menerimanya sedangkan infaq dan shadaqah boleh diberikan kepada siapa saja. BAGIAN KEENAM


PESONA USAHA Jilid Pertama 77 ZIS adalah akronim dari zakat, infak dan sadaqah. Ketiga kata ini dikenal oleh bahasa Arab sebelum turunnya Al-Quran dengan makna-makna tertentu. Tetapi perlu digaris bawahi hakikat yang menyatakan bahwa “bahasa” adalah sesuatu “yang hidup”, sehingga kata-kata dalam bahasa tersebut juga hidup dalam arti mengalami perkembangan mengenai maknamakna yang dikandungnya. Al-Quran dan hadis tidak jarang menggunakan satu kata dengan makna “baru” yang sedikit banyak tidak dikenal sebelumnya oleh pengguna bahasa itu. Di sisi lain, pemakaian sehari-hari serta penggunaan istilah dalam berbagai bidang ilmu, melahirkan pula makna-makna baru yang juga sedikit banyak berbeda dengan makna yang digunakan Al-Quran dan hadis. Misalnya saja seperti kata “ibadah”, “ulama”, “kafir” dan sebagainya. Sementara itu di kalangan para pakar, dikenal apa yang disebut pengertian kebahasaan, pengertian agama dan pengertian ‘urf (sehari-hari ). Kata “infaq” terambil dari kata berbahasa Arab infaq yang menurut penggunaan bahasa berarti “berlalu, hilang, tidak ada lagi” dengan berbagai sebab: kematian, kepunahan, penjualan dan sebagainya. Atas dasar ini, Al-Quran menggunakan kata infaq dalam berbagai bentuknya, bukan hanya dalam harta benda, tetapi juga selainnya. Dari sini dapat dipahami mengapa ada ayatayat Al-Quran yang secara tegas menyebut kata “harta” setelah kata infaq. Misalnya, Qs. al-Baqarah (2) ayat 262, selengkapnya berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 78 “Orang-orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infaqkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala disisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Selain itu, terdapat juga ayat di mana Al-Qur’an tidak menggandengkan kata infaq dengan kata “harta”, sehingga ia mencakup segala macam rezeki Allah yang diperoleh manusia. Misalnya antara lain, Artinya: “Dan orang-orang yang sabar karena mengharapkan keridhaan Tuhannya, melaksanakan shalat dan menginfaqkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS al-Ra’d (13) ayat 22). Artinya: “Dan termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfaqkan (harta),


PESONA USAHA Jilid Pertama 79 mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, diantara keduanya secara wajar, (al-Furqan (25) ayat 67). “Infaq” digunakan bukan hanya menyangkut sesuatu yang wajib, tetapi mencakup segala macam pengeluaran atau nafkah. Bahkan, kata itu digunakan untuk pengeluaran yang tidak ikhlas sekalipun. Firman Allah dalam QS al-Baqarah (2): 265, yang artinya: “Dan perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh air hujan yang lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. QS al-Anfal (8) : 36, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir itu menginfaqkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan terus menginfaqkan hartanya itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka jahannamlah orang-orang kafir akan dikumpulkan”. Dan al-Tawbah (9) ayat 54, yang artinya: “Dan yang menghalang-halangi infaq mereka untuk diterima adalah karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak melaksanakan shalat, melainkan dengan rasa malas dan tidak (pula) menginfaqkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan (terpaksa). merupakan sebagian ayat yang dapat menjadi contoh keterangan di atas. Dari sini dapat dikatakan bahwa kata “infaq” mencakup segala macam pengeluaran (nafkah) yang dikeluarkan seseorang, baik wajib maupun sunnah, untuk dirinya, keluarga, atau pun orang lain, ikhlas atau tidak. Dan dengan demikian, zakat dan sedekah termasuk dalam kategori “infaq”. “Zakat” dari segi bahasa, berarti “penyucian dan atau pengembangan”. Pengeluaran harta, bila dilakukan dengan keikhlasan dan sesuai dengan tuntunan agama, dapat membawa


PESONA USAHA Jilid Pertama 80 kepada penyucian harta dan jiwa yang mengeluarkannya serta mengembangkannya. Al-Quran dan hadits Nabi Saw seringkali menggunakan kata, dalam arti, pengeluaran kadar tertentu dari harta benda yang sifatnya wajib, dan setelah memenuhi syaratsyarat tertentu. Karena, pengeluaran tersebut harus disertai dengan kesungguhan dan keikhlasan. Kata “shadaqah” terambil dari akar kata yang berarti “kesungguhan dan kebenaran”. Al-Quran menggunakan kata ini sebanyak lima kali dalam bentuk tunggal dan tujuh kali dalam bentuk jamak, kesemuanya dalam konteks pengeluaran harta benda secara ikhlas (bandingkan dengan “infaq”). Tetapi kata “shadaqah” tidak hanya digunakan untuk yang sunnah atau anjuran, bahkan juga untuk yang wajib. QS alTawbah (9) ayat 103, yang memerintahkan Nabi Saw. mengambil zakat harta dari mereka yang memenuhi syaratsyarat, serta ayat 60, yang berbicara tentang mereka yang berhak menerima zakat, menggunakan kata “shadaqah” dalam arti zakat wajib. Dalam pemakaian sehari-hari, kata “zakat” digunakan khusus untuk pengeluaran harta yang sifatnya wajib ( fitrah, maal, pertanian, perdagangan dan sebagainya ). Sedang “sadaqah” untuk pengeluaran harta yang sifatnya sunnah. Sementara itu, “infak” mencakup segala macam pengeluaran: harta atau bukan, wajib atau tidak, ikhlas atau pamrih. Terang Ahli Tafsir Indonesia, Prof. Quraish Shihab. اقول قولى هزا فا ستغفروه انه هو التواب الرحيم


PESONA USAHA Jilid Pertama 81 HUBUNGAN SHALAT, ZAKAT, INFAQ. Pada dasarnya, kepentingan ibadah shalat tidak dimaksudkan untuk mengurangi arti penting zakat, karena shalat merupakan fasilitas yang dapat digunakan untuk berhubungan langsung dengan Allah, sedangkan zakat adalah sarana yang dapat dipergunakan untuk membantu bagi yang tidak berkemampuan secara ekonomi. Dalam arti hubungan manusia dengan manusia (Hablu min An-Naas). BAGIAN KETUJUH


PESONA USAHA Jilid Pertama 82 Al Quran, sebagai pedoman hidup umat Islam, secara tegas telah memerintahkan pelaksanaan zakat. Menurut catatan Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, dalam bukunya Pedoman Zakat, terdapat 30 kali penyebutan kata zakat secara ma’rifah di dalam Al Quran, bahkan kewajiban zakat seringkali beriringan dengan perintah shalat, seperti: pada (QS. 2:43), berbunyi: Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS: Al Baqarah ayat 43). Para Ulama semenjak zaman sahabat sudah memperingatkan satu hal penting, yaitu bahwa Al-Qur’an selalu menghubungkan zakat dengan shalat, dan jarang sekali dihubungkan selain dengan shalat. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kalian diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat, siapa yang tidak berzakat berarti tidak ada arti shalat baginya”. Selanjutnya, Ibnu Zaid berkata, “shalat dan zakat diwajibkan bersama, tidak secara terpisah-pisah.” Kemudian ia membaca: Bila mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan membayar zakat, barulah mereka teman kalian seagama. “Shalat tidak akan diterima tanpa zakat. Selamat bagi Abu Bakar yang mengerti benar tentang masalah ini, dalam hal ini Abu Bakar berpendapat, “Saya tidak memisah-misahkan dua hal yang disatukan sendiri oleh Allah !” Di dalam Al-Qur’an juga dijelaskan:


PESONA USAHA Jilid Pertama 83 Artinya: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At-Taubah (9): 18). Pada ayat lain, Qs. al-Hajj (22) ayat 35 Allah berfirman, selengkapnya berbunyi: Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan shalat dan orang yang menginfaqkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka”. Dengan demikian, menurut M. Yusuf Qardawi, dalam buku Hukum Zakat, h. 63-64 bahwa seseorang belum bisa memperoleh restu Allah, sekalipun mereka memakmurkan masjid-masjid-Nya, sebelum mereka beriman, mendirikan shalat, dan membayar zakat dan menginfaqkan sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Penjelasan kewajiban zakat bergandengan dengan perintah shalat terdapat 28 ayat Al Quran. Dengan demikian, menurut sebagian ulama besar, jika shalat adalah tiang agama, maka zakat adalah mercusuar agama atau dengan kata lain shalat merupakan ibadah jasmaniah yang paling mulia, sedangkan zakat dipandang sebagai ibadah hubungan kemasyarakatan


PESONA USAHA Jilid Pertama 84 yang paling mulia. Lebih lanjut bahwa, hubungan antara shalat, zakat, infaq dan shadaqah adalah dapat diibaratkan seperti sebuah rumah. Dimana shalat itu merupakan rumahnya itu sendiri sementara zakat, infaq dan shadaqahnya adalah isinya rumah. Sudah semua maklum bahwa rumah itu terdiri dari pondasi, lantai, tiang, dinding dan atap serta di dalam rumah tersebut terdapat ruang-ruang yang masing-masing mempunyai fungsi dan tujuan. Sedangkan isinya terdiri dari perabot-perabot yang diperoleh sebagai rezeki yang berasal dari Allah Swt. melalui usaha-usaha yang dilakukan dalam kehidupan ini termasuk rumahnya tadi. Sungguh dapat dibayangkan apabila atap rumah tersebut bocor bertepatan dengan hujan deras turun beberapa jam lamanya. Maka rumah tersebut sudah barang tentu kemasukan air hujan dan sekaligus membasahi tempat yang terkena air bahkan kemungkinan besar kebanjiran. Apabila yang terkena air hujan itu adalah tempat tidur, maka tempat tidur itu pun tidak bisa digunakan untuk beristirahat akibat basah terkena air hujan. Dan apabila dibiarkan berlarut-larut, tempat tidur pun bisa rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Rumah bocor, yang lain ikut rusak, maka yang rugi adalah yang punya rumah sendiri. Shalat pun seperti itu keadaannya. Apabila shalat baik maka amalan lain ikut baik, sebaliknya, apabila shalat rusak maka amalan yang lain pun ikut rusak. Dengan demikian, yang rugi adalah yang tidak shalat itu sendiri. Dengan kata lain shalat adalah rumah sebagaimana yang dianalogi di atas dan zakat, infaq dan shadaqah adalah isinya rumah. Konkritnya bahwa seseorang tidak dapat melaksanakan shalat apabila tidak punya pakaian (baju sebagai bagian dari isi rumah, selain perabotperabot tentunya). Sementara pakaian tersebut dibeli dengan menggunakan uang yang diperoleh dari hasil usaha yang dilimpahkan dalam bentuk rezeki dari Allah Swt atas hamba-


PESONA USAHA Jilid Pertama 85 Nya yang Dia kehendaki. Dengan demikian zakat, infaq dan shadaqah merupakan modal atau sarana yang dapat digunakan bagi yang berhak menerimanya untuk mengisi rumah atau dengan adanya pakaian yang bersumber dari ZIS, maka shalat pun dapat dilaksanakan. Itu artinya sangat dilarang melaksanakan shalat tanpa pakaian. Lebih lanjut, bahwa seseorang yang telah selesai membangun rumah akan pasti merasa ada sesuatu yang kurang apabila perabot-perabot belum ada menghiasi ruang-ruang rumah. Lalu dengan demikian, orang bersangkutan akan segera mengisi perabot untuk rumahnya itu sesuai yang diinginkannya. Dan bukan rahasia lagi bahwa bagi yang sudah punya rumah lebih lekas dan lebih berkecenderungan untuk mengisi rumahnya itu dibandingkan dengan melaksanakan shalat diikuti dengan mengeluarkan infaq sesuai kesanggupan. Di sinilah letak inti persoalah hidup manusia bahwa kita lebih cenderung mengejar kehidupan dunia ketimbang kehidupan di akhirat. Membangun kehidupan dunia dengan segala yang melingkupinya lebih didahulukan dan segalanya rela dikorbankan seperti, tenaga, pikiran dan biaya yang tidak sedikit bahkan sampai berjuta-juta rupiah banyaknya untuk mencapai kemegahan dunia itu, ini tidaklah salah. Hanya saja perlu diingat bahwa kehidupan akhirat sebenarnya jauh lebih hakiki dan kekal serta jauh melampaui kemegahan dunia walaupun beserta segala isinya. Hal ini sudah digambarkan Allah Swt. dalam Qs. At-Tur (52: 1- 5 dan 17 - 28)]. Arti ayat kurang lebih demikian ini: “Demi gunung (Sinai), dan demi kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, demi baitul ma’mur (Ka’bah), demi atap yang ditinggikan”. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam syurga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada meraka), “makan


PESONA USAHA Jilid Pertama 86 dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”. “Mereka bersandar di atas dipandipan yang tersusun dan Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah. “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam syurga), dan kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. “Dan Kami berikan kepada mereka tambahkan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan. “(Di dalam syurga itu) mereka saling mengulurkan gelas yang isinya tidak (meimbulkan) ucapan yang tidak berfaedah ataupun perbuatan dosa”. “Dan di sekitar mereka ada anak-anak muda yang berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan”. “Dan sebagian mereka berhadap-hadapan satu sama lain saling tegur sapa”. “Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada ditengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)”. “Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka”. “Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu. Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan, Maha Penyayang”. Fakta di atas harus mengalami perubahan, bahwa hakekat infaq sebagai investasi dunia akhirat harus mendapat perhatian yang serius dan dilaksanakan secara, ikhlas, jujur, konsisten dan berkesinambungan. Tentu infaq yang dimaksudkan adalah dalam jumlah yang sesuai dengan kesanggupan. Dalam arti kata bahwa melaksanakan shalat haruslah diikuti dengan mengeluarkan infaq sekian persen dari harta yang dimiliki. Dengan demikian kehidupan dunia menjadi lebih bermakna dan kehidupan akhirat kelak dapat diraih dengan baik pula. Itulah analogi yang menghubungkan antara shalat dengan zakat, infaq dan shadaqah. ZIS yang dikeluarkan merupakan


PESONA USAHA Jilid Pertama 87 jembatan datangnya rezeki bagi siapa yang dikehendaki oleh Allah Swt. karena itu pulalah sehingga dapat dikatakan bahwa “shalat tanpa ZIS miskin harta papa ilmu dan iman (hina dina), sebaliknya ZIS tanpa shalat zero (nol besar), kehidupan dunia sia-sia dan di akhirat kelak mendapat siksa. Astagefirullah. اقول قولى هزا فا ستغفروه انه هو التواب الرحيم


PESONA USAHA Jilid Pertama 88 BERUSAHA DENGAN TETAP MENGABDIKAN DIRI KEPADA ALLAH Penting untuk dipahami bersama bahwa Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehingga kaum itu mengubah nasib mereka masing-masing (Ar-Rad.11). Demikian pula alQur’an surah al-Qhashas ayat 77, menyuruh mencari pahala akhirat, tetapi dengan tidak melupakan bahagian kehidupan di dunia. Dan salah satu cara untuk mengubah nasib tersebut adalah dengan berusaha. Bahwa setelah berhasil di dalam menjalankan roda usaha yang dilakukan, baik secara sendiri-sendiri maupun korporasi, diharapkan bahkan sangat dianjurkan agar tetap mengingat kepada Allah. Mengingat Allah dalam hal ini dapat dilakukan, pertama dengan cara mengabdikan diri melalui pelaksanaan shalat lima waktu, terutama shalat berjamaah di masjid, kedua dengan mensyukuri segala nikmat dari hasil usaha yang diperoleh sedikit atau banyak. Syukur nikmat juga merupakan BAGIAN KEDELAPAN


PESONA USAHA Jilid Pertama 89 bentuk pengabdian kepada Allah Swt. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Al-Qur’an pada surat Ibrahim ayat 7, selengkapnya berbunyi: Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." Pada ayat lain selengkapnya berbunyi: Artinya: Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Qs. Al-A’raaf ayat 69.


PESONA USAHA Jilid Pertama 90 Selanjutnya pada ayat lain, selengkapnya berbunyi: Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406] 25[1]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanampenanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orangorang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. Qs. Al-Fath (48) ayat 29. 25. [1406]. Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka. (Sumber al-Qur’an dan terjemahannya).


PESONA USAHA Jilid Pertama 91 Mengabdikan diri kepada Allah Swt dapat dilaksanakan, terutama dengan cara: A. Shalat Berjamaah di Masjid Semua orang islam sudah maklum bahwa shalat lima waktu adalah kewajiban utama lagi penting. Semua umat islam, lakilaki ataupun perempuan wajib mengamalkannya selama hidupnya. Sama sekali tidak ada alasan atas kewajiban ini untuk ditinggal walau bagaimanapun keadaanya dan dimanapun ia berada. Tidak kuasa berdiri, duduk, kemudian berbaring. Hal ini sesuai dengan QS.4:103, berbunyi: “Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah shalat itu (sebagaimana biasanya). Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Shalat adalah tiang agama. Barang siapa mendirikan shalat berarti ia mendirikan agama. Dan barang siapa ia meninggalkannya berarti ia merobohkan agama”. Ketetapan dalam Islam barangsiapa meninggalkan shalat bararti dianggap melakukan pelanggaran besar. Berarti ia


PESONA USAHA Jilid Pertama 92 berdosa besar atas perbuatan itu. Biasanya orang yang terhalang meninggalkan shalat adalah kesibukan-kesibukan hidup. Oleh karena itu shalat ditinggalkan. Allah dalam Qur’an Surah al-Munafikun (63) ayat 9 berbunyi: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah hartahartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Perbuatan hamba yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat nanti adalah shalatnya, maka barang siapa yang shalatnya bagus, sungguh ia telah berbahagia dan akan selamat dan jika kurang baik shalatnya ia akan sengsara dan merugi”. (HR.Mundzir, Tabrani, Tirmidzi). a. Shalat Berjamaah Pengertian shalat berjama’ah adalah shalat yang dikerjakan oleh beberapa orang secara bersama-sama, minimal dua (2) orang hingga jumlah yang tidak terbatas. Menunjuk satu orang sebagai imam, dan yang lain sebagai makmum. Sebagaiknya shalat berjamaah itu dilaksanakan di masjid-masjid atau mushallah-mushalah atau dimana saja tempat yang bersih lagi tidak mengganggu ketertiban umum dan tidak menimbulkan sangkaan-sangkaan buruk dan finah. Hal sejalan dengan QS. At-Taubah ayat 18, berbunyi:


PESONA USAHA Jilid Pertama 93 Artinya: “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap melaksanakan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang yang mendapat petunjuk. b. Syarat shalat berjamaah Ada beberapa syarat shalat berjamaah, yaitu: 1. Berniat mengikuti imam, lapaz niat disesuaikan dengan waktu shalat. 2. Mengetahui apa yang kerjakan oleh imam, misalnya: apabila imam ruku’, maka makmum puh harus ikut ruku’ 3. Makmum harus berada dibelakang imam 4. Shalat makmun harus sama dengan shalatnya imam 5. Tidak boleh mendahului atau melambatkan imam dalam takbir atau dalam dua rukun fi’il 6. Jarak antara imam dan makmum dibaris yang akhir itu tidak lebih dari tigaratus hasta 7. Tidak ada dinding penghalang antara imam dan makmum kecuali bagi wanita harus ada batas pemisah berupa apapun asalkan ada salah seorang yang mengetahui gerak gerik imam atau makmum yang ada di depannya. c. Keutamaan shalat berjamaah Keutamaan shalat berjamaah ini telah disebutkan dalam hadits, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:


PESONA USAHA Jilid Pertama 94 Artinya: “Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian, dengan terpaut dua puluh tujuh derajat”. (HR. Bukhari – Muslim) Selanjutnya “Barang siapa bershalat Isya dengan berjamaah maka ia seperti mendirikan (shalat) setengah malam, dan barang siapa bershalat subuh dalam berjamaah maka seolaholah ia bershalat sepanjang malam itu (HR. Bukhari – Muslim) Diriwatkan oleh Abu Hurairah, katanya: Rasulullah Saw. telah bersabda: Artinya: “siapa yang sempat satu rakaat bersama imam, maka berarti dia sudah mendapatkan ganjaran pahala shalat tersebut (pahala shalat berjamaah)”. Peringatan bagi orang yang tidak shalat berjamaah di masjid padahal tidak ada yang menghalangi dia dari rumahnya untuk shalat masjid. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang berbunyi: Artinya: “Katanya: Sesungguhnya Rasulullah Saw. tidak melihat beberapa orang sahabatnya dalam beberapa waktu shalat berjamaah. Lalu Nabi Saw. bersabda: “Demi Allah yang menguasai diriku! Ingin rasanya aku perintahkan pengumpulan kayu bakar lalu aku perintahkan seseorang menyerukan adzan untuk shalat, kemudian aku tugasi seseorang menjadi imam, sementara aku berangkat mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat jamaah lalu aku bakar rumah-rumah mereka sekaligus dengan mereka. Demi Allah yang menguasai diriku! Seandainya salah seorang dari mereka mengetahui pahala shalat jamaah tentu dia akan menghadiri shalat jamaah Isya bagaikan seseorang yang memperoleh keratin tulang yang


PESONA USAHA Jilid Pertama 95 diliputi daging yang amat banyak atau dua kerat tulang rusuk dengan diliputi daging yang bagus”. B. Shalat-shalat sunnat 1. Shalat sunnat wudhu Shalat sunnat wudhu merupakan salah satu jenis shalat sunnat yang mudah dan ringan dikerjakan, karena hanya terdiri atas dua rakat saja. Akan tetapi, keringanan dan kemudahan tersebut, ternyata masih banyak di kalangan umat islam belum sudi untuk melaksanakannya. Padahal, barang siapa yang senantiasa melaksanakan shalat sunnat ini dengan ikhlas, Insya Allah akan mendapat ganjaran yang besar dari Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang artinya kurang lebih demikian ini: “Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini lalu mendirikan shalat dua raka’at, yang pada shalatnya dia tidak berbicara pada dirinya sendiri (yakni mendirikannya dengan khusyu’) niscaya Allah azza wa jalla akan memberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari). Rasulullah Saw., pada suatu ketika pada waktu shalat subuh bertanya kepada Bilal: “Hai Bilal …! Ceritakanlah kepadaku, amalan apakah yang telah engkau lakukan dalam islam sehingga aku mendengar derap bunyi sandalmu di syurga?” Bilal menjawab: “aku tidak melakukan suatu amalan yang aku sangat harapkan pahalanya melainkan daripada tidaklah aku bersuci (wudhu) pada waktu malam ataupun siang, kecuali aku tentu bershalat dengan wudhuku itu, sebagaimana yang disarankan kepadaku untuk melakukan shalat sunnat wudhu.” (HR. Bukhari-Muslim).


PESONA USAHA Jilid Pertama 96 2.Shalat sunnat tahiyyatul masjid Shalat sunnat tahiyyatul masjid disyariatkan pada setiap waktu, ketika seseorang masuk ke dalam masjid bermaksud duduk atau shalat. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah radiyallahuanhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya kurang lebih demikian ini: “Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua raka’at sebelum dia duduk. HR. Bukhari dan Muslim. Hikmah yang terkandung dalam shalat sunnat tahiyyatul masjid adalah sebagai penghormatan terhadap masjid, sebagaimana seseorang masuk ke rumahnya dengan mengawali mengucapkan salam, dan juga sebagaimana seseorang mengucapkan salam kepada sahabatnya pada saat keduanya bertemu. 3. Shalat sunnat taubat Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radiallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah seorang (muslim) melakukan suatu perbuatan dosa, lalu ia bersuci, dalam riwayat lain: “berwudhu dengan baik, kemudian melaksanakan shalat, dalam riwayat lain: “Dua raka’at, lalu meminta ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni (dosa)-nya”. Kemudian Rasulullah Saw. membaca ayat ini, yang artinya: “ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri kemudian mereka mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah, dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran: 135).


PESONA USAHA Jilid Pertama 97 Lafas niat shalat sunnat taubat, yaitu: اصلى سنة التوبة ركعتين هلل تعالى . هللا اكبر Ushalli sunnata taubata raka’ataini lillahi ta’aalaa. Alluhu Akbar. Artinya: “Aku niat shalat sunnat taubaht dua rakaat karena Allah. Allahu Akbar. Jumlah Raka’at shalat sunnat taubat yaitu 2, 4 dan 6 rakaat. Do’a sesudah shalat sunnat taubat, yaitu: اللهم انت ربي الاله اال انت . خلقتينى وانا عبدك وانا على عهدك ووعدك مااستطعت اعوذباك من شر ما صنعت ابوءلك بنعمتك علي وابوء بذنبى فاغفرلى فانه اليغفر الذيوب اال انت ---------------------------- Artinya: “Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakan aku, dan akulah hamba-Mu. Dan aku akan melaksanakan janjiku kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku, sebab tidak ada yang dapat memberi pengampunan, kecuali hanya Engkau sendiri”. 4. Shalat sunnat Rawatib (qabliyah dan baddiyah) Shalat sunnat rawatib adalah shalat sunnat yang dilaksanakan sebelum dan sesudah shalat wajib (Isya, Shubuh, Dhuhur,


PESONA USAHA Jilid Pertama 98 Ashar, Magerib). Shalat sunnat rawatib seluruhnya berjumlah 12 raka’at, yaitu: 1. Dua raka’at sebelum shalat shubuh 2. Dua atau empat raka’at sebelum dan sesudah shalat dhuhur 3. Dua atau empat raka’at sebelum shalat ashar 4. Dua raka’at sebelum dan sesudah shalat magerib 5. Dua raka’at sebelum dan sesudah shalat isya. Shalat sunnat rawatib terbagi atas dua bagian utama, yaitu shalat sunnat muakkad dan shalat sunnat ghairu muakkad. Yang dimaksud dengan shalat sunnat muakkad adalah shalat sunnat yang diutamakan. Sedangkan shalat sunnat ghiru muakkad adalah shalat sunnat yang kurang diutamakan dalam pelaksanaannya. Perbedaan tersebut terjadi karena kebiasaan Nabi Saw. ketika melaksanakan shalat sunnat tersebut. Disebut muakkad karena Nabi Muhammad Saw. menjadikan shalat sunnat tersebut sebagai kebiasaan sehari-hari pada waktu beliau masih hidup. Sementara yang lain, disebut ghairu muakkad karena shalat sunnat tersebut oleh Nabi Saw. kadang dilaksanakan kadang tidak. Yang termasuk shalat sunnat muakkad, antara lain: 1. Dua raka’at sebelum shalat shubuh 2. Dua atau empat raka’at sebelum shalat dhuhur 3. Dua raka’at setelah shalat dhuhur 4. Dua raka’at setelah shalat magerib 5. Dua raka’at setelah shalat isya Sementara yang termasuk shalat sunnat ghairu muakkad, antara lain: 1. Dua atau empat raka’at sebelum shalat ashar 2. Dua raka’at sebelum shalat magerib


PESONA USAHA Jilid Pertama 99 3. Dua raka’at sebelum shalat isya Dalil-dalil shalat sunnat rawatib, yaitu: Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Saya hafal (ingat dengan betul) dari Nabi Saw 10 raka’at shalat sunnah; dua raka’at sebelum dan sesudah shalat dhuhur dua raka’at sesudah shalat magerib di rumah Beliau dan dua raka’at sesudah isya di rumah pula dan juga dua raka’at sebelum shubuh. (HR. Bukhari dan Muslim). Dari Ummu Habibah, Istri Nabi Saw. Bahwa Beliau bersabda: “Barang siapa mengerjakan shalat dalam sehari semalam sebanyak 12 raka’at, maka sebab amalan tersebut, ia akan dibangunkan sebuah rumah di syurga. (HR. Muslim). Riwayat Tirmidzi dari Aisya radiallahu ‘anha berkata, Nabi Saw. bersabda: “Barang siapa merutinkan shalat sunnat dua belas raka’at dalam sehari maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di syurga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum dhuhur dan dua raka’at sesudah dhuhur, dua raka’at sesudah magerib, dua raka’at sesudah isya, dan dua raka’at sebelum shubuh, (Hr. Tirmidzi). 5. Shalat sunnat awwabin 1. Pengertian shalat sunnat awwabin Perkataan awwabiin (awwabuun) adalah jama’ (plural) dari perkataan awwab, yang artinya orang yang banyak merujuk kepada Allah dengan bertaubat atau orang yang banyak bertaubat, sama artinya dengan tawwab. Jadi shalat sunnat awwabiin artinya shalat orang-orang yang banyak bertaubat.


PESONA USAHA Jilid Pertama 100 Shalat sunnat awwabiin dinamakan juga dengan shalat alghaflah, yang artinya kelalaian, karena kelalaian manusia kepada-Nya disebabkan baik, karena kesibukan makan malam atau tidur, atau lain-lain yang semisalnya. Shalat sunnat awwabiin dikerjakan setelah melaksanakan shalat sunnat ba’diyah maghrib, sedikitnya dikerjakan dua raka’at dan sebanyak-banyaknya enam raka’at, dengan satu salam setiap dua raka’atnya. Shalat sunnat awwabiin ini sebaiknya dikerjakan setelah melakukan dzikir shalat maghrib, dan setelah shalat sunnat ba’diyah maghrib. 2. Tata cara melaksanakan shalat sunnat awwabin a. Berdiri menghadap kiblat dengan membaca niat shalat sunnat awwabin. Lafadz niat shalat sunnat awwabin: اصلى ركعتين صالة االوبين سنة هلل تعالى . هللا اكبر Ushalli Sunnatal Awwabiina Rak’ataini Lillahi Ta’ala. Artinya: Aku niat shalat sunnat awwabin dua raka’at karena Allah Ta’ala, Allah Maha Besar. b. Setelah membaca suratul Fatihah pada raka’at pertama membaca surah al-Ikhlas enam kali, al-falaq satu kali, anNaas satu kali. Demikian juga pada raka’at kedua. c. Adapun gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan dalam shalat sama dengan shalat-shalat yang lain; ruku’, sujud, I’tidal, dan tasyahud. d. Setiap selesai dua raka’at diakhiri dengan salam.


Click to View FlipBook Version