The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perlu kita ketahui, bahwa bakat menulis seorang siswa tidak datang begitu saja, namun membutuhkan proses yang cukup panjang. Pendekatan di lingkungan keluarga dan sekolah akan mempengaruhi kemampuan siswa dalam menghasilkan karya tulis. Dari kegiatan membaca sampai pelatihan menulis kreatif.
Dengan adanya sebuah program sekolah untuk menerbitkan buku kumpulan cerita pendek karya siswa ini, guru menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kemampuan siswanya. Suatu saat, program menerbitkan buku ini akan menjadi cikal bakal andalan sekolah dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran intensif bahasa Indonesia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Pahoa, 2022-04-19 02:27:39

171 hari : Kumpulan cerita pendek karya siswa SMA Pahoa

Perlu kita ketahui, bahwa bakat menulis seorang siswa tidak datang begitu saja, namun membutuhkan proses yang cukup panjang. Pendekatan di lingkungan keluarga dan sekolah akan mempengaruhi kemampuan siswa dalam menghasilkan karya tulis. Dari kegiatan membaca sampai pelatihan menulis kreatif.
Dengan adanya sebuah program sekolah untuk menerbitkan buku kumpulan cerita pendek karya siswa ini, guru menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kemampuan siswanya. Suatu saat, program menerbitkan buku ini akan menjadi cikal bakal andalan sekolah dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran intensif bahasa Indonesia.

Keywords: Cerpen

171 HARI

Kumpulan Cerita Pendek:
Karya Siswa SMA Pahoa

2015-2016

Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang HAK CIPTA
Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak
melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1)
atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara
masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana paling lama
7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00
(lima milyar rupiah).
Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang
hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah).

ii

171 HARI

Kumpulan Cerita Pendek:
Karya Siswa SMA Pahoa

2015-2016

Penerbit Sekolah Terpadu Pahoa

iii

171 HARI
Perpustakaan Sekolah Terpadu Pahoa
© 2016 Perpustakaan Sekolah Terpadu Pahoa
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Redaktur
Afiyon Kristiyan

Penyunting & Editor
Desi Marjati

Layout & Cover
Agung Priambodo

Cetakan ke-1, Desember 2016
Penulis : Sharon, Fransiska Natalia, Nadia, Liza Sumalin,
Devi Elvina, Malvin, Margareta F.K, Maria Gabrielle Brigita,
Michelle Julieta, Andria, Gabriela Safitri, Michael Jason
Saputra, Victricius Vinnleo, Anthony

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
813 171 HARI
- : kumpulan cerita pendek karya siswa SMA
Pahoa

b 2015-2016, Tangerang: Penerbitan Sekolah
Terpadu

Pahoa, Cetakan ke-1 ; xiv, … hlm x 21,5 cm

iv

DAFTAR ISI

Sambutan
Direktur Akademik:
Dali Santun Naga......................................................................... vii
Kepala Bagian Pengembangan Pendidikan:
Ismoyohadi................................................................................... xi
Kepala SMA Pahoa :
Hartaty Ashari.............................................................................. xiv

Prakata
Guru Bahasa Indonesia
Desi Marjati................................................................................. xvi

171 Hari....................................................................................... 1
Aku, Kau dan Hujan.................................................................... 37
Chamomille.................................................................................. 59
Psychopath yang Jatuh Cinta....................................................... 81
S.O.S............................................................................................ 109
Ketukan itu................................................................................... 122
Pedas............................................................................................ 138
Setitik Cahaya di Balik Hujan...................................................... 155
Ketulusan Hati............................................................................. 170

v

Maaf yang Tertunda..................................................................... 178
Kutukan Kekal............................................................................. 188
Hilang........................................................................................... 196
Siapa yang Salah.......................................................................... 207
Kenyataan yang Pahit.................................................................. 216
Sembilu Amarah........................................................................... 224

vi

Kata Sambutan
Direktur Akademik

Salah satu misi sekolah Pahoa adalah pendidikan tiga bahasa yang
dilaksanakan secara intensif. Sekolah Pahoa berpendapat bahwa orang yang
terpelajar seharusnya juga memiliki kemampuan berbahasa yang baik, betul,
dan teratur. Orang yang terpelajar seharusnya memiliki kemampuan untuk
melahirkan pikiran mereka melalui bahasa yang jelas dan teratur.

Ini berarti bahwa para siswa di sekolah Pahoa seharusnya mampu
memahami dan menggunakan bahasa dengan baik, betul, dan teratur.
Penggunaan bahasa dengan baik, betul, dan teratur tercermin di dalam karya
tulis siswa. Salah satu jenis karya tulis adalah cerita pendek. Itulah sebabnya
saya menyambut baik dibukukannya kumpulan karya siswa berupa cerita
pendek.

Sampai sekarang di sekolah Pahoa sudah ada buku kumpulan cerita
pendek dari siswa SMP dan ada buku kumpulan cerita pendek dari siswa
SMA. Mula-mula pembukuan kumpulan cerita pendek ini dilakukan oleh
Perpustakaan Pahoa melalui lomba mengarang cerita pendek. Namun
kemudian ada pembukukan kumpulan cerita pendek dari para siswa yang
dilakukan atas prakarsa guru mereka.




vii

Kita dapat melihat buku kumpulan cerita pendek karangan para
siswa ini dari segi bahasa. Kemampuan berbahasa untuk mengarang cerita
pendek adalah sesuai dengan misi sekolah Pahoa. Oleh karena itu, karangan
para siswa perlu ditulis dengan bahasa yang baik, betul, dan teratur. Namun
bahasa adalah kendaraan untuk melahirkan pikiran dari penulisnya. Oleh
karena itu, bahasa siswa juga perlu memiliki muatan. Dalam hal ini, muatan
bahasa itu berbentuk cerita pendek yang dapat saja merupakan pikiran yang
lahir dari imajinasi mereka.

Di dalam pelajaran bahasa, cerita pendek dapat digolongkan sebagai
karya seni sastra. Bersama itu, di dalam cerita pendek ini, terjadi pertemuan
di antara bahasa dan sastra. Sekalipun serumpun, ada kalanya seni sastra,
demi kesastraannya, agak menyimpang dari kaidah bahasa. Namun dalam
hal karya siswa ini hendaknya penyimpangan itu perlu mengenal batas
sehingga tidak sampai berlebihan.

Dalam rangka inilah diharapkan agar para guru yang mengasuh dan
membukukan cerita pendek karangan para siswa asuhannya tetap
membimbing penulisan karangan para siswa dari sisi bahasa dan dari sisi
sastra. Dari bimbingan seperti ini diharapkan lahir cerita pendek yang baik
secara bahasa dan juga baik secara sastra. Dan kelak melalui pengalaman
mengarang ini akan lahir karangan para siswa yang lebih baik lagi.

Buku kumpulan cerita pendek karya siswa SMP dan SMA
merupakan koleksi pustaka yang kita jadikan warisan sekolah Pahoa. Pada
waktu kemudian, kita dapat menengok kembali sejarah sekolah Pahoa dan
salah satu obyek tengokan itu adalah buku kumpulan cerita pendek karangan




viii

para siswa ini. Mereka merupakan bagian dari prestasi sekolah Pahoa yang
dirintis sepanjang sejarah sekolah Pahoa.

Akhirnya saya mengucapkan selamat kepada para siswa yang
mengarang cerita pendek serta kepada para guru yang mengasuhnya.
Teruslah mengarang, baik dalam bentuk cerita pendek maupun dalam genre
bahasa lainnya.Sukseskan misi sekolah Pahoa di bidang bahasa.

Tangerang, November 2016
Dali Santun Naga




ix

Kata Sambutan
Kepala Bagian Pengembangan Pendidikan

Menulis tak pernah mengenal usia. Kegiatan menulis bisa dilakukan
kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja, baik muda maupun tua atau
pria maupun wanita. Kegiatan menulis merupakan ekspresi dan eksistensi
diri, sebagai tempat untuk menuangkan ide, gagasan, kreativitas, pendapat,
penilaian, maupun apresiasi terhadap segala hal yang berkaitan dengan
kehidupan kita.

Secara pribadi, saya sangat gembira bisa melihat dan menikmati
kreasi para siswa di Sekolah Terpadu Pahoa yang tergerak untuk menulis.
Gagasan yang ada dalam benak para siswa ini bisa dituangkan secara utuh
melalui karya yang bisa dinikmati oleh setiap pembaca. Karya yang
memiliki nilai estetika ini adalah wujud nyata dari sebuah proses
pembelajaran. Kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan yang
diwarnai dengan pembelajaran. Sedangkan pembelajaran yang sesungguhnya
adalah pembelajaran yang dapat diwujudnyatakan. Dari karya inilah bisa kita
semua tahu bahwa para siswa di Sekolah Terpadu Pahoa sudah belajar
banyak hal.

Sukses seseorang berawal dari disiplin, kerja keras, dan kreativitas.
Kami berharap penerbitan buku ini adalah langkah awal yang bagus. Semoga
para siswa selalu menempa diri untuk terus belajar dan tumbuh menjadi




x

manusia yang kreatif. Jadikan diri kalian menjadi manusia kreatif dan penuh
inistiatif dan teruslah untuk selalu mencoba dan memulai kegiatan positif ini.

Secara khusus, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh
siswa yang telah berperan aktif dalam penerbitan buku ini. Terima kasih juga
untuk para guru yang sudah membimbing para siswa, para pustakawan yang
telah memfasilitasi parasiswa dan guru, para Kepala Sekolah yang telah
memberikan motivasi kepada para siswa dan guru-guru bahasa Indonesia,
Koordinator Bahasa Indonesia, Direktur Akademik, serta Pengurus Yayasan
yang telah memberikan peluang kepada seluruh pihak yang terlibat dalam
penerbitan sehingga lahirlah kumpulan cerpen “Pelangi Tak Pernah Datang
Sebelum Hujan.”

Selamat atas terbitnya kumpulan cerpen “Pelangi Tak Pernah
Datang Sebelum Hujan.”

Tangerang, November 2016
Ismoyohadi




xi

Kata Sambutan
Kepala Sekolah

Kami memanjatkan puji dan syukur karena karuniaNya kami dapat
memberikan kesempatan kepada parasiswa SMA untuk dapat
mempersembahkan sebuah hasil karya siswa kelas X Tahun Pembelajaran
2015 - 2016. Hasil karya ini merupakan sebuah kebanggaan bagi kami
memiliki siswa berbakat, dan sebagai bentuk nyata dari sebuah hasil proses
pembelajaran khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia.

Kami berharap penerbitan buku yang berisi kumpulan cerpen terbaik
ini dapat memberikan motivasi menulis bagi siswa lainnya. Ini akan
menjadi sejarah bagi para siswa, dimana kalian telah mampu
mengembangkan potensi diri dalam menulis. Semoga para siswa dapat
menggunakan kesempatan baik ini untuk mengasah bakat dan potensi diri.
Teruslah melatih diri dalam menulis agar kalian dapat menghasilkankarya
yang lebih baik dan lebih baiklagi. Kami mengucapkan terima kasih
kepada bapak Pemil S.S. yang telah mendorong dan membimbing siswa
SMA Pahoa kelas X untuk dapat menghasilkan sebuah karya antologi cerpen.




xii

Kami yakin dengan ada nyawadahini, baik guru maupun siswa SMA
Pahoa dapat terus mengembangkan talenta dalam menulis. Mulailah menulis
dari yang paling sederhana dan singkat. SelamatBerkarya!

Tangerang, Nopember 2016
Hartaty Ashari




xiii

Prakata
Guru Bahasa Indonesia

“Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang
mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan
kemampuannya saja, tetapi juga ia sertakan seluruh jiwa dan napas
hidupnya.” Kata bijak tersebut tepat sekali bagi seorang penulis,
dalam hal ini penulis cerpen. Penulis cerpen tidak hanya mampu
berimajinasi, tetapi hasil imajinasi itu harus dapat dituangkan dalam
sebuah tulisan. Tulisan yang telah diciptakan harus memberi pesan
dan makna bagi pembacanya sehingga mempunyai nilai yang berarti
bagi semua khalayak ramai.

Menciptakan sebuah karya dalam hal ini cerpen telah berhasil
dirampungkan dalam buku kumpulan cerpen karya siswa-siswi SMA
Pahoa yang belum tentu orang lain bisa melakukannya. Hal itu wajar
saja sebab karunia menulis seperti itu tidak semua orang punya. Hal
ini harus kita sadari bahwa siswa-siswi ini ternyata mempunyai




xiv

kemampuan untuk mengungkapkan pikiran lewat tulisan yang
mempunyai kesan bagi pembacanya.

Proses yang telah dijalani tidak segampang yang dipikirakan
orang lain. Proses itu mulai dari sebuah imajinasi, dilanjutkan dengan
mengumpulkan bahan dan materi, ditambah lagi ide yang inspiratis,
dan berlanjut kepada penulisan sebuah cerpen, hingga akhirnya
sampai pada proses pengeditan. Semua itu berlangsung dalam sebuah
proses dengan berbagai tantangan yang membuat seseorang tangguh
dan sabar hingga menghasilkan sebuah tulisan.

Kiranya dengan tuntunan Sang Pemberi Akal semoga buku ini
dapat menginspirasi pembaca, dalam hal ini penulis-penulis muda
untuk berkarya lewat bahasa dalam bentuk tulisan. Kiranya juga
siswa-siswi yang telah menggoreskan hasil pikirannya dalam buku ini
tidak jemu-jemu dalam berkarya untuk menghasilkan karya yang lebih
hebat lagi. Semoga semua orang yang terlibat dalam proses penerbitan
buku ini diberikan kesehatan agar terbit lagi buku kumpulan cerpen
periode selanjutnya.

Pemil, S.S.




xv

xvi

171 Hari

Karya: Nadia

Hari ke-148
Aku mengambil sebuah kerikil yang ujungnya agak tajam, dan

mengukir satu garis di tembok. Satu garis di antara banyaknya garis
yang aku ukir setiap satu hari. Satu-satu garisnya kuhitung. Jumlahnya
sudah 148.

Aku tidak tahu sampai kapan ini akan berakhir. Kapan aku
bisa keluar dari sini? “Aku harus melarikan diri dari sini,” bisikku
kepada diriku sendiri. Debu abu-abu nan hitam menyelimuti kulitku.
Badanku yang kurus ceking ini menggigil. Aku tidak tahu aku
menggigil karena dinginnya salju di luar atau karena aku takut akan
majikanku. Ya, saat ini aku sedang berada di ruang bawah tanah
bersama budak-budak lain sepertiku. Bagaimana aku bisa berada di
sini, itu lain lagi ceritanya. Sebelum aku sempat menghangatkan




1

diriku, suara bel kerja berbunyi dengan nyaring, menandakan
istirahatku sudah selesai. Aku sangat lelah, tetapi aku harus bangkit
bekerja.

Jam kerja sore sudah selesai, aku pun kembali ke dalam ruang
bawah tanah bersama budak-budak yang lain. “Beristirahatlah
semaksimal mungkin malam ini!” ujar seorang anak laki-laki yang
berusia dua tahun lebih tua dariku. Nikolai namanya. “Besok akan
menjadi hari yang berat.” Aku pun mengabaikannya dan terus
menatap rembulan yang bersinar terang bagaikan mutiara itu. “Hei,
Tessa! Apakah kau dengar kataku tadi?” tanya Nikolai dengan keras.
“Ya, aku dengar.” sahutku. Nikolai sudah berada di sini jauh lebih
lama dariku dan anak-anak yang lain. Dia dianggap seperti pemimpin
di antara kami. Aku menuruti perintah anak Rusia itu dan
membaringkan tubuhku di atas tumpukan jerami seperti yang lain dan
pelan-pelan mengistirahatkan kepalaku di atas handuk bekas yang
kugunakan sebagai bantal.

Aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan keadaan ibuku dan
kedua adikku di rumah. Mereka makan apa? Mereka sedang berbuat
apa? Aku pun termenung dan teringat akan hidupku sebelum aku
bekerja di sini.

Hari itu sedang siang. Matahari bersinar cerah di atas
kepalaku. Kulihat ibu sedang membantuku mengangkat tasku dan




2

bekal makananku ke dalam kereta kuda. “Bekerjalah dengan baik ya,
nak.” tutur ibuku sambil mengusap pipiku. “Aku akan merindukan
mama, Joseph, dan Steven juga.” sahutku terisak.

“Mama juga tidak mau kamu pergi. Maafkan mama ya,
sayang. Karena keadaan ekonomi kita ini yang memprihatinkan, kamu
juga terpaksa bekerja membanting tulang.”

“Aku akan melakukan apa pun agar kita bisa makan. Aku
akan berusaha sebaik mungkin!” janjiku.

Setelah itu aku dan mama pun berpelukan dan mengucapkan
salam perpisahan kami. Aku naik ke atas kereta kuda yang
membawaku pergi. Aku terus memandang figur mama yang
bertambah kecil saat kereta kuda membawaku menuju pabrik milik
seorang bangsawan.

Hari ke-149
Aku terlonjak. Badanku terasa sakit gara-gara bangun tiba-tiba

dari tumpukan jerami. Kulihat anak-anak lain bergegas mengambil
peralatan mereka dan berlari keluar dari ruang bawah tanah yang
sempit ini. Aku juga bersiap-siap mengambil sapu dan pel dan berlari
ke dalam rumah mansion Big Madam, orang kaum bangsawan pemilik
perusahaan ini. Aku masuk lewat pintu belakang dan pergi menuju




3

ruang tamu. Hari ini tugasku untuk menyapu dan membersihkan lantai
mansion yang terbuat dari marmer ini. Aku tahu aku telat dan jika Big
Madam tahu, matilah aku.

Saat aku sedang menyapu lantai ruang tamu bersama tiga anak
lain, tiba-tiba aku mendengar suara langkah sepatu pantofel yang tebal
menuju arahku. Aku tahu betul suara sepatu itu. Sepatu setebal itu
pasti tidak lain punya Cecilia. Aku pura-pura tidak mendengarnya dan
terus menyapu lantai.
“Tessa!” dengan lantang Cecilia memanggil namaku. “Aku tidak
melihatmu saat aku datang kemari 10 menit yang lalu. Selama 10
menit itu kau berada di mana?” tatapan matanya begitu tajam, sampai-
sampai aku merinding.

“Aku sedang membersihkan tempat minuman.” Kujawab
sambil menunjuk ke arah counter minuman yang rak-rak kacanya
berisi anggur mahal dan laci-lacinya dipenuhi peralatan yang mewah.
“Aku sedang membersihkan rak bagian bawah. Mungkin itu alasannya
mengapa nona tidak melihatku tadi”. Tentu saja ini adalah sebuah
kebohongan. Cecilia pun berjalan menuju rak-rak tersebut dan
memeriksa kebersihannya. Aku hanya berharap rak-rak tersebut sudah
dibersihkan oleh yang lain. Keringat menetes dari kepalaku, hatiku
berdegup kencang. Jika aku ketahuan berbohong, mampuslah aku.




4

“Hmm… rak-rak ini masih berdebu.” katanya sambal
mengusap-usap debu di jarinya.
“Maaf nona, sepertinya aku melewati bagian tersebut.”
“Kau pikir aku tidak tahu kamu berbohong? Seluruh rak masih
berdebu! Kau pasti datang telat! Dan aku yakin kau tahu betul
sanksinya datang telat. Ditambah lagi, kau berbohong kepadaku!”
suara amarahnya menggelegar di ruang tamu yang luas ini. Setelah
beberapa menit lamanya, terjadi keheningan. Tidak ada yang berani
berbicara.

“Nona. Maaf, tapi tadi saya meminta tolong kepada Tessa
untuk mengambilkan kemoceng. Pada saat nona datang ke sini, Tessa
sedang pergi ke ruang bawah tanah.”

“Loh, kok?Apa yang sedang Wendy pikirkan? Apakah dia
melakukan ini demi aku?"

“Apakah benar kata Wendy?” tanya Cecilia dengan ketus.
“Y-Ya, benar.”
“Baiklah kalau begitu. Tapi kamu sudah berbohong tadi, jadi
hari ini kamu mendapat tugas tambahan untuk mencuci piring.”
“Baik, nona.”
Kemudian dia berbalik badan dan meninggalkan ruang tamu.
Suara sepatu pantofelnya berbunyi dengan keras setiap langkahnya.




5

Aku menghela napas dengan lega. “Terima kasih, Wendy.”
kataku. “Entah hukuman apa yang akan dia berikan kepadaku jika kau
tidak membantuku tadi.”

“Aahh… itu bukan apa-apa…” katanya sambal tertawa. “Jika
kau ketahuan mendapat hukuman yang lebih berat, Nikolai bisa
memarahiku.”

“Memarahimu? Mengapa?” aku bingung. Aku tidak mengerti
mengapa hal seperti ini bisa membuatnya marah.

“Nikolai itu, orangnya memang cuek, tetapi dia benci
diperbudak oleh orang-orang seperti mereka. Dia sangat membenci
para bangsawan yang menindas orang-orang seperti kami. Kau tahu,
kan dia yang paling lama di sini? Nah, orang yang sedang berbicara
denganmu ini, adalah yang kedua paling lama.” kata Wendy sambal
tersenyum. “Dia ingin aku membantunya supaya orang-orang
berstatus rendah seperti kami tidak terlalu ditindas.”

Hari sudah sore. Matahari mulai turun dan warna langit
berubah dari biru menjadi jingga terang. Aku sudah selesai mencuci
piring dan sekarang aku sedang membersihkan kandang sapi. Para
anak laki-laki sedang menuntun sapi-sapi balik ke dalam kandang.
Beberapa anak laki-laki lain sedang memperbaiki kandang yang rusak..

Aku merasa lapar dan lelah, dan aku yakin kami semua merasa
demikian. Akan tetapi tidak ada yang berani mengeluh karena




6

Jameson, pria tangan kanan Big Madam sedang mengawasi kami.
Tiba-tiba, William tergelincir kotoran sapi dan jatuh menumpahkan
dua bakul susu yang diperahnya tadi. Tidak ada yang berani
menolongnya. Kami semua terpaku karena Jameson, yang tadinya
sedang mengawasi kami di ujung lumbung bergerak menuju William,
dengan sebatang rotan di tangan kanannya. Melihat itu kami semua
tahu apa yang akan dilakukannya dan aku pun mengalihkan
pandanganku.

Hari ke-153
Hari ini aku ditugaskan untuk bekerja di lumbung lagi. Dari

hari-hari yang lalu aku ditugaskan disini terus. Bekerja membersihkan
mansion memang melelahkan, tetapi ini jauh lebih parah. Dari pagi
aku telah memberi makan babi, menggosok bulu kuda, dan membantu
beberapa anak yang biasanya bertugas di ladang menggiring domba ke
ladang. Aku jarang-jarang mendapatkan tugas yang berhubungan
dengan hewan-hewan ternak dan ini sangat melelahkan.

“Jangan langsung menuangkan bibit sebanyak itu! Ayam yang
satu ini masih muda, jadi sebaiknya dia tidak makan terlalu banyak
dulu agar pertumbuhannya optimal.” kata Reina, sambil mengelus-
elus seekor anak ayam dengan penuh kasih sayang.




7

“Reina, apakah kau suka bekerja di sini?” tanyaku. “Sepertinya kau
sangat menyayangi hewan-hewan ternak di sini. Aku pernah
melihatmu menggosok bulu kuda dan memerah sapi dengan lemah
lembut. Tidak ada yang melakukan hal yang sama sepertimu.”
“Tentu saja tidak.” katanya. “Aku sangat tidak menyukai tempat ini
dan para bangsawan yang memilikinya. Tetapi aku sangat mencintai
semua hewan ternak di sini. Setidaknya mereka tidak pernah
merendahkanku.

Aku langsung ditugaskan di ladang sejak pertama kali aku
bekerja di sini. Oleh karena itu, aku merasa sangat dekat dengan
semua hewan ternak di sini.”

Aku mengangguk dengan kagum. Dia sudah lama bekerja di
sini dan dia bertahan dengan baik. Aku tidak bisa membayangkn apa
jadinya aku jika aku ditugaskan di sini setiap harinya.

Kemudian aku melihat Reina sedang memandang sesuatu yang
jauh. Aku pun mengikuti arah pandangannya. Ternyata dia sedang
memandang William. Dia sedang menggiring domba-domba dengan
anak-anak lain di ladang. Tiba-tiba aku teringat saat dia dipukul
dengan rotan beberapa hari yang lalu. “Kamu sedang berada di
lumbung saat kejadiannnya berlangsung kan?” tanya Reina sambil
tetap memandang William. Aku memang berada di sana saat hal itu
terjadi, tetapi aku tidak melihatnya. Aku tidak sanggup melihatnya.




8

“Ya.” jawabku dengan singkat. Walaupun aku tidak melihatnya, suara
ayunan rotan dan jeritan William masih terngiang di dalam benakku.

Hari sudah mulai sore, aku, Reina, Wendy, dan beberapa anak
lainnya ditugaskan untuk membersihkan lumbung. Seperti biasa,
Jameson mengawasi kami dari ujung ruangan. Awalnya, aku bingung
mengapa dia hanya mengawasi kami saat kami bekerja dalam
lumbung saja, ternyata kata Reina dia melakukannya agar semua hasil
ternak dapat diberikan kepada pemiliknya yang tidak lain adalah Big
Madam sendiri. Ternyata dari dulu banyak anak yang telah mencoba
mengambil hasil ternak untuk disimpan atau dijual. Wendy
menjelaskan bahwa Tuan Jameson diberikan tugas untuk menghitung
hasil ternak dan memastikan bahwa jumlah yang dihasilkan sama
dengan hasil perhitungan. Dia dan beberapa orang lain akan
memeriksa kami semua.

Tentu saja William dihukum karena dia menumpahkan dua
bakul susu. Susu yang ditumpahkannya itu merupakan susu yang
diperah dari sapi terbaik yang dimiliki Big Madam. Walaupun tidak
sengaja, tetap saja hal seperti itu tidak ditoleransi.

Hari ini anak yang sama pun ditugaskan di sini lagi. Namun,
yang membawa susu hari ini bukanlah William melainkan anak laki-
laki yang lain. Kulihat William sedang mengangkut alat-alat lumbung
dan beberapa potongan kayu yang panjang. Kulihat wajahnya saat dia




9

mengangkat alat-alat tersebut. Wajahnya terlihat pucat. Sepertinya dia
harus mengerahkan semua sisa tenaga yang dia miliki hanya untuk
berdiri saja

Nikolai melihat betapa kelelahannya anak berambut pirang itu.
Dia pun meninggalkan apa yang sedang dia lakukan untuk
membantunya. “Nikolai!” suara Jameson menggelegar di dalam
lumbung.“ Jangan membantunya. Dia anak laki-laki, dia harus bisa
bekerja sendiri”. Nikolai yang tadinya melangkah maju mundur pelan-
pelan, berharap William dapat bertahan. Ayo, ayo, jangan jatuh,
bertahanlah. Bisikku dalam hati. Namun hal tersebut tidak terwujud
karena pada akhirnya kaki William menyerah. Keringat bercucuran
dari kepalanya, wajahnya pucat, dan napasnya berat. Anak itu
kelelahan.

Dengan wajah yang tidak berekspresi dia datang menghampiri
William, tentu saja, dengan rotan. Sekali lagi William dipukuli rotan
karena menjatuhkan dan merusak beberapa alat yang dia bawa tadi.
Namun, kali ini aku tidak mengalihkan pandanganku. Kemudian
sesuatu yang aneh terjadi. Apa yang kulihat di depanku, seakan-akan
melambat. Kulihat Jameson memukulinya tanpa ampun. Kudengar
suara William menangis kesakitan. Di sebelahku anak-anak lain
menutup mata dan mengalihkan pandangan mereka. Seseorang harus
membantunya. Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.




10

Tanpa berpikir, aku bergerak. Aku berlari menuju Jameson
dan mendorongnya sekuat tenaga. Bruk! Jameson terjatuh dengan
keras. Kemudian lumbung menjadi hening seakan waktu berhenti
untuk sesaat.

Hari ke-157
Aku sudah lupa berapa hari aku di sini. Aku sudah lupa aku

menghitung sampai hari ke berapa. Yang aku tahu, aku akan dikurung
di sini selama seminggu, tanpa makanan dan minuman yang layak.
Selama ini aku hanya diberikan tiga gelas kecil air dan sepotong roti
kasar setiap hari. Tempat ini bukan penjara, melainkan seperti sebuah
kandang. Letaknya dibawah tanah mansion Big Madam. Sejelek-
jeleknya tempat aku biasanya tidur, yang ini lebih parah. Seluruh
ruangan sangat sempit. Jika aku merentangkan kedua tanganku, aku
bisa menyentuh temboknya. Warnanya hitam, lantainya basah-basah
seperti lumpur, dan udaranya sangat pengap. Hanya ada sebuah
jendela kecil di ujung kanan atas. Terlalu kecil untuk memasukkan
badanku agar aku bisa kabur. Aku merasa pasrah dan aku termenung,
mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

Aku membutuhkan waktu sesaat untuk meresapi apa yang
telah kulakukan. Semua orang menatapku dengan heran dan kaget.
Jameson berdiri dan memukulku sehingga aku jatuh ke tanah. Aku




11

merasakan sesuatu yang hangat keluar dari hidungku. Darah merah
pekat mengalir dan menetes di atas tanah. “Minggir…” kata Jameson.
Dia tidak membentak, tetapi cara dia menatapku membuatku
merinding.

Aku bangun, menggunakan tangan dan kakiku untuk
mengangkat badanku yang bergemetaran ini. Aku berdiri tegak,
menatap balik ke Jameson sambal menyampingkan rasa takut.

“Minggir…” katanya lagi, sambal menatapku dengan dingin.
“Tidak.” Suaraku juga ikut gemetaran.“ Aku tidak akan
membiarkanmu menyakitinya.”
“Jangan memaksaku membuatmu berdarah lagi.” Jameson
terdiam sejenak kemudian berkata lagi. “Ini peringatan terakhir.”
“Tidak akan.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Jameson mengayunkan
tangannya dan aku terjatuh lagi. Punggungku terpukul tanah dengan
keras. Kepalaku terasa pusing dan sebelum aku sempat bangun,
ayunan rotan mengenai pipiku. Perih. Dia mengayunkan rotannya
berkali-kali. Yang bisa aku pikirkan saat ini hanyalah melindungi
kepalaku dengan tangan. Aku meringkuk seperti bola, melindungi
kepala dan wajahku sambil menahan rasa sakit. Aku tidak akan
menangis. Dia tidak boleh melihatku menangis. Kuulang kata-kata
tersebut dalam hati.




12

Tiba-tiba kudengar suara pintu lumbung terbuka dengan keras.
Aku juga mendengar suara sepatu melangkah. Walaupun tanahnya
agak lembek, suara langkah sepatu pantofel terdengar sangat jelas.
Pelan-pelan aku membuka mataku. Cecilia bersama beberapa
asistennya datang menghampiri Jameson. “Apa-apaan ini?” suara
teriakannya menggelegar. “Hentikan kegilaan ini!”

“Aku ditugaskan untuk menjaga keteraturan di dalam dan di
luar lumbung. Kau sudah mendapat bagianmu di dalam mansion.
Jangan ikut campur!” hardik Jameson.

“Big Madam sedang berjalan-jalan santai di sekitar sini dan
dia merasa terganggu oleh suara bising ini.” Cecilia menghela napas.
“Kamu boleh melakukan apa saja untuk menertibkan mereka, tetapi
jangan melukai mereka sampai-sampai tidak bisa bekerja, tolol!”
Kemudian kulihat Cecilia mendekatkan dirinya kepada Jameson dan
membisikkan sesuatu, dan apa yang dibisikkan kepadanya membuatku
kaget, sampai-sampai aku tidak mempercayai apa yang baru saja
kudengar.

“Tidaklah mudah bagi Madam untuk bisa mendapatkan
tenaga kerja mereka secara gratis tanpa sepengetahuan pihak polisi
dan orangtua mereka. Orang rendahan seperti mereka memang
menjijikan, tapi jangan sampai lupa, hanya inilah caranya untuk
menghemat pengeluaran perusahaan kita.”




13

Tanpa berkata apa-apa lagi, Cecilia dan para asistennya pergi
meninggalkan lumbung. Harus kuakui, kedatangan Cecilia
menyelamatkanku. Bisa dibilang aku beruntung. Namun, berdasarkan
apa yang baru saja kudengar, aku tidak merasa demikian.

Mengingat kejadian kemarin, aku merasa khawatir. Jadi
selama ini aku bekerja tidak dibayar? Kurang ajar! Entah bagaimana
keadaan ibu dan kedua adikku di rumah. Tanpa sadar, aku mulai
merasa kantuk dan beberapa saat lagi aku terlelap, masih memikirkan
keluargaku di rumah.

Hari ke-158
Aku tidak menyangka aku bisa tertidur lelap di tempat seperti

ini. Saat aku bangun, yang pertama kurasakan adalah panasnya udara
di sini. Rasanya sepuluh kali lebih panas dibandingkan kemarin
malam dan cahaya matahari siang menusuk mataku saat aku
membukanya pertama kali pada hari ini.

Aku berdiri dan mengintip lewat jendela kecil di ujung kanan
ruangan. Aku melihat Big Madam dan saudara saudarinya duduk di
teras sambil menikmati teh dan kue-kue kecil. Melihat kudapan-
kudapan kecil itu, perutku mulai keroncongan. Rasanya seperti ada
badai yang bergemuruh di dalam perutku. Aku menjilati bibirku
sambil menahan lapar dan malah merasakan darah dan kasarnya kulit-




14

kulit bibir yang terkelupas. Entah kapan terakhir kalinya seseorang
datang membawakan segelas air untukku.

Karena merasa lemas, aku duduk kembali.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu.
“Psst! Tessa!” aku berdiri dan melihat siapa yang berkunjung.
Ternyata itu Nikolai, dia datang bersama Wendy. Mereka menyusup
ke ruang bawah tanah dengan membawa air yang banyak dan
beberapa potong roti.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Wendy sambil
memberikanku segelas minuman. Aku tidak menjawab. Airnya
langsung kutenggak habis.
“Ada lagi?” tanyaku sambil mengelap mulutku yang basah.
Mereka memberikanku beberapa gelas air dan semuanya kuhabiskan,
sampai tetes-tetes terakhirnya kuminum juga. Ini air biasa, tetapi air
ini berasa seperti air terbaik yang pernah kuminum seumur hidup.
“Dasar bodoh.” ketus Nikolai. “Gara-gara menolongnya jadi
dipukuli dan diperlakukan seperti binatang.”
“Nikolai! Jangan berkata seperti itu!” kata Wendy sambil
menonjok bahunya.
“Tetapi bisa dibilang dia beruntung, nona Cecilia datang pada
waktu yang tepat.”




15

“Ya, memang itu tindakan bodoh.” akhirnya aku bisa berbicara.
“Tetapi aku tidak menyesalinya, sama sekali tidak.”
“Tidak ada yang pantas diperlakukan seperti itu.” kata Wendy
dengan kesal. “William tidak diberi makan dengan cukup dan dia
masih dipaksa bekerja rodi. Aku tidak heran jika dia tiba-tiba pingsan.”
“Apa yang kau lakukan kemarin sangatlah berani.” kata
Nikolai kepadaku.
“Aku tidak berani.” sahutku. “Sebenarnya aku ini sangat
penakut.”
Beberapa saat kemudian, salah satu anak ladang, Robin, buru-
buru datang membawa koran.
“Hei, Nikolai!” serunya.“Kau harus lihat ini!”
“Robin! Apa yang sedang kau lakukan di sini? Nanti kalau
ketahuan gimana?” tanya Wendy
“Please. Sebentar saja. Ini sangat penting.” katanya terengah-
engah.
Robin menunjukan korannya. Pada halaman pertama koran itu
terdapat berita berjudul “Penjualan Ternak Big Madam’s
Mendominasi Pasar.”
“Terus kenapa? Kita semua tahu produknya laris.” tanya
Nikolai heran.




16

“Bukan itu intinya. Baca ini. ”Robin menunjukkan sebuah
artikel pada halaman ketiga. Artikelnya itu merupakan artikel yang
kecil. Halaman koran tersebut harus dilihat dengan teliti untuk melihat
berita tersebut. Tulisan dan foto-foto yang terpampang mengagetkan
kami semua.

ANAK-ANAK REMAJA DILAPORKAN HILANG
Kamis (30/5/1845), Scotland Yard melaporkan sejumlah anak-

anak remaja hilang dan tidak diketahui lokasinya. “Kami sudah
mengabari dan mewawancarai keluarga-keluarga anak-anak yang
bersangkutan. Awalnya mereka mengatakan bahwa mereka mengirim
anak-anak mereka untuk bekerja pada sebuah pabrik industri untuk
mendapat uang. Namun, saat kami menelusuri alamat yang tertera,
kami tidak menemukan apa-apa. Yang kami temukan hanyalah sebuah
pabrik yang berhenti beroperasi kira-kira tujuh tahun yang lalu.” ujar
John Pollock, kepala Scotland Yard. Saat ini Scotland Yard sedang
berburu informasi dari berbagai pihak untuk menemukan anak-anak
yang hilang dan menyelesaikan kasus ini. Berikut adalah foto-foto dari
beberapa anak-anak tersebut. Jika anda melihat salah satu dari anak-
anak ini atau pernah mendengar sebuah kabar tentang mereka, mohon
hubungi pihak yang bersangkutan.




17

Kami melihat wajah-wajah yang familiar. “Ini… aku?” tanya
Nikolai heran. Sepertinya itu adalah foto Nikolai saat dia beberapa
tahun lebih muda.

“Lihat ini!” seru Robin. “Yang ini foto Reina kan?”
“Lihat ini! ini William, kan?” seru Wendy.
Kami terdiam melihat foto-foto yang ada. Tanpa disadari,
Nikolai, Wendy, dan Robin sudah cukup lama berbicara denganku di
sini.
“Kita harus pergi sekarang.” kata Nikolai. “Jika Cecilia atau
Jameson bertanya, bilang aja kalian baru mengambil barang dari
gudang.”
Kemudian mereka pergi, meninggalkanku sendiri. Namun,
setelah membaca berita tadi, aku bisa merasakan cahaya harapan
menyala di dalam diriku. Tiba-tiba kesedihan dan kekhawatiranku
langsung menghilang. Sebuah peluang. Kataku dalam hati. Ini adalah
kesempatan kita untuk pergi dari sini.

Hari ke-160
Kuintip langit dari jendela penjaraku. Langit berwarna biru-

biru kehitaman. Bulan purnama bersinar sangat terang malam ini.
Beberapa gugusan bintang berkerlap-kerlip membuat langit terlihat




18

bersinar, bagaikan kanvas hitam kosong yang dibuat indah dengan
beberapa tetes cat putih.

Tiba-tiba pintu penjaraku terbuka, salah satu dari asisten
Cecilia mengantarku ke luar menuju gubuk tempat biasa aku bersama
anak-anak lain yang letaknya agak jauh dari mansion.

Begitu masuk ke dalam rumah yang kecil ini, semua anak
menyoraki aku. Bingung dan heran, aku ikuti saja. Beberapa di antara
mereka memelukku, ada juga yang merangkul, dan menepuk-nepuk
pundakku. Sementara anak-anak yang lain bersalaman denganku.
Namun, diantara banyaknya anak-anak yang menghampiriku, aku
tidak melihat seseorang, seseorang yang ingin aku dengar kabarnya.

Pelan-pelan suasana ruangan menjadi tenang dan semua anak
yang mengerubungi aku memberi jalan untuk seseorang.

“Sebenarnya, kau tidak perlu melakukan itu. Aku lebih baik
dipukuli sampai-sampai tidak bisa bekerja lagi.” kata William sambil
memalingkan wajah, matanya menatap kebawah. Jika dilihat dari
dekat, William tinggi juga. Kurang lebih satu kepala lebih tinggi
dariku. Tubuhnya kurus, terdapat banyak bintik-bintik merah di
pipinya. “Tetapi, jika aku tidak bisa bekerja, ayah ibuku serta ketiga
adik perempuanku di rumah tidak bisa makan lagi. Jadi, terima kasih,
ya.”




19

Senyumnya membuatku merasa hangat dan tenang. Suatu
kehangatan dan ketenangan yang sudah lama tidak kurasakan di dalam
hidupku. Terakhir kalinya aku merasakan hal yang sama adalah saat
aku berada di rumah, bersama ibuku dan kedua adik laki-lakiku.
Senyuman tulus William mengingatkanku bahwa tempat ini dan
semua anak yang berada di sini, adalah keluargaku juga, sama seperti
mereka yang berada di rumah, menunggu kepulanganku.

Kami bercanda dan tertawa bersama menikmati kebersamaan
dan menguatkan ikatan pertemanan kami. Kami juga sempat berbagi
pengalaman selama kami bekerja di sini. Semua berbahagia, semua
tersenyum, inilah suasana yang aku rindukan, dan aku
mendapatkannya kembali walaupun hanya untuk sesaat.

Kemudian perhatian kami tertuju pada Nikolai yang naik ke
atas panggung yang terbuat dari tumpukan jerami padat. “Saat-saat
berbahagia dan bercanda seperti ini memang menyenangkan. Tapi ini
adalah saatnya kita serius.” kata Nikolai dengan penuh wibawa.
“Akan kujelaskan alasan utama kita berkumpul di sini”

Kemudian Reina naik ke atas panggung jadi-jadian itu sambil
membawa setumpuk koran. Tumpukan koran itu tidak tebal dan
terlihat agak berdebu. Nikolai mencari sebuah koran dari tumpukan itu,
mengambilnya, dan mengangkatnya tinggi-tinggi.




20

“Koran ini adalah koran yang pertama kali ditemukan Robin.
Robin menunjukannya kepadaku, Wendy, dan Tessa saat Tessa
sedang dihukum dua hari yang lalu. Koran ini bukan koran baru, ini
koran edisi bulan lalu. Supaya lebih jelas, akan kubacakan saja.”
Kemudian Nikolai membacakan isi koran tersebut dan Reina
membacakan nama-nama anak yang tertulis di koran. Beberapa di
antaranya adalah Nikolai, Reina, Robin, Anne, diriku sendiri, Sam,
Stanley, Eric, Peter, Beatrice, Wendy, dan masih banyak lagi, serta
tidak semua anak yang namanya disebut ada fotonya di koran.

Suasana menjadi gaduh, panik, dan beberapa merasa resah,
serta banyak bertanya-tanya.

“Jadi, selama ini kita kerja, keluarga kita tidak dikirim uang?”
“Bagaimana keadaan kakek nenekku di rumah?”
“Kakek nenek? Aku punya lima adik kecil di rumah!”
“Kita ditipu!”
“Dasar orang-orang egois!”
“Ini ilegal! Yang mereka lakukan ini melawan hukum!”
“DIAAMMM!!”Nikolai berteriak, suaranya langsung
mendiamkan mereka yang panik dan resah. “Setelah melihat berita ini,
aku meminta bantuan Robin, Eric, dan beberapa anak ladang lainnya
untuk pergi ke gudang yang letaknya di belakang mansion,
mengumpulkan koran, dan mengelompokkan koran yang mempunyai




21

berita yang sama, baik lebih baru maupun lama, dan inilah yang
mereka temukan!”

Kemudian Nikolai menunjukkan tumpukan koran yang dibawa
Reina dan mengambil beberapa lembar koran dan membacakan berita-
berita, serta menunjukan bahwa investigasi pihak Scotland Yard tidak
mengalami perkembangan yang signifikan. “Big Madam telah
berbohong kepada media cetak tentang kesuksesan perusahaannya,
mengeksploitasi jasa kami, dan membuat kami bekerja seperti budak-
budak dengan perlakukan yang tidak manusiawi tanpa pemberian
balas jasa demi keuntungan semata.” Suasana menjadi semakin resah.
Banyak di antara mereka yang merasa sedih dan terpuruk.

“Jangan bersedih, teman-temanku! Ini memang sebuah
kenyataan pahit yang harus kita hadapi. Namun, dengan ini kita punya
harapan!” seru Reina.

“Harapan?” tanya seorang anak. “Maksudmu…”
“Ya.” jawab Nikolai. “Kita punya kesempatan yang bagus
untuk keluar dari sini.”

Hari ke-170
Suasana di gubuk belum pernah seceria ini. Semua anak

terlihat bersemangat dan termotivasi dalam bekerja. Ini akibat pidato
Nikolai sepuluh hari yang lalu. Kata-katanya membangkitkan




22

semangat kami semua. Selama sepuluh hari berturut-turut, kami
semua bekerja sambil mempersiapkan diri untuk keluar dari sini.
Kami berencana untuk melaporkan pada pihak yang
bersangkutan.Tetapi, menurut Nikolai dan Reina, itu saja tidak cukup.
Agar ini bisa berhasil, semua 100 anak harus ikut berperan di dalam
rencana yg sudah disusun.

Nikolai, Reina, Eric, Patricia dan Sam sudah selesai menyusun
rencananya dari beberapa hari yang lalu. Pada awalnya, kami semua
ditugaskan untuk bersuara dan membuat kegaduhan untuk memancing
semua atau setidaknya sebagian besar pelayan untuk keluar. yang
penting adalah Jameson, Cecilia, serta kaki tangan Big Madam yang
lain. Selama kegaduhan itu berlangsung, Nikolai, Wendy, Sam, Aku,
dan Eric akan pergi dengan kereta kuda yang sudah disiapkan oleh
anak-anak ladang dari jauh-jauh hari untuk pergi ke kantor polisi
terdekat. Kami dipilih untuk pergi karena kami adalah beberapa anak
yang fotonya tertera di koran. Sedangkan Reina, Robin, dan anak-anak
lainnya akan tetap membuat kegaduhan di mansion. Mereka harus
membuat kegaduhan tersebut berlangsung selama mungkin untuk
mengulur waktu.

“Kalau begitu, bagaimana dengan kami yang tidak menyusul?
Bagaimana kami keluar?” tanya seorang anak.




23

“Kalian akan menunggu sampai pihak kepolisian datang.” kata
Eric. “Memang, ini terdengar sulit, tetapi jumlah kalian jauh lebih
banyak daripada pelayan di sini. Percayalah pada diri kalian sendiri!”

Tidak ada yang berani membantah dan setelah selesai
mengerjakan rutinitas kami, kami semua tidur lebih awal.

Hari ke-171
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kami semua bangun jam

04.30 pagi, itu satu setengah jam lebih pagi dari biasanya. Walaupun
begitu, para penjaga dan beberapa pelayan yang berjaga semalaman
tetap berjaga karena jam kerja mereka belum berakhir. Terlihat jelas
sekali bahwa mereka sudah mengantuk. Menurut seorang anak yang
mengawasi kegiatan di mansion, Cecilia dan Jameson masih tertidur
lelap. Nikolai melihat keadaan di sekelilingnya, kemudian berkata,
“Robin, sekarang saatnya, kau siap?”

“Kapan saja siap, kok!” serunya sambil mengangkat panci
bekas, dia berseru, “Ayo semua! Kita maju!”

Kemudian Robin, Reina, dan anak-anak lain beramai-ramai
lari dan memukul-mukul alat-alat yang mereka bawa, seperti palu,
cangkul, ranting-ranting patah, panci, dan pot bekas sehingga suasana
yang tadinya sunyi senyap langsung berubah seketika itu juga. Alat-
alat yang mereka gunakan sekarang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.




24

“Hei, diam kalian semua!” teriak salah satu pelayan. Tetapi pelayan
tersebut diabaikan dan suasana menjadi semakin gaduh. Cecilia dan
Jameson yang terbangunkan oleh kebisingan pun ikut turun tangan.
Para pelayan yang berjaga juga terlihat sangat kesal dan saking
berisiknya, semua pelayan meninggalkan tempat mereka berjaga
sehingga pelayan-pelayan yang menjaga di tempat-tempat lain ikut
meninggalkan pos mereka dan bergegas menuju sumber keributan.
Para anak-anak tidak hanya membuat keributan, tetapi mereka juga
menggunakan kotoran sapi dan lumpur sehingga mengotori lapangan
rumput depan mansion dan gaun tidur Cecilia. “Bungkam mereka
semua! Lakukan apa saja agar mereka diam!” seru Cecilia marah.

Kami pun memanfaatkan keadaan ini dan bergegas menuju
lumbung yang tidak lagi dijaga untuk mengambil kereta kuda. Kereta
kudanya bagus sekali. “Para anak-anak ladang melakukan kerja yang
bagus dalam memperbaikinya.” Kata Nikolai sambil naik ke kursi
belakang. “Aku tidak menyangka tadinya ini adalah kereta kuda bekas
yang sudah rusak. ”Kuda yang dipilih juga terlihat sehat dan segar.

Eric naik ke kursi paling depan kemudian aku duduk di kusi
belakang bersama Nikolai. Kami sedang menunggu aba-aba dari
Wendy. Wendy sedang mengawasi pintu gerbang, kami tidak bisa
jalan sebelum Wendy membuka pintu gerbang yang dijaga itu.




25

Tiba-tiba Sam yang belum masuk ke kereta kuda, berbisik,
“Hei, kalian dengar suara itu?”
“Suara apa? Di sana berisik sekali!” kata Eric
“Masa kalian tidak mendengarnya sih? Kalian tidak dengar
suara Big Madam?!”
“Apa?! Dia sudah bangun?” tanya Nikolai.
Aku bisa mendengar suara Robin dan suara anak laki-laki.
Mereka dengan bahagianya meledek Big Madam. “Hei, Montok! Ayo
coba buat kami diam!”
“Dia gendut sekali!”
“Dia terlihat seperti babi panggang!”
“Bagaimana ini, Nikolai?” tanyaku. Bagaimana kita bisa
keluar sekarang tanpa ketahuan Big Madam?”
Sebelum Nikolai menjawabku, terdengar suara Wendy yang sedang
berlari menuju kami. Sambil berlari dia berseru, “Eric! Gerbangnya
sudah kubuka! Jalan sekarang!”
“Ya,” jawabnya. “Apapun yang terjadi, kita jalan!”
Tanpa menunggu Wendy, Eric menarik tali dengan kencang
dan kedua kuda-kuda besar itu melaju dengan kencang. Wendy yang
masih berlari menuju kami pun berlari semakin kencang menuju
kereta kuda dan dengan gesitnya dia melompat masuk ke dalam kereta
kuda sambil memegang gagang pintu kereta untuk mendorong




26

tubuhnya masuk. Kereta kuda berjalan dengan kencang menuju pintu
gerbang. “Hei! Berhenti!” seru seorang pelayan. Tetapi sudah
terlambat.

Sam segera mengeluarkan peta. “Perjalanannya cukup jauh!”
serunya. “Kita harus cepat.” Sam menunjuk ke gambar kantor polisi.
“Ini kantor polisinya dan kita berada di sini”. Sam menunjuk lagi ke
gambar mansion dan pabrik.

“Jangan khawatir,” kata Nikolai. “Reina, Robin, dan aku sudah
membahas ini, kita bisa sampai tepat waktu.”
“Mengapa Reina tidak ikut?” tanyaku.
“Dia bilang dia dan Robin mau membantu anak-anak ladang lainnya
membuat keributan.” katanya. “Sepertinya dia hanya ingin mengotori
Cecilia dan Jameson dengan kotoran sapi.” katanya lagi sambil
tertawa kecil.

Tiba-tiba Eric berseru, “DIBELAKANG!” kami semua
menoleh ke belakang, ternyata itu Jameson dan Big Madam. Mereka
juga sedang mengendarai kereta kuda dengan Jameson duduk di kursi
depan dan Big Madam di belakang.
“Gawat!” seru Sam.

Kami semua mengambil beberapa batu yang telah disiapkan
anak-anak ladang untuk kami dan melemparkannya ke roda kereta Big
Madam. “Anak-anak sialan!” serunya. Tiba-tiba Big Madam




27

mengeluarkan senapan dan menembaki kami. “Sial! Dia bawa
senapan!” kata Wendy.

“Wendy, kau awasi arah dia menembak dan katakan kepada
Eric harus kemana.” perintah Nikolai. Aku, Sam, dan Nikolai
mencari-cari benda yang bisa digunakan untuk melawan mereka.
“Batunya sudah habis!” seruku.

“Persetan dengan batu!” seru Nikolai sambil menggali-gali
barang di kereta kuda. “Sam! Senapannya mana?!”

“Senapan?” tanyaku heran.
“Sudah kubawa! Sebentar..”
“Cepat, Sam!”
Kemudian sam mengeluarkan sebuah shotgun yang dia
sembunyikan di bawah kursi. Nikolai mengambilnya, mengisi shotgun
itu dengan peluru, dan menembakinya. Meleset. Aku tidak tahu kami
membawa senapan, aku juga tidak tahu senapannya dapat dari mana.
Tetapi itu urusan nanti, sekarang ada urusan yang lebih penting.
“Sam! Apakah ada senapan lain?” tanyaku. Aku juga ingin
membantu.
“Se-sebentar.” Sam membongkar-bongkar barang yang dia
sembunyikan di bawah kursi dan mengambil sebuah pistol.
Ukurannya kecil, pas di tanganku. Seumur hidup aku belum pernah
menembak orang, memegang tembakan saja belum pernah. Tak




28

kusangka sekarang adalah pertama kalinya aku mencoba. Aku
mengarahkan pistolku ke depan dan menarik pelatuknya. Selama
beberapa saat terjadi tembak menembak. Kemudian Jameson, yang
dari tadi duduk di kursi roda, mengambil sebuah shotgun dan
membidik ke arah roda. “Eric! “Eric!” Jameson akan menembak
rodanya!” seru Wendy, panik. “Kemana? Aku harus kemana?!” tanya
Eric, dia juga mulai ikutan panik. Kami semua menjadi panik, dan aku
mengarahkan pistolku ke arah tangan Jameson. DUARR! Pelurunya
mengenai tangan kanan Jameson.

“Aargghh!” teriakan Jameson terdengar begitu jelas. Dia
kesakitan, biasanya aku kasihan melihat orang lain kesakitan, tetapi
mengingat apa yang telah dia perbuat kepada William, aku tidak
peduli. “Dasar bocah rendahan!” kemudian dia menembak dan
pelurunya melesat menuju arahku. Aku bersiap-siap kena, DUARR!!
Tetapi aku tidak merasakan sakit. Aku melihat sekelilingku, dan aku
melihat Sam, darah segar mengalir deras dari pahanya.

“Kau baik-baik saja, Tessa?” tanyanya sambil menahan sakit.
“Sam! Sam!” seruku, panik. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Sam! Bertahanlah, Sam!” seru Wendy, air mata mengalir
dengan deras.
“Wendy, fokus!” seru Nikolai sambil membidik.




29

“M-Maaf!” kata Wendy sambil mengusap air matanya. “Eric,
arahkan kudanya ke kiri, dia akan menembak ke kanan.”Jameson
menembak, tetapi meleset. Kemudian Nikolai menembak balik, tetapi
meleset juga. Aku segera menggunakan sehelai kain bekas dan
menekan luka tembak Sam.“Tessa, jangan hiraukan aku, aku baik-
baik saja. Nikolai butuh bantuanmu, bantulah dia, aku mohon!”
“Eric! Eric! Ke kiri! Ke kiri!!” jerit Wendy. Dengan sekuat tenaga,
Eric menarik tali untuk mengarahkan ke kiri, tetapi sudah terlambat.
Tembakan Big Madam mengenai roda kanan belakang kereta kami
sehingga kami terlonjak.

Rodanya lepas dan kecepatan kereta menurun drastis. Mereka
semakin dekat. “Anak kurang ajar!” akan kubunuh kalian!” seru Big
Madam. Nikolai menembak sekali lagi dan tembakannya menggores
tangan Big Madam yang berlemak itu. “Sial! Pelurunya habis!” kami
sudah kehabisan peluru cadangan. Kereta berjalan semakin lambat.
Walaupun Eric berusaha sekuat tenaga, keretanya tidak bisa
dipercepat lagi. Mereka berjarak kurang dari satu meter menuju kami.
Habislah sudah.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari belakang sehingga
roda kereta belakang Big Madam mengendur. “Nikolai! Tessa! Kalian
baik-baik saja?!” suara itu berseru di belakang Big Madam dan
Jameson. “Reina!” seru Nikolai girang, semangat membanjirinya.




30

Reina datang bersama Robin dan William. Bala bantuan telah datang!
Kita terselamatkan! “Cepat pergi ke kantor polisi! Kita urus si gendut
di sini!” seru William, senapan di tangan kirinya. “Yes! Yes..” seru
Sam, lega. Walaupun kakinya terluka, dia tersenyum lebar. “Kau
dengar itu, Eric?” tanya Wendy penuh semangat. “Jelas sekali!” kata
Eric, semangat sekaligus lega. Kemudian kami pun pergi
meninggalkan mereka.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara kereta kuda lain.
“Apakah mereka berhasil menyusul?” tanya Wendy. Kereta itu
mendekat dan di atasnya ditumpangi seorang pria dengan kedok emas
putih di dadanya.

“Itu polisi Scotland Yard!” seruku. “Berhenti, Eric. Berhenti!”
“Angkat tangan kalian! Turunkan senjata kalian dan tiarap di
atas tanah!” seru seorang polisi.
“Sebentar, sebentar, pak. Apakah Anda mengenali saya?”
tanyaku, berusaha menjelaskan.
“Mana saya tahu! Jangan main-main! Tiarap!”
“Pak, kami anak-anak yang diberitakan hilang itu! Tolong
dengarkan kami!” kata Eric.
“Ini peringatan terakhir, bocah! Tiarap atau kutembak kaki
kalian!”




31

“Pak, ada teman kami yang terluka di dalam kereta, ada lagi
teman-teman kami di belakang sana dan mereka sedang dalam
bahaya!” kata Wendy.

Kemudian, seseorang yang beratribut beda datang
menghampiri kami. “Jadi kalian mengaku sebagai anak-anak yang
hilang ?” tanyanya.

“Betul, Pak!” sahut Wendy. “Namaku Wendy Marvelle, yang
berdiri di sebelahku bernama Tessa Fitzgerald, dan disebelahnya
adalah Eric Cayennes.”

Kemudian, Bapak itu mengeluarkan secarik kertas yang berisi
foto-foto kami dan mencocokan wajah kami. “Hmm… kalian memang
mirip anak-anak yang hilang itu sih..”

“Itu memang kami, Pak!” kata Eric.
Kemudian dia berpikir sejenak dan mengatakan agar
menurunkan senjata. Sekarang semua personel aku tugaskan untuk
pergi ke arah sana dan hentikan semua aktivitas yang membahayakan!”
Pada saat itu juga, sebagian polisi pergi ke arah tempat kita
meninggalkan teman-teman. Kemudian Nikolai keluar dari kereta
sambil membantu Sam jalan. Darahnya masih mengalir, tetapi tidak
sederas tadi. “Aku baik-baik saja!” katanya sambil melambaikan
tangan. Kemudian beberapa polisi menghampiri Sam dan
membantunya jalan. “Temanmu harus segera diobati, anak buahku




32

akan mengantarnya menuju rumah sakit terdekat.” kata Bapak itu.
“Pak, aku akan menemaninya.” kata Wendy. “Sepertinya tanganku
terkena tembakan juga tadi.” katanya lagi sambil menunjukkan
tangannya yang terluka.

“Wendy--“ sebelum aku sempat berkata lagi, Wendy berjalan
mengikuti para polisi bersama Sam.

“Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil, kok. Aku yakin Sam
juga akan segera sembuh. Jangan khawatir.” katanya tersenyum.

“Nah, tinggal kalian bertiga.” kata bapak itu.“Pertama-tama
saya akan memperkenalkan diri, nama saya John Pollock, kepala
Scotland Yard. Maukah kalian ikut aku ke kantor saya dan
menceritakan semua yang telah terjadi?” kami mengangguk dan kami
pun mengikutinya.

5 Bulan Kemudian
Aku bersiap-siap membawa tas, memakai sepatu, dan bergegas

keluar menuju pasar pagi. Tidak lupa juga aku membawa beberapa
receh uang ekstra untuk membeli permen. Dengan rok biru dan sepatu
pantofel hitam, aku menyusuri kota London. Kulihat ibu-ibu berjualan
roti, pengirim surat menaiki sepeda, anak-anak kecil berlarian sana-
sini, bapak-bapak menawarkan produk-produk jualannya, dan masih
banyak lagi. Kemudian aku melihat beberapa anak, mereka kurang




33


Click to View FlipBook Version