The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perlu kita ketahui, bahwa bakat menulis seorang siswa tidak datang begitu saja, namun membutuhkan proses yang cukup panjang. Pendekatan di lingkungan keluarga dan sekolah akan mempengaruhi kemampuan siswa dalam menghasilkan karya tulis. Dari kegiatan membaca sampai pelatihan menulis kreatif.
Dengan adanya sebuah program sekolah untuk menerbitkan buku kumpulan cerita pendek karya siswa ini, guru menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kemampuan siswanya. Suatu saat, program menerbitkan buku ini akan menjadi cikal bakal andalan sekolah dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran intensif bahasa Indonesia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Pahoa, 2022-04-19 02:27:39

171 hari : Kumpulan cerita pendek karya siswa SMA Pahoa

Perlu kita ketahui, bahwa bakat menulis seorang siswa tidak datang begitu saja, namun membutuhkan proses yang cukup panjang. Pendekatan di lingkungan keluarga dan sekolah akan mempengaruhi kemampuan siswa dalam menghasilkan karya tulis. Dari kegiatan membaca sampai pelatihan menulis kreatif.
Dengan adanya sebuah program sekolah untuk menerbitkan buku kumpulan cerita pendek karya siswa ini, guru menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kemampuan siswanya. Suatu saat, program menerbitkan buku ini akan menjadi cikal bakal andalan sekolah dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran intensif bahasa Indonesia.

Keywords: Cerpen

Di kamarku yang bernuansa putih dan merah muda, mulutku
tak hentinya bercerita kepada Anya tentang niatku untuk memberikan
kue kepada Anji. Anya hanya diam memperhatianku sambil sesekali
mengangguk. Akhirnya aku pun meminta bantuan Anya untuk
memberikan sepotong kue yang telah kupersiapkan untuk Anji. Tak
lupa aku pun menuliskan sebuah surat yang berisi tentang perasaanku
ke Anji di atas kertas berwarna merah muda. Aku meminta bantuan
Anya karena aku pikir Anya adalah sahabat terbaikku dan rumahnya
berdekatan dengan Anji. Anya hanya mengangguk sambil menerima
kotak kue dan surat berwarna merah jambu itu lalu ia pun pergi dari
rumahku.

Tanpa aku ketahui, ternyata Anya memberikan kue itu kepada
Anji atas namanya. Ia tak memberikan suratku kepada Anji melainkan
Ia menulis surat lain untuk Anji. Sejak saat itu, Anji dan Anya pun
menjalin hubungan yang lebih dekat di belakangku. Ketika aku
menanyakan soal kue itu di telepon, Anya hanya mengatakan bahwa
Anji tak berkata apa-apa. Sahabatku bilang sepertinya Anji tak suka
kepadaku. Ia juga menambahi bahwa Anji bilang ia tak ingin
menerima barang-barang aneh dariku.

Seketika hatiku hancur. Layaknya seorang remaja yang baru
belajar tentang hidup, aku pikir Anji begitu jahat. Mengapa ia begitu
tega mengatakan hal itu. Padahal selama ini, aku melihat Anji sebagai




184

sosok yang gagah dan baik hati. Saat aku meminta Anya untuk datang
menghibur diriku, ia berkata ia tak bisa karena ia sedang sibuk
mengerjakan lukisan.

Akhirnya liburan pun usai. Saat hari pertama masuk, aku
melihat gelagat aneh di wajah Anya. Entah mengapa ia tak berani
menatap wajahku lama-lama dan ia juga mulai menjauh dariku.
Beberapa hari kemudian, baru kuketahui bahwa Anya telah berpacaran
dengan Anji. Seketika aku merasa jatuh. Mengapa Anya begitu tega
padaku. Padahal aku menganggapnya sebagai sahabat terbaikku. Sejak
saat itu hubungan kami pun retak. Aku pun semakin dibuat bingung
karena Ia tidak berusaha menjelaskan apa pun padaku .

Sejak lulus SMP, aku tak tahu ke mana hilangnya Anya. Aku
benar-benar tak peduli lagi sosok perempuan itu. Perlahan aku
menghapus semua memoriku tentangnya. Sampai akhirnya saat ini
aku bertemu lagi dengannya.

Dia berjalan menghampiriku dengan langkah kecil. Perempuan
ayu itu memanggil namaku .

“Reha!” ia terlihat sangat girang. Senyum sumringah
menghiasi wajahnya.

Namun aku masih diam mematung di tempat. Haruskah
kuhampiri dia? Ataukah aku perlu menghindar darinya. Tapi hatiku
bersikeras bukan aku yang berbuat salah, melainkan dia .




185

Akhirnya aku memberanikan diri untuk menemuinya. Aku
tengokkan kepalaku ke arahnya sambil berusaha untuk membalas
senyumannya.

“Hai Reha! Udah lama banget kita ga ketemu,” sapanya
antusias.

“Hai juga. Anya kan?” tanyaku memastikan.
“Iya, aku Anya. Gimana kabar kamu?”.
Kini ia menayakan tentang kabarku.
“Pentingkah untukku menjawab?” sahutku. Aku tak tahan
dengan basa basinya. Sontak kulihat ada sorot kekagetan di wajahnya.
Perlahan kurasakan ada perasaan bersalah di wajahnya.
“Reha, sebenarnya ada yang mau kubicarakn denganmu. Aku
sudah lama berusaha mencari kabar tentangmu. Tetapi, aku tak dapat
menemukan dirimu. Begitu dapat alamat rumahmu di Jakarta, ternyata
kamu sedang berada di luar negeri untuk berkuliah,“ jelasnya.
“ Lalu?” tanyaku datar.
“Aku minta maaf atas kesalahan yang kuperbuat dulu. Tak
seharusnya aku mengambil kuemu dan memberikannya kepada Anji
atas namaku walau kala itu aku suka padanya. Reha maafkan aku.
Aku ingin persahabatan kita kembali seperti dulu,” pinta Anya
memohon. Terlihat penyesalan yang teramat dalam di raut wajahnya.




186

Hati kecilku goyah. Haruskah kutolak atau kuterima? Aku
masih menatapnya dengan wajah datar dan ada amarah dalam sorot
mataku.

“Reha aku mohon. Aku sudah putus dengan Anji. Lelaki itu
brengsek. Ia mengkhianati aku. Selama ini aku tersiksa atas kesalahan
aku sama kamu. Kamu maukan memaafkanku?“ ia kembali memohon.

Akhirnya setelah hening beberapa saat, aku pun mulai berani
untuk menjawab permintaannya atau pertanyaannya. Entahlah
jawaban apa yang harus akulontarkan.

Haruskah aku memaafkannya?




187

Kutukan Kekal

Karya: Margareta F.K.

Gumpalan kapas tipis nan putih itu perlahan-lahan turun
sampai menempel di aspal. Badanku menggigil mengoceh untuk
dihangatkan, menolak menerima hawa panas matahari. Waktu yang
tidak tepat untuk menyusuri jalan kota Paris. Apa boleh buat. Aku
harus bekerja demi bertahan hidup.

Tidak banyak orang yang berlalu-lalang di jalan dengan suhu
seperti ini. Di sampingku, kupandang seorang wanita tua dengan jaket
bulunya yang norak dilengkapi dengan kacamata hitam. Tangannya
dipenuhi tas belanja dari merek-merek terkenal.

“Wanita yang gila shopping,” pikirku.




188

Seorang wanita penuh rias berbaju crop tee dengan rok lipit
super pendek sedang meliriknya tersenyum menggoda sambal
mengelus-elus helaian rambutnya yang dicat kemerahan. Aku heran,
bagaimana dia kuat memakai pakaian seperti itu, di cuaca sedingin ini.
Aku tidak mengacuhkan wanita itu, melanjutkan langkahku.

Di pojokan, kulihat sepasang kekasih “rocker” dikelilingi oleh
lautan kabut putih beracun. Aku muak dengan orang seperti itu.
Kenapa mereka berbuat sesuatu yang dapat membunuh mereka pada
akhirnya. Betul-betul berbeda zaman sekarang ini. Aku masih sulit
untuk beradaptasi.

Langkahku semakin terasa berat. Perutku bergejolak memohon
untuk diberi makanan. Pekerjaan ini membuatku tidak sempat makan.
Aku mendesah. Kuangkat kamera yang menggantung di leherku.
Sudah cukup banyak foto yang kujepret dari tadi pagi. Kurasa ini
sudah cukup untuk memulai tema baruku. Waktunya mencari tempat
makan.

Setelah berjalan menyusuri jalanan selama lima menit, belum
ada satu pun restoran yang buka. Kulanjutkan langkahku. Di sudut
mataku, terlihat sebuah papan “Café de flore” yang memikatku.
Dengan cepat, aku mengabaikan rasa capek dan berjalan setengah lari
menuju kafe itu. Sensasi hangat langsung menyusupi tubuhku,
meninggalkan rasa dingin di luar tempat ini. Kafe itu dipenuhi dengan




189

orang bernasib sama denganku. Kedinginan di luar dan membutuhkan
sajian untuk menghangatkan diri mereka. Tak banyak kursi yang
tersisa. Kupilih kursi di sudut kafe yang menghadap ke jendela.

Seorang pelayan muda berambut nyentrik menghampiriku.
“Un café au lait s’il vousplaît,” ucapku tanpa menunggu
pelayan itu bertanya.
Pelayan itu mengangguk dan berjalan menjauh. Pelayan itu
balik lagi. Secangkir café au lait berada di nampannya. Aku dengan
cepat mengambil cangkir itu dengan senyuman. Kopi ini cukup
terkenal di sini sebagai pelengkap sarapan di “Kota Cahaya” ini.
Walaupun langit tidak lagi menunjukkan pagi, tapi aku belum minum
kopi ini tadi pagi. Aroma khas membumbui hidungku sambil
menyesap kopi pelan-pelan. Di kejauhan, Eiffel Tower, lambang kota
Paris seakan tetap berdiri megah di tengah cuaca seperti ini. Bis-bis
yang mengangkut banyak turis berseliweran sepanjang jalan kota Paris.
“Halo.” Suara gadis yang tidak asing membuyar lamunanku.
“Bolehkah aku duduk di sini? Tempat ini sesak sekali.”
Kupandang gadis itu. Matanya sebiru lautan, hidungnya yang
mancung, bibirnya semerah darah. Pakaiannya selalu sama seperti
dulu. Kaos oblong yang menjadi kesukaannya dipadu dengan ripped
jeans dan sneakers. Gadis itu menunduk. Pipi gadis itu merona. Tak




190

sadar aku menatapnya terlalu lama. Apakah dia malu? Aku menjadi
salah tingkah karena menatap gadis itu terlalu lama.

“Silakan,” jawabku.
Tak lama, secangkir kopi yang sama denganku datang. Tak
terjadi percakapan di antara kami berdua setelah itu. Kami masing-
masing menikmati secangkir kopi di hadapan kami dan suasana di
alam sendiri. Tapi hal itu tak berlangsung lama.
“Jadi, kau seorang fotografer?” tanya gadis itu dengan
mengangkat alisnya menunjuk kamera yang masih tergulung di
leherku.
Aku ingat kebiasaan uniknya setiap dia mengangkat alisnya
saat penasaran mulai meraungi pikirannya. Aku mengangguk-angguk
seolah berkata “Ya, tebakanmu benar.”
“Apa yang kau foto?” tanya gadis itu lagi.
“Pemandangan Paris dan objek-objek yang menurutku
menarik,” jawabku.
“Jadi apakah kau turis atau warga sini?” Gadis itu tak berhenti
bertanya.
Aku mendesah pelan. Sudah jelas dia mempunyai setumpuk
pertanyaan di kepalanya. Sikapnya masih sama saja. Selalu penasaran
bahkan pada orang yang tak dikenal sekalipun.




191

“Aku orang Indonesia. Sudah tiga tahun aku tinggal di sini
karena pekerjaanku,” jawabku tanpa berbasa-basi.

Senyum mengembang di wajahnya.
“Oh ya? Tebakanku benar dong. Kau tidak terlihat seperti
orang sini. Kau terlalu sipit untuk menjadi orang Perancis.”
Lalu dia tertawa. Sejenak aku merasa sedikit sedih. Dia tidak
mengenaliku. Tapi sudah semestinya dia tidak mengenaliku. Aku jadi
berpikir. Kenapa sekarang? Ini terlalu cepat dari biasanya. Tapi dalam
hatiku ada secarik kebahagiaan. Rasa rindu yang sudah kupendam
hilang sudah. Dia selalu menemukanku kapan pun itu.
Aku teringat dulu saat rumah kami sebelahan. Saat itu aku
sedang berjalan menyusuri ladang sawah dekat rumahku. Dengan
cekatan, aku menarik keong-keong kecil yang sedang bersembunyi.
Aku telah mengumpulkan sebaskom. Sepertinya sudah cukup untuk
makan malam kali ini. Karena matahari masih belum tertidur, aku
memutuskan untuk berjalan lebih jauh lagi, menyusuri ladang sawah
menuju perternakan yang berada di depan mataku. Segala jenis ternak
ada di sana. Kucermati satu per satu binatang yang ada di sana melalui
pagar yang membatasi aku. Ada kerbau, ayam, dan kambing.
Tanpa kusadari, seorang gadis muda berada di sebelahku
meniru gerakan yang aku lakukan. Matanya terfokus ke binatang-




192

binatang itu seakan dia sedang berkomunikasi dengan mereka. Sudah
berapa lama dia di sini.

“Halo,” sapa gadis itu.
Senyum mengulasi wajahnya yang cantik.
“Halo. Apa yang kau lakukan? Bukankah gadis muda tidak
boleh keluar dari rumahnya?” tanyaku penasaran.
Dia tidak membalas, melainkan hanya tersenyum malu. Itulah
pertama kalinya aku bertemu dengan dia. Setelah itu, kami selalu
bertemu. Bukan, melainkan dia selalu menemukanku.
“Apakah melamun menjadi kebiasaanmu?” sindir gadis itu.
Wajah gadis itu mengerut. Aku ingin sekali mencubitnya
saking gemasnya. Aku berusaha menjawab dengan muka datar.
“Maaf. Apa yang tadi kau katakan?”
Gadis itu dengan sabar bertanya. “Bisakah kau
menunjukkanku tempat-tempat wisata kota Paris? Aku turis di sini.
Aku hanya berbekal peta tua ini.”
Aku bingung ingin menjawab apa. Aku tahu aku semestinya
tidak boleh terlalu dekat dengan dirinya. Tapi, menolak permintaan
seorang gadis tersesat adalah hal yang sangat tidak gentleman. Aku
memberikan sebuah senyuman lebar tanda aku setuju. Gadis itu
langsung melonjak kegirangan.
“Terima kasih. Oh ya, kita belum kenalan. Aku Patricia. Kau?”




193

Aku langsung menjawab. “Josh.”
Gadis itu memiringkan kepalanya seakan ada sesuatu hal yang
mengusik dirinya.
“Aneh, aku seperti pernah mengenalimu.”
Aku tak dapat berkata-kata. Benar. Tidakkah kau ingat siapa
diriku. Aku selalu merindukanmu setiap kali kau pergi entah ke mana.
Tapi itu tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh membiarkan kau
mendekatiku. Terutama menyentuhku.
“Benar.” Kata itu sudah di ujung lidahku. Tapi aku mengurung
niatku untuk mengucapkannya.
“Mungkin kau mengenal orang ya kebetulan wajah dan
namanya mirip denganku.” Gadis itu bergumam sesuatu. Tapi aku
tidak bisa mendengarnya.
Bunyi ringtone–come on skinny love just last a year..,
memecah keheningan di antara kami. Gadis itu tampak terkejut
sekaligus malu. Dia merogoh-rogoh tasnya dan mengeluarkan Iphone
miliknya. Dia menjawab telepon itu dan mengangguk-angguk
beberapa kali sambil berbicara
“Yes, I’m sorry.” Setelah itu, dimatikannya telepon itu.
“Temanku. Dia ingin aku mengunjunginya sehubung aku berada di
Paris.”
Aku mengangguk-angguk tanda mengerti.




194

“Sepertinya pertemuan kita berakhir di sini. Senang berkenalan
denganmu.”

Aku hanya bisa membalas dengan tersenyum. Aku sedikit
merasa kecewa. Pertemuan ini sangatlah singkat. Gadis itu beranjak
berdiri. Tapi bukannya berjalan menjauhiku, gadis itu mendekat.
Jantungku berdetak seperti orang gila. Besar sekali pengaruh gadis ini
terhadap diriku. Tanpa aba-aba, gadis itu mengecupku. Jantungku
membesar tak percaya. Aku tak mengharapkan itu. Dia tak boleh
menyentuhku. Pipiku memanas. Matanya seolah penuh dengan
harapan.

Senyum mengembang di wajahnya, begitu pula wajahku. Tapi
senyumku tidak bahagia, melainkan seolah berkata “Maafkan aku.”
Setelah itu, sesuatu yang tak lagi asing terjadi. Awan gelap berlari
kencang menuju tepat berada di atas kepala kami. Gadis itu terbelak
kaget. Aku tahu cepat atau lambat ini bakal terjadi–lagi. Kegelapan
menyelimutiku. Mataku terpejam. Arwah gelap seperti merasuki
diriku. Kejam. Selalu merengut gadis tak berdosa ini.

Rasa itu meninggalkanku. Kubuka mataku, masih berada di
kafe dipenuhi dengan orang. Tak ada yang menyadarinya. Aku
mendesah. Kuyakini diriku untuk tetap tegar. Tidak terjadi apa-apa….
Tidak terjadi apa-apa…..




195

Hilang

Karya: Maria Gabrielle Brigita

Langit hitam mengubah warnanya bersamaan dengan jarum-
jarum pada jam dinding yang bergerak searah. Dari dalam bangunan
ini masih bisa terdengar nyanyian ayam di waktu fajar. Aku diam
tertegun di dalam ruangan bersuhu rendah ini. Pandangan mataku tak
dapat lepas dari sebuah kotak besar di hadapanku. Air bergelinang di
dalam mataku, namun aku tidak mempunyai tenaga yang cukup untuk
mengeluarkannya. Mataku sudah bagaikan seekor panda. Bibirku
yang mengatup sudah bagaikan kanvas putih tanpa warna sedikit pun.
Jangankan membukanya untuk memberi asupan gizi pada tubuhku,
untuk bernapas saja aku hanya mengandalkan hidungku. Entah berapa




196

lama aku terdiam membeku seperti ini. Yang kumiliki sekarang
hanyalah sebuah tatapan kosong tanpa isi. Tubuhku bagaikan sebuah
ayunan yang hanya akan bergerak saat tertiup angin. Aku tidak
mengerti mengapa ini semua bisa terjadi dan mengapa ini semua
terjadi padaku.

“Pagi, Mischa.” Aku tidak sedikit pun menggerakkan anggota
tubuhku. Aku dapat mencium aroma masakan yang sangat harum,
namun kepalaku menolak untuk menoleh ke arahnya dan kedua
kakiku memilih untuk tidak memindahkan posisi mereka dari tempat
mereka sekarang. Seorang wanita paruh baya melangkahkan kakinya
menuju ke tempat aku berada – di tengah ruangan yang penuh dengan
kesunyian. Sepatu hak tingginya beberapa kali menghantam keramik
lantai, memecahkan kesunyian yang sejak tadi pagi telah kususun.
Sepasang tangannya membelai rambutku halus seraya membisikkan
sesuatu ke telingaku. Aku hanya dapat menganggukkan kepalaku
dengan lemah. Tak lama kemudian kudengar kembali sepatu hak
tingginya yang menghantam keramik lantai dan suara pintu yang
dibuka hingga akhirnya semuanya kembali hening seperti semula.

Tiba-tiba, pikiranku melayang ke detik-detik terakhirku
bersamanya.

Aku menengadahkan kepalaku. Yang ada di pandanganku
adalah sebuah kanvas biru berlukiskan benda-benda langit yang




197

memancarkan sinarnya yang indah. Udara sejuk mengalir ke seluruh
tubuhku. Kurasakan sebuah kehangatan datang dari sisi belakang
tubuhku. Aku pun melukiskan sebuah lengkungan manis di wajahku
menggunakan bibirku. Kugenggam sepasang tangan yang melingkar
mengikat kedua tanganku.

“Happy 2nd anniversary.”
Sebuah benda kaleng beroda empat meluncur melintasi
berbagai macam bangunan maupun tumbuhan hingga akhirnya
berhenti di sebuah bangunan berpagar hitam. Seorang gadis keluar
dari salah satu pintu penumpang dan melangkahkan kakinya menuju
ke dalam bangunan tempat benda tersebut berhenti. Sebelum benar-
benar masuk ke dalam bangunan tersebut, gadis itu membalikkan
tubuhnya, tersenyum, kemudian melambaikan tangannya kepada
seorang laki-laki yang berada di dalam mobil di depannya. Laki-laki
tersebut membalas senyuman si gadis dan menginjak pedal gasnya
meninggalkan gadis itu.
Tak ada kabar. Tak ada sepatah kata pun terlontar keluar dari
mulutnya. Aku tak sanggup menahan kegelisahanku. Aku sangat
khawatir. Di sela-sela penantianku, ku dapati ponselku menggetarkan
benda kayu tempat ia berada. Sebuah nama yang kutunggu-tunggu
terpampang di layarnya. Kutekan bagian layar yang menunjukkan




198

sebuah lingkaran berwarna hijau dan kusentuhkan layar ponsel
tersebut dengan daun telingaku.

“Halo?”
Aku melihat kembali nama yang tertera di layar ponselku.
Aneh. Suara orang yang berbicara dari seberang sana sama sekali tak
kukenal.
“Halo?” untuk kedua kalinya orang tersebut berbicara
kepadaku.
Aku pun akhirnya dengan ragu-ragu mengeluarkan suaraku.
Rupanya orang tersebut memintaku datang ke sebuah rumah sakit di
tengah ibukota – tidak terlalu jauh dari kediamanku. Kudapati
kepanikan menyelimuti gaya bicaranya. Di balik suaranya yang
terdengar tergesa-gesa, kudengar juga suara sirine ambulan sebagai
latar belakang suaranya. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi.
Tanpa pikir panjang aku pun langsung bergegas mengikuti mau orang
itu.
Kuinjakkan kakiku di sebuah bangunan yang didominasi oleh
warna putih. Aku setengah berlari menyusuri orang-orang berseragam
putih dan orang-orang yang terbaring lemas tak berdaya. Kuhentikan
langkahku di dekat seorang wanita muda berkacamata yang sedang
sibuk menggerakkan jari-jarinya di atas sebuah papan hitam
bertuliskan huruf-huruf abjad. Dengan penuh keberanian, aku




199

mengeluarkan suaraku untuk menanyakan kepada wanita tersebut
dimana orang yang tengah kucari. Wanita itu tersenyum kepadaku dan
kembali menatap ke layar monitor yang ada di depannya. Tak lama
kemudian ia melihat ke arahku lagi dan jari telunjuknya menunjuk ke
arah pintu gawat darurat yang berada di belakangku. Kulihat pintu
tersebut terbuka dan beberapa petugas rumah sakit termasuk dokter
sibuk mendorong sebuah ranjang masuk ke dalam gedung tempat aku
berada sekarang. Aku pun berlari ke arah sekumpulan orang tersebut.
Aku melihat seorang laki-laki dengan mata terpejam berada di atas
ranjang tersebut. Di salah satu lengannya kulihat ada sebuah luka
tembak, begitu juga di salah satu kakinya. Aku pun membeku. Aku
tidak mampu berkata-kata. Ketika ranjang tersebut dibawa masuk ke
dalam sebuah ruangan bertuliskan “Ruang Operasi”, aku hanya bisa
diam terduduk di depan ruangan itu.

Air mata mengalir membasahi pipiku. Tak ada suara lain yang
kudengar selain suara isak tangisku sendiri. Kubuka tasku yang berada
di pangkuanku untuk mengambil sebuah benda persegi panjang
dengan ketebalan yang agak tipis. Kutekan sebuah tombol kecil yang
berada di bagian kanan benda tersebut. Beberapa kali kusentuhkan
kedua ibu jariku di layar benda tersebut ketika delapan jariku yang
lain menjadi penopang agar benda tersebut tidak terlepas dari
tanganku. Setelah beberapa saat mengutak-atiknya, aku pun kembali




200

kembali terdiam. Sejak awal tadi pipiku masih terbasahi air mata yang
terus mengalir.

Tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan datang
menghampiriku. Dua orang duduk di sebelah kananku dan yang lain
duduk di sebelah kiriku. Si perempuan merangkul pundakku dan aku
pun menyandarkan kepalaku ke bahunya. Kesedihanku pun meluap di
depan orang-orang ini.

“Semuanya akan baik-baik saja,” salah satu dari mereka
berbisik kepadaku. Baik-baik saja? Temannya sedang berada di ICU
dalam keadaan kirits dan masih ada orang yang bisa mengatakan
bahwa semuanya akan baik-baik saja? Semoga saja hal itu benar-benar
terjadi. Aku sudah tidak dapat terhibur oleh apa pun, setidaknya untuk
saat ini.

Suara langkah kaki kembali kudengar dari luar ruangan, tapi
kali ini orang ini tidak datang sendirian. Aku mendongakkan kepalaku
untuk melihat ke arah jam dinding. Jarum panjangnya menunjuk ke
angka dua belas, sedangkan jarum pendeknya menunjuk ke angka
sembilan. Di hari yang masih pagi dan hari yang merupakan hari kerja,
tak pernah sekali pun terlintas di pikiranku bahwa akan ada orang
yang datang saat ini.

“Halo,” sapa seorang perempuan berpakaian putih seraya
melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Rambutnya yang




201

panjang dibiarkannya tergerai bebas di punggungnya. Tubuh indahnya
dibalut oleh kain katun yang dibentuk menjadi sebuah gaun cantik
yang panjangnya mencapai lututnya. Setelah mengamatinya, kulihat
ada sesosok perempuan lain yang membuntuti perempuan yang
pertama. Penampilannya hampir sama dengan perempuan yang
pertama, hanya saja rambutnya pendek tergantung di atas bahunya.
Setelah mengucapkan beberapa kata kepadaku – yang hanya dapat
kubalas dengan sebuah tatapan dan senyuman tipis, perempuan yang
pertama memperkenalkan perempuan di belakangnya kepadaku.
Kurasakan kebencian perlahan menyelimuti dadaku setelah sebuah
nama terlontar dari mulut perempuan yang pertama. Mengapa aku
harus selalu terkait dengan orang itu? Sangat menyebalkan.

Seorang laki-laki berjalan ke arahku dengan tersenyum. Ini
pertama kalinya aku bertemu orang ini lagi setelah dua tahun aku
tidak ingin berhubungan dengan cara apa pun dengannya. Bagaimana
orang ini tahu aku berada di sini? Aku sangat ingin mencaci maki
orang ini saat ini juga, namun aku sadar bahwa ini tempat umum dan
aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri. Empat orang yang
berada di sekitarku juga sepertinya memiliki perasaan yang sama
sepertiku terhadap laki-laki ini. Orang tersebut menyapaku dengan
senyuman dan nada bicara yang menggoda seperti seseorang pemabuk
– yang membuat kebencianku makin meluap. Aku ingin sekali




202

menahan amarahku, namun aku tak bisa. Ia sudah terlalu
menjengkelkan. Ia berusaha untuk menyentuh wajahku, namun aku
menolak. Aku pun berdiri dan mengancam orang tersebut agar tidak
datang menemuiku lagi, tapi tampaknya semuanya sia-sia. Orang
tersebut berhasil menyentuh pipiku yang lembab karena air mata. Aku
melepaskan tangannya dari wajahku dan melayangkan sebuah
tamparan di pipinya – cukup keras hingga membuatnya mengelus
wajahnya sendiri karena kesakitan. Tatapannya berubah menjadi
ganas. Senyumnya yang dari tadi menggantung di wajahnya pun
hilang entah kemana. Seorang perempuan yang tadi duduk di
sebelahku pun berdiri dan membawaku kembali duduk, ketika dua
orang laki-laki yang tadi juga duduk di sebelahku menyuruh laki-laki
itu degan baik-baik agar ia cepat pergi meninggalkan tempat ini. Laki-
laki itu terlihat sangat kesal dan akhirnya mengalah dengan
melangkahkan kakinya pergi meninggalkanku dan teman-temanku.

Setelah beberapa lama, kedua perempuan yang berada di
sampingku mengucap pamit dan pergi meninggalkan ruangan tempat
aku berada. Aku pun kembali berdiam diri. Tak ada seorang pun yang
berada di sini kecuali aku. Aku menarik napas dalam-dalam dan
menghembuskannya keluar. Akhirnya kedua kakiku mengalah untuk
mau menopang badanku berjalan. Makanan yang tadi ibuku bawakan
sudah dingin, tapi tetap akan kumakan. Mulutku akhirnya mau kubuka.




203

Perasaan sedihku lama-kelamaan hanyut terbawa lezatnya makanan
yang tengah kusantap – makanan pertama yang masuk ke
pencernaanku setelelah nyaris satu hari aku membiarkan perutku
kosong.

Jarum jam berputar bergitu cepat dan matahari sudah
mengurangi teriknya cahayanya. Orang-orang mulai berdatangan –
keluarga Tommy, orang tuaku, dan teman-teman kami. Orang-orang
duduk berkumpul mengitari meja-meja yang telah disediakan. Aku
mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada hal
aneh yang kudapati. Aku pun berjalan menuju sebuah meja tempat
teman-temanku berada. Aku bergabung bersama mereka dengan
tujuan agar aku bisa mengembalikan keceriaanku yang telah lenyap
hilang dua hari belakangan ini. Setidaknya untuk saat ini aku sudah
mulai bisa tersenyum dan mengucapkan beberapa patah kata kepada
teman-temanku. Aku tahu aku butuh waktu yang cukup lama untuk
menjalani hidupku sama seperti semula, tapi aku tetap berusaha untuk
mengembalikan kepribadianku yang dulu – seorang gadis yang penuh
keceriaan.

Seraya memasukkan makanan-makanan ringan ke dalam
mulutku, aku melihat ke arah pintu dan mendapati seorang laki-laki
masuk ke dalam ruangan. Aku sangat kesal. Aku tidak ingin berurusan
dengannya sekarang, namun apa boleh buat. Aku melihat ia




204

mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, dan dia pun
akhirnya dapat menemukanku di antara teman-temanku. Salah seorang
temanku yang duduk di depanku melihatku dengan bingung dan
akhirnya menolehkan kepalanya untuk mencari apa yang sedang
kupandangi dari tadi. Tidak hanya satu orang itu, tapi kemudian yang
lain juga ikut melihat ke orang yang kumaksud. Aku pun bangkit
berdiri dari tempat dudukku dan melangkahkan kakiku keluar dari
ruangan ini. Laki-laki yang tadi kupandangi mengikutiku dari
belakang. Aku pun membawa laki-laki tersebut ke sebuah tempat yang
agak sepi sehingga aku bisa meluapkan seluruh emosiku. Orang itu
hanya tersenyum dan bahkan tertawa mendengar celotehanku. Ia
berpikiran bahwa apa yang kukatakan hanyalah omong kosong belaka.

Kebencianku semakin menjadi-jadi. Aku pun berbicara dengan
berteriak di hadapannya hingga air mataku sedikit demi sedikit
membasahi kedua pipiku. Ia membalas teriakanku dengan
meneriakiku dan kemudian ia melayangkan tangannya di udara,
namun masih tertangkis olehku sehingga tangannya tak dapat sedikit
pun menyentuh wajahku. Tak lama kemudian kudengar suara sirine.
Bukan, ini bukan sirine mobil jenazah yang biasa kudengar datang ke
tempat ini, melainkan sirine polisi. Untuk apa polisi menyalakan sirine
untuk masuk ke sebuah rumah duka? Aku pun melihat dua orang
polisi berjalan ke arahku dan seorang laki-laki yang berdiri di




205

hadapanku. Aku tidak mengerti apa pun yang terjadi sampai akhirnya
aku pun diam membeku dan akhirnya menjatuhkan badanku ke tanah
setelah salah satu dari kedua polisi itu mengatakan, “Saudara Dinno
Alexander, Anda ditangkap karena melakukan pembunuhan terhadap
saudara Tommy Pramudika.”




206

Siapa Yang Salah?

Karya: Michael Jason Saputra

Senja pula usia. Bahkan malam sudah dekat. Amat dekat dan
sebentar lagi akan berdiam di mata untuk selamanya. Kemana jiwa
akan pergi setelah beralih dari dunia fana? Di masa ini, ingin
mengingat kembali dalam diri, merenungi masa-masa itu, kapan dapat
kukatakan dengan lantang.

“Akulah hukum dan hukum adalah aku!”
Entah berapa nyawa telah melayang hilang sebab kukatakan
satu kata saja dan palu mengetuk di meja hijau walaupun setengahnya
mungkin tak berdosa, hanya menanggung kesalahan orang sebangsaku.
Sudah terlalu banyak suara senjata kudengar, menancapkan sebutir
peluru pada badan kurus dan legam terbakar sang mentari. Kiranya




207

Tuhan menghakimi aku setelah ribuan karung biji kehidupan yang
kucuri dari empat tanah subur di utara. Aku pun merasa berdosa atas
perlakuan bangsaku pada mereka. Semua kami kulakukan atas nama
Ratu semata. Bila dapat kukembali ke sana lagi, hendak kukatakan
“maaf”. Pikiranku melayang kembali ke sana lagi. Benar kuingat
tanggal itu. Tersebut perlahan. Walau hari dan bulan kulupa, tahun
tercetak jelas. 1883. Kuala Lumpur, jika tidak salah kuingat kota itu.
Ah, 27 tahun usai sudah. Saat usiaku tiga perempat jalan. Sayup-sayup
kudengar perdebatan di dalam ruang sidang. Pegawaiku masuk pula
dan berucap. “Tuan, sudah saatnya”.

Perlahan kutinggalkan kursi berlapis kulit rusa itu, dan
kudekati daun pintu. Ruang kerjaku menjadi saksi ketika kukatakan
apa yang kuanggap sumpah.

“William, pekerjaan tuanmu ini sulit, namun demi Yang Mulia
dan negara, kulakukan sepenuh hati.”

“Saya setuju, Tuan,” balasnya.
Ketika kududuk di kursi tengah yang dikhususkan untuk hakim
kepala, di samping berdiri Tuan Tan Soon Beng di kiri dan Tuan
Abdul Mizan di kanan. Tiada seorang pun termasuk kedua tuan ini
yang duduk sebelum aku dan sebelum dipersilakan.




208

“Ehem, sidang akan dimulai. Semua harap tenang”.
Tiada lagi pembicaraan sebelum kutanyakan ada apa pada
jaksa. Jaksa membacakan tuntutan.
“Tuan Hakim Kepala yang terhormat, Nona Mary Spearfield
di sini menuduh Kwee Hian Tiam dan Djafar Ikhsan mencuri emas
dan membunuh ayahandanya”.
Bagiku kasus ini terdengar biasa di daun telingaku, namun aku
hendak menggali lebih dalam lagi.
“Memang apa dasar kalian dalam hal ini?”
Sambil kupasang wajah sinis bersamaan dengan dua
penerjemah menerjemahkan ke dalam bahasa Cina dan bahasa Melayu.
Keduanya diam saja. Namun, ketika kata “pembelaan” terlontar dari
mulutku, keduanya berkata bahwa mereka juga ahli waris kekayaan
Sir Jack Spearfield yang sah.
“Mengapa begitu?”, tanyaku lagi.
Kalau begitu kalian juga secara otomatis mengaku anaknya.
Ketika jawaban kudengar, mereka mengatakan ibu mereka
berkata demikian. Ingin kutertawa. Masakan ibumu harus jadi saksi
atau bukti pula? Yang benar saja. Nona Mary pun protes.
“Tidak mungkin tuan,” sambung dengan pengacaranya.




209

“Benar kata nona ini. Saya sudah mengetahui keluarga
tersangka. Mereka tidak punya hubungan darah dengan ayah nona.”

Baiklah. Jaksa pun melanjutkan atas permintaanku pembacaan
bukti-bukti. Yaitu sebuah pistol curian, tongkat kayu, sebotol racun,
foto Sir Jack yang didapat dari kedua tersangka, dan hasil otopsi
jenazah. Kontan pengacara sang nona berbicara. Aku lupa apa, namun
yang pasti sekitar jam dua siang, kusudahi persidangan. Untuk
sekarang, masih terlalu rumit. Samar-samar terbayang sebuah angka
dalam lamunan menunggu malam. Kertas, kertas! Uang 100 pound.
Menggema lagi suara berbicara “Tolonglah Tuan, tolonglah!”. Tidak
dapat lagi kuingat selanjutnya. Memang banyak yang sudah melayang
dari benakku di saat waktu menanti mencapai ujung dari jalan
kehidupan ini. Di saat kata mengucap salah, diri pun jadi bersalah
dalam rasa. Sayup terngiang kembali saat surat yang kutandatangani
dan bercap pengadilan tersampaikan pada tangan yang berhak
menggeledah bukti-bukti. Tidak sampai tiga hari kemudian bertemu
lagi di ruang meja hijau.

Ketika dua tersangka mulai melontarkan pengakuan dan
membuka tabir terhadap kepastian, kelihatannya keluarga korban
berusaha menutupi kasus secara ilegal. Pap! Di tengah lamunan
panjang, pikiran tua ini memecah. Terasa dingin tubuh ini walau
terselimut oleh dua kain wol terbaik. Sengaja kusuruh dua pelayan




210

orang Karen-ku untuk meredupkan lampu sedikit dan dilarang masuk
kecuali ada perlu atau kupanggil agar kudapat masuk ke dalam
keheningan pula yang sepi dan tenteram. Betapa tuanya tubuh ini yang
tidak lagi dapat duduk di tengah sesama borjuis di York, yang tidak
dapat lagi pergi kemana pun hati ini senang. Sesaat kememeja mata,
pikiran kembali ke tahun-tahun itu.

Masuklah seorang wanita bergaun dan rambut tersanggul di
belakang sambil dengan penuh sopan dan tata krama. Kemudian ia
menyodorkan kertas yang sungguh kulupa apa isinya yang jelas
membantuku menyelesaikan perkara ini. Uhuk! Aaah! Kesakitan dan
kekejangan kembali menyerangku. Tak dapat lagi rasanya aku hidup
lebih lama. Masakan aku harus terus menderita dan merasa bersalah
akibat sesuatu yang tidak kulakukan? Mungkin saja nasib orang
Inggris di Asia lebih baik dari orang lainnya. Setahuku pada hari
keempat sidang satu pekan itu, kami berhasil membungkam protes
dari keluarga korban. Hanya setelah itu, mereka benar-benar bungkam.
Ya, benar-benar bungkam. Aku mulai curiga ada yang mereka
sembunyikan. Untuk itu, pagi-pagi benar kutempati lalu kuteliti
kembali berkas-berkas kasus.

Sesaat sebuah map terbuka dari laci kayu. Ia telah terjatuh
persis seperti ingin menunjukkan jalan pemecahan dari persoalan yang
rumit. Kalau tidak salah, 19 April 1848, tiga puluh lima tahun dua




211

bulan empat belas hari yang lalu. Tertera disitu, sebuah nama yang
tidak asing. “Jack Spearfield” (baca: Jack Spearfield). Apakah si
notaris ternama itu pernah terlibat kasus? Setelah membaca halaman
terakhir berkas, isi keseluruhan buku berkas utama membuatku kaget.
Ooh, mungkin inilah yang dicoba untuk ditutupi oleh kuasa hukum
nona itu. Ternyata si notaris ternama itu pernah terlibat kasus. Bisa
kami katakan dalam konteks ini bahwa kedua tersangka adalah anak
tidak sah dari si notaris. Bagian ini memang benar-benar kuingat jelas
sekali secara mantap terekam jelas dan nyata dalam benakku.
Kronologinya kira-kira begini: Hari Kamis, 16 Maret 1848, dua orang
perempuan, satu Cina dan satu Melayu sama-sama datang ke
pengadilan distrik. Laporannya sama, mengenai si notaris ternama itu.
Namun, apa persisnya laporan itu saya lupa. Ergh, jadi akhirnya jaksa
memeriksa tuduhan dan melaporkannya pada tuan hakim. Dua hari
kemudian, sidang pembuka kasus diadakan untuk pertama kalinya.

Sesudah itu, polisi memanggil tuan notaris untuk pemeriksaan.
Namun, sudah surat panggilan ketiga tak dijawab, dibalas, atau
diapakan entah itu yang menunjukkan Sir Jack sebagai warga negara
Inggris yang baik, polisi memutuskan untuk mendatangi kediamannya
di Portenham, salah satu pemukiman paling elite di kota itu, bahkan
untuk ukuran orang Inggris. Sir Jack ternyata telah secara sengaja
meninggalkan rumah itu. Berdasarkan hukum yang sah, legal, dan




212

benar, polisi punya hak dan wewenang untuk mencari, dengan bahasa
konotasi “mengobrak-abrik”, dan setelah ketemu, otomatis
menangkap tersangka. Kusimpulkan bahwa oleh karena kelakuan si
notaris, kedua perempuan ini telah memperanakkan kedua tersangka
kita saat ini. Sejauhnya mundur 70 tahun paling lama kasus dapat
dibuka kembali. Kuputuskan bahwa dalam persidangan besok harinya,
ini harus kujadikan bukti. Namun, hakim tidak bisa mengajukan bukti.
Ehem, tapi aku tahu satu orang yang boleh. Kembali lagi agar
reputasinya terjaga dengan baik, Sir Jack menganggap bahwa apa
yang dikatakan oleh kedua perempuan ini ialah omong kosong. Dia
juga membantah bahwa ia secara ilegal telah memperanakkan kedua
tersangka itu. Menariknya, tersangka memperanakkan tersangka.
Malah si tersangka kembali menuduh korban karena tingkahnya
seperti penggoda mengakibatkan hal itu. Seperti bumi, menuduh bumi.
Siang harinya, inspektur Whitt datang ke kantorku. Sambil bersantap
siang, ia akhirnya setuju mengajukan map temuanku sebagai bukti
kuat. Inilah titik terangnya. Kasus itu sendiri sebenarnya telah
dibiarkan membeku, terutama oleh hilangnya si notaris, bukti yang
dianggap kurang lengkap. Selain itu faktor lain tidaklah terlalu penting,
tapi masih ada peranannya dalam pertimbangan pengadilan. Duh,
pelik sekali




213

Aku sendiri tidak tahu apakah rencana ini bakal berhasil atau
tidak, kita lihat saja besok. Pada harinya, bukti itu diajukan dan
kuputuskan tak ada seorang pun yang bersalah dan bertanggung jawab
atas ini. Kini dengan selesai kasusku, selesai pula karierku sebagai
hakim di negeri Malaya. Saatnya kupulang, pulang ke tanah airku dan
ke ingatanku masa kini. Untuk terakhir kali, kulihat segala sesuatu
sekitarku. Lemari kayu ceri tua, lampu redup, tempat tidur dengan
selimut wol. Padanyalah kuucapkan selamat malam, malam yang tak
mengenal pagi sebagai esoknya. Ketika gelap mata ini dan merelakan
jiwa ini bersandar ke tempat yang seharusnya ia bersandar, yaitu
menuju kepada istirahat abadi dan tenteram. Kiranya Tuhan
mengampuni segala perbuatan salah dan tercelaku supaya jangan aku
masuk ke dalam tungku menyala yang abadi sesudah raga tak lagi
mampu menjadi rumah bagi jiwa yang rapuh dan sepuh. Jangan lagi
ada penyesalan dan penghinaan sesudah perubahan yang terjadi pada
hidup. Pergilah, pergilah arwah. Tinggalkan dunia fana yang penuh
kepahitan dan kesedihan. Sekalipun air mata takkan mampu dan
sanggup membawa arwah kembali. Arwah itu ialah aku. Si Conrad tua,
menanti datangnya kematian dan kekalnya surga. Pesanku cuma satu,
jangan lantunkan kesedihan sebab tak ada yang patut disesali dan
ditangisi, cuma sukaria dalam kematian duniawi yang mungkin tidak
punya kepastian. Waktu saja yang membawa si penghancur darah




214

daging yang tidak punya belas kasih yang diatur oleh Yang Maha
Kuasa. Kini pada dunia kuucapkan selamat malam ketika hanya pada
Sang Ilahi, jiwaku beralih.




215

“Kenyataan yang Pahit”

Karya: Victricius Vinnleo

Terik mentari membangunkanku pada hari yang baru. Rasanya
aku tidak mau terlepas dari dunia khayalanku. Namun, aku harus
memenuhi buku ini dengan lembaran- lembaran baru, lembaran penuh
cerita. Aku mulai meregangkan tanganku yang sudah delapan jam
beristirahat. Aku mendorong tubuhku menjauhi benda putih yang
menenggelamkanku ke dalam kelembutannya.

Aku melangkahkan kakiku ke jalan penuh debu dengan
semangat menggebu- gebu. Bibirku tak tahan rasanya untuk
memberikan senyuman manis kepada dunia.

Kringg… suara nyaring itu memanggilku untuk masuk ke
dalam kelas. Aku membuka bukuku yang diperintahkan oleh sang




216

pemberi ilmu. Jarum detik terasa lebih lamban dari biasanya. Tiba-
tiba Aku mendengar denting-denting piano mencoba merayap menuju
telingaku. Aku mencoba untuk berbisik kepada teman sebangkuku,
“Weh weh sur, Lu denger ga ada suara piano gitu?” tanyaku kepada
Suriadi.
Tetapi anehnya, Ia tidak mendengarkan suara tersebut. Aku
meyakinkan diriku sendiri bahwa suara itu benar-benar ada dan cukup
keras untuk terdengar seisi kelas. Aku memberanikan diri untuk
meminta izin kepada ke belakang. Aku tahu bahwa ini bukanlah ide
yang baik, tetapi kupikir ini sebanding dengan rasa penasaran yang
meminta untuk dipenuhi.

Di dalam waktu yang singkat ini, aku menyusuri koridor
sekolah menuju arah datangnya suara tersebut. Melodi tersebut
seolah-olah menuntunku ke sebuah ruangan bertuliskan “Ruang
Musik”. Dengan penuh percaya, aku menggemgam gagang pintu dan
membuka pintu sedikit demi sedikit. Terlihat rambut panjang
menjuntai terduduk di atas kursi hitam. Jemarinya menari-nari di atas
balok hitam dan putih melantunkan melodi demi melodi.

Tanpa Ia sadari, aku diam terpaku menatapnya. Sesaat sebelum
not terakhir dibunyikan aku telah beranjak pergi kembali ke ruang
kelas. Aku tidak menyadari bahwa aku telah menghabiskan waktu
setengah jam hanya untuk ke belakang. Sang pemberi ilmu pun




217

memberikan tatapan tajam kepadaku, seperti serigala yang siap untuk
memangsa. Bagaimanapun hukum haruslah ditegakkan. Hukuman itu
merampas sebagian waktu indahku untuk berdiri sampai waktu
mengizinkanku untuk pulang.

Detik demi detik terasa sedikit lebih lama. Seakan-akan aku
telah menghabiskan setengah hari hanya untuk dihukum. Seketika,
kedua mataku tertuju kepada sesosok mahluk yang cantik nan jelita
bagaikan seorang putri raja. Mata kami beradu pandang, diam
membeku saling menatap. Darah mengalir deras melewati nadiku.
Belum sempat kesadaranku kembali sepenuhnya, Ia telah menghilang
dari pandanganku.

Kakiku menyusuri jalan pulang dengan rasa penasaran yang
menghantuiku. Rasa penasaranku terus bertanya siapa gadis tersebut.
Pertanyaan itu terus saja terlintas dalam pikiranku.

Sampailah aku di depan sebuah pagar kayu berwarna coklat.
Selangkah demi selangkah membuka pagar dan kembali pada ruangan
penuh dengan kenangan yang selalu memeluku. Aku membuka pintu
bertuliskan “Home Sweet Home” dan langsung membanting keras
tubuhku ke atas sebuah kasur kesayanganku. Sambil merenungkan apa
yang baru saja aku lewati hari ini, mataku perlahan lahan menutup
dengan sendirinya.




218

Sinar mentari membangunkanku pada hari yang cerah.
Cahayanya memaksa mataku untuk membuka. Mataku sedikit demi
sedikit membuka dan melihat ke arah jam weker. Jam menunjukkan
pukul 9:30. Aku langsung melempar tubuhku keluar dari bantalan
putih yang empuk. Aku langsung bergegas untuk pergi ke sekolah
tanpa sempat untuk mengisi perut.

Sesampainya di sekolah, aku diberhentikan oleh Pak Paus,
Guru bimbingan konseling. Mata liciknya seakan ingin menertawaiku
saat aku sedang dalam penderitaan. Aku memang bukan tipe orang
yang dengan mudahnya mengikuti peraturan. Pak Paus dengan
mudahnya menyuruhku untuk membersihkan koridor sekolah pada
lantai tiga pada waktu pulang sekolah.

Seperti biasa, jam dinding selalu menggerakan jarum-
jarumnya dengan sangat lambat. Sampai bel pun berbunyi dan ia
seakan-akan berbicara kepadaku,

“Hei, penuhi tanggung jawabmu dengan membersihkan
koridor sekolah.”

Aku merasakan semua orang selalu menertawaiku, bahkan jam
dinding pun menertawaiku. Aku pun segera berjalan menuju kamar
kecil dan mengambil pel.




219

Sewaktu aku sedang mengepel lantai, aku melihat sesosok
gadis berkaki mungil melewati lantai yang baru saja aku pel. Aku pun
jengkel karena lantainya menjadi kotor lagi dan berteriak,

“Hei, harga…”
Mulutku serasa membeku melihat siapa yang baru saja aku teriaki.
Darah serasa mengalir meuju ke pipiku dan membuat pipiku memerah
bagai kepiting yang baru saja direbus. Aku tersipu malu. Aku hampir
meneriaki dia dengan tidak pantas. Ia bahkan tidak mengacuhkanku
dan terus berjalan. Aku mencoba memanggilnya sekali lagi.

“Hei, kamu siapa? Apa yang kamu lakukan sampai jam segini?”
Ia pun tidak mengacuhkanku lagi. Aku merasa sangat jengkel dan
melangkah dengan cepat untuk meraih tangannya. Ia pun terlihat
seakan-akan ingin berkata siapa aku ini. Ia pun melepaskan tanganku
dan berlari dengan cepat. Aku pun mencoba untuk mengejarnya, tetapi
Ia sudah tak lagi berada pada pandanganku.

Hari- hari kulewati bersama rasa penasaranku yang selalu
menghantuiku. Aku terus bertanya-tanya kepada diriku sendiri.
Sampai hati kecil ini berbisik,

“Cari tahulah siapa gadis itu.”
Aku hanya melakukan apa yang hati kecil ini katakana. Aku
bertanya kepada teman-teman, tetapi mereka semua tidak tahu siapa
gadis yang aku bicarakan tersebut.




220

Belakangan ini aku sering sekali pulang sedikit lebih sore
menunggu-nunggu kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Tetapi,
telah seminggu ku lewati. Tak sehari pun aku melihatnya. Tetapi hati
ini berbisik untuk menunggunya.

Aku pun bingung dan memilih untuk bertanya kepada kepala
sekolah.

“Ibu, apakah Anda tahu gadis cantik yang sering berkeliaran di
sekolah ini waktu jam pelajaran?” tanyaku.
Ibu kepala sekolah pun menggelengkan kepalanya seakan-akan ia
tidak mengerti apa yang aku bicarakan. Aku mencoba untuk
mejelaskan kepadanya bahwa aku sering melihatnya. Tetapi tak ada
tanda- tanda jawaban darinya.

Karena aku sering membicarakan tentang gadis itu, teman-
temanku mengejekku bahwa aku telah kehilangan akal sehatku. Aku
yakin bahwa gadis itu memang benar ada. Aku pernah menyentuhnya.
Sekarang tidak ada lagi yang mendukungku. Mereka menatapku
seperti orang gila. Aku tidak lagi punya teman, mereka menjauhiku
seakan malu memiliki teman sepertiku.

Semangatku serasa pudar untuk pergi ke sekolah. Makanan
bukan lagi yang utama, melainkan dia. Tidur juga bukan pemberi
tenaga, melainkan dia. Aku mulai kehilangan nafsu makanku dan




221

hasrat untuk tidur. Aku hanya duduk di samping ruang tidurku
merenungkan. Hanya dia yang aku pikirkan.

Orangtuaku terus mebujukku untuk makan. Mereka khawatir
akan tubuhku yang semakin hari semakin kurus. Sampai akhirnya
mereka juga tidak tahan denganku. Aku dibawa ke psikolog dan
divonis bahwa aku menderita penyakit outrhumenosis, yaitu penyakit
yang menimbulkan imajinasi akibat harapan yang sangat besar
terhadap sesuatu.

Aku mengatakan bahwa aku tidak gila, namun tampaknya
orang tuaku tidak percaya kepadaku. Mereka setiap hari memberiku
obat sejumlah tujuh butir. Sudah genap dua tahun aku meminum obat
tersebut, gadis itu tetap berada dalam pikiranku tidak mau pergi. Saat
menginjak tahun ketiga, orang tuaku tidak sanggup lagi mengurusku.
Mungkin mereka telah lelah untuk memikirkanku selama tiga tahun
ini. Aku mendengar tangisan-tangisan keluar dari ruangan mereka.

Dulu, Aku hanyalah remaja yang hidup senang bersama
teman- temannya, menerima cinta dari orang tua yang hidup dengan
penuh keceriaan. Sejak gadis itu muncul di pikiranku, aku tidak lagi
hidup dengan tenang, aku hidup dengan rasa penasaran yang
menghantuiku, selalu terbayang wajah gadis itu. Teman-teman
menjauhiku, orangtuaku tidak lagi menyayangiku.




222

Sekarang, Aku berdiri di dalam sebuah gedung, gedung bagi
orang sepertiku. Hidupku telah berubah. Teriakan-teriakan terdengar
dari telinga kiriku, tawa terdengar dari telinga kananku, aku
merasakan kepalaku terisi oleh teriakan dan tawa. Tetapi, gadis itu
pun tak luput dari pikiranku. Andai kau berdiri di hadapanku,
jawablah aku siapa dirimu, janganlah menghantui diriku lagi dengan
pertanyaan,
“Siapa dirimu?”
Andai kita tidak pernah bertemu di pikiranku, cukup sudah.
Aku lelah.




223

Sembilu Amarah

Karya: Sharon

“Pemirsa. Kasus hilangnya orang di area Jakarta terus
mencuat. Baru-baru ini, seorang warga Harmoni, Jakarta Pusat
bernama Maya Waringin dikabarkan hilang. Menurut keluarga, Maya
masih sempat berbicara lewat telepon sekitar jam 9 malam hari
Selasa lalu.Polisi kini sedang menyelidiki..”

Suara merdu perempuan pembawa berita itu memekikkan
telinga Andri. Ribuan burung terasa beterbangan di atas ubun-
ubunnya. Saling bernyanyi dan saling menjerit memicu napasnya agar
kian memburu. Detak jantungnya berpacu cepat. Ia tak dapat menahan
diri. Tangannya menggenggam erat setir. Siap untuk meremukkannya




224

kapan saja. Secepat angin, pria berambut ikal itu melemparkan
tinjunya pada radio. Memecah keheningan di dalam mobil. Suara
perempuan itu kian meredup. Digantikan oleh suara serak tangis
perempuan lainnya dari dalam radio.

Andri merasakan seluruh tubuhnya mati rasa. Sudah seminggu
lebih tangisan dan jeritan seorang perempuan secara tiba-tiba
menyanyi sembilu di telinganya. Keringat mulai mencucur dari bawah
kulitnya. Tangannya yang tadi mengepal perlahan-lahan terbuka. Ia
menyelipkan tangannya ke sela-sela gigi. Menggerogoti setiap hal
yang telah ia perbuat. Peristiwa-peristiwa itu kembali menyergap
ujung lidahnya, memaksa masuk ke dalam tenggorokkan, menerobos
paru-paru, pembuluh darah, kemudian bergelimang di jantung.
Membekukan segala asa untuk lupa. Kini, ia menangis. Sekali-kali
tertawa. Menjerit. Teringat kejadian seminggu silam.


Kaki Andri melangkah turun dari sebuah transportasi umum
berpintu terbuka. Tubuhnya yang jangkung sedikit dibungkukkan
ketika melewati pintu. Hari itu, ia lagi-lagi memakai atribut
kebangsaannya. Sebuah kaos berwarna kusam yang ia dapatkan saat
ikut Pilkada, celana hitam dan sebuah tas kulit kecil tersilang di depan
dada. Dengan penuh percaya diri, ia memeluk sebuah laptop. Laptop
itu dibelinya kemarin. Harga yang ditawarkan padanya bahkan lebih




225

murah dari harga pakaian teman-temannya. Jangan berargumen
tentang harga, permukaan laptop itu bahkan sudah tidak mulus lagi.

Tidak tertutupi tubuh jangkungnya, berdiri sebuah bangunan
tangguh. Bangunan tersebut didatanginya hampir setiap hari selama
dua tahun terakhir. Ketika kakinya mencapai pintu gerbang bangunan
itu, ia tahu berpasang-pasang mata sedang menatap dirinya.
Telinganya bisa menangkap bisikan-bisikan yang tak jarang diwarnai
cekikikan. Apa daya yang bisa ia lakukan hanya mengeratkan
genggaman tangannya. Berusaha menahan luapan emosi lalu pergi. Ia
tahu posisinya di kalangan mereka. Lelaki cupu, dekil, tak menawan,
miskin, muka tahi kuda hanyalah beberapa contoh julukan yang
diberikan mereka padanya.

Sambil terus melintasi koridor, sudut pandang mereka terhadap
dirinya terus mengabuti pikirannya. Betapa bencinya ia terhadap
dirinya sendiri. Ia ingin bisa menikam jiwa salah satu di antara mereka
untuk menggantikan jiwanya. Ia ingin menjadi seperti mereka. Bukan
lelaki introvert, kaku, dan tak bisa memulai percakapan. Ia bahkan
tidak memiliki seorang teman. Kecuali jika sebuah tape recorder boleh
masuk ke dalam kategori teman. Jika seorang teman sejati adalah
pihak yang bisa mendengar kita mengobrol, tertawa, menangis,
menceritakan beribu perihal tanpa mengolok dan mencibir, tape




226

recorder yang merupakan pemberian dari mendiang ibunya itu adalah
teman sejatinya.

Langkahnya yang panjang dan tegas itu melewati pintu kelas.
Ia meregangkan otot kakinya pada sebuah bangku di sudut ruangan.
Dari kejauhan, ia melihat sosok Maya. Perempuan berkulit putih susu,
bermata hitam legam, dan bertubuh mungil. Untuk beberapa detik,
mata mereka saling bertatapan. Mata Maya sungguh tajam, serupa
pisau yang baru diasah pemiliknya. Andri bergidik ngeri ketika kaki
ramping perempuan itu berjalan mendekat ke arahnya. Kini berada
tepat di sampingnya.

“Lo kira dengan beli laptop jelek kayak gitu, lo bisa kayak
anak-anak lainnya?” hujanan kata yang terlontar dari bibir kecil Maya
telah menginjak-injak harga diri Andri untuk sekali lagi dari sekian
ratusan kali sebelumnya.

Didukung fakta mutlak bahwa Andri tak akan pernah bisa
membalas manusia seperti Maya, harga dirinya kini lebih rendah dari
harga diri seekor babi yang memakan hajatnya sendiri. Melihat Andri
tertegun diam, Maya menyungingkan senyumnya lalu meneruskan
langkahnya.

Raga Andri mungkin masih berada di ruangan itu. Namun,
jiwanya sudah habis termakan kata-kata Maya tadi. Tidak tahan lagi,
pria itu bergegas pergi. Langkah kakinya yang terkesan buru-buru




227

terhenti ketika ia melihat sebuah kertas brosur di koridor. Andri
memicingkan matanya. Kertas bernuansa pesta ulang tahun meriah di
sebuah pub terkenal yang dengan ramah dan baik hati mengundang
‘seluruh’ warga kampus.

“Pendusta,” bisik Andri sambil menginjak-injak kertas itu
hingga tak terbaca lagi tulisannya.

Malam itu tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Andri menjalankan rutinitasnya, sedangkan hujan turun lagi.
Menyusahkan memang, tapi hati Andri menyambutnya dengan
semangat. Biasanya para pegawai kantor yang pulang lembur akan
memilih taksi dibandingkan angkutan umum lainnya. Alasannya
karena keamanan, argo pun tak jadi masalah. Entah gerangan apa, hari
ini jalanan kota menjelma sepi. Sambil terus berharap akan
penumpang, Andri menepi ke sudut jalan dekat infrastruktur
berkanopi. Di atasnya, dengan gagah berdiri papan besi bertuliskan
Halte Kebayoran Baru.

Matanya memandang ke arah langit malam. Dari balik kaca,
kegelapan malam itu, ia berhasil menerbitkan sendu dalam diri.
Perasaan tidak tenang menyergapnya kembali. Pikirannya berkecamuk.
Ia menghela napas panjang-panjang. Menyisakan kekosongan dalam
tubuh.Tangannya mendorong pintu mobil dengan tegas.




228

Tendangannya dengan tegas mendarat pada ban mobil. Ia masih
teringat peristiwa pagi tadi.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu berdering dari balik kantung
seragamnya. Sebuah nama muncul pada layar kecil bernuansa hitam
putih.


Andri berhenti di depan sebuah pub di bilangan Jakarta Selatan.
Dari balik kaca autofilm mobilnya, ia dapat melihat seorang
perempuan dengan spontan berjalan menuju mobilnya. Perempuan itu
mengenakan balutan pakaian hitam ketat dan polesan wajah tebal.
Namun, wajahnya tidak asing bagi Andri.
“Pak, tahu jalan ke Harmoni?” ujar perempuan itu setelah
duduk di dalam mobil.
Enggan menjawab, Andri malah mengambil sebuah benda
besar dan tajam yang sudah ia siapkan di jok sebelahnya. Semburat
senyuman merekah di wajahnya.


Tangan Andri penuh membawa dua dandang alumunium.
Kendati kedua barang itu berat, hati Andri merasa lega. Senyuman
besar membekas di wajahnya sejak kemarin malam. Menolak untuk
lepas.




229

“Ndri!” seorang pria paruh baya yang akrab dipanggil Koh
Hoek Seng melambaikan tangannya ke arah Andri. Koh Hoek Seng
adalah pemilik restoran makanan Chinese terkenal di kota Medan.
Bisnisnya baru-baru ini melebarkan sayapnya ke Jakarta. Koh Hoek
Seng sempat kebingungan mencari pemasok daging segar. Hingga
akhirnya, Koh Hoek Seng memutuskan untuk menghubungi Andri
kemarin malam.

“Mantap! Dari dulu memang juaranya daging kau ini,” Koh
Hoek Seng tak bisa henti-hentinya memuji Andri.

Ia kemudian mengeluarkan empat lembar uang berwarna
merah dari dompet pinggangnya. Lalu dengan bahagia, mengambil
menaruh uang itu di saku kemeja Andri. Setelah itu, diambilnya kedua
dandang itu dari tangan Andri.

“Masih segar ini, Ndri?” tanya Koh Hoek Seng sambil melirik
ke dalam dandang.

“Baru dipotong, Koh. Kemarin malem,” ujar Andri dengan
percaya diri.

Kini bongkahan besi berkarat yang terpanggul di pundaknya
selama bertahun-tahun bisa ia turunkan. Di daratan yang layak bagi
sebongkah besi berkarat.




230

Berbuat baiklah kepada setiap orang
Karena kau tidak pernah tahu

Kesedihan yang tersirat di balik wajahnya
Penderitaan yang ia pikul di dalam hidupnya
Kejanggalan yang lama terkubur dalam dirinya

SELESAI




231

232


Click to View FlipBook Version